Maling Romantis (Xue Hai Piao Xiang) Bab 4: Genggaman Tangan

Mode Malam
Maling Romantis
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 4: Genggaman Tangan

Terkulum senyuman sinis dan jahat di ujung mulut gadis itu, namun Coh Liu-hiang tidak memberi kesempatan orang untuk bicara, dia menggenggam tangannya dan menariknya, lalu katanya, “Nona Leng, bila kau ingin mencari jawaban atas teka-teki ini, kau harus percaya padaku,” kedengaran suaranya lemah lembut penuh kasih sayang dan jujur pula, namun sorot matanya jauh lebih berdaya tarik daripada nada suaranya yang mampu menundukkan kekerasan hati orang.

Akhirnya gadis itu tertawa lebar, ujarnya, “Aku bukan she Leng.”

“Kalau begitu aku memanggil kau siapa?” bersinar sorot mata Coh Liu-hiang.

Tiba-tiba gadis itu menarik muka, katanya dingin, “Kau boleh memanggilku nona Leng saja.”

“Lebih dulu aku hendak menyelidiki Thian-it-sin-cui itu, barang itu tidak bisa mendatangkan kekayaan, juga tidak bisa menambah kepandaian ilmu silat berlipat ganda, mengapa harus mencurinya?”

“Pertanyaan ini seharusnya ditujukan padamu lebih dulu.”

“Hanya satu kegunaan Thian-it-sin-cui, yaitu untuk mencelakai jiwa orang, malah membunuh tanpa disadari dan tanpa diketahui oleh si korban. Sedemikian rupa dia berdaya upaya, mencurahkan segala tenaga, mengerahkan segala daya fikir dan akal untuk mencuri Thian-it-sin-cui, jelas punya satu tujuan.”

“Satu pun sudah cukup.”

“Nah, dapat kita simpulkan bahwa orang yang hendak dicelakai oleh si 'dia' adalah orang yang tidak gampang dibunuh hanya dengan menggunakan racun, dengan kata lain orang yang hendak dibunuh oleh si 'dia' adalah orang yang tidak mampu dibunuhnya dengan menggunakan kepandaian atau kekuatan sendiri.”

Perempuan itu manggut-manggut, katanya, “Benar, kalau tidak, dia tak akan berani menyerempet bahaya mencuri Thian-it-sin-cui.”

“Tetapi kalau benar dia berhasil mencuri Sin-cui dari Sin-cui-kiong, masih ada berapa orang yang tidak mampu dibunuhnya? Untuk bisa berhasil mencuri 'air sakti' dari Sin-cui-kiong, si 'dia' harus mempunyai kepandaian setingkat aku,” Coh Liu-hiang tersenyum, lalu ia berkata pula, “Karena itu dapat disimpulkan bahwa si 'dia' berhasil mencuri 'air sakti' dari Sin-cui-kiong karena ada orang yang telah membantunya secara diam-diam.”

“Siapa orang yang kau maksud?” jengek si gadis dingin.

Coh Liu-hiang menatapnya bulat-bulat, katanya,“Setelah 'air sakti' itu hilang, adakah orang hilang dari istana kalian?”

“Jadi kau maksud anak murid istana kami yang membantunya mencuri air sakti tersebut, setelah air itu tercuri, ia sendiri pun harus segera menyelamatkan diri, begitu?”

“Memangnya tidak mungkin terjadi hal seperti itu?”

“Sudah tentu mungkin, sayang sekali selama puluhan tahun ini tidak ada seorang pun anak murid Sin-cui-kiong kami yang hilang atau melarikan diri.”

“Sejak kehilangan 'air sakti' itu, apakah tidak terjadi suatu peristiwa di istana kalian? Umpamanya ada yang bunuh diri....”

Seketika berubah sikap gadis itu, serunya, “Bagaimana kau bisa tahu?”

Bersinar sorot mata Coh Liu-hiang, katanya keras, “Jadi ada yang bunuh diri, benar tidak? Mengapa dia harus bunuh diri?”

“Persoalan istana kami, mengapa perlu kau tahu?” bentak perempuan itu dengan beringas.

Coh Liu-hiang menggenggam tangan perempuan itu, katanya perlahan, “Nona Leng, tolong kau ceritakan secara jujur tentang peristiwa itu, peristiwa itu adalah kunci persoalan ini, maukah... maukah kau percaya padaku?”

Gadis itu menarik tangannya serta pelan-pelan memalingkan mukanya, sekian lama dia menepekur diam, akhirnya dia berkata dengan perlahan, “Dia adalah gadis yang rupawan dan cantik jelita, serta romantis pula, usianya pun paling muda, sekarang.... sekarang dia sudah meninggal, aku tak bisa singgung dirinya lagi.”

“Mengapa dia bunuh diri? Apakah karena hamil dan dia merasa malu?”

Gadis itu tidak menjawab, tapi tangannya menggenggam kencang bajunya, terang hatinya bergolak diliputi rasa haru dan pedih serta penasaran.

“Jelas sudah kalau begitu,” ujar Coh Liu-hiang. “Terang si 'dia' sudah melanggar kesuciannya, di bawah ancaman dan bujuk rayu akhirnya dia berhasil mencuri Thian-it-sin-cui, namun si 'dia' tidak menepati janji membawanya pergi untuk dijadikan isteri, maka dia memilih jalan pendek.”

“Tutup mulutmu!” bentak si gadis dengan badan gemetar.

“Sejak dahulu kala, gadis yang romantis senantiasa mengalami nasib yang mengenaskan......... daripada kau bersedih, lebih baik kau berusaha menemukan si 'dia', membalas dendam bagi si korban.”

Sigap sekali gadis itu membalikkan tubuh, tanyanya, “Cara bagaimana mencari si 'dia'?”

“Sebelum ajal, apakah ada pesan darinya?”

Berlinang air mata perempuan itu, katanya dengan haru, “Dia hanya berkata.... dia berdosa terhadap orok dalam kandungannya.”

“Sampai keadaan demikian, dia masih tidak sudi menyebut nama si 'dia', seolah-olah dia khawatir kalau orang lain mencelakai si 'dia'. Ilmu iblis apakah yang dimiliki orang itu, sehingga seorang gadis muda bisa kepincut mati-matian kepadanya?”

“Selama ini tidak pernah dia menyinggung si 'dia', hakikatnya dia tidak pernah menyebut-nyebut tentang seorang laki-laki, sungguh mimpi pun tidak pernah kami duga bisa terjadi peristiwa seperti ini.”

“Apakah dia tidak mempunyai teman laki-laki?”

“Sejak dilahirkan, sepanjang hidupnya dia tidak pernah kenal dengan laki-laki.”

“Aneh... mengapa hari ini terjadi beberapa peristiwa aneh. Empat orang yang satu dengan lainnya tidak saling kenal meninggal dalam waktu bersamaan di satu tempat pula! Air sakti Sin-cui-kiong secara misterius dicuri orang. Seorang gadis suci pingitan yang selama hidupnya tidak pernah bicara dengan lelaki, tiba-tiba diketahui hamil. Selintas pandang, ketiga peristiwa aneh ini satu dengan yang lainnya tiada berhubungan sama sekali, namun justru saling berkaitan erat.” Coh Liu-hiang mengangkat kepalanya, gumamnya, “Siapa yang bisa menjelaskan persoalan aneh seperti ini?”

“Kau sendiri!” seru gadis itu.

Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya, “Aku....”

Gadis itu menatapnya dengan tajam, katanya bengis, “Demi kau sendiri, kau harus berusaha membongkar rahasia ini.”

“Tapi dari mana aku harus bertindak? Boleh dikata aku tidak mempunyai sumber penyelidikan sama sekali.”

“Sumbernya pasti ada, dan kau sendiri pula yang harus menemukannya.” kata si gadis, kembali ia membalikkan badan membelakangi Coh Liu-hiang, lanjutnya dengan tandas, “Kuberi kau tempo satu bulan, bila kau tidak berhasil menemukannya, Sin-cui-kiong akan mencarimu.”

“Mengapa kau membalikkan badan? Memangnya bila kau berhadapan denganku, tidak mampu mengucapkan kata-kata yang tidak tahu aturan ini?”

Gadis itu tidak menghiraukan kata-katanya, dia beranjak mendekati buritan kapal. Di bagian belakang kapal yang gelap, tampak ada sebuah sampan kecil yang bisa bergerak cepat dan laju. Dengan enteng dia melayang turun, sekejap mata sampan kecil itu sudah meluncur pergi ditelan kegelapan malam.

Coh Liu-hiang bertopang dagu di dek kapal, dengan berdiam diri ia mengawasi bayangan orang pergi. Sinar bintang tampak redup, sampan kecil itu terombang-ambing digoyang alunan ombak, sari panjang di atas tubuhnya tertiup angin melambai-lambai, seolah-olah dewi kahyangan yang sedang menari di tengah lautan. Tiba-tiba ia memalingkan muka dengan mengunjuk tawa berseri yang manis, serunya, “Aku bernama Kiong Lam-yan!”

***

Coh Liu-hiang menjulurkan kedua kakinya, dengan nyaman ia rebah di atas kursi malasnya, matanya memandang pusaran arak yang berada di dalam cawannya, lalu ia menggumam, “Memang dia amat cantik, terutama senyum tawanya, lebih cemerlang dari sinar bintang yang berkerlap-kerlip di angkasa, dan akhirnya lenyap ditelan kegelapan.”

“Sebulan lagi kau tidak akan merasa dia cantik, terutama bila ujung pedangnya mengancam tenggorokanmu,” demikian goda Li Ang-siu dengan tawar.

“Dia tidak menggunakan pedang,” ujar Coh Liu-hiang.

Berkedip-kedip mata Li Ang-siu, “Memangnya dia menggunakan pisau sayur?”

Tak tahan lagi Coh Liu-hiang tertawa geli, katanya sungguh-sungguh, “Yang dia gunakan adalah mangkuk sayur.”

“Mangkuk sayur?”

“Kalau tidak pakai mangkuk, bagaimana dia bisa menadahi cukamu yang tumpah dari gucimu yang terbalik?”

Song Thiam-ji cekikikan, katanya, “Jangan kau menyalahi dia, bahwasanya dia jauh lebih lihai daripada Kiong Lam-yan!”

“Oh!” Coh Liu-hiang berseru heran.

Song Thiam-ji menekuk pinggang, katanya dengan geli, “Kiong Lam-yan paling hanya murid Sin-cui-kiong, tetapi nona Li Ang-siu kita ini sebaliknya adalah Ciangbunjin Sin-cui-kiong.”

Li Ang-siu memburu maju, dampratnya sambil mengertak gigi, “Setan cilik, kau ingin mampus!” Sambil terkekeh geli, Song Thiam-ji berlari, terus saja ia berkaok-kaok, “Yong-ci, tolong! Lihai benar Ciangbunjin dari Sin-cui-kiong!” Begitulah mereka kejar-mengejar dengan bersenda-gurau.

Sambil tersenyum simpul So Yong-yong mengawasi Coh Liu-hiang, katanya lembut, “Sekarang apa yang akan kau lakukan?”

“Sampai detik ini tidak ada sumber penyelidikan yang dapat kutemukan. Tetapi aku tahu bahwa si 'dia' pasti adalah seorang laki-laki tampan, kalau tidak mana mungkin gadis pingitan itu bisa kepincut padanya?”

“Belum tentu semua gadis menyukai laki-laki tampan.”

“Menurut pandanganmu, orang macam apakah sebenarnya si 'dia' itu?”

“Pasti dia adalah laki-laki yang pandai bicara, sangat pintar, pandai menarik perhatian seorang gadis serta romantis. Gadis remaja yang beranjak dewasa, selamanya takkan kuasa melawan laki-laki seperti ini.”

“Laki-laki semacam ini memangnya bisa masuk ke Sin-cui-kiong?”

“Laki-laki seperti ini bila sudah masuk ke Sin-cui-kiong, mungkin tidak bisa keluar dengan hidup. Di dunia ini, laki-laki yang bisa keluar dari Sin-cui-kiong dengan hidup mungkin hanya ada beberapa orang saja.”

“Oleh karena itu terpaksa aku memohon bantuanmu untuk melakukan sesuatu.”

“Maksudmu hendak mengutus aku ke Sin-cui-kiong?”

“Aku... aku hanya menguatirkan kesehatanmu.”

“Jadi kau anggap aku sedemikian lemah, tak tahan dihembus angin?”

“Entah bisa tidak kau menemukan bibi misanmu, tanyakan biasanya laki-laki macam apa yang diperbolehkan keluar-masuk di Sin-cui-kiong. Tanyakan juga gadis macam apa pula yang bunuh diri itu. Lebih baik kalau bisa menemukan barang-barang peninggalan gadis itu. Kalau dia ada meninggalkan buku atau surat, itu lebih baik.”

“Begitu terang tanah, segera aku berangkat.”

“Cuma kau....”

Dengan aleman So Yong-yong mendekap mulut orang dengan jari-jarinya yang runcing halus, katanya tertawa, “Apa yang ingin kau kemukakan, aku sudah tahu. Setelah aku pergi, bagaimana dengan dirimu?”

“Tujuh hari kemudian akan kutunggu kau di Hong-ih-ting di pesisir Tay-bing-ouw di Kilam.”

“Kilam? Bukankah di sana pusat Cu-soa-bun?”

“Hay-lam-pay dan Chit-sing-pang terlalu jauh dari sini, sebaliknya Ca Bok-hap datang dari daerah luar perbatasan yang jauh di ujung langit. Aku mengharap dari anak murid Cu-soa-bun aku bisa memperoleh kabar yang kuperlukan.”

“Tapi kau harus hati-hati, kalau mereka tahu.....”

“Walau mereka membenciku, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap diriku,” Tiba-tiba Coh Liu-hiang membentangkan telapak tangannya, entah sejak kapan tahu-tahu tangannya sudah menggenggam sebotol porselen kecil. Begitu sumbat dibuka, segera terendus semacam bau wangi yang terasa aneh memenuhi ruangan besar itu.

Segera Coh Liu-hiang tarik suara dan bersenandung, “Malam hari maling sakti meninggalkan bau wangi, entah di manakah sukmamu gentayangan...”

“Jadi kau ingin supaya aku meninggalkan bau wangi ini di mana-mana?”

“Betul! Sepanjang jalan kau tinggalkan sedikit bau ini, supaya orang susah meraba jejakku ada di mana, takkan terduga pula oleh mereka, aku sebenarnya sudah berada di Kilam.”

“Tapi kau... kali ini kau akan muncul sebagai duplikat siapa?”

“Anggota Cu-soa-bun kebanyakan adalah hartawan besar. Jika aku ingin mendapat kepercayaan dari mereka, maka aku harus menyamar sebagai orang perlente yang lebih royal membuang uang daripada mereka.” Sambil menggeliat malas ia pun bangkit, lalu mendorong lemari yang penuh padat untuk menyimpan botol-botol arak ke samping, ternyata di belakang lemari minuman itu terdapat sebuah pintu kecil yang sempit.

***

Di belakang pintu sempit rahasia itu terdapat sebuah ruang segi enam yang berbentuk aneh. Enam dinding sekelilingnya terpasang kaca yang terang, cukup dengan menyalakan sebuah lentera saja sudah dapat menerangi sepuluh kali lipat keadaan kamar kecil itu.

Sepanjang dinding kaca itu dikelilingi pula oleh lemari-lemari pendek yang terbuat dari kayu, di sana terdapat ratusan laci kecil, di setiap laci tercantum nomor yang berbeda, tak ubahnya dengan laci di toko obat.

So Yong-yong menggelendot di pinggir pintu, katanya tertawa, “Yang kau inginkan mungkin nomor enam puluh tiga atau nomor seratus tiga belas.”

Coh Liu-hiang menarik laci nomor enam puluh tiga, di dalamnya tersimpan seperangkat jubah dan celana ketat yang terbuat dari sutera halus warna biru tua, kelihatannya setengah baru, di samping itu terdapat pula sepasang sandal kain, sebuah kantong kecil warna hitam terbuat dari kulit ikan cucut, serta sejilid buku tipis.

Coh Liu-hiang mengerutkan keningnya, tanyanya, “Apakah benar nomornya?”

“Mungkin tidak salah.”

“Tapi dinilai dari pakaian ini, bukan baju yang sering dipakai orang kaya.”

“Pedagang besar yang bermukim di Kilam hanya ada dua orang saja. Yang seorang adalah cukong besar pemilik bank di Sansay, cukong yang memakai pakaian seperti ini, boleh dianggap cukup berlebihan.”

“Oh, iya, aku lupa, barang perak milik orang Sansay kebanyakan digodok dulu dalam obat, ada kalanya aku merasa heran, mereka menyimpan uang sebanyak itu, entah apa tujuannya.”

Lalu ia pun membalik lembaran buku tipis itu, di halaman pertama bertuliskan:

Nama: Ma Pek-ban
Pekerjaan: Direktur bank Su-khong Sansay
Usia: Empat puluh
Kesukaan: Tidak ada
Ciri-ciri: Setiap kali melewati tempat berair pasti akan melepaskan sandal, waktu hujan selalu berusaha menggunakan payung milik orang lain, badannya membawa bau seperti sudah lama tak pernah mandi


Belum selesai membaca, lekas Coh Liu-hiang menutup buku itu terus dikembalikan ke dalam laci, katanya sambil menghela nafas, “Kalau kau ingin aku menyamar sebagai orang ini, lebih baik aku mati saja.”

“Kau sendiri yang menyuruhku menulis dan mencatat bahan-bahan itu di dalam buku, pengemis jorok pun kau pernah menyamarnya, mengapa sekarang kau tidak mau.....”

“Lebih baik menjadi pengemis daripada menjadi cukong macam dia itu.”

“Kalau begitu, coba kau buka laci nomor seratus tiga belas.”

Coh Liu-hiang membuka laci nomor seratus tiga belas, di dalamnya tersimpan seperangkat pakaian indah dan mentereng terbuat dari bahan yang mahal, sepasang sepatu kulit yang mengkilap, kecuali itu terdapat pula dua butir bola besi yang mengeluarkan suara gemerincing bila ditimang-timang di telapak tangan, sebuah golok melengkung yang dihiasi batu jamrud, sebuah kantong kecil yang terbuat dari kulit ikan cucut hitam serta sejilid buku tipis pula.

Setelah itu So Yong-yong berkata, “Yang sering pulang pergi ke Kilam, selain cukong besar pemilik bank, orang yang paling royal adalah pemilik perkebunan di daerah luar perbatasan Tiang-pek-san, yaitu ketua Jay-sam-pang yang berdagang kolesom.”

“Kedengarannya dia jauh lebih menarik.”

Kembali Coh Liu-hiang membalik halaman buku tipis itu, tertulis di situ:

Nama: Thio Siau-lim
Pekerjaan: Pedagang obat kolesom Koan-gwa
Usia: Tiga puluh enam
Kesukaan: Arak, berjudi dan main perempuan

Belum selesai membaca, Coh Liu-hiang sudah menutup buku itu, katanya sambil tersenyum, “Menarik, sungguh amat menarik sekali.”

“Aku tahu, tentu cukup memenuhi seleramu. Tapi kau tetap harus membawa pula peti itu, aku sudah menyiapkan nomor tiga, tujuh, dua puluh delapan dan empat puluh di dalam peti itu.”

“Kalau begitu, sejak hari ini aku akan menyamar sebagai Thio Siau-lim selama beberapa hari.” Di tengah gelak tawanya, ia pun membuka kantong kulit itu, lalu mengeluarkan sebuah kedok muka yang halus dan tipis.

***

'Kwi-gi-tong', tiga huruf emas bergaya tandas seperti naga melingkar atau burung hong menari, tampak berkilauan di bawah penerangan sinar pelita.

Di sanalah pusat perjudian terbesar di seluruh kota Kilam.

Tatkala itu pelita baru saja dipasang, suasana Kwi-gi-tong amat ramai dan hiruk-pikuk. Sebuah ruangan besar penuh sesak, diliputi oleh bau arak dan asap tembakau yang mengepul menyesakkan nafas, terendus pula bau pupur dan gincu di atas tubuh para perempuan, bau keringat busuk di atas badan para lelaki.... kepala setiap hadirin pun hampir semuanya basah oleh butiran keringat yang kemilau tersorot oleh sinar pelita.

Ada yang berseri tertawa riang, namun ada pula yang lesu dan patah semangat, ada yang bersikap tenang, ada pula yang tegang mengepal tinju dan gemetar seluruh badannya.

Di ruangan paling depan terdapat dua meja Paykiu, dua meja judi dadu, dua meja Capjiki. Tingkatan orang yang bertaruh di sini pun paling acak-acakan, kaya miskin tiada perbedaan, asal ada uang boleh bertaruh. Suara hiruk-pikuk di sini pun paling ramai. Di setiap meja berdiri seorang laki-laki berseragam hitam dan berikat pinggang kain merah, setiap yang menarik taruhan, dia harus menyetor sepuluh persen padanya.

Ruangan tengah rada sepi dan tenang, di sini hanya terdapat tiga meja, orangnya pun lebih sedikit, tiga meja penuh dengan orang-orang gemuk bertubuh gendut, terang mereka adalah hartawan-hartawan besar yang getol berjudi. Uang perak bertumpuk-tumpuk di atas meja di hadapan setiap orang, di pinggir meja tersedia hidangan dan makanan, tak ketinggalan pula rokok. Puluhan gadis ayu yang berpakaian mewah dengan perhiasan memenuhi seluruh badan tampak mondar-mandir sambil jual senyuman manis, seperti kupu-kupu yang mengelilingi sekuntum bunga, di sana melorot uang perak, di sini menjumput dua keping uang emas.

Para penjudi itu tidak menghiraukan perbuatan mereka, maklum apa artinya uang kecil itu, maka yang kalah semakin cepat kantong uangnya kosong, yang menang sebaliknya kantong uangnya tidak terlihat padat. Uang perak atau emas sama mengalir ke kantong baju gadis-gadis itu melalui jari-jari mereka mereka yang penuh dihiasi cincin berkilauan, akhirnya bertumpuk di kas sang majikan pemilik rumah judi itu. Perjudian di sana memang dibuka dan diusahakan oleh fihak Cu-soa-bun.

Rumah di bagian belakang, pintunya tertutup kerai lebar, di dalam rumah itu terdapat tujuh atau delapan penjudi, namun gadis-gadis yang melayani di sini pun paling banyak, ada yang menghidangkan makanan, ada yang menuangkan arak, namun ada pula yang menggelendot dalam pelukan orang. Sebutir demi sebutir mereka mengupaskan kwaci terus dijejalkan ke mulut penjudi-penjudi yang dermawan itu, jari-jari mereka laksana duri mawar, kerlingan matanya tajam semanis madu.

Seorang pemuda bermuka pucat mengenakan jubah panjang hijau pupus tampak berdiri di pinggir meja sambil tersenyum simpul, tak henti-hentinya ia menepuk pundak salah seorang tamu, katanya, “Hari ini nasibmu kurang mujur, pergi bawalah Cu-ji ke kamar untuk bermalas-malasan saja.”

Namun yang diajak bicara selalu menjawab sambil tertawa lebar, “Buat apa terburu-buru, belum lagi lima laksa tail!”

Maka tangan si pemuda pun ditarik, sambil tersenyum senang ia mengelus-elus jenggotnya yang baru tumbuh, tangan yang ia gunakan selalu tangan kiri, tangan kanan selalu disembunyikan di balik lengan baju.

Pemuda ini bukan lain adalah pengurus tertinggi Kwi-gi-tong, tak lain adalah murid Ciangbunjin Cu-soa-bun, Sat-jin-giok-lan Han-bin-beng-siang (Membunuh tanpa mimik wajah berubah) Leng Chiu-hun.

Tiba-tiba seorang laki-laki kurus tepos bermata juling dengan kepala seperti keledai berpakaian perlente menyelinap masuk, dari jauh ia sudah menjura dan berkata dengan hormat sambil tertawa, “Selamat siang, Cheng-cu baik-baik saja?”

Leng Chiu-hun menarik muka, segera ia menghampiri dengan menggendong tangan, makinya dengan mengerut kening, “Thia Sam, berani kau main terobosan ke tempat ini?”

Tersipu-sipu Thia Sam membungkukkan badan, katanya sambil tertawa, “Mana Siaujin berani main terobos di sini, cuma....” Sambil melotot, lalu katanya lagi, “Semalam kedatangan seorang tamu yang royal, dalam sekejap saja dia sudah menghamburkan uang sebanyak tiga laksa tail di tempat Siau-cui sana, waktu aku mencari tahu, ternyata tangannya masih gatal, maka Siaujin memberanikan diri untuk membawa orang itu ke mari.”

“O, orang macam apakah dia?”

“Dia she Thio, bernama Siau-lim.”

“Thio Siau-lim?” Leng Chiu-hun terpekur. “Amat asing nama ini bagiku.”

“Kabarnya dia jarang masuk perbatasan, maka.....”

“Orang-orang macam apa yang berjudi di tempat ini, tentunya kau sudah tahu. Orang yang tiada punya asal-usul seumpama hendak menghamburkan uangnya, orang-orang ini pun takkan memberi peluang kepadanya.”

“Siauya tak usah kuatir, orang yang tidak punya asal-usul mana Siaujin berani membawanya ke mari.... tamu she Thio itu adalah pedagang kolesom terbesar di Tiang-pek-san, kini datang ke Kilam hendak membuang sedikit uang mencari hiburan.”

“Hm, pedagang kolesom ya, biar kulihat dulu,” kata Leng Chiu-hun, lalu ia menyingkap kerai dan melongok keluar. Tampak seorang laki-laki bercambang pendek, muka merah, sedang berdiri dengan gagah di luar pintu sambil menggendong tangan. Tangannya menggenggam dua butir bola besi yang mengeluarkan suara gemerincing. Walau dia berdiri tanpa bergerak, tindak-tanduknya kelihatan angker dan berwibawa. Semua hadirin di rumah itu tiada yang sebanding dengannya, seolah-olah burung bangau di tengah ayam babon.

Bergegas Leng Chiu-hun menyingkap kerai dan melangkah maju memapak, katanya sambil soja, “Thio-heng datang dari tempat jauh, Siaute tidak melayani dengan semestinya, harap suka dimaafkan.” Sembari tertawa lebar, ia menarik tangan Thio Siau-lim, seakan-akan teman lama.

Ternyata Thio Siau-lim adalah orang jujur yang selalu menepati omongannya, orang kaya yang keluar uang tanpa berubah air mukanya, kebetulan meja di rumah itu sedang berjudi paykiu, segera ia merogoh saku dan ikut pasang, beberapa kali putaran saja dia sudah kalah lima laksa tail.

Para gadis ayu itu segera merubung maju, beramai mereka berebut menuangkan teh, berebut melihat isi kartu pula. Thio Siau-lim bergelak tertawa, tangan kiri menarik, tangan kanan memeluk, mendadak dari dalam kantong bajunya ia mengeluarkan setumpuk uang kertas, katanya, “Nah, m
ari dimulai lagi, bagaimana kalau aku yang menjadi bandarnya?”

Waktu Leng Chiu-hun melirik, dilihatnya lembaran uang kertas yang paling atas adalah lembaran sepuluh laksa tail, seketika mukanya berseri tawa senang, katanya, “Kalau Thio-heng yang menjadi bandar, biarlah Siaute ikut bertaruh.”

Yang menjadi bandar saat itu adalah ketua dari empat puluh perusahaan beras di seluruh kota Kilam, dia sudah meraih puluhan laksa tail, memangnya sudah ingin mengundurkan diri, maka tawaran Thio Siau-lim itu menjadi kebetulan malah, segera ia mendorong kartunya ke tengah meja sambil berkata, “Silakan Thio-heng menjadi bandar, Siaute pasang Thian-bun.”

Thio Siau-lim menindihkan kedua bola besinya ke atas lembaran uang, katanya tertawa, “Mestikaku, tindih mereka baik-baik, jangan sampai seorang pun lari.”

Babak perjudian selanjutnya menjadi amat menyenangkan, masing-masing berlomba mempertaruhkan uang dan keahliannya, namun jantung pun berdebar dan hati ikut merasa tegang, keringat pun bercucuran di jidat masing-masing penjudi. Separoh kemenangan cukong beras tadi akhirnya hanyut, namun ia bisa melihat gelagat, segera ia berhenti dan tinggal ke belakang dengan menarik gadis kesayangannya. Dua orang yang lain kabarnya terkenal takut bini, meski hendak menarik balik modal semula, namun terpaksa harus mundur dan pulang.

Setelah tengah malam, yang masih berjudi dalam rumah itu tinggal lima-enam orang saja.

Thio Siau-lim menghisap pipa cangklongnya yang diangsurkan seorang gadis yang duduk di pinggirnya, tangannya mengocok kartu, sedang matanya menatap Leng Chiu-hun, katanya dengan tertawa lebar, “Laute, keluarkan uangmu dan pasanglah.”

Leng Chiu-hun tersenyum, sahutnya, “Ya, Siaute memang sudah siap pasang.” Kembali ia merogoh keluar setumpuk uang kertas, sepasang matanya jelilatan seperti mata anjing yang mencari sasaran, mendadak ia mendorong semua uangnya dan dipasangkan ke Thian-bun pula, katanya, “Tiga puluh laksa tail, perduli kalah atau menang, kali ini yang bakal menentukan.”

Sekali pasang tiga puluh laksa tail, meski yang hadir di perjudian itu adalah hartawan-hartawan yang kaya raya, semua kaget dan ikut berubah mukanya, tiada seorang pun yang berani ikut pasang. Thio Siau-lim tetap tertawa riang, katanya, “Baik, mari kita berjudi sendiri.” Segera ia melemparkan dadunya, tujuh angka. Leng Chiu-hun segera mengambil kartu teratas, sementara Thio Siau-lim mengambil yang nomor tiga, tanpa dilihat lagi Leng Chiu-hun terus membalik kartunya perlahan-lahan.

Selembar Thian dan selembar Jin, itulah Thian-kah. Serempak para hadirin mengeluarkan suara kagum dan iri, bahkan para gadis pun berteriak-teriak sambil bertepuk tangan.

Tampak Thio Siau-lim merangkap tangan, ditepuk dan didorong, hanya sekilas dilihatnya lalu, “Plak!”, ia membanting kedua kartunya di pinggir meja. Semua penonton menunggu dengan rasa tegang dan mata melotot, tak tahan lantas bertanya berbareng, “Bagaimana?”

Sedikit pun tak berubah air muka Thio Siau-lim. Segera ia menghitung tiga puluh laksa tail dan didorongkan ke depan Leng Chiu-hun, katanya tertawa, “Nah, terimalah, aku mengaku kalah!”

Berputar biji mata Leng Chiu-hun, katanya, “Hari ini tentu kalian sudah puas, biarlah dilanjutkan lain hari saja!”

Perjudian pun bubar, masing-masing orang melangkah ke belakang sambil menggandeng gadis pujaannya, terlelap dalam buaian mimpi sambil berpelukan.

Thio Siau-lim menggeliat, katanya tertawa, “Laute, kau memang jempol, pandanganmu amat tepat, menyikat dengan telak!”

Leng Chiu-hun berkata tawar, “Apa ya....” mendadak secepat kilat tangan kirinya terulur mencabut golok yang tergantung di pinggang Thio Siau-lim, ujung golok yang kemilau tahu-tahu sudah mengancam pelipisnya, jengeknya dingin, “Siapa kau sebenarnya? Apa kerjamu di sini?”

Sikap Thio Siau-lim tidak berubah sedikit pun, katanya tertawa, “Apa Laute sedang berkelakar denganku? Aku tidak mengerti.”

“Betulkah kau tidak tahu?” jengek Leng Chiu-hun dingin. Tangan kirinya tiba-tiba menggaplok meja, kedua kartu yang disisihkan Thio Siau-lim di pinggir meja tadi mendadak mencelat naik dan jatuh terbalik tercecer di atas meja. Kedua kartu itu berbentuk nomor yang sama.

Mata Leng Chiu-hun setajam pisau, desisnya bengis, “Terang barusan kau yang menang, mengapa pura-pura kalah?”

“Mataku sudah lamur, mungkin aku salah lihat,” sahut Thio Siau-lim tertawa.

“Seorang laki-laki sejati berani berterus-terang, saudara ada keperluan apa datang ke mari?” bentak Leng Chiu-hun. “Lebih baik bicara terus terang saja.... apa kau sengaja hendak menarik hatiku? Apa maksud tujuanmu?”

Sirna sudah senyum tawa Thio Siau-lim, katanya dengan nada berat, “Mata Leng-heng memang tajam.... ya, Cayhe ke mari memang ada keperluan. Tapi persoalan ini bukan saja bisa membawa keuntungan bagi diriku, Pang kalian pun..... “ sengaja ia mengunjuk tawa penuh arti, secara lihai ia menghentikan kata-katanya.

Tanpa berkedip Leng Chiu-hun menatapnya, sorot matanya semakin kalem dan tangan pun ditarik sambil melemparkan golok itu ke atas terus ditangkapnya pula. “Sret!”, ia memasukkan kembali golok itu ke dalam sarungnya, katanya, “Kalau begitu, mengapa kau tidak berterus terang saja minta bertemu denganku?”

Thio Siau-lim tersenyum, ujarnya, “Kalau akan mengerjakan suatu persoalan yang luar biasa, harus melalui jalan yang tidak biasa pula. Kalau tidak berbuat sesuatu untuk menarik kesan dan perhatian Leng-heng padaku, apa yang Cayhe katakan, apa Leng-heng mau percaya?”

Leng Chiu-hun berkata tawar, “Dengan tiga puluh laksa tail untuk memberi kesan, apa tidak terlalu mahal?”

“Bila urusan bisa sukses, tiga puluh laksa tail itu cuma beberapa persen saja dari seluruh keuntungan yang bisa kita capai.”

Muka pucat Leng Chiu-hun seketika memancarkan cahaya terang, katanya, “Pekerjaan yang melanggar hukum, selamanya Pang kami tidak mau melakukannya.”

“Walau Cayhe miskin, kalau hanya ribuan laksa tail kukira masih ada. Pekerjaan yang melanggar hukum dan berbahaya, sekali-kali tidak nanti Cayhe sudi melakukannya.”

Tiba-tiba Leng Chiu-hun menepuk meja pula, bentaknya beringas, “Urusan yang tidak melanggar hukum dan tidak menyerempet bahaya, mana bisa keuntungan sedemikian besar? Mengapa kau tidak mencari orang lain, justru mencari Pang kita?”

“Karena pekerjaan ini harus diselesaikan oleh salah seorang Tianglo Pang kalian, kalau tidak, bukan saja tak terhitung kesulitan yang harus kita hadapi, bahkan boleh dikata mustahil bisa berhasil.”

“Siapa yang kau maksud?”

“Sat-jiu-su-seng Sebun Jian.”

Leng Chiu-hun perlahan-lahan membalikkan badan, melangkah dua tindak dengan kalem serta duduk dengan perlahan.

“Kalau Sebun-cianpwe sudi menampilkan diri, pekerjaan ini seratus persen pasti berhasil. Oleh karena itu Leng-heng harus berusaha supaya Sebun-cianpwe mau keluar untuk merundingkan persoalan ini. Setelah mendengarkan penjelasan Cayhe, Sebun-cianpwe pasti tidak akan menampik.”

“Guruku tidak gampang mau menemui tamu, katakan saja padaku, kan sama saja.”

“Untuk persoalan ini, aku harus bicara langsung dengan Sebun-cianpwe.”

Leng Chiu-hun memutar badan, bentaknya gusar, “Tampaknya kau sengaja hendak mempermainkan aku.”

Thio Siau-lim tertawa gelak, serunya, “Orang yang main-main dengan tiga puluh laksa tail, mungkin belum pernah terjadi.”

Dengan nanar Leng Chiu-hun menatap muka orang sekian lama, akhirnya ia berkata dengan nada berat, “Kedatanganmu sangat tidak kebetulan, guruku sekarang tidak berada di Kilam.”

“Apa benar?”

“Selamanya aku tidak pernah berbohong.”

Lama sekali Thio Siau-lim terpekur, lambat laun sikapnya kelihatan amat kecewa, lalu katanya dengan menghela nafas seraya menengadah, “Sayang! Sungguh sayang! Keuntungan tiga ratus laksa tail sudah di depan mata, agaknya segala rencana bakal gagal total.” Segera ia bersoja terus angkat langkah keluar dengan lesu.

Lekas Leng Chiu-hun memburu maju serta menariknya, katanya, “Maksudmu tiga ratus laksa tail?”

“Aku ini seorang pedagang, kalau tidak mendapat keuntungan sepuluh kali lipat, mana aku sudi menghamburkan uang tiga puluh laksa tail?”

Tergerak hati Leng Chiu-hun, tanyanya, “Sudikah kau menunggu sampai guruku pulang?”

“Urusan penting dan segenting ini mana bisa diulur-ulur, kecuali.....”

“Kecuali apa?” cepat Leng Chiu-hun menegas.

“Kecuali sebelum pergi Sebun-cianpwe ada meninggalkan pesan ke mana beliau pergi, lalu secepatnya kita menyusul ke sana, mungkin waktunya masih keburu.”

Mau tak mau Leng Chiu-hun semakin tertarik, katanya dengan membanting kaki, “Selama ini kalau Suhu pergi, tidak pernah meninggalkan pesan, cuma kali ini... Setelah beliau menerima sepucuk surat, pada hari kedua pagi-pagi sekali beliau sudah lantas berangkat.”

Bersinar mata Thio Siau-lim, tanyanya, “Sepucuk surat? Di mana?”

Leng Chiu-hun menarik tangannya, katanya tergesa-gesa, “Mari ikut aku.”

“Ke mana?”

“Liap-te-cui-hun-jin Nyo Siong, tentu kau pernah mendengar namanya, bukan?”

“Jadi surat itu sekarang berada di tangan Nyo-cianpwe?”

“Benar, kuingat sebelum pergi Suhu memasukkan surat itu ke dalam sampulnya dan diserahkan pada Nyo-susiok untuk disimpan. Jikalau bisa melihat surat itu, pasti tahu ke mana guruku pergi.”

“Tapi... tapi apakah Nyo-cianpwe sudi memperlihatkan surat itu kepada kita?”

“Tiga ratus laksa tail, siapa pun asalkan manusia, jumlah ini bukanlah jumlah yang kecil.”

***

Mereka tidak menumpang kereta. Dengan berjalan cepat, setelah menikung dua jalanan, mereka pun tiba di tempat tujuan.

Pada sebuah jalan berbatu yang bersih dan tidak begitu pendek, di sini hanya terdapat enam bangunan gedung besar. Rumah kediaman Nyo Siong adalah bangunan nomor dua dari sebelah kiri.

Tak perlu Thio Siau-lim memperhatikan keadaan sekitarnya, ia pun cukup tahu bahwa bangunan gedung besar di sekitar sini adalah tempat kediaman hartawan-hartawan kaya raya dari seluruh kota Kilam. Malah celah-celah papan batu yang menjadi jalan itu pun tersapu bersih. Namun seorang yang berkedudukan seperti Nyo Siong ini seharusnya berdiam di sebuah bangunan tunggal yang menyendiri di luar kota.

Agaknya Leng Chiu-hun dapat meraba jalan fikiran orang, segera ia menjelaskan dengan tertawa, “Guruku memang rada aneh dan suka menyendiri, tapi entah mengapa justru berkukuh tinggal di dalam kota. Memang beliau tidak suka bicara dengan orang lain, tapi menyukai suara percakapan orang.”

“Gurumu... bukankah rumah ini tempat tinggal Nyo.....”

“Suhu dan Nyo-susiok tinggal bersama di satu gedung.”

Pintu hitam pekarangan bagian luar ternyata hanya dirapatkan saja. Leng Chiu-hun langsung mendorong pintu terus beranjak masuk, pekarangan itu tampak sepi dan tidak kedengaran suara orang. Pelita di dalam ruang pendopo seharusnya ditambahi minyak, ruangan sebesar itu hanya disinari oleh lampu dian yang remang-remang, menjadikan suasana terasa seram dan mendebarkan jantung.

“Biasanya Nyo-susiok suka tidur pagi-pagi,” demikian kata Leng Chiu-hun. “Begitu beliau tidur, para pembantunya segera mengeluyur keluar secara diam-diam. Terutama kalau guruku tidak di rumah, mereka semakin bertingkah.”

“Pelayan wanita atau genduk, masakah juga mengeluyur di luar malam-malam begini?”

“Tiada genduk atau babu di dalam rumah ini.”

Mereka lalu berputar melewati ruang pendopo, langsung menuju ke halaman belakang. Keadaan di sini lebih lelap, deretan kamar di sebelah kiri sana lapat-lapat terlihat cahaya api yang menyorot keluar. Leng Chiu-pun pun berujar, “Aneh, apakah Nyo-susiok malam ini belum tidur?”

Baru saja ia melangkah hendak melewati deretan pohon mangga di tengah pekarangan, setetes air tiba-tiba jatuh menetes di atas pundaknya, tanpa sadar segera ia mengusap dengan tangannya. Cahaya api yang menyorot keluar dari jendela kebetulan menerangi tangannya. Darah segar! Punggung tangannya ternyata berlepotan darah.

Dengan kaget Leng Chiu-hun mengangkat kepala, di atas sebatang dahan pohon mangga lapat-lapat seperti terlihat seseorang menggapai padanya. Sebat sekali ia menggenjot kakinya terus melesat naik, secepat kilat ia mencengkeram pergelangan tangan orang, tapi hanya sebelah tangan orang yang terpegang. Tangan yang berlepotan darah.

Tak tertahan Leng Chiu-hun pun menjerit kaget, “Susiok! Nyo-susiok! Tapi tiada jawaban dari dalam kamar.

Seperti orang kesetanan, segera ia melompat turun dan menerjang daun pintu terus menerobos masuk ke dalam. Dilihatnya Nyo Siong rebah di atas ranjang, seolah-olah sedang tidur lelap, hanya rambut dan kepalanya yang ubanan berada di luar selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi keadaan di dalam kamar tampak morat-marit, setiap benda sudah berkisar dari tempatnya, tiga peti kayu yang berada di pinggir ranjang pun sudah terjungkir balik dan terbuka.

Tanpa banyak fikir lagi segera ia memburu ke dekat tempat tidur dan tangannya menyingkap selimut tebal yang terbuat dari kain kapas itu.

Darah! Badan berlepotan darah tanpa terlihat kaki dan tangannya!

Gemetar seluruh tubuh Leng Chiu-hun seperti orang kedinginan, teriaknya gemetar, “Ngo-kui-hun-si! Beginikah Ngo-kui-hun-si itu......”

Bergegas ia membalikkan badan dan menerjang keluar pula, sebuah tangan yang lain tergantung di bawah teras, darahnya masih menetes, kematian Nyo Siong dengan tubuh terpotong-potong itu terang berlangsung tidak melebihi setengah jam yang lalu.

Agaknya Thio Siau-lim pun amat kaget dan berdiri terlongong di tempatnya.

“Cu-soa-bun tiada dendam permusuhan dengan Ngo-kui, mengapa Hiat-sat-ngo-kui menurunkan tangan jahatnya?”

“Kau... dari mana kau tahu kalau Hiat-sat-ngo-kui yang turun tangan keji?”

“Ngo-kui-hun-si (Lima Setan Membagi Mayat) merupakan lambang mereka,” desis Leng Chiu-hun dengan penuh dendam dan kebencian.

“Tapi lambang itu juga bisa dipinjam orang lain untuk melakukan kejahatan.”

Namun Leng Chiu-hun seperti tidak memperhatikan ucapan Thio Siau-lim, kini ia mulai memeriksa dan membongkar setiap barang yang masih ada di dalam kamar itu.

“Apa pula yang kau cari, surat itu terang sudah hilang,” ujar Thio Siau-lim.

Surat itu memang sudah tiada di tempatnya, hilang tanpa bekas.

Semakin pucat raut muka Leng Chiu-hun, kelihatannya begitu menakutkan,
mendadak orang menubruk tiba menjambak baju Thio Siau-lim, teriaknya beringas:
"Sebetulnya apa sangkut-pautmu dengan peristiwa ini?"

"Kalau ada sangkut-pautnya, memangnya aku bisa berada di sini?"

Dengan melotot sekian saat, Leng Chiu-hun mendeliki orang, pegangan tangannya
semakin kendor dan akhirnya terlepas, katanya dengan suara serak berat: "Tapi bagaimana kedatanganmu bisa begini kebetulan?"

"Karena beberapa hari ini aku memang sedang sebal," sahut Thio Siau-lim tertawa
getir, tiba-tiba sorot matanya berputar, katanya, "Kenapa kau tidak lihat ke kamar gurumu, mungkin sesuatu dapat kau temukan di sana."

Leng Chiu-hun berpikir sebentar, pelita diangkatnya terus menuju ke bilik sebelah
timur. Pintunya pun tidak terkunci. Tianglo Cu-soa-bun yang suka menyendiri ini ternyata mempunyai sebuah kamar yang serba sederhana.

Di atas dinding cuma terdapat selembar gambar lukisan, bukan gambar pemandangan atau
hasil seni lukis dari karya pelukis kenamaan, namun hanya selembar gambar seorang perempuan setengah badan, demikian hidup dan menakjubkan lukisan gambar ini. Jaman itu sulit dicari gambar orang setengah badan. Tak terasa Thio Siau-lim melirik dua tiga kali ke arah gambar ini. Semakin dipandang semakin terasa perempuan di dalam gambar sedemikian cantik jelita, sulit dilukiskan dengan kata-kata. Meskipun hanya selembar gambar lukisan belaka, namun seolah-olah mempunyai daya tarik yang tak bisa dilawan.

Tak tahan Thio Siau-lim memuji sambil menghela napas gegetun: "Tak nyana Subomu ini
ternyata seorang perempuan yang cantik luar biasa."

"Sampai sekarang guru masih jejaka," sahut Leng Chiu-hun dingin.

Thio Siau-lim tertegun, "O, kalau begitu tak heran kalau dia suka tinggal bersama
Nyo-cianpwe, tidak heran pula di sini tidak pakai pelayan perempuan." Mulutnya bicara sementara dalam hati ia membatin: "Sampai sekarang Sebun Jian masih jejaka? Kenapa pula dia menggantung gambar perempuan cantik ini di dalam kamarnya? Siapa dan pernah apa perempuan ini dengan dia?"

Mungkin gambar ini hanyalah lukisan biasa saja. Tapi lukisan biasa, kenapa pula bisa digambar setengah badan?

***

Kini Thio Siau-lim sudah berada dalam kamar sebuah hotel, di luar jendela tampak tujuh-delapan laki-laki tinggi besar yang berikat pinggang kain merah tua sedang mondar-mandir berjaga di sekeliling kamar.

Laki-laki ini sama merubung dan membimbingnya kembali ke dalam kamarnya seolah-olah
pengawal pribadinya saja. Yang benar, mereka adalah anak buah yang diutus Leng Chiu-hun untuk mengawasi gerak-geriknya.

Leng Chiu-hun sih tidak bertujuan jahat terhadapnya, cuma saja tidak rela dan penasaran bila tiga ratus laksa tail perak itu terjatuh ke tangan orang lain. Tentunya Thio Siau-lim sendiri pun paham akan seluk-beluk ini. Tak tertahan ia tertawa geli, tawa riang yang mengandung arti.

Kalau dia benar-benar ingin melakukan sesuatu, dalam pandangannya kedelapan laki-laki ini bolehlah dianggap delapan patung kayu belaka!

Ia padamkan pelita lalu melojoti seluruh pakaian sampai telanjang bulat, terus rebah di atas ranjang, sedapat mungkin ia kendorkan kaki-tangannya, kemul kapas yang bersih terasa empuk dan kasar menggesek badan, rasanya sungguh nyaman dan nikmat sekali. Lama-kelamaan seluruh badan sudah berhenti bergerak dan dalam keadaan tenang, cuma otaknya saja yang masih bekerja.

Mendadak genteng di atas kamar berkeresek dan bergerak perlahan, cahaya rembulan yang remang-remang menyorot masuk menerangi kamar yang gelap ini. Beberapa buah genteng sudah tergeser dan dipindah dari tempatnya, namun sedikit pun tidak mengeluarkan suara yang mengejutkan, agaknya penyatron ini adalah seorang ahli dalam perjalanan malam, gerak-geriknya cekatan dan berhati-hati.

Kejap lain tampak sesosok bayangan orang selicin ikan menerobos masuk, kedua tangan bergelantungan di atap rumah, menunggu sebentar setelah tidak mendengar sesuatu suara, lalu seenteng daun ia melompat turun ke atas lantai.

Thio Siau-lim tetap rebah tanpa bergerak, mata dipicingkan mengawasi gerak-gerik orang. Dalam hati ia tertawa geli, kalau orang ini maling kecil, kalau dia
berani datang ke mari, terang bahwa kakek moyangnya dulu memang berhutang jiwa kepada dirinya.

Di bawah penerangan sinar rembulan yang redup, tampak orang ini mengenakan kedok hitam mengenakan pakaian hitam legam yang ketat membungkus potongan badannya yang padat dan montok serta ramping, ternyata seorang gadis yang berpotongan menggiurkan.

Tangannya menggenggam sebilah Liu-yap-to yang pendek dan ringan, sinar golok kemilau ditimpa sinar rembulan yang remang-remang, sepasang matanya yang jeli dan menyolok antara hitam dan putihnya sedang menatap orang yang rebah di atas ranjang tanpa berkesip.

Thio Siau-lim merasa amat lucu dan menarik. Memang amat menyenangkan. Gadis montok yang menggiurkan, ternyata seorang pembunuh gelap pula. Tidak sedikit kejadian aneh yang pernah dialami Thio Siau-lim, tapi belum pernah ada gadis menggiurkan yang coba membunuh dirinya, baru pertama kali ini.

Kuatir membuat kaget dan takut pembunuh gelap ini, ia menggeres semakin keras, pura-pura tidur nyenyak. Namun perempuan pembunuh ini agaknya tak ingin membunuh dia.

Dengan berjinjit-jinjit ia maju mendekat, pakaian Thio Siau-lim yang bertumpuk di lantai dijumputnya lalu dirogohnya kantong dan diperiksa isinya, ditimang-timangnya tumpukan lembaran uang besar itu, lalu ia jejalkan kembali ke dalam sakunya.

Jadi perempuan pembunuh ini pun tidak bermaksud mencuri, kalau toh tidak ingin membunuh tidak mencuri pula, memangnya apa maksud kedatangannya?

Matanya celingukan kian ke mari, dilihatnya peti kayu bercat hitam di bawah ranjang, segesit kucing ia melompat ke sana, sebelah tangannya dengan cekatan membuka tutup peti kayu.

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Maling Romantis (Xue Hai Piao Xiang) Bab 4: Genggaman Tangan"

Post a Comment

close