Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 28

Mode Malam
“Bapa,apakah benar-benar tidak ada jalan keluar dari sini? Bagaimana kalau kita menggunakan Hasta Bajra, menjebol pintu besi itu dan menyerbu keluar?”

“Jangan, Niken. Selain pintu besi itu kokoh kuat dan dindingnya terbuat dari batu, juga kalau kau lakukan itu kita berdua akan mati bagaikan dua ekor tikus dalam lubang. Ketahuilah, tempat ini dapat dialiri air yang besar sekali sehingga kita akan tenggelam. Bendungan itu ada di tangan mereka. Sekali kita berusaha lari dan mereka membuka bendungan, tempat ini akan penuh air. Sudah kuselidiki selama berbulan bulan ini dan jelas tidak ada jalan keluar, kecuali kalau mereka yang membuka pintu. Juga di luar tempat tahanan ini dijaga ketat.”

Niken mengerutkan alisnya. “Kalau begitu, apakah kita harus menyerah begitu saja dan mati di tempat ini Bapa?”

“Tentu saja tidak! Akan tetapi kita harus memakai perhitungan. Mereka masih terus mengirim makanan dan minuman, itu berarti mereka belum menghendaki kita mati. Dan aku tahu bahwa mereka masih mengharapkan penulisan aji Hasta Bajra yang tulen. Kita tunggu saja. Kalau sewaktu mereka lengah dan berani datang ke sini, barulah engkau boleh menyergap mereka dan dengan demikian dapat memaksa mereka mengeluarkan kita.”

Terpaksa Niken menaati gurunya karena memang tidak ada jalan keluar lagi. Dua hari kemudian, pada malam hari mereka mendengar suara ribut-ribut di luar kamar tahanan. Dan tak lama kemudian, dalam keadaan gelap, seorang didorong masuk ke dalam kamar tahanan yang ditutup kembali. Niken tidak sempat menyerbu keluar karena selain gelap, juga ia tidak tahu siapa orang yang didorong masuk. Orang itu merintih. Ki Sudibyo meraba-raba. Ternyata dia seorang pria

“Siapa andika?” Ki Sudibyo bertanya ketika melihat betapa orang itu luka-luka, bahkan terluka parah di bagian kepalanya yang berdarah.

Dengan suara lemah, orang itu berkata, “Adi Sudibyo ........,ini aku....”

’Kakang Joyosentiko........!” Ki Sudibyo mengenal suara itu dan merangkul. “Apa yang terjadi, kakang?”

“Aku......aku berusaha untuk membebaskan kalian......akan tetapi ketahuan dan aku......aku dihajar......terluka parah......”

“Ah,kakang Joyosentiko, kenapa kaulakukan ini?” Ki Sudibyo merasa menyesal sekali.

Dalam hal aji kanuragan, ilmu kepandaian kakak seperguruannya ini memang termasuk lemah.

“Aku.......aku ingin bicara denganmu. Aku mendengar bahwa anak itu telah datang, anak Sawitri......aku ingin memberitahu bahwa dia itu putera kandungmu, Sudibyo. Ketika hendak pergi, Sawitri mengatakan kepadaku bahwa ia telah mengandung. Dia anakmu....” suara itu terengah-engah dan semakin lemah.

“Aku sudah tahu dari Niken. Diamlah, kakang, engkau harus beristirahat, biar kuurut jalan darahmu.....”

“Per.....percuma......!” Kakek itu mengeluh.

Biarpun dibantu Niken, dalam kegelapan itu Ki Sudibyo masih berusaha menolong, namun menjelang pagi, ketika matahari sudah memasuki tempat itu dari terowongan. Ki Joyosentiko menghembuskan napas terakhir.

“Keparat Klabangkoro, manusia iblis berhati busuk. Aku akan membunuhmu untuk ini!” kata Niken dengan marah sekali.

Terdengarlah langkah-langkah kaki di luar. Mula-mula mereka mengira bahwa penjaga yang seperti biasa mengantarkan makanan untuk dimasukkan melalui jeruji besi. Akan tetapi, ternyata itu suara Klabangkoro.

“Bapa Guru, ada orang yang hendak bertemu dengan Bapa Guru Sudibyo!”

Ki Sudibyo dan Niken memandang dengan heran dan melihat Klabangkoro dan Mayangmurko berada di luar kamar tahanan dan di samping mereka berdiri Budhidharma! Pemuda itu kelihatan marah sekali, matanya mencorong seperti mata naga.

“Budhidharma, temuilah orang yang kaucari!” kata Klabangkoro sambil membuka pintu besi.

Melihat ini, Niken berseru, “Budhi, jangan masuk!”

Akan tetapi Budhi salah sangka, mengira bahwa Niken hendak membela gurunya. Pada saat itu Niken melompat ke pintu untuk menyerang Klabangkoro, akan tetapi ia bertemu dengan Budhi yang mendorongkan kedua tangannya sehingga tubuh Niken terhuyung dan kembali ke dalam kamar tahanan. Pintu itu segara ditutup oleh Klanbangkoro dan Mayangmurko dia bergegas meninggalkan tempat itu.

“Ki Sudibyo!” bentak Budhi dengan marah sambil memandang kepada laki-laki tua yang sudah berdiri di depannya itu, tidak memperdulikan lagi kepada Niken atau kepada mayat yang mengegeletak di sudut ruangan itu. “Aku adalah Budhidarma, putera dari Margono dan Ni Sawitri yang telah kaubunuh! Aku menuntut keterangan dan tanggung jawabmu. Kenapa engkau membunuh ayah ibuku?” Kedua tangan Budhi sudah gemetar dan suaranya agak gemetar pula, saking tegang hatinya.

“Budhi, tenang dan sabarlah dulu. Dengarkan penjelasanku!” kata Niken.

“Niken, jangan mencampuri urusan ini! Ini adalah urusan pribadi antara aku dan pembunuh orang tuaku!” Budhi membentak

Niken melangkah mundur dengan kaget karena tidak biasa Budhi bersikap sekasar itu kepadanya.

“Mundurlah, Niken. Biarkan aku sendiri yang menghadapinya.” kata Ki Sudibyo dengan tenang dan dia melangkah maju menghampiri Budhi.

Dua orang itu saling pandang sampai beberapa lamanya, kemudian Ki Sudibyo betkata, suaranya gemetar penuh keharuan akan tetapi sikapnya tenang.

“Budhidarma, aku merasa menyesal sekali, akan tetapi perbuatan itu telah terlanjur dan aku bersedia menerima hukumannya. Kalau engkau datang hendak membalas dendam atas kematian mereka kepadaku, Nah, lakukanlah, Budhidarama. Aku tidak akan melawan!” Kakek itu memejamkan matanya, berdiri di depan Budhi.

“Ki Sudibyo, aku bukan seorang pengecut yang membunuh orang yang tidak melawan. Pergunakan kedigdayaanmu. Aku mendengar bahwa engkau seorang yang sakti mandraguna, mari kita selesaikan perhitungan di antara kita, akan tetapi katakan dulu kenapa engkau membunuh ayah ibuku!”

Tiba-tiba Niken meloncat di antara mereka dan menghadapi Budhi dengan sinar mata menyala.

“Budhi, dengar dulu!”

“Niiken, sudah kukatakan, jangan engkau ikut campur!” bentak Budhi.

“Tidak bisa! Aku harus ikut campur. Pertama karena dia guruku dan kedua kalinya karena engkau buta, tidak mau mendengar penjelasanku. Guruku tidak mau menjawab karena tidak ingin melukai hatimu, maka aku yang mewakili untuk memberi keterangan mengapa Bapa Guru membunuh kedua orang tuamu itu!”

“Niken, jangan.........!” Ki Sudibyo berseru.

“Harus Bapa! Dia harus mendengarnya. Baik ataupun buruk rahasia itu, orang harus mendengar kenyataan. Budhi, dengarlah. Bapa Guru menyuruh orang membunuh Margono dan Ni Sawitri karena Ni Sawitri itu adalah isterinya yang melarikan diri dengan Margono muridnya! Dia mengutus Klabangkoro murid murtad dan isteri yang menyeleweng itu!”

Budhidharma memandang Niken dengan mata terbelalak dan wajahnya berubah merah sekali.

“Bohong! Tidak mungkin ibuku dan ayahku seperti .........seperti yang kau tuduhkan itu......!!”

“Engkau boleh saja tidak percaya akan tetapi demi Hyang Widhi demikianlah kenyataannya. Sayang saksi utama dari kenyataan itu kini mengeletak tak bernyawa lagi di sini, dibunuh oleh Klabangkoro. Dan bukan itu saja, Budhi. Ketika ibumu, Ni Sawitri melarikan diri bersama Margono meninggalkan Gagak Seto, Ibumu itu dalam keadaan mengandung. Setelah terlahir, engkaulah puteranya, jadi ayah kandungmu bukan Margono, melainkan Bapa Guru Ki Sudibyo.”

Budhi menjerit. “Tidak mungkin! Bohong semua itu! Dia musuh besarku! Niken, jangan coba-coba untuk membela gurumu dengan segala kebohongan itu!”

Kini Ki Sudibyo melangkah maju mendekati Budhi.

“Anakku Budhidarma..........”

“Jangan sebut aku anakmu! Engkau musuh besarku yang telah membunuh ayah ibuku!” bentak Budhi marah.

“Baiklah, akan tetapi sesungguhnya, Niken tidak berbohong. Akupun baru saja mendengar tentang kenyataan ini dari mulut Kakang Joyosentiko yang tewasa ini. Kalau saja aku tahu bahwa ibumu pergi dalam keadaan mengandung, demi Hyang Widhi, aku pasti tidak akan menyuruh orang mengejar meraka. Ah, semuanya telah terjadi. Aku sungguh mencintai Ni Sawitri, aku hampir gila ketika ia pergi. Sebagai tanda cintaku, aku memberikan benda pusaka peninggalan orang tuaku kepadanya, yaitu perhiasan berbentuk burung gagak yang kemudian menjadi julukanku dan juga nama perkumpulanku. Kalau engkau tidak percaya bahwa engkau anakku dan ibumu itu isteriku, nah, ini dadaku. Bunuhlah aku untuk menebus dosaku.”

Akan tetapi Budhi membuang muka dan berkata ketus, “Aku tidak sudi membunuh orang yang tidak melawan!”

Akan tetapi dalam suaranya mengandung keraguan. Dia masih terkesan dengan cerita Ki Sudibyo tetntang benda pusaka yang berbentuk burung gagak yang katanya diberikan ibunya. Benda itu kini tergantung di lehernya! Ibunya berkata bahwa benda itu akan melindunginya dari ketua Gagak Seto! Jadi benarkah benda itu merupakan pusaka bagi ketua Gagak Seto? Pada saat itu terdengar suara tawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha ! Kalian tidak mau saling bunuh?Baiklah, kalau begitu biarlah kalian semua mati bersama!”

Mendengar ini, Ki Sudibyo dan Niken meloncat ke pintu, akan tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu karena Klabangkoro ternyata berteriak dari luar dan pintu itu masih tertutup rapat dan kuat.

“Bapa, kita harus berusaha untuk mencoba meloloskan diri, tidak bisa kita menunggu mati konyol di sini!” berkata Niken dan iapun lalu mengerahkan, aji Hasta Bajra, kedua tangannya didorongkan ke pintu besi.

“Wuuuuuutttt.......dessss.........!” Pintu besi itu terguncang keras dan batu-batuan bertebara, akan tetapi agaknya pukulan Hasta Bajra itu masih belum cukup kuat menghancurkan daun pintu baja dan dinding batu itu.

Melihat ini lalu Budhi berkata, “Biar aku mencobanya!” dan diapun menggosok kedua telapak tangannya, kemudian menghantamkan kedua tangannya ke arah pintu baja.

“Wuuuuuuuuttt.......darrr........!”

Pecahlah pintu baja itu dan banyak batu dinding porak poranda! Akan tetapi sebelum mereka dapat meloloskan diri, tiba-tiba terdengar bunyi air yang hiruk pikuk dan dari terowongan itu menerjang air yang banyak sekali!

Mereka bertiga terkejut dan tidak dapat melawan arus air yang demikian kuatnya. Mereka baru sampai di pintu kamar tahanan sudah disambar air dan hanyut kembali ke dalam kamar tahanan. Air demikian kuat dan banyaknya sehingga sebentar saja air sudah naik samapi ke dada mereka! Mereka tidak mungkin dapat berenang keluar kamar karena dari luar terus membanjir air yang bagaikan gelombang samudera!

Kasihan sekali Ki Sudibyo yang sudah tua dan lemah tubuhnya. Dia gelagapan dan tentu sudah tenggelam kalau saja Niken tidak menyambar lengannya. Kini air naik terus dan terpaksa mereka bertiga menggerakkan kedua kaki dan tangannya untuk mencegah agar tubuh mereka tidak tenggelam. Air sudah lebih dalam dari tubuh mereka dan amsih terus menyerbu masuk. Atap kamar tahanan itu tinggal satu meter lagi, dan tak lama kemudian mereka tentu akan ditelan air yang memenuhi tempat itu, dan tewas.

“Niken....! Budhi......! Cepat kalian mengerahkan tenaga untuk menerjang air dari pintu itu. Cepat sebelum terlambat. Jangan perdulikan diriku!” Ki Sudibyo berteriak dengan hati khawatir sekali.

Akan tetapi Niken tidak mau meninggalkan dan juga Budhi yang digdaya di daratan itu ternyata tidak begitu pandai berenang sehingga diapun sudah lemas dan sudah banyak menelan air. Ketika Niken menarik lengan gurunya, kemudia bersam Budhi mencoba untuk menerjang arus air, mereka terserempet kembali dan bahkan kepala mereka terbentur dinding sehingga mereka bertiga merasa pusing dan lemah.

“Aduh, celaka........! Niken, Budhi, sekali ini tewaslah kita......!” Ki Sudibyo berkata sedih.

“Jangan khawatir, Bapa. Ada aku di sini yang menemanimu sampai mati sekalipun!”

“Budhidarma........Budhi.....” Ki Sudibyo berkata terengah-engah dan berusaha agar jangan menelan air. “Untuk terakhir kalinya, percayalah engkau kepadaku? Bahwa engkau ini putera kandungku?”

Budhi juga berusaha agar tubuhnya tidak tenggelam, namun kepalanya juga pening sekali, tubuhnya mulai menjadi lemah karena kelelahan. Akan tetapi mendengar pertanyaan Ki Sudibyo, dia mengeraskan hatinya dan berkata,

“Aku bukan puteramu, engkau adalah musuh besarku yang telah membunuh ayah bundaku!”

“Budhi.........!” kata Niken, suaranya mengandung kemarahan, juga kesedihan.

“Maaf, Niken..........!” kata Budhi.

Mereka menggerakkan kaki mkereka terus agar jangan tenggelam, biarpun air yang sampai ke leher mereka itu kadang naik mengenai mulut dan hidung. Atap semakin dekat, hanya tinggal setengah meter lagi dan udara mulai pengap. Beberapa menit lagi mereka tentu akan tewas seperti tiga ekor tikus yang tenggelam dalam lubang.

“Budhi, kita bertiga sudah menghadapi maut. Agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi kita. Untuk yang terakhir kalinya, tidak maukah engkau mengakui Bapa Guru sebagai ayah kandungmu?” tanya Niken dengan penuh penasaran.

Melihat wajah Niken, hampir saja kekerasan hati Budhi runtuh, akan tetapi dia menggigit bibirnya dan berkata,

“Tidak bisa, aku tidak bisa mengakui musuh besarku sebagai ayahku. Bagaimana aku dapat menghadap ayah dan ibuku di alam baka?”

“Kepala batu!” Niken memaki dan kalau saja Budhi berada di dekatnya, tentu sudah dipukulnya pemuda itu.

“Sudahlah Niken. Biarlah aku menderita batin yang sebesarnya, ini merupakan hukumanku. Ahh, selamat tinggal Niken, Budhi........” agaknya Ki Sudibyo sudah putus harapan dan tidak kuat lagi mempertahankan tubuhnya agar tidak tenggelam. Kelelahan dan kedinginan membuat kaki tangannya tidak mampu lagi bertahan.

“Bapa........! Jangan putus asa dulu. Kita melawan dan bertahan sampai saat terakhir!” kata Niken dan ia menyambar tangan Ki Sudibyo dan menariknya kembali ke atas.

“Haiiiiiiiii........? Air menurun.........tiba-tiba Budhi berseru dan Niken juga dapat merasakannya. Atap semakin menjauh.

Apakah yang telah terjadi? Di luar terowongan itu, di lambung bukit, seorang pemuda menggunakan sebatang linggis untuk membongkar batu-batu di situ. Dia bekerja keras mati-matian dan pemuda itu adalah Gajahpuro! Pemuda ini amat mencintai Niken, mencintai dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sunggu. Bahkan ketika dia disuruh ayahnya menodai Niken ketika gadis itu tertawan, dia tidak sudi melakukannya. Dia mencintai gadis itu dengan tulus. Dia tahu bahwa Niken ditahan bersama gurunya, kemudian Budhi juga ditahan. Dia tidak akan berani melawan ayahnya kalau yang ditahan atau hendak dibunuh itu Ki Sudibyo dan Budhi. Akan tetapi Niken? Niken hendak dibunuh dan dia tidak mungkin tinggal diam saja. Sudah dicarinya akal untuk membebaskan gadis itu, namun tidak juga ditemukan dan dia hampir putus asa. Akan tetapi ketika dia mendengar dari para murid bahwa tiga orang tawanan itu akan dibunuh dengan mengalirkan air ke dalam terowongan, dia mendapat akal untuk menolong Niken. Yaitu dengan membobol punggung dekat terowongan. Setelah bekerja mati-matian akhirnya dia berhasil. Dia berhasil membobol dinding dan kini air mengalir dengan derasnya keluar dari lubang itu! Saking kuatnya tekanan air maka sebentar saja lubang itu menjadi besar dan air membanjir keluar.

Akan tetapi, perbuatan itu ketahuan oleh Klabangkoro yang mendapatkan laporan dari anak buahnya. Dia lari menghampiri dan memaki,

“ Anak durhaka! Apa yang kaulakukan ini?”

“Ayah tidak boleh membunuh Niken!” Kata Gajahpuro.

Saking marahnya Klabangkoro menerjang dan menempiling kepala pemuda itu. Gajahpuro mengeluh dan terpelanting, pingsan!

“Buang dia ke sumur tua, biar dia rasakan hukuman itu selama tiga hari!” Bentak Klabangkoro yang sudah marah sekali. Dia sudah girang karena menurut pertimbanganya, Ki Sudibyo, Niken dan juga Budhi tentu akan mati tenggelam. Siapa kira anaknya sendiri yang menggagalkannya.

Empat orang mengangkat tubuh Gajahpuro yang pingsan untuk melaksanakan perintah pemimpin mereka. Di sebelah selatan perkampungan Gagak Seto memang terdapat sebuah sumur tua yang tidak berair dan kesanalah pemuda itu diturunkan dan ditinggalkan.

“Hayo kita serbu tempat tahanan, jangan sampai mereka meloloskan diri!” kata Klabangkoro pula dan bersama Mayangmurko dan para anak buah mereka berangkatlah mereka ke tempat tahanan, di gua yang berterowongan itu.

Sementara itu, dengan girang sekali Niken dan Budhi mendapat kenyataan bahwa air menurun dengan cepat. Setelah air tinggal selutut dalamnya, Budhi berkata,

“Mari kita keluar cepat!”

“Mari, Bapa.” kata Niken sambil menggandeng tangan Ki Sudibyo yang sudah lemas.

Mereka bertiga memang merasa lelah sekali. Bahkan Budhi yang digdaya itupun merasa lemah dan lelah karena dia harus berjuang agar tidak tenggelam dalam waktu lama, padahal dia tidak begitu pandai berenang. Mereka bertiga terhuyung keluar dari pintu baja yang tadi runtuh terkena pukulan Budhi dan Niken.

Mereka berjuang dalam air yang sudah setinggi lutut menuju terowongan untuk keluar dari goa itu. Akan tetapi tiba-tiba dari luar datang Klabangkoro,Mayangmurko dan para murid anak buah Gagak Seto.

“Hajar mereka dengan anak panah!” bentak Klabangkoro yang sudah mempersiapkan segalanya.

Puluan batang anak panah yang dilepas mereka itu meluncur masuk ke terowongan menyambut tiga orang yang hendak melarikan diri itu. Melihat ini, Budhi menerjang maju ke depan untuk melindungi Niken dan gurunya. Dia berhasil menangkis puluhan batang anak panah sehingga runtuh, akan tetapi karena memang dia sudah lemas dua batang anak panah masih saja menerobos dan mengenai pundak dan lambungnya! Budhi terhuyung ke belakang.

Melihat ini, Ki Sudibyo yang biasanya lemah itu mendadak menjadi beringas. Melihat puteranya, putera kandungnya terluka anak panah, dia lalu menerjang ke depan sambil berteriak lantang.

“Murid-murid yang murtad! Berani kalian menyerangku?” Dan dia melancarkan pukulan jarak jauh yang tiba-tiba menjadi demikian kuatnya sehingga belasan orang murid Gagak Seto, terkena pukulan aji Hasta Bajra dan terpelanting keras. Yang lain menjadi jerih, apalagi ketika Klabangkoro dan Mayangmurko yang mencoba untuk maju, juga terlempar oleh pukulan ampuh itu, Klabangkoro terkejut sekali, mengira bahwa kini gurunya telah pulih kembali tenaganya. Maka iapun meneriaki para anak buahnya untuk mundur, lalu dari atas goa mereka menghujankan batu-batu besar untuk menutup goa.

Kertia Ki Sudibyo mengamuk membela puteranya, Niken menolong Budhi yang terkulai lemas. Agaknya anak panah yang mengenai tubuhnya itu adalah anak panah yang dilepas oleh Klabangkoro dan Mayangmurko. Hal ini dapat diduga karena ujung anak panah itu mengandung racun, tidak seperti anak panah lain yang dilepas para murid Gagak Seto yang tidak mengandung racun. Budhi sudah dududk bersila untuk mengatur pernapasan dan melawan jalannya racun yang terasa panas itu.

Setelah semua pengeroyok mundur dan goa itu ditutup banyak batu besar Ki Sudibyo tiba-tiba menjadi lemas kembali. Dia tadi telah mengerahkan tenaga diluar batas kemampuannya yang sedang lemah, dan ini membuat dia terbatuk-batuk dan keluar darah dari mulutnya. Ki Sudibyo terluka dalam! Akan tetapi dia cepat mengusap bekas darahnya dari bibirnya dan lari menghampiri budhi.

“Bagaiman dengan dia?”

“Bapa, lukanya parah. Badanya panas sekali.”

Ki Sudibyo memeriksa lalu tiba-tiba mencabut kedua anak panah itu. Budhi mengeluh dan roboh pingsan. Ki Sudibyo melihat bekas luka dan memaki,

“Jahanam Klabangkoro, dia menggunakan panah beracun. Mari, bantu aku mengangkatnya kembali ke dalam, Niken.”

Air sudah surut kembali dan biarpun lantai masih basah, namun tidak ada lagi genangan air. Budhi direbahkan di atas lantai dan Ki Sudibyo lalu duduk bersila di dekatnya. Setelah mulutnya berkemak-kemik membaca doa, dia lalu mengerahkan sisa tenaga dalamnya kepada jari-jari tangannya, kemudian dengan sepuluh jari tangannnya dia mulai mengurut tubuh Budhi, terutama di sekitar pundak dan dada yang tadi terluka anak panah.

Ki Sudibyo memang mempunyai ilmu pengobatan dengan jalan mengurut jalan darah. Niken yang tidak dapat membantu hanya menonton dengan wajah khawatir sekali, Ia tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan Budhi, akan tetapi juga mengkhawatirkan keselamatan gurunya karena ia mengerti bahwa melakukan pengobatan seperti gurunya itu membutuhkan pengerahan tenaga sakti yang banyak dan keadaan gurunya lemah sekali. Ia melihat keringat membasahi seluruh wajah gurunya, bahkan dari ubun-ubun kepala gurunya mengepul uap tipis.

Dengan hati-hati Niken lalu memeras saputangan sampai kering benar, lalu mengusap wajah gurunya yang basah keringat itu perlahan-lahan. Dengan terharu ia mengerti bahwa gurunya berjuang mati-matian untuk menyelamatkan nyawa putera kandungnya.

Setelah berjuang keras selama satu jam, akhirnya Ki Sudibyo membuka matanya dan memandang dengan girang. Dari kedua luka dipundak dan dada itu keluar darah yang berwarna agak hijau makin lama semakin banyak sampai akhirnya yang keluar darah merah. Ki Sudibyo mengeluarkan senyuman girang, melepaskan kedua tangannya, akan tetapi dia terkulai roboh dan pingsan di samping Budhi.

Niken terkejut sekali. Melihat Budhi tertolong, hatinya girang, akan tetapi melihat keadaan gurunya, ia khawatir sekali. Wajah gurunya pucat seperti mayat dan napasnya terengah-engah.

“Bapa Guru........! Bapa.......!” Ia mengguncang pundak orang tua itu, akan tetapi tidak dapat menyadarkan gurunya. Saking bingung Niken lalu menangis! Entah sampai berapa lama ia mengguguk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan ia sendiri tidak menyadari. Sebuah tangan meraba pundaknya dan suara yang lembut menyapa.

“Niken, kenapa engkau menangis?”

Niken menurunkan kedua tangannya, menoleh dan melihat bahwa Budhi telah siuman telah bangkit duduk dan pemuda itulah yang menyentuh pundaknya dan bertanya.

Niken memandang lagi kepada gurunya. Masih seperti tadi. Pucat seperti sudah mati.

“Bapa Guru.......!” Ia menjerit dan menangis lagi.

Budhi melihat keadaan Niken itu menjadi tidak tega, akan tetapi wajahnya berubah tak senang melihat Ki Sudibyo.

“Niken, tidak usah ditangisi. Gurumu itu jahat sekali, maka dia menerima hukuman dari para dewa.”

Mendengar ucapan ini, seketika Niken menghentikan tangisnya. Mukanya masih basah air mata, kini kemerahan dan sepasang matanya seperti membara ketika ia memandang wajah Budhi.

“Engkau yang jahat! Engkau anak durhaka yang tidak mengenal budi orang. Kau tahu? Ketika engkau terluka tadi, Bapa Guru telah mengerahkan tenaga di luar batas kemampuannya untuk melindungimu dan mengusir mereka keluar goa. Kemudian, dengan sisa tenaganya yang masih ada, Bapa Guru telah mengerahkan tenaga saktinya untuk mengurutmu dan mengeluarkan racun dari lukamu. Dia sampai kehabisan tenaga dan sekarang menggeletak pingsan seperti ini! Dan engkau mengatakan jahat?”

Budhi tertegun dan terkejut. Dia memandang kepada wajah orang tua yang mengegletak di depannya itu. Kemudian dia memandang Niken dan berkata lirih,

“Maafkan aku, Niken. Aku tidak tahu akan hal itu. Kalau begitu, dia telah berbuat baik kepadaku. Kenapa dia berbuat baik begitu?”

“Bodoh kau! Dia itu ayah kandungmu! Tentu saja dia rela berkorban nyawa sekalipun untukmu!”

“Hemm,dia ......dia membunuh ayah dan ibuku!” kata Budhi kukuh.

“Akan tetapi hal itupun dilakukan dengan ada sebabnya. Budhi, maukah engkau memaafkan ayah kandungmu sendiri yang amat mencintaimu?”

Budhi menggeleng kepalanya. “Masih terbayang di depan mataku ketika ibu disiksa kemudian ibu membunuh diri, masih ingat aku betapa ayahku menggeletak menjadi mayat dengan tubuh luka-luka. Aku tidak dapat memaafkan dia!”

“Budhi, kau kejam.......!”

Niken menangis lagi dan memeluki tubuh gurunya yang masih belum sadar. Hatinya terasa sakit sekali. Harus diakui bahwa ia mencintai pemuda itu, akan tetapi iapun mencintai gurunya sebagai pengganti orang tuanya.

Ingin ia agar Budhi berbaik kembali dengan Ki Sudibyo, dan alangkah akan bahagia hatinya kalau ayah dan anak itu berbaik kembali, dua orang yang dicintainya menjadi rukun. Akan tetapi harapanya itu ternyata gagal. Budhi tidak dapat memaafkan Ki Sudibyo, tetap memusuhinya dan karenanya sama saja dengan memusuhinya!

Sakit hati atau dendam, dan perasaan suka duka atau apapun juga dalam hati manusia, timbul dari pikirannya. Dalam keadaan pikiran tidak berjalan atau tidak bekerja, segala macam perasaan hati itupun tidak akan timbul. Tidak ada suka duka. Tidak ada benci atau sayang, terasa dalam hati orang yang sedang tidur, karena pikirannya tidak bekerja. Dan pikiran sudah bergelimang dengan nafsu yang selalu hendak menguasai diri manusia. Karena itu pikiran membentuk si-aku dan semua ditujukan demi kepentingan dan kesenangan si-aku. Kalau si-aku merasa dirugikan, maka bencilah dia. Kalau si-aku merasa diuntungkan,maka sayanglah dia. Manusia dipermainkan dan diombang-ambingkan oleh pikiranya sendiri yang bergelimang nafsu.
Berbahagialah orang yang tidak bertindak menurutkan pikiran yang bergelimang nafsu, melainkan menurutkan bisikan nurani yang lebih bersih, bisikan jiwa yang bebas dari pengaruh nafsu. Akan tetapi mungkinkah itu? Mungkinkah manusia menjungkir-balikan nafsu sehingga bukan nafsu lagi menguasai dia, melainkan nafsu menjadi peserta dan hamba yang baik? Tentu saja mungkin,akan tetapi bukan oleh usaha pikiran, karena pikiran sendiri sudah menjadi sarang nafsu. Yang mampu menaklukan nafsu dan mengembalikan nafsu pada tugas awal yang sebenarnya, yaitu menjadi peserta manusia, adalah Kekuasaan Tuhan! Hanya dengan penyerahan
kepada Tuhan sajalah, kalau Tuhan menghendaki, maka kita akan dapat terbebas dari cengkeraman nafsu, dan akan memanfaatkan nafsu sebagai pelengkap dan peserta hidup.

**** 028 ****

0 Response to "Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 28"

Post a Comment