Rahasia Ciok Kwan Im (Da Sha Mo) Bab 20: Rahasia Ki Loh Ci Sing

Mode Malam
Rahasia Ciok Kwan Im
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 20: Rahasia Ki Loh Ci Sing

Padang pasir yang terbentang tenang dan sepi itu, mendadak tampak dua gulungan debu kuning yang membumbung tinggi ke angkasa panjang seperti naga yang sedang mengamuk, dua ekor kuda satu di depan yang lain di belakang sedang dicongklang dengan kencang saling kejar, yang depan adalah Go Kiok-kan yang sedang melarikan diri, yang di belakang dan mengejar tentunya adalah Coh Liu Hiang.

Ternyata melihat gelagat jelek Go Kiok-kan, lantas cari kesempatan untuk melarikan diri, tak kira sejak tadi Coh Liu-hiang memang sudah perhatikan dirinya, setiap gerak-geriknya tak lepas dari pengawasannya, begitu dia angkat langkah seribu, Coh Lui-hiang lantas mengetahuinya. Begitulah mereka sudah larikan kuda masing-masing sekencang mungkin dengan kecepatan maksimum.

Tapi Coh Liu-hiang tidak menduga dan tidak mempersiapkan diri untuk saling udak begini, maka kuda tunggangannya sembarangan saja dia terima asal untuk tunggangan belaka pula kesempatan tiada waktu untuk dirinya memilih tunggangan, sebaliknya kuda tunggangannya Go Kiok-kan adalah kuda keluaran dunia barat yang jempolan. Mula-mula mengandal tehnik Coh Liu-hiang menunggang kuda, dia masih mengudak dengan kencang dalam jarak tertentu, tapi lama kelamaan, kekuatan kedua menjadi berbeda, jarakpun diulur semakin berselisih panjang, badannya mencelat tinggi dari punggung kudanya. Mengandal kepandaian ginkangnya yang tinggi tiada bandingan diseluruh kolong langit dia mengejar dengan tancap gas, sekaligus untuk mengadu kekuatan dengan kuda pilihan tunggangan Go Koik-kan itu.

Tampak gerak bayangan badannya laksana bintang meteor meluncur ditengah angkasa. kuda tunggangan GO Kiok-kan yang pilihan itu ternyata tidak ungkulan dibandingkan lari kedua kaki Coh Liu-hing, sebentar saja, dia sudah hampir menyandaknya.

Go Kiok-kan segera keprak kudanya semakin kencang, semakin kencang mulutpun berteriak teriak.
"Coh Liu-hiang kau tidak bermusuhan tiada dendam dengan kau, kenapa kau mendesakku begitu rupa?"

Coh Liu-hiang tak bicara, ia tahu Go Kiok-kan hendak memancing bicara, karena begitu dia buka suara, hawa murni yang terhimpun di pusar seketika akan buyar, dengan sendiri gerakan badannya menjadi kendor dan lamban.

Dengan ketajaman kupingnya meski Go Kiok-kan tak berpaling tapi ia dengar suara lambaian pakaian Coh liu-hiang semakin dekat, jidatnya sudah dibasahi oleh keringat yang berketes-ketes sekonyong-konyong dia melambung tinggi meninggalkan pelana kudanya, ditengah udara bersalto beberapa kali, melampaui Coh Liu-hiang, terus berlari ke arah yang berlawanan dengan luncuran tubuh Coh Liu-hiang.

Sebetulnya sudah dia perhitungkan dengan seksama, saat itu Coh Liu-hiang sedang tancap gas mengejar dengan kecepatan maksimum, terang tak mungkin bisa mengerem luncuran badannya yang melesat bagai anak panah itu, bila Coh Liu-hiang berhasil kendalikan gerakan badannya dan putar balik mengejar dirinya pula, tentu dia sudah berhasil melarikan diri dalam jarak yang cukup jauh.

Diluar perhitungannya bahwa puncak kepandaian enteng tubuh Coh Liu-hiang benar benar sudah tak ada taranya di jagat ini malah jauh lebih tinggi dari apa yang dia bayangkan, belum lagi dia lari tak berapa jauh, kembali didengarnya lambaian pakaian yang mengejar datang dari belakang. Angin kencang menerjang muka serasa seperti diiris pisau, ternyata mereka berdua berlari melawan angin.

Sekonyong konyong Go Kiok-kan kipatkan sebelah tangannya, maka terdengarlah suara "Blup!" suatu ledakan yang cukup nyaring juga, seketika selulung asap tebal berkembang melebar dengan cepat bergulung terhembus angin menyongsong kedatangan Coh Liu-hiang.

****

Baru sekarang Oh Thi-hoa sadar bahwa Coh Liu-hiang sedang pergi mengajar Go Kiok-kan, jelas pula bahwa intrik atau tugas rahasia si Jambang Bauk yang sedang dia perankan adalah harus melenyapkan atau menumpas kaum pemberontak di negeri Kui-je.

Waktu itu Kui-je-ong sudah membuka suara jamuan makan minum yang meriah untuk merayakan kemenangan yang gilang gemilang ini.

Melihat Oh Thi-hoa seperti tidak tenang atau sedang memikirkan sesuatu, segera dia menegur dengan tertawa: "Buat apa kau kuatir bagi temanmu itu, dalam dunia ini siapa pula yang kuasa menandingi segebrak serangannya?"

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya: "Justru Cayhe merasa hal hal ini terlalu aneh, biasanya peduli siapa saja yang dia kejar, tentulah dengan mudah dapat dia ringkus kembali tanpa mendapat perlawanan yang berarti, tapi sekarang, dia sudah pergi sekian lamanya."

Kui je-ong tertawa katanya menghibur:
"Pun-ong berani tanggung, dia pasti takkan mengalami apa-apa, jangan kuatir, minumlah dan habiskan arakmu dengan lega hati."

Sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Pipop Kongcu, mendadak dia berbisik kepada Ki Ping yan: "Apakah bocah itu tidak dipelet dan dipecut oleh tuan puteri yang genit ini maka tanpa pamit terus tinggal pergi?"

Ki Ping-yan mengerut alis, sahutnya: "Kau menilai orang lain seperti tampangmu?"

"Hm !" Oh thi-hoa mendengus, "Kukira tidak akan meleset, perbuatan apapun berani dia lakukan, lebih baik mari kita keluar mencarinya !"

Mau tidak mau goyah juga keyakinan Ki Ping-yang, katanya berbisik juga: "Kita membolos keluar terpencar, nanti kita bertemu di luar !"

"Baik, begitu saja kita atur" sahut Oh Thi-hoa.

Tiba tiba teringat olehnya bahwa Ki loh-ci sing masih berada di tangannya, Kui-je-ong memandang mestika itu begitu berharga, mana boleh dia bawa benda mestika ini pergi begitu saja. Apalagi diapun pernah berjanji kepada permaisuri yang cantik jelita itu, untuk menanyakan rahasia yang terkandung didalam mestika ini, Segera ia merogoh keluar Ki-loh ci-sing lalu diangsurkan dengan kedua tangannya, katanya tertawa: "Cayhe beruntung tak mengecewakan harapan Baginda raja, Cayhe berhasil merebut mestika ini pulang, harap Baginda raja suka menerima balik."

Tak Nyana Kui-je-ong cuma tertawa tawa saja katanya: "Congcu mendirikan pahala terbesar, Siao ong tiada sesuatu barang yang dapat kuhadiahkan kepadamu sebagai tanda kenangan." seolah-olah dia sudah melupakan bahwa Ki-loh-ci-sing ini sudah mengorbankan berapa banyak jiwa manusia, betapa besar imbalan yang dipertaruhkan bisa merebutnya kembali, tapi sekarang royal dan sembarangan saja ia hadiahkan mestika ini pada Oh Thi-hoa.

Saking kaget mulut Oh Thi-hoa sampai melongo dan tak bisa bicara, sekian lamanya baru dia tertawa dibuat buat, katanya: "Jikalau Baginda rasa merasa Cayhe ada sedikit mendirikan jasa asal cukup memberikan beberapa poci arak padaku saja, Ki-loh ci-sing ini sekali kali aku tak berani terima."

"Kenapa?" tanya Kui-je ong melengak keran malah.

OH Thi-hoa menyengir tawa dengan memencet hidung katanya: "Anak melarat seperti aku bila membawa bawa mestika yang tak ternilai harganya ini, selanjutnya jangan harap bisa makan kenyang dan tidur nyenyak?"

Kui-je ong tersenyum ujarnya: "Kalau dua tiga hari yang lalu nilai dari jambrut ini memang tak bisa diukur dengan apapun juga, Pun ong juga tak akan sembarangan menghadiahkannya padamu: Tapi sekarang, nilainya sudah jauh merosot sekali, batu jambrut seperti ini, entah masih berapa banyak dalam gudang istana bolehlah legakan saja hatimu menerimanya."

Seketika Ki Ping-yan dan Pipop-Kongcu pun ikut tertegun mendengar urusan kata kata yang susah dimengerti ini.

Oh Thi-hoa membelalakkan mata, tanyanya kebingungan: "Bukan kah batu jambrut ini ada menyangkut suatu rahasia yang besar?"

"Itu hanya kabar angin yang sengaja disiarkan oleh Pun-ong sendiri, supaya orang lain sama menyengka bahwa batu jamrut ini betul mengandung suatu rahasia besar yang amat ingin diketahui oleh siapapun juga, hanya mengandal muslihat dari benda inilah Pun-ong baru bisa merebut tahta kembali. Diwaktu mereka tumplek seluruh perhatiannya untuk memperebutkan batu jambrut ini, Pun-ong sebaliknya secara diam diam sudah menggunakan harta peninggalan ayah Baginda yang diwariskan kepadaku, dan membeli lima barisan pasukan besar, tanpa diketahui oleh malaikat dan tidak dilihat oleh setan, tahu-tahu dengan gemilang aku berhasil merebut tahtaku kembali dari tangan kaum pemberontak" sebentar dia berhenti dengan mengelus jenggotnya, lalu menambahkan: "Inilah yang dinamakan tipu bersuara di timur menggempur di barat."

Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa sama beradu pandang, bukan saja kaget, dan heran, merekapun amat kagum dan tunduk lahir batin akan kepintaran dan kecerdikan sang raja. Semula mereka mengira raja tambun yang suka air kata-kata dan senang main perempuan ini, tak lebih hanyalah lelaki brutal dari suatu kerajaan asing yang terpencil saja. Baru sekarang mereka tahu bahwa kepintaran dan kelihayannya, ternyata tidak lebih asor dari raja-raja dari dinasti yang sudah almarhum dulu. Sengaja dia membentuk diri didalam pelukan perempuan-perempuan cantik, sudah tentu perbuatannya ini hanya memancing dan mengelabui mata kuping orang lain belaka.

Entah berapa lama kemudian baru Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir: "Tak heran selama ini Coh Liu-hiang selalu merasa keheranan, kalau toh Ki-loh-ci-sing ini menyangkut rahasia tahta kerajaan Kui-je, kenapa malah diberikan kepada para piausu dari Tionggoan untuk melindungi, dari dalam perbatasan diantara keluar perbatasan? Jikalau dia hadir disini dan mendengar uraian Sri Baginda, tentulah dia teramat kagum dan memuji Baginda."

Sementara Pipop-kongcu malah bersungut-sungut, tanyanya aleman: "Tapi ayah kenapa kaupun mengelabui aku? Masakah seorang ayah juga harus main rahasia atau tidan mempercayai putrinya sendiri?"

"Bukan aku tidak percaya kepada putri mesti aku ini." ujar Kui-je-ong, "Soalnya bila rahasia ini kerahasiakan dengan ketat, orang lain pasti akan berusaha mencari bocoran dengan berbagai daya upaya, asal sehari aku tak membocorkan rahasia ini, sehari nyawaku akan lebih panjang hidupnya dan orang-orang yang betul betul mengincar mestika ini dan hendak mengorek keterangannya mengenai rahasia ini, tentu dia berusaha pula melindungi jiwaku secara pelan-pelan."

Pipop kongcu menghela napas, ujarnya: "Agaknya seorang gadis bila dia menjadi putri seorang raja, ternyata bukan suatu yang harus dibuat girang dan membahagiakan hidupnya, tak heran tuan putri dari dinasti yang terdahulu sebelum ajal dia menangis berkeluh kesah menutupi dukanya katanya: "Semoga selama hidupnya kelak dalam penitisan yang akan datang dirinya tidak dilahirkan dalam keluarga kerajaan."

Tak tertahan Kui-je-ong pun menghela napas, ujarnya: "Benar, seseorang bila ingin menjadi Baginda raja yang baik, maka belum tentu dia bisa menjadi ayah yang baik."

Apa yang dia ucapkan ini memang benar dan kenyataan, maklumlah seorang raja harus selalu ribut mementingkan urusan negara, mana ada waktu senggang untuk menunaikan tugas dirinya sebagai ayah bunda dari anak anaknya yang baik.

Oleh karena itu didalam gubuk liar, sering dilahirkan putra-putra bangsa yang berbakti. Sebaliknya didalam keluarga kerajaan sering melahirkan putra-putra yang durhaka.

Mendadak Ki Ping-yan menjengek dingin: "Ongya ternyata memang jenius dan berpambek besar, jarang orang yang bisa menandingi, cuma harus dibuat sayang dan kasih para Piausu yang mati secara konyol itu, demi terima bayaran beberapa keping yang perak berarti harus mengorbankan jiwa dan raga di padang pasir tanpa mendapat liang kubur yang layak."

Sikap KU-je ong berubah prihatin, katanya tawar: "Politik negara, memangnya adalah sesuatu yang amat menakutkan. Bagi seorang panglima besar yang sukses besar, tulang tulang manusiapun bakal bertumpuk laksana gunung, apalagi bagi seorang raja dari suatu negara? Memangnya sejak dahulu kala, merupakan tragedi yang tak mungkin dielakkan".

"Umpamanya cikal bakal dinasti Song merekapun tak terhindar dari perbuatan tercela karena dipaksa oleh keadaan kenapa pula tuan tumplekan kesalahn ini kepada Pan-ong saja?"

Ki Ping-yan tertunduk dan menepekur sesaat lamanya, katanya kemudian: "Ya, Cayhe yang kelepasan omong, harap Ongya maafkan kesalahan ini."

OH Thi-hoa ulurkan lehernya, terus menuang sepoci arak sedalam mulutnya, tumben bergelak tawa, serunya: "Oleh karena itu, kunasehati kepada hadirin, cepatlah habiskan saja arakmu, tak usah banyak melibatkan diri mengenai segala tetek bengek ini, sejak dahulu kala betapa keluarga kerajaan tidak kesepian, memangnya bisa lebih unggul dari aku anak rudin yang senang dan hidup bahagia dan bebas ini."

Sekonyong-konyong seseorang menanggapi dengan tertawa merdu:
"Betul, minumlah arak dalam cangkirmu, jangan urusi segala tetek bengek. Tapi betapapun licik dan licinnya akhirnya mampus juga anjing menjadi daging panggang, burung terbangpun terjaring seluruhnya, busur sakti tersembunyi lagi, apakah kau belum pernah mendengar kata-kata ini?"

Bau harum seketika merangsang hidung setiap hadirin, sehingga semua orang merasa pikiran melayang dan seperti hampir mabuk, entah kapan tahu-tahu juwita yang tiada bandingannya kecantikannya, di bawah penerangan api yang kelap kelip benderang ini kelihatan seolah-olah bak bidadari turun dari khayangan.
Siapapun takkan menduga sang juwita yang rupawan dan molek di bawah penerangan api obor laksana bidadari ini ternyata tak lain tak bukan adalah permaisuri Kui-ji yang selalu dikatakan berpenyakitan dan berbadan lemah selalu di pembaringan.

Tampak mukanya tetap mengenakan cadar dari kain sari yang halus, bentuk mukanya yang cantik jelita laksana bayangan didalam asap, seperti kembang mawar didalam kabut, begitu cantik dam moleknya sampai siapa saja yang memandangnya pasti menahan napas.

Sungguh girang dan kejut pula Kui je-ong dibuatnya, sampai dia lupa bahwa sang permaisuri yang biasa berpenyakitan, entah cara bagaimana secara tiba-tiba bisa muncul di sini dengan gerakan badan nan aneh dan begitu menakjubkan, bergegas dia bangkit dan menyongsong maju sambil menyapa:
"Kenapa kau datang kemari?"

Permaisuri Kui-je tertawa, sahutnya: "Aku sudah datang, apa kau kurang senang?"

"Tapi... badanmu terlalu lemah, masakan kau kuat menahan panas dan dingin yang begitu menyiksa di perjalanan nan jauh ini?"

Tiba-tiba Ki Ping-yan menyela pula dengan suara dingin:
"Jangan kata hanya cuaca buruk andaikan hujan golok angin panah juga tidak terpandang dalam mata permaisuri bukan?"

"Ya ... benar!" sahut permaisuri Kui-je tertawa.

Berkilat sorot mata Ki Ping-yan, katanya pula:
"Memangnya permaisuri hendak membunuh kita semuanya?"

Kui-je-ong bergelak tawa ujarnya:
"Pun-ong sekali kali tiada maksud ini kalian jangan kuatir dan banyak curiga."

Permaisuri justru mengejek dingin: "Kau memang tiada maksud itu, sebaliknya aku yakin dapat melaksanakannya."

"Kau..." baru sekarang Kui je-ong benar-benar tertegun.

Pelan-pelan permaisuri tinggalkan cadar mukanya, maka terlihatlah sepasang matanya nan bening tajam laksana air, dengan nanar dia tatap Kui-je-ong, katanya: "Kau kenal tidak padaku, karena setiap orang yang mengenalku, jiwanya sudah menghadap kepada raja akhirat, sudah tentu dia tidak akan bisa hidup lagi."

Suasana hangat dalam kemah ini, seketika seperti digulung angin badai yang dingin dan membekuknya darah, kaki tangan setiap hadirin menjadi gemetar dingin dan berkeringat.

Karena saat mana, dalam benak setiap orang lapat-lapat sudah menebak, siapa perempuan yang tengah mereka hadapi ini.

"Ciok koan-im! Kau adalah Ciok-koan-im !" tapi tiada seorangpun yang berani membuka mulut.

Kui-je ong melosot duduk di atas kursinya, katanya dengan tertawa sedih:
"Akupun tidak perduli kau siapa, tapi permaisuriku... masakah kau sudah membunuhnya?"

Suara Ciok-koan-im semakin merdu halus. "Kaupun tak perlu bersedih, meskipun dia sudah meninggal, tapi aku masih hidup, aku tidak sebanding dia? Memangnya kau tidak puas?"

"Kau?" Kui-je ong berjingkat kaget. "Kalau toh aku sudah mewakili dia, maka selamanya aku tetap dalam kedudukanku seperti sekarang ini".

Mengawasi badan yang ramping semampai dan montok berisi ini, lama kelamaan mata Kui-je ong mendelong memudar.

Mendadak Ki Ping-yan tertawa dingin, katanya: "Tidak salah, akupun tahu kau selamanya akan mewakilinya!"

"Kau... kau tahu?" teriak Kui-je-ong pula.

Kata Ki Ping-yan: "Baginda tak punya anak cuma seorang putri, jikalau Baginda dan tuan putri mengalami sesuatu, sebaliknya dalam negeri tak boleh sehari tanpa ada yang memerintah, sudah tentu memilih junjungan yang baru, demi memperebutkan kedudukan agung ini, semua orang betapa sudah berusaha dan berjerih payah memeras keringat, tapi tanpa mengeluarkan sedikit tenaga, ia sudah berhasil merebutnya, harus dibuat kasihan Ang-Hak-han, An Teksan orang-orang dogol itu sia-sia saja mereka dijadikan alat bonekanya, setelah mampus mereka bakal jadi setan penasaran"

Dengan dingin Ciok-koan-im tatap Ki Ping-yan dengan nanar, setelah kata-kata orang selesai, baru dia unjuk senyuman mekar, katanya: "Tak nyana begitu tepat kau bisa mengorek isi hatiku, agaknya selama ini aku terlalu pandang rendah dirimu."

"Kau hendak bunuh aku?" suara Kui-je-ong mulai ngeri.

Ciok-koan-im tersenyum, ujarnya: "Sejak dahulu kala seorang raja mempunyai tradisi cara kematiannya sendiri, akupun tidak akan melanggar undang-undang ini cukup asal kau minum arak dalam cangkir di depanmu itu, selanjutnya kau tidak perlu merisaukan segala persoalan dalam dunia ini."

"Kau... kau sudah menaruh racun di dalam arak cangkirku ini?"

"Tidak terlalu banyak, tapi lebih dari cukup untuk kalian ayah beranak."

Mengawasi arak dalam cangkir di depan mejanya ini, mata Kui-je-ong mendelik, keringat dingin gemerobyos membasahi kepala dan mukanya.

Si Jambang bauk malam ini juga hadir dalam perjamuan minum arak dalam kemah ini selama ini dia tidak pernah buka suara, cuma dia selalu pasang mata menunggu kesempatan melihat Ciaok-koan-im tidak memperhatikan dirinya, secara diam-diam, segera dia menggeremet mundur hendak melolos keluar.

Siapa tahu ciok-koan-im justru seperti benar-benar mempunyai ribuan tangan dan ribuan mata, segala gerak gerik siapapun, jangan harap bisa lepas dari pengawasan matanya yang tajam.

Tanpa berpaling tiba-tiba dia menjengek dingin: "Apa engkau ingin keluar mengundang bala bantuan?"

Si Jambang bauk kaget, bentaknya bengis: "Benar, jangan kau lupa anak buahku ada delapan ratus banyaknya, semuanya sudah gemblengan di medan laga, semuanya adalah laki-laki sejati yang tiada satupun yang takut mati. mengandal tenagamu seorang, jangan harap kau mampu membunuh kita semuanya, cukup asal satu diantara kita ada yang ketinggalan hidup, melihatmu jangan harap bisa terlaksana maka kuperingatkan kepadamu, jangan kau lakukan perbuatan gila-gilaan ini."

Mendadak Ciok-koan im berkata: "Bagus sekali ucapanmu, anak buah Ca Bok-hap memang kesatria-kesatria gagah yang tidak takut mati, cuma sayang jamuan kemenangan yang kalian adakan sekarang masih terlalu pagi waktunya, para saudara-saudaramu yang gagah perwira itu sekarang sudah sama mabok dan roboh tak sadarkan diri semuanya.

Berubah rona muka si Jambang bauk, serunya: "Memangnya kaupun memberi racun dalam arak mereka? Memangnya tiada satupun diantara mereka yang sadar?"

"Barusan aku sudah menebarkan racun di hadapanmu, apa kaupun melihat kapan aku turun tangan?" ujar Ciok-koan-im tersenyum manis.

Tiba-tiba Jambang bauk menggembor kalap seperti orang gila, golok diayun segera dia menubruk maju. Kepandaian silatnya memang belum boleh dipandang sebagai tokoh kelas satu, tapi sudah gemblengan di medan laga kiranya tidak berkelebihan untuk memujinya, terang serangan bacokan goloknya ini amat sederhana tanpa mengandung variasi apa-apa, tidak mengandung tipu-tipu perubahan, cuma dengan seluruh kekuatan dan tumpuan dari semangatnya, besar hasratnya hendak memenggal kepala musuh.

Karena dia cukup insyaf hanya dengan kekuatan diri sendiri hendak melawan Ciok-koan-im, sungguh jauh sekali jaraknya, seumpama telur beradu dengan batu, jikalau serangannya ini gagal, maka tak berguna meneruskan serangannya, malah bukan mustahil jiwa sendiri uang konyol. Maka dia sudah bertekad mempertaruhkan jiwa raganya dalam serangan dahsyat ini, kalau gagal dia siap berkorban.

Memangnya sudah menjadikan kebiasaan bagi ksatria-ksatria gagah yang hidupnya sudah dipasrah demi kehidupan kemiliteran yang selalu mempertaruhkan jiwa di medan perang, apapun yang dia lakukan, selalu senang beres dan menyeluruh, mati ya mati, tak perlu sampai berbuntut panjang. Oleh karena itu, bacokan goloknya itu, memang gaya dan permainannya tidak enak dipandang mata tapi pembawaannya sungguh-sungguh mengandung daya kekuatan yang bisa menciutkan nyali orang yang diincarnya.

Tepat pada saat goloknya terayun ditengah udara, Pipok-kongcupun membarengi bergerak laksana burung walet enteng dan cepatnya badannya melesat terbang menubruk ke arah Ciok-koan-im pula.

Selama ini diapun bungkam saja, karena diam-diam dia sudah mempersiapkan diri untuk bertindak, maka begitu dia menggertakkan badannya tahu-tahu, tangannya sudah menggenggam sebilah badik yang putih kemilau laksana perak. Tampak dimana sinar perak itu berkelebat, laksana bintik bintang beterbangan ditengah angkasa, sekali turun tangan beruntun tiga jurus serangan dia lontarkan, masing-masing mengincar tiga Hiat-to besar dipunggung Ciok-koan-im.

Cara turun tangannya justru berlawanan dengan di Jambang bauk, lincah dan gesit tapi kekuatannya tidak mantap dan sedahsyat itu, dan lagi setiap jurus tipunya mengandung perubahan yang susul menyusul, sekali tidak kena perubahan serangan yang segera memberondong datang pula. Kalau dinilai secara keseluruhannya, meskipun jurus permainannya ini sangat bagus dan menakjubkan, tapi bila sungguh-sungguh berhadapan dengan tokoh tangguh, hakekatnya tak membawa manfaat besar yang benar-benar berarti.

Akan tetapi, Pipop Kongcu dan si Jambang bauk punya permusuhan dan tujuan yang sama untuk mengganyang musuh mesti kepandaian silat mereka berlainan biasanya tiada pengalaman bersama mengeroyok musuh namun keduanya seakan akan seia sekata, oleh karena itu meski kepandaian mereka yang satu lemah dan yang lain keras, namun tanpa disadari mereka bisa bekerja sama dengan baik dan kebetulan.

Tampak titik perak laksana hujan deras memenuhi angkasa, selarik lembayung berkelebatan melintang, satu di depan yang lain di belakang bersama sama menungkup ke arah Ciok-koan-im. Ciok-koan-im ternyata mandah berdiri di tempatnya sambil menggendong tangan tanpa bergeming. Dalam kilasan kilat nan pendek itu sanubari Pipop-kongcu dan si Jambang bauk sama dilintasi perasaan kegirangan yang luar biasa disaat saat biasa golok dan badik mereka hampir mengenai sasaran itulah sekonyong-konyong suatu hardikan keras bagai guntur menggelegar, tahu-tahu Oh Thi-hoa sudah menerjang maju.

Gerakan Oh Ti-hoa laksana anak panah cepatnya, bergerak belakangan tapi mencapai tujuan lebih dulu. Waktu si Jambang bauk turun tangan, masih belum menunjukkan gerakan apa-apa, tapi belum golok si Jambang bauk terayun turun, Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berada disamping Jambang bauk dimana kepalan tangan kirinya menjotos, kontan di Jambang bauk dihantamnya mencelat terbang, berbareng tangan kanannya tertekuk dan memuntir, seperti membagi cahaya menangkap bayangan, pergelangan tangan Pipop Kongcu tahu-tahu sudah terjepit oleh jari jarinya seketika seluruk dengan separo badannya, terasa linu dan kemeng.

Kui Je ong menjerit kaget, serunya: "Oh Kongcu, kenapa kau malah memberontak juga?"

Pipop Kongcupun menjerit gusar: "Kau sudah gila ya?"

Oh Thi-hoa tidak menjawab, ketika ia tarik Pipo Kongcu mundur tujuh delapan langkah baru berdiri tegak pula, ternyata Ciok-koan-im masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak, mukanya berseri tawa lebar.

Sebelah tangan Pipop Kongcu masih dapat bergerak, kontan dia ayun tangannya, menggampar muka Oh Thi-hoa, tak nyana baru saja tangannya bergerak tahu-tahu tangannya yang satu inipun tahu tahu tertelikung ke belakang.

Pukulan yang mengenai jambang bauk cukup berat, baru sekarang dia pelan pelan merangkak bangun, serunya dengan murka: "Apa kau bukan teman baik Siao ongya kita? Kenapa kau pukul aku malah !"

Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir: "Sebetulnya aku tidak berniat memukul kau, menyakiti kau, tapi barusan waktu sudah terlalu mepet kuatir kehilangan kesempatan lagi sehingga tanganku kurang terkontrol sehingga jotosanku terlalu berat. Maaf !"

Pipop kongcu membanting kaki, serunya meronta-ronta: "Kenapa Kau turun tangan kepada kami malah? Memangnya kau komplotannya? Atau kau ini melihat gelagat tidak menguntungkan, hendak menyerah dan menjadi kaki tangannya?"

Karena tangan tak bisa bergerak, segera dia menggerakkan kedua kakinya, sambil menendang kembali, mulutnya mengumpat caci: "Kau binatang, sungguh tak nyana kau serendah dan sehina ini !"

Ciok-koan-im mendadak tertawa, ujarnya: "Kau menolong mereka malah dicaci maki, buat apa kau petingkah lagi?"

Pipop kongcu beringas, dampratnya: "Kau lah yang ditolong olehnya, bukan aku, kalau dia tidak bertingkah, sekarang jiwamu sudah ajal?"

"Kau kira dengan kedua jurus serangan kalian tadi lantas hendak mencabut jiwaku?" jengek Ciok-koan-im.

"Kenapa tidak bisa melukai kau?" damprat Pipop kongcu pula, dengan pongah segera dia menambahkan dengan suara lebih keras: "Jurus kita tadi boleh dikata titik kelemahannya sekujur badanmu justru sudah terancam dalam kurungan serangan kita, akibatnya berkelitpun kau sudah tidak mampu lagi."

Ciok-koan-im lain menghela napas katanya: "Kau memang tidak tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi kenapa tidak kau pikir, bila benar seranganmu tadi hebat dan lihay serta jempolan, kenapa sekali gebrak sekali raih Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berhasil membekuk dan menundukkan kalian?"

Seketika Pipop-kongcu menjublek di tempatnya dengan mata terbelalak dan mulut melongo sungguh mulutnya tak kuasa berdebat lagi.

"Biar kuberi tahu sejujurnya kepadamu," ujar Ciok-koan-im lebih lanjut: "Jikalau serangan kalian tadi diteruskan, kalian berdua bakal terkapar tak berjiwa lagi, jurus serangan yang kalian anggap rapat dan ketat tiada titik kelemahannya, bahwasanya menunjukkan banyak lobang kelemahannya, sedikit ada tujuh delapan sasaran yang dapat kugunakan untuk balas menyerang kalian sampai mampus." tiba-tiba lengan bajunya itu beterbaran bagai gumpalan awan bergulung-gulung mengembang dengan enteng dan lincah, dalam sekejap mata, beruntun berubah tujuh delapan macam gaya dan gerakan, terdengar mulutnya berkata pula tawar: "Coba lihat, jurus yang kumainkan ini tadi kulancarkan, apa kalian masih bisa hidup?"

Pipop-kongcu mengawasi dengan mendelong, terasa olehnya dari arah mana saja jurus permainan Ciok-koan-im ini dilancarkan, jelas dirinya takkan mungkin bisa melawan atau menandinginya, jikalau Ciok-koan-im mau merenggut jiwanya, sungguh segampang orang merogoh kantong mengambil sesuatu. Kejap lain rona mukanya sudah pucat pias, keringat dingin bertetes-tetes menghiasi jidatnya.
"Sekarang kau sudah mengerti bukan, jurus serangan yang betul-betul ampuh dan tak terlawan oleh musuh, bukan kalian tidak mampu menggunakannya, malah berani kukatakan melihatpun mereka belum pernah." sorot matanya mendadak ke arah Oh Thi-hoa Katanya dingin: "Kau tolong mereka, memangnya kau hendak turun tangan sendiri melawan aku?"

Oh Thi-hoa mematung ditempatnya, seolah-olah dia tidak mendengar pertanyaan orang bahwasanya diapun terkejut dan melenggong oleh pertunjukan kepandaian lengan baja Ciok-koan-im barusan.

Seolah-olah barusan dia melihat seorang penari jelita yang sedang menarikan selendang panjang dengan gemulai, disaat hati riang dan gembira, diiringi musik nan merdu menarik dengan asyik. Siapapun dia, melihat tarian yang gemulai indah ini, umpama hati sedang gundah dan merana, seketika hatipun akan riang gembira, maka disaat hatimu ketarik dalam suasana riang gembira itu tanpa sadar jiwanya sudah terenggut konyol.

Cepat sekali otak Oh Thi-hoa bekerja pulang pergi, pikir punya pikir tetap tak tersimpul olehnya dengan perbendaharaan kepandaian silatnya sekarang, dengan jurus apa baru dia kuasa memecahkan serangan lengan baju yang hebat tadi, kalau Ciok-koan-im menggunakan jurus tadi menyerang dirinya, mungkin sendiripun bakal terkapar mampus.

Tidak perlu dia banyak bertanya kepada Ciok-koan-im apakah orang masih mempunyai simpanan jurus yang lebih lihay lainnya, karena bagi seorang tokoh kelas wahid, sekali gebrak dia cukup menentukan mati hidup jiwa seseorang.

Dilihatnya sikap Ki Ping yang masih tetap tenang dan mantap, tapi butiran keringat kecil mulai merembes di ujung hidungnya, terang bahwa diapun sedang mencari daya untuk berusaha memecahkan jurus serangan Ciok-koan-im yang didemontrasikan baru.

Lama suasana hening mencekam perasaan semua hadirin, akhirnya Oh Thi-hoa tak tahan lagi, katanya: "Ilmu apakah yang barusan kau mainkan?"

"Tidak menjadi soal kuberitahu kepada kau jurus tadi kunamakan laki-laki tak boleh lihat!"

Oh Thi-hoa melengak, "Laki-laki tidak boleh lihat? Ilmu silat apa kah itu?"

"Sebetulnya bukan termasuk ilmu silat lihay tapi siapapun asal dia seorang laki-laki setiap kali berhadapan dengan jurus ini, dia pasti mengantar jiwa, oleh karena itu, oleh karena itu laki-laki sekali-sekali dilarang melihatnya."

Berkerut alis Oh Thi-hoa, tanyanya: "Ilmu silat dari golongan atau dari perguruan manakah itu?"

"Di kolong langit ini golongan atau perguruan silat mana yang mampu menciptakan jurus silat seperti itu? Umpama kata dua aliran perguruan silat yang paling ternama sekarang kepandaian silat Siau lim pay terlalu kental terlalu goblok, seperti semangkok besar lima macam daging panggang, mesti penuh dan cukup mengencangkan perut, tapi paling-paling hanya bisa memuaskan kaum kuli dan serdadu rendahan belaka bagi seseorang yang benar-benar tahu menikmati masakan lezat, sekali-kali dia tidak sudi memakan hidangan serba minyak, sampai di sini dia tertawa geli, lalu melanjutkan: "Ilmu silat Bu tong pay sebaiknya malah terlalu tawar, seumpama sepiring masakan sayur hijau campur tahu yang lupa dibumbui garam, kelihatannya warnanya memang enak dan indah, tapi setelah kau gares, selanjutnya pasti tidak akan menambah selera makan orang, benar tidak?"

Betapa tinggi dan hebat kepandaian silat dari aliran Siau lim pay dan Bu tong pay yang dipandang sebagai puncak persilatan oleh seluruh kaum Kang ouw, tapi didalam pandangan Ciok-koan-im ternyata sedemikian rendah dan tak berharga sepeserpun, sungguh komentar yang terlalu pongah dan takabur kelewat batas.

Akan tetapi perumpamaan yang diucapkan memangnya tepat dan serasi, Oh Thi-hoa membayangkan ilmu silat Siau lim pay dan Bu tong pay, lalu membayangkan pula apa yang dikatakan barusan, hampir tak tertahan dia tertawa geli.

Terdengar Ciok-koan-im berkata pula: "Kalau kepandaian silat mereka sudah begitu jelek kalau tidak mau dikata celaka, namun justru menggunakan nama-nama yang indah dan merdu kedengarannya, dinamakan apa Lik-pit-sam-gak atau membelah gunung, Kiang-liong-hu-hou atau menaklukan naga menundukkan harimau. Bahwasanya dinilai dari apa yang mereka mainkan, seharusnya pantas kalau dinamakan Pit bok cai atau membelah kayu dan Kiang mao hu kau atau menaklukan kucing menundukkan anjing tepatnya. Akan tetapi nama yang kucantumkan dalam jurus ciptaanku ini meski tidak enak didengar, namun betul-betul merupakan barang tulen harga pas, kalau kukatakan laki-laki tidak boleh lihat, maka setiap laki-laki jangan harap bisa melihatnya."

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya: "Kalau demikian, jadi jurus tadi adalah hasil ciptaanmu sendiri?"

"Untuk menciptakan jurus permainan seperti ciptaanku tadi, bukan saja harus benar-benar hapal dan menyelami seluk beluk ilmu silat dari seluruh aliran silat yang ada di kolong langit ini, lebih penting pula harus mengetahui dimana titik kelemahan seseorang laki-laki, maka jurus silat seperti itu, kecuali aku siapa pula yang mampu menciptakannya?"

Lama pula Oh Thi-hoa menjublek pula, katanya dengan tertawa getir kemudian: "Benar kenyataan memang kau amat mendalami dan cukup mendalam menyelidiki jiwa laki-laki."

"Sekarang kalian masih tetap berani turun tangan melawan aku?"

Tanpa janji Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa berbareng menghela napas, berbareng menjawab: "Tidak berani lagi."

Begitu mendengar jawaban "Tidak berani lagi!" dari mulut Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan seketika pucat pias Kui je ong, badik ditangan Pipop-kongcupun jatuh.
Siapa nyana justru pada saat itu pula. Tanpa berjanji namun Oh Thi-hoa dengan Ki Ping-yan tahu-tahu melejit secepat anak panah, gerakan kudanya begitu serasi dan seperti sudah direncanakan bersama, bukan saja bicara bersama, gerakan merekapun dimulai dalam waktu yang sama pula.

Sudah tentu jauh berbeda gerakan Ki-ping yan dan Oh Thi-hoa yang menyerang serempak ini dibanding dengan serangan si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu tadi. Waktu si Jambang Bauk dan Pipop kongcu menyerang tadi udara seolah-olah disinari cahaya perak, yang berkunang kunang, perbawanya kelihatannya amat dahsyat, tapi berbeda pula waktu Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan turun tangan ini, orang lain tidak melihat sesuatu yang ganjil, menyolok mata atau menakjubkan.

Cuma terlihat dalam gerakan bayangan orang yang bergerak secepat kilat itu, beruntun kedua orang sudah sama-sama melontarkan tiga jurus serangan, tentang bagaimana dan cara apa mereka menyerang, hakekatnya tiada orang yang melihat dengan jelas, namun paling tidak dalam tiga jurus permulaan ini, orang-orang diluar gelanggang sama-sama masih melihat gerakan bayangan mereka, tapi tiga jurus kemudian, jangan kata bayangan mereka sampaipun yang mana Oh Thi-hoa dan siapa Ki Ping-yan orang sudah tidak bisa membedakan lagi.

Terasa dalam kemah mendadak seperti terbit angin badai yang meniup kencang laksana angin puyuh, piring mangkok dan cangkir yang berada di atas meja sampai tersapu jatuh berkelontangan, pakaian Pipop kongcu, Kui-je-ong dan si Jambang Bauk melambai berkibar bersuara seperti dihembus angin lalu.

Pucat pasi selembar muka Kui-je-ong, seolah-olah sembarang waktu bisa jatuh semaput, lekas Pipop-kongcu memapah ayah bagindanya yang terhuyang mundur, tapi tangannya sendiripun gemetar keras. Sementara dengan kencang si Jambang Bauk pegang goloknya dengan kedua tangan berdiri jauh diambang pintu kemah, meski dia tak bisa melihat apa-apa namun kedua matanya menatap tajam seperti biji mata ikan mas yang melotot hampir mencotot keluar.

Entah berapa kali dia pernah mengadu jiwa dengan musuh selama hidupnya ini, entah berapa banyak sudah luka-luka yang melekat di atas badannya karena luka-luka bacokan atau tusukan senjata lawan, umpama musuh menghujamkan senjatanya ke dalam badannya, diapun tidak setakut seperti hari ini. Tapi sekarang dia justru malah lebih tegang dari pada waktu dirinya waktu mengadu jiwa dulu.
Sudah tentu lingkungan kemah ini tidak begitu besar dan luas, ketiga orang yang bergebrak bergerak begitu cepat lagi, namun ketiganya cukup hanya berkutet ditempat itu-itu saja, sampai kursi meja tidak sempat tersentuh oleh mereka.

Tak kurang diam-diam mencelos dan menarik napas panjang si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu dibuatnya, setelah melihat pertarungan sengit ketiga orang ini baru mereka benar-benar sadar dan insaf bahwa kepandaian silat sendiri hakikatnya berbeda laksana langit dan bumi dibandingkan ketiga orang ini.

Jikalau mereka sendiri sekarang yang bergebrak, bukan mustahil meja kursi sudah keterjang sungsang sumbal, kemungkinan dinding kemah disekelilingnyapun sudah berlobang dan sobek dimana mana.

Sekonyong-konyong angin puyuh sirap dan segala sesuatunya menjadi berhenti. Ternyata tiga orang yang serang menyerang secepat kilat itu tahu-tahu pergi dan berdiri pada posisi mereka semula.

Jari jari Oh Thi-hoa terkepal kencang raut mukanya merah padam, begitu menakutkan tampangnya. Sebaliknya muka Ki Ping-yan pucat lesi, keduanya sama mendelong mengawasi Ciok koan-im tanpa berkesir. Sebaliknya tulang ujung mulut Ciok koan-im tetap menyungging senyuman manis, kelihatan masih begitu cantik jelita dan tentram, sampaipun sungguh kepalanya yang diikat tidak kelihatan mawut atau berubah.

Selintas pandang, seolah baru saja mentas dari peraduan, baru saja berdandan hendak keluar menemui tamu, mana ada tanda-tanda baru saja mengadu jiwa dan berkelahi dengan orang. Tapi ketiganya berdiri mematung tanpa bergeming sedikitpun mulutpun terkancing rapat.

Bukan saja tidak tahu kenapa mendadak berhenti, Pipop kongcu dan lain lainnya tidak tahu kalau Thi Hoa dan Ki Ping-yan tidak bergerak, maka Kui-je-ong, Pipop kongcu dan si Jambang bauk serasa jantung mereka hampir berhenti, merekapun tak berani bergeming.

Beberapa kejap kemudian, tampak sejalur darah mengalir keluar dari ujung mulut Oh Thi-hoa.Walaupun badannya tegak berdiri di tempatnya seperti tonggak, sebaliknya melihat darah di ujung mulut orang, seketika Pipop-kongcu rasakan kedua belah lututnya lemas dan hampir tak kuat berdiri, karena sekarang dia sudah tahu pikah mana yang telah dikalahkan. Kekalahan ini boleh dikata merupakan kegagalan total dan tak mungkin ditolong kembali, bukan saja jiwa mereka berenam takkan tertolong. Beribu berlaksa rakyat Kui-jie bakal tenggelam kehidupan kekejian dan keganasan oleh cengkeraman elmaut yang beracun.

Terdengar Ciok-koan-im menarik napas panjang, katanya: "kalau kalian sudah tahu bukan tandinganku, kenapa masih ingin jajal dan minta digebuk?"

Oh Thi-hoa kertak gigi, bentaknya bengis: "Seorang laki-laki berani berbuat berani tanggung jawab ! Ada kalanya sesuatu jelas memang tak mungkin kita capai, namun kita tetap berusaha akan mencapainya juga."

Maklumlah istilah "Bu Hiap" atau pendekar silat selalu mempunyai arti yang berlainan satu sama lain, namun arti daripada masing-masing dari kedua kata-kata itu sendiri jauh sekali bedanya. Untuk menempuh ke jalan Bu atau silat bukan persoalan yang sukar, cukup asal kaki tangan bertenaga, bisa main berapa jurus Kung Fu, bolehlah dianggap Bu. Tapi Hiap atau pendekar itu sendiri amat sulit pula pelaksanaannya, didalam praktek sepak terjang seseorang di dalam kehidupan Kang-ouw, memang enteng kedengarannya dan gampang diucapkan kata "berani berbuat, berani bertanggung jawab", namun kalau tidak dilandasi keteguhan hati, keberanian yang luar biasa serta jiwa yang luhur dan bajik, seseorang Tidak mungkin bisa mendapatkan gelar atau julukan "Pendekar" yang amat berat pula arti dan kenyataannya.

Karena seorang kalau hanya malang melintang dan bersimaharaja dengan begal kepandaian silatnya saja, membunuh orang semena-mena, tak ubahnya perbuatannya itu menyerupai binatang liar, hukum rimba selalu menjadikan penengah nuraninya, memang dia setimpal dianggap sebagai "pendekar"?

Ki Ping yan mendadak berkata: "Tadi sebetulnya ada dua kali kesempatan kau dapat merenggut jiwaku, kenapa kau tidak turun tangan?"

Ciok-koan-im tertawa tawar, ujarnya, "Hampir dua puluh tahun aku tidak pernah bergebrak dengan seseorang yang benar-benar berani melawan aku, masakah begitu gampang aku harus membunuhmu?"

Tanpa berjanji Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan sama menghela napas, batinnya: "Kenapa sampai sekarang Coh Liu-hiang belum kembali? Jikalau dia datang membantu, dengan kekuatan kita bertiga, walaupun ilmu silat Ciok-koan-im nomor satu di seluruh kolong langit, tiada bandingannya sepanjang jaman, dia pasti dapat kita kalahkan.? kalau Ki Ping-yan hanya membatin dalam hati, Oh Thi-hoa justru tidak sabar lagi, Katanya setelah menarik napas panjang: "Sayang Coh Liu-hiang tidak disini, kalau tidak... "

"Memang harus disayangkan sudah lama kudengar kepandaian silat Coh Liu-hiang, biasanya jarang terlihat kebolehannya yang menonjol, tapi musuh yang dia hadapi semakin tangguh, maka diapun bisa lebih mengembangkan perbawa kepandaiannya, sayang sekali aku justru tidak bisa menjajal kepandaiannya, memang harus disayangkan, suatu yang harus kusesalkan seumur hidup !"

"Kau tidak perlu menyesal." Oh Thi-hoa mengolok, "Cepat atau lambat dia pasti akan membuat perhitungan kepada kau."

"Mungkin sudah tiada kesempatan lagi, kalianpun tak perlu menunggunya." Kata Coik-koan-im kalem.

Oh Thi-hoa terloroh-loroh: "Kau kira kepergiannya kali ini tidak akan kembali pula? Kau kira hanya mengandal Go Kiok-kan bocah ingusan itu, lantas dapat membunuhnya?"

"Ya, dalam dunia ini yang betul-betul dapat membunuh Coh Liu-hiang si Maling Romantis, mungkin juga cuma Go Kok kan saja. Karena dia juga sedemikian mendalamnya menyelidiki seluk beluk luar dalam Coh Lui-hiang dari kepalanya sampai ke ujung kakinya, dalam dunia ini tiada orang kedua yang jauh lebih paham akan kepandaian silat Coh Liu-hiang dan kelemahannya... " tertawa tawar, lalu meneruskan:
"Coba pikir, bilamana aku punya anggapan Coh Liu-hiang si Maling Romantis masih ada harapan pulang dengan masih hidup, buat apa dan kenapa aku harus membuang buang waktu di sini bercengkerama dengan kalian?"

Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas jidatnya, mendadak tertawa besar, serunya: "Dalam dunia ini tiada seorangpun yang betul betul bisa memahami Coh Liu-hiang, jangan kata luar dalamnya, kulitnya sajapun jangan harap kau mengerti, sampaipun aku yang sejak kecil bersahabat selama dua tiga puluh tahun sama dia, tidak mampu memahami dirinya, apa lagi Go Kiok-kan!"

Ciok-koan-im mencibir, katanya sinis:
"Sudah tentu kau tidak akan bisa memahami dia, karena kau tiada dendam, permusuhan dengan dia, hakikatnya kau tidak perlu memahaminya: "bila kau terlalu memahami dari jiwa karakter lahir batin seseorang, kan malah tidak akan bisa bersahabat dengan dia. Dan lagi, perlu kuberi tahu kepada kau, orang yang paling memahamimu dalam dunia ini, jelas bukan sahabat atau istrimu, tapi pasti adalah musuh besarmu, karena hanya musuhmu yang benar-benar mau menyelidiki dengan segala susah payah untuk titik kelemahanmu."

Meski tangan Oh Thi-hoa sedang kerepotan menyeka keringat, tapi air keringat seolah-olah sengaja main-main dengan dia selamanya takkan habis-habis dia seka, keringat yang gemerobyos sudah menghanyutkan noda-noda darah diujung mulutnya yang meleleh keluar tadi. Tanyanya dengan suara serak dan sangsi:
"Memangnya orang she Go itu punya dendam permusuhan apa dengan Coh Liu-hiang?"

Ternyata Ciok-koan-im tidak hiraukan pertanyaannya lagi, pelan-pelan dia putar badan lalu melangkah ke depan Kui-je-ong, dengan kedua tangannya dia angkat cangkir arak di atas meja, senyuman mekar yang terkulum di wajahnya, begitu rupawan dan mempesonakan dengan suaranya yang paling halus, lembut mulutnya berkata: "Kuperingatkan supaya secangkir arak ini lekas diminum, supaya lekas bertemu dengan banyak sahabat di neraka. Bin Hong-wa, Ang Hak-han dan Ang Tek san sedang menunggumu di sana, tentu kau tidak akan kesepian."

Tabir malam di padang pasir terasa teramat panjang, namun datangnya terlalu pagi. Waktu itu kira-kira baru jam enam sore, namun kabut sudah mulai mendatang dan tabir malampun sudah membikin jagat raya serasa gelap pekat, didalam keremangan malam yang samar-samar ini, asap ungu yang tebal itu kelihatannya menjadi begitu menyolok laksana merah darah.

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Rahasia Ciok Kwan Im (Da Sha Mo) Bab 20: Rahasia Ki Loh Ci Sing"

Post a Comment

close