Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 09

Mode Malam
Lautan Kidul merupakan samudera yang teramat luas. Dari pantai Jawa dwipa (Pulau Jawa) orang dapat menyaksikan dan mengagumi kebesaran samudar itu yang tidak nampak batasnya ke arah selatan. Dari pantai itu, kalau orang memandang keselatan, dia seolah akan merasa bahwa selebihnya ke arah selatan, dunia itu nampak air belaka.Air laut yang membiru dengan gelombang yang dahsyat memecah di pantai.

Gunungkarang yang merupakan tanggul di pantai selatan itu dengan kokohnya menyambut hantaman ombak dahsyat, mengeluarkan suara menggelegar seperti halilintar mengamuk, disusul suara ngese seperti air mendidih. Setiap orang yang berdiri seorang diri di pantai, menyaksikan kebesaran dan kekuasaan alam ini, orang itu akan merasa betapa dirinya kecil tak berarti, sama kecilnya dengan butir-butir pasir di pantai. Dia akan merasa betapa dirinya itu kecil tanpa arti, bahwa dunia tidak akan berubah dan tidak akan kehilangan andaikata saat itu dia melempar diri di antara gelombang dan ditelan air. Dunia akan tetap bekerja seperti biasa, dan diapun akan lenyap dilupakan orang! Alangkah bedanya perasaan seseorang setelah berada seorang diri di antara kebesaran alam dengan ketika dia berada di antara orang-orang lain. Dia akan merasa dirinya besar, penting, dan harus diperhatikan orang lain. Dia akan merasa dirinya paling besar dan paling berarti.

Wanita itu duduk di atas batu karang di tepi pantai yang sunyi itu. Pantai itu tidak pernah dikunjungi orang karena memang sukar didatangi, penuh dengan batu karang yang runcing tajam, dan gelombang lautan kadang menutupi semua batu karang dengan dasyatnya. Akan tetapi wanita itu sudah mengenal tanda-tanda gerakan gelombang dan tahu benar bahwa saat matahari mengurangi cahayanya dan condong ke barat, gelombang lautan tidak akan mencapai batu karang yang didudukinya.

Ia duduk melamun, tidak bergerak seperti sebuah arca. Arca yang indah sekali. Tubuhnya yang hanya mengenakan kain yang menutupi dari dada ke bawah, ramping padat, tubuh seorang wanita yang sudah matang sepenuhnya. Kulit pundak, leher dan lengannya sebetulnya putih kuning mulus, akan tetapi agaknya terik matahari membakar kulit itu sehingga menjadi agak coklat kemerahan. Rambutnya hitam panjang ngandan-andan dibiarkan terurai tidak digelung atau diikat karena rambut itu masih basah setelah mandi keramas tadi. Rambut itu menutupi punggung dan sebagian lagi terurai di depan menutupi bukit dadanya yang nampak di balik kainnya.

Ia tidak mengenakan perhiasan apapun, akan tetapi kesederhanaan ini tidak mengurangi kejelitaannya, bahkan tidak mengurangi keanggungannya. Ia cantik dan anggun dan orang akan mudah menyangka ia penjelmaan Sang Ratu Kidul sendiri!

Helaan napas halus keluar dari sepasang cuping hidung yang tipis itu, dan sepasang mata bintang itu menjadi redup seperti tertutup mendung. Kalau sudah begini, nampaklah bahwa ia bukan lagi wanita remaja, melainkan sudah dewasa sekali. Biarpun demikian, karena ia cantik jelita, maka ia nampak jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya. Usianya sudah tiga puluh enam tahun, akan tetapi ia kelihatan seperti baru tigapuluh tahun saja.

Tiba-tiba ia mengepal tinju kanannya mengacungkannya ke arah gelombang lautan yang mengganas, seolah ia melihat ada orang yang berada di atas gelombang itu.

“Pangeran Panjiluwih tunggu saja andika akan menerima pembalasanku! ”

Wanita itu adalah Dewi, atau dahulu, delapan tahun yang lalu ia masih bernama Dewi Muntari. Bukan seorang wanita biasa saja, melainkan seorang puteri istana. Puteri Sang Maha Prabu Jayabaya. Hidup berbahagia bersama suaminya yang tercinta, Raden Mas Rangsang, dan puterinya yang tunggal, Niken Sasi. Akan tetapi, ketika ia sedang melakukan wisata bersama suami dan puterinya di lereng gunung Anjasmoro, keluarga ini diserang gerombolan penjahat.

Pasuakn pengawal mereka melarikan diri, Raden Mas Rangsang tewas. Ia berhasil menyuruh puterinya melarikan diri, sedangkan ia sendiri ditawan oleh kepala gerombolan. Gerombolan itu bertemu dengan Ki Kolokrendo si tengkorak hidup yang mirip Danyang Durno, yang bahkan lebih keji dan mengerikan dibandingkan para anak buah gerombolan itu.

Akhirnya, Ki Kolokrendo yang berniat jahat terhadap dirinya, tewas oleh Ni Durgogini yang sakti mandraguna dan iapun diambil murid oleh nenek tua-renta yang gendut itu. Oleh Ni Durgogini yang menjadi gurunya, ia diajak pergi ke pantai Lautan Kidul, di sebuah bukit kapur yang menjadi tempat tinggal nenek itu. Ternyata Ni Durgogini amat segan dan hormat kepada Sang Prabu Jayabaya, oleh karena itu ketika mendengar bahwa Dewi adalah puteri raja besar itu, ia bersikap baik sekali, bahkan menurunkan semua aji kesaktiannya kepada murid ini.

Didorong dendam sakit hati, Dewi mendapatkan semangat yang bernyala-nyala dan ia belajar dengan tekun sekali tanpa mengenal lelah. Dan ternyata sebagai keturunan Sang Prabu Jayabaya darah satria mengalir di dalam tubuhnya dan bakatnya unggul sekali. Hal ini membuat Ni Durgogini menjadi semakin gembira mengajarkan ilmu-ilmunya.

Tak terasa waktu berjalan dengan amat cepatnya. Delapan tahun telah lewat sejak Dewi mempelajari ajijaya-kawijayan di bawah bimbingan Ni Durgogini. Dan selama waktu delapan tahun itu, Dewi telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Kalau sedang mencurahkan perhatiannya terhadap satu hal, wanita lebih tekun dari pada pria. Dewi mempelajari kanuragan dengan luar biasa tekunnya karena untuk itu ia mempunyai satu cita-cita, yaitu membalas atas kematian suaminya dan lenyapnya puterinya. Memang, gerombolan yang melakukan kejahatan itu terhadap keluarganya sudah tertumpas dan mati semua. Akan tetapi dalangnya, yang mengatur semua itu, masih belum terbalas. Dan dalangnya adalah Pangeran Panjiluwih, seperti pengakuan Ki Blendu yang memimpin gerombolan itu.

Pada sore hari itu, ketika Dewi duduk di atas batu karang mengamati gelombang dahsyat yang bergulung-gulung, ingin rasanya ia menumpahkan dendamnya kepada ombak samudera itu. Ia melihat seolah ombak yang bergulung-gulung itu merupakan musuh yang mengancamnya. Ia merasa sudah kuat sekarang untuk menghadapi musuh yang manapun. Baru tadi pagi Ni Durgogini menyatakan kepadanya bahwa kini semua ilmu yang dikuasai nenek sakti itu telah diajarkan semuanya kepadanya.

Bukan hanya ilmu bela diri silat tangan kosong maupun menggunakan senjata keris telah dipelajarinya dengan tuntas, bahkan juga aji-aji kesaktian telah dikuasainya. Di antaranya yang paling dasyat adalah Aji Trenggiling Wesi yang membuat tubuhnya menjadi kebal, tak dapat terluka oleh senjata lawan. Kemudian Aji Jaladi Geni [Ilmu Lautan Api] yang mendatangkan hawa panas seperti api keluar dari kedua telapak tanganya sehingga jarang ada lawan yang mampu bertahan menghadapi aji kesaktian ini. Masih ada lagi aji Jerit Sardulo Krodo [Teriakan Harimau Marah] yang dapat melumpuhkan lawannya seolah-olah lawan itu menghadapi seekor harimau yang sedang mengaum-aum!

Setelah udara di barat terbakar cahaya kemerahan, Dewi lalu bangkit berdiri di atas karang, memandang lepas ke laut yang tak terbatas itu, lalu berloncatan dari batu ke batu yang tajam itu. Biarpun telapak kakinya kelihatan putih mulus kemerahan dan halus, namun ternyata telapak kaki itu menginjak batu karang yang runcing tajam itu tanpa mengalami luka atau nyeri sedikitpun. Sungguh, kalau ada yang melihatnya di saat itu, tentu tidak akan ada yang percaya bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Cantik jelita, dengan rambut panjang terurai berloncatan seperti itu! Agaknya hanya peri penjaga lautan yang mampu berlompatan seperti itu.

Sementara itu, sekitar dua kilometer dari situ, Ni Durgogini sedang duduk di depan guanya yang berada di antara batu-batu karang. Sebuah gua di dinding karang yang tersembunyi di tempat yang sunyi itu. Tiba-tiba telinga nenek tua renta yang masih berpendengaran tajam itu menangkap suara orang bercakap-cakap dan juga langkah kaki mereka menuju ke tempat itu. Ia merasa heran sekali dan juga marah. Siapa orang-orang yang berani lancang mendatangi tempat tinggalnya yang keramat itu?

Karena merasa penasaran, Ni Durgogini lalu menyambar sebatang tongkat yang bentuknya seperti ular kering, dan iapun berloncatan dari tempat duduknya tadi ke atas batu-batu karang menuju ke arah datangnya suara orang-orang itu.

“Hi-hi-hi-hik! ”

Suara tawa yang nyaring dan bergema aneh ini mengejutkan enam orang pria yang sedang melangkah perlahan-lahan di antara batu-batu karang sambil bercakap-cakap.

Mereka adalah enam orang pria yang nampaknya gagah perkasa, berusia antara tigapuluh sampai limapuluh tahun dan dari bentuk pakaian dan terutama kain kepala dapat diduga bahwa mereka tentulah orang-orang dari daerah timur. Mendengar suara tawa yang mengerikan itu, enam orang tadi sudah berloncatan dengan sigapnya, lalu memperhatikan ke arah datangnya suara tawa yang seperti tawa kuntilanak itu. Dan ketika mereka melihat Ni Durgogini mereka segera berhenti melangkah dan memandang dengan penuh perhatian. Kemudian, seorang di antara mereka berseru,

“Ia adalah Ni Durgogini! ”

Enam orang itu nampak terkejut. Akan tetapi pemimpin mereka, seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, tidak nampak gentar ketika dia maju menghampiri Ni Durgogini, diikuti oleh lima orang kawannya. Laki-laki yang berkumis sekepal sebelah itu memandang dengan sinar mata penuh selidik.

“Hi-hi-hi-hik! Kalian pasti orang-orang dari Blambangan! Mau apa datang melanggar wilayah tempat tinggalku ini? Apakah kalian berenam sudah bosan hidup dan arwah kalian ingin menjadi abdi Gunung Kidul? Hi-hi-hi-hik! ”

Laki-laki berkumis tebal itu tanpa rasa takut menghadapi Ni Durgogini, bertolak pinggang lalu berkata dengan sikap angkuh.

“Ni Durgogini, orang-orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku, datuk dari Teluk Banyubiru, sama sekali tidak gentar menghadapimu.Aku adalah Menak Koncar, bersama teman-teman mengemban perintah Gusti Adipati Blambangan untuk mencari keris pusaka Tilam Upih. Nah, kalau engkau mengetahui di mana adanya keris pusaka itu, katakan kepada kami, Ni Durgogini dan kami akan memberi imbalan berharga kepadamu. Akan tetapi jangan sekali-kali mengaku membohongiku karena tidak ada orang yang berani berbohong kepadaku tetap hidup! ”

“Hi-hi-hi-hik! Menak Koncar, andika anjing-anjing Blambangan berani bersuara besar di sini? Biarpun aku sudah tua, akan tetapi belum terlalu berat bagiku untuk membasmi kalian berenam! Andaikata aku mengetahui tentang Tilam Upih pun tidak akan kuberitahukan kepada kalian. Nah, kalian mau apa? ”

“Kakang Menak Koncar, nenek tua renta ini mencurigakan sekali. Ia tinggal di pantai Laut Kidul, dan orang macam ia inilah yang sepantasnya mengetahui di mana adanya keris pusaka Tilam Upih! Kita tangkap dan siksa ia agar mengaku di mana adanya keris pusaka itu! ” kata seorang di antara mereka yang bertubuh seperti raksasa kepada Menak Koncar, pemimpin mereka.

Menak Koncar memang sudah mencurigai nenek yang mengerikan itu, maka mendengar ucapan pembantunya, dia lalu menudingkan telunjuknya kepada Ni Durgogini sambil membentak memberi aba-aba kepada anak buahnya.

“Tangkap nenek ini! ”

Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan melengking nyaring dan terbawa angin dari samudera, terdengar seperti auman seekor harimau yang marah! Enam orang Blambangan itu terkejut dan menoleh ke arah lautan dari mana terdengar auman mengerikan itu. Dan mereka semua terbelalak melihat sosok tubuh wanita yang ramping itu, dengan rambut panjang hitam terurai, berlompatan dari batu ke batu seperti seekor kera saja. Semua orang tertegun mengikuti gerakan wanita itu sehingga mereka sejenak melupakan Ni Durgogini.

Perjalanan dari tepi lautan mendaki ke tebing di mana terdapat goa tempat tinggal Ni Durgogini itu merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Selain tebing itu terjal sekali, juga mendaki ke situ harus melallui batu-batu karang yang kasar, runcing tajam. Akan tetapi tubuh wanita itu dengan cepatnya berloncatan dan sebentar saja ia sudah tiba di depan enam orang laki-laki yang kini menjadi semakin terpesona. Kalau tadi mereka kagum melihat seorang wanita dapat bergerak selincah itu, kini mereka terpesona melihat wanita itu ternyata cantik jelita bukan main, kecantikan alami yang membuat mereka merasa dalam mimpi bertemu seorang dewi kahyangan!

Bahkan orang yang delapan tahun yang lalu sudah mengenal baik Dewi Muntari pun kalau sekarang berhadapan dengan dewi, tentu akan pangling dan tidak menduga sama sekali bahwa wanita berurai rambut ini adalah puteri Raja Daha. Dewi kini tidak pernah merias diri, wajahnya tidak pernah bertemu bedak dan gicu, juga di tubuhnya tidak ada sepotong barang perhiasan yang menempel. Kecantikannya yang sekarang adalah kecantikan yang alami, yang khas, bagaikan kecantikan setangkai mawar hutan liar bermandikan embun.

“Kanjeng bibi, siapakah mereka ini dan apa kehendak mereka? ” tanya Dewi kepada gurunya.

Ia memang selalu menyebut bibi kepada gurunya karena Ni Durgogini tidak pernah mau disebut guru. Nenek ini ternyata merasa sungkan dan takut kepada Sang Prabu Jayabaya, maka tidak mau disebut guru oleh puteri raja itu, takut kalau mendapat marah!

“Hi-hi-hi-hik! Mereka itu adalah anjing-anjing Blambangan yang hendak memaksaku menunjukan kepada mereka di mana adanya keris pusaka Tilam Upih.”

Sebagai puteri raja, tentu saja Dewi pernah mendengar tentang keris pusaka yang pernah dimiliki mendiang Sang Prabu Airlangga itu karena keris pusaka Tilam Upih itu menjadi semacam kisah atau dongeng bagi keluarga istana. Pusaka itu lenyap dan ayah handanya memang berusaha untuk menumukannya kembali. Sekarang, orang-orang Blambangan mencari keris pusaka itu, bahkan hendak memaksa gurunya menunjukkan di mana adanya. Tentu saja ia menjadi marah sekali.

“Dan kanjeng bibi hendak memberi tahu mereka? ”tanyanya.

“Hi-hi-hi-hik, mana mungkin? Andaikata aku mengetahuinya pun, tidak akan kuberitahukan kepada mereka. Akan tetapi mereka hendak memaksa, hendak menangkap aku dan menyiksaku!”

“Babo-babo, keparat! Lagaknya seperti dapat melangkahi Gunung Semeru! Kanjeng bibi harap menonton saja, biar aku yang akan membasmi gerombolan anjing ini! ”

Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya bergerak, ia telah melayang ke atas dan berjungkir balik beberapa kali. Ketika ia turun, ia sudah berdiri di atas batu karang, berhadapan dengan enam orang itu.

Menak Koncar yang memimpin rombongan orang itu dan yang mengaku sebagai datuk Teluk Banyubiru, agaknya baru sadar dari keadaan terpesona tadi. Dia mengelus jenggotnya dengan tangan kiri, menghela napas beberapa kali lalu berkata,

“Tobat-tobat, ada wanita begini jelitanya, seperti seorang dewi kahyangan. Eh, wong ayu, kami tidak ingin bermusuhan dengan seorang wanita jelita seperti andika. Aku ini Menak Koncar sudah terkenal paling lunak dan menyayang wanita jelita. Aku kaya raya berkedudukan tinggi, menjadi orang kepercayaan Sang Adipati Blambangan. Karena itu marilah kita bersahabat saja, wong ayu dan kalau andika mau ikut berasamaku, andika akan kujadikan isteri mudaku yang tersayang.”

Mendengar ucapan ini, lima orang pemgikutnya tertawa-tawa gembira. Akan tetapi wajah Dewi menjadi merah sekali, sepasang mata yang bening itu tiba-tiba mencorong dengan cahaya berapi, bibirnya gemetar saking marahnya.

Tanpa dapat mengeluarkan kata-kata lagi saking marahnya, tubuh Dewi menerjang maju dan tangan kirinya menampar. Saking marahnya, tangan kiri itu mengandung aji pukulan Jaladi Geni. Nampak cahaya kemerahan ketika telapak tangan itu menyambar dan terasa hawa yang amat panas. Orang terdekat yang menghadapi serangan itu maklum bahwa dia menghadapi pukulan ampuh. Ternyata enam orang jagoan Blambangan itu bukanlah orang-orang sembarangan saja. Orang tinggi kurus yang menerima tamparan tangan kiri Dewi, dapat cepat mengelak dan melompat dari batu karang di mana tadi berdiri.

“Wuuuuttt................pyaarrrr............! ”

Batukarang itu pecah berhamburan terkena hantaman telapak tangan kiri Dewi. Bukan main kagetnya hati enam orang jagoan Balmbangan itu. Terutama sekali Menak Koncar. Tak disangkanya sama sekali bahwa wanita jelita itu memiliki aji pukulan sedemikian ampuhnya. Menak Koncar sendiri, seorang jagoan yang sakti, mengenal pukulan ampuh dan dia tidak berani memandang rendah, tidak berani main-main lagi.

“Bunuh wanita berbahaya ini!” Bentaknya memberi komando dan dia sendiri sudah menghunus kerisnya yang panjang berlekuk tigabelas. Keris itu terkenal dengan dapur Naga Siluman, selain terbuat dari besi aji yang mat kuat, juga keris itu dilumuri racun yang ampuh sekali. Dengan keris di tangan, Menak Moncar melompat dan menyerang Dewi dari arah kiri. Kerisnya menyambar dengan tusukan yang dahsyat.

“Singggg........wuuuutt......! ”

Bagaikan seekor burung walet, tubuh yang diserang keris itu sudah lenyap dari atas batu karang tadi, membuat Menak Moncar tertegun. Kiranya wanita itu telah meloncat dengan cepatnya ke kanan dan sudah menerjang ke arah seorang pengeroyok. Orang itu menusukkan kerisnya, akan tetapi dengan cekatan Dewi menangkis lengan yang menusukkan keris, kemudian tangan kanannya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.

“Desss..........! ” Tubuh itu terlempar jauh ke belakang dan tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh itu terlempar ke bawah tebing! Orang yang terkena hantaman di dada itu masih belum tewas dan terdengar jeritnya mengerikan ketika tubuhnya melayang ke bawah tebing, di mana batu-batu karang yang keras, tajam dan runcing sudah menanti untuk melumatkan tubuhnya.

Melihat ini, dua orang yang memegang golok membacokkan senjata mereka ke arah punggung dan lambung Dewi darI sebelah kanan dan belakang. Dewi dapat mendengar gerakan penyarangan itu, ia memutar tubuhnya dan melompat ke belakang sehingga serangan itu luput. KetiKa dua orang itu maju lagi, Dewi menggerakkan kepalanya dan rambutnya yang hitam, panjang dan harum itu menyambar bagaikan pecut ke depan.

“Prat-prattt!” Dua kali ujung rambut itu melecut muka dua orang itu, hampir mengenai mata mereka sehingga mereka terhuyung ke belakang sambil memejamkan mata. Akan tetapi pada saat itu, Dewi menerjangnya dengan dua kali tendangan.

“Dukk......dukkk........!” dua tubuh lawan itu terpental dan kembali terdengar lengking panjang mengerikan dua orang itu terlempar ke bawah tebing.

Tentu saja Menak Koncar dan dua orang kawannya menjadi terkejut bukan main. Terkejut akan tetapi juga marah dan penasaran. Sama sekali tidak pernah tersangka oleh Menak Koncar bahwa tiga orang kawannya dalam waktu singkat telah tewas di tangan wanita jelita itu.

Dewi tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya sudah menerjang lagi ke depan, sekali ini ia menyerang Menak Koncar dengan loncatan yang disambung dengan tendangan di udara. Tendangan terbang ini berbahaya sekali, selain tidak terduga dan cepat, juga tenaga tendangan ditambah dengan tenaga loncatan tubuhnya sehingga merupakan tendangan maut yang berbahaya. Akan tetapi Menak Koncar sudah memasang kuda-kuda di atas batu karang dan begitu tendangan datang, dia menggunakan tangan kirinya untuk menangkis dari samping. Sambil menangkis dia mengerahkan tenaganya dan tangkisan itu sedemikian kuatnya sehingga tubuh Dewi menyeleweng kesamping. Akan tetapi gerkan Dewi benar-benar tangkas seperti burung. Ia sudah dapat turun pula ke atas batu karang pada saat Menak Koncar mengejarnya dengan tusukan keris Naga Silumannya.

Keris itu menyambar dahsyat ke arah dada yang padat membusung itu dan kalau mengenai sasaran, sudah pasti dada itu akan ditembusi keris berlekuk tigabelas itu! Namun, tidak percuma Dewi sudah mewarisi seluruh aji yang diajarkan Ni Durgogini. Ia sudah menjadi seorang wanita yang digdaya dan sakti mandraguna. Karena sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak dari tusukan keris selagi tubuhnya baru saja turun, ia nekat dan mengerahkan Aji Trenggiling Wesi, yang seolah-olah menyelimuti seluruh tubuhnya dengan aji kekebalan.

“Syuuuuuttt......tukkk!” Keris Naga Siluman itu mengenai dada di atas kemben dan.....mental kembali, tidak mampu menembus atau melukai kulit yang lunak dan putih mulus dari dada itu. Dan selagi Menak Koncar terbelalak, tangan kiri Dewi sudak menampar ke arah kepalanya. Biarpun dalam keadaan terkejut, Menak Koncar masih sempat menundukkan kepala untuk mengelak.

“Plakkk........!” Tangan itu masih saja mengenai pundaknya, membuat tubuh Menak Koncar terpelanting. Akan tetapi jagoan dari Banyubiru ini ternyata hebat juga. Dia terpelanting, namun dapat mematahkan dorongan itu dengan berjungkir balik tiga kali. Sementara dua orang kawannya sudah cepat maju menggerakkan golok mereka untuk menyerang Dewi. Seorang menyabetkan goloknya untuk memenggal leher yang indah dan putih mulus itu, sedangkan orang kedua membabatkan goloknya menyerampang ke arah kaki wanita jelita itu.

Dewi melihat bahwa gerakan kedua orang penyerangnya ini tidak secepat dan sekuat Menak Koncar, maka iapun bersikap tenang saja. Golok yang membabat lehernya ia elakkan dengan merendahkan tubuh dan menundukkan kepala sehingga golok itu menyambar lewat di atas kepalanya. Sedangkan golok yang menyerampang kakinya, ia sambut dengan tendangan kakinya yang tepat mengenai tangan yang memegang golok sehingga senjata itu terlepas. Dewi cepat menyusulkan tendangan kepada orang yang menyerang kakinya, dan tangan kanannya menyambar dari samping ke arah kepala penyerang pertama.

“Wuut-wuuuut ........plak-desss........!”

Dua orang itu menjerit dan tubuh mereka terpelanting. Dewi menyusulkan tendangan keras dua kali dan tubuh kedua orang itupun terlempar ke bawah tebing menyusul tiga orang kawan mereka yang sudah lebih dulu terjungkal dan tewas di bawah tebing, disambut batu-batu karang dan gelombang mengganas.

“Jahanam keparat! Kubunuh kau! Bukan Menak Koncar namaku kalau aku tidak dapat membalas kematian lima orang kawanku!” Menak Koncar membentak marah sekali dan diapun mengeluarkan teriakan melengking. Itu adalah aji Petak Gelap Saketi, yaitu teriakan yang dikeluarkan untuk melumpuhkan semangat lawan-lawan yang kurang kuat batinnya, mendengar teriakan ini, akan tergetar seluruh tubuhnya, terguncang batinnya dan lumpuh seluruh syarafnya sehingga mudah ditundukkan.

Gemetar juga tubuh Dewi menghadapi aji ini, akan tetapi ia sendiri juga memiliki aji yang sama sifatnya, yaitu jerit Sardulo Kroda. Maka, iapun mengeluarkan jerit melengking itu untuk melawan aji lawan. Terdengar dua macam pekik yang berlawanan, dan akibtanya, tubuh Menak Koncar terhuyung-huyung dan mukanya menjadi pucat sekali. Melihat keadaan lawan ini, Dewi lalu menerjang dengan kedua tangan terbuka, mengirim serangan. Kedua tangannya bergantian melakukan serangan tamparan atau cengkeraman bertubi-tubi, dan Menak Koncar juga berusaha melindungi dirinya dengan mengelebatkan kerisnya. Akan tetapi dia kalah cepat dan ketika tangan kiri Dewi mencuat, sebuah tendangan mengenai tangan yang memegang keris.

“Plakk! Ahhh.....!”Keris itu terlepas dari pegangan dan sebelum jatuh di antara batu-batu karang, Dewi menangkapnya dengan tangan kanan. Melihat kerisnya sudah terampas lawan dan tangan kanannya seperti lumpuh terkena tendangan tangan kanan yang amat keras tadi.

Menak Koncar kehilangan semangatnya bertanding. Dia yakin bahwa dia tidak akan menang melawan wanita itu dan kalau pertandingan dilanjutkan, sama halnya dengan membunuh diri saja. Maka, dia lalu berusaha melarikan diri. Sekali meloncat dia telah berada di atas batu karang di depan. Selagi dia hendak meloncat lagi ke batu karang yang lebih jauh, tiba-tiba dia merasa punggungnya nyeri seprti digigit ular. Rasa nyeri itu makin menghebat menyerang dadanya dan iapun tidak dapat menahan lagi, terhuyung dan terjungkal ke bawah tebing dengan keris Naga Siluman menancap di punggungnya. Kiranya keris itu tadi dilontarkan oleh Dewi dan tepat sekali mengenai punggungnya.

Melihat enam orang lawanya semua terjungkal di tebing dan tewas, Dewi tertawa.Suara tawanya merdu dan nyaring melengking, bergema disambut ombak. Mengerikan sekali melihat wanita cantik itu tertawa, seperti seorang iblis betina!

“Hi-hi-hi-hik! Bagus sekali, Dewi! Andika membuatku merasa puas dan bangga. Kiranya tidak sia-sia selama bertahun-tahun ini andika belajar ilmu dariku. Andika murid yang baik sekali. Enam orang tadi memang sudah sepatutnya mampus. Mereka kurang ajar dan memandang rendah kepada kita.”

Dengan beberapa loncatan Dewi sudah tiba di depan Ni Durgogini dan berkata,

“Semua ini berkat budi Bibi dan aku berterima kasih sekali.”

Mendengar ucapan Dewi itu, tiba-tiba saja Ni Durgogini terhuyung ke depan, lalu merangkul leher Dewi dan dari kerongkongannya terdengar suara yang menyayat hati itu, setengah menangis dan setengah tertawa.

“Hi-hi-hi-hi-hi-hih..........!”

Dewi terkejut. Ia sudah mengenal benar suara gurunya ini dan dapat membedakan mana suara gembira dan mana suara bersedih. Sekali ini suara gurunya adalah suara bersedih, menangis!

“Eh,bibi! Apa yang terjadi? Apakah bibi terluka......?”

Ni Durgogini tidak menjawab, melainkan menangis terus, berha-ha-hi-hi-hi di atas pundak Dewi. Dewi membiarkannya saja, menuntun gurunya memasuki goa dan mereka berdua lalu duduk bersila berhadapan di lantai goa yang ditilami jerami kering dan hangat.

“Nah, bibi. Sekarang ceritakan, kenapa bibi berduka?”

Ni Durgogini memandang muridnya. Kedua matanya tidak basah, akan tetapi kini kedua matanya menjadi sipit hampir terpejam dan dari balik pelupuk mata itu nampak pandang mata yang redup bagaikan dian kehabisan minyak.

“Dewi, aku meratapi nasib diriku sendiri. Aku menyesal sekali memakai nama eyang-buyut- guruku yang dahulu juga berjuluk Ni Durgogini. Akan tetapi ia memang seorang petualang dan selalu mengejar kesenangan duniawi. Ia memang menderita, akan tetapi juga sudah menikmati segala penderitaannya. Kalau aku? Ahh, aku tidak terlalu mengejar kesenangan. Aku tidak mencampuri urusan kenegaraan, akan tetapi hidupku selalu merana. Sejak muda aku selalu dikecewakan pria, dan hanya seorang pria saja yang kusembah, kuhornati dan kujunjung tinggi di dunia ini. Pria itu adalah kanjeng ramamu, Sang Prabu Jayabaya. Beliau seorang pria yang bijaksana dan aku pernah berhutang nyawa kepadanya. Namun sayang, aku seorang petualang, beliau seorang Maharaja, dan beliau jauh lebih muda dariku, dua tiga puluh tahun lebih muda. Aku selalu dipermainkan pria sehingga selama hidupku, tujuh orang pria yang pernah mendampingiku,akhirnya semua terpaksa kubunuh, yang terakhir adalah Ki Kolokrendo yang selain menjadi suamiku, juga menjadi muridku sendiri. Aahh, hidupku tak pernah berbahagia. Aku tidak pernah melakukan kejahatan, tidak pernah menggangu orang. Aku membunuh orang hanya kalau dia mengganguku. Akhirnya aku bertemu engkau, Dewi. Dan selama delapan tahun ini hidupku ada artinya. Akan tetapi sekarang........aahh, hi-hi-hi-hih, sekarang terpaksa pula kita harus berpisah.”

“Ehh? Mengapa, bibi? Kita tidak harus saling berpisah. Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu.”

“Hi-hi-hi-hih, sama sekali tidak mungkin, Dewi. Lupakah andika bahwa andika masih mempunyai banyak sekali tugas dalam hidupmu? Ingat, andika harus menyelidiki siapa yang melakukan pembunuhan terhadap suamimu, siapa menjadi dalangnya? Dan andika juga harus mencari anakmu yang hilang.”

“Akan tetapi aku tidak ingin meninggalkan bibi seorang diri di sini. Marilah ikut bersamaku, bibi. Kita pergi berdua!”

“Tidak, aku sudah lemah sekali, Dewi. Lelah luar dalam, lelah lahir batin mengarungi hidup ini, Ahhh, terkutuklah aku. Mengapa aku dulu menguasai Aji Penyu Dheles itu? Terkutuklah aku........hi-hi-hi-hih!”

“Aji Penyu Dheles? Apakah itu, bibi? Kenapa bibi belum pernah menceritakan kepadaku, juga tidak mengajarkan?”

“Ah, jangan andika mempelajari itu, Dewi. Aji itu merupakan kutukan bagiku dan sekarang aku menyesal sekali telah menguasai aji itu. Aji itu membuat usiaku menjadi panjang sekali, seperti usia seekor penyu (kura-kura). Kautahu? Kura-kura itu dapat hidup sampai ratusan tahun! Dan aku....ah, celaka, apa artinya hidup terlalu lama? Hanya untuk memperpanjang derita siksaan hidup! Mata makin lamur, telinga semkin tuli, lidah dan hidung mulai melemah, kesehatan mundur, tenaga makin habis, tubuh digerogoti usia tua akan tetapi nyawa tidak juga mau loncat! Semua ini gara-gara Aji Penyu Dheles! Dan dalam keadaan semakin lemah, ada saja orang orang-orang datang memusuhiku. Apa ini bukan siksaan namanya? Aduh Gusti, mengapa tidak segera diakhiri saja kehidupan seperti ini?” Nenek itu lalu menangis dengan suara yang khas.

Dewi memandang gurunya dengan mata terbelalak. Nampak jelas sekali olehnya hikmah pelajaran dari pengalaman gurunya itu. Memang aneh mendengar orang berkeluh kesah karena panjang usia! Semua orang hidup di dunia ini menghendaki umur panjang. Dan gurunya sudah memiliki Aji Penyu Dheles yang membuat usianya dapat panjang sampai seratus tahun lebih, dan apa jadinya? Gurunya itu tidak merasa bahagia, malah merasa tersiksa dan kini menangis mohon kepada dewata agar dicabut saja nyawanya! Di sini jelas nampak betapa jauh bedanya antara apa yang diharapkan dengan kenyataannya.

Kenyataan tidak selalu seindah yang diharapkan,bahkan apa yang diharap-harapkan itu mungkin saja setelah terdapat menjadi sesuatu yang menyengsarakan. Demikian pula dengan apa saja di dunia ini, bukan hanya usia panjang. Orang mengejar dan memperebutkan kedudukan dan akhirnya setelah memperoleh kedudukan dai menjadi sengsara karena kedudukannya itu, yang ternyata tiodak senikmat ketika masih dalam pengejaran. Harta benda juga demikian. Jarang di antara mereka yang berharta dapat benar-benar menikmatai harta bendanya, bahkan lebih banyak mendatangkan kejengkelan dan kesusahan. Hanya mereka yang belum memiliki emas dapat mengagumi kemilau emas.
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 09"

Post a Comment

close