Mayat Kesurupan Roh (Gui Lian Xia Qing) Bab 7: Ketenangan Coh Liu Hiang

Mode Malam
Mayat Kesurupan Roh
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 7: Ketenangan Coh Liu Hiang

Sesudah Coh Liu-hiang dan Ciok Siu- hun pergi, orang yang mengintip di luar jendela itupun berlarian pergi dengan cepat. Di bawah cahaya bintang yang remang-remang kelihatan rambutnya yang beruban, kiranya orang ini adalah Liang-ma.

Apakah, orang tua ini memang sudah tahu mayat di dalam peti mati itu bukan Si In? Lantas untuk apa dia berlagak berduka cita? Apakah mungkin nenek yang baik hati inipun mempunyai maksud tujuan tertentu?

**********

Sementara itu Coh Liu-hiang sedang berlarian keluar taman dengan menggandeng Ciok Siu-hun, mereka berharap selekasnya meninggalkan tempat seram ini.

Akan tetapi sebelum mereka sampai di pintu keluar, sekonyong-konyong seorang menegurnya, "Nah, kau lagi, paman, kau telah menipuku. Orang tua mana boleh menipu anak kecil!"

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu seorang telah mengadang di depan. Orang ini berwajah kemerah-merahan, rambutnya sudah ubanan, tapi memakai baju merah bersulam bunga, baju anak-anak.

Siapa lagi dia kalau bukan si sinting. Sih Po-po Ciok Siu-hun terkesima saking kagetnya, hendak lari pun tidak sanggup lagi.

Untung Sih Po-po tak memperhatikan dia, yang di pelototi hanya Coh Liu-hiang, katanya pula "Hayo, paman bintang di langit itu ternyata tidak berjumlah dua puluh sembilan ribu sekian."

Dalam pada itu Coh Liu-hiang telah membisiki Ciok Siu-hun agar lekas pergi dulu dan menunggunya di rumah saja.

Habis itu barulah dia menanggapi teguran Sih Po-po, "Apakah betul begitu? Ya, mungkin aku yang salah hitung." "Orang tua mestinya tak boleh menipu anak kecil, tapi kau telah menipuku. Ehm, aku emoh..... aku..... hu..... uuh......" Mendadak Sih Po-po mewek-mewek, lalu duduk mengesot di tanah dan menangis seperti anak kecil.

Kelakuan ini sungguh di luar dugaan Coh Liu-hiang, terpaksa ia menjawab dengan tertawa, "Diamlah, jangan menangis, biar nanti malam kuhitung lagi bagimu dan besok akan kuka takan padamu jumlahnya yang tepat"

"Tidak, tidak mau," seru Sih Po-po. "Sekarang juga kau harus menemaniku menghitung bersama. Kecuali...... kecuali izinkan kuraba hidungmu, kalau tidak, takkan kulepaskan kau."

Coh Liu-hiang jadi melengak, tanyanya, "Untuk apa kau ingin meraba hidungku?"

"Sebab hidungmu pasti sangat bagus dibuat main-main," kata Sih Po-po.

"Masa hidungku sangat bagus dibuat mainan." ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa. "Darimana kau tahu hidungku bagus untuk mainan?"

"Habis, kalau hidungmu tidak bagus buat mainan, mengapa kau sendiri selalu merabanya?" kata Sih Po-po, mendadak ia melompat maju dan berseru dengan manja, "Hayo, aku pun ingin meraba hidungmu, lekas, coba kurabanya, kalau..... kalau tidak, kau harus menghitungkan bintang untukku."

Meski tidak enak juga hidungnya diraba orang, tapi apapun juga lebih baik daripada disuruh menghitung bintang. Pula Coh Liu-hiang tidak ingin terhalang lebih lama oleh si sinting itu, terpaksa ia menjawab dengan menyengir, "Jika hidungku sudah kau raba, lalu kau tidak merecoki aku lagi?"

Seketika Sih Po-po menjadi girang dan berhenti menangis, jawabnya, "Ya, asalkan hidungmu sudah kuraba, segera kau boleh pergi."

“Baiklah, silakan meraba," kata Coh Liu-hiang.

Sambil melonjak-lonjak girang, pelahan Sih Po-po menjulurkan tangannya ke hidung Coh Liu-hiang sambil tertawa-tawa, sebenarnya gerak tangan Sih Po-po sangat lambat, tapi sesudah dekat, mendadak ia tekan Gin-hiang-hiat di samping hidung Coh Liu-hiang, seketika Coh Liu-hiang merasa tubuhnya kesemutan dan tak bisa berkutik lagi.

Segera Sih Po-po angkat tubuh Coh Liu-hiang sambil terkekeh-kekeh, katanya, "Kau telah mengacaukan hitunganku, maka kepalamu akan kubenturkan hingga pecah."

Mendadak ia luruskan tubuh Coh Liu-hiang, terus dilemparkan ke gunung-gunungan sana. Tampaknya kepala Coh Liu-hiang pasti akan remuk tertumbuk gunung-gunungan batu itu.

*****

Sementara itu Ciok Siu-hun sudah berlari sampai di pintu taman, napasnya sudah senin-kamis, tadi dia digendong oleh Coh Liu hiang, untuk keluar sekarang dia harus membuka pintu. Pintu taman tidak digembok, tapi terhalang oleh lonjoran besi itu, palang itu sudah karatan dan lengket, semakin gelisah semakin susah membukanya.

Tentu saja ia tambah kelabakan dan bingung sedangkan Coh Liu-hiang entah akan menyusulnya atau tidak.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, "Kau sudah datang ke sini, maka boleh tinggal beberapa hari di sini, kenapa terburu-buru hendak pergi lagi?"

Tidak kepalang kejut Ciok Siu-hun, tanpa menoleh lagi ia lantas berlari pula. Akan tetapi baru dua tiga langkah, tahu-tahu sebuah tangan seperti cakar setan telah mencekik lehernya. Belum lagi sempat menjerit, pingsanlah dia.

*****

Sementara itu Coh Liu-hiang juga tak berkutik menghadapi Sih Po-po yang sinting, lebih-lebih tak terbayangkan dirinya bisa mati di tangan orang sinting ini.

Ketika Sih Po-po mengayun tangannya, meluncurlah tubuh Coh Liu-hiang ke arah gunung-gunungan. Meski dia lantas bisa bergerak kembali, namun untuk mengubah arah jelas tidak ke buru lagi. Terpaksa ia dekap kepalanya dengan kedua tangan, dengan harapan akan dapat menahan benda yang akan ditumbuknya. Namun ia cukup menyadari tumbukan ini andaikan tak membuatnya mampus, paling tidak juga akan mendelik dan sekarat, habis itu, si sinting tentu tidak akan tinggal diam pula.

Maka terdengar suara gemuruh yang keras, batu kerikil muncrat kemana-mana, ternyata kepala Coh Liu-hiang tidak pecah terbentur, sebaliknya gunung-gunungan itu malahan tertumbuk ambrol dan terbuka sebuah lubang besar.

Sungguh aneh bin ajaib, masakah kepalanya jauh lebih keras daripada batu?

Semula Sih Po-po sedang berkeplok tertawa gembira, kini mendadak ia pun melenggong, teriaknya, "Wah celaka, kepala orang ini terbuat dari besi?" Sembari berteriak ia terus berlari pergi secepat terbang.

Sekujur badan Coh Liu-hiang terasa sakit semua, kepala pun pening, ia sendiri tidak jelas apa yang terjadi sebenarnya, sayup-sayup didengarnya di dalam gunung-gunungan itu ada jerit kaget orang. Namun karena matanya berkunang-kunang, maka ia tidak dapat melihat jelas dimanakah orang itu.

Tiba-tiba didengarnya seorang menjerit kaget, "He, bukankah ini Coh Liu-hiang......?" Tajam melengking suara itu, jelas itulah suara Hoa Kim-kiong.

Coh Liu-hiang meronta bangun sambil kucek-kucek mata. kemudian baru dapat melihat jelas sekitarnya. Kiranya dia jatuh di atas buah ranjang ,di tepi ranjang ada seorang dengan tangan menutupi dadanya yang telanjang , siapa lagi dia kalau bukan Hoa-kiong.

Di sebelah ada pula seorang lelaki yang tampak meringkik ketakutan dan sedang memakai celana dengan gemetar.

Kiranya gunung-gunungan ini hanya kelihatan kukuh di bagian luarnya, di dalam ternyata kosong, lapisan gunung-gunungan inipun sangat tipis, bukan buatan dari batu, melainkan dibuat dengan adukan semen yang tipis dan dibangun jadi gunung-gunungan, lalu bagian luar ditimbun rerumputan.

Rupanya di dalam gunung-gunung inilah tempat pertemuan gelap Hoa Kim-kiong dengan gendaknya. Coh Liu-hiang merasa geli, ia merasa dirinya masih mujur juga. Dalam pada itu si lelaki tadi telah mengeluyur pergi.

Coh Liu-hiang lantas berdiri juga, katanya sambil memberi hormat, "Maaf, maaf, lain kali bilamana kubentur batu lagi, sebelumnya pasti akan kuketuk pintu dulu."

Tapi Hoa Kim-kiong meraihnya dan meliriknya dengan senyum tak senyum, katanya, "Masa kau akan pergi sekarang juga? Memangnya kedatanganmu bukan untuk mencariku?"

Sunggguh Coh Liu-hiang merasa risi untuk memandangi senyuman orang, lebih-lebih tak berani memandang tubuh orang yang telanjang itu. Tentu saja ia kelabakan karena tidak tahu arah mana ia harus memandang, terpaksa ia menyengir dan berkata, "O, aku memang datang untuk mencarimu....."

Belum habis ucapannya, Hoa Kim-kiong sudah lantas menubruk maju sambil tertawa nyekikik, katanya, "Adik yang bagus, memang sudah kuduga, akhirnya kau pasti tidak tahan dan akan datang mencariku. Memang sudah kuketahui kau ini bukan manusia baik-baik. Mengingat pandanganmu yang bisa membikin semaput ini, baiklah kakak akan meluluskan kehendakmu sekali saja."

Tubuh yang telanjang itu tampak basah dan likat oleh keringat, meski hampir seluruh tubuhnya seakan-akan diguyur minyak wangi, namun tetap tak dapat menutupi bau keteknya yang sengak itu.

Untuk pertama kalinya Coh Liu-hiang merasa hidung yang ciri juga ada gunanya, paling tidak bau ketek Hoa Kim-kiong yang memuakkan, sekarang tak begitu terasa olehnya. Walaupun begitu, ia pun merasa risi, cepat ia hendak mendorong perempuan tak tahu diri ini, tapi karena salah alamat, tahu-tahu tangannya menolak pada segumpal daging yang lunak.

Hoa kim-kiong tertawa terkikik, ucapnya, "Hihihi, tanganmu juga tidak jujur......"

Coh Liu-hiang jadi mati kutu dan tidak berani bergerak lagi, katanya dengan menyengir, "Sebenarnya aku hendak mencarimu, tapi sekarang mau tak mau aku harus lekas pergi lagi."

"Memangnya kenapa?" tanya Hoa Kim-kiong, jelas dia sangat kecewa.

"Masa kau tidak tahu bahwa Sih Po-po yang melemparkan diriku ke sini?" tutur Coh Liu-hiang. "Sekarang dia sudah tahu aku berada di sini, tempat inipun sudah berlubang besar, apabila dilihat orang lain......."

"Aku tidak takut," tukas Kim-kiong. Memang perempuan kalau sudah berhasrat, maka malu atau takut sudah tidak dikenalnya lagi.

"Akan tetapi kalau Sih Po-po datang mengacau lagi, kan runyam," ujar Coh Liu-hiang. "Tentunya kau kenal wataknya, orang seperti dia kan dapat berbuat apapun juga."

Dipikir memang juga benar, terpaksa Hoa Kim-kiong melepaskan pegangannya, katanya dengan gemas, "Si gila ini, pasti takkan kuampuni dia."

Maka legalah hati Coh Liu-hiang, ia coba bertanya pula, "Apakah dia benar-benar gila? Orang gila mana bisa memiliki kepandaian setinggi itu?"

"Sejak kecil dia merasa tersiksa oleh pengawasan kakaknya." tutur Hoa Kim-kiong. "Sih Ih-jin selalu memaki dia tak becus. Orang lain menganggap gilanya karena keranjingan berlatih pedang, tapi kukira lebih benar gilanya karena tekanan batin."

Sekian lama Coh LSu-htang termenung, ucapnya dengan menyesal, "Jika sang kakak terlalu terkenal, yang menjadi adik memang lebih banyak ruginya."

Tiba-tiba Hoa Kim-kiong menarik tangannya lagi, keruan Coh Liu-hiang terkejut hingga berkeringat dingin, jika si nenek memaksakan kehendaknya lagi, sekali ini pasti sukar melepaskan diri.

Syukur Hoa Kim-kiong tidak melanjutkan gerak aksi lainnya, dia cuma menatap tajam Coh Liu-hiang dan bertanya, "Kau akan datang lagi atau tidak?"

Coh Liu-hiang berdehem beberapa kali, lalu menjawab, "Su.......sudah tentu."

"Kapan?"

"Be........ besok atau lusa, pasti........ pasti kudatang lagi........." Mendadak ia melonjak bangun dan berseru, "Wah ada orang, aku harus lekas pergi......." Belum habis ucapannya, lantas menerobos keluar seperti dikejar setan.

Untung juga dia angkat kaki pada waktu yang tepat, kalau tidak tentu akan timbul kesukaran lagi. Baru saja dia pergi, segera terlihat belasan oraog berlari datang secepat terbang. Ada yang membawa tenglong, ada yang bersenjata, yang berjalan paling depan adalah seorang gemuk tinggi besar, ia cuma memakai kaus kutang dan bercelana pendek, tangannya juga memegang golok, saking marahnya, mukanya tampak merah padam.

"Tangkap maling cabul itu!" teriak si kakek gemuk, "Barang siapa yang berhasil menangkapnya, hadiah kontan seratus tahil emas. Tangkap, jangan sampai lolos!"

Diam-diam Coh Liu-hiang meraba hidung pila. Tapi ia pun tidak marah meski dirinya didakwa sebagai maling segala.

Ia malah menaruh kasihan kepada kakek gemuk ini, sebab dia telah salah mencari menantu, malahan juga keliru ambil isteri. Bahwa dia belum mati kaku menyaksikan tingkah dua perempuan bejat di rumahnya itu sudah harus dipuji.

Akan tetapi darimanakah Si Hau-liam mengetahui rumahnya kedatangan 'maling cabul' segala?

Apakah si sinting Sih Po-po yang menyampaikan info itu?

Makin lama Coh Liu-hiang merasakan si sinting itu benar-benar berbahaya, tapi juga semakin menarik........

******

Sebenarnya sudah berapa kali Coh Liu-hiang berkunjung ke Siong-kang-hu, namun jalannya sebegitu jauh belum lagi hapal. Dia harus berputar kayun dahulu kian kemari untuk akhirnya baru dapat menemukan gang tempat tinggal Yap Seng-lan yang akan dicarinya itu.

Dilihatnya si gundul sedang berjongkok di pojok emper rumah sana dan sedang makan Siopia (panganan sebangsa roti bakar), sepasang matanya yang besar hitam itu sedang mengerling dalam kegelapan. Sekali pandang saja Coh Liu-hiang lantas melihat si gundul.

Akan tetapi si gundul baru melihat Coh Liu-hiang setelah pendekar pujaannya ini berada di sampingnya. Ia kaget sehingga Siopia yang masih sisa setengah potong itu terjatuh.

Tapi Coh Liu-hiang sempat meraih Siopia yang hampir terjatuh itu, dengan tersenyum Siopia itu dikembalikan kepada si gundul, katanya, "Hari ini kau tentunya tidak sempat makan nasi, lain hari pasti akan kutraktir kau makan enak, eh, kau suka makan apa?"

Si gundul memandangnya penuh rasa hormat dan kagum, jawabnya, "Aku tidak ingin makan apa-apa, yang kuharapkan ialah dapat belajar kungfu setinggi engkau dan puaslah hatiku."

Coh Liu-hiang menepuk pundaknya dan berkata dengan tertawa, "Kungfu harus dipelajari, tapi nasi juga harus dimakan. Betapa tinggi kungtu seorang, tetap harus makan nasi." Ia mengerling ke sana, lalu bertanya, "Apakah sudah kautemukan?"

Si gundul menepuk dada dan menjawab "Sudah tentu ketemu, itulah tempatnya, rumah yang di depan pintunya ada sebuah tenglong kecil." Dia jejalkan sisa Siopia ke dalam mulut dan ditelan, habis itu bicaranya baru bisa lebih jelas, katanya kemudian,

"Penghuni gang ini cuma mereka saja yang baru pindah kemari, bahkan cuma terdiri dari suami isteri berdua, tiada jongos dan tanpa babu. Sang isteri seperti penduduk setempat, yang lelaki berlogat utara."

"Apakah mereka berada di rumah?" tanya Coh Liu-hiang

"Konon kedua suami isteri inipun selalu bersembunyi di rumah sepanjang hari, tidak pernah keluar berbelanja, apalagi bergaul dengan tetangga, tapi baru saja ada seorang datang mencari mereka."

"O, orang macam apa?" tanya Coh Liu-hiang.

"Seorang nenek, rambut sudah ubanan, tapi masih cekatan, hanya kelihatan rada gugup, sambil berjalan seringkali menoleh ke belakang, seakan-akan kuatir dikuntit setan."

Terbeliak mata Coh Liu-hiang, cepat ia bertanya pula, "Bilakah nenek itu datang?"

"Baru saja," jawab si gundul. "Dia datang waktu aku mulai makan Siopia sampai sekarang, lima biji Siopia belum habis kumakan."

"Dia masih di dalam?" tanya Coh Liu-hiang.

"Ya, belum keluar lagi," kata si gundul.

Baru habis ucapan si gundul, tahu-tahu Coh Liu-hiang sudah melayang masuk ke rumah yang dimaksud. Si gundul melelet lidah, gumamnya, "Jika tidak kulihat siapa dia sebelumnya, tentu akan kusangka seekor burung raksasa......"

*****

Rumah itu tidak besar, di halaman depan ada dua pohon sedap malam yang sedang mekar semerbak.

Di dalam rumah ada cahaya lampu, pintu dan jendela tertutup rapat. Dari bayangan yang kelihatan dari balik jendela itu tampak bayangan seorang perempuan tua berduduk di samping meja dengan kepala tertunduk, seperti lagi menulis, seperti juga sedang menyulam.

Kini Coh Liu-hiang tidak berpikir tentang adat kesopanan lagi, sekuatnya ia menolak pintu hingga terbuka, kiranya orang yang berduduk di dalam itu sedang makan hubur. Karena terkejut, mangkuk terjatuh dan pecah berantakan.

Orang tua itu berbaju hijau, rambut sudah beruban, kiranya Liang-ma adanya.

Coh Liu-hiang tertawa dan menyapa, "Hah, benar juga kau berada di sini."

Liang-ma menepuk-nepuk dada dengan napas terengah-engah katanya, "Wah, hampir mati terkejut aku, kukira garong, tak tersangka Kongcu adanya. Mengapa Kongcu bisa datang ke sini?"

"Justru akulah yang ingin bertanya padamu, mengapa kau datang ke sini?" jawab Coh Liu-hiang, ia pandang sekeliling ruangan, yang menarik perhatiannya ialah di atas meja ada tiga pasang sumpit dan mangkuk.

Dengan tertawa Liang-ma menjawab, "Sebenarnya aku tidak sempat, tapi lantaran sudah lama tidak melihat mereka, aku ingin menjenguknya."

Gemerlap sinar mata Coh Liu-hiang, "Mereka?" Ia menegas, "Siapa mereka?"

"Anak perempuanku," jawab Liang-ma. "Dan menantuku...."

"Apa betul?" jawab Coh Liu-hiang. "Aku pun ingin melihat mereka."

Liang-ma tak menolak, segera ia berteriak. "Toa-gu, Siau-cu, lekas keluar, ada tamu!"

Benar juga, segera muncul dua muda mudi, dengan air muka bersungut, malahan kedengarannya mereka menggerutu, "Sudah jauh malam, orang tidur diganggu."

Kedua muda-mudi ini tampaknya belum lama menikah, yang perempuan tinggi besar seperti seekor kerbau, yang lelaki kurus kecil ketolol-tololan, mana ada tanda-tanda sebagai pemain sandiwara segala? Jika pengamen jalanan mungkin benar."

"Kongcu ini ingin melihat kalian," demikian kata Liang-ma dengan tertawa. "Mungkin beliau tahu kalian terlalu melarat, maka ingin memberi sedekah pada kalian. Hayolah lekas kalian menyembah."

Cepat juga kedua orang itu berlutut dan menvembah, yang lelaki malah terus menyodorkan tangannya.

Keruan Coh Liu-hiang serba runyam dan terpaksa merogoh saku sambil bergumam, entah omong apa. Habis itu lantas dia mengeluyur pergi.

Cepat Liang-ma merapatkan pintu. Habis itu lantas ia tertawa terkekeh kekeh, katanya, "Sekali ini Coh Liu-hiang benar-benar terjungkal habis-habisan."

Sembari menghitung uang persen Coh Liu-hiang, anak perempuan tadi berkata sambil tertawa, "Wah, setiap biji satu tahil seluruhnya ada dua belas biji perak, hihihi, tak tersangka sang maling budiman kita semudah ini dikibuli, mencuri ayam tidak berhasil malah kehilangan segenggam beras."

Dalam pada itu Liang-ma telah merangkak ke atas meja, lalu mengetuk-ngetuk langit-langit rumah, serunya, "Siauya dan Siocia, silakan turun, ia sudah pergi."

Selang sejenak, papan langit-langit rumah mendadak tersingkap, dua muda-mudi berturut-turut melompat turun. Yang lelaki juga sangat tampan, juga lemah lembut seperti anak perempuan.

Setelah melompat turun, lelaki tampan itu lantas berkata dengan tertawa, "Kami benar-benar harus berterima kasih kepada Liang-ma, entah cara bagaimana harus membalas kebaikanmu ini."

“Asalkan Siauya selalu baik kepada Siocia, maka cukuplah bagiku atas segala yang telah kulakukan ini," kata Liang-ma dengan tertawa.

Dengan mesra pemuda itu memandang anak perempuan di sebelahnya, ucap dengan lembut, "Sekalipun Liang-ma menyuruhku berbuat buruk padanya, sukar juga bagiku melakukannya.

Muka si anak perempuan menjadi merah, omelnya dengan tertawa, "Coba, betapa manisnya mulutmu ini."

Lelaki yang ketolol-tololan tadi mendadak menimbrung dengan tertawa, "Jika mulut Siauya tidak manis, mana bisa Siocia bertekad menikah dengannya."

Liang-ma melototnya sekejap, tapi ia sendiri pun tertawa geli.

Si pemuda tampan berdehem dan berkata, "Meski rintangan ini sudah kita lalui dengan baik, namun rumah ini bukan lagi tempat yang aman."

"Betul, Pendekar Harum tak bernama kosong," ujar anak perempuan tadi, "Pantas orang Kangouw sama bilang urusan apapun tak dapat mengelabui dia "

"Terima kasih atas pujian nona," demikian tiba-tiba seseorang menanggapi dengan tertawa

Seketika air muka semua orang berubah pucat, "Sia......siapa itu?" jengek Liang-ma.

Padahal tanpa bertanya juga sudah diketahuinya siapa pendatang ini. Pintu segera terbuka didorong orang, tampak seseorang muncul di ambang pintu dengan tertawa, siapa lagi dia kalau bukan Coh Liu-hiang?

Mendadak pemuda tampan tadi menubruk maju, sekaligus ia menendang dengan kedua kakinya ke dada Coh Liu-hiang.

"Hebat juga tendanganmu!" kata Coh Liu-hiang sambil mengegos.

Kungfu dalam hal tendangan mengutamakan kekuatan kuda-kuda. harus kukuh dan mantap, tapi dalam hal kegesitan dan kelincahan dengan sendirinya kurang, sebab itulah tendangan berantai dengan dua kaki beruntun yang disebut 'Lian-hoan-wan-yang-tui' ini sangat sukar dilatih.

Jika ditilik dari cara menendang anak muda itu, jelas tendangannya ini sudah cukup lihai. Cuma sayang, lawan yang di hadapinya sekarang ialah Coh Liu-hiang.

Baru saja kedua kakinya menendang dan lawan mengelak tahu-tahu dengkulnya terasa kaku kesemutan, tubuhnya terus anjlok ke bawah, sama sekali tak diketahuinya cara bagaimana Coh Liu-hiang balas menutuknya.

Cepat si anak perempuan memburu maju untuk memapahnya sehingga pemuda itu tidak sampai terjatuh. "Ap.... apakah kau terluka?" tanyanya kuatir.

Anak muda itu menggeleng, katanya kemudian dengan geram, "Jika dia sudah kemari, jangan lagi membiarkannya pergi."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, "Sudah cukup lama kucari kalian, umpama kalian menyuruhku pergi juga tak dapat kuterima."

"Kami tidak kenal kau, untuk apa kau cari kami?" tanya anak perempuan itu.

"Kalian tidak tahu, tapi sudah lama kutahu nama kalian, lebih-lebih tuan muda Yap ini, siapa gerangan anak muda di kotaraja yang tidak kenal tuan Yap Seng-lan kita yang serba mahir dan serba genit."

Dia sengaja menambahi kata-kata "genit" yang lebih pantas digunakan atas diri orang perempuan. Keruan seketika muka anak muda itu berubah merah.

Dengan gusar si anak perempuan lantas mendesis, "Ya, memang betul dia seorang pemain panggung, tapi orang panggung kan juga manusia. Apalagi menjadi aktor kan lebih baik daripada menjadi maling "

Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, katanya, "Anak perempuan kalau sudah jatuh cinta, maka segala apapun baik baginya. Hanya saja, coba jawab, nona yang baik, mengapa kau tidak suka menjadi manusia, tapi ingin menjadi setan?"

Berubah air muka anak perempuan itu, katanya, "Apa katamu? Aku tidak paham?"

“Urusan sudah lanjut begini, biarpun nona Si tidak paham juga percuma," kata Coh Liu-hiang.

Bergetar tubuh si anak perempuan itu, tanpa terasa ia mundur dua-tiga tindak, tanyanya dengan terputus-putus, "Ap......apa katamu? Siapa itu nona Si? Aku tidak kenal dia?"

"Nona Si ialah puteri kesayangan Si Hau-liam, she Si bernama In," ucap Coh Liu-hiang sekata demi sekata. "Rupanya dia telah jatuh cinta pada seorang muda bernama Yap Seng-lan, cuma sayang, ayah ibunya tak memahami isi hati sang puteri dan akan menjodohkannya kepada Sih-jikongcu dari Sih-keh-ceng. Lantaran cinta nona Si kepada pemuda she Yap sudah kadung bersemi, terpaksa dia pura-pura mati untuk menghindari perkawinannya dengan Sih-jikongcu. Tapi orang mati harus ada mayatnya, maka lantas dia menggunakan mayat nona Ciok sebagai gantinya."

Coh Liu-hiang berhenti sejenak, kemudian dengan tertawa ia menyambung, "Nah, nona Si, apa yang kukatakan sudah cukup gamblang bukan?"

Sejak tadi Liang-ma melototi Coh Liu-hiang dengan gemas, kini mendadak ia berteriak, "Betul, apa yang kau katakan memang betul seluruhnya. Dia memang nona In, lalu kau mau apa?"

Si in menggenggam erat-erat tangan Yap Seng-lan, ucapnya dengan tegas, "Jika kau bermaksud menyuruhku pulang, kau harus bunuh dulu diriku."

"Tidak, kau harus membunuhku dulu!" seru si pemuda alias Yap Seng-lan.

"Ai, cinta memang buta, cinta seorang memang tak dapat dipaksakan oleh siapapun juga......" Coh Liu-hiang menghela napas gegetun.

"Jika demikian, mengapa kau ikut campur urusan kami?" seru Si ln.

Dengan beringas Liang-ma lantas menambahkan "Sejak bayi nona In sudah kuasuh, hubungan kami jauh lebih rapat daripada anak dan ibu kandung, maka tidak dapat kubiartan dia dijodohkan kepada pemuda yang tak disukainya. Apa artinya hidup ini jika harus tersiksa, maka aku tak dapat tinggal diam dalam urusan perjodohan nona In." Dia menatap tajam Coh Liu-hiang, lalu menyambung dengan bengis, "Sebab itulah kuharap engkau pun jangan ikut campur urusan ini, kalau......."

"Aku kan tidak menghendaki dia pulang?" sela Coh Liu-hiang dengan tersenyum. "Aku pun tidak termaksud membuyarkan tekad kalian, maksudku mencarinya adalah untuk membuktikan bahwa dia tidaklah mati."

"Masa kau tidak......... tidak ada maksud lain?" Liang-ma menegas.

"Selain itu aku cuma ingin minta secawan arak bahagia mereka." ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

Liang-ma melenggong hingga sekian lama, sikapnya rada kikuk, seperti mau omong apa-apa, tapi urung, entah apa yang hendak diutarakannya.

Dalam pada itu Yap Seng-lan dan Si In telah berlutut di depan Coh Liu-hiang, setelah mereka menyembah dan menengadah, ternyata sang pendekar sudah tidak kelihatan lagi, hanya terdengar suaranya berkumandang dari jauh, "Tengah malam besok harap kalian menunggu di sini..........." Ketika kata terakhir itu terdengar, sementara itu suaranya sudah sayup-sayup jauh sekali.

Liang-ma menghela napas lega, gumamnya, "Bilamana diketahui Coh Hiang-swe sedemikian bijaksana jalan pikirannya, tentu aku tidak perlu lagi menahan nona Ciok itu sebagai sandera."

Kiranya orang yang menyergap Ciok Siu-hun di taman keluarga Si itu ialah Liang-ma.

Mendadak bati Yap Seng-lan tergerak, katanya dengan tertawa, "Kalau urusan sudah kadung begini, kenapa kita tidak bekerja lebih lanjut sekalian."

"Lebih lanjut bagaimana?" tanya Liang-ma.

"Kenapa engkau tidak memindahkan nona Ciok itu ke sini saja," kala Yap Seng-lan dengan tertawa "kan Coh Hiang-swe akan kemari lagi besok malam. Dia sudah membantu kita, kan layak jika kita pun membantu mereka."

Tapi Si In menghela napas, ucapnya, "Dia telah membantu kita, semoga dia juga dapat membantu orang lain lagi."

*******

Bagi Coh Liu-hiang sekarang tinggal satu soal lagi. Bahwa Si In jelas tidak mati, lalu cara bagaimana Cu Beng-cu dapat hidup kembali dengan roh Si In?

Tentang kematian Cu Beng-cu sebenarnya tidak mungkin dipalsukan, jadi sudah mati sungguh-sungguh, ini sudah dinyatakan sendiri oleh tabib sakti Thio Kan-cay.

Sebagai tabib termasyhur, tentunya tidak perlu disangsikan lagi kepastiannya tentang mati-hidup seseorang. Jika dia sudah menyatakan Cu Beng-cu telah mati, maka tidak mungkin terjadi nona itu hidup kembali.

Jadi persoalan ini sebenarnya sangat sulit untuk dijelaskan, namun sedikitpun Coh Liu-hiang tidak merasa cemas, tampak nya dia sudah mempunyai keyakinan sendiri.

Karena si gundul mengundangnya minum kembang tahu dan makan Siopia serta Yuciakwe, maka hadirlah dia ke tempat yang disebut.

'Menjamu tamu' adalah urusan yang sangat menyenang kan, bisa menjamu tamu tentu jauh lebih menyenangkan daripada di jamu orang. Yang lucu ialah semakin miskin orangnya semakin suka pula menjamu tamu.

Si gundul merasa bangga dan kegirangan, kalau bisa ia ingin mengeluarkan segenap persediaan santapan rumah makan kecil itu, berulang-ulang ia membujuk Coh Liu-hiang agar makan lebih banyak.

Sementara itu hari belum lagi terang, baru mulai remang-remang di ufuk timur.

Selagi Coh Liu-hiang menghabiskan semangkuk kembang tahu, tiba-tiba muncul si burik dan Siau-hwe-sin. Kedua orang ini sangat gelisah dan tegang. Berulang-ulang si burik malahan menoleh ke belakang, seperti takut dikuntit orang,

Setelah berduduk, segera Siau-hwe-sin berkata dengan suara tertahan. "Wah, semalam telah terjadi lagi dua peristiwa besar.”

"O, kejadian apa?" tanya Coh Liu-hiang

"Kedua peristiwa itu seluruhnya terjadi di Sih-keh-ceng," tutur Siau-hwe-sin.

"Konon beberapa pedang pusaka simpanan Sih Ih-jin telah lenyap." sambung si burik. Padahal setiap orang di Sih-keh-ceng, baik tukang sapu maupun tukang masak, semuanya mahir ilmu pedang," demikian Siau-hwe-sin bercerita lebih lanjut,

"Tapi pencuri pedang ini dapat keluar masuk leluasa di Sih-keh-ceng, bahkan berhasil membawa lari pedang simpanan Sih Ih-jin. Tidak usah bicara lain, melulu Ginkangnya serta keberaniannya sudah boleh dikatakan luar biasa."

Meski dia bercerita mengenai pencuri pedang., tapi pandangaunya tak pernah meninggalkan perubahan air muka Coh Liu- hiang.

Namun Coh Liu-hiang tidak mengacuhkannya, ia tertawa dan berkata, "Memang betul, sesungguhnya memang tidak banyak yang memiliki Ginkang setinggi itu, cuma peristiwa ini sudah kuketahui sejak dulu."

Siau-hwe-sin melengak mendengar jawaban ini, seketika ia merasa tegang sehingga napas terasa sesak. Dengan tergagap-gagap si burik lantas bertanya, "Dar...... darimanakah Hiang-swe mengetahui peristiwa itu?"

"Orang pertama yang mengetahui peristiwa pencurian pedang itu dengan sendirinya ialah si pencurinya....... Coh Liu-hiang sengaja menghentikan ucapannya, dilihatnya wajah Siau hwe-sin dan si burik berubah pucat, bahkan kedua orang saling berkedip, jelas mereka merasa yakin si pencuri pedang pasti Coh Liu-hiang adanya.

Maka tersenyumlah Coh Liu-hiang dan melanjutkan ucapannya, "Tapi peristiwa yang kuketahui ini kudengar langsung dari Sih Ih-jin sendiri."'

"O, pantas Hiang-swe mengetahui lebih dulu daripada kami?" kata si burik.

"Dan apa peristiwa yang lain?*' tanya Coh Liu-hiang.

Dengan menahan suaranya Siau-hwe-sin berbisik. "Semalam Sih-keh-ceng kedatangan pembunuh gelap."

Mau tak mau Coh Liu-hiang juga melengak, tanyanya sambil mengerut kening, "Pembunuh gelap? Memangnya siapa yang hendak dibunuhnya?"

"Sih Ih-jin," Jawab Siau-hwe-sin.

Pelahan-lahan Coh Liu-hiang mengangkat tangannya untuk meraba hidung pula.

"Sih Ih-jin terkenal sebagai jago pedang nomor satu di dunia, tapi ada orang yang berani mencari perkara padanya, nyali orang itu sungguh terlebih besar daripada harimau," kata Siau-hwe-sin, sembari bicara ia terus mengawasi perubahan air muka Coh Liu-hiang.

Sudah tentu Coh Liu-hiang dapat meraba jalan pikiran orang, katanya dengan tertawa, "Jika kau mengira aku inilah penyatron Sih keh-ceng itu, kenapa tidak kau katakan terus terang saja?"

Muka Siau-hwe-sin menjadi merah, katanya dengan tergagap, “Menurut cerita orang Sih-keh-ceng, sedikitnya mereka mengerahkan empat atau lima puluh orang, tapi si penyatron tak dapat ditangkap, bahkan wajah dan perawakan orang inipun tidak terlihat jelas, hanya sayup-sayup tercium bau harum yang sedap, sebab itulah kukira....... kukira....... " .

"Kau kira apa?" tanya Coh Liu-hiang dengan tersenyum. "Selain Coh Hiang-swe, rasanya sukar bagiku untuk menemukan orang lain yang memiliki Ginkang setingg itu serta nyali sebesar itu," ujar Siau-hwe-sin sambil rnenyengir.

Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, katanya, "Jangankan kau, bahkan aku sendiri pun tak dapat mengemukakannya"

"Tapi sekarang Sih Ih-jin merasa pasti Hiang-swe yang melakukan kedua peristiwa itu, maka sejak tengah malam tadi Sih Ih-jin mengirim orang-orangnya mencari Hiang-swe, mereka telah memasang perangkap pula di sekitar Ceng-pwe-san-ceng," tutur si burik.

"Ya, padahal kota sekecil ini, bila Hiang-swe tidak lekas-lekas mencari akal, mungkin sebentar lagi akan dipergoki mereka," kata Siau-hwe-sin.

"Mencari akal? Mencari akal apa? Memangnya Hiang-swe harus sembunyi, harus lari ketakutan?" mendadak si gundul berteriak penasaran sambil menggebrak meja.

Siau-hwe-sin menarik muka dan mendampratnya, "Tutup mulut......"

Coh Liu-hiang tersenyum dan berucap. "Ya, kutahu maksud baikmu, cuma sayang, urusan sudah telanjur begini, seumpama aku ingin lari juga tak dapat lagi."

Pada saat itulah sekonyong-konyong seseorang mendengus, "Hm, pintar juga kau. Dalam keadaan demikian, adalah aneh bilamana kau dapat lari."

Tempat penjual kembang tahu ini terletak di ujung jalan dengan memasang sebuah gedek sebagai atap, lalu sebuah meja panjang dengan beberapa bangku.

Begitu lenyap ucapan orang tadi, serentak terdengarlah suara gemuruh, gedek bambu itu telah disingkapkan orang, belasan orang berbaju hitam ringkas serentak menerjang tiba dengan pedang terhunus, jelas semuanya jago silat pilihan.

Seketika pucat air muka Siau-hwe-sin, kontan ia meraih sebuah bangku terus dilemparkan ke sana. Meski bangku itu tidak terlalu berat, tapi daya lemparannya cukup keras.

Tak terduga seorang berbaju hitam yang menjadi pemimpin cuma mencukit pelahan dengan ujung pedangnya, seketika bangku panjang itu tersengkelit balik, bahkan jauh lebih keras daripada meluncurnya tadi dan hampir saja menyodok tubuh Siau-hwe-sin. Maka mangkuk di atas meja seketika hancur berrantakan.

"Siau-hwe-sin," dengan gusar si baju hitam mendamprat. "Kami menganggap kau sebagai kawan dan mencari kabar Coh Liu-hiang padamu, tak apalah jika kau tidak mau menerangkan nya, tapi sekarang kau sengaja mengkhianati kami dan malah membela orang she Coh ini." Di tengah bentakan gusar, serentak tiga empat pedang menusuk ke arah Siau-hwe-sin.

Mendadak Coh Liu-hiang berbangkit karena terkejut, seketika para penyerang itu menyurut mundur. Tak tahunya Coh Liu-hiang hanya menepuk-nepuk pundak si gundul dan berkata padanya dengan tersenyum, "Sedap juga kembang tahu ini, sebelum kupulang nanti pasti akan kumakan lagi satu kali "

Meski si gundul sudah pucat ketakutan, tapi dia tetap tertawa dan menjawab. "Baik, nanti tetap aku yang menjamu engkau."

"Tidak, lain kali harus giliranku." kata Coh Liu-hiang.

"Jangan, jangan," seru si gundul "Aku cuma mampu menjamu engkau dengan kembang tahu dan Yuciakue, bila engkau mau menjamu diriku, engkau harus menjamu minum arak,"

Mereka bicara dengan bebas, seolah-olah kawanan jago pedang seragam hitam ini tak digubrisnya. Tentu saja si baju hitam yang menjadi pemimpin mendongkol, ia membentak gusar, secepat kilat pedangnya menusuk.

Serentak kawanan baju hitam yang lain juga ikut menyerang, gerak pedang mereka ini sangat cepat, arah yang di incar juga jitu, cara kerja-sama sangat rapat, biasanya sukar bagi lawan untuk menghindarkan sekali tusuk saia.

Di luar dugaan mendadak terdengar suara gemerantang beradunya pedang dengan pedang, Coh Liu-hiang yang sudah terkurung di tengah sinar pedang itu entah dengan cara bagaimana tahu-tahu sudah menghilang.

Keruan si baju hitam terkejut, cepat ia menyurut mundur sambil memutar pedangnya. Terdengar suara tertawa di atap gedek, entah sejak kapan Coh Liu-hiang sudah melayang ke atas payon dan sedang memandang mereka dengan tertawa

"Kalian bukan tandinganku, lebih baik bawalah aku untuk menemui Sih-toacengcu kalian," kata Coh Liu-hiang.

Kawanan baju hitam segera hendak menerjang maju lagi, tapi di cegah oleh orang yang menjadi pemimpin, dengan pandangan tajam orang ini menatap Coh Liu-hiang dan bertanya, "Jadi kau berani menemui Cengcu kami?"

"Kenapa tidak berani?" jawah Coh Liu-hiang dengan tertawa. "Memangnya dia suka makan manusia dan harus di takuti?"

*********

Tanpa banyak bicara lagi Coh Liu-hiang mengikuti kawanan baju hitam itu ke Sih-keh-ceng. Sementara itu hari sudah terang benderang. Coh Liu-hiang berjalan di depan dengan muka bercahaya dan penuh semangat, melihat keadaannya itu, siapa pun takkan percaya bahwa dia tidak tidur semalam suntuk, lebih-lebih tak terpikir bahwa orang-orang yang mengikut di belakangnya itu setiap saat dapat menusuk dan membuat punggungnya berlubang.

Yang mengintil di belakang Coh Liu-hiang makin banyak, beberapa kelompok kawanan baju hitam kini telah bergabung menjadi satu, semuanya berbisik-bisik membicarakan orang she Coh yang sedemikian besar nyalinya dan berani ikut mereka ke Sih-keh-ceng, ada sementara diantara mereka mengira otak Coh Liu-hiang mungkin kurang waras seperti halnya Sih-jicengcu mereka ^*

Siau-hwe-sin, si gundul dan si burik menaruh perhatian besar atas keselamatan Coh Liu-hiang, mereka tidak berani bertindak, terpaksa menguntit juga dari kejauhan.

Mereka heran melihat ketenangan Coh Liu-hiang, mereka tidak tahu apa maksud tujuan kepergian Coh Liu-hiang ke Sih-keh-ceng, diam-diam mereka kuatir. Sih-keh-ceng tiada ubahnya seperti sarang harimau dan kubangan naga, pedang Sih Ih-Jin bahkan lebih menakutkan daripada harimau maupun naga. Kepergian Coh Liu-hiang ke sana apakah dapat keluar lagi dengan hidup.

Sembari menguntit, berbareng Siau-hwe-sin juga memberi isyarat di sepanjang jalan yang dilalui, maka dari berbagai penjuru, kawanan pengemis berbondong-bondong juga berkumpul, barisan kaum jembel yang berada di belakang juga semakin panjang.

Seorang gagah dan tampan berjalan paling depan, di belakangnya mengikut satu rombongan jago pedang dengan sikap bengis, di belakangnya lagi satu barisan pengemis.

Barisan panjang ini sungguh mirip pawai yang menarik, untung hari masih pagi, orang yang berlalu lalang di jalan tidak banyak, toko-toko di tepi jalan juga belum buka pintu.

Setiba di Sih-keh-ceng, Sih lh-jin tidak melakukan penyambutan, ia malah membawa sebuah kursi malas ke belakang taman dan duduk mencari angin di sana.

Jago pedang nomor satu di dunia ini memang tidak sia-sia terkenal sebagai seorang Kangouw ulung, dia tahu kapan harus bertindak dan cara bagaimana harus bertindak. Baginya cerita tentang Coh Liu-hiang sudah tidak asing lagi, masing-masing kisah di dunia Kangouw mengenai Coh Liu-hiang telah membuat Pendekar Harum itu seperti tokoh dalam dongeng.

Meski dia tidak percaya penuh seluruh cerita itu, tapi memang terbukti banyak tokoh Kangouw kelas wahid yang telah dikalahkan Coh Liu-hiang, ini kejadian nyata bukan dongeng.

Sih lh-jin sendiri juga tidak pernah meremehkan Coh Liu-hiang, kini ia sedang menantikan kedatangannya, rada bersemngat dan juga rada tegang. Perasaan demikian sudah timbul sejak beberapa tahun, maka sekarang dia harus dapat menahan perasaan, harus bisa bersabar menanti kedatangan Coh Liu-hiang.

Dan akhirnya Coh Liu-hiang muncul juga. sedang rnemandangnya dengan tersenyum. '

"Kau sudah datang," sapa Sih lh-jin tak acuh sambil membuka matanya dengan kemalas-malasan.

"Ya, aku sudah datang," jawab Coh Liu-hiang

"Apakah lukamu sudah sembuh?" tanya Sih lh-jin.

"Terima kasih, sudah banyak lebih baik."

"Ehm, bagus," Sih lh-jin tidak tanya lebih banyak lagi, segera ia berbangkit, ia memberi tanda, segera seseorang membawakan pedang.

Pedang ini sangat panjang, belasan inci lebih panjang dari pada pedang umumnya, pedang sudah terlolos dari sarungnya tanpa hiasan, memang pedang Sih lh-jin bukanlah pedang untuk dipamerkan, pedangnya hanya untuk membunuh.

Pedang yang berwarna kehijau-hijauan itu, rnemancarkan cahaya kebiru-biruan, meski berdiri dalam jarak beberapa langkah jauhnya, namun Coh Liu-hiang dapat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pedang itu.

''Pedang bagus! Inilah benar-benar senjata hebat," puji Coh Liu-hiang.

Sih lh-jin memandang pedangnya sekejap, lalu berkata de ngan hambar, "Kau memakai senjata apa?"

Coh Liu-hiang tak menjawab pertanyaan ini, sebaliknya ia menyapu pandang sekelilingnya. Sementara itu kawanan orang berseragam hitam telah mengepung rapat sekitar taman.

"Apakah kau tidak merasa tempat ini terlalu sempit?" tanya Coh Liu-hiang kemudian.

"Hm, selama hidupku menghadapi siapapun juga tak pernah kuminta bantuan seseorang." jengek Sih Ih-jin.

"Aku pun tahu mereka pasti tidak berani ikut turun tangan, tapi mereka adalah anak buahmu, beradanya mereka di sekitar sini, betapapun aku merasa terancam sekalipun mereka tidak turun tangan," ujar Coh Liu-hiang dengan tersenyum.

Lalu sambungnya pula, "Semalam suntuk aku tidak tidur, jika kutempur kau sekarang, dalam hal kondisi badan aku sudah kalah satu langkah. Sedangkan taman ini adalah tempatmu, setiap pohon dan setiap benda di sini sudah sangat hapal bagimu, jika kutempur kau di sini dalam kondisi tempat, aku pun sudah kalah satu langkah. Kalau saja harus ditambah lagi kalah pengaruh oleh keadaan, maka pertempuran ini tanpa berlangsung juga jelas aku sudah kalah seluruhnya."

Sih Ih-jin memandangnya dengan tajam, meski dingin sorot matanya, namun sudah menampilkan setitik rasa menghormat, inilah rasa hormat yang khas antara seorang ahli terhadap ahli yang lain. Begitu sorot mata kedua orang saling tatap, begitu pula dalam hati masing-masing sudah saling memahami.

Mendadak Sih Ih-jin memberi tanda kepada anak buahnya dan berseru, "Mundur keluar, tanpa perintahku, siapa pun dilarang masuk kemari!"

"Terima kasih," ucap Coh Liu-hiang. Meski sikapnya sangat prihatin, tapi ucapan "terima kasih" ini tercetus dari lubuk hatinya yang dalam, tiada sedikitpun mengandung nada menyindir. Selama hidupnya sudah banyak mengucapkan "terima kasih", tapi belum pernah satu kali pun berucap setulus sekarang. Sebab ia tahu perintah Sih Ih-jin mengundurkan anak buahnya itu tiada lain juga suatu tanda penghormatan padanya.

Sekalipun pertempuran ini akan segera menentukan mati dan hidup, tapi rasa hormat inipun pantas mendapatkan terima kasih. Terima kasih yang diperoleh dari pihak lawan selalu jauh lebih berharga daripada diperoleh dari kawan sendiri, tentu juga jauh lebih mengharukan.

Sih Ih-jin mengangkat pedangnya, ditatapnya pedangnya lekat-tekat hingga sekian lama, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, "Keluarkan senjatamu!"

"Belum lama berselang aku pernah hadapi Swe It-hoan, Swe-locianpwe, senjata yang kugunakan waktu itu tidak lebih hanya sebatang ranting kayu lemas saja," tutur Coh Liu-hiang dengan tenang.

Sih Ih-jin tidak menanggapi, ia memandangnya dengan dingin dan ingin mendengarkannya lebih lanjut.

"Takkala itu kukatakan pada Swe-locianpwe bahwa pertarungan antara tokoh kelas tinggi, faktor mencapai kemenangan tidak terletak pada senjatanya yang tajam," demikian Coh Liu-hiang berkata pula. "Jika kutempur lawanku dengan kayu lemas, bagiku tidaklah rugi, bahkan lebih menguntungkan."

Sih Ih-jin mengernyit dahi, seperti tak paham logika yang dikemukakan Coh Liu-hiang itu, mana mungkin setangkai kayu lemas menghadapi pedang yang tajam bisa lebih menguntungkan malah? Walaupun tidak sependapat, tapi dia tidak mengutarakan jalan pikirannya sendiri. Apalagi Swe lt-hoan (Baca dalam PERISTIWA BURUNG KENARI, oleh Gan KH. ) juga terkenal sebagai jago pedang nomor wahid. masa Coh Liu-hiang dapat mengalahkannya dengan setangkai kayu saja.

Dalam pada itu Coh Liu-hiang telah menyambung, "Sebab kalau kugunakan setangkai kayu untuk menghadapi pedang yang tajam, tentu hal ini akan mempengaruhi pikiran Swe-licianpwe, dengan kedudukannya yang terhormat itu tentunya dia tidak mau menarik keuntungan atas diriku dalam hal senjata, sebab itu pula pada saat melancarkan serangan, dia tentu akan selaki was-was."

Mendengar sampai di sini. tanpa terasa Sih Ih-jin manggut-manggut juga.

Sedang Coh Liu-hiang telah melanjutkan ucapannya, "Dan kalau tidak menarik keuntungan berarti menderita rugi. Umpamanya menggunakan jurus 'Hong-hong-tian-ih' (burung Hong pentang sayap) untuk menyerang mukanya, seharusnya pedangnya akan menangkis ke atas untuk menyampuk senjataku, tapi lantaran dia pikir senjataku cuma setangkai kayu, tentu dia tidak merasa perlu menyampuk seranganku itu, dan pada saat dia belum menggunakan jurus pengganti itulah aku lantas mendahului menyerangnya pula.

"Padahal," demikian Coh Liu-hiang menyambung pula dengan tersenyum. "Seperti halnya peperangan antara dua negara, setiap jengkal tanah yang harus direbut, bila ada rasa waswas dan sungkan maka pertempuran itu pasti akan gagal."

Sorot mata Sih Ih-jin menampilkan rasa memuji pula, ucapnya tawar, "Tapi aku bukan Swe It-hoan."

"Memang,' kata Coh Liu-hiang. "Ilmu pedang Swe It-hoan terlalu kolot, setiap jurus mengikuti peraturan, sedangkan ilmu pedang Cianpwe mengutamakan 'mendahului' mencapai kemenangan. Di antara keduanya jelas ada perbedaan yang menyolok."

Sih Ih-jin menggut-manggut pula sebagai tanda sependapat, katanya, "Ya, uraian yang tepat."

"Sebab itulah, sekarang takkan kugunakan tangkai kayu untuk melawan Cianpwe," kata Coh Liu-hiang.

"Kau ingin menggunakan apa?" kata Sih Ih-jin.

"Hanya dengan kedua tanganku ini"

"Kau akan melawan pedangku dengan bertangan kosong?" tanya Sih Ih-jin sambil mengerut kening.

"Pedang Cianpwe jelas tajam tiada bandingannya, ilmu pedang Cianpwe juga tiada tandingannya, senjata apapun yang kugunakan rasanya sukar untuk melawannya, apalagi kecepatan Cianpwe juga tiada taranya di dunia ini, seumpama aku dapat memperoleh pedang yang sama tajamnya dengan Cianpwe juga sukar untuk menahan sekali serangan Cianpwe."

Tanpa terasa timbul juga rasa senang pada sorot mata Sih Ih-jin. Maklum setiap manusia di dunia ini pasti suka di sanjung puji, tidak terkecuali pula Sih Ih-jin, apalagi kata-kata itu dari mulut Coh Liu-hiang.

Waktu bicara, Coh Liu-hiang selalu mengawasi perubahan air muka Sih Ih-jin, maka pelahan-lahan ia menyambung pula, "Sebab itulah bila sudah mulai bergebrak, sama sekali aku tak kan menangkis atau balas balas menyerang, hanya akan kuhindari dengan cara gesit dan enteng, untuk itu bila tak bersenjata tentu gerak-gerikku akan lebih ringan dan juga bisa lebih cepat."

Ia tertawa, lalu menambahkan, "Terus terang, jika tidak sungkan dan kuatir dianggap kurang sopan, sebenarnya ingin kutanggalkan baju luar sekalian agar dapat bergerak lebih leluasa."

Sih Ih-jin termenung sejenak, katanya kemudian. "Jika demikian, bukankah kau sendiri telah mengikat dirimu dalam keadaan 'takkan menang'?"

"Tapi 'tidak kalah' kan sama juga dengan 'menang', jadi harapanku hanya memperoleh kemenangan dalam keadaan 'tidak kalah."

"Kau yakin pasti tidak akan kalah?" tanya Sih Ih-jin dengan sinar mata gemerlap.

"Ketika menghadapi beberapa lawan yang lihai dulu, mana Cayhe berani yakin pasti akan menang?" jawab Coh Liu-hiang dengan tersenyum.

Sih Ih-jin tertawa terbahak-bahak, begitu berhenti tertawa, dengan suara bengis ia lantas membentak, "Baik, silakan bersiap untuk menghindar!"

Tidak perlu disuruh lagi, dengan sendirinya Coh Liu-hiang sudah bersiap sejak tadi, sebab sejak ia mulai bicara, sejak itu pula dia sudah mulai dalam keadaan 'darurat perang', dan apa yang diucapkannya itu setiap katanya juga mempunyai tujuan, cara bicaranya itupun semacam siasat perang.

Ia pun tahu bilamana pedang Sih Ih-jin sudah mulai menyerang , maka cepatnya pasti laksana kilat menyambar dan sukar dielak. Maka sebelum pedang Sih Ih-jin bergerak, lebih dulu tubuh Coh Liu-hiang mulai bergeser.

Pada saat itulah sinar pedang menyambar secepat kilat, hanya dalam sekejap saja bagian pundak, dada dan pinggang Coh Liu-hiang sudah ditusuk enam kali.

Gerakan pedang Sih lh-jin tampaknya tiada sesuatu yang istimewa, tapi cepatnya sukar dibayangkan, enam kali tusukan itu seolah-olah dilakukan oleh enam pedang sekaligus. Untung sebelumnya Coh Liu-hiang sudah bergerak lebih dahulu, dengan demikian dapatlah serangan-serangan itu terhindarkan.

Akan tetapi serangan Sih Ih-jin mirip gelombang samudra bergulung-gulung, baru habis serangan tadi, menyusul enam kali tusukan dilontarkan pula, sama sekali tidak memberi kesempatan bernapas bagi lawannya.

Meski Ginkang Coh Liu-hiang tiada bandingannya, tetapi menghadapi serangan kilat Sih Ih-jin yang sambung-menyambung itu, sudah beberapa kali ia menghadapi bahaya maut. setiap kali pedang lawan seolah-olah menyerempet lewat, namun tajam pedang orang dapat dirasakannya, bilamana terlambat sedetik sa ja, maka akibatnya sukar dibayangkan.

Tanpa berkedip Coh Liu-hiang terus mengikuti gerakan pedang Sih Ih-jin, agaknya dia ingin menyelami gerak perubahan dan cara serangan Sih Ih-jin.

Waktu untuk belasan kalinya Sih Ih-jin melontarkan serangan berantai, sekonyong-konyong Coh Liu-hiang bersuit panjang terus meloncat ke atas, waktu tusukan pedang Sih lh-jin tiba, lebih dulu dia sudah melayang jauh ke sana.

Ketika Sih Ih-jin memburu maju dan melancarkan serangan lagi, namun Coh Liu-hiang sudah melayang ke atas jembatan kecil, sekali kakinya menutul, segera ia melayang lagi ke atas gunung-gunungan.

Untung pekarangan taman ini sangat luas, begitu Coh Liu-hiang mulai mengeluarkan Ginkangnya, seperti burung terbang saja ia melayang kian kemari dari satu tempat ke tempat lain.

Hanya sekejap saja tak terlihat lagi, yang tertampak cuma sesosok bayangan berlompatan naik turun di depan sana, di belakangnya menyusul selarik cahaya mengkilat terus membayanginya. Berbareng itu terdengar pula suara gemerisik yang ramai, daun pohon sama rontok seperti hujan.

Baru sekarang Sih Ih-jin tahu Ginkang Coh Liu-hiang memang sukar ditandingi siapa pun juga. Sih lh-jin sendiri selain terkenal ilmu pedangnya yang nomor satu, juga Ginkangnya tidak kurang hebatnya, tapi sekarang ia merasakan agak payah, terutama matanya.

Maklumlah, kalau usia sudah lanjut, mau tak mau ketajaman mata akan mundur juga. Betapapun Sih Ih-jin juga manusia, kini dirasakannya setiap benda di tengah taman itu seolah-olah sedang bergerak menari-nari tiada hentinya.

Seorang kalau melarikan kudanya dengan cepat menyusur hutan, tentu akan terasa pepohonan di kedua sisinya seakan-akan menyambar dari depan. Sekarang gerak tubuh Sih Ih-jin secepat terbang, dengan sendirinya timbul juga perasaan serupa itu. Cuma ia pun yakin Coh Liu-hiang pasti juga mempunyai perasaan sama seperti dia, bukankah Coh Liu-hiang juga manusia, tentu tidak terkecuali.

Cara bertempur Coh Liu-hiang ini tak menurut aturan yang layak, namun sebelumnya sudah dikatakannya bahwa dia hanya main menghindar saja, maka Sih Ih-jin juga tak dapat menyalahkan dia.

Dalam pada itu terlihat Coh Liu-hiang sedang menyelinap masuk ke tengah-tengah apitan dua pohon. Di luar dugaan, antara dua pohon itu masih ada lagi satu batang, jadi tiga pohon berdiri dalam bentuk segitiga, bayangan gelap kedua pohon yang di depan telah menutupi pohon yang ketiga sehingga tidak kelihatan sebelum mendekat.

Jika dalam keadaan biasa tentu Coh Liu-hiang dapat melihatnya, tapi sekarang gerak tubuhnya teramat cepat, waktu mengetahui di depan mengalang sebatang pohon lagi, tahu-tahu ia sudah menerjang ke batang pohon itu. Ingin menahan diri sudah tidak keburu lagi.

Keruan Sih Ih-jin kegirangan, cepat pedangnya menusuk. Bila tubuh Coh I iu-hiang tertumbuk batang pohon, jelas sukar baginya untuk menghindarkan serangan Sih lh-jin itu, apa lagi seumpama dia sempat menahan diri dan menyurut mundur, tentunya punggungnya akan tertembus oleh pedang lawan.

Rupanya Sih Ih-jin juga yakin serangan pasti akan berhasil. Jika pertarungan ini berlangsung dalam keadaan biasa, bisa jadi akan timbul rasa sayangnya terhadap bakat Coh Liu-hiang sehingga cara turun tangannya mungkin akan lebih ringan. Tapi sekarang segala sesuatu terjadi dengan sangat cepat hakikatnya tiada waktu baginya untuk berpikir, tahu-tahu pedangnya sudah menusuk ke depan. Dan kalau pedangnya sudah berjalan, maka sukarlah untuk ditarik kembali.

"Cret", pedang telah menembus...... tapi bukan punggung Coh Liu-hiang yang tertembus melainkan batang pohon..

Kiranya gerakan Coh Liu-hiang itu hanya pancingan belaka. Betapa cepat gerak tubuhnya sungguh sukar untuk dibayangkan oleh siapa pun juga. Waktu tubuhnya sudah hampir menumbuk pohon, pada detik terakhir itulah mendadak tubuhnya menyurut, kakinya memancal batang pohon, ia terguling ke sana.

Ia pun mendengar suara "cret" tadi, ia tahu pedang lawan sudah menusuk batang pohon. Itulah pohon cemara yang sangat keras, bilamana pedang menancap di batang pohon, jelas tak dapat dicabut kembali begitu saja, pasti akan membuang tenaga dan makan waktu pula.

Apabila pada saat demikian Coh Liu-hiang menubruk maju lagi dan turun tangan, pasti Sih Ih-jin tak dapat mengelak, sebab dia pasti belum sempat mencabut kembali pedangnya. Dan Sih Ih-jin tanpa pedang tentu tidak menakutkan lagi.

Namun Coh Liu-hiang tidak berbuat demikian, ia hanya berdiri diam saja disamping sambil memandang Sih Ih jin.

Ternyata Sih Ih-jin tidak lantas mencabut pedangnya dan tidak menyerang pula. Yang dipandangnya adalah pedang yang tergigit oleh batang pohon, sampai lama ia memandang, akhirnya ia berkata dengan tertawa. "Nyata kau memang mempunyai jalan untuk mencapai kemenangan, kau benar-benar tidak terkalahkan”.

Bahwasanya Sih Ih-jin mengakui Coh Liu-hiang tidak kalah ini sama halnya dia mengakui Coh Liu-hiang telah menang

Sih Ih-jin termasyhur sebagai jago pedang nomor satu di dunia, selama hidup belum pernah ketemu tandingan. Tapi sekarang kalah menang hanya diterimanya dengan tertawa saja, kebesaran jiwa dan kelapangan dadanya sungguh harus dipuji.

Mau tak mau Coh Liu-hiang merasa kagum juga di dalam hati, ucapnya kemudian dengan hormat, "Meski Cayhe belum terkalahkan, tapi Cianpwe juga tidak kalah."

"Kau tak kalah kan boleh dikatakan sudah menang, sebaliknya kalau aku tidak menang akan berarti sudah kalah, sebab cara yang kita gunakan memang berbeda kata," Sih Ih-jin.

"Sekali-kali Cayhe tidak berani bilang 'sudah menang', sebab Cayhe telah menarik keuntungan atas diri Cianpwe."

"Sebenarnya aku sendiri pun tahu, betapapun aku tetap tertipu olehmu," ujar Sih Ih-jin dengan tertawa, lalu ia menyambung pula. “Sebelumnya aku telah siap siaga menghadapimu di sini, takkala mana baik tenaga maupun pikiranku telah berada di dalam puncaknya, laksana busur sudah terpentang dan siap dibidikkan."

"Maka Cayhe sama sekali tidak berani bergebrak dengan Cianpwe pada saat itu," kata Coh Liu-hiang.

"Tapi kau sengaja mengajak bicara dulu padaku untuk memencarkan semangat dan perhatianku, lalu memakai kata-kata sanjungan untuk membikin senang hatiku, setelah timbul kesan baikku padamu, dengan sendirinya semangat tempurku sudab mulai buyar," setelah tersenyum, lalu Sih lh-jin melanjutkan,

"Yang kau gunakan adalah akal bagus dalam ajaran siasat militer buah pikiran Sun-cu, bahwa sebelum pertempuran terjadi harus berusahalah agar semangat tempur prajurit lawan patah dan runtuh. Kemudian kau telah menguras tenagaku dengan Ginkang andalanmu, paling akhir kau gunakan juga akal memancing musuh masuk ke dalam perangkap. Padahal ilmu pedang adalah pertarungan satu lawan satu, siasat perang total, pantas kau tidak pernah kalah dalam pertempuran, sampai-sampai tokoh kelas wahid seperti Swe lt-hoan, Ciok Koan-im, Sin-cui Kiongcu dan lain-lain juga bukan tandinganmu."

Coh Liu-hiang meraba hidungnya dengan likat, ucapnya dengan tersenyum. "Cayhe sungguh merasa malu......."

"Apa yang menjadikan kau malu? Pertarungan antara dua jagoan top adalah seperti peperangan dua negara, jika dapat mengalahkan lawan dengan tipu akal yang bagus, itulah baru cara seorang panglima sejati, kenapa kau bilang malu? Apalagi betapa tinggi Ginkangmu juga kukagumi lahir batin."

"Kelapangan dada dan kebesaran jiwa Cianpwe sungguh membuat Cayhe tunduk benar-benar, sesungguhnya sama sekali tiada maksud Cayhe hendak menantang Cianpwe, pertempuran ini hanya karena terpaksa saja."

"Sebenarnya akulah yang salah menuduhmu," ujar Sih Ih-jin dengan menghela napas gegetun. "Sekarang aku harus pahami bahwa kau sama sekali bukan si pencuri pedang dan penyergap itu, sebab kalau tidak, waktu serangan ku meleset dan pedangku menancap di pohon, tentu kesempatan mana takkan kau sia-siakan."

"Kedatanganku ini bukan saja ingin memberi penjelasan kepada Cianpwe, tetapi juga sekaligus ingin melihat kehebatan ilmu pedang Cianpwe, sebab sebegitu jauh kurasa ilmu pedang si pembunuh gelap itu mempunyai gaya dan cara yang sama dengan Cianpwe "

"O, ya?" tergerak juga Sih Ih-jin.

"Cepat atau lambat rasanya tak terhindar lagi harus kutempur pembunuh gelap itu, pertempuran mana akan sangat besar artinya dan menentukan segalanya, sama sekali aku tak boleh kalah, makanya ingin ku belajar kenal dulu dengan ilmu pedang Cianpwe untuk kugunakan sebagai cermin."

"Ehm, aku menjadi ingin tahu wajah asli orang itu......."

"Tapi kukira orang itu takkan berani memperlihatkan diri di hadapan Cianpwe," kata Coh Liu-hiang. "Sebab apa?" tanya Sih lh-jin. "Memangnya kau kira orang itu ada sesuatu sangkut-pautnya dengan diriku?" Air mukanya menampilkan rasa sangsi dan kualir, namun Coh Liu-hiang tetap tidak mau memberi jawaban pasti atas pertanyaannva, ia malah menengadah memandang sekelilingnya, seakan-akan merasa tertarik oleh suasana sekitar ini.

Tempat ini adalah sebuah taman yang sunyi dengan pepohonan yang rindang, kebanyakan adalah pohon-pohon tua yang sudah berumur ratusan tahun, dahannya tinggi, juga rumah dan pagar tembok dibangun lebih tinggi daripada rumah umumnya, juga bukan tempat sembunyi yang baik, sekalipun jagoan yang memiliki Ginkang tinggi juga tak dapat pergi datang sesukanya, apalagi di sini adalah tempat tinggal Sih lh-jin, si jago pedang nomor satu di dunia.

Setelah berpikir sejenak, kemudian Coh Liu-hiang berkata pula, "Jika aku, jelas aku tak berani melakukan tindakan kekerasan di sini kecuali sebelumnya sudah kuatur jalan untuk kabur."

Diketahuinya di pojok pagar taman sana ada sebuah pintu kecil, pagar tembok penuh dirambati akar-akaran yang sudah setengah kering, sebab itulah pintu kecil ini sebagian besar tertutup oleh akar-akaran itu, kalau tidak diperhatikan, sukar untuk mengetahui pintu ini.

Segera Coh Liu-hiang mendekati pintu itu, gumamnya, "Apakah ini pintu yang digunakannya untuk kabur?"

"Pintu ini selalu tergembok, malah sudah beberapa tahun tak pernah dibuka," kata Sih lh-jin.

Memang benar, palang pintu yang terbuat dari besi itu tampak sudah karatan, itulah tandanya sudah lama sekali tak pernah dibuka. Tapi kalau diteliti secara cermat tentu akan diketahui sebagian karat pada palang besi telah terkelupas dan rontok di tanah, dari bekasnya jelas kelupasan baru, Coh Liu-hiang memungut secuil rontokan karat besi itu, katanya setelah berpikir sejenak, "Apakah tempat ini sering dibersihkan?"

"Setiap hari tentu disapu." kata Sih Ih-jin. "Cuma.....cuma selama dua hari ini karena....."

"Karena selama dua hari ini selalu disibukkan menangkap penyatron, dengan sendirinya lupa membersihkan halaman sehingga karat besi inipun tidak tersapu, begitu bukan?" tukas Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Karat besi apa maksudmu?" tanya Sih Ih-jin.

"Daun pintu ini jelas baru saja dibuka orang, makanya karat besi pada gembok dan palang pintu ini terkelupas dan jatuh di tanah," kata Coh Liu-hiang.

"Tapi pagi kemarin dulu, halaman ini jelas telah disapu oleh si Lau Li yang biasanya bekerja sangat teliti, tempat yang sudah disapu, tidak mungkin meninggalkan kotoran apapun," kata Sih Ih-jin.

"Sebab itulah daun pintu ini pasti dibuka orang setelah halaman ini dibersihkan Lau Li, mungkin hal ini terjadi pada malam harinya," ujar Coh Liu-hiang.

Tergerak hati Sih Ih-jin. katanya, "Jadi maksudmu......."

"Maksudku, si pembunuh gelap itu mungkin menyelinap masuk dari pintu ini, lalu kabur lagi melalui pintu ini pula."

Air muka Sih Ih-jin tambah prihatin, ia mondar-mandir pelahan sambil menggendong tangan, katanya kemudian, "Padahal pintu ini sudah lama tak terpakai, orang yang kenal pintu inipun tidak banyak......"

Coh Liu-hiang meraba hidung pula, entah apa yang dipikirnya.

Sesudah berdiam agak lama baru Sih Ih-jin menyambung pula, "Jelas Ginkang orang itu sangat tinggi, dia dapat pergi datang tanpa diketahui orang lain, untuk apa dia mesti melalui pintu ini?"

"Justru tiada seorang pun yang menyangka dia akan keluar masuk melalui pintu ini, makanya dia sengaja memakai pintu ini untuk masuk secara diam-diam dan keluar lagi dengan aman."

"Dan sekarang pintu ini sudah tergembok lagi."

"Ya, di sinilah letak keanehannya."

"Sesudah kabur, masakah dia berani kembali ke sini untuk menggembok pintu?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, "Bisa jadi dia merasa yakin dapat menghindari mata telinga orang lain."

"Memangnya dia anggap orang-orang yang berada di sini orang buta semua."

"Mungkin dia mempunyai cara yang khas."

"Cara apa? Memangnya dia memiliki ilmu menghilang?" ujar Sih Ih-jin.

Coh Liu-hiang tidak menanggapi lagi, dia sedang memperhatikan gembok pintu. Tiba-tiba ia mengeluarkan seutas kawat yang agak panjang, kawat itu dimasukkan ke lubang gembok, lalu diputarnya pelahan, "klik", tahu-tahu gembok itu dapat dibukanya.

"Aku pun tahu gembok ini tak dapat merintangi penyatron malam yang berpengalaman, yang kuharapkan cukup menjaga keamanan saja," kata Sih Ih-jin sambil mendorong daun pintu itu, lalu menyambung pula, "Apakah Hiang-swe bermaksud melongok halaman di sebelah?"

"Ya, maksudku juga demikian, harap Cianpwe sudi mengantar," kata Coh Liu-hiang. Agaknya dia sangat berminat terhadap gembok yang sudah karatan itu, pada saat Sih Ih-jin melangkah masuk ke halaman sebelah, di luar tahu tuan rumah itu, dia terus masukkan gembok itu ke dalam bajunya.

Dilihatnya halaman sebelah juga sangat sunyi, bangunan yang ada juga tidak banyak, namun daun kering tampak memenuhi halaman, debu juga menumpuk di kusen jendela, semua itu menambah beningnya suasana.

Setelah memandang debu dan daun yang memenuhi halaman, air muka Sih Ih-jin tampak mengunjuk rasa marah. Maklumlah, melihat keadaan yang kotor ini, siapa pun dapat menduga sedikitnya sudah dua-tiga bulan halaman ini tidak pernah di sapu.

Diam-diam Coh I iu-hiang merasa geli, pikirnya, "Rupanya kaum budak Sih-keb-ceng juga sama dengan hamba keluarga lain, cara kerjanya hanya giat di depan sang majikan saja."

Waktu ini ada angin meniup santer sehingga daun kering bertebaran dan menerbitkan suara gemerisik.

"Apakah halaman ini memang kosong?" tanya Coh Liu-hiang.

"Di sini sebenarnya adalah tempat tinggal saudaraku Siau-jin," tutur Sih Ih-jin.

"Dan sekarang?" tanya Coh Liu-hiang pula.

"Sekarang...... ai memang saudaraku itu kurang rapi dalam soal-soal kecil begini, makanya kaum hamba juga berani teledor."

Ucapan Sih Ih-jin ini cukup taktis, tapi juga menerangkan tiga hal. Yakni, pertama membuktikan Sih Siau-jin masih bertempat tinggal di sini. Kedua, kaum hambanya tidak mengindahkan 'Sih-jiya' yang sinting ini, maka tempat tinggalnya tidak mendapat perhatian kaum budaknya. Ketiga, secara tidak langsung Sih Ih-jin seakan-akan menjelaskan hubungan renggang antara mereka bersaudara, sebab kalau dia sering berkunjung ke sini, mustahil kaum budak itu berani meremehkan tempat ini? Pula daun pintu itu tidak mungkin tergembok serapat itu.

"Mungkin akhir-akhir ini Sih-jiya jarang berdiam di sini?" kata Coh Liu-hiang dengan sorot mata tajam.

Sih Ih-jin tidak menjawab, dia hanya menghela napas menyesal saja. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara ribut di luar, ada orang berteriak kaget. "Ha, api,,,,,, istal kuda terbakar....... "

Meski Sih Ih-jin seorang yang sabar, tidak urung naik pitam juga sekarang, Jengeknya, "Hm, bagus, bagus sekali. Kemarin dulu ada pencuri pedang, kemarin ada pembunuh gelap, sekarang ada orang membakar lagi. Apa barangkali aku Sih Ih-jin benar-benar sudah tua dan loyo?"

Cepat Coh Liu-hiang menghiburnya, "Ah, di musim kering, kurang hati-hati sedikit tentu mudah menimbulkan kebakaran, apalagi istal kuda biasanya banyak tertimbun jerami dan rumput kering.......”

Meski begitu ucapannya, tapi diam-diam Coh Liu-hiang sudah tahu siapa yang berbuat. Jelas itulah buah tangan Siau-hwe-sin.

Mungkin pemimpin Kay-pang kelompok Siong-kang-hu itu merasa kuatir atas diri Coh Liu-hiang yang sudah sekian lama masuk ke rumah Sih Ih-jin dan belum nampak keluar, tentu saja ia tidak dapat tinggal diam lagi dan terpaksa mulai bertindak.

Sih Ih-jin tersenyum hambar tanpa menanggapi ucapan Coh Liu-hiang tadi.

Pada saat itu kembali ada suara jeritan kaget orang ramai. "He, dapur juga terbakar, lekas dipadamkan........ Hm, itulah dia keparat yang membakar halaman belakang sana, lekas kejar!"

Rupanya tehnik membakar Siau-hwe-sin tidak terlalu tinggi sehingga jejaknya ketahuan musuh. Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, dilihatnya air muka Sih Ih-jin pucat-pasi, mungkin karena geramnya. Agaknya dia ingin mengejar si penyatron itu, tapi tidak enak meninggalkan Coh Liu-hiang di sini sendirian.

Waktu mereka memandang ke balik pagar tembok sana, tertampak api sudah mulai berkobar. Tiba-tiba terkilas sesuatu pikiran dalam benak Coh Liu-hiang, katanya. "Silakan Cianpwe memadamkan kebakaran itu, biarlah Cayhe tunggu di sini, bisa jadi sebentar Sih-jihiap akan pulang dan dapat kuajak mengobrol dia.”

"Jika begitu, maaf, aku tidak menemanimu lagi." kata Sih Ih-jin, cepat ia melangkah keluar, tapi baru dua-tiga tindak, mendadak ia berpaling dan berkata pula, "Apabila terjadi saudaraku kurang adat, Hiang-swe tidak perlu sungkan-sungkan padanya, silakan engkau memberi hajaran saja."

Coh Liu-hiang tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum saja, senyuman yang sangat misterius.

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Mayat Kesurupan Roh (Gui Lian Xia Qing) Bab 7: Ketenangan Coh Liu Hiang"

Post a Comment

close