Bunga Di Batu Karang Jilid 06

Mode Malam
“Menyerahlah” berkata orang yang semula mengaku petani dari Sukawati itu, “Kau memang mempunyai pandangan yang tajam. Kau tidak segera percaya bahwa aku adalah petani dari Sukawati itu”

Ki Dipanala sama sekali tidak menjawab.

“Nah, menyerahlah. Kami akan memperlakukan kau sebaik-baiknya” Berkata orang itu pula, “serahkan semua Barang-barang yang akan kau bawa ke Jati Aking”

Ki Dipanala masih tetap berdiam diri.

“Kau hanya seorang diri. Kau tidak akan dapat mengharapkan bantuan siapapun juga di sini. Aku memang masih melihat, seorang dua orang lewat sebelum kau, Jika sekarang masih ada juga yang melihat kita berdiri di sini, mereka tidak akan berani berbuat apapun juga”

“Aku tidak mengharap siapapun juga” desis Ki Dipanala, “Aku percaya kepada diriku sendiri”

“Omong kosong” Orang yang mengaku petani, dari Sukawati itu tertawa, “suaramu bergetar. Kau sedang ketakutan”

“Aku adalah lekas seorang prajurit. Adalah suatu anugerah bahwa aku masih tetap hidup setelah tugasku selesai. Dengan demikian maka mati bagiku bukan lagi bayangan yang menakutkan. Tetapi mungkin bagi kalian, karena selama hidup kalian, kalian selalu berbuat dosa, sehingga mati adalah akhir yang paling mengerikan bagi kalian, kalian akan sengsara di akhirat”

“Tutup mulut” bentak penyamun itu, “Jangan menakut-nakuti aku dengan kepercayaan takhayul semacam itu. Tidak seorang pun yang dapat berbicara tentang mati. Tidak ada kehidupan setelah mati itu”

“Jika benar demikian, kenapa aku takut mati?” potong Dipanala, “Apalagi aku percaya bahwa ada kehidupan akhirat yang abadi dan surga yang dijanjikan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Suci dan tidak ada sekutu bagiNya, dan kepercayaan itulah yang membuat aku semakin tidak takut kepada mati”

“Persetan” sahut penyamun itu, “Jika kau tidak takut kepada mati, maka kau akan takut menjelang saat-saat matimu, karena kami berempat dapat berbuat apa saja atasmu sebelum kau mati”

“Aku tidak akan menyerahkan leherku untuk kau jerat”

“Tetapi kau tidak akan berdaya menghadapi kami berempat. Pilihlah. Menyerah, dan aku akan membunuhmu segera, atau kau akan melawan tetapi berakibat sangat buruk di saat menjelang mati”

“Yang kedua. Tetapi tidak seluruhnya. Aku akan melawan dan membuat kalian menyesal sebelum kalian mati”

“Omong kosong” salah seorang dari para penyamun yang selama itu mengikuti pembicaraan menjadi sangat marah. Lalu, “Kita terlalu banyak berbicara. Mari kita seret dan kita bunuh segera”

“Ya, sekarang” sahut yang lain.

Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba kerisnya telah digenggam tangannya.

Hampir berbareng keempat orang itu menyerang. Namun Ki Dipanala sudah bersiap meskipun ia masih diatas punggung kudanya.

Tetapi ternyata bahwa kejutan-kejutan yang sengaja dilakukan oleh orang-orang itu, membuat kuda Ki Dipanala sukar dikendalikan sehingga kadang-kadang hampir saja ia kehilangan kesempatan untuk menghindar dan menangkis serangan-serangan yang mulai berdatangan.

Karena itu, tidak ada cara lain daripadanya adalah turun dari kudanya. Ia sudah tidak melihat lagi kemungkinan untuk menembus kepungan keempat orang itu, karena dua dari mereka berdiri di depan dan dua yang lain di belakang. sehingga kali ini ia harus benar-benar berkelahi.

“Tetapi tentu satu atau dua dari orang-orang ini akan melarikan kudaku” berkata Ki Dipanala itu di dalam hati.

Tetapi itu lebih baik bagi Ki Dipanala daripada dadanya ditembus ujung pedang. Katanya pula di dalam hati, “Jika aku berhasil menangkap seorang saja dari keempatnya, maka aku akan dapat mendengar keterangannya dan mencari kuda serta muatannya kembali.

Atas perhitungan itulah maka Ki Dipanala pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan demikian ia justru merasa menjadi lebih lincah untuk melawan keempat orang yang mengeroyoknya.

Ternyata bahwa dugaannya tentang kudanya adalah keliru. Tidak seorang pun dari keempat orang itu menghiraukan kuda yang kemudian menepi dan seakan-akan berdiri melihat apakah pemiliknya akan dapat mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya.

Memang tidak seorang pun dari keempat lawannya yang menghiraukan kuda itu. Tugas mereka tidak sekedar merampas Barang-barang yang dibawa oleh Ki Dipanala, tetapi membinasa-kannya. Itulah sebabnya maka yang penting bagi mereka justru kematian Dipanala. Baru mereka akan menghitung uang dan Barang-barang yang ada padanya, apakah sesuai atau tidak dengan pembicaraan yang telah diadakan.

Tetapi ternyata, meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, namun ia masih mampu bergerak secepat burung sikatan. Kakinya dengan ringan melontar-lontarkan tubuhnya dan kerisnya pun menyambar-nyambar dengan dahsyatnya di antara kilatan keempat ujung pedang lawannya. Meskipun pedang lawan-lawannya jauh lebih panjang dari keris Ki Dipanala. namun kecepatannya bergerak mampu mengimbangi kecepatan keempat ujung pedang yang lebih panjang itu.

Demikianlah mereka segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Keempat orang penyamun itu pun segera mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi kecepatan bergerak lawannya.

Namun bagaimanapun juga, ternyata bahwa Ki Dipanala memang tidak dapat mengimbangi keempat lawan-lawannya yang juga cukup berpengalaman. Perlahan-lahan semakin jelas, bahwa tenaganya terpaksa harus diperasnya untuk mempertahankan diri. Tetapi dengan demikian maka tenaga itu pun menjadi cepat surut.

Sejenak kemudian, maka Ki Dipanala pun mulai terdesak. Ujung senjata lawannya seakan-akan telah mengurungnya, sehingga ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menyerang. Semakin lama semakin terasa olehnya, bahwa senjatanya memang terlampau pendek.

Namun demikian tidak terkilas pada Ki Dipanala untuk menyerah. Ia harus bertahan atau menyelamatkan diri. Bukan karena ia takut mati. Tetapi ia harus mendapat keterangan, apakah latar belakang dari penyamun ini. Sekedar Barang-barangnya, atau benar-benar suatu usaha pembunuhan atas dirinya. Jika sekedar perampokan, maka ia harus mendapat keterangan, siapakah yang sudah berkhianat dan memberitahu-kan kepada para penyamun tentang keberangkatannya dan tentang Barang-barang yang dibawanya. Tetapi menilik tingkah laku dan sikap keempat orang itu, maka perhatian pertama dari mereka adalah kematiannya.

Dengan demikian, maka Ki Dipanala kadang-kadang terpaksa mencari jalan untuk melepaskan diri dari kepungan itu. Namun ternyata ia bahwa kepungan itu cukup rapat, sehingga usahanya selalu sia-sia.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain bagi Ki Dipanala selain berkelahi sejauh-jauh dapat dilakukan. Jika ia akhirnya harus mati, maka ia harus memberikan bekas pada perkelahian itu. Lawannya pun harus ada yang mati pula bersamanya.

Karena itu, maka perlawanan Ki Dipanala justru menjadi semakin sengit. Ia berkelahi dengan sepenuh tenaga yang ada padanya, meskipun tenaga itu sudah menjadi semakin susut.

Selagi Ki Dipanala tidak lagi dapat melepaskan diri dari kesulitan itu, maka tiba-tiba seseorang telah berlari-lari diatas pematang yang pendek. Dengan langkah yang ringan ia meloncati parit dan sejenak kemudian ia sudah berdiri di pinggir jalan, di sebelah dari arena perkelahian itu.

“Kenapa kalian berkelahi di sini?” tiba-tiba saja ia bertanya lantang.

Keempat perampok itu menjadi berdebar-debar. Salah seorang dari mereka menjawab, “Jangan hiraukan yang terjadi. Kami adalah penyamun yang sedang menyelesaikan korban kami. Jika kau ikut campur, maka kau pun akan menjadi korban pula meskipun kalian tidak mempunyai apa-apa”

“Aku memang tidak mempunyai apa-apa” berkata orang itu, “karena aku kebetulan saja melihat perkelahian ini selagi aku mengikuti arus air untuk mengairi sawah. Tetapi perkelahian yang tidak seimbang ini sangat menarik perhatianku”

“Pergilah, aku tidak memerlukan kau” berkata salah seorang perampok itu, “Atau kalau mau nonton, nontonlah, bagaimana kami membantai korban kami yang melawan kehendak kami. Kami tidak memerlukan kau, karena baju pun kau tidak mempunyai”

Orang itu tidak segera pergi. Bahkan selangkah ia maju mendekat. Katanya, “Sebenarnya aku tidak baru saja datang ke tempat ini. Aku sudah melihat kau sejak senja. Duduk diatas batu dan mengaku dirimu petani dari Sukawati. Itulah yang menarik perhatianku”

Keempat orang yang sedang berkelahi melawan Ki Dipanala itu tanpa mereka sadari telah menghentikan serangan-serangan mereka, meskipun mereka tetap berdiri melingkari korbannya. Dengan bertanya-tanya di dalam hati mereka memandang orang yang justru berjalan mendekat itu.

“Aku tertarik pada pakaian dan pengakuanmu kepada paman Dipanala” berkata orang itu kepada yang berpakaian seperti petani dari Sukawati, “semula aku menyangka, karena aku hanya melihat dari jarak yang agak jauh bahwa kau benar-benar petani dari Sukawati itu. Itulah sebabnya aku menunggu sejenak dan kemudian berusaha mendekat. Tetapi ketika aku melihat kau menyamun, maka aku memastikan bahwa kau sama sekali tidak ada hubungan dengan petani dari Sukawati itu”

“Persetan. Siapa kau?” bentak orang yang mengaku petani dari Sukawati itu.

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah semakin dekat.

Dalam keremangan malam, maka semakin dekat, Ki Dipanala pun menjadi semakin jelas, siapakah orang yang dalang itu. Meskipun ia belum begitu rapat mengenal anak muda itu serapat Raden Juwiring, namun akhirnya ia mengenal juga. Karena itu, maka katanya kemudian, “Buntal. Bukankah kau Buntal?”

“Ya paman. Aku tahu benar, bahwa paman sedang dalam bahaya, karena sudah agak lama aku berada di sini, justru karena orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati itu. Pakaian itu sangat menarik perhatianku, sehingga aku mendekatinya dengan diam-diam, karena aku masih meragukannya. Aku mulai curiga karena orang itu tidak mengetahui kedatanganku, sehingga orang itu pasti tidak mempunyai aji Sapta Pangrungu, atau jika bukan aji Sapta Pangrungu maka pendengarannya masih belum terlatih cukup baik untuk menangkap kehadiran seseorang di sekitarnya”

“Gila” potong orang itu, “Kau berada pada jarak yang terlampau jauh bagi pendengaran yang bagaimanapun juga tajamnya”

“O. Mungkin begitu. Tetapi akhirnya aku yakin, bahwa paman Dipanala telah dicegat oleh beberapa orang penyamun di bulak Jati Sari yang panjang ini”

“Ya. Aku tidak ingkar. Bukankah aku sudah mengatakan sejak kau datang”

“Tetapi tentu tidak mungkin bahwa aku harus begitu saja meninggalkan paman Dipanala yang sedang menghadapi bahaya maut”

“Siapa, kau sebenarnya, siapa?”

“Paman Dipanala sudah menyebut namaku, Buntal. Aku tinggal bersama-sama Raden Juwiring di padepokan Jati Aking”

Sejenak para penyamun itu termenung. Namun kemudian salah seorang berkata, “Ya, bukankah nama itu disebut-sebut juga oleh kawan kita itu?”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti bahwa orang inilah yang dimaksud oleh Mandra, anak muda yang ada di padepokan yang harus diperhitungkan juga.

“Ya” sahut yang lain, “anak ingusan ini memang suka mencampuri urusan orang lain” lalu katanya kepada Buntal, “Buntal, aku masih memberimu kesempatan. Aku akan merampok semua milik Ki Dipanala dan membunuhnya sekali karena sudah melawan kehendakku sejak pertama kali aku memberinya peringatan. Pergilah, atau kalau kau mau nonton, nontonlah. Kemudian katakan kepada Raden Juwiring, bahwa kiriman baginya sudah habis dirampok orang, sedang Ki Dipanala sudah terbunuh di tengah jalan sebagai seorang pahlawan yang mempertahankan tanggung jawabnya. Kau mengerti?”

“Sayang, bahwa aku tidak dapat berbuat begitu” jawab Buntal, “Aku mengenal Ki Dipanala dengan baik. Aku mengenal Raden Juwiring yang akan menerima barang-barang itu, dan bahkan aku tentu akan mendapat bagian pula apabila barang-barang yang akan kau rampok itu sampai ke padepokan”

“He, kau sekedar ingin mendapat bagian? Aku akan memberimu” sahut perampok itu.

“Itu tidak baik. Aku akan menerima barang-barang yang sudah bernoda darah meskipun jika Ki Dipanala terbunuh, tidak ada yang akan dapat mengatakan darimana aku mendapatkannya. Tetapi pada suatu saat orang-orang dari Ranakusuman akan mengenal barang-barang itu. Dan aku akan digantungnya pula. Tetapi jika aku menerimanya langsung dari Ki Dipanala, aku dapat memakainya dengan tenang”

“Diam” bentak orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati, “Kau mau pergi atau tidak?”

Buntal menggeleng, “Tidak”

“Jika tidak, aku akan membunuhmu”

“Silahkan. Aku akan membantu Ki Dipanala. Jika aku dapat mengurangi seorang saja dari keempat lawannya, maka paman Dipanala akan dapat bertempur dengan baik melawan tiga orang di antara kalian”

“Persetan” tiba-tiba orang yang berpakaian petani itu menggeram, “bunuh anak ini. Serahkan Dipanala kepadaku berdua, dan kalian berdua membunuh anak yang gila itu, supaya pekerjaan kita cepat selesai. Setelah anak itu mati dan kau lemparkan ke dalam parit, kita bunuh Dipanala pula”

“Ya” sahut yang lain, “ mencampuri persoalan orang lain.

Orang-orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian mereka sudah berloncatan menyerang. Yang dua orang menyerang Buntal, dan dua yang lain menyerang Ki Dipanala. Menurut perhitungan mereka, membunuh Buntal tidak memerlukan waktu sepanjang membunuh Ki Dipanala.

Namun baik Buntal, maupun Ki Dipanala sudah siap pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga karena itu, maka mereka pun masih sempat mengelakkan serangan-serangan pertama itu, dan membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah cepatnya pula.

Dalam pada itu, Buntal yang tidak siap untuk bertempur, tidak membawa senjata yang memadai untuk melawan dua buah pedang di tangan dua orang penyamun yang garang. Yang ada padanya hanyalah sebuah parang pembelah kayu yang dibawanya bersama sebuah cangkul ke sawah. Dan parang itulah yang kemudian dipergunakannya untuk bertempur melawan sepasang pedang lawannya.

Orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu menyangka, bahwa dua orang kawannya akan segera membunuh Buntal. Dengan demikian maka mereka akan segera dapat menyelesaikan Dipanala yang sudah hampir kehabisan tenaga itu. Meskipun ia masih tetap lincah. Tetapi melawan empat orang, ternyata ia tidak dapat berbuat banyak.

Tetapi ternyata perhitungan itu tidak tepat. Meskipun hanya mempergunakan sebilah parang pembelah kayu, namun anak muda yang bernama Buntal itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Para penyamun itu tidak mengetahui, betapa tekunnya anak muda ini berlatih. Bagaimana Buntal setiap hari berusaha menambah kekuatan jasmaniah dan keprigelan bermain senjata. Karena itulah, maka melawan dua orang penyamun itu, ia tidak segera dapat mereka kuasai. Bahkan sebaliknya. Buntal sekali-sekali berhasil membuat lawannya menjadi bingung.

Dalam pada itu, meskipun tenaga Ki Dipanala sudah susut, tetapi kini seakan-akan ia hanya menghadapi separo dari lawan-lawannya yang terdahulu. Karena itu, maka ia pun masih juga sempat bernafas. Sekali-kali bahkan ia sempat menyaksikan bagaimana Buntal dengan kekuatannya yang luar biasa kadang-kadang berhasil mendesak lawannya.

Setiap benturan senjata, membuat tangan lawannya menjadi sakit dan pedih. Jika Buntal saat itu menggenggam pedang yang kuat, maka ia akan segera berhasil melemparkan senjata-senjata lawannya apabila lawan-lawannya tidak menghindari benturan langsung dengan senjatanya.

Kali ini lawan-lawannyalah yang berusaha melepaskan senjata Buntal. Mereka menyangka bahwa parang pembelah kayu itu akan segera terlepas dari tangan anak muda itu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tangan kedua orang itulah yang menjadi pedih. Sehingga karena itu, selanjutnya mereka telah mencoba menghindari benturan-benturan langsung dengan parang itu.

Namun Buntal sendiri menyadari, bahwa parangnya sudah mulai pecah-pecah di bagian tajamnya, karena parang itu tidak terbuat dari besi baja yang baik. Tetapi dengan demikian maka tajam parang Buntal itu bahkan seakan-akan menjadi bergerigi mengerikan.

Demikian perkelahian di kedua lingkaran itu menjadi semakin seru. Ternyata Ki Dipanala yang hanya melawan dua orang lagi itu masih juga mampu bertahan. Bahkan kadang-kadang ia masih sempat mendesak lawannya pula. Sekali-sekali ia berhasil menyerang dengan garangnya sehingga hampir saja mengenai sasaran. Namun, kerja sama dari kedua lawannya benar-benar sangat rapi, sehingga setiap kali, Ki Dipanala harus menarik serangannya karena ia harus menghindari serangan dari lawannya yang lain. Meskipun demikian, setelah lawannya tinggal dua orang, perkelahian itu tidak lagi membahayakan jiwanya, jika ia tidak membuat suatu kesalahan di dalam perlawanannya.

Buntal yang masih muda ternyata agak berbeda dengan Ki Dipanala. Bukan saja ia memiliki kekuatan yang sangat besar, tetapi keringat yang mulai membasahi tubuhnya, membuatnya semakin panas. Apalagi setiap kali kedua lawannya itu membuat gerakan-gerakan yang dapat membingungkannya dan bahkan kadang-kadang hampir membahayakan kedudukannya. Itulah sebabnya maka darah mudanya pun semakin lama menjadi semakin panas, dan akhirnya, ketika ujung pedang lawannya menyentuh kulitnya, ia tidak lagi dapat mengekang dirinya.

Ternyata bahwa ujung pedang lawannya itu telah menitikkan darahnya di antara titik-titik keringat. Meskipun tidak begitu dalam dan panjang, tetapi goresan itu benar-benar telah membakar jantungnya.

Meskipun demikian ia tetap sadar, bahwa kedua lawannya mempunyai keuntungan dengan senjata yang lebih panjang dan lebih baik daripadanya, apalagi lawannya bertempur berpasangan

Tetapi Buntal telah berlatih tidak mengenal waktu untuk memantapkan ilmunya. Karena itu, maka sejenak kemudian ketika ia sudah sampai pada puncak kemarahannya, maka tandangnya pun menjadi semakin garang. Serangan-serangannya tidak lagi terkendali. Tangannya yang terjulur tidak lagi ditariknya jika ia melihat lawannya menyeringai. Kini tangannya bagaikan bergerak bebas menurut kehendak sendiri, meskipun tidak lepas dari pusat kemauannya.

Demikianlah akhirnya Buntal semakin sering dapat menguasai lawannya. Semakin lama semakin nyata, sehingga kedua lawannya hampir tidak sempat melakukan perlawanan sebaik-baiknya selain meloncat-loncat surut.

Dalam pada itu, jika Ki Dipanala menghendaki, kesempatan untuk melepaskan diri kini sudah terbuka luas. Tetapi Ki Dipanala tidak mau melakukannya lagi, karena di antara perkelahian itu terdapat Buntal. Dengan demikian, maka ia pun telah mengambil keputusan untuk bertempur terus bersama-sama dengan anak muda yang telah menolongnya itu.

Tetapi keadaan Ki Dipanala sudah menjadi semakin baik. Ia dapat bertahan dari serangan-serangan kedua orang lawannya bagaimanapun juga mereka berusaha. Bahkan sekali-sekali ia masih sempat melihat di dalam keremangan malam, Buntal melontarkan diri dengan kecepatan yang mengagumkan, menyerang kedua lawannya berganti-ganti.

Ternyata bahwa kedua lawan Buntal itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Mereka benar-benar mendapat lawan yang tidak terduga-duga. Mereka yang menyangka bahwa untuk membunuh anak muda itu tidak diperlukan waktu yang lama, tetapi ternyata bahwa dua orang itu justru semakin lama menjadi semakin terdesak.

Dalam pada itu, orang yang mengaku dirinya petani dari Sukawati itu harus mengambil langkah untuk mengatasi kesulitan ini. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia kemudian berkata kepada seorang kawannya yang berkelahi bersama-sama melawan Ki Dipanala, “Bantulah kedua kawan-kawanmu itu untuk mempercepat kerja mereka. Bunuh saja anak itu tanpa belas kasihan karena ia sudah mengganggu tugas kami. Serahkan Ki Dipanala kepadaku”

Seorang kawannya itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian dilepaskannya Ki Dipanala dan ia pun segera bergabung dengan kedua kawannya yang lain.

Dengan demikian maka orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu harus bertempur melawan Ki Dipanala seorang lawan seorang. Betapapun, beratnya ia harus berusaha bertahan, meskipun hanya sekedar berloncat-loncatan. Ia berharap bahwa tiga orang kawannya itu akan segera dapat menyelesaikan anak muda yang bernama Buntal itu.

Namun kemarahan Buntal menjadi kian memuncak. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi tiga orang lawan. Bahkan seakan-akan ia mendapat kesempatan untuk berlatih menghadapi bahaya yang sebenarnya. Bukan sekedar latihan-latihan di dalam sebuah bangsal yang tertutup rapat, bersama dengan orang-orang yang setiap hari sudah diketahui tingkat ilmunya dan yang berkembang bersama-sama.

Ternyata bahwa Buntal mampu bertahan melawan ketiga orang itu. Bahkan ketika ia mengerahkan segenap kemampuan-nya, masih tampak bahwa ia kadang-kadang memiliki kesempat-an untuk menguasai perkelahian itu meskipun dengan susah payah, karena lawan-lawannya pun telah memeras segenap kemampuan mereka untuk segera menghentikan perkelahian. Tetapi agaknya kedua belah pihak tidak segera berhasil. Kedua belah pihak seakan-akan memiliki kesempatan yang seimbang.

Tetapi petani yang menyebut dirinya berasal dari Sukawati itulah yang kemudian mengalami, kesulitan karena ia harus melawan Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, tetapi bahwa ia bekas seorang prajurit yang memiliki kemampuan yang tinggi masih tampak pada sikap dan tata geraknya.

Apalagi agaknya Ki Dipanala tidak mau melepaskan peluang itu, selagi ia mendapat kesempatan. Karena itulah maka ia justru berusaha segera mengalahkan lawannya, sebelum ketiga orang penyamun yang lain dapat mengalahkan Buntal.

Tetapi baik yang berkelahi melawan Ki Dipanala, maupun yang bertempur bertiga melawan Buntal, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat memenangkan perkelahian itu.

Itulah sebabnya penyamun yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu harus menyadari keadaannya. Ia tidak boleh mengingkari kenyataan itu. Bahwa pada suatu saat, maka dirinya pasti akan dikalahkan oleh Ki Dipanala. Kemudian ketiga kawannya itu pun seorang demi seorang akan berjatuhan.

“Tentu tidak menyenangkan digantung di alun-alun karena aku telah menyamun utusan Pangeran Ranakusuma” berkata penyamun itu di dalam hatinya, “dan terlampau sulit bagiku untuk mengkaitkan diriku dengan Raden Rudira. Dengan mudah ia akan dapat ingkar, dan justru menuduhku telah memfitnah-nya”

Berbagai pertimbangan di kepala penyamun itu, agaknya telah mendorongnya untuk mengambil suatu sikap. Daripada ia harus mengalami siksaan untuk mengaku siapakah yang telah memerintahkannya, jika tidak, dari siapa ia mengetahui bahwa Dipanala membawa barang-barang berharga, dan kemudian digantung di alun-alun, maka lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri. Kemungkinan itulah satu-satunya yang dapat ditempuh dalam, keadaan seperti ini, selagi kekuatan mereka masih utuh, sehingga sambil melarikan diri, mereka masih dapat melawan sejauh-jauh dapat dilakukan apabila kedua lawannya mengejarnya.

Akhirnya, penyamun yang berpakaian seperti seorang petani itu mengambil keputusan, bahwa mereka harus lari. Karena itu, maka ia pun segera memberikan isyarat, dengan sebuah suitan yang nyaring, agar kawan-kawannya melepaskan lawannya.

Demikianlah, maka seperti berebut dahulu, para penyamun yang tidak dapat mengingkari kenyataan itu berloncatan menjauhi lawannya, dan kemudian bersama-sama melarikan diri meninggalkan calon korbannya yang gagal.

Tetapi ternyata bahwa Buntal tidak melepaskan mereka begitu saja. Dengan serta merta ia meloncat dan menerkam salah seorang penyamun itu, yang justru baru saja melepaskan Ki Dipanala dan berlari tidak jauh dari Buntal menyusul kawan-kawannya.

Sejenak mereka berguling-guling. Namun Buntal tidak mau melepaskannya.

Dengan sekuat tenaganya, penyamun yang mengaku dirinya sebagai petani dari Sukawati itu mencoba melepaskan diri. Tetapi kejutan-kejutan yang tiba-tiba, dan yang karena itu telah membantingnya ke tanah, telah melepaskan senjatanya dari tangannya. Karena itu yang dapat dilakukannya adalah melawan Buntal dengan tangannya.

Tetapi Buntal pun cukup tangkas. Sebuah pukulan mengenai tengkuk orang itu, sehingga pandangan matanya pun kemudian menjadi berkunang-kunang. Hampir saja ia menjadi pingsan.

Namun dengan demikian, maka kekuatannya pun bagaikan lenyap sama sekali. Selagi ia bertahan agar matanya tidak menjadi gelap sama sekali, Buntal telah berhasil memilin tangannya ke punggungnya dan menekan tubuhnya pada tanah berbatu-batu.

Dalam pada itu, kawan-kawannya yang sedang berlari sejenak berhenti termangu-mangu. Tetapi mereka melihat Ki Dipanala telah siap untuk melawan mereka. Apa lagi ketika mereka melihat kawannya itu sama sekali tidak berdaya.

Karena itulah maka mereka menganggap bahwa lebih baik lari menyelamatkan diri daripada ikut tertangkap seperti kawannya yang seorang itu.

Ki Dipanala yang sebenarnya sudah cukup payah tidak mengejar ketiga penyamun yang sedang berlari. Baginya cukup seorang saja yang dapat ditangkap. Yang seorang ini pasti akan dapat memberikan banyak, keterangan. Bahkan dari yang seorang ini pasti akan diketahui dimana persembunyian ketiga kawan-kawannya itu.

Karena itu, ketika Ki Dipanala melihat Buntal memilin tangan orang itu sehingga orang itu menyeringai kesakitan ia pun segera mendekatinya.

“Jangan, jangan kau patahkan tanganku” Orang itu hampir berteriak.

“Kau harus dibunuh karena kau sudah berniat membunuh paman Dipanala”

“Tidak. Aku tidak benar-benar akan membunuhnya. Aku hanya akan merampas Barang-barangnya”

“Aku tidak percaya. Kau sudah siap membunuhnya. Karena itu, kau pun harus mati.

Buntal yang marah itu pun segera menarik rambut orang yang sudah tidak berdaya itu. Sekali ia membenturkan kepala orang itu pada batu yang berserakan di sepanjang jalan.

“Jangan” Orang berteriak.

“Jangan” terdengar suara Ki Dipanala di belakang Buntal.

“Aku akan membunuhnya” berkata Buntal, “Aku akan membunuh dengan tanganku”

“Kau tidak dapat membunuhnya. Orang ini harus diserahkan kepada wewenang yang akan mengadilinya. Kita tidak dapat menghukumnya sendiri”

“Tetapi ia adalah seorang penyamun paman. Ia akan membunuh kita jika kita tidak membunuhnya”

“Ia tidak berhasil membunuh kita”

“Kita membela diri”

“Kita sudah menangkapnya. Ia sudah tidak akan dapat melawan lagi”

“Tidak ada orang yang tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya”

“Kita masing-masing mengetahuinya”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang saat dirinya sendiri terbaring di jalan ini pula. Di bulak Jati Sari, pada saat ia diketemukan oleh Juwiring dan Kiai Danatirta. Orang-orang hampir saja membunuhnya pula karena ia disangka berbuat jahat atas Arum. Padahal ia tidak berbuat apa-apa pada waktu itu. Sedang orang ini adalah seorang penyamun.

Namun ia masih mendengar Ki Dipanala berkata, “Kita harus dapat menguasai diri kita sendiri. Sebagai seorang yang berperi-kemanusiaan, kita wajib menghidupinya. Selain itu kita masih mempunyai kepentingan dengan orang ini. Ia adalah sumber keterangan yang dapat kita pergunakan untuk mencari jejak perampokan ini”

Buntal mengangguk-angguk. Perlahan-lahan dilepaskannya orang yang sudah tidak berdaya itu.

Ketika Buntal sudah berdiri, maka Ki Dipanala pun berkata kepada penyamun itu, “Berdirilah. Aku memerlukan kau”

Dengan tubuh gemetar orang itu pun merangkak. Dari dahinya masih mengalir darah yang hangat, meskipun tidak begitu banyak.

Buntal pun kemudian memungut pedang orang itu dan parangnya sendiri. Ia masih memerlukan parang itu untuk membelah kayu di padepokan atau untuk kepentingan yang serupa di sawah.

“Cepat berdiri” berkata Ki Dipanala, “Kita akan meneruskan perjalanan ini ke Jati Aking. Kau akan tinggal semalam di sana. Besok kau akan aku bawa ke Surakarta, dan aku serahkan kepada yang berwenang mengadilimu. Tetapi sebelumnya aku ingin tahu, siapa kau dan siapakah yang menunjukkan kepadamu tentang Barang-barang dan uang yang aku bawa”

Orang itu sama sekali tidak menyahut. Dengan lengan bajunya ia mengusap darah yang meleleh di dahinya.

“Cepat. Kita akan segera meneruskan perjalanan Jati Aking sudah dekat”

Tertatih-tatih orang itu berdiri. Badannya masih terasa lesu dan lemah. Tangannya terasa sakit bukan buatan karena Buntal benar-benar hampir mematahkannya.

“Kita berjalan” berkata Ki Dipanala, “Kita tidak akan berbicara di sini tetapi di Jati Aking”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun Buntal mendorongnya sambil berkata, “Cepat, sebelum aku mendorongmu dengan ujung pedang Berterima kasihlah bahwa kau masih tetap hidup”

“Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa-apa.

“Jangan berkata sekarang. Kita akan berbicara di padepokan Jati Aking”.

Orang itu terdiam. Ketika ujung pedangnya sendiri yang kini berada di tangan Buntal menyentuh punggungnya, maka ia pun. berjalan dengan langkah yang sangat berat.

“Ambil tudung kepalamu” berkata Buntal, kemudian, “supaya lengkap pakaianmu. Pakaian petani dari Sukawati”

“Bukan maksudku” sahut orang itu gemetar, “Aku hanya, ingin menakut-nakuti Ki Dipanala”

“Ambillah”

Orang itu pun segera membungkuk mengambil tudung kepalanya yang terjatuh di tengah-tengah jalan.

Adalah di luar dugaan siapapun, bahwa sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Ketika orang yang membungkukkan badannya mengambil tudung kepalanya itu berdiri tegak, maka tiba-tiba saja ia memekik tinggi. Sejenak tubuhnya terhuyung-huyung, sehingga Buntal dengan serta-merta menangkapnya.

“Kenapa?” bertanya Ki Dipanala.

Orang itu mengerang sekali. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya.

“Panah ini paman. Panah”

“He?”

Dan keduanya dengan mata terbelalak melihat sebuah anak panah menancap tepat di dada orang itu.

“Gila” teriak Ki Dipanala.

Buntal tidak berkata apapun juga. Diletakkannya orang itu, kemudian ia pun meloncat berlari ke arah anak panah itu dilepaskan.

“Buntal, Buntal, jangan” teriak Ki Dipanala, “berbahaya bagimu”

Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia berlari terus sambil berloncatan di tanggul parit, untuk menghindari bidikan anak panah atas dirinya.

Tetapi terlambat. Sebelum Buntar menemukan seseorang di dalam kegelapan, ia melihat dua sosok bayangan di kejauhan menghilang ke dalam gerumbul. Ia masih akan mengejar terus. Namun sejenak kemudian derap dua ekor kuda yang meluncur dari balik gerumbul itu telah memecah sepinya malam.

“Gila. Gila” teriak Buntal seorang diri. Di saat ia dapat mengerti betapa pentingnya orang yang ditangkapnya itu bagi keterangan seterusnya, maka seseorang telah membunuhnya dengan licik sekali.

Sambil mengumpat-umpat Buntal berlari-lari kembali mendapatkan orang yang telah terbaring di tanah. Diam. Meskipun masih terdengar nafasnya satu-satu, tetapi orang itu hampir sudah tidak memiliki kesadaran akan dirinya lagi.

Sambil menempelkan mulutnya di telinga orang itu Ki Dipanala berkata, “Sebutkan, siapakah yang telah menyuruhmu mencegat aku. Tentu orang yang membunuhmu itu. Aku berjanji akan mencarinya dan membalas dendam bagimu”

Yang terdengar hanyalah desah nafas yang semakin lambat dan tidak teratur.

“Apakah kau masih dapat mendengar suaraku” desak Ki Dipanala, “sebut saja namanya. Aku akan berbuat sesuatu untukmu dan untuk diriku sendiri”

Orang itu mencoba menggerakkan bibirnya. Tetapi ia hanya mampu menyeringai dan berdesah. Kemudian sebuah tarikan nafas yang panjang. Sesaat kemudian maka orang itu pun telah melepaskan nafasnya yang terakhir.

“Ia sudah mati” desis Ki Dipanala.

Buntal menggeretakkan giginya. Bukan saja ia ikut merasa kehilangan kemungkinan untuk mengetahui siapakah orang ini sebenarnya, tetapi ia juga merasa tersinggung oleh perbuatan pengecut itu.

Dengan wajah yang tegang Buntal menyaksikan Ki Dipanala menarik anak panah dari tubuh orang itu, dan kemudian memperhatikannya dengan saksama. Tetapi di dalam gelapnya malam ia tidak dapat menemukan. sesuatu pada anak panah itu. Karena itu maka katanya, “Aku akan membawa anak panah ini”

Buntal mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu memperhatikan anak panah itu, karena perhatiannya tiba-tiba saja tertarik kepada kuda Ki Dipanala yang justru sedang mengunyah rumput yang segar.

Tetapi niatnya meminjam kuda itu untuk mengejar orang-orang yang lelah membunuh penyamun itu dengan licik diurungkannya karena ia menyadari bahwa pada kuda itu tersangkut Barang-barang yang bernilai dan uang.

Buntal tersandar ketika Ki Dipanala memanggilnya dan berkata, “Marilah kita bawa orang ini ke padepokanmu”

“Baik, baik paman”

“Marilah Kita sangkutkan saja tubuhnya pada kuda itu. Kita akan melaporkannya besok kepada Ki Demang di Jati Sari, agar ada kesaksian atas peristiwa yang baru saja terjadi”

Demikianlah mayat orang itu pun kemudian disangkutkannya pada Kuda Ki Dipanala, setelah Barang-barang yang akan diserahkan kepada orang-orang di Padepokan Jati Aking disisihkan, agar tidak bernoda darah.

Di dalam keremangan malam, Ki Dipanala dan Buntal berjalan menuntun kuda yang membawa mayat penyamun yang terbunuh itu. Beribu-ribu pertanyaan bergulat di dalam hati mereka. Dan adalah tiba-tiba saja Buntal itu bertanya, “Siapakah orang yang membunuh penyamun ini paman? Apakah ia ingin menolong kita, atau sebaliknya?”

“Sebaliknya Buntal” jawab Ki Dipanala, “Orang itu pasti berhubungan rapat dengan penyamun ini. Bahkan menurut dugaanku, orang itulah yang telah menyuruh penyamun ini merampok dan membunuhku”

“Jika demikian, kenapa ia tidak membunuh paman saja dengan anak panahnya?”

“Mungkin aku berdiri di balik orang yang terbunuh itu, sehingga seolah-olah aku telah dilindunginya tanpa sengaja. Tetapi mungkin atas dasar perhitungan yang lain. Jika ia membunuh aku, maka kau akan dapat bertindak cepat. Menyingkirkan orang itu dan berusaha mendapatkan orang yang telah melepaskan anak panah itu”

“Orang itu dapat menyerang aku selagi aku menghindari panah dari kawan mereka”

“Kau dapat melumpuhkannya dengan cepat, tanpa membunuhnya dan melemparkannya ke dalam parit atau di balik pematang. Dan orang yang bersembunyi itu tentu tidak yakin, apakah ia dapat membunuhmu, karena ia melihat bagaimana kau dengan tangkas berhasil melawan penyamun-penyamun itu” sahut Ki Dipanala, lalu, “Atau atas perhitungan yang lain lagi, aku tidak tahu. Tetapi yang paling pasti bagi mereka untuk menghilangkan jejak percobaan pembunuhan ini adalah membunuh orang yang dapat menjadi sumber keterangan”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenungi kata-kata Ki Dipanala itu.

Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika dari arah yang berlawanan mereka melihat sebuah bayangan hitam mendekat. Semakin lama semakin dekat.

Namun agaknya bayangan itupun menjadi ragu-ragu. Langkahnya diperlambat dan sikapnya menjadi sangat berhati-hati.

“Siapa?” Buntal lah yang bertanya pertama-tama.

“Buntal kah itu?” terdengar orang itu justru bertanya.

“Ya, aku”

“Aku mengenal suaramu”

“Kakang Juwiring. Aku juga mengenal suaramu. Aku datang bersama paman Dipanala”

“O” bayangan yang ternyata adalah Raden Juwiring itu pun kemudian menjadi semakin dekat, lalu, “Kami di padepokan menjadi cemas karena kau terlalu lambat pulang. Ternyata kau bertemu dengan paman Dipanala di bulak Jati Sari”

“Ya” sahut Buntal.

Namun ketika Juwiring menjadi kian dekat, maka dilihatnya sesosok tubuh yang tersangkut di kuda Ki Dipanala, sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Siapakah itu paman Dipanala?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceriteranya cukup panjang Raden. Tetapi pada pokoknya, ada usaha untuk membunuhku”

“Dan paman membunuhnya lebih dahulu?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Bukan aku yang membunuhnya dan bukan Buntal”

“Jadi?”

Sebelum Ki Dipanala menjawab, Juwiring berseru dengan tegang, “Petani itu?”

“Bukan” sahut Juwiring, “Bukan petani itu. Justru ia berpakaian mirip sekali”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Baiklah. Aku akan bertanya lebih banyak lagi di padepokan. Tadi ayah Danatirta menjadi sangat cemas, kenapa Buntal terlambat sekali kembali ke padepokan dari sawah. Ternyata ada sesuatu yang telah terjadi”

Demikianlah maka mereka pun berjalan semakin cepat kembali ke padepokan Jati Aking. Untunglah bahwa di sepanjang jalan mereka tidak bertemu lagi dengan seseorang. Bahkan ketika mereka memilih jalan sempit di padukuhan sebelum mereka sampai ke padepokan Jati Aking, mereka juga tidak menjumpai seorang pun. Apalagi dengan sengaja mereka menghindari jalan yang di tunggui oleh para peronda di gardu-gardu.

Ketika mereka sampai di padepokan, ternyata bahwa sosok mayat itu telah mengejutkan penghuni-penghuninya. Arum yang masih juga duduk di pendapa bersama ayahnya menunggu kedatangan Buntal dan Juwiring. menjadi termangu-mangu.

“Aku telah mengejutkan kakang Danatirta” berkata Ki Dipanala.

“Ya. Aku terkejut sekali. Tetapi marilah, naiklah”

Setelah mengikat kendali kudanya, maka Ki Dipanala pun segera naik ke pendapa. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang mayat yang tersangkut di punggung kudanya. Namun ia masih juga membiarkannya.

“Kau benar-benar mengejutkan. aku. Siapakah yang kau bawa diatas punggung kuda itu?”

“Kita harus melaporkannya kepada Ki Demang, kakang. Agar ada kesaksian, bahwa aku tidak membunuh orang”

Ki Danatirta mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi kau belum mengatakan kepadaku, siapakah orang itu. Dan dimana kau berjumpa dengan Buntal dan Juwiring”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Raden Juwiring juga ingin mendengar tentang orang itu. Aku belum mengatakan kepadanya. Tetapi Buntal mengetahui sendiri, apa yang sudah terjadi di bulak Jati Sari”

Kiai Danatirta memandang Juwiring dan Buntal berganti-ganti. Namun kemudian kalanya kepada Ki Dipanala, “Katakanlah”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun mulai menceriterakan apa yang dialaminya di bulak Jati Sari yang panjang itu.

Kiai Danatirta, Arum dan Juwiring mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahkan sekali-kali mereka mengangguk-angguk, dan kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepalanya

“Aku memang hampir mati” berkata Ki Dipanala. Lalu, “Untunglah Buntal berhasil menolongku. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya”

“Aku hanya sekedar membantu” berkata Buntal, “Paman sendirilah yang sebenarnya telah menyelamatkan diri sendiri”

Seakan-akan tidak mendengar kata-kata Buntal, Ki Dipanala berkata selanjutnya, “Aku ikut berbangga, bahwa anak padepokan Jati Aking memiliki ketangkasan jasmaniah seperti Buntal, dan sudah barang tentu Raden Juwiring”

Mereka melatih diri mereka sendiri sahut Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tidak membantah, tetapi senyum di bibirnya melontarkan suatu sikap hatinya terhadap anak-anak muda yang berada di padepokan Jati Aking.

Namun kemudian terdengar Kiai Danatirta bertanya, “Jadi kau sama sekali tidak mengetahui, siapakah yang sudah melepaskan anak panah itu?”

Dengan ragu-ragu Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak kakang”

“Apakah peristiwa ini didahului dengan kejadian-kejadian yang dapat menarik suatu dugaan tentang peristiwa itu?”

Sekali lagi Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Juga tidak”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Jika demikian persoalan ini akan tetap menjadi gelap. Apakah kau tidak mempunyai bahan sama sekali untuk mengurai peristiwa ini?”

Ki Dipanala masih menggelengkan kepalanya.

“Tidak kakang. Tidak ada apa-apa yang dapat aku pergunakan sebagai bahan” katanya kemudian.

“Baiklah” berkata Kiai Danatirta, “besok kita akan memperhatikan tempat itu. Mungkin kita dapat menemukan sesuatu” ia berhenti sejenak, lalu, “sekarang, bagaimana dengan mayat itu?”

“Aku akan membawanya kepada Ki Demang agar aku tidak mendapat tuduhan yang bukan-bukan” sahut Ki Dipanala.

“Baiklah. Buntal akan menyertaimu”

“Aku akan ikut serta dengan paman Dipanala” berkata Raden Juwiring.

Kiai Danatirta berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Pergilah. Kalian dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi”

Demikianlah maka mereka bertiga pun segera pergi ke Kademangan meskipun malam menjadi semakin malam. Mereka tidak ingin terlambat apabila kemudian timbul persoalan karena kematian penyamun itu.

Barulah ketika Ki Demang di Jati Sari mengerti akan persoalan yang sebenarnya terjadi, Ki Dipanala dapat bernafas lega, seakan-akan ia telah terbebas dari kemungkinan yang dapat menyeretnya ke dalam kesulitan.

“Biarlah anak-anak meletakkan mayat itu di banjar” berkata Ki Demang kemudian, “besok mereka akan menguburnya”

“Baiklah Ki Demang. Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki Demang tentang peristiwa ini”

Demikianlah, maka mayat itu pun kemudian diusung oleh anak-anak muda yang sedang meronda ke banjar Kademangan untuk mendapat perawatan sebagaimana seharusnya besok pagi.

Dalam pada itu, Ki Dipanala bersama Juwiring dan Buntal pun segera kembali ke Padepokan. Setelah mereka membersihkan diri masing-masing, maka mereka pun duduk kembali di pendapa. Tetapi Ki Dipanala tidak menambah keterangannya mengenai orang yang terbunuh itu.

“Orang itu akan tetap merupakan suatu teka-teki Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta, “Ia sudah membawa rahasia tentang dirinya ke dalam kubur”

Ki Dipanala hanya mengangguk-angguk saja. Namun ketika tiba-tiba ia teringat akan barang-barang dan uang yang dibawanya, maka ia pun segera berkata, “Aku akan menyerahkan Barang-barang itu kepada kakang Danatirta sekarang. Barang-barang itu membuat diriku diintai oleh bahaya maut”

“Aku mengucapkan banyak terima kasih” berkata Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tidak menyahut. Ia pun segera pergi ke kudanya dan mengambil barang-barangnya serta uang di dalam kampil yang tersangkut di lambung kudanya pula.

“Bukan main” berkata Kiai Danatirta, “pemberian Pangeran Ranakusuma bagi Juwiring dan keluarga padepokan ini terlampau banyak sekali ini. Ditambah lagi dengan uang dan kain untuk Arum”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya melihat Barang-barang itu. Ia belum pernah menerima kiriman sebanyak itu. Namun sejenak kemudian ia tersenyum, “Kita akan mengucapkan terima kasih kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma dan ibunda Galihwarit”

Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya, “Aku. akan menyampaikannya bersama laporan tentang diriku sendiri”

Demikianlah pemberian itu bukan hanya, untuk Juwiring saja, tetapi keluarga padepokan Jati Aking itu mendapat bagiannya masing-masing.

Namun demikian hal itu ternyata justru telah menim-bulkan berbagai pertanyaan di hati Kiai Danatirta meskipun tidak diucapkannya. Sekali-sekali dipandanginya wajah Ki Dipanala yang seolah-olah di saput oleh mendung yang membayangi sebuah rahasia. Tetapi Kiai Danatirta tidak bertanya apapun. Bahkan dengan sebuah senyum di bibir ia berkata, “Nah anak-anak, bawalah pemberian yang banyak sekali ini ke dalam. Simpanlah baik-baik dan kita akan mempergunakan dengan baik pula”

“Baiklah” sahut Raden Juwiring. Lalu diajaknya Buntal dan Arum membawa Barang-barang itu masuk ke dalam.

“Tetapi uang ini?” bertanya Juwiring kepada Kiai Danatirta.

“Bawalah masuk. Simpanlah. Kita akan memerlukannya”

Ketiga anak muda itu pun segera masuk ke dalam. Disimpannya barang-barang itu dengan baik. Namun sekali-sekali Arum masih juga melekatkan kain di badannya sambil berkata, “Bagus sekali. Aku kira aku pantas mempergunakan kain ini”

“Pantas sekali” berkata Juwiring, “kau akan bertambah cantik”

“Ah” wajah Arum menjadi kemerah-merahan. Diletakkannya kain itu sambil berkata, “Terlalu baik. Aku tidak pantas memakainya”

“Kenapa?” bertanya Juwiring, “Ayahanda dan ibunda Galihwarit menghadiahkannya kepadamu”

Arum tidak menjawab. Tetapi sekali lagi kain itu diraihnya dan dibentangkannya diatas amben sambil tersenyum-senyum.

Buntal yang duduk di sudut ruangan merasa seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah cermin untuk melihat dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang mengirimkan apapun kepadanya seperti Juwiring. Tidak ada sanak keluarganya yang memiliki sesuatu untuk diberikannya kepada Arum. Apalagi kain sebagus itu, dan sebenarnyalah akan membuat Arum semakin cantik. Bahkan untuk dianya sendiri, ia kini menggantungkan sama sekali kepada pemberian Kiai Danatirta.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa dirinya menjadi semakin kecil di sisi Juwiring. Juwiring putera seorang Pangeran yang kaya. Meskipun ia tersisih, tetapi ayahnya masih juga memberikan barang-barang sejumlah itu. Ia tidak dapat membayangkan, berapa nilai barang-barang itu. Apalagi Pangeran Ranakusuma masih juga menyertakan uang di dalam kampil untuk Kiai Danatirta.

Buntal terkejut ketika Juwiring berkata, “He Buntal, kau dapat memilih. Manakah yang paling sesuai bagimu?”

Anak muda itu memaksa bibirnya untuk tersenyum. Katanya, “Aku sesuai dengan semuanya itu”

Juwiring tertawa pendek. Lalu, “Kita akan memilih sendiri mana yang kita sukai dari kiriman-kiriman ini” ia berhenti sejenak, lalu, “dan yang paling berhak memilih lebih dahulu adalah Buntal, selain yang memang khusus untuk Arum, karena Barang-barang ini hampir saja lenyap dibawa penyamun. Bukan saja Barang-barang ini, tetapi bahkan jiwa paman Dipanala sendiri”

“Ya” sahut Arum, “tanpa kau kakang Buntal, maka kita tidak akan melihat paman Dipanala membawa barang-barang ini sampai ke padepokan”

“Ah” Buntal berdesah, “hanya suatu kebetulan”

“Bukan suatu kebetulan saja. Jika kau tidak tertarik kepada orang yang berpakaian petani itu, maka yang terjadi akan berbeda sekali”

Buntal tidak menyahut.

“Nah pilihlah. Kemudian aku akan memilih pula setelah Kiai Danatirta dan tentu saja kita tidak akan dapat melupakan paman Dipanala. Hidupnya sendiri tidak begitu baik. Ia menerima upah yang sangat sedikit dari ayahanda. Tetapi ia adalah orang yang setia”

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda di dalam sedang sibuk membicarakan Ki Dipanala, di pendapa, Kiai Danatirta mulai bertanya bersungguh-sungguh, “Dipanala. Apakah kau benar-benar tidak dapat menduga, siapakah yang sudah melakukannya dan apakah kau tidak mendapatkan tanda apapun dalam perkelahian itu?”

Ki Dipanala memandang pintu yang sudah tertutup. Kemudian ia berkata lambat, “Mungkin aku dapat menduga kakang. Tetapi sekedar menduga. Jika dugaanku salah, maka aku sudah berdosa menuduh orang yang tidak bersalah”

“Tetapi bukankah kau belum berbuat apa-apa” sahut Kiai Danatirta, “Kita baru menduga. Tentu saja dugaan kita mungkin keliru”

Ki Dipanala itu pun tiba-tiba berdiri. Katanya, “Aku membawa anak panah yang menghunjam di dada orang yang terbunuh itu”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menyahut Ki Dipanala sudah melangkah turun dari pendapa.

Dari pelana yang dilepasnya dari punggung kudanya, ia mengambil sepucuk anak panah dan dibawanya naik ke pendapa. Ia berhenti sejenak di bawah nyala pelita. Sambil mengerutkan keningnya ia mengamat-amatinya dengan saksama.

“Kau mengenalnya?” bertanya Kiai Danatirta.

Ki Dipanala pun kemudian duduk kembali di hadapan Kiai Danatirta. Keningnya masih berkerut-merut Sedang tatapan matanya menjadi agak tegang,

“Bagaimana?”Kiai Danatirta mendesak.

“Kakang, ada semacam perasaan takut padaku untuk menerima kenyataan ini. Aku memang sudah mencurigainya. Pemberian Pangeran Ranakusuma yang berlebih-lebihan dan caranya melepaskan aku pergi ketika aku berangkat”

“Jadi bagaimana?”

“Semula aku tidak memikirkannya, bahwa Raden Ayu Galihwarit berusaha memperlambat keberangkatanku. Ada-ada saja alasannya, sehingga aku akhirnya berangkat sesudah lewat tengah hari, bahkan sudah sore hari. Dengan demikian menurut perhitungan mereka, aku akan sampai di bulak Jati Sari setelah gelap”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk ketika Ki Dipanala menceriterakan kembali, bagaimana sikap Raden Ayu Galihwarit sebelum ia berangkat.

“Dan anak panah itu?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mengamat-amati anak panah yang bernoda darah itu.

“Ada seribu anak panah yang mirip bentuknya” berkata Ki Dipanala.

“Ya” sahut Kiai Danatirta, “barangkali kau tidak akan dapat mengenal anak panah sebuah demi sebuah. Tetapi apakah sepintas lalu, kau pernah melihat anak panah seperti itu?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin belum. Tetapi aku sudah dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi sebelumnya, sehingga karena itu, aku merasa seakan-akan aku mengenal anak panah ini”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya, “Ya, kau memang takut melihat kenyataan. Kau kecewa sekali bahwa hal semacam itu sudah terjadi atasmu, sehingga kau berusaha untuk mengaburkan penglihatanmu atas kenyataan itu. Ternyata kau masih seorang yang setia terhadap Pangeran Ranakusuma. meskipun ada semacam persoalan yang bergejolak di dalam hatimu. Tetapi kesetiaanmu ternyata berbeda dengan kesetiaan Sura pada waktu itu dan mungkin Mandra pada waktu ini. Kau adalah seorang yang benar-benar setia. Bukan sekedar menjilat dan menundukkan kepala dalam-dalam. Tetapi kau berani menyebut kesalahan dan kecurangan keluarga istana Ranakusuman justru karena kesetiaanmu itu. Tetapi tidak banyak orang yang mengerti, bahwa demikianlah adanya. Justru karena itulah, maka kau menjadi orang yang paling dibenci di Ranakusuman”

“Mungkin kakang benar. Aku memang cemas dan bahkan takut melihat perkembangan yang terjadi di istana Ranakusuman. Mungkin aku memang orang yang setia, yang ingin memperingatkan dengan niat baik. Kadang-kadang aku mencoba mencegah dan bahkan aku menghalang-halangi”

“Kenapa mereka tidak mengusir kau saja daripada mereka harus bertindak kasar dan licik semacam itu? Meskipun kau belum mengatakan, tetapi aku sudah menduga, apa yang ada di dalam hatimu. Yang menakut-nakutimu dan yang membual kau menghindari penglihatanmu atas kenyataan itu”

Ki Dipanala tidak menyahut.

“Ki Dipanala, apakah anak panah itu. anak panah Raden Rudira?”

Ki Dipanala tidak segera menyahut. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Sesuatu agaknya sedang bergejolak di dalam hatinya.

Sejenak kemudian terdengar suaranya parau, “Aku tidak tahu kakang. Aku tidak tahu”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kali ini kau tidak usah mengingkari kata hatimu Dipanala. Kau sudah berada di ujung tanduk seekor kerbau liar yang dungu. Kau harus melihat kenyataan itu dengan dada terbuka”

Ki Dipanala tidak segera menjawab.

“Menurut urutan ceriteramu Dipanala, ternyata bahwa orang-orang di istana Ranakusuman, Setidak-tidaknya sebagian dari mereka memang berusaha membunuhmu. Kau tidak disukai di Ranakusuman, tetapi mereka tidak dapat mengusirmu. Dan kau juga tidak dapat meninggalkan mereka seperti Sura, karena kau bukan sekedar penjilat yang akan lari jika tidak ada lagi tulang-tulang yang dilemparkan kepadanya. Kau adalah seorang yang sadar akan diri dan harga dirimu” Kiai Danatirta berhenti sejenak! lalu, “Namun demikian kau pun harus melihat kenyataan yang dapat terjadi”

Ki Dipanala menjadi tegang sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Dipanala. Sebenarnya kau dan aku sependapat. Setidak-tidaknya kita menduga, benar atau salah, bahwa ada yang dengan sengaja menjerumuskan kau ke dalam suatu perangkap pembunuhan. Salah atau benar, kita sama-sama menduga bahwa yang berusaha menutup mulut penyamun itu untuk selama-lamanya adalah orang-orang Ranakusuman. Karena kita tahu, bahwa Raden Rudira adalah seorang pemburu yang cakap, maka ia akan dapat membidik dengan tepat meskipun di malam hari”

Kepala Ki Dipanala menjadi semakin tunduk. Kata-kata Kiai Danatirta itu bagaikan guruh yang melingkar-lingkar di kepalanya. Namun ia tidak dapat lari dari suara itu, karena di dalam hatinya suara itu pun telah berkumandang sebelum Kiai Danatirta mengucapkannya.

“Bagaimana menuruti pendapatmu Dipanala?” Ki Dipanala masih terdiam sejenak.

“Apakah kau tidak berani melihat hal itu?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam sekali. Katanya, “Aku memang takut melihatnya. Tetapi aku tidak dapat lari dari pengakuan itu”

“Kau sependapat?”

Ki Dipanala menganggukkan kepalanya, “Ya kakang”

“Nah, jika kau sependapat, maka kita akan dapat melihat lebih jauh lagi. Kenapa di saat kau dijerumuskan ke dalam tangan para penyamun justru kau harus membawa barang-barang yang cukup banyak beserta uang sekampil?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu kakang. Mungkin orang-orang yang ingin membunuhku itu benar-benar membuat kesan, seakan-akan aku telah dirampok”

“Jika barang-barang itu hilang, atau jika kau sama sekali tidak membawa apa-apa, bukankah sama saja akibatnya bagi orang lain yang menemukan kau mati di tengah bulak?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi ia menggeleng, “Aku tidak mengerti. Perhitungan apakah yang membuat mereka berbuat demikian”

“Kita memang tidak dapat menebak semua teka-teki dari percobaan pembunuhan ini. Tetapi bersyukurlah kepada Tuhan bahwa kau telah terlepas dari bencana”

Ki Dipanala tidak segera menyahut. Namun ia pun menyadari bahwa ia masih dilindungi oleh Tuhan Yang Tunggal, sehingga ia selamat dari tangan para penyamun itu, dengan membiarkan Buntal tetap berada di sawah meskipun langit menjadi buram, karena ia melihat orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati itu.

“Semua itu adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” katanya di dalam hati.

“Dipanala” berkata Kiai Danatirta kemudian, “Jika kita tetap tidak dapat memecahkan teka-teki tentang barang-barang yang justru kau bawa, apakah kau dapat mencari alasan, kenapa kau akan dibunuhnya? Apakah sekedar karena kau pernah berusaha mencegah Raden Rudira membawa Arum?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku dan Sura memang pernah diikat pada sebatang pohon di halaman istana Pangeran Ranakusuma. Aku dan Sura akan mendapat hukuman cambuk di hadapan para abdi di Ranakusuman”

“Tetapi bukankah keluarga Sura dan keluargamu tinggal di dalam dan di belakang halaman istana itu?”

Ki Dipanala mengangguk.

“Jadi bagaimana jika keluargamu, anak-anakmu dan anak-anak Sura melihatnya?”

“Mungkin memang itulah yang dimaksudkannya”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi aku dapat memaksa Pangeran Ranakusuma dan isterinya yang cantik itu untuk mengurungkan niatnya” desis Dipanala.

“Itulah yang aku heran. Kadang-kadang kau berhasil memaksakan pendapatmu” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu, “Tetapi hal itu pulalah agaknya yang telah membuat mereka ingin membunuhmu. Memang ada dua kemungkinan. Raden Rudira yang membencimu karena ayahandanya selalu mendengarkan kata-katamu atau Pangeran Ranakusuma sendiri atau Raden Ayu Galihwarit lah yang ingin membunuhmu, karena kau terlampau berpengaruh atas mereka karena sesuatu sebab”

“Agaknya kedua-duanya kakang. Meskipun yang satu tidak tahu alasan yang tepat dari yang lain, namun ada semacam pertemuan pendapat, bahwa aku memang harus dilenyapkan. Raden Rudira tentu tahu rencana ini, ternyata jika dugaan kita benar, maka ia telah membunuh penyamun itu. Menurut dugaanku pula Raden Ayu Galihwarit pun tahu akan rencana ini, karena ia telah memperlambat keberangkatanku”

“Bagaimana dengan Pangeran Ranakusuma?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu kakang. Tetapi tampaknya Pangeran Ranakusuma acuh tidak acuh saja atas rencana ini”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Namun kemudian ia bertanya, “Tetapi apakah alasan Raden Ayu Galihwarit? Apakah seperti juga Raden Rudira yang sakit hati karena Pangeran Ranakusuma selalu mendengar kata-katamu, “

Ki Dipanala terdiam sejenak. Sekali lagi ia berpaling memandang piatu yang sudah tertutup.

“Kakang, dimanakah anak-anak itu?”

“Mereka ada di dalam. Agaknya mereka sedang sibuk dengan barang-barang kiriman yang kau bawa. Selama ini mereka hanya mengenal kain lurik yang kasar. Sedang yang kau bawa adalah kain yang halus dan barang-barang yang jarang dan bahkan hampir tidak pernah dilihat oleh Arum dan Buntal”

Ki Dipanala mengangguk-angguk pula. Tetapi seakan-akan ia tidak yakin bahwa anak-anak itu tidak mendengar pembicaraan itu.

“Ada yang ingin aku katakan kakang. Tetapi aku berharap agar anak-anak itu tidak mendengarnya. Pengaruhnya agak kurang baik bagi mereka”

Kiai Danatirta pun mengangguk. Agaknya yang akan dikatakan oleh Ki Dipanala adalah suatu rahasia yang lama disimpannya.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya kepada siapapun. Juga kepada kakang, orang yang paling aku percaya. Tetapi karena tindakan yang telah diambilnya adalah suatu pembunuhan, maka ada baiknya orang lain mengetahuinya. Jika pada suatu saat aku benar-benar mati, maka ada orang yang tahu alasan sebenarnya atas kematianku itu”

Kiai Danatirta merenungi wajah Ki Dipanala sejenak. Kemudian ia pun berdiri sambil berkata, “Coba aku lihat anak-anak itu”

Ketika Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam, maka ternyata ruangan itu sudah sepi. Barang-barang yang-semula di bentang selembar demi selembar, telah tersusun rapi dan diletakkan dalam tumpukan yang teratur di geledeg. Bahkan di sampingnya terletak kampil yang berisi uang.

Kiai Danatirta menarik nafas. Anak-anak, itu tentu menganggap bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan mengusik Barang-barang itu. Apalagi mengambilnya, karena padepokan ini memang tidak pernah kehilangan karena tangan seseorang. Jika ada barang yang hilang itu hanyalah disebabkan kekurang telitian dari antara mereka yang menyimpan Barang-barang itu dan barang itu tidak dapat diketemukan lagi. Tetapi mungkin sebulan dua bulan barang yang hilang itu tanpa disengaja telah dijumpai oleh seseorang yang justru tidak sedang mencarinya.

Dengan hati-hati Kiai Danatirta pergi ke bilik Arum. Dilihatnya dari sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, gadis itu telah terbaring di pembaringannya meskipun agaknya belum tertidur.

Dari bilik Arum, Kiai Danatirta pergi ke bilik Juwiring dan Buntal. Keduanya pun sudah ada pula di dalam biliknya, meskipun keduanya masih berbicara tentang sesuatu.

Kiai Danatirta itu pun segera kembali ke pendapa. Mereka sengaja berbicara di pendapa, tidak di pringgitan, agar tidak mudah orang lain ikut mendengarnya justru karena pendapa itu terbuka.

“Kakang” berkata Ki Dipanala kemudian, “sebenarnya ceritera ini sudah berlangsung lama. Dan karena ceritera inilah maka aku seakan mempunyai pengaruh di Ranakusuman meskipun aku tidak disukai oleh siapapun juga”

Kiai Danatirta tidak menyahut. Dibiarkannya Ki Dipanala meneruskan ceriteranya.

“Adalah suatu kebetulan pula bahwa aku melihat hal itu terjadi. Dan karena itu pula aku seakan-akan mempunyai perbawa atas Raden Ayu Galihwarit. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk memerasnya. Aku sudah berjanji untuk merahasiakan apa yang sudah terjadi itu. Namun agaknya Raden Ayu. Galihwarit selalu dihantui oleh bayangannya sendiri, la selalu curiga kepadaku. Bertahun-tahun hal itu terjadi. Tetapi pada suatu saat, karena persoalan-persoalan lain yang berkembang, agaknya sampai juga suatu keputusan pada Raden Ayu Galihwarit untuk membunuhku”

Kiai Danatirta hanya mengangguk-angguk saja. Ia ingin segera mendengar ceritera yang sesungguhnya, sehingga Raden Ayu Galihwarit harus mengambil sikap itu. Membunuh atau mendengar setiap pendapat Dipanala.

“Pada saat itu. Raden Ayu Galihwarit sedang berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk menyingkirkan Juwiring. Dengan berbagi macam cara dan hasutan, sehingga akhirnya Pangeran Ranakusuma mulai mendengar kata-kata itu” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “Namun di samping itu, Raden Ayu Galihwarit mulai dihinggapi penyakit yang sekarang menjadi semakin parah”

Kiai Danatirta hanya mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk saja.

“Pada suatu malam, selagi aku pergi ke tempat seorang saudaraku, aku melihat sebuah kereta berhenti di pinggir jalan di pinggir kota, di bawah bayangan kegelapan. Aku menjadi curiga. Semula aku mengira saisnya tentu sedang mempunyai kepentingan di kegelapan. Dan menurut dugaanku kereta yang bagus itu tentu kosong. Jika ada penumpangnya, sais itu tentu tidak akan berani berhenti. Apalagi menurut dugaanku kereta itu tentu kereta seorang perwira kumpeni” Ki Dipanala berhenti sejenak, kemudian diteruskannya, “Tetapi kemudian aku melihat sais itu berdiri bersandar sebatang pohon agak jauh dari keretanya. Kemudian berjalan mondar-mandir. Aku menjadi semakin heran. Timbullah keinginanku untuk mengetahui, apakah yang sebenarnya sudah terjadi. Karena itu, dengan diam-diam aku mendekati kereta itu tanpa diketahui oleh saisnya” tiba-tiba saja Ki Dipanala menjadi tegang. Katanya, “Kakang, peristiwa berikutnya adalah peristiwa yang paling kotor yang pernah aku lihat”

“Apa?”

“Setelah aku berhasil mendekati kereta yang memang berada di kegelapan itu, aku mendengar suara di dalamnya. Suara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Menilik warna suaranya tentu seorang laki-laki asing” nafas Ki Dipanala serasa menjadi semakin cepat mengalir, “Kakang, aku tidak tahan menyaksikan hal serupa itu. Orang asing itu telah mengotori kota ini dengan kebiadaban. Aku mengira bahwa mereka yang katanya membawa peradaban yang tinggi, ternyata memiliki tata kesopanan yang sangat rendah. Mereka akan mencemarkan nama kota ini dengan perbuatan yang kotor di jalan-jalan. Karena itu, dengan tidak sabar aku meloncat. Dengan sekuat tenaga aku tarik pintu kereta yang sekaligus terbuka” Dada Ki Dipanala menjadi seakan-akan berdebaran meskipun ia hanya sekedar berceritera. Lalu suaranya menjadi terputus-putus, “Tetapi, tetapi sama sekali tidak aku duga. Ketika pintu itu terbuka, seseorang telah terdorong dan jatuh keluar. Seorang perempuan. Kemudian disusul seorang laki-laki asing meloncat pula. Tetapi, yang sama sekali tidak aku duga. ternyata perempuan itu bukannya perempuan yang aku sangka diambilnya di pinggir jalan. Perempuan itu adalah Raden Ayu Galihwarit yang sejak sore pergi memenuhi undangan perwira asing yang mengadakan pertemuan makan bersama dengan beberapa orang bangsawan. Tetapi karena kesibukannya, maka Pangeran Ranakusuma sendiri tidak dapat datang dan membiarkan isterinya dijemput dan diantar kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi agaknya yang mengantar Raden Ayu Galihwarit saat itu adalah seorang perwira kumpeni yang, gila dan setengah mabuk”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa bulu-bulunya meremang juga. Itulah sebabnya maka istana Ranakusuman menjadi penuh dengan berbagai macam barang-barang hadiah dari orang-orang asing itu. Barang-barang yang tidak terdapat di Surakarta sendiri.

Sejenak kemudian, setelah menarik nafas dalam-dalam, Ki Dipanala meneruskan, “Kakang dapat membayangkan, bagaimana perasaan Raden Ayu Galihwarit yang kemudian dibantu oleh orang asing itu berdiri memandang aku. Meskipun di dalam kegelapan, tetapi ia segera mengenal aku pula.

“Dipanala” katanya dengan suara gemetar.

Aku menjadi bingung. Tetapi aku pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya Raden Ayu”

Sejenak Raden Ayu Galihwarit memandang aku. Kemudian terdengar la menggeram, “Apakah kau sudah gila?”

“Maaf Raden Ayu, hamba tidak tahu”

“Gila. Kenapa kau mencampuri persoalan orang lain. Seandainya kau tidak tahu siapa yang ada di dalam, apakah hubunganmu dengan hal ini?”

“Ampun Raden Ayu. Hamba adalah seorang penghuni kota ini. Hamba tersinggung bahwa hal ini sudah terjadi di jalan-jalan raya di kota Surakarta yang amat hamba junjung tinggi ini”

“Tetapi itu bukan urusanmu”

“Terdorong oleh rasa tanggung jawab hamba semata-mata, atas kota ini”

“Kakang Danatirta, sebenarnya aku sudah akan berlutut minta maaf kepada Raden Ayu Galihwarit. Tetapi orang asing yang agaknya sudah dapat mempergunakan bahasa kita itu ikut memaki. “Kau memang anjing tidak tahu diri” katanya. Dan Raden Ayu itu tidak melindungi aku sama sekali, bahkan ia pun memaki, “Kau merupakan malapetaka bagiku Dipanala”

“Ampun Raden Ayu, hamba tidak akan berbuat apa-apa. Hamba akan pergi dan melupakan apa yang pernah hamba lihat ini”

Raden Ayu Galihwarit memandangku dengan tajamnya. Namun agaknya Raden Ayu Galihwarit tidak mempercayaiku.

“He anjing busuk” berkata kumpeni itu, “Kau berani mengganggu Raden Ayu dan aku ya? Kau sudah menghina aku”

“Ia sangat berbahaya bagiku” berkata Raden Ayu Galihwarit kepada orang asing itu.

“Jadi apakah maksud Raden Ayu orang ini dilenyapkan saja?”

Dadaku berdesir mendengar pertanyaan itu. Dan apalagi setelah aku mendengar jawabnya, “Terserahlah kepada tuan”

Hatiku bergejolak mendengar orang asing itu tertawa. Apalagi ketika tiba-tiba saja tangannya meraba sesuatu di balik bajunya. Aku tahu, bahwa ia mengambil senjata api. Jika senjata api itu meletus, sebutir peluru akan menembus dadaku dan aku akan mati seketika, sedang tidak akan seorang pun di sekitar tempat itu yang akan berani berbuat sesuatu, karena mereka sadar bahwa suara itu adalah suara senjata yang sangat menakutkan.

Tetapi alangkah takutnya aku kepada mati pada waktu itu. Kematian bagiku lebih menakutkan daripada kumpeni itu dan juga daripada Raden Ayu Galihwarit. Itulah sebabnya aku tiba-tiba saja berbuat sesuatu untuk menghindarkan diri dari kematian.

Ketika aku melihat tangan orang asing itu menggenggam benda yang menakutkan itu tiba-tiba saja aku kehilangan pertimbangan lain. Aku menganggap bahwa membela diri adalah jalan satu-satunya untuk melepaskan diri dari ketakutanku akan mati. Karena itu ketika orang asing itu mengacungkan senjatanya kepadaku, tiba-tiba saja aku meloncat. Dengan kakiku aku berhasil menghantam perge-langan tangannya sehingga senjata itu terloncat dari tangannya sebelum meledak.

Tetapi orang asing itu sama sekali tidak kehilangan akal. iapun segera mencabut pedangnya yang panjang. Dengan serta merta ia mencoba menusuk dadaku dengan pedang itu. Untunglah aku masih sempat menghindar. Namun ia benar-benar bertekad membunuhku, sehingga ia pun segera memburu.

Aku pun telah bertekad membela diriku. Karena itu maka tiba- tiba saja kerisku sudah berada di dalam genggaman tanganku.

Ternyata bahwa orang asing itu tidak begitu pandai berkelahi. Ia hanya dapat mengayun-ayunkan pedangnya. Tetapi kakinya seolah-olah mati. Ia mempercayakan tata geraknya pada gerak tangannya. Tetapi aku tidak demikian bodohnya. Aku mempergunakan semua anggauta badan kita. Kaki dan tangan. Karena itu, ketika aku meloncat-loncat ia menjadi bingung.

Aku sendiri tidak ingat lagi. Aku sadar ketika aku mendengar orang asing itu mengeluh tertahan. Suaranya serak dan kemudian hilang ditelan sepinya malam. Yang terdengar kemudian adalah suara tubuh itu roboh di tanah. Mati. Ternyata aku telah menusuknya tepat di dadanya.

Raden Ayu Galihwarit melihat perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Dengan suara yang parau ia berkata, “Kau gila Dipanala. Kau dapat dibunuh oleh kumpeni. Kau sudah membunuh seorang perwira. Dan kau akan menebus kebodohanmu”

“Tidak ada orang yang melihat pembunuhan ini”

“Aku dan sais itu”

Aku berpaling. Aku lihat sais itu pun ketakutan berdiri di sisi sebatang pohon yang besar.

“Sais itu tidak mengenal hamba” kataku. Aku tidak tahu dari mana aku mempunyai keberanian untuk berbantah dengan Raden Ayu Galihwarit.

“Aku mengenalmu. Aku dapat mengatakan kepada Pangeran Ranakusuma dan kepala pimpinan kumpeni bahwa kau telah membunuh salah seorang dari mereka”

“Raden Ayu tidak akan mengatakannya”

“Kenapa tidak? Aku akan mengatakannya. Dan kau akan digantung di alun-alun, atau dipancung di perapatan”

Tetapi aku tetap menggeleng dan berkata perlahan-lahan, “Jangan terlalu keras Raden Ayu. Hamba tidak mau sais itu mendengar dan mengetahui tentang hamba”

“Aku akan mengatakan. Aku akan mengatakan”

“Raden Ayu tidak akan mengatakan. Baik kepada kumpeni, kepada Pangeran Ranakusuma maupun kepada sais itu. Bukankah dengan demikian Raden Ayu akan membuka rahasia Raden Ayu sendiri? Selama ini Pangeran Ranakusuma kadang-kadang bertanya-tanya juga, kenapa Raden Ayu sering sekali mengunjungi makan bersama dengan orang-orang asing itu meskipun pada saat-saat Pangeran Ranakusuma berhalangan. Ternyata justru saat-saat yang demikian itulah yang menyenangkan bagi Raden Ayu. Apakah Raden Ayu tidak mengetahui, bahwa perasaan seorang suami kadang-kadang tergetar jika isterinya berbuat seperti apa yang Raden Ayu lakukan meskipun tidak melihatnya sendiri? Apakah Raden Ayu tidak mencemaskan kemungkinan yang buruk bagi Raden Ayu jika Pangeran Ranakusuma mengetahui hal ini”

“Tidak ada yang mengetahuinya”

“Hamba dan sais itu. Jika tuan berusaha menjerumuskan hamba ke tiang gantungan atau hukuman apapun, maka hamba pun akan sampai hati pula mengatakan kepada siapapun tentang Raden Ayu”

“Kumpeni tidak akan percaya. Seandainya percaya, maka mereka pasti akan merahasiakannya, karena banyak sekali di antara mereka yang terlibat dalam keadaan yang sama. Bahkan bukan dengan aku sendiri. Ada puteri-puteri bangsawan yang lain yang melakukan seperti yang aku lakukan”

“Tetapi Raden Ayu lah yang paling menonjol di antara mereka itu”

“Tutup mulutmu”

“Dan Raden Ayu pun akan menutup mulut. Jika Raden Ayu sampai hati membunuh hamba, hamba pun akan sampai hati mengatakan yang terjadi. Mungkin Kumpeni tidak akan mempercayai bahwa ada perwira-perwiranya yang berbuat demikian, atau dengan sengaja menyembunyikan kenyataan itu, karena sebagian besar dari mereka terlibat. Namun hati Pangeran Ranakusuman pasti akan terketuk. Jika Pangeran Ranakusuma menangkap getaran isyarat dalam lubuk hatinya, maka tuan akan mengalami nasib yang kurang baik. Bukankah isteri Pangeran Ranakusuma tidak hanya seorang? Dan bukankah isteri yang lain meskipun tidak selincah Raden Ayu tetapi ia adalah seorang isteri yang setia? Dan apakah tuan tahu, betapa pahitnya perasaan seorang suami jika mengetahui bahwa isterinya tidak setia seperti Raden Ayu meskipun Pangeran Rana Kusuma adalah seorang suami yang longgar, yang memberi banyak kesempatan kepada Raden Ayu untuk keluar rumah tanpa suaminya. Apalagi tuan sudah berbuat tidak senonoh dengan seorang asing, seorang bule”

“Diam, diam”

“Jangan berteriak.” Aku mencegah. Tetapi wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi pucat.

“Nah Raden Ayu” kataku kemudian, “terserahlah kepada Raden Ayu. Sebelum ada orang yang mengetahui tentang aku, maka aku akan pergi. Tetapi jika hamba ditangkap oleh siapapun juga karena membunuh kumpeni, hamba akan mengatakannya juga kepada siapapun. bahwa tuan sudah berbuat sesat. Maka nama Raden Ayu, seorang puteri bangsawan yang menjadi isteri seorang Pangeran pula akan tercemar. Dan tuan akan tersisih dari pergaulan. Mungkin Raden Ayu akan disingkirkan dari Ranakusuman dan ayahanda Raden Ayu tidak akan menerima Raden Ayu lagi. Dengan demikian Raden Ayu akan dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Raden Ayu. Terasing dan dihinakan oleh seluruh rakyat Surakarta. Yang terbayang pada Raden Ayu hanyalah tinggal satu jalan, semakin jauh terperosok ke dalam kesesatan”

“Tidak, tidak” tiba-tiba Raden Ayu Galihwarit menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Terdengar isak tangisnya tertahan-tahan.

“Sudahlah Raden Ayu” kataku kemudian aku akan pergi dan hentikan semuanya yang pernah Raden Ayu lakukan, mumpung belum ada seorang pun yang mengetahui dari keluarga tuan. Dari keluarga Ranakusuman, apalagi putera Raden Ayu yang meningkat dewasa itu”

Aku tidak menghiraukannya lagi. Aku pun segera pergi meninggalkannya. Meninggalkan Raden Ayu Galihwarit yang sering disebut Raden Ayu Sontrang itu, dan mayat seorang kumpeni di pinggir jalan yang sepi. Aku tidak peduli lagi kepada sais yang aku sangka ketakutan itu”

“Kenapa sekedar kau sangka?” tiba-tiba Kiai Danatirta bertanya.

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Danatirta sejenak, lalu, “Ceriteranya masih panjang kakang. Apakah kakang tidak menjadi jemu?”

“Ceriterakanlah” berkata Kiai Danatirta kemudian. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. “Aku ingin mendengar kelanjutan ceriteramu. Nanti saja kau makan hidangan yang ada. Sekarang kau berceritera terus”

Ki Dipanala tersenyum. Namun dari matanya memancar perasaannya yang pahit mengenangkan apa yang pernah terjadi itu.

“Jadi, aku sudah membunuh seorang kumpeni kakang”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah yang ingin aku katakan. Jadi perwira kumpeni yang mati itu kaulah yang membunuhnya?”

Ki Dipanala mengangguk.

“Ternyata Raden Ayu Galihwarit benar-benar tidak membuka rahasiamu”

“Ya kakang. Raden Ayu Galihwarit tidak membuka rahasiaku. Ia tidak mengatakannya kepada siapapun. Dan aku pun memenuhi janjiku pula. Aku merahasiakannya. Tidak seorang pun yang pernah mengetahui hal itu terjadi. Kepada kakang pun baru sekarang aku mengatakannya” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “Agaknya sesuatu telah menggerakkan hati Pangeran Ranakusuma. Tetapi, meskipun ia mulai curiga, bahkan anak laki-lakinya itu pun mulai bertanya-tanya tentang tabiat ibunya, namun Pangeran Ranakusuma itu masih saja membiarkannya berbuat demikian. Mungkin Pangeran itu ingin menemukan bukti-bukti yang mantap”

“Jadi Raden Ayu itu tidak sembuh meskipun kau pernah menemukannya?”

“Hanya untuk beberapa waktu. Tetapi penyakit, itu kambuh kembali. Namun aku semula tidak mempedulikannya lagi. Aku tidak akan mencampuri persoalannya. Jika aku membunuh orang asing itu, sama sekali bukan karena aku ingin mencampuri persoalan Raden Ayu Galihwarit meskipun hatiku menjadi sakit sekali”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk.

“Dan sais itu pun tidak mengatakan kepada siapapun juga tentang kau dan tentang Raden Ayu Sontrang?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sekarang tidak dapat berkata kepada siapapun juga”

“Kenapa?”

“Ia sudah mati”

“Mati?”

“Ya”

“Apakah Raden Ayu Galihwarit mencurigainya dan menyuruh seseorang membunuhnya”

Sejenak Ki Dipanala termenung. Namun kemudian katanya-lambat, “Akulah yang membunuhnya”

“Kenapa kau?”

“Sais itu sebenarnya sama sekali tidak ketakutan ketika aku membunuh orang asing itu. Meskipun ia tidak mengatakan kepada siapapun juga, namun ia mempunyai maksud tertentu” Ki Dipanala berhenti sejenak, “kakang, bukankah saat itu Surakarta menjadi gempar? Tetapi saat itu Raden Ayu Galihwarit mengatakan, bahwa ia tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu. Tiba-tiba saja ketika orang asing itu mengantarkannya pulang seperti dipesankan oleh Pangeran Ranakusuma. ia sudah diserang oleh seseorang yang tidak dikenalnya”

“Tetapi” Kiai Danatirta memotong, “Apakah tidak seorang pun yang bertanya, kenapa kereta itu lewat jalan yang sepi di pinggir kota?”

“Beberapa orang telah mencurigai sais itu kakang. Bahwa ia dengan sengaja telah mengumpankan perwira kumpeni itu. Mereka mempertimbangkan, bahwa orang-orang yang duduk di dalam kereta, tidak mengetahui, jalan manakah yang sudah mereka lewati karena mereka tidak memperhatikannya. Apalagi orang asing itu masih belum begitu mengenal jalan-jalan di Surakarta. Tetapi Raden Ayu Galihwarit yang mencemaskan nasibnya sendiri, bahwa sais itu akan berceritera tentang dirinya, mencoba membelanya. Menurut Raden Ayu Galihwarit, orang asing itu memang ingin melihat beberapa bagian dari kota Surakarta”

“Di malam hari?”

“Di siang hari ia tidak mempunyai waktu lagi. Apalagi malam masih belum terlampau larut”

“Apa tidak ada seorang pun yang justru mencurigai Raden Ayu Galihwarit?”

“Kumpeni-kumpeni itu yakin, kalau perempuan bangsawan itu dapat dipercaya”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Lalu, “Tetapi bagaimana sais itu kemudian terbunuh? Apakah Raden Ayu Galihwarit mengupahmu?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak menerima upah dan aku memang bukan seorang pembunuh. Tetapi agaknya Raden Ayu Galihwarit tidak mau melibatkan orang lain lagi di dalam persoalan ini. Itulah sebabnya ia datang kepadaku dan minta kepadaku, agar aku membunuh sais itu”

“Apakah sais itu akan membuka rahasia?”

Ki Dipanala mengangguk, “sais itu mengancam akan membuka rahasia”

“Ia memeras?”

“Ya”

“Barangkali itulah yang ditakutkan atasmu. Mungkin pada suatu saat kau akan memerasnya juga. Setelah sais itu, maka datang giliranmu untuk disingkirkan”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kakang benar”

“Apakah sais itu memeras harta benda Ranakusuman”

“Jika demikian, aku sudah berjanji untuk tidak mencampuri persoalan itu. Tetapi sikapnya yang sangat menyinggung perasaan itulah yang membuat aku marah dan membunuhnya. Apalagi ia dengan sengaja melawan aku. Karena itu, sebenarnya ia bukan seorang penakut yang gemetar melihat aku membunuh orang asing itu”

“Jadi apa yang diperas?”

“Itulah yang gila, sais yang masih muda itu telah memeras Raden Ayu Galihwarit”

“Ya, tetapi apakah yang ingin didapatkannya dari Raden Ayu itu?”

“Raden Ayu itu sendiri”

“He” Kiai Danatirta benar-benar terkejut mendengar jawaban Ki Dipanala.

“Ya kakang. Yang diinginkan oleh sais itu adalah Raden Ayu Galihwarit yang meskipun lebih tua daripada sais itu, namun kesegarannya telah membuat sais itu menjadi gila. Sais itu ingin berbuat terlalu banyak atas Raden Ayu Galihwarit seperti orang asing yang telah aku bunuh itu”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap dadanya. Katanya, “Apakah dunia ini benar-benar sudah hampir kiamat? Kenapa hal yang serupa itu dapat terjadi diatas bumi Surakarta ini”

“Ya kakang. Itulah yang telah memuakkan aku. Jika Raden Ayu Galihwarit menolak, maka ia akan membuka rahasia pembunuhan itu kepada kumpeni dan kepada Pangeran Ranakusuma serta membuka rahasia hubungan Raden Ayu Galihwarit dengan orang-orang asing yang banyak diketahuinya”

“Dan kau percaya begitu saja? Mungkin itu hanya sekedar ceritera Raden Ayu Galihwarit untuk memaksamu membunuh sais itu”

“Semula aku menyangka demikian kakang. Tetapi ternyata tidak. Ketika hal itu aku tanyakan langsung kepada Raden Ayu Galihwarit, maka ia bersedia membuktikan apa yang dikatakannya”

“Apa yang sudah dilakukannya?”

“Ia memberitahukan kepadaku, apa yang harus dilakukannya untuk memenuhi niat sais yang gila itu. Sais itu akan menjemput Raden Ayu Galihwarit seolah-olah ia mendapat perintah dari kumpeni. Raden Ayu Galihwarit harus berusaha agar ia pergi seorang diri tanpa emban atau pengawal seperti yang sering dilakukan jika ia dijemput oleh orang-orang asing dari rumahnya. Orang asing yang banyak memberi harapan bagi Pangeran Ranakusuma dan banyak memberikan kecemerlangan bagi istananya, sehingga Pangeran Ranakusuma tidak dapat melarang, jika isterinya pergi mengunjungi pertemuan yang diselenggara-kan oleh kumpeni, apalagi penyelenggaraan itu dilakukan di rumah para bangsawan pula” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “Tetapi saat yang ditentukan itu sama sekali bukan atas perintah kumpeni tetapi atas kehendak sais itu sendiri”

“O. Dosa itu berkembang begitu cepatnya”

“Ya kakang. Dan aku harus melindungi dosaku dengan dosa baru yang harus aku lakukan. Aku harus membunuh lagi”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku harus menunggu di tempat yang sudah ditentukan oleh sais itu sendiri menurut petunjuk Raden Ayu Galihwarit, yang ternyata adalah sebuah pondok kosong milik orang tua sais yang gila itu. Di dalam pondok itu aku harus menanti dengan hati yang berdebar”

“Dan mereka datang?” Kiai Danatirta menjadi tidak sabar.

“Ya. Ketika senja mulai turun aku mendengar derap kaki kuda. Justru sebelum gelap. Langit masih merah oleh sisa cahaya matahari yang tersangkut di tepi gumpalan awan yang mengapung di langit”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.

“Sebenarnyalah bahwa dada ini akan retak oleh kemuakan ketika aku mendengar mereka mendekati pintu rumah sais yang kosong itu” Ki Dipanala berhenti sejenak. Kemudian katanya, “Silahkan Raden Ayu” berkata sais itu di luar pintu. Suaranya benar-benar membuat kepala pening kakang”

Kiai Danatirta menahan nafasnya.

Dan Ki Dipanala meneruskan, “Aku mencoba menahan nafas ketika aku mendengar pintu berderit terbuka. Dan aku dengar Raden Ayu Galihwarit mengumpat, “Kau gila. Kau akan dibunuh oleh Pangeran Ranakusuma”

Tetapi sais itu tertawa, “Tuan tidak akan mengatakannya seperti yang dikatakan oleh pembunuh orang asing itu”

“Gila, kau dengar percakapan kami”

“Aku dengar Raden Ayu”

“Tetapi kalau kau masih menggangguku, kau akan menyesal” berkata Raden Ayu itu.

“Kenapa tidak. Setiap saat kita dapat singgah ke rumah ini. Jika tuan puteri akan melayani orang-orang bule itu, tuan puteri akan aku persilahkan singgah dahulu. Bukankah aku berkulit sawo matang seperti Raden Ayu, dan orang-orang asing itu berkulit semerah kulit manggis dan jauh lebih kasar dari kulitku”

“Gila, kau memang gila. Aku tidak mau berbuat gila seperti itu?”

“Raden Ayu tidak mempunyai pilihan lain”

“O” terdengar Raden Ayu Galihwarit menahan tangisnya.

“Jangan menangis Raden Ayu. Marilah kita hayati satu-satunya pilihan yang dapat tuan puteri lakukan agar aku tidak mengambil keputusan lain”

“Kau lebih baik membunuh aku, “ tangis Raden Ayu itu.

“Silahkan duduk. Bukankah aku harus mengantar Raden Ayu kembali setelah gelap? Sebaiknya kita tidak membuang waktu”

Aku mendengar suara Raden Ayu Galihwarit gemetar. Mula-mula aku menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Mungkin Raden Ayu itu memang harus menanggung dosanya dan mendapat hukuman karenanya.

Tetapi aku tidak dapat menahan perasaan muak yang menyesak dada ini, sehingga karena itu, maka nafasku pun menjadi tersengal-sengal.

Bahkan bukan saja perasaan muak. tetapi juga oleh kekhawatiran, bahwa apabila orang itu dikecewakan oleh Raden Ayu Galihwarit pada suatu saat, dimana puteri bangsawan itu sudah tidak dapat bertahan lagi mengalami pemerasan yang paling parah itu, maka ia akan sampai pada suatu keputusan untuk membuka rahasia Raden Ayu Galihwarit dan rahasiaku sendiri. Sais yang gila itu tentu tidak akan mempedulikan lagi, malapetaka apa yang akan aku alami dan kehinaan yang akan dihayati oleh Raden Ayu Galihwarit. Meskipun jika Raden Ayu Galihwarit membuka rahasia tentang sais itu sendiri, ia akan dapat dihukum mati pula”

Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Tetapi terasa kulit di seluruh tubuhnya meremang. Yang terjadi itu adalah hukuman yang paling laknat bagi Raden Ayu Galihwarit.

“Dan kau tidak membiarkannya terjadi?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Hatiku bagaikan terpecah-pecah. Aku tidak dapat membiarkannya terjadi. Ketika kegilaan sais itu menjadi semakin meretakkan dada ini, tiba-tiba saja aku sudah meloncat masuk ke ruangan itu. Meskipun Raden Ayu Galihwarit mengetahui bahwa aku ada di rumah itu pula, tetapi kehadiranku di ruang itu membuatnya terpekik kecil. Sejenak wajahnya menjadi merah. Namun kemudian sepercik harapan tampak di matanya.

Sais itu pun terkejut bukan kepalang. Seperti yang aku duga. bahwa ia tidak akan menjadi ketakutan dan berdiri gemetar. Ternyata kehadiranku membuatnya marah bukan buatan.

“Kau” geramnya.

“Aku pun sudah dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, sehingga aku menjawab kasar Aku datang untuk menghentikan kegilaan ini”

“Kau sudah membunuh orang asing itu. Apakah kau juga aku membunuh aku” sais itu bertanya.

“Ya”

Tetapi ternyata orang itu tidak takut sama sekali. Bahkan ia pun tertawa sambil berkata, “Kau sangka aku menjadi ketakutan seperti yang kau lihat di bawah pohon pada saat kau membunuh orang asing itu”

“Aku tidak peduli”

“Jangan menyesal kalau kaulah yang akan mati. Memang sepantasnya kau mati, supaya tidak ada orang lain yang akan memeras lagi kepada Raden Ayu Galihwarit, karena jika kau berhasil membunuh aku, maka kaulah yang akan melakukannya”

“Aku bukan binatang buas yang pantas diburu” Tetapi ia masih juga tertawa. Suara tertawanya yang tidak begitu keras itu membuatku semakin terbakar. Karena itulah maka aku pun kemudian kehilangan pengamatan diri. Apalagi tidak ada jalan yang memang lebih baik dari membungkam untuk selama-lamanya.

Dengan demikian, maka aku pun berkata langsung kepadanya, “Sekarang aku tidak mempunyai pilihan lain. Membunuh kau atau aku akan terbunuh. Jika kau tetap hidup, artinya akan sama saja dengan kematian bagiku, karena kau tidak akan lagi menyembunyikan rahasia yang pernah kau lihat itu”

“Ya. Aku akan membunuhmu atau akan menyeretmu di belakang keretaku sehingga kulitmu akan terkelupas di sepanjang jalan kita ini. Bila kau masih hidup, maka kumpeni lah yang akan menyelesaikanmu meskipun terlebih dahulu luka-lukamu akan dibasahi dengan air garam”

Memang mengerikan sekali jika hal itu benar-benar terjadi. Diseret di belakang kereta yang dilarikan kencang-kencang.

“Nah, kau memang tidak ada pilihan lain” katanya, “dan Raden Ayu Galihwarit pasti akan tetap berdiam diri”

Aku sudah tidak dapat menahan kemarahan di dalam dada. Tetapi aku masih dapat berpikir sehingga aku tidak mau tenggelam dalam kehilangan nalar karena kemarahanku.

Meskipun aku sudah siap, tetapi aku tidak segera menyerangnya. Aku menunggu sampai orang itu pun menjadi sangat marah dan akan lebih baik kalau sais itulah yang kehilangan nalar dan bertempur dalam nyala kemarahan yang tidak terkendali.

“Ayo, apa lagi yang kau tunggu?” katanya.

“Kumpeni” jawabku, “Bukankah kereta itu kereta seorang perwira kumpeni? Mungkin yang sudah mati aku bunuh, tetapi mungkin kereta orang lain. Tetapi pasti bukan keretamu sendiri. Orang yang memiliki kereta itu pasti akan mencarimu. Mereka pasti akan melihat kereta berhenti di pinggir jalan itu dan mencarimu ke rumah ini”

“Aku akan selamat. Raden Ayu Galihwarit tentu akan tetap diam dan melindungi aku”

“Tidak. Raden Ayu Galihwarit sebenarnya dapat berterus terang saja kepada kumpeni karena semua yang kau kehendaki masih belum terlanjur terjadi. Mereka tidak akan menyampaikan rahasia itu kepada Pangeran Ranakusuma, karena mereka sendiri akan terlibat di dalamnya. Dan sudah tentu bahwa karena kau terlampau banyak mengetahui, maka kau pun akan dibunuhnya juga”

“Gila” Orang itu menggeretakkan giginya.

“Jangan menyesal”

“Persetan dengan kau. Apapun yang akan terjadi atasku tetapi niatku tidak boleh gagal. Kau akan aku bunuh, dan aku akan melaksanakan niatku. Aku tidak peduli kepada kereta itu dan kepada kumpeni yang akan mencarinya”

“Omong kosong. Kau tidak akan berani melakukan karena itu akan berarti kematianmu”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun agaknya ia telah benar-benar menjadi marah.

“Aku akan segera membunuhmu” ia menggeram sambil melangkah maju. “Semakin cepat semakin baik”

Dan tiba-tiba saja bahwa orang itu menarik sebuah pisau belati dari balik bajunya

Raden Ayu Galihwarit mundur selangkah sambil membenahi pakaiannya. Kilatan pisau itu mendebarkan jantungnya. Ia mengharap bahwa aku dapat memenangkan perkelahian yang sebentar lagi tentu akan terjadi. Dengan demikian maka ia berharap dapat terlepas dari nafsu sais yang gila itu.

“Tetapi apakah Dipanala tidak akan melakukan kegilaan yang sama?” Raden Ayu Galihwarit mungkin bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi agaknya baginya aku masih lebih baik dari sais yang ganas itu. Selain ia memang sudah mengenal diriku ini dengan baik, maka aku pun adalah seorang, hamba istananya dan bekas seorang prajurit pula yang memiliki tingkatan yang tidak terlampau rendah.

Sejenak kemudian maka Raden Ayu Galihwarit melangkah semakin surut melekat di sudut dinding ketika ia melihat sais itu meloncat menerkam aku sambil mengayunkan pisaunya. Tetapi aku sudah bersedia sepenuhnya. Bahkan ketika aku meloncat mengelak, aku telah menarik kerisku dari wrangkanya.

Sejenak kemudian terjadi-lah perkelahian yang seru. Ternyata sais itu bukannya sekedar seorang sais yang hanya pandai mengendalikan kuda. Ternyata ia adalah seorang yang mengenal dengan baik tata olah kanuragan, sehingga ia untuk beberapa lamanya mampu mengimbangi ilmuku.

Tetapi aku adalah bekas seorang prajurit yang pernah mendapat kepercayaan dari atasanku di medan-medan perang. Dengan bekal yang ada padaku, ternyata aku memiliki beberapa keunggulan. Meskipun orang itu memiliki ilmu yang sudah lengkap, tetapi ia masih jauh dari aneka warna pengalaman, sehingga masih banyak kesempatan bagiku untuk menembus pertahanannya.

Demikianlah, maka akhirnya aku pun sampai pada puncak dari perkelahian itu. Setelah aku mengetahui kelemahan dan kekuatan yang ada padanya, maka aku pun segera berusaha mengakhirinya.

Meskipun semula terasa agak sulit, namun akhirnya aku berhasil mendesak dan menguasainya sehingga saat-saat yang menentukan itu datang.

Tiba-tiba saja sais itu menjadi pucat. Dengan suara terbata-bata ia berkata, “Apakah benar-benar kau akan membunuhku?”

Tidak ada kegilaan seperti perasanku pada saat itu. Aku sama sekali tidak lagi dapat mengekang diri. Meskipun sais yang tidak menyangka mendapat lawan yang dapat mengalahkannya itu benar-benar menjadi cemas akan dirinya, namun aku tidak menghiraukannya lagi.

“Jangan bunuh aku”

Aku masih mendengar suaranya. Tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku desak ia ke sudut dan aku tidak mau mendengar lagi ia berkata separah katapun. Karena itu, maka ketika aku melihat mulutnya mulai bergerak di saat-saat yang paling menentukan, aku tidak mau menunggu. Sebuah tikaman yang tepat telah menghunjam di dadanya.

Yang terdengar kemudian adalah orang itu mengerang. Ketika aku menarik kerisku, ia pun terjerembab jatuh. Mati.

Sejenak aku berdiri dengan tangan bergetar. Baru sesaat kemudian aku sadar, bahwa di ruang itu ada seorang perempuan yang gemetar ketakutan.

Ketika aku memandang sela-sela daun pintu yang tidak tertutup rapat, maka senja pun sudah menjadi semakin suram. Ternyata aku tidak berkelahi terlalu lama.

“Raden Ayu harus segera kembali ke istana Ranakusuman” Aku berkata kepada perempuan itu. Aku sudah tidak begitu jelas lagi melihat perubahan wajahnya di dalam keremangan malam yang sudah turun perlahan-lahan.

“Bagaimana aku akan pulang?” bertanya Raden Ayu.

“Terserah kepada Raden Ayu. Tugasku sudah selesai”

“Tetapi, apa yang dapat aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma tentang diriku”

“Terserah kepada Raden Ayu”

“Tidak. Aku memerlukan pendapatmu”

Aku tidak peduli. Tetapi ketika aku melangkah pergi, Raden Ayu Ranakusuma telah menahanku, bahkan berpegangan lenganku.

“Aku tidak dapat pulang sendiri dan aku tidak mempunyai alasan untuk mengatakan sesuatu kepada Pangeran Ranakusuma”

“Terserah kepada Raden Ayu. Itu bukan urusanku”

“Dipanala, Dipanala. Jangan tinggalkan aku sendiri di sini” tangisnya sambil berpegangan lenganku erat-erat.

Untunglah bahwa aku sudah setua ini. Atau aku memang bukan sejenis orang yang memiliki darah yang terlampau panas, sehingga aku tidak mudah dibakar oleh nafsu yang gila itu meskipun Raden Ayu Ranakusuma agaknya sudah benar-benar kehilangan keseimbangan berpikir. Pada saat itu Raden Ayu Galihwarit pasti sudah kehilangan nalarnya sehingga untuk membawanya pulang dan menyerahkannya dengan selamat dan alasan-alasan yang dapat diterima oleh Pangeran Ranakusuma, apapun imbalannya pasti akan diberikan. Namun justru karena itu aku menjadi semakin muak. Hampir saja aku lemparkan perempuan itu. Untunglah bahwa aku segera sadar, bahwa aku adalah hambanya. Aku adalah seorang abdi Ranakusuman.

Karena itu, maka aku pun mencoba untuk menenangkan diri dan pengendapan perasaan. Dalam keremangan yang semakin kelam aku masih melihat sesosok tubuh yang terbujur di lantai bergelimang darah.

“Antarkan aku pulang” sekali lagi aku mendengar tangis Raden Ayu Galihwarit.

Akhirnya aku pun berpikir, bagaimana membawa Raden Ayu itu kembali ke rumahnya.

“Marilah, hamba antar Raden Ayu pulang dengan kereta itu” Aku pun kemudian mengambil keputusan.

“Tetapi apa yang akan aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma?”

“Raden Ayu dapat mengatakan apa saja”

“Ya, tetapi apa? Dan kenapa tiba-tiba kau membawa kereta ini kembali ke Ranakusuman? Dan bagaimana dengan mayat sais itu?”

“Raden Ayu dapat mengirimkan utusan kepada orang yang mempunyai kereta itu. Orang itu tentu akan berkata bahwa bukan dia yang menyuruh sais itu menjemput Raden Ayu”

“Lalu kenapa kau yang membawa itu, dan kenapa sais itu mati?”

“Sais itu menipu Raden Ayu”

“Ia memang menipu, maksudku memeras. Tetapi bagaimana aku harus mengatakan?”

“Sais itu menipu, kemudian ingin merampok Raden Ayu. Ketika kereta ini dipacu. Raden Ayu melihat hamba di pinggir jalan. Raden Ayu berteriak memanggil, dan hamba sempat menghentikan kereta itu. Hamba bunuh sais nya dan hamba membawa Raden Ayu kembali”

“Tetapi kenapa di rumah ini”

“Ia mencoba bersembunyi”

“Lalu apakah alasanmu bahwa kau berada di jalan yang dilalui kereta ini”

“Serahkan kepada hamba”

Sejenak Raden Ayu Galihwarit berpikir. Namun kemudian ia pun berkata sambil mengangguk kecil, “Baiklah. Mudah-mudahan kangmas Ranakusuma tidak bertanya terlampau banyak”

“Mudah-mudahan”

Raden Ayu Galihwarit pun kemudian berjalan tertatih-tatih ke kereta yang masih ada di tepi jalan. Aku mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar. Namun aku pun mulai berpikir, apakah yang harus aku katakan kepada Pangeran Ranakusuma.

Ternyata bahwa usaha Raden Ayu Galihwarit untuk membersihkan dirinya berhasil. Seorang kumpeni datang ke Ranakusuman sambil memaki-maki. Ia merasa menyesal bahwa keretanya telah dipergunakan oleh sais itu untuk merampok.

“Untunglah bahwa usaha itu gagal” katanya dengan nada yang kaku.

Kedatangan orang asing itu memang mempengaruhi sikap Pangeran Ranakusuma. Ia percaya bahwa isterinya telah tertipu dan aku yang kebetulan melihatnya telah menolongnya.

“Tentu sais itu pula yang menjebak kawanku, perwira yang terbunuh itu” berkata orang asing itu, “Tetapi agaknya ia belum sempat merampok saat itu. Sejak saat itu sebenarnya aku sudah curiga, tetapi Raden Ayu sendiri yang mengatakan bahwa sais itu tidak bersalah”

Demikianlah semua kesalahan telah berhasil dilemparkan kepada sais yang mati itu. Dan aku pun terlepas pula dari segala sangkut paut dan keterlibatan atas kematian sais itu. Sementara Raden Ayu Galihwarit pun berhasil menghindarkan diri dari kemarahan Pangeran Ranakusuma”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jadi itulah agaknya yang menjadi sebab, kenapa Raden Ayu Galihwarit tidak dapat berbuat apa-apa atasmu”

“Demikianlah agaknya kakang”

“Sayang, bahwa ia justru tidak melakukannya karena ia merasa berterima kasih kepadamu. Jika demikian, maka ia akan menghentikan semua kelakuannya yang binal itu, dan berbuat baik kepadamu dengan jujur. Ternyata bahwa yang dilakukan justru kebalikan dari itu. Ia sama sekali tidak merasa menyesal dan bahkan menganggap kau sebagai orang yang paling berbahaya baginya”

“Ternyata demikian yang terjadi kakang. Meskipun di antara kami dengan diam-diam ada semacam perjanjian, bahwa kami tidak akan saling membuka rahasia, namun agaknya Raden Ayu Galihwarit menganggap bahwa dengan membunuhku, maka persoalannya menjadi lebih jernih. Ia akan berhasil melenyapkan semua rahasia yang hanya aku ketahui, jika rahasia itu aku bawa mati seperti sais itu pula”

Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ternyata Raden Ayu Galihwarit adalah orang yang sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari yang aku duga. Ia sampai hati melakukan pembunuhan meskipun tidak dengan tangan sendiri. Sudah barang tentu bahwa nasib Raden Juwiring pun pada suatu saat terancam pula olehnya”

“Ya kakang. Kemungkinan itu memang dapat terjadi”

Kiai Danatirta pun terdiam sejenak. Wajahnya yang tenang dan dalam itu tiba-tiba seakan-akan bergejolak. Tetapi hanya sejenak, karena sejenak kemudian maka perasaan yang melonjak sesaat itu pun segera dapat dikuasainya kembali.

Namun demikian bagi Dipanala masih ada persoalan yang dihadapinya. Setelah ia terlepas dari maut, lalu apakah yang akan dilakukannya?

Karena itu, maka ia pun kemudian minta pertimbangan kepada Kiai Danatirta tentang persoalannya itu. Persoalan yang sangat rumit baginya.

“Apakah aku masih akan kembali ke istana Ranakusuman kakang?”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit bagi Ki Dipanala untuk menentukan sikap. Jika ia tidak kembali ke Ranakusuman, maka Raden Ayu Galihwarit pasti akan menjadi semakin cemas akan dirinya sendiri. Raden Ayu itu tentu menduga, bahwa Dipanala mengetahui bahwa ia telah berusaha membunuhnya. Dengan demikian, maka nafsu membunuh itu akar, menjadi semakin bergejolak di dalam hatinya, dan sebelum ia berhasil, ia pasti tidak akan berhenti, karena masalahnya akan menyangkut namanya dan kedudukannya. Apalagi keluarga Dipanala masih tinggal di belakang istana Ranakusuman, sehingga mungkin Raden Ayu yang garang itu akan melepaskan dendamnya kepada keluarga Dipanala, atau mempergunakan keluarga itu untuk memaksakan kehendaknya atas Dipanala.

Tetapi jika ia kembali ke Ranakusuman, maka ia pun akan berada di dalam bahaya.

Namun setelah berpikir sejenak, Kiai Danatirta itu berkata, “Sebaiknya kau kembali Dipanala?”

Ki Dipanala memandang wajah Kiai Danatirta yang dalam, itu.

“Berbuatlah seolah-olah kau tidak mengetahui apa yang telah terjadi atasmu. Kau tidak usah menyinggung-nyinggung masalah itu sebagai masalah yang menyangkut keluarga Ranakusuman”

“Tetapi bukankah Raden Rudira mengetahui, bahwa aku sudah mengalami? Jika aku diam sama sekali, apakah hal itu justru tidak mencurigakan bagi mereka”

“Maksudku, kau jangan menyinggung nama penghuni Ranakusuman. Kau dapat melaporkan bahwa kau telah dirampok di perjalanan. Kau dapat mengatakan apa yang terjadi. Tetapi kau tidak tahu siapakah yang lelah melakukan itu”

Ki Dipanala mengangguk-angguk.

“Namun bagaimanapun juga, kau harus berhati-hati. Usaha itu tentu tidak akan berhenti sampai sekian. Semakin lama kau pasti dianggapnya sebagai orang yang semakin berbahaya bagi Raden Ayu Galihwarit”

“Ki Dipanala mengangguk-angguk. la sadar sesadar-sadarnya, bahwa kini ia benar-benar di dalam kesulitan, apapun yang dilakukannya.

“Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta kemudian, “Aku adalah orang tua. Mungkin aku tidak mempunyai kemampuan apapun juga untuk membantumu. Tetapi karena sedikit banyak persoalan ini menyangkut hubunganmu dengan padepokan ini, maka jika kau sempat, katakanlah kesulitan-kesulitanmu kepadaku”

“Ah, kakang tidak terlibat. Semuanya adalah hasil perbuatanku sendiri. Dan aku memang harus mempertanggung jawabkannya”

“Tetapi kemarahan Raden Rudira kepadamu terutama karena kau telah menentang niatnya untuk membawa Arum. Bahwa ibu dan ayahnya mengurungkan niatnya untuk menderamu di halaman Ranakusuman, bukannya karena mereka melarang, tetapi mereka takut jika kau membuka rahasia itu kepada setiap orang”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terima kasih kakang. Sebenarnyalah bahwa aku memerlukan perlindungan. Pada suatu saat mungkin aku memang harus menyingkirkan keluargaku dari rumah yang sekarang aku diami”

“Memang mungkin mereka mengusirnya. Tetapi jika mereka sudah berhasil membinasakan kau”

“Bukan saja karena Raden Ayu Galihwarit ingin membunuhku. Tetapi kota Surakarta memang menjadi semakin panas. Pengaruh orang asing yang semakin lama menjadi semakin terasa menjerat kaki dan tangan kita sendiri, telah menumbuhkan persoalan baru. Beberapa orang Pangeran tidak menerima keadaan ini. Dan menurut Raden Rudira yang baru datang dari Sukawati, aku mendengar bisik-bisik di antara para pelayan dan hamba yang lain yang mendengarnya, bahwa keadaan Sukawati terasa sangat aneh. Rakyat Sukawati seakan-akan bukan lagi merupakan rakyat biasa seperti yang kita lihat di padukuhan-padukuhan lain. Rakyat Sukawati mempunyai bentuknya tersendiri”

“Bagaimana dengan rakyat Sukawati itu?”

“Mereka memiliki sifat-sifat yang aneh. Seorang pengiring yang mengikuti Raden Rudira ke daerah Sukawati mengatakan bahwa ia seakan-akan masuk ke dalam suatu mimpi yang menggetarkan. Seakan-akan setiap orang di Sukawati adalah prajurit-prajurit yang siap untuk bertempur”

“Tentu itulah sikap Pangeran Mangkubumi. Jika Raden Rudira mengatakan hal itu kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma, maka kumpeni pun tentu akan segera mendengarnya”

“Tetapi Sukawati sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Mereka sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang manapun jika Pangeran Mangkubumi memang sudah bersikap demikian”

“Sebenarnyalah harapan kita tergantung kepadanya”

“Menilik suasananya kakang, agaknya bagaikan bisul yang sudah masak. Entah pagi, entah sore, maka bisul itu akan segera pecah”

“Apakah kau sudah merasakan?”

“Ya kakang. Baru-baru ini datang utusan kumpeni dari Semarang. Tentu ada persoalan yang akan berkembang lagi. Dan aku yakin bahwa hal itu pasti akan menyangkut persoalan Pangeran Mangkubumi dan segala kegiatannya”

“Tentu kita tidak akan dapat tinggal diam. Jika angin bertiup maka kita harus bersikap. Tetap tegak atas kemampuan diri atau merunduk ke arah angin. Dan orang asing itu adalah angin yang sangat deras.

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku berada di padang ilalang”

“Yang akan merunduk karena hembusan angin”

“Ya kakang. Aku mengetahui dengan pasti sikap Pangeran Ranakusuma”

“Kau tidak dapat memberikan pendapat? Bukankah sampai sekarang suaramu masih di dengar?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi persoalannya hampir sama dengan persoalan Raden Ayu Galihwarit”

“He?” Kiai Danatirta terkejut.

“Tetapi bukan secara kebetulan. Pangeran Ranakusuma memang melakukannya dengan sengaja meskipun akhirnya ia terjerat oleh kebiasaannya itu. Aku pernah dijadikan penghubung antara Pangeran Ranakusuma dengan Raden Ayu Retnasasi”

“Raden Ayu Retnasasi? Aku pernah mendengar namanya. Tetapi bukankah Pangeran Ranakusuma memang beristeri lebih dari seorang?”

“Jika Raden Ayu Retnasasi itu orang lain, maka persoalannya tidak akan terlampau sulit. Pangeran Ranakusuma dapat mengawininya. Mungkin Raden Ayu Galihwarit akan marah, tetapi tidak akan bertahan lama dan persoalannya akan berkembang seperti yang pernah terjadi. Tetapi yang lebih parah adalah karena Raden Ayu Retnasasi adalah adik kandung Raden Ayu Galihwarit sendiri”

“He, itu pun suatu kegilaan yang berlebih-lebihan”

“Demikianlah keadaan istana Ranakusuman”

“Jika terjadi sesuatu dengan Raden Ayu Retnasasi apakah yang dapat dilakukan oleh Pangeran Ranakusuma?”

“Tidak apa-apa. Raden Ayu Retnasasi sudah bersuami”

“O” Kiai Danatirta memijit-mijit keningnya sambil menggeleng-geleng lemah, “Bukan main. Aku ingat sekarang. Raden Ayu Retnasasi agak berbeda dari kakaknya Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang. Raden Ayu Retnasasi bertubuh kecil, tetapi lincah seperti burung sikatan”

“Ya. Begitulah kira-kira”

“Ternyata keluarga yang tampaknya menyilaukan itu, agaknya adalah keluarga yang rapuh sekali. Pada saatnya akan datang kekecewaan yang mencengkam seisi rumah itu”

“Termasuk aku kakang, karena aku pun sudah terlibat begitu jauh dari seluruh persoalan yang ada di istana itu”

“Tetapi kau dapat menyingkir Dipanala”

“Terlambat kakang. Aku harus mempertanggung jawabkan semua yang pernah aku lakukan selama aku berhubungan dengan Keluarga itu. Bahkan hampir saja aku digilasnya. Tetapi agaknya lambat laun hal itu akan terjadi juga, karena mereka tentu tidak akan berhenti berusaha”

“Tetapi kau tidak akan sekedar menundukkan kepala sambil mengacukan ibu jarimu untuk mempersilahkan mereka memenggal lehermu. Apalagi kau memiliki senjata yang dalam keadaan yang paling berbahaya masih dapat kau pergunakan”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam.

“Namun adalah kewajibanmu untuk berusaha melindungi dirimu sendiri. Kau memang harus berhati-hati sekali”

“Kali ini agaknya Pangeran Ranakusuma belum terlibat dalam usaha untuk menyingkirkan aku. Tetapi lain kali. mungkin ialah yang melakukannya, dan tentu jauh lebih cermat dari usaha isterinya”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula, tetapi ia tidak menyahut, sehingga dengan demikian keduanya pun berdiam diri untuk beberapa saat lamanya.

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin malam. Angin yang dingin berhembus menyentuh kulit. Di kejauhan terdengar derik bilalang bersahut-sahutan disela-sela rintih angkup yang samar-samar.

“Sudahlah” berkata Kiai Danatirta kemudian, “beristirahatlah. Kau tentu lelah setelah menyelesaikan perjalanan yang kurang menyenangkan itu. Apalagi kau masih harus berkelahi”

Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih kakang”

“Tidurlah di gandok kiri”

“Terima kasih”

Ketika Ki Dipanala berdiri bersama-sama dengan Kiai Danatirta, maka ia berkata, “Aku akan membawa anak panah itu kembali besok. Aku akan berpura-pura tidak tahu, siapakah pemilik anak panah itu, dan aku tidak akan mengatakan bahwa Buntal terlibat dalam perkelahian ini.

Kiai Danatirta tersenyum, “Cobalah, mudah-mudahan pancinganmu mengena”

Demikianlah maka keduanya pun kemudian meninggalkan pendapa. Ki Dipanala pergi ke gandok kiri. sedang Kiai Danatirta masuk ke ruang dalam.

Ternyata bahwa kedua anak-anak muda itu sudah tidur. Juwiring tidur sambil memegang bajunya yang dilepasnya. Agaknya ia merasa udara terlalu panas malam itu, sedang Buntal pun juga tidak berbaju.

Sambil mengangguk-angguk Kiai Danatirta meninggalkan bilik itu. Ia berhenti ketika ia melihat bilik Arum masih terbuka sedikit. Dari celah-celah pintu itu ia melihat Arum terbaring di pembaringannya. Tetapi agaknya ia masih belum tidur.

Arum terkejut ketika ia mendengar pintu itu berderit perlahan-lahan. Dengan cekatan ia meloncat bangkit. Namun gadis itu pun menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Kiai Danatirta berdiri di muka pintu.

“Ayah mengejutkan aku” gadis itu bersungut-sungut.

Kiai Danatirta tersenyum. Kemudian ia bertanya, “Kenapa kau belum tidur?”

“Belum ayah. Udara panas sekali malam ini”

“Kau memikirkan kiriman itu? Bukankah kau mendapat kiriman khusus dari Raden Ayu Ranakusuma, di samping kiriman-kiriman yang lain”

“Ah” desis gadis itu.

“Kain itu tentu bagus sekali”

“Ah” sekali lagi Arum berdesis.

“Tidurlah” berkata Kiai Danatirta kemudian.

Arum pun segera membaringkan dirinya. Ia hanya berpaling sambil tersenyum ketika ia melihat ayahnya menutup pintu biliknya rapat-rapat.

Sejenak kemudian Kiai Danatirta pun masuk pula ke dalam biliknya. Tetapi seperti Ki Dipanala, maka orang tua itu tidak segera dapat tertidur. Angan-angannya berterbangan mengitari setiap persoalan yang seakan-akan saling susul menyusul dengan cepatnya. Arum, Juwiring, Buntal, Sura, Dipanala kemudian tentang Surakarta dan kumpeni.

Menjelang dini hari, barulah Kiai Danatirta dapat tidur sejenak. Karena sebentar kemudian ayam jantan telah berkokok saling sahut menyahut.

Dalam pada itu, Raden Rudira dan Mandra masih berada di simpang empat di luar kota. Mereka duduk sambil berbincang, meskipun keduanya tampak gelisah.

“Kenapa sampai gagal, Mandra?” bertanya Rudira geram.

“Aku tidak menyangka Raden. Tetapi menurut pengamatanku ada seseorang yang ikut serta dalam perkelahian itu”

“Ya”

“Apakah Raden mengetahui-nya?”

Raden Rudira menggelengkan kepalanya. Katanya, “Dari mana aku tahu. Di dalam malam gelap dan jarak yang tidak terlalu dekat”

“Tetapi Raden dapat membidik dengan tepat”

“Untuk membidik seseorang aku hanya memerlukan bentuknya. Bukan garis-garis wajahnya”

“Tetapi apakah Raden tidak keliru?”

“Aku yakin tidak. Aku adalah pemburu yang baik”

“Ya. Raden adalah seorang pemburu yang baik” gumam Mandra, “mudah-mudahan Dipanala tidak mengetahui apakah yang sebenarnya lelah terjadi”

“Lalu apa yang akan kita katakan kepada ibunda?”

“Apa yang ada saja tuan. Mungkin usaha ini harus diulangi.

Raden Rudira merenung sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Kenapa kau suruh cucurut-cucurut itu melakukan tugas yang penting ini Mandra, sehingga kita telah melewatkan kesempatan yang bagus ini”

“Maaf Raden. Aku kira mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Tetapi jika tidak ada orang lain yang ikut campur aku kira Dipanala sudah terbunuh”

“Aku harus tahu siapakah orang itu”

“Dari siapa tuan akan tahu?”

Raden Rudira merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Dipanala pasti akan kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera tentang perjalanannya”

“Apakah jika ia mengetahui bahwa kita terlibat di dalamnya ia masih juga akan kembali?”

Raden Rudira tidak segera menyahut. Namun sekali lagi ia menggeram, “Kau memang terlampau bodoh untuk memilih orang”

“Aku minta maaf Raden”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bergumam seperti kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan Dipanala kembali ke Ranakusuman. Ia akan berceritera, siapakah yang membantunya”

“Mudah-mudahan ia masih berani kembali ke Ranakusuman”

“Ia harus kembali” bentak Raden Rudira, “Jika ia tidak kembali, berarti ia mengetahui bahwa kita sudah terlibat. Dan itu berbahaya sekali. Kita harus memburunya kemana ia pergi dan membunuhnya”

“Ya, ya Raden. Kita harus membunuhnya”

“Tetapi apa yang sekarang harus kita lakukan?” Raden Rudira menahan kemarahan yang masih bersarang di dadanya. Tetapi ia tidak mau menyakiti hati Mandra agar ia pun tidak berkhianat.

“Marilah kita kembali. Tuan akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi”

Raden Rudira menarik nafas dalam. Lalu, “Marilah kita segera kembali. Mudah-mudahan kita masih menemukan jalan yang sebaik kali ini, agar kita tidak usah memburunya seperti memburu kijang di hutan perburuan itu.

Keduanya pun kemudian dengan lesu pergi ke kuda mereka yang tertambat di pohon perdu. Dengan lesu pula mereka meloncat naik dan berjalan memasuki kota Surakarta.

Kota yang masih lengang itu udaranya terasa sangat panas sepanas hati mereka karena kegagalan yang dialaminya untuk yang kesekian kalinya.

“Pada suatu saat aku harus berhasil” geram Raden Rudira di dalam hati, “Jika besok Dipanala kembali dan menyebut orang yang membantunya itu, aku akan segera mengambil sikap. Sebaiknya tidak tanggung-tanggung”

Dalam pada itu, semalam suntuk Raden Ayu Galihwarit sama sekali tidak dapat tertidur sekejappun. Dengan gelisah ia menunggu kedatangan puteranya yang mengawasi tugas orang-orang yang mencegat Dipanala.

Semakin dekat fajar menyingsing. Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin cemas. Jika terjadi sesuatu dengan Raden Rudira dan rahasia itu dapat diketahui oleh Dipanala, maka orang itu pasti akan membuka segala rahasianya pula, meskipun itu akan berakibat mati bagi Dipanala, karena dalam keadaan yang memaksa Raden Ayu Galihwarit pasti akan membuka rahasia Dipanala pula, karena Dipanala sudah membunuh seorang perwira kumpeni.

Tetapi jika Pangeran Ranakusuma dan terlebih-lebih anak laki-lakinya ini mendengar rahasianya, maka ia pun pasti akan terhina untuk selama-lamanya. Ia akan tersisih dari pergaulan yang wajar para bangsawan dan ia pasti akan diusir dari Ranakusuman. Meskipun Pangeran Ranakusuma adalah seorang bangsawan yang tidak terlampau ketat memegang kebiasaan yang berlaku bagi isteri-isterinya, karena hubungannya yang luas dengan orang-orang asing, namun apakah ia akan dapat membiarkan isterinya berbuat terlampau jauh. Dan apakah kata putera laki-lakinya tentang dirinya?”

Kegelisahan itu memuncak ketika ayam jantan sudah mulai berkokok bersahut-sahutan menjelang pagi. Namun Raden Rudira dan Mandra masih juga belum kembali.

Dalam kegelisahan yang tidak tertahankan lagi, maka Raden Ayu Galihwarit pun segera bangkit dan keluar dari biliknya.

Beberapa orang abdi melihatnya dengan heran. Tidak menjadi kebiasaan Raden Ayu Galihwarit bangun terlampau pagi, karena ia adalah seorang perempuan bangsawan yang mendambakan kamukten yang berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya dapat merendahkan martabat kebangsawanannya.

Seperti orang yang sedang dicengkam oleh kebingungan yang sangat. Raden Ayu Galihwarit duduk di ruang depan, meskipun ia belum membenahi dirinya. Dan hal itu pun adalah di luar kebiasaannya, ia belum keluar dari biliknya sebelum ia yakin bahwa ia sudah menjadi sangat cantik.

Raden Ayu Galihwarit tersentak ketika ia melihat regol terbuka. Yang, pertama dilihatnya adalah kepala seekor kuda yang tersembul dari sela pintu. Namun Raden Ayu Galihwarit sudah mengenal kuda itu baik-baik. Kuda itu adalah kuda puteranya Raden Rudira.

Karena itu, maka Raden Ayu Galihwarit pun segera berdiri dan melangkah dengan tergesa-gesa ke tangga depan. Demikian Raden Rudira masuk, maka ia pun segera memanggilnya.

Raden Rudira berpaling mendengar suara ibunya. Dan ia pun segera berbelok ke tangga pendapa Ranakusuman diikuti oleh Mandra.

Dengan tidak sabar Raden Ayu Galihwarit menyongsong kedatangan anaknya. Hampir berlari-lari ia turun tangga dan berdiri di bawah kuncung.

Demikian Raden Rudira meloncat dari kudanya, ibunya segera bertanya, “Bagaimana?”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia berpaling kepada Mandra. namun orang itu sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Bagaimana?” sekali lagi Raden Ayu Galihwarit berdesis.

“Aku berhasil mengawasi mereka ibu” jawab Raden Rudira.

“Sst, jangan terlampau keras. Ayahanda masih tidur di dalam biliknya. Ia tidak boleh mengetahui rencana ini”

Raden Rudira mengangguk. Namun terasa tenggorokannya bagaikan tersumbat. Ternyata terlampau berat baginya untuk mengatakan kegagalannya.

Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi. Ketika ibunya mendesaknya, maka ia pun harus menceriterakan apa yang sudah terjadi.

Tiba-tiba saja wajah Raden Ayu Galihwarit yang gelisah itu menjadi pucat. Dengan suara yang terputus-putus ia bertanya, “Jadi, jadi Dipanala itu masih hidup?”

“Ya. Aku menyesal sekali bahwa aku gagal lagi kali ini”

“Bodoh sekali. Kenapa kalian tidak berhasil membunuh kelinci yang akan dapat menjadi sebuas serigala itu?”

“Sekarang kami gagal ibu, tetapi percayalah bahwa pada suatu saat ia akan mati. Akulah orang yang paling mendendamnya. Akulah yang akan selalu berusaha memusnahkannya”

“Jangan menunggu ia menerkam aku”

“Kenapa dengan ibu?” bertanya Raden Rudira.

Pertanyaan itu telah mengejutkan Raden Ayu Galihwarit. Namun dengan tergesa-gesa ia menyambung, “Tidak. Maksudku, menerkam kita semuanya. Ia akan dapat berkhianat seperti Sura”

“Ibunda dan ayahanda terlalu memanjakannya. Aku sudah ingin menderanya dengan rotan sambil mengikatnya pada pohon sawo kecik itu. Tetapi ayahanda dan ibunda melarangnya”

Dada Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin berdebar-debar. Katanya, “Itu tidak bijaksana. Jika didengar oleh Pangeran-Pangeran yang lain, maka kita seakan-akan menjadi orang yang paling kejam di Surakarta”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi orang itu harus dimusnahkan” gumam Raden Ayu Galihwarit. Lalu, “Kenapa bukan Dipanala saja yang kau bunuh dengan panahmu. Jika kau berhasil membidik orang itu, kau pun pasti berhasil membunuh Dipanala”

“Tetapi orang yang tertangkap itu akan sangat berbahaya ibu. Ia dapat mengatakan siapakah yang menyuruhnya”

“Orang itu pun kau bunuh pula”

“Itulah yang sulit. Orang yang berkelahi di pihak Dipanala itu mempunyai kesempatan untuk menyeretnya dan memukulnya hingga pingsan. Kemudian menyembunyikannya di balik tanggul. Tentu aku tidak dapat mendekatinya, agar aku tidak dapat dikenai oleh orang yang memihak Dipanala itu, karena aku belum pasti dapat membunuhnya”

“Siapakah orang itu?”

“Aku tidak mengenalnya di dalam gelap dan jarak yang tidak cukup dekat”

Raden Ayu Galihwarit menundukkan kepalanya. Persoalan itu justru membuatnya semakin gelisah. Namun tiba-tiba saja ia menggeram, “Tetapi orang itu harus dibunuh. Segera” Ketika ia menyadari keadaannya, ia menyambung, “Jika tidak, maka semua keinginanmu pasti akan dihalang-halanginya. Sebenarnya aku tidak berkeberatan jika kau mengambil gadis itu Mungkin ia berguna bagiku dan bagimu. Apa salahnya kau mengambil seorang gadis padepokan, karena kau putera seorang Pangeran?”

Ternyata kata-kata itu berhasil membakar hati Raden Rudira, sehingga ia pun menyahut, “Ya. Ia akan aku bunuh segera. Jika aku tidak berbuat cepat, maka gadis itu akan menjadi selir kangmas Juwiring, karena mereka tinggal bersama-sama di padepokan itu”

Raden Ayu Galihwarit tidak menghiraukan kata-kata itu. Baginya yang penting adalah, Dipanala terbunuh.

“Jika Dipanala kembali, ia tentu akan berceritera tentang orang yang menolongnya itu” berkata Raden Rudira kemudian.

“Apakah mungkin orang yang selalu kau sebut-sebut sebagai petani dari Sukawati itu?” bertanya ibunya.

Dada Raden Rudira berdesir. Namun ia pun kemudian menjawab, “Tentu bukan. Ia memerlukan waktu untuk mengalahkan lawan-lawannya. Tentu tidak demikian dengan petani dari Sukawati itu. Dengan gerak yang sederhana ia berhasil memaksa Sura untuk menyerah dan tidak berdaya lagi”

“Ya, Dipanala akan berceritera. Tetapi apakah ia akan berani kembali kemari?”

“Ia tidak tahu bahwa akulah yang membunuh tangkapannya. Jika ia tidak kembali kemari, artinya ia mengetahui rahasia ini”

“O” Raden Ayu Galihwarit menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kenapa ibu?”

“Aku kasihan kepadamu. Jika ia tahu akan rahasia ini, maka namamu akan tercemar”

“Jangan hiraukan. Aku dapat menyebutnya sebagai fitnah belaka karena ia tidak akan dapat membuktikannya”

Raden Ayu Galihwarit menganggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Sudahlah ibu” berkata Rudira, “Jangan hiraukan lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya. Sekarang aku akan menyingkirkan kuda ini”

Raden Ayu Galihwarit mengangguk pula meskipun terasa hatinya menjadi semakin parah. Tetapi ia masih mempunyai harapan bahwa Rudira akan segera menyelesaikannya.

“Tentu Dipanala tidak mengetahui bahwa yang membunuh tangkapannya itu adalah Rudira” berkata Raden Ayu Sontrang di dalam hatinya.

Demikianlah Raden Rudira dan Mandra pun meninggalkan Raden Ayu Galihwarit. Sejenak Raden Ayu itu masih berdiri di tempatnya. Namun ketika dilihatnya seorang juru taman menyapu halaman, maka ia pun segera menyadari keadaannya. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke ruang dalam. Sejenak ia berdiri di muka bilik suaminya. Dari sela-sela pintu ia melihat di pembaringan di sebelah pintu itu, Pangeran Ranakusuma masih terbaring diam.

“Kamas Ranakusuma masih tertidur. Tetapi pintu biliknya sudah terbuka. Tentu ia sudah pergi ke pakiwan dan tidak rapat menutup pintu biliknya” pikir Raden Ayu Galihwarit.

Tetapi Raden Ayu Galihwarit terkejut ketika ia mendengar suara suaminya yang masih berbaring, “Masuklah”

Perlahan-lahan Raden Ayu Galihwarit melangkah maju. Hatinya yang gelisah menjadi semakin gelisah.

“Apakah Pangeran Ranakusuma mengetahui pembicaraanku dengan Rudira?”Ia bertanya kepada diri sendiri.

Ketika Raden Ayu Galihwarit sudah berdiri di depan pintu dalam bilik, Pangeran Ranakusuma pun segera bangkit. Sambil duduk di bibir pembaringannya ia bertanya, “Kau bangun terlalu pagi hari ini, apakah ada sesuatu yang penting?”

Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak kangmas. Tetapi tiba-tiba saja. aku menjadi gelisah. Biasanya aku melepaskan Rudira pergi berburu dengan hati yang tenang”

“Apakah anak itu pergi berburu?” Raden Ayu Galihwarit mengangguk.

“Berbeda dengan kebiasaannya, ia membawa beberapa orang pengiring”

“Aku sudah bertanya kepadanya. Tetapi kini ia mempergunakan cara lain. Orang yang berjumlah semakin banyak, akan mengganggu binatang buruannya”

“Apakah ia mendapat sesuatu?”

Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Jawabnya, “Tidak”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Akhirnya sama saja. Dengan atau tidak dengan pengiring, ia tidak mendapat seekor kelinci pun”

Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan getar di dalam hatinya.

“Dimana Rudira sekarang?”

“Di belakang, kangmas”

“Tingkah lakunya menjadi semakin aneh sekarang. Dahulu ia berburu di malam hari. Kadang-kadang dua tiga malam ia berada di hutan buruan. Bahkan dahulu ia sering membawa seekor rusa atau Setidak-tidaknya kulitnya, jika rusanya sudah dimakan bersama pengiring-pengiringnya di tengah-tengah hutan. Tetapi akhir-akhir ini ia tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Menurut penilaianku ia adalah seorang pembidik yang baik. Tetapi ia malas sekali mengikuti buruannya”

Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut, ia ingin segera diperkenankan meninggalkan suaminya yang masih tetap duduk di bibir pembaringannya.

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas lega ketika Pangeran Ranakusuma berkata, “Apakah kau akan mandi?”

“Ya kangmas, aku belum mandi”

“Mandilah. Suruhlah seseorang menyediakan air panas buatku”

“Baiklah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwarit sambil bergeser surut.

Tetapi ketika ia sampai di pintu Pangeran Ranakusuma memanggilnya sambil ber-tanya, “Apakah Dipanala sudah kembali?”

“Sepengetahuanku belum kangmas” jawab Raden Ayu Galihwarit dengan dada yang semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya lantai yang dipijaknya menjadi panas.

“Kenapa belum?”

“Bukankah sudah menjadi kebiasaannya bermalam di padepokan itu? Bahkan pernah ia bermalam sampai dua malam berturut-turut”

Pangeran Ranakusuma mengangguk. Lalu katanya, “Mandilah”

Dengan tergesa-gesa Raden Ayu Galihwarit pun segera meninggalkannya sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya lebih banyak lagi.

Dalam pada itu, selagi Raden Ayu Galihwarit kemudian sibuk mempercantik dirinya.

Sementara itu di padepokan Jati Aking Ki Dipanala pun sedang berkemas, ia benar-benar ingin kembali ke Ranakusuman, justru secepat-cepatnya.

“Aku tiba-tiba saja ingin segera menghadap Pangeran Ranakusuma berdua. Aku ingin tahu kesan di wajah mereka ketika mereka melihat kehadiranku. Juga anak laki-lakinya itu apabila ia berada di istananya” gumam Dipanala sambil mengusap leher kudanya.

Kiai Danatirta yang berdiri sambil bersilang tangan berkata, “Tetapi hati-hatilah Dipanala. Banyak hal yang tidak terduga-duga dapat terjadi. Tetapi juga mungkin karena kita salah menilai keadaan”

“Ya kakang. Aku akan selalu berhati-hati”

“Bukan saja karena keadaan di Ranakusuman sendiri, tetapi keadaan Surakarta pada umumnya. Jika terjadi huru hara, cobalah menghubungi kami di padepokan ini. Tetapi kau juga harus menjaga dirimu, karena dalam keadaan yang demikian, kesempatan untuk membunuhmu tanpa perkara akan menjadi semakin besar. Tidak ada orang yang sempat mengurus kematianmu jika benar-benar pecah perang karena ketidak puasan yang sudah tidak lagi dapat tertahan di dada beberapa orang Pangeran yang justru berpengaruh”

“Ya kakang. Aku akan mencoba”

“Ki Dipanala. Apakah tidak sebaiknya keluargamu sajalah yang lebih dahulu kau singkirkan?”

“Aku juga berpikir demikian kakang, tetapi tentu tidak segera agar tidak menumbuhkan kecurigaan bahwa aku akan melarikan diri karena percobaan pembunuhan yang gagal ini”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tentu aku tidak akan berkeberatan jika kau bawa keluargamu kemari. Arum akan mendapat kawan yang sebaya”

Ki Dipanala menarik nafas dalami. Katanya, “Terima kasih kakang. Kau terlalu baik terhadapku, terhadap keluargaku dan terhadap momonganku, Raden Juwiring”

“He, apa yang sudah aku lakukan?” bertanya Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tersenyum.

Mereka kemudian terdiam ketika Juwiring datang mendekat. Sambil tersenyum ia berkata, “Biarlah aku memasang pelana kuda paman. Agaknya paman sedang dicari oleh Arum”

“Kenapa?” bertanya Ki Dipanala.

“Makan pagi telah tersedia”

Ki Dipanala tertawa. Dan Kiai Danatirta pun kemudian mempersilahkannya masuk ke ruang dalam.

Setelah makan pagi, maka Ki Dipanala pun segera minta diri kepada Kiai Danatirta dan ketiga anak-anak muda yang mengantar mereka sampai ke regol halaman. Dengan wajah yang cerah Ki Dipanala berkata, “Aku akan kembali ke Ranakusuman. Mudah-mudahan aku segera mendapat tugas serupa, membawa Barang-barang yang lain lagi kemari”

Juwiring pun tertawa pula. Katanya, “Tetapi paman harus membawa beberapa orang pengawal agar paman tidak dirampok orang di perjalanan. Tentu Buntal tidak dapat setiap hari menunggu kedatangan paman di sawah”

Yang mendengar kata-kata Juwiring itu pun tertawa pula. Buntal bahkan menyahut, “Aku akan menyongsong paman ke Surakarta jika aku tahu kapan paman akan datang, dan apakah paman membawa kain lurik berwarna cerah buatku”

Ki Dipanala pun tertawa pula, meskipun ia tidak dapat menyingkirkan debar dadanya karena peristiwa yang telah terjadi itu.

“Tetapi paman tidak usah membawa apa-apa lagi buatku” berkata Arum kemudian.

“Kenapa? Kain itu pemberian Raden Ayu Galihwarit. Apakah kain itu kurang baik buatmu?”

“Bukan kurang baik, tetapi terlalu baik. Dan apakah pemberian itu tidak menyimpan pamrih apapun”

Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Tetapi jika aku yang diberinya, aku akan menerimanya dengan senang hati, apapun pamrih yang tersimpan di dalam hatinya. Asal aku tidak goyah dari sikap dan pendirianku”

“Itulah yang namanya memanfaatkan keadaan” sahut Kiai Danatirta sambil tertawa.

Demikianlah, maka ketika matahari semakin tinggi dan panasnya terasa mulai menggigit kulit, Ki Dipanala pun meninggalkan padepokan Jati Aking. Dipacunya kudanya menyusur jalan persawahan yang dilaluinya pada saat ia datang ke padepokan itu.

Ketika ia sampai Di tempat ia dicegat beberapa orang perampok yang sekaligus akan membunuhnya itu, maka ia pun berhenti. Agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang berada di sawah masing-masing, maka ia pun membiarkan kudanya minum seteguk di parit di pinggir jalan, sementara ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Ternyata di sebelah parit induk yang agak besar terdapat gerumbul-gerumbul perdu diatas tanggul. Namun agaknya tanggul itu cukup lebar untuk berpacu diatas punggung kuda.

“Dari sana anak panah itu dilepaskan” Ia bergumam. Lalu, “Ketika Buntal memburunya sambil berloncat-loncatan, mereka lari ke kuda mereka yang ditambat di balik gerumbul-gerumbul itu dan berpacu menjauh”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Disentuhnya sebuah batu di pinggir jalan dengan kakinya. Di situlah orang yang berpakaian petani dengan tutup kepala yang lebar itu duduk menunggunya. Tetapi ternyata orang itu telah dibinasakan oleh Raden Rudira sendiri.

Sejenak kemudian barulah Ki Dipanala meloncat ke punggung kudanya dan meneruskan perjalanannya kembali ke istana Ranakusuman. Tetapi setiap kali ia terngiang pesan Kiai Danatirta, “Hati-hatilah”

Ki Dipanala menarik napas dalam-dalam.

Di perjalanan Ki Dipanala tidak terlalu sering beristirahat.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 06"

Post a Comment

close