Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 2

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Jilid 2

Karena kata-kata dan sikap Yok Lan ini, semua orang itu menjadi terhibur juga. Memang benar, dengan adanya gadis itu di situ, tak mungkin Kim-bian-hud berpeluk tangan saja. Hampir bersama tnereka menarik napas lega.

Sungguh berbeda dengan mereka, Po-sie justru menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap ti-dak percaya.

"Meskipun dalam hal ilmu silat, Biauw Tayhiap tiada tandingannya, tetapi kusangsikan apakah ia dapat mendaki lamping gunung yang sangat curam ini," pendapatnya.

"Jika orang lain dapat naik ke sini, bahkan mendirikan perkampungan ini, mengapa ayahku tak dapat mencapai puncak ini?" Yok Lan membantah-nya.

"Di musim panas, memang tidak terlalu sukar untuk mendaki sampai di sini. Tetapi sekarang, dalam musim dingin, salju yang menutupi seluruh lereng, membuatnya terlalu licin untuk dipanjat. Jika harus menunggu sampai tibanya musim panas dan salju itu lumer, sedikitnya kita harus menunggu tiga bulan lagi. Koan-kee berapa banyakkah per-sediaan bahan makanan di sini?"

"Justru kami sedang mengirim orang untuk membeli persediaan baru dan mungkin sekali besok ia akan sudah tiba kembali. Persediaan yang masih ada kurang lebih hanya cukup untuk duapuluh hari, tetapi karena kedatangan kalian maka seharinya kita membutuhkan lebih banyak lagi, sehingga ku-taksir persediaan itu hanya akan cukup untuk se-puluh hari lagi."

Sedikit sinar terang yang tadi dilihat orang-orang itu, sudah dihapuskan seanteronya oleh kata-kata Po-sie dan le Koan-kee barusan. Sekarang mereka benar-benar putus asa dan di dalam hati, mereka mencaci si Rase Terbang, yang menurut anggapan mereka luar biasa kejamnya.

"Jika akhirnya kita harus mati juga, setidaknya kita harus mengetahui persoalan yang menyebab-kan kejadian ini," kata Yok Lan. "Taysu, sebenarnya karena apa kita jadi dianggap musuh oleh si Rase Terbang? Berapa tinggikah kepandaiannya sehing¬ga tuan rumah kita begitu ketakutan kepadanya? Lagipula apakah hubungannya dengan kotak besi itu?"

Pertanyaan gadis itu sama juga dengan pen-cetusan isi hati semua hadirin. Tanpa kecuali, me¬reka semua ingin mengetahui soal itu sejelas-je-lasnya. Walaupun tadi mereka bertempur mati-matian berebut kotak itu, sampai ada yang tewas karenanya, tetapi di antara mereka itu, tidak ada yang mengetahui pusaka atau mustika apa dan apa kegunaannya, hingga harus diperebutkan nekat-nekatan begitu. Mereka hanya tahu, bahwa isinya benda mustika, lain tidak.

"Baiklah. Setelah kita seakan-akan terjepit di sini, buru-buru juga tiada gunanya. Mari kita mem-bicarakannya dengan jelas dan berterus-terang dan sesudah itu kita harus bersatu padu. Mungkin kita masih dapat mencari jalan keluar. Sebaliknya, jika kita masih saja ingin saling membunuh, tak usah disangsikan lagi, bahwa dengan demikian kita akan celaka semua dan agaknya inilah yang diinginkan si Rase Terbang," kata Po-sie.

Orang-orang itu menyetujui pendapatnya dan segera duduk mengelilinginya. Pada saat itu, hawa di atas gunung sudah jadi semakin dingin dan le Koan-kee menyuruh sebawahannya menyalakan api. Dengan tenang semua orang itu kini duduk me-nantikan Po-sie mulai dengan ceritanya.

Si hweeshio, sebaliknya, tidak segera mulai. Lebih dulu ia mengangkat cangkirnya dan minum dengan perlahan-lahan.

"Benar harum teh ini," pujinya dan sesat ke-mudian ia mulai: "Kisah ini agak terlalu panjang, jika harus diceritakan seluruhnya. Apakah kalian ingin melihat dulu golok mustika yang disimpan di dalam kotak ini?"

Semua orang menyetujui usulnya.

"Saudara, kau adalah Ciang-bun-jin Thian-liong-bun cabang Utara, silakan membukanya untuk di-perlihatkan kepada yang lain," kata Po-sie sambil menyodorkan kotak itu kepada Hun Kie.

Hun Kie menerimanya, tetapi mendadak ia ingat, bagaimana tadi, ketika To Cu An membuka tutup kotak telah menyambar beberapa batang anakanak panah dari dalamnya, untuk melukakan mu-suh. Seketika itu tak berani membukanya, khawatir jika di dalam kotak itu dipasang alat-alat dan senjata rahasia yang dapat mencelakakannya. Semua ini membuat ia ragu-ragu. Po-sie melihat keraguannya, tetapi ia hanya bersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Jika orang memperhatikan kotak itu, ia akan mendapat kenyataan, bahwa peti itu sudah tua dan berkarat. Saking tuanya, dindingnya juga sudah legok di sini dan menonjol di bagian sana. Te-ranglah, bahwa barang itu, barang kuno yang se-dikitnya sudah berusia ratusan tahun, tetapi selain itu tidak ada tanda-tanda lain yang istimewa. Tam-paknya hanya seperti kotak biasa saja.

Lewat berapa saat, Hun Kie mengambil ke-putusan untuk membuka juga tutup peti itu. Pi-kirnya: "Jika aku tak berani membukanya, aku tentu akan ditertawakan si bangsat kecil To Cu An." Sambil menggertak gigi dan menahan napas, ia segera memegang tutup peti itu. Ia mengerahkan tenaganya, tetapi walaupun ia sudah berusaha se-kuat-kuatnya, tutup peti tersebut tak bergeming sedikit jua.

Ia menghentikan usahanya untuk memeriksa, mengapa barang itu tidak dapat dibuka. Untuk keheranannya, ia tak mendapatkan lubang kunci atau alat lain. Ia menjadi penasaran, dengan kedua-dua tangannya dan sambil mengeluarkan seantero tenaganya ia menarik lagi, tetapi lagi-lagi segala daya upayanya hanya sia-sia belaka.

Melihat, bagaimana suhengnya sudah mengerahkan seluruh tenaganya tanpa memperoleh hasil, Ceng Bun segera mengerti, bahwa kotak tersebut tentu mempunyai suatu alat rahasia. Jika orang hendak membukanya secara paksa, bukan saja ia tak akan berhasil, bahkan mungkin sekali ia akan mendapat celaka karenanya. Oleh karena itu, ia segera menoleh kepada Hun Yang dan mengusul-kan supaya ia saja yang coba membukanya.

Hun Yang tak pernah menduga, bahwa ia akan diminta melakukan itu, ia menjadi ragu-ragu dan menjawab: "A... aku tidak bisa...."

Walaupun ia sudah terang-terang menolaknya, tetapi Tian Ceng Bun tetap mengambil kotak itu dan menyodorkannya kepadanya.

"Aku yakin, bahwa kau bisa membukanya," ujar-nya dengan halus dan disertai senyuman.

Dengan terpaksa Hun Yang mengambil dan menempatkan kotak itu di atas meja. Ia tidak segera mencoba membukanya selaku Hun Kie tadi, sebaliknya ia hanya meraba-raba seluruh tutupnya, kemudian jari tangannya bergerak mengelilingi tepi kotak itu. Tiga kali ia mengulangi gerakan itu dan akhirnya ia menekankan jempolnya ke tengah dasar peti itu dari bawah. Hampir pada saat itu juga dengan mengeluarkan bunyi menjeblak, tutup peti itu seakan-akan meloncat.

Segenap anggota Thian-liong-bun yang berada di situ, menjadi heran. Mereka melirik ke arah Hun Yang dan dengan terheran-heran mereka menanya di dalam hati: "Siapa yang mengajarkannya, bagai¬mana ia harus membuka peti itu?"

Tetapi mereka tidak memikirkannya lama-lama. Segera juga mereka sudah mendekati peti itu dan menjenguk ke dalamnya. Isi peti itu, benar-benar sebilah golok yang masih berada dalam sarungnya.

Po-sie mengangkat golok itu dan menunjuk ke tepi sarungnya, di mana terdapat dua baris huruf-huruf kecil. "Coba periksalah," katanya.

Sarung golok itu sudah berkarat dan penuh dengan lumut. Goloknya sendiri juga sebilah golok kuno biasa yang tidak ada tanda-tanda ke-istimewaannya, hanya arti huruf-huruf itu yang agak aneh:

"Membunuh seorang kusamakan dengan membunuh ayahku, memperkosa seorang wanita kuang-gap sama dengan memperkosa ibuku."

Maksud tulisan itu sudah terang. Maksudnya adalah, melarang orang melakukan perbuatan tersesat, tetapi mengapa harus diukirkan kepada sarung golok itu?

"Tahukah kalian, bagaimana asal usul dua baris perkataan ini?" tanya Po-sie.

"Entahlah," jawab semua hadirin berbareng.

"Inilah hukum militer Cwan Ong Lie Cu Seng, sedang golok ini adalah golok Cwan Ong, ketika dengan tentaranya yang berjumlah jutaan ia berusaha mengakkan kerajaannya untuk menolong ne-gara dari kemusnahan."

Semua hadirin memandang wajah Po-sie dengan sikap heran. Agaknya mereka masih belum percaya akan kebenaran ceritanya.

Ketika itu, Cwan Ong sudah meninggal ratusan tahun sebelumnya, tetapi sepak terjangnya dan ke-wibawaannya masih diingat dan dikagumi semua orang gagah dan pencinta tanah air.

"Jika kalian masih tidak percaya, lihatlah di sebelah sini," kata Po-sie sambil membalikkan golok itu.

Di sebelah itu, diukirkan tiga huruf yang agak, besar: "Cwan Ong Lie". Melihat tiga huruf itu, mau tak mau mereka harus percaya juga.

"Dahulu, ketika para pahlawan dan puluhan ceecu (kepala perampok) berserikat untuk ber-gerak, Lie Cu Seng telah diangkat menjadi pe-mimpin besar dan diberi gelar 'Cwan Ong'. Belasan tahun ia berjuang dengan susah payah, akhirnya ia dapat merebut Pak-khia dan Dynasti Beng berakhir dengan bunuh diri Kaisar Cong Ceng. Setelah itu ia dinobatkan sebagai raja baru dan nama kerajaannya adalah: 'Tay Sun'. Jika bukan karena si peng-khianat Gouw Sam Kwie menjual negara dan mem-biarkan bahkan mengundang tentara Boan mele-wati dinding besar, memasuki tanah air kita, sampai hari ini pasti keturunannya masih berkuasa sebagai raja dan kita tidak harus menelan hinaan bangsa asing seperti sekarang. Sedari jaman purba, belum pernah ada yang dapat mengadakan gerakan besar-besaran seperti yang diselenggarakannya."

Po-sie berhenti sebentar dan menghela napas. "Sungguh sayang, bahwa ia menjadi kaisar hanya beberapa hari itu saja, belum sampai sebulan. Tahun Cong Ceng ketujuh belas tanggal 19 bulan tiga ia memasuki Pak-khia. Pada tanggal 12 bulan empat ia harus meninggalkan istananya untuk mem-bendung serbuan tentara Boan di sebelah Utara. Akhir bulan itu ia mengalami kekalahan besar dan ia harus mengundurkan diri ke sebelah Barat Daya. Sejak itu negeri kita dikuasai dan diilas-ilas bangsa asing dan bangsa kita terpaksa menelan saja hinaan penjajah yang semena-mena itu." (Kisah Cwan Ong merebut Pak-khia, ‘kim coa kiam’).

Cerita Po-sie ini sangat menusuk bagi Lauw Goan Ho, si gundal bangsa Boan. Dengan sikap gusar ia menatap wajah hweeshio itu. Di dalam hatinya ia berkata: "Besar benar nyalinya, ia be-rani mengucapkan kata-kata yang sukar diam-puni."

Ketika itu Po-sie sudah mengembalikan golok itu ke dalam peti. Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan ceritanya: "Si pengkhianat Gouw Sam Kwie masih mengejar terus dan pada suatu hari, dalam suatu pertempuran yang sengit, Cwan Ong terluka parah. Setelah menderita kekalahan ini, ia sudah tak punya pengharapan lagi untuk merebut kemenangan. Dari Hoo-lam ia mundur ke Ouw-pak. Sementara itu dalam keadaan putus asa, banyak panglima dan perwiranya yang jadi bertengkar antara kawan sendiri, malah sampai ada yang saling membunuh. Dengan demikian tenaga angkatan pe-rangnya jadi terpecah belah dan banyak berkurang. Ia mundur terus, sehingga akhirnya ia terkepung rapat di bukit Kiu-kiong-hu. Dengan sisa tentara-nya, yang terdiri daripada pengikut-pengikutnya yang paling setia, ia berulang-ulang berusaha rae-nembusi kepungan musuh, tetapi karena tentaranya yang berjumlah kecil itu sudah letih sekali, segala daya upayanya sia-sia saja."

Po-sie berhenti lagi sebentar. Biauw Yok Lan memandang golok itu dan ia membayangkan kepah-lawanan dan kegagahan Cwan Ong, ia sangat tertarik dan pada saat ia mengingat kemusnahan tentara pahlawan sendiri, ia sangat berduka dan wajahnya juga segera berubah menjadi muram.

"Dalam menghadapi bahaya kemusnahan itu. Cwan Ong didampingi empat pengawalnya yang paling setia. Keempat-empatnya mempunyai kepan-daian yang sangat tinggi. Empat orang itu masing-masing she Ouw, Biauw, Hoan dan Tian. Dalam melindungi keselamatan Cwan Ong mereka selalu bekerja sama dengan erat, maka dalam tentara Cwan Ong mereka biasa disebut dengan Ouw-biauw-hoan-tian, gabungan she mereka."

Di antara para hadirin yang berotak cerdas sudah segera mengerti, bahwa empat orang itu tentu mempunyai hubungan yang erat dengan peristiwa yang mereka alami.

Tian Ceng Bun melirik ke arah Biauw Yok Lan, yang pada saat itu sedang mengorek-ngorek api dalam perapian. Agaknya ia sedang melayangkan pikirannya ke jaman yang lampau itu di bawah pengaruh kisah yang baru didengarnya dari mulut Po-sie.

Sebelum meneruskan pula ceritanya, Po-sie le-bih dulu menatap wajah Lauw Goan Ho. Kemudian dengan suara nyaring yang bernada angker ia mulai berbicara lagi.

"Entah sudah berapa banyak kesulitan dan ba¬haya yang telah dihadapi empat pahlawan itu, dan entah berapa kali mereka sudah menyelamatkan jiwa Cwan Ong. Karena jasa-jasa mereka yang di-buat dengan kesetiaan dan kejujuran tak tergoyang-kan, tentu saja Cwan Ong jadi sangat mempercayai mereka. Dari empat orang yang gagah berani ini, si orang she Ouw berkepandaian paling tinggi, selain itu ia juga berotak cerdas sekali. Ia terkenal sebagai Hui-thian-ho-lie' (Rase Terbang)."

Kata-kata terakhir ini sangat mengejutkan bagi semua hadirin. Mereka mengeluarkan teriakan ter-tahan.

Po-sie sama sekali tidak menghiraukan seruan mereka itu. la terus mengisahkan riwayat itu tanpa menengok.

"Sementara itu, keadaan Cwan Ong di atas Kiu-kiong-san, sudah jadi sedemikian gentingnya. Berulangkali Cwan Ong mengirim orang untuk min-ta bala bantuan. Tetapi setiap kali sampai di kaki gunung, utusan itu sudah harus mengalami bencana. Pada saat terakhir, karena keadaan sudah hampir tak tertahankan lagi, terpaksa ia mengirim tiga orang dari empat pengawal utamanya, yang she Biauw, she Hoan dan she Tian untuk mencari bala bantuan. Pengawal she Ouw itu ditinggalkan untuk mengawani dan melindungi keselamatan Cwan Ong seorang diri. Tiga orang itu berhasil menembusi kurungan musuh dan dapat pula kembali membawa bala bantuan. Betapa terkejutnya mereka, ketika setiba mereka, ternyata Cwan Ong sudah mengalami nasib malang dan menurut kabar yang tersiar, sudah tewas terbunuh. Mereka menangis tersedu-sedu, bahkan dalam kedukaannya, pahlawan she Tian itu sudah hendak membunuh diri sebagai per-nyataan setia kepada junjungannya. Untungnya ia keburu dicegah oleh dua kawannya. Mereka membujuknya dengan mengatakan, bahwa sakit hati yang sedalam laut itu harus dibalas dulu. Kemudian mereka menyelidiki tentang bencana yang telah menimpa Cwan Ong dan bagaimana ia telah tewas. Dari keterangan-keterangan yang mereka kumpulkan dari sana sini, mereka mendapat kesan, bahwa rekan mereka she Ouw itu masih hidup. Meng-ingat, bahwa kepandaian orang itu tiada taranya dan kecerdasannya juga sangat luar biasa, mereka berpendapat, bahwa dengan bimbingan rekan ter-sebut, mereka akan dapat juga melaksanakan pem-balasan sakit hati itu. Dengan keyakinan ini, mereka lantas berikhtiar mencari jejak rekan she Ouw itu."

Po-sie berhenti sebentar untuk menghirup teh-nya.

"Menurut cerita yang tersiar di antara kaum tua di kalangan Bu-lim (kalangan ahli-ahli silat), hasil usaha ketiga orang itu, yang mencari rekan mereka, telah berekor panjang, bahkan turun me-nurun pesan mereka itu diturunkan kepada anak cucu mereka, supaya peristiwa itu tidak dilupa-kan."

Bercerita sampai di sini, Po-sie menoleh kepada Biauw Yok Lan dan berkata, "Loo-lap adalah orang luar yang hanya mengetahui sedikit sekali tentang hal ini. Nona Biauw tentu mengetahui segala se-suatu yang mengenai kejadian itu dan jika ia yang bercerita, kisah ini tentu akan menjadi lebih me-narik dan lebih lengkap."

Yok Lan tidak menolak dan segera sudah mulai menggantikan si hweeshio bercerita tanpa meng-angkat kepala.

"Ketika aku genap berusia tujuh tahun, aku melihat pada suatu malam ayahku membersihkan dan mengasah pedang. Aku mengatakan, bahwa aku takut melihat senjata dan aku minta kepadanya supaya menyimpan dan tidak bermain lagi dengan senjatanya. Tetapi ayah mengatakan, bahwa ia ma¬sih membutuhkan pedang itu untuk membunuh seorang lagi dan jika ia sudah menyelesaikan itu, baru ia akan menyimpan pedangnya untuk selama-lamanya. Mendengar perkataannya itu, aku jadi semakin ketakutan. Karena berulang-ulang aku mendesak, supaya ia tidak membunuh orang, maka kemudian ia menceritakan kisah ini."

"Ia menceritakan, bahwa pada suatu waktu, di masa dahulu, pernah terjadi, bahwa saking miskin-nya, rakyat sampai tak dapat makan apalagi ber-pakaian. Ketika itu, kulit pohon sampai pun rumput dimakan oleh rakyat yang sangat kelaparan itu. Beribu-ribu orang harus mati kelaparan, tidak ter-kecuali bayi-bayi yang ibunya telah kekeringan air tetek. Akan tetapi, di tengah-tengah penderitaan rakyat jelata yang demikian hebatnya itu para pem-besar negeri masih saja memeras rakyat dan me-mungut pajak yang berat-berat dalam bentuk uang maupun dalam bentuk hasil bumi yang sudah sangat sedikit itu. Di samping mereka, kaum hartawan juga turut memberatkan beban si orang kecil dengan memungut uang sewa tanah yang sangat tinggi. Sungguh kasihan, mereka yang tak dapat memenuhi segala kemauan pembesar korup dan hartawan ke-jam itu, ditangkap-tangkapi dan disiksa untuk ke¬mudian dibunuh. Jiwa rakyat kecil dianggap remeh sebagai juga jiwa semut. Ayah telah mengajarkan aku menyanyikan sebuah lagu yang menurut kata-nya, adalah gubahan seorang 'Bun bu siang coan' (seorang ahli sastera yang juga mahir dalam hal silat). Perlukah aku mengulangi lagu itu?"

Po-sie sudah dapat menebak siapa yang dimak-

sudkan dengan "Bun bu siang coan" itu, yakni Lie Giam, salah seorang perwira Lie Cu Seng yang sangat terkenal. Tetapi hadirin yang lain agaknya belum tahu siapa yang dimaksudkan itu dan mereka segera mengatakan: "Silakan, nona."

Lagu Lie Giam itu melukiskan keadaan pada masa itu, membawakan amanat penderitaan rakyat, terutama kaum petani yang tertindas paling hebat. Dengan sedikit kata-kata yang sangat tepat, diceri-takannya, bagaimana panen gagal, harga-harga ba-rang keperluan sehari-hari membumbung tinggi, sehingga rakyat harus memakan rumput atau akar-akar tanaman. Dilukiskannya, dengan cara yang sangat mengharukan, bagaimana, di tengah-tengah kesengsaraan yang memuncak itu, pembesar-pem-besar korup masih hidup mewah bahkan berlaku sangat sewenang-wenang, teladan mana segera su¬dah diikuti para hartawan. Masa itu tiada salahnya disebutkan 'Jaman banjir air mata dan darah'.

Dengan penuh perhatian para hadirin mendengarkan uraian Yok Lan mengenai syair lagu tersebut yang kemudian dinyanyikannya juga. Ke¬tika itu adalah dipertengahan masa pemerintahan kaisar Kian-liong dan keamanan dalam negeri sedang baiknya. Tetapi terhadap bencana alam seperti banjir dan paceklik semua orang tak dapat melakukan sesuatu. Maka di daerah-daerah tertentu, yang setiap tahun harus mengalami malapetaka, penghidupan rakyat masih tiada bedanya dengan di masa yang dikisahkan dalam lagu itu. Banyak antara mereka yang sudah pernah melihat sendiri kejadian seperti itu. Lagipula Yok Lan telah menguraikan dan membawakan lagu itu dengan cara dan suara yang sangat tepatnya, maka segera juga semua hadirin seakan-akan merasakan sendiri apa yang dikisahkan. Mereka terpesona dan hati mereka jadi turut berduka karenanya.

Beberapa saat kemudian Yok Lan sudah meneruskan lagi ceritanya.

"Karena penderitaan itu yang berlarut-larut tanpa ada akhirnya, bahkan semakin lama kian hebat, maka akhirnya rakyat tak dapat bersabar lagi apalagi setelah kemudian muncul seorang pahiawan yang berjiwa besar. Di bawah pimpinannya, tentara rakyat itu kemudian dapat menguasai Pak-khia (Pe¬king) dan mengakhiri riwayat pemerintah kerajaan yang sangat lalim itu. Sungguh malang, bahwa tidak lama kemudian pemimpin yang sangat mulia itu dibunuh orang jahat. Sebagai tadi diceritakan taysu tiga pengawalnya kemudian mencari rekan mereka yang agaknya tidak turut tewas. Mereka ber-keyakinan penuh, bahwa dengan pimpinannya, me¬reka akan dapat melaksanakan pembalasan sakit hati Cwan Ong."

"Dalam pada itu, bangsa Boan sudah berhasil menjajah seluruh tanah air kita. Di mana-mana semua simpatisan Cwan Ong dan patriot lain dikejar dan, bila saja ketangkap tentu disiksa sehingga tewas. Karena ancaman bahaya itu, maka untuk keselamatan mereka harus melaksanakan maksud mereka itu dengan menyamar. Seorang menyamar sebagai tabib keliling, seorang lagi sebagai pengemis dan yang ketiga sebagai kuli. Tiga orang ini dan rekan mereka yang sedang dicari itu adalah saudara-saudara angkat, dalam perhubungan mereka selama bertahun-tahun, keempat orang ini sudah menjadi

sangat akrabnya, bahkan sampai melebihi hubungan antara saudara kandung. Selama delapan tahun mereka mencarinya tanpa mengenal lelah, tanpa dapat menemukan jejaknya. Akhirnya mereka ber-pendapat, bahwa rekan itu yang sekalian menjadi saudara angkat tetua mereka, tentu sudah tewas dalam pertempuran. Tak usah dijelaskan, betapa sedihnya mereka pada saat itu."

Kata-kata Yok Lan diucapkan sebagai juga ia sedang bercerita kepada anak kecil. Agaknya ia meniru gaya ayahnya ketika bercerita dahulu. Nada suaranya sangat sabar lagi halus, sebagai juga de¬ngan itu ia hendak mengutarakan kasih sayangnya. Semua hadirin mendapat perasaan yang aneh dan mereka jadi mengerti bahwa Kim-bian-hud bukan saja seorang pendekar yang berjiwa besar, tetapi juga seorang ayah yang sangat baik.

"Setelah lewat pula berapa tahun tanpa men¬dapat hasil sedikit jua, mereka menghentikan usaha mereka dan memutuskan untuk coba melaksanakan pembalasan sakit hati itu dengan bertiga saja. Se-mentara itu mereka sudah mengetahui, bahwa si pengkhianat, Gouw Sam Kwie, sudah diangkat men¬jadi raja muda di In-lam. Mereka bertekad bulat untuk membinasakanya dan mereka segera juga berangkat ke In-lam."

Lauw Goan Ho dan Him Goan Hian saling memandang. Yang seorang seakan-akan hendak mengecam sang kawan yang telah menyeretnya ke dalam peristiwa itu, sehingga ia harus mengalami atau mendengar kata-kata yang menusuk berulang-ulang. Sang sutee sebaliknya ingin mengetahui, bagaimana sikap suhengnya terhadap kata-kata itu.

"Setelah mereka tiba di Kun-beng, ibu kota In-lam, mereka segera mencari keterangan ten-tang istana persemayaman pengkhianat keji itu dengan seksama. Maksud mereka adalah supaya dengan sekali bergeraksaja mereka akan berhasil. Tak mau mereka menggeprak ular di antara rum-put."

"Pada tanggal 5 bulan tiga mereka sudah me-rasa cukup mengetahui hal istana itu dan dengan senjata lengkap mereka menyatroni istana si peng¬khianat."

"Penjagaan di sekitar tempat kediaman itu, ter-nyata sangat rapat, mungkin karena si pengkhianat memang sudah mengetahui, bahwa lambat atau lekas tentu juga akan ada yang mencoba mem-bunuhnya. Karena penjagaan yang luar biasa ke-rasnya itu, maka ketiga saudara tadi hanya dapat mencapai halaman yang berdekatan dengan kamar tidur si penjual tanah air. Sebelum mereka dapat masuk ke dalam, mereka sudah kepergok dan harus bertempur melawan lebih dua puluh orang pe-ngawal istana itu. Karena kepandaian mereka yang sudah jarang ada tandingannya, mereka dapat me-nyelesaikan pertempuran itu dengan sangat ce-patnya. Setelah berapa orang di antara para pe-ngawal itu sudah tewas atau terluka yang lain segera kabur serabutan. Tanpa membuang-buang waktu mereka menyerbu ke dalam. Tetapi, agaknya me¬mang belum ditakdirkan harus mati, pada saat peng¬khianat itu sudah tak mungkin terlolos dari tangan mereka, mendadak dari suatu ruangan samping ke-luar seorang yang meloncat ke depan pengkhianat itu dan menghalang-halangi mereka turun tangan.

Tak dapat dilukiskan betapa kagetnya tiga saudara ilu, ketiga mereka mendapat kenyataan bahwa penghalang itu adalah kakak angkat mereka yang telah dicari siang malam selama tahun-tahun itu. Dengan kepandaiannya yang memang jauh lebih tinggi daripada mereka bertiga, kakak angkat itu dapat menghindarkan si pengkhianat dari kemati-an."

"Dalam kekalapan mereka, tanpa memperduli-kan segala apa, mereka segera menerjang si kakak. Dalam pada itu, para pengawal istana itu sudah datang membanjiri halaman di sekitar ruangan itu. Karena yakin, bahwa mereka tak akan dapat me¬lawan begitu banyak orang, mereka menerjang ke-luar dengan membuka jalan darah. Tetapi dalam peristiwa itu yang menyamar sebagai kuli itu telah tertawan. Gouw Sam Kwie memeriksa sendiri per-karanya. Karena ia tidak mau mengaku dan tetap membungkam terhadap segala pertanyaan, maka atas perintah si pengkhianat ia dihajar habis-ha-bisan dan kedua tulang kakinya dipatahkan, ke¬rn udian ia dimasukkan ke dalam penjara."

"Mungkin karena menyesal atas perbuatannya sendiri, secara diam-diam kakak angkat mereka itu kemudian menolongnya secara diam-diam. Setiba-nya kembali di antara saudara-saudaranya, si kuli dan kedua saudara itu saling merangkul dengan mengucurkan entah berapa banyak air mata. Di samping kegirangan mereka karena dapat berkum-pul lagi mereka juga merasa sangat sedih, karena ternyata, bahwa kakak angkat yang sangat dipuja itu telah menakluk kepada musuh dan mengga-galkan usaha mereka yang telah disiapkan sekian lama dengan memeras sekian banyak keringat. Mengingat perubahan jiwa si kakak itu dari se-orang pahlawan menjadi seorang budak musuh -hati mereka dirasakan perih sekali. Sebagai juga semua pengalaman ini belum cukup menyiksa me¬reka, tak lama kemudian mereka bahkan mendapat tahu terang halnya si kakak angkat bahwa kakak angkat itu telah membinasakan sendiri junjungan mereka, ketika sudah sekian lama, sia-sia menanti-kan kedatangan mereka kembali dengan bala ban-tuan. Kemudian ia telah menakluk kepada musuh dan karena dianggap berjasa, ia telah diberi pangkat yang tinggi dan sampai pada had itu, pangkatnya sudah menanjak menjadi Too-tok (penguasa perang di suatu daerah tertentu). Kemudian, setelah men¬dapat kepastian akan kebenaran berita ini, mereka memutuskan untuk pertama-tama membuat per-hitungan dengan bekas rekan ini dan baru setelah itu berusaha membunuh si pengkhianat lagi."

Pada saat itu semua hadirin agak terkejut. Se-panjang pendengaran mereka, memang benar, bah¬wa Cwan Ong telah tewas karena pengkhianatan salah seorang sebawahannya, tetapi mereka sama sekali tidak pernah menyangka, bahwa yang ber-khianat itu adalah Hui-thian-ho-lie, pengawal Cwan Ong yang sangat dipercaya.

Setelah menghela napas panjang-panjang, Biauw Yok Lan melanjutkan pula kisah itu.

"Karena memang sedari semula mereka sudah bukan tandingan si 'Rase Terbang', tentu saja, se¬telah salah seorang di antara mereka bercacad, mereka tak dapat melawan bekas rekan itu. Tetapi ketika mereka sedang memikirkan akal untuk melaksanakan maksud mereka, si 'Rase Terbang' telah mengirimkan surat undangan kepada mereka untuk datang di telaga Tin-tie pada tanggal 15 bulan tiga, untuk bersama-sama meminum arak."

"Mereka beranggapan, bahwa undangan itu ha-nya tipu muslihat si kakak, tetapi mengingat, bahwa daerah itu berada di bawah kekuasaannya, sehingga tidak mungkin mereka dapat menghindari kejaran-nya. Maka, apa boleh buat, walaupun harus meng-hadapi bahaya yang bagaimana besar juga, mereka berangkat menjumpainya. Tetapi, diam-diam me¬reka membekal senjata. Ternyata si 'Rase Terbang' sudah menantikan mereka. Agaknya ia hanya da¬tang seorang diri tanpa membawa kawan, pakaian yang dikenakannya juga terbuat dari kain kasar, seperti dahulu, ketika mereka masih bersama-sama menunaikan tugas dalam tentara rakyat. Segera setelah berkumpul, mereka membeli makanan dan minuman untuk bekal bertamasya di telaga di bawah sinar bulan purnama. Dilihat sepintas lalu, mereka seperti sudah berbaik kembali seperti di masa ber¬sama-sama berjuang."

"Sambil menikmati arak dan makanan bekal mereka dan juga menikmati hawa sejuk di bawah sinar bulan purnama, mereka mengobrol menge-nangkan kembali segala sesuatu yang menggem-birakan di masa yang lampau. Si kakak angkat sama sekali tidak menyebut-nyebut hal junjungan me¬reka. Ketiga saudara itu pun tidak berani menanya-kan hal itu dan mereka juga hanya membicarakan hal-hal yang menyenangkan saja. Semangkuk demi semangkuk, si 'Rase Terbang' minum terus dan setelah lama sekali, setelah sang bulan naik tinggi, ia mendadak mendongak dan berseru: 'Saudara-saudara, sepuluh tahun kita berpisah dan baru se-karang kita dapat berkumpul lagi. Had ini, aku merasa sangat berbahagia!'"

"Saudaranya yang menyamar sebagai tabib ke-liling tak dapat bersabar pula. Dengan tertawa mengejek ia menjawab: 'Hm! Dengan pangkatmu yang tinggi dan kehidupanmu yang mewah, tentu saja kau menjadi berbahagia! Hanya, entah ba-gaimana perasaan Goan-swee pada saat ini.' Wa-laupun Cwan Ong akhirnya sudah naik tahkta se¬bagai kaisar, tetapi karena sudah biasa sedari awal perjuangan, mereka menyebutnya sebagai Goan-swee (Jenderal besar), mereka tak dapat mengubah panggilan itu."

"Dalam pada itu, demi mendengar kata-kata si tabib, si 'Rase Terbang' menghela napas panjang-panjang dan mengatakan, bahwa beiiau tentu me¬rasa kesepian dan setelah urusan di tempat itu beres, ia akan menunjukkan jalan, agar mereka dapat menjumpainya. Seketika mendengar kata-katanya, ketiga saudaranya menjadi sangat gusar, karena mereka beranggapan, bahwa mereka akan ditunjukkan jalan ke akherat untuk menjumpai ar-wah Cwan Ong. Yang menyamar sebagai kuli sudah hendak mencabut senjatanya, tetapi keburu dicegah saudaranya yang menyamar sebagai tabib dengan kerlingan mata. Yang tersebut belakangan ini se-gera mengangkat botol dan menambahkan arak ke dalam cangkir toako mereka. Bersama dengan itu, ia menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Goan-swee mereka, setelah tiga saudara angkat itu meninggalkan Kiu-kiong-san. Si Toako

mengerutkan alisnya dan menjawab, bahwa un-dangan hari itu memang dimaksudkan untuk mem-bicarakan hal ini. Pada saat itu, mendadak yang menyamar sebagai pengemis menunjuk ke bela-kang si toako dan mengeluarkan seruan tertahan seakan-akan ia melihat seseorang mendatangi se-cara tak terduga."

"Ketika sang kakak menoleh, dengan serentak si tabib dan si pengemis menyerangnya dari be-lakang. Bokongan mereka ini menyebabkan toako itu kehilangan lengan kanannya dan punggungnya terluka berat. Dengan berseru kaget, kesakitan dan marah, si 'Rase Terbang' menoleh dan mengulurkan sebelah tangannya. Dengan sekali bergerak saja ia sudah dapat merampas golok kedua penyerangnya yang segera dilemparkannya ke dalam telaga. Ke¬tika kemudian tangannya itu berkelebat sekali lagi, si tabib telah kena ditotok jalan darahnya dan tak dapat berkutik lagi."

"Segera setelah itu ia berteriak: 'Kita berempat telah bersumpah sebagai saudara, mengapa kamu sekarang hendak mencabut nyawaku?' Seruan si 'Rase Terbang' ini dijawab saudaranya yang me¬nyamar sebagai kuli. Katanya: 'Kau telah men-celakakan Goan-swee, menjualnya kepada musuh untuk mendapat kemewahan, mengapa kau masih tidak malu menyebut-nyebut hal sumpah setia?' Menutup kata-katanya, ia segera menyerang juga, tetapi sang toako dapat mementalkan goloknya dengan tendangan dan senjatanya itu segera me-nyusul senjata-senjata dua saudaranya yang telah tenggelam ke dasar telaga lebih dahulu. Sebagai jawaban atas caci adik angkatnya ia tertawa dan mengatakan: 'Bagus, kamu setia, sangat setia!' Ke-tiga adik angkat itu tertegun lagi ketakutan, wa-laupun sudah terluka parah ditambah lagi sebelah tangannya sudah kutung, ia masih sangat gagah dan dapat mengalahkan mereka dalam serintasan saja. Sementara itu, si toako sudah menghentikan ter-tawanya dan kini justru berbalik menangis, di antara tangisnya terdengar penyesalannya, bahwa karena perbuatan tiga saudaranya, rencana pekerjaan be-sarnya menjadi hancur berantakan."

"Setelah mengucapkan kata-katanya itu, ia se-gera melepaskan si tabib. Karena menyangka, bah¬wa ia tentu tidak akan mau sudah begitu saja, maka pada saat yang sama, si pengemis menghantam dadanya. Serangan ini, yang sangat mendadak dilancarkannya dengan seantero tenaganya dan tak dapat dielakkan lagi oleh si 'Rase Terbang'. Toako ini segera memuntahkan darah, tetapi berbareng dengan itu, ia mengangkat sebelah tangannya. Ke-tiga saudaranya terperanjat, tetapi sesaat kemudian ternyata, bahwa ia tidak bermaksud mencelakakan mereka. Ia menghajar dinding perahu yang lantas saja somplak sebagian, sedang perahu itu jadi tergetar seluruhnya. 'Meskipun aku sekarang sudah terluka berat, tetapi, jika aku mau, dengan mudah saja aku dapat mencabut tiga nyawa kalian, yang bagiku sama mudahnya dengan membalikkan se¬belah tanganku,' ujarnya dengan ketawa getir."

"Tiga orang itu takut bukan main. Mereka ber-keyakinan, bahwa jiwa mereka tak akan dapat di-tolong lagi. Maka, dengan tekad untuk menjual jiwa semahal-mahalnya, mereka mundur ke suatu sudut, di mana kemudian ketiga-tiganya berdiri berjajar,

bersiaga, menantikan perkembangan selanjutnya. Akan tetapi untuk keheranan mereka, ia sama se-kali tidak berusaha untuk melanjutkan serangan-nya, bahkan menarik napas panjang-panjang sambil menunduk dan berkata: 'Jagalah, jangan sampai kejadian malam ini tersiar di luar. Jika puteraku mendengar hal ini, ia tentu akan mencari kalian untuk membalas, dan kupastikan, bahwa kalian ber-tiga bergabung, masih juga bukan tandingannya. Maka, untuk menghindarkan kalian daripada tu-duhan membunuh kakak angkat sendiri, lebih baik aku membunuh diri saja.' Dengan selesainya kata-kata ini, ia menghunus goloknya sendiri dan tanpa dapat dicegah oleh siapa juga ia sudah menggorok lehernya sendiri."

"Agaknya si kuli tidak tega melihat kakak itu akan menemui ajalnya secara begitu mengenaskan. Ia segera meloncat ke sampingnya dan hendak menolongnya. Tetapi ia terlambat. Tetapi sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, kakak itu masih dapat berpesan: 'Saudara yang baik, aku sudah akan berpulang. Golok kebesaran Goan-swee banyak kegunaannya. Ia.... Ia, orang tua, di Ciok-mui-kiap....' Pada saat itu, sebelum dapat me-nyelesaikan pesannya, ia sudah keburu mangkat. Tiga adik angkatnya tak dapat mengucapkan se-patah kata dan untuk berapa saat mereka hanya memandang jenazahnya dengan terlongong-longong. Pelbagai macam perasaan mengaduk dalam alam pikiran mereka. Sedih, menyesal, kasihan tetapi juga puas silih berganti menguasai perasaan me¬reka. Sesaat kemudian mereka mendapatkan kem-bali kesadaran mereka dan mereka segera melihat, bahwa golok yang barusan digunakan menggorok lehernya sendiri oleh kakak mereka itu, adalah golok kebesaran Cwan Ong dahulu."

Tanpa terasa semua mata beralih memandang golok yang berada di dalam peti itu. Entah apa yang terkilas dalam alam pikiran mereka, pada saat itu. Sedang yang lain masih diam dengan pikiran raa-sing-masing, mendadak saja Lauw Goan Ho berteriak, "Aku tidak percaya!"

To Pek Swee menjadi gusar. "Kau tahu apa!" bentaknya.

"Aku tak mau percaya, bahwa Lie Cu Seng -yang telah membuat banjir darah di suatu daerah yang ribuan li luasnya dapat mengadakan hukum militer sedemikian, sebagai empat belas huruf itu," katanya dengan menggelengkan kepalanya. Atas bantahannya ini tak ada yang dapat menjawab, setelah lewat berapa lama, baru Ie Koan-kee yang menjawabnya. Katanya: "Kau mengatakan, bahwa Cwan Ong telah membunuh orang bagaikan mem-babat rumput saja. Kaukah, atau siapa yang telah melihat kejadian itu?"

"Semua orang berkata begitu. Tak mungkin mereka semua bohong," bantah si gundal pemerintah Boan.

"Kamu, golongan pembesar, memangselalu me¬ngatakan, bahwa Cwan Ong sangat kejam. Tetapi, sebaliknya Cwan Ong justru telah berjuang untuk rakyal, bersama dengan rakyat dan dipilih serta didukung oleh rakyat. Memang banyak yang telah dibunuhnya. Tetapi semua itu, adalah pembesar negeri atau hartawan lalim, penindas rakyat kecil. Maksudnya undang-undang empat belas huruf itu,

ialah untuk melarang sebawahannya bertindak se-wenang-wenang lebih-lebih membunuh orang yang tidak berdosa. Sependengaranku, segala perintah-nya telah diturut dengan taat."

Sebenarnya Lauw Goan Ho masih akan mem-bantah lagi, tetapi ketika melihat, bahwa sebagian besar para hadirin menentang pendiriannya, bahkan ada yang bersikap agak keras, ia menjadi kuncup sendiri dan segera menelan kcmbali kata-katanya yang sudah akan diucapkan barusan.

Untuk mengalihkan perhatian orang banyak, demi keselamatan suhengnya, Him Goan Hian se¬gera meminta Yok Lan melanjutkan ceritanya.

Segera Yok Lan telah melanjutkan kisah itu.

"Setelah dapat menguasai perasaannya, si kuli berkata: 'la mengatakan, bahwa Goan-swee berada di Ciok-mui-kiap, apakah maksudnya?' Si tabib mengutarakan pendapatnya, bahwa mungkin sekali kakak itu hendak mengatakan, bahwa Goan-swee mereka dikubur di tempat tersebut. Sebaliknya, si pengemis mempunyai pandangan lain lagi. Menurut ia, si Rase Terbang mungkin hanya mendusta, mengingat, bahwa ia itu mempunyai banyak akal. Bahwa ia tak percaya akan kejujuran kakak angkat mereka itu memang dapat dimengerti. Bukankah, setelah meninggalnya Cwan Ong, si pengkhianat Gouw Sam Kwie mengirimkan jenazahnya ke kota raja untuk mendapat hadiah besar. Bukankah kepala pahlawan itu kemudian digantung di atas pintu gerbang kota raja untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai dan bukankah setelah menempuh beribu macam bahaya, mereka bertiga akhirnya berhasil juga merampasnya kembali untuk kemudian dikubur di suatu tebing belukar yang sangat curam dan belum pernah diinjak orang? Tak mungkin rnereka percaya kata kakak itu, yang agaknya hendak memberi kesan, bahwa beliau itu berada di Ciok-mui-kiap."

"Setelah mereka berhasil menyingkirkan kakak angkat mereka, bertiga mereka segera coba mem-bunuh si pengkhianat. Tetapi kali ini, penjagaan di istana itu sudah diperkuat, sehingga sukar sekali ditembusi. Beiapa kali mereka mencoba. Tetapi setiap kali mereka menampak kegagalan. Hal meninggalnya kakak angkat mereka segera tersiar di luar dan para orang gagah memuji mercka yang menurut pendapat umum sudah membunuh kakak angkat yang berdosa itu, tanpa ragu-ragu demi untuk menegakkan kewibawaan kaum Kang-ouw. Ketika berita itu akhiinya sampai juga di kuping anak si kakak angkat yang malang, pemuda ini menjadi sangat sedih dan segera berangkat ke Kun-beng untuk menuntut balas."

"Putera itu telah membuat kesalahan besar. Walaupun sebagai anak, ia wajib menuntut balas bagi ayahnya tetapi ia harus mengingat, bahwa kejahatan dan dosa ayahnya itu sangat besarnya. Tidak selayaknya ia harus bertindak demikian," kata Po-sie, memotong cerita Yok Lan.

"Ayahku pun berpendapat demikian. Tetapi. sebaliknya jalan pemikiran pemuda itu pun punya alasan-alasannya sendiri, hingga sebenarnya sukar untuk kita menetapkan salah benarnya. Setibanya di Kun-beng ia segera mencari jejak ketiga paman angkat itu, yang tak lama kemudian dijumpainya di suatu kuil rusak. Melihat kedatangan pemuda itu,

tiga orang itu terkejut bukan main. Segera juga mereka sudah bertempur dengan sengit. Tak usah ditunggu terlalu lama, ketika sudah jelas, bahwa pemuda itu benar-benar sudah mewarisi seluruh kepandaian ayahnya. Bertiga mereka masih tak mam-pu menandinginya. Tidak sampai setengah jam, ketiga paman itu sudah digulingkan seorang demi seorang. Ketiga-tiganya sudah tidak mengharap akan dapat meninggalkan tempat itu dalam keadaan ma¬sih bernyawa. Tetapi dugaan mereka meleset jauh. Setelah mereka jatuh tidak berdaya, si pemuda bukan lantas saja membinasakan mereka. Sebalik¬nya ia berujar: 'Pamanku, ayahku telah rela mc-nerima hinaan dan ejekan sekian lamanya. Ia di-tuduh sebagai penjual majikan. Ia dimaki sebagai pengkhianat rendah yang tamak kemewahan. Te¬tapi, tahukan kalian bahwa ia mempunyai suatu tujuan lain yang sangat penting dan tak dapat di-ceritakan kepada setiap orang? Suatu rahasia yang besar sekali artinya. Biarlah, mengingat, bahwa ka¬lian adalah saudara-saudara angkat ayahku, aku tidak akan mencabut jiwa kalian. Lekas-lekaslah kalian pulang dan tunggulah kedatanganku pada tanggal 15 bulan tiga, tahun depan.' Menutup kata-katanya, ia segera merebut kembali golok kebe-saran Cwan Ong yang sudah berada di tangan me¬reka itu dan segera berlalu."

"Kejadian itu adalah di awal musim semi. Tanpa ayal lagi ketiga-tiganya segera berangkat pulang ke Utara. Setelah tiba di rumah masing-masing mereka segera mengumpulkan seluruh keluarga mereka dan kemudian menceritakan pengalaman mereka yang sangat hebat itu. Semua anggota keluarga mereka menyatakan, bahwa mereka tidak bersalah, karena sebagai penjual majikan dan sebagai pe-lindung musuh besar mereka, si pengkhianat Gouw Sam Kwie, sudah sepantasnya mereka bertindak untuk menyingkirkannya. Rata-rata para anggota keluarga itu tidak percaya, bahwa dengan segala kenyataan itu, si 'Rase Terbang' masih mempunyai maksud tertentu yang sangat penting. Mereka ber-anggapan, bahwa putera si 'Rase Terbang' hanya pandai memutar lidah. Lambat laun berita itu telah tersiar luas di antara sahabat-sahabat mereka. Pada tanggal yang telah dijanjikan, sahabat-sahabat itu beramai-ramai datang di tempat mereka untuk mem-bantu menghadapi putera si 'Rase Terbang'. Tepat sebagai janjinya ia telah datang."

"Hariinijuga tanggal 15bulan tiga!" teriakTian Ceng Bun tertahan. Seketika itu, semua orang men-jadi kaget dan mereka juga ingat, bahwa si 'Rase Terbang' yang harus dihadapi mereka, menurut Ie Koan-kee, juga akan datang seorang diri untuk menuntut balas. Agaknya antara kisah yang di-ceritakan Yok Lan dan kejadian yang mereka alami hari itu walaupun berbeda waktu lebih seratus tahun ada hubungannya.

Karena sangat ingin tahu, dengan tak sabar mereka memandang Yok Lan, menantikan ia me-lanjutkan pula ceritanya. Tetapi pada saat itu Khim-jie telah datang dengan kantong sutera dan segera diletakkannya di atas pangkuan Yok Lan.

"Nyalakan lagi sedikit dupa!" perintahnya ke-pada pelayan itu.

Khim-jie segera melakukan perintah itu. Ia membawa sebuah hiolo kecil dari batu Giok putih

dan meletakkannya di atas meja di samping Yok Lan. Segera juga segulung asap yang harum sudah memenuhi seluruh ruangan, melegakan dada semua hadirin.

"Jika aku berada seorang diri dalam ruangan ini, kau boleh menyalakan dupa ini. Tetapi sebab begini banyak orang, mengapa kau menyalakan yang ini?" Yok Lan mencomel.

"Benar bodoh aku," kata Khim-jie sambil ter-tawa dan segera masuk untuk menggantikan dupa itu.

Sedang para pendengarnya sudah tak sabar menantikannya, Yok Lan justru melanjutkan memberi petunjuk-petunjuk kepada Khim-jie. Kali ini ia menyuruh Khim-jie melihat, apakah hiolo itu sudah betul letaknya.

Khim-jie bersenyum lagi dan segera memin-dahkan hiolo itu dengan melihat jurusan angin. Setelah itu ia menambahkan teh di cangkir nonanya dan kemudian baru pergi.

Karena agak mendongkol maka semua hadirin berkata di dalam hati: "Percuma Kim-bian-hud disebut jago yang tiada tandingannya, sedang puterinya dimanjakannya sehingga menjadi begini aleman."

Sesaat kemudian, Yok Lan mengangkat cang-kirnya, memeriksa tehnya sebentar dan meletakkannya kembali, setelah minum sedikit. Para hadirin menduga, bahwa ia akan segera melanjutkan ceritanya, tetapi ia justru berkata: "Kepalaku rasanya agak pening dan aku akan mengaso sebentar. Harap paman dan saudara sekalian memaafkan."

Semua orang di situ jadi sangat mendongkol, tetapi mereka semua tak berani mengutarakan pe-rasaan masing-masing dan hanya saling memandang tanpa mengucapkan sesuatu.

Agaknya, setelah tercengangnya hilang, Co Hun Kie sudah hendak mengubar amarahnya, tetapi Tian Ceng Bun keburu mencegahnya dan kata-kata yang sudah berada di arabang mulutnya tak jadi keluar.

Tak lama, sedari Yok Lan meminta diri, ia sudah keluar pula. Ternyata ia sudah berganti pakaian dan pupur serta yan-cienya sudah dicuci hilang. Dalam kesederhanaan itu, ia bahkan kelihatan semakin cantik.

Khim-jie berjalan di belakangnya dengan mem-bawa sebuah bantal tersalut kulit rase putih, yang segera diletakkannya di atas kursi nonanya. Yok Lan duduk dengan hati-hati dan kemudian baru bersiap-siap untuk melanjutkan ceritanya.

"Malam itu di rumah si tabib diadakan per-jamuan besar yang dihadiri ratusan orang gagah dari seluruh kalangan Kang-ouw. Dengan tenang me¬reka menantikan kedatangan putera si 'Rase Ter-bang'. Sekian lama mereka sia-sia menantikan kedatangannya dan banyak yang sudah menduga, bahwa ia tak berani datang karena banyaknya orang gagah yang hadir di situ. Tetapi secara mendadak, dengan terdengarnya suatu bunyi yang sangat per-lahan, menjelang tengah malam, di antara mereka itu sudah bertambah seorang yang berdiri di atas meja utama dan tak ketahuan dari mana datangnya. Di antara ratusan hadirin, yang hampir semua terdiri dari tokoh-tokoh kenamaan, tak seorang mengetahui bagaimana dan sejak kapan ia sudah tiba. Orang itu masih sangat muda, dilihat dari mukanya agaknya ia baru berusia dua puluh tahun lebih sedikit. Ia mengenakan pakaian berkabung dan di punggungnya diselipkan sebilah golok. Tanpa memperdulikan ratusan orang itu, ia segera meng-hampiri ketiga paman angkatnya. 'Paman bertiga, dapatkah aku berbicara dengan kalian di suatu tempat tersendiri?' Pintanya. Sebelum ketiga orang itu dapat mengucapkan jawaban mereka, seorang tokoh Ngo-bie-pay sudah mendahului berteriak: 'Laki-laki sejati, tak suka bersembunyi. Segala apa dibicarakannya dengan terus terang dan ia tak takut didengar orang banyak. Sebagai juga ayahmu, yang menjual majikan untuk keuntungannya sendiri, kulihat kau pun bukan orang baik-baik. Sam-wie jangan sampai terperangkap akal bulusnya.' Begitu ia selesai mengucapkan kata-katanya ini, segera terdengar beberapa bunyi menggaplok yang nyaring. Ternyata jago Ngo-bie-pay itu sudah ditampar enam kali, mulutnya berdarah dan sekian banyak giginya sudah rontok karenanya."

"Peristiwa ini tentu saja sangat mengejutkan para hadirin. Mereka tak mengerti mengapa anak muda itu dapat memiliki kepandaian setinggi itu dan mengapa gerak-geriknya demikian cepat. Dalam ketakutan mereka tak berani mengucapkan sepatah kata dan begitu juga dengan tokoh Ngo-bie-pay yang jumawa tadi. Kecuali tiga adik angkat si 'Rase Terbang' itu tak ada yang mengetahui, bahwa ke¬pandaian pemuda itu didapat dari ayahnya dan kecepatannya bergerak yang tak dapat dilihat ratusan orang itu adalah kepandaiannya yang istimewa dan dinamakan Pek-pian-kwieeng (Ba-yangan setan yang berubah ratusan kali), bahkan agaknya si anak sudah melebihi ayahnya dalam kepandaian itu."

"Sementara itu putera si 'Rase Terbang' sudah berbicara lagi kepada ketiga saudara angkat ayah¬nya. la mengatakan, bahwa jika ia berniat mem-binasakan mereka, tak usah ia melepaskan mereka di kuil kuno itu dan menunggu sehingga hari itu. Ia menambahkan bahwa soal yang akan dibicarakan-nya tak boleh dibicarakan di hadapan orang banyak. Karena alasannya itu sangat masuk di akal, maka si tabib memutuskan untuk menuruti permintaannya. Berempat, mereka pergi ke suatu tempat yang sunyi. Para tamu yang ditinggalkan dalam ruangan per-jamuan itu, berhenti makan minum dan hanya saling memandang dengan membungkam."

"Kira-kira setengah jam kemudian, keempat orang itu sudah keluar kembali. Sedang para tamu itu menunggu perkembangan selanjutnyasecara tak diduga, si tabib sudah menjura kepada mereka dan mengucapkan terima kasihnya atas setia kawan me¬reka yang harus dipuji. Kemudian, sebelum mereka dapat membalas penghormatan itu, ia dan kedua saudara angkatnya sudah mengangkat golok raa-sing-masing dan menggorok leher mereka sendiri. Para hadirin benar-benar terperanjat melihat per-buatan nekat itu. Mereka beramai-ramai meloncat untuk mencegah, tetapi sudah terlambat."

"Putera si 'Rase Terbang' berlutut di hadapan jenazah tiga paman angkatnya sebagai lazimnya seorang muda menghormati arwah sanak yang lebih tua. Setelah itu, ia segera memungut tiga buah golok

paman angkatnya dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia meninggalkan ruangan tersebut. Peristiwa ini terjadinya terlalu cepat dan ketika mereka dapat menetapkan hati mereka, anak muda itu sudah berlalu jauh sekali."

"Berbondong-bondong mereka memburu ke¬luar untuk mengejar dan mereka saling menganjur-kan supaya jangan membiarkan 'penjahat' itu lolos. Tetapi, mana dapat mereka menyusulnya. Semen¬tara itu, di dalam ruangan tadi, putera puteri ketiga orang yang malang itu merangkul mayat ayah ma-sing-masing sambil menangis memilukan. Ketika para tamu itu kembali mereka menanyakan kepada seluruh keluarga tiga orang itu, bahkan menanya juga para pelayan rumah itu, apa yang telah di¬bicarakan anak si 'Rase Terbang' tadi, sehingga berakibat demikian hebat. Tetapi tak seorang dapat memberikan keterangan. Semua orang gagah yang berkumpul di situ merasa sangat kasihan melihat putera-puteri tiga orang itu dan mereka ramairamai mengambil ketetapan untuk memberikan bantuan agar keturunan tiga keluarga tersebut dapat me-laksanakan pembalasan sakit hati. Kegusaran di kalangan Kang-ouw yang diterbitkan karena pe¬ristiwa itu sungguh hebat. Tetapi, seperginya dari rumah si tabib, putera si 'Rase Terbang' telah menghilang, entah ke mana. Untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkan bersama pada malam itu, maka para orang gagah kemudian mendidik putera puteri ketiga saudara itu. Berkat didikan sekian banyak orang pandai, akhirnya para keturunan itu jadi memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dan kepandaian mereka bukan terbatas pada satu macam kepandaian saja."

Berbicara sampai di sini, Yok Lan berhenti sebentar untuk menghela napas panjang-panjang dan memandang wajah para pendengarnya. Kemu-dian ia melanjutkan pula. "Semakin tinggi kepan¬daian mereka bertambah kuat pula keinginan me-reka untuk menuntut balas. Benar-benar harus di-sesalkan, ilmu silat sebagai juga semua ilmu, dapat mendatangkan bahagia tetapi juga dapat mener-bitkan bencana." Yok Lan mengucapkan kata-kata-nya yang terakhir itu dengan penyesalan.

Untuk berapa lama ia tak dapat meneruskan ceritanya ia hanya memandang api di anglo de¬ngan sikap seakan-akan terpesona ceritanya sen¬diri.

Karena melihat, bahwa yang lain semua rae-nantikan lanjutan cerita itu dengan sikap tak sabar, maka Po-sie menggantikan Yok Lan meneruskan kisah itu.

"Cara nona Biauw menceritakan kisah itu be¬nar-benar menarik. Walaupun ia tidak menyebut-kan nama-nama, tetapi kuyakin, bahwa kalian tentu sudah mengerti, bahwa tiga adik angkat si 'Rase Terbang' adaiah yang menyaru sebagai tabib she Biauw, si pengemis she Hoan dan si kuli she Tian. Seperti tadi sudah diceritakan, kemudian keturunan tiga saudara itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan masing-masing mendirikan partai sendiri. Kepandaian keluarga Biauw yang khas, kemudian terkenal sebagai "Biauw-kee Kiam-hoat", sedang keluarga Hoan meneruskan tradisi penyamaran le-luhurnya dan mendirikan "Hin-han-kay-pang" (Par¬tai Pengemis) dan keluarga Tian mendirikan "Thian-

liong-bun" yang sejak itu sehingga sekarang masih dikenal sebagai kusebutkan barusan."

Wie Su Tiong dan In Kiat, dua tokoh utama Thian-liong-bun pada dewasa itu dua-duanya me-rasa sangat malu karena dalam kedudukan mereka itu, mereka juga tidak mengetahui asal usul partai mereka sendiri.

Dalam pada itu, Po-sie sudah melanjutkan pula: "Ketika berapa puluh tahun kemudian keturunan orang-orang she Biauw, Hoan dan Tian itu dapat menemukan putera si 'Rase Terbang' ia ini ternyata sudah sangat tua. Kepandaiannya sudah sangat mun-dur dan tenaganya sudah tidak ada lagi. Karena itu, ia tak dapat menandingi mereka dan dapat didesak, sehingga harus bunuh did juga. Demikianlah, se-lanjutnya, keturunan empat keluarga itu balas-mem-balas bergiliran selama lebih seratus tahun terakhir ini dan sepanjang masa itu, turun temurun setiap putera keluarga itu tak dapat hidup tenteram dan hampir selalu harus menemukan kematian tidak wajar. Dengan mata kepalaku sendiri, aku telah menyaksikan pertempuran hebat antara mereka, yang sampai pada detik ini adaiah pertempuran yang terakhir."

Yok Lan mendadak mengangkat kepalanya dan memandang Po-sie.

"Taysu, kisah ini sudah kudengar dari orang lain. Tak usah kau menceritakannya lagi," katanya.

"Tetapi sahabat-sahabat ini belum pernah men-dengarnya, maka silakan kau menceritakannya ke-pada mereka," jawab Po-sie.

"Ah, ketika itu setelah selesai menceritakan kisah empat pengawal Cwan Ong itu, ayahku menceritakan suatu kejadian yang sangat memilukan dan sampai sekarang, setiap kali teringat kembali, hatiku menjadi sedih. Kata ayahku, karena kejadian itu, ia masih membutuhkan pedangnya, yang juga harus dipelihara ketajamannya, terutama untuk membunuh seorang lagi."

Yok Lan berhenti sebentar untuk mengatasi perasaannya. Lewat berapa lama baru ia dapat meneruskan ceritanya.

"Yang akan kuceritakan ini, telah terjadi se-puluh tahun sebelum aku dilahirkan. Entah bagai-mana nasib anak yang harus dikasihani itu, selalu aku berdoa agar ia masih hidup dan keadaannya baik senantiasa."

Para pendengarnya menjadi bingung, mereka tak mengerti, siapa sebenarnya 'anak yang harus dikasihani' itu. Juga apa hubungannya dengan soal mereka itu, masih merupakan suatu teka-teki sulit bagi mereka. Dengan penuh pengharapan mereka sebentar memandang Yok Lan dan sebentar pula memandang Po-sie dengan sikap seperti minta pen-jelasan.

Mendadak saja, terdengar seorang hamba -yang berdiri di samping berkata dengan suara serak: "Nona, karena hatimu begitu mulia, tentu doamu akan terkabul, kupercaya, bahwa 'anak yang harus dikasihani' itu masih hidup dan keadaannya juga baik."

Semua hadirin menengok ke arah suara itu. Mereka melihat seorang yang sudah berusia lanjut, berambut jarang tanpa lengan kanan sedang me-nyanggah sebuah penampan dengan tangan kirinya. Mukanya mengerikan, karena sebuah bekas luka

yang panjang, menjalur dari alis kanannya sampai di sisi kiri mulutnya.

Melihat wajahnya, semua orang merasa heran. Pikir mereka: "Setelah terluka begitu hebat, sung-guh luar biasa, bahwa ia masih dapat hidup terus sampai had ini."

Ketika mereka masih terheran-heran meman¬dang wajah orang itu, Yok Lan sudah mulai ber-cerita lagi.

"Di samping mendoa, agar ia selamat selalu, aku juga mengharapkan supaya ia tidak belajar ilmu silat. Aku berdoa, supaya ia seperti aku ini, seke-lumit ilmu silat pun tidak mengerti. Aku yakin, bahwa ini paling baik bagi dirinya."

Kata-kata Yok Lan yang terakhir ini sungguh di luar dugaan para hadirin. Mereka jadi tercengang dan dalam kurang percaya mereka berpikir, bahwa sebagai puteri kesayangan Biauw Jin Hong tak mungkin ia tak mengerti ilmu silat, tetapi jika me¬lihat tindak tanduknya yang sangat lemah lembut, memang agaknya ia sama sekali tidak pernah mem-pelajari ilmu silat.

Yok Lan agaknya dapat menerka keragu-ragu-an mereka. Maka untuk menghilangkan kesangsian orang-orang itu ia menerangkan: "Menurut ayahku empat keluarga, Ouw, Biauw, Hoan dan Tian telah dapat balas membalas selama berapa keturunan, justru karena mereka semua pandai silat. Betapa tinggi juga kepandaian seorang anggota keluarga itu, akhirnya ia mesti mengalami kematian yang tidak wajar. Jika sepihak harus pusing memikirkan usaha membalas sakit hati orang tuanya, pihak yang lain harus selalu berjaga-jaga dengan hati kebatkebit, karena lambat atau lekas, tentu akan ada yang datang mencarinya, untuk menuntut balas. Tak per-nah ada keturunan keluarga itu yang dapat hidup tenang sampai datang saatnya dipanggil pulang oleh yang kuasa. Jika karena kepandaiannya yang sangat tinggi, ia dapat terhindar dari kebinasaan di waktu mudanya, tentu di hari-hari terakhirnya, jika usia-nya sudah melampaui tujuhpuluhan, akan datang seorang mencari balas. Jelaslah, bahwa karena ilmu silat, empat keluarga itu hanya menderita terus-menerus sampai entah berapa turunan. Karena itu maka ayah telah menetapkan, bahwa setelah ia, seluruh keturunan keluarga Biauw tidak boleh be-lajar silat pula. Biarlah, ia akan menjadi orang she Biauw terakhir yang pandai silat. Kurasa kata-kata-nya itu sangat benar dan aku juga yakin, bahwa ilmu silat hanya akan mendatangkan malapetaka bagi keluarga kami."

"Ayahku telah berpikir sempurna. Jika kelak ia harus mati terbunuh keturunan keluarga Ouw, de-ngan aku sebagai puteri tunggalnya tak mengerti ilmu silat, permusuhan itu dapat berakhir sampai di situ saja dan walaupun kami tidak dapat membalas sakit hati itu, kami akan dapat melanjutkan hidup kami dengan tenteram."

"Siancay, siancay," sabda Po-sie sambil me-rangkap kedua tangannya. "Biauw Tayhiap benar-benar sangat bijaksana. Kesediaannya, membiar-kan Biauw-kee Kiam-hoat yang tersohor tiada taranya, menjadi musnah dan lenyap setelah ia pulang ke alam baka membuktikan, betapa luhur budinya. Ia benar-benar tiada tandingannya dalam dunia ini."

Secara kebetulan Yok Lan menengok ke arah pelayan yang tadi telah turut mengemukakan pen-dapatnya itu. Di dalam matanya, Yok Lan melihat suatu sinar yang luar biasa dan ia menjadi heran. Ketika itu, sebenarnya para hadirin sedang me-nantikan lanjutan ceritanya dengan sikap tidak sa-bar. Tetapi bukannya ia segera meneruskan ber-cerita, sebaliknya ia bahkan memberi hormat ke-pada semua orang itu, meminta diri dan segera bertindak masuk meninggalkan mereka dalam ke-tidakpuasan.

Tetapi, sesaat kemudian Po-sie sudah meng-ambil alih tugas nona itu dan ia mulai bercerita dengan menerangkan bahwa, karena berperasaan halus, Yok Lan tentu tak dapat mengatasi pera-saannya, jika ia hanya menceritakan kejadian yang memilukan itu. "Maka, biarlah loo-lap yang melan¬jutkan cerita ini," katanya.

"Sejak awal permusuhan itu, karena orang she Ouw itu dikutuk kalangan Kang-ouw, sebagai pen-jual majikan, karena tamak kemewahan, maka tu-runannya selalu harus menempati kedudukan ter-pencil yang sangat tidak menguntungkan. Mereka tak pernah mendapat simpati kalangan Kang-ouw, bahkan selalu mereka dianggap sebagai sampah. Betapa tinggi juga kepandaian mereka, karena dalam pertempuran sengit selalu tidak ada yang berpihak kepada mereka, dengan sendirinya mereka jadi sudah kalah angin."

"Hanya berkat kepandaian mereka yang benar-benar tiada taranya, mereka selalu masih dapat mewujudkan cita-cita mereka. Pula hampir setiap tingkat keturunan mereka tentu mempunyai seorang yang luar biasa. Di waktu tiba saatnya ia bertindak untuk memenuhi pesan orang tuanya, tak perduli menang kalahnya, tentu akan terjadi banjir darah."

"Meskipun ketiga keluarga Biauw, Hoan dan Tian berjumlah lebih banyak dan dapat menghim-pun tenaga lebih besar, lagi pula mendapat du-kungan seluruh kalangan Kang-ouw, walaupun me-reka selalu berjaga-jaga dengan sangat telitinya, tetapi dengan kecerdikan dan kepandaian serta kesabaran mereka, anak cucu keluarga Ouw selalu dapat membobolkan penjagaan mereka dan me-laksanakan pembalasan sakit hati turun-temurun itu."

"Setiap kali salah satu pihak berhasil mem-binasakan musuhnya, golok kebesaran Cwan Ong berpindah tangan. Begitu semasa pemerintahan Khong-hie empat keluarga itu terus-menerus be-rebut golok pusaka tersebut, juga antara keluarga Biauw, Hoan dan Tian sendiri kemudian terbit percekcokan karenanya. Di masa itu, justru di pihak keluarga Ouw muncul dua orang yang berkepan-daian luar biasa tingginya. Dalam suatu pertem-puran sengit, dua saudara itu telah berhasil mem-bunuh dan melukakan dua puluh tiga orang dari pihak lawannya. Tentu saja tiga keluarga yang asal-nya berdiri sepihak dan kemudian bercekcok sendiri itu menjadi sangat cemas. Adalah keluarga Tian yang kemudian berhasil mengumpulkan sokongan dari banyak sekali orang-orang Kang-ouw. Berkal bantuan mereka itu, dengan beramai-ramai me-ngeroyok dua saudara Ouw itu, akhirnya dapat juga dua saudara itu dibinasakan. Setelah itu, semua orang gagah dari seluruh negeri berkumpul di Lok-yang untuk membentuk perserikatan dan dalam pertemuan itu pula diputuskan, bahwa selanjutnya golok pusaka tersebut akan berada di bawah pe-nilikan keluarga Tian. Selain itu, juga ditetapkan, bahwa bila saja keluarga Ouw berani datang untuk coba merebut kembali golok tersebut maka ke¬luarga Tian akan mengangkat golok tersebut se-bagai pertanda untuk kalangan Kang-ouw, supaya berbondong-bondong datang membantu mengha-dapi musuh itu, tidak perduli mereka scdang meng-hadapi urusan pribadi yang betapa penting juga."

"Pertemuan itu terjadi lebih kurang seratus tahun yang lalu, dan sedikit demi sedikit sudah mulai terlupa sehingga sekarang sudah hampir tiada yang mengetahui lagi hal ini, hanya Ciang-bun-jin dari Thian-liong-bun yang masih menganggap golok itu penting sekali. Tetapi kemudian Thian-liong-bun sendiri terpecah menjadi cabang Selatan dan Utara. Kabarnya setiap sepuluh tahun sekali kedua cabang tersebut saling menggantikan menyimpan golok ter¬sebut. Wie-heng dan In-heng, benarkah kabar yang loo-lap dengar itu?"

"Benar," jawab Wie Su Tiong dan In Kiat hampir bersama.

Po-sie tertawa. Ia senang sekali mendapat ke-nyataan, bahwa perkataannya benar sesuai dengan kenyataan.

"Seperti tadi telah kukatakan, lambat laun orang sudah lupa akan soal sebenarnya dan karena tidak tahu, anak murid Thian-liong-bun kemudian meng¬anggap golok tersebut sebagai pusaka partai me¬reka, tanpa mengetahui asal-usulnya. Tetapi dalam suatu hal, loo-lap masih berada dalam kegelapan, mengenai hal ini rasanya hanya Co-heng yang dapat menerangkan."

"Soal apa?" tanya Hun Kie dengan lantang.

"Sependengaran loo-lap, setiap kali terjadi penggantian Ciang-bun-jin, Ciang-bun-jin yang lama selalu menceritakan asal-usul golok tersebut ke-pada penggantinya, tetapi mengapa Co-heng yang sekarang menjadi Ciang-bun-jin tak dapat men-jawab pertanyaan loo-lap mengenai golok itu, tadi? Apakah Tian Kui Long telah melupakan kebiasaan ini?"

Tak tahu Hun Kie, bagaimana ia harus men-jawab. Seluruh mukanya menjadi merah padam dan ia sudah hampir melontarkan kata-kata keras se-kena-kenanya, untuk menutup malunya. Tetapi dalam pada itu Tian Ceng Bun sudah keburu me-nyelak.

"Kejadian ini telah disebabkan kemalangan ke-luarga kami. Sebelum bisa menjelaskan hal itu ke-pada Co Suheng, ayahku mendadak sudah keburu dicelakakan orang," katanya.

"Pantas-pantas. Kali ini adalah untuk kedua kalinya aku melihat golok ini. Yang pertama kali adalah dua puluh tujuh tahun yang lalu."

Mendengar ini, Ceng Bun menarik kesimpulan, bahwa kata-kata Po-sie itu tepat dengan cerita Yok Lan. Pikirnya: "Tadi nona Biauw mengatakan, bah¬wa kejadian yang menyedihkan itu telah terjadi sepuluh tahun sebelum ia dilahirkan, sedang usia-nya sekarang kira-kira tujuh belas tahun. Tentunya hweeshio ini telah melihat golok itu untuk pertama kalinya ketika terjadinya peristiwa yang dimaksudkan nona Biauw."

Sementara itu, Po-sie sudah meneruskan cerita-nya.

"Ketika itu, loo-lap belum memeluk agama dan sedang menjalankan pekerjaan tabib di desa dekat kota Cong-ciu. Penduduk Cong-ciu rata-rata menyukai ilmu silat, tua-muda, hampir semua laki-laki di situ tentu sudah pernah mempelajari sejurus dua jurus ilmu silat dan ketika itu, pe¬kerjaan loo-lap adalah menyembuhkan luka-luka atau keseleo terkena pukulan atau karena jatuh. Juga loo-lap mengerti sedikit ilmu silat ajaran guruku dahulu."

"Karena desa itu agak terpencil letaknya dan penduduknya hanya terbilang seratus orang saja, maka penghasilan loo-lap sebagai tabib tentu tak mencukupi untuk dapat mendirikan rumah tangga. Pada suatu malam di akhir tahun itu, loo-lap sedang enak tidur sendiri, ketika mendadak saja loo-lap dikejutkan gedoran pada pintu rumah loo-lap. Di luar angin sedang bertiup dengan kencangnya, per-apian dalam rumah sudah lama padam, maka dapat dimengerti, jika loo-lap jadi segan bangun menem-puh hawa sedingin waktu itu. Akan tetapi, yang menggedor pintu itu, agaknya jadi kalap dan me-mukul semakin keras sambil berteriak-teriak: 'Hai! Tabib, tabib! Bangun!' Kian lama gedorannya juga teriakannya semakin keras. Dari suaranya loo-lap tahu, bahwa orang itu tentu bukan orang setempat, lagu suaranya sebagai lagu suara Kwan-say (daerah perbatasan Barat). Karena khawatir, jika pintu ru-mahku akan hancur, maka loo-lap lekas-lekas me-ngenakan baju dan hendak membuka pintu. Tetapi sedang tanganku baru mengangkat palangnya, pintu itu sudah menjeblak karena didorong entah dihajar dengan kerasnya dari sebelah luar. Jika bukannya aku masih keburu berkelit, tentu kepalaku sudah menjadi korban dan sedikitnya sudah akan menjadi benjol."

"Orang yang menerjang masuk itu membawa obor. Di bawah penerangan apinya, loo-lap melihat wajahnya yang sangat gugup. Dan ketika itu ia masih saja berteriak: 'Tabib! Tabib!' Loo-lap segera me-nanyakan, mengapa ia begitu gugup dan memba-ngunkan diriku tengah malam buta rata."

"Walaupun terang ia sudah melihat, bahwa loo-lap sudah berdiri di hadapannya, masih saja ia menjawab dengan berteriak sekuat suaranya. Kata-nya ada yang sakit keras dan loo-lap harus berangkat seketika itu juga. Kata-katanya ditutup dengan me-lemparkan sepotong uang perak di atas meja. Yang dilontarkannya itu berjumlah tidak kurang daripada dua puluh tail. Selama mengobati orang-orang se-desaku, paling banyak loo-lap menerima upah be-rapa ratus bun (sen) dan seumur hidupku aku belum pernah memiliki uang sebanyak itu. Loo-lap tentu saja menjadi sangat terperanjat tetapi juga girang. Tanpa ayal pula kubereskan uang itu dan segera berangkat mengikutinya. Selama tanya-jawab tadi aku telah memperhatikan mukanya. Di wajahnya kelihatan sifat-sifat ksatria, sikapnya agak kasar dan agaknya ia beruang, tetapi tingkah lakunya pada saat itu mencerminkan kekhawatirannya yang sa¬ngat besar. Agaknya ia sangat tergesa-gesa, karena sebelum loo-lap selesai merapikan pakaian, ia sudah mengulurkan tangannya dan menyeret loo-lap sambil menyambar peti obatku dengan sebelah tangan¬nya lagi. Loo-lap minta perkenan untuk menutup pintu dulu, tetapi ia segera menekankan agar loo-lap jangan khawatir, karena apa saja yang tercuri selama kepergianku akan digantinya semua. Ter-nyata ia membawa loo-lap ke penginapan "Peng An Khek-tiam", satu-satunya penginapan di desa itu. Meskipun penginapan itu tidak terlalu kecil, tetapi keadaannya sangat kotor lagi gelap. Loo-lap men¬jadi agak heran. Pikirku, mengapa orang beruang scperti ia, mau menginap di tempat seburuk itu. Loo-lap tak sempat berpikir panjang-panjang, ia sudah segera menyeret loo-lap ke sebuah ruangan yang terang karena banyaknya lilin yang dinyalakan di situ. Loo-lap melihat empat lima orang laki-laki berdiri di situ, agaknya sedang menantikan kem-balinya. Seketika melihat kembalinya dengan mem¬bawa loo-lap, mereka tampak girang dan segera beramai-ramai, menghantar diriku ke sebuah ruang¬an di sebelah Timur."

"Begitu melangkah masuk, loo-lap menjadi sa¬ngat terkejut. Di atas bale-bale, loo-lap melihat empat orang berbaring berjajar dengan badan pe-nuh luka-luka berdarah. Di bawah penerangan se-batang lilin yang dibawakan salah seorang itu, loo-lap memeriksa mereka dengan teliti dan mendapat kenyataan, bahwa mereka semua telah terluka pa-rah. Loo-lap menanyakan mengapa bisa sampai kejadian begitu, tetapi yang membawa loolap ke situ membentak dengan bengisnya, supaya loo-lap se¬gera mengobati mereka tanpa banyak rewel-rewel menanyakan urusan orang lain. Alangkah galaknya orang itu. Karena khawatir membangkitkan amarah mereka yang semua juga tampak bengis, loo-lap segera melakukan yang diminta atau, lebih benar, yang diperintahkannya. Baru loo-lap selesai mem-balut dan mengobati mereka, orang itu sudah mem-bentak pula, mengatakan bahwa di kamar sebelah masih ada lagi yang harus ditolong. Juga di kamar itu terdapat orang-orang yang terluka parah, salah seorang di antara mereka bahkan seorang wanita. Agaknya mereka telah dilukai dengan senjata tajam. Loo-lap bekerja sebaik-baiknya dan tak lama ke-mudian sudah berhasil menghentikan darah yang mengucur keluar dari luka-luka itu. Berkat obat untuk meringankan sakit mereka sudah segera tidur nyenyak."

"Melihat hasil pekerjaanku, orang-orang itu rupa-rupanya menjadi gembira dan sikap mereka jadi berubah, mereka memperlakukanku dengan lemah lembut. Selain itu mereka memerintah pe-layan untuk menyediakan sebuah bale-bale darurat yang dibuat dengan daun pintu, agar dengan de-mikian loo-lap dapat pula diminta pertolonganku setiap waktu."

"Ketika ayam berkokok, mendadak kembali loo-lap dikejutkan dari tidur nyenyak. Kali ini terdengar derap kaki kuda yang ramai sekali, orang yang tadi menyambut loolap segera keluar menyambut pen-datang-pendatang baru itu. Aku pura-pura tidur terus, tetapi sesaat kemudian terdengar mereka sudah bertindak masuk kembali. Aku mengintip dari belakang selimut. Agaknya, yang disambut itu adalah dua orang yang kini berjalan di depan. Dua orang itu tentu berkedudukan tinggi, karena para penyambut itu berlaku sangat hormat terhadap me-

reka. Hanya, anehnya, dari dua orang itu, seorang berdandan sebagai pengemis tetapi pandangan mata-nya sangat tajam, sedang kawannya adalah seorang yang berwajah sangat cakap dan usianya juga belum seberapa."

"Kedua orang itu lantas saja mendekati bale-bale untuk memeriksa penderita-penderita itu. Be-gitu melihat kedatangan mereka, semua penderita itu segera berbangkit dengan menahan sakit. Te-rang sekali, bahwa mereka sangat menghormati dua orang itu, kudengar mereka menyebutkan si pe¬ngemis dengan Hoan Pangcu dan si anak muda dengan Tian Siangkong."

Po-sie berhenti sebentar untuk menoleh ke-pada Tian Ceng Bun dan berkata: "Ketika itu, pertama kali aku bertemu dengan ayahmu, nona belum dilahirkan. Ayahmu berotak cerdas dan si-kapnya tegas serta kecakapannya mengambil ke-putusan dengan cepat, benar-benar sangat menga-gumkan dan sampai hari ini masih kukagumi."

Teringat ayahnya, Ceng Bun jadi sangat sedih. Sementara itu, Po-sie sudah melanjutkan lagi cerita-nya.

"Dari antara orang-orang yang tidak terluka, seorang segera menerangkan kepada dua penda-tang baru itu, bahwa seorang sahabat dari keluarga Thio telah mengikuti suami isteri yang mereka inginkan, sedari masih berada di luar Dinding Besar dan mereka sudah berani memastikannya bahwa sebuah kotak berisi yang agaknya menjadi pusat perhatian benar-benar berada pada suami isteri tersebut."

Mendengar kata-kata "kotak besi" itu para pen-dengarnya lantas saja mengerti, bahwa yang di maksudkan, tentu bukan lain daripada kotak yang diperebutkan mereka juga.

"Aku melihat Hoan Pangcu menganggukkan kepalanya. Orang yang memberikan keterangan itu lalu melanjutkan keterangannya. la mengatakan, bahwa ia dan rombongannya sudah menantikan suami isteri itu di Tong-koan-tun dan di samping itu juga mengirim orang untuk memberitahukan hal itu kepada mereka dan Biauw Tayhiap. Selanjutnya ia menceritakan, bagaimana orang yang diincar itu, sudah mencium bau lebih dahulu dan pada suatu saat, sudah menegur para penguntitnya. Ia mena-nyakan, untuk apa orang-orang itu terus-menerus menguntit ia dan isterinya dan apakah mereka itu orang-orang suruhan Biauw-Hoan-Tian tiga keluar-ga. Agaknya si orang she Thio telah menjawab membenarkan, karena orang yang diincar itu sudah segera berubah wajahnya dan dengan sekali ber-tindak, sudah merampas golok si Thio toako itu. Kemudian ia mematahkan golok itu dan membuang-nya sebagai sampah. Semua itu telah terjadi dalam berapa detik saja. Sebelum si Thio toako itu hilang kagetnya orang yang dikuntit itu sudah membentak: 'Aku tidak mau mencelakakan banyak jiwa manusia, maka enyahlah dari sini!' Melihat betapa lihaynya orang itu, kawan-kawan si Thio toako segera maju beramai-ramai sedang si orang she Thio sendiri lalu coba menendang perut isteri orang itu, yang sedang mengandung. Karena perbuatan si Thio yang sangat kelewatan, sang suami menjadi sangat gusar dan sambil mendamprat ia merebut sebilah golok pula dari tangan salah seorang penguntitnya. Dalam se~ rintasan saja ia sudah melukai tujuh orang. Jika tadinya ia mengatakan, bahwa ia tidak mau men¬celakakan orang, pada saat itu ia berlaku sangat ganas, saking gemasnya."

"Tian Siangkong menanyakan apa lagi yang dikatakan musuh itu. Si juru bicara menerangkan, bahwa musuh itu tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya dalam amarahnya ia sudah hendak meluka-kan lebih banyak orang, tetapi isterinya telah men-cegah dengan mengatakan, bahwa demi keselamat-an anaknya yang belum lahir, ia harus berlaku sedikit murah. Teriakan sang isteri telah menolong sisa rombongan penguntit itu. Sang suami segera menghentikan pertempuran itu dan mematahkan golok rampasannya."

"Mendengar cerita itu, Tian Siangkong agak¬nya jadi ketarik. Ia berpaling kepada Hoan Pang¬cu, seakan-akan hendak mengetahui pendapat-nya, kemudian menanyakan pula: 'Benarkah ia mematahkan golok itu dengan tangannya saja?' Jawab si juru bicara: 'Benar, ketika itu aku berada di sampingnya dan aku telah melihat gerakannya dengan jelas sekali.' Karena jawaban yang me-mastikan itu, agaknya Tian Siangkong menjadi bimbang. Hoan Pangcu segera menghiburnya. Ia mengatakan, bahwa Biauw Tayhiap tentu akan dapat menandinginya."

"Ketika itu, juru bicara tadi sudah berbicara pula. Menurut pendapatnya, dalam perjalanan ke Kanglam, musuh mereka itu tentu akan lewat di situ dan jika Tian Siangkong dan Hoan Pangcu berdua mencegatnya, musuh itu tentu tak akan terlolos. Tetapi kedua orang itu tidak menjawab. Wajah mereka muram dan diliputi ketegangan, dengan suara tertekan mereka berunding sambil bertindak ke luar."

"Loo-lap menunggu sampai mereka sudah ke-luar, baru loo-lap pura-pura mendusin dan buru-buru menggantikan obat tujuh orang itu. Di dalam hati loo-lap terdapat pertanyaan, siapakah orang yang disebut musuh itu. Agaknya dalam keganasan-nya ia berhati murah, karena walaupun luka-luka korbannya tidak enteng, tetapi tidak seorang yang terluka di tempat berbahaya."

"Besok harinya, di waktu senja, sedang seluruh rombongan itu menghadapi makan malam, tiba-tiba datang seorang sambil berlari-lari dan berteriak: 'Sudah datang!' Seketika itu, wajah segenap ang-gota rombongan menjadi tegang. Segera meletak-kan sumpit masing-masing dan berlari ke luar sambil melolos senjata. Diam-diam loo-lap juga turut ke-luar untuk melihat keramaian yang agaknya akan segera terjadi, meskipun hatiku berdebar-debar sa-ngat keras. Rasa ingin tahuku telah menekan pe-rasaan takut."

"Tiba di luar, loo-lap melihat sebuah kereta besar tengah mendatangi dengan meninggalkan segulung debu yang mengepul tinggi. Hoan Pang-cu dan Tian Siangkong segera memimpin orang-orang mereka maju memapaki dengan senjata terhunus. Loo-lap juga mengikuti mereka dari kejauhan."

"Setelah berhadapan dengan pencegahnya, ke¬reta itu segera berhenti. Hoan Pangcu berseru: 'Orang she Ouw, keluarlah!' Dari dalam kereta itu terdengar jawaban seseorang: 'Kamu hendak minta sedekah bukan! Baiklah, setiap pengemis kuberi satu bun!' Belum habis kumandang kata-kata itu, ketika segera terlihat sekian banyak sinar kuning berkelebat disusul dengan terdengarnya teriakan kesakitan ramai. Berturut-turut, dari antara pen-cegat-pencegat itu sudah roboh sekian banyaknya. Juga Hoan Pangcu dan Tian Siangkong yang ber-kepandaian sangat tinggi tidak terluput dari tim-pukan musuh mereka itu. Pergelangan tangan me¬reka kena dihajar dan senjata mereka, sebatang tongkat dan sebilah pedang, lantas saja jatuh di tanah."

"Tian Siangkong segera mengajak Hoan Pangcu mundur. Tetapi Pangcu itu yang berkepandaian sangat tinggi, tidak menghiraukan teriakannya. Ia mengangkat tongkat bajanya dan menghampiri ka-wan-kawan yang telah dirobohkan lawan itu. Ia coba membuka kembali jalan darah mereka yang tertutup karena timpukan yang sangat lihay itu. Loo-lap sendiri ketika itu juga sedikit banyak mengetahui hal 36 jalan darah pada tubuh manusia dan melihat gerakan Hoan Pangcu itu, loo-lap yakin, bahwa ketua partai pengemis itu akan dapat membebaskan kawan-kawannya dari totokan. Sungguh di luar dugaan, bahwa segala daya upaya itu tidak meng-hasilkan apa-apa. Walaupun ia sudah memijat, mengurut dan menyentil dengan asyiknya, seorang jua tak dapat ditolongnya."

"Orang yang di dalam kereta itu agaknya me¬lihat, bahwa Hoan Pangcu sudah kehabisan akal. Gelak tertawanya menggema lagi disertai kata-kata-nya mengejek: 'Dasar pengemis, satu bun masih tidak terima. Baiklah kutambahkan satu bun ma-sing-masing lagi.' Kata-kata itu ditutup dengan da-tangnya timpukan segenggam uang bun lagi. De¬ngan kecepatan yang luar biasa, sekian banyak mata uang itu menyentuh jalan darah sekian banyak korbannya tadi, yang masih menggeletak malang melintang di tanah. 'Mati kau!' Pikir loo-lap. Tetapi dugaanku itu meleset jauh. Benar-benar luar biasa, begitu kesentuh, serentak mereka dapat berdiri lagi dan segera, tanpa menengok, melarikan diri secepat mungkin."

"Karena tahu, bahwa pihaknya tak akan dapat menandingi musuh itu, Tian Siangkong berseru kepada orang itu: 'Orang she Ouw, hari ini kami menyerah kalah, tetapi, jika kau benar laki-laki, janganlah kabur cepat-cepat!' Seruan itu tidak di-jawab dengan kata-kata oleh musuhnya, hanya de¬ngan sebuah mata uang pula yang tepat sekali menghajar ujung pedangnya. Tenaga orang she Ouw itu benar-benar luar biasa, dengan timpukan mata uang sekecil itu ia telah dapat mementalkan pedang Tian Siangkong yang lalu melayang pergi untuk kemudian menancap di tanah. Ketika Tian Siang¬kong mengangkat tangannya, loo-lap melihat, bah¬wa tangannya berdarah."

"Tian Siangkong sendiri juga menginsyafi, bah¬wa lawan itu terlalu tangguh dan bersama dengan Hoan Pangcu, ia melarikan diri menyusul kawan-kawannya yang sudah lari lebih dahulu. Mereka lari ke penginapan itu, kemudian mereka keluar lagi dengan menggendong kawan-kawan yang terluka. Tanpa menoleh lagi mereka mengaburkan kuda masing-masing ke Selatan."

"Tian Siangkong memang pemurah, sebelum pergi ia telah menghadiahkan duapuluh tail perak kepadaku, dan wajahnya yang tampan meninggal-kan kesan baik dalam pikiranku. Kupikir, bahwa orang yang berada di dalam kereta itu tentu juga seorang jahat yang berhati kejam bagaikan serigala. Bila tidak, mengapa seorang yang begitu baik se-perti Tian Siangkong bisa bermusuh dengannya? Sementara itu, kereta tersebut sudah tiba di depan penginapan. Rasa ingin tahu akhirnya mengalahkan rasa takutku. Ingin sekali aku mengetahui rupa orang jahat itu. Aku berdiam di belakang meja pengurus hotel dan menantikan ia melangkah ma-

suk."

"Tampak tirai kereta disingkap. Seorang laki-laki yang bertubuh tegap-kokoh menampakkan diri. Sungguh bengis lagi menakutkan wajah orang itu. Kulit mukanya hitam. Jenggot dan kumis tebal memenuhi mukanya, kaku, berdiri tegak-tegak. Rambutnya terurai kusut. Dalam keselu-ruhannya, roman orang itu membangunkan bulu

roma."

"Ah, betapa terkejut hatiku pada saat. itu. Da¬lam benak pikiranku terkilas: 'Dari manakah da-tangnya setan jahat ini?' Dalam ketakutanku, aku sudah hendak buru-buru lari pulang, tetapi, sung¬guh aneh, tertatap matanya yang berpengaruh, aku tak dapat berkisar dari tempatku, terpesona, ter-mangu-mangu."

"Di dalam hatiku, aku sudah mencaci diriku yang tak mau siang-siang pergi. Saat itu aku sudah tak bisa menghindarinya lagi. Kakiku lemas, bagai¬kan terkena ilmu siluman. Sementara itu, si orang berwajah menyeramkan bertanya: 'Saudara, adakah seorang tabib di sini?' Jawab pengurus penginapan: 'Dialah tabib desa ini.' Tangannya menunjuk ke-padaku."

"Dapatkah saudara-saudara mengerti, betapa gugup aku karenanya? Buru-buru aku mengoyang-kan tanganku. 'Bukan, bukan...' sangkalku terputus-putus, dan tubuhku menggigil. Orang itu tertawa. 'Jangan takut, aku tak akan menelanmu,' katanya di antara tertawanya."

"Aku semakin ketakutan, dan coba menyangkal semakin keras, tetapi semua itu tidak menghasilkan apa-apa. 'Jika aku mau, mudah saja bagiku untuk menelan kau hidup-hidup,' katanya dengan nada kurang senang."

"Tentu saja aku semakin ketakutan, tetapi ia hanya tertawa terbahak-bahak melihat sikapku. Tahulah aku, bahwa kata-katanya tadi hanya di-ucapkan untuk bergurau. Dengan gusar aku meng-gumam: 'Kurang ajar, apakah kau mengira, bahwa aku dilahirkan untuk dijadikan bulan-bulanan ke-lakarmu yang tidak menyenangkan!' Tetapi, tentu saja kujaga supaya ia tak mendengar kata-kataku itu."

"Orang itu kini berpaling kepada pengurus pe¬nginapan. Ia minta disediakan kamar kelas satu dan yang terbersih. Selain itu ia minta dicarikan dukun beranak, karena menurut katanya, isterinya akan melahirkan. Kemudian ia mengatakan kepadaku, supaya aku tetap di situ, karena mungkin sekali tenagaku akan dibutuhkan. Ia khawatir jika isteri¬nya telah terperanjat karena kejadian tadi, sehingga mungkin akan sukar melahirkan."

"Aku mendapat kesan, bahwa pengurus penginapan sebenarnya berkeberatan, jika isteri orang itu melahirkan di penginapannya, tetapi, agaknya seperti juga aku, ia jeri melihat wajah orang itu yang demikian bengis. Ia tak menolak, tetapi ia lekas-lekas memberitahukan, bahwa dukun beranak di desa itu telah meninggal dunia berapa hari se-belumnya."

"Semakin menyeramkan wajah orang itu, demi mendengar keterangan si pengurus rumah pengi¬napan. Ia mengeluarkan sepotong uang perak. Diletakkannya uang itu di atas meja dan ia me-nyuruh si pengurus penginapan mencarikannya dukun beranak di tempat lain, lebih cepat lebih baik."

"Aku membelalakkan mataku, dan berpikir ke-heran-heranan, mengapa dalam sehari itu aku bisa berjumpa dengan demikian banyak orang-orang ro¬yal, yang bagaikan menganggap uang tiada harga-nya. Melihat uangnya, dalam hatiku aku sudah mengambil ketetapan akan menyediakan tenagaku untuknya."

"Uangnya memang sangat membangkitkan se-lera. Juga pengurus serta para pelayan penginapan segera melakukan segala perintahnya dengan suka hati. Sebentar saja kamar yang dipesannya sudah selesai disiapkan, dan laki-laki yang berwajah se¬perti setan jahat itu segera menurunkan isterinya dari kereta tersebut. Seluruh tubuh wanita itu ter-bungkus rapat-rapat dengan sehelai selimut kulit, tetapi wajahnya yang cantik tampak jelas, menyolok sekali di samping wajah suaminya yang sangat me¬nyeramkan, ibarat Thio Hui beristerikan Tiauw Siang." "Besar sekali keherananku. Dalam hatiku aku berkata, bahwa wanita itu tentu telah dipaksa kawin dengan laki-laki ini. Jika bukannya karena dipaksa, menurut anggapanku tak mungkin ia mau menikah dengan suami yang begitu buruk tampangnya. Aku membandingkannya dengan Tian Siangkong, dan kesimpulanku adalah, bahwa wanita itu lebih sesuai menjadi isteri orang she Tian itu."

"Tiba-tiba terkilas dalam pikiranku, bahwa wa¬nita itu tentu yang menjadi sebab permusuhan an-tara Tian Siangkong dengan orang menakutkan ini. Mungkin sekali si pna buruk telah merebutnya dari tangan Tian Siangkong, mungkin sekali wanita itu asalnya memang isteri Tian Siangkong."

"Tengah hari lewat sedikit, kulit wanita itu berkeringat karena menahan sakit, dan mulutnya tiada hentinya merintih. Pelayan yang disuruh men-cari dukun beranak belum juga kembali. Si setan jahat tampak semakin gelisah. Ia menjadi sibuk sendiri. Ia sudah hendak pergi mencari dukun sen-diri, tetapi isterinya tak mau ditinggalkannya se-orang diri."

"Lama sekali mereka menunggu, tetapi pelayan yang pergi mencari dukun itu tak juga muncul. Penderitaan wanita itu sudah semakin hebat. Agak-nya, bayinya sudah tak bisa bersabar lagi. Maka si setan jahat tampak semakin menyeramkan dalam puncak kerisauannya, ia segera menyuruh aku yang menolong isterinya melahirkan. Saudara-saudara, coba kalian pikir, pantaskah permintaannya itu? Pantaskah aku melakukan pekerjaan dukun beranak? Oleh sebab itu, tentu saja aku menolak keras-keras, karena aku yakin, bahwa aku akan bernasib malang sepanjang sisa hidupku, jika pe¬kerjaan itu kulakukan juga."

"Si setan tak mau menerima penolakanku. Ia segera mengeluarkan dua ratus tail perak dari saku-nya dan menjanjikannya sebagai hadiahku, jika aku mau menurut perintahnya. Selain memancing diriku dengan uang, ia juga memperlihatkan nasib apa yang akan kualami, jika aku tetap menolak. Per-lahan-lahan ia menepuk sudut meja, yang seketika itu juga sudah somplak sebagian. Dua contoh itu tentu saja hanya dapat memberikan ilham semacam kepadaku, yakni menurut perintahnya. Bagiku su¬dah tak ada jalan tengah, aku harus kehilangan jiwa serta uang sebanyak itu, atau aku bisa hidup terus dengan memiliki harta sebanyak belum pernah ku-pegang selama hidupku. Saudara-saudara tentu juga mengerti, bahwa aku segera mengambil keputusan, betapapun takutku akan menjadi sial untuk selama-lamanya."

"Demikianlah, aku telah melakukan pekerjaan dukun beranak dan menolong nyonya itu melahir¬kan seorang bayi yang montok sehat. Walaupun baru dilahirkan, tangis bayi itu sangat nyaringnya. seluruh wajahnya berbulu, dan matanya juga mem-belalak lebar-lebar. Romannya benar-benar mirip dengan roman ayahnya, sehingga aku berkeyakinan bahwa setelah dewasa anak itu tentu juga akan sejahat ayahnya."

"Sedang aku memikirkan segala itu, si setan jahat tampak kegirangan. Dengan wajah berseri-seri diberikannya kepadaku dua ratus tail perak bagaikan uang itu tidak ada harganya. Juga isterinya memberikan hadiah kepadaku, serenceng uang emas

yang harganya tak dibawah harga pemberian sua-minya. Agaknya, mereka benar-benar merasa ber-hagia, bahwa mereka telah memperoleh seorang putera yang sehat. Si setan bahkan segera me-langkah ke luar dengan membawa penampan yang berisikan uang perak untuk membagi-bagikan ha-diah kepada semua pegawai penginapan."

"Bagaikan semua itu dirasakan belum cukup untuk merayakan kelahiran puteranya, si setan ja-hat kemudian mengajak semua orang makan minum sepuasnya. Tanpa memilih bulu, semua orang yang kebetulan berada di situ, diajaknya serta dalam pesta itu, kuasa penginapan, orang yang kebetulan lewat dan semua kacung dan tukang sapu diun-dangnya hadir."

"Semua orang menjadi girang sekali, tak ada yang tidak menghormatinya sekarang. Setelah me-ngetahui, bahwa ia she Ouw, semua orang me-manggilnya "Ouw toaya" (Tuan besar Ouw). Tetapi ia segera berkata: 'Benar aku she Ouw, dan se-panjang masa hidupku, jika aku menemukan suatu kejadian tak adil, aku segera turun tangan dan membereskan ketidak-adilan itu dengan bacokan golokku. Setiap kali, satu bacokan sudah cukup, maka orang itu menyebutkan aku dengan "It To" (sekali tabas). Aku juga asalnya orang miskin. Uang yang kumiliki sekarang juga kudapatkan dengan jalan mengambil alih sebagian dari kekayaan kaum kaya yang jahat. Sebagai perampok aku tentu tak pantas disebut Toaya, maka sebutlah saja 'Ouw toako'. Sebagai telah kuceritakan, sedari saat per-tama aku sudah yakin, bahwa ia bukannya seorang baik-baik. Dengan perkataannya itu terbuktilah sangkaku itu."

"Meskipun ia sendiri yang telah memintanya, tak seorang berani menyebutnya dengan 'Ouw toa¬ko.' Baru setelah ia mendesak berulang-ulang, dan setelah keberanian para hadirin dibangkitkan oleh berapa cawan arak, semua menyebutnya dengan Ouw toako, sesuai dengan pintanya. Semakin lama semakin riang suasana pesta itu."

"Malam itu aku tak diijinkan pulang, dan harus menemaninya minum arak terus. Yang lain, semua sudah rebah, hanya aku yang masih bisa mela-yaninya minum semangkuk demi semangkuk. Sung-guh menakjubkan kekuatannya minum arak. Se¬makin lama, ia bahkan semakin gembira, sehingga akhirnya ia membawa puteranya yang baru dilahir-kan itu ke luar."

"Ia kembali ke tempat duduknya dan men-celupkan jarinya pada bibir bayi itu. Aku mem-belalakkan mataku, karena bayi itu segera meng-hisap jari ayahnya dengan nikmat sekali. Sungguh mengherankan, bahwa bayi yang baru berusia sehari sudah suka minum arak. Si setan jahat sebaliknya tambah semakin gembira dan segera mengulangi perbuatannya, sedang si bayi juga semakin asyik menghisap setiap kali jari ayahnya tiba di bibirnya. Benar-benar anak setan arak yang kelak akan men¬jadi setan arak juga."

"Tiba-tiba dari arah Selatan terdengar derap kaki kuda yang riuh. Agaknya, tak kurang dari dua tiga puluh penunggang kuda yang datang ke arah mereka. Tak lama pula, tindakan-tindakan kuda itu berhenti di muka penginapan tersebut. Segera juga pintu penginapan sudah digedor keras-keras. Kuasa penginapan sudah mulai agak sadar kembali. la lekas-lekas berbangkit dan berjalan terhuyung-hu-yung membukakan pintu."

"Berapa puluh laki-laki bersenjata lengkap serentak muncul di ambang pintu. Mereka tak segera masuk, dan berdiam did saja. Salah seorang di antara mereka kemudian melangkah masuk dan duduk di sebuah meja di dekat pintu. Sebuah bungkusan kuning diturunkan dari punggungnya ke atas meja. Bungkusan itu bertuliskan tujuh buah huruf yang terbaca: 'Ta-pian-thian-hee-bu-tek-ciu'."

Demi mendengar Po-sie menyebutkan bung¬kusan pendatang baru dalam ceritanya itu, semua pendengarnya serentak mengalihkan pandangan mata masing-masing ke arah papan yang digan-tungkan dalam ruang itu. Tetapi segera juga Po-sie sudah melanjutkan ceritanya.

"Kesukaan Biauw Tayhiap memakai gelar tem-berang itu, sekarang kuanggap sebagai kebiasaan memandang rendah kepada orang lain, tetapi ma-lam itu aku terkejut bukan main. Aku memper-hatikannya dengan seksama. Tubuhnya tinggi ku-rus, kulit mukanya kuning pucat, mirip dengan warna kulit seorang yang berpenyakitan. Sepasang tangannya lebar tetapi kurus, ibarat sepasang kipas rusak yang tinggal tulang-tulangnya saja. Ketika itu, aku belum tahu siapa namanya, tetapi gelarnya yang dituliskan pada bungkusannya sudah cukup me-ngejutkan."

"Jika aku terperanjat dan memperhatikan ke-jadian-kejadian itu, Ouw It To tampak seperti tidak mendengar, tidak melihat dan tidak menghiraukan kedatangan sekian banyak orang itu. Di pihak lain, juga Biauw Tayhiap tak mengucapkan sepatah kata, tetapi semua pengikutnya memperlihatkan pan¬dangan penuh amarah kepada Ouw It To, yang masih terus memberikan arak kepada puteranya dengan asyiknya. Setiap kali bayi itu sudah me-ngeringkan arak yang melekat pada jarinya, ia sen-diri minum secawan. Tanpa memperhatikan, orang tak akan tahu, bahwa suasana dalam ruangan itu sudah tegang sekali, tetapi aku telah melihat segala apa, dan hatiku berdebar-debar dengan kerasnya. Kesunyian itu menambah ketegangan. Setiap saat salah seorang bisa mulai menyerang dan jika sudah demikian, pertempuran tentu sudah tak dapat di-elakkan lagi."

"Demikianlah sekian lama kedua orang itu ha-nya duduk diam di tempat masing-masing. Semakin lama kesunyian itu semakin menekan perasaan orang, dan sudah berulangkali, dalam khayalku, aku mem-bayangkan, bagaimana salah seorang meloncat ke arah lawannya bagaikan seekor harimau menerkam mangsanya. Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan panggilan wanita itu dari dalam. Bayi itu seketika memperdengarkan tangisan yang nyaring."

"Seketika mendengar suara itu, tangan Ouw It To tampak bergetar, dan mangkuk arak di tangannya jatuh, pecah berantakan di lantai. Wa-jahnya juga berubah. Ia segera berbangkit dengan mendukung bayinya. Biauw Tayhiap tertawa meng-ejek dan segera melangkah ke luar tanpa meng¬ucapkan sepatah kata. Orang-orang juga turut meninggalkan ruangan itu. Sesaat terdengar de-rap kaki kuda mereka yang riuh, dan kemudian semua sunyi kembali."

"Semula kuduga, bahwa suatu pertempuran se-ngit tentu sudah tak akan dapat dihindarkan lagi, tetapi ternyata hanya karena tangis bayi itu, mereka jadi berpisah dengan begitu saja. Juga semua orang benar-benar tidak mengerti."

"Sementara itu, Ouw It To telah masuk ke dalam kamar dengan puteranya. Kudengar isterinya menanyakan siapa yang baru berbicara dengannya. Ouw It To mengatakan, bahwa mereka hanya be-rapa penjahat kecil saja, yang sedikit pun tak usah ditakuti, dan ia menganjurkan supaya isterinya tidur saja dengan tenang. Sang isteri menghela napas dan berkata, bahwa ia sudah tahu, jika yang datang itu adalah Biauw Tayhiap. Kudengar pula, bagaimana Ouw It To coba membantah, dan bagaimana ke-mudian isterinya mengutarakan pendapatnya, bah¬wa jika bukan Kim-bian-hud yang datang, sungguh mustahil, bahwa suara Ouw It To akan bergetar dan wajahnya tampak khawatir."

Ouw It To agaknya tak dapat menjawab atau menyangkal lebih jauh. Katanya kemudian sambil menghela napas, bahwa jika isterinya itu sudah tahu, tak dapat ia mengatakan suatu apa lagi dan se-lanjutnya ia berkata, bahwa ia juga tak takut kepada jago yang tiada tandingannya itu. Isterinya ternyata juga sangat berani, dan menganjurkan sang suami supaya menetapkan hatinya, karena bila saja karena mengingat isteri dan anaknya Ouw It To menjadi ragu-ragu, kedudukannya akan tidak menguntung-kan jika kelak berhadapan dengan Biauw Jin Hong, bahkan mungkin sekali ia akan kalah."

"Kudengar Ouw It To menghela napas lagi dan berkata, bahwa selamanya ia tak pernah takut ke¬pada siapa juga, tetapi sungguh mengecewakan, bahwa malam itu ia menjadi agak jeri juga, entah karena apa. Ia mengakui pula, bahwa tadi, ketika Kim-bian-hud meletakkan bungkusannya di atas meja dan melirik ke arah puteranya ia jadi ke-takutan dan sekujur badannya menjadi basah ber-keringat. Ia membenarkan pendapat isterinya, bah¬wa ia memang telah menjadi takut kepada Kim-bian-hud."

"Isterinya coba menghiburnya dengan mengata¬kan, bahwa ketakutan Ouw It To itu bukannya ketakutan wajar, tetapi karena khawatir, jika pu¬teranya akan dicelakakan lawannya, terdengar ja-waban Ouw It To dengan suara ragu-ragu, bahwa ia tidak percaya, jika Kim-bian-hud yang tersohor sebagai pendekar akan berlaku demikian keji, mencelakakan seorang wanita atau anak orok. Dari nada suaranya dapat diketahui, bahwa ia kurang yakin akan dapat menandingi lawannya. Tiba-tiba di dalam hatiku timbul rasa kasihan. Beda dengan rupa wajahnya, ternyata hati Ouw It To agak le-mah."

"Dalam pada itu, isterinya menganjurkan su¬paya Ouw It To membawa lari putera mereka itu ke Utara, sedang dia sendiri kelak, bila sudah kuat, akan menyusul. Nada suaranya mengesankan kasih sayangnya yang besar sekali. Ouw It To tentu saja tak mau menyetujui saran isterinya. Ia berkata, bahwa daripada harus meninggalkan isterinya menghadapi bahaya seorang diri saja, lebih baik mereka sama-sama berdiam di situ, dan jika harus mati, mati juga bersama."

"Isterinya menyesal sekali, bahwa tadinya ia telah merintangi maksud sang suami untuk pergi ke Kanglam, menantang Kim-bian-hud. Jika tahu akan terjadi demikian, lebih baik ia membiarkan-nya mencari Kim-bian-hud ketika itu, ketika ia masih bebas."

"Menurut Ouw It To, hari itu juga ia belum tentu kalah, hanya suaranya kurang meyakinkan. Agaknya, di dalam hatinya ia sendiri kurang percaya kepada perkataannya. Walaupun teraling dinding yang agak tebal, kudengar jelas-jelas, bahwa sua¬ranya tergetar."

"Tiba-tiba kudengar isterinya minta Ouw It To berjanji sesuatu kepadanya, dan ketika sang suami menanyakan apa yang harus dijanjinya, ia segera membentangkan maksudnya, supaya mene-rangkan kedudukannya diwaktu itu kepada Kim-bian-hud secara terus-terang dan minta ia itu berlaku murah."

"Ouw It To mengatakan, bahwa ia juga sudah berpikir begitu, ketika melihat Kim-bian-hud tadi, tetapi ia merasa, bahwa jika ia sendiri yang ber-bicara, agaknya sukar sekali berhasil, maka ia me-nyarankan untuk mengutus seorang lain saja. Sang isteri menyarankan aku, si tabib yang dikatakannya cukup pintar dan menurut pendapatnya tentu bisa disuruh melakukan tugas itu."

"Ouw It To kurang setuju, karena menurut pendapatnya, aku terlalu tamak, sehingga tak bisa dipercaya. Menurut isterinya, justru karena sifat itu, jika dijanjikan hadiah yang besar, aku tentu akan berusaha melakukan tugas itu sebaik-baiknya. Sung-guh tepat kata mereka. Ketika itu, aku memang sangat tamak. Untuk memperoleh hadiah besar, tentu saja aku bersedia melakukan apa saja. Me¬mang demikian sifatku di masa muda."

"Demikian kemudian terjadinya. Setelah me¬reka berunding lagi sebentar, keluarlah Ouw It To untuk memanggil aku. Ia menyuruh aku besoknya pagi-pagi datang untuk menyampaikan sepucuk su-rat kepada Biauw Tayhiap. Tanpa sangsi aku segera memberikan kesanggupan untuk melakukan tugas yang menurut pendapatku sama sekali tak ada ke-sukarannya."

"Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, tibalah se¬orang pembawa surat Biauw Tayhiap untuk Ouw It To. Kudengar nyonya Ouw membacakan isinya, yakni tantangan untuk bertempur dan Biauw Tay¬hiap menyilakan Ouw It To memilih saatnya. Ouw It To segera menulis balasannya dan menyuruh aku turut pada pembawa surat Biauw Tayhiap untuk menyampaikannya."

"Aku meminjam seekor kuda dan segera mengikuti pembawa surat itu. Tiga puluh li lebih kami berjalan ke arah Selatan. Di sebuah rumah besar aku berjumpa dengan Biauw Tayhiap. Juga Hoan Pangcu dan Tian Siangkong berada di situ. Di samping mereka, kulihat banyak orang, laki perempuan, toosu, hweeshio, niekouw dan Iain-lain lagi."

"Setelah surat itu dibaca, berkatalah Tian Siang¬kong, bahwa mereka tak usah menantikan Ouw It To memilih hari lagi, dan sebaiknya mereka semua berangkat besoknya. Kepadaku ia berpesan, supaya Ouw It To siang-siang menyediakan tiga buah peti mati. Katanya, agar mereka tak usah berabe lagi nantinya."

"Semua pengalamanku itu kusampaikan kepada Ouw It To suami isteri. Tadinya kusangka, bahwa mereka tentu akan mencaci lawan-lawan itu sebagai orang-orang yang tak berperikemanusiaan. Ternyata tak demikian jadinya, mereka hanya saling me-mandang tanpa mengucapkan sepatah kata. Ke-mudian, keduanya hanya memperhatikan anak mereka dengan cinta yang berlimpah-limpah, mungkin karena sudah yakin, bahwa ajal mereka sudah di depan mata, dan dalam berapa waktu sisa hidup mereka itu, mereka hendak memberikan semua yang dapat diberikan."

"Sepanjang malam itu aku tak dapat tidur te-nang. Rupa-rupa mimpi buruk selalu datang meng-ganggu. Sebentar aku bermimpi, bagaimana Ouw It To membunuh Biauw Tayhiap. Sesaat pula dalam mimpiku aku melihat, bagaimana Biauw Tayhiap membunuh orang she Ouw itu, atau tiba-tiba aku bermimpi bahwa mereka berbalik hendak mem-bunuhku. Lewat tengah malam, mungkin juga sudah menjelang pagi, tiba-tiba aku terjaga. Aku men-dengar tangis seseorang dari balik dinding. Setelah kuperhatikan, aku mendapat kenyataan, bahwa yang kudengar itu adalah tangis Ouw It To. Sungguh tak kuduga, bahwa seorang yang berwajah begitu me-nyeramkan. Lagi gagah perkasa juga bisa menangis, bahkan menangis begitu memilukan."

"Aku menganggap, bahwa ia takut mati dan seketika itu pandanganku terhadapnya merosot. Kuanggap ia tak punya guna. Tetapi sesaat kemu-dian tahulah aku, bahwa ia menangisi nasib anak-nya, yang dikatakannya sungguh malang, bahwa sekecil itu, ia sudah akan kehilangan ayahnya. Di antara tangisnya, aku mendengar ia berkata: 'Siapa-

kah yang akan menyayangmu kelak?' Meskipun tadinya aku telah memakinya sebagai pengecut, lama-lama aku merasa kasihan juga, bahkan akhir-nya aku mengagumi cintanya kepada anaknya. Sungguh tak kusangka, bahwa seorang kasar sepertinya bisa mencinta begitu mesra."

"Terdengar isterinya menghiburnya, bahwa jika Ouw It To tewas di bawah senjata Biauw tayhiap, ia yakin bahwa ia sendiri akan turut tewas, se-hingga anak mereka tak akan terlantar. Sungguh besar makna kata-kata isterinya itu. Ouw It To menjadi girang dan semangatnya bangkit kembali. Suaranya sudah tidak bergetar lagi, ketika ia ber¬kata, bahwa hatinya menjadi lega, karena ia tak usah khawatir, jika anaknya akan tanpa pelindung. Dengan nada tetap, dikatakannya, bahwa ia akan bisa bertempur dengan hati tenang, bahkan de¬ngan gembira, mengingat, bahwa lawan yang harus dihadapinya adalah seorang jago yang tiada tan-dingannya di dunia."

"Saat itu aku sudah heran, tetapi lebih heran pula aku, ketika kemudian aku mendengar ia ter-tawa terbahak-bahak dan berkata: 'Moaycu, mati tak sukar, bahkan membebaskan seseorang dari segala kesulitan. tetapi kau yang akan hidup terus, tentu akan menemukan tak sedikit kesukaran dan kesengsaraan. Sebenarnya, aku tak tega mening-galkan kau sendiri.' Nyonya Ouw menjawab, bahwa dengan mengasuh anak mereka, ia tentu akan ter-hibur. Ia berjanji untuk mendidik anak itu supaya menjadi seorang pahlawan, seorang pahlawan se-perti bapaknya yang selalu berusaha untuk mem-bebaskan rakyat dari tindakan segala pembesar ko-rup, hartawan jahat dan para buaya darat."

"Aku semakin heran mendengar percakapan mereka itu. Kudengar Ouw It To bertanya, apakah isterinya tak menyesalkan semua perbuatannya se-lama itu. Isterinya bukan hanya tidak menyesal, bahkan membenarkan semua perbuatan itu. Agak-nya Ouw It To semakin gembira, dan ia berpesan supaya bila kelak ia jadi tewas, kotak besi pusaka yang dimilikinya diberikan kepada puteranya pada ulang tahun ke enam belasnya."

"Aku tertarik sekali kepada kotak besi pusaka itu. Diam-diam aku mengintip dari celah pintu. Ketika itu, nyonya Ouw sudah bisa bangun dan sedang mendukung anaknya. Ouw It To sendiri tengah memegang sebuah kotak besi, kotak besi yang kalian lihat di sini sekarang, yang berisikan golok kebesaran Cwan Ong."

"Tentu saja, ketika itu aku juga belum tahu apa yang terdapat di dalamnya. Besar sekali minatku untuk melihat isinya, tetapi Ouw It To menyimpan lagi kotak itu tanpa membukanya sebentar saja. Setelah itu Ouw It To merebahkan diri dan segera tidur lelah sekali. Suara mendengkurnya memenuhi kamarnya, bahkan terdengar di seluruh penginapan itu."

"Aku juga kembali ke tempat tidurku, tetapi sia-sia saja aku memejamkan mataku. Aku tak bisa pulas. Suaranya mendengkur terus mengganggu te-lingaku. Aku jadi berpikir, memikirkan mereka. Sudah cukup mengherankan, bahwa seorang cantik seperti nyonya Ouw rela kawin dengan seorang yang berwajah demikian buruk. Lebih mengherankan pula adalah, bahwa agaknya ia telah menikah de¬ngan pilihannya sendiri. Jika ditilik dari cintanya kepada suaminya, tak mungkin ia menikah bukan atas maunya sendiri."

"Pada hari ketiga, sebelum terang tanah, nyonya Ouw sudah keluar dari kamarnya dan menyuruh pelayan berbelanja, membeli daging babi, daging kambing, ayam, itik dan rupa-rupa sayur-mayur, sedang ia sendiri kemudian mengolah semua itu. Aku menjadi agak heran, tak dapat kuterka guna apa ia menyediakan sekian banyak makanan yang istimewa. Aku coba menasihatkannya, supaya ia tidak terlalu berat bekerja, mengingat, bahwa ia baru saja melahirkan."

"Atas segala nasihatku, ia hanya tertawa saja. Setelah bangun dan keluar dari kamarnya, Ouw It To sendiri juga coba mencegahnya bercapai lelah terlalu banyak, tetapi juga ia tak berhasil. Kata Ouw It To kemudian, sambil tertawa, bahwa ia akan merasa berbahagia, bila merasakan masakan isteri¬nya sekali lagi sebelum menutup mata."

"Aku baru mengerti, bahwa nyonya Ouw hen-dak mengadakan pesta selamat berpisah untuk sua¬minya, dan ia tak mau membiarkan orang lain yang menyiapkan hidangannya."

"Menjelang tengah hari nyonya itu baru selesai, karena ia telah membuat hampir empat puluh ma-cam hidangan. Ouw It To kemudian menyuruh pelayan membawakan berapa puluh kati arak. De¬ngan dilayani isterinya, kemudian Ouw It To duduk makan seorang diri. Kedua-duanya tampak berseri-seri, bagaikan tak merasa khawatir atau tegang sedikit juga. Aku membuka mataku lebar-lebar, sungguh menakjubkan kekuatan perut orang she Ouw itu. Segera juga ia sudah menghabiskan tak sedikit hidangan itu dan berapa puluh mangkuk arak."

"Sebelum ia selesai, dari jauh terdengarlah de-rap kaki kuda yang kian mendekat. Sekali ini, Ouw It To bahkan tertawa mendengar kedatangan mu-suhnya. Ia hanya berpesan, supaya isterinya kelak menyampaikan kepada puteranya, bahwa ia meng-harapkan, agar dalam segala tindakannya, putera itu dapat berlaku lebih keras dan bisa pula turun tangan secara lebih kejam dari ia sendiri."

"Nyonya Ouw memberikan janjinya. Kemudian ia bersenyum dan berkata, bahwa ia juga sangat berminat melihat macam jago yang tak ada tan-dingannya itu, Biauw Tayhiap."

"Ia tak usah menunggu terlalu lama, karena sebentar pula Biauw Tayhiap sudah muncul dengan diapit Hoan Pangcu dan Tian Siangkong dan diikuti berpuluh penunggang kuda. Tanpa menoleh, Ouw It To menyilakan mereka makan bersama. Un-dangannya disambut tanpa ragu-ragu oleh Biauw Tayhiap, yang tanpa sungkan-sungkan lantas duduk berhadapan dengannya dan segera mengangkat se-mangkuk arak. Agaknya, Tian Siangkong terpe-ranjat melihat perbuatan Biauw Tayhiap itu."

"Dengan gugup ia coba mencegah. Dikatakan-nya, bahwa mereka (Ouw It To suami isteri) mung-kin telah mencampurkan racun ke dalam semua hidangan dan arak itu. Biauw Tayhiap tak meng-hiraukan nasihatnya, dan berkata bahwa Ouw It To menurut pendapatnya tak mungkin berbuat demikian rendah. Segera juga ia sudah makan minum dengan lahapnya, seperti juga tuan rumahnya, ha¬nya caranya lebih halus."

"Nyonya Ouw telah memperhatikan Biauw Tay¬hiap dengan seksama. Tiba-tiba ia berkata: 'Toako, memang selain Biauw Tayhiap, tak ada lagi yang bisa menandingi kau, dan begitu pun sebaliknya. Kepercayaan, keteguhan hati dan keberanian yang barusan kalian perlihatkan benar-benar tak dapat ditiru orang lain.' Tertawalah Ouw It To sebagai sambutan atas pujian isterinya, dan ia juga mera-balasnya dengan pujian, bahwa di antara semua wanita, nyonya Ouw tiada tandingannya."

"Kemudian nyonya Ouw berpaling kepada Biauw Tayhiap dan mengatakan, bahwa ia akan puas bila suaminya kelak tewas di bawah senjata Biawu Tay¬hiap. Menurut pendapatnya, mati terbunuh Biauw Tayhiap bukannya kematian yang mengecewakan. Ia juga mengharapkan, agar Biauw Tayhiap juga akan berperasaan demikian. Pada akhir kata-kata-nya, ia mengajak Biauw Tayhiap sama-sama menge-ringkan secawan arak."

"Agaknya, Biauw Tayhiap bukannya seorang yang suka membuang banyak kata-kata. Dengan singkat ia menjawab: 'Baik.' Dan segera juga su¬dah akan mengeringkan arak yang disuguhkan kepadanya oleh nyonya itu. Kali ini Hoan Pangcu-lah yang buru-buru menyelak, mencegahnya me-minum arak itu dengan berkata, bahwa ia sebaik-nya berhati-hati, karena biasanya wanitalah yang paling kejam."

"Wajah Biauw Tayhiap agak berubah, jelaslah, bahwa ia kurang senang akan cegahan kawannya.

Tanpa mengatakan suatu apa, ia segera mengha-biskan arak itu."

"Kemudian nyonya itu berbangkit dan sambil menimang anaknya, ia berkata lagi: 'Biauw Tayhiap adakah urusan yang masih belum terselesaikan olehmu? Bila ada, agaknya, bila kau kelak tewas katakanlah kepadaku, karena di bawah golok suami-ku, kawan-kawanmu itu belum tentu mau meng-uruskannya.' Selama berapa saat, Biauw Tayhiap tampak bimbang, tetapi akhirnya ia bercerita, bah-wa empat tahun sebelumnya, untuk mengurus se-suatu keperluan ia telah pergi ke Leng-lam. Sedang ia tak berada di rumah, datanglah seorang yang mengaku bernama Siang Kiam Beng dari Bu-teng-koan di Shoatang."

"Agaknya si nyonya mengenal orang itu, dan menanyakan, apakah orang itu bukan tokoh utama dari Pat-kwa-bun yang terkenal lihay dengan Pat-kwa-tonya. Kim-bian-hud mengiakan, dan segera melanjutkan ceritanya. Katanya, karena mendengar gelarnya 'Menjelajah ke mana-mana tidak ada tan-dingannya' orang itu datang untuk coba-coba ber-tanding dengannya. Agaknya ia tak puas, karena tidak dapat berjumpa dengan Biauw Tayhiap. Orang itu berlaku kasar dan kemudian bercekcok dengan saudara Biauw Tayhiap. Dalam pertempuran yang kemudian terjadi orang itu telah menggunakan sua¬tu tipu, dan berhasil membunuh kedua saudara Biauw Tayhiap. Tak puas dengan itu saja, ia juga membunuh adik perempuan Biauw Tayhiap sekali-an."

"Biauw Tayhiap menghela napas. Ia mengata¬kan, bahwa meskipun kepandaian kedua adiknya itu belum sempurna^tetapi kepandaian mereka sudah tak dapat dikatakan lemah. Bahwa Siang Kiam Beng dapat membunuh kedua-duanya sekali-gus, menandakan, betapa hebat kepandaiannya. Lagi-pula, karena adanya permusuhan turun-temurun antara keluarga Biauw dan keluarga Ouw, selama empat tahun itu, Biauw Tayhiap tak sempat mencari musuhnya untuk menuntut balas."

"Setelah ia berhenti bercerita, Ouw hujin meng-hiburnya dengan kata bahwa Biauw Tayhiap tak usah khawatir. Bila sampai kejadian Biauw Tay¬hiap tak dapat melaksanakan sendiri pembalasan sakit hati tersebut, ia dan suaminya tentu tak akan tinggal diam saja. Pada wajah Biauw Tayhiap ter-bayang rasa terima kasihnya, tetapi bersama de¬ngan itu ia segera berbangkit, dan sambil meng-hunus pedangnya ia menantang Ouw It To ber-tanding seketika itu juga."

"Ouw It To tak menghiraukan tantangannya. Dengan tenang dan dengan sama lahapnya pula, ia terus makan dan minum tanpa menjawab. Kata Ouw Hujin: 'Biauw Tayhiap, meskipun kepandaian sua-miku sangat tinggi, tetapi belum tentu ia bisa me-nang.' Kiam-bian-hud sadar. 'Ah aku lupa,' katanya, dan ia segera menanyakan pesan Ouw It To, yang kelak mungkin harus diwakilkannya melaksana¬kan."

"Ouw It To segera berbangkit dan berkata: 'Bila aku sampai terbunuh olehmu, kelak anakku tentu akan menuntut balas. Tetapi, pintaku hanya, supaya kau merawatnya baik-baik.' Di dalam hatiku aku sudah membayangkan jawab Kim-bian-hud. Aku yakin, bahwa ia tentu akan menolak, karena siapa-kah yang sudi merawat seorang anak yang kelak akan merupakan bahaya bagi dirinya sendiri. Maka betapa terperanjat aku, dapatlah kalian memba-yangkannya sendiri, ketika mendengar jawab Biauw Tayhiap dengan nada meyakinkan: 'Baik, bila kau yang tak beruntung, anakmu akan kurawat seperti anakku sendiri.' Dengan mataku dibuka lebar-lebar aku memandang dua orang itu."

"Sesungguhnya aku tak mengerti, mengapa dua orang itu, yang sebentar lagi sudah akan bertempur mati-matian, tanpa berhenti sebelum salah seorang jatuh sebagai korban, dapat bercakap-cakap dengan asyik bagaikan dua sahabat karib yang saling me-ngagumi. Kulihat, bahwa Hoan Pangcu dan Tian Siangkong agak kecewa melihat kelakuan Biauw Tayhiap. Mungkin mereka sedang khawatir, jik. pertempuran itu tak jadi berlangsung, sedang pad; saat itu mereka hanya masih bisa mengandalkar tenaga Kim-bian-hud seorang."

"Kembali terjadi hal tiba-tiba yang tak terduga. Ouw It To berbangkit, dan selagi orang-orang coba menerka apa yang dikehendakinya, ia mencabut goloknya dan menyilakan Biauw Tayhiap segera mulai. Biauw Tayhiap memberi hormat dengan pe-dangnya, sesuai dengan peraturan adat, tetapi Tian Siangkong justru menjadi tak sabar karenanya dan menyerukan, supaya Kim-bian-hud tak segan-segan pula."

"Beda jauh dengan harapannya tentu, ternyata Biauw Tayhiap bukan saja tak menghiraukan se-ruannya, bahkan sebaliknya membentak supaya ia dan yang Iain-lain segera keluar. Sungguh kasar Kim-bian-hud memperlakukan kawannya sendiri.

Wajah Tian Siangkong menjadi merah seluruhnya, entah karena malu, entah karena marah. Tetapi nada suara Biauw Tayhiap yang agaknya tak suka dibantah, membuatnya melangkah ke luar bagaikan anjing terpukul, diikuti Hoan Pangcu dan yang lain."

"Ketika itu dua harimau itu sudah saling ber-hadapan, hanya pertempuran belum juga dimulai, karena keduanya sedang saling mengalah dan saling menyilakan menyerang lebih dulu. Akhirnya Ouw It To menurut. Ia melangkah maju dan membuka serangan dengan suatu bacokan dari atas, menuju ke kepala Kim-bian-hud."

"Itulah permulaan dari pertempuran yang be-rani kupastikan tentu belum pernah ada taranya. Dengan mencenderungkan tubuhnya sedikit, Biauw Tayhiap sudah dapat menghindari serangan itu."

"Dengan suatu gerakan yang indah, Biauw Tay¬hiap menggerakkan pedangnya ke lambung kanan lawannya. Ouw It To menangkis sambil memper-ingatkan, bahwa goloknya adalah golok mustika. Kim-bian-hud menghaturkan terima kasihnya sam¬bil membebaskan pedangnya dari benturan golok lawan. Sebelum dan sesudah itu berpuluh, bahkan beratus kali, aku sudah melihat orang pibu, tetapi tak pernah aku melihat pertempuran sedahsyat itu, apalagi yang kadang-kadang saling memperingat-kan seperti mereka. Sebelum pertandingan itu ber¬langsung lama, kedua tanganku sudah terasa dingin dan hatiku berdebar keras-keras."

"Pada suatu saat terdengar bunyi senjata beradu disusul gemerincing benda logam yang jatuh di lantai. Ternyata pedang Kim-bian-hun telah patah, tetapi ia tak menjadi jera karenanya. Ia melanjutkan perlawanannya dengan tangan kosong, tetapi seke-tika itu, Ouw It To meloncat ke luar dari kalangan dan menganjurkan supaya Biauw Tayhiap berganti senjata dulu."

"Jawab Biauw Tayhiap: 'Tak usah.' Tetapi Tian Siangkong sudah mengangsurkan pedangnya sen-diri. Setelah bersangsi sebentar, Kim-bian-hud me-nerima juga pedang itu dan pertempuran sudah dilanjutkan lagi dengan dahsyat."

"Di dalam hatiku aku memuji Ouw It To, tetapi juga mengatakannya tolol. Bukankah pada umum-nya, dalam pertempuran demikian, setiap orang akan mendesak lebih keras, bila ia sudah berhasil merusakkan senjata lawannya. Juga sikap Biauw Tayhiap menimbulkan kekagumanku, meskipun tan-pa senjata, belum tentu ia akan mengalami ke-kalahan, tetapi ketika menjawab Ouw It To ia sudah mengaku kalah setingkat, karena senjatanya dapat dirusakkan. Belakangan baru aku mengerti, bahwa setelah bertempur sekian lama dan semakin me-ngenal ketangkasan masing-masing keduanya jadi saling mengagumi. Benar-benar sifat ksatria yang tiada duanya."

"Semakin seru pertempuran itu, kadang-kadang terlihat, bagaimana mereka berpencar dan saling menjatuhkan, tetapi sebentar pula keduanya sama-sama melompat maju dan saling menyerang pula dengan gerak-gerak lincah lagi mendebarkan hati. Berpuluh-puluh jurus sudah lewat, tetapi keduanya masih sama tangkasnya. Pada suatu saat, tiba-tiba Kim-bian-hud melancarkan suatu serangan istime-wa. Agaknya, Ouw It To sudah tak mungkin bisa menghindarkan tenggorokannya dari ujung pedang lawannya. Tetapi selagi kubuka mataku lebar-lebar dengan hati berdebar keras sekali, dan sedang Tian Siangkong dan kawan-kawan sudah berseru ke-girangan, tiba-tiba Ouw It To menjatuhkan diri ke belakang bersama dengan gerakan goloknya yang sekali lagi menghajar pedang Kim-bian-hud dan mematahkannya untuk kedua kalinya."

"Pada detik selanjutnya Ouw It To sudah ber-bangkit dan minta maaf. Ia menyatakan, bahwa ia sebenarnya tak bermaksud mengandalkan ketajam-an goloknya, tetapi karena serangan Kim-bian-hud barusan itu terlalu hebat, tak dapat tidak ia harus menangkis juga dengan kesudahan sebagai itu. Biauw Tayhiap menjawab dengan singkat saja, dan ke-mudian meminjam sebilah pedang pula dari Tian Siangkong. Tiba-tiba Ouw It To juga minta diberi pinjaman sebilah golok, katanya, supaya dengan demikian mereka dapat mengeluarkan kepandaian masing-masing dengan sebaik-baiknya."

"Permintaan Ouw It To itu tentu saja sangat menggirangkan bagi Tian Siangkong dan kawan-kawan, karena tadinya mereka sudah khawatir, bila andalan mereka akhirnya akan menampak kegagalan juga. Dengan segala senang hati ia segera mengambil sebilah golok dari tangan se-orang kawannya dan mengangsurkannya kepada Ouw It To."

"Sesaat Ouw It To menimbang-nimbang golok pinjaman itu di tangannya. Biauw Tayhiap menanya-kan apakah senjata itu terlalu enteng baginya dan sembari berkata begitu ia mengangkat pedangnya. Dengan ujung dua jari tangan kirinya ia memegang ujung pedang tersebut. Entah dengan cara apa, tiba-tiba patahlah sudah ujung pedang itu. Aku membelalakkan mataku, takjub melihat tenaga jari orang itu."

"Beda dengan aku dan banyak orang lain, Ouw It To justru jadi tertawa, 'Biauw Jin Hong, bahwa kau tak mau menerima belas kasihan orang lain, benar-benar merupakan suatu bukti, bahwa nama-mu sebagai Tayhiap (Pahlawan besar) bukannya nama kosong belaka.' Biauw Tayhiap menolak puji-an itu dengan berapa kata merendah, kemudian ia berkata, bahwa masih ada sesuatu yang hendak diterangkannya kepada Ouw It To."

"Setelah Ouw It To menyilakannya bicara, ber-katalah ia: 'Sebenarnya aku sudah lama mendengar dan insyaf bahwa kepandaianku belum tentu bisa dibandingkan dengan kepandaianmu. Gelar 'Men-jelajah seluruh dunia tanpa menemukan tandingan' bukannya untuk menyombongkan kebisaanku, te-tapi guna....' Sebelum ia dapat menyelesaikan per-kataannya, Ouw It To sudah menyelak lebih dulu. 'Aku juga sudah lama mengerti guna apa kau me-makai gelar itu, yakni untuk memancing aku turun ke Kanglam, dan kau yakin, bahwa bila saja kau berhasil mengalahkan aku, kau akan berhak penuh untuk memegang gelar tersebut. Sekarang, lebih baik kita melanjutkan pertandingan ini.' Serentak dua harimau itu sudah saling menerkam lagi."

"Sekali ini mereka sama-sama menggunakan senjata biasa. Keduanya benar-benar bertempur dengan mengandalkan kepandaian masing-masing. Alangkah serunya pertempuran itu, yang berlang-sung sehingga ratusan jurus tanpa adanya tanda akan berakhir lekas-lekas. Lama-lama, tampak sebagai juga Ouw It To mulai terdesak. Agaknya ia sudah lebih banyak bertahan daripada menyerang. Tian Siangkong dan Hoan Pangcu sudah mem-perlihatkan kegembiraan mereka. Tetapi, ternyata kemenangan yang mereka bayangkan masih jauh sekali. Serangan-serangan Biauw Tayhiap yang ba-gaimana lihay juga, selalu terbentur pada pem-belaan Ouw It To yang sangat rapatnya."

"Tiba-tiba datanglah suatu saat, dalam mana Ouw It To bertukar siasat. Ia tidak hanya membela diri lagi. Bertubi-tubi datanglah serangan-serangan-nya yang dahsyat lagi sangat membahayakan. Se-makin mengagumkan pertempuran selanjutnya itu. Biauw Tayhiap terus melayani lawannya dengan tenang tetapi lincah sekali. Ruangan yang agak luas itu bagaikan menjadi penuh dengan bayangan tubuh dan senjata mereka. Tampaknya, bagaikan bukan hanya dua orang yang bertempur, tetapi puluhan Biauw Jin Hong dan puluhan Ouw It To."

"Ketika itu, meskipun belum terhitung ahli, aku juga sudah pernah belajar bersilat dengan golok, maka setelah sekian lama memperhatikan permain-an golok Ouw It To, aku menjadi heran sekali. Belum pernah aku mendengar atau melihat, bahwa pelindung tangan dan gagang yang menonjol di belakang tangan pemegangnya, juga bisa digunakan untuk menyerang atau menangkis. Beda dengan umumnya, agaknya tak ada bagian golok yang tak berguna baginya."

"Sungguh sukar diraba permainan goloknya. Mengenai silat dengan pedang, aku tak dapat turut berbicara. Tetapi melihat kenyataan, bahwa ter-hadap Ouw It To yang demikian hebat, Kim-bian-hud masih bisa melayaninya dengan seimbang, da-patlah dipastikan, bahwa kepandaian orang itu juga tak mudah dicarikan keduanya. Menurut para ahli, pedang dapat disamakan dengan burung hong yang lincah lagi indah dipandang setiap gerakannya. Ten-tang golok telah dikatakan, bahwa senjata itu dapat diibaratkan seekor harimau yang ganas. Masing-masing di antara kedua senjata itu mempunyai fae-dahnya dan kelemahannya sendiri. Tetapi di tangan dua orang itu yang tampak hanyalah faedahnya, lihaynya, tanpa kelemahan yang sekecil ujung kuku."

"Mula-mula aku masih bisa mengikuti setiap perkembangan pertempuran, tetapi lama-kelamaan kepalaku terasa berputar dan mataku berkunang. Jika aku masih berani terus memandang pertem¬puran itu, tentu aku akan jatuh, maka buru-buru aku berpaling ke arah lain. Kini hanya angin kedua senjata mereka, yang menderu-deru, kudengar de¬ngan kerapkali diseling gemerincing beradunya ke¬dua senjata itu. Aku coba melihat wajah nyonya Ouw. Tadinya kusangka, bahwa wajahnya tentu tegang bila bukannya ketakutan, tetapi dugaanku ternyata keliru. Sedikit saja tak tampak sifat ke¬takutan pada wajahnya, ia bahkan masih bisa ter-senyum."

"Aku berpaling ke arah pertempuran lagi. Ku-lihat, bahwa Ouw It To pun bersenyum, bersenyum bagaikan ia sudah yakin akan kemenangan. Kutatap wajah Biauw Tayhiap, tetapi aku tak melihat apa-apa pada mukanya. Ketika aku tujukan pandangan-ku ke arah lain, ke arah Tian Siangkong dan Hoan Pangcu, kulihat bahwa wajah keduanya sudah menjadi tegang sekali. Sebentar-sebentar kulihat mereka terperanjat, teranglah sudah, bahwa mereka khawatir, jika Biauw Tayhiap pengharapan mereka satu-satunya akan kalah."

"Segala sesuatu yang kulihat itu, membingung-kan pikiranku. Aku tak tahu, siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Sekonyong-konyong telingaku menangkap bunyi gendewa menyerepet. Buru-buru aku menoleh. Ternyata Tian Siangkong yang menggunakan gendewa itu untuk melepaskan pelurunya, menyerang Ouw It To, yang tengah mencurahkan perhatiannya kepada Biauw Tayhiap. Sungguh mengagumkan, bahwa Ouw It To bisa membebaskan diri dari semua pelurunya. Kemu-dian, sambil tertawa terbahak-bahak, Ouw It To melontarkan goloknya ke atas lantai dan berseru: 'Biauw Jin Hong, aku menyerah kalah!' Kulihat, bahwa muka Biauw Tayhiap berubah seketika. Sung¬guh menyeramkan wajahnya, bila ia marah."

"Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia me-loncat ke arah Tian Siangkong dan merebut gen-dewanya. Kemudian dengan sekali mengerahkan tenaganya, ia sudah mematahkan gendewa itu. Sambil membuang sisa senjata itu, dengan suara bagaikan guntur ia mengusir Tian Siangkong, yang "meloyor" pergi bagaikan anjing terpukul. Kelaku-an Biauw Tayhiap menimbulkan keherananku lagi. Mengapa sedang kawannya khawatir jika ia kalah dan mendapat cedera bahkan mungkin akan te-was, pertolongan kawan itu justru membangkitkan amarahnya benar-benar aku tak bisa mengikuti jalan pikirannya."

"Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Biauw Tayhiap kemudian mengangkat golok di lantai itu dan melemparkannya kepada Ouw It To. Setelah golok itu berada dalam tangan Ouw It To lagi, ia segera melancarkan serangannya. Pertempuran itu berlangsung terus sampai jauh lewat lohor. Akhirnya, sambil menangkis serangan Biauw Tay¬hiap, Ouw It To berseru: 'Perutku sudah lapar, maukah kau menyertai aku makan?' Saran itu mendapat sambutan baik dari pihak Biauw Jin Hong."

"Bagaikan sahabat-sahabat yang akrab, bahkan seperti dua saudara, mereka kemudian duduk meng-hadapi hidangan-hidangan itu lagi. Ouw It To ma¬kan dengan lahap sekali, sebaliknya Biauw Jin Hong hanya makan sedikit-sedikit."

"Karena melihat lawannya itu makan demikian sedikit, maka Ouw It To menanyakan, apakah ma-kanannya kurang enak. Biauw Tayhiap menjawab dengan pujian dan mengambil sepotong paha ayam lagi. Demikianlah mereka makan minum, bagaikan di antara mereka tidak terdapat apa-apa, tetapi begitu mereka sudah merasa kenyang, segera juga mereka bergebrakpula. Keduanya telah mengeluar-kan seluruh kepandaian masing-masing, tetapi sama-sama tak memperoleh hasil. Walaupun tubuh Ouw It To begitu tegap kekar, tetapi ternyata, bahwa segala gerakannya lincah sekali. Ia bergerak secepat angin, seimbang dengan kegesitan lawannya yang berbadan lebih menguntungkan. Semakin lama se-makin cepat pula mereka bergerak pergi datang di seluruh ruangan. Kembali mataku kabur. Tiba-tiba aku dikejutkan teriakan seseorang. Ternyata Ouw It To yang berpekik, karena pada saat itu ia terpeleset dan jatuh di atas kedua lututnya."

"Amat baiknya kesempatan ini bagi Biauw Jin Hong. Dengan maju selangkah ia akan dapat rae-namatkan riwayat lawannya dengan mudah sekali. Tetapi, seakan-akan sengaja untuk memperbesar keherananku, seketika itu juga Kim-bian-hud me-loncat ke belakang, memisahkan diri dari lawannya dan menyia-nyiakan kesempatan yang tak mudah didapatnya untuk kedua kalinya. Sambil berbuat demikian, ia bahkan masih berkata: 'Ah, kau telah menginjak peluru. Lain kali hati-hatilah! Dalam pada itu Ouw It To sudah berdiri dengan tegaknya pula, dan ia mengucapkan terima kasihnya dengan bersenyum, tetapi bukannya terima kasih atas ke-seganan lawannya menggunakan ketika yang baik itu, hanya terima kasih atas nasihat yang baru di-berikan."

"Kemudian dipungutnya semua peluru itu dari lantai dan disentilkan keluar lewat jendela. Kim-bian-hud maju pula, dan mereka sudah lekas terlibat dalam pertempuran mati-matian lagi. Sampai lewat senja, mereka belum meperoleh keputusan tentang siapa yang kalah dan siapa yang menang. Cuaca sudah semakin gelap, dan pada suatu saat Biauw Tayhiap meloncat ke luar dari kalangan. Dengan nada sungguh-sungguh ia berkata: 'Ouw-heng, ke-pandaianmu benar-benar sangat tinggi, dan aku sangat kagum dibuatnya. Perlukah kita minta obor untuk melanjutkan pertempuran ini?' Ouw It To menolak pujian lawannya dengan tertawa. Kemu¬dian dikatakannya, 'Ampunilah jiwaku untuk sehari lagi.' Sambil berkata: 'Jangan merendah.' Biauw Tayhiap segera memberi hormat dan membalikkan tubuhnya untuk berlalu tanpa banyak bercakap pula."

"Sekejap sunyilah sudah suasana di sekitar pe-nginapan itu. Pikiranku masih kacau. Bingung sekali aku memikirkan kedua orang gagah itu. Sehari mereka bertempur mati-matian, tetapi akhirnya bu-kannya mereka jadi saling membenci semakin he-bat, sebaliknya mereka bahkan jadi saling menga-gumi. Aneh, benar-benar aneh."

"Setelah semua musuhnya berlalu, Ouw It To segera menghabiskan sisa hidangan yang masih ber-ada di meja. Kemudian, tanpa mengucapkan se-patah kata, ia meloncat ke punggung kudanya dan melarikannya secepat kilat. Aku yakin, bahwa ia tentu akan pergi ke rumah besar di Selatan desa itu untuk menyelidiki keadaan musuhnya. Mula-mula aku hendak memberikan kabar kepada Tian Siang-kong, agar ia dapat berjaga-jaga, tetapi akhirnya kubatalkan niatku, karena khawatir kepergok Ouw It To."

"Walaupun malam itu tak ada suara mendeng-kurnya yang mengganggu tidurku aku tak dapat memejamkan mata. Lama sekali aku sudah me-nantikan pulangnya. Aku menjadi heran. Jarak an-tara desa dan rumah besar itu tak berapa jauh, mengapa sudah demikian lama ia belum juga pu-lang. Mungkin ia telah kepergok Biauw Tayhiap dan telah tewas dikeroyok."

"Hatiku berdebar keras, karena saat itu aku juga sudah kagum kepadanya, tetapi anehnya, di kamar sebelah aku tak mendengar nyonya Ouw berkeluh kesah, sebagai lazimnya dilakukan seorang jika ia khawatir. Bahkan setiap kali menimang anaknya, kudengar suaranya riang, bagaikan hatinya gembira. Aneh, sungguh aneh."

"Di waktu fajar aku baru mendengar derap kaki kuda, dan sesaat kemudian terdengar Ouw It To sudah kembali. Aku menjenguk ke luar, tetapi kem-balinya bukan dengan kudanya yang semula. Ia telah bertolak dengan kuda berbulu kelabu, tetapi kem-balinya kini dengan kuda berbulu coklat kekuning-kuningan. Baru saja Ouw It To turun, kudanya itu terhuyung dan serentak roboh. Benar mengejutkan aku mendekatinya dan coba memeriksanya. Aku mendapat kenyataan, bahwa sekujur badan kuda itu penuh keringat berbusa. Teranglah sudah, bahwa kuda itu roboh, mati, karena terlalu letih."

"Tentu saja semakin heran hatiku. Sudah dapat dipastikan, bahwa semalam Ouw It To telah me-lakukan perjalanan jauh, tetapi entah ke mana. Sungguh sukar diterka jalan pikirannya: mengapa, sedang ia menghadapi pertempuran mati-matian melawan seorang musuh yang belum tentu dapat dikalahkannya, bukannya ia mengaso, tetapi justru melakukan perjalanan yang meletihkan dan me-makan waktu semalam suntuk. Aneh, memang aneh dia."

"Isterinya ternyata sudah bangun dan sudah pula menyediakan makanan untuk suaminya. Ku-lihat, bahwa Ouw It To tidak tidur lagi. Ia bermain-main dengan anaknya sambil menantikan kedatang-an musuhnya. Tak usah terlalu lama ia menunggu. Segera juga musuh-musuh itu sudah datang pula. Sebagai juga kemarinnya, pagi itu Ouw It To dan Biauw Tayhiap makan minum bersama dulu untuk kemudian, tanpa berkata suatu apa, segera bertem-pur pula. Hanya hari itu agaknya Ouw It To lebih banyak membela diri daripada menyerang. walau-pun begitu, hari itu juga tak menghasilkan ke-putusan."

"Di waktu senja mereka berhenti bertempur, dan ketika akan berpisah, berkatalah Kim-bian-hud: 'Ouw-heng, hari ini tenagamu tampak mundur, mungkin sekali beok kau akan kalah.' 'Belum tentu,' jawab Ouw It To, 'Hari ini aku memang agak letih, karena semalam suntuk aku tak tidur.' Jawaban Ouw It To itu tentu saja mencengangkan Kim-bian-hud, dan ia pun segera menanyakan mengapa Ouw It To berbuat demikian."

"Ouw It To tertawa dan mengatakan, bahwa ia hendak menghadiahkan sesuatu kepada Biauw Tay-hiap. Ia berlari masuk ke kamarnya dan kemudian kembali dengan membawa sebuah bungkusan, yang diangsurkannya kepada Kim-bian-hud. Bungkusan itu ternyata berisikan sebuah kepala manusia, se-dang di samping itu terdapat sebilah golok bergigi. Hoan Pangcu bercuriga. Agaknya ia menyangka, bahwa kepala itu tentu kepala salah seorang ka-wannya. Ia segera maju untuk turut melihat, dan serentak berseru dengan mata dibuka lebar-lebar. Ttulah kepala Siang Kiam Beng,' katanya dengan tersengal-sengal. Kiam-bian-hud memeriksa golok yang dibungkus bersama dengan kepala itu. Pada gagangnya ternyata telah diukirkan empat huruf: Pat Kwa Bun Siang. Kini ia tak sangsi lagi, tetapi untuk jelasnya ia bertanya apakah Ouw It To se¬malam itu tak tidur karena pergi ke Bu-teng-koan."

"Ouw It To mengiakan dengan tgrtawa^lan menceritakan, bahwa untuk itu ia bahkan telah menyebabkan tewasnya beberapa ekor kuda, ka¬rena ia pun tak mau mengingkari janjinya untuk melanjutkan pertempuran hari itu. Kurasa, bahwa semua orang yang mendengar itu harus tercengang. Yang paling jelas, adalah, bahwa keherananku tak kepalang. Jarak antara Cong-ciu dan Bu-teng-koan tak kurang dari tiga ratus li. Benar mengherankan, bahwa ia bisa menyelesaikan perjalanan pergi pu-lang dapat dalam waktu semalam. Lebih mengagum-kan pula, karena sebelum bisa pulang, ia harus membunuh dulu seorang jago silat yang sangat disegani di daerah Utara. Entah dengan cara apa ia telah bertindak, sehingga semua itu dapat disele-saikannya demikian cepat."

"Agaknya, Kim-bian-hud menganggap semua itu biasa saja. Perhatiannya ternyata lebih tertarik kepada soal lain. Tanyanya: 'Dengan bagian ilmu silatmu yang mana, kau telah membunuhnya?' Ouw It To menjawab, bahwa ia tidak menggunakan ilmu silat golok. Menurut kesannya, kepandaian Siang Kiam Beng benar-benar sudah sukar dicarikan tan-dingan, dan hanya dengan tipu serangan 'Ciong-thian-ciang So Cin pwee-kiam' akhirnya ia bisa juga mengalahkannya."

"Baru setelah mendengar cerita ini Kim-bian-hud tampak heran. 'Bukankah tipu serangan itu salah satu bagian dari ilmu silat keluargaku?' tanyanya. Lagi-lagi Ouw It To tertawa, kemudian ia berkata, bahwa ia memang telah merobohkan Siang Kiam Beng dengan sebilah pedang. Kulihat, bahwa wajah Kim-bian-hud kini memperlihatkan rasa te-rima kasih yang sangat besar, dan itu pun segera dinyatakannya dengan jujur. Ouw It To tak mau menerima pemberian hormat serta terima kasih Kim-bian-hud, karena menurut pendapatnya sen-diri, ia hanya telah mewakilkan Biauw Tayhiap. Lebih lanjut, ia menyatakan, bahwa yang berjasa adalah ilmu silat keluarga Biauw, yang disebutnya sebagai tiada taranya dalam dunia."

"Jelaslah semua bagiku sekarang. Sungguh ka-gum aku dibuat dua orang itu. Meskipun mereka bermusuh, bahkan sudah bertekad untuk bertempur terus sehingga salah satu jatuh tak bernyawa, ke-duanya tak menyembunyikan rasa kagum masing-masing kepada lawannya. Bahkan Ouw It To tidak menggunakan goloknya untuk mengambil kepala Siang Kiam Beng, sudah merupakan bukti, bahwa ia sangat menghormati Kim-bian-hud. Bahwa se¬bagai musuhnya, Kim-bian-hud mau menerima budi Ouw It To yang sebesar itu, juga merupakan bukti, bahwa sebaliknya ia menghormat Ouw It To tinggi-tinggi."

"Tetapi, aku masih lebih kagum kepada Ouw It To. Benar tak kusangka, bahwa dengan wajah se-bengis itu, hatinya sebenarnya sangat mulia. De¬ngan caranya, ia telah mengangkat derajat ilmu silat keluarga Biauw. Jika ia telah membunuh Siang Kiam Beng dengan kepandaiannya sendiri, ia akan memberikan kesan, bahwa ia bukannya hendak ber-buat baik, bahkan akan tampak sebagai hendak menyombongkan ilmu silat keluarganya sendiri. Sungguh mulia hatinya, tetapi lebih mengherankan pula, bahwa dalam sehari saja ia sudah bisa mema-hamkan ilmu silat Kim-bian-hud yang belum pernah dilihatnya, bahkan sudah bisa menggunakannya de¬ngan sempurna. Juga tak kurang mengagumkan tindakannya dengan menyerahkan hasil pekerjaan-nya semalam itu, setelah menyelesaikan pertem-puran had itu. Bila pagi itu, sebelum bertempur, ia sudah menyerahkan kepala Siang Kiam Beng, mungkin sekali orang akan menyangka, bahwa ia hendak menunda kematiannya, dan bermaksud menempatkan Kim-bian-hud dalam kedudukan yang tak memungkinkannya membunuh sang la-wan."

"Jalan pikiranku itu agaknya sama dengan jalan pikiran Hoan Pangcu dan Tian Siangkong. Kulihat mereka saling memberi isyarat, kemudian melang-kah pergi dengan bersama. Biauw Tayhiap tak meng-ikuti dua kawannya itu. Sesaat ia memandang putera Ouw It To. Tiba-tiba ia membuka bungkusan kuning yang tak pernah ketinggalan di punggungnya. Sedari saat pertama aku melihat bungkusan itu rasa ingin tahuku sudah timbul, maka aku segera memper-hatikannya dengan dua-dua mataku dibuka lebar-lebar. Aku menjadi kecewa, karena isinya ternyata hanya berapa potong baju, baju biasa yang tak ada keistimewaannya."

"Ternyata bukannya isinya yang istimewa, justru kain pembungkus itu sendiri yang bukannya barang biasa. Di sebelah dalamnya, kain itu bersulamkan delapan huruf gelar Biauw Tayhiap. Dengan suara kecil Kim-bian-hud mengejanya satu demi satu. Kemudian ia mengulurkan sepasang tangannya, untuk menggantikan nyonya Ouw mendukung anak itu. Setelah berada dalam dukungannya, anak itu segera diselimutkannya dengan kain kuning ter-sebut. Kemudian ia berpaling kepada Ouw It To. 'Ouw-heng, jika sampai terjadi sesuatu dengan dirimu, kau boleh berpulang dengan hati tenang karena kujamin, bahwa tak seorang akan berani menghina puteramu,' katanya. Berbalik Ouw It To yang kini menghaturkan terima kasih berulang-ulang sedang Kim-bian-hud sibuk menolak dengan kata-kata me-rendah."

"Malam itu, Ouw It To tidur pulas benar, suara mendengkurnya lebih keras dari ketika pertama kali aku mendengarnya. Menjelang tengah malam, seko-nyong-konyong telingaku menangkap bunyi lang-kah berindap-indap, enteng sekali, di atas atap rumah. Menyusul itu terdengar seseorang mem-bentak: 'Ouw It To. Lekaslah keluar untuk me-nerima kematian!'Ouw It To tak mendengar seruan dari luar itu. la tetap mendengkur keras-keras. Orang-orang yang berada di atap rumah itu, agak-nya menjadi semakin bernafsu. Mereka mencaci semakin keras dengan kata-kata yang semakin ko-tor, sedang jumlah mereka pun jadi semakin banyak. Semua itu tidak memberikan hasil yang diharapkan. Ouw It To masih tetap mendengkur dengan asyik-nya. Menurut anggapanku, Ouw It To itu terlalu ceroboh. Meskipun kepandaiannya sempurna se¬kali, tetapi mengingat jumlah musuhnyayang besar, tak seharusnya ia tidur begitu lelap."

"Kemudian perhatian tertarik kepada hal Iain. Aku mendengar jelas-jelas, bahwa isterinya belum pulas, karena sebentar-sebentar aku mendengarnya bernyanyi sambil menimang puteranya. Sedikit pun ia tidak memperlihatkan tanda takut. Lagi-^lagi aku menjadi heran. Sementara itu, suara orang-orang di atas atap bertambah riuh, membisingkan, tetapi tak seorang jua berani menerjang masuk. Kira-kira selama setengah jam mereka sudah cuma-cuma men¬caci, ketika tiba-tiba kudengar nyonya Ouw berkata, dengan suaranya yang merdu lagi halus: 'Nak, di luar ada sekawanan anjing buduk menggonggong, mungkin sekali mereka akan tetap membisingkan sampai pagi, supaya ayahmu tak bisa tidur dan menjadi letih. Bukankah anjing-anjing buduk itu sangat kurang ajar?" Anak yang baru berusia berapa had itu tentu saja tak menjawab. Kemudian ber-katalah nyonya itu lagi: 'Kau benar-benar anak baik, memang anjing-anjing itu sepantasnya diusir. Biar-lah ibu keluar sebentar untuk mengusir anjing-anjing kurang ajar itu.' Kemudian aku melihat ia keluar dengan mendukung anak itu dan membekal sehelai selendang sutra putih."

"Hatiku berhenti berdebar sekejap, mataku membelalak lebar-lebar, karena nyonya itu mela-yang ke atas bagaikan seekor burung Hong. Sung-guh tak kusangka, bahwa nyonya yang tampak le-mah gemulai itu pandai bersilat, bahkan sudah jelas, berkepandaian sangat tinggi. Buru-buru aku mem-buka jendela lebih lebar pula, agar bisa melihat lebih banyak serta lebih nyata."

"Di atas rumah, kelihatan berapa puluh laki-laki berdiri berjajar dengan bersenjata lengkap. Dalam keadaan setengah gelap itu, mereka tampak menye-famkan, dan dengan munculnya si nyonya, mereka berteriak semakin membisingkan. Tiba-tiba keli¬hatan suatu sinar putih meluncur ke arah orang-orang itu, yang segera disusul pekik salah seorang di antara mereka. Ternyata selendang nyonya Ouw telah melibat dan merebut golok orang itu, yang tubuhnya kini terpelanting ke bawah."

"Kawan-kawan orang itu terpesona sebentar, tetapi segera juga mereka sudah maju dengan se-rentak untuk mengeroyok si nyonya seorang. Di bawah cahaya redup sang bulan, kulihat selendang sutera putin itu melayang pergi datang bagaikan seekor naga yang sedang menari dengan hati riang. Indah sekali tampaknya, tetapi menakjubkan aki-batnya. Berturut-turut terdengar seorang berteriak disusul gemerincing senjata jatuh dan bunyi debam sebuah tubuh yang terpelanting ke tanah. Sebentar saja sudah belasan orang dirobohkan nyonya yang kelihatan lemah lunglai itu. Segera juga, aku mem-peroleh kawan dalam kagetku, yakni sisa tamu-tamu tak diundang itu. Berapa puluh orang yang belum roboh kini tak berani menyerang lagi. Sedetik mereka berdiri dengan mulut melompong, untuk di detik lain lari tunggang langgang dengan mening-galkan kuda dan senjata masing-masing."

"Mataku bagaikan hendak meloncat ke luar karena peristiwa itu. Kemudian kulihat, bagaimana dengan tenangnya nyonya Ouw menyapu semua senjata itu ke bawah dengan sekali menggerakkan selendangnya. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya bagaikan tak terjadi apa-apa. Selama itu, Ouw It To tiada hentinya mendengkur, agaknya ia tak men-dengar heboh yang baru terjadi itu."

"Keesokan harinya, pagi sekali, nyonya Ouw sudah keluar dari kamarnya untuk menyiapkan ma-kanan bagi suaminya dan menyuruh seorang pe-layan mengumpulkan semua senjata yang berse-rakan untuk kemudian diikat menjadi satu dan digantungkan di depan pintu. Setiap kali tertiup angin pagi, senjata itu menerbitkan bunyi bergemerincing dengan nada rupa-rupa, bagaikan musik kacau yang dimainkan tanpa irama."

"Seperti juga kemarinnya, hari itu Kim-bian-hud sudah muncul di waktu seluruh desa baru mendusin. Segera juga ia tertarik kepada bunyi gemerincing itu, tetapi demi melihat dan mengenali semua senjata itu, wajahnya segera berubah. Se-ketika itu, ia sudah mengerti apa yang telah terjadi semalam. Ia menoleh dan memandang pengikut-pengikutnya tajam-tajam. Semua orang itu, tanpa kecuali menundukkan kepala, ketakutan dan ketika kemudian terdengar suara Kim-bian-hud mendam-prat mereka, seorang jua tak berani mengangkat kepala. Beramai-ramai mereka mundur berapa lang-

kah."

"Kim-bian-hud berpaling kepada Ouw It To. Ia minta maaf untuk kekurang-ajaran para penge-cut itu, yang dikatakannya telah mengganggu tidur Ouw It To. Orang she Ouw itu menjawabnya dengan tertawa. Dikatakannya, bahwa ia tak ter-ganggu sama sekali, karena isterinya telah meng-usir anjing-anjing yang menyalak dan melolong itu. Wajah Kim-bian-hud tampak keheran-heran-an, tetapi dari mulutnya hanya terdengar: 'Terima kasih atas kemurahan hati nyonya, yang telah mengampunkan pengecut-pengecut ini.' Tak lama lagi, Ouw It To dan Biauw Tayhiap sudah bertem-pur dengan dahsyatnya."

"Hari itu juga tak menghasilkan keputusan, betapa juga mereka berusaha untuk sating me-robohkan dengan seantero kepandaian mereka. Di waktu berhenti, petang itu^Kim-bian-hud menyata-kan, dia hendak menemani Ouw It To minum arak dan bercakap-cakap sepuas-puasnya sepanjang ma-lam. Ouw It To menyambut maksudnya itu dengan kegirangan. Dikatakannya, bahwa dengan demikian mereka memang bisa memperoleh faedah tak se-dikit. Setelah mendapat persetujuan lawannya, Biauw Tayhiap segera berpaling kepada Tian Siangkong dan menyuruhnya serta kawan-kawannya pulang, karena ia akan menginap dan tidur seranjang de¬ngan Ouw It To."

"Jika bagiku hal itu sudah mengejutkan, dapat dibayangkan, betapa perasaan Tian Siangkong dan Hoan Pangcu ketika mendengar maksud Biauw Tayhiap. Buru-buru mereka berkata: 'Hati-hatilah terhadap tipu muslihatnya....' Mereka tak dapat menyelesaikan perkataannya itu, karena Kim-bian-hud sudah segera memotong dengan nada kurang senang: 'Tak usah kau mengurus diriku. Aku mer-deka untuk melakukan sukaku.' Tian Siangkong masih coba membantah. 'Tetapi, janganlah kau lupa akan sakit hati keluargamu, janganlah menjadi se-orang tak berbakti,' katanya. Kim-bian-hud tak me-ngatakan suatu apa, tetapi melihat wajahnya saja, Tian Siangkong dan Hoan Pangcu beramai sudah berlalu dengan wajah ketakutan."

"Malam itu, aku juga turut tak tidur siang-siang. Kulihat mereka berdua makan minum dengan riang sambil merundingkan ilmu silat. Kim-bian-hud membentangkan seluruh intisari ilmu keluarganya, dan Ouw It To juga berbuat demikian. Dengan berlalunya sang waktu, semakin asyik pula per-cakapan mereka. Mereka sama-sama menyesal, bah¬wa mereka tak dapat saling mengenal lebih siang. Kerapkali percakapan mereka itu diseling dengan gerakan-gerakan untuk menjelaskan dengan kata-kata saja. Kadang-kadang mereka bahkan berbang-kit dan sama-sama mempraktekkan suatu gerakan. Gelak tertawa mereka sebentar-sebentar bergema memenuhi ruangan itu."

"Telingaku menangkap seluruh percakapan me¬reka, tetapi sedikit pun aku tak mengerti, apa yang dimaksudkan. Sampai jauh lewat tengah malam mereka asyik terus, tetapi akhirnya Ouw It To memesaii sebuah kamar kelas satu pula. Benar-benar mereka tidur berdua seranjang malam itu. Terkilas dalam otakku: 'Di situlah mereka tidur berjajar. Entah siapa yang akan turun tangan lebih dulu.' Sebentar aku percaya, bahwa Kim-bian-hud akan celaka, tetapi sebentar lagi aku berbalik yakin, bahwa Ouw It To yang beroman kasar tentu lebih bodoh dan akan menjadi korban."

"Tak dapat aku mengendalikan hatiku lagi. Dengan indap-indap aku mendekati jendela kamar mereka. Seperti pencuri, aku kemudian menem-pelkan telingaku ke daun jendela untuk mendengar-kan. Tei nyata mereka belum puas bercakap-cakap, walaupun setengah malam lebih telah dilewatkan mereka dengan demikian. Hanya, kini mereka bu-kannya bercakap tentang ilmu silat lagi. Ketika itu mereka sedang bercerita tentang pengalaman ma-sing-masing yang aneh. Banyak sekali kudengar, bagaimana Kim-bian-hud atau Ouw It To menolong rakyat yang menderita dari tangan pembesar atau hartawan lalim, dan banyak pula yang kudengar tentang cara-cara mereka membunuh orang-orang jahat itu."

"Semakin lama, semakin nyatalah betapa ba-nyak persamaan dan betapa sedikit perbedaan an-tara angan-angan mereka. Tiba-tiba aku mendengar Kim-bian-hud menghela napas dan berkata: 'Sa-yang, sungguh sayang.' Ketika Ouw It To menanya-Ican maksudnya, berkatalah Biauw Tayhiap, bahwa i;a yang selalu berlaku tinggi hati, tak suka bergaui malam itu benar-benar telah menemukan seorang yang berharga untuk dijadikan sahabat, bahkan orang satu-satunya dengan siapa ia suka bersahabat. Kemudian kudengar Ouw It To meminta, supaya -bila ia yang kalah dan tewas Kim-bian-hud suka sering-sering menjenguk isterinya. Dikatakannya bahwa isterinya itu berjiwa ksatria, jauh lebih berharga dari kawankawan Kim-bian-hud yang tiurut datang. Dengan nada mengejek Biauw Tay¬hiap menjawab, bahwa semua orang itu bukan kawannya dan tak berharga sedikit jua untuk dijadikan kawan."

"Semalam suntuk mereka tak tidur, dan aku juga turut tak tidur karenanya. Hanya, karena aku bcrdiri di luar, di antara angin malam yang sejuk, seluruh tubuhku menjadi kaku kedinginan. Di wak-tu fajar, mendadak Kim-bian-hud menghampiri jen-dela. Sebelum aku dapat menyingkir, terdengar tegurannya dengan nada dingin: 'Belum cukupkah kau mendengarkan semalam suntuk?' Bersama dengan itu jendela terbuka dan kepalaku terhajar se&uatu yang keras. Sebelum roboh tak sadarkan diri, aku masih mendengar Ouw It To mencegah Kim-bian-hud mengambil jiwaku."

"Entah berapa lama aku pingsan, aku tersadar di aitas bale-baleku. Perlahan-lahan aku ingat segala kej.adian itu. Aku turun dari bale-bale, dan seketika itu aku merasakan kepalaku sakit sekali. Aku coba bercermin. Betapa terperanjat aku, ketika melihat, bahwa hampir seluruh mukaku bengkak dan ber-warna keungu-unguan. Hari itu aku tak berani keluar menonton pertempuran. Aku berdiam di dalam, tetapi di dalam hatiku, aku mengutuk Kim-bian-hud. Sebelum itu, aku berharap supaya Biauw Tayhiap yang menang, tetapi saat itu aku berbalik mengharapkan kemenangan Ouw It To. Pikirku: 'Biarlah Ouw It To menghajarnya dengan satu dua bacokan!' Aku sendiri tak bisa menuntut balas, maka biarlah orang she Ouw itu yang membalaskan hinaan itu."

"Petang itu, setelah bertempur sehari dengan kesudahan tetap seperti kemarinnya, kudengar Kim-bian-hud minta diri. Menurut katanya, ia masih ingin bercakap-cakap lagi, tetapi ia khawatir jika nyonya Ouw menjadi marah, maka ia berjanji untuk menginap lagi besok malamnya, bila tidak terjadi suatu apa. Ouw It To menjawabnya dengan tertawa. Setelah Biauw Tayhiap berlalu, tiba-tiba nyonya Ouw membawakan secawan arak kepada suaminya sambil menghaturkan selamat. Ouw It To tak me-ngerti maksud isterinya. 'Karena besok, kau tentu akan bisa mengalahkan Biauw Tayhiap,' jawab sang

isteri."

"Kata-kata sang isteri itu tentu saja membi-ngungkan Ouw It To. Sudah lebih dari seribu jurus ia bertempur melawan Kim-bian-hud, tetapi belum sekali jua ia melihat kelemahan Kim-bian-hud. Sungguh mustahil, jika keesokan harinya ia pasti akan menang. Dengan tersenyum ragu-ragu, ia me-natap wajah isterinya, yang sebaliknya sebagai juga talc menghiraukan kebimbangannya dan berkata kepada putera mereka: 'Anakku, bapakmulah yang tiada tandingannya di seluruh dunia!' Suaranya mencerminkan keyakinannya akan kebenaran pen-dapatnya."

"Kemudian Ouw It To menanyakan mengapa isterinya begitu yakin, dan jawab isterinya: 'Aku telah melihat kelemahannya!' Agaknya Ouw It To masih kurang percaya, tetapi isterinya segera ber¬kata pula, bahwa ciri Kim-bian-hud hanya kelihatan dari belakang, sehingga Ouw It To yang selalu berhadapan dengan lawannya, biarpun bertempur seratus had lagi, tentu tak akan melihat ciri lawan itu. Sebaliknya nyonya Ouw yang melihat dari sam-ping kerapkali melihat Biauw Tayhiap membela-kanginya."

"Selanjutnya, nyonya Ouw menceritakan, bagai-mana selama empat hari berturut-turut, ia telah memperhatikan setiap gerak tipu Kim-bian-hud. 'Terutama aku terperanjat, karena selama itu ku-lihat, bahwa penjagaannya tak memperlihatkan sua-tu cacad juga. Aku khawatir, jika terus-menerus demikian, kelak akan tiba saatnya kau agak lengah dan kau menampak celaka, sedang pada lawanmu sedikit pun tak tampak kesalahan yang memung-kinkan senjata lawan menerobos masuk. Aku terus memperhatikan setiap gerak-geriknya, dan hari ini akhirnya aku berhasil juga menemukan sesuatu.' Nyonya Ouw tak lekas-lekas menunjukkan kele-mahan Biauw Tayhiap yang dilihatnya, sebaliknya ia menanyakan kepada suaminya, gerak tipu atau serangan apa dari ilmu silat Biauw Tayhiap yang dianggap paling lihay oleh Ouw It To."

"Ouw It To mengatakan, bahwa hal itu sangat sukar, karena banyaknya serangan-serangan yang lihay, ia menyebutkan berapa macam dan antaranya terdapat satu yang lazim disebut 'Te-liauw-kiam-pek-ho-su-tit'. Kata nyonya Ouw: 'Justru pada ge¬rak serangan yang kau sebutkan paling akhir itu kelemahannya.' Keterangan ini lebih mencengang-kan lagi bagi Ouw It To, yang telah mengalami scndiri, betapa dahsyatnya, betapa sempurna se¬rangan tersebut. Menurut pendapatnya, justru ge¬rak serangan itu yang paling tak memungkinkan musuh merebut kemenangan. Serangannya halus tetapi sangat bertenaga dan dapat berubah secepat kilat, bahkan, bila perlu, bisa segera berubah men-jadi gerakan pembelaan diri yang tak mungkin di-

tembuskan."

"Dengan tertawa nyonya Ouw menjelaskan: 'Me-mang, jika tidak diperhatikan dengan sangat sek-sama, apalagi dilihat dari depan, tak mungkin ter-lihat cacadnya, karena ilmu silatnya sendiri memang tak bercacad. Tetapi aku telah melihat, bahwa se¬tiap kali akan menggunakan gerak tipu itu, pung-gungnya bergerak sedikit, bagaikan ia merasa gatal, dan gerak-geriknya jadi agak terganggu, tak se-lincah biasanya.' Lagi-lagi Ouw It To kurang per¬caya. Isterinya tak menghiraukan sikap ragu itu, dan menyatakan, bahwa hari itu ia telah dua kali melihat kelemahan tersebut. Dikatakannya selanjutnya, bahwa keesokan harinya, bila saja ia melihat lagi Kim-bian-hud memperlihatkan kelemahannya, ia akan batuk-batuk, dan ia menyuruh Ouw It To segera menggunakan kesempatan itu untuk men-desak dengan kerasnya. Kujamin, bahwa ia akan melontarkan pedangnya dan menyerah kalah, jika pada kesempatan demikian kau menyerangnya de-ngan pukulan 'Pat-hong-cong-to', kata nyonya Ouw sebagai penutup uraiannya."

"Ouw It To jadi sangat girang. Tipumu bagus sekali!' iia memuji. Sesudah mendengar pembicara-an itu, sebenarnya aku harus memberitahukan Kim-bian-hud supaya ia bisa berjaga-jaga. Tapi mukaku masih sakit, akibat ditinju olehnya. Dia memang pantas mendapat kekalahan, pikirku."

"Pertandingan yang dilakukan pada keesokan harinya adalah petandingan hari kelima. Bengkak pada mukaku masih belum hilang. Hari itu pun aku menonton pertandingan dengan berdiri di ping-giran. Di waktu pagi Ouw Hujin tidak batuk-batuk, karena pada pagi itu Kim-bian-hud tidak mem-pergunakan pukulan tersebut. Di waktu makan tengah hari, selagi menuang arak di cawan sua-minya, nyonya itu memberi isyarat dengan kedipan mata dan aku mengerti, bahwa dengan isyarat itu, ia ingin menganjurkan suaminya memancing Kim-bian-hud, supaya dia mengeluarkan pukulan itu. Ouw It To menggeleng-gelengkan kepalanya, se-perti mau mengatakan, bahwa ia merasa tidak tega. Meiihat jawaban suaminya, Ouw Hujin menunjuk putera mereka dan kemudian merobohkan kursi yang diduduki anak itu, sehingga dia jatuh dan menangis keras. Aku dapat menebak maksud nyonya itu. Ia menunjuk kepada suaminya, bahwa jika sang suami binasa, anak itu akan tidak punya ayah lagi. Mendengar tangisan putera mereka, barulah perlahan-lahan Ouw It To mengangguk."

"Pada lohornya, mereka bertempur pula. Sesudah lewat beberapa puluh jurus, Ouw It To menyerang hebat. Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuknya Ouw Hujin. Alis Ouw It To becrkerut,sebaliknya dari maju, ia mundur. Memang, benar, pada detik itu, Kim-bian-hud telah menggunakan pukulan Te-liauw-kiam-pek-ho-su-tit. Sebenarnya

aku tidak mengenal pukulan itu. Tapi waktu semalam mendengari pembicaraan antara kedua suami isteri itu, aku telah meiihat Ouw Hujin menjalankan jurus tersebut beberapa kali. 'Mata nyonya itu sungguh lihay,' pikirku. Kalau Ouw It To menyerang menurut siasat yang sudah didamaikan, dia pasti sudah memperoleh kemenangan. Tapi pada

saat terakhir, ia mengurungkan niatnya. Mungkin sekali ia menghargai Kim-bian-hud dan merasa tidak tega untuk mencelakainya. Juga mungkin ia merasa bahwa dengan dibantu orang, biarpun menang, kemenangan itu tidak boleh dibuat bangga.

Mendadak kuingat pesan Ouw It To kepada isterinya, supaya kalau putera mereka sudah besar, sang isteri harus mendidik agar putera itu mempunyai hati yang keras dan tidak seperti ayahnya yang pada detik terakhir, sering merasai tak tega untuk turun tangan."

"Beberapa saat kemudian, anak itu sekonyong-konyong menangis keras. Kutahu, bahwa dia me¬nangis karena dicubit lengannya oleh sang ibu. Di antara suara tangisan dan suara beradunya senjata, mendadak terdengar pula suara batuk-batuknya Ouw Hujin. Hampir berbareng, Ouw It To me-rangsek dengan jurus Pat-hong-cong-to. Dengan sekali berkelebat, goloknya sudah mengunci ge-rakan pedang Kim-bian-hud.'

"Biauw Jin Hong berada dalam kedudukan berbahaya. Pukulan Te-liauw-kiam-pek-ho-su-tit baru ke luar separuh. Menurut jurus itu, pedangnya yang dicekal di tangan kanan menikam miring, de-ngan tangan kirinya dikebaskan, seperti gerakan burung ho yang tengah mementang kedua sayapnya. Tapi Ouw It To mendahului. Sebelum kedua tangan Kim-bian-hud dipentang, ia sudah membacok ke lengan kiri dan lengan kanannya. Dalam keadaan begitu, bukankah kedua lengan Kim-bian-hud pasti akan menjadi korban golok?"

"Tapi ilmu pedang Kim-bian-hud sudah dilatih sampai sesempurna-sempurnanya. Pada detik yang sangat berbahaya, kedua lengannya mendadak di-bengkokkah dan ujung pedang berbalik menyam-bar ke dadanya sendiri. Ouw It To terkesiap, karena ia menduga, bahwa Kim-bian-hud mau membunuh diri sendiri sebab kalah bertanding. 'Biauw-hengl' teriaknya. Ia tak tahu, bahwa pada hari pertama, Kim-bian-hud sudah mematahkan ujung pedang, sehingga menjadi tumpul. Pada waktu ujung pedang menyambar dadanya, ia me-ngerahkan lweekang, sehingga pedang itu ter-pental balik tanpa melukainya. Karena gerakan itu sangat luar biasa dan juga sebab Ouw It To justru lagi mau membujuk supaya ia tidak mem¬bunuh diri, maka waktu pedang itu berbalik meng-hantam dirinya, Ouw It To sama sekali tidak bersiap sedia dan tahu-tahu ujung pedang sudah menyentuh Sin-cong-hiat di dadanya."

"Sin-cong-hiat adalah salah satu hiat yang ter-penting dalam tubuh manusia. Begitu tertotok, ba-dan Ouw It To lemas dan ia roboh terguling. Cepatcepat Kim-bian-hud membangunkannya seraya ber-kata: 'Maaf!' Ouw It To tertawa. 'Kiam-hoat Biauw-heng sungguh lihay dan aku merasa takluk,' katanya. 'Kalau bukan lantaran Ouw-heng menyayang aku, jurus itu pasti tak akan berhasil,' kata Kim-bian-hud. Mereka menghampiri meja dan minum tiga cawan arak. Sesudah itu Ouw It To tertawa ter-bahak-bahak. Sekonyong-konyong ia mengangkat goloknya dan menggorok lehernya dan ia mati sam-bil berduduk."

"Aku jadi seperti orang kesima. Aku mengawasi Ouw Hujin yang paras mukanya tenang-tenang saja. 'Biauw Tayhiap, tunggulahsebentar,' katanya. 'Aku ingin menyusui anakku sekali lagi.' Sehabis berkata begitu, ia masuk ke dalam kamar. Kira-kira se-makanan nasi, ia keluar pula dengan mendukung puteranya yang lalu dicium keras-keras. 'Biauw Tay¬hiap, dia sudah kenyang,' katanya sambil tertawa. Sambil mengangsurkan anak itu kepada Kim-bian-hud, ia berkata pula: 'Sebenarnya aku telah berjanji pada suamiku untuk memelihara anak ini sampai menjadi orang. Tapi selama lima hari ini, aku mendapat kenyataan, bahwa Biauw Tayhiap se-orang ksatria yang luhur pribudinya. Sesudah kau meluluskan untuk memelihara anak ini, aku dapat membebaskan diri dari tugas yang sangat berat dari penderitaan yang harus dipikul selama dua puluh

tahun.'"

"Sehabis berkata begitu, ia menyoja beberapa kali kepada Kim-bian-hud. Tiba-tiba tangannya me¬nyambar golok Ouw It To dan lalu menggorok lehernya. Ia lalu duduk di kursi di samping mayat suaminya dan mencekal tangan suami itu erat-erat.

Beberapa saat kemudian, tubuhnya terkulai, ber-sandar pada tubuh sang suami dan tidak berkutik lagi."

"Aku tak tega untuk melihat terus pemandang-an yang menyayatkan hati itu. Aku memutar kepala ke jurusan lain. Sementara itu, bagaikan patung Biauw Tayhiap mendukung putera Ouw It To yang sedang pulas nyenyak dan yang pada bibirnya ter-sungging senyuman."

Demikian penuturan Po-sie.

Seluruh ruangan sunyi senyap. Jago-jago yang hadir di situ adalah orang-orang yang berhati keras, tapi mendengar cerita tentang kebinasaan suami isteri Ouw It To, mereka merasa sangat terharu.

Sekonyong-konyong kesunyian dipecahkan oleh suara wanita: "Po-sie Taysu, mengapa ceritamu agak berbeda dengan apa yang didengar olehku?"

Semua orang mengawasi ke arah wanita itu, yang bukan lain daripada Biauw Yok Lan. Waktu Po-sie berbicara, perhatian segenap hadirin dituju-kan kepadanya, sehingga masuknya si nona ke dalam ruangan itu tidak diketahui oleh siapa pun juga.

"Mungkin sekali, karena sudah lama, ada be¬berapa bagian yang sudah tidak begitu diingat loolap," kata Po-sie. "Bagaimana ceritanya ayah nona?"

"Sebagian besar dari penuturan ayah cocok dengan apa yang dikatakan Taysu," kata si nona. "Hanya pada bagian meninggalnya Ouw Pehpeh dan Ouw Pehbo yang tidak sama."

Paras muka Po-sie lantas saja berubah. "Hm!" ia mengeluarkan suara di hidung, tapi tidak me-nanya terlebih jelas.

"Biauw Kouwnio, bagaimana cerita ayahmu?" tanya Tian Ceng Bun.

Nona Biauw tidak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah kotak sulam dan mengambil sebatang hio wangi yang lalu disulut dan ditancap di hiolo. Sesaat kemudian semua orang mengendus bau yang sangat

harum.

Dengan paras muka angker, Biauw Yok Lan berkata: "Semenjak aku kecil, setiap kali bertemu dengan musim dingin, ayah selalu berduka. Biarpun aku menggunakan rupa-rupa cara untuk menggem-birakan hatinya, ia tetap bersedih. Selama beberapa hari menjelang tahun baru, ayah selalu berdiam dalam sebuah kamar di mana dipuja dua buah sin-wie (papan meninggal dunia). Pada sin-wie yang satu tertulis: 'Leng-wie (tempat kedudukan yang angker) dari saudara angkatku Ouw It To Tayhiap', sedang pada sin-wie yang lain tertulis: "Leng-wie dari Gieso Ouw Hujin'. Di samping meja sem-bahyang itu tersandar sebilah golok yang sudah berkarat."

"Pada hari-hari itu, ayah selalu memerintahkan tukang masak memasak macam-macam sayur untuk sembahyangan dan waktu bersembahyang ia me-nuang puluhan cawan arak. Mulai tanggal dua puluh dua bulan dua belas, terus lima hari beruntun, setiap malam ia minum puluhan cawan arak itu yang diatur disamping meja sembahyang. Sehabis minum, ia sering menangis sedih."

"Aku sering bertanya, siapakah Ouw Pehpeh itu? Tapi ayah selalu menggelengkan kepala. Pada tahun itu, ayah mengatakan, bahwa usiaku sudah cukup dewasa dan ia lalu menceritakan hal piebu dengan Ouw Pehpeh."

"Ayah memberitahu, bahwa Ouw Pehpeh telah membinasakan ayahnya Tan Sioksiok. Karena da-lam menghadapi orang luar, keluarga Biauw, Hoan dan Tian selalu bersatu padu, maka, walaupun me-mandang rendah sepak-terjangnya Tian Sioksiok, tapi demi persahabatan dalam dunia Kang-ouw, ayah terpaksa mencari Ouw Pehpeh untuk diajak piebu. Jalan pertandingan itu telah diceritakan cu¬kup terang oleh Po-sie Taysu."

"Dengan beruntun-runtun ayah dan Ouw Peh¬peh sudah bertanding empat hari lamanya. Makin lama bertempur, mereka makin saling mengindah-kan dan masing-masing pihak sungkan turunkan tangan jahat. Pada hari ke lima, karena melihat kelemahan ayah pada punggungnya, Ouw Pehbo memberi isyarat dengan batuk-batuk dan Ouw Pehpeh segera mendesak dengan menggunakan jurus Pat-hong-cong-to. Jurus itu telah berhasil mengalahkan ayah. Menurut katanya Po-sie Tay¬su, ayah berhasil merebut kemenangan dengan menggunakan pukulan yang luar biasa. Tapi me¬nurut ayah, kejadiannya bukan begitu. Sepanjang keterangan ayah, begitu lekas Ouw Pehpeh me-rangsek dengan Pat-hong-cong-to, ia sudah tidak berdaya lagi dan segera meramkan mata untuk menunggu kebinasaan. Tapi tiba-tiba Ouw Peh¬peh melompat mundur. 'Biauw-heng', katanya, 'Ada suatu hal yang tidak dimengerti olehku.' Ayah bersenyum dan balas menanya: 'Aku sudah kalah, kau mau tanya apa lagi?'"

"Kata Ouw Pehpeh: 'Aku sudah melayani kiam-hoatmu dalam ribuan jurus dan sedikit pun aku tidak menemui bagian yang lemah. Tapi mengapa sebelum kau menjalankan jurus Te-liauw-kiam-pek-ho-su-sit, punggungmu bergerak dan agak menaik, sehingga isteriku dapat melihat kelemahanmu?' Ayah menghela napas dan menjawab: 'Waktu meng-ajar ilmu silat pedang kepadaku, sianhu (mendiang ayahku) berlaku sangat keras terhadapku. Waktu aku berusia sebelas tahun, selagi ayah mengajar jurus itu, tiba-tiba punggungku digigit kutu busuk. Punggungku gatal, tapi aku tidak berani meng-garuknya. Jalan satu-satunya ialah menggerak-ge-rakkan otot-otot di punggungku untuk coba meng-usir kutu itu. Tapi makin lama rasa gatal jadi makin hebat. Beberapa saat kemudian, sianhu telah me¬lihat gerakan-gerakanku yang aneh dan ia meng-anggap, bahwa aku tidak bersungguh hati. Dengan bengis, ia memukul aku. Mulai waktu itu, setiap kali mau menggunakan jurus Te-liauw-kiam-pek-ho-su-sit, aku merasa punggungku gatal dan menggerak-gerakkannya. Mata Hujin sungguh awas'."

"Ouw Pehpeh tertawa. 'Dengan mendapat bantuan isteriku, tidak boleh dianggap aku mem-peroleh kemenangan,' katanya. 'Sambutlah!' Se-raya berkata begitu, ia melontarkan goloknya ke-pada ayah."

"Ayah menyambuti golok itu dengan perasaan heran, karena ia tak tahu apa maksudnya Ouw Pehpeh. Seraya mengambil pedang ayah, Ouw Peh¬peh berkata: 'Biauw-heng, setelah bertempur em-pat hari, kau dan aku sudah saling mengenal ilmu silat masing-masing. Begini saja: Kita bertanding lagi dengan aku menggunakan Biauw-kee Kiam-hoat (ilmu pedang keluarga Biauw) dan kau meng¬gunakan Ouw-kee To-hoat (ilmu golok keluarga Ouw). Dengan demikian, tak perduli siapa yang menang, siapa kalah, nama tidak mendapat kerugi-an.'"

"Ayah lantas saja mengerti maksudnya. Sedari seratus tahun lebih yang lalu, semenjak beberapa turunan, keluarga Biauw dan keluarga Ouw telah bermusuhan. Sebelum bertempur, ayah dan Ouw Pehpeh belum pernah mengenal satu sama lain. Antara mereka pribadi sebenarnya tidak ada per-musuhan apa pun jua. Kakekku telah meninggal dunia di lain tempat dan ayah Tian Kui Long Sioksiok meninggal dunia dengan mendadak. Me-nurut desas-desus dalam kalangan Kang-ouw, me¬reka berdua telah dibinasakan oleh Ouw It To. Tapi ayah masih tetap tidak percaya. Kali ini, atas ajakan keluarga Hoan dan Tian, ayah pergi ke Congciu untuk mencegat dan menantang Ouw It To. Tujuan pencegatan itu adalah untuk membalas sakit hati orang tua. Tapi di samping tujuan itu, ayah juga telah menanyakan benar-tidaknya desas-desus ke-pada Ouw Pehpeh sendiri."

"Belakangan, ternyata memang benar, bahwa kakekku dan Tian Kongkong telah dibinasakan oleh Ouw Pehpeh. Meskipun ayah menyayang Ouw Peh¬peh sebagai seorang gagah yang lurus-bersih, sakit hati orang tua tentu saja tidak bisa tidak dibalas. Tapi, ayah pun tidak ingin permusuhan antara ke-empat keluarga berlarut-larut dan terus menyeret-nyeret anak cucu. Maka itu, jika mungkin ia ingin sekali membereskan permusuhan yang sudah ber-

jalan lebih seabad itu. Maka itulah, usul Ouw Peh¬peh untuk saling menukar senjata disambut dengan girang oleh ayah, karena usul itu cocok dengan keinginan hatinya. Dengan penukaran senjata itu, andaikata ayah yang menang, maka ia mengalahkan Biauw-kee Kiam-hoat dengan Ouw-kee To-hoat. Kalau Ouw Pehpeh yang menang, ia mengalahkan Ouw-kee To-hoat dengan Biauw-kee Kiam-hoat. Dengan demikian, menang-kalah hanya mengenai pribadi dan tidak bersangkut dengan ilmu silat ke-dua keluarga."

"Sesudah saling menukar senjata, mereka lantas saja bertempur lagi. Pertandingan hari itu berbeda dengan empat hari yang lalu sebab biarpun kedua-duanya ahli silat kelas utama, senjata mereka bukan yang biasa digunakan dan mereka pun belum me-nyelami jurus-jurus yang harus digunakan. Sungguh tak mudah untuk mereka berkelahi dengan meng¬gunakan ilmu silat pihak lawan yang baru didapat selama berlangsungnya pertandingan dalam empat hari. Menurut katanya ayah, pertempuran itu ada¬lah yang terhebat dalam pengalamannya. Ouw Peh¬peh kelihatannya seperti seorang kasar, tapi se¬benarnya ia seorang yang cerdas luar biasa. Ia bersilat dengan Biauw-kee Kiam-hoat secara lincah sekali, seolah-olah ia sudah mempelajarinya selama beberapa tahun. Otak ayah tidak secerdas Ouw Pehpeh. Untung juga, ia sudah mahir dalam meng¬gunakan delapan belas rupa senjata dan di waktu kecil, ia pernah belajar ilmu silat golok. Maka itu, meskipun baru berkenalan dengan Ouw-kee To\ hoat, ia masih dapat melayani Ouw Pehpeh secara berimbang." "Kira-kira tengah hari mereka mulai mengguna-kan pukulan-pukulan yang berat dan gerakan-ge-rakan jurus-jurus itu makin lama jadi makin per-lahan. 'Biauw-heng," tiba-tiba Ouw Pehpeh ber-kata, Tit-bun Tiat-san-to masih terlalu cepat, sehingga kurang bertenaga.' Ayah bersenyum dan berkata: 'Terima kasih atas petunjuk itu.' Mereka bertempur terus dengan memusatkan seluruh per-hatian dan menggunakan seantero kepandaian. Tapi jika jurus salah sepihak ada yang kurang tepat, mereka saling memberi petunjuk dengan setulus hati."

"Ratusan jurus kembali lewat. Makin lama me¬reka makin paham akan ilmu silat yang asing itu dan gerakan-gerakan mereka jadi makin iicin. Melihat kelihayan Ouw Pehpeh, ayah jadi khawatir, karena ia merasa, bahwa jika pertandingan berlangsung terus dalam tempo lama, mungkin sekali ia akan dijatuhkan. Maka itu, ia lantas saja mengambil keputusan untuk mengubah siasat. Beberapa saat kemudian, ia menyerang dengan jurus Houw-in-kie-lok (Awan turun-naik). Menurut Ouw-kee To-hoat, dalam jurus itu, lebih dahulu golok menyabet ke bawah dan kemudian baru ke atas. Tapi ayah se-ngaja mengubahnya, yaitu, lebih dahulu ia menyabet ke atas dan kemudian baru ke bawah."

"Ouw Pehpeh terkejut. baru saja ia berteriak 'salah!' ayah sudah membentak: 'Awas golok!' dan goloknya meyabet ke atas. Menurut Ouw-kee To-hoat, sabetan pertama itu harus ke bawah. Kalau ayah berhadapan dengan lain lawan, lawan itu mungkin akan dapat mengelakkan serangannya. Tapi Ouw Pehpeh yang memang sudah biasa menggunakan Ouw-kee To-hoat, sama sekali tidak per-nah menduga, bahwa jurus itu diubah jalannya. Ia gugup dan golok ayah sudah menggores lengan kirinya!"

"Semua penonton mengeluarkan seruan kaget. Bagaikan kilat Ouw Pehpeh menendang dan ayah terguling di tanah, tak bisa bangun lagi. Ternyata, titik Keng-bun-hiat di pinggangnya, sudah terten-dang. Hoan Pangcu, Tian Siangkong dan yang Iain-lain memburu untuk menolong. Ouw Pehpeh me-lemparkan pedangnya, kedua tangannya bekerja, melontarkan orang-orang itu yang mau coba men-dckati ayah. Sesudah itu, ia membangunkan ayah dan membuka jalan darah, yang tertotok. 'Biauw-heng', katanya sambil tertawa, 'Jurus gubahanmu sungguh lihay. Tapi dalam setiap jurus dan Ouw-kee To-hoat mengandung jurus susulan, sedang dalam jurus gubahanmu tidak terdapat pukulan susulan itu. Sesudah kau menyabet dua kali, pada ping-gangmu lerbuka lowongan.'"

"Ayah tidak bisa menjawab, karena pinggang¬nya sangat sakit. 'Kalau kau tidak menaruh belas kasihan, lengan kiriku tentu sudah putus' kata pula Ouw Pehpeh. 'Hasil pertandingan pada hari ini dapat dikatakan seri. Pergilah mengaso, besok kita bertanding lagi.' Sambil menahan sakit, ayah ber¬kata: 'Ouw-heng, memang benar dalam bacokan itu, aku sudah berlaku agak sungkan. Tapi, kau juga menaruh belas kasihan. Jika tidak, tendanganmu itu tentu sudah mengambil jiwaku. Ouw-heng, dengan melihat cara-caramu, tak bisa jadi kau sudah raem-binasakan ayahku secara menggelap. Katakanlah dengan sesungguhnya: Cara bagaimana ayahku mati?'

Pada paras muka Ouw Pehpeh tiba-tiba terlukis perasaan heran. 'Bukankah aku sudah memberi-tahukan kau secara terang-terangan?' katanya. 'Jika kau tidak percaya dan mau meneruskan pertem-puran, aku tidak bisa berbuat lain daripada meng-iring kemauanmu."'

"Ayah terkejut. 'Kau sudah memberitahukan kepadaku?' ia menegas. 'Lagi kapan?' Sekonyong-konyong Ouw Pehpeh memutar badan dan sambil menuding salah seorang, ia berkata dengan suara terputus-putus: 'Kau... kau...!' Ia hanya dapat me-ngeluarkan dua perkataan. 'kau'. Sesudah itu, ke-dua lututnya lemas dan ia roboh terguling. Hati ayah mencelos. Cepat-cepat ia membangunkannya. Muka Ouw Pehpeh berubah pucat. 'Bagus!... bagus... kau...' katanya dan... kepalanya terkulai, rohnya berpulang ke alam baka."

"Bukan main kagetnya ayah. Seorang yang begitu gagah dan begitu kuat badannya, tak mung-kin binasa karena luka yang begitu kecil. Sambil memeluk badan Ouw Pehpeh, ayah memanggil-manggil: 'Ouw-heng...! Ouw-heng...!' Perlahan-la-han pada muka Ouw Pehpeh muncul sinar ungu dan ayah lantas saja tahu, bahwa ia mati karena racun yang sangat hebat. Cepat-cepat ayah meng-gulung tangan baju Ouw Pehpeh. Ternyata, luka itu sudah mengeluarkan darah hitam dan lengan-nya bengkak hebat. Ouw Pehbo kaget dan duka. Ia melemparkan puteranyayangsedangdidukung, mengambil golok yang tadi digunakan ayah dan menelitinya. Ayah tahu, bahwa pada golok itu sudah ditaruh racun."

"Melihat ayah berdiri termenung tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ouw Pehbo berkata dengan suara perlahan: 'Biauw Tayhiap, golok itu dipinjam dari salah seorang kawanmu. Suamiku tak tahu golok ini beracun dan kau pun tentu tak tahu. Kalau tahu, kalian berdua tentu tak sudi menggunakan senjata itu. Ini memang sudah nasib, kita tak bisa menyalahkan siapa pun jua. Sebenarnya aku sudah berjanji dengan suamiku untuk memelihara anak kita sampai menjadi orang. Tapi dalam lima hari ini, aku mendapat kenyataan, bahwa Biauw Tayhiap adalah seorang ksatria, maka, sesudah kau menyanggupi untuk memelihara anak itu, aku boleh membebaskan diri dari tugasku dan boleh tak usah bercapai-lelah selama dua puluh tahun.' Sehabis berkata begitu, ia menggorok lehernya sendiri dengan golok itu dan rohnya mengikut sang suami berpulang ke alam baka."

"Itulah cerita ayah yang telah dituturkan ke¬padaku. Tapi penuturan itu sangat berbeda de¬ngan penuturan Po-sie Taysu. Biarpun sudah lama dan orang tak dapat ingat seluruhnya, tapi per-bedaannya tidak mungkin begitu besar. Apakah sebabnya?"

Po-sie menggelengkan kepala. "Pada waktu itu ayahmu sedang bertempur dan tengah me-musatkan seluruh perhatiannya dalam pertan-dingan itu," katanya. "Memang mungkin, peng-lihatannya tidak begitu tegas seperti orang yang menonton."

Biauw Yok Lan hanya mengeluarkan suara "hm", ia segera menunduk dan tidak mengatakan suatu apa lagi.

Sekonyong-konyong terdengar suara seorang: "Cerita kalian berdua dan tidak bersamaan sebab ada seorang yang sengaja berdusta."

Semua orang kaget dan mengawasi ke arah suara itu. Ternyata, yang bicara adalah seorang pelayan yang pada mukanya terdapat tanda bekas bacokan golok. Po-sie dan Biauw Yok Lan adalah tamu, maka, walaupun pelayan itu kurang ajar, mereka merasa sungkan untuk segera menunjuk kegusaran. Di antara orang-orang itu, Co Hun Kie-lah yang paling kasar dan sembrono. Dialah yang membentak: "Siapa yang berdusta?"

"Siauwjin (aku yang rendah) seorang yang sa-ngat rendah, siauwjin tidak berani bicara," jawab-nya.

"Kalau ceritaku tidak benar, kau boleh bicara," kata nona Biauw.

"Kejadian yang tadi dituturkan oleh Taysu dan Kouw-nio telah disaksikan olehku sendiri," katanya. "Kalau kalian ingin mendengar penuturanku, siauw¬jin bersedia untuk bicara."

Tiba-tiba Po-sie berbangkit. "Kau menyaksi-kan dengan matamu sendiri?" bentaknya. "Siapa kau?"

"Siauwjin mengenali Taysu, tapi Taysu tidak mengenali siauwjin," jawabnya.

Paras muka Po-sie berubah pucat. "Siapa kau?" bentaknya pula.

Sebaliknya daripada menjawab, pelayan itu mengawasi nona Biauw dan berkata: "Kouwnio, siauwjin khawatir, bahwa penuturan yang ingin di-berikan oleh siauw-jin tak bisa dituturkan seluruh-nya."

"Mengapa?" tanya Yok Lan.

"Sebab, baru bicara separuh, jiwa siauwjin mungkin sudah melayang," jawabnya.

Nona Biauw berpaling ke arah Po-sie. "Taysu," katanya, "Dalam pertemuan kita di hari ini, kaulah yang menjadi tetuanya. Kau adalah seorang cianp-wee dari Rimba Persilatan dan kau mempunyai nama serta kedudukan yang tinggi. Maka itu, se-patah kata saja dari mulutmu sudah cukup untuk melindungi jiwa orang itu."

Po-sie tertawa dingin. "Nona Biauw, jangan kau mengangkat-angkat aku," katanya.

"Soal mati atau hidupnya siauwjin sama sekali tak menjadi soal," kata pelayan itu. "Yang dikha-watirkan siauwjin ialah penuturan ini akan tidak bisa dituturkan sampai pada akhirnya."

Biauw Yok Lan mengerutkan alis. Sesaat kemu-dian sambil menunjuk papan tuilian yang kedua, ia berkata: "Coba turunkan papan itu."

Pelayan itu tidak mengerti maksud si nona, tapi ia menjalankan perintah itu dan kemudian me-naruhnya di hadapan nona Biauw. "Coba kau lihat," kata Yok Lan, "Di atas papan itu tertulis huruf-huruf: 'Tah-pian-thian-hee-bu-tek-chiu Kim-bian-hud' Itulah gelar dari ayahku. Peganglah papan itu dan kau boleh bicara dengan tak usah khawatir apapun jua. Siapa yang menyerang kau berarti dia tidak memandang ayah."

Semua orang saling mengawasi. Mereka meng-akui, bahwa dengan Kim-bian-hud sebagai pelin-dung, tak ada orang yang akan berani mencelakai dirinya.

Paras muka pelayan itu berubah girang. Ia ter¬tawa dan dengan tertawanya itu, tanda bekas ba-cokan golok bergerak-gerak. Ia berdiri tegak dan sambil memeluk papan tuilian itu, kedua matanya menyapu ke seluruh ruangan.

Po-sie sendiri sudah kembali ke kursinya dan sambil mengawasi pelayan itu, ia mengingat-ingat peristiwa kebinasaan Ouw It To pada dua puluh tujuh tahun berselang. Tapi sesudah mengasah otak beberapa lama, ia masih belum juga dapat menebak siapa adanya orang itu.

"Lebih baik kau bicara sambil duduk," kata nona Biauw.

"Biar siauwjin berdiri saja," kata pelayan itu. "Bolehkah aku menanya: Bagaimana dengan putera yang ditinggalkan oleh suami-isteri Ouw It To Toaya?"

Biauw Yok Lan menghela napas. "Sesudah Ouw Pehpeh dan Ouw Pehbo meninggal dunia, Thia-thia (ayah) sangat berduka," katanya. "Sesudah meng¬awasi jenazah mereka beberapa lama, ia berlutut delapan kali dan berkata: 'Ouw-heng, Toako, lega-kanlah hati kalian. Aku pasti akan memelihara puteramu sebagaimana mestinya.' Sehabis memberi janjinya ia segera memutar badan untuk mengambil anak itu. Tapi anak itu sudah tidak kelihatan ba-yang-bayangannya lagi! Ayah terkejut, buru-buru ia menanyakan orang-orang yang berada di situ. Tapi mereka pun, yang menumplek seantero perhatian kepada peristiwa kebinasaan Ouw Pehpeh dan Ouw Pehbo, tidak memperhatikan anak itu. Ayah segera mengajak mereka untuk mencarinya. Sekonyong-konyong di belakang rumah terdengar suara ta-ngisan bayi yang nyaring sekali. Dengan girang ayah segera berlari-lari ke belakang. Apa mau, luka pada pinggangnya akibat tendangan Ouw Pehpeh, tidak terlalu enteng. Begitu ia menggunakan tenaga, ke¬dua lututnya lemas dan ia roboh terguling. Beberapa orang segera membangunkannya dan memapahnya ke belakang rumah. Tapi anak itu sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya. Apa yang dilihat mereka ialah darah, kain kuning pembungkus bayi dan topi di atas tanah."

"Di belakang rumah penginapan itu mengalir sebuah sungai dan dari belakang rumah, darah bertetesan terus sampai ke pinggir sungai. Menurut dugaan, anak itu telah dibunuh orang dan mayatnya dilemparkan ke dalam sungai. Ayah kaget tercam-pur gusar. Ia mengumpulkan semua orang dan me-nyelidiki dengan teliti, tapi tidak bisa mendapat keterangan apa pun jua. Hal ini sangat mendukakan hatinya dan sampai sekarang ayah masih selalu memikirkannya. Ia bersumpah akan mencari pem-bunuh anak itu. Tahun itu aku lihat ia menggosok pedang dan ia memberitahukan aku, bahwa ia harus membunuh satu manusia lagi, yaitu manusia yang telah membinasakan puteranya Ouw Pehpeh dan Ouw Pehbo. Aku coba menghibur dengan mengata-kan, bahwa mungkin sekali anak itu telah ditolong orang. Ayah tidak percaya. Ia berdoa agar dugaanku tidak meleset. Hai...! Aku mengharap ia masih hi-dup. Pernah ayah mengatakan begini kepadaku: 'Lan-jie, aku mencintai kau lebih daripada aku mencintai jiwa sendiri. Tapi andaikata Langit mem-perbolehkan aku menukar kau dengan putera Ouw Pehpeh, aku lebih suka kau mati, asal saja putera Ouw Pehpeh bisa terus hidup."

Air mata pelayan itu berlinang-linang. "Kouw-nio," katanya dcngan suara parau, "Roh Ouw Toaya cukup angker, ia tentu akan berterima kasih ter-hadap ayahmu dan kau sendiri."

Ie Koan-kee semula menduga, bahwa dia adalah pclayan yang dibawa oleh Biauw Yok Lan. Tapi dilihat dari sikapnya dan didengar omongannya, orang itu kelihatannya bukan pelayan si nona. Baru saja ia mau mengajukan pertanyaan, pelayan itu sudah mulai dengan penuturannya.

"Pada dua puluh tujuh tahun berselang, aku bekerja sebagai pesuruh, sebagai tukang menyala-kan api, di dapur dari sebuah rumah penginapan di kota Congciu. Pada musim dingin tahun itu, ben cana menimpa keluargaku. Tiga tahun yang lalu, ayahku meminjam lima tail perak dari seorang har tawan di kota itu. Dengan bunga berbunga lagi, selama tiga tahun, pinjaman itu yang tadinya lima tail sudah jadi empat puluh tail. Hartawan itu me nangkap ayah yang mau dipaksa menulis sural per janjian unluk menjual ibuku guna dijadikan gundik. Ayahku tentu saja menolak dan ia dipukul setengah mati oleh anjing-anjingnya hartawan itu. Sepulang-nya di rumah, ayah lalu berdamai dengan ibu. Me reka mengerti, bahwa jika hutang itu tidak di-lunaskan sampai buntut tahun, empat puluh tail akan menjadi delapan puluh dan seumur hidup, mereka tak akan mampu membayarnya. Karena tak ada jalan lain, kedua orang tuaku sebenarnya man membunuh diri, tapi mereka tidak tega mening-galkan aku. Demikianlah, ayah, ibu dan anak hanya bisa memeras air mata sambil berpelukan. Di waktu siang, aku bekerja di rumah penginapan, saban malam aku pulang untuk menjaga ayah dan ibuku, supaya mereka tidak mengambil jalan yang pendek." "Pada suatu malam, rumah penginapan itu me-nerima banyak tamu yang terluka. Kami jadi repot sekali dan majikanku tidak mempermisikan aku pulang. Pada keesokan harinya, datanglah Ouw It To Toaya yang baru saja mendapat seorang putera. Untuk merawat bayi itu, Ouw Toaya memerlukan banyak air panas dan pemilik rumah penginapan kembali menahan aku. Karena memikirkan ayah dan ibuku, aku sudah memecahkan beberapa mang-kok dan digaplok beberapa kali oleh majikanku. Sesudah masak air, aku bersembunyi di samping dapur dan menangis dengan perlahan. Kebetulan Ouw Toaya pergi ke dapur dan ia mendengar tangisanku. Ia segera menanyakan sebab-musa-babnya. Karena paras muka Ouw Toaya angker dan bengis, aku tidak berani bicara. Makin ia mendesak, makin hebat aku menangis. Belakang-an, sesudah ia bicara dengan suara lemah lembut, barulah aku berani menuturkan bahaya yang te-ngah dihadapi.'"

"Ouw Toaya gusar bukan main. 'Hartawan itu sungguh kejam,' katanya. 'Sebenarnya aku harus mengambil jiwanya, tapi sebab aku sendiri mem-punyai urusan penting, maka aku tak sempat untuk berhitungan dengan dia. Sekarang biarlah aku mem-berikan seratus tail perak kepadamu. Kau pulanglah dan menyerahkannya kepada ayahmu. Katakan ke-padanya, bahwa dengan uang itu ia bisa membayar hutang dan lebihnya dapat digunakan untuk ongkos hidup. Lain kali, jangan meminjam uang lagi dari hartawan kejam.' Semula aku menduga, bahwa ia hanya berguyon. Tak dinyana, benar-benar ia meng-ambil lima potong goanpo dan menyerahkannya kepadaku. Tapi aku tentu tidak berani lantas menerimanya. 'Hari ini aku mendapat anak,' kata Ouw Toaya. 'Aku mencintainya dan dengan meng-ukur perasaanku sendiri, kedua orang tuamu juga tentu sangat mencintai kau. Ambillah uang ini dan pulanglah sekarang. Aku akan memberi-tahukan majikanmu, bahwa akulah yang me-nyuruh kau pulang dan dia pasti tidak berani banyak rewel."

"Aku masih mengawasinya dengan mata raera-belalak dan jantungku memukul keras. Aku tak tahu apa yang harus diperbuat. Sambil bersenyum Ouw Toaya mengambil selembar kain, membungkus lima potong perak itu dan kemudian mengikatnya di punggungku. 'Anak tolol,' katanya seraya tertawa dan menendang pinggulku perlahan-lahan, 'lekas pergi!' Bagaikan orang linglung aku pulang dengan berlari-lari dan memberitahukan kejadian itu ke-pada kedua orang tuaku. Kami bertiga girang se-tengah mati, untuk beberapa saat kami saling ber-pelukan seperti orang edan. Kami hampir tak mau percaya, bahwa di dalam dunia ada orang yang begitu mulia hatinya. Sama saja seperti dalam mim-pi. Ayah dan ibuku buru-buru pergi ke rumah penginapan untuk menghaturkan terima kasih de¬ngan berlutut. Tapi Ouw Toaya menolak peng-haturan terima kasih itu. la menggoyang-goyangkan tangannya dan mengatakan, bahwa ia tak suka me-nerima pernyataan terima kasih yang begitu berat. Dengan manis budi, ia mendorong kami bertiga."

"Selagi kami mau berangkat pulang, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki kuda dan beberapa penunggang kuda tiba di rumah penginapan itu. Mereka adalah musuh-musuhnya Ouw Toaya. Ka-rena merasa khawatir, aku lalu mempersilakan kedua orang tuaku pulang lebih dahulu, sedang aku sendiri ingin menyaksikan kesudahan pertem-puran itu. Kupikir, budi Ouw Toaya sangat besar. Kalau ia memerlukan bantuanku, biar diperintah masuk ke dalam air atau api, aku pasti tak akan menolak."

"Kulihat Kim-bian-hud Tayhiap dan Ouw Toaya minum arak sambil beromong-omong. Kecintaan Ouw Toaya terhadap puteranya telah dituturkan oleh Po-sie Taysu. Tapi ia sama sekali tak tahu, bahwa perbuatan si tabib yang mendengarkan pembicaraan suami-isteri Ouw dari kamar sebe-lah, semuanya diincar oleh seorang pesuruh kecil yang bekerja di dalam dapur rumah penginapan itu."

Tiba-tiba Po-sie berbangkit dari kursinya. Sam¬bil menuding ia membentak: "Siapa kau? Siapa yang menyuruh kau datang kemari untuk bicara yang tidak-tidak?"

Dengan paras muka tenang, pelayan itu menja-wab: "Aku bernama Peng Ah Sie. Aku mengenal Giam Kie, seorang tabib, tukang mengobati luka terpukul. Tapi si tabib Giam Kie tentu saja tidak mengenali Peng Ah Sie, pesuruh kecil, tukang me-nyalakan api di dapur."

Mendengar perkataan "Giam Kie", paras muka Po-sie berubah pucat. Lapat-lapat ia ingat, bahwa pada dua puluh tujuh tahun berselang, di dalam rumah penginapan, ia memang pernah bertemu dengan se¬orang pesuruh kecil yang pakaiannya kotor. Tapi karena tidak memperhatikan, ia sekarang sudah tak ingat lagi, bagaimana macamnya pesuruh itu. De-ngan sorot mata gusar dan membenci, ia menatap wajah Peng Ah Sie.

Sementara itu, Peng Ah Sie sudah melanjutkan penuturannya: "Di tengah malam kudengar suara tangisan Ouw Toaya. Dengan rasa khawatir, aku pergi ke depan kamarnya. Tiba-tiba kulihat bayang-an manusia di jendela kamar sebelah. Orang itu berdiri tanpa bergerak, ia rupanya sedang mema-sang kuping. Aku curiga, dan lalu mengintip dari celah-celah pintu kamar. Ternyata, orang itu Giam Kie adanya dan dia sedang mendengarkan pem-bicaraan suami-isteri Ouw dengan menempelkan kupingnya di papan kamar. Baru saja kuingin memberitahu hal itu kepada Ouw Toaya, Ouw Toaya sendiri sudah keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Giam Kie dan bicara panjang-lebar. Pembicaraan itu tidak pernah disebut-sebut oleh Po-sie Taysu. Aku sendiri tak tahu apa se-babnya."

"Ouw Toaya bicara panjang-lebar dan sebagian tidak dimengerti olehku. Tapi aku tahu, bahwa Ouw Toaya telah minta bantuannya, supaya pada ke-esokan harinya ia pergi menemui Biauw Tayhiap untuk menjelaskan beberapa soal. Soal-soal itu ada-lah soal-soal besar yang sangat penting. Sebenarnya tak tepat untuk Ouw Toaya meminta bantuan se-orang luar. Tapi karena Ouw Hujin baru melahirkan anak dan juga karena Ouw Toaya beradat bera-ngasan, sehingga jika ia memberi penjelasan sendiri kepada pihak lawan, ia pasti akan bertengkar de¬ngan Hoan Pangcu dan Tian Siangkong dan akhirnya ia mesti bertempur juga, maka, sebab tak ada jalan lain, ia terpaksa meminta bantuan Giam Kie untuk menyampaikan perkataannya. Tadi Po-sie Taysu mengatakan, bahwa Ouw Toaya telah me-nyuruhnya untuk menyampaikan surat kepada Kim-bian-hud dan akan diberi hadiah besar. Keterangan itu tidak benar. Cobalah pikir: "Menyampaikan su¬rat adalah tugas yang sangat enteng. Perlu apa orang memberi hadiah besar kepada tukang bawa surat? Mungkin sekali Po-sie Taysu sekarang sudah lupa perkataan Ouw Toaya, tapi aku sendiri masih tetap ingat."

Mendengar sampai di situ, semua orang tahu, bahwa pada sebelum menjadi pendeta, Po-sie Taysu bernama Giam Kie. Melihat sikap kedua orang itu, mereka yakin bahwa antara Po-sie dan kebinasaan Ouw It To mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dan dalam keterangan yang diberikan Po-sie terdapat bagian-bagian yang tidak benar. Mereka ingin sekali mendengar penjelasan Peng Ah Sie yang akan membuka sebuah rahasia. Akan tetapi, mereka pun khawatir, bahwa jika Peng Ah Sie benar-benar membuka rahasia besar yang membuat Po-sie menjadi malu, dalam gusarnya, pendeta itu bisa turunkan tangan jahat dan di antara mereka, tak satu pun yang dapat menandinginya. Biarpun di belakang hari Kim-bian-hud bisa membalas sakit hati, tapi kalau Peng Ah Sie sudah binasa, rahasia yang sangat menarik itu akan turut dikubur di liang kubur.

Sedang semua orang khawatir akan kesela-matannya, Peng Ah Sie sendiri bersikap tenang-tenang saja. Sesudah berhenti sejenak, ia melan-jutkan penuturannya:

"Waktu Ouw Toaya bicara dengan Giam Kie, aku berdiri di luar jendela kamar Giam Kie. Aku bukan mau mencuri dengar pembicaraan Ouw Toaya. Aku sudah berbuat begitu, sebab kutahu, bahwa tabib itu, yang menjadi anjingnya si hartawan yang menghina kedua orang tuaku, bukan manusia baik-baik. Oleh karena itu, kukhawatir Ouw Toaya kena ditipu olehnya. Waktu itu aku masih kecil dan pengertianku sangat terbatas, sehingga apa yang dikatakan Ouw Toaya tidak dapat dimengerti se-luruhnya olehku. Tapi setiap perkataannya terus tercatat dalam otakku dan tidak bisa dilupakan lagi. Belakangan, sesudah besar, kumengerti maksud pembicaraan itu. Pada malam itu, Ouw Toaya minta bantuan Giam Kie untuk menyampaikan tiga rupa hal. Pertama, asal-mula permusuhan antara keluar-ga Ouw, Biauw, Hoan dan Tian. Kedua, sebab-musabab dari kebinasaan ayahnya Kim-bian-hud dan ayah Tian Siangkong. Ketiga, soal kotak besi dan golok komando dari Cwan Ong."

Hampir serentak semua orang menengok ke arah kotak besi dan golok itu yang ditaruh di atas meja. Rasa ingin tahu dalam hati mereka jadi makin besar.

Peng Ah Sie melanjutkan penuturannya: "Se-bab-musabab dari permusuhan antara keluarga Ouw, Biauw, Hoan dan Tian tadi sudah diceritakan oleh Biauw Kouwnio. Tapi di dalam itu masih terselip suatu rahasia besar yang tidak diketahui oleh orang luar. Rahasia itu dimulai pada jaman Cwan Ong Eng-ciang tahun kedua, tahun It-yu, atau menurut perhitungan pemerintah Boan, Sun-tie tahun kedua. Pada waktu itu, leluhur keluarga Ouw, Biauw, Tian dan Hoan telah berjanji, bahwa, jika peme¬rintah Boan tidak menjadi roboh, rahasia itu baru boleh dibuka sesudah berselang seratus tahun, yaitu pada tahun It-yu. Tahun It-yu ialah tahun Kian-liong ke sepuluh dan dari waktu itu sampai se-karang, sudah berselang tiga puluh tahun lebih. Maka itulah, pada dua puluh tujuh tahun berselang, waktu Ouw Toaya bicara dengan Giam Kie, batas waktu seratus tahun sudah lewat dan rahasia ter-sebut sudah boleh dibuka."

"Rahasia itu benar-benar hebat. Apa sebabnya? Sebabnya ialah, pada waktu kalah perang di Kiu-kiong-san, Cwan Ong sebenarnya tidak mati!"



*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 2"

Post a Comment

close