Maling Romantis (Xue Hai Piao Xiang) Bab 7: Bayangan Hitam

Mode Malam
Maling Romantis
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 7: Bayangan Hitam
“Masih kau ingin lari?” jengek si pemuda baju hitam. Karena berhasil, mana ia mau mengampuni lawannya, lingkaran cambuknya kembali menggulung tiba.

Tepat pada saat itulah, sekonyong-konyong selarik sinar pedang laksana kilat melesat masuk dari luar jendela. Sementara cambuk panjang sudah bergulung-gulung menjadi lingkaran, tentunya ujung cambuknya tak kelihatan lagi, namun pedang itu justru tepat dan persis sekali menutul di ujung cambuk, kekuatan gubatan cambuk yang melingkar seketika punah dan menjadi lemas. Kalau cambuk panjang itu diumpamakan ular, maka tutulan pedang itu telah sekali menusuk pada tempat kelemahan si ular, yaitu tujuh dim di bawah lehernya.

Kaget, gusar dan heran pula si pemuda baju hitam, bentaknya: “Siapa?”

Belum lenyap suaranya, sesosok tubuh orang tahu-tahu sudah melayang masuk lewat jendela, hinggap di hadapannya.

Orang ini juga mengenakan pakaian serba hitam, membungkus perawakan badan yang kurus dan kencang dan kekar, seperti macan kumbang yang baru saja menerobos keluar dari dalam hutan, seluruh badannya diliputi kekuatan luar biasa. Tapi seraut wajahnya kelihatan abu-abu kaku seperti mayat, tidak memperlihatkan perasaan hatinya. Terutama sepasang matanya tajam dingin menatap orang, siapa pun dalam pandangannya laksana seekor ikan yang sudah pasrah nasib untuk disembelih olehnya.

Walau si pemuda tidak tahu bahwa orang yang dihadapi ini adalah pembunuh nomor wahid di Tionggoan, it-tiam-ang, namun karena pandangan sorot matanya, terasa badan menjadi risi dan gatal, lekas dia mendengus ke arah Coh Liu-hiang, jengeknya dingin: “Ternyata kau sudah menyembunyikan pembantu.”

Coh Liu-hiang hanya meraba-raba bekas luka di mukanya, tersenyum tanpa bersuara.

Terdengar si pemuda baju hitam mencemooh lagi: “Setelah kalah mengundang bala bantuan, memangnya tokoh-tokoh Bulim di Tionggoan begini tak becus dan tak tahu malu?”

It-tiam-ang mendadak menyeringai dingin, jengeknya: “Kau kira dia sudah kalah?”

Si pemuda terloroh dingin, sambil meludah ujarnya: “Kena sekali lecutanku, memangnya aku yang malah kalah?”

It-tiam-ang mengerling kepadanya sekali lagi, sorot pandangannya seperti menghina dan tak pandang mata. Mendadak ia melangkah maju, menggunakan pedang di tangannya, ia menjungkit beberapa batangan bambu yang terputus-putus.

Si pemuda baju hitam tidak tahu permainan apa yang sedang orang lakukan, katanya dingin: “Jadi kau pun ingin menjajal seperti perbuatannya tadi?” demikian tantangnya.

“Kau periksa dulu, baru buka mulutmu.” Sekali gerak dan ayun pedangnya, batangan bambu itu sama terbang ke depan, namun daya luncurannya tidak cepat.

Tak tahan si pemuda ulur tangan menyambut, dilihatnya batangan bambu tetap tidak berubah bentuknya, cuma di setiap batangan bambu itu masing-masing menancap bintik-bintik bintang yang bersinar gelap dingin.

It-tiam-ang balas mencemooh: “Lantaran bintik-bintik bintang inilah dia terkena lecutan cambukmu, kalau tidak masakah sekarang kau masih hidup?”

“Kau.... maksudmu demi menolong jiwaku, maka dia.......”

“Kalau dia tidak berusaha memukul jatuh senjata rahasia itu, seujung bajunya pun jangan harap kau bisa menyentuhnya!”

Bergetar badan si pemuda, batangan bambu di tangannya sama berjatuhan, rona mukanya berubah hijau, lalu merah dan akhirnya putih, pelan-pelan sorot matanya beralih ke arah Coh Liu-hiang, katanya gemetar: “Kau.... tadi kau... ke... kenapa tidak kau katakan?”

“Kan belum tentu senjata rahasia itu mengincar dirimu.”

“Senjata rahasia ini disambitkan dari arah belakangku, sudah tentu sasarannya adalah aku.”

“Terkena sekali lecutanmu juga tidak menjadi soal, kenapa aku harus banyak mulut sehingga kau pedih hati?”

Si pemuda berdiri mematung, sekian lama ia menjublek di tempatnya, matanya yang bundar besar itu mulai berlinang air mata, cuma sedapat mungkin ia menahan tetesan air matanya.

Sengaja Coh Liu-hiang tidak mengawasinya, katanya tertawa: “Ang-heng, apakah kau melihat siapa orang yang membokong dengan senjata rahasia itu?”

Sahut It-tiam-ang dingin: “Kalau aku melihatnya, memangnya kubiarkan dia pergi?”

“Aku tahu gerak-gerik orang itu laksana setan, namun sulit memang melihat jelas siapakah dia sebetulnya. Di dalam Bulim di Tionggoan sebetulnya tidak banyak tokoh-tokoh lihay seperti dia itu.”

“Aku tahu siapa dia,” mendadak si pemuda menyeletuk bicara.

“Kau tahu?” Coh Liu-hiang tersirap. “Siapa dia?”

Si pemuda tidak bicara lagi, tangannya merogoh kantong mengeluarkan sepucuk sampul surat, katanya: “Inilah surat yang ingin kau lihat, ambillah.”

“Terima kasih, terima kasih!” betapa girangnya hati Coh Liu-hiang.

Si pemuda meletakkan sampul surat itu di atas meja, tanpa berpaling lagi ia tinggal pergi. Waktu tiba di luar pintu, kepala tertunduk dan setetes air mata jatuh di atas tanah.

Bebeapa malam dan beberapa hari sudah Coh Liu-hiang mengimpikan untuk mendapatkan surat itu dengan susah payah, tak nyana surat yang diharap-harapkan itu kini berada di hadapannya, sungguh girang sekali hatinya. Jantungnya berdebar-debar, baru saja ia ulurkan tangan hendak menjemput surat itu, tiba-tiba sinar pedang berkelebat menyontek sampul surat itu.

Tak urung berubah air muka Coh Liu-hiang, katanya sambil tertawa getir: “Apa Ang-heng sedang berkelakar denganku?”

It-tiam-ang meraih sampul surat itu dari ujung pedangnya, sahutnya dingin: “Kalau kau menginginkan surat ini, kalahkan dulu pedang di tanganku ini.”

“Sudah kukatakan aku tidak mau berkelahi denganmu, kenapa kau selalu mendesakku?”

“Kalau kau sudah bergebrak dengan pemuda itu, kenapa tidak sudi berkelahi denganku?”

“Umpama ingin berkelahi, biarlah aku membaca surat itu dulu.”

“Setelah bergebrak, kalau aku mati, boleh kau ambil surat ini. Kalau kau yang mati, surat ini akan kukubur bersama jazadmu.”

“Baru saja watak kerbau dungu pergi, kini aku berhadapan dengan watak sapi,” sekonyong-konyong laksana kilat cepatnya badannya melesat terbang, tangan kiri mencolok biji mata It-tiam-ang, sementara tangan kanan merebut sampul surat itu.

Cukup memutar setengah lingkaran badannya, pedang It-tiam-ang sudah menusuk tiga kali pada tiga sasaran yang berlainan. Selicin belut Coh Liu-hiang membungkukkan badan, tahu-tahu badannya menerobos lewat dari bawah sinar pedang, tangan kirinya setengah tergenggam menjojoh lambung It-tiam-ang, tangan kanan tetap bergerak merebut sampul surat itu. Dia bergerak cepat mendesak maju, betapa berbahaya gerakan tubuhnya, betapa cepat dan tangkas sekali cara permainannya, sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Menghadapi lawan tangguh, seketika bangkit semangat It-tiam-ang, permainan pedangnya dikembangkan semakin cepat, lebih ganas dan berbahaya.

Tampak sinar pedang berkelebat pergi datang amat cepatnya, menjadi tabir cahaya terang, sebentar pedang berubah laksana puluhan batang pedang, ratusan dan ribuan. Setiap batang pedang yang berkilauan itu tidak lepas dari incaran ke tempat mematikan di tubuh Coh Liu-hiang, yang dicecar terutama tenggorokannya.

Namun gerak-gerik Coh Liu-hiang gesit, keras dan secepat angin lesus berpusar, tujuannya hanya ingin merebut sampul surat di tangan It-tiam-ang. It-tiam-ang mengerutkan kening, ternyata ia masukkan sampul surat itu ke dalam kantongnya.

Dengan baju bagian dada sedikit tersingkap ke kanan, tangan kiri baru saja hendak memasukkan sampul surat itu ke dalam saku bajunya sebelah kanan, mau tidak mau gerakan pedang di tangan kanannya rada terganggu dan pancaran sinar pedang yang rapat dan ketat itu mau tidak mau menjadi sedikit terbuka. Tibalah saatnya sekarang bagi Coh Liu-hiang memperlihatkan kehebatan kepandaiannya. Mendadak badannya menerjang masuk, tangan kiri mengunci jalan permainan pedang It-tiam-ang, sementara tangan kanan mmegang pergelangan tangan It-tiam-ang yang memegang surat. Dalam sekejap mata, beruntun ia merubah tujuh macam gerakan tangan.

Karena tangan kanan terkunci dan tak berkutik lagi, It-tiam-ang mundur berulang-ulang, sebaliknya Coh Liu-hiang seperti bayangan mengikuti wujudnya, dia melibat terus sehingga orang mati kutu, tahu-tahu pergelangan tangan terasa linu kejang, ternyata urat nadinya telah tergencet oleh jari-jari Coh Liu-hiang.

Saking girangnya, baru saja Coh Liu-hiang hendak merebut sampul surat itu, siapa tahu mendadak It-tiam-ang menjentikkan jarinya, seketika surat itu melayang jauh ke depan sana. Sudah tentu perubahan yang tak terduga ini membuat Coh Liu-hiang kaget, sebat sekali ia melejit memburu ke arah sampul surat itu serta meraihnya, setitik sinar kemilau kembali berkelebat membabat tiba. Betapa pun sinar pedang itu jauh lebih cepat dari gerakan orang, tahu-tahu sampul surat itu sudah tertusuk di ujung pedang.

Baru saja ia tarik pedang dan hendak meraih sampul surat itu, sekonyong-konyong Coh Liu-hiang melejit ke tengah udara dan mendadak pula berjumpalitan ke belakang, tangkas sekali tiba-tiba kedua tapak tangannya menepuk, tahu-tahu sampul surat dan ujung pedang kena tergencet di antara kedua tapak tangannya. Perbuatan ini sudah tentu jauh lebih hebat, lihay dan menakjubkan.

Gerakan pedang It-tiam-ang beruntun berubah tujuh variaasi, namun gerak tubuh Coh Liu-hiang pun berubah tujuh kali, seluruh badannya seenteng daun pohon, bergelantungan di ujung pedang seperti bendera yang melambai mengikuti gerakan pedang lawan.

Tapi dalam keadaan seperti itu, sungguh ia tidak berani menjemput sampul surat itu, karena sedikit ia mengendorkan gencetan tapak tangannya, pedang tajam yang bergerak melebihi kilat mungkin bakal menembus dadanya.

It-tiam-ang tidak putus asa, badannya bergerak teramat cepat dan gesit sekali, namun bagaimana pun ia bergerak dengan berbagai variasi, jangan harap ia bisa melempar Coh Liu-hiang dari ujung pedangnya. Malah terasa pedangnya semakin bertambah berat, kekuatan tenaga yang dia kerahkan pun harus berlipat ganda, tanpa terasa sekujur badan sudah mandi keringat.

Sampai akhirnya pedangnya sudah tak mampu bergerak lagi, terpaksa ia acungkan miring ke atas udara, berat badan Coh Liu-hiang serasa ribuan kati, menindih ke atas badannya.

Begitulah, yang satu di udara, yang lain bercokol di tanah, kedua pihak saling bertahan. Kalau pedang itu bukan terbuat dari baja murni pilihan, pedang sakti yang tiada bandingnya, mungkin sejak tadi sudah patah menjadi dua.

Mendadak It-tiam-ang menghardik keras, sekuat tenaga ia menggentak naik pedangnya, mendadak badan pun melambung tinggi ke tengah udara, dari ketinggian ia putar ujung pedangnya ke bawah, terus dihunjamkan ke bumi. Kalau ujung pedang menukik turun dan menusuk ke bawah, sudah tentu tidak mungkin pula mempertahankan diri di ujung pedang lawan. Maka terdengarlah: “Pletak!”, Coh Liu-hiang terbang miring dua tombak terjatuh di atas tanah, kedua tapak tangannya masih menggencet ujung pedang dan sampul surat itu. Tapi pedang sakti yang terbuat dari baja murni hasil gemblengan seorang ahli pencipta pedang, biasanya dipandang lebih berharga dari jiwa It-tiam-ang sendiri, akhirnya patah menjadi dua potong.

Pucat pasi muka It-tiam-ang, suaranya gemetar: “Bagus, memang ilmu silat hebat, ginkang yang tinggi dan gerakan badan yang indah!”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Ah, Ang-heng hanya memuji saja!” Belum habis kata-katanya, seri tawanya mendadak menjadi kaku membeku.

“Tang!” kutungan ujung pedang di tangannya patah, sedang sampul surat itu pun rontok berhamburan seperti abu beterbangan, kebetulan angin menghembus masuk dari jendela, seketika cuilan kertas surat itu terhembus hilang terbawa angin.

Ternyata waktu kedua orang mengadu kekuatan tenaga dalam tadi, lwekang masing-masing disalurkan bergelombang untuk saling mempertahankan diri, jangan kata hanya kertas surat saja, seumpama papan besi atau lembaran baja pun takkan tahan.

It-tiam-ang tertegun, serunya tergagap: “Ini.... ini......”

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya tertawa getir: “Mungkin memang sudah suratan takdirku, aku tidak diijinkan melihat surat ini.”

It-tiam-ang melongo sesaat lagi, katanya: “Su....surat itu apa sangat penting?” sebenarnya ia tahu pertanyaannya berkelebihan, kalau surat itu tidak penting dan besar artinya, memangnya buat apa Coh Liu-hiang harus berusaha merebutnya dengan mempertaruhkan jiwa, memangnya kenapa pula sekian banyak yang mati lantaran surat itu.

Coh Liu-hiang malah bergelak tertawa, serunya: “Itu pun tak apa-apa, sebaliknya aku membikin pedangmu kutung, seharusnya aku minta maaf kepadamu!'

Sesaat lamanya It-tiam-ang berdiam diri, katanya sambil mendongak: “Selama hidup ini bila aku mencarimu lagi untuk berkelahi, pedang inilah contohnya.”

“Trap!”, kutungan pedang di tangannya tahu-tahu sudah menancap di atas belandar.

Pada saat itulah tiba-tiba terlihat sesosok bayangan orang meluncur masuk, ternyata pemuda baju hitam tadi itulah. Setelah surat tadi hancur, terpaksa Coh Liu-hiang harus mencarinya pula, tak nyana orang telah kembali pula, keruan ia berteriak kegirangan: “Kebetulan kedatangan tuan, ada urusan Cayhe hendak mohon petunjukmu.”

Siapa tahu si pemuda baju hitam seakan-akan tidak mendengar seruannya, selebar mukanya menunjukkan rasa gugup dan kuatir. Sambil celingukan kian ke mari, tiba-tiba ia lari ke sana dan menyelinap masuk ke belakang kerai jendela.

Kwi-gi-tong ini dipajang serba mewah dan istimewa, di depan setiap jendela dipasang gantungan kerai warna abu-abu yang tebal, mungkin lantaran perjudian di sini diadakan setiap malam hari, supaya sinar lampu tidak menyorot keluar.

Waktu itu hari masih pagi, maka kerai jendela belum ditarik, jadi masih tergulung di samping. Pemuda baju hitam bertubuh kurus tinggi. Kalau dia sembunyi di sana, tentu jejaknya takkan ditemukan lagi.

Sekilas Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang saling pandang, hati masing-masing merasa heran dan tak habis mengerti. Kenapa setelah pergi, si pemuda putar balik? Kenapa pula sedemikian gugup? Wataknya keras berhati tinggi dan angkuh lagi, memangnya siapa orangnya yang dapat menakuti dirinya sehingga perlu menyembunyikan diri?

Tak lama kemudian, dari kejauhan beruntun terdengar suitan bambu, suaranya melengking tinggi dan pendek, sahut-menyahut, dalam sekejap saja tahu-tahu sudah berada di sekeliling rumah judi itu. Disusul bau amis yang terbawa angin merangsang hidung. Dari luar pintu melata masuk dua puluhan ular beraneka warna, berukuran besar kecil tak merata.

Coh Liu-hiang mengerutkan kening, sekali lompat ia naik ke atas meja judi dan duduk bersimpuh.

It-tiam-ang mengerutkan alis, dia malah melambung tinggi duduk di atas belandar, kutungan pedangnya ia cabut terus dilemparkan ke bawah, seekor ular yang paling besar kontak terpantek di atas lantai.

Ternyata kekuatan ular itu amat besar, mungkin karena kesakitan, lidahnya menjulur keluar masuk, badannya menggelepar-gelepar amat kerasnya, berdentam di atas lantai, sampai ubin batu yang keras itu pecah dan retak. Tapi tenaga lemparan It-tiam-ang amat keras dan besar, kutungan pedangnya itu ternyata amblas sampai gagangnya. Meski ular beracun itu meronta dan menggelepar sekuat tenaganya, betapa pun ia tidak kuasa membebaskan diri. Sementara ular-ular beracun yang lain terus main terjang, ada yang menggigit ekornya, ada yang menggigit badannya, sekejap saja seluruh kulit dagingnya sudah terisap habis sama sekali.

Rasanya mual dan heran pula It-tiam-ang yang duduk di atas belandar, katanya: “Ular-ular ini rada ganjil, dari manakah datangnya?”

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Mungkin Ang-heng sudah mencari kesulitan sendiri.” Belum habis kata-katanya, dari luar pintu sudah beranjak masuk tiga orang.

Laki-laki yang di tengah bertubuh tegap, pakaian yang dipakainya penuh tambalan, sudah tambalan ditambal lagi entah berapa kali tambalan sehingga kelihatannya tebal namun dicucinya dengan bersih. Walau pakaian yang dipakainya pakaian pengemis, namun sorot matanya bercahaya, memancarkan kilat hijau bengis, sikapnya amat garang dan pongah, seolah-olah tidak pandang sebelah mata kepada siapa pun jua.

Dua orang lain di belakangnya juga berpakaian serba tambalan, raut mukanya buas dan di atas punggung masing-masing menggemblok tujuh-delapan karung goni, terang mereka adalah murid-murid Kaypang yang berkedudukan paling tinggi.

Tata-tertib Kaypang biasanya amat keras dan ketat dalam mengawasi setiap tindak-tanduk murid-muridnya, tingkatan satu sama lain dipandang dan dipatuhi dengan hormat. Pengemis tinggi besar ini tanpa memikul satu karung goni pun, paling hanyalah murid kecil yang belum masuk jadi anggota Kaypang. Tapi dari sorot mata dan sikap kedua murid Kaypang berkarung tujuh-delapan itu, kelihatannya malah takut dan segan serta menghormat kepada laki-laki ini. Bagi pandangan seorang yang kenyang pengalaman kangouw, sekali pandang saja sudah terasa keadaan aneh dan ganjil ini.

Lebih aneh lagi pengemis ini bermuka buas, bengis dan sadis, malah sudah sudah tergembleng dalam kehidupan melarat dan rudin, sering luntang-lantung dalam Bulim, entah dari sudut atau posisi mana kita menilainya, seharusnya kulit dagingnya hitam dan kasar. Tapi sekujur badannya justru berkulit putih halus laksana batu jade yang paling sempurna, seperti kulit perawan pingitan yang tidak pernah keluar rumah dan merawat badannya dengan baik sampai mengkilap.

Coh Liu-hiang menghela napas pula, gumamnya: “Kesulitan memang sudah tiba!”

Pengemis tinggi kekar itu menjelajahkan pandangan matanya yang berkilauan bengis berbentuk segitiga, akhirnya dengan mendelik ia tatap Coh Liu-hiang, katanya gusar: “Keparat, berani kau membunuh ular sakti dari Pun-pang, memangnya sudah bosan hidup?”

Baru saja It-tiam-ang hendak menjawab, Coh Liu-hiang sudah keburu berkata: “Pun-pang? Pun-pang yang tuan maksudkan, entah Pang yang mana?”

Pengemis besar jahat itu menyeringai sadis, bentaknya: “Keparat, memangnya kau picak? Masakah murid-murid Kaypang tidak kau lihat tegas?”

“Murid Kaypang sudah tentu dapat kubedakan, cuma puluhan tahun yang lalu tuan sudah diusir dari Kaypang, kenapa hari ini masih berani kau mengagulkan diri sebagai murid Kaypang?”

Berubah air muka pengemis bertubuh besar itu, mulutnya terpentang lebar terloroh-loroh sambil menengadah, serunya: “Tak nyana kau bocah pupuk bawang ini pun tahu akan asal-usul tuan besarmu.”

“Kalau aku tidak tahu, memangnya siapa yang akan tahu asal-usulmu? Semula kau she Pek, karena perbuatan jahatmu kelewat batas, kulit badanmu kau rawat sedemikian bersihnya, maka kawan-kawan di Kangouw sama memanggilmu sebagai Pek-giok-mo-kay, kau masih merasa bangga dan mengagulkan diri Huruf terakhir dari predikatmu semula lalu kau buang, mengubah nama sendiri menjadi Pek-giok-mo saja.” Sehafal mengisahkan asal-usul keluarga sendiri, Coh Liu-hiang membeberkan asal-usul si pengemis bengis ini.

Bentak Pek-giok-mo dengan beringas: “Bagus sekali, masih ada apa pula?”

“Sepuluhan tahun yang lalu, watak kebinatanganmu mendadak kumat, sekaligus kau perkosa dan bunuh tujuh belas perawan tingting di Hou-khu, Sohciu. Saking marahnya, Jin-lopangcu berkeputusan menghukum mati dirimu sesuai dengan dosa-dosamu, ternyata kau cukup pintar dan tahu diri, siang-siang kau sudah lari dan sembunyi, karena tidak berhasil membekukmu, terpaksa dia mengumumkan pengusiranmu dari anggota Kaypang.”

“Benar, benar sekali,” Pek-giok-mo menyeringai sadis. “Cuma sekarang Jin-lothau sudah mampus, Pangcu baru tidak sekolot dan sepicik dia. Dia tahu kalau kita hendak angkat diri dan mengembang-luaskan kekuasaan, dia perlu bantuan sepasang tanganku ini. Meski Locu tidak sudi menelan pengalaman pahit yang lalu, namun melihat maksud baiknya, terpaksa aku turuti saja kemauannya.”

Perbuatan kotor dan hina di masa lalu yang dia lakukan dikorek dan dibeberkan di hadapan umum, bukan saja dia tidak merasa sedih dan marah, malah bersikap senang dan bangga. Jikalau manusia ini bukannya sudah terlalu bejat, masakah dia bertebal muka dan tidak tahu malu?

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Biasanya Lamkiong Ling mengutamakan welas-asih dan bajik serta bijaksana, namun apa yang dia lakukan untuk hal ini kukira kurang bijaksana dan kurang cermat.”

Belum lagi Pek-giok-mo buka suara, murid-murid Kaypang tujuh kantong itu sudah sama-sama membentak dengan bengis: “Putusan dan anugerah Pangcu kita, siapa yang berani sembarangan mengkritiknya di dunia ini?”

“Orang lain tidak berani, mungkin hanya aku yang berani.”

“Kau terhitung barang apa?” damprat murid Kaypang yang lain.

“Di mana-mana kenapa ada orang bertanya aku ini barang apa? Jelas aku bukan barang, aku ini manusia, malah kalau dipandang mata mungkin rada tampan dan gagah, masakah hanya sedikit perbedaan ini kalian tidak tahu?”

Pek-giok-mo menyeringai dingin, jengeknya: “Kalau begitu aku ingin tahu siapakah orang ini, berani bicara begini congkak di hadapanku, memangnya sudah bosan hidup?”

Coh Liu-hiang bersikap kalem, ia anggap kata-kata orang sebagai kentut belaka, ujarnya tersenyum: “Siapa bilang aku bosan hidup? Justru aku sedang hidup senang dan bergairah, arak baik di dunia ini cukup kuminum seumur hidup, apalagi ada seorang teman seperti Lamkiong Ling yang sering mengundang makan-minum.”

Berubah muka murid-murid Kaypang kantong tujuh, tanyanya: “Kau kenal dengan Lamkiong Pangcu kita?”

“Walau aku ingin berkata tidak kenal, apa boleh buat, selama hidup ini aku paling pantang membual.”

Mata sipit segitiga Pek-giok-mo kembali mengamat-amatinya dari atas ke bawah, seakan-akan dia ingin tahu apakah orang sedang mengagulkan diri belaka, sebaliknya seorang murid kantong tujuh menyeletuk dingin: “Bukan mustahil dia sedang mengulur waktu menunggu bantuan sehingga bocah keparat itu berkesempatan lari.”

“Mampukah bocah keparat itu lolos, sebelumnya aku sudah pendam seorang pembunuh yang akan menggorok lehernya, jangan harap seorang pun di ruangan ini bisa hidup!” demikian Pek-giok-mo menyeringai seram.

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Kalau Lamkiong Ling melihat sikap bicaramu sekasar ini terhadapku, mungkin dia bisa marah-marah.”

Pek-giok-mo terloroh-loroh, “Kalau demikian, biarlah aku membuatnya marah sekalian.” Kembali mulutnya mengeluarkan suitan bambu, dua puluh ekor ular itu kembali angkat kepala pentang mulut dan menjulurkan lidahnya, serempak mereka menerjang ke arah Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya: “Walau biasanya aku tidak suka membunuh orang, tapi membunuh ular-ular jahat seperti ini selamanya aku tidak pakai pantangan.” Di tengah gelak tawanya, ular-ular itu sudah melesat terbang menerjang ke arah dirinya. It-tiam-ang yang berada di atas belandar memang ingin menonton permainannya, namun melihat kehebatan ular-ular itu, mau tidak mau ia merasa kuatir juga.

Baru sekarang Coh Liu-hiang turun tangan, cepat sekali kedua tangannya bekerja, sekali raih ia pencet tujuh dim di bawah kepala ular terus dibanting ke lantai, ular itu tak bisa bergerak lagi. Begitulah, seperti orang sedang bermain sulap saja, kalau tangan kiri memencet tangan kanan melempar. Begitulah, kanan kiri ganti-berganti memencet dan melempar, setiap pencet tujuh dim di bawah leher, dan begitu dilempar melayanglah si ular itu. Dalam sekejap saja dua puluhan ekor ular besar kecil yang galak-galak itu sudah dia lempar semua, tiada satu pun yang ketinggalan hidup.

Betapa telak cengkeraman dan persis tenaga pencetannya, serta kecekatan gerak tangannya sungguh amat menakjubkan. Sampai pun It-tiam-ang yang biasanya mengagulkan kecepatan gerak pedangnya mau tidak mau merasa takjub dan melongo.

Mengawasi bangkai-bangkai ular itu, Coh Liu-hiang malah menghela napas, gumamnya: “Musim semi sudah dekat, saat paling tepat untuk menikmati sop ular. Sayang Song Thiam-ji tak berada di sini, kalau tidak dia bisa memasakkan hidangan lezat bagiku.”

Otot di atas kepala Pek-giok-mo merongkol keluar, sorot matanya hampir menyemburkan bara api. Maklumlah, kawanan ular itu merupakan piaraannya selama puluhan tahun yang sudah menghabiskan jerih-payahnya untuk mencari di lembah pegunungan dan di rawa-rawa, lalu diberi makan berbagai macam obat-obatan serta dilatihnya pula dengan susah-payah. Setelah berhasil, ia pikir hendak malang-melintang di kalangan Kangouw mengandalkan binatang berbisa ini, siapa tahu orang cukup menggerakkan tangan pergi-datang, ular-ular piaraannya kena dibunuh semuanya, malah hendak dibuat sop ular segala. Saking murka, sesaat Pek-giok-mo menjublek di tempatnya, seluruh tulang-tulang di badannya mendadak berbunyi gemeretak, dengan gigi berkeriut ia tatap Coh Liu-hiang, setapak demi setapak ia mendesak maju.

“Eh, eh, aneh, kenapa dalam perutmu seperti ada orang mengocok dadu? Tapi kulihat tampangmu yang buas menyebalkan ini, dadu yang kau lempar tentulah berjumlah satu dua tiga.” Mulut Coh Liu-hiang mengejek tawa namun ia pun tahu kepandaian Pek-giok-mo tidak boleh dipandang ringan, apalagi sekarang orangnya sudah menghimpun seluruh kekuatannya, sekali turun tangan tentu bukan kepalang dahsyatnya.

Dengan waspada matanya mengawasi tangan Pek-giok-mo, tampak tapak tangan Pek-giok-mo yang putih halus itu kini samar-samar seperti mengepulkan hawa hijau.

Tiba-tiba It-tiam-ang berseru memperingatkan: “Tapak tangannya beracun, hati-hatilah kau!”

“Jangan kau kuatir,” sahut Coh Liu-hiang. “Rasanya takkan bisa membinasakan aku.”

Pek-giok-mo menyeringai, desisnya: “Siapa bilang tak bisa membinasakanmu?”

Di saat perang tanding bakal berlangsung itulah, sekonyong-konyong seorang berseru mencegah: “Tahan!”

Di tengah bergeraknya bayangan orang, di tengah sinar redup, satu orang melangkah cepat ke dalam ruangan, tampak orang itu beralis lancip tegak, berbadan kekar tegap dengan dada lapang, pakaiannya seperangkat jubah hijau, namun terdapat dua-tiga tambalan juga.

Walau raut mukanya tampan dan mengulum senyum, tapi tanpa marah sudah menunjukkan wibawanya. Di tengah alisnya lapat-lapat menunjukkan perbawa yang menciutkan nyali orang yang dihadapinya, sikapnya tenang dan mantap, tidak patut dimiliki orang yang baru berusia seperti dirinya ini. Melihat kedatangan orang ini, murid-murid Kaypang itu segera menyurut mundur dan berdiri tegak menundukkan kepala, tanpa berani bersuara pula, sampai Pek-giok-mo pun mundur ke samping, kedua tangannya diluruskan turun.

Belum pernah It-tiam-ang melihat orang ini, namun ia bisa meraba pasti dia adalah Liong-thau Pangcu Lamkiong Ling, pejabat Pangcu Kaypang yang baru.

Coh Liu-hiang tertawa lebar, serunya: “Kebetulan kau datang, Lamkiong-heng. Kalau barusan aku keburu menjadi santapan ular-ular jahat itu, kelak tentu kau kehilangan teman untuk minum arak.”

Lamkiong Ling merangkap tangan menjura, katanya: “Untung Siaute masih keburu datang, kalau tidak ketiga muridku yang buta melek ini mungkin sudah menjadi sop manusia bikinan Coh-heng sendiri.”

“Kau sudah menjadi Pangcu, kenapa omongan menjadi tidak genah itu?”

“Bicara dengan orang seperti kau, Coh-heng, kalau pakai urusan sopan-santun segala, memangnya kelak Coh-heng sudi menjadi teman minum arakku? Tapi bagaimana pun perbuatan kasar murid-murid Pang kita, sukalah kalian memaafkan.” Mendadak ia menarik muka keren lalu berputar menghadapi ketiga murid Kaypang berkantung tujuh itu, dampratnya bengis: “Usia kalian tidak kecil lagi, kenapa bekerja begini ceroboh, tidak tanya dulu siapa yang kau hadapi, lantas berani turun tangan, memangnya kalian sudah lupa tata-tertib Pang kita?”

Lagaknya kata-kata ini tidak ditujukan kepada Pek-giok-mo, namun jelas dampratan ini menyangkut diri Pek-giok-mo pula. Pek-giok-mo tertawa-tawa, ujarnya: “Pangcu tak usah menuding Hwesio memakinya kepala gundul, mereka sih belum turun tangan, akulah yang sudah bertindak.”

Lamkiong Ling membalik menghadapinya, katanya dengan nada berat: “Kalau begitu ingin Puncoh bertanya kepada Pek-susiok, kenapa tidak tanya lebih dulu lantas sembarangan turun tangan, memangnya Pek-susiok ingin keluar lagi dari Pang kita?”

Meski ia hargai Pek-giok-mo sebagai 'Susiok', tapi pengemis galak dari Sohciu ini seketika mengkeret dan tertunduk karena ditatap begitu rupa, senyum tawanya sirna, katanya meringis: “Kita sedang mengejar bocah keparat itu, melihat...... mereka berada di sini, tentulah kami sangka merekalah yang menyembunyikan bocah keparat itu!”

“Sudahkah tanya kepada mereka berdua?” desak Lamkiong Ling.

“Tidak..... belum!”

Lamkiong Ling gusar, dampratnya: “Kalau belum kau tanya, dari mana kau tahu kalau mereka yang menyembunyikan orang? Orang itu jahat dan amat berbahaya, siapa pun takkan memberi ampun kepadanya, memangnya kedua orang ini sudi melindunginya?”

Tertunduk dalam kepala Pek-giok-mo, tak berani bercuit lagi.

Lamkiong Ling tertawa dingin, katanya lebih lanjut: “Apalagi Tionggoan It-tiam-ang dan Maling Romantis Coh Liu-hiang berada di sini, siapakah manusia di kolong langit ini yang ke mari, pastilah harus sopan-santun dan kenal adat, mengandal apa pula kalian berani bertingkah dan begitu pongah di sini?”

Memang tidak malu Lamkiong Ling seusia itu sudah menjabat Pangcu dari suatu perserikatan pengemis terbesar di seluruh kolong langit, beberapa patah kata-katanya yang sederhana bukan saja memaki dan menyalahkan terhadap murid-murid Kaypang sendiri, sekaligus ia memperkenalkan asal-usul Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang. Walau dia mendamprat anak-buahnya sendiri, namun sedikit pun tidak menurunkan derajat dan pamor pihak Kaypang mereka.

Lebih penting lagi dengan mulutnya ia menggambarkan pemuda baju hitam itu sebagai durjana jahat yang berdosa besar, maksudnya supaya Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang tidak melindunginya lagi.

Sebaliknya Coh Liu-hiang diam-diam sedang heran, “Pemuda itu dari gurun pasir nan jauh, mana mungkin baru saja memasuki Tionggoan lantas melakukan sesuatu terhadap murid-murid Kaypang, malah naga-naganya perbuatan itu tidak kepalang tanggung.”

Setelah tahu orang yang mereka hadapi adalah Maling Romantis Coh Liu-hiang yang terkenal di seluruh jagad ini, seketika murid-murid Kaypang itu melongo terkesima.

Pek-giok-mo tertawa lebar menengadah: “Kiranya tuan ini adalah Coh Liu-hiang. Aku Pek-giok-mo hari ini kecundang di tangan Maling Romantis, tidak perlu dibuat malu. Kini Pangcu sudah berada di sini, tidak perlu aku banyak ribut lagi...... selamat bertemu di lain kesempatan!” dengan penuh kebencian ia pelototi Coh Liu-hiang, lalu tinggal pergi tanpa menoleh lagi.

Pelan-pelan Lamkiong Ling menghela napas, ujarnya: “Walau belakangan ini sepak-terjang orang ini sudah berubah, namun jiwa dan wataknya masih sempit dan kasar, tindak-tanduknya masih berangasan, maka harap Coh-heng tidak berkecil hati.”

“Kalau orang lain tidak menyalahkan aku saja sudah puas hatiku, masakah aku harus salahkan orang lain?”

“Tak nyana Coh-heng dan Ang-heng berdua bisa berada di sini, biasanya memang Siaute tak pernah menetap lama di kota ini, namun sering datang ke mari, bolehlah terhitung sebagai tuan rumah juga, sebentar kuharap kalian suka iringi aku minum sepuasnya.”

Selanjutnya ia tidak singgung pula soal si pemuda baju hitam tadi.

Sudah tentu Coh Liu-hiang pun kebenaran malah, katanya tertawa besar: “Setahun penuh kalian selalu minta sedekah sesuap nasi, apakah juga minta arak kepada orang? Baik, peduli dari mana arak kalian dapatkan, ada orang traktir aku makan-minum, selamanya aku tidak buang kesempatan baik ini. Ang-heng, jangan kau buang kesempatan baik ini, maklumlah arak yang tak usah keluar duit, rasanya memang jauh berlainan sekali.”

It-tiam-ang tetap bercokol di atas belandar tidak mau turun, sahutnya dingin: “Selamanya aku tidak pernah minum arak.”

“Wah, hidangan lezat yang menimbulkan selera, masakah disia-siakan? Memangnya kau tidak merasa lapar?”

“Arak bikin tangan gemetar, hati lemah, untuk membunuh orang jadi kurang cepat.”

Coh Liu-hiang menghela napas, “Kalau lantaran untuk membunuh orang lantas pantang minum arak, boleh dikata seperti kuatir mencret-mencret lantas tak mau makan nasi, bukan saja pikiran brutal malah boleh dikata tidak kenal kasihan terhadap mulut dan perut sendiri. Ang-heng, kau......”

Mendadak dilihatnya dua murid Kaypang muncul dari pintu belakang, terus menjura kepada Lamkiong Ling, kata orang yang di sebelah kiri: “Rumah belakang sudah kami periksa dengan para Tianglo, namun tak terlihat jejak orang jahat itu.”

Berputar biji mata Lamkiong Ling, katanya sambil soja kepada Coh Liu-hiang: “Kalau demikian, harap Coh-heng suka menyerahkan orang itu kepada kami.”

Coh Liu-hiang berkedip-kedip, tanyanya: “Siapakah orang yang kau katakan?”

“Terus terang Siaute sendiri belum jelas asal-usulnya, cuma gerak-geriknya enteng dan gesit, ilmu silatnya tinggi. Dua hari yang lalu di Tio-koan-tin pernah melukai puluhan murid-murid Pang kami, mencuri beberapa benda penting kami pula, tadi melukai Song-huhoat lagi, maka Pang kami sekali-kali tidak akan melepaskannya demikian saja.”

“O..... ada orang demikian? Kejadian begitu?”

“Apa benar Coh-heng tidak tahu akan orang ini?” tanya Lamkiong Ling kereng.

“Seumpama aku mengincar sesuatu milik orang lain, takkan bekerja di atas kepala orang-orang Kaypang kalian.”

“Begitu lebih baik .........” ujar Lamkiong Ling tersenyum. Membarengi kata-katanya, sekonyong-konyong dari lengan bajunya melesat terbang dua batang pedang pendek. Kedua batang pedang pendek Lamkiong Ling ini sekaligus bisa digunakan sebagai penotok jalan darah seperti Boan-koan-pit atau Hun-cui-coh dan delapan macam senjata tajam lainnya. “Jit-gi-pat-bak, ki-liong-cap-sha-cek” memang boleh dibilang sebagai kepandaian tunggal yang tiada bandingannya di dalam bulim, sampai pun kepandaian silat Jin-lopangcu, eks Pangcu terdahulu yang sudah ajal pun, agaknya masih setingkat lebih rendah.

Dua batang pedang pendeknya melesat seperti kilat menyambar, langsung menerjang kerai jendela dari kain beludru sebelah bawahnya. It-tiam-ang duduk di atas memandang ke bawah, jelas sekali pandangannya, dilihatnya di bawah kain kerai yang menjuntai turun itu terdapat ujung sepatu kulit hitam yang menonjol keluar.

“Blus! Crap!” kedua batang pedang pendek itu tembus masuk ke dalam sepatu panjang berat itu, seolah-olah memantek kedua sepatu itu di atas lantai. Senyuman lebar Lamkiong Ling masih terkulum pada ujung mulutnya, katanya pelan-pelan: “Sampai pada detik ini, tuan masih tidak mau keluar?”

Kain gordin itu tetap tak bergerak dan tak terdengar reaksi apa-apa. Sekaligus Lamkiong Ling melirik kepada Coh Liu-hiang, dilihatnya sikap Coh Liu-hiang tenang-tenang saja seperti apa pun tak diketahui olehnya, akhirnya Lamkiong Ling menjengek tawa dingin: “Baiklah!”

Sedikit ia ulapkan tangan, kedua murid Kaypang yang barusan masuk segera meloloskan golok di pinggang, menerjang ke depan dengan langkah lebar, golok terayun membacok bersama ke arah kerai jendela.

Walau sifat It-tiam-ang kaku dingin dan tak berperasaan, tak urung berdetak juga jantungnya. Seumpama pemuda baju hitam itu ayal, paling tidak kedua kakinya pasti cacat atau terkutung.

Di mana golok-golok itu menyambar, kerai jendela pun melayang berjatuhan, namun tak terlihat darah muncrat. Jendelanya terbuka, angin menghembus masuk, sehingga kerai bagian atas yang masih tergantung terhembus bergoyang-goyang, namun tak terlihat bayangan manusia, ternyata kedua sepatu hitam panjang di belakang kerai itu kosong melompong tanpa diketahui ke mana si pemakainya.

Coh Liu-hiang tertawa besar, katanya: “Kerai sebagus itu dibacok kutung menjadi dua, sepasang sepatu kulit kerbau semahal ini dilubangi dua tusukan pedang, Lamkiong-heng tidak merasa sayang?”

Sedikit berubah air muka Lamkiong Ling, katanya dingin: “Kerai putus bisa dijahit kembali, sepatu bolong bisa ditambal. Kalau orangnya merat, murid-murid Kaypang kami pun bisa mengejarnya.”

Murid berkantung delapan itu berubah mukanya, selanya: “Memangnya bangsat itu lari dengan berkaki telanjang?”

“Siapa yang tugas jaga di luar jendela?” tanya Lamkiong Ling dengan kereng.

“Para saudara dari Thiam-koh-bio di Kilan,” sahut murid kantong delapan itu.

“Bawa mereka dan serahkan kepada Kongsun-huhoat,” bentak Lamkiong Ling. “Jatuhi hukuman sesuai peraturan rumah tangga.”

“Baik!” sahut murid kantong delapan sambil menjura. Sebat sekali badannya menerobos keluar melalui jendela, lalu terdengar suara hardikan di luar jendela.

Lamkiong Ling putar badan sambil unjuk tawa dipaksa kepada Coh Liu-hiang, katanya bersoja: “Siaute masih ada urusan, hari ini biarlah kita berpisah dulu.”

“Baru saja kau membangkitkan selera minumku, memangnya kenapa tergesa-gesa mau pergi?” Coh Liu-hiang coba menahannya.

“Ketagihan arak Coh Liu-hiang, di kolong langit ini siapa yang bisa selalu melunasinya? Dalam dua hari mendatang Siaute pasti mengundangmu. Harap Ang-heng ini pun jangan menolak undanganku.”

Di mana tangannya terangkat dan sedikit sentak, kedua pedang pendek itu mencelat naik terus terbang kembali ke tangannya. Ternyata pada gagang kedua pedang terikat seutas rantai lembut yang terbuat dari platina.

Dengan terburu-buru Lamkiong Ling mengundurkan diri, maka terdengar pula suara ribut-ribut di luar jendela, suara suitan saling bersahut-sahutan pula, semakin lama makin menjauh dan akhirnya tak terdengar pula.

Berkata Coh Liu-hiang dengan prihatin: “Lamkiong Ling memang seorang berbakat dan seorang pemimpin yang lihay, di bawah kekuasaannya Kaypang ternyata sehari demi sehari semakin kuat dan kokoh..... mungkin memang rada terlalu kuat.”

Baru sekarang It-tiam-ang melompat turun, biji matanya jelalatan, katanya: “Menurutmu, apakah pemuda tadi benar sudah pergi?”

Coh Liu-hiang tertawa: “Memangnya jendela di sini hanya satu?”

Terdengar seseorang berkata dengan dingin: “Cuma sayang Lamkiong Ling itu tidak berpandangan setajam Coh Liu-hiang.” Sembari bicara, tahu-tahu pemuda baju hitam tadi sudah nongol keluar dari daun jendela yang lain, kaus kakinya yang putih bersih kelihatan berlepotan debu.

Baru sekarang It-tiam-ang sadar bahwa sepatu kulitnya memang sengaja ditonjolkan keluar sedikit, orang membuka sepatu dan lolos keluar jendela, lalu dari bawah emperan merayap ke jendela yang lain serta menyembunyikan diri di belakang kain gordin jendela yang lain. Semuda ini usia pemuda itu, namun kecerdikannya luar biasa, dapat dia gunakan titik lemah dari watak manusia untuk mengambil keuntungan. Tepat sekali perhitungannya bahwa Lamkiong Ling pasti menyangka dirinya sudah melarikan diri, maka dia segan memeriksa tempat yang lain.

Tampak si pemuda baju hitam menghampiri ke depan Coh Liu-hiang. Sesaat lamanya ia melotot kepadanya, lalu mendadak berkata dengan keras, “Lamkiong Ling itu adalah teman baikmu, aku sebaliknya belum pernah kenal atau bertemu denganmu, kau tidak bantu dia malah membantu aku, sebenarnya apa maksudmu?”

Rasa curiga si pemuda ternyata sedemikian tebal. Orang lain membantunya, bukan saja tidak terunjuk rasa terima kasihnya, malah dia curiga orang ada gejala-gejala yang tidak menguntungkan dirinya.

“Aku bantu kau dan tidak bantu dia karena dia seorang pengemis yang rudin sekali, sebaliknya kau ini punya uang, maka perlu aku menjilat pantatmu.”

Sesaat lamanya si pemuda masih melotot kepada Coh Liu-hiang, akhirnya ujung mulutnya mengulum senyum, namun ia tahan sehingga dirinya tidak tertawa, katanya tetap dingin: “Meski kau sudah bantu aku, sekali-kali aku tak sudi menerima budi kebaikanmu ini.”

Coh Liu-hiang juga menahan tawa, ujarnya: “Siapa yang bantu kau? Apa perlu orang lain membantumu? Apalagi orang-orang seperti murid-murid Kaypang itu masalah terpandang dalam matamu?”

“Kau kira aku takut kepada mereka?” damprat si pemuda gusar.

“Sudah tentu kau tidak takut. Kalau kau sembunyi di belakang jendela, tak lebih hanya ingin mempermainkan mereka saja.”

Saking marahnya, merah padam muka si pemuda, kakinya melangkah mendekat seraya membentak bengis: “Jangan kau kira lantaran sudah membantuku, lantas boleh sembarangan mengejek dan mempermainkan aku, aku......” belum habis kata-katanya, tiba-tiba ia mencelat setinggi-tingginya. Kiranya tanpa ia sadari kakinya yang telanjang itu menginjak bangkai ular, saking kaget dan jijiknya ia mencelat naik ke atas meja, hampir saja ia menubruk ke dalam pelukan Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, katanya: “Kau ini orang gagah yang tidak takut langit dan bumi, kiranya hanya takut kepada ular.” Baru sekarang pula ia sadari sikap gugup dan ketakutan si p emuda yang berlari kembali tadi lantaran takut dikejar ular, jadi bukan karena takut menghadapi kepandaian murid-murid Kaypang. Pemuda kaku dingin ini takut ular, sungguh membuat orang sukar percaya.

Merah muka si pemuda, katanya dengan napas memburu: “Bukan aku takut, aku hanya jijik... sesuatu yang lunak dan licin berbau lagi, aku amat membencinya, memangnya kau kira hal itu menggelikan?”

“Tidak, tidak menggelikan!” ujar Coh Liu-hiang mengeraskan muka. “Kalau setiap perempuan takut ular, kenapa laki-laki tidak boleh takut? Kenapa laki-laki harus sedikit rada takut terhadap barang-barang seperti ini?”

Mendengar kata-katanya ini, sorot mata It-tiam-ang yang dingin kaku itu mengunjuk rasa geli yang tertahan, sebaliknya selebar muka si pemuda merah jengah.

Pada saat itulah, terdengar seseorang menjengek dingin: “Maling romantis yang terkenal di seluruh dunia ternyata bukan saja pandai berkelakar, dia pun pintar membual.”

Entah kapan seseorang berdiri menggelendot di depan pintu, dia bukan lain Pek-giok-mo adanya, tangannya menjinjing kantong kain abu-abu, entah apa isinya? Keruan berubah air muka si pemuda baju hitam, lahirnya Coh Liu-hiang bersikap tenang namun jantungnya berdebar keras, katanya tawar: “Bukankah tadi dia tak berada di sini?”

“Pangcu kami sudah memperhitungkan pasti dia masih berada di sini,” Pek-giok-mo menyeringai dingin. “Cuma memberi muka kepada kau si Maling Romantis ini, maka sementara dia menyingkir pergi. Kini setelah dia undurkan diri, kau....”

Pemuda baju hitam tiba-tiba berkata lantang: “Tidak usah kalian pandang mukanya, aku tiada sangkut-pautnya dengan dia.”

“Kalau demikian, kau mau keluar sendiri, atau tunggu kami yang meluruk masuk?”

Tanpa menunggu orang habis bicara, pemuda baju hitam itu sudah melompat terbang keluar jendela, disusul terdengar suara bentakan dan keluhan, lalu terdengar pula derap langkah ramai saling kejar dan tak lama kemudian menghilang.

“Kalian punya pangcu seperti Lamkiong Ling, benar-benar mendapat rejeki setinggi gunung. Pemuda itu berbuat salah terhadap Lamkiong Ling, memang sebal dan setimpal memperoleh ganjarannya!”

“Yang berbuat salah terhadap aku, Pek-giok-mo, belum tentu dia bernasib baik.” Mendadak Pek-giok-mo mengeluarkan senjata warna hitam legam dengan bentuk yang aneh dari dalam kantongnya, bentaknya: “Jembatan jangan disamakan dengan jalan, meski kau kenal baik dengan Lamkiong Ling, Pek-giok-mo sebaliknya tidak kenal siapa kau, kau berbuat salah terhadapku terhitung hari kematianmu sudah tiba hari ini.”

“Kenapa banyak orang yang ingin aku mati, kalau aku mati apa sih manfaatnya bagi kalian?” kata Coh Liu-hiang angkat pundak.

“Banyak sekali manfaatnya!” Pek-giok-mo menyeringai sadis. Tiba-tiba gaman aneh di tangannya teracung ke depan. It-tiam-ang mandah berpeluk tangan menonton saja, dilihatnya senjata itu mirip ganco atau gantolan, seperti cakar, bagian gagangnya diberi gelangan untuk melindungi jari-jari tangan sendiri dengan batangan berwarna hitam seperti Long-gee-pang, penuh ditumbuhi duri-duri bengkok ke belakang, sementara ujung paling depan adalah cakar-cakar setan yang dapat dikembang dan ditarik mingkup, jari-jari cakarnya hitam mengkilap, terang sudah dilumuri racun jahat.

Selama It-tiam-ang malang-melintang di Kang-ouw, sudah ratusan kali gebrak dengan berbagai musuh, namun belum pernah dilihatnya senjata seaneh ini, dia pun tak mengerti manfaat atau kegunaan daripada senjata aneh macam ini.

Bagi setiap tokoh silat adalah jamak setiap melihat semacam senjata aneh yang baru seperti pula anak kecil yang melihat barang mainan baru, tertarik dan merasa aneh pula. Demikian pula It-tiam-ang tidak ketinggalan mempunyai rasa yang sama. Dia pun ingin melihat bahwasanya gaman seaneh ini punya permainan jurus-jurus yang aneh pula, ingin pula dia melihat cara bagaimana Coh Liu-hiang memunahkan kepandaian lawan.

Terdengar Coh Liu-hiang berkata: “Alat mainan untuk menangkap ularmu ini juga hendak kau gunakan untuk menghadapi manusia?”

Pek-giok-mo terloroh-loroh, serunya: “Jit-hun-gi-jian-ku ini bukan saja bisa menangkap ular, juga bisa mencengkeram sukmamu, biar hari ini kau coba jajal.” Sambil berkata, beruntun dia sudah melancarkan tujuh-delapan jurus serangan, memang jurus permainannya aneh dan lucu, lihay lagi, tiba-tiba menutul enteng mendadak menyerampang keras, adakalanya dimainkan lincah mengandung perubahan yang aneh-aneh, tapi mendadak menyerang dengan kekuatan besar untuk merobohkan musuh.

Pengemis buas dari Kosoh ini ternyata memang sudah tekun berlatih menggembleng ilmu permainan senjatanya yang luar biasa ini, tipu-tipu serangan yang lemas dan keras saling berganti dengan leluasa dan cepat ini, sungguh sukar dihadapi oleh siapa pun, tapi kalau dia sendiri belum bisa mengendalikan kekuatan dari permainannya sendiri, betapa pun dia takkan mampu melancarkan tipu-tipu yang luar biasa seperti itu.

Gerak badan Coh Liu-hiang berubah dan berubah lagi, agaknya memang ingin melihat sampai di mana dan berapa hebatnya permainan lawan. Betapa pun hebat dan gencar perubahan serangan Jit-gi-jian lawan, dalam waktu dekat ia mandah berkelit saja tanpa balas menyerang.

Maklumlah hobinya memang bermain silat, hobinya ini boleh dikata jauh melebihi orang lain. Melihat sebuah senjata berbentuk aneh, rasa tertariknya puluhan kali lipat melebihi It-tiam-ang. Di seluruh kolong langit ini, entah berapa banyak senjata-senjata aneh yang pernah dilihatnya, bukan saja pernah melihat, dia pun sudah bisa mematahkan cara-cara serangan lawan, kini mendadak ia kebentur dengan Jit-gi-gian yang lain dari yang lain pula, sudah tentu ia tidak mau melepaskan kesempatan untuk menjajalnya. Sebelum dia paham seluruh permainan Jit-gi-gian serta tipu-tipu perubahannya, boleh dikata dia enggan turun tangan serta menghentikan serangan Pek-giok-mo. Tapi karena keisengannya ini, beberapa kali ia menghadapi serangan berbahaya musuh yang hampir saja menamatkan jiwanya. Namun ada kalanya sengaja ia tunjuk titik kelemahan diri sendiri, memancing serangan lawan memperlihatkan jurus-jurus tunggalnya.

Cakar-cakar berbisa yang mengkilap itu, beberapa kali sudah menyerempet kain pakaiannya, sampai pun It-tiam-ang ikut kaget dan mengucurkan keringat dingin.

Karena dapat mendesak lawan dan berada di atas angin, lebih bergairah dan bersemangat Pek-giok-mo, tipu demi tipu mematikan dari jurus-jurus tunggal ilmu Jit-gi-jiannya dia kembangkan tak habis-habisnya. Coh Liu-hiang didesak dan dirabanya sampai berulang-ulang.

Mendadak Coh Liu-hiang malah bergelak tertawa: “Kiranya permainan Jit-gi-jian-mu ini paling hanya begini saja. Untuk menangkap ular memang bisa kau gunakan, hendak menangkap orang masih jauh sekali!”

Pek-giok-mo membentak: “Jurus permainan Jit-gi-jianku ini selama hidupmu jangan harap kau bisa melihatnya dengan sempurna.” Pengemis buas yang licik dan licin ini agaknya dapat meraba maksud tujuan Coh Liu-hiang.

Dia tahu, sebelum Coh Liu-hiang melihat seluruh jurus-jurus tipu permainan Jit-gi-jiannya ini, dia takkan turun tangan balas menyerang. Kata-katanya ini memang hendak menyudutkan Coh Liu-hiang. Kalau Coh Liu-hiang tidak balas menyerang, maka dengan lebih leluasa dia bisa melancarkan tipu-tipu keji ilmu Jit-gi-jiannya. Apalagi Jit-gi-jian yang dia yakinkan ini masih mempunyai tipu-tipu keji yang dahsyat dan lihay yang masih belum sempat dia kembangkan, tujuannya adalah hendak menyudutkan Coh Liu-hiang pada posisi yang kepepet dan tak mungkin bisa berbuat banyak, barulah saat itu sekali serang dia bikin Coh Liu-hiang mampus oleh cengkraman cakar senjatanya yang beracun.

Jelas Coh Liu-hiang tahu akan hal ini namun dia justru membakar hati orang dan memancingnya: “Sejak tadi kau sudah kehabisan akal dan hampir putus asa, aku tak percaya kau ini punya kemampuan lain apa lagi.” Sembari bicara kakinya menyurut mundur ke sudut yang mematikan ke pojok ruangan. Memang nyalinya teramat besar, tanpa ragu-ragu ia gunakan jiwanya sendiri sebagai pertaruhan hanya untuk melihat gerak perubahan dari ilmu Jit-gi-jian keseluruhannya serta variasi perubahannya.

Sungguh pertaruhannya teramat besar It-tiam ang tidak habis pikir bahwa dalam dunia ini ada orang yang menggunakan pertaruhan jiwa sebagai permainan bercanda belaka, ia tak tahu membedakan apakah ini perbuatan bodoh atau pintar?

Memancing ikan, memang permainan orang-orang pintar, tapi kalau diri sendiri dijadikan umpan untuk mengail ikan bolehlah diartikan terbalik bahwa ikanlah yang berbalik memancing dirinya.

Coh Liu-hiang sedang menunggu kesempatan supaya Pek-giok mo terpancing, demikian pula Pek-giok mo sedang menunggu Coh Liu-hiang terkait. Begitu Coh Liu-hiang sendiri mundur ke sudut yang mematikan, tiba-tiba Pek-giok-mo menyeringai tawa, serunya: “Jurus-jurus hebat mematikan Lohu akan kau lihat setelah kau sudah ajal.”

Dalam sekejap saja dia sudah menyerang lagi tujuh jurus, satu persatu bisa dihindari oleh Coh Liu hiang dengan mudah tampak Jit-gi-jian musuh mendadak meluncur lempang dari tengah, menyerang ke mukanya. Coh Liu hiang mengkeretkan badan mundur satu kaki, dia sudah perhitungkan tepat posisi kedatangan Jit-gi-jian jelas takan bisa mencapai dirinya, serunya tertawa besar: “Kalau kau tidak........"

Baru sampai di sini kata-katanya, tiba-tiba didengarnya “Sret!”, cakar setan yang hitam legam terkembang itu tiba-tiba melenting copot dari badannya terus mencengkeram ke dadanya. Ternyata pada batang Jit-gi-jian ini di dalamnya ada dipasang pegas yang mempunyai daya pental yang amat keras, cukup asal Pek goik mo menekan tombol di gagang yang dipegangnya, jari-jari cakar setan itu lantas mencelat keluar mencengkeram ke arah sasarannya.

Jari-jari cakar setan ini disambung oleh seutas rantai lembut empat kaki panjangnya, maka Jit-gi-jian yang semula hanya panjang tiga kaki enam dim, mendadak berobah sepanjang tujuh kaki enam dim, jarak yang semula tak bisa dicapai kini dengan mudah dicapainya.

Kini Coh Liu hiang sudah tidak mungkin bisa mundur lagi. Ia insyaf, asal kulit badannya sedikit tergores atau lecet oleh jari-jari cakar setan lawan, maka jiwanya takan hidup lebih dari satu jam.

Sebagai tokoh kosen yang berkepandaian silat tinggi, dengan seksama It-tiam-ang menonton pertempuran ini, sudah tentu ia jauh lebih terang dari orang yang sedang bertempur sendiri. Begitu dia melihat serangan Pek giok mo terakhir ini, serta merta ia menghela napas. Posisi Coh Liu hiang terang sudah kepepet dan tidak mungkin mundur pula, untuk berkelit lagi pun tiada peluang pula. Kalau jari-jari cakar setan ini tidak dilumuri racun, mungkin dengan gerakan Hun-kong-coh-ing (menyibak cahaya menangkap bayangan) dia bisa menangkap cakar setan lawan, tapi jari-jari cakar setan ini amat beracun, boleh dikata disentuh pun cukup membahayakan jiwa orang.

Mau tidak mau Coh Liu hiang menjadi kaget pula, namun meski hati mencelos ia tidak menjadi gugup karenanya, di saat-saat menghadapi bahaya antara mati dan hidup, toh terpikir juga oleh otaknya yang cerdik cara untuk mematahkan serangan mematikan ini.

Tampak pundaknya sedikit bergerak, tahu-tahu tangannya sudah mencekal sesuatu, kebetulan cakar setan sudah menyelonong tiba di depan dadanya, secara refleks langsung ia angsurkan benda dalam cekalannya masuk ke tengah jari-jari cakar setan itu.

“Trap!”, jari-jari cakar setan segera mengatup kencang dan ditarik mundur pula, benda yang tercengkeram di dalam jari-jari cakarnya yang hitam legam itu dibanting pun takkan terlepas, setelah ditegasi kiranya hanyalah segulung gambar lukisan.

Maklumlah, sesuai dengan julukan Maling Romantis, betapa cepat gerakan tangan Coh Liu-hiang tiada bandingannya di seluruh kolong langit, kalau dia ingin sesuatu dari kantong dalam baju orang segampang dia membalikkan tapak tangannya sendiri, apalagi merogoh keluar barang miliknya sendiri. Oleh karena itu maka dalam saat yang kritis di saat jiwanya terancam elmaut itulah ia merogoh keluar gulungan gambar itu serta disesapkan ke tengah jari-jari cakar setan. Betapa cepat daya luncuran cengkeraman cakar setan itu, kalau orang lain yang menghadapi, belum lagi gulungan gambar dirogoh keluar mungkin dadanya sudah berlobang besar dan jantungnya tersedot keluar.

Meskipun gulungan gambar itu amat penting artinya, namun menghadapi saat saat penentuan mati hidup jiwanya sendiri, betapa pun tingginya nilai sesuatu benda miliknya , bolehlah dibuang atau dikorbankan untuk menebus jiwanya.

Mimpi pun Pek-giok-mo tidak pernah terpikir akan akal licik lawan, sekali serangannya luput seketika berubah air mukanya, sebat sekali ia sudah mundur tujuh kaki, agaknya jeri bila Coh Liu-hiang merangsek dan mencecar dirinya malah. Siapa tahu Coh Liu-hiang sedikitpun tak bergeming dari tempatnya berdiri, cuma katanya tersenyum lebar: “Walau kau ingin mencabut nyawaku, aku sebaliknya tidak ingin menamatkan jiwamu, kini kemampuan aslimu sudah kau tunjukkan, lebih baik kau serahkan saja barang yang tercengkeram dalam cakar setanmu itu, lalu lekaslah enyah dari sini!”

Memang Pek-giok-mo tidak tahu barang apa yang tercengkeram di dalam cakar setannya, tapi sesuatu benda yang tersimpan dan dikeluarkan dari kantong badan lawan tentulah sesuatu yang bernilai tinggi. Maka kata-kata Coh Liu-hiang menggerakkan hatinya, katanya dingin: “Maksudmu supaya aku mengembalikan gulungan kertasmu ini?”

Coh Liu Hiang tertawa, oloknya, “Cakar setan yang peranti mencabut nyawa orang, kini hanya berhasil merenggut segulung kertas, memangnya kau tidak merasa malu ?”

Pek-giok-mo tertawa besar, ujarnya, “Kalau toh hanya segulung kertas bobrok, kenapa kau harus minta supaya aku mengembalikan kepadamu?”

Mau tidak mau gugup juga hati Coh Liu-hiang, batinnya : “Keparat ini memang licik dan banyak akalnya.” Di mulut ia menyahut tawar, “Kalau kau ingin memilikinya, boleh kuberikan kepadamu untuk membesut air matamu, atau bolehlah untuk menyeka ingusmu saja.”

Pek-giok-mo menyeringai tawa dingin, katanya: “Yang harus mengalirkan air mata sekarang mungkin malah kau sendiri.” Lalu ia mundur lagi beberapa langkah, pelan-pelan ia keluarkan gulungan gambar itu lalu dibentangkan setengah halaman. Hanya sekilas pandang saja, rona mukanya tiba-tiba mengunjuk perasaan yang aneh dan lucu, tiba-tiba pula ia bergelak tertawa.

Melihat mimik tawa orang yang aneh, bertanya Coh Liu-hiang dengan heran: “Apa yang kau tertawakan?”

“Untuk apa kau menyimpan gambar lukisan bini Jin Jip di dalam kantongmu? Kulihat usiamu masih muda, memangnya kau sedang terserang penyakit rindu sepihak kepada bini Jin-lothau?”

Sungguh girang dan kaget bukan kepalang hati Coh Liu-hiang mendengar kata-kata Pek-giok-mo setelah orang melihat gambar lukisan itu. Jawaban teka-teki yang selama ini dicarinya ubek-ubekan tidak ketemu, kiranya sekarang didengarnya dengan tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Saking kegirangan, tanpa sadar ia berteriak: “Jadi Chiu Ling-siok ternyata menikah dengan Kaypang Pangcu yang terdahulu. Memang kedudukannya mulia dan diagungkan, namanya jauh lebih suci dan terpandang, jauh lebih tinggi dibandingkan Sebun Jian dan lain-lain.”

Melihat mimik muka serta tingkah lakunya, Pek-giok-mo pun kelihatan heran dan tak mengerti, katanya: “Chiu Ling-siok?.... siapa Chiu Ling-siok itu?”

“Bukankah kau tadi berkata bahwa dia istri Jin Jip Jin-lopangcu dari Kaypang?”

“Istri Jin Jip itu she Yap, bernama Yap Siok-tin....”

Coh Liu-hiang melengak kaget pula, teriaknya: “Lalu lukisan gambar itu...”

“Yang dilukis di atas gambar ini adalah Yap Siok-tin, kau sendiri sudah menyimpan gambar lukisannya, memangnya belum tahu nama aslinya?”

Baru sekarang Coh Liu-hiang dibikin paham: “Tak heran tiada orang Kang-ouw yang tahu di mana jejak Chiu Ling-siok, ternyata dia sudah mengubah nama dan menikah dengan Kaypang Pangcu. Ai, betapa buruk dan tercela nama perempuan siluman ini dulu, kalau ingin menikah dengan tokoh kosen yang kenamaan di kalangan Kangouw, sudah tentu harus merubah she dan berganti nama, untuk hal ini seharusnya sejak mula sudah harus kupikirkan."

Tiba-tiba Pek-giok-mo berubah beringas, serunya bengis: “Jikalau kau maki Jin-lothau, kau maki delapan belas keturunannya pun tak menjadi soal, tapi istrinya adalah seorang perempuan suci yang welas asih dan luhur budi serta bijaksana, sampai pun aku Pek-giok-mo harus tunduk dan kagum kepadanya. Jikalau kau berani omong dengan perkataan kotor mengenai dirinya pula, murid-murid Kaypang sebanyak laksaan anggota pasti tak seorang pun yang sudi mengampuni jiwamu."

Coh Liu-hiang maklum, setelah Chiu Ling-siok menikah dengan orang, tentu dia sudah cuci tangan membina diri, kembali menjadi manusia baik-baik. Biasanya memang dia sendiri amat simpatik dan mengagumi orang seperti ini, sudah tentu dia pun takkan membeber sepak terjangnya dulu yang memalukan, sorot matanya berputar, tiba-tiba ia berkata: “Entah di mana sekarang Jin-hujin berada?”

“Kulihat kau begitu kepincut sampai lupa daratan, memangnya kau sudah berkeputusan rela menikah dengan seorang janda? Tapi ketahuilah, dia adalah seorang suci yang patuh akan adat istiadat, kau ini kodok buruk jangan harap bisa merasakan daging burung bangau.”

Kembali berputar biji mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Jin Jip mengusirmu dari perguruan Kaypang sehingga kau harus sembunyi ke barat mengumpet ke timur, selama puluhan tahun belum pernah kau mengecap kesenangan hidup pula, memangnya kau tidak membencinya malah?”

“Dia orang sudah mampus. Kalau membencinya, memangnya bisa berbuat apa?” dengus Pek Giok-mo dengan penuh kebencian.

“Walau dia sudah mati, namun istrinya toh masih hidup?”

Dengan keki Pek-giok-mo pelototi Coh Liu-hiang. Jari-jari tangannya mencabuti jenggot di bawah dagunya yang sudah hampir habis dicabuti olehnya sendiri, sorot matanya yang semula galak dan bengis lambat laun menunjukkan senyuman tawa lebar, katanya pelan-pelan: “Walau kata-katamu ini keterlaluan, tapi justru mencocoki seleraku.”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Terhadap siapa bicara apa, pengertian ini cukup kupahami!”

Pek-giok-mo terkial-kial, serunya: “Tak heran orang lain suka bilang Coh Liu-hiang adalah bajul buntung yang jahat dan paling mungil, sampai pun aku kini lambat laun sudah mulai tertarik dan menyukaimu.”

“Lalu di manakah istrinya sekarang berada?” desak Coh Liu-hiang lebih lanjut.

“Sayang, aku sendiri pun tidak tahu.”

Sebentar saja Coh Liu-hiang melenggong, lalu ia bersoja dan berkata: “Selamat bertemu lain kesempatan!” lalu ia berjalan keluar tinggal pergi.

Seru Pek-giok-mo keras: “Meski aku tidak tahu, namun ada orang lain yang tahu.”

Seketika Coh Liu-hiang menghentikan langkahnya dan bertanya sambil membalikkan badan: “Siapa?”

“Memangnya kau tidak bisa memikirkannya?”

“Mungkin Lamkiong Ling sebetulnya bisa memberitahu kepadaku, tapi sekarang belum tentu.”

“Orang lain punya sebutir mutiara, kau hendak memintanya dengan mulut kosong, sudah tentu dia tidak sudi memberikan kepadamu. Tapi kalau kau suka menukarnya dengan benda lain yang lebih mahal dari mutiara, masa dia tidak sudi memberikan kepadamu?”

Coh Liu-hiang diam sebentar, tanyanya: “Dengan apa aku harus menukarnya?”

“Asal-usul pemuda baju hitam itulah.”

***

Coh Liu-Hiang mengikuti jejak Pek-giok-mo, sementara It-tiam-ang menguntit di belakang Coh Liu-hiang, seolah-olah mereka pandang wuwungan rumah penduduk sebagai jalan raya yang lebar dan rata, mereka berlompatan terbang di atas rumah orang.

Waktu itu malam sudah larut, di seluruh pelosok kota sudah tak terlihat lagi adanya sinar api yang menyorot keluar dari dalam rumah.

Sembari berjalan, berkata Pek-giok-mo dengan suara rendah berat: “Dengan kau Coh Liu-hiang, kau sendiri yang mengikuti jejakku lho, bukan aku yang membawamu ke mari."

“Aku tahu akan maksudmu,” sahut Coh Liu-hiang.

“Baiklah kalau kau tahu.”

“It-tiam-amg,” ganti Coh Liu-hiang berseru ke belakang. “Kau dengar, kau sendiri yang ikut di belakangku, bukan aku yang membawa ke mari lho.”

Tapi tiada jawaban dari belakang.

Waktu Coh liu-hiang berpaling, entah kapan bayangan It-tiam-ang sudah pergi tanpa meninggalkan bekas. Tak tahan lagi Coh Liu-hiang mengelus-ngelus hidungnya, gumamnya tertawa getir: “Kalau kau tidak suka dia datang, dia datang. Kalau kau tidak mau dia pergi, dia malah tinggal pergi. Siapa bila bersahabat dengan orang macam demikian, tentulah kepalanya sendiri dibikin pusing."

Terdengar Pek-giok-mo berkata: “Rumah di depan yang terlihat sinar lampu menyorot keluar itu, itulah Hiang-tong (markas cabang) penting dari Kaypang. Sekarang aku mau pergi, jangan kau mengikuti jejakku. Kalau kau sendiri yang menemukan tempat itu, tiada sangkut pautnya dengan diriku."

“Bahwasanya aku tidak melihat dirimu, ke mana kau hendak pergi aku pun tidak tahu!”

“Bagus.”

Sekali mendekam terus menerjang turun, dari tempat gelap sana segera terdengar seseorang membentak dengan kereng: “Naik ke langit masuk ke bumi!”

“Si pengemis tidak mau datang,” Pek-giok-mo segera menyambung. Disusul suara berbisik-bisik sekian lama, lalu terdengar pertanyaan pula : “Di mana bocah itu?”

“Ruang pendopo.”

"Akhirnya pangcu berhasil membekuk dia?"

"Agaknya dia sendiri yang ke mari, malah duduk dengan angkuh dan gagah-gagahan, entah kenapa pangcu malah bersikap sungkan dan ramah-tamah kepadanya.”

Coh Liu-hiang mendekam di atas genteng rumah di seberang sana. Dilihatnya Pek-giok-mo mendorong pintu lalu menyelinap masuk. Di dalam rumah ada lampu, namun jendelanya tertutup rapat, yang terlihat hanya bayangan orang yang mondar-mandir. Bagaimana keadaan di dalam, tidak jelas.

Sekeliling rumah dijaga ketat dan masih banyak lagi penjaga-penjaga gelap yang tersembunyi, ada kalanya yang terlihat hanyalah sinar golok mereka yang mencorong mengkilap di tempat gelap, terdengar pula suara bisikan percakapan mereka.

Laksana asap entengnya Coh Liu-hiang menggerakkan badannya berputar satu lingkaran, kini ia tiba di belakang rumah. Mendadak ia batuk-batuk kering dua kali, dari tempat gelap segera terdengar orang membentak dengan suara lirih : “Naik ke langit masuk ke bumi.”

“Si pengemis tidak mau datang,” sahut Coh Liu-hiang menirukan Pek-giok-mo tadi.

Orang itu lantas berdiri dan keluar dari tempat gelap. Setelah jelas akan diri Coh Liu-hiang, ia segera bertanya : “Siapa kau ?”

“Peminta beras,” sahut Coh Liu-hiang. Tahu tahu tangan kanannya sudah menutuk Hiat-to orang itu, berbareng tangan kiri meraih badan orang terus dijinjing ke belakang dan direbahkan di atas pohon, katanya pelan-pelan: “Aku ini bukan manusia, aku ini siluman rase, kau tahu tidak?”

Sorot mata orang itu menunjukkan rasa takut dan kaget. Ingin mengangguk, badan tak bisa bergerak, terpaksa biji matanya berkedip-kedip.

***

Seenteng asap Coh Liu-hiang melayang turun lalu menuju ke sebuah jendela yang tersorot cahaya lampu dari dalam. Setelah membuat lobang kecil, ia dekatkan matanya untuk mengintip ke dalam. Tampak di tengah ruangan besar di dalam sana berjajar dua meja cendana, kedua sisi masing-masing diduduki dua pengemis ubanan, karung yang digendong tebal dan bertumpuk-tumpuk, tentunya semua berjumlah sembilan karung. Tentulah mereka adalah Tianglo dan Hu-hoat dari Kaypang.

Pek-giok-mo dengan congkaknya duduk jaga di tempat teratas, roman mukanya tetap mengunjuk sifat pongah dan kekerasan hatinya.

Di sebelah atasnya lagi adalah Lamkiong Ling, Pangcu Kaypang yang baru. Pemuda baju hitam itu ternyata juga hadir di dalam ruangan ini, dia duduk berhadapan dengan Lamkiong Ling.

Begitu banyak tokoh-tokoh Bulim yang mengelilingi dirinya, ternyata sedikit pun dia tak menunjukkan rasa takut, mata besarnya terpentang lebar mengawasi Lamkiong Ling, lagaknya seolah dia siap berdiri dan ajak berkelahi dengan siapa pun.

Terdengar Lamkiong Ling tengah berkata dengan suara kereng: “Tuan melukai murid-murid Kaypang kami, melukai pula Tianglo Hu-hoat kita, mungkin hanya merupakan salah paham belaka, Puncoh tidak akan mengulur panjang persoalan ini. Cuma ingin tanya, keperluan apa tuan datang ke mari dari tempat jauh?”

Pemuda baju hitam itu melotot kepadanya, sahutnya dingin: “Sudah berapa kali kau ajukan pertanyaan yang sama ini, kalau aku sudi menjawab, memangnya harus tunggu sampai sekarang?”

Lamkiong Ling ternyata kelewat sabar, katanya kalem: “Sebetulnya kau ada tujuan apa memusuhi Kaypang kami? Kalau kau mau menjelaskan, mungkin Puncoh bisa mewakili laksaan murid Kypang kita memberikan segala fasilitas akan keperluanmu.”

“Kalau aku ingin batok kepalamu, apa kau suka memberikan?”

Akhirnya Lamkiong Ling berkata bengis: “Jangan kau lupa, saat ini dan di tempat ini, sembarang waktu aku bisa mencabut jiwamu, tapi aku hanya ingin tanya maksud kedatanganmu, kau tidak mau jelaskan, bukankah kau tidak tahu diri?”

Tidak kalah ketusnya si pemuda baju hitam menjawab: “Sampai sekarang aku masih tetap duduk di tempat ini, memang aku tidak tahu diri. Kalau kukatakan asal-usulku, berarti maksudmu sudah tercapai, masakah aku bisa duduk ongkang-ongkang kaki di sini?”

Mendengar sampai di sini, diam-diam Coh Liu-hiang tertawa geli: “Kelihatannya pemuda ini keras kepala dan angkuh lagi, seperti tidak tahu apa-apa, siapa tahu kiranya dia jauh lebih cerdik dan cekatan dari orang lain, agaknya Lomkiong Ling hari ini kebentur lawan tangguh."

Tampak raut muka Lamkiong Ling sudah membesi hijau, amarahnya sudah bergolak di rongga dadanya, namun akhirnya dapat dia kendalikan pula, katanya lembut dengan tertawa lebar: “Kalau Puncoh ingin membunuhmu, buat apa pula harus tanya asal-usulmu? Masa kau sendiri belum paham akan pengertian secetek ini?”

“Sudah tentu aku cukup paham, malah terlalu paham. Kalau toh kau tidak tahu siapa aku, dan tidak tahu berapa banyak pula orang-orang yang berada di belakangku, lebih tidak tahu pula berapa banyak rahasia Kaypang kalian yang sudah kuketahui, hatimu sendiri yang main curiga dan suka meraba-raba, masakah kau bisa berlega hati membunuhku demikian saja."

“Kalau demikian, bukankah aku harus menahanmu malah."

“Lebih baik kalau kau tahan diriku di sini, makan minum di sini, tidur di sini, cuma aku kuatir kalian para pengemis ini apa mampu menyediakan segala keperluanku?"

Pek-giok-mo tiba-tiba menyeringai tawa, katanya: “Dengan cara halus tidak mau bicara, boleh gunakan kekerasan, masakan dia tidak akan bicara?”

“Siapa pun di antara kalian bila berani menyentuh seujung jariku saja, mungkin jiwa beberapa orang akan menggeletak di hadapanku. Kalau kalian tidak percaya, silahkan turun tangan saja.”

Pemuda ini halus dan kasar serba bisa, pintar mungkir, pandai mengancam dan bisa menggertak lagi, hampir saja Coh Liu-hiang bersorak senang di luar jendela.

Pada saat itu, mendadak “Blang!”, jendela di depan seberang Coh Liu-hiang mengintip ini tiba-tiba jebol berlobang besar. Bagai anak panah, sesosok bayangan orang menerjang masuk. Sinar pedang orang itu bagai kilat menyambar, kiranya It-tiam-ang.

Melihat It-tiam-ang mendadak muncul, sungguh kaget dan senang pula hati Coh Liu-hiang, batinnya: “Ternyata dia tetap menguntit aku, tepat sekali kedatangannya.”

Tampak begitu kaki It-tiam-ang menyentuh tanah, beruntun pedangnya sudah bergerak tujuh delapan belas kali tusukan ke arah Su-Toa-Tianglo dan Pek-giok-mo dan lain-lain. Orang-orang ini merupakan tokoh-tokoh silat kelas tinggi dalam Bulim, namun serangan itu dilancarkan teramat mendadak. Menghadapi tusukan secepat, ganas dan aneh ini, mereka pun mencaci.

“It-tiam-ang,” seru Lamkiong Ling gusar. “Kuhormati kau sebagai Enghiong kenamaan, berani kau bertingkah di Hiang-oh Kaypang kami?”

“Biasanya aku tidak kenal sanak kadang, memangnya kau tidak tahu?” jengek It-tiam-ang. Lalu ia menerjang ke samping pemuda baju hitam dan membentak datar: “Tidak lekas kau pergi!”

Tak nyana si pemuda malah melotot kepadanya, tanyanya: “Kenapa aku harus pergi ikut kau?”

Sekilas It-tiam-ang melongo, jengeknya: “Kau tidak mau pergi, biar kubongkar asal-usulmu di hadapan mereka.”

Kini gantian si pemuda yang tertegun, katanya sambil tertawa dingin: “Baik, terhitung kau menang, ayolah pergi!”

Tapi saat mana Ji-gi-jiau, Boan-koan-pit, tongkat bambu hijau, Siang-thi-koay dan tujuh delapan macam senjata lainnya sudah meluruk bersama ke arah mereka. Setiap hadirin dalam ruang pendopo ini adalah tokoh-tokoh silat nomor wahid, setiap gaman yang mereka gunakan rata-rata senjata berat yang ampuh dan hebat kekuatannya, ganas dan keji pula serangannya. Lekas si pemuda baju hitam merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sebilah senjata, sekali ayun dan gentak ia bikin senjatanya lempang kaku, kiranya itulah sebatang Bian-to yang terbuat dari baja murni. “Cret,cret,cret” beruntun ia membacok beberapa kali, gerakan ilmu goloknya amat keras dan tidak kalah ganasnya, kesiur angin goloknya amat tajam dan deras, ternyata cara tempurnya menempuh jalan kekerasan juga.

Begitulah, dengan golok dan pedang mereka bertempur berdampingan, siapa pula yang harus mereka takuti? namun kalau mereka ingin menerjang keluar dari kepungan, tentulah sesukar memanjat langit. Beruntun It-tiam-ang tusukkan pedangnya puluhan kali, baru mendadak ia berseru keras: “Tidak segera kau turun tangan, biar aku berteriak saja.”

Sudah tentu orang lain tidak tahu apa maksud kata-katanya dan kepada siapa ditujukan, sebaliknya Coh Liu-hiang yang mengintip di luar jendela pun tertawa getir, batinnya: “Akhirnya dia menarikku juga untuk berkecimpung di dalam air basah ini.”

Sejenak ia berpikir, lalu dari atas ia menjemput puluhan genteng. Begitu jendela dia pukul hancur, beruntun ia timpukkan genteng seraya berteriak: “Awas, lihat Ngo-tok-thong paku ini!”

Walau hanya pecahan genteng biasa saja, namun ditimpukkan oleh seorang ahli tentulah jauh sekali faedahnya, ada yang terbang naik ke tengah udara langsung menerjang ke arah musuh, ada pula yang berpura-pura menderu menyerampang datar dari bawah, ada pula yang naik turun menari-nari.

Orang banyak tidak tahu senjata rahasia macam apakah ini. Namun mendengar Ngo-tok (lima racun), belum lagi senjata rahasia mengenai dirinya, beramai-ramai mereka sudah lompat menyingkir, jiwa sendiri lebih penting, tak sempat pula mereka melukai orang lain.

Maka dengan gampang It-tiam-ang dan pemuda baju hitam mendapat kesempatan untuk menerjang keluar. Sebat sekali Lamkiong Ling meluncur menyusuri dinding jendela di belakang sana, namun suasana sunyi dan keadaan di luar jendela gelap pekat, kurang jelas siapa penimpuk senjata rahasia ini. Sebat sekali ia lemparkan sebuah kursi keluar, menyusul dia pun menerjang keluar sambil membentak: “Sahabat, tunggu sebentar!”

Masakah Coh Liu-hiang mau ayal-ayalan? Belum lagi orang memburu keluar, bayangannya sudah menghilang di kejauhan sana.

Begitu menerjang keluar bersama, It-tiam-ang dan pemuda baju hitam terus lari sekencang-kencangnya, ginkang kedua orang itu agaknya setanding, setelah berlari-lari sekian lamanya, entah berapa jauhnya sudah, pemuda baju hitam itu tiba-tiba berhenti, katanya melotot: “Siapa suruh kau menolong aku?” Wataknya memang aneh, mati pun ia tidak sudi terima kebaikan orang lain.

Kalau orang lain setelah menempuh bahaya menolong jiwanya lalu mendapat pertanyaan yang kurang ajar seperti ini, aneh kalau orang itu tidak dibikin semaput saking gusarnya. Tapi sedikit pun It-tiam-ang tidak menjadi gusar, katanya sambil tertawa meringis: “Siapa mau tolong kau? Kau mampus atau hidup peduli apa dan tiada sangkut paut denganku.”

Membelalak besar mata pemuda baju hitam, katanya heran: “Kau bukan menolongku, memangnya untuk apa kau ke mari?”

“Tadi aku merusak barang seorang teman dan kau harus kubawa kepadanya sebagai gantinya.”

Sekilas si pemuda melongo, akhirnya dia berseru naik darah: “Kau ini sedang kentut apa, aku tidak mengerti.”

“Kau tidak mengerti, sebaliknya aku tahu,” terdengar seorang menyela tawa yang kemalas-malasan serta gerakan tubuh laksana setan gentayangan, di kolong langit ini kecuali si maling romantis Coh Liu-hiang kiranya takkan bisa dicari keduanya.

Memang kalau Coh Liu-hiang hendak menguntit seseorang, siapa pun jangan harap bisa menyesatkan dirinya dan lolos dari pengawasannya. Melihat orang datang, sedikit pun It-tiam-ang tidak mengunjuk rasa heran, katanya dingin: “Inilah suratmu itu, kini dia kuserahkan sebagai gantinya.” Bicara pada kata-katanya yang terakhir, bayangannya sudah berkelebat di tempat kejauhan sana.

Mengawasi bayangan orang, si pemuda baju hitam geleng-geleng kepala, ujarnya: “Apakah otak orang itu rada sinting?”

“Cacat orang ini adalah suka ikut campur urusan orang lain, dia anggap barusan sudah bantu kesulitanku, siapa tahu justru bikin runyam suatu persoalan besar yang sedang kuselidiki.”

“Persoalan besar apa yang bikin kau uring-uringan kepadanya?” tanya si pemuda.

“Semula aku hendak gunakan jamrud untuk menukar mutiara, dia malah menggagalkan kontrak dagangku.”

Dengan mendelong pemuda ini mengawasinya sekian lama, seolah-olah pada mukanya mendadak tumbuh sekuntum bunga yang indah, sorot matanya memancarkan rasa heran dan aneh serta tertarik dan ingin tahu, katanya: “Kukira hanya dia itu yang sinting, siapa tahu kau ini malah sudah pikun.”

“Itulah yang dinamakan sependeritaan sepenanggungan, jenis yang cocok satu sama lain.”

“Aku tiada cacat seperti yang kau katakan, maaf aku ingin pergi,” ujar si pemuda sambil putar badan hendak tinggal pergi.

Kata Coh Liu-hiang: “Pertanyaan yang ingin kau ajukan kepadaku tidak kau tanyakan lagi?” kata-kata ini seumpama gantolan yang menjambretnya kembali, cepat ia putar badan dan unjuk seri tawa kegirangan, serunya, “Sekarang sudah mau memberi tahu?”

Berkata Coh Liu-hiang tanpa pikir, “Sudah kulihat sulaman gambar unta terbang di balik mantelmu, maka aku tahu kau pasti sanak kadang Raja Gurun. Aku pernah bertemu dia, maka kutahu bila dia sudah masuk ke Tionggoan.”

Bersinar biji mata si pemuda, teriaknya tertahan, “Kau pernah bertemu dengan ayahku?”

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Kalau kau sudi percaya kepadaku, kesulitan yang kita hadapi bersama saat ini tidak sukar untuk dibereskan!”

Langsung si pemuda menatap kedua matanya, sepasang matanya lebih cemerlang dari pancaran sinar bintang kejora, mendadak roman mukanya bercahaya dan tertawalah si pemuda riang, katanya, “Baik, aku mempercayaimu.”

Coh Liu-hiang segera duduk berpunggung wuwungan rumah, di saat bisa duduk dia tak pernah berdiri, kaki tangan ia julurkan sebebas mungkin, katanya tertawa, “Kalau begitu aku hanya minta kepadamu menjelaskan apa maksud tulisan dalam surat yang diterima ayahmu itu?”

“Surat? Bukankah sudah kuserahkan kepadamu?”

“Mungkin sudah ditakdirkan aku tidak boleh melihat langsung surat itu, tapi cukup puaslah hatiku asal bisa mendengar juga.”

“Bagaimana kalau aku tidak pernah membacanya?”

Coh Liu-hiang menjadi tegas, katanya, “Kalau kau katakan tidak pernah membaca surat itu, mungkin aku kontan jatuh semaput.”

“Nah, bolehlah kau semaput saja.”

“Jadi kau benar-benar tidak pernah membacanya?” teriak Coh Liu-hiang.

Pemuda baju hitam malah tertawa geli, sahutnya, “Aku tidak membaca, namun pernah kudengar ayah membacakan kepadaku.”

Coh Liu-hiang menghembuskan nafas panjang, gumamnya, “Bisa kau tersenyum semanis ini, umpama aku benar-benar jatuh semaput dan jiwa sampai melayang pun setimpal juga.”

“Kau dengar, beginilah isi tulisan surat itu.”

“Nanti sebentar, biar kucuci dulu kupingku biar bersih.”

Si pemuda tertawa lebar, katanya, “Tulisan itu berbunyi, ‘Sejak berpisah beberapa tahun ini, semangat dan kesehatan tuan tentu jauh lebih perkasa dari dulu, sebaliknya aku jauh lebih layu dan kurus, apalagi sekarang tersekap di tengah mara bahaya, harap tuan suka mengingat hubungan baik kita dulu, lekaslah datang menolongku. Kalau tuan tidak datang, terang jiwaku takkan tertolong lagi.’ Tanda tangan surat itu adalah satu huruf, Siok saja.”

Dengan susah payah, akhirnya terhitung Coh Liu-hiang sudah melihat surat itu secara tidak langsung, apa yang tertulis dalam surat itu memang sudah dalam terkaannya, tapi bisa membuktikan secara kenyataan betapapun dia akan lebih yakin dalam tugas penyelidikannya lebih lanjut.

Sayang dalam surat itu tidak dijelaskan kesukaran apa yang sedang dihadapinya? Mau tak mau Coh Liu-hiang merasa kecewa pula, dengan melongo ia menepekur sekian lamanya, gumamnya, “Bagaimanapun, kesulitan yang dihadapi Chiu Ling-siok pastilah punya sangkut paut dengan pihak Kaypang.”

Tukas si pemuda baju hitam, “Ayah pun berpikir demikian, oleh karena itu aku beranggapan menghilangnya ayahku pasti ada hubungan dengan Kaypang, kalau tidak buat apa aku mencari gara-gara kepada pihak Kaypang.”

Kembali Coh Liu-hiang berpikir sebentar, tanyanya, “Kapan surat itu diterima? Siapa pula yang mengantarnya ke sana?”

Tutur si pemuda itu dengan sikap sombong, “Ayahku sebagai pendekar besar di gurun pasir, setiap tahun jejaknya tidak menentu, maka hubungan dengan berbagai anak buahnya yang tersebar luas di gurun pasir menggunakan burung dara pos. Meskipun dia dijuluki raja gurun pasir, namun kekuasaannya menjalar memasuki beberapa propinsi di pedalaman sini. Satu bulan yang lalu surat itu diterima melalui burung pos di pangkalan Ling-shia.”

“Lalu siapakah yang membawa surat ini dan diserahkan pada orang yang mengurus pangkalan dara pos di Ling-shia? Dari mana pula dia bisa tahu bahwa Raja gurun ada mendirikan pangkalan burung dara pos yang tersebar luas di gurun pasir, terutama yang berada di Ling-shia itu?”

“Mungkin tiada orang yang bisa menjawab pertanyaanmu ini.”

“Kenapa?”

“Karena orang-orang yang mengurus pangkalan burung dara pos di Ling-shia itu sudah mampus seluruhnya.”

Tersirap darah Coh Liu-hiang, sekian lama ia menepekur, katanya pula, “Baru satu bulan ayahmu keluar pintu, dari mana kau bisa tahu kalau dia mendadak menghilang?”

“Sejak perjalanan dari rumah sampai memasuki Tionggoan, setiap hari ayah pasti ada kabar hubungan dengan setiap pangkalan burung dara pos yang pernah dia lalui. Tapi sepuluhan hari yang lalu, surat-surat yang dibawa burung pos mendadak terputus, jikalau tidak mengalami sesuatu perubahan besar, mana beliau bisa lupa untuk berkirim surat kepadaku.”

“Maka kau segera berangkat menyusulnya ke mari?”

“Sudah tentu aku segera berangkat menuju ke Tionggoan, sepanjang jalan aku mencari tahu pada setiap pangkalan-pangkalan burung dara, namun tidak kuperoleh kabar berita dari beliau. Pengurus pangkalan burung dara pos di Ling-shia, semua menggeletak mampus secara mendadak, barulah aku mulai gelisah dan akhirnya aku meluruk ke pihak Kaypang.”

“Apa yang pernah kau dengar di Kaypang?” tanya Coh Liu-hiang dengan tatapan mata bercahaya.

“Apa pun aku tak berhasil mendapat tahu. Semua orang-orang Kaypang bukan saja tidak tahu siapa ayahku, jejaknya pun tidak diketahui, malah belakangan ini katanya mereka tidak pernah menghadapi sesuatu kesulitan apa pun, maka tidak mungkin mereka mengundang orang luar untuk membantu menyelesaikan sesuatu.”

Dia tatap muka Coh Liu-hiang serta katanya pula, “Tapi hal-hal ini semakin bikin aku curiga, dapatlah kurasakan bila lahirnya mereka seperti aman sentosa, pasti di belakang tabir kesentosaan ini tersembunyi sesuatu rahasia besar. Jelas ayahku ke mari karena menerima surat dari isteri Pangcu mereka, terang pasti ada ikatan dan hubungan dengan pihak mereka, mana bisa mereka mengatakan tidak tahu menahu?”

“Bukan mustahil kesulitan Jin-hujin adalah persoalan pribadinya, bahwasanya dia tidak ingin orang-orang Kaypang yang lain tahu, maka pertemuannya dengan ayahmu pastilah dilangsungkan secara rahasia pula.”

“Memang ada kemungkinan begitu, tapi pernah aku dihadapi dua persoalan aneh. Pertama: tiada seorang pun anggota Kaypang yang tahu di mana istri Pangcu mereka yang terdahulu berada. Kedua, tidak boleh kau melupakan bahwa Lopangcu mereka Jin Jip baru saja menemui ajalnya dalam beberapa waktu belakangan ini. Meski dikatakan beliau wafat karena terserang penyakit, tapi siapa yang pernah melihatnya sendiri?”

Mendadak Coh Liu-hiang berjingkrak bangun, katanya dengan nada berat, “Pergi datang ceritamu, hanya kata-kata inilah yang tepat menusuk ke sasarannya, tapi jangan sekali-kali kau ucapkan kata-katamu ini kepada orang lain. Kalau tidak mungkin kalangan Kangouw bakal timbul suatu kegemparan besar. Jabatan Pangcu yang teragung bagi Kaypang yang terbesar kekuasaan dan anggotanya di seluruh kolong langit ini, siapa pun ingin mendudukinya, peduli dia anggota Kaypang atau orang dari luar kalangan.”

“Tujuanku hanya menemukan ayahku, persetan bakal timbul geger atau keonaran di kalangan Kangouw, toh tiada sangkut-pautnya denganku?”

“Begitu besar hasratmu untuk mengetahui jejak ayahmu, kenapa mereka tiada seorang pun yang tahu asal-usulmu?”

“Gampang saja alasannya... setiap murid Kaypang yang pernah kukompres keterangannya, mereka takkan bisa membocorkan rahasia pribadiku sedikit pun juga.”

“Agaknya kau sudah pengalaman dan cukup tenaga melakukan pembunuhan.”

“Kalau aku tidak bunuh mereka, jiwaku pun akan dibunuh. Memang membunuh orang bukan perbuatan yang patut dibuat senang, tapi toh lebih baik daripada jiwa sendiri dibunuh orang!”

“Dari mana kau tahu bahwa Lamkiong Ling hendak membunuhmu? Kenapa tidak langsung kau tanyakan persoalanmu tadi kepadanya?”

“Sejak melihatnya, aku mendapat firasat bahwa dia bukan orang baik-baik!”

“Itu hanya perasaanmu sendiri, alasan ini belum cukup kuat.”

“Bagiku, alasan ini sudah lebih dari cukup.” Mendadak matanya bersinar dan menatap Coh Liu-hiang nanar, katanya pula pelan-pelan, “Coba kau pikir, bila kau bertanya kepadanya, apa dia sudi memberitahu kepadamu?”

“Coba kau pikir... dengan alasan apa dia tidak mau memberi penjelasan kepadaku?”

“Jikalau dia melakukan sesuatu yang memalukan, sudah tentu ia tak mau menjelaskan.”

“Kalau begitu, jika dia tidak mau memberitahu kepadaku, bukankah malah membuktikan bahwa dia memang benar pernah melakukan sesuatu yang memalukan. Coba kau pikir, adakah orang pikun seperti itu dalam dunia ini?”

“Jikalau dia beritahu kepadamu, sudikah kau beritahu kepadaku?”

“Dengan alasan apa pula aku tidak mau beritahu kepadamu?”

“Maling romantis Coh Liu-hiang ternyata tidak menyebalkan seperti apa yang pernah kudengar,” tersimpul senyum dikulum pada raut mukanya yang kaku dingin, bak umpama sungai salju mulai mencair, seperti hawa nan dingin terhembus angin musim semi yang sejuk membuat perasaan orang hangat dan sejuk.

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Kalau kau mau sering-sering tertawa-tawa, akan kau dapatkan banyak orang di dunia ini tidak menyebalkan seperti yang kau bayangkan.”

Seketika si pemuda menarik muka, katanya dingin, “Banyak orang yang menyebalkan dalam dunia ini, tiada sangkut-pautnya dengan diriku. Aku hanya tanya kau, sekarang kau pergi tanya kepada Lamkiong Ling, kapan kau akan memberitahukan kepadaku?”

“Besok pagi... asal bisa diketahui di mana aku bisa menemuimu...”

“Besok pagi, pergilah kau tamasya keliling Tay-bing-ouw, akan kau lihat seekor kuda hitam mulus. Asal kau berkata ‘Bawa aku menemui mutiara hitam’ tiga kali, lalu menarik kupingnya tiga kali pula, pasti dia akan mengantarmu menemui aku. Ingat, tidak lebih tidak kurang, hanya boleh tiga kali, jangan terlalu ringan, atau pun teramat berat.”

“Kalau tertarik empat kali dan rada berat bagaimana?”

“Mungkin dia akan antar kau terjun ke Tay-bing-ouw mencari mutiara di dalam danau,” mendadak ia melirik kepada Coh Liu-hiang sambil tersenyum, dengan lincah ia putar badan terus berlari pergi seenteng asap mengembang.

Coh Liu-hiang awasi bayangan orang menghilang di balik pepohonan, katanya seorang diri, “Mutiara hitam, mutiara hitam, orang sering bicara mutiara hitam adalah benda mustika yang membawa malapetaka bagi pemiliknya, namun semoga kau mutiara hitam ini membawa rejeki besar bagiku malah, sekarang aku benar-benar membutuhkan nasib baik.”

Coh Liu-hiang menengadah mengawasi bintang-bintang di angkasa, sesaat lamanya dia menerawang, sinar bintang yang kelap kelip selalu mendatangkan ketenteraman bagi relung hatinya, otak jernih, perasaan tentram, biasanya asal dia rebah telentang di atas dek kepalanya, persoalan rumit apa pun, dengan mudah dapat dia bereskan.

Tapi sinar bintang malam ini agaknya tidak membawa banyak pengaruh untuk membantu dirinya. Sudah sekian lamanya ia peras otak, benaknya masih kalut, tak urung ia tersenyum geli, batinnya, “Memangnya sinar bintang-bintang di sini jauh berbeda dengan sinar bintang di lautan?”

Akhirnya ia berkeputusan untuk kembali ke Hiang-tong milik Kaypang itu.

Cahaya lampu dalam ruang pendopo masih terang benderang. Waktu Coh Liu-hiang meluncur dan melompat turun, ada orang yang menegurnya dari tempat gelap dengan kata-kata, “Naik ke langit masuk ke bumi lagi.” Terpaksa Coh Liu-hiang batuk-batuk keras di luar pintu, lalu bersuara lantang, “Apakah Lamkiong-heng ada di dalam?”

Dari ruang pendopo segera terdengar sahutan, “Silahkan masuk.”

Meja kursi yang terbalik sudah ditata rapi kembali, jendela yang dijebol rusak pun sudah diperbaiki, pecahan genteng di atas lantai pun sudah disapu bersih, ruang pendopo tetap dalam keadaan biasa seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Sebesar ini ruang pendopo ini, yang hadir hanya Lamkiong Ling seorang yang duduk bertengger menghadap meja yang sudah tersedia mangkok, sumpit dan beberapa guci arak.

Agaknya Lamkiong Ling memang sedang menunggu kedatangan Coh Liu-hiang. Melihat Coh Liu-hiang beranjak masuk, sedikit pun ia tidak heran, cuma lekas ia berdiri dan bersoja, sapanya, “Coh heng benar-benar menepati janji menagih undangan minum arakku ini. Untung siaute sudah menyiapkan beberapa guci arak bagus ini, kalau tidak kedatangan Coh-heng pasti akan kecewa.”

“Kau tahu aku bisa menemukan tempatmu ini? Sedikit pun kau tidak merasa heran?”

“Bila Coh-heng menagih undangan minum arak, tiada seorang pun di kolong langit ini yang bisa lari dari kewajiban ini. Seumpama Siaute sembunyi ke ujung langit dan dapat diketemukan oleh Coh-heng, tentunya tidak perlu dibuat heran.”

“Benar, hidungku ini biasanya memang punya penyakit, di mana ada arak bagus, sekali endus aku lantas bisa menemukannya, apalagi begini banyak Cu-yap-cing yang kugemari,” dengan tertawa besar ia menempati sebuah kursi. Pandangannya menyapu, lantas ia berkata pula, “Cuma sayang, ada arak, tiada hidangan lainnya, sehingga kurang selera. Tahukah kau, bagi aku si tukang gegares ini, boleh dikata sebagai suatu siksaan.”

“Masakan memang sudah ada, Siaute sudah menyediakan beberapa ekor ayam panggang yang gemuk-gemuk, sebatang paha babi dan beberapa macam masakan bakso dan ikan.”

“Memangnya semua masakanmu itu bisa menghilang? Kenapa tidak kulihat?”

“Tentu Coh-heng tidak melihatnya, karena tadi ada orang datang, semua masakan itu dibuang ke dalam selokan seluruhnya.”

Coh Liu-hiang mengedipkan matanya, katanya, “Apakah orang itu punya permusuhan atau dendam kesumat sedalam lautan denganku?”

“Dia tahu tamu yang Siaute tunggu adalah Coh-heng, maka dia lantas caci-maki diriku, katanya Siaute hanya menyediakan masakan murahan begini untuk menyambut kedatangan Coh-heng, apakah tidak menyiksa lidah si maling romantis.”

“Coh Liu-hiang tidak makan daging ayam, memangnya cuma minum angin barat laut?”

Terdengar seorang berkata dengan tertawa: “Duniawi memang serba susah, sehingga jiwa prikemanusiaan tinggal sisanya saja, kalau setiap hari makan daging babi dan ayam, lalu berapa banyak binatang berjiwa itu bisa tetap bertahan hidup.” Seseorang melayang ringan dari belakang pendopo sana, tidak tampak kotoran debu melekat di badannya, sampai pun senyuman yang menghiasi roman mukanya serasa bersih dan cemerlang, dia bukan lain adalah Biau-ceng Bu-Hoa.

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya: “Kiranya kau. Hwesio gundul seperti kau ini tidak kenal barang berjiwa, memangnya kau menghendaki aku jadi Hwesio seperti kau? Apalagi seumpama aku jadi Hwesio, tetap aku akan gegares anjing dan celeng, begitu melihat ikan dan daging tentu menetes air liurku.”

“Daging dan barang berjiwa adalah makanan orang-orang kotor, memangnya kau tidak ingin ganti selera?”

Coh Liu-hiang girang, katanya: “Masakah kau sudah turun ke dapur?”

“Main harpa harus ada orang yang tahu musik, demikian juga hidangan lezat harus disuguhkan kepada tukang makan yang tahu membedakan rasa. Jika bukan demi kau yang sejak kecil sudah bisa membedakan baik buruk sesuatu rasa hidangan, buat apa Pinceng harus kena asap dan kotor oleh debu?”

Lamkiong Ling tertawa, ujarnya: “Ini memang aneh, dari mana pun Bu Hoa Taysu keluar, kelihatannya sepuluh kali lipat lebih bersih dariku, agaknya kau memang serba suci dan bersih!” lalu ia menuang tiga cangkir arak penuh, katanya sambil angkat cangkir: “Untung arak adalah minuman paling murni dan suci, kalau sampai arak pun Taysu tidak mau minum, buat apa pula arti arak suguhamnu ini?”

Kata Coh Liu-hiang kepada Bu Hoa sambil tertawa: “Jikalau tiga orang minum arak bersama, cuma kau seorang yang tidak mabuk, baru aku betul-betul kagum kepadamu!”

Takaran minum ketiga orang ini memang sama mengejutkan. Kalau ada orang keempat hadir di antara mereka, tentulah orang itu akan mengira guci besar itu berisi air jernih dan bukan arak. Dua guci sebesar itu agaknya habis ditenggak bergantian oleh mereka bertiga, namun sedikit pun tidak berubah rona muka mereka. Satu sama lain saling loloh dan seperti berlomba saja tanpa pakai juri.

Mendadak berkata Coh Liu hiang: “Konon di kalangan Kang-ouw ada seseorang yang takaran minum araknya dikatakan tiada tandingan di seluruh jagat, minum ribuan cangkir tanpa mabuk. Pada suatu hari dia minum tiga ratus cawan Ji-wo-thay Kwan-gwa, ternyata masih mampu berdiri dan berjalan pulang."

“O, apa ada orang demikian? Siapa dia?” tanya Lamkiong Ling.

"Si raja gurun pasir, Ca Bok-hap."

Lamkiong Ling hanya tertawa besar, katanya: “Dikatakan tiga ratus cawan, sebetulnya kalau bisa minum sampai jumlah ini, sudah cukup hebat. Setiap penggemar arak di kolong langit ini, tiada seorang pun yang tidak suka mengagulkan takaran minumnya sendiri. Menurut pandangan Siaute, belum tentu dia bisa lebih unggul minum lebih banyak dari kita bertiga.”

“Pernahkah kau melihatnya? Pernahkah kau bersamanya dalam perjamuan?” tanya Coh Liu-hiang dengan tatapan tajam.

Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya: “Sayang Siaute belum pernah melihatnya, kalau tidak ingin benar aku mengadu kekuatan minum sama dia.”

Coh Liu-hiang mengelus hidungnya, katanya menggumam: “Kesempatan itu mungkin sudah tiada lagi.”

“Asal dia belum mati, kelak pasti masih ada kesempatan.”

Coh Liu-hiang meletakkan cangkir araknya, katanya sepatah demi sepatah: “Siapa bilang dia belum mati?”

“Hah, jadi dia sudah mati?” seru Lamkiong Ling terbelalak. "Kapan dia mati? Kenapa tiada orang-orang Kangouw yang tahu?”

“Dari mana pula kau tahu bila orang-orang Kangouw tiada yang tahu berita kematiannya?”

Bu Hoa tersenyum, selanya: “Kaypang paling cepat dan gampang menyadap berita, kalau orang Kangouw ada yang tahu akan kabar ini, Pangcu dari Kaypang masakah tidak bisa tahu juga?”

“Benar, memang tiada orang lain yang tahu akan berita ini, karena aku sudah menyembunyikan jenasahnya, sengaja kurahasiakan supaya orang lain tidak tahu akan berita kematiannya.”

“Kenapa?” tanya Lamkiong Ling dengan mata melotot.

Berkilat mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Pembunuhnya sengaja mengatur rencana dan berusaha mengelabui orang, tujuannya hendak membuat orang-orang Kangouw sama menyangka mereka saling bunuh sendiri dan gugur bersama. Jikalau tidak kusembunyikan jenasah mereka dan berita ini sampai bocor, mungkin si pembunuh lebih enak ongkang-ongkang kaki menggendong tangan, kenapa aku harus membiarkan dia hidup tenang dan tenteram?"

Lamkiong Ling manggut-manggut: “Benar, tindakan Coh-heng membuat sanak kadang atau orang-orang seperguruan mereka tiada yang tahu bahwa mereka sudah mati, maka tentunya mereka berusaha mati-matian untuk menyelidiki jejak orang-orang itu, dengan sendirinya si pembunuh itu pun jangan harap bisa melewatkan kehidupannya dengan tenang dan aman.”

Bu-Hoa tersenyum, selanya pula: “Sudah sering Pinceng bilang, bila penjahat kebentur maling romantis, tentulah semasa hidupnya dulu sudah keliwat takaran dosa-dosanya."
Kata Coh-Lie hiang menatap Lamkiong Ling, katanya, “Sudikah kau bantu aku mengejar si pembunuh itu?”

“Coh-heng jangan lupa,” ujar Lamkiong Ling. “Murid-murid Kaypang kami sudah biasa turut campur urusan orang, memang tidak setenar maling romantis dalam hal ini, tapi kukira terpaut tidak banyak.”

“Kalau demikian sukalah kau beri tahu kepadaku, di mana sekarang beradanya isteri Jin-lopangcu?"

Lamkiong Ling melengak heran, tanyanya, “Adapah Jin-hujin ada sangkut-pautnya dengan persoalan ini?”

“Seluk beluk persoalan ini, kelak kau pasti akan tahu, sekarang cukup asal kau beritahu di mana Jin-hujin berada, berarti kau sudah bantu mengatasi kesulitanku.” Matanya menatap tajam kepada Lamkiong Ling, lalu ia meneruskan sambil tertawa besar, “Kalau kau tidak sudi memberitahu, mungkin aku akan menganggap kau menyembunyikan si pembunuh. Jikalau sampai aku cerewet di luaran, kau Kaypang pangcu ini pun mungkin akan ketiban kesulitan.”

Kata Lamkiong Ling menghela nafas, “Sejak Jin-lopangcu wafat, Jin-hujin ingin mensucikan diri sebagai murid Kaypang, sebetulnya Siaute tidak bisa membawa orang luar membikin kaget dan mengganggu ketenangannya.” Rada merandek, ia pandang Coh Liu-hiang dengan tertawa, katanya pula, “Tapi terhadap orang lain Siaute tidak takut, berhadapan dengan Coh-heng aku jadi kewalahan!”

“Jadi kau sudi menerangkan dan menunjukkan tempatnya?” Coh Liu-hiang menegas.

“Tuduhan menyembunyikan si pembunuh, mana Siaute berani memikulnya?”

“Di mana Jin-hujin sekarang?”

“Tempat tinggal Jin-hujin amat rahasia, orang lain takkan mudah menemukannya. Kalau Coh-heng mau menghabiskan sisa arak ini, biar Siaute membawamu ke sana. Bagaimana?”

"Kalau kau hendak mempersulit dia, seharusnya mencari akal lain. Suruh dia minum arak, bukankah kebetulan malah bagi dirinya,” sela Bu Hoa tertawa.

“Memang Bu Hoa lebih tahu akan kesenangan diriku,” seru Coh Liu-hiang tertawa besar, lalu ia angkat guci serta ditenggaknya arak masuk ke dalam mulutnya sampai habis, sedikit pun air mukanya tidak berubah, katanya tertawa pula, “Sekarang boleh berangkat?”

Sedikit ragu-ragu, berkata Lamkiong Ling, “Entah sukakah Coh-heng tunggu lagi kira-kira satu jam? Siaute masih ada urusan dalam Pang kita.”

Coh Liu-hiang berpikir sebentar, tanyanya, “Tempat tujuan kita itu, bisakah ditempuh dua hari pulang pergi?”

“Dua hari jauh berkecukupan!”

Coh Liu-hiang memandang keluar jendela, melihat cuaca, lalu katanya, “Baiklah, satu jam kemudian aku datang lagi,” ia bersihkan mulutnya dengan lengan baju terus melangkah tinggal pergi, berbareng tangannya menyambar cangkir arak di hadapan Bu Hoa, terdengar gelak tawanya berkumandang di luar jendela, serunya, “Bu Hoa suka masakan, Lamkiong senang arak, datang gegares, pergi setelah kenyang. Begitulah kehidupan manusia, apa pula yang dikejarnya, tidak cukup nasi berkelebihan, hidup senang berfoya-foya.”

Sampai kata-katanya terakhir, Coh Liu-hiang sudah pergi jauh, cangkir arak tadi tiba-tiba melayang lambat dari luar dan tepat jatuh di depan Bu Hoa. Araknya sudah habis, namun di dalamnya terisi sebuah benda, itulah mainan patung Buddha yang tergantung di tali sutra di pinggang Bu Hoa.

“Coh Liu-hiang hebat sekali gerakan tangannya,” seru Lamkiong Ling ternganga.

Bu Hoa sebaliknya menghela nafas, katanya pelan-pelan, “Jikalau bukan hanya benda yang tidak berarti ini, masakah pinceng biarkan dia sembarangan ambil. Jikalau dia suka menghindari kekerasan, jangan suka mengagulkan diri, mungkin hidupnya akan sampai hari tua!”

Kabut tebal membuat pemandangan remang-remang di permukaan Tay-bing ouw.

Lama juga Coh Liu-hiang mondar-mandir di sekeliling Tay-bing ouw. Tiba-tiba didengarnya suara ringkik kuda, lalu didengarnya pula derap lari kuda mendatangi, kini jelas keadaan seekor kuda sedang lari mendatangi menyusuri pinggir danau. Meski kabut tebal dan remang-remang, namun bulu kuda yang hitam mengkilap kelihatan nyata.

“Kuda, oh kuda.” Coh Liu-hiang memapak ke sana. “Sayang kau sudah milik orang lain, kalau tidak sungguh aku merasa berat membiarkan orang lain naik di punggungmu.”

Seperti mengerti maksud kata-katanya, kuda hitam itu manggut-manggut.

Lalu ia berbisik di pinggir telinganya dan berkata, “Bawa aku menemui Mutiara Hitam,” tiga kali, lalu menarik kuping kirinya tiga kali pula. Orang lain mungkin tak sabar lagi akan menariknya empat kali dengan keras, namun Coh Liu-hiang berpendapat bahwasanya seorang manusia tidak pantas berbuat kasar terhadap binatang, kecuali orang itu sendiri hampir sama dengan si binatang itu.

Betul juga, segera kuda hitam itu berlari cepat ke depan membawa jalan. Coh Liu-hiang tidak naik ke punggungnya. Dari belakang ia mengawasi gerak-gerik si kuda, terasa jauh lebih menyenangkan daripada ia sendiri naik di punggungnya.

Di pinggir danau yang lebat ditumbuhi pohon dengan dahan-dahannya yang menjuntai turun itu, tersembunyi sebuah sampan. Pemuda baju hitam yang menamakan diri Mutiara Hitam itu berada di atas sampan, agaknya ia sedang melamun menghadapi permukaan danau yang sejuk dan permai.

Lahirnya kelihatan dia begitu kaku dingin, apa pun yang terjadi dalam dunia ini seolah-olah tiada masuk perhatiannya, bahwasanya hatinya jauh lebih berat dibebani berbagai pikiran dan kesulitan.

Coh Liu-hiang batuk-batuk, lalu menegur sambil tertawa, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku sedang pikirkan kau,” sahutnya tanpa berpaling. Mendadak ia berjingkrak bangkit berhadapan dengan Coh Liu-hiang, serunya keras, “Ingin aku tahu, apa yang berhasil kau tanyakan?”

“Belum berhasil kutanyakan.”

“Memang aku tahu, dia pasti takkan menerangkan kepadamu.”

“Walau tidak menerangkan, tapi dia hendak ajak aku menemuinya.”

“Bagus, kalau kau berangkat, aku akan mengintil di kejauhan.”

“Kalau kau ingin mengintil Lamkiong Ling tanpa jejakmu diketahui olehnya, ginkangmu masih jauh ketinggalan.”

“Seumpama konangan, memangnya dia bisa berbuat apa terhadapmu?”

“Memang tidak apa-apa, cuma jangan harap kau bisa menemukan Jin-hujin pula.”

Hek-tin-ciu (Mutiara Hitam) berpikir sebentar, tanyanya, “Berapa lama kau pergi?”

“Dua hari.”

"Baik, dua hari kemudian aku tetap menantimu di tempat ini.”

“Dua hari kemudian, menjelang magrib, akan datang seorang gadis berpakaian warna luntur ke Tay-bing-ouw ini. Bila saat itu aku belum tiba, harap kau beritahu kepadanya, suruh dia menungguku!”

“Ada janji dengan kekasih menjelang magrib, ternyata maling romantis memang serba romantis, sayang aku tidak kenal siapa perempuan itu, cara bagaimana aku harus wakilkan kau memberitahu kepadanya?”

“Dia she Soh, sekali kau bertemu dengan dia pasti akan tahu. Memang tidak sedikit orang yang tamasya di Tay-bing-ouw, namun jarang ada anak perempuan seperti dia itu.”

“Dia cantik sekali?”

“Hanya cantik saja masih kurang untuk melukiskan dirinya!”

“Siapa sih sebenarnya, pernah apamu?”

“Apa pertanyaanmu tidak keterlaluan?”

Memicing mata Mutiara Hitam, katanya dingin, “Baik, pergilah kau... tapi kalau dia tidak mau tunggu kau bagaimana?”

“Kalau dia tidak mau tunggu aku, biar aku mampus tenggelam di Tay-bing-ouw!”

“Agaknya kau amat yakin.”

“Kalau tidak yakin, yang masih dimiliki Coh Liu-hiang mungkin hanya mayat busuknya saja,” dia melangkah beberapa tindak, lalu tiba-tiba berpaling dan bertanya, “Apa kau tidak merasa nama Hek-tin-cu mu ini tidak seperti nama perempuan?”

“Kalau benar aku ini seorang perempuan, mungkin sudah kubunuh kau!”

“Kalau kau benar seorang perempuan, tentulah sikapmu tidak segalak ini terhadapku.”

* * *

Beberapa li di sebelah tenggara Ki-poh terdapat sebuah gunung bernama Ni-san. Gunung ini tidak begitu tinggi, namun pemandangan alamnya teramat permai dan indah, segar dipandang mata. Belum lama Coh Liu-hiang beranjak di atas gunung, ia merasa dirinya seolah-olah berada di awang-awang.

Mendadak Coh Liu-hiang berkata, “Berapa lama sudah kita meninggalkan Ki-lam?”

“Kan baru sehari, masakah kau sudah lupa?” sahut Lamkiong Ling.

“Walau baru saja aku tiba di sini, kurasa segala tetek-bengek di kota Kilam itu amat membosankan, jikalau bisa menetap di sini selamanya, orang kasar seperti aku ini mungkin bakal jadi seorang budiman!”

Sesaat lamanya Lamkiong Ling berdiam diri, katanya menghela nafas, “Semasa hidup Jin-lopangcu, selalu dia ingin mengasingkan diri di tempat ini, sayang sekali beliau selalu terlibat dalam kesibukan Pang kita, sehingga cita-citanya baru terlaksana setelah beliau wafat!”

“Kau amat kangen kepada beliau?”

“Beliau adalah orang yang paling bajik, bijaksana dan penuh cinta kasih sesama manusia. Aku... aku adalah anak yatim piatu. Tanpa beliau, takkan ada hari ini bagiku!”

“Cukup lama aku kenal kau, baru pertama kali kudengar kata-katamu ini.”

“Kehidupan di kalangan Kangouw, yang kuat hidup, yang lemah mampus. tak pernah berhenti perebutan antara menang dan kalah ini, ada kalanya tiada waktu aku memikirkan sesuatu, tak berani pula memikirkannya.”

“Ya, kalau terlalu banyak memikirkan sesuatu, hati akan jadi lemah, dan orang yang berwatak lemah memang takkan hidup lama di Kangouw.”

Lamkiong Ling hanya tertawa-tawa tanpa bicara lagi. Tampak sebuah jalanan sempit berliku-liku merambat di samping gunung dan naik ke puncak, sebelah dinding gunung yang terjal tinggi, sebelahnya lagi adalah jurang ratusan tombak dalamnya. Pemandangan di sini tidak kalah indah elok, namun keadaannya justru teramat berbahaya.

"Apakah Jin-hujin tinggal di puncak gunung?"

“Jin-hujin cantik rupawan tiada bandingan dalam jagat ini, masakah dia sudi menetap di tempat yang lebih rendah dari orang-orang lain?”

“Selamanya aku jarang dibuat tegang. Setiap kali mendengar cerita romantis tentang Jin-hujin, terpikir pula segera aku sendiri bakal berhadapan dengan beliau, jantungku ini serasa hampir melompat keluar!”

Tiba-tiba terdengar suara aliran air dari kejauhan, di sebelah depan menghadang sebuah jurang sempit, di bawah jurang adalah sebuah aliran sungai yang mengalir deras, bibir kedua jurang terpaut sepuluhan tombak, satu sama lain hanya dihubungkan oleh sebuah balok kayu yang tergandeng oleh alam.

Di atas balok kayu yang cuma dua kaki lebarnya itu, duduk bersila seseorang, pakaiannya melambai-lambai tertiup angin, kalau terjatuh ke bawah pasti badan hancur lebur, namun orang ini memejamkan mata seolah-olah sedang tidur nyenyak.

Dengan duduk bersila, dari bawah pakaiannya menonjol keluar ujung kakinya, namun sepasang bakiak justru dia jajar di hadapannya, di atas bakiak ini terletak pula sebatang pedang aneh yang bersarung warna hitam.

Setelah dekat, baru Coh Liu-hiang jelas melihat raut mukanya yang kekuning-kuningan, beralis tebal berhidung elang, walau kedua matanya terpejam, namun terasa hawa membunuh yang tebal merasuk sanubari orang yang melihatnya. Deru angin yang keras menyingkap dan menarikan jubah besar kedodoran yang dipakainya, di depan dadanya tampak disulam dengan benang sutra emas delapan huruf yang berbunyi, ‘Pedang peranti pembunuh, siapa melawan pasti dia mampus!’

Coh Liu-hiang mengkirik dibuatnya, katanya perlahan sambil mengawasi Lamkiong Ling, “Siapa sih dia?”

Lamkiong Ling menggeleng-gelengkan kepala.

“Apa di seberang sana tempat tinggal Jin hujin?”

Lamkiong Ling manggut-manggut.

Coh Liu-hiang beranjak maju sambil menjura, katanya, “Sahabat ini sukalah memberi jalan sebentar?”

Orang itu tetap duduk tanpa bergeming, seolah-olah tidak mendengar suaranya.

Coh Liu-hiang tarik suara, katanya lebih keras, “Sahabat ini, bolehkah minta jalan, kami hendak ke seberang sana?” Suaranya lantang bergema di alam pegunungan. Tapi orang itu tetap diam saja tanpa bergerak.

Coh Liu-hiang meringis kepada Lamkiong Ling, katanya, “Sayang saudara ini tidak mau buka mulut, seolah-olah dia mau bilang, ‘Gunung ini aku yang membuka, pohon ini aku yang tanam. Kalau ingin lewat jalan ini, tinggalkan uang sewamu’," sengaja ia ucapkan kata-katanya lebih keras untuk memancing reaksi orang itu.

Tiba-tiba kelopak mata orang itu bergerak, matanya sedikit terbuka seperti sebuah garis lembut saja. Coh Liu-hiang yang ditatapnya merasa seperti diiris oleh ujung pisau, sungguh hatinya amat terkejut.

Terdengar orang itu berkata pelan-pelan, “Betapa besar dunia ini, ke mana saja boleh pergi, kenapa kalian harus lewat jalan sini?” kata-katanya amat kalem dan pelan, setiap patah katanya amat jelas, namun kedengarannya kaku dan menusuk kuping, seperti pisau tajam yang sedang menyisik bambu.

Tergerak hati Coh Liu-hiang, serunya bertanya, “Nama besar tuan ini?”

“Thian-hong-cap-si-long!”

“Apakah tuan bukan orang kelahiran Tionggoan?”

“Rumahku berada di Ih-ho-koh di Tang-ni!”

Berubah air muka Coh Liu-hiang saking kagetnya, tanyanya, “Jadi kaukah Jin-hiap dari Ih-ho itu?”

Thian-hong-cap-si-long pejamkan mata, tak bersuara lagi. Dingin perasaan Coh Liu-hiang membayangkan musuh misterius yang menghilang di tengah kabut di pinggir danau tempo hari, batinnya, “Mungkinkah orang itu adalah dia ini?”

Dalam pada itu Lamkiong Ling pun tampil ke muka, seraya menjura, “Ih-ho Jin-hiap, bagai naga sakti tiada tandingan. Dua puluhan tahun yang lalu, yang pernah muncul dan berkelana di daerah Bing-ciat itu, apakah bukan Cianpwe?”

“Tidak salah,” sahut Thian-hong-cap-si-long.

“Untuk kedua kalinya Cianpwee putar balik pula, sehingga kami angkatan muda bisa menyaksikan kepandaian silat tunggal dari Ih-ho, sungguh Wanpwe amat beruntung, entah sudah berapa lama Cianpwe menyeberang lautan datang ke mari pula?”

Berkata Thian-hong-cap-si-long kalem, “Sepuluh hari yang lalu kutinggalkan perahu mendarat, lima hari yang lalu aku sudah tiba di sini.”

“Aneh,” sela Coh Liu-hiang, “Agaknya Cayhe pernah melihat Cianpwe di Tay-bing-ouw?”

Thian-hong-cap-si-long menyeringai dingin, jengeknya : “Tentulah matamu itu picak.”

Coh Liu-hiang ingin bicara lagi, lekas Lamkiong Ling mengedipkan mata padanya, katanya tertawa, “Sebetulnya Wanpwee ingin mohon petunjuk dan pengajaran Cianpwee, apa boleh buat kami sedang mengurus persoalan penting, semoga Cianpwe sudi memberi jalan sebentar, sekembalinya nanti pasti Wanpwee mohon pengajaran.”

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Maling Romantis (Xue Hai Piao Xiang) Bab 7: Bayangan Hitam"

Post a Comment

close