Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 07

Mode Malam
“Memang tidak dapat dikendalikan begitu saja. Bagaikan menyambarnya kilat, akibatnya tergantung dari kuat atau tidaknya lawan menerimanya. Akan tetapi aku bukan hendak mengujimu bertanding aji itu, Niken Sasi. Andika tahu sendiri bahwa tenagaku sudah habis, digerogoti penyakitku. Aku tidak mampu lagi mengerahkan tenaga Hasta Bajra. Karena itu, aku akan menyerangmu dengan lemparan balok-balok kayu yang sudah kupersiapkan ini. Semua lemparan balok-balok ini sambutlah dengan aji Hasta Bajra. Jangan batasi tengamu karena kau ingin melihat sampai di mana tingkatmu dalam aji itu.”

“Ah, begitukah, Bapa? ” kata Niken Sasi dengan hati lega. “Baiklah, akan kulaksanakan perintah Bapa Guru.” Ia meloncat ke tengah ruangan itu dan memasang kuda-kuda. Tubuhnya memasang kuda-kuda miring menghadapi gurunya, kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang agak ditekuk, kedua lengannya di angkat ke atas dengan telapak tangan menghadao ke arah atas seperti sedang menyangga langit. Tubuhnya tegak, matanya memandang tajam ke depan, pernapasannya menjadi lambat dan panjang karena ia mulai menyalurkan tenaga Hasta Bajra ke dalam kedua tangannya.

“Saya sudah siap, Bapa! ” Katanya dengan sikap gagah. Ki Sudibyo memang tidak berani lagi menggunakan aji Hasta-bajra karena penggunaan tenaga sakti itu terlalu kuat bagi tubuhnya yang sudah ringkih. Maka, dia sejak pagi tadi telah mengumpulkan belasan potongan balok yang cukup besar, dan beberapa bongkah batu gunung. Kini, dia lalu mengangkat balok-balok itu, satu demi satu dan dilontarkan ke arah muridnya dengan sekuat kemampuannya. Biarpu dia sudah berpenyakitan, akan tetapi karena bekas pendekar perkasa, lontarannya itu masih cukup kuat dan potongan balok itu menyambar dahsyat ke arah muridnya.

“Siyyyttt.............wirrrrrr........! ” Blok pertama menyambar ke arah kepala Niken Sasi.

“Hyattttt........ahhhhh! ” Gadis jelita ini menggerakkan tangan kirinya, dengan jari tangan terbuka menghantam ke arah balok itu. Nampaknya tidak terlalu keras ia menghantam, akan tetapi ketika tangannya menyambar batu, terdengar suara keras.

“Brakkkkk.........! ” Dan balok itupun berantakan, pecah menjadi beberapa potong dan berhamburan ke dinding ruangan menimbulkan suara gaduh.

Balok ke dua, ke tiga dan ke empat menyusul, cepat sekali. Niken Sasi bergerak, memainkan ilmu silat Hasta Bajra, kedua tangannya seperti sepasang golok menyambar-nyambar ke arah balok dan batu yang datang susul-menyusul. Balokbalok itu pecah dan ketiak batu-batu mulai menyambar, batu-batu itupun porakporanda terkena hantaman tangan yang berkulit halus itu. Kini dari ruangan itu terdengar suara hiruk-pikuk karena pecahan kayu dan batu menghantam dinding, ditambah lagi menyambarnya hawa pukulan Hasta Bajra yang mengguncangkan seluruh
ruangan!

Para murid Gagak Seto terkejut bukan main ketika dari ruangan tertutup itu terdengar suara hiruk-pikuk ditambah lagi didnding ruangan itu tergetar seperti dilanda angin badai yang mengamuk.

Akan tetapi Klabangkoro dan Mayangmurko yang juga sudah berada di luar ruangan itu saling pandanga dan Klabangkoro berbisik, “Bagaimana Bapa Guru dapat berlatih sehebat itu? Bukankah dia sakit dan lemah.......? ”

Setelah suara gaduh itu berhenti, Klabangkoro lalau mengetuk daun pintu ruangan itu sambil berteriak memanggil gurunya, Bapa Guru........! Apakah yang terjadi? Harap suka membuka pintu dan mengijinkan kami masuk....! ”

Agak lama tidak ada jawaban, kemudian pintu terbuka dari dalam dan yang muncul adalah Niken Sasi, adik seperguruan mereka termuda. Niken Sasi tersenyum melihat Klabangkoro, Mayangmurko dan Gajahpuro, aeorang pemuda tampan dan gagah putera Klabangkoro, dan banyak sekali murid Gagak Seto berada di belakang mereka.

“Haiiii, kalian kenapakah? Membikin kaget kepada Bapa Guru saja. “Niken Sasi menegur, akan tetapi sambil tersenyum.

“Niken Sasi, apakah yang terjadi di dalam? ” Gajahpuo yang sebaya dengan gadis itu dan hubungan di antara mereka akrab sekali, segera bertanya.

“Ya, apakah yang terjadi , Niken? ” tanya pula Klabangkoro sambil mencoba untuk menjenguk ke dalam.Dia tebelalak melihat pecahan-pecahan kayu dan batu di ruangan itu, berserakan memnuhi ruangan.

“Ah, tidak ada apa-apa. Hanya Bapa Guru sedang berlatih aji Hasta Bajra, mengguankan kayu dan batu yang harus kulemparkan kepada Bapa Guru.” kata gadis itu dengan suara wajar. Ia memang seorang gadis yang cerdik. Ia sudah diberitahu oleh gurunya bahwa tidak ada seorangpun boleh mengetahui bahwa dia telah menerima pelajaran aji Hasta Bajra dari gurunya, harus merahasiakan sampai aji itu dikuasainya dengan sempurna. Oelh karena itu, ketika mereka bertanya-tanya, mudah saja ke luar dari bibirnya jawaban itu.

Klabangkoro dan Mayangmurko kembali saling pandang dan mata mereka terbelalak.

“Akan tetapi.......bukankah......bukankah Bapa Guru sedang sakit.......? ” tanyannya heran.

Pada saat itu Ki Sudibyo muncul dari ambang pintu. Wajahnya agak pucat dan napasnya memburu. Dia mengangkat tangan menenangkan muridnya lalau berkata sambil tersenyum lemah

“Kalian semua jangan khawatir. Aku hanya berlatih dan ......... latihan itu menghabiskan tenagku. Aku......aku ingin beristirahat, jangan mengganguku. Engkaupun beristirahatlah, Niken. Engkau sudah cukup membantuku.....”Ki Sudibyo lalu menutupkan kembali dauan pintu setelah masuk kembali ke dalam ruangan itu.

“Niken, engkau harus menceritakan kepadaku tentang latihan Hasta Bajra itu. Tentu hebat bukan main! ” tanya Gajahpuro sambil mendekati Niken Sasi.

Gadis itu tersenyum, sambil menuruni anak tangga dan melangkah perlahan. Gajahpuro mendampinginya, juga Klabangkoro dan Mayangmurko.

“Bukan hebat lagi, dahsyat! ” kata gadis itu tersenyum, diam-diam ia girang bukan main karena tadi sehabis latihan, gurunya mengatakan bahwa ia telah mencapai tingkat yang cukup tinggi.

“Niken, andika melihat semua gerakan Bapa Guru ketika berlatih aji Hasta Bajra? Benar-benarkah dia memainkan aji itu dengan dahsyatnya? ”

“Aku melihatnya sendiri, paman. Semua balok dan batu yang kulemparkan kepadanya dihancurkan oleh kedua tangannya”. Jawab gadis itu.

Klabangkoro saling pandang dengan Mayangmurko. “Akan tetapi dia sedang sakit, tubuhnya lemah, bagaimana.....”

“Siapa bilang Bapa Guru sakit dan lemah? ” Niken Sasi membantah. “Dia sehat dan kuat, buktinya mampu berlatih Hasta Bajra.”

“Wah, kalau begitu tentu engkau sudah mempelajarinya pula, Niken? ” kata Gajahpuro girang, akan tetapi juga suaranya mengandung iri.

“Aji itu terlalu berat dan sukar bagiku, dan Bapa Guru juga tidak mengajarinya kepada siapapu. Sudahlah, aku ingin mandi, hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi aku harus mempersiapkan makan malam untuk Bapa Guru.”

Gadis itu lalu pergi meninggalkan para murid Gagak Seto yang masih tertegun dan bertanya-tanya itu. Klabangkoro lalu menarik tangan Mayangmurko memasuki pondoknya. Dengan daun pintu dan jendela tertutup mereka berdua lalu bercakapcakap dengan hati-hati dan setengah berbisik sehingga tidak akan terdengar lain orang.

“Ssstt......Kakang Klabangkoro, apa yang kita dengar tadi? Ternyata Bapa Guru masih sehat dan kuat. Sungguh celaka! Bisa berantakan semua rencana kita yang sudah kita rencanakan bertahun-tahun! ” kata Mayangmurko.

Klabangkoro memukul telapak tangan kiri dengan tinju kanan.

“Plakkk! ” dia berjalan hilir mudik. “Pantas saja ketika itu Sepasang Keris Maut dari Nusa barung yang dikirim Jambuka Sakti gagal membunuhnya. Akan tetapi menurut Sepasang Keris Maut, pukulan Bapa Guru tidak begitu kuat lagi sehingga tidak membuat mereka terluka berat. Mungkinkah sekarang telah pulih kembali semua kekuatannya? Rasanya tidak mungkin! Kelihatannya dia berpenyakitan dan lemah, apa lagi usianya menjadi semakin tua.”

“Kakang Klabangkoro, jangan-jangan Niken Sasi.......”

“Hemm, bocahperempuan itu? Mana mungkin ia dapat menguasai Hasta Bajra yang amat sulit dan membutuhkan landasan tenaga sakti yang kuat. Bocah perempuan itu tidak ada apa-apanya, adi Mayangmurko.”

“Akan tetapi ia dekat dengan Bapa Guru dan ia amat disayang. Aku khawatir Bapa Guru mewariskan aji itu kepadanya, baik dalam bentuk pelajaran atau dalam bentuk kitab agar kelak dapat dipelajarinya. Kurasa jalan terbaik adalah melenyapkan perawan itu, kakang.”

“Hushh! Lancang ucapanmu, Mayangmurko! Tidak tahukah andika bahwa puteraku si Gajahpuro itu cinta setengah mati kepada Niken Sasi? Tidak, membunuhnya bukan jalan terbaik, pula akan menimbulkan kecurigaan kepada Bapa Guru. Lebih baik kalau perawan itu menjadi isteri puteraku sehingga andaikata benar ia memiliki warisan Hasta Bajra, kelak akan terjatuh ketangan puteraku pula.”

“Akan tetapi bagaimana kalau dia tidak mau menjadi isteri Gajahpuro? ” bantah Mayangmurko.

“Harus diusahakan agar ia mau! Aku ada akal. Rencana ini pertama untuk menguji apakah benar gadis itu memiliki aji Hasta Bajra, dan kedua membuat ia berhutang budi kepada Gajahpuro. Kalau cara ini tetap tidak berhasil, masih ada cara ketiga, yaitu menodainya sehingga terpeksa ia akan menerima Gajah[puro sebagai suaminya untuk mencuci aib.”

Mendengar ini, Mayangmurko mengacungkan ibu jarinya. “Wah, andika memang hebat, kakang. Mari kita cepat melaksanakan rencana itu agar jangan sampai terlambat! ”

Kedua orang itu lalu meninggalkan ruangan tertutup itu dan menyelinap dalam kegelapan malam yang mulai menyelimuti bumi.

Sementara itu, ketika Niken Sasi melayani gurunya makan malam, Ki Sudibyo mengajak muridnya itu makan bersama. Hal ini agak aneh bagi Niken Sasi, karena tidak biasanya gurunya mengajak makan bersama. Melihat pandang mata Niken Sasi yang penuh keheranan dan keraguan itu, Ki Sudibyo berkata lembut.

“Niken, jangan ragu-ragu. Marilah temani aku makan malam. Siapa tahu, dalam beberapa hari ini merupakan hari-hari terakhir bagi kita untuk berduaan.”

“Eh? Maksud Bapa Guru, bagaimana? ” tanya gadis itu dengan mata terbelalak, terkejut.

“Niken Sasi, engkau kini telah menjadi seorang gadis remaja, bahkan sudah dewasa karena usiamu sudah delapanbelas tahun. Ingatlah, engkau berasal dari istana! ”

Niken Sasi memenuhi permintaan gurunya dan makan bersama gurunya, dan sambil makan mereka bercakap-cakap. “Saya kira Bapa masih ingat bahwa saya sama sekali tidak mengharapkan untuk kembali ke istana. Saya ingin tinggal saja di sini melayani Bapa Guru.”

Ki Sudibyo tersenyum. “Boleh saja engkau melupakan istana dan tidak ingin kembali ke sana. Itu adalah hak pribadimu untuk memilih kehidupan macam apa yang ingin kautempuh.Akan tetapi, juga tidak mungkin kalau engkau terus tinggal di sini melayaniku. Aku tidak ingin disebut manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Tidak, angger, engkau harus pergi dari sini karena banyak persoalan yang harus kau hadapi di samping engkau harus pula memanfaatkan semua ilmu yang pernah kau pelajari di sini dengan segala jerih payah.”

“Akan tetapi, Bapa. Persoalan apakah yang saya hadapi? Saya tidak mempunyai persoalan.”

“Hemm, benarkah itu? Apakah engkau bicara dari dasar hatimu, ataukah memang engkau sudah lupa bahwa ayah ibumu terbunuh orang tanpa kauketahui dosanya dan siapa pula para pembunuh itu? ”

Mendengar pertanyaan gurunya itu, tiba-tiba saja Niken Sasi menundukkan mukanya untuk menyembunyikan matanya yang tiba-tiba menjadi basah itu. Ia menahan makannya dan melihat ini, Ki Sudibyo tersenyum. Tabahkanlah hatimu dan tidak pantas seorang dara perkasa sepertimu menjadi cengeng.Hayo lanjutkan dulu makan kita, nanti aku ingin bicara denganmu.”

Guru dan murid itu melanjutkan makan mereka. Patut dikagumi gadis itu, yang baru berusia delapanbelas tahun akan tetapi demikian kuatnya menahan gejolak hatinya. Tadi, diingatkan tentang kematian ayahnya dan lenyapnya ibunya, hatinya seperti ditusuk dan kedua matanya menjadi basah. Nasi di lehernya sukar ditelan. Akan tetapi mendengar ucapan gurunya, ketabahannya timbul dan semangatnya membakar sehingga ia mampu melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan dan bekas makanan disingkirkan oleh Niken Sasi, tikar di lantai juga sudah dibersihkan Ki Sudibyo bersila di depan muridnya dan suaranya terdengar sungguh-sungguh ketika dia bertanya, “Muridku yang baik. Benarkah engkau sudah melupakan apa yang menimpa diri ayah bundamu? ”

Niken Sasi sekarang telah dapat menguasai hatinya sepenuhnya dan dia mengangkat muka menatap wajah gurunya, kemudian menjawab dengan suara tenang, “Bapa Guru, bagaimana saya akan mampu melupakan kematian ayah yang menyedihkan itu, dan lenyapnya ibu yang dilarikan penjahat? ”

“Kalau begitu, di dalam hatimu tumbuh dendam kebencian yang membara terhadap mereka yang berbuat jahat terhadap ayah ibumu? ”

Niken Sasi menggelengkan kepalanya danmenjawab dengan tegas. “Tidak, sama sekali, Bapa.Sudah nampak jelas oleh saya dengan pengertian yang mendalam bahwa mendendam adalah suatu perbuatan yang amat bodoh dan yang akhirnya hanya merugikan diri sendiri saja. Tidak, saya tidak lagi mengandung dendam. Akan tetapi karena kematian ayah itu dalam penasaran, juga saya harus melihat apakah ibu saya telah meninggal dunia ataukah masih hidup, maka saya harus melakukan penyelidikan, siapa yang telah melakukan penyerangan terhadap mendiang ayah, siapa pula dalangnya dan apa pula sebabnya mereka melakukan hal itu terhadap ayah dan ibu. Kemudian, kalau ibu masih hidup, saya harus membebaskan ibu dari tangan penjahat.”

“Dan bagaimana sikapmu terhadap para penjahat itu sendiri, Niken Sasi? ”

“Hal itu tergantung kepada mereka sendiri, Bapa. Kalau saya mendapatkan bahwa mereka itu adalah orang-orang jahat yang masih mkelakukan kejahatan, sudah menjadi kewajiban saya untuk menentang kejahatan itU. Akan tetapi, yang saya tentang bukanlah manusia-manusianya yang berdasarkan dendamj, melainkan perbuatannya. Demi keselamatan dan keamanan orang-orang yang tidak berdosa, kalau mereka jahat akan saya tentang dan basmi! ”

Ki Sudibyo menganguk-angguk senang, “Bagus sekali, kuharap saja engkau sudah mengerti benar karena pengertian itulah yang akan menjadi obor bagi semua tindakanmu. Celakalah kalau engkau bertindak karena dorongan dendam. Aku sendiri telah melakukan hal itu, Niken. Dan sampai sekarang aku masih tenggelam dalam penyesalan.”

Saya aku selalu mengingat semua wejangan Bapa, dan mudah-mjudahan Sang Hyang Wisnu akan selalu memberi bimbingan kepada hamba sehingga akan timbul kewaspadaan dan kebijaksanaan dalam segala sepak terjang saya.”

“Sekarang ada dua hal yang aku harapkan dengan sangat agar engkau dapat melaksanakannya, Niken. Kalau engkau dapat melaksanakan dua hal ini dengan baik sebagai pesan terakhirku, maka aku akan menghadapi kematian dengan hati tenteram dan mata terpejam mulut tersenyum.”

“Katakanlah, Bapa. Tugas apakah yang harus saya laksanakan? Saya siap untuk menanti perintah Bapa dan melaksanakannya dengan sekuat tenaga saya.”

“Begini, angger. Dari anak buah Gagak Seto aku mendapat aku mendapat berita penting sekali, yaitu bahwa kini semua oran g gagah saling berlomba untuk menemuakan keris pusaka Tilam Upih. Keris pusaka ini milik mendiang Sang Prabu Airlangga yang telah hilang seabad yang lalu. Menurut perhitungan Sang Prabu Jayabaya yang diumumkan, dikabarkan bahwa keris pusaka itu akan mucul pada hari-hari ini. Karena itu, berduyun-duyun orang gagah dari segala penjuru bermunculan untuk berlumba mendapatkan keris pusaka itu. Nah, aku mengharap agar engkaupun tidak ketinggalan, menyumbangkan tenagamu untuk mencari dan mendapatkan pusaka itu, angger.”

“Bapa Guru, bukan sekali-kali saya menolak atau keberatan melakukan perintah Bapa ini. Akan tetapi, Bapa. Kalau semua orang gagah sudah bermunculan, berlumba mendapatkan pusaka itu, masih perlukah saya ikut mencarinya? Pusaka itu pasti akan dapat ditemukan mereka dan dihaturkan kembali kepada Sang Prabu Jayabaya.”

“Ah, kalau benar seperti ucapanmua itu, tentu akupun tidak akan mengutusmu pergi, angger. Akan tetapi kenyataannya bukan begitu. Tidak semua orang berpamrih mencari pusaka itu untuk dikembalikan kepada Sang Prabu Jayabaya. Mereka mencari untuk diri sendiri. Dan berbahayalah kalau sampai pusaka itu jatuh ke dalam tangan seorang penjahat karena pusaka itu ampuhnya menggiriskan. Jadi, engkau harus membantu mereka yang berpamrih baik, mengembalikan pusaka itu kepada yang berhak, yaitu kerajaan Daha.

“Hemm, begitukah Bapa? Sekarang mengerti saya, dan kalau begitu memang sudah menjadi kewajiban saya untuk ikut mencarinya dan mencegah pusaka itu terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Akan tetapi, kalau saya mulai mencarinya, ke manakah saya harus pergi, Bapa? Tanpa arah petunjuk, bagaimana saya dapat mencarinya? ”

“Sang Tilam Upih itu oleh penciptanya, yaitu mendiang Empu Bromokendali pada jaman negeri Medang Kamulan, sembilan abad yang lalu, dibuang ke Lautan Kidul. Yang menemukannya adalah mendiang Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narrotama. Akan tetapi, pada saat Sang Mahaprabu Airlangga mengundurkan diri dan menjadi Sang Resi Gentayu, pusaka Tilam Upih itu hilang. Karena keris pusaka itu ditemukan di Lautan Kidul, maka timbul dugaan bahwa dia kembali lagi ke Lautan Kidul. Nah, hanya itulah petunjuknya dan dalam usahamu itu, engkau dapat menyusuri lautan itu untuk mencarinya.”

“Baiklah, Bapa. Saya akan berusaha keras untuk dapat menemukannya. Dan andaikata saya berhasil, apa yang harus saya lakukan dengan pusaka itu? ”

Ki Sudibyo tersenyum, girang melihat besarnya semangat muridnya. “Kalau engkau berhasil, bawalah ke sini. Kalau aku masih hidup, aku akan menyertaimu menghadap Sang Prabu Jayabaya untuk menghaturkan pusaka itu.”

Gadis itu mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak nyaman mendengar bahwa ia kelak harus menghadap eyangnya, Sang Prabu Jayabaya. Akan tetapi ia tidak membantah dan hanya mengangguk, lalu bertanya,

“Dan hal yang kedua yang harus saya lakukan itu apakah, Bapa? ”

“Hal pertama ini harus kau lakukan dulu, karena itu merupakan ujian bagimu untuk melaksanakan tugas ke dua. Dalam tugas pertama itu, engkau akan digembleng oleh pengalaman-pengalaman hebat, bertemu dengan orang-orang sakti mandraguna berbagai aliran. Mungkin pula engaku akan menghadapi pertandingan-pertandingan di mana engkau akan mengetrapkan semua ilmu dan aji yang telah kau pelajari dariku. Hanya, pesanku jangan sekali-kali menggunakan aji Hasta Bajra kalau tidak perlu sekali, karena penggunaan aji ini amat berbahaya bagi lawan dan dapat menimbulkan korban. Kalau engkau sudah melaksanakan tugas pertama itu, baik berhasil menemukan keris atau tidak, barulah engkau kembali ke sini dan melaksanakan tugasmu yang ke dua.”

“Apakah tugas itu, Bapa? Saya akan melaksanakan dengan seluruh kemampuan saya.”

“Tugas itu adalah menggantikan kedudukanku sebagi ketua perkumpulan Gagak Seto! ”

Mendengar ucapan gurunya ini, Niken Sasi benar-benar terkejut sehingga ia mengangkat mukanya memandang wajah gurunya dengan penuh perhatian. Akan tetapi gurunya tidak main-main. Wajah gurunya bersunguh-sungguh.

“Akan tetapi, Bapa......! Bagaimana saya dapat menjadi ketua? Bukankah di sana terdapat Paman Klabangkoro dan Paman Mayangmurko yang lebih memenuhi syarat dan berpengalaman? ”

“Sudah kupertimbangkan baik-baik, Niken Sasi. Perkumpulan kita adalah adalah perkumpulan orang gagah yang sudah terbiasa dengan tindakan kekerasan. Kalau mereka tidak dipimpin oleh seorang yang benar-benar bijaksana dan berwatak baik, mereka dengan mudah akan dibawa menyeleweng dan berbahayalah kalau terjadi demikian. Dan aku tidak melihat seorangpun di antara para murid yang tepat untuk menjadi ketua, kecuali engkau! ”

“Akan tetapi saya hanyalah seorang wanita, Bapa Guru! ” bantah Niken Sasi yang merasa ngeri diserahi tugas menjadi ketua itu. “Apa alasan yang Bapa Guru ambil untuk memilih saya, seorang wanita muda, menjadi ketua perkumpulan besar ini? ”

“Untuk menjadi pemimpin pria atau wanita sama saja. Ingat, Dewi Woro Srikandi juga seorang wanita, namun ia telah terkenal sebagi seorang senopati yang gagah perkasa dan pilih tanding. Alasanku memilihmu, karena engkau merupakan murid yang paling tangguh di antara semua muridku. Terutama sekali karena engkau yang mewarisi aji Hasta Bajra selain itu, hanya engkau yang kupandang memiliki kebijaksanaan walaupu usiamu masih muda. Nah, aku sungguh mengharapkan engkau tidak akan menolak permintaanku ini, Niken Sasi! ”

“Maaf, Bapa. Sama sekali bukan saya keberatan, hanya saya pikir masih banyak murid pria yang saya pandang juga bijaksana dan berwatak baik seperti misalnya kakang Gajahpuro.”

“Hemm, tidak salah pendapatmu. Gajahpuro memang seorang pemuda yang baik dari pada ayahnya, Klabangkoro. Akan tetapi, dia kurang berbakat dan tidak cukup tangguh untuk menjadi seorang pemimpin. Ketahuilah, hanya seorang ketua yang menguasai aji Hasta Bajra dan selain aku, hanya engkau yang kini menguasainya. Bahkan aku sendiri sudah tidak mampu mempergunakannya dengan baik, jadi engkau seoranglah yang kini menguasainya dengan sepenuhnya. Karena itu, harap jangan menolak lagi, Niken.”

Gadis itu menghela napas panjang. Sebetulnya, sedikitpun tidak ada keinginan di hatinya untuk menjadi ketua Gagak Seto. Akan tetapi iapun tidak tega untuk menolak begitu saja permintaan gurunya yang demikian sungguh-sungguh.

“Bapa, biarlah tentang kedudukan ketua itu akan saya pikirkan dulu, karena bukankah sekarang saya harus melaksanakan tugas pertama mencari pusaka itu? ”

“Baiklah, Niken. Maafkan aku yang telah membebani pikiranmu dengan banyak persoalan. Memang sebaiknya engkau menghadapi satu masalah saja dahulu yaitu mencari pusaka Tilam Upih. Mudah-mudahan saja para dewata melindngimu sehingga engkau yang akhirnya menemukan pusaka yang diperebutkan itu.”

“Bapa, kapan saya harus berangkat? Saya harus membuat persiapan untuk perjalanan itu.”

“Tiga hari kemudian merupakan hari yang amat baik bagimu untuk mulai dengan perjalananmu, Niken. Berkemas dan bersiap-siaplah, dan pusakaku Kyai Megantoro ini kuberikan kepadamu. Bawalah untuk pelindung diri. Biarpun tidak sehebat Kyai Tilam Upih, akan tetapi Megantoro ini sudah menemaniku selama puluhan tahun dan sudah amat besar jasanya.”

Kakek itu mengambil kerisnya dan menyerahkan kepada Niken Sasi. Niken Sasi menerima keris itu dengan kedua tangannya. Kyai Megantoro adalah sebatang keris yang bentuknya lurus, juga tidak terlalu panjang sehingga cocok untuk dipergunakan seorang wanita.

Pada saat itu, sesosok tubuh meninggalkan daun jendela ruangan itu di mana tadi ia berdiri tanpa bergerak dan menahan napas. Orang itu sempat mendengarkan bagian terakhir dari percakapan antara Niken Sasi dan Ki Sudibyo.

Ia seorang wanita muda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Usianya sekitar duapuluh tahun, seorang gadis yang lumayan cantiknya, dan yang sudah bekerja kepada Ki Sudibyo sejak berusia sepuluh tahun. Oelh karena itu Jinten, demikian nama gadis itu, telah dipercaya. Ialah yang dahulu selalu melayani Ki Sudibyo, akan tetapi semenjak Niken Sasi menjadi murid orang tua itu dan Niken Sasi berkeras melayani sendiri gurunya, Jinten hanya membantunya kalau dikehendakinya saja. Sejak ada Niken Sasi, Jinten lebih banyak bekerja di dapur, masak dan mencuci pakaian. Ia seorang gadis yang manis yang lincah dan agak genit.

Sudah lebih dari tiga tahun Jinten ditarik oleh Klabangkoro menjadi mata-mata untuk selalu mengikuti gerak-gerik Ki Sudibyo. Apa lagi akhir-akhir ini, Jinten dipesan oleh majikannya itu agar selalu mengintai atau mendengarkan kalau Ki Sudibyo bercakap-cakap dengan Niken Sasi. Maka, pada malam hari itu, ketika melihat Ki Sudibyo bercaklap-cakap dengan Niken Sasi, ia cepat menyelinap dekat jendela dan dengan hati-hati mendengarkan percakapan itu.

Sebelum Niken Sasi yang menerima keris itu bangkit meninggalkan ruangan, Jinten mendahuluinya, pergi dengan berjingkat-jingkat. Kemudian wanita ini berlari ke pondok Klabangkoro. Ketika tiba di sana Klabangkoro sedang bercakap-cakap dengan Gajahpuro, puteranya. Biarpun di situ tidak ada orang lain lagi, Jinten nampak meragu ketiak melihat pemuda itu. Memang ia merasa takut kepada Gajahpuro. Pernah ia bersikap genit dan berusaha merayu Gajahpuro, akan tetapi perjaka ini bukannya tertarik, bahkan menghardik dan memakinya! Sejak saat itu, ia tidak berani lagi mendekati putera tokoh Gagak Seto itu. Melihat Jinten datang berlarian, kemudian meragu sambil memandang kepada puteranya, Klabangkoro berkata kepada Gajahpuro,

”Anakku, Gajahpuro, engkau tinggalkanlah dulu ruangan ini. Aku perlu bicara berdua dengan Jinten.”

Gajahpuro bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan alis berkerut. Dia tahu bahwa Jinten adalah orang kepercayaan ayahnya, akan tetapi dia tidak tahu apa tugas Jinten. Dia tidak suka dan muak kepada gadis pelayan yang genit itu.

Setelah Gajahpuro pergi, Jinten lalu berkata, “Bendoro, saya membawa berita yang teramat penting sekali ini! ” kata Jinten dengan wajah gembira dan sepasang matanya bersinar-sinar. “Akan tetapi bagaimana dengan janji paduka? Telah banyak jasa saya, akan tetapi belum juga paduka memenuhi janji paduka kepada saya.” kata Jinten dengan sikap jual mahal dan manja.

“Setan! Kurang banyakkah hadiah yang kuberikan kepadamu berupa uang dan pakaian? ” bentak Ki Klabangkoro dengan mata melotot.

Jinten memainkan matanya dengan sikap menarik. “Eh, bukan itu yang saya maksudkan. Soal hadiah memang sudah cukup, akan tetapi paduka pernah berjanji akan mengembil saya sebagai selir.”

Ki Klabangkoro tertawa, tangannya yang besar itu terulur dan di lain saat Jinten sudah didekapnya dan diberikan ciuman yang kuat, lalu dilepaskannya kembali. Wanita itu sampai terengah-engah karena dipeluk kuat sekali.

“Ha-ha-ha, bodoh! Kalau engkau menjadi selirku, bagaimana engkau dapat membantuku lagi? Soal menjadi selir itu mudah. Kalau sudah selesai tugasmu dan tercapai cita-citaku menjadi ketua Gagak Seto, tentu engkau akan menjadi selirku yang pertama. Yang pertama, kaudengar? Akan tetapi sekarang belum, tugasmu masih banyak dan tugas itu baru dapat kau laksanakan kalau engkau menjadi pelayan seperti sekarang. Mengerti? ”

Jinten mengangguk-angguk, pada hakekatnya, ia memang takut sekali kepada Klabangkoro. Tadinya ia sendiri tergila-gila kepada Gajahpuro akan tetapi karena semua usahanya merayu pemuda itu gagal, ia lalu hendak mengait ayahnya.Apalagi setelah ia membantu Ki Klabangkoro dan mengetahui bahwa orang itu ingin menjadi ketua Gagak Seto, ia membayangkan betapa akan terhormat dan senangnya kalau ia menjadi selir ketua!

“Saya......saya mengerti......”

“Bagus! Nah, sekarang ceritakan apa berita penting itu! ”

Jinten bicara perlahan, setengah berbisik dan mendekati Klabangkoro. “Saya mendengar percakapan Ketua dan Niken Sasi. Yang pertama adalah supaya gadis itu pergi mencari keris pusaka Tilam Upih milik kerajaan Daha yang hilang dan ketua telah memberikan keris pusakanya Kyai Megantoro kepada Niken Sasi.”

“Hemmm, apa yang kedua? ”

“Yang kedua penting sekali. Ketua hendak mengangkat Niken Sasi menjadi penggantinya kelak, menjadi ketua Gagak Seto.”

“Keparat! Sudah kuduga! Hemmmm, setan cilik itu......! ”Ki Klabangkoro mengepal tangannya dan berjalan hilir mudik. “Kita harus cepat bertindak! Jinten, cepat kau pergi mengundang adi Mayangmurko ke sini! ”

Perintah itu cepat dilaksanakan. Sebagai seorang pelayan ketua, tentu saja Jinten bebas berkeliaran di perkampungan Gagak Seto itu tanpa ada yang mencurigainya sama sekali. Dan beberapa menit kemudian Klabangkoro dan Mayangmurko sudah berhadapan di dalam bilik tertutp berdua saja.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 07"

Post a Comment

close