Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 33

Mode Malam
Sepasang mata Dewi Muntari kemerahan dan ia menahan tangisnya ketika mereka bertiga memasuki kota raja. Karena dandanannya, tidak ada orang yang mengenal puteri raja ini. Dewi Muntari merasa amat terharu melihat kota raja. Telah bertahun-tahun kota raja ditinggalkannya. Semenjak meninggalkan kota raja untuk bertamasya ke pegunungan Anjasmoro bersama suaminya, ia tidak pernah lagi kembali, sampai delapan tahun lebih. Dan kini ia kembali tanpa suaminya yang tewas dibunuh orang.

“Kita langsung saja ke istana. Aku harus lebih dulu menghadap Kanjeng Rama Prabu untuk menceritakan tentang kepergianku selama ini.” kata Dewi Muntari kepada Niken Sasi dan Budhidarma. Mereka lalu menuju ke alun-alun di depan istana.

Sementara itu, kedatangan mereka sejak di pintu gapuro sudah diketahui orang. Panjiluwih sudah memasang banyak mata-mata dan begitu dia mengetahui akan kedatangan tiga orang ini, dia terkejut dan cepat memberitahu kepada Senopati Lembudigdo.

“Pemuda yang merampas Tilam Upih berada di kota raja. Cepat tangkap. Dia datang bersama kakang-mbok Dewi Muntari dan Niken Sasi yang sudah bertahun-tahun minggat dari istana!”

Mendengar ini, Senopati Lembudigdo terkejut juga. Jangan-jangan mereka mempunyai niat jahat terhadap Sang Prabu. Maka, senopati yang setia ini lalu mengerahkan perajurit dan menghadang di alun-alun. Begitu mereka bertiga muncul, Lembudigdo sudah memapakinya bersama pasukannya.

“Kakang Senopati Lembudigdo!” kata Dewi Muntari. “Tidak kenalkah andika dengan aku? Aku Dewi Muntari, ingin menghadap Kanjeng Rama Prabu. Harap memberi jalan.”

Lembudigdo memberi hormat. “Harap paduka memaafkan saya. Akan tetapi karena sudah bertahun-tahun paduka meninggalkan istana dan kini kembali bersama pemuda ini, terpaksa saya menahan paduka. Bukankah pemuda ini yang bernama Budhidharma dan yang telah merampas Tilam Upih dari Adipati Nusa Kambangan?”

Budhidharma menjawab, “Benar, sayalah Budhidharma.”

“Kalau begitu serahkan dulu Tilam Upih kepada kami kemudian andika sekalian akan saya hadapkan kepada Gusti Prabu.”

“Tidak dapat saya menghaturkan Tilam Upih, karena yang saya terima dari Adipati Nusa Kambangan hanyalah Tilam Upih palsu.” kata Budhidharma.

Tentu saja Senopati Lembudigdo tidak mau menerima begitu saja keterangan Budhi.

“Kalau begitu, terpaksa andika bertiga kami tawan dan kami hadapkan kepada Gusti Prabu!”

Niken Sasi sudah bertolak pinggang dengan marah.

“Coba tawan kami kalau dapat!” serunya sambil memasang kuda-kuda untuk mengamuk. Akan tetapi Dewi Muntari membentak puterinya.

“Niken,diam kau!” Lalu ia menghadapi Lembudigdo dan berkata dengan lembut,

“Kakang Senopati Lembudigdo, kalau kami hendak dihadapkan kepada Kanjeng Rama Prabu, silakan!”

Dengan sikap hormat namun waspada, Senopati Lembudigdo lalu mengirim laporan ke dalam untuk minta menghadap Sang Prabu Jayabaya karena keperluan yang amat penting mengenai keris pusaka Kyai Tilam Upih. Dia sudah melapor kepada Sang Prabu Jayabaya bahwa menurut keterangan Adipati Nusa Kambangan, Kyai Tilam Upih telah diserahkan kepada Budhidharma.

Sang Prabu menerima permohonannya dan sudah siap menerima mereka di balai persidangan. Kebetulan pada saat itu dia sedang menerima Pangeran Sepuh Wijayanto menasihatkan Sang Prabu Jayabaya agar mengutus para senopati mencari dan menangkap pemuda bernama Budhidharma itu yang telah memiliki keris pusaka Tilam Upih.

Ketika menerima laporan dari pengawal bahwa Senopati Lembudigdo mohon menghadap sambil membawa tawanan tiga orang, yaitu seorang pemuda bernama Budhidarma bersama puterinya, Dewi Muntari dan cucunya, Niken Sasi, Sang Prabu Jayabaya mengerutkan alisnya dan cepat memerintahkan agar Senopati itu membawa para tawanan masuk.

Begitu tawanan itu digiring masuk Dewi Muntari sudah maju berlutut di depan ayahnya, demikian pula Niken Sasi sedangkan Budhidarma juga berlutut dan menyembah dari jarak agak jauh karena dia dilarang mendekat oleh senopati Lembudigdo yang mencurigainya.

Sang Prabu Jayabaya mengerutkan alisnya memandang kepada puterinya.

“Hemm, nini Dewi Muntari. Engkaukah ini? Ke mana saja engkau selama bertahun-tahun ini, bersama puterimu? Dan di mana pula suamimu? Kenapa tidak ada berita sama sekali yang kausampaikan kepada kami?” teguran ini mengandung kemarahan. “Dan kini engkau datang bersama pemuda yang kabarnya telah menguasai Tilam Upih!”

Tanpa menanti jawaban Sang Prabu sudah menegur Budhidharma.

“Heh, pemuda, benarkah engkau yang bernama Budhidarma dan engkau sudah mendapatkan Tilam Upih? Kenapa tidak engkau haturkan kepada kami?”

“Hamba hanya mendapatkan yang palsu, Kanjeng Gusti. Maka tidak dapat hamba haturkan kepada paduka.” jawab Budhidharma.

Pada saat itu, Pangeran Sepuh Wijayanto cepat berkata. “Adimas Prabu, demi nama baik keluarga, saya mohon agar Dewi Muntari jangan dulu diperiksa dan diadili di depan banyak ponggawa. Kalau paduka berkenan, biarlah saya yang akan menanyai mereka, demikian pula dengan pemuda bernama Budhidharma ini. Perkenankan saya yang memeriksanya di rumah saya. Kalau memang mereka tidak bersalah, seyogianya diampuni. Akan tetapi kalau memang bersalah, tentu saja keputusan hukumannya berada di tangan paduka. Dengan demikian, maka tidak ada orang lain menyaksikan pemeriksaan saya demi menjaga nama baik keluarga sendiri.”

Sang Prabu Jayabaya mengerutkan alisnya, sinar matanya yang tajam itu sejenak memandang kepada Dewi Muntari dan Niken Sasi, lalu kepada Budhidharma. Sesudah itu dia memandang kepada Pangeran Sepuh Wijayanto, mengangguk-angguk sambil tersenyum dan berkata.

“Baik sekali, kakangmas pangeran. Biarlah kuserahkan mereka kepada kakangmas untuk memeriksa mereka sampai tuntas.”

Wajah Pangeran Sepuh menjadi gembira dan cepat dia memerintahkan Senopati Lembudigdo untuk membawa tiga tawanan itu ke rumahnya. Gedung tempat tinggal pangeran ini tidak jauh dari istana karena masih ternasuk daerah istana, dan tiga orang tawanan itu dibawa pergi dari depan Sang Prabu Jayabaya.

Ketika hendak dibawa pergi, Dewi Muntari menyembah kaki ramandanya dan memandang dengan penuh harapan seolah membayangkan kegelisahan dan Sang Prabu Jayabaya berkata lirih,

“Pergilah, nini Dewi dan beri keterangan yang sebenarnya kepada paman tuamu.”

Akan tetapi tetap saja jantung Dewi Muntari berdebar penuh ketegangan ketika ia dan puterinya, juga Budhidharma di bawa pergi ke gedung tempat tinggal Pangeran Sepuh Wijayanto.

Di gedung itu, mereka dibawa masuk ke ruangan yang paling dalam, kemudian Pangeran Sepuh menyuruh Lembudigdo mengundurkan diri bersama anak buahnya.

“Ini pemeriksaan antara keluarga, tidak boleh ada orang luar ikut mendengarkan.” kilahnya dan tentu saja Lembudigdo tidak berani membantah dan dia pun segera keluar dari gedung itu.

Ternyata ruangan pemeriksaan itu dijaga ketat, dikepung oleh perajurit-perajurit pengawal Sang Pangeran Sepuh sendiri, dan setelah tiga orang tawanan itu memasuki ruangan, mereka melihat bahwa Pangeran Panjiluwih dan juga Gajahpuro telah berada di ruangan itu. Pangeran Panjiluwih tersenyum menyambut mereka dan berkata kepada Dewi Muntari dengan suara mengejek,

“Ah, Kakang Mbok Dewi, akhirnya andika menjadi tawanan juga. Sudah sepatutnya karena andika membantu para pemberontak Gagak Seto!”

“Gagak Seto bukan pemberontak!” Niken Sasi membentak marah mendengar tuduhan itu.

“Adimas Pangeran Panjiluwih, Paman Pangeran Sepuh akan mendengar penjelasan kami dan akan mengetahui siapa yang melakukan kejahatan dalam semua peristiwa ini!” kata Dewi Muntari.

“Diam semua!” tiba-tiba Pangeran Sepuh membentak. “Ini merupakan persidangan dan pemeriksaan, yang tidak ditanya tidak boleh bicara!”

Pangeran Sepuh Wijayanto duduk di atas kursi dan dia membiarkan Dewi Muntari, Niken Sasi, dan juga Budhidharma bersimpuh di bawah seperti tiga orang pesakitan. Padahal, Dewi Muntari adalah keponakannya, puteri Sang Prabu, yang derajatnya sebetulnya tidak di bawah tingkatnya!

“Pertama kami akan memeriksa Dewi Muntari. Andika adalah puteri raja, akan tetapi andika telah melakukan dosa besar, minggat dari istana bersama suami dan anak sampai bertahun-tahun tidak pulang, juga tidak ada beritanya. Kenapa? Jawab!”

“Paman Pangeran, ketika itu kami sekeluarga sedang bertamasya ke pegunungan Anjasmoro, akan tetapi kami di serang perampok dan suami saya dibunuh. Saya sendiri akan dibunuh kalau tidak ditolong oleh seorang sakti dan menurut pimpinan perampok, yang mengutus mereka melakukan pembunuhan adalah ...........”

“Cukup! Tidak ada artinya semua itu! Kalau memang kalian dirampok, dan andika masih hidup, kenapa selama delapan tahun tidak kembali ke istana dan melapor? Bahkan kini tahu-tahu pulang bersama pemuda yang telah menguasai Tilam Upih dan tidak mau menyerahkan pusaka itu! Tidak perlu banyak membantah karena ada saksinya di sini.”

“Saya menjadi saksinya betapa Kakang Mbok Dewi Muntari telah bersekongkol dengan kami dan pasukan pengawal.” kata Pangeran Pnjiluwih.

’Nah, sudah jelas sekali itu.”

“Bukan itu saja, Kanjeng Paman. Kakang Mbok Dewi malah menuduh saya menyuruh orang-orang melakukan pembunuhan terhadap suaminya.”

“Hah, fitnah keji sekali. Apa yang dapat kaukatakan sekarang untuk menyangkal semua itu, Dewi Muntari?”

Dengan muka merah Dewi Muntari berkata,”Hemm, agaknya semua telah diatur! Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi, hanya percaya akan kebijaksanaan Kanjeng Rama yang tentu akan memberi keputusan seadil-adilnya!”

“Sekarang Niken Sasi. Benarkah apa yang diceritakan ibumu tadi?”

“Semuanya benar, Kanjeng Eyang. Kami diserang orang-orang jahat dan kanjeng rama terbunuh. Saya sendiri terpisah dari kanjeng ibu dan baru-baru ini saja kami saling bertemu kembali.”

“Hemm, aneh! Kalau andika selamat mengapa selama bertahun-tahun bersembunyi dan tidak pulang ke istana? Kemana saja selama ini andika bersembunyi?”

Saya tidak bersembunyi, Kanjeng Eyang, melainkan ditolong oleh Ki Sudibyo ketua Gagak Seto dan dijadikan muridnya.”

“Gajahpuro menjadi saksi tentang keberadaanmu di perkumpulan pemberontak Gagak Seto. Gajahpuro ceritakan kesaksianmu!”

Gajahpuro menyembah. “Sesungguhnyalah, diajeng Niken menjadi murid Ki Sudibyo, murid terkasih bahkan dicalonkan menjadi ketua Gagak Seto!”

“Nah, semua sudah jelas. Andika dan ibu andika telah membantu Gagak Seto yang hendak memberontak, bukan?”

“Gagak Seto adalah sebuah perkumpulan orang gagah, sama sekali bukan pemberontak biarpun pernah diselewengkan oleh mendiang Klabangkoro dan Mayangmurko!” kata Niken dengan suara lantang.

“Dosamu juga telah jelas, Niken Sasi. Andika bersama ibumu minggat dari istana, bertahun-tahun tidak pulang dan hendak menyusun kekuatan di perkampungan Gagak Seto untuk memberontak. Sekarang giliran Budhidharma. Orang muda, andika yang bernama Budhidharma?”




“Benar, Kanjeng Pangeran.” jawab Budhi dengan tenang.

“Engkau sudah mendapatkan Tilam Upih, agaknya akan kaupergunakan sendiri, tidak ingin engkau menyerahkannya kepada Sang Prabu. Engkau bahkan menyeret Dewi Muntari dan Niken Sasi untuk bersekutu dengan pemberontak Gagak Seto. Hayo, mengakulah dan kembalikan Tilam Upih kepada kami!”

“Pangeran, apa gunanya semua pemeriksaan ini? Kami semua sudah mengetahui dengan jelas siapa sebenarnya paduka! Padukalah pemimpin persekutuan antara Jambuko Sakti dan Gagak Seto yang dipimpin Klabangkoro, andika yang mengutus orang-orang Jambuko Sakti untuk membunuh suami Dewi Muntari. Andika juga yang mencuri Tilam Upih yang asli dan menukarnya dengan yang palsu. Andikalah yang disebut-sebut Kanjeng Gusti. Kami bertiga telah dapat menduganya!” kata Budidharma dengan lantang.

“Benar semua itu!” teriak Niken Sasi. “Kami mengerti mengapa paduka melakukan semua ini,. Tentu untuk menyusun pemberontakan terhadap Kanjeng Eyang Prabu. Paduka menyingkirkan orang-orang yang dapat menjadi penghalang bagi paduka!”

Mendengar tuduhan ini, Pangeran Sepuh Wijayanto bahkan tertawa bergelak.

“Haha-ha, tentu saja aku ini Kanjeng Gusti bagi semua bawahanku. Kalian mengada-ada saja. Dosa kalian sudah jelas dan kalian bertiga layak menerima hukuman mati!”

Mendengar ini, tiga orang itu meloncat berdiri dan memasang kuda-kuda, bahkan Niken Sasi menghunus keris Megantoro pemberian gurunya.

“Kanjeng Paman tidak berhak mengadili kami, yang berhak mengadili hanyalah Kanjeng Rama Prabu. Kanjeng Paman hanyalah bertugas memeriksa dan menanyai kami saja!” kata Dewi Muntari marah. “Kalau hendak menjatuhi hukuman kami patuh menerima hukuman dari Kanjeng Rama Prabu, akan tetapi kalau Kanjeng Paman yang menghukum kami, kami akan melawan!”

“Ha-ha-ha-ha!” Pangeran Sepuh yang usianya sudah enampuluh tahun itu tertawa bergelak. “Tempat ini sudah terkepung ketat! Kalian bertiga tidak akan mungkin dapat melarikan diri. Akan tetapi aku memberi kesempatan kepada kalian untuk melakukan perlawanan. Hayo, siapa yang berani maju?”

“Paduka hendak mengandalkan pasukan untuk mengeroyok, sungguh licik dan curang!” kata Dewi Muntari marah.

“Ha-ha-ha,kalian ini kanak-kanak yang besar mulut. Untuk menghadapi kalian saja, perlu apa menggunakan pasukan? Hayo, siapa berani majulah!”

“Aku yang akan maju!” bentak Niken Sasi sambil melompat ke depan. “Baik satu lawan satu ataupun dikeroyok aku tidak akan mundur!”

“Kanjeng Gusti Pangeran, perkenankan saya untuk menghadapi diajeng Niken.” Kata Gajagpuro kepada Pangeran Sepuh. Sang Pangeran yang sudah tahu akan kesaktian pemuda itu tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Niken Sasi, bocah sombong. Gajahpuro itulah itulah lawanmu, engkau belum pantas untuk melawan aku, ha-ha-ha!”

Gajahpuro sudah maju dan bersiap melawan Niken Sasi. Mereka berdiri saling berhadapan dan Gajahpuro berkata dengan sikap lembut,

“Diajeng Niken, harap andika menyerah saja dan aku yang akan mintakan ampun untukmu kepada Kanjeng Gusti Pangeran Sepuh.”

Niken Sasi memandang pemuda itu dengan alis berkerut. Ia tidak mebenci pemuda ini, bahkan ia berterima kasih karena sudah berulang kali Gajahpuro menolongnya, tidak menaati kejahatan ayahnya, Klabangkoro. Akan tetapi ia merasa heran sekali. Tiba-tiba Gajahpuro menyebut diajeng kepadanya dan akan melawannya, bahkan menganjurkan agar ia menyerah saja untuk dimintakan ampun.

“Kakang Gajahpuro, aku heran sekali mengapa tiba-tiba engkau dapat berada di sini dan agaknya menghambakan diri kepada Kanjeng Eyang Pangeran Sepuh. Kakang Gajahpuro, mengingat akan pertalian persaudaraan kita yang lalu kuharap engkau tidak menentangku, bahkan sudah selayaknya kalau engkau membantu aku.”

“Tidak,diajeng. Aku telah menjadi pembantu Kanjeng Gusti Pangeran Sepuh, dan kalau engkau hendak melawan, terpaksa aku akan menghadapimu. Dan ingatlah diajeng, pernah dahulu kaukatakan bahwa engkau hanya akan berjodoh dengan seorang laki-laki yang mampu mengalahkanmu. Nah, sekarang aku akan berusaha untuk menandingi dan mengalahkanmu.”

“Kakang Gajahpuro, engkau tahu aku menguasai Hasta Bajra dan aku tidak ingin membunuhmu. Mundurlah!” kata Niken Sasi sambil menyimpan keris Megantoro yang tadi telah dihunusnya.

“Niken, jangan lemah!” bentak ibunya. “Siapa saja yang menjadi kaki tangan pengkhianat dan hendak melawanmu, lawanlah sekuat tenaga!”

“Nah, kau dengar itu, kakang Gajahpuro? Sekali lagi kuharap engkau suka mundur.” kata Niken Sasi yang bagaimanapun juga masih ingat akan kebaikan pemuda itu.

Kalau Gajahpuro tidak baik kepadanya, dahulu ketika ditangkap oleh Klabangkoro, tentu ia telah diperkosa oleh pemuda ini seperti yang dikehendaki Klabangkoro. Akan tetapi Gajahpuro tidak melakukannya bahkan membebaskannya!

“Marilah, diajeng Niken, kita bertanding dan kita melihat siapa di antara kita yang lebih unggul.” Gajahpuro menantang dan terpaksa Niken Sasi melayaninya. Bahkan gadis itu yang membuka serangan lebih dulu. Akan tetapi Niken Sasi masih tidak tega untuk mengeluarkan Aji Hasta Bajra. Ia mengira bahwa Gajahpuro hanya memiliki ilmu silat Gagak Seto yang biasa saja, dan itupun tingkatnya masih jauh lebih rendah daripada tingkatnya. Maka iapun menyerang dengan ilmu silat yang biasa dipelajari oleh semua anak buah Gagak Seto. Ia memukul dengan kepalan kanannya mengarah dada pemuda itu. Ia merasa yakin bahwa dengan ilmu silat yang sama Gajahpuro dapat menandinginya, akan tetapi akhirnya ia akan dapat memenangkan pertandingan itu. Ia masih menang dalam hal kecepatan dan juga tenaga dalam.

Gajahpuro juga memainkan ilmu silat Gagak Seto, dan dia memutar lengan kirinya menangkis pukulan itu. Niken mengira bahwa tangkisan yang berarti adu tenaga itu tentu akan membuat Gajahpuro terdorong mundur.

“Dukkk.......!” Dua lengan bertemu dan terkejutlah Niken. Dia dapat merasakan hawa panas keluar dari tangkisan itu dan merasa betapa kuatnya tangkisan itu sehingga kalau dia tidak cepat menggeser kakinya, tentu ia telah terhuyung!

Mulailah Niken Sasi merasa penasaran dan ia menyerang lagi dengan lebih hebat. Menyerang dengan ilmu silat Gagak Seto, akan tetapi dengan cepat sekali dan dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat. Dan kembali ia terkejut. Bukan saja pemuda itu mampu mengimbangi kecepatannya, bahkan dalam hal mengadu tenaga sakti, Gajahpuro tidak pernah terdesak olehnya dan setiap kali lengannya bergetar hebat. Sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa pemuda itu dapat bergerak secepat dan sekuat itu.

“Haiiiiiiittt......!” Ia memukul lagi kini dengan tangan kirinya mengarah leher lawan dan kaki kanannya menyusul meluncurkan tendangan kilat ke arah perut. Niken percaya bahwa sekali ini ia pasti akan berhasil karena jurus itu merupakan jurus terampuh dari ilmu silat Gagak Seto dan ia melakukannya dengan cepat dan kuat sekali.

Gajahpuro agaknya maklum akan bahaya serangan ini. Akan tetapi dengan sigapnya dia sudah berhasil mengelak, bahkan membalas dengan tamparan yang tidak kalah beratnya ke arah pundak gadis itu. Niken Sasi terkejut dan cepat menangkis dan kembali ia merasa getaran hawa panas keluar dari tangan pemuda itu, yang membuat ia agak terhuyung.

Niken mulai merasa penasaran dan ia sudah menggeser kakinya maju lagi sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Itulah pertanda bahwa ia telah mengerahkan Aji Hasta Bajra! Akan tetapi gadis itu masih ragu-ragu apakah perlu ia mengeluarkan aji yang hebat itu, yang mungkin akan membahayakan nyawa Gajahpuro. Melihat keraguan gadis itu, Gajahpuro berkata,

“Kalau hendak menggunakan Aji Hasta Bajra, silakan, diajeng Niken. Aku siap menyambutnya!”

Ucapan itu memang lembut, akan tetapi tetap saja merupakan tantangan. Niken tidak ragu lagi dan ia lalu membentak,

“Awas, lihat seranganku!”

Gajahpuro maklum sepenuhnya akan kedahsyatan aji Hasta Bajra itu, maka diam-diam dipun sudah mengerahkan tenaga sakti Ranu Geni yang panas dan menyambut dengan Aji Lahar Sewu. Dua pasang tangan yang mengandung hawa sakti meluncur ke depan dan bertemulah dua kekuatan dahsyat di udara.

“Wuuuuuttt...........dessss.........!!”

Hebat sekali pertemuan antara kedua tenaga itu. Akan tetapi Gajahpuro membatasi tenaganya sehingga dia terdorong ke belakang. Juga Niken terdorong kebelakang dan terhuyung. Melihat ini, Dewi Muntari cepat melompat dan menahan tubuh puterinya agar tidak sampai roboh. Wajah Niken pucat sekali dan tentu saja ia terheran-heran. Bagaimana mungkinGajahpuro mampu menahan pukulan Hasta Bajra, bahkan menandinginya dengan pukulan panas yang tidak kalah hebatnya?

“Bagus Gajahpuro!” Pangeran sepuh memuji jagonya dan tertawa memandang kepada Dewi Muntari. “Dewi Muntari, puterimu telah kalah!”

“Puteriku mungkin kalah, akan tetapi aku belum, Kanjeng Paman!” Dewi Muntari meloncat ke depan.

Akan tetapi Pangeran Sepuh masih menoleh kepada Gajahpuro sambil berkata.

“Engkau majulah sekali lagi, Gajahpuro, mewakili aku. Aku agak segan kalau harus melawan seorang wanita, dan ia masih keponakanku sendiri lagi! Akan tetapi berhati-hatilah dan jangan pandang ringan.”

“Baik, Kanjeng Gusti Pangeran!” kata Gajahpuro sambil maju menghadapi Dewi Muntari.

“Kanjeng Ibu, dia itu putera Klabangkoro!” kata Niken kepada ibunya.

“Ah, begitu? Kalau begitu aku akan membunuhnya. Puteranya tentu sama jahat seperti bapaknya!” kata Dewi Muntari.

“Tidak, ibu. Dia tidak sejahat bapaknya. Dia telah berulang kali membela dan menolongku.” kata Niken Sasi yang tidak dapat melupakan budi pertolongan Gajahpuro.

“Aku bukan putera Klabangkoro!” Gajahpuro berseru dengan penasaran sehingga mengherankan hati Niken Sasi karena tahu benar Niken bahwa pemuda itu memang putera Klabangkoro.

Dewi Muntari sudah maju dan berkata, “Orang muda, bersiaplah untuk menyambut seranganku!”

“Aku sudah siap sejak tadi.” jawab Gajahpuro dengan tenang dan diapun sudah memasang kuda-kuda dan mengarahkan kekuatannya karena dia maklum bahwa wanita ini tentu lebih tangguh daripada Niken.

Dewi Muntari lalu bergerak dengan cepat sekali. Gerakanya seperti burung sikatan saja, cepat dan kuat menyerang dengan tamparan tangannya. Akan tetapi Gajahpuro mampu mengelak dan pemuda inipun membalas dengan tamparan tangannya. Terjadilah perkelahian yang seru. Gajahpuro harus mengerahkan seluruh tenaganya dan diapun menggerakkan kaki tangannya memainkan Aji Lahar Sewu yang ampuh. Akan tetapi sekali ini yang dihadapinya adalah Dewi Muntari yang memiliki aji kekebalan Trenggiling Wesi dan aji pukulan Jaladi Geni yang ampuh sekali. Setelah saling pukul dan saling tangkis selama belasan jurus, mulailah Gajahpuro terdesak oleh serangan Dewi Muntari. Sebetulnya, Gajahpuro telah mendapat gemblengan orang sakti dan telah mempelajari ilmu yang amat hebat. Akan tetapi dia kurang penagalaman dan ilmu-ilmunya itu belum dikuasai dengan baik. Seolah dia baru mendapatkan kulitnya saja belum benar-benar meresapi isinya. Mana mungkin dia menandingi Dewi Muntari yang telah digembleng orang sakti selama delapan tahun?

Dewi Muntari terus mendesak dengan tamparan-tamparan yang amat kuat, didahului bentakan-bentakannya yang amat berwibawa karena wanita ini menggunakan aji Sardulo Kroda yang membuat bentakannya mengandung getaran kuat sekali yang dapat melumpuhkan lawan yang tidak memiliki tenaga sakti yang kuat. Akhirnya, sebuah tamparan mengenai pundak Gajahpuro dan pemuda ini terpelanting dan bergulingan. Masih untung bagi Gajahpuro bahwa Dewi Muntari teringat akan ucapan Niken Sasi bahwa Gajahpuro tidak jahat bahkan pernah menolong puterinya itu, maka pukulannya tadi ia selewengkan dan hanya melukai pundak saja yang tidak membahayakan nyawanya.

“Bagus! Andika memang digdaya, Dewi Muntari. Akan tetapi yang kauhadapi hanyalah seorang bocah. Kalau andika mampu menandingiku, barulah andika benar-benar digdaya.”

Melihat pangeran itu maju sendiri Budhidharma segera melangkah maju.

“Kanjeng Bibi, biarlah saya yang maju menghadapi Pangeran Sepuh!”

Dewi Muntari yang sudah maklum betapa saktinya Pangeran Sepuh yang seperguruan dengan kanjeng ramanya itu memang sudah merasa gentar menghadapinya. Dan iapun maklum akan ketangguhan Budhidarma seperti yang diceritakan puterinya kepadanya, maka iapun mengangguk dan mundur.

“Pangeran,apakah masih akan paduka lanjutkan menghukum mati kami bertiga? Masih belum terlambat bagi paduka untuk mengubah keputusan itu dan membebaskan kami, dan biar Kanjeng Gusti Prabu sendiri yang akan mengadili kami.”

“Bocah sombong bermulut lancang. Sudah tentu keputusan kami tidak dapat diubah lagi. Kami memutuskan untuk menghukum mati andika bertiga, akan tetapi kami memberi kesempatan kepada kalian untuk membela diri. Sekarang, karena andika dengan lancang dan sombong berani melawan aku, maka engkaulah yang akan mati lebih dulu!”

“Pangeran, kami tidak melawan. Akan tetapi kami tidak dapat menerima hukuman yang tidak dijatuhkan sendiri oleh Gusti Prabu. Pula, kami sama sekali tidak merasa bersalah dan sama sekali tidak bermaksud memberontak seperti yang paduka tuduhkan. Karena itulah kami tidak menerima begitu saja dihukum mati!” kembali Budhi membantah.

“Babo-babo........! Engkau bocah kemarin sore berani menentang Pangeran Sepuh Wijayanto?”

“Saya hanya berani menentang siapa yang bersalah, Pangeran!”

“Keparat, terimalah aji-ajiku ini!” Pangeran Sepuh membentak dan tiba-tiba tubuhnya bergerak dan tangan kanannya menyambar ke arah kepala Budhidharma seperti sambaran kilat. Cepat dan kuat sekali pukulan itu menyambar, akan tetapi Budhi masih dapat mengelak dengan cepatnya.

“Wuuuuuuttt........blarrr.......!!”

Sebuah pot bunga yang berada di sudut ruangan itu hancur berantakan terkena sambaran pukulan yang luput dari kepala Budhi itu. Pangeran Sepuh Wijayanto menjadi semakin marah karena penasaran. Dia adalah seorang yang sakti mandraguna, akan tetapi serangannya dapat dielakkan oleh pemuda ini. Dia menyerang lagi bertubi-tubi, akan tetapi dengan amat gesitnya Budhi mengelak beberapa kali, kemudian ketika tangan kiri pangeran itu menyambar dengan dahsyatnya ke arah kepalanya, terpaksa dia menangkis dengan tangan kanan. Kerena maklum betapa dahsyatnya pukulan lawan, Budhi mengerahkan Aji Tapak Sapujagat, menangkis sambil mengerahkan tenaga.

“Dessss.......!!”

Hebat sekali pertemuan antara kedua lengan itu, sampai terasa oleh semua orang yang berada di situ karena mereka semua tergetar. Dan akibat dari benturan dua tenaga sakti itu, tubuh Budhidharma terdorong mundur tiga langkah, akan tetapi sebaliknya, tubuh Pangeran Sepuh juga terdorong mundur sampai terhuyung ke balakang! Bukan main kagetnya Pangeran Sepuh melihat kenyataan ini.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 33"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close