Pendekar Slebor Episode 20 Raja Akherat

Mode Malam
Pijar El
-------------------------------
----------------------------

Episode 20 Raja Akherat

1
Suasana di halaman Keraton Kerajaan Pakuan hari ini begitu meriah dan gegap gempita. Orang-orang bersorak-sorai bersamaan sambil bertepuk tangan, ketika raja mereka yang bernama Prabu Adiwarman keluar dari pintu Keraton diiringi beberapa punggawa berbaju seragam warna hitam, dengan celana pangsi dibalut kain batik. Di atas kedua lengan mereka melingkar sebuah Cakra.

Dengan gagah mereka mengiringi Prabu Adiwarman menuju panggung yang telah didirikan sejak beberapa hari yang lalu.

Panggung itu besar. Pada tiap sudutnya dihiasi umbul-umbul lambang Keraton Pakuan. Di sisi panggung snelah timur, terdapat kursi yang dibuat mirip singgana sang Prabu.

Matahari baru saja mengintip, dan akan lepas landas menuju titik akhirnya nanti. Masih sepenggalah, sinarnya belum begitu terik. Angin berhembus sejuk, melambaikan pepohonan beringin besar yang tumbuh di depan keraton.

Prabu Adiwarman telah duduk di singgasananya.

Scpuluh punggawa berdiri gagah di belakangnya.

Sedangkan seorang laki-laki yang berwajah tampan bersidekap di sisinya. Rambutnya digelung ke atas. Ba-dannya tanpa penutup alias bertelanjang dada. Di pinggang bagian belakang terselip sebuah kens pusaka pada kain batik yang melingkar. Orang-orang mengenalinya sebagai Patih Jalalowe. Pengabdiannya pada sang Prabu telah cukup lama. Tak heran kalau ia sudah sangat dikenal.

Tepat ketika Prabu Adiwarman berdiri, suara yang bergemuruh tadi terhenti. Laki-laki berusia sekitar empat puluh enam tahun ini mcnyapu pandangan pada rakyat yang mengelu-elukannya. Senyum kearifan dan bijaksana terpandang di mata mereka.

Di sisi utara, terdapat kursi-kursi yang berjajar. Di sanalah para tokoh sakti dari dunia persilatan yang diundang, duduk untuk menyaksikan aeara yang akan digelar. Di sebelah selatan, berjajar sekitar tiga puluh orang pemuda gagah berusia di bawah tiga puluh tahun.

“Terima kasih atas kedatangan kalian semua. Terutama, para pemuda-pemuda gagah yang hendak mengikuti sayembara dengan mengadu kesaktian di panggung terbuka ini,” ucap Prabu Adiwarman, berwibawa.

Memang, beberapa minggu yang lalu telah diumumkan ke seluruh pelosok negeri ini, bahwa Prabu Adiwarman akan mcngadakan sayembara bagi pemuda-pemuda berusia di bawah tiga puluh tahun. Hadiahnya tak tanggung-tanggung, yakni putri beliau sendiri.

Di atas panggung, Prabu Adiwarman tampak gagah sekali dengan pakaian kebesarannya yang begitu indah.

Warnanya hijau keemasan, dengan rajutan benang emas yang hanya bisa dilakukan tangan ahli.

"Aku tidak ingin berpanjang lebar. Seperti yang diumumkan, barang siapa yang bisa memenangkan seluruh pertarungan ini, maka putri tunggalku, Permata Delima akan bisa dipersunting salah seorang dari kalian" lanjut laki-laki yang kelihatan masih tampan.

Suara gemuruh dari tepukan dan teriakan terdengar lagi. Kecantikan Permata Delima tidak bisa lagi dilukiskan.

Tak ubahnya dewi kayangan.

Hadirin melihat sang Prabu bertepuk tangan tiga kali.

Lalu, terlihatlah satu iringan yangmelangkah perlahan.

Seorang gadis cantik berpakaian kebesaran istana tampak melangkah di depan dengan wajah ditutupi cadar.

Langkahnya begitu anggun, di ringi beberapa orang gagah yang menjaganya. Suara gemuruh semakin terdengar.

Dan tepukan membahana ketika gadis cantik yang tak lain Putri Permata Delima duduk di sebelah kiri Prabu Adiwarman.

"Aku hanya menghendaki pertandingan yang jujur.

tidak boleh ada korban nyawa. Tetapi bila hanya cedera patah, misalnya, rasanya bukan masalah Karena, calon menantuku dan calon suami putriku, haruslah orang yang gagah dan memiliki kepandaian yang tinggi" tambah Prabu Adiwarman.

Kembali suara membahana terdengar keras terutama dari bagian selatan panggung, tempat para peserta duduk.

Dan setelah itu mereka saling pandang dengan tatapan tajam. Dalam hati mereka tersimpan sebuah harapan, mendapatkan sekaligus mempersunting Putri Permata Delima.

Akhirnya saat yang ditunggu pun tiba. Begitu Prabu Ailiwarman bertepuk sekali, seorang punggawa bertubuh kekar dan bertelanjang dada mengangkat sebuah alat pemukul. Lalu dihantamnya gong besar yang ada di sisinya.

Duaaang Bunyi gong yang dipukul pertanda sayembara segera dimulai. Hadirin terdiam, memperhatikan para tokoh sakti yang hanya duduk dengan sikap masing-masing.

Salah seorang segera melompat ke atas panggung.

Gerakannya begitu ringan. Dia mengenakan pakaian ringkas berwarna merah, dengan gelang akar bahar besar di tangannya. Wajahnya garang. Matanya setajam elang.

Rambutnya pun digelung ke atas. Tombak tajam berada di tangannya, saat menjura pada Prabu Adiwarman.

"Hamba yang hina ini bernama Palawena dengan julukan si Tombak Maut. Perkenankanlah hamba mencoba keberuntungan dalam sayembara ini" ucap pemuda yang mengaku bernama Palawena alias si Tombak Maut.

Prabu Adiwarman mengangguk. Sedangkan Putri Permata Delima hanya menunduk. Tak seorang pun yang bisa menebak, perasaan apayangmenggelayuti hatinya.

Suara tepuk tangan kembali terdengar.

Begitu suara tepuk tangan sirna. mendadak saja melompat satu sosok tubuh tinggi besar. Wajahnya bercambang bauk dengan kedua alis hitam legam. Begitu mendarat di panggung, dia menjura pada Prabu Adiwarman.

"Hamba bernama Buntoto, yang berjuluk si Pukulan Setan." Ketika Prabu Adiwarman menganggukkan kepala, orang-orang kembali bertepuk tangan. Kemudian laki-laki bercambang bauk yang mengaku bernama Buntoto berbalik pada Palawena yang berdiri gagah.

"Saudara Palawena, tolong beri petunjuk," ujar Buntoto.

Palawena malah tertawa terbahak-bahak.

"Begitu pula denganku, Buntoto. Hm.... Apakah kau tidak mempergunakan senjata?" tanya Palawena dengan suara meremehkan. "Atau, kau sudah yakin dengan kemampuanmu yang bertangan kosong?" "Rasanya, kedua tanganku ini mampu untuk mengimbangi permainan tombakmu." Rupanya, di balik wajahnya yang seram, Buntoto memiliki sifat bijak.

"Baik Lihatserangan" Mendadak saja Palawena memutar tombaknya di tins kepala. Seketika terdengar desingan yang kuat dan menderu-deru. Lalu dengan suara keras, diterjangnya Buntoto.

Buntoto sendiri tak kalah sigap.

Cepat dihadangnya serangan Palawena.

Pertarungan sengit pun berlangsung. Apa yang dikatakan Buntoto tadi bcnar. Buktinya ia mampu mengimbangi permainan tombak Palawena yang mengincar bagian-bagian berbahaya dari tubuhnya. Dan pukulan-pukulan yang dilakukannya begitu cepat sekali.

Memapak, menangkis, dan menyerang.

Dalam waktu singkat, lima belas jurus berlalu dalam pertarungan yang cukup sengit. Sementara sorak-sorai para penonton membahana. Orang-orang gagah yang mengikuti sayembara itu pun memicingkan mata, mencoba melihat kelemahan masing-masing.

Di antara para hadirin, tampak pula seorang pemuda berpakaian hijau muda. Rambutnya panjang tetapi rapi.

Tubuhnya tegap.

Wajahnya tampan.

Di pundaknya melingkar sehelai kain bercorak seperti catur berwama hitam putih. Sejak tadi, ia paling ribut mengocehi pertandingan itu. "Wah Buntoto memang hebat Meskipun tubuhnya besar, tapi gerakannya lincah. Palawena juga. Hanya saja ia kurang bisa mengimbangi kecepatan Buntoto. Kurang makan rupanya" oceh pemuda berpakaian hijau muda itu.

Seorang pemuda yang berdiri di dekat pemuda berpakaian hijau muda ini melirik dan memperhatikan sekilas. Bila melihat wajah pemuda yang berseloroh tadi, rasanya ia belum pernah melihat. Tetapi diakui juga kata-kata pemuda itu. Karena satu pukulan Buntoto kini tampak masuk ke perut Palawena yang kontan terjajar ke belakang.

"Nah Betul, kan? Pasti dia kalah," kata pemuda berpakaian hijau muda itu lagi.

Sementara di panggung, Buntoto tidak melanjutkan serangan. Palawena scndiri bangkit menjura.

"Terima kasih atas pelajaran darimu. Aku mengaku kalah," ucap Palawena.

Para hadirin bersorak.

Sebagian mencemooh Palawena yang melompat masuk ke keramaian dan menghilang entah ke mana.

"Pertarungan jujur dan ksatria" desis pemuda itu lagi.

Tepat ketika Buntoto selesai menjura pada para hadirin, melompat seorang laki-laki gagah berpakaian kebesaran keraton.

"Namaku Segara, yang berjuluk si Keris Malaikat. Aku ingin menjajal kemampuanmu...," kata laki-laki gagah itu.

Begitu selesai kata-katanya, orang yang mengaku bernama Segara dan berjuluk si Keris Malaikat ini langsung menyerang Buntoto. Serangannya terlihat sangat keji dan berbahaya.

"Wah, wah Ini namanya bukan sayembara lagi, tetapi memang ingin mengalahkan" desis pemuda beralis legam itu lagi "Tetapi sepertinya.... Buntoto masih bisa mengalahkannya." Lagi-lagi apa yang dikatakan pemuda itu benar.

Belum sampai dua jurus, satu pukulan Buntoto telah mendarat telak di dada Segara. Laki-laki berjuluk si Keris Malaikat itu terhuyung ke belakang, lalu melompat pergi tanpa pamit "Wah,wah Malu tuh" "Makanya..., kalau punya ilmu cetek, tidak usah ikut" Suara-suara sumbang, terdengar ramai.

Sementara pemuda berpakaian putih yang di pinggangnya melingkar sebuah tali merah menoleh ke samping, ke arah pemuda berbaju hijau. Dia merasa heran melihat pemuda konyol ini selalu benar dugaannya.

"Kisanak....

Siapakah kau sebenarnya?" tanya pemuda berpakaian putih itu.

Pemuda berpakaian hijau muda memperhatikan pemuda yang kira-kira seusia dengannya ini.

"Aku? Wah Aku siapa, ya? Namaku maksudmu?" "Benar," pemuda berbaju putih itu mengangguk, seperti penasaran. "Oh, ya. namaku Danji...." "Aku Andika." "Andika?" "Ya. Bagus, bukan?" seloroh pemuda yang ternyata Andika alias Pendekar Slebor sambil nyengir kuda.

"Kau bisa tepat menduga, siapa yang akan memenangkan pertarungan. Mengapa kau tidak ikut sayembara?" tanya pemuda bernama Danji itu lagi dengan kening berkerut.

Andika nyengir.

"Bagaimana aku bisa ikut, kalau belum pernah melihat Putri Permata Delima? Siapa tahu wajahnya penuh jerawat," seloroh Andika tidak peduli kalau wajah Danji memerah. Perubahan itu tidak luput dari tatapan Andika.

"Putri Permata Delima sangat cantik. Kecantikannya hanya bisa ditandingi dewi-dewi kayangan." "Nah Kau kan sudah tahu. Aku belum. Jadi, lebih baik jadi penonton saja. Dan, mengapa tidak kau sendiri saja yang ingin ikut sayembara itu? Nah coba lihat. Siapa yang menang sekarang?" Sementara di atas panggung Buntoto sedang menghadapi cecaran lawannya yang sebelumnya mengaku berjuluk si Cakar Harimau. Ganas sekali serangan-serangan yang dilakukan laki-laki berbaju dari kulit harimau dengan kedua tangan bagai cakar. Tangannya mengibas ke sana kemari dengan jemari yang berkuku-kuku tajam mengembang terbuka. Mulutnya menggereng sangat kuat, menampakkan keganasan jurus 'Cakar Harimau'nya.

Danji menoleh pada Andika "Menurutmu, siapa yang akan memenangkan pertarungan itu, Andika?" tanya Danji.

"Si Cakar Harimau akan memenangkan pertarungan itu," kata Andika sambil memperhatikan pertarungan yang sengit di atas panggung. "Serangan-serangannya banyak mengandung gerak tipu. Sayang wataknya terlalu kejam." Mereka kembali memperhatikan pertarungan. Dan lagi-lagi Danji mendesak ketika melihat Buntoto harus terjengkang ke belakang terkena sambaran si Cakar Harimau tepat di paha kanannya. Tubuhnya limbung, darah mengucur dari sana.

Buntoto mengangkat tangannya tanda menyerah.

Lalu dia turun tanpa ada rasa kecewa ataupun malu. Sementara para hadirin bukannya menyoraki Buntoto, malah menyoraki si Cakar Harimau yang bernama asli Rimang.

Tampak laki-laki berpakaian kulit harimau itu berdiri jumawa.

Tetapi Rimang tidak peduli. Matanya justru menatap tajam pada para tokoh yang hendak mengikuti sayembara.

"Hhh Siapa lagi yang ingin meminta pelajaran dariku?" dengus Rimang berapi-api dan pongah.

Dua orang pemuda berdiri. Tetapi, mereka justru saling pandang. Yang berpakaian merah mempersilakan pemuda yang berpakaian biru. Kali ini di benak mereka bukan lagi untuk memenangkan sayembara, melainkan tidak tahan melihat kesombongan Rimang.

Pemuda berpakaian berwarna biru segera menjura hormat, lalu melenting ke atas panggung dengan gerakan ringan."Ha ha ha... Apakah kau tidak sayang dengan salah satu bagian tubuhmu?" ejek Rimang, merendahkan.

Pemuda itu hanya tersenyum saja.

"Aku memang baru turun gunung. Namaku Kusuma, dan belum mendapatkan julukan apa-apa dari orang-orang persilatan. Dan aku sangat ingin mendapatkan pelajaran darimu, Saudara Rimang...," kata pemuda berpakaian biru yang bernama Kus uma.

Rimang terbahak-bahak.

"Sayang.... Menurut perkiraanku, kau harus segera kembali ke asalmu dengan salah satu tubuh cacat" Begitu habis kata-katanya Rimang membuka jurus.

Kedua tangannya membuka membentuk cakar.

"Kini, kau akan mendapatkan pelajaran pertama dariku" desis si Cakar Harimau.

Wuutt Rimang menerjang dengan serangan sangat ganas.

Agaknya dia sangat berapi-api ingin memenangkan pertarungan secepatnya. Tetapi rupanya, Kusuma yang baru saja turun gunung memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lumayan. Serangan Rimang dihindarinya dengan ringannya dan berkali-kali membalas.

Kimang cukup terkejut juga melihatnya. Karena baru disadari kalau kemampuan Kusuma berada di atas Buntoto. Makanya segera dilancarkannya serangan demi serangan yang kejam dan ganas, terkesan membabi buta.

Bahkan kini serangannya sudah mengarah pada bagian-bagian yang mematikan bagi Kusuma.

Sejauh itu Kus uma masih bisa menghindari ke sana kemari dengan lincah. Hanya sayang, ia belum banyak menikmati asam garamnya dunia persilatan. Meskipun ilmunya tinggi, ia masih kurang paham akan gerak tipu dan naluri kelicikan orang-orang persilatan.

Satu ketika, Kusuma harus melompat ke belakang.

Tetapi Rimang dengan gerakan bagai menerkam memburunya. Dan....

Breeet Pakaian Kusuma sobek termakan cakaran si Cakar Harimau. Darah merembes perlahan. Rupanya cakar itu pun menyambar dada Kusuma.

Melihat lawannya sudah terluka, Rimang menjadi semakin ganas. Kali ini sudah kelihatan, siapa dia sesungguhnya. Dengan teriakan keras bagai suara harimau, ia menerkam ke arah Kusuma sambil melepaskan pukulan.

Dan hampir saja serangan itu mendarat, mendadak berkelebat satu bayangan merah, langsung memapak serangan si Cakar Harimau.

Plak Plak Rimang mendengus geram melihat serangannya berhasil digagalkan. Dengan tajam, ditatapnya seorang pemuda berpakaian warna merah berikat kepala kuning yang telah menggagalkan serangan sambil berdiri gagah, pemuda berpakaian merah ini mempersilakan Kusuma untuk meninggalkan panggung.

Suasana menjadi tegang. Sementara sikap Prabu Adiwarman masih tenang saja.

"Saudara Rimang.... Di atas panggung ini, kita bukan ingin saling membunuh. Melukai pun seharusnya tidak.

Tetapi, tindakanmu itu sudah kelewat batas," ujar pemuda berbaju merah, tenang.

"Jangan banyak omong" bentak Rimang geram.

"Kalau kau memang ingin ikut sayembara ini, hadapi aku Bukannya memberi ceramah" Pemuda berpakaian warna merah itu menjura.

"Aku pun ingin mendapatkan pelajaran darimu, Snudara Rimang Namaku Panca... Hiattt" Rimang tidak memberi kesempatan lagi bagi pemuda berbaju merah yang mengaku bernama Panca untuk meneruskan kata-katanya. Kini ia sudah menyerang dengan kckuatan penuh.

Panca yang sudah memperkirakan kalau Rimang akan ganas menyerangnya, menghindar sambil mengirimkan serangan balasan dengan tendangan.

Sementara itu, Andika hanya menggeleng-geleng. "Bisa kacau sayembara ini Rimang nampaknya memliki naluri membunuh yang kuat Ia tidak segan-segan an mbunuh" kata Andika, agak kesal.

Danji menoleh kembali.

"Menurutmu bagaimana, Andika?" "Kelihatannya, Rimang akan menguasai pertandingan. Bila melihat serangannya yang berbahaya, kemungkinan besar Panca pun bisa dilukainya," sahut Andika, sok tahu. Lagaknya mirip seorang guru pada muridnya. Bahkan sambil mengelus-elus janggutnya yang tak berjenggot.

"Kau tidak membantunya?" pancing Danji.

Andika menoleh pada Danji yang memandangnya dengan sinar mata penuh harap. Sudah dua kali Danji berkata seperti itu. Pertama, mengapa Andika tidak ikut dalam sayembara ini? Kedua, mengapa tidak segera membantu? Dengan kata lain, semuanya satu tujuan. Danji mengharapkan Andika untuk ikut dalam sayembara ini.

"Mengapa kau berpikiran seperti itu, Danji? Apakah ada sesuatu yang sangat kau risaukan?" tanya Pendekar Slebor.Kali ini Danji menundukkan kepala. Sikapnya kelihatan serba salah.

"Kalau kau sudi mengatakannya, aku pun bersedia, mendengarkannya. Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku pun tidak bersedia mendengarnya...," kata Andika sambil tertawa Danji mendesah panjang.

Raut wajahnya mencerminkan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi.

Berkali-kali kepalanya diangkat dan ditundukkan. Seolah memang sesuatu yang telah lama dipikirkannya, semakin besar mengganjal.

"Hei? Tidak usahlah kau beritahu. Nanti aku malah repot" ujar Andika berlagak tidak tertarik. Padahal, hatinya yakin kalau Danji mempunyai persoalan rumit.

Justru sikap Andika yang acuh tak acuh itulah membuat Danji bersedia menceritakan kegalauan di hatinya Memang, menurutnya lebih baik membagi cerita pada orang yang tak dikenalnya. daripada membagi cerita dengan orang yang dikenalnya tetapi justru akan mener-tawakan.

"Putri Permata Delima adalah kckasihku, Andika..," bisik Danji, pada akhirnya.

Sejenak kening Andika berkerut. Danji kelihatan khawatir kalau mendadak saja meledak tawa dari mulut pemuda yang baru dikenalnya.

"Dia kekasihmu?" ulang Andika "Ya. Dia kekasihku," sahut Danji sambil mendesah panjang. Bersyukur karena tawa Andika tidak terlihat.

"Kalau memang benar, mengapa kau tidak turut dalam sayembara ini? Dengan begitu, kau bisa mempertahankan kekasihmu.

Danji," kata Andika, sungguh-sungguh "Itulah yang membuatku gelisah, Andika Karena, aku sama sekali tidak memiliki kepandaian silat. Sementara, kau lihat sendiri, bukan? Mereka yang mengikuti sayembara jelas terdiri dari orang-orang persilatan yang krpandaiannya di atas rata-rata" papar Danji, galau.

Andika manggut-manggut sambil mengusap-usap dagunya "Kau akan kehilangan kekasihmu bila kau tidak berusaha" Danji menundukkan kepala.

"Aku tidak tahu, apayang harus kulakukan, Andika.

Nyalanya aku hanya pasrah saja melihat Putri Permata Delima diboyong pemenang dari sayembara ini...." Andika terdiam sejenak.

Sementara di atas panggung, Panca terdesak hebat nlrli serangan-serangan dahsyat Rimang.

Tiba-tiba Andika menoleh pada Danji.

"Kalau begitu, aku akan mencoba menolongmu, Danji Kalau aku menang, Putri Permata Delima akan kuserahkan padamu.... Tetapi, sisakan aku sedikit saja," . seloroh Andika sambil terkekeh. Danji tersenyum. Tampaknya, pemuda ini senang bercakap cakap dengan sahabat barunya ini. Meskipun, ia tidak yakin akan kemampuan Andika.

"Aaakh..." fiba-tiba di atas panggung terdengar jeritan nyaring, ketika cakar Rimang mengenai punggung Panca. Tampak Panca terhuyung ke belakang, dan hanya bisa mengangkat tangannya tanda menyerah.

Rimang tertawa terbahak-bahak.

"Turun dari atas sini" seru si Cakar Harimau mengejek. "Kau lebih pantas untuk menetek pada ibumu Ha ha ha... ayo, siapa lagi yang.hendak menjajal kehebat-anku" Kini, tak seorang punyang berani untuk naik ke atas panggung. Kegagahan dan kegarangan Rimang membuat nyali para peserta sayembara kontan ciut. Kekejamannya sudah nyata pada lawan-lawannya yang harus turun panggung dengan tubuh luka-luka.

Beberapa saat Rimang menunggu. Sementara para penonton menjadi tegang. Lalu, Rimang pun menoleh pada Prabu Adiwarman.

"Prabu Yang Mulia.... Nampaknya tak seorang pun yang berani untuk masuk dalam sayembara ini. Apakah itu berarti hamba memenangkan sayembara?" tanya si Cakar Harimau dengan suara angkuh.

Prabu Adiwarman hanya tertawa saja. Baginya,yang memenangkan sayembara ini baik dari kalangan mana pun juga, maka berhak mempersunting Putri Permata Delima.

"Kita menunggu beberapa saat lagi. Bila tidak ada yang naik ke atas panggung, berarti kaulah yang berhak untuk mempersunting putriku." Rimang tertawa gagah. Pandangannya disapu ke bawah panggung. Beberapa tokoh sakti yang menyaksikan sayembara mendengus melihat sikap Rimang. Tidak pantas seorang gagah berlaku seperti itu. Begitu kejam Padahal sayembara ini dilakukan bukanlah untuk menunjukkan kesombongan.

Setelah beberapa saat, tak seorang pun yang naik keatas panggung. Rimang menoleh kembah pada Prabu Adiwarman Namun, sebelum ia berkata apa-apa, satu sosok bayangan merah sudah berkelebat ke atas panggung dengan gerakan indah sekali.


***
2
Para hadirin bertepuk tangan begitu melihat sosok laki-laki tinggi berpakaian merah hinggap di lantai panggung. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika melihat wajah lelaki yang sangat mengerikan. Mukanya tirus menunjukkan sifatnya yang seperti ular. Sepasang matanya menatap dingin. Bekas luka tampak tergaris di pipi sebelah kiri. Rambutnya panjang acak-acakan.

Andika sendiri terkejut melihatnya. Dia tadi baru saja hendak naik ke panggung. Tetapi, sosok berpakaian merah itu sudah mendahuluinya.

"Ha ha ha... Mengapa semua menjadi seperti kelinci, ha?" seru laki-laki itu sambil tcrbahak-bahak. Suaranya keras dan kasar. "Hhh Bocah kemarin sore ini nampaknya mau menjual lagak" Rimang memperhatikan tajam-tajam laki-laki bcrwajah buruk di depannya. Melihat wajahnya, jelas orang ini sudah berada di luar ketentuan yang ditetapkan Prabu Adiwarman. Karena, usia sosok berpakaian merah itu paling tidak empat puluh lima tahun.

"Siapa kau, Orang Jelek?" bentak si C akar Harimau kesal. Karena, masih ada saja yang menghalanginya.

"Ha ha ha... Bagus, bagus sekali Aku sangat suka penjelasanmu seperti itu. Aku memang jelek. Tetapi..., kau akan kubuat lebih jelek daripada wajahku ini" sam-but orang itu menggeram. "Namaku, Tidar Dan orang-orang menyebutku Raja Akherat" Bukan hanya Rimang saja yang kelihatan terkejut.

Bahkan para tokoh sakti yang berada di sana pun sampai terjingkat. Mereka memang sudah lama mendengar tentang julukan Raja Akherat yang berasal dari golongan hitam. Seorang tokoh yang sangat kejam dan tidak segan-segan menyiksa lawannya, sebelum mampus. Lalu, untuk apa ia ikut sayembara ini? Sebelum ada yang membuat gerakan untuk membuka pertarungan, seseorang berpakaian putih dengan sorban putih bangkit dari duduknya. Ia langsung melenting, naik ke panggung.

"Ada apa, Ki Kelana?" tanya Prabu Adiwarman.

"Maafkan hamba, Prabu Yang Mulia.

Sesuai ketentuan sayembara ini, maka Raja Akherat tidak berhak mengikuti sayembara," ucap laki-laki bersorban putih dan berwajah lembut yang dipanggil Ki Kelana.

"Ha ha ha..." Mendengar itu justru Raja Akherat yang tertawa.

"Mengapa seperti itu, ha? Dalam setiap sayembara, tidak ada ketentuan yang berlaku seperti itu" bentak Tidar alias si Raja Akherat.

Ki Kelana menoleh dengan menyelidik.

"Maaf, ini sudah ketentuan" tegas Ki Kelana.

"Banyak lagak" dengus Tidar.

Mendadak saja si Raja Akherat melesat ke arah Rimang. Tentu saja hal ini membuat si Cakar Harimau terkejut sekali. Ia berusaha menghindar. Hanya itulah gerakan yang bisa dilakukan. Namun, Raja Akherat terus memburunya dengan sebuah hantaman telapak tangan.

Lalu...Des "Aaa..." Telapak tangan Raja Akherat bersarang telak di dada si Cakar Harimau dan ambruk dengan tubuh hangus.

Orang-orang terkejut, termasuk Andika. Sementara Ki Kelana menggeram, namun tetap dengan kelembutannya.

"Tak diperkenankan mencabut nyawa di sini" desis Ki Kelana.

"Ha ha ha.... Pemenang boleh melakukan apa saja.

Lebih baik kau turun saja dari sini Bila memang kau ingin ikut dalam sayembara, lebih baik lawan aku" tantang si Raja Akherat.

"Nama besar Raja Akherat sudah lama kudengar sebagai orang yang kejam. Dan lebih baik..., heaaa" Ki Kelana cepat mengempos tubuhnya ke atas, karena Raja Akherat sudah menghentakkan tangan kanannya untuk melepas pukulan jarak jauh.

Wuttt...

Baru saja Ki Kelana mendarat, Raja Akherat telah berkelebat disertai hantaman telapak tangan. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Dess..

"Aaakh..." "Aku tidak suka mendengar ceramahmu Lebih baik mampus" dengus si Raja Akherat, begitu mendarat kembali. Seperti yang terjadi pada Rimang tadi, Ki Kelana pun tak sempat berbuat banyak. Tubuhnya kontan terpental disertai jeritan kematian. Begitu ambruk.

tubuhnya telah hangus.

"Ha ha ha..." Tidar terbahak-bahak.

Para tokoh persilatan yang berada di sana pun bangkit berdiri, melihat ketidak beresan yang terjadi di panggung. Rasa kependekaran mereka terbangkit. Mereka langsung melesat ke atas mengurus Tidar yang hanya terbahak-bahak.

"Aku tidak pernah suka bila keinginanku diganjal Lebih baik kalian mampus semuanya" seru Tidar.

Seketika si Raju Akherat memutar tubuhnya dengan hebat sambil menghentakkan tangannya.

Des Des Des "Aaakh..." Tiga tokoh persilatan kontan jadi korban sambaran pukulan jarak jauh yang dilepaskan Tidar. Sedangkan yang lain terus berusaha mengurung dan mendesak, seperti tak mengenal takut.

Kini keadaan menjadi kacau balau. Beberapa penonton pun mulai berjatuhan, terkena pukulan jarak jauh yang dilepaskan Tidar. Keributan semakin menjadi-jadi. Mereka berusaha menyelamatkan diri. Bahkan ada yang jatuh dan terinjak-injak.

Pendekar Slebor pun tak urung menjadi geram melihat keadaan yang sudah menjadi ruwet seperti itu. Dia Iangsung menoleh pada Danji.

"Kau selamatkan Putri Permata Delima, Danji Manusia itu rupanya hendak memanfaatkan kesempatan, untuk menguasai Keraton Pakuan" "Tetapi, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?" tanya Danji bingung.

"Apalah yang akan kau lakukan Lakukan saja" Begitu selesai dengan kata-katanya, Andika pun melompat ke atas panggung.

Wuttt...

Seketika Pendekar Slebor mengirimkan satu pukulan ke arah Raja Akherat yang sudah memukul jatuh beberapa pengurung. Namun sebagai tokoh tingkat tinggi, Tidar langsung.merasakan adanya sebuah angin panas ynng mengarah padanya. Maka cepat melompat ke samping, sehingga luput dari serangan. Dan matanya kontan terbelalak ketika melihat siapa yang menyerang.

"Grrh Anak ingusan mana yang berani melawanku, hah?" geram Tidar sambil memperhatikan Andika yang hanya nyengir saja.

Sementara para tokoh persilatan yang masih seIamat cepat melompat turun panggung, seperti memberi kesempatan pada pemuda berpakaian hijau dengan kain bercorak catur yang tersampir di pundaknya.

"Grrr Monyet jelek mana yang jadi tukang obat di sini, ya?" balas Andika.

Wajah si Raja Akherat merah padam. Dan tanpa banyak kata lagi segera diserangnya Pendekar Slebor dengan ganas.

Namun, Andika cepat meliuk-liukkan tubuhnya, menghindari serangan. Sejak pertama kali melihat Tidar menyerang dan membunuh Rimang, Pendekar Slebor sudah bisa menebak kalau sekali gebrak si Raja Akherat ini akan mampu menghabisi Iawannya. Serangan itu sangat keji, dan membuat yang diserang sering terjebak.

Makanya, saat meliuk-liukkan tubuhnya, Andika tidak menjauh. Dia cepat melompat ke depan. Dan ternyata yang diduga benar. Karena kalau menghindar ke belakang, serangan akan datang secara beruntun.

"Bakekok, Monyet Utan" ejek Andika.

Raja Akherat makin geram saja.

Sementara itu Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima sudah diselamatkan Patih Jalalowe, sejak Raja Akherat membunuh Ki Kelana. Patih itu sendiri keluar kembali, setelah memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga Prabu Adiwarman dan putrinya.

Sedang Danji masih terpaku di tempatnya. Ia memang tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa memperhatikan saja ketika Patih Jalalowe membawa masuk Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima. Dan, masih sempat dilihatnya putri cantik itu meliriknya walau hanya sekilas.

Di atas panggung, Raja Akherat terus menyerang Andika dengan ganasnya. Namun dengan kelincahan dan ilmu warisan dari Pendekar Lembah Kutukan, Pendekar Slebor bisa menghindarinya.

Meskipun berkali-kali tubuhnya merasakan terpaan hawa panas.

Sementara Patih Jalalowe sudah masuk ke panggung dengan keris pusaka terhunus. Begitu ada kesempatan, langsung diserangnya Raja Akherat yang belum sempat menyerang Andika kembali.

Mendapati serangan-serangan demikian, Raja Akherat sama sekali tak gentar. Bahkan dengan lincahnya tusukan-tusukan keris Patih Jalalowe berhasil dihindarinya.

Pada saat yang sama pula para pengawal Kerajaan Pakuan sudah naik ke panggung. Mereka langsung mengurung Raja Akherat. Namun sekali Tidar alias Raja Akherat berkelebat, beberapa pengawal itu harus beterbangan ke bumi, memuntahkan darah segar. Begitu ambruk di tanah, nyawa mereka kontan melayang.

"Jaga Keraton Kalian hanya membuang nyawa percuma" seru Patih Jalalowe, pada para pengawal yang masih selamat.

Mendengar pcrintah itu, para pengawal keraton segera turun. Mereka langsung berlarian, menjaga pintu gcrbang. Sedangkan sebagian lagi masih berdiri di sana ilrngan tombak di tangan yang siap dihunuskan.

Sementara itu, begitu mendapat kesempatan, Andika berusaha mendesak Raja Akherat kembali dengan jurus-jurus dari Lembah Kutukan. Namun tokoh hitam itu sangat tangguh. Diserang dari dua jurusan pun masih tampak santai.

"Kalian hanya mengganggu keinginanku saja" desis Tidar alias Raja Akherat.

Mendadak saja Raja Akherat mengibaskan kedua tangannya ke atas. Lalu mulutnya komat-kamit.

Pendekar Slebor dan Patih Jalalowe tak meneruskan serangan ketika melihat apa yang dilakukan si Raja Akherat. Kening mereka berkerut, memandang heran.

Dan belum habis keheranan mereka, mendadak saja tubuh Tidar terlihat menjadi dua.

"Ilmu siluman" seru Patih Jalalowe terkejut. Lebih terkejut lagi ketika salah satu dari Raja Akherat me nyerangnya.

"Tukang sulap yang bangun kesiangan, nih" seru Andika, langsung menghindar pula dari serangan Raja Akherat yang lain.

Sukar sekali untuk membedakan, mana Raja Akherat ash, dan mana yang jelmaan. Karena keduanya berwajah mirip. Bahkan sama-sama tangguh dan sama-sama kejam Iuar biasa.

Andika sendiri nampak kewalahan menghadapi serangan dahsyat yang menimbulkan hawa panas dan ber-bau busuk itu. Sebisanya tubuhnya berkelit terus menghindar. Bahkan sekali pun ia tak diberi kesempatan untuk menyerang.

Begitu pula Patih Jalalowe. Bahkan ia telah terkena pukulan berkali-kali. Keampuhan keris pusakanya bagaikan kehilangan tenaga. Lebih menggiriskan lagi tubuhnya terhempas ke bumi dalam keadaan hangus.

Sementara tubuhRaja Akherat yang menyerangnya segera melesat ke arah keraton.

Tiga orang persilatan yang masih berada di sana berusaha menghalanginya. Akan tetapi, maut pun segera menjemput mereka. Begitu pula para pengawal. Sia-sia mereka mempertaruhkan nyawa, karena hasilnya sia-sia.

Dan Raja Akherat pun dengan leluasa masuk ke Keraton Pakuan. Tangannya melesat ke sana kemari dengan ganasnya, menghancurkan apa saja yang nampak di matanya.

Sedangkan Raja Akherat yang bertarung melawan Andika di atas panggung, terus menyerang dengan ganas.

Serangan-serangannya sangat mematikan.

Andika sendiri sudah menggunakan tenaga 'Inti Petir' tingkat kedelapan belas. Seluruh tenaganya bertambah.

Di ringi seruan keras, pemuda sakti dari Lembah Kutukan itu menderu ke arah Raja Akherat.

Tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Karena lugitu pukulan yang mengandung tenaga petir itu melesat, Raja Akherat hanya mengangkat tangannya, seolah-olah menangkapnya.

Andika sangat terkejut.

"Gila Bisa mampus aku kali ini" dengus Andika cepat menarik pulang serangannya, lalu cepat melenting ke belakang, menghindari tangkapan tangan Raja Akherat. Ini benar-benar gila, karena jarang orang yang berani menangkap tangannya yang mengandung kekuatan 'Inti Petir'"Rupanya kaulah yang berjuluk Pendekar Slebor, Anak Muda Sayang, ilmu-ilmumu tak ada manfaatnya bagiku" ejek Raja Akherat.

Andika yakin kalau Raja Akherat mengenalnya dari jurus yang baru saja dilakukan. Ilmu warisan Pendekar Lembah Kutukan memang sangat dikenal beberapa puluh tahun yang lalu.

"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau tidak mencium pantatku, hah?" ejek Andika.

"Bangsat Nama Pendekar Slebor akan mampus hari ini juga" 
***
Sementara itu, Danji yang melihat Raja Akherat yang satu lagi masuk ke Keraton Pakuan, segera berlari ke samping keraton. Sebenarnya, ia tidak tahu seluk beIuk di keraton itu. Namun bayangan akan kekasihnya yang terancam bahaya, membuat keberaniannya timbul.

Begitu di dalam, pemuda itu mendengar suara ribut-ribut yang hingar bingar.

"Gila Manusia setan itu sedang mengamuk Oh Bagaimana aku harus menyelamatkan Putri Permata Delima?" gumam Danji.

Belum lagi Danji memikirkan soal itu lebih lanjut, mendadak saja tanah yang berjarak tiga tombak darinya terbuka. Lalu terlihat beberapa kepala pengawal Keraton Pakuan, dis usul Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima.

"Putri" seru Danji sambil mendekat.

Beberapa pengawal keraton segera menghunus tombak.

"Jangan Dia temanku" seru Putri Permata Delima.

Wajahnya yang tadi kelihatan pias dan tegang, kini tersenyum. Tampaknya gadis ini melihat kekasihnya berada di sana.

Para pengawal itu segera menurunkan tombaknya.

Sementara kening Prabu Adiwarman jadi berkerut. Ia merasa heran karena putri tersayangnya mengenal pemuda berpakaian kampungan itu. Tetapi ia pun tidak mempedulikannya, karena beberapa orang pengawal memintanya untuk segera cepat melarikan diri.

"Prabu Yang Mulia. Hamba tahu tempat yang aman," kata Danji memberanikan diri.

"Di mana?" tanya Prabu Adiwarman.

"Ikut hamba, Prabu." Prabu Adiwarman melirik putrinya yang hanya menganggukkan kepalanya. Lalu bersama sepuluh orang pengawal keraton, mereka pun melarikan diri ke tempat yang dimaksud Danji.

Sedang di dalam. Raja Akherat mengamuk habishabisan, menghancurkan apa saja yang di nginkannya.

Ketika tidak menemukan Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima, tokoh sesat itu berlari keluar keraton.

"Hiaaa..." Sambil berteriak keras kedua tangan Tidar mengibas ke depan, ke arah panggung. Wesss..

Terdengar suara deru angin yang sangat keras.

Andika yang sedang dicecar Raja Akherat yang satu lagi, melompat begitu mendengar teriakan dahsyat. Tubuhnya cepat berputar dua kali sambil mengirimkan satu pukulan yang tepat mengenai kepala Raja Akherat yang sedang marah-marah.

Wuutt...

Des Blarrr...

Kepala Raja Akherat itu pun pecah. Sementara panggung itu berantakan menimbulkan ledakan keras, ketika pukulan jarak jauh Raja Akherat yang pecah kepalanya melabraknya.

Sedangkan saat itu, Raja Akherat yang satu lagi sudah bersalto dengan ringan keluar panggung, lalu mendarat di tanah.

Andika yang merasa serangannya berhasil mengenai sasaran, harus membelalakkan matanya. Ketika mayat Raja Akherat yang dipukul kepalanya tadi mendadak saja Ienyap. Lalu, terlihat sebuah sinar putih melesat ke arah Raja Akherat yang sedang berdiri gagah. Dan sinar itu langsung masuk ke dalam tubuhnya.

"Ha ha ha... Jangan terkejut, Pendekar Slebor Itu adalah salah satu ilmuku yang terdahsyat Ilmu MeIayang Dua" Andika mendengus.

"Kau juga belum melihat jurusku yang hebat, Monyet Jelek" seru Andika.

Lalu mendadak saja, Pendekar Slebor menungging ke arah Raja Akherat. Dan....

Duuttt Andika berdiri tegak kembali.

"Itu jurus 'Pendekar Ganteng Kebanyakan Makan Ubi'" Ieceh Pendekar Slebor, seenaknya.

Wajah Raja Akherat merah padam, seketika dia melompat menyerang kembali ke arah Andika dengan ganas.Pendekar Slebor bukannya melayani, tapi justru melesat ke dalam keraton yang bagian dalamnya sudah hancur. Ia mencari-cari sambil mendengar teriakan-teriakan Raja Akherat memanggilnya.

Tetapi Andika tidak peduli. Yang dipikirkannya hanyalah Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima.

Begitu tiba di dalam, Andika tidak menemukan siapa-siapa.

Justru di peraduan Prabu Adiwarman, terlihat sebuah lantai terbuka Dengan cepat Andika masuk dan menutup lahtai itu kembali. Disusurinya lorong yang diyakini adalah jalan rahasia. Ia pun yakin kaiau Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima sudah melarikan diri, karena lorong itu berakhir di luar keraton.

Andika celingukan sejenak, lalu melesat meninggalkan tempat itu. Yang penting sekarang, dia harus mencari Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima.


***
Raja Akherat yang tidak menemukan Pendekar Slebor menggeram marah. Tangannya tiba-tiba berkelebat ke depan.Seketika terdengar suara bagai ledakan. Dinding bagian dalam hancur berantakan.

"Ha ha ha..." Lalu mendadak saja Raja Akherat terbahak-bahak keras, hingga tubuhnya berguncang-guncang. Dia merasa kalau kini telah menguasai Keraton Pakuan. Lalu dengan gagahnya tokoh sesat ini keluar, menatap mayat-mayat yang bergeletakan dan puing-puing keraton ynng hancur.

"Ha ha ha... Kini tercapailah keinginanku untuk menguasai Keraton Barat Tibalah saatnya bagiku unluk menjadi raja di rimba persilatan ini" Suara Raja Akherat menggema di pagi yang penuh darah 
***
3
Angin bertiup semilir. Senja sudah merayap, beranjak pada malam yang akan datang menyergap. Suasana remang rcmang di sekitar Hutan Kaliamang, membual Pendekar Slebor menghentikan langkahnya.

Begitu berhenti, pendekar berjiwa konyol dari ta¬nah Jawa ini duduk mengambil sikap semadi, memulih-kan jalan napas.

Setelah beberapa saat, Pendekar Slebor pun men¬desah panjang. Aliran darahnya kini sudah berjalan se¬perti biasa kembali.

"Gila Raja Akherat ternyata sangat sakti Tetapi aku tidak akan membiarkannya menguasai Keraton Pakuan.

Yang terpenting sekarang, mencari Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima. Tetapi, oh Di manakah Danji berada sekarang?" gumam Pendekar Slebor.

Andika berusaha mengingat-ingat tentang Danji.

Tetapi ia merasa tidak melihat Danji sejak pertarungannya dengan Raja Akherat.

Andika kembali mendesah.

"Kalau begitu, aku harus kembali ke Keraton Pakuan besok untuk mencari mayat Danji. Atau..., sebenarnya ia selamat? Kalau selamat, aku akan mencarinya sampai dapat." Pendekar Slebor saat ini tidak bisa berbuat apa-apa.

Tubuhnya telah letih. Hingga tanpa rerasa ia pun tertidur.


***
Sejak keberhasilannya menguasai Keraton Pakuan, Kaja Akherat pun mulai mengundang para kerabatnya yang rata-rata berasal dari golongan hitam. Sejak itu sepaik terjangnya makin keterlaluan saja. Bahkan ia pun mulai menculik dara-dara perawan yang tinggal di sekitar kekuasaan Keraton Pakuan. Juga menculik pemuda-pemuda tegap untuk dijadikan pengawal sekaligus pelayannya.

Sudah tentu dengan berkuasanya Raja Akherat, suasana di Keraton Pakuan sangat menyedihkan.

Kehidupan pahit dan sengsara mulai dirasakan rakyat.

Terutama para dara perawan yang dijadikan sebagai pemuas nafsu Raja Akherat dan beberapa kambratnya.

Pesta semalam s untuk diadakan malam itu juga.

Di ringi tawa mereka dan jerit tangis para dara perawan yang diperkosa. Sementara mayat-mayat yang berge-lelakan, dibakar di halaman depan Keraton Pakuan.


***
Prabu Adiwarman menghela napas panjang ketika mendengar cerita dari dua orang pengawal setianya yang mcmata-matai keraton. Kini keadaan keraton benar-benar bagaikan neraka saja. Kacau balau. Di bawah perintah Raja Akherat, kerajaan Keraton Pakuan benar-henar di ambang kehancuran.

Prabu Adiwarman sangat menyesali keadaan ini.

Sungguh tidak disangka, kalau sayembara yang diadakannya berakibatkan seperti ini.

Apalagi bila mengingat, kesaktian Raja Akherat benar-benar tinggi.

Padahal, baru kali ini ia mendengar nama itu. Dan sekali mendengar dan melihat orangnya, telah mengobrak-abrik Keraton Pakuan serta membunuh pemuda gagah yang ikut dalam sayembara.

Prabu Adiwarman pun sudah mendengar kalau Patih Jalalowe telah tewas di tangan Raja Akherat. Ah, bila mengingat akan patih yang gagah perkasa dan setia mengabdi padanya itu, hatinya menjadi sedih. Terbayang kembali bagaimana setianya dan sopannya perilaku Patih Jalalowe.

Sementara Putri Permata Delima hanya bisa menghibur ayahnya saja. Ia tahu apa yang dirasakan ayahandanya. Meskipun hatinya merasa senang karena tak seorang pemuda pun yang mengikuti sayembaran itu berhasil mempersunting dirinya, tetapi tetap saja sedih melihat Keraton Pakuan kini dikuasai seorang tokoh hitam yang berilmu sangat tinggi.

Danji sendiri tidak berani mendekati kekasihnya terang-terangan.

Karena, bisa diduga kalau Prabu Adiwarman akan murka. Untung saja, Putri Permata Delima sendiri yang selalu mendekatinya. Dan kini. mereka duduk berdua di muka gua, sementara beberapa pengawal yang setia berkeliling menjaga segala kemungkinan.

"Kang Danji... Bagaimana caranya Keraton Pakuan akan bisa kita kuasai lagi?" tanya Putri Permata Delima dengan wajah murung.

Danji menggelengkan kepala.

"Aku juga tidak tahu, Putri.... Mungkin. kita hanya bisa berharap. Mudah-mudahan Gusti Al ah akan memberikan pertolongannya...,"sahut Danji lesu.

"Kalau begitu. selamanya Keraton Pakuan akan dikuasai manusia-manusia jahat itu.

Oh Betapa mengenaskannya nasih rakyat sekarang...." Keduanya terdiam. Tak ada yang bersuara, dicekam pikiran masing-masing.

"Bagaimana dengan sahabat barumu yang bernama Andika itu?" tanya Putri Permata Delima tiba-tiba.

Memang, selama perlarian ini, Danji telah menceritakan tentang Andika pada Putri Permata Delima.

"Oh, Gusti.... Mengapa aku baru teringat dia?" desis Danji sambil menepuk keningnya. "Kau benar. Putri....

pemuda itu memang berkepandaian tinggi. Tetapi, apakah ia belum tewas ketika bertarung melawan Raja Akherat?" sambung Danji sambil mendesah.

Masih terbayang di benak pemuda ini, bagaimana Andika menyuruhnya untuk menyelamatkan Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima. Saat itu ia pun melihat tubuh Andika melenting ke arah Raja Akherat yang sedang mengamuk.

Apakah Andika masih hidup? "Mudah-mudahan ia masih hidup, Kang Danji...,' desah Putri Permata Delima. "Yah. Meskipun sikapnya seperti urakan dan rada konyol, tetapi jelas sekali kalau kesaktiannya c ukup tinggi, Putri.... Memang pemuda itu sangat baik. Putri..." Belum lagi Putri Permata Delima menimpali, mendadak...

"Kutu busuk Kampret mati Biang borok Kcnapa aku ditangkap begini, sih? sejak tadi sudah kubilang, aku adalah salah seorang yang akan membantu Prabu Adiwarman" Terdengar suara keras mengomel-ngomel. Tak lama tampak satu sosok tubuh berpakaian hijau muda dengan kain bercorak catur di punggung tengah digiring di bawah todongan senjata tombak. Sebenarnya, bisa saja pemuda yang tak lain Pendekar Slebor ini melumpuhkan para pengawal. Namun tentu saja dia tak mau melukai perasaan Prabu Adiwarman.

Tetapi empat orang pengawal yang menggiringnya tidak mempedulikannya. Mereka teus mendesak Andika agar melangkah ke arah gua Andika sendiri sejak semula memang bisa menerka.

kalau mereka adalah para pengawal Keraton Pakuan yang menyelamatkan Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima. Dan dia pun berharap kalau Danji berada bersama mereka.

Sementara Danji dan Putri Permata Delima lang¬sung bangkit, begitu mendengar suara seperti orang ma-rah-marah. Begitu melihat Danji langsung terkejut.

"Andika" teriak Danji.

Andika nyengir lalu mengangkat tangannya.

"Rupanya kau masih hidup, hah?" desis Andika.

Lalu Andika menoleh pada keempat pengawal.

"Nah Kalian lihat, kan? Aku tidak berbohong, kan? Weee" kata Andika sambil menjulurkan lidahnya kepada keempat orang itu yang kelihatan menjadi geram bercampur geli melihat sikapnya.

Danji lantas menoleh pada Putri Permata Delima.

"Putri..., pemuda itulah yang bernama Andika. Lebih baik perintahkan para pengawalmu untuk membebaskannya. Karena aku yakin, dia orang baik-baik," ujar Danji.

Putri Permata Delima sebentar menatap Andika yang cengar-cengir.

Kemudian, kepalanya menoleh pada keempat pengawal.

"Ia orang kita," kata Putri Permata Delima.

"Baik, Gusti Putri...," kata salah seorang pengawal sambil menjura hormat. Segera pengawal itu memberi tahu yang lain untuk melepaskan Andika. Sebagian pengawal kemudian kembali ke tempat masing-masing untuk berjaga-jaga. Sementara pengawal yang memerintahkan tadi masih berdiri di sana dengan mata waspada, Meskipun dalam hati kecilnya dia yakin kalau pemuda ini tidak berbahaya.

Andika menoleh pada Putri Permata Delima.

"Putri.... Namaku Andika...," kata Pendekar Slebor, inemperkenalkan diri.

"Danji sudah banyak membicarakan tentangmu," sahut gadis cantik putri penguasa Kerajaan Pakuan ini.

Andika nyengir.

"Wah Kalau begini caranya, gagal aku untuk mencuri perhatianmu," gurau Andika, ceplas-ceplos. Lalu dia menoleh pada Danji. "He he he.... Kenapa wajahmu memerah, Danji? Cemburu? Wah, nanti kau cepat tua" Danji gelegapan disudutkan seperti itu. Sedangkan Putri Permata Delima hanya tersenyum saja. Lalu diajaknya Andika masuk ke dalam gua.


***
Sambil memakan buah-buahan yang dipetik dari pohon yang tumbuh di sekitar Hutan Kaliamang, Pendekar Slebor, Danji, dan Putri Permata Delima bercakap-cakap.

Mereka duduk di salah satu ruang gua yang cukup Iuas.

"Bagaimana keadaan Keraton Pakuan. Andika?? tanya Danji. "Kacau Perbuatan Raja Akherat harus segera dihentikan. Aku mendengar kabar, kalau ia telah memanggil beberapa kerabatnya untuk membantu. Dan sudah tentu mereka bersedia melakukannya, karena begitu banyaknya kemewahan dan kemudahan yang akan didapatkan. Dan yang lebih membuatku dongkol, gadis-gadis yang tinggal di sekitar Keraton Pakuan mengalami nasib memilukan. Mereka menjadi budak nafsu orang-orang kejam itu" papar Andika. Suasana hening.

"Di mana Prabu saat ini?" tanya Pendekar Slebor, memecah keheningan.

"Ayahanda sedang tidur. Kasihan dia. Terlalu pusing memikirkan soal keraton," desah Putri Permata Delima.

Andika tersenyum.

"Aku mempunyai sebuah rencana yang mungkin bisa kita jalankan," ungkap Andika.

"Bagaimana?" tanya Putri Permata Delima dan Danji bersamaan. Lalu keduanya saling pandang dan tersenyum.

"Jadi iri aku melihat keakraban kalian ini?" usik Andika, sambil cengengesan.

"Bagaimana dengan rencanamu tadi?" tukas Danji berusaha mengalihkan perhatian.

"Mungkin, berita tentang jatuhnya Kerajaan Pakuan sudah sampai ke beberapa kerajaan lainnya. Bila memang Prabu Adiwarman mempunyai hubungan yang baik dengan kerajaan-kerajaan lain, kita bisa meminta bantuan. Karena, menghadapi manusia kejam itu sungguh sulit," jelas Andika.

"Apakah kau tidak mampu melakukannya, Andika'" tanya Danji.

Andika terbelalak.

"Aku? Sendiri? He he he.... Aku terlalu ganteng untuk mati muda. Tetapi, aku akan melakukan sekuat tenaga.

Karena aku sendiri sudah terlibat di dalamnya." Putri Permata Delima menahan senyum mendengar selorohan Andika tadi.

"Aku akan membangunkan ayahanda untuk membicarakan soal ini," kata Putri Permata Delima.

"Tidak usah. Biarkan Prabu tidur. Nanti malam barulah kita kembali membicarakan soal ini." 
***
Malam pun membedah alam. Suasana dan sekitar gua di tengah Hutan Kaliamang sangat sunyi, terhalang oleh pohon besar yang banyak tumbuh di sekitarnya.

Jarang orang yang tahu kalau di hutan itu terdapat sebuah gua, tempat berlindung dari binatang buas, hujan, dan ai gin yang keras.

Prabu Adiwarman tampak mengangguk-angguk mendengar rencana Andika.

"Aku punya hubungan yang baik dengan Prabu Srigiwarman, penguasa Kerajaan Labuan.

Tetapi, sebenarnya aku tidak ingin melibatkannya dalam hal ini.

Mengingat, keadaan Kerajaan Labuan sudah aman dan sentosa. Aku tidak ingin karena gara-garaku, maka kerajaan itu akan porak poranda," papar Prabu Adiwarman sambil mengusap dagunya. Wajahnya nampak lima tahun lebih tua dari usia sebenarnya.

Andika memperhatikan Prabu Adiwarman dengan seksama. Dan dia melihat sinar lembut dan penuh kebijaksanaan dari mata laki-laki setengah baya yang telah ditinggal istrinya untuk selama-lamanya ini. Wajahnya begitu asri dan penuh pesona.

Senyumnya pun mengundang kedamaian.

"Tetapi. Prabu. Keadaan Kerajaan Pakuan sangat genting. Dan aku yakin, dalam waktu dua purnama saja, seluruh kerajaan akan hancur lebur. Termasuk, rakyat yang akan menderita kepanjangan." Prabu Adiwarman terdiam. Tampaknya. hatinya berat untuk memutuskan apakah harus melibatkan Kerajaan Labuan atau tidak. Ia dengan Prabu Srigiwarman memang bersahabat baik. Bahkan Kerajaan Pakuan pemah membantu Kerajaan Labuan ketika diserbu para pemberontak. Meskipun masih menanamkan budi, Prabu Adiwarman tetap tidak ingin melibatkan kerajaan itu dalam masalah yang dihadapinya.

Tetapi seperti yang dikatakan Andika yang dikenal sebagai Pendekar Slebor agaknya adanya bantuan memang diperlukan. Karena Kerajaan Pakuan bisa porak poranda bersama berjayanya Raja Akherat.

"Yah.... Memang tak ada jalan lain. Lawan terlalu kuat," desah Prabu Adiwarman.

"Prabu setuju?" tanya Andika, ingin meyakinkan.

"Yah.... Aku akan mengutus dua orang pengawalku ke Kerajaan Labuan dan meminta bantuan dari Prabu Srigiwarman." Terdengar desahan Iega dari tiga mulut.

"Dan kau, Andika," kata Prabu Adiwarman. "Bila memang tulus hendak membantuku, kuucapkan terima kasih." "Hamba, Prabu. Hamba akan membantu sekuat tenaga. Karena, perjuangan menuju kebenaran sangat berat. Banyak sekali aral rintang, baik yang mudah maupun yang sangat sukar. Biar bagaimanapun juga, hamba akan membela kebenaran." "Terima kasih," ucap Prabu Adiwarman sambil memandang penuh kebanggaan.

Begitu pula Putri Permata Delima dan Danji.

Keduanya begitu yakin kalau Pendekar Slebor tidak akan membantu setengah-setengah. Meskipun sitatnya sedikit konyol, tetapi persahabatan yang telah tercipta dalam suasana yang genting ini, sudah membangkitkan kebersamaan.

"Hamba akan kembali memata-matai Kerajaan Pakuan, Prabu. Biar...." "Haumm..." Kata-kata itu terputus ketika terdengar suara auman harimau yang keras di luar gua.


***
4
Serentak Andika dan Danji berlari keluar. Karena memang pendekar digdaya. sudah jelas Andika yang tiba lebih dulu di luar gua. Baru kemudian, Danji yang berlari terengah-engah.

Sementara Putri Permata Delima menyuruh ayahandanya tetap berada di dalam. Termasuk dua pengawal yang segera bersiap dengan tombaknya.

Hati Putri Permata Delima sedikit risau. Karena begitu banyaknya masalah yang dihadapi, namun belum satu pun yang berhasil dituntaskan. Dan kini di luar gua agaknya ada masalah lain.

"Permata...," panggil Prabu Adiwarman.

"Ada apa, Ayahanda...," sahut Putri Permaia Delima, seraya menoleh, menatap ayahnya.

Prabu Adiwarman mendesah. Putri Permata Delima melihat jelas kalau ayahandanya berada dalam kegelisahan.

"Ini semua gara-gara ayahanda yang menginginkan kau mendapatkan suami orang gagah...." kata Prabu Adiwarman sambil sekali lagi mendesah panjang. Matanya seperti menerawang, menyesali peristiwa yang terjadi. Yang ada di benaknya bukanlah diri dan keluarganya, melainkan nasib rakyat yang linggal di sekitar keraton.

"Sudahlah, Ayah. Semuanya sudah terjadi. Tak ada yang perlu disesali lagi. Justru kita harus bangkit.

menyusun kekuatan baru untuk merebut kembali tahta," hibur Putri Permaia Delima. meskipun disadari kalau kejadian ini bermula dari sayembara itu. Tetapi gadis ini pun yakin kalau Raja Akherat memang bermaksud jahat pada Kerajaan Pakuan. Adanya sayembara atau tidak, tokoh sesat itu tetap akan datang dan melakukannya.

"Ah Kini sangat sulit dipastikan, siapakah calon suamimu nanti?" desah Prabu Adiwarman sambil menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya yang bijaksana tampak sangat memikirkan persoalan ini.

Sebenamya, ingin sekali Putri Permata Delima mengatakan, kalau Danjilah yang dicintainya. Pemuda itu telah menyelamatkan mereka di gua ini. Tetapi sudah tentu gadis ini tidak ingin menambah beban di benak Ayahnya.

Dulu saja hatinya khawatir kalau ayahnya akan malah dan jatuh sakit bila mengatakan bahwa dirinya sudah mempunyai kekasih seorang pemuda desa.

Maka ketika Prabu Adiwarman mengatakan hendak mengadakan sayembara Mungut Mantu, Putri Permata Delima hanya menurut saja meskipun hatinya sedih bukan main. Dan berkali-kali dari atas panggung besar itu, mata gadis cantik ini melirik kekasihnya yang kelihatan gelisah, marah, juga sedih.

Tetapi sekarang semuanya sudah berakhir. Dan Putri Permata Delima bisa selalu berada di sisi Danji. meskipun masih harus berusaha menyingkirkan semua dugaan ayahnya. Dan, ia memang tidak ingin menambah kegelisahan di hati ayahnya.

"Sudahlah, Ayah. Soal itu tidak perlu dibahas sekarang. Karena masih ada waktu nanti..," hibur Putri Permata Delima.

Prabu Adiwarman menatap anaknya yang semata wayang. Seorang anak yang telah tumbuh menjadi dara jelita dan bersikap layaknya seorang putri keraton. Berrkat kerendahan hatinya, Putri Permata Delima amat disayangi rakyat Kerajaan Pakuan. Gadis ini dulu memang sering berjalan-jalan ke pelosok desa di Kerajaan Pakuan, untuk melihat secara langsung kehidupan rakyatnya. Hingga pada suatu saat dia bertemu Danji, di desa yang dikunjunginya. Dan pertemuan yang singkat itu telah melahirkan benih-benih cinta dalam hati kedua insan ini.

"Untungnya, dalam keadaan seperti ini Ayah masih memiliki kau, Permata...," kata Prabu Adiwarman.

"Ayahanda ingat ibunda?" tebak Putri Permata De lima. Prabu Adiwarman mengangguk.

"Yah, Ayah sangat mencintainya. Karena itulah, Ayah tidak menginginkan mencari pengganti ibumu...,' desah laki-laki setengah baya itu.

"Sudahlah, Ayah... Yang terpenting sekarang, Ayah harus banyak beristirahat. Jangan terlalu memikirkan setiap persoalan. Kita pun belum tahu, ada apa di luar gua ini sekarang?" ujar Putri Permata Delima sambil tersenyum.

Kalau mau jujur, terkadang Putri Permata Delima pun suka teringat pada ibundanya. Seperti, ketika sayembara Mungut Mantu itu diadakan. Bila ada ibundanya, mungkin ia bisa berlindung pada ibunya. Sehingga, sayembara itu ditiadakan. Karena, ia telah mencintai Danji.


***
Di luar, seorang gadis berwajah cantik bertubuh sintal dan berambut panjang tergerai tampak duduk di punggung seekor harimau besar yang mengerikan. Sikap gadis itu begitu santai. Tetapi, matanya menatap tajam pada lima pengawal Kerajaan Pakuan yang berdiri seperti mengurungnya dengan tombak di tangan. Seperti halnya warna harimau itu belang-belang, gadis itu pun mengenakan pakaian dengan kulit yang sama. Bagian bahu sebelah kanan terbuka. Di punggungnya tampak sebilah pedang dengan warangka dibalut kulit harimau.

Agaknya lima orang pengawal Kerajaan Pakuan yang menatap dengan sikap waspada inilah yang membuat gadis itu kelihatan jengkel.

Sementara, Andika hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"li h Ngeri melihat tampang tungganganmu itu, Nona," kata Andika sambil mengangkat kedua bahunya, memperlihatkan tampang bergidik. Padahal dalam hati, ia memuji kecantikan dara jelita itu.

Gadis itu mendengus sinis.

"Apa pedulimu, hah? Apakah kau ingin mampus dan menjadi santapan peliharaanku?" bentak gadis itu sewot.

Andika tertawa.

"Bagaimana kalau aku yang menjadi tungganganmu?" seloroh Pendekar Slebor keterlaluan, membuat Danji tersenyum.

"Menjijikkan" "He he he... cuma bercanda saja, kok. Nona manis, siapakah kau sebenarnya? Apakah kedatanganmu ke sini untuk berkenalan denganku yang ganteng?" kata Andika, kumat gilanya. Sikapnya seolah sudah lama mengenalnya.

Dan gadis itu sudah terbiasa bercanda seperti itu.

"Hhh Pemuda konyol Mengapa orang-orang berpakaian seperti orang Kerajaan Pakuan itu menghadang perjalananku, hah?" seru gadis itu sewot.

"Aku tidak pernah mengganggu siapa pun. Dan mengapa mereka bersikap marah begitu?" Andika sadar kalau rupanya ada kesalah pahaman diantara gadis ini dengan para pengawal. Maka kakinya segera maju beberapa tindak, mendekati salah seorang peJ ngawal yang berpangkat paling tinggi.

"Tolong perintahkan agar yang lainnya menurunkan tombak. Biar aku yang urus. Aku pengalaman dalam mengurus gadis cantik seperti itu," bisik Andika.

Kata-kata yang diucapkan Pendekar Slebor sebenarnya sangat pelan. Tetapi....

"Apa kau bilang tadi? Menjijikkan" dengus gadis itu, yang ternyata mendengar bisikan Andika pada pengawal tadi. "Baru kali ini aku bertemu pemuda konyol yang tidak tahu malu" Andika tercengang. Bila ternyata gadis ini mendengar bisikannya, ilmunya cukup tinggi. Siapa sebenarnya dia? Andika nyengir.

"Nona manis, siapakah sebenarnya Nona ini?" tany Pendekar Slebor, seramah mungkin.

"Namaku Sari Ini tungganganku, Belang" "Namaku Andika...." "Aku tidak peduli namamu" bentak gadis itu "Yaaa," desah Andika malu hati.

"Minggir, aku ingin melanjutkan perjalananku" "Oh. silakan. silakan.... Tetapi hati-hati jangan sampai peliharaanmu itu menggigitku." Sebenarnya gadis yang mengaku bernama Sari ini] tertawa geli dalam hati melihat sikap konyol pemuda di hadapannya. Tetapi sudah tentu tidak ingin diperlihat kannya.

"Ayo, Belang Kita tinggalkan orang-orang dungul ini" ujar Sari. Wuuuttt Harimau bernama Belang itu seperti menghentikan kata-kata tuannya. Dengan gerakan ringan dia melompat meninggalkan tempat ini.

Sementara Andika menggelengkan kepalanya Pengawal yang berpangkat paling tinggi cepat men-ilekati Andika.

"Tuan Pendekar.... Bagaimana kalau ternyata gadis itu mata-mata dari Raja Akherat?" tanya pengawal itu, gusar.

"Tidak, Kang Wirdoyo. Dia hanyalah seorang gadis baik-baik. Kau lihat tadi. Kalau kau nekat..., wah Auumm...crat Habis kepalamu ditelan peliharaannya Kau mau ditelan harimau yang ganas itu, Kang Wirdoyo?" sahut Andika yang memang sudah mengenal pengawal ini.

Wirdoyo tersenyum kecut.

Lalu Andika mengajak Danji ke dalam, menemui Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima kembali.

"Siapa, Andika?" tanya Putri Permata Delima, begitu melihat Pendekar Slebor dan Andika berjalan menghampiri.

"Seorang gadis yang menunggang seekor harimau besar," sahut Andika sambil duduk kembali.

"Hei? Sarikah namanya?" tanya Prabu Adiwarman.

"Benar, Prabu." "Hmm.... Dia adalah putri tunggal dari Ki Wirayuda, Penguasa Harimau. Ke manakah perginya?" Andika mengangkat bahunya.

"Tidak tahu. Ia terlalu galak untuk ditanya," sahut Pendekar Slebor.

"Ayahnya pernah membantuku untuk mengembalikan harimau-harimau lepas ke Hutan Lawengan. Sudahlah....

Seperti yang telah kita rencanakan, aku akan mengutus dua orang pengawal ke Kerajaan Labuan. Suratnya pun telah kusiapkan." "Kalau begitu, hamba akan pergi ke Keraton Pakuan Barat, Prabu...." "Pendekar Slebor.... Terima kasih atas bantuanmu." "Wah, wah... Tidak tepat kalau dikatakan membantu.

Karena, aku sendiri tidak suka melihat perbuatan Raja Akherat yang sewenang-wenang seperti itu," kata Pendekar Slebor, seraya bangkit berdiri.

Prabu Adiwarman diam-diam memuji sikap pemuda yang nampak konyol ini. Lalu segera diperintahkannya dua orang pengawal untuk segera berangkat kerajaan Labuan.

Sementara Andika sendiri sudah melangkah ke luar gua. Di belakangnya, Danji mengantarkan sampai depan mulut gua.

"Andika..., hati-hati," ingat Danji.

Andika tersenyum.

"Justru tugasmulah yang sangat berat, Danji," kata Andika, membesarkan hati sahabat barunya.

"Kenapa?" "Karena..., kau harus menjaga Putri Permata Delima dan Prabu Adiwarman. Di tanganmulah aku lebih yakin kau bisa menyelamatkannya," sahut Andika tanpa maksud basa-basi.

"Kenapa kau berkata begitu, Andika?" Andika tersenyum penuh arti.

"Hanya kau yang tahu jawabannya, Danji. Tetapi, bukankah kau senang karena lebih bisa dan sering ber-dekatan dengan kekasihmu?" seloroh Andika.

Danji hendak membalas selorohan Andika, tetapi tubuh berpakaian hijau lumut itu sudah melesat cepat.


***
5
Seperti yang diduga Andika sebelumnya, keadaan Kerajaan Pakuan sudah seperti neraka saja. Di salah mi tu sudut tembok keraton, Pendekar Slebor mengawasi keadaan dari atas pohon asam yang berdaun lebat.

Pendekar tampan ini melihat di tengah-tengah halaman Keraton Pakuan terdapat sepuluh laki-laki tua yang harus mati di ujung anak panah. Si pemanah berdiri di tangga keraton. Dia adalah seorang laki-laki tinggi tegap, berusia kira-kira empat puluh lima tahun. Pakaiannya berwarna hitam dengan ikat kepala berwarna merah. Wajahnya tirus.

Matanya memancarkan kekejaman. Sikapnya tampak dingin.

Dalam sekali jepretan, sepuluh anak panah sekaligus dilepaskan. Semuanya tepat mengenai sasaran.

Andika menggeram dalam hati sambil mengepalkan tangannya. Hatinya benar-benar murka melihat kese-wcnang-wenangan salah satu kerabat Raja Akherat.

Siapakah laki-laki berpakaian hitam itu? Plok Plok Plok Mendadak terdengar suara tepuk tangan keras.

"Hebat Ilmu panahmu masih sangat hebat, Songko" Dari tempat persembunyian, Andika melihat jelas siapa yang bersuara bagaikan guntur itu. Siapa lagi kalau bukan Raja Akherat, yang sedang duduk di sebuah kursi besar indah sepuluh tombak dari tangga keraton. Dua orang gadis yang mengenakan secarik kain untuk menutupi dadanya, dan sebuah kain terusan untuk menutupi perut hingga mata kaki, sedang mengipasi tokoh sesat itu.

Kelihatan sekali kedua gadis itu nampak sangat terpaksa. Wajah mereka begitu sedih, tetapi dipaksakan untuk tetap tersenyum. Kalau tidak, mereka akan mendapat siksaan dari Raja Akherat Sementara tiga orang gadis duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Jelas sekali kalau batin mereka sangat tersiksa. Di sebelah kanan Raja Akherat berdiri seorang nenek bertubuh bongkok, terbungkus pakaian kuning keemasan.

Rambutnya digulung ke atas, dihiasi sebuah tusuk konde dari emas. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat bengkok. Orang-orang rimba persilatan mengenalnya sebagai Kayu Seribu Laksa. Namun nama aslinya adalah Nyai Surti.

Sementara di sebelah kiri Raja Akherat, berdiri dua orang gagah yang bertelanjang dada. Kepala mereka gundul kelimis. Bila diperhatikan seksama, jelas wajah satu sama lain mirip. Mereka memakai celana pangsi warna hitam. Di pinggang masing-masing melingkar secarik kain berwarna putih. Dalam rimba persilatan me¬ reka berjuluk Dua Kembar Kepalan Batu. Tapi sebenarnya nama masing-masing adalah Srigunda dan Srigandi.

Merekalah orang-orang yang ditunjuk oleh Raja Akherat untuk dijadikan pengawal. T ampak pula beberapa pemuda desa yang dipaksa untuk menjadi penga¬wal.

Mereka berjajar gagah dengan tombak di tangan. Mau tidak mau mereka harus menuruti perintah, bila tidak ingin cepat mampus di tangan Raja Akherat.

Saat itu, pemanah yang dipanggil Songko sedang tersenyum pada Raja Akherat.

Busurnya segera diselempangkan di dadanya.

"Ha ha ha.... Saudara Tidar hanya bisa memuji saja," kata Songko merendah, padahal kepalanya langsung menjadi besar.

"Kau hebat, Songko Ilmu panahmu sangat hebat. Tak sia-sia kau dijuluki Panah Iblis Dari Utara" puji Raja Akherat terbahak-bahak.

Rupanya Songko yang berjuluk Panah Iblis Dari Utara pandai menjilat. Ia tetap berkata dengan suara rendah, meskipun dadanya semakin membusung.

"Itu berkat petunjuk lama yang pernah kau berikan," kata Panah Iblis Dari Utara.

"Hak... hak.. hak.. . Tak sia-sia kau kuajak bergabung Sebagai sahabat lama, sudah tentu aku akan menjamu tamuku" seru Raja Akherat. "Pilihlah, gadis mana yang kau suka Lebih mengasyikkan bila empat orang sekaligus" Sepasang mata Songko langsung berkilat penuh birahi. Bibirnya tersenyum, namun lebih mirip seringai.

"Gairahku sejak tadi sudah muncul begitu melihat tiga orang gadis itu, Saudara Tidar Dapatkan aku memiliki mereka?" kata Songko.

Raja Akherat terbahak-bahak.

"Gadis mana pun juga dapat kau miliki Hei, kalian gadis-gadis ayu Layani tuanmu Songko, dengan permainan mengasyikkan dan tak dapat terlupakannya" ujar Raja Akherat terbahak-bahak lalu kembali menoleh pada Panah Iblis Dari Utara. "Kini mereka menjadi milikmu, Songko" 'Terima kasih." Songko bergerak menuju pintu diiringi tiga orang gadis yang sejak tadi bersimpuh di sana. Mereka hanya pasrah saja, tetap melangkah dengan kepala tertunduk.

Terbayang kembali, bagaimana mereka akan dipermainkan di atas ranjang nanti. Kalau saja mereka mempunyai kekuatan dan keberanian, sudah ditentangnya tirani yang menyakitkan ini Tetapi tepat ketika Songko rnencapai pintu "Hauummm..." Terdengar suara auman yang sangat keras, disusul berkelebatnya satu sosok jelita di atas punggung harimau besar.


***
"Sari" desis Andika dari atas pohon. "Mau apa gadis itu di sana?" Yang baru datang memang Sari yang menurut Prabu Adiwarman adalah putri Ki Wirayuda, Penguasa Harimau.

Sebenarnya, gadis itu belum mendengar kalau Kerajaan Pakuan s udah dikuasai orang-orang biadab. Ia baru saja turun gunung, tempat tinggal Ki Wirayuda ayahnya Gunung Widara memang cukup jauh dari ibukota kerajaan. Paling tidak, harus ditempuh dua minggu dengan berkuda. Itulah sebabnya, Sari tidak tahu kalau keraton sudah dikuasai Raja Akherat.

Sejak peristiwa tadi di Hutan Kaliamang, hati gadis itu kesal bukan main. Dia heran, mengapa orang-orang Kerajaan Pakuan mengurungnya? Bahkan bersikap tidak sopan. Malah ada yang sudah mengangkat senjatanya.

Dan ini amat menjengkelkannya.

Itulah sebabnya, Sari merasa harus mendatangi keraton. Dia ingin mencari tahu pada Prabu Adiwarman apa sebabnya diperlakukan demikian. Karena ia tahu, hubungan ayahnya dengan Prabu Adiwarman sangat dekat.

Bahkan sesekali ia suka bertandang ke keraton bersama ayahnya. Tapi sekarang? Sari sangat terkejut ketika melihat beberapa bagian dinding keraton telah hancur. Lebih terkejut lagi ketika melihat mayat tergeletak dengan sebatang panah menancap di jantung maising-masing.

Kening gadis ini pun berkerut, melihat beberapa sosok tubuh yang tidak dikenal. Bahkan sangat asing.

Wajah dan tatapan mereka mencerminkan suatu permusuhan. Tak seorang pun yang berada di sana dikenalinya. Biasanya, bila ia datang, beberapa pengawal yang mengenalnya akan menyapa dengan akrab. Bahkan langsung mengantarkan ke kaputren, tempat Putri Permata Delima sering bermain di sana. Lalu Putri Permata Delima yang memanggilkan ayahandanya, atau mengajaknya ke ruang berangin-angin Prabu Adiwarman.

Sari adalah seorang gadis yang cerdas. Seketika dia bisa berpikir cepat dan menduga, kalau ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di keraton ini. Seketika dia turun dari tunggangannya dengan lincah.

"Hhh Rupanya kalian orang baru di sini, ya?" tegur Sari dengan tatapan waspada.

"Ha ha ha..." Raja Akherat tertawa ngakak sekeras-kerasnya sambil berdiri, begitu melihat siapa yang muncul. Seorang gadis ayu berkulit kuning langsat. Kelihatannya, gadis itu sedikit nakal. Pasti binal bila berada di ranjang. Begitu, pikir Raja Akherat.

"Ha ha ha.... Selamat datang di keraton, Manis...." Meskipun heran melihat sambutan yang bernada membujuk, Sari tetap tenang.

"Aku ingin bertemu Prabu Adiwarman" kata gadis itu, ketus.

"Ha ha ha.... Silakan masuk kalau begitu. Beliau pasti sangat suka menerima kedatanganmu" "Kalau memang berada di dalam, mengapa kursinya kau duduki, Jelek?" sindir Sari.

Wajah Raja Akherat memerah. Birahinya semakin bergejolak. Dadanya bergetar hebat melihat mangsa yang menurutnya sangat empuk dan mengasyikkan.

"Ini kursi yang lama. Sedangkan Prabu memiliki yang baru. Jadi..." "Jadi..., kau manusia busuk yang menjilat, ha? Bahkan telah menghancurkan Kerajaan Pakuan?" cecar Sari yang kini sadar, mengapa sikap para pengawal keraton yang ditemuinya tadi kelihatan begitu tegang.

Semakin memerah wajah Raja Akherat. Semula gadis ini ingin dibujuk, biar mudah masuk dalam perangkapnya.

Tetapi sekarang, sikap gadis itu justru membuatnya marah.

Tetapi, amarahnya masih berusaha ditahan. Karena paling tidak, menurutnya akan lebih mengasyikkan bila gadis itu menyerahkan diri saja, dan mau menuruti seluruh kehendaknya.

"Manis.... Lebih baik kau ikut bergabung denganku Prabu Adiwarman sudah mampus dan entah di mana mayatnya sekarang Ketahuilah. Akulah orang yang menguasai Kerajaan Pakuan sekarang ini" "Phuih..." Sari membuang ludahnya ke tanah. Hatinya semakin yakin, kalau keadaan Kerajaan Pakuan memang berada di ambang kchancuran. Apakah ini ada hubungannya dengan sikap para pengawal di hutan sana? Sari pun yakin, kalau para pengawal tidak mcngenalnya. Mungkin, mereka lebih scring menjaga berkeliling, sehingga tidak mengenalnya.

"Cui ih Lebih baik kau minggat saja dari sini Tahta Kerajaan Pakuan tak pantas kau duduki" desis Sari.

Raja Akherat yang bernama asli Tidar ini hanya terbahak-bahak dengan suara nyaring.

"Aku menyukai gadis pemberani sepertimu" "Manusia tak tahu malu" bentak Sari.

"Ha... ha.. ha. . Baiklah.... Kita lihat sekarang, apakah kau memang patut disebut gadis pemberani?" Lalu tangannya menunjuk sepuluh pemuda desa yang dijadikan pengawal. "Tangkap gadis itu" Serentak para pemuda ini berlompatan mengurung Sari.

"Raja Pengecut Apakah kau tidak punya nyali untuk turun tangan menangkapku, hah?" bentak Sari.

"Ha... ha.. ha.. . Aku ingin melihat kepandaianmu, Manis. Bila memang kau bisa mengalahkan mereka, kau sudah lulus ujian pertama untuk menjadi pendampingku" leceh Tidar.

"Phuih" Sari membuang ludahnya lagi.

"Tangkap gadis itu" Bagaikan kerbau dicucuk hidungnya, atau mungkin karena rasa terpaksa. sepuluh pemuda itu segera mengangkat senjata dan menyerang Sari dengan gencar.

"Kalian pemuda-pemuda tidak punya nyali" dengus gadis itu sambil menghindari setiap serangan.

Tiba-tiba tubuh gadis itu berkelebat cepat bukan main. Tangan dan kakinya bergerak ke sana kemari, menghantam para pemuda itu.

Duk Des "Aaakh..." Dalam waktu yang singkat saja kesepuluh pemuda itu bergeletakan pingsan. Plok Plok Plok Melihat hal ini Raja Akherat malah bertepuk tangan.

"Bagus, bagus sekali" "Mengapa kau masih duduk di situ, ha?" bentak Sari.

"Raja Akherat Biar kubereskan gadis cerewet ini" Tiba-tiba terdengar suara keras dari mulut Panah Iblis Dari Utara. Begitu kata-katanya habis, tubuh Songko sudah melayang deras ke arah Sari. Memang dia tadi merasa terganggu. Karena sebelumnya sudah terbayang di benaknya kalau akan menikmati pemberian Raja Akherat yang memang telah membuatnya tidak sabar. Maka tak tanggung-tanggung, langsung dilancarkannya sebuah serangan berbahaya.

Tetapi mudah sekali Sari menghindar dengan mengegoskan tubuhnya ke kanan. Panah Iblis Dari Utara jadi terkejut. Sekali lagi serangannya diulangi. Tetapi tetap saja dia gagal menyentuh bagian-bagian tubuh Sari yang bisa meliuk-liuk indah.

"Hhh Rupanya kau hanya besar mulut saja" ejek Sari.

Songko semakin geram. Dalam hal ilmu tangan kosong, laki-laki bertampang tirus ini memang tidak terlalu tinggi menguasainya. Tetapi dalam ilmu memanah, hanya dialah yang paling tangguh Kembali Panah Iblis Dari Utara mencoba terus mendesak gadis itu. Namun demikian, lincah sekali Sari menghindar.

"Bosan aku dengan manusia busuk sepertimu, Belang Ajar adat manusia busuk itu" seru Sari.

Mendadak saja Sari bersalto ke depan, ke arah Raja Akherat. Sementara harimau besar yang sejak tadi diam saja sambil menatap.nyalang pada Songko, kini mengaum keras. Diterjangnya Panah Iblis Dari Utara dengan cakar dan taring-taringnya yang tajam.

Songko terkejut melihatnya. Tubuhnya cepat berkelit dan melepaskan satu tendangan. Wuuuttt..

Mengejutkan Karena, si Belang bagai mengerti kalau perutnya terancam tendangan. Mendadak saja tubuhnya bergerak merunduk, bagaikan sedang menghindari serangan. Lalu kaki kanan bagian depan mengibas. "Hei ittt" Songko mendengus kaget dan melompat.

"Gila Harimau siluman rupanya" Si Belang memang telah lama dilatih Ki Wirayuda, ayahnya Sari. Dan sejak kecil pula, harimau itu sudah menjadi teman bermain Sari. Secara naluri, Belang tahu kalau lawan akan menyerang dan bagaimana harus menghindar.

Sementara Sari yang meluncur ke arah Raja Akherat, sudah mencabut pedang di punggungnya. Dia yakin, laki-laki bertampang menyeramkan itulah yang menguasai orang-orang ini. Dan belum sampai Sari mengebutkan pedangnya, tangan Raja Akherat sudah terangkat ke atas sambil menghentak.

Wesss. .

Desss..

"Aaakh..." Sari mengeluh tertahan ketika merasakan dadanya bagai dihantam sebuah godam yang sangat kuat.

Tubuhnya terpental meluncur ke belakang, dan ambruk ke tanah.

Sari berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit.

Dan ketika baru saja berdiri.... "Hoekh..." Sari muntah darah.

"Ha... ha.. ha.. " Raja Akherat tertawa terbahak-bahak. "Lebih baik kau menurut saja apa yang kuinginkan, Manis? Daripada terluka...?' Tatapan Sari meruncing, penuh amarah bergejolak dalam dada.

"Cuih Biarpun aku sudah mati, tak sudi kuberikan mayatku kepadamu, Manusia Busuk" Raja Akherat memandang sambil tertawa lebar.

"Aku sangat suka dengan gadis pemberani sepertimu, Manis... Sangat suka. Tetapi, yakinlah. Aku akan mendapatkanmu sebentar lagi." Meskipun merasakan kesakitan, Sari tidak pedulikan.

Ia pantang menyerah dan tidak mengenal takut.

"Hiaaa..." Disertai teriakan keras, Sari menyerang lagi.

Tubuhnya meluruk, dengan pedang di tangan terhunus ke arah Raja Akherat yang terbahak-bahak. Begitu tubuh Sari sudah dekal, kembali Raja Akherat mengangkat tangan kanannya sambil menghentak.

Wesss. .

Serangkum angin serangan meluncur, mengancam Sari. Dan.... Des "Aaakh..." Tubuh Sari kembali terhuyung ke belakang disertai keluhan kesakitan.

begitu angin serangan menghantamnya.

"Hoekh..." Lagi-lagi Sari memuntahkan darah segar, walaupun tubuhnya belum ambruk.

Raja Akherat tertawa, melihat gadis itu masih terhuyung-huyung. Tanpa rasa kasihan sedikil pun, kembali tangannya terangkat dan dihentakkan. Lalu....

Wesss Sekali lagi sebuah hantaman tak terlihat meluncur.

mengancam keselamatan Sari. Namun sebelum serangan itu mencapai sasaran, tiba-tiba berkelebat satu sosok bayangan hijau yang langsung menyambar tubuh Sari, sehingga serangan itu luput dari sasaran.

Dua kali sosok itu berputaran di udara, lalu mendarat ringan sepuluh tombak dari Raja Akherat agak ke samping kanan."Masa' laki-laki bertampang monyet seperti itu, beraninya melawan seorang gadis?" leceh pemuda berbaju hijau muda yang menangkap tubuh Sari tadi.

Sementara itu Sari sudah duduk bersemadi, untuk mengembalikan tenaga dan memulihkan rasa sakit di dadanya.

Dan bila sejak tadi Raja Akherat hanya santai saja sambil terbahak-bahak, tetapi begitu melihat sosok pemuda berpakaian hijau, seketika dia langsung berdiri.

Seolah, ada kalajengking yang menyengat pantatnya. Tatapannya nyalang, ke arah pemuda yang tak lain Andika alias Pendekar Slebor.

"Keparat Berani benar kau mengantarkan nyawamu, hah?" bentak Tidar dengan napas mendengus-dengus.

"Keparat Berani benar kau mengantarkan muka monyetmu itu, hah?" Andika balas membentak meniru Raja Akherat. Sifat konyolnya mulai kumat lagi.

Raja Akherat sudah tidak bisa menguasai marahnya lagi.. "Kalau waktu itu aku gagal membunuhmu, sekarang kau harus mampus" Bertepatan dengan itu, kedua tangan Raja Akherat mengibas ke muka.

Wesss. .

Dua rangkum angin besar begitu deras menuju ke arah Pendekar Slebor.

Andika yang sudah menduga akan hal itu, cepat mengempos tubuhnya ke samping kanan. Dan angin besar itu terus meluncur, menghantam sebuah pohon yang tumbuh di sana.

Blarrr...

Krakkk...

Seketika pohon itu tumbang, dalam keadaan hangus.

"Wah, wah.... Ki Maja tak perlu cari arang jauh-jauh kalau mau bakar satenya. Bagaimana kalau kupinjam tanganmu untuk buat arang lagi?" ejek Andika, ketika melirik pohon yang jadi sasaran pukulan Raja Akherat.

Raja Akherat mendengus geram melihat kelakuan Pendekar Slebor.

Bukannya gentar melihat hasil pukulannya, pemuda itu malah melecehkannya.

"Dua Kembar Kepalan Batu Perlihatkan tekadmu untuk mengabdi kepadaku" desis Raja Akherat, tak ingin buang-buang tenaga.

Bersamaan dengan itu, Srigunda dan Srigartdi melesat ke depan. Beberapa kali mereka membuat putaran di udara, lalu hinggap tak jauh di depan Andika dengan tatapan dingin. "Wah, wah.... Aku jadi malu hati nih. karena rambutku gondrong" ejek Andika langsung.

Tetapi Dua Kembar Kepalan Batu sudah menyerang ganas. Kepalan tangan mereka benar-benar sekeras batu.

Karena begitu berkelebat dan memukul, terdengar angin keras menderu-deru.

"Hei ittt Hati-hati dengan kepala kalian Kalau kupegang, kan rasanya seperti memegang... he... he...

he...," kata Andika sambil melenting, dan berusaha men-jitak kepala Dua Kembar Kepalan Batu.

Begitu mendarat di tanah, Pendekar Slebor langsung berbalik. Tubuhnya meluruk ke arah dua manusia gundul itu disertai sambaran tangannya. Plak Plak Mantap sekali tepakan tangan Andika mendarat di kepala Srigunda dan Srigandi yang licin tandas. Kontan keduanya semakin marah. Saat itu juga mereka membalas serangan dengan lebih gencar. mengarah pada bagian-bagian tubuh Andika yang mematikan.

Pendekar Slebor terus menghindar dengan segala kelincahannya. Tapi bisa dirasakan, kalau tenaga kedua lawannya sangat kuat. Dan yang membuatnya sejak tadi harus berpikir, sikap Dua Kembar Kepalan Batu tak ubahnya bagaikan mayat hidup yang bisa dikendalikan.

Gerakan-gerakan mereka bukanlah gerakan lentur yang lincah, tetapi kaku penuh tenaga mematikan.

Lebih dahsyat lagi, Dua Kembar Kepalan Batu dapat menyerang seiring, dan terkadang pula bergantian dengan jurus sama.

Andika sendiri lama kelamaan harus berpikir pula.

Karena kedua lawannya tidak memberi kesempatan sedikit pun. Bahkan terus mencecarnya.

Pukulan, tangkisan, dan tendangan Pendekar Slebor sendiri tidak dirasakan kedua lawannya. Entah ajian apa yang dimiliki Dua Kembar Kepalan Batu. sehingga pukulan sekeras apa pun tak dirasakan.

Dua Kembar Kepalan Batu terus menyerang ganas dengan pukulan dan tendangan yang sangat cepat. Sementara Andika sendiri mulai mempergunakan kelincahannya, melangkah dari satu tempat ke tempat lain dengan ilmu warisan Pendekar Lembah Kutukan.

Mendadak saja tubuh Pendekar Slebor melangkah demikian cepat dari satu tempat ke tempat lain. Ketika Srigunda menyerang ke arah kepala, Pendekar Slebor merunduk. Tetapi Andika harus segera melompat, karena sambaran kaki Srigandi sudah menyambarnya.

Dan memang itulah yang ditunggu. Karena begitu kaki Srigandi menyambar, Andika langsung melompat ke arah Srigunda yang siap menyerang pula. Seketika Pendekar Slebor menghentakkan kedua tangannya dengan jurus 'Guntur Selaksa'.

Wesss. .

Srigunda terkejut ketika merasakan angin keras menderu ke arahnya. Dicobanya untuk memapak, tetapi lerlambat. Dan....

Desss..

Tubuh Srigunda terhuyung ke belakang. Pukulan Guntur Selaksa' yang dilepaskan Andika memang tepat mengenai dada. Tetapi, sedikit pun tak terdengar pekikan.

Seolah-olah dia tidak merasakan apa-apa.

Andika jadi heran melihatnya. Dan dia hanya bisa mendengus dalam hati.


***
Sementara saat ini, Belang masih terus menyerang Songko dengan ganasnya. Cakar dan taringnya yang tajam menjadi ancaman bagi Panah Iblis Dari Utara.

Songko sendiri hampir-hampir tak bisa percaya kalau harimau itu ternyata bisa menguasai jalannya pertarungan.

Memang secara naluri, harimau itu seperti telah biasa menghadapi sebuah pertarungan. Dan kini mendadak saja Songko melompat ke belakang, sambil melepas selempang busur panahnya. Sementara, Belang sedang bersiap-siap menerkam. Dengan cepat Songko mencabut lima buah anak panahnya, seraya memasang pada busur. Direntangkannya tali busur, dan anak panahnya siap meluncur.

Ajaib Kali ini Belang tidak segera menyerang. Na lurinya mengatakan, lawan kali ini sangat kejam. Songko sendiri yang menunggu diam-diam, merasa keheranan.

Mengapa harimau itu tidak menyerangnya juga? Lalu mendadak saja, Panah Iblis Dari Utara mele paskan anak panahnya yang meluncur deras ke arah Belang.

Set Set Belum juga anak-anak panah mencapai sasara mendadak melompat satu sosok bayangan menyongsong.

Trang Trang Trang Trang Trang Lima buah anak panah yang dilepaskan Songko berhasil ditepis sosok bayangan yang langsung berdiri di depan Panah Iblis Dari Utara. Sosok itu adalah Sari yang tenaganya sudah pulih.

"Belang Beristirahatlah Biar manusia ini bermain-main denganku" ujar Sari.

Begitu habis kata-katanya, Sari langsung menerjang ke arah Songko dengan kelebatan pedangnya. Pada saat Sari melihat pemuda yang menolongnya sedang bertarung melawan dua orang berkepala gundul, sejenak ia ingat.

Memang, pemuda itulah yang dijumpainya dua hari yang lalu di depan gua, di Hutan Kaliamang.

Songko di daerahnya dijuluki Panah Iblis Dari Utara.

Sehingga tak heran kalau dia begitu mudah melayani kibasan pedang dengan luncuran anak panahnya yang cepat bagai kilat. Sari sendiri pun harus menghentikan serangannya, kalau tidak ingin sepuluh anak panah itu mengenai salah satu bagian tubuhnya.

Mendapat kesempatan, dengan bertubi-lubi Songko terus melepaskan anak panahnya yang herjumlah sangat banyak. Sementara Sari pun terpaksa dengan kalang kabut menghindari sambil menangkis Pada satu kesempatan putri Ki Wirayuda itu melihat Songko mengambil sebuah anak panah yang diujungnya terdapat kain kecil seperti bantalan. Naluri gadis ini mengatakan kalau anak panah yang dilepaskan Panah Iblis Dari Utara sangat berbahaya.

Wuuuttt...

Maka ketika anak panah itu melesat, Sari tidak berani menangkisnya. Seketika tubuhnya melenting ke atas, sehingga luncuran anak panah lewat di bawah kakinya.

Duaaarrr Dugaan gadis itu ternyata benar. Begitu anak panah tadi menghantam dinding yang memagari halaman keraton, terdengar ledakan keras menggelegar. Dinding itu pun seketika hancur.

Sari menghela napas lega. Kalau saja tadi panah itu dipapaki. tentu bisa berakibat sangat parah. Bisa-bisa tubuhnya akan hancur berantakan termakan anak panah itu Sementara Belang yang melihat tuannya dalam bahaya, langsung menerjang dengan aumannya yang keras. Songko yang tak menduga jadi terkejut setengah mati. Apalagi, ia kalah cepat untuk memasang anak panahnya. Maka sebisanya tubuhnya menghindar ke kiri.

Namun bertepatan dengan itu, Sari sudah melesat cepat sambil membabatkan pedangnya. Dan....

Cras "Aaakh..." Ujung pedang gadis ini menggores paha kanan Panah Iblis Dari Utara Laki-laki itu kontan menjerit tertahan.

Tampak darah telah merembes dari celananya.

"Belang Hajar dia dari belakang Jangan beri kesempatan dia mempergunakan panah" ujar Sari, berteriak.

Seperti mengerti yang diperintah tuannya. si Belang pun melompat menerkam. Dan Songko pun harus mati-matian menyelamatkan selembar nyawanya.


***
Sementara itu, Nyai Surti alias si Kayu Seribu Laksa sudah tidak sabar melibat Srigandi dan Srigunda belum juga mampu menjatuhkan Pendekar Slebor. Dalam pandangannya yang sudah berwarna kelabu, bisa terlihat kalau dada bagian dalam Srigunda sudah remuk.

Perempuan tua itu memang tahu, Dua Kembar Kepalan Batu memiliki ajian yang dinamakan 'Mati Rasa'. Tetapi ia juga tahu, kalau Srigunda tidak akan mampu lagi bertahan lebih lama Ajian 'Mati Rasa' memang sangat mengerikan sebenarnya bagi pemiliknya. Karena, si pemilik tidak akan bisa mengetahui, bagian mana yang telah terluka. Baik di luar maupun di dalam tubuhnya.

"Hiaaa.." Disertai teriakan membahana. Nyai Surti melesat ke arah Pendekar Slebor dengan ayunan kayunya yang cepat, menimbulkan suara mendesir-desir.

Andika yang sedang mencecar Srigunda. terpaksa harus menarik serangannya. Ayunan tongkat kayu Nyai Surti harus dihindarinya, kalau tak mau tubuhnya hancur.

"Wah, wah... Rupanya nenek peot macam kau ini genit juga, ya? Tetapi, maaf, Aku tak sudi disentuh tanganmu yang keriput" seloroh Pendekar Slebor, langsung bersal o ke belakang.

"Nama Pendekar Slebor. telah sampai ke telingaku ini" kata si Kayu Seribu Laksa garang. "Aku ingin tahu kehebatannya" Begitu gema suaranya hilang, pcrempuan tua itu kembali berkelebat dengan sabetan tongkatnya yang dahsyat.

Sementara Sari yang sedang menyerang Songko, mendengar kata-kata nenek berkonde emas tadi. Dan diam-diam gadis ini terkejut.

Pendekar Slebor? Oh Pemuda inikah yang sering dibicarakan ayahnya? Diakah tokoh pendekar yang selalu membela kebenaran? Sungguh, seringkali Sari mendengar cerita tentang Pendekar Slebor dari ayahnya Namun yang tak pernah disangka, ternyata Pendekar Slebor seorang pemuda konyol yang dijumpainya di depan gua sana. Dan tadi, pendekar itu telah menolongnya "Kehebatannya atau kegantengannya? Kau pura-pura ya, Peot" ejek Andika pula sambil tertawa. "Tetapi, maaf Aku tak sudi disentuh tanganmu Kambing yang sudah diberi obat perangsang pun enggan membiarkan tubuhnya kau sentuh" Si Kayu Seribu Laksa semakin geram mendengar ejekan-ejekan Pendekar Slebor terasa pedas di telinga.

Maka begitu tubuhnya melesat, tongkat kayunya langsung diputar-putar dengan gerakan dahsyat. Begitu cepatnya, membuat tongkat itu berubah menjadi seribu.

Kini giliran Andika sendiri yang sekarang kalang kabut. Bahkan Srigandi dan Srigunda telah menyerang pula. "Gawat, aku bisa mampus" desis Pendekar Slebor, seraya melirik Raja Akherat yang kelihatan geram bukan main.Andika terus mempergunakan kelincahannya dalam menghindar. Tetapi semakin lama terasa kalau ruang geraknya semakin tertutup. Dan mendadak saja Pendekar Slebor melompat ke belakang, sambil mencari kainnya yang bercorak catur. Begitu kain tertarik, langsung dikebutkannya ke depan.

Bet Bet Bet Terdengar suara meledak-ledak yang kuat sekali. Dari sini para tokoh sesat itu yakin, kalau kain yang dipergunakan Pendekar Slebor bukanlah kain sembarangan. Maka dengan serentak mereka menarik serangan.

Mendapat kesempatan, Andika balas menyerang.

Nyai Surti dan Srigandi bisa melihat kalau sasaran yang dituju Andika adalah Srigunda. Maka sebisanya keduanya merapat untuk membela Srigunda yang kewalahan menghadapi serangan kain catur milik Pendekar Slebor.

"Kenapa jadi rapat begitu, ya? He he he.... Rupanya si Gundul ini masih bernafsu juga denganmu, Nenek Peot" ledek Andika sambil terus mencecar. "Atau..., kau yang memang genit, hah?" Semakin marah si Kayu Seribu Laksa. Maka kembali dia menerjang dengan sambaran tongkatnya. Dan sekali-kali dia berusaha menghalangi serangan Pendekar Slebor pada Srigunda.

Dengan senjata kain itu, Andika sedikit banyaknya bisa menguasai pertarungan sekarang. Karena, Nyai Surti malah jadi repot sendiri. Di samping menyerang dan membela diri, perempuan tua ini juga harus membela nyawa Srigunda.

"Kayu Seribu Laksa Biar aku yang menjaga Kakang Srigunda" terdengar suara Srigandi untuk pertama kalinya.

Suaranya cempreng tidak sesuai tubuhnya yang kasar.

"Ha... ha.. ha. ." Andika sampai terbahak-bahak.

"Kau lebih pantas menjadi sinden, Gundul" ejek Pendekar Slebor.

Tar Blarrr...

Berkali-kali dua senjata pusaka itu beradu, menimbulkan suara ledakan keras. Kayu di tangan si Kayu Seribu Laksa membabi-buta menyerang. Sementara kain pusaka milik Andika berkali-kali melilir dan mencoba menariknya.

Tetapi dengan kelenturan tenaga dalam yang dimiliki.

perempuan tua itu berhasil menarik pulang senjatanya.

Memang patut diakui. kalau wanita setua Surti memUiki kepandaian sangat tinggi.

"Chiaaa..." Dan mendadak saja si Kayu Seribu Laksa memekik keras, sambil melejit telah siap dengan jurus 'Kayu Me-mangsa Anjing'. Gebukan tongkat kayunya lebih dahsyat.

Andika dapat merasakan kalau lawannya kini telah melipat gandakan tenaga dalamnya.

"Uts.. " Andika cepat bergerak demikian cepat menghindari serangan si Kayu Seribu Laksa. Tubuhnya melompat kesamping dan langsung bergulingan. Namun begitu bangkit berdiri. Raja Akherat diam-diam sudah menghentakkan tangannya melepas pukulan jarak jauh.

Wesss. .

Desss..

"Aaakh..." Andika kontan terlempar beberapa tombak ke belakang begitu pukulan jarak jauh Raja Akherat mendarat di punggungnya.

"Aku bosan melihat kalian masih bermain-main perti itu" geram Raja Akherat seraya melesat kearah Pendekar Slebor yang berusaha bangun.

Pendekar Slebor merasakan dadanya sakit luar biasa.

Meskipun begitu, bukan Andika kalau tidak mengejek.

"Rupanya gelar Raja Akherat tidak pantas untukmu Kau lebih pantas menyandang gelar Raja Pengecut yang doyan kentut Heaaai ittt" Andika melompat ke samping menghindari terjangan Raja Akherat yang cepat dan dahsyat Sementa Srigandi tampak tengah mengalirkan tenaga dalam pada kakak kembarnya. Dia yakin, dada bagian dalam Srigunda terluka parah. Sedangkan si Kayu Seribu Laksa kelihatan masih sangat penasaran. Namun diakui. kalau kepandaian Pendekar Slebor pun sangat tinggi.

Kini tampak Raja Akherat sedang mendesak Pendekar Slebor. Kalau tadi Andika berada di atas angin, kini nampak jelas sekali terdesak. Yang membuat Pen dekar Slebor terkejut, kain pusakanya ternyata tida mempan ketika mengenai tubuh Raja Akherat.

"Carilah bagian yang empuk dari tubuhku... Ha-ha., ha... Kain gombal semacam itu lebih pantas dipergunakan untuk mengelap pantatku" ejek Tidar.

"Ya. ya... Nanti akan kulakukan untuk menyumpal mulutmu yang bau petai"balas Andika tak kalah sengit.

Raja Akherat terus mendesak dengan cepat. seperti tidak ingin memberi kesempatan pada Pendekar Slebor lagi. "Heaaah..." Namun mendadak saja Andika melompat cepat ke kanan dan kiri.

Kain pusakanya disampirkan kembali ke punggung.

Lalu, diterjangnya Raja Akherat.

Raja Akherattampak terkejut melihat serangan tak terduga. Bisa dirasakan betapa tenaga dalam pemuda lawannya menjadi berlipat ganda. Bahkan pukulan-pukulan yang dilakukan menimbulkan suara yang keras sekali.

"Bangsat Kau harus kukubur hari ini juga" geram Raja Akherat.

"Atau kau yang sudah tidak sabar?Ha ha ha.... Aku masih akan berbaik hati untuk menggali kuburanmu" sahut Andika.

Sementara, saat ini Panah Iblis Dari Utara dalam keadaan terdesak hebat. Diserang dari dua penjuru oleh si Belang dan Sari, membuatnya kewalahan. Sedikit pun ia tidak diberi kesempatan untuk mempergunakan senjata.

Bahkan di beberapa bagian tubuhnya, sudah tampak luka berdarah, terkena cakaran si Belang dan pedang Sari.

Melihat hal itu, si Kayu Seribu Laksa segera membantu. Langsung diterjangnya Sari yang tengah mencecar Songko Trak Ayunan pedang Sari terhalang ayunan kayu Nyai Surti.

Dan gadis ini merasakan tangannya sedikit bergetar.

Dalam sekali bentrok saja sudah terlihat kalau tenaga dalam gadis itu jauh berada di bawah tenaga dalam Nyai Surti.

"Mampuslah kau" teriaksi Kayu Seribu Laksa terus menyerang.

Sebisanya Sari menahan serangan-serangan. Sctiap kali kayu di tangan perempuan tua ini berkelebat, terdengar suara angin yang keras sekali.

Sedangkan Songko yang kini hanya diserang si Belang bisa mengambil kesempatan untuk mencabut anak panahnya. Dan laki-laki ini pun bersiap memusnahkan hewan ganas yang terus-menerus menyerang.

"Belang Pergi dari sini Pergi" seru Sari yang melihat gelagat tidak menguntungkan terhadap peliharaannya.

Sekali lagi, seperti mengerti akan bahaya yang mengancam. si Belang melompat meninggalkan tempat itu.

Sementara Songko tampaknya tak sempat untuk melepas anak panahnya. Dan Belang dengan leluasa terus melarikan diri.

Pada saat berteriak tadi. perhatian Sari jadi terpecah.

Hingga tanpa disadari serangan Nyai Surti telah meluncur ganas. Akibatnya....

Duk "Aaakh..." Sari melenguh tertahan ketika kakinya terhantam kayu si Kayu Seribu Laksa. Tubuhnya kontan sempoyongan kehilangan keseimbangan.

Melihat gadis itu sudah tidak bisa menguasai tubuhnya lagi, si Kayu Seribu Laksa menyerang dengan ayunan kayu ke kepala yang agaknya tak dapat menghindari lagi.

"Hhh Mau ke mana lagi kau, hah?" bentak Nyai Surti sambil menerjang. "Tak ada kesempatan bagimu sekarang untuk menghindar, Gadis Binal?" 
***
7
Dalam keadaan kewalahan, Pendekar Slebor masih tampak melihat kalau Sari tengah dalam bahaya.

"Heaaa..." Dengan gcrakan dahsyat, Andika menghentakkan tangannya dua kali melepaskan pukulan jarak jauh pada dua tubuh Raja Akherat.

Werrr...

Werrr...

"Uts" Tepat ketika Raja Akherat menghindar, Pendekar Slebor berkelebat cepat bagai kilat ke arah Nyai Surti yang sedang meluruk dengan hantaman tongkat kayunya. Begitu cepat gerakan Andika, sehingga....

Des "Aaakh..." Tubuh si Kayu Seribu Laksa terhuyung ke samping terkena pukulan Andika disertai keluhan tertahan. Lalu dengan cepat Andika menyambar tubuh Sari, dan melarikan diri dari tempat ini disertai ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi. Begitu cepat gerakan yang dilakukan Pendekar Slebor. sehingga tak seorang pun yang sempat menyadarinya.

Raja Akherat menggeram marah, melihat lawannya telah hilang melarikan diri.

"Cari kedua manusia itu Hidup atau mati" Serentak si Kayu Seribu Laksa dan Songko, melesat mengejar. Nyai Surti geram bukan main karena tadi terkena pukulan Pendekar Slebor. Sambil berlari, tenaga dalamnya dialirkan ke bagian tubuh yang terhantam.

Sementara Raja Akherat kembali mengamuk ganas melihat musuhnya bisa melarikan diri dengan cara tak terduga. Tangannya tiba-tiba berkelebat ke depan.

Wesss Des Des "Aaa..." "Aaa..." Seketika sepuluh pemuda desa yang jadi pengawalnya, beterbangan terhantam pukulan jarak jauh Raj Akherat yang dahsyat. Ketika jatuh di tanah semu sudah menjadi mayat Di pinggiran Hutan Kaliamang yang sepi dan h nyaknya pepohonan, Andika menghentikan larinya.

pundaknya tampak tubuh Sari yang sejak tadi meronta ronta minta dilepaskan. Lama kelamaan Andika menjadi jengkel juga. Dilontarkannya tubuh gadis itu begit saja hingga terhempas ke tanah.

"Keterlaluan Apakah kau sudah bosan hidup, hah?" dengus Andika mangkel.

"Biar saja Daripada seperti kau yang pengecut begitu?" balas Sari juga jengkel.

Andika melotot.

"Aku masih mau hidup, Nona Apa kau tak sayang dengan wajahmu yang bakal dielus-elus tangan Raj Akherat?" "Mau mati. kek Mau hidup, kek Bukan urusanmu Tetapi yang baru kutahu, ternyata kau pengecut Hhh Nama besar Pendekar Slebor telah kudengar sejak lama.

Tetapi kenyataannya sekarang ini, kau tak lebih dari pendekar pengecut belaka" "Heran? Gadis cantik sepertimu tak mau-maunya sama Raja Akherat?" "Hei Siapa yang mau sama dia? Aku kan mengobrak-abrik mereka?" "Iya... Tapi aku masih bisa mempergunakan otakku.

Mundur dulu, baru nanti akan menyerang kembali" "Ah Dasar pengecut" Andika kini melotot.

"Kalau kau masih penasaran, kembali saja ke sana Lawan mereka. Biar tubuhmu dirancah oleh mereka di atas ranjang" kata Andika.

Meskipun membenarkan yang dikatakan Andika kalau mereka tak akan mampu mengalahkan orang-orang itu, tetapi Sari masih tidak peduli. Ia sebenarnya malu kalau sejak tadi marah-marah, kini berubah menjadi lembek.

"Biar saja Toh, ini nyawaku sendiri" cibir gadis itu.

"Siapa bilang nyawaku, hah?" "Dan tak ada urusannya denganmu, bukan?" Andika mendengus.

"Hhh Kalau saja Prabu Adiwarman tidak mengatakan kalau dia mengenalmu dan ayahmu Ki Wirayuda, sudah kubiarkan tubuhmu digerayangi di sana" Kali ini Sari terdiam.

"Di mana Prabu dan Putri Permata Delima berada?" tanya gadis ini.

"Kau sudah tahu tempatnya" sentak Pendekar Slebor.

"Jangan main-main" bentak Sari. "Sikapmu yang norak waktu berada di depan gua di dalam Hutan Kaliamang sana, mcmbuatmu tidak tahu kalau Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima berada di sana" terjang Andika, ceplas-ceplos.

Kini Sari yang menghentakkan kakinya.

"Ajak aku ke sana" sentak gadis ini.

"Aku memang ingin ke sana'Tetapi, berjalan bersama gadis galak sepertimu... huh Aku tak sudi, ya?" "Sok" sembur Sari.

"Aku memang sok" sahut Andika kalem.

"Sok kecakepan" "Aku memang cakep" Sebelum Sari sempat mengumbar kekesalannya....

"Hauuummmm..." Mendadak terdengar suara auman yang keras, lalu disusul berkelebat hewan berkaki empat dari balik semak.

"Belang" seru Sari gembira, tangannya langsung membuka. Dipeluknya binatang peliharaannya itu, lalu diusap-usapnya dengan lembut.

Belang tahu kalau tuannya amat menyayanginya.

Lidahnya langsung menjilat-jilat wajah Sari.

"Oh Kau gembira ya, bertemu denganku? Aku juga, Belang...," desah Sari.

Justru Andika yang bergidik melihatnya.

Tiba-tiba Sari menoleh pada Andika.

"Belang Ada seorang pemuda sok cakep yang kerjanya mengganggu orang saja. Kalau kau sayang padaku, berbuatlah sesuatu untuk menyenangkan hatiku, ya?" kata Sari, tanpa disangka-sangka.

Andika tahu kalau dirinyalah yang dimaksud Sari.

Seketika wajahnya menjadi pias. Bukannya takut terhadap harimau itu, tapi Andika khawalir kalau nanti akan melukai binatang kesayangan gadis ini. Padahal ia tahu, gadis itu berada di golongan yang sama dengannya.

"Eit Jangan, jangan kau perintahkan dia" ujar Pendekar Slebor sambil melompat mundur dan menggoyang-goyangkan kedua tangannya.

Sari berdiri dan berkacak pinggang.

"Kau takut?" ejek Sari.

Andika meluruskan tubuhnya.

"Aku bukan takut. Cuma.... Ya, geli saja," kata Pendekar Slebor, sombong.

"Brengsek Memangnya si Belang menjijikkan" seru Sari sewot.

"Oh, bukan Bukan.... Dia..., dia tampan sekali." kata Andika berusaha meyakinkan.

"Aku tidak percaya kau bicara seperti itu" "Kalau kau tuli, pasti tidak akan bisa mendengarnya.

Apalagi mempercayainya.' Sari semakin sewot. Tangannya menepuk punggung si Belang.

"Hajar pemuda konyol itu" Serentak si Belang menerjang ganas. Namun Andika langsung melompat ke atas. Dan hanya sekali lorn-pat saja, tubuhnya sudah hinggap di sebuah dahan po-hon.

Tetapi Andika lupa, kalau si Belang dapat memanjat.

Begitu binatang itu memanjat, Pendekar Slebor segera melompat turun. Si Belang pun turun dengan kedua kaki depan mengarah padanya. Cakar-cakarnya membuka, siap mencabik-cabik tubuh Pendekar Slebor.

"Sari... Hentikan dia Hentikan Nanti dia bisa mati kubunuh" "Sombong Buktikan saja" sahut Sari.

"Oh, jangan... jangan...." Sari terbahak-bahak.

Di samping senang mempermainkan, hatinya juga gcli melihat sikap pemuda yang rada konyol ini. Dibiarkan saja si Belang melompat menerkam ke arah Andika.

Andika sendiri merasa bingung. Kalau si Belang berhasil menyergapnya, kan tidak luc u.

Kalaupun diserangnya, binatang itu milik Sari. Maka lebih baik Andika menghindar saja.

Wuuut Tubuh Pendekar Slebor pun seketika berkelebat cepat."Hoooi, Pengecut Mau ke mana kau?" ejek Sari sambil memberi isyarat pada si Belang untuk tidak usah mengejar.

Lalu dengan sigapnya.

gadis ini melompat kepunggung si Belang.

"Ayo, Belang Kita susul pemuda konyol itu Ia pasti pergi menemui Prabu Adiwarman dan Putri Perma Delima" Tubuh si Belang pun berkelebat cepat. Sari harus membungkukkan tubuhnya, sejajar punggung si Belang Selang beberapa lama, munc ul dua sosok tubuh.

Yang satu seorang wanita tua, dan yangsatu lagi seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun. Keduanya tak lain dari Nyai Surti dan Songko yang menerima perintah untuk mengejar Pendekar Slebor dan Sari.

"Hhh Ke mana kedua manusia itu harus dicari?"' omel Nyai Surli sambil mendengus.

Songko pun berbuat yang sama.

"Lebih baik kita kembali saja Peduli setan T idar akan marah Aku belum merasakan nikmatnya tubuh keliga gadis itu" seru Panah Iblis Dari Utara jengkel.

"Kau belum tahu kalau dia marah? Bila kita sudah menyetujui rencana dan bergabung dengannya, maka akan sulit untuk keluar dari tangannya Lebih baik kita cari saja kedua manusia itu" Sambil menggerutu jengkel, Songko pun mengikuti Nyai Surti yang sudah berlari.


***
8
Senja semakin menurun. Matahari mulai menurunkan kegarangannya. Daerah di sekitar gua di dalam Hutan Kaliamang tetap sunyi. Hanya pepohonan tinggi saja yang mendesir-desir ketika dihembus tiupan angin.

Satu sosok tubuh tiba di sana. Dua orang pengawal Kerajaan Pakuan yang menjaga di depan gua itu segera mengenali, siapa yang datang.

"Tuah Pendekar...." "Di mana Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima?" tanya Andika sambil mengatur napas.

"Di dalam." "Danji?" "Sedang memetik buah-buahan di hutan." Andika segera masuk ke dalam gua. Di dalam gua, ada dua buah penerangan yang menerangi. Andika melihat Prabu Adiwarman sedang termenung. Sementara, Putri Permata Delima langsung bangkit begitu melihat kemunculannya.

"Tuan Putri...," sebut Andika seraya menjura.

"Bagaimana keadaan keraton, Andika?" tanya Putri Permata Delima.

"Kacau. Kacau sekali" kata Andika, seraya duduk di depan gadis itu.

Prabu Adiwarman mendesah panjang, lalu mengangkat kepalanya.

"Bagaimana maksudmu?" tanya laki-laki setengah baya ini.

"Raja Akherat bertindak sewenang-wenang. Ia telah mempunyai pengikut-pengikut. Prabu..., apakah utusan ke Kerajaan Labuan sudah tiba?" Prabu Adiwarman menggeleng lemah.

"Bila menurut perhitungan waktu, seharusnya sudah kembali. Karena, jarak yang ditempuh paling tidak tiga hari berkuda. Satu hari beristirahat, dan tiga hari kembali lagi ke sini. Sedangkan mereka. sudah satu minggu pergi...," jelas Prabu Adiwarman.

Andika terdiam beberapa saat seperti berpikir.

"Prabu Yang Mulia..., adakah jalan rahasia untuk masuk ke keraton?" Prabu Adiwarman mengangguk cepat.

"Ya Ada dua jalan untuk masuk ke sana. Pertama, melalui lubang bawah tanah yang terdapat di kamarku, dan keluar hingga pintu samping keraton," papar laki-laki setengah baya ini.

"Yang kedua?" "Berada sepuluh meter dari dinding halaman keraton sebelah barat." "Di mana berakhirnya?" "Jalan rahasia itu berakhir di istal kuda." "Hmmm.... Sambil menunggu kedatangan utusan ke Kerajaan Labuan, hamba akan mencoba menyelinap kembali ke sana. Meskipun hamba tahu, kesaktian Raja Akherat sangat tinggi. Apakah ada tanda khus us untuk menemukan jalan rahasia yang tembus di istal kuda, Prabu?" "Ya Lubang itu tepat berada di antara dua buah pohon trembesi. Kau bisa merabanya. Maka, akan menemukan tangkai besi. Jalan rahasia itu Sudah jarang sekali dipakai. Mungkin sudah sangat berat untuk mengangkatnya." Andika manggut-manggut.

"Hamba akan mencobanya, Prabu...." "Andika..., bila melihat dirimu sekarang ini, apakah kau tadi bertarung melawan Raja Akherat?" tanya Putri Permata Delima sambil memperhatikan tubuh Andika yang kelihatan kotor dan berantakan.

Andika nyengir menahan malu. Namun diam-diam hatinya kagum dengan kejelian Putri Permata Delima.

"Tuan Putri benar.... Kesaktian Raja Akherat sangat tinggi. Jalan satu-satunya untuk melumpuhkannya harus diserang dari belakang. Meskipun ini kelihatan tidak jantan. Tetapi, untuk mengembalikan tahta keraton, kita memang telah siap menghalalkan segala cara" Belum habis kata-kata Pendekar Slebor....

"Hauuummm..." Mendadak saja terdengar auman harimau keras dari luar.

"Hhh Gadis ceriwis itu lagi" dengus Andika. Putri Permata Delima menatap Andika, penuh tanya.

"Apa kau bilang tadi, Andika?" tanya Putri Permat Delima.

"Oh, tidak Tidak.... Aku..., aku bilang.,., yang datang itu seorang gadis cantik...." Putri Permata Delima tersenyum geli seraya bangkit berdiri. Lalu kakinya melangkah keluar, karena dia yakin yang datang adalah Sari, sahabatnya. Kalau waktu itu ia tidak muncul menjumpai Sari, karena khawatir yang datang adalah orang-orang Raja Akherat.


***
"Sari i..." panggil Putri Permata Delima, begitu tiba di luar. "Permata" seru Sari sambil melompat. Langsung dirangkulnya Putri Permata Delima.

"Apa kabarmu, Sari?" tanya Putri Permata Delima akrab.Sikap Putri Permata Delima memang tidak mencerminkan seorang putri keraton. Meskipun saat ini berada jauh di luar keraton. namun tetaplah seorang gadis yang banyak dihormati dan disanjung rakyat.

Beberapa pengawal yang ada di sana saling berpandangan. Sebenarnya mereka telah lama mendengar kalau Putri Permata Delima mempunyai seorang sahabat yang selalu menunggang seekor harimau. Namun baru kali ini mereka melihatnya.

"Baik," sahut Sari pelan.

Sedikit banyaknya hati gadis ini terenyuh melihat keadaan Putri Permata Delima yang banyak dipuja. Namun kini, putri raja telah berada di hutan belantara yang menyeramkan. Namun, sikapnya sama saja. Baik di keraton maupun di luar keraton, Putri Permata Delima selalu bersikap baik. Bahkan selalu bisa bersikap di mana tempat.

"Hei? Mengapa sikapmu seperti itu, Sari?" tanya Putri Permata Delima. bisa melihat kalau Sari sangat menyesali keadaan ini.

Sari tersenyum.

"Tidak, tidak apa-apa. Aku..., hei Kau pemuda konyol Mau apa ke sini?" Tiba-tiba Sari membentak keras begitu melihat Andika muncul. Padahal sejak tadi ia sudah tidak tahan untuk bertanya tentang Andika berada? Tetapi perasaannya tidak enak pada Putri Permata Delima. Kini,kebetulan pemuda itu muncul.

Sementara Andika hanya nyengir saja.

"Kau sendiri mau apa di sini? Apa bukan ingin me-nemuiku, hah? Hayo..., bilang saja kalau kangen. Kau memang kangen padaku, kan?" goda Andika tertawa.

"Brengsek Berkaca dululah kau, hah" seru Sari sewot.Putri Permata Delima hanya tersenyum geli. Dia yakin kalau keduanya sudah saling mengenal. Tetapi tidak tahu, apa yang menyebabkan keduanya bertengkar seperti itu.

"Sudah, sudah... Ada apa ini?" tanya Putri Permata Delima, menengahi.

Sari menuding ke arah .Andika yang masih nyengir dengan mulut berbentuk kerucut.

"Manusia konyol itu kurang ajar, Putri" Putri Permata Delima menoleh pada Andika.

"Apa yang telah kau lakukan, Andika?" tanya Putri Permata Delima.

Andika membuka kedua tangannya.

"Tidak ada. Hanya.... menggendong dia saja...." sahut Andika, kalem.

"Kurang ajar" wajah Sari memerah. "Sebenarnya, aku tidak ingin menikmatinya, Putri.

Karena berat. Tetapi..., karena dia selalu bergerak-gerak...

ya, akhirnya terasa juga...." jelas Andika, membuat amarah Sari kontan bergolak.

Putri Permata Delima tertawa geli. Dia yakin sebenarnya hal itu tidak pcrnah terjadi. Tetapi karena sifat Andika yang memang rada konyol, maka hal seperti itu dikatakan.

"Ka...," dengus Sari gusar.

"Sudah, sudah... Kita sama-sama orang sendiri. Tidak perlu bertengkar... Sari, mari masuk.. ." .

Sebenarnya Sari masih mendongkol pada Andika.

Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Putri Permata Delima sudah membimbingnya masuk ke dalam gua.

Sementara Andika menjulurkan lidahnya.

"Kurang ajar" Hanya itu yang bisa digumamkan Sari. Sementara Belang yang sejak tadi menunggu perintah tuannya untuk menyerang Andika, perlahan-lahan merebahkan tubuhnya di tanah. Binatang itu menggeliat dan mengeluarkan suara auman pelan.

Andika tertawa.

"Heran... Kok ada ya gadis yang berangasan begitu...." Belum ada yang bisa menjawab, Danji muncul dengan membawa buah-buahan yang dipetik tadi di Hutan Kaliamang sebelah utara. Pada waktu menaiki sebuah pohon tadi, Danji melihat dua sosok tubuh yang tak dikenalinya berhenti di sana sambil celingukan.

Dan kejadian ilu segera diceritakan pada Andika.

Begitu diceritakan tentang ciri-cirinya, Pendekar Slebor sadar kalau mereka adalah si Kayu Seribu Laksa dan Songko. Kedua tokoh ini memang tengah mencari Andika dan Sari.

Andika hanya mengangguk-angguk. Jelas sekarang, kalau keadaan mereka di sini sudah tidak aman lagi.

Besok pagi kedua tokoh anak buah Raja Akherat itu pasti akan menjelajah dan tiba di sini. Maka Andika segera mengajak Danji masuk ke dalam gua.

Langsung diceritakannya tentang kejadian tadi pada Prabu Adiwarman. Sementara Sari memandangnya dengan sinis.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Andika?" tanya Prabu Adiwarman.Suara laki-laki ini terdengar tegar. Dan sikapnya tetap tenang. Meskipun jelas sekali di matanya suatu beban yang berat "Kita harus pindah dari sini, Prabu Malam ini juga," usul Pendekar Slebor.

"Ke mana kita harus pindah, Andika?" tanya Putri Permata Delima.

Andika menggaruk-garuk kepala, dia menoleh pada Danji."Apakah kau mempunyai tempat persembunyian yang lain, Danji?" Danji mendesah panjang.

Tempatnya agak mengerikan. Andika." "Maksudmu?" "Tempat itu bernama Jurang Setan. Jaraknya, dua waktu penanakan nasi dari sini. Letaknya memang tersembunyi. Jarang orang yang mendatangi tempat itu.

Tetapi ketika masih kecil, aku sering bermain di sana. Aku pun telah menemukan jalan masuk yang aman. Tetapi aku tidak tahu, apakah Jurang Setan sangat berbahaya atau tidak," jelas Danji.

'Tetapi, hanya itulah tempat yang aman sekarang ini.

Ayo, kita berangkat sekarang juga, sebelum malam datang," ajak Andika.

Bergegas Pendekar Slebor memberitahukan pada yang lain untuk bersiap-siap.


***
Malam telah merangkak perlahan-lahan. Rembulan di langit sana berusaha setengah mati menyingkirkan timbunan awan hitam yang menghalangi sinarnya. Berjuta bintang seakan lenyap dari pandangan.

Di bawah kegelapan, beberapa sosok tubuh tampak herjalan beriring-iring mcnuju ke satu tempat. Suara nyanyian binatang malam mengiringi setiap langkah rombongan yang tak lain dari Pendekar Slebor. Sari, Danji, Putri Permata Delima, dan Prabu Adiwarman, beserta para pengawal.

"Masih jauhkah tempatnya, Danji?" tanya Andika yang melangkah di sisi Danji.

Di belakang berlurut-turut tampak Prabu Adiwarman yang menunggang si Belang, Sari yang berjalan ber-iring dengan Putri Permata Delima, dan sepuluh orang pengawal.

"Kita sudah sampai," sahut Danji, melegakan Andika.

Danji mengheritikan langkahnya di kuti Pendekar Slebor. Tangannya menunjuk ke bawah. Nampaklah lubang lebar yang menganga daiam. Dari atas tak terlihat apa-apa karena keadaannya gelap.

"Inikah yang kau sebut sebagai J urang Setan?" tanya Andika.

"Benar, Andika," sahut Danji singkat. "Jalan manakah yang harus kita lalui untuk tiba di bawah?" tanya Andika lagi. "Ayo Ikut aku" Danji melangkah kembali, menuju ke sebuah balu besar. Ia berhenti di dekat batu itu.

Di bawah batu ini ada sebuah lubang yang cukup besar, dengan undakan-undakan untuk tiba di dasar Jurang Setan," jelas Danji.

Andika merasa heran melihat batu yang besar itu.

Sejenak diperhatikannya Danji dengan seksama. Menurut Danji, semasa kecil ia menemukan jalan rahasia itu. Tetapi, bagaimana mungkin batu besar itu bisa dige-sernya.

"Jangan heran, Andika," tukas Danji seperti mengerti tatapan Andika. "Dulu belum ada batu besar ini menutupi lubang ini. Di sini tumbuh pohon-pohon merambat. Tetapi, lima belas tahun yang lalu, terjadi gempa bumi kecil, yang menyebabkan batu ini berguling dari gunung, hingga menutupi jalan rahasia. Berkali-kali aku mencoba untuk menggesernya, tetapi sekali pun tak mampu." Andika kini mengerti.

"Minggirlah.... Aku akan mencoba menggesernya," ujar Andika.

Dengan tenaga dalam tingkat tinggi, Andika berhasil menggeser batu itu. Lalu diperintahkannya para pengawal keraton untuk membakar obor yang sejak tadi belum dinyalakan. Andika mengambil obor itu dan menyorotkan ke lubang.

Apa yang dikatakan Danji memang benar. Di bawah sana memang terdapat undakan-undakan, juga tumbuhan merambat.

Andika segera memimpin rombongan untuk turun.

Matanya waspada setiap kali kakinya menginjak setiap undakan. Bau tanah lembah menerpa hidung. Tidak sedap, dan membuat napas sedikit sesak.

Bentuk tanah itu miring, sehingga memudahkan mereka untuk menitinya. Cukup banyak juga undakan yang dipijak, hingga kemudian menembus ke satu lubang besar.

Andika mengangkat tangannya.

"Kalian semuanya tetap di sini.... Aku akan memeriksa dulu sekitar dasar Jurang Setan...," ujar Pendekar Slebor.Lalu dengan mata waspada dan kesiagaan penuh, Andika menjelajahi sekitar dasar Jurang Setan. Banyak batu cadas di sana. Tumbuhan merambat dan beberapa hewan kecil yang tak berbahaya. Andika juga melihat sebuah lubang besar yang cukup untuk menetap tiga puluh orang.Sebentar saja Pendekar Slebor sudah kembali pada yang lainnya.

"Aman.... Ayo jalan....

Satu persatu mereka menginjakkan kaki di dasar jurang. Hingga akhirnya mereka pun berada di dasar Jurang Setan. "Ah... Lega rasanya... " desah Andika sambil men-dongak ke atas.

Karena rembulan harus terhalang awan hitam, jadi tak terlihat apa-apa di atas. Hanya bedanya, di sekitar sana udara lebih segar dibandingkan di dalam tanah tadi.

Danji memperhatikan sekitarnya. Tidak banyak perubahan yang terjadi di Jurang Setan. Tetap seperti dulu, sunyi dan menyeramkan. Ketika ditinggal mati oleh ayahnya, Danji selalu berdiam diri di sini. Begitu pula ketika ditinggal mati ibunya. Ia selalu merenung disini, menyesali kesendiriannya. Tetapi semenjak batu besar menutup jalan rahasia menuju Jurang Setan, pemuda ini pun tidak bisa lagi bermain-main di sana. Namun hal itu membuat kesadarannya tumbuh, kalau harus berjuang melawan nasib. Bukannya merenungi nasibnya Prabu Adiwarman mendesah pendek sambil turun dari bahu si Belang.

"Mungkin, kita akan aman di sini.... Tetapi, bagaimana bila utusan kita kembali dari Kerajaan Labuan?" Andika tersenyum.

"Prabu tidak perlu kuatir.... Aku akan mencari tahu tentang mereka juga. Di samping keinginanku untuk menyusup masuk ke Keraton Pakuan.

Tetapi Andika. Rasanya itu sangat berbahaya...," kata Danji yang belum tahu rencana Andika.

Andika nyengir.

"Apakah kita akan membiarkan saja Kerajaan Pakuan dipimpin seorang begundal kejam? Tidak Biarpun harus berkalang tanah, kita tetap mengambil alih kekuasaan mereka" Tak ada yang bers uara. Justru diam-diam Sari menarik napas pendek. Gadis ini suka sekali mendengar kata-kata Pendekar Slebor. Pendekar tampan yang sebenarnya diam-diam telah mcmikat hatinya. Namun sudah tentu tidak ingin diperlihatkannya.

Sebenarnya, Sari sangat senang ketika Andika membopongnya tadi. Hanya saja, hatinya malu sehingga yang keluar dari mulutnya kata-kata makian.

"Prabu Adiwarman.... Hamba pun akan membantu Kakang Andika...," kala Sari.

"He he he .. Nanti kau cerewet lagi?" goda Andika.

"Biar saja Apa sih, pedulimu?" sergah Sari, sewot. "Tuh, kan? Belum apa-apa saja sudah galak? Tetapi, tidak apa-apa. Lcbih baik ditemani gadis cantik sepertimu, daripada ditemani harimaumu yang menyeramkan itu....' Kali ini terdengar tawa dari dasar Jurang Setan mendengar selorohau Pendekar Slebor. Semenlara Sari hanya menundukkan kepala malu-raalu.

"Kang, Danji....' Danji tersentak ketika mendengar suara panggilan dari belakang. Buru-buru dia menoleh. Ternyata yang datang kekasihnya.

"Oh, kau belum tidur?" tanya Danji.

Putri Permata Delima menggelengkan kepala.

"Aku tidak bisa tidur, Kakang.... Aku ingin berada di dekatmu...." "Tetapi...." Danji celingukan.

"Ayahanda sudah tidur," potong gadis itu.

Pemuda itu menghela napas pendek. Lalu dibiarkannya Putri Permata Delima duduk di sisinya. Cukup lama pemuda itu menunggu saat-saat scperti ini.

Begitu pula yang dirasakan Putri Permata Delima.

Makanya, begitu duduk di sisi Danji, gadis ini langsung merebahkan kepala di dada kekasihnya. Sementara Danji merangkulnya dengan mesra. Sayangnya. rembulan di atas yang seharusnya menjadi saksi terhalang awan. Namun biasnya bisa dirasakan dihati masing-masing.

"Kang Danji.... Akankah keadaan seperti ini terus berlangsung?" tanya Putri Permata Delima, menengadah.

Danji bisa mencium bau wangi yang mcnguar dari tubuh yang lembut itu. Juga bisa dirasakan kemesraan yang terpancar dari sepasang mata yang jernih itu.

"Aku tidak tahu, Permata. Tetapi yang kuharapkan, keadaan ini tidak akan berlangsung lama...," sahut Danji, lirih. "Aku pun demikian. Meskipun.... ah Sebenarnya. aku sedikit senang." "Senang?" "Ya.

Aku senang, karena..., dengan gagalnya sayembara 'Mungut Mantu'. aku tetap akan bersamamu, Kang Danji....

Ketahuilah, Kakang....

Aku amat mencintaimu...." Danji tahu dan yakin soal itu. Ia pun tidak menyalahkan, bila Putri Permata Delima mengatakan senang dengan kejadian ini. Karena, sayembara 'Mungut Man-tu' menjadi gagal. Namun Danji pun yakin, di lubuk hati Putri Permata Delima tersimpan sebaris kekecewaan, kemarahan. kesedihan. karena keraton dikuasai tokoh sesat.Danji langsungmerangkul kekasihnya lebih lembut.

"Permata.... Kita akan bersatu padu untuk bertahan dari orang-orang sesat itu," tandas Danji.

Putri Permata Delima tersenyum. Matanya redup.

"Kang Danji...." Mendengar kata-kata itu, hati Danji bergetar. Apalagi mata redup yang pasrah dan membiaskan cinta di wajah, membuatnya perlahan-lahan menundukkan kepalanya.

Sedangkan Putri Permata Delima kini memejamkan matanya rapat-rapat. Lalu dirasakannya sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibimya. Semakin lama terasa mesra dan hangat penuh gelora.

Cinta kasih mereka bukanlah cinta yang dilumuri nafsu, melainkan cinta sejati yang datang dari hati yang paling dalam. Cinta yang mampu membuat kebersa-maan dan pertanggungjawaban. Cinta yang hakiki.

Tak lama kemudian Danji melepaskan ciumannya.

Sementara Putri Permata Delima menyusupkan kepala ke dada Danji. Malu bercampur senang.


***
9
Pagi kembali membentang, membedah alam dengan suasana yang seharusnya nyaman dan asri. Namun pagi yang hening di tengah Hutan Kaliamang terusik oleh kehadiran puluhan sosok tubuh yang bertelanjang dada.

Mereka baru saja tiba di depan gua tempat Prabu Adiwarman dan rombongan selama dua minggu mendiami tempat itu. Mereka bersenjatakan tombak dan parang.

Di depan mereka, berdiri seorang perempuan tua.

Rambutnya digelung, dihiasi tus uk konde emas. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat kayu. Siapa lagi orang ini kalau bukan Nyai Surti alias si Kayu Seribu Laksa.

Sementara seorang lagi adalah laki-laki tegap dengan senjata sebuah busur panah. Dia tak lain dari Songko. yang berjuluk Panah Iblis Dari Utara.

Memang setelah kedua orang ini kembali ke Keraton Pakuan, seperti yang dikatakan Nyai Surti, Raja Akherat marah berat. Tetapi Songko yang pandai menjilat berhasil mengemukakan alasannya, sehingga tokoh sesat itu mau mengerti.

"Bila melihat bekas-bekas di sekitar sini, aku yakin..., gua itu baru saja ditinggalkan orang," duga Songko yang masuk memeriksa tadi.

"Apakah Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima yang berada di sana?" tanya Nyai Surti.

"Ya, mungkin juga Pendekar Slebor dan gadis penunggang harimau itu." sahut Songko, tandas.

"Bangsat Kita terlambat kalau begitu Hmmm..., kemana kira-kira mereka pergi?" "Sulit ditentukan. Tempat ini jarang sekali didatangi orang.... Tetapi. barangkali saja ada tempat lain lagi untuk mereka bersembunyi...." "Kalau begitu..., kita harus bergegas" Tetapi belum lagi mereka melangkah, terdengar derap langkah kaki kuda menuju tempat ini. Tak lama muncul dua orang penunggang kuda berpakaian seragam prajurit. Melihat ciri-cirinya, jelas kalau mereka adalah pengawal Kerajaan Pakuan yang baru kembali dari Kcrajaan Labuan.

Rupanya, mereka menduga kalau Prabu Adiwarman masih berada di gua tempat persembunyian.

Sudah tentu kedua pengawal itu terkejut melihat kehadiran orang-orang asing di tempat ini. Dalam sekali pandang saja, bisa diyakini kalau mereka bukanlah orang baik-baik. Dan mereka juga bisa menebak, kalau saat ini Prabu Adiwarman dan yang lain sudah pindah tempat.

Serentak kedua pengawal itu membalikkan kuda dan siap melarikan diri. Namun di luar dugaan, Panah Iblis Dari Utara telah melepas anak panahnya Sementara, si Kayu Seribu Laksa telah berkelebat cepat bagai kilat.

Ceeep "Akkkhhh..." Salah seorang penunggang kuda kontan ambruk.

Tepat ketika penunggang kuda itu mencium tanah, si Kayu Seribu Laksa telah pula melepaskan satu buah totokan pada penunggang kuda satunya.

Tuk "Ohhh" Penunggang kuda itu ambruk pula dengan tubuh lemas, tak bisa digerakkan lagi.

"Hhh Rupanya memang benar dugaan kita. Jelas tempat ini dijadikan persembunyian Prabu Adiwarman" seru Nyai Surti, begitu mendarat.

Perempuan tua itu lantas mengangkat tubuh pengawal Keraton Pakuan yang tertotok, lalu membebaskannya.

Begitu bebas, temyata pengawal itu adalah orang yang tidak mengenal takut. Apalagi begitu melihat kawannya sudah menjadi mayat dengan anak panah menembus jantungnya.

"Manusia rendah" bentak pengawal ini seraya mencabut pedang yang dibekali Prabu Adiwarman di pinggang.

"Aku suka melihat keberanianmu itu Tetapi, sayang. Keberanianmu akan sia-sia belaka" leceh si Kayu Seribu Laksa dengan tatapan kejam.

Pengawal itu tidak ciut nyalinya mendengar suara Nyai Surti dan melihat tatapan kejamnya. Pedangnya langsung ditusukkan tanpa mempedulikan betapa lelahnya tubuhnya. Padahal dia dan kawanya yang telah menjadi mayat telah menunggang kuda tiga hari tiga malam tanpa henti.

"Uts.. " Nyai Surti hanya menggeser kakinya sedikit, lalu tangannya bergerak cepat. Dan.... Plak "Auakh..." Telak sekali tangan si Kayu Seribu Laksa menghantam lengan kanan pengawal itu hingga menjerit kesakitan dan bergulingan di tanah. Seketika tangannya patah.Nyai Surti memang tidak berniat untuk menghabisi nyawa pengawal itu. Yang di nginkan adalah penjelasan yang bisa dipergunakan untuk mengetahui, di mana Prabu Adiwarman dan yang lainnya. Termasuk. Pendekar Slebor yang menimbulkan dendam yang sangat dalam di dadanya.

"Hih..." "Hekh..." * Tanpa rasa kasihan si Kayu Seribu Laksa menginjak dada pengawa yang masih bergulingan.

"Siapa nanamu?" bentak Nyai Surti.

"Mureksa..." sahut pengawal itu, sambil meringis kesakitan.

"Di mana junjunganmu berada saat ini, hah?" cecar si Kayu Seribu Laksa.

"Peduli setan denganmu, Nenek Peot" seru pengawal bernama Mureksa berani. Namun dia harus menjerit keras ketika, kaki Nyai Surti kembali menekan dadanya.

"Aku hanya bertanya tiga kali. Di mana mereka?” Ancam si Kayu Seribu Laksa dengan mengandung kekejaman luar biasa.

"Pergilah kau ke neraka Karena tempat itu hanya pantas untuk orang-orang busuk seperti kau" Kaki Nyai Surti menekan lagi.

"Aaakh..." Mureksa menjerit lagi.

Songko yang lebih cerdas menduga, kalau pengawal itu memang tidak tahu ke mana pindahnya Prabu Adiwarman. Bila melihat kelelahan di wajah mereka, jelas sekali keduanya habis melakukan pcrjalanan jauh.

Segera Panah Iblis Dari Utara mendekat.

"Hhh Bila kau tidak mau mengatakan di mana Prabu Adiwarman, itu urusanmu. Sekarang, jawab pertanyaanku.

Dari mana kau?" tanya Songko, menggeram kasar.

Meskipun penderitaan yang dialami sangat pahit dan pedih, Mureksa tidak pernah berniat untuk membayangkan menjadi seorang pengkhianat.

"Kalian lebih baik mampus, Manusia-manusia Rendah" sahut Mureksa, menggeram dan menahan rasa sakit "Ha... ha.. ha. ." Songko terbahak-bahak.

"Apakah kau tidak mendengar apa yang dikatakannya tadi, Surti?" kata Songko, seraya memandang si Kayu Seribu Laksa.

"Hhh Lebih baik dia mampus saja" "Itu urusanmu Silakan" "Sekali lagi kutanya. Di mana Prabu Adiwarman berada? Dan, dari mana kau?" desak Songko dengan tatapan semakin nyalang.

Mureksa tidak lagi merasakan sakitnya. Ia tetap bertekad tidak akan membuka mulut. Sekalipun harus disiksa teramat pedih.

"Manusia-manusia rendah.... Tempat yang pantas untuk kalian hanyalah neraka" Habis sudah kesabaran Nyai Surti. Kakinya langsung menekan lebih kuat lagi. Sementara kayunya pun terangkat siap mengepruk pecah kepala Mureksa.

"Kau memang harus mampus" Namun sedikit lagi tongkat kayu itu menghantam, berkelebat satu bayangan hijau yang langsung menuju si Kayu Seribu Laksa. Dan....

Desss..

"Aaakh..." Tubuh Nyai Surti kontan terlontar ke belakang. Tahu-tahu saja terasa ada sesuatu yang mengenai dadanya dengan keras. Sementara kakinya yang menginjak dada Mureksa sudah terangkat.

Ketika Nyai Surti sudah berada dalam keseimbangannya kembali, tampak seorang pemuda tampan berpakaian warna hijau dengan secarik kain lebar bercorak catur yang tersampir di bahunya, sedang memanggul tubuh Mureksa yang jatuh pingsan.

Melihat hal itu, Nyai Surti terkejut. Begitu pula Songko.

"Rupanya Pendekar Slebor memang mempunyai nyali besar untuk muncul juga" kata Nyai Surti.

"He he he.... Sejak tadi kalian mencari-cariku, ya? Memang, aku terlambat datang Tetapi, masih pantas dan memiliki waktu yang panjang untuk menghajar adat kalian berdua" sahut sosok pemuda yang tak lain Andika sambil nyengir.

Pendekar Slebor memang terlambat datang, karena Sari ingin ikut dengannya. Padahal Andika lebih yakin dengan dirinya sendiri. Dan bila Sari ikut tanpa si Belang, mungkin Andika akan mengizinkan pergi bersama-sama.

Namun gadis itu tetap ngotot untuk mengajak si Belang.

Karena, ia memang tidak ingin jauh-jauh dari binatang peliharaannya. Dan menurut perkiraan Andika, bagaimana bila si Belang ikut serta, sementara mereka harus mengintai? Karena, menurut firasat Pendekar Slebor, orang-orang Raja Akherat pasti masih akan mencari mereka.

Maka Pendekar Slebor pun mencari akal untuk mengelabui Sari. Andika pura-pura mendadak sakit perut, sekaligus buang hajat. Tentu saja gadis ini dengan berat hati mengizinkan.

Dan kesempatan itu digunakan Pendekar Slebor untuk kabur dari Sari. Dan Andika menduga, gadis itu pasti akan segera menyusulnya.

Sementara ketika mendengar kata-kata Andika barusan, wajah Nyai S urti dan Songko memerah menahan marah. Apalagi teringat kalau Pendekar Sleborlah yang menjadi momok bagi Raja Akherat.

Tangkap dan bunuh pemuda keparat itu" teriak Songko, memerintah puluhan pemuda berlelanjang dada.

Serentak dua puluh pemuda mengurung Andika dengan senjata di tangan.

"Kalau kalian jeri melawanku, katakan saja.... Tidak perlu menyuruh para pemuda ini?" ejek Andika.

"Kau terlalu banyak omong, Pendekar Slebor"bentak Nyai Surti dengan wajah memerah geram.

"Karena aku punya mulut" sahut Andika, santai.

"Bangsat Bunuh pemuda itu" Serentak para pemuda itu menerjang Pendekar Slebor. Andika yang mengerti kalau mereka terpaksa menerima perintah, berkelebat ke sana kemari dengan masih memanggul tubuh Mureksa yang pingsan. Sambil berkelebat, sebelah tangan dan kedua kakinya bergerak cepat.

Plak Des Dug "Aaakh... Aaa... Auhh..." Gerakan Pendekar Slebor yang sangat cepat membuat para pemuda itu kontan pingsan terkena sambaran tangan dan kakinya. Dan hanya sebentar saja, para pemuda itu tak ada yang bisa bangun lagi.

"Nah Siapa lagi yang harus kalian suruh? Apakah kalian masih punya nyali untuk menghadapi aku? Kalau tidak..., ya lebih baik pulang saja dan menetek pada kambing" ejek Pendekar Slebor, kurang ajar.

Kemarahan kedua tokoh sesat itu pun sudah singgah di ubun-ubun. Wajah mereka merah padam.

"Kau memang harus dibungkam hari ini juga, Pendekar Slebor" dengus Nyai Surti.

"He he he.... Apakah tidak salah? Ih Mengapa sih, kau selalu memilih aku menjadi lawan? Karena aku ganteng, ya? Tetapi..., cih Tak sudi aku bersentuhan denganmu" Namun belum lagi Nyai Surti atau Songko menyerang....

"Hauummmm..." Mendadak terdengar auman yang sangat keras. Lalu muncul seekor harimau besar dari balik semak. Sementara penunggangnya telah melenting, dan mendarat di sebelah Pendekar Slebor.

"Heit Kaget aku" kata Andika sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Mengapa kau tidak mengajakku bermain-main dengan mereka, Kang Andika?" kata Sari sambil menatap tajam ke arah Nyai Surti dan Songko. Di tangannya sudah tergenggam sebilah pedang tipis namun sangat tajam.

Pedang itu dicabut sambil melompat tadi.

"Nah, Nenek Genit Kini kau boleh melawan dia? Sekali-kali kan tidak apa-apa Aku juga mau muntah bila bersentuhan denganmu" seru Andika mengejek.

Kali ini Nyai Surti sudah tidak bisa menahan geramnya lagi. Langsung diterjangnya Andika dengan ganas.Andika cepat melempar tubuh Mureksa yang masih pingsan pada Sari.

"Sari Suruh si Belang menyembunyikan Mureksa dan menjaganya" ujar Pendekar Slebor sambil menghindari serangan Nyai Surti yang ganas. "Heit Sabar dikit, Nek Kalau kau bernafsu denganku, bilang saja Tetapi, maaf ya... Aku tidak akan pernah terangsang olehmu" Sari yang dengan sigap menangkap tubuh Mureksapun segera meletakkan tubuh pengawal itu ke punggung Belang. Dan harimau itu segera melesat mencari tempat persembunyian yang aman.

Sementara, Sari sendiri langsung melenting ketika melihat Songko mencuri kesempatan dengan melepaskan anak panahnya ke arahnya Set Set "Jangan kau kira dapat membokongku, Manusia Rendah" seru Sari garang, ketika anak panah itu telah lewat di bawah kakinya.

Dan ketika gadis itu meluruk sambil membabatkan pedang. Maka pertarungan pun berlangsung dengan seru.


***
Di Keraton Pakuan mendadak saja Raja Akherat terkejut setengah mati. Baru saja dia berada di pintu utama keraton, terlihat puluhan orang berpakaian prajurit menerobos mas uk ke halaman. Begitu mendekat, tiga orang penunggang kuda langsung turun dan berdiri gagah di depan Raja Akherat Serentak Dua Kembar Kepalan Batu bersiaga.

mentara para pemuda bertelanjang dada pun sudah menghunuskan tombak, siap menunggu perintah. Mata Raja Akherat menyipit. "Ha... ha.. ha... Rupanya... orang-orang Kerajaan Labuan ingin membantu Kerajaan Pakuan Hanya sayang, kalian mencari mampus saja" kata Raja Akherat sombong. Agaknya Raja Akherat mengenali mereka dari pakaian'prajurit yang dikenakan.

Memang, yang datang itu adalah para prajurit Kerajaan Labuan.

Mereka diperintahkan Prabu Srigiwarman untuk langsung menyerang ke Kerajaan Pakuan. Sementara, kclompok lain akan menemui Prabu Adiwarman untuk membicarakan rencana selanjutnya.

Tiga orang gagah yang telah berdiri gagah menatap tajam pada Raja Akherat. Di punggung mereka terdapat sebilah pedang. Pakaian mereka sama, berwarna putih.

Hanya yang membedakan, warna ikat pinggang yang dikenakan. Rambut mereka digelung ke atas. Rupanya, mereka adalah para pengawal pilihan.

"Raja Akherat Lebih baik tinggalkan Kerajaan Pakuan sebelum darahmu tumpah di sini" kata prajurit yang mengenakan ikat pinggang biru.

"Ha... ha.. ha. " Kata-kata itu disambut tawa Raja Akherat yang keras. "Apakah tidak salah pendengaranku, hah?" lanjut Raja Akherat, membentak.

Yang mengenakan ikat pinggang biru, berwajah cukup tampan. Cambang bauk tampak menghiasi wajahnya.

Prabu Adiwarman mengenal pengawal yang sering berkunjung ke tempat ini namanya Wenapati. Dia me-nyipitkan matanya, bertanda marah mendengar kata-kata Raja Akherat.

"Aku hanya mengatakan itu sekali saja, sebelum semuanya terlambat" ancam Wenapati Raja Akherat kembali terbahak-bahak. Dia merasa lucu mendengar kata-kata Wenapati. Lalu....

"Hancurkan mereka" teriak Raja Akherat, memerintah para pengawalnya yang sudah mengurung pula.

Serentak lima belas pemuda bertelanjang dada menyerang dengan ganas. Sudah tentu para prajurit Kerajaan Labuan pun segera mengangkat senjata. Trang Trang "Hiaaa..." "Serang..." Seketika terdengar suara bunyi beradunya senjata yang keras dan teriakan-teriakan pertempuran.

Sementara Dua Kembar Kepalan Batu sudah menyerang pula. Yang bernama Srigandi menyerang pengawal yang mengenakan ikat pinggang kuning.

Namanya Karnapati. Tubuhnya gagah dengan wajah kelimis tanpa bulu. Sementara Srigunda menyerang yang mengenakan ikat pinggang hijau. Namanya, Tiropati. Wajahnya persegi dan cukup tampan. Apalagi dihiasi kumis tipis. Sementara Wenapati menggeram ke arah Raja Akherat.

"Kali ini, kau akan menyesali perbuatanmu seumur hidupi" seru Wenapati.

Tetapi kata-kata yang bernada ancaman itu hanya disambut tawa saja oleh Raja Akherat.

"Ha... ha.. ha... Biasanya, orangyang hendak mencari mampus memang banyak lagak" Mendadak saja, Raja Akherat mengibaskan tangannya ke depan.

Wesss. .

Wenapati yakin, kibasan tangan itu telah dialiri tenaga dalam tinggi.

Maka tubuhnya segera melompat menghindari.

"Ha... ha.. ha. . Bagus, bagus sekali" "Kini, terimalah ajalmu, Raja Akherat" Wenapati pun menyerbu dengan lengkingan suara yang tinggi. Pedang di tangannya berkelebat, siap mencabik-cabik tubuh Raja Akherat Sementara Raja Akherat tidak bergeser sedikit pun ketika Wenapati menyerang dengan pedangnya. Namun begitu serangan dekat, tangannya dikibaskan ke depan.

Wesss. .

"Hup..." Sekali lagi Wenapati harus menarik pulang serangannya, dan cepat melenting ke belakang. Sementara Raja Akherat terbahak-bahak.

Kini sadarlah Wenapati, kalau lawannya sangat tangguh. Tetapi sebagai orang pilihan dari Kerajaan Labuan, sudah tentu memiliki bekal yang cukup dan keberanian tinggi. Maka tanpa gentar diserangnya kembali Raja Akherat.

"Heaaa..." Sementara itu pertarungan antara lima belas pemuda bertelanjang dada melawan tiga puluh orang prajurit Kerajaan Labuan, jelas tidak seimbang. Dalam waktu singkat saja, lima belas pemuda itu telah tewas menjadi mayat.

Para prajurit Kerajaan Labuan pun kini siap menunggu perintah, bersiaga sambil memperhatikan pertarungan yang terjadi.

Ketiga prajurit pilihan Kerajaan Labuan itu memang menunjukkan kemampuannya sebagai orang pilihan.

Terutama, Wenapati yang memperlihatkan kelincahannya menghindari serangan Raja Akherat. Memang, sekali pun prajurit ini belum sempat membalas serangan. Namun biar begitu. Raja Akherat pun belum dapat menyentuh tubuhnya.


***
10
Andika yang bertarung melawan si Kayu Seribu Laksa, mencoba membuat wanita tua itu kerepotan sendiri. Ketika Nyai Surti menyerang gencar dengan tongkat kayunya, Andika cepat bergerak. Diputarinya tubuh perempuan tua itu sambil sekali-kali mengirimkan serangan telak.

Nyai Surti menjadi geram. Lalu....

"Tongkat Kayu Merenggut Sukma" teriak si Kayu Seribu Laksa.

Dan tiba-tiba saja Nyai Surti memutar tongkat kayunya, sehingga mengikuti putaran tubuh Pendekar Slebor. Bahkan lebih cepat Andika sendiri cukup terkejut melihat perubahan serangan Nyai Surti. Cepat serangannya dihentikan.

Namun belum lagi membuka serangan berikut, Nyai Surti sudah mencecar dengan ganas. Tongkat kayu di tangannya itu kini bagai mempunyai mata saja. Karena, ke mana Andika menghindar, tongkat itu terus memburu.

"Edan Jurus yang aneh sekali" dengus Andika dalam hati. Segera Pendekar Slebor mempergunakan kelincahannya untuk menghindari serangan yang ganas dan berbahaya.

Sementara Sari masih terus berusaha menangkis serangan anak panah yang dilepaskan Panah Iblis Dari Utara. Sambil menangkis, dicobanya mem perpendek jarak serangan. Gadis ini tahu. kalau jarak semakin Iebar, maka kemudahan akan didapatkan Songko. Jadi, jalan satu-satunya untuk mematikan langkah lawannya, memang harus memperpendek jarak.

Tetapi hal itu bukanlah suatu yang mudah untuk dilakukan. Karena Panah Iblis Dari Utara dengan gencar terus memburu. Sehingga gadis itu harus mengeluarkan kelincahannya memainkan pedang.

"Hayo Habiskan seluruh anak panahmu, biar kepalamu mudah kupenggal" seru Sari mengejek. Songko sendiri sudah mempergunakan anak panahanak panah rahasianya. Dicabutnya sebuah anak panah yang lebih pendek daripada yang sering dilepaskan. Karena perbedaan bentukitulah Sariyakin, kalau anak panah yang akan dilepaskan lawannya tidak bisa dianggap sembarangan.

Kali ini gadis itu sendiri tidak berani menangkisnya, dan hanya menghindari saja.

Namun yang mengejutkannya, anak panah itu seperti mempunyai mata.

Bisa berbelok dan mengejamya Set..

"Gila" dengus Sari.

Kali ini mencoba menangkis dengan pedangnya.

Tak Namun begitu terpental, anak panah itu kembali menerjang ke arah Sari.

Songko terbahak-bahak melihat lawannya yang kelimpungan.

"Ha ha ha.... Ada pertunjukan cuma-cuma yang sangat menarik" ejek Panah Iblis Dari Utara.

Sari menjadi geram. Sungguh tidak dimengerti mengapa anak panah itu bagaikan memiliki mata dan terus mengejarnya. Berkali-kali pedangnya berhasil menyampok anak panah yang mengejarnya. Namun berkali-kali pula anak panah itu kembali menerjang.

"Ha ha ha..." Songko makin terbahak-bahak. Bahkan segera mencabut sebatang anak panah yang hentuknya sama seperti yang dilepaskan tadi.

"Aku akan membuat pertunjukan semakin lebih semarak" seru Panah Iblis Dari Utara.

Twang Set Songko kembali melepaskan anak panah ke arah Sari. Sementara gadis itu harus menangkis kembali. Dan seperti anak panah pertama tadi, anak panah itu pun bagaikan memiliki mata. Mencecarnya dengan cepat. Sari semakin kewalahan saja. Dan kini gadis itu harus menyelamatkan diri dari dua serangan anak panah aneh itu. Sementara itu Pendekar Slebor yang sedang menghindari serangan dari Nyai Surti sempat melihat keadaan Sari.

"Kau bisa mati kalau hanya mengurusi kedua anak panah itu, Sari Kedua anak panah itu dikendalikan tenaga dalam Songko Coba serang dia" teriak Pendekar Slebor.

Sari kini baru sadar. Maka begitu kedua anak panah menyerangnya, cepat pedangnya berkelebat menyampok.

Tak Tak Begitu berhasil menyampok, dengan cepat Sari menerjang ke arah Songko yang tidak percaya kalau jurus anak panah rahasianya dapat dipecahkan Pendekar Slebor Panah Iblis Dari Utara menggeram kesal sambil melompat menghindari serangan pedang di tangan Sari.

Sari pun bermaksud menyampok kembali kedua anak panah yang disangka akan menyerangnya lagi. Tetapi begitu Songko menghindari tadi, seketika kendali tenaga jarak jauh yang dialirkan kepada dua anak panah langsung hilang. Maka seketika kedua anak panah itu pun jatuh tak berdaya, seperti anak panah lainnya saja.

Menyadari hal itu. Sari segera mencecar Songko dengan ganas. Kalau tadi gadis ini dipermainkan, maka kini ganti Songko yang dipermainkannya.

Pedang gadis ini berkelebat ke sana kemari dengan cepatnya, membuat Songko harus menghindari berkali-kali Tetapi Sari tidak ingin bertindak lamban lagi Mendadak saja tubuhnya melompat lurus ke atas dengan gerakan berputar. Lalu tubuhnya langsung meluruk ke arah Songko yang seketika menjadi pias wajahnya. Tanpa anak panah laki-laki itu bukanlah apa-apa.

Sebisanya Songko menghindari serangan.

Dan mendadak saja tali busurnya ditarik, dan mengarahkannya pada Sari yang siap menancapkan pedangnya ke ubunubun Songko.

Tweeeng "Aaakh..." Terdengar suara keras. Akibatnya sungguh di luar dugaan. Tubuh Sari kontan terpental ke belakang disertai keluhan tertahan. Begitu jatuh di tanah, gadis itu langsung muntah darah.

"Ha... ha... ha.. Ketahuilah, Manis.... Itu adalah rahasia dari busur kesayanganku ini...," ejek Panah Iblis Dari Utara.

Dengan punggung tangannya Sari mengelap darah yang keluar dari mulutnya. Matanya menatap nyalang.

"Perlihatkan lagi kehebatan dari busurmu itu, Manusia Rendah" bentak gadis ini "Hiaaa..." Dengan melipatgandakan tenaga dalamnya. Sari menerjang kembali. Namun lagi-lagi Songko menjepretkan tali busurnya.

Twang "Aaakh..." Kembali gadis itu terpental, dan jatuh di tanah.

Sementara dalam keadaan bertarung, Andika masih juga sempat melihat kalau Sari sudah berada di ambang maut. Padahal pada saat yang sama, Songko sudah pula kembali akan menjepretkan tali busumya.

"Hiaaa..." Disertai teriakan membahana, Pendekar Slebor melenting menjauhi lawannya yang sama sekali tak menduga. Dan begitu mendarat di tanah, kedua tangannya cepat menghentak ke arah Panah Iblis Dari Utara.

Wesss. .

Serangkum angin serangan meluncur dari telapak tangan Andika. Lalu.... Prak "Heh?" Betapa terkejutnya Songko melihat busur panahnya patah. Dan dia sama sekali memang tak menduga adanya serangan itu.

"Bangsat Surti Bunuh pemuda konyol itu" bentak Songko marah. Lalu, kemarahan itu dilampiskan Songko pada Sari yang masih menahan rasa sakit. Tubuhnya cepat meluruk, hendak melepaskan tendangan.

Andika sendiri bermaksud untuk menyelamatkan Sari.

Namun niatnya cepat diurungkan, karena Nyai Surti meluruk kembali dengan serangan berhawa maut.

"Sari..., bangunlah Kau bisa mampus" teriak Pendekar Slebor, seraya berkelebat dengan kelincahannya.

Sebisanya Sari berusaha bangun. Namun tenaganya sudah hilang sama sekali. Padahal, maut sudah di ambang pintu ketika kaki Songko yang penuh tenaga dalam siap menggasak kepalanya.

Namun sebelum Songko berhasil melaksanakan maksudnya....

"Hauuummm..." Dengan gerungan membahana, satu sosok berkaki empat muncul dari balik semak dan langsung menerjang Panah Iblis Dari Utara.

Rupanya si Belang yang sedang menjaga Mureksa telah kembali ke tempat itu. Hewan itu memang luar biasa, naluri dan penciumannya bisa merasakan kalau tuannya berada dalam bahaya. Memang Ki Wirayuda tak perc uma bertahun-tahun melatihnya.

Bret "Aaakh..." Songko yang tidak menyangka kalau binatang itu akan muncul dan menyerangnya, harus merelakan tubuhnya terkena cakaran. Dia berteriak merasakan perih yang bukan main.

Sementara Sari yang semula sudah pasrah, kontan terkejut melihat kehadiran si Belang. Wajahnya langsung berubah gembira.

"Belang Bunuh dia Bunuh" teriak Sari, kalap.

Mendengar perintah. si Belang pun semakin kalap.

Aumannya sangat keras dan memekakkan telinga.

Binatang itu terus menerjang Songko yang kini harus ber-hati-hati. Padahal, kini tenaganya sudah melemah setelah bertarung berpuluh-puluh jurus.

Pada satu kesempatan, si Belang menerjang sekali lagi dengan kuku-kuku terbuka. Songko yang sudah kebingungan, melangkah ke belakang. Namun kakinya ter antuk batu. Dan....

Bruk Songko terjatuh. Dan saat itulah si Belang dengan ganas menerjang. Langsung dicabik-cabiknya tubuh Panah Iblis Dari Utara.

Bret Bret "Aaa..." Songko menjerit keras ketika daging tubuhnya terobek-robek.

Lalu jeritannya pun melemah, dan nyawanya pergi meninggalkan jasadnya selama-lamanya.

"Sudah, Belang Cukup Jangan kotori cakar dan taringmu dengan darahnya yang busuk" ujar Sari.

Binatang buas itu berbalik, lalu menghampiri Sari yang langsung menerima jilatan Iidah si Belang.

"Kau memang sahabatku yang setia, Belang...," kata Sari, sambil mengelus-elus.

Sementara itu Pendekar Slebor masih terus menghindari serangan-serangan ganas dari Nyai Surti.

Tongkat kayu di tangan perempuan tua itu menjelma begitu banyak, mencecarnya ke mana Andika hinggap.

"Hei it Sabar, Nek Nanti kau kehabisan tenaga" seloroh Pendekar Slebor sambil berkelit lincah.

Andika sendiri tidak ingin berlama-Iama lagi, meskipun harus mencari sela untuk menjatuhkan Nyai Surti. Dan ketika si Kayu Seribu Laksa menyerang, Pendekar Slebor melesat disertai pengerahan tenaga warisan Pendekar Lembah Kutukan.

"Yeaaa" Melihat pemuda itu menyongsong serangan, Nyai Surti pun memperkuat kemposan kakinya. Sementata tenaga dalamnya dialirkan lebih banyak ke tongkat kayunya.

"Heaaa..." Hantaman tongkat kayu Nyai Surti, ditahan Pendekar Slebor dengan tangannya. Tap Dan mendadak Pendekar Slebor yang cepat bagai kilat masuk menerjang, melepas pukulan tangan kanan.

Desss.. "Aaakh..." Telak sekali dada Nyai Surti terhantam pukulan Pendekar Slebor. Perempuan tua itu kontan terjajar ke belakang disertai jerit kesakitan.

Andika yang melihat lawannya sudah goyah, cepat melepaskan pukulan ' Guntur Selaksa'. Tangannya seketika mengibas.

"Heaaa..." Wuttt...

Namun meskipun baru saja terkena hantaman Andika, si Kayu Seribu Laksa nampaknya memang sudah ingin mengadu nyawa.

Sambil menggeram keras, perempuan tua itu kembali menyambut disertai hantaman tongkat kayunya.

"Hiaaa..." Prak...

Terjadi benturan yang keras, diiringi suara nyaring.

Dan ternyata tongkat kayu yang telah dialiri tenaga dalam oleh Nyai Surti, harus pecah berantakan terhantam ajian 'Guntur Selaksa'. Perempuan tua itu sendiri terkejut melihat kenyataan ini. Namun keterkejutannya tidak bertahan lama, karena Pendekar Slebor kembali berkelebat sambil mengibaskan tangan yang satu lagi.

Lalu....Dess..

"Aaa..." Si Kayu Seribu Laksa melolong setinggi langit, ketika dadanya terhantam ajian 'Guntur Selaksa' milik Pendekar Slebor. Tubuhnya terjajar ke belakang, sempoyongan.

Andika cepat melenting ke belakang. Dan mendarat tiga tombak dari tubuh perempuan tua itu. Brukkk...

Si Kayu Seribu Laksa ambruk dengan dada pecah bagian dalam. Darah segar kontan berhamburan dari mulutnya. Sebelum ajalnya, perempuan tua itu masih menatap Pendekar Slebor dengan membiaskan rasa dendam, marah, dan penasaran. Begitu tubuhnya kaku.

matanya masih mendelik.

Andika bergidik melihatnya.

"Ihhh Sudah menjadi mayat pun kau masih jahat saja, Nenek Peot" desis Pendekar Slebor bergidik.

Lalu Andika mendekati Sari yang masih mengeluselus si Belang.

"Sari, aku harus memeriksa luka-lukamu," ujar Andika.

"Tidak perlu" sahut Sari, tanpa menoleh.

"Hei Kau kelihatan Iuka bagian dalam tubuhmu...." Sari menoleh dan menatap sewot.

"Lalu kau berharap untuk melihat tubuhku, hah?" bentak gadis ini.

Andika menutup mulutnya, agar tidak tertawa.

Sungguh hal itu tidak terpikirkan oleh otaknya. Tetapi bukan Andika kalau tidak bisa meledek.

"Apakah kau rela memperlihatkannya sendiri?" "Andika" Andika hanya terbahak-bahak saja.

"Sudahlah.... Bersemadilah dulu untuk memulihkan tenagamu. Aku pinjam si Belang untuk mengetahui, di mana Mureksa disembunyikan. Karena, kita harus bertindak cepat untuk mengetahui apakah Prabu Srigiwarman dari Kerajaan Labuan bersedia membantu atau tidak," kata Andika.

Sari membenarkan kata-kata Andika.

Lalu diperintahkannya si Belang untuk mengantarkan Andika ke tempat Mureksa disembunyikan tadi. Meskipun kelihatan enggan meninggalkan majikannya, si Belang hanya menurut.

Andika tertawa.


***
Di halaman Keraton Pakuan, darah semakin membanjir. Suasana semakin pahit dan menyedihkan. Para prajurit Kerajaan Labuan kini seluruhnya telah terkapar menjadi mayat. Perlawanan Wenapati, Karnapati, Tiro-pati, serta para prajurit lain agaknya hanya sia-sia.

Walaupun lebih banyak, tapi dibanding kesaktian Raja Akherat. Srigandi dan Srigunda, mereka tak berarti apa-apa. Dan akhimya mereka harus merelakan nyawa, walaupun sudah gigih untuk melawan.

Raja Akherat terbahak-bahak.

"Tak seorangpun yang mampu menghadapiku Kini aku menjadi orang nomor satu di Kerajaan Pakuan Dan sebentar lagi, rimba persilatan akan kukuasai" 
***
11
Mureksa sudah sadar, setelah Pendekar Slebor mengalirkan hawa murni ke dalam tubuhnya. Selang beberapa waktu, dia kemudian menceritakan tentang perjalanannya ke Kerajaan Labuan. Dan ternyata, Prabu Srigiwarman bersedia mengirimkan dua kelompok prajurit.

Andika mendesah pendek.

"Aku khawatir, kelompok pertama yang langsung menyerbu ke Keraton Pakuan sudah hancur lebur semuanya...," ungkap Pendekar Slebor.

Mureksa menganggukkan kepala.

"Tuan Pendekar.... Lebih baik kita kembali ke gua sebelah sana. Karena aku khawatir kelompok yang kedua sudah tiba...," usul Mureksa.

"Kau sudah kuat?" tanya Andika.

"Berkat pertolongan, Tuan Pendekar...." Bersama si Belang mereka segera kembali ke tempat semula. Memang persembunyian Mureksa tak begitu jauh.

Sehingga sebentar saja mereka telah sampai.

Yang diperkirakan Mureksa memang benar. Dua puluh lima prajurit Kerajaan Labuan sudah berada di sana.

Mereka dipimpin tiga orang laki-laki gagah berpangkat senapati menunggang kuda hitam.

Salah seorang sedang bercakap-cakap dengan Sari.

"Itu dia orangnya" tunjuk Sari, begitu melihat kemunculan Andika, Mureksa, dan si Belang.

Yang bercakap-cakap dengan Sari tadi seorang laki-laki tegap dengan wajah tampan. Pakaian seragam prajurit berpangkat senapati. Rambutnya digelung ke atas. Di pinggangnya tersampir sebilah golok besar.

Ikat pinggangnya berwarna putih.

"Tuan Pendekar...," sebut senapati itu.

Agaknya laki-laki tegap ini sudah diceritakan Mureksa, kalau Pendekar Slebor berada di pihak Prabu Adiwarman.

Dan melihat ciri-cirinya, pastilah pemuda yang baru saja muncul bersamaan seorang prajurit Kerajaan Pakuan yang nampak lemah adalah Pendekar Slebor. Hanya saja sungguh tidak disangka, pemuda yang telah menggemparkan dunia persilatan dan menjadi momok orang-orang golongan hitam sedemikian mudanya "A-ha" sergah Andika.

"Tuan Pendekar? Namaku Andika...." "Tuan Pendekar.... Aku Monoseta. Dan kami adalah utusan Kerajaan Labuan...," kata senapati itu sambil menjura.

Andika menggerutu dalam hati Tuan pendekar lagi Terus terang, dia sebal dengan sebutan semacam itu.

Tetapi saat ini, Andika merasa tidak perlu mempersoalkannya. Karena yang dikhawatirkan, adalah kelompok pertama utusan dari Kerajaan Labuan yang langsung menyerang ke Kerajaan Pakuan.

Pendekar Slebor pun mengatakan soal itu pada senapati bernama Monoseta.

Monoseta menganggukkan kepala, lalu berkata pada dua orang kawannya yang sama-sama mengenakan pakaiansenapati Lagi-lagi yangmembedakan ketiganya adalah ikat pinggang yang dikenakannya. Walaupun sama-sama berpangkat senapati, namun warna ikat pingganglah yang membedakan.

Rupanya Prabu Srigiwarman mengambil beberapa orang senapati yang di-bagi beberapa kelompok. Tiap kelompok berisi tiga orang senapati yang masing-masing dibedakan dengan warna ikat pinggang.

"Ardiseta.... Kau ikut denganku ke Kerajaan Pakuan," kata Monoseta pada yang mengenakan ikat pinggang hijau.

"Sementara kau, Tiroseta.... Temuilah Prabu Adiwarman dan Putri Permata Delima di Jurang Setan....

Bawa sepuluh prajurit bersamamu." Senapati Tiroseta yang mengenakan ikat pinggang warna kuning langsung menganggukkan kepala.

"Tetapi, siapa yang mengantar Kakang Tiroseta?" tanya Sari.

Andika tersenyum-senyum.

"Kalau aku, akan ikut ke Keraton Pakuan. Karena, aku akan menyusup masuk melalui jalan rahasia yang dikatakan Prabu Adiwarman. Hanya kita berdua yang ta. hu jalan menuju Jurang Setan. Nah..., bagaimana kalau kau saja?"Andika menyangka kalau Sari akan marah-marah dan menolak. Tetapi gadis itu malah tersenyum.

"Kau lupa, Andika. Si Belang pun tahu jalan ke sana." Andika menepuk jidatnya.

"Ah Kenapa aku lupa, ya? Tetapi rasanya..., lebih baik kau saja yang pergi mengantar Tiroseta dan sepuluh prajurit Kerajaan Labuan" "Kau memang jahat padaku, Andika" cibirSari.

"He he he.... Masa' sama gadis cantik aku jahat? Jadi..." "Tidak bisa" potong Sari cepat.

"Biar si Belang yang mengantar mereka Kakang Tiroseta..., si Belang tahu ke mana harus mengantarmu." Lalu Sari merunduk pada binatang peliharaannya.

"Belang..., antarlah Kakang T iroseta dan sepuluh prajurit. Jangan membuang-buang waktu. Kau hafal jalannya, bukan?" Seperti mengerti, si Belang mengaum.

Sari berdiri tegak kembali.

"Nah, beres s udah Kita bisa segera berangkat ke Keraton Pakuan" Andika hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Memang sulit menghadapi gadis ini. Tetapi mau apa lagi? Tenaganya mungkin memang dibutuhkan.

Setelah persiapan dilakukan, Andika akan menyusup masuk melalui jalan rahasia. Sementara Sari bersa-ma rombongan dari Kerajaan Labuan akan masuk melalui jalan depan. Dan mereka pun segera berangkat.

Sementara si Belang mengantarkan Tiroseta dan sepuluh prajurit menuju Jurang Setan.


***
Seperti yang sudah direncanakan, Pendekar Slebor dan rombongannya tiba di Keraton Pakuan ketika senja semakin turun. Andika segera menemukan dua buah pohon trembesi sebagai tanda jalan rahasia untukmasuk ke keraton. Dia kini berdiri di antara kedua pohon itu.

Diraba-rabanya permukaan tanah yang ada di sana. Dan memang, Andika menemukan sebuah tangkai besi.

Seketika dihentakkan tangkai itu dengan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan.

Trakkk Terdengar suara berderak. Sementara beberapa pohon merambat yang tumbuh di sana tercabut begitu saja. Terbukalah sebuah lubang kecil. Namun untuk masuk ke sana, harus berjalan merangkak.

"Kalian segera masuk sekarang juga. Berhati-hatilah, karena aku yakin..., rombongan pertama pasti sudah dihabisi Raja Akherat," ujar Pendekar Slebor, sebelum masuk.

Mendengar kata-kata itu, wajah Monoseta dan Ardiseta berubah menjadi geram. Kalau memang yang diduga Pendekar Slebor benar, mereka akan menuntut balasSementara Sari hanya diam saja. Entah mengapa, sebenarnya ia ingin ikut bersama Andika. Tetapi sudah tentu ia malu untuk mengatakannya.

Kepala Andika pun kini menghilang di balik tanah yang gelap. Pendekar Slebor terus menerobos masuk lorong yang sempit dan hanya bisa dilalui dengan merangkak. Bau tanah lembab menerpa hidungnya. Andika memang sengaja memilih jalan ini Karena, yang dikuatirkan hanya satu. Yakni, bila Raja Akherat mempergunakan ilmu 'Melayang Dua'nya. Bila memang tokoh itu mempergunakan ilmunya, maka Andika bermaksud hendak membokong dari belakang.

"Gila Bila aku penghuni alam sunyi ini..., kalau keluar dari sini, bisa-bisa tubuhku menjadi bongkok" gerutu Pendekar Slebor. Pendekar Slebor membuka matanya lebar-lebar.

Langkahnya terus menerobos jalan rahasia, yang ternyata panjang dan semakin panjang.


***
Monoseta segera memimpin rombongannya untuk masuk ke Keraton Pakuan.

Sebenarnya mereka heran, karena pintu keraton tidak dikunci dan dapat dibuka dengan mudah. Pemandangan pertama yang menerpa mata adalah mayat-mayat dari prajurit Kerajaan Labuan yang bergeletakan. Juga, tiga orang laki-laki berpakaian putih yang telah menjadi mayat.

"Raja Akherat Keluarlah. Kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu" teriak Monoseta menggeram.

Tak ada suara. Angin senja berhembus dingin. Hawa kematian merebak.

Monoseta mengangkat tangan, lalu mengibaskannya ke depan.

Wesss. .

Serangkum pukulan jarak jauh yang dilepaskan senapati ini menghantam pintu masuk ke Keraton Pakuan.

Duarrr Pintu itu hancur berantakan.

"Raja Akherat Keluar kau" teriak Monoseta Belum juga hilang gema suara itu, mendadak Desss.. desss. . desss.. "Aaa... aaa... aaa..." Tiba-tiba terdengar teriakan menyayat yang mengisyaratkan kematian. Begitu Monoseta menoleh, hatinya mencelat.

Tampak prajurit Kerajaan Labuan yang tengah sedih melihat saudara-saudara mereka telah menjadi mayat, beterbangan. Begitu jatuh ke bumi, mereka sudah menjadi mayat.

Seketika Monoseta menjadi pias. Rupanya, lawan sudah membokong dari satu tempat yang tersembunyi. "Bangsat Jangan hanya bisa membokong seperti banci, hah?" bentak Monoseta geram.

Baru saja kata-kata Monoseta lenyap, berkelebat satu sosok bayangan. Dan tahu-tahu satu sosok tinggi besar mendarat di hadapan mereka.

Sari yang mengenali sosok itu menggeram marah.

"Rupanya kau muncul juga, Raja Penyakitanl" bentak Sad "Ha ha ha..." Raja Akherat terbahak-bahak. Lalu dari arah pintu masuk utama keraton muncul dua sosok tubuh berkepala licin. Mereka tak lain Dua Kembar Kepalan Batu dengan langkah lebar dan wajah sangar.

"Ha... ha... ha... Rupanya orang-orang yang mau mampus berani menantangku, hah? Dan kau, Manis Rupanya kau datang untuk menyodorkan diri menjadi pendampingku?" leceh Raja Akherat.

"Phuih..." Sari membuang ludahnya muak.

"Jangan terlalu gembira Hari ini kau akan mampus berkalang tanah" tandas Sari.

"Ha... ha... ha. . Bagus sekali. Bagus Aku suka mendengar kata-katamu yang lembut menerpa telingaku" "Hiaaat..." Mendadak saja Sari menerjang dengan kelebatan pedangnya tanpa mengenal takut: Melihat gadis itu menerjang, Monoseta dan Ardiseta pun berbuat sama, dan segera disambut Dua Kembar Kepalan Batu.

Sementara, sisa prajurit Kerajaan Labuan segera bergerak membantu Sari.

Pertarungan sengit pun terjadi. Para prajurit Kerajaan Labuan lagi-lagi harus beterbangan tanpa nyawa, begitu Raja Akherat menggerakkan tangannya dengan dahsyat.

Sari merasa kalau mereka akan mcngorbankan nyawa dengan percuma saja "Lebih baik kalian minggir Dia adalah raja kejam yang gemar membunuh" teriak gadis itu. "Ha... ha.. ha. . Dan kau akan kubunuh, Manis" Raja Akherat bergerak dengan kedua tangan ke depan, seolah ingin menangkap Sari. Ia memang ingin mempermainkan gadis itu. Baik di pertarungan ini maupun di ranjang. Birahinya sudah bergejolak tidak sabar untuk menggumuli.

Sementara Monoseta yang menghadapi Srigandi harus terheran-heran melihat lawan yang terus saja menyerang. Padahal, pukulan saktinya tepat mengenai dada."Gila Rupanya dua gundul ini memiliki ajian 'Mati Rasa'" dengus Monoseta yang mengenali ajian itu.

Begitu mengenali ajian itu, Monoseta jadi teringat mendiang gurunya bernama Eyang Kilir yang bermukim di Gunung Kalidera. Selama belajar ilmu kesaktian pada beliau. Monoseta telah mendapatkan pelajaran silat dan ilmu pengetahuan yang banyak sekali. Salah satunya pengetahuan lentang sebuah ilmu dahsyat yang dimiliki musuh bebuyutan Eyang Kitir, Langdoro. Ajian itu bernama 'Mati Rasa'. Antara Eyang Kitir dengan Langdoro pernah bertarung pada tiga puluh tahun yang lalu dengan hasil berimbang. Maka melihat ajian itu, Monoseta menduga kalau dua orang gundul ini murid dari Ki Langdoro.

"Hm.... Aku harus menandinginya dengan ajian 'Pemunah Rasa'" gumam Monoseta.

Kini yang ada di hati Monoseta adalah mcneruskan perjuangan gurunya, untuk membunuh tokoh hitam sakti yang kini diambil alih oleh dua orang muridnya.

"Hhh Ajian 'Mati Rasa' harus hancur dengan ajian 'Pemunah Rasa' Terkutuklah kalian dua gundul murid Ki Langdoro manusia sesat itu Hiaaat.." Monoseta mendadak saja bersalto ke belakang.

Begitu mendarat, kedua tangannya disilangkan di depan dada dengan mulut komat-kamit. Rupanya dia tengah merapal ajian 'Pemunah Rasa', yang diajarkan Eyang Kitir untuk menghadapi ajian 'Mati Rasa' dari Ki Langdoro. Dan sebentar saja, Monoseta telah meluruk kembali, menyerang Monoseta.

Srigandi tidak tahu kalau lawan telah merapal ajian penangkal dari ajian 'Mati Rasa'. Maka terus saja di-songsongnya dengan pukulan keras. Sementara ajian 'Mati Rasa'telah dirangkum disekujur tubuhnya. Dan....

Plak Des "Aaakh..." Ajian 'Pemunah Rasa' milik Monoseta tepat mengenai dada Srigandi, yang kontan berteriak merasakan sakit sangat luar biasa. Tubuhnya pun terhuyung ke belakang dengan deras, lalu ambruk disertai muntahan da-rah.

"Srigandi" seru Srigunda terkejut, sambil menyerang Ardiseta.

"Kakang..., hati-hati... Manusia itu..., memiliki ajian penangkal ajian 'Mati Rasa'.... Ia.. ia tentu murid Eyang Kitir... yang sering... diceritakan... guru... aaakhhh" Salah seorang dari Dua Kembar Kepalan Batu itu pun tewas."Hiaaa..." Melihat adiknya tewas, Srigunda melompat ke arah Monoseta dengan maksud membalas kematian adiknya.

Monoseta yang sudah mempersiapkan ajian 'Pemunah Rasa' segera menyambut.

"Ardiseta Bantu Sari menghadapi Raja Akherat" teriak Monoseta, pada Ardiseta.

Ardiseta pun segera menerjang ke arah Raja Akherat yang sedang mempermainkan Sari dengan serangan-serangan ganas. Golok besar di tangan Ardiseta berkelebat mengancam Raja Akherat yang harus berkelit menghindar.

"Bagus, bagus... Aku pun ingin kau segera menyusul teman-temanmu ke neraka" sambut Raja Akherat.

Sementara itu, Monoseta terus mencecar Srigunda.

Dan kali ini Srigunda membenarkan kata-kata Srigandi, kalau lawan memiliki ajian pemunah dari ajian 'Mati Rasa'.

Des Des "Aaakh..." Berkali-kali tubuh Srigunda terkena pukulan Monoseta. Namun tubuhnya yang kebal bukan lagi disebabkan tidak merasakan kerasnya pukulan Monoseta, tapi karena kemarahannya untuk membalas dendam atas kematian Srigandi.

"Hiaaa..." Srigunda berbuat nekat.

Tubuhnya meluruk menyerang.

Padahal, tindakannya hanya akan mengirimnya ke neraka saja.

Dengan mengegos ke kiri dan kanan, Monoseta menghantam dada Srigunda dengan keras.

Desss "Aaa..." Srigunda terjengkang disertai raung kesakitan.

Tubuhnya ambruk di tanah tak bangun-bangun lagi. Kalau Srigandi mati dengan muntah darah, Srigunda tewas dengan dada jebol Monoseta menggeram puas. Lalu tubuhnya bergerak membantu Ardiseta dan Sari yang sedang menerima serangan Raja Akherat. Namun belum lagi bergerak....

"Heh?" Mendadak saja muncul satu sosok tubuh Raja Akherat yang lain dari dalam keraton.

"Ha... ha... ha.. Biarkan mereka bermain-main dengannya Kini, kau menghadapi aku" kata Raja Akherat yang baru datang, memandang tajam pada Monoseta.

Bukan hanya Monoseta saja yang terkejut melihat sosok Raja Akherat yang tahu-tahu telah menjadi dua seperti itu. Juga Ardiseta dan Sari yang kaget bukan alang kepalang.

Rupanya, Raja Akherat sudah kembali mempergunakan ilmu 'Melayang Dua' yang pernah membuat Pendekar Slebor kewalahan.

Wesss. .

"Edan Ilmu siluman" desis Monoseta. Senapati ini harus jungkir balik ketika Raja Akherat yang muncul di ambang pintu itu mengibaskan tangan ke arahnya. "Bangsat" dengus Monoseta. "Hiaaa..." Dengan ajian 'Pemunah Rasa', Monoseta menerjang cepat Tetapi Raja Akherat tiba-tiba mengibaskan tangannya lagi. Sehingga....

Desss..: "Aaakh..." Senapati itu kontan terpental disertai teriakan kesakitan.

Sedangkan Ardiseta dan Sari yang menghadapi Raja Akherat yang satunya lagi, kali ini harus menerima serangan-serangan sangat dahsyat dan mematikan.

Bahkan tubuh Ardiseta sudah berkali-kali harus terpental ke belakang. Namun kegigihannya sebagai senapati pilihan membuatnya kembali bangun.

Akan tetapi, kegigihannya itu tidak membawa hasil yang memuaskan. Baru saja Ardiseta bangkit, Raja Akherat telah meluruk sambil melepaskan tepakan pada dada.

Plak "Aaa..." Tubuh Ardiseta kontan terlontar deras ke belakang.

Ketika ambruk ke bumi, di dadanya tercetak lima jari tangan Raja Akherat. Nyawanya pun melayang.

"Ha ha ha... Tak ada gunanya kalian menyerangku" kata Raja Akherat pongah. "Nona Manis.... Lebih baik ikut denganku, menemaniku di ranjang dan melayaniku.

Daripada harus mampus mengenaskan" "Justru aku hendak mengadu nyawa denganmu" balas Sari, gagah.

Raja Akherat kembali terbahak-bahak.

Tokoh sesat ini tidak ingin melukai gadis itu, dan tetap berkeinginan untuk menguasainya, Tak sabar membayangkan hal itu, mendadak saja Raja Akherat nenerjang ke depan dengan cepat. Tangannya bergerak cepat, menepak pedang di tangan Sari.

Plak "Ihhh..." Pedang gadis ini terpental. Dan sebelum Sari berbuat apa-apa, Raja Akherat telah berkelebat cepat sambil melepaskan totokan. Tuk "Ohhh..." "Ha... ha... ha... Sudah kukatakan, aku akan mendapatkanmu, Manis...," leceh Raja Akherat, melihat tubuh Sari melorot ambruk di tanah.

Sementara ilu Monoseta yang masih menghadapi Raja Akherat satu lagi harus pula menghadapi Raja Akherat yang tadi menjadi lawan Sari. Rupanya, kedua Raja Akherat memiliki ilmu yang sama-sama tinggi.

Bahkan wajah, benluk tubuh, dan kekejamannya pun sama.

Monoseta sendiri merasa kalau tidak akan mampu menghadapi kedua Raja Akherat. Hanya yang membuatnya tidak mengerti, mengapa sampai saat ini Pendekar Slebor belum muncul juga? Seharusnya, Andika sudah tiba di belakang keraton ini, dan bersiap membokong Raja Akherat. Mungkin karena Pendekar Slebor tahu kalau Raja Akherat mampu membuat tubuhnya menjadi dua seperti ini, maka harus masuk melalui jalan rahasia.

Tetapi mengapa Pendekar Slebor begitu lama sekali? Dan belum muncul juga? Pada saat seperti ini, sebenarnya tenaga Monoseta sudah merosot jauh. Bahkan tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Sementara, kesempatan untuk membalas sudah tidak ada.

Apa yang diduga memang benar. Monoseta kini harus melompat menghindari pukulan yuang mengandung tenaga sakti yang kuat dari Raja Akherat. Namun pada saat yang sama. Raja Akherat yang satu lagi melepas tendangan dahsyat. Dan....

Prakkk...

"Aaakh..." Seketika kepala Monoseta pecah terhantam tendangan Raja Akherat. Lalu tubuhnya ambruk ke bumi, jatuh berdebam.

Raja Akherat terbahak-bahak.

"Tak seorang pun yang mampu untuk menghadapiku' Kini, rencanaku untuk menguasai dunia persilatan akan segera terwujud Ha... ha.. ha... Rupanya Pendekar Slebor takut mengadu nyawa denganku" Raja Akherat melangkah, mendekati Raja Akherat yang satu lagi. Dan perlahan-lahan, tubuh mereka bersatu.

Sebentar saja Raja Akherat memandang ke sekeliling, lalu melangkah mendekati tubuh Sari yang dalam keadaan tertotok lemah. Dengan lembut dibopongnya gadis itu.

Perlahan-lahan Raja Akherat melangkah, masuk kembali ke dalam keraton.


***
Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Andika? Adakah sesuatu penghalang di jalan rahasia itu? Dan, bagaimana dengan nasib Sari yang sudah di ambang kehancuran? Tunggu serial Pendekar Slebor selanjutnya: NERAKA DI KERATON BARAT

*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Slebor Episode 20 Raja Akherat"

Post a Comment

close