Legenda Pulau Kelelawar Bab 03: Hati Manusia Sukar Diraba

Mode Malam
Bab 03: Hati Manusia Sukar Diraba
"Ketika mendengar suara jeritan, segera kami memburu kemari," tutur Ci Hong. "Tapi sebelum tiba di sini, kami mendengar suara "plung" satu kali, waktu kami pandang Hiang-jiya, beliau ternyata sudah lenyap."

Semua orang saling pandang sekejap, mereka tahu suara "plung" itu tentu karena mayat Hiang Thian-hui tercebur ke sungai. Sekarang mereka yakin orang she Hiang itu pasti banyak celaka daripada selamat.

Hay Koa thian sudah bersahabat cukup lama dengan Hiang Thian-hui, air matanya lantas berlinang, ucapnya dengan suara parau, "O, jite, akulah yang membikin celaka dirimu, tidak seharusnya kuajak kau ke sini..."

"Kan belum lama mayatnya kecebur, biar aku menyelam ke bawah, mungkin dapat ditemukan," kata Thio Sam.

Waktu itu kapal sudah mendekati muara laut, ombak bergulung-gulung. Tapi tanpa pikir Thio Sam lantas terjun ke bawah mirip seekor ikan raksasa.

Segera Hay Koa-thian berteriak, "Kurangi kecepatan, kapal berhenti! Adakan penghitungan orang."
Di tengah suara teriakannya itu, para kelasi lantas berpencar, anak buah Ci-keng-pang memang sudah terlatih dan sangat disiplin, meski terjadi peristiwa gawat, semuanya tetap tenang. Dalam waktu singkat kapal berhenti, segera terdengar suara mengabsen bergema susul-menyusul.

Selang sejenak, orang yang bernama Ci Hong berlari datang dan memberi hormat kepada Hay Koa-thian serta melapor, "Kecuali Ong Tek-ci dan Li Tek-piau, yang lain masih ada."
Kalau orang lain masih ada, yang mati dengan sendirinya ialah Hiang Thian-hui.

Mendadak Hay Koa-thian berlutut di depan genangan darah itu.

Gemerdap sinar mata Ting Hong, ucapnya dengan suara tertahan, "Betapa tinggi ilmu silat Hiang-jiya cukup kukenal, aku justru tak percaya dia dikerjai orang begitu saja, sebab orang Kangouw yang mampu membunuhnya juga sangat terbatas."
Waktu berkata demikian, sorot matanya menyapu muka para hadirin, dimulai dari Kau Cu-tiang, Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Pek-lak-cek, tapi Kongsun Jiat-ih dan Kim Leng-ci tak dipandangnya sama sekali. Jelas maksudnya orang yang mampu membunuh Hiang Thian-hui hanya keempat orang itu saja.

Oh Thi-hoa lantas menjengek, "Betapa tinggi ilmu silat Ting-kongcu, bukan saja cukup kukenal, bahkan semua orang pun cukup jelas. Waktu peristiwa ini terjadi, entah Ting-kongcu berada dimana tadi?"
Maksud ucapannya ini sangat gamblang, hakikatnya dia hendak bilang Ting Hong adalah pembunuhnya.

Tapi Ting Hong tenang-tenang saja, jawabnya dengan tak acuh. "Pada waktu itu Cayhe sedang berbaring di ranjang."

"Kau-heng kan satu kamar dengannya, tentu kau melihatnya?" tanya Oh Thi-hoa.

Sikap Kau Cu-tiang seperti agak susah, jawabnya dengan tergagap, "Waktu itu aku sendiri sedang.... sedang pergi buang air, tidak berada di kamar."

Mendadak Coh Liu-hiang berkata, "Padahal orang yang membunuh Hiang-jiya-tidak perlu ilmu silatnya lebih tinggi dari Hiang-jiya."

"Bila tidak lebih tinggi ilmu silatnya, apakah mampu membunuhnya?" ujar Oh Thi-hoa.

"Bisa jadi lantaran Hiang-jiya tidak menyangka orang itu akan membunuhnya, maka dia sama sekali tidak berjaga-jaga sehingga orang itu berhasil menyerangnya."

Hay Koa-thian menengadah, katanya dengan gemas, "Betul, kalau tidak, waktu mereka bergebrak tentu akan menimbul kan suara, Ci Hong berdua tentu akan mendengar, tapi lantaran orang itu menyerang secara diam-diam, maka tidak terdengar sesuatu suara."

"Begitulah, makanya setiap orang yang berada di kapal ini mungkin adalah pembunuh Hiang-jiya," kata Coh Liu-hiang.

"Tapi orang lain kan tiada permusuhan apa-apa dengan Hiang-jiya mengapa turun tangan keji kepadanya?" jengek Ting Hong sambil melototi Kau Cu-tiang.

"Untuk apa mendelik padaku? Memangnya aku bermusuhan dengannya?" tanya Kau Cu-tiang dengan gusar.

"Waktu Kau-heng bertengkar dengan Hiang-jiya di Sam-ho-lau, kukira hampir semua orang ikut menyaksikan, bukan cuma aku sendiri," jawab Ting Hong dengan tak acuh.

Seketika pandangan Hay Koa-thian beralih ke arah Kau-Cu-tiang, sorot matanya penuh rasa benci seakan-akan Kau Cu-tiang telah dianggap sebagai pembunuhnya.

Dengan muka merah Kau Cu-tiang berseru, "Waktu itu aku cuma bilang ingin mencoba kepandaiannya dan tidak menyatakan akan mencabut nyawanya."

"Apakah Kau-heng hendak mencabut nyawanya atau tidak hanya Kau-heng sendiri yang tahu," jengek Ting Hong pula. "Apalagi setahuku, waktu Hiang-jiya terbunuh, Kau-heng sendiri entah pergi kemana?"

"Kan sudah kukatakan, waktu itu aku sedang buang air....."

"Buang air dimana?" tanya Ting Hong.

"Sudah tentu di kakus, masa boleh kukencing di hadapanmu?" jawab Kau Cu-tiang.

"Memangnya siapa yang melihat kau pergi ke kakus?" kata Ting Hong pula.

"Tidak ada, waktu itu tiada seorang pun yang berada di kakus," jawab Kau Cu-tiang.

"Hm, masa begitu kebetulan, tidak cepat, tidak lambat, ketika Hiang-jiya terbunuh dan Kau-heng kebetulan ingin buang air, pula kebetulan di kakus juga tiada orang lain lagi.... hehehe, semua ini sungguh sangat kebetulan, serba kebetulan," demikian jengek Ting Hong.

Seketika Kau Cu-tiang meraung murka, "Persetan kau! Darimana aku tahu air kencingku akan keluar mendadak dan cara bagaimana pula kutahu di kakus tidak ada orang."

"Jangan gelisah, Kau-heng," tiba-tiba Coh Liu-hiang menyela. "Bukti nyata dan lengkap, jelas Kau-heng bukan pembunuhnya."

"Bukti nyata? Dimana?" tanya Ting Hong.

"Bila pembunuhan ini dilakukan secara diam-diam, jarak si pembunuh dan Hiang-jiya pasti sangat dekat," tutur Coh Liu-hiang. "Padahal Kau-heng dan Hiang-jiya jelas tidak akur mana mungkin Hiang-jiya membiarkan Kau-heng mendekatinya.

"Betul, jika dia melihat aku mendekat, mungkin dia akan segera melonjak," tukas Kau Cu-tiang.

"Coba lihat noda darah di lantai ini." kata C oh Liu-hiang.

"Darah Hiang-jiya yang mengalir keluar amat banyak, jika pembunuh itu melakukan keganasannya dari dekat, tentu bajunya akan terciprat darah." Dia pandang Kau Cu-tiang sekejap, lalu menyambung, "Baju Kau-heng kering dan bersih, pakaian cukup rajin, bila dia habis membunuh lalu berganti pakaian, kukira juga takkan terjadi secepat ini."

"Betul, begitu mendengar jeritan, segera kuburu ke sini, mana sempat berganti pakaian segala," tukas Kau Cu-tiang.

"Untuk ini aku dapat menjadi saksi," tiba-tiba Kim Leng-ci menambahi. "Waktu kudatang, dia sudah berada di sini."

"Dalam hal ini, siapa pun pembunuhnya jelas tidak keburu berganti pakaian," kata Coh Liu-hiang pula. "Yang bisa dilakukan dalam waktu sesingkat ini hanya menanggalkan baju yang berlepotan darah, lalu dilemparkan ke laut atau disembunyikan."

"Jika demikian, saat ini pakaian si pembunuh pasti masih rapi dan bersih?" jengek Ting Hong sambil melototi Kau Cu-tiang. Yang dikenakan Kau Cu-tiang sekarang hanya pakaian dalam dan tidak memakai baju luar.

Namun Kau Cu-tiang tetap tenang, ucapnya, "Cayhe memang tidak biasa tidur dengan memakai baju panjang."

"Betul, tidak mungkin orang tidur dengan pakaian rapi " kata Kim Leng-ci. "Waktu kudengar suara jeritan tadi, segera kulari ke sini, aku pun tidak memakai baju luar, memangnya aku pun dianggap sebagai pembunuhnya?"

Si nona memang betul cuma memakai pakaian dalam saja, tidak memakai kaos kaki, sehingga kedua kakinya tampak putih mulus.

Segera pandangan Oh Thi-hoa beralih ke arah kaki yang putih itu, katanya pelahan, "Sebelum pembunuhnya diketahui, setiap orang tak terhindar dari sangkaan, sekalipun orang kaya juga tak terkecuali. Orang kaya tidak pasti bukan pembunuh, bukankah begitu nona Kim?"

Sebenarnya Kim Leng-ci hendak meraung, tapi demi melihat mata Oh Thi-hoa yang melotot mengincar kakinya yang mulus itu, seketika mukanya menjadi merah dan tanpa terasa ia menyurut mundur hingga lupa membuka suara.

Sementara itu Thio Sam telah menongol di permukaan air dan berseru "Tidak ada, tidak kutemukan apapun, gelombang air cukup keras, ikan mati saja tiada, apalagi orang mati."

Segera Hay Koa-thian melempar seutas tambang, serunya, "Apapun Thio-heng sudah berusaha sedapatnya, aku dan Hiang-jite merasa berterima kasih. Lekas Thio-heng naik ke atas."

**********

Hari sudah terang, sekembalinya di kamar, segera Oh Thi-hoa menjambret leher baju Coh Liu-hiang dan berkata. "Breng sek, sekarang kau pun tidak jujur lagi padaku. Memangnya kau kira dapat menipu tuan Oh ini?"

"Siapa yang menipu kau? Apakah penyakit gilamu sudah kumat?" tanya Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Masa kau tidak dusta padaku?" seru Oh Thi-hoa dengan mendelik. "Sebelum mati In Ciong-liong minta kau mewakilkan dia minum araknya, dalam cawan itu jelas ada semacam benda, mengapa kau bilang tidak ada apa-apa?"

Sementara Thio Sam sudah ganti pakaian kering pemberian Hay Koa-thian dan sedang berbaring di tempat tidur, dengan tertawa ia menyela, "Orang sering bilang Oh Thi-hoa adalah manusia yang paling goblok, tadinya aku tidak percaya, tapi sekarang baru kutahu olok-olok itu memang tidak salah."

"Kentut makmu," demikian damprat Oh Thi-hoa dengan gusar. "Kau tahu apa?" .

"Dan kau? Kau tahu apa?" jawab Thio Sam. "Tahu kentut. Tadi dia tidak bicara sejujurnya adalah karena Hay Koa-thian juga hadir di sana, kenapa kau jadi marah-marah begini?"

"Kenapa kalau Hay Koa-thian hadir di sana?” kata Oh Thi-hoa penasaran. "Kukira dia bukan orang busuk, pula dia berdiri satu garis di pihak kita, mengapa kita harus mengelabui kita?"

Thio Sam menghela napas gegetun, katanya, "Tadinya kukira kau cuma tahu kentut, hakikatnya kentut saja kau tidak tahu. Padahal Hay Koa-thian hanya membawa kau ke gudangnya yang menyimpan beberapa guci arak dan kau lantas menganggap dia sebagai sahabatmu yang sejati."

"Hm, masa aku serupa kalian, selalu curiga kepada siapa pun," jengek Oh Thi-hoa. "Jika menuruti jalan pikiran kalian, di dunia ini mana ada orang yang dapat kalian percayai?"

"Tidak ada, memang tidak ada," kata Thio Sam. "Terkadang pada diri sendiripun aku tak percaya, apalagi orang lain."

"Paling sedikit kau masih suka berterus terang, tidak seperti si kutu busuk ini," jengek Oh Thi-hoa.

"Kau benar-benar percaya penuh kepada Hay Koa-thian?" tanya Thio Sam.

"Dia kan sudah bicara segalanya, sedikitpun tidak meraha siakan apa-apa...."

"Hm, hendak memancing ikan harus pakai umpan, darimana kau tahu ucapan Hay Koa-thian itu bukan umpan?"

"Umpan? Maksudmu dia hendak memancing? Memangnya apa yang hendak dipancing?" tanya Oh Thi-hoa.

"Dia hendak memancing keterangan kita, tentu saja dia harus bicara dulu untuk menarik perhatian kita. Padahal apa yang diucapkannya itu tidak lebih hanya dugaan saja, kalau dia dapat menduga tentu orang lain juga bisa, jadi uraiannya yang panjang lebar itu hakikatnya sama dengan nol besar,” tanpa menunggu tanggapan Oh Thi-hoa, segera Thio Sam menyambung, "Mengenai keenam peti mati itu, tiada yang tahu siapa yang mengirim, bukan mustahil perbuatan Hay Koa-thian sendiri."

Tangan Oh Thi-hoa yang mencengkeram leher baju Coh Liu-hiang lantas dikendurkan, baru sekarang Coh Liu-hiang berkata dengan tertawa, "Betul, penumpang kapal ini kan tidak tuli dan buta, jika dikatakan ada orang membawa keenam peti itu ke atas kapal tanpa diketahui siapa pun juga, rasanya hal ini tidak mungkin terjadi, hanya dia sendiri...."

"Paling tidak dia bukan pembunuh Hiang Thian-hui." Seru Oh Thi-hoa penasaran. "Waktu Hiang Thian-hui mati, jelas dia berada bersama kita, betul tidak?"

"Ehmm,"'Coh Liu-hiang mengangguk.

"Menurut pendapatku, kalau Kau-Cu-tiang bukan pembunuhnya, maka yang paling mencurigakan ialah Kim Leng-ci, Ting Hong dan Kongsun Jiat-ih."'

"Betul," kata Coh Liu-hiang pula.

"Untuk mengangkut peti mati ke atas kapal di luar tahu orang memang tidak mudah, ketiga orang itu kan punya uang dan berpengaruh. Kata orang 'setan juga doyan duit'. Asalkan punya uang, segala apapun dapat diperbuat,"

"Tapi selain ketiga orang itu, masih ada dua orang lagi yang harus dicurigai," kata Coh Liu-hiang.

"O, siapa?" tanya Oh Thi-hoa.

"Yaitu Loh Kiat dan Ci Hong yang memegang kemudi kapal," kata Coh Liu-hiang.

"Dengan kepandaian mereka itu, masa mampu membunuh Hiang Thian-hui?"

"Jika hari ini mereka yang dinas kerja dan mereka berada di samping sana tentu tidak dicurigai Hiang Thian-hui, apalagi orang yang angkuh seperti Hiang Thian-hui itu pasti tidak me naruh perhatian terhadap mereka. Jika hendak membunuh Hiang Thian-hui secara diam-diam, hanya mereka itulah yang punya kesempatan dan peluang terbesar."

"Ya, lantaran mereka bukan orang penting sehingga tiada orang yang memperhatikan mereka, maka setelah melakukan keganasan, dengan leluasa mereka dapat berganti pakaian dengan waktu yang cukup singkat," kata Thio Sam.

"Waktu itu Hay Koa-thian kebetulan berada bersama kita, bukan mustahil tujuannya hendak menyuruh kita menjadi saksi bahwa waktu Hiang Thian-hui terbunuh, dia tak berada di tempat, dengan demikian akan terbukti dia bukan pembunuhnya."

"Tapi inipun tak dapat membuktikan ia tak pernah menyuruh orang lain membunuh Hiang Thian-hui," kata Thio Sam.

"Jika demikian, kau anggap Hay Koa-thian adalah pembunuhnya?" tanya Oh Thi-hoa.

"Aku tidak menuduh dia adalah pembunuhnya, aku Cuma bilang dia juga harus dicurigai," jawab Thio Sam.

"Menurut pendapatku, orang yang paling mencurigakan ialah Kim Leng-ci," jengek Oh Thi-hoa.

"Sebab apa?" tanya Thio Sam.

"Jika dia bukan pembunuh, mengapa mutiara besar miliknya itu bisa berada di mayat Li Tek-piau?" kata Oh Thi-hoa.

"Setiap orang patut dicurigai, kukira terlalu dini bila menentukan siapa pembunuhnya sekarang," ujar Coh Liu-hiang.

"Memangnya harus menunggu sampai kapan kalau tidak sekarang?" kata Oh Thi-hoa.

"Siapa pun pembunuhnya, membunuh orang pasti ada tujuannya," kata Coh Liu-hiang. "Maka kita harus mencari tahu lebih dahulu apa maksud tujuan si pembunuh itu."

"Ehm, betul juga," ujar Oh Thi-hoa.
"Betapapun lihainya sang pelaku, setelah membunuh, sedikit banyak akan meninggalkan jejak dan tanda-tanda, maka kita menunggu sampai dia sendiri memperlihatkan ciri-cirinya itu."

"Maksudmu, petunjuk yang ada sekarang belum cukup dan masih harus menunggu dia membunuh beberapa orang lagi, begitu?" jengek Oh Thi-hoa.

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya, "Aku cuma berharap dia hendak membunuh pula, semoga kita dapat mendahului dan membekuknya."

"Bila selanjutnya dia tidak membunuh lagi, kan kita pun tak dapat membekuk dia?"

"Jangan lupa peti mati itu masih banyak yang kosong, sebelum peti mati itu terisi penuh, tidak nanti, dia berhenti bekerja," kata Coh Liu- hiang dengan tersenyum.

Oh Thi-hoa berpikir sejenak, katanya, "Jika demikian, menurut perkiraanmu, siapa sasaran kedua yang akan diincarnya?"

"Ini sukar dikatakan..., bisa jadi kau, mungkin pula aku."

"Kalau begitu, sebelum mati lekaslah kau perlihatkan padaku barang yang kau simpan itu?”

Coh Liu-hiang tertawa, katanva, "Paling tidak orang ini punya mata maling yang tajam. Dalam cawan arak yang kuterima dari In Ciong-liong memang betul ada sesuatu benda."

"Gambar apa?" tanya Oh Thi-hoa.

"Sudah kuperiksa hingga setengah harian dan tetap tidak tahu apa arti gambar itu," jawab Coh Liu-hiang sambil mengeluarkan secarik kertas.
Di atas kertas itu terlukis seekor kelelawar atau kalong di sekitar kalong ada garis melengkung, banyak pula titik-titik hitam, lalu di pojok kiri atas dilukis satu lingkaran yang bergaris-garis seperti sinar.

"Garis-garis yang melengkung ini agaknya tanda air," ujar Coh Liu-hiang.

"Ehm, benar," kata Thio Sam.

"Dan lingkaran ini seperti tanda matahari," kata Coh Liu-hiang pula.

"Betul," tukas Thio Sam.

"Dan tanda apa titik-titik hitam besar dan kecil ini?" tanya Oh Thi-hoa.

"Bisa jadi.... bisa jadi sebagai tanda batu karang di tengah air...."
“Matahari, air, batu karang, adalagi seekor kalong.... apa artinya semua ini?" tanya Oh Thi-hoa.

"Dengan sendirinya gambar ini mengandung arti yang sangat mendalam, dengan sendirinya juga suatu rahasia yang maha besar, kalau tidak, masakah sebelum ajal In Ciong-liong menyerahkannya padaku dengan cara misterius?"

"Mengapa tidak dia katakan terus terang saja, malah main teka-teki begini?" ujar Oh Thi-hoa.

"Waktu itu tiada peluang untuk bicara baginya..."

"Betul," sela Oh Tht-hoa. "Waktu di Sam-ho-lau, aku pun merasa cara bicara In Ciong-liong agak gelagapan dan tidak pantas sebagai seorang tokoh pimpinan suatu organisasi besar...."

Belum habis ucapannya, mendadak Coh Liu-hiang melompat ke pintu, dengan cepat ia menarik daun pintu. Dan di depan pintu ternyata berdiri satu orang.
Ternyata Kim Leng-ci adanya.

Begitu Coh Liu-hiang membuka pintu, seketika muka si nona menjadi merah, kedua tangan disembunyikan di belakang, entah apa yang dipegang, tampaknya hendak bicara, tapi urung.

Segera Oh Thi-hoa berolok-olok, "Kita asyik mengobrol di sini, tak tersangka nona Kim telah menjadi penjaga pintu bagi kita, sungguh kita harus berterima kasih kepadanya."

Kim Leng-ci menggigit bibir, ia melengos dan melangkah pergi dengan dongkol. Tapi baru dua-tiga tindak, mendadak ia menoleh dan berseru, "Kemari kau, Thio Sam!"

Thio Sam mengiakan sambil melompat turun dari tempat tidur. "Ada pesan apa nona?" tanyanya dengan mengiring tawa.

"Budak ini sungguh penurut, jika nona Kim menyuruhnya membunuh pasti akan dilaksanakannya," jengek Oh Thi-hoa.

Kim Leng-ci tidak menggubris ocehannya, ia mengeluarkan sebungkus barang yang disembunyikan di belakang punggung dan berkata pula, "Bungkusan ini hendaklah kau simpan dan jaga dengan baik."

Thio Sam menerimanya sambil mengiakan.

“Bungkusan barang ini baru kutemukan, boleh kau buka di periksa isinya, tetapi awas jangan sampai hilang, akan kupenggal kepalamu sebagai gantinya," kata si nona.

"Jangan khawatir nona," jawab Thio Sam pula dengan tertawa "Barang apapun, jika sudah berada padaku, biarpun maling sakti nomor satu di dunia juga jangan harap dapat mencurinya."

Kim Leng-ci mendengus, segera ia melangkah menuju kamar depan, "blang", dengan keras ia gabrukkan pintu kamarnya.

"Di kamar kita ini memang ada seorang maling sakti nomer satu di dunia," kata Oh Thi-hoa. "Maka kau harus simpan baik-baik barang itu, awas jika kepalamu terpaksa dijadikan gantinya, kan bisa konyol."

Belum habis ucapannya, mendadak daun pintu kamar yang satu lagi terbuka, Ting Hong tampak melongok keluar, sorot matanya seperti tidak sengaja melirik sekejap pada bungkusan yang dipegang Thio Sam, lalu menyapa dengan tertawa, "Kalian belum tidur?"

"Ting-kongcu mungkin juga seperti kami, sukar pulas bila berada di tempat baru," kata Coh Liu-hiang.

Mata Ting Hong tampak berkedip-kedip, lalu mendesis, "Ada sedikit urusan yang ingin kubicarakan dengan Coh-hiangswe, entah sekarang boleh tidak?"

Belum lagi Coh Liu-hiang menjawab, pintu kamar sebelah juga mendadak terbuka, yang melangkah keluar ternyata bukan Pek-lak-cek, juga bukan Kongsun Jiat-ih, tapi Kau Cu-tiang.

Air muka Kau Cu-tiang tampak pucat kehijau-hijauan, sinar matanya buram, koper hitam tetap dibawanya. Ketika melihat Coh Liu-hiang dan lain-lain sama berdiri di luar pintu, seketika ia melenggong kaget.

"Kukira Kau-heng lagi pergi buang air, sedang kupikirkan akan memperkenalkan seorang tabib sakti untuk memeriksa penyakit ginjalmu," kata Ting Hong.

Muka Kau Cu-tiang sebentar pucat sebentar merah, jawabnya dengan tergagap, "Aku memang pergi buang air, waktu lewat sini, tiba-tiba timbul keinginanku untuk mengobrol."

"O, kiranya Kau-heng memang kenal mereka, sungguh tak terduga olehku," kata Ting Hong sambil menatap orang dengan tajam. Lalu ia melirik Coh Liu-hiang sekejap dan berkata dengan tertawa, "Mungkin tidak tersangka oleh Coh-hiangswe bukan?"

Kau Cu-tiang berdehem beberapa kali, jawabnya, "Aku dan mereka pernah bertemu sekali dua kali saja, tidak.... tidak terlalu karib...." sambil bicara ia terus menyelinap masuk kamar.

"Bila Ting-heng ingin memberi petunjuk, silakan kemari saja," kata Coh Liu-hiang kemudian.

Ting Hong berpikir sejenak, katanya, "Rasanya kita sudah lelah dan perlu istirahat, kita bicarakan malam nanti saja." Segera ia menyurut ke dalam dan menutup pintu.

Pintu kamar satunya juga sudah tertutup, tapi sejauh itu Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek sama sekali tidak menongol.

Oh Thi-hoa sudah tidak tahan, belum lagi Coh Liu-hiang merapatkan pintu kamarnya segera ia menggerutu, "Zaman ini hati manusia memang sukar diraba, tak tersangka orang macam Kau Cu-tiang juga bisa berdusta. Jelas dia kenal Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek, tapi waktu naik kapal, mereka berlagak seperti tidak saling kenal."

"Ya, dia mengaku belum pernah mengembara di dunia Kangouw, kecuali Coh Liu-hiang. tiada yang dikenalnya, kiranya semua itu dusta belaka. Orang yang dia kenal jauh lebih banyak daripada kita," demikian Thio Sam menggerutu.

"Semula kukira dia benar-benar masih hijau dan tidak paham seluk-beluk dunia Kangouw, bicaranya blak-blakan, tindakannya terang-terangan, siapa tahu semua ini kedok belaka," demikian Oh Thi-hoa menambahkan.

"Apa yang diperbuatnya itu sengaja diperlihatkan agar kita menaruh curiga padanya, padahal bisa jadi sebelumnya sudah bersokongkol dengan Kongsun Jiat-ih."

"He, tidak, tidak betul, harus kuperiksa ke sana," seru Oh Thi-hoa sambil melonjak bangun.

"Apa yang tidak betul? Periksa apa?" tanya Thio Sam.

"Bukan mustahil dia pembunuhnya, Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek adalah sasaran yang kedua, bisa jadi sekarang kedua orang itu sudah mati."

Sejak tadi Coh Liu-hiang termenung, baru sekarang ia mengangguk dan buka suara, "Sesudah Kau Cu-tiang keluar tadi, pintu kamar lantas ditutup orang dari dalam, jika orang mati apakah dapat menutup pintu?"
Mestinya Kim Leng-ci hendak meraung lagi, tapi entah mengapa demi mendengar ucapan Coh Liu-hiang itu, mukanya menjadi merah mendadak, dengan mendongkol ia menggentak kaki terus masuk ke kabin.

"Wah, jika Oh-heng benar-benar segera menikah, sungguh peristiwa gembira juga," segera Ting Hong menanggapi. "Entah siapakah gerangan pengantin perempuannya?"

"Pengantin perempuan...." Coh Liu-hiang pura-pura berpikir sejenak lalu menyambung, "Boleh dikata cantik dan puteri keluarga ternama, ilmu silatnya juga lumayan, kekuatan minum araknya lebih dari lumayan, konon sekaligus sanggup menghabiskan satu guci...."

"Kutu busuk keparat," Oh Thi-hoa berteriak. "Jika kau omong lagi, segera ku.... kubunuh kau."

Semua orang merasa geli mendengar olok berolok mereka.

Pada saat itulah tiba-tiba tertampak sebuah perahu kecil sedang meluncur tiba dari tepi sungai. Di haluan perahu berdiri seorang dengan mengangkat kedua tangan membentangkan sehelai kain putih.

Pada kain plakat itu jelas tertulis : "Menjual diri untuk mengubur kawan".

Dalam cerita kuno memang ada anak berbakti yang 'menjual diri untuk mengubur ibu', tapi 'menjual diri untuk mengubur kawan', hal ini selamanya belum pernah terjadi.

"Lihatlah kawan," seru Kau Cu-tiang. "Orang ini hendak menjual dirinya untuk biaya penguburan kawannya, orang yang setia kawan begini rasanya harus kujadikan sahabat."

"Betul, jika ingin bersahabat, paling baik kau beli saja dia, bila di kemudian hari dia membusuk-busukkanmu, dapat kau jual lagi," kata Oh Thi-hoa. Lalu dia melototi Coh Liu-hiang sekejap dan menyambung pula, "Cuma sayang ada sementara orang biarpun hendak dijual obral toh tetap tidak laku."

"Masa?" ujar Con Liu-hiang dengan tertawa. "Asalkan tidak bau, tidak jorok, tidak malas, tidak suka mabuk-mabukan, mustahil tak dapat dijual."

Belum Oh Thi-hoa menanggapi, terdengar orang yang berdiri di haluan perahu itu berteriak, "Jangan khawatir, aku tidak bau, tidak jorok, tidak malas, arak juga tidak banyak kuminum, nasi yang kumakan lebih sedikit daripada burung, tapi kalau bekerja melebihi kerbau, terhadap majikan juga lebih setia daripada anjing penjaga. Barang siapa mau membeli diriku, dijamin takkan kecewa, ditanggung barang tulen harga murah, pasti akan puas."

Di tengah suaranya, perahu itupun sudah makin dekat

Tapi tanpa melihat, Oh Thi-hoa sudah dapat mengenali suara orang itu, jelas dia si jaring kilat Thio Sam adanya. Ia menjadi geli, katanya, "Mungkin bocah ini sudah melarat, hinga pikiran menjadi miring."

Pendatang ini memang betul Thio Sam, ia berdiri di haluan perahu dan berseru, "Hayolah tuan-tuan dan nyonya-nyonya dia atas kapal, adakah di antara kalian yang tahu barang baik, lekas beli diriku!?"

Germedap sinar mata Ting Hong, dengan tertawa ia berkata, "Apakah sahabat benar-benar akan menjual diri sendiri?"

Thio Sam menghela napas jawabnya, "Sebenarnya aku punya sebuah perahu rongsok, jika terpaksa dapat kujadikan duit, celakanya aku suka berkawan tapi tidak pilih-pilih kawan baik atau busuk, gara-gara membela kawan akhirnya perahuku menjadi korban, tenggelam. Sekarang aku tinggal sebatangkara, lalu apa yang dapat kuharapkan selain menjual diri sendiri?"

"Berapa harga yang kau pasang?" tanya Ting Hong.

"Tidak lebih tidak kurang tepat 500 tahil perak," jawab Thio Sam. "Bila tidak kepepet dan perlu uang, tidak nanti kulepaskan diriku dengan harga sekian."

"Sebenarnya sahabat ini ada keperluan apa hingga terpaksa menjual diri? tanya Ting Hong pula

"Soalnya aku mempunyai dua orang kawan, tampaknya jiwa mereka pasti akan melayang," tutur Thio Sam dengan menghela napas gegetun. "Jelek-jelek mereka kawanku, tak mungkin kusaksikan mayat mereka jadi makanan anjing liar, terpaksa aku menjual diri untuk ongkos penguburan mereka "

Ting Hong melirik sekejap Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang, lalu berkata pula dengan tertawa, "Untuk itu juga tidak perlu sebanyak 500 tahil perak?!"

"Eh, agaknya tuan ini tidak tahu bahwa kedua kawanku ini lain daripada yang lain," kata Thio Sam. "Waktu hidup mereka adalah setan arak, bila mati kan akan menjadi setan araknya setan. Nah, untuk itu terpaksa setiap hari aku harus menyirami kuburan mereka dengan beberapa botol arak, kalau tidak, bila mereka ketagihan di neraka dan hidup kembali ke dunia fana ini, kan aku bisa celaka?"

Sudah jelas siapa-siapa yang dimaksud Thio Sam itu, tentu saja Oh Thi-hoa sangat mendongkol, kalau bisa ia ingin tonjok hidung Thio Sam.
Kau Cu-tiang juga geli, katanya dengan tertawa, "Eh, jika begitu, bolehlah Ting-heng membelinya saja."

Ting Hong tersenyum, jawabnya, "Boleh juga kubeli, cuma...."

"Kau tak mau beli, biar aku yang beli!" mendadak seorang berseru. Di tengah suaranya itu, tahu-tahu Kim Leng-ci sudah menerobos keluar dari kabin, segera ia sambung pula, "500 tahil perak akan kubayar, tanpa tawar."

Thio Sam lantas menggeleng, katanya tertawa, "Tidak bisa, jika nona yang beli, harga diriku jadi lima ribu tahil perak."

"Kenapa begitu?" tanya Kim Leng-ci dengan melotot.

"Sebab majikan laki-laki jauh lebih mudah dilayani, majikan perempuan banyak menimbulkan kerepotan, terkadang aku diharuskan mandi di air lumpur, kan cialat?!" kata Thio Sam.

Tanpa pikir mendadak Kim Leng-ci berseru, "Baik, lima ribu tahil juga jadi, kututup jual beli ini."

Thio Sam jadi melengak malah, katanya dengan tergagap, "Nona bet.... betul-betul mau beli?"

"Sudah tentu betul, memangnya guyon?" omel si nona.

Thio Sam memandang sekelilingnya, lalu berkata, "Wah entah masih adakah peminat yang berani membeli dengan harga lebih tinggi daripada tawaran nona ini?"

Oh Thi-hoa menggeleng, katanya, "Orang ini bukan saja mirip burung, juga mirip kerbau dan seperti anjing, boleh dikata seekor siluman. Aku sendiri belum lagi sinting, buat apa membuang lima ribu tahil perak untuk membeli makhluk aneh?"

"Jadi kau maksudkan aku sinting? Begitu?" serentak Kim Leng-ci berjingkrak gusar.

"Aku bilang diriku sendiri tidak sinting, kenapa nona Kim jadi tersinggung?" ucap Oh Thi-hoa dengan tal acuh.

Saking dongkolnya muka Kim Leng-ci menjadi merah padam, tapi ia pun tak dapat bersuara lagi.

Thio Sam berdehem beberapa kali, lalu berseru, "Hayolah siapa berani tawar algi, jika tiada, akan kujual kepada nona ini."

"He, apakah kau ini si jaring kilat Thio Sam?" tiba-tiba seseorang berseru.

"Betul, tanggung barang tulen dan harga murah, bila palsu uang kembali," sahut Thio Sam.

"Baik, kalau begitu, kutawar lima ribu lebih satu tahil perak!" seru orang itu pula.

Ternyata entah sejak kapan sebuah perahu kecil telah mendekat. Orang yang menawar ini duduk di haluan perahu, bajunya berwarna kelabu, memakai topi lebar, tepian topi di bagian muka agak melambai ke bawah sehingga tidak jelas bentuk wajahnya.

Semua orang terkejut mendengar ucapannya ini. Sungguh tiada yang menduga ada orang mau berebut membeli Thio Sam dengan Kim Leng-ci.

Diam-diam Coh Liu-hiang juga heran, ia merasa urusan ini jadi semakin menarik.

Sudah tentu Kim Leng-ci menjadi berang, dengan suara keras ia pun bertenak, "Aku tawar enam ribu tahil"

"Enam ribu lebih satu tahil."

"Tujuh ribu tahil!" Kim Leng-ci juga tidak mau kalah.

“Tujuh ribu lebih satu," kontan orang itu berteriak pula.

Kim Leng-ci tambah gregetan, sekaligus ia jadikan "Selaksa tahil!"

Namun orang di atas perahu itu tetap tenang-tenang saja, dengan perlahan ia berkata, "Selaksa lebih satu tahil!"

Bahwa ada dua orang berani melelang dirinya dengan cara demikian, Thio Sam sendiri menjadi melenggong. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa dirinya bisa bernilai setinggi ini.

Oh Thi-hoa juga terkesima, gumamnya, "Wah, jika kutahu dia berharga setinggi ini, tentu sudah kubeli sejak mula. Rupanya barang sedikit permintaan banyak, jadinya harga naik terus. Padahal sudah kuperiksa dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri, tiada kudapatkan sesuatu pada dirinya yang berharga."

Orang di atas perahu itu tertawa, dengan tenang ia berkata, "Barang baik hanya dijual kepada orang yang kenal barang. Tawaranku selaksa lebih satu tahil perak belum terhitung tinggi."

Kim Leng-ci jadi makin gregetan, segera ia bertenak. "Baik, kutawar...."

Sebelum dia menyebut jumlah tawarannya, mendadak Ting Hong menyela, "Nanti dulu ingin kutanya sebelumnya orang jual beli kan harus adil, bayar dan terima barang, begitu bukan.?"

"Betul," sahut Thio Sam cepat. "Penjualanku ini dengan kondisi pembayaran kontan, tidak boleh bon, tidak boleh kredit."

"Jika begitu," kata Ting Hong. "Untuk mencegah hal-hal yang mengecewakan, agar penawaran ini tidak cuma omong kosong belaka, siapa yang memberi penawaran hendaklah memperlihatkan dulu uangnya kepada si penjual."

Segera Kim Leng-ci keluarkan segebung 'Gin-bio' (kertas tanda pembayaran, seperti uang kertas atau cek zaman kini), katanya. "Ini cukup tidak?"

Ting Hong memandang sekejap, ucapnya dengan tertawa, "Cukup, tentu saja cukup. Gin-bio keluaran Le-goan Gin-ceng (nama bank) di Soasay, dihargai sama seperti uang kontan."

"Kalau belum cukup, di sini juga tersedia uang kontan, boleh nona Kim gunakan seperlunya," tukas Hay Koa-thian.

Setiap orang Kangouw kenal betapa kaya rayanya Ci-keng-pang dengan ucapannya itu maka 'bonafiditas' Kim Leng-ci tidak perlu disangsikan lagi.

"Dan bagaimana dengan kawan di perahu itu?" tanya Ting Hong.

Orang itu tetap tenang-tenang, katanya pelan, "Mungkin anda khawatir aku bersekongkol dengan Thio Sam dan sengaja meninggikan harganya, begitu bukan?"

Ting Hong hanya tertawa saja tanpa menjawab. Biasanya kalau orang tidak menjawab berarti membenarkan.

Orang itu mendengus, mendadak ia memberi tanda dan berseru,"Bawa kemari!" Segera dari buritan perahu ada orang menggotong sebuah peti. Waktu di buka, seketika tertampak cahaya gemerlapan, isi peti itu ternyata lantakan emas.

Seketika mata Oh Thi-hoa terbelalak, ucapnya sambil menyengir,"Sungguh tak tersangka ada orang membawa emas kemari untuk membeli Thio Sam, tampaknya akulah yang terlalu menilai rendah dirinya.”

"Apakah cukup isi peti ini?" orang di perahu bertanya.

Ting Hong juga tercengang melihat emas sebanyak itu, dengan tertawa ia menjawab, "Ya, cukup, lebih daripada cukup."

"Jika belum cukup, peti seperti ini masih ada beberapa buah lagi, silakan nona menawar lagi sesukamu," ucap orang itu dengan tak acuh.

Biarpun Kim Leng-ci dilahirkan dalam keluarga hartawan, emas perak baginya seperti batu belaka, tapi kalau disuruh membuang berlaksa-laksa tahil emas hanya untuk membeli seorang Thio Sam, mau tak mau hal ini membuatnya bingung dan sangsi.

Kini air muka si nona sudah rada pucat, ia menggit bibirnya dan coba menawar lagi, "Baik, selaksa seribu tahil."

“Setaksa seribu lebih satu," orang itupun naik harga lagi.

"Selaksa seribu lima ratus," seru Kim Leng-ci.

"Selaksa seribu lima ratus satu," orang itu tetap tidak mau kalah.

"Selaksa dua ribu tahil," kata Kim Leng-ci.

Kini dia benar-benar susah, ibarat sudah naik di atas punggung harimau, turun atau tidak serba salah. Tampak rasa garangnya tadi juga sudah berkurang, penawarannya yang setiap kali tambah seribu tahil kini hanya bertambah lima ratus tahil saja.

Dan orang di atas perahu itu tetap tenang-tenang saja, kembali ia menambah, "Selaksa dua ribu satu!"

Dengan gemas Kim Leng-ci berteriak, "Kenapa kau harus membelinya?"

"Dan kenapa pula nona juga ingin membelinya?" jawab orang itu.

Kim Leng-ci jadi melengak. Ia sendiripun tak dapat memberi alasannya. Setelah melenggong sejenak, akhirnya ia berteriak pula, "Aku senang. Asalkan aku senang, biarpun beberapa laksa tahil perak kulemparkan ke sungai juga bukan soal."

"Apakah hanya nona saja yang boleh senang dan orang lain tidak boleh?" tanya orang itu dengan dingin.

Mendadak Ting Hong menyela lagi, "Padahal maksud kedatangan sahabat ini sejak tadi sudah kuketahui."

"Ooo? Kau sudah tahu?" tanya orang itu.

"Setiap orang Kangouw sudah tahu bahwa si jaring kilat Thio Sam sangat mahir menyelam, bahkan kepandaiannya membuat kapal dan berlayar juga tiada bandingannya, bilamana dalam pelayaran ikut serta Thio Sam, maka manfaatnya melebihi memakai ratusan kelasi. Tampaknya anda sangat berhasrat mendapatkan ahli pelayaran, jangan-jangan ada maksud berlayar keluar lautan?"

Tiba-tiba orang yang berada di haluan perahu sana menengadah dan bergelak tertawa, lalu berkata. "Hahaha, sungguh hebat, sungguh lihai pandanganmu!"

"Jadi dugaanku tidak keliru?" tanya Ting Hong.

"Bicara terus terang, apa yang dikatakan anda memang tidak salah sedikitpun," kata orang itu.

"Jika demikian, Cayhe jadi ingin memberi sedikit nasihat," kata Ting Hong

"O, silakan bicara," jawab orang itu.

"Perubahan cuaca di lautan sukar diduga, bahaya berlayar jauh berbeda daripada perjalanan di sungai, apabila tiada urusan sangat penting, kukira lebih baik anda jangan berangkat saja."

'"Terima kasih atas maksud baikmu, cuma sayang, betapapun Cayhe harus berangkat" kata orang berbaju kelabu itu. Dia tidak menunggu tanggapan Ting Hong, segera bertanya pula, "Konon di lautan bebas sana ada sebuah gua emas, entah anda mendengar atau tidak?"

Ting Hong berkerut kening, katanya, "Gua emas? Di dunia ini, dimana-mana juga ada gua emas, entah gua yang kau maksudkan itu terletak dimana?"

"Gua emas itu terletak di lautan timur sana, konon tempatnya sangat rahasia, disana banyak tetumbuhan aneh dengan ratna mutu manikam yang sukar dibayangkan. Ada wanita cantik yang tidada bandingan dengan pemandangan alam yang sukar dilukiskan, ada arak yang tak pernah habis diminum dan macam-macam kebaikan lagi yang tak dapat diuraikan satu per satu."

Waktu itu angin meniup kencang, sungai sangat luas, jarak kedua kendaraan air itu ada sepuluhan tombak jauhnya, bilamana bicara dari kejauhan, oang biasa terpaksa harus berteriak. Cuma mereka semuanya adalah tokoh persilatan kelas tinggi. Lwekang masing-masing sangat kuat, setiap ucapan mereka dapat terdengar dengan jelas oleh lawan bicaranya.

Orang berbaju kelabu itu mula-mula juga cukup nyaring suaranya, cuma sayang, dia bicara terlalu panjang, sampai beberapa kalimat terakhir agaknya mulai berkurang tenaganya hingga terpaksa dia harus berteriak.

Betapa tajam penglihatan Hay Koa-thian, HiangThian-hui, Oh Thi-hoa dan lain-lain, segera mereka tahu orang ini tidak memiliki tenaga dalam yang kuat sekalipun ilmu silatnya mungkin sangat tinggi, jadi bukan seorang lawan yang menakutkan.

Dengan tertawa Oh Thi-hoa lantas menanggapi, "Apa yang kau katakan itu hanya mengenai arak yang tak habis terminum itulah yang menarik hatiku, jika di dunia ini benar ada tempat sebagus itu, maka aku pun ingin berkunjung ke sana."

"Tempat itu memang benar-benar ada, cuma kalau ingin ke sana, sulitnya seperti manjat ke langit," kata orang itu.

"Oo? Sebab apa?" tanya Oh Thi-hoa.

"Sebab tempat itu tidak tercatat dalam kitab, tidak terlukis dalam peta, siapa pun tidak tahu dimana letaknya." tutur orang itu. "Jika tiada penunjuk jalannya, biarpun dicari berpuluh tahun juga sukar ditemukan."

"Wah, lantas siapakah yang akan menjadi penunjuk jalan?" tanya Oh Thi-hoa.

"Dengan sendirinya hanya anak buah pemilik gua emas saja yang tahu jalan menuju gua itu," kata si orang berbaju kelabu.

"Pemilik gua emas, tokoh macam apa pula dia?" tanya Oh Thi-hoa, ia menjadi tertarik oleh cerita ini.

"Siapa pun tidak tahu dia itu orang macam apa, tidak ada orang yang tahu nama serta asal-usulnya, lebih-lebih.tiada.yang pernah melihat bentuk wajahnya," tutur orang itu. "Ada orang bilang dahulu dia adalah bandit ternama di dunia Kangouw, kemudian cuci tangan dan mengasingkan diri di lautan sana. Ada pula cerita bahwa dia seorang pemuda yang bercita-cita tinggi, karena di Tionggoan cita-citanya sukar terlaksana, terpaksa menyingkir ke lautan bebas untuk mencari perkembangan."

Setelah tertawa, ia menyambung pula, "Bahkan ada orang bilang dia adalah anak perempuan yang masih muda belia dan cantik jelita, tapi maha pintar, makanya banyak orang kosen rela tunduk pada perintahnya."

"Wah, jika begitu, orang ini benar-benar sangat misterius," ucap Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Orang yang misterius juga sudah banyak kulihat," tukas Oh Thi-hoa.

"Tapi kalau kalian berdua ingin bertemu dengan orang ini, mungkin tidak mudah," ujar orang tadi.

"Sedikitnya kan sudah ada orang yang pernah berkunjung ke gua emas itu?" tanya Oh Thi-hoa.

"Sudah tentu ada, kalau tidak, darimana kutahu di dunia ini ada tempat sehebat itu?" kata orang itu, "Hanya saja, orang yang benar-benar pernah berkunjung ke sana tidaklah banyak."

"Oo, kira-kira siapa?" tanya Oh Thi-hoa.

"Beberapa tahun terakhir ini, setiap tahun pemilik gua itu selalu mengundang beberapa orang untuk berkunjung ke tempatnya selama sepuluh hari atau setengah bulan, yang mendapat undangannya dengan sendirinya adalah orang kaya raya pula."

Oh Thi-hoa memandang sekeliling, lalu berucap dengan dengan hambar, "Wah, bila begitu, di antara kita ada beberapa orang yang cukup memenuhi syarat untuk berkunjung ke sana."

Air muka Kim Leng-ci tampak berubah, tapi dia menahan perasaannya dan tidak bersuara.

"Orang yang sempat berkunjung ke tempat begitu sepantasnya dapat dibanggakan," kata si baju kelabu pula. "Anehnya yang sudah pergi ke sana, sepulangnya mereka lantas tutup mulut, satu kata saja tidak menyinggungnya, bahkan....." sinar matanya tampak gemerdap di bawah topinya yang lebar. Agaknya melirik ke arah Ting Hong, lalu menyambung pula dengan pelan, "Tindak-tanduk pemilik gua itu penuh rahasia, orang yang terima kartu undangannya juga sukar dijajaki, sebab itu di kalangan Kangouw, hakikatnya tidak diketahui siapa saja yang pernah diundang ke sana, andaikan orang ingin berta-nya juga tidak tahu kepada siapa harus bertanya, kalau ingin menguntit secara diam-diam, jelas lebih tidak mungkin."

"Memangnya sebab apa?" tanya Oh Thi-hoa

"Sebab pada kartu undangan itu oleh pemilik gua tidak dijelaskan alamat si pengundang, hanya disebut hari dan waktunya supaya bertemu di tempat tertentu, tiba saatnya sang tamu akan diantar oleh penunjuk jalan. Bila orang yang hadir di tempat ditentukan itu bukan tamu dimaksud, maka penyambutnya juga takkan muncul. Dalam perjalanan juga penuh rahasia, bila ada orang berani menguntit secara diam-diam, akan mati di tengah jalan secara aneh."

Coh Liu-hiang saling pandang sekejap dengan Oh Thi-hoa, diam-diam keduanya saling memberi isyarat.

Dengan menghela napas Oh Thi-hoa berkata pula. "Wah, untuk pergi ke tempat setan itu ternyata begitu sukar, sudahlah, aku tak mau pergi ke sana."

"Tapi setiap orang pasti mempunyai rasa ingin tahu," kata orang itu pula. "Semakin sulit tempat yang sukar didatangi itu, semakin banyak pula yang ingin pergi ke sana."

Sejak tadi Ting Hong hanya mendengarkan saja, mendadak ia menanggapi, "Jika anda benar-benar ingin pergi ke sana, bisa jadi Cayhe mempunyai akal untuk membantumu."

Gemerdap pula sinar mata orang di haluan perahu sana. katanya. "Jangan-jangan anda mengetahui letak gua enas itu?"

"Kebetulan Cayhe pernah berkunjung satu kali ke sana," jawab Ting Hong dengan tersenyum. "Apalagi anda sekarang membekal harta sebanyak itu, tentu tak perlu khawatir kehabisan sangu. Setiba di sana, pemilik gua emas pasti akan menyambut kedatanganmu dengan hormat.

Orang itu sangat girang, serunya, "Jika demikian, tolong sudi memberi petunjuk. Cayhe akan sangat berterima kasih.

"Kebetulan di sini ada kawan-kawan yang hendak pergi ke sana, bila tidak menolak, silakan naik kemari dan melanjutkan perjalanan bersama." kata Ting Hong dengan gelak tertawa.

Orang itu tidak menjawab, tampaknya ia ragu-ragu.

Segera Oh Thi-hoa mendengus. "Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa ada beberapa orang di sini cukup memenuhi syarat pergi ke sana...." Sembari berkata ia melirik Kim Leng-ci. Si nona melengos ke sana dan pura-pura tidak mendengar.

Hay Koa-thian juga lantas berkata dengan suara keras. "Sahabat ini membawa harta sebanyak itu. bila disuruh menumpang kapal orang yang tak dikenal, dengan sendirinya merasa sangsi."

"Apalagi kapal ini bukan sembarang kapal, melainkan sebuah kapal bajak." jengek Hiang Thian-hui.

Watak orang she Hiang ini memang aneh, setiap kali buka suara selalu menusuk perasaan orang dan seakan-akan sengaja mencari perkara.

Orang di sana berkata dengan suara hambar, "Cayhe sih tak berprasangka apa-apa terhadap para sahabat, yang kupikirkan justru kalian mungkin akan berprasangka jelek pada diriku."

"Ah, mana bisa, " kata Ting Hong. "Terhadap orang lain kami akan curiga, tapi terhadap anda lebih dulu mesti menjaga keamanan sendiri, mana bisa mengincar pihak lain malah?" "Jika demikian, baiklah aku menurut saja," kata orang itu dengan tertawa.

Kembali Oh Thi-hoa menjengek, "Hah, kiranya seorang kalau sudah punya uang, apapun akan dianggap orang baik dan tidak mungkin bermaksud jahat terhadap orang lain." Dia tepuk-tepuk pundak Coh Liu-hiang dan menambahkan. "Wah, melihat gelagatnya, lebih baik kita turun saja."

"Eh, arak belum lagi diminum, mengapa Oh-heng hendak pergi?" kata Ting Hong.

"Habis, kami tidak membawa harta benda apa-apa, boleh dikata berkantong kosong, bisa jadi setiap saat kami akan me ngincar harta kalian apakah kalian tak merasa khawatir terhadap kami?" kata Oh Thi- hoa. Lalu ia melirik Ting Hong dan mendengus pula, "Tapi hal inipun tidak dapat menyalahkan kalian, orang kaya memang pantas kalau mesti berjaga-jaga segala kemungkinan terhadap orang miskin."

"Ah, Oh-heng memang suka bergurau," ujar Ting Hong. "Padahal setiap kata Oh-heng dan Coh-heng juga bernilai seribu tahil emas, nama kebesaran kalian sudah lama termashur, bila berada bersama kalian kemana pun Cayhe akan merasa aman, apalagi....."

"Apalagi dia belum bertanding minum arak denganku, tidak nanti kubiarkan dia pergi," tiba-tiba Kim Leng-ci menukas.

"Jika begitu, terpaksa Cayhe menurut saja." ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa. "Sesungguhnya hatiku juga sangat tertarik demi mendengar di dunia ini ada tempat ajaib begitu."

Tiba-tiba Thio Sam berseru sambil menghela napas panjang, "Wah, sialan! Kalian sudah mempunyai tempat tujuan, tinggal aku yang sebatangkara dan gentayangan tiada tempat tertentu. Tadi kalian malah berebut hendak membeli diriku, agaknya sekarang tiada yang menaruh minat lagi...."

"Jika ucapan orang lain tidak dapat dipegang teguh, terpaksa akulah yang akan membeli dirimu," kata Oh Thi-hoa.

"Apa yang sudah kukatakan sudah tentu kupegang teguh," kata Kim Leng-ci dengan menarik muka.

Oh Thi-hoa berkedip-kedip, tanyanya. "Engkau tetap hendak membeli dia?"

"Sudah tentu!” jawab Kim Leng-ci.

"Tetap bayar kontan?" tanya Oh Thi-hoa pula.

Kim Leng-ci hanya mendengus, berbareng segebung Gin-bio terus dilemparkan. Mendadak Thio Sam melompat keatas, sekali berjumpalitan, uang kertas yang bertaburan itu telah ditangkap seluruhnya, habis itu ia melayang turun dengan enteng, katanya sambil memberi hormat, "Terima kasih, nona!"

"Kungfu hebat," seru Hay Koa-thian sambil berkeplok. "Pandangan nona Kim, agaknya memang tajam, Kungfu setinggi ini seumpama dibeli dengan harga lebih tinggi lagi juga tidak mengecewakan."

"Ting Hong juga lantas menjura kepada Kim Leng-ci, katanya dengan tertawa, "Selamat nona Kim, dengan pembantu sehebat ini, kelak kalau perlu berlayar jauh, tentu tenaganya sangat diharapkan dapat memberi bantuan, untuk mana biarlah Cayhe mengucapkan terima kasih sebelumnya."

Dia tidak berterima kasih kepada Thio Sam, tapi kepada Kim Leng-ci, jelas dia anggap Thio Sam sudah menjadi budak belian si nona.

Segera Oh Thi-hoa menjengek pula, "Thio Sam, tampaknya aku pun harus mengucapkan selamat padamu. Kau punya majikan sebaik ini, hidupmu selanjutnya pasti sangat senang."

"Ya, mempunyai majikan kaya, bila kelak ada sahabatku yang mampus, paling tidak kan dapat kupinjam uang untuk biaya penguburannya," jawab Thio Sam dengan tertawa.

"Macam-macam sahabatku, tapi sahabat yang menjadi budak orang, kau inilah orang pertama," kata Oh Thi-hoa.

"Tampaknya kau harus belajar banyak lagi," ujar Thio Sam dengan tertawa. "Bersahabat dengan budak keluarga kaya jauh lebih baik daripada mempunyai sahabat miskin, paling tidak dia takkan pinjam duit padamu atau makan gratis ke rumahmu."

Jika di sebelah sana Oh Thi-hoa sedang berolok dengan Thio Sam, di sebelah lain Coh Liu-hiang dan Ting Hong sedang memperhatikan gerak gerik di atas perahu sana.

Perahu itu lebih besar sedikit daripada perahu Thio Sam yang tenggelam itu, tapi juga tidak terlalu besar. Penumpang-perahu hanya dua orang, yaitu orang berbaju kelabu bertopi lebar di haluan itu, di buritan masih ada seorang tukang perahu yang memegang dayung, yaitu orang yang menggotong peti emas ke haluan tadi.

Sementara itu si tukang perahu sedang mengangkat tiga buah peti lagi ke haluan si orang bertopi lebar tampak sedang berbisik-bisik memberi pesan, tukang perahu itu hanya manggut-manggut saja tanpa bersuara seperti orang gagu.

Jarak antara kedua kendaraan air itu masih ada lima-enam tombak, Hay Koa-thian dan Ting Hong sengaja tidak menuruh kelasinya menurunkan tangga tali, jelas mereka hendak menguji kemampuan kedua orang di perahu itu, ingin tahu cara bagaimana memindahkan keempat peti emas itu ke atas kapal.

Terlihat si tukang perahu telah mengikat erat keempat peti, lalu dia pegang tambang tambatan perahu, terus diputar sehingga menimbulkan suara menderu, nyata pada ujung tambang terikat sesuatu benda besi, mungkin sebangsa jangkar kecil.

"Berr", mendadak tambang panjang itu dilepaskan hingga melayang ke arah kapal, "crat", jangkar menancap di geladak haluan kapal, agaknya sangat dalam menancapnya.

Tukang perahu itu menarik sekuatnya, rupanya ingin mencoba apakah tambangnya cukup kuat atau tidak. Habis itu ujung tambang yang lain diikat pada tonggak yang terdapat di haluan perahu.

Hay Koa-thian tertawa, katanya, "Tampaknya mereka hendak menggunakan tali ini sebagai jembatan penyeberangan."

"Semoga mereka tidak terjatuh ke dalam sungai." Ucap Ting Hong dengan hambar.

Sebenarnya berjalan di atas tali belum tergolong Ginkang kelas tinggi, sekalipun pemain akrobat biasa juga mampu berjalan mondar mandir di atas tali.

Meski sekarang Ting Hong dan Hay Koa-thian dapat melihat si baju kelabu ini berwibawa, tapi jelas tidak tinggi ilmu silatnya. Jika dia sendiri dapat menyeberang kemari melalui tali itu sudah untung, sedangkan si tukang perahunya mungkin terpaksa harus diangkat kemari. Belum lagi ke empat peti itu. Cara bagaimana memindahkannya ke atas kapal, inilah tanda tanya besar.

Selesai mengikat tali tadi, benar juga, segera si baju kelabu melompat ke atas tali, hanya dua kali lompatan saja dia sudah meluncur sejauh empat-lima tombak, ketika hendak melompat lagi, tampaknya tubuhnya kurang mantap dan tenaga kurang.

Coh Liu-hiang ikut berkhawatir baginya, kalau-kalau jatuh ke dalam sungai.

Tapi syukurlah pada saat terakhir "bruk" orang itu sempat mencapai dan jatuh di haluan kapal, mirip sepotong batu yang jatuh dari udara, sehingga pintu kabin bergetar.

Tampaknya selain tenaga dalam orang ini tidak kuat, juga Ginkangnya kurang tinggi, orang begini ternyata berani membawa empat peti emas ke kapal Ci-keng-pangcu, nyalinya sungguh luar biasa besarnya.

Sambil menggendong tangan. Hay Koa-thian memandangi orang itu dengan tersenyum simpul, sorot matanya seakan serigala yang sedang memandangi kambing gemuk yang kesasar.

Coh Liu-hiang menghela napas, pikirnya dengan gegetun, "Saudara ini benar-benar telah salah menumpang kapal bajak."

“Wah, rupanya saudara juga seorang tokoh dunia persilatan," demikian Hay Koa-thian memuji dengan tertawa.

Si baju kelabu menunduk, jawabnya dengan napas tersengal, "Ah, sudah tua, sudah tua, tidak berguna lagi."

"Di perahu sana masih ada seorang, entah seperjalanan dengan anda atau tidak?" kata Hay Koa-thian pula

"Dia muridku, biarlah kusuruh dia kemari untuk memberi hormat kepada Hay-pangcu," kata si baju kelabu.

"Ah, jangan sungkan, murid seorang ahli pasti juga sangat hebat," ujar Hay Koa-thian.

Si baju kelabu ternyata tidak rendah hati dan juga tak berterima kasih, dia lantas berseru memanggil, "Pek-lak-cek, kemarilah kau, awas keempat peti itu," Ia lantas menggeleng kepala dan berkata dengan tersenyum, "Sejak kecil muridku sudah bersifat seperti Lakcek (lilin), kalau tidak disulut tidak menyala, sejak kecil biasa kupanggil Pek-lak-cek (Lilin putih), untuk nama poyokan ini, janganlah kalian menertawainya."

Mendadak Kau Cu-tiang berkata, "Apa perlu kubantu dia menyeberang kemari?" Meski maksudnya hendak pemer Ginkang, tapi sesungguhnya ia memang bermaksud baik.

Tak tersangka si baju kelabu 1antas menggeleng dan berkata, "Kukira tidak perlu, ia masih sanggup menyeberang kemari."

Hay Koa-thian tertawa, kalau sang guru saja hampir terjungkal ke sungai, apa mungkin muridnya mampu menyeberabg kemari melintas jembatan tali?

Saat itu terlihat Pek-lak-cek telah pegang pengayuh serta mengikat keempat peti itu pada kedua ujung pengayuh itu, lalu dipikulnya, sekali lompat ia telah melayang ke atas tali.

Seketika hati semua orang ikut berdebar, mereka mengira sekalipun si Lilin putih itu dapat hinggap di atas tali, pasti juga tali akan putus.

Bobot empat peti emas itu kalau dijumlah sedikitnya pasti ada beberapa ratus kati, mampu memikulnya saja sudah tergolong kuat, apalagi memikul sembari menggunakan Ginkang dan berjalan di atas tali.

Siapa tahu, bukan saja Pek-lak-cek sanggup memikul empat peti emas dengan enteng, bahkan dapat berjalan di atas tali seperti berjalan di tanah datar.

Hay Koa-thian tidak dapat bersuara lagi, Kau Cu-tiang juga terkesima.

Kau Cu-tiang suka bangga pada Ginkang sendiri, jika disuruh memikul empat peti emas dan melintasi jembatan tali itu bukan soal sulit baginya, tapi kalau jalannya harus selambat Pek-lak-cek, maka belum tentu dia mampu.

Berjalan di atas tali tergolong Ginkang gampang-gampang sulit, makin lambat jalannya di atas tali semakin sukar pula

Mendadak si baju kelabu berseru khawatir, sebelah kaki Pek-lak-cek terpeleset, orang berikut peti pikulannya akan terjerumus ke dalam sungai.

Tak terduga, hanya tampak bayangan berkelebat, entah cara bagaimana, tahu-tahu dia sudah berdiri dengan tegak di haluan kapal. Agaknya gerakan terpeleset itu hanya pura-pura saja, tujuannya ingin pamer kepandaian.

Semula orang tidak memperhatikan Pek-lak-cek, sekarang mau tak mau memandangnya beberapa kejap. Habis itu barulah semua orang tahu apa sebabnya dia bernama Pek-lak-cek atau lilin putih.

Kulit badannya memang putih mulus, dipandang di bawah sinar lampu, putih kulit badannya itu seakan-akan tembus cahaya hingga urat dan tulangnya hampir-hampir kelihatan. Warna putih demikian jelas adalah semacam penyakit, tapi juga membawa daya tarik yang aneh dan sukar diuraikan.

Wajah si Lilin putih ini juga cukup cakap, panca inderanya boleh dikata sempurna, tapi juga membawa semacam sikap yang ketolol-tololan, seperti takut-takut dan suka kaget, mirip anak kecil yang pernah mengalami sesuatu yang sangat menakutkan.

Baju yang dipakainya juga putih, cuma sekarang kotor, begitu kotor hingga hampir sukar dibedakan warna aslinya.

Orang macam begini sebenarnya sangat sukar menimbulkan kesan baik bagi orang lain. Tapi entah mengapa, kesan Coh Liu-hiang tidaklah jelek. Melihat si Lilin putih, Coh Liu-hiang seperti melihat anak dekil yang habis dihajar orang tuanya, yang ada cuma kasihan padanya tanpa rasa jemu.

Terhadap gurunya, pandangan semua orang menjadi lain

Orang cuma melihat topinya yang berpinggiran lebar sehingga hampir menutupi seluruh mukanya. Tapi setelah masuk kabin kapal, di bawah cahaya lampu, betapapun orang ini tidak dapat lagi mentupi seluruh wajahnya, semua orang dapat melihat sebagian kecil wajahnya yang tak tertutup itu.

Meski cuma sebagian kecil saja wajahnya yang kelihatan, tapi sekali pandang orang lantas merasas cukup, seketika orang akan merinding, mengkink, seperti. punggung habis dirimbati ular.

Sungguh sukar untuk melukiskan wajah yang aneh itu. Boleh dikata mirip sepotong bakpau yang rusak dikukus atau sebutir telur yang rusak direbus, buah delima yang telah dikupas kulitnya atau sebiji tomat yang busuk, siapa pun tidak dapat mene mukan hidung dan mulut di wajahnya yang luar biasa ini. Pada bag,an yang seharusnya terdapat hidung, kini hanya terlihat dua lubang saja, dari hidung inipun terembus hawa mendesis, suara mendesis ini mirip suara ular kobra.

Lalu tempat yang seharusnya ada mulut sekarang cuma tersisa segumpal daging merah yang kisut, setiap kali bicara, gumpalan daging ini merekah mendadak dan kelihatan beberapa giginya di sela-sela lubang yang merekah itu.

Biasanya Coh Liu-hiang paling sabar dan dapat menyimpan perasaan. Tapi sekarang, melihat orang berbentuk luar biasa ini, mau tak mau timbul juga rasa harunya, sungguh ia tak sampai hati untuk memandangnya lagi.

Syukur orang ini tahu diri, begitu masuk kabin kapal, segera ia mencari sudut yang paling gelap dan duduk di situ. Muridnya, Pek-lak-cek atau si Lilin putih, juga mengintil di belakang. Kedua tangannya mengepal seperti petinju yang siap naik ring.

Coh Liu-hiang tahu, apabila ada orang berani berlaku kasar terhadap gurunya, tentu kepalan si Lilin putih akan segera bekerja, ia percaya orang yang mampu menahan sekali tonjokan si Lilin putih pasti tidak banyak.

Guru dan murid itu sama-sama anehnya, sampai Oh Thi-hoa dan Thio Sam yang biasanya suka ngoceh, sekarang seperti tersumbat mulutnya.

Akhirnya Ting Hong yang membuka suara, ia tertawa dulu, apapun yang akan diucapkan tidak pernah lupa tertawa lebih dulu. Katanya kemudian, "Hari ini kita dapat berlayar bersama-sama, tampaknya kita memang ada jodoh. Entah siapakah nama anda yang mulia, sudilah kiranya memberitahu?"

Ucapan ini dengan sendirinya ditujukan kepada si baju kelabu, tapi pandangannya justru terarah pada poci arak di atas meja. Maklum, poci arak ini memang jauh lebih sedap dipandang daripada muka si baju kelabu.

Si baju kelabu lantas menjawab, "Cayhe Kongsun Jiat-ih alias Siang-can." Dia menghela napas panjang, lalu menyambung pula, "Para hadirin dapat membayangkan nama Cayhe ini sesuai dengan maknanya, memang nyawa yang tersisa dari mala petaka (Jiat-ih), adapun Siang-can dengan sendirinya juga sudah melukiskan diriku yang berduka (Siang) dan cacat (Can) ini."

Padahal tanpa dijelaskan juga dapat diduga orang ini pasti pernah mengalami kisah hidup yang sangat mengerikan, kalau masih dapat hidup sampai sekarang, sungguh perjuangan yang tidak mudah. Sebab tidak mungkin ada orang dilahirkan dengan wajah seburuk ini.

Ting Hong lantas berkata dengan tertawa, "Betapa tinggi ilmu silat murid anda, sungguh jarang terlihat di dunia Kangouw, kita semua merasa sangat kagum...."

"Dia bernama Pek-lak-cek dan tiada nama lain, juga tidak mempunyai kawan." kata si baju kelabu yang mengaku bernama Kongsun Jiat-ih.

Ting Hong termenung sejenak, lalu tertawa dan berkata pula, "Beberapa kawan yang hadir di sini semuanya adalah ksatria termashur di dunia persilatan, biarlah Cayhe memperkenalkan mereka kepada Kongsun-siansing."

Mendadak Kongsun Jiat-ih menghela napas panjang, jawabnya, "Meski bodoh, tapi Cayhe tahu diri, asalkan orang punya mata tentu ngeri dan menyingkir jauh bila melihat diriku. Sebab itulah selama belasan tahun ini aku tidak pernah berharap mengikat persahabatan dengan siapa pun. Sekali ini apabila bisa mendapat tempat berduduk sekedarnya, cukuplah bagiku untuk berterima kasih sedalam-dalamnya.”

Dengan tegas ia sendiri menyatakan tidak ingin berkawan dengan para hadirin, bahkan nama orang lain juga tidak mau tahu.

Dalam keadaan demikian, sekalipun Ting Hong pintar bicara juga terpaksa tak dapat berbuat apa-apa.

Mendadak Hiang Thian-hui berdiri, ia memberi hormat dan berseru, "Terima kasih, terima kasih!"

"Apa yang anda terima kasihkan?" tanya Kongsun Jiat-ih.

"Aku berterima kasih karena engaku tidak mau berkawan, jika kau ingin berkawan denganku inilah yang repot," jengek Hiang Thian-hui.

Kongsun Jiat-ih tidak marah malah menjawab dengan tak acuh, "Ya, Cayhe memang tidak suka membikin repot orang."

Padahal jika dia marah juga orang lain tak dapat melihatnya.

Hay Koa-thian berkata pula, "Jika Kongsun-siansing tidak ingin diganggu, sebentar Cayhe akan menyediakan kamar tenang bagi kalian, cuma sayang...." dia angkat cawan arak dan menyambung, "Harap kalian memberi kesempatan padaku sekedar memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah, silakan dahar dulu."

"Betul, seumpama tidak mau berkawan kan harus makan nasi juga," jengek Hiang Thian-hui.

Mendadak Pek-lak-cek berkata, "Apakah kau tuan rumah di sini?"

"Bukan," jawab Hiang Thian-hui.

"Baik, aku mau makan," kata Pek-lak-cek, segera ia angkat poci arak di atas meja terus ditenggaknya, sekaligus lebih setengah poci arak itu telah berpindah ke perutnya. Padahal poci itu cukup besar hingga hampir mirip sebuah guci, meski isinya sudah dituang sebagian oleh Hay Koa-thian tadi, tapi isinya paling sedikit masih ada empat-lima kati.

Setelah menghabiskan arak sebanyak itu, air muka Pek-lak-cek sama sekali tak berubah, tampaknya dia masih sanggup minum lebih banyak lagi.

Seketika mata Oh Thi-hoa terbelalak, serunya dengan tertawa, "Aha, tak tersangka di sini ada seorang peminum yang hebat, bagus, sungguh bagus!"

Orang yang gemar minum arak akan merasa senang bila melihat orang lain juga gemar dan sanggup minum.

Namun Pek-lak-cek seperti tiada tempo luang untuk mendengarkan ocehan Oh Thi-hoa, kedua tangannya bekerja cepat, dalam sekejap satu piring besar berisi Ciobak (daging masak saus kecap) yang baru disajikan telah dilalapnya bersih.

Satu porsi Ciobak itu sebenarnya disediakan buat makan sepuluh orang, sedikitnya ada tiga-empat kati daging. Sungguh tak tersangka nafsu makan anak muda ini sedemikian mengejutkan, padahal perawakannya tak lebih besar dari orang lain.

Oh Thi-hoa tertawa senang, katanya, "Bagus, benar-benar ksatria muda yang hebat!"

Tapi Hiang Thian-hui lantas mendengus, "Hm, jika tukang gegares juga dianggap ksatria, maka di dunia ini pasti akan penuh ksatria."

Pek-lak-cek seperti tidak mendengar ucapan Hiang Thian-hui, pelan dia melangkah keluar kabin, setiba di luar pintu barulah dia membalik tubuh, ucapnya sekata demi sekata sambil melototi Hiang Thian-hui, "Keluar sini kau!"

Air muka Hiang Thian-hui rada berubah, tapi lantas menje ngek, "Keluar ya keluar, memangnya siapa gentar padamu?"

Mestinya Hay Koa-thian hendak mencegah pertengkaran mereka, tapi Ting Hong mengedipi agar jangan ikut campur.

Dengan gegetun Kongsun Jiat-ih berkata, "Sejak tadi sudah kukatakan, muridku itu berwatak lilin, kalau tidak disulut tidak menyala, sekali disulut lantas terbakar. Sekarang kalian sudah melihat buktinya."

"Orang she Hiang itu memang punya penyakit, sepanjang hari hanya ingin cari setori melulu, kebetulan jika sekarang ada orang mau memberi hajaran padanya," kata Kau Cu-tiang.

"Asalkan bisa menonton pertunjukan menarik, siapa yang akan dihajar tidak menjadi soal bagiku," kata Oh Thi-hoa de ngan tertawa

Maka ramai-ramai semua orang ikut keluar kabin, di sana terlihat Pek-lak-cek sama sekali tak menggubris Hiang Thian-hui, sendirian ia menuju ke haluan kapal.

Saat itu kapal belum berlayar, perahu yarg dibawanya masih mengapung di permukaan air sungai. Sekali raih, Pek lak-ceh mencabut jangkar yang menancap di haluan kapal itu, mendadak ia membentak, tahu-tahu perahunya melayang ke atas. Ketika Pek-lak-cek menarik tali jangkar, perahu itu meluncur kearahnya secepat anak panah terlepas dari busur.

Meski perahu itu tidak besar, tapi sampan yang paling kecil juga dapat menindih mati orang. Apalagi sekarang perahu itu meluncur tiba dari udara, kekuatannya tidak kurang dari ribuan kati, hanya mendengar deru anginnya saja sudah membikin dua kelasi yang berdiri di haluan kapal itu lari menyingkir dengan ketakutan.

Semua orang mengira sekali ini Pek-lak-cek pasti akan tertumbuk mampus oleh perahu itu, umpama tidak mati juga akan sekarat. Ia berjongkok dan perahu itupun telah disanggahnya dengan tepat dan mantap.

Tanpa terasa semua orang berseru, "Bagus'"

Air muka Pek-lak-cek tetap tidak berubah, napas juga tidak tersengal, dengan menyanggah perahu ia menuju ke tepi geladak dan diturunkannya dengan pelan, lalu ia berpaling dan berkata singkat kepada Hiang Thian-hui, "Tidak usah banyak bicara."

Muka Hiang Thian-hui sebentar merah sebentar pucat, ia menggentak kaki, dengan gemas terus menuju ke buritan, ia dorong si juru mudi, ia sendiri lantas pegang kemudi dan memandang jauh ke permukaan sungai di tengah kegelapan malam dan tidak berpaling lagi.

Seterusnya siapa pun tidak pernah lagi melihat dia turun ke kabin, juga tiada yang pernah mendengar perkataannya....

*******

Sementara itu poci arak di atas meja sudah diisi penuh lagi.

Perlahan Pek-lak-cek masuk kembali ke kabin, ia angkat poci, corong poci tepat mengarah ke mulut, hanya sekejap saja isi poci telah dihabiskan pula. Habis itu barulah ia kembali ke pojok sana dan berdiri di belakang Kongsun Jiat-ih, Wajahnya tetap menampilkan mik seperti anak kecil yang takut-takut dan ketolol-tololan.

Oh Thi-hoa mengacungkan jempol, serunya memuji, "Kutu busuk tua, sudah kau lihat tidak? Cara begitu baru dapat dikatakan minum arak. Jika caramu minum itu paling-paling hanya dapat disebut menjilat arak." Lalu ia menggeleng dan berkata pula, "Malahan menjilat juga tidak, hanya dapat dikatakan mengendus arak."

Mendadak Kim Leng-ci berseru, "Tuang enam poci arak!"

Ucapan ini entah ditujukan kepada siapa, yang jelas Thio Sam lantas mengiakan. Padahal ia sendiri tidak tahu arak tersimpan dimana. Di atas kapal inipun tidak perlu dia menuang arak. Tapi dia tetap membawa poci yang sudah kosong itu dan melangkah keluar sambil bergumam, "Diriku dibeli dengan berlaksa tahil perak, pekerjaanku hanya disuruh menuang arak saja, apakah cara demikian tidak rugi?"

Oh Thi-hoa mendengus. "Hm, tidak perlu terburu-buru, bisa kau tunggu nanti, lambat laun pasti tahu rasa."

Kim Leng-ci melototinya sekejap, tapi tidak menanggapi.

Sementara itu Thio Sam sudah pergi jauh. Tidak lama kemudian, enam poci arak telah dijajarkan di atas meja.

"Nah, kau minum empat poci, aku minum dua poci," kata Kim Leng-ci.

Ucapannya ini tanpa alamat tujuan, tapi setiap orang sama memandang ke arah Oh Thi-hoa.

"Apakah nona Kim berbicara padaku?" ucap Oh Thi-hoa dengan tertawa sambil meraba hidung, gaya meraba hidung ala Coh Liu-hiang ini kini tampaknya lebih luwes daripada Coh Liu-hiang sendiri.

"Tampaknya begitu," timbrung Ting Hong tertawa karena Kim Leng-ci tidak menjawab melainkan cuma mendengus.

Oh Thi-hoa memandangi keempat poci arak di depannya, gumamnya, "Umpama isi satu poci lima kati, empat poci berarti dua puluh kati. Seumpama kuhabiskan arak sebanyak ini tanpa mabuk, tapi apakah perutku muat?"

"Kalau tidak punya perut sebesar itu, mana bisa mengembuskan suara sebesar itu?" ujar Thio Sam dengan adem ayem.

"Wah, tampaknya cara menjilat pantat orang ini sangat mahir, benar-benar budak teladan," kata Oh Thi-hoa.

"Sudah, tidak perlu banyak cingcong. Kau mau minum tidak?" segera Kim Leng-ci mendelik.

"Minum, pasti kuminum " kata Oh Thi-hoa. "Cuma bukan sekarang waktunya."

"Haha, minum arak kan bukan upacara kawin, masa pakai waktu segala," seru Thio Sam dengan tertawa.

"Caraku minum arak terkenal dengan nama 'mati melihat sinar'. Sekarang malam sudah larut, bila fajar menyingsing dan terang tanah, maka satu tetes saja aku tidak minum "

"Memangnya harus tunggu kapan?" tanya Kim Leng-ci

"Besok, bila hari mulai gelap..."

Mendadak Kim Leng-ci melengos dan menjengek, "Baik, besok juga boleh, masa kau bisa lari?"

Oh Thi-hoa melirik Ting Hong sekejap, ucapnya dengan tak acuh, "Bila sudah berada di sini, mungkin tiada seorang pun yang ingin pergi lagi, betul tidak?"

Ting Hong tak menjawab, sebaliknya Kongsun Jiat-ih lantas menanggapi, "Pergi sih akhirnya pasti akan pergi, cuma kapan, dimana dan cara bagaimana perginya, itulah yang belum bisa diketahui oleh siapa pun juga."

*******

Kabin kapal penumpang Hay Koa-thian ini bersusun dua tingkat bawah adalah tempat tidur ketujuh belas kelasi dan juga gudang perbekalan, keadaan di situ gelap gulita dan berbau apek.

Tingkat atas, ruangan tempat mereka makan minum, di belakangnya ada empat buah kamar. Di zaman itu kapal penumpang ini malah tergolong besar dan mewah.

Kongsun Jiat-ih dan muridnya, si Lilin putih, mendapatkan sebuah kamar kabin, Kim Leng-ci sendiri satu kamar, Kau Cu-tiang dan Ting Hong berkumpul menjadi satu kamar, sisanya satu kamar terpaksa harus berjubel antara Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Thio Sam bertiga.

Karena kamar kabin sudah penuh terisi tamu. Hay Koa-thian sebagai tuan rumah terpaksa gelar tikar di ruang depan.

Saat itu Oh Thi-hoa sedang berduduk di atas bantal dengan kaki telanjang sambil melototi Thio Sam. Begitu masuk kamar, pekerjaan Oh Thi-hoa yang pertama adalah membuka sepatu dan melepas kaos kaki.

Menurut tata hidup Oh Thi-hoa, ia anggap kaki orang harus sering telanjang agar dapat hawa, soal dicuci atau tidak adalah urusan sekunder.

Thio Sam pencet hidung sambil mengerut kening, katanya, "Wah, rupanya hidung buntu juga ada faedahnya, paling sedikit takkan tercium bau bacin kaki orang."

"Kau anggap kakiku berbau bacin, begitu?" tanya Oh Thi-hoa dengan mendelik.

"Bau bacin sih mendingan, kakimu bukan cuma bacin saja, bahkan bacinnya sangat aneh," kata Thio Sam dengan gegetun.

"Jika aku pun membeli seorang budak, lalu kutaruh kakiku di depan hidungnya, betapapun dia pasti takkan bilang kakiku bacin, betul tidak?" tanya Oh Thi-hoa.

"Memang betul," jawab Thio Sam dengan tertawa. "Orang kaya biarpun kentut juga harum apalagi kaki."

"Jika begitu, kenapa tidak kau cium kaki majikanmu yang kaya itu"

"Sebenarnya akan kulakukan, cuma kukhawatir ada orang cemburu"

"Cemburu? Siapa yang cemburu'" tanya Oh Thi-hoa dengan gusar.

Thio Sam tidak menggubrisnya lagi, ia malah menempelkan telinga ke dinding kapal. Kabin kapal dibatasi papan kayu, di sebelah adalah kamar tempat Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek.

sebuah kamar kabin, Kim Leng-ci sendiri satu kamar, Kau Cu-tiang dan Ting Hong berkumpul menjadi satu kamar, sisanya satu kamar terpaksa harus berjubel antara Coh Liu-hiang, Oh Thi-

hoa dan Thio Sam bertiga.

Karena kamar kabin sudah penuh terisi tamu. Hay Koa-thian sebagai tuan rumah terpaksa gelar tikar di ruang depan.

Saat itu Oh Thi-hoa sedang berduduk di atas bantal dengan kaki telanjang sambil melototi Thio Sam. Begitu masuk kamar, pekerjaan Oh Thi-hoa yang pertama adalah membuka sepatu dan

melepas kaos kaki.

Menurut tata hidup Oh Thi-hoa, ia anggap kaki orang harus sering telanjang agar dapat hawa, soal dicuci atau tidak adalah urusan sekunder.

Thio Sam pencet hidung sambil mengerut kening, katanya, "Wah, rupanya hidung buntu juga ada faedahnya, paling sedikit takkan tercium bau bacin kaki orang."

"Kau anggap kakiku berbau bacin, begitu?" tanya Oh Thi-hoa dengan mendelik.

"Bau bacin sih mendingan, kakimu bukan cuma bacin saja, bahkan bacinnya sangat aneh," kata Thio Sam dengan gegetun.

"Jika aku pun membeli seorang budak, lalu kutaruh kakiku di depan hidungnya, betapapun dia pasti takkan bilang kakiku bacin, betul tidak?" tanya Oh Thi-hoa.

"Memang betul," jawab Thio Sam dengan tertawa. "Orang kaya biarpun kentut juga harum apalagi kaki."

"Jika begitu, kenapa tidak kau cium kaki majikanmu yang kaya itu"

"Sebenarnya akan kulakukan, cuma kukhawatir ada orang cemburu"

"Cemburu? Siapa yang cemburu'" tanya Oh Thi-hoa dengan gusar.

Thio Sam tidak menggubrisnya lagi, ia malah menempelkan telinga ke dinding kapal.

Kabin kapal dibatasi papan kayu, di sebelah adalah kamar tempat Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek.

"Hm, dasar budak, sekali budak tetap budak," jengek OhThi-hoa. "Menjilat pantat, mencuri dengar pembicaraan orang, menyanjung puji, semua adalah kepandaian khas kaum budak."

Thio Sam tetap tidak menggubris, mimik wajahnya kini tampak aneh. Terlihat sebentar ia mengerut kening, lain saat dia tersenyum, lalu menggeleng-geleng kepala. Kemudian manggut-manggut, kelakukannya itu mirip seorang penonton sandiwara yang lagi asyik mengikuti cerita pentas yang menarik.

Sesungguhnya apa yang sedang dilakukan kedua orang di kamar sebelah dan apa yang dibicarakan mereka?

Oh Thi-hoa jadi tidak tahan dan ingin tahu juga, ia coba bertanya, "Apa yang kau dengar di sebelah?"

Thio Sam seperti tidak mendengar ucapannya dan tetap pasang kuping dengan cermat.

Oh Thi-hoa bersabar lagi sejenak, akhirnya ia benar-benar tidak tahan, segera ia pun menempelkan telinganya ke dinding.

Tapi keadaan di kamar sebelah sunyi senyap seperti kuburan, tiada suara sedikitpun.

"Aneh, mengapa tidak kudengar sesuatu suara?" tanya Oh Thi-hoa sambil mengerut kening.

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, "Memang tidak ada suara apa-apa, jika ada yang kau dengar barulah aneh."

"Tidak ada suara?" Oh Thi-hoa melengak. "Habis mengapa dia mendengarkan dengan begitu asyik?"

"Itu namanya tiada suara lebih baik daripada ada suara," kata Thio Sam dengan tertawa geli. "Soalnya aku merasa bosan mendengarkan ocehanmu, telingaku harus diberi kesempatan untuk istirahat."

Seketika Oh Thi-hoa melonjak gusar, segera ia bermaksud menggampar Thio Sam, tapi sebelum tangan terangkat, tiba-tiba ia sendiripun merasa geli, omelnya dengan tertawa, "Sialan! Belum lama kau bertemu dengan si kutu busuk ini, tapi hampir setiap jurus kebusukannya dapat kau tiru, mengapa tidak kau tiru kepandaian lain?"

"Ini namanya belajar busuk mudah, belajar baik sukar," ujar Thio Sam tertawa. "Apalagi kepandaiannya suka memikat perempuan memang tidak ingin kupelajari, aku cuma ingin belajar bagaimana cara membikin dongkol kau, bila dapat membuatmu kheki setengah mati, maka puaslah rasa hatiku."
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Legenda Pulau Kelelawar Bab 03: Hati Manusia Sukar Diraba"

Post a Comment

close