Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 12

Mode Malam
Niken Sasi menuruni lereng terakhir dari Gunung Anjasmoro. Ia meninggalkan gurunya dan melakukan perjalanan dengan santai sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepnjang perjalanan menuruni gunung itu. Ia merasa seperti hidup baru, memulai lembaran baru dalam hidupnnya. Karena ia sendiri tidak tahu kapan ia akan kembali ke gunung Anjasmoro, maka ia ingin menikmati keindahan tempat itu untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi melaksanakan tugas yang berat.

Kini ia tiba di tempat di mana dahulu ayah ibunya diserang gerombolan penjahat. Gurunya sudah memberitahu bahwa gurunya telah mengubur janazah ayahnya di tempat itu, di bawah pohon kenanga dan makam itu ditandai dengan batu besar. Sebelum meninggalkan kaki gunung, ia ingin lebih dulu menemukan makam ayahnya. Akhirnya, ia dapat menemukan makam itu, di bawah pohon kenanga, dan batu besar sebagi nisannya.

“Kanjeng rama..........!” Niken Sasi berlari menghampiri makam itu dan iapun menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Hatinya terasa perih, akan tetapi ia tidak menangis. Tidak, ia adalah seorang dara perkasa yang pantang untuk menangis. Ia membayangkan wajah ayahnya yang tampan dan gagah. Kemudian ia teringat pula kepada ibunya dan hatinya menjadi semakin perih kalau ia membayangkan ibunya.

Apa yang telah terjadi dengan ibunya? Masih hidupkah ibunya, ataukah sudah tewas pula seperti ayahnya?Ia pasti akan menyelidiki hal ini, menyelidiki siapa yang telah membunuh ayahnya dan mengapa pula orang tuanya dibunuh. Akan tetapi hal itu akan dilakukannya setelah ia berhasil dengan tugas pertama, yaitu mencari keris pusaka Tilam Upih.

Setelah merasa cukup puas dan lama berada di makam ayahnya, Niken Sasi lalu bangkit berdiri dan siap hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, tiba-tiba ia terkejut melihat munculnya belasan orang dari balik semak belukar dan pohon. Tujubelas orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar itu mengepungnya dan yang mengejutkan dan mengherankan Niken Sasi adalah melihat betapa belasan orang itu semua mengenakan saputangan hitam yang menutupi muka mereka dari mata kebawah. Karena kepala merekapun mengenakan pengikat kepala dari kain hitam, maka yang nampak hanya sepasang mata mereka saja yang memandang dengan liar dan ganas.

Niken Sasi memang terkejut dan heran. Akan tetapi sama sekali ia tidak merasa takut dan dengan tenang ia menghadapi para pengepungnya.

“Siapakah kalian dan apa maksud kalian mengepungku?” tanyanya dengan suara yang merdu, lembut namun berwibawa. Akan tetapi belasan orang itu tidak memperdulikan pertanyaannya dan serentak lalu mereka menerjang, dengan tendangan kaki, pukulan tangan dan mencengkeram jari-jari tangan yang penuh semangat. Marahlah Niken Sasi.

“Manusia-manusia busuk!” bentaknya dan tubuhnya sudah bergerak cepat sekali, berkelebatan di antara belasan orang pengeroyoknya. Terdengar suara lengkingan berkali-kali disusul robohnya beberapa orang pengeroyok. Niken Sasi berkelebat menjauhkan diri dari serangan banyak orang itu, dan ketika mereka mengejar, ia membalik dan balas menyerang.

“Haiiiiiiittt.......yahhhh......!” bentaknya dan setiap kali kakinya mencuat dalam tendangan atau tangannya menyambar dalam tamparan tentu ada seorang pengeroyok yang terpelanting roboh dan baru setelah agak lama dapat bangkit kembali.

Belasan orang itu mempercepat pengeroyokan mereka, dan serangan mereka semakin gencar. Namun sungguh aneh belasan orang pria yang kuat mengeroyok seorang dara dengan hujan serangan tak sekalipun dari semua serangan pukulan dan tendangan itu dapat mengenai tubuh Niken Sasi. Jangankan mengenai kulit tubuhnya. Menyerempet pakaiannyapun tidak. Demikian cepatnya gerakan Niken Sasi. Inilah Aji Tapak Srikatan yang membuat tubuh dara itu dapat berkelebatan bagaikan burung srikatan lincahnya.

“Hiaaaaaatttt........!”

Kembali beberapa orang berpelantingan sehingga belasan orang itu hampir semua sudah merasa akan roboh terpelanting. Agaknya belasan orang itu menjadi marah dan begitu terdengar seruan “Bunuh.........!!!” sebagai isyarat, mereka semua telah mencabut senjata mereka!

Tujuh belas orang itu kini memegang senjata tajam, ada yang memegang golok yang besar dan panjang, ada pula yang memegang pedang dan ada juga yang memegang keris. Berkilauan senjata-senjata itu terkena sinar matahari dan keadaan mereka menyeramkan sekali. Akan tetapi Niken Sasi tidak menjadi gentar malah tertawa. Suara tawanya merdu dan hanya sebentar mulutnya terbuka, memperlihatkan giginya yang putih mengkilap.

Hatinya merasa gembira karena baru sekarang ia membuktikan sendiri bahwa segala macam aji yang dipelajarinya dari gurunya, ternyata dapat membuat ia pandai membela diri dengan baiknya sehingga para pengeroyokan belasan orang itu dirasakannya ringan sekali. Baru sekarang ia membuktikan sendiri bahwa ia telah menjadi seorang dara yang digdaya dan sakti mandraguna. Kebanggan dan kegembiraan tanpa rasa sombong memenuhi hatinya dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri menjadi menggunung.

“Kalian ini mengapakah mengeroyok aku? Katakan siapa kalian, dan apa artinya pengeroyokan ini, mungkin aku masih dapat mengampunimu!”

Akan tetapi, ucapan ini disambut serangan serentak dari berbagai penjuru. Keris, pedang dan golok menyambar-nyambar, mengancam keselamatan Niken Sasi. Akan tetapi gadis itu memang sudah siap siaga. Ketika dari semua penjuru para pngeroyoknya menyerbu, tiba-tiba saja pengeroyoknya menyerbu, Tiba-tiba saja orang yang mereka serang itu telah lenyap. Hanya nampak bayangan berkelebat keatas dibarengai suara tawa dan ketika mereka mencari sambil memutar tubuh, ternyata Niken Sasi telah berada di luar kepungan mereka. Setelah melihat para pengeroyok membalikan tubuh hendak mengejarnya, mulailah Niken Sasi menggerakkan kaki tangnya dengan cepat. Mereka yang berada di depan berusaha menggerkkan senjata mereka, akan tetapi mereka kalah cepat. Sebelum senjata mereka mampu menyerang, tamparan dan tendangan telah membuat mereka terpelanting ke kanan kiri dan sekali ini tendangan dan tamparan itu lebih keras lagi sehingga mereka yang roboh itu mengaduh-aduh dan berusaha bangkit. Pedang, golok dan keris beterbangan dari tangan meraka yang roboh.

Akan tetapi, orang-orang bertopeng itu masih nekat mengeroyok dengan lebih ganas. Karena jumlah lawan yang banyak, Niken khawatir kalau-kalau ada senjata nyasar mengenai dirinya, maka iapun melompat jauh ke belakang, lalu menggosok-gosok kedua tangannya mengerahkan Aji Hasta Bajra. Ia tidak menanti sampai kedua telapak tangannya panas sekali karena ia ingin membatasi tenaganya dan setelah kedua telapak tangan itu agak panas, dan melihat mereka sudah mengejarnya lagi, ia lalu memasang kuda-kuda dan kedua tangannya didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka.

“Blaarrrrrr........!” Empat orang yang berada paling depan tiba-tiba terjengkang ke balakang menabrak teman-temannya seperti disambar petir dan mereka pingsan seketika, kawan-kawannya yang ditabrak berpelantingan.

Pada saat itu, muncul seorang pemuda tanpa banyak cakap lagi mengamuk, menampar dan menendangi para pengeroyok itu sehingga mereka menjadi semakin mawut dan kacau. Akhirnya, mereka yang belum terluka parah menyambar tubuh temannya yang terluka dan segera melarikan diri. Niken Sasi merasa heran melihat munculnya pemuda itu, akan tetapi ketika melihat bahwa yang muncul membantunya adalah Gajahpuro, iapun merasa senang dan tersenyum. Gajahpuro juga tidak mengejar orang-orang yang melarikan diri itu, melainkan cepat menghampiri Niken Sasi.

“Niken.......! Engkau tidak apa-apa?” tanya pemuda itu yang kelihatan khawatir sekali.

Niken Sasi tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Gerombolan penjahat itu tidak melukai aku, Kakang Gajahpuro. Sukur engkau datang membantuku.”

“Siapakah mereka itu, Niken? Dan mengapa pula mereka mengeroyokmu?”

Niken Sasi menggeleng kepalanya dan iapun mengambil buntalan bekal pakaiannya yang tadi ia lepaskan dan sampirkan di semak-semak.

“Aku tidak tahu mereka siapa dan mengapa mereka mengeroyokku. Mereka tidak ada yang mengaku.”

Gajahpuro mengepal tinjunya, dan memukul telapak tangan kiri dengan gemas. “Ah, kalau tahu begitu, tentu kutangkap seorang di antara mereka untuk ditanya. Kurang ajar sekali mereka!”

“Sudahlah, kakang. Aku kan tidak terluka dan mereka itu sudah melarikan diri. Akan tetapi bagaimana engkau mendadak dapat muncul membantuku? Kenapa engkau berada di sini,kakang Gajahpuro?”

“Aku memang pergi menyusulmu, Niken. Engkau pergi tidak berpamit padaku dan ketika tadi aku mendengar bahwa engkau sudah pergi, aku segera mengejarmu dan melihat engkau dikeroyok di sini aku lalu membantumu.”

“Ah, kakang Gajahpuro. Kemarin aku sudah menceritakan kepada semua murid bahwa aku pergi untuk melaksanakan perintah Bapa Guru mencari Tilam Upih untuk dihaturkan kepada Kerajaan Daha, dan juga untuk mencari para pembunuh orang tuaku.”

“Karena itulah aku merasa khawatir. Engkau seorang gadis remaja pergi sorang diri menempuh bahaya! Bagaimana hatiku tidak merasa khawatir?Maka aku lalu menyusulmu karena aku hendak menemanimu dalam melaksanakan perintah Bapa Guru.”

Niken Sasi tersenyum memandang wajah pemuda ganteng itu. Gajahpuro memang selalu bersikap manis kepadanya dan ia menganggapnya sebagai teman sejak kecil yang baik sekali.

“Terima kasih, kakang Gajahpuro. Akan tetapi aku tidak ingin ditemani karena Bapa Guru memerintahkan aku pergi sendiri. Aku tidak ingin melawan perintah Bapa Guru.”

“Ah, Niken! Bapa Guru tidak akan mengetahui bahwa aku menemani dan membantumu!”

“Tidak,Kakang. Urusan mencari para pembunuh orang tuaku merupakan urusan pribadi yang harus kupertanggung-jawabkan sendiri. Orang lain tidak boleh mencampuri.”

“Akan tetapi, aku dapat membantumu mencari Tilam Upih.”

“Kalau engkau hendak membantuku, mencari keris pusaka itu, silakan. Akan tetapi jalan kita bersimpang. Aku ingin merantau dan melakukan perjalanan seorang diiri.”

Gajahpuro tidak membujuk-bujuk lagi, memandang gadis yang dicintainya sampai lama, kemudian dia menghela napas dan berkata.

“Aku tahu, Niken. Engkau tidak mau aku temani karena engkau merasa sudah cukup kuat. Engkau bahkan lebih sakti daripada murid-murid Bapa Guru yang lain. Kulihat tadi engkau telah menguasai Hasta Bajara!”

Niken Sasi terkejut. “Engkau melihatnya , kakang? Harap engkau berbaik hati untuk tidak bercerita kepada siapapun, apa lagi kepada Bapa Guru yang tentu akan marah mendengar aku mempergunakan aji itu walaupun keadaan tidak terpaksa sekali.”

“Tenanglah, aku tidak akan bercerita. Akan tetapi kita akan bertemu kembali, Niken. Aku akan membantumu mencari Tilam Upih yang besar kemungkinan kita akan saling bertemu dalam usaha mencari keris pusaka itu.”

“Baiklah, kakang. Sekarang aku hendak melanjutkan perjalananku. Selamat berpisah, kakang Gajahpuro.”

Pandang mata pemuda itu nampak kecewa sekali. Menurut perhitungannya, gadis itu tentu akan girang ditemani melakukan perjalanan, ada kawan yang membantunya. Siapa kira, gadis itu menolaknya dan tidak mempunyai alasan lain untuk mendesak.

“Baiklah, Niken. Semoga para dewa melindungimu dan engkau akan berhasil.”

“Terima kasih Kakang. Engkau memang baik sekali!”

Mereka berpisah dan ucapan terakhir Niken Sasi itu setidaknya merupakan hiburan bagi Gajahpuro.

Mereka berpisah mengambil jalan masing-masing. Setelah tiba di luar dusun pertama di kaki Gunung Anjasmoro. Niken Sasi melihat seorang kakek berjalan datang dari arah depan . Ia segara mengenal kakek itu.

“Paman Joyosentiko”, serunya. “Paman datang dari manakah?”

Kakek itu adalah Ki Joyosentiko, seorang anggota tua dari Gagak Seto. Sebetulnya dia masih kakak seperguruan dari Ki Sudibyo, akan tetapi tingkat kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan adik seperguruan yang menjadi ketua Gagak Seto itu. Di pergurun Gagak Seto, Ki Joyosentiko ini bertugas mengajarkan kesussastraan kepada para murid. Menurut peraturan yang diadakan Ki Sudibyo, semua murid Gagak Seto harus mempelajari kebudayaan, karena dia berpendapat bahwa ilmu kedigdayaan tanpa disertai ilmu kebudayaan, dapat membuat murid menjadi seorang yang hanya menurutkan nafsu sendiri mengandalkan kesaktiannya.

Ki Joyosentiko mengangkat tangan ke atas.” Aku memang sengaja menantimu di sini, Niken. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu sebelum engkau melanjutkan perjalananmu. Mari kita pergi ke gubuk di tengah Ladang itu agar dapat bicara dengan leluasa.”

“Baik, paman.” Niken Sasi menghormati orang tua ini karena segala macam kesenian ia pelajari darinya, juga tentang adat istiadat dan kesusilaan.

Setelah mereka duduk berhadapan, Ki Joyosentiko berkata dengan suaranya yang lembut dan tenang. “Angger, Niken Sasi. Aku mendengar bahwa engkau mendapat tugas dari gurumu untuk mencari Tilam Upih, dan juga untuk mencari para pembunuh ayah bundamu.”

“Benar, paman.”

“Dan aku mendengar pula bahwa engkau kelak akan diangkat menjadi ketua Gagak Seto menggantikan adi Sudibyo, benarkah?”

Niken Sasi memandang tajam wajah pamannya! Ia menganggap bahwa hal itu tidak perlu dirahasiakan lagi.

“Memang demikianlah kehendak Bapa Guru, paman.

“Aku melihat bahwa pilihan Bapa Gurumu tidak keliru. Walupun andika murid wanita, namun andika lebih maju daripada yang lain, baik kemajuan lahir maupun batin. Bahkan lebih lagi tadi akupun sempat menyaksikan engkau menguasai Hasta Bajra.”

Niken Sasi membelalakan matanya. “Paman melihatnya? Paman tahu siapa gerombolan jahat yang tadi mengeroyokku?”

Kakek itu menggeleng kepala. “Aku sendiri tidak mengenal mereka karena mereka bertopeng. Akan tetapi peristiwa itu menunjukkan betapa berat tugasmu dan engkau haruslah berhati-hati dan waspada. Ingat, jangan sembarangan mempercayai orang karena di dunia ini lebih banyak terdapat orang yang berwatak palsu daripada orang yang tulus benar. Akan tetapi yang hendak kuberitakan ini adalah soal yang lain lagi, yaitu mengenai diri bapa gurumu.”

Pandang sepasang mata yang jeli itu penuh selidik menatap wajah Ki Joyosentiko yang sudah terbiasa keriput.

“Ada apakah dengan Bapa Guru, paman?”

“Tahukah andika, Niken, bahwa bapa guru selalu sakit-sakitan, tubuhnya menjadi lemah dan dia kehilangan tenaga saktinya, juga selalu terbenam kedalam kesedian?”

Niken Sasi mengerutkan alisnya, akan tetapi ia harus membenarkan pendapat pamannya dan ia mengangguk-angguk.

“Memang demikian, paman. Akan tetapi, saya tidak tahu mengapa demikian. Mengapa Bapa Guru kelihatan seperti lemah berpenyakitan dan wajahnya selalu diliputi awan kedukaan. Tahukah paman mengapa Bapa Guru bersedih seperti itu?”

Ki Joyosentiko menghela napas panjang beberapa kali, lalu berkata, “Aku merasa iba sekali kepada Adi Sudibyo, walaupun semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri pula. Hatinya terlampau keras, dan sudah menjadi wataknya, sejak muda bahwa dia tidak mau kalah oleh siapapun. Nah, dengarkan ceritaku Niken. Hal ini perlu kau ketahui agar engkau mengerti benar persoalannya yang terjadi dalam keluarga Bapa Gurumu yang akan kau gantikan kedudukannya di Gagak Seto.”

Niken Sasi mendengarkan dengan penuh perhatian. Kembali Ki Joyosentiko menghela napas lalu mulai dengan ceritanya.

“Kurang lebih duapuluh tahunyang lalu, di perguruan Gagak Seto ini terdapat seorang murid wanita bernama Ni Sawitri. Ia seorang yatim piatu dan setelah menjadi murid di Gagak Seto, ia amat dekat dngan aku sehingga menganggap aku sebagai ayah angkatnya sendiri. Dalam perguruan terdapat pula seorang murid pria bernama Margono dan di antar kedua orang muda ini
terjalin hubungan cinta kasih yang mendalam.”

Karena kakek itu berhenti bercerita, Niken lalu mengomentari, “Mereka berdua tentu berbahagia sekali, paman.”

Akan tetapi kakek itu menggeleng kapala dan menghela napas panjang. “Mestinya begitu. Akan tetapi sudah di tentukan oleh dewata agaknya bahwa nasib mereka tidaklah demikian gemilang.Ternyata Adi Sudibyo yang ketika itu berusia empatpuluh tahun dan masih membujang, jatuh cinta pula kepada Ni Sawitri. Inilah awal malapetaka itu. Ki sudibyo meminang muridnya sendiri dan Ni Sawiitri tidak berani menolaknya. Sejak kecil ia yang sudah yatim piatu diterima menjadi murid Gagak Seto, berarti ia berhuatang budi besar sekali kepada Ki Sudibyo. Biarpun perasaanya hancur lebur, ia tidak berani menolak pinangan gurunya. Aku yang mengetahui persoalan ini sudah memberi ingat kepada Adi Sudibyo bahwa Ni Sawitri sudah mempunyai pilhan hati, akan tetapi Ki Sudibyo malah marah-marah dan menuduhku menghalangai kehendaknya. Nah, pernikahan itupun dilangsungkan. Hanya aku yang mengetahui betapa hancur rasa hati Ni Sawitri dan juga kekasihnya, Margono. Kurang lebih tiga bulan kemudian Margono jatuh sakit dan penyakitnya sedemikain beratnya sehingga orang sudah putus harapan untuk dapat menyembuhkannya. Ni Sawitri yang sudah tiga bulan menikah, memperoleh kesempatan untuk menjenguk dan terjadilah pertemuan antara kedua kekasih ini yang membangkitkan kenangan lama dan sekligus menjadi obat yang amat mujarab bagi Margono. Dia sembuh dan pertemuan itu menjadi semacam tekad mereka berdua. Tanpa diketahui siapapun, pada suatu malam, kedua orang itu minggat meninggalkan perkampungan Gagak Seto!”

Kembali kakek itu menghela napas panjang dan Niken Sasi merasa tertarik sekali. Sungguh sukar ia dapat membayangkan gurunya yang demikian berwibawa dan halus budi, dapat memaksa seorang wanita berpisah dari kekasihnya dan menjadi isterinya!

“Cinta memang dapat menimbulkan perbuatan yang aneh-aneh dan sukar dipercaya akal sekat,” kata Ki Joyosentiko, seolah dapat membaca pikiran Niken Sasi.

“Lalu bagaimana tanggapan Bapa Guru setelah melihat mereka berdua itu melarikan diri, paman?”

“Nanti dulu, sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku ingin lebih dulu mendengar pendapatmu tentang perbuatan mereka itu. Hal imi penting sekali untuk menentukan sikapmu kelak setelah engkau menjadi ketua Gagak Seto.”

Tanpa ragu lagi, dengan suara yang pasti, Niken Sasi menjawab. “Saya tidak dapat menyalahkan mereka berdua itu, paman. Walaupun hal ini merupakan pengkhianatan terhadap Bapa Guru dan membuat Bapa Guru tentu saja merasa terhina dan duka, akan tetapi hal itu adalah kesalahan Bapa Guru sendiri. Tidak semestinya dia memaksa Ni Sawitri untuk menjadi isterinya, apa lagi Ni Sawitri telah memiliki seorang kekasih. Bapa Guru sudah mengetahui karena paman telah memberi tahu, akan tetapi Bapa Guru nekat.”

“Bagus! Kalau begitu pendapatmu, aku berani melanjutkan ceritaku karena sikapmu kelak sudah kuketahui. Nah, ketika gurumu mendengar tentang minggatnya isterinya bersama Margono, dia menjadi marah bukan main dan segera melakukan pengejaran. Akan tetapi semua usahanya gagal dan dia mencari terlalu jauh.”

“Hemm, agaknya paman mengetahui tempat persembunyian mereka akan tetapi tidak mau memberitahu kepada Bapa Guru.”

Kakek itu menganguk-angguk. “Bukan hanya mengerti, bahkan aku membantu mereka dan menyembunyikan mereka di dalam goa tidak jauh dari puncak Gunung Anjasmo. Baru setelah keadaan aman dan gurumu tidak mencari sendiri lagi, aku melepaskan mereka. Mereka melarikan diri jauh sekali, akan tetapi karena gurumu masih terus mengirim murid-murid untuk melakukan pencarian, mereka harus selalu berpindah-pindah dan aku sendiri tidak tahu di mana anak angkatku dan suaminya itu berada.” Kembali dia berhenti.

“Lalu bagaimana, paman?”

“Ki Sudibyo sungguh keras hati. Dia diracuni dendam. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, yaitu setelah sepuluh tahun lamanya Ni Sawitri melarikan diri, dia masih saja menyuruh murid-muridnya melakukan pencarian. Yang diutus adalah Klabangkoro. Padahal aku sendiri mengetahui dengan jelas bahwa dahulu, si Klabangkoro itu juga jatuh hati kepada Ni Sawitri, akan tetapi tidak pernah ditanggapi oleh wanita itu. Jadi, ketika disuruh oleh gurumu, Klabangkoro juga mempunyai dendam pribadi, Dan sekali ini, usahanya berhasil. Dia dan teman-temannya dapat menemukan Ni Sawitri dan Margono di Bukit Bathok dan berhasil membunuh Ni Sawitri dan Margono.”

Niken Sasi bangkit berdiri dengan mata terbelalak.

“Alanglah kejamnya!” bentaknya

“Tenanglah, Niken. Demikianlah kalau orang sudah dibuat gila oleh cinta asmara yang bukan lain hanya nafsu yang sudah memuncak, dan kematian setiap orang sudah ditentukan oleh para dewata sesuai dengan karma masing-masing. Dan sejak menerima berita bahwa Margono suda terbunuh, akan tetapi bahwa Ni Sawitri juga tewas, KI Sudibyo menjadi semakin rusak hatinya sehingga mempengaruhi kesehatannya. Bertahun-tahun dia tenggelam dalam kedukaan. Mungkin juga timbul penyesalan dalam hatinya.”

“Kalau begitu, hal itu adalah salahnya sendiri. Setiap orang sudah pasti akan angunduh wehing pakaryaan{ memetik buah perbuatannya}.”

“Memang benar, angger. Akan tetapi patut dikasihani Ki Sudibyo. Semua itu dilakukan demi cintanya kepada Ni Sawitri. Dan dia hanya dapat menikmati kebahagian hidup sebagai suami isteri bersama Ni Sawitri selama tiga bulan saja. Karena itulah maka aku merasa iba kepadanya. Yang kukhawatirkan adalah putera dari Ni Sawitri.”

Niken Sasi terbelalak memandang kakek itu. “Mereka mempunyai putera? Bagaimana dapat lolos dari pembunuhan itu?”

“Mereka mempunyai seorang anak laki-laki. Menurut cerita para murid, ketika mereka sudah membunuh Margono dan Ni Sawitri juga tewas membunuh diri, anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun itu mengamuk. Anak itu tentu sudah dapat dibunuh pula kalau tidak muncul seorang kakek tua renta yang menyelamatkannya. Kakek itu amat sakti dan mengusir Klabangkoro dan kawan-kawannya.”

“Bapa Guru juga mendengar tentang anak itu?”

“Tentu saja. Akan tetapi agaknya hatinya sudah luluh dan hancur mendengar kematian Ni Sawitri sehingga dia tidak memperdulikannya lagi. Padahal dia tahu benar bahwa kelak besar kemungkinan anak itu akan membalas dendam kematian orang tuanya.”

“Hemm, tentu saja. Dan anak itu kini sudah dewasa, paman? Sepuluh tahun yang lalu dia berusia sepuluh, tentu sekarang sudah berusia duapuluh tahun.

“Benar, karena itulah aku bercerita kepadamu. Aku khawatir anak itu datang membalas dendam dan agaknya engkau yang harus menghadapinya karena engkau akan menjadi ketua.”

“Paman kau tidak menyalahkan anak laki-laki itu kalau dia hendak membalas dendam. Akan tetapi karena aku adalah murid Bapa Guru, maka sudah menjadi kewajibanku untuk membela Bapa Guru. Kalau bocah itu datang dengan niat membunuh Bapa Guru, saya akan menasihatinya agar dia tidak melakukan hal itu, dengan mengingatkan kesalahan yang telah diperbuat orang tuanya terhadap Bapa Guru. Kalau dia nekat, terpaksa akan saya lawan!”

“Memang seharusnya demikian. Akan tetapi ada satu rahasia yang sampai saat ini hanya diketahui olehku seorang dan sekarang rahasia itu akan akan kubuka kepadamu. Ketahuilah, pemuda itu sama sekali tidak boleh membalas dendam, tidak boleh membunuh Ki Sudibyo karena Ki Sudibyo adalah bapak kandungnya.”

Niken Sasi yang tadi sudah duduk kembali, kini meloncat lagi dan matanya terbelalak bundar.

“Apa.......? Apa maksud paman?” katanya bingung.

“Ketika Margono dan Sawitri bersembunyi, Sawitri yang sudah seperti anakku sendiri, membuat pengakuan kepadaku bahwa ia sudah mengandung selama dua bulan. Jadi, anak itu adalah anak kandung Sudibyo, bukan anak kandung Margono.”

“Dan Bapa Guru tahu pula akan hal itu?”

Ki Joyosentiko menggeleng kepala. “Tidak, tidak kuberitahu karena kenyataan itu tentu akan semakin menghancurkan hatinya. Aku tidak tega Niken.”

“Ampun, Gusti.........! Kenapa mereka melakukan perbuatan seperti itu? Bapa Guru sudah jelas bersalah karena memperisteri wanita yang sudah mempunyai kekasih, kemudian keasalahannya menjadi semakin berlarut ketika dia menyuruh bunuh Margono sehingga Ni Sawitri ikut pula tewas. Ni Sawitri juga bersalah karena setelah ia menikah dengan Bapa Guru, apalagi sudah mengandung, mengapa ia mengkhianatinya dan minggat bersama kekasihnya? Juga Margono bersalah. Dia merampas isteri orang lain yang sudah mengandung, merusak pagar ayu namanya. Wah, tiga orang berbuat kesalahan dan akibatnya mengerikan.!”

“Akan lebih mengerikan lagi kalau kelak anaknya membalas dendam kepada bapak kandung sendiri!”

Niken Sasi mengangguk-angguk. “Sekarang saya mengerti mengapa paman menceritakan semua ini kepada saya. Baiklah, paman. Saya berjanji akan menghalangi pembunuhan antara ayah dan anak kandung ini. Kalau sudah tiba saatnya bertemu dengan anak itu, akan saya beritahu kepadanya perkara yang sebenarnya dan saya akan mencegah dia melakukan pembalasan terhadap Bapa Guru. Juga saya yang akan memberitahu Bapa Guru kelak bahwa pemuda itu adalah putera kandungnya.”

“Terima kasih kepada Gusti Yang Maha Agung!” Ki Joyosentiko memanjatkan puji. “Hanya andika seorang yang akan mampu menyelamatkan mereka, Niken Sasi. Sekarang legalah hatiku setelah aku menceritakan segalanya kepadamu. Nah, andika boleh melanjutkan perjalanan sekarang.”

“Baik, paman dan selamat tinggal.”

“Selamat jalan dan semoga para dewata akan melindungimu, angger!”

Niken Sasi meninggalkan gubuk itu dan mengerahkan aji Tapak Srikatan yang membuat larinya seperti seekor burung sedang terbang cepatnya, diikuti pandang mata Ki Joyosentiko yang mengangguk-angguk sambil tersenyum puas.

Niken Sasi sama sekali tidak mengetahui bahwa semua gerak-geriknya semenjak meninggalkan perkampungan Gagak Seto selalu diawasi orang. Ke manapun ia pergi, selalu saja ada orang yang membayanginya. Ketika ia mengadakan pertemuan dengan Ki Joyosentiko, juga tidak terlepas dari pengamatan orang-orang itu. Akan tetapi Ki Joyosentiko bertindak cerdik, mengajak ia bercakap-cakap disebuah gubuk di tengan sawah sehingga tidak mungkin ada orang dapat mendekati gubuk itu tanpa diketahui. Orang yang membayangi Niken hanya mampu mengintai saja dari jauh, tahu bahwa ia bercakap-cakap dengan Ki Joyosentiko, akan tetapi tidak dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dan pertemuan itupun tidak menimbulkan kecurigaan, karena Ki Joyosentiko adalah paman guru Niken Sasi sendiri.

Perjalanan Niken Sasi tidak menemui kesulitan. Karena ia bersikap ramah dan juga membawa bekal uang, maka di mana saja ia diterima penduduk dusun untuk melewatkan malam.

Pada suatu hari tibalah ia ditepi Sungai Lesti, di kaki Gunung Kelud. Tempat itu sunyi, jauh dari dusun dan selagi ia melihat-lihat ke kanan kiri untuk mencari perahu penyeberangan, tiba-tiba bermunculan dua belas orang laki-laki yang segera mengepungnya. Melihat pakaian mereka yang ringkas, dada telanjang dan sikap mereka yang kasar, Niken Sasi waspada. Mereka itu jelas bukan petani biasa, lebih pantas menjadi orang-orang yang biasa memaksa kehendak mereka dan tidak pantang melakukan kejahatan.

“Bojleng-bojleng belis laknat!” seorang di antara mereka yang mata kirinya terpejam dan hanya mempunyai sebuah mata kanan yang melotot menyeramkan berseru sambil menyeringai sehingga nampak giginya yang besar-besar menguning. “Ada bidadari dari kahyangan berjalan seorang diri. Siapakah andika, cah ayu, dan hendak pergi kemanakah?”

0 Response to "Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 12"

Post a Comment