Mayat Kesurupan Roh (Gui Lian Xia Qing) Bab 2: Misteri dan Teka-teki

Mode Malam
Mayat Kesurupan Roh
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 2: Misteri dan Teka-teki

Namun dengan gesit sekali Coh Liu-hiang dapat menyeli nap lewat di bawah tubrukan si nona. Karena telah telanjur mencengkeram ke depan, mendadak tangan si nona mcmbalik terus mencengkeram pula Seng-hong-hiat di bagian belakang bahu Coh Liu-hiang, sedangkan tangan yang lain juga mencengkeram Hiat-to maut di bagian iga. Perubahan serangannya sangat cepat dan lihai, yang diarah adalah tempat mematikan. Tapi betapa tinggi ilmu silat Coh Liu-hiang, jelas tak dapat dibayangkan oleh anak dara yang masih muda belia ini.

Dengan jelas ia merasa jari sendiri sudah mengenai Hiat-to di tubuh Coh Liu-hiang, asalkan tenaga sudah tersalur ke ujung jari, pasti Coh Liu-hiang akan tertutuk kaku dan kehilangan daya perlawanannya.

Tak tahunya, pada saat itu juga, selicin belut, tahu-tahu Coh Liu-hiang memberosot ke sana terus berputar ke belakang si anak dara sambil berkata, ;”Silakan nona tidur lagi sebentar. setelah bangun nanti urusan akan berubah Iebih baik."

Nona itu cuma merasa tangan Coh Liu-hiang seperti mengusap pelahan di tubuhnya, ucapan yang halus laksana hembusan angin semilir di musim semi dan tidak terasakan. Menyusul ia lantas merasakan matanya sepat, rasa ingin tidur segera merangsang dan tak tertahan, belum lagi ia berdiri tegak segera ia jatuh terpulas.

Sejak tadi Thio Kan-cay mengikuti gebrakan mereka, baru sekarang ia menghela napas lega, ucapnya, "Tenang seperti anak perawan, lincah sepcrti kelinci, sungguh tepat sekali menggambarkan kecepatan Coh Hiang-swe dengan kedua kalimat tersebut"

Coh Liu-hiang tertawa setelah Cu Kin-hou membaringkan anak dara itu di tempat tidur, baru tiba-tiba ia bertanya, "Gaya ilmu apa yang digunakannya tadi? Apakah Losiansing dapat melihatnya?"

Thio Kia-cay berpikir sejenak, jawabnya kemudian, "Bukankah sebangsa Eng-jiau-kang (ilmu pukulan cakar elang?"

"Betul, pandangan Losiansing memang tajam," ujar Coh Liu-hiang. "Yang digunakan memang betul Eng-jiau-kang terseling gerakan 'Hun-kin-jo-kut-jiu' (ilmu membikin otot tulang terkilir), bahkan tidak lemah tenaganya."

Sejenak Thio Kan-cay memandang Cu Kin-hou, katanya dengan pelahan, "Setahuku, di dunia Kangouw jarang ada perempuan yang mahir Eng-jiau-U-kang begini kecuali......" Dia berdehem dua kali lalu tidak melanjutkan lagi.

Sebaliknya Cu Kin-hou lantas berseru dengan beringas, "Ya, aku pun tahu Eng-jiau-kang adalah ilmu silat keturunan keluarga bininya Si Hau-liam, tapi jelas anak dara ini adalah putriku, siapa pun tak dapat menyangkal"

“Apakah sebelum ini putrimu juga pemah meyakinkan ilmu ini?" tanya Thio Kan-cay.

Cu Kin-hou jadi melenggong dan tak bisa menjawab.

Padahal tanpa jawabannya juga orang lain tahu. Cu-jiya terkenal dengan ilmu silat kebanggaannya yaitu 'Hui-hoa-jiu' (ilmu pukulan bunga bertaburan).

Hui hoa-jiu adalah ilmu pukulan yang ruwet gaya perubahannya, halus dan dingin, justru merupakan kebalikan ilmu pukulan keras sebangsa Eng-jiau-kang. Dengan sendirinya tak mungkin anak perempuan Cu-jiya disuruh belajar ilmu Eng-jiau-kang?

Meski Thio Kan-cay terkenal sebagai tabib sakti, tapi sebenamya ia pun tokoh silat terkemuka, konon 'Tan-ci-sin-thong' (ilmu tenaga jari sakti) yang merupakan ilmu kebanggaannya sudah mencapai puncaknya kesernpurnaan, maka terhadap ilmu silat dari berbagai golongan dan aliran ia pun cukup paham. Ia merasa simpati melihat wajah Cu Kin-hou yang cemas dan berduka itu, dengan menyesal ia berkata, "Perasaan Cu-cengcu sekarang betapapun dapat kupahami, cuma saja, di dunia ini memang sering timbul hal-hal yang sukar dibayangkan dengan akal dan sukar pula dipecahkan. Sekarang setelah penstiwa ini terjadi....."

"Meng......mengapa kau menyuruh aku percaya pada hal-hal yang mustahil inii? Masa kau benar-benar percaya ada kejadian 'mayat kesurupan roh' segala?' kata Cu Kin-hou dengan parau.

Lekas Coh Liu-hiang menyela, "Kukira maksud Thio-losiansing cuma menginginkan Jiko suka berpikir dengan tenang, agar kita bersama-sama dapat mencari akal untuk menghadapi persoalan ini."

'"Ucapan Hiang-swe memang tak salah, asalkan mau, urusan apapun pasti dapai kita pecahkan ujar ," Thio Kan--cay.

Cu Kin-hou mengggeleng, ucapnya dengan murung, "Perasaanku kusut-masai, terserah apa yang kalian anggap baik."

Setelah terdiam sejenak, lalu Coh Liu-hiang membuka suara, "Urusan ini memang banyak segi-segi yang sukar untuk dibayangkan. Sebab apakah mendadak Beng-cu menggunakan ilmu silat keturunan Kim-kiong Hujin? Soal ini jelas sukar untuk dijawab, tapi kjta tetap ingin menyelidiki kebenaran apa yang dikatakannya tadi, kita harus tahu apakah betul-betul anak perempuan Hoa Kim-kiong telah mati?"

Cu Kin-hou membanting kaki katanya dengan kurang senang. "Jelas-jelas kau tahu Hoa Kim-kiong adalah besan musuh bebuyutanku (maksudnya Sih Ih-jin), masa kau menghendaki aku pergi ke Si-keh-ceng untuk menanyai dia?"

“Meski Cu-cengcu tidak dapat pergi ke sana, Coh Hiang-swe kan dapat pergi?" ujar Thio Kan-cay

"Coh Liu-hiang adalah sahabat karib Cu-Kin-hou, siapa yang tidak tahu hal ini?" kata Cu-jiya, "Jika Coh Liu-hiang pergi ke sana, mustahil kalau dia tidak diusir dengan sapu oleh si perempuan tua itu."

Thio Kan-cay tertawa, katanya pula, " Tapi Ceng-cu juga jangan lupa bahwa Ginkang Coh Hiang-swe tiada bandingannya di dunia ini, sekalipun istana raja juga berani di terobosnya sesuka hati tanpa rintangan, apalagi cuma perkampungan kecil seperti Si-keh-ceng.."

*****************

Padahal Si-keh-ceng sama sekali tidak kecil, malahan luas dan kemegahannya tak kalah dibandingkan Ceng-pwe-san-ceng. Cengcu Si Hau-liam memang bukan orang Kangouw, tapi istrinya, HoaKim-koing, cukup tenar di dunia persilatan, kepandainnya 'Kim-kiong-gin-tan-thi-eng-jiau' atau gendewa emas berpeluru perak dan cakar elang besi, terkenal sebagai kungfu kebanggaannya.

Selain itu terkenal juga sesuatu hal atas diri sang Cengcu, yaitu 'takut bini'. Orang kangouw mungkin tidak terlalu paham terhadap 'Say-hau-ceng atau perkampungan singa meraung sebagai gambaran di situ ada istri yang galak, maka setiap orang tentu tahu siapa yang di maksud.

Yang lucu adalah tidak cuma sang bapak takut pada bini, penyakit ini juga ternyata menurun kepada anaknya. Putra Si Hau-liam, Si Toan-cong, bahkan takut pada bininya melebihi takut pada harimau.

Sebenarnya orang pun tidak dapat menyalahkan Si Toan-cong yang takut bini itu, sebab setiap orang tahu, bininya memang bukan sembarang orang, asal-usulnya memang luar biasa. Bahkan Hoa Kim-kiong, sang mertua perempuan yang terkenal galak dan garang itupun tak berani mengusik pihak besannya.

Hakikatnya di kalangan Kangouw juga tiada orang yaing berani mengusik besan keluarga Si ini, sebab besannya adalah sang pendekar pedang nomor satu di dunia, yaitu Sih Ih-jin, Sih-tayhiap yang termasyhur itu.

Waktu mudanya Sih ih-jin terkenal dengan julukan 'Hiat-ih-jin' atau si baju berdarah dan berkecimpung di dunia Kang¬ouw tanpa kenal kawan atau lawan, siapa pun, bila tidak disukai nya pasti dilabraknya habis-habisan. cara turun tangannya keji tanpa kenal ampun, orang yang terbunuh olehnya boleh dikata sukar dihitung jumlahnya.

Setelah menginjak setengah umur perangainya yang berangasan itu mulai hilang dan akhimya hidup menyepi di perkampungannya, namun permainan pedangnya tetap maha sakti,.konon selama empat puluh tahun ini, belum pemah ada seorang pun yang mampu melawan dia dalam sepuluh jurus.

Sih Ih-jin si pendekar pedang nomor satu di dunia inilah yang menjadi musuh bebuyutan Cu Kin-hou, dari dulu hingga sekarang

***********************

Malam sudah larut, suasana di Si-keh-ceng sunvi senyap, gelap tanpa cahaya lampu.

Daun tetumbuhan di taman belakang perkampungan itu sama gugur dan layu, musim rontok terasa hampa, semua serba sendu. Angin malam berhembus dingin, sampai-sampai serumpun seruni kuning, bunga yang mekar di musim rontok itupun kurang semarak di bawah cahaya bulan yang remang-remang.

Perasaan Coh-Liu-hiang juga sangat tertekan. Meski Ginkangnya tiada bandingannya, tetapi setiba di Si-keh-ceng ini, betapapun ia tidak berani gegabah. ia sedang nonkrong di atas pohon dan mengamati keadaan sekelilingnya.

Di tengah sayup-sayup desir angin itu tiba-tiba terdengar suara orang menangis, cepat Coh Liu-hiang melayang ke sana segesit burung walet, dipandang di suasana malam yang kelam nampaknya seperti seekor kelelawar.

Di tengah hutan bambu sana ada beberapa buah rumah kecil, nampak cahaya lampu menembus keluar dari jendela, suara tangisan sedih itu jelas berkumandang keluar dari rumah ini.

Di pojok ruangan sana ada sebuah tempat tidur, di samping tempat tidur terletak sebuah meja rias berukir indah, di sebelahnya ada sebuah rak bunga, tampak asap dupa mengepul dan terhembus oleh angin malam.

Tampak sesosok tubuh terbaring di tempat tidur, seorang perempuan tua dengan rambut beruban berlutut di depan tempat tidur dan sedang menangis dengan sedih, jeias terdengar dia ber gumam, "O, anak In, kenapa kau meninggal, kenapa anak In....

Hanya memandang sekejap saja Coh Liu-hiang merasa merinding.

Nyata, putri keluarga Si memang betul meninggal, suasana kamarnya tertata cocok sebagaimana diuraikan oleh anak dara di rumah Cu Kin-hou itu. Baju yang dipakainya juga berwarna merah bersulam burung Hong warna ungu. Anehnya mengapa jenazahnya belum lagi dimasukkan dalam peti mati? Siapa pula perempuan tua yang menangis sedih di tepi ranjang ini?

Coh Liu-hiang tahu, perempuan tua ini pasti bukan Hoa Kim-kiong. Jika demikian apakah dia ini Liang-ma, si mak inang yang dimaksudkan 'anak dara' itu?

Perempuan tua ini masih terus mengangis dengan sedih, akhirnya kepalanya terjuntai lemas ke bawah dan mendekap di atas ranjang, agaknya saking lelahnya dia tertidur tanpa terasa. Dari kejauhan terdengar suara kentongan ronda malam, ternyata sudah kentongon keempat.

Timbul juga rasa sedih dalam hati Coh Liu-hiang, ia pun merasakan suasana yang seram ini, seakan-akan bau harum asap dupa yang mengepul itupun membawa hawa kematian yang seram dan misterius.

Dia bersembunyi di balik jendela yang gelap, ia berdiri termenung sekian lamanya, dilihat suara napas si perempuan tua yang berat tampaknya benar-benar terpulas dengan nyenyaknya.

Pelahan-lahan Coh Liu-hiang menerobos jendela masuk ke ruangan itu, betapa ringan langkahnya hingga tanpa menimbulkan suara, sekalipun perempuan tua itu tidak tertidur juga pasti takkan mendengar kedatangannya.

Wajah anak yang membujur di tempat tidur itu pucat kuning. kurus kering, hanya tinggal kulit membungkus tulang, dapat dibayangkan sebelum ajalnya pasti sudah cukup lama bergelut melawan penyakit. Mata, alis dan raut wajah anak gadis ini sama sekali tidak mirip Cu Beng-cu, tapi lapat-lapat kelihatan bahwa pada waktu hidupnya juga seorang gadis yang cantik.

Akan tetapi sekarang elmaut telah merenggut jiwanya dan juga telah merenggut kecantikannya itu, elmaut memang tak kenal kasihan, tidak pemah meninggalkan apapun bagi sasarannya.

Coh Liu-hiang berdiri di belakang perempuan tua itu dan memandang jenazah di tempat tidur, dipandangnya sulaman burung Hong di atas bajunya dan teringatlah apa yang diucapkan 'anak dara' itu, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin.

Ia coba mendekati meja rias itu, dipegang satu kotak pupur, dilihatnya merek kotak pupur itu jelas tertulis ‘buatan Po hiang-cay di Pakkhia', jadi cocok seperti apa yang dikatakan 'anak dara ' itu. Seketika merinding pula Coh Liu-hiangg, bulu roma sama berdiri, kotak pupur itupun basah oleh keringat dinginnya

Tiba-tiba terdengar perempuan tua itu menjerit, "Hai, kalian berani membawa lari anak In hayo kembalikan!"

Tergetar tangan Coh-Liu-hiang sehingga kotak pupur yang dipegangnya itu terjatuh. Dilihatnya tangan perempuan tua yang kurus itu memegang erat baju sutra merah yang dipakai mayat itu, selang sejenak barulah pelahan-lahan dilepaskannya.

Dahinya yang keriput itu tampak merembes butiran keringat, tapi kepalanya lantas mendekap lagi diatas ranjang, lalu napasnya tenang kembali, pelahan-lahan terpulas pula. Selama hidup Coh Liu-hiang entah sudah berapa banyak mengalami hal-hal yang seram dan berbahaya, tapi belum pernah dia terkejut seperti sekarang. Dengan sendirinya bukan lantaran jeri pada si perempuan tua atau takut pada pada mayat di tempat tidur itu. Sesungguhnya ia pun tidak tahu sebenarnya apa yang ditakutinya.

Yang jelas ia merasa rumah ini penuh hawa gaib dan penuh misteri, rasanya setiap waktu bisa timbul hal-hal yang sukar diduga dan sukar untuk dilawan siapa pun.

'Mayat kesurupan roh', kejadian ini sebenarnya tak mungkin djpercayainya, tapi sekarang, bukti terpampang di depan mata, mau tak mau ia harus percaya.

Tiba-tiba angin meniup kencang, tirai kain jendela tersing kap sehingga membuat suasana tambah seram, cepat Coh Liu-hiang mengusap tangannya yang berkeringat dingin itu pada bajunya, lalu berjongkok hendak menjemput kotak pupuryang terjatuh tadi.

Ia harus membawa pulang kotak pupur ini untuk diperli hatkan pada Cu Kin-hou agar sahabatnya itu menarik kesimpulan sendiri. Maklum, ia sendiri tidak tahu cara bagaimana harus memberikan keterangan kepada Cu Kin-hou.

Ya, hakikatnya urusan ini memang sukar untuk dijelaskan.

Akan tetapi baru saja ia berjongkok, segera dilihatnya sepasang sepatu kain bersulam

Selama hidup Coh-Liu-hiang entah telah berapa banyak melihat sepatu kain bersulam dengan aneka macam ragamnya, serta dipakai di kaki berbagai golongan wanita. Selama ini tak terpikir olehnya bahwa sepasang sepatu begini juga dapat membuatnya terkejut.

Namun ia sekarang benar-benar terkejut.

Sepatu bersulam ini mirip muncul dari neraka secara mendadak. Sesungguhnya yang dilihatnya bukanlah sepasang sepatu melainkan cuma sepasang ujung sepatu. Ujung sepatu yang sangat bagus, warna hijau, tampaknya seperti dua potong tunas rebung. Bagian sepatu yang lain tertutup celana yang berwarna merah muda, bagian tepi ujung celana malahan bersulam benang warna emas, sulaman yang sangat indah.

Sebenarnya sepasang sepatu yang bagus dan celana yang indah, tapi entah mengapa, tanpa terasa timbul pikiran Coh Liu-hiang, jangan-jangan di bagian atas kaki itu tidak ada kepalanya. la jadi ingin melihat ke bagian atas, tapi sebelum ia menengadah, sekonyong-konyong seseorang telah mendengus. "Jangan bergerak, berjongkok terus seperti sekarang ini, bagian mana saja dari anggota badanmu bila berani bergeser sedikit segera kupecahkan batok kepalamu!''

Jelas itulah suara seorang perempuan, nadanya dingin dan kaku. sedikitpun tiada rasa kelembutan seorang perempuan. Cukup didengar dari suaranya saja, kalau perempuan begini sudah mengancam akan menghancurkan kepala seseorang, maka hal ini dapat dilaksanakannya, tidak mungkin cuma gertakan belaka.

Dengan sendirinya Coh Liu-hiang tidak berani bergerak. Di depan kaum perempuan, selamanya ia tidak mau bertindak sesuatu yang mungkin mendatangkan bahaya. Apalagi, bila yang dihadapinya sekarang bukanlah orang perempuan. tapi setan perempuan.

Terdengar suara itu berkata pula, "Siapa kau? Kerja apa kau main sembunyi-sembuniy di sini? Lekas mengaku terus terang! Tapi ingat, hanya mulutmu saja yang boleh bergerak."

Cukup lama juga Coh Liu-hiang menimbang, ia pikir dalam keadaan begini akan lebih baik jika bicara terus terang.

Maklum, baik manusia maupun setan juga akan terkejut bilamana mendengar nama 'Coh Liu-hiang' . Dan kalau orang sampai terkejut, maka inipun berarti kesempatan baik untuk bertindak baginya.

Segera ia menjawab,"Aku Coh Liu-hiang......"

Di luar dugaan, belum lagi lanjut ucapannya, cepat perempuan itu lalu mengejek, "Hm, Coh Liu-hiang? He he, jika kau Coh Liu-hiang, maka aku inilah ibumu!"

Terpaksa Coh Liu-hiang hanya menyengir saja. Biasa, setiap kali kalau dia mengaku bernama Li A-sam atau Tan A-si maka orang lain pasti akan mencurigai ia ini Coh Liu-hiang adanya, sebaliknya jika ia mengaku sejujumya, maka orang justru tak percaya, bahkan menganggap dia sinting dan menggelikan.

Begitulah terdengar perempuan tadi mengejek pula, "Hm, sebenarnya sejak tadi sudah kuketabui siapa kau ini, jangan kau harap dapat mengelabui aku."

"Habis siapa diriku kalau bukan Coh Liu-hiang?" kata Liu-hiang sambil menyengir.

"Kutahu kau pasti binatang kecil itu, binatang kecil yang pantas mampus," damprat perempuan tadi. “Sungguh tak pernah kuduga bahwa kau berani datang pula ke sini."

Sekonyong-konyong suaranya berubah bengis dan penuh rasa murka, katanya pula, 'Tahukah kau cara bagaimana matinya anak In? Dia justru mati di tanganmu. kau telah membikin celaka dia selama hidup, kau telah mengakibatkan kematiannya dan belum cukup, sekarang kau datang ke sini pula untuk apa?"

Karena tidak paham apa maksud pertanyaan orang, terpaksa Coh Liu-hiang bungkam saja.

Tentu saja perempuan itu bertambah murka, kembali ia mendamprat, "Jelas kau tahu anak In telah dijodohkan kepada Jikongcu (putra kedua) Sih-tayhiap, tapi kau tetap berani memelet dia, memangnya kau kira aku tidak tahu persoalan ini?"

Dengan sendirinya sekarang Coh Liu-hiang tahu perempuan ini bukan setan melainkan orang, malahan terhitung ibu Si In, nona yang meninggal itu, ialah Kim-kiong Hujin yang terkenal galak dan bawel itu.

Padahal selama hidup ini yang paling membikin pusing kepala Coh Liu-hiang justru adalah perempuan judas dan cerewet.

Tiba-tiba terdengar suara seorang ikut bicara, "Apakah keparat ini Yap Seng-lan adanya? Hm, besar juga nyalinya berani menyusup ke sini?" Suara ini lebih melengking daripada suara Hoa Kim-kiong, juga lebih tajam.

Maka di depan Coh Liu-hiang segera muncul pula sepasang kaki yang mengenakan celana wama jambon dengan sepatu melengkung warna merah tua, di atas ujung sepatu terikat sebuah bola benang merah.

Biasanya untuk mengetahui perangai seorang gadis, asalkan melihat sepatu yang dipakainya, maka sebagian besar sifat nya sudah dapat diterka. Kini sepatu yang dikenakan perempuan ini justru melengkung mirip dua tangkai lombok merah raksasa

Diam-diam Coh Lhi-hiang menghela napas, "Sialan!" pikirnya.

Memang jika di dunia ini ada urusan yang lebih memusingkan daripada bertemu dengan perempuan bawel, maka hal itu adalah bertemu dengan dua perempuan bawel sekaligus. Dalam keadaan demikian kalau bisa sungguh Coh Liu-hiang ingin angkat langkah seribu alias kabur saja.

Tapi ia pun tahu peluru perak Hoa Kim-kiong yang terkenal itu pasti sudah mengincar batok kepalanya, apalagi perempuan yang datang belakangan dengan celana merah ini, besar kemungkinan adalah puteri tertua Sih Ih-jin, menantu Si Hau-liam.

Bahwa, ilmu pedang Sih Ih-Jin tiada tandingannya di dunia ini, maka anak gadisnya pasti bukan tukang cuci pedang belaka. Sebenarnya bukan Coh Liu-hiang takut pada mereka, soalnya dia tak mau berkelahi dengan kaum wanita.

Maka terdengar Hoa Kim-kiong lagi berkata, "Kedatanganmu sangat kebetulan. Siaunaynay (nyonya mantu), menurut pendapatmu cara bagaimana sebaiknya kita bereskan keparat ini?"

"Pemuda bangor begini, pintarnya cuma menggoda perempuan baik-baik setiap hari, kukira paling baik kalau kita kubur dia hidup-hidup," jengek Siau-naynay, sang nyonya mantu.

Mendongkol dan juga geli Coh Liu-hiang, pantas Si-siau cengcu (tuan muda keluarga Si) takut bini melebihi takut pada harimau, nyatanya nyonya mantu ini memang galak lagi kasar, tanpa tanya duduknya perkara segera hendak mengubur orang hidup-hidup.

Terdengar Hoa Kim-kiong berkata pula. "Terlalu enak baginya jika cuma dipendam hidup-hidup saja, menurut pendapatku, paling baik kalau kita padamkan lenteranya (maksudnya butakan matanya)."

"Padamkan lenteranya juga boleh," ujar Si-siaunaynay tapi ingin kulihat dulu bagaimana macamnya, dalam hal apakah dia melebihi Loji (tuan muda kedua) keluarga Sih kami sehingga membikin nona In tergila-gila padanya."

“Ya, betul juga," kata Hoa Kim-kioog. Lalu ia membentak " He, anak muda, coba angkat kepalamu!"

Sudah tentu mereka tak perlu memerintah untuk kedua kalinya, sebab Coh Liu-hiang sendiri ingin tahu bagaimana corak kedua perempuan mertua dan menantu itu.

Maka terlihatlah sang nyonya Kim-kiong ini berusia lima puluhan lebih, namun dandanannya waduh, jangan ditanya, pupur di mukanya kalau dikerok sedikitnya ada dua kati.

Akan tetapi matanya yang kemilau itu, lirikannya bisa membikin gila setiap lelaki, mungkin sekali dahulu Si Hau-liam justru terpikat oleh lirikannya yang menggiurkan ini.

Sedangkan si-siaunaynay kita itu sukar untuk bisa disebut perempuan cantik kalau tidak mau dikatakan seperti siluman. Mukanya lonjong bak kuda, mulutnya lebar bagai baskom, bahkan hidung hapir sebesar mangga golek.

Bayangkan, perempuan yang berwajah luar biasa begini, kalau saja dia bukan puteri Sih-tayhiap yang pendekar pedang nomor satu di dunia, mustahil dia bisa mendapatkan pasangan hidup.

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menaruh simpati kepada Si-siau cengcu itu, sungguh malang nasibnya, punya istri bawel dan galak saja sudah cukup kasihan, apalagi istrinya lebih mirip se eker kuda betina.

Beginilah tatkala Coh Liu-hiang mengamat-amati kedua mertua dan menantu itu, mereka pun mengawasi Coh Liu-hiang lekat-lekat Mata Hoa Kim-kiong yang kemilau itu seakan meneteskan air, bahkan mata kuda sang nyonya mantu juga berkilau-kilau, air mukanya yang garang tadi segera berubah lebih ramah

"Wah, memang benar seorang pemuda hidung belang, pantas saja nona besar kita terpikat olehnya," Jengek Si-siaunaynay kemudian.

Hendaklah maklum bahwa nama Coh Liu-hiang sudah termasyhur puluhan tahun, setiap orang Kangouw tahu ilmu pukulannya sangat lihai. Ginkangnya tiada bandingannya, tapi hanya beberapa orang saja yang pernah melihat wajah asli Coh Liu-hiang.

Dengan sendirinya semua orang semua berpikir kalau nama Coh Liu-hiang sedemikian tenar dan begitu tinggi kepandaiannya, dengan sendirinya usianya juga tidak terbilang muda lagi, malahan ada yang beranggapan dia pasti seorang kakek-kakek.

Maka Coh Liu-hiang hanya menyengir saja mendengar ucapan antara mertua dan menantu tadi.

Dalam pada itu si nenek Liang-ma entah sejak kapan telah bangun dari tidurnya, ia pun tampil ke muka, agaknya ia pun ingin melihat bagaimana bentuk si 'bangor' yang telah berhasil memikat nona asuhannya.

Kini Coh Liu-hiang dapat melihat jelas, Liang-ma ini ternyata seorang perempuan tua yang nampaknya welas asih. Tiba-tiba timbul suatu pikiran dalam benaknya.

Namun pada saat itu juga Hoa Kim-kiong telah berteriak,

“Apakah nanti kita akan pendam dia hidup-hidup atau memadamkan lenteranya. yang penting kita sekarang harus membekuknya lebih dahulu."

Begitu sinar keemasan berkelebat, gendewa emas yang di pegangnya itu segera menutuk ke Hi-hay-hiat di bagian perut Coh Liu-hiang, rupanya gendewa ini tidak melulu untuk menjepretkan peluru perak, tapi kedua ujung gendewa yang melengkung itupun dapat digunakan menutuk Hiat-to seperti belati. Cara menutuknya jitu, gerakannya cepat, tampaknya ia pun seorang ahli Tiam-hiat.

Dengan sendirinya sekarang Coh Liu-hiang tak dapat berlagak pilon, sedikit mengkeret tubuh, segera ia mundur beberapa langkah ke samping, cara mundumya temyata tidak kalah cepat nya daripada lawan.

Serangan pertama luput, segera Hoa Kim-kiong memutar terus menyabet pula dengan gendewanya, sekali ini yang diarah adalah pinggang Coh Liu-hiang, gendewanya kini telah berubah menjadi pentung.

Baru sekarang Coh Liu-hiang tahu Hoa Kim-kiong benar-benar tidak boleh diremehkan, gendewa emasnya sekaligus ternyata dapat dimainkan sebagai berbagai senjata, pantas orang Kangouw bilang Kim-kiong Hujin adalah jago wanita utama dunia persilatan daerah Kanglam.

Sementara itu Coh Liu-hiang sudah mundur sampai di meja rias dan tak dapat mundur lagi. Sedangkan serampangan gendewa lawan sudah menyambar tiba. jelas dia tak dapat menghindar ke kanan atau ke kiri, kalau mundur ke belakang pasti akan menumbuk meja rias. Malahan serangan Kim-kiong Hujin tampaknya masih membawa daya ikutan lain, umpama Coh Liu-hiang mundur dan tersandung meja rias, bukan mustahil gendewanya akan terus menutuk pula.

Di luar dugaan, tiba-tiba Coh Liu-hiang mengkeret tubuh lagi dan melompat ke atas meja rias, menyusul terus memberosot ke samping menempel dinding

Melihat betapa gesit dan lihainya Coh Liu-hiang, baru sekarang air muka Hoa Kim-kiong berubah, bentaknya, "Keparat, benar juga kau punva kemampuan.'"

"Maling cabul rendah begini, dengan sendirinya mahir sedikit kepandaian cara mencuri ayam dan mencilok anjing," jengek Si-siaunaynay.

Berbareng ia meraba bajunya dan tahu-tahu sudah memegang sebilah pedang pendak yang bersinar gemerlapan, belum lenyap suaranya, sekaligus ia sudah melancarkan tujuh kali tikaman ke arah Coh Liu-hiang.

Pedang pandak begini adalah senjata beladiri kaum wanita di zaman kuno. Si-siaunaynay ini bahkan mahir ilmu pedang keturunan, begitu menyerang lantas menggunakan tipu serangan tanpa kenal ampun. Apalagi ruangan ini tidak terlalu besar dan cocok bagi orang yang bersenjata pendek, kalau saja lawannya bukan Coh Liu-hiang, sekali sudah terdesak ke pojok pasti sukar menghindarkan tujuh kali serangan sekailgus itu.

Cuma sayang, lawan Si-siaunaynay sekarang adalah Coh Liu-hiang.

"Ai, seumpama betul aku ini Yap Seng-lan, masa kalian harus membunuhku secara keji begini?" gumam Coh Liu-hiang dengan gegetun.

Dia cuma bicara dua-tiga kalimat saja, tapi di tengah ucapannya itu dia sempat menyelinap ke sana dan meluncur ke sini, melompat ke atas untuk kemudian hinggap pula ke bawah dan akhirnya menggeser sampai di ambang plntu.

"Keparat, kau ingin merat? Memangnya Si Keh-ceng boleh kau buat pergi-datang sesukamu?" damprat Hoa Kim-kiong.

Cepat juga turun tangannya, baru habis ucapannya. Mendadak terdengar suara jepretan gendewa berulang-ulang, peluru sudah berhamburan ke arah Coh Liu-hiang seperti hujan.

Hebatnya, peluru-peluru itu menyambar dengan cara yang berbeda-beda, ada yang membidik dengan keras, ada yang lambat, yang terbidik belakangan terkadang datang lebih cepat ke arah sasarannya, ada yang saling bentur di udara untuk kemudi an mendadak berganti arah. Ada yang membentur dinding terus mental balik menyerang Coh Liu-hiang.

"Peluru perak bergendewa emas' Kim-kiong Hujin ini memang lain daripada yang lain, cuma sayang yang menjadi lawannya ialah Coh Liu-hiang. Entah cara bagaimana, tahu-tahu tubuh Coh Liu-hiang berputar-putar, secepat terbang terus menerobos pergi ke tengah hujan peluru itu, sekali berkelebat pula, orangnya sudah berada jauh belasan tombak di sana.

Kim-kiong Hujin terkesiap, cepat ia memburu ke depan pintu dan berseru, "He, anak muda, ingin kutanya padamu, apakah kau benar-benar Coh Liu-hiang?"

Sementara itu Coh Liu-hiang telah melompat ke pucuk pohon bambu, dengan daya melenting pohon bambu itu ia melayang pula jauh ke sana sambil memberi tangan ke arah sini, cuma tidak jelas dia sedang menggapai sebagai tanda selamat tinggal atau menggoyang tangan.

"Selamanya kita tiada pemusuhan dengan Coh Liu-hiang, mengapa dia bisa datang kemari?" ucap Si-siaunaynay dengan gemas.

Setelah melenggong sejenak, Kim-kiong Hujin tertawa. katanya, "Peduli dia Coh Liu-hiang atau bukan, yang pasti dia tak kan mampu kabur."

"O ya?" Si-siaunaynay merasa ragu-ragu.

Kim-kiong Hujin lantas menuding ke sebuah gardu taman di sebelah sana dan berkata pula, ''Jicek (paman kedua) mestika kalian itu kan belum pulang setelah mengantar kita kesini, sebelum disuguhi makan enak. kuyakin dia belum mau pergi dan sekarang dia pasti menunggu di gardu sana."

Tersembul senyuman benci di ujung mulut Si-siaunaynay, katanya, " Ya, betul, asalkan Po-jicek berada di gardu sana, betapapun dia pasti tidak dapat kabur, baik dia Coh Liu-hiang atau bukan."

Memang betul, di gardu taman yang dimaksudkan itu ada seseorang lagi duduk di undak-undakan batu dan sedang menengadah memandangi langit, mulutnya tampak berkomat-kamit entah apa yang diucapkannya.

Tapi bila didengarkan dengan cermat, aneh, rupanya orang ini sedang menghitung bintang di langit

"Senbu tiga ratus dua puluh tujuh, seribu tiga ratus dua puluh delapan, seribu tiga ratus dua......"

Beginilah dia terus menghitung satu demi satu. Usia orang ini sedikhnya sudah lebih empat puluh, jenggotnya saja sudah beruban tapi bajunya justru berwarna merah tua yang lebih la yak dipakai anak muda, malah pakai sulaman lakon 'Lau-hay memancing katak' dalam cerita Pat-sian (delapan dewa) segala. Sepatunya juga berwrna merah dengan ujung kepala harimau. Di bawah kerlipan sinar bintang, air mukanya tampaknya juga merah licin, tapi bila dipandang dengan cermat baru ketahuan bila dia memakai pupur pemerah pipi.

Tampaknya dia menghitung bintang dengan penuh perhatian, tangannya juga ikut menuding-nuding sehingga menimbulkan bunyi gemerincing, kiranya ia pun memakai beberapa gelang yang berkelintingan.

Sebenamya Coh Liu-hiang ingin lekas-lekas meninggalkan Si-keh-ceng, ia pun tidak memperhatikan bahwa di gardu taman ini ada duduk seseorang. Ketika mendengar suara gemerincing itulah baru dia melirik sekejap ke sana.

Tapi hanya sekali melirik saja hampir-hampir tertawa geli, jika dalam kaadaan biasa pasti dia akan mendekat ke sana untuk melihat siapakah orang istimewa ini. Tapi sekarang dia tiada waktu senggang, begitu kaki menutul tanah, segera ia melayang lewat gardu taman ini, asalkan dua kali naik turun lagi, dapatlah dia melayang keluar taman ini.

Di luar dugaan, pada saat itu juga, "serr" mendadak sesosok bayangan orang meluncur keluar dari gardu tadi dan menghadang di depan Coh Liu-hiang

Bahwasanya Coh Liu-hiang melayang melintasi gardu untuk kemudian hinggap ke bawah, sebaliknya orang ini langsung meluncur keluar dari gardu, sudah tentu jaraknya lebih dekat daripada Coh Liu-hiang, namun gerak tubuhnya jelas luar biasa cepatnya dan cukup mengejutkan.

Sungguh tak tersangka oleh Coh Liu-hiang akan bertemu tokoh dengan Ginkang setinggi ini di sini, waktu ia memandang lebih jelas lagi, kiranya 'tokoh' ini ialah 'si sinting' yang asyik menghitung bintang tadi.

Dalam keadaan berdiri, kini terlihat jelas baju yang dipakainya sempit lagi cekak, mirip baju pinjaman kalau bukam cu rian. Namun rambut dan jenggotnya tersisir dengan kelimis, malahan pakai minyak rambut segala, ditambah lagi mukanya ber pupur merah, kalau dipandang sepintas lalu orang akan mengira dia ini pelawak yg baru turun panggung.

Coh Liu-hiang tercengang juga melihat si 'jimat' ini ternyata memiliki kungfu yang mengejutkan.

Sebaliknya si 'jimat' juga mengamat-amati Coh Liu-hiang. tiba-tiba ia mengikik tawa dan berkata, "Hihi, paman ini datang darimana? Rasanya aku belum pernah melihat engkau?"

Seorang tua memanggilnya dengan sebutan 'paman', karuan Coh Liu-hiang jadi serba konyol. Untunglah Hoa Kim-kiong dan menantunya tidak mengejar tiba. Maka dengan tenang Coh Liu-hiang menjawab dengan tertawa, "Ah, Losiansing jangan sungkan-sungkan, sebutan paman tak berani kuterima."

Siapa tahu, baru habis ucapannya. seketika si 'jinat tertawa terbahak-bahak, ucapnya," Hahaha, kiranya kau seorang yang dungu. Jelas-jelas usiaku baru dua belas, tapi kau panggil Losiansing padaku, jika didengar oleh Toakoku, pasti perutnya akan meledak saking geli."

Kembali Coh liu-hiang melengak, tanpa sadar ia meraba hidung. katanya kemudian. "Masa kau baru...... baru dua belas?"

"Betul, tepat dua belas," jawab si 'jimat' sambil menghitung dengan menekuk jari-jarinya, "Hari ini usiaku persis genap dua belas, satu hari pun tidak lebih dan tidak kurang."

"Lantas umur Toakomu?" tanya Coh Liu-hiang.

"Haha, kalau umur Toakoku sih jauh lebih tua daripada aku, bahkan mungkin lebih tua daripadamu paman," tutur si 'jimat' dengan tertawa.

"Siapa namanya?" tanya pula Coh Liu-hiang.

"Dia bernama Sih Ih-jin," jawab si 'jimat'. "Aku sendiri Sih Siau-jin, tapi orang lain sama memanggilku Sih Po-po... Po-po, Sih Po-po, eh, enak tidak kedengarannya namaku ini?'"

Bahwa si sinting ini ternyata adik Sih Ih-jin, si pendekar pedang nomor satu di dunia ini, sungguh sukar untuk dipercaya, diam-diam Coh Liu-hiang merasa gegetun. Ia pun tidak ingin banyak cingcong dengan orang sinting begini, dengan tertawa lantas ia menjawab, "Namamu memang enak didengar, jika nama mu Po-po, maka kau harus menjadi Po-po kesayangan. Nah biarkan aku pergi dari sini, lain kali pasti akan kubawakan pemen bagimu."

Sekarang dia malah menyebut kakek yang sudah berumur empat lima puluhan tahun sebagai 'Po-po kesayangan', tentu saja ia merasa geli. Maka sambil memberi tangan, berbareng ia terus melayang ke sana.

Tak tahunya, mendadak Sih Po-po juga melenting ke atas, berbareng ia melolos pedangnya yang lemas, "sret-sret-sret", sekaligus ia menusuk tiga kali. Sungguh serangan yang cepat, jitu lagi keji, betapa lihai ilmu pedangnya ini boleh dikatakan dapat disejajarkan dengan jago pedang kelas wahid.

Meski Coh Liu-hiang dapat menghindarkan tiga kali tusukan namun terpaksa ia harus turun lagi ke bawah.

Dilihatnya Sih Po-po berdiri di depan, dengan tertawa lagi berkata. "Kau telah mengacaukan pekerjaanku, paman, sebelum kau mengganti rugi, mana boleh kau pergj begitu saja!"

Coh Liu-hiang memandangnya lekat-lekat, ia sendiri menjadi bingung apakah orang ini sinting atau waras.

Kalau melihat dandanannya dan cara bicaranya, jelas seorang sinting seratus persen, tapi orang sinting mana bisa memainkan ilmu pedang selihai ini.

Terpaksa ia menjawab sambil menyengir, "Pekerjaan apa yang kukacau? Masa pakai ganti rugi segala?"

Sih Po-po lantas goyang-goyang pundaknya seperti anak kolokan, ucapnya dengan aleman, "Tadi......tadi aku lagi menghitung bintang di langit, dengan susah payah bintang-bintang di sebelah sana sudah selesai kuhitung, tapi paman mendadak datang sehingga kacau-balau bilangan hitunganku. Nah, kau harus ganti rugi padaku,. harus."

"Baik, akan kuganti kerugianmu," ujar Coh Liu-hiang pu la. "Tapi cara bagaimana membayarnya?" Sembari bicara, secepat terbang ia terus melayang miring ke sana.

Gerakan ini sudah menggunakan Ginkang Coh Liu-hiang yang tiada taranya, siapa pula di dunia ini yang mampu menyusulnya?

Siapa tahu. Sih Po-po seolah-olah sudah tahu lebih dahulu kalau Coh Liu-hiang akan kabur mendadak, maka baru saja tubuh Coh Liu-hiang bergerak, serentak gelang emas yang terpakai di tangan Sih Po-po juga menyambarnya?

Terdengar suara gemerincing nyaring, empat buah gelang emas memancarkan cahaya emas di udara malam gelap, secara melingkar gelang-gelang itu terus menyambar ke arah Coh Liu-hiang. Pandangan Coh Liu-hiang terasa silau oleh cahaya emas terdengar suara "tring-tring" dua kali, empat gelang saling bentur di udara, habis itu mendadak menyambar ke muka

Nyata, bukan cuma Ginkangnya yang sangat tinggi dan lihai pula ilmu pedangmya, bahkan cara menyambitkan senjata rahasia 'si sinting' inipun sangat hebat, peluru perak Hoa Kim-kiong boleh dikatakan seperti anak kecil main gundu jika dibandingkan kepandaiannya.

Karena daya melayang Coh l.iu-hiang ke depan sangat cepat, tampaknya dia akan termakan oleh sambaran gelang-gelang emas itu. Syukurlah pada detik terakhir sekonyong-konyong tubuhnya melenting balik ke belakang. berbareng kedua tangannya meraup dan meraih, sehingga tiga dari empat gelang emas itu tertangkap olehnya, sisa sebuah gelang emas itupun kena dipukul mencelat oleh ketiga gelang yang terpegang olehnya.

Gerakan melenting mundur disertai tangan menangkap senjata rahasia ini mudah diceritakan, tapi praktek sesungguhnya sangat sukar. Sebab tubuh. mata, waktu dan tempat harus diperhitungkan secara tepat, sedikitpun tidak boleh meleset.

Bila gerak tangannya kurang cepat, maka keempat gelang emas tak mungkin tertangkap dan terpukul jatuh pula, kalau tidak memiliki Ginkang yang maha sakti, sukar juga memunahkan tenaga sambaran gelang emas itu, umpama dapat menangkapnya juga tangan akan pecab tergetar.

Apapun juga, setelah Coh Liu-hiang dapat menangkap gelang-gelang emas itu, tidak urung ia pun terdesak mundur kembali ke tempatnya semula.

Dilihatnya Sih Po-po lagi berjingkrak-jingkrak aleman seperti anak kecil dan berkata, "Aku emoh, paman kan sudah janji akan memberi ganti rugi, mengapa mendadak mau mengeluyur pergi?, Orang tua masa menipu anak kecil."

Tiba-tiba Coh Liu-hiang merasa si sinting ini adalah lawan yang paling sukar dilayani, belum pemah ia ketemu lawan se lihai ini. Meski sudah banyak pengalamannya, seketika ia menjadi mati kutu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dalam pada itu Sih Po-po berjingkrak-jingkrak pula, ucapnya dengan manja, "Hay, paman, katamu hendak mengganti rugi padaku, nah, jadi ganti atau tidak?"

"Sudah tentu akan kuganti," jawab Coh Liu-hiang dengan tertawa, "Tapi cara bagaimana kubayar ganti ruginya?"

"Mudah sekali," sahut Sih Po-po gembira. "Asalkan kau menghitung bintang-bintang di langit hingga selesai dan urusan pun menjadi beres."

"Bintang sebelah mana? tanya Coh Liu-hiang sambil meraba hidung.

"Sana," sahut Sih Po-po sambil menuding.

Di langit hakikatnya tiada rembulan, melainkan penuh bertaburan bintang, meski seorang mempunyai lima ratus pasang mata dan seribu tangan juga tidak mampu menghitung seluruh bintang di langit itu.

Tapi Coh Liu-hiang sengaja menjawab, "O, maksudmu sebelah sana, baiklah. tanggung beres."

"Tanggung beres bagaimana? tanya Sih Po-po sambiJ ber kedip-kedip.

"Sebab bintang-bintang yang di sebelah sana itu baru saja selesai kuhitung, seluruhnya ada dua puluh sembilan ribu enam ratus tujuh puluh tiga."

''Apa betul? Paman tidak keliru?" tanya Sih Po-po dengan ragi-ragu.

"Sudah tentu betul, masa orang tua menipu anak kecil?" jawab Coh Liu-hiang. "Jika kau tidak percaya boleh kau menghitungnya lagi."

Diam-diam Coh Liu-hiang sudah ambil keputusan, apabila si sinting ini tidak tertipu olehnya, maka sintingnya itu pasti cuma pura-pura saja. Meski Coh Liu-hiang tidak sudi berkelahi dengan orang sinting sungguh-sungguh, terhadap orang sinting palsu pun tentu tidak perlu sungkan lagi.

Ternyata Sih Po-po lantas tertawa dan berkata, "Apa betul jumlahnya dua puluh sembilan ribu enam ratus tujuh puluh tiga? Baiklah akan kuhitung lagi sekali"

Lalu ia benar-benar menengadah dan mulai menghitung. mulutnya berucap, jarinya bergerak, sambil manggut-manggut lagi.

Diam-diam Coh Liu-hiang merasa lega, secepat anak panah ia terus melesat ke sana. Sekali ini Sih Po-po benar-benar asyik menghitung, sehingga lupa daratan dan tidak memperhatikan kepergian Coh Liu-hiang.

Baru sekarang Coh l.iu-hiang percaya benar-benar telah bertemu seorang sinting yang berilmu silat maha tinggi, ia merasa geli dan juga tercengang.

Kejadian ini sungguh sukar untuk dibayangkan dan belum lagi ada penyelesaiannya, yaitu perkara 'mayat kesuruian roh'

Roh Si In seolah-olah benar telah hidup kembali melalui mayat Cu Beng-cu.

Saat Cu-jiya melihat pupur yang dibawa pulang oleh Coh Liu-hiang, mau tak mau ia melongo juga dan berkeringat dingin, sampai lama sekali ia tidak sanggup bicara.

Thio Kan-cay juga melenggong melihat kotak pupur itu. Ia mengernyitkan kening, tanyanya kemudian. "Apakah keadaan di sana memang tepat seperti uraiannya?"'

"Ya, sama persis," jawab Coh Liu-hiang.

"Nona Si itu benar-benar mati hari ini?" tanya Thio Kan-cay pula.

"Betul, malah jenazahnya pun belum masuk peti, pakaiannya juga kulihat dengan jelas, sama seperti

Mendadak Cu-jiya melonjak bangun dan berteriak, "Aku tak perduli pakaian apa segala? Aku pun tak pusing anak perempuan keluarga Si mampus atau tidak, yang jelas Beng-cu adalah puteriku, siapa pun tak dapat merampasnya."

"Akan......akan tetapi. bagaimana kalau dia tak mengakui kau sebagai ayahnya?" tanya Thio Kan-cay.

"Jika dia berani menyangkal aku sebagai ayahnya, segera....... segera kubunuh dia!" Cu-jiya meraung murka

"Kau benar- benar tega membunuhnya?" ? tanya tabib sakti.

"Melenggong juga Cu-jiya jawabnva kemudian "Meng...mengapa tidak tega? Aku....Aku..." Ia tidak sanggup melanjutkan lag karena air matanya bercucuran, tubuhnya yang kekar itu lantas terkulai lemas di sandaran kursi, seakan-akan tak sanggup tegak lagi.

Thio Kan-cay menghela napas sambil menggeleng katanya, "Nasib....nasib orang kalau sudah begini, apa yang dapat dikatakan lagi?"

Sambil mendekap kepalanya, Cu-jiya berkata dengan sedih. "Apakah kalian menghendaki aku membenarkan Beng-cu adalah puteri perempuan judas itu? Masa kalian menyuruhku menyerahkan anak perempuanku sendiri kepada orang lain?"

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Mayat Kesurupan Roh (Gui Lian Xia Qing) Bab 2: Misteri dan Teka-teki"

Post a Comment

close