Si Racun Dari Barat (See Tok Ouw Yang Hong Tay Toan) Bab 06

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Bab 06

Sesungguhnya Ouw Yang Hong pergi ke kota-raja untuk menikmati panorama daerah selatan. Namun begitu dia tiba di kotaraja, justru mengalami berbagai kejadian, bahkan dipermalukan pula oleh Su Ciau Hwa Cu. Oleh karena itu, dia berjanji dalam hati, apabila kelak dia berhasil menguasai kungfu tinggi, dia akan membalasnya.

Setelah berjanji demikian dalam hati, dia segera kembali ke kotaraja. Ketika melewati sebuah desa, dia berhenti sambil menengok ke sana ke mari. Tampak puluhan gubuk di situ. Gubuk-gubuk tersebut sudah tidak karuan, boleh dikatakan menyerupai kandang kambing. Terlihat pula belasan orang sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Di antaranya terdapat kaum wanita yang semuanya mengenakan pakaian kasar, pertanda itu adalah sebuah desa miskin.

Akan tetapi, mereka justru bekerja sambil mengobrol, dan kadang-kadang terdengar pula suara tawa.

Ouw Yang Hong merasa lapar. Dia menghampiri mereka, kemudian berkata dengan sopan.

"Maaf, aku datang dari tempat jauh, bolehkah aku minta sedikit makanan?"

Semua orang itu berhenti bekerja. Mereka memandang Ouw Yang Hong dengan penuh keheranan. Terutama tiga orang gadis, mereka menatapnya dengan mata terbeliak. Maklum, Ouw Yang Hong termasuk pemuda yang cukup tampan, maka ketiga gadis itu kesemsem menyaksikannya.

Berselang sesaat, salah seorang tua menyahut.

"Anak muda, di desa miskin ini tidak ada ma-kanan lezat."
Ouw Yang Hong memang sudah lapar sekali, bagaimana memilih makanan lagi?
"Tidak jadi masalah, terimakasih!" katanya.

Orang tua itu lalu mempersilakannya masuk. Ouw Yang Hong mengucapkan terimakasih lagi dan kemudian masuk ke dalam.

Setelah Ouw Yang Hong duduk, orang tua itu menyajikan beberapa macam hidangan yang terdiri dari sayur-mayur. Dia pun menyuguhkan arak lalu duduk di hadapan Ouw Yang Hong.

"Silakan makan!" ucap orang tua itu.

"Terimakasih. Paman tua!" sahut Ouw Yang Hong.

Mereka berdua mulai bersantap, kemudian me-neguk arak. Berselang beberapa saat, orang tua itu berkata.

"Kau begitu sopan dan mirip seorang sastra-wan, tapi logatmu seperti dari daerah See Hek. Di sini merupakan desa miskin di luar kotaraja, maka jarang aku berjumpa dengan orang semacammu."

Ouw Yang Hong menyahut memberitahukan.

"Dugaan Paman tua tidak salah, aku memang berasal dari Gunung Pek Tho San di See Hek. Sejak kecil aku sudah belajar membaca dan ilmu surat. Aku datang di kotaraja hanya ingin menikmati panoramanya, sekaligus menambah pengetahuanku. Akan tetapi, aku sungguh kecewa! Karena yang kusaksikan hanya penindasan belaka, bahkan saling membunuh pula."

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berdua terus minum sambil bercakap-cakap, kelihatannya mereka berdua amat cocok satu sama lain.

Tak terasa hari sudah mulai senja. Orang-orang yang bekerja di sawah, dan yang menggembala sapi sudah kembali ke rumah masing-masing.
Orang tua itu tampak gembira sekali. Dia segera memperkenalkan semua keluarganya kepada Ouw Yang Hong. Betapa terharunya Ouw Yang Hong, sebab mereka semua amat baik dan ramah terhadapnya.

Mendadak terdengar suara suling yang amat nyaring dan merdu, dan menggetarkan hati, sehingga membuat mereka mendengarkannya dengan penuh perhatian.
Setelah itu terdengar pula suara langkah yang amat ramai, yang kemudian disusul oleh suara seruan lantang.

"Semuanya dengar baik-baik, Tay Mok Pek Tho San San Kun (Tuan Dari Gunung Pek Tho San) akan melewati tempat ini, semua orang yang ada di desa ini harus menyingkir!"

Tampak begitu banyak obor dan orang berjalan di desa itu. Berselang sesaat, lenyaplah suara yang amat ramai tadi.

Ouw Yang Hong mengerutkan kening sambil berkata dalam hati. Sungguh mengherankan! Sudah lama aku tinggal di See Hek, tahu Pek Tho San San Kun merupakan orang yang berkepandaian amat tinggi di sana, bersifat aneh dan suka membunuh orang. Tapi mengapa dia menuju kotaraja, apakah dia ingin bertarung dengan tokoh-tokoh tangguh di Tionggoan?

Ketika Ouw Yang Hong sedang berpikir, mendadak terdengar lagi suara seruan lantang.

"Keluar semua! San Kun ingin bicara!"

Desa itu amat kecil, hanya terdiri dari puluhan rumah dan kurang lebih seratus penduduk.

Para penduduk desa melongok keluar dari jendela. Di bawah sinar obor, tampak sebuah tandu yang dikelilingi belasan orang bersenjata tajam. Di belakang orang-orang itu, berbaring pula entah berapa banyak ular berbisa sambil mendesis-desis menjulurkan lidahnya.

Di tandu itu duduk seorang anak kecil, tapi setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata bukan anak kecil, melainkan seorang lelaki yang sudah berumur. Hanya saja lelaki itu amat pendek, begitu pula sepasang tangan dan kakinya, tapi kepalanya amat besar dan brewok.

Ternyata dia adalah Pek Tho San San Kun. Tak lama terdengar lagi suara seruan.
"Kalian semua adalah penduduk desa di pinggir kotaraja, tentunya tahu keadaan rimba persilatan Tionggoan! Kalian katakan, siapa yang memiliki Iwee kang, ilmu pedang, formasi pasukan dan mahir racun yang paling hebat dalam rimba persilatan Tionggoan?"

Tiada seorang pun penduduk desa itu yang menyahut, sebab mereka adalah petani, bukan kaum rimba persilatan, bagaimana mungkin mengetahui itu?
Karena para penduduk desa diam saja, maka timbullah kegusaran orang yang berseru tadi.

"Bicaralah! Mengapa tidak bicara?" bentaknya.

Orang tua yang menjamu Ouw Yang Hong berjalan ke luar, kemudian berkata kepada orang itu.

"Kami semua hanya merupakan penduduk desa biasa, yang setiap hari berada di sawah ladang, bagaimana tahu urusan dalam rimba persilatan? Karena itu, lebih baik San Kun bertanya ke tempat lain!"

Mendadak terdengar suara tawa, yang walau kedengaran halus, tapi amat menusuk telinga, bahkan menggoncangkan hati, sehingga membuat wajah mereka menjadi pucat pias. Tampak bibir lelaki pendek berkepala besar yang duduk di tandu itu bergerak-gerak, dan terdengarlah suara yang serak dan parau.

"Pernahkah kalian melihat Ong Tiong Yang, ketua Coan Cin Kauw?"

Bagaimana mungkin penduduk desa itu tahu tentang orang tersebut? Mereka hanya tahu ber-cocok tanam, maka mereka diam saja.

Lelaki itu tertawa gelak, kemudian bersiul panjang. Begitu mendengar suara siulan itu, ular-ular berbisa yang diam dari tadi mulai merayap ke arah para penduduk desa.

Betapa takutnya para penduduk desa, terutama anak gadis dan anak kecil. Saking takutnya mereka menjadi tidak bisa lari. Sedangkan ular-ular berbisa itu telah mendekati mereka, dan tak lama terdengarlah suara jeritan.

Menyaksikan itu, lelaki pendek tersebut malah bertepuk tangan sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha! Bagus! Bagus! Aku tidak usah bersusah payah mencari makanan untuk ular-ular peliharaanku! Dengan adanya kalian, semua ularku pasti akan kenyang!"

Sementara para penduduk desa sudah kacau balau, malah di antaranya sudah ada yang digigit ular berbisa.

Sesungguhnya Ouw Yang Hong tidak mau menemui Pek Tho San San Kun, tapi ketika melihat para penduduk desa akan mati digigit ular berbisa, maka dia segera keluar sambil berseru.

"Tunggu, aku mau bicara!"

Begitu mendengar suara seruan Ouw Yang Hong, Pek Tho San San Kun bersiul aneh, lalu semua ular berbisa diam seketika.

Pek Tho San San Kun menatap Ouw Yang Hong seraya bertanya.

"Siapa kau?"

Ouw Yang Hong menyahut lantang.

"Aku tahu jago-jago tangguh rimba persilatan Tionggoan, tapi kenapa kau tidak bertanya kepadaku, melainkan malah bertanya kepada penduduk desa, bagaimana mungkin mereka tahu?"

San Kun menatap Ouw Yang Hong dengan penuh perhatian. Dia merasa heran dalam hati, sebab di desa sekecil itu terdapat pemuda yang begitu gagah?
Setelah menatapnya sejenak, barulah San Kun berkata.

"Katakan! Siapa jago yang paling tangguh da-lam rimba persilatan Tionggoan masa kini?"

Ouw Yang Hong tertawa menyahut.

"Aku bukan kaum rimba persilatan, hanya per-nah mendengar dari orang, bahwa jago yang paling tangguh dalam rimba persilatan Tionggoan masa kini adalah Ong Tiong Yang, ketua Coan Cin Kauw di Gunung Cong Lam San, masih muda dan serba bisa. Namun sayang sekali, aku tidak pernah berjumpa dengannya. Akan tetapi, ketika aku berada di kotaraja, aku pernah berjumpa dengan Su Ciau Hwa Cu, Tetua Kay Pang yang berkarung sembilan, dan Ang Cit Kong, muridnya yang berkarung delapan.

Bahkan aku pun pernah melihat It Sok Taysu dari Yun Lam Tayli, keluarga Toan. Taysu itu bersama Oey Yok Su, majikan Pulau Tho Hoa To dari Tong Hai. Mereka berdua mengadu kepandaian. Amat luas kolong langit, aku hanya berjumpa dengan beberapa jago tangguh dalam rimba persilatan Tionggoan."

Pek Tho San San Kun mengerutkan kening, lalu berkata.

"Meskipun mereka merupakan jago tangguh dalam rimba persilatan Tionggoan, tapi apakah mereka bisa dibandingkan dengan jago-jago tangguh dari Gunung Pek Tho San?"

Ouw Yang Hong tertawa. Ternyata dia menter-tawakan Pek Tho San San Kun, yang terlampau menyombongkan diri. Ouw Yang Hong tinggal di kaki Gunung Pek Tho San, maka dia tahu orang yang berkepandaian paling tinggi di kaki gunung tersebut adalah Ouw Yang Coan, kakaknya.

Akan tetapi, kepandaian kakaknya masih tidak dapat dibandingkan dengan It Sok Taysu dari Tay-li, juga tidak dapat dibandingkan dengan Oey Yok Su maupun Su Ciau Hwa Cu. Kepandaian aliran Pek Tho San boleh dikatakan terbatas, seperti halnya Pek Tho San San Kun, tapi dia justru amat menyombongkan diri.

Setelah berpikir demikian, Ouw Yang Hong berkata dengan sungguh-sungguh.

"Menurutku, San Kun masih tidak dapat diban-dingkan dengan It Sok Taysu, Oey Yok Su maupun Su Ciau Hwa Cu, sebab kepandaian mereka amat tinggi ..."

Ketika Ouw Yang Hong berkata sampai di situ, Pek Tho San San Kun langsung berteriak aneh dan berkata.

"Aku tidak percaya, pokoknya aku tidak percaya! Katakan! Di mana Ong Tiong Yang ? Suruh dia ke mari! Di mana Su Ciau Hwa Cu? Aku mau bertanding dengannya!"
Begitu mendengar kata-katanya, Ouw Yang Hong tahu Pek Tho San San Kun merupakan orang yang tak tahu aturan.

Pek Tho San San Kun tertawa dingin, lalu menuding Ouw Yang Hong sambil bersiul. Seketika juga tampak beberapa ekor ular berbisa meluncur ke arah Ouw Yang Hong, lalu melilit pinggang dan lehernya.

Betapa terkejutnya Ouw Yang Hong. Kemu-dian dengan hati berdebar-debar tegang, dia memandang Pek Tho San San Kun seraya berkata.

"San Kun mau apa, bilang saja!"

Pek Tho San San Kun tertawa gelak, lalu me-nyahut.

"Kau katakan, dengan kepandaianku ini, apakah aku bisa menjadi orang gagah nomor wahid dalam rimba persilatan?"

Ouw Yang Hong diam tapi berkata dalam hati. Kau memang tak tahu diri. Hanya sebagai majikan Gunung Pek Tho San, kau sudah begitu sombong! Kau seperti katak dalam sumur, tidak tahu berapa tingginya langit! Ingin menjagoi rimba persilatan Tionggoan? Itu hanya bermimpi di siang hari bolong! Walau Ouw Yang Hong berkata demikian dalam hati, namun tidak berani mencetuskannya, sebab dia tahu Pek Tho San San Kun berhati kejam. Kalau majikan Pek Tho San itu gusar, nyawanya pasti melayang.

Ketika melihat Ouw Yang Hong diam saja, Pek Tho San San Kun mengerutkan kening sambil berkata.

"Aku akan menyuruhmu menyaksikan keht; balauku!"

Pek Tho San San Kun bersiul aneh. Kemudian semua ular berbisa yang melilit Ouw Yang Hong langsung merayap turun.

Ouw Yang Hong menarik nafas lega seketika. Tapi di saat bersamaan, Pek Tho San San Kun bertepuk tangan tiga kali. Kemudian terdengarlah suara musik mengalun halus, merdu dan amat sedap didengar. Tak lama tampak dua baris anak-anak cantik jelita berjalan ke luar dengan lemah gemulai. Semua gadis itu mengenakan gaun putih panjang. Mereka berjalan melayang-layang, sehingga gaun mereka berkibar-kibar, sungguh indah menakjubkan!

"Tiada orang berjalan di gurun. Sunyi sepi tiada suara di langit. Memandang dengan mata bening berharap tuan selalu ada. Orang selalu menikmati keindahan alam."

Para gadis itu bernyanyi sambil menari, se-hingga membuat penduduk desa memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternftmga lebar.

Mereka semua tidak pernah melihat gadis-gadis secantik itu, apa lagi tari-tarian seperti itu. Maka mereka melupakan mara bahaya yang mengancam diri mereka.
Tiba-tiba hati Ouw Yang Hong tersentak. Ter-nyata dia pernah mendengar dari kakaknya, bahwa Pek Tho San San Kun memiliki semacam ilmu sesat, yang dapat membuat para gadis menari porno, menyebabkan orang yang menyaksikannya akan terpengaruh. Oleh karena itu, hati Ouw Yang Hong menjadi tersentak, tahu akan kelihayan ilmu sesat itu.

Seorang pemuda desa, ketika menyaksikan para gadis itu menari, darahnya pun mulai bergolak-golak. Saking tak tahan akhirnya menerjang ke arah gadis-gadis itu, namun mendadak roboh menindih ular-ular berbisa yang di situ.

Ular-ular berbisa itu langsung menggigitnya, dan dalam waktu sekejap, pemuda itu sudah ber-ubah menjadi sebuah tengkorak.

Bukan main terkejutnya para penduduk desa itu, tapi mereka tetap terpengaruh oleh musik yang menggetarkan hati, maka mereka tampak seperti kehilangan kesadaran.
Salah seorang wanita muda, wajahnya berseri-seri dengan penuh rasa cinta, berkata dengan lembut seakan berhadapan dengan sang kekasihnya.

"Atua, aku menyukaimu. Kau pun bilang me-nyukaiku, tapi mengapa kau tidak berbicara? Apakah kau telah melupakanku? Hari itu aku memetik sekuntum bunga dari rumahku, lalu kupersembahkan kepadamu. Kau takut, tidak berani menerima persembahanku itu, maka aku terpaksa menaruh bunga itu di tanah. Tengah malam secara diam-diam kau menemuiku,lalu kita berdua saling memadu cinta. Apakah kau telah melupakan semua itu?"

Dengan wajah penuh diliputi perasaan cinta, wanita muda itu mendekati ular-ular berbisa. Dalam penglihatannya, ular-ular berbisa itu adalah sang kekasihnya.

Betapa terkejutnya para penduduk desa. Sesungguhnya wanita muda itu merupakan wanita baik dan amat lembut di desa tersebut. Apabila dia tadi berkata begitu, siapa pun tidak akan tahu dia mencintai Atua secara diam-diam.

Akan tetapi, para penduduk pun sudah ter-pengaruh oleh musik itu, maka tidak dapat berbuat apa pun, karena kaki mereka terpaku di tempat. Semuanya hanya diam menyaksikan wanita muda itu berjalan ke arah ular-ular berbisa, kelihatannya wanita muda itu pasti akan mati digigit ular-ular berbisa tersebut.

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara suling yang amat nyaring. Begitu mendengar suara suling itu, para penduduk dan wanita muda itu tersentak sadar, kemudian wanita muda itu menghentikan langkahnya.

Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Pek Tho San San Kun. Dia segera mengerahkan lwee kang, kemudian membentak seperti guntur.

"Siapa?"

Terdengar suara tawa panjang, terlihat se-seorang berdiri di atap rumah gubuk. Orang itu masih muda dan tampan, mengenakan jubah panjang dan sebelah tangannya memegang sebuah suling giok. Ternyata pemuda itu yang meniup suling.
Ketika mendengar bentakan Pek Tho San San Kun, dia pun berhenti tertawa, lalu tersenyum dan menyahut.

"Hanya berdasarkan sedikit kepandaian, kau sudah ingin menjagoi rimba persilatan Tionggoan? Bukankah itu merupakan suatu lelucon besar?"

Pek Tho San San Kun gusar bukan main, lalu berkata dalam hati. Pemuda itu berani mencampuri urusanku, kelihatannya pasti bukan pemuda biasa. Kemungkinan besar dia merupakan jago tangguh dalam rimba persilatan Tionggoan.

Setelah berkata demikian dalam hati, dia menatap pemuda itu lalu membentak, "Siapa kau? Cepat beritahukan namamu! Hati-hati terhadap ular-ular berbisa itu, karena mereka akan menggerogotimu sehingga kau akan berubah menjadi sebuah tengkorak!"

"Aku adalah majikan Pulau Tho Hoa To dari Laut Timur, namaku Oey Yok Su! Siapa kau?" sahut pemuda yang berdiri di atap rumah itu.

Pek Tho San San Kun mengerutkan kening. Dia gusar dalam hati karena pemuda itu tidak tahu nama besarnya.

"Kau justru tidak tahu namaku, baiklah! Aku menghendakimu mengetahui namaku!"
Kemudian tak henti-hentinya Pek Tho San San Kun bersiul panjang. Semua ular berbisa itu lang-sung bergerak merayap ke arah rumah gubuk itu, kemudian merayap ke atas mengarah Oey Yok Su.

Ketika melihat ular-ular berbisa itu merayap ke arahnya, Oey Yok Su tersenyum, lalu menaruh suling gioknya di bibir, dan ditiupnya perlahan-lahan.

Begitu suara suling mengalun, semua ular berbisa itu tampak panik. Mereka mendongakkan kepala, kelihatannya seperti tidak tahu harus mendengar suara siulan atau suara suling itu.

Akhirnya ular-ular berbisa itu saling menggigit satu sama lain. Menyaksikan kejadian itu gusarlah Pek Tho San San Kun. Dia segera meninggikan suara siulannya, namun nada suling itu pun meninggi pula.

Sepasang mata Pek Tho San San Kun berapi-api. Dia berhenti bersiul lalu melambaikan tangannya. Empat orang langsung menggotong tandu itu mendekati rumah tersebut, kemudian berhenti dan Pek Tho San San Kun segera melesat ke atas rumah itu.

Ouw Yang Hong terbelalak menyaksikannya. Setelah itu dia melihat Pek Tho San San Kun mulai bertarung dengan Oey Yok Su.

Berselang beberapa saat, tampak seseorang terjatuh dari atap rumah gubuk, tidak lain adalah Pek Tho San San Kun.

Keempat penggotong tandu segera memapahnya ke tandu. Setelah Pek Tho San San Kun duduk, mereka langsung menggotong tandu tersebut meninggalkan tempat itu. Para gadis yang bermain musik dan menari tadi, juga ikut pergi.

Heninglah tempat itu. Terlihat Oey Yok Su meloncat turun dari atap rumah gubuk, berdiri di hadapan Ouw Yang Hong.

"Siapa kau? Mengapa orang aneh itu men-desakmu?" tanyanya.
Ouw Yang Hong tidak menyahut. Dia hanya tertawa sambil menengok ke sana ke mari. Sungguh mengenaskan keadaan di tempat itu, sebab beberapa penduduk desa telah mati digigit ular berbisa, dan ada pula yang dilukai anak buah Pek Tho San San Kun. Dia memandang ke dalam rumah gubuk orang tua yang menjamunya makan, ternyata orang tua itu telah mati juga, karena digigit ular berbisa, keluarganya sedang menangisinya duduk desa akan mati semua di tangan Pek Tho San San Kun. Karena itu, dia merasa telah salah menegur Oey Yok Su, maka segera memberi hormat seraya berkata.

"Maaf, namaku Ouw Yang Hong berasal dari Gunung Pek Tho San di See Hek.

Menyaksikan perbuatan Pek Tho San San Kun, hatiku terasa tidak enak, aku mohon pamit pada tocu!"

Oey Yok Su tersenyum. Dia tidak begitu mem-perdulikan Ouw Yang Hong, sebab tahu Ouw Yang Hong tidak berkepandaian tinggi. Mendadak dia bergerak secepat kilat, tahu-tahu Ouw Yang Hong sudah jatuh gedebuk di tanah. Ketika Ouw Yang Hong bangkit berdiri, Oey Yok Su sudah tidak kelihatan bayangannya.

Ouw Yang Hong termangu-mangu. Begitu ce-pat gerakan Oey Yok Su, membuatnya amat ka-gum.

Malam ini Ouw Yang Hong tidak jadi me-ninggalkan desa kecil itu. Dia berkumpul dengan penduduk desa, sekaligus membantu mereka me-ngubur mayat-mayat penduduk dengan mata bersimbah air, setelah itu barulah berpamitan untuk pergi.

Ouw Yang Hong baru memasuki daerah Tionggoan, tapi sudah menyaksikan begitu banyak kejadian, dan nyawanya pun nyaris melayang. Dia pun merasakan penyambutan hangat dari para penduduk, bahkan juga menyaksikan perbuatan Pek Tho San San Kun yang amat sadis, sehingga dia sadar akan satu hal, yakni harus memiliki kepandaian tinggi.

Oleh karena itu, dia mengambil keputusan pulang ke Gunung Pek Tho San untuk belajar ilmu silat kepada Ouw Yang Coan, kakaknya.

Saat itu, ketika Ouw Yang Hong hampir me-masuki daerah See Hek, hari sudah mulai senja. Akan tetapi, di daerah tersebut sama sekali tidak terdapat penduduk, hanya terdapat beberapa buah rumah yang dibuat dari tanah, tapi rumah-rumah itu telah rusak dan tiada penghuninya.

Ouw Yang Hong sudah merasa lapar sekali dan kedinginan, namun harus ke mana mencari makanan? Apa boleh buat, dia terpaksa harus menahan lapar, kemudian beristirahat di bawah sebuah pohon, dan akhirnya pulas di situ.

Ketika tengah malam, mendadak dia mendusin dan . . . matanya terbelalak. Ternyata dia melihat sepasang mata yang bersinar-sinar, dan samar-samar tampak sosok bayangan di hadapannya. Orang itu berambut panjang terurai ke bawah dan berpakaian putih, duduk di hadapannya.

Bukan main terkejutnya Ouw Yang Hong, se-hingga hatinya jadi tegang. Bahkan saking tegangnya, tanpa sadar dia meloncat seraya membentak.

"Siapa?"

Mendadak dia menjerit kesakitan, ternyata kepalanya membentur dahan pohon, dan kemudian dia jatuh gedebuk di atas tanah.

Sekonyong-konyong angin berhembus kencang, sehingga membuat rambut orang itu yang panjang terurai berkibar-kibar ke kaki Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong tidak habis berpikir, bagai-mana mungkin di tempat sesepi ini terdapat orang lain? Ketika sedang berpikir, di saat bersamaan, dia mencium bau harum dari badan orang itu.

OuwYang Hong tersentak. Kini dia baru tahu orang yang duduk di hadapannya adalah seorang wanita, jangan-jangan wanita itu adalah arwah penasaran, pikirnya sehingga membuatnya tidak berani bergerak.

Berselang beberapa saat, hari sudah mulai terang. Ouw Yang Hong belum berani bergerak, namun memperhatikan wanita itu. Justru mem-buatnya terbeliak, ternyata wanita itu amat cantik. Ouw Yang Hong terheran-heran, bagaimana di tempat yang amat sepi ini terdapat wanita yang begitu cantik?

Perlahan-lahan wanita itu membuka matanya. Ketika melihat Ouw Yang Hong duduk di hadapannya, dia tampak tertegun.

"Kau ... kau . . ."

Ouw Yang Hong tersenyum.

"Nona, kau sudah mendusin!"

Wanita itu melotot dan langsung melancarkan pukulan yang bertubi-tubi ke arah Ouw Yang Hong.

Begitu menyaksikan pukulan yang amat sengit itu, terperanjatlah hati Ouw Yang Hong. Walau dia berkepandaian rendah, namun cukup berpengetahuan, itu diperolehnya dari kakaknya yang berkepandaian tinggi, maka tahu wanita yang tampak lemah itu amat lihay.

Ouw Yang Hong ingin berkelit, tapi terlambat. Pukulan yang dilancarkan wanita itu telah menghantam jalan darah Khie Hai Hiatnya. Untung Iwee kang wanita itu masih dangkal, kalau tidak, Ouw Yang Hong pasti terluka parah atau paling tidak kesakitan.

"Aduuh!" jeritnya dengan wajah meringis-ringis. "Nona, aku tidak mengenalmu, kenapa kau begitu kejam memukulku?"

"Jangan banyak bicara! Kau mau membunuh-ku silakan, pokoknya aku tidak akan ikut kau pulang ke Pek Tho San Cung (Perkampungan Pek Tho San)!" sahut wanita itu.

Ouw Yang Hong tercengang dan berkata dalam hati. Aku memang ingin pulang ke Pek Tho San Cung, tapi ini adalah urusanku, bagaimana wanita ini mengetahuinya? Lagi pula kalaupun aku pulang ke sana, juga tidak akan membawanya. Aku dan dia tidak saling mengenal, tentunya tidak mungkin aku akan pulang bersamanya. Tapi sungguh mencurigakan, bagaimana dia tahu aku akan pulang ke Pek Tho San Cung? Pasti ada SUatu yang tak beres, aku harus berhati-hati!

Setelah berkata dalam hati, Ouw Yang Hong memandang wanita itu seraya bertanya.

"Kau berasal dari Pek Tho San Cung?"

Wanita itu menyahut dengan penuh kebencian.

"Aku sungguh ingin membunuh semua orang Pek Tho San Cung, sekaligus membakar musnah perkampungan itu! Aku adalah binatang kalau aku adalah orang Pek Tho San Cung itu!"

Ketika mendengar wanita itu mencaci dan me-nyumpahi orang-orang Pek Tho San Cung, Ouw Yang Hong sudah tahu wanita itu bukan orang Pek Tho San Cung, sebaliknya punya dendam yang amat dalam terhadap perkampungan tersebut!

Teringat akan Pek Tho San Cung, timbullah rasa rindu dalam hati Ouw Yang Hong kepada kakaknya. Entah apa sebabnya, mendadak hatinya pun berdebar-debar tegang, ternyata dia khawatir telah terjadi sesuatu di perkampungan itu, maka bertanya.

"Kau datang dari San Cung itu?"

Ketika wanita itu baru mau menjawab, justru mendadak teringat akan sesuatu.

"Siapa kau? Kok tahu Pek Tho San Cung?"
Ouw Yang Hong memberitahukan.

"Aku adalah orang dari perkampungan itu”

Wajah wanita itu langsung berubah, kemudian mendadak bangkit berdiri sambil mengayunkan tangannya untuk menampar Ouw Yang Hong.

Plak! Plak! Plak!

Setelah menampar, dia pun menendang. Ouw Yang Hong tertendang hingga mundur dua langkah dengan wajah meringis. Dia tidak tahu sama sekali, mengapa wanita itu menampar dan menendangnya.

Ouw Yang Hong menjerit kesakitan, lalu ber-tanya dengan berteriak-teriak.

"Mengapa tiada angin tiada hujan kau me-mukulku?"

Wanita itu balik bertanya.

"Kau . . . kau adalah orang perkampungan Pek Tho San Cung?"
Ouw Yang Hong tersenyum getir.

"Tidak salah!"

Wanita itu berkata dengan penuh kebencian dan dendam.

"Bagus! Bagus! Aku harus membunuhmu! Harus membunuhmu!"

Ouw Yang Hong tertegun, baru bertemu sudah ingin membunuhnya? Itu sungguh mengherankan!

Sementara wanita itu menengok ke sana ke mari, kemudian menyambar semacam rumput merambat, lalu dengan rumput tersebut dia mengikat Ouw Yang Hong.
Setelah Ouw Yang Hong diikat tak bergerak, wajah wanita itu tampak berseri-seri, namun di-liputi kekejaman.

Dia menatap Ouw Yang Hong, lalu berkata dengan dingin sekali.

"Bagus! Dimulai dari dirimu, aku sudah mem-bunuh seorang Pek Tho San Cung!"

Ouw Yang Hong tersentak. Kini dia baru tahu wanita itu tidak main-main, melainkan ber-sungguh-sungguh ingin membunuhnya.

Aaaah! Keluhnya dalam hati. Aku akan mati di sini sebelum berjumpa kakakku, ini membuatku penasaran sekali.

Sedangkan wanita itu justru mengeluarkan sebilah pedang pendek. Pedang itu memancarkan cahaya kehijau-hijauan, pertanda sangat tajam. Kemudian dengan ujung pedang itu dia menuding muka Ouw Yang Hong seraya berkata.

"Kalian kaum lelaki Pek Tho San Cung, tiada seorang pun yang baik! Aku harus membunuhmu!"

Ouw Yang Hong memang bernyali besar. Wa-laupun nyawanya sudah terancam, namun dia tidak merasa takut sedikit pun, sebaliknya malah tersenyum.

"Nona, kau sungguh cantik!"

Wanita itu memang sudah ingin turun tangan membunuh Ouw Yang Hong, tapi justru tidak menyangka Ouw Yang Hong malah herkata begitu, maka wanita itu menjadi tertegun.

Ouw Yang Hong menatapnya, lalu berkata lagi sambil tersenyum.

"Nona memang baik, begitu juga pedang pendek itu. Tapi . . . rumput yang mengikat diriku ini tidak baik, maka aku pun menjadi tidak baik."

Ucapan Ouw Yang Hong itu amat aneh, mem-buat wanita itu semakin tertegun. Aku sudah mau membunuhnya, tapi mengapa dia masih bisa ber-gurau? Kata wanita itu dalam hati. Namun ke-mudian dia membentak.

"Kau omong kosong apa?"

Ouw Yang Hong tertawa lalu menyahut.

"Kau memang berwajah cantik. Walau pakai-anmu dari bahan kasar, tapi kau tetap kelihatan cantik. Orang dulu hilang, pakaian berkibar-kibar, maka yang indah membinar-binar. Kau adalah wanita cantik, ingin membunuh orang pasti tidak bisa. Tanganmu memegang pedang pendek, mulut mengatakan ingin membunuh orang, namun matamu tidak bersinar kejam, bagaimana kau membunuh orang?"

Wanita itu tertegun sambil menatap Ouw Yang Hong, lama sekali barulah herkata.
"Bagaimana . . . kau tahu aku tidak akan membunuhmu?"

Ouw Yang Hong cuma tertawa, tidak menyahut sama sekali.

Saat itu, matahari sudah berada di atas kepala. Mendadak wanita itu menyambar Ouw Yang Hong, lalu dibawa pergi. Kira-kira belasan langkah, dia menghentikan langkahnya, lalu memandang Ouw Yang Hong seraya berkata.

"Kau berjalan di depan dan berhati-hatilah! Kalau kau tidak menuruti perintahku, akan ku-tusuk dengan pedang pendek ini, dan kau pasti tewas!"

Ouw Yang Hong manggut-manggut, lalu mengayunkan kakinya. Wanita itu menyuruhnya berjalan ke arah mana, dia terpaksa menurut.

Akan tetapi, dia berkeluh dalam hati, sebab wanita itu menyuruhnya menuju ke arah Tiong-goan, pada hal dia ingin pulang ke perkampungan Pek Tho San Cung.
Ouw Yang Hong tahu tidak beres dan berkata dalam hati. Aku hersusah payah dari Tionggoan pulang ke kampung halaman, tapi justru harus kembali ke Tionggoan lagi, bukankah aku akan jadi gila? Setelah berkata dalam hati, Ouw Yang Hong lalu memohon kepada wanita itu.

"Nona yang baik, aku mohon kepadamu mem-perbolehkanku pulang ke Pek Tho San Cung, aku pasti berterimakasih dan ingat selalu akan budi kebaikanmu!"
Wanita itu tertawa ringan.

"Kalau kau pergi, akan tinggal aku seorang diri di dalam hutan rimba! Apabila diriku terjadi apa-apa, bukankah kau yang berdosa?"

Ouw Yang Hong tertegun mendengar ucapan
itu.

"Baiklah! Karena Nona berkata begitu, biarlah aku menemani Nona ke Tionggoan lagi, agar Nona tidak kesepian dalam perjalanan," katanya.

Wanita itu mengerutkan kening, tapi setelah itu lalu tertawa, dan menuding Ouw Yang Hong sambil berkata.

"Bagus! Kau memang pandai bicara! Aku dengar dari orang, bahwa lelaki panjang usia, wanita yang meloncat tembok! Kau adalah lelaki semacam itu! Tapi kuberitahukan, sebetulnya tiada gunanya aku menghendakimu mengikutiku! Kalau muncul penjahat, aku pasti membiarkan mereka membunuhmu! Apabila aku lapar, kau harus carikan makanan untukku. Aku haus, kau harus carikan air untuk kuminum! Seandainya aku terlalu lapar tapi tiada makanan, maka aku akan mengiris dagingmu dengan pedang pendek ini untuk kumakan. Dan kalau aku terlalu haus tiada air, aku akan memotong urat nadimu, lalu kuhirup darahmu!"

Ouw Yang Hong mendengar dengan mata terbelalak, namun tidak bersuara sama sekali.

Semula Ouw Yang Hong berjalan dengan di-ancam pedang pendek di punggungnya, maka terpaksa berjalan dengan kepala tertunduk dan menuruti kemauan wanita itu. Tapi kini wanita itu telah menurunkan pedang pendek itu dari punggungnya, sehingga langkah kaki Ouw Yang Hong menjadi bertambah cepat.

Oleh karena itu, wanita tersebut harus mem-percepat langkahnya, dan itu membuat nafasnya agak memburu.

"Berhenti! Cepatlah kau berhenti!"

Begitu mendengar suara teriakan wanita itu, Ouw Yang Hong langsung menghentikan langkah-nya.

Wanita itu berlari ke hadapannya, lalu me-nudingkan pedang pendeknya ke dada Ouw Yang Hong seraya membentak.

"Kau . . . kau ingin kabur?"

Ouw Yang Hong tertawa sambil menunjuk ke-empat penjuru dan berkata.

"Lihatlah! Tempat ini merupakan gurun, aku bisa kabur ke mana?"

"Kau boleh kabur, tapi dalam puluhan langkah, aku akan menerbangkan pedang pendekku, dan kepalamu pasti melayang!"

Ouw Yang Hong tahu wanita itu cuma omong besar, tapi tidak mau mengungkapnya, hanya berkata.

"Lebih baik Nona jangan membunuhku, sebab kalau aku mati, ke mana Nona mencari orang lain menemani melakukan perjalanan ini?"

Wanita itu memandang Ouw Yang Hong yang tampak kelelahan, namun masih bisa tertawa. Diam-diam dia menghela nafas panjang, kemudian menurunkan pedang pendeknya.

Orang ini lelaki sejati ataukah lelaki yang jahat dan licik? Pikir wanita itu. Tapi dia bertampang baik, tentunya bukan orang jahat. Kalau dia lelaki sejati, aku justru akan salah membunuh orang, dan itu merupakan perbuatan dosa. Kini lelaki ini bersamaku, makan dan minum bersama, bahkan begitu dekat pula seperti . . . suami istri. Seandainya aku tidak membunuhnya, bagaimana kelak aku menemui orang? Karena itu, wanita tersebut mengambil keputusan untuk membunuh Ouw Yang Hong setelah melalui gurun itu.

Ouw Yang Hong amat cerdas. Ketika menyak-sikan ekspresi wajah wanita itu, dia sudah tahu bahwa wanita ingin membunuhnya, hanya saja wanita itu masih berhati baik, maka belum turun tangan.

Ouw Yang Hong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian bertanya.

"Nona, bolehkah aku tahu namamu?"

Wanita itu balik bertanya dengan mata melotot.

"Mau apa kau tahu namaku?"

Ouw Yang Hong menyahut.

"Aku tahu kau akan membunuhku. Setelah aku mati arwahku pasti menuju ke alam baka. Para setan di alam baka akan bertanya kepadaku, siapa yang membunuhku. Aku pasti menjawab seorang Nona. Bukankah para setan itu akan mentertawa-kanku, karena mati dibunuh tapi tidak tahu nama si pembunuh?"

Mendengar itu, wanita tersebut tertawa dingin.

"Kau kira dirimu apa? Kau memang tolol! Apabila kau kubunuh, di dunia ini akan berkurang seorang tolol!

Ouw Yang Hong diam saja. Wanita itu amat membenci kaum lelaki, maka dia mau bilang apa lagi?

***

Bersambung

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Si Racun Dari Barat (See Tok Ouw Yang Hong Tay Toan) Bab 06"

Post a Comment

close