Hoa San Lun Kiam (Pendahuluan Trilogi Rajawali) BAGIAN 25: ULAR PUALAM EMAS (KIM GIOK COA)

Mode Malam
BAGIAN 25: ULAR PUALAM EMAS (KIM GIOK COA)

„AKU telah membunuh seekor ular yang aneh bentuknya dikolam istana .......!" menjelaskan Toan Hongya. ,

„Seekor ular ?" tanya Hek Wan.

„Waktu itu aku tengah bermain dikolam, dan telah dililit oleh seekor ular, dan kemudian aku berhasil membinasakannya dengan menggigitnya.

„Dan darah ular itu telah dihirup oleh Toan Hongya ?" tanya Hek Wan.

Toan Hongya mengangguk.......... „Ya, dan ular itu telah binasa..........!"

„Dan setelah membinasakan ular itu, barulah Toan Hongya menderita sakit yang aneh i ni ?"

„Benar !"

„Nah kerikil itu telah kita dapat ketahui sumbernya.......! Justru penyakit Hongya disebabkun darah ular itu !"

„Penyakitku disebabkan darah ular itu ?" tanya Toan Hongya.

„Pasti karena ular itu !" mengangguk Hek Wan.

„Tentu.nya ular itu merupakan ular mustika......tetapi sayangnya setelah Hongya berhasil membinasakan ular itu, Hongya tidak memperoleh perunjuk yang baik, jika tidak malah darah ular yang telah Hongya minum itu merupakan mustika yang langka dan jarang sekali bisa diperoleh, malah bisa merupakan keberuntungan' yang baik sekali.......!"

„Toan Hongya menghela napas...... „Tetapi semuanya telah terlanjur terjadi, waktu itu aku tidak beruntung bisa bertemu dengan Hek Wan Locianpwe, sehingga, aku men derita sakit yang berkepanjangan seperti ini."

Hek Wan tertawa.

„Segalanya belum terlambat.

Memang aku sendiri heran, biasanya jika aku memberikan pelajaran menambal mangkok sampai yang kelima, tentu segala hawa kotor dalam seluruh tubuh orang yang bersangkutan akan terbuang dan tubuh maupun darahnya menjadi bersih.

Namun Hongya sampai mangkuk yang ketujuh masih juga menderita sedikit gangguan, walaupun memang terlihat juga kemajuannya...!

Baiklah, bisakah aku Pergi memeriksa mayat ular yang telah Hongya binasakan?''.

Toan Hongya mengangguk cepat.

„Tentu saja bisa Hek Wan Locianpwe...!" dan setelah berkata begitu, Toan Hongya menoleh kepada Toan Liang, ia perintahkan agar Toan Liang membawa mayat ular itu.

Bangkai ular tersebut telah dikeringkan, dan Hek Wan memeriksanya dengan teliti.

Waktu pertama kali ia meiihat ular itu, ia telah mengeluarkan seruan heran : „Binatang yang mujijat.......!'' dan ia asyik memeriksanya.

Sampai akhirnya Hek Wan menoleh kepada Toan Hongya, sambil katanya : „Beruntung sekali Hongya bisa, menghirup darah ular ini, itulah suatu keberuntungan yang tidak kecil.."

„Tetapi Hek Wan Locianpwe, justru setelah menghirup darah, ular itu aku menderita sakit yang hebat dan nyaris binasa juga........!

Lihatlah seluruh kulit ditubuhku juga masih berbintik-bintik merah........!"

Hek Wan tertawa.

„Itu disebabkan kesaktian darah ular ini tidak disalurkan ketempat-tempat yang semestinya...........!.

Tetapi belum terlambat, aku bisa memanfaatkan darah ular itu untuk memberikan

keberuntungan kepada Hongya............!"

Toan Hongya jadi memandang heran.

Tetapi Hek Wan telah meneruskan perkataannya.

„Sekarang kita akan mulai. Dua pelajaran mengenai menambal mangkok kita tunda dulu...! tahukah Hongya apa nama ular ajaib ini ?"

Toan Hongya menggelengkan kepalanya.

„Tidak ........!" sahutnya.

„Inilah yang biasa disebut Kim Giok Coa (Ular Pualam Emas), seekor ular yang langka sekali. Usia ular ini mungkin telah mencapai seribu tahun, karena ukurannya yang besar dan juga telah hidup cukup panjang. Maka dengan menghirup darah ular iai, berarti Hongyaa telah menerima keberuntungan yang tidak kecil.

Binatang ini sangat jarang sekali bisa dijumpai, karena didalam dunia mungkin hanya ada dua atau tiga ekor saja, itupun ditempat2 yang sulit dicapai oleh manusia. ...!

Biasanya jika seekor ular Kim Giok Coa ini berhasil dibinasakan dan darahnya dihirup oleh seorang manusia, walaupun Kim Giok Coa yang berusia dua atau tiga tahun akan menyebabkan orang itu panjang umur dan selalu sehat !

Hebat tidak?

Nah, sekarang Toan Hongya telah meminum darah ular yang mungkin berusia sampai seribu tahun ini. . . .!"

„Dari mana Hek Wan Locianpwe mengetahui bahwa ular itu adalah Kim Giok Coa?" tanya Toan Hongya.

„Apakah Hongya tidak memperhatikan tanduknya itu? Inilah tanduk yang mujijat sekali. Dan hanya Kim Giok Coa saja yang memiliki tanduk seperti itu pada kepalanya."

„Lalu, ., apakah aku bisa disembuhkan dari penyakit yang aneh ini ?"

Hek Wan mengangguk.

,,Pasti bisa! Seharusnya waktu Hongya meminum darahnya dan berhasil membinasakan ular ini, direndam dalam arak selama tiga hari, kemudian arak itu diminum, sehingga panas yang akan dipancarkan oleh darah ular itu bisa menurun, tetapi tidak mengurangi khasiat dari darah ular itu sendiri...........!"

„Hemm......., jika demikian tentu aku akan tertolong, Locianpwe.....?" tanya Hongya.

„Ya......!" menyahuti Hek Wan.

Kemudian Hek Wan bekerja dengan cepat, ia telah meminta sebilah pisau.

Toan Liang yang mendengar hal itu juga jadi girang.

la telah membawa sebilah pedang, dan diberikan kepada Hek Wan.

Sambil memotong tanduk ular itu, Hek Wan terus juga memberikan keterangannya „Daging ular inipun jika diolah, akan menjadi mustika yang besar artinya, karena setiap orang yang bisa memakan sepotong daging ular yang telah diramu oleh obat2 tertentu, akan bisa tambah usia sampai beberapa tahun dari usia, yang sebenarnya, disamping tubuh akan men jadi kuat.........!".

Toan Hongya mendengarkan terus dengan penuh perhatian, sedangkan Hek Wan yang telah selesai memotong tanduk ular itu meminta secawan arak.

Kemudian dalam arak itu dimasukkan sepotong tanduk yang dipotong oleh Hek Wan.

„Biarkan tanduk ini direndam selama tiga hari, dan nanti Hongya meminumnya.

Penyakit mu akan lenyap, tapi akan mengalami kegatalan yang hebat.

Namun itu tidak apa2, hal ini di sebabkan keterlambatan Hongya menerima petunjuk ..........."

Toan Hongya tersenyum, katanya dengan sabar : „Syukur ada Locianpwe yang telah memberikan petunjuk sehingga aku tidak sampai harus tersiksa oleh penyakitku ini !"

Selama tiga hari Toan Hongya diberikan arak yaag direndam tanduk ular itu.

Setelah meminum arak itu, Hek Wan meminta Toan Hongya merebahkan tubuhnya dipembaringan untuk tidur.

„Sebentar lagi racun ular itu akan bekerja .......... dan jangan Hongya kaget jika mengalami sesuatu .......... !" kata Hek Wan.

Hongya dari Tailie itu hanya mengangguk saja, ia telah mempercayai sepenuhnya keselamatan jiwanya pada Hek Wan.

Sedangkan Toan Liang telah menerima perintah dari Hek Wan, untuk memotong-motong daging ular itu. Kemudian Hek Wan hekerja meramu obat2an yang lalu dicampur dengan daging ular itu.

„Kalian masak daging ular ini, dan kemudian bagi2kan pada kerabat istana, sehingga mereka akan kuat dan sehat ..........!"

Toan Liang mengiyakan dan perintahkan juru masak istana untuk mengolah daging ular itu.

Karena ular itu sangat besar, maka daging nya juga sangat banyak.

Lebihnya telah diberikan kepada penduduk ibu kota, seorangnya mencicipi sepotong.

Perihal ular ajaib itu jadi tersebar luas dan menjadi pembicaraan orang2 diibu kota Takie tersebut.

Setelah memberikan petunjuk2 kepada Toan Liang bagaimana mengolah daging ular itu Hek Wan kemudian menguruti sekujur tubuh Toan Hongya.

Cara mengurut yang dilakukan Hek Wan bukan sembarangan urut.

Karena Hek Wan telah mengurut bagian jalan terpenting ditubuh kaisar itu.

Setiap jalan darah yang diurutnya jadi terbuka dan bisa dialiri darah yang mengandung kemujijatan tanduk ular itu.

Tetapi waktu Hek Wan mengurut tubuhnya, Hongya itu merasakan sekujur tubuhnya gatal2.

Perasaan gatal itu benar-benar menyiksa•nya, sampai Hopgya sering mengeluh.

Namun sejauh itu Kaisar yang tabah dan gagah ini bertahan terus.

Hek Wan masih terus menguruti sekujur tubuh Hongya, dan akhirnya selesai setelah ia mengurut sampai dikepala.

Tetapi waktu itu Toan Hongya sudah tidak bisa bertahan dari perasaan gatal yang berkeremitan disekujur badannya, ia telah bangun dan duduk menggaruk kesana kemari sekujur tubuhnya,

Hek Wan tidak mencegah, ia hanya bantu menggaruki tubuh Toan Hongya.

Dengan cara menggaruk seperti itu, jalan daran disekujur tubuh Toan Hongya tambah terbuka, sehingga darah lebih leluasa menyelusuri seluruh jalan darah terkecil ditubuh raja ini.

Sedangkan Toan Hongya sendiri semakin lama merasakan peracaan gatal itu semakin hebat menyerang dirinya, sehingga raja ini jadi sibuk sekali menggaruk kesana kemari, dan akhirnya raja ini tidak hentinya me-Iompat2 karena menderita kegatalan yang luar biasa.

Kulit tubuhnya juga telah berobah merah, jika sebelumnya hanya titik-titik merah, yang memenuhi sekujur tubuhnya, kini titik2 merah itu telah merata, sehingga yang tampak hanyalah kulit sekujur tubuh Toan Hongya jadi merah, hanya pada bagian muka tidak terlihat warna merah itu, karena memang bagian muka tak terdapat titik2 tersebut.

Toan Liang dan orang2 istana jadi bingung dan kuatir.

Tetapi Hek Wak menenangkan mereka, dan Hek Wan juga telah menjelaskan, hal itu tidak apa2, hanya akan berlangsung sampai dua hari.

Justru yang sangat tersiksa sekali adalah Toan Hongya

Sebetulnya Hek Wan bisa saja membantu mengurangi penderitaan raja ini, yaitu dengan menotok tidur raja tersebut.

Namun karena Hek Wan mengetahui benar bahwa dengan gatal2 seperti itu justru darah beracun dari ular yang telah dihirup oleh Toan Hongya harus disalurkan.

Maka jika Toan Hongya ditotok tidur, memang perasaan gatal itu tak akan membuat Toan Hongya tersiksa seperti sekarang ini, namun peredaran darahnya bisa menjadi lambat dan kemungkinan bisa mencelakai raja ini.

Maka Hek Wan menjelaskan kepada Toan Liang, walaupun Toan Hongya menderita gatal2 seperti itu, tidak akan mengganggu kesehatan dan keselamataa dirinya.

Maka sehari penuh Toan Nongya garuk sana dan garuk sini disekujur tubuhnya.

la melihat sekujur kulit ditubuhnya semakin berwarna merah, malah lama kelamaan berubah jadi kehitam-hitaman.

Sedangkan Hek Wan selalu mendampinginya.

Dan ketika Toan Hongya sudah tidak bisa bertahan dari perasaan gatalnya itu, raja ini ber-teriak2 sambil meng-garuk2 lebih kuat.

Sedangkan Hek Wan juga bantu menggaruki.

Toan Liang dan beberapa orang kerabat istana lainnya juga ikut menggaruki tubuh raja mereka, perasaan gatal yang menyiksa itu masih terus berlangsung, sampai akhirnya Toan Hongya tidak merasakan garukan dari orang-orang itu, ia hanya marasa gatal yang bukan main.

Sambil mengeluarkan keluhan2 dan jeritan2 kecil, Toan Hongya telah bergulingan.

Hek Wan menenangkan kepada orang-orang yang mulai panik.

Sedangkan Toan Liang dengan muka masam telah berkata pada Hek Wan :

„Bagaimana jika Hongya kami ini bercelaka akibat meminum arak yang telah direndam tanduk ular itu ? Bukankah ular itu sangat beracun ?"

Tetapi Hek Wan sangat tenang.

„Jangan kuatir, percayalah tidak akan terjadi suatu apapun yang tidak diinginkan didiri Hongya..........!" kata Hek Wan.

Melihat sikap Hek Wan yang bersungguh-sungguh seperti itu, orang-orang istana jadi agak tenang.

Tetapi yang tersiksa benar adalah Toan Hongya, karena disekujur tubuhnya menderita kegatalan yang semakin lama jadi semakin hebat.

Setelah sehari penuh bergulingan karena ke gatalan, akhirnya Toan Hongya pingsan.

„Biarkan Iebih baik ia pingsan begitu, sehingga tldak terlalu tersiksa oleh perasaan gatalnya.

Dan kegatalan itu masih akan berlangsung satu hari lagi...........selewatnya itu, keadaan Hongya akan biasa lagi, malah Hongya akan menjadi manusia yang beruntung sekali...........!"

---oo0oo---

SAMBIL menenangkan kepanikan orang istana, Hek Wan juga telah menguruti tubuh Toan Hongya.

Karena dalam keadaan pingsan seperti itu jalan darah ditubuh Toan Hongya akan beredar lambat, dan itu tidak boleh.

Maka Hek Wan mengurut membantu peredar darahnya ......., walaupun tidak bisa selancar beredarnya darah itu jika Toan Hongya dalam keadaan sadar, se-tidak2nya peredaran darah itu cukup baik jika diurut.

Setelah lewat lagi beberapa saat, Toan Hongya kembali tersadar dari pingsannya, ia kembaIi meng-garuk2 kesana kemari.

„Gatal sekali........! Gatal.......!" teriak Toan Hong ya berulang kali.

Sedangkan Hek Wan ikut bantu mengurut dan menggaruk, Toan Hongya telah bergulingan lagi ditanah akibat tidak tertahannya perasaan gatal itu.

Setelah lewat sejenak lamanya, Toan Hong ya kembali pingsan.

Di-saat2 seperti-itu, semua orang istana jadi berdiam diri dicekam oleh kekuatiran.

Lebih2 mereka melihat kulit disekujur tubuh Toan Hongya selain mukanya saja, telah berobah warnanya menjadi kehitam-hitaman.

Keadaan seperti ini tentu saja membuat Toan Liang lebih berkuatir.

„Jika kulit itu menjadi hitam, berarti Toan Hongya telah keracunan ...!'', pikir panglima ini.

Maka ia berkata dengan tidak senang pada Hek Wan: „Jika dilihat demikian Hongya kami telah keracunan kembali. ..!"

Hek Wan berusaha menjelaskan, tapi Toan Liang tetap dengan pendiriannya.

Maka tanpa memperdulikan nasehat Hek Wan agar Toan Liang tidak mengijinkan para tabib istana memasuki kamar Hongya, Toan Liang telah perintahkan pengawal memanggil beberapa orang tabib istana.

Kemudian tabib2 itu memeriksa tubuh Hongya, dan mereka memperhatikan wajah yang berkuatir sekali.

Setelah memeriksa dengan teliti, para tabib itu mengatakan bahwa Hongya mereka memang keracunan hebat.

Muka Toan Liang jadi merah padam.

„Tangkap orang itu!" bentaknya pada para pengawalnya.

Segera beberapa orang pengawal menangkap Hek Wan, yang dibawa kesebuah kamar tahanan.

„Jika memang besok keadaan Hongya tidak lebih baik dari keadaan sekarang, maka kepala mu harus berpisah dari batang leher... !" ancam Toan Liang.

Sedangkan Hek Wan tenang saja, ia tersenyum sambil katanya :

„Toan Tai jin engkau tidak perlu gugup begitu, percayalah Toan Hongya tidak mengalami ancaman bahaya apapun juga .......!"

Tetapi Toan Liang tidak mau mempercayai nya.

Waktu berjalan terus, dan sehari lagi telah lewat.

Benar saja apa yang dikatakan oleh Hek Wan, Toan Hongya sudah tidak menderita kegatalan lagi.

Namun kulit disekujur tubuhnya itu seperti bersisik, seperti pecah2 menjadi pecahan sisik yang terbuat dari tembaga.

Keadaan tubuh Toan Hongya seperti itu telah menggemparkan orang2 istana.

Malah waktu Toan Liang yang menerima laporan tersebut dan cepat2 datang kekamar rajanya, telah menekan sisik-sisik itu, keras seperti baja.

Diam-diam Toan Liang jadi heran dan benar-benar tidak percaya apa yang dilihatnya.

Hanya muka Toan Hongya yaag tidak bersisik, tetapi selebih dari bagian muka, sekujur tubuhnya telah bersisik.

Tentu sa ja keadaan ini membuat semua jadi heran dan tidak mengerti.

Begitu juga para tabib istana tidak mengerti mengapa tubuh raja mereka bisa bersisik seperti terjadi didalam dongeng belaka.

Cepat2 Toan Liang memanggil Hek Wan, yang dibebaskan dari kamar tahanannya.

Ketika Hek Wan datang dikamar peraduan Toan Hongya dan melihat sisik2 disekujur tubuh Toan Hongya, ia jadi tersenyum.

„Sudah kuduga sebelumnya........!" katanya.

„Apa yang telah kau duga?"

„Tentunya ular itu berusia seribu tahun lebih....... !" sahut Hek Wan.

„Mengapa begitu ?"

„Karena hanya Kim Giok Coa yang berusia ribuan tahun-saja yang bisa memberikan sisik pada orang yang meminum darahnya, karena darah ular itu benar2 telah mengandung mujijat yang hebat.... !"

„Tetapi mana mungkin, seorang manusia harus bersisik seperti itu. . .?" kata Toan Liang dengan hati yang bingung.

Tetapi Hek Wan malah tersenyum.

„Sisik-sisik itu bukan sisik sembarangan" katanya.

„Sisik bagaimana?" tanya Toan Liang dalam kebingungannya itu.

„Sisik itu sangat ampuh, sehingga untuk selanjutnya Toan Hongya seperti memakai pakaian besi saja, tidak akan dapat dilukai oleh senjata tajam karena lindungan sisik itu, disamping itu tenaganya akan menjadi puluhan kali lipat lebih besar dari tenaganya yang semula.......... !"

Mendengar keterangan Hek Wan, Toan Liang tidak mau mempercayainya.

Hek Wan telah menghampiri pembaringan ia melihat Toan Hongya masih dalam keadaan pingsan diperaduannya.

Dengan tenang Hek Wan mengulurkan tangannya, ia mengurut beberapa bagian tubuh Toan Hongya.

Tidak lama kemudian Toan Hongya tersadar dari pingsannya akibat urutan itu.

Begilu membuka matanya, Toan Hongya segera melompat duduk, gerakannya gesit, berbeda dengan beberapa hari yang lalu ketika menderita sakitnya, yang selalu bergerak lemah sekali.

„Mana Hek Wan Locianpwe ?" tanya Toan Hongya begitu ia duduk.

„Aku berada disini, Hongya........ !" menyahuti Hek Wan cepat.

54-55

„Hek Wan Locianpwe, terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan oleh Locianpwe........!" kata Toan Hongya

Hek Wan tersenyum.

„Aku memberikan pertolongan karena memang didiri Hongya terdapat mustika yang sangat berharga sekali.....!"

Waktu itu Toan Hongya telah menunduk, ia melihat sisik-sisik yang terdapat dttubuhnya,

Muka Toan Hongya jadi berobah dan ia mengeluarkan seruan tertahan, sambil mengusap dan berusaha mencabut salah satu sisik yang terdapat ditubuhnya.

Totapi ia tidak berhasil, sisik itu seperti telah menjadi satu dengan kulit tubuhnya.

„Ihhhhh......, mengapa tubuhku jadi bersisik seperti ini ?" tanyanya.

Hek Wan memberikan keterangan.

Toan Hongya telah menyedot napas dalam-dalam, dan ia merasakan tubuhnya jadi segar sekali.

Begitu juga Toan Hongya telah menyalurkan tenaga sinkangnya pada perutrya, ia- bisa memutar bola api yang berada didalam perutnya.

„Tetapi Hek Wan Locianpwe........bola api itu belum juga lenyap dari perutku", katanya.

„Bola api itu tidak akan lenyap........!" menjelaskan Hek Wan.

„Kalau begitu...........kalau begitu...........!"

Melihat Toan Hongya gugup, Hek Wan tersenyum.

„Hongya tidak perlu bingung, bola api itu merupakan sebuah mustika yang tidak akan dimiliki orang sembarangan, itu merupakan sumber dari tenaga sinkang yang luar biasa hebatnya.........maka jika bola api itu memperoleh peraswatan yang baik dengan cara yang benar, tentu Hongya akan memiliki sinkang yang luar biasa

Toan Hongya jadi girang, ia telah berkata lagi : „Kalau begitu...kalau begitu...aku akan bisa melatih bola api itu dengan sinkang, yang kumiliki...........!"

„Ya, bola api itu harus dilatih terus, sampai bisa memberikan hawa murni pada Toan hongya.......dan jika memang Hongya berhasil melatih diri dengan sempurna, tentu bola api itu merupakan sumber kekuatan yang hebat namun bisa dikendalikan oleh Hongya........!".

Toan Hongya tidak mengatakan apa2 lagi, ia hanya melompat turun dari pembaringannya

dan tanpa memperdulikan orang-orang istana yang banyak berkumpul pada saat itu, Toan Hongya telah menggerakkan sepasang tangan dan kakinya, ia mulai bersilat.

Cepat dan bertenaga sekali gerakan raja ini, dimana setiap tangannya bergerak, mendatangkan angin yang berkesiuran sangat kuat sekali.

Hek Wan hanya menyaksikan sambil tersenyum.

Disaat itu, setelah berbenti menggerakkan kedua tangan dan kakinya, Toan Hongya tiba2 menjatuhkan diri berlutut dihadapan Hek Wan.

„Hek Wan Locianpwe..........engkau telah menologg selembar jiwaku dari kematian, maka sekarang Locianpwe telah menghadiahkan kemujijatan seperti ini yang demikian hebat khasiatnya terima kasih Hek Wan Locianpwe maka jika memang Hek Wan Locianpwe tidak keberatan, aku ingin mengundang Locianpwe, untuk menetap diistana saja, dan kalau Locianpwe tidak mentertawai aku, aku ingin sekali mengangkat guru padamu siorang tua yang sakti..........!"

Hek Wan cepat-cepat mengangkat bangun raja itu, yang dimintanya untuk duduk ditepi pembaringan.

Sedangkan Toan Liang yang menyaksikan semua ini, jadi ter-sipu2 menghampiri Hek Wan.

„Maafkan Aku, Locianpwe........ !" kata Toan Liang sambil menjura.

Hek Wan tertawa.

„Itu hanya kesalahan paham belaka......... dengan demikian malah kalian telah memperlihatkan cinta yang besar dan mulia kepada raja kalian...........!"

Toan Hongya bingung melihat keadaan ini ia menanyakan apa yang terjadi.

Toan Liang cepat2 menceritakannya, dan. Toan Hongya tidak menegur.

Mereka hanya tertawa, kini mereka bisa bergembira, karena menyaksikan raja mereka telah sembuh dari sakitnya.

Malah sekarang tampaknya Toan Hongya demikian gagah dan perkasa, dengan kemujijatan yang telah dimilikinya dari darah ular Kim Giok Coa itu.... ?"

Toan Hongya menoleh kepada Hek Wan, tanyanya-lagi : „Bagaimana Locianpwe apakah locianpwe bersedia untuk menerima aku menjadi muridmu........?"

Hek Wan tidak segera menyahuti, ia seperti berpikir dulu beberapa saat lamanya, tetapi akhirnya ia menghela napas sambil katanya: „Rupa nya, memang kita telah berjodoh untuk menjadi murid dan guru......! Baiklah, permintaanmu itu kuterima Hongya......!"

Bukan main gembiranya Toan Hongya, berulang kali ia menyatakan terima kasihnya.

Disaat itu, pihak istana menyelenggarakan sebuah pesta, untuk merayakan kesembuhan raja mereka.

Rakyat negeri Tailie Juga mengadakan pesta, semua orang merasa gembira raja mereka telah sembuh dari sakitnya, malah sekarang menjadi manusia yang luar biasa, dengan memiliki sisik mujijat......!

---oo0oo---

0 Response to "Hoa San Lun Kiam (Pendahuluan Trilogi Rajawali) BAGIAN 25: ULAR PUALAM EMAS (KIM GIOK COA)"

Post a Comment