Hoa San Lun Kiam (Pendahuluan Trilogi Rajawali) BAGIAN 48: ORANG BERMUKA BURUK

Mode Malam
BAGIAN 48: ORANG BERMUKA BURUK

„KITA akan menuju kepegunungan Lauw-san!" kata uraog bertopeng itu sambil berlari kearah barat, dan Ong Tiong Yang mengikuti.

Mereka memang memiliki ginkang yang tinggi, sehingga mereka bisa melakukan parjalan an dangan cepat.

Setelah ber-lari2 hampir tiga puluh lie lebih mereka melihat sebuah rumah penduduk yang terpencil dari rumah2 lainnya.

Rumah tersebut berada ditempat yang begitu sepi. Disebelah kanannya terdapat hutan rimba yang lebat, sedangkan disebelah kirinya terhampar sawah yang luas.

Bangunan rumah itu tidak begitu besar, namun pintu rumah itu pun tertutup.

Orang bertopeng merah itu menunjuk rumah tersebut, katanya : „Mari kita beristirahat diru mah itu, tentu pemilik rumah tersebut tidak keberatan untuk memberikan seteguk air pelenyap dahaga !"

Ong Tiong Yang hanya mengiyakan dan mereka menghampiri rumah itu.

Orang bertopeng merah itu lalu mengetuk pintu rumah tersebut.

Agak lama mereka menanti, tapi tidak terdengar orang yang menyahut, bahkan tidak terdengar suara lainnya, bagaikan rumah tidak berpenghuni.

Diwaktu itu orang bertopeng merah tersebut mengetuk lagi agak keras.

Tetap tidak terdengar sahutan.

Akhirnya orang bertopeng merah mendorong pintu itu, ternyata tidak pintu segera terbuka lebar.

Tapi begitu pintu terbuka, Ong Tiong Yang maupun orang bertopeng merah itu jadi berdiri menjublek dengan tubuh yang kaku karena kaget.

Ditengah ruangan dalam rumah itu tampak duduk seorang lelaki dengan sikap yang kaku, matanya memandang lebar2 kepada orang bertopeng merah itu dan Ong Tiong Yang.

Sikapnya dingin sekali.

Yang luar biasa adalah keadaannya.

Wajahnya begitu buruk, sepasang matanya tjekung kedalam, seperti juga tak memiliki bola mata dan hidungnya sempoak separuh dengan tidak ada bibir, maka terlihat barisan giginya dan gusinya.

Sepintas orang itu lebih mirip tengkorak saja, jika ia tidak memeiibara rambut panjang yang terurai kebahunya.

---oo0oo---



SAAT itu Ong Tiong Yang juga melihat pakaian orang tersebut merupakan pakaian yang tidak keruan, yaitu pakaian Thungsia yang ber-warna2 hanya tidak memiliki tali pengikat pinggang.

Kedua lengan baju yang lebar telab pecah disana sini, sehingga pecahan kain itu berseliwiran dan tampak tidak teratur merupakan seperangkat pakaian yang benar2 l telah rusak sekali.

Tetapi sebagai seorang pendeta yang memiliki hati yang bersih, tidak bisa Ong Tiong Yang memperlihatkan sikap terkejut terus, sebab bisa menyinggung perasaan orang ini.

Ia merangkapkan sepasang tangannya, memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.

Maafkan kami meagganggu..... semula kami kira tidak ada penghuni rumah ini, sehingga kami lancang sekali membuka pintu rumah Siecu.

„Memang kalian -mengganggu, aku sudah tidak mengacuhkan kedatangan kalian tetapi mengapa begitu lancang membuka pintu dan langsung masuk ?" tegur orang yang wajahnya seperti tengkorak mengerikan tersebut dengan suara yang sengau dan tidak sedap didengar.

Ditanggapi begitu, wajah Ong Tiong Yang jadi berubah merah.

Tetapi orang bertopeng merah itu justru tetah memperdengarkan suara tertawa yang cukup nyaring, katanya : „Bagus...! Bagus...! Aku tidak menyangka akan bertemu dengan seorang sahabat yang demikian menarik i"

„Hemm......., engkau tidak perlu menyindir diriku," kata orang bermuka buruk itu.

„Engkau menutupi mukamu dengana sebelai topeng merah itu, tentu wajahmu tidak lebih menarik dari wajahku........!"

Orang bertopeng merah itu kembali memperdengarkan suara tertawanya, katanya : „Jika memang senasib, nah perkenalkan aku Ang Bian, dan ini adalah Ong Tiong Yang Cinjin........! Bolehkah kami mengetahui siapakah tuan adanya?"

Orang bermuka buruk itu mendengus dingin dengan suara sengau, katanya : „Kalian pergi keluar sebelum aku yang turun tangan melemparkan kalian !'' Didengar dari kata2nya menunjukkan babwa ia tidak senang atas kehadiran Ong Tiong Yang dan orang bertopeng merah itu.

„Baiklah “kata orang bertopeng merah itu dengan suara mengejek.

„Jika memang kehadiran kami ini tidak disukai oleh tuan, kami akan pergi........!"

Ong Tiong Yang dengan sabar merangkapkan tangannya, katanya : „Maafkan, memang kami mengakui kami sangat lancang, dan sekali lagi maafkan!" katanya.

Ong Tiong Yang sambil berkata begitu telah memutar tubuhnya untuk berlalu.

Tetapi orang bertopeng merah telah mencekal tangannya, kata orang bertopeng merah itu : „Tunggu dulu Ong Cinjin....!" hingga Ong Tiong Yang terpaksa menahan langkah kakinya.

Sedangkan erang bertopeng merah itu berkata kepada orang bermuka buruk tersebat : „Kami tengah melakukan perjalanan kami "sangat haus sekali, maka jika memang tuan tidak keberatan, kami hendak meminta sedikit air pelenyap dahaga !"

Tetapi justru orang Yang bermuka seperti tengkorak itu telah mengibaskan lengan bajunnya yang rusak itu, sambil katanya tawar : „Kalian pergilah...!"

Dari kebutan lengan bajunya itu, keluar serangkum angin serangan yang kuat dan tidak tampak, yang telah menerjang kepada OngTiong Yang dan orang bertopeng merah itu.

Ong Tiong Yang yang tidak bersiap sedia telah kena diterjang oleh angin tersebut, sehingga terhuyung, sedangkan orang bertopeng merah yang memang memiliki kepandaian lebih tinggi dari Ong Tiong Yang, telah balas 'mengc butkan tangannya, maka terdengar suara „Bruk" tentunya dua kekuatan tenaga yang hebat, hingga ruangan rumah itu seperti tergoncang.

Orang bertopeng merah itu terkejut, ia merasakan tubuhnya tergetar akibati terjangan tenaga kebutan lengan baju orang bermuka buruk itu.

Namun ia tidak sampai terpental.

Hdnya dengan suara yang tawar orang bertopeng merah itu berkata dingin: „Jika memang dCmiki an halnya, engkau bukan seorang tuan rumah yang baik... !"

„Memang aku tidak mengharapkan pujian dari siapapun juga. Lekas pergi sebelum aku mengambil tindakan keras kepada kalian.....!"

„Tetapi justru kami tidak akan pergi jika diusir dengan cara seperti ini... !" kata orang brrtopeng merah itu dengan suara mengandung kesengitan.

Iapun telah mengibaskan tangannya lagi, dimana tangannya itu dikebut untuk mengeluarkan tenaga sinkangnya mcnerjang kepada orang bermuka busuk itu.

Kuat tenaga sinkang yang muncul dari tangan orang yang bertopeng merah itu, -karena begitu ia mengebutkan tangannya, telah berseliweran angin yang kuat membuat pakaian orang bermuku tengkorak itu seperti juga diterjang topan.

Namun orang bermuka buruk itu tetap dududuk ditempatnya tidak bergerak, hanya mengeluarken suara, Hemm..., hemm....." berulang kali.

Orang bertopeng merah itu jadi terkejut, ia tidak menyangka kebutan tangannya yang mem pergunakan kekuatan sinkang yang tinggi, tidak berhasil membuat orang bermuka buruk itu berkisar dari tempat duduknya.

Rasa penasaran membuat orang bertopeng merah tersebut kembali mengebut tangannya, dan serangkum angin serangan yang lebih kuat menyambar kearah lelaki bermuka seperti tengkorak itu.

Lelaki bermuka buruk itu tidak berdiam diri, ia mengeluarkan suara dengusan „Hem... !" lagi, kemudian mengangkat tangan kanannya, ia mendorong kedepan, seperti juga menahan sesuatu.

Rupanya kekuatan kebutan tangan dari oring bertopeng merah itu telah ditahan dan dibendungoya dengan mempergunakan tangan kanannya.

Aog Bian kembali terkejut, karena orang bermuka tengkorak itu tetap tidak, mengalami suatu perobahan apapun juga.

Kembali ia menyalurkan kekuatan sinkangnya, kali ini ia menyalurkan lebih kuat.

Tetapi Ang Bian tidak berhasil mendorong rubuh orang tersebut.

Mereka jadi saling mengadu kekuatan sinkang, aengan saling mendorong, walaupun tangan mereka saling menyentuh.

Hal ini membuat Ong Tiong Yang jadi tertarik sekali, ia menyaksikan cara bertempur ke dua orang ini.

Sebagai seorang yang mempelajari tenaga sinkang aliraa lurus Ong Tiong Yang mengetahui cara bertempur seperti ini bukan merupakan pertandingan dari jago2 tingkat tinggi.

Juga Ong Tiong Yang melihat babwa hawa murni yang disalurkan oleh Ang Bian maupun orang yang bermuka seperti tengkorak itu, merupakan Iwekang kelas tinggi dan lurus, tidak tarlihat kesesatannya.

Dengan demikian, Ong Tiong Yang jadi kagum.

Waktu itu, orang bermuka seperti tengkorak telah barkata tawar :„Jika memang demikian halnya, kalian datang ingin meugacau..... pergilah.......!" dan berbareng dengan habisnya perkataannya itu, tampak orang bermuka seperti tengkorak tersebut telah menghentak tangannya dan diwaktu itu tenaga menghentak keluar dari telapak tangannya semakin kuat, dan tahu2 tubuh orang bertopeng merah itu terpental keluar dengan lontaran yang deras.

Inilah diluar dugaan sama sekali, bagi orang bertopeng merah itupun yang sama sekali tidak menyangkanya sampai mengeluarkan suara seruan.

Tubuhnya melayang diudara tinggi sekali.

Memang ia memliki kepandaian yang telah tinggi, tubuhnya tidak sampai terbanting dimana ........ Ang Bian berhasil mengendalikan tubuhnya dan meluncur turun tanpa kurang suatu apapun juga.

Orang yang mukanya seperti tengkorak itu jadi terkejut melihat hal tersebut, semula ia menyangka dengan mengebutkan tenaga sinkang nya seperti itu, tentu ia akan berhasil merubuhkan lawannya yang seorang itu.

Tetapi kenyataannya memang si topeng merah memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Waktu itu diam2 Ong Tiong Yang juga telah memusatkan perhatiannya, karena ia kuatir kalau2 orang yang bermuka seperti tengkorak itu akan melancarkan serangan tiba2 kepadanya.

Dalam keadaan demikien jelas Ong Tiong Yang tidak bisa merumandang remeh, sekali saja ia lengah dan dirinya diserang hebat oleh orang bermuka tengkorak itu, niscaya dirinva bisa terluka parah.

Tetapi orang bermuka tengkorak itu tidak meluncarkan serangan kepada Oag Tiong Yang.

Iapun juga tidak melancarkan serangan lagi kepada orang bertopeng merah itu, hanya berkata dengan suara yang tawar : „Apakah semua itu masih belum cukup dan kalian minta dihajar lagi ?" Cepat lenyap dari mataku !"

---oo0oo---

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Hoa San Lun Kiam (Pendahuluan Trilogi Rajawali) BAGIAN 48: ORANG BERMUKA BURUK"

Post a Comment

close