Peristiwa Burung Kenari (Hua Mei Niao) Bab 15. Tangan pengendali 13 pedang

Mode Malam
Peristiwa Burung Kenari
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 15. Tangan pengendali 13 pedang

Pada saat itulah tiba-tiba di luar jendela terdengar sebuah suara berkata dengan bengis: “Persoalan ini hakikatnya tiada sangkut pautnya dengan kalian, serangan pedang tadipun hanya sebagai peringatan belaka, tiada maksud kami hendak melukai orang, asal kalian serahkan murid murtad perguruan kami, kami segera mengundurkan diri, masing-masing tak salah menyalahi, tapi kalau kalian pasti ingin mencampuri urusan ini, mungkin kalian akan mati tanpa ada liang kubur untuk mengebumikan kalian.”

Dari nada pembicaraan ini, terang mereka bukan bertujuan menawan Song Thiam-ji dan Li Ang-siu.

Berkerut alis Oh Thi-hoa, katanya: “Sebetulnya siapakah kalian? Siapa pula murid murtad kalian?”

Belum lagi mendengar penyahutan dari luar, laki-laki berkedok yang terluka itu mendadak melonjak bangun, dengan langkah meronta segera ia menerjang keluar, baru saja Oh Thi-hoa tertegun, tiba-tiba didengarnya ting. Nikoh jubah hijau dan perempuan berkedok itu tahu-tahu sudah menghadang di depannya, perempuan berkedok berkata dengan suara bergetar: “Kami sudah mencapai tempat ini, segala kejadian terpaksa pasrah akan tanggung jawab Taysu, kalau sekarang kau menerjang keluar, bukankah bakal menyia-nyiakan maksud baik beliau orang tua?”
Berkedip kedip mata Nikoh jubah hijau menatap lelaki berkedok, pelan-pelan kepalanya manggut-manggut, seiring dengan setiap patah kata perempuan berkedok, maka terdengar suara lirih yang cukup nyaring berbunyi dari bawah kaki Nikoh jubah hijau.

Tiba-tiba Oh Thi-hoa melihat kaki orang, ternyat terikat oleh sesuatu rantai panjang yang lembut, sementara ujung rantai yang lain menjuntai masuk kebawah altar pemujaan yang tertutup kain gordyn itu. Setiap patah kata perempuan berkedok diiringi gerakan pelan dari rantai lembut ini yang bergetar diatas batu hijau, maka terdengarlah suara ting ting yang lirih dan nyaring.

Baru sekarang Oh Thi-hoa mengerti kenapa orang bisu bisa mendengarkan orang bicara! Sebetulnya tak tertahan dia hendak menerjang kesana untuk melihat siapa sebetulnya orang yang sembunyi di belakang kain gordyn itu? Kenapa main sembunyi-sembunyi? Tapi belum niatnya terlaksana, lekas Coh Liu-hiang sudah mencegahnya dengan lirikan ujung mata.

Terdengar suara di luar jendela itu berkata dingin: “Seorang laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab, seorang laki-laki sejati kenapa harus lari kemari minta perlindungan dari kaum hawa, terhitung orang gagah macam apa kau? Boleh dikata kita para saudarapun merasa tersapu bersih oleh sikap picikmu ini.”

Bergetar badan laki-laki berkedok itu, tiba-tiba dia menyelinap dari samping Nikoh jubah hijau dan perempuan berkedok itu, betapa cepat gerakan badannya, sungguh diluar dugaan Oh Thi-hoa.

Kala itu Nikoh jubah hijau tidak menghalanginya lagi, tampak jubah panjangnya yang kebesaran itu melambai tertiup angin, lengan baju di sebelah kiri malah seperti melambai kosong.

Terang dengan gampang laki-laki berkedok itu akan menerjang keluar pintu, di luar angin menghembus dedaunan pohon, jelas bila dia selangkah keluar dari pintu Bo dhi-am, entah berapa sinar pedang yang serempak akan menyerang kepadanya.

Tapi pada saat itulah tiba-tiba sosok bayangan orang kembali berkelebat tahu-tahu mencegat di depannya. Orang ini bergerak belakangan tapi tiba lebih dulu, gerak badannya ternyata jauh lebih cepat dan tangkas tak usah disangsikan lagi, dia bukan lain adalah si Maling Romantis Coh Liu-hiang yang memiliki ilmu Ginkang tiada tandingannya di seluruh kolong langit ini.

Laki-laki berkedok itu membentak bengis: “Soal ini tiada sangkut pautnya dengan kau, minggir!”

Coh Liu-hiang tersenyum, sahutnya: “Urusanmu adalah urusanku, kenapa tiada sangkut pautnya dengan diriku?”

Bergetar badan laki-laki berkedok, suaranya serak gemetar: “Kau… siapa kau? Aku tak mengenalmu.”

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Umpama benar kau tidak kenal aku, tapi aku tetap mengenalimu.”

Tiba-tiba lelaki berkedok balikkan telapak tangannya menebas tenggorokan Coh Liu-hiang. Tapi bukan saja Coh Liu-hiang tak menangkis, diapun tak berusaha berkelit, betul juga ternyata tebasan tangan lelaki berkedok berhenti ditengah jalan dengan tajam Coh Liu-hiang menatapnya, katanya setelah menarik napas panjang: “Ang-heng aku tahu kau tinggi hati dan angkuh, biasanya tak sudi minta bantuan orang, tapi dalam keadaan seperti ini kenapa kau harus menyembunyikan diri, kalau begitu kau terlalu tidak pandang aku ini sebagai sahabat baikmu lagi.”

Tiba-tiba lelaki berkedok berpaling muka, pundaknya bergetar turun naik, terang hatinya sedang haru dan bergolak, perempuan berkedok segera maju menghampiri, menarik tangannya, matanya sudah berlinang airmata.

Oh Thi-hoa terlongong sekian lamanya baru bersuara tergagap: “Ang-heng, nona Ki… ah! Aku memang patut mampus begitu picik mataku tak mengenal kalian.”

Perempuan berkedok itu memang Ki Bu-yong adanya, katanya pilu: “Aku tak bisa melindunginya baik-baik, malah kemari minta… minta bantuan orang, sungguh aku tiada muka untuk bertemu lagi dengan kalian, tapi… tapi…”

Oh Thi-hoa berjingkrak, katanya keras: “Akulah yang patut mampus, kalau Ang-heng tak dibikin cacat oleh aku kurcaki sipicik ini, memangnya sekarang dia bisa dihina orang? Apalagi, apalagi hari ini nona Ki menolong jiwaku lagi, aku… aku…”

Mendadak dia menerjang keluar, serunya kalap: “Siapa yang mencari kesulitan Setitik Merah, hayolah buat perhitungan dulu dengan aku Oh Thi-hoa.” ditengah gemboran gusarnya tahu-tahu dua larik sinar hijau menukik turun menyerang dari celah-celah lebatnya dedaunan.

Tatkala itu Ui Loh-ce dan Cay Tok-hing baru mencelat keluar dari lobang di bawah tanah itu, dari kiri kanan langsung kedua orang ini melesat keluar jendela, terdengar suara Cay Toh-hing gelak-gelak sambil memaki: “Kunyuk dari mana sebanyak ini, pandai main bokong dan jahat.”

Terdengar pula suara Ui Loh-ce berat dan serius: “Ilmu pedang orang-orang ini ganas dan telengas, merupakan aliran tersendiri, kalian harus hati-hati.”

Setitik Merah segera merenggut kedok dimukanya terus dibuang, maka tampaklah raut mukanya yang pucat dan rada kurus, tapi pandangan matanya masih tetap dingin menusuk serta keras lagi, katanya membanting kaki: “Inilah urusanku, kenapa kalian harus campur tangan?”

“Siao Oh merasa amat menyesal terhadap kau, kalau kau tak beri peluang dia untuk melampiaskan kemauan hatinya, mungkin dia dapat gila dibuatnya.”

Setitik Merah kertak gigi, katanya: “Tapi betapapun kalian tak akan bisa menyelesaikan persoalan ini.”

“Kenapa?”

Agaknya Setitik Merah semakin gelisah dan tak sabar lagi, katanya: “Kau tak usah banyak tanya, kalau kau memang temanku, lekas bawa mereka menyingkir.”

“Adanya hubungan erat kita selama ini, masih ada persoalan apa pula yang tak dapat kau utarakan kepadaku?”

Setitik Merah ulapkan tangan, katanya mendesak: “Lekas pergi! Lekas pergi! Kalau tidak menghindar, jangan salahkan aku bila aku melabrakmu.”

Ki Bu-yong segera menyela: “Sebetulnya dia memang punya kesulitan yang bisa diterangkan…”

Coh Liu-hiang menukas ucapannya, tanyanya: “Kau melihat pohon yang tumbuh diluar itu tidak?”

Ki Bu-yong melenggong, agaknya dia belum mengerti kenapa mendadak menanyakan hal ini, tapi akhirnya dia manggut-manggut. “Ya, aku sudah melihatnya!”

“Sebatang pohon tumbuh dari dalam bumi, demikian juga manusia tumbuh untuk hidup berkembang, berbuah dan turun temurun, tapi sekarang dia bikin gundul dan terbabat roboh oleh gerakan pedang orang itu, bukankah sayang sekali perjuangan hidupnya?”

Ki Bu Yong melenggong lagi, dengan nanar dia awasi hawa pedang yang bergulung-gulung diluar jendela, tidak tahu apa yang harus dia katakan, karena dia masih belum tahu apa yang dimaksud oleh Coh Liu-hiang bicara meminjam arti kiasan itu.

Maka Coh Liu-hiang lantas melanjutkan: “Perduli jiwa manusia atau jiwa pohon, jikalau belum lagi dia tumbuh dewasa dan berbuah lantas dibunuh dan dirobohkan, betapapun merupakan suatu tragedi yang mengenaskan, tapi dapatkah kau bilang bahwa itu kesalahan dari pedang-pedang itu?”

“Ini… aku sendiripun tidak tahu.” Ki Bu-yong tergagap.

Dengan tatapan tajam Coh Liu-hiang mengawasinya, katanya lagi dengan suara lebih lantang: “Pedang itu sendiri tidak salah, yang salah adalah tangan yang memegangi golok itu.”

“Kau… kau sudah tahu urusannya?” tanya Ki Bu-yong gelagapan.

Coh Liu-hiang menghela napas, dari dalam kantong bajunya dikeluarkan medali tembaga itu, di atas medali tembaga ini terukir tiga belas pedang yang lencir panjang, mengelilingi sebuah tangan. Melihat tembaga ini seketika berubah air muka Setitik Merah, bentaknya beringas: “Darimana kau dapatkan itu?”

Coh Liu-hiang tidak langsung jawab pertanyaannya, katanya setelah menghela napas panjang: “Tangan ini mungkin tangan yang paling misterius di seluruh jagat, tangan yang paling ganas dan jahat, tapi juga sebuah tangan yang paling punya kekuasaan, karena bukan saja secara diam-diam dia memegang mati hidup jiwa manusia yang tak terhitung jumlahnya, dan lagi bisa bikin orang mati tanpa ujung pangkal, sampai orang itu ajal dia masih tidak tahu bahwa di dunia ini terdapat sebuah tangan yang tersembunyi.” ditatapnya Setitik Merah dengan tajam, sambungnya: “Dalam dunia ini hanya ada sebuah tangan seperti ini, paling sedikit satu dua orang akan hidup ketakutan, hidup didalam dunia nan gelap, jikalau tangan ini ditumpas dan dilenyapkan, semua orang akan hidup bebas, aman dan tentram, benar tidak?”

Dengan kencang Setitik Merah kertak gigi, ujung bibirnya kelihatan mengejang, katanya sesenggukan: “Kau ingin menumpas dia?”

Sekarang ganti sikap Coh Liu-hiang yang bengis: “Kalau kau tidak ingin menumpasnya, maka dia yang akan menumpas kau.”

Napas Setitik Merah tersengal-sengal, mendadak seperti kesurupan dan menjadi gila dia bergelak tawa: “Aku tahu dia pasti seorang yang amat menakutkan, tapi betapapun orang yang menakutkan aku sudah sering melihatnya.”

Tiba-tiba Setitik Merah hentikan tawanya, katanya: “Aku tahu terhadap siapapun kau tidak merasa gentar, tidak pernah takut, tapi dia…” sepasang biji matanya tiba-tiba menjadi legam pandangannya seperti semakin dalam, kelihatannya seperti jurang yang tidak kelihatan dasarnya, diliputi ketakutan yang tak terhingga, derita yang tak berujung pangkal.

“Sampai detik ini, masakah kau tidak sudi membantu aku?”

Gemetar bibir Setitik Merah, katanya: “Kau jangan lupa, sejak kecil aku diasuh dan dibesarkan olehnya, ilmu silatku juga hasil didikannya, meski dia hendak membunuh aku, aku tidak akan menjual jiwanya.”

Sebentar Coh Liu-hiang menerawang, katanya menghela napas: “Itulah kesetiaanmu, aku tidak akan memaksamu, aku hanya tanya kau, hari ini dia sendiri datang tidak?”

Mengawasi sinar pedang di luar jendela, Setitik Merah diam sebentar, katanya pelan: “Kalau hari ini dia datang, tentu di luar akan ada pertempuran lagi.”

“Kenapa?” tanya Coh Liu-hiang.

“Tiada orang yang akan mampu melawan ilmu pedangnya.”

“Dapatkah bila dia dibanding dengan Sia In-jin?”

“Ilmu pedang Sia In-jin dalam pandangan beliau tak lebih hanya permainan jurus sulaman belaka.”

“Jarum sulam?” Coh Liu-hiang menegas.

“Jarum sulam hanya peranti menyulam kembang, jikalau untuk menjahit pakaian dia akan putus.”

“Bagaimana maksud ucapanmu ini?”

“Ilmu pedang Sia In-jin hanya elok dipandang ilmu pedangnya sebaliknya amat fatal dalam praktek!”

Teringat betapa ganas dan aneh ilmu pedang Setitik Merah. Tak urung Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya: “Benar ilmu pedang yang elok dipandang belum tentu membunuh orang, ilmu pedang peranti membunuh belum tentu enak dipandang.”

“Ya, memangnya begitu kenyataannya.”

“Mendengar tutur katamu ini, aku jadi kepingin bertemu sama dia.”

“Lebih baik kalau kau tak bertemu dengan dia.”

“Hari ini berapa orang mereka yang datang?”

“Enam orang.” Ki Bu-yong yang menjawab sambil gigit bibir, “Semula delapan orang, tapi satu diantaranya kami gasak di luarkota Kilam. Seorang lagi entah mengapa mendadak mengundurkan diri.”

“Jadi sejak dikota Kilam mereka sudah menguntit jejak kalian?”

Sekilas Ki Bu-yong melirik kepada Setitik Merah katanya: “Dia… sebetulnya dia tak percaya bila orang-orang itu benar-benar akan turun tangan keji terhadapnya, setelah dia terluka berat… jikalau dia tak terluka parah, kamipun tidak akan lari kemari.” menghela napas, lalu menyambung: “Karena Suhu dulu pernah bilang kepadaku, kelak bila aku menghadapi mara bahaya apapun boleh pergi ke tempat ini minta perlindungan disini, waktu itu memang dia amat baik terhadapku, lama kelamaan matanya merah dan berkaca-kaca, agaknya terkenang akan budi kasih Ciok-koan-im mengasuh dan memeliharanya sampai dewasa, lupa akan dendam sakit hatinya terhadap guru yang lalim itu.

Tiba-tiba Coh Liu-hiang sadar bahwa gadis yang semula kaku dingin dan keras hati ini, dalam jangka satu bulan lebih ini sudah berubah jadi lembut dan welas asih, berubah jadi perempuan yang perasa dan tahu duka dan cita.

Maklumlah hanya kekuatan “cinta” saja yang kuasa berubah sifatnya sedemikian cepat dan banyak, diam-diam diapun bersyukur dan ikut bergirang bagi Setitik Merah.

Karena diapun tahu, cepat atau lambat Setitik Merah pasti akan dibikin luluh dan berubah pula oleh kekuatan “cinta” itu pula, pemuda sebatang kara yang dingin kaku ini laksana sebatang pohon yang tumbuh menyendiri di puncak ngarai di pinggir jurang, sesungguhnya amat memerlukan buaian kasih mesra untuk melebur hatinya yang beku.

Sekilas itu, tiba-tiba dilihatnya pula Nikoh jubah hijau juga berubah roman mukanya setelah mendengar ucapan Ki Bu-yong, rona matanya yang kelabu mendadak seperti menyala oleh bara yang berkobar.

Mengawasi medali tembaga di tangannya, berkata Ki Bu-yong: “Satu diantara delapan orang itu mendadak menghilang, apakah kau…”

“Aku sih tak membunuhnya, tapi dia memang benar hendak membunuh aku malah.” ujar Coh Liu-hiang tertawa.

“Sepanjang jalan ini kami bentrok tujuh kali dengan mereka.” demikian tutur Ki Bu-yong lebih lanjut. “Menurut apa yang kuketahui, orang yang menghilang itu merupakan orang yang paling rendah ilmu silatnya, cara bagaimana mereka mengutusnya untuk menghadapi kau?”

“Karena waktu itu mereka belum tahu lawan yang harus dibunuh adalah Coh Liu-hiang, sudah tentu kekuatan utama harus tetap bertahan untuk menghadapi kalian, maka tugas membunuh itu diserahkan kepada yang berkepandaian paling rendah.” Tiba-tiba Coh Liu-hiang menambahkan: “Kalau demikian enam orang yang tersisa ini, apakah kepandaiannya lebih tinggi dari dia?”

“Tujuh kali kami bentrok dengan mereka walau setiap kali dapat lolos dari mara bahaya tapi juga secara untung-untungan belaka, pernah dua kali aku sendiri sudah merasa takkan selamat lagi nyawa kami.”

Coh Liu-hiang melirik ke arah jendela, katanya mengerut kening: “Kalau demikian Siao Oh bertiga satu melawan dua, mungkin…”

Sekonyong-konyong terdengar suara rantai memukul lantai sehingga mengeluarkan suara samar tak putus-putus. Muka Nikoh jubah hijau merah padam, dengan melotot gusar menatap ke arah kain gordyn ditempat pemujaan, rantai yang mengikat kakinya juga bergerak-gerak pergi datang.

Lam Pin tampak gelisah dan kebingungan, agaknya dia kehabisan akal dan tak tahu apa yang harus dia lakukan.

Tatkala itu sinar pedang di luar jendela memang masih berkembang dengan lincah dan deras, tapi deru angin sambaran golok yang cepat merayap selulup timbul ke kanan kiri serta sinar tongkat selincah naga menari itu berkilau, kedua belah pihak kelihatannya masih berkutat sama bertahan dengan kuat alias tanding.

Coh Liu-hiang melambaikan tangan ke arah Lam Pin tanyanya dengan lirih: “Kenapa Toa sucimu marah-marah?”

Lam Pin melirik kepada Ki Bu-yong, katanya: “Nona itu agaknya tadi bilang Toa suci tak mampu melindungi orang-orang yang berada di sini, maka Toa suciku amat mendelu dan pedih, maka dia hendak terjang keluar melabrak orang-orang itu, tapi…”

Tiba-tiba tampak Nikoh jubah hijau membanting kaki dua kali, cepat sekali putar badan dan melesat keluar, tapi baru saja sampai diambang pintu, rantai halus yang mengikat kakinya sudah tertarik kencang, selangkahpun tak bisa maju lagi.

Lam Pin menghela napas, katanya: “Tapi selamanya dia takkan bisa keluar.”
Tampak muka Nikoh jubah hijau benar-benar sudah merah-merah padam, ototnya sampai merongkol keluar, agaknya dia sudah kerahkan tenaganya, tapi Coh Liu-hiang pernah menghadapi sekali pukulan tangannya, sudah tentu dia tahu betapa hebat dan dahsyat Lwekang Nikoh jubah hijau ini.

Tapi meski dia sudah kerahkan seluruh kekuatannya, rantai halus itu tetap tak kuasa dia putuskan, mengawasi rantai yang tertarik kencang itu Lam Pin menghela napas, ujarnya: “Khabarnya rantai ini terbuat dari besi murni yang dingin didasar lautan, meski golok pusaka yang dapat mengiris besi seperti memotong tahupun jangan harap bisa membacoknya putus, apalagi kekuatan manusia biasa?”

Tampak semakin tarik rantai itu seperti mulur semakin kencang, altar pemujaan itupun sudah mulai bergetar, lapat-lapat seperti terdengar suara helaan napas yang lirih dari balik kain gordyn itu, agaknya di bawah altar pemujaan itu juga ada seseorang yang menarik kencang rantai itu.

Berkilat sorot mata Coh Liu-hiang, tanyanya pula: “Ujung rantai yang lain terikat dimana?”

Lam Pin tertunduk, sahutnya: “Kau sendiri sudah melihatnya, kenapa kau tanya aku?”

“Apakah ujung rantai yang lain juga terikat di kaki orang, tapi dia menyembunyikan diri dibalik gordyn di bawah altar itu tidak mau unjuk diri, dengan menarik dan menggerakkan rantai dia saling memberi berita dengan Toa-sucimu?”

“Kalau tidak ada kerja sama ini masakah Toa-suci bisa mendengar pembicaraan orang lain?”

“Tapi siapakah orang itu? Kenapa dia melarang Toa-sucimu keluar? Kenapa pula selalu sembunyi di bawah altar tidak mau dilihat orang?”

Lam Pin termenung sebentar, katanya: “Ini sebuah rahasia, kami sendiripun belum pernah melihatnya.”

Tiba-tiba terdengar “blang” altar yang sudah keropos itu tak kuat menahan tekanan tenaga dalam yang hebat, sehingga bergetar roboh dan runtuh berkeping-keping, ditengah tengah pecahan kayu yang beterbangan sesosok bayangan orang dengan mengeluarkan pekik panjang yang melengking menyedihkan menerjang keluar, namun kain gordyn panjang dan lebar itu kebetulan membungkus seluruh badan sampai kaki tangan dan kepalapun terbungkus didalamnya, tiada satupun yang sempat melihat bentuk dan raut mukanya.

Coh Liu-hiang menghampiri dan menepuk pundak Setitik Merah, katanya: “Ang-siu dan Thiam-ji kuserahkan kepadamu.” bahwasanya dia tidak memberi kesempatan Setitik Merah menolak permintaannya, tahu-tahu badannya sudah berkelebat keluar.

Tampak selarik sinar mencorong terang laksana seuntai rantai perak tahu-tahu melesat keluar dari rimbunnya daun-daun pohon, secepat kilat menusuk ke arah orang aneh yang menerjang keluar dari altar pemujaan. Dari kepala sampai kaki seluruh badan terselubung didalam kain longgar besar itu, hakikatnya apapun tak terlihat, siapapun pasti mengira dia takkan mungkin bisa meluputkan diri dari tusukan ini.

Tak nyana begitu sinar pedang menusuk tiba, badannya tiba-tiba berkelebat selicin belut tahu-tahu badannya menyelinap lewat dari depan laki-laki pembunuh berseragam hitam itu, maka rantai yang terikat kedua kaki mereka kebentur menjirat badan pembunuh gelap ini.

Terdengar “Cres” belum sempat pembunuh ini menjerit, tahu-tahu badannya sudah terjerat putus menjadi dua potong, darah segera beterbangan, tahu-tahu rantai itu sudah tertarik kesana pula, serempak Nikoh jubah hijau dengan orang aneh itu menubruk ke arah seorang pembunuh gelap yang lain. Cara mereka membunuh orang sungguh aneh dan tak pernah terjadi didalam dunia Kang-ouw, apalagi badan mereka amat aneh, garang dan keji sampai Coh Liu-hiang sendiripun angkat pundak dan tersirap kaget.

Di sebelahsana ada enam tujuh orang pembunuh gelap yang sedang bergebrak melawan Oh Thi-hoa, Ui Loh-ce dan Cay Tok-hing ditengah-tengah gerombolan dedaunan. Daun-daun pohon dan semak-semak yang tebal sama beterbangan tersambar pedang, puluhan batang pohon tua yang rimbun daunnya sudah tercukur gundul tinggal dahan-dahan pohon saja yang besar. Selintas pandang mirip seorang kakek tua yang tiba-tiba dilucuti pakaiannya, sehingga seluruh badannya yang telanjang serta keriput kulit badannya terpampang di hadapan orang banyak, gemetar kedinginan dihembus angin dingin.

Pedang yang menjadi gaman para pembunuh gelap itu mirip dengan pedang yang dipakai Setitik Merah, panjang luncir dan tipis bobotnya jauh lebih enteng dari pedang panjang umumnya. Sudah tentu permainan pedang merekapun ganas, culas dan keji seperti permainan Setitik Merah, juga sekali-kali tak pakai variasi atau kembangan yang indah, sekali serang jiwa orang selalu diincarnya, dan lagi pengalaman tempur orang-orang ini sudah teramat luas, agaknya merekapun melihat Oh Thi-hoa, Ui Loh-ce dan Cay Tok-hing merupakan tokoh-tokoh silat yang tak boleh dipandang ringan oleh mereka itu, mereka tak bergebrak secara berhadapan melawan Oh Thi-hoa bertiga, begitu jurus pertama pedang menusuk, lekas sekali badan mereka sudah berkelebat menyelinap ke belakang pohon, tahu-tahu tusukan pedang orang kedua sudah menyelonong datang dari arah lain.

Rangsekan sinar pedang mereka sambung menyambung dan tergabung dengan rapi dan rapat, begitu cepat gerak-gerik mereka sampai Oh Thi-hoa menjadi bingung dan tak bisa membedakan siapa sebenarnya yang melancarkan tusukan pedang terhadap dirinya, dengan tiga lawan enam, mereka kira asal dirinya menghadapi dua diantaranya sudah lebih dari berkecukupan. Tak nyana dengan melawan permainan musuh yang aneh, gesit dan tangkas itu, bersatu sekaligus mereka masing-masing harus menghadapi enam orang, karena seperti roda berputar ke enam orang ini terus berputar dan merangsak bergantian sehingga kekuatan Oh Thi-hoa bertiga susah dipusatkan!

Agaknya Oh Thi-hoa sudah naik pitam dan gerakkan kekuatan dan boyong kepandaian, tapi meski golok tunggal di tangannya mempunyai perbawa untuk menaklukan naga membekuk harimau, namun menyentuh ujung pakaian lawannya tak mampu.

Sekilas saja Coh Liu-hiang menerawang pertempuran ini, lekas sekali dia tahu bahwa apa yang dilakukan Ki Bu-yong bukannya tak beralasan, pembunuh-pembunuh gelap ini memang algojo-algojo yang sudah tergembleng kuat dan terlatih dengan baik, kalau pertempuran begini berlangsung terus, Oh Thi-hoa bertiga akhirnya yang akan kehabisan tenaga, bukan mustahil mereka akan cidera lebih dulu.

Tapi saat mana Nikoh jubah Hijau dan orang aneh itu sudah melesat kesana, dan orang menyapu datang dan mengapit dua dari dua jurusan kearah tengah, rantai ditengah kaki mereka panjang dua tombak lebih, agaknya Oh Thi-hoa, Ui Loh-ce dan Cay Tok-hing serta para pembunuh gelap itu hendak dijaring dan dijirat bersama sehingga terpotong mati menjadi dua. Kini rantai panjang dan lembut ini kiranya sudah menjadi semacam alat senjata yang paling aneh dan paling berhasil didalam pertempuran sengit.

Dalam waktu dekat Oh Thi-hoa bertiga agaknya masih bingung dan tak tahu cara bagaimana untuk menghadapi senjata yang luar biasa ini, terpaksa mereka main mundur, salah seorang diantara pembunuh gelap itu tiba-tiba ada yang membalikkan pedang membacok ke arah rantai, “Creng” lelatu api berpijar, pedang ditangan pembunuh gelap itu sendiri malah yang tergetar lepas dari cekalannya, sementara rantai besi itu masih tertarik kencang tak bergeming. Saking kejut pembunuh gelap ini hendak melompat mundur, tapi sudah terlambat,

Tampak dimana bayangan orang berkelebat, terdengar “Krak” disusul darah muncrat kemana-mana, tahu-tahu badan pembunuh gelap yang satu ini sudah putus menjadi dua potong.

Kini rantai itu masih ketarik panjang, cuma sekarang kedudukan Nikoh jubah hijau dengan orang aneh itu sudah pindah tempat. Sudah tentu kawanan pembunuh gelap itu amat kaget dan terkesiap, beramai mereka mundur, tapi Oh Thi-hoa bertiga sendan menunggu mereka di sebelah belakang. Serempaklima batang pedang berkembang lagi, terbagilima jurusan serentak mereka melesat mundur ke belakang pohon. Tampak bayangan orang berkelebat pula, satu diantaranya tahu-tahu sudah terjirat rantai di dahan pohon.

Hanya dalam sekejap mata, kedua orang serba aneh ini sudah menjirat mampus tiga orang, disadari oleh Coh Liu-hiang pada ketiga kali serangan ini, orang aneh itu lebih dulu memberikan inisiatif penyerangan, gerak badannya agaknya lebih cepat dari Nikoh jubah hijau, sungguh mati Coh Liu-hiang ingin sekali melihat dan tahu siapa sebenarnya orang aneh yang terselubung didalam kain gordyn ini, sayang kain gordyn itu terlalu lebar sehingga ujung kakinyapun tertutup sama sekali.

Bahwasanya apapun dia tak melihat, tapi seolah olah punya panca indra setajam kelelawar, hakekatnya dia tak perlu menggunakan mata, namun toh dia bisa melihat dengan jelas, Coh Liu-hiang tahu hanya seorang buta yang memiliki panca indra setajam ini.

Seorang picak bekerja sama dengan seorang yang bisu tuli, namun dapat mengembangkan permainan yang punya perbawa begitu menakutkan, kecuali merasa kasihan diam-diam Coh Liu-hiang pun merasa kagum.

Tapi lantaran apa si picak ini berani melibat dan dilihat orang? Apa pula hubungan sebenarnya orang aneh ini dengan Nikoh jubah hijau? Lantaran apa pula Induk Air Im Ki sampai membelenggu kedua orang ini di atas seuntai rantai yang sama?

Kini pembunuh gelap itu tinggallima orang, agaknya kelima orang ini sudah kapok, mereka hanya berputar kian kemari di bawah dahan pohon. Tapi merekapun tak berani mengundurkan diri. Agaknya “tangan” itu masih memegangi cemeti, jikalau sebelum menunaikan tugas mereka berani mengundurkan diri, siksaan kejam bakal menimpa diri mereka.

Entah berapa banyak jiwa manusia yang terbunuh oleh pedang mereka, tapi nasib jiwa mereka sendiri, mungkin jauh lebih mengerikan dari pada para korban yang mereka bunuh.

Coh Liu-hiang menghela napas, cepat sekali badannya melenting kesana, dilihatnya seorang pembunuh gelap kebetulan sedang menerjang keluar dari bawah sinar golok Oh Thi-hoa, Nikoh jubah hijau dan orang aneh itu mendadak berkelebat keluar juga dari balik dua pohon di sebelahnya, rantai yang mematikan itu tahu-tahu sudah menghadang jalan hidup dan memutus harapannya untuk melarikan diri.

Pembunuh gelap ini meraung kalap laksana singa mengamuk, pedang panjangnya laksana ular beracun menusuk keluar, tapi kaki orang aneh itu melesat, tahu-tahu sudah meluncur keluar dari bayangan sinar pedang orang, cepat sekali rantai besi itu sudah menjirat badannya.

Terang dalam kejap lain leher orang ini lantas akan terjirat putus, tapi pada saat itu juga sekonyong-konyong Coh Liu-hiang melayang datang menangkap rantai besi itu, katanya: “Merekapun manusia yang harus dikasihani, berilah ampun kepadanya!”

Dengan mata yang kelabu Nikoh jubah hijau melotot ke arah Coh Liu-hiang, agaknya teramat gusar dan kaget rantai itu sudah terpegang kencang oleh Coh Liu-hiang, sudah tentu diapun tak mendengar apa yang diucapkan Coh Liu-hiang.
Sementara pembunuh gelap itu meski menggunakan kedok muka, tapi dari pandangan matanya, juga memancarkan rasa kaget, ketakutan dan curiga, memang tak terpikir dalam benaknya, kenapa Coh Liu-hiang menolong jiwanya?

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Kau tak usah kuatir, aku takkan memerasmu untuk mengatakan sesuatu, karena aku tahu sampai mati kau takkan mau buka mulut, sekarang aku hanya ingin membuat transaksi dengan kalian.”

Dengan pandangan waspada pembunuh gelap yang satu ini menyapukan pandangannya ke sebelah ke seluruhnya, tatkala itu Oh Thi-hoa bertiga pun sudah menghentikan pertempuran, empat orang pembunuh yang lain meski masih bergerak tapi gerakan mereka sudah mengendor, sorot mata mereka sama tertuju kepad Coh Liu-hiang, akhirnya dia ada orang yang bertanya: “Transaksi apa?”

“Asal kalian berani pergi, kali ini kuberi kesempatan kepada kalian, tiada syarat apapun yang harus kalian taati.”

Parapembunuh gelap itu sama melongo dan menjublek di tempatnya. Transaksi ini sungguh terlalu murah dan menguntungkan mereka, sesaat mereka jadi bingung entah apa yang harus mereka putuskan.

Kata Coh Liu-hiang pula: “Mungkin kalian menyangka tiada transaksi semurah ini dalam dunia, benar tidak? Bahwasanya kali ini kalian sedikitpun tak pernah mengambil keuntungan apa-apa, benar tidak?” lalu ditepuknya pundak pembunuh gelap yang ditolongnya dari jiratan rantai itu, katanya tersenyum: “Aku sudah berjanji dengan kalian, silahkan kalian berlalu tak usah kuatir apa-apa.”

Sekian lamanya pembunuh gelap yang satu ini terlongong, tiba-tiba dia melejit naik, lolos dari jiratan rantai terus berlari sipat kuping.

Coh Liu-hiang berkata pula: “Seseorang asal dia masih hidup, kelak pasti masih ada kesempatan, orang mati selamanya takkan bisa menyelesaikan urusan lain.”

Seolah-olah dia sedang mengigau seorang diri, tapi setelah mendengar ucapannya ini, pembunuh gelap yang lain seperti tiba-tiba ambil putusan, serempak mereka melesat terbang mengikutu langkah temannya yang lari tadi.

“Ulat busuk.” Oh Thi-hoa seketika berjingkrak marah-marah, “Memangnya kau ingin menjadi Hwesio? Tapi Hwesio takkan sembarangan berwelas asih secara membabi buta secara mentah-mentah kau bebaskan para durjana pembunuh itu.”

“Orang-orang ini bukan terhitung pembunuh, mereka hanya boleh dianggap sebagai boneka.”

“Boneka apa?” tanya Oh Thi-hoa mengerut kening.

“Benar, boneka, setiap badan mereka seolah-olah terjirat oleh seutas tali, ujung tali yang lain terbelenggu di “tangan” yang satu itu, umpama kau bunuh mereka semuanyapun tiada gunanya, lekas sekali tangan itu sudah akan mencari tiga belah boneka yang lain sebagai alat untuk membunuh orang, malah kali ini kau hanya membunuh tiga belas bonekanya, bukan mustahil lain kali dia malah mencari dua puluh enam yang lain.”

Oh Thi-hoa kucek-kucek hidung, katanya: “Tapi… umpama begitu saja kau lepaskan mereka, yang terang bukan laku seorang dagang yang bonafide.”

“Agaknya kau belum paham akan teori dagang, orang-orang yang diutamakan adalah mengulur benang panjang untuk mengail ikan besar.”

Bersinar mata Oh Thi-hoa, katanya: “O, aku paham sekarang, kau lepaskan mereka, maksudmu supaya mereka membawa kau menemukan si “tangan” itu, tapi dimana benangmu?”

“Hidungmukan lebih tajam dari congorku, memangnya kau tak bisa mengendusnya?”

Oh Thi-hoa pejamkan mata, lalu menarik napas dalam-dalam, terasa didalam hembusan angin lalu sayup-sayup terendus semacam bebauan wangi yang khas seperti harumnya bau parfum. Itulah bebauan khas milik si Maling Romantis setiap habis melakukan operasinya.

Oh Thi-hoa tertawa geli, ujarnya: “Ternyata sekali tangan kau ulat busuk ini menepuk di pundak orang, kau sudah tinggalkan bau busuk itu ke badan orang itu.”

“Benar sekarang menjadi giliran tugasmu menjadi anjing ajag untuk menguntit bebauan itu dari jarak tertentu, akhirnya kau akan berhasil menyandak ikan kakap yang kita harapkan itu.”

Belum habis Coh Liu-hiang bicara, tiba-tiba terdengar suara rantai-rantai berbunyi. Nikoh jubah hijau dan orang aneh itu laksana terbang sudah melesat kesana, bukan saja Coh Liu-hiang tak berusaha merintangi, sorot matanya malah menampilkan rasa senang, katanya dengan serius: “Kau tinggal di sini bersama Ui Lo-siansing. Cay locianpwe untuk melindungi mereka, aku…”

“Tak bisa.” kontan Oh Thi-hoa menukas dengan mencak-mencak: “Bagaimana juga kali ini aku mesti menyusul kesana.” belum habis ucapannya dia sudah berlari lebih dulu.

Terpaksa Coh Liu-hiang bersoja kepada Ui Loh-ce dan Cay Tok-hing, lalu menuding pintu Bo dhi am pula katanya: “Urusan disini kuserahkan kepada Cianpwe berdua untuk bantu membereskannya, masih ada Yong ji, bila dia datang…”

“Legakan saja hatimu” tukas Cay Tok hing “Kalau nona Soh datang, akan ku beritahu kepadanya.” Setelah Coh Liu-hiang berlalu, dia menghela napas, katanya kepada Ui Loh ce dengan tertawa getir: “Kalau demikian kami berdua tua bangka ini jadi ringan tugasnya.”

Ui Loh ce menghela napas juga, ujarnya: “Tak salah, seorang laki-laki kalau dipunggungnya memikul beban sudah merupakan tugas berat, apalagi beban yang dipikulnya ada tiga banyaknya.”

Cay Tok hing malah tertawa geli, katanya: “Dalam pandangan tua bangka seperti aku, memangnya itu memang tugas berat, tapi didalam pandangan anak-anak muda jaman sekarang mungkin kemauanpun kau tak akan sempat mengenyamnya.”

Tidak berselang lama Coh Liu-hiang sudah berhasil menyandak Oh Thi-hoa, dilihatnya Oh Thi-hoa dari kejauhan mengikuti jejak Nikoh jubah hijau dengan orang aneh itu, agaknya hatinya rada bingung dan tak tentram, begitu melihat Coh Liu-hiang menyusul tiba-tiba dia berkata: “Agaknya selanjutnya kita harus memelihara seekor anjing.”

“Kenapa?”

“Kalau sekarang kita memelihara anjing pasti takkan keliru arah mengejar jejak orang.”

Mengawasi bayangan kedua orang di depan itu, Coh Liu-hiang menjawab: “Mereka pasti takkan salah menentukan arah.”

“Belum tentu, sekarang aku sudah tidak mengendus bau busukan itu, mereka…”

“Salah hidungmu sendiri yang tak manjur lagi.”

“Walau hidungku tidak sebanding anjing, tapi masih lebih kuat dari hidungmu.”

“Menurut pandanganku, hidungmu dengan hidung anjing tiada bedanya lagi.”

“Kalau hidungku ini hidung anjing, kalau hidungku tidak bisa mengendus bau busukmu itu, memangnya mereka bisa mengendusnya malah?”

“Mata dan kupingmu apa teramat tajam?”

“Hmm!” Oh Thi-hoa mendengus saja.

“Tahukah kau kenapa bisa begitu?”

“Mungkin karena kau termasuk hidung kelinci.”

“Kau tidak usah iri, soalnya hidungku jarang kugunakan, maka yang kuasa sengaja memberikan keistimewaan kepadaku.”

Bersinar mata Oh Thi-hoa, katanya: “Maksudmu, lantaran mata dan kuping mereka tak berguna lagi, maka daya penciuman hidungnya teramat tajam?”

“Akhirnya kau menjadi pintar, sungguh tidak gampang bisa maju begini pesat.”

“Justru karena otakku bebal, maka Thian pun memberkahi suatu kelebihan yang lain.”

“O, Kau memiliki kelebihan apa? Aku sih belum pernah melihatnya?”

“Jikalau bisa melihatnya, celaka dua belas bagi diriku.”

“Kau tak usah takabur, menurut pendapatku, kelebihan itu belum tentu…” tiba-tiba suaranya terputus, roman mukanyapun berubah hebat.

Sekonyong-konyong dari dalam hutan di sebelah depan terdengar pekik dan jeritan jiwa yang meregang ajal. Jeritan yang mengerikan, bila diperhatikan beruntun terdiri dari pekikanlima orang yang hampir bersamaan, meski kelima orang menjerit dalam waktu yang berlainan, namun jarak satu sama lain teramat dekat, maka kedengarannya seperti pekik panjang berantai yang sambung-menyambung, malah kedengarannya pendek sekali terus hilang, jelas baru saja jeritan mereka keluar dari mulut, jiwa melayang napaspun putus.

Nikoh jubah hijau dan orang aneh itu sudah melesat laksana panah menubruk masuk ke dalam hutan.

Tampak kelima pembunuh gelap itu sudah terkapar bergelimpangan, darah segar masih mengalir dari tenggorokan masing-masing.

Seorang berpakaian hitam bertubuh kurus tinggi sedang membungkuk mengawasi cipratan darah dari leher mereka, sorot matanya menampilkan rasa puas, seolah-olah sedang menikmati sebuah karya yang amat mencocoki seleranya.

Orang ini mengenakan jubah hitam yang longgar dan panjang menyentuh tanah, mukanya mengenakan kedok dari ukiran kayu cendana, hanya kelihatan sepasang biji matanya yang berwarna kelabu seperti mata ikan yang sudah mati.

Kedok mukanya itu terang buatan seorang ahli, roman mukanya baik seperti hidup, ujung mulutnya malah mengulum senyuman, seakan-akan setiap batang bulu alisnya bisa dihitung dengan jelas, tapi warnanya yang merah itu bersemu ungu, didalam ungu bersemu hijau lagi, dihiasi sepasang mata kelabu yang kaku dingin lagi, kelihatannya amat seram, mengiriskan dan serba misterius.

Tangannya mencekal sebatang pedang lencir panjang, ujung pedangnya masih berlepotan darah. Kelima pembunuh gelap itu mempunyai ilmu pedang yang tidak lemah, Ginkang mereka pun cukup tinggi, tapi didalam sekilas saja semuanya sudah ajal di bawah kekejian pedang orang kurus tinggi ini. Betapa kejam hati orang ini, kecepatan ilmu pedangnya sungguh amat seram dan mengejutkan!

Mata Nikoh jubah hijau yang buram mengunjukkan kemarahan besar, cepat sekali dengan orang aneh itu mereka meluncur dari kanan kiri terus berputar ke arah yang berlawanan untuk menjerat badan orang. Laki-laki jubah hitam itu seakan-akan tak merasakan, sampaipun kelopak matanya tak terangkat.

Nikoh baju hijau dan orang aneh itu, secepat kilat sudah berputar ke belakang laki-laki kurus tinggi, rantai sudah menyentuh dan menjerat dadanya, begitu kedua orang ini sudah kembali kedudukan semula, maka badannya bakal terjerat putus menjadi dua potong. Siapa tahu, tepat disaat bayangan kedua orang ini sejajar dalam satu garis dengan dirinya, laki-laki kurus jubah panjang itu tahu-tahu sedikit membungkuk laksana ular sanca keluar dari liang, pedangnya memagut ke belakang dari bawah ketiak. “Crep” tahu-tahu ujung pedangnya sudah amblas ke dalam kain gordyn yang longgar itu. Waktu pedang tercabut keluar, darah segera menyembur keluar dengan deras.

Bahwasanya laki-laki kurus jubah hitam tak usah berpaling ke belakang, seakan-akan dia sudah perhitungkan dan penuh keyakinan tusukan pedangnya pasti takkan meleset.

Sebetulnya tusukan pedangnya ini tiada sesuatu yang menakjubkan, tapi gerakannya memang terlalu cepat, waktunyapun diperhitungkan dengan tepat, sasaran yang diincarpun amat tepat dan telak di luar dugaan lawan.
Kelihatan seolah-olah bukan pedang itu yang menusuk ke arah badan orang, lebih mirip kalau dikatakan orangnya sendiri yang menyodorkan diri untuk ditusuk dan aneh serta menakjubkan sekali, bahwa tusukan pedang ini tak boleh terpaut sedikitpun, kalau terlambat seper-sepuluh detik, bukan saja sasarannya tidak kena. Dia sudah perhitungkan dengan tepat disaat kedua orang bertemu dalam satu garis lingkaran yang sama, merupakan pertahanan mereka yang terlemah, karena melihat usaha mereka bakal berhasil, hatinya menjadi girang, dengan sendirinya kewaspadaannya menjadi kendor.

Apalagi gabungan kerja kedua orang ini harus dijalin dengan seutas rantai, boleh dikata laksana dwi tunggal, perduli ditujukan kepada siapa tusukan pedang ini, seorang yang lain akan sempat memberi pertolongan. Tapi disaat badan kedua orang kebetulan bertemu dalam satu garis lingkaran yang sama, Nikoh jubah hijau teraling-aling di belakang orang aneh, sudah tentu orang tidak melihat tusukan pedang laki-laki kurus jubah hitam. Disitulah letak terlemah dari penjagaan mereka, tapi bukan soal mudah untuk menemukan titik kelemahan ini, apalagi kejadian berlangsung teramat cepat, untuk memegang kesempatan yang tepat dan persis dalam waktu sesingkat itu, sungguh lebih sukar lagi dilaksanakan.

Tampak begitu kain gordyn itu bergetar, orang didalamnya lantas tersungkur roboh.

Nikoh jubah hijau sudah menerjang maju, merasakan gejala yang ganjil, tiba-tiba dia berpaling, roman mukanya yang kaku dingin laksana disamber petir, mata, hidung kelima inderanya seakan-akan mengkeret seperti orang kalap, tiba-tiba dia menubruk ke atas badan orang yang tertutup kain gordyn, agaknya dia sudah melupakan pedang lawan sudah mengancam satu kaki di depan mukanya.
Pelan-pelan laki-laki kurus jubah hitam membalik badan, sorot matanya menampilkan rasa hina, katanya dingin: “Perasaan hatimu begini lemah, bahwasanya tidak setimpal mempelajari silat, biarlah aku sempurnakan kalian berdua.”

Sudah tentu Nikoh jubah hijau tidak tahu apa yang dia katakan, pedang panjang itupun pelan-pelan bergerak menusuk ke tenggorokannya.

“Tahan!” sekonyong-konyong seseorang membentak lantang.

Ternyata laki-laki kurus jubah hitam menghentikan tusukannya, tanpa berpaling, suaranya kedengaran tawar: “Maling Romantis?”

Coh Liu-hiang tidak segera menubruk maju karena dia tahu pedang ditangan orang sembarang waktu mungkin menghabisi jiwa Nikoh jubah hijau, betapapun cepat gerakan badannya, takkan sempat maju menubruk menolongnya.

Badannya meluncur turun dan berhenti kira-kira setombak jauhnya, sorot matanya tajam, katanya sambil mengawasi tangan yang memegang pedang: “Cayhe memang Coh Liu-hiang!”

Laki-laki kurus jubah hitam mengeluarkan tawa kering yang menusuk telinga, katanya: “Bagus sekali, memang aku sudah tahu cepat atau lambat kau dan aku pasti akan bertemu muka.”

“Tuan adalah “tangan” itu?” tanya Coh Liu-hiang.

“Tangan?” laki-laki jubah hitam melengak tapi cepat sekali dia sudah mengerti, katanya menyeringai dingin: “Benar, aku adalah tangan yang satu itu, mati hidup jiwa kebanyakan orang yang berada di dunia ini, kebanyakan terbelenggu di tanganku.”

*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Cersil Hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Burung Kenari (Hua Mei Niao) Bab 15. Tangan pengendali 13 pedang"

Post a Comment

close