Si Rase Hitam / Hek Sin Ho (Lanjutan Si Rase Terbang) Jilid 1

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Jilid 1

JAUH di wilayah barat laut diapit oleh pegunungan Thian san dan pegunugan Altai, terdapat padang rumput yang sangat luas, yang semula dikuasai oleh suku bangsa Mongol yang kuat yaitu suku Junggar.

Sesungguhnya bagi suku bangsa Boanciu yang saat itu telah berhasil menduduki Tiongoan, merupakan suku bangsa yang kuat sekali diiapal batas wilayahnya dan merupakan sebatang duri karena suku bangsa Junggar merupakan suatu kekuatan terpendam yang se-waktu2 bisa meledak dan melakukan pemberontakan.

Tidaklah mengherankan jika pemerintah Boanciu telah mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang sangat besar untuk menghancurkan bangsa Junggar itu.

Berkatalah kaisar Kian Liong kepada pangli ma-panglimanya : "Selama dapat ditarik dengan

Hal 5 tdk ada

Dan diwaktu pagi hari atau juga petang hari saat menjelang senja, segera akan terlihat dua orang pemuda tanggung dan seorang anak kecil yang tengah bermain-main dimuka pekarangan ru mah tersebut dengan diawasi seorang tua tinggi kurus dan seorang lagi yang tegap dan kokoh ber usia antara tigapuluh tahun, memiliki wajah yang tampan dengan sepasang mata yang bersinar tajam sekali,

Mereka sesungguhnya bukan tengah bermain petak atau main kejar-kejaran, akan tetapi tengah berlatih ilmu silat dibawah pengawasan kedua orang dewasa, yaitu lelaki yang telah lanjut usia dan yang bertubuh tegap dengan muka. yang taopan tersebut. Orang yang bermuka toapan itu memang tidak tampan, tetapi dengan bentuk muka nya yang lebar dan agak persegi, disertai oleh berewok kasar yang tumbuh di janggutnya, sikapnya gagah sekali, disamping sangat angker

Demikianlah, suatu pagi mereka tampak tengah berlatih silat seperti hari-hari sebelumnya Pertama kali sianak kecil menjalankan beberapa Jurus ilmu pukulan, gerakannya cukup gesit, walaupun masih belum mengandung tenaga dalam pukulan-pukulan yang dilancarkannya itu, Kemudi an menyusul kedua pemuda itu berlatih bersama sama. Lincah sekali gerak gerik mereka dalam melakukan serang menyerang dengan bersenjata kan pedang ditangan masing masing. Pedang yang dipergunakannya itu bukan pedang sungguhan me lainkan pedang yang dibuat dari kayu, sehingga setiap kali kedua pedang kayu itu saling bentur akan terdengar suara: Takkkk, tukkk, " tidak hentinya.

"Kurang tepat " tiba tiba terdengar suara orang tua yang telah lanjut usia itu memecahkan keheningan ditempat tersebut. Geng Bun Po Pit Bun Tiat San (menghampiri dan menutup pintu besi) tidak sempurna jika dilayani dengan gerakan yang lebih dulu mempergunakan jurus See Ceng Pai Hud (See Ceng menyembah sang Budha). Nah kini kalian ulangi sekali lagi !"'

Kedua orang pemuda itu telah mengulangi gerakannya lagi tetapi agaknya masih belum sempurna gerakan gerakan yang mereka lakukan itu. Orang yang bermuka toapan dan berewok itu bangkit dan meminta mereka berhenti sejenak kemudiaa dengan gerak gerik indah membuktikan kesempurnaan kepandaiannya dia memberikan contoh diri jurus jurus yang harus dipergunakannya. Sekali lagi kedua pemuda itu mengulangi latihannya. Agaknya mereka mulai berhasil menguasai jurus jurus tersebut karena gerakan mereka mulai tepat dan juga mengandung tenaga serangan yang cukup untuk melancarkan serangan dengan tikaman-tikaman dan tabasan tabasan yang jitu.

Semakin lama gerakan kedua pemuda ituse makin cepat dan gesit sehingga sulit untuk membedakan yang mana yang seorang dan yang mana yang lainnya.

Anak lelaki kecil yang sering bertepuk tangan sambil disertai oleh kata katanya yang lucu.; "Ayah. lihatlah betapa pandainya sekarang kedua suheng (kakak seperguruan) bstapa hebatnya kepandaian mereka " atau juga disusul oleh teriakannya : "Ya.ya.lihatlah betapa mereka telah berhasil memiliki kepandaian yang begitu hebat bisakah aku kelak sepandai mereka ?"

Dan setiap kali terdengar ucapan ucapannya itu kedua orang dewasa tersebut menyambutnya dengan senyum mengandung kasih sayang dan menberikan petunjuk petunjuk kepada anak lelaki kecil tersebut terhadap gerakan gerakan dan jurus jurus ilmu silat yang tengah dibawakan oleh kedua pemuda itu.

Disaat mereka tengah asyik berlatih diri tiba tiba terdengar suara derap langkah kaki kuda dari jauh dan tidak lama kemudian terlihat tiga orang penunggang kuda bagaikan tengah berlomba berpacu kearah mereka dengan cepat sekali.

Dalam sekejap mata saja ketiga pendatang itu sudah tiba dan yang terdepan yaitu seorang tua bertubuh gemuk tertawa riang sambil diiringi oleh seruanya yang nyaring: "Aha, Hiante ( adik yang baik ) sungguh hebat kepandaianmu sekarang Samko-mu (kakak ketiga) sekarang benar benar sudah bukan tandinganmu lagi!" Dan kemudian dia berpaling kepada orang tua sambil melanjut kan perkataannya: "Biauw Taihiap sungguh tidak kecewa kau memiliki mantu adikku itu Terbukti lah sekarang bahwa tidak meleset bunyinya pepa tah yang mengatakan bahwa dibawah perintah Jeaderal pandai tidak ada perajurit lemah. Lihat lah dibawah asuhan kalian berdua, mertua dan menantu kemajuan kedua Siau ko itu sudah de mikian pesatnya '".

"Akhhhh Samka begitu datang begitu kau memuji setinggi langit" menyahuti lelaki yang berusia tigapuluh tahun sambil tertawa lebar gembira. "Walaupun berlatih terus sepuluh tahun lagi tidak nantinya aku bisa menandingi kepandaian Cian Ciu Ji Lay (Budha bertangan seribu) Setiap orang juga memang telah mengetahui keadaan itu":

Sigemuk yang dipanggil sebagai Cian Ciu Ji Lay sudah hendak berkata lagi tetapi kedua kawannya telah menegurnya "Hai Samko berilah kami kesempatan dan waktu untuk menyampaikan hormat kami kepada Biauw Tayhiap dan Ouw Hiante. Janganlah kau memborong sendiri percakapan dengan mereka".

Perbedaan yang sangat menyolok antara Cian Ciu Ji Lay itu dengan kedua orang sahabat nya itu, karena jika si Samko memiliki wajah yang cerah dan selalu riang tertawa memancarkan sikap yang welas asih, tetapi kedua sahabatnya itu memiliki wajah yang agak menyeramkan, Di samping vwajah mereka mirip satu dengan yang lainnya, sehingga memperlihatkan bahwa kedua orang sahabat si Samko itu adalah dua orang bersaudara kembar.

Sigemuk yang bergelar Cian Ciu Ji Lay itu tidak lain dari Sio Poan San pemimpin ketiga dari Ang hwa hwe yang terkenal sekali. Kedua sahabatnya itu merupakan dua saudara Siang pemimpin kelima dan keenam dari Ang hwahwe. Dalam timba persilatan mereka terkenal sebagai See-cwan Sianghiap (sepasang pendekar Sucwan dari barat ).

Sedangkan lelaki tua yang dipanggil sebagai Biauw Tayhiap itu adalah Ta Pia Thian Bee Bu Tek Hiu Kim Bian Hud Biauw Jin Hong dan menantunya adalah Ouw Hui putera Liauw Tong Tai hiap Ouw Pit To.

Betapa gembiranya Ouw Hui menerima kunjungan kakak angkatnya yang sudah lima tahun tidak pernah bertemu dengannya,

Keinginannya untuk menetap didaerh terpencil tersebut disebabkan dia memang ingin tinggal tidak berjauhan dari kakak angkatnya tersebut disamping memang maksudnya ingin menikmati ketenangan hidupnya setelah sejak kecil menghadapi badai dan topan terus menerus dalam rimba persilatan didaratan Tionggoan. Dan Biauw Jin Hong maupun Ouw Hui, menying kir dari Tionggoan bukanlah disebabkan mereka telah berobah jadi pengecut, yang takut menghadapi pemerintah Boan dan tantangan pengikut pe ngikut kaisar itu, Berdasarkan beberapa pertim bangan lain yang sangat beralasan setelah dipikir kan masak m isak maka mertua dan menantu itu memilih tempat tersebut yang terpencil untuk mendidik dan membesarkan putera Ouw Hui di tempat yang tenang tersebut yang kini baru berusia masih sangat muda dan diberi nama Ouw Ho

Bagi Biauw Jin Hong itulah pertemuan yang pertama dengan Tio Poan San.

Dengan Seecwan Sianghiap sudah berberapa kali pernah berjumpa dengannya selama tinggal disitu lebih dari tiga tahun. Setelah saling mem beri hormat selayaknya ketiga orang tamu itu dipersilahkan masuk.

"Hiante lima tahun yang lalu beberapa hari setelah kau pergi ke Giok Pit Hong aku telah menerima laporan dari seorang murid Tai kek bun yang telah sengaja menempuh perjalanan ribuan lie untuk menjumpaiku" kata Poan San, setelah mereka masing masing mengambil tempat duduk. "Diceritakannya bahwa telah terjadi lagi ada seorang tokoh Taikekbun yang menyeleweng. Sekali ini bukan dari kalangan rendah karena justeru yang menyeleweng itu seorang yang memiliki kedudukan yang tinggi yaitu guru dari Ciangbunjin yang sekarang yaitu Cio Tai yang dikenal sebagai Cio Lo Kauw Su",

Poan San terdiam sejenak kemudian melanjutkan ceritanya: "Cio Tai ternyata telah bersedia menjadi anjingnya bangsa Boan dan dia bahkan telah menyanggupi untuk membantu pemerintah Boan menjebak biauw Taihiap dan menangkap dirimu Tanpa ayal lagi aku berangkat ke Tionggoan untuk melakukan penyelidikan. Waktu aku tiba di Pakkhia aku mendengar bahwa maksud jahat itu telah gagal. Tetapi untuk menemu kan Cio Tai ternyata tidak mudah dan aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkan partai perguruan ."

Waktu itu dari ruang belakang keluar seorang nyonya muda yang sangat cantik.

Ouw Hui memperkenalkannya kepada Poan San sebagai isterinya. Memang nyonya itu tidak lain dari Biauw Yok Loan, puteri Biauw jin Hong yang sudah hampir lima tahun menjadi nyonya Ouw Hui dan telah memperoleh searang putera yaitu sianak kecil yang tadi berlatih silat itu

Setelah saling memberi hormat sicihunya ( isteri adik angkat ) Poan San melanjutkan ceritanya "Setelah bersusah payah selama hampir empat tahun dapat juga aku menemukan jejaknya. Dari ceritanya aku mengetahui bagaimana kalian telah berhasil melabrak dan memukul jatuh semua kawanan anjing penjajah itu. Dia sendiri tidak berani memperlihatkan diri sejak saat itu. Walaupun Biauw Taihiap telah menaruh belas ka sihan kepadanya dan melepaskannya dia masih tetap berkuatir jika suatu waktu nanti Biauw Tay hiap akan merobah pendiriannya dan mencarinya untuk menuntut balas, Karena rapihnya dia bersembunyi maka sulit sekali bagiku untuk mencari jejaknya! Setelah menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan dosanya aku kemudian berusaha mencarimu, Hiante. Lebih dari setengah tahun aku berkeliaran kesan kemari akhirnya aku mere dengar bahwa kau telah menyingkir kedaerah barat laut dan baru setelah tiba dirumah aku mendengar dari saudara saudaraku bahwa kau berdiam disini! Kedua saudara Siang ini telah menjadi petunjuk jalan bagiku merekapun ingin sekalian menengoki murid murid mereka. Betapa menggembirakan sekali dimana aku kini melihat kali an hidup bahagia disini",

Setelah berhenti sejenak untuk menghirup teh yang dibawakan oleh Yok Lan, Poan San berkata "Dari pengakuannya aku seketika telah dapat menduga duga apa yang telah terjadi di Giok Pit Hong, Tetapi aku masih ingin mendengar dari kalian sendiri tentang apa yang sesungguhnya terjadi disana ".

Didalam hatinya Poan San sebenarnya ingin mengetahui disamping menghantam anjing anjing pemerintah Boan itu Biauw Jin Hong sering memaki dan menyerang Ouw Hui. Dia juga ingin mengetahui bagaimana akhirnya mereka menjadi akur satu sama yang lainnya, bahkan telah menjadi mertua dan menantu, Tetapi sebagai seorang yang berpengalaman dia mengerti bahwa peristi wa itu memiliki latar belakang yang terlalu ber liku liku dan belum tentu kedua tuan rumah itu mau menceritakannya. Karena itu dia hanya mengajukan pertanyaan tadi dan membiarkan mereka menceritakannya sendiri, jika memang mereka bersedia.

"Akhhhh, dalam pertempuran dengan anjing-anjing itu sesungguhnya tidakadaapa apanya yang istimewa yang pantas diceritakan " kata Kim Bian Hud. Waktu itu karena mempercayai dongeng dongeng orang hina dina berbudi rendah yang ber pura pura menjadi sahabatku hampir saja aku me ngalami malapetaka secara penasaran. Untung raja Huiji ( anak Hui) berada disitu diluar tahu semua orang sehingga aku akhirnya tidak usah mem buang jiwaku yang tua dengan percuma belaka. Hanya karena munculnya yang tiba tiba dan juga secara istimewa aku jadi salah paham dan sambil menghajar manusia manusia busuk itu sering sering aku menyelingnya dengan serangan serangan Kepada Huiji bahkan setelah berhasil mengenyah kan jahanam jahanam itu kami telah terlibat dalam pertempuran mati matian yang hampir hampir menyebabkan kami semua celaka, Sungguh peristiwa yang membuat malu saja karena semua itu terjadi atas kecerobohanku dan sampai sekarang aku masih menyesali karenanya. Biarlah Huiji saja yang menceritakannya ".

Sesuai dengan sifatnya yang sederhana dan juga memang tidak senang berkata kata Kim Bian Hud membiarkan Ouw Hui saja yang bercerita:

"Tidak, " bantah Ouw Hui. "Mengenai peristiwa itu tidak dapat kita mempersalahkan Biauw

Pehpeh "

Memang agak aneh juga bahwa sebagai menantu, Ouw Hui masih menyebut mertuanya dengan sebutan Pehpeh (paman tua) tetapi hal ini sesungguhnya tidak perlu diherankan sebagai seorang yang sederhana Biauw Jin Hong tidak senang terlalu banyak menjalankan adat istiadat yang rumit. Terlebih pula penghargaannya kepada Ouw It To dianggapnya lebih berharga dari segala ikatan sebagai mertua dan menantu. Oleh karena itu dia lebih suka jika Ouw Hui membahasakannya dengan sebutan paman.

Sementara itu, setelah menjelaskan sebab musabab dari kesalah pahaman yang terjadi itu Ouw Hui akhirnya menceritacannya jalannya pertempuran dirumah Touw Sat Kauw dan bagaimana dia kemudian harus bertempur melawan Biauw Jin Hong secara mati matian,

--oooOdwOooo--

SEPERTI telah diberitakan didalam kisah Si Rase Terbang, malam itu Ouw Hui dan Kim Bian Hud ber-sama2 tengah menghadapi ba maut ketika mereka melanjutkan pertempur di atas sebuah batu yang menonjol dari dinding jurang.

Disaat terakhir Ouw Hui telah melihat kesempatan yang baik, ketika Biauw Jin Hong meng punggungnya sedikit diwaktu hendak melakukan gerakan dengan jurus Te Liauw Kiam Pek Ho Su Saat itulah suatu gerakan yang tidak sadar dilakukannya dan telah menjadi kebiasaannya dan selalu agak menghambat serangannya.

Ouw Hui telah mengetahui hal dari cerita Peng Ah Sie yang telah menyaksikan sendiri pertempuran antara Ouw It To dan Biauw Jin Hong

Kesempatan itu, dengan mudah dapat dipergunakan oleh Ouw Hui untuk merubuhkan Kim Bian Hud dan dia memang telah mengangkat cabang kayu yang berada ditangannya yang dipergunakan sebagai pengganti dari golok.

Tetapi disaat terakhir dia teringat akan Yok Lan dan janjinya terhadap gadis itu untuk tidak mencelakai orang tua yang menjadi ayah si gadis. Disaat itulah, dengan mudah sekali sesungguhnya dapat merubuhkan Biauw Jin Hong. yang berarti kematian orang tua itu yang akan tewas terlempar kedalam jurang dan kalau terjadi demikian dia tentu tidak dapat menemui si gadis lagi karena dia tidak memiliki muka untuk berhadapan degan si gadis dan telah melanggar janjinyat. Tetapi jika disaat itu dia tidak turun tangan mempergunakan kesempatan yang ada, justeru dirinya yang akan dirubuhkan Kim Bian Hud berarti dia juga akan menerima kematian yang secara konyol.

Harus dimengerti bahwa saat itu Kim Bian Hud tengah melancarkan serangan yang sangat berbahaya.

Gerakan Ouw Hui yaug telah dilakukan setengah itu tidak mungkin dirobahnya pula untuk dijadikan gerakan membela diri kalau dia tidak memanfaatkan kesempatan yagng ada dia akan terpukul rubuh oleh Biauw Jin hong berarti ia akan mati terlempar hancur ke dasar jurang.

Waktu yang hanya singkat sekali Ouw Hui telah mempertimbangkan tindakan apa yang sebaiknya diambil dan tidak memiliki pilihan lainnya lagi.

Dalam waktu yang sangat singkat itu ternyata telah terjadi pertempuran sengit dihati Ouw Hui. Dia atau aku, dia atau aku . . ternyata jiwa ksatria yang dimilikinya memang dalam pergulatan dalam hatinya. Dia memutuskan untuk berkorban bagi gadis yang dicintai dan menyintainya dengan segenap hati itu. Dia teringat akan keikhlasan giemoaynya, Thian Leng So, mengorbankan diri untuk menolong dirinya dan kini dia hendak mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh Leng So yang berjiwa luhur itu.

Batang kayu yang tengah ditabaskan ketubuh Kim Bian Hue segera dilontarkannya melewati kepala orang tua dengan sentilan jari2nya.

Kemudian Ouw Hui merapatkan matanya untuk menerima nasib yang akan terjadi atas dirinya.

"Dengan demikian aku tidak akan mengecewakan kedua orang tuaku yang, kedua-dua nya berjiwa kesatria sejati. Mereka tentu akan setuju dengan tindakanku ini"

Dia sedikitpun tidak mengetahui bahwa tindakannya itu justeru bertentangan dengan pesan Ouw It To bepada isterinya, ketika Ouw It To menyatakan harapannya agar puteranya Ouw Hui setelah dewasa kelak dapat berlaku lebih kejam sedikit dari dia. Tindakan Ouw Hui ini justeru membuktikan bahwa dia tidak ada bedanya dengan ayahnya, yang sering kali tidak tega mencelakai lawan, terlebih lagi lawan yang dikagumi dan dihormatinya.

Tetapi disaat terlemparnya kedalam jurang yang ditunggu-tunggunya itu belum juga kunjung tiba. Walaupun dia tahu, begitu dia memejamkan mata, begitu pukulan Kiam Bian Hud akan tiba, berarti tubuhnya akan terlempar ke dalam jurang untuk menerima kematian,

Dengan perasaan heran akhirnya Ouw Hui membuka matanya untuk melihat . . .

Pada saat2 itu juga Kim Bian Hud mengalami pergulatan yang cukup hebat didalam hatinya dia telah mengambil keputusan untuk mengorbankan jiwanya dan menghindarkan Ouw Hui dari kematian.

Seperti telah diketahui, Kim Bian Hud telah yakin bahwa lawan yang tengah dihadapinya itu adalah putera Ouw It To, orang satu satunya orang dianggap berharga untuk dijadikan sababatnya, Keyakinan itu timbul ketika dia melihat Ouw Hui mengangkat cabang kayunya untuk mempergunakan kesempatan yang terbuka ketika dia hendak menjalankan jurus Te Liau Kiam Pek

Ho Su Sit.

Teringatlah dia akan janjinya kepeda ibu Ouw Hui yang telah menyerahkan putera itu kepadanya untuk dilindungi dan dididik agar menjadi orang gagah yang sempurna.

Teringatlah Kim Bian Hud bahwa selama ini dia belum dapit menepati janjinya itu dan itulah merupakan suatu keteledoran yang menyebabkan dia belum sempat menunaikan tugasnya, Kini dengan adanya peristiwa ini merupakan kesempatan satu satunya bagi Biauw J-in Hong yang sangat baik sekali karena dia bisa menepati janji nya dan kesempatan ini pula satu satunya untuk melindungi jiwa Ouw Hui sianak yang malang itu Demikianlah maka disaat itu diapun menyentil cabang kayunya melewati atas kepala Ouw Hui dan merapatkan matanya untuk menerima kematian.

Namun sungguh tidak diduganya bahwa justeru karena kedua-duanya rela untuk menyerahkan jiwanya demi menghindarkan maut yang akan mencengkeram lawan mereka, mereka sama lolos dari jangkauan maut.

Tepat disaat Ouw Hui membuka mata. terasa olehnya batu yang dipinjaknya terlepas dari dinding tebing yang curam tersebut dan mulai menurun kearah jurang

Selain itu dia melihat Kim Bian Hud tengah berdiri dan dengan sepasang mata dirapatkan dan batang kayu yang dipegangnya itupun juga sudah lenyap.

Sesaat kemudian batu itu mulai menggelinding kebawah.

Kim Bian Hud membuka matanya. Keduanya saling memandang dengan penuh tanda tanya bagaikan hendak saling menegur mengapa tidak terjadi apa2,

"Akhhh, kita mulai jatuh !" mengeluh keduanya hampir dalam waktu bersamaan. "Hati2 berusahalah agar tetap menempel didinding agar dengan Pek Houw Ju Ciang kita dapat memperlambat meluncurnya batu itu ke bawah" Demikian lah mereka saling menganjurkan.

Lenyaplah sudah sikap permusuhan diantara mereka berdua dan kini mereka masing masing lebih menguatirkan keselamatan dari lawan mereka

--oooOdwOooo--



SEMENTARA jauh dibawah, dimuka goa dididasar lembah, Yok Lan sedang terpesona mengawasi bungkusan kuning yang bertuliskan gelar ayahnya yang telah ditemukannya didalam buntalan Ouw Hui.

Bermacam macam pikiran mengacau dalam otaknya dan pikirannya, tanpa berkedip dia memandangi terus bungkusan kuning itu.

Terkenanglah dia akan cerita Posie sore tadi di Soat Hong San Cung, bagaimana dengan kain kuning itu ayahnya telah memberikan jaminan bahwa anak Ouw It To yang malang itu tidak akan terlantar.

Berduka bukan main hati Yok Lan karena mengetahui bahwa janji ayahnya itu tidak berhasil dipenuhi ayahnya berhubung dengan timbulnya berbagai peristiwa yang tidak terduga.

Entah berapa banyak hinaan dan berapa besar kesengsaraan yang dialami Ouw Hui Semasa kecilnya tanpa ada yang melindunginya.

Di samping itu diapun menyesal bahwa dengan le nyapnya Ouw Hui sehingga tidak dapat diasuh ayahnya sendiri semasa kecilnya sering kesepian karena tidak memiliki kawan bermain.

"Akhhh, alangkah senangnya kalau Ouw Toa ko waktu itu berada bersamaku dirumah dan men jadi kawan bermainku" pikirnya dalam alam lamunannya.

Tiba2 dia teringat akan keadaan Ouw Hui .sekarang. Dia telah melihat sendiri bahwa walaupun tanpa pengasuh dan pelindung yang liehay seperti Kim Bian Hud, Ouw Hui berhasil mencapai kepandaian yang sangat mengagumkan sedangkan wataknya sangat baik dan tidak tercela.

Seketika itu lenyaplah awan mendung yang meliputi wajahnya dan seulas senyum menghias mukanya yang cantik.

Demikianlah dia terbawa oleh alam lamunannya, wajahnya silih berganti, sebentar muram dan sesaat lagi tersenyum . . . karena itu, dia tidak tahu bahwa belasan pasang mata tengah mengintanya dari balik pohon-pohon Siong ditepi rimba.

Yok Lan juga tidak mendengar beberapa siulan yang panjang. Sesaat kemudian keluarlah belasan orang itu dari balik pohon2 sambil lari Yok Lan baru mengetahui bahwa disamping dirinya, ditempat tersebut ternyata masih terdapat orang lain.

Gadis itu membalikkan tubuhnya dan seketika itu juga dia mengeluarkan teriakan terkejut.

Beberapa orang diantara belasan orarg tersebut dikenalnya sebagai orang-orang yang telah ditimpuk Ouw Hui dengan bola salju ketika mereka berlari lari turun gunung setelah dilepaskan oleh ayahnya. Hanya kini mereka datang kembali dengan bertambah beberapa belas orang kawan lagi yang semuanya memakai seragam pengawal istana.

"Ayah l Toako " teriak Yok Lan, memanggil kedua orang itu, yang diduganya tengah bercakap-cakap diatas sana, sedikitpun dia tak menduga bahwa kedua orang itu sedang terlibat dalam suatu pertempuran mati-matian, bahkan disaat dia berteriak itu mereka justeru tengah menghadapi saat2 yang menentukan.

Jangankan teriaknya, sedangkan teriakan seorang ahli silat yang tenaga dalamnya juga tidak akan terdengar oleh mereka disaat itu.

Sebaliknya, Peng Ah Si dan sepasang anak kembar pelayan Ouw Hui mendengar dengan jelas.

Dengan serentak mereka melompat dan lari2 keluar goa. Dilihat oleh mereka serombongan orang2 yang bermuka ganas tengah mengejar nona Biauw, yang berlari ke goa dengan ketakutan.

Didalam sekejap mata saja sudah terkejar lah si gadis yang tidak pandai silat itu dan dengan kurang ajar si pemimpin rombongan itu seorang siewie pengawal istana raja yang seragam nya robek disana sini dan wajah yang babak belur diberbagai tempat mencekal sigadis.

Orang itu adalah Say Congkoan komandan pingawal istana raja yang telah dihajar Ouw Hui dirumah Touw Sat K.auw.

Ketika dia tengah melarikan diri bersama dengan Leng Ceng Kisu tokoh Kun Lun Pai itu ditengah jalan dia berjumpa dengan serombongan siewie kelas satu yang memang telah diaturnya untuk menyusul rombongan pertama membantu mengawal Biauw Jin Hong kekota raja setelah jago itu dapat ditawan.

Sebagai seorang yang memiliki sifat2 buruk dia bukannya berterima kasih kepada Kim Bian Hud yang telah menaruh belas kasihan kepada nya, sebaliknya dia bahkan semakin membenci dan sambil melarikan diri di dalam pikirannya penun dengan rupa2 rencana untuk membalas dendam.

Tetapi sampai sedemikian jauh dia belum memperoleh sebuah akalpun juga yang baik, sedangkan keberaniannya juga sudah ciut dan surut atas peristiwa tadi:

Dengan dijumpainya rombongan siewie kelas satu itu sebagian dari keberaniannya pulih kembali.

Bersama dengan Leng Ceng Kiesu dia memimpin rombongan bala bantuan itu, kembali ke gunung Giok Pit Hong.

Kepada rombongan tersebut, tentu saja dia malu untuk menceritakan bahwa dia telah dihajar habis2an dan siasatnya berantakan.

Dia hanya memberitahukan bahwa musuh telah memperoleh bala bantuan yang jauh lebih kuat dari rombongan yang pertama, sehingga dia merasa perlu menyambut mereka agar mereka dengan cepat dapat memperkuat pihaknya.

Setibanya kembali di kaki gunung itu. dia melihat Yok Lan yang dikenalnya sebagai puteri Biauw Jin Hong.

Alangkah girangnya melihat gadis itu berdiri seorang diri, sedangkan Biauw Jin Hong mau pun Ouw Hui tidak terlihat bayangannya.

Dalam hatinya seketika itu juga memperoleh pikiran yang licik yaitu menawan dan menjadikan umpan untuk menangkap Kim Bian Hud agar malunya dapat dicuci.

Dengan cepat dia sudah dapat memegang nona Biauw tetapi ketika dia hendak meringkusnya untuk dibawa kembali ke dalam rimba, tiba2 dia merasakan samberan angin pukulan yang cukup kuat dipunggungnya.

Cepat dia membalikkan tubuhnya sambil mengibaskan tangannya untuk menangkis,

Dengan memperhitungkan kekuatan angin serangan pukulan itu dia sudah mengetahui bahwa penyerangnya memiliki kepandaian yang tidak bisa diremehkan!

Betapa herannya Say Cougkoan ketika dia melihat bahwa panyerangnya itu adalah dua orang anak lelaki yang baru berusia belasan tahun.

Tetapi disamping perasaan herannya hatinya jugalega bukan main.

Kedua anak itu sedikitpun tidak dipandang sebelah mata olehnya.

"Apakah kemampuan kedua anak kecil ini?" pikirnya dengan hati mendongkol.

Segera juga dia mengulurkan sepasang tangannya untuk menangkap kedua anak itu sambil berkata: "Jangan kurang ajar! Ayo, ikut sekalian"

Tidak terlukiskan betapa herannya ketika bukan dia berhasil meaangkap kedua anak itu, bahkan tahu tahu mereka sudah memecah diri kek ri dan kekanan dan secepat kilat melancarkan serangan lagi.

Sebelum Say Congkoan menyadari apa yang terjadi pelipisnya yang kanan dan kiri sudah terkena pukulan.

Tetapi tidak percuma Say Congkoan disebut jago utama dalam istana kaisar.

Dalam gugupnya itu dia masih dapat melompat mundur satu langkah kebelakang.

Dengan demikian pukulan pukulan si anak kembar itu tidak terlalu tepat mengenai sasarannya.

Masih untung baginya karena walaupun he bat, tenaga dalam kedua anak itu masih terbatas dan belum seberapa , sedangkan dia sendiri memiliki lwekang yang kuat.

Dengan demikian dia tidak rubuh dan menderita malu lebih besar lagi.

Tetapi serangan itu masih cukup keras baginya sehingga dia sempoyongan dengan kepalanya yang agak pusing dan peristiwa itu baginya suatu hal yang memalukan.

Dengan wajah merah padam dia telah melompat mundur beberapa langkah lagi untuk memperbaiki kedudukan dirinya. Matanya mendelik karena murka dan herannya.

Sesaat kemudian dia maju lagi untuk menangkap kedua anak itu hanya sekali ini dia tidak berani bertindak dengan ceroboh dan serampangan.

Tahulah dia bahwa kedua anak itu tidak bisa diremehkan, tetapi dapat juga Say Congkoan memiliki keyakinan bahwa dalam beberapa jurus dia akan berhasil meringkus keduanya.

Dalam anggapannya peristiwa tertinjunya pe lipisnya tadi karena kurang waspada.

Dengan jari2 ditekuk bagaikan kaki garuda da mengulurkan sepasang tangannya untuk menjambret baju kedua lawan kecilnya tersebut!

Tetapi kembali perhitungannya meleset.

Tidak kecewa kedua anak itu telah bebera pa tahun memperoleh bimbingan akhli2 silat kelas satu seperti Ouw Hui dan Seecwan Sianghiap.

Bagaikan kilat mereka tahu2 sudah menyelusup lewat dibawah ketiaknya dan menyapu ka kinya dari belakang. Say Chongkoan berusaha menyelamatkan diri dengan melompat keatas tetapi dia masih terlambat.

Untuk kedua kalinya dia ter-huyung2 beberapa langkah. Tetapi masih untung dia bahwa kepandaiannya memang sangat tinggi, tidak perlu dia jatuh terlentang seperti yang dialami oleh Co Hun Kia ketika hendak mempermainkan sepasang anak kembar itu.

Walaupun demikian ketika itu dia benar2 menghadapi detik2 yang gawat.

Sebelum Say Congkoan berhasil memperbaiki kuda-kudanya kedua anak itu sudah menyerang lagi.

Agaknya dia sudah tidak akan terhindar dari penderitaan malu lebih besar lagi.

Untunglah bahwa disaat itu dia menghadapi keruntuhan nama besarnya Leng Ceng Kiesu telah datang memberikan pertolongannya.

Tokoh Kun Lun Pai itu sudah mengerti bahwa kedua anak itu memang memiliki kepandaian yang hebat dan cukup sempurna ilmu silatnya walaupun tenaga dalam mereka belum berarti

Dia yakin bahwa jika tidak bertindak ceroboh dia tidak akan kalah bahkan kalau bertempur lama Say Congkoan tentu akan berhasil merubuhkan mereka.

Sebagai seorang akhli gwakhe ilmu silat ber dasarkan tenaga luar dia telah memahamkan ilmu Eng Jiau Kin Na Ciu dengan sempurna sekali.

Begitulah dia membuka serangan dengan jari-jari tangan ditekuk dan tangannya menyambar nyambar bagaikan garuda hendak menerkam mangsanya serangannya ganas sekali disamping cepat dan dahsyat.

Tetapi anehnya, serangannya yang sudah sering kali teruji kehebatannya itu juga dapat dielakkan dengan mudah oleh kedua anak kembar itu.

Leng Ceng Kiesu mempercepat gerakan serangan serangannya sedangkan Say Congkoan juga tidak tinggal berpeluk tangan.

Tetapi semakin lama semakin penasaran kedua jago itu jadinya.

Setelah lebih dari lima belas jurus mereka bertempur terus tanpa ada kesudahannya dan belum tarlihat tanda-tanda bahwa mereka akan berhasil membekuk kedua anak lelaki kembar tersebut.

Yang lebih mengherankan dan memalukan ekali adalah bahwa dengan pengalaman dan kepandaian mereka berdua yang sudah tergolong diantara jago2 kelas satu mereka tak dapat merebut kedudukan diatas angin.

Dengan tipu segala macam gerakan mereka selalu gagal mendesak kedua anak lelaki kembar

itu.

Dengan sendirinya mereka menjadi malu dan gusar.

Tidak mengherankan jika mereka telah melancarkan serangan dengan mempergunakan jurus2 yang aneh2 dan hebat bukan main kedua anak itu bahkan yang selalu melancarkan serangan2 yang sulit diterka sehingga pertempuran itu jelas lebih banyak mengiringi keinginan kedua anak kembar itu yang masih belum lenyap sifat kekanak-kanakannya.

Sesungguhnya sudah cukup memalukan bahwa dua orang jago ternama seperti Leng Ceng Kiesu dan Say Congkoan harus turun tangan bersama untuk menghadapi kedua anak kembar itu.

Setelah bertempur pula sekian lama belum juga kedua jago itu dapat mengenali ilmu silat apa yang dipergunakan kedua anak tersebut.

Dan suatu saat anak2 itu telah menyerang dengan Pek Hong Koan Jit sebagai yang biasa dipergunakan kaum Ngo Bie Pai, tetapi mendadak serangan itu bisa berobah menjadi Pek Hong Koat Jit gaya Khong Tong Pai. Dan saat lainnya lagi mereka menyerang dengan jurus serangan Hoan Thian Ho Te, atau membalikkan langit dan bumi tetapi sedangkan kedua jago yang sangat berpengalaman itu bersiap siap untuk menyambut nya, tahu-tahu gerakan kedua anak kembar itu telah berobah dan serangan telah diteruskan dengan tipu Pa Ong Gi Ka, atau Couw Pa Ong membuka pakaian perangnya. Tentu saja perobahan-perobahan yang sangat aneh dan sulit diterka itu telah membuat Say Congkoan dan Leng Ceng kiesu jadi pusing bukan main.

Kedua jago tersebut merupakan dua orang jago kawakan, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa kedua anak itu sudah dapat memahami tujuh bagian dari Ouw Ke Kun Hoat (ilmu silat tangan kosong pusaka keluarga Ouw) dibawah asuhan Ouw Hui.

Ouw Ke Kun Hoat itu telah digubah oleh Hui Thian Ho Lie, pengawal Cwanong Lie Cu Seng yang memiliki kepandaian tiada bandingannya untuk masa itu. Leluhur Ouw Hui, Hui Thian lio Lie, si rase terbang yang dapat mencapai langit, telah berhasil menciptakan ilmunya setelah bertahun2 memeras keringat memetik inti sari rupa2 ilmu silat dari hampir semua cabang pintu perguruan silat yang ada di Tionggoan, lalu dipersatukan menjadi suatu ilmu serba guna dan serba sakti, disamping sangat hebat dan dahsyat sekali cara menyerangnya.

Itupun masin untung bagi kedua tokoh ternama seperti Say Congkoan dan Leng Ceng Kiesu bahwa kepandaian mereka sudah tinggi sekali karena kalau bukan demikian tentu siang siang mereka sudah rubuh ditangan kedua anak kembar itu seperti yang dialami oleh orang2 Thian Liong Bun.

Juga masih untung bagi mereka bahwa kedua anak kembar itu belum memahami seluruh ilmu luar biasa tersebut dan juga tenaga dalam kedua anak kembar itu memang masih terbatas sekali dan belum berarti apa-apa. Jika yang dihadapi mereka seorang tokoh yang sudah mahir keseluruhannya ilmu tersebut dan sudah memiliki lwekang yang cukup kuat tidak nantinya mereka dapat bertahan sampai lebih sepuluh jurus Sebagai telah dibuktikan ketika mereka menghadapi Ouw Hui dirumah Touw Sat Kauw, dimana hanya dalam tiga jurus Ouw Hui berhasil merubuhkan Say Congkoan dan itupun secara iseng dan main2 disertai guraunya tidak melancarkan serangan secara bersungguh sungguh.

Didalam sibuknya menghadapi serangan serangangan kedua anak itu, Say Congkoan juga mulai kuatir.

Dia percaya bahwa bersama dengan Leng Ceng Kiesu lama kelamaan dia akhirnya akan berhasil menundukkan kedua lawan cilik itu.

Tetapi dia mana mau bertempur begitu lama, Kalau sampai peatempuran tersebut berla rut larut dia kuatir kalau2 nanti Biauw Jin Hong atau Ouw Hui, atau ke-dua2nya akan muncul.

Dan kalau kedua orang itu telah datang tentu tamatlah sudah harapan mereka, habislah kesempatan mereka, sedangkan para siewie yang menjadi bawahannya itu yang baru tiba akan melihat betapa tidak berdayanya dia menghadapi jago-jago yang hendak ditawannya.

Itulah malu yang tentu sangat besar dalam keruntuhan namanya yang sesungguhnya sangat disegani oleh seluruh orang2 rimba persilatan.

Walaupun segan dan terpaksa sekali dia harus menebalkan muka dan telah berteriak memberikan perintah : "Maju semua ! Dua orang menawan gadis itu."

Serentak bergeraklah semua siewie itu untuk melaksanakan perintah pimpinannya. Kedua anak itu tentu saja menjadi sibuk sekali.

Menghadapi belasan orang akhli2 silat itu tidak dapat disamakan dengan kejadian disaat mereka menghadapi orang2 Thian Liong Bun, Eng Ma Cwan dan Peng Tong Piauw Kiok.

Disamping itu sedapat mungkin mereka harus merintangi lawan mendekati Biauw Yok Lan sehingga perhatian mereka tidak dapat dipusatkan untuk perlawanan terhadap lawan-lawan mereka.

Dengan demikian segera setelah berselang beberapa jurus lagi terlihatlah kedua anak kembar itu mulai terdesak oleh serangan2 yang dilancarkan jago2 kelas satu tersebut.

Dan celakanya lagi mereka tidak dapat mendekati Biauw Yok Lan lagi karena itu ilmu silat mereka jadi kacau sekali dan kerja sama diantara kedua anak lelaki kembar itu jadi tidak seragam dan kompak lagi seperti semula. Sebentar pula setelah itu salah seorang dari kedua anak kembar tersebut sudah terpukul bahunya dan disaat dia tengah terhuyung kebelakang, Tai Tui Hiet nya di punggung tertotok oleh salah seorang pengeroyoknya.

Dan disaat yang sama Biauw Yok Lan telah berhasil ditawan oleh kedua pengeroyoknya. Anak yang belum rubuh itu tentu saja menjadi sibuk sekali karena dia melihat saudaranya telah jatuh terkulai tidak berdaya dan Biauw Yok Lan ditawan kawanan siewie itu.

Pada saat yang sama itulah sianak kembar yang seorang itu menjadi nekad dan tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri dia telah menerjang Leng Ceng Kiesu yang berada antara dia dan saudaranya itu.

Maksudnya hendak menolong saudaranya dulu dari pengaruh totokan untuk kemudian bersama sama menolong Biauw Yok Lan.

Setelah bertempur sekian lama dan dia masih tidak berhasil merubuhkan anak2 kembar itu Say Congkoan mendongkol bukan main karena lama itu tidak berhasil merubuhkan sianak kembar itu,

Dan ketika melihat anak kembar yang seorang itu menerjang Leng Ceng Kiesu dimana anak lelaki kembar yang seorang itu seperti tidak menghiraukan keselamatannya sendiri tanpa menghiraukan punggungnya yang terbuka maka timbullah sifat kejamnya.

Tangannya segera meluncur kearah jalan darah Toa Tui Hiat dipangkal tengkuk sianak.

Toa Tui Hiat adalah jalan darah yang berbahaya maka kalau totokan itu mengenai sasarannya tentu akan melayanglah jiwa sianak. Bahwa sebagai seorang tokoh rimba persilatan kelas satu dia berlaku begitu ganas terhadap seorang anak kecil, sesungguhnya adalah merupakan suatu tindakan yang menurunkan derajat dan memalukan.

Ketika itu Say Congkoan sudah tidak memperdulikan lagi soal tingkat dan kehormatan.

Dalam keadaan marahnya dia hanya diliputi semacam pikiran yaitu untuk membunuh anak tersebut secepat mungkin.

Keadaan sepasang anak kembar itu dan Yok Lan benar-benar sudah berada dalam keadaan yang sangat berbahaya dan gawat sekali. Agaknya mereka bertiga sudah tidak akan lolos lagi dari tangan siewie yang kejam.

Tetapi didetik yang sangat berbahaya itu( tiba2 datang pertolongan yang tak terduga.

Ketika siewie2 itu sudah hampir mencapai maktud mereka terdengarlah sebuah bunyi gemuruh dan sesaat kemudian jatuhlah sebuah batu besar dengan menerbitkan bunyi mendentum yang memekakkan anak telinga.

Semua siewie itu cepat2 melompat mundur dengan terkejut sekali. Dalam dugaan mereka waktu itu tentu telah dijatuhkan seorang musuh yang bersembunyi di atas dan tentu akan disusul Juga serangan2 batu seperti itu lagi.

Mereka telah mengangkat kepala untuk mandang ke atas. Se-konyong2 terdengarlah suara bentakan yang berpengaruh di belakang mereka

Ternyata sementara keadaan kedua anak kembar dan Yok Lan itu sudah menjadi demikian berbahaya dan gawat, jauh diatas sana Biauw Hong Ouw Hui juga tengah menghadapi maut yang agaknya sudah tidak terelakkan lagi.

Dengan jatuhnya batu yang diinjak mereka itu keduanya jadi ikut tergelincir ke jurang.

Mereka merasa bahwa kekuatiran sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Sebagai laki-laki sejati soal mati hidup tidak terlalu dihiraukan oleh mereka tetapi sebagai jago jago yang pantang menyerah keduanya tentu saja segan menerima nasib dengan begitu saja.

Demikianlah ke-dua2nya berusaha sedapat mungkin untuk bisa terlepas dari dinding tebing Dengan mengerahkan seluruh kepandaian Houw Ju Ciang mereka sedapat mungkin mengurangi kecepatan meluncur mereka kebawah. Tetapi walaupun begitu, kecepatan meluncur tubuh mereka masih terlalu cepat sehingga benturan dengan dasar jurang itu akan menghancurkan tubuh mereka

Sambil meluncur turun. Ouw Hui mengasah otak mencari akal untuk menyelamatkan jiwa mereka. Dia memang sudah mengenal keadaan gunung itu dengan baik. Dia juga memang mengetahui bahwa tidak seluruh tebing itu securam di atasnya.

Didekat kaki gunung kurang lebih setinggi tiga puluh tombak dari bawah tebing itu agak landai tidak securam itu lagi. Dia memperhitungkan bahwa dengan menarik keuntungan dari kecepatan meluncurnya dan dengan mempergunakan kepandaian meringankan tubuh jika melompat dengan mempergunakan seluruk kepandaian meringankan tubuh tentu bisa melompat mencapai rimba pohon Siong itu.

Walaupun cara itu hasilnya masih agak meragukan tetapi terpaksa harus dicobanya. Jalan lain sudah tidak ada.

Rencananya itu segera diberitahukannya kepada Kim Bian Hud yang juga sedang meluncur ke bawah sejajar dengannya kira2 dua tombak disebelah kirinya.

Kalau seseorang jatuh dari tempat ketinggian sepuluh tombak dengan tubuh tidak terkendalikan setiba dibawah dia tentu akan terluka paarah atau setidak tidaknya terbanting mati.

Tetapi jika seseorang melompat dengan mempergunakan kepandaian meringankan tubuh dari ketinggian yang sama dengan tubuh terkendali ia tentu akan tiba dengan selamat.

Hal itu memang diketahui dengan baik oleh Biaw Kim Hong maupun Ouw Hui tetapi yang membuat mereka ragu akan hasil percobaan itu adalah karena mereka sudah akan melakukan lompatan itu dari ketinggian tiga puluh tombak sedangkan kecepatan mereka meluncur kebawah itu juga merupakan sebab utama yang bisa dianggap sepi begitu saja.

Tetapi pilihan lainnya tidak ada sehingga mereka tidak dapat ragu-ragu untuk mencobanya Harapan satu2nya ialah jika mereka bisa tiba di antara pohon2.

Sementara itu pula mereka sudah tiba dititik yang dimaksudkan oleh Ouw Hui.

Tetapi tepat pada saat mereka menoleh kebawah terlihatlah mereka apa yang sedang terjadi di muka goa itu.

Biauw Jin Hong yang baru saja mengalami peristiwa2 hebat bahkan hampir-hampir menemui ajalnya sebagai korban tipu busuk orang orang yang mengaku sahabat, tentu saja menjadi marah sekali.

Terlebih lagi karena diantara orang2 yang hendak mencelakai puterinya itu terdapat dua orang yang baru saja diampuninya.

Karena dikuasai amarahnya maka Biauw Jin Hong jadi agak terlambat menjejakkan kakinya sedangkan tenaga yang dikerahkannya juga kurang diperhitungban.

Karena itu dia tidak dapat mencapai tepi rimba seperti yang direncanakan.

Tentu saja dia akan terluka parah kalau bukan mati terpelanting ditanah yang keras karena tertutup salju beku itu. Untung saja ketika itu siewie-siewie tersebut justeru melompat mundur dan dia jatuh tepat diatas pundak orang yang melompat terjauh.

Kecuali yang terkena jatuhnya tubuh Biauw Jin Hong yang lainnya tidak ada yang melihatnya tiba diantara mereka, karena waktu itu mereka belum menoleh keatas sedang orang yang tertimpuh tubuh Biauw Jin Hong seketika itu rubuh tanpa sempit mengeluarkan jeritan lagi

Sebagai jago yang sudah berpengalaman, Biauw Jin Hong tidak gugup ketika jatuh diatas pundak orang itu.

Bersamaan dengan tibanya, ia serentak menggerakkan sepsang kakinya dan menghajar Tan Tiong Hiat serta Leng Taihiat didada dan dipunggung orang itu.

Dalam keadaan murka seperti itu Kim Bian Hud menendang sekuat tenaganya dan orang itu matilah tanpa mengetahui apa yang terjadi.

Leng Tai dan Tan Tiong Hiat ke-dua2nya merupakan jalan darah yang terpenting ditubuh seorang manusia dan berbahaya sekali.

Andaikata seorang anak kecil yang menghajar kedua jalan darah tersebut dia tentu sudah akan pingsan dan terluka parah sehingga jangankan sekarang yang menghajar justru Kim Bian Hud yang tengah murka dan mempergunakan tenaga lwekang yang kuat sekali.

Sementara itu terdengar bentakan di belakang para siewie itu dengan terkejut jago2 istan telah menoleh.

Tampaklah oleh mereka seorang pemuda berjanggut dan berkumis kaku keluar dari tepi rimba

Habislah seluruh keberanian Say Congkoa ketika mengenai orang itu sebagai Swat san Hui Ho (Si Rase Terbang) yang sudah diketahui kehebatan kepandaiannya.

Tanpa memberitahukan kawan2nya dia segera membalikkan rubuh untuk mengambil langkah seribu melarikan diri.

Para siewie yang lainnya belum mengenal siapa pemuda itu.

Setelah mendengar bentakan dan melihat bahwa yang membentak hanya seorang diri, meluaplah amarah mereka.

Serentak mereka melompat untuk membekuk orang yang dianggapnya bertindak kurang ajar tersebut.

Malanglah nasil mereka yang tiba lebih dulu didepan Ouw Hui seketika tangan mereka diulurkan untuk memegang atau menghajar Ouw Hui, secepat kilat kaki dan tangan Ouw Hui bergerak dan tahu2 tiga orang sudah terpental keras sambil mengeiuarkan suara rintihan kesakitan bukan main.

Tubuh mereka telah terlempar kurang lebih tiga tombak jauhnya, dan mereka menggeletak tidak berdaya tanpa bisa bangkit lagi

Kawan2 mereka terkejut bukan main.

Gerakan secepat itu belum pernah disaksikan mereka. Serentak mereka telah berhenti dengan perasaan bimbang, tetapi setelab melihat pemuda itu tidak bersenjata, timbul pula keberanian mereka. Sambil ramai ramai menghunus senjata majulah semua siewie itu untuk mengepung dan mengeroyok Ouw Hui.

Disaat itu terdengarlah teriakan Say Congkoan yang mengerikan sekali.

Ternyata Congkoan itu telah terhajar pukulan Biauw Jin Hong dan kini rubuh dengan memuntahkan darah segar.

Ketika dia hendak melarikan diri karena ketakutan melihat Ouw Hui, sedikitpun dia tidak menduga bahwa arah yang diambilnya itu justru tertutup oleh Kim Bian Kud yang belum diketahuinya sudah berada disitu.

Ketika dia melihatnya dia sudah berada dekat sekali dengan jago yang sangat ditakutinya.

Untuk memutar tubuhnya lari telah terlambat dan juga dia menyadari bahwa dia berusaha mengdan lari dengan Kim Bian Hud.

Seperti seekor babi hutan yang sudah terjepit dengan nekad dia segera menyerang jago tua

itu.

Tujuannya adalah untuk mengajak mati ber sama-sama jika memang dia harus mati.

Tetapi ternyata bahwa Congkoan itu belum mengenal benar-benar mengenai kegagahan Kim Bian Hud.

Serangannya itu hanya bagaikan seekor lalat yang menubruk seekor burung garuda.

Dengan mudah sekali serangan membabi buta dari Congkoan itu telah dielakkan oleh Kim Bian Hud, segingga terbukalah lambung kanan Congkoan tersebut.

Disaat yang sama sikut tangan Kim Bian Hud sudah bersarang ditubuh Congkoan itu.

Terpengaruh amarahnya yang tengah meluap

Biauw Jin Hong sudah turun tangan tidak segan2 lagi.

Ketika dia mengirimkan sikutnya kelambung Say Congkoan dia telah mengerahkan seluruh lwekangnya.

Tidak ampun lagi rubuhlah Congkoan yang biasanya congkak dan sombong itu.

Beberapa tulang rusuknya telah patah dan menembus ke paru2 serta jantungnya. Dengan hanya sempat berteriak sekali dan sambil menyemburkan darah segar melayanglah jiwanya meninggalkan raganya untuk menghadap Giam Lo Ong raja neraka.

Teriakan terakhir dari Congkoan itu tentu saja sangat mengejutkan para siewie lainnya yang tengah menghampiri Ouw Hui dengan senjata terhunus.

Sesungguhnya mereka sudah merasa ngeri dan takut menghadapi Ouw Hui tetapi kini mereka mendengar teriakan ateu tepatnya jeritan Congl koan itu, jerit kematian, maka semangat mereka terbang kini mereka bermaksud untuk meninggalkan tempat itu untuk melarikan diri, tetapi keadaan sudah demikian rupa sehingga untuk mundur sudah tidak terbuka jalan pula bagi mereka.

Dengan nekad dan dengan mengandalkan jumlah mereka yang banyak mulailah mereka melancarkan serangan kearah Ouw Hui.

Seorang yaug mempergunakan Tiatkauw (kaitan besi) melancarkan serangan dengan jurus Jie Liong Kai Thian Bun, dua naga membuka pintu langit. Serangan itu memang hebat luar biasa. Da lam awal gerakannya sepasang kaitan tersebut meluncur dengan sejajar, tetapi secepat sudah men capai jarak separuh kearah sasarannya, maka kaitan itu telah berpencaran kekanan dan kekiri, keatas dan kebawah tergantung dari anggota tubuh yang hendak diserangnya.

Memang luar biasa cepatnya serangan tersebut dan entah berapa banyak jago2 ternama yang pernah dirubuhkan siewie itu dengan serangan seperti itu.

Sekali inipun dia sudah kegirangan karena melihat Ouw Hui hanya berdiri diam bagaikan tertegun.

Siewie itu yakin bahwa serangannya akan berhasil tetapi ketika sepasang kaitnya sudah hampir mengenai sasarannya yaitu leher dan betis Ouw Hui, tiba-tiba saja dengan sebuah gerakan yang tidak dapat diikuti dengan pandangan mata Ouw Hui menggerakkan sebelah kaki dan sebelah tangannya dan sesaat kemudian dia sudah berdiri dengan sikap Dim Ke Tok Lip (ayam Emas berdiri diatas sebelah kaki).

Hasil yang diperoleh dari gerakan Ouw Hui itu benar2 sangat menakjubkan sekali.

Dengan mengambil sikap yang biasanya dipergunakan seseorang untuk menantikan serangan ternyata dia telah berhasil mematahkan serangan lawannya.

Bahkan tiga batang senjata lawan telah dihalau dan dirampasnya dengan mudah.

Dengan kakinya yang kini menginjak tanah dia telah menginjak tiat-kau yang mengarah kebetisnya, sebelah tangannya yang diulurkannya keatas telah merampas tiat-kau yang sebelah lagi. Sedangkan dengan lutut kakinya yang kini ditekuk, dia telah menghajar sebatang golok seorang lawannya yang lain, yang menyerang berbareng dengan siewie bersenjata tiat-kau itu.

Bukan hanya terbatas sampai disitu hasilnya. Dengan merebut tiat-kau itu dia bahkan telah melukai tangan pemegangnya, yang telapak tangannya segera berlumuran darah karena kulitnya telah pecah robek akibat tarikannya.

Semua siewie yang lain terkejut sekali dengan tertegun mereka memandang pemuda itu dan semua senjata mereka tadi berhenti di udara.

Sesaat kemudian mereka tersadar akan keadaan mereka dan cepat2 kembali hendak memutarkan tuyuh untuk menyelamatkan jiwa masing2.

Tetapi terlambat apa yang mereka lakukan.

Karena Ouw Hui sudah bergerak dengan cepat sekali dan sebelum mengerti apa yang tengah terjadi tahu2 mereka kehilangan senjata, sedang kan beberapa diataranya bahkan telah rubuh tertotok Jalan darahnya tanpa sanggup mengadakan perlawanan sama sekali.

Kini benar-benar habislah sudah keberanian para siewie itu. Tanpa malu-malu lagi mareka telah lari tungang langgang secepat dan sekuat tenaga mereka.

Kepandaian Ouw Hui yang diperlihatkan tadi adalah ilmu Kong Ciu Ip Pek To, dengan tangan kosong memasuki rimba golok yang berdasarkan ilmu meringankan tubuh Pek Pian Kwie Eng (bayangan setan yang berobah seratus kali) salah satu ilmu pusaka yang terhebat dari keluarga Ouw.

Betapa hebat ilmu itu sudah terbukti ketika dengan seorang diri Ouw Hui telah berhasil merubuhkan delapan belas siewie kelas satu dalam satu pertempuran disekitar To Jian Teng dengan disaksikan oleh para jago Ang Hwa Hwe Kini setelah lewat delapan tahun sejak pertempuran itu, setelah Ouw Hui benar2 berhasil menyelami ilmu tersebut dan memperoleh banyak petunjuk2 berharga dari para tokoh Ang Hwa Hwe, tentu saja semua siewie itu hanya seperti sekawanan tikus yang bertemu kucing, merupakan waktu2 yang terlalu buruk bagi siewie

itu.

Sementara itu para siewie yang berusaha melarikan diri tiba2 mengetahui mengapa Congkoan berteriak dan semakin ketakutanlah mereka karenanya,

Kim Bian Huk memang sudah mereka kenal kehebatan ilmunya ketika dengan seorang diri telah menyatroni dan mendatangi penjara istana untuk menolongi Hoan Pangcu dari penjara dan orang tua itu kini menutup jalan mundur mereka sedangkan tubuh Say Congkoan tampak terlentang disebelah kakinya.

Dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh yang bergemetaran keras untuk beberapa saat lamanya mereka berdiri tertegun.

Salah seorang diantara mereka cepat2 berusaha melarikan diri dengan mengambil arah lain tetapi sebuah bola salju segera juga melayang menyusulnya dan sia2 belaka jika mereka masih berusaha meloloskan diri dari tangan kedua orang itu:

Dalam keadaan putus asa seperti itu, mereka melupakan martabat dan kehormatan diri.

Bagaikan sudah berjanji lebih dulu, setentak mereka menjatuhkan diri berlutut minta ampun.

Tanpa memperdulikan mereka, kedua-duanya, Kim Bian Hud dan Ouw Hui menghampiri mulut goa, dimana kedua anak itu tengah menjagai Yok Lan.

Gadis yang lemah itu telah menjadi pingsan karena kuatir ketakutan dan mendongkol, ketika melihat kedua anak itu terancam bahaya maut. Sedangkan dia sendiri juga tengah menghadapi saat2 yang berbahaya.

Tadi ketika datang pertolongan yang tidak terduga itu sianak yang belum rubuh cepat cepat membebaskan saudaranya dari totokannya dan mereka berdua lalu menggotong Yok Lan keluar dari kalangan pertempuran itu.

Setelah memeriksa sejenak, Biauw Jin Hong jadi lega hatinya, karena puterinya ternyata tidak terluka.

Dia menoleh kepada Ouw Hui dan katanya "Untuk apa binatang2 itu dibiarkan disitu! Suruh lah mereka pergi dari tempat ini !"

Waktu mendengar perkataan Kim Bian Hud seperti itu para siewie yang tengah berlutut tanpa berani bergerak dan bersuara, telah cepat2 bangun berdiri dan lalu melarikan diri dengan secepat dan sekuat tenaganya.

Kawan-kawan mereka yang tewas ditinggalkan begitu saja sedangkan yang terluka juga tidak dihiraukannya.

Orang yang tertimpa tubuh Biauw Jin Hong tadi dan mati yang lebih dulu, ternyata Leng Ceng Kiesu. Disamping itu telah mati pula Say Congkoan dan kedua siewie lainnya. Enam orang siewie menggeletak ditanah tanpa bisa berkutik karena tertotok jalan darahnya.

Dengan langkah kaki lebar Ouw Hui mendekati keenam orang itu.

Melihat wajah Ouw Hui yang berkulit hitam dan berjanggut kasar, tampaknya menyeramkan sekali, terbanglah semangat mereka.

Tidak seorangpun di saat itu yang bisa mengharap bisa hidup terus.

Keenam siewie itu menduga bahwa Ouw Hui akan mencabut jiwa mereka. Sebagai orang yang selalu biasa melakukan pekerjaan yang kejam ke enam siewie itu menganggap bahwa orang lain tentu juga sekejam mereka sendiri.

Jika dapat berbicara, mereka tentu akan meminta ampun, tetapi saat itu mereka hanya bisaa mengeluarkan beberapa suara raungan dan wajah mereka tampak pucat bagaikan kertas.

Beberapa saat kemudian mereka jadi linglung

Ouw Hui ternyata bukan membunuh, sebaliknya dia bahkan membebaskan keenam siewie itu dari totokannya. Dengan berlutut mereku pun menghaturkan terima kasih berulang kali.

Dengan demikian, runtuhlah kegarangan ke enam siewie itu

Dengan berlutut mereka menghaturkan terima kasih berulang kali, dan Ouw Hui perintahkan mereka mengubur kawan2 mereka yang mati. Kemudian keenam orang itu diperintahkan pergi dengan diberi ancaman, bahwa jika sekali lagi mereka jatuh dalam tangan kedua jago itu, nasib mereka tentu tidak akan sebaik sekali ini.

Sementara itu Biauw Jin Hong berkata : "Hiactit, aku sekarang sudah mengetahui siapa kau sesungguhnya. Engkaulah anak Ouw It To mendiang ayah ibumu adalah orang2 yang sangat kukagumi. Disamping itu aku sekarang juga mengetahui siapa yang telah menolongku dahulu, ketika mataku telah dibutakan dengan racun oleh orang suruhan Tian Kui Liong. Kepada kedua orang tuamu aku berjanji untuk mengasuh kau dan mendidikmu bagaikan anakku sendiri. Tetapi ternyata aku tidak seberuntung itu, sehingga selama dua puluh tujuh tahun ini tidak pernah aku bisa menepati janji itu"

"Hanya kini aku dapat ikut bergembira bahwa kau tanpa didikanku ternyata telah memiliki kepandaian setinggi itu. Sekarang, apapun yang telah kau perbuat, aku memaafkanmu. Hanya satu saja permintaanku, yaitu supaya kau merobah kelakuanmu dan mengasihani putriku yang ... "

Sebelum dia dapat menyelesaikan perkataannya itu, Yok Lan telah menyelak ; "Ayah, kelakuan Ouw Toako sama sekali tidak tercela. Kau keliru, ayah ..." berseru gadis itu dengan muka yang kemerah2an karena malu.

Biau Jin Hong jadi agak heran.

Sejenak dia memandangi puterinya kemudian memandangi Ouw Hui dergan sikap penuh tanda tanya.

Dalam hatinya dia terkejut bahwa puterinya membela pemuda itu dengan demikian bersemangat. Dia yakin bahwa Ouw Hui telah melakukan sesuatu yang tidak pantas.

Bukankah dia telah melihat sendiri bahwa Ouw Hui keluar dari pembaringan didalam kamar Touw Sat Kauw itu dan bukankah kemudian dia mendapatkan puterinya rebah di pembaringan itu dalam keadaan tertotok dan hanya mengenakan pakaian dalam ? Dapatkah puterinya itu menyetujui perbuatan Ouw Hui ? Sungguh dia tidak mengerti . . .

Sesungguhnya Yok Lan hendak berbicara terus, tetapi dia bingung bagaimana harus memulai ceritanya. Sebagai seorang gadis yang berperasaan halus dia malu dijumpai dalam kerdaan begitu yaitu hanya mengenakan pakaian dalam dan dalam keadaan tertotok malah bersama-sama seorang pemuda didalam sebuah pembaringan.

Walaupun semua itu terjadi secara kebetulan dan didalam pembaringan itu tidak pernah terjadi perbuatan yang tidak pantas namun setidak-tidaknya sigadis Yok Lan jadi canggung dan bingung untuk menceritakan sejelas-jelasnya urusan itu kepada ayahnya.

Ouw Hui dapat memahami kecanggungan gadis itu maka cepat2 dia menjelaskan apa yang telah terjadi sejujurnya menceritakan sebabnya dia bisa berada dipembaringan itu bersama Yok Lan dalam keadaannya seperti itu.

"Biauw Pehpeh, tidak dapat aku menyesalkan kau, bahwa kau telah keliru menuduhku berbuat tidak pantas. Memang munculnya aku dan keadaan moy-moy ketika itu sangat luar biasa sehingga memberikan kesan yang buruk. Tetapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah mengganggu selembar rambut Lan Moy, Mengenai bagaimana aku bisa berada dipembaringan itu dapat kujelaskan dengan keterangan yang selengkap lengkapnya tetapi mengapa adik Lan bisa berada disitu aku sendiri tidak mengetahuinya"

"Seperti Biauw Pehpeh telah mengetahui aku telah mengadakan perjanjian dengan Touw Cungcu untuk bertanding di Giok Pit Hong. Waktu tadi siang aku telah datang tepat diwaktu perjanjian itu, tetapi dia tidak dirumah. Malamnya aku datang lagi. Kuperoleh kenyataan rumah itu kosong sama sekali, maka aku lalu masuk kedalam untuk menyelidiki. Waktu aku tiba di kamar itu kudengar kedatangan beberapa orang yang kemudian ternyata Say Congkoan dan kawan kawannya, aku pun cepat menyembunyikan diri di dalam pembaringan itu. Tidak tahunya di pembaringan itu sudah ada Lan Moy"

"Waktu aku mengetahuinya, kawanan manusia busuk itu sudah masuk ke dalam kamar dan kudengar mereka membicarakan siasat untuk menangkapmu dengan mempergunakan perangkap. Karena itu aku tidak bisa memperlihatkan diri".

"Dan setelah kau terancam bahaya, terpaksa aku melompat keluar dan apa yang terjadi kemudian telah diketahui oleh kau sendiri Biauw Pehpeh. Tetapi selama berada di dalam pembaringan itu sedikitpun aku tidak mengganggu adik Lan"

"Apa yang dikatakan oleh Onw Toaka memang keadaan yang sebenarnya" kata Yok Lan, yang kini ikut bicara untuk memperkuat penjelasan Ouw Hui. "Dan mengenai adanya aku diranjang itu, Ouw Toako memang tidak mengetahui nya. Siang tadi, setelah Ouw Toako meninggalkan Soathong Sancung, kawanan Thiang Liong Bun dan yang lain2nya serta Posie Taisu sudah merampas tusuk sanggulku. Lauw Goan Ho seorang siewie dari istana raja, bahkan hendak

membinasakan aku, tetapi yang lainnya rupanya takut akan akibatnya jika saja ayah mengetahuinya, maka mereka kemudian hanya menotok jalan darahku. Kemudian puterinya Tian Kui Long membawaku ke dalam kamar tersebut dan membuka pakaian luarku. Maksudnya agar aku tidak bisa atau tidak berani keluar dari kamar itu. jika aku sudah bebas dari totokan itu."

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Si Rase Hitam / Hek Sin Ho (Lanjutan Si Rase Terbang) Jilid 1"

Post a Comment

close