Pendekar Slebor Episode 10 Pengadilan Perut Bumi

Mode Malam
Pijar El
-------------------------------
----------------------------

Episode 10 Pengadilan Perut Bumi

1

Teriakan-teriakan pertarungan terdengar memecah keheningan di kaki sebuah pegunungan berapi.

Sebuah pertarungan tingkat tinggi antara dua tokoh tua melawan satu tokoh tua dibantu seorang pemuda, sulit diduga sampai di mana tingkat ilmu masing-masing. Yang jelas, teriakan mereka lebih menggidikkan daripada salakan seribu petir.

Bisa dikatakan, pertarungan ini satu dari bentrokan terdahsyat sepanjang seratus tahun belakangan. Apalagi, tiga orang di antara mereka, memang sulit dicari tandingan sejak pertama kali muncul delapan puluh tahun yang lalu. Jika untuk kedua kalinya mereka hadir kembali dan membuat keguncangan, sebenarnya bukan hal yang terlalu aneh.

Dibanding delapan puluh tahun yang lampau, pertarungan kali ini ternyata lebih hebat lagi, dengan turut andilnya seorang pemuda jelmaan siluman. Dan pemuda itu memang mendapat tugas untuk

membuat kekacauan di bumi setiap sejuta purnama.

Layaknya sosok siluman, penampilan pemuda itu memang mengerikan. Tubuhnya kekar sarat dengan otot menonjol. Rambutnya panjang berwarna merah bara bagai percikan api neraka. Matanya seperti mata macan hutan liar. Dan di dua sudut bibirnya, tersembul dua taring tajam mengancam Lahirlah sebutan angker bagi dirinya. Manusia Dari Pusat Bumi Sementara itu satu orang yang berdiri di pihaknya adalah lelaki tua berusia sekitar seratus dua puluh tahun. Wajahnya datar dengan satu lubang hidung kecil. Berbibir amat tipis dan berkelopak mata begitu sempit. Tubuhnya terbungkus kain kafan usang dari bahu hingga terikat ketat di mata kaki. Dagunya ditumbuhi jenggot panjang dan putih sekitar satu depa. Rambutnya pun putih, tersibak ke mana-mana.

Delapan puluh tahun lalu, sepak terjangnya membuat ciut nyali banyak tokoh persilatan. Dialah tokoh yang berjuluk Hakim Tanpa Wajah

Lawan kedua tokoh itu adalah dua lelaki yang sifatnya bertolak belakang. Satu begitu pemarah dan pemberang. Sedang yang lain begitu lugu dan dungu.

Usia lelaki yang berwatak pemberang tak jauh beda dengan Hakim Tanpa Wajah. Namun karena dalam tubuhnya mengalir darah serigala, maka tak mengalami ketuaan. Sosoknya tinggi besar, dengan bulu-bulu hitam lebat di sekujur tubuh dan wajahnya.

Penampilannya seperti gorila. Namun, tak begitu dengan paras wajahnya yang terbilang tampan, meski pipinya begitu tebal. Seperti Manusia dari Pusat Bumi, lelaki keturunan serigala ini pun hanya bercelana hitam tanggung yang ujungnya sudah koyak-moyak.

Sesuai keadaannya, julukannya pun Lelaki Berbulu Hitam sejak muncul delapan puluh tahun yang lampau.

Sedangkan kawan Lelaki Berbulu Hitam yang berwatak dungu, berjuluk Pendekar Dungu. Karena seangkatan dengan tokoh sesat yang berjuluk Hakim Tanpa Wajah, dia sudah begitu peot keriput.

Pakaiannya warna-warni, penuh tambalan. Tubuhnya bongkok seperti gagang tongkat. Tapi masih begitu gagah. Matanya kelabu, tapi tetap berbinar penuh semangat. Rambutnya memutih rata ditutup selembar topi pandan. Wajahnya tanpa jenggot dan kumis. Mulutnya hanya memiliki tiga butir gigi yang semuanya berwarna kuning langsat (Untuk mengetahui awal kisah bentrokan mereka, ikuti serial Pendekar Slebor dalam episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).

Pertarungan mereka telah memasuki hari kedua, tanpa henti. Meski usia tiga orang di antara mereka tergolong uzur, namun pertarungan yang panjang itu tak juga membuat lelah. Tenaga mereka seperti tak terkuras sama sekali. Dari gejolak pertarungan yang kian memanas, tampaknya mereka malah memiliki cadangan tenaga yang cukup untuk beberapa hari lagi.

Des Plak

Dua tinju yang dilepaskan dari jurus 'Tenaga Sakti Pembelah Bumi' secara berbarengan oleh Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi mencoba melebur kekompakan pertahanan lawan.

Sudah jurus yang ketujuh puluh guru dan murid itu mengerahkan jurus langka ini. Akibat yang ditimbul-kannya membuat permukaan tanah seperti digoyang berkali-kali. Hal itu terjadi karena pada setiap rangkai jurus, kaki mereka selalu melakukan jejakan-jejakan bertenaga ke bumi. Terlalu banyaknya jejakan hebat menyebabkan tanah banyak yang retak di sana-sini.

Pepohonan dalam jarak sekitar dua puluh tombak dari kancah pertarungan, sudah pula bertumbangan.

Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam sudah amat kenal dengan jurus 'Tenaga Sakti Pembelah Bumi'. Mereka mampu mengimbangi dengan

gabungan jurus masing-masing.

Sewaktu tinju yang dilepaskan guru dan murid itu merangsek pertahan secara berbareng, mereka pun berpencar. Masing-masing menahan satu tinju.

Dengan begitu, sepertinya kekompakan mereka ter-pecah. Padahal, tidak sama sekali. Karena justru mereka sedang menjalankan siasat tempur baru yang diharapkan akan mengecoh lawan.

“Dungu Jangan merenggangkan jarak Gabungan jurus kita bisa kocar-kacir” ujar Lelaki Berbulu Hitam, pura-pura terkejut.

“Lho? Kupikir ini siasat kita untuk mengecoh mereka” sahut Pendekar Dungu lugu.

“Wuaaa, Dasar Goblok Kenapa mesti disebut-sebut? Kau telah menggagalkan rencana kita”

umpat Lelaki Berbulu Hitam, di antara terjangan bertubi-tubi Hakim Tanpa Wajah.

“Lho? Salahmu sendiri Kenapa tadi berteriak...?

Hey Kau tadi berteriak apa padaku, ya?”

“Ah, sudah Tutup saja bacotmu Dan, hadapi si Pemuda Jelek itu” hardik Lelaki Berbulu Hitam.

Manusia Dari Pusat Bumi tak kalah garang merangsek Pendekar Dungu. Sepuluh cakarnya men-cabik udara, menuju leher lelaki berotak kerbau itu.

Tapi Pendekar Dungu malah tertawa keras-keras sampai terdongak-dongak. Sehingga, sambaran cakar si Pemuda Jelmaan Siluman luput berkali-kali.

“Kenapa kau tertawa, Dungu? Apa kau pikir ucapanku barusan lucu? Haih” dengus Lelaki Berbulu Hitam sambil balas menyerang Hakim Tanpa Wajah dengan hentakan telapak tangan lurus ke dada.

“Ait..., ait”

Pendekar Dungu berjingkat-jingkat sewaktu Manusia Dari Pusat Bumi mengincar kaki keriputnya.

“Pemuda sialan ini memang jelek, Hitam Setelah kupikir susah payah, baru kusadari kalau ada manusia yang lebih jelek daripada dirimu He... he...

he” oceh Pendekar Dungu tanpa rasa bersalah sedikit pun pada Lelaki Berbulu Hitam.

“Wuaaa, Tua Bangka Berotak Bebal Kalau aku berhasil meremukkan kepala hakim sialan ini, kau akan dapat giliran” ancam Lelaki Berbulu Hitam berang. Matanya mendelik-delik seperti orang keracunan.

Puncak pertarungan mereka diawali oleh

melompatnya Manusia Dari Pusat Bumi jauh keluar arena. Menyadari muridnya akan mengerahkan kesaktian baru yang mungkin belum pernah disaksikannya, Hakim Tanpa Wajah ikut menjauhi lawan. Dengan beruntun salto di udara, lelaki tua terbungkus kain kafan usang itu mengambil tempat jauh dari lawan, dan juga jauh dari si Manusia Jelmaan Siluman pula. Paling tidak, sekadar untuk menjaga kemungkinan agar dirinya tidak jadi sasaran serangan nyasar milik murid ajaibnya.

“He... he... he. Kau punya kejutan untukku, Bocah Bagus?” tanya Hakim Tanpa Wajah di kejauhan.

Bibirnya menyeringai penuh harap. “Sekarang inilah saat yang tepat untuk membuktikan bahwa kau mampu menjadi 'Sang Penuntut' dari pengadilanku

He... he... he”

Tak lama setelah kata-kata Hakim Tanpa Wajah tuntas, si Manusia Jelmaan Siluman pun menyiapkan satu serangan gaib yang didukung oleh kekuatan dari alam lain. Sejenak kepalanya mendongak lurus ke langit, disusul oleh terangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi. Seluruh jarinya membentang, seolah hendak menggapai atap dunia, lalu meruntuhkannya

“Nah, lo... Nah, lo Pemuda jelek itu hendak berbuat apa?” tanya Pendekar Dungu dengan mimik linglung, seperti untuk diri sendiri.

“Mana kutahu Kau pikir dia itu adikku, hingga aku tahu apa yang mau diperbuatnya” sahut Lelaki Berbulu Hitam, tetap garang seperti yang sudah-sudah.

“Jadi dia itu bukan adikmu?” sergah Pendekar Dungu. “O-o. Pantas saja kau kelihatannya lebih jelek daripada dia....”

Pendekar Dungu mengangguk-angguk polos,

dengan pandangan tetap pada pemuda siluman itu.

“Diaaam” bentak Lelaki Berbulu Hitam. Suaranya mengguntur ke segenap penjuru. Tapi sama sekali tidak mengusik Manusia Dari Pusat Bumi jauh di depan.

“Lihat..., lihat” seru Pendekar Dungu pada kawan buruknya yang masih mendelik dengan rahang mengejang. Ditunjuknya si Manusia Dari Pusat Bumi.

Jauh di sana, orang yang dimaksud sedang mengalami getaran hebat. Seluruh tubuhnya bagai diberontaki seribu makhluk tak berwujud. Masih tetap mendongak, mulut bertaringnya perlahan membuka.

Setelah itu, meluncurlah lengkingan asing yang baru kali ini terdengar di telinga manusia mana pun.

Lengkingan tinggi, yang langsung menerabas hingga ke sudut hati. Tak keras, namun amat berpengaruh pada sambaran mereka.

Telinga sepasang tokoh aneh musuh bebuyutan Hakim Tanpa Wajah ini tak terlalu terganggu oleh jeritan tadi. Tenaga dalam mereka terlalu tinggi untuk bisa dijatuhkan dengan kekuatan suara seperti itu.

Namun begitu, ada pengaruh lain yang tak lagi terbendung. Semacam ketakutan yang sulit dijelaskan, mendadak saja menggerayangi diri Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu.

“Sial Apa yang telah diperbuatnya padaku?” desis Lelaki Berbulu Hitam tak mengerti. “Seumur hidup, belum pernah kurasakan perasaan mencekam seperti sekarang....”

Ketika Hakim Tanpa Wajah melirik Pendekar Dungu, lelaki tua bongkok itu pun menampakkan wajah pias. Mimiknya seperti orang yang sedang menunggu ajal.

“Dungu Apakah kau merasakan hal yang sama?”

tanya Lelaki Berbulu Hitam.

Pendekar Dungu lalu menggeleng. “Aku tak tahu apa yang kau rasakan. Bahkan aku pun tak tahu, apa yang kurasakan saat ini. Semuanya begitu asing...,”

jawab Pendekar Dungu, tak lagi berkesan bodoh seperti sebelumnya. “Apa yang mesti kita lakukan?”

“Pusatkan pikiranmu, Dungu Tutup semua indera

Aku yakin, gelombang suara itu yang menjadi penyebabnya” ujar Lelaki Berbulu Hitam memper-ingatkan, di antara pertempuran rasa takut yang menelusup dengan rasa murka yang menjadi sifatnya.

Dan secepat itu pula Lelaki Berbulu Hitam, bersemadi dalam keadaan berdiri. Lalu, ditutupnya seluruh indera. Pikirannya langsung dipusatkan pada satu titik dalam diri. Sementara Pendekar Dungu mengikuti perbuatannya.

Memang benar dugaan Lelaki Berbulu Hitam.

Manusia Dari Pusat Bumi saat ini sedang mengirim satu kekuatan gaib melalui gelombang suaranya, yang bersumber dari medan kekuatan jahat di satu lapisan langit yang menjadi tempat bergentayangan-nya para makhluk halus laknat Ketika memasuki pintu-pintu indera, kekuatan itu akan segera menyerap habis-habisan seluruh keberanian dalam diri manusia yang paling digdaya sekali pun.

Lama kelamaan, lengkingan milik manusia utusan alam kejahatan yang menusuk angkasa itu kian meninggi. Gelombang suaranya kian bertambah, seiring makin hebatnya penyergapan kekuatan jahat dari langit

Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu benar-benar mati-matian menghadapi gempuran tak berwujud yang mencoba merangsek seluruh indera.

Mereka bertahan habis-habisan, seperti dua orang yang mencoba menutup sebuah pintu. Makala terjadi angin topan maha hebat yang mencoba menguak-nya....

Pertanyaan bagi mereka, bukan lagi apakah mereka mampu mengalahkan kekuatan jahat itu?

Tapi, apakah mampu bertahan? Kemenangan bagi mereka memang tidak mungkin. Benteng kekuatan garba mereka tak sebanding kekuatan medan jahat dari langit. Kalaupun mampu bertahan, akan berapa lama mereka sanggup melakukannya?

Tubuh dua lelaki itu bergetar, bersamaan dengan meningginya lengkingan lawan. Dari seluruh pori-pori tubuh mereka, mengalir cairan kemerahan. Keringat bercampur darah Sesekali tubuh mereka tersentak-sentak. Dan pada puncaknya, mulut kedua lelaki itu melepas teriakan berbareng, meningkahi lengkingan tinggi milik Manusia Dari Pusat Bumi. Tapi bukan berarti mereka telah menang. Sebaliknya, justru mereka baru saja terhempas dalam kekalahan dahsyat.

Bergiliran tubuh keduanya berlutut lemah. Mata mereka menatap sayu, ke arah Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi secara bergantian.

“He... he... he. Kalau delapan puluh tahun lalu kalian luput dari pengadilanku, maka kali ini tak bisa menghindarinya lagi...,” kata Hakim Tanpa Wajah, disertai seringai berhawa maut.

Dihampirinya kedua tubuh lemah itu.

“Apakah masih sanggup melawan, kalau aku mencoba melumpuhkan kalian?” cemooh Hakim Tanpa Wajah meremehkan.

Tangannya pun diangkat perlahan, seakan hendak menjadikan kedua lelaki seangkatan dengannya ini sebagai bulan-bulanan.

“Bersiaplah menerima 'hukuman pendahuluan'

dariku,” ujar Hakim Tanpa Wajah lagi. “Jarang sekali

'para terhukum' mendapat kehormatan mendapatkan

'Totokan Penyiksa' milikku. Hanya orang-orang yang pernah luput dari pengadilanku yang akan menerima-nya. Seperti kalian”

Didahului seringai, Hakim Tanpa Wajah menyalurkan hawa sakti ke tiap jarinya. Dipersiapkannya satu ilmu yang disebutnya 'Totokan Penyiksa'.

Pada saat itulah, Lelaki Berbulu Hitam menggeram laksana serigala luka. Suaranya terlempar ke segenap penjuru, hingga jauh ke balik gunung.

Hakim Tanpa Wajah tercekat. Tak pernah disangka kalau lawan masih sanggup melakukan hal ini. Malah keterkejutannya jadi kesalahan, manakala tangan bercakar Lelaki Berbulu Hitam merangsek dengan seluruh sisa tenaga.

Saaat

Sebisa-bisanya, Hakim Tanpa Wajah berkelit.

Namun tetap juga cakar Lelaki Berbulu Hitam merobek kafannya, sekaligus membeset kulit dadanya....

Bret

Betapa murkanya Hakim Tanpa Wajah. Totokan yang berisi kekuatan terpusat di jari, segera saja dilancarkan ke leher lawan.

Suit

“Grrrh”

Namun mendadak sebuah geraman lain hadir di dekatnya. Bukan lagi dari mulut Lelaki Berbulu Hitam, tapi dari moncong dua ekor serigala besar Begitu tiba, kedua hewan buas itu langsung saja menerkam jemari Hakim Tanpa Wajah.

Hakim Tanpa Wajah seketika menarik kembali gerak tangannya. Karena begitu kaget oleh kehadiran yang tiba-tiba dua serigala itu, tubuhnya pun mengambil jarak ke belakang dengan satu lompatan cepat.

Maka kesempatan itu dipergunakan Lelaki Berbulu Hitam untuk melompat dengan sisa tenaganya ke punggung dua serigala. Sebuah tali kekang yang terikat menjadi satu di leher binatang-binatang itu, cepat disambarnya. Kini dia berdiri di atas dua punggung serigala. Tiap kakinya, berpijak pada satu punggung serigala.

Ketika Hakim Tanpa Wajah masih terpana, Lelaki Berbulu Hitam tanpa membuang waktu menyambar tubuh Pendekar Dungu. Kemudian, menghentakkan tali kekang. Kini mereka pun melesat cepat ke atas serigala jejadian....

*** 2

Seorang pemuda berpakaian hijau-hijau tampak tengah melangkah bersungut-sungut dan tergesa di sebuah jalan berlumpur. Sesekali kakinya berjingkat, untuk mencari tempat pijakan yang lebih kering.

Pemuda ini tetap tampan, meski wajahnya terlipat.

Matanya tajam dan alisnya hitam melengkung seperti kapak sayap elang. Anak rambutnya yang tak pernah ditata berayun-ayun kecil di sekitar dahinya. Di tangannya ada gulungan kain bercorak papan catur.

Entah sudah berapa kali gulungan kain itu ditinju-tinjunya gemas. Melihat ciri-cirinya, siapa lagi pemuda itu kalau bukan Andika, alias Pendekar Slebor.

“Benar-benar sial Enak saja dia menunjukku menjadi orang yang bisa mencegah si Manusia Siluman atau Manusia Kuman atau manusia apa pun dia Padahal, sebelumnya aku sudah dipermainkan mentah-mentah Pura-pura jadi wanita cantik segala macam. Jadi nenek pikunlah Jadi inilah Itulah....

Tidak sekalian dia jadi kentut” gerutu Pendekar Slebor seperti khotbah orang tak waras.

Sehari lalu, Andika memang baru saja bertemu si Raja Penyamar di Kampung Kelelawar. Mendapat semua penjelasan lelaki yang telah mati itu, Pendekar Slebor jadi mangkel begitu rupa. Biarpun mendapat kehormatan dari tokoh tua kawakan macam Raja Penyamar sebagai orang satu-satunya yang bisa menghadapi Manusia Dari Pusat Bumi, tetap saja dia merasa telah dipermainkan. (Baca episode :

“Manusia Dari Pusat Bumi”). Sementara itu pada saat yang sama, seekor burung gagak berwarna hitam sedang melayang-layang angker di angkasa. Binatang itu terus melakukan putaran jauh di atas Andika, seolah-olah sedang melakukan pengintaian.

Di atas sana, mata tajam binatang itu memang terus mengawasi Pendekar Slebor. Sesekali dari paruhnya meluncur keluar suara serak menyeramkan.

Jika gagak itu membentangkan sayap lebar-lebar, dia akan terlihat bagai hantu dari langit.

Lama kelamaan, Andika mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada burung itu.

Langkahnya segera dihentikan untuk memastikan, apakah burung itu hanya kebetulan mengikuti atau tidak. Dengan berpura-pura duduk di sebatang pohon tua tumbang, ditunggunya tanggapan si Burung Gagak.

Untuk beberapa saat, burung hitam kelam itu tetap melayang berputar. Dan mendadak saja, tubuhnya menukik cepat. Sayapnya merapat, sedang paruhnya menusuk udara di depan.

“Kaaak”

Tak beberapa lama, si Burung Gagak sudah hinggap ringan di dahan pohon beringin lebat. Mata kemerahannya terkesan dingin, menantang

kehadiran pendekar muda dari Lembah Kutukan.

Sedangkan kepalanya bergerak kian kemari.

Andika melirik hati-hati, seakan khawatir kalau tindakannya diketahui. Dengan ujung mata yang menyelidik, mulutnya berbisik.

“Apa maunya burung ini? Belum pernah kutemui binatang bertingkah seaneh itu....”

Tiba-tiba sesuatu mengejutkan burung gagak itu, begitu terdengar suara ranting kayu kering yang tak sengaja terinjak di balik pohon beringin. Derak ranting patah itu yang menyebabkan burung gagak tadi mengepakkan sayap kuat-kuat, lalu merambah angkasa kembali.

Andika pun turut terkejut, meski tak separah burung tadi. Kewaspadaannya cepat bangkit. Mata tajamnya mengarah siaga ke arah bunyi tadi. Tanpa gerak, dinantinya sesuatu yang bakal terjadi berikutnya. Yang jelas dia menduga, pasti ada orang di balik pohon beringin itu.

Namun setelah sekian lama menunggu, tak juga terjadi sesuatu pun. Bahkan orang di balik pohon beringin besar tak muncul-muncul. Itu menyebabkan keingintahuannya mendadak muncul.

Dengan langkah hati-hati, Andika mendekati pohon beringin itu. Pengerahan sebagian ilmu meringankan tubuhnya, membuat langkah Pendekar Slebor tidak menimbulkan suara sedikit pun, meski berjalan di atas serakan daun kering.

Setibanya di sisi batang besar pohon beringin, Andika mengendap untuk melihat sisi lain di balik pohon, tempat asal bunyi tadi. Kepala dijulurkannya perlahan. Tindakannya terlihat bodoh sekali. Padahal, dia bisa saja melompat ringan ke satu dahan pohon beringin di atas, lalu melihat siapa orang yang ber-sembunyi di balik tumbuhan besar itu.

Dan kebodohannya harus dibayar oleh keterkejutan luar biasa. Bagaimana dia tidak terperanjat, kalau pada saat yang sama, ada satu kepala pula yang melongok? Bahkan hampir-hampir saja wajah Pendekar Slebor tertabrak wajah orang yang dicurigai.

“Siapa kau?” bentak Andika gusar.

Hidung Pendekar Slebor kontan kembang-kempis, karena terkejut. Cerita Raja Penyamar, benar-benar telah membuatnya menjadi orang sakit jantung.

Waktu itu, si Raja Penyamar menceritakan bagaimana mengerikannya si Manusia Dari Pusat Bumi.

Juga, tentang kemungkinan kekuatan-kekuatan alam gaib milik para siluman yang bisa membantunya.

Karena keterangan itu, Andika jadi terlalu berhati-hati semenjak keluar dari Kampung Kelelawar. Dalam bayangannya, Manusia Dari Pusat Bumi tentu bisa saja tiba-tiba muncul tanpa diketahui, lalu membedol jantungnya dengan kekuatan siluman.

“Kau sendiri siapa?” balas orang di balik pohon.

Suaranya lantang, namun berkesan halus. Tepatnya, suara itu milik wanita.

Andika mengernyitkan alis rapat-rapat. Dia berpikir sejenak. Seingatnya, Manusia Dari Pusat Bumi yang diceritakan Raja Penyamar bukan wanita. Kalau begitu, orang di balik pohon ini tentu bukan manusia jelmaan siluman yang dimaksudkan.

“Tapi...,” bisik Pendekar Slebor kemudian.”... bisa saja siluman congek yang sedang menyamar jadi wanita....”

“Hey Apa kau bilang tadi? Kau menyebut aku siluman congek?”

Terdengar dampratan gusar dari balik sebatang pohon.

“O, jadi kau bukan siluman congek? Lalu kau siluman apa? Apa sejenis siluman kibul?” tanya Andika, tanpa maksud meledek sedikit pun.

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, karena sedang was-was.

“Diam kau” bentak orang di balik pohon, makin tersinggung.

“Wait Apa aku menyinggungmu? Kau tentu bukan siluman kibul, ya? Pas... ti, kau siluman...,” Andika mengurut-urut kening. “Siluman apa, ya? Hey Lebih baik kau saja yang memperkenalkan padaku, siluman jenis apa kau Aku tak begitu tahu soal siluman-siluman”

“Manusia tak tahu adat”

Selesai terdengarnya hardikan itu, kembali terdengar suara pakaian yang menggelepar di udara.

Orang di balik pohon itu rupanya melompat ke atas dahan pohon beringin. Tampaknya dia sudah tidak sabar lagi.

Mendengar bunyi itu, Andika dengan sigap memasang kuda-kuda siap tempur. Kepalanya mendongak tegang ke atas pohon, langsung melihat seorang wanita yang sudah amat dikenalnya dulu

***

“Brengsek kau” maki sebuah suara wanita dari atas pohon beringin.

Selincah dan seanggun burung manyar, wanita itu melompat turun. Lalu dia berdiri tepat di depan pemuda yang baru saja dimakinya. Tangannya cepat terangkat, siap mendaratkan tamparan ke pipi pemuda di depannya.

Plak

Tamparan itu pun benar-benar jatuh pada pipi kiri pemuda berpakaian hijau-hijau yang memang Andika.

Sementara Pendekar Slebor itu sendiri masih terpana-pana melihat wanita yang baru saja muncul.

Tak ada akibat yang parah dari tamparan itu. Di pipinya, Andika malah merasakan satu kehangatan serta kemanjaan.

“Kenapa jadi bengong begitu? Apa kau sudah tak kenal lagi padaku?” sentak wanita itu seraya menyusul satu cubitan gemas ke perut Andika.

Pendekar Slebor meringis. Perutnya jadi begitu pedas.

“Purwasih...?” gumam Andika.

Purwasih, seorang gadis cantik putri Raja Alengka.

Tubuhnya yang berkulit agak kecoklatan agak mungil ditutup ketat oleh pakaian hijau lumut. Begitu menggemaskan. Dia tampak lebih muda daripada usia yang sebenarnya dengan rambut dikepang ekor kuda. Wajahnya mungil, dengan mata bulat yang dihiasi bulu lentik. Hidungnya tipis dan mancung, membatasi sepasang matanya. Semuanya makin sempurna dengan bentuk bibirnya yang menantang.

Sebagai seorang pendekar wanita yang cukup kondang dengan julukan Naga Wanita, kehadirannya selalu ditemani pedang bergagang kepala naga yang tergantung di punggung. (Tentang Purwasih, baca episode : “Dendam dan Asmara”).

Sebenarnya antara Purwasih dengan Andika masih ada pertalian darah. Buyut Andika yang bergelar Pendekar Lembah Kutukan, adalah salah seorang keluarga istana juga.

“Ya, aku memang Purwasih. Tapi, kenapa kau memandangku seperti melihat hantu?” tanya Purwasih.

“A..., aku hanya hampir pangling,” Andika ter-gagap. “Tak kusangka setelah sekian lama berpisah, kau kian cantik mempesona.”

“Gombal”

“Sungguh” tegas Andika sambil meraba dadanya.

“Kenapa?” tanya Purwasih lagi.

“Hanya memeriksa jantungku. Aku takut, jantung ini tahu-tahu berhenti karena begitu kaget melihat kecantikanmu....” “Kau makin gombal”

Andika tertawa berderai. Saat itulah Purwasih yang begitu rindu, menubruknya. Bahu kekar Andika dirangkul, seperti sikap seorang kakak yang bertemu adik lelakinya setelah terpisah bertahun-tahun.

Tawa Andika terpenggal mendadak. Sementara akar pohon beringin di bawahnya tersangkut di kaki.

Sedangkan tubuhnya sudah telanjur terdorong oleh rangkulan Purwasih.

“E... e-e-e” teriak Andika. Lalu....

Bruk

Keduanya langsung terjatuh. Beruntung bagi Purwasih karena jatuhnya di atas tubuh Andika.

Sebaliknya, naas bagi Andika. Kepalanya langsung dikecup sebongkah batu sebesar kepalan tangan yang memaksanya harus meringis-ringis ber-kepanjangan....

Sekarang giliran Purwasih melepas tawa kecilnya.

Sebelum terlalu lama, Andika cepat menekan bibir gadis jelita itu dengan jari telunjuk. Lama, ditatapnya Purwasih. Sehingga, membuat gadis ini merasakan debaran-debaran tak beraturan di dada.

“Apakah Andika akan berbuat yang macam-

macam?” tanya Purwasih membatin.

Sebenarnya sudah terlalu lama Purwasih berharap Andika memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.

Kalau hari ini harus menerima pernyataan perasaan itu dari Andika, betapa berbunga-bunga hatinya.

Mata sarat bulu lentik milik Purwasih perlahan terpejam.

“Kenapa kau seperti orang mengantuk?” tanya Andika, mengejutkan Purwasih.

Dara cantik ini sama sekali tak menduga Andika akan membisiki kalimat itu. “Aku pikir....”

Kalimat Purwasih terpenggal, tak sanggup dilanjut-kannya. Sebab dia yakin, Andika pasti menemukan rona merah di kedua belah pipi halusnya.

“Ah Kau ini kenapa jadi berpikir macam-macam,”

bisik Andika lagi. “Aku tadi mendengar suara men-curigakan.”

Perlahan Andika bangkit, diikuti Purwasih. Sesaat kemudian mereka sudah mengedarkan pandangan ke segenap penjuru. Tak ada seorang pun yang terlihat.

“Aku tak melihat seorang pun,” kata Purwasih.

“Bahkan aku tak juga mendengar suara men-curigakan seperti katamu tadi.”

Tapi....

“Andika.... Temui aku di Sungai Mati sebelah utara.”

Andika mendadak saja mendengar bisikan halus singgah ke dalam liang telinganya. Begitu halus, hingga hanya dia sendiri yang bisa menangkapnya.

Dari warna suara tadi, Andika segera bisa menduga siapa sesungguhnya orang yang telah mengirim bisikan jarak jauh tersebut. Suara yang belum lama dikenalnya. Raja Penyamar.

“Purwasih.... Menyesal sekali aku harus pergi,”

pamit Andika.

Pendekar Slebor sadar, Raja Penyamar tentu hendak menyampaikan sesuatu yang penting.

“Aku ikut Andika,” pinta Purwasih. Wajahnya menampakkan sinar kekecewaan. Bagaimanapun juga, rindunya belum lagi tuntas.

“Bukan aku tak mau mengajakmu. Tapi tampaknya urusan ini harus kulakukan sendiri,” cegah Andika sungguh-sungguh. Purwasih memain-mainkan jemarinya. Wajahnya tertunduk dalam.

“Kalau begitu, kapan kita bisa berjumpa lagi?”

ungkap gadis itu agak melemah.

Andika berpikir sejenak.

“Bagaimana kalau di pura tua sebelah timur kaki Gunung Sumbing?” tawar Andika. “Aku berjanji akan menemuimu di sana, pada hari ke tiga setelah purnama.”

Purwasih mengangguk lamban dan berat.

“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Andika sekali lagi diiringi sebaris senyum menawan. Senyum yang mampu meruntuhkan hati gadis mana pun juga.

Baru saja Andika hendak berangkat....

“Andika tunggu” sentak Purwasih, menahan langkah Pendekar Slebor.

Andika menoleh. Mimik wajahnya seolah hendak bertanya kenapa Purwasih masih juga menahannya.

“Hati-hatilah,” pesan gadis itu sendu.

Andika menarik napas sejenak, lalu melangkah pergi. Bukannya dia tak tahu, bagaimana perasaan Purwasih terhadapnya. Hanya saja, Andika tak pernah memiliki perasaan yang sama.

Tinggallah Purwasih menatapi kepergian Pendekar Slebor.

“Aku masih rindu padamu, Andika..,” bisik gadis itu, sendu sekali.

Purwasih memang tak bisa berbuat apa-apa. Gadis ini amat tahu pribadi Andika. Kalau pemuda itu berkata hendak menyelesaikan urusan sendiri, maka akan dilakukannya sendiri. Hitam baginya harus hitam. Putih baginya harus putih. Berkeras bagi Purwasih pun, sama sekali tak berguna. ***

Jika dengan berkuda, jarak yang harus ditempuh Andika ke Sungai Mati di sebelah utara akan memakan waktu setengah hari. Maka paling tidak Pendekar Slebor bisa tiba di sana menjelang malam nanti. Lain lagi kalau ditempuhnya dengan berlari.

Pengerahan ilmu meringankan tubuh warisan Pendekar Lembah Kutukan cukup untuk mem-persingkat waktu hingga tiba lebih awal.

Kala ini matahari mulai terpuruk di kaki langit sebelah barat. Sinar Jingganya memulas permukaan Sungai Mati yang tak lagi mengalir sejak beberapa puluh tahun belakangan ini. Terpaan angin mengusili permukaannya, membuat cahaya pantulan matahari menjadi terencah-rencah menjadi sinar kecil-kecil.

Tak lama berselang setelah Andika sampai, Raja Penyamar pun muncul dalam penampilan aslinya.

Seorang kakek tua berjenggot putih yang menguncup di ujungnya. Kepalanya berambut putih pendek, dibelit kain batik, seperti bentuk blangkon Parahiangan. Wajahnya dipenuhi kerutan yang berkesan berwibawa. Sinar mata tuanya pun begitu sejuk. Dia mengenakan baju coklat rapat berkerah pendek, serta bercelana pangsi hitam.

Raja Penyamar muncul begitu saja di atas permukaan air sungai. Jika ditilik dari caranya berdiri, sehelai bulu pun mungkin kalah ringan dibanding tubuhnya. Bisa dimaklumi, sehab wujud sebenarnya dari lelaki itu sudah berupa roh.

“Ada apa memanggilku, Raja Penyamar?” tanya Andika. “Terus terang saja, sebenarnya aku enggan bertemu denganmu. Aku masih jengkel oleh semua ulahmu padaku beberapa waktu lalu.” “Ah Anak Muda..., Anak Muda. Apa kau tak memiliki sedikit kesabaran dalam menghadapi tingkah si Tua Bangka ini?” gurau Raja Penyamar, tokoh tua yang amat disegani pada masa jayanya delapan puluh tahun silam.

Beberapa tahun lalu. Raja Penyamar telah mati karena penyakit yang tak bisa disembuhkan. Berkat kuasa Tuhan Penguasa Alam, rohnya masih tetap hidup untuk menjalani tugas mulia, menyelamatkan manusia dari tangan biadab Manusia Dari Pusat Bumi. Walaupun upaya penyelamatan itu dibantu orang.

“Ah, sudahlah Tak perlu lagi berbasa-basi, Orang Tua” sergah Andika. “Katakan saja, apa ke-pentinganmu memanggilku ke tempat ini?”

Raja Penyamar mengangguk-angguk sebentar.

Sementara bibirnya tetap tersenyum.

“Aku tahu, baru kali ini kau menghadapi persoalan yang berkaitan dengan dunia siluman...,” kata Raja Penyamar lagi.

“Ya, kuakui masalah baru ini membuatku mendadak jadi orang jantungan. Kau tahu, betapa tak enaknya berjalan di atas bumi dengan perasaan waswas karena khawatir siluman-siluman bisul segala macam seperti yang kau sebutkan, akan mencekik leherku tiba-tiba?” cerocos Andika bernafsu.

“Ha... ha... ha” Raja Penyamar tertawa.

“Kenapa tertawa?”

“Kini aku baru percaya, bahwa setiap manusia sesungguhnya pasti memiliki rasa takut juga....”

“Hey? Tapi itu bukan berarti aku pengecut”

sentak Andika tersinggung.

“Ya..., ya. Apa pun namanya itu....”

“Pokoknya aku bukan pengecut” tandas Andika tak peduli. “Sekarang, katakan saja. Apa maksudmu?”

“Aku tadi baru hendak menjelaskan, tapi kau menyelak...,” sindir Raja Penyamar.

“Baik..., baik. Aku tak akan menyelak lagi Ayo katakan”

Raja Penyamar diam sesaat.

“Sekarang aku sudah boleh bicara?” usik Raja Penyamar.

“Dari tadi juga sudah kutunggu”

Akhirnya pembicaraan yang sungguh-sungguh bisa berlanjut juga.

“Karena aku tahu, kau harus menghadapi seperti ini. Maka kau membutuhkan sesuatu yang bisa mem-bantumu,” papar Raja Penyamar.

“Apa itu?”

“Sebuah Cermin Alam Gaib. Dengan benda itu, kau akan dapat mengetahui setiap kehadiran siluman-siluman itu. Meskipun, mereka makhluk-makhluk halus....”

“Di mana bisa kudapat benda itu?” tanya Andika bersemangat.

“Di Rimba Slaksa Mambang....”

*** 3

Kalau ada tempat yang paling menggidikkan dan tak seorang pun mau mendekati, maka salah satunya adalah Rimba Slaksa Mambang. Sesuai sebutannya, konon hutan belantara itu adalah tempat ber-semayamnya para makhluk halus.

Tepat di jantung Rimba Slaksa Mambang, tumbuh pohon amat besar berusia ratusan tahun. Di sanalah terletak pintu penghubung dari alam nyata, menuju alam gaib.

Pohon itu sangat besar seperti pohon beringin.

Batangnya saja sebesar tiga atau empat ekor kerbau tua. Warnanya hitam kusam kehijauan, karena di-selimuti lumut liar. Di sana-sini merangas oyot pohon yang menjulur dari atas ke bawah, seolah tangan-tangan bisu dari dunia lain. Akarnya sudah meninggi seperti sekat-sekat ruangan pemandian mayat.

Daunnya begitu lebat, tak memberi kesempatan secercah pun bagi cahaya untuk masuk.

Bagi manusia waras, merambah tempat ini adalah tindakan gila yang paling gila. Tapi, tidak bagi seorang pemuda berambut gondrong berpakaian hijau-hijau dengan selembar kain bercorak catur tersampir di bahu.

Tak ada hal yang terlalu gila untuk dilakukan pemuda itu, selama menyangkut keadilan dan kebenaran. Terkadang, kegilaan baginya adalah sekadar cara mencapai tujuan tadi. Lalu, pendekar mana lagi yang kerap bermain-main dengan tindakan gila kalau bukan si Pendekar Slebor? Seperti petunjuk Raja Penyamar, Andika telah tiba di Rimba Slaksa Mambang. Setelah menerobos onak berduri, semak belukar dan simpang siurnya batang pepohonan. Pendekar Slebor akhirnya tiba pula di dekat pohon angker tadi.

Dari jarak dua puluh tombak, Pendekar Slebor memandangi pohon raksasa itu dengan pandangan takjub. Bila dibanding-banding, tubuhnya hanya seperti kuku dengan pohon itu. Beberapa kali kepala Andika mendongak, untuk menatap ubun-ubun tumbuhan raksasa itu. Dan beberapa kali pula kepalanya harus digeleng-gelengkan. Orang lain mungkin akan berpikiran yang bukan-bukan saat itu.

Andika sendiri justru sedang menyadari bahwa keberadaan manusia seperti dirinya di alam semesta ini, sebenarnya terlalu kecil. Mungkin hanya sekadar debu di antara debu yang lebih besar.

Puas menghela napas, Andika mulai memusatkan perhatian kembali pada tugasnya untuk menemukan Cermin Alam Gaib yang menurut Raja Penyamar, tergolek dalam salah satu lubang pohon raksasa.

Pendekar Slebor mendekati pohon raksasa itu.

Makin dekat, makin terlihat jelas bagaimana rupa tumbuhan ini. Ternyata di batangnya, banyak terdapat lubang dalam berukuran sebesar kepala manusia.

Kesulitan pertama bagi Andika adalah, bagaimana cara menemukan satu lubang yang di dalamnya terdapat Cermin Alam Gaib? Sementara, Raja Penyamar tak pernah menyinggung-nyinggung soal itu.

“Jempol kerbau Bagaimana aku bisa menemukan benda itu kalau lubangnya saja begitu banyak,” rutuk Andika. “Kalau aku rogoh setiap lubang, bisa saja ada binatang berbisa di dalamnya. Apa si Tua Brengsek ini menganggapku sudah kebal racun?” Sesaat dipandanginya lagi batang pohon. Sampai akhirnya, diputuskannya untuk memeriksa setiap lubang dengan ranting kering. Setelah didapatinya ranting kering, Andika pun mulai melakukan pemeriksaan. Satu persatu, disodoknya. lubang-lubang itu dengan hati-hati. Pada lubang kelima, tiba-tiba saja seekor ular pohon berbisa mematuk keluar.

Andika tercekat. Wajahnya pasti akan langsung jadi santapan empuk bisa ular itu kalau tak cepat berkelit. Dengan ranting kayu di tangan kanannya, kepala ular berbisa tadi langsung dihantamnya, dengan telak.

Prak

Tanpa sempat berdesis lagi, binatang itu menemui ajal.

Pendekar Slebor menarik napas lega. Lubang-lubang di bagian paling bawah telah selesai diperiksa.

Tak ada satu tanda pun didapat untuk menunjukkan kalau Cermin Alam Gaib berada di dalamnya. Dengan begitu, Pendekar Slebor harus memeriksa lebih ke atas.

Masih tetap berhati-hati, Andika mulai merayapi kulit pohon. Tonjolan-tonjolan keras dimanfaatkannya untuk pijakan dan pegangan. Lalu sebagian demi sebagian batang pohon dirayapinya. Sementara itu, tangannya terus memasukkan ranting kayu ke setiap lubang.

Ketika hari mulai terjebak dalam kegelapan, Andika baru bisa memeriksa sampai di tengah batang pohon. Sungguh sebuah pekerjaan yang tak ringan, nilainya. Sampai pada lubang keseratus tiga puluhan, barulah Pendekar Slebor mendapat satu keganjilan.

Ranting kayu di tangannya bertumbuk dengan suatu benda hingga menimbulkan bunyi yang lain dari sebelumnya.

Krang

“Nah Kalau aku beruntung, pasti di lubang ini Cermin Alam Gaib terdapat. Kalau apes, paling-paling aku hanya menemukan piring kaleng rombeng bekas kenduri para dedemit,” gurau Pendekar Slebor menghibur diri. Paling tidak, dengan begitu dia lebih yakin untuk memasukkan tangannya ke dalam lubang.

Dengan tetap berpegangan erat pada satu tonjolan kulit pohon, Andika memasukkan satu tangan ke dalam lubang tadi. Mulanya sebatas pergelangan tangan. Lalu, lebih dalam sampai sebatas siku.

Sampai akhirnya, sebatas bahu. Tapi sejauh itu, tangannya tidak menemukan apa-apa.

“Aneh...,” bisik Andika. Diperhatikannya ranting kayu yang sebelumnya diselipkan di balik baju.

“Padahal ranting kayu ini tidak lebih panjang dari tanganku.”

Memang, kalau ranting itu tadi menyentuh sesuatu, tangan Andika justru tak menyentuh apa-apa. Bahkan dasar lubang itu sekali pun. Sementara, tangannya sudah tidak bisa dijulurkan lebih dalam lagi.

Untuk meyakinkan diri. Andika mengeluarkan tangannya. Kembali lubang itu disodoknya dengan ranting kayu.

Tring

Sekarang terdengar lagi suatu bunyi. Namun suaranya lebih tinggi dari yang pertama.

Andika meringis. Benar-benar dia tak habis pikir.

“Ada yang aneh dengan lubang ini,” simpul Pendekar Slebor kemudian. Hanya itu yang bisa diperbuat. Selebihnya, dia masih tetap bingung. Sementara itu, matahari sudah tenggelam

seluruhnya di kaki langit barat. Sisa sinar Jingga pun terkubur gelap. Hari telah berganti, dan waktu para makhluk halus untuk bergentayangan di mayapada telah tiba.

Dalam kepekatan suasana Rimba Slaksa

Mambang, berpasang-pasang mata bermunculan satu persatu. Dari semak, dari kulit pohon, dari ranting besar, bahkan dari dedaunan.

Wujud-wujud asing menyusul muncul tanpa pernah disadari Pendekar Slebor. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Mereka menampakkan diri dengan bentuk masing-masing. Benar-benar suasana yang menyeramkan.

Saat yang sama, kesusahpayahan Andika menggapai dasar lubang tiba-tiba hilang sama sekali.

Mendadak saja, tangannya menyentuh sesuatu.

Seolah, benda itu datang dengan sendirinya.

Sementara itu bulu-bulu halus di sekujur tengkuk Andika meremang. Dia sama sekali tak bisa mengerti, apa yang terjadi. Dan ketika tangannya ditarik untuk melihat benda yang dipegangnya, sehimpun suara menggidikkan memadati tempat itu. Tak seperti tawa.

Tak juga seperti tangis. Tak seperti jeritan. Tak juga seperti gumaman. Semuanya begitu asing....

***

“Pengadilan menanti”

Satu teriakan membawa Andika kembali ke alam kesadaran. Kelopak matanya segera dibuka. Sinar siang, tajam menusuk, membuat Pendekar Slebor berkali-kali mengerjap silau. Wajahnya menengadah langit, karena tubuhnya sudah tergeletak entah di mana.

Yang terakhir diingatnya hanya suasana Rimba Slaksa Mambang yang mendadak asing sewaktu mencoba menemukan Cermin Alam Gaib. Sewaktu tangannya ditarik dari lubang, suara-suara aneh sempat didengarnya. Setelah itu, dia tak sadarkan diri sama sekali. Seakan-akan, seluruh kesadarannya dibetot oleh suatu kekuatan. Padahal, benda yang terpegang tangannya belum lagi dilihatnya.

Seiring keluhan kecil, Andika mencoba bangkit.

Sakit pada beberapa bagian tubuh, membuatnya harus bersusah payah menegakkan punggung. Kini dilihatnya sebuah dataran kosong tandus. Tanah kering berdebu kecoklatan di mana-mana. Sedang di kejauhan sana, hanya terlihat jajaran pegunungan mengurung tempat ini.

“Di mana aku?” bisik Pendekar Slebor. “Mengapa tiba-tiba aku ada di tempat ini?”

Sebelum pertanyaan itu terjawab, kembali terdengar teriakan kedua.

“Pengadilan menanti”

Pendekar Slebor tersentak. Dengan sigap, dicobanya berdiri. Lalu dicarinya asal suara tadi. Tanpa sulit-sulit, dilihatnya dua sosok di kejauhan. Cara berdiri mereka begitu mengancam di mata Andika.

“Siapa pula mereka?” tanya Pendekar Slebor kemudian.

Penasaran dengan wajah kedua orang itu, Andika mengangkat tangan di atas alis matanya untuk menahan sinar matahari yang menusuk, sehingga tak begitu jelas melihat siapa yang hadir. Tiba-tiba, Pendekar Slebor baru sadar kalau di tangannya tergenggam sesuatu. Sewaktu dilihat, ternyata sebuah cermin selebar jengkalan tangan. Bentuknya bulat, dengan bingkai kayu hitam serta setangkai gagang tempat tangannya menggenggam.

“Inikah cermin yang dimaksud Raja Penyamar”

tanya Andika membatin.

Seperti sebelumnya, pertanyaan itu pun dipenggal oleh teriakan yang sama.

“Pengadilan menanti”

Andika menjadi jengkel. Teriakan yang sama dengan suara serak memekakkan, tentu saja amat memuakkan. Andika melirik kesal dengan ujung mata. Kemudian....

“Peduli setan Peduli tuyul” maki Pendekar Slebor sembarangan, dengan teriakan pula.

Salah seorang yang dimaki terkekeh mendengarnya. Terdengar sama menyebalkannya dengan teriakan tadi. Andika berpikir, kalau bukan orang tak berotak, tentunya mereka orang sinting. Bila orang waras, mana mungkin tak tersinggung dengan makiannya.

Silat slebor Andika tampaknya tak akan berguna menghadapi orang sesinting mereka. Seperti halnya menghadapi Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu dulu (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”). Justru, malah Andika sendiri yang dibuat kelimpungan menghadapi tingkah simpang siur kedua lelaki tersebut.

“Sebenarnya apa yang kalian mau dariku?” tanya Andika akhirnya.

“Tak banyak,” sahut seorang yang dikenal sebagai Hakim Tanpa Wajah. “Kami hanya ingin mengadilimu di Pengadilan Perut Bumi....”

“Mengadili? He... he... he” giliran Andika terkekeh.

“Dugaanku ternyata benar. Kalian memang orang sinting Tapi, tunggu dulu....” Andika langsung teringat pada cerita Raja Penyamar di Kampung Kelelawar beberapa waktu lalu.

“Kalian tentu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi...,” duga Pendekar Slebor yakin.

“Tepat sekali” jawab Hakim Tanpa Wajah.

“Nah” Andika menjentikkan jari tangan. “Kalau begitu, pucuk dicinta..., ulam tiba”

“He... he... he. Baru kali ini aku bertemu 'seorang tertuduh' begitu bersemangat berhadapan denganku,” tukas Hakim Tanpa Wajah.

Andika berjalan mendekati mereka. Sampai sekitar delapan tombak, barulah dia berhenti. Ditatapnya wajah dan perawakan mereka satu-satu.

“Kau pasti Hakim Berwajah Tembok” sebut Pendekar Slebor seraya mengacungkan jari ke wajah Hakim Tanpa Wajah. Lalu, matanya memutar ke Manusia Dari Pusat Bumi. “Sedangkan kau pasti Manusia Dari Lobang Koreng”

Mendapat cemoohan pemuda dari Lembah

Kutukan itu, lagi-lagi Hakim Tanpa Wajah terkekeh tanpa beban. Lain halnya Manusia Dari Pusat Bumi dengan wajah yang tetap dingin, kakinya melangkah dua tindak ke depan.

“Dengan ini, kau kutuntut atas beberapa

kesalahan. Bahwa kau telah bersalah, banyak mencampuri urusan orang lain. Bahkan bertindak gegabah membunuh para pengacau dunia” papar Manusia Dari Pusat Bumi, bagai seorang jaksa penuntut dalam sebuah pengadilan.

Mulut Andika kontan mencibir. “Heh Kalau semua orang menganggap menegakkan keadilan sama dengan mencampuri urusan orang, bisa cepat kiamat dunia ini....” “Kau juga bersalah karena telah mencuri sebuah cermin dari Rimba Slaksa Mambang” lanjut Manusia Dari Pusat Bumi tanpa peduli dengan tanggapan sinis Pendekar Slebor.

Acuh tak acuh, pemuda berpakaian hijau itu mengangkat cermin di tangannya ke depan.

“O, ya. Aku hampir lupa memberitahukanmu.

Dengan cermin ini, aku akan bisa menghadapimu meski kau menguras seluruh ilmu gaibmu dan mengundang seluruh siluman sial untuk

membantu....”

“Salah” terabas Manusia Dari Pusat Bumi, begitu dingin. “Justru cermin itu akan membuatmu makin sulit untuk mengalahkanku...”

Sekali ini Andika benar-benar dibuat terperanjat habis-habisan. Pasti ada sesuatu yang tak beres telah terjadi, begitu pikir Pendekar Slebor.

“Apa maksudmu?” tanya Andika seperti tak yakin dengan pendengarannya.

“Cermin itu adalah benda milik para siluman yang dipersiapkan selama ratusan tahun, untuk mengokoh-kan kehadiranku sebagai 'pemelihara angkara murka'”

Jantung Andika seperti hendak berhenti berdenyut saat itu juga. Darahnya seperti berhenti mengalir, dan benaknya seperti dikosongkan tiba-tiba. Baru disadari kalau dia telah melakukan kesalahan besar. Juga baru diingat kalau Raja Penyamar yang ditemuinya di Sungai Mati, tak pernah meninggalkan aroma bunga sedap malam layaknya kebiasaan Raja Penyamar (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).

“Tentu ada siluman yang telah menyamar menjadi Raja Penyamar untuk menipuku. Lalu, aku dimanfaatkan untuk mengantarkan benda laknat ini pada Manusia Dari Pusat Bumi. Sebagai makhluk kasar aku dimanfaatkan, karena mereka tak bisa membawa sendiri benda ini, akibat sekat antara alam halus dan kasar...,” simpul Pendekar Slebor geram.

Untuk pertama kalinya, wajah dingin Manusia Dari Pusat Bumi menampakkan seringai.

“Keparat” rutuk Andika.

Kemarahan Pendekar Slebor meledak sudah.

Diangkatnya Cermin Alam Gaib tinggi-tinggi. Dengan seluruh kekuatan warisan Pendekar Lembah Kutukan yang terkerahkan akibat kemurkaannya, tentu benda tipis itu akan hancur berkeping-keping seperti kerikil kala Andika menghantamkannya ke lutut.

Siat Tak

Cermin di tangan Andika seketika bertumbukan amat keras dengan lututnya. Namun hasilnya bukan-lah seperti yang diduga sebelumnya, benda itu tetap utuh seperti tak pernah terjadi apa-apa. Sebaliknya, sehimpun rasa nyeri tak terhingga melabrak Andika saat itu juga.

“Aaakh”

Teriakan menyayat terlepas dari kerongkongan pendekar muda itu. Bersamaan dengan teriakannya, Cermin Alam Gaib terlepas jauh ke angkasa. Benda itu seketika melayang dalam putaran cepat. Pantulan sinar matahari berkerjap-kerjap dari permukaannya, bagai cemoohan bagi Pendekar Slebor.

Meski menderita sakit luar biasa, Andika masih mampu menjaga akal sehatnya. Jelas benda itu akan berbahaya jika jatuh ke tangan Manusia Dari Pusat Bumi. Maka tanpa mempedulikan rasa sakit yang menjalari serat-serat tubuhnya, Pendekar Slebor sebisa-bisanya menghentakkan kakinya penuh tenaga. Maka tubuhnya langsung melayang menyusul Cermin Alam Gaib.

“Hiaaa”

Sekejap di belakangnya, Manusia Dari Pusat Bumi mengikuti tindakan Pendekar Slebor. Tak kalah tangkas, tubuhnya melayang ke udara dari arah berlawanan. Tak

Di udara, tangan Pendekar Slebor yang hendak menggapai cermin dihadang dengan tendangan ungkit yang lurus di depan dada. Maka seketika telapak tangan Andika tersodok telak ujung jari kaki pemuda bertaring itu. Kemudian disusul dengan sambaran tangan kanan, seperti gerakan menyampok untuk merebut Cermin Alam Gaib.

Tak

Andika cepat mengirimkan serangan susulan. Satu gerak menyabet ke dalam dilepaskan tangan kiri untuk menahan pergelangan tangan Manusia Dari Pusat Bumi yang hendak menggapai Cermin Alam Gaib. Akibatnya, pergelangan tangan mereka ber-hantaman keras.

Ketika titik balik luncuran cermin tiba, kedua pemuda gagah berbeda silat dan usia itu sama-sama saling melancarkan tebasan-tebasan amat cepat.

Satu menghantam, yang lain menangkis. Begitu pula sebaliknya. Bahkan tindakan itu sampai tubuh mereka mulai meluncur turun, menyusul menukiknya Cermin Alam Gaib.

Khawatir Hakim Tanpa Wajah memanfaatkan

kesempatan itu untuk menyambut cermin dari bawah, Pendekar Slebor cepat-cepat melepas kain pusaka dari bahunya pada kesempatan yang begitu tipis.

Srat

Kecepatan yang sulit tertandingi warisan Pendekar Lembah Kutukan, cukup memberi Pendekar Slebor kesempatan untuk menyabetkan kain pusaka ke arah Cermin Alam Gaib.

Tar

Pendekar Slebor memang sempat mengenyahkan cermin, jauh dari jarak jangkauan Hakim Tanpa Wajah. Tapi untuk itu, dia harus menebusnya dengan akibat yang tak ringan. Mendadak saja hantaman punggung tangan Manusia Dari Pusat Bumi telah menyodok dadanya.

Des

Saat itu juga, arah luncuran tubuh Pendekar Slebor berubah cepat. Tubuhnya tidak lagi meluncur lurus ke bawah, melainkan meluncur dalam arah menyimpang ke belakang akibat hantaman tenaga Manusia Dari Pusat Bumi. Sepotong erangan tertahan langsung tercipta. Setelah itu, Pendekar Slebor tak ingat apa-apa. Dunia bagai dirampas tiba-tiba.

Semuanya menjadi gelap..., gelap.

***

Malam ini adalah hari ketiga setelah purnama.

Kaki Gunung Sumbing disapu rata oleh cahaya temaram rembulan yang mulai meramping. Di sebelah timur kaki gunung, sebuah pura tua berdiri dingin di atasnya.

Di dalam bangunan itu, Purwasih duduk gundah di antara siraman cahaya lembut api unggun. Wajah gelisahnya berpendar-pendar akibat pantulan cahaya, membuatnya terlihat demikian anggun menawan.

“Ke mana Andika?” tanya Purwasih pada diri sendiri. “Tak mungkin dia ingkar janji. Aku tahu pribadinya. Lalu, kenapa sampai selarut ini dia belum juga datang?” Sudah begitu lama dara jelita berjuluk Naga Wanita itu menanti kehadiran jejaka pujaan hatinya.

Selama itu, perasaannya terus saja terombang-ambing oleh kegelisahan. Dia sendiri tak memahami, kenapa bisa begitu.

Untuk sedikit mengusir rasa yang tak enak itu, Purwasih melamunkan kejadian yang lalu, yang pernah dialami bersama Andika. Ya Saat-saat indah memang pernah dialaminya bersama si Pemuda itu.

Kala di mana dia begitu dekat serta berbagi suka dan duka dalam suatu tugas negara, menumpas

Gerombolan Begal Ireng. Tapi mungkin saja saat itu, Purwasih tahu kalau Andika hanya menganggapnya sebagai mitra seperjuangan. Atau mungkin menganggapnya sebagai saudara perempuan, karena sesungguhnya mereka berdua masih memiliki pertalian darah. (Baca episode : “Dendam dan Asmara”).

Sesaat kemudian, bibir ranum Purwasih mengem-bangkan senyum tipis, manakala benaknya terngiang kembali ucapan-ucapan urakan Andika padanya yang sering kali keterlaluan dan menggemaskan.

“Andika..., Andika...,” bisik gadis itu tak sadar.

“Hey, Gadis Cacingan”

Tiba-tiba saja sebuah suara merobek lamunan Purwasih. Dengan sigap, tangan pendekar wanita itu meraih gagang pedang di punggungnya.

Sret

“Siapa kau?” bentak si Naga Wanita seraya mengacungkan mata pedang ke depan.

Dari pintu masuk, muncullah seorang nenek tua berpunuk seperti onta. Rambutnya demikian panjang, hingga terseret-seret di tanah. Tak seperti nenek tua biasa, dia mengenakan baju panjang warna Jingga mencolok. Pipinya yang kendor, tampak bergerak- gerak sewaktu mengunyah gulungan sirih.

Seperti tak peduli dengan pertanyaan gusar Purwasih, nenek peot itu terus mendekati Purwasih.

“Apa kau tak dengar kalau kusebut gadis

cacingan?” kata nenek itu.

“Apa maksudmu, Nenek Tua?” tanya Purwasih lebih sopan, sewaktu mengetahui siapa yang masuk.

Pedang berkepala naga di tangannya diturunkan. Dia tak ingin terlihat tidak sopan pada orang tua uzur itu.

“Apa maksudmu? Huh Buat apa kau masih terus menunggu di sini? Terbengong-bengong seperti orang cacingan?”

“Aku menunggu seseorang, Nek.”

“Pemuda berpakaian hijau-hijau berwajah ningrat, tapi berpenampilan gembel itu?” terabas si Nenek Peot semena-mena.

“Dari mana Nenek tahu?” tanya Purwasih heran.

Si Nenek Peot mengibaskan tangan di udara.

“Haaah Itu soal sepele” tukas si Nenek. “Kau tak perlu tahu dari mana aku tahu. Yang sekarang justru harus kau tahu adalah.... Ah slompret Kenapa aku jadi pelupa begini?”

Si Nenek Pikun memainkan gulungan sirih di mulutnya. Untuk beberapa saat bia tampak berpikir keras.

“O, iya Aku ingat sekarang. Yang perlu kau ketahui, pemuda yang kau tunggu sekarang ini sedang sekarat....”

“Apa?” sentak Purwasih begitu khawatir.

“Sabar-sabar.... Jangan terburu nafsu Anak muda sial itu masih cukup kuat untuk tetap bertahan hidup....”

“Di mana dia, Nek?” desak Purwasih, tak sabar.

“Di danau dekat pinggiran Rimba Slaksa Mambang,” jawab si Nenek acuh sambil melenggang keluar. Seiring dengan itu, wangi bunga sedap malam segera menebar memenuhi ruangan.

*** 4

“Kira-kira, ke mana lagi kita harus mencari pemuda bertanda bintang itu, Dungu?” tanya Lelaki Berbulu Hitam pada kawannya yang berotak bebal.

Setelah lolos dari tangan Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi, kini mereka sudah tampak jalan beriringan pada sebuah jalan setapak.

“Gara-gara hakim sableng itu, kita gagal meminta bantuan pemuda yang ditunjuk dalam wangsit sebagai 'sang penolong'” gerutu lelaki keturunan serigala itu keras dan meledak-ledak.

“Aku kira juga begitu,” sahut Pendekar Dungu, dengan mata terus terjatuh pada jalan. “Kalau binatang peliharaanmu tidak segera datang waktu itu, tentu kita sudah jadi tawanan si Bangkotan Muka Rata”

Lelaki Berbulu Hitam menghentikan langkahnya.

Wajahnya tiba-tiba terbakar matang.

“Aku sedang membicarakan pemuda penolong kita, Dungu Bukan soal serigala-serigalaku Lagi pula, mereka bukan peliharaanku. Mereka itu kawanku”

bentak Lelaki Berbulu Hitam ngotot sampai-sampai urat lehernya menonjol keluar.

“Astaga Sial kau, ya Jadi si Hakim Tanpa Wajah dan pemuda jelek itu kawanmu?” Pendekar Dungu ikut berhenti. Ditantangnya tatapan berang si Manusia Berbulu dengan wajah penasaran.

“Bukan, Guobeluoook Maksudku, Serigala-

serigala itu”

“Lho. Jadi, serigala-serigala itu yang bisa menolong masalah kita? Tadi kau bilang pemuda berpakaian hijau-hijau.... Kau jadi linglung sekarangnya?” kata laki-laki bangkotan berotak bebal itu lagi.

Setelah itu Pendekar Dungu melangkah santai, meninggalkan Lelaki Berbulu Hitam yang masih berdiri sambil memukul-mukul kepala sendiri. Andai Lelaki Berbulu Hitam adalah mercon bungkus, tentu sudah melesak saat itu juga menghadapi kebodohan kawannya.

Sebelum Lelaki Berbulu Hitam sempat menumpahkan kemarahan dengan serangkai caci-maki kasar, tiba-tiba seseorang berkelebat dari belakang, melewati dirinya lalu melewati Pendekar Dungu di depan.

Dari kecepatannya bergerak, tentu orang itu sedang mengerahkan kemampuan lari cepat pada puncaknya.

“Hey, siapa itu?” seru Lelaki Berbulu Hitam.

“Bukan aku” jawab Pendekar Dungu. Padahal, Pendekar Dungu tak ditanya sama sekali. Namun dia cepat sadar kalau ada orang yang mendahuluinya.

“Ya... ya Siapa itu?”

“Kejar, Dungu” ujar Lelaki Berbulu Hitam seraya mengempos tenaga untuk mengejar orang tadi.

“Ya... ya... ya, kejar” latah Pendekar Dungu lebih bersemangat.

Seketika kejar-kejaran terjadi. Tanpa mengalami kesulitan, Lelaki Berbulu Hitam yang lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh daripada Pendekar Dungu, bisa menyusul orang yang diburu. Dari jarak empat depa di belakang buruan, seluruh ilmu meringankan tubuhnya dikempos. Di udara, tubuhnya segera melesat cepat mendahului orang tadi, lalu berhenti menghadang dengan wajah garang.

“Berhenti” bentak Lelaki Berbulu Hitam lantang. Buruan itu berhenti mendadak, begitu mendengar bentakan. Sementara Pendekar Dungu terlalu keasyikan menggenjot langkah larinya yang tak sehebat Lelaki Berbulu Hitam. Akibatnya, sewaktu kawannya menghadang mendadak, dia malah lupa berhenti.

“E-e-e, awas Awaaas” teriak Pendekar Dungu kelimpungan sendiri, tanpa bisa menahan. Dan yang jadi sasaran tabrakannya adalah Lelaki Berbulu Hitam.

Dada besar manusia keturunan serigala itu ditanduknya. Untuk ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tenaga, Pendekar Dungu memang berada satu tingkat di atas Lelaki Berbulu Hitam. Jadi jangan tanya, apa akibatnya kalau kepalanya menyeruduk Lelaki Berbulu Hitam. Seperti kerbau gila

Lelaki Berbulu Hitam terjengkang ke belakang beberapa depa. Mulutnya menganga lebar dan matanya mendelik hendak keluar. Saat berikutnya, tubuh gempal itu menimbulkan bunyi cukup merdu sewaktu menghantam jalan berkerikil.

Di lain pihak, mata sayu Pendekar Dungu jadi tambah sayu. Biji matanya yang kelabu berputar-putar tak karuan. Tak lama berikutnya, kepalanya sendiri, ditampar-tampar. Seakan, dengan perbuatan itu gerak mata bisa dibetulkan.

Tak jauh di depan, Lelaki Berbulu Hitam bangkit menggeliat-geliat menahan sakit di seluruh belakang tubuhnya. Sesekali diam meliuk ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi.

“Kali ini, kepalamu benar-benar akan kuremukkan, Dungu” ancam Lelaki Berbulu Hitam dengan mata mengerjap-ngerjap.

Tingkah kedua tokoh itu benar-benar mem- bingungkan orang yang dihadang. Dia seorang wanita berpakaian hijau lumut. Dengan rambut berkepang ekor kuda dan pedang kepala naga di punggung, sudah bisa diduga dia adalah Purwasih. Kebetulan sekali gadis itu mengambil jalan singkat dari tempat itu untuk menuju tepian Rimba Slaksa Mambang.

“Kalian ini siapa?” tanya Purwasih heran pada Lelaki Berbulu Hitam yang menggeram-geram menghampiri Pendekar Dungu.

“Biar... biar Jangan dipisahkan Dikiranya aku takut pada manusia jelek ini”

Bukannya menyahuti, Pendekar Dungu malah berseru lantang pada Purwasih.

Begitu lantangnya ucapan itu ditujukan pada Lelaki Berbulu Hitam yang siap mengamuk. Lalu, dia malah berbalik lalu lari sebisa-bisanya.

Lelaki Berbulu Hitam mengejar di belakang.

Makian simpang-siurnya terdengar sampai mereka menghilang di kejauhan.

Tinggal Purwasih yang hanya bisa menggeleng-geleng.

“Makin banyak saja manusia edan di dunia ini,”

gumam gadis itu, lalu melanjutkan larinya yang tersendat.

Jarak yang sudah tidak begitu jauh, membuat Purwasih dengan singkat tiba di danau pinggiran Rimba Slaksa Mambang. Segera pandangannya beredar ke seluruh tepian danau. Sampai akhirnya, gadis itu menemukan Andika sedang tergolek lemah di salah satu sudut.

Purwasih segera menjemputnya. Setelah diangkat, tubuh pemuda itu dibopong di bahu. Baru saja Purwasih hendak pergi, mendadak dua lelaki aneh yang menghadangnya tadi, muncul lagi. “Naaa, itu dia” seru Pendekar Dungu. “Daya penciummu jempolan, Hitam”

“Jangan menepuk-nepukku seperti itu” bentak Lelaki Berbulu Hitam ketika Pendekar Dungu menepuk-nepuk punggungnya keras.

***

Dalam ruang sebuah pura tua di sebelah timur kaki Gunung Sumbing, lima orang tampak mematung bisu. Yang seorang tergeletak pucat di dekat api unggun. Dialah Andika. Telah tiga hari tiga malam, pemuda itu tak sadarkan diri. Di sisinya, Purwasih duduk menekuk lutut di lantai. Di salah satu sudut ruang. Pendekar Dungu duduk melengkung. Kepalanya terjatuh sesekali, akibat serangan kantuk. Tak jarang mengalir lendir dari mulutnya yang menganga seenaknya. Sedangkan Lelaki Berbulu Hitam berdiri melipat tangan di depan dada, tepat di dekat pintu masuk. Satu orang lagi, adalah Raja Penyamar.

Di antara mereka, tak seorang pun yang tahu tentang kehadiran Raja Penyamar. Memang, kehadirannya hanya berupa jasad halus. Sedikit pun tak ada niat untuk menampakkan diri pada mereka.

“Apakah kau tak ingin istirahat dulu, Anak Gadis?”

kata Lelaki Berbulu Hitam, memecah kesunyian. “Kau sudah begitu letih mengurusnya tiga hari tiga malam....”

Dengan wajah letih karena kurang tidur, Purwasih menggeleng lamat.

“Bagaimana aku bisa memejamkan mata kalau orang yang kucintai terbaring dalam keadaan menyedihkan? Denyut jantungnya begitu lemah. Dan wajahnya sudah begitu pucat,” tolak Purwasih, lirih. Ditariknya napas untuk mengenyahkan beban yang menggelantungi dada. “Aku tak mengerti, kenapa dia tetap saja tak mau sadar. Padahal aku telah cukup menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya.”

Lelaki Berbulu Hitam yang hari itu memperlihatkan sifat halus terpendamnya, tampak mengangguk-angguk dengan wajah datar.

“Jangan kau pikir aku tak turut membantu, Anak Gadis. Diam-diam, aku juga mengirim hawa murni dari jarak jauh ke tubuh anak muda itu. Tapi, tampaknya sia-sia...,” kata Lelaki Berbulu Hitam seperti mengeluh.

“Bagaimana dengan kawanmu itu?” tanya

Purwasih, seraya melempar pandangan ke arah Pendekar Dungu.

Melihat si Tua Bangkotan di sudut ruangan, wajah Lelaki Berbulu Hitam jadi berubah. Ada garis kemangkelan terlihat di sudut bibirnya.

“Bagaimana kalau kita menggabungkan hawa murni kita untuk menolongnya?” usul Purwasih.

“Mungkin dengan begitu, dia akan tersadar.”

“Sementara memang begitu,” jawab Lelaki Berbulu Hitam menyetujui. Segera dihampirinya Pendekar Dungu. “Hey Bangun, Dungu”

Merasa tak berguna hanya dengan mulut, Lelaki Berbulu Hitam menendang kaki Pendekar Dungu.

Plak

“Hiaaat”

Kontan saja si Tua Bangka bergigi ompong ini mencak-mencak. Untung saja tangannya tak tersasar ke wajah Lelaki Berbulu Hitam. Kalau tidak, bisa terjadi kiamat dalam ruangan itu.

“Ada apa?” tanya Pendekar Dungu, akhirnya.

Purwasih dengan singkat menjelaskan maksudnya. Setelah Pendekar Dungu setuju, meski harus menunggu lama agar mengerti, barulah ketiganya bersiap-siap. Mereka kemudian duduk berkeliling di sekitar tubuh Andika. Tangan mereka menyatu sama lain. Sedangkan sebelah tangan Purwasih, menempel di dada pemuda yang tak sadarkan diri ini.

Dalam pemusatan rasa dan pikiran, mereka mulai menyalurkan hawa murni masing-masing. Dan tanpa diketahuinya, Raja Penyamar ikut andil menyalurkan kekuatan halusnya, melalui diri Purwasih.

Waktu berlalu. Cukup lama mereka melakukan usaha itu. Tapi sedikit pun tak ada perubahan pada diri Andika. Sampai akhirnya, mereka berhenti karena kehabisan tenaga.

“Aneh Kenapa seluruh hawa murniku seperti disedot begitu saja. Tenagaku seperti terkuras...,”

desah Lelaki Berbulu Hitam, terheran-heran.

“Ya Aku pun baru menyadari, setelah kita menggabungkan hawa murni,” timpal Purwasih.

“Aneh...,” tambah Lelaki Berbulu Hitam.

“Aneh memang.... Memang aneh,” Pendekar

Dungu ikut-ikutan.

Sementara, seseorang tanpa wujud langsung menyadari apa sesungguhnya yang terjadi dalam diri anak muda ksatria itu. Raja Penyamar yakin, ada semacam medan pusaran jahat dari alam lain yang menumpangi garba Andika. Meski sampai saat itu tak juga diketahui penyebabnya.

Medan pusaran jahat itu sengaja dirasuki seseorang ke dalam diri Andika. Tujuannya untuk menyedot habis tenaga orang-orang yang hendak menolongnya, dengan menyalurkan hawa murni.

Mulanya si Korban tak akan merasakan tenaganya tersedot. Mereka baru akan tahu, setelah tak bisa lagi mengerahkan tenaga dalam selama beberapa waktu.

Karena kekuatan mereka sudah terkuras. Yang tersisa hanya rasa lemas jika mencoba mengerahkan tenaga dalam.

“Hanya ada satu orang yang sengaja melakukan ini dengan maksud tertentu,” bisik Raja Penyamar.

“Hakim Tanpa Wajah Dia tentu dibantu Manusia Dari Pusat Bumi. Tujuannya tentu hendak melumpuhkan si Dungu dan si Hitam, yang masih tetap sulit ditaklukkan. Tentu selama ini, gagak yang menjadi

'saksi mata'nya telah mengabarkan bahwa si Dungu dan si Hitam membutuhkan pertolongan Andika....”

Saat itulah indera halus Raja Penyamar merasakan sesuatu yang tak diharapkan bakal terjadi. Tapi, peringatan inderanya itu sudah terlambat. Karena....

“Pengadilan menanti”

Sebuah teriakan yang begitu dikenal, melantak kesunyian ruangan dari arah luar.

“Dungu dan Hitam keparat Kalian tak akan bisa menghindar lagi dari pengadilanku He... hek... hek...

heee”

“Siapa mereka?” tanya Purwasih. Selama tiga hari mengenal Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam, Purwasih memang hanya mendengar penjelasan tentang alasan mereka mencari-cari Andika, lalu sudi pula menolongnya. Sedangkan tentang asal-usul dua tokoh aneh ini, serta urusan lama dengan Hakim Tanpa Wajah tak pernah diceritakan.

“Manusia tak waras yang sok benar sendiri” jawab Lelaki Berbulu Hitam.

“Aku tak mengerti?” lanjut Purwasih.

“Nanti pun kau akan tahu,” putus Lelaki Berbulu Hitam. Selanjutnya, laki-laki berbulu lebat itu keluar dengan langkah terbanting-banting keras.

Pendekar Dungu mengikuti di belakangnya. Juga Purwasih.

Di luar, Lelaki Berbulu Hitam berdiri menantang kedatangan dua seterunya di kejauhan. Sepasang tangannya bertolak pinggang. Wajahnya cepat memerah dipompa kemarahan.

Dengan latah, Pendekar Dungu berdiri di samping-nya dan ikut bertolak pinggang. Punggungnya yang sudah melengkung dipaksa-paksakan untuk tegak.

Mungkin pikirnya, dengan begitu dia tampak mem-busungkan dada. Padahal, malah terlihat seperti sedang menderita encok.

“Penasaran kau, ya?” cemooh Lelaki Berbulu Hitam sarat tekanan.

“Kujamin Sekali ini, kau tak akan lolos lagi. Ingat itu, tak akan” tandas Hakim Tanpa Wajah, berkawal seringai.

“Orang tua Siapa sesungguhnya kau ini? Kenapa berkata begitu tak sopan dan lancang?” selak Purwasih. Muak juga gadis itu melihat lagak Hakim Tanpa Wajah.

“Heee... he... he... heee Ada gadis cantik yang minta diadili” leceh Hakim Tanpa Wajah.

“Tunggu dulu Dari tadi kau bicara soal pengadilan.

Apa kau orang yang belakangan ini membuat kegemparan, dengan julukan Hakim Tanpa Wajah?”

tanya Purwasih tanpa terbetik rasa takut.

“Ya Kau gadis pintar”

“Ooo.... Jadi, ini orangnya yang membuat takut banyak tokoh persilatan belakangan ini?” sinis Purwasih kian berani.

“Sudahlah, Anak Gadis Hanya buang-buang waktu berbicara dengan manusia sial ini” sergah Lelaki Berbulu Hitam, naik pitam.

“Ya... ya. Hanya manusia sial yang buang-buang waktu,” timpal Pendekar Dungu ngawur.

Lelaki Berbulu Hitam maju beberapa tindak. Dari cara berjalannya, tampak kalau dia sudah begitu bernafsu membalas kekalahannya waktu itu.

“Ayo Maju kau” tantang Lelaki Berbulu Hitam.

Manusia Dari Pusat Bumi baru hendak melayani tantangannya. Tapi, sang Guru mengeluarkan tangan dari balik kafan untuk menahan pemuda setengah siluman itu.

“Aku ingin sedikit mengenang peristiwa delapan puluh tahun lalu,” kata Hakim Tanpa Wajah.

Selesai berkata, laki-laki berkain kafan itu meloncat-loncat ke depan. Empat depa di depan Lelaki Berbulu Hitam, baru dia berhenti.

“Kita hendak mulai dari jurus kacangan atau jurus habis-habisan?” tawar Hakim Tanpa Wajah pongah.

“Aaargh”

Lelaki Berbulu Hitam tak mau banyak cing-cong.

Diterkamnya Hakim Tanpa Wajah dengan jari menegang seperti batangan baja.

Hakim Tanpa Wajah amat kenal, bagaimana

tingkat kecepatan lawannya. Pada masa jayanya delapan puluh tahun yang silam, Lelaki Berbulu Hitam berada di papan atas dalam ilmu-ilmu kecepatan.

Tahu akan hal itu, mestinya Hakim Tanpa Wajah cepat menghindar dari cakar Lelaki Berbulu Hitam yang sanggup merobek lehernya dalam sekali tebas.

Tapi hal itu tak juga dilakukan. Sampai....

Srat

Leher kurus Hakim Tanpa Wajah benar-benar di-mangsa cakar lelaki tinggi besar itu. Benarkah laki-laki tua berkain kafan itu akan kehilangan kepala? Sama sekali tidak Sebab, Hakim Tanpa Wajah amat tahu kalau lawannya kini sudah tak memiliki tenaga dalam yang bisa diandalkan untuk melakukan itu.

“He... he... he Kenapa berhenti?” ledek Hakim Tanpa Wajah.

Tampak Lelaki Berbulu Hitam terpana-pana memandangi jari-jari berkuku tajam miliknya yang tak seampuh sebelumnya.

“Astaga, Hitam Kenapa kau tak sungguh-sungguh

'menggaruk' leher manusia sial itu?” seru Pendekar Dungu, masih belum menangkap apa yang terjadi.

“Aku bukan main-main, Goblok Sudah kukerahkan seluruh tenaga dalamku untuk merobek lehernya.

Tapi, tenagaku tidak ada lagi” teriak kalap Lelaki Berbulu Hitam.

“Tak ada? Memang kau pinjamkan pada siapa?”

tanya si Dungu kembali. Amat lugu..., dan tentu menyebalkan

*** 5

Jasad halus Raja Penyamar menelusuri sebuah lorong asing yang panjang bagai tak bertepi. Dalam lorong berpusaran kabut itu, tubuhnya melayang terus menuju ujungnya. Sesekali ada semacam terpaan angin kuat menahan. Dengan susah payah,

ditembusnya dinding angin itu. Tak jarang pula ada kilatan-kilatan cahaya menyambarnya demikian liar.

Raja Penyamar tetap tak peduli.

Seberkas kilatan cahaya tiba-tiba menerjang Raja Penyamar. Tubuhnya langsung terlempar ke sisi lorong, dan langsung disambut pusaran kabut. Tanpa bisa menguasai keseimbangan, tubuhnya terombang-ambing di sisi lorong. Lalu kekuatan pusaran itu hendak melemparnya keluar dari lorong.

Karena Raja Penyamar begitu bertekad untuk berhasil tiba di ujung lorong, kekuatan meng-hempasnya tadi dilawannya. Dia berteriak sekuat-kuatnya, berjuang melawan pusaran yang hendak menggagalkan usahanya. Ketika lengkingannya kian meninggi dan meninggi, keseimbangan tubuhnya pun dapat dikuasai. Dia terus melayang kembali dalam lorong menuju ujungnya, setelah lepas dari cengkeraman pusaran tadi.

Akhirnya tiba pula Raja Penyamar di ujung lorong.

Di sana terbentang ruang tanpa batas. Dalam ruang itu, menggema suara panggilan-panggilan Andika.

“Raja Penyamar Raja Penyamar”

Andika Di mana kau?” tanya Raja Penyamar, bingung. “Aku di sini”

Raja Penyamar mengikuti arah suara Andika.

Dengan tuntunan gaung suara itu, Andika bisa ditemukan pada satu bagian ruang tanpa batas.

Sosok pemuda itu sedang terkurung dalam sebuah sangkar yang selalu berubah bentuk, namun memiliki warna tetap. Yakni, warna merah bara neraka.

Di dalam sangkar, Raja Penyamar melihat Andika meronta-ronta mengerahkan seluruh tenaga. Setiap kali tubuhnya bersentuhan dengan jeruji sangkar, terperciklah bunga-bunga api panas luar biasa.

Sehingga membuat tenggorokan Andika tercekat hendak melepas lolongan.

“Bagaimana aku harus keluar dari sini?” tanya Andika kacau.

“Kerahkan seluruh kehendak sucimu” perintah Raja Penyamar, di sisi sangkar yang melayang dalam ruang tanpa batas.

“Sudah kucoba. Tapi, tak berhasil”

“Coba lagi, dan terus coba”

“Aku tak bisa”

“Kau harus bisa, Andika”

“Aku tak kuat' lagi Sangkar ini terlalu kokoh. Dan pijarnya begitu menyiksa untuk dilawan”

“Tidak, Andika Kau akan kuat untuk menentang-nya Ayo, kerahkan lagi kehendak sucimu Jangan menyerah Ingat Kau adalah pribadi yang tak ingin dikalahkan keangkaramurkaan”

“Aku letih”

“Jangan pernah letih Kau belum tiba pada batas hidup Ayo, berusahalah Jeruji merah bara itu tak sekuat kehendak sucimu, Andika Tataplah ruang tanpa batas ini Mestinya, kehendak sucimu menempati rongga ruang ini Karena, itu yang sesungguhnya disediakan sang Penguasa Alam untukmu Ayo Kau sanggup melawan sangkar laknat itu, Andika Ayo” seru Raja Penyamar tanpa kenal menyerah.

“Aku....”

“Jangan pernah berkata-kata lagi Hanya dirimu yang mampu menolong Hanya dirimu” sambung Raja Penyamar, makin mendesak.

Beberapa lama tubuh Andika bergetar dalam kungkungan sangkar. Seluruh bagian tubuhnya mengejang. Mimik wajahnya sangat menggambarkan suatu perjuangan hidup dan mati. Sedangkan sepuluh jari tangannya mengeras di depan dada.

Andika terus berjuang... berjuang....

Pada satu batas perjuangannya, jeruji sangkar merah bara terlihat meredup dan menguat. Seolah, sedang bertahan dari perlawanan kekuatan kehendak suci Andika. Dan pada saatnya....

“Aaa”

***

Andika mendadak tersadar dari pingsannya yang berhari-hari. Kelopak matanya membuka tersentak.

Sinar matanya nanar, mencari-cari liar. Ketika cahaya matahari ditemukannya, barulah otot-ototnya yang menegang demikian rupa dilemaskan. Dadanya mulai menarik udara ke paru-paru. Lega.

“Andika...,” panggil sebuah suara dari sisi.

Andika menoleh. Dilihatnya Purwasih duduk di dekatnya dengan wajah letih dan mata basah.

“Sukurlah, kau sudah sadar Andika. Aku begitu khawatir melihat keadaanmu,” kata Purwasih lirih seraya menghambur ke dada bidang Andika. Dara jelita itu terisak di sana.

“Apa yang terjadi, Purwasih? Di mana aku?” tanya Andika lemah.

Purwasih menegakkan tubuhnya. “Kau berada dkempat yang aman Andika,” jawab gadis itu.

“Apa yang terjadi denganku?” ulang Andika.

Pendekar Slebor mencoba bangkit. Dan Purwasih pun membantunya, menegakkan punggung dan duduk di sisi pemuda itu.

Lalu, gadis itu pun menceritakan kejadian yang menimpa Andika sepanjang pengetahuannya.

Termasuk, tentang dua lelaki aneh yang kemudian dikenalnya sebagai Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Juga tentang kedatangan dua lelaki asing lain yang dikenalnya sebagai Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi dari desas-desus santer belakangan ini.

“Sewaktu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi bertempur dengan dua lelaki aneh yang membantuku malam itu, tiba-tiba saja ada bisikan di telingaku untuk membawamu secepatnya keluar dari tempat itu. Aku tak tahu, siapa yang berbisik. Seolah, suara itu langsung terdengar meski tak melalui telingaku. Tanpa banyak pikir, aku segera menuruti-nya dan sampailah di tempat ini,” papar Purwasih menyelesaikan ceritanya.

Mata gadis itu langsung merayapi tempat ini.

Sebuah ruang gubuk yang tak begitu terawat baik.

Terletak di sebuah dataran lembah.

“Mana Raja Penyamar?” tanya Andika.

“Raja Penyamar?” Purwasih tak paham maksud Andika.

“Ah Aku lupa, kau belum mengenal dia,” gumam Andika. “Apa yang kau katakan, Andika?”

“Tidak,” hindar Andika cepat. Dia mencoba bangkit, tapi segera ditahan Purwasih.

“Mau ke mana, kau?” tanya gadis itu.

“Aku harus mencari seseorang. Semua kejadian yang menimpaku harus dijelaskannya,” kata Pendekar Slebor.

Sekali lagi dicobanya untuk berdiri kembali. Tapi, kembali Purwasih menahannya.

“Bisikan yang datang padaku waktu itu menitipkan pesan untukmu juga, Andika....”

“Apa?” tanya Andika cepat.

“Katanya, kau tak perlu mendatangi tempatnya.

Dia sendiri nanti yang akan menemuimu....”

***

Tengah malam, ketika Purwasih benar-benar

terpulas membayar kekurangan tidurnya, Andika menyelinap keluar gubuk diam-diam. Memang, ada bisikan yang dikenalnya sebagai suara Raja Penyamar.

Di tengah lembah dalam siraman cahaya redup benda-benda langit, lelaki yang telah lama mati itu berdiri menanti Andika.

“Maukah kau menjelaskan padaku, apa yang sesungguhnya telah terjadi?” tanya Andika, setibanya di dekat jasad halus Raja Penyamar.

“Mestinya kau yang lebih dahulu menjelaskan padaku, kenapa tiba-tiba tergolek tak sadarkan diri di danau pinggiran Rimba Slaksa Mambang?” balik tanya Raja Penyamar.

“Kau belum tahu kejadian yang menimpaku?

Bukankah kau jasad halus yang tak dibatasi ruang dan waktu?”

“Ya, benar. Aku memang jasad halus. Tapi, bukan berarti bisa seenaknya menembus batas ruang dan waktu. Tetap ada ruang-ruang dan waktu-waktu tertentu yang tak bisa kutembus. Sebab, aku bukan Tuhan. Hanya Tuhan-lah yang memiliki secara mutlak ruang dan waktu...,” papar Raja Penyamar. “Sekarang kau mau menjelaskan padaku, apa yang kau alami?”

“Baik....”

Andika mengalah. Maka diceritakannya bagaimana telah ditipu mentah-mentah oleh siluman yang menyerupai Raja Penyamar, sampai akhirnya dia sadar telah dimanfaatkan untuk menyampaikan senjata milik Manusia Dari Pusat Bumi.

“Aku telah begitu bodoh” rutuk Andika pada diri sendiri. “Mestinya aku ingat kalau kau selalu meninggalkan aroma bunga sedap malam setiap kali pergi....”

“Semuanya telah terjadi. Selaku manusia biasa, kau bisa berbuat kesalahan,” hibur Raja Penyamar, arif.

“Kau tak menyalahkanku?” ujar Andika heran.

“Aku tetap menyalahkanmu. Tapi, bisa kumaklumi.

Untuk itu, kau harus melakukan sesuatu agar kesalahanmu dapat ditebus.” Raja Penyamar diam sesaat. “Beberapa hal harus kau lakukan. Pertama, kau harus memanfaatkan kesaktian Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Sebelum terjun kembali ke dalam dunia persilatan, mereka telah kukecoh dengan memberi wangsit palsu yang mengatakan bahwa masalah diri mereka bisa ditolong olehmu.

Dengan begitu, setiap perkataanmu akan dituruti mereka. Nah Usahakan, agar mereka berdiri di pihakmu untuk menentang kezaliman Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi....”

“Selanjutnya?”

“Aku yakin, Cermin Alam Gaib akan sangat menyulitkanmu. Karena itu, kau harus meng-hancurkannya....”

“Bagaimana caranya?”

Raja Penyamar menggeleng. “Sampai saat ini, belum bisa kuketahui. Perlu waktu dan usaha untuk mencoba menerobos benteng gaib rahasia

kelemahan cermin itu...,” kata Raja Penyamar. “Oh, ya. Ada satu hal yang ingin kutanyakan. Apa kau sudah menyelesaikan seluruh kitab penyamaran yang kuberi?”

“Belum. Ada satu bagian akhir yang tak ku-selesaikan. Sebab, bagian itu kupikir tidak begitu penting,” jawab Andika.

“Kau keliru. Justru bagian itu adalah bagian terpenting yang akan menyempurnakan ilmu menyamarmu....”

***

Dua lelaki tengah berjalan tertatih-tatih di hamparan dataran tandus. Matahari bersinar terik tepat menyengat ubun-ubun keduanya. Seorang berusia muda. Rambutnya kaku, hingga sebagian berdiri seperti landak dengan warna kusam kemerahan. Wajahnya terlihat amat dungu, matanya sering terjuling-juling. Berjidat besar dan berhidung besar pula. Jalannya terpincang-pincang. Kerap kali mulutnya meringis-ringis menahan sakit sewaktu sebelah kakinya yang bengkak karena borok, terantuk batu jalan. Pakaiannya tidak sedap dipandang sama sekali. Bahkan tak pantas bagi lelaki seperti dia, mengenakan gaun rombeng perempuan berwarna kelabu.

Sedangkan seorang lagi berusia setengah baya.

Entah banyak pikiran atau kenapa, wajahnya tampak lebih tua daripada usia sebenarnya. Rambutnya yang panjang dipenuhi uban dan dikepang. Sama kusamnya dengan rambut lelaki pertama. Wajahnya kurus, sekurus tubuhnya. Hidungnya lancip dan matanya besar tanpa alis. Tak henti-henti mulutnya yang bergigi ompong, menggerutu sepanjang jalan.

Setiap beberapa langkah, ditepuk-tepuknya pakaian bertambal sulam yang dikenakan. Seolah dia takut banyak debu menempel. Kalau pemuda yang berjalan bersamanya tertatih-tatih karena borok, lelaki ini tertatih-tatih karena sandal kayu kebesarannya.

Sewaktu berjalan, akan terdengar bunyi mengganggu telinga, akibat benturan sandal dengan kerikil. Di dunia persilatan, dia dikenal sebagai Ketua Partai Pengemis Timur. Julukannya, si Penggerutu Berkepang.

“Sialan... ugh-ugh Ke mana lagi kita mesti mencari Lima Gembel Busuk?” tanya si Penggerutu Berkepang membuka percakapan. “Apa kau punya sedikit usul, Borok?”

“Aku tak tahu,” jawab pemuda yang dipanggil Borok.

“Ugh-ugh sialan Kalau begitu, buat apa kita terus mengukur jalan seperti ini tanpa tujuan jelas?

Debuh... nggg... nggg... was... wis... wus” gerutu si Penggerutu Berkepang..

“Biar kita kenal jalan. Ha... ha... ha” si Borok tertawa dengan mata menjuling-juling dan bibir tertarik-tarik.

“Tak lucu” Si Borok langsung bungkam.

“Kau sendiri, kira-kira ke mana harus mencari mereka?” aju si Borok.

Jawaban si Penggerutu Berkepang hanya gerutuan panjang.

“Nah Kalau begitu kita sama-sama tak tahu. Kan, ada baiknya kita terus berjalan. Siapa tahu, kalau beruntung kita bertemu tabib yang bisa

menyembuhkan borok dan julingku. Dan kau bisa disembuhkan dari kebiasaan menggerutumu Ha...

ha... ha”

“Tak lucu”

Sementara itu di atas mereka, tepatnya di udara terbuka nan luas, seekor gagak hitam berkeliling-keliling liar. Sejak dari tadi, binatang itu terus mengawasi mereka. Matanya yang kemerahan merekam terus ciri-ciri mereka. Suara jerit memekakkannya berkali-kali merobek angkasa.

Sejauh itu, kehadirannya tak pernah dipedulikan oleh dua lelaki tadi.

Angkasa sepi ketika binatang berwarna hitam malam itu melayang pergi. Selang sekian lama, kehadirannya digantikan dua sosok yang

menghadang di depan.

“Kau kenal dua lelaki itu, Borok?” tanya si Penggerutu Berkepang, menyaksikan ada dua orang menghadang mereka jauh di depan.

“Yang pasti bukan anggota Lima Gembel Busuk”

tukas Borok. Matanya melirik susah-payah ke arah penghadang.

“Kira-kira kau tahu, apa yang mereka mau?” tanya Penggerutu Berkepang sambil tetap melangkah.

“Yah.... Yang pasti, mereka tak ingin merampok kita. Mau mengambil apa mereka dari kita? Gaun rombeng ini? Atau terompah kayu jelekmu? Ha-ha-ha”

Setibanya tak jauh dari para penghadang, Penggerutu Berkepang berbasa-basi.

“Hey, kalian berdua Apa kabar? Kenapa siang terik begini berdiri di tempat panas?”

Sahutan yang didapat cukup mengejutkan mereka.

“Pengadilan menanti”

*** 6

Tak ada niat lain bagi Hakim Tanpa Wajah dan muridnya menghadang Ketua Partai Pengemis Timur dan si Borok, kecuali membawa mereka berdua ke Pengadilan Perut Bumi. Dengan begitu, tak ada lain hal yang bisa terjadi. Pertempuran

“Gebuk mereka, Kepang” seru Borok, menye-mangati kawannya untuk segera menyerang.

Merasa panas, Penggerutu Berkepang segera membuka jurusnya. Langkahnya diseret-seret sambil menggerak-gerakkan tangan, mengitari Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi. Sementara dua lawannya masih tampak sedingin es. Tanpa gerak, mata mereka mengawasi Penggerutu Berkepang. Di bibir mereka tersembul seringai. Entah meremehkan, entah geram.

Set

Tiba-tiba saja, Penggerutu Berkepang menghentakkan tangannya, menebas udara di depan Hakim Tanpa Wajah. Tapi, serangannya sama sekali tak langsung diarahkan ke tubuh lawan. Mungkin maksudnya sekadar menggertak. Seperti tak mempan dikecoh, Hakim Tanpa Wajah tak terkejut.

Dia tetap tenang, seperti batu karang.

“Tunggu apa lagi? Ayo, hantam saja” teriak Borok tak sabar melihat kawannya masih menunggu-nunggu.

“Diam kau, Sialan Yang mau bertempur kau atau aku?” hardik Penggerutu Berkepang, diikuti gerutuannya. “Alah Jujur aja Apa kau takut? Bukankah mereka yang bikin gentar nyali tokoh persilatan belakangan ini?” cemooh Borok, memanas-manasi.

“Biar nama mereka bikin ngacir setan belang sekali pun, aku tak akan mundur Mau ditaruh di mana mukaku, selaku Ketua Partai Pengemis Timur?” dengus Penggerutu Berkepang, masih tetap mencak sana mencak sini.

“Kalau begitu, ayo terjang mereka”

“Tunggu dulu, Sialan Aku sedang mencari-cari kelemahan mereka,” dalih Penggerutu Berkepang.

“Ya, kawanmu benar Tunggu apa lagi?” timpal hakim palsu berwajah tembok, tanpa menoleh pada lawan di belakangnya.

Barulah kesungguhan Penggerutu Berkepang ter-sulut mendengar ucapan Hakim Tanpa Wajah barusan. Setelah berpindah ke depan karena tak ingin membokong, segera dikirimnya dua tendangan susun tiga. Sasarannya kepala, dada dan

selangkangan. Begitu cepat gerakannya dari atas ke bawah. Deb Deb Deb

Tapi enteng saja Hakim Tanpa Wajah menangkis-nya satu demi satu dengan pergelangan tangannya tanpa bergerak sama sekali. Pada saat yang sama, bola mata sempitnya digerakkan untuk memberi isyarat pada muridnya untuk menjauh.

Manusia Dari Pusat Bumi langsung mengambil jarak tujuh tombak ke belakang. Kini tersedia arena bagi Hakim Tanpa Wajah dan Penggerutu Berkepang untuk bertukar jurus-jurus berat.

Serangan susulan dilancarkan Penggerutu

Berkepang. Dengan tangan terbentang, tubuhnya berputar. Sepasang tangannya menyambar lurus ke kepala Hakim Tanpa Wajah. Wut Wut

Dua sambaran tangan Ketua Partai Pengemis Timur mampu dihindari Hakim Tanpa Wajah dengan amat mudah. Lelaki bangkotan itu hanya merunduk dua kali, maka putaran tangan pengemis itu pun memakan angin. Selanjutnya, Hakim Tanpa Wajah melancarkan serangan balasan yang tak kalah berbahaya. Didahului hentakan suara tertahan, tangan yang berjari menegang lurus menuju ulu hati disodokkan.

Jep

Untuk mematahkannya, Penggerutu Berkepang menurunkan kedua tangan dengan memutarnya lebih dahulu ke atas. Setelah bersilangan sekepakan, kedua tangannya segera menghadang tusukan jari Hakim Tanpa Wajah.

Tak

Hakim Tanpa Wajah tak puas dengan serangan awal. Dan dia menyusuli tangan lawan dengan sapuan dua kaki yang terikat tali kafan.

Mengetahui kakinya terancam, Penggerutu

Berkepang melompat di tempat. Baru saja kakinya menjejak, sepasang kaki Hakim Tanpa Wajah sudah menyapu kembali. Kali ini, Penggerutu Berkepang yang begitu disegani di wilayah timur tak ingin terus didekte dengan melompat seperti orang bodoh. Maka dengan modal jejakkan sesaat tadi, tubuhnya dilempar ke belakang.

“Hup”

“Bagus Bagus Itu baru Ketua Partai Pengemis Timur” sorak Borok bersemangat.

“Diam kau” hardik Penggerutu Berkepang seraya menangkis tinju yang menyusul tubuhnya. “Nih, makan jurus 'Ekor Naga Menyapu Gunung' milikku” Langsung Penggerutu Berkepang membuat

beberapa babatan kaki ke beberapa bagian tubuh Hakim Tanpa Wajah. Pergantian gerak kakinya begitu cepat. Dalam sekerdip mata, lima kali pergantian gerak bisa dibuatnya. Tentu saja hal itu dapat dilakukan, mengingat Penggerutu Berkepang adalah tokoh jajaran atas wilayah timur yang kesohor dengan permainan jurus-jurus kakinya. Apalagi, sekarang dia sudah mencoba memainkan jurus-jurus berat.

“Bodoh Kau tidak bisa mengalahkanku dengan jurus anak kecil macam ini Bahkan hanya untuk membuat aku kewalahan, he-he-he” ledek Hakim Tanpa Wajah kian keterlaluan.

Sambil melempar kata-kata meremehkan, tubuh Hakim Tanpa Wajah meliuk ke sana kemari seperti seekor ular nangka. Lincah dan cepat tak terkejar.

Jenggot putihnya yang panjang terayun kian kemari, mengikuti liukan tubuh rentanya.

Bet Bet Bet

Penggerutu Berkepang mencoba melepas kembali beberapa tendangan kunci mematikan. Namun, itu pun bisa dihindari Hakim Tanpa Wajah dengan amat mudah.

“Ayo, balas seranganku Jangan hanya

menghindar” hardik Penggerutu Berkepang makin kalap.

“Tenang..., tenang.... Apa kau tak senang kalau aku ingin sedikit menghiburmu?” sahut Hakim Tanpa Wajah seperti tidak menggerakkan bibir.

Makin kalap saja Penggerutu Berkepang. Tiga jurus 'Ekor Naga Menyapu Gunung' yang digabung menjadi satu, secara serentak dihamburkan ke arah Hakim Tanpa Wajah. Untuk serangannya kali ini, laki-laki tua berkain kafan itu tak bisa lagi mengandalkan kelincahan tubuh semata. Beberapa sodokan kaki lawan disambutnya dengan jentikan jari kurus, terbungkus kulit keriputnya.

Tik

Meski terdengar lembut, bagi Penggerutu

Berkepang jentikan jari kurus Hakim Tanpa Wajah malah terasa menyengat ke tulang sum-sum. Setiap kali terkena, mulutnya yang tak henti-henti membeber gerutuan dan meringis kesakitan.

Di luar arena, si Borok mencak-mencak sendiri.

Seperti bertarung dengan setan kesiangan, dia memukul dan menendang tak karuan. Bibirnya yang oleng ke samping dengan lancar melempar teriakan-teriakan seru nan menggebu.

“Yak Hiaaat Set Hait Tendangan ke kiri Balas ke kanan Ah, Goblok Jangan ditangkis Gigit saja jarinya Iyak, begitu”

Sementara itu di arena, Hakim Tanpa Wajah sudah mulai bosan dengan permainannya. Segera dia menjauh beberapa langkah dari lawan yang mendengus-dengus bernafsu.

“Sekarang, bersiaplah untuk kujadikan bulan-bulanan” kata Hakim Tanpa Wajah.

Penggerutu Berkepang sudah tak bisa

membedakan lagi, apakah lawan masih mengolok-oloknya atau berkata sungguh-sungguh. Dia terlalu kalap untuk memikirkannya. Padahal kalau bisa tenang sedikit, tentu dia tak mau melanjutkan pertarungan dengan mata gelap seperti itu. Sebab, kecerobohannya kali ini bisa menjadi kunci kekalahan paling menyebalkan yang bisa segera membawanya ke pintu Pengadilan Perut Bumi

“Apa pun katamu, semuanya tai kucing” umpat Penggerutu Berkepang sambil maju merangsek dengan tendangan berputar bagai kincir liar.

Bet Bet Bet

Bunyi tendangan Penggerutu Berkepang mendekat cepat, menerbangkan debu tinggi-tinggi. Rupanya, tenaga pamungkas telah pula disalurkan pada kedua senjata mautnya. Andai saat itu ada sebongkah batu karang sebesar banteng terkena sepakannya, tak bisa disangkal lagi tentu akan lebur berhamburan ke segenap penjuru

Ketika kaki Penggerutu Berkepang menebas leher, Hakim Tanpa Wajah segera menyambutnya dengan papakan telapak tangan kiri. Tangan kanannya yang lowong mendorong ke depan disertai tenaga dalam tinggi. Apa yang sedang dilakukan manusia berotak tak waras itu, seperti tak berbahaya. Namun jika melihat kakinya menjejak bumi beriring hentakan tadi, maka menjadi jelas kalau Hakim Tanpa Wajah sedang mengerahkan satu ilmu andalan yang bernama 'Tenaga Sakti Pembelah Bumi'.

Kesaktiannya yang disertai pemusatan tenaga, sanggup membuat lubang sedalam beberapa jengkal pada karang. Sementara, satu depa di sekitarnya sebuah batu sebesar banteng kontan menjadi butiran debu.

Dak

Seketika dua telapak tangan berbenturan. Dalam keadaan terdesak, Penggerutu Berkepang masih sempat memapak hentakan telapak tangan Hakim Tanpa Wajah. Namun begitu, 'Tenaga Sakti Pembelah Bumi' terlalu tangguh untuk dihadapi tenaga dalamnya. Sekejap tubuhnya bergetar. Sekejap berikutnya, Penggerutu Berkepang sudah terlempar jauh ke belakang.

“Wuaaa” Jeritannya terpenggal manakala Penggerutu Berkepang jatuh meninju permukaan bumi dengan keras. Seluruh kesadarannya kontan terbang.

Kalaupun tak langsung tewas saat itu juga, itu karena Hakim Tanpa Wajah hanya menyalurkan kurang dari seperempat tenaga saktinya. Lawannya akan terluka dalam, sekaligus kehilangan kesadaran. Tak lebih dari itu.

Menyaksikan kawannya ambruk, Borok cemberut.

Matanya makin terjuling-juling menunggu Penggerutu Berkepang bangkit kembali. Tapi, itu tak bakal terjadi.

“Kok, hanya sebegitu?” gumam Borok terpatah-patah.

Bagai pendekar tak terkalahkan, Borok maju.

Wajahnya dibuat sejumawa mungkin, meski dipaksa-kan. Langkahnya terbanting-banting, meski harus menderita kesakitan akibat borok di kakinya.

“Mungkin saja kau bisa berbuat itu pada dia”

bentak Borok garang pada Hakim Tanpa Wajah.

“Ta...Pi....”

Laki-laki itu langsung memukul dadanya keras-keras hingga terbatuk-batuk.

“Tapi, kau tidak bisa melakukan itu padaku sama sekali. Kuulangi, sama sekali” lanjut Borok.

Lalu Borok maju lagi hingga jaraknya tinggal enam langkah dari Hakim Tanpa Wajah.

“Kau tahu sebabnya kenapa?” sambung Borok.

“Sebab, he... he... he.... Aku tak mau bertempur denganmu, rasanya. Bagaimana kalau kita damai saja?”

Hakim Tanpa Wajah terkekeh. Namun Manusia Dari Pusat Bumi yang berdiri tak jauh darinya malah menggeram. Si Borok mendelik. Jangan ditanya, bagaimana bola matanya yang selalu salah alamat itu. Jangan ditanya pula, bagaimana bibirnya yang tak mau bersahabat itu. Pokoknya, dia terlihat jelek sekali

“Wua... haaa-haaa” jerit Borok kalang kabut seraya mengerahkan seluruh kekuatan untuk lari.

Tapi....

Tuk

Manusia Dari Pusat Bumi cepat menotoknya dari jarak jauh.

*** 7

Pengadilan Perut Bumi. Sebuah tempat tersembunyi, tak terjangkau manusia lain. Seperti namanya, terletak jauh di bawah permukaan bumi. Untuk tiba di sana, harus melalui rawa-rawa dalam yang penuh binatang buas melata dari buaya hingga ular. Di dasar rawa, ada lorong air berliku yang sesungguhnya adalah aliran sungai di perut bumi. Setibanya di ujung lorong panjang, akan ditemui sebuah dunia lain yang biasa dipakai si Hakim Tanpa Wajah....

Sebuah kolam besar dalam ruang di dasar bumi, menjadi gerbang masuk yang menghubungkan lorong aliran sungai bawah tanah dengan tempat ini.

Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi telah tiba di sana. Mereka muncul di permukaan kolam dengan membopong tubuh dua lelaki pada bahu masing-masing. Dari tepi kolam, mereka memasuki salah satu mulut lorong yang banyak terdapat di sekeliling tepian kolam. Setelah berjalan menempuh lorong yang tak begitu panjang, mereka akhirnya tiba di ruang lain. Ruang amat luas yang memiliki banyak kamar.

Setiap kamar ditutup pintu besi berjeruji baja.

Dalam kamar-kamar itulah, orang-orang yang diculik dari dunia persilatan ditawan. Dan mereka berasal dari beberapa wilayah dan dari golongan berbeda.

Pada setiap pintu kamar, terdapat tulisan di atasnya. Satu kamar bertuliskan; 'Kamar Ular'. Yang lain diberi nama 'Kamar Buaya'. Ada juga 'Kamar Katak' dan 'Kamar Rajawali'. Serta, beberapa tulisan lain.

Di dalam sebuah kamar yang bertuliskan 'Kamar Rajawali', ada dua lelaki dari kalangan tua yang pernah mengibarkan panji kejayaan masing-masing pada masa delapan puluh tahun silam. Mereka tak lain, Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu.

Memang, setelah berhasil diperdayai dengan menguras kekuatan mereka melalui tubuh Pendekar Slebor, Hakim Tanpa Wajah dan muridnya akhirnya bisa juga membawa dua tokoh tak tertandingi itu ke Pengadilan Perut Bumi. Sebuah mimpi delapan puluh tahun milik Hakim Tanpa Wajah, kini baru terwujud.

“Kau akan merasakan balasanku, Hakim Jelek”

ancam Lelaki Berbulu Hitam manakala guru dan murid itu sedang melewati kamar tahanannya. “Akan kurencah-rencah seluruh tubuhmu seperti makanan anjing geladak”

Hakim Tanpa Wajah hanya terkekeh mendengar ungkapan kemurkaan Lelaki Berbulu Hitam. Diliriknya lelaki tinggi besar yang berdiri mencengkeram jeruji baja itu dengan mata mencemooh. Ketika tangan besar Lelaki Berbulu Hitam hendak menggapainya, Hakim Tanpa Wajah hanya melompat sedikit lalu terkekeh lagi. Suara tawa buruknya menghilang di sebuah tikungan lorong, bersama menghilangnya tubuh bangkotan berkafan itu yang diiringi sang Murid.

“Siapa mereka, Hitam?” tegur Pendekar Dungu di belakang Lelaki Berbulu Hitam.

Lelaki keriput itu tampak tenang-tenang saja bersandar pada dinding batu dengan mata terkantuk-kantuk.

“Kalau aku sudah berteriak mengkelap seperti tadi, pada siapa kau pikir aku berteriak?” sahut Lelaki Berbulu Hitam kasar, masih dibawa kegusaran pada Hakim Tanpa Wajah.

“Ah Yang kutahu, selalu mengkelap pada siapa saja. Dan berbicara dengan berteriak, bagimu sama saja”

“Kau meledekku?” bentak manusia berdarah serigala itu dengan wajah memerah. Dihampirinya Pendekar Dungu bersungut-sungut. “Hey, apa kau tuli? Aku tanya tadi, apa kau meledekku?”

Tapi orang yang diajak berdebat menyahutinya dengan dengkuran panjang.

“Dasar tua bangka keropos” maki Lelaki Berbulu Hitam kesal.

Sementara itu, dua lelaki di bahu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi telah dilempar-kan ke dalam 'Kamar Kutu Busuk' bersama empat orang lain, yang sudah lama berada di dalam sana.

Bruk Bruk

“Tenang-tenanglah kalian menunggu saat

pengadilan nanti” ujar Hakim Tanpa Wajah penuh kepuasan.

Setelah itu, dia memerintahkan Manusia Dari Pusat Bumi untuk mengunci pintu besi kembali.

Krang

Kini keduanya meninggalkan kamar itu.

Begitu mereka menghilang di satu tikungan, dua lelaki yang menjadi warga baru 'Kamar Kutu Busuk'

siuman. Mereka adalah si Pemimpin Partai Pengemis Timur bersama kawannya yang dipanggil Borok.

“Heee, sialan Di mana aku sekarang?” tanya laki-laki berjuluk Penggerutu Berkepang sambil mengurut-urut kening. Lalu disusul dengan kebiasaannya menggerutu.

“Uuuh...,” keluh Borok, ikut menegakkan tubuh dalam keadaan duduk. “Apa ini neraka? Kenapa neraka bau pesing, ya?”

Empat orang lain yang berada dalam ruang itu, lebih dulu segera menyambut. Wajah mereka begitu terkejut ketika melihat siapa orang yang baru datang.

Tentu saja Penggerutu Berkepang sangat dikenal, karena mereka adalah empat anggota dari Lima Gembel Busuk. Kamasetya, Guruhdadi, Kamajaya, dan Dartasa. Sedangkan yang bernama Damarsuta, telah tewas sesaat setelah ditemukan Andika beberapa waktu lalu (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).

“Sialan was-wis-wus ng-ng.... Rupanya kalian ada di sini Aku sudah susah-payah kian kemari mencari, kalian malah enak-enakan” balas Penggerutu Berkepang, menanggapi sambutan mereka.

“Kami bukan enak-enakan di sini, Ketua” sangkal Kamajaya, lelaki yang paling berpengaruh di antara mereka. “Kami diculik Hakim Tanpa Wajah seperti beberapa tokoh persilatan lain”

“Aku tahu...,” tukas Penggerutu Berkepang.

Padahal, laki-laki itu juga yang tadi memancing perdebatan. Dia berdiri sambil menepuk-nepuk pakaian yang masih basah dan kotor.

“Sekarang di mana kita?” tanya Penggerutu Berkepang kemudian.

“Bukankah kau sudah tahu, Ketua?” sahut

Kamajaya, tak bermaksud meledek atau menyindir.

“Aku memang bilang begitu tadi Aku memang sudah tahu tempat ini, kok Tapi, apa salahnya kalian menjawab pertanyaanku selaku ketua kalian” hardik Penggerutu Berkepang bersungut-sungut. “Sialan....”

Kamajaya mengangkat bahu. Dia memang tak bisa menang berdebat dengan ketua sendiri. “Kita ada di Pengadilan Perut Bumi,” jawab Kamajaya kemudian.

“Aku tahu Sudah kubilang bukan? Aku tahu”

bentak Penggerutu Berkepang serba salah.

Selagi Penggerutu Berkepang melempar

pandangan keluar dari jeruji baja seperti seorang pengawas kurang kerjaan, Kamajaya mengusiknya lagi.

“Ketua, boleh aku bertanya sedikit?”

“Ya.... Sedikit saja...,” kata Penggerutu Berkepang.

“Siapa kiranya anak muda yang bersama Ketua ini? Kalau dia anggota kita, kenapa aku belum mengenalnya?”

Mendadak Penggerutu Berkepang berbalik.

Wajahnya memberang.

“Goblok... Eh, sialan” umpat Ketua Partai Pengemis Timur sambil menghampiri Kamajaya tergesa. “Kau harus memberi hormat pada dia Ayo”

Penggerutu Berkepang segera menekan punggung Kamajaya untuk menjura.

“Kalian juga” sambung laki-laki pada tiga lelaki lain.

Meski tak mengerti-sama sekali, terpaksa keempat lelaki itu menjura juga.

“Nah, sialan... Eh, bagus” puji Penggerutu Berkepang berbareng anggukan puas.

Kamajaya dan tiga rekannya menatap, seolah hendak bertanya kembali. Siapa anak muda itu sebenarnya?

“Jangan menatap begitu padaku Apa kalian tidak kenal, siapa dia?” lanjut Penggerutu Berkepang lagi.

Ditunjuknya pemuda berwajah tak karuan yang sedang tersenyum-senyum penuh arti itu. “Dia itu pendekar yang amat disegani..., Pendekar Slebor” “Ah, masa'?” gumam keempat lelaki itu, serempak.

“Jangan masa'-masa'”

Lalu Ketua Partai Pengemis Timur melirik anak muda yang selama ini dipanggil Borok olehnya.

“Bor Coba kau buka topeng jelek itu” ujarnya acuh, pada Borok.

Pemuda itu pun mempreteli perangkat

penyamarannya. Termasuk, kaki palsu yang bengkak.

Maka, tampaklah sekarang oleh semua orang yang ada dalam ruang itu. Wajah seorang pemuda tampan yang berperawakan gagah. Memang benar Dia adalah Pendekar Slebor

“Nah, kan.... Kubilang juga apa...,” gerutu Penggerutu Berkepang.

Pemuda yang kini mengenakan pakaian hijau-hijau dengan selembar kain bercorak catur tersampir di bahu itu mendekati keempat lelaki yang masih menjura padanya. Mereka disalami satu persatu.

“Ketuamu benar. Aku memang Pendekar Slebor.

Kalian bisa memanggilku Andika. Dan kurasa, tak perlu acara penghormatan seperti ini.... Bukan begitu, Penggerutu Berkepang?” kata Andika.

“Bukan” jawab Penggerutu Berkepang, tak mau tahu.

Andika tertawa. Juga empat dari Lima Gembel Busuk. Kecuali, si Penggerutu Berkepang. Lelaki setengah baya itu masih menekuk wajah di dekat jeruji baja.

Sebenarnya, apa yang Andika rencanakan?

Memang, waktu itu, setelah mendapat pesan dari Raja Penyamar untuk menyelesaikan bagian akhir kitab penyamaran yang diberikannya, maka Andika pun menjalankannya.

Dan tepat, apa kata Raja Penyamar. Bagian akhir kitab itu berisi inti dari seluruh ilmu 'Menyamar'.

Dengan mempelajari bagian itu, Andika bukan saja mampu menipu mata seseorang. Tapi juga mampu menipu penciuman seekor anjing pelacak sekali pun.

Dengan melakukan semadi beberapa lama dengan cara-cara tertentu, maka pemuda itu bisa mengubah zat-zat dalam tubuhnya, sehingga mampu merubah pula bau tubuhnya. Kalau dulu penyamarannya dapat dibongkar oleh penciuman serigala milik Lelaki Berbulu Hitam di kaki Gunung Merapi menuju Kampung Kelelawar, maka sekarang tak akan terjadi lagi (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).

Bukan hanya itu. Dengan semacam sugesti dalam semadi, Andika mampu mengubah warna pribadinya.

Menghilangkan untuk sementara pribadi aslinya, lalu memunculkan pribadi baru. Itu sebabnya, Manusia Dari Pusat Bumi yang memiliki indera siluman pun mampu ditipunya mentah-mentah

Tak heran kalau Raja Penyamar menyebut bagian akhir kitab itu sebagai bagian terpenting dari seluruh kitab

“Apa rencanamu selanjutnya, Bor?” tanya Penggerutu Berkepang pada Andika.

Andika berdiri. Didekatinya si Ketua Partai Pengemis Timur itu.

“Aku belum tahu,” jawab Pendekar Slebor. “Kurasa aku harus mempelajari dulu seluruh keadaan di sini....”

***

Dua hari sudah Pendekar Slebor dan Penggerutu Berkepang berada dalam ruang tahanan di

Pengadilan Perut Bumi. Selama itu, belum ada satu tindakan pun yang bisa diperbuat. Andika masih tetap berpikir keras sambil mempelajari keadaan di sana.

Sedangkan Penggerutu Berkepang masih tetap menggerutu tak bosan-bosannya.

Sebenarnya, kalau tidak terkena ilmu totokan rahasia milik Hakim Tanpa Wajah, dengan amat mudah mereka melantakkan jeruji baja yang mengungkung. Totokan itu memang telah

melumpuhkan kekuatan tenaga dalam mereka.

Sehingga seolah-olah mereka menjadi terkunci dalam tubuh masing-masing. Begitu pula yang dialami Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Selaku tokoh kawakan yang lama malang melintang, mereka sendiri tak pernah tahu secara pasti, bagaimana lawan bisa menotok mereka sedemikian rupa.

Selama mengenal Hakim Tanpa Wajah, memang baru kali ini mereka tahu kalau lelaki itu memiliki ilmu totokan simpanan.

Pada awalnya, ketika baru pertama kali masuk ruang tahanan, Andika agak heran melihat mereka tak berusaha menghancurkan jeruji baja di pintu ruangan. Toh, kebanyakan dari mereka adalah tokoh kelas atas yang tak akan begitu menemui banyak kesulitan untuk melantakkan batang baja sekalipun.

Dan sewaktu Kamajaya menjelaskan, barulah Andika mengerti duduk persoalannya.

“Tampaknya kita mati kutu di sini, Tuan

Pendekar,” ungkap Kamajaya putus asa. “Aku pernah mendengar Hakim Tanpa Wajah berkata bahwa kita akan diadu seperti hewan, sampai mati pada purnama ketiga nanti. Waktunya tinggal beberapa hari lagi, bukan?”

“Sialan.... Tak pantas kau berkata seperti itu

Memalukan nama Partai Pengemis Timur saja...,” gerutu Penggerutu Berkepang.

“Aku tak takut mati, Ketua,” sebut Kamajaya. “Aku hanya khawatir akan membunuh kawan seperjuangan saat diadu nanti.”

“Kalau begitu, ya jangan mau diadu Kau kan bukan ayam atau domba yang bisa diatur-atur

Kenapa goblok sekali....”

“Tapi, bagaimana kalau Hakim Tanpa Wajah memiliki totokan rahasia lain yang membuat kita gelap mata, sehingga tak bisa membedakan mana kawan atau lawan?” susul Kamajaya lagi.

“Iya, juga ya...,” gumam Penggerutu Berkepang.

Tapi setelah itu. “Ah, peduli amat Pokoknya, kau harus tidak mau diadu. Titik”

Andika hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan kekerasan kepala Ketua Partai Pengemis Timur itu. Untung saja Penggerutu Berkepang berada di pihak yang benar. Kalau tidak, apa jadinya dunia persilatan nanti?

Keenam orang itu kembali diam. Ruang sunyi.

Bunyi napas mereka terpantul dinding batu. Mau tak mau, mereka hanya bisa menikmati gema desah napas saja.

Pendekar Slebor sendiri terdiam. Dirinya mungkin begitu, tapi pikirannya tidak. Otaknya terus berkutat untuk mencari pemecahan. Sambil berpikir, tangannya tanpa sadar memainkan sebutir batu kecil yang dilemparnya berulang-ulang ke dinding ruangan.

Entah karena jengkel atau sebab lain, mendadak saja batu kecil itu dihempasnya ke lantai keras-keras.

Tak

Yang lain tersentak. Bukan sekadar karena batu kecil itu menimbulkan suara yang keras dalam ruangan. Tapi, juga karena terciptanya lubang yang dalam, sekitar tiga-empat jengkal

“Astaga Apa Tuan Pendekar luput ditotok?” bisik Kamajaya, di dekat Andika.

Andika terdiam. Diingatnya sesuatu.

“Aku memang ditotok, ketika menyamar bersama Penggerutu Berkepang waktu itu. Tapi yang menotok-ku bukan Hakim Tanpa Wajah...,” jelas Pendekar Slebor.

“Manusia Dari Pusat Bumi?” selak Dartasa, lelaki lain dari Lima Gembel Busuk, menduga.

“Ya Mungkin dia hanya menotok untuk

melumpuhkanku,” tambah Andika.

“Tapi, kenapa Hakim Tanpa Wajah tak mengeluarkan totokan rahasianya pada Tuan?” tanya Kamajaya.

“Mungkin karena dikira aku tak terlalu berbahaya.

Dan kalaupun dibawa ke sini, mungkin hanya untuk menutup jejak penculikan ketua kalian,” jelas Andika pada empat anggota Lima Gembel Busuk.

“Hey? Kau membicarakan aku, ya?” penggal Penggerutu Berkepang.

Andika bangkit menuju jeruji baja.

“Kau tak menyahuti pertanyaanku?” desak Penggerutu Berkepang.

Pendekar Slebor tak menggubrisnya. Malah kini siap mengerahkan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan untuk menghancurkan pintu baja ruang tahanan ini.

Dengan sedikit pemusatan pikiran dan perasaan, Andika sudah bisa menghimpun sepertiga kekuatan saktinya pada kedua belah tangan. Saat berikutnya....

“Heaaa”

Brak

Pintu berjeruji baja kokoh kontan roboh dalam keadaan lantak. Benda itu tak akan sanggup menahan terjangan tenaga sakti Pendekar Slebor, meskipun tebalnya tiga kali lipat.

“Yak Sialan... eh, bagus” puji Penggerutu Berkepang.

Andika mempersilakan tokoh setengah baya itu keluar lebih dahulu. Saat melewati Andika, laki-laki berambut berkepang itu menoleh ke arah Andika.

“Biar begitu, pukulanmu tadi sebenarnya biasa-biasa saja...,” kata Ketua Partai Pengemis Timur.

Andika tertawa. Tapi sempat pula mendelik kesal di belakang lelaki setengah baya itu. Kalau saja tak berniat untuk memasuki Pengadilan Perut Bumi, tentu Andika tak akan pernah bertemu manusia yang begitu menjengkelkan ini.

Awal pertemuan Andika dengan tokoh itu bermula ketika Pendekar Slebor teringat pada gelang perak berukir milik salah sedang anggota Lima Gembel Busuk yang ditemukan sedang sekarat. Saat itu, dia baru saja menyelesaikan bagian terakhir kitab penyamaran yang diberikan Raja Penyamar.

Bermodal gelang itu, Andika menyelidiki hingga sampai ke markas Partai Pengemis Timur. Gelang itu rupanya menjadi lambang partai mereka. Di sana, dia pun bertemu Penggerutu Berkepang. Pada lelaki itu, dijelaskannya semua perihal tentang kehadiran Hakim Tanpa Wajah. Termasuk, keterlibatan Lima Gembel Busuk dengan tokoh tersebut.

Dengan penjelasan Andika, kebingungan Partai Pengemis Timur terhadap hilangnya para rekan mereka akhirnya terjawab. Sampai suatu saat, Andika menyinggung-nyinggung soal gagak hitam yang menjadi tanda akan datangnya si Hakim Tanpa Wajah.

Secara tak terduga, Penggerutu Berkepang pun mengatakan pada Andika kalau hari-hari belakangan selalu diikuti gagak hitam seperti gambaran Andika.

Mengetahui hal itu, Andika segera menyusun rencana untuk bisa masuk ke Pengadilan Perut Bumi.

Sekaligus, menyelamatkan anggota Lima Gembel Busuk lain.

***

Kini dengan hati-hati, keenam orang yang baru bebas tadi menelusuri lorong berkamar. Yang pertama hendak dicari Andika adalah Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam. Karena menurut Raja Penyamar, kedua tokoh aneh itu bisa membantunya untuk menghadapi Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi.

Kamar demi kamar diperiksa. Karena tidak ingin tertangkap basah oleh Hakim Tanpa Wajah yang bisa saja kembali tiba-tiba, maka Andika tak mem-bebaskan dulu beberapa tokoh lainnya. Sampai akhirnya, Pendekar Slebor sampai di 'Kamar Rajawali'.

“Hey, Orang Tua” panggil Andika dari balik jeruji.

Lelaki Berbulu Hitam yang sedang mondar-mandir gelisah dalam ruangan cepat menoleh. Wajahnya yang semula berangasan, mendadak menjadi cerah demi melihat wajah Andika.

“Aoi, Tuan penolong ternyata ada di sini juga?”

sapa Lelaki Berbulu Hitam dibuat seramah mungkin.

Didekatinya pintu baja.

Andika memberi isyarat dengan tangan agar lelaki berdarah setengah serigala itu menjauh. Seperti tadi, akan didobraknya pintu berjeruji baja 'Kamar Rajawali'. Tapi sebelum niatnya terlaksana.... “Haaa, rupanya ada penyelundup yang berusaha meloloskan para tawananku? He... he... he”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sudah dikenal.

Tak hanya Andika yang langsung menoleh sigap ke arah seruan itu. Penggerutu Berkepang serta empat anggotanya pun ikut menoleh.

Di ujung lorong, berdiri Hakim Tanpa Wajah dengan muridnya. Pada bahu Manusia Dari Pusat Bumi, terkulai lemah tubuh seorang dara dengan baju koyak monyak. Wajah gadis itu tersembunyi di balik punggung manusia jelmaan siluman ini. Tapi bukan berarti Andika tak bisa mengenalinya. Cukup hanya melihat pedang bergagang kepalan naga di punggung. Pendekar muda itu yakin kalau gadis yang terkulai di bahu Manusia Dari Pusat Bumi adalah....

Purwasih

Bagaimana Andika bisa melakukan perlawanan kalau Purwasih berada di bawah ancaman Manusia Dari Pusat Bumi? Andika tidak bisa berbuat lain, sewaktu Hakim Tanpa Wajah memerintahnya untuk masuk ke dalam 'Kamar Rajawali' bersama Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Agar tidak terjadi pembobolan pintu baja kembali, sekali itu Andika harus mendapat jatah totokan pelumpuh tenaga, tanpa perlawanan sedikit pun. Purwasih sendiri dikurung dalam kamar terpisah. Untung saja, dia tak disatukan dengan tokoh-tokoh sesat.

*** 8

Ketika pengadilan pada purnama ketiga akhirnya tiba, bulan bulat tepat menggantung bebas di angkasa raya. Seluruh tawanan Pengadilan Perut Bumi digiring ke sebuah ruang besar. Tangan mereka dibelenggu menjadi satu dengan rantai-rantai baja.

Dari sebuah lorong gelap tak berpelita tak seperti tempat lain dalam Pengadilan Perut Bumi, para tawanan tiba di ruang besar tersebut. Suara tumbukan rantai di tangan mereka berpantulan pada dinding ruang, menciptakan bunyi menggema yang mendirikan bulu roma.

Ruang itu seluas alun-alun keraton. Sisi dan atasnya berupa dinding batu bergigi-gigi kasar, membentuk kubah raksasa. Di tengah ruangan, terdapat meja besar berukir yang bentuknya melengkung setengah lingkaran. Di ujung depan meja, terdapat sebuah tengkorak manusia untuk menempatkan lilin berwarna merah sebesar lengan manusia. Api di atas lilin bergerak-gerak kecil.

Sinarnya menerangi ukiran bergambar para algojo berjubah sedang memancung, menggantung, atau menyiksa korbannya.

Di sekeliling dinding ruangan, terdapat ratusan pelita kecil. Seolah, puluhan pasang mata yang siap menyaksikan jalannya pengadilan si Hakim Gila.

Tepat di depan meja, terdapat tungku api besar menyala-nyala. Lidah apinya bergerak menjilat-jilat bagai gapaian tangan-tangan dari neraka. Di depan tungku api sekitar empat tombak, berdiri panggung besar dari batu berbentuk persegi.

Permukaan panggung terlihat kasar, bahkan tajam.

Andai seseorang terjatuh di sana, tentu kulit tubuhnya akan langsung terkelupas.

Para tahanan dijajarkan di kedua sisi panggung dalam dua barisan. Ada sekitar sepuluh orang setiap baris. Di sebelah kiri adalah tokoh-tokoh aliran sesat.

Sedangkan sebelah kanan aliran lurus.

Tak lama mereka menunggu, Hakim Tanpa Wajah memasuki ruangan dari sebuah pintu kecil, tak jauh di belakang meja. Tubuhnya tidak dibungkus kain kafan lusuh seperti biasa. Kini dia mengenakan jubah hitam panjang, sampai menutupi seluruh kakinya.

Dengan langkah-langkah angkuh, laki-laki itu menghampiri meja, lalu duduk di sebuah bangku besar yang sandarannya lebih tinggi dari kepalanya.

“Pengadilan dimulai.”

Hakim Tanpa Wajah membuka sidang dengan

suara berat. Tanpa hendak melaksanakan tuntutan dan pembelaan lagi, Hakim Tanpa Wajah langsung menjatuhkan hukuman.

“Dengan ini, kalian semua dihukum mati dengan cara bertarung satu lawan satu, hingga ada yang menemui ajal” ujar Hakim Tanpa Wajah.

Bersamaan ketukan palu, beberapa orang

tawanan berseru. Ada yang memaki atau bergumam kaget. Sebagian di antara mereka hanya diam tegang memandangi wajah buruk Hakim Tanpa Wajah.

Duk Duk Duk

Palu diketuk Hakim Tanpa Wajah berkali-kali.

“Diam” bentak Hakim Tanpa Wajah kasar. Suara Hakim Tanpa Wajah bergema memadati ruangan. “Sang Penuntut Bawa dua terhukum ke depan”

lanjut hakim gila ini.

Manusia Dari Pusat Bumi melepas dua lelaki di barisan kiri. Digiringnya mereka ke atas panggung.

Lelaki pertama adalah seorang berusia sekitar tiga puluh tahunan. Badannya tinggi besar, dihiasi otot kenyal menonjol dan gambar rajahan di seluruh badan. Kepalanya gundul penuh cacat bekas luka, serta berwajah seram dan kasar. Dia hanya mengenakan celana pendek merah yang digabung selempang bersilang di dada dari kulit ular. Di tangannya tergenggam dua golok besar. Di dunia persilatan, lelaki itu dikenal sebagai Sepasang Golok Angin.

Lelaki kedua bertubuh lebih kecil. Di lain sisi, tingginya malah melebihi si Gundul. Itu sebabnya, dia tampak kurus. Wajahnya cukup tampan, namun dingin dan bermata tajam. Rambutnya yang pendek diikat kain berwarna merah. Pakaiannya pun sewarna dengan ikat kepala. Bila diperhatikan, tangannya tampak lebih panjang dari biasa. Kedua tangan itulah senjata maut si Lelaki jangkung yang berjuluk si Tangan Ular.

Keduanya kini berdiri berhadapan, di atas panggung batu. Masing-masing menatap tajam pada calon lawan, seakan dua hewan buas. Tangan lelaki jangkung itu mengepal keras, lalu meremas-remas.

Lawannya di depan, memainkan gagang golok dengan jari-jarinya.

Sesaat kemudian....

Tak Tak

Dua totokan jarak jauh dilepas Hakim Tanpa Wajah. Dengan begitu, mereka terbebaskan dari kuncian tenaga. Tapi kini keadaan mereka diganti dengan penguncian pikiran. Ya Tepat dugaan Kamajaya waktu itu, Hakim Tanpa Wajah memang menotok jalan kesadaran orang-orang yang hendak disabung. Pikiran mereka kini terkunci dalam nafsu membunuh yang liar

“Hiaaakh”

Kancah pertarungan maut pecah. Sepasang Golok Angin menerjang lebih dulu. Sepasang golok besarnya berputar di kedua sisi tubuh bagai dua kincir setan.

Wuk Wuk Wuk

Setibanya di depan lawan, satu golok di tangan kanan Sepasang Golok Angin menebas deras ke depan. Kepala lawan hendak dibelah menjadi dua bagian.

Tapi si Tangan Ular menyelamatkan kepalanya yang kecil dengan merunduk sigap dengan tubuh tetap tegak. Gerakannya seperti tiang bambu runtuh.

Tubuh Sepasang Golok Angin disambut dengan sodokan dua tangan lurus ke depan. Arahnya, tepat kedua sisi dada bidang lawan.

Bet

Mengetahui ada sepasang tangan hendak men-jebol dadanya, Sepasang Golok Angin menghentikan putaran golok di tangan kiri dan dengan tangkas dihadangnya tohokan si Tangan Ular dengan membentang sisi golok di depan dada.

Tang Tang

Tangan sekeras baja milik si Tangan Ular bertumbukan dengan senjata Sepasang Golok Angin.

Kekuatan tenaga dalam mereka seketika menimbulkan percikan api meskipun yang berbenturan hanya golok dengan tangan.

Luputnya serangan, mendorong Tangan Ular melepas satu serangan susulan yang cepat. Dengan jari menegang lurus seperti kepala seekor ular sendok disambarnya wajah Sepasang Golok Angin dalam pergantian arah serangan secepat kilat.

Bet

Tangan si Tangan Ular begitu cepat menyambar.

Tapi gerakan Sepasang Golok Angin rupanya tak kalah cepat. Dalam kecepatan, kedua tokoh aliran sesat itu tampaknya cukup berimbang. Seperti mematahkan leher, Sepasang Golok Angin menggeleng cepat, menyelamatkan wajahnya dari patukan lawan.

Namun Tangan Ular seperti tak memberi kesempatan pada Sepasang Golok Angin untuk sekadar bernapas lega. Sekali lagi, tangan yang lain mematuk deras ke wajah Sepasang Golok Angin.

Bet

Kembali si Lelaki Gundul itu melempar wajah ke lain arah. Usahanya kedua berhasil, disusul satu tebasan dua golok berbarengan untuk menggunting leher si Tangan Ular yang masih meluncur turun.

Set

Mana mau Tangan Ular menyerahkan lehernya untuk ditebas. Maka dengan cerdik otot perut hingga badannya dikencangkan cepat ke depan. Secepat itu pula tubuhnya berguling ke depan, menerobos benteng pertahanan lawan. Kakinya kini begitu bebas, tidak di dekat perut si Lelaki Gundul.

Akibatnya....

Duk

Sepasang Golok Angin langsung terjengkang ke belakang. Tubuhnya yang besar melayang menuju permukaan tajam panggung.

Tak dinyana lagi kepala Sepasang Golok Angin terjerembab lebih dahulu ke permukaan panggung.

Tangannya yang sebelumnya sibuk menggerakkan senjata, tak sempat lagi menjadi topangan. Seketika wajah kasar lelaki itu terbentur....

Duk

Lolongan menyayat terdengar. Wajah Sepasang Golok Angin tercabik-cabik bermandikan darah. Golok di tangannya sudah dilepas, lalu didekapnya wajah sambil meraung-raung.

Saat itulah Tangan Ular menghadiahinya satu patukan maut, sebagai pengantar menuju kematian.

Bet Bles

Ulu hati si Gundul naas itu langsung jebol. Tangan kanan si Tangan Ular tembus satu jengkal ke dalam.

Setelah mengaduk bagian dalam tubuh lawan, barulah tangan mautnya ditarik keluar. Berbarengan dengan itu, tubuh Sepasang Golok Angin pun ambruk.

***

Panggung kematian sunyi kembali. Tangan Ular berdiri kaku bagai mayat hidup pemakan bangkai. Di dekatnya, tubuh Sepasang Golok Angin tergeletak tanpa nyawa. Darah pertama pada purnama ini, membasahi panggung. Seperti terjadi delapan puluh tahun yang silam.

Purwasih yang berada di barisan kanan tak kuasa menyaksikan kejadian itu. Hanya dia satu-satunya wanita dalam jajaran para korban. Selaku wanita, hatinya tetap lembut, sehingga tak bisa menelan mentah-mentah peristiwa kejam itu. Tak seperti para tawanan lain yang hanya menatap dengan mata menyipit.

“He... he... he Sebuah pelaksanaan hukuman yang memuaskan” puji Hakim Tanpa Wajah.

Bibir laki-laki tua itu tak kunjung henti melempar seringai haus darah. Kegilaannya membuatnya merasakan satu kepuasan tersendiri manakala menyaksikan orang lain saling membunuh.

“Sang Penuntut Lemparkan mayat tak berguna itu ke lubang menuju rawa. Biar dia jadi makanan buaya peliharaanku He-he-he” perintah Hakim Tanpa Wajah pada Manusia Dari Pusat Bumi.

Manusia Dari Pusat Bumi menuruti apa kata sang Guru. Mayat Sepasang Golok Angin segera dibawanya keluar ruangan. Dari pintu kecil tempat Hakim Tanpa Wajah masuk tadi, dia keluar. Disusurihya lorong kecil yang lurus menuju sebuah lubang air seperti sumur.

Lubang itu bersambungan langsung dengan rawa-rawa di mana ratusan buaya setiap purnama ketiga delapan puluh tahun silam, menanti-nanti mayat yang akan diumpankan.

Sementara itu di ruang Pengadilan Perut Bumi, acara dilanjutkan kembali. Hakim Tanpa Wajah tak sabar menunggu muridnya kembali. Dia terlalu berselera untuk melihat kembali satu adu nyawa yang akan menumpahkan darah di atas panggung, di depan matanya.

Dari kursi kebesarannya, Hakim Tanpa Wajah bangkit. Dihampirinya jajaran tawanan di sebelah kanan. Bibirnya tetap menyeringai ketika kakinya melangkah angkuh seraya memandangi para

tawanan satu demi satu.

Tiba di dekat Andika, mata pemuda itu ditatapnya tajam-tajam. Dan Andika membalasnya tak kalah tajam.

“He-he-he Pendekar muda kesohor yang bikin geger dunia persilatan belakangan ini sungguh sayang, kau harus mengalami nasib sial di pengadilanku,” ujar Hakim Tanpa Wajah, memuakkan. “He-he-he,” Andika tertawa meledek dengan bibir mencibir. “Lelaki jelek bangkotan yang hebat delapan puluh tahun lalu, sungguh disayangkan akan kubuat terkencing-kencing di 'kandang'nya sendiri....”

Wajah si Bangkotan itu mendekat pada Andika.

Bibirnya tetap memamerkan seringai. Dari mimik wajahnya, tak tampak kalau dia terpancing ucapan Andika barusan.

“Bagaimana cara kau membuktikan hal itu, Anak Muda Tolol?” desis Hakim Tanpa Wajah.

“Bagiku amat mudah, Orang Tua Jelek Kita lihat saja nanti” ancam Andika, tepat di wajah buruk si Hakim Tanpa Wajah.

Hakim Tanpa Wajah tergelak. Lalu langkahnya dilanjutkan.

“Mudah? He-he-he Lihat saja nanti? He-he-heee-hek” kata Hakim Tanpa Wajah sambil mendekati Pendekar Dungu.

Kini laki-laki bangkotan itu tiba di depan Pendekar Dungu.

“Dungu.... Dungu.... Akhirnya kau harus menyerah juga di tanganku,” kata Hakim Tanpa Wajah penuh kemenangan.

“Apa?”

Pendekar Dungu melotot. Mata sayu si Bangkotan Ompong itu seperti hendak keluar mendadak.

“Kau bilang apa? Mana tanganmu? Coba kulihat.

Apa iya aku ada di sana?” kata Pendekar Dungu dengan wajah terlolong-lolong keheranan.

“Kau masih tetap bodoh seperti dulu, Dungu”

Selesai memaki, Hakim Tanpa Wajah melangkah ke samping Lelaki Berbulu Hitam kini dihadapinya.

“Kau... he-he-he Kenapa dari tadi mulutmu bungkam? Sudah bosan membeberkan makian- makian memuakkanmu itu?” ledek Hakim Tanpa Wajah.

“Diam kau, Manusia Jelek Sejagad Lepaskan belengguku. Dan bebaskan totokanku Ayo kita bertarung untuk membuktikan, siapa di antara kita yang lebih hebat” maki Lelaki Berbulu Hitam terus menerus.

“Tarik napas, Hitam.... Tarik napas,” selak Pendekar Dungu. “Kalau kau tak tarik napas, kau bisa mati karena terlalu panjang memaki....”

“Diam kau, Bangkotan Dungu Aku tak perlu pendapatmu yang menjengkelkanku. Apa kau pikir aku tak bisa menghadapi lelaki sok besar ini? Aaah, sial-sial-sial”

“Hey-hey Kenapa kau jadi sewot padaku?” jawab Pendekar Dungu, tanpa rasa salah sedikit pun.

“Kalian benar-benar sinting” hardik Hakim Tanpa Wajah, terpancing tingkah kedua lelaki yang pernah menjadi saingan utamanya dulu.

Sebelum melanjutkan langkah, kembali Hakim Tanpa Wajah menatap Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam.

“Setelah kalian berdua menemui ajal, akan kucari si Raja Penyamar Keparat Tinggal dia saingan beratku, setelah kalian berdua, Manusia Sinting”

Sementara itu, tanpa diketahui siapa pun, seseorang memasuki salah satu ruangan dalam Pengadilan Perut Bumi. Ruangan itu terletak di antara kamar-kamar tahanan. Cara berjalannya amat ringan dan pasti.

Tatkala satu obor menerangi wajahnya, maka tampaklah mimik menyeramkan. Bertaring, berambut merah bara bagai kayu bakar neraka dan bermata seekor macan hutan. Dia memang si Manusia Dari Pusat Bumi. Mestinya, setelah melempar mayat Sepasang Golok Angin tadi, dia kembali ke ruang pengadilan. Tapi, itu tidak dilakukannya. Seakan, dia memiliki rencana sendiri di luar rencana sang Guru.

Di dalam ruangan, matanya mencari-cari sebentar.

Di dinding batu, matanya tertumbuk pada lubang kecil yang langsung didekati. Dari lubang itu, dikeluarkannya sebuah benda. Tepatnya, sebuah cermin bulat berbingkai kayu hitam. Cermin Alam Gaib yang direbutnya dari tangan Andika. Sebuah cermin yang dikhususkan untuknya, datang dari alam siluman sebagai bekal dari para makhluk kegelapan, untuk mendukung tugasnya menjadi sang Pengacau Dunia

Dengan menggenggam pegangan cermin, Manusia Dari Pusat Bumi duduk bersila. Matanya terpejam dan bibirnya bergerak-gerak merapalkan mantera.

Bisikannya terdengar naik turun, seperti irama nyanyian upacara-upacara gaib.

Sewaktu bisikan mantera makin menurun dan menurun, timbul selubung cahaya kemerahan di sekitar tubuhnya. Dalam kegelapan ruang, cahaya itu berpendar memenuhi tempat ini. Sampai akhirnya, seluruh ruangan dipadati cahaya merah berasal dari tubuh Manusia Dari Pusat Bumi.

Tak lama, seberkas sinar lain keluar perlahan dari permukaan cermin. Bentuknya memanjang, seperti serat berpendar. Warnanya lebih merah dari sinar yang keluar dari tubuh Manusia Dari Pusat Bumi.

Serat cahaya merah pekat itu membesar perlahan, membentuk suatu wujud menyeramkan. Sesosok siluman tinggi besar Kepalanya besar, bermata satu serta berperut buncit. Mulut bertaring besar bergerak-gerak, menciptakan lendir-lendir pucat kental yang memanjang.

“Ini purnama yang kau janjikan, Eyang. Saatnya aku menerima petunjuk darimu,” desis Manusia Dari Pusat Bumi. Matanya tetap terpejam rapat.

Diawali denting panjang, siluman tadi menggeram

“Benar Ini purnama yang ditentukan bagimu.

Tugas besar dari seluruh makhluk alam kegelapan harus kau emban...,” kata makhluk yang dipanggil Eyang.

“Apa itu, Eyang?”

“Buat kekacauan di muka bumi Tapi, kau tak akan bebas bergerak untuk melakukan hal itu, selama masih ada seseorang....”

“Siapa dia?”

“Seseorang yang dimanfaatkan kaummu untuk menyampaikan Cermin Alam Gaib. Namanya Andika yang berjuluk Pendekar Slebor. Salah seorang keturunan manusia ksatria berjuluk Pendekar Lembah Kutukan....”

“Kenapa dia begitu berbahaya bagiku?” susul Manusia Dari Pusat Bumi, ingin tahu lebih jelas.

“Karena, dia adalah satu dari manusia yang memiliki bakat suci dalam dirinya sepanjang satu abad terakhir. Orang seperti itu, akan menghambat usaha kita menguasai dunia dan mengubahnya menjadi alam kegelapan....”

Sesaat sang Siluman menunjuk pada cermin di tangan Manusia Dari Pusat Bumi. Tangannya bergetar kuat, seolah benda itu memiliki pengaruh hebat.

“Pergunakan benda itu Hanya ada satu-satunya Cermin Alam Gaib di alam kami. Benda itu adalah tiang Istana Kerajaan Siluman. Jika kau tak men-jaganya, berarti membiarkan kaummu hancur...,”

tandas makhluk itu amat berat. Suaranya seolah dibebani ratusan gunung.

“Lalu, apa manfaatnya yang hebat bagiku?”

“Nanti kau akan segera tahu. Yang jelas, kini kau harus melepaskan diri dari keinginan Hakim Tanpa Wajah. Kau bukan berada di bawah pengaruhnya.

Kau berada di bawah pengaruh kami Khianati dia

Karena, pengkhianatan adalah salah satu kerja terbaik bagi kaum kita”

***

Pertarungan maut kedua di ubun-ubun panggung kematian akan dimulai lagi. Dua petarung telah dipilih dari barisan kanan. Purwasih harus berhadapan dengan pemuda yang amat dicintainya. Andika

Dua anak itu sudah berdiri diam di atas panggung.

Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Mereka terpaku bisu digerayangi ketegangan hebat. Andika menatap mata berbulu legam milik wanita di depannya dengan sinar mata kekhawatiran. Begitu juga Purwasih. Sedang sekitar dahi, mulai berpeluh.

Tak ada yang bisa diperbuat, kecuali menunggu Hakim Tanpa Wajah melepas totokan rahasianya yang akan membuat keduanya kehilangan kesadaran sama sekali. Lalu, mereka berubah seperti hewan buas tak kenal kasihan.

“Apa yang bisa kuperbuat?” tanya batin Andika.

Tak beda dengan para tawanan lain, kekuatan Pendekar Slebor sudah tidak bisa lagi diandalkan.

Tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan terkunci, tanpa daya dalam dirinya. Begitupun ilmu peringan tubuhnya. Kalaupun ada yang bisa diandalkan, hanya kecerdasan otaknya. Tapi apa lacur? Sampai saat gawat ini, dia pun tak menemukan akal. Pikirannya buntu, akibat cekaman rasa tegang. Tak salah perkataan siluman yang menyamar sebagai Raja Penyamar dulu. Setiap manusia memang memiliki rasa takut. Kecuali, orang itu memang sudah tidak waras. Apalagi, ini menyangkut kematian yang sudah begitu dekat.

Sebagai seorang lumpuh yang bertahan di ujung jurang. Dan Andika mau tak mau kehilangan akal sehatnya juga.

“Tiba saatnya hukuman dijatuhkan,” sentak Hakim Tanpa Wajah dari belakang meja kebesarannya.

“Tunggu” tahan Andika, di antara kecamuk pikiran untuk mencegah pertarungan membabi-buta dengan Purwasih.

Hakim Tanpa Wajah menunggu ucapan Andika, bibirnya terus menyeringai.

“Apa tak bisa aku meminta sesuatu, sebagai permintaan terakhir?” usul Pendekar Slebor pada Hakim Tanpa Wajah, setelah berpikir keras sesaat.

Hanya itu yang sempat terbetik di benaknya. Sekadar mengulur waktu.

“Heee... he he heeek Kau masih sempat juga bercanda saat menjelang kematianmu, Anak Muda”

kata Hakim Tanpa Wajah, sekaligus menertawai usulan calon korbannya.

Dari balik meja, tangan si Tua Bangka muncul lalu menggoyang-goyangkannya sebagai isyarat pe-nolakan.

“Sudah tak ada waktu lagi bagimu, Anak Muda.

Terima saja nasibmu. Hih”

Sekejap, tangan Hakim Tanpa Wajah berkelebat melepas totokan jarak jauh ke arah Andika dan Purwasih.

Tuk Tuk Maka ini artinya acara sabung nyawa akan berlanjut lagi. Berarti pula, Andika akan kehilangan seluruh kendali diri seperti halnya Purwasih. Keduanya pun langsung tersulap, menjadi hewan-hewan buas haus darah.

“Heaaa”

Teriakan menggelegar Andika membuncah

ruangan besar sebagai tanda pertarungan maut membabibuta dimulai. Kalau menilik dari

kemampuan Andika selaku pendekar muda yang malang melintang di jajaran atas dunia persilatan, amat mudah diduga Purwasih akan cepat menemui ajal di tangannya. Artinya, Pendekar Slebor akan menang mutlak. Namun begitu, kemenangan di atas panggung kematian milik Hakim Tanpa Wajah bukan berarti keberuntungan. Pemenang atau pecundang, sama-sama bakal mati. Seperti juga pertarungan sebelumnya. Tangan Ular yang menang atas Sepasang Golok Angin, harus menerima kematiannya akibat pukulan 'Tenaga Sakti Pembelah Bumi' yang terkenal ampuh milik Hakim Tanpa Wajah. Deb

Sapuan telapak tangan Pendekar Slebor mengancam leher Purwasih alias si Naga Wanita. Sebentuk serangan amat cepat yang begitu disegani di dunia persilatan, karena merupakan bagian jurus sulit tertandingi yang diciptakan di Lembah Kutukan.

“Haiiit”

Naga Wanita agak susah payah berkelit ke sisi.

Sekedip setelah itu, pedang bergagang kepala naga di punggungnya sudah diloloskan, lalu disabetkan deras ke tangan Pendekar Slebor.

Set

Tangan pendekar muda dari Lembah Kutukan seperti memiliki mata. Secepat tebasan pedang Purwasih, tangan itu ditarik kembali ke belakang.

Dengan begitu, Pendekar Slebor yang tak lagi memiliki kesadaran, telah membayar serangannya yang dimentahkan Naga Wanita yang sama-sama tak sadar.

“Kau akan kucincang-cincang hingga lumat, kalau satu di antara mereka celaka, Manusia Jelek” teriak Lelaki Berulu Hitam dari bawah panggung yang ditujukan pada Hakim Tanpa Wajah.

Sahutan tua bangka sok benar sendiri itu hanya kekeh mengejek. Namun....

“Tak ada lagi satu manusia pun yang boleh mempengaruhiku atau mengaturku Tidak juga kau, Orang Tua Bermuka Rata Untuk itu, aku harus membunuhmu”

Tak lama berselang terdengar seruan lain memenuhi ruang Pengadilan Perut Bumi. Lantang menggema dan sarat kekuatan. Dinding batu seolah hendak diruntuhkan oleh suara itu

Hakim Tanpa Wajah dengan serta merta menoleh ke belakang, tempat asal suara keras tadi. Betapa terperanjatnya si Tua Bangka melihat siapa orang yang berada di sana.

“Kau.... Apa-apaan kau ini? Apa aku tak salah dengar?” ujar Hakim Tanpa Wajah terheran-heran menyadari murid tunggalnya, Manusia Dari Pusat Bumi telah menyatakan akan membunuhnya

Dari mulut pintu kecil menuju ruang pembuangan mayat, Manusia Dari Pusat Bumi melangkah perlahan menuju Hakim Tanpa Wajah. Matanya yang

menyeramkan menghujam tajam-tajam manik mata lelaki tua itu. Bibirnya pun membentuk seringai mengancam, memperlihatkan dua taringnya. Hakim Tanpa Wajah bergegas bangkit dari kursi.

Wajahnya sarat ketegangan berbaur rasa ketidak mengertian. Kini ditunggunya si Murid sambil berdiri tanpa gerak.

“Siapa yang telah menghasutmu, sehingga mau memusuhiku?” tanya Hakim Tanpa Wajah kemudian.

Pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Muridnya yang murtad memang jenis manusia yang tak banyak omong. Sifatnya begitu dingin, seolah selalu siap mencabut nyawa siapa pun.

“Pasti ini akibat pengaruh Cermin Alam Gaib,”

desis Hakim Tanpa Wajah, menduga. “Sial Kenapa aku tak berusaha mencari tahu tentang benda laknat itu....”

Manusia Dari Pusat Bumi kian dekat. Dan ketika mencapai empat tombak dari Hakim Tanpa Wajah, langkahnya dihentikan. Kini guru dan murid berhadap hadapan untuk menjadi lawan. Sesaat kemudian, manusia jelmaan siluman itu mulai menggeram, menyadarkan Hakim Tanpa Wajah bahwa semuanya telah terlambat.

***

Tampaknya pertarungan besar-besaran akan

segera terjadi di ruang Pengadilan Perut Bumi. Lalu, apakah Hakim Tanpa Wajah akan terbunuh oleh muridnya sendiri? Bagaimana dengan para tawanan Hakim Tanpa Wajah? Mampukah mereka keluar dari tempat tersebut?

Bagaimana pula dengan nasib Andika dan

Purwasih? Akankah mereka saling bunuh?

Dan apa sesungguhnya keampuhan Cermin

Pusaka Alam Gaib bagi si Pemiliknya? Sanggupkah Andika menghancurkan cermin yang menjadi tiang istana para siluman itu?

Ikuti kelanjutan kisah ini dalam episode : CERMIN ALAM GAIB
Selesai

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Musuh Dalam Selimut (Hui Hong Tjiam Liong)] akan diupload pada pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Slebor Episode 10 Pengadilan Perut Bumi"

Post a Comment

close