Peristiwa Burung Kenari (Hua Mei Niao) Bab 3. Terluka

Mode Malam
Peristiwa Burung Kenari
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 3. Terluka

Liu Bu-bi senyum manis katanya: “Apakah Coh Liu-hiang kuatir poci arakku ini keracunan?”

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Araknya memang tidak beracun, tapi badannya sudah ada racunnya”.

“Apakah Oh-heng sudah meminum arak beracun itu?” ujarnya Li Giok-ham.

“Kali ini bukan arak yang membuat celaka dirinya, tapi tangannya sendiri”, sahut Coh Liu-hiang tertawa.

Baru sekarang semua orang tahu bahwa sebelah tangan Oh Thi-hoa sudah bengkak malah kulitnya sudah menghitam bening dan menguap asap hitam.

Li Giok-ham menjerit kaget: “Cara bagaimana Oh-heng bisa keracunan?”

Dengan sebelah tangannya, Oh Thi-hoa menarik-narik hidungnya, katanya getir, “Mungkin aku betul-betul kepergok setan kepala besar tadi”.

Coh Liu-hiang bertanya: “Apakah tadi kau mencabuti Bau-hi-li-hoa-ting itu satu-persatu?”

Oh Thi-hoa mengiakan dengan manggut.

“Nah, disitulah letak persoalannya, kau kira bila kulit tanganmu tak pecah atau terluka, hawa beracun tak merembes masuk ke dalam tubuh, tanpa kau sadari bahwa racun di atas paku-paku perak itu bisa melalui celah-celah kuku jarimu merembes ke dalam badan”.

Tapi menurut apa yang ku tahu, timbrung Li Giok-ham, “Bau-hi-li-hoa-ting ini selamanya tak pernah dilumuri racun, soalnya kekuatan senjata rahasia ini sendiri sudah begitu keras dan dahsyat meski tak beracun orang yang tersambit pasti mati!”

“Ucapan Li heng memang tak salah, tapi pembunuh itu agaknya kuatir kematianku masih kurang cepat, maka Bau-hi-li-hoa-ting yang sejak mula tidak beracun dia lumuri racun yang paling jahat”.

Li Giok-ham suami-istri beradu pandang, mereka tidak bicara lagi, namun pelita digeser ke samping paku-paku perak yang berserakan di atas meja itu, dari sangkul rambutnya Liu Bu-bi menanggalkan sebatang tusuk konde, pelan-pelan dijepitnya sebatang terus diamati-amati dengan seksama didepan mata, roman muka mereka semakin serius dan akhirnya berubah tegang.

Oh Thi-hoa batuk-batuk dua kali, ujarnya: “Apakah benar paku itu beracun?”

Kembali Li Giok-ham suami-istri saling pandang, Liu Bu-bi mengiakan.

“Sudah lama kudengar bahwa Li-locianpwe bukan saja berilmu silat tinggi namun juga seorang terpelajar yang pernah mempelajari ketabiban meski tidak sudi menggunakan senjata rahasia beracun melukai orang, namun dalam bidang ini beliau banyak memeras otak menyelidikinya, sesuai dengan ajaran dan warisan keluarga, tentunya pengetahuan Li-heng dalam bidang inipun amat luas.”

“Tidak salah,” Oh Thi-hoa menambahkan. “Kalau kalianpun bilang paku itu beracun, tentulah tidak akan salah lagi.”

“Oleh karena itu Cayhe mohon petunjuk kepada Li-heng,” ujar Coh Liu-hiang, “entah racun macam apa yang dilumuri di atas paku-paku ini?”

Li Giok-ham menarik napas dulu baru menjawab: “Obat racun di dunia ini terlalu banyak ragamnya, sampai ayahkupun mungkin tidak bisa membedakannya satu persatu!”

Coh Liu-hiang menjublek di tempatnya agaknya seperti hendak bicara namun tak bisa membuka mulut.

Mendelik mata Oh Thi-hoa, katanya: “Kalau demikian racun yang mengenai aku ini jadi tidak bisa disembuhkan?”

Liu Bu-bi unjuk tawa yang dipaksakan ujarnya: “Siapa bilang tidak bisa disembuhkan?”

“Buat apa kalian kelabui aku, aku ini memangnya anak kecil? Kalau kalian tidak tahu racun apa yang mengenai aku, cara bagaimana bisa menyembuhkan keracunanku ini?”

Kembali Li Giok-ham suami istri beradu pandang. Mulut mereka terbungkam.

Berputar biji mata Oh Thi-hoa, mendadak dia gelak tawa, ujarnya: “Buat apa kalian sama merenggut dan patah semangat, paling tidak sekarang aku belum mampus! Hayolah, hari ini ada arak hari ini mabuk, marilah kita minum sepuas-puasnya dulu.” Sebelah tangannya masih bisa bergerak hendak meraih balik tangannya yang satu ini.

“Kenapa tidak kau beri kesempatan aku banyak minum, mumpung aku masih bisa hidup. Bila aku sudah mampus, umpama kau setiap hari menyiram kuburanku dengan arak setetespun tidak akan bisa kunikmati.”

“Tadi aku sudah menutuk Hiat-to dan membendung racun tertutup di lenganmu saja. Asal kau tak minum lagi di dalam jangka setengah hari, kadang racunnya takkan menjalar.”

“Setelah setengah hari? Masakah di dalam jangka dua belas jam ini kau dapat mengundang orang yang dapat menawarkan racun di dalam badanku?”

Coh Liu-hiang tertunduk, ujarnya: “Bagaimana juga cara ini jauh lebih baik untuk mengulur jiwamu.”

Oh Thi-hoa gelak-gelak, serunya: “Saudara yang baik, kau tak usah pergi mencari orang serta munduk-munduk minta bantuannya. Cukup asal kau berikan poci arak itu, tanggung aku takkan mampus.” Mendadak dari balik kulit sepatu panjangnya dia merogoh keluar sebatang pedang kecil, katanya tertawa: “Coba lihat, inilah caraku yang paling praktis untuk menghilangkan racun. Bukankah cara ini tidak ada bandingannya?”

Terkesiap darah Coh Liu-hiang, serunya: “Apa kau ingin ….”

“Orang sering bilang, ular menggigit tangan orang gagah mengutungi pergelangan tangan. Apakah hal ini perlu dibuat geger? Kenapa kau ribut tak keruan paran”

Mengawasi pedang kecil yang kemilau di tangan Oh Thi-hoa tanpa terasa keringat bertetes-tetes di atas kepala Coh Liu-hiang. Sebaliknya rona muka Oh Thi-hoa sedikitpun tidak berubah.

Li Giok-ham menghela napas, katanya: “Oh-heng memang tidak malu sebagai orang gagah, cuma ….”

Mendadak Liu Bu-bi menyeletuk: “Cuma kau harus menunggu dua belas jam dulu.”

“Kenapa?”

“Karena tiba-tiba teringat olehku seseorang yang dapat menyembuhkan keracunanmu.” sahut Liu Bu-bi. Tanpa menunggu orang lain bersuara matanya mengerling ke arah Li Giok-ham, lalu menambahkan: “Apakah kau sudah lupa kepada Cianpwe yang hanya mempunyai tujuh jari tangan itu?”

Berkilat sorot mata Li Giok-ham, serunya riang: “Oh ya, hampir saja kulupakan dua hari yang lalu Su-piaute atau adik nisan ke empat malah masih menyinggung nama Cianpwe itu, katanya beliau sudah pergi ke Ko-siang cheng adu minum arak selama tujuh hari tujuh malam dengan Hiong lopek, sampai sekarang belum berkesudahan, entah siapa yang menang, asal beliau masih disana, Oh-heng pasti masih ada harapan”.

Liu Bu-bi tertawa, ujarnya: “Kalau toh belum ada ketentuan siapa bakal menang, Hiong lopek pasti takkan membiarkan dia pergi”.

“Dimana letak Ko Siong-cheng?” tanya Oh Thi-hoa, “Siapa pula Hiong Lopek itu? Siapa pula Cianpwe yang hanya punya tujuh jari itu? Orang-orang yang kalian singgung ini, kenapa belum kukenal atau pernah dengar namanya?”

Walaupun Hiong Lopek adalah sahabat kental pada cianpwe yang seangkatan dengan ayahku, namun dia sendiri bukan orang dari kaum persilatan, sudah tentu Oh-heng tentu takkan kenal siapa dia”, demikian sahut Li Giok-ham.

Liu Bu-bi menambahkan: “Tentang Cianpwe tujuh jari itu, Oh-heng tentu pernah mendengar nama besarnya, cuma beliau belakangan ini, karena suatu peristiwa yang menyedihkan melarang orang lain menyinggung namanya”.

“Perangai Cianpwe ini memang terbuka dan simpatik”, Li Giok-ham lebih jauh, namun tabiatnya sangat aneh, jikalau sampai diketahui kami belakangnya melanggar pantangannya, kami suami-istri jangan harap bisa hidup tentram”.

Oh Thi-hoa tertawa, katanya: “Kalau tabiat orang itu begini aneh, dengan aku tidak pernah kenal lagi, jikalau sampai aku kebentur tembok dan gagal, bukan lebih-lebih mengenaskan dari pada aku mampus keracunan?”

Liu Bu-bi tersenyum manis, ujarnya: “Tidak perlu kau sendiri harus mengalami kegagalan, biar kami saja yang pergi, cukup asal kumasakkan dua macam sayuran kepadanya, tanggung dia tidak akan menolak permintaanku”.

“Benar, tapi kita harus lekas berangkat”, timbrung Li Giok-ham, “Letak Ko siong cheng memang tidak jauh, namun tidak dekat, dan lagi disana paling tidak kau harus memakan waktu saja jam lagi untuk memasak hidanganmu itu”.

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya: “Kalian begini simpatik, jikalau aku masih mengulur-ulur waktu kalian, aku ini bukan manusia lagi, tapi …… ulat busuk, kaupun perlu mengiringi perjalanan mereka”.

“Tidak perlulah”, sela Liu Bu-bi, “Lebih baik Coh-heng ……”kata-katanya tiba-tiba terputus karena tiba-tiba dilihatnya Coh Liu-hiang meski tetap duduk di kursinya, namun sekujur badannya sedang gemetar, mukanya menguning seperti kertas emas.

Serasa terbang arwah Oh Thi-hoa saking kaget teriaknya gemetar: “Kau ……. kau ……. sebelum dia kuat bicara, Coh Liu-hiang sudah tersungkur jatuh”.

Bergegas Li Giok-ham dan Liu Bu-bi memburu maju memapaknya bangun, dimana jari-jari tangan mereka menyentuh badannya, terasa kulit badannya meski terlapis baju, namun masih terasa panas membara seperti gosokan.

Akhirnya Oh Thi-hoa ikut nimbrung maju teriaknya serak: “Apakah kaupun keracunan?”

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala dengan lemah.

“Kalau tidak keracunan memangnya apa sih yang terjadi, Li heng kau …… tolong periksa keadaannya sekarang, lekas ……

Coh Liu-hiang kertak gigi, dengan sekuat tenaga dia tertawa dibuat-buat suaranya mendesis dari sela-sela giginya: “Masakah kau belum pernah melihat orang jatuh sakit? Kenapa dibuat ribut-ribut?”

“Tapi biasanya badanmu sekekar kerbau, beberapa tahun ini belum pernah aku melihat kau jatuh sakit kali ini kok malah sakit?”

“Memang kali ini datangnya penyakitku ini tidak tepat pada waktu semestinya”.

Waktu hendak memotong lengan tangannya sendiri tadi, sikap Oh Thi-hoa masih tenang dan wajar, bisa kelakar pula, namun kini kepalanya gemrobyos oleh keringat, teriaknya: “Orang selamanya tidak pernah sakit, sekali sakit tentu berat Li-heng kau ……..”

“Kau tidak perlu gugup”, bujuk Liu Bu-bi, “Kukira Coh-heng belakangan ini terlalu capai dan bekerja keras, terserang angin dingin lagi ditambah kegugupan hatinya lagi karena tanganmu ini, maka mudah sekali dia terserang sakit”.

“Benar,” sahut Coh Liu-hiang, “Sakitku ini tidak menjadi soal, kalian lebih …… lebih baik lekas pergi mencari …… mencari obat pemunah itu,” katanya tidak soal padahal bibirnya gemetar tak bisa bicara lagi.

Kata Oh Thi-hoa: “Keracunan tanganku ini, yang tidak menjadi soal, lebih baik kalian berusaha menyembuhkan penyakitnya dulu.

“Omong kosong,” sentak Coh Liu-hiang.

Oh Thi-hoa menjadi sengit, katanya keras: “Jikalau kau tidak mau mereka mengobati penyakitmu dulu, umpama obat pemunah racunku dibawa pulang, aku tidak sudi makan”.

Coh Liu-hiang marah dampratnya: “Usiamu sudah setua ini, kenapa masih belum bisa membedakan berat dan ringan, aku ….. penyakitku umpama harus tertunda tiga hari lagi juga tidak akan apa-apa, sebaliknya racun di tanganmu tidak boleh ditunda,” dia meronta sekuat tenaga berusaha berdiri, tapi baru terduduk sudah terperosok jatuh pula. Tersipu Oh Thi-hoa hendak memapahnya, sehingga mulut tidak sampai bicara lagi, terpaksa hanya membanting kaki melulu.

Li Giok-ham tertawa, katanya: “Kalau sama-sama setia kawan dan berjiwa ksatria namun …. Namun penyakit Coh-heng ini pantang menggunakan tenaga dan tak boleh marah, jikalau kami tidak menurut kemauannya, penyakitnya malah bertambah berat, untunglah aku ada membawa Ceng biau san, puyer ini khusus untuk menyembuhkan penyakit seperti ini dan pasti manjur!”.

“Ya, setelah minum puyer ini, harus istirahat pula secukupnya, untuk Oh-heng perlu juga menelan pil ini,” demikian kata Li Giok-ham sambil mengangsurkan sebutir pil kuning kepada Oh Thi-hoa: “Khasiat obat ini cukup menahan racun ini menjalar, maka sebelum kami pulang penyakit Coh-heng dan racun di lengan Oh-heng tidak akan memburuk”.

Jikalau menggunakan ibarat kata sehari laksana satu tahun untuk melukiskan keadaan Oh Thi-hoa pada waktu itu, memang cukup setimpal dan tepat sekali. Semula didahului oleh penyakit lama Liu Bu-bi kumat lalu pembunuh misterius itu menyerang dengan alat senjata rahasia yang keji, kini bukan saja dirinya keracunan, sampai Coh Liu-hiangpun terserang penyakit dan rebah di atas pembaringan tak bisa bergerak.

Begini banyak persoalan pelit yang menyebalkan ini sekaligus melihat dirinya, dalam keadaan serba risau dan gerah ini arakpun tidak boleh diminum, cara bagaimana Oh Thi-hoa bisa tentram melewatkan waktu sepanas ini?

Dengan susah payah dia menunggu akhirnya dua jam sudah berselang dengan sebelah tangannya yang normal Oh Thi-hoa menjinjing Ceng hiau san dan poci teh menghampiri Coh Liu-hiang, siapa yang nyana memegangi obat saja Coh Liu-hiang sudah tidak kuat lagi sehingga puyer itu jatuh tercecer di lantai. Untung meski tidak makan obat, penyakit Coh Liu-hiang tidak memburuk, lambat laun dia malah terlena didalam tidurnya sementara perut Oh Thi-hoa sudah berontak saking kelaparan maka dia suruh pelayan membawa nasi ke kamar.

Agaknya pelayan ini hendak menjilat dan mencari alem, katanya tertawa: “Kemarin tuan tamu ada pesan arak terbaik buatan kita, kebetulan hari tinggal seguci saja, apakah tuan tamu hendak memesan lagi?”

Untung kalau tidak menyinggung soal arak, memangnya Oh Thi-hoa sedang merasa penasaran dan belum terlampias, seketika meledak amarahnya, hardiknya dengan berjingkrak: “Bapakmu ini toh bukan setan arak, siang hari bolong begini kenapa minum arak, sundelmu?”

Sungguh mimpipun pelayan itu takkan habis mengerti kenapa tepukan alemnya di pantat kuda bisa mengenai pahanya, saking ketakutan seketika lari ngacir lintang-pukang, waktu antar makanan yang dipesan tak berani masuk lagi.

Tak nyana sekali pulas Coh Liu-hiang bisa tidurlima jam lamanya kira-kira mendekati magrib baru ia siuman Oh Thi-hoa mengira ia jatuh semaput baru sekarang ia merasa lega: “Bagaimana kau rasa lebih baik tidak?”

Coh Liu-hiang tertawa, belum sempat bicara, Oh Thi-hoa sudah menambahkan: “Kau tidak kuatir akan diriku, racunku tidak menjadi soal kecuali lenganku ini tertutuk oleh kau, tak bisa bergerak, makan bisa keyang, seperti orang biasa lazimnya!”.

Waktu itu didalam rumah sudah mulai gelap Oh Thi-hoa lantas menyulut api memasang lentera, diberinya Coh Liu-hiang makan semangkuk bubur, dan tangan Coh Liu-hiang masih bergetar, mangkokpun tidak bisa dipegangnya kencang.

Kelihatan lahir Oh Thi-hoa wajar dan masih tertawa-tawa, namun hatinya amat mendelu dan merasa tertekan perasaannya.

“Apa mereka masih belum pulang?” tanya Coh Liu-hiang dengan napas memburu.

Mengawasi tabir malam di luar jendela, sesaat Oh Thi-hoa diam saja, akhirnya tak tahan lagi, sahutnya: “Dalam Kang ouw mana ada Bulim Cianpwe berjari tujuh? Bagaimana juga tak habis kupikirkan? Dulu memang ada Chit cay in tho atau Maling sakti tujuh jari, tapi bukan lantaran dia hanya punya tujuh jari, adalah karena tangan kanannya tumbuh dua jari lebih banyak, kalau ditambahkan seluruhnya berjumlah dua belas jari, dan lagi, bukan saja orang ini tidak bisa menawarkan racun, malah kinipun sudah meninggal dunia”.

“Kalau demikian kau anggap kedua suami-istri ini sedang membual?”

“Kenapa mereka harus membual?”

Coh-heng menghela napas, dia pejamkan matanya lagi.

Aku hanya mengharap semoga mereka lekas pulang, kalau tidak bila pembunuh kemarin malam ini datang lagi kami berdua mungkin pasrah nasib saja terima digorok leher kami.

Memang kekuatiran Oh Thi-hoa cukup beralasan, dalam keadaan mereka sekarang, Coh Liu-hiang jatuh sakit, tenaga memegangi mangkok saja sudah tidak kuat, lengan Oh Thi-hoa tinggal satu saja yang bisa bergerak, jikalau pembunuh misterius itu meluruk datang, mereka berdua terang takkan bisa melawan.

“Tapi kalau orang itu sudah bekerja demikian rapi berusaha membunuh aku, sekali gagal pasti akan diusahakan kedua kalinya”.

Waktu Coh Liu-hiang mengatakan hal ini, Oh Thi-hoa belum merasakan apa-apa, namun serta dipikir, lama kelamaan hatinya semakin bingung dan takut, jantung berdebar-debar, tanpa sadar kelakuannya menjadi semakin aneh, lekas dia menutup rapat jendela kamarnya.

Didengarnya Coh Liu-hiang berkata: “Kalau dia mau datang, apa gunanya kau tutup jenela?”

Sekian lama Oh Thi-hoa terlongong, keringat dingin sudah membasahi jidatnya. Tak lama kemudian, bulan dan bintang tidak kelihatan muncul, cuaca ternyata semakin mendung dan hujanpun turunlah.

Suara ramai di sekeliling hotel semakin sirap dan malam kembali sunyi lelap, titik air hujan saja yang kedengaran berjatuhan, menyentuh daun jendela, suaranyapun semakin ramai semakin lebat dan semakin nyaring, belakangan malah saling bersahutan seperti genderang dibunyikan di medan laga, membuat orang mendidih darahnya.

Kalau dalam keadaan seperti ini ada orang berjalan malam, bukan saja tidak kedengaran langkah kakinya, sampai lambaian pakaiannyapun takkan bisa terdengar. Memang malam hujan begini adalah saat terbaik bagi orang berjalan malam melaksanakan operasinya.

Oh Thi-hoa tiba-tiba mendorong terbuka jendela, dengan mata terbuka lebar, matanya mendelong tak berkedip mengawasi alam nan gulita di luar jendela, pohon flamboyan di pekarangan berubah menjadi bayangan-bayangan raksasa, sedang balas melotot kepadanya.

Sekoyong-koyong “Serr” sesosok bayangan berkelebat lewat di depan jendela. Oh Thi-hoa berjingkrat kaget, waktu dia tegasi dan melihat jelas hanya seekor kucing hitam saja, keringat dingin sudah membasahi badannya.

Coh Liu-hiang disebelah dalam ikut berteriak kaget: “Adaorang datang?”

Oh Thi-hoa tertawa dipaksakan, sahutnya: “Hanya seekor kucing kelaparan saja,” suaranya terdengar wajar dan seenaknya saja, bahwasanya hatinya amat mendelu dan getir.

Berapa tahun sudah mereka berdua malang melintang di Kang ouw, mati hidup dipandangnya sebagai mainan saja, kapan pernah pandang orang-orang jahat dalam mata mereka, seumpama menghadapi laksaan musuh berkudapun mereka tak pernah gentar mengerut ke kening. Tapi sekarang hanya seekor kucing saja, sudah cukup membuatnya kaget mengucurkan keringat dingin.

Malam semakin larut, hujan belum reda juga, api lentera sebesar kacang nan kemilau sang ksatria sedang terbelenggu oleh penyakit didalam kamar sekecil ini, sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang, air mata hampir menetes keluar.

Didalam keheningan malam, kedua puluh tujuh batang Bau-hi-li-hoa-ting tetap menggeletak di atas meja dengan sinar peraknya yang kemilau, seolah-olah sedang unjuk perbawa dan menantang kepada Oh Thi-hoa.

Sekonyong-konyong sorot mata Oh Thi-hoa bersinar tajam, “Kalau senjata rahasia ini dapat membunuh orang, tentunya dapat juga untuk mempertahankan diri, kini kalau dia sudah berada di tanganku, kenapa tidak kumanfaatkan dia untuk membunuh orang itu?”

Meski hanya sebelah tangannya saja yang dapat bergerak, akan tetapi tangan ini sudah digembleng dan dilatih secara berat seperti besi baja yang ditempa, kokoh dan kuat, kelima jari-jarinya dari bergerak dengan lincah dan gesit, semuanya amat berguna. Meskipun dia belum pernah lihat alat senjata rahasia semacam Bau-hi-li-hoa-ting, tapi waktu berusia sepuluh tahun dulu, dia pernah membongkar dan mempelajari konstruksi alat-alat rahasia penyambit panah yang terbuat dari bumbung baja.

Dengan pengalaman yang sudah dibekalinya itu, tidaklah mudah dia mempelajari konstruksi alat penyambit Bau-hi-li-hoa-ting yang terbuat dari kotak perak itu, perlahan-lahan akhirnya berhasil juga, dia memasukkan paku-paku perak itu kedalam tabung masing-masing yang berjumlah duapuluh tujuh lobang. Kira-kira seperminuman teh, kemudian dia sudah selesai dengan pekerjaannya.

Sampai pada waktu itu, baru dia menarik napas lega, mulutpun mengguman: “Baik kalau berani salahkan keparat itu biar datang”.

Sekonyong-konyong suara samberan angin meluncur lagi seperti tadi dari luar, sesosok bayangan kini melesat masuk dari luar ke dalam kamar malah. Kali ini Oh Thi-hoa sudah lebih tabah dan mantap, dengan ketajaman matanya dia sudah melihat bayangan itu adalah seekor kucing juga, tapi kucing ini melesat terbang terbuang ke tengah ruangan.

Dengan mengulap tangan Oh Thi-hoa bermaksud mengusir dengan menakut-nakutinya dengan bentakan rendah. Tak nyana kucing yang terbang lurus itu tiba-tiba melorot jatuh dan “Blug” tepat jatuh ke atas meja, lentera di atas meja sampai bergetar jatuh.

Cepat sekali Oh Thi-hoa memburu maju menyambar lentera sementara matanya mengawasi kucing, dilihat si kucing rebah lemas di atas meja tanpa bergerak, napasnya sudah kempas-kempis, jiwanya tinggal menunggu waktu saja.

Pada leher si kucing malah terikat seutas benang yang membelit secarik kertas. Oh Thi-hoa segera mengambil kertas itu, dilihatnya di atas kertas ada huruf-huruf yang berbunyi: “Coh Liu-hiang … Coh Liu-hiang, coba kau pandang dirimu sekarang hampir mirip dengan kucing ini? Apa kau masih tetap hidup?”

Kertas itu bukan saja merupakan rekening penagih nyawa mereka, boleh dikata merupakan suatu penghinaan pula, jikalau Coh Liu-hiang sampai melihat beberapa patah kata ini, betapa perasaan hatinya?

Oh Thi-hoa insaf kalau kertas peringatan ini sudah dikirim dulu, sebentar si pengirimnya tentu akan tiba juga, kali ini mereka tidak menggunakan cara keji yang rendah dan untuk membokong, sebaliknya menantang secara terang-terangan, tentunya sudah memperhitungkan bahwa Coh Liu-hiang bukan saja tiada mampu melawan, malah untuk lari menyelamatkan dirinya tak bisa lagi.

Mengawasi kucing yang kempis-kempis di atas meja, serta mengawasi Coh Liu-hiang yang rebah di atas pembaringan, mendadak dia mengambil kotak perak berisi Bau-hi-li-hoa-ting itu berlari keluar lewat jendela.

Dari pada menunggu musuh datang mencabut nyawa mereka, lebih baik keluar meluruknya ajak adu nyawa, watak dan perbuatan keras Oh Thi-hoa ini, sampai mampuspun takkan bisa dirubah lagi. Terasa olehnya darah mendidih di seluruh badan, sedikitpun tak terpikir olehnya bahwa Coh Liu-hiang sedikitpun tak punya tenaga untuk melawan, jikalau dirinya tinggal pergi melabrak musuh, dengan Coh Liu-hiang sendirian tinggal dalam kamar tanpa ada orang yang menjaga dan melindungi, bukankah berarti memberi umpan musuh untuk membekuk atau membunuhnya dengan gampang.

Hujan rintik-rintik, sehingga tabir yang sudah gelap ini semakin kelam, di pekarangan sebelahsana sayup-sayup kedengaran tawa perempuan yang cekikikan genit, lebih menambah suasana yang hening lelap dan dingin ini terasa seram.

Begitu tiba di pekarangan langsung Oh Thi-hoa lompat ke wuwungan rumah, bentaknya bengis: “Sahabat sudah kemari, kalau berani silahkan unjuk diri dan bertanding sampai ajal dengan aku orang she Oh, sembunyi ditempat gelap terhitung orang gagah macam apa?”

Kuatir membuat Coh Liu-hiang kaget, suaranya tidak berani keras-keras, namun diapun kuatir orang yang dicarinya tidak mendengar maka sambil bicara tak henti-hentinya dia membanting kaki.

Tak nyana belum lagi kata-katanya terucap habis, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara tawa geli yang tertahan, berkata dingin seseorang: “Sejak tadi sudah kutunggu kau disana siapa suruh matamu tak melihatku”.

Sigap sekali Oh Thi-hoa putar badan, tampak sesosok bayangan orang berkelebat, tahu-tahu orang sudah melompat ke wuwungan rumah yang lain, orang ini mengenakan pakaian serba hitam, kepala dan mukanya berkerudung serba hitam, kepala dan mukanya tertutup kain hitam, katanya pula dengan tertawa dingin: “Jikalau kau ingin gebrak aku, kenapa tidak berani kemari?”

Dengan menggeram gusar Oh Thi-hoa segera menubruk kesana, tapi begitu ia tiba di wuwungan sebelahsana , orang itu sudah melesat sejauh tujuh delapan tombak jauhnya diiringi diawasi dengan tertawa dingin.

Begitu kejar mengejar berlangsung dengan cepat, kejap lain mereka sudah jauh meninggalkan penginapan itu, tangan Oh Thi-hoa kencang-kencang memegang alat senjata rahasia yang ganas dan hebat itu, apa boleh buat orang itu berlari seperti dikejar setan, jarak mereka masih tetap bertahan tujuh delapan tombak, kalau Oh Thi-hoa tak berhasil memperpendek jarak kedua pihak, ia kuatir senjata rahasianya takkan bisa mencapai sedemikian jauh dengan serangan telak yang mematikan, kalau senjata rahasia ini merupakan alat senjata titik terakhir yang bakal menentukan mati hidupnya, betapapun ia tak berani sembarangan bergerak, bertaruh dengan nasib dan mengejar kemenangan yang belum dapat dipastikan.

Harus diketahui ilmu ginkang Oh Thi-hoa sebetulnya tak rendah, namun sebelah lengannya kini masih tertutuk Hiat-tonya dan tak bisa bergerak, bukan saja darah tidak normal dan lancar dalam saluran badannya, dikala berlari tanpa adanya imbangan gerak-gerik tangannya larinya menjadi kurang cepat dan gerak-geriknya kurang leluasa.

Seluruh kekuatan sudah dia kerahkan, namun jarak mereka malah semakin jauh. Tiba-tiba orang itu lompat turun ke jalan raya tapi tidak melalui jalan besar, malah memilih ke jalan-jalan kecil-kecil, dari lorong-lorong sempit membelok ke gang sempit, segesit ikan berenang, selicin belut menyusup, belok ke timur lalu menikung ke selatan, tiba-tiba bayangannya tak kelihatan lagi.

Keruan Oh Thi-hoa semakin naik pitam dampratnya sengit: “Kalau kau datang hendak bunuh aku, biar aku berdiri di sini saja, kenapa kau tidak kemari membunuhku?”

Belum lenyap caci makinya, pada tikungan di depansana kembali ia dengar cekikikan tawa orang yang geli tertahan. Tampak orang itu melongokkan kepalanya katanya tertawa dingin: “Aku masih sedang menunggu kau kenapa tidak kemari saja”.

Sebelum orang bicara habis, dengan sisa setaker tenaganya Oh Thi-hoa menubruk kesana, baru saja badannya berputar menyelinap ke ujung tembok, tampak seorang kakek tua yang memikul jualan mi dan bakpao sedang berengsot-engsot mendatangi dengan pikulannya turun naik keberatan.

Saking bernafsu mengejar musuh, langkahnya begitu tergopoh-gopoh dan cepat sekali seperti mobil yang remnya blon, tak terkendali lagi “Brak krompyang!” pikulan si orang tua ditumbuknya sampai putus dan barang dagangannya pontang-panting tercecer kemana, bukan soal kalau mi dan bakpao sama jatuh dan hancur, celaka adalah kuah dan minyak goreng di atas wajan sama tumpah membasahi Oh Thi-hoa, sudah tentu seluruh badannya gebes-gebes basah dan kepanasan, jalan kampung dari batu-batu keras yang memangnya licin setelah hujan, ditambah kuah dan minyak yang tercecer ditanah menambah licin permukaan jalan pula, begitu menumbuk pikulan langkah Oh Thi-hoa masih sempoyongan ke depan dan akhirnya terpeleset terguling-guling.

Orang baju hitam yang dikejarnya sekarang sudah berhenti dan membalik badan, serunya tepuk tangan sambil mengolok-olok senang, “Bagus baik sekali, hari ini Hoa ou tiap atau kupu-kupu kembang, menjadi ayam pilek kecebur ke sungai”.

Dengan menggerung gusar Oh Thi-hoa mencak-mencak merangkak bangun, tapi kakek tua penjual mi itu sudah menggelinding datang, sekali raih ditariknya baju belakang tengkuknya terus menubruk ke atas badannya, serunya dengan suara serak kalap: “Kau jalan apa tidak pakai mata? Keluarga besar kecil menggantungkan barang daganganku ini, kau sebaliknya bikin putus sumber kehidupanku, adu jiwa dengan kau”

Kalau mau gampang saja Oh Thi-hoa kipaskan kakek tua ini ke samping, namun dia tahu yang salah memang dirinya, terpaksa dia tumpahkan amarah, katanya: “Lepaskan tanganmu barang-barangmu yang rusak seluruhnya kuganti”.

“Baik” seru kakek tua, “Ganti ya ganti, keluarkan uangmu, pikulan Mie ini kubuat dengan ongkos tujuh tahil perak, ditambah dua puluh delapan mangkuk dan Mi, bakpao kuah dan lain-lain paling tidak berjumlah sepuluh tail”.

“Baik sepuluh tail ya sepuluh tail, kuganti seluruhnya,” dengan lantang Oh Thi-hoa berkata kedengarannya ia bicara dengan enak saja bahwasanya diam-diam dia mengeluh dalam hati, Karena dia ini memang seorang laki-laki yang rudin pembawaan sejak kecil, umpama kantongnya memiliki selaksa tail perak dalam tiga haripun bisa dipakainya sampai habis, demikian pula sekarang satu peserpun kantongnya tidak punya uang.

Sementara kakek tua itu masih mendesaknya dengan sengit: “Sepuluh tail ya sepuluh tail, lekas keluarkan emasmu?”

“Aku ….. besok pasti kubayar kepadamu,” seru Oh Thi-hoa tergagap.

Kakek itu jadi gusar: “Memangnya aku tahu bahwa aku ini tulang miskin, kalau sepuluh tail perak tidak kau bayar sekarang juga, jangan harap kau lepas dari tanganku”.

Orang baju hitam itu masih belum berlalu dari kejauhan, dia masih menonton pertengkaran ini dengan berseri riang, sudah tentu Oh Thi-hoa semakin keripuhan, belakangan diapun naik pitam, serunya: “Kukatakan besok ya besok pasti kubayar, lepas tanganmu” dia membalik badan hendak melempar badan si kakek tua ini, siapa tahu cekalan kakek tua ini ternyata kencang dan kuat sekali, tahu-tahu pergelangan tangannya malah dipegang begitu keras seperti kacip.

Baru sekarang Oh Thi-hoa betul-betul terkejut, ternyata si kakek tua penjual mi inipun seorang tokoh kosen, gelagatnya orang malah sehaluan dan sejalan dengan orang baju hitam itu.

Kalau dalam keadaan biasa, Oh Thi-hoa tak perlu gentar, tapi bukan saja dirinya tinggal sebelah tangan yang bisa bergerak, malah Lwekangnya paling tidak sudah susut tujuh delapan puluh persen. Tangannya dicengkeram lagi, bergerakpun tidak bisa, orang baju hitam seorang saja dirinya kewalahan dan tak mampu menghadapinya, bila ditambah kakek tua ini, masakah dia bisa memilih jalan hidup.

Kakek tua itu masih merengek-rengek: “Tidak keluarkan uang peraknya, biar aku adu jiwa dengan kau.”

Oh Thi-hoa tertawa dingin, jengeknya: “Kau tidak tahu kau….” belum habis dia berkata tiba-tiba kakek tua dekap mulutnya, lalu berbisik di pinggir telinganya: “Bocah itu masih berdiri disana , biar kubantu kau, dia tak akan bisa lolos.”

Begitu Oh Thi-hoa melongo, kakek tua itu sudah mencaci lagi lebih keras dengan mulut berkaok-kaok, matanya berulang kali memberi tanda lirikan kepada Oh Thi-hoa supaya dirinya siap-siap.

Sebat sekali Oh Thi-hoa meronta dan membalik berbareng kakek tua itu pegang bahu dan pundaknya ikut menggelundung terus dorong kedua tangannya dengan kuat, meminjam kekuatan dorongan ini badan Oh Thi-hoa laksana anak panah mencelat terbang sejauh enam tujuh tombak.

Sudah tentu orang baju hitam itu kaget, teriaknya tertahan: “Kau….”

Baru sepatah kata keluar dari mulutnya, tiba-tiba Oh Thi-hoa sudah terbang di atas kepalanya dan tancap kaki, di belakangnya satu tombak mencegat jalan larinya, dengan mengacungkan alat Bau-hi-li-hoa-ting Oh Thi-hoa membentak dengan bengis: “Barang apa yang ku pegang di tanganku ini, tentunya kau sudah tahu seujung jarimu saja berani bergerak, dua puluh tujuh batang paku perak ini akan kutancapkan ke atas badanmu!”

Orang baju hitam itu menarik napas panjang, katanya dengan suara sember: “Kau… apa yang kau inginkan?”

“Sebetulnya ada dendam permusuhan apakah dengan Coh Liu-hiang, kenapa kau berbuat serendah itu dengan membokongnya?”

“Aku tidak punya dendam sakit hati apa-apa dengan dia” sahut orang baju hitam.

“Jadi kau mendapat tugas dan perintah majikanmu untuk membunuh dia?”

“Bukan!”

“Kalau demikian tanggalkan kedok mukamu biar kulihat jelas siapa kau sebenarnya?”

Bergetar badan orang baju hitam, agaknya dia kaget menjublek.

Oh Thi-hoa tertawa gelak-gelak, katanya: “Aku sudah menduga, aku pasti kenal baik sama kau, oleh karena itu kau berusaha menyembunyikan kepala tidak berani dilihat orang, sekarang kalau kau sudah terjatuh ke tanganku, masakah kau ingin mengelabui aku lebih lanjut?”

Tiba-tiba orang baju hitam itu tertawa besar sambil menengadah, tangan bertolak pinggang.

Oh Thi-hoa gusar, dampratnya: “Apa yang kau tertawakan?”

“Aku hanya menertawakan diriku sendiri, kenapa suka turut campur urusan tetek bengek, beberapa kali berusaha menolong jiwamu, kini bukan membalas budi pertolonganku, kau malah hendak membalas dengan dendam penasaran, menggunakan alat senjata rahasia sekeji itu pula untuk menghadapi aku.”

Keruan Oh Thi-hoa melongo, tanyanya: “Kau pernah menolong jiwaku?”

“Waktu kau terkurung oleh Ciok-koan-im, siapa yang menolong kau dengan membunuh para murid Ciok-koan-im? Waktu kau minum arak beracun Ciok-koan-im, siapa pula yang memberi obat penawar kepadamu? Masakah kejadian belum lama ini sudah kau lupakan?”

Belum habis kata-katanya, Oh Thi-hoa sudah berjingkrak kaget, teriaknya: “Burung Kenari, jadi kau inilah Burung Kenari?”

“Hmm.” orang baju hitam mendengus hidung.

“Kau, beberapa kali menolong jiwaku? Kenapa pula sekarang kau hendak mencabut jiwaku?”

“Jikalau aku benar-benar menginginkan jiwamu, memangnya kau masih bisa hidup sampai sekarang?”

Kembali Oh Thi-hoa tertegun dibuatnya, tanyanya: “Tapi kau, kau kenapa?”

“Tidak usah kau banyak tanya.” sentak orang baju hitam beringas. “Sekarang juga aku hendak pergi, jikalau hendak membalas air susu dengan air tuba, kebaikan kau bayar dengan kejahatan, silahkan kau sambitkan Bau-hi-li-hoa-ting itu kepadaku.” mulut bicara, badanpun berputar, habis kata-katanya kakinya sudah berlari beberapa langkah.

“Tunggu dulu, aku ingin omong.” Oh Thi-hoa berkaok-kaok.

Tanpa menoleh dan tidak dihiraukan seruannya, orang baju hitam itu lari ketempat gelap dan sekejap saja telah menghilang, terpaksa Oh Thi-hoa mengawasi bayangan orang pergi dengan mendelong sedikitpun dia tidak memperoleh akal cara bagaimana dirinya harus bertindak. Karena dia memang bukan manusia rendah diri yang membalas kebaikan orang dengan perbuatan jahat, betapapun misterius dan serba tersembunyi sepak terjang si Burung Kenari ini, betapapun orang pernah menolong jiwanya.

Tengah dia terlongo, didengarnya orang batuk-batuk di belakangnya, berkata seseorang dengan tertawa: “Koan-hucu, Koan Kong, di jalan raya Hoa-yong pernah juga melepas Coh Bing-tik, sikap Oh Tayhiap hari ini, tak ubahnya seperti pambek Koan-hucu pada jaman Sam Kok dulu, yang patut dipuji dan dibanggakan karena keluhuran budi dan kebijaksanaannya, setia dan dapat dipercaya.” Ternyata kakek tua itu masih berada disitu, belum berlalu!

Lekas Oh Thi-hoa membalik badan terus menjura, sapanya tertawa getir: “Cayhe selamanya belum kenal dengan Lotiang, terima kasih akan bantuan Lotian barusan.”

“Meski Oh Tayhiap tidak kenal Losiu, sebaliknya sejak lama Losiu sudah kenal baik nama besar Oh Tayhiap.”

“Sungguh memalukan, harap tanya sukalah Lotiang memberitahukan namanya yang mulia?”

“Losiu Cay-tok-hiang, atau si sebatangkara!”

“O, kiranya Ban-li-tok-hing “jalan sendirian laksaan li” Cay-loyacu dari angkatan tua Kaypang, tak heran sedikit jinjing dan lempar Cayhe laksa laksana naik awan menunggang kabut, Cayhe sungguh berlaku kurang hormat.”

“Tidak berani, tidak berani.”

“Tapi bagaimana Cianpwe bisa… bisa…”

“Kau ingin tanya bagaimana pengemis bangkotan seperti aku tahu-tahu ganti objek jadi penjual Mi, benar tidak?”

Oh Thi-hoa menyengir geli, katanya: “Cayhe memang sedikit heran.”

“Sejak Coh Liu-hiang Maling Romantis berhasil membongkar perbuatan jahat Lamkiong Ling, maka pandangan kaum persilatan terhadap pengemis aku ini berubah, setiap kaum persilatan melihat orang-orang pengemis malah amat menyolok mata, oleh karena itu bagi orang yang suka kelana di Kang-ouw seperti aku bila berpakaian seperti pengemis bukan saja tidak leluasa, kemungkinan bisa menimbulkan banyak kesulitan.”

“Benar, sudah lama kudengar Cayhe paling benci kejahatan, paling suka menegakkan keadilan dan memberantas kelaliman, maka sepanjang tahun kelana kian kemari, sampai perbatasan yang liar dan belukar itu juga pernah dijajahi, tujuannya tidak lain untuk melihat benarkah didalam kehidupan manusia di mayapada ini memang ada kejadian yang tak adil, jikalau ada orang bisa mengetahui asal usul locianpwe, mungkin suara atau kejadian yang tidak adilpun takkan bisa terlihat lagi oleh Cianpwe.”

Tertawa dan menyeka kotoran dimukanya, Oh Thi-hoa menambahkan: “Karena setiap orang yang punya nyali berbuat kejahatan di depan Ban-li-tok-hing, tidak berapa banyak dalam dunia ini, tapi si Burung Kenari itu bila tahu orang yang jualan bakmi ini adalah Ban-li-tok-hing, mungkin sejak tadi telah ngacir.”

Cay-tok-hing tersenyum ewa, katanya: “Losiu baru saja tamasya ke perbatasan yang liar dan belukar itu, tahu-tahu kudengar peristiwa besar yang memalukan di dalam Kaypang kami, untunglah Coh Liu-hiang si Maling Romantis tanpa pamrih berhasil menolong bencana besar yang terpendam di dalam tampuk pimpinan Kaypang kami, kalau tidak nama baik dan kebesaran Kaypang kami selam berabad-abad bakal dibuat rusak dan runtuh ditangan murid murtad yang celaka itu.”

“Seperti Cianpwe, Coh Liu-hiang pun mempunyai watak turut campur urusan orang lain.”

Cay-tok-hing si batangkara tertawa: “Sudah lama Losiu dengar bahwa Oh Tayhiap adalah sahabat Coh Liu-hiang yang paling dekat laksana saudara sepupu sendiri, oleh karena itu begitu tadi aku mendengar Burung Kenari menyebut Hoa-ou-tiap, maka campur tangan ini tidak bisa tidak harus kulakukan juga.”

Tiba-tiba berkilat sorot mata Oh Thi-hoa, tanyanya: “Cianpwe sudah lama kelana di Kang-ouw, adakah pernah mendengar asal-usul si Burung Kenari?”

“Disitulah letak keheranan Losiu, dinilai dari Ginkang si Burung Kenari ini, walau belum bisa dijajarkan dengan Ginkang Maling Romantis tapi didalam kalangan Kang-ouw sudah termasuk kelas wahid, seharusnya sudah punya nama tenar dan kebesaran di Bulim, tapi nama Burung Kenari, Losiu justru belum pernah mendengarnya.”

Oh Thi-hoa mengerut kening, katanya: “Apakah orang ini tokoh muda yang baru saja keluar kandang? Tetapi dilihat dari sepak terjangnya dan perbuatannya yang culas serapi itu, tidak mirip seperti muka baru yang masih berbau pupuk bawang.”

“Menurut pendapat Losiu, kemungkinan orang ini adalah samaran tokoh Kangouw kawakan yang menyamar saja. Burung Kenari hanyalah nama tiruan atau julukannya saja. Dan lagi bukan mustahil orang ini memang sudah dikenal oleh Oh Tayhiap, oleh karena itu dia mengenakan kerudung kepala supaya muka aslinya tidak kau kenali.”

“Aku sendiripun sudah menduga akan hal ini, tapi sungguh tak pernah kupikirkan, siapakah diantara teman-temanku yang bakal berbuat sedemikian ini?”

“Masih ada satu hal, Losiu amat heran pula.”

“Kalau orang ini tiada maksud mencelakai Oh Tayhiap, kenapa dia memancing Oh Thayhiap mengejarnya kemari?”

Seketika Oh Thi-hoa tertegun, tiba-tiba ia rasakan sekujur badannya dingin seperti hampir membeku, teriaknya tertahan dengan terbelalak: “Celaka, mungkin dia tipu aku dengan tipu memancing harimau meninggalkan sarangnya.”

“Memancing harimau meninggalkan sarangnya apa?” tanya si Batangkara tak tahu.

Tak sempat menjawab pertanyaan orang, tanpa pamitan lagi Oh Thi-hoa segera berlari bagai terbang, karena baru sekarang benar-benar dia sadari akan keadaan Coh Liu-hiang yang berbahaya. Namun baru sekarang dia sadar, sudah tentu amat terlambat.

Jendela tidak tertutup, kucing sudah mati, hembusan angin malam nan dingin membuat hawa kamar semakin dingin, kertas tulisan di atas meja terhembus melayang jatuh, lentera pun seketika padam.

Dengan penerangan lentera itu, kamar ini masih terasa redup dan gelap, kini lentera padam, keruan suasana terasa dingin gelap dan seram.

Seperti kucing yang sudah mampus di atas meja, Coh Liu-hiang rebah tanpa bergerak diatas pembaringan. Apakah nasibnya begini saja, menunggu ajal karena sakitnya atau bakal direnggut musuh dengan konyol?

Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang muncul diambang jendela. Orang inipun mengenakan pakaian serba hitam yang ketat, kepalanya terbungkus kerudung hitam, gerak-geriknya selincah kucing, seenteng burung walet.

Punggungnya menggendong sarung pedang yang dibelit dengan tali melintang, pedang panjang sudah tersoren di tangannya, disembunyikan di belakang sikutnya, sekali membalik tangan, cepat sekali pedangnya akan dapat menembusi tenggorokan sasarannya.

Sekian lama dia mendekam di bawah jendela, dengan cermat dia memperhatikan keadaan dan pasang kuping. Didengarnya deru pernapasan Coh Liu-hiang berubah-ubah, adakalanya lemah, mendadak berubah berat dan menggeros, kalau lemah seperti napasnya hampir putus, kalau berat menggeros seperti dengus napas sapi.

Orang baju hitam ini mendengarkan sekian lamanya, sepasang matanya yang berkilat tajam dari balik kerudungnya menampilkan rasa puas dan senang, sudah didengarnya dari deru napas Coh Liu-hiang bahwa penyakitnya malah bertambah berat, bukan malah sembuh atau menjadi ringan. Tapi dia cukup sabar untuk tak segera menerobos masuk, terlebih dulu ia bergaya merentang kedua tangan lalu “Sret” menusukkan pedang ditengah udara, sambaran pedang ditengah udara bolong membara sambaran angin yang cukup keras. Kalau dalam keadaan normal biasanya Coh Liu-hiang tentu sudah mendengar dan terjaga bangun. Tapi kini sedikitpun tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.

Baru sekarang orang baju hitam yang satu ini menongolkan badannya dengan berdiri tegak, ternyata perawakan badannya lebih tinggi dari orang baju hitam yang mengaku sebagai Burung Kenari tadi, badannya lebih kekar pula, namun ilmu Gingkangnya malah setingkat lebih rendah.

Menyadari kekurangan dirinya, maka orang ini bertindak penuh hati-hati dan waspada, dia tidak segera menerobos masuk kekamar, setelah menunggu pula sebentar, baru sebelah tangannya menekan alas jendela terus menyelinap masuk ke dalam.

Begitu gelap keadaan dalam kamar ini sampailima jari tangan sendiripun tidak kelihatan, orang baju hitam ini seolah-olah sudah membaurkan diri di dalam kegelapan, meski masih berada di luar jendela tadipun sukar dilihat gerak-gerik bayangannya. Berdiri ditempat gelap kembali dia menunggu beberapa saat, deru pernapasan Coh Liu-hiang diatas pembaringan masih tidak teratur, kalau tidak mau dikatakan sudah kempas-kempis tinggal menunggu ajal.

Kembali orang baju hitam menggerakkan langkah pelan-pelan maju ke depan. Langkah kakinya amat enteng dan tenang, hampir tak mengeluarkan suara. Tapi habis hujan, jalanan di luar becek, maka alas sepatu orang inipun basah dan berlepotan lumpur, dua langkah kemudian “Srek” tiba-tiba sepatunya menggesek lantai mengeluarkan suara lirih.

Walau suara gesekan ini amat lirih, tapi didalam suasana yang hening lelap seperti itu, kedengarannya justru amat nyata dan lebih menusuk pendengaran dari golok karatan yang sedang diasah.

Mungkin terkejut oleh suara gesekan lirih ini, Coh Liu-hiang seperti bergerak di atas pembaringan. Orang baju hitam seketika mematung diam seperti membeku, napaspun tak berani keras. Tak kira Coh Liu-hiang hanya sedikit membalikkan badan saja, kini mukanya menghadap ke sebelah dalam, ke arah dinding, didalam kegelapan orang baju hitam mengelus dada menghela napas lega, menunggu lagi beberapa kejap, mendadak dengan langkah cepat dia menubruk ke arah pembaringan, pedang di tangannya laksana ular sanca yang galak menusuk ke arah Coh Liu-hiang yang rebah di atas pembaringan.

xxx

Sembari berlari marathon, seperti berlomba mengejar prestasi, dalam hati Oh Thi-hoa mengumpat caci akan kebodohan dirinya, jikalau Coh Liu-hiang benar-benar sudah terbokong oleh orang, umpama dirinya masih bisa bertahan hidup, selanjutnya juga malu berhadapan dengan orang banyak.

Sungguh ingin rasanya tumbuh sayap dapat segera terbang kembali ke kamarnya. Akan tetapi mendadak dia menghentikan langkah.

Mendadak Oh Thi-hoa sadar dirinya tak berhasil mencari jalan untuk kembali ke penginapannya tadi. Tadi waktu mengejar Burung Kenari, dirinya telah diajak putar kayun putarsana balik sini, ia sendiri tidak tahu dirinya sekarang berada dimana, berapa jauh diri penginapannya, lebih celaka lagi diapun sudah tidak bisa membedakan arah.

Didalam malam nan gelap, sehabis hujan ditengahkota yang masih asing bagi dirinya, setiap jalan raya dan gang-gang sempit serta lorong panjang satu sama lain hampir mirip, demikian pula bangunan dan bentuk dari perumahan dari jalan ini dengan jalan yang itupun tiada bedanya.

Ingin dia menggedor pintu rumah orang, untuk tanya jalan, tapi disadari pula bahwa dia pun tak tahu apa nama penginapan yang ditinggali itu, karena dia lupa tanya dan tak ambil peduli tetek bengek ini, untuk tanya jalanpun tiada gunanya pula.

Sungguh hampir gila Oh Thi-hoa dibuatnya saking gugup, berdiri kehujanan, seluruh badannya sudah basah kuyup, mukanya basah karena air hujan, atau keringat? Mungkin juga air mata?

Tusukan pedang orang baju hitam dilontarkan dengan serangan ganas, bagai ekor kalajengking yang mengatup, cepatnya seperti kilat, dan lagi yang diarah adalah Hiat-to penting dibadan Coh Liu-hiang, dari jurus serangan dapatlah dibayangkan bahwa pembunuh ini sudah pengalaman dan orang yang ahli dialam bidang ini.

Maka terdengarlah “Blus” pedang panjang yang kemilau itu sudah menusuk tembus tapi bukan menghujam ke badan Coh Liu-hiang, ternyata hanya menusuk sebuah bantal.

Ternyata didalam detik-detik yang menentukan itu, Coh Liu-hiang sudah kempas-kempis itu mendadak mencelat berputar badan, dengan bantal dia menangkis tusukan pedang orang. Keruan kejut bukan main si orang baju hitam, menarik pedang, pedang tak bergeming segera terlintas dalam otaknya untuk melarikan diri meninggalkan pedang. Tapi meski reaksinya sudah amat cepat dan cekatan, toh gerakan Coh Liu-hiang lebih cepat lagi, belum lagi dia sempat menarik tangannya, tahu-tahu Coh Liu-hiang sudah pegang pergelangan tangannya.

Namun si orang baju hitam tidak menjadi gugup dan kehilangan akal, telapak tangan kiri tegak seperti golok, membabat pergelangan tangan Coh Liu-hiang. Tak nyana Coh Liu-hiang mendadak menarik tangan kanannya sehingga tebasan tangan kirinya mengenai tangan kanannya sendiri, saking sakitnya mulutnya mendehem keras.

Cepat sekali tangan Coh Liu-hiang yang lain tiba-tiba sudah berada di bawah ketiaknya, menepuk pelan-pelan, separuh badannya seketika kesemutan kemeng dan mati kutu tak bisa bergerak lagi.

Ditengah kegelapan, tampak sepasang biji mata Coh Liu-hiang laksana bintang kejora kelap-kelip, mana ada tanda-tanda sedang sakit dan kempas-kempis hampir mati. Baru sekarang badan si orang baju hitam benar-benar bergidik seram, suaranya serak sumbang: “Kau….” hanya sepatah kata saja yang terucapkan, kata-kata selanjutnya terputus.

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya: “Cayhe sudah perhitungkan bahwa tuan pasti akan datang pula, maka sejak lama sudah aku menunggumu disini.”

Keringat gemerobyos membasahi kepala dan muka si orang baju hitam, katanya pula gemetar: “Kau… tidak sakit?”

“Walau badanku tidak sakit, tapi aku memang punya sakit hati, jikalau aku tidak bikin terang asal-usul dan maksud tujuanmu, penyakit hatiku ini tidak akan dapat disembuhkan!”

Orang itu menarik napas, katanya: “Coh Liu-hiang memang tidak bernama kosong, betul-betul punya kemampuan yang luar biasa, hari ini aku mengaku kalah dan terjungkal di tanganmu, apa keinginanmu”, mendadak dia tertawa riang, katanya pula: “Aku tahu Maling Romantis selamanya tidak melukai musuhnya, apa benar?”

“Tidak salah, tapi jikalau kau tidak terus terang mengenai asal usul dirimu sendiri, Kenapa berulang kali berusaha membunuhku dengan cara membokong, meski aku tidak merenggut jiwamu, terpaksa aku harus bertindak kasar kepadamu.”

“Memangnya aku tidak punya dendam sakit hati dengan kau, kapan pula aku pernah kemari berusaha membunuh kau?”

“Masakah baru pertama kali ini kau hendak membunuh aku?”

“Sudah tentu untuk kedua kalinya.”

Berkilat mata Coh Liu-hiang, tanyanya pula: “Apakah kau bukan diutus seseorang kemari untuk melaksanakan tugasmu?”

“Tidak salah, aku hanya…” belum selesai dia bicara, tiba-tiba terdengar suara “Ser!” didalam gelap agaknya ada seulas sinar kecil pendek berkelebat cepat sekali sudah menghilang.

Terasa oleh Coh Liu-hiang pergelangan tangan orang yang dipegangnya seperti mengejang dan kaku. Tiba-tiba badannyapun melonjak gemetar, sorot matanya memancarkan rasa sakit dan ketakutan, suaranya serak terputus-putus. “hanya… adalah…”

Berubah air muka Coh Liu-hiang, sentaknya, “Siapa? lekas katakan!”

Tenggorokan orang baju hitam berbunyi “krok, krok” lalu tak mampu bicara lagi, maka rahasia yang bersemayam direlung hatinya ikut terbawa oleh helaan napas yang terakhir, selamanya takkan terbongkar.

Ketika itulah dari luar terdengar suara teriakan Lu Giok-ham yang gugup dan prihatin.

“Coh-heng, Coh-heng, apa kau terluka?” ditengah teriakannya Li Giok-ham bersama Liu Bu-bi sudah berlari datang terus melesat masuk lewat jendela.

Tak lama kemudian Liu Bu-bi sudah menyalakan lentera, melihat Coh Liu-hiang berdiri segar bugar di depan pembaringan, segera ia menarik napas lega, katanya berseri tawa kegirangan. “Terima kasih kepada langit dan bumi, terhitung kami sempat menyusul pulang tepat pada waktunya.”

Kedua orang ini basah kuyup dan kotor berlepotan lumpur, gerak geriknya pun amat lambat dan lemah seperti kehabisan tenaga, jelas dalam sehari semalam ini mereka menempuh perjalanan dengan cepat tak mengenal lelah.

Sekian lama Coh Liu-hiang tatap mereka dengan nanar, akhirnya diapun menghela napas ujarnya: “Tidak salah, memang kalian pulang tepat pada waktunya.”

Dengan mengangkat lentera di atas kepala Liu Bu-bi melotot ke arah orang serba hitam itu, katanya: “Ingin kami tahu siapakah orang ini sebetulnya, kenapa bersusah payah berusaha membunuh Coh Liu-hiang?”

“Hanya sayang sekali ini selamanya kami takkan tahu dengan tujuan apa dia kemari.”

“Kenapa?”

“Karena orang yang sudah mati masakah bisa bicara?”

Sesaat lamanya Liu Bu-bi terlongong, katanya kemudian: “Ya, memang aku tidak boleh terburu napsu membunuhnya, tapi mendadak melihat seseorang menenteng pedang berdiri di depan pembaringan Coh-heng, di luar tahuku pula bahwa penyakit Coh-heng sudah sembuh, karena gugupku, tanpa pikir panjang aku terus turun tangan tanpa ingat untuk mengompas keterangannya.”

Li Giok-ham mengerut kening, katanya gegetun: “Memangnya aku sudah tahu watakmu yang sembrono ini, suatu ketika pasti akan bikin kapiran orang.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya: “Untuk ini mana boleh salahkan dia, toh dia bermaksud baik juga.”

Liu Bu-bi malah berkata sejujurnya. “Tapi kejadian ini memang harus salahkan aku semoga Coh-siansing.”

“Jiwaku sudah tertolong, hatiku sudah amat berterima kasih, sungguh tiada maksud lain dalam benakku, kalau persoalan ini diperpanjang, hatiku jadi tidak enak dan membuat aku malu sendiri.”

Li Giok-ham akhirnyapun tertawa lebar, katanya: “Tak kira penyakit Coh-heng bisa sembuh begini cepat, dari sini dapatlah dibuktikan orang baik tentu mendapatkan berkah dari Thian.”

“Sungguh harus disesalkan, tanpa kusadari aku tertidur nyenyak sehari lamanya, ternyata penyakitku sembuh sendiri, kalian malah susah payah harus kayun langkah menempuh perjalanan jauh dengan badan kotor dan tenaga habis, sungguh aku amat terima kasih dan hutang budi.”

Tiba-tiba Liu Bu-bi berjongkok menanggalkan kain kedok orang hitam itu, lalu katanya gemas: “Coh-heng apa kau kenal siapa dia?”

Dibawah penerangan api lentera, tampak roman muka orang ini pucat kehijauan, terlintas pula perasaan ketakutan disaat jiwanya belum ajal, tapi dari biji mata dan bentuk alisnya itu dapatlah diperkirakan bahwa semasa hidup orang ini tentu teramat kejam dan telengas.

“Bukan saja aku tidak kenal orang ini, malah melihatpun belum pernah.”

Li Giok-ham mengerut kening pula, katanya: “Kalau demikian, kenapa dia hendak membokong Coh-heng? Memangnya ada seseorang yang berdiri di belakang layar?”

Coh Liu-hiang tidak segera menjawab, dari bantalnya tadi dia mencabut pedang panjang itu, di bawah penerangan lentera dia amat-amati dengan seksama, lalu menghela napas panjang, katanya: “Pedang ini memang mirip gaman yang peranti membunuh orang.”

“Tidak salah.” ujar Li Giok-ham. “Pedang ini tiga dim lebih panjang dari pedang umumnya yang sering dipakai oleh tokoh-tokoh pedang di Kangouw, namun jauh lebih tipis dan sempit. Malah dua mili lebih sempit dari Soat-coa-kiam milik orang Hay-lam-kiam-pay, orang yang mempergunakan pedang seperti ini ilmu pedangnya tentu mirip dengan ilmu pedang dari Hay-lam-kiam pay, mengutamakan kelincahan yang culas dan keji.”

“Pengetahuan Li-heng amat luas, memang tidak malu sebagai putra seorang ahli pedang.” Coh Liu-hiang memuji.

Agaknya Li Giok-ham hendak merendah diri, tapi Coh Liu-hiang sudah keburu menambahkan: “Orang yang menggunakan pedang ini aku memang tidak kenal, tapi pedang seperti ini pernah aku melihatnya sekali.”

“O, Dimana?” tanya Li Giok-ham.

“Entah pernah Li-heng mendengar nama Setitik Merah dari Tionggoan?”

“Apakah Coh-heng maksudkan adalah pembunuh bayaran yang hanya mengenal uang tanpa kenal buruannya dengan julukan “Membunuh orang tanpa melihat darah”, Setitik Merah di bawah pedangnya itu?”

“Benar, dia itulah!”

Waktu ayah memberi komentar dan penilaian kepada tokoh-tokoh ahli pedang pada jaman ini, pernah juga menyinggung nama orang ini, katanya ilmu pedangnya merupakan aliran tersendiri yang membuka jalannya tersendiri. Sebetulnya kehebatan pedangnya boleh dijajarkan untuk bertanding dengan Hiat-in-jin Sia Tayhiap, namun sayang gerak dan tipu pedangnya mengutamakan kelicikan dan nyeleweng, sepak terjangnyapun terlalu lalim, maka tanpa sadari ilmu pedangnyapun menjurus ke jalan sesat. Sejak dulu kala, sesat takkan mengalahkan lurus, oleh karena itu bakatnya terlalu tinggi, betapapun ia rajin dan tekun belajar, kepandaiannya tetap tidak dapat mencapai puncak tinggi yang gemilang.”

“Dari uraian ini saja sudah cukup menandakan kebesaran Li-locianpwe sebagai tokoh pedang nomor satu di seluruh jagat. Pada jaman ini, setiap orang yang mempelajari ilmu pedang harus mengukir petuah ini didalam kalbu masing-masing, selama hidupnya pasti tidak akan sia-sia.”

Berkata pula Li Giok-ham: “Kalau hati jujur, ilmu pedangpun lurus, hati jahat ilmu pedang menjadi sesat! Hal ini memang merupakan teori yang tak terbantahkan sejak dulu kala.”

Mendadak Liu Bu-bi menyela: “Pedang pembunuh ini apakah mirip dengan milik Setitik Merah dari Tionggoan itu?”

“Kecuali gagang pedangnya yang rada berbeda, selebihnya panjang pendek dan lebarnya pun tak berbeda.”

Mengerling biji mata Liu Bu-bi, katanya: “Kalau demikian pembunuh ini bukan mustahil adalah utusan Setitik Merah.”

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Sama sekali tidak mungkin!”

“Jadi maksud Coh-heng…” Liu Bu-bi berkata ragu-ragu lalu menggigit bibir.

“Maksudku yaitu bahwa pembunuh ini sendiri hakekatnya tiada permusuhan dengan aku, kalau tidak mau kukatakan belum pernah mengenalku, bahwa dia berusaha membunuh aku lantaran dia diutus atau dibeli orang lain.”

Liu Bu-bi menerawang sebentar, katanya kemudian: “Tidak salah, kalau pedang yang dipakai pembunuh itu mirip milik Setitik Merah dari Tionggoan, tentunya salah seorang saudara seperguruannya, sudah tentu diapun mempunyai usaha yang sama, yaitu membunuh orang untuk mengejar bayaran yang tinggi.”

Li Giok-ham mengerut kening, katanya: “Apa benar didalam kalangan Kangouw ada begitu banyak orang yang usahanya terima bayaran untuk membunuh orang?”

“Menurut gelagatnya memang demikianlah.” ujar Coh Liu-hiang. Tiba-tiba menggeledah badan si orang hitam, namun kantong baju kosong tidak membawa apa-apa. Memang orang-orang yang hidupnya mengejar untuk mencabut nyawa orang lain sekali-kali pantang membawa apa-apa yang mungkin bisa membuka identitas atau asal-usul orang itu sendiri, apalagi barang barang yang dibawanya itu bakal merupakan beban pula bagi dirinya.

Akhirnya Coh Liu-hiang menemukan dua macam barang di dalam lipatan baju dalamnya yaitu selembar chek yang berjumlah amat besar dan sebuah medali tembaga yang bentuk dan warnanya amat aneh.

Chek adalah pembayaran paling umum yang berlaku pada jaman itu, chek yang terpercaya pula, dimanapun chek ini diuangkan bisa segera diterima dengan cepat. Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: “Dua puluh ribu tahil perak, tidak heran kalau begitu getol semangatnya hendak menghabisi jiwaku. Untuk dua puluh ribu tahil perak ini kemungkinan saja aku sendiri mau membunuh diriku sendiri, sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa jiwaku ternyata berharga begitu tinggi.”

Li Giok-ham geleng-geleng kepala, ujarnya: “Bahwa orang itu berani merogoh kantong mengeluarkan dua puluh ribu tahil untuk menamatkan jiwa Coh-heng, pastilah dia mempunyai dendam kesumat yang mendalam dengan Coh-heng.”

Kembali Liu Bu-bi menimbrung: “Aku sudah dapat perkirakan siapa kiranya orang yang berani merogoh kantong untuk membayar sedemikian mahalnya.”

“O, Siapa?”

“Chek dengan nilai uang sebesar itu, bank-bank dimanapun juga tidak akan sembarang mau mempergunakan, maka pada buku administrasi didalam bank itu pasti ada dicatat dengan jelas siapa pemakainya, asal kita pergi ke bank dan periksa kepada siapa pembayaran uang sebesar ini diberikan, bukankah kita bisa mengetahui siapa orang itu?”

“Kukira cara ini belum tentu bisa berhasil.” Coh Liu-hiang menanggapi.

Terbelalak mata Liu Bu-bi, tanyanya: “Kenapa? Memangnya Coh-heng sudah tahu siapa kiranya gerangan orang itu?”

Coh Liu-hiang menjelaskan kesangsiannya: “Kalau aku hendak membeli seseorang untuk membunuh orang, sekali-kali tidak akan kugunakan chek pembayaran atas namaku, oleh karena itu meski kita mengobrak abrik di kantor bank, bukan saja tidak berguna, malah mungkin kita bisa terpancing ke jurusan sesat, yang kita temukan adalah orang-orang yang tiada sangkut pautnya dengan peristiwa ini, tak ada hubungan dengan kita.”

“Ya.” akhirnya Liu Bu-bi bisa menerima penjelasan ini, “Analisa ini memang masuk diakal.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya: “Namun paling tidak sekarang aku sudah berhasil mengetahui suatu hal.”

“Coh-heng sudah tahu hal apa?” tanya Liu Bu-bi.

“Paling tidak sekarang aku sudah tahu bahwa orang itu pasti seorang hartawan, karena hanya untuk mencabut jiwa orang-orang itu bisa merogoh kantong sekali jreng dua puluh ribu tahil, kukira jumlahnya terbatas dalam dunia ini.”

Sudah sejak tadi Li Giok-ham menepekur, kini dia membuka suara: “Lalu apa pula maksudnya dengan medali perunggu ini?”

Tampak medali perunggu bagian mukanya terukir garis-garis liku-liku seperti kembang di bagian tengahnya terukir tiga belas batang pedang yang membundar jajar, bentuk pedang itu satu sama lain mirip, mirip pula dengan pedang pembunuh yang sudah ajal ini, sebaliknya bagian medali perunggu kebalikannya ada terukir satu huruf delapan.”

Berkata Li Giok-ham dengan mengerut kening: “Apa pula makna dari tiga belas pedang ini?” sudah sejak tadi dia memikirkannya tanpa dapat memecahkan artinya.

Mendadak bercahaya sorot mata Liu Bu-bi, katanya bertepuk tangan: “Maknanya kira-kira sudah kuketahui.”

“Kau paham apa maksudnya?” tanya Coh Liu-hiang.

Kata Li Giok-ham sambil berpikir-pikir: “Tiga belas pedang, apakah tiga belas orang?”

“Benar, ketiga belas orang ini tentunya punya usaha yang sama yaitu sebagai pembunuh bayaran, tangan ditengah-tengah bundaran pedang itu merupakan simbol dari pemimpin dari mereka, orang ini termasuk orang yang ke delapan di dalam kelompok mereka, maka kebalikan medali ini terukir huruf 8″, lalu dia unjuk tawa kepada Coh Liu-hiang katanya lebih lanjut: “Sementara Setitik Merah dari Tionggoan kemungkinan adalah jagoan nomor satu dari kelompok tiga belas orang itu.”

“Agaknya memang seperti dugaan kalian.” ujar Coh Liu-hiang.

“Tapi yang amat menakutkan tentunya tangan itu, meski dia tidak pernah unjuk diri namun secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi dia kendalikan gerombolan rahasia ini tiga belas orang itu diperalat untuk mengusahakan bayaran tinggi untuk setiap jiwa yang harus mereka bunuh.”

Berkata Li Giok-ham dengan tersirap kaget: “Di dalam kalangan Kangouw ternyata ada gerombolan yang mengobyekkan diri sebagai pembunuh bayaran, sungguh suatu hal yang amat menakutkan.”

“Ya, kemungkinan merupakan suatu tragedi bagi kaum persilatan yang amat mengerikan dan menakutkan selama ratusan tahun mendatang ini.” kata Liu Bu-bi pula.

Mulut Coh Liu-hiang tidak bicara, namun hatinya amat mendelu, pikirnya: “Tak heran Setitik Merah selalu seperti tertekan oleh berbagai kesulitan dan beban berat, ternyata lantaran dia sudah terjeblos di dalam gerombolan rahasia ini dan tidak mungkin melepas diri. Oleh sebab itu setelah dia berkeputusan untuk tidak melanjutkan usahanya sebagai pembunuh bayaran, segera dia minggat ke tempat jauh di luar perbatasan, lari ke tengah gurun pasir. Karena dia tahu tangan ditengah kelompok pedang itu pasti tidak akan berpeluk tangan memberi kebebasan kepadanya.”

Siapapun dia asal sudah terjeblos masuk ke dalam gerombolan ini kecuali mati, mungkin selama hidup jangan harap kau bisa membebaskan diri dari segala kesulitan. Baru sekarang pula disadari oleh Coh Liu-hiang kenapa sorot pandangan mata Setitik Merah selalu membeku dingin, rawan dan gelisah. Sungguh Coh Liu-hiang amat menyesal kenapa sebelum ini dirinya tidak pernah memikirkan ke arahsana .

Terdengar Liu Bu-bi berkata dengan tertawa: “Tapi gerombolan ini sekarang tidak begitu menakutkan lagi.”

“Kenapa?” tanya Li Giok-ham.

“Karena tidak berapa lama lagi, tangan itu pasti akan terbelenggu oleh borgol.”

Li Giok-ham berpikir sebentar, cepat sekali dia sudah maklum akan kata-kata istrinya. katanya tertawa: “Tidak salah kalau sekarang mereka berani menepuk lalat di atas kepala Coh Liu-hiang si Maling Romantis, tentunya Coh-heng tidak akan berpeluk tangan membiarkan mereka bukan?”

“Apalagi, kalau toh cara kerja gerombolan ini begitu rahasia dan terkoordinir dengan baik oleh si tangan itu didalam menekan setiap kontrak jual beli, maka cukup asal Coh-heng berhasil mencari tahu siapakah si “tangan” itu, maka tak sulit untuk mencari tahu siapa pula orang yang berani membayar dua puluh ribu tahil perak untuk membunuh jiwamu.”

Coh Liu-hiang tiba-tiba tertawa, ujarnya: “Aku sih tak perlu tergesa-gesa mencari dia.”

Meski Liu Bu-bi selalu dapat mengendalikan perasaan hatinya, namun sekarang rona mukanya menampilkan rasa heran dan kejut serta tak mengerti tanyanya: “Kenapa?”

“Orang seperti dia sampai pun melaksanakan pembunuhan kepada seseorang yang diincarpun tak berani turun tangan sendiri, kalau aku melihat tampangnya malah bikin naik pitam saja. Sekarang yang menjadi hasratku yang terbesar adalah menyambangi tokoh pedang nomor satu pada jaman ini, bukanlah hal ini jauh lebih menyenangkan dari pada mencari perkara dengan orang-orang kerdil yang kerjanya membadut untuk mengelabui pandangan orang lain?” Dengan tajam dia tatap muka Liu Bu-bi, lalu menambahkan dengan kalem, “Dan lagi cepat atau lambat toh dia pasti akan mencariku, kenapa aku harus susah-susah mencari dia malah?”

Liu Bu-bi segera unjuk tawa manis katanya: “Dan, yang paling penting mungkin Coh-heng kuatir nona Soh dan lain-lain teramat gelisah menunggu kedatanganmu?”

Mereka berhadapan dengan sama-sama berseri tawa, Li Giok-ham sebaliknya berubah air mukanya, teriaknya tersendat: “Mana Oh-heng, Kemana Oh-heng?”

Agaknya baru sekarang dia sadar bahwa Oh Thi-hoa selama ini tidak berada didalam kamar ini, ternyata Coh Liu-hiang tidak menjadi gugup, setelah orang menanyakan, baru dia menjawab dengan tawar. “Tadi agaknya dia melihat jejak musuh yang mencurigakan, tanpa pikir panjang lantas keluar mengudak.”

Liu Bu-bi tersirap kaget dan pucat mukanya, katanya: “Oh-heng hanya bisa menggerakkan sebelah tangannya, mana boleh begitu gegabah mengejar musuh?”

“Kukira tidak menjadi soal.” ujar Coh Liu-hiang kalem.

“Tidak menjadi soal?” sela Liu Bu-bi. “Masa Coh-heng tidak kuatir dia terbokong atau terperangkap oleh kekejian musuh?”

“Aku yakin dia tidak akan mengalami sesuatu apa-apa yang merugikan dirinya.”

“Darimana kau bisa tahu?”

“Karena tujuan orang hanya ingin mencabut jiwaku bukan mengincar nyawanya, tapi paling hanya ingin memancing keluar, sehingga lebih leluasa untuk membunuh aku.”

“Tapi… tapi kenapa sampai sekarang dia belum kunjung pulang?”

“Kalau tidak sedang mencuri arak, pasti dia tersesat jalan.”

“Coh-heng agaknya amat yakin dan begini tabah.”

“Bukan hatiku tabah dan yakin benar, soalnya aku sudah mendengar suaranya.”

Jarang orang bisa tahu sebelumnya kapan akan turun hujan, hal ini tidak perlu dibuat heran, karena betapapun orang yang benar-benar tahu akan ilmu perbintangan seperti Cu-kat Ling pada jaman Sam Kok dulu tidak banyak jumlahnya. Dan lebih aneh pula, jarang pula orang mengetahui kapan hujan itu akan mereda. Hujan seolah-olah berhenti di luar kesadaran orang-orang yang tidak pernah memperhatikannya.

Ditengah malam nan sunyi sepi itu, betul-betul juga kedengaran suara Oh Thi-hoa berkata kumandang ditengah malam nan gelap: “Nah benar yang ini.”

Lalu terdengar pula suara serak tua lain berkata: “Kali ini tidak salah lagi.”

“Pasti benar.” sahut Oh Thi-hoa yakin. Habis kata-katanya bayangan Oh Thi-hoa sudah berkelebat masuk ke pekarangan, seperti seekor kucing yang menerobos masuk kamar setelah ekornya terinjak orang. Dilain kejap maka terdengar pula seruannya: “O, Jadi sudah kembali?” habis berseru, matanya melotot pula, katanya: “Ulat busuk, kenapa kau mendadak kau sudah merangkak bangun?”

Belum Coh Liu-hiang menjawab, sebuah suara serak tua di luar bertanya: “Apakah Coh Liu-hiang Maling Romantis tidak apa-apa?”

Coh Liu-hiang memegang hidungnya, sahutnya “Terima kasih akan perhatian tuan, kenapa di luar?, silahkan masuk!”

Orang di luar itu menjawab: “Sebetulnya Losiu amat ingin bertemu dengan Maling Romantis, tapi akhirnya kupikir, sekarang lebih baik aku tidak bertemu saja.”

“Kenapa?”

“Sekarang bila aku berhadapan dengan kau, paling tidak harus menyembah tujuh delapan belas kali kepadamu, tapi tua bangka setua aku ini harus berlutut menghadap orang lain, tentunya kurang leluasa, terpaksa biar lain kesempatan saja akan kucari jalan lain untuk membalas budi kebaikanmu, lalu adu minum pula dengan kau sepuas-puasnya.” Bicara pada kata-kata terakhir, suaranya sudah semakin jauh, kira-kira puluhan tombak.

Coh Liu-hiang melengak heran, katanya: “Siapakah orang itu? Kapan aku pernah menanam budi kepadanya?”

“Tehadap dia pribadi kau sih tak memberi kebaikan apa-apa, tapi buat Kaypang.” sahut Oh Thi-hoa.

“O, jadi dia anggota murid Kaypang?”

“Bukan murid, malah Tianglo dihitung tingkat kedudukannya, agaknya Jin Jip yang menjadi pangcu Kaypang yang terdahulu itupun setingkat lebih rendah.”

Berputar biji mata Coh Liu-hiang, katanya kesima: “O, Apakah yang kau maksud adalah Ban-li-tok-hing, Cay locianpwe?”

“Tidak salah.”

“Cara bagaimana kau bisa berkenalan dengan cianpwe aneh ini?”

“Memangnya kau baru setimpal berkenalan dengan para Cianpwe-cianpwe aneh itu, masakah aku tidak boleh kenal satu dua?” setelah tergelak tawa, segera menambahkan: “Jikalau kau iri hati, biar aku beritahu sekalian kepada mu, malam ini akupun ada bertemu dengan seseorang, seseorang yang ingin benar kau temui.”

“Siapa?”

“Burung Kenari.” agaknya Oh Thi-hoa masih ingin bicara, siapa tahu Coh Liu-hiang mendadak menjejalkan sesuatu barang ke dalam mulutnya, hendak dimuntahkanpun tidak bisa, keruan dia gelagapan, serunya: “Ini… apakah ini?”

Coh Liu-hiang tersenyum katanya: “Itulah obat penawar yang dibawa pulang oleh Li-heng suami istri dengan susah payah dari tempat jauh, nah lebih baik lekas kau rebahkan diri dan tidurlah dengan nyenyak saja.”

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Burung Kenari (Hua Mei Niao) Bab 3. Terluka"

Post a Comment

close