Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 4

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Jilid 4

Begitu lekas ketujuh orang menghampiri pintu kamar, Ouw Hui segera loncat ke bclakang sekosol untuk mencari tahu, jebakan apa yang mereka se-dang pasang.

Tiba-tiba ia dengar suara orang menghidupkan bahan api. Ia terkesiap sebab mengetahui, begitu lekas lilin disulut, ia tak dapat sembunyikan dirinya lagi di belakang sekosol.

Sekali menyapu kamar itu dengan matanya, ia dapat lihat satu ranjang yang kelambunya diturun-kan, tapi di depannya tidak terdapat sepatu, se¬hingga dapat dipastikan, pembaringan itu tidak se-dang ditiduri orang. Dengan cepat ia loncat ke depan tempat tidur itu, membuka kelambunya lalu masuk ke dalam seiimut. Gerakannya itu luar biasa cepat dan enteng, sehingga meskipun ketujuh orang itu mempunyai kepandaian tinggi, tak ada satu pun yang mengetahui.

Begitu masuk ke dalam selimut sulam, bukan main terkejutnya Ouw Hui, lantaran tangannya tersentuh dengan tubuh manusia dan hidungnya mengendus bebauan yang sangat harum. Tak bisa salah lagi, manusia itu adalah seorang wanita!

Selama hidup dua puluh tujuh tahun lamanya, belum pernah ia menyenggol badan seorang wanita. Maka itu, tidaklah heran, ia kaget bagaikan dipagut ular. Ia ingin segera merosot turun, akan tetapi lilin sudah disulut dan malahan satu orang menghampiri sekosol sambil melongok-longok, dengan satu ta-ngan memegang ciak-tay (tempat menancap lilin).

"Di sini tidak ada manusia, kita boleh bicara," katanya sambil menghampiri kursi.

Apa yang membikin Ouw Hui jadi lebih kaget lagi adalah bebauan harum diendus olehnya. We-wangian itu adalah wewangian yang digunakan Biauw Yok Lan.

"Apakah Biauw Kouwnio?" ia menanya dirinya sendiri dengan hati berdebar-debar. "Ah! Kedosaan-ku benar-benar besar! Tapi... tapi, jika aku keluar sekarang, beberapa orang itu, yang melihat, aku tidur bersama-sama Biauw Kouwnio, tentu akan menyiarkan omongan gila-gila. Dengan demikian, namanya Biauw Kouwnio yang suci bersih, dirusak olehku. Ah! Tak lain jalan daripada terus menunggu sampai mereka keluar dari kamar ini. Sesudah itu, barulah aku memohon maaf dan berlalu dari sini." Setelah mengambil putusan itu, ia lalu menggeser badannya sejauh mungkin dari nona Biauw.

Meskipun tak dapat bergerak akibat totokan pada jalan darahnya, kesadaran Biauw Yok Lan sedikit pun tidak berkurang. Ketika Ouw Hui masuk ke dalam pembaringan, kagetnya bagaikan disambar geledek. Dalam keadaan yang tidak berdaya, ia meramkan kedua matanya dan pasrahkan nasibnya kepada Tuhan. Akan tetapi, sesudah lewat bebe¬rapa saat, ia dapat kenyataan bukan saja pemuda itu tidak berlaku kurang ajar, tapi malahan men-jauhkan dirinya. Hatinya menjadi agak lega dan timbullah perasaan herannya.

Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya dan apa mau, pada saat itu, Ouw Hui pun sedang mengawasi padanya.

Sementara itu, di luar sekosol sudah terdengar suara orang bicara. "Say Congkoan," kata satu orang. "Benar-benar perhitunganmu jitu seperti perhi-tungan dewa. Itu Kim-bian-hud, yang disohori se-bagai manusia yang tiada tandingannya dalam dunia ini, tanpa merasa masuk ke dalam jebakan dan walaupun dia mempunyai sayap, tak nanti dia bisa terbang kabur."

Orang yang menyuluhi kamar dengan membawa ciak-tay, lantas saja tertawa terbahak-bahak. "Thio Hiantee (adik Thio)," kata ia. "Jangan kau terlalu memuji-muji aku. Sesudah usaha kita berhasil, aku tentu tak akan melupakan kalian semua."

Mendengar begitu, bukan main kaget Ouw Hui dan Yok Lan. Orang-orang itu ternyata sedang mengatur jebakan untuk mencelakakan Biauw Jin Hong.

Nona Biauw yang tidak mengenal seluk-beluknya Kangouw, masih belum seberapa kaget. Ia menganggapnya ayahnya yang mempunyai ilmu silat luar biasa tinggi, tak akan dapat dicelakakan oleh siapa juga.

Malah Ouw Hui yang terkejut bagaikan disambar petir. Ia mengetahui, bahwa Say Congkoan adalah ahli silat nomor satu di dalam kerajaan bangsa Boan, dengan mempunyai lwee-kang dan gwakang yang bersamaan tingginya. Di samping itu, dengan kelicikannya dan kelicinannya, entah sudah bcrapa banyak ksatria pencinta negeri yang cclaka dalam tangannya. la adalah Wie-su utama yang paling dipercaya oleh kaisar Kianliong. Sekarang, dcngan membawa begitu banyak pem-bantu, ia sendiri datang di Giok-pit-hong, sehingga Ouw Hui merasa sangat khawatir Biauw Jin Hong sukar terlolos dari tangannya.

Sesaat itu juga, Ouw Hui segera mengambil putusan yang sangat berani. Dengan cepat ia mem-buka kelambu dan sambil mengerahkan tenaga da¬lam, ia mengebaskan tangannya ke arah api lilin. Dengan suatu suara "bt", lilin itu padam, tanpa diketahui oleh siapapun juga, bahwa itu adalah perbuatannya seorang tetamu malam.

"Ah! Lilin padam!" berkata satu orang.

Pada waktu itulah, dari luar kembali masuk sejumlah orang.

"Lekas sulut lilin!" berkata seorang lain.

"Nyalakan lampu saja," kata orang ketiga.

"Aku rasa, lebih baik kita omong-omong dalam kegelapan," demikian terdengar suaranya Say Cong-koan. "Biauw Jin Hong sangat licin. Jika ia lihat sinar api, mungkin sang ikan yang sudah menelan umpan, akan dapat meloloskan did."

Semua orang lantas menyetujui pikiran itu. "Pemandangan Congkoan adalah sangat jauh dan bekerja secara sangat hati-hati," kata seseorang.

Sekosol digeserkan dan kamar penuh orang, ada yang duduk di atas lantai, ada yang duduk di atas meja dan tiga orang duduk di pinggir ranjang.

Ouw Hui sangat khawatir, kalau-kalau dalam ca-painya, ketiga orang itu merebahkan dirinya di atas pembaringan. Maka itu, lantas saja ia menggeser badannya sampai ke tepi belakang ranjang.

Waktu itu, Ouw Hui sudah mengambil suatu keputusan pasti, bahwa jika tempat sembunyinya diketahui orang, walaupun harus membuang jiwa, ia akan binasakan itu delapan belas orang. Seorang pun ia tak akan kasih hidup terus untuk mencegah ter-nodanya nama Biauw Yok Lan. Tapi untung ketiga orang itu duduk di pinggir ranjang.

Ouw Hui belum mengetahui, bahwa Yok Lan kena ditotok jalan darahnya. Ia khawatir berbareng girang, ketika melihat nona Biauw tidak meng-gcserkan diri.

"Saudara-saudara," demikian terdengar pula sua¬ranya Say Congkoan. "Sekarang biarlah Touw Chungcu lebih dulu memperkenalkan kalian."

"Aku merasa sangat bersyukur dan berterima kasih, bahwa saudara-saudara sudah sudi berkun-jung kemari," kata Touw Sat Kauw. "Yang ini adalah Congkoan Gie-cian Sie-wie (pemimpin pasukan pe-ngawal pribadi kaisar) Say Tayjin. Nama Say Tayjin sudah lama menggetarkan Rimba Persilatan dan aku rasa, kalian semua juga sangat ingin berjumpa dengannya."

Semua orang lantas saja mengeluarkan kata-kata pujian dan mengangkat-angkat

Mendengar nama-nama yang diperkenalkan Touw Sat Kauw, lebih-lcbih terkejutnya Ouw Hui.

Di scbelah Say Congkoan dan tujuh Gie-cian Sie-wie itu, setiap orang adalah jagO kenamaan dalam kalangan Kang-ouw, antaranya Hian Bengcu dari Ceng-cong-pay, Leng-ceng Kie-su dari Kun-lun-san, Chio Loo-kun-su (guru silat) dari Thay-kek-bun di Holam dan sebagainya.

Ouw Hui memasang kupingnya. la merasa sa¬ngat heran, olch karena Touw Sat Kauw sudah berhenti, setelah ia selesai memperkenalkan enam belas orang. Dalam kamar itu terdapat delapan belas orang, sehingga disamping dia sendiri, se-harusnya ada tujuh belas orang. Siapa yang satunya lagi?

Selain Ouw Hui, bcberapa orang lain juga sadar akan kckurangan itu. "Masih kurang satu orang," kata seorang. "Siapa saudara itu?"

Agak luar biasa, Touw Sat Kauw tidak men-jawab. Sesudah lewat bcberapa saat, adalah Say Congkoan yang membuka mulut: "Baiklah! Aku yang memberitahukan. Saudara itu adalah pemim-pin Hin-han-kay-pang, Hoan Pangcu!"

Semua orang terkesiap. Beberapa antaranya yang kupingnya terang, sudah dapat mendengar, bahwa Hoan Pangcu kena dibekuk oleh pembesar negeri. Beberapa orang lainnya mengetahui, bah¬wa pemimpin Partai Pengemis itu selalu ber-musuhan dengan pihak kerajaan dan munculnya dengan bergandengan tangan dengan rombongan Sie-wie, sudah membikin semua orang menjadi heran.

"Duduknya persoalan adalah begini," mene-rangkan Say Congkoan sembari tertawa. "Hari ini saudara-saudara datang ke sini atas undangan Touw Chungcu untuk menghadapi Swat San Hui Ho. Akan tetapi, sebclum kita merobohkan si Rase Terbang, lebih dulu kita ingin membekuk seorang 'Pousat'."

"Kim-bian-hud?" menanya seorang sembari ter¬tawa.

"Benar," sahut Say Congkoan. "Kami sudah banyak menyusahkan Hoan Pangcu, dengan tu-juan memancing Biauw Jin Hong supaya ke kota raja guna menolongi Pangcu yang dikatakan ter-tangkap pembesar negeri. Akan tetapi, ikan besar itu luar biasa licinnya dan tidak mencaplok pan-cing."

Di antara ketujuh Sie-wie itu ada seorang yang mendehem, akan tetapi tidak berkata apa-apa. Da¬lam keterangannya itu. Say Congkoan telah mc-nyembunyikan suatu hal. Duduknya urusan yang sebenarnya adalah begini: Begitu mendengar Hoan Pangcu dipenjarakan, seorang diri Biauw Jin Hong menyatroni penjara istana guna memberi perto-longan. Usahanya itu gagal, akan tetapi pedangnya yang lihay sudah membinasakan sebelas Sie-wie dan malahan Say Congkoan sendiri mendapat luka. Da¬lam memasang jebakannya, Say Congkoan sudah membikin persiapan sangat hati-hati. Akan tetapi, apa mau dikata, kepandaiannya Biauw Jin Hong adalah sedemikian dahsyat, sehingga dapat meno-blos keluar dari lubang jarum. Kejadian itu dianggap oleh Say Congkoan sebagai kejadian yang sangat memalukan dan sungkan menceritakan kepada lain orang.

"Touw Chungcu dan Hoan Pangcu adalah orang-orang yang mempunyai pribudi sangat tebal dan sudah berjanji akan membantu kami," kata lagi Say Congkoan. "Aku berterima kasih tak habisnya dan sesudah usaha kita berhasil, aku tentu akan mem¬beri laporan kepada Hongsiang, agar semua orang mendapat ganjaran dan hadiah yang setimpal de¬ngan jasanya...."

Baru berkata sampai di situ, di kejauhan men-dadak terdengar suara tindakan yang cepat dan enteng sekali. Kuping Say Congkoan sangat tajam. "Kim-bian-hud!" katanya, hampir berbisik. "Kami bersembunyi, saudara-saudara lainnya pergilah me-nyambut dia."

Touw Sat Kauw, Hian Bengcu, Leng-ceng Kie-su dan yang Iain-lain segera bangun dan berjalan keluar, meninggalkan tujuh Wie-su yang bersem¬bunyi di dalam kamar. Dalam sekejap, suara tin¬dakan sudah berada di luar pekarangan rumah. Kecepatan bergeraknya orang itu sungguh sukar dilukiskan dengan kalam.

Bagaikan seorang pelaut yang tengah mengha-dapi badai, Say Congkoan dan enam rekannya ber-debar-debar hatinya dan tanpa merasa, lalu men-cabut senjata.

"Sembunyi!" memerintah Say Congkoan.

Satu Wie-su menghampiri ranjang dan bergerak untuk membuka kelambu, dengan niat bersembunyi di tempat tidur itu.

"Tolol!" membentak Say Congkoan, "Sembunyi di ranjang seperti juga tidak bersembunyi!"

Orang itu urungkan niatnya dan ketujuh pe-ngawal kaisar tersebut segera mencari tempat sembunyi yang dirasa baik, ada yang masuk ke kolong ranjang ada yang menutup dirinya di dalam lemari, ada yang melingkar di rak buku dan se-bagainya.

Ouw Hui tertawa geli. "Kau maki orang tolol, tapi kau sendiri yang tolol," katanya di dalam hati.

Sementara itu, di luar kamar sudah terdengar suara tertawanya Touw Sat Kauw dan Chio Loo-kun-su, dan beberapa saat kemudian, mereka meng-antar seorang tetamu masuk ke dalam kamar sam-ping itu. Diam-diam Touw Sat Kauw mendongkol berbareng heran. Kenapa tak ada satu pun bujang yang munculkan diri? Akan tetapi, berhubung de¬ngan mendesaknya keadaan, ia tak mempunyai wak-tu lagi untuk menyelidiki hal itu.

Touw Sat Kauw melirik Biauw Jin Hong. Paras muka jago itu ternyata tetap tenang, seperti juga tiada kejadian suatu apa yang luar biasa.

Sesudah semua orang mengambil tempat du-duknya, Touw Sat Kauw segera berkata: "Biauw-heng! Aku dan Swat San Hui Ho telah mengadakan perjanjian, untuk mengadu silat di tempat ini, pada had ini. Bantuan yang diberikan oleh Biauw-heng dan beberapa saudara lainnya, aku hanya dapat mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Sekarang siang sudah berganti malam, tapi Swat San Hui Ho belum juga muncul. Mungkin sekali, mendengar kedatangannya saudara-saudara, dia jadi ketakutan dan sembunyikan buntut rasenya."

Bukan main gusarnya Ouw Hui. Kalau menuruti adatnya, sesaat itu juga ia sudah keluar menerjang.

Biauw Jin Hong hanya mengeluarkan satu suara "Hm." Ia berpaling kepada Hoan Pangcu seraya berkata: "Hoan-heng. Aku tak tahu kau belakangan dapat juga meloloskan diri!"

Hoan Pangcu bangun dan menyoja. "tanpa per-dulikan keselamatan jiwa sendiri, Biauw-ya sudah menolong aku," katanya dengan sikap menghormat. "Budi ini, sampai mati tak akan dapat aku lupakan. Pada ketika Biauw-ya membinasakan belasan pe-ngawal istana, keadaan menjadi kalut dan dengan menggunakan kesempatan itu, para pesakitan pada menerjang keluar. Berkal keangkeran Biauw-ya, akhirnya aku pun dapat mcnoblos keluar."

* * *



Omongan Hoan Pangcu dusta belaka. Scsudah Biauw Jin Hong gagal dalam usahanya menolong orang she Hoan itu, Say Congkoan pergi menemui kepala pengemis itu di penjara. Dengan ancaman dan dengan harta, ia coba membujuk supaya Hoan Pangcu mengambil pihak pemerintah, tapi sesudah beberapa hari, masih juga belum berhasil.

Say Congkoan adalah ahli membaca hati orang. Sesudah berkutet beberapa hari, ia segera me-ngetahui kelemahannya Hoan Pangcu yang kepala batu itu. Ia mengetahui, bahwa pemimpin Kay-pang itu senang sekali diumpak-umpak.

Demikianlah, pada suatu hari, ia sendiri pergi ke penjara dan ajak Hoan Pangcu berdiam dalam rumahnya sendiri, sebagai seorang "tahanan" ter-hormat. Ia pilih beberapa Wie-su yang pandai men-jilat-jilat guna menemani Hoan Pangcu. Selang be¬berapa hari, orang she Hoan itu, yang setiap hari dijejal dengan umpakan dan jilatan, sudah menjadi lumer hatinya dan mau omong-omong dengan be¬berapa Wie-su itu.

Say Congkoan diam-diam merasa girang sekali. Belakangan, sesudah tawanannya menjadi jinak, Say Congkoan lalu turun tangan sendiri dan menemani orang she Hoan itu.

Pada suatu hari, mereka berdua merundingkan perihal jago-jago pada jaman itu. Meskipun Hoan Pangcu seorang sombong, akan tetapi ia masih mengakui, bahwa Biauw Jin Honglah yang mem-punyai ilmu silat paling tinggi di kolong langit.

"Pangcu terlalu merendahkan diri," kata Say Congkoan. "Menurut pendapatku, biarpun Kim-bian-hud mcndapat julukan Tah-pian-thian-hee-bu-tek-chiu, belum tentu ia dapat menangkap Pangcu."

Diangkat secara begitu, bukan main senangnya orang she Hoan itu. Lantas saja ia merasa, bahwa kepandaian Biauw Jin Hong benar-benar tidak se-berapa dan jika benar-benar bergebrak, ia pasti tidak akan kalah.

Mereka bicara asyik sekali, seluruh malam me¬reka tak merasa capai. Tiba-tiba Say Congkoan bicarakan ilmu silatnya sendiri. Sesaat itu, seperti sudah diatur terlebih dulu, beberapa Wie-su datang menimbrung. Mereka menceritakan pertempuran anlara Say Congkoan dan Biauw Jin Hong ketika terjadi peristiwa pembongkaran penjara. Kata me¬reka, dalam seratus jurus yang pertama, kekuatan kedua belah pihak dapat dibilang berimbang. Se¬sudah itu, Say Congkoan berada di atas angin, dan jika Biauw Jin Hong tidak buru-buru kabur, ia pasti akan dapat dibikin roboh.

Hoan Pangcu mesem-mesem, hatinya tak per-caya.

"Sudah lama aku dapat dengar, bahwa ilmu golok Ngo-hongto dari Pangcu, yang mempunyai delapan puluh satu jalan, tiada tandingannya di dalam dunia," kata Say Congkoan. "Kali ini, meskipun benar kami menerima firmannya Hongsiang, akan tetapi, rekan-rekan kami juga sesungguhnya ingin belajar kenal dengan ilmu silat Pangcu. De-mikianlah sesudah merangkap tenaga delapan belas Sie-wie kelas satu, barulah kami dapat mengundang Pangcu datang ke sini. Kami semua merasa sangat menyesal belum mendapat kesempatan untuk me¬nerima pelajaran dari Pangcu dengan satu melawan satu. Sekarang, sedang kita lagi bergembira, marilah kita main-main beberapa jurus."

Mendengar bcgitu, Hoan Pangcu segera ber-kata: "Sedang Biauw Jin Hong sendiri masih bukan tandingan Congkoan, aku khawatir diriku bukan tandingan."

"Ah! Pangcu terlalu merendahkan diri," kata Say Congkoan sembari tertawa.

Sesudah bicara lagi sedikit, mereka lalu ber-gebrak di gedung Congkoan. Hoan Pangcu meng-gunakan golok, Say Congkoan menggunakan tong-kat Long-gee-pang (tongkat gigi anjing hutan) yang gagangnya pendek. Tenaga Say Congkoan sangat besar dan serangan-serangannya hebat dan sesudah bertempur kurang lebih tiga ratus jurus, belum juga ada yang keteter. Sesudah bertanding pula kira-kira semakanan nasi, Say Congkoan kelihatan mulai lelah dan kena didesak sampai di pojok rumah. Beberapa kali, ia coba menerjang keluar, tapi selalu tak dapat menobloskan kurungan sinar goloknya Hoan Pangcu.

Dilain saat, ia berseru: "Pangcu sungguh lihay! Aku menyerah kalah!"

Dengan hati bungah, sambil tertawa, Hoan Pang¬cu loncat mundur, sedang Say Congkoan segera melemparkan kedua tongkatnya di atas tanah, de¬ngan bikin lega seperti orang mendongkol. "Ah!" katanya, menghela napas. "Dahulu aku menganggap diri sebagai orang gagah yang tak ada tandingannya. Sekarang baru aku tahu, bahwa di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia lain."

Ia menyusut keringatnya yang berketel-ketel dan napasnya sengal-sengal.

Sesudah merebut "kemenangan" itu, orang she Hoan itu lalu diangkat sampai di awang-awang. Mulai waktu itu, ia bergaul semakin rapat dengan para Sie-wie dan takluk terhadap si Congkoan yang dianggap sebagai seorang manis budi, seorang ber-pangkat tinggi yang tak sombong.

Sebagai satu manusia kasar, Hoan Pangcu sama sekali tak mengetahui, bahwa semua itu adalah siasatnya Say Congkoan yang sudah sengaja ber-lagak keok. Jika sama-sama mengeluarkan kepan-daian, dalam seratus jurus saja, ia sudah roboh di bawah Long-gee-pang.

Tapi kenapa, sedang kepandaiannya Hoan Pang¬cu masih belum mencapai puncak yang paling tinggi, si Congkoan sudah mau capaikan hati begitu rupa untuk menarik dia ke pihaknya?

Sebabnya adalah begini: Meskipun Hoan Pang¬cu tidak terlalu lihay, ia mempunyai semacam ilmu turunan yang tidak dipunyai oleh orang lain. Ilmu itu adalah Houw-jiauw-kim-na-chiu (ilmu menang-kap dengan tangan cara cengkeraman harimau). Tak perduli bagaimana tinggi kepandaiannya sang lawan, begitu kena dipegang atau dicengkeram ba-gian tubuhnya yang berbahaya, jangan harap bisa terlepas lagi.

Dengan mendengar omongannya Tian Kui Long, Say Congkoan telah memasang jebakan untuk mem-bekuk Biauw Jin Hong, dalam usaha mendapatkan harta karun. Tapi jebakannya yang sudah diatur sedemikian rapi, akhirnya mendapat kcgagalan. Maka itu, ia ingin meminjam tangannya Hoan Pangcu untuk merobohkan Biauw Jin Hong, dengan Houw-jiauw-kim-na-chiu. Akan tetapi, berhubung dengan lihaynya Kim-bian-hud, Hoan Pangcu pasti akan gagal jika harus bertempur sccara terang-terangan. Itulah sebabnya, kenapa mereka ramai-ramai datang ke Giok-pit-hong guna meringkus Biauw Jin Hong dengan tipu membokong.

* * *



Mendengar pernyataan terima kasihnya Hoan Pangcu, Biauw Jin Hong segera membalas hormat.

"Orang macam apakah itu Swat San Hui Ho?" ia menanya. "Ada ganjalan apakah antara Touw-heng dengan dia? Bolehkah aku mendapat tahu?"

Muka Touw Sat Kauw lantas saja berubah me-rah. "Aku sebenarnya tidak mengenal dia," sahut-nya. "Entah kenapa, mungkin lantaran mendengar segala desas-desus, ia telah menyatroni beberapa kali dan meminta pulang barang mustikanya yang katanya diwarisi oleh leluhurnya. Aku mengetahui, ia mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi dan mengingat diriku bukan tandingannya, ditambah dengan usiaku yang sudah lanjut, maka aku lalu mengundang saudara-saudara datang kemari. Jika dia terus berkepala batu, aku mohon bantuan sau¬dara-saudara untuk ajar adat bocah yang kurang ajar itu."

"Dia kata, Touw-heng telah mengambil mustika leluhurnya," kata pula Biauw Jin Hong. "Bolehkah aku mendapat tahu, mustika apa?"

"Mustika apa? Semuanya dusta!" sahut Touw Sat Kauw dengan suara mendongkol.

Dalam persahabatannya dengan Touw Sat Kauw, Biauw Jin Hong mengetahui, sahabat itu adalah satu manusia serakah. Bahwa ia sekarang berumah di Giok-pit-hong juga adalah untuk mencari harta. Maka itu, tuduhan Swat San Hui Ho mungkin bukan hanya tuduhan belaka. Sambil mengawasi tuan ru-mah, ia memikir beberapa saat.

"Kalau benar mustika itu adalah miliknya Swat San Hui Ho jika sebentar dia datang kemari, baiklah Touw-heng membayar pulang saja," kata Kim-bian-hud dengan suara tawar.

Touw Sat Kauwjadi mendongkol. "Tidak! Dus¬ta!" ia berseru. "Mana dia mustikanya? Darimana aku harus membayar pulang?"

Hoan Pangcu lihat keadaan sudah mendesak. Biauw Jin Hong adalah seorang yang sangat cerdas otaknya. Ia khawatir, jika Kim-bian-hud duduk lama-lama, jebakan yang dipasang akan diendus olehnya. Maka itu, lantas saja ia mendekati seraya berkata: "Touw Chungcu! Perkataannya Biauw-ya adalah benar. Sesuatu barang mempunyai majikan, apalagi mustika warisan leluhur. Lebih baik Chung¬cu kasih pulang padanya. Guna apa angkat senjata?"

Dalam bingungnya, Touw Sat Kauwjadi gusar.

"Kau pun berkata begitu? Apa kau tak percaya padaku?" ia menanya dengan mata melotot.

"Aku tak mengetahui asal usulnya urusan ini," kata Hoan Pangcu. "Akan tetapi, apa yang dikata-kan oleh Biauw-ya mestinya benar. Banyak tahun aku berkelana di dunia Kang-ouw dan tidak percaya omongan siapa juga. Hanya omongan Biauw-ya seorang yang aku percaya."

Sehabis berkata begitu, ia berjalan ke bela-kangnya Biauw Jin Hong dan kedua tangannya lalu

bergerak!

Mendadak, Biauw Jin Hong yang sedang men-dengarkan kata-kata umpakan orang she Hoan itu, rasakan dua jalan darahnya kesemutan, yaitu jalan darah Hong-tie-hiat di belakang kuping dan Sin-to-hiat, di punggung.

"Celaka!" ia mengeluh. Ia menggerakkan le-ngan kirinya untuk menghantam si pembokong. Akan tetapi, oleh karena kedua jalan darah itu adalah jalan darah yang sangat penting, ditambah pula serangannya dilakukan dengan menggunakan ilmu Houw-jiauw-kim-na-chiu, maka dilain saat, Kim-bian-hud rasakan seluruh tubuhnya lemas, tidak bertenaga. Dengan badan yang lemas itu, meskipun mempunyai kepandaian setinggi langit, ia tak mam-pu mengeluarkan kepandaiannya itu.

Tapi tidak percuma Biauw Jin Hong mem-peroleh gelaran "Tah-pian-thian-hee-bu-tek-chiu" yang sudah kenyang mengalami macam-macam ba-dai. Sambil membentak laksana guntur, ia menun-dukkan kepalanya dan dengan sekali mengerahkan tenaga di pinggang, badannya Hoan Pangcu yang besar terbang melewati atas kepalanya! Say Cong-koan dan enam rekannya berseru keras dan me-nerjang keluar dari tempat sembunyinya.

Meskipun sudah dilontarkan Biauw Jin Hong, Houw-jiauw-kim-na-chiu adalah bagaikan lintah yang melekat pada tubuh manusia. Saat itu, Hoan Pangcu sudah berhadapan dengan Biauw Jin Hong, akan tetapi kedua tangannya masih terus mencengkeram kedua jalan darah di belakang Biauw Jin Hong. Oleh karena begitu, Kim-bian-hud masih tetap tidak ber-daya.

Sesaat itu, para Sie-wie sudah menerjang pada-nya.

"Ah! Selama hidup, aku Biauw Jin Hongmalang melintang di dunia Kang-ouw, tak nyana hari ini aku harus binasa di dalam tangan segala manusia rendah," katanya di dalam hati.

Sesaat itu, satu Sie-wie sudah menubruk sambil mementang kedua tangannya, untuk peluk leher-nya.

Dalam kegusarannya yang meluap-luap, sedang badannya tak dapat bergerak sedikit pun, mendadak ia benturkan kepalanya Sie-wie itu. Sebagai orang yang mempunyai ilmu weduk Kim-ciong-to, ben-turan itu hebat luar biasa. Begitu kena, begitu kepalanya Sie-wie itu hancur dan binasa seketika.

Semua orang jadi kesima. Serentak terjangan mereka terhenti, dalam jarak kira-kira beberapa kaki dari Biauw Jin Hong.

Sesudah berhasil satu kali, cepat bagaikan kilat, Biauw Jin Hong benturkan kepalanya kepada tu¬buhnya Hoan Pangcu. Si pemimpin pengemis men-celos hatinya. Dalam bingungnya ia menundukkan kepala, kedua tangannya memeluk pinggangnya Kimbian-hud erat-erat, sedang kepalanya disesapkan di kempungan Biauw Jin Hong.

Pada saat Hoan Pangcu memindahkan kedua tangannya dari punggung ke pinggang, kaki tangan-nya Kim-bian-hud dapat bergerak pula. la angkat satu kakinya dan tendang terpental satu Sie-wie yang berada paling dekat, dan berbareng dengan itu, ia angkat satu tangannya untuk menghantam punggungnya Hoan Pangcu. Tapi, tangannya ber-henti di tengah udara, kaki tangannya mendadak lemas kembali, sebab pada saat itu, jalan darah di pinggangnya sudah tercengkeram kembali.

Semua kejadian itu, yang harus dituturkan se-cara panjang lebar, terjadi dalam sekejap mata saja.

Say Congkoan mengetahui, bahwa cengke-ramannya Hoan Pangcu hanya bisa berhasil dalam sementara waktu. Lebih lama sedikit, Biauw Jin Hong akan dapat punahkan cengkeraman itu. Maka itu, ia segera loncat maju dan menotok dua kali jalan darah Sauw-yauw-hiat di pinggangnya Kim-bian-hud. Totokan Say Congkoan tidak begitu cepat turunnya, tapi kenanya sangat berat. Begitu kena, Kim-bian-hud mengeluarkan suara "heh!" dan se-kujur badannya seperti juga mati.

Hoan Pangcu yang menyesapkan kepalanya di kempungan Biauw Jin Hong, tak mengetahui ada-nya kejadian itu. Sepuluh jerijinya terus menceng-keram jalan darah Biauw Jin Hong.

"Hoan Pangcu! Kau sudah memperoleh pahala besar sekali," kata Say Congkoan. "Lepaskanlah tanganmu!"

Sesudah Say Congkoan berseru tiga kali, baru-lah Hoan Pangcu angkat kepalanya, tapi ia masih tidak berani melepaskan tangannya.

Satu Sie-wie segera mengeluarkan borgolan baja yang dibawa dari kota raja dan lalu memborgol kedua tangan dan kakinya Kim-bian-hud. Sesudah itu, barulah Hoan Pangcu berani melepaskan kedua tangannya.

Meskipun Kim-bian-hud sudah terborgol kaki tangannya, Say Congkoan masih khawatir, kalau-kalau dengan satu dan lain jalan, Biauw Jin Hong masih dapat meloloskan dirinya. Jika sampai ke¬jadian begitu, bahaya bagi dirinya tak dapat diukur bagaimana besarnya.

Memikir begitu, lantas saja ia ambil sebilah golok dari tangannya seorang rekannya, seraya ber¬kata: "Biauw Tayhiap! Bukannya aku, si orang she Say, tidak mencinta sahabat. Tapi, oleh karena ilmu silatmu benar-benar terlalu tinggi, jika urat tangan dan urat kakimu tak diputuskan, kami semua tak dapat makan dan tidur enak." Sembari berkata begitu, satu tangannya mencekal lengan Kim-bian-hud, sedang lain tangannya mengangkat golok. Em-pat kali saja golok itu turun, tamatlah riwayatnya Biauw Jin Hong sebagai "Tah-pian-thian-hee-bu-tek-chiu"! Lebih dari itu, ia malahan akan menjadi seorang bercacad yang tiada gunanya.

Melihat begitu, tak tega hati Hoan Pangcu. Ia melonjorkan tangannya untuk menahan tangan Say Congkoan, seraya berseru: "Jangan lukai dia!"

Say Congkoan tertawa dingin dan berkata da¬lam hatinya: "Hm! Kau kira benar-benar aku kalah dari kau? Biar aku beri sedikit pelajaran kepada-mu!"

Sembari berpikir begitu, ia lantas saja mengerahkan tenaga dalamnya dan dengan menggunakan pundak kanan, ia bentur tangan Hoan Pangcu. Lantaran benturan itu dikirim dengan tenaga dalam yang dahsyat dan juga lantaran Hoan Pangcu sama sekali tidak bermimpi bakal diperlakukan secara begitu, maka begitu terbentur, dengan satu suara "duk!" tubuh Hoan Pangcu terpental dan meng-hantam dinding papan dari kamar tersebut. Ben¬turan itu ada sedemikian hebat, sehingga sang din-ding toblos dan badan Hoan Pangcu terlempar ke luar dari lubang itu!

Say Congkoan tertawa tcrbahak-bahak. Tanpa rintangan lagi, ia lalu angkat pula goloknya.... Se-mua orang menahan napas!

Pada detik yang memutuskan nasibnya Biauw Jin Hong, satu bentakan bagaikan guntur memecah kesunyian yang penuh ketegangan itu! Satu ba-yangan hitam, yang gerakannya cepat bagaikan se-cepat arus kilat melesat dari dalam kelambu yang tertutup. Itulah Swat San Hui Ho, si Rase Terbang dari Gunung Salju!

Barusan, ketika golok Say Congkoan naik, Ouw Hui rasakan otaknya puyeng oleh karena adanya dua pikiran yang bertentangan satu sama lainnya. Tapi, sebagai seorang ksatria, lantas saja ia meng-ambil keputusan. "Walaupun Biauw Jin Hong ada-lah musuh yang sudah membinasakan ayahku, tapi dia adalah pendekar besar dalam jaman ini," katanya di dalam hati. "Cara bagimana aku dapat mem-biarkan ia jadi korbannya segala manusia bangsa cecurut?" Demikianlah, sambil membentak keras, Swat San Hui Ho lalu mengenjot badannya!

Bukan main hebatnya si Rase Terbang! Sebelum kedua kakinya hinggap di lantai, kedua ta-ngannya sambar dua Sie-wie dan benturkan kepala yang satu dengan kepala yang lain. Seketika itu juga, dua batok kepala remuk dan roh mereka bersama-sama pergi menemui Giam-kun!

Semua orang kaget bagaikan disambar geledek. Dalam kagetnya, Say Congkoan memutar badan, goloknya yang mau digunakan membacok Biauw Jin Hong, urung turun. Dilain saat, Ouw Hui sudah merobohkan dua orang lain.

Kamar itu adalah kamar yang tidak seberapa besar. Dipihaknya Say Congkoan ada delapan belas orang, dua antaranya sudah binasa. Ditambah de¬ngan Ouw Hui dan Biauw Jin Hong, jumlah manusia dalam kamar itu tetap delapan belas dan dapatlah dimengerti, bahwa di tempat yang begitu sempit, dengan jumlah manusia yang begitu banyak, tak ada satu pun yang dapat mengeluarkan kepandaiannya.

Ouw Hui terus kasih kerja kedua tangannya dengan cepat sekali. Dengan tangan kanan, ia han-tam satu Sie-wie yang lantas saja terpelanting, se-dang tangan kirinya menyodok seorang musuh lain. Ouw Hui agak terkejut, sebab tangan kirinya "ter-peleset", seperti juga menghantam benda yang licin. Ia mengawasi musuh itu yang ternyata adalah se¬orang tua yang jenggotnya panjang dan mukanya bersinar merah. Dengan segera ia mengetahui, bah¬wa orang itu adalah satu ahli lwee-kee (ilmu dalam) yang tak boleh dibuat gegabah, dan memang juga benar begitu, oleh karena orang tua tersebut bukan lain daripada Chio Loo-kun-cu.

Ouw Hui sudah mendapatkan gelaran Swat San Hui Ho oleh karena bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, tapi juga sangat berakal budi. Di antara belasan musuh itu, jika satu melawan satu, semua-nya bukan tandingannya. Akan tetapi, jika mereka mengerubuti, ia bakal jadi berabe sekali.

Memikir begitu, lantas saja ia mendapat suatu daya. Bagaikan kilat, ia menendang dadanya Leng-ceng Kie-su.

Leng-ceng Kie-su adalah ahli gwa-kee (ilmu luar). Melihat sambaran kaki, ia segera membabat dengan tangannya. Ouw Hui yang memang hanya menggertak, segera menarik pulang kakinya, dan pada saat itu, di luar dugaan orang, satu tangannya menyambar dada Touw Sat Kauw, sedang lain ta¬ngannya mencengkeram kempungannya Hian-beng-cu. Ia angkat badannya dua musuh itu, yang segera digunakan sebagai senjata, untuk menghantam rom-bongan musuh yang berkumpul. Oleh karena kha-watir mencelakakan kedua kawannya, mereka tidak berani turun tangan, ramai-ramai lalu mundur ke pojok kamar.

Melihat keadaan yang jelek bagi pihaknya, Say Congkoan menjejak kedua kakinya dan badannya lantas melesat keluar dari antara kawan-kawannya. Ia pentang sepuluh jerijinya untuk mencengkeram kepalanya Ouw Hui.

Swat San Hui Ho yang justru ingin Say Cong¬koan berbuat begitu, lantas saja loncat mundur beberapa tindak dan tertawa terbahak-bahak.

"Loo-say! Ah, Loo-say!" ia berkata dengan sua-ra menjengeki. "Sungguh aku tak nyana, mukamu begitu tebal!"

Say Congkoan gusar tercampur kaget. "Ke-napa?" ia menanya tanpa merasa.

Dengan kedua tangan tetap mencengkeram ja-lan darahnya Touw Sat Kauw dan Hian-beng-cu, Ouw Hui berkata dengan suara nyaring: "Dengan belasan orang dan dengan menggunakan akal busuk yang sangat rendah, barulah kau berhasil mem-bekuk Kim-bian-hud. Tapi apa kau tak malu? Kau, seorang yang katanya jago nomor satu di istana kaisar!"

Mendengar cacian itu yang tajam, paras muka Say Congkoan jadi merah padam. Ia mengepal tangannya dan kawan-kawannya lantas saja ber-pencar ke empat penjuru untuk mengurung Ouw Hui.

"Apa kau Swat San Hui Ho?" ia membentak.

"Sudan lama aku dengar, bahwa di Pak-khia terdapat satu orang yang dipanggil Say Congkoan. Ketika itu, aku menduga, bahwa dia sedikitnya adalah satu manusia. Tapi tak dinyana, dia hanyalah satu siauwjin (manusia rendah) yang tak mengenal malu. Disamping bermuka tebal, dia ternyata tak lebih dari satu gentong nasi dan telur busuk! Ah, Loo-say! Loo-say! Lebih baik kau pulang saja dan menimang-nimang orok!" Ouw Hui mengejek.

Selama hidupnya, Say Congkoan adalah se¬orang sombong. Maka itu, manakah ia dapat me-nelan makian yang sehebat itu. Akan tetapi, wa-laupun dadanya seperti mau meledak, sebagai se¬orang licik, ia masih menghitung-hitung. Ia lihat * Ouw Hui berusia sangat muda, sehingga, biarpun ' lihay, menurut perhitungannya, tenaga dalamnya tentu belum seberapa. Akan tetapi, melihat caranya ia menenteng Touw Sat Kauw dan Hian-beng-cu seperti juga orang menenteng ayam, hatinya jadi bersangsi.

Demikianlah sedang ia belum dapat mengambil keputusan cara bagaimana harus bertindak, Ouw Hui sudah menggapai dan berkata: "Mari, mari! Mari kita main-main. Jika dalam tiga kali jurus aku belum dapat merobohkan kau, Swat San Hui Ho akan berlutut di hadapanmu!"

Say Congkoan yang sedang bersangsi, lantas saja menjadi girang ketika dengar tantangan Ouw Hui. Dalam perhitungannya, meskipun ia tidak da¬pat menjatuhkan si Rase Terbang, akan tetapi, adalah mustahil, ia bisa dirobohkan oleh Ouw Hui dalam tiga jurus.

Lantas saja ia tertawa terbahak-bahak. "Baik, baik!" katanya. "Baiklah! Aku si orang she Say akan menemani kau main-main."

"Tapi, bagaimana jika dalam tiga jurus, kau roboh dalam tanganku?" menanya Ouw Hui.

"Aku menyerah atas segala kemauanmu," jawab Say Congkoan. "Kau pandang aku sebagai apakah? Jika sampai kejadian begitu, aku si orang she Say mana ada muka untuk hidup lebih lama dalam dunia ini? Jangan rewel! Jagalah ini!" Sembari berkata begitu, ia menghantam dadanya Ouw Hui dengan kedua tangannya. Oleh karena khawatir Ouw Hui menggunakan tubuh Touw Sat Kauw dan Hian-beng-cu untuk menyambut serangannya, maka sem¬bari memukul, ia menggasak, untuk memaksa si Rase Terbang menggunakan kedua tangannya.

Ouw Hui mengawasi menyambarnya pukulan itu dengan mata tajam, ia tak berkelit, juga tak menyampok. Pada saat kedua tangannya Say Cong¬koan hampir mengenai dadanya, mendadak saja ia menyedot napas dan mengkeretkan dadanya, dan pukulan Say Congkoan lantas menjadi punah!

Say Congkoan terkejut. Ia tak nyana, Ouw Hui yang berusia masih begitu muda, mempunyai Iwee-kang yang begitu dalam. Buru-buru ia loncat mun-dur lantaran takut si Rase Terbang menghantam balik dengan tenaga dalamnya.

"Jurus pertama!" berseru kawan-kawannya si Cong¬koan. Sebenarnya gebrakan itu hanya boleh di-hitung separuh jurus, sebab baru Say Congkoan yang mengirim pukulan dan Ouw Hui belum mcm-balas. Akan tetapi, oleh karena ingin membantu si Congkoan, kawan-kawannya lantas saja menghi-tung "satu jurus".

Ouw Hui tersenyum tawar. Tiba-tiba ia men-dehem dan riaknya menyambar muka Say Cong¬koan, sedang kedua kakinya, dalam gerakan be-rantai, mengirim dua tendangan.

Bukan main kagetnya Say Congkoan melihat serangan riak dan dua kaki itu. Ia tahu, jika ingin menyingkirkan riak, ia harus meloncat tinggi atau menundukkan kepala. Tapi, jika meloncat tinggi, kempungannya tentu jadi sasaran kaki kiri musuh, sedang jika ia menunduk, janggutnya pasti akan berkenalan dengan kaki kanan Ouw Hui. Demi¬kianlah, dalam keadaan serba sukar, ia angkat kedua tangannya ke dada untuk menyambut kedua ten¬dangan itu dan membiarkan sang riak menyambar mukanya! Dengan satu suara "plok!" riak Ouw Hui nemplok di antara kedua alisnya!

Bukan kepalang malunya Say Congkoan. Tapi lebih malu lagi, ia malahan tidak berani menyusut riak itu, lantaran khawatir serangan musuh.

"Jurus kedua!" berseru kawan-kawannya. Tapi seruan itu tidak senyaring yang pertama.

Say Congkoan yang martabatnya rendah, diam-diam merasa girang. "Ah! Biarlah aku menelan sedikit hinaan," katanya di dalam hati. "Dengan menjaga diri baik-baik, apa sukarnya menyambut satu scrangannya? Sesudah itu, aku mau lihat, apa lagi ia bisa kata?"

"Tinggal sejurus lagi!" ia membentak. "Hayo!"

Ouw Hui mcscm. Ia maju sctindak dan sc-konyong-konyong angkat tubuh Touw Sat Kauw dan Hian-beng-cu yang lantas dihantamkan kc arah

Say Congkoan.

Serangan semacam itu mcmang sudah diduga oleh Say Congkoan. Sedari tadi ia sudah mengambil putusan, bahwa jika terpaksa, ia tak akan sungkan-sungkan untuk mencelakakan juga kawan sendiri. Maka itu, begitu tubuh kedua kawannya menyam-bar, ia segera mengerahkan tenaganya dan menyam-pok dengan kedua tangannya.

Tapi, bermimpi pun si Congkoan tak pernah mimpi, bahwa sekali ini ia "ketemu batunya". Se-bagaimana diketahui, Ouw Hui telah mencengke-ram jalan darah kedua jago itu, sehingga mereka tak dapat bergerak sama sekali. Pada sebelum tu-buhnya kedua tawanan itu kebentrok dengan ta-ngan Say Congkoan, secara mendadak si Rase Ter-bang melepaskan cengkeramannya di jalan darah dan hanya mencekal dengan cekalan biasa. Dilain pihak, begitu lekas jalan darahnya terbuka dan kaki tangannya dapat bergerak pula dengan leluasa, se-bagai ahli-ahli silat, secara wajar Touw Sat Kauw dan Hian-beng-cu menghantam kalang kabutan dengan kaki tangannya, dengan tujuan melepaskan dirinya dari cekalan musuh. Hantaman itu yang dikirim dengan kegusaran dan kenekatan, bukan main dahsyatnya.

Satu teriakan mengerikan keluar dari mulut Say Congkoan! Ulu hatinya, dadanya, kempungannya dan beberapa anggota badan lain kena dihajar telak sekali. Kakinya lemas dan tanpa ampun, ia jatuh duduk! Ouw Hui melepaskan cekalannya dan men-cengkeram pula jalan darah Touw Sat Kauw dan Hian-beng-cu. "Jurus ketiga!" ia berseru.

Mulutnya berteriak, jerijinya mencengkeram terlebih keras dan kedua tawanannya lantas saja menjadi pingsan. Sekali lagi ia angkat kedua tubuh itu yang lantas saja dilontarkan ke arah dua jago lain. Mereka terkejut dan lalu loncat minggir, oleh karena khawatir mengalami nasib seperti Say Cong¬koan. Sembari melemparkan tubuh orang, Ouw Hui barengi melompat dan pada sebelum kakinya kedua jago yang loncat minggir itu, hinggap di atas lantai. ia sudah sambar tubuh kedua orang itu dan men¬cengkeram jalan darahnya. Sesudah itu, barulah ia memutar badan dan berkata kepada Say Congkoan: "Sekarang bagaimana?"

Congkoan yang temberang itu, sekarang mati kutu. Ia menundukkan kepalanya dan mukanya pucat bagaikan kertas. "Sukamu," jawabnya dengan suara perlahan. "Guna apa tanya-tanya lagi?"

"Lepaskan Biauw Tayhiap!" ia memerintah.

Say Congkoan segera berpaling dan mengebas-kan tangannya kepada dua Sie-wie yang berdiri paling dekat. Mereka tidak berani membantah dan segera membuka borgolan Biauw Jin Hong. Jalan darah Kim-bian-hud telah ditotok oleh Say Cong-koan dan kedua Sie-wie itu tidak dapat membuka-nya, akan tetapi, baru saja Ouw Hui mau bergerak menolong, Biauw Jin Hong sudah mengerahkan pernapasannya dan begitu borgolan terbuka, ia me-narik napas dalam-dalam dan jalan darahnya sudah bebas kembali. Hampir berbareng, kaki kirinya me-nendang dan tubuh Leng-ceng Kie-su terpental. Belum puas dcngan itu, satu tinjunya mcnjotos dan satu jago lain jungkir balik.

Hoan Pangcu yang tadi dihajar oleh Say Cong-koan schingga badannya mcnobloskan dinding pa-pan, sesudah Icwat beberapa lama barulah ia bisa bangun berdiri. Apa celaka, selagi ia berjalan masuk ke kamar dari lubang dinding, tubuh jago yang dijotos terpental oleh Biauw Jin Hong, menubruk-nya. Tubrukan itu cukup hebat dan dalam keadaan setengah sadar, tanpa perdulikan kawan atau lawan, mereka saling menghantam dengan sekuat tenaga. Di lain pihak, sebagai pentolan Kun-lun-pay, begitu ditendang Biauw Jin Hong, selagi badannya berada di tengah udara, Leng-ceng Kie-su goyang pinggangnya, sehingga ia jatuh di atas ranjang.

Ouw Hui terkejut bukan main. Ia menjejak kedua kakinya untuk melompat, guna menyeret keluar badan Leng-ceng Kie-su. Tapi sebelum ber¬gerak, satu kesiuran angin tajam menyambar dada-nya, dan berbareng, dari sebelah kanan terdengar sambaran golok. Ternyata, Chio Loo-kun-su dan satu Sie-wie sudah serang padanya dengan ber¬bareng. Golok Sie-wie itu masih dapat dipunahkan, akan tetapi pukulan Chio Loo-kun-su sukar dapat diegos. Maka itu, dengan terpaksa ia menyambut serangan itu. Akan tetapi ilmu silat Thay-kek adalah bagaikan gelombang, pukulan yang satu menyusul yang lain, dan oleh karena itu, niatnya untuk me¬nyeret keluar tubuh Leng-ceng Kie-su menjadi gagal.

Begitu jatuh di atas pembaringan, Leng-ceng Kie-su segera bangun kembali sembari menyepak dengan kakinya. Apa celaka, kakinya menyepak selimut dan pada saat itu juga, sebagian badan Biauw Yok Lan jadi kelihatan!

Biauw Jin Hong yang sedang mengamuk, ber-henli sejenak ketika melihat tubuh wanita itu. Ia mengawasi dan... kedua matanya lantas saja "keluar api". Siapa yang lidak kaget, melihat wanita itu, yang berbaring dengan hanya mengenakan pakaian da¬lam, adalah puteri sendiri?

"Lan-jie (anak Lan), kenapa kau?" ia berteriak.

Biauw Yok Lan, yang ditotok jalan darahnya, tak dapat menyahut. Ia hanya mengawasi ayahnya dengan paras muka merah.

Kim-bian-hud loncat dan tarik puterinya. Tu¬buh Yok Lan ternyata lemas bagaikan kapas akibat totokan. Dengan mata sendiri, tadi ia lihat Ouw Hui loncat ke luar dari pembaringan itu, maka dapatlah dimengerti, jika darahnya jadi mendidih. Tak sem-pat ia membuka jalan darah puterinya. Sembari berteriak "binatang!" ia merampas sebatang pedang dari tangan satu musuhnya dan mengirim tiga ti-kaman hebat ke arah si Rase Terbang, sembari menghantam juga dengan satu tangannya.

Serangan itu, yang dikirim dengan kegusaran hebat, bukan main dahsyatnya. Ouw Hui terkesiap dan segera loncat untuk menyingkirkan diri. De-ngan suara "buk!", tinju Biauw Jin Hong meng-hantam punggung seorang kiam-kek (ahli pedang), undangan Touw Sat Kauw. Dalam Rimba Persilat-an, kiam-kek tersebut kesohor kuat kakinya, kuda-kudanya tak berkisar, walaupun ditarik belasan orang. Jotosan Biauw Jin Hong, yang dikirim de-ngan tenaga dalam yang sepenuhnya, sebenarnya ditujukan untuk Ouw Hui. Akan tetapi, si Rase Terbang yang gerakannya cepat luar biasa, sudah dapat kelit pukulan itu, yang secara tepat menyasar ke punggung kiam-kek tersebut. Begitu terpukul, kedua kaki kiam-kek itu seperti juga lengket di alas lantai, tapi sedang kedua kakinya cukup teguh, adalah punggungnya tidak sekuat kaki. Dengan suara "krek", punggungnya patah dua, badannya segera doyong bagaikan pohon roboh, tapi kedua kakinya masih tetap berdiri tegak!

Melihat dahsyatnya Biauw Jin Hong, semua orang lalu berpencaran untuk menyingkirkan diri. Sesaat itu, Kim-bian-hud sudah mengirim pula satu tendangan hebat ke arah Ouw Hui.

Melihat Biauw Yok Lan yang rebah di atas ranjang tanpa berdaya, si Rase Terbang lantas saja mengambil satu putusan untuk menyelamatkan diri-nya nona Biauw yang suci bersih. Begitu kaki Biauw Jin Hong bergerak, ia sambar badannya satu orang Sie-wie yang digunakan sebagai tameng, sedang ia sendiri loncat ke depan pembaringan. Cepat ba¬gaikan kilat, ia menggulung tubuh nona Biauw dengan selimut, dan sebelum orang dapat melihat tegas gerakannya, badannya sudah melesat keluar dari lubang dinding.

"Binatang! Lepaskan anakku!" berteriak Biauw Jin Hong sekeras suara. Ia segera mengenjot badan untuk mengejar, akan tetapi, oleh karena sempitnya kamar dan serangannya beberapa jago untuk se-mentara Kim-bian-hud tak dapat menoblos keluar.

Melihat kegusaran dan keangkeran Biauw Jin Hong, Ouw Hui merasa agak gentar. Sambil men-dukung Yok Lan, ia tak berani hentikan tindakan-nya. Begitu tiba di tebing dengan satu tangan men-cekal tambang, ia segera merosot turun dari puncak itu.

Ia mengetahui, di dekal situ terdapal satu gua yang jarang didatangi manusia. Lantas saja ia me-ngerahkan tenaga dalamnya dan berlari-lari ke gua itu dengan menggunakan ilmu entengkan badan.

Kira-kira sepeminuman teh, tibalah mereka di gua itu. Hati-hati, Ouw Hui senderkan badan Yok Lan di dinding gua.

Dalam pada itu, Ouw Hui berada dalam ke-adaan serba salah. Untuk membuka jalan darah Yok Lan, tak dapat tidak ia harus menyentuh badan si nona. Jika tidak segera ditolong, nona Biauw bisa mendapat luka di dalam oleh karena ia sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Dalam sangsinya, ia segera mengeluarkan bahan api dan menyulut sebatang cabang kering.

Di bawah sinar api yang remang-remang, ia merasa paras si nona jadi terlebih cantik lagi. "Biauw Kouwnio," katanya. "Aku sesungguhnya tidak be¬rani berlaku kurang ajar terhadapmu. Akan tetapi. untuk membuka jalan darahmu, aku harus me¬nyentuh sebagian badanmu. Bilanglah, cara bagai-mana aku harus berbuat?"

Biauw Yok Lan tak dapat menggerakkan ang-gota badannya, tapi dari sorot matanya dapatlah diketahui, bahwa si nona sedang kemalu-maluan, tercampur dengan rasa berterima kasih. Ouw Hui jadi merasa sangat girang dan lalu membuka jalan darah nona Biauw dengan jerijinya.

Perlahan-lahan, kaki tangannya dapat bergerak pula. "Terima kasih," katanya dengan suara per-lahan.

Sesaat itu, Swat San Hui Ho yang tidak gentar menghadapi musuh yang bagaimana tangguh, jadi tergugu di hadapan si gadis yang lemah lembut.

Lama, lama sekali ia berdiri tanpa mengeluar-kan sepatah kata. Akhirnya, sesudah berhasil me-mulihkan ketenangannya, barulah ia berkata de¬ngan suara perlahan. "Aku adalah seorang kasar. Barusan, dengan tidak disengaja, aku terpaksa me-langgar adat sopan santun. Kebersihan hatiku, La-ngit dan Matahari menjadi saksinya. Mohon nona sudi memaafkannya."

"Aku mengerti," jawab si nona sembari menun-dukkan kepala.

Banyak sekali perkataan ingin diucapkan oieh kedua orang muda itu, akan tetapi semua perkataan tak dapat keluar dari tenggorokan. Lama sekali, bagaikan sepasang manusia gagu, mereka duduk berhadapan di tempat gelap itu. Di luar gua luar biasa dingin dengan es dan saljunya, akan tetapi di dalam gua dirasakan hangat, oleh karena hati me¬reka adalah hangat.

Akhirnya, kesunyian dipecahkan oleh Biauw Yok Lan. "Tak tahu bagaimana nasibnya ayah," katanya.

"Ayahmu adalah seorang gagah yang tiada tandingan dan kawanan manusia itu sama sekali bukan tandingannya," jawab Ouw Hui dengan suara meng-hibur. "Legakanlah hatimu."

Nona Biauw menghela napas panjang. "Kasihan ayah," katanya. "Ia anggap kau... kau berlaku tak baik terhadapku."

"Kita tak dapat menyalahkan dia," kata Ouw Hui. "Kita tak dapat merubah keadaan itu."

Tiba-tiba paras muka Yok Lan berubah merah dan berkata dengan suara jengah: "Oleh karena hati ayah pernah lerluka hebat, maka ia gampang sekali lersinggung. Mohon Ouw-ya tidak menjadi gusar."

"Ada urusan apa yang membikin luka hatinya?" menanya Ouw Hui. Sesudah mengeluarkan per¬kataan itu, barulah ia merasa sudah keterlepasan bicara. Ia ingin sekali menyimpangkan pembicara-an, tapi tak tahu harus berkata apa. Demikianlah. Swat San Hui Ho yang terkenal cerdas, jadi seperti manusia tolol di hadapan Biauw Yok Lan.

"Walaupun soal ini adalah soal yang sangat memalukan, akan tetapi aku boleh tak usah me-nutupi terhadapmu," kata Yok Lan. "Soalnya adalah soal ibuku."

"Ah!" Ouw Hui keluarkan seruan tertahan.

"Ibuku telah menibuat satu kesalahan besar." kata si nona.

"Mana ada manusia yang tidak pernah salah.'" kata Ouw Hui. "Soal kesalahan janganlah terlalu dibuat pikiran."

Biauw Yok Lan menggeleng-gelengkan kepala-nya. "Kesalahannya terlalu besar," katanya sambil menghela napas. "Seorang wanita tak dapat mem-buat kesalahan begitu. Lantaran kesalahannya, ia harus mengorbankan jiwa, dan malahan ayahku, hampir-hampir ia turut membuang jiwa."

Ouw Hui berdiam, tapi hatinya sudah menduga duduknya persoalan.

"Ayahku adalah seorang gagah dari kalangan Kangouw, sedang ibuku adalah satu Ciankim Siocia, putri seorang pembesar negeri," menerangkan Yok Lan. "Satu waktu, secara kebetulan, ayah menolong keluarga ibu dan oleh karena adanya budi itu, mcreka lalu menikah. Mereka sungguh tidak scmbabat. Tapi itu masih tidak mengapa. Yang lebih hebat, ayah telah berbuat satu kesalahan besar. Di hadapan ibu, sering-sering ia memuji-muji ibumu!" "Ibuku?" Ouw Hui menegasi dengan suara he-ran.

"Benar," jawabnya. "Pada waktu ayah piebu (bertanding) dengan ayahmu, ibumu telah mengasih lihat suatu sifat yang melebihi laki-laki jantan. Kalau sedang omong-omong, sering sekali ayah sebut-sebut untung ayahmu yang dikatakan baik sekali. 'Ouw It To hidup sehari dengan didampingi isterinya, lebih beruntung dari lain orang yang hidup seratus tahun,' demikian sering-sering ayah berkata. Ibuku tidak kata apa-apa, tapi hatinya semakin lama jadi semakin mendongkol. Belakangan Tian Kui Long, dari Thian-liong-bun, mengunjungi kami se-bagai tetamu. Ia adalah seorang lelaki yang berparas cakap sekali dan disamping itu, pandai benar ia mengambil-ambil hati wanita. Dalam kekhilafan-nya, ibuku mengikuti dia lari."

"Ada kejadian begitu?" kata Ouw Hui dengan kaget sekali.

"Waktu itu aku baru berusia dua tahun," Yok Lan sambung penuturannya dengan suara sedih. "Sambil mendukung aku, malam-malam ayah mengejar. Ia tak makan dan tak tidur. Sesudah mengejar tiga hari dan tiga malam, ia dapat menyusul. Melihat ayahku, Tian Kui Long berlutut dan minta-minta ampun. Selagi ayah mau turunkan tangan, ibu menyelak dan menubruk. Melihat ibu benar-benar sudah berubah pikiran dan mencintai lelaki itu, ayah menghela napas panjang berulang-ulang dan segera berlalu sambil mendukung aku. Begitu pulang, ia sakit berat, hampir-hampir ia mati. Ayah pernah kata, kalau bukan kasihan aku yang bakal jadi sebatang kara dalam dunia yang lebar ini, benar-benar ia sudah bosan hidup. Tiga tahun, ayah tak pernah melangkah pintu. Kadang-kadang, sam¬bil mendongakkan kepala, ia mengeluh: 'Ah, Lan! Lan! Kenapa kau begitu gila,' Seperti aku, ibu pun bernama 'Lan'."

Menutur sampai di situ, muka Yok Lan mendadak merah. Pada jaman itu, namanya seorang wanita adalah suatu rahasia. Orang luar cuma me-ngetahui shenya (nama keluarga). Kecuali kepada orang yang sangat dekat, rahasia nama tak dapat gampang-gampang dibuka. Maka itu tidaklah heran jika si nona menjadi jengah, ketika tanpa merasa, ia sudah memberitahukan namanya kepada Ouw Hui.

Mendengar penuturan si nona, bukan main lerharunya Ouw Hui. Ia terharu berbareng merasa berterima kasih, oleh karena si nona sudah mem-percayai rahasia rumah tangga yang begitu besar, kepadanya. Dan hatinya jadi semakin bergoncang, ketika mendengar si nona memberitahukan nama-nya sendiri.

"Biauw Kouwnio," katanya. "Tian Kui Long adalah manusia yang berhati sangat busuk. Aku rasa, ia bukan benar-benar mencintai ibumu."

"Ayah pun pernah mengatakan begitu," jawab-nya. "Belakangan, sering-sering ayah sesalkan diri sendiri. Ia kata, jika ia tidak bersikap terlalu tawar terhadap ibu, pastilah ibu tidak kena digoda orang. Maksud sebcnarnya dari orang she Tian itu memang juga adalah untuk menggaet satu peta bumi dari suatu harta karun. Peta bumi itu adalah warisan leluhur keluarga Biauw. Akan tetapi, meskipun ia berhasil membikin rumah tangga ayah jadi beran-takan, meskipun ia berhasil membikin aku jadi anak tanpa ibu, pada akhirnya usahanya yang busuk itu gagal sama sekali. Sesudah hidup beberapa lama dengan ia, ibuku mengetahui maksud tujuannya yang busuk. Maka itulah, pada waktu mau menutup mata, ibu telah memesan, supaya satu tusuk kondc mutiara kepala burung hong dipulangkan kepada ayah. Dalam tusuk konde itulah tersimpan peta bumi yang dicari-cari oleh Tian Kui Long."

Sesudah itu, Yok Lan segera menceritakan semua pengalaman Lauw Goan Ho waktu ia ber-sembunyi di kolong ranjang Tian Kui Long. Akhir¬nya ia turutkan, cara bagaimana peta bumi itu sudah dirampas oleh kawanan Po-sie, yang dengan raem-bawa golok komandonya Cwan Ong, sedang ber-usaha mencari harta karun itu.

"Yah, orang she Tian itu bukan main jahatnya," berkata Ouw Hui. "Lantaran jerih terhadap ayahmu dan juga sebab gagal merampas peta, ia sudah coba menggunakan tangannya pembesar negeri untuk membekuk ayahmu, supaya bisa paksa ayahmu me-ngeluarkan peta bumi itu. Tapi ia tak dapat melawan maunya Tuhan. Hai! Gara-gara harta karun itu, tak tahu berapa banyak orang sudah mesti mengor-bankan jiwa...." Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata pula: "Tapi... tapi, justru lantaran gara-gara harta karun itu, ayah dan ibuku jadi terangkap jodoh."

"Apa?" menanya nona Biauw dengan perasaan sangat tertarik. "Hayo, ceritakan!" Ouw Hui, mesem sembari mengawasi si nona yang paras mukanya bersinar gembira.

"Kau tahu siapa ibuku?" ia menanya. "Ia adalah saudara misan dari Touw Sat Kauw!"

Yok Lan jagi terlebih heran lagi. "Sedari kecil aku sudah kenal Touw Pehpeh, tapi ayah belum pernah memberitahukan hai itu," katanya.

"Aku mengetahui hai itu dari surat-surat pe-ninggaian ayah," menerangkan Ouw Hui. "Mungkin sekali, ayahmu tak tahu rahasia ini. Sudah lama sekali Touw Chungcu mendapat endusan, bahwa harta karun itu tersimpan di puncak Giok-pit-hong. Maka itulah, ia sudah mendirikan rumah di puncak tersebut dan tak hentinya berusaha untuk men-carinya. Akan tetapi, lantaran otak tumpul dan juga sebab tak berjodoh, usahanya itu tinggal sia-sia. Dilain pihak, ayah yang menyelidiki secara diam-diam, ada lebih beruntung. Waktu masuk ke dalam gua harta, ia dapat lihat ayahnya Tian Kui Long dan ayahnya Biauw Tayhiap binasa bersama-sama. Pada ketika itu ayah mau mencongkel harta itu, ibu mendadak datang."

"Kepandaian ibuku banyak lebih tinggi dari-pada Touw Chungcu. Melihat beberapa hari be-runtun ayah berkeliaran di sekitar tempat itu, hati-nya lantas saja bercuriga dan lalu menguntit. Hari itu, ia turut masuk ke daiam gua harta dan bcr-tempur dengan ayahku. Sebagai buntut dari per-tandingan itu, kedua belah pihak saling mengagumi dan di situ juga ayah meminang ibuku. Ibu mem-beritahu, bahwa sedari kecil ia dipelihara oleh ka-kak misanannya, yaitu Touw Chungcu, sehingga jika ayah ambil harta itu, ia merasa tidak enak tcrhadap kakaknya itu. Oleh karena begitu, ibu suruh ayah memilih satu antara dua: Ia atau harta. Ayah hanya bisa mendapat satu, tak mungkin mendapat dua-duanya. Ayah tertawa terbahak-bahak dan menga-takan, bahwa walaupun di hadapannya berjejer se-puluh laksa gudang harta, tanpa bersangsi ia akan memilih ibu. Ayah lalu menulis sebuah tulisan yang menuturkan segala kejadian itu dan menempel tu¬lisan tersebut di dalam gua. Di bawah tulisan itu, ayah dan ibu masing-masing menulis satu syair, supaya dikemudian hari, orang yang menemukan gudang harta tersebut dapat mengetahui bahwa di dalam dunia ini, yang paling berharga bukannya harta, akan tetapi kecintaan yang suci murni."

Mendengar sampai di situ, Yok Lan mengawasi Ouw Hui dengan sorot mata kagum. "Biarpun kedua orang tuamu meninggal dunia dalam usia muda, akan tetapi mereka banyak lebih berbahagia dari-pada kedua orang tuaku," katanya dengan suara perlahan.

"Akan tetapi, sebagai anak piatu, aku lebih banyak merasakan sengsara daripada kau," kata Ouw Hui.

Nona Biauw mengawasi dengan perasaan ka-sihan. "Yah," katanya sambil menghela napas. "Jika ayahku mengetahui kau masih hidup, biar bagai-manapun juga, ia akan pelihara kau. Jika itu terjadi, bukankah siang-siang kita sudah mengenal satu sama lain?"

"Kalau aku menumpang di rumahmu, mungkin sckali kau merasa sebal akan diriku," kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Tidak!" kata Yok Lan dengan suara keras. "Mana bisa begitu? Aku pasli akan perlakukan kau seperti saudara kandung sendiri."

Jantungnya Ouw Hui berdenyut keras. "Tapi... tapi apakah pertemuan kita tidak terlalu telat?" ia menanya.

Nona Biauw tidak lantas menyahut. Selang be¬berapa saat, barulah ia menjawab dengan suara berbisik: "Tidak!"

Si Rase Terbang jadi girang bagaikan kalap. Jawaban si nona sudah merupakan satu pengakuan yang tak dapat ditafsirkan lain daripada satu peng¬akuan, bahwa ia mencintai Ouw Hui.

"Aku bersumpah," ia berkata dengan suara ter-haru, "Bahwa selama hidupku, aku Ouw Hui tak akan menyia-nyiakan kau!"

"Aku berjanji akan turut contoh ibumu dan menjauhkan teladan ibuku," menimpali si nona.

Kedua orang muda itu lantas saling mencekal tangan dan tidak berkata-kata lagi. Bagai dua hati yang sudah bersatu, kata-kata sudah tak perlu lagi. Bagi mereka, gua yang kecil sempit itu, sudah me¬rupakan dunia yang serba lengkap, sehingga mereka seakan-akan lupa, bahwa di luar gua masih terdapat langit dan bumi yang tiada batasnya.

Lama, lama sekali mereka saling mencekal ta-ngan.

Akhirnya, lagi-lagi Biauw Yok Lan memecah-kan kesunyian. "Mari kita bersama-sama mencari ayah," ia mengajak.

"Baiklah," sahut Ouw Hui, yang sebenar-benar-nya sungkan berkisar dari situ.

Yok Lan pun mempunyai perasaan yang sama. Maka itu, lantas saja ia berkata: "Sedang Touw Chungcu masih mempunyai ikatan kcluarga dengan kau, kenapa kau mau tempur padanya?"

Ouw Hui kertak giginya, "Ah! Jika diceritakan, sungguh-sungguh mendelukan," katanya. "Pada waktu mau menutup mata, ibuku menulis satu sural wasiat yang ditaruh di atas buntalan pakaianku. Dalam surat itu, ia memohon ayahmu dan Touw Chungcu, supaya mereka suka memelihara aku sam-pai menjadi besar. Akan tetapi belakangan terjadi kejadian yang tidak diduga-duga. Peng Sie-siok te-lah bawa aku kabur. Oleh karena menduga ayahmu mempunyai niatan kurang baik terhadapku, ia bawa aku kabur ke tempatnya Touw Chungcu. Akan tetapi, sebaliknya dari ayahmu, adalah Touw Chungcu yang berhati busuk. Ia sangat ingin merampas kitab ilmu silat ayahku dan disamping itu, ia pun menduga kedua orang tuaku mengetahui rahasia gudang har-ta itu. Begitulah, diam-diam ia sudah menggera-yangi barang-barang peninggalan ibu. Peng Sie-siok yang mengetahui kejadian itu, buru-buru kabur sambil mendukung aku. Ia berhasil membawa Bu-hak Pit-kip (kitab ilmu silat) ayahku, tapi sebuntal barang-barang peninggalan ibu sudah hilang di ru-mah Touw Chungcu. Itulah sebabnya kenapa aku sudah janjikan untuk mengadakan satu pertemuan dengan dia, guna mengambil pulang barang pening¬galan ibuku."

"Biasanya terhadap lain orang Touw Chungcu selalu berlaku manis budi, tak nyana terhadap kau, ia begitu jahat," kata si nona.

"Hm!" Ouw Hui keluarkan suara di hidung. "Bahwa ia sudah bersekutu untuk mencelakakan ayahmu, sudah merupakan bukti cukup dari ke-jahatannya...."

Belum habis perkataannya, dari arah sebelah kiri mendadak terdengar suara beradunya senjata, dicampur dengan bentakan-bentakan. Ouw Hui yang kupingnya tajam luar biasa, segera berkata: "Heran! Kenapa suara itu keluar dari bawah tanah? Kau tunggu di sini, aku akan pergi menyelidiki."

"Tidak! Aku ikut," kata si nona.

Ouw Hui yang sebenarnya tak ingin tinggalkan ia sendirian, lantas saja berkata: "Baiklah." Sambil menuntun tangannya nona Biauw, ia lalu berjalan keluar dari gua itu.

Malam itu adalah malam Sha-gwee Cap-go (Bu-lan Tiga; tanggal lima belas). Sang Puteri Malam yang bundar menyiarkan sinarnya yang putih ba-gaikan perak di atas salju yang putih pula. Sungguh indah pemandangan itu. Mereka seakan-akan ber-ada dalam dunia impian. Oleh karena khawatir si nona kedinginan, Ouw Hui membuka jubah luarnya dan berikan itu kepada Yok Lan. Perlahan-lahan mereka menuju ke arah suara itu.

Sesudah berjalan beberapa lama, suara itu ke-dengaran semakin keras. Ouw Hui berhenti sejenak dan memasang kupingnya. "Ah!" Suara itu datang dari gudang harta," katanya. "Mereka tentu sedang bertempur untuk berebut harta karun itu."

Dari kitab peninggalan mendiang ayahnya, si Rase Terbang sudah mendapat tahu di mana letak-nya gua harta itu dan sudah pernah masuk keluar beberapa kali. Dari gua itu, ia sudah ambil syair yang ditulis oleh kedua orang tuanya dan ambil juga pit emas ayahnya Tian Kui Long, yang ia sudah timpukkan kepada Tian Cong Bun pada pagi itu. Walaupun sudah keluar masuk di gudang harta, akan tetapi mengingat pesan kedua orang tuanya, Ouw Hui belum pernah memikir untuk meraba emas permata itu.

Begitu mengetahui darimana datangnya suara itu, si Rase Terbang segera menduga, bahwa Po-sie dan kawan-kawannya sedang saling bunuh untuk kangkangi emas permata itu.

Dugaan Ouw Hui memang benar adanya. Ke-tika itu, orang-orang dari Thian-liong-bun, Eng-ma-coan dan Peng-tong Piauw-kiok sedang bertempur mati-matian dengan ditonton oleh Po-sie sembari mesem tawar. Dalam hatinya ia ingin menunggu sampai semua orang menjadi rusak dan kemudian barulah membereskan mereka satu-persatu.

Sesaat itu, Ciu Hun Yang dan Him Goan Hian bergulat dan berguling di atas tanah. Semakin lama mereka semakin mendekati perapian. Bermula ma-sing-masing ingin mendorong musuhnya ke arah api, akan tetapi, sesudah bergulingan beberapa kali, perapian yang tersentuh itu hampir saja menjadi padam.

"Gila kau!" memaki Po-sie. "Kalau perapian padam, kau semua mampus kedinginan di sini!" Ia angkat kaki kanannya dan menyontek badan Ciu Hun Yang yang sedang memeluk Him Goan Hian. Tubuh kedua orang itu lantas saja "terbang", ke¬mudian ambruk kembali di atas tanah dengan satu suara "bruk!"

Sembari mesem-mesem, Po-sie membungkuk dan mengambil sepotong kayu untuk menambah bahan bakar di perapian. Ketika ia sedang melem-pangkan kembali pinggangnya, matanya mendadak lihat dua bayangan manusia yang bcrgoyang-goyang di dinding seberang, nicnuruti goyangan api per¬apian.

Ia terkesiap dan segera memutar badan. Di situ, di dinding sana, ternyata sedang berdiri dua orang yang satu adalah Biauw Yok Lan dan yang parasnya merah kemaluan-maluan, sedang yang lain adalah Swat San Hui Ho yang brewoknya kasar dan yang scdang mcngawasi padanya dengan sorot mata gusar.

Po-sie mengeluarkan teriakan "ah!". Dengan sekali mengayun tangan, serenceng tasbih menyam-bar bagaikan ular terbang. Ketika baru dilontarkan, tasbih itu masih dalam rencengan, tapi selagi me-lesat di tengah udara, talinya putus dan beberapa puluh biji tasbih menyambar jalan darah Ouw Hui dan Yok Lan dari atas, bawah, kiri dan kanan. Itulah ilmu simpanan Po-sie yang ia sudah latih belasan tahun lamanya dan belum pernah digunakan ter-hadap siapa juga. Dan kali ini, begitu lihat Ouw Hui, ia mendahului turun tangan dengan ilmu simpanan-nya itu, untuk menyelamatkan jiwanya.

Sembari tertawa dingin, Ouw Hui loncat ke depan guna melindungi badan Yok Lan dengan tubuhnya sendiri. Melihat si Rase Terbang sama sekali tidak bergerak untuk menangkis tasbihnya, hati Po-sie jadi girang sekali. Ia menduga musuhnya hanya mempunyai nama kosong dan akan segera menjadi korban senjata rahasianya yang istimewa. Selagi ia tergirang-girang, puluhan biji tasbih itu sudah mengenai berbagai jalan darah Ouw Hui dengan telak sekali. Tapi... sebaliknya dari roboh terjungkal, si Rase Terbang mengambil sikap acuh tak acuh, seperti juga ia sama sekali tidak merasakan hantaman itu!

Ternyata, begitu lihat sambaran tasbih, Ouw Hui segera mengerahkan tenaga dalamnya dan "me-nutup" semua jalan darahnya. Jika Po-sie menotok dengan jeriji, mungkin sekali ia akan dapat me-nobloskan "tutupan" itu. Tapi dengan menggunakan begitu banyak senjata rahasia, sehingga tenaganya jadi terpecah kepada puluhan biji tasbih itu, ia sebenarnya tidak boleh bermimpi akan dapat me-robohkan seorang ahli silat seperti Ouw Hui.

Melihat senjatanya yang paling istimewa sudah dipunahkan secara begitu, nyalinya Po-sie menjadi hancur. Akan tetapi, sebagai seorang Hcik dan ke-jam, dalam keadaannya yang kepepet, buru-buru ia lompat ke belakang Co Hun Kie. Dengan kedua tangannya ia mencengkeram punggung orang she Co itu yang lantas diangkat dan dilemparkan ke perapian, dengan maksud supaya sang api padam dan Ouw Hui tak dapat cari padanya. Tapi siapa nyana, begitu jatuh di atas perapian yang sedang berkobar-kobar, pakaian Co Hun Kie terbakar, sehingga sebaliknya dari padam, api jadi semakin besar dan gua itu jadi semakin terang-benderang. Melihat kekejian Po-sie dan mengingat kedua orang tuanya sudah celaka lantaran gara-garanya, darah Ouw Hui jadi mendidih. Ia membungkuk dan kedua tangannya meraup batu-batu permata yang berhamburan di atas tanah. Tangan kanannya lantas saja mementil tak hentinya dan bagaikan hujan gerimis batu-batu berharga itu mutiara, giok, mus-tika dan sebagainya menyambar tubuh Po-sie.

Po-sie loncat ke atas, ke bawah, ke kanan dan ke kiri untuk kelit senjata rahasia yang berharga mahal itu, akan tetapi, batu-batu tersebut seperti juga ada matanya dan semuanya mampir dengan tepat di badannya. Apa yang mengherankan adalah: Meskipun dalam ruangan itu terdapat banyak orang, batu-batu itu tak pernah menyasar ke badan orang lain. Melihat yang dimaui hanya Po-sie seorang, Lauw Goan Ho, To Pek Swee dan yang Iain-lain lantas pada mepet di dinding gua tanpa berani bergerak. Sesudah berloncat-loncat beberapa lama, kedua kaki Po-sie dengan beruntun terhantam batu giok dan sembari keluarkan teriakan kesakitan, ia roboh tanpa mampu bangun kembali. Seperti orang edan, sambil berteriak-teriak ia bergulingan di atas tanah oleh karena hujan batu permata masih me¬nyambar terus.

Semakin lama, sentilan Ouw Hui jadi semakin berat. Ia sengaja tak mau menimpuk jalan darah supaya Po-sie merasakan kesakitan yang lebih he-bat. Semua orang jadi ketakutan setengah mati. Mereka takut, kalau-kalau akan datang gilirannya.

Mendengar teriakan-teriakan Po-sie, Biauw Yok Lan jadi tak tega.

"Manusia itu memang jahat sekali, tapi rasanya sudah cukup ia mendapat hajaran," berbisik si nona. "Ampunilah padanya!"

Menurut kebiasaannya Ouw Hui, dalam mem¬basmi kejahatan, ia selalu membasmi sampai ke akar-akarnya. Apalagi terhadap satu musuh besar yang sudah mencelakakan kedua orang tuanya. Akan tetapi, entah kenapa, begitu dengar perkataan nona Biauw, hatinya lantas saja membenarkan, bahwa manusia itu sudah cukup mendapat hajaran dan harus dibcri ampun. Ia segera turunkan tangan kanannya dan ayun tangan kirinya yang mencekal belasan batu permata. Bagaikan kilat batu-batu ilu menyambar dan menancap dalam sekali di dinding gua. Semua orang yang menyaksikan pada leletkan lidah. Satu saja mengenai badan Po-sie, rohnya tentu akan lantas menghadap Giamkun.

Ouw Hui mendelik dan menyapu semua orang dengan matanya yang luar biasa tajam. Mereka semua menundukkan kepala dan keadaan dalam gua jadi sunyi senyap. Biarpun sekujur badannya sakit, Po-sie juga tidak berani merintih. Selang beberapa saat, Ouw Hui membentak dengan suara angker: "Kau orang begitu mencintai emas permata, biarlah kau orang terus berdiam di sini, menemani harta karun itu!" Sehabis berkata begitu, sambil menuntun tangan Yok Lan, ia segera berjalan ke luar.

Semua orang jadi girang bukan main. Mereka tak nyana si Rase Terbang sudah melepaskan me¬reka secara demikian. Sesudah tindakan Ouw Hui dan Yok Lan kedengaran jauh di lorong gua, me¬reka lalu kasak-kusuk dan mulai mengantongi lagi emas permata itu.

Tiba-tiba di lorong gua keluar suara luar biasa. Bermula mereka tak tahu suara apa adanya itu, akan tetapi, beberapa saat kemudian, muka mereka jadi pueat bagaikan mayat.

"Celaka!" berseru mereka.

"Dia tutup mulut gua!" berteriak satu orang.

"Hayo! Mati atau hidup, kita mesti lawan pada-nva!" berseru seorang lain.

Dalam bingungnya mereka jadi nekat dan lain memhuru ke mulut gua. Benar saja, batu raksasa penutup gua sudah dipindahkan kembali oleh Ouw Hui ke tempat asalnya.

Sebagaimana diketahui, mulut gua itu sempit luar biasa. Di sebelah luar, orang dapat bergerak Icluasa untuk menggunakan tenaganya, akan tetapi di sebelah dalam, lorong gua yang sempit hanya dapat memuat badannya satu orang. Begitu lekas batu raksasa itu menutup lubang, air es yang ter-dapat di sekitarnya lantas saja membeku, sehingga jika tidak ditolong oleh orang luar, mereka yang bc-tada di dalam tak usah harap bisa keluar lagi.

Nona Biauw kembali tak tega hatinya. "Apakah kau ingin binasakan v rcka semua?" ia menanya.

"Apakah di antaia mereka tcrdapat manusia baik-baik yang dapat diampuni jiwanya?" Ouw Hui balas menanya.

"Yah," berkata si nona sambil menghcla napas. "Disamping ayah dan kau, aku memang tak tahu. apa dalam dunia ini masih ada manusia baik. Akan tetapi, kau tidak boleh membunuh begitu banyak orang."

Si Rase Terbang agak terkejut. "Apa aku ter-hitung manusia baik?" ia menanya.

Perlahan-lahan Yok Lan angkat kepalanya. "Aku tahu, kau adalah seorang baik," katanya dengan sorot mata yang suci murni. "Aku sudah tahu, se-belum bertemu muka. Toako (kakak)! Apakah kau tahu, semenjak kapan aku sudah menyerahkan hati-ku kepadamu?"

Mendengar perkataan "Toako" yang dikeluar-kan dengan suara mencinta, Ouw Hui tak dapat menahan perasaannya lagi. Dengan rasa cinta yang suci, ia memeluk si nona, yang lalu menyenderkan kepalanya di dada Ouw Hui, dengan hati penuh kebahagiaan. Lorong gua itu sempit dan lembab. Akan tetapi, bagi mereka tempat itu merupakan tempat yang paling indah dalam dunia ini.

Mendadak di pintu gua terdengar suara tin-dakan kaki. Ouw Hui terkejut. "Celaka!" katanya di dalam hati. "Aku memepat mereka, sebaliknya aku sendiri dipepat orang lain!"

Sambil mendukung Yok Lan, buru-buru ia lari ke pintu gua. Ia jagi lega oleh karena pintu gua masih tetap terbuka.

Di bawah sinar rembulan, mereka lihat dua orang sedang berlari-lari di atas salju dengan cepat sekali. Dari gerakannya, dapat dikenali, bahwa me¬reka adalah orang-orang yang pernah bertempur dengan dia di rumah Touw Chungcu.

"Lan!" kata Ouw Hui sembari tertawa. "Ayahmu sudah mendapat kemenangan. Musuh-musuhnya sudah pada kabur." Ia membungkuk dan meraup salju yang kemudian lalu dikepal-kepal sehingga menjadi keras dan bundar. Dengan sekali menim-puk, orang yang lari di sebelah depan lantas terjungkal tanpa bisa bangun lagi, lantaran pinggang-nya kehantam bola salju secara telak sekali. Yang lari belakangan kaget dan menoleh ke belakang. Hampir pada sesaat itu juga, satu bola salju me-nyambar dadanya dan ia pun lantas saja roboh kejengkang.

Ouw Hui tertawa terbahak-bahak. Mendadak ia berhenti tertawa dan berkata dengan suara lemah lembut: "Kapan lagikah kau menyerahkan hatimu kcpadaku. Aku rasa, pasti tak lebih siang daripada aku. Dalam pertemuan yang pertama kali, begitu kedua mataku melihat parasmu, aku... aku lantas tak dapat melupakan lagi."

"Tapi aku sudah menyerahkan hatiku pada se-puluh tahun berselang, ketika baru berusia tujuh tahun," jawab si nona. "Waktu itu, untuk pertama kali, aku mendengar cerita ayah tentang kedua orang tuamu. Mulai dari waktu itu, aku selalu meng-ingat kau, meskipun belum pernah bertemu muka. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa kalau aku masih hidup dalam dunia ini dan aku dapat menemukannya, aku akan merawat kau seumur hidup, supaya kau dapat mencicipi sedikit keber-untungan dan melupakan segala penderitaan waktu kau masih kecil."

Si Rase Terbang lerharu bukan main, tanpa merasa, kedua matanya mengembang air. Sepatah pun ia tak dapat berkata-kata, hanya kedua ta-ngannya mencekal sepasang tangannya si nona erat-erat.

Tiba-tiba ia lihat beberapa bayangan hitam ber-gerak-gerak di atas puncak es dan kemudian me-rosot ke bawah dengan menggunakan tambang.

"Lan," katanya. "Mari kita bantu ayahmu dan cegat manusia-manusia jahat itu." Sehabis berkata begitu, sembari mendukung kecintaannya, ia bei lari-lari dengan menggunakan ilmu entengkan ba dan dan dalam sekejap mata, mereka sudan berada

di kaki puncak.

Sesaat itu, dua jago sudah hinggap di atas tanah, sedang beberapa orang lain masih merosot turun Sesudah melepaskan dukungannya, Ouw Hui lain menyambit dengan dua bola salju dan dengan bei bareng, kedua orang itu roboh di atas tanah.

Selagi ia mau menimpuk beberapa jago yang masih berada di tengah udara, dari antara lereng gunung mendadak terdengar suara orang: "Mereka ditepaskan olehku. Jangan merintangi!"

Ilulah suara Biauw Jin Hong. "Ayah!" berteriak Yok Lan, kegirangan. Didengar dari suaranya, Kim-bian-hud berada dalam jarak beberapa li dari tempat itu, akan tetapi, semua perkataannya kedengaran tegas dan nyaring, sehingga dapatlah dibayangkan, bagaimana tingginya lweekangnya Biauw Jin Hong. Mau tak mau, Ouw Hui jadi merasa kagum. la merasa, lweekangnya sendiri masih belum dapat menandingi orang tua itu.

Sekali lagi si Rase Terbang menimpuk dengan dua bola salju. Jika tadi ia menimpuk untuk me-robohkan orang, sekali ini ia menyambit untuk membuka jalan darah kedua jago itu. Begitu kena timpukan, mereka segera bangun berdiri dan lalu kabur tanpa menengok lagi.

"Sungguh bagus ilmu itu! Cuma sayang per-buatannya tidak bagus!"demikian terdengar seruan-nya Biauw Jin Hong. Suara itu yang bermula kedcngaran di tempat jauh, sudah mendekati luar biasa ccpat, dan ketika ia mengucapkan perkataan "bagus", badannya yang kurus jangkung sudah ber¬ada di hadapan Ouw Hui.

Sementara itu, di sebelah kejauhan terdengar suara tindakan sejumlah orang yang sedang kabur, sesudah jiwa mereka diampuni oleh Biauw Jin Hung. Selang beberapa saat, seorang yang jalan terpincang-pincang kelihatan menghampiri mere¬ka Orang itu adalah Touw Chungcu.

Begitu bei hadapan, Touw Sal Kauw segera mengangsurkan satu bungkusan yang panjangnya kurang lebih satu kaki, kepada Ouw Hui. "Inilah barang peninggalan ibumu," katanya. "Sepotong juga tiada yang kurang. Ambillah!" Ouw Hui menyambuti bungkusan itu dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan. Dari bungkusan tersebut seakan-akan keluar semacam hawa hangat yang terus me-nembus ke dalam hatinya, sehingga si Rase Terbang jadi gemelar sekujur badannya.

Dengan rasa sayang, Kim-bian-hud mengawasi bayangannya Touw Sat Kauw yang berlalu dengan terpincang-pincang. Ia itu sebenarnya adalah satu jago yang "bun-bu-coan-cay" (pandai ilmu surat dan ilmu silat) dan mempunyai banyak sekali sahabat dalain Rimba Persilatan dimana ia masih terhitung sebagai satu tokoh yang berkedudukan tinggi. Dan sungguh sayang, oleh kekhilafan disatu ketika, se-karang ia mengalami saat kehancuran yang tidak dapat diperbaiki lagi. Memikir begitu, tanpa merasa Biauw Jin Hong menghela napas panjang.

Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Touw Sat Kauw dan ibunya Ouw Hui masih misanan dan juga tidak mengetahui bahwa si brewok yang berdiri di hadapannya adalah anak piatu yang ia tak dapat melupakan selama lebih dari dua puluh tahun lama-nya.

Perlahan-lahan Biauw Jin Hong memutar ke-palanya. Ia lihat puterinya yang tercinta sedang berdiri di situ dengan memakai jubah luarnya se-orang lelaki. Pemuda yang sekarang berdiri di ha¬dapannya adalah seorang penolong yang sudah me-nyelamatkan jiwanya dari bahaya maut, akan tetapi ia juga ada manusia yang menurut anggapannya sudah menodai kesucian puterinya yang tunggal. Lantas saja ia ingat rumah tangganya yang sudah dirusak orang. Jika dapat, ia ingin membinasakan semua lelaki kurang ajar di dalam dunia ini, semua lelaki busuk yang suka mengganggu kehormatannya kaum wanita. Sesaat itu, darahnya lantas saja men-didih!

"Ikut aku!" ia berkata dengan suara perlahan, tapi sangat menyeramkan. Sehabis berkata begitu, ia memutar badan dan berjalan pergi.

"Ayah!" berseru Yok Lan. "Dia adalah...." Biauw Jin Hong tak menyahut. Ia memang seorang yang tidak suka banyak bicara, terutama pada waktu ia sedang bergusar.

Sesaat itu, ia lihat Ouw Hui mengangsurkan tangan untuk mencekal puterinya. "Binatang!" ia membentak sembari mencekal tangan Ouw Hui.

"Lan-jie," katanya, "Kau tunggu di sini. Aku mau bicara sedikit dengan orang ini."

Sembari berkata begitu, ia menuding satu pun-cak gunung yang berada di sebelah kanan mereka. Puncak itu tidak setinggi Giok-pit-hong, akan tetapi kelihatannya banyak lebih berbahaya. Biauw Jin Hong lantas melepaskan cekalannya dan dengan menggunakan ilmu entengkan badan, ia berlari-lari ke puncak yang ditunjuk olehnya.

"Lan," kata Ouw Hui. "Aku harus menurut kemauan ayahmu dan pergi menemuinya. Kau tung-gulah di sini sebentar."

"Apakah kau suka meluluskan satu permintaan-ku?" tanya si nona.

"Jangan kata satu, biar seribu atau selaksa per-minlaan, aku pasti akan meluluskan," jawab si Rase Terbang.

Yok Lan menundukkan kepalanya, sedang mukanya bersemu dadu. Selang beberapa saat, barulah ia berkata dengan suara sangat perlahan dan terputus-putus: "Jika ayah ingin... kau... me-nikah dengan... aku...."

"Legakanlah hatimu," berkata Ouw Hui dengan suara tetap. "Peganglah bungkusan ini, peninggalan ibuku. Di kolong langit, tidak ada lain tanda meng-ikat pertunangan yang lebih berharga daripada bungkusan ini!"

Dengan kedua tangannya, Yok Lan menyam-buti bungkusan tersebut dan sebagai akibat dari hati yang sangat terharu, sckujur badannya nona Biauw jadi gemetaran. "Tentu saja aku percaya padamu," berbisik si nona. "Hanya aku khawatirkan adat ayah yang aneh. Jika ia gusar, jika ia maki atau gebuk kau, dengan memandang mukaku, aku minta kau suka mengalah."

Si Rase Terbang tertawa. "Baiklah," katanya. "Aku berjanji akan turut segala pesanmu."

Ia mengawasi dan lihat jauh-jauh Biauw Jin Hong sedang mendaki puncak. Ouw Hui membung-kuk dan mencium jidatnya si nona, akan kemudian berlalu untuk menyusul Kim-bian-hud.

Ouw Hui menyusul dengan mengikuli tapak kakinya Biauw Jin Hong. Sesudah belok di beberapa tikungan, jalanan gunung jadi semakin berbahaya, schingga ia harus berlaku hati-hati. supaya jangau terpeleset dan jatuh ke dalam jurang. Sesudah nie-manjat lagi beberapa lama, selcbar puncak tcrtutup es dan jalanan licin luar biasa. "Ah, dengan meng-ambil jalanan yang begini bcrbahaya, mungkin se-kali Biauw Tayhiap ingin mcnjajal kepandaianku." katanya dalam hati. Memikir begitu, lantas saja ia mengempos semangat dan menggunakan ilmu cn-tengkan badan yang paling tinggi. Badannya lantas saja seperti melayang di atas es dan salju. jalanan semakin berbahaya, ia "terbang" semakin cepat.

Selang beberapa saat, ketika baru mcmbelok <H satu tikungan, di dinding gunung, di atas satu li.it n besar yang menjulang ke atas, bagaikan satu polum tua, berdiri seorang yang berbadan jangkung km u<;. Orang itu Biauw Jin Hong adanya.

"Bagus!" ia berkata dengan suara pcilahan. "Naiklah, jika kau mempunyai nyali!"

Ouw Hui terkejut dan hentikan tindakann\;>, Biauw Jin Hong berdiri dengan membelakangi r< ;II bulan. Kedua matanya bcrsinar dan lapat-lapat da-pat dilihat, bahwa mukanya menyeramkan sek iH. Ouw Hui membuang napasnya yang agak seng.-l-sengal. Ia mengawasi Kim-bian-hud dengan rupa-rupa perasaan. Ia ingat, bahwa Biauw Jin Hong adalah musuh yang sudah membunuhayahnya, akan tetapi ia juga adalah ayahnya Biauw Yok Lan Sclain

itu, dari Peng Ah Sie ia mendapat tahu, bahwa Kim-bian-hud adalah seorang ksatria sejati, yang belum pernah berbuat apa-apa yang tercela ter¬hadap mendiang ayah dan ibunya. Ia ingat, bahwa gelaran Biauw Jin Hong adalah Tah-pian-thian-hee-bu-tek-chiu, akan tetapi, hatinya sungkan me-nyerah kalah dan ingin sekali menjajal-jajal kepan-daiannya Kim-bian-hud yang disohori tiada tan-dingannya di kolong langit. Di samping itu, ia ingat pula, bahwa keluarga Biauw dan keluarga Ouw adalah musuh turunan. Tapi kenapa, Kim-bian-hud sudah tidak menurunkan ilmu silatnya kepada pu-trinya yang sebiji mata? Apakah tujuannya benar-benar untuk menghabiskan permusuhan itu? Se¬sudah melihat ia dan Yok Lan tidur bersama di satu pembaringan, apakah Kim-bian-hud akan mau me-ngerti, jika diberi keterangan?

Demikianlah macam-macam pikiran datang ke¬pada Ouw Hui. Ia berdiri bengong dan untuk be¬berapa saat, tak mengeluarkan sepatah kata.

Dilain pihak, Biauw Jin Hong mengawasi Ouw Hui dengan perasaan heran. Ia lihat si pemuda dengan brewoknya yang seperti kawat, berdiri di situ dengan paras muka angker, seolah-olah Ouw It To hidup kembali. Hatinya bergoncang keras, akan tetapi, segera juga ia ingat, bahwa puteranya Ouw It To siang-siang sudah kena dicelakakan orang dan dilemparkan ke dalam sungai di Congciu. Maka itu, lantas saja ia menarik kesimpuian, bahwa pemuda itu hanya secara kebetulan mempunyai paras muka yang mirip dengan Ouw It To. Dilain saat, ia ingat perbuatan si brewok terhadap puteu tunggalnya dan darahnya lantas saja bergolak-golak.

Tiba-tiba ia angkat tangan kanannya dan meng-hantam dada Ouw Hui.

Melihat menyambarnya tinju yang hebat itu, Ouw Hui segera menyambut dengan tangannya. Begitu kedua tangan kebentrok, badan Biauw Jin Hong dan Ouw Hui sarnasama lergetardan masing masing segera loncat mundur dengan perasaan ka-gum.

Semenjak bertempur melawan Ouw It To pada dua puluh tahun lebih yang la!u, belum pernah Biauw Jin Hong bertemu pula dengan lawan yang setanding. Sekarang dari gebrakan pertama ia me-ngetahui, bahwa si brewok adalah lawan yang berat. Oleh karena itu, hi-iinya jadi semakin mendongkol dan dengan beruntun lalu mengirim tiga pukulan berantai. Dengan gerakan indah, Ouw Hui kelit dua pukulan, akan tetapi, waktu ia kelit pukulan yang ketiga, tenaga dalam yang dikirim oleh Kim-bian-hud ada sedemikian hebat, sehingga, biarpun ia berhasil kelit pukulan tersebut, badannya jadi ber-goyang-goyang, hampir-hampir ia nyungsap ke da lam jurang.

"Ah, kalau mengalah terus-terusan, bisa-bisa aku mampus konyol," kata Ouw Hui dalam hatinya dan lantas saja angkat kedua tangannya untuk me¬nyambut pukulan Biauw Jin Hong yang sudah me-nyambar pula.

Akan tetapi, walaupun sudah mengambil pu-tusan untuk melayani orang tua itu, si Rase Terbang tidak mengeluarkan tenaga yang sepenuhnya. Da¬lam pertempuran antara jago dan jago, masing-masing pihak tak boleh mengalah sedikit pun. Sekali mengalah, ia bisa celaka. Begitulah, pada waktu dua pasang tangan kebentrok, Ouw Hui yang meng-gunakan setengah tenaga lantas saja rasakan dada-nya sakit. Ia lerkejut dan buru-buru mengempos semangat untuk memperbaiki keadaannya.

Tapi tak dinyana, Kim-bian-hud sudah menu-runkan tangan tanpa mengenal kasihan. Melihat lawannya berada di bawah angin, ia segera me-nyerang secara lebih hebat lagi. Jika pertempuran dilakukan di atas tanah yang rata, Ouw Hui dapat loncat kcluar dari gelanggangdan memperbaiki pula kedudukannya. Akan tetapi, pertandingan itu juslru dilangsungkan di atas batu yang sangat terjal, di mana tidak terdapai tempat untuk mengundurkan diri. Sambil kertak gigi, dengan terpaksa ia mengeluarkan Cun-can Ciang boat (Pukulan Ulat Sutera) untuk melindungi dirinya rapal-rapat.

Cun-can Cian-hoat adalah semacam ilmu silat yang hanya digunakan untuk melindungi diri dari serangannya rnusuh yang terlcbih unggul. Dalam mcmpergunakan ihrui tersebut, kaki dan tangan tidak boleh memukul p<injang, paling banyak boleh dikeluarkan setengah kaki jauhnya dari sang badan. Tapi pembelaan Cun-can Ciang-hoat rapat bukan main. Biar bagaimana tangguh adanya sang musuh, hampir tak dapa! ia menembuskan pembelaan itu. Hanya ilmu itu metnpunyai satu kelemahan, yaitu: Tidak dapat digunakan untuk menyerang. Scsuai dengan namanya, Cun-can Ciang-hoat adalah bagai-kan scekor ulat sutera yang membuat selubung benang sutera di sekitar badannya. Selubung itu tak dapat ditembuskan, akan tetapi juga tak bisa di¬gunakan untuk balas menyerang musuh.

Scmakin lama Biauw Jin Hong menghantam dengan pukulan yang semakin berat, tapi heran sungguh, setiap pukulannya selalu dapat dipunah-kan dengan bagus sekali oleh si brewok, dan oleh karena Ouw Hui sama sekali tidak membalas, ia dapat menghantam kalang kabutan bagaikan hujan dan angin. Sesudah berkutet beberapa lama, sem-bari mengempos semangat, Kim-bian-hud mengirim satu jotosan hebat. Ouw Hui berkelit dan tinju Biauw Jin Hong mengenai lamping gunung. Batu dan tanah muncrat! Sungguh lacur, sekeping batu kecil masuk ke dalam mata kiri Ouw Hui! Itulah suatu kejadian yang tidak diduga-duga dan tak mungkin dapat dikelit oleh siapapun juga. Ouw Hui rasakan matanya sakit bukan kepalang, tapi ia tidak berani meraba matanya, oleh karena pukulan Biauw Jin Hong terus menyambar-nyambar. Melihat la-wannya kelilipan, sambil menyender di lamping gunung, kedua tangannya mendorong sang musuh dengan sepenuh tenaga.

Sesaat itu, Ouw Hui berdiri di pinggir tebing dan sekali terpeleset atau mundur, badannya akan segera hancur lebur di dalam jurang. Biauw Jin Hong sungkan memberi napas kepadanya dan terus mengirim serangan-serangan hebat. Tapi si Rase Terbang yang sangat cerdas tak gampang-gampang dapat dirobohkan. Ia tidak menyambut kekerasan dengan kekerasan, tapi punahkan pukulan Kim-bian-hud dengan lembekan, dan dengan taktik itu untuk beberapa saat ia masih dapat bertahan terus. Akan tetapi, oleh karena ilmu silatnya kedua belah pihak kira-kira berimbang, maka Ouw Hui yang berada dalam kedudukan jelek, semakin lama se¬makin jatuh di bawah angin. Tiba-tiba badan Biauw Jin Hong melesat ke atas dan dengan beruntun mengirim tiga tendangan. Bagaikan kilat, Ouw Hui kelit tendangan-tendangan itu. Pada waktu menen-dang ketiga kali, Kim-bian-hud membarengi dengan pukulan kedua tangannya yang ditujukan ke arah dada Ouw Hui. Dua pukulan itu tak dapat di-punahkan lagi, sedang untuk berkelit pun sudah tak mungkin. Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, si Rase Terbang mengempos semangatnya dan menyambut kekerasan dengan kekerasan.

Begitu empat tangan beradu, Biauw Jin Hong membentak keras dan pusatkan tenaga dalamnya pada telapak tangannya, sehingga tanpa ampun badannya Ouw Hui jadi bergoyang-goyang. Untuk menolong jiwa, Ouw Hui tak dapat berbuat lain daripada mengempos semangatnya dan menahan tindihan tenaga dalam Kim-bian-hud.

Itulah suatu peraduan tenaga dalam yang luar biasa dahsyat! Kedua pihak saling mengawasi dengan mata mencelong, kedua pihak mengempos semangat habis-habisan. Mereka sama-sama bertahan sambil menempel tangan, tubuh mereka sedikit pun tak bergerak.

Kaget sungguh hatinya Kim-bian-hud. "Dalam beberapa tahun ini, aku jarang berkelana di kalangan Kangouw dan tahu-tahu dalam Rimba Persilatan muncul satu manusia yang seperti dia," katanya di dalam hati.

Tiba-tiba Kim-bian-hud menekuk sedikit kedua dengkulnya dan sambil menyender di lamping gu¬nung, ia mengeluarkan semacam ilmu pukulan yang istimewa. Bermula, ia "menyedot" tenaga dalamnya Ouw Hui, dan kemudian dengan meminjam tenaga lamping gunung di mana ia menyender, ia mcn-dorong sekeras-kerasnya! "Pergi!" ia berteriak.

Sungguh hebat dorongan itu! Sesaat itu juga, badan Ouw Hui bergoyang-goyang, kaki kirinya sudah berada di tengah udara, hanya satu kaki kanan yang masih menginjak tebing! Akan tetapi, ilmu silatnya si Rase Terbang sungguh sudah sampai di puncak ke-sempurnaan. Sungguh aneh, dalam menghadapi do¬rongan yang sedcmikian berat, kaki kanannya seolah-olah berakar di tebing itu. Tiga kali Biauw Jin Hong mendorong, tiga kali badannya hanya bergoyang-goyang.

Kim-bian-hud jadi kagum tak kepalang. "Hebat sungguh kepandaian pemuda ini!" ia memuji dalam hatinya. "Dalam seratus tahun belum tentu muncul satu manusia yang seperti ia. Sungguh sayang, ia jalan di jalan tersesat. Jika hari ini aku tidak bi-nasakan padanya, dilain hari, belum tentu akan dapat menandingi dia. Kalau ia melakukan ke-jahatan dengan andalkan kepandaiannya, siapa lagi yang akan dapat menaklukkan dia?"

Memikir begitu Biauw Jin Hong segera angkat kaki kirinya dan menyapu kaki kanan Ouw Hui.

Si Rase Terbang mencelos hatinya. "Sudahlah!" ia mengeluh. "Siapa nyana hari ini aku mesti binasa dalam tangannya?"

Akan tetapi, sebegitu lama masih bernapas, setiap makhluk hidup selalu berusaha mencari ke-selamatannya. Demikianlah, dalam keadaan yang agaknya tak akan dapat tertolong lagi, Ouw Hui menjejak kaki kanannya dan badannya segera me-lesat ke atas, setombak lebih tingginya! Pada detik itu kaki Biauw Jin Hong sudah lewat tanpa me-ngenakan sasarannya. Pada waktu tubuhnya me-layang turun, dengan gerakan Ho-cu-hoan-sin (Bu-rung memutar badan), ia menghantam pundak Kim-bian-hud dengan kedua tinjunya.

"Bagus!" berseru Biauw Jin Hong sembari goyang pundaknya. Pukulannya Ouw Hui mengcnakan tepat pada pundak Kim-bian-hud, akan tetapi, badannya sendiri sudah kena didorong dan sekali ini, tak ampun lagi... tubuh si Rase Terbang tergelincir ke dalam jurang!

Ouw Hui meramkan kedua malanya dan me-ngeluarkan suara tertawa yang nyaring, tapi nada-nya mcnyayatkan hati!

Tapi... mendadak saja, ia rasakan badannya yang sedang melayang ke bawah, berhcnti di tengah udara!

Dengan heran, ia membuka kedua matanya dan ternyata, orang yang menolong ia adalah Biauw Jin Hong sendiri, yang sudah menjambret bajunya dan angkat ia ke atas tebing.

"Kau sudah pernah menolong jiwaku, sekarang aku mengampuni kau untuk membalas budi," mem-bentak Kim-bian-hud. "Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Siapa juga tak berhutang budi lagi. Mari! Mari kita bertempur pula!" Sehabis berkata begitu, Kim-bian-hud segera berdiri berhadapan dengan Ouw Hui dan tidak lagi menyender di lamping gunung.

Ouw Hui angkat kedua tangannya dan berkata dengan sikap hormat. "Boanpwee bukannya tan-dingan Biauw Tayhiap, guna apa bertanding pula? Apa juga yang Biauw Tayhiap ingin berbuat, Boan-pwee akan menurut."

Biauw Jin Hong kerutkan alisnya dan berkata dengan suara aseran: "Tadi kau menurunkan tangan dengan setengah hati. Apa kau kira aku tak menge-tahui? Apakah kau anggap, lantaran sudah tua Biauw Jin Hong bukannya tandinganmu?"

"Mana berani Boanpwee berpikir begitu," me-nyahut Ouw Hui.

"Hayo!" membentak Kim-bian-hud yang sudah

tidak sabar lagi.

Sesaat itu, Ouw Hui mengambil putusan untuk menerangkan duduknya segala kejadian, yang me-maksa ia berada dalam pembaringan bersama-sama Yok Lan. Maka itu, ia lantas saja berkata: "Me-ngenai kejadian di kamar itu...."

Baru saja mendengar perkataan "kamar", Biauw Jin Hong sudah mata merah.

"Binatang!" ia berteriak sembari menghantam. Ouw Hui tak dapat berbuat lain daripada menyam-but serangan itu. Sesudah mendapat pengalaman getir, si Rase Terbang mengetahui, bahwa sekali mengalah, jiwanya akan segera berada dalam ba-haya. Oleh karena itu, sekali ini ia segera melawan tanpa sungkan-sungkan lagi. Sengit sekali kedua jago kelas berat itu bertempur di atas tebing. Tiga ratus jurus sudah lewat, akan tetapi belum ada yang kelihatan keteter.

Semakin lama, hatinya Biauw Jin Hong jadi semakin heran. Segala gerakannya dan semua cara-cara bertempur si brewok sungguh mirip dengan Ouw It To. Sesudah beberapa gebrakan lagi, Biauw Jin Hong mendadak loncat mundur dan berseru: "Tahan! Apakah kau kenal Ouw It To?"

Mendengar nama ayahnya hati Ouw Hui men-jadi sedih berbareng gusar, sehingga otaknya tak dapat bekerja lagi secara tenang.

"Ouw Tayhiap adalah ksatria sejati," menyahut Ouw Hui dengan suara terharu. "Sungguh sayang, ia sudah kena dibinasakan oleh manusia jahat. Ka-lau aku bisa mendapat beberapa petunjuknya, wa-laupun lantas mati, aku akan rela."

"Benarlah," berkata Biauw Jin Hong dalam hati¬nya. "Ouw It To sudah mcninggal dunia dua puluh tujuh tahun lamanya. Orang ini baru saja berusia kira kira dua puluh tahun lamanya. Mana dia dapat tnengenal Ouw It To?"

Sembari memikir begitu, ia lantas memotes dua cabang pohon yang besarnya dan panjangnya ber-samaan. Ia melemparkan salah satu kepada Ouw Hui, seraya berkata: "Dengan tangan kosong kita sukar mendapat keputusan. Biarlah kita menen-tukan siapa hidup siapa mati dengan menggunakan senjata."

Sembari berkata begitu, ia menikam dengan Biauw-kee Kiam-hoat (Ilmu pedang Keluarga Biauw) vang tiada keduanya dalam dunia.

Walaupun senjata yang digunakan hanyalah sebatang cabang pohon, akan tetapi, oleh karena cabang pohon itu digerakkan dengan tenaga dalam vang luar biasa, maka kehebatannya tidaklah kalah dari pedang yang terbuat dari baja murni.

Ouw Hui tak berani berlaku ayal lagi. Ia me-nyampok senjata Biauw Jin Hong dengan cabang pohonnya, satu sampokan yang dalam kekerasannya mengandung kelemahan.

Lagi-lagi Biauw Jin Hong terkejut. "Kenapa ilmu pedangnya kembali mirip dengan ilmunya Ouw It To?" ia menanya dirinya sendiri. Akan tetapi, dalam pertempuran antara ahli-ahli silat kelas satu, pantangan paling besar adalah memecah perhatian. Oleh karena itu, Biauw Jin Hong tidak berani memikir panjang-panjang dan lalu pusatkan se-antero perhatian dan semangatnya kepada pertem¬puran itu, dan dalarn sekejap, pertempuran itu berlangsung dengan serunya.

Selama hidupnya, belum pernah Ouw Hui mengalami pertempuran yang sehebat itu. Seluruh kepandaiannya si Rase Terbang adalah berdasarkan kitab peninggalan mendiang ayahnya, yang ia sudah pelajari seanteronya secara teliti. Dalam ilmu silat, boleh dikatakan Ouw Hui sudah mencapai puncak yang paling tinggi. Apa yang kurang adalah peng-alaman dan latihannya yang rnasih terbatas akibat usianya yang rnasih muda. Akan tetapi, syukur juga, kekurangan itu dapat ditambal dengan tenaga muda-nya yang sedang kuat. Puluhan jurus sudah lewat dan keadaan rnasih tetap berimbang.

Melihat serangan-serangannya Biauw Jin Hong yang begitu cepat, lancar dan tepat, kagum sekali hati Ouw Hui. "Sungguh-sungguh namanya Kim-bian-hud Biauw Tayhiap bukan satu nama kosong," ia memuji dalam hatinya. "Jika ia rnasih muda, siang-siang aku sudah kalah. Dari sini dapat dilihat, bahwa ketika dulu ayah jatuh dalam tangannya, kemenangannya itu bukannya didapat dengan jalan licik."

Sesudah bertempur beberapa lama lagi, Biauw Jin Hong mendadak menikam dada Ouw Hui de¬ngan gerakan Oei-liong-coan sin-touw-sit-sit (Naga Kuning Menghantam dengan Kumisnya sembari memutar badan). Tikaman itu luar biasa cepat dan tidak mungkin dikelit lagi. Ouw Hui terkejut dan buru-buru menyampok dengan gerakan Hok-houw-sit (Pukulan Menaklukkan Harimau).

"Bagus!" berseru Biauw Jin Hong sembari meng-getarkan cabang pohonnya yang berhasil menyen-tuh satu jerijinya Ouw Hui. Sedang Ouw Hui me-rasakan kesakitan, Kim-bian-hud sudah maju se-tindak dan bergerak menikam padanya.

Sesaat itu satu kejadian yang tak terduga telah terjadi. Oleh karena terinjak-injak lama dengan empat kaki manusia yang berhawa hangat, dengan perlahan es yang menutupi tebing telah menjadi lumer. Pada ketika Kim-bian-hud menikam, berat badannya tertumplek pada kaki kirinya. Di detik itu, dengan suara "krek!" sepotong batu yang esnya lumer somplak dan jatuh ke dalam jurang, sehingga tak ampun lagi, badan Biauw Jin Hong turut ter-gelincir!

Dengan kaget, Ouw Hui jambret tangan baju-nya orang tua itu. Akan tetapi, walaupun jambretan itu tepat, badan Ouw Hui sendiri turut tergelincir oleh karena ketarik berat badannya Biauw Jin Hong!

Dengan serentak mereka menggoyangkan badan di tengah udara dan menempclkan badan mereka di dinding jurang, sambil mengeluarkan ilmu Pek-houw-yoc-ciang (Cecak merayap di tembok) untuk merayap ke atas. Apa mau, dinding jurang itu berlapis es yang sangat licin, sehingga jangan kata manusia, sekalipun cecak sendiri belum tentu bisa merayap di situ. Akan tetapi, biarpun tidak berhasil naik ke atas, ilmu tersebut sudah memperlambat kecepatan jatuhnya me¬re ka.

Tanpa tercegah pula, dengan perlahan mercka merosot turun. Waktu melongok ke bawah, mereka lihat di sebelah bawah, kira-kira sepuluh tombak lagi, terdapat satu batu besar yang menonjol dari dinding jurang. Jika mereka gagal mendarat di atas batu itu, teranglah sudah mereka akan tergelincir terus dan jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Kedua orang itu, bukan saja setanding ilmu silatnya, Akan tetapi juga hampir bersamaan jalan pikiran-nya. Dengan berbareng, mereka mengeluarkan ilmu Cian-kin-tui (Ilmu Membikin Berat Badan) dan menancapkan kaki mereka di atas batu itu, yang ternyata berbentuk bundar dan berlapis es, sehingga bukan main licinnya. Masih untung mereka mem-punyai kepandaian yang sangat tinggi, sehingga dapatlah mereka berdiri tetap di atas batu tersebut. Di lain saat, bahaya lain kembali terbayang di depan mata. Batu itu mulai bergoyang-goyang, rupanya tak kuat menahan berat badannya Biauw Jin Hong dan Ouw Hui!

Waktu mereka tergelincir dua cabang pohon yang tadi digunakan sebagai senjata, sudah turut jatuh di atas batu. Melihat keadaan yang sangat berbahaya, Biauw Jin Hong buru-buru membung-kuk dan memungut satu cabang dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya mengirim satu pukulan. Ouw Hui menundukkan kepalanya untuk kasih lewat pukulan itu dan dilain saat, ia pun sudah mencekal cabang pohon yang satunya lagi.

Begitulah kedua harimau itu lantas bertempur pula, sekali ini pertempuran yang akan memutuskan mati atau hidup. Tujuan masing-masing pihak ada-lah menjatuhkan lawannya secepat mungkin, agar sang batu tak usah menahan berat badannya dua orang. Hanyalah dengan begitu, bam ada harapan dapat menyelamatkan jiwa.

Sesudah bertempur kira-kira sepuluh jurus, Biauw Jin Hong kembali diliputi perasaan heran, oleh karena terang-terangan ia membuktikan, bah-wa setiap gerakannya Ouw Hui adalah gerakannya Ouw It To. Tapi sesaat itu, tak sempat ia menanya lagi. Pada detik itu, ia sudah menyerang dengan pukulan Hoan-wan Ek-tek-cwan-tiang yang akan segera disusul dengan pukulan Te-liauw-kiam-pek-ho-su-sit. Pukulan ini adalah simpanan Biauw Jin Hong yang sudah menaksir pasti, si brewok tak akan dapat menyelamatkan dirinya lagi. Akan tetapi se-bagaimana diketahui, pada sebelum menyerang de¬ngan pukulan Te-liauw-kiam-pek-ho-su-sit, pung¬gungnya Biauw Jin Hong sudah biasa terangkat sedikit. Seperti sudah dituturkan di atas, kebiasaan ini sudah berjalan semenjak kecil.

Waktu itu, sang rembulan pancarkan sinarnya yang terang benderang dan putih bagaikan perak. Di bawah sinarnya sang Puteri Malam, dinding jurang itu yang dilapis es merupakan satu kaca yang bersinar terang, sehingga punggungnya Biauw Jin Hong terbayang tegas sekali di atas "kaca" tersebut.

Begitu lihat punggung Kim-bian-hud terangkat sedikit, Ouw Hui segera ingat penuturan Peng Ah Sie, mengenai pertempuran antara mendiang ayah-nya dan Biauw Jin Hong pada dua puluh tujuh tahun berselang. Pada waktu itu begitu punggung Kim-bian-hud terangkat naik, ibunya Ouw Hui memberi tanda batuk-batuk kepada Ouw It To. Akan te-tapi, sekarang ia tidak perlu bantuan orang lain, oleh karena sudah mendapat bantuan dinding

jurang.

Demikianlah, begitu lekas punggung Kim-bian-hud terangkat, ia segera mendahului dengan se-rangan Pat-hong-cong-to.

Di lain pihak, baru saja Biauw Jin Hong mengirim separuh scrangan Te-liauw-kiam-pek-ho-su-sit, selu-ruh badannya sudah dikurungdengan senjatanya Ouw

Hui.

Sekarang, pada saat itulah ia sadar! Ia menge-tahui, bahwa pemuda yang menjadi lawannya mem-punyai hubungan yang sangat rapat dengan Ouw It To. "Pembalasan!" ia mengeluh sembari menghela napas dan meramkan kedua matanya untuk menung-gu kebinasaan.

Tapi, selagi mengangkat senjata untuk mena-matkan riwayatnya Biauw Jin Hong, di dalam otak-nya Ouw Hui mendadak berkelebat muka Biauw Yok Lan dan sedetik itu, ia ingat janjinya kepada nona Biauw, bahwa walaupun bagaimana juga ia tak akan mencelakakan ayahnya kecintaan itu. Akan tetapi, apabila saat itu ia tidak menurunkan tangan dan membiarkan Kim-bian-hud menyelesaikan pu-kulan Te-liauww-kiam-pek-ho-su-sit, adalah ia sen¬diri yang harus menerima kebinasaan.

Apakah yang ia harus perbuat? Apakah ia harus berlaku begitu tolol dan antarkan jiwa secara begitu rupa? Dilain pihak, jika ia menurunkan tangan, cara bagaimana ia masih mempunyai muka untuk ber-temu pula dengan Biauw Yok Lan? Dan jika seumur hidup ia tak dapat bertemu muka pula dengan nona Biauw, daripada hidup menderita, lebih baik mati! Bagaimana? Bagaimana?

* *

Lama, lama sekali, Biauw Yok Lan berdiri di atas salju, menunggu-nunggu pulangnya kedua orang yang dicintai. Saking kesal, perlahan-lahan ia mem-buka bungkusan yang tadi diserahkan kepadanya oleh si Rase Terbang. Dalam bungkusan itu ter-dapat beberapa stel pakaian anak orok dan satu bungkusan dari kain kuning. Dengan bantuan si-narnya rembulan, ia dapat lihat, bahwa di atas bungkusan kuning itu tertulis: "Tah-pian-thian-hee-bu-tek-chiu"! Itulah barang pemberian ayahanda-nya sendiri untuk Ouw Hui pada dua puluh tujuh tahun berselang! Ia terpaku, ia berdiri di situ ba-gaikan patung!

Jauh dari puncak, jauh dari dasar jurang yang sangat dalam, tepat di tengah jurang batu yang goyah dan setiap saat dapat jatuh, satu pertanyaan yang akan menentukan mati atau hidup, bagaimana-kah Ouw Hui harus berbuat?

* *

"Ouw It To, Kietie, Thiankie!"

"Biauw Jin Hong, Teecong, Hapkok!"

Demikian terdengar teriakan seorang, disusul dengan berkelebatnya sinar emas yang menyambar ke arah dua papan kayu dan empat kali suara "tuk". Sinar yang menyambar itu adalah senjata rahasia Kimpiauw.

Di atas sebuah papan dilukiskan peta badan seorang lelaki brewokan yang berbadan kasar dan di pinggir papan terdapal tiga huruf: "Ouw It To." Dilain papan terdapat lukisan seorang lelaki yang bertubuh tinggi kurus dengan tiga huruf "Biauw Jin Hong." Pada peta badan kedua orang itu digam-barkan pula jalan-jalan darah. Di bawah papan itu dipasangkan gagang yang dipegang oleh dua orang laki-laki dan papan itu dibawa lari berputar-putar di seluruh Lian-bu-teng (ruangan tempat berlatih silat).

Di pojok utara timur terdapat sebuah kursi yang diduduki oleh seorang nenek berambut putih dan bcrusia lima puluh tahun lebih. Nenek itulah yang barusan berteriak-teriak memberi komando dengan menyebutkan nama-nama Ouw It To dan Biauw Jin Hong.

Seorang pemuda yang berparas cakap dan ber-usia kira-kira dua puluh tahun, menimpukkan Kim¬piauw menurut komando si nenek. Kedua orang yang menyekal gagang papan, memakai jala kawat baja di masing-masing kepalanya, sedang pakaian mereka adaiah baju kapas yang tebal. Mereka ber-pakaian begitu karena khawatir si pemuda kesalah-an tangan.

Di luar, seorang wanita muda dan seorang pemuda sedang mengintip melalui lubang di kertas jendela. Melihat jitunya timpukan Kimpiauw itu, mereka saling mengawasi dengan paras muka kaget

dan kagum.

Di luar rumah, hujan turun seperti dituang-tuang dan saban-saban terdengar gemuruh geledek yang sangat nyaring. Karena besarnya hujan, air bercipratan ke badan dua orang muda itu yang memakai jas hujan dari kain minyak. Mereka meng¬intip terus dan mendengar si nenek berkata: "Jitu sih sudah jitu, hanya kurang tenaga. Hari ini cu-kuplah berlatih sampai di sini." Sehabis berkata begitu, perlahan-lahan ia berbangkit.

Dua orang muda di luar jendela itu, buru-buru menyingkir dan berjalan ke arah pekarangan luar.

"Sumoay (adik seperguruan)," kata si pemuda. "Permainan apakah itu?"

"Permainan?" yang ditanya menegasi. "Kau toh melihat sendiri, orang itu sedang berlatih piauw. Timpukannya cukup jitu."

"Kau kira aku tak tahu orang sedang berlatih piauw?" kata pemuda itu. "Apa yang aku kurang mengerti adalah nama-nama di atas kedua papan itu. Apa artinya Ouw It To dan Biauw Jin Hong?"

"Kalau kau tidak mengerti, apakah kau kira aku mengerti?" jawab si nona. "Lebih baik tanya kepada ayah."

Muka pemudi itu yang berusia kurang lebih delapan belas tahun, berpotongan telur, parasnya cantik, kedua pipinya bersemu dadu dan pada ke-seluruhannya, gerak-geriknya lincah dan muda se-gar. Si pemuda bermata besar, dengan dua alis yang tebal, sedang mukanya penuh jerawat yang ber-warna merah. Usia pemuda itu kira-kira enam tujuh tahun lebih tua daripada si nona dan meskipun parasnya kurang cakap, ia bersemangat dan gagah sekali.

Selagi mereka berjalan melewati pekarangan, hujan turun semakin deras, sehingga muka mereka menjadi basah. Dengan sapu tangan, gadis itu me-nyusut air di mukanya yang bersemu dadu dan yang kelihatannya menjadi lebih segar serta ayu. Melihat kecantikannya, pemuda itu mengawasinya dengan mata mendelong. Ketika mengetahui dirinya sedang dipandang, gadis itu tertawa dan sembari berkata "tolol!", ia lari masuk ke dalam sebuah ruangan.

Di tengah-tengah ruangan terdapat perapian yang dikitari oleh dua puluh orang lebih, yang sedang mengeringkan pakaian basah. Di sebelah timur berkumpul sejumlah orang Rimba Persilatan yang mengenakan pakaian ringkas pendek dan ber-senjata semua. Di sebelah barat terdapat tiga orang yang memakai seragam pembesar tentara Boan. Mereka baru saja datang dan belum membuka pa¬kaian mereka yang basah. Begitu melihat masuknya si nona, mereka memandangnya secara kurang ajar sekali.

Nona itu segera menghampiri seorang tua yang berbadan kurus dan segera menceritakan apa yang dilihatnya barusan. Orang tua itu, yang berusia kira-kira lima puluh tahun, kelihatan bersemangat dan gagah, tingginya belum cukup lima kaki, ram-butnya masih hitam jengat dan kedua matanya ber-sinar tajam.

Mendengar penuturan wanita muda itu, ia se¬gera mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara perlahan: "Lagi-lagi kau mencari gara-gara. Jika ketahuan, bukankah bakal jadi rewel?"

Gadis itu meleletkan lidahnya dan berkata sem bari tertawa. "Ayah, selama mengikuti kau po-piauw (mengantar barang barang-barang dari satu ke lain tempat oleh orang-orang Rimba Persilatan) kali ini, sudah delapan belas kali aku dimaki."

"Jika kau sedang berlatih silat dan diintip oleh orang luar, bagaimana perasaanmu?" tanya sang ayah.

Begitu mendengar perkataan ayahnya, nona yang sedang tertawa-tawa itu, lantas saja hcruhah paras mukanya. la ingat kepada suatu kejadian. Tahun yang lalu, ada seorang mengintip dari luar. di waktu ayahnya berlatih. Ayahnya mengetahui itu, tapi berlagak pilon. Beberapa saat kemudian, selagi berlatih melepaskan panah tanah, mendadak ia memanah mata orang itu yang segera menjadi buta Masih untung ayahnya berlaku murah hati dan tidak mengerahkan seantero tenaganya, sehingga orang itu terluput dari kebinasaan.

Harus diketahui bahwa dalam kalangan Rimba Persilatan, mengintip orang berlatih silat dianggap sebagai kedosaan yang lebih besar daripada mencuri uang.

Gadis itu merasa agak menyesal, tapi ia sungkan mengaku salah. "Ayah," katanya. "Ilmu melepas piauw orang itu, lumrah saja. Tak ada harganya

untuk dicuri."

Si orang tua menjadi gusar. "Budak kecil!" ia membentak. "Kenapa kau begitu iseng mulut, men-cela-cela kepandaian orang lain?"

Nona itu tertawa dan berkata dengan suara aleman: "Siapa suruh aku menjadi anak Pek-seng Sin-kun Ma Loopiauwtauw."

Selagi ayah dan anak itu berbicara, ketiga per-wira Boan yang tengah mengeringkan pakaian, te¬rus memasang kuping, tapi mereka tak dapat men¬dengar pembicaraan mereka, karena mereka ber-cakap-cakap dengan suara perlahan. Tapi kata-kata terakhir nona itu, diucapkan agak keras.

Begitu mendengar "Pek-seng Sin-kun Ma Loo¬piauwtauw", seorang antara mereka segera menc-ngok ke arah si orang tua dan kemudian mengawasi bendera piauw natar kuning dengan sulaman hitam. "Pek-seng Sin-kun?" katanya di dalam hati. "Som-bong benar!"

Orang tua itu adalah seorang she Ma, namanya Heng Kong dan dalam kalangan Kang-ouw ia diberi julukan Pek-seng Sin-kun ( si Tinju malaikat yang tidak terkalahkan). Si nona adalah puteri tung-galnya yang diberi nama It Hong, sedang pemuda itu, yang barusan turut mengintip orang berlatih piauw, adalah muridnya, seorang she Cie bernama Ceng.

Melihat perwira Boan itu saban-saban melirik It Hong, Cie Ceng jadi mendongkol dan terus mengawasi dengan sorot mata gusar. Di lain saat, ketika perwira itu menengok, dua pasang mata mereka jadi kebentrok. Ia gusar dan mendeliki murid Ma Heng Kong ini, yang dianggapnya mau mencari gara-gara.

Cie Ceng adalah seorang pemuda yang ber-darah panas dan karena berdampingan dengan gurunya, nyalinya menjadi lebih besar lagi. Maka itu, lantas saja ia membalas delikan dengan delikan juga.

Perwira tersebut, yang berbadan tinggi besar, agaknya mempunyai ilmu silat yang tidak cetek. la tertawa berkakakan dan sembari menengok kepada kawannya, ia berkata dengan suara cukup keras. "Eh, coba lihat bocah itu yang bermata seperti mata bangsat. Apakah kau sudah mencuri perempuan-nya?" Kedua kawannya lantas saja turut tertawa besar.

Dengan gusar, Cie Ceng meloncat bangun, "Apa kau kata?" ia membentak.

Perwira itu menyengirdan berkata: "Bocah, aku sudah bicara salah. Maaflah." Mendengar orang itu mengakui kesalahannya, amarah Cie Ceng lantas menjadi reda, tapi selagi ia mau duduk pula, orang itu berkata lagi "Aku tahu, orang bukan mencuri perempuanmu, tapi mencuri adikmu."

Cie Ceng kembali meloncat, tapi sebelum ia sempat menubruk orang yang mulutnya iseng itu, Ma Heng Kong sudah keburu membentak: "Ceng-jie! Duduk!"

"Suhu (guru)! Apakah kau tak dengar?" kata Cie Ceng dengan muka merah.

"Para Tayjin (orang berpangkat) hanya guyon-guyon, tak ada sangkut pautnya dengan kau," kata sang guru dengan suara tawar.

Cie Ceng tak berani membantah pula. Dengan sorot mata gusar ia mengawasi ketiga perwira itu dan kemudian duduk pula. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak dan mata mereka melirik It Hong secara lebih kurang ajar lagi.

Ma It Hong pun sangat gusar, tapi ia me-ngetahui, bahwa ayahnya paling sungkan berurusan dengan pegawai kerajaan. Selagi memutar otak untuk mencari daya guna menghajar tiga perwira itu, tiba-tiba suatu sinar terang berkeredep, diba-rengi dengan menggelegarnya halilintar yang nya-ring luar biasa. Sementara itu, air hujan masih tetap turun seperti dituang-tuang.

Di antara berisiknya hujan, sekonyong-konyong terdengar suara rhanusia di depan pintu. "Besar sungguh hujan ini," kata orang itu. "Bolehkah aku numpang meneduh di sini?"

Seorang bujang lelaki dari gedung itu, lantas saja ketuar menyambut sambil berkata: "Masuklah, tuan. Di sini ada perapian yang hangat."

Pintu ditolak dan masuklah dua orang, satu lelaki dan satu perempuan. Yang lelaki, seorang yang berusia kira-kira tiga puluh tahun dengan badan tinggi besar, cakap dan ganteng, menggen-dong sebuah bungkusan di punggungnya, sedang yang perempuan adalah seorang wanita cantik elok yang berusia kira-kira dua puluh dua tahun. Ma It Hong sudah boleh dikatakan cantik, tapi dibanding dengan wanita itu, puteri Ma Loopiauwtauw ini masih kalah jauh sekali.

Mereka lantas saja membuka baju hujan me¬reka. Tubuh wanita itu dikerebongi baju luar si lelaki, tapi seantero pakaiannya, luar dalam, semua basah kuyup.

Lelaki itu masuk sambil menuntun tangan wa¬nita tersebut dan dilihat dari gerak-geriknya, tak bisa salah lagi mereka adalah sepasang suami isteri.

Sesudah menggelar rumput kering, lelaki itu segera membimbing isterinya duduk di atas lantai. Pakaian mereka indah sekali, sedang di leher wanita tersebut terdapat seuntai kalung mutiara, yang bun-dar-bundar dan besar dan harganya tentu mahal

sekali.

Ma Heng Kong tercengang. "Daerah ini tidak aman," katanya di dalam hati. "Kalau bukan orang hartawan, mereka tentu orang berpangkat. Kenapa, tanpa membawa pengiring, mereka berani jalan di sini?" la sudah berpengalaman luas dalam dunia Kang-ouw, tapi tak juga ia dapat menebak, siapa adanya pasangan itu.

Nyonya tersebut kelihatnanya sangat mende-rita, kedua matanya merah akibat sampokan angin dan hujan. Dengan memakai terus pakaian basah itu, tak bisa tidak, ia akan mendapat sakit.

Melihat itu, Ma It Hong jadi merasa kasihan. Ia membuka tempat pakaiannya dan Sesudah me-ngeluarkan seperangkat pakaian, ia mendekati wa-nita itu sambil berkata: "Nyonya, pakailah ini. Se¬sudah pakaianmu kering, kau bisa menukar lagi."

Nyonya itu sangat berterima kasih. Ia berbang-kit sembari tertawa dan melirik suaminya, seperti orang ingin minta permisi. Lelaki itu manggutkan kepalanya dan menghaturkan terima kasih sembari tertawa. Nyonya itu lalu menarik tangan Ma It Hong, mereka berdua pergi ke r.uangan belakang dan meminjam kamar untuk berganti pakaian.

Ketiga perwira Boan itu mengawasi dengan sorot mata kurang ajar. Orang yang barusan ber-cekcok dengan Cie Ceng dan nyalinya paling besar, lantas saja berkata dengan suara perlahan. "Aku mau mengintip."

Seorang kawannya menyengir. "Jangan cari urusan, Loo-ho," katanya. Tapi sembari mengedip-ngedipkan matanya, orang she Ho itu terus ber-bangkit. Baru berjalan beberapa tindak, ia rupanya ingat akan sesuatu dan kembali lagi untuk meng-ambil goloknya, yang lantas digantungkan di ping-gangnya.

Melihat musuhnya pergi ke belakang, Cie Ceng yang masih mendongkol, lantas melirik gurunya. Ia ini ternyata sedang bersemedhi, sambil meramkan kedua matanya. Dua piauw-tauw lainnya, seorang she Cek dan yang seorang lagi she Yo, bersama lima pembantu dan belasan tukang kereta, tengah ber-tiduran di sekitar kereta barang.

Melihat begitu, Cie Ceng buru-buru bangun dan terus mengikuti perwira she Ho itu.

Mendengar bunyi tindakan, perwira itu mene-

ngok. Ia tertawa dan menanya: "Bocah, kau baik?"

"Pembesar bau, kau baik?!" Cie Ceng mencaci.

"Kepengen dihajar?" tanya orang she Ho itu

sembari menyengir.

"Tak salah," jawab Cie Ceng. "Guruku melarang aku menghajar kau. Apakah kau setuju jika kita membereskan sengketa ini secara diam-diam?"

Perwira itu yang menganggap ilmu silatnya ting-gi, tentu saja tak memandang sebelah mata kepada satu "bocah" seperti Cie Ceng. Apa yang ia kha-watirkan hanyalah jumlah rombongan Cie Ceng yang agak besar, sehingga kalau mesti bertempur secara campur aduk, pihaknya yang hanya terdiri dari tiga orang, sudah pasti akan menderita ke-kalahan. Maka itu, ia girang mendengar usul pe-muda itu.

Ia manggut-manggutkan kepalanya dan ber¬kata: "Baiklah. Kita pergi jauhan. Jika kedengaran gurumu, pertempuran ini tak mungkin kejadian."

Setelah melewati cimche dan selagi mencari tempal yang cocok, dari sebuah lorong, tiba-tiba muncul seorang, yang berpakaian indah, usianya kira-kira tujuh belas tahun, parasnya cakap dan ia ini bukan lain daripada pemuda yang tadi berlatih melepas piauw.

"Ah, kenapa aku tidak mau meminjam ruangan berlatihnya?" kata Cie Ceng dalam hatinya. Ia menghampiri dan berkata sembari memberi hormat: "Hengtiang (kakak), selamat bertemu."

Pemuda itu mcmbalas hormat dan menanya: "Siapa adanya tuan?"

"Dengan tuan perwira itu, aku mempunyai sedikit sengketa," jawab Cie Ceng sembari menunjuk si per¬wira. "Bisakah aku meminjam Lian-bu-teng Heng¬tiang?"

Pemuda itu merasa agak heran. "Darimana ia mengetahui, bahwa aku mempunyai Lian-bu-teng?" tanyanya pada dirinya sendiri. Akan tetapi, seperti biasa, orang yang berkepandaian silat, paling senang menonton perkelahian. Maka itu, lantas saja ia menyahut: "Bagus! Bagus!" Tanpa berkata suatu apa lagi, ia mengajak kedua tamunya masuk ke ruangan berlatih.

Ketika itu, Lian-bu-teng sudah kosong. Di ping-gir empat penjuru tembok terdapat rak-rak senjata, karung pasir, kantong anak panah, cio-so (batu yang dibuat seperti kunci untuk berlatih silat) dan Iain-lain alat. Di sebelah barat ruangan itu terdapat panggung Bwee-hoa-chung dengan tujuh puluh lima pelatoknya. (Bwee-hoa-chung, atau panggung bu-nga bwee, dibuat dari pelatok-pelatok kayu. Orang yang berlatih silat atau bertempur, harus berdiri di atas pelatok-pelatok itu).

Melihat perlengkapan itu, si perwira yakin, bahwa keluarga tersebut adalah keluarga kalangan persilatan yang tidak boleh dipandang ringan. Ia berpaling kepada tuan rumah dan berkata sembari merangkap kedua tangannya: "Aku datang di rumah tuan untuk numpang meneduh dari serangan hujan. Bolehkah aku mendapat tahu, she dan nama tuan yang besar?"

Pemuda itu buru-buru membalas hormat. "Aku yang rendah she Siang bernama Po Cin," jawabnya. "Siapakah nama kedua tuan ini?"

"Namaku Cie Ceng," jawab murid Ma Heng Kong. "Guruku adalah Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong, Cong-piauw-tauw (pemimpin) dari Hui-ma Piauw-kiok." Sembari memperkenalkan diri, ia meng-awasi lawannya dengan sikap bangga.

"Sudah lama aku mendengar nama besar itu," kata Siang Po Cin sembari menyoja, "Dan tuan?"

"Aku adalah Gie-cian Sie-wie (Pengawal Kai-sar) kelas dua dari pasukan golok, namaku Ho Sie Ho," jawabnya.

"Ah, kalau begitu aku sedang berhadapan de¬ngan seorang Sie-wie Tayjin," kata tuan rumah. "Aku dengar, di kota raja terdapat delapan belas ahli silat utama dalam islana. Ho Tayjin tentulah juga mengenal mereka."

"Ya, aku kenal sebagian besar," sahut Ho Sie Ho.

"Siang Kongcu," kata Cie Ceng dengan suara keras. "Kumohon kau sudi menjadi saksi. Aku dan orang she Ho itu sudah mufakat untuk menjajal tenaga secara adil. Tak perduli siapa yang menang, siapa yang kalah, kejadian ini tidak boleh diuwarkan di luaran."

la mengajukan syarat tersebut oleh karena kha-watir diomeli gurunya.

Ho Sie Ho tertawa terbahak-bahak. "Memang berkelahi melawan bocah cilik bukan suatu hal yang dapat dibanggakan!" katanya. "Tak ada harga untuk menyombongkan diri di depan orang banyak. Bo¬cah! Hayo maju!"

Sesudah bcrkata begitu, ia menyelipkan jubah panjangnya di pinggang, sedang Cie Ceng lalu mem-buka thungshanya, mclilit thaucangnya (kuncir pada jaman pemcrintahan Boan) di kepalanya dan mc-masang kuda-kuda.

Melihat lawannya memasang kuda-kuda me-nurut ilmu silat Cap-kun, hati Ho Sie Ho menjadi lega. "Hm! Sebegitu saja murid Pek-seng Sin-kun?" ia menggerendeng. "Anak umur tiga tahun juga sudah mahir dalam ilmu itu."

Harus diketahui, bahwa "Tam-cap-hoa-hong" (Tam-tui, Cap-kun-Hoa-kundan Hong-bun) adalah empat rupa pclajaran silat yang di Tiongkok Utara merupakan pokok ilmu silat dan harus dikenal oleh setiap orang yang belajar silat.

Tanpa menyia-nyiakan tempo lagi, Sesudah ber-kata "sambutlah", Ho Sie Ho segera menyerang dengan pukulan Siang-po Ya-ma Hun-cong (Kuda liar membelah suri), pukulan dari Thay-kek-kun, ilmu silat Lweekeh yang pada masa itu sangat di-gemari orang. Buru-buru Cie Ceng menggeser kaki kirinya ke belakang untuk mengegos pukulan ter¬sebut dan hampir berbareng dengan itu menyabet dengan tangan kirinya. Sambil memutarkan badan, dengan gerakan Coan-sin Pauw-ho Kwie-san (Me-mutar badan memeluk harimau pulang ke gunung), Ho Sie Ho berkelit. Tapi, dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, Cie Ceng mengulangi serangannya dengan jotosan ke arah muka lawannya. Kali ini. Ho Sie Ho tidak keburu mengegos lagi dan harus menangkis dengan lengannya. Begitu kedua lengan mcreka beradu, ia merasakan pundaknya kesemut-an. "Ah! Tak dinyana bocah ini mempunyai tenaga yang begitu besar," katanya di dalam hati.

Dalam tempo cepat, mereka sudah bergebrak belasan jurus. Siang Po Cin yang menonton di pinggir, mendapat kenyataan, bahwa tindakan Cie Ceng sangat mantap dan pukulannya bertenaga, sedang gerakan Ho Sie Ho enteng lincah, suatu tanda, bahwa ia mempunyai ilmu mengentengkan badan yang lumayan.

Sesudah saling menyerang beberapa jurus lagi, dengan suatu bentakan keras, Ho Sie Ho meng-hantam pundak Cie Ceng, yang lalu berkelit sembari menendang, Ho Sie Ho mengegos dan mengirim pula tinjunya dengan pukulan Giok-lie Coan-so (Dewi menenun), yang telak mengenai lengan Cie Ceng. Tapi pemuda itu, yang bertenaga besar, se-perti tidak merasakan suatu apa dan terus menjotos dengan pukulan Kiong-po Pek-tah (Memukul sem¬bari menindak). "Duk!" tinju Cie Ceng mampir jitu di dada Ho Sie Ho yang lantas saja terhuyung beberapa tindak, akan kemudian jatuh terduduk di atas lantai.

"Bagus!" demikian terdengar seruan seorang wanita.

Siang Po Cin menengok. Ternyata, di depan pintu berdiri dua orang wanita, seorang nyonya dan seorang gadis, yaitu Ma It Hong dan si nyonya muda yang baru saja selesai menukar pakaiannya yang basah. Pujian "bagus!" itu diucapkan Ma It Hong yang merasa girang melihat suhengnya memperoleh kemenangan.

Ho Sic Ho yang dadanya sakit berbareng malu, lantas saja jadi mata gelap. Sembari meloncat ba-ngun, ia menghunus goloknya dan tanpa berkata suatu apa, segera membacok. Cie Ceng tidak men-jadi gentar. Dengan ilmu Kong-chiu-jip-pek-to (Dc-ngan tangan kosong masuk ke dalam rimba golok), ia melayani musuhnya dengan waspada. Melihat kekalapan perwira itu, sedang suhengnya tidak ber-senjata, Ma It Hong jadi khawatir.

Tapi, selagi ia mengawasi jalan pertempuran dengan penuh perhatian, nyonya muda itu menarik tangannya seraya berkata: "Hayolah! Aku paling sebal melihat orang berkelahi."

"Tunggu sebentar," Ma It Hong menolak. Nyo¬nya itu mengerutkan alisnya dan lantas berlalu sendirian.

Selain It Hong, Siang Po Cin pun mengawasi segala gerakan-gerakan kedua lawan itu dengan menggenggam sebatang Kimpiauw, siap-sedia un-tuk menolong Cie Ceng, jika perlu.

Dalam gelanggang, Cie Ceng sedang mencurah-kan seluruh perhatiannya kepada golok musuh. Suatu ketika, Ho Sie Ho membacok mukanya. Cie Ceng miringkan badannya sembari menendang, se¬dang Ho Sie Ho lantas saja memutarkan senjatanya dan membabat kedua kaki pemuda itu. Bagaikan kilat, sambil melompat, Cie Ceng menjotos dengan tinjunya yang sekali lagi tepat mengenai hidung Iawannya. Sedang kaki tangan Ho Sie Ho kalang kabut, tangan kanan Cie Ceng meluncur dan dilain saat, golok itu sudah kena dirampasnya.

Ho Sie Ho terkesiap dan buru-buru meloncat mundur beberapa tindak, sembari mengusap hi-dungnya yang berlumuran darah.

"Apakah sekarang kau masih berani memaki orang?" tanya Cie Ceng sambil melemparkan golok orang.

Paras muka perwira Boan itu menjadi merah seperti kepiting direbus dan ia tak berani menge-luarkan sepatah kata.

Sambil mengedipkan matanya, Siang Po Cin buru-buru menarik baju Cie Ceng seraya berkata dengan suara agak nyaring: "Ho Tayjin salah tangan. Kedua belah pihak sebenarnya belum ada yang kalah atau memang. Sudahlah. Ilmu kedua saudara sama-sama tingginya, aku merasa kagum sekali."

"Kenapa begitu?" tanya Cie Ceng, tidak me-ngerti.

"Masing-masing mempunyai kebagusan sendiri," kata Siang Po Cin sambil tertawa. "Cap-kun dari Cie-heng sangat bagus, tapi Thay-kek-kun dan Thay-kek-to Ho Tayjin juga tidak kurang lihaynya. Cic-heng, kau hanya beruntung karena sedetik Ho Tayjin tidak berwaspada. Tapi, mengenai ilmu yang sesungguhnya, adalah Ho Tayjin yang lebih unggul." Sehabis berkata begitu, ia mengeluarkan sapu ta¬ngannya yang lalu diberikan kepada Ho Sie Ho untuk menyeka darah dari hidungnya.

Cie Ceng sebenarnya ingin menarik urat lagi, tapi Ma It Hong sudah menarik tangannya sembari berkata: "Suko, hayolah!"

Karena tidak mengerti maksud Siang Po Cin, Cie Ceng merasa mendongkol sekali dan berlatu bersama Ma It Hong sembari mengawasi tuan ru-mah dengan sorot mata gusar. Selagi mereka ber-jalan melewati cimche, mendadak guntur berbunyi dan di antara suara guntur terdengar pula suara tertawa Ho Sie Ho dan Siang Po Cin, yang agaknya sedang mentertawakan mereka berdua.

Demikianlah, walaupun menang berkelahi, Cie Ccng jadi semakin mendeluh dan dengan uring-uringan ia duduk di pinggir perapian. Ia melirik dan melihat gurunya masih tetap bersila dengan meram-kan mata. Dilain saat, Ho Sie Ho masuk, ia lalu kasak-kusuk dengan kedua kawannya dan kemu-dian tertawa berkakakan bertiga-tiga, sedang mata mereka tak hentinya melirik nyonya muda yang cantik itu.

Berselang beberapa saat lagi, Pek-seng Sin-kun agaknya mendusin. Ia berbangkit dan sesudah mengulet beberapa kali, menghampiri kereta piauw.

"Ceng-jie, kemari kau!" ia memanggil. "Coba lihat, kenapa ini?"

Cie Ceng buru-buru menghampiri dan menanya: "Kenapa?"

Dengan muka menghadapi tembok dan mem-buat gerakan seperti sedang membetulkan kereta, Ma Heng Kong berkata dengan suara perlahan: "Anak tolol! Kenapa tadi tendanganmu miring? Jika tidak, tak usah kau menggunakan tempo begitu lama."

Cie Ceng terkesiap. "Suhu... li... hat?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Hm! Jangan kau kira bisa main gila di hadapan gurumu!" Sang guru menggerendeng.

"Jika nyalimu tidak terlalu kecil dan takut mam-pus, sebenarnya siang-siang kau sudah menang."

Biar bagaimanapun juga, Cie Ceng harus meng-akui jitunya pcrkataan itu. Memang benar, pada gebrakan-gebrakan pertama, ia bcrlaku luar biasa hali-hali karena ia belum dapat meraba "isi" lawan-nya.

"Sckarang kau lekas menghaturkan terima ka-NIli kepada pemuda she Siang itu," pcrintah Ma Heng Kong. "I.ainorang usianya banyak lebih muda, lapi otaknya jauh lebih cerdas daripada kau."

Cie Ceng kembali terkejut. "Suhu," katanya. "Terima kasih apa? Orang she Siang itu kurang baik hatinya, bukan manusia baik-baik."

"Hm!" Ma Heng Kong kembali menggerendeng. "Benar hatinya kurang baik, tapi kurang baik untuk melindungi kau, Cie Toaya!"

Si murid tergugu, ia mengawasi dengan mata niendelong, tanpa mengerti apa yang dimaksudkan gurunya.

"Siapa yang kau hajar tadi?" tanya Ma Heng Kong. "Dia adalah Gie-cian Sie-wie kelas dua dari pasukan golok. Dan kita? Kita adalah orang-orang yang mencari sesuap nasi dari pekerjaan po-piauw. Jika In.in tuan besar itu ingin menyusahkan kau, apakah kau kira bisa mencari makan? Dengan kata-katanya yang manis, pemuda she Siang itu sudah inenolong muka paduka Sie-wie itu dan maksudnya adalah, supaya kau tak usah berabe di hari ke-mudian."

Cie Ceng mendusin dan lantas saja berkata: "Benar, benar, kau benar Suhu!" Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, buru-buru ia berlari-lari ke Lian-bu-teng, di mana Siang Po Cin masih berlatih ilmu silat Cap-kun yang barusan diguna-kannya sendiri.

Melihat datangnya Cie Ceng, paras muka Siang Po Cin jadi bersemu merah dan segera menghen-tikan latihannya.

"Siang Kongcu," kata Cie Ceng sambil merang-kap kedua tangannya. "Guruku memerintahkan aku datang menghaturkan banyak terima kasih kepada mu. Oleh karena tidak mengerti maksudmu yang sangat mulia. tadi aku sudah berlaku kurang ajar dan untuk itu, aku mohon kau sudi memaafkannya."

"Cie Toako, jangan kau bicara begitu," kata Siang Po Cin sembari tertawa dan membalas hor-mat. "Ilmu silatmu adalah sepuluh kali lebih tinggi daripada orang she Ho itu. Siauwtee sungguh mc¬rasa kagum."

Mendengar pujian itu, Cie Ceng jadi mcrasa girang sekali. Kemudian ia bercakap-cakap dcngan pemuda itu.

"Siang Lauwtee (adik)," katanya. "Ilmu cabang persilatan mana yang kau pelajari?"

"Siauwtee baru saja belajar dan tak dapat bicara tentang cabang ini atau cabang itu," jawabnya. "Ba¬rusan aku mcrasa kagum melihat pukulanmu yang sangat lihay. Bukankah begini?" Sembari berkata begitu, ia menendang dengan kaki kanannya, mem-babat dengan tclapakan tangan kanannya dan men-dorong ke alas dengan telapak tangan kirinya.

Dapat dimengerti, bahwa hal itu sudah Icbih-lebih menggirangkan hati Cie Ceng yang lantas saja berkata: "Pukulan itu mempunyai dua baris Kouw-koat (teori) yang berbunyi: Daratan lautan men-dekati pintu, tiga tidak memperdulikan, menjotos dan membabat jangan sungkan-sungkan." Begitu perkataan tersebut keluar dari mulutnya, ia ingat, bahwa itu adalah rahasia pelajaran yang tidak boleh sembarang dibuka terhadap orang luar dan oleh karena itu, buru-buru ia berputar haluan: "Apa yang kau jalankan barusan adalah sangat tepat."

"Tapi, apakah artinya Daratan lautan mende-kali pintu, tiga tidak memperdulikan?" tanya Siang Po Cin.

"Aku... aku juga tak tahu," jawabnya dengan nnika bersemu merah, karena ia tidak biasa ber-dusla.

Siang Po Cin yang mengetahui, bahwa pemuda itu tak mau membuka rahasia, tidak mau mendesak terlebih jauh dan terus mengumpak-umpak, sehingga Cie Ceng merasakan dirinya seolah-olah mumbul di awangawang.

"Siang Lauwtee," katanya. "Sekarang baik kita jangan membicarakan segala hal yang tak ada arti¬nya. Cobalah kau menjalankan ilmu silatmu dan jika ada apa-apa yang kurang betul, aku akan memberi petunjuk-petunjuk."

Siang Po Cin menjadi girang dan lantas saja mempertunjukkan ilmu silat Tam-tui yang mem¬punyai dua belas jalan. Ternyata, ia sudah hapal ilmu tersebut dan dapat menjalankannya tanpa membuat kekeliruan. Hanya sayang, pukulannya tidak mantap dan tindakan kakinya agak melayang, sehingga jika digunakan dalam pertempuran yang sungguh-sungguh, silat itu yang kelihatannya sangat indah, sedikit pun tiada gunanya.

Cie Ceng menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesudah Siang Po Cin selesai menjalankan dua belas jalan itu, ia berkata sambil menghela napas: "Saudara, janganlah berkecil hati jika aku bcrtcrus terang. Guru yang mengajar kau, hanya membuang-buang tempomu yang sangat berharga." Selagi ia hcndak membcri pcnjelasan terlebih lanjut, liba tiba Ma It Hong muncul di depan pintu dan berkata: "Suko, ayah memanggil kau."

Cie Ceng lantas saja pamitan dan butu burn kcmbali kepada gurunya. Dalam ruangan itu so karang bertambah pula dua orang yang numpang mcneduh dari serangan hujan. Seorang di antara mereka itu hanya mempunyai sebuah lengan, lengan kiri. Suatu bekas bacokan golok yang sangat pan-jang, dari alis kanan ke pinggir mulut kiri, mclewati hidung, tampak pada mukanya, sehingga di bawah sinar api, parasnya kelihatan menakutkan sekali.

Seorang lagi adalah bocah yang berusia kira-kira 14 tahun. Badannya kurus dan kulitnya kuning. Satu-satunya persamaan antara kedua orang itu adalah pakaian mereka yang sangat rombeng.

Cie Ceng melirik mereka dan terus mengham piri gurunya. "Suhu, ada apa..." tanyanya.

"Kenapa kau pergi begitu lama..." tanya Ma Heng Kong dengan suara gusar.

"Kau mengagul-agulkan kepandaianmu, bu-

kan?"

"Mana murid berani?" jawabnya. "Tuan rumah she Siang itu mcmpunyai ilmu melepas piauw yang bolch juga, hanya sayang, ilmu silatnya terlalu cc-tek."

"Anak tolol!" bentak sang guru. "Dengan kepan¬daianmu yang tiada arlinya, dua orang seperti kau masih belum tentu dapat menandingi dia."

Cie Ceng tertawa. "Mungkin sekali tidak be¬gitu," katanya.

"Tam-tui yang diajarkan gurunya, hanya bagus dilihat, tapi tak dapat digunakan."

"Kau tahu siapa gurunya?" tanya Ma Heng Kong.

Cie Ceng heran. "Apakah Suhu tahu siapa guru Siang Po Cin, sedang ia sendiri belum pcrnah ber-icinu dengan orang she Siang itu dan yang belum pernah melihat ilmu silatnya?'' lanyanya di dalam hati. "Entah, murid tak tahu," jawabnya. "Tapi mesti-nya bukan seorang pandai."

"Hm! Bukan seorang pandai!" Ma Heng Kong mcngcluarkan suara di hidung. "Lima belas tahun bcrselang, gurumu telah dibacok dan digebuk orang, sehingga harus bcrobat tiga tahun baru menjadi sembuh. Siapakah orang itu?"

"Pat-kwa-to (si Golok Pat-kwa) Siang Kiam Beng," jawab Cie Ceng.

'Tak salah," sang guru berbisik. "Siang Kiam Beng adalah orang Bu-teng-koan, propinsi Shoa-tang. Bukankah tempat ini Bu-teng-koan? Kctika baru masuk di sini, aku tidak mempcrhalikan. Coba lih.it: Bukankah lukisan di penglari itu merupakan Pat-kwa?"

Cie Ceng berdongak dan lihat gambar Pat-kwa dari air emas di alas penglari itu. "Suhu, lekas bersiap!" katanya, tergugu. "Kalau begitu, kita su-dah masuk ke dalam sarang musuh."

"Jangan ribut, Siang Kiam Beng sudah dibinasakan orang," kata gurunya.

Cie Ceng memang pemah mendengar penu-luran gurunya, bahwa selama hidupnya, guru itu baru sekali dirubuhkan orang dan orang itu adalah Siang Kiam Beng. Tapi, oleh karcna kejadian ter-sebut adalah kejadian yang memalukan dan gurunya tidak pcrnah menyebut-nyebut lagi, ia pun tak be-rani menanyakan pula. Baru sekarang ia mengc tahui, bahwa Siang Kiam Beng sudah binasa.

"Apakah dibinasakan oleh Suhu?" tanyanya, berbisik.

"Andaikata aku belajar lagi sampai ajalku, tak dapat aku menandingi kepandaian Siang Kiam Beng," jawab Ma Heng Kong dengan suara tawar.

"Orang yang kepandaiannya secetek aku,' mana mampu mengambil jiwa orang she Siang itu?"

Cie Ceng tercengang dan menanya pula: "Kalau begitu, siapa yang membunuh dia?"

"Orang yang namanya tcrtulis di alas papan itu," jawabnya. "Siang Kiam Beng telah dibinasakan oleh kedua orang itu."

Cie Ceng membuka kedua matanya lebar-lebar. "Ouw It To dan Biauw Jin Hong?" tanyanya.

Sebagai murid, Cie Ceng memandang gurunya bagaikan malaikat. Ia menganggap, dalam dunia ini, jarang ada manusia yang dapat menandingi kepan¬daian Pek-seng Sin-kun Ma Loopiauwtauw. Tapi sekarang, dari mulut gurunya sendiri, ia mendengar, bahwa ilmu silat Pat-kwa-to Siang Kiam Beng masih jauh lebih tinggi daripada kepandaian gurunya itu, sedang Ouw It To dan Biauw Jin Hong bahkan lebih atas lagi dari Siang Kiam Beng. Maka itu, tidak mengherankan, jika ia jadi terperanjat.

"Orang apakah itu, Ouw It To dan Biauw Jin Hong?" ia menanya pula.

"Kepandaian Ouw It To lebih tinggi sepuluh kali lipat daripada aku," gurunya menerangkan. "Hanya sayang, belasan tahun berselang, ia sudah meninggal dunia."

"Mati sakit?" tanya Cie Ceng.

"Dibinasakan oleh Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, Kim-bian-hud Biauw Jin Hong," jawabnya. (Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu berarti tiada tan-dingannya di kolong langit. Kim-bian-hud berarti Buddha muka emas).

Perkataan "Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu Kim-bian-hud Biauw Jin Hong" diucapkan hampir berbareng dengan menyambarnya kilat yang disusul menggelegarnya guntur. Selagi Cie Ceng hendak mcmbuka mulut lagi, dari sebelah jauh mendadak terdengar derap kaki kuda dan scsaat kemudian ternyata. bahwa yang datang itu tidak kurang dari belasan penunggang kuda.

Begitu mendengar bunyi kaki kuda, suami isteri yang berparas cakap itu saling mengawasi dan wa-laupun mereka coba menekan perasaannya, semua orang dapat melihat, bahwa mereka sedang berada dalam ketakutan hebal. Seperti orang yang takut akan panasnya hawa api, yang Iclaki menarik tangan si wanita dan mereka berkisar ke pojok yang agak jauh.

Belasan kuda itu berhenti di depan rumah dan sesudah terdengar bchcrapa teriakan, tujuh dela-pan orang pergi ke belakang dengan mengambil jalan memutar.

Ma Heng Kong berubah paras mukanya. "Hati-hati," ia berbisik.

"Siapa yang datang?" tanya Cic Ceng dengan suara gemetar.

Ma Heng Kong tidak menjawab pcrtanyaan muridnya, tapi lantas memberi komando dengan suara keras: "Siapkan scnjata! Lindungi piauw!"

Keadaan lantas saja menjadi kalut. Dua piauw-tauw she Cek dan she Yo segera memerintahkan tukang kcreta piauw itu mcnjadi satu dan scmua orang lantas saja menghunus scnjata.

Tapi Ma It Hong justru mcnjadi girang dan scmbari mcncabut senjatanya, golok Liu-yap-to, ia mcnanya: "Ayah, orang dari mana?"

"Bclum tahu," jawab sang ayah, yang kemudian menambahkan: "Sungguh hcran! Tanpa lebih dulu ada angin-anginnya, mercka datang begitu menda-dak."

Dilain saat, tujuh delapan orang yang mengena-kan pakaian serba hitam dan bersenjata golok, sudan bcrada di atas tembok luar. Ma It Hong lantas saja mengayun tangannya untuk melepaskan panah tangan, tapi ia keburu dicegah oleh ayahnya yang membentak: "Jangan sembarangan! Ikuti gerakan-ku!"

Orang-orang yang berada di atas tembok itu mcngawasi ke dalam ruangan tanpa berkata suatu apa.

Mendadak, pintu depan didorong orang dan ke dalam ruangan itu lantas masuk seorang lelaki yang mengenakan pakaian sutera berwarna biru, tapi mukanya sangat menakutkan, sehingga pakaiannya yang indah itu sungguh tidak sesuai dengan muka¬nya. Scbelah tangannya mencekal baju hujan yang baru dibukanya. Begitu masuk, ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

Ma Heng Kong merangkap kedua tangannya dan berkata: "Sahabat, harap kau sudi memaafkan mata Loohan yang tak ada bijinya, sehingga Loohan belum datang berkunjung untuk memberi hormat. Bolehkah aku mendapat tahu, she dan nama sa¬habat yang mulia dan di mana adanya pesanggrahan sahabat."

Sementara itu, tuan muda dari Siang-kee-po, Siang Po Cin, yang mcngctahui kedatangan pc-nunggang-penunggang kuda itu, sudah berada di dcpan ruangan tcrsebut dengan membekal Kim-piauw dan menyoren golok di pinggangnya.

Kepala perampok itu tidak bersenjata. Ia me-makai cincin Giok putih pada salah scbatang jeriji-nya, kancing emas pada jubahnya dan tangan kirinya mencekal Pit-yan-hu kristal (semacam pipa), se¬hingga ia kelihatannya seperti seorang saudagar kaya raya.

"Namaku yang rendah Giam Kie," ia memper-kenalkan diri. "Bukankah Looenghiong yang mena-makan diri sendiri sebagai Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong?"

"Mana berani aku menamakan diri sendiri se-cara begitu," jawab Ma Heng Kong sembari me¬rangkap kedua tangannya. "Julukan tersebut telah diberikan oleh sahabat-sahabat Kang-ouw guna membikin terang muka Loohan, tapi sebenar-be-narnya julukan itu adalah kosong belaka." Sedang mulutnya berkata begitu, hatinya penuh dengan keheranan, oleh karena nama Giam Kie sama sekali tidak dikenal dalam kalangan Kang-ouw.

Giam Kie tertawa besar dan menuding kawan-kawannya yang berdiri di atas tembok. "Saudara-saudaraku itu sedang kelaparan dan kedatangan katni adalah untuk meminta makan," katanya.

"Giam Ceecu jangan terlampau merendahkan diri," kata Ma Heng Kong. "Ceng-jie! Lekas ambil lima puluh tail perak untuk saudara-saudara Giam Ceecu."

Ma Heng Kong bertindak sesuai dengan ke-biasaan dalam kalangan Kang-ouw, akan tetapi ia sendiri merasa, bahwa kawanan itu tak akan merasa puas dengan uang sebegitu.

Giam Kie tertawa terbahak-bahak. "Ma Loo-enghiong melindungi piauw, sekali melindungi tak kurang dari tiga puluh laksa tail," katanya dengan suara tawar. "Walaupun aku, orangshe Giam, hanya seorang miskin, tapi aku tidak memandang sebelah mata lima puluh tail perak."

Ma Heng Kong terkejut. Cara bagaimana Giam Kie bisa mengetahui, bahwa ia sedang melindungi tiga puluh laksa tail perak?

"Aku si tua sebenarnya tidak mempunyai kepan-daian suatu apa," kata pula Ma Heng Kong dengan suara merendah. "Di sepanjang jalan aku hanya mengandal kepada sahabat-sahabat yang sudi mem-beri muka kepadaku. Aku merasa beruntung sekali, bahwa hari ini aku bisa berkenalan dengan Giam-heng, sehingga mendapat seorang sahabat baru. Perintah apakah yang Giam-heng ingin memberi-kan kepadaku?"

"Kata-kata 'perintah' tak tepat untuk diguna-kan oleh Looenghiong," jawab Giam Kie. "Selama hidup, kedua mataku selalu terbuka lebar-lebar jika melihat harta. Mana boleh tiga puluh laksa tail perak lewat dengan begitu saja di depan hidungku? Ma Loopiauwtauw agaknya suka sekali bicara ten-tang sahabat ini, sahabat itu, sahabat entah mana lagi. Begini saja: Aku hanya berani mengambil se-paroh dan mohon meminjam lima belas laksa tail untuk sementara waktu." Tanpa menunggu jawab, ia mengulapkan tangannya dan kawan-kawannya yang berdiri di atas tembok, lantas saja meloncat turun.

"Ambil semuanya?" tanya seorang. "Tidak," jawabnya. "Separoh saja. Ada rejeki harus dinikmati beramai-ramai."

Kawanan perampok itu lantas mengiyakan dan segera menghampiri kereta-kereta piauw.

Karuan saja, Ma Heng Kong lantas naik darah. Barusan, demi menyaksikan cara loncatan, kawanan kecu itu, ia mengetahui, bahwa di antara mereka tidak terdapat ahli silat yang berkepandaian tinggi, sehingga hatinya jadi agak lega.

"Apakah Giam-heng benar-benar mau mende-sak aku sampai di pojok?" tanyanya.

"Kenapa kau bicara begitu?" Giam Kie berbalik menanya sembari menyengir. "Aku toh hanya meng¬ambil separoh."

Cie Ceng yang berdarah panas, tak dapat me-nahan sabar lagi. Ia loncat ke depan dan mem-bentak: "Sebagai orang yang berjalan di jalan hitam, apakah kau pernah mendengar nama besar Hui-ma Piauw-kiok?"

"Belum," jawab Giam Kie. Mendadak badannya berkelebat dan tangannya mencabut bendera Hui-ma Piauw-kiok yang ditancapkan di atas sebuah kereta. la memotes bendera itu yang kemudian dilemparkan ke lantai dan diinjaknya dengan se-belah kaki!

Itulah suatu hinaan besar! Hinaan yang melang-gar kebiasaan kalangan Kang-ouw. Merampas piauw adalah kejadian lumrah, akan tetapi jarang ada perampok yang berbuat sedemikian kurang ajar. Semua anggota piauw-hang lantas saja ber-teriak-teriak mencaci dan bergerak untuk bertem-pur.

Tanpa berkata suatu apa lagi, Cie Ceng segera menghantam dada kepala perampok itu dengan tangan kirinya. Giam Kie berkelit dan berkata de¬ngan suaradingin: "Bocah! Galak juga kau!" Tangan kirinya meluncur untuk mencengkeram lengan Cie Ceng yang lantas buru-buru merubah gerakan ta¬ngan kirinya dan menghantam janggut musuh de¬ngan tangan kanan. Giam Kie miringkan kepalanya sembari menjotos dengan tinju kanan. Pukulan itu aneh sekali jalannya dan walaupun Cie Ceng sebisa-bisa meloncat minggir, tak urung pundaknya kena dihantam juga. Badannya lantas saja bergoyang-goyang, tapi untung ia masih dapat mempertahan-kan diri. Saat itu juga, ia merubah gerakannya. Ia menekuk dengkul kanan dan menyodok dengan tangan kirinya. Itulah gerakan Hui-tui-coan-ciang (Menekuk lutut menyodok dengan tangan) yang sangat lihay dari Cap-kun Siauw-lim-pay.

Tapi Giam Kie bersikap acuh tak acuh. Sembari mesem, ia menendang dengan kaki kirinya. Ten-dangan itu sangat luar biasa dan menyambar dari jurusan yang tidak terduga-duga, sehingga Cie Ceng jadi kelabakan. Tanpa menyia-nyiakan tempo, Giam Kie mengirimkan jotosan lurus yang tepat mengenai dada pemuda itu yang lantas saja jatuh kejengkang dan muntahkan darah hidup. Melihat seorang lawan sudah dirubuhkan, kawanan perampok itu lantas bersorak-sorai dengan girangnya.

Melihat tangan Giam Kie yang sekejam itu, orang-orang piauw-hang menjadi kaget berbareng gusar. Ma It Hong lari menghamiri Cie Ceng yang lantas dibangunkannya. "Suko, bagaimana keadaan-mu?" tanyanya kebingungan.

Ma Heng Kong adalah seorang kawakan dalam kalangan Kang-ouw dan ia sudah mengalami banyak hujan angin serta gelombang. Tapi dengan segala pengalamannya itu, ia masih belum mengetahui, ilmu silat cabang mana yang dipergunakan Giam Kie.

Biar bagaimana juga, Ma Heng Kong mengerti, sekali ini ia tak dapat menyingkir lagi dari per-tempuran mati hidup. Lantas saja ia maju beberapa tindak dan berkata sembari menyoja: "Giam-heng benar-benar mempunyai kepandaian yang tinggi dan aku menghaturkan terima kasih untuk pela-jaran yang telah diberikan kepada muridku. Peng-alaman ini ada baiknya, agar ia tahu, bahwa dalam kalangan Kang-ouw terdapat banyak sekali orang pandai."

"Ah! Kepandaianku hanya kepandaian seekor kucing kaki tiga," kata si perampok sembari tertawa. "Sekarang aku memohon pelajaran Pek-seng Sin-kun Looenghiong."

Ma Heng Kong mengawasi kepala kecu itu yang mukanya berminyak dan tampangnya seperti tam-pang bangsa buaya. Betul ia merasa heran, bagaimana manusia semacam itu bisa memiliki ilmu silat yang begitu luar biasa. Sebagai seorang berpeng-alaman, iantas aja ia mengambil putusan untuk, dalam pertempuran babak-babak pertama, hanya membela diri tanpa menyerang dan berusaha me-nyelami ilmu silat musuh. Demikianlah, sambil mc-musatkan semangatnya, ia menunggu.

Ketiga Siewie, Siang Po Cin dan orang-orang Hui-ma Pauw-kiok mencurahkan perhatian mereka kepada gelanggang pertempuran. Mereka menge-tahui, bahwa pertempuran itu bukan saja akan memutuskan nasib tigapuluh laksa tail perak itu, tapi juga jiwa Ma Heng Kong. Tapi, tidak semua orang di dalam ruangan itu tetarik perhatiannya oleh pertempuran yang akan terjadi. Si lelaki cakap dan si wanita cantik tetap berbicara bisik-bisik de-ngan berendcng pundak, tanpa menghiraukan se-gala apa.

Giam Kie mengetahui, bahwa ia akan mengha-dapi lawan berat. Perlahan-lahan ia masukkan Pit-yan-hunya ke dalam kantong dan melibat thaucang-nya di kepalanya.

"Kawanan buaya memang tak membicarakan soal kebajikan, mencari makan selalu dilakukan dengan mengadu jiwa!" ia berseru sembari melom-pat dan mengirim tinjunya ke arah Ma Heng Kong.

Pada saat tinju musuh tinggal terpisah setengah kaki dari dadanya, bagaikan kilat dengan gerakan Pek-ho-liang-cie (Bangau putih membuka sayap). Ma Heng Kong memutarkan badan ke sebelah kiri dan kedua tangannya mendorong ke atas. Pukulan itu adalah pukulan Cap-kun yang biasa saja dari Siauw-lim-pay, akan tetapi, digunakan oleh orang tua itu, bukan saja gerakannya indah, tapi pu-kulannya pun dahsyat luar biasa.

Melihat begitu, si lelaki cakap yang tadi tidak menggubris, sekarang mengawasi dengan penuh perhatian. Si wanita yang agaknya merasa sebal menowel pemuda itu dan berkata: "Kui Long, Kui Long." Ia menyahut, tapi matanya tetap mengawasi medan pertempuran.

"Apa toh menariknya perkelahian antara se¬orang tua bangka dan seorang perampok?" tanya wanita itu, uring-uringan.

Mendengar gerutuan itu, lelaki tersebut mene-ngok dan berkata sembari tertawa. "Ilmu silat pen-jahat itu agak luar biasa. Juga, rasa-rasanya aku kenal dia."

"Hai!" wanita itumenghela napas. "Kamu, orang lelaki, rupanya menganggap, bahwa yang paling penting di dalam dunia, adalah membunuh orang dan berkelahi."

"Baiklah," kata si lelaki. "Jika kau tak suka aku melihat, aku juga tidak mau melihat. Tapi kau harus menengok kemari, supaya aku dapat sepuas hati memandang mukamu yang bundar telur."

Wanita itu tertawa perlahan dan mendongak-kan kepalanya, sehingga dua pasang mata mereka lalu saling memandang dengan penuh kecintaan.

Sementara itu, pertarungan antara Giam Kie dan Ma Heng Kong sudah mencapai babak-babak yang hebat. Ma Heng Kong sudah mengeluarkan hampirseluruh pukulan Cap-kun, tapi masih belum bisa berada di atas angin. Dilain pihak, ilmu Giam Kie ternyata hanya terdiri dari beberapa belas ma-cam pukulan. Ho Sie Ho, Gie-cian Siewie kelas dua itu, juga sudah dapat melihat terbatasnya kepan-daian perampok itu dan ia merasa heran, kenapa Ma Heng Kong belum juga dapat merubuhkan musuhnya.

Sesudah lewat lagi beberapa jurus, Ma Heng Kong menyerang dengan gerakan ma-tong-tui-kun (Dari atas kuda mengirim tinju), yaitu badannya bersikap seperti orang menunggang kuda, lengan kanannya ditarik ke belakang, sedang tangan kiri-nya mendorong ke depan.

"Turunkan sikut, menangkap musuh!" seru Ho Sie Ho.

Benar saja, sikut Giam Kie turun agak kc bawah dan tangannya coba mencengkeram pergelangan tangan Ma Heng Kong dengan ilmu Kin-na-chiu (Ilmu menangkap).

Ma Heng Kong buru-buru menarik pulang ta¬ngannya dan mengegos.

"Menekuk lutut, menendang balik!" Ho Sie Ho berseru pula sembari tertawa.

Tepat dengan dugaan itu, Giam Kie menekuk lutut kanan dan menendang ke belakang!

Harus diketahui, bahwa ilmu silat Ma Heng Kong adalah jauh lebih tinggi daripada Ho Sie Ho. Akan tetapi, sedang Ho Sie Ho sudah dapat men-duga lebih dulu gerakan-gerakan Giam Kie, apakah Ma Heng Kong tidak mampu menduganya? Sung-guh mengherankan, terang-terang sudah bisa ditak-sir bahwa perampok itu akan menekuk lututnya dan menendang ke belakang, tapi tak mampu merubuh-kannya!

Sebagai seorang yang bergelar Pek-seng Sin-kun, ia mahir dalam segala macam ilmu silat Siauw-lim-pay. Melihat Cap-kun tak dapat mengalahkan kepala rampok itu, lantas saja ia merubah cara bersilatnya dan menggunakan Yan-ceng-kun yang gerakannya cepat luar biasa.

Yan-ceng-kun adalah ilmu silat Yan Ceng, salah seorang gagah dari rombongan Liangsan (Song Kang) dimasa kerajaan Song. Pada jaman itu, Yang-ceng-kun terkenal karena kegesitannya yang tiada bandingannya di seluruh Tiongkok. Walaupun su¬dah berusia agak lanjut, gerakan-gerakan Ma Heng Kong masih lincah sekali dan dalam menggunakan ilmu silat tersebut, ia seakan-akan seekor kucing.

Melihat musuhnya merubah ilmu silalnya, Giam Kie tetap bersikap acuh tak acuh dan terus melayani dengan belasan pukulan yang dimilikinya.

Bukan main herannya Siang Po Cin, Cie Ceng, Ma It Hong dan semua orang dari Hui-ma Piauw-kiok. Setiap orang sudah dapat menduga lebih dulu pukulan yang akan dikeluarkan oleh Giam Kie, tapi toh Ma Heng Kong tidak dapat berbuat banyak. Berturut-turut Ma Heng Kong menghujani musuh¬nya dengan pukulan-pukulan hebat, tapi dengan tenang kepala rampok itu dapat memecahkan se-rangan-serangan tersebut.

Orang yang tangannya kutung sebelah dan si bocah kurus juga menonton pertempuran itu dari tempat mereka.

"Siauwya (majikan kecil)," bisik si lengan satu. "Perhatikanlah kepala perampok itu. Jangan me-lupakan mukanya."

"Kenapa, paman Peng Sie?" tanya si bocah.

"Perhatikan dan jangan lupa," jawabnya.

"Apakah dia orang jahat?" tanya pula bocah itu.

Orang yang dipanggil paman Peng Sie meng-gertak giginya. "Inilah maunya Tuhan!" katanya. "Maunya Yang Kuasa, sehingga kita dapat bertemu di sini! Perhatikan padanya! Hati-hati, jangan sam-pai dia mengetahui!"

Selang beberapa saat, si buntung berkata pula: NKau selalu mengatakan latihanmu kurang benar. Sekarang, pcrhatikanlah. Mungkin kau akan bisa berlatih secara tepat."

"Kenapa begitu?" tanya si bocah.

Mata si lengan satu kelihatan mengembang air mata. "Sekarang aku belum dapat menceritakan," jawabnya. "Nanti, nanti jika kau sudah besar dan kau sudah memiliki ilmu yang tinggi, aku akan menuturkan dari kepala sampai di buntut."

Dengan memperhatikan kaki tangan Giam Kie, bocah itu dapat melihat gerakan-gerakan yang luar biasa, akan tetapi mula-mula ia belum dapat me-ngerti maknanya, kemudian ia seperti mendusin dari tidurnya.

"Peng Sie-siok (paman Peng Sie)!" mendadak ia berseru dengan suara tertahan. "Ilmu orang itu rasa-rasanya aku mengerti."

"Tak salah," kata si buntung. "Perhatikanlah terus. Kitab ilmu silat dan ilmu golokmu hilang dua halaman, sehingga kau selalu mengatakan tidak begitu mengerti isinya. Dua halaman yang hilang itu berada di badan Giam Kie!"

Bocah itu terkejut dan mukanya yang kurus kecil tiba-tiba bersemu merah, sedang kedua mata-nya yang bersinar tajam mengawasi Giam Kie tanpa berkesip.

"Kenapa berada pada dia?" tanya pula anak itu.

"Di kemudian hari aku akan memberi kete-rangan yang sejelas-jelasnya kepadamu," jawab si lengan satu. "Dia dahulu tidak mempunyai kepan-daian suatu apa, akan tetapi, sesudah memperoleh dua halaman kitab itu, ia memiliki belasan macam pukulan dan dapat menanding ahli silat kelas satu. Cuba kau pikir: Kitab ilmu silat dan ilmu golok itu terdiri dari dua ratus lebih halaman. Bayangkanlah, betapa tinggi kepandaianmu, jika kau sudah dapat menyeiami seluruh kitab itu." Bocah itu girang bukan main dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada gelanggang pertempuran.

Yang berharga untuk ditonton, dalam pertem¬puran itu, sebenarnya hanyalah seorang. Belasan macam pukulan yang diulangi dan diulangi lagi oleh Giam Kie, sudah menyebalkan semua penonton. Dilain pihak, pukulan-pukulan Ma Heng Kong ber-aneka warna dan sedap dilihatnya. Sesudah gagal dengan Yan-ceng-kun, ia kembali menukar ilmu silatnya dan menggunakan Louw-tie-cim-cuitiat (Louw Tie Cim, juga salah seorang gagah dari kalangan Liangsan, mabuk arak). Dengan ilmu silat tersebut, ia menyerang bagaikan seorang mabuk arak, sempoyongan kian kemari, sebentar bergu-lingan, sebentar meloncat bangun, sedang kaki ta-ngannya menyambar-nyambar laksana topan. Dice-car begitu, Giam Kie perlahan-lahan jadi terdesak juga.

Sesudah lewat lagi beberapa jurus, sekonyong-konyong Ma Heng Kong membentak: "Kena!" Jitu sekali kakinya mampir di pinggang musuh berkat tendangan Lee-hie-hoan-sin (Ikan gabus membalik badan). Sambil berteriak, Giam Kie membungkuk untuk menahan sakit. Ma Heng Kong mengetahui, bahwa lawannya berkepandaian tinggi, sehingga meskipun tendangannya mengenai tempat berba-haya, musuh itu belum tentu mendapat luka berat. Menurut pcraturan adu silat yang biasa, begitu salah sepihak kena dipukul, pihak yang menang harus segera menghentikan kaki tangannya. Akan tetapi, pcrtaxungan itu adalah pertarungan menge¬nai tiga puluh laksa tail perak, sehingga sikap sung-kan-sungkan bisa mcmbawa akibat rewel. Memikir begitu. Ma Heng Kong segera meloncat dan mc-ngirimkan pula suatu tendangan hebat kc punggung

musuh.

Kawanan perampok itu serentak berteriak. Me-reka menganggap serangan Ma Heng Kong mele-wati batas-batas kepantasan. Pada saat yang sangat berbahaya itu, di luar segala dugaan, Giam Kie menekuk lututnya dan menendang ke belakang. Tendangan itu yang dilakukannya mendadakan dan cepat luar biasa, sudah membikin Ma Heng Kong yang berpengalaman tak keburu mengegos lagi. Kaki Giam Kie mampir tepat di kempungan Pek-seng Sin-kun yang lantas saja jatuh kejengkang.

Dengan hati mencelos Ma It Hong dan Cic Ceng memburu dan membangunkan orang tua itu yang mukanya berubah pucat pias dan napasnya tersengal-sengal. "Lindungi piauw mati-matian," ia berkata dengan suara serak.

Dengan golok terhunus, Cie Ceng dan Ma It Hong berdiri di samping Ma Heng Kong. Dilain pihak, Giam Kie pun mendapat luka yang tidak enteng. Ia mengulap-ulapkan tangannya beberapa kali dan berteriak: "Rampaslah piauw itu! Mau menunggu sampai kapan?"

Mendengar perintah itu, kawanan perampok itu lantas saja menerjang orang-orang Hui-ma Piauw-kiok, disambut oleh Ma It Hong, Cie Ceng. Cek dan Yo Piauwtauw serta yang Iain-lain.

Siang Po Cin tak dapat menahan sabar lagi. "Ketiga Siewie Tayjin!" ia berseru sembari meng-hunus Pat-kwa-to. "Mari kita turun tangan!"

"Bagus!" sahut Ho Sie Ho yang, bersama dua kawannya, lantas saja terjun ke dalam pcrtempuran. Ketiga perwira itu hanya memiliki kepandaian bia¬sa, tapi Siang Po Cin dengan Pat-kwa-tonya benar-benar merupakan banluan yang sangat berharga. Melihat Ma It Hong didesak oleh dua perampok dan gerakan kaki tangannya sudah mulai kalang kabut, ia menerjang sambil membentak: "Binatang! Tak malu, kamu dua lelaki mengerubuti seorang nona?" Berbareng dengan cacian itu, Pat-kwa-tonya menyambar kepala seorang perampok yang lantas menangkis dengan pecutnya. Baru saja beberapa gcbrakan, tangan Siang Po Cin mampir telak di dada penjahat itu yang segera rubuh terguling. "Bagus!" kata si nona, tersengal-sengal. "Ini satu aku dapat membereskannya." Pemuda itu lantas loncat me-nyingkir sembari tertawa dan segera mcmbantu Cie Ceng yang tengah dikepung beberapa penjahat. Dalam beberapa jurus saja, ia dapat merubuhkan seorang perampok, sehingga Cie Ceng merasa sa¬ngat berterima kasih dan kagum akan ketajaman mata gurunya. Bcnar-benar, ilmu silat Siang Po Cin banyak lebih unggul daripada ia.

Demikianlah dengan bantuan empat tenaga, keadaan jadi berubah, pihak perampok terdesak mundur dan dalam tempo cepat, mereka akan dapat diusir pergi.

Sekonyong-konyong, di antara suara bentrok-an-bentrokan senjata, terdengar satu seruan. "Ta-han! Aku mau bicara!" seru seorang. Tapi semua orang yang sedang bertempur, mana sempat me-ladeni seruan itu.

Mendadak, berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia, seseorang menghadang di depan Siang Po Cin. Tanpa menegur lagi, pemuda itu membacok. Tapi... dengan sekali menggerakkan langannya, orang itu berhasil merampas golok Pat-kwa-tonya yang kemudian dilemparkan ke lantai.

Bukan main kagetnya Siang Po Cin yang lantas meloncat minggir sembari mengawasi orang itu, yang bukan lain daripada si lelaki cakap yang ber-pakaian indah. Orang itu lalu terjun ke dalam pertempuran dan dengan Kin-na-chiu-hoat, ia me¬rampas macam-macam senjata yang kemudian di¬lemparkan ke lantai semua. Semua orang kaget berbareng heran dan buru-buru menyingkir sambil mengawasi orang yang luar biasa itu. Sesaat ke¬mudian, tiba-tiba pada belasan tahun berselang. "Tian Siangkong (tuan Tian)!" ia berteriak. "Kau?"

"Bagaimana kau bisa mengenal aku?" tanya pemuda itu.

"Apakah kau lupa?" kata Giam Kie dengan tertawa. "Tiga belas tahun berselang, aku pernah melayani kau di Ciang-chiu-hu."

Orang itu menunduk seakan-akan berpikir, "Ah! Benar!" katanya sesaat kemudian. "Bukankah kau tabib yang mengobati orang kepukul? Tapi, bagaimana kau sekarang pandai silat dan menjadi Ceecu?"

"Semua itu adalah berkat bantuanmu," jawab-nya.

Orang itu adalah Ciang-bun-jin (pemimpin uta-ma) cabang Utara dari partai Thian-liong-bun, namanya Tian Kui Long.

Melihat perubahan yang tak terduga itu, orang-orang Hui-ma Piauw-kiok menjadi bingung. Tian Siangkong yang ilmu silatnya tinggi, ternyata mem-punyai hubungan dengan kepala perampok itu. De¬ngan berbisik. Ma Hcng Kong memcrintahkan orang-orangnya berkumpul di sekitar kcreta-kereta piauw untuk menunggu perkembangan sclanjutnya.

Mata Tian Kui Long menyapu ke seluruh ruang-an dan sesudah mengawasi sang hujan yang masih turun deras, ia berkata: "Giam-heng, jual beli hari ini sudah ditetapkan olehmu, bukan?"

"Harap Loojinkee (orang tua) jangan kecil hati," jawab Giam Kie sembari nyengir. "Oleh ka-rena saudara-saudaraku kelaparan dan tidak mem-punyai jalan lain, maka mau tak mau, kami me-lakukan pekerjaan yang tidak bermodal ini. Kami berjanji akan merubah cara hidup kami dan tentu juga tak akan melupakan budi Siangkong."

Tian Kui Long mendongak dan tertawa berka-kakan. "Kenapa kau ngaco, di hadapanku?" katanya. "Loo-giam! Kau mengambil lima laksa tail. Cukup tidak?"

Giam Kie terkejut. "Loojinkee jangan guyon-guyon," katanya, tertawa.

"Kenapa guyon-guyon?" kata Tian Kui Long, sungguh-sungguh. "Di sini ada tiga puluh laksa tail. Aku mengambil separuhnya, lima belas laksa, kau ambil lima laksa. Sisanya masih ada sepuluh laksa. Bagaimana sisa itu dibaginya?"

Sekarang Giam Kie kegirangan setengah mati. "Loojinkee ambillah semuanya," jawabnya, menye-ringai. "Bagi-bagi apa lagi?"

Tian Kui Long menggeleng-gelengkan kepala-nya dan berkata: "Tidak, tidak bisa begitu. Jika aku mengeduk semuanya, aku melupakan pribudi Kang-ouw. Barusan, ketika masuk di sini, aku... isteriku basah bajunya...."

Mendengar kata-kata "isteriku" paras muka wa-nita cantik itu jadi bersemu merah dan ia mesem mengawasi Tian Kui Long.

Sesudah berdiam sejenak, Tian Kui Long me-lanjutkan perkataannya: "Orang yang memberi per-tolongan adalah Nona Ma yang meminjamkan baju kering kepadanya. Budi itu tak dapat tidak dibalas. Biarlah nona tersebut mengambil lima laksa tail. Di sini terdapat tiga Siewie Tayjin. Orang kata: Siapa yang nadir mempunyai bagian. Maka itu biarlah setiap orang mendapat satu laksa. Sisanya yang dua laksa kita serahkan saja kepada tuan rumah gedung ini! Bagaimana pikiranmu? Pantas tidak?"

Giam Kie menepuk-nepuk tangan. "Pantas! Adil!" teriaknya. "Dari dulu aku sudah bilang, Tian Siangkong adalah orang yang paling royal di dalam dunia."

Mendengar kata-kata itu, Ma Heng Kong dan kawan-kawan merasakan dada mereka seperti mau meledak. Seolah-olah tiga puluh laksa tail perak itu adalah harta benda Tian Kui Long sendiri! Dalam gusarnya, hampir-hampir Ma Heng Kong pingsan.

Cie Ceng melirik gurunya. "Bagaimana Suhu?

Bagaimana?" tanyanya kebingungan.

"Apa bagaimana?" bentak Ma It Hong dengan gusar. Lalu ia memungut sebatang golok yang meng-geletak di lantai. "Orang she Tian!" ia berteriak. "Apakah kau kira kami ini mayat-mayat yang sudah busuk?" Ia mengangkat goloknya dan menubruk.

"Jangan memaksa aku turun tangan," kata Tian Kui Long sembari tertawa. "Bisa-bisa isteriku ma-rah."

"Fui! Rewel kau!" bentak wanita cantik itu sembari mesem manis, karena hatinya girang.

Ma It Hong adalah seorang gadis yang beradat keras. Tanpa menyahut, ia membabat terus.

"Aduh! Celaka!" seru Tian Kui Long, nyengir-nyengir kuda. "Isteriku melarang aku berkelahi de¬ngan orang perempuan." Sembari berkata begitu, ia menyentil belakang golok Ma It Hong, lantas saja terlepas. Gerakan orang she Tian itu cepat luar biasa. Tangan kanannya menyambar gagang golok, tangan kirinya mencekal pergelangan tangan si nona dan kemudian ia mengangkat golok itu, seperti juga mau menebas. Tapi golok itu berhenti di te-ngah udara dan Tian Kui Long menghela napas panjang. "Ah! Bagaimana aku bisa tega membinasa-kan nona yang cantik bagaikan bunga!" katanya.

Melihat Ma It Hong dipermainkan, Siang Po Cin dan Cie Ceng segera meluruk. Siang Po Cin mengayun tangan kanannya dan sebatang Kim-piauw menyambar mata kiri orang she Tian itu, sedang Cie Ceng yang tak sempat memungut sen-jata, sudah mendupak punggung musuh.

Tepat pada saatnya, Tian Kui Long melem-parkan golok dan memutarkan badan, lalu me-nangkap pergelangan kaki Cie Ceng dan sekali tangannya diangkat, tubuh Cie Ceng terjungkir ba-lik. Hampir berbareng dengan itu, murid Ma Heng Kong ini mengeluarkan teriakan kesakitan, karena lutut kanannya tertancap Kimpiauw. Tian Kui Long tidak berhenti sampai di situ. Sekali dilontarkan, tubuh Cie Ceng terbang ke tengah udara, akan kemudian menimpa badan Ma It Hong, sehingga mereka terguling di lantai bersama-sama.

Melihat cara Tian Kui Long mempermainkan kedua orang itu, yang lain tak berani maju me-nerjang pula.

"Giam-heng," kata orang she Tian itu. "Bagilah perak itu menurut pengaturan tadi. Sediakan satu kereta yang baik untuk mengangkut aku dan isteri-ku. Oleh karena ada urusan penting, kami ingin berangkat sekarang juga."

Dengan girang Giam Kie lantas saja mengajak kawan-kawannya bekerja. Mereka mengeluarkan bungkusan-bungkusan perak dan membuat dua tumpukan dari lima laksa tail, satu tumpukan dari dua laksa dan tiga tumpukan, masing-masing selaksa tail perak. Sesudah beres, Giam Kie membentak tukang-tukang kereta: "Sekarang kamu mesti me¬nurut perintah dan jangan membandel."

Harus diketahui, bahwa menurut kebiasaan Liok-lim (Rimba Hijau kawanan perampok) di dae-rah Utara, dalam setiap perampokan, tukang kereta tidak boleh diganggu keselamatannya, jika ia me¬nurut perintah.

Melihat keadaan begitu, dapat dimengerti jika tukang-tukang kereta itu tidak berani membantah lagi. Tanpa menghiraukan hujan, mereka lalu men-dorong kereta-kereta piauw keluar ruangan itu.

Sakit sungguh hati Ma Heng Kong, melihat kcreta piauw didorong keluar satu demi satu. Tidak lama kemudian, sebuah kereta keledai berhenti di depan pintu dan sambil memimpin wanita cantik itu, Tian Kui Long segera berjalan menuju ke kereta itu.

Pck-seng Sin-kun yakin, bahwa begitu kereta tersebut berangkat, bukan saja namanya runtuh. tapi bakul nasinya pun akan terbalik. Sambil me-nahan sakit, ia berdiri.

"Biarlah aku mengadu jiwa tua ini!" ia bertcriak sambil menubruk Tian Kui Longdan coba mcnceng-keram dengan sepuluh jcrijinya. Wanita itu keta-kutan dan mengeluarkan teriakan kaget. Tian Kui Long berkelit sembari menghantam pundak Ma Heng Kong dengan telapak tangannya. Jika belum terluka, dengan gampang Ma Heng Kong akan dapat mengelakkan pukulan itu. Tapi, waktu itu otot-ototnya tidak menurut kemauannya dan mes-kipun matanya melihat sambaran tangan musuh, tak bisa ia berkelit atau mcloncat minggir. Dengan mengeluarkan bunyi "buk", badannya terpental dan jatuh ngusruk di luar pintu.

Pada saat itu, tiba-tiba saja terdengar suatu suara mcnyeramkan: "Bagus!" Dan sungguh heran, hampir berbareng dengan terdengarnya suara ter¬sebut, paras muka Tian Kui Long dan wanita itu mendadak berubah pucat-pias dan badan mereka bergemetar!

Dengan cepat, orang she Tian itu mendorong si wanita ke dalam kereta, sedang ia sendiri lalu mcloncat ke punggung kclcdai. Sembari menggen-cet perut hewan itu dengan kedua lututnya, ia mencambuk keledai tunggangannya. Tapi aneh, baru melangkah dua tiga tindak, si keledai lantas berhenti dan tak dapat maju setindak juga, mes-kipun dicambuk berulang-ulang.

Sementara itu, semua orang sudah berkumpul di pintu, menyaksikan apa yang terjadi. Mereka melihat seorang jangkung kurus sedang menahan roda kereta dengan tangan kanannya, sedang ta-ngan kirinya mendukung sebuah bungkusan. Di-sabeti oleh Tian Kui Long, keledai itu berusaha mati-matian untuk bergerak, sehingga punggung-nya meiengkung, tapi kereta tersebut seperti juga terpaku di tanah dan tidak bergeming sedikit pun.

"Masuk!" orang itu membentak dengan suara yang membangunkan bulu roma. Tian Kui Long kelihatan bersangsi, tapi wanita itu sudah turun dari kereta dan tanpa menengok, ia masuk lagi ke dalam ruangan tadi. Ogah-ogahan Tian Kui Long turun dari keledainya dan menyusul wanita tersebut. Pa-kaiannya basah kuyup, tapi ia seakan-akan tidak merasakan itu dan berdiri dengan mata mendelong serta mulut ternganga, seolah-olah kehilangan se-mangat. Wanita cantik itu menggapai dan menyuruh Tian Kui Long duduk di sampingnya.

Orang jangkung kurus itu pun lantas masuk ke dalam ruangan dengan tindakan lebar dan duduk di samping perapian. Tanpa menengok kepada siapa-pun juga, ia membuka bungkusan itu yang isinya... adalah seorang anak perempuan berusia kira-kira dua tahun! Agaknya, karena khawatir anak itu kedinginan, begitu masuk ia duduk di pinggir per¬apian. Anak itu sedang tidur pulas, tapi di kedua matanya terdapat bekas-bekas air mata.

Ma It Hong, Cie Ceng dan Siang Po Cin buru-buru membangunkan Ma Heng Kong. Melihat Tian Kui Long begitu takut terhadap si jangkung kurus, mereka kaget berbareng girang. "Thia (ayah)," kata Ma It Hong. "Bagaimana lukamu? Orang... orang itu siapa?"

"Dia..." jawabnya, terputus-putus. "Dia.... Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu.... Kim.... Kim-bian-hud Biauw Jin Hong!" Sehabis berkata begitu, ia pingsan.

Dalam ruangan itu, orang-orang Hui-ma Piauw-kiok berdiri di sebelah timur, Giam Kie dan ka-wannya berkumpul di barat, sedang ketiga Gie-cian Siewie bersama Siang Po Cin berdiri di belakang kursi. Tanpa kecuali, semua mata mengawasi Biauw Jin Hong, Tian Kui Long dan wanita cantik itu.

Dengan sorot mata mencinta dan paras welas asih, Biauw Jin Hong mengawasi anak yang sedang didukungnya itu. Jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ia sudah menahan roda kereta dengan sebelah tangannya, semua orang tentu sukar percaya, bahwa orang yang mempunyai paras muka begitu mempunyai kepandaian yang sedemikian tinggi.

Si cantik itu kelihatan tenang, kedua matanya mendelong memandang api, sedang di mulutnya tersungging senyuman dingin dan hanya seorang yang matanya luar biasa tajamnya, akan dapat melihat, bahwa kedua bibirnya sedikit ber-gemetar, mencerminkan hatinya yang sedang ber-debar-debar. Tian Kui Long, orang ketiga yang ketika itu menjadi pusat perhatian, pucat-pias mukanya dan kedua matanya ditujukan kepada turunnya sang hujan di luar rumah.

Tiga orang itu, yang masing-masing matanya melihat ke arah tiga jurusan yang berbeda-beda, duduk diam tanpa mengeluarkan suara, tapi hati mereka sama-sama bergoncang keras, ada yang gembira, ada yang sedih dan ada pula yang ke-takutan setengah mati.

Sambii mengawasi anak itu yang montok dan manis, di depan mata Biauw Jin Hong terbayang kejadian-kejadian pada tiga tahun yang lampau. Sudah tiga tahun! Tapi toh seakan-akan baru saja lerjadi kemarin.

Kini sedang turun hujan besar, tapi pada hari itu tiga tahun yang lampau, yang turun lebat adalah salju.

Ketika itu, kira-kira magrib, seorang diri, de-ngan menumpang seekor kuda berbulu kuning yang kurus tinggi, ia sedang berada di jalan Ciang-ciu, propinsi Hopak. Sembari melarikan tunggangannya melawan serangan salju, ia teringat, bahwa sepuluh tahun sebelumnya, di bulan Cap-jiegwee (Bulan ke-12), ia telah mengadu silat di kola itu dengan Liao-tong Tayhiap Ouw It To dan dalam pertan¬dingan tersebut, secara tak disengaja, ia sudah me-lukai Ouw It To dengan golok beracun, sehingga Ouw Hujin (nyonya Ouw) belakangan menggorok lehernya sendiri untuk mengikuti suaminya ber-pulang ke dunia baka.

Dengan Ouw It To, bukan saja kepandaiannya setanding, tapi juga sama-sama mempunyai sifat-sifat ksatria yang luhur. Dalam pertandingan itu, dari lawan mereka menjadi kawan yang paling menghormati. Tapi, tak dinyana, karena salah tangan, ia sudah melukai Liao-tong Tayhiap yang olehnya dianggap sebagai manusia satu-satunya di dalam dunia yang mengenal isi hatinya.

Ia dikenal sebagai Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, atau orang yang tiada tandingannya dalam dunia, dan sesudah berkelana ke empat penjuru, baru ia bisa bertemu dengan seorang yang benar-benar merupakan tandingan setimpal baginya. Tiga hari mereka bertanding, sedang di waktu malam, mereka tidur di satu pembaringan. Hai! Selama sepuluh tahun, setiap kali mengingat peristiwa itu, belum pcrnah ia tidak menghela napas berulang-ulang dan mengeluh dengan suara perlahan: "Ouw It To! Ah, Ouw It To!"

Waktu itu sudah mendekati ulang tahun ke sepuluh hari meninggalnya suami isteri Ouw It To dan tanpa memperdulikan perjalanan jauh, dari Leng-lam Biauw Jin Hong pergi ke Ciangciu untuk bersembahyang di depan kuburan sahabat itu.

Kira-kira magrib, semakin mendekati Ciangciu, hati Kim-bian-hud menjadi semakin sedih. Sembari melarikan tunggangannya dengan perlahan, ia kata dalam hatinya: "Jika tahun itu aku tidak kesalahan tangan, hari ini tentu aku dapat malang melintang di kolong langit bersama-sama suami isteri Ouw dan dengan adanya kita berdua, segala pembesar busuk dan kawanan kurcaci tentu akan jadi ketakutan setengah mati. Ah, sungguh menggirangkan jika bisa terjadi begitu."

Selagi melamun, tiba-tiba terdengar bunyi pe-cut dan bentakan-bentakan kusir, beberapa saat kemudian dari antara kembang-kembang salju yang turun melayang-layang, muncul sebuah kereta ke-ledai yang dilarikan pesat sekali.

Ketika kereta itu melewatinya, dari dalam ke¬reta mendadak terdengar suara wanita yang merdu sekali. "Thia (ayah)," katanya. "Sesudah tiba di kota raja, kau harus mengantar aku pergi membeli bu-nga...." Biauw Jin Hong mcngetahui, bahwa suara itu adalah suara wanita kanglam yang sangat ber-beda dengan suara pcnduduk Tiongkok Utara.

Baru saja melewati Biauw Jin Hong, kaki depan hewan itu tiba-tiba kejeblos ke dalam lubang, se-hingga dia kenyuk-nyuk. Dengan tenang si kusir menarik les dan dengan meminjam tenaga tersebut, keledai itu mengangkat kakinya, untuk kemudian berlari pula.

Biauw Jin Hong heran. "Dilihat dari gerakan-nya, kusir itu bukan orang sembarangan," katanya di dalam hati. "Siapa dia? Aku rasa ada harganya untuk berkenalan."

Sebelum mengambil keputusan, di belakang kereta mendadak muncul seorang lelaki yang me-mikul sepikul barang keperluan pelancong dan me-ngejar kereta itu dengan tindakan lebar. Pikulannya yang terbuat dari kayu pohon Angco kelihatan melengkung, yang menandakan, bahwa barang itu bukannya enteng, tapi ia dapat berlari-lari cepat sekali dengan tindakan enteng.

Biauw Jin Hong jadi tcrlebih heran. "orang itu bukan saja bertenaga besar, tapi ilmu mengentengkan badannya juga tinggai sekali," pikirnya.

Sebagai seorang berpengalaman, ia mcngetahui bahwa hal itu mesti ada latar belakangnya. Maka itu, ia segera menepuk tunggangannya dan meng-ikuti dari belakang.

Sesudah berjalan beberapa li, tukang pikul itu, yang berat bebannya kira-kira dua ratus kati, masih bisa beriari terus bagaikan terbang.

Sekonyong-konyong, di sebelah belakang terdengar bunyi geme-rincing dan ketika mcnengok, Biauw Jin Hong me-lihat seorang lelaki lain, yang memikul alat-alat solder, sedang menyusul dari belakang. Tindakan orang itu malah lebih enteng lagi dan meskipun kakinya masih meninggalkan tapak di atas salju, ilmu mengentengkan badannya sudah jarang terdapat dalam Rimba Pcrsilatan di wilayah Tiong-goan.

"Siapa dia?" tanya Biauw Jin Hongdi dalam hati dengan kaget.

Tudung dan baju orang itu pcnuh salju dan di tengah-tengah sambaran angin, jalannya miring kian kemari. Mendadak Biauw Jin Hong mendusin. "Ah!" pikirnya. "Gan-heng-kong (Ilmu entengkan badan seperti burung belibis) adalah ilmu dari ke-luarga Ciong di Ouwpak Barat!"

Sesudah berjalan pula tujuh delapan li, siang berganti malam, tapi untung juga, mereka sudah tiba di sebuah kota kecil. Kereta itu berhenti di depan sebuah rumah penginapan dan Biauw Jin Hong pun segera turun dari kudanya di hotel itu. Rumah penginapan itu sangat kecil dan semua tamu berkumpul di ruangan tengah untuk menghangat-kan badan di dapur atau makan minum.

Walaupun nama Biauw Jin Hong kesohor di seluruh negara, ia sendiri tidak banyak mengenal orang-orang Rimba Pcrsilatan. Si tukang solder sama sekali tidak dikenalnya. Sesudah minta ma-kanan, seorang diri ia duduk pada sebuah meja kecil. Ketiga orang luar biasa itu duduk makan pada meja terpisah dan mereka agaknya bukan berkawan. Mendadak, di ruangan dalam terdengar suara seorang yang berkata: "Lam Tayjin, Siocia (nona), penginapan ini sangat kecil. sehingga kalian, tentu sangat tidak leluasa. Marilah ke ruangan tengah untuk bersantap." Tirai kain tersingkap dan seorang pelayan mengantar seorang pembesar dan seorang nona masuk ke dalam ruangan itu. Melihat ke-datangan seorang pembesar negeri, para tamu lan-tas saja berbangkit.

Hanya Biauw Jin Hong yang tidak memper-dulikan dan duduk terus sambil menghirup araknya. Pembesar itu yang mengenakan jubah kebesaran tingkat ke lima, berbadan gemuk dengan muka seperti seorang kaya raya, sedang nona itu sungguh-sungguh cantik, sehingga jangankan di daerah Uta-ra, di wilayah Kanglam sekalipun jarang terdengar wanita yang secantik ia. Masuknya mereka sudah membikin para tamu menjadi kikuk dan beberapa antaranya lantas saja berjalan keluar.

Si pelayan melayani kedua tamu itu secara luar biasa hormatnya, dengan mulut tak hentinya menge-luarkan kata-kata "Tayjin" dan "Siocia".

Mendengar nada suara pelayan itu yang sangat bertenaga, tanpa merasa Biauw Jin Hong jadi ke-tarik. Dilihat dari tindakannya, tak bisa salah lagi, orang itu mempunyai kepandaian yang tidak cetek. Disamping itu, pada bagian jalan darah Tay-yang-hiat kulitnya kelihatan agak menonjol, sehingga bisa dipastikan, bahwa ia itu mempunyai Lweekang (tenaga dalam) yang sangat tinggi.

Biauw Jin Hong tercengang. "Hm!" ia mengge-rendeng. "Orang-orang itu tentu mempunyai mak-sud tertentu. Biarlah aku menonton untuk me-nyaksikan apa yang mereka ingin lakukan."

Karena perhatiannya tertarik, tanpa merasa ia melirik beberapa kali ke arah si pembesar dan nona itu.

Sekonyong-konyong pembesar itu menggebrak meja dan membentak sambil menuding Biauw Jin Hong: "Hci! Siapa kau? Bertemu pembesar tidak menyingkir, masih tak apa. Tapi kenapa mata bang-satmu tcrus mengincar kemari? Aku melihat kaki tanganmu yang kasar memang pantas sekali menjadi bangsat. Sekali lagi kau berani mengincar, aku kirim kau ke kantor pembesar untuk dihajar setengah mampus!"

Biauw Jin Hong tidak meladeni. Sembari me-nunduk, ia menghirup araknya.

Pembesar itu jadi semakin gusar. "Hei!" ia ber-teriak. "Apakah kau tidak bisa minta maaf?"

"Thia," bujuk puterinya dengan suara halus. "Orang dusun ada juga yang tak mengenal adat. Guna apa meladeni orang kasar begitu? Hayo mi-num!" Ia mengangkat cawan arak yang lantas di-tempelkan pada bibir ayahnya.

Sesudah mencegluk arak yang diberikan oleh si nona, amarahnya agak reda.

Melihat Biauw Jin Hong terus bersantap sem¬bari menunduk, ia menganggap Kim-bian-hud su¬dah merasa takut dan ia sendiri pun lalu makan minum dengan gembira sembari bercakap-cakap dengan puterinya. Apa yang dibicarakan adalah rencana sesuatu yang akan dilakukan mereka, Sesudah tiba di Pakkhia dan memangku jabatan yang baru.

Selagi bercakap-cakap, pintu depan terbuka dan masuklah seorang pembesar lain, yang badan-nya kurus dan mukanya kuning. Begitu masuk, ia berseru: "Aha! Lagi-lagi aku bertemu dengan Jin Thong-heng (Saudara Jin Thong). Sungguh ke-betulan!" Dengan tindakan lebar ia menghampiri, sedang Lam Jin Thong dan puterinya lantas saja berdiri.

"Tiauw Houw-heng (Saudara Tiauw Houw)," kata Lam Jin Thong sembari menyoja. "Sclamat bertemu! Selamat bertemu!"

Si pelayan segera mengambil piring mangkok dan sumpit serta menambah arak dan sayur.

"Hm! Dengan Tiauw Houw-heng itu, semuanya sudah ada lima orang pandai," kata Biauw Jin Hong di dalam hatinya. "Dilihat gerak-geriknya, ayah dan anak itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Tapi, apa mungkin aku salah mata?"

Memikir begitu, lebih-lebih ia berwaspada.

Ha-rus diketahui, bahwa gelaran Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, atau orang yang tak ada tandingannya dalam dunia ini, sesungguhnya merupakan duri di mata orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan.

Dapat dikatakan, bahwa tak ada seorang gagah pun yang tidak ingin mencopot gelaran itu yang me¬rupakan suatu hinaan bagi mereka. Selama hidup-nya, sering sekali Biauw Jin Hong harus melawan badai hanya karena gelarannya itu. "Apakah tak mungkin, bahwa mereka beramai-ramai datang un-tuk menyeterukan aku?" tanya Jin Hong di dalam hatinya.

Sementara itu, orang yang dipanggil "Tiauw Houw-heng" sudah berbicara serius sekali dengan Lam Jin Thong. Yang mereka bicarakan adalah soal-soal kalangan pembesar negeri.



0 Response to "Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 4"

Post a Comment