Bunga Di Batu Karang Jilid 04

Mode Malam
“Kakek sakit keras. Aku segera ingin menemui kakangku dan jika perlu, mengajaknya mengunjungi kakek”

“Kakangmu siapa?”

“Sada”

“Sada pekatik itu?”

“Ya”

“Datanglah besok pagi”

“Kakek sakit keras. Kakang Sada adalah cucunya terkasih. Ia sudah diambil anak angkat oleh kakek. Hampir setiap saat ia mengigau memanggil nama kakang Sada”

Penjaga itu merenung sejenak. Terdengar suara mereka berbisik-bisik. Agaknya mereka sedang membicarakan perminta-an abdi Ranakusuman itu”

Tiba-tiba pintu regol itu terbuka perlahan-lahan. Seorang pengawal berdiri di dalam regol sambil memandanginya. Katanya, “Tunggulah sebentar. Aku akan memanggilnya”

“Apakah aku boleh mengunjungi di dalam biliknya”

“Tunggulah di sini. Di dalam”

Pelayan Raden Rudira itu termangu-mangu. Jika ia harus berbicara di regol itu. di hadapan para pengawal, maka ia tidak akan dapat menyampaikan pertanyaan yang sebenarnya harus ditanyakannya. Karena itu. maka sekali lagi ia minta, “Sudahlah, jangan membuat kalian terlalu repot. Biarlah aku datang ke biliknya”

“Apakah kau pernah mengunjunginya”

“Pernah, tetapi di siang hari. Dan aku belum tahu letak biliknya itu. Meskipun demikian, aku ingin datang kepadanya supaya aku dapat mengatakannya dengan hati-hati, agar ia tidak terkejut karenanya”

Para petugas regol itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ia melihat kegelisahan, bahkan kekisruhan pada jawaban pelayan Ranakusuman itu. Untunglah bahwa mereka mengira, orang itu benar-benar sedang ditimpa kemalangan, bukan karena kecemasan bahwa niat kedatangannya yang sebenarnya akan dapat diketahui oleh para penjaga itu.

Sejenak kemudian maka penjaga itu berkata, “Jadi manakah yang benar? Apakah kau pernah mengunjunginya atau belum?”

Pelayan itu berpikir sejenak, lalu, “Keduanya benar. Aku pernah mengunjunginya kemari. Tetapi tidak tahu dimana ia tinggal, maksudku, aku bertemu ia di muka regol ini”

“Sudahlah” potong salah seorang dari para penjaga, “Marilah, aku antarkan saja kau ke pondoknya di belakang, di sebelah kandang”

“Terima kasih, terima kasih” sahut pelayan itu terbata-bata.

Maka dengan hati yang berdebar-debar ia pun mengikuti penjaga yang membawanya ke belakang. Dekat di sebelah kandang kuda terdapat sebuah pondok kecil. Di situlah kakaknya tinggal bersama isterinya.

Sada terkejut ketika pintu rumahnya diketok orang di malam hari. Dengan tergesa-gesa ia bangkit dan melangkah menuju ke pintu.

“Siapa?” Sada bertanya.

“Aku kakang, Sampir”

“He” Sada semakin terkejut, “Kau datang di malam begini?”

“Ya, ada perlu yang penting”

Ketika terdengar selarak pintu dibuka, maka Sampir pun berkata kepada penjaga yang mengantarkannya, “Terima kasih. Terima kasih. Orang itu benar-benar kakakku”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau mencampurinya, sehingga ditinggalkannya Sampir di muka pintu yang kemudian terbuka.

“O, kau diantar oleh penjaga regol itu?”

“Ya”

“Masuklah. Apakah yang penting?”

Sampir pun segera melangkah masuk. Sikapnya yang gelisah membuat kakaknya bertanya-tanya. Baru ketika pintu sudah ditutupnya, Sampir berkata, “Aku datang membawa persoalan yang penting kakang”

“Kau membuat aku berdebar-debar. Apakah yang penting itu?”

“Kepada para penjaga aku berkata bahwa kakek sakit keras”

“Kakek? Kakek yang mana?”

“Kakek kita”

“He” Sada mengerutkan keningnya, “Apakah kau kesurupan? Bukankah kakek sudah meninggal?”

“Itulah. Aku hanya sekedar memberikan alasan, agar aku dapat masuk dan menemui kau”

“Apa sebenarnya yang penting itu?”

Sampir menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berbisik, “Apakah tidak ada orang yang akan mendengar?”

“Aku tidak mengerti, apakah yang akan kau katakan?”

“Aku mendapat perintah dari Raden Rudira”

“Apa yang harus kau kerjakan?”

“Apakah tidak ada yang mendengar?”

“Ada, mungkin mBokayumu. Ia terbangun juga tadi mendengar pintu diketuk keras-keras. Dan barangkali kuda-kuda di kandang sebelah”

“Baiklah” Sampir menelan ludahnya, “Raden Rudira ingin mengetahui, apakah Pangeran Mangkubumi ada di istana?”

“Di istana Kangjeng Susuhunan?”

“Tidak. Maksudku di istananya sendiri. Di rumah ini. Bukan di istana Kangjeng Susuhunan”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia sedang digelisahkan oleh wajah yang kembar. Setidak-tidaknya mirip sekali”

“Aku tidak mengerti” Sampir menarik nafas dalam-dalam.

“Cobalah, tenangkan sedikit hatimu, supaya kata-katamu tidak bersimpang siur”

“Apakah ada minum?”

“Ada, ada meskipun dingin”

Sada pun kemudian mengambil semangkuk air dan diberikannya kepada adiknya yang gelisah.

Setelah menelan seteguk air, dan sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, maka ia pun mulai berceritera, apa yang diketahuinya tentang perasaan Raden Rudira yang gelisah.

Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma mencari seorang petani yang telah melawannya. Adalah kebetulan sekali bahwa petani itu mirip benar dengan Pangeran Mangkubumi?”

“Ya. Tetapi bukan itu saja. Di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi diketemukan pakaian petani yang menurut para pelayan di sana, pakaian itu adalah pakaian Pangeran Mangkubumi”

Sada mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sambil tersenyum ia kemudian menjawab, “Memang Pangeran Mangkubumi sering mempergunakan pakaian seorang petani. Itu menjadi kegemarannya”

Sampir mengerutkan keningnya. Terbata-bata ia bertanya, “Jadi petani itu Pangeran Mangkubumi sendiri?”

“Belum tentu. Kapan Raden Rudira melihatnya?”

“Sore tadi”

“Sore tadi?” Sada merenung sejenak, lalu, “Pangeran Mangkubumi ada di istana ini”

“He, jadi Pangeran Mangkubumi ada di rumah, eh, maksudku di istananya?”

“Ya. Sejak beberapa hari Pangeran tidak meninggalkan istananya. Ia baru samadi di sanggarnya”

“Kau melihat sendiri?”

“Kudanya ada di kandang. Kalau kau tidak percaya, tunggulah sampai fajar. Hampir setiap fajar, Pangeran Mangkubumi berjalan-jalan mengelilingi halaman Kapangeranan ini”

“Tetapi tadi kau katakan bahwa Pangeran Mangkubumi sedang samadi di sanggarnya”

“Ya. Namun setiap pagi Pangeran Mangkubumi turun dari sanggar dan berjalan-jalan mengelilingi halaman”

Sampir mengangguk-angguk. Tetapi ia masih ingin meyakinkan, “Tetapi kau benar-benar melihatnya”

“Aku yakin. Sebelum aku pergi tidur, aku melihat Pangeran Mangkubumi berada di pendapa sejenak”

Tetapi Sampir justru menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan mengatakannya kepada Raden Rudira. Terserah, kesimpulan apakah yang akan diambilnya”

Sada yang melihat adiknya menjadi semakin bingung justru tersenyum sambil berkata, “Kau jangan ikut menjadi bingung. Banyak rahasia yang tidak diketahui tentang Pangeran Mangkubumi. Tetapi ia adalah seorang Pangeran yang baik, yang ramah dan rendah hati. Tetapi pendiriannya keras sekeras besi baja. Ia tidak mudah terpengaruh oleh persoalan-persoalan baru yang tampaknya memikat hati”

Sampir mengangguk-angguk.

“Katakan apa yang kau dengar tentang Pangeran Mangku-bumi. Ia ada di istananya malam ini. Jika yang dijumpainya di Sukawati itu juga Pangeran Mangkubumi, maka hal itu pun mungkin pula terjadi”

“Jadi bagaimana? Apakah Pangeran Mangkubumi bergegas kembali ke Dalem Kapangeranan?”

“Tidak perlu bergegas. Jika dikehendaki, ia dapat menempuh jarak dari Sukawati ke istana ini dalam sekejap. Mungkin ia berada di Sukawati, dan sekejap kemudian berada di sini”

“Bagaimana mungkin hal itu terjadi?”

“Apakah kau belum pernah mendengar, bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki aji Sepi Angin”

“O”

Sada tertawa tertahan melihat wajah adiknya yang tegang.

“Jangan bingung. Jangan hiraukan tentang Sepi Angin. Tetapi katakan saja kepada Raden Rudira, bahwa Pangeran Mangkubumi ada di rumahnya. Dengan demikian ia akan menjadi tenang”

“Tidak. Bahkan sebaliknya. Ia pasti akan semakin bernafsu mencari petani itu kembali. Hanya karena ia ragu-ragu, bahwa petani yang mirip Pangeran Mangkubumi itu benar-benar Pangeran Mangkubumi itu sendirilah, maka ia tidak berbuat apa-apa dan memerintahkan aku malam-malam begini menemuimu”

Sada masih tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan kau bicarakan lagi. Apakah kau akan tidur di sini atau kembali? Sebentar fajar akan menyingsing”

Sampir menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata, “Raden Rudira menunggu aku. Dan aku sudah terlanjur mengatakan kepada para penjaga, bahwa kakek sedang sakit. Kau harus menyesuaikan dirimu”

Tetapi kakaknya masih saja tertawa, katanya, “Jangan gelisah. Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa kakek memang sakit. Dan aku akan pergi menengoknya. Karena itu, kita berangkat setelah fajar”

Sampir merenung sejenak. Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar suara seorang perempuan bertanya dari dalam bilik tidurnya

“Siapa yang sakit?”

“Ia mendengar percakapan kita. Tetapi agaknya hanya yang terakhir. Rupa-rupanya ia tidur terlampau nyenyak, sehingga ia tidak mendengar percakapan kita sebelumnya. Ia tertidur lagi, setelah aku membuka pintu dan tahu, bahwa yang datang adalah kau”

Sampir mengangguk-anggukkan kepalanya, dan suara itu bertanya lagi, “Siapakah yang sakit?”

“Kakek” sahut Sampir.

“Kakek siapa?”

“Ssst, nanti aku beritahu” sahut suaminya. Perempuan itu diam. Tetapi ia tidak keluar dari biliknya.

Setelah mereka terdiam sejenak, maka Sampir pun bertanya, “Jadi kau akan pergi juga”

“Tentu, bukankah kau sudah mengatakan kalau kakek sakit?”

“Baiklah, jika demikian, biarlah aku menunggu sampai fajar menyingsing”

Kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak kemudian ia pun berdiri dan membuka pintu pondoknya. Sambil menengadahkan kepalanya ia berkata, “Sudah semburat”

“Apa?”

“Fajar. Aku akan mandi dan minta diri agar pekerjaanku dapat dikerjakan oleh orang lain. Di sini hanya ada dua pekatik, apalagi kami merangkap juru taman”

Sampir tidak menjawab. Kakaknya pun kemudian melangkah Keluar membersihkan wajahnya di pakiwan. Ternyata ia tidak mandi sepenuhnya, selain kepalanya dan kaki tangannya.

Setelah memberikan pesan secukupnya kepada isterinya, maka ia pun minta diri. Ia akan mengunjungi kakeknya yang sakit seperti yang dikatakan adiknya dan berpesan pula kepada kawannya, mungkin ia lambat kembali.

“Apakah kau akan pergi sampai tengah hari?”

“Menjelang tengah hari, aku kira aku sudah kembali”

Demikianlah keduanya meninggalkan pondok Sada pada saat fajar menyingsing. Seperti yang sudah terlanjur dikatakan, keduanya kan pergi ke rumah kakeknya yang sedang sakit.

Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti di sudut pendapa. Sesosok bayangan berjalan perlahan-lahan di dalam keremangan fajar. Sambil mengayunkan tongkatnya, orang itu melangkah menyilang dari sudut halaman yang satu ke sudut yang lain”

“Itulah Pangeran Mangkubumi” desis Sada.

“O” tiba-tiba wajah Sampir menjadi pucat. Dengan serta merta ia menjatuhkan diri berjongkok ketika orang yang disebut sebagai Pangeran Mangkubumi itu berpaling kearah mereka.

Tetapi Sada tidak berjongkok. Sada hanya menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

Sampir menjadi semakin berdebar-debar ketika orang itu memperhatikannya dan berkata, “Kenapa ia berjongkok”

Barulah Sada sadar, dan segera menarik adiknya berdiri.

“Bukankah itu Pangeran Mangkubumi” bisik Sampir.

“Ya, Pangeran Mangkubumi tidak mengharuskan abdinya berjongkok setiap saat. Hanya dalam keadaan tertentu”

Tetapi Sampir masih ragu-ragu. Ia menjadi gemetar ketika ia melihat Pangeran Mangkubumi itu mendekatinya.

Tampaklah di dalam cahaya lampu pendapa, wajah Pangeran yang penuh wibawa itu. Berpandangan tajam tetapi lembut.

“Orang ini, memang orang di Sukawati itu” tiba-tiba Sampir berkata di dalam hatinya, “petani itu bukan saja mirip, tetapi tepat tidak ada bedanya sama sekali”

“Siapakah kau?” bertanya Pangeran Mangkubumi kepada Sampir yang masih belum mau berdiri.

“Ampun tuan. Hamba adalah abdi Ranakusuman” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kau di sini pagi-pagi benar?”

“Hamba, eh, hamba ingin menemui kakak hamba ini”

“Ada apa?”

Tiba-tiba saja terasa mulutnya seakan-akan membeku. Dibawah tatapan mata Pangeran Mangkubumi, Sampir sama sekali tidak dapat berbohong. Ia tidak tahu. pengaruh apakah yang sudah mencengkamnya. Namun tidak sepatah katapun yang dapat diucapkan.

“Adik hamba mengabarkan bahwa kakek sedang sakit tuan” Sada lah yang menyahut sambil membungkuk dalam-dalam.

“O” Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk, “Dan kau akan pergi mengunjunginya?”

“Ya tuan” Sada menjawab.

“Dan kau adiknya?”

“Hamba tuan” Sampir menyembah.

“Aku sudah mengira, bahwa ia bukan abdi Mangkubumen” berkata Pangeran Mangkubumi, “sikapnya bukan sikap orang-orangku di sini”

Keduanya tidak menjawab.

“Baiklah, kalau kau akan pergi menengok kakekmu itu. Apakah kau sudah memberitahukan kawanmu? Bukankah kau pekatik?”

“Ya tuan. Hamba sudah memberitahukan kepada kawan hamba. Hamba berharap, sebelum tengah hari hamba sudah datang”

Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Kemudian ia pun berjalan lagi meninggalkan kedua orang itu termangu-mangu.

“Kenapa kau tidak berjongkok” bertanya Sampir kemudian setelah Pangeran Mangkubumi menjauh, “Kami harus berjongkok di hadapan Pangeran Ranakusuma”

“Sudah aku katakan. Kami tidak harus berjongkok setiap saat” jawab kakaknya.

Sampir tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih memandang Pangeran Mangkubumi yang menjauh. Rasa-rasanya ada sesuatu yang lain padanya dari Pangeran Ranakusuma.

Demikianlah keduanya pun kemudian meninggalkan istana Mangkubumen. Bagi Sada, kepergiannya itu sebenarnya hanyalah sekedar untuk menutup ceritera adiknya tentang kakeknya yang sakit. Kakek yang sangat mengasihinya.

“Sekarang kemana aku harus pergi?” tiba-tiba saja Sada berdesis.

Sampir tidak segera menjawab. Ia pun tidak tahu, kemanakah sebaiknya Sada pergi.

“Aku akan pergi ke Ranakusuman” berkata Sada tiba-tiba.

“O” adiknya termangu-mangu.

“Lebih baik pergi ke tempatmu daripada aku harus mengelilingi kota sampai tengah hari”

“Baik, baik. Kau akan dapat memberikan keterangan tentang Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian mereka tidak akan dapat menuduh aku berbohong”

Sada mengangguk. Namun tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mengetahui, apa saja yang akan ditanyakan oleh Raden Rudira kepadanya tentang Pangeran Mangkubumi? Kenapa ia begitu gelisah sehingga mengirimkan adiknya di jauh malam untuk menemuinya dan sekedar bertanya, apakah Pangeran Mangkubumi ada di rumah.

Karena itu, maka ia pun membulatkan niatnya untuk ikut bersama adiknya pergi ke Ranakusuman.

Dalam pada itu, di Ranakusuman, Raden Rudira ternyata hanya tertidur beberapa saat. Di pagi-pagi benar ia sudah terbangun dan langsung mencari Sampir.

“Anak itu belum datang” seorang pelayan memberitahukan kepadanya.

“He, sampai fajar anak itu masih belum datang? Apakah ia mati di pinggir jalan atau dicekik hantu regol Mangkubumen?”

Pelayannya tidak berani mengangkat wajahnya.

“Cari anak itu sampai ketemu. Ia harus menghadap aku segera”

Pelayan itu hanya dapat mengangguk dalam-dalam sambil berdesis dengan suara gemetar, “Ya tuan. Aku akan mencarinya”

“Cepat”

Orang itu pun segera meninggalkan Raden Rudira yang marah-marah. Tetapi ia tidak tahu, kemana ia harus mencari Sampir. Ia tahu bahwa Sampir pergi ke Mangkubumen. Tetapi apakah ia harus menyusulnya?

Selagi ia kebingungan, maka dilihatnya dua orang memasuki regol halaman. Orang itu adalah Sampir.

“Cepat” Orang itu berlari-lari, “Kau dicari oleh Raden Rudira”

“O” Sampir mengangguk-angguk. Sambil berpaling kepada kakaknya ia berkata, “Marilah, Raden Rudira akan senang sekali dapat bertemu dengan kau”

Sada mengangguk-angguk. Ia pun kemudian mengikuti adiknya berjalan cepat ke serambi belakang”

“He, Raden Rudira tidak ada di situ” berkata pelayan yang mencarinya.

Sampir tertegun. Terbata-bata ia bertanya, “Dimana?”

“Di gedogan. Ia sedang menengok kudanya yang baru” keduanya segera pergi ke kandang kuda. Meskipun hari masih agak gelap, tetapi ternyata Raden Rudira sudah berada di kandang kudanya yang baru, seekor kuda yang tegar berbulu coklat kehitam-hitaman.

“He, cepat, kemarilah” Panggil Raden Rudira ketika ia melihat Sampir mendekat.

“Apakah Ramanda Pangeran ada di istana?” langsung Raden Rudira bertanya

Sampir menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya Raden, Pangeran Mangkubumi ada di istananya”

“Nah, bukankah aku benar. Laki-laki itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi. Bodoh sekali, kenapa aku tidak berbuat sesuatu”

Tiba-tiba saja Raden Rudira berteriak, “Sura, eh, aku tidak memerlukannya lagi, Mandra. Panggil Mandra kemari”

Pelayannya pun segera berlari-lari memanggil pengawal yang bertubuh raksasa yang bernama Mandra untuk menghadap Raden Rudira.

Namun dalam pada itu, sesosok tubuh yang lain berada di balik dinding gedogan dengan dada yang berdebar-debar. Ia mendengar semua pembicaraan, ia tahu bahwa Raden Rudira sudah tidak memperhatikannya lagi, karena orang itu adalah Sura.

Tetapi Sura yang sudah menemukan dirinya, tidak memperdulikannya lagi. Ia sama sekali tidak menyesal, bahwa ia akan dikeluarkan dari istana Ranakusuman, tempat ia bekerja bertahun-tahun. Namun sikap Raden Rudira, semakin lama semakin tidak disukainya.

Sura yang berada di belakang dinding itu mendengar derap kaki Mandra berlari-lari. Bahkan dari celah-celah dinding yang tidak rapat, ia melihat orang yang bertubuh tinggi kekar itu dengan tenang datang menghadap Raden Rudira. Sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam ia bertanya, “Apakah tuan memanggil aku?”

“Ya. Aku memerlukan kau”

“Aku selalu siap menjalankan perintah tuan”

“Dengar” katanya, “petani itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramanda Pangeran Mangkubumi”

Mandra menjadi bingung mendengarnya. Ia tidak segera mengerti apa yang dikatakan oleh Raden Rudira.

“He, kenapa kau mendengarnya dengan mulut ternganga?” bentak Raden Rudira.

Mandra masih merenung sejenak, baru kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata, “O, tentu, tentu Raden. Memang tidak ada hubungan apapun juga antara petani itu dengan Pangeran Mangkubumi.

“Jadi, aku harus menangkapnya. Aku harus menemukannya kembali, selagi ia belum lari dari Sukawati. Sura lah yang agaknya telah berkhianat. Mungkin ia menjadi sangat ketakutan setelah ia dikalahkan oleh petani itu”

“Sura memang tidak berarti apa-apa tuan. Jika tuan menghendaki, aku sanggup mengantarkan tuan meskipun tanpa orang lain. Aku sanggup menangkapnya sendiri dan membawanya kemari, menyeretnya di belakang kuda dengan tangan terikat”

“Bagus. Kita akan mengambilnya. Hatiku masih belum puas, Jika aku belum berhasil menangkapnya” Raden Rudira menggeram, “Kita akan mengambil petani itu sekaligus dengan perempuan dari Jati Aking”

“Perempuan dari Jati Aking?” Mandra bertanya.

“Ya. Petani itu pulalah yang telah menggagalkan rencanaku atas gadis Jati Aking itu”

Mandra masih belum jelas, apakah hubungan antara petani itu dengan seorang gadis dari Jati Aking, meskipun ia pernah mendengar bahwa petani itu dijumpai pertama-tama di bulak Jati Sari.

Namun selagi Mandra bertanya-tanya di dalam hati dan mencoba menghubung-hubungkan ceritera yang pernah didengarnya itu dengan perempuan yang dimaksud Raden Rudira, tiba-tiba saja Sada yang selama itu hanya mendengarkan saja berkata, “Tetapi tidak mustahil bahwa Pangeran Mangkubumi lah petani yang tuan maksud itu”

Raden Rudira membelalakkan matanya. Dipandanginya orang itu tajam-tajam. Kemudian ia bertanya, “Siapakah laki-laki ini?”

“Ampun tuan” Sampir lah yang menjawab, “Orang ini adalah kakakku. Ia adalah abdi di Mangkubumen. Kepadanya aku bertanya tentang Pangeran Mangkubumi, dan adalah kebetulan sekali bahwa aku telah melihatnya sendiri”

“Tetapi kenapa ia berkata begitu?”

Sada seakan-akan sama sekali tidak mengerti, akibat apa yang dapat timbul dari kata-katanya. Seenaknya ia berkata, “Memang Mungkin sekali. Pangeran Mangkubumi dapat berada di sembarang tempat di setiap waktu”

Raden Rudira menjadi tegang, “Maksudmu?”

“Pangeran Mangkubumi mempunyai aji Sepi Angin”

Wajah Raden Rudira menjadi merah. Sejenak ia memandang wajah Sada. Namun sejenak kemudian dipandanginya wajah pelayan-pelayannya yang ada di sekitarnya. Dan ternyata bahwa wajah-wajah itu pun menegang juga.

Namun tiba-tiba ia berteriak, “Bohong. Bohong kau”

Tetapi masih seenaknya Sada menggeleng, “Kenapa aku berbohong? Aku hanya memperingatkan tuan, agar tuan tidak salah langkah. Dari Sampir aku mendengar bahwa tuan menjadi ragu-ragu melihat seorang petani yang mirip dengan Pangeran Mangkubumi. Memang tidak mustahil bahwa petani itu memang Pangeran Mangkubumi”

Raden Rudira memandang Sada dengan tajamnya. Ia sama sekali tidak senang melihat sikapnya. Seakan-akan ia sedang berbicara dengan orang-orang sejajarnya. Apalagi persoalan yang dikatakannya telah menimbulkan keragu-raguan yang sangat di dalam hatinya.

Karena itu, maka dengan wajah yang merah ia membentak, “Aku tidak memerlukan keteranganmu. Aku tidak memerlukan kau. Pergi. Pergi dari sini. Sikapmu tidak menyenangkan dan kau mulai membual seperti pelayan-pelayan pesanggrahan itu. Aku harus melaporkannya kepada Ramanda Pangeran Mangkubumi bahwa pasti ada seseorang dari abdi-abdinya yang dengan sengaja mengacaukan susunan tata-krama”

Sada terkejut mendengar bentakan-bentakan itu, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Kenapa tuan membentak-bentak aku?”.

“Kau tidak mengenal sopan santun. Dan kau sengaja membuat aku gelisah” lalu Raden Rudira berkata kepada Sampir, “bawa orang ini meninggalkan halaman”

Sampir menjadi termangu-mangu. Karena itu ia tidak segera berbuat sesuatu sehingga Raden Rudira membentaknya pula, “Cepat, bawa orang ini pergi”

“Ya, ya tuan” Ia menyahut terbata-bata.

Sada pun kemudian menyadari, bahwa ia tidak disukai oleh Raden Rudira. Karena itu, maka ia pun menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah Raden. Aku minta diri. Aku minta maaf, bahwa aku berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hati Raden. Mungkin hal ini terbawa oleh kebiasaan kami di istana Pangeran Mangkubumi”

“Cukup, Cukup. Kau tidak usah sesorah sekarang tinggalkan halaman ini”

“Baiklah Raden” sahut Sada sambil membungkuk sekali lagi.

Demikianlah, Sampir telah membawa kakaknya keluar regol halaman Ranakusuman, sambil minta maaf kepadanya.

“Kau tidak apa-apa. Baiklah aku berjalan berkeliling kota sampai menjelang tengah hari, seolah-olah aku sudah menengok kakek yang sedang sakit”

Dalam pada itu Raden Rudira benar-benar telah dicengkam kembali oleh keragu-raguan yang dahsyat. Keterangan Sada membuatnya semakin bingung, sehingga dendam yang tersimpan di dalam dadanya seakan-akan menghentak-hentak tanpa mendapat saluran.

Dalam kebingungan dan kebimbangan itulah, tiba-tiba. Raden Rudira mencari sasaran yang paling lunak untuk melepaskan kemarahannya. Katanya kepada Mandra, “Sebentar lagi matahari akan terbit. Jika panasnya mulai menyentuh atap gandok kulon, kalian harus sudah siap. Aku akan pergi ke Jati Aking. Aku akan mengambil gadis itu atas perintah ibunda. Ibunda Ranakusuma memerlukan seorang pelayan untuk menyiapkan tempat sirihnya setiap saat”

Perintah itu sebenarnya sangat mengejutkan. Apalagi Sura yang berada di balik dinding dengan gelisah. Jika Rudira masih saja berdiri di situ sampai matahari naik, maka kehadirannya pasti diketahui oleh salah seorang yang ada di sekitar kandang itu.

Untunglah bahwa kemudian jatuh perintah Raden Rudira yang mengejutkan itu, sehingga sejenak kemudian Raden Rudira pun meninggalkan kandang itu sambil menggeram, “Aku harus mengambilnya. Tidak seorang pun dapat menentang perintah seorang Pangeran. Dan ayahanda lewat ibunda menghendaki gadis itu”

Para abdinya yang termangu-mangu itupun sejenak kemudian telah meninggalkan kandang itu pula Meskipun mereka harus menggerutu, tetapi mereka tidak dapat menolak. Betapapun lelahnya, mereka harus segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Jati Sari.

“Mudah-mudahan petani itu tidak kita jumpai lagi di Jati Sari” desis salah seorang dari mereka.

Jika benar orang itu Pangeran Mangkubumi yang mempunyai aji Sepi Angin, tidak mustahil tiba-tiba saja ia sudah berada di padepokan Jati Aking itu” sahut kawannya.

“Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak mengetahui rencana yang tiba-tiba saja meledak karena kemarahan yang tidak tersalurkan. Tindakan ini semata-mata adalah semacam pelepasan yang hampir-hampir tidak dapat dimengerti”

“Sst, siapa tahu, selain aji Sepi Angin, Pangeran Mangkubumi juga mempunyai aji Sapta Pangrungu. Ia mendengar setiap pembicaraan yang dikehendakinya”

“Apakah ia sekarang sedang mendengarkan pembicaraan kita dan pembicaraan Raden Rudira beberapa saat tadi?”

“Mungkin, karena Sampir baru saja meninggalkan istana Pangeran Mangkubumi itu. Pangeran Mangkubumi ingin mengetahui yang akan dilaporkannya kepada Raden Rudira”

“Terasa tengkuk orang itu meremang. Baginya Pangeran Mangkubumi dan petani di bulak Jati Sari itu adalah orang-orang yang menyimpan rahasia yang tidak terpecahkan.

Tetapi mereka harus pergi, meskipun mereka tahu, bahwa Raden Rudira hanya sekedar ingin melepaskan kemarahan yang bergejolak di hatinya. Ia tentu ingin membuat Raden Juwiring menjadi semakin sakit hati karena gadis yang diambilnya itu.

“Apakah gadis itu bakal isteri Raden Juwiring?” bertanya seseorang kepada kawannya.

“Siapa yang bilang? Gadis itu adalah anak Danatirta. Jika di antara mereka timbul juga perasaan saling mencintai, itu wajar sekali. Setiap hari mereka bertemu dan bergaul. Apalagi Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang tampan dan rendah hati”

Merekapun kemudian terdiam Namun tangan merekalah yang sibuk dengan alat-alat yang harus mereka bawa. Alat-alat berburu yang tidak akan dipergunakannya karena sebenarnya mereka tidak akan berburu binatang di hutan-hutan perburuan.

Dengan tergesa-gesa mereka pun makan pagi. Jika matahari naik, tentu Raden Rudira akan segera membawa mereka pergi.

Demikianlah, dugaan mereka itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika langit menjadi semakin cerah, dan sinar matahari mulai jatuh diatas atap gandok kulon, maka Raden Rudira segera mempersiapkan orang-orangnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi kepada Sura. Apakah ia ada di halaman istana atau tidak. Tetapi Raden Rudira tidak membawanya serta, karena ternyata Sura tidak lagi Sura yang setia.

Demikianlah maka Raden Rudira beserta para pengiringnya segera berpacu ke Jati Aking. Beberapa orang yang melihat menjadi terheran-heran. Baru saja mereka melihat Raden Rudira berangkat berburu dua hari yang lalu. Sekarang mereka melihat Raden Rudira telah berangkat lagi.

Raden Ayu Sontrang hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Ia tidak dapat lagi mencegah anaknya yang bernafsu untuk melepaskan kemarahannya kepada orang-orang yang dianggapnya menjadi sebab. Jika Juwiring dan orang-orang Jati Aking itu tidak mengganggunya saat itu, maka petani itu pun tidak akan berbuat apa-apa.

“Kemanakah Rudira itu pergi?” bertanya Pangeran Ranakusuma kepada isterinya.

Raden Ayu Sontrang tidak segera menjawab. Tetapi sambil tersenyum ia berkata, “Makan telah kami sediakan. Silahkan kangmas makan pagi”

“Rudira itu pergi kemana?” Pangeran Ranakusuma mengulang.

“Isterinya masih saja tersenyum. Katanya, “Janganlah kangmas terlampau menghiraukan anak itu. Ia sudah meningkat dewasa. Ia akan dapat menemukan jalannya sendiri yang dianggapnya baik”

“Aku hanya bertanya, ia akan pergi kemana”

Raden Ayu Sontrang justru tertawa.

“Baru semalam ia datang. Belum lagi aku sempat berbicara, ia telah pergi lagi. Aku tidak tahu tabiat anak-anak muda sekarang. Terlampau sulit untuk diketahui kemauannya”

“Kangmas menganggapnya masih terlampau kanak-kanak”

“Tidak. Justru aku meng-anggap ia sudah meningkat dewasa, maka ia harus menemukan kepribadiannya. Selama ini Rudira hampir tidak pernah berbuat apa-apa yang dapat berarti bagi hidupnya kemudian. Ia sama sekali tidak mau mempelajari tata pemerintahan, tidak mempelajari ilmu kehidupan dan ilmu tata susunan alam dan bintang-bintang. Ia malas membaca kitab-kitab dan kidung yang berisi ilmu kasampurnan, dan ia tidak pula maju dalam ilmu kanuragan”

“O” Raden Ayu Sontrang mengerutkan keningnya, namun kemudian ia duduk di sebelah suaminya sambil berkata, “pada saatnya hatinya akan terbuka. Kangmas lah yang wajib menuntunnya. Sampai sekarang kangmas terlampau sibuk dengan pemerintahan di Surakarta berhubung dengan kehadiran orang-orang asing itu”

“Dan kau sibuk pada jamu-jamuan yang diselenggarakan oleh mereka itu dan jamuan yang kita adakan untuk mereka.

Terasa dada Raden Ayu Sontrang berdesir. Baru semalam, sebelum anaknya pulang ia menghadiri jamuan tamu-tamu asing itu dan kemudian menjamu mereka pula. Jamuan yang tidak sekedar makan dan minum.

Namun sejenak kemudian Raden Ayu Sontrang itu sudah tersenyum kembali sambil berkata, “Tetapi masih belum terlambat. Kita akan segera menebus kelambatan itu. Bukankah kita dapat memanggil guru yang cakap untuk menuntun Rudira di dalam bermacam-macam ilmu?”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menatap kekejauhan ia berkata, “Tetapi kalau kita tidak segera melakukannya, pada suatu saat, kita baru akan sadar, jika kita sudah terlambat”

Isterinya tidak menyahut, tetapi diangguk-anggukkannya kepalanya pula. Bahkan kemudian katanya, “Kangmas, silahkan makan. Semuanya sudah tersedia. Bukankah kangmas akan segera menghadap ke istana?”

Demikianlah, ketika Pangeran Ranakusuma berangkat ke istana, maka Raden Rudira berpacu secepat-cepatnya di tengah-tengah bulak menuju ke Jati Aking. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke Sukawati karena keragu-raguan yang mencengkam dadanya. Sekali-sekali terbayang wajah petani itu, namun kadang-kadang ia diganggu oleh wajah Pangeran Mangkubumi yang memang hampir tidak dapat dibedakannya.

“Persetan dengan petani itu” geramnya, “Aku harus melepaskan sakit hatiku kepada kakang Juwiring. Mandra pasti akan lebih berhasil dari Sura yang berkhianat itu”

Dengan demikian, maka mereka berpacu semakin cepat. Ketika matahari merayap semakin tinggi, maka mereka pun telah membelah daerah persawahan di Jati Sari.

“Kita hampir sampai” desis Rudira.

Yang berpacu di sebelahnya kini adalah Mandra Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya, “Apakah mereka tidak sedang berada di sawah?”

“Aku tidak peduli. Aku harus pergi ke Jati Aking menemui Kiai Danatirta. Ia harus menghadap dan membawa Juwiring, anak dungu yang hampir saja mencelakai Sura dengan licik itu. dan anak gadisnya. Aku memerlukan gadis itu. Tidak seorang pun akan dapat mencegahnya. Kalau perlu, kau dapat bertindak dengan kekerasan”

“Jangan cemas” sahut Mandra, “Aku tidak akan mengecewa-kan tuan seperti Sura. Aku akan berhasil membawa gadis itu. Meskipun Raden Juwiring kini memiliki aji Lebur Seketi dan Tameng Waja seperti yang pernah dimiliki oleh Kangjeng Sultan Pajang, namun ia tidak akan berhasil mencegah aku”

“Ia tidak akan dapat berbuat banyak. Yang gila adalah petani dari Sukawati itu. Hampir tanpa berbuat sesuatu ia sudah berhasil mengalahkan Sura” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu, “Apakah ia mempunyai kekuatan gaib pada tatapan matanya yang tajam itu, yang sering disebut sebagai aji Candramawa”

“Aku tidak peduli tuan. Aku akan memaksa mereka menurut segala perintah tuan. Dan jika tuan kehendaki, aku dapat mengikat mereka dan menuntun mereka di belakang kaki kuda ini”

Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia memang mengharap, mudah-mudahan Mandra adalah orang yang lebih baik dari Sura.

Demikianlah, maka menjelang tengah hari, mereka telah berada di bulak Jati Sari. Sebentar lagi mereka akan memasuki padepokan Jati Aking, padepokan yang agak terpisah, di luar padukuhan Jati Sari meskipun tidak begitu jauh.

“Apakah kita akan langsung pergi ke padepokan Jati Aking?” bertanya Mandra.

“Ya. Jika kakang Juwiring dan orang-orang yang kita cari sedang berada di sawah, maka Danatirta harus memanggil mereka” sahut Raden Rudira.

Mandra mengangguk-angguk. Namun ia menjadi berdebar-debar. Kali ini ia ingin menunjukkan kemampuannya bertindak melampaui Sura, agar ia benar-benar mendapat tempat untuk menggantikan orang yang dianggapnya sudah terlalu lama menduduki tempat yang paling baik di Ranakusuman.

“Aku harus mengatasi” Mandra bergumam kepada diri sendiri, “Jika aku gagal kali ini, maka aku tidak akan berhasil mengusir Sura meskipun Sura sudah berkhianat. Raden Rudira pasti akan mencari orang lain yang Setidak-tidaknya tidak lebih jelek dari Sura”

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun sudah menjadi semakin dekat dengan padepokan Jati Aking. Beberapa orang yang melihat iring-iringan itu menjadi cemas. Mereka masih belum melupakan peristiwa beberapa hari yang lalu di bulak Jati Sari.

Beberapa orang yang tidak sempat menyingkir dari jalan yang dilalui Raden Rudira memberikan hormat yang sedalam-dalamnya. Bahkan ada yang menjadi ketakutan dan berjongkok meskipun mereka mengerti, bahwa mereka tidak harus berbuat demikian.

Raden Rudira tidak mengacuhkan mereka. Tetapi peng-hormatan yang diterimanya sedikit menawarkan kemarahannya, setelah ia mengalami perlakuan yang menyakitkan hati si Sukawati. Orang-orang Sukawati seakan-akan tidak mengacuhkannya ketika ia lewat. Mereka berdiri saja dengan tangan bersilang di dada. Tetapi ternyata orang-orang Jati Sari lebih bersikap sopan. Mereka membungkuk dalam-dalam atau bahkan berjongkok di tepi jalan.

Seorang pengiring yang pernah pergi ke Jati Aking diperintahkan oleh Raden Rudira berkuda di paling depan. Kemudian di belakangnya adalah Raden Rudira dan Mandra.

Ketika pengiring yang berkuda di paling depan itu berhenti di depan regol padepokan, maka Raden Rudira pun mendahuluinya sambil berkata, “Kita berkuda terus. Tidak ada orang yang berhak melarang”

Demikianlah maka sejenak kemudian kuda-kuda itu berderap di halaman padepokan yang bersih gilar-gilar dibayangi oleh sepasang pohon sawo kecik yang sejuk.

Ternyata derap kaki-kaki kuda itu telah terdengar oleh para penghuninya, sehingga dengan tergesa-gesa Kiai Danatirta menjengukkan kepalanya lewat pintu depan.

Raden Rudira yang sudah berada di depan pendapa melihat kepala yang terjulur disela-sela pintu itu sehingga dengan serta merta ia berkata, “Ha, aku datang Kiai”

Kiai Danatirta pun kemudian muncul dari balik pintu. Dengan berlari-lari kecil ia melintasi pendapa. Dengan hormatnya ia menyambut kedatangan Raden Rudira di tangga pendapa, sementara Raden Rudira masih berada di punggung kudanya.

“Silahkan Raden” dengan ramahnya ia mempersilahkan tamunya, “Agaknya aku mendapat anugerah tiada taranya, Raden sudi berkunjung ke padepokan ini”

Raden Rudira termangu-mangu sejenak. Diedarkannya tatapan matanya ke sekeliling padepokan. Halaman yang bersih dan terawat. Rerumputan yang hijau dan pohon-pohon bunga yang tumbuh di sekeliling halaman itu. Beberapa sangkar burung bergantungan di pepohonan yang rindang. Burung dari bermacam-macam jenis. Jenis burung bersiul dan jenis burung mendekur.

Di tengah-tengah halaman itu sepasang pohon sawo kecik yang belum tua benar tumbuh dengan rimbunnya, membuat halaman itu semakin sejuk dan segar. Sedang beberapa pohon buah-buahan yang lain bertebaran di sana-sini memenuhi halaman dan kebun padepokan itu.

Karena Rudira tidak menjawab, maka sekali lagi Kiai Danatirta mempersilahkan, “Tuan, marilah, silahkan tuan naik ke pendapa”

Seperti kena pesona maka Raden Rudira pun turun dari kudanya diikuti oleh para pengiringnya. Selangkah demi selangkah ia naik tangga pendapa. Demikian juga para pengiringnya.

Ternyata di tengah-tengah pendapa itu sudah terbentang beberapa helai tikar yang putih seperti seputih janggut yang tumbuh di dagu Kiai Danatirta meskipun tidak begitu lebat dan panjang.

“Silahkan tuan”

Raden Rudira memandang tikar yang terhampar itu sejenak Kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau tahu bahwa aku akan datang kemari?”

Kiai Danatirta tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berkata ia, “Kunjungan tuan sangat mengejutkan. tetapi juga membesarkan hati, bahwa padepokan yang kecil ini mendapat juga perhatian tuan”

“Jangan mengada-ada” sahut Raden Rudira, “Kangmas Juwiring berada di sini. Bukan untuk sekedar berkunjung”

“Justru karena ia sudah ada di sini, maka tidak ada lagi yang menarik padanya. Tetapi kedatangan tuan adalah suatu kehormatan bagiku”

Raden Rudira mengangguk-angguk. Ketika ia akan duduk diatas tikar yang sudah terhampar itu, sekali lagi ia bertanya, “Apakah kau tahu, bahwa aku dan pengiringku akan datang?”

Seperti tidak mendengar pertanyaan itu Kiai Danatirta mempersilahkan, “Marilah tuan, silahkan duduk di sini. Biarlah para pengiring duduk di sebelah”

Raden Rudira maju beberapa langkah dan duduk di hadapan Kiai Danatirta yang segera duduk pula, di sebelah Mandra.

Sementara itu para pengiring Raden Rudira pun telah duduk pula di sebelah tiang tengah, melingkar saling berhadapan. Sejenak mereka saling berpandangan, seakan-akan saling bertanya, apakah yang akan segera terjadi?

Dalam pada itu Kiai Danatirta pun bertanya sekedar keselamatan Raden Rudira dan pengiringnya. Dan Rudira pun menjawab acuh tak acuh karena ia tahu, bahwa hal itu hanyalah sekedar kelengkapan adat sopan santun, yang bahkan dirasakan sangat mengganggunya, karena ia tidak segera dapat mengatakan maksudnya.

Baru kemudian, Rudira sempat berkata, “Aku datang untuk suatu keperluan yang penting Kiai”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia bertanya, “Silahkan Raden duduk dahulu. Silahkan Raden menikmati hidangan yang akan kami suguhkan. Bukankah Raden tidak tergesa-gesa. Raden dapat tinggal di padepokan ini sehari atau bahkan beberapa hari yang Raden ingini. Sekali-sekali Raden dapat melihat kehidupan padesan, sekali-sekali Raden dapat melihat kenyataan hidup petani-petani miskin di daerah Surakarta.

Terasa sesuatu berdesir di dada Rudira. Namun dengan demikian ia bahkan menjadi semakin ingin cepat menyampaikan maksudnya. Katanya, “Aku tidak mempunyai banyak kesempatan”

“O, tetapi tunggulah sebentar tuan. Kami harus menjamu tuan meskipun hanya sekedar apa yang ada di padepokan”

“Aku tidak sempat menunggu. Aku harus segera kembali sebelum ayahanda mencari aku”

“Bukankah ayahanda tuan mengetahui bahwa Raden pergi kemari?”

“Ayahanda lah yang memerintahkan aku pergi kemari”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Apalagi ayahanda Raden sendirilah yang memerintahkan Raden kemari”

“Tetapi ayahanda berpesan agar aku segera kembali”

Kiai Danatirta tersenyum. Katanya, “Silahkan tuan duduk sejenak”

“Jangan pergi. Aku akan segera kembali”

Tetapi Kiai Danatirta seakan-akan tidak mendengar kata-kata Raden Rudira itu. Ia pun segera beringsut dan meninggalkan tamu-tamunya masuk ke dalam.

Sejenak kemudian ia sudah kembali. Sambil tersenyum ia duduk Di tempatnya. Katanya, “Kami akan menghidangkan air. Hanya air untuk penawar haus”

Raden Rudira tidak sempat menjawab ketika pintu pringgitan kemudian segera terbuka. Seorang gadis keluar sambil menjinjing sebuah nampan berisi beberapa mangkuk air panas.

Sejenak Raden Rudira terpesona. Gadis itulah yang dilihatnya di tengah-tengah bulak beberapa saat yang lalu, sehingga tanpa disadarinya ia telah terlibat dalam suatu pertengkaran dengan petani dari Sukawati itu. Dan kini gadis itu datang untuk menghidangkan air panas baginya.

Dada Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Ia sudah tertarik melihat gadis itu di bawah terik matahari. Dalam pakaian seorang anak petani yang membawa makanan ke sawah. Kini gadis itu tidak dibakar oleh panasnya sinar matahari, dan dalam pakaian yang lebih baik pula, sehingga bagi Raden Rudira, gadis itu tampak menjadi semakin cantik.

Dengan cekatan gadis itu kemudian berjongkok dan bergeser mendekat. Ketika ia sudah berada di sudut tikar, ia pun segera duduk sambil meletakkan nampannya di hadapannya.

“Maaf tuan” berkata Kiai Danatirta, sehingga Raden Rudira terkejut karenanya, “Ia adalah seorang gadis padesan, sehingga barangkali solah tingkahnya kurang berkenan di hati tuan”

“O, tidak. Tidak” Rudira menggelengkan kepalanya.

Namun wajahnya menjadi merah ketika ia melihat Kiai Danatirta tersenyum sambil mengambil mangkuk-mangkuk itu dari nampan dan menghidangkannya kepada Raden Rudira dan Mandra.

Tetapi selagi Raden Rudira termangu-mangu melihat wajah Arum yang cerah, tiba-tiba sekali lagi pintu berderit. Ketika Raden Rudira berpaling, maka kini dadanya berguncang. Ia melihat seorang anak muda yang pernah dikenalnya di bulak Jati Sari. Anak itulah yang dengan garangnya menyerang Sura, sehingga hampir saja Sura tidak berdaya, karena ia sama sekali tidak mengira, bahwa anak itu akan menyerangnya bagaikan arus banjir bandang.

Kali ini anak muda yang bernama Buntal itu pun membawa sebuah nampan seperti yang dibawa oleh Arum. Tetapi Buntal kemudian membawa hidangannya kepada para pengiring Raden Rudira.

Bukan saja Raden Rudira, tetapi para pengiring yang melihat tandang anak muda itu di bulak Jati Sari menjadi berdebar-debar. Menilik sikapnya kini, sama sekali tidak terbayang kesan kegarangannya. Sambil berjalan terbungkuk-bungkuk di wajahnya terlukis sebuah senyum yang ramah.

“Itu adalah seorang cantrik di padepokan ini yang aku ambil menjadi anak angkatku” berkata Kiai Danatirta, meskipun sebenarnya ia tahu, bahwa baik Raden Rudira maupun sebagian dari pengiringnya pernah melihatnya.

Tidak seorang pun yang menyahut. Hanya beberapa orang pengawal yang belum pernah melihatnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajah Raden Rudira sendiri tiba-tiba telah menjadi muram. Ternyata di samping gadis yang cantik itu terdapat seorang anak muda yang tampan, bahkan di rumah ini masih ada Raden Juwiring.

Karena itu, maka setelah keduanya selesai menghidangkan mangkuk minuman, Rudira tidak sabar lagi untuk menunggu. Ia ingin segera mengatakan, bahwa ibunya memerlukan seorang gadis pembantu. Karena Juwiring berada di sini, maka alangkah baiknya kalau gadis dari padepokan ini berada di Dalem Ranakusuman.

Tetapi belum lagi ia sempat mengatakannya, sekali lagi gadis ini datang menghidangkan makanan bagi Raden Rudira, disusul oleh Buntal pula, yang membawa makanan bagi para pengiringnya.

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat kedua anak-anak muda itu masuk ke pringgitan dan kemudian menutup pintu dari dalam, terasa hatinya melonjak, sehingga kesan itu tampak di wajahnya.

Kiai Danatirta adalah seorang tua yang memiliki ketajaman indera, sehingga ia melihat kesan yang tersirat di wajah Raden Rudira. Karena itu, maka segera ia berusaha memindahkan perhatian Raden Rudira, “Silahkan Raden, silahkanlah minum”

“O” Raden Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mereka adalah anak-anak padesan. Barangkali ada kekurangan tata kesopanan, harap Raden memaafkan”

Raden Rudira hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab sepatah katapun.

Dalam pada itu, para pengiringnya tidak menunggu dipersilahkan untuk kedua kalinya. Merekapun segera mengangkat mangkuk masing-masing. meneguk minuman yang hangat sambil mengunyah sebongkah gula kelapa.

Namun ternyata Raden Rudira tidak dapat menahan gejolak di dalam hatinya. Sejalan dengan tabiatnya yang kasar dan tergesa-gesa, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Kiai Danatirta, kedatanganku bukannya sekedar untuk singgah di padepokanmu yang sejuk. Tetapi kedatanganku mengemban perintah ayahanda Pangeran Ranakusuma”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya, “Sekarang tuan telah meneguk air dari padukuhan Jati Aking yang dihidangkan oleh anakku dan anak angkatku. Silahkan tuan menyampaikan kepentingan tuan”

“Kiai” berkata Raden Rudira, “ibunda Raden Ayu Ranakusuma memerlukan seorang pembantu”

“O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk, “maksud Raden, apakah ibunda Raden Rudira ingin memerintahkan kepada kami di padepokan ini untuk mencari seseorang? Barangkali Raden dapat menyebutkan, tugas apakah yang akan diserahkan kepada pembantu itu sehingga aku dapat mencari orang yang tepat”

“Ibunda memerlukan seorang gadis yang cakap dan pantas untuk melayaninya setiap saat. Karena ibunda sering menerima tamu-tamu bukan saja para bangsawan, tetapi juga orang-orang asing, maka pelayannya pun harus seorang yang pantas untuk diketengahkan di dalam setiap perjamuan, karena pelayan itu adalah pelayan khusus buat ibunda di setiap saat, di setiap kepentingan”

“O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Kemudian katanya, “Jadi ibunda Raden Ayu Ranakusuma memerlukan seorang gadis”

“Ya. Gadis yang pantas”

“Baiklah Raden. Aku akan berusaha. Mudah-mudahan aku akan segera dapat menemukan gadis yang tuan maksud. Apakah kemudian aku harus membawanya ke Dalem Pangeran Ranakusuma dan menyerahkannya kepada ibunda Raden Rudira?”

“Tidak itu tidak perlu. Ibunda memerintahkan aku membawanya sekarang juga. Ibunda memerlukan pelayan itu secepatnya, untuk segera diajari melayani ibunda terutama apabila ibunda menerima tamu di dalam jamuan yang memang sering diadakan”

“Tetapi bagaimana mungkin sekarang, Raden. Aku harus mencarikannya. Mencari seorang gadis yang pantas dan tentu saja memiliki kecerdasan yang cukup. Aku kira aku memerlukan waktu barang satu dua pekan”

“Itu terlalu lama” potong Raden Rudira, “Aku memerlukan sekarang”

Kiai Danatirta menggeleng, “Apakah tuan akan menunggu sampai aku mendapatkan anak itu? Aku harus pergi ke padukuhan Jati Sari. Aku yakin bahwa orang-orang Jati Sari akan merasa mendapat kanugrahan apabila anak gadisnya dipanggil masuk ke Dalem Pangeranan. Setiap orang pasti akan menyerahkan dengan hati yang ikhlas. Tetapi yang sulit adalah memilih satu dari antara gadis-gadis itu. Tentu saja aku tidak akan dapat menyerahkan sembarang gadis, karena jika ternyata gadis itu tidak memenuhi syarat yang dikehendaki, tuan akan marah kepadaku”

“Kau tidak perlu bersusah payah mencarinya Kiai” Raden Rudira tidak sabar lagi, “Aku sudah menemukan gadis itu”

“O, jadi tuan sendiri sudah menemukannya? Jika demikian soalnya tidak akan begitu sulit. Tuan dapat datang kepada Demang Jati Sari, dan Ki Demang pasti akan dengan senang hati menyampaikan maksud tuan kepada orang tua gadis itu”

“Persetan dengan Demang di Jati Sari. Aku sudah langsung datang kepada orang tuanya”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya.

“Aku datang kemari, karena aku akan mengambil Arum” berkata Raden Rudira dengan tegas.

Mandra menahan nafasnya sejenak. Ia menyangka bahwa Kiai Danatirta akan terkejut. Jika orang tua itu keberatan, maka akan menjadi tugasnya untuk memaksanya menyerahkan anak gadisnya. Ia tidak mau gagal lagi seperti di Sukawati. Jika sekali ini ia gagal, kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya tidak akan datang lagi. Raden Rudira akan melepaskannya pula, dan barangkali Sura akan dipanggilnya kembali. Kegagalannya di Sukawati adalah permulaan yang buruk baginya.

Tetapi ternyata Mandra menjadi heran. Ia sama sekali tidak melihat kesan apapun di wajah Kiai Danatirta, seakan-akan apa yang dikatakan oleh Raden Rudira itu sudah diketahuinya.

Raden Rudira pun memandang wajah orang tua itu sesaat. Untuk meyakinkan tanggapannya yang aneh ia pun sekali lagi berkata kepada orang tua itu, “Aku datang untuk mengambil anakmu. Bukankah anakmu bernama Arum?”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tuan. Adalah tidak dapat aku mengerti, bahwa untuk tugas yang penting itu ternyata tuan telah memilih Arum. Arum adalah seorang gadis yang dungu, manja dan tidak dapat berbuat apa-apa, selain menyampaikan makanan ke sawah. Kenapa tuan memilihnya? Apakah ibunda tuan yang memerintahkan tuan untuk mengambil gadis itu?”

“Aku tidak tahu. Ibunda lah yang menghendakinya. Dan atas persetujuan ayahanda maka aku datang kemari. Ingat Kiai Danatirta. Kau tidak akan dapat menolak. Ayahanda adalah seorang Pangeran”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih bertanya, “Tuan. Adalah aneh sekali jika ibunda Raden Rudira lah yang menghendakinya. Bukankah ibunda tuan belum pernah melihat anakku itu? Tuanlah yang pernah melihatnya di bulak Jati Sari beberapa waktu yang lampau. Dan tuanlah yang pertama-tama telah tertarik kepada anakku. Entah karena anakku memang mempunyai ciri dan tampang seorang pelayan, sehingga tiba-tiba saja tuan ingin mengambilnya menjadi pelayan di Ranakusuman. atau hal yang lain”

Wajah Raden Rudira menjadi merah padam. Ia merasakan sindiran yang tajam dari Kiai Danatirta. Meskipun demikian Raden Rudira masih mencoba untuk menahan hati. Katanya, “Memang akulah yang menyampaikannya kepada ibunda tentang anakmu. Ibunda setuju dan ayahanda pun menyetujuinya. Nah, tidak ada persoalan lagi. Serahkan anakmu kepadaku. Aku akan membawanya menghadap ibunda”

Kiai Danatirta memandang wajah Raden Rudira yang tegang Kemudian ditatapnya Mandra sejenak. Sambil mengepalkan tangannya Mandra bergeser setapak maju.

“Tuan” berkata Kiai Danatirta, “Apakah yang sebenarnya terjadi atas tuan sehingga tiba-tiba saja kami, penghuni padepokan yang jauh ini telah menjadi ajang dan sasaran kemarahan, kekecewaan dan kebencian tuan?”

Dada Raden Rudira berdesir. Seolah-olah Kiai Danatirta itu mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya. Karena itu Raden Rudira justru menjadi semakin tegang dan hampir berteriak ia berkata, “Jangan mengada-ada. Ayahanda Pangeran Ranakusuma menghendaki aku mengambil Arum untuk pelayan ibunda. Kau yang tinggal di padepokan Jati Aking tidak dapat menolak, karena ayahanda mempunyai wewenang khusus dari Kangjeng Susuhunan atas Rakyat Surakarta”

“Tuan” berkata Kiai Danatirta, “Aku tidak akan menolak wewenang khusus itu. Tetapi bagaimanakah jika seorang yang lain, yang juga mempunyai wewenang yang serupa menghendaki lain?”

“Ada beberapa tingkat kekuasaan para bangsawan. Pada umumnya yang lebih tualah yang lebih berhak”

“Tetapi bagaimanakah jika karena sesuatu hal terjadi tidak demikian?”

“Cukup. Aku tidak peduli. Sekarang aku memerlukan Arum. Jika ada kekuasaan yang lebih tinggi yang dapat menolak perintah ini, lekas katakan”

Tetapi Kiai Danatirta menggeleng, “Aku tidak dapat mengatakan tuan, siapakah yang berkeberatan atas perintah Pangeran Ranakusuma lewat tuan dan aku juga tidak dapat mengatakan kekuasaan manakah yang akan dapat mencegahnya. Tetapi lebih dari pada itu, aku adalah ayahnya. Aku mohon kepada tuan, agar tuan tidak mengambilnya sekarang. Aku akan mencoba mendidiknya agar ia menjadi seorang gadis yang dapat menempatkan dirinya di antara kaum bangsawan”

“Itu tidak perlu. Ibunda akan mengajarinya”

“Tetapi Arum masih terlalu bodoh tuan. Aku harus memberikan dasar lebih dahulu sebelum ia berada di Dalem Ranakusuman. Apalagi, Arum adalah anak yang manja, yang belum pernah terpisah dari keluarganya”

“Ia sudah cukup dewasa untuk hidup dalam lingkungan yang lebih baik. Tidak di padepokan yang sepi. Ia akan berkembang menjadi seorang gadis yang memiliki pengetahuan melampaui kawan-kawannya di padepokan dan bahkan di seluruh Kademangan Jati Sari”

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas perhatian tuan dan ayahanda tuan, Pangeran Ranakusuma. Tetapi perkenankanlah aku mohon, agar anak itu jangan dibawa sekarang”

“Tidak” Raden Rudira hampir kehilangan kesabaran, “Kau jangan membantah. Kau tidak mempunyai hak menolak perintah yang diberikan oleh ayahanda. Suruhlah anakmu bersiap. Bawalah pakaian secukupnya saja karena ibunda pasti akan memberikan jauh lebih banyak dari yang dimilikinya sekarang”

Kiai Danatirta merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Maaf tuan. Aku tidak sampai hati melepaskan anakku”

“Kau tidak dapat menolak” suara Rudira menjadi semakin keras.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia memanggil Arum tanpa beranjak dari tempatnya.

Agaknya Arum sudah berada di balik pintu. Demikian namanya disebut, demikian pintu itu terbuka.

“Kemarilah”

Sejenak Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian mendekati ayahnya dan duduk bersimpuh di belakangnya.

Kehadiran Arum ternyata membuat Raden Rudira menjadi gelisah. Sejenak ia memandang wajah gadis itu, namun kemudian dilempar-kannya tatapan matanya ke halaman, ke celah-celah dedaunan yang bergetar ditiup angin.

“Arum” berkata Kiai Danatirta, “ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, dan aku ingin mendengar pendapatmu”

“Kiai” potong Raden Rudira, “sebaiknya Kiai memberitahukan persoalannya. Kiai tidak perlu mendengar pendapatnya”

“Bukankah anak ini yang akan menjalaninya”

“Tetapi Kiai dapat memerintahkan kepadanya tanpa mendengar pendapatnya”

“Raden, aku adalah orang tua. Aku adalah ayahnya. Tentu aku tidak dapat berbuat sekasar itu kepada anak gadisku sendiri”

“Kau berhak menentukan sikap, dan anakmu harus tunduk kepadamu. Kepada orang tuanya”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling memandangi wajah anaknya, dan bersamaan dengan itu Raden Rudira pun memandang wajah gadis itu pula.

Tetapi ia menjadi heran. Ia tidak melihat kesan yang tegang di wajah Arum. Bahkan dengan tenangnya ia bertanya, “Apakah sebenarnya yang akan ayah katakan?”

Kiai Danatirta berpaling pula kepada Raden Rudira sambil berkata, “Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya kepada anakku”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menahan kegelisahan di dadanya, sementara Kiai Danatirta mengatakan kepentingan Raden Rudira datang ke padepokan ini.

Sekali lagi Raden Rudira menjadi heran. Arum mengikuti keterangan ayahnya, kata demi kata. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan perubahan wajah dan tanggapan yang bersungguh-sungguh.

Baru saja ayahnya selesai, ia sudah menjawab, “Aku tidak mau”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada Raden Rudira, “Raden sudah mendengar sendiri. Anakku tidak mau”

“Aku tidak peduli” Raden Rudira hampir berteriak, “Aku dapat memaksa. Jika aku menyampaikan penolakan ini kepada ayahanda, maka ayahanda akan menjadi sangat marah dan dengan wewenang yang didapat dari Kangjeng Susuhunan, maka kau sekeluarga dapat dihukum seberat-beratnya”

“Tentu ayahanda tuan tidak akan berbuat sekejam itu”

“Kenapa tidak? Tetapi akulah yang tidak ingin semua itu terjadi. Aku akan membawa Arum sekarang”

“Jangan Raden. Ia tidak sanggup”

“Terserah kepadanya. Kalau tidak, maka kaulah yang akan aku bawa. Kau akan diikat di belakang kuda dan dituntun sebagai pengewan-ewan, sebagai seorang pemberontak yang menentang kekuasaan Surakarta. Tidak ada seorang pun yang akan menyalahkan aku dan tidak ada seorang pun yang berani menolongmu, karena aku bertindak atas nama ayahanda. Dan semua orang tahu bahwa ayahanda adalah orang yang dekat sekali dengan Kangjeng Susuhunan, di antara beberapa bangsawan yang lain”

“Ayah” tiba-tiba Arum nampak menjadi cemas.

“Pertimbangkan hal itu. Kau dapat memilih, kau pergi ke Surakarta, tinggal bersama ibunda, atau ayahmu yang akan dituntun ke alun-alun”

“Kedua-duanya tidak tuan” jawab Kiai Danatirta, “Tentu aku juga keberatan mengalaminya. Aku kira ayahanda tuan, Pangeran Ranakusuma tidak akan berbuat demikian. Dan kekuasaan resmi di Surakarta pun tentu tidak. Apalagi seorang saudara tuan ada di sini. Kakanda tuan. Raden Juwiring”

“Persetan dengan kakanda Juwiring. Aku tidak memerlukannya. Aku mempersoalkan Arum di sini”

“Tetapi aku bukan orang asing bagi Pangeran Ranakusuma justru karena kakanda tuan ada di sini”

“Aku tidak peduli”

Kiai Danatirta tidak sempat menjawab ketika tiba-tiba pintu pringgitan itu terbuka lagi. Kali ini seorang anak muda yang tegap berdiri di muka pintu. Raden Juwiring.

“Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalanmu adinda Rudira. Aku tidak mau peristiwa di bulak Jati Sari itu terulang. Kita pasti akan ditertawakan orang, karena justru kita bersaudara. Alangkah jeleknya apabila dua orang yang bersaudara selalu saja bertengkar”

Raden Rudira memandang kakaknya dengan sorot mata yang membara. Tiba-tiba saja ia berdiri sambil berkata, “Kakanda Juwiring memang tidak usah turut campur”

“Aku berusaha untuk menutup telingaku. Tetapi kau terlampau kasar. Sikapmu kepada Kiai Danatirta bukannya sikap seorang anak muda kepada seorang yang sudah lanjut usia”

“Aku putera seorang bangsawan”

“Itulah kesalahanmu yang terutama. Kau terlampau sadar, bahwa kau seorang bangsawan. Dan itu adalah sumber kesalahanmu”

“Persetan” jawab Rudira, “kakanda Juwiring. Kali ini aku tidak akan bermain-main. Aku akan berbuat sungguh-sungguh untuk membuatmu jera. Aku akan bertindak tegas seperti terhadap petani di Sukawati itu”

Juwiring tidak sempat menjawab, karena Rudira segera berpaling kepada Mandra, “Mandra. Kau dapat memaksanya pergi. Aku tidak senang melihat kehadirannya di sini”

Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu katanya masih dengan sikap yang tenang, “Kau membawa orang lain adinda Rudira. Kenapa kau tidak membawa Sura? Apakah ia sekarang sudah menjadi jera karena anak yang tadi menghidangkan makanan itu”

“Aku tidak memerlukan Sura lagi. Tetapi bukan karena anak gila itu” lalu katanya kepada Mandra, “Cepat Mandra. Doronglah ia masuk. Akulah yang bertanggung jawab”

Semua yang berada di pendapa sudah berdiri. Para pengiring Raden Rudira, Kiai Danatirta dan Arum. Suasana menjadi semakin tegang ketika Mandra melangkah setapak demi setapak maju.

“Cepat Mandra” berkata Raden Rudira, “Aku tidak mau menunggu terlalu lama”

Mandra mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun melangkah selangkah maju sambil menatap wajah Raden Juwiring dengan sorot mata yang membara.

Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Bahkan semua orang berpaling ketika mereka mendengar suara dari samping pendapa di pojok longkangan, “Kau memang garang Mandra”

Mandra tersentak ketika ia melihat orang yang berdiri di pojok di bawah tangga pendapa itu. Apalagi Raden Rudira sehingga darahnya serasa berhenti mengalir. Dengan suara gemetar ia berkata, “Kau Sura”

“Ya, ya tuan. Aku adalah Sura”

Raden Rudira memandangnya dengan mata yang tidak berkedip. Sejenak ia berpaling kepada Mandra, namun kemudian kembali ia memandang Sura tajam-tajam.

Terlebih-lebih lagi ketika ia melihat di sebelah Sura itu berdiri anak muda yang bernama Buntal dan seorang lagi yang membuat jantung Raden Rudira semakin berdentangan. Orang itu adalah Dipanala.

“Kalian telah berkhianat” geram Raden Rudira.

“Apa yang sudah aku lakukan tuan? Tuan tidak memerlukan aku lagi, dan aku pun pergi dari Dalem Ranakusuman. Apakah aku berkhianat”

“Persetan. Aku tidak mau melihat mukamu lagi. Pergi dari sini”

“Orang itu tamuku tuan” sahut Kiai Danatirta, “Ia datang bersama Dipanala”

“Aku muak melihatnya” berkata Raden Rudira, “Kalau ia tamumu, suruh ia pergi”

“Maaf tuan. Padepokan ini dapat menerima siapapun juga. Orang-orang yang tidak disukai, yang terasing dan yang dibenci oleh siapapun, dapat diterima di padepokan ini”

“Tetapi tidak orang itu” Raden Rudira merenung sejenak, lalu, “Tentu itulah sebabnya, kalian mengetahui bahwa aku akan datang kemari. Karena pengkhianat itu pulalah kalian telah mempersiapkan diri dengan segala macam jawaban, keberatan dan apapun juga. Orang itu memang harus digantung”

“Tuan” berkata Sura kemudian, “sebenarnya aku tidak pernah merasa sakit hati terhadap tuan. Tuan adalah bendara yang aku ikuti, bahkan sejak tuan masih terlalu kecil. Kalau tuan sudah jemu terhadap aku, maka sudah sewajarnya jika tuan mengusirku. Tetapi yang paling memuakkan bagiku adalah orang yang bernama Mandra itu. Ia telah menjilat tuan lebih daripadaku. Aku memang seorang penjilat. Aku pulalah yang ikut melaksanakan mengusir kakanda tuan, Raden Juwiring dari istana. Yang kemudian dibawa oleh Ki Dipanala ke padepokan ini. Tetapi ternyata ada penjilat yang lebih besar daripadaku”

“Diam, diam” Mandra tidak dapat menahan perasaannya.

Tetapi Sura tertawa. Katanya, “Jangan sakit hati Mandra. Kita sama-sama seorang yang berhati kerdil. Seorang yang tidak tahu malu. Mengorbankan orang lain untuk mendapat keuntungan bagi diri sendiri”

“Tutup mulutmu Sura. Kau telah dicekik oleh perasaan iri yang melonjak-lonjak di dalam kepalamu. Itu salahmu sendiri. Kau tidak mampu lagi melakukan tugasmu. Jangan mencari kesalahan orang lain”

“Tidak. Jangan salah paham. Aku tidak mencari kesalahan orang lain. Aku menyalahkan diriku sendiri, setelah aku merenungi beberapa hari. Sebelum ini aku tidak pernah mempergunakan nalar untuk menilai suatu tindakan. Namun sekarang aku bersikap lain. Dan agaknya yang sudah aku sadari itu ternyata baru kau mulai sekarang”

“Persetan. Aku akan membungkam mulutmu”

“Terus terang Mandra. Aku memang ingin melihat, apakah kau dapat melakukannya”

Tubuh Mandra menjadi gemetar karenanya. Sejenak ia berdiri tegang. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Aku ingin membuktikan, bahwa aku dapat melakukannya”

Sura bergeser setapak. Katanya, “Aku sudah siap. Aku akan meminjam halaman padepokan ini sejenak, siapakah yang akan berhasil membungkam mulut kita masing-masing. Kau atau aku”

“Kau akan menyesal” lalu Mandra berpaling kepada Raden Rudira, “Raden, perkenankanlah aku menyelesaikan orang ini lebih dahulu. Ternyata orang-orang di padepokan ini merasa tidak gentar terhadap kehadiran kita karena di sini ada orang ini”

Raden Rudira merenung sejenak, lalu, “Terserah kepadamu”

“Nah, kau sudah mendapat ijin Mandra. Marilah kita mencobanya. Aku memang mendahului kedatanganmu, dan minta kesempatan ini kepada Kiai Danatirta sebelum ia berbuat sesuatu atasku karena kesalahanku beberapa waktu yang lalu”

Mandra tidak sabar lagi menunggu. Ia pun segera meloncat turun ke halaman.

Raden Rudira. Kiai Danatirta dan orang-orang lain pun mengikutinya dan membuat sebuah lingkaran mengelilingi kedua orang raksasa yang sudah berhadap-hadapan itu.

“Kita mengambil saksi” berkata Sura, “Aku harap kedua bersaudara, Raden Rudira dan Raden Juwiring menjadi saksi dari perkelahian ini. Apakah kita akan mempergunakan senjata atau tidak”

“Tidak, tidak” Kiai Danatirta lah yang menyahut, “Jika kalian mempergunakan senjata, kalian harus pergi dari halaman ini”

“Aku setuju. Bagaimana dengan kau?”

Mandra menggeretakkan giginya. Katanya, “Sebenarnya aku ingin memenggal lehermu. Tetapi, baiklah. Kita tidak bersenjata”

Mandra pun kemudian melepaskan senjatanya dan melempar-kannya menepi.

“Nah, kita dapat segera mulai. Apakah tandanya bahwa salah seorang dari kita sudah kalah?” bertanya Sura.

“Mati” teriak Mandra.

“Tidak. Tidak” sekali lagi Kiai Danatirta menengahi, “Aku tidak mau melihat pembunuhan terjadi di sini”

Sura memandang Mandra dengan tatapan mata yang aneh. Ia tidak menyatakan pendapatnya tentang hal itu, sehingga Mandra lah yang menyahut, “Sampai kita meyakini kemenangan kita”

Sura sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia sudah benar-benar mempersiapkan dirinya. Kesempatan inilah yang ditunggunya. Hatinya yang panas karena sikap Mandra memerlukan penyaluran agar tidak selalu menghentak-hentak di dalam dadanya. Sura tidak peduli lagi, apakah dengan demikian ia akan ditangkap oleh Raden Rudira dan pengiringnya, kemudian dibawa dan diadili di Dalem Ranakusuman. Ia tidak peduli lagi seandainya ia akan dikubur hidup-hidup di halaman belakang atau di samping kandang. Tetapi sakit hatinya sudah dilepaskannya. Bahkan seandainya ia akan dapat dikalahkan sekalipun oleh Mandra dan dicekiknya sampai mati, ia tidak akan mempedulikannya lagi.

Demikian juga agaknya dengan Mandra. Ia pun menunggu kesempatan ini. Kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya dari Sura. Kegagalannya di Sukawati hampir-hampir menghilang-kan kepercayaan Raden Rudira yang sedang tumbuh. Jika ia kini dapat mengalahkan Sura, maka yakinlah, bahwa ia akan dapat menggantikan kedudukan Sura sebagai lurah para abdi di Ranakusuman.

Namun sekali-sekali dadanya berdesir jika dilihatnya Dipanala ada di halaman itu pula. Dipanala adalah orang yang tidak begitu disukai di Dalem Ranakusuman. Tetapi tidak ada yang dapat mengusirnya. Bahkan Pangeran Ranakusuma pun tidak pernah berbuat apapun atasnya.

“Persetan dengan Dipanala. Di sini ada Raden Rudira. Jika ada persoalan dengan Dipanala, biarlah Raden Rudira yang menyelesaikannya” berkata Mandra di dalam hatinya.

Demikianlah kedua orang yang dibakar oleh dendam dan nafsu itu telah berdiri berhadapan. Beberapa orang yang mengelilinginya menjadi berdebar-debar. Kiai Danatirta pun menjadi berdebar-debar pula. Apalagi jika ia melihat sorot mata pada kedua orang raksasa yang berdiri di tengah-tengah lingkaran itu. Sorot mata yang memancarkan kebencian, dendam, dan yang lain nafsu ketamakan dan pamrih yang berlebih-lebihan.

Di sekeliling arena itu berdiri dengan tegangnya Raden Rudira bersama pengiringnya, Raden Juwiring, Buntal, Arum dan Ki Dipanala, sedang di kejauhan beberapa orang penghuni padepokan itu pun berdiri dengan termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berani mendekat karena mereka tahu, bahwa orang yang berdiri berhadapan di tengah-tengah itu adalah orang-orang yang sedang marah dan siap untuk berkelahi.

Sejenak halaman padepokan Jati Aking itu dibakar oleh ketegangan yang memuncak. Perlahan-lahan kedua raksasa yang marah itu saling mendekat. Di dalam kesiagaan sepenuhnya terdengar Mandra menggeram, “Jangan menyesal kalau kau tidak akan bangun lagi Sura. Riwayat petualanganmu akan habis sampai di sini”

“Jika kau berhasil, maka riwayat petualanganmu baru dimulai hari ini. Ternyata kau seorang penjilat yang lebih baik dari aku”

Kemarahan Mandra tidak lagi tertahankan. Karena itu, maka ia pun segera meloncat menyerang lawannya dengan garangnya.

Tetapi Sura pun sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, sehingga karena itu, maka ia pun dengan tangkasnya menghindari serangan yang pertama itu dengan sebuah loncatan pendek.

Demikianlah maka perkelahian itu pun segera mulai dengan dilandasi oleh kebencian yang sangat. Karena itulah maka perkelahian itu pun segera meningkat menjadi semakin seru. Masing-masing tidak lagi mengekang diri, dan bahkan dengan sepenuh tenaga berusaha untuk segera mengalahkan lawannya.

Ketika tangan-tangan mereka telah mulai dibasahi oleh keringat, maka tidak ada lagi yang tersirat di dalam hati, selain mengalahkan lawannya dan bahkan membunuhnya sama sekali meskipun mereka tidak bersenjata.

Tetapi ternyata keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan berkelahi yang luar biasa. Ketahanan tubuh mereka benar-benar mengagumkan. Sebagai raksasa di Ranakusuman keduanya memiliki tenaga yang luar biasa. Namun apabila serangan-serangan mereka kadang-kadang mengenai lawannya, lawannya itu pun masih juga mampu mempertahankan keseimbangannya.

Semakin lama perkelahian itu justru menjadi semakin dahsyat Mandra memang seorang pengawal yang dapat dipercaya. Kakinya bagaikan tidak berjejak diatas tanah. Meskipun tubuhnya bagaikan tubuh raksasa, namun ia mampu berloncatan dengan cepatnya. Sekali melenting sambil menyambar lawannya, namun kemudian kakinya menyerang mendatar bagaikan lembing yang meluncur dengan derasnya.

Tetapi lawannya adalah seorang yang telah bertahun-tahun hidup dalam suasana kekerasan. Sura adalah lambang dari kekuasaan Raden Rudira yang dialasi dengan kekuatannya untuk bertahun-tahun lamanya. Namun tiba-tiba lambang itu kini menjadi goyah. Tetapi kemampuan Sura ternyata tidak goyah. Ia masih mampu bertempur sebaik beberapa tahun yang lampau. Bahkan oleh kemarahan dan

Wajah Raden Rudira yang merah seakan-akan menjadi semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya sambil berkata, “Aku dapat memaksakan kehendakku”

Kebencian yang menyala di hatinya, maka seakan-akan tenaganya kini menjadi berlipat. Tangannya yang kadang-kadang bagaikan membeku di depan tubuhnya, tiba-tiba saja bergerak menyambar lawannya. Dengan jari-jarinya yang mengembang, Sura merupakan orang yang sangat berbahaya. Tandangnya yang kasar dan garang menggetarkan dada setiap orang yang menyaksikan di seputar arena itu.

Raden Juwiring memandang perkelahian itu dengan tajamnya. Di halaman padepokan Jati Aking ini telah terjadi perkelahian antara hamba-hamba dari Dalem Ranakusuman ditunggui oleh adiknya Raden Rudira.

“Inilah ciri kekuasaan Rudira” berkata Juwiring di dalam hatinya, “Ia telah menimbulkan dengki dan iri hati di antara pelayan-pelayan di dalam lingkungannya. Sengaja atau tidak sengaja ia telah menyabung kedua raksasa ini”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya wajah Rudira yang tegang. Kemudian ia berkata pula di dalam hatinya, “Jika adinda Rudira mendapat kesempatan untuk memimpin pemerintahan, maka nasib rakyatnya lah yang akan menjadi sangat jelek. Ia pasti menimbulkan pertentangan di dalam lingkungannya. Dan pertentangan itu agaknya membuatnya semakin kuat, karena di dalam setiap pertentangan yang timbul, rakyatnya tidak akan sempat menilai kebijaksanaan-nya, dan setiap pihak akan berusaha untuk mendapat kesempatan mendekatinya” Juwiring menggigit bibirnya, lalu, “dan kini di dalam lingkungan kecil itu Mandra telah berkelahi dengan penuh dendam dan kebencian melawan Sura”

Dalam pada itu perkelahian itu sendiri menjadi semakin dahsyat pula. Keduanya hampir tidak lagi mempertimbangkan tata geraknya dengan nalar, karena hentakan perasaan yang tidak terkekang.

Benturan-benturan kekuatan yang terjadi, membuat keduanya sekali! terlontar surut beberapa langkah. Kemudian hampir berbareng mereka meloncat maju. Dan bahkan hampir berbareng tangan-tangan mereka berhasil mengenai tubuh lawannya.

Ketika Sura terputar oleh pukulan tangan Mandra yang mengenai pelipisnya, matanya seakan-akan menjadi berkunang-kunang. Tetapi ia cepat berusaha menguasai keadaannya, sehingga ketika Mandra menyerangnya sekali lagi dengan kakinya mengarah ke lambung, Sura masih sempat menghindar. Bahkan dengan garangnya ia menangkap kaki Mandra dan memutarnya dengan sepenuh tenaga. Tetapi Mandra tidak membiarkan kakinya patah. Ia justru menjatuhkan dirinya sambil berputar, kemudian menghentakkan kakinya itu sambil menyerang dengan kakinya yang lain. Tetapi Sura sempat melepaskan kaki yang ditangkapnya. Ketika serangan kaki Mandra yang lain hampir mengenai dadanya, Sura dapat mengelak. Demikian ia surut selangkah, maka Mandra pun melenting berdiri. Tetapi Sura agaknya lebih cepat, karena tiba-tiba saja kakinya telah meluncur ke dada lawannya.

Mandra tidak sempat mengelak, karena serangan itu bagaikan tidak dibatasi oleh waktu. Yang dapat dilakukan hanyalah sekedar menahan serangan itu dengan tangannya. Sambil melipat tangan ia memiringkan tubuhnya. Namun kaki Sura terlampau kuat, sehingga dorongan pada lengan tangannya membuatnya terlempar beberapa langkah surut.

Sura tidak membiarkannya. Dengan cepatnya ia memburu lawannya. Sekali lagi ia memutar kakinya mendatar. Tumitnya tepat mengarah kebagian bawah perut Mandra.

Mandra terkejut melihat serangan yang begitu cepat datang beruntun. Tetapi kali ini ia masih mempunyai kesempatan. Ia menarik sebelah kakinya sambil membungkukkan badannya, sehingga tumit Sura terbang sejengkal saja dari tubuhnya. Pada saat itulah Mandra mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ia meloncat mendekat. Tangannya mematuk dagu Sura dengan cepatnya sehingga terdengar gigi Sura gemeretak beradu. Bahkan kepala Sura terangkat sejenak. Pada saat itulah Sura mengeluh pendek. Tangan Mandra yang lain ternyata tepat mengenai perut Sura, sehingga Sura terbungkuk sejenak.

Saat itu dipergunakan oleh Mandra sebaik-baiknya. Dengan kedua tangannya ia berusaha memukul tengkuk Sura, sehingga dengan demikian ia berharap dapat segera mengakhiri perkelahian.

Tetapi Sura yang masih sempat berpikir tidak membiarkan tengkuknya dikenai. Karena itu, selagi Mandra mengayunkan tangannya Sura bergeser sedikit karena ia tidak mungkin berbuat lebih dari itu. Namun yang sedikit itu ternyata telah menyelamat-kan tengkuknya. Tangan Mandra yang menghantam keras sekali itu ternyata mengenai pundak lawannya.

Sura menyeringai menahan sakit. Tetapi akibat pukulan itu tidak membuatnya pingsan seperti seandainya tangan itu mengenai tengkuknya.

Mandra tidak mau melepaskan kesempatan itu. Ketika ia sadar bahwa tangannya tidak berhasil mengenai tengkuk lawannya, maka sekali lagi ia berusaha mengulangi, selagi Sura masih belum sempat beranjak dari tempatnya, bahkan agaknya ia masih sedang menahan sakit.

Tetapi ketika Mandra sekali lagi mengangkat tangannya, Sura mempergunakan kesempatan yang ada padanya. Dengan sisa tenaganya ia membenturkan dirinya ke dada Mandra. Bahkan ia masih sempat mengangkat lututnya dan langsung menghantam perut lawannya dengan kerasnya, sementara tangannya masih juga berusaha mencengkam leher.

Mandra terkejut sekali mengalami serangan yang tidak diperhitungkannya. Selagi tangannya sedang terangkat, ia terdorong dengan derasnya, sehingga ia tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya.

Sejenak kemudian keduanya jatuh berguling. Sura yang telah melepaskan segenap kekuatannya pun tidak dapat bertahan lagi, dan jatuh menimpa Mandra.

Beberapa saat keduanya berguling-guling. Namun sejenak kemudian keduanya sempat juga berdiri. Tetapi ternyata bahwa kekuatan mereka telah hampir terkuras habis.

Dari mulut Sura tampak meleleh darah yang merah kehitam-hitaman, sedang sambil menyeringai Mandra memegangi perutnya yang bagaikan lumat.

Sejenak keduanya berdiri termangu-mangu. Nafas mereka meloncat satu-satu dari lubang hidung. Ketika dengan tangan kirinya, Sura mengusap mulutnya, maka tangannya pun menjadi merah oleh darah.

Melihat darah itu mata Sura menjadi semakin menyala. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa tenaganya semakin lama menjadi semakin tipis, dan nafasnya pun menjadi semakin dalam di dasar perutnya.

Arum yang juga menyaksikan perkelahian itu menjadi ngeri. Meskipun ia sudah mempelajari olah kanuragan, tetapi ia jarang sekali melihat kekerasan yang sebenarnya. Dan kini ia melihat dua orang raksasa sedang bertempur mati-matian di halaman rumahnya

Terasa bulu-bulu gadis itu meremang. Rasa-rasanya tangannya bergetar dan kadang-kadang bergerak-gerak tanpa disadarinya. Bahkan kadang-kadang seakan-akan tangan-tangan yang kasar dari kedua raksasa itu telah menyentuh tubuhnya.

Sekilas ia memandang wajah ayahnya yang tegang. Ia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Ia yakin bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu sama sekali bukan orang-orang yang mengagumkan bagi ayahnya. Namun dalam pada itu, Arum melihat suatu segi dunia yang rasa-rasanya lain dari dunia yang dikenalnya sehari-hari. Kedamaian di padepokan Jati Aking yang sejuk serta hubungan yang ramah di antara penghuninya. Meskipun mereka berlatih ilmu olah kanuragan, namun Arum belum pernah melihat kebencian yang sebenarnya seperti yang dilihatnya kini. Ia melihat pertengkaran di bulak Jati Sari, dan perkelahian di antara saudara-saudara seperguruannya dengan para pengiring Raden Rudira, adalah sebagai suatu pertentangan yang masih dapat dilihatnya sebagai suatu peristiwa yang dapat saja terjadi. Tetapi kali ini terpancar dari tatapan mata keduanya, kebencian yang melonjak-lonjak. Bukan sekedar persoalan yang tiba-tiba saja timbul karena perbedaan pendapat, tetapi mereka agaknya sudah menyimpan dendam di hati masing-masing.

Demikianlah Arum mulai menjumpai lontaran dendam. Dendam yang tersimpan di hati, yang pada suatu saat memerlukan lontaran yang dahsyat.

Sejenak Sura dan Mandra masih berdiri berhadap-hadapan dengan nafas yang tersengal-sengal. Tampak bahwa kekuatan keduanya sudah jauh susut. Namun dendam yang membara di hati masih tetap membakar perasaan mereka, sehingga dengan demikian mereka sama sekali tidak menghiraukan kenyataan, bahwa sebenarnya mereka sudah menjadi sangat lelah.

Raden Rudira pun menjadi berdebar-debar. Kehadiran Sura di padepokan itu sama sekali di luar perhitungannya.

“Pengkhianat itu memang harus mati” geram Raden Rudira, “Kenapa Mandra tidak bersenjata saja dan memenggal lehernya sama sekali”

Tetapi Raden Rudira tidak dapat berbuat lain kecuali memperhatikan saja perkelahian yang berlangsung itu.

Ternyata bahwa baik Sura maupun Mandra tidak mau surut dari arena. Setelah nafas mereka agak teratur, mereka pun saling mendekat dan tanpa berkata sepatah katapun, Mandra telah mulai menyerang lawannya. Meskipun serangannya sudah tidak segarang semula, namun lawannya pun juga sudah tidak lagi cukup cekatan. Sehingga karena itu, maka ayunan serangan mereka kadang-kadang sama sekali tidak terarah lagi, meskipun lawannya tidak menghindar. Bahkan kadang-kadang mereka terseret oleh ayunan tangannya sendiri dan terhuyung-huyung jatuh tertelungkup. Namun lawannya yang masih dibakar oleh nafsunya untuk memenangkan perkelahian itu dan yang dengan tergesa-gesa ingin mempergunakan kesempatan, ternyata kemampuan tubuhnya tidak lagi memungkinkan, sehingga justru ia pun terjatuh sendiri hanya karena kakinya tersentuh sebuah batu kecil.

Demikianlah perkelahian itu sudah berubah bentuknya. Tenaga kedua orang itu sama sekali tidak mampu lagi mengimbangi dendam yang masih menyala di hati. Seakan-akan mereka masih ingin menghancur lumatkan lawan masing-masing, seolah-olah mereka masih mempunyai tenaga yang cukup untuk meremas gunung dan mengeringkan lautan. Namun setiap kali mereka berdiri, maka kaki mereka menjadi gemetar dan seakan-akan tulang belulang mereka telah menjadi selemas serat nanas.

Akhirnya, betapapun mata mereka masih menyala, namun keduanya sudah tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu. Sura berdiri terhuyung-huyung sambil mengusap bibirnya yang berdarah, sedang Mandra bertelekan pada pinggangnya, untuk menahan perasaan mual yang mengaduk perutnya.

Kiai Danatirta yang melihat bahwa perkelahian itu sudah mendekati akhirnya, menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kekuatan dua orang raksasa itu berimbang.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Sudahlah. Marilah Ki Sanak, kita sudahi kebencian yang menyala di hati kalian masing-masing. Marilah kita duduk sejenak untuk beristirahat. Tidak ada gunanya kita selalu dicengkam oleh dendam dan kebencian”

Sura dan Mandra tidak sempat menjawab karena nafas mereka yang memburu, bahkan seakan-akan hampir terputus di kerongkongan.

Namun dalam pada itu dada Raden Rudira lah yang serasa menyala. Terbayang kegagalan lagi yang akan ditemuinya di padepokan ini. Kegagalan demi kegagalan harus ditelannya. Alangkah pahitnya.

Dengan wajah yang merah padam tiba-tiba terdengar suaranya menggelegar, “Sura, kau sudah berkhianat lagi. Ternyata kau sudah mendahului aku, dan mengabarkan kehadiranku kepada Kiai Danatirta. Apakah keuntunganmu dengan berbuat demikian?”

Sura memandang Raden Rudira yang rasa-rasanya agak kabur. Namun disela-sela nafasnya yang terengah-engah ia berkata, “Ya. Aku memang mendahului setelah aku mendengar kalian membicarakan rencana ini di kandang kuda”

“Persetan” geram Raden Rudira, “Apakah kau tahu akibat dari perbuatanmu?”

“Aku mengharap akibat inilah yang terjadi. Aku berharap bahwa aku akan dapat melumatkan Mandra. Tetapi aku ternyata gagal”

“Anak demit” sahut Mandra, “Akulah yang akan melumatkan kepalamu”

Sebuah senyum yang masam tampak di bibir Sura, “Kita melihat kenyataan ini”

“Tetapi kau tidak akan terlepas dari hukuman pengkhianatan-mu” sahut Raden Rudira lalu dipandanginya Kiai Danatirta, “kau jangan melibatkan diri pada pengkhianatannya. Biarlah ia menanggungnya sendiri”

Kiai Danatirta memandanginya pula. Sorot keheranan memancar dari sepasang matanya yang lembut. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah aku tuan anggap terlibat dalam persoalan antara kedua abdi tuan ini?”

Pertanyaan itu ternyata membingungkan Raden Rudira. Namun kemudian ia menjawab lantang, “Ya. Kau sudah melindungi pelayanku yang berkhianat. Dengan demikian kau akan terlibat pula karenanya”

“Raden” berkata Kiai Danatirta, “Aku tidak mengetahui sama sekali persoalan antara kedua abdi tuan ini. Persoalan tuan di sini adalah persoalan gadis itu”

“Tetapi kau sudah mempergunakan orang yang tidak aku sukai lagi untuk mengacaukan pembicaraan kita. Kedatangannya untuk berkhianat ini kau sambut dengan senang dan dengan demikian akan menguatkan sikap penolakanmu” Raden Rudira berhenti sejenak, lalu, “Aku jangan kau anggap anak yang sama sekali tidak dapat menghubungkan persoalan yang satu dengan persoalan yang lain. Siapapun kalian, tetapi kali ini kalian mempunyai kepentingan yang dapat saling menguntungkan. Itulah sebabnya Sura ada di sini”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Dengan hormatnya ia menjawab, “Memang kadang-kadang sikap seseorang dapat menimbulkan akibat yang tidak dikehendakinya sendiri. Sebaiknya aku tidak ingkar, bahwa sebenarnyalah abdi tuan yang bernama Sura itu datang mendahului tuan. Tetapi yang penting baginya, bukan karena tuan akan mengambil anakku. Ia ingin mendapat kesempatan untuk melepaskan dendamnya terhadap kawannya yang bernama Mandra itu”

“Dan kau yang menyebut dirimu Kiai Danatirta ternyata telah membakar nafsu dendam di hati seseorang”

“Bukan itu. Lebih baik dendam itu meledak di bawah saksi serupa ini daripada mereka mencari kesempatan sendiri. Tentu hal itu akan menjadi jauh lebih berbahaya”

“Bukan itu. Yang penting bagimu, kau dapat menggagalkan niat kami membawa anakmu” potong Raden Rudira, “Tetapi kau keliru. Meskipun seandainya Mandra tidak lagi dapat memaksamu karena ia harus berdiri berhadapan dengan pengkhianat itu, aku masih membawa beberapa pengiring yang akan dapat memaksamu”

Kata-kata itu ternyata bagaikan api yang menyentuh telinga Buntal. Tetapi ketika ia bergeser setapak Juwiring telah menggamitnya. Agaknya anak muda itu dapat berpikir lebih tenang dari Buntal.

“Raden” bertanya Kiai Danatirta, “Aku pun tetap pada permohonanku. Jangan tuan membawanya”

“Kami akan memaksa. Anak itu atau kau”

Sebelum Kiai Danatirta menjawab, Ki Dipanala lah yang menyahut sambil melangkah maju, “Raden. Aku pun adalah seorang abdi di Dalem Ranakusuman. Tetapi tuan jangan tergesa-gesa menuduh aku seorang pengkhianat. Aku ingin tuan mempertimbangkan keputusan tuan untuk mengambil Arum dari rumah ini”

“Maksudmu, agar aku membantah perintah ayahanda?”

“Raden, seperti Raden yang sudah bukan kanak-kanak lagi sehingga Raden dapat mengetahui apa yang sudah terjadi di padepokan ini dengan menghubungkan peristiwa-peristiwa dan persoalan-persoalan yang telah terjadi, maka aku pun demikian pula. Sudah tentu Kiai Danatirta yang sudah berusia lebih tua daripadaku itu pun dapat mengerti, bahwa tuan datang tidak atas perintah ayahanda tuan”

Wajah Raden Rudira menjadi merah padam.

“Kau juga berkhianat”

“Tidak tuan. Aku adalah seorang tua. Ayahanda tuan banyak mendengarkan pendapatku, meskipun tidak semuanya dibenarkan. Aku berharap tuan mendengarkan aku. Barangkali tuan tidak senang mendengar pendapatku, tetapi bukan maksudku menyenangkan hati tuan dengan membenarkan segala sikap tuan seperti Sura sebelum tuan anggap ia berkhianat. Dan aku memang berbeda dari Sura, sehingga kadang-kadang Sura membenciku saat itu. Tetapi bagiku, bagi seorang abdi yang ingin berbakti, tidak seharusnya selalu membenarkan sikap tuannya, namun sebaiknya ia menunjukkan kebenaran kepadanya”

“Omong kosong” bentak Raden Rudira, “Kau memang pandai berbicara. Kau sangka ayah akan berterima kasih dengan sesorahmu itu”

“Ya. Aku memang menyangka demikian. Dan aku akan menghadap ayahanda tuan”

Wajah Raden Rudira yang merah seakan-akan menjadi semakin menyala karenanya. Bahkan kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya sambil berkata, “Aku dapat memaksa-kan kehendakku”

“Jika terjadi benturan kekerasan, aku menjadi saksi, bahwa bukan tuan yang berada di pihak yang benar. Dan sudah tentu aku tidak akan berdiri di pihak yang salah. Aku tidak hanya pandai berbicara, tetapi seperti yang tuan ketahui dari ayahanda tuan jika ayahanda tuan pernah berceritera, aku adalah seorang prajurit”

Dada Raden Rudira bagaikan retak mendengar kata-kata Dipanala. Sejak ia berpaling kepada para pengiringnya yang berada di sekitarnya. Namun tampaklah wajah mereka yang ragu-ragu. Dan jantungnya terasa berdesir ketika ia memandang wajah-wajah yang lain wajah Dipanala, Juwiring, Buntal dan bahkan wajah Arum sendiri. Tampaklah ketegangan yang mantap memancar di mata mereka.

“Adimas Rudira” Juwiring lah yang kemudian berbicara, “Aku tidak mengerti, bagaimana kau menganggap aku Tetapi aku tetap merasa bahwa aku adalah saudara tuamu. Aku adalah kakakmu. Mungkin derajadku memang lebih rendah dari padamu namun sebagai saudara tua, aku ingin menasehatkan kepadamu, urungkan saja niatmu”

“Aku tidak memerlukan nasehatmu. Aku tahu, kau tidak mau kehilangan gadis itu”

“Adimas Rudira” potong Juwiring, “Kau jangan salah mengerti. Ia adalah adikku. Di dalam padukuhan ini, kami bertiga adalah putera Kiai Danatirta”

“Bohong. Jika kau tidak berkepentingan, kau tidak akan bertahan. Kau bahkan harus menasehatkan kepada Kiai Danatirta agar gadis itu masuk ke istana Ranakusuman. Itu akan menguntungkan baginya dan bagi hari depannya”

Tetapi Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku adalah seorang putera Bangsawan. Aku pernah hidup di lingkungan para bangsawan. Tidak seorang pun yang dapat menyatakan bahwa ibuku, yang dahulu juga masuk ke dalam lingkungan para bangsawan dengan harapan yang berlebih-lebihan, kemudian menemukan kebahagiaannya. Dan aku, anaknya, anak seorang bangsawan, tidak dapat hidup dengan tenang di rumah ayahnya sendiri”

Sejenak Raden Rudira bagaikan membeku. Ia tidak dapat membantah kenyataan yang dikatakan oleh Juwiring, karena anak muda itu telah mengalaminya sendiri.

“Adimas Rudira” berkata Juwiring kemudian, “sebenarnya ibunda Galihwarit tidak memerlukan seorang gadis untuk membantunya, karena di istana ayahanda Ranakusuma ada adinda Warih. Biarlah adinda Rara Warih mulai berkenalan dengan kerja sehari-hari yang pantas bagi seorang gadis”

“Apa, apakah katamu kangmas Juwiring? Kau akan menjadi-kan Diajeng Warih seperti seorang pelayan he? Seperti aku, adinda Warih derajatnya lebih tinggi dari kau. Dan kau sekarang berani mengatakan bahwa Diajeng Warih harus bekerja meskipun di rumah sendiri”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah tidak ada salahnya untuk melayani ibu sendiri?”

“Kau yang pantas melakukannya. Bukan aku dan bukan adikku yang lahir dari ibunda Galihwarit” potong Rudira yang menjadi semakin marah, “Tetapi Arum. Gadis padepokan ini. Ia pantas melayani keluarga kami, selain kau”

Wajah Juwiring pun menjadi merah pula. Namun Kiai Danatirta lah yang menyahut, “Tuan, aku berterima kasih atas kesempatan yang terbuka bagi anakku, tetapi sayang, kali ini anakku belum bersedia menerima kesempatan itu”

Ketika Raden Rudira akan menyahut, Dipanala mendahului, “Silahkan tuan kembali. Aku akan menghadap ayahanda tuan. Jika ayahanda tuan berkeras untuk mengambil Arum, akulah yang akan menyampaikannya dan membujuknya agar ia bersedia. Tetapi jika ayahanda tuan dapat mengerti alasan Arum dan ayahnya, aku persilahkan tuan menahan perasaan. Karena kekerasan tidak akan menguntungkan tuan di sini. Kentongan itu akan dapat banyak berbicara, meskipun tuan seorang bangsawan. Cantrik padepokan tidak ubahnya seperti kuda tunggangan bagi gurunya. Apapun yang diperintahkannya akan dilakukan, seperti Sura pada saat-saat ia masih belum sempat berpikir. Apapun yang tuan perintahkan pasti akan dilakukannya juga, meskipun seandainya ia harus berkelahi melawan Pangeran Mangkubumi. Karena perintah Raden bagi Sura waktu itu adalah keputusan yang tidak dapat dibantah seperti perintah Kiai Danatirta bagi cantrik-cantriknya. Dan seperti yang sudah aku katakan, aku ingin mengatakan kebenaran kepada tuan, bukan sekedar membenarkan kata tuan”

“Gila” Rudira menggeram. Tetapi ia benar-benar merasa berdiri diatas minyak yang setiap saat dapat menyala. Ki Dipanala sudah menentukan sikapnya. Dan itu berarti bahwa ia akan berdiri di pihak Juwiring, anak muda yang bernama Buntal dan para cantrik.

Namun demikian rasa-rasanya terlalu pedih untuk sekali lagi mengalami kegagalan. Wajah-wajah yang dilihatnya tegang di halaman itu bagaikan wajah-wajah orang-orang Sukawati yang menyilangkan tangan di dadanya, dan bahkan seperti wajah petani Sukawati yang sangat dibencinya itu.

Tiba-tiba saja Rudira berkata, “Kalian memang harus dimusnahkan seperti orang-orang Sukawati. Kalian pun harus disingkirkan dari bumi Surakarta, seperti Sukawati harus dipisahkan dari Ramanda Pangeran Mangkubumi. Jika kalian tetap berkeras kepala, kalian akan menyesal”

Tidak seorang pun yang menjawab. Baik Kiai Danatirta, maupun Raden Juwiring dan Ki Dipanala mengerti, bahwa di dalam dada Raden Rudira sedang terjadi pergolakan yang sengit. Karena itu maka mereka pun membiarkannya untuk segera mengambil keputusan.

Tetapi sekali lagi Raden Rudira tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapi. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh penghuni-penghuni padepokan itu, yang disebut oleh Ki Dipanala sebagai cantrik-cantrik yang tidak mampu berpikir seperti Sura beberapa saat yang lampau. Raden Rudira tidak mengerti bahwa mereka bukannya cantrik-cantrik yang meneguk ilmu kanuragan di padepokan Jati Aking, karena Kiai Danatirta tidak menyatakan dirinya sebagai seorang guru di dalam ilmu kanuragan itu.

Namun bahwa beberapa orang mengawasinya dari kejauhan, ternyata membuat hati Raden Rudira semakin susut.

Dan sekali lagi Raden Rudira terpaksa mengambil keputusan yang sangat pahit. Ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Selain Sura, ternyata Ki Dipanala telah menentangnya pula. Namun kedudukan Ki Dipanala agak berbeda dengan Sura. Betapapun Ki Dipanala tidak disukai, tetapi rasa-rasanya masih juga ada pengaruhnya terhadap ayah dan ibundanya.

Karena itu, betapa pahitnya, maka Raden Rudira terpaksa berkata, “Baiklah. Kali ini kalian menang. Aku terpaksa membatalkan niatku untuk membawa gadis itu atas perintah ayahanda. Tetapi kalian tidak akan dapat menikmati kemenangan kalian. Juga kakanda Juwiring. Jangan kau sangka bahwa kau akan tetap berhasil mempertahankan Arum. Pada suatu saat kaulah yang akan kecewa, bahwa Arum akan lepas dari tanganmu.

“Adimas Rudira” potong Juwiring, “Kau salah paham”

Tetapi Rudira ingin mengurangi kepahitan di hatinya. Karena itu ia tertawa sambil berkata, “Jangan menyangkal. Kau lebih kerasan di padepokan ini daripada di rumah kita karena di sini ada Arum. Tetapi Arum tidak pantas berada di rumah ini bersama kau dan anak setan itu, apalagi dilingkungi oleh suasana padesan yang kasar”

“Arum memang anak padesan Raden” sahut Kiai Danatirta, “sejak lahir ia adalah anak padepokan”

“Tetapi ia tumbuh seperti sekuntum bunga. Tetapi bunga itu berkembang di batu karang yang gersang” Raden Rudira menyahut, “Namun kangmas Juwiring tidak akan berhasil memetik kembang itu”

“Dengar adimas” potong Juwiring, “Kau salah paham Bukan kehendakku sendiri bila aku berada di padepokan ini”

“Dan kau tidak mau pergi lagi dari tempat ini”

“Bukan maksudku”.

Raden Rudira tertawa pula. Dipandanginya Arum sejenak. Dan wajah gadis itu menjadi merah padam.

“Aku tinggalkan padepokan ini. Tetapi aku akan kembali dengan suatu sikap yang pasti”

Raden Rudira tidak menunggu jawaban lagi. Ia pun segera pergi ke kudanya. Para pengiringnya menjadi termangu-mangu sejenak, namun mereka pun kemudian mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tetapi Mandra yang tertatih-tatih masih juga mengumpat, “Sura aku tidak puas dengan perkelahian ini. Kita akan mengambil kesempatan lain. Aku ingin kita mempergunakan senjata”

Sura memandangnya dengan tajam. Tetapi kemudian ia menarik nafas sambil menjawab, “Baiklah. Memang kita adalah orang-orang yang mendambakan dendam di hati”

“Persetan” geram Mandra. Namun ia tidak sempat berbicara terlalu banyak, karena kawan-kawannya telah berloncatan keatas punggung kuda.

Sejenak kemudian iring-iringan itu pun telah berpacu meninggalkan padepokan Jati Aking.

Derap kaki-kaki kuda yang berlari-lari itu telah menghamburkan debu yang putih, berterbangan meninggi, namun kemudian pecah bertebaran dihembus angin, seperti pecahnya hati Raden Rudira, Putera Pangeran Ranakusuma itu ternyata telah gagal lagi. Dengan demikian timbunan kekecewaan dan bahkan dendam semakin tebal mengendap di hatinya. Setiap saat kebencian dan dendam itu akan dapat meledak seperti meledaknya Gunung Kelut.

Namun dalam pada itu, kepergian Raden Rudira telah menumbuhkah kesan yang aneh di hati anak-anak muda di padepokan Jati Aking. Selama ini mereka tidak pernah mempersoalkan hubungan mereka yang satu dengan yang lain. Namun tiba-tiba kini mereka seperti dihentakkan dalam suatu kesempatan berpikir tentang diri mereka. Bahwa mereka sebenarnya adalah anak-anak muda yang meningkat dewasa.

Buntal yang mendengar semua percakapan kedua kakak beradik itu menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia merasa dirinya memang terlalu kecil. Ia adalah seorang anak yang diketemukan di pinggir jalan oleh orang-orang Jati Sari, bahkan setelah dipukuli sampai merah biru. Sedang meskipun tersisih dari keluarganya, namun Raden Juwiring adalah putera seorang Pangeran.

Tanpa disadarinya Buntal memandang Arum yang masih juga belum beranjak dari tempatnya memandangi debu yang berhamburan di regol halaman padepokannya. Terasa sesuatu berdesir di dada Buntal Sepercik perasaan melonjak di hatinya, “Arum memang terlalu cantik”

Tetapi kepala itu pun segera tertunduk. Didekatnya berdiri seorang yang lahir oleh tetesan darah seorang bangsawan. Juwiring.

Buntal terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Juwiring berdiri di sisinya.

“Jangan hiraukan mereka. Mereka tidak akan bertindak lebih jauh lagi. Paman Dipanala sudah menjanjikan akan menemui ayahanda Pangeran Ranakusuma?”

Buntal tergagap sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah ayahandamu akan mendengarkan keterangannya?”

“Sampai saat ini ayahanda masih mendengarkan. kata-katanya. Mudah-mudahan dalam hal ini pun kata-katanya masih mendapat perhatian ayahanda”

Buntal mengangguk-angguk. Dilihatnya Kiai Danatirta naik ke pendapa bersama Ki Dipanala dan Sura. Sura yang pernah diserangnya dengan serta-merta tanpa diduga-duga terlebih dahulu, sehingga hampir raksasa itu dapat dijatuhkannya. Sementara Arum bergegas melintasi pendapa masuk ke ruang dalam.

Sekali lagi Buntal menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berjalan beriringan dengan Juwiring masuk ke longkangan samping.

“Kita masih sempat pergi ke sawah” berkata Juwiring. Buntal menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, aku akan berganti pakaian”

Mereka berdua pun segera masuk ke dalam bilik masing-masing Namun demikian pintu bilik Buntal tertutup, ia pun merebahkan dirinya diatas amben bambu pembaringannya. Tiba-tiba saja hatinya telah dirayapi oleh sesuatu yang kurang dimengertinya. Seakan-akan ia merasa dibayangi oleh kemuraman yang samar-samar.

“Gila” tiba-tiba Buntal menghentakkan dirinya sendiri, “Aku sudah menjadi gila. Aku tidak boleh berpikir dengan hati yang kerdil. Agaknya aku telah dicengkam oleh kehendak iblis yang paling jahat”

Dengan sekuat tenaga Buntal mencoba melupakan perasaan yang aneh itu, yang seakan-akan dengan tiba-tiba telah mencengkamnya. Memang setiap kali terpercik juga pujian atas gadis yang cantik itu, namun kata-kata Rudira justru serasa menusuk jantungnya dan menghunjamkan perasaan yang aneh itu ke dalamnya.

Dengan tergesa-gesa Buntal berganti pakaian. Bahkan sebelum ia selesai, didengarnya suara Juwiring di depan biliknya, “Apakah kau belum selesai?”

“Sudah, sudah” suara Buntal agak tergagap. Tetapi ia tidak sempat mengenakan ikat kepalanya, sehingga ikat kepala itu hanya dibelitkan saja di kepalanya.

Sambil menyambar cangkulnya Buntal melangkah keluar. Derit pintu biliknya mengejutkannya sendiri, apalagi ketika Juwiring bertanya, “Kenapa kau menutup pintu bilikmu rapat-rapat?”

Buntal tersenyum meskipun dipaksakannya. “Tidak apa-apa Hampir tidak sengaja karena aku masih memikirkan Raden Rudira”

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya, “Jangan hiraukan. Anak itu memang terlalu manja. Ibunyalah yang sebenarnya bersalah. Adiknya, adinda Warih tidak kalah manjanya dari adinda Rudira”

Buntal mengangguk-angguk pula.

“Ternyata bahwa sifatnya yang manja itu telah membahayakan dirinya. Nafsunya menyala seperti api yang ingin membakar setiap bentuk tanpa kendali, sehingga tingkah lakunya seakan-akan tidak berbatas lagi”

Buntal masih mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Apakah ia tidak akan berbahaya bagimu. Jika tidak sekarang, apakah pada suatu saat ia tidak akan berbuat jauh lebih kasar lagi?”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku tidak tahu Buntal. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Namun yang paling mencemaskan sebenarnya bukan aku sendiri. Bagaimanapun juga aku masih mempunyai lambaran yang dapat mengimbangi kebengalannya. Tetapi nafsu kemudaannya kini berbahaya bagi Arum”

Dada Buntal berdesir mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dan Juwiring berkata terus, “Adalah tidak menguntungkan bagi Arum untuk tinggal di Ranakusuman. Seperti yang aku katakan, nasib ibuku tidak terlalu baik sampai saat meninggalnya, meskipun ia adalah isteri seorang Pangeran. Justru karena ibuku tidak mempunyai darah keturunan setingkat dengan isteri-isteri ayahanda yang lain”

Buntal mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan Raden Ayu Manik? Bukankah ia juga mempunyai derajat yang setingkat dengan Raden Ayu Galihwarit itu?”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Persoalannya, adalah persoalan manusia Galihwarit dan Manik. Tetapi ayahanda Ranakusuma juga ikut menentukan ketidak-wajaran yang telah terjadi itu. Lebih daripada itu, ada pihak lain yang mengambil keuntungan”

“Orang asing maksudmu?”

Juwiring memandang Buntal sejenak. Namun kemudian ia mengangguk.

Buntal tidak berbicara lagi. Ketika mereka lewat di depan pendapa, dilihatnya Kiai Danatirta masih duduk bersama Sura dan Ki Dipanala.

“Ayah, kami akan pergi ke sawah” berkata Juwiring kepada Kiai Danatirta.

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Jawabnya, “Pergilah. Nanti jika sempat aku akan menyusul. Apakah kalian akan pulang di waktu makan, atau Arum harus membawa makananmu ke sawah?”

“Kami akan pulang sore hari. Sesiang ini kami baru berangkat”

“Baiklah. Biarlah Arum pergi membawa maka kalian siang nanti”

Sura dan Dipanala memandang kedua anak muda yang berjalan melintasi halaman sambil membawa cangkul. Terasa sesuatu bergetar di dalam hati keduanya. Juwiring adalah putera seorang Pangeran. Siapapun ibunya, tetapi ayahnya adalah seorang Pangeran. Tetapi kini dengan ikhlas ia memanggul cangkul pergi ke sawah, turun ke dalam lumpur.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Sura berkata, “Baru sekarang aku menyadari, betapa besar dosaku atas anak muda yang lapang dada itu. Ia sama sekali tidak tampak mendendam kepadaku, meskipun aku ikut serta berusaha menyingkirkan-nya dari Dalem Ranakusuman” Lalu tiba-tiba saja ia berpaling kepada Ki Dipanala, “Ki Dipanala, apakah Raden Juwiring tidak mengetahui bahwa aku ikut menyingkir-kannya?”

“Ia tentu mengetahuinya. Ia kenal siapa kau waktu itu” jawab Dipanala, “Tetapi ia memang seorang anak muda yang berhati lautan. Sebagian adalah karena tuntuNan Kiai Danatirta”

“Ah” desah Kiai Danatirta, “Ia belum cukup lama di sini untuk dapat membentuk wataknya. Jika hatinya lapang selapang lautan adalah karena pembawaannya. Dan itu adalah suatu karunia bagi Raden Juwiring”

Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Lambat laun ia merasa bahwa dirinya telah menjadi manusia kembali dengan segala macam gejolak di dalam hatinya. Ia kini sempat mempertimbangkan nalar dan perasaannya. Ia sempat memperhitungkan persoalan tentang dirinya dan persoalan di luar dirinya. Hubungan antara manusia di sekitarnya dan antara dirinya, manusia dan alam besar yang meliputi bentuk-bentuk alam yang kecil. Pengaruh timbal balik dari getaran di dalam dirinya terhadap alam di sekitarnya dan getaran alam di sekitarnya dan getaran alam di sekitarnya terhadap dirinya.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya seperti ia dilahirkan-kembali dengan tanpa bekal apapun, sehingga ia merasa dirinya betapa bodohnya.

Sura terkejut ketika ia mendengar Ki Dipanala bertanya kepadanya, “Sura, lalu apakah yang kau kerjakan? Apakah kau akan kembali ke Dalem Pangeran Ranakusuma atau tidak?”

Sura mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Aku akan kembali ke Dalem Ranakusuman. Aku adalah abdi Ranakusuman. Jika Pangeran Ranakusuma sudah tidak memerlukan aku lagi, aku akan pergi. Tetapi sebelum aku diusirnya, aku akan tetap berada di sana apapun yang akan terjadi, dan perlakuan apapun yang akan diperbuat oleh Raden Rudira dan Mandra. Aku masih mempunyai kepercayaan, bahwa beberapa orang abdi yang lain tidak akan ikut melibatkan dirinya di dalam persoalanku dengan Mandra”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah Sura. Aku tidak akan melepas tangan. Persoalannya sudah menyangkut aku pula”

“Tetapi kedudukan Ki Dipanala tidak segoyah kedudukanku meskipun aku sudah tinggal berpuluh tahun di istana itu”

“Karena itu, aku akan membantu memecahkan persoalan-persoalan yang mungkin kau jumpai”

“Terima kasih. Mudah-mudahan hal itu justru tidak menyulitkan Ki Dipanala sendiri”

Kiai Danatirta yang selama itu mendengarkan percakapan mereka berdua, tiba-tiba menyela, “Jika kalian tidak mendapat tempat lagi di Ranakusuman, tinggallah di padepokan ini. Kalian akan menjadi kawan yang baik bagi Raden Juwiring dan Buntal”

“Ya Kiai” jawab Sura, “dan aku berterima kasih atas kesempatan itu. Namun aku masih juga mempunyai secuwil tanah warisan di padesan yang sempat aku perluas dengan uang yang aku dapat dari istana Ranakusuman itu pula dengan menjual kemanusiaanku”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun Ki Dipanala lah yang berkata kemudian, “Kau akan lebih aman berada di padepokan ini. Banyak hal yang dapat terjadi atasmu karena sikapmu yang tiba-tiba berubah terhadap Raden Rudira”

“Aku menyadari. Tetapi aku mempunyai anak isteri yang tentu tidak akan dapat tinggal bersama-sama di sini. Jika demikian maka padepokan ini akan penuh dengan keluargaku saja”

“Padepokan ini cukup luas” sahut Kiai Danatirta.

“Aku mengucapkan banyak terima kasih”

Kiai Danatirta tidak menyela, lagi. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menekur seakan-akan sedang merenungi sesuatu yang amat penting.

Dalam pada itu, Sura masih berbicara tentang berbagai persoalan dengan Ki Dipanala. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Ranakusuman menjelang senja.

“Apakah kalian tidak bermalam saja di sini agar Raden Rudira menjadi agak tenang sedikit. Jika kalian hadir di halaman Ranakusuman hari ini maka kemarahan Raden Rudira akan masih mudah terangkat kembali”

Tetapi Ki Dipanala menggeleng. Katanya, “Lebih baik kita tuntaskan persoalan ini jika memang Raden Rudira menghendaki, tetapi mudah-mudahan Pangeran Ranakusuma masih mau mendengar kata-kataku kali ini meskipun besok atau lusa aku akan diusir pula dari Ranakusuman. Jika aku yang diusir maka aku akan terpaksa tinggal di padepokan ini untuk semen-tara bersama keluargaku, sebelum aku mempertimbangkan untuk kembali saja ke Madiun”

“Apakah kau pernah berpikir untuk kembali ke Madiun, saja?”

“Ya. Tetapi kadang-kadang menjadi kabur lagi”

“Tinggallah di sini. Aku akan senang sekali jika kau bersedia, dan Arum pun akan mendapat kawan lagi yang sebaya”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan mempertimbangkannya”

Demikianlah maka mereka masih duduk beberapa saat di pendapa. Namun Kiai Danatirta yang masih mempunyai beberapa pekerjaan itu pun segera mempersilahkan kedua tamunya untuk beristirahat di gandok.

“Terima kasih Kiai” jawab Sura, “padepokan ini memang merupakan tempat yang dapat memberikan kesejukan. Aku akan menikmati ketenangan ini meskipun hanya sejenak, sebelum aku kembali ke Surakarta menjelang senja”

Ketika kedua tamunya kemudian pergi ke gandok maka Kiai Danatirta pun segera masuk ke ruang dalam.

Orang tua itu terkejut ketika dari sela-sela pintu bilik ArUm, ia melihat gadis itu menelungkup di pembaringannya. Karena itu maka dengan tergopoh ia mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa kau Arum?”

Arum mengangkat wajahnya. Tampaklah setitik air mata membasahi pelupuknya.

“Ada apa ngger?” bertanya ayahnya pula.

Perlahan-lahan Arum bangkit dan duduk di pinggir ambennya. Ditatapnya wajah ayahnya sejenak. Namun justru titik air di matanya terasa menjadi semakin banyak.

“Katakan Arum” bisik ayahnya.

“Kenapa aku justru membuat ayah mengalami kesulitan?”

“Kenapa??” bertanya ayahnya.

“Kenapa Raden Rudira berbuat begitu terhadap ayah?”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu merasa, bahwa dirinyalah yang menjadi sumber kesulitan yang tumbuh di padepokan itu. Namun Kiai Danatirta itu berkata, “Jangan berpikir begitu Arum. Bukan kau satu-satunya sumber persoalan antara padepokan ini dengan Dalem Ranakusuman. Sejak Raden Juwiring dibawa kemari oleh pamanmu Dipanala, aku sudah merasa, bahwa persoalan yang lain akan menyusul. Kau adalah salah satu alasan saja yang diberikan oleh Raden Rudira untuk menumbuhkan persoalan-persoalan baru yang dapat mengguncangkan ketenangan padepokan ini, yang sebenarnya sebagian terbesar ditujukan kepada kakaknya, Raden Juwiring”

“Jika ayah sudah mengetahui, kenapa ayah menerima Raden Juwiring itu di padepokan ini?” tiba-tiba saja Arum bertanya.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung untuk mendapatkan jawaban yang dapat dimengerti oleh Arum.

“Arum” berkata Kiai Danatirta kemudian, “Memang sukar untuk mengatakan, apakah sebabnya aku menerima Raden Juwiring di padepokan ini justru karena aku mengerti bahwa persoalannya masih akan berkepanjangan. Tetapi sebagian terbesar adalah karena aku tidak dapat menolak permintaan pamanmu Ki Dipanala. Raden Juwiring adalah seorang anak bangsawan yang baik, tetapi hidupnya tersia-sia. Bahkan ayahnya sendiri sampai hati untuk menyingkirkannya, bukan karena anak itu nakal atau tidak mau tunduk kepada ayahnya. Tetapi karena kedengkian orang lain terhadapnya. Dengan alasan untuk mendapat ilmu kejiwaan, maka ia pun dikirim kemari atas pendapat Dipanala”

Arum tidak menjawab. Namun tampak di wajahnya, beberapa persoalan sedang bergulat di dalam hatinya. Kata-kata Kiai Danatirta itu seakan-akan merupakan bayangan yang dapat dilihatnya. Seorang anak muda dari seorang bangsawan yang dengan kepala tunduk meninggalkan istana kapangeranan dan kemudian tinggal di sebuah padepokan kecil.

“Memang Raden Juwiring adalah anak yang baik” tiba-tiba saja timbul pengakuan di dalam hati Arum.

Sekilas terbayang kembali wajah anak bangsawan itu. Senyumnya yang ramah di wajahnya yang selalu cerah.

Arum menarik nafas dalam-dalam. Di sebelah bayangan wajah Raden Juwiring itu membayang wajah anak muda yang lain. Wajah yang tampaknya selalu bersungguh-sungguh dan prihatin. Wajah Buntal, anak muda yang diketemukan di pinggir jalan itu. Namun ternyata ia pun adalah anak yang baik.

“Sudahlah Arum” berkata Kiai Danatirta, “Jangan kau pikirkan lagi. Persoalan yang baru saja terjadi, dan seandainya masih akan terjadi, adalah persoalan padepokan ini keseluruhan, bukan persoalan yang kau timbulkan. Dan yang lebih penting Arum, jangan menyalahkan diri sendiri. Jika demikian maka kau akan kecewa atas dirimu sendiri, dan itu berarti bahwa kau kecewa terhadap karunia yang telah kau terima”

Arum tidak menjawab. Tetapi air di matanya masih mengambang di pelupuknya. Kiai Danatirta memandang anak gadisnya itu sejenak. Namun hampir saja ia terseret oleh kenangan tentang anaknya yang sebenarnya, tentang ibu Arum. Wajah yang cantik dan sikap yang baik justru telah menyeretnya ke dalam kesulitan.

“Apakah kecantikan Arum akan membawanya ke dalam kesulitan pula?” Kiai Danatirta bertanya kepada diri sendiri.

Untunglah bahwa orang tua itu segera berhasil menguasai perasaannya yang hampir bergejolak itu, sehingga kemudian dipaksanya bibirnya untuk tersenyum sambil berkata, “Arum, kakak-kakakmu sudah pergi ke sawah. Mereka baru akan pulang menjelang sore. Karena itu, kau masih mempunyai tugas. Kau harus pergi ke sawah untuk mengantar makan mereka”

Arum menganggukkan kepalanya. Hampir setiap hari ia melakukannya, sehingga karena itu, maka hal itu bukan merupakan hal yang baru baginya.

Demikianlah pada saatnya, ketika nasi sudah masak, dan mata hari sudah bergeser ke Barat, Arum pun segera berangkat ke sawah untuk menyampaikan nasi beserta lauk pauknya kepada kedua saudara angkatnya yang sedang bekerja di sawah.

Meskipun pekerjaan ini sudah dikerjakan setiap hari, namun tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar-debar. Ketika ia menyu-suri pematang, dilihatnya Juwiring dan Buntal yang sudah lelah, sedang beristirahat di bawah gubugnya. Sejenak Arum memandang keduanya berganti-ganti, namun sejenak kemudian terasa suatu getar yang aneh di dalam hatinya.

Terngiang kata-kata Raden Rudira yang menyebut-nyebut hubungannya dengan Juwiring dan kebencian bangsawan muda itu kepada Buntal.

Arum tidak pernah memikirkan hubungan itu. Keduanya serasa benar-benar seperti saudaranya sendiri. Tetapi tiba-tiba kini ia melihat keduanya sebagai anak-anak muda yang berasal dari padepokannya. Seolah-olah Arum itu sadar, bahwa Raden Juwiring adalah Putera Pangeran Ranakusuma yang dititipkan-nya di padepokan Jati Aking dan Buntal adalah anak muda yang asing, yang dikeroyok orang karena mengejutkannya ketika ia memanjat gubug yang berkaki tinggi itu.

Untunglah bahwa Arum pun segera berhasil menguasai dirinya. Sejenak kemudian ia pun sudah tersenyum ramah seperti kebiasaannya sehari-hari. Sambil meletakkan bakulnya ia berkata, “Maaf, aku agak lambat. Tetapi bukan salahku. Nasi baru saja masak. Agaknya para pelayan sedang sibuk melihat perkelahian di halaman, sehingga mereka lambat mulai menanak nasi”

“Kamipun lambat berangkat” sahut Juwiring.

“Tetapi kami tidak ingin lambat pulang” berkata Buntal kemudian.

Arum memandang Buntal sejenak, lalu, “Aku membawa gembrot sembukan. Bukankah kakang Buntal senang sekali gembrot sembukan? Dan aku membawa pecel lele bagi kakang Juwiring”

Buntal sudah mendengar kata-kata Arum berpuluh kali sejak ia berada di padepokan itu. Tetapi kali ini hatinya serasa tersentuh. Seolah-olah baru kali ini ia mendapat pelayanan dengan wajah yang bening tanpa keluhan keprihatinan. Seolah-olah baru kali ini ia menemukan suatu kehidupan yang sejuk.

Tetapi Buntal pun menahan perasaannya sejauh-jauh dapat dilakukan. Ia sama sekali berusaha menghapus kesan itu dari gerak lahiriahnya, dari warna-warna kerut di wajahnya dan dari tatapan matanya.

Karena itu maka ia pun tertawa sambil berkata, “Kau tidak pernah melupakan kegemaran kami. Terima kasih, “Ia berhenti sejenak, lalu, “Marilah kakang Juwiring”

Juwiring pun tersenyum, ia mengerti. bahwa orang-orang yang berada di dapur padepokan Jati Aking mengenal kegemarannya, dan demikian juga kegemaran penghuni-penghuni lainnya. Dan pecel lele yang dibawa Arum itu telah benar-benar membangkitkan seleranya.

Demikianlah kedua anak-anak muda itu pun kemudian makan dengan lahapnya. Arum yang duduk di pematang memandang keduanya dengan tersenyum kecil. Ia memang selalu senang apa bila kedua anak-anak muda itu makan kiriman yang dibawanya dengan lahap.

Dalam pada itu, Juwiring yang sedang mengunyah nasi dan pecel lelenya, sekali-sekali memandang wajah Arum juga. Meskipun gadis itu tinggal bersamanya untuk waktu yang panjang namun kali ini ia benar-benar memperhatikan wajahnya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya, “Gadis ini memang cantik. Pantas adinda Rudira sangat tertarik kepadanya. Tetapi adalah berbahaya sekali apabila ia berada di istana, ayahanda Ranakusuma ia tidak akan dapat bertahan untuk tiga bulan dari ketamakan adinda Rudira, yang memantaskan segala cara untuk mencapai tujuannya”

Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja sepucuk duri ikan lelenya tersangkut di kerongkongan, sehingga Juwiring itu menjadi terbatuk-batuk karenanya.

“Minum kakang” berkata Arum sambil mengacungkan sebuah gendi berisi air dingin.

Juwiring menerima gendi itu, lalu diteguknya air yang terasa telah menyejukkan seluruh badannya, bukan saja sekedar melarutkan duri dari kerongkongannya.

Demikianlah ketika mereka sudah beristirahat sejenak setelah makan, mulailah mereka bekerja kembali, sedang Arum pun membawa sisa-sisa makanannya pulang ke padepokan.

Menjelang senja, kedua anak-anak muda padepokan Jati Aking itu sudah berada kembali di padepokannya. Mereka mengerti bahwa Sura dan Ki Dipanala akan kembali ke Surakarta. Karena itu, mereka pulang dengan tergesa-gesa untuk dapat bertemu lagi dengan kedua orang yang akan meninggalkan padepokannya itu.

“Hati-hati1ah” pesan Kiai Danatirta kepada keduanya.

“Ya Kiai. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di istana Ranakusuman jawab Ki Dipanala.

“Mudah-mudahan” Sura menyahut, “Tetapi rasa-rasanya hati ini selalu bergetar. Aku mempunyai persoalan yang agak berbeda dengan Ki Dipanala”

“Memang persoalanmu lebih gawat Sura Kebencian dan dendam itu dapat tertumpah kepadamu. Seperti kita lihat, kegagalan Raden Rudira di Sukawati telah membawanya kemari. Ternyata ia gagal sekarang. Karena itu, kau akan merupakan sasaran yang kemudian dari padanya”

“Aku menyadari. Tetapi aku tidak akan lari”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Dipandanginya Raden Juwiring dan Buntal sejenak, lalu katanya, “Kalian pun harus berhati-hati. Kalian sekarang mengenal Raden Rudira lebih banyak, ia dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan apapun juga. Karena itu, kalian harus mengawasi adik kalian itu. Mungkin Raden Rudira mengambil cara lain untuk membawa Arum. Jika Arum sudah berada di istana Ranakusuman, maka akan sangat sulit bagi kalian untuk mengambilnya kembali apabila ibunda Raden Rudira, Raden Ayu Sontrang, ikut mencampuri persoalan ini”

Juwiring dan Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti sepenuhnya maksud Ki Dipanala. Mungkin Rudira dapat mengupah sekelompok orang untuk mengambil Arum dengan paksa, atau menculiknya selagi Arum berada di bulak.

Karena itu sambil mengangguk-angguk, Juwiring menjawab, “Baiklah paman. Kami akan mengawasinya”

Ki Dipanala mengangguk pula. Lalu katanya kepada Kiai Danatirta, “Baiklah kami segera minta diri. Doakan agar kami tidak terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih parah lagi”

“Mudah-mudahan” sahut Kiai Danatirta, “dan mudah-mudahan pula Pangeran Ranakusuma masih mau mendengarkan kata-katamu”

“Terima kasih. Semuanya masih merupakan teka-teki bagiku. Dan aku akan memasuki halaman Ranakusuman setelah malam menjadi gelap dan suasana di Dalem Kapangeranan yang gelap pula”

Demikianlah, Sura dan Ki Dipanala meninggalkan padepokan Jati Aking menjelang senja. Derap kaki kuda mereka berdetak di sepanjang jalan padukuhan dan sejenak, kemudian mereka pun segera berpacu ditengah bulak Jari Sari yang panjang.

Betapapun mereka sudah bertekad untuk menghadapi setiap persoalan yang mungkin tumbuh, namun hati mereka menjadi berdebar-debar juga ketika mereka menjadi dekat dengan kota. Keduanya hampir tidak berbicara sama sekali di sepanjang perjalanan oleh gejolak perasaan masing-masing. Sehingga tanpa mereka sadari mereka telah menyusuri jalan kota yang gelap karena malam yang menyelubungi seluruh Surakarta.

Sekali-sekali mereka memandang lampu-lampu minyak yang bergayutan di sudut-sudut gardu dan di simpang-simpang empat. Nyala yang kemerah-merahan terayun-ayun disentuh angin yang lembab.

Sura menarik nafas dalam-dalam. Kesunyian kota membuat hatinya semakin sunyi. Jika terjadi sesuatu dengan dirinya, maka seluruh keluarganya pasti akan menderita. Tetapi ia tidak akan dapat kembali kepada suatu dunia tanpa perasaan dan nalar seperti yang pernah dilakukannya. Dunia yang seakan-akan hanyalah sekedar wadah bagi wadagnya sehingga apa yang dilakukannya sama sekali tidak direncanakannya oleh dirinya yang wadag dan dirinya yang halus. Jasmaniah dan rohaniahnya.

Kini ia justru menyadari sepenuhnya bahwa hidupnya adalah keseluruhan dirinya. Jasmaniah dan rohaniah

Namun debar jantungnya terasa semakin cepat ketika dari kejauhan mereka melihat regol Dalem Ranakusuman yang telah tertutup.

Dengan tajamnya keduanya memandang regol itu tanpa berkedip, seolah-olah ingin mengetahui, apakah yang tersenyum di balik pintu serta dinding yang tinggi, yang mengelilingi halaman itu.

Bahkan bagi Sura, bayangan-bayangan yang suram telah merambat di angan-angannya, seakan-akan di balik dinding dan pintu yang tertutup itu telah berbaris beberapa orang yang menunggunya dengan tombak yang merunduk, siap untuk menyobek perutnya apabila ia memasuki pintu regol.

“Apaboleh buat” berkata Sura di dalam hatinya.

Meskipun demikian, hatinya telah dicengkam pula oleh ketegangan.

Ketika kedua orang itu sudah sampai di muka regol. maka keduanya pun turun dari kuda masing-masing. Sejenak mereka berpandangan Ki Dipanala lah yang mula bertanya, “Kita bawa kuda-kuda ini ke dalam atau kita akan mengembalikannya lebih dahulu ke kandangnya?”

“Aku ingin segera melihat, apa yang bakal terjadi. Biarlah kita bawa kuda ini masuk”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata kegelisahan di hati Sura justru memaksanya untuk segera melihat akibat yang bakal terjadi atasnya tanpa membawa kuda itu lebih dahulu ke rumah Dipanala yang terletak di belakang Dalem Ranakusuman dan dihubungkan dengan sebuah butulan kecil. Bahkan Dipanala menduga, bahwa Sura menganggap kuda itu setiap saat akan diperlukannya.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak kemudian tangan Sura yang gemetar telah mengetuk pintu regol itu.

Sesaat kemudian terdengar seseorang menyapa dari dalam, “Siapa diluar?”

Sebelum Sura menyahut, Ki Dipanala lah yang telah mendahuluinya, “Aku, Dipanala”

Ketika sebuah lubang persegi terbuka, Dipanala berdiri tepat di muka lubang itu, sehingga wajahnya seakan-akan telah memenuhi seluruh lubang persegi itu.

O, Ki Dipanala” desis para penjaga itu. Namun terasa suara mereka menyimpan nada yang lain dari kebiasaan mereka.

“Agaknya orang-orang ini sudah mengetahui apa yang terjadi” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya.

Sejenak kemudian pintu regol itu berderit, dan perlahan-lahan terbuka. Yang mula-mula berdiri di muka pintu yang terbuka itu memang Ki Dipanala yang memegangi kendali kudanya. Namun kemudian para penjaga itu pun melihat, bahwa Dipanala tidak datang sendiri.

Para penjaga itu seakan-akan membeku sejenak ketika mereka melihat Sura berdiri di belakang Ki Dipanala.

Melihat wajah-wajah yang tegang itu Sura pun bertanya, “Kenapa kalian memandang aku seperti itu?”

“Kau kembali juga ke Ranakusuman ini?” bertanya seseorang.

“Ya, kenapa?”

Para penjaga itu saling berpandangan sejenak. Tetapi Sura tidak menghiraukannya lagi. Seperti Ki Dipanala ia pun langsung memasuki regol Ranakusuman sambil menuntun kudanya.

“Orang itu sudah Gila” berbisik para penjaga.

“Apakah ia memiliki nyawa rangkap sehingga ia berani datang lagi ke halaman ini” desis salah seorang dari mereka.

“Ia tidak akan dapat lari, karena ia harus membawa keluarganya. Kecuali jika ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri tanpa menghiraukan anak isterinya” sahut yang lain.

Dan seorang yang berkumis lebat berkata, “Bagaimanapun juga Sura adalah seorang yang berani. Ia bukan seorang yang licik menghadapi persoalan-persoalan yang gawat. Ia berani bersikap jantan, akibat apapun yang akan dihadapi”

Beberapa orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagaimanapun juga ada kekaguman dari para penjaga terhadapnya. Dalam keadaan yang bagaimanapun juga, ia tidak melarikan diri seperti seorang pengecut.

Namun ternyata di halaman Ranakusuman tidak ada persiapan apapun untuk menunggu kedatangan Sura.

“Barangkali mereka memang menganggap bahwa aku tidak akan datang lagi ke halaman rumah ini” desis Sura di dalam hatinya.

Bersama Ki Dipanala mereka pun langsung pergi ke halaman samping. Kuda mereka pun segera diikat pada sebatang pohon di belakang gandok.

Tanpa mereka sadari, ternyata keduanya telah menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang melihat kehadiran mereka. Ketika mereka sejenak berdiri termangu-mangu di bawah pohon tempat mereka menambatkan kuda-kuda mereka, ternyata beberapa pasang mata mengawasi mereka dengan sorot yang aneh.

Tiba-tiba seorang dari antara mereka menyeruak kedepan sambil mengumpat. Dengan tangan di pinggang orang yang bertubuh raksasa itu berkata, “Sura, apakah kau sudah gila dan karena itu berani memasuki halaman ini lagi?”

Sura yang mendengar suara itu berpaling. Dilihatnya Mandra berdiri di antara beberapa orang pengawal yang lain yang agaknya masih berkumpul di serambi gandok.

Sura tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Mandra yang tegang dan sorot matanya yang berapi-api.

“Sura. Kau benar-benar tidak tahu malu. Kau sudah berkhianat dan bahkan memberontak. Kenapa kau datang lagi kemari? Apakah kau sedang mengantarkan nyawamu, atau kau akan bersimpuh sambil mohon ampun atas pengkhianatanmu dan pemberontakanmu? sia-sia Sura. Tidak ada orang yang dapat mengampuni kau. Juga kawanmu yang merasa dirinya mempunyai pengaruh atas isi halaman ini. Kalian akan menyesal, karena semuanya sudah pasti, bahwa kalian adalah musuh dari Raden Rudira, berarti musuh dari seluruh isi halaman ini”

Sura yang hatinya mulai terbakar ingin menjawab. Tetapi Dipanala menggamitnya sambil berdesis, “Jangan kau tanggapi. Kita tidak memerlukan orang itu. Kita memerlukan Pangeran Ranakusuma”

“Tetapi bagaimana dengan orang itu?”

“Biarkan. Kita berdiri saja di sini sambil menunggu kesempatan. Jika Raden Rudira mengetahui kehadiran kita, ia pasti akan berbuat sesuatu. Aku mengharap, aku akan mendapat kesempatan, karena semua tindakan yang diambil di halaman ini biasanya mendapat perhatian dari Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit”

Sura tidak membantah. Ia percaya kepada Dipanala, karena selama ini Dipanala memang mendapat beberapa kesempatan yang lebih baik dari orang-orang lain, meskipun Dipanala adalah orang yang tidak disukai.

Tetapi Mandra masih saja bertolak pinggang sambil berkata, “Sura, apakah kau sekarang tuli atau bisu? Atau barangkali kau memang mempunyai nyawa yang liat, yang tidak dapat lepas dari tubuhmu”

Dan sekali lagi Dipanala berdesis, “Biarkan saja ia berteriak. Suaranya akan memanggil Raden Rudira dan ibundanya yang banyak ikut campur dalam setiap persoalan”

Sura menggeram. Tetapi ia masih tetap berdiam diri, “Sura. Sura” Mandra berteriak semakin keras. Sikap Sura yang diam itu membuatnya semakin marah.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 04"

Post a Comment

close