Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 11

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Jilid 11

Kejujuran Ouw Hui yang telah bicara berterus terang, lagi-lagi mengagumkan Cin Nay Cie. "Sau-dara Ouw," katanya. "Penuturanmu telah meng-ingatkan aku apa yang sering dikatakan orang, bahwa budi semangkok nasi, harus dibayar dengan scribu uang emas. Bahwa kau tidak melupakan budi Ma Kouwnio adalah suatu bukti, bahwa kau laki-laki sejati. Tadi kau mengatakan, bahwa kau tak mengerti, mengapa Ma Kouwnio begitu tega raem-binasakan Siang Po Cin, kecintaannya. Apa kau menduga, dua putera Ma It Hong itu adalah anak-nya Siang Po Cin?" Ouw Hui mengagaruk-garuk kepalanya. "Se-belum menutup mata, Cie Ceng telah mengatakan, bahwa dua anak itu bukan puteranya," katanya. la adalah seorang pintar, tapi sekarang ia benar-benar bingung.

"Saudara kecil," kata Cin Nay Cie. "Waktu kau berada di Siang-kee-po, apakah kau pernah berte-mu dengan seorang kongcu agung?" Ouw Hui terkesiap, seolah-olah orang baru  tersadar dari pulasnya. Waktu berada di Siang-kee-po, ia hanya memperhatikan Siang Po Cin yang duduk berduaan bersama Ma It Hong dan ber-omong-omong di bawah pohon. Sebagai bocah yang baru berusia belasan tahun, ia sama sekali tidak memperhatikan lirikan-lirikan antara Ma It Hong dan si kongcu "mahal". Sambil mengawaskan Cin Nay Cie, ia menanya: "Apa Toako maksudkan si kongcu yang diiringi oleh Ong-sie Hengtee dari Pat-kwa-bun?" "Benar," si tua mengangguk. "Waktu itu Hok Kongcu dilindungi oleh Ong-sie Hengtee." Ouw Hui bengong dan alisnya berkerut. Ia coba mengingat-ingat kejadian yang dulu itu sambil ber-kata dengan suara perlahan: "Hok Kongcu.... Hok Kongcu.... Hm! Orangnya cakap.... Ya! Memang mirip-mirip dengan kedua bocah itu...." Cin Nay Cie menghela napas panjang seraya berkata: "Di ini waktu Hok Kongcu adalah seorang pembesar tinggi yang diuruk dengan kemuliaan, kekuasaan dan kekayaan. Mengenai kekuasaan, be-liau hanya kalah setingkat dari Hongsiang (kaisar). Mengenai kekayaan, apa pun juga yang diinginkan olehnya, tentu diberikan oleh Hongsiang. Tapi, sesudah berusia setengah tua, masih terdapat suatu ganjalan yang tidak memuaskan hatinya. Ganjalan itu adalah: Beliau tidak mempunyai putera atau puteri." "Apakah Hong Kongcu yang sekarang dikenal sebagai Hok Kong An?" tanya Ouw Hui.

"Benar," jawabnya. "Beliau adalah Hok Thay-swee yang pernah menjadi Touw-tong (panglima besar) dari bala tentara Boanciu, pernah menjadi Congtok propinsi Hunlam dan Kwiciu, Congtok propinci Sucoan dan sekarang menjabat pangkat Thaycu Thaypo (pembesar agung yang menilik pu¬tera mahkota) merangkap Pengpo Siangsie (Men-teri peperangan)." "Hm! Sekarang aku mengerti," kata Ouw Hui. "Dua anak itu adalah puteranya Hok Thayswee dan ia telah memerintahkan kalian untuk menyambut-nya." "Bukan begitu," membantah Cin Nay Cie. "Hok Thayswee masih belum mengetahui, bahwa ia mem¬punyai dua putera dan kami pun barusan saja me-ngetahuinya, sesudah diberitahukan oleh Ma Kouwnio." Ouw Hui manggutkan kepala dan berkata da-lam hatinya: "Tak heran barusan Ma Kouwnio me-rah mukanya. Guna kepentingan anaknya, dengan menahan malu, ia sudah membuka rahasia itu ke-pada orang luar." "Hok Thayswee hanya memerintahkan kami untuk menilik keadaan Ma Kouwnio," kata pula orang tua itu. "Tapi dengan meraba-raba maksud beliau, kami mengambil putusan, paling benar mengajak Ma Kouwnio pulang ke Pakkhia. Seka¬rang, suaminya meninggal dunia dan ia tak mem¬punyai senderan lagi. Di kota raja, Ma Kouwnio bisa berkumpul dengan Hok Thaysweee dan kedua puteranya. Aku merasa, penghidupan itu adalah sepuluh kali lipat lebih baik daripada melakukan pekerjaan piauw-kiok. Saudara Ouw, aku memohon supaya kau sudi membantu kami dengan membujuk Ma Kouwnio." Pikiran Ouw Hui kusut sekali. Mendengar perkataan Cin Nay Cie, ia mengakui, bahwa itu adalah paling baik untuk Ma It Hong dan dua puteranya. Tapi dalam hatinya ia merasa ada apa-apa yang kurang tepat, hanya ia belum bisa mengatakan, apa itu yang kurang tepat. Sesudah memikir beberapa saat, ia menanya pula: "Bagaimana dengan Siang Po Cin? Bagaimana ia bisa berada dalam rombongan kalian?" "Siang Po Cin bekerja pada Hok Thayswee atas pujian Ongsie Hengtee," menerangkan Cin Nay Cie. "Karena ia mengenal Ma Kouwnio, maka ia turut datang ke mari." Paras muka Ouw Hui lantas saja berubah. "Ka-!au begitu, apakah ia membunuh Cie Toako atas perintah Hok Thayswee?" tanyanya.

Si tua menggeleng-gelengkan kepala. "Bukan, bukan begitu," ia membantah. "Hok Thayswee yang selalu teruruk dengan pekerjaan, mana tahu Ma Kouwnio sudah menikah dengan si orang she Cie? Beliau memerintahkan kami datang ke sini untuk rnenyelidiki, karena didorong dengan peringatan, dengan rasa cinta, yang dulu. Sekarang aku sudah menyuruh dua saudara untuk pergi ke kota raja guna melaporkan kejadian girang ini kepada Hok Thayswee yang sudah pasti akan merasa girang sekali." Bagi Ouw Hui, segala apa sudah menjadi terang. Pada hakekatnya, ia merasa, bahwa dalam urusan ini, ia tak dapat menyalahkan Hok Kong An atau Ma It Hong. Tentu saja Siang Po Cin tidak pantas menurunkan tangan jahat terhadap Cie Ceng, tapi karena ia sudah membayar hutang dengan jiwanya sendiri, maka soal itu boleh tak usah dibicarakan lagi. Ia hanya merasa sedih dan penasaran, karena mengingat nasib Cie Ceng yang sangat buruk. Se-bagai seorang jujur dan kasar, semenjak dulu ia sudah mengetahui, bahwa dua anak itu bukan anak-nya. Tapi ia sudah menutup mulut dan baru mem-buka rahasia pada waktu hampir menarik napas yang penghabisan. Makin dipikir Ouw Hui jadi makin kasihan, sehingga suaranya bergemetar ke-tika ia berkata: "Cin Toako, urusan ini sudah terang semua. Aku memohon maaf, bahwa aku terlalu banyak mencampuri urusan orang lain." Ia memberi hormat dan melompat turun ke bawah.

Cara melompat pemuda itu sudah mengejutkan sangat hati Cin Nay Cie. Batang dan daun pohon sedikit pun tidak bergoyang dan kenyataan ini mem-buktikan, bahwa waktu melompat, Ouw Hui sama sekali tidak meminjam tenaga dari pohon itu. Ke-pandaian itu adalah kepandaian yang tak bisa diukur bagaimana tingginya. Cin Nay Cie mengakui, bahwa andaikata ia berlatih terus dalam sepuluh tahun, belum tentu ia bisa memiliki ilmu entengkan badan yang begitu tinggi. Ia merasa heran, sungguh heran. bagaimana seorang yang begitu muda sudah mem-punyai kepandaian yang sedemikian lihay. Dengan rasa masgul, ia meloncat ke bawah dan ia melihat Ouw Hui sudah masuk ke rumah batu, Leng So yang sudah merasa bingung, girang sekali melihat kembalinya Ouw Hui. Melihat paras kakaknya yang guram, si nona tak berani menanya apa-apa. Tak lama kemudian, Ong Tiat Gok datang dengan membawa sebakul nasi, daging masak angsio dan tiga botol arak. Ouw Hui lantas saja menuang arak itu, tapi sebelum ia meminumnya, Leng So sudah mengeluarkan sebatang jarum perak dan mencelupnya di dalam arak untuk menyelidiki, apa arak itu mengandung racun atau tidak. "Sebegitu lama Ma Kouwnio masih berada di sini, mereka tak akan berani menaruh racun," kata Ouw Hui. Muka Ma It Hong lantas saja berubah merah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ouw Hui terus minum air kata-kata itu sehingga tiga botol arak kosong semuanya. Dalam keadaan mabuk, ia menengkurap di atas meja dan lalu tidur menggeros.

Waktu tersadar pada esokan paginya, pung-gungnya ditutup dengan jubah panjang. Ia yakin, bahwa hal itu tentu dilakukan oleh adiknya.

Dengan penuh rasa berterima kasih dan kasih-an, ia mengawasi si nona yang sedang berdiri di depan jendela dengan beberapa lembar rambutnya berkibar-kibar ditiup angin pagi. "Jie-moay!" ia me-manggil.

"Hm," sahutnya sambil memutar badan dan lalu menghampiri.

"Kau tak tidur?" tanya Ouw Hui seraya meman-dang muka adiknya yang lesu. "Semalam aku lupa memberitahukan, bahwa dengan adanya Ma Kouw¬nio, kita tak usah khawatir gangguan mereka." "Tengah malam tadi Ma Kouwnio telah ke luar dan sampai sekarang ia belum kembali," kata si nona. "Ia berjalan keluar dengan indap-indap, se-perti khawatir kau tersadar, maka aku pun lantas pura-pura pulas." Ouw Hui terkejut dan lalu membuka pintu. Bersama Leng So ia segera pergi ke hutan, ke tempat berkumpulnya kawanan Cin Nay Cie. Benar saja di situ sudah tidak terdapat seorang manusia.

Tertambat di satu pohon, mereka menemukan dua ekor kuda yang rupanya sengaja ditinggalkan untuk mereka berdua.

Tak jauh dari dua kuda itu, terdapat dua ku-buran baru, tanpa pertandaan apa-apa, sehingga mereka tak bisa menebak, mana kuburan Cie Ceng, mana kuburan Siang Po Cin. Dengan hati duka, Ouw Hui memandang dua gundukan tanah itu. "Yang satu suami, yang lain musuh besar, pembunuh suami," katanya di dalam hati. "Akan tetapi, di mata Ma Kouwnio, mereka berdua mungkin tak banyak bedanya. Mereka hanya merupakan dua manusia yang mencintai Ma Kouwnio, tapi tidak dicintai, dan mereka hanyalah orang-orang yang bernasib buruk, yang sudah mengorbankan jiwa untuk Ma Kouw¬nio." Mengingat begitu, ia menghela napas ber-ulang-ulang.

Sesudah itu, ia lalu menceritakan kepada Leng So segala pengalaman dan pembicaraan dengan Cin Nay Cie kemarin.

"Oh begitu?" kata Leng So. "Cin Nay Cie di-kenal oleh mendiang guruku dan ia mempunyai gelaran mentereng, yaitu Pat-pi Lo-cia (Lo Ciayang bertangan delapan). Aku tak nyana, dia sekarang sudah menjadi anjingnya bangsa Boan. Ouw Toako, kita boleh tak usah mengenal dia lagi." "Benar," sahut sang kakak.

"Hm!" menggerendeng Leng So. "Dengan isteri mencintai satu Thay-cu Thay-po Peng-po Siang-sie, memang lebih baik Cie Ceng mati siang-siang." "Tak salah, lebih cepat mampus, memang lebih baik," sahut Ouw Hui.

Dengan berendeng, mereka lalu berlutut beberapa kali di hadapan dua kuburan itu. "Cie Toako, Siang Kongcu," kata Ouw Hui dengan suara parau. Tak perduli apa semasa hidup, kalian telah mera-buang budi atau mendendam sakit hati terhadapku, sesudah kalian berpulang ke alam baka, budi dan sakit hati itu sudah lunas semuanya. Mengenai Ma Kouwnio, ia sekarang sudah berenang dalam ke-mewahan dan kekayaan. Aku hanya memberitahu-kan kalian, supaya kalian jangan ingat-ingat pada-nya." Sehabis bersembahyang, sambil menuntun dua ekor kuda itu, Ouw Hui dan Leng So lalu mening-galkan hutan. "Toako, ke mana kita sekarang per-gi?" tanya si nona.

"Paling dulu cari rumah penginapan," jawabnya. "Kau harus tidur sampai puas. Aku tak mau adikku sakit." Mendengar kata-kata "adikku", bukan main se-nangnya Leng So. Ia mengawasi sang kakak dan tertawa manis.

* Thia Leng So pulas nyenyak sekali, sampai lohor baru ia tersadar. Sesudah mencuci muka, seorang diri ia ke luar dari rumah penginapan dengan mengatakan mau ke pasar untuk membeli barang.

Waktu kembali ia membawa dua bungkusan besar. "Toako," katanya sambil tertawa, "Coba te-bak, barang apa yang dibeli olehku?" Melihat pada bungkusan itu terdapat cap "Toko Pakaian Loo Kiu Hok", Ouw Hui menyahut: "Apa kita menyamar lagi?" Leng So lalu membuka dua bungkusan itu yang masing-masing berisi sestel pakaian, pakaian lelaki yang berwarna hijau muda dan pakaian perempuan, berwarna kuning muda. Sesudah makan malam, si nona minta kakaknya mencoba pakaian baru itu yang ternyata agak terlalu panjang dan terlalu besar, sehingga ia lantas mengeluarkan gunting, benang dan jarum dan mulai mengecilkannya di bawah sinar lilin.

"Jie-moay," kata Ouw Hui. "Menurut pikiranku, paling baik kita sekarang pergi ke Pakkhia untuk melihat-lihat keramaian." Leng So tertawa seraya berkata: "Benar tidak dugaanku? Itulah sebabnya, aku sudah membeli dua stel pakaian baru, supaya orang jangan mentertawai pakaian gadis dusun yang jalan-jalan di kota raja." "Jie-moay, kau benar pintar!" memuji sang ka¬kak. "Memang, kita, orang dusun, sekarang ingin menemui pentolan-pentolan di bawah kakinya Anak Allah (kaisar) dan menonton itu pertemuan para Ciangbunjin dari Hok Kongcu." Kata-kata itu yang dikeluarkan dengan sikap acuh tak acuh, bernada angker sekali.

"Apa maksud Hok Kongcu dengan mengadakan pertemuan Ciangbunjin itu?" tanya si nona sambil terus menjahit. "Bagaimana pendapatmu?" "Terang bagaikan siang," jawabnya. "Dia tentu ingin menjaring orang-orang gagah di seluruh ne-geri untuk dijadikan kaki tangannya."  Leng So mesem, di dalam hati ia yakin, bahwa orang gagah yang tulen belum tentu sudi menghadiri pertemuan itu. "Tapi kenapa orang gagah yang seperti kau tak mau menghadiri pertemuan itu?" tanyanya sambil tertawa.

"Aku belum termasuk orang gagah," kata Ouw Hui. Ia berdiam sejenak dan berkata pula sambil menghela napas. "Hm! Jika ayahku masih hidup, jika ia menyatroni dan mengacau pertemuan itu, hasilnya tentu menggembirakan sekali." "Aku rasa, kepandaianmu sendiri sudah cukup tinggi untuk mengganggu Hok Kongcu," kata si nona. "Bukankah baik jika kau mengacau sedikit rencananya? Menurut taksiranku ada seorang sa-habat yang pasti akan pergi ke situ." "Siapa?" tanya Ouw Hui.

"Kau jangan berlagak pilon!" kata sang adik.

Ouw Hui memang sudah menebak siapa yang dimaksudkan Leng So, sehingga ia lantas saja ber¬kata: "Belum tentu dia datang." Ia berdiam sejenak, seperti orang berpikir, dan berkata pula: "Mengenai Wan Kouwnio, aku masih merasa sangsi, apa dia kawan atau lawan." Leng so tertawa. "Jika aku mempunyai lawan yang menghadiahkan Giok-hong-hong, aku rela bermusuhan dengan semua manusia di dunia ini," katanya sambil tertawa.

Baru saja Leng So mengucapkan perkataan itu, di luar jendela mendadak terdengar suara seorang wanita: "Baiklah! Aku pun menghadiahkan kau seekor Hong-hong!" "Srt!" serupa benda menyambar masuk dari kertas jendela.

 Dengan cepat Ouw Hui menyambar garisan kayu dan menghantam benda itu yang lantas saja jatuh di meja, dan dengan berbareng, tangan kirinya mengebas api lilin yang segera padam dan ruangan itu jadi gelap gulita.

"Omong-omong dengan memadamkan lilin, sungguh bagus!" kata pula suara wanita itu.

Mendengar suara itu yang menyerupai suara Wan Cie Ie, jantung Ouw Hui memukul keras. "Wan Kouwnio!" ia memanggil. Hampir berbareng, ia mendengar tindakan kaki yang sangat enteng yang menyingkir dari bawah jendela.

Ouw Hui menyulut lilin dan dari sinar pe-nerangan, ia melihat muka Leng So yang berubah pucat. "Mari kita menyelidiki," ia mengajak.

"Kau saja sendiri," jawab si nona.

"Hm!" menggerendeng Ouw Hui, kakinya tidak bergerak. Ia mengambil benda yang barusan di-timpuk dari luar dan ternyata benda itu adalah satu batu kecil. "Orang itu sangat luar biasa," katanya di dalam hati. "Bagaimana ia bisa mendengari di bawah jendela, tanpa diketahui olehku?" Walaupun mengetahui, bahwa Leng So merasa sangat kurang senang, ia membuka jendela dan melongok keluar. Di luar gelap gulita, sunyi senyap, tanpa seorang manusia.

Dengan hati masgul, ia menutup jendela dan mendekati adiknya.

"Sudah malam, baik Toako pergi tidur," kata Leng So.

"Aku belum ngantuk," jawabnya.

"Tapi aku merasa capai," kata si nona. "Besok pagi-pagi kita sudah mesti berangkat."  "Baiklah," kata Ouw Hui yang lalu bertindak ke luar dan kembali di kamarnya. Malam itu, ia tak bisa pulas. Sambil gulak-gulik di atas bantal, rupa-rupa pikiran masuk ke dalam otaknya. Ia ingat Wan Cie Ie, ia ingat Thia Leng So, ia ingat peristiwa Ma It Hong dan Cie Ceng. Sampai jam empat pagi, baru-lah ia bisa pulas.

Besok paginya, dengan membawa pakaian Ouw Hui, Leng So mengetuk pintu kamar pemuda itu. "Ouw Toako, lekas bangun!" ia memanggil. "Ada barang baik untukmu." Begitu pintu terbuka, si nona bertindak masuk, menaruh pakaian itu di atas meja dan lalu keluar lagi. Ouw Hui segera menukar pakaian dan ter¬nyata, bahwa pakaian baru itu, yang semula terlalu panjang dan longgar, sekarang pas persis di ba-dannya. Semalam, waktu kembali ke kamarnya, Leng So baru saja mulai menjahit, sehingga dapatlah ditaksir, bahwa semalaman suntuk si nona menger-jakan pakaiannya. Dengan rasa berterima kasih, ia segera pergi ke kamar adiknya dan berkata sambil menyoja: "Jie-moay, terima kasih banyak untuk ke-baikanmu." "Terima kasih apa?" kata sang adik sambil ter-tawa. "Lain orang menghadiahkan kau seekor kuda yang sangat bagus." Ouw Hui terkejut. "Kuda apa?" tanyanya.

Mereka lantas pergi ke pekarangan belakang dan benar saja, seekor kuda bulu putih tertambat di tambatan kuda. Ouw Hui kaget bukan main, karena kuda itu adalah kuda yang dulu ditunggang Tio Poan San dan belakangan digunakan oleh Wan Cie Ie.

"Tadi pagi, baru saja aku bangun, pelayan hotel ribut-ribut dan mengatakan, bahwa pintu depan dibuka pencuri," menerangkan Leng So. "Sesudah diselidiki, tak ada kehilangan apa pun juga, tapi di pekarangan belakang tertambat kuda itu, yang tak diketahui kapan datangnya." Sehabis berkata be¬gitu, ia mengangsurkan satu bungkusan sutera ke-pada Ouw Hui dan di atas bungkusan itu tertulis: "Dipersembahkan kepada Ouw Siangkong dan Thia Kouwnio".

Ouw Hui membukanya dan... matanya membe-lalak. Ia terperanjat, karena isinya adalah seekor Giok-hong (burung hong yang terbuat dari batu giok), yang tiada bedanya dengan Giok-hong yang pernah dihadiahkan kepadanya oleh Wan Cie Ie.

"Apa Giok-hongku jatuh? Apa dicuri olehnya?" Ouw Hui menanya diri sendiri, sambil merogoh saku. Tapi Giok-hong itu masih tetap berada dalam sakunya dan ketika dikeluarkan, ternyata kedua Giok-hong tiada bedanya, hanya yang satu mengha-dap ke kiri, yang lain menghadap ke kanan.

Dalam bungkusan itu terdapat sehelai kertas dengan tulisan: "Kuda kembali pada majikannya, Hong dihadiahkan kepada pendekar wanita." Lagi-lagi Ouw Hui terkejut. "Kuda itu bukan milikku," pikirnya. "Kenapa dikatakan, kuda kembali pada majikannya? Apa dia ingin aku mengembalikannya kepada Tio Samko?" Ia mengangsurkan kertas itu dan Giok-hong kepada Leng So seraya berkata: "Wan Kouwnio juga menghadiahkan seekor Giok-hong kepadamu." "Aku bukan pendekar wanita," kata si nona sesudah membaca tulisan itu. "Giok-hong itu bukan untukku." "Bukankah di atas bungkusan terang-terangan ditulis Thia Kouwnio'?" kata Ouw Hui. "Dan se-malam, ia pun telah berjanji untuk menghadiahkan Giok-hong kepadamu." Leng So mengangguk seraya berkata: "Jika kau mengatakan begitu, biarlah aku menerimanya. Wan Kouwnio begitu baik hati, tapi aku tak mempunyai apa-apa untuk membalasnya." Sesudah itu, mereka meneruskan perjalanan ke arah utara. Di sepanjang jalan tak ada kejadian penting dan Wan Cie le pun tak pernah muncul lagi. Mereka berjalan tanpa menyebut-nyebut lagi halnya nona itu, tapi di dalam hati, mereka selalu mengingatnya. Setiap kali mereka bicara di dalam kamar, Wan Cie le seolah-olah berada di luar jendela. Setiap kali mereka berpapasan dengan penunggang kuda, hati mereka terkesiap, seperti juga penunggang kuda itu adalah Wan Cie le.

Perjalanan ke Pakkhia bukannya dekat. Per¬jalanan itu harus ditempuh dengan melawan salju, hujan dan angin. Semakin lama, Leng So kelihatan jadi semakin kurus, mungkin karena terlalu capai.

Akhir-akhirnya, sesudah menderita banyak ke-sengsaraan, mereka tiba juga di Pakkhia dan pada suatu hari, sambil merendengkan kuda, mereka masuk ke kota raja.

Selagi masuk di pintu kota, Ouw Hui melirik adiknya dan lapat-lapat, ia seperti melihat jatuhnya sebutir air mata Leng So di atas tanah. Ia tidak melihat tegas, karena pada saat itu, si nona me-lengoskan mukanya.

Tiba-tiba saja Ouw Hui merasa sangat menyesal dan ia mengeluh dalam hatinya: "Ah! Guna apa aku datang ke Pakkhia. Guna apa?" Waktu itu adalah jaman Kaisar Kian-liong, ka-pan seluruh Tiongkok aman dan makmur dan kota Pakkhia menjadi pusat segala kemewahan dan ke-indahan. Ouw Hui dan Thia Leng So masuk dari pintu Ceng-yang-bun. Terlebih dulu mereka men-cari rumah penginapandan minta dua buah kamar. Sesudah makan tengah had, mereka keluar jalan-jalan di jalanan raya yang ramai dan diapit dengan gedung-gedung besar dan indah.

Sesudah mondar-mandir tanpa tujuan lebih dari satu jam, Ouw Hui membeli kembang gula dan bebuahan dan memakannya bersama Leng So sem-bari berjalan. Tiba-tiba mereka mendengar suara gembreng dan melihat berkerumunnya sejumlah orang di sebidang tanah lapang. Setelah didekati, orang-orang itu ternyata sedang menonton pertun¬jukan seorang penjual silat. Ouw Hui jadi tertarik. "Jie-moay, mari kita lihat," katanya.

Mereka lalu mendesak maju dan melihat se¬orang lelaki yang bertubuh tinggi-besar berdiri di tengah gelanggang dengan tangan mencekal golok. "Tuan-tuan, sekarang aku hendak bersilat dengan ilmu golok Su-bun To-hoat," katanya sambil me-nyoja. "Aku memohon tuan-tuan suka memberi pengajaran jika terdapat bagian-bagian yang kurang benar." Sesudah memasang kuda-kuda, ia mulai bersilat dan memperlihatkan macam-macam pukul-an, seperti Tay-peng-tian-cie (Garuda membuka sayap), Kim-kee-tok-lip (Ayam emas berdiri dengan satu kaki), Hway-tiong-po-goat (Mendukung bu-lan) See-Ceng-pay-Hud (See Ceng memberi hormat kepada Sang Budha) dan Iain-lain. Pukulan-pu-kulan itu dapat dikatakan dijalankan menurut per-aturan, hanya gerakan kakinya "kosong" (tidak man-tap) dan sabetan-sabetan goloknya agak "melayang" (tidak bertenaga), sehingga pertunjukan itu tiada harganya untuk ditonton. Ouw Hui merasa geli dan berkata dalam hatinya: "Aku memang sudah lama mendengar, bahwa orang di kota raja kebanyakan hanya bisa omong besar, tapi tidak berisi." Baru saja ia menarik tangan Leng So untuk meninggalkan tempat itu, dari antara orang banyak tiba-tiba terdengar suara tertawa dan cacian. "Hei! ilmu golok apa yang dipertunjukkan olehmu? Ilmu golok kentut anjing?" Si penjual silat tentu saja jadi gusar sekali. Dengan mata mendelik, ia membentak: "Kurang ajar kau! Ilmu golokku adalah Su-bun To-hoat yang tulen. Apa ada bagian yang salah? Jika benar, aku ingin minta pengajaranmu." Hampir berbareng, seorang pria yang bertubuh kekar dan mengenakan seragam bu-khoa (pem-besar militer) melompat masuk. "Baiklah," katanya. "Aku bersedia untuk memberi pelajaran." Sehabis berkata begitu, ia menghampiri si penjual silat dan mengambil goloknya. Mendadak secara tak dise-ngaja, ia melihat Ouw Hui. Untuk sejenak, ia ter-tegun dan kemudian berteriak dengan suara girang: "Ouw Toako! Kau datang di Pakkhia? Ha-ha-ha! Kau adalah ahli silat golok pada jaman ini. Cobalah jalankan sejurus dua jurus, supaya bocah ini bisa membuka matanya." Begitu lekas orang itu masuk ke gelanggang, Ouw Hui dan Leng So sebenarnya sudah mengenali, bahwa ia adalah Ong Tiat Gok, seorang tokoh dari Eng-jiauw-gan-heng-bun. Waktu mengejar Ma It Hong, ia nyamar sebagai perampok dan sekarang ia ternyata seorang bu-khoa. Ouw Hui tahu, bahwa dia adalah seorang polos, bukan manusia licik. Ia tersenyum seraya berkata: "Kepandaianku tak ada artinya. Ong Toako, kau sajalah yang memper-lihatkan kemahiranmu." Ong Tiat Gok jadi malu hati. Ia tahu, bahwa kepandaian Ouw Hui banyak lebih tinggi dari pada-nya dan di hadapan pemuda itu, mana ia berani memperlihatkan kepandaiannya? Maka itu, ia lan-tas saja melemparkan golok yang dicekalnya. "Mari!" katanya sambil tertawa. "Ouw Toako, nona ini she... she Thia. Ya. Thia Kouwnio, mari kita minum beberapa cawan. Dengan kalian datang sebagai tamu, aku mesti mengambil peranan tuan rumah." Ia menarik tangan Ouw Hui dan lalu berjalan pergi. Si penjual silat tentu saja tak berani cari urusan dengan seorang pembesar dan tanpa mengatakan suatu apa, ia lantas saja menjemput goloknya.

Sambil berjalan, Ong Tiat Gok berkata dengan suara gembira: "Ouw Toako, orang kata tidak ber-kelahi, tidak jadi sahabat. Aku benar-benar kagum melihat ilmu silatmu. Biarlah besok aku memberi laporan kepada Hok Thay-swee. Ia tentu akan memberi jabatan penting kepadamu. Aha! Kalau sudah kejadian begitu, aku sendiri akan dipayungi olehmu...." Tiba-tiba suaranya berubah perlahan. "Ouw Toako," katanya separuh berbisik. "Kau tahu bagaimana keadaan Ma Kouwnio sekarang? Ber-sama kedua puteranya, ia sekarang berdiam dalam gedung Thayswee. Hidup beruntung dan mewah.

Hok Thayswee tidak kekurangan apa pun jua. Ia hanya kekurangan anak. Mungkin sekali di satu hari Ma Kouwnio akan diangkat menjadi Thayswee Hu-jin. Ha-ha-ha! Jika Toako tahu, hari itu sudah pasti Toako tak akan bertempur dengan rombongan kami. Bukankah begitu?" Sehabis berkata begitu, ia ter¬tawa terbahak-bahak.

Ouw Hui hanya mengangguk, ia tak mengeluar-kan sepatah kata. Ia menganggap, bahwa sesudah suaminya meninggal dunia, Ma It Hong memang merdeka untuk menikah lagi. Akan tetapi, meng-ingat nasib Cie Ceng, hatinya jadi duka sekali.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan se-buah restoran besar, yang di depannya digantung merek "Kie Eng Lauw" (Loteng atau restoran tern-pat berkumpulnya orang-orang gagah). Begitu me¬lihat Ong Tiat Gok, pelayan buru-buru mengham-piri seraya berkata: "Ong Tayjin, siang-siang kau sudah datang. Mau makan apa? Apa mau minum arak dulu?" "Baiklah," jawabnya. "Hari ini aku mengundang dua orang sahabat yang berkedudukan tinggi. Kau harus membuat sayur-sayur yang paling lezat." "Tak usah Tayjin memesan," kata si pelayan sambil mengantar tetamunya ke sebuah meja de¬ngan kursi yang indah.

Sambil minum arak, Ouw Hui menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa sebagian besar tamu berpakaian seragam militer atau orang-orang dari Rimba Persilatan. Restoran itu ternyata adalah langganan orang-orang dunia persilatan.

Makanan di kota raja tentu saja berbeda dengan makanan di kota-kota lain. Lebih-lebih karena Ong Tiat Gok ingin mempertahankan "muka", maka sa-yur-sayur yang dipesannya semua sayur kelas satu. Sambil makan, Ouw Hui tak hentinya memuji le-zatnya makanan itu.

Sesudah mencegluk belasan cawan arak, tiba-tiba terdengar masuknya sejumlah orang di kamar sebelah dan tak lama kemudian, mereka mulai ber¬judi.

"Thian-ong-kiu, makan semuanya!" demikian terdengar teriakan seseorang.

Ouw Hui terkejut karena suara itu kedengaran-nya tak asing lagi.

"Kawan lama!" kata Tiat Gok sambil tertawa. "Cin Toako!" ia berteriak. "Coba tebak, siapa yang lagi bersantap denganku?" Ouw Hui lantas saja ingat, bahwa yang dipanggil "Cin Toako" mestinya Cin Nay Cie, Ciangbunjin dari Pat-kek-kun.

"Tak perduli!" teriak seorang di kamar sebelah. "Tak perduli kau punya tamu babi atau tamu anjing. Keluarlah, mari ikut jajal-jajal peruntungan." "Tak apa kau mencaci aku, tapi jangan kau mencaci seorang sahabat baik," kata Tiat Gok se-raya tertawa. Ia bangun berdiri dan berkata pula sambil menarik tangan Ouw Hui: "Ouw Toako, mari kita lihat." Begitu mereka menyingkap tirai dan bertindak masuk ke kamar sebelah, Cin Nay Cie menengok dan ia kaget tak kepalang. "Aduh! Kau!" teriaknya dengan girang. "Sungguh tak dinyana!" Sambil mendorong kartu ( Kartu Paykiu terbuat dari tulang) ia bangun berdiri dan lalu memukul kepalanya beberapa kali. "Maaf! Maaf! Benar-be-nar aku kurang ajar," katanya seraya tertawa. "Siapa nyana yang datang adalah Ouw Toako. Mari, mari! Kau jadi 'cong' (bandar)." Ouw Hui mengawasi dan ternyata, di seputar meja paykiu berkumpul belasan orang dengan Cin Nay Cie sebagai "cong". Antara mereka, kira-kira separuh terdiri dari orang-orang yang pernah me-nyerang rombongan Hui-ma Piauw-kiok dengan menyamar sebagai perampok. Ia mengenali si orang she Tie yang bersenjata Lui-cin-tong, si orang she Siangkoan yang menggunakan San-tian-tui dan si orang she Liap yang bersenjata pedang. Melihat kedatangannya, ruangan yang tadi ribut dengan mendadak berubah sunyi senyap.

Sambil menyoja keempat penjuru, Ouw Hui berkata: "Terima kasih atas kebaikan tuan-tuan yang sudah sudi mengajak aku turut berjudi." Sesudah saling mengucapkan kata-kata meren-dah, orang she Liap itu berkata: "Ouw Toako, ayolah, kau jadi 'cong'. Apa kau bawa uang? Aku sedang mujur. Gunakanlah dulu uangku." Sambil berkata begitu, ia mendorong tiga bungkusan uang ke arah Ouw Hui.

Ouw Hui adalah seorang yang pandai bergaul. Biarpun ia tak punya rasa simpati terhadap orang-orang itu yang menjadi kaki tangan bangsa Boan, tapi karena melihat sikap mereka yang manis dan juga karena ia sendiri memang gemar berjudi, maka ia lantas saja berkata: "Biar Cin Toako saja yang menjadi 'cong'. Siauwtee hanya mau coba-coba se-dikit. Liap Toako, simpan dulu uangmu. Kalau Uangku sudah habis, baru aku pinjam." la menengok dan berkata pula: "Jie-moay, apa kau mau turut?" Si nona tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, biar aku bantu kau mengangkut peraknya saja," katanya.

Cin Nay Cie tidak berlaku sungkan lagi dan lalu mencuci kartu serta melempar biji-biji dadu. Ouw Hui dan Ong Tiat Gok lantas saja turun ke ge-langgang. Semula, karena datangnya seorang luar, beberapa bu-khoa agak kikuk, tapi sesudah be-berapa lama, suasana jadi gembira kembali dan semua orang bisa berjudi dengan memusatkan se-antero perhatiannya.

Ouw Hui main kecil, ada kalah, ada memang. la berjudi tanpa perhatian, karena pikirannya se-dang bekerja di jurusan lain. "Hari ini adalah Pee-gwee Ceekauw (Bulan Delapan tanggal sembilan)," pikirnya. "Lagi lima hari perayaan Tiong-chiu. Pesta besar untuk menyambut pertemuan para Ciang-bunjin yang dihimpunkan oleh Hok Kongcu, ke-banyakan akan diadakan pada harian Tiong-chiu. Mungkin sekali bangsat Hong Jin Eng, sebagai Ciangbunjin dan Ngo-houw-bun, akan datang ke sini. Tapi andaikata ia tak datang, aku masih bisa mencari tahu halnya dalam pertemuan itu. Orang-orang ini adalah pembantu-pembantu yang diper-caya oleh Hok Kongcu. Banyak sekali untungnya jika aku bergaul dengan mereka." Sesudah meng-ambil keputusan itu, ia mulai main dengan gembira. Selang beberapa lama, kartunya mulai dapat angin dan dalam sekejap, ia sudah menang kurang-lebih lima ratus tahil perak.

Selang satu jam lebih, siang mulai terganti dengan malam dan semakin lama orang main semakin besar. Tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan sepatu, tirai tersingkap dan tiga orang kelihatan berjalan masuk. Melihat mereka, Ong Tiat Gok lantas saja bangun berdiri dan berkata dengan sikap menghormat: "Aha! Toasuko, Jiesuko, kalian juga datang." Semua orang yang berjudi turut menyam¬but dengan macam-macam panggilan, ada yang me-manggil "Ciu Toaya" dan "Can Jieya", ada pula yang menggunakan istilah "Ciu Tayjin" dan "Can Tayjin". Ouw Hui dan Leng So lantas saja bisa menebak siapa mereka itu. "Mereka tentunya Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo dari Eng-jiauw-gan-heng-bun," kata Ouw Hui dalam hatinya. "Mereka memang mempunyai nama yang tidak kecil." Ia mengawasi dan mendapat kenyataan, bahwa Ciu Tiat Ciauw bertubuh kurus-kecil, tingginya tidak lebih dari lima kaki, usianya baru kira-kira lima puluh tahun, tapi rambutnya sudah berwarna putih, sedang Can Tiat Yo, yang berusia sedikit lebih muda dari kakak seperguruannya, berbadan jangkung-kurus, tangan-nya mencekal pipa Pit-yan-hu, pada makwanya ter-gantung rantai emas dan gerak-geriknya seperti seorang bangsawan. Melihat orang yang ketiga, Ouw Hui agak terkejut, karena ia mengenali, bahwa orang itu bukan lain dari pada In Tiong Shiang yang dulu pernah bertemu dengannya di Siang-kee-po. Rambutnya orang itu sudah berwarna dauk dan ia kelihatannya banyak lebih tua. Begitu masuk, mata In Tiong Shiang menyapu muka Ouw Hui, tapi ia tidak memperdulikan, karena menganggap pemuda itu sebagai seorang pemuda desa biasa. Sebagai-mana diketahui, dalam pertemuan di Siang-kee-po, Ouw Hui baru berusia dua belas atau tiga belas tahun.

Cin Nay Cic buru-buru bangun berdiri seraya berkata: "Ciu Toako, Can Jieko, aku mohon mem perkenalkan kalian dengan seorang sahabat. Inilah Ouw Toako yang mempunyai kepandaian tinggi. la baru saja datang di kota ini." Ciu Tiat Ciauw dan adik seperguruannya hanya mengangguk scdikit. Sebagai orang-orang ternama di kota raja, mereka tentu saja tidak memandang sebclah ma!a kepada Ouw Hui yang dianggapnya sebagai pcmuda desa.

Sementara itu, Tiat Gok mengawasi Leng So dengan rasa hcran, karena si nona sama sekali tidak menegur kedua saudara seperguruannya, sedang ia pernah mengaku mengenal mereka. Ia tentu saja tak tahu, bahwa pada ketika itu, si nona bicara sembarangan saja untuk memancing dirinya. Lcng So sendiri hanya tersenyum sambil manggut-mang gutkan kepalanva dan Tiat Gok tak berani menanya apa-apa.

Sesudah mcnjadi "cong" dua kali lagi, Cin Na\ Cie mcnycrahkan kepada Ciu Tiat Ciauw. Dengan kedatangan tiga "musuh" baru, pertaruhan lantas saja berubah besar. Ouw Hui semakin mujur. Belum setengah jam ia sudah menang seribu tahil lebih Yang paling apes adalah Ciu Tiat Ciauw. Baru jadi bandar, sebagian besar uangnya sudah amblas. Se¬sudah mcnjadi "enng" sekali lagi dengan kekalahati yang lebih ht bat. ia mendorong kartu seraya ber¬kata: "Aku laci sial. Jietee, biarlah kau yang jadi bandar." Kartu Can Tiat Yo sedang-sedang saja, tak  mujur dan juga tak sial. Ouw Hui terus dapat angin, dengan beruntun ia mengeduk kira-kira scmbilan Ratus tahil lagi, sehingga di depannya penuh dcngan Tumpukan perak.

"Anak desa lagi disayang oleh Malaikat uang." kata Tiat Yo sambil tertawa. "Mari. Kau saja yang jadi bandar." "Baiklah," kata Ouw Hui yang lalu mencuci kartu. Dadu dibuang dan kartu-kartu dibagi. Ouw hui membuka kartunya yang ternyata dua kartu pertama delapan mata, sedang dua kartu yang kedua sepasang "Panteng" (nama kartu) dan ia "makan" dua orang.

Biarpun kalah, Ciu Tiat Ciauw tidak jadi mendongkol dan Can Tiat Yo pun menerima kckalahan dengan sikap tenang sambil tertawa-tawa dan guyon-guyon. Orang yang uring-uringan adalah In Tiong Shiang dan semakin ia marah-mai ah semakin besar kekalahannya. Akhirnya, dengan mata melotot ia mendorong semua sisa uangnya yang berjumlah kira-kira dua ratus tahil. Selelah kartu dibuka, ia keok lagi, tiga mata dimakan tiga mata, sembilan mata dimakan sembilan mata.

Muka In Tiong Shiang lantas saja berubah pucat. Ia mengangkat tangan dan menggebrak meja, sehingga kartu, biji dadu dan uang pada meloncat ke atas. 'Kartu si anak desa ada sctannya!" teriaknya,"Mana bisa begitu gila? Tiga mata makan tiga, sembilan makan sembilan. Biarpun mujur, tak mungkin mujur sampai begitu!" "In Toako," kata Cin Nay Cie. "Jangan kau bicara sembarangan. Ouw Toako adalah seorang sahabat baik." Semua orang mengawasi In Tiong Shiang dan kemudian memandang Ouw Hui. Orang-orang yang pernah menyaksikan kelihayannya pemuda itu, se¬mua menduga, bahwa ia tak akan tinggal diam tuduhan main curang yang bersembunyi dalam kata-kata In Tiong Shiang. Mereka yakin, jika sampai bergebrak, si orang she In akan mendapat malu besar.

Tapi di luar dugaan, Ouw Hui tak jadi gusar. "Menang-kalah adalah kejadian lumrah dalam pe-perangan," katanya sambil tersenyum. "Perlu apa In toako jadi panas perut?" Tiba-tiba In Tiong Shiang bangun berdiri dan membuka tali ikatan pedangnya yang tergantung di pinggang. Semua orang menduga ia mau turun tangan, tapi mereka tidak mencegah. Harus dike-tahui, bahwa terjadinya perkelahian karena gara-gara judi adalah kejadian biasa di kota raja. Tapi In Tiong Shiang bukan mau bertempur. Sambil me-letakkan pedangnya di atas meja, ia berkata: "Pe-dangku ini paling sedikit berharga lima ratus tahil perak. Mari kita bertaruh lima ratus tahil sekali pukul!" Pedang itu indah sekali dengan sarungnya yang tertahta emas dan batu-batu permata dan dapat ditaksir, bahwa harganya memang tak kecil.

"Baiklah," kata Ouw Hui sambil tersenyum.

Sambil mengambil kartu dan biji dadu, In Tiong Shiang berkata: "Kali ini satu lawan satu, aku dan si anak desa. Lain orang tak boleh turut." Ouw Hui segera mengambil lima ratus tahil dan mendorongnya ke depan. "Lemparlah dadu," kata¬nya dengan suara tenang.

In Tiong Shiang memegang dua biji dadu dalam tangannya dan menggoyang-goyang beberapa kali. Sesudah meniup keras, ia melontarkannya. Sebuah dadu lima mata, yang sebuah lagi empat mata, jadi semuanya sembilan mata, yang mana berarti, bahwa ia berhak menarik empat kartu terlebih dulu. Begitu melihat kartunya, paras mukanya lantas saja berseri-seri. "Anak desa, kali ini kau tak bisa main gila lagi!" katanya seraya membuka tangan kirinya di mana terdapat dua kartu dengan sembilan mata dan se-telah ia membuka telapakan tangan kanannya, ter-lihatlah sepasang Thian-pay.

Ouw Hui sendiri tidak membuka kartunya. De¬ngan jari ia meraba-raba muka kartu dan kemudian, ia menaruh keempat kartu itu, dengan ditengkurep-kan, di atas meja, dua di depan dan dua di belakang.

"Anak desa!" bentak In Tiong Shiang. "Balik kartumu!" Karena merasa pasti menang, ia segera menyapu lima ratus tahil uang Ouw Hui ke ha-dapannya.

"Jangan terburu nafsu, lihat dulu kartu Ouw Toako," kata Tiat Gok.

Ouw Hui tak mengeluarkan sepatah kata. Ia melonjorkan tiga jarinya dan perlahan-lahan me-nepuk belakang keempat kartunya. Sesudah itu, ia mendorong empat kartu itu yang lantas saja ber-campuran dengan kartu-kartu lain yang sudah di-buang. "Kau menanglah!" katanya sambil tersenyum.

Bukan main girangnya In Tiong Shiang. Tapi... baru saja ia niat mengejek si anak desa, secara kebetulan matanya melihat meja dan semangatnya terbang! Mukanya pucat dan ia mengawasi meja dengan mata membelalak.

Mengapa?  Di muka meja yang dicat merah terdapat peta dari empat kartu itu. Dua kartu yang di depan adalah sepasang "Tiang-sam", sedang dua kartu di belakang, yang satu tiga mata, yang lain enam mata, sehingga jika dipersatukan terdapatlah kartu "Cie-cun-po".

Apa yang mengagumkan adalah peta kartu itu yang sangat nyata dan setiap matanya seolah-olah menonjol ke atas. Bahwa dengan sekali menepuk Ouw Hui sudah dapat melakukan itu, merupakan bukti, bahwa ia memiliki Lweekang dan ilmu yang sukar ditaksir tingginya. Para penjudi adalah ahli-ahli silat dan melihat kejadian itu, tanpa merasa mereka bersorak sorai.

Muka In Tiong Shiang jadi merah padam. De¬ngan kasar, ia mendorong pedang dan perak ke depan Ouw Hui. Cepat-cepat ia bangun dan lalu berjalan ke luar.

Sambil mencekal pedang, Ouw Hui memburu seraya berteriak: "In Toako, aku tak bisa meng-gunakan pedang. Guna apa pedang ini?" Seraya berkata begitu, ia mengangsurkan pedang tersebut kepada In Tiong Shiang.

In Tiong Shiang tidak menyambuti. Ia meng-awasi dan berkata: "Apakah aku boleh tahu nama tuan yang terhormat?" Sebelum Ouw Hui sempat menjawab, Ong Tiat Gok sudah mendului: "Sahabat ini she Ouw ber-nama Hui." "Ouw Hui?.... Ouw Hui...." In Tiong Shiang berkata seorang diri. Tiba-tiba ia seperti baru men-dusin dari tidurnya. "Ah!" ia mengeluarkan seruan tertahan. "Kita pernah bertemu di Shoatang, di Siang-kee-poo...." "Benar," kata Ouw Hui. "Aku pernah bertemu muka dengan In-ya, hanya sayang barusan In-ya tidak mengenali." Muka In Tiong Shiang jadi semakin pias. Ia menyambuti pedang itu yang kemudian lalu dilem-parkan ke atas meja. "Tak heran! Tak heran!" katanya sambil menyingkap tirai dan lalu berjalan pergi dengan tindakan lebar.

Semua orang lantas saja ramai bicara, dan ada yang memuji kepandaian Ouw Hui, ada yang men-cela In Tiong Shiang yang dikatakan berjiwa kecil dan marah-marah karena kalah berjudi.

Perlahan-lahan Ciu Tiat Ciauw bangun berdiri dan sambil menunjuk tumpukan perak di depan Ouw Hui, ia menanya: "Saudara Ouw, berapa jum-lah uangmu?" "Empat-lima ribu tahil," jawabnya.

Sambil mengocok-ngocok dadu dalam tangan kirinya, tangan kanan Ciu Tiat Ciauw merogoh saku dan mengeluarkan sebuah amplop yang lalu diletak-kan di atas meja. "Baiklah," katanya. "Kita berjudi satu kali lagi." Di atas amplop itu tidak tertulis apa pun juga. sehingga tak diketahui apa di dalamnya. Semua orang menganggap, Ouw Hui akan menolak tan-tangan yang luar biasa itu. Bagaimana jika di da¬lamnya hanya terisi selembar kertas putih? Tapi di luar dugaan, tanpa memikir dan tanpa menanya, ia mendorong semua perak seraya berkata: "Baiklah!" Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo saling meng-awasi dengan perasaan kagum. Di dalam hati, me¬reka memuji pemuda itu yang luar biasa dan tidak memandang harta dunia.

Ciu Tiat Ciauw segera menjemput dadu yang lalu dilemparkannya dan hasilnya tujuh mata, se-hingga Ouw Hui paling dulu menarik kartu, sedang ia sendiri mendapat giliran yang ketiga. Sesudah melirik kartunya dengan sikap acuh tak acuh, ia membaliknya dan menepuknya dua kali di atas meja. Semua orang mengawasi dengan mata membelalak dan kemudian bersorak sorai.

Mengapa mereka bersorak? Ternyata, empat kartu itu, dua di depan dan dua di belakang, telah melesak masuk di meja dan muka kartu rata dengan permukaan meja. Andai-kata seorang tukang kayu memahat meja itu dan memasukkan kartu-kartu tersebut ke dalam lubang yang dipahatnya, dia pasti tak akan bisa melakukan secara begitu sempurna seperti yang dilakukan oleh Ciu Tiat Ciauw. Nilai kartu itu tidak tinggi, yang di depan lima mata dan yang di belakang enam mata.

Ouw Hui lantas saja bangun berdiri. "Ciu Toaya," katanya seraya tertawa. "Maaf, kali ini aku kembali menang!" Berbareng dengan perkataannya, ia me-lemparkan kartu-kartunya ke atas. Di lain saat, empat kartu itu melayang turun ke atas meja dan jatuh dengan mengeluarkan suara "plak-plak" dan... lho! Empat kartu itu pun melesak masuk di meja, muka kartu rata dengan permukaan meja, dua di depan dan dua di belakang! Dengan menggunakan Eng-jiauw-lat (Tenaga kuku garuda) yang sudah dilatih puluhan tahun, Ciu Tiat Ciauw telah memperlihatkan kepandaiannya dengan menepuk kartu-kartu. Kepandaian itu me-mang sudah hebat bukan main. Tapi di luar dugaan, apa yang diperlihatkan Ouw Hui berlipat ganda lebih hebat. Dengan melontarkannya ke atas, ia dapat melakukan apa yang dilakukan Ciu Tiat Ciauw dengan menepuk. Itulah kepandaian yang sungguh belum pernah dimimpikan oleh setiap orang dan kekagetan mereka adalah sedemikian besar, sehing-ga mereka tak dapat bersorak lagi.

Dengan paras muka tenang Ciu Tiat Ciauw mendorong amplop itu kepada Ouw Hui seraya berkata: "Hari ini kau benar-benar mujur." Ternyata empat kartu pemuda itu bernilai "Pat-pat-koan" yang di depan delapan mata dan yang di belakang pun delapan mata.

Ouw Hui tertawa dan mendorong balik amplop itu. "Ciu Toaya," katanya. "Barusan kita hanya gu-yon-guyon dan tak boleh dianggap sebagai sung-guhan." Alis Ciu Tiat Ciauw berkerut dan berkata de¬ngan sikap keren: "Saudara Ouw, jika kau menolak, kau seperti juga menghina aku, si orang she Ciu. Jika aku yang menang, aku pun tak akan sungkan-sungkan lagi. Apa yang dipertaruhkan olehku ada¬lah sebuah rumah yang baru dibeli olehku di Soan-bu-bun. Rumah itu tidak besar dan juga tidak kecil, tanahnya hanya seluas empat bauw." Sambil berkata begitu, ia mencabut sehelai surat rumah dari dalam amplop itu.

Semua orang terkejut. Mereka tak nyana, per-taruhan itu ada sedemikian besar. Mereka tahu, bahwa sebuah gedung di daerah Soan-bu-bun paling sedikitnya berharga selaksa tahil perak.

Seraya mengangsurkan surat rumah itu kepada Ouw Hui, Ciu Tiat Ciauw berkata: "Hari ini kau diikuti Malaikat harta. Sekarang kita berhenti saja. Kalau kau menolak rumah ini, artinya kau me-mandang rendah kepadaku." Ouw Hui tertawa seraya berkata: "Kalau begitu, baiklah aku menerima saja. Nanti, sesudah meng-ambil alih, aku akan mengundang saudara-saudara sekalian untuk berjudi lagi." Semua orang lantas saja mengiyakan dengan hati gembira. Ciu Tiat Ciauw segera menyoja dan bersama Can Tiat Yo, lalu meninggalkan rumah makan itu. Tak lama kemudian, Ouw Hui dan Leng So pun meminta diri dan kembali ke rumah pengi-napan.

"Memang sudah nasibmu harus menjadi se-orang kaya raya," kata Leng So seraya tertawa geli. "Biarpun ingin menolak, kau tak bisa menolaknya. Di Gie-tong-tin, kau telah meninggalkan rumah dan tanah. Siapa duga, baru saja datang di Pakkhia, kau kembali mendapat sebuah gedung." "Orang she Ciu itu dapat dikatakan seorang gagah," kata Ouw Hui. "Kepandaian yang dipertun-jukkannya bukan kepandaian yang bisa dimiliki oleh sembarang orang. Aku tak nyana dalam kalangan pembesar negeri terdapat orang begitu." "Bagaimana dengan gedung itu?" tanya Leng So. "Mau ditinggali atau mau dijual?" Ouw Hui tertawa terbahak-bahak. "Mungkin sekali besok aku akan kalah habis-habisan," kata-nya. "Apa kau kira Malaikat harta bisa terus me-nerus mengikuti aku?" Pada keesokan paginya, baru saja mereka sa-rapan, pelayan hotel sudah datang bersama seorang setengah tua. "Ouw Toaya, tuan ini ingin menemui kau," katanya.

Ouw Hui tak kenal orang itu yang memakai kaca mata hitam, mengenakan thungsha dan makwa baru dan berkuku panjang. la memberi hormat dengan menekuk lutut kanannya. "Ouw Toaya," katanya. "Ciu Tayjin menyuruh aku datang ke mari untuk menemui dan menanya Toaya, kapan Toaya mempunyai waktu untuk memeriksa gedung di Soan-bu-bun. Jika ada sesuatu yang kurang cocok, Toaya boleh memberitahukanku, supaya aku bisa panggil tukang untuk mengubahnya. Aku she Ong, pe-ngurus gedung itu." Karena memang ingin lihat macamnya gedung itu, ia segera berpaling kepada Leng So dan berkata: "Jie-moay, mari kita tengok." Begitu tiba, Ouw Hui dan Leng So mengawasi dengan mulut ternganga. Gedung itu ternyata se¬buah gedung besar dan mewah, pintunya dicat me-rah, temboknya tinggi dan undakan tangga dibuat dari batu marmer hijau. Mereka masuk di pintu tengah, ke ruangan depan, ruangan belakang, ruang-an samping, terus sampai ke kamar-kamar samping yang terletak di kiri kanan. Gedung itu bukan saja besar dan mewah, tapi semua perabotannya pun indah dan lengkap.

"Ouw Toaya, jika kau sudah setuju, pindahlah sekarang," kata si orang she Ong. "Can Toaya sudah memesan meja perjamuan untuk menjamu Toaya, malam ini. Ciu Toaya, Ong Tayjin dan yang Iain-lain pun akan datang ke sini untuk memberi selamat." Ouw Hui tertawa terbahak-bahak. "Aha! Mere¬ka sudah mengatur sempurna sekali," katanya. "Ka¬lau begitu, baiklah."  6i pengurus rumah segera membungkuk dan berlalu untuk mengurus segala keperluan.

"Toako," kata Leng So. "Menurut pendapatku, gedung ini berharga lebih dari dua laksa tahil perak. Aku merasa, bahwa dalam peristiwa ini bersem-bunyi apa-apa yang luar biasa." "Benar," kata sang kakak. "Bagaimana penda-patmu?" "Aku menduga ada seseorang yang diam-diam menyukai kau," jawabnya sambil tersenyum. "Maka itu, berulang-ulang ia memaksakan hadiah besar kepadamu." Paras muka Ouw Hui berubah merah, karena ia merasa, bahwa "seseorang" itu dimaksudkan Wan Cie Ie. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Leng So tertawa geli. "Toako, aku hanya guyon-guyon," katanya. "Aku tahu, kakakku adalah seorang jantan yang tidak memandang sebelah mata segala kekayaan dunia. Orang yang memberi hadiah sudah pasti bukan sahabatmu. Jika benar ia, bu-kankah lebih baik ia memberi sebuah Giok-hong-hong? Orang yang bersembunyi di belakang layar tentunya bukan manusia biasa." "Hok Thayswee?" tanya Ouw Hui. "Mungkin sekali," jawabnya. "Hok Thayswee berkedudukan tinggi, beruang dan banyak kaki ta-ngannya. Siapa yang bisa menandinginya? Di sam-ping itu, kau tak boleh melupakan Ma Kouwnio. Scsudah ia mendapat kedudukan tinggi dan hidup mewah, sepantasnya saja jika ia ingin memberi apa-apa kepadamu. Mereka tahu, kau adalah ma¬nusia jujur dan keras kepala yang pasti tak mau menerima harta terkejut. Maka itu, mereka mengatur siasat dan memerintahkan orang-orangnya me¬nyerahkan hadiah itu di atas meja judi." Ouw Hui mengangguk. "Aku rasa tebakanmu tidak meleset," katanya. "Semalam jika benar Ciu Tiat Ciauw sengaja ingin menyerahkan gedung ini kepadaku, biarpun ia menang pada babak itu, ia tentu akan mengajak berjudi terus dan pada akhir-nya ia pasti bisa mendapat jalan untuk mencapai maksudnya." "Bagaimana pikiranmu sekarang?" tanya si adik.

"Malam ini aku akan mengajak mereka berjudi lagi dan akan sengaja membuat diriku kalah untuk mengembalikan gedung ini," jawabnya.

"Bagus!" kata si nona sambil tertawa geli. "Ke-dua belah pihak bukan berebut menang, tapi be-rebut kalah. Sungguh menarik!" Malam itu, Can Tiat Yo telah mengirim satu meja perjamuan yang terdiri dari sayur-sayur pilihan dan si pengurus she Ong lalu mengaturnya di ruang-jn tengah dan menyalakan lilin-lilin besar, sehingga ruangan itu terang benderang bagaikan siang.

Tamu pertama adalah Ong Tiat Gok. Ia me-lihat-lihat seluruh gedung itu, dari depan sampai di belakang, dan mulutnya tak hentinya memuji Ouw Hui yang dikatakan sangat mujur dan berjiwa besar. "Ong Tiat Gok adalah seorang jujur, polos dan sangat mungkin ia tak tahu rahasia yang bersem¬bunyi di balik peristiwa ini," kata Ouw Hui dalam natinya. "Biarlah sebentar di atas meja judi aku menyerahkan gedung ini kepadanya. Aku mau lihat bagaimana lagak kedua Suhengny.a." Tak lama kemudian, tibalah Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo, disususl oleh si orang she Tie, si orang she Siangkoan dan si orang she Liap. Selagi mereka beromong-omong, masuklah Cin Nay Cie sambil tertawa terbahak-bahak. "Saudara Ouw, aku mem-bawa dua orang sahabat," katanya. "Coba lihat, apa kau kenal atau tidak?" Ouw Hui mengawasi dan ternyata di belakang Cin Nay Cie mengikuti tiga orang, yang berjalan paling belakang adalah In Tiong Shiang. Bahwa si orang she In yang kemarin berlalu dengan penuh kegusaran, datang berkunjung adalah kejadian di-luar dugaan. Dua orang lainnya adalah kakek-kakek yang tindakannya gagah dan bersemangat. Ouw Hui terkejut karena ia merasa sudah pernah bertemu dengan mereka dan mengenali, bahwa tindakan itu adalah tindakan-tindakan ahli Pat-kwa-bun. Di lain saat, ia mendusin dan buru-buru ia menghampiri sambil memberi hormat. "Aha! Aku tak nyana, bahwa yang datang adalah Jie-wie Cianpwee," kata¬nya. "Semenjak berpisahan di Siang-kee-poo, Jie-wie kelihatannya semakin gagah." Mereka itu me-mang bukan lain dari pada dua saudara Ong, Ong Kiam Eng dan Ong Kiam Kiat, dari Pat-kwa-bun.

Ouw Hui lantas saja mengundang para tamunya mulai bersantap dan mereka makan-minum dengan gembira sekali. Sebagai jago-jago dalam Rimba Per-silatan apa yang diomongkan mereka adalah soal-soal Kang-ouw orang-orang gagah. Antara lain, In Tiong Shiang menuturkan pengalamannya di Siang-kee-po, cara bagaimana, waktu ia dan sejumlah orang lain dikurung api di dalam gedung keluarga Siang, Ouw Huilah yang sudah menolong mereka dengan kecerdikan dan kegagahan. Mendengar ce-rita yang menarik itu, semua orang memuji Ouw  Hui tak habisnya.

Sesudah selesai bersantap, rembulan sudah naik tinggi dan memancarkan sinarnya yang gilang gemi-lang. Hari itu ialah Peegwee Ceecap (tanggal se-puluh Bulan Delapan) dan hawa udara masih agak hangat. Si pengurus rumah tangga lantas saja me-nyediakan satu meja buah-buahan di pendopo da¬lam taman bunga dan kemudian mengundang semua orang duduk beromong-omong di situ sambil me-mandang sang Dewi Malam.

"Sekarang kita minum teh dan sebentar boleh berjudi lagi," kata Ouw Hui. "Bagaimana pendapat saudara-saudara sekalian?" Para tamu lantas saja mengiyakan dengan gembira.

Tapi baru saja mereka berduduk di pendopo itu, tiba-tiba terdengar suara percekcokan antara pengurus rumah tangga dan seseorang. Di lain saat si orang she Ong berteriak kesakitan, disusul de¬ngan suara robohnya tubuh manusia.

Hampir berbareng, mendadak muncul seorang lelaki yang mukanya hitam dan tubuhnya tinggi besar dan menghampiri pendopo dengan tindakan lobar. Begitu berhadapan, tanpa mengeluarkan se-patah kata, ia menepuk meja, sehingga cangkir-cangkir teh dan piring-piring pada melompat dan jatuh hancurdi lantai. Sesudah itu, sambil menuding Ciu Tiat Ciauw, ia berteriak: "Ciu Toako, ini sa-lahmu! Aku menjual gedung ini kepadamu dengan harga dua laksa tahil. Harga itu harga separuh hadiah, karena aku memandang mukamu. Apa kau kira aku tak kenal uang? Sungguh tak dinyana, kau sudah menyerahkannya dengan begitu saja kepada orang lain. Benar-benar gila! Cobalah saudara-saudara pikir, apa ini bukan keterlaluan? Aku sungguh merasa penasaran." "Jika kau merasa tak cukup, kau boleh bicara baik-baik," kata Ciu Tiat Ciauw dengan suara tawar. "Rumah ini adalah milik sahabatku. Perlu apa kau datang mengacau?" Orang itu jadi semakin gusar dan lalu meng-angkat tangannya untuk menepuk meja lagi.

Dengan cepat Ciu Tiat Ciauw menangkap dan menyengkeram kedua pergelangan tangan orang kasar itu. la bertubuh kurus kecil dan tingginya hanya sebatas pundak orang itu, tapi begitu ia menyengkeram, si tinggi besar tak bisa berkutik lagi. Ia lalu menyeretnya ke luar pendopo dan bicara bisik-bisik. Tapi orang itu kelihatannya tetap tak mau mengerti, sehingga ia jadi gusar dan men-dorongnya dengan keras. Begitu didorong, orang itu terhuyung beberapa tindak dan menubruk satu pohon, sehingga patah beberapa cabangnya.

"Manusia semberono!" bentak Ciu Tiat Ciauw. "Tunggu di luar! Kalau kau sudah bosan hidup, hayolah mengacau terus!" Sambil mengusut-usut pundaknya yang sakit, si kasar lalu berjalan ke luar tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi.

Can Tiat Yo tertawa terbahak-bahak. "Manusia semberono itu benar-benar sudah menyapu kegem-biraan kita," katanya. "Toasuko, sebenarnya kau harus menghajar dia." "Aku hanya mengingat, bahwa biarpun dia ka¬sar, hatinya cukup baik," kata sang kakak. "Maka itu, aku sungkan meladeninya. Ouw Toako, kejadi-an ini sangat memalukan." "Jika rumah ini dibeli terlalu murah, biarlah aku memberi sedikit tambahan kepadanya," kata Ouw Hui.

"Ouw Toako, jangan kau berkata begitu," kata Ciu Tiat Ciauw dengan terburu-buru. "Urusan ini akan dibereskan olehku sendiri dan Toako tak usah buat pikiran. Manusia kasar itu memang sangat kurang ajar. Ia tak tahu, bahwa Toako adalah se¬orang jantan tulen. Aku yakin, ia sekarang sudah merasa sangat menyesal dan kuingin memanggilnya ke mari supaya ia bisa menghaturkan maaf. Dengan memandang mukaku dan Iain-lain saudara yang berada di sini, aku mengharap Toako bisa me-lupakan kejadian yang tak enak ini. Bagaimana? Apa Toako bisa menyetujui usulku ini?" Ouw Hui tertawa seraya berkata: "Ciu Toako, soal meminta maaf jangan disebut-sebut lagi. Jika ia sahabatmu, undanglah ke mari supaya kita bisa minum bersama-sama." Ciu Tiat Ciauw lantas saja bangun berdiri. "Ouw Toako adalah seorang enghiong dan kami semua merasa beruntung bisa mengikat tali persahabatan dcnganmu," katanya pula. "Untuk kekeliruannya manusia semberono itu, kami beramai ingin meng¬haturkan maaf. Kami tahu, bahwa Ouw Toako ada¬lah seorang yang berjiwa besar dan tentu tak akan menaruh dendam lagi." Cin Nay Cie dan Can Tiat Yo pun segera bangun berdiri dan berkata seraya menyoja: "Ouw Toako, kami juga ingin menghaturkan terima kasih kepadamu.", Ouw Hui buru-buru bangun dan membalas hor-matnya kedua orang itu.

"Nah, biarlah sekarang aku memanggil orang kasar itu supaya dia bisa menghaturkan maaf," kata Ciu Tiat Ciauw sambil berjalan pergi.

Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi dengan perasaan bimbang. Walaupun perbuatan orang itu melanggar kesopanan, tapi cara-cara dan perkataan Ciu Tiat Ciauw yang begitu manis dan bertele-tele sangat mencurigakan. Ada apa yang bersembunyi di belakang kata-kata yang manis itu? Selang beberapa saat dari luar terdengar suara tindakan dua orang dan Ciu Tiat Ciauw segera muncul sambil menuntun tangannya seorang. "Ma-nusia semberono!" teriaknya sambil tertawa ter-bahak-bahak. "Lekas kau mengangkat tiga cawan arak untuk Ouw Toako! Inilah yang dinamakan, tidak berkelahi tidak jadi sahabat. Ouw Toako Su¬dan meluluskan untuk memaafkan kau. Perkataan seorang laki-laki tak dapat dikejar oleh kuda yang paling cepat larinya. Hari ini kau mendapat peng-ampunan." Tiba-tiba, seperti dipagut ular Ouw Hui bangun dan melompat ke luar pendopo, akan kemudian, dengan sekali menjejak kaki, ia sudah berada di belakang orang yang dituntun Ciu Tiat Ciauw dan mencegat jalanan mundurnya.

"Orang she Ciu!" bentaknya dengan paras muka merah padam. "Permainan gila apakah yang sedang dijalankan olehmu? Jika aku tidak membunuh ma-nusia keji itu, percuma saja Ouw Hui hidup di kolong langit!" Siapakah orang yang dibawa Ciu Tiat Ciauw? Dia bukan lain dari pada Hong Jin Eng, jagoan Hud-san-tin yang telah membinasakan keluarga Ciong A-sie! Sesaat itu Ouw Hui mengerti. Ia mengerti, bahwa Ciu Tiat Ciauw telah menyuruh se¬orang kaki tangannya yang dinamakan sebagai "si-semberono", untuk mengacau dan kemudian men-jalankan siasat, sehingga ia berjanji untuk memaaf¬kan orang yang bersalah kepadanya. Sesaat itu juga, di depan matanya terbayang kebinasaan yang me-ngenaskan dari keluarga Ciong dan mengingat itu, kedua matanya seolah mengeluarkan api.

"Ouw Toako, sekarang baiklah aku berterus terang saja," kata Ciu Tiat Ciauw. "Rumah dan tanah di Gie-tong-tin adalah hadiah dari si semberono ini. Rumah ini dan segala perabotannya juga diberikan olehnya. Maka itu dapat dilihat, bahwa ia sungguh-sungguh ingin menghaturkan maaf kepadamu. Se¬orang laki-laki harus bisa mengambil dan juga bisa memberi. Perlu apa kita terus menaruh dendam karena pertikaian kecil pada masa yang lampau? Hong Lootoa, lekas memberi hormat kepada Ouw Toako!" Melihat Hong Jin Eng mengangkat kedua ta¬ngannya, Ouw Hui segera membentak: "Tahan!" Ia berpaling kepada Thia Leng So seraya memanggil: "Jie-moay, ke mari!" Si nona buru-buru mengham-piri dan mereka lalu berdiri dengan berendeng pundak. Sesudah itu, barulah ia berkata dengan suara nyaring: "Saudara-saudara, dengarlah sedikit perkataanku! Aku hanya bersahabat dengan orang-orang yang bersatu pikiran, dengan orang-orang yang dapat membedakan benar dan salah. Makan-minum dan berjudi bersama-sama tak menjadi ukur-an. Bukankah manusia-manusia rendah pun bisa makan-minum dan berjudi bersama-sama? Seorang laki-laki sejati mengutamakan ksatriaan. Jika ada orang ingin membeli aku, si orang she Ouw, dengan kekayaan dunia, orang itu sungguh memandang diriku sebagai manusia tidak berharga sepeser buta." "Ouw Toako, kau salah mengerti," kata Can Tiat Yo sambil tersenyum. "Hong Lootoa memberi ha-diah yang tak berharga hanya untuk mengunjuk rasa hormatnya. Pemberian hadiah itu sama sekali tidak berarti ia memandang rendah kepadamu." Ouw Hui menggoyangkan tangannya dan ber-kata pula: "Manusia she Hong ini adalah jagoan yang sangat sewenang-wenang di propinsi Kwitang. Hanya karena ingin merampas sebidang tanah yang sangat kecil, dia telah membunuh seluruh keluarga Ciong, besar dan kecil semuanya tak mendapat ampun. Dengan keluarga Ciong, Ouw Hui tak pu-nya sangkutan famili atau persahabatan. Tapi se-sudah aku mengambil keputusan untuk mencam-puri urusan ini, aku bersumpah untuk tidak hidup bersama-sama dengan buaya itu di kolong langit. Kalau sikapku ini menyinggung saudara-saudara, yah, apa boleh buat. Aku hanya mengharap kalian sudi memaafkan, Ciu Toako, terimalah surat rumah ini." Ia merogoh saku dan lalu melontarkan amplop yang berisi surat rumah kepada Ciu Tiat Ciauw. Amplop tersebut melayang perlahan-lahan ke de-pan Tiat Ciauw yang terpaksa menyambutinya. Se-mula ia ingin melempar balik, tapi ia mengurungkan niatannya karena merasa Lweekangnya tidak cukup tinggi untuk menyontoh perbuatan Ouw Hui.

"Tempat ini adalah kota raja, yaitu tempat ke-diaman kaisar," kata pula Ouw Hui. "Aku tak tahu, manusia she Hong ini mempunyai berapa banyak kaki tangan dan sahabat. Tapi aku sudah mengambil  ke putusan untuk mempertaruhkan jiwaku. Sau¬dara-saudara! Mereka yang menganggap dirinya sebagai sahabat Ouw Hui, janganlah campur-cam-pur urusan ini. Mereka yang menjadi sahabat ma¬nusia she Hong itu, hayolah maju beramai-ramai!" Sehabis berkata begitu, ia mamasang kuda-kuda, siap sedia untuk menyambar setiap serangan. Ia insyaf, bahwa di kota raja terdapat banyak sekali ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi. Bahwa Hong Jin Eng sudah berani muncul, tentulah juga dia sudah mempunyai senderan kuat. Jangankan kaki tangan yang lain, sedangkan kedua saudara Ong, Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo saja sudah merupakan lawan yang sangat berat. Tapi, sebagai-mana telah dikatakan Ouw Hui, pada waktu itu ia sudah tidak memikir hidup.

Ciu Tiat Ciauw tertawa terbahak-bahak. "Ouw Toako," katanya. "Jika kau tak sudi memberi muka, urusan ini tentu tak akan dapat didamaikan. Su-dahlah! Hong Lootoa, kau boleh pulang. Kami ingin berdiam terus di sini untuk minum arakdan berjudi." Tapi Ouw Hui mana mau mengerti? Sesudah mencari di mana-mana, baru sekarang ia bertemu dengan manusia kejam itu. Mana bisa ia melepas-kannya dengan begitu saja? Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia lalu mengangkat kedua tangannya clan menerjang manusia she Hong itu.

Alis Ciu Tiat Ciauw berkerut. "Inilah keter-laluan," katanya seraya melompat dan membalik tangan kanannya untuk menyengkeram pergelang-an tangan Ouw Hui. Sebelum menyerang, Ouw Hui sudah memperhatikan gerak-gerik setiap orang. Melihat gerakan Ciu Tiat Ciauw, ia berkata dalam hatinya: "Kamu berlagak manis-manis terhadapku, maka biarlah dalam gebrakan ini, aku tak turun tangan." Memikir begitu, ia membiarkan pergelang-an tangannya dicekal si orang she Ciu.

Di lain pihak, Ciu Tiat Ciauw jadi girang bukan main. "Aku tak mengerti bagaimana Cin Nay Cie, Hong Lootoa dan yang Iain-lain memuji bocah ini setinggi langit," pikirnya. "Kalau aku tahu kepan-daiannya hanya sebegini, aku tentu tak sudi berlaku begitu sungkan terhadapnya." Ia segera mengempos semangat dan coba menyeret Ouw Hui seraya ber-kata: "Sudahlah! Jangan berkelahi." Tapi si orang she Ciu lantas saja kaget tak kepalang. Ia merasa pergelangan tangan pemuda itu keras bagaikan besi, sedang badannya seperti juga sebuah gunung yang melekat di tanah. Muka-nya lantas saja berubah pucat karena malu. Tiba-tiba saja, ia merasa semacam tenaga yang sangat dahsyat menerobos ke luar dari pergelangan tangan pemuda itu dan mendorongnya ke belakang. Tanpa berdaya, ia melepaskan cekalan dan tubuhnya ter-huyung ke belakang beberapa tindak.

Harus diketahui, bahwa barusan Ciu Tiat Ciauw menyengkeram dengan menggunakan ilmu paling tinggi dari Eng-jiauw-gan-heng-bun. Dengan be¬gitu, dalam gebrakan tersebut, Ouw Hui sudah menjatuhkan seorang tokoh penting dari partai tersebut.

Dengan menggunakan kesempatan itu, cepat-cepat Hong Jin Eng memutar badan dan terus kabur. Sambil membentak keras, Ouw Hui me-lompat dan mengirim satu pukulan yang ditangkis oleh musuhnya.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar teriakan Can Tiat Yo: "Ouw Toako! Kita lagi enak-enak minum. Perlu apa kau merusak keakuran?" Sambil berteriak begitu, ia juga turut melompat dan lima jarinya yang ditekuk bagaikan cakar garuda me¬nyambar punggung Ouw Hui. Di luar, ia kelihatan-nya hanya ingin menarik baju pemuda itu untuk mencegah pertempuran, tapi sebenarnya, dengan cengkeraman itu, ia turunkan tangan jahat. Ouw Hui yang sedang menerjang musuhnya, seolah-olah tak tahu bakal dibokong, sehingga tanpa merasa, si orang she Liap berteriak: "Ouw Toako, awas!" Hampir berbareng dengan peringatan itu, lima jari Can Tiat Yo sudah mampir di punggung Ouw Hui! Tapi, seperti juga kakaknya, si orang she Can kaget bukan main, karena lima jarinya seperti juga menyengkeram besi.

Melihat dua kawannya tak bisa merintangi pe¬muda itu, In Tiong Shiang lantas saja meloncat dan, tanpa pura-pura, ia lalu menghantam muka Ouw Hui. Bagaikan kilat, Ouw Hui menunduk dan meng-egos ke samping, sedang tangan kirinya menyambar punggung musuh. Sambil membentak, ia meng-angkat dan melontarkan tubuh In Tiong Shiang yang lantas saja terbang ke arah Hong Jin Eng.

Dengan berbuat begitu, tujuan Ouw Hui adalah untuk mencegah maburnya manusia she Hong itu. Jika Hong Jin Eng berkelit, kepala In Tiong Shiang pasti akan membentur sebuah gunung-gunungan. Maka itu, menurut kepantasan, ia harus menyam-buti tubuh kawannya yang sedang melayang ke arahnya. Dan jika ia menyambuti, Ouw Hui akan bisa menyandaknya.

Tapi sebagaimana diketahui, Hong Jin Eng adalah manusia kejam. In Tiong Shiang turun ta-ngan untuk menolong jiwanya, tapi dia hanya ingat kepentingan sendiri. Sebaliknya dari menyambuti tubuh si kawan, dengan cepat ia menendangnya untuk meminjam tenaga dan badannya lantas saja melesat ke atas tembok taman. "Buk!" tubuh si orang she In membentur gunung-gunungan batu dan ia pingsan seketika itu juga.

Orang-orang yang berada di situ rata-rata mem-punyai kepandaian tinggi. Melihat perbuatan Hong Jin Eng, bukan main rasa kecewa mereka. Kedua saudara Ong sebenarnya sudah ingin membantu, tapi mereka lantas saja merasa muak dan meng-urungkan niatan mereka.

Melihat musuhnya melompat ke atas tembok, Ouw Hui jadi agak bingung. Ia merasa, bahwa jika Hong Jin Eng bisa mabur ke luar, ia bakal mengha-dapi pekerjaan lebih berat, sebab di luar gedung itu tentulah juga sudah berkumpul kaki tangannya ma¬nusia she Hong itu. Memikir begitu, sambil meng-empos semangat, ia menjejak kedua kakinya. Dilain pihak, begitu kedua kakinya hinggap di atas tembok, Hong jin Eng merasa adanya seorang lain di sam-pingnya. Begitu menengok, kagetnya bagaikan di-sambar petir, sebab orang itu bukan lain dari pada Ouw Hui. Dengan cepat ia menyambut sebilah pisau belati dan lalu menikam pemuda itu.

Ouw Hui menendang pergelangan tangan mu-suh dan pisau itu terbang ke atas akan kemudian jatuh di luar tembok. Tapi Hong Jin Eng pun bukan seorang lemah. Begitu lekas pisaunya terpukul ja¬tuh, ia segera menghantam dengan tinju kiri. Sebaliknya dari berkelit atau menangkis, sambil meng-empos semangat Ouw Hui memapaki tinju musuh dengan dadanya. "Buk!" Badan Hong Jin Eng ber-goyang-goyang dan terpelanting ke bawah. Ter-nyata, tinju yang menghantam dada telah didorong dengan serupa tenaga yang tidak kelihatan. Begitu musuhnya roboh, Ouw Hui turut melompat ke ba¬wah dan menjejak kepala si orang she Hong dengan kakinya. Pada detik terakhir, dengan mengguling-kan badan, ia masih dapat menyelamatkan dirinya dan kemudian, melompat pula ke atas tembok. Kali ini, Ouw Hui yang sudah mata merah, sungkan memberi kesempatan lagi kepada musuhnya. Ia mengempos semangat dan menjejak kedua kakinya, sehingga tubuhnya ngapung ke atas beberapa kaki lebih tinggi dari pada Hong Jin Eng. Mereka me-layang turun dengan berbareng. Kedua kaki Hong Jin Eng hinggap di atas tembok, tapi Ouw Hui sendiri menyemplak pundak musuhnya, seperti orang menunggang kuda. Begitu ia menjepit dengan kedua lututnya, Hong Jin Eng merasa dadanya sesak. Sekarang manusia kejam itu putus harapan. Ia meramkan kedua matanya dan menunggu ke-binasaan.

"Bangsat!" bentak Ouw Hui. "Hari ini kedosaan-mu sudah meluber." Ia mengangkat tangan untuk menepuk batok kepala Hong Jin Eng.

Tapi... sebelum tangannya turun, tiba-tiba saja ia merasakan kesiuran angin yang sangat tajam di punggungnya. "Tahan!" bentak seorang dengan sua-ra merdu.

Ouw Hui terkejut, tanpa menengok satu ta¬ngannya mengebas ke belakang untuk menangkis serangan itu. Gerakan orang itu ternyata gesit luar biasa. Begitu tikamannya yang pertama tertangkis, dengan beruntun ia mengirim dua tikaman pula ke pundak Ouw Hui. Karena sedang menunggang pun-dak musuh, Ouw Hui tak bisa memutar badan dan dengan terpaksa ia lalu melompat turun dari atas tembok. Bagaikan bayangan orang itu menyusul dan terus mengirim serangan-serangan berantai.

"Wan Kouwnio!" bentak Ouw Hui. "Mengapa kau selalu merintangi aku?" Ternyata, orang yang mengenakan baju biru dan kepalanya dibungkus dengan kain hijau, bukan lain dari pada Wan Cie Ie. Di bawah sinar rembulan, paras si nona kelihatan separuh gusar dan separuh geli dan ia membentak dengan suara merdu: "Hari ini aku justru ingin meminta pengajaran Ouw Tayhiap mengenai ilmu Kong-chiu Jip-pek-to (Dengan tangan kosong ma-suk di rimba golok)." Tunggu sampai di lain hari," kata Ouw Hui sambil melompat untuk mengubar Hong Jin Eng. Tapi bagaikan kera, si nona turut meloncat dan di lain saat, pisau belati sudah menyambar tenggo-rokan, sehingga, mau tak mau, Ouw Hui mesti berkelit. Wan Cie Ie sungkan memberi kesempatan lagi dan terus mencecar dengan serangan-serangan hebat dan mereka lantas saja bertempur mati-mati-an. Itulah satu pertempuran yang menarik luar biasa. Cepat, gesit lawan gesit, apa yang dilihatnya hanya bayangan badan, tangan dan pisau yang ber-kelebat-kelebat bagaikan kilat. Ciu Tiat Ciauw, Can Tiat Yo, kedua saudara Ong dan yang Iain-lain adalah ahli-ahli silat yang kenamaan. Tapi biarpun begitu, mata mereka berkunang-kunang dan mereka menonton pertempuran itu dengan rasa kagum bukan main.

Mendadak, berbareng dengan bentakan Ouw Hui, tubuh mereka melayang kembali ke atas tem¬bok, akan kemudian bersama-sama melompat turun ke luar tembok. Pertempuran lantas saja dilang-sungkan dengan tidak kurang hebatnya.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa Hong Jin Eng yang panjang, nyaring dan menyeramkan. "Saudara Ouw!" teriaknya. "Aku tak bisa menemani kau lagi. Lain hari kita bertemu kembali." Suara tertawa itu semakin lama jadi semakin jauh kedengarannya.

Ouw Hui jadi gusar bukan main. Ia ingin meng¬ubar, tapi Wan Cie Ie terus mencecarnya dengan pukulan-pukulan yang membinasakan. "Wan Kouw¬nio!" bentaknya. "Aku dan kau sama sekali tidak punya permusuhan...." Belum habis perkataannya, pisau si nona sudah menyambar pundak kirinya.

Harus diketahui, bahwa dalam pertempuran mati-matian antara jago dan jago, siapa pun tak dapat memecah pemusatan perhatiannya. Ilmu silat Ouw Hui hanya lebih unggul setengah tingkat dari pada si nona, tapi dengan bertangan kosong dan lawannya bersenjata pisau, keunggulan itu hilang dan kekuatan mereka jadi berimbang. Maka itulah, dalam jengkelnya selagi ia berteriak dengan penuh kedongkolan, pisau Wan Cie Ie sudah mampir di pundak kirinya.

"Brt!" baju Ouw Hui robek tergores pisau. Se-benarnya jika sedikit saja si nona menekan ke bawah, pundak itu tentu sudah berlubang. Tapi di luar dugaan, pada detik terakhir, ia mengangkat sedikit tangannya, sehingga pisau yang menyambar bagaikan kilat itu, hanya menggores baju. "Ah! Mengapa ia tidak menikam?" tanya Ouw Hui dalam hatinya.

Si nona tertawa terpingkal-pingkal. Ia melon-tarkan pisaunya ke arah Ouw Hui dan berbareng membuka Joan-pian (pecut) yang terlibat di ping-gangnya. "Ouw Toako, mari kita menjajal-jajal ke-pandaian dengan menggunakan senjata," katanya.

Baru saja Ouw Hui mau menyambuti pisau itu, mendadak terdengar teriakan Leng So: "Ouw Toako, gunakanlah golok ini!" Hampir berbareng si nona yang berdiri di atas tembok, melemparkan sebatang golok. Ternyata, nona Thia yang khawatirkan kese-lamatan Ouw Hui buru-buru mengambil senjatanya dan melompat ke atas tembok.

"Aduh! Manis benar adiknya!" kata Wan Cie Ie dengan suara mengejek. Mendadak ia menyabetkan pecutnya ke tembok dan Leng So buru-buru me¬lompat turun kembali ke dalam taman. Begitu pe¬cutnya tersangkut di atas tembok, dengan sekali meminjam tenaga, bagaikan seekor elang, tubuh Wan Cie Ie terbang melewati tembok itu. Dan sebelum kakinya hinggap di tanah, ia sudah me-nyabet dengan pecutnya seraya berteriak: "Moay-moay, sambutlah seranganku!" Leng So berkelit, tapi Wan Cie Ie tidak berhenti sampai di situ dan dalam sekejap nona Thia sudah dikurung dengan bayangan pecut yang berkelebat-kelebat seperti kilat.

Ouw Hui mengetahui, bahwa Leng So bukan tandingan Cie Ie. Sebenarnya, dengan mengguna¬kan kesempatan itu, ia ingin sekali mengubar Hong Jin Eng. Tapi, karena memikir keselamatan nona Thia, ia segera mengurungkan niatannya itu dan lalu melompat masuk pula ke dalam taman. "Wan Kouwnio!" bentaknya seraya mengangkat golok. "Jika kau ingin menjajal ilmu, marilah!" "Aduh! Manisnya sang kakak!" seru nona Wan dengan suara mengejek dan terus menyapu Ouw Hui dengan pecutnya.

Dengan masing-masing menggunakan senjata yang biasa digunakannya, apa yang terlihat dalam gelanggang pertempuran berbeda dari pada tadi. Kalau tadi mereka hanya mengutamakan kelin-cahan, tenaga Lweekang dan tipu-tipu rahasia yang luar biasa. Ouw Hui sendiri segera menyerang de¬ngan menggunakan Ouw-kee To-hoat. Ilmu golok yang lihay itu mengandung kekerasan dalam ke-lembekan dan mengandung kelembekan dalam ke-kerasannya, bacokan-bacokannya dahsyat dan ce-pat, bagaikan geledek dan angin, sedang keteguhan-nya seolah-olah sebuah gunung. Di lain pihak, ilmu Joan-pian dari si nona pun tak kurang hebatnya. Pecut itu terputarputar dan menyambar-nyambar, seakan-akan seekor naga yang sedang bermain-main di tengah lautan besar. Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur puluhan jurus, dengan ditonton oleh para ahli silat sambil menahan napas.

Akan tetapi, walaupun di luarnya Wan Cie Ie seperti juga sedang bertempur mati-matian, Ouw Hui mengetahui, bahwa si nona tidak bertempur untuk mengadu jiwa. Pada detik-detik yang ber-bahaya, si nona selalu menarik pulang pecutnya pada saat terakhir atau sengaja tidak meneruskan serangannya yang membinasakan. Melihat begitu, ia jadi semakin heran dan mendongkol.

Sementara itu, melihat Ouw Hui sudah "diikat" oleh Wan Cie Ie, Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo yang tadi telah dirobohkan oleh pemuda itu, lantas saja timbul niatan curangnya. Sesudah saling mem-beri isyarat dengan kedipan mata, mereka segera berdiri berpencaran untuk menunggu kesempatan guna membokong Ouw Hui dengan berbareng.

Sebagaimana diketahui, biarpun seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi selalu berwaspada, mata dan kupingnya tajam luar biasa dan raera-perhatikan segala apa yang terjadi di seputarnya. Maka itu, gerak-gerik Ciu Tiat Ciauw dan adiknya tidak terlolos dari mata Ouw Hui dan Cie Ie.

"Celaka!" mengeluh Ouw Hui. "Kalau mereka menyerang, meskipun aku masih dapat menyela-matkan diri, Thia Moay-moay bisa celaka." la me-lirik adiknya yang tetap berdiri dengan paras muka tenang.

Dalam bingungnya, ia mengempos semangat dan lalu mengirim tiga bacokan beruntun dengan menggunakan pukulan yang terlihay dari Ouw-kee To-hoat.

Dengan gesit, Wan Cie Ie mengegos satu bacok¬an dan menangkis bacokan yang kedua. Sesudah itu, tanpa menghiraukan bacokan ketiga yang me-nyambar pinggangnya, ia membentak keras sambil menyabet dengan pukulan Hong-hong-sam-tiam-tauw (Burung Hong tiga kali manggut) ke arah Ciu Tiat Ciauw, Can Tiat Yo dan Cin Nay Cie, yang jadi kaget bukan main sebab pukulan itu menyambar secara tidak diduga-duga. Dengan serentak mereka melompat mundur, tapi Can Tiat Yo yang gerakan-nya agak terlambat sudah tergores ujung pecut, sehingga mukanya mengeluarkan darah.

Pada detik itu bacokan Ouw Hui yang ketiga menyambar terus dan ujung golok hanya terpisah setengah kaki dari pinggang si nona. Melihat ke-anehan Wan Cie Ie yang mendadak mengambil pihaknya dan menghantam musuh dengan meng¬gunakan seantero kepandaiannya Ouw Hui me-nahan gerakan goloknya yang mendadak berhenti di tengah jalan. Harus diketahui, bahwa kepandaian itu adalah sepuluh kali lebih sukar dari pada me¬ngirim bacokan yang hebat.

Sambil melirik dengan sepasang matanya yang sangat bagus, si nona berkata: "Mengapa kau tidak menikam terus?" Tiba-tiba Can Tiat Yo berteriak: "Aduh! Manis-nya kakak dan adik!" Paras muka Wan Cie Ie sekonyong-konyong berubah dan ia lalu melibat Joan-pian di ping¬gangnya. Ia menengok ke arah Ouw Hui seraya berkata: "Ouw Toako, bolehkah kau memperkenal-kan enghiong-enghiong itu kepadaku?" Untuk sejenak Ouw Hui mengawasi si nona karena merasa heran melihat caranya. "Baiklah," katanya. "Yang ini adalah Ciangbunjin dari Pat-kek-kun Cin Nay Cie Toaya, yang itu Ciangbunjin Eng-jiauw-gan-heng-bun Ciu Tiat Ciauw Toaya...." Ia terus memperkenalkan Ong Kiam Eng, Ong Kiam Kiat, Can Tiat Yo dan yang Iain-lain.

Ketika itu Ong Kiam Kiat sudah berhasil me-nyadarkan In Tiong Shiang yang lalu mencaci maki Hong Jin Eng sebagai manusia yang tak mengenal pribudi.

Paling belakang, Ouw Hui berkata: "Nona ini adalah Wan Kouwnio." Ia berdiam sejenak dan, seperti orang yang ingat apa-apa, ia menyambung perkataannya: "Wan Kouwnio adalah Cong-ciang-bun (pemimpin umum) dari tiga partai, yaitu Siauw-lim Wie-to-bun, Pat-sian-kiam dari Kwisay, Kiu-liong-pay dari Ek-kee-wan di propinsi Ouwlam." Mendengar itu, semua orang berubah parasnya. Mereka tahu, bahwa Ouw Hui tak akan berdusta, tapi di dalam hati, mereka merasa sangsi.

Wan Cie Ie tersenyum seraya berkata: "Kau belum memberi keterangan selengkapnya. Aku juga telah menjadi Ciangbunjin dari partai Kun-lun-to dari Han-tan-koan, di propinsi Hopak, partai Thian-kong-kiam dari Ciang-kek-hu dan dari partai Lo-cia-kun di Po-teng-hu." "Ah! Selamat, selamat!" kata Ouw Hui sambil tertawa terbahak-bahak. "Aku tak tahu, di sepan-jang jalan, nona juga sudah merebut kedudukan Ciangbunjin dari tiga partai." "Terima kasih," kata Wan Cie Ie. "Dalam per-jalanan ke Pakkhia, aku sebenarnya berangan-angan untuk menjadi Congciangbun dari sepuluh partai. Hanya sayang, aku tak berhasil mengalahkan Ceng-hie Toojin dari Bu-tong-san di Ouwpak dan aku pun tak berani mengganggu Bu Sit Hweeshio dari Siauw-lim-sie di Holam. Maka itu, sungguh kebetulan di tempat ini berkumpul tiga orang Ciangbunjin. Eh, Tie Toaya, apakah Ciangbunjin Lui-tian-bun dari Saypak, Ma Loo-hu-cu sudah tiba di Pakkhia?" Mendengar Wan Cie Ie menanyakan gurunya, si orang she Tie yang bernama Hong, segera men-jawab: "Guruku belum pernah datang di wilayah Tionggoan. Segala urusan diserahkan saja kepada muridnya."  "Bagus!" kata si nona sambil tersenyum. "Oleh karena kau adalah murid pertama, maka kedu-dukanmu adalah separuh Ciangbunjin. Nah! Malam ini aku ingin merebut kedudukan tiga setengah Ciangbunjin!" Semua orang mendongkol bukan main. Seraya merangkap kedua tangannya, Cin Nay Cie tertawa terbahak-bahak. "Ciangbunjin dari Siauwlim Wie-to-bun Ban Ho Seng Toako telah bersahabat de-nganku puluhan tahun lamanya. Bagaimana ia telah menyerahkan kedudukan Ciangbunjin kepada nona?" "Ban Toaya sudah meninggal dunia," jawabnya. "Suteenya, yaitu Ban Ho Cin, tak bisa menangkan aku, sedang tiga muridnya lebih tolol lagi. Kita sudah mengadu kepandaian dengan menggunakan senjata, sehingga biarpun mereka tak sudi, mereka harus menyerahkan juga kedudukan Ciangbunjin kepadaku. Cin Loosu, lebih dulu aku ingin belajar kenal dengan ilmu pukulan Pat-kek-kun. Sesudah itu, barulah aku meminta pengajaran dari Ciu Loo¬su, Ong Loosu dan Tie Loosu. Aku sudah meng-ambil putusan untuk lebih dulu merebut kedudukan Ciangbunjin dari sepuluh partai dan kemudian, barulah aku menghadiri pertemuan antara para Ciangbunjin yang bakal diadakan." Dengan berkata begitu, terang-terang si nona tidak memandang sebelah mata kepada Ciu Tiat Ciauw dan yang Iain-lain. Mereka itu adalah orang-orang gagah yang namanya besar dalam Rimba Persilatan, sehingga biarpun mesti mati, mereka tentu tak akan mundur.

Sambil tersenyum Ciu Tiat Ciauw lantas saja berkata: "Semenjak guru kami meninggal dunia, di antara murid-muridnya tak satu pun yang boleh dilihat orang. Dari sepuluh bagian kepandaian Sian-su (mendiang guru), tak satu bagian yang berhasil dipelajari kami. Bahwa Kouwnio sudi memberi pe-lajaran, adalah sangat menggirangkan. Tapi oleh karena kami semua adalah orang-orang tolol, kami hanya mengerti ilmu partai sendiri dan tak pernah belajar ilmu dari cabang lain." "Tentu saja," kata si nona. "Jika aku tak mahir dalam ilmu Eng-jiauw-gan-heng-bun, cara bagai-mana aku berani menjadi Ciangbunjin dari partai tersebut. Untuk hal ini, Ciu Loosu boleh legakan hati." Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo jadi semakin gusar, sehingga paras mereka sebentar pucat dan sebentar merah. Sedari ke luar dari rumah per-guruan, belum pernah ada orang berani memandang enteng mereka.

Sementara itu, Cin Nay Cie yang pintar sudah menghitung-hitung segala kemungkinan. Sesudah menyaksikan pertempuran antara Ouw Hui dan Cie Ie. ia yakin, bahwa ilmu silat si nona kira-kira berimbang dengan pemuda itu. Ia sendiri pernah dijatuhkan Ouw Hui, sehingga ia juga tentu tak bisa menangkan Cie Ie. Dari sebab begitu, jalan yang paling baik ialah membiarkan nona Wan bertempur iebih dulu dengan Ciu Tiat Ciauw, Ong Kiam Eng dan yang Iain-lain dan kemudian, sesudah si nona lelah, barulah ia yang turun tangan. Mengingat begitu, lantas saja ia berkata: "Kepandaian Ciu Loosu dan Ong Loosu banyak lebih tinggi daripada-ku. Maka itu, biarlah aku yang maju paling bela-kang." Wan Cie Ie tertawa geli. "Biarpun tidak diakui olehmu, aku sudah tahu," katanya. "Sekarang paling dulu aku mau bertempur dengan yang paling lemah. Diluar tanahnya licin, mari kita main-main di dalam pendopo. Mari!" Sambil menantang ia melompat masuk ke dalam pendopo dan memasang kuda-kuda dengan merapatkan kedua kakinya, sedang sepuluh jarinya yang dirapatkan dengan telapakan tangan menghadap ke atas, digunakan untuk melindungi kempungan. Inilah kuda-kuda pukulan Hway-tiong-po-gwat (Mendukung rembulan di dada) dari partai Pat-kek-kun.

Cin Nay Cie terkesiap. Sudah ditantang, ia tak bisa mundur. "Ilmu silat dari partaiku tidak banyak tcrsiar dalam Rimba Persilatan," pikirnya. "Dari mana ia belajar?" Tapi walaupun hatinya heran, paras mukanya tidak berubah. "Baiklah," katanya. "Biarlah aku menyingkirkandulu kursi-meja, supaya tidak merintangi gerakan kita." "Cin Loosu salah," kata si nona. "Ilmu silat dari partai kita yang terdiri dari empat puluh sembilan jalan mengutamakan kegesitan dan kelincahan, se¬hingga bisa bertempur di tempat-tempat yang paling sulit. Jika Loosu menghiraukan kursi-meja, apakah Loosu bisa menyuruh musuh menyingkirkan kursi-meja, jika sedang berhadapan dengan musuh tu-len?" Mendengar kata-kata itu yang diucapkan de¬ngan nada seorang guru terhadap muridnya, paras muka Cin Nay Cie lantas saja berubah merah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia segera meloncat dan menghantam dengan pukulan Tui-san-sit (Men-dorong gunung).

Si nona menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak berkelit, hanya maju setindak ke sebelah kiri dan karena dirintangi meja, Cin Nay Cie tak dapat memukul lagi. Sesudah pukulan yang pertama me-leset, dengan geregetan ia lalu mengirim tiga pu¬kulan berantai dengan beruntun-runtun. Gesit luar biasa, si nona mengegos tiga pukulan itu dan ke-mudian, pada akhir pukulan ketiga, ia lalu balas menyerang dengan tinju kanan dan tinju kiri dengan pukulan "keras" dan pukulan "lembek". Itulah Song-tah-ke-bun (Dua tinju memukul pintu rahasia), pukulan keempat puluh empat dari Pat-kek-kun.

Cin Nay Cie tidak keburu menangkis lagi pu¬kulan itu yang menyambar bagaikan kilat, sehingga ia terpaksa melompat ke belakang. "Brak!" ia mem-bentur meja dan tiga cangkir teh jatuh hancur.

"Hati-hati!" kata Wan Cie Ie sambil tersenyum dan lalu mencecar lawannya dengan pukulan-pukul-an Pat-kek-kun. Dalam sekejap si tua sudah keteter, ia hanya mampu membela diri tanpa bisa balas menyerang. "Eh, mengapa kau hanya menangkis dan tidak menyerang?" mengejek si nona.

"Perempuan hina!" teriak Cin Nay Cie dengan mata merah. Dalam gusarnya, dengan nekat ia me¬nyerang dengan pukulan Ceng-liong-cut-sui (naga hijau keluar dari air), tangan kirinya ditekuk bagai¬kan gaetan, sedang tinju kirinya digunakan untuk memukul. Si nona berkelit dan membarengi dengan pukulan Sio-chiu-can-kun (Mengunci tangan me-nangkap tinju), lebih dulu ia menyikut dengan sikut kanan dan lalu menangkap pergelangan tangan kanan Cin Nay Cie dengan tangan kanannya sambil menggeser tubuhnya ke belakang si tua, akan ke-mudian menyengkeram jalan darah Kian-tin-hiat di pundak orang. Dengan sekali menekan ke bawah dengan tangan kirinya, kepala Cin Nay Cie me-nunduk dan mulutnya menyentuh cangkir teh. "Mi-numlah!" bentak si nona.

Ilmu yang digunakan oleh si nona, yaitu Hun-kin-co-kun-chiu (Ilmu memecah urat mencopot tu-lang), adalah ilmu yang biasa saja dan dapat di-pelajari oleh siapa pun juga. Akan tetapi, kelihayan-nya terletak pada kecepatannya yang luar biasa dan hebatnya Lweekangyang menyertainya. Begitu per¬gelangan tangannya tercekal, Cin Nay Cie bergerak lagi. "Perempuan hina!" ia mencaci bagaikan kalap.

Mendengar cacian itu, Wan Cie Ie tersenyum tawar sambil membetot. "Tuk!" lengan kanan si tua copot dari tempat sambungan di pundak! Sesudah menghajar adat, Wan Cie Ie melepaskan korbannya dan lalu duduk di kursi bundar. "Bagaimana?" tanya-nya seraya tersenyum. "Apa kau rela menyerahkan kedudukan Ciangbunjin kepadaku?" Sambil menggigit gigi, Cin Nay Cie menahan sakit, sehingga keringat membasahi selebar muka-nya yang pucat pias. Ia memutar badan dan tanpa mengeluarkan scpatah kata, segera meninggalkan pendopo dengan tindakan lebar.

Melihat penderitaan kawannya, buru-buru Ong Kiam Eng memberi pertolongan. Dengan satu ta¬ngan ia mencekal lengan Cin Nay Cie dan tangannya yang lain memegang leher orang. Dengan sekali membetot dan mendorong, ia sudah memulihkan sambungan lengan itu ke tempatnya yang sediakala. "Nona!" bentaknya. "Pat-kek-kunmu memang lihay sekali. Sekarang aku ingin menjajal dengan ilmu Pat-kwa-ciang." Sehabis berkata begitu, ia meloncat masuk ke pendopo.

Melihat tindakan orang yang mantap, Wan Cie Ie tahu, bahwa ia sedang menghadapi lawan berat. Bahwa setiap orang yang mempelajari Yu-sin Pat-kwa-ciang, tindakannya sangat enteng, seolah-olah tidak menyentuh tanah. Akan tetapi, tindakan Ong Kiam Eng justru mantap dan berat luar biasa. Itulah suatu tanda, bahwa ia sudah mencapai tingkatan "dari berat sehingga enteng dan dari enteng se-hingga berat" dan tingkatan itu hanya bisa dicapai dengan latihan puluhan tahun.

Sebelum mereka berhadapan, tiba-tiba Ouw Hui mendului masuk ke pondopo dan mengambil secangkir teh yang lalu diminumnya. "Orang itu lihay, hati-hati," bisiknya.

Wan Cie Ie menunduk. "Beberapa kali aku telah merusak pekerjaanmu. Apa kau tidak gusar?" tanyanya dengan suara perlahan.

Ouw Hui tidak menjawab. Jika ia mengatakan tidak gusar, memang juga si nona beberapa kali sudah menolong Hong Jin Eng dari tangannya. Ia mau mengatakan gusar, tapi di dalam hati ia merasa tak tega.

Di lain pihak, peringatan Ouw Hui telah meng-girangkan sangat hati si nona. Sebenarnya ia pun merasa ragu-ragu dalam menghadapi jago Pat-kwa-bun itu. Tapi begitu mendengar perkataan Ouw Hui, semangatnya lantas saja terbangun dan ia ber-kata dengan suara perlahan: "Kau tak usah kha-watir." Dengan sekali menjejak kaki, ia sudah me-lompat ke atas kursi bundar dan berkata: "Ong Loosu, ilmu silat Pat-kwa-bun mengutamakan ke-dudukan Pat-kwa. Marilah kita main-main di atas kursi ini." "Baiklah!" kata Ong Kiam Eng sambil melompat ke atas kursi dan memasang kuda-kuda, satu tangan dilonjorkan ke depan dan satu tangan ditarik ke belakang.

"Ong Loosu," kata pula si nona. "Aku men¬dengar, Ongsie Hengtee (kakak beradik she Ong) dari Pat-kwa-bun mempunyai nama yang sama be-sarnya. Sebentar, sesudah Ong Loosu roboh apakah adikmu akan turun tangan?" Ong Kiam Eng adalah seorang yang tenang sifatnya. Akan tetapi, mendengar pertanyaan Wan Cie Ie, darahnya lantas saja meluap, karena dengan kata-kata itu, si nona sudah memastikan lebih dulu, bahwa ia bakal memperoleh kemenangan. Tapi, sebelum ia sempat menjawab, Ong Kiam Kiat sudah mendului membentak: "Perempuan sombong, ja-ngan ngaco belo kau! Jika kau bisa melayani ka-kakku dalam seratus jurus, kami berdua tak akan menggunakan lagi Pat-kwa-ciang." Harus diketahui, bahwa dalam Rimba Persilatan, kedua saudara Ong itu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Ahli-ahli yang biasa tak akan bisa melayani mereka lebih dari sepuluh jurus. Maka itu, dengan menyebut seratus jurus, Ong Kiam Kiat sama sekali tidak memandang rendah si nona.

Mendengar jawaban Kiam Kiat, Wan Cie Ie melirik dengan sorot mata memandang rendah. "Sesudah aku menjatuhkan kakakmu, apakah ke¬dudukan Ciangbunjin berarti sudah direbut oleh-ku?" tanyanya pula tanpa menghiraukan jawaban orang. "Dan juga, sesudah kakakmu roboh, apa kau akan turun tangan atau tidak?" "Sombong sungguh kau!" bentak Kiam Kiat dengan mendongkol. "Sesudah menang, barulah kau boleh bicara." "Tidak, sebelum bertempur aku mau tanya dulu seterang-terangnya," kata si nona.

Kiam Eng yang sedari tadi belum membuka mulut, lantas saja menyelak. "Siapa gurumu?" tanya-nya.

"Perlu apa kau tanya guruku?" Wan Cie Ie balas menanya. Tiba-tiba biji matanya memain dan sambil tersenyum ia berkata puia: "Ah, aku tahu! Ong Loosu rupanya sudah jadi gusar dan ia ingin turun-kan pukulan yang membinasakan. Maka itu, ia me-rasa perlu untuk tanya nama guruku. Ong Loosu, nama Suhu terlalu besar dan jika kuberitahukan, kau bisa mati lantaran kaget. Jangan takut. Ke-luarkanlah seantero kepandaianmu. Aku berjanji tak akan membawa-bawa guru. Orang kata, tak tahu, tak berdosa. Andaikata kau membinasakan aku, guruku tentu tak akan gusari kau." Jawaban itu mengena jitu apa yang dipikir Ong Kiam Eng. Memang juga, sesudah menyaksikan kepandaian Wan Cie Ie yang sangat luar biasa, ia menarik kesimpulan, bahwa guru si nona adalah seorang yang namanya sangat besar dalam Rimba Persilatan. Ia sangat khawatir urusan berbuntut panjang, jika ia sampai melukai lawan yang muda belia itu.

"Saudara-saudara, kalian sudah mendengar ja¬waban Wan Kouwnio dan aku harap kalian suka menjadi saksi," katanya seraya mengirim pukulan ke muka si nona. Wan Cie Ie lantas saja melayani dengan menggunakan juga Pat-kwa-ciang dan se-rangan-serangan Kiam Eng yang pertama dengan mudah telah dipunahkannya. Mereka bertempur di atas dua belas kursi batu bundar yang ditaruh di seputar sebuah meja bundar pula. Semakin lama pertempuran jadi semakin cepat dan mereka me-lompat berputar-putar seperti main petak. Sesudah bertempur beberapa lama, Ong Kiam Eng jadi men¬dongkol sekali. "Perempuan ini sungguh licik dan sudah berhasil memancing aku untuk bertempur di atas kursi," pikirnya. "Tenaga pukulannya masih kalah jauh dari tenagaku, tapi dengan adanya rin-tangan meja, ia masih bisa bertahan." Sesudah lewat lagi beberapa jurus, ia berkata pula dalam hati: "Bocah ini memiliki macam-macam ilmu silat, se-hingga aku tentu tak akan bisa merobohkannya dengan menggunakan lain ilmu silat." Di lain saat, sambil membentak keras, ia mengubah cara ber-silatnya, tindakannya seolah-olah kacau dan ia me¬ngirim pukulan-pukulan dari samping.

Ternyata, dalam kedongkolannya, ia mulai me-nyerang dengan ilmu Pat-tin Pat-kwa-ciang, yaitu ilmu simpanan dari mendiang ayahnya, Wie-tin Ho-sok Ong Wie Yang. Harus diketahui, bahwa ilmu yang sangat lihay itu hanya diturunkan kepada ke-dua puteranya oleh Ong Wie Yang. Murid-murid lainnya, seperti Siang Kiam Beng, belum pernah diajar ilmu tersebut. Pat-tin Pat-kwa-ciang adalah Pat-kwa-ciang yang dirangkap dengan ilmu Pat-tin-touw, ialah barisan luar biasa gubahan Cukat Bu-houw di jaman Samkok. Dengan dimasukkannya sendi-sendi Pat-tin-touw ke dalam ilmu silat, maka ilmu silat tersebut mengandung macam-macam per-ubahan yang aneh-aneh dan tidak dapat diduga oleh orang-orang yang belum pernah mempelajarinya.

Jangankan mempelajari, sedangkan mende-ngar, Wan Cie le belum pernah mendengar nama Pat-tin Pat-kwa-ciang. Maka itu tidaklah heran, jika baru saja beberapa gebrakan, ia sudah terdesak. Ouw Hui yang terus memperhatikan jalan per-tempuran di luar pendopo, jadi kaget bukan main. Tapi ia tidak bisa membantu, sebab tadi si nona sudah membuka suara besar. Ong Kiam Eng jadi girang dan terus mencecar lawannya dengan pu-kulan-pukulan hebat. Tiba-tiba, pada saat yang sa-ngat berbahaya, nona Wan melompat ke atas meja seraya berkata: "Berkelahi di atas kursi, kita tak bisa menggunakan seantero kepandaian. Mari kita main-main di atas meja. Ong Loosu, marilah, tapi awas, kau tak boleh menginjak hancur cangkir-cangktr dan piring buah. Siapa memecahkan cangkir, dia yang kalah." Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ong Kiam Eng turut meloncat ke atas meja. Sekarang mereka bertempur dalam jarak dekat dan mau tak mau, si nona harus melawan kekerasan dengan kekerasan. Tapi, jika dalam pukulan tangan, ia menderita ke-rugian, dalam gerakan kaki, ia memperoleh ke-untungan. Mengapa? Karena di atas meja terdapat dua belas cangkir teh dan empat piring buah, yang tak boleh pecah. Memang, jika bertempur di atas tanah datar, Pat-tin Pat-kwa-ciang dahsyat bukan main. Tapi, dengan adanya pembatasan itu, Ong Kiam Eng tak bisa mengeluarkan ilmunya sesuka hati. Ia hampir tak berani bertindak, sebab khawatir memecahkan cangkir-cangkir itu. Oleh karena itu, ia terpaksa berdiri tegak dan melayani si nona dengan pukulan-pukulan tangan saja.

Di lain pihak, Wan Cie Ie yang gesit yang memiliki ilmu mengentengkan badan sangat tinggi, dapat bergerak dengan leluasa. Bagaikan seekor kera, tubuhnya melesat ke sana-ke sini untuk tneng-egos pukulan-pukulan lawan atau mengirim serang-an-serangan.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, sambil me-ngempos semangat dengan geregetan Kiam Eng memukul dengan telapakan tangan kanannya. Tiba-tiba, Wan Cie Ie menyontek sebuah cangkir dengan ujung kaki kirinya dan cangkir itu lantas saja me-nyambar ke muka lawan. Dengan kaget Kiam Eng buru-buru menarik pulang tangannya dan berkelit. Tapi, baru saja cangkir pertama lewat, tiga cangkir lainnya menyambar dengan saling susul. la berhasil mengegos tiga cangkir itu, tapi yang keempat dan kelima mengenai tepat di kedua pundaknya. Cang¬kir ketujuh dan kedelapan dipukul jatuh dengan tangannya, tapi tak urung mukanya basah sebab kecipratan air teh. la gusar dan bingung, sehingga cangkir kesembilan dan kesepuluh mampir di dada-nya.

Semua orang kaget, terutama Ong Kiam Kiat yang tanpa merasa mengeluarkan seruan tertahan. Sementara itu, cangkir kesebelas dan kedua belas sudah menyambar ke arah mata. Bagaikan kalap, Kiam Eng segera menghantam kedua cangkir itu dengan tangannya. Inilah saat yang ditunggu si nona. Bagaikan kilat, badannya berkelebat dan ta¬ngan kanannya menangkap pergelangan tangan ka-nan lawan, sedang tangan kirinya menyengkeram jalanan darah Kie-tie-hiat di lengan orang. Dengan sekal' Tendorong dan membetot, berbareng dengan terdengarnya teriakan kesakitan, sambungan le¬ngan Kiam Eng copot dari tempat sambungannya.

Apa yang digunakan Wan Cie Ie adalah Hun-kin-co-kut-chiu yang biasa saja. la sudah berhasil sebab gerakannya yang luar biasa cepat, sehingga seorang ahli seperti Ong Kiam Eng masih tak dapat menyelamatkan diri.

Melihat kakaknya dikalahkan, sambil memben-tak keras, Kiam Kiat melompat dan mengirim pu-kulan hebat dengan kedua tangannya. Ouw Hui yang terus berwaspada segera turut meloncat dan mendorong, sehingga Kiam Kiat terhuyung ke be-lakang beberapa tindak. "Ong-heng, jangan menge-rubuti!" bentaknya. "Menurut janji, pertandingan ini satu lawan satu." Dengan paras muka pucat bagaikan kertas, Kiam Eng duduk di atas meja. "Jika aku melepaskan dia sekarang, dengan saudaranya dia bisa menye-rang lagi dan bisa-bisa aku dirobohkan," kata Wan Cie Ie dalam hatinya. Memikir begitu, tanpa sung-kan-sungkan lagi tangannya kembali bekerja dan sambungan lengan kiri Ong Kiam Eng kembali copot dari lempatnya. "Bagaimana? Apa kamu rela menyerahkan Ciangbunjin Pat-kwa-bun kepadaku?" tanyanya.

Kiam Eng tak menyahut. la meramkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan. "Lepas ka-kakku!" bentak Kiam Kiat. "Jika kau mau, ambillah kedudukan Ciangbunjin." Si nona tersenyum dan lalu melompat turun dari atas meja, sedang Kiam Kiat sendiri lalu meng-gendong kakaknya dan meninggalkan gedung itu tanpa menengok lagi.

Sekarang tiba giliran Ciu Tiat Ciauw. Sambil mengawasi Wan Cie Ie, ia berkata: "Nona, kau benar-benar pintar. Siasat apa yang kau hendak gunakan untuk menghadapi aku, si orang she Ciu?" Dengan berkata begitu, si tua seperti juga ingin mengatakan, bahwa kemenangan Wan Cie Ie telah didapat karena siasat dan bukan lantaran kepan-daian tinggi.

Si nona lantas saja naik darahnya. Ia mengeluar¬kan suara di hidung dan menjawab: "Masakah aku perlu menggunakan siasat untuk menghadapi ilmu silat tiada artinya dari Eng-jiauw-gan-heng-bun? Ciu Loosu, apa katnu bertiga maju berbareng atau satu lawan satu?" "Wan Kouwnio, dengan berkata begitu kau memandang enteng semua ahli silat di kota Pak-khia," kata Tiat Ciauw dengan suara tawar. "Se-menjak berusia tiga belas tahun, aku Ciu Tiat Ciauw selalu berkelahi seorang diri." "Oh begitu?" mengejek si nona. "Dengan lain perkataan, sebelum berusia tiga belas tahun, kau bukan seorang gagah dan biasa main keroyok." "Aku baru belajar silat pada usia tiga belas tahun," menerangkan si tua.

Wan Cie Ie tertawa. "Seorang gagah tulen Su¬dan jadi seorang gagah sedari masih bayi," kata pula Wan Cie Ie. "Dalam dunia terdapat manusia-ma-nusia, yang walaupun tinggi ilrnu silatnya, tetap rendah jiwanya. Ciu Loosu, harap kau jangan ma-rah. Aku bukan maksudkan kau." Terhadap Ong Kiam Eng dan Ong Kiam Kiat, Wan Cie Ie masih mempunyai rasa menghormat. Entah mengapa, ia sebal sungguh melihat muka Ciu Tiat Ciauw yang parasnya agung-agungan dan oleh karenanya, ia terus mengejek tanpa sungkan-sung-kan lagi.

Si tua yang belum pernah dihina begitu rupa, tentu saja gusar bukan main, tapi, sebagai seorang yang tenang sifatnya, ia hanya mengeluarkan suara di hidung dan tak mau balas mencaci. Mendadak terdengar teriakan Ong Tiat Gok: "Budak cilik! Berlakulah sedikit sopan kalau bicara dengan Toa-sukoku." Si nona tidak meladeni karena tahu dia seorang polos. Ia berpaling kepada Tiat Ciauw seraya ber¬kata: "Keluarkanlah!" "Keluarkan apa?" menegas si tua.

"Tong-eng Tiat-gan-pay," jawabnya.

Mendengar kata-kata "Tong-eng Tiat-gan-pay" (Pay Elang tembaga Burung gan besi), walaupun tenang, Ciu Tiat Ciauw tak bisa mempertahankan ketenangannya lagi. "Ah!" teriaknya dengan kaget. "Bagaimana kau tahu urusan dalam partaiku?" Ia mencopot sebuah kantong sulam yang digantung di pinggangnya dan lalu menaruhnya di atas meja. "Tong-eng Tiat-gan-pay berada di sini," katanya dengan suara menyeramkan. "Ambil dulu jiwaku, baru kau boleh merampas pay itu." "Coba keluarkan, aku mau lihat apa tulen atau palsu," kata pula si nona.

Dengan tangan bergemetaran Tiat Ciauw mem-buka kantong itu dan mengeluarkan sebuah Kim-pay (papan yang terbuat dari pada emas) yang panjangnya empat cun dan lebarnya dua cun. Di atas pay itu terukir seekor elang tembaga yang sedang membuka cakar dan seekor burung gan (semacam belibis) yang terbang miring. Pay tersebut bukan lain dari pada semacam cap kekuasaan Ciang-bunjin dari partai Eng-jiauw-gan-heng-bun. Semua murid partai memandang pay itu seperti juga Ciang-bunjin sendiri. Harus diketahui, bahwa Eng-jiauw-gan-heng-bun adalah sebuah partai besar dan dalam beberapa turunan mempunyai Ciangbunjin yang berkepandaian sangat tinggi. Tapi begitu sampai di jaman Ciu Tiat Ciauw, murid-murid Eng-jiauw-gan-heng-bun yang terutama pada menekuk lutut ke-pada pemerintahan Boan dan menjadi kaki-tangan Kaisar Ceng. Mereka hidup mewah dan ketulanui cara-cara kota Pakkhia yang hanya memburu ke-senangan, sehingga tidaklah heran, jika ilmu silat mereka berbeda jauh dengan para tetuanya di jaman yang lampau. Belakangan, pada jaman Kaisar Kee-keng, barulah dalam partai itu muncul beberapa orang benar-benar tinggi ilmunya dan sudah ber-hasil mengangkat naik nama harumnya Eng-jiauw-gan-heng-bun. Tapi hal itu tiada sangkut pautnya dengan cerita ini.

Sesudah mengawasi pay itu beberapa lama, barulah Wan Cie le berkata: "Dilihat luarnya, me-mang pay tulen. Tapi aku belum bisa memastikan." Cara-cara si nona dalam mengejek dan meng-ganggu Ciu Tiat Ciauw mempunyai sebab tertentu. Dalam melawan Ong Kiam Eng, biarpun pada akhir-nya ia memperoleh kemenangan, ia merasa sangat lelah dan Lweekangnya pun berkurang banyak. Maka itu, ia sengaja mengeluarkan ejekan-ejekan, pertama untuk membangkitkan kegusaran si tua dan kedua untuk mengaso.

Ciu Tiat Ciauw adalah seorang yang berpengalaman luas dan ia lantas saja bisa menebak maksud Wan Cie le. Maka itu, seraya mengebas tangannya ia membentak: "Wan Kouwnio, sudahlah! Jika kau benar-benar berani memberi pelajaran padaku, marilah kita main-main di atas pendopo ini." Ham-pir berbareng, ia mengenjot tubuh dan badannya lantas saja melesat ke atas.

Harus diketahui, bahwa partai Eng-jiauw-gan-heng-bun mengutamakan dua rupa kepandaian, yaitu Eng-jiauw Kin-na (Menangkan dan menyeng-keram dengan menggunakan tangan yang menyeru-pai cakar garuda) dan Gan-heng Gin-kang (Ilmu mengentengkan badan seperti seekor burung beli¬bis yang sedang terbang). Waktu melompat ke atas genteng, Ciu Tiat Ciauw telah mengambil keputus-an untuk membinasakan si nona dengan mengguna¬kan kedua ilmu itu. Menurut perhitungannya, de¬ngan bertempur di atas atap yang tinggi, bukan saja Wan Cie le tak akan dapat menggunakan akal bulus. tapi Ouw Hui pun tak akan bisa membantunya. Orang yang sebenarnya disegani si tua, bukan Wan Cie le, tapi Ouw Hui yang selalu siap sedia untuk memberi bantuannya.

Tapi apa lacur, perhitungan Ciu Tiat Ciauw meleset jauh. Mimpi pun ia tak pernah mimpi, bahwa Kin-na dan Gin-kang justru merupakan ilmu terlihay dari nona Wan. Jika ia pernah menyaksikan pertempuran di puncak tiang layar perahu antara si nona dan Ya Kit, ia tentu tak akan mengajukan tantangan itu.

Melihat loncatan Ciu Tiat Ciauw, yang biarpun lincah dan gesit tapi masih kalah jauh dari pada Wan Cie le, Ouw Hui merasa lega. Mereka saling melirik dan tersenyum. Untuk membesarkan hati lawan, si nona sengaja tak mau memperlihatkan kepandaian-nya yang istimewa. Dengan lompatan biasa, ia hing-gap di atas genteng. "Sambutlah!" bentaknya seraya menyerang dengan sepuluh jarinya yang menye-rupai cakar garuda.

Dalam Rimba Persilatan terdapat tiga rupa Jiauw-hoat (ilmu yang menyerupai cakar atau kuku binatang), yaitu Liong-jiauw (Kuku naga), Houw-jiauw (Kuku harimau) dan Eng-jiauw (Cakar ga¬ruda). Dengan Liong-jiauw, empat jari dirapatkan dan ditekuk ke dalam, sedang jempol dipentang dan juga ditekuk ke dalam. Dengan Houw-jiauw, lima jari dipentang dan agak ditekuk ke dalam. Dengan Eng-jiauw, empat jari dirapatkan, jempol dipen¬tang, jari kedua dan ketiga agak ditekuk ke dalam. Dalam tiga rupa Jiauw-hoat itu, Liong-jiauwlah yang paling sukar dipelajari.

Melihat lawannya menyerang dengan ilmu silat Eng-jiauw-gan-heng-bun, Ciu Tiat Ciauw jadi gi-rang. "Jika kau menggunakan ilmu yang aneh-aneh, mungkin aku agak jeri, tapi kalau kau menggunakan ilmu Eng-jiauw-gan-heng-bun, seperti juga kau cari mampus sendiri," katanya di dalam hati. Memikir begitu, dengan hati girang ia segera menerjang Wan Cie le dengan pukulan-pukulan Eng-jiauw-gan-heng-bun yang paling hebat.

Semua orang mendongak dan menonton per-tandingan itu dengan hati berdebar-debar. Antara pertandingan-pertandingan yang sudah dilakukan pada malam itu, pertandingan inilah yang paling menarik hati. Bagaikan dua ekor burung raksasa, tubuh mereka berkelebat-kelebat di atas genteng.

Sesudah bertempur beberapa lama, hampir ber-bareng dengan bentakan Wan Cie le, sambil ber-teriak keras Ciu Tiat Ciauw melayang jatuh ke bawah.

Karena gerakan mereka cepat luar biasa, di antara penonton hanya Ouw Hui dan Can Tiat Yo yang dapat melihat sebab-sebab dari jatuhnya Tiat Ciauw. Ternyata, Wan Cie le kembali menggunakan Hun-kin co-kut-chiu dan mencopotkan tulang ke¬dua betis lawannya dari sambungan di lutut. Maka itu, kecuali Ouw Hui dan Can Tiat Yo, yang lainnya merasa heran sebab begitu jatuh, Ciu Tiat Ciauw tak bisa bangun lagi. Mereka heran karena atap pendopo tidak seberapa tinggi dan si tua pun me-miliki ilmu mengentengkan badan yang sangat lihay, sehingga biarpun kalah, tak bisa jadi dia roboh untuk tak bangun lagi.

Ong Tiat Gok yang sangat mencintai Toasu-hengnya jadi kaget bukan main. "Suko!" teriaknya sambil memburu dan membangunkannya. Tapi ten-tu saja sang kakak tak bisa berdiri tegak, begitu dibangunkan, begitu dia roboh kembali.

"Tolol!" Can Tiat Yo mencaci Suteenya seraya lari menghampiri. Ia adalah seorang tokoh terke-muka dalam Eng-jiauw-gan-heng-bun, tapi ia tak mengerti ilmu Ciap-kut (Menyambung tulang). Maka itu, buru-buru ia mendukung kakak seperguruannya dan lalu memutar badan untuk meninggalkan taman itu.

"Ambil dulu Eng-gan-pay!" bentak Tiat Ciauw.

Can Tiat Yo tersadar, buru-buru ia kembali ke pendopo dan mengangsurkan tangannya untuk meng-ambil Kim-pay yang terletak di atas meja. Tapi, pada sebelum menyentuh papan emas itu, mendadak ia merasakan kesiuran angin dan berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia, seorang lain su-dah mendului menjemput Kim-pay itu. "Tak tahu malu!" bentak orang itu yang bukan lain dari pada Wan Cie Ie. "Sesudah kalah, apa kau mau melanggar janji?" Can Tiat Yo kaget bercampur gusar. Ia tak tahu tindakan apa yang harus diambilnya. Apa ia harus segera bertempur dengan Wan Cie Ie? Apa ia harus lebih dulu mencari orang untuk memulihkan tulang suhengnya yang telah copot? Selagi ia kebingungan, Ouw Hui menghampiri seraya berkata dengan suara ramah tamah: "Tulang kedua betis Ciu-heng telah copot dan jika tidak segera dipulihkan, aku khawatir urat-uratnya akan menjadi rusak." Sehabis berkata begitu, tanpa me-nunggu jawaban, ia segera mencekal betis kiri Ciu Tiat Ciauw dengan kedua tangannya dan dengan sekali membetot dan mendorong, tulang itu pulih ke tempatnya. Di lain saat, ia pun sudah memulih¬kan tulang betis kanan. Sesudah itu, ia mengurut-urut jalanan darah di pinggang Ciu Tiat Ciauw, sehingga rasa sakitnya lantas saja berkurang banyak.

Sesudah menolong si tua, sambil tertawa Ouw Hui mengangsurkan tangannya ke arah Wan Cie Ie. "Wan Kouwnio," katanya. "Tong-eng Tiat-gan-pay bukan barang mainan yang menarik hati. Menurut pendapatku, lebih baik kau membayarnya kepada Ciu Toako." Mendengar kata-kata "bukan barang mainan yang menarik hati", si nona tertawa dan lalu me-n-truh Kim-pay itu di telapakan tangan Ouw Hui.

Dengan kedua tangan dan dengan sikap meng-hormat, Ouw Hui mengangsurkan Tong-eng Tiat-gan-pay kepada Ciu Tiat Ciauw yang lalu men-jemputnya seraya berkata: "Sebegitu lama aku si orang she Ciu masih mempunyai napas, satu hari aku tentu akan membalas kebaikan Jie-wie." Se¬sudah melirik Wan Cie Ie dan Ouw Hui, dengan dipayang oleh Can Tiat Yo, ia segera meninggalkan gedung itu. Waktu melirik si nona, sorot matanya penuh dengan rasa sakit hati, tapi selagi melirik Ouw Hui, sorot mata itu mengunjuk rasa terima kasih.

Wan Cie Ie tidak menghiraukannya dan se¬sudah menjebik, ia lalu berkata kepada Tie Hong: "Tie Toaya, kau mempunyai kedudukan sebagai separuh Ciangbunjin. Bagaimana? Apa kau mau menjajal kepandaianku?" Sesudah menyaksikan kelihayan si nona, Tie Hong ternyata cukup tahu diri. Sambil merangkap kedua tangannya, ia menjawab: "Partaiku Lui-tian-bun berada di bawah pimpinan suhu. Seorang yang berkepandaian seperti aku, mana berani mengang-gap diri sebagai Ciangbunjin. Jika Kouwnio ingin memberi pelajaran, paling baik Kouwnio datang berkunjung ke Say-pak dan guruku pasti akan me-nerimanya dengan girang hati." Wan Cie Ie tertawa dan tidak mendesak ter-lebih jauh. Di lain saat ia mengebas tangan kirinya seraya menanya: "Siapa lagi yang ingin memberi pelajaran kepadaku?" Tantangan itu tidak mendapat sambutan. De¬ngan rasa mendongkol, malu dan heran, karena tak tahu dari mana datangnya si nona galak, In Tiong Shiang dan yang Iain-lain lalu memberi hormat kepada Ouw Hui dan meminta diri. Dengan manis budi pemuda itu lalu mengantarkan semua tamunya sampai di pintu depan.

Ketika ia kembali di taman bunga, sekonyong-konyong terdengar menggelegarnya geledek. Ia men-dongak dan melihat awan hitam yang berterbangan dan menutupi bulan. "Jie-moay," katanya seraya berpaling kepada Thia Leng So. "Mari kita be-rangkat sekarang." "Ke mana kalian mau pergi di tengah malam buta ini?" tanya Cie Ie. "Sebentar lagi pasti akan turun hujan." Baru saja ia berkata begitu, butiran-butiran hujan sudah mulai turun.

"Ditimpa hujan banyak lebih baik dari pada meneduh di bawah rumahnya satu penjahat besar," kata Ouw Hui dengan suara gusar. Sehabis berkata begitu, tanpa memperdulikan Wan Cie Ie, ia lalu berjalan ke luar dengan diikuti oleh Leng So.

Wan Cie Ie mengejar. "Bangsat Hong Jin Eng memang lebih dari pantas dibunuh mati," katanya. "Aku menyesal belum bisa membacoknya beberapa kali dengan tanganku sendiri." Ouw Hui menghentikan tindakannya dan sam-bil menengok, ia membentak: "Huh! Tak malukah kau mengeluarkan perkataan itu?" "Sakit hatiku terhadap Hong Jin Eng lebih hebat seratus kali dari pada kau!" kata si nona. Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula seraya mengertak gigi: "Kau membenci dia baru beberapa bulan saja. Tapi aku! Aku sakit hati seumur hidup!" Kata-kata yang belakangan itu diucapkannya de¬ngan suara parau.

 Ouw Hui jadi heran tak kepalang. "Kalau be¬gitu, mengapa kau berulang kali sudah menolong jiwanya?" tanyanya.

"Sudah tiga kali," kata si nona. "Tak akan ke-empat kali." "Benar, sudah tiga kali," kata Ouw Hui. "Tapi, aku sungguh tak mengerti." Selagi mereka bicara, hujan sudah turun seperti dituang-tuang sehingga pakaian mereka basah se¬mua. "Apakah kau ingin mendengar ceritaku yang panjang-lebar di bawah hujan?" tanya Cie Ie. "Kau sendiri memang tak takut hujan, tapi apa kau kira badan wanita yang lemah juga seperti badanmu?" "Baiklah," kata Ouw Hui. "Mari kita balik." Mereka lalu masuk ke kamar buku dan kacung yang bertugas segera menyalakan lilin dan mem-bawa teh. Kamar itu yang terawat baik, dengan perabotannya yang mahal dan pajangannya yang indah, menimbulkan suasana yang sangat menye-nangkan. Di tembok sebelah timur terdapat sebuah rak buku dengan buku-bukunya yang berharga ma¬hal, sedang dari tirai jendela di sebelah barat, ter-lihat bayangan pohon bambu, dari mana berkesiur masuk wanginya bunga Kuihoa. Di tembok sebelah selatan tergantung sebuah lukisan dan sepasang tuilian dengan huruf-hurufnya yang sangat indah.

Tapi Ouw Hui yang sedang memikirkan kata-kata Wan Cie Ie yang aneh, tidak memperdulikan keindahan itu. Untuk sementara, mereka duduk termenung-menung sambil mendengarkan jatuhnya hujan di daun bambu dan di atas genteng. Semenjak kecil Ouw Hui berkelana di dunia Kang-ouw dan inilah untuk pertama kali ia duduk dalam sebuah kamar yang sangat indah, dengan dikawani oleh dua gadis cantik jelita.

Sesudah lewat beberapa lama, sambil meng-awasi tetesan hujan di luar jendela, Wan Cie Ie berkata dengan suara perlahan: "Pada sembilan belas tahun berselang, pada malam itu, di propinsi Kwitang, kota Hud-san-tin, juga turun hujan. Se-orang wanita muda, yang mendukung bayi perem-puan, berlari-lari di tengah jalan tanpa memper-dulikan hujan besar. la tak tahu harus menuju ke mana, ia telah didesak orang sampai di jalanan buntu. Orang-orang yang dicintainya telah dibunuh. Ia sendiri telah mendapat hinaan yang hebat, se-hingga jika tak ingat bayi yang sedang didukungnya, ia tentu sudah membunuh diri dengan melompat ke dalam sungai." "Wanita muda itu seorang she Wan, namanya Gin Hoa. Nama itu adalah nama seorang desa, karena ia memang seorang perempuan desa. Walau-pun mukanya agak kehitam-hitaman, ia cantik se-kali, sehingga pemuda-pemuda Hud-san-tin men-julukinya sebagai 'Hek-bo-tan' (bunga Bo-tan hi-tam). Keluarganya adalah keluarga nelayan. Setiap pagi, dari desa ia memikul ikan ke pasar ikan di Hud-san-tin." "Pada suatu hari, seorang hartawan di Hud-san-tin, Hong Jin Eng namanya, mengadakan pesta. Ia membawa sepikul ikan ke gedung keluarga Hong untuk dijualnya. Orang kata, angin dan awan bisa muncul mendadak di langit, keberuntungan atau kecelakaan bisa datang tiba-tiba kepada manusia. Demikianlah, karena gara-gara mencari sesuap nasi, nona itu secara kebetulan telah dilihat Hong Jin Eng." "Manusia she Hong sudah banyak istri dan selirnya. Tapi dia tak pernah merasa cukup. Tanpa ampun lagi, ia melanggar kehormatan si nona pen-jual ikan. Gin Hoa ketakutan setengah mati dan tanpa mengambil uang penjualan ikan, ia lari pulang." "Di luar dugaan, karena perbuatan manusia kejam itu, Gin Hoa jadi hamil. Ayahnya tentu saja marah besar dan sesudah tahu duduknya persoalan, ia segera pergi ke gedung keluarga Hong untuk herurusan. Tapi dalam menghadapi seorang yang tidak berdaya, Hong Looya kembali memperlihat-kan kekejamannya. Ia perintah kaki tangannya menghajar orang tua itu dengan mengatakan, bah-wa si nelayan telah menuduh secara membabi buta. Dapatlah dibayangkan bagaimana besar kedukaan dan penasarannya orang tua itu. Ia sakit mereras dan beberapa bulan berselang, ia meninggal dunia dengan penuh penderitaan." "Paman-paman Gin Hoa lalu menumplek segala kesalahan di atas kepala wanita yang malang itu. Ia dikatakan menjadi gara-gara dari kebinasaan ayah¬nya. Ia dilarang berkabung dan dilarang bersem-bahyang di depan peti mati ayahnya. Paman-paman itu malahan mengancam akan memasukkannya ke dalam selongsong babi dan melemparkannya ke dalam sungai." "Malam-malam Gin Hoa lari ke Hud-san-tin dan sesudah hidup menderita beberapa bulan, ia melahirkan satu bayi perempuan. Karena tiada lain jalan, ia terpaksa mengemis untuk melewati hari. Orang-orang yang tahu riwayat ibu dan anak itu, merasa kasihan dan banyak juga yang memberi uang, beras atau makanan. Mereka kasak-kusuk membicarakan kekejaman si orang she Hong, tapi sebab tidak bertenaga, tak satu pun yang berani tampil ke muka untuk menuntut keadilan." "Pada waktu itu, di pasar ikan terdapat seorang pegawai yang mengenal Gin Hoa dan yang diam-diam semenjak lama sudah mencintainya. la lalu minta seorang sahabat untuk bicara dengan Gin Hoa. Jika nyonya itu setuju, ia ingin mengambilnya sebagai istri dan bersedia untuk mengakui anak itu sebagai anaknya sendiri. Gin Hoa jadi girang dan tak lama kemudian, mereka merayakan pernikahan mereka." "Tapi lain bencana kembali datang. Kaki tangan si orang she Hong yang tahu hal itu, segera me-laporkan kepada majikan mereka. Hong Looya jadi gusar karena menganggap si pegawai pasar ikan kurang ajar sekali, sudah berani mengambil wanita bekas korbannya sebagai istri. Ia segera meme-rintahkan belasan muridnya mengacau di pesta per¬nikahan. Tetamu yang sedang minum arak digebuk dan diusir, semua perabotan pengantin dihancur-kan, sedang pengantin lelaki diusir ke luar dan tidak diperbolehkan masuk lagi ke wilayah Hud-san-tin....M "Brak!" Ouw Hui menepuk meja sehingga api lilin bergoyang-goyang. "Binatang! Sungguh jahat manusia she Hong itu!" teriaknya bagaikan kalap.

Wan Cie Ie menunduk dan kemudian meman-dang ke luar jendela, mengawasi sang hujan yang masih terus turun dengan derasnya. Sesudah ter-menung-menung beberapa saat, ia menghela napas dan berkata pula: "Sesudah meloloskan pakaian pengantin, sambil mendukung anaknya, Gin Hoa lalu melarikan diri dari Hud-san-tin. Malam itu turun hujan besar seperti malam ini. Ia jatuh bangun di jalanan yang licin, tapi dengan kuatkan hati, ia lari terus... lari terus.... Tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh yang menggeletak di pinggir jalan. Ia men-duga, bahwa orang itu adalah seorang pemabukan dan buru-buru ia menghampiri untuk membangun-kannya. Tapi begitu ia membungkuk, kagetnya se¬perti disambar halilintar. Orang itu yang berlumur-an darah dan sudah mati, adalah suaminya sendiri, si pegawai pasar ikan. Ia sudah dicegat dan di-binasakan oleh kaki tangan Hong Looya yang me-nunggu di luar Hud-san-tin." "Kedukaan Gin Hoa pada waktu itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi. Dengan meng-gunakan sisa tenaganya, ia menggali tanah dengan tangannya dan lalu mengubur sang suami yang ber-nasib malang itu. Ketika itu ia sudah nekat, hampir-hampir ia membuang diri ke dalam sungai. Hanyalah si bayi yang menangis karena kedinginan, yang sudah mengurungkan niatan nekatnya itu. Sesudah memikir bolak-balik, sambil menggigit bibir, ia ber-jalan lagi dengan memeluk erat-erat bayinya itu." Mendengar sampai di situ, air mata Leng So mengalir turun di kedua pipinya. "Wan Ciecie." katanya dengan suara terharu. "Habis bagaimana?" Wan Cie Ie menyusut air matanya dengan sapu tangan dan kemudian berkata sambil tersenyum: "Kau memanggil aku Ciecie? Kalau begitu, sebagai adik, kau harus memberi obat pemunah!" Muka Leng So yang tadinya pucat lantas saja berubah merah. "Kau sudah tahu?" katanya dengan suara perlahan. la mengambil secangkir teh dan kemudian dari kukunya ia mementil sedikit bubuk warna kuning ke dalam air teh.

"Thia Moay-moay, hatimu cukup baik," kata Cie Ie. "Kau sudah menyediakan obat pemunah di kuku-mu dan ingin memberikannya tanpa diketahui aku." Ia mengangkat cangkir itu dan lalu meminumnya.

"Racun yang digunakan bukan racun yang mem-binasakan," menerangkan Leng So. "Tanpa obat pemunah, Ciecie hanya akan mendapat sakit untuk beberapa bulan. Dengan memberi racun itu, aku hanya ingin mencegah pertolonganmu terhadap Hong Jin Eng." Wan Cie Ie tertawa tawar. "Siang-siang aku sudah tahu, bahwa aku kena racun," katanya. "Aku hanya tak tahu bagaimana kau melepaskannya. Se¬dan masuk ke sini, belum pernah kuminum atau makan apa pun juga." "Selagi kau dan Ouw Toako bertempur di luar tembok, bukankah aku telah melemparkan seba-tang golok kepada Ouw Toako?" tanya Leng So. "Di golok itu terdapat sedikit bubuk racun, sehingga pecut dan tanganmu juga terkena racun. Golok dan Joan-pian itu harus dicuci sampai bersih." Mendengar keterangan itu, Cie Ie dan Ouw Hui saling mengawasi dengan perasaan kagum. Racun yang dilepaskan cara begitu, pasti tak akan dielak-kan oleh siapa pun juga.

"Kalau begitu," kata Ouw Hui. "Hong Jin Eng adalah... adalah..." "Benar," jawabnya. "Gin Hoa adalah ibuku, Hong Jin Eng ayahku. Biarpun dia kejam luar biasa dan telah mencelakakan kami, ibu dan anak, guruku pernah mengatakan, bahwa 'tanpa ayah dan ibu, seorang manusia tentu tak akan jadi manusia.' Wak-tu aku berpamitan dengan Suhu untuk menjelajah ke wilayah Tionggoan, beliau memesan begini: 'Ayahmu telah melakukan banyak sekali kejahatan dan dia pasti akan mendapat nasib yang hebat. Kau boleh menolong jiwanya tiga kali untuk menunaikan tugas sebagai anak. Sesudah itu, kau boleh meng-ambil jalananmu dan dia mengambil jalanannya sendiri. Mulai waktu itu, kau dan dia sudah tiada sangkut pautnya lagi.' Ouw Toako, di Hud-san-tin, di kuil Pak-tee-bio, aku menolong dia untuk per-tama kali. Malam itu, di dalam bio rusak, aku kembali menolong jiwanya. Dan malam ini, aku menolongnya untuk ketiga kali. Di lain kali, jika aku bertemu dengannya, akulah yang akan turun tangan untuk membalas sakit hati ibu." Sesudah berkata begitu, ia mengawasi ke luar jendela dengan paras muka pucat dan mata berkilat-kilat.

"Apakah ibumu masih hidup?" tanya Leng So.

"Dari Hud-san-tin ibu menuju ke utara sambil mengemis di sepanjang jalan," kata Cie Ie. "Tujuan-nya adalah menyingkirkan diri dari kota itu sejauh mungkin dan jangan bertemu muka lagi dengan Hong looya. Beberapa bulan ia berkeliaran di se¬panjang jalan sampai akhirnya ia tiba di kota Lam-ciang, propinsi Kangsay. Di kota itu ia menjadi bujang di rumah seorang she Tong...." "Ah!" Ouw Hui memutus perkataannya. "K-eluarga Tong di kota Lamciang? Apa keluarga itu masih terkena famili dengan Kam-lim-hui-cit-seng (Hujan besar memberkahi tujuh propinsi) Tong Tayhiap?"  Mendengar pertanyaan Ouw Hui, bibir si nona kelihatan bergemetar. "Ibuku telah meninggal du¬nia di gedung... Tong Tayhiap," jawabnya. "Tiga hari sesudah ibu meninggal dunia, Suhu membawaku ke Huikiang dan delapan belas tahun kemudian, baru-lah aku memasuki lagi wilayah Tionggoan." "Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama yang mulia dari gurumu?" tanya Ouw Hui. "Kau mahir segala rupa ilmu dan gurumu pastilah seorang luar biasa pada jaman ini. Walaupun Biauw Tayhiap yang bergelar Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, belum tentu mempunyai kepandaian yang begitu tinggi." "Aku harap Toako sudi memaafkan," jawab si nona. "Aku tak berani memberitahukan she dan nama Suhu karena beliau belum mengijinkannya. Nama 'Cie Ie' juga bukan namaku yang asli. Di kemudian hari, Ouw Toako dan Thia Moay-moay tentu akan tahu namaku yang sebenarnya. Nama Biauw Tayhiap yang cemerlang juga telah didengar kami di Huikiang. Bu-tim Tootiang dari Ang-hoa-hwee pernah ingin datang ke Tiong-goan untuk menjajal kepandaian Biauw Tayhiap. Tapi Tio Poan San Samsiok...." Berkata sampai di situ, ia berhenti sejenak dan melirik Ouw Hui sambil tersenyum. karena dalam hal ini, Ouw Hui kembali berada di pihak menang. (Sebagaimana diketahui, Ouw Hui mengangkat saudara dengan Tio Poan San, sedang Wan Cie Ie memanggil "paman" pada pendekar itu, sehingga kedudukan Ouw Hui lebih tinggi setingkat dari pada si nona). Sehabis tersenyum, ia lalu me-lanjutkan penuturannya: "Tio Poan San (ia tidak menggunakan istilah "Samsiok" lagi) mengatakan,  bahwa dalam hal ini tentu mesti ada latar belakang-nya. Sepanjang keterangan, Biauw Tayhiap meng-gunakan gelaran itu bukan karena ingin menga-gulkan diri, tapi sebab ingin membalas sakit hati ayahnya. Dengan gelaran itu, ia ingin memancing scorang ahli silat yang menyembunyikan diri di Liaotong. Belakangan dalam kalangan Kang-ouw tersiar warta, bahwa Biauw Tayhiap sudah berhasil membalas sakit hati ayahnya dan bahwa di hadapan umum beberapa kali ia pernah mengumumkan, bah¬wa ia tak berani menggunakan gelaran itu lagi. Gelaran Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu sungguh memalukan', demikian ia katanya pernah mengata-kan 'Ilmu silat Tayhiap Ouw It To banyak lebih tinggi dari padaku'." Mendengar disebutkannya nama "Ouw It To", jantung Ouw Hui lantas saja memukul keras. "Apa benar Biauw Tayhiap pernah mengucapkan kata-kata itu?" menegasnya.

"Tentu saja aku tidak mendengar dengan ku-ping sendiri," jawabnya. "Ceritera itu dituturkan oleh Tio... Tio Poan San. Bu-tim Tootiang yang darahnya panas, lantas saja ingin mencari Ouw Tayhiap untuk menjajal kepandaian. Tapi belakang¬an, karena tak tahu di mana tempatnya, ia terpaksa mengurungkan niatannya, ia telah bertemu dengan-mu. Sekembalinya di Huikiang, ia memuji kau se-tinggi langit. Waktu itu aku masih kecil dan tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka. Kali ini, waktu siauwmoay mau berangkat ke timur, Bun Sie-ie (Bibi Bun) telah memerintahkan aku me-nunggang kuda putihnya. Ia memesan, bahwa jika aku bertemu dengan pemuda gagah she Ouw itu, biarlah aku menyerahkan kuda putih itu sebagai hadiah." "Siapa itu Bun Sie-ie?" tanya Ouw Hui dengan heran. "Ia belum pernah mengenalkan. Mengapa ia memberi hadiah yang begitu besar harganya?" "Bun Sie-ie adalah scorang yang mempunyai nama besar dalam Rimba Persilatan," jawabnya. "Ia adalah isteri Pun-lui-chiu (si Tangan geledek) Bun Tay Lay Siesiok. Ia she Lok bernama Peng dan bergelar Wan-yo-to. Mendengar penuturan Tio Poan San tentang sepak terjangmu di Siang-kee-po dan tentang rasa kagummu terhadap kuda putih itu, ia lantas saja berkata: 'Samsiok, mengapa kau tidak menghadiahkan kuda itu kepadanya. Apa kau rasa Tio Samsiok bisa bersahabat dengan pemuda itu, aku tak bisa?'" Sekarang Ouw Hui baru mengerti, mengapa pada hari itu, di rumah penginapan, Wan Cie le telah meninggalkan si putih dengan tulisan "kuda kembali kepada majikannya". Ia merasa berterima kasih dan kagum bukan main terhadap nyonya ga¬gah itu, yang tanpa mengenal dirinya dan hanya berdasarkan cerita orang, sudah menghadiahkan seekor kuda mustika yang tak dapat dibeli dengan laksaan tahil emas.

"Sesudah urusan di sini beres, aku ingin sekali pergi ke Huikiang untuk menemui Tio Samko dan Iain-lain Cianpwee," katanya.

"Tak usah, mereka sendiri mau datang ke mari," kata si nona.

Ouw Hui girang tak kepalang, ia bangun berdiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Leng So yang mengenal adat kakaknya, lantas saja berkata: "Tunggu, aku ambil arak." la keluar dan memerintahkan si kacung mengambil tujuh-delapan gendul arak.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Ouw Hui lalu me-nenggak habis dua gendul arak. "Kapan Tio Samko dan yang Iain-lain datang ke mari?" tanyanya.

Paras muka Wan Cie Ie lantas saja berubah sungguh-sungguh. "Ouw Toako," katanya. "Empat hari lagi hari raya Tiongchiu dan had pembukaan perhimpunan para Ciangbunjin. Perhimpunan itu dipanggil oleh Hok Thayswee. la adalah seorang yang berkedudukan sangat tinggi, seorang Thay-cu Thay-po merangkap Peng-po Siang-sie yang memc-gang kekuasaan atas bala tentara. Tapi mengapa ia rela bergaul dengan orang-orang dari Kang-ouw?" "Aku pun sudah memikir persoalan itu," kata Ouw Hui. "Menurut pendapatku, tujuannya yang terutama adalah mengumpulkan orang-orang gagah di seluruh negara supaya bisa dijadikan kaki tangan bangsa Boan. Tindakannya itu tidak berbeda de¬ngan ujian untuk para sasterawan." "Benar," kata si nona. "Dulu pada jaman ke-rajaan Tong, waktu kaisar Tong-thay-cong meng-adakan ujian ilmu surat, bagaikan kawanan ikan para sasterawan berduyun-duyun datang di kota raja. Menurut sejarah, kaisar itu pernah mengata-kan: 'Aha! Orang-orang pandai di seluruh negara sckarang sudah masuk ke dalam tanganku'. Dihim-punkannya pertemuan para Ciangbunjin memang bertujuan untuk mengumpulkan orang-orang gagah di seluruh Tiongkok. Akan tetapi, dalam pada itu bersembunyi juga lain latar belakang, yang dike-tahui oleh orang luar. Dulu, Hok Thayswee pernah  dibekuk oleh Tio Poan San, Bun Siesiok, Bu-tim Tootiang dan yang Iain-lain, sehingga sakit hatinya masih didendam sampai sekarang. Apa kau pernah mendengar peristiwa itu?" Ouw Hui jadi terlebih girang lagi dan dengan beruntun ia menghirup dua cawan arak.

"Bagus! Bagus!" teriaknya. "Belum, aku belum pernah mendengar cerita itu. Bu-tim Tootiang, Bun Sie-ya dan yang Iain-lain sungguh luar biasa. Benar-benar mengagumkan!" Wan Cie Ie tersenyum seraya berkata: "Orang dulu minum arak sambil membaca kitab, tapi kau minum sambil membicarakan orang-orang gagah. Jika mendengar cerita sepak terjang Bun Sie-ya dan kawan-kawannya, biarpun kau bisa minum seribu cawan, pada akhirnya kau akan mabuk tiga hari dan tiga malam." "Hayolah!" kata Ouw Hui seraya menghirup secawan arak. "Hayolah ceritakan." "Cerita itu sangat panjang, tak mungkin selesai dalam tempo pendek," kata si nona. "Ringkasnya adalah begini: Bun Siesiok dan para Cianpwee mengetahui, bahwa Hok Thayswee sangat disayang oleh Kaisar Kian-liong. Maka mereka sudah mem-bekuk Hok Kong An dan berhasil mendesak kaisar untuk mendirikan lagi kuil Siauw-lim-sie yang di-bakar dan berjanji akan tidak mencelakakan orang-orang gagah kawan-kawan Sie-ya yang tersebar di berbagai tempat. Sesudah kaisar memberi janji, barulah mereka melepaskan Hok Thayswee." (Me¬nurut ceritera, Hok Kong An adalah puteranya Kaisar Kian-liong).

Ouw Hui menepuk kedua lututnya. "Kalau begitu, Hok Kong An mengumpulkan orang-orang gagah untuk menyeterukan Bun Sie-ya dan kawan-kawannya," katanya.

"Benar, kau sudah menebak jitu sebagian besar dari persoalan ini," kata Wan Cie le. "Hok Kong An sudah menduga, bahwa Bun Siesiokdan Iain-lain Cian-pwee akan datang berkunjung ke Pakkhia. Sesudah mendapat pelajaran getir pada sepuluh tahun berselang, ia insyaf, bahwa tentaranya yang berjumlah laksaan jiwa, sedikit pun tak berguna dalam menghadapi orang-orang gagah Rimba Persilatan." Ouw Hui tertawa terbahak-bahaksambil mene-puk-nepuk tangan. "Sekarang baru terang bagiku," katanya. "Kau merebut kedudukan Ciangbunjin un¬tuk mematahkan semangat musuh." "Guruku dan Bun Siesiok mempunyai perhu-hungan yang sangat erat," menerangkan si nona. Tapi kunjunganku ke Tionggoan adalah untuk urusan pribadi. Lebih dulu aku datang di Hud-san-tin untuk melihat cecongor Hong Jin Eng. Secara kcbetulan, di kota itu aku sudah mendapat kesem-patan untuk menolong jiwanya dan mendengar juga berita tentang perhimpunan para Ciangbunjin. Oleh karena urusanku masih belum selesai, tak dapat aku kembali ke Hui-kiang untuk menyampaikan warta. Maka itu, tanpa perduli akan ditertawai Ouw Toako, dari selatan aku terus menguntit sampai di utara dan di sepanjang jalan, aku menggunakan sctiap kesempatan untuk mengacau rencana Hok Kong An, supaya pembesar itu insyaf, bahwa cita-citanya tak gampang-gampang bisa terwujud." Mendengar penuturan itu, dalam otak Ouw Hui berkelebat satu pendapat. Mungkin sekali, sebab Tio Poan San memujinya terlalu tinggi, Wan Cie le jadi penasaran dan telah menjajal-jajal kepandaian-nya. Mengingat begitu, sambil tersenyum ia berkata: "Di samping itu, supaya Tio Poan San dan yang Iain-lain tahu, bahwa pemuda she Ouw itu belum tentu mempunyai kepandaian berarti." Mendengar sindiran halus, Wan Cie le tertawa terpingkal-pingkal. "Dari Kwitang kita telah meng-adu ilmu sampai di Pakkhia dan belum pernah aku berada di atas angin," katanya. "Ouw Toako, apa kau tahu apa yang akan kukatakan jika aku bertemu lagi dengan Tio Poan San?" Ouw Hui menggelengkan kepala. "Tak tahu," jawabnya.

Si nona tersenyum. "Aku akan bilang begini: 'Tio Samsiok, adik angkatmu benar-benar enghiong tulen!"' Paras muka Ouw Hui lantas saja berubah me-rah. Ia tak menduga, bahwa si jelita yang saban-saban menyukarkannya, tiba-tiba memuji dirinya. Dalam perjalanan ribuan li, dari Kwitang sampai di Pakkhia, paras si nona selalu terbayang-bayang di depan matanya. Tapi karena si nona telah meng-gagalkan usahanya untuk membinasakan Hong Jin Eng, maka dalam hatinya terdapat juga rasa men-dongkol. Tapi malam ini, sesudah tahu latar be-lakang dari sepak terjangnya Wan Cie le, semua ganjelan lantas saja hilang seperti tertiup angin. Demikianlah, dalam keadaan setengah mabuk ka¬rena pengaruh arak, ia juga setengah mabuk karena pengaruh kecantikan.

Ketika itu, hujan sudah berhenti dan lilin pun sudah hampir terbakar habis. Sesudah menghirup lagi semangkok arak, Ouw Hui berkata: "Wan Kouwnio, tadi kau mengatakan, bahwa kau masih mempunyai sedikit urusan pribadi yang belum di-bereskan. Apakah aku bisa memberi bantuan?" "Terima kasih," jawabnya. "Dalam hal itu, aku merasa tak perlu merepotkan kau." Melihat paras Ouw Hui yang mengunjuk rasa kecewa, buru-buru ia menambahkan: "Jika aku tak dapat menyelesai-kan sendiri, aku pasti akan meminta pertolonganmu dan Thia Moay-moay. Ouw Toako, empat hari lagi bakal dibuka pertemuan para Ciangbunjin. Bukan-kah menggembirakan sekali, jika kita bertiga me-ngacau balau pertemuan itu? Sam-eng Lo-Pakkhia. (Tiga jago mengacau Pakkhia). Sungguh bagus!" Semangat Ouw Hui lantas saja terbangun. "Ba¬gus! Bagus!" teriaknya. "Jika kita tak mampu me¬ngacau pertemuan itu, guna apa Tio Samko, Bun Sie-ya dan Bun Sie-nay-nay bersahabat denganku, si bocah cilik?" Sampai di situ, Leng So yang sedari tadi tak pernah membuka suara, lantas saja menyeletuk: "Kurasa Song-eng Lo-Pakkhia (Dua jago mengacau Pakkhia) sudah lebih dari pada cukup. Perlu apa menyeret-nyeretku, seorang yang tak punya guna?" Wan Cie le merangkul pundak Leng So dan berkata seraya tertawa: "Thia Moay-moay, jangan kau berkata begitu. Kepandaianmu adalah sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada aku." Leng So tidak menjawab, tapi lalu merogoh saku dan mengeluarkan Giok-Hiong. "Wan Ciecie," katanya. "Salah mengerti antara kau dan Toakoku sudah menjadi beres, sehingga Giok-hong ini lebih baik dipegang olehmu. Jika tak begitu, mungkin sekali dua ekor Honghong semuanya diberikan kepada Toakoku." Wan Cie le terkejut. "Jika tak begitu, mungkin sekali dua ekor Hong-hong semuanya diberikan kepada Toakoku," ia mengulangi dengan suara per-lahan.

Dalam mengatakan kata-katanya yang paling belakang, Leng So sebenarnya tak menggenggam maksud tertentu. Secara jujur ia mengakui, bahwa baik dalam kecantikan maupun kepandaian, Wan Cie le termasuk golongan kelas satu. Di sepanjang jalan, dari Ouw Hui ia telah mendengar banyak cerita mengenai nona itu dan sebelum bertemu muka, ia sudah merasa kagum. Hanyalah karena sepak terjangnya Wan Cie le yang beberapa kali merintangi usaha Ouw Hui, maka dalam kekaguman itu, ia juga merasa sedikit mendongkol. Tapi seka-rang, sesudah segala apa menjadi terang, ada apa lagi yang dapat menghalangi perhubungan mereka? Tapi begitu mendengar Wan Cie le mengulangi perkataannya, ia lantas saja mendusin, bahwa kata-katanya yang barusan pada hakekatnya menggeng¬gam dua artian. Kata-kata "dua ekor Hong-hong diberikan kepada Toakoku," seolah-olah berarti "dua orang wanita menikah dengan satu suami".

Kedua pipi Leng So lantas saja bersemu dadu. "Tidak... tidak... aku bukan maksudkan begitu," katanya dengan gugup.

"Bukan dimaksudkan begitu?" menegas Cie le.

Leng So tak dapat memberi penjelasan, ia jadi semakin kemalu-maluan, sehingga air matanya ham-pir-hampir mengalir ke luar.

"Thia Moay-moay," kata nona Wan. "Mengapa tadi kau tidak menaruh racun yang membinasakan di golokmu?" Dengan air mata berlinang-linang, Leng So menjawab: "Biarpun aku murid Tok-chiu Yo-ong, sclama hidupku belum pernah aku mengambil jiwa manusia. Apakah aku boleh sembarangan mengam¬bil jiwamu? Apa pula kau adalah kecintaan Toako. Setiap hari, kecuali pada waktu makan dan tidur, ia tak pernah melupakan kau. Bagaimana kubisa men-celakakan kau?" Sehabis berkata begitu, air mata-nya mcngalir turun di kedua pipinya.

Wan Cie Ie kaget. Ia berdiri sambil melirik Ouw Hui yang kelihatan jengah sekali. Perkataan Leng So telah membuka rahasia hatinya dan ia tak men-duga, bahwa sang adik akan mengatakan begitu. Tapi biarpun hatinya jengah, sorot matanya mem-perlihatkan rasa cinta yang sangat besar.

Nona Wan menggigit bibir dan berkata dengan suara lemah lembut: "Thia Moay-moay, legakanlah hatimu. Dua Hong-hong tak mungkin diberikan kepadanya!" Mendadak ia mengebas dengan ta-ngannya, sehingga api lilin lantas saja padam. Ham-pir berbareng ia melompat ke luar jendela dan menghilang di antara kegelapan.

Ouw Hui dan Leng So kaget bukan main. Me-reka melompat ke jendela, tapi yang terlihat ha-nyalah sinar rembuian laksana perak, sedang Wan Cie Ie sendir sudah tak kelihatan bayang-bayang-nya lagi. Mereka menjadi bingung, masing-masing coba menaksirkan maksud perkataan Wan Cie Ie yang mengatakan: "Legakanlah hatimu. Dan Hong-hong tak mungkin diberikan kepadanya!"  Untuk sekian lama, dengan berendeng pundak mereka berdiri di depan jendela. Sekonyong-ko-nyong di atas genteng terdengar bunyi tindakan manusia. Ouw Hui menjadi girang, ia menduga, bahwa Wan Cie Ie sudah kembali lagi. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, di atas genteng ter¬dengar suara seorang lelaki: "OuwToaya, harap kau suka keluar untuk bicara sedikit denganku." Ouw Hui lantas saja mengenali, bahwa suara itu adalah suara si orang she Liap yang menyayang pedangnya seperti juga menyayang jiwa sendiri.

"Liap-heng, turunlah," kata Ouw Hui. "Selain adikku di sini tidak terdapat orang lain." Sedari pedangnya tidak dirusak Ouw Hui, si orang she Liap, seorang perwira dan bernama Wat, selalu merasa berterima kasih terhadap pemuda itu. Karena melihat Ouw Hui berpihak kepada Wan Cie Ie, maka pada waktu si nona bertempur dengan Cin Nay Cie, Ong Kiam Eng dan Ciu Tiat Ciauw ia tidak mau mencampuri. Kenyataan ini merupakan bukti, bahwa Liap Wat adalah seorang yang mempunyai pribudi.

Mendengar perkataan Ouw Hui, ia segera me¬lompat turun seraya berkata: "Ouw Toako, seorang sahabat lama telah memerintahkan Siauwtee datang ke mari untuk mengundang kau." "Sahabat lama? Siapa?" tanyanya.

"Siauwtee telah mendapat pesanan untuk tidak membocorkan rahasia, harap Toako sudi memaaf-kan," jawabnya. "Begitu bertemu, Toako akan se¬gera mendapat tahu." Ouw Hui menengok kepada Leng So dan ber¬kata: "Jie-moay, kau tunggulah sebentaran di sini.

 Sebelum terang tanah, aku tentu sudah kembali." Si nona mengambil goloknya. "Apa Toako mau membekal senjata?" tanyanya.

Melihat Liap Wat tidak membawa pedang, Ouw Hui segera menyahut: "Tak usah. Untuk menemui sahabat lama, kurasa tak perlu membawa senjata." Di depan pintu sudah menunggu sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Dengan dicat emas dan dengan tirai-tirai sutera, kereta itu sangat indah kelihatannya. "Apa Hong Jin Eng yang coba-coba main gila lagi?" tanya Ouw Hui dalam hatinya. "Jika bertemu, kedua tanganku sudah cukup untuk mem-binasakan dia." Begitu lekas mereka duduk dalam kereta, si kusir lantas saja mencambuk kuda dan di tengah malam yang sunyi, suara kaki kuda kedengaran keras sekali di jalan raya Pakkhia yang ditutup dengan batu-batu hijau. Menurut peraturan, di wak-tu malam orang tidak boleh mengendarai kereta di dalam kota itu. Akan tetapi, begitu melihat dua tengloleng merah, tanpa surat, yang tergantung di depan kereta, serdadu-serdadu yang meronda lantas saja minggir dan membiarkannya.

Selang kira-kira setengah jam, kereta itu bcr-henti di depan tembok yang putih. Liap Wat me-lompat turun dan lalu mengajak tamunya masuk di sebuah pintu yang kecil. Dengan melalui jalanan kecil yang ditutup dengan batu-batu sebesar telur itik, mereka menuju ke satu taman bunga. Taman itu besar sekali dengan pohon-pohon bunga yang beraneka warna, pendopo-pendopo, gunung-gu nungan dan empang-empang yang semuanya sangat indah dan terawat baik. "Hong Jin Eng benar lihay,"  kata Ouw Hui dalam hatinya. "Taman ini belum tentu bisa dibeli dengan seratus atau dua ratus laksa tahil perak." Tapi di lain saat, ia mendapat lain pikiran: "Rasanya tak mungkin si orang she Hong. Biarpun jagoan, dia hanya menjagoi di Kwitang. Mana bisa dia memerintah seorang perwira seperti Liap Wat?" Selagi memikir begitu, Liap Wat sudah meng¬ajak ia membelok di satu gunung-gunungan dan sesudah melalui sebuah jembatan kayu, tibalah me¬reka di sebuah rangon di atas air. Dalam rangon itu dipasang dua batang lilin, sedang di atas meja diatur sebuah poci teh, cangkir-cangkir dan beberapa ma-cam kue-kue. "Sahabat Toako akan segera datang dan aku akan menunggu di luar kamar," kata Liap Wat. Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan ke luar.

Dengan rasa kagum Ouw Hui mengawasi pe-rabotan dan perhiasan dalam rangon itu. Gedung di luar pintu Soan-bu-bun sudah boleh dikatakan indah dan mewah, tapi dibandingkan dengan rangon ini, gedung itu masih kalah jauh. Di samping kursi meja dan Iain-lain perabotan yang berharga mahal, di empat penjuru tembok digantung lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan dari para pelukis dan penulis yang kenamaan, di antaranya terdapat tulisan "Swee-kiam" (Membicarakan hal pedang) gubahan Cong-cu, ditulis oleh Seng-cin-ong, putera Kaisar Kian-liong sendiri.

Selagi menikmati lukisan dan tulisan itu, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki dan hidung-nya mengandung bebauan yang sangat harum. Ia memutar badan dan ia berhadapan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian warna hi-jau muda dan yang berdiri sambil tersenyum. Wanita itu adalah Ma It Hong.

Sekarang ia sadar, bahwa ia berada dalam ge-dung Hok Kong An.

Ma It Hong memberi hormat dan berkata sam¬bil tertawa: "Saudara Ouw, takdinyana kita bertemu lagi di kota raja. Duduk, duduklah." Ia menuang teh dan dari sebuah rantang mengeluarkan beberapa macam kue, yang lalu ditaruh di depan Ouw Hui dengan sikap hormat. "Mendengar Saudara tiba di Pakkhia, hatiku seperti dibetot-betot dan ingin se-kali berjumpa secepat mungkin, untuk menghatur-kan terima kasih atas budimu," katanya.

Ouw Hui melirik dan melihat sekuntum bunga putih yang terselip di konde nyonya itu, sebagai semacam tanda berkabung untuk mendiang suami-nya (Cie Ceng). Tapi dari pakaiannya yang mewah dan parasnya yang berseri-seri, ia rupanya sudah tak ingat lagi suaminya yang binasa secara begitu me-nyedihkan.

"Pada waktu itu, Siauwteelah yang terlalu mau mencampuri urusan orang," kata Ouw Hui dengan suara tawar. "Jika aku tahu, bahwa Hok Thayswee yang sudah mengirim orang untuk menyambut Cie Toaso, aku pasti tak akan menimbulkan banyak keributan." Mendengar pemuda itu masih tetap mengguna-kan istilah "Cie Toaso", muka si nyonya lantas saja berubah merah. "Biar bagaimanapun juga, budi sau¬dara Ouw adalah sangat besar dan aku tetap merasa sangat berhutang budi," katanya pula. "Nai-ma (pengasuh), coba bawa Kong-cu-ya (panggilan yang digunakan untuk puteranya seorang pembesar ting-gi) ke mari." Di pintu sebelah timur lantas saja terdengar suara mengiakan, disusul dengan masuknya dua orang wanita yang menuntun dua bocah cilik. Begitu masuk, kedua anak itu segera mendekati Ma It Hong dan lalu menggelendot di pangkuan ibunya. Kedua anak itu yang romannya bersamaan satu sama lain, mempunyai paras yang sangat menarik dan gerak-geriknya mungil.

"Apa kau tak kenali Ouw Siok-siok?" tanya sang ibu sambil tertawa. "Ouw Siok-siok pernah memberi banyak bantuan kepada kita. Lekas berlutut!" Kedua bocah itu lantas saja menekuk kedua lututnya seraya berkata: "Ouw Siok-siok!" Ouw Hui buru-buru membangunkan mereka. "Hm! Hari ini kau memanggil Siok-siok (paman), tapi tak lama lagi, sesudah tahu kedudukanmu se-bagai anggota keluarga kaisar, mana kau kenal seorang gelandangan seperti aku ini?" katanya di dalam hati.

"Saudara Ouw," kata pula Ma It Hong. "Aku ingin mengajukan suatu permintaan kepadamu. Apa kau sudi meluluskan?" "Toaso," kata Ouw Hui. "Dulu, waktu Siauwtee dihajar oleh Siang Po Cin di Siang-kee-po, Toaso telah coba menolong dan budi itu aku tak dapat melupakan. Maka itulah, pada waktu kita berada di rumah batu, dengan mati-matian Siauwtee berusaha untuk memukul mundur penyerang-penyerangyang diduga perampok. Biarpun kejadian itu sangat menggelikan, tapi dalam hatiku, perbuatanku itu adalah usaha untuk membalas budi di tempo hari.

Tadi, jika kutahu, bahwa orang yang memanggil adalah Toaso, aku tentu tak akan datang ke mari. Mulai dari sekarang, di antara kita terdapat per-bedaan antara mulia dan hina, sehingga oleh ka-renanya, kita sudah tak punya sangkut paut lagi." Dengan berkata begitu, Ouw Hui menyatakan rasa tidak puasnya terhadap nyonya muda itu.

Ma It Hong menghela napas dan berkata de¬ngan suara perlahan: "Saudara Ouw, walaupun Ma It Hong bukan orang baik, tapi aku sedikitnya bukan manusia yang kemaruk akan kekayaan dan kekuasa-an. Kau tentu mengerti apa artinya 'jatuh cinta pada pertemuan pertama'. Rupanya aku dan dia sudah mempunyai ikatan semenjak penitisan yang dulu....* Semakin lama perkataannya jadi semakin perlahan, sehingga hampir tak dapat ditangkap lagi.

Mendengar kata-kata 'jatuh cinta pada per¬temuan pertama', jantung Ouw Hui memukul keras, karena kata-kata itu mengena tepat pada hatinya. Sesaat itu juga, rasa mendongkolnya lantas ber-kurang banyak.

"Baiklah," katanya. "Bantuan apa yang Toaso ingin minta? Sebenarnya permintaan Toaso sangat mengherankan. Soal apa yang masih tak dapat di-urus oleh seorang seperti Hok Thayswee?" "Aku ingin meminta pertolonganmu untuk ke¬dua anak ini," jawabnya. "Aku harap kau suka me-nerima mereka sebagai muridmu dan ajarkan me¬reka sedikit ilmu silat." Ouw Hui tertawa berkakakan. "Kedua Kongcu adalah orang yang sangat mulia, perlu apa mereka belajar silat?" katanya.

"Tapi aku rasa, belajar silat banyak baiknya untuk menguatkan dan menyehatkan badan," kata It Hong.

Sesaat itu, di luar rangon tiba-tiba terdengar seruan seorang lelaki: "Hong-moay! Kau masih be-lum tidur?" Paras muka si nyonya agak berubah dan sambil menengok kepada Ouw Hui, ia menunjuk sebuah sekosol di dekat pintu. Ouw Hui lantas saja me-lompat dan menyembunyikan diri di belakang se¬kosol itu.

Beberapa saat kemudian terdengar suara tin-dakan sepatu dan seorang lelaki masuk ke dalam.

"Mengapa kau sendiri belum tidur?" tanya It Hong. "Perlu apa kau datang ke mari?" Orang itu mencekal tangan It Hong dan berkata seraya tersenyum: "Hongsiang (kaisar) telah me-manggil aku untuk merundingkan soal ketentaraan. Pembicaraan itu baru saja selesai. Apa kau jengkel karena aku datang terlalu malam?" Ouw Hui segera mengetahui, bahwa orang itu bukan lain daripada Hok Kong An. Hatinya lantas saja berdebar-debar, karena dengan berdiam di situ, ia tak bisa tak mendengar omongan percintaan dari kedua orang itu. Di samping itu, jika ketahuan, namanya pasti akan menjadi rusak. Memikir begitu, ia segera mengasah otak untuk coba meloloskan diri.

Ia kaget bukan main karena mendadak Ma It Hong berkata: "Kong-ko, aku ingin mempertemu-kan kau dengan satu orang. Sebenarnya kau sudah pernah bertemu dengan orang itu, hanya mungkin sekali kau sudah lupa." Sehabis berkata begitu, ia berseru: "Saudara Ouw! Mari menemui Hok Thay-swee." Ouw Hui segera menghampiri dan memberi hormat.

Hok Kong An kaget bukan main. la sama sekali tak pernah mimpi, bahwa di belakang sekosol ber-sembunyi seorang lelaki. "Ini... ini..." katanya de-ngan suara terputus-putus.

"Saudara ini she Ouw bernama Hui," kata It Hong sambil tertawa. "Biarpun usianya muda, ke-pandaiannya sangat tinggi dan di antara busu-busu-mu, tak seorang pun yang dapat menandinginya. Pada waktu kau mengirim orang untuk menyambut aku, Saudara Ouw telah memberi banyak sekali pertolongan. Maka itu, aku telah mengundangnya untuk menghaturkan terima kasih dan kau harus memberi hadiah kepadanya." Paras muka Hok Kong An pucat pias. Sesudah gundiknya memberi keterangan, barulah hatinya agak lega. "Hm! Memang, memang harus meng¬haturkan terima kasih," katanya. la mengebas ta-ngan kirinya ke arah Ouw Hui dan berkata pula: "Kau pergi saja dulu. Beberapa hari lagi aku akan memanggil kau." Suaranya sangat mendongkol dan jika tidak memandang muka Ma It Hong, ia tentu sudah mencaci sebab Ouw Hui dianggap sangat kurang ajar, pertama berani masuk ke gedungnya dan bersembunyi di belakang sekosol dan kedua, tidak memberi hormat dengan menekuk lutut.

Dengan menahan amarah, Ouw Hui berjalan ke luar. "Benar sial, tengah malam buta dihina orang." katanya di dalam hati.

Begitu bertemu dengan pemuda itu, Liap Wat yang menunggu di luar segera menanya dengan suara gemetar: "Barusan Hok Thayswee masuk, apa ia bertemu dengan kau?" "Ma Kouwnio telah memperkenalkannya ke-padaku dan minta supaya Hok Thayswee memberi hadiah kepadaku," jawabnya.

"Bagus!" kata Liap Wat dengan suara girang, "Sepatah kata saja dari Ma Kouwnio sudah cukup untuk mengangkat Toako. Di hari kemudian aku sendiri akan mengikut di belakang Toako dan kita bisa bergaul terlebih rapat. Aku sungguh-sungguh merasa girang." Liap Wat menghargai Ouw Hui bukan saja karena ilmu silatnya yang sangat tinggi, tapi juga sebab wataknya yang mulia dan semua perkataannya itu diucapkan dengan setulus hati.

Mereka segera balik dengan menggunakan ja-lanan yang tadi. Waktu tiba di satu empang teratai, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kaki yang ramai dan beberapa orang mengejar mereka. "Ouw Toaya! berhenti dulu!" teriak satu antaranya.

Ouw Hui dan Liap Wat segera menghentikan tindakan dan memutar badan. Yang menyusul ialah empat orang perwira dan orang yang berjalan paling dulu mencekal sebuah kotak sulam dalam tangannya. "Ma Kouwnio mengirim sedikit hadiah untuk Ouw Toaya," katanya. "Harap Toaya suka menerimanya." "Aku tak punya pahala apa pun juga," kata Ouw Hui dengan suara mendongkol. "Tak berani aku menerima hadiah itu." "Inilah sekedar tanda mata dari Ma Kouwnio, harap Toaya jangan begitu sungkan," kata pula perwira itu.

Tapi Ouw Hui tetap menolak. "Tolong beri-tahukan Ma Kouwnio, bahwa di dalam hati aku sudah menerima hadiahnya yang berharga itu," katanya sambil memutar badan dan lalu berjalan pergi.

Dengan paras muka bingung, si perwira lantas saja menyusul. "Ouw Toaya," katanya dengan suara gemetar. "Jika kau tetap menolak, Ma Kouwnio tentu akan gusari aku. Liap Toako, kau... cobalah kau membujuk Ouw Toaya...." Ouw Hui mengawasi orang itu dengan sorot mata memandang rendah. "Dilihat dari gerakan-gerakannya, ia boleh dikatakan seorang ahli yang lumayan dalam Rimba Persilatan," katanya di dalam hati. "Hanya sayang, untuk nama dan pangkat, ia rela menjadi budaknya orang." Sebab merasa tak tega melihat kawannya yang meringis-ringis, Liap Wat menyambuti kotak itu yang diangsurkan kepadanya. Ia merasa kotak itu sangat berat dan menduga, bahwa di dalamnya berisi barang yang sangat berharga. "Ouw Toako," katanya sambil tertawa. "Perkataan Saudara ini memang sebenar-benarnya. Jika sampai dimarahi Ma Kouw¬nio, hari depannya akan menjadi rusak. Kau te-rimalah saja, supaya ia bisa memberi laporan yang memuaskan." Karena malu hati terhadap Liap Wat dan juga sebab mengingat, bahwa dengan barang berharga itu, ia bisa menolong orang-orang miskin, Ouw Hui segera menyambuti dan lalu membuka tutupnya. Ternyata dalam kotak itu berisi semacam benda yang berbentuk persegi dan yang dibungkus dengan sutera merah, sedang keempat ujung sutera itu diikat menjadi dua ikatan. "Barang apa ini?" tanya-nya sambil mengerutkan alis.

 "Aku tak tahu," jawab si perwira.

Dengan hati heran, Ouw Hui lalu membuka ikatan sutera itu. Baru saja ia membuka satu ikatan, mendadak sangat mendadak berbareng dengan suara menjepret, tutup kotak menutup sendirinya dan menggencet erat-erat kedua pergelangan ta-ngan Ouw Hui! Hampir berbareng, ia merasakan kesakitan yang hebat luar biasa, kesakitan yang meresap ke tulang-tulang. Ia merasa pergelangan tangannya dikacip dengan kacip logam yang bertenaga sangat besar. Ternyata, di dalam kotak itu, yang terbuat dari baja murni, terisi alat-alat rahasia, yang jika tersentuh, bisa menutup sendiri tutupan kotak.

Semakin lama, tutupan kotak menggencet se-makin hebat dan buru-buru Ouw Hui mengerahkan Lweekang untuk melawan. Sungguh untung, ia me-miliki tenaga dalam yang boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya kesempurnaan. Kurang sedi-kit saja, tulang-tulang kedua pergelangan tangan¬nya tentu sudah tergencet patah. Untuk menjaga patahnya tulang, ia harus terus menerus memusa-tkan tenaga dalamnya di pergelangan tangan.

Sementara itu, begitu lekas Ouw Hui terjebak, keempat perwira itu, dua di depan dan dua di belakang, segera menghunus pisau dan menempel-kan ujungsenjata-senjata merekakedadadanpung-gung Ouw Hui.

Kagetnya Liap Wat bagaikan disambar hali-lintar. Ia mengawasi dengan mata membelalak. Se-jcnak kcmudian, barulah ia bisa berkata dengan .suara putus-putus. "E... eh! Mengapa... mengapa begitu?"  "Hok Thayswee telah memerintahkan kami un-tuk membekuk penjahat Ouw Hui!" kata perwira yang menjadi pemimpin dengan suara nyaring.

"Tapi... tapi Ouw Toaya adalah tamu diundang Ma Kouwnio," kata Liap Wat. "Mengapa jadi begini?" Perwira itu tertawa dingin.

"Liap Toako," katanya. "Kau tanyakan saja Hok Thayswee. Kami hanya menerima perintah." "Ouw Toako, kau jangan takut," kata Liap Wat dengan suara keras. "Dalam hal ini pasti terselip salah mengerti. Aku akan segera menemui Ma Kouwnio dan ia pasti akan melepaskan kau." "Jangan bergerak!" bentak perwira itu. "Hok Thayswee telah mengeluarkan perintah rahasia, bahwa hal ini tak boleh dibocorkan kepada Ma Kouwnio. Kau punya berapa biji kepala?" Liap Wat jadi bingung bukan main, dari kepala dan mukanya ke luar keringat dingin. "Celaka! Kotak itu telah diserahkan olehku kepada Ouw Toako," ia mengeluh. "Seolah-olah, akulah yang mencelakakan padanya. Tapi... tapi... bagaimana aku dapat melawan perintah Hok Thayswee?" Perwira yang berdiri di belakang Ouw Hui me-nyodok dengan pisaunya, sehingga kulit punggung pemuda itu tergores dan mengeluarkan darah. "Ja-lan!" bentaknya dengan angker.

Kotak itu adalah senjata rahasia Hok Kong An yang dibuat oleh seorang ahli mesin Barat. Di dalam bungkusan sutera merah terdapat alat rahasia dan di kedua pinggir mulut kotak, yang juga dilapisi sutera, disembunyikan dua batang pisau. Begitu lekas kotak itu tertutup, pisaunya lantas bekerja.

Dengan mulut ternganga dan mata membe-lalak, Liap Wat melihat darah yang mulai mengalir keluar dari pergelangan tangan Ouw Hui dan mata pisau semakin lama menggigit semakin dalam. "Biar-pun Ouw Toako mempunyai kedosaan sebesar la-ngit, tak boleh ia dicelakakan dengan tipu yang sangat busuk ini," pikirnya. Semenjak bertemu, ia selalu mengagumi Ouw Hui dan sekarang, meng-ingat bahwa kecelakaan pemuda itu adalah lantaran gara-garanya, ia jadi nekat. Sekonyong-konyong, bagaikan kilat tangan kirinya menyambar dan men-cekal kotak itu, sedang dua jari tangan kanannya dimasukkan ke dalam lubang kotak. Sambil me-ngerahkan Lweekang, ia mengorek alat rahasia dalam kotak itu. Secara kebetulan, jari-jarinya me¬ngorek yang tepat dan mendadak, tutup kotak men-jeblak dan terbuka lebar, sehingga kedua perge¬langan tangan Ouw Hui lantas saja bebas.

Pada detik itulah, perwira yang menjadi pe¬mimpin menikam Liap Wat dengan pisaunya. Ilmu silat Liap Wat sebenarnya lebih tinggi daripada pembesar militer itu, tapi dalam tekadnya untuk menolong Ouw Hui, ia sudah tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri, sehingga pisau itu amblas di dadanya dan sambil mengeluarkan teriakan "aduh!" ia roboh tanpa bernyawa lagi.

Di saat yang sependek itu, Ouw Hui menarik napas dan dada serta punggungnya mengkeret be-berapa dim. Hampir berbareng, dengan sekali men-jejak kaki, badannya melesat ke atas. Tiga batang pisau menikam dengan berbareng. Dua pisau me-leset, tapi pisau yang ketiga membuat goresan pan-jang di lutut kanannya.

Selagi tubuhnya masih berada di tengah udara, Ouw Hui sudah menendang dengan kedua kakinya. Sesaat itu adalah saat mati hidup dan ia tak sungkan-sungkan lagi. Dua tendangannya itu dengan jitu mengenakan sasarannya dan dua perwira roboh tanpa berkutik lagi. Sebelum kedua kakinya hing-gap di tanah, perwira yang barusan membinasakan Liap Wat sudah mengirim tikaman ke kempungan Ouw Hui dengan pukulan Keng-ko-hian-touw (Keng Ko mempersembahkan gambar). Ouw Hui yang sudah mata gelap, melompat sambil berteriak keras dan mengirim tendangan geledek ke dada orang. "Duk!" badan perwira itu melayang dan jatuh di empang teratai. Belasan tulang dadanya patah se-rentak dan menurut perhitungan, ia tak bisa hidup lagi.

Perwira yang keempat jadi ketakutan setengah mati. Seraya berteriak, ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya. Dengan beberapa lompat-an saja, Ouw Hui sudah menyusul. Dengan tangan kiri mencengkeram pakaian orang, ia mengangkat tangan kanannya untuk menghantam kepala per¬wira itu. Tapi sebelum tangannya turun, di bawah sinar rembulan, ia melihat paras muka orang itu yang ketakutan dan mohon diampuni. Hatinya lan-tas saja lemas. "Dia dan aku tak punya permusuhan dan dia hanya diperintah oleh Hok Kong An," katanya di dalam hati. "Perlu apa aku mengambil jiwanya?" Ia segera menenteng tawanannya ke belakang gunung-gunungan dan membentak dengan suara perlahan: "Mengapa Hok Kong An mau menangkap aku?" "Aku... aku... tak tahu," jawabnya.

"Di mana dia sekarang? tanyanya pula.

"Hok Thayswee... Hok Thayswee keluar dari... dari tempat Ma Kouwnio, memerintahkan kami... dan kemudian masuk lagi..." jawabnya.

Ouw Hui segera menotok jalan darah gagunya seraya mengancam: "Kau berdiam di sini untuk sementara waktu, besok pagi kau tentu akan dimer-dekakan. Kalau orang tanya, kau harus mengatakan, bahwa Liap Wat telah dibunuh olehku. Jika rahasia ini bocor dan keluarga Liap sampai jadi celaka, kau kabur ke mana pun juga, aku akan ambil kepalamu!" Perwira itu yang tidak bisa bicara lagi itu, buru-buru manggutkan kepalanya.

Dengan »ikap menghorrnat Ouw Hui lain men-dukung mayat Liap Wat yang lalu ditaruhnya dalam sebuah gua di gunung-gunungan batu dan kemu¬dian, ia berlutut empat kali sebagai penghormatan terakhir. Sesudah menendang mayat kedua perwira ke dalam gerombolan rumput tinggi, ia lalu merobek ujung baju dan membalut luka di kedua pergelangan tangannya. Luka di lutut hanya luka di kulit, tapi goresannya panjang sekali. Sesudah itu, dengan darah bergolak, ia mengambil sebilah pisau dan lalu menuju ke rangon Ma It Hong dengan tindakan lebar.

Karena tahu, bahwa gedung Hok Kong An dijaga oleh banyak Sie-wie (pengawal), sedikit pun ia tak berani berlaku ceroboh. Sebelum maju, ia selalu mengintip lebih dulu dari belakang pohon atau gunung-gunungan. Baru saja tiba di dekat jembatan, di sebelah depan sekonyong-konyong mun-cul dua sinar tengloleng dan beberapa saat kemudian ia melihat bahwa orang yang mendatangi adalah Hok Kong An sendiri, yang diking oleh delapan Wie-su. Untung juga, dalam taman itu terdapat banyak sekali perhiasan taman yang dapat digunakan sebagai tempat menyembunyikan diri. Dengan cepat ia melompat ke belakang sebuah batu yang berbentuk seperti rebung.

"Kau pergi periksa penjahat she Ouw itu," kata Hok Kong An kepada salah seorang pengawalnya. "Tanyakan seterang-terangnya, bagaimana ia bisa mengenal Ma Kouwnio dan ada hubungan apa antara mereka berdua. Tanyakan juga, perlu apa dia datang ke gedungku di tengah malam buta. Rahasia ini tidak boleh dibocorkan kepada Ma Kouwnio. Sesudah kau memeriksa lekas-lekas lapor kepadaku. Mengenai penjahat itu... hm... kau harus ambil jiwanya malam ini juga." Seorang Wie-su lantas saja mengiyakan. "Jika Ma Kouwnio tanya, katakan saja, aku sudah menghadiahkan tiga ribu tahil perak kepada-nya dan memerintahkan supaya dia pulang ke kam-pungnya sendiri," kata pula Hok Kong An. "Baik, baik," jawab Wie-su itu. Bukan main gusarnya Ouw Hui. Sekarang baru ia tahu, bahwa sebab menduga gundiknya mempu-nyai hubungan rahasia dengan dirinya, tanpa me-nyelidiki lebih dulu, Hok Kong An sudah turunkan tangan jahat. Ia marah bercampur duka, sebab mengingat Liap Wat yang sudah mesti mengor-bankan jiwa dengan cuma-cuma.

Jika mau, waktu itu juga ia bisa mengambil jiwa Hok Kong An. Tapi, karena baru datang di kota raja dan belum tahu seluk beluknya hal dan juga karena mengingat, bahwa pembesar itu memegang kekuasaan sangat penting atas ketentaraan, maka ia tidak berani bertindak secara sembrono.

Ia bersembunyi terus di belakang batu itu dan sesudah Hok Kong An dan pengiringnya lewat, barulah ia menyusul Wie-su yang diperintah untuk memeriksa dirinya. Wie-su itu yang berjalan sambil bersiul-siul, sedikit pun tidak merasa, bahwa dirinya sedang dikejar orang. Tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok dan ia roboh tanpa berteriak.

Sesudah merobohkan pengawal itu, Ouw Hui lalu menguntit rombongan Hok Kong An dari se-belah kejauhan. "Ada urusan apa Loo-tay-tay me-manggil aku di tengah malam buta?" demikian ter-dengar suara Hok Kong An. "Siapakah yang berada sama-sama Loo-tay-tay?" (Loo-tay-tay berarti nyo-nya besar).

"Hari ini Kongcu (Puteri) masuk ke keraton dan sekembalinya dari keraton, ia terus menemani Loo-tay-tay," jawab seorang.

Hok Kong An mengeluarkan suara "hm" dan tidak menanya lagi.

Sesudah melewati lorong-lorong yang indah buatannya, tibalah mereka di depan sebuah gedung yang dikurung dengan pohon-pohon bambu. Hok Kong An lalu masuk ke gedung itu dan para penga¬walnya menjaga di luar.

Dengan memutari pohon-pohon bambu, Ouw Hui pergi ke belakang gedung, dari mana ia melihat sinar api di jendela sebelah utara. Indap-indap ia mendekati jendela itu dan lalu mengintip. Dalam sebuah ruangan kelihatan duduk dua orang wanita yang beroman agung dan yang berusia kira-kira tiga  puluh tahun. Di dekat mereka terdapat seorang wanita tua yang berusia lima puluh tahun lebih dan di samping kiri wanita tua itu, berduduk dua wanita lain. Kelima wanita tersebut semuanya mengenakan pakaian yang sangat indah dan perhiasan dengan batu-batu permata yang berharga mahal.

Begitu masuk, Hok Kong An lebih dulu mem-beri hormat kepada dua wanita yang berusia tiga puluhan dan kemudian barulah ia memberi hormat kepada si wanita tua dengan memanggil "ibu". Dua wanita yang lain sudah bangun berdiri berbareng dengan masuknya ke dalam ruangan itu. Siapa sebenarnya Hok Kong An? Ayah pangeran itu, Po Heng namanya, adalah adik lelaki dan permaisuri Kian-liong. Isteri Po Heng terkenal sebagai wanita Boan yang tercantik. Waktu nyonya Po Heng masuk ke keraton, Kian-liong merasa tertarik. Mereka mengadakan perhu-bungan rahasia dan mendapat seorang putera, yaitu Hok Kong An. Dengan mendapat pengaruh dari kakak perempuannya, isterinya dan puteranya, Po Heng sangat disayang oleh Kian-liong yang be-lakangan mengangkatnya sebagai perdana menteri. Dua puluh tiga tahun lamanya ia menjabat pangkat yang tinggi itu dan waktu cerita ini terjadi, ia sudah meninggal dunia.

Ia mempunyai empat orang putera. Putera su-lung, Hok Leng An, menikah dengan seorang puteri Kian-liong dan diangkat sebagai To-lo Hu-ma. Be-lakangan, karena membuat pahala dalam pepe-rangan di Huikiang, ia dianugerahi pangkat Hui-touw-tong (wakil pemimpin) dari Pasukan Bendera Putih.

 Putera kedua, Hok Liong An, menikah dengan Puteri dan diangkat sebagai Ho-sek Hu-ma. Berkat kepandaiannya, ia akhirnya diangkat menjadi Kong-po Siang-sie (menteri urusan pekerjaan umum).

Hok Kong An sendiri adalah putera ketiga. Banyak orang merasa heran, mengapa sedang kedua kakaknya menikah dengan puteri kaisar, ia sendiri yang paling dicintai oleh Kian-liong, tidak diambil sebagai menantu? Tentu saja orang-orang itu tak tahu, bahwa Hok Kong An sebenarnya adalah pu¬tera kaisar itu sendiri. Di ini waktu, ia menjabat pangkat Peng-po Siang-sie (menteri pertahanan), merangkap Thaycu Thaypo (pelindung putera mah-kota).

Putera keempat menjabat pangkat Houw-po Siang-sie dan belakangan diangkat sebagai raja muda. Dengan demikian, pada jaman itu, seluruh keluarga Hok Kong An menduduki tempat yang sangat tinggi dan memegang peranan penting dalam pemerintahan (Houw-po Siang-sie = Menteri Ke-uangan).

Kedua wanita yang beroman agung, duduk di tengah-tengah, adalah puteri-puteri kaisar yang menjadi 'nso (isteri kakak lelaki) Hok Kong An. Ho-kee Kongcu adalah seorang wanita yang cerdas, pandai dan bisa mengambil hati, sehingga sangat dicintai Kian-liong, yang sering sekali memanggil-nya ke istana untuk diajak beromong-omong. Wa-laupun kedua puteri itu sanak yang sangat dekat, akan tetapi secara resmi hubungan antara mereka dan Hok Kong An adalah hubungan antara raja dan menteri, maka menurut adat istiadat, pembesar itu harus memberi hormat terlebih dulu. Dua wanita  lainnya, yang satu Hailan-sie, isteri Hok Kong An sendiri, sedang yang lain isteri Hok Tiang An.

Sesudah duduk di kursi sebelah timur, Hok Kong An bertanya: "Mengapa Jie-wie Kongcu dan ibu belum tidur?" "Mendengar kau sudah punya anak, Jie-wie Kongcu merasa sangat girang dan ingin bertemu dengan mereka," jawab sang ibu.

Hok Kong An tersenyum sambil melirik isteri-nya. "Wanita itu orang Han," ia menerangkan. "Dia belum paham akan adat istiadat, maka aku belum berani mengajaknya menemui Kongcu dan ibu." "Wanita yang dipenuju Kong-loo-sam sudah pasti bukan wanita sembarangan," kata Ho-kee Kongcu sembari tertawa. "Kami bukan ingin me¬nemui perempuan itu. Maksud kami ialah ingin melihat kedua puteramu. Pergilah panggil. Hu-hong pun ingin sekali melihat mereka." (Hu-hong = ayahanda Kaisar).

Hok Kong An jadi girang sekali. Ia merasa pasti, bahwa Kian-liong akan senang melihat kedua pu¬teranya yang cakap dan mungil. Ia segera menyuruh seorang budak untuk menyampaikan perintahnya kepada pengawal supaya kedua puteranya dibawa ke situ.

Ho-kee Kongcu tertawa pula. "Hari ini, waktu berada di keraton, Bu-houw mengatakan, bahwa Kong-loo-sam pandai sungguh menutup rahasia," katanya. "Selama beberapa tahun, kami semua kena dikelabui. Mengapa kau tidak lekas-lekas mengam-bil mereka? Awas! Hu-hong akan keset kulitmu." "Soal kedua anak itu baru diketahui olehku pada bulan yang lalu," menerangkan Hok Kong An.

 Berkata sampai di situ, dua babu susu sudah datang membawa kedua puteranya. Hok Kong An lantas saja memerintahkan mereka memberi hormat kepada kelima wanita itu. Mereka ternyata sangat dengar kata dan meskipun matanya mengantuk, mereka lantas saja memberi hormat dengan berlutut di hadapan lima nyonya besar itu.

Melihat kedua bocah yang sangat cakap itu, mereka jadi girang sekali. "Kong-loo-sam," kata pula Ho-kee Kongcu. "Muka mereka sangat mirip de-nganmu. Andaikata kau mau menyangkal, kau tak akan dapat menyangkal." Sebenarnya Hai-lan-sie merasa agak mendong-kol, tapi sesudah melihat mungilnya kedua bocah itu, ia turut bergirang dan lalu memeluknya erat-erat. Mereka semua sudah menyediakan hadiah yang lantas saja diberikan kepada kedua anak itu.

"Hm! Sedari kecil sudah pandai menjilat-jilat," kata Ouw Hui di dalam hati. "Kalau besar, mereka tak bisa jadi manusia baik." Loo hu-jin menggapai seorang budak perem¬puan yang berdiri di belakang. "Kau pergi kepada Ma Kouwnio dan beritahukan, bahwa malam ini mereka tidur di tempatku dan Ma Kouwnio tak usah tunggui mereka," katanya. Budak itu lantas saja mengiakan dan berjalan ke luar untuk menjalankan perintah itu. Sesudah itu, Loo-hu-jin berpaling ke¬pada seorang budak lain dan berkata pula: "Kau bawa semangkok som-thung (godokan yo-som) ke¬pada Ma Kouwnio. Beritahukanlah, bahwa aku akan menjaga kedua anak itu baik-baik dan dia tak usah memikirkannya." (Loo-hu-jin = Nyonya tua, ibu Hok Kong An).

Mendengar perkataan itu, tangan Hok Kong An yang sedang mencekal cangkir teh, jadi ber-gemetaran, sehingga air teh tumpah ke pakaiannya. Paras mukanya berubah pucat dan mulutnya tcr-nganga. Budak itu segera menaruh mangkok som-thung ke dalam sebuah rantang yang dicat air emas dan lalu berjalan ke luar dari ruangan itu.

Kedua Kongcu, Hai-lan-sie dan isteri Hok Tiang An saling melirik dan kemudian meninggal-kan ruangan itu. Kedua bocah itu menangis keras dan memanggil-manggil ibunya. "Anak baik, jangan menangis," kata Loo-hu-jin. "Ikutlah Nai-nai (babu susu). Mereka akan memberikan kembang gula kcpadamu." la rriengebas tangannya supaya kedua babu susu itu membawa mereka ke luar $c*uctah itu, ia memberi lsyarat kepada semua budak yanji lantas saja mengundurkan diri, sehingga yang ber-ada dalam ruangan itu hanyalah si nenek dan Hok Kong An sendiri. Untuk beberapa lama ruangan itu sunyi senyap. Loo-hu-jin mengawasi puteranya, tapi Hok Kong An melengos.

Sesudah selang beberapa lama, Hok Kong An menghela napas panjang. "Ibu, mengapa kau tidak bisa berlaku sedikit murah hati terhadapnya?" tanyanya.

"Apa perlu kau menanyakan itu?" sang ibu balas tanya. "Dia seorang Han, hatinya sukar ditebak. Apalagi dia berasal dari kalangan piauw-hang. Dia pandai bersilat dan biasa menggunakan senjata. Dalam gedung ini terdapat dua Kongcu dan mereka tentu saja tidak 1)isa tinggal bersama-sama dengan perempuan semacam itu. Pada sepuluh tahun ber-selang, Hong-siang pernah berada dalam bahaya besar karena gara-gara seorang wanita asing. Apa kau lupa? Manakala perempuan yang seperti ular berbisa itu berdiam terus bersama-sama kami, kami semua tidak akan enak makan dan enak tidur lagi." "Apa yang dikatakan ibu memang tak salah," kata Hok Kong An. "Anak pun sebenar-benarnya bukan sengaja menyambut dia datang ke mari. Anak hanya menyuruh orang menengoknya dan mem¬berikan sedikit uang kepadanya. Di luar dugaan, dia telah melahirkan dua putera yang menjadi darah dagingku." Sang ibu mengangguk seraya berkata: "Usiamu sudah mendekati empat puluh tahun dan kau belum punya anak. Dilahirkannya anak itu tentu saja me-rupakan kejadian yang sangat menggirangkan. Kami akan memeliharanya dan mendidiknya baik-baik, supaya di hari kemudian mereka bisa mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, hati ibu^ nya pun bisa terhibur." Hok Kong An menunduk dan untuk beberapa saat, ia tidak mengeluarkan sepatah kata. "Tadinya anak ingin mengirim perempuan itu ke tempat yang jauh supaya dia tidak bisa bertemu muka lagi de-nganku dan dengan kedua anaknya," katanya de¬ngan suara perlahan. "Tak dinyana ibu...." Paras muka nyonya tua itu lantas saja berubah gusar. "Sungguh percuma kau memegang pangkat tinggi, kalau soal ini saja masih belum dimengerti olehmu!" bentaknya dengan suara keras. "Apa kau kira, sedang kedua puteranya berada di sini, dia rela menerima nasib dengan begitu saja? Ingatlah! Dia perempuan Kang-ouw yang bisa melakukan per-buatan apa pun jua!" Mendengar perkataan ibunya, Hok Kong An hanya manggut-manggutkan kepalanya.

Sesudah berdiam sejenak, nyonya tua itu ber-kata pula: "Kau perintah orang menguburkannya dengan upacara besar itu sudah cukup untuk me-nyatakan kecintaanmu...." Si anak kembali manggutkan kepala.

Bukan main kagetnya Ouw Hui yang men-dengarkan di luar jendela. Semula ia tidak begitu mengerti pembicaraan antara ibu-anak itu dan se¬sudah mendengar kata-kata "menguburkannya de¬ngan upacara besar", barulah ia terkesiap. Sekarang ia tahu, bahwa nyonya tua yang kejam itu ingin merampas anaknya dengan membunuh ibunya. Ia yakin, bahwa untuk menolong jiwa Ma It Hong, ia tidak boleh berayal lagi. la segera meninggalkan gedung itu dan dengan menggunakan ilmu meng-entengkan badan, ia berlari-lari ke rangon di atas air. Untung juga waktu itu sudah jauh malam dan di dalam taman tidak terdapat satu manusia pun, sedang pembunuhan yang terjadi tadi juga belum diketahui orang. Sembari lari, Ouw Hui bimbang. "Ma Kouwnio sangat mencintai Hok Kong An," pikirnya. "Apa dia percaya keteranganku? Apa dia suka mengikut aku untuk melarikan diri? Hai! Ba-gaimana baiknya?" Begitu tiba, ia lihat empat orang pengawal di luar rangon. "Hm! Mereka sudah menyediakan orang untuk menjaga kaburnya Ma Kouwnio," katanya di dalam hati. Karena tak mau mengagetkan orang-orang itu, ia lalu pergi ke belakang rangon dengan mengambil jalan memutar. Dengan sekali meng-enjot badan, ia sudah melompati empang dan ke-mudian, dengan indap-indap ia menghampiri jen-dela. Mendadak, hatinya mencelos dan mengawasi ke dalam dari celah-celah jendela dengan mata membelalak. Apa yang dilihatnya? Ma It Hong rebah di atas lantai sambil memegang perut dan merintih, sedang paras mukanya pucat pasi! Dalam ruangan itu tidak terdapat lain manusia.

"Celaka! Aku terlambat," ia mengeluh sambil mendorong jendela dan melompat masuk. Napas nyonya itu tersengal-sengal, mukanya bersorot hijau dan kedua matanya merah, seperti mau mengeluar-kan darah.

Melihat Ouw Hui, ia berkata dengan suara terputus-putus: "Perut... perutku sakit.... Saudara Ouw... kau...." Suaranya semakin lemah dan sesudah mengatakan, "kau", ia tak dapat bicara lagi.

"Kau makan apa tadi?" tanya Ouw Hui.

It Hong tidak menjawab, hanya matanya meng¬awasi sebuah mangkok dengan lukisan bunga emas yang terletak di atas meja. Ouw Hui kenali, bahwa mangkok itu adalah mangkok somthung. "Nenek itu sungguh jahat," pikirnya. "Sebelum mengirim som¬thung, lebih dulu ia memanggil kedua bocah itu. Rupanya ia khawatir Ma Kouwnio akan membagi makanan mahal itu kepada puteranya.... Ya, se-karang aku ingat. Waktu ibunya menyuruh budak membawa somthung itu, paras muka Hok Kong An berubah dan tangannya bergemetar, sehingga air teh tumpah di pakaiannya. Ia tentu sudah tahu, bahwa dalam somthung itu ditaruh racun. Tapi dia tidak coba mencegah atau menolong. Biarpun bu-kan dia yang meracuni, tapi did turut berdosa. Hm! Sungguh kejam!"  Sesudah mengumpulkan tenaga, Ma It Hong berkata pula dengan suara lemah. "Kau... beri-tahukan Hok Kongcu... minta... panggil tabib...." Ouw Hui tidak menjawab, tapi mendengar per-kataan si nyonya, ia segera ingat, bahwa orang satu-satunya yang dapat menolong adalah adik ang-katnya, Leng So.

Memikir begitu, ia segera mengambil kain alas kursi dan membungkus mangkok somthung itu yang lalu dimasukkan ke dalam sakunya. Ia mendengar-kan sejenak dan sesudah melihat di luar rangon tidak terdengar sesuatu yang luar biasa, ia lalu memanggul tubuh It Hong dan melompat ke luar dari jendela.

Nyonya itu kaget dan berteriak dengan suara pcrlahan: "Ouw...." Ouw Hui menekap mulut It Hong dengan ta¬ngannya. "Jangan ribut, aku mau bawa kau kepada tabib," bisiknya.

"Anakku..." kata pula nyonya itu.

Ouw Hui tidak meladeni. Dengan tergesa-gesa ia menggenjot tubuh dan raelompati empang yang memisahkan rangon itu dari taman bunga. Tapi baru saja ia mau kabur, sudah terdengar suara tindakan dua oiang yang mengejar dari belakang. "Siapa?" bentak saiah seorang itu.

Ouw Hui tidak menjawab dan terus lari dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Sesudah kabur puluhan tombak, tiba-tiba ia menghentikan tindakan dan begitu lekas kedua pengejarnya da-tang dekat, ia melompat tinggi saivj-i'i menendang dengan kedua kakinya yang tepal di jalan darah Sinlong-hiat, di punggung kedua orang itu. Tanpa  bersuara mereka terguling. Dilihat dari pakaiannya, mereka adalah Wie-su yang menjaga di luar rangon.

Sesudah merubuhkan kedua pengawal itu, de¬ngan cepat Ouw Hui mencari jalan ke luar. Se-konyong-konyong dari beberapa sudut gedung, ter-dengar suara teriakan dan bentakan: "Tangkap! Tangkap pembunuh!" Untung juga, waktu baru datang, ia memper-hatikan jalanan, sehingga sekarangtanparagu-ragu, ia segera mengambil jalan semula yang menerus ke sebuah pintu kecil. Setibanya di depan pintu, ia segera melompati tembok dan dengan girang ia mendapat kenyataan, bahwa kereta yang ditum-panginya tadi, masih menunggu di situ. Buru-buru ia memasukkan Ma It Hong ke dalam kereta seraya berkata: "Pulang!" Mendengar suara ribut-ribut di dalam gedung dan melihat paras muka Ouw Hui yang luar biasa, si kusir membuka mulut menanyakan keterangan. Tapi sebelum ia sempat bicara, tangan pemuda itu sudah melayang dan ia rubuh di tanah.

Sesaat itu, dari dalam gedung sudah muncul empat-lima Wie-su yang mengejar sambil berteriak-teriak. Ouw Hui segera mencekal les dan menga-burkan kudanya sekeras-kerasnya. Sesudah menge¬jar belasan tombak, pengejar-pengejar itu kembali ke gedung sembari berteriak-teriak: "Kuda! Lekas siapkan kuda!" Dengan hati berdebar-debar Ouw Hui terus membedal kuda. Sesudah lari kira-kira satu lie, mendfidak terdengar teriakan-teriakan dan dua pu-luh lebih Wie-su yang menunggang kuda mengejar dari belakang. Kuda-kuda itu adalah binatang pilih an, sehingga semakin lama mereka datang semakin dekat.

Ouw Hui jadi bingung. "Aku berada di kota raja yang tidak boleh dipersamakan dengan kota-kota lain," pikirnya. "Dengan adanya suara ribut-ribut, tentara peronda kotabisasegera turut turun tangan dan aku sukar meloloskan diri lagi." Ia menengok ke belakang dan lihat semua pe-ngejar itu membawa obor. Ia melirik kepada Ma It Hong dan hatinya jadi semakin berkhawatir. Tadi nyonya itu masih merintih, tapi sekarang suara rintihannya sudah tidak terdengar lagi. "Ma Kouw-nio," ia memanggil. "Perutmu sakit?" Ia memanggil beberapa kali, tapi It Hong tetap tidak menjawab.

Ia menengok lagi dan melihat pengejar-pe¬ngejar sudah datang terlebih dekat. Tiba-tiba se-bulir batu Hui-hong-sek menyambar punggungnya. Dengan cepat ia menangkapnya dan balas menim-puk. Sambil mengeluarkan teriakan keras, orang itu jatuh terguling.

0 Response to "Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 11"

Post a Comment