Pendekar Slebor Episode 09 Manusia Dari Pusat Bumi

Mode Malam
Pijar El
-------------------------------
----------------------------

Episode 09 Manusia Dari Pusat Bumi

1

Seorang kakek tua renta tampak menggelantung terbalik pada seutas tali jerami dengan kedua pergelangan kaki terikat. Sikapnya bersidekap rapat seperti seekor kelelawar, diam tanpa bergeming.

Tubuhnya yang terbalik membuat untaian jenggot panjang berwarna putih yang telah kotor itu menutupi wajahnya. Menjulur sampai tanah, sekitar satu depa.

Raut wajah lelaki bangkotan berumur seratus dua puluh tahun ini sulit dikenali. Bukan hanya karena tertutup jenggot, tapi juga karena ruangan tempatnya menggelantung tak memiliki cahaya, kecuali sebuah lubang sebesar biji mata manusia di langit-langit ruang, tepat di dekat benang jerami tersangkut.

Seberkas cahaya dari lubang kecil tadi jatuh pada kain usang berwarna putih, yang membungkus tubuh si Lelaki Bangkotan ini dari batas bahu hingga mata kaki, seperti libatan kain kafan. Suasana di dalam ruangan kecil dan sempit ini mengingatkan pada suasana di liang lahat. Kenyataannya memang begitu.

Ternyata lelaki bangkotan ini memang berada dalam perut sebuah kuburan yang memiliki rongga lebih besar dari biasa.

Ketika pertama kali muncul sekitar delapan puluh tahun yang lalu, dia mendapat gelar angker. Hakim Tanpa Wajah Orang-orang dunia persilatan men-julukinya demikian, karena lelaki itu nyaris tak memiliki wajah. Raut mukanya datar dengan satu lubang hidung kecil. Bibirnya amat tipis, hingga nyaris tak kentara. Sepasang kelopak mata sempit. Bahkan biji matanya sendiri sulit ditegaskan, apakah berwarna hitam atau putih. Karena kelompak matanya memang terlalu kecil.

Selama berkecimpung dalam rimba persilatan, sepak terjangnya amat membingungkan. Tak seperti tokoh golongan hitam yang memusuhi golongan putih.

Tak peduli tua atau muda, lelaki atau wanita. Setiap orang yang berurusan dengannya, selalu dituduh sebagai 'si pembuat kesalahan'. Dan kemunculannya untuk menjatuhkan satu-satunya hukuman....

Hukuman mati Itu sebabnya, dia mendapat julukan lengkap Hakim Tanpa Wajah.

Pada masanya, Hakim Tanpa Wajah menjadi tak terkalahkan. Dia ditakuti layaknya malaikat maut.

Baik di kalangan bawah, maupun raja-raja.

Setiap kali bertemu seseorang yang memiliki ilmu kedigdayaan, Hakim Tanpa Wajah langsung saja men-ceramahi dengan tuduhan-tuduhan. Kesalahan sekecil apa pun tak luput dari penilaiannya. Banyak orang persilatan waktu itu terheran-heran, bagaimana dia bisa tahu kesalahan-kesalahan seseorang, sehingga seolah-olah memiliki mata di mana-mana. Tak ada seorang pun yang mampu menjawab. Karena setiap kali ada yang berusaha menjawab, maka orang itu akan menerima hukuman mati

Seorang demi seorang waktu itu hilang begitu saja tanpa bekas. Bahkan nasibnya tak pernah diketahui lagi. Tak peduli dari kalangan bawah persilatan atau pun kalangan atas. Baik yang punya nama besar, atau tidak.

Hanya ada tiga tokoh sakti yang waktu itu mampu luput dari kebiasaan aneh berbau maut dari si Hakim Tanpa Wajah. Salah satunya adalah tokoh yang berjuluk Lelaki Berbulu Hitam. Sedangkan dua orang lain adalah Raja Penyamar dan Pendekar Dungu.

Seperti juga Hakim Tanpa Wajah, ketiga tokoh itu pun memiliki nama besar. Selain Hakim Tanpa Wajah, tak ada seorang pun sanggup menandingi kehebatan ilmu kedigdayaan mereka. Menurut kabar burung kala itu, keempatnya sebenarnya memiliki kepandaian berimbang.

Setelah menggegerkan dunia persilatan sekian lama, keempatnya menghilang, tak jelas ke mana.

Seolah-olah mereka sama-sama mengadakan per-janjian untuk mengundurkan diri, lalu akan muncul kembali suatu saat. Dan pada saat itulah mereka akan mengukur kembali kesaktian masing-masing, untuk menentukan siapa yang lebih berhak mendapat tempat teratas.

Delapan puluh tahun telah berlalu. Namun tak ada secuil tanda-tanda pun kalau keempat tokoh sakti itu akan muncul kembali. Lambat tapi pasti, nama mereka mulai dilupakan orang.

Dan hari ini, saat yang dikehendaki keempat tokoh sakti itu tampaknya telah tiba. Karena, Hakim Tanpa Wajah yang sudah puluhan tahun menggelantung dalam liang lahatnya, tiba-tiba saja membuka kelopak matanya yang sempit. Sesaat kemudian, terdengar tawa kekeh yang menggema kasar, membuat tanah dalam kuburan ganjil itu berguguran.

“He... he... he”

Hakim Tanpa Wajah membuka bibir tipisnya.

Dan....

“Cuah”

Hakim Tanpa Wajah menyemburkan ludahnya, hingga melesat ke arah tali jerami rapuh yang sebenarnya tak akan kuat menahan berat tubuhnya, seandainya saja lelaki bangkotan itu tak memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa.

Wesss...

Tasss...

Tali jerami putus menimbulkan bunyi halus. Tak berhenti sampai di situ. Ludah Hakim Tanpa Wajah terus melesat begitu ludah laki-laki ini meng-hantamnya ke satu sudut liang. Kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi yang terkandung dalam air kental berwarna keputihan itu ternyata mampu membuat lubang kecil sedalam dua depa

Mestinya tubuh kering kerontang lelaki bangkotan ini segera jatuh. Kenyataannya, justru bertolak belakang. Hakim Tanpa Wajah tetap menggelantung tegak di atas. Benar-benar mustahil

“He... he... he, jenggot sialan Mengganggu acara-ku saja,” gerutu Hakim Tanpa Wajah, lebih mirip gurauan orang kurang waras. Ditepuk-tepuknya jenggot putih panjang merangas yang menjulur ke tanah di bawahnya.

Rupanya, jenggot itu telah kaku seperti akar pepohonan. Sehingga, dapat menopang tubuh Hakim Tanpa Wajah yang memang seringan kapas.

Dengan gerakan indah lelaki bangkotan ini menurunkan kakinya, lantas berdiri. Sebentar dia memandangi langit-langit kuburan ganjil yang digunakan untuk bertapa puluhan tahun. Bibirnya tersenyum tipis, lalu kedua tangannya menghentak ke atas. Dan....

Brolll

Dari luar, bongkahan koral dan tanah kering kontan berhamburan ke segenap penjuru, bagai baru dibuncah angin puting beliung. Gundukan makam tua bernisan tumpukan tengkorak kepala ini sekarang berlubang besar. Dan dari situ tubuh lelaki bangkotan ini mencelat keluar.

Seperti tidak pernah peduli pada hawa segar yang baru saja memenuhi paru-parunya kembali, Hakim Tanpa Wajah kembali terkekeh serak. Wajahnya yang pucat dengan juntaian rambut putih yang alot dan kotor, membuat bibirnya yang sudah tak kentara makin tak jelas saja, meski sedang terkekeh.

“Apa kalian bertiga kini sanggup menandingiku?”

gumam laki-laki tua ini berbicara sendiri.

Tentu saja yang dimaksud Hakim Tanpa Wajah adalah Lelaki Berbulu Hitam, Raja Penyamar, dan Pendekar Dungu.

“Hm.... Mungkin hanya tinggal aku saja yang belum memiliki murid,” sambung laki-laki ini.

“Koaaak”

Mendadak seekor burung gagak hitam kelam hinggap di batang pohon kering besar, tak jauh dari tempat berdirinya lelaki bangkotan itu. Kedua sayapnya dibentangkan dan dikepak-kepakkannya.

Paruhnya yang menyeramkan melempar teriakan nyaring beberapa kali, seakan hendak menegur Hakim Tanpa Wajah.

Sementara lelaki berbebat kain kafan dari bahu hingga ke mata kaki itu menjadi tertarik. Kepalanya segera menoleh ke arah gagak.

“Kau ingin mengatakan berita apa, 'saksi mata'?”

tegur laki-laki tua itu. Hewan berbulu hitam itu disebut

'saksi mata' oleh laki-laki tua ini seakan-akan dia adalah hakim pengadilan yang sedang berbicara dengan seorang saksi dalam sebuah perkara.

“Kaoook” sahut burung gagak itu. Kepalanya terayun ke depan dan ke belakang. “Ada wanita hamil? Ah Kau tak perlu mem-beritahukan aku tentang itu Di mana-mana juga ada wanita hamil. Apalagi sudah makin banyak pasangan yang berhubungan intim seenak perut, seperti monyet hutan,” tukas Hakim Tanpa Wajah.

“Kak-koaaak-kaaak”

“O, maksudmu wanita hamil itu telah mati seminggu lalu? Ah Itu juga biasa. Tak aneh bukan?”

“Kaaak-kaaak”

“Apa?”

Hakim Tanpa Wajah langsung menjulurkan kepalanya ke depan, karena agak tersentak dengan ucapan gagak terakhir yang hanya bisa dimengerti olehnya.

“Kau bilang, jabang bayi dalam kandungannya masih tetap hidup? Nah Itu baru luar biasa, 'saksi mata' Pintar... pintar” puji laki-laki tua ini. “Di mana mayat wanita hamil itu? Aku harus mengeluarkan si Jabang Bayi. Anak itu pasti memiliki kelebihan luar biasa. Kebetulan sekali, aku sedang berpikir untuk mengangkat murid. He... he... he”

“Koaaak”

Burung gagak tadi berkoak sekali lagi. Di atas dahan tempatnya hinggap, dia melompat berbalik.

Sebentar kemudian sayapnya dikepakkan kuat-kuat, langsung mengangkasa menerabas angin siang yang panas.

Dan seketika itu pula, Hakim Tanpa Wajah segera mengikutinya. ***

Hakim Tanpa Wajah berlari cepat dengan cara melompat-lompat. Dan akhirnya, laki-laki bangkotan itu tiba bersama burung gagak di tepi sebuah danau alam yang tak begitu luas. Sementara burung gagak hitam yang menuntunnya ke tempat itu sudah hinggap kembali di pucuk sebongkah batu runcing, tak jauh dari Hakim Tanpa Wajah.

“Mana? Aku tak melihat wanita hamil, seperti yang kau katakan?” Hakim Tanpa Wajah memberengut.

Seketika gagak hitam itu menaikkan sayap tinggi-tinggi, menanggapi dengan rasa tak suka pada ucapan lelaki berusia seratus dua puluhan itu.

“Kaaak-kaaak-kaaak” koak burung itu nyaring, merambah ke segenap bibir danau berair keruh kecoklatan.

“He... he... he Kau jangan bergurau padaku, 'saksi mata'. Mana mungkin wanita hamil itu berada di dasar danau ini. Eh? Tapi hewan sepertimu memang tidak perlu ngibul dan suka berkata apa adanya.

Tidak seperti manusia yang suka mengobral ucapan untuk kepentingan perutnya sendiri....”

Hakim Tanpa Wajah memandangi permukaan

danau yang dibelai angin beberapa lama.

“Baik-baik. Tak ada ruginya jika aku mencoba membuktikan beritamu, 'saksi mata'...,” kata Hakim Tanpa Wajah, akhirnya.

Laki-laki tua itu segera akan melaksanakan niat-nya untuk mencaritahu kebenaran berita dari sang Gagak. Diangkatnya tangan pucat berkeriput di depan wajah, dengan telapak saling bersilang ke depan.

Cukup lama Hakim Tanpa Wajah bersikap seperti itu, sampai akhirnya air danau bergolak bagai diaduk-aduk dari dalam oleh sepasang tangan raksasa.

Rupanya laki-laki tua ini sedang mengerahkan tenaga batin berkekuatan dahsyat yang dinamakan ilmu

'Rahasia Pikiran'. Karena hanya dengan mem- bayangkan benda yang menjadi sasaran, dia dapat mengangkat, melempar, atau bahkan meng-hancurkannya. Begitu juga dengan dasar danau di depannya. Dibayangkannya dasar danau itu sedang teraduk-aduk kuat luar biasa. Maka, yang terjadi pun demikian

Sampai suatu saat terdengar gemuruh tertahan dari dasar danau, beriring sembulan gelembung-gelembung udara yang demikian ramai. Sebentar kemudian menyusul sesosok tubuh wanita hamil muncul ke permukaan. Tampaknya, mayat wanita hamil itu terjebak di sebuah rongga batu besar yang berisi udara di dasar danau ini. Sehingga air danau tidak dapat masuk ke dalam rongga batu. Dengan begitu, si Jabang Bayi tetap bisa mengirup udara untuk bernapas. Meski, sampai saat ini Hakim Tanpa Wajah tak bisa mengerti, bagaimana cara si Jabang Bayi bernapas. Yang pasti, suhu rendah yang begitu dingin di dasar danau, telah membuat mayat wanita hamil tidak cepat membusuk.

Mudah sekali Hakim Tanpa Wajah meniti permukaan air danau dengan daun-daun kering yang diambil dari sebatang pohon. Di atas daun demi daun yang dimanfaatkan sebagai pijakan lompatan, lelaki bangkotan itu mendekati mayat wanita hamil tadi.

Dijemputnya tubuh kaku itu. Sebentar kemudian dibopong di bahu, lalu dibawanya ke tepian.

“He... he... he, 'saksi mata' Kau telah berjasa padaku. Aku akan segera punya murid luar biasa Dia akan kudidik menjadi tokoh tak terkalahkan di dunia persilatan. He... he... he”

Baru saja kata-katanya selesai, Hakim Tanpa Wajah melesat pergi.

“Kau tentu tahu, di mana kau bisa menemuiku, bukan?” Seru Hakim Tanpa Wajah pada si Burung Gagak.

“Kaaak” *** 2

“Eiii Hi... hi... hi”

Seorang wanita genit tampak berdiri berhadapan berjarak tiga tombak dengan seorang pemuda di tengah jalan berbatu di satu lereng bukit, melihat kemunculannya tadi wanita bertubuh sintal yang tersenyum menggoda ini agaknya memang sengaja menghadang. Dengan pakaian ketat berwarna merah menyala, leluk-lekuk tubuhnya jadi membayang jelas.

Wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu berambut panjang. Berkerudung kuning tembus pandang yang menjulur hingga menutupi wajahnya.

Meski tertutup kain tertembus pandang, kecantikan-nya masih tetap bisa ditangkap mata pemuda yang dihadang. Sayangnya, rias wajahnya terlalu berlebihan. Sehingga terasa sebal dipandang. Bibirnya mekar memerah. Pipinya dipupuri tebal-tebal. Matanya memandang sayu dengan bulu-bulu mata lentik.

Alis matanya dilukis demikian tebal menantang.

Sementara pipinya diberi pemerah.

Pemuda yang dihadang mengangkat alisnya yang seperti sayap elang, ketika wanita genit itu mulai maju perlahan mendekatinya. Baginya, biasa kalau agak terpikat dengan kecantikan wanita di depannya kini. Tapi kalau tingkahnya genit dengan penampilan seronok, rasanya ketertarikan itu jadi buyar seketika.

Dia berpikir, hanya wanita-wanita nakal yang ber-dandan seperti dia.

“Mau ke mana, Anak Muda Tampan?” tanya

wanita genit ini mendayu-dayu. “Ke sana boleh, ke sini juga boleh,” jawab pemuda berpakaian hijau-hijau dengan selembar kain bercorak catur tersampir di bahunya. Sambil menjentik anak rambut yang panjang menghalangi pandangan, ditatapnya wanita genit itu acuh tak acuh.

“Kalau begitu, ke sini saja, ya? Ya? Ya?”

Pemuda tampan bertubuh kekar ini menarik napas. “Aneh-aneh saja manusia di dunia ini.

Seenaknya saja memaksa kehendaknya pada orang lain. Memang aku ini jongosnya apa?” gerutu pemuda ini tak kentara.

“Ah Jangan sesinis itu...” sergah wanita itu seraya mencibir.

Telinga wanita ini ternyata cukup tajam juga. Dia bisa menangkap ucapan berbisik pemuda tadi.

“Kalau nanti kau sudah dekaaat denganku, baru tahu rasa kau. Bisa-bisa kau tidak mau jauh-jauh dariku. Hi... hi...” Dijawilnya dada bidang si Pemuda dengan jarinya yang lentik.

“Ih...”

Pemuda tampan ini menyurut ke belakang.

Dadanya kontan menguncup karena geli.

“Jangan lancang, ya” bentak pemuda itu agak mangkel.

“Itu tadi bukan lancang, Anak Muda Hanya semacam ketrampilan tangan. Hi.. hi... hi....”

“Hus”

Si Wanita genit cepat-cepat mengatupkan mulutnya. Dan secepat itu pula, bibir merahnya dicibir-cibirkan kian kemari.

“Kenapa bibirnya? Keseleo? Atau salah urat?”

gurau pemuda ini asal bunyi. Mungkin karena cetusan rasa jengkel. “Hi... hi... hi.... Bisa sajaaa” Kembali dijawilnya dada bidang pemuda berpakaian hijau ini.

“Ah, sudah Aku ingin lewat. Tak ada waktu buat melayanimu”

“Juwita Permatasari Megapuspita Ranasutra....”

“Apa itu?” tanya si Pemuda heran.

“Namaku.”

“Aku tak tanya namamu” hardik pemuda ini makin dongkol. “Sudah, minggir Kasih aku jalan”

Pemuda itu maju selangkah untuk melanjutkan perjalanan. Tapi, segera kembali dihadang oleh wanita genit itu. Hampir-hampir saja, wanita ini ditabraknya.

“Aiii, nafsu nih?” tukas wanita genit yang mengaku bernama Juwita Permatasari Megapuspita Ranasutra itu.

“Sialan” maki pemuda berbaju hijau ini sambil membelalakkan mata ke arah perempuan di

depannya. “Kalau kau sejenis wanita nakal, akan salah bila memilihku.”

“Jadi namamu siapa, anak muda tampan yang gagah perkasa?”

“Sialan”

Sekali lagi, pemuda ini memaki. Ucapannya barusan seakan hanya kentut bagi perempuan cantik itu.

“Kalau kuberitahu, kau bersedia memberiku lewat?” usul pemuda itu kemudian, supaya bisa cepat pergi dari sana dan tidak lagi berurusan dengan wanita binal semacam ini.

“Tergantung...,” sahut si Wanita Genit.

“Tergantung apa?”

“Tergantung, apakah kau memiliki sesuatu yang digantung-gantung. Hi... hi... hi” celoteh wanita genit ini makin menjurus.

Tingkah Juwita bahkan kian nakal saja. Malah bahu kekar pemuda itu mulai digelayuti dengan kedua tangan. Sesekali matanya mengerling dan mengumbar senyum tipis penuh arti.

“O, ya. Jadi siapa namamu, Pemuda Ganteng?”

“Aku..., ah Apa perlu kuberitahu namaku?”

“Perlu” selak Juwita berbareng gerakan tangan jahil ke arah tubuh bagian bawah pemuda di sisinya.

Tentu saja calon korban tangan usil itu terkesiap.

“Baik..., baik Namaku Andika” ujar pemuda yang tak lain pendekar muda kesohor dari Lembah Kutukan yang berjuluk Pendekar Slebor.

“Amit-amit kalau tangan wanita ini sempat

'Bertemu' di tempat rahasiaku” rutuk Andika tak kentara. “Dasar wanita nakal Biar cantik bisa-bisa malah bawa penyakit”

“Apa katamu” sentak Juwita dengan mata terbelalak besar-besar. Jelas, dia tersinggung dengan gerutuan Andika.

Andika alias Pendekar Slebor meringis ngeri-ngeri.

Tapi dia cukup jujur untuk mengulang kembali gerutuannya tadi.

“Aku bilang, secantik-cantik wanita nakal, bisa saja bawa penyakit....”

“Kau harus membayar penghinaanmu itu” teriak wanita genit ini persis di telinga Andika.

Satu tangan Juwita terangkat tinggi-tinggi, siap menampar wajah pemuda yang menghinanya.

“Jangan terlalu perasa Aku kan, tidak bilang kalau kau membawa penyakit. Aku hanya bilang....”

Andika berusaha berdalih. Tapi sebelum sempat ucapannya diselesaikan, tangan wanita itu sudah melayang deras. Bet

Angin keras segera saja terdengar, pertanda kalau tamparan tangan Juwita membawa satu tenaga dalam tingkat tinggi. Dan ini sama sekali luput dari dugaan Pendekar Slebor sebelumnya. Beruntung kesiagaannya tidak ikut terdesak oleh rasa kagum pada kecantikan wanita yang kini menjadi lawannya.

Tanpa mau mengambil bahaya sedikit pun, Andika melempar tubuhnya jauh-jauh ke belakang. Namun begitu, masih juga dirasakannya rasa pedih berdenyar pada bagian tubuh yang sempat tersambar angin pukulan lawan.

“Apa kau sudah sinting, Perempuan Cantik?

Kenapa kau tiba-tiba hendak membunuhku?” sentak Pendekar Slebor, begitu bangkit berdiri dengan satu lompatan indah.

Wanita cantik itu tertawa renyah menanggapi kebingungan Andika.

“Jangan heran, Anak Muda. Sebenarnya aku hanya ingin mengenal Pendekar Slebor. Aku ingin tahu, apakah nama besarmu benar-benar bukan sekadar bungkus bubur nasi”

“Jadi, sebenarnya kau telah tahu tentang diriku?”

tanya Pendekar Slebor.

“Hi... hi... hi. Siapa yang tak kenal ciri-ciri pemuda sakti kesohor seperti kau, Pendekar Slebor Pemuda tampan yang selalu berpakaian hijau-hijau dengan kain bercorak catur tersampir di bahu. Dan, satu lagi yang tidak mungkin kau lepaskan dari tubuhmu....

Tanda bintang berwarna hijau kebiru-biruan yang kau bawa dari lahir di tangan kananmu” urai Juwita.

Andika jadi tak habis pikir pada wanita yang kini dihadapinya. Jarang sekali orang persilatan yang tahu tanda lahir di tangan kanannya, karena selalu ter- tutup lengan baju. Pendekar Slebor sendiri sudah tidak begitu memperhatikan hal kecil ini. Dan sekarang, tiba-tiba saja ada orang asing yang baru saja bertemu, tapi sudah tahu hal kecil tentang dirinya.

“Tampaknya aku sedang berhadapan dengan

orang yang tak bisa dibuat main-main,” gumam Pendekar Slebor.

Entah bagaimana Andika jadi menduga kalau wanita ini adalah tokoh jajaran atas yang lebih dulu malang melintang dalam dunia persilatan ketimbang dirinya. Memang menurut cerita dari mulut rakyat, Andika mendapat kabar kalau setiap pewaris kesaktian Pendekar Lembah Kutukan yang juga buyutnya, pasti memiliki tanda seperti terdapat di tangan kanannya. Namun sejauh itu, orang-orang hanya tahu tentang tanda khusus yang menjadi ciri khas pewaris pendekar panutan itu.

Sedangkan bentuk dan letaknya tak pernah ada yang tahu. Jika ada seorang yang tahu tentang bentuk dan letak tanda lahir itu, bisa jadi dia adalah tokoh tua yang cukup akrab dengan Pendekar Lembah Kutukan itu sendiri.

“Tapi, apa mungkin dia salah seorang sahabat buyutku, Pendekar Lembah Kutukan? Bukankah buyutku itu hidup lebih dari seratus tahun lalu?

Sementara wanita ini mungkin baru berusia antara dua puluh tujuh sampai dua puluh sembilan tahun,”

bisik Andika, mulai ragu dengan dugaannya.

“Kenapa kau bengong seperti kambing masuk angin?” sentak Juwita membuyarkan dugaan-dugaan Andika.

“Siapa kau sebenarnya, Perempuan Cantik?” tanya Andika, hati-hati. Bukan apa-apa. Pendekar Slebor hanya tak mau berbuat kurang ajar jika wanita itu benar-benar sahabat buyutnya. Siapa tahu, dia memiliki ilmu awet muda

Wanita cantik ini menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan kanan. Dan kerudungnya yang tembus pandang itu ikut bergerak lemah gemulai.

“O, o Belum waktunya kau mengenalku, Anak Muda Menggemaskan” tandas Juwita seraya memainkan jari telunjuk di depan kepala. “Suatu saat, kau akan tahu siapa aku. Sekarang ini, kau cukup kubiarkan dongkol dan penasaran saja. Hi... hi... hi”

Selesai berkata demikian perempuan mempesona itu berpindah tempat, tanpa menggerakkan badan sedikit pun. Dari satu jarak, ke jarak lain. Sehingga, akhirnya dia menghilang tanpa jejak. Sungguh satu unjuk kebolehan ilmu meringankan tubuh yang mungkin hanya dimiliki oleh dua atau tiga orang di dunia persilatan. Bahkan Andika sendiri pun tak sanggup melakukannya.

Tanpa sadar, mulut Andika berdecak. Sementara itu matanya terbuka lebar tanpa berkedip. Dan ada satu lagi, hidungnya mencium aroma bunga sedap malam, sepeninggalan wanita genit tadi. ***

Hakim Tanpa Wajah membawa mayat wanita hamil yang ditemukannya di danau, ke sebuah rawa penuh buaya buas. Dia menyelam tanpa kesulitan ke dasar rawa berlumpur seperti seekor katak besar. Anehnya, tak ada seekor buaya pun yang berani mengusik.

Kehadirannya bagi binatang peninggalan zaman purba itu, seperti raja diraja yang ditakuti. Binatang- binatang berdarah dingin itu langsung saja menyingkir ketakutan, manakala Hakim Tanpa Wajah lewat.

Setelah menyelami sekian depa kedalaman rawa, Hakim Tanpa Wajah tiba di sebuah lubang besar menganga. Dimasukinya lubang di dasar rawa itu.

Lorong panjang berliku-liku dalam lubang bukan sesuatu yang sulit buatnya, tanpa perlu mengambil napas.

Beberapa lama kemudian, laki-laki tua ini muncul di sebuah kubangan air dalam sebuah ruang besar di perut bumi, yang memiliki beberapa lorong lain.

Tempat itulah yang beberapa puluh tahun lalu, dijadikan sebagai penjara, pengadilan, sekaligus tempat bagi orang-orang persilatan yang diculiknya menjalani hukuman. Dan tempat itu dinamakan: Pengadilan Perut Bumi.

“Kita sudah tiba, Bocah Bagus” kata Hakim Tanpa Wajah pada si Jabang Bayi dalam perut mayat wanita hamil yang dipondongnya. “Sebentar lagi kau akan kukeluarkan dari perut ibumu. He... he... he”

Hakim Tanpa Wajah memasuki sebuah lorong yang di dalamnya hanya diterangi obor-obor dari gas alami.

Diletakkan mayat yang dibawanya di lantai sebuah ruangan yang tak begitu luas sebesar gubuk.

Telinganya lantas didekatkan ke perut besar mayat wanita itu, seakan ingin meyakinkan kalau si Jabang Bayi masih hidup.

“He... he... he. Kau benar-benar bocah kuat” puji Hakim Tanpa Wajah seraya menepuk-nepuk

kandungan. “Bagaimana cara mengeluarkan kau, ya?

Aku jadi bingung juga. Kau tahu sendiri bukan, kalau aku bukan dukun beranak. He... he... he”

Layaknya orang kebingungan, Hakim Tanpa Wajah mondar-mandir di dekat mayat wanita hamil ini. Namun jalannya sungguh aneh. Dia seperti melompat-lompat

Kini dia berpikir untuk menemukan cara, bagaimana mengusahakan si Jabang Bayi hadir di alam yang baru, tanpa harus mencelakakannya. Tentu saja Hakim Tanpa Wajah tak ingin si Jabang Bayi mendapat celaka. Hasratnya untuk menjadikan si Jabang Bayi menjadi muridnya, telah membuatnya bertindak hati-hati.

Kebingungan laki-laki tua ini terjegal mendadak, saat matanya menangkap satu gerakan ganjil dalam perut mayat wanita itu.

“Ei, apa itu?” tanya Hakim Tanpa Wajah ingin tahu.

Didekatinya perut buncit mayat wanita ini.

“We... we... we. Rupanya kau sudah tak sabar lagi, Bocah Bagus” kata Hakim Tanpa Wajah sewaktu melihat kandungan tersentak-sentak dari dalam.

“Kau tentunya sudah penat di dalam sana. Tapi, tampaknya kau ingin keluar sendiri tanpa ingin dibantu.... Weee, begini saja. Biar kau kuberi sedikit pertolongan.”

Dengan kuku runcing jari telunjuknya, Hakim Tanpa Wajah menusuk hati-hati perut besar mayat si Wanita. Maka lubang sebesar jari pun tercipta, tanpa mengeluarkan darah. Tak ada lima kerdipan mata, lubang kecil itu mulai melebar, merobek kulit perut wanita si Wanita.

Penyebab robekan yang kian besar itu tentu saja geliatan liar si Jabang Bayi di dalamnya. Kemudian disusul menyembulnya sepotong kaki mungil, namun kokoh. Dan sebelah kaki yang lain, membuat kulit perut ibu sang Bayi jadi terkuak makin lebar. Maka sebagian jaringan rahim yang sudah agak liat pun terlihat. Ketika lubang di perut sang Ibu makin melebar, tampaklah seorang bayi. Mungil, sehat, dan masih merah seperti layaknya bayi lain. Namun ada yang berbeda dengan bayi satu ini. Gusinya telah ditumbuhi dua gigi runcing, berbentuk taring yang menyembul di sudut-sudut bibirnya *** 3

Puluhan tahun yang lalu, ada seorang pemuda digdaya yang selalu muncul bersama monyet kecilnya. Bentuk tubuhnya gagah. Wajahnya tampan, hingga mampu menggoyahkan hati setiap wanita yang melihatnya. Meski tindak-tanduknya lebih tepat disebut tingkah orang tak punya otak, toh, tetap saja puluhan wanita kalangan dunia persilatan mengejar-ngejarnya.

Otak pemuda itu memang bebal seperti kerbau.

Cara berpikirnya memang tak lebih daripada bocah ingusan berumur enam tahun. Tapi untuk urusan kedigdayaan, jangan coba-coba menjajalnya. Begitulah pendapat umum dunia persilatan kala itu, mengenai dirinya.

Sementara monyet kecilnya yang seringkali justru lebih cerdik dari pemuda itu sendiri. Baginya, binatang peliharaannya itu adalah sahabat, sekaligus teman mengambil keputusan. Bila ada orang-orang yang berurusan dengannya, maka hewan yang memiliki naluri kuat itu akan memberinya pertimbangan. Apakah orang itu akan dibunuh, atau dibiarkan hidup. Sesakti apa pun seseorang, jika si Kera Kecil itu sudah berjingkat-jingkat liar seraya menampakkan wajah beringas, maka akan digasak habis oleh pemuda tampan ini. Sejauh itu, tak ada seorang pun yang bisa lepas dari tangan mautnya, kalau sudah mendapat isyarat dari hewan peliharaannya. Hampir semua yang dihabisinya adalah orang-orang dari golongan hitam. Karena itu, dia amat dimusuhi habis-habisan oleh datuk-datuk sesat di empat penjuru angin. Apalagi, kera kecilnya yang selalu saja bisa mencium sifat-sifat busuk seseorang.

“Sebaliknya, jika si Kera Kecil itu mulai melompat berputaran sambil bertepuk tangan, maka orang itu akan dibiarkannya hidup. Meskipun, orang tersebut sudah nyaris melemparnya ke liang kubur sekali pun.

Kini, setelah sekitar delapan puluh tahun berlalu, pendekar itu tidak lagi gagah. Wajahnya pun sudah diramaikan kerutan di sana-sini. Tubuhnya yang dulu kekar berisi, kini hanya seonggok tulang berbalut kulit keriput. Kalaupun ada yang tidak berubah, hanya pakaiannya yang berwarna-warni, penuh tambalan di sana-sini. Meski tubuhnya sudah melengkung seperti tongkat, dia masih bisa berjalan cukup gagah tanpa perlu penyangga. Matanya kelabu, tapi tetap berbinar riang. Rambutnya memutih rata dan ditutupi selembar topi pandan. Tanpa jenggot dan kumis, dia seperti lebih muda daripada usia sebenarnya. Kalau laki-laki itu cengengesan sendiri sesekali, maka tampaklah gusi yang hanya memiliki tiga batang gigi kuning langsat. Ketuaan usianya mungkin hanya bisa ditaksir dari panjang alis mata berwarna putih, yang menjuntai menutupi kelompak matanya yang sayu.

Tokoh inilah yang dulu kesohor dengan julukan Pendekar Dungu Tua bangka itu kini tengah berjalan melenggang di sebuah pematang sawah. Sayang, monyet kecil sahabat setianya tak seberuntung dirinya diberi usia panjang. Binatang itu telah mati sekitar enam puluh tahun lalu. Kini, tidak ada lagi yang bisa memberi pertimbangan padanya untuk bertindak pada orang-orang yang berurusan dengannya.

Bahkan dia tidak bisa lagi membedakan, mana orang-orang dari golongan lurus dan mana yang dari golongan sesat.

“Hoiii, Dungu”

Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang, saat Pendekar Dungu sampai di ujung pematang. Langkah kakinya seketika tertahan, tapi tak segera menoleh ke asal suara. Sesaat laki-laki tua itu hanya terpaku dengan mata berkedip-kedip lambat. Selanjutnya kakinya digerakkan kembali untuk meneruskan perjalanan. Barangkali hatinya sudah tidak yakin, apakah ada orang memanggilnya atau tidak. Atau, barangkali dia sendiri sudah lupa dengan julukannya sendiri.

“Oooi, Bodoh Lagakmu masih tetap menjengkelkan seperti dulu”

Terdengar teriakan kembali. Kali ini terdengar agak kalap.

Jauh di belakang Pendekar Dungu, tampak seseorang berlari ringan mengejarnya. Cara larinya bagai kesetanan. Blingsatan dengan langkah-langkah ngawur seperti anak kecil baru bisa berlari.

Penampilannya membuat siapa pun merinding.

Seluruh badannya yang besar kelebihan lemak, ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat. Bahkan sampai ke wajahnya. Kalau dilihat sekilas, laki-laki yang baru datang ini mirip seekor kera. Namun begitu, wajahnya tidak seburuk itu. Untuk orang kebanyakan, dia masih termasuk tampan. Sayang, pipinya agak tebal oleh lemak. Bulu-bulu hitam lebat di badannya, membuatnya tak membutuhkan baju untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari. Hanya bagian bawahnya saja yang ditutupi celana panjang hitam.

Tokoh ini salah satu yang tak tertandingi pada puluhan tahun yang lalu. Julukannya, Lelaki Berbulu Hitam. Tak seperti Pendekar Dungu, lelaki itu tak nampak dimakan usia. Walau berusia seratus tahun lebih, namun tak membuatnya menjadi renta.

Padahal dia sama sekali tidak memiliki ilmu awet muda. Bisa saja dia tetap muda seperti berusia empat puluhan, karena konon dalam tubuhnya mengalir darah keturunan serigala. Dan lelaki berbulu itu memang lahir dengan cara di luar kebiasaan alam, yakni dari perut seekor serigala betina jejadian.

Mulanya, wanita itu adalah penuntut ilmu hitam serigala siluman. Habisnya batas waktu ilmu hitam itu, menyebabkan si Wanita berubah wujud menjadi serigala.

Pada masa jayanya, Lelaki Berbulu Hitam dikenal sangat beringas. Wajar saja, darahnya memang panas layaknya serigala. Dalam membunuh, dia tak pernah mengenal batas-batas kekejian. Merencah-rencah lawan baginya merupakan hal biasa.

Namun begitu, sesungguhnya Lelaki Berbulu Hitam tetap memiliki hati nurani. Kerap kali dalam dirinya terasa ada hembusan kuat, yang mencoba menyadar-kannya dari kebuasan seekor binatang. Saat seperti itulah, akan terjadi pertarungan batin antara dua kehendak yang saling bertentangan. Yang satu ingin memperturutkan naluri kebuasan, sedang yang lain ingin mengikuti hati nurani.

Pernah, Lelaki Berbulu Hitam berurusan dengan Pendekar Dungu. Penyebabnya, hanya karena Lelaki Berbulu Hitam merasa iri terhadap Pendekar Dungu yang memiliki seekor kera berkemampuan

mengagumkan. Menurut Lelaki Berbulu Hitam, dengan bantuan kera kecil cerdik itu, tentu dirinya bisa mulai menghilangkan sikap buas pada setiap orang.

Tentu saja Pendekar Dungu tidak ingin binatang kesayangannya direnggut Lelaki Berbulu Hitam.

Karena, dia pun amat memerlukan kecerdikan binatang kecil itu. Maka pertentangan itu pun menyulut pertarungan seru dan habis-habisan.

Setelah pertarungan dahsyat habis-habisan itu, mereka tidak pernah lagi muncul di dunia persilatan.

Keduanya seperti disadarkan oleh sebuah kekuatan suci, bahwa mereka tidak bisa bergantung dengan seekor hewan kecil. Mereka harus bisa mengatasi masalah sendiri. Untuk itulah, mereka lalu meng-asingkan diri, meminta petunjuk sang Penguasa Jagad agar bisa mengenyahkan kekurangan diri masing-masing. ***

Lelaki Berbulu Hitam telah sampai di dekat Pendekar Dungu.

“Kenapa kau dungu sekali, Dungu?” tegur Lelaki Berbulu Hitam dengan wajah memerah kesal.

“Kau bilang aku dungu?” tanya Pendekar Dungu, ketolol-tololan.

“Ya”

“Kenapa kau katakan begitu?”

“Karena kau dungu, Dungu”

Pendekar Dungu mengangguk-angguk dengan alis mata berkerut.

“Ya, ya.... Aku memang dungu. Betapa dungunya aku...,” gumam Pendekar Dungu.

“Ah, sudah Kalau terus meributkan kedunguan-mu, kita tak akan selesai-selesai sampai seratus abad lagi Jadi, ke mana saja kau selama ini?” tanya Lelaki Berbulu Hitam, seperti seorang sahabat yang lama tak bersua. “Aku? Kalau tidak salah, aku menyembunyikan diri di Gunung Gangginggung. Aku bertapa di sana.... Itu kalau tidak salah.”

“Kalau tidak salah? Kau masih saja dungu seperti dulu.”

“Ya, dasar dungu....”

“Sama seperti kau, aku juga mengucilkan diri. Dan aku juga bertapa untuk memohon wangsit dari Yang Kuasa.”

Pendekar Dungu mengupil hidung.

“Kalau tak salah, aku tidak bertanya soal itu,”

gumam Pendekar Dungu santai.

“Kau menjengkelkan, Dungu Hih”

Lelaki Berbulu Hitam melayangkan cakar panjangnya yang berwarna hitam ke perut Pendekar Dungu.

Suara mendesau tajam terdengar menggiriskan saat tangan itu menyambar. Dan udara pun terasa seperti bergetar tersambar kuku-kukunya.

Bet

Sementara itu, jari tangan kanan Pendekar Dungu segera menjentik kotoran hidungnya yang menempel ke arah sambaran Lelaki Berbulu Hitam. Maka desir angin yang tak kalah santer pun terdengar. Tahi hidung itu terus melesat, lalu menghantam kuku kelingking Lelaki Berbulu Hitam.

Tak

Seperti sebuah bangunan beton amat tebal, secuil tahi hidung milik lelaki tua berotak bebal itu sanggup menahan laju sambaran cakar Lelaki Berbulu Hitam.

Lelaki Berbulu Hitam jadi mendengus gusar. “Kau hendak menghinaku, Dungu?” bentak laki-laki seram ini setengah bertanya.

Rupanya Lelaki Berbulu Hitam tak mau kalah unjuk kebolehan. Satu gerakan tangan dibuat. Maka seketika beberapa lembar bulu hitam di punggung jarinya terlepas, lalu melesat deras ke sepasang mata Pendekar Dungu. Wesss

Sementara itu Pendekar Dungu mendadak

menguap lebar-lebar. Setelah itu napasnya dihempas-kan.

“Hoaaah... huuuhhh”

Semua itu dilakukan seperti di luar kesadaran.

Namun hasil yang terjadi sungguh luar biasa

Lembaran-lembaran bulu berkekuatan hebat itu langsung terhambat di udara. Dan begitu hembusan napasnya, terpenggal, bulu-bulu maut itu pun meng-gelepar turun di udara kehilangan seluruh kekuatan seperti lembaran kapas. Namun beberapa lembar di antaranya sempat tersangkut di lubang hidung Pendekar Dungu. Dan sebentar kemudian....

“Aaa... aaa... haaachiiihhh”

Orang tua berpakaian tambalan ini mendadak membersin keras. Lendir kental dari hidungnya langsung terlontar menuju Lelaki Berbulu Hitam dengan kecepatan angin topan. Sewaktu bergesekan dengan udara, lendir menjijikkan itu mengepulkan asap tipis. Mungkin lubang hidung yang tak pernah dibersihkan selama puluhan tahun itu, telah menyebabkannya beracun.

Mata Lelaki Berbulu Hitam kontan mendelik.

Secepat dadanya disingkirkan ke samping. Maka lendir si Pendekar Dungu pun meluncur ke sasaran lain, seekor ular sawah besar yang naas. Batok kepala binatang melata itu terhajar lendir tadi. Maka sekejap saja kepala ular itu berhamburan. Sedangkan bekas hantaman lendir mengeluarkan asap tipis, mengambang lamban di antara puncuk padi yang masih berwarna hijau. “Ngomong-ngomong, apa yang kau dapat waktu bertapa?” Pendekar Dungu melontarkan pertanyaan sambil menghindari tendangan kasar musuh lamanya. “Kalau tidak salah..., sial Kenapa aku jadi melatahimu Maksudku, aku mendapat wangsit.

Masalah kita bisa diatasi dengan bantuan seseorang.... Hiaaat” jawab Lelaki Berbulu Hitam, masih terus menggempur liar.

“Lho? Kenapa bisa sama, ya? Haih”

“Jadi, kau mendapat wangsit seperti itu juga?”

“Ya, ya Kalau tidak salah..., hiaaah”

Kedua tokoh itu bertukar jurus kian panas.

Gerakan mereka membongkar habis pematang sawah di bawah. Angin pukulan dan tendangan satu sama lain menyapu bulir-bulir padi hijau hingga berterbangan ke segenap penjuru.

“Lalu, apa kau mendapatkan ciri-ciri orang yang bakal bisa membantu kita untuk mengenyahkan kekurangan diri kita?” tanya Lelaki Berbulu Hitam yang dibarengi susulan terjangan.

“Kau sendiri? Hey, jangan menyerang jidatku

Otakku bisa jadi tambah bebal” hardik Pendekar Dungu kalap.

“Ada bintang....”

“Di langit?” selak Pendekar Dungu.

“Dungu Heaaa”

“Memang Aiiit”

“Maksudku, orang itu memiliki tanda bintang di tangan kanannya” teriak Lelaki Berbulu Hitam, sampai urat-urat di tenggorokannya membengkak.

“Lho? Kenapa bisa sama lagi dengan wangsitku, ya?”

Srat Prat Pada saat yang bersamaan, telapak tangan Pendekar Dungu menyerempet bulu dada laki-laki berpakaian tambalan. Sebaliknya cakar Lelaki Berbulu Hitam menyambar pakaian di bagian dada si Tua Bangkotan. Sejengkal bulu dada lelaki keturunan serigala itu tercukur gundul. Sementara, pakaian Pendekar Dungu koyak lebar.

“Kau merusak bajuku” maki Pendekar Dungu kalap.

“Hanya baju dekil dan bau Tapi, kau malah merontoki bulu dadaku Kau merusak penampilan-ku” sentak Lelaki Bertubuh Hitam tak kalah kalap.

“Bulu-bulumu mestinya memang harus dirontokkan semua Aku geli melihatnya Memandang bulumu, seperti melihat setumpuk lalat jamban” ejek Pendekar Dungu sambil memajukan wajah keriputnya, menantang Lelaki Berbulu Lebat.

Lelaki Berbulu Lebat jadi latah. Kepalanya ikut-ikutan dijulurkan. Kini keduanya saling berhadap-hadapan wajah. Jidat keduanya bertemu, seperti sepasang domba tua sedang bersabung.

“Kau yang mestinya menanggalkan pakaian

rombengmu itu Pakaianmu hanya membawa

penyakit kudis saja” balas Lelaki Berbulu Hitam.

“Ngomong-ngomong, apa kau berniat mencari orang bertanda bintang itu?” tanya Pendekar Dungu sungguh-sungguh, seperti tak pernah terjadi apa-apa pada dirinya.

“Aku pikir begitu.”

“Kalau kupikir..., ng.... Apa iya aku bisa berpikir?”

gumam Pendekar Dungu menyebalkan.

“Jadi kau akan mencari dia juga, apa tidak?”

bentak Lelaki Berbulu Lebat ngotot sekali.

“Hayo Hayo” Keduanya seketika menyudahi pertarungan. Dan seperti tak pernah terjadi apa-apa, mereka berjalan bersisian ke arah timur. Matahari saat ini menggelantung dengan warna Jingga di belakang. Cara jalan mereka seperti dua orang sahabat kental. Tak beberapa jauh berjalan, mulut Pendekar Dungu mulai berkicau lagi.

“Kau punya murid? Muridmu apa sejelek kau juga?”

Tak lama kemudian kembali keduanya bertengkar.

Suara teriakan kasar seketika terdengar ke mana-mana. *** 4

Apa yang dinamakan Pengadilan Perut Bumi tetap tersembunyi dari segenap mata penghuni rimba persilatan. Di sana, lelaki bangkotan berkain kafan yang berjuluk Hakim Tanpa Wajah sedang mempersiapkan sesuatu yang akan menggemparkan.

Selalu kegemparan yang bakal dimunculkan kembali, setelah terkubur delapan puluh tahun lebih. Ya Dia akan mempersiapkan satu pengadilan raya dunia persilatan. Siap mendakwa, lalu menjatuhi hukuman bagi tokoh-tokohnya. Tak seperti dulu, kemunculan pengadilan miliknya kali ini akan lebih menggetarkan nyali. Karena lelaki tua yang merasa dirinya sebagai hakim sejagad, bakal didukung murid tunggal yang baru sekali ini dimiliki.

Siapakah murid tunggalnya?

Dialah bayi ajaib yang ditemukan Hakim Tanpa Wajah dari dalam kandungan mayat seorang wanita tak dikenal. Setelah keluar dari perut ibunya, keajaiban makin menjadi-jadi. Tubuhnya berkembang pesat, tak seperti bayi biasa. Paling tidak, bayi lain membutuhkan waktu satu tahun untuk bisa berjalan.

Namun si Bayi Ajaib itu hanya perlu waktu satu minggu Tangan dan kakinya yang semula merah mungil, cepat menjadi kekar. Yang lebih gila lagi, dalam waktu seminggu remasan jarinya sudah mampu menghancurkan batang pohon. Tak ada susu buat pertumbuhannya, yang jadi makanannya hanya akar-akar pohon bakau yang tumbuh di rawa, di atas Pengadilan Perut Bumi. Hari terus berjalan, sesuai kodratnya. Dua bulan telah berjalan. Sementara pertumbuhan si Bayi Ajaib kian tidak terkendali. Dalam usia sedini itu dia sudah bisa berlari dan melompat kian kemari, menabraki dinding batu di dalam ruang Pangadilan Perut Bumi hingga berguguran. Tubuhnya mulai disarati otot-otot kenyal. Tulangnya makin kokoh. Sedangkan tingginya sudah seperti anak umur sembilan tahun.

Di samping semua itu, wajah si Bayi Ajaib lebih menampakkan keganasan. Mulutnya yang bertaring, seringkali menyeringai layaknya hewan buas.

Sepasang matanya seperti milik macan hutan. Bola mata hitamnya tegak lurus, berbentuk pipih. Tidak seperti manusia umumnya, rambutnya berwarna merah menyala seolah-olah dibuat dari bahan batuan neraka. Hakim Tanpa Wajah menamakan bocah itu, Manusia Dari Pusat Bumi. Karena, lahirnya jauh di dasar bumi.

Lalu bagaimana si Bayi Ajaib bisa terkandung dalam perut mayat wanita tak dikenal itu?

Kisahnya dimulai dari sebuah tempat, dalam kelebatan hutan bernama Rimba Selaksa Mambang.

Seorang gadis yang belum pernah sekali pun tersentuh lelaki, telah tersesat di sana. Mulanya dia dikejar-kejar segerombolan bajingan yang bernafsu melampiaskan hawa nafsu kelelakian di tepi hutan.

Waktu itu gadis ini hendak melewati tepi hutan untuk membuat jalan pintas menuju sebuah kampung terpencil. Dia memang hendak membeli obat untuk bapaknya yang hampir sekarat, sehingga harus mengambil jalan pintas.

Melihat gadis ayu dan molek berjalan sendiri di tepi hutan, gerombolan bajingan jadi tergiur. Mereka berusaha menghadang. Seketika gadis yang tahu ada segerombolan orang hendak berniat jahat padanya, langsung saja melarikan diri ke dalam hutan. Tanpa disadarinya, wilayah hutan paling angker di kawasan barat itu telah dimasuki. Selama ini, tidak ada seorang pun berani menjejakkan kaki di sana. Begitu juga gerombolan bajingan yang mengejarnya.

Ketika makin dalam memasuki hutan, gadis itu mulai sadar kalau telah memasuki hutan angker.

Buktinya, gerombolan yang mengejarnya sudah tidak terlihat lagi. Namun kesadarannya sudah terlambat, karena dirinya sudah telanjur terjebak dalam pusat Hutan Rimba Selaksa Mambang.

Pepohonan raksasa bersisian satu sama lain dalam baris yang tak teratur. Ototnya merangas, menggantung bagai ribuan tangan makhluk dasar neraka sedang menggapai-gapai. Dedaunan yang lebat tak membiarkan cahaya matahari sempat menerobos. Bagi gadis ini, pepohonan itu seperti berpuluh-puluh mata-mata dari alam gaib yang sedang mengawasinya. Lalu, dia pun menjadi ketakutan.

Gadis itu berlarian kembali dengan perasaan tercekam. Namun, iniiah justru yang menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya. Karena ternyata, dia makin masuk ke tengah-tengah Rimba Selaksa Mambang, di mana berdiri istana para mambang, siluman-siluman penghuni hutan

Malam pun menjelang. Rimba Selaksa Mambang makin disergap kegelapan. Sementara, si Gadis makin dililit perasaan takut luar biasa. Sampai suatu ketika, muncul sosok-sosok menyeramkan secara tiba-tiba dari sebuah pohon raksasa sebesar rumah

Ada sekitar dua puluh sosok bertubuh besar menampakkan diri secara samar-samar. Rata-rata tinggi mereka sekitar tiga kali manusia dengan wujud yang begitu mengerikan. Ada yang bertaring sepanjang lengan manusia. Ada yang bermata bulat amat besar, seakan hendak keluar. Bahkan ada yang berkepala besar dengan tanduk menjulang, malah sebagian lain memiliki perut buncit.

Mendapat semua itu, kontan saja si Gadis menjerit sejadi-jadinya. Benteng kekuatan jiwanya hancur seketika. Dan saat itu juga dia tak sadarkan diri.

“Apakah purnama telah benar-benar berada tepat di atas kepala kita?” tanya seorang siluman dengan bahasa mereka sendiri.

“Tinggal beberapa saat lagi,” sahut yang lain.

“Kebetulan sekali ada seorang gadis manusia yang datang ke tempat kita. Tanpa harus pergi keluar wilayah, kita bisa mendapatkan gadis yang dibutuh-kan. Tak seperti sejuta purnama yang lalu.”

“Kak..., kak..., kak Purnama kesejuta kali ini rupanya kita benar-benar beruntung” timpal siluman berkepala gundul dan berpusar panjang.

“Nang..., ning..., ning.... Nang-gung...” Siluman berperut buncit menari-nari girang. Perutnya yang menggelantung hampir menyentuh tanah, terayun-ayun ke sana kemari. “Tanpa susah-susah, kita akan mendapat hadiah dari Sri Ratu. Kak..., kak..., kak” ***

Purnama akhirnya tiba juga di pucuk angkasa.

Para siluman tadi mulai melaksanakan tugas yang diemban. Mereka harus menanam benih keturunan bangsa siluman, ke dalam perut seorang gadis yang masih tetap pingsan itu.

Upacara gaib segera dilaksanakan, yang sulit dipahami pikiran manusia. Mula-mula kedua puluh siluman itu melingkari tubuh gadis ini yang meng-geletak. Perlahan-lahan mereka mulai bergerak mengitarinya. Kian lama, putaran itu bertambah cepat menggila. Sampai akhirnya, tubuh halus semua siluman itu mengabur, dan berubah menjadi pusingan angin kencang. Batang-batang pohon besar yang tak begitu kuat menghujam bumi, pasti akan tercabut dan melayang ke udara tak bedanya dengan lembaran bulu. Hutan lebat itu bagai digasak angin topan maha hebat.

Anehnya, tubuh gadis itu tetap berada di tempat semula, seperti tak mendapat pengaruh sama sekali.

Pada saat angin berbentuk pusaran makin tinggi merangsek angkasa, seberkas cahaya kemerahan berkelebat cepat dari puncaknya menuju perut gadis itu. Bersamaan dengan terlepasnya cahaya tadi, tercipta bebunyian menggidikkan bagai suara segerombolan lebah dan denting sejuta genta.

Kesunyian hutan kian dipecah. Sepertinya kedua puluh siluman tadi sedang mengumandangkan semacam mantera hitam untuk mengantar masuknya sang Benih berbentuk cahaya, ke rahim si Gadis.

Sekian kejap berikutnya, cahaya merah sudah menelusup lenyap dalam perut gadis itu. Dan saat itulah terlempar raungan menyayat dari mulut wanita malang ini, memenggal bebunyian ganjil yang sebelumnya menyesaki hutan.

Alam mendadak sunyi. Hanya tersisa derak ranting yang terlambat jatuh serta tiupan angin yang lelah.

Upacara gaib telah selesai. Para makhluk halus itu satu persatu meninggalkan tempat ini. Nyawa si Gadis telah melayang sebagai tumbalnya.

Dan dari bawah pohon besar tempat meng- hilangnya para siluman, timbul mata air keruh berwarna kehitaman. Genangan mata air itu kian besar, seiring membesarnya perut si Gadis Malang.

Pada saatnya, aliran air yang tercipta menghanyutkan tubuh gadis itu ke arah selatan, di mana telah menanti danau tempat mayatnya ditemukan oleh si Hakim Tanpa Wajah. ***

“Pengadilan menanti”

Dari balik sebuah bukit karang, meluncur teriakan beringas nan lantang dari seseorang. Suaranya begitu menggebuk jantung setiap telinga yang mendengarnya. Demikian pula bagi lima orang pejalan kaki di bawah lereng bukit.

Pakaian kelima lelaki itu sungguh tak sedap dipandang. Bertambal sulam serta compang-camping.

Rata-rata tubuh mereka dekil, seolah menjadi pakaian sehari-hari. Dua orang di antaranya malah berhias koreng di beberapa bagian tubuh. Satu orang di antaranya berkaki pincang.

Kelima lelaki gembel ini berasal dari wilayah timur.

Di sana memang terdapat perkumpulan orang-orang macam mereka. Dunia persilatan menamakan perkumpulan itu Partai Pengemis Timur.

Pada dasarnya, orang telah salah sangka terhadap kehadiran mereka. Penampilan dekil para anggota perkumpulan itu, membuat nama mereka dekat dengan sebutan pengemis, walau sebenarnya bukan pengemis. Jauh di lubuk hati masing-masing, tetap memiliki harga diri untuk tidak meminta-minta.

Perkumpulan itu bisa hidup tanpa belas kasihan orang lain. Mereka punya lahan usaha sendiri, untuk menyambung hidup para anggotanya. Namun rupanya banyak orang menyamaratakan dengan para pengemis. Akhirnya, mereka pun mendapat julukan itu. Kalaupun mereka berpakaian seperti itu, karena masing-masing ingin mencoba menjauhi kesenangan dunia yang berlebihan.

Anggota Partai Pengemis Timur rata-rata berkepandaian tinggi. Beberapa pentolannya, bahkan amat disegani di kawasan timur. Beberapa tahun yang lalu, pernah terjadi perampokan besar-besaran yang dilakukan kawanan begal berilmu tinggi.

Beberapa pendekar tangguh tak sanggup meladeni kebuasan mereka. Beberapa di antaranya menemui ajal. Sedang yang lain harus menderita luka dan cacat seumur hidup.

Kebrutalan gerombolan begal itu akhirnya memancing tokoh-tokoh Partai Pengemis Timur. Dari dua puluh anggota, sepuluh pentolan turun untuk menghadapi keganasan gerombolan begal.

Meski kalah dalam jumlah dan senjata, kesepuluh pengemis itu sanggup memorat-maritkan anggota gerombolan berilmu tak tanggung, yang berjumlah banyak. Pentolan-pentolannya bahkan dapat dibuat mati

Para anggota Partai Pengemis Timur pulang dengan keadaan sehat walafial. Sejak itu kehadiran mereka mulai diperhitungkan oleh orang persilatan wilayah timur.

Di antara kesepuluh lelaki yang turun menumpas gerombolan begal itu, lima orang kumuh yang sedang berjalan di lereng bukit karang tadi ikut ambil bagian.

Mereka masing-masing bernama Kamasetya,

Dartasa, Damarsuta, Guruhdadi, dan Komajaya. Kekompakan yang terjalin, membuat mereka dijuluki Lima Gembel Busuk, meski tak harus keluar dari Partai Pengemis Timur.

Lima Gembel Busuk dikenal bukan karena

kehadirannya yang selalu membawa bau busuk atau berpenampilan tak karuan. Mereka amat kesohor karena keistimewaannya dalam memainkan jurus gabungan yang dinamakan 'Benteng Angin'. Jurus gabungan itu mampu menahan serangan, sehingga lawan seperti menggasak angin.

Lima Gembel Busuk segera menghentikan langkah begitu mendengar teriakan yang sulit dimengerti tadi.

Satu sama lain saling berpandangan heran.

“Kang Apakah seruan itu ditujukan untuk kita?”

tanya Kamasetya, lelaki adik dari orang yang dipanggil Kamajaya. Usia masing-masing terpaut dua tahun. Sekitar empat puluhan.

“Entahlah. Aku sendiri bingung,” jawab Kamajaya.

Dari puncak bukit karang di atas mereka, muncul-lah dua lelaki berusia jauh berbeda. Yang seorang tampak masih begitu muda dengan penampilan menggidikkan. Tubuhnya kekar sarat otot tebal.

Rambutnya merah, sedangkan di sudut bibirnya tersembul taring tajam.

Sementara lelaki yang satunya tampak amat renta.

Meskipun demikian, sinar matanya tetap me-mancarkan kekuatan berapi-api. Tubuhnya dari batas leher hingga mata kaki ditutup kain kafan lusuh.

Siapa lagi kalau bukan Hakim Tanpa Wajah bersama muridnya, Manusia Dari Pusat Bumi? Dalam setengah tahun saja, murid baru sang Hakim Sejagad itu telah menjelma menjadi pemuda bengis.

“He... he... he”

Hakim Tanpa Wajah terkekeh. Dikeluarkannya segulungan daun lontar dari balik kain kalannya.

“Dengan ini, kalian Lima Gembel Busuk harus menjalani pengadilan di perut bumi Menurut sang

'saksi mata', kalian harus dituntut karena kesalahan mencampuri urusan orang lain Kalian telah lancang dengan mengusik-usik urusan gerombolan begal beberapa tahun yang lewat He... he... he” sambung Hakim Tanpa Wajah di sela-sela tawanya.

“Sinting” maki Guruhdadi, lelaki berkoreng berusia muda serta berambut gembel. “Siapa dua orang ini?

Apa aku tak salah dengar? Mereka telah menyalah-kan kita karena telah memberantas orang-orang bejad macam gerombolan begal itu?”

“Seumur hidup, baru kutemui manusia macam mereka” timpal Kamajaya.

“Alah Kenapa kita tak melanjutkan perjalanan saja Tak perlu menggubris mereka. Toh, kita tidak memiliki urusan apa-apa dengan mereka,” sergah Guruhdadi sambil menggaruk-garuk kudis di kakinya yang juga dipenuhi koreng. “Ayo”

Keempat lelaki yang lain menyetujui saran Guruhdadi. Kini mereka mulai melangkah beriringan lagi di lereng setapak. Tapi baru tiga langkah, terdengar lagi suaru berat Hakim Tanpa Wajah.

“Karena itu, setelah menimbang dan menilai, maka kuputuskan kalau kalian harus menerima hukuman mati di Neraka Perut Bumi”

Diawali bunyi gelepar jubah hitamnya, Manusia Dari Pusat Bumi melompat ringan untuk menghadang Lima Gembel Busuk. Dan tanpa basa-basi lagi, pemuda keturunan siluman itu mengirim tamparan keras ke arah seorang dari Lima Gembel Busuk.

Wuuuk

Damarsuta, lelaki pincang yang diserang, tahu kalau tamparan itu bisa meremukkan rahangnya dalam sekejap. Maka tubuhnya langsung saja dilempar ke belakang, melewati keempat kawannya yang beriringan.

Tak berhasil menghajar Damarsuta, Manusia Dari Pusat Bumi maju setindak. Kini dirangseknya Kamajaya dengan sebuah sapuan kaki deras ke bagian leher. Berbeda dengan Damarsuta yang tak begitu siap, Kamajaya mencoba menyambut kaki pemuda itu dengan tangkisan tangan.

Tak

Benturan keras kontan terjadi. Akibatnya, Kamajaya terdorong ke sisi. Wajahnya menampakkan kesakitan luar biasa. Betapa tak dinyana kalau lawan yang demikian muda memiliki tenaga luar begitu kuat Bahkan pergelangan tangan yang digunakan untuk menangkis tadi, terasa bagai remuk. Itu baru tenaga luar. Lantas, bagaimana lagi kalau tenaga dalamnya sudah dikeluarkan?

Kemampuan Manusia Dari Pusat Bumi memang tak diragukan. Pada usia satu bulan setelah bisa berlari lincah serta tubuh yang mulai ditumbuhi otot kenyal, Hakim Tanpa Wajah sudah menurunkan ilmu-ilmu kesaktiannya. Yang paling awal diturunkan adalah beberapa rangkaian jurus berisi tenaga luar.

Keyakinan sang Guru pada keajaiban si Bocah ternyata tak lari dari harapan. Seperti orang rakus, bocah itu melalap jurus-jurus sakti bertenaga luar yang diturunkan padanya.

Kemampuan yang mengagumkan itu memancing keinginan Hakim Tanpa Wajah untuk segera menurunkan ilmu-ilmu lain yang setingkat lebih tinggi.

Pada tingkatan berikutnya, apa-apa yang diturunkan sang Guru pun habis dilalap tanpa kesulitan. Maka, Hakim Tanpa Wajah pun jadi demikian girang. Untuk melampiaskan rasa senangnya yang membludak itu, kembali diturunkannya ilmu yang lebih tinggi. Begitu seterusnya, sehingga si Bocah Ajaib menguasai ratusan jurus-jurus sakti serta tata cara pengolahan tenaga secara ampuh. Sementara itu, dengan cepat pula si Bocah tumbuh layaknya pemuda dewasa.

“Hiaaa”

Kamasetya kalap melihat saudaranya dapat dibuat hilang keseimbangan oleh pemuda kemarin sore.

Setelah menahan tubuh Kamajaya yang oleng ke samping, Kamasetya maju ke muka. Bersama wajah penuh ancaman, dihantamnya pemuda itu dengan kepala kurusnya.

Bet

Pukulan cepat Kamasetya seperti menerkam angin. Pemuda itu cepat melengoskan tubuhnya tanpa dapat disentuh kepalan Kamasetya. Betul-betul gerakan teramat lincah yang pernah ditemukan Kamasetya selama menjadi tokoh disegani wilayah timur, bersama keempat kawan dan saudaranya.

Sekejap berikutnya, justru Kamasetya yang harus pontang-panting menghindari serangan balasan Manusia Dari Pusat Bumi. Sama dengan saudaranya, dia juga bertanya-tanya dalam hati. Siapa sesungguhnya pemuda belia berwajah bengis yang sebenarnya sulit dipercaya jika memiliki gerak dan tenaga setangguh itu? Terlebih, sewaktu mata Kamasetya menangkap sepasang taring runcing di sudut bibir pemuda itu. Hatinya tanpa sadar tergedor.

Sekali lagi dia tak percaya ada manusia memiliki taring seperti hewan buas, serta sepasang mata seekor macan hutan

Sewaktu benak Kamasetya disarati keheranan, satu babatan tangan cepat siap merontokan iganya.

Weeet

“Kamasetya awaaas”

Kamajaya yang masih berdiri tak jauh darinya langsung berguling dijalan lereng bukit menuju tubuh adiknya. Setibanya di dekat Kamasetya, dia bangkit dibarengi satu terkaman ke perut Manusia Dari Pusat Bumi.

Begkh

Dua kepalan Kamajaya masuk mentah-mentah ke perut pemuda keturunan siluman itu, memaksa tubuhnya terlempar deras tanpa ampun. Saat ambruk, Kamasetya yakin kalau pemuda itu tak akan sanggup bangkit lagi. Pukulan seperti itu juga pernah merontokkan nyawa tiga tokoh berilmu tinggi gerombolan begal, beberapa tahun yang lalu dalam sekali pukul.

Tapi, dugaannya keliru. Tanpa luka sedikit pun, pemuda berwajah menyeramkan itu bangkit seraya menggeram. Suaranya menerabas, hingga sampai ke sudut nyali.... *** 5

Sebuah kedai kini sepi pengunjung. Memang, waktu makan siang sudah lewat sekian lama. Para buruh bandar, atau para pendatang dari Gujarat, Cina, dan Arab yang biasa singgah untuk makan, sudah kembali semua ke bandar. Kebetulan, kedai itu berada tak begitu jauh dari pusat niaga ini.

Dua orang pelayan wanita tengah membersih-bersihkan meja bekas makan para pengunjung.

Kedua wanita yang sama-sama cantik ini berkebaya agak ketat dengan kain sepanjang lutut. Masing-masing kebaya berwarna merah, dan hijau. Dalam kerja santai seperti ini, sesekali mereka bergurau. Tak jarang pula keduanya bergunjing tentang segala hal.

Tawa mereka yang lembut, terkadang memenuhi ruang kedai.

Belum habis canda mereka, masuk seorang

pemuda tampan menawan. Rambutnya tak teratur, panjang sampai bahu. Seperti salah seorang wanita pelayan, baju pemuda itu juga hijau. Begitupun celananya. Pada bahunya yang tegap, tersampir selembar kain bercorak catur. Sambil menguap berkepanjangan, kakinya melangkah acuh ke sebuah meja. Tentu saja, pemuda ini adalah Andika alias Pendekar Slebor.

“Ssst... Ni Warsih..., kau sudah janji dengan seseorang, ya?” tukas wanita berkebaya merah, menegur rekannya yang kebetulan membelakangi Andika.

“Janjian?” tanya wanita yang dipanggil Ni Warsih, heran.

“Itu lho” wanita berkebaya merah mengerling ke arah Andika.

Mendapat isyarat mata itu, Ni Warsih berbalik mengikuti pandangan mata rekannya. Dan matanya bertemu dengan pemuda tampan menggetarkan hati.

“O, Gusti...,” bisik Ni Warsih.

Mata Ni Warsih terbelalak pada rekannya. Tangan kanannya yang masih memegang serbet kotor, diletakkan di dada.

“Kenapa Ni Warsih?” tanya wanita berkebaya merah sambil tertawa kecil.

“Itu betul-betul manusia, ya? Kenapa tuampuan sekali...,” kata Ni Warsih setengah berbisik. “Aduh, rontok juga jantungku....”

“Itu bagianku, ya?” serobot wanita berkebaya merah.

“Eee.... Enak saja, Kau Ningsih Mau nyerobot rejeki orang?”

“Hi... hi... hi”

Wanita berkebaya merah yang dipanggil Ningsih cengengesan.

Di sisi lain, Andika merasa tak enak hati dibicara-an seperti itu.

“Ehem..., ehem” Andika mendehem.

“Nah, lo...,” ujar Ningsih menakut-nakuti Ni Warsih.

“Sana kamu layani Katanya rejekimu....”

“Aduh.... Bagaimana, ya? Kok, aku jadi dag-dig-dug gitu lho”

“Wajahmu juga mulai merah matang.... Nah

Sekarang, malah mulai biru.... Merah lagi...,” goda Ningsih.

“Masa'... masa'?”

“Iya Sumpah, biar disambar geledek bareng- bareng”

“Kalau gitu, kamu saja yang melayani dia, ya?”

“Wah.... Ketiban bulan aku....”

Wanita berkebaya merah menampakkan

kecerahan di wajahnya. Baru saja dia mulai beranjak, Ni Warsih menahannya.

“E-e, biar aku saja”

Ni Warsih mendahului Ningsih menuju Andika.

Wanita itu jadi terlihat kampungan sekali, sewaktu berlari terburu-buru. Cetusan antara perasaan gembira meluap bersama kegugupan.

“Kang mau...?”

Tenggorokan Ni Warsih mendadak tersekat.

Ucapannya terputus sebelum selesai. Lalu dia tertegun seperti orang bodoh di sisi Andika. Mulutnya megap-megap ingin berkata, tapi tidak bisa.

“Mau apa?” kata Andika.

“Mak... maksud saya, Kakang mau mesan apa?”

Andika menatap lurus-lurus sepasang bola lentik Ni Warsih. Dan ini membuat wanita itu makin gugup.

Dadanya jadi terasa sesak.

“Kalau memesan Nisanak sendiri boleh?” goda Andika sambil mengerling.

Mendadak saja Ni Warsih tambah megap-megap, semakin parah. Selanjutnya.... Bruk

Wanita itu ambruk, semaput dengan mata

terbelalak ke atas. Tinggal Andika yang hanya bisa garuk-garuk kepala. Cepat Ningsih menubruk rekannya, untuk menyadarkan. Sebentar saja, Ni Warsih siuman.

Ni Warsih kini dibawa masuk oleh Ningsih. Meski sudah siuman, tapi sama sekali belum bisa bangun.

Kakinya masih lemas. Sampai Ningsih muncul, Ni Warsih belum menampakkan batang hidungnya kembali. Maka 'Rejeki' Ni Warsih pun diambil alih oleh wanita berkebaya merah ini. Dilayaninya Andika dengan mata terus melirik-lirik nakal. Dasar perempuan

Sewaktu Andika mulai menyantap hidangan, dua lelaki asing masuk. Tidak hanya asing, keduanya juga ganjil. Seorang tampak begitu rua renta. Bertopi pandang lusuh, serta berpakaian tambalan di sana-sini. Meski agak bongkok, jalannya tetap sigap. Alis matanya tampak memanjang, hingga menutupi kelopak mata dengan warna putih.

Seorang lagi membuat Ningsih hampir menjerit ketakutan kalau tidak segera mendekap mulut.

Bagaimana wanita itu tidak terkejut? Ternyata orang itu ditumbuhi bulu lebat di sekujur tubuhnya. Dikira ada orang utan mau makan siang di tempat ini.

Dari pintu masuk, kedua laki-laki aneh itu sudah tampak tak akur. Satu sama lain saling mengomel tak karuan. Lelaki berbulu, terus saja menghardik-hardik kasar. Sementara, yang lain berbicara ngalor-ngidul, seolah-olah tak mendengarkan teriakan keras lelaki di sebelahnya. Terkadang pula dia balas membentak, setelah itu acuh kembali.

Andika tak peduli pada kedua lelaki tadi. Pemuda itu terus melahap makanan penuh selera. Cara makannya seperti orang yang baru bertemu makanan selama tiga hari. Tak ada lagi tata cara kesopanan buat pemuda itu. Kakinya diangkat, duduk bersila di bangku panjang tempatnya duduk. Mangkuk air tempat mencuci tangan pun tak disentuhnya, meski tangan yang dipakai untuk meraup nasi ke mulut bisa dibilang dekil. Apa mau dikata? Memang begitulah si Pendekar Slebor.

Dua lelaki yang baru datang sudah mengambil tempat di satu sudut kedai, berhadap-hadapan dengan meja Andika. Lelaki tua yang tak lain Pendekar Dungu itu sudah duduk dengan wajah bodoh di kursi panjang. Sepertinya, dia tak tahu apa yang harus dilakukannya dalam kedai. Berbeda orang yang satu lagi, yang tak lain Lelaki Berbulu Hitam.

Kawan seperjalanan Pendekar Dungu yang pernah menjadi lawan tangguhnya dulu malah terus memaki-maki sambil mengitari meja makan.

“Sudah kubilang Jangan urus perutmu dulu, sebelum kita temukan orang itu, Dungu” hardik Lelaki Berbulu Hitam dengan urat leher tertarik.

“Pantas saja otakmu jadi bebal. Karena, yang kau pikirkan hanya makan”

Pendekar Dungu melirik sejenak pada lelaki kalap tadi. Lalu, matanya kembali tertegun-tegun ke arah meja makan.

“Jangan berlagak bodoh Kau pasti dengar ucapanku” sambung Lelaki Berbulu Hitam.

Namun, setelah itu Lelaki Berbulu Hitam

menampar keras-keras kening sendiri.

“Siapa bilang dia berlagak bodoh Memang dari dulu sudah bodoh” gumam laki-laki berbulu itu.

Karena wataknya yang keras, gumamannya pun tak terdengar seperti gumaman. Bagi yang mendengarnya, gumaman itu dianggap teriakan.

“Dunguuu Kita mesti keluar dari tempat celaka ini” seru Lelaki Berbulu Hitam tak tanggung-tanggung. Kekesalannya yang memuncak, telah membuatnya mengerahkan tenaga dalam bersama teriakannya.

Saat itu juga, dinding kayu kedai bergetar dan retak. Meja dan kursi terangkat mendadak. Piring-piring tanah liat di meja Andika juga ikut menjadi korban. Semuanya pecah berpetalan. Sementara wanita pelayan di ruang dalam kedai langsung mendekap telinga masing-masing dengan wajah menahan sakit.

Sedangkan Andika tetap tenang, meski telinganya sempat terasa nyeri. Tanpa kentara, Pendekar Slebor menyalurkan hawa murni ke gendang telinga untuk meredam tenaga dalam kuat yang mencoba

merangsek ke dalam. Di samping itu, Andika juga mengirim hawa murni ke ruang dalam kedai, agar gelombang teriakan hebat Lelaki Berbulu Hitam tidak begitu mencelakakan dua pelayan wanita di sana.

Setelah berteriak kalap, Lelaki Berbulu Hitam agak menurun kemarahannya. Kakinya melangkah menghampiri kursi di depan Pendekar Dungu dengan bersungut-sungut. Dengan rasa kesal, didudukinya kursi itu. Baru saja tubuh gempalnya turun pada kursi....

Bruk

Kursi kayu kontan terbelah dua, membuat Lelaki Berbulu Hitam terjatuh duduk di lantai kedai.

Salahnya sendiri. Teriakan bertenaga dalamnya tadi, telah membuat kursi kayu itu retak. Sewaktu dibebani tubuh besarnya, tentu saja tak kuat lagi bertahan.

“Siaaal”

Lelaki Berulu Hitam berteriak kuat-kuat lagi. Tapi lagi-lagi dia harus menelan getah dari perbuatannya.

Langit-langit kedai yang memang sudah keropos segera berjatuhan. Pecahannya sebagian masuk tanpa permisi ke mulutnya yang lebar.

“Afh... glek”

“Astaga Rupanya kau telah memesan makanan lebih dahulu Dasar culas Kenapa tak ajak-ajak aku makan?” maki Pendekar Dungu, sewaktu telinganya menangkap suara mulut Lelaki Berbulu Hitam menelan sesuatu.

Lelaki gempal berbulu yang terduduk di lantai, mendelik mata sebesar-besarnya. Ucapan lugu Pendekar Dungu terdengar di telinganya sebagai hinaan. Tak lama kemudian, Lelaki Berbulu Hitam mulai mengomel-ngomel lagi. Mulai dikitarinya meja tempat Pendekar Dungu sambil berkacak pinggang serta mencak-mencak serabutan.

Belum habis omelan Lelaki Berbulu Hitam masuk lagi seorang nenek-nenek peot berpunuk besar, seperti seekor onta. Rambutnya putih panjang.

Karena terlalu panjang, rambut itu terseret-seret menyapu lantai kedai. Wajah nenek tua ini bukan hanya keriput, tapi sudah begitu kendor. Pipinya menggelantung ke sisi rahang. Matanya tak kalah parah, memutih tanpa warna hitam lagi. Sementara, bibirnya yang berkerut-kerut, terus saja memamah sirih. Sesekali disekanya cairan sirih di sudut bibir dengan lengan baju yang berwarna jingga terang kebesaran.

“Ugh..., uhugh... ugh”

Nenek itu terbatuk-batuk. Dilewatinya meja Andika tanpa mau ambil pusing untuk menegur. Tanpa rasa bersalah, air sirih kental di mulutnya diludahkan sembarangan. Masih wajar kalau singgah di bawah meja Andika. Tapi, air sirih menjijikkan itu justru mampir di bibir gelas bambu tempat minum pemuda ini.

Pendekar Slebor jadi mendengus. Pangkal

hidungnya kontan terlipat. Kalau saja bukan orang lanjut usia yang berbuat seperti itu, sudah disodoknya mulut orang itu dengan kepalan

Dua meja setelah tempat Andika, nenek itu mendapat tempat yang dianggap cukup nyaman. Dia duduk menghadap jendela besar sebelah timur, sehingga angin menyapu wajah kendornya. Wajahnya bagai dibelai-belai, hingga matanya berkedip-kedip lamban seperti orang sekarat. Sebentar kemudian, nenek itu sudah merebahkan diri melepaskan dengkurnya yang keras.

“Sebenarnya, nenek sial ini hendak makan atau hanya numpang tidur,” gerutu Andika, merasa terusik kenyamanannya.

Betapa tidak terusik? Sudah piring-piringnya hancur oleh teriakan sinting Lelaki Berbulu Hitam, gelas bambunya disinggahi benda nyasar, kini ada pula senandung yang sungguh mati tak sedap masuk telinga.

Sementara Lelaki Berbulu Hitam tak bosan-bosannya mencaci maki Pendekar Dungu, nenek tua yang tak kalah bangkotan tadi dengan tenang menikmati mimpinya. Sirih di mulut peot itu tak juga dibuang. Air liur berwarna merah sirih pun mulai mengalir lambat tanpa dosa.

Andika sudah tak tahan lagi. Seacuh-acuhnya pemuda ini, tak akan bisa menahan jijik kala menatap air liur kental itu. Nasi yang tersisa beberapa kepal lagi di piringnya yang sebagian masih utuh ditinggal begitu saja.

“Niii” panggil Andika pada pelayan.

Pelayan wanita berkebaya merah keluar tergopoh-gopoh ke arahnya. Wajahnya masih tetap berkerut ketakutan. Sedang matanya tak berani sedikit pun melirik ke arah para tamu lain, kecuali Andika.

“Ada apa, Kang?” tanya Ningsih pada Andika.

“Kenapa orang-orang sinting itu tidak dilayani?”

tanya Andika. Dia ingin, agar para pengunjung aneh itu cepat-cepat diam karena sibuk dengan makanan yang dihidangkan.

“Mana aku berani melayani kalau mereka sinting,”

bisik Ningsih dengan mendekatkan mulut ke telinga Andika.

“Siapa yang bilang mereka sinting?” tanya Andika bingung.

“Lho? Kakang tadi bukan bilang begitu?”

“Aku tadi hanya dongkol. Jadi kusebut mereka sinting,” tandas Andika tanpa hendak menurunkan suara.

“Siapa yang sinting?”

Mendadak saja, Lelaki Berbulu Hitam, tokoh kelas atas yang ditakuti pada zamannya, berseru murka.

Hatinya kontan tersinggung pada ucapan Andika.

Memang, hanya orang tuli yang tak mendengar ucapan pemuda urakan yang cukup keras tadi.

Sementara wanita berkebaya merah itu langsung terlonjak kaget. Dia hampir meloncat, karena begitu kagetnya. Matanya terbelalak, sedang mulutnya terbuka lebar. Jangan ditanya, bagaimana pucat pasinya wajah Ningsih saat itu.

“Siapa yang sinting?” ulang Lelaki Berbulu Hitam.

Dihampirinya Pendekar Slebor dengan langkah berdebam-debam.

Namun, pemuda yang didekati hanya tersenyum-senyum menikmati kekalapan lelaki berpenampilan bagai orang utan itu. Sementara, pelayan wanita berkebaya merah sudah terbirit-birit ke dalam sejak tadi. Masih bagus kalau tak terkencing-kencing di celana.

“Kau yang barusan bilang aku orang sinting?”

tanya Lelaki Berbulu Hitam, tak merasa harus sopan sedikit pun. Matanya sudah mendeliki Andika. “Aku tidak bilang begitu,” sangkal Andika. “Yang kukatakan, kalian bertiga....”

“Kenapa kami bertiga?”

“Ya, sinting....”

“Pemuda busuk tak tahu adat”

Lelaki Berbulu Hitam seketika meniup serakan piring di meja Andika. Pecahan piring pun berhamburan secepat kilat ke wajah Pendekar Slebor.

Sungguh suatu pamer kekuatan yang mengagumkan

Andika yang merasa mendapat tantangan adu kekuatan, dengan sigap meniup kembali pecahan piring itu ke arah lelaki di depannya. Mula-mula, pecahan piring itu berhenti di udara. Dan sesaat kemudian berbalik meluncur ke wajah Lelaki Berbulu Hitam.

Di tengah jalan, pecahan piring tanah liat itu tertahan lagi. Bukan karena ulah Lelaki Berbulu Hitam. Nyatanya, mulut laki kasar itu memang belum lagi tampak bergerak. Lalu, siapa yang usil ingin ikut campur adu kekuatan yang dimiliki orang-orang kalangan atas itu? *** 6

Sementara itu di bukit karang, di mana Lima Gembel Busuk dihadang Manusia Dari Pusat Bumi.

Pertarungan satu lawan lima telah memasuki jurus ke sembilan puluh.

Sebenarnya, Lima Gembel Busuk sanggup

membuat tekanan pada pemuda itu. Pukulan tangan mereka serta hantaman tongkat milik si Pincang, berkali-kali menjebol benteng pertahanan Manusia Dari Pusat Bumi. Namun sampai sejauh itu, Manusia Dari Pusat Bumi mampu meredam seluruh hajaran di tubuhnya dengan cara aneh.

Lima Gembel Busuk benar-benar tak habis pikir, kenapa pemuda itu seperti memberi kesempatan pada mereka untuk mendaratkan pukulan atau hantaman. Dan sewaktu mereka merasakan satu sengatan luar biasa setiap kali berhasil mendaratkan serangan, barulah disadari.

Sudah berkali-kali pukulan tokoh ternama dari wilayah timur itu berhasil memakan bagian demi bagian tubuh Manusia Dari Pusat Bumi. Namun, yang semakin melemah justru keadaan tubuh mereka.

Tenaga lima lelaki ini seperti disedot oleh kekuatan tak terlihat sebagian demi sebagian.

Meski agak terlambat, Kamajaya, orang yang paling berpengaruh di antara mereka, segera memberi aba-aba.

“Hentikan serangan” seru Kamajaya cepat. “Kita akan kehabisan tenaga kalau terus mendaratkan serangan ke tubuhnya” Di lain tempat, Hakim Tanpa Wajah ikut terkejut dengan kemampuan tak terduga murid tunggalnya.

Selama ini, dia hanya menurunkan ilmu-ilmunya yang diserap secara baik. Kalupun pemuda ini belum begitu lihai memainkan setiap jurus ajaran Hakim Tanpa Wajah, penyebabnya hanya karena usianya yang terlalu hijau. Sehingga, dia belum begitu berpengalaman dalam medan tempur. Dengan kemampuan di luar dugaan tadi, Manusia Dari Pusat Bumi justru memanfaatkan kekurangannya untuk menguras tenaga lawan.

“He... he... he Pintar, Bocah Bagus Kau memang murid yang bisa diandalkan Ada baiknya kau tidak hanya menjadi muridku, tapi sekaligus jadi seorang

'Penuntut Pengadilan Perut Bumi'. He... he... he” kata Hakim Tanpa Wajah dari tempatnya berdiri.

Bukan main berbunganya hati lelaki bangkotan itu menyaksikan para calon orang hukumannya mundur teratur, menghadapi pemuda hijau yang sesungguhnya baru berusia teramat muda.

Di kancah pertarungan, lima Gembel Busuk sudah bersiap-siap memainkan jurus andalan 'Benteng Angin'. Mula-mula, lima lelaki itu mengatur keberadaan masing-masing dalam bentuk lingkaran lima belas tombak di sekitar pemuda itu. Setapak demi setapak, mereka maju dengan langkah teratur dan pasti menuju pusat sasaran serangan. Ketika tinggal sekitar tiga tombak lagi, mereka serempak mengerahkan kembangan jurus masing-masing, seolah hendak membingungkan lawan. Lalu pada waktunya, tenaga sembrani mereka dilepaskan dari kedua belah telapak. Tenaga yang sanggup membuat mereka menggabungkan tenaga pada telapak tangan langsung membentuk lingkaran, mengurung Manusia Dari Pusat Bumi seperti gelang tembus pandang.

Dinginnya wajah Manusia Dari Pusat Bumi tak berubah sediki pun menghadapi jurus andalan yang amat kesohor di wilayah timur itu. Selama 'Benteng Angin' dipergunakan Lima Gembel Busuk, belum ada seorang lawan pun yang sanggup mengungguli. Tapi bagi lelaki belia berperawakan manusia berusia dua puluh limaan itu, mungkin hanya mainan tak berarti.

“Heaaa”

Adu kedigdayaan dimulai kembali. Manusia Dari Pusat Bumi membuat terjangan lebih dahulu. Hatinya sudah tak sabar ingin segera menyelesaikan pekerjaan. Yang jadi sasaran pertama adalah si Pincang. Jurus yang diturunkan gurunya mulai dikerahkan pada tingkat yang sulit ditandingi.

Delapan puluh tahun yang lalu, jurus itu pernah menjatuhkan berpuluh-puluh tokoh jajaran atas. Pada waktu itu, jika Hakim Tanpa Wajah sudah merangsek dengan kaki menjejak-jejak dengan bumi penuh tenaga, maka para lawannya seketika menjadi gentar.

Karena mereka tahu kalau dia telah memainkan jurus

'Tenaga Sakti Pembelah Bumi'.

Setelah sekian lama terkubur masa, jurus tangguh itu tak lagi muncul. Orang pun tak pernah lagi melihatnya seperti tak pernah lagi melihat Hakim Tanpa Wajah. Kalaupun masih ada yang mengenali jurus itu, hanya terbatas pada tiga saingan utama Hakim Tanpa Wajah. Yakni, Pendekar Dungu, Raja Penyamar, dan Lelaki Berbulu Hitam.

Namun begitu, tak luput dari kelima lawannya bertanya-tanya heran. Jurus apa yang bisa membuat permukaan tanah bergetar seperti ada seekor naga raksasa sedang bergeliat di dasar bumi? ***

Jauh di tempat lain, tepatnya di sebuah kedai bandar, adu kesaktian para tokoh jajaran atas yang bertemu di satu tempat tanpa sengaja, berlangsung makin hangat. Dua orang sudah dikenal sebagai Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu.

Keduanya adalah tokoh dari zaman yang jauh berbeda dengan orang ketiga yang dikenali sebagai Pendekar Slebor. Sedangkan tentang nenek bongkok berpunuk, belum ada seorang pun yang tahu tentang dirinya.

Ketika itu, Andika maupun Lelaki Berbulu Hitam disentak oleh keusilan seseorang. Pecahan piring yang meluncur ke wajah Lelaki Berbulu Hitam akibat ditiup balik Andika, mendadak saja berhenti di udara.

Sudah pasti ada seseorang yang mengirim tenaga dalamnya yang tak kalah hebat.

Pendekar Slebor serta Lelaki Berbulu Hitam yang memang memiliki indera tajam, segera saja bisa mengendus orang yang berbuat usil. Orang itu duduk menyender pada sisi meja, terpulas dengan liur bercampur sirih. Siapa lagi kalau bukan si Nenek Bongkok. Dengan dengkurnya, diam-diam tenaga dalamnya yang sudah sangat tinggi disalurkan ke arah pecahan piring. Alhasil, kepingan-kepingan kecil tanah liat itu pun tertahan di udara.

“Siaaal”

Lelaki Berbulu Hitam mulai sewot lagi.

Kemarahannya kali ini berpindah ke nenek bongkok.

“Kau jangan sok ikut campur, Perempuan Peot”

hardik Lelaki Berbulu Hitam garang. Matanya mendelik-delik buruk kepada nenek bongkok yang tetap mendengkur. “Kau mau bibirmu yang sudah mirip gombal itu kusumpal dengan pecahan piring, ya?”

Dan seketika itu pula Lelaki Berbulu Hitam menggerakkan tangannya, hendak menyambar benda-benda kecil tajam itu di udara. Tapi sebelum tangannya sampai, pecahan-pecahan itu melayang lebih cepat ke atas, kemudian berhenti kembali setelah naik sekitar satu depa.

Sekali lagi, Andika tersentak. Bukan karena tak tahu siapa yang berbuat hal itu. Justru dia tersentak setelah menyadari kalau di sekitarnya kini hadir tiga orang yang tingkat kepandaiannya tak terukur. Kalau tadi si Nenek Bongkok menahan tiupan tenaga dalamnya pada pecahan piring hanya dengan mendengkur, kini pecahan-pecahan tanah liat kering itu dipindahkan ke atas, dalam keadaan tetap melayang oleh Pendekar Dungu di sudut ruangan dengan mengipas-ngipaskan topi pandannya secara santai

Kini giliran Pendekar Dungu mendapat jatah pelototan mata Lelaki Berbulu Hitam.

“Kau juga jangan ikut-kutan latah, Dungu” bentak Lelaki Berbulu Hitam.

“Aku tidak mau 'ikut-ikut'. Makanan macam apa itu? Aku hanya mau makan nasi biasa,” tukas Pendekar Dungu acuh tak acuh.

“Kenapa kau tak panggil pelayan saja?”

“Jangan, jangan dipanggil. Biar aku tunggu pelayan itu memanggilku saja...”

“Goblok Kau pikir, mau makan apa cari pelacur”

“Aku mau cari nasi biasa Sudah kubilang tadi, bukan?”

“Gggeeehhh....”

Lelaki Berbulu Hitam menggurutukkan gigi-giginya sendiri. Rahangnya sampai seperti membengkak, karena begitu jengkel dengan kebodohan Pendekar Dungu.

Sementara Andika celingak-celinguk sendiri. Dia tak habis mengerti, apa yang sesungguhnya diributkan kedua lelaki ganjil itu? Dan kenapa pula si Nenek Bongkok usil-usilannya menjahili? Seolah-olah, pemuda itu sedang disuguhkan satu adegan sandiwara rakyat yang penuh guyonan. Sesekali matanya memperhatikan Pendekar Dungu di sudut kedai. Saat yang lain, diperhatikannya Lelaki Berbulu Hitam yang belum juga beranjak di dekat mejanya.

Juga, diawasinya si Nenek Bongkok yang tetap pulas seperti bayi, seakan-akan suara menggelegar-gelegar Lelaki Berbulu Hitam tak pernah bisa mengusiknya.

“Para orang tua Sebelum kalian melanjutkan pertengkaran, bolehkah aku yang muda ini tahu, siapa kalian sebenarnya?” selak Andika, memotong makian panjang-panjang Lelaki Berbulu Hitam.

“Apa pedulimu” tandas Lelaki Berbulu Hitam.

“Wah Kalau namaku, aku tahu. Tapi kalau nama kalian...? sahut Pendekar Dungu sambil berpikir beberapa saat. Setelah itu, dia menggeleng lamban.

“Nyem... nyem... grrr... suiiittt...,” Nenek bongkok pun ikut menjawab dengan caranya sendiri.

Andika meringis. Dirinya yang slebor pun dibuat berdecak-decak oleh sikap ketiga orang itu. Apalagi orang yang waras? Bisa-bisa langsung ngacir dari tempat ini

“Maksudku, mungkin aku bisa membantu kalian,”

ralat Andika.

“Aku tak perlu bantuanmu, Bocah” sentak Lelaki Berbulu Hitam.

“Ya, Anak Muda. Mana mau manusia keras kepala itu dibantu. Di samping keras kepala, dia juga tinggi hati. Pertolongan orang lain selalu dianggapnya hinaan,” selak nenek bongkok, tanpa sedikit pun membuka kelompak mata keriputnya. Setelah itu, dia meludah.

“Cuih”

Cairan berwarna merah dari mulut nenek itu terbang cepat, menuju kepingan-kepingan bekas piring yang masih melayang di atas, karena dikendalikan tenaga dalam Pendekar Dungu. Ludah kental itu langsung menyebar ke beberapa arah, menggasak habis pecahan tanah liat keras, lalu mendorongnya kuat ke dinding kedai. Seketika lubang-lubang sebesar jari manusia tercipta, karena kekuatan dalam dari setiap pecahan itu.

“Sudah kubilang, kau tak usah ikut campur, Nenek Peot Sudah tidak pantas bagimu ikut bermain-main seperti ini”

Lelaki Berbulu Hitam berpindah tempat. Dihampirinya nenek bongkok dengan wajah menyeringai-nyeringai merah.

Setibanya di sisi meja, Lelaki Berbulu Hitam menjatuhkan tangannya tanpa tenaga. Belum lagi tangan itu sampai ke permukaan meja, papan dari kayu setebal seperempat jengkal itu terpatah dua bagian Lagi-lagi, dia hendak pamer kekuatan.

“Huuuaaah” si Nenek Bongkok menguap lebar-lebar. Gulungan sirih tersembul di antara kuapan mulutnya. “Itu kekuatan yang sudah ketinggalan zaman buatku, Monyet.”

“Kau bilang aku apa?” bentak Lelaki Berbulu Hitam kuat-kuat di depan hidung si Nenek Bongkok.

“Kau tak suka kukatakan monyet? Baik, memang mestinya kau kusebut biang monyet....” Lelaki keturunan serigala itu tak bisa lagi menguasai diri. Itulah sifatnya yang sulit hilang, meski telah menjalani tapa selama puluhan tahun. Itu pula yang menjadi masalah utama bagi dirinya. Tapi dibanding dulu, sekarang ini Lelaki Berbulu Hitam termasuk sabar. Sebelum menyembunyikan diri selama puluhan tahun, seseorang akan langsung dikepruknya hingga mampus jika sekali saja menyindirnya.

“Biar mampus kau, Nenek Keropos”

Berbareng makian kasar, tangan besar Lelaki Berbulu Hitam terangkat cepat tinggi-tinggi. Sebelum benar-benar sampai ke puncak, tangan itu sudah menukik deras ke kepala nenek bongkok. Telapak tangannya terbuka lebar, seperti sebatang pacul siap memburai lumpur sawah

Wuk Prak

Ubun-ubun nenek bongkok benar-benar telak terkepruk oleh telapak tangan lebar milik Lelaki Berbulu Hitam. Andika sendiri sampai hendak bangkit, untuk menahan tangan itu. Pendekar Slebor yang kesohor ini tahu, keprukan itu tak bisa dianggap remeh. Batu karang sebesar kerbau saja belum tentu sanggup bertahan. Apalagi kepala rapuh si Nenek Bongkok.

Tapi, kenyataan yang terjadi malah jauh di luar perkiraan. Sesudah tertimpa tangan besar Lelaki Berbulu Hitam, si Nenek Bongkok menggaruk ubun-ubun. Bahkan bibirnya yang lusuh mengembangkan senyum melecehkan.

“Sudah kubilang, tenagamu sudah ketinggalan zaman. Itu tadi untuk membunuhku, atau untuk membunuh kutu-kutu di kepalaku?”

Siapa yang tak panas dikatakan seperti itu? Apalagi, bagi lelaki berperawakan seram ini.

Telinganya serasa disodok sebatang besi panas.

Darahnya langsung bergejolak. Sifat-sifat seekor serigala yang mendekam dalam tubuhnya pun terusik. Layaknya serigala murka, mulutnya menyeringai. Untung saja wajahnya tak serupa binatang buas itu.

“Grrr...” geram Lelaki Berbulu Hitam sangar. Si Nenek Bongkok tetap tenang, memperhatikan seluruh tingkah calon lawannya. Tidak tahu, apakah lelaki yang berada dalam puncak kemarahan itu dipedulikan atau tidak. Yang jelas, dia terus saja memamerkan wajah melecehkan. Tangannya berbalut kulit keriput memain-mainkan gulungan sirih di sudut bibir.

Tak perlu ada yang memanas-manasi, pertarungan memang akan segera pecah.

“Wah Urusan jadi runyam,” gumam Andika

perlahan sekali di mejanya. “Kalau orang seperti mereka bertarung di kedai ini, bisa porak-poranda seluruh isinya....”

Untung saja yang ditakutkan Andika tidak terjadi.

Si Nenek Bongkok rupanya masih punya sedikit perasaan pada nasib sumber rejeki orang lain.

Dengan terseok-seok tubuhnya diangkat dari kursi panjang.

“Tempat ini terlalu kecil buat kita bergurau...,” kata nenek itu sambil melenggang terbungkuk-bungkuk. *** 7

Sampai saat ini Andika tak tahu, siapa dua manusia aneh yang siap bertukar jurus-jurus sakti di pelataran depan kedai. Juga tentang urusan mereka masing-masing. Semuanya benar-benar tak jelas. Yang jelas Pendekar Slebor yakin kalau tingkat kepandaian mereka berada beberapa tingkat di atasnya.

Sementara Pendekar Dungu tetap duduk masa bodoh di kursinya, Andika ikut keluar kedai. Tepat di pintu kedai, tubuhnya disandarkan untuk memperhatikan segala hal dahsyat yang bakal meledak.

Di pelataran kedai, si Nenek Bongkok berdiri terbungkuk-bungkuk. Tangannya terus saja memper-mainkan gulungan sirih dari sudut bibir yang satu ke sudut lain. Selama melihat, tak sekalipun Andika menangkap suara tawa wanita tua ini. Andika menilai nenek peot itu termasuk manusia bersifat dingin.

Sekitar delapan tombak di depan si Nenek Bongkok, Lelaki Berbulu Hitam berdiri dengan sikap tak sabar ingin melabrak lawan. Kedua tangannya terlihat meremas-remas jemari, membuat otot-otot tangan gempal itu bermunculan. Sesekali dia menggeram dengan tatapan mata menusuk.

“Ayo Tunggu apa lagi, Kunyuk Bohongan?” tantang si Nenek Bongkok berbarengan dengan semburan ludah berwarna merah ke bawah kakinya.

Tak perlu lagi banyak basa-basi. Lelaki Berbulu Hitam langsung membuka sepertiga jurus andalan-nya. Sudah bisa disadari kalau lawan yang bakal dihadapi tidak bisa diladeni dengan jurus tanggung. “Grrr...”

Beriring geraman berat serta terseret, lelaki berperawakan buruk itu menelentangkan kuku-kuku jari tangannya di depan wajah. Sesaat setelah terdiam, napasnya dihembuskan ke kuku jari jemarinya.

“Fhuuuh....”

Kuku panjang berwarna hitam serta runcing seperti milik hewan buas itu makin menghitam. Sisi-sisinya tampak berpendar kehijauan. Tak lama kemudian, asap tipis mengambang dari sana.

Wut Wut Wut

Lelaki Berbulu Hitam menggerak-gerakkan tangannya dalam kecepatan menggila. Sepasang cakaran itu seakan hendak menghalau udara di sekitarnya.

“Yeee.... Anak kecil ingusan juga bisa begitu”

ledek si Nenek Bongkok.

Lelaki Berbulu Hitam tak mau lagi mendengarkan setiap kalimat mengolok-olok dari mulut lawan.

Dengan satu tarikan napas, diterkamnya bumi sepenuh tenaga. Tak ada yang mengerti, kenapa tindakan bodoh itu dilakukannya. Bahkan Andika juga tidak mengerti. Tapi si Nenek Bongkok tampaknya sudah paham betul tindakan lawannya. Maka sebelah kakinya diangkat tinggi-tinggi, siap menanti serangan lawan selanjutnya.

Di lain pihak, tubuh besar Lelaki Berbulu Hitam yang sudah menimpa tanah berpasir, meluncur seperti papan di permukaan es menuju bagian bawah tubuh si Nenek Bongkok dengan sepasang tangan mencabik-cabik ke depan.

Wuk Wuk Wuk

Ketika tinggal empat kaki dari tubuh Lelaki Berbulu Hitam dari tempatnya, si Nenek Bongkok menghentakkan kakinya yang telah diangkat sebelumnya kuat-kuat ke bumi.

Bammm

Seketika suara berdebam tercipta. Sepertinya, tak ada yang istimewa dari tindakan nenek itu. Tanah yang dihentaknya tak mengalami apa-apa. Bahkan debu pun tak terlihat mengepul. Amat bertolak belakang dengan bunyi keras yang dihasilkannya.

Tapi, siapa nyana kalau hentakan kaki berkesan tak berarti itu sanggup melempar tubuh besar Lelaki Berbulu Hitam dari tanah tempatnya terseret? Dan yang terjadi memang demikian. Lelaki Berbulu Hitam seperti disentak kekuatan dasar bumi, hingga tubuhnya meluncur ke atas

Di udara, lelaki penuh bulu itu terperangah.

Matanya melotot besar-besar. Tangan dan kakinya bergerak kalang-kabut, sebelum akhirnya mampu menguasai keseimbangan dengan memutar tubuh di udara ke samping. Dengan cara itu, dia bisa melepaskan diri dari dorongan kuat dari bawah.

Jleg

Hanya dalam satu tarikan napas, lelaki itu sudah berdiri tegak kembali. Sekarang, wajah murkanya sudah terdepak entah ke mana, berganti dengan mimik keterkejutan.

“Kau...,” kata Lelaki Berbulu Hitam terputus. Jari berbulunya menunjuk ke arah nenek bongkok.

Matanya menatap tak berkedip, seakan sedang melihat setan memakai gincu.

“Hek... hek... hek”

Untuk pertama kalinya, si Nenek Bongkok memperdengarkan tawa.

“Kau mulai mengenaliku?” tanya nenek itu dengan suara tak lagi sama seperti semula. Kali ini terdengar agak besar dan mantap. “Hanya, seorang yang bisa melumpuhkan jurus maut 'Serigala Tak Berkaki' milikku dengan cara seperti tadi,” ucap Lelaki Berbulu Hitam nada suaranya tak setinggi sebelumnya. “Kau pasti....”

“Ya, pasti” terabas si Nenek Bongkok.

Tubuh bongkok nenek itu tiba-tiba menegak. Satu demi satu dilepasnya punuk, rambut panjangnya, kemudian wajah keriput seperti mencopot topeng.

Memang, sesungguhnya itu hanya sekadar topeng yang dibuat begitu halus, sehingga amat mirip dengan wajah nenek tua sesungguhnya.

Sekarang bisa dilihat wajah dan tubuh asli si Nenek Bongkok tadi. Dia ternyata seorang kakek seusia Pendekar Dungu. Dagunya ditutup bulu putih lebat, tak begitu panjang. Kepalanya dibelit kain batik seperti blangkon Sunda, menutupi rambutnya yang putih tak terlalu panjang. Seperti juga Pendekar Dungu, laki-laki tua ini pun berwajah kerut-merut.

Namun begitu, gigi-giginya masih lengkap. Itu terlihat sewaktu tertawa lepas. Dia mengenakan baju coklat berkerah pendek yang tertutup rapat. Sedangkan celananya berupa pangsi warna hitam.

“Raja Penyamar Tak kuduga kau sudah sepeot Pendekar Dungu...,” kata Lelaki Berbulu Hitam.

“Ya Rupanya kita berjodoh untuk bertemu lagi, meski jarak puluhan tahun telah memisahkan kita”

balas lelaki tua yang disebut sebagai Raja Penyamar.

“Nah, sekarang cukup sudah salam perjumpaan kita.

Aku pergi dulu...”

Lelaki tua itu lantas pergi tanpa memberi kesempatan Lelaki Berbulu Hitam berkata lagi sepatah kata. Kepergian Raja Penyamar cukup mengejutkan Andika. Cara perginya membuat pemuda itu teringat pada peristiwa beberapa hari yang lalu. Sama seperti wanita cantik dan genit yang menggodanya dulu, si Tua Raja Penyamar pun berlalu cepat dari satu tempat, ke tempat lain tanpa terlihat menggerakkan badan sedikit pun. Dan Andika lebih terperanjat lagi, manakala hidungnya mencium wangi kembang sedap malam sepeninggalan Raja

Penyamar.

“Astaga Jadi kakek tua itu yang dulu menyamar menjadi wanita cantik,” bisik Pendekar Slebor. “Hi...

hi... hi.”

Andika melepas tawa kecilnya, membayangkan dirinya berkencan dengan kakek bangkotan kalau dulu sempat tergoda. ***

Empat hari setelah peristiwa di kedai, Pendekar Slebor berjalan melintasi satu lereng di kaki bukit cadas. Bertepatan dengan peristiwa di kedai, empat hari lalu pula di sana terjadi pertempuran sengit antara Lima Gembel Busuk melawan Manusia Dari Pusat Bumi.

Mata tajam Andika langsung menangkap tanda-tanda tak beres. Setelah menemukan beberapa lubang kasar bekas pukulan di dinding cadas sekitarnya.

“Ada yang bertarung seru di tempat ini belum lama, rupanya,” simpul Andika saat memperhatikan kerusakan di dinding cadas.

Dari kedalaman lubang di sana, Andika bisa memperkirakan kalau orang yang bertarung termasuk berkepandaian tinggi. Kalau berkepandaian tanggung, tak mungkin mampu membuat lubang sedalam dua jengkal di tempat yang keras seperti itu. Satu depa di sekitar lubang, dinding cadas menjadi rapuh seperti bubuk. Pertanda kalau ada kekuatan pukulan lain, menyebar di sekitar tangan yang menembus dinding cadas.

“Ilmu pukulan macam apa ini? Selama ini, tak pernah kutemukan pukulan seganas ini. Angin pukulan di sekitar tangan pemiliknya saja, sudah sanggup meremukkan cadas hingga menjadi leburan halus,” gumam Andika, mengagumi kehebatan pemilik pukulan.

Perhatian Andika pada dinding yang porak-poranda di beberapa bagian, terpenggal oleh suara halus di belakangnya. Seperti desah napas terseret seseorang yang sedang sekarat. Andika cepat menoleh. Seketika matanya melihat seorang dalam keadaan amat payah, sedang berusaha menggerakkan tubuh dari balik sebongkah batu besar. Tak tampak ada darah di sekujur tubuhnya. Namun dari batas bahu hingga setengah tulang iga kanan tubuh lelaki itu tampak mengering seperti daging layu. Lelaki itu tak lain adalah Damarsuta, anggota Lima Gembel Busuk yang berkaki pincang.

“Apa yang terjadi, Kang?” tanya Andika, setelah bergegas menghampiri Damarsuta.

Damarsuta tak sanggup menyahuti pertanyaan Andika. Untuk menggerakkan mulut saja sudah sulit.

Beberapa saat, dia seolah berjuang antara hidup dan mati hanya untuk membisikkan sesuatu.

Andika cepat mendekatkan telinga ke mulut Damarsuta.

“Hak... kim Tanpa Waj-jahh...,” bisik Damarsuta lirih.

Setelah itu tak terdengar apa-apa lagi. Tidak juga tarikan napas. Lelaki pincang itu mati dalam keadaan mengenaskan. Keadaan sebenarnya sudah tak memungkinkan lagi untuk bertahan hidup sekian lama. Namun karena tekadnya untuk memberitahu-kan seseorang demikian kuat, nyawanya pun sanggup dipertahankan untuk beberapa lama. Empat hari dia tersiksa hanya untuk menyampaikan kalimat pendek tadi.

Andika mengatupkan kelompak mata Damarsuta dengan telapak tangan.

“Siapa manusia sinting bernama Hakim Tanpa Wajah itu?” bisik Pendekar Slebor nyaris berdesis karena geram. “Selama berkubang di dunia persilatan, julukan itu belum pernah kudengar. Tapi kalau kutilik dari ilmu pukulan di dinding cadas, aku yakin dia tokoh jajaran atas yang sudah cukup lama hadir di dunia persilatan. Apa mungkin orang itu muncul lebih dulu, lalu ketika aku muncul dia menyembunyikan diri? Dan kini, dia muncul lagi?”

Penasaran dengan petunjuk tak jelas dari lelaki itu, Andika lalu memeriksa mayat Damarsuta. Dari baju bertambalnya, tak ditemukan apa-apa yang bisa dijadikan petunjuk.

“Buntu,” gumam Andika lagi.

Pendekar Slebor pun bangkit hendak pergi dari tempat itu. Sebelum benar-benar melangkah, sebuah seruan menahannya.

“Anak muda Jangan coba-coba melarikan diri”

Secepatnya Andika menoleh. Tak jauh di lereng sebelah timur, tampak dua lelaki yang pernah dilihatnya di kedai empat hari lalu berjalan beriringan.

Tentu saja mereka adalah Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu.

“Ah Orang-orang sinting itu lagi,” gerutu Andika.

“Ada apa, Orang Tua?” “Jangan sok ramah Katakan saja pada kami, kau murid si Sundal Hakim Tanpa Wajah, bukan?” bentak Lelaki Berbulu Hitam tanpa tedeng aling-aling.

Andika kontan tertawa. Betapa geli hatinya mendengar tuduhan tak beralasan si Lelaki Ganjil itu.

Jangan lagi menjadi murid, mengenal namanya saja baru kali ini

“Jangan tertawa” bentak Lelaki Berbulu Hitam sekali lagi.

Andika tentu saja jadi sewot.

“Orang tua Kau jangan bertingkah seperti penguasa, mengatur-ngatur mulut orang seenaknya.

Orang berbicara ini tidak boleh, itu tidak boleh, tertawa tidak boleh Apa kau mau aku menangis?

Seperti penguasa lalim yang lebih senang, membuat rakyat menangis daripada tertawa?” khotbah Pendekar Slebor menggebu-gebu.

“Huaaa... ha... ha” Entah kenapa Pendekar Dungu tertawa mendengar semprotan kata-kata dari mulut Andika.

“Jangan tertawa” hardik Andika, ikut-ikutan tingkah Lelaki Berbulu Hitam padanya tadi.

“Kau terlalu banyak mulut, Anak Muda. Apa susahnya kau katakan pada kami, kalau kau adalah murid Hakim Tanpa Wajah?” desak Lelaki Berbulu Hitam.

“Kenapa aku harus mengaku?”

“Ya, harus Kalau tidak, tahu sendiri”

“Meski aku mengakui sesuatu yang tidak benar?”

“Kau mau bilang, kalau kau bukan murid Hakim Tanpa Wajah?”

“Aku memang bukan muridnya....”

“Jangan mungkir. Sebelum tiba di tempat ini, aku sudah melihat dari jauh bekas pukulan di dinding cadas itu”

Lelaki Berbulu Hitam menunjuk ke salah satu bekas pukulan di dinding cadas.

“Aku tahu pemilik pukulan itu Kalau ada orang yang memiliki pukulan ganas itu, tentu dia adalah muridnya” lanjut Lelaki Berbulu Hitam

“Hakim Tanpa Wajah?”

“Nah, buktinya kau kenal dia” sergah Lelaki Berbulu Hitam.

“Tentu saja aku tahu nama itu, bukankah kau sudah menyebutnya beberapa kali tadi” balas Andika.

“O, iya. Aku lupa....” Lelaki Berbulu Hitam mengangguk-angguk sebentar. “Kenapa aku jadi ketularan penyakitnya si Dungu? Sialan”

Selagi Lelaki Berbulu Hitam sibuk dengan dirinya sendiri, Andika mempergunakan kesempatan itu untuk melesat pergi. Segenap kemampuan larinya segera dikerahkan, biar bisa cepat enyah dari dua manusia sinting yang bisa membuatnya jadi ikut sinting.

“Hey, jangan lari” tahan Lelaki Berbulu Hitam gusar.

“Hey, lari saja” teriak Pendekar Dungu, tanpa tahu apa-apa.

Sambil mencaci maki habis Pendekar Dungu, Lelaki Berbulu Hitam lari secepat kilat mengejar Andika. Di belakangnya, Pendekar Dungu mengekori sambil terus bertanya-tanya sendiri.

“Apa salahku, ya...? Apa salahku...?” *** 8

Hakim Tanpa Wajah dengan murid ajaibnya, Manusia Dari Pusat Bumi kian unjuk taring. Seperti mengulang kejadian delapan puluh tahun yang lalu, satu demi satu tokoh persilatan diculik. Mereka menghilang tanpa jejak, seakan ditelan bumi. Tak jarang di antara mereka mati di tempat kejadian, karena berusaha melawan.

Dunia persilatan golongan putih gempar.

Sementara, kaun hitam geger. Mereka tak habis pikir, bagaimana orang-orang andalan bisa menghilang tak tahu rimbanya atau mati mengenaskan. Selama ini, tak pernah terjadi tokoh-tokoh berilmu tinggi bisa rontok satu persatu dalam waktu begitu cepat.

Beberapa orang saksi yang sempat melihat kejadian penculikan atau pembantaian, tak punya kesempatan untuk menyimpan nyawa lagi. Mereka mati mengenaskan, sama dengan korban yang bersikeras melawan.

Seorang saksi mata yang sempat menyaksikan kejadian dengan mata kepala sendiri beruntung bisa pulang selamat. Entah kenapa, Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi tidak mengetahui saat orang itu bersembunyi di atas sebuah pohon besar.

Padahal, kedua manusia itu memiliki telinga yang amat tajam. Atau mungkin, orang itu sengaja dibiarkan hidup agar berita kemunculan mereka berdua dapat diketahui oleh seantero warga persilatan.

“Aku tahu. siapa yang menculik tokoh-tokoh persilatan” teriak orang itu. Dia memang melihat peristiwa penculikan seorang tokoh golongan hitam di pinggiran hutan.

Mendengar teriakan itu, orang-orang di sebuah dermaga kecil langsung mengerubungi. Sudah sejak lama mereka ingin mengetahui kabar seperti ini.

Mereka penasaran, tapi tak pernah ada yang tahu.

Berita yang dibawa orang ini membuat rasa penasaran meledak saat itu juga.

“Apa yang kau bilang tadi?” tanya seseorang di antara kerumunan.

“Aku tahu, siapa yang menculik tokoh-tokoh persilatan belakangan ini” ulang si Pembawa Berita berkobar-kobar.

“Siapa?”

“Ya, siapa?”

“Ah Kau jangan coba-coba ngibul, ya”

Si Pembawa Berita mulai bercerita.

“Sewaktu aku sedang tidur-tiduran di batang pohon, kudengar suara orang bertengkar. Suara mereka keras dan lantang. Tak lama kemudian, disusul suara perkelahian seru. Wih Baru kali ini kulihat pertempuran yang begitu hebat. Bayangkan saja....”

“Jangan bertele-tele, Goblok” sentak salah seorang pendengar, merasa kesal.

“Iya-iya Ketika aku melihat siapa yang berkelahi, ternyata seorang pemuda berperawakan menyeramkan. Apalagi, wajahnya. Iiih.... Dia sedang merangsek orang tokoh yang bernama Iblis Mata Darah. Kalian tentu tahu Iblis Mata Darah, bukan? Nah, pada saat itulah si Iblis Mata Darah bertanya siapa pemuda itu sesungguhnya. Juga, orang tua yang sedang menonton pertarungan. Kalau yang tua mengaku sebagai Hakim Tanpa Wajah. Sedangkan yang muda berjuluk Manusia Dari Pusat Bumi. Kemudian kata mereka lagi, semua tokoh persilatan akan diadili di Pengadilan Perut Bumi. Gila tidak? Gila tidak?”

“Kau yang gila”

“E, tidak percaya dengan ceritaku?”

“Bukan Kau cerita terlalu seru, sampai ludahmu muncrat ke mukaku. Slompret, kau”

Lalu desas-desus pun membentang ke segenap penjuru angin. Berita tentang Hakim Tanpa Wajah dengan Manusia Dari Pusat Bumi dengan cepat menjadi bahan perguncingan yang tak pernah basi.

Orang-orang dunia persilatan yang sadar kalau bisa jadi korban berikutnya, mulai hati-hati melangkah. Beberapa orang bahkan mulai membuat kelompok-kelompok tertentu, agar bila suatu saat kedua manusia menggemparkan itu muncul, bisa dihadapi bersama-sama.

Namun begitu, dari hari ke hari, korban tetap saja bertambah. Sudah hampir empat belas orang jajaran berilmu tinggi telah menerima giliran. Siapa lagi yang akan menyusul, tak ada seorang pun tahu. Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi muncul tanpa pernah diduga. Setiap saat dan di setiap tempat, keduanya tiba-tiba saja menampakkan diri seperti hantu.

Maka, jadilah keduanya momok yang paling menakutkan bagi dunia persilatan belakangan ini.

Seperti juga pernah terjadi delapan puluh tahun yang lalu. Peristiwa lama yang sudah dilupakan orang. *** “Sudah kubilang pemuda sialan itu lewat sini”

Di dekat sebuah bangunan tua tak terurus, Lelaki Berbulu Hitam menghardik Pendekar Dungu.

Setengah harian keduanya terus mengejar Pendekar Slebor. Kejar mengejar seperti kucing-kucingan terjadi. Bagi orang biasa atau berkepandaian tanggung, bila terus berlari selama itu tanpa henti akan membuat mereka sekarat kehabisan napas.

Namun, tidak bagi Pendekar Slebor dan dua pengejarnya.

Andika atau Pendekar Slebor sesungguhnya memiliki ilmu lari cepat yang sulit dicari tandingan pada masa ini. Kecepatannya sering disebut-sebut sebagai kecepatan setan. Tapi mau bilang apa, kalau kenyataannya si Pengejar ternyata sanggup meng-imbangi kehebatannya?

Pendekar Slebor pun makin yakin kalau kedua orang ganjil itu bukan tokoh sembarangan. Meski sampai saat ini belum juga bisa diketahui, siapa sesungguhnya mereka.

Di tempat tersembunyi dalam bangunan tak terurus berupa kuil kecil, Andika hati-hati sekali mengawasi Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Rasanya dia menahan napas supaya tidak terdengar telinga dua manusia aneh itu, setelah menyadari kalau bukan orang sembarangan.

“Ini semua karena salahmu Kalau saja tadi kau tak menunjuk ke arah lain” gerutu Pendekar Dungu dengan wajah bersungut-sungut jengkel.

“Tapi, tunggu dulu,” sergah Lelaki Berbulu Hitam cepat-cepat. Tubuhnya diam tak bergerak. Begitu juga sepasang bola mata besarnya. Perhatiannya sedang dipusatkan ke arah bangunan tua tempat bersembunyi Pendekar Slebor. “Kau mendengar sesuatu?” tanya Pendekar

Dungu.

“Aku tidak dengar apa-apa. Pemuda sialan itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang boleh juga.

Tapi aku tahu, dia ada di dalam bangunan tua itu”

“Ah Bagaimana kau yakin?”

“Sudah jangan banyak mulut Pokoknya, aku tahu dia ada di sana. Titik” Lelaki Berbulu Hitam sewot.

Di dalam kuil tua, Andika memaki-maki dalam hati.

Sulit dimengerti, bagaimana lelaki berbulu itu tahu kalau dirinya ada di tempat tersebut? Terlihat olehnya tidak. Terdengar pun tidak.

“Apa dia punya semacam indera keenam?” bisik Andika, bertanya pada diri sendiri.

Entah karena kesal atau apa, Andika akhirnya keluar dari persembunyian.

“Kalian ini sebenarnya mau apa, hah?” hardik Andika mulai tak bisa menahan kedongkolan.

Pendekar Slebor muncul cepat tepat di belakang kedua lelaki aneh itu dengan mengerahkan seluruh kemampuan ilmu lari cepatnya.

Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu

menoleh. Dari sikap, bisa dilihat kalau mereka sudah tahu kehadiran Pendekar Slebor yang tiba-tiba itu.

Mana mudah orang-orang seperti mereka

dipecundangi dengan cara begitu.

“Sudah, jangan berpura-pura lagi Ayo mengaku kalau kau murid si Hakim Tanpa Wajah” balas Lelaki Berbulu Hitam, tak kalah menghardik.

“Aduuuh” gerutu Andika langsung menepak-nepak kepala dengan telapak tangan berkali-kali. “Aku sudah bilang, kalau bukan murid orang itu”

“Kalau kau bukan muridnya, kenapa bersembunyi dari kami?” desak Lelaki Berbulu Hitam. “Itu karena aku tidak berurusan apa-apa dengan kalian”

“Ngibul Apa bukan karena kau takut pada kami?

Ilmu gurumu itu, tak sanggup menandingi kehebatan kami berdua, bukan?”

“Wah, Gusti.... Gusti Kalian ini manusia macam apa? Kenapa senang sekali memaksakan kehendak

Sumpah mati tertabrak nyamuk, aku bukan murid orang yang kau sebutkan”

“Begini saja. Untuk mengetahui kalau kau murid Hakim Tanpa Wajah atau bukan, kau harus

membuktikannya pada kami....”

“Bagaimana caranya?”

“Bertarung dengan kami”

“Lebih sinting lagi Mana aku bisa bertarung sungguh-sungguh kalau tak punya urusan apa-apa pada kalian?”

“Takut?”

Andika menaikkan hidung, hingga pangkalnya berlipat. Alis hitamnya menyatu. Hatinya mengkelap dengan ejekan lelaki itu. Sifat kerasnya timbul ke permukaan. Dia paling dongkol kalau disebut pengecut.

“Baik..., baik” putus Pendekar Slebor cepat.

“Nah, begitu lebih baik....”

“Aaah, sudah Tunggu apa lagi?” tantang Andika kalap.

“Hiaaa”

Teriakan mengguntur Lelaki Berbulu Hitam terlempar ke angkasa. Kekesalannya selama ini pada kedunguan Pendekar Dungu, seperti mendapat kesempatan untuk dilampiaskan pada anak muda berpakaian hijau-hijau itu.

Andika mulai dirangsek. Jarak yang cukup dekat, dimanfaatkan Lelaki Berbulu Hitam untuk langsung menyambar leher Pendekar Slebor.

Wuk Wuk

Dua sambaran cakar kiri dan kanan merobek udara, Pendekar Slebor dengan sigap mengangkat kedua tangannya. Secepat gerakan geledek, tangan kanannya menahan tangan kiri Lelaki Berbulu Hitam.

Sementara, tangan kirinya menjegal tangan kanan.

Tak Tak

Karena sama-sama menyalurkan kekuatan,

sepasang tangan mereka terpaku di tempat dalam usaha menahan tenaga dalam masing-masing lawan.

Beberapa saat lamanya, otot-otot kedua orang itu mengejang, menyebabkan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung menyembul dari lubang kulit. Gigi mereka pun bergemelutuk, pertanda sama-sama ingin menjadi pemenang dalam adu tenaga ini.

Dan saat itulah Lelaki Berbulu Hitam menyaksikan jelas-jelas tanda lahir berbentuk bintang berwarna hijau kebiruan di tangan kanan Andika. Matanya kontan membesar. Maka dia pun lupa dengan adu kekuatan. Tanpa sengaja, penyaluran tenaga dalam ke tangannya dihentikan secara mendadak.

Akibatnya....

Buhgh

Hidung Lelaki Berbulu Hitam langsung saja terjotos punggung tangan Pendekar Slebor. Untung saja hanya terserempet. Kalau tidak, dia akan kehilangan hidung untuk selamanya. Meski begitu, tak urung tubuhnya melintir-lintir menahan sakit. Didekapnya hidung yang mengeluarkan darah.

“Dhungu, watauuu”

“Astaga Kenapa kau sekarang jadi begitu lamban?” seru Pendekar Dungu yang hanya menjadi penonton sejak tadi. “Hidungmu masih utuh? Kasihan sekali kalau kau kehilangan hidung. Pasti kau tambah jelek saja....”

“Thiam khauuu”

“Apa?”

Lelaki Berbulu Hitam melepas pegangan pada hidungnya.

“Kubilang, diam kau”

“Ooo...” Pendekar Dungu mengangguk-angguk tolol.

“Anak muda inilah yang kita cari. Dungu” sambung Lelaki Berbulu Hitam. “Dialah 'Sang Penolong' agar kita bisa menyelesaikan masalah kita”

Pendekar Dungu tak menanggapi ucapan Lelaki Berbulu Hitam. Mulutnya bungkam seribu bahasa.

Tak hanya itu. Dia bahkan tak bergeming sedikit pun seperti patung pesakitan Rupanya, dia benar-benar diam seperti perintah Lelaki Berbulu Hitam.

“Hey? Apa kau tuli, Dungu Anak muda itu yang kita cari-cari selama ini”

Pendekar Dungu tetap bungkam dam diam.

“Dasar otak kerbau Aku bukan menyuruhmu diam seperti itu Aku hanya menyuruhmu tutup mulut”

ralat Lelaki Berbulu Hitam, setelah sadar ketololan kawannya.

Melihat kejadian itu, Andika tak bisa menahan kegelian yang berontak dalam tubuhnya. Pendekar Slebor pun tergelak ramai.

“Anak muda” tegur Lelaki Berbulu Hitam, memenggal tawa meriah Pendekar Slebor. Mimik wajahnya berubah ramah. “Kau tentu pemuda berhati mulya, bukan? Kau pasti sudi menolong kami, bukan?

Kau tentu tahu, kalau kami butuh bantuanmu, bukan? Bukan?” “Bukan” sentak Andika.

“Lho? Jangan begitu, aaah... Wangsit yang datang pada kami berdua tak mungkin bohong. Kaulah orang yang bisa menolong kami untuk menyelesaikan masalah diri kami.... Iya, kan Dungu?”

“Bukan” jawab Pendekar Dungu, melatahi

jawaban Andika.

“Lho?” Wajah Lelaki Berbulu Hitam mulai berang lagi.

“Eh, iya maksudku” ralat Pendekar Dungu, seraya memamerkan tiga butir giginya.

“Nah Kau dengar sendiri pengakuan kawanku itu, bukan?” lanjut Lelaki Berbulu Hitam pada Andika.

“Kalian ini betul-betul tak bisa kumengerti. Mula-mula menuduhku murid orang yang tak kukenal.

Sekarang, kalian malah merayu-rayuku untuk kutolong. Dan terus terang saja, sampai saat ini pun aku belum mengerti maksud kalian...,” tolak Andika bersungguh-sungguh, setelah melihat kesungguhan di wajah Lelaki Berbulu Hitam.

Baru saja kalimat Andika selesai, si Lelaki Berperawakan Buruk itu menubruk kaki Pendekar Slebor, lalu mendekapnya kuat-kuat.

“Aduh Jangan begitu pada kami, 'Tuan Penolong'.

Aku tadi memang berbuat salah. Untuk itu, ampunilah aku. Ya. 'Tuan Penolong', ya? Ya, bukan?” ratap Lelaki Berbulu Hitam, memelas pada Andika. Sayang, wajahnya tetap tak meyakinkan layaknya orang memelas. Malah terlihat seperti orang menakut-nakuti

Andika meringis serba salah. Bukan apa-apa.

'Perkutut' di sarang rahasia miliknya tergesek-gesek bulu di kening Lelaki Berbulu Hitam.

“Aku rasa, kalian meminta tolong pada orang keliru,” tutur Andika. “Aku bukan orang yang pantas untuk dimintai pertolongan oleh orang-orang sehebat kalian.”

“Wuaaa, waaau... wauuu”

Pendekar Dungu yang sudah terlihat bangkotan ikut menubruk kaki Andika. Kalau Lelaki Berbulu Hitam dari depan, orang tua ini dari belakang. Dengan membenamkan wajah dalam-dalam di selangkangan Andika, orang tua peot itu meraung-raung seperti anak kecil.

Andika kian serba salah.

“Baik..., baiklah. Aku akan mencoba menolong kalian,” putus Andika akhirnya. “Tapi kuminta kalian mau menceritakan dulu masalah sebenarnya....”

Kontan saja dua orang aneh itu mendongakkan wajah cerah. Seterusnya mereka bangkit, lalu menandak-nandak riang, menari kian kemari melebihi lincahnya penari jaipong

“Nang... ning-ning-nang-ning-kung....”

Berkali-kali Andika meringis-ringis tak karuan. Mau tertawa salah. Mau terharu, juga salah.

“O, Gusti.... Dosa apa yang telah kuperbuat, sehingga Kau mengirim manusia-manusia sinting ini padaku,” keluh Pendekar Slebor. *** 9

Matahari berwarna Jingga menyaput pagi, merayap perlahan dalam bentangan kaki langit sebelah timur.

Ayam-ayam jantan berlomba memperdengarkan kokoknya yang lantang. Angin dingin sisa udara malam merambati bumi lamat-lamat. Suasana baru lengkap tercip-ta.

Seorang pemuda berambut gondrong dalam pagi sejuk ini tampak bermandi keringat. Dia berjalan agak lunglai, di antara jajaran alang-alang jangkung. Baju hijaunya sudah basah kuyup. Napasnya pun berhembus cepat tak teratur.

Pemuda yang tak lain Andika alias Pendekar Slebor, semalaman suntuk memang habis berlari habis-habisan. Seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya dikuras habis. Seperti juga sebelumnya.

Pendekar Slebor kini berusaha melepaskan diri dari Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu yang dianggap sinting.

Kemarin siang, setelah diminta untuk menceritakan masalah masing-masing, kedua laki-laki aneh itu mengatakan kalau Andika adalah orang yang bisa menolong. Pendekar Slebor diminta untuk menghilangkan kekurangan dari masing-masing, terutama sifat-sifat mereka.

Selesai mendengar semuanya, Andika jadi

kebingungan sendiri. Bagaimana mungkin Pendekar Slebor bisa menghilangkan sifat berangasan Lelaki Berbulu Hitam, dan membantu Pendekar Dungu agar bisa menilai mana orang baik dan orang jahat? Semula Andika mengira masalah yang dihadapi biasa saja. Mungkin mereka butuh tenaga untuk menghadapi sekelompok manusia bejad, atau membantu mencari seseorang. Maka kalau untuk masalah yang mereka utarakan, Andika benar-benar angkat tangan tinggi-tinggi.

Meski Andika sudah mengatakan kalau tidak bisa membantu, mereka tetap saja ngotot. Andika yang dikenal urakan, tetap saja dia dibuat kalang kabut oleh sikap kelewatan dua manusia aneh itu.

Akhirnya, dengan sedikit akal-akalan, Andika akhirnya bisa meloloskan diri. Sayangnya, Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu langsung mengejar. Maka kejar-kejaran pun terjadi lagi. Pendekar Slebor terus berlari karena tak ingin berurusan dengan orang yang dianggap kurang waras. Mengurusi mereka hanya membuang-buang waktu, begitu pertimbangannya. Di lain pihak, Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu terus mengejar. Karena mereka yakin, Andika-lah orang yang dimaksud dalam wangsit.

Setelah nyaris kehabisan napas, barulah Pendekar Slebor bisa melepaskan diri dari kejaran.

“Mereka betul-betul sinting,” keluh Andika dalam helaan napas memburu. Dia terduduk lemas di bawah alang-alang.

“Ya.... Mereka memang orang-orang sinting. Tapi mereka patut dikasihi....”

Mendadak terdengar sahutan yang mengelak ucapan Andika dari belakang. Tatkala Andika menoleh, tampaklah orang tua yang kini dikenal sebagai Raja Penyamar sedang bersila tenang di pucuk sebatang ilalang. Lelaki berumur lanjut ini memang tak kalah aneh dengan dua orang yang mengejar-ngejar Andika. “Kau lagi. Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau dulu menipuku dengan menyamar sebagai

perempuan brengsek?” cecar Andika, setelah terlonjak bangkit bersungut-sungut.

“Aaah, sudahlah. Kenapa soal kecil itu jadi dibesar-besarkan” sergah Raja Penyamar.

Orang tua itu langsung menatap Pendekar Slebor.

Tampak sinar mata Andika menyala-nyala seperti mendesak menginginkan jawaban.

“Ya, ya. Aku memang ada maksud tertentu

padamu. Sewaktu menyamar dulu, aku hanya ingin membuktikan apakah kau benar-benar Pendekar Slebor, si Pewaris ilmu Pendekar Lembah Kutukan.

Sengaja kau kupancing, agar mengakui sendiri kalau kau memiliki tanda bintang di tangan kananmu...,”

papar Raja Penyamar mantap dan berkesan penuh wibawa.

“Tapi kenapa harus menyamar menjadi wanita cantik?” desak Andika, tak puas mendengar jawaban si Raja Penyamar barusan.

Lelaki tua berwajah alim itu melepas tawa kecil yang terdengar sejuk di telinga Andika.

“Karena kalau bukan keturunan Pendekar Lembah Kutukan, maka pasti kau sudah tergoda,” jelas Raja Penyamar. “Selama kukenal, keturunan pendekar agung itu tak gampang kena bujuk rayu. Bahkan dari bidadari sekali pun....”

Andika jadi besar kepala. Dia merasa tersanjung dengan penuturan Raja Penyamar. “Jadi, apa maksudmu denganku?”

“Sebelum kujawab, aku ingin mengajukan

pertanyaan padamu, Anak Muda.”

“Silakan....”

“Apakah kau ingin mengetahui peristiwa besar yang akan terjadi pada zamanmu, yang menyangkut peristiwa di bukit cadas tempat kau menemukan lelaki berpakaian kumuh?”

Andika tak berusaha menanggapi. Ditunggunya ucapan Raja Penyamar lebih lanjut.

“Aku tahu, kau pasti ingin mengetahuinya,” simpul.

Raja Penyamar, menilik mimik wajah pemuda di dekatnya. “Kalau kau ingin tahu, pergilah ke Kampung Kelelawar di sebelah selatan. Kau harus menemui seseorang di sana....”

Andika ingin bertanya. Tapi, si Raja Penyamar menahan gerak bibir pemuda itu hanya dengan mengacungkan jari telunjuknya.

“Ini,” sambung orang tua itu sambil melempar sebuah kitab tebal bersampul yang terlihat sudah amat tua ke pangkuan Andika. “Kitab itu mungkin berguna buatmu kelak. Pelajari isinya....”

Selesai berpesan, Raja Penyamar menghilang seperti sebelumnya. Tubuhnya berpindah dari satu pucuk ilalang ke pucuk lain yang jauh, tanpa menggerakkan bagian tubuhnya sedikit pun.

Sehingga dia tampak seperti orang bersila yang melayang cepat. ***

Desa Bangbung bersebelahan dengan Kampung Kelelawar. Kedua desa itu memang terletak di lereng gunung berapi. Jalan pintas satu-satunya yang paling dekat untuk menuju Kampung Kelelawar, memang hanya melewati Desa Bangbung. Setiap beberapa tahun sekali, gunung berapi itu memuntahkan lahar panas. Dan belakangan ini, sang Raksasa Alam itu tampak tenang dengan kepulan asap putih tipis di puncaknya.

Siang ini di sebuah warung kopi kecil di Desa Bangbung, beberapan penduduk tampak tengah menikmati obrolan santai yang begitu lepas. Seolah-olah mereka tak pernah dibebani masalah. Dua orang di antaranya mengangkat kaki ke bangku panjang di depan meja. Di belakang meja, seorang gadis manis sedang mengaduk-aduk kopi di cangkir tanah liat.

Di tengah obrolan mereka, datang seorang lelaki gembrot berkumis baplang. Pipinya yang tebal seperti bantal, berwarna agak kemerahan tersengat matahari. Dengan perut buncit seperti orang hamil, baju biru tuanya tampak kesempitan. Rambutnya yang sepanjang pinggang, dikuncir buntut kuda.

Buntalan kain hitam diikatkan di bahunya.

“Minta kopinya, Cah Ayu,” pinta lelaki gembrot itu, begitu duduk di ujung bangku panjang. Matanya yang cacat bekas luka benda tajam, melirik nakal pada gadis pemilik warung.

“Kakang ini sepertinya orang baru, ya?” sapa seorang pemuda di sebelah laki-laki gembrot itu, ramah. Adat sopan-santun dan ramah tamah di desa itu memang masing mengakar kuat.

“Betul,” jawab lelaki bertubuh boros, singkat.

“Tujuannya hendak ke mana?” lanjut pemuda tadi.

Laki-laki gembrot pendatang ini melempar pandangan ke gunung berapi yang menjulang angkuh di kejauhan.

“Kampung Kelelewar,” jawab si Gembrot datar.

“Astaga Apa Kakang tahu, tempat macam apa itu?”

Lelaki lain ikut nimbrung. Paras mukanya berubah ketakutan, seperti juga tiga lelaki di sana.

“Kenapa dengan tempat itu?” tanya si Gembrot, terpancing melihat perubahan wajah mereka.

“Kalau kau ingin tahu soal tempat itu, kau mesti bertanya padaku” serobot orang lain yang baru datang.

Lelaki itu tampak angkuh. Perawakannya besar dan kekar dengan brewok lebat. Kepalanya botak polos, memantul cahaya matahari yang menimpanya.

Melihat lagaknya, tentu dia seorang jawara yang ditakuti di desa ini. Sambil menyingkap jubah hitamnya, kakinya diangkat ke atas bangku.

“Akulah orang satu-satunya di sekitar wilayah ini yang paling tahu tempat itu. Karena, hanya aku yang berani datang ke sana,” jelas laki-laki brewokan itu, sesumbar.

“Seberapa banyak kau tahu tempat itu?” tanya lelaki gembrot.

“Banyaaak Kau ingin tahu?”

Si Gembrot mengangguk tanpa menatapnya.

“Tapi, kau harus membayarku....”

“Berapa?”

“Tak banyak. Asal cukup untuk membayar gadis warung ini, ha ha ha”

Si Gembrot segera mengeluarkan dua keping uang perak. Dijentiknya dua keping uang itu dengan jari, hingga melayang berputar-putar. Dan seketika itu pula, lelaki brewok itu menyambarnya.

“Hanya dua keping?” tanya si Brewok dengan bibir mencibir.

Tiba-tiba saja si Brewok melempar uang logam di tangannya ke kayu penyangga warung. Sing...jep

Benda logam itu pun kontan menancap hampir setengahnya.

“Kau pikir, aku ini siapa, heh? Berani benar kau membayar keteranganku dengan dua keping perak?” bentak si Brewok kasar pada si Gembrot.

Namun orang yang dibentak tak menggubris.

Malah tenang-tenang saja. kopi panasnya diseruput sedikit demi sedikit. Sikapnya ini memancing kemarahan si Botak. Dengan lagak penuh

keangkuhan, si Brewok menggebrak kursi dengan kakinya.

Brak

Bangku kayu itu kontan hancur terbelah dua. Dua lelaki desa yang duduk bersama si Gembrot kontan jatuh, dengan pantat menghantam tanah. Sementara mereka meringis-ringis menahan sakit, si Lelaki berbadan gembrot masih tetap santai dalam keadaan duduk mengangkat sebelah kaki. Padahal, sudah tak ada bangku lagi

“Heh? Permainan anak kecil yang mengandalkan otot kaki,” ejek lelaki brewok. Didekatinya si Gembrot dengan wajah sarat ancaman.

“Hih”

Begitu cepat kaki si Brewok menyapu kaki lelaki berbadan boros yang sedang menopang tubuhnya.

Namun, si Gembrot lebih cepat lagi mengangkat kakinya. Niat si Brewok untuk menggulingkan tubuh besar itu gagal. Bahkan dengan gerakan seringan kapas si Gembrot menaikkan kedua kakinya ke udara. Tubuh besarnya kini melayang seperti gelembung udara di atas pecahan papan bangku yang menjorok ke atas. Padahal, pecahan papan itu sangat lancip setipis mata pisau

Sampai di situ, si Jawara Brewok mulai sadar kalau orang yang sedang berurusan dengannya tidak bisa dianggap enteng. Hanya tokoh jajaran atas yang bisa melakukannya. Tiga puluh tahun lagi, dia melatih ilmu meringankan tubuh, belum tentu bisa melakukannya.
 Pikir punya pikir, si Brewok angkuh itu akhirnya menyingkir takut-takut, kemudian menghambur keluar dari kedai kopi itu.

Sepeninggalannya, terdengar tepukan berirama santai dari jarak dua puluh tombak dari kedai.

Asalnya dari dua lelaki. Masing-masing bertubuh tinggi besar dan berbulu, dan satu lagi bertubuh ringkih seperti orang tua penyakitan. Mereka adalah Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu.

Sesaat si Gembrot menoleh. Selanjutnya, kopinya diseruput kembali. Sikapnya seperti seorang yang sedang berpura-pura.

“Kenapa harus bertepuk tangan? Bukankah hal seperti itu amat mudah dilakukan?” tanya Pendekar Dungu, ketika keduanya menghampiri kedai kopi ini.

“Jangan banyak tanya dulu” tahan Lelaki Berbulu Hitam.

Laki-laki berbulu itu, tak mau Pendekar Dungu lebih banyak bertanya lagi. Dari wajahnya yang biasa berang, terlihat pancaran rasa senang. Entah kenapa, sifatnya jadi demikian. Padahal, itu sangat jarang terjadi pada dirinya.

“Akhirnya kau ditemukan di sini, 'Tuan Penolong'”

sapa Lelaki Berbulu Hitam begitu tiba di depan lelaki gembrot tadi, cukup ramah. Lagi-lagi hal yang amat jarang muncul dalam dirinya.

Si Gembrot menoleh sejenak seperti sebelumnya.

Lalu dia mulai acuh lagi.

“Aku tak tahu, siapa yang kau maksud,” ucap si Gembrot datar.

“Aaah Jangan begitu, 'Tuan Penolong'. Meski kau menyamar menjadi seekor katak sekalipun, penciuman serigalaku tak akan dapat tertipu....”

“Apa maksudmu? Aku tak mengerti?” “Sudahlah. Apa kau tak tahu, kalau aku adalah manusia berdarah serigala? Aku memiliki penciuman yang amat tajam seperti serigala. Sehingga, aku dapat membedakan bau tubuh seseorang....”

Si Gembrot menampakkan kekecewaan pada

wajahnya. Dihelanya napas beberapa kali.

“Baiklah. Aku menyerah,” desah si Gembrot.

Segera laki-laki bertubuh subur ini menanggalkan penambal wajahnya yang ternyata terbuat dari getah suatu pohon. Dari getah itu bisa dibentuk dan diwarnai sedemikian rupa, sehingga mirip pipi manusia. Tubuhnya yang dibuntal kain yang cukup banyak, mulai dilolosi. Sehingga dia tak lagi nampak gembrot. Rambut palsu yang panjang pun ikut ditanggalkan. Kini terlihatlah wajah tampan aslinya.

Wajah seorang pemuda yang lebih dikenal sebagai Pendekar Slebor.

Sesungguhnya, kitab tua yang diberikan Raja Penyamar pada Andika beberapa hari lalu, adalah kitab pelajaran ilmu menyamar yang begitu sempurna. Jika hanya dengan mata dan telinga, orang akan tertipu. Sebab dari kitab itu bisa dipelajari bagaimana seseorang bisa mengubah wajah dan penampilan, sekaligus suara.

Kecerdasan dan kemauan kuat Andika, mem-

bantunya menyelesaikan kitab itu hanya dalam beberapa hari. Sebelumnya, Andika tak begitu tertarik. Baginya, ilmu itu seperti merupakan perisai orang-orang pengecut yang ingin bersembunyi di balik topeng. Atau, orang-orang bejad yang ingin lari dari tanggung jawab. Namun Pendekar Slebor butuh pendukung agar tak lagi dikuntit oleh Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu, akhirnya kitab itu dipelajari juga. Andika memang tidak mau urusannya diganggu kedua orang itu. Lagi pula, tak ada salahnya mempelajari satu ilmu. Toh, baik buruknya satu ilmu, tergantung manusia yang mempelajarinya.

Harapannya untuk bisa mengelabui dua penguntit tadi, kini hancur seketika ketika dengan mudah lelaki seram yang mengaku sebagai keturunan serigala ini mengetahui penyamarannya.

“Bagaimana, Tuan Penolong'? Apakah kau sudah bersedia membantu masalah kami?” desak Lelaki Berbulu Hitam.

Andika membayar kopi serta kerusakan bangku pada si Gadis pemilik warung. Kalau tadi matanya melirik nakal pada gadis itu, sekarang giliran mata gadis itu yang melirik nakal padanya. Meskipun pada saat ini, gadis itu masih belum percaya kalau penampilan buruk Andika tadi sekadar penyamaran.

Dengan kedongkolan menggelantung di tenggorokan, Andika memasukkan alat-alat menyamarnya ke dalam buntalan kain. Termasuk baju besar berisi kain-kain yang dilapisi kapuk. Dia harus mencari akal lain agar bisa meloloskan diri dari dua manusia merepotkan ini. Belum sempat Andika menemui akal, mendadak saja....

“Pengadilan menanti”

Tiba-tiba terdengar satu teriakan menggelegar merambah angkasa. Mendengar teriakan tadi, Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu menoleh paling cepat di antara pengunjung lainnya. Keduanya begitu terkejut, begitu mengenali jenis suara dan kata-kata tadi, sebuah teriakan yang ditakuti oleh orang-orang persilatan delapan puluhan tahun lampau.

“Hakim Tanpa Wajah?” desis lelaki Berbulu Hitam nyaris tak percaya.

Mata laki-laki berbulu itu menatap lurus ke asal suara, di mana dua orang berbeda usia berdiri mengancam. Yang satu adalah si Hakim Tanpa Wajah. Sedang yang lain tentu saja Manusia Dari Pusat Bumi.

“Hakim Tanpa Wajah,” bisik Pendekar Dungu, tolol sekali.

“Jadi si Manusia Sialan itu benar-benar masih hidup seperti kita juga?” tanya Lelaki Berbulu Hitam

“Jadi manusia sialan itu benar-benar masih hidup, ya?” ulang Pendekar Dungu. Padahal, justru dia yang tadi ditanya oleh Lelaki Berbulu Hitam.

“Dungu Apakah kau percaya kalau manusia itu akan bertingkah lagi mengadili orang-orang persilatan?” susul Lelaki Berbulu Hitam, bertanya lagi pada Pendekar Dungu.

“Ya Apakah aku percaya?” Sementara dua lelaki aneh itu berdiri tegang, menatap dua titik yang mulai bergerak ke arah mereka dikejauhan, Andika sudah tidak ada lagi di tempatnya. Sewaktu Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu lengah karena mendengar teriakan Hakim Tanpa Wajah, Pendekar Slebor langsung memanfaatkan kesempatan untuk mengerahkan seluruh kemampuan ilmu lari cepatnya.

Dalam sekejap, dia sudah jauh dari warung kopi.

Tujuannya jelas, ke Kampung Kelelawar seperti pesan Raja Penyamar. Sayang, kalau saja pemuda sakti itu bisa sedikit lama tinggal, tentu akan mendengar Lelaki Berbulu Hitam menyebutkan nama Hakim Tanpa Wajah, orang yang sedang dicarinya karena berhubungan dengan peristiwa di Bukit Cadas. Di mana si Lelaki Pincang dari Lima Gembel Busuk pernah menyebut-nyebut namanya, sebelum tewas. *** 10

Pertarungan besar sepanjang abad ini siap terjadi.

Bagaimana tidak? Dua tokoh tua tak tertandingi delapan puluh tahun yang lalu akan berbaku jurus dengan seorang tokoh tua tak tertandingi pula pada zamannya, didukung oleh pemuda keturunan siluman

Kesaktian mereka tak diragukan lagi, dan pasti akan segera memporak-porandakan tempat sekitarnya. Lelaki Berbulu Hitam, Pendekar Dungu, dan Hakim Tanpa Wajah pasti menggunakan ilmu-ilmu puncaknya. Belum lagi kesaktian milik si Pemuda Keturunan Siluman yang selama ini belum diper-lihatkan seluruhnya pada sang Guru.

Di kedai kopi saat ini juga telah ditinggali pengunjung maupun pemiliknya. Mereka semua tahu gelagat bahwa akan ada sebuah bentrokan dahsyat, yang bisa saja menjadikan nyawa melayang.

Manakala angin dingin dari kaki gunung merayapi tanah lapang dekat warung kopi, empat orang lelaki yang siap bertarung berdiri tegang tanpa gerak. Dua orang pada satu sisi, sedang dua orang lain delapan tombak pada sisi lain. Rambut dan pakaian mereka tampak bergeletar diusuk angin, seolah menjadi panji yang menandai dimulainya pertarungan maut

Lama mereka saling menusuk dengan tatapan.

Sampai akhirnya, terdengar ledakan suara melompat dari mulut salah seorang. Suara itu begitu melengking menjotos langit, bagai tetabuhan dalam upacara para siluman sesat. Dari rongga mulut siapa lagi jenis teriakan itu tercipta, kalau bukan milik Manusia Dari Pusat Bumi....

“Eaaa...”

Manusia Dari Pusat Bumi membuka jurus awal.

Serangan pembuka yang langsung masuk ke satu dari sekian jurus pamungkas, 'Tenaga Sakti Pembelah Bumi'. Tak ada perintah dari Hakim Tanpa Wajah padanya untuk langsung mengerahkan jurus ini.

Tindakannya semata didorong oleh naluri makhluk halus dalam dirinya yang memberitakan bahwa lawan tidak bisa dihadapi dengan jurus-jurus tanggung.

Menyambut gerakan pemuda Manusia Dari Pusat Bumi, Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu tidak mau diam. Mereka cepat pula membuka jurus, memainkan kembangan jurus-jurus tangguh masing-masing.

Deb, deb, wuk, zes

Laksana tiga pusat gelombang samudera, gerak ketiga orang itu menciptakan terpaan kekuatan ke segenap penjuru mata angin. Debu langsung menghambur tinggi-tinggi, kerikil terhempas deras-deras, bebatuan berguliran kencang, dan bumi pun bagai diamuk badai

“Heaaa”

Manusia Dari Pusat Bumi memulai serangan.

Diterjangnya dua lawan dengan hentakan-hentakan kaki berdebam ke bumi.

Blam, blam, blam

Pada jarak tiga depa dari kedua lawan, pemuda keturunan siluman itu cepat mengangsurkan sepasang kepalannya ke kepala masing-masing sasaran. Seketika terdengar bunyi menderu, mem-barengi hantaman dahsyat yang siap meremukkan.

Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu tentu saja tak sudi membiarkan kepala mereka dijadikan sasaran empuk. Mereka langsung berkelit berbarengan ke samping kanan, sehingga luput dari hantaman. Sambil tetap memiringkan tubuh, Lelaki Berbulu Hitam mendepak perut Manusia Dari Pusat Bumi. Sedangkan Pendekar Dungu melepas tusukan jari tangan ke dada.

Namun, serangan balasan mereka dengan mudah dimentahkan. Manusia Dari Pusat Bumi dengan mengangkat satu kaki tinggi-tinggi dan menekuknya di depan dada dan perut. Alhasil, depakan dan tusukan kedua lawan hanya sempat memakan kakinya yang memang sudah dipersiapkan untuk membentengi.

Sebagai tokoh tua yang sudah terlalu kenyang makan asam garam, serangan yang mudah

dimentahkan itu sebenarnya hanya siasat. Tak mungkin serangan bersama itu dibuat, sehingga begitu mudah diduga lawan.

Maka pada saat yang demikian tipis dari serangan pertama, dua tokoh bangkotan itu membuat satu gerakan tak terduga. Lelaki Berbulu Hitam menanduk Manusia Dari Pusat Bumi dengan kepalanya. Di lain pihak, Pendekar Dungu menjatuhkan diri lantas menyapu kaki pemuda siluman itu demikian cepat.

Dak Sret

Berbarengan dengan mendaratnya kepala Lelaki Berbulu Hitam ke kening pemuda itu, kaki Pendekar Dungu pun berhasil mengait kuda-kuda Manusia Dari Pusat Bumi yang hanya mengandalkan satu kaki.

Maka tak dapat ditahan lagi, Manusia Dari Pusat Bumi terlempar deras ke belakang.

Begitu dahsyat penggabungan serangan dua tokoh tua itu, sehingga Manusia Dari Pusat Bumi terpental bagai kerikil sembilan belas tombak jauhnya Tubuh kekar berotot menonjol pemuda siluman itu pun meninju tanah berbatu. Siapa pun manusia yang menerima hantaman keras dari kepalan Lelaki Berbulu Hitam sudah bisa dipastikan akan terlempar ke neraka. Jangan lagi kening, lempeng baja setebal dua jengkal saja, bisa mencekung dalam. Tapi, Manusia Dari Pusat Bumi bukan sekadar manusia.

Dia adalah gabungan keturunan antara manusia dengan siluman

Tanpa luka berarti, pemuda menyeramkan itu bangkit. Bibirnya menyeringai penuh ejekan. Matanya berbinar, membersitkan cahaya haus darah....

Sementara itu, jauh di balik gunung berapi, Pendekar Slebor telah memasuki wilayah Kampung Kelelawar. Seperti namanya, kampung itu memang menjadi tempat bersemayamnya jutaan kelelawar sebesar kera. Mereka menggelantung di pohon dan atap-atap rumah terbengkalai.

Seratus dua puluh tahun yang lalu, desa itu pernah dihuni para penduduk asli. Namun sewaktu jutaan kelelawar menyerbu, banyak di antara mereka yang mati terisap darahnya. Dan hanya segelintir orang saja yang sanggup menyelamatkan diri.

Betapa bergidik Andika, menyaksikan ratusan tubuh hitam memenuhi sebatang pohon tua besar.

Mereka bagai buah-buahan dari neraka, menjijikkan dan membuat bulu kuduk merinding.

Kedatangan Pendekar Slebor tampak tak

mengusik kenyenyakan tidur mereka. Namun sewaktu kaki pemuda itu melintasi satu garis dari bercak-bercak darah, mata mengancam makhluk-makhluk itu mulai terbuka. Ratusan pasang mata bersinar merah muncul di sana-sini. Makin lama makin banyak. Di dahan-dahan kering merangas, di puncak-puncak atap rumah tua, di atas daun pintu, di daun jendela, di tiang-tiang kayu, juga di nisan-nisan batu besar.

Kini tampaklah pemandangan berjuta pasang bola merah menyala mengawasi si Pendatang, bagai para pemakan bangkai menatapi hidangan mayat.

Pada saatnya, satu kelelawar memperdengarkan jeritan menyayat.

“Kiiikkk”

Seekor di antaranya mulai mengepakkan sayap kuat-kuat, lalu terbang menuju Andika. Seperti mendapat aba-aba, ratusan kelelawar lain mengikuti

Maka terciptalah tumpang-tindih bunyi kepakan sayap mengerikan.

Sekujur otot di tubuh Pendekar Slebor kini menegang. Tak pernah diduga akan menghadapi lawan macam ini. Ratusan kelelawar pengisap darah besar yang. kemudian menjadi ribuan, siap mem-perebutkan darah Pendekar Slebor

Langit mendadak seperti diselubungi warna-warni gelap dari tubuh para kelelawar. Dari utara hingga selatan, dari barat hingga timur. Mereka menjerit-jerit memekakkan, dalam serbuan besar-besaran.

“Gila” desis Andika. Sebelum sempat memaki lagi, beberapa sambaran menukik dari belakang.

“Kiiikkk”

Secepat kilat Pendekar Slebor menjatuhkan badan ke tanah. Maka sambaran-sambaran berbau maut itupun hanya sempat menderu di atasnya. Selagi di tanah, tanpa sengaja Andika dihadapkan pada tumpukan kerangka manusia, korban para makhluk haus darah

“Mereka benar-benar hewan dari dasar neraka” rutuk Andika. “Aku harus berbuat sesuatu kalau tak ingin bernasib sama dengan kerangka-kerangka ini.”

Andika pun segera melepas kain bercorak catur dengan hati-hati. Dia tahu, gerakan kecil tubuhnya akan segera memancing ratusan kelelawar lain untuk menyambar dari udara.

Ketika kain pusakanya sudah tergenggam kuat di tangan, Pendekar Slebor menghentakkan kakinya dengan tenaga penuh. Sekejap berikut, tubuhnya sudah bangkit kembali dengan kuda-kuda siap menanti serbuan. Benar saja dugaan Andika, gerakannya tadi ternyata langsung membuat para kelelawar merangseknya. Dari udara, kuku-kuku tajam mereka mengancam setiap bagian tubuh Pendekar Slebor.

“Kiiikkk”

Puluhan kelelawar datang. Tubuh-tubuh mereka menukik tajam.

Wuk Wuk Ctar Ctar

Pendekar Slebor langsung menyambut mereka dengan hadiah perkenalan. Sabetan tajam kain pusakanya, membabat belasan ekor kelelawar, membuat kepala binatang itu hancur. Bahkan ada pula yang sayapnya tersayat lebar. Tubuh mereka yang terluka parah, langsung berjatuhan meninju tanah bergantian. Sebagian di antaranya kehilangan nyawa saat itu juga. Sementara, yang lain meng-gelepar-gelepar hebat.

Kejadian yang tak kalah menggidikkan pun terjadi.

Kelelawar-kelelawar yang tak terluka di atasnya, menyerbu tubuh kawan mereka sendiri yang terjatuh di tanah. Satu kelelawar luka dirubungi puluhan kelelawar lain. Daging dan kulit mereka dikoyak-koyak tanpa ampun. Kelelawar-kelelawar yang mendapat keratan daging atau isi perut kawannya, langsung melayang kembali ke angkasa. Seolah mereka gembira dan bangga dengan apa yang didapatnya. Di luar itu, yang paling diincar adalah darah kawan naas mereka. Dalam waktu tak begitu lama, mereka sanggup mengeringkan darah satu ekor kelelawar

Meski memperhatikan dengan bergidik, Andika tak kehilangan akal sehatnya sedikit pun. Kini, Pendekar Slebor punya cara menghadapi kelelawar-kelelawar buas itu, tanpa harus menguras tenaga. Sejenak dikerahkannya tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan pada sepasang telapak tangan.

Lalu....

“Hiaaa”

Teriakan mengguntur Pendekar Slebor mengejutkan puluhan kelelawar yang sedang berpestapora menikam tubuh kawannya. Mereka hendak

mengepak sayap untuk melesat ke angkasa, tapi sudah terlambat. Pukulan jarak jauh Andika sudah berpentalan gencar dari sepasang telapak tangannya.

Deb Deb Prak-prak

Kerumunan kelelawar itu buyar. Tubuh mereka berpentalan terhantam pukulan jarak jauh Pendekar Slebor. Tanah pun makin diramaikan oleh geleparan tubuh-tubuh hitam. Kala itulah, kelelawar-kelelawar lain di angkasa menyambut gembira dengan teriakan kema-tian. Semuanya menyerbu ke bawah, bagai hujan bongkahan benda hitam

Kesempatan bagus itu dipergunakan Andika untuk segera melesat ke rumah-rumah yang terbengkalai.

Menurut perkiraannya, tentu orang yang dimaksud si Raja Penyamar bisa ditemukan. Satu demi satu, rumah kotor dan keropos itu diperiksa dengan perasaan was-was. Andika khawatir, makhluk- makhluk buas di luar selesai dengan pestanya, sementara dia sendiri belum selesai meneliti seluruh rumah.

Pada salah satu rumah paling besar seperti istana kecil dengan tembok kusam penuh lumut, Andika menemukan juga manusia di sana. Tampak seorang lelaki tua tengah duduk bersila di satu sudut ruangan dengan wajah tenang serta sejuk. Bajunya putih, seperti pakaian para biksu. Di sekitar badan lelaki tua itu merangas sarang laba-laba tebal.

Yang membuat Andika agak terkejut, ternyata wajah lelaki tua itu milik si Raja Penyamar

“Raja Penyamar...,” tegur Andika sambil mendekatinya.

Tak ada jawaban. Si Tua itu tetap diam, seperti arca.

“Sebenarnya apa yang kau rencanakan padaku, Raja Penyamar?” lanjut Andika, penasaran. Tapi tetap tak ada sahutan meski Andika sudah tetap bersimpuh di depannya.

“Percuma kau menegurnya, Anak Muda....”

Tiba-tiba terdengar sahutan dari orang lain, di belakang Andika. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja orang itu muncul. Telinga Andika yang terlatih pun, bahkan tak menangkap suara kedatangannya.

Andika cepat menoleh, dan hampir saja terlonjak manakala menangkap siapa orang yang baru saja datang. Ternyata, orang itu Raja Penyamar juga

“Apa-apaan ini?” tanya Andika tak mengerti.

Wajah Pendekar Slebor kontan tertekuk. Dia merasa telah dipermainkan Raja Penyamar.

“O, aku tahu Lelaki yang duduk ini tentu bukan kau. Dia hanya kau dandani hingga mirip denganmu, begitu bukan?” sodor Andika, mengajukan kesimpulan.

“Kau salah,” sahut Raja Penyamar yang baru datang, sambil menggeleng.

“Salah? Salah bagaimana? Aku jadi bingung,”

gerutu Andika sambil menepak kening.

“Yang duduk itu memang aku....”

“Apa maksudmu? Apa kau sudah ikut-ikutan sinting seperti lelaki yang terus menguntitku?”

Raja Penyamar yang baru datang hanya menggeleng lambat. Senyumnya yang sejuk tersembul, menawarkan keramahan.

“Yang di dekatmu itu adalah jasadku, Anak Muda,”

jalas Raja Penyamar.

“Jadi?” Andika terbengong. “Kau telah mati?”

“Ya.... Empat puluh tahun yang lalu.”

“Apa?”

Kali ini Andika benar-benar terlonjak. Tubuhnya bangkit dengan wajah sulit dijabarkan. Dihampirinya lelaki yang baru tiba.

“Kau tidak sedang bergurau, bukan?” desak Andika sungguh-sungguh.

Sekali lagi, Raja Penyamar menggeleng. Tetap perlahan dan tetap dengan senyum sejuk.

“Jadi yang selama ini kutemui adalah rohmu?”

susul Andika, tak percaya.

“Benar. Tak seperti tiga orang seangkatanku yang beruntung memiliki umur panjang hingga hari ini, aku justru lebih dulu mati. Aku dulu mengidap penyakit yang tak ada obatnya. Aku tak menyesal, karena itu adalah kehendak Yang Maha Esa. Namun tugasku dari-Nya, rupanya belum selesai. Maka meski aku sudah mati, tapi masih diberi kesempatan untuk menitipkan amanat....”

“Amanat?” “Ya Amanat pada seorang berjiwa ksatria, berhati sekeras baja dan sebening pualam, berakal seterang kilau berlian. Seorang yang hanya bisa menyelamatkan dunia persilatan dari tangan lalim manusia jelmaan siluman....”

“Siapa orang itu?”

“Manusia Dari Pusat Bumi.”

“Bukan.... Maksudmu, siapa orang yang akan diberi amanat itu?”

“Kau....” ***

Bagaimana Andika bisa menerima amanat itu?

Apakah demikian berbahayanya Manusia Dari Pusat Bumi, sehingga roh Raja Penyamar pun belum juga kembali ke alam terakhirnya? Lalu, bagaimana pula nasib Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu menghadapi Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi?

Ikuti kelanjutan kisah ini dalam episode : PENGADILAN PERUT BUMI

SELESAI

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Slebor Episode 09 Manusia Dari Pusat Bumi"

Post a Comment

close