Peristiwa Burung Kenari (Hua Mei Niao) Bab 16, Lolos dari maut ... (Tamat)

Mode Malam
Peristiwa Burung Kenari
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 16, Lolos dari maut ... Tamat

Dengan lirikan ujung matanya Coh Liu-hiang mencegah Oh Thi-hoa, maksudnya supaya orang tidak ceroboh.

Tapi Oh Thi-hoa tidak tahan sabar, bentaknya: “Tapi mati hidupmu sekarang, tergenggam dalam tangan kami.”

“O? Apa ya?” jengek laki-laki jubah hitam. Sorot matanya yang dingin mengandung penghinaan.

Oh Thi-hoa murka, dampratnya: “Kau tak percaya aku bisa menjagalmu?”

Dari kepala sampai ke kaki, laki-laki kurus jubah hitam mengawasinya dengan memicingkan mata, jengeknya: “Kalian berdua saja?”

“Memangnya kau kira tidak cukup?” damprat Oh Thi-hoa pula.

“Kalian hendak satu lawan satu? Atau kalian maju bersama?”

Sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang, serunya bengis: “Menghadapi kau durjana ini, memangnya perlu menepati aturan Kang-ouw segala?”

Tiba-tiba laki-laki jubah hitam menghela napas panjang, ujarnya: “Sayang… sayang…”

“Sayang?” Oh Thi-hoa mendelik.

“Kalau dalam keadaan biasa, kalian boleh makan kenyang dulu tiga hari, menghimpun semangat, mengumpulkan tenaga sehingga kondisi badan segar bugar, lalu memilih dua macam senjata yang cocok selera baru bergebrak dengan aku, mungkin masih kuat melawan lima ratus jurus, tapi hari ini…”

“Hari ini kenapa?” bentak Oh Thi-hoa pula.

“Hari ini sorot mata kalian guram, langkah kaki mengambang, jelas kalian sudah kehabisan setengah tenaga, dan lagi kurang tidur, perut kosong lagi, sepuluh tingkat kepandaian silat kalian, kini paling hanya tinggal empat tingkat belaka.” lalu di geleng-geleng kepalanya, sambungnya menghela napas: “Dalam keadaan serba kritis seperti ini, kalian hendak bergebrak dengan aku, sungguh merupakan tindakan yang kurang pintar.”

Tiba-tiba Oh Thi-hoa bergelak tawa, serunya: “Kau hendak menggertak kami? Kau kira kami takut?”

“Memang kalian tidak takut, tapi aku merasa kecewa malah.”

“Kecewa?”

Laki-laki jubah hitam menatap pedang di tangannya, katanya kalem: “Sepuluh tahun yang lalu, aku bertamasya keluar perbatasan, di sana aku pernah bertemu dengan Bu-bing kiam khek, di pinggir Thiam ji di puncak Tiang pek-san dia melawanku bertanding selama dua hari dua malam.” biji matanya yang kelabu memancarkan cahaya terang seperti nyala api, lalu melanjutkan: “Pertempuran kali ini sungguh menyenangkan dan memuaskan hati, selama hidup takkan pernah kulupakan, sayang sekali sejak pertempuran kali itu, sampai sekarang aku tak pernah kebentur lagi dengan lawan tangguh yang benar-benar mencocoki seleraku.”

“Kalau demikian, memangnya kau ini sudah tiada tandingan dikolong langit?”

Laki-laki kurus jubah hitam tak hiraukan ocehan Oh Thi-hoa, katanya menyambung: “Kiansu “ahli pedang” tiada tandingannya betapa sunyi perasaan hatinya, mungkin sukar membayangkannya, selama sepuluh tahun ini, setiap waktu setiap saat tiada pernah aku berhenti usaha untuk mencari seorang lawan tangguh…” sorot matanya lalu menatap Coh Liu-hiang, sambungnya: “Sampai akhirnya aku dengar orang bilang tentang dirimu.”

Coh Liu-hiang tertawa baru sekarang dia membuka mulut: “Kalau begitu tuan memang ada maksud mencari aku sebagai lawanmu?”

“Sudah lama aku mendengar kisah petualanganmu, semula aku kira hanya orang-orang Kang-ouw saja yang suka usil mulut mengagulkan dirimu setinggi langit, tapi hari ini kulihat kau, baru aku tahu ternyata memang sejak kau dilahirkan sudah belajar silat.”

“Ah, terlalu memuji.” Coh Liu-hiang merendah.

“Pertama kali aku melihatmu, lantas kudapati kepintaran, ketenanganmu jarang ada orang dapat menandingi, bisa bertempur dengan orang seperti kau memang merupakan kejadian yang menggemparkan, sayang sekali sekarang…”

“Sekarang kenapa?” tanya Coh Liu-hiang tetap kalem dan tersenyum.

“Mengandalkan kondisimu sekarang, jikalau satu lawan satu, mungkin kau masih kuat menyambut dua ratus seranganku tapi kalau ketambahan dia, didalam seratus jurus aku pasti dapat menamatkan riwayatmu.”

Oh Thi-hoa berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot, raungnya: “Aku seorang diri juga bisa tamatkan jiwamu.”

“Ilmu silatmu, di kalangan Kangouw boleh terhitung kelas satu, tapi hari ini semangat dan tenaga kalian sudah luluh, dengan gabungan dua orang bukan saja tidak akan bermanfaat kerja-sama kalian, malah masing-masing harus menguatirkan keselamatan dan saling tolong-menolong, tanpa mengambil keuntungan yang setimpal, lebih celaka lagi…”

“Apapun yang kau katakan,” tukas Oh Thi-hoa tertawa lebar “hari ini aku hendak melabrakmu bersama, andai lidahmu pecah saking banyak ngoceh, jangan harap kami bisa kau tipu mentah-mentah.”

Laki-laki kurus jubah hitam kembali menghela napas, katanya: “Ribuan laksa emas dapat diperoleh, panglima gagah sukar dicari, Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang dengan cara begini saja aku membunuhmu, sungguh terlalu merendahkan derajatmu, sayang, sayang!”

“Kalau demikian, apakah tuan tidak bisa tidak membunuhku?”

“Kalau orang seperti macammu hidup di dunia fana ini, aku sendiripun takkan bisa tidur nyenyak dan makan dengan tentram…” tiba-tiba matanya memancarkan nafsu membunuh, katanya dingin: “Tapi kalau hari ini kalian kuat melawan seratuslima puluh jurus, aku tak akan membunuhmu.” dimana hembusan angin berlalu, tiba-tiba pedang di tangannya sudah bergerak!

Nafsu membunuh sebetulnya hanya terlontar dari sorot matanya, tapi begitu gerakan pedangnya dimulai alam semesta sekonyong-konyong seperti diliputi hawa kematian.

“Kalau dapat melawan seratuslima puluh jurus, aku tak akan membunuhmu.” mendengar ucapan orang ini Oh Thi-hoa sudah hampir bergelak tawa. Sungguh tak pernah terpikir dalam benaknya, dalam dunia ini ada manusia secongkak dan seangkuh ini.

Tapi sekarang tawanya tak bisa terdengar. Entah kenapa tahu-tahu tanpa disadarinya dia sudah tersedot seperti disihir saja sama kekuatan hawa kematian ini, terasa tak dapat terkendali lagi sanubarinya mengucurkan keringat dingin.

Hawa pedang Swe It hang memang sangat tajam dan hebat, namun toh belum bisa membuat hatinya kaget, soalnya hawa pedang Swe It hang itu merupakan suatu yang mati, hanya bisa mengetuk kalbu saja, tak bisa melukai badan lawan, sebaliknya laki-laki kurus jubah hitam ini sudah bisa melebur nafsu membunuh dengan hawa pedang terbayang menjadi satu, lebih hebat lagi karena hawa membunuh itu ternyata hidup.

Meski pedangnya belum bergerak, tapi hawa membunuh ini sudah mulai merangsang, bergerak menerjang dan memasuki setiap lobang indra. Terasa oleh Oh Thi-hoa hawa membunuh ini telah memasuki ke dalam matanya, menerjang masuk ke dalam telinga, menyusup ke hidung, meresap ke dalam lengan bajunya.. semua badan seakan-akan sudah telanjang bulat, terkepung oleh hawa membunuh ini, belum lagi bergebrak dirinya sudah terdesak di bawah angin, apalagi dia sudah tidak tahu cara bagaimana dia harus turun tangan.

Ujung pedang laki-laki kurus jubah hitam terjungkit ke bawah, bukan saja gaya menyerang juga bukan sikap membela diri, semua badannya dari atas sampai ke bawah dapat dikata merupakan lobang besar yang merupakan sasaran empuk untuk diserang. Tapi karena terlalu banyak sasaran yang harus diserangnya, maka Oh Thi-hoa lebih kebingungan dan tak tahu cara bagaimana dia harus mulai turun tangan, karena dia sendiri tidak bisa meraba bagaimana perubahan gerakan pedang laki-laki kurus jubah hitam selanjutnya.

Tiba-tiba Coh Liu-hiang juga menghela napas, ujarnya: “Sayang… sayang…”

Laki-laki kurus jubah hitam menatapnya dengan pandangan dingin.

“Tuan juga membikin aku amat kecewa.” ujarnya tertawa.

Akhirnya laki-laki kurus jubah hitam tidak tahan bertanya juga: “Kecewa?”

“Kukira betapa tinggi ilmu pedang tuan yang sebenarnya, melihatgaya kuda-kudamu ini, boleh dikata gerakan tuan banyak menunjukkan lobang kelemahan yang fatal sekali akibatnya, terlalu lucu dan menggelikan.”

“Kalau demikian, kenapa tidak segera kau turun tangan?”

“Terus terang Cayhe rada tidak tega untuk turun tangan.”

“Mungkin karena jurus permulaanku ini terlalu banyak mengunjukkan titik kelemahan, maka kau jadi tidak tahu cara bagaimana kau harus turun tangan bukan?” ujar laki-laki kurus dengan nada sinis, “jikalau kau satu lawan satu dengan aku, masih bisa kau mengandal Ginkangmu yang tinggi untuk menjajal dan menyelami jalan permainan ilmu pedangku, tapi sekarang kau harus berusaha melindungi temanmu, soalnya sejurus kau gagal, pedangku pasti sudah tembus menghujam tenggorokannya.”

Sudah tentu Coh Liu-hiang sendiripun tahu akan keadaan gawat dan kepepet ini, soalnya dia lihat sikap Oh Thi-hoa rada kurang normal seperti kehilangan semangat, maka dia mencari akal berusaha menenangkan hatinya. Dia tahu omongan kadang kala bisa membuat seseorang menjadi tentram dalam ketegangan.

Pandangan laki-laki kurus jubah hitam laksana kilat, katanya dengan tertawa dingin: “Maksud hatimu akupun sudah tahu, kalau dalam keadaan biasa, mungkin diapun takkan sampai begini, tetapi sekarangpun hatinya bingung, tenaganya loyo, semangat dan kondisi badannya sama-sama lemah, kalau tidak mau dikatakan hampir lumpuh, maka hawa pedangku bisa menyusup ke dalam badannya, sekarang badaniahnya memang tak kelihatan terluka, tapi semangatnya sudah terkekang dan tersedot oleh kekuatan hawa pedangku, tak ubahnya seperti mayat hidup.”

Memang kedua mata Oh Thi-hoa mendelong memandang lempeng ke depan, keringat gemerobyos membasahi kepala, golok di tangannya itu seakan-akan menjadi ribuan kati beratnya, walau ia sudah kerahkan semua kekuatannya namun ujung goloknyapun tak kuasa diangkatnya.

Oh Thi-hoa yang sudah gemblengan dimedan laga kenapa bisa berubah begitu mengenaskan? Sekonyong-konyong Coh Liu-hiang diresapi pikiran aneh, seakan-akan yang dihadapinya sekarang bukannya seorang manusia, sebatang pedang, tapi adalah segulung hawa membunuh yang aneh dan gaib.

Gumpalan hawa membunuh ini hasil dari persatuan bentuk manusia aneh dan sebatang pedang iblis, orang dan pedang laksana dwi tunggal dapat dikata sudah menjadi begitu kuat ampuh dan tak terpecahkan, tak terkalahkan. Orang ini sudah menjadi setan pedang sementara pedang itu sudah merupakan sukma dari manusia.

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, dia tahu dengan kondisi badannya sekarang menghadapi pedang iblis ditangan orang, bukan saja merupakan sikap yang pintar, malah merupakan malapetaka.

Dikala seseorang sedang kelaparan, keletihan, bukan saja kulit dagingnya takkan kuat, semangatnyapun akan lumpuh, bayangkan momok sudah timbul dalam benaknya, demikian juga ancaman dari luar akan segera menyusup ke dalam. Pertempuran melawan Induk Air dalam air itu boleh dikata sudah menguras habis seluruh semangat dan kekuatan lahir batinnya, sekarang memang sesungguhnya dia sudah tak mampu lagi memecahkan gumpalan hawa membunuh ini.

Biji mata lelaki kurus jubah hitam yang kelabu kaku mati itu tiba-tiba menyorotkan sinar hijau seperti bara yang mulai menyala, umpama Coh Liu-hiang adalah besi baja, lama kelamaan diapun akan mencair luluh.

Satu-satunya harapan, semoga Nikoh jubah hijau itu tiba-tiba bangkit kemarahannya dan berkobar dendamnya, maka dengan gencetan dua orang dari dua posisi yang berlawanan, mungkin dia masih mempunyai harapan, apa boleh buat Nikoh jubah hijau, kelihatannya sudah lumpuh dan tak bersemangat lagi karena kematian teman hidupnya itu, dia mendekam di atas mayat teman hidupnya itu, tenaga untuk berdiri pun tak kuat lagi.

Sekonyong-konyong sinar pedang menjulang ke atas, berputar satu lingkaran. Berkata lelaki kurus jubah hitam: “Sungguh tak nyana kalian jauh lebih tak becus dari apa yang kubayangkan semula, agaknya hanya sedikit angkat tangan saja aku sudah bisa membunuh jiwamu.”

Coh Liu-hiang menatap ujung pedang ditangan lawan, baru saja dia siap melejit ke atas, tapi sekonyong-konyong pedang lelaki kurus jubah hitam tiba-tiba menjadi tabir cahaya yang menyilaukan memutus segala jalan mundurnya. Ujung pedang menderu membelah angin, melengking tajam laksana suitan.

Sebetulnya Coh Liu-hiang cukup mampu untuk memecahkan gerakan pedang ini, apa boleh buat saat ini dia sudah kehabisan tenaga, kekuatan tidak memadai dengan keinginan hatinya.

Pada saat yang kritis itulah sekonyong-konyong seseorang menghardik keras: “Berhenti!” begitu hardikan ini kumandang, lengking pedangpun berhenti, gerakan pedang laksana siluman ular itupun tiba-tiba tak bergeming lagi, dari kejauhan ujung pedang menuding atau mengancam di depan muka Coh Liu-hiang.
Laki-laki kurus jubah hitam berkata dingin: “Aku hanya ingin tahu siapa gerangan yang berani menyuruh aku berhenti, tiada maksudku yang lain, tentunya kau tahu pedangku ini setiap saat dapat mencabut nyawamu menuruti keinginan hatiku.”

Seakan-akan Coh Liu-hiang tak mendengar ucapannya, mata orang hanya mengawasi ke belakangnya, berkata: “Kau tidak melihatku, karena begitu kau bergerak, aku akan mencabut jiwamu.” suara ini nyaring merdu dan lembut, namun membawa daya ancaman dan hawa membunuh yang tajam dan kuat, sehingga orang yang di ancamnya mau tak mau percaya akan ucapannya.

Laki-laki kurus jubah hitam menatap Coh Liu-hiang, dilihatnya Coh Liu-hiang menampilkan rasa kaget, heran serta kesenangan, katanya tersenyum: “Lebih baik kau percaya apa yang dikatakannya, aku berani tanggung dia pasti tidak sedang berkelakar.”

“Jikalau aku tidak percaya?” laki-laki jubah hitam menyeringai dingin.

“Kalau kau melihat apa yang dipegang tangannya, tidak bisa tidak kau akan percaya.”

Sorot mata laki-laki kurus jubah hitam yang menyala tadi kembali menjadi kelabu, katanya sepatah demi sepatah: “Perduli apapun yang berada di tangannya, aku tetap bisa membunuhmu sembarang waktu.”

“Kenapa tidak kau lihat dulu apa sebenarnya yang berada di tangannya?” debat Coh Liu-hiang dengan sikap tenang dan kalem.

Harus dimaklumi, tatkala itu seluruh kekuatan hawa pedang dari pengerahan tenaga murninya sudah terpusatkan di batang pedangnya, asal dia berpaling kepala itu berarti pemusatan kekuatan dan konsentrasinya terganggu, maka Coh Liu-hiang akan memperoleh kesempatan yang paling baik. Tak nyana lelaki kurus jubah hitam ini seperti dapat meraba pikirannya, katanya dingin: “Kau ingin aku berpaling kukira tak begitu gampang.”

“Jadi kau tidak mau berpaling?”

“Sekarang seluruh badanmu sudah terjaring didalam hawa pedangku, umpama kura-kura di gentong, ikan dalam jala, jikalau aku tidak mau berpaling maka kaupun takkan punya kesempatan untuk memperpanjang hidup, andaikata dua puluh tujuh batang Bau hi li ho ting di tangannya serempak menancap di badanku, tusukan pedangku tetap dapat menamatkan jiwamu.”

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Ternyata kau sudah menebak apa yang berada di tangannya.”

“Jikalau dia tak memegangi Bau hi li hoa ting, memangnya dia berani mengancam begitu rupa terhadapku?”

Tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa riang, katanya: “Tapi jikalau tangannya kosong, dia hanya menggertakmu saja, apa kau tak terlalu penasaran ditipu mentah-mentah?”

Berubah rona muka lelaki jubah hitam, katanya: “Apakah tangannya kosong, tanpa berpaling akupun sudah tahu.”

“O? Jadi belakang kepalamu juga tumbuh mata?”

Bengis sorot mata lelaki jubah hitam sentaknya: “Tusukan pedangku akan dapat menjajal apakah tangannya itu benar-benar kosong.”

“Jikalau tangannya benar-benar pegang Bau hi li hoa ting, tusukanmu ini bukankah membawa malapetaka bagi dirimu pula? Dua puluh tujuh batang Li-ho-ting sekaligus menyerang dari belakang, kau yakin dapat meluputkan diri?”

“Bisa gugur bersama Maling Romantis kukira merupakan transaksi dagang yang cukup adil juga.”

“Bagus sekali.” ujar Coh Liu-hiang tersenyum: “Kalau begitu silahkan kau turun tangan! Mungkin tusukanmu belum tentu dapat menamatkan jiwaku, bukankah terlalu besar derita kerugianmu?”

Kembali berubah roman muka laki-laki jubah hitam, katanya: “Kalau aku tak ingin turun tangan?”

“Kalau kau tak turun tangan, mungkin dia pun takkan turun tangan, jikalau kau ingin menyingkir, silahkan berlalu tiada orang yang akan menarik dan menahanmu.”

Jelalatan sorot mata lelaki jubah hitam, katanya kurang percaya: “Darimana aku tahu kalau dia…”

“Asal kau pergi, aku berani tanggung dia pasti tidak akan turun tangan.”

“Dengan apa kau bertanggung jawab? Kenapa aku harus percaya akan obrolanmu?”

“Kalau kau tidak percaya hanya turun tanganlah keputusannya, jikalau kau tak ingin turun tangan, terpaksa harus percaya kepada ku, memangnya masih ada peluang bagimu untuk tawar-menawar?”

Dengan tatapan tajam, laki-laki jubah hitam mengawasi Coh Liu-hiang lama sekali, tiba-tiba dia tertawa besar, katanya: “Kalau Maling Romantis sampai tidak kupercayai, manusia siapa lagi yang dapat kupercaya dalam dunia ini, baik, hari ini kita selesaikan urusan sampai di sini saja, kelak masih banyak kesempatan.”

“Kelak bila kau berhadapan dengan aku lagi, lebih baik kau berdaya memasang mata di belakang kepalamu.”

“Kuharap kau baik-baik menjaga kesehatan, kumpulkan semangat dan tenagamu, didalam jangka tiga bulan, semoga jarang sakit atau terluka, kalau tidak kau akan terlalu mengecewakan aku.” mulut bicara kakinyapun melangkah lebar, sejak langkah pertama tidak pernah dia berpaling, tampak jubah hitamnya melambai, dia sudah menghilang dari pandangan mata.

Baru saja orang berlalu, Soh Yong-yong yang semula berdiri di belakangnya segera meloso jatuh dengan lemas, roman mukanya sudah pucat pias tak kelihatan warna darah, keringat dingin gemerobyos, membasahi semua badannya. Tangannya kosong melompong, mana ada Bau hi li hoa ting segala.

Tesipu-sipu Coh Liu-hiang memburu maju memapahnya berdiri, katanya lembut: “Tepat sekali kedatanganmu sungguh baik sekali!”

Bibir Soh Yong-yong masih gemetar, suaranyapun tak mampu dia katakan.

“Sebetulnya kau tidak perlu begini takut.”

Soh Yong-yong gigit bibirnya sebentar, katanya: “Apapun tidak kutakuti, aku hanya takut bila dia berpaling ke belakang.”

“Karena asal kau sudah kemari, kau bawa tidak Bau hi li hoa ting bukan menjadi soal lagi, persoalan sama saja.”

“Kenapa begitu?” tanya Soh Yong-yong.

“Tadi dia bukan sedang membual, umpama kata tanganmu benar membawa Bau hi li hoa ting, asal dia berani turun tangan, dia tetap bisa membunuhku lebih dulu, waktu itu aku memang sudah terbelenggu didalam lingkungan hawa pedangnya, tapi akupun yakin dia takkan berani turun tangan, juga takkan berani berpaling ke belakang, karena orang macam dia pasti pandang jiwanya terlalu tinggi, sekali kali dia takkan berani mempertaruhkan jiwanya untuk menghadapi teka-teki ini.”

“Tapi kenapa dia tidak berani berpaling?”

“Dia tidak berani berpaling lantaran takut kalau dirinya tertipu, orang macam dia kalau tahu dirinya tertipu orang lain, mungkin bisa gila saking dongkol dan marah.”

“Kalau mau dia berpaling dulu baru turun tangankan belum terlambat?”

“Kalau dia berpaling ke belakang, maka dia takkan bisa turun tangan lagi.”

“Kenapa?”

“Jikalau kau benar-benar membawa Bau hi li hoa ting, begitu berpaling, kau akan punya kesempatan membuat tamat riwayatnya.”

“Tapi aku…”

“Tapi tanganmu kosong, bila dia berpaling tahu bahwa dirinya ditipu mentah-mentah, ingin memusatkan kekuatan hawa pedangnya lagi sesulit memanjat langit.”

“Kenapa begitu?” tanya Soh Yong-yong tak mengerti.

“Dia tahu aku sudah laksana api yang hampir kehabisan minyak, yakin dirinya pasti akan menang, maka dia kuasa menekanku dengan perbawa hawa pedangnya, tapi bila dia tahu dirinya ditipu, perbawa hawa pedangnya akan menjadi lumpuh, maka perbawaku malah akan balas menekan dia, tatkala itu siapa menang siapa asor sukar diramalkan, orang macam dia masakah mau bertanding dengan orang bila dia tidak yakin akan menang? Maka sudah kuperhitungkan dia pasti rela tinggal pergi saja, berpalingpun tidak sudi.”

Sampai di sini Coh Liu-hiang tersenyum: “Tokoh kelas wahid bertanding umpama dua pasukan besar sedang berhadapan, sikap dan perbawa sekali-kali tidak boleh kelelap oleh kekuatan lawan, meski persenjataan pihak sendiri kalah kuat bila perbawa dan semangat tempur kita lebih berkobar, lawan besarpun akan dapat kita tundukkan. Agaknya dia mengerti juga akan teori ini, maka tahu situasi yang menyudutkan dirinya serba tidak menguntungkan, maka dia rela tinggal pergi saja.”

Soh Yong-yong tertawa manis, katanya memuji: “Justru karena kau Maling Romantis juga paham akan teori strategis perang ini, maka setiap kali kau dengan keadaan yang lemah dapat mengalahkan yang kuat, dari bahaya menjadi selamat dan ketiban rejeki.”

“Terlalu dipuji, terlalu dipuji, tapi kalau kau tidak menyusul tiba tepat pada saatnya, akupun belum sempat berdoa untuk keselamatanku sendiri.”

“Tapi kau memang terlalu tabah, melihat sikapmu yang tenang dan adem-ayem tadi sampai akupun hampir merasa aku memang memegangi Bau hi li hoa ting.”

“Kelihatannya aku memang tenang, tabah dan adem-ayem, sebetulnya hatikupun tegang setengah mati, memang dengan semangat dan kondisi badanku hari ini bertempur sama dia sedikitpun aku tidak punya keyakinan dapat mengalahkan dia.”
Soh Yong-yong menatapnya lekat-lekat, sorot matanya mengandung kekuatiran dan duka, katanya: “Dalam keadaanmu yang normal seperti biasa, berapa persen keyakinanmu dapat melawan dia?”

Coh Liu-hiang berdiam sebentar, katanya tersenyum: “Waktu aku bergebrak dengan Ciok-koan-im, sedikitpun aku tak punya keyakinan akan diriku, tapi aku tetap masih berhasil mengalahkan dia.”

Tatkala itu Nikoh jubah hijau perlahan merangkak berdiri dari atas mayat yang terselubung kain gordyn, Coh Liu-hiang selalu memperhatikan gerak-gerik orang, cuma dia cukup tahu perempuan disaat sedih pilu tentu tak suka diganggu orang lain, maka dia diam saja tak mengajaknya bicara, supaya orang bisa tenang melampiaskan duka citanya melalui sesenggukkan tangisnya! Bila perempuan sedang menangis sesambatan, ada orang mendekati dan menghiburnya, maka dia tak akan habis-habis menangis sampai dia sendiri kecapaian.

Nikoh jubah hijau sudah menghentikan tangisnya, kulit mukanya yang pucat tepos kehitaman rada bengkak, pelan-pelan dia membalik badan menghadapi Coh Liu-hiang, tiba-tiba berkata, katanya: “Aku ingin memohon sesuatu kepadamu.”

Coh Liu-hiang melengak kaget, tapi segera dia menjawab: “Silahkan berkata.”

“Aku tahu kalian tentu amat keheranan, tak tahu siapa sebenarnya si dia itu? Kenapa menyembunyikan diri tak mau dilihat orang?”

“Setiap orang punya rahasianya sendiri-sendiri, siapapun tiada hak mencampurinya.”

Nikoh jubah hijau manggut-manggut, katanya pelan-pelan: “Sekarang aku hanya mohon kepadamu, selamanya jangan kau selidiki rahasia ini, selamanya jangan kau singkap kain gordyn ini, selamanya jangan sampai ada orang lain yang melihatnya.”

Tanpa pikir Coh Liu-hiang menjawab: “Cayhe boleh berjanji diantara teman-temanku pasti tidak ada seorangpun yang suka mengorek-ngorek rahasia orang lain.”

Nikoh jubah hijau menarik napas panjang yang melegakan hati, kepalanya mendongak mengawasi angkasa raya, lama dia terlongong, akhirnya berkata pula dengan kalem: “Kau adalah Kuncu, maka aku berani berpesan kepadamu, setelah aku wafat, harap kau segera perabukan jenasah kami, lalu taburkan abu kami berdua ke dalam aliran sungai yang mengalir ke dalam Sin cui kiong itu.” ujung mulutnya mengulum senyum, katanya menyambung: “Dengan demikian dimasa hidup kami tak bisa kembali ke Sin cui kiong, setelah wafat akhirnya dapat kembali ke haribaannya pula.” air muka yang semula kaku bengkak, diliputi penderitaan, kini dihiasi senyum mekar, senyuman yang kelihatan aneh, penuh arti tapi juga mengiriskan.

Coh Liu-hiang sampai bergidik melihat roman muka orang, katanya: “Taysu apa kau…”

Nikoh jubah hijau ulapkan tangannya menukas omongannya: “Aku dengan kau sebelum ini masih asing dan tidak saling kenal, bertemu pertama kali lantas aku berpesan kepadamu, karena aku percaya kau adalah lelaki sejati, selama hidupku memang takkan bisa membalas baktimu tapi setelah ajal dialam baka aku pasti akan berdoa dan memberkati kau sehat panjang umur.”

Kalau orang lain yang mengucapkan janji ini, mungkin hanya omong kosong belaka, tapi diucapkan dari mulut orang yang sudah sengsara hidup dan menjelang ajal ini, ternyata membawa kekuatan misterius yang meresap ke sanubari, sehingga orang yang mendengar betul-betul merasakan dirinya sedang mengadakan transaksi dengan sebuah sukma.

Coh Liu-hiang tidak bicara lagi, karena dia tahu tekad dan keputusannya siapapun tidak bisa mengubahnya lagi. Maka dilihatnya Nikoh jubah hijau merangkap kedua telapak tangan di depan dada, badan setengah membungkuk membacakan mantra dan dia lalu pelan-pelan membalik badan.

Coh Liu-hiang tidak melihat orang melakukan gerakan apa-apa, tahu-tahu badannya sudah roboh. Roboh menindih mayat yang tersembunyi didalam kain gordyn itu.

Coh Liu-hiang menghirup napas panjang, segera dia menjura dalam.
Sebaliknya air mata Soh Yong-yong berlinang, katanya sambil mengulap mata: “Agaknya Taysu inipun seorang romantis.”

Tiba-tiba terdengar Oh Thi-hoa menarik napas panjang, teriaknya tertahan: “Eh! Kapan kau datang? Mana dia?” kau yang dimaksud sudah tentu adalah Soh Yong-yong, sedang dia sudah tentu adalah lelaki kurus jubah hitam.

“Kau tidak melihatnya?” tanya Soh Yong-yong keheranan.

“Aku.. aku…” Oh Thi-hoa gelagapan. Keringat gemerobyos di atas kepalanya, suaranya sember: “Apakah yang telah terjadi? Kenapa aku tiba-tiba bermimpi?”
Coh Liu-hiang berkata pelan-pelan: “Lantaran kau sedang mimpi, maka aku tidak berani mengusik kau, sekarang setelah siuman dari mimpi, dapatlah kau lupakan segala impianmu itu.”

Maklumlah sukma Oh Thi-hoa tadi sudah terbelenggu atau tersedot oleh kekuatan hawa pedang lelaki kurus jubah hitam itu, berarti raganya sudah kosong melompong tinggal badan kasarnya saja, sisanyapun tidak banyak lagi, jikalau sampai terganggu, begitu hawa murninya sontak berontak dan nyeleweng, kemungkinan darahnya bakal putar balik sehingga Cay-hwe-jip-mo. Jikalau dia tidak melupakan peristiwa ini, kelak bila bertanding dengan orang, tentu dirinya kehilangan keyakinan akan dirinya sendiri, bagi seorang persilatan bila kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, sisanyapun takkan banyak lagi. Betapapun Oh Thi-hoa juga tahu akan hal ini, serta merta keringat dingin gemerobyos lagi membasahi seluruh badan.

Lama Coh Liu-hiang menatap lekat-lekat, kemudian baru bersuara dengan lembut: “Sekarang kau sudah lupa semuanya?”

Lama juga Oh Thi-hoa menepekur, tiba-tiba dia bergelak tawa dengan mendongak, sahutnya: “Aku sudah lupa.”

Dengan dahan-dahan pohon dan dedaunannya Coh Liu-hiang menutupi kedua jenasah itu lalu menyulut api membakarnya.

Semua rahasia segera akan ikut lenyap menjadi abu.

Oh Thi-hoa terus mengawasi jenasah yang tertutup rapat oleh kain gordyn itu, tak tahan mulutnya mengoceh lagi: “Siapakah sebenarnya orang ini? Apakah dia sumoay Taysu ini? Ataukah kekasihnya? Lantaran roman mukanya dirusak, maka dia menyembunyikan diri malu dilihat orang?”

Soh Yong-yong seperti mau mengatakan sesuatu, namun dia urung bicara. Tadi waktu mau berlalu sedikit meningkap ujung kain gordyn, seakan-akan dia sudah melihat tangan orang itu. Tapi kelihatannya bukan tangan manusia, tapi lebih serupa dengan cakar binatang, karena jari-jarinya penuh ditumbuhi bulu lebat dengan kuku-kuku jari yang runcing panjang.

Memangnya binatang sakti yang dicinta oleh Nikoh jubah hijau ini? Antara cinta dan dosa, ada kalanya memang hanya terpaut satu garis saja.

Tapi bukan saja Soh Yong-yong tak berani mengatakan, malah berpikir atau membayangkanpun tak berani lagi. Apalagi bukan mustahil di atas tangan orang bisa tumbuh bulu.

Api mulai menyala dan berkobar semakin besar. Rahasia itu sudah lenyap ditelan kobaran api, selamanya lenyap dari alam semesta ini.

Namun dalam hati Soh Yong-yong akan tenggelam sebuah teka-teki.
Setitik Merah dan Ki Bu-yong sudah pergi lagi entah kemana. Tiada orang yang bisa menahan mereka, karena mereka memang lahir dan tumbuh didalam pengasingan, maka merekapun harus hidup sebatang kara. Hanya kehidupan menyendiri yang paling mereka gemari.

Yang menghibur dan melegakan hati Coh Liu-hiang adalah bahwa kedua orang yang semula sebatang kara dan tumbuh didalam kesunyian ini akhirnya bisa hidup terangkap menjadi satu.

Cay Tok-hing berkukuh ingin mengantar keberangkatan mereka, karena selama hidup Cay Tok-hing diapun selalu sebatang kara, hanya dia saja yang betul-betul dapat menyelami jiwa orang sebatangkara adakalanya juga dilembari oleh hari yang panas dan membara akan kehidupan.

Bagaimana dengan Ui Loh-ce? Dia bertekad akan menemukan jenasah Hiong-niocu di sepanjang aliran sungai itu, persahabatan mereka takkan luntur meski mengalami bencana besar dan tergembleng dalam penderitaan hidup, sampai mati takkan berubah.

Abu jenasah Nikoh jubah hijau berdua diserahkan kepada Ui Loh-ce, karena Coh Liu-hiang tahu diapun seorang yang dapat dipercaya, siapapun bila bisa bersahabat dengan orang seperti Ui Loh-ce sungguh merupakan satu hal yang menguntungkan.

Song Thiam-ji selalu merengut dan bersungut-sungut, mulut mengomel panjang pendek karena jatuh semaput sehingga dia tak bisa mengikuti keramaian ini, maka selama ini hanya murung dan masgul.

Soh Yong-yong lantas menghiburnya: “Walau kau kehilangan kesempatan melihat banyak keramaian ini, tapi banyak urusan lebih beruntung bila kau tak mengetahui atau melihatnya malah.”

Di sebelahnya Li Ang siu sebaliknya sedang menjelaskan pengalamannya dalam perjalanan ke sini: “Ditengah jalan racun dalam badan Liu Bu-bi mendadak kumat dia tak kuat berjalan, maka Li Giok-ham menemani dia, sekarang mereka menginap dirumah seorang tukang kayu di bawah gunung.”

Sudah tentu Coh Liu-hiang tahu bahwa Liu Bu-bi hakekatnya bukan sedang sakit, tapi lantaran takut, dia tahu bila rahasia dirinya terbongkar masakah dia berani berhadapan dengan Coh Liu-hiang.

Li Ang siu kesima, katanya merinding: “Maksudmu bahwa Liu Bu-bi hakekatnya tak pernah keracunan, dia memancingmu masuk ke dalam Sin cui kiong, tujuannya untuk menuntut balas bagi kematian Ciok koan im?”

“Ya, begitulah menurut rekaanku.”

“Kalau demikian dia pasti takkan berani menetap dirumah tukang kayu itu, buat apa kita menyusul kesana untuk mendatangi tempat kosong?”

“Bukan kita saja yang tertipu olehnya, Li Giok-ham sendiripun ditipunya mentah-mentah, betapapun aku akan menemukan dia.”

Cepat sekali mereka sudah tiba ke tempat tujuan, tampak di bawah bukit dalam sebidang hutan yang rindang terdapat sebuah gubuk, seorang tukang pencari kayu yang berusia tak muda lagi, namun otot badannya kelihatan merongkol, dengan kekar, badan bagian atas telanjang sedang membelah kayu bakar di depan halaman rumahnya. Walau orang ini tak pernah belajar silat tapi setiap kali kampaknya terayun selalu membawagaya ayunan yang indah, sebatang bongkol kayu yang besar sekalipun dibelahnya dengan sekali bacokan kampaknya.

Melihat orang selincahnya mengerjakan kampaknya, diam diam Coh Liu-hiang merasa kagum dan simpatik. “Walau berhasil melatih ilmu silat sampai tingkat tertinggi sehingga tiada tandingannya dikolong langit, apa pula gunanya dan masakah patut dibanggakan, tokoh nomor satu yang ahli menggunakan senjata kampaknya memangnya mampu dibandingkan seorang tukang kayu yang rajin bekerja?”

Li Ang-siu maju mendekati, sapanya dengan tertawa: “Harap tanya Toako ini, apakah kedua teman kami itu masih berada didalam?”

Roman muka tukang kayu ini tak menampilkan perasaan apa-apa, malah melirikpun tidak kepadanya, dia hanya manggut-manggut sambil mengayunkan kampaknya, sebongkah kayu besar dibelahnya lagi hanya sekali ayunan kampak.

Setelah mengucapkan terima kasin Li Ang-siu lantas memberi kedipan mata kepada Coh Liu-hiang, lalu mereka langsung menuju ke pintu, belum lagi mereka memasuki pintu, Li Giok-ham sudah kelihatan didalam.

Gubuk kayu ini serba sederhana, kalau tidak mau dikatakan serba kekurangan, didalam hanya ada sebuah meja persegi, seorang diri Li Giok-ham sedang duduk menyanding meja sambil minum arak, air mukanya pucat kekuningan agaknya kurang tidur, secangkir demi secangkir tak putus-putusnya dia tenggak habis araknya. Cahaya dalam rumah agak guram meski siang hari bolong, suasana dalam rumah seperti ditengah malam terang bulan.

Setelah mereka melangkah masuk, Li Giok-ham hanya sekilas angkat kepala, segera sibuk lagi dengan araknya seolah-olah mereka selama ini tak kenal. Coh Liu-hiang langsung duduk dihadapannya, lama sekali baru dia bertanya: “Mana Li-hujin?”

Cukup lama baru Li Giok-ham mengerti maksud pertanyaannya, tiba-tiba dia tertawa, katanya berbisik: “Dia sedang tidur, jangan kalian ribut sehingga dia bangun.”

Baru sekarang Coh Liu-hiang sempat perhatikan di atas dipan memang tidur celentang seseorang, cuma seluruh badannya tertutup kemul, sampai mukanyapun tak kelihatan.

Begitu melangkah masuk Oh Thi-hoa tidak tahan lagi lantas menyambar botol arak.
Tak kira sekali raih Li Giok-ham lantas merebutnya kembali, katanya: “Araknya tinggal sedikit, aku sendiri hendak minum, kenapa tidak kau beli sendiri?”

Oh Thi-hoa melongo, hampir dia tidak percaya akan pendengaran dan pandangannya sendiri bahwa putra hartawan besar seperti Li Giok-ham yang dulu royal dan suka berfoya-foya kini duduk di depannya, sebaliknya sikap Li Giok-ham acuh tak acuh seperti tiada orang lain di sekelilingnya, menuang sendiri, minum sendiri, perduli orang lain anggap dirinya macam manusia apa, sedikitpun dia tidak ambil perhatian.

Sesaat kemudian Coh Liu-hiang baru buka suara lagi: “Sungguh harus disesalkan, sampai sekarang kami baru sempat pulang, dan lagi tidak berhasil mendapatkan obat pemunah racun untuk mengobati istrimu.”

“O?” pendek dan dingin sekali Li Giok-ham.

Coh Liu-hiang menambahkan dengan suara kereng: “Soalnya istrimu sebetulnya tak pernah keracunan, Induk Air sendiri yang beritahu akan hal ini kepadaku.”

Dia kira Li Giok-ham pasti tercengang kalau tidak terkejut mendengar keterangannya, siapa tahu sedikitpun Li Giok-ham tak memberi reaksi apa-apa, sesaat kemudian baru dia tertawa, katanya: “Dia sedang sakit, Baik sekali kalau begitu, baik sekali…”

Tiba-tiba terlihat oleh Coh Liu-hiang mimik tawa orang aneh dan ganjil, dikata tertawa adalah lebih tepat kalau dikatakan sedang menangis, dalam waktu dekat sukar dia meraba apa sebetulnya yang dimaksud dengan ucapan Li Giok-ham, entah harus menegurnya, turun tangan secara kekerasan bila perlu? Atau peristiwa itu disudahi begini saja, selanjutnya tak perlu disinggung lagi.

Memang Coh Liu-hiang berjiwa besar, lapang dada dan luhur budi, bila dia menerima kebaikan orang, meski hanya setetes air pasti akan dibalasnya, tapi belum pernah dia menaruh dendam kepada seseorang apalagi ganjalan hatinya sudah hilang tak luka tak dirugikan, perguruan Ciok-koan-im boleh dikata sudah putus turunan, buat apa dia harus menindas seorang perempuan lemah lagi setelah dipikir bolak-balik akhirnya dia bangkit berdiri, katanya: “Tugas Cayhe sudah berakhir sekarang juga aku mohon diri, selanjutnya,” belum habis dia berkata, tiba-tiba Li Ang-siu berkata keras: “Tidak bisa, betapapun aku ingin tanya biar jelas apa sebenarnya hubungan mereka…” mulut bicara kakipun memburu masuk, langsung dia singkap kemul yang menutupi orang tidur itu, seketika ucapannya terputus seperti lehenya tiba-tiba dicekik orang, dengan menjublek dia awasi orang yang rebah di atas dipan.

Liu Bu-bi memang sedang rebah di atas dipan tapi roman mukanya pucat menguning seperti kertas emas, kedua matanya terpejam, daging dikulit mukanya sudah kering dan tak kelihatan lagi bekas-bekasnya yang ketinggalan hanya kulit pembungkus tulang.

Perempuan cantik rupawan bak bidadari ini kini sudah berubah sama dengan tengkorak, terang tinggal raganya saja yang sudah tak bersukma lagi, tampak beberapa ekor semut diantara lobang hidung dan telinganya merayap keluar masuk.
“Waaahhh!” tak tertahan akhirnya Li Ang-siu menjerit ngeri sambil berlari keluar menutup muka, Soh Yong-yong dan lain-lain lekas berpaling muka tak tega mengawasi lebih lama, Oh Thi-hoa terbelalak, katanya mendesis: “Dia… dia sudah mati.”

Li Giok-ham geleng-geleng kepala, katanya tertawa lirih: “Dia tak mati, cuma tidurnya amat nyenyak, jangan kalian ribut di sini nanti membuatnya bangun.”
Betapapun ceroboh dan bodoh Oh Thi-hoa sudah maklum bahwa Li Giok-ham sipintar ini terlalu keblinger dalam permainan asmaranya, kejadian sudah berlarut sedemikian jauh, tapi dia tetap menolak mengakui bahwa istrinya tercinta sudah wafat, maklumlah lantaran dia tidak kuat mengalami pukulan batin dan penderitaan ini.

Mengawasi senyuman ganjil muka orang, tak terasa air mata Oh Thi-hoa bercucuran.

Sinar lentera amat guram, maklumlah warung arak ini memang merupakan sebuah bangunan kotor sederhana.

Perut mereka sudah keroncongan, tapi setelah mengalami peristiwa yang memilukan ini, siapa yang ada selera menangsel perut?

Biji mata Li Ang-siu masih merah bendul, mulutnya menggumam sendiri: “Tak kukira dia mencari jalan pendek, sungguh aku tidak mengira…”

“Mungkin dia bukan bunuh diri.” timbrung Soh Yong-yong. “Tapi memang benar keracunan dan tidak tertolong lagi.”

“Tapi aku yakin Induk Air takkan membual, karena dia toh sudah bertekad untuk gugur, buat apa pula dia ngapusi orang lagi?” demikian debat Li Ang-siu.

“Mungkin karena Liu Bu-bi sendiri selama ini mengira dirinya memang keracunan, maka hatinya selalu tertekan dan was-was, serba curiga dan takut akan bayangan sendiri, maka sugesti itu memang ada kalanya bisa membunuh diri sendiri.” demikian Soh Yong-yong coba menganalisa dengan pendapatnya.

Li Ang-siu menghela napas ujarnya: “Dibilang bagaimanapun, Liu Bu-bi tak pernah ngapusi kita…”

Song Thiam-ji menyeletuk: “Coba kalian pikir, apakah Li Giok-ham akan terus menunggunya disana mengira dia akan bangun? Dia… dia sungguh kasihan.” tak tertahan airmata meleleh membasahi pipi.

Soh Yong-yong berkata lembut: “Betapapun mendalamnya derita dan kepedihan setelah berselang lama, lambat laun akan terlupakan juga, kalau tidak, mungkin manusia yang hidup dalam dunia akan tinggal separo saja.”

Apa yang dikatakan ini memang benar, betapapun besar kepedihan dan mendalam duka cita seseorang, setelah kejadian lama berselang, kesan-kesan itu akan semakin luntur dan terlupakan sama sekali. “LUPA” memang salah satu syarat kehidupan bagi manusia umumnya.

Tiba-tiba Oh Thi-hoa tepuk pundak Coh Liu-hiang dengan keras, katanya: “Tugasmu sudah selesai, kaupun berhasil mengalahkan Sin cui kiong-cu yang tiada tandingannya diseluruh kolong langit, memangnya ada persoalan apa pula yang tidak bisa meriangkan kalbumu? Kenapa duduk bersungut-sungut saja, arakpun tak mau minum?”

Coh Liu-hiang hanya tertawa getir, tidak bersuara.

“Aku tahu kau merasa salah karena menduga Liu Bu-bi yang tidak-tidak, maka hatinya merasa menyesal dan bersedih, tapi, hal ini tak bisa menyalahkan kau, apapun yang telah terjadi, kematiannya toh bukan lantaran kau.”

Soh Yong-yong menghela napas, katanya: “Bagaimana juga perjalanan kita kali ini terhitung dengan lancar dan sukses besar, yang harus dibuat sayang hanyalah kepergian Hek-toaci “Mutiara Hitam” sungguh tak kukira dia membawa adat sendiri yang kaku dan eksentrik, tanpa pamit dia tinggal pergi.”

Coh Liu-hiang menarik napas panjang, dia angkat cangkir terus diteguknya secangkir arak penuh.

Oh Thi-hoa segera tertawa lebar, katanya: “Bagaimana juga urusan yang tak menyenangkan akhirnya berlalu, sekarang kita harus pikirkan urusan-urusan yang menyenangkan, melakukan apa-apa yang menggembirakan, aku…” kata-katanya tiba-tiba putus seperti mulutnya tiba-tiba tersumbat, matanyapun mendelong lurus.

Seorang gadis berpakaian hijau dengan langkah gemulai mendatangi sambil membawa nampan dari kayu, tubuhnya langsing tindak tanduknya luwes, meski tak terlalu jelek, tapi juga tak amat cantik cuma roman mukanya selalu dialasi sikap yang galak dan suci tak boleh dilanggar, “Blang” poci arak di atas nampan dengan keras dia banting di depan Oh Thi-hoa, tanpa melirik segera dia berpaling, maka melangkah kembali, tetap dengan langkah lenggang gemulai.

Melihat kelakuan Oh Thi-hoa yang lucu seperti kehilangan semangat tak bertahan Coh Liu-hiang tertawa geli, katanya: "Apa kau ingin kembali menetap ditempat ini?”

Oh Thi-hoa kucek-kucek hidung, lama dia menjublek, tiba-tiba dilihatnya sepasang biji mata yang membundar besar sedang menatapnya tanpa berkedip dibalik pintusana .

Tiba-tiba Oh Thi-hoa bergelak tawa dengan menengadah, serunya: “sekali kesalahan telah terjadi, orang harus bertanggung jawab, jika kau dengan cara yang sama dapat menipuku dua kali, itu berarti kesalahanku sendiri, coba kau pikir memangnya aku bakal kena tipu sekali lagi?”.

TAMAT

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Burung Kenari (Hua Mei Niao) Bab 16, Lolos dari maut ... (Tamat)"

Post a Comment

close