Pendekar Slebor Episode 07 Pusaka Langit

Mode Malam
Pijar El
-------------------------------
----------------------------

Episode 07 Pusaka Langit

1

Gerimis masih terus turun. Tak ada tanda-tanda kalau limpahan air dari langit itu akan segera reda. Padahal telah hampir setengah harian hamparan tanah di-basahinya. Salakan guntur dan kerjapan kilat mem-bungkam seluruh senandung satwa malam.

Yang kini terdengar rinai rintik air yang menimpa daun pepohonan, atau meninju atap-atap rumbia rumah penduduk. Sesekali desah angin dingin ikut memeriahkan tarian titik-titik air yang bagai jarum-jarum halus di angkasa. Saat itulah, langit yang gelap pekat karena malam, bagai hendak dibelah selarik cahaya merah bara.

Selubung udara ditembusnya dalam kecepatan yang amat dahsyat. Cahayanya yang terang berbentuk memanjang, seperti kelebatan seekor naga api.

Sementara, bulatan di ujung depan memperlihatkan cahaya merah yang lebih terang daripada bagian lain.

Tanpa terlihat oleh siapa pun, benda angkasa itu terus meluncur deras dalam suatu tukikan tajam.

Dengan sinarnya yang kemerahan benda itu melintasi beberapa daerah membuat garis memanjang. Akhirnya dalam sekejap benda itu lenyap, tenggelam dalam sebuah danau besar, Danau Panca Warna

Benda apakah itu?

Mungkin tak ada seorang pun yang bisa meng-ungkapkannya, sehingga mengundang teka-teki.

Kini benda angkasa itu tergolek di dasar Danau Panca Warna. Dingin air danau yang bisa membunuh seseorang di malam hari, ternyata tak mampu meredam cahayanya yang memerah bagai bara.

Sebagian dasar danau malah menjadi terang benderang oleh warna merah kemilau.

Benda angkasa itu pun tergolek dengan kebisuan-nya. Tidak seorang pun yang tahu, benda apa itu. Tapi bisa jadi benda itu bakal membuat kegemparan di dunia persilatan.

Hari bergulir dalam putaran waktu. Dua purnama telah berlalu, sejak jatuhnya benda angkasa ke dalam Danau Panca Warna. Seperti biasa penduduk di desa sekitar danau itu melakukan kegiatan sehari-hari.

Belum ada pengaruh yang berarti bagi mereka.

Apalagi mereka tidak pernah menyadari adanya sebuah kekuatan dahsyat yang tersimpan dalam benda angkasa itu.

Jantung Desa Ambangan tampak sibuk hari ini.

Tidak mengherankan, pusat desa dijadikan pasar, tempat warga desa mengeruk nafkah atau membeli kebutuhan sehari-hari.

Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pasar di Desa Ambangan pun begitu ramai. Ada-ada saja suara ribut yang terdengar. Satu sama lain saling tindih, seperti sebuah paduan suara tak beraturan.

Matahari terus merambat hingga tepat di atas kepala. Kini semakin siang, suasana pasar semakin tidak nyaman. Kebisingan bukannya mereda, malah makin memuncak. Sengatan matahari pun makin ngotot menggigit ubun-ubun kepala. Tapi orang-orang di pasar tidak ambil peduli sama sekali. Mereka terus melakukan kegiatan masing-masing.

Sampai akhirnya,

“Hiii... haaa...”

Sebuah teriakan lantang membahana tiba-tiba menghentikan kesibukan mereka serempak. Dengan tatapan bingung, para pengunjung

menoleh berbarengan ke asal teriakan. Kini semua orang melihat sosok lelaki hitam bertubuh kekar, tapi pendek. Dia mengenakan celana pendek dengan baju. Kulitnya yang hitam, terlihat berkilatan dijilati cahaya matahari. Begitu juga kulit wajahnya. Tak ada yang pantas dilihat dari lelaki berumur tua itu.

Tubuhnya kumal dan rambutnya kotor bergulung.

“Siapa dia?” bisik seorang pedagang.

“Tidak tahu. Barangkali orang gila nyasar,” jawab orang yang ditanya. “Tapi kalau diperhatikan, sepertinya aku pernah melihat wajahnya....”

“Iya Aku juga begitu. Tapi siapa ya?”

Sementara, penghuni pasar mulai kasak-kusuk tak menentu membicarakan orang yang baru saja berteriak tadi, tapi ada juga yang kembali meneruskan pekerjaannya, karena menganggap lelaki itu hanya orang gila.

“Oooi Apa kalian semua tidak tahu ada benda langit maha dahsyat jatuh ke desa kita? Benda langit bercahaya, yang menyimpan kekuatan bintang

Kekuatan amat dahsyat Hua ha ha... Kalau aku yang memilikinya, tentu akan menjadi tokoh nomor satu dunia persilatan. Aku akan menjadi sakti mandraguna. Kalau aku sudah sakti, akan kukawini sembilan puluh sembilan janda desa ini Aminah, Tukiyem, Samijah, Jinten, Rokayah... ng, siapa lagi, ya

O, iya... Sulastri, Iyam, Diding..., eh Si Diding kan bukan janda, dia kan duda? Masa' aku mesti kawin sama lelaki buduk itu? Hi hi hi... Tak usah, ya...,”

oceh laki-laki berkulit hitam itu.

Di sebuah kedai, beberapa lelaki muda yang mendengar teriakan kacau orang itu menoleh ke arahnya. Ucapannya barusan sedikit memancing rasa ingin tahu mereka, selaku warga dunia persilatan.

“Apa aku tak salah dengar tadi?” tanya seorang lelaki berjubah biru tua.

Wajah orang itu tak sebagus pakaiannya. Malah boleh dikatakan pasaran. Rambutnya digelung dengan sisiran rapi. Sedang di punggungnya tampak sebatang toya pendek.

“Jangan ikut-ikutan gila, Paksi Kenapa kau harus percaya pada omongan orang sinting itu?” sergah lelaki yang duduk di depan lelaki bernama Paksi tadi.

Sama seperti Paksi, laki-laki itu pun mengenakan jubah biru tua. Wajahnya amat menawan. Kulitnya putih dan berkumis tipis. Rambutnya dibiarkan terurai lepas, tapi tetap tertata rapi. Dia sering dipanggil dengan nama Rudapaksa. Sebagai kakak seperguruan Paksi atau bernama lengkap Rudapaksi cukup wajar kalau berani menegurnya agak keras.

“Tapi mungkin saja dia memang pernah melihat benda keramat yang dimaksud, Kang,” bantah Paksi, takut-takut.

Rudapaksa kali ini tertawa ringan.

“Ya Tapi, hanya dalam angan-angan. Sudahlah, Paksi. Habiskan saja makananmu itu. Tugas kita untuk menyampaikan amanat Guru mesti didahulu-kan.”

Rudapaksi menaikkan sudut bibirnya. Dia agak kesal juga pada sikap kakak seperguruannya. Tapi biar begitu, ucapan Rudapaksa tetap juga dituruti.

Mereka mulai melanjutkan makan yang terpenggal beberapa saat tadi. Tapi baru saja mulai mengunyah beberapa kali, kembali keduanya terhenti oleh kericuhan yang terjadi di tengah pasar. Rupanya teriakan itu berasal dari orang gila tadi, yang kini kedua tangannya dipegangi dua orang kekar berkulit hitam juga.

“Lepaskan aku Lepas Kalau tidak, akan kukutuk kalian menjadi kodok bunting Ah Kodok bunting kurang bagus. Sebaiknya kalian kukutuk menjadi tikus bingung. Hua ha ha... tikus bingung... ngung...

ngung”

“Ayo, Buntar Kau harus pulang. Jangan bikin keributan di pasar” bujuk lelaki yang ada di kanan orang gila bernama Buntar itu. Nadanya seperti rayuan seorang ibu kepada anak bungsunya yang merajuk minta dibelikan mainan.

“Benar, Bun. Ibumu di rumah menunggu. Istri dan anakmu juga,” timpal lelaki yang ada di kiri Buntar.

“Huh Aku tak peduli mereka. Aku hanya ingin memiliki benda sakti itu” bentak Buntar. Matanya mendelik bagai hendak meloncat dari ceruknya.

“Mana ada benda yang kau sebutkan itu Kau hanya dicolek setan danau” balas lelaki di kanan Buntar.

Buntar makin mendelik. Sepertinya, dia akan menelan bulat-bulat kepala lelaki di kanannya itu.

“Siapa yang bilang begitu?” hardik Buntar keras.

Sampai-sampai, air liur terciprat ke mana-mana.

“Sialan,” gerutu orang yang mendapat bagian cipratan air liur Buntar.

“Kau, sih Jangan bilang begitu, Somad Bilang saja benda itu ada di rumahnya. Pasti dia mau pulang tanpa dipaksa,” bisik lelaki yang ada di kiri Buntar hati-hati sekali.

“Kami sudah mendapatkan benda angkasa itu, Bun. Sekarang ada di meja makan rumahmu,” ucap lelaki yang dipanggil Somad tadi.

“Kok di meja makan, Mad. Memangnya kerupuk?”

sergah lelaki teman Somad dengan wajah bersungut- sungut.

“Biar saja, Rimang. Yang penting dia mau pulang

Kenapa kau jadi goblok, sih?” hardik Somad.

“O. Iya, Bun. Kerupuk itu, eh Benda angkasa itu sudah ada di meja makanmu. Wah Bagus, lho Kalah perkedel gosong” kata lelaki yang dipanggil Rimang, kebodoh-bodohan.

“Kalian bohong Kalian akan dustai aku Tidak Aku tidak mau pulang, sebelum mendapat benda sakti itu” teriak Buntar kalap.

Laki-laki pendek itu melonjak-lonjak liar. Sekuat tenaga lelaki gila itu berontak dari cekalan Rimang dan Somad. Tingkahnya sudah seperti kuda liar yang sulit dikendalikan. Sehingga meski sudah sepenuh tenaga lengan laki-laki gila itu dipegangi, tetap saja mereka terhempas juga oleh tenaga amukannya.

Buk Buk

Tubuh Rimang dan Somad langsung menghantam tanah berbatu. Begitu bangkit, mereka meringis-ringis menahan sakit tak kepalang tanggung di bagian bokong. Sementara puluhan orang di pasar malah menertawakan mereka. Padahal, kedua lelaki itu bukan tontonan kuda lumping

“Kalian tidak punya kerjaan, ya? Masa' orang gila dilayani...,” celoteh seorang lelaki tua yang biasa menyabung ayam di pasar.

“Ah Apa pedulimu, Ki” sergah Somad sambil menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya, untuk mengenyahkan debu. Kemudian kembali dicobanya menggiring pulang Buntar bersama Rimang.

Sebelum mereka sempat mencekal pergelangan tangan Buntar, tiba-tiba keganjilan terjadi. Buntar mendadak ambruk bergelinjang liar di atas tanah.

Tubuhnya berguling-gulingan tak karuan. Sesekali tangannya mengejang keras, lalu mencakar-cakar permukaan jalan.

Hal itu tentu saja membuat Rimang dan Somad terbengong, layaknya sapi ompong. Bibir mereka yang kebetulan sama-samar dower, terayun-ayun begitu saja. Sama sekali tidak disangka kalau Buntar akan menjadi liar seperti itu. Selama ini, mereka hanya tahu kalau lelaki itu lebih banyak berbicara simpang siur daripada mengamuk seperti ini.

“Nah, lo. Kenapa dia, Mat?” tanya Rimang. Somad hanya bisa mengangkat bahu. Sementara, wajah hitamnya diliputi keheranan luar biasa.

Belum lagi keheranan dua lelaki itu terjawab, Buntar bangkit tiba-tiba. Matanya jalang, mengawasi sekeliling pasar. Wajahnya yang semula lugu, kini berubah bengis. Otot-otot wajahnya menegang sedemikian rupa, dengan sepasang alis terpaut ketat.

Sesaat kemudian, mulut orang gila itu menggeram.

Suara yang dihasilkan tenggorokannya terdengar bagai auman serigala. Bahkan tangan Buntar mengejang dengan jari-jari langsung membentuk cakar. Perlahan-lahan tubuhnya membungkuk, seakan siap menerkam.

“Aaargkh...”

Berbareng satu erangan mengerikan, tubuh Buntar menerjang kedua kawannya penuh kebengisan.

“Wuaaa”

Sambil menjerit sejadi-jadinya, Somad menubruk tubuh kawannya yang berdiri termangu-mangu di sisinya. Ketakutan yang teramat sangat membuatnya mampu bergerak tanpa sadar. Dan hasilnya, mereka memang bisa lolos dari terkaman ganas Buntar, meski harus berguling-gulingan di tanah berdebu.

Sementara, Buntar sendiri langsung menabrak tiang kayu penyangga kedai yang berdiri tak jauh dari situ. Tiang kayu jati itu langsung dijadikan sasaran kebuasan Buntar. Tangannya mencabik-cabik kayu sebesar paha manusia, seperti mencabik-cabik batang pohon pisang.

Dua lelaki yang mencoba membawa Buntar jadi menelan ludah menyaksikan kejadian itu. Di samping ngeri saat membayangkan bila jadi sasaran amukan Buntar, mereka juga terperangah bingung. Selama ini, Buntar dikenal sebagai laki-laki yang tidak pernah memiliki ilmu olah kanuragan sedikit pun. Apalagi sampai mampu mengoyak-ngoyak kayu jati seperti itu. Tapi kini yang disaksikan ternyata bertolak belakang dari kenyataan yang diketahui selama ini.

Dari mana kekuatan Buntar ini? Mereka tak bisa menjawab pertanyaan yang menggayut di benak.

Bagaimana mungkin kekuatan Buntar bisa bagai sepuluh ekor singa jantan, sementara tak pernah terlihat berguru pada guru mana pun?

Sesaat berikutnya, mata Buntar beralih kembali pada Rimang dan Somad. Bahkan kali ini berkilat-kilat lebih menggidikkan. Dua lelaki hitam itu tercekat.

Jantung mereka seperti hendak pensiun saat itu juga.

*** 2

Somad dan Rimang, menjerit bersahut-sahutan seperti dua orang yang menyaksikan setan di siang bolong, saat Buntar menerkam. Tentu saja mereka tak pernah berharap menjadi sasaran cabikan jari-jari laki-laki gila itu.

“Wuaaa Kita akhirnya mondar juga. Mad” teriak Rimang kalang kabut.

“Buntar Ampun, Tar Biar Rimang saja yang kau cakar-cakar” jerit Somad, tak kalah bingung.

Buntar tak mempedulikan teriakan-teriakan mereka. Tubuhnya melaju deras, laksana kuda binal menuju Somad dan Rimang. Kali ini tampaknya calon korbannya tak berniat dibiarkan lolos begitu saja. Itu terlihat dari sinar merah matanya yang menancap, tepat pada kedua calon korbannya.

Sesaat lagi Somad dan Rimang menjadi korban terkaman Buntar, saat yang bersamaan meluruk serangkum angin pukulan jarak jauh. Angin itu terus mendesir cepat, ke arah lelaki gila yang sudah sebuas singa lapar. Dan.... Buk

“Aaargkh”

Berbareng satu erangan mendirikan bulu roma, tubuh Buntar terpental lima tombak ke samping.

Diiringi bunyi keras berdebam, Buntar jatuh ke tanah.

Tubuhnya berguling-gulingan beberapa saat, bergerak deras. Kemudian tubuhnya menghantam kaki meja dagangan seorang penjual batik. Brak

Para penghuni pasar yang menyaksikan seluruh kejadian langsung berteriak kalang kabut. Apalagi pedagang batik yang merasa dagangannya jadi kacau balau tak karuan. Demikian pula wanita-wanita yang kebetulan sedang berbelanja di pasar itu.

“Kalem..., kalem” seru seorang pemuda tampan dari satu sudut pasar. “Kalau kalian berteriak-teriak seperti itu, pasar ini akan mirip tempat penampungan orang-orang sinting.”

Pemuda tampan itu berpakaian hijau muda.

Perawakannya tegap dan gagah. Rambutnya yang panjang sebatas bahu, tertata rapi. Sementara di bahu kekarnya tersampir sehelai kain bercorak papan catur.

Dengan langkah santai serta alis legam yang terungkit tinggi-tinggi, pemuda tampan itu mendekati Somad dan Rimang. Mereka masih berpelukan satu sama lain. Sementara, Rimang pucat pasi seperti mayat. Kakinya tertekuk lemas dan bergetar hebat.

Sedang Somad malah lebih parah lagi. Celana kumalnya malah sudah dibanjiri cairan basah berbau pesing.

“Kenapa dia?” tanya pemuda yang baru datang itu.

“Tit..., tidak tahu. Sejak dia terakhir mengambil pasir di dasar Danau Panca Warna, tahu-tahu jadi begini,” jawab Somad tersendat, seraya memiringkan jari telunjuk di dahinya.

“Kalian pencari pasir di danau itu?” tanya pemuda itu lebih lanjut.

“Benar,” jawab Rimang ikut bicara. “Kami mencari makan dari hasil menjual pasir. Tapi sejak Buntar seperti itu, keluarganya tidak ada yang kasih makan lagi. Kasihan, ya Den? Sekarang, kesintingannya makin gawat. Bagaimana, Den.... Apa bisa menolong kami?”

Pemuda berpakaian hijau muda termangu di tempat. Matanya memperhatikan Buntar yang masih bergelinjangan di tanah lekat-lekat. Sinar ke-prihatinan tampak di matanya melihat nasib lelaki gila itu. Sementara itu, Buntar mulai berusaha bangkit, walaupun terhuyung-huyung. Pukulan jarak jauh yang beberapa lama melumpuhkan kekuatannya, kini mulai dapat dikuasai. Matanya tetap berkilat jalang, siap menerkam orang yang telah menyerangnya.

“Tuh.... Tuh, Den Si Buntar bangun lagi, tuh” seru Rimang kelimpungan. Matanya yang sudah besar kian membesar seperti jengkol matang.

“Kalian lebih baik menyingkir dulu ke tepi jalan,”

ucap si Pemuda tampan datar. “Biar kucoba mengurus kawanmu....”

Tanpa menyahut lagi, Somad dan Rimang

langsung lari tunggang langgang ke tepi jalan. Tentu saja, mereka tidak akan sudi isi perut mereka dikorek-korek jari Buntar.

Diamati puluhan pasang mata. Pemuda yang ternyata Andika dan amat tersohor dengan julukan Pendekar Slebor, tegak mematung di jalanan pasar.

Sebelas tombak di depannya, Buntar telah siap menerjang. Sasarannya kali ini adalah Andika. Untuk beberapa saat, keduanya hanya bertatapan. Mata merah Buntar menghujam tajam, ke manik-manik mata laki-laki berjuluk Pendekar Slebor yang mem-balasnya dengan tatapan iba.

“Aaargkh”

Buntar kini melesat menerkam Pendekar Slebor.

Kebuasan serangannya terlihat jelas pada jari-jemarinya yang meregang membentuk cakar.

Wusss

Dengan tenaga meledak-ledak, cakaran Buntar mencoba merobek wajah Pendekar Slebor. Namun hanya sedikit Andika melengos ke samping, sambaran tangan itu pun luput begitu saja di sampingnya.

Mendapati kegagalan pada serangan pertama, tentu saja Buntar jadi kalap. Dua tangannya segera bergerak sekaligus, untuk mencabik-cabik wajah Pendekar Slebor bagai gerakan seekor kera yang hendak menyambar buah.

Sekali lagi Andika dapat meredam serangan, dengan memiringkan sedikit kepalanya ke belakang.

Sementara, tubuhnya tetap pada tempat semula.

Sementara, orang-orang di pasar berseru kagum melihat gerakan Andika yang berkesan gesit dan berani. Namun, lain halnya Somad dan Rimang mereka malah seperti orang latah. Karena terlalu ngerinya melihat serangan buas Buntar, keduanya jadi mengikuti gerakan Pendekar Slebor tanpa sadar.

Mereka ikut memiringkan kepala berbarengan, kemudian bergerak ke arah yang saling bertemu.

Dan....

“Adow” seru keduanya, seakan yang sedang diserang.

Berbarengan dengan itu, wajah mereka tampak meringis-ringis tak karuan. Ternyata kepala mereka saling berbenturan.

Di arena pertarungan, Buntar makin binal men-cecar Pendekar Slebor. Bukan hanya tangannya yang mencoba merencah tubuh Andika. Kini, kedua kakinya pun turut ambil bagian.

Deb Deb

Dua kali tendangan ganas yang terlihat liar, memapas ke arah dada Pendekar Slebor. Gerakannya seperti seseorang yang hendak melempar tubuh Andika dengan hentakan telapak kakinya.

Sampai saat ini, Pendekar Slebor sendiri hanya berkelit untuk menghadapi setiap serangan. Dia memang masih menimbang berkali-kali untuk melancarkan serangan balasan. Apalagi lawan yang dihadapinya kali ini bukan tokoh jahat yang haus darah.

Melainkan, hanya seorang pencari pasir malang yang sedang dipengaruhi satu kekuatan ganjil. Meski sampai saat itu Andika belum tahu, kekuatan apa yang mempengaruhi, namun bisa diyakini kalau kekuatan itu memiliki daya cengkeram luar biasa pada diri seseorang. Bahkan mampu membuat orang yang dirasukinya menjadi sebuas singa lapar dan sekuat seekor gajah jantan

Jalan satu-satunya yang bisa dilakukan Pendekar Slebor menotok Buntar agar tenaganya lumpuh.

Untuk melumpuhkannya, Andika harus menotok jaring saraf di bagian punggung. Tapi sampai sejauh itu, memang belum ada kesempatan. Buntar selalu saja bisa menutup kesempatan gerak Andika dengan kibasan tangan yang liar. Itu sebabnya, Andika belum dapat menotoknya.

Sampai suatu saat, Buntar melakukan terkaman bernafsu ke arah Pendekar Slebor. Maka, mata jeli Andika dapat melihat kalau saat itu adalah kesempatan baik untuk melakukan totokan. Selincah macan kumbang, tubuhnya cepat melenting ke depan dengan arah yang berlawanan dengan gerak Buntar.

Sehingga, tubuh masing-masing seperti dua batang tombak yang dilempar dari arah berbeda. Andika meluncur di atas, sedang Buntar meluncur di bawah.

“Hup”

Tiba-tiba Pendekar Slebor berputaran di tanah berdebu, bagai sebuah bola bergulir. Sebelum guliran tubuhnya terhenti, sepasang kakinya menghentak ke tanah. Bersama kepulan debu yang menyebar di udara, Pendekar Slebor kembali melenting ringan dengan satu gerakan menawan, sehingga membuat semua mata yang menyaksikan menjadi terbengong-bengong kagum. Tubuhnya lantas berputaran di udara bagaikan seutas cemeti yang dilempar, lalu meluruk membawa satu serangan menakjubkan.

“Hup”

Tanpa memberi kesempatan pada laki-laki gila itu untuk berbalik, Andika telah tiba tepat di belakangnya. Lalu dengan kecepatan sukar diikuti mata awam, tangannya mengirim satu totokan ke bagian bawah tengkuk Buntar.

Tuk

Bruk

Tanpa dapat melontarkan suara sedikit pun, Buntar menggeloso di jalanan pasar. Seluruh kerangka tubuhnya seakan dilolosi tanpa sisa. Dan ketika tubuhnya menghantam tanah, terciptalah kepulan debu tebal yang merambah di sekitarnya.

“Fhuih....”

Andika membuang napas lega. Rasanya dia seperti baru saja melepas beban amat berat yang menggelayuti pundaknya. Bertempur dengan orang tak berdosa seperti Buntar, baginya lebih berat ketimbang harus bertempur melawan tokoh sesat golongan atas. Bukan karena tingkat kepandaian atau kebuasan yang telah diperlihatkan Buntar.

Melainkan, karena beban batin yang amat berat jika menurunkan tangan kejam pada orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Somad dan Rimang lantas bertepuk tangan

menyaksikan keberhasilan Andika melumpuhkan Buntar. Wajah mereka langsung cerah ceria, tak beda wajah kuli pelabuhan yang baru mendapat upah. Bibir mereka bahkan sampai bergerak maju mundur saking senangnya.

“Hebat, Den” seru Rimang.

Andika yang merasa mendapat sanjungan lugu, jadi tersenyum-senyum dalam hati.

“Yah, sudahlah.... Kisanak berdua lebih baik membawa teman Kisanak pulang,” ujar Andika seraya menggandeng bahu kedua lelaki itu.

Rimang dan Somad mengangguk-angguk ber-

barengan. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil menawarkan Andika singgah ke rumah mereka, Somad dan Rimang akhirnya membawa Buntar pulang.

***

Desa Ambangan terletak tak jauh dari Bandar Sunda Kelapa, salah satu bandar yang cukup ramai di Pulau Jawa Dwipa. Banyak pedagang dari Malaka yang singgah ke sana untuk melanjutkan pelayaran ke Maluku. Ada pula para saudagar dari Tiongkok, Arab, Gujarat, Persi, dan saudagar dari negeri lain.

Sehari setelah kejadian di pasar Desa Ambangan, Andika semula berniat mengunjungi beberapa negeri di kawasan nusantara dengan menumpang kapal dagang para saudagar. Namun sejak berurusan dengan lelaki gila kemarin, niatnya akhirnya diurungkan. Meski demikian, Andika tetap menyinggahi Bandar Sunda Kelapa. Sekadar untuk melihat-lihat keadaan.

Saat ini kapal dagang dari Maluku merapat di dermaga. Para kuli kapal tampak sibuk menurunkan rempah-rempahan dari lambung kapal. Semangat kerja mereka menciptakan keriuhan yang sampai di telinga Andika. Padahal, dia berdiri dalam jarak yang cukup jauh.

Sementara di tepi dermaga, seorang syahbandar sedang berbincang dengan Saudagar Ternate pemilik kapal. Dari cara berbicara, tampaknya mereka sedang membahas sesuatu yang penting, berkaitan dengan denyut perdagangan di bandar ini.

Ketika pandangan Andika beredar ke arah lain, matanya melihat lelaki berperawakan kekar dan berpakaian pendekar turun dari geladak kapal. Pakaiannya memperlihatkan ciri khas kstaria Tiongkok.

Bajunya yang memanjang ke lutut, memiliki belahan pada sisi-sisinya. Kalau bajunya berwarna merah darah, maka celananya yang memanjang berwarna hitam hingga tertutup lilitan tali sepatunya. Di tepi lengan bajunya, terdapat rajutan dari benang ber-sepuh emas. Ini menandakan kalau lelaki itu bukan rakyat jelata. Malah bisa jadi seorang terhormat di negerinya.

Sebagaimana orang Tiongkok, kulitnya begitu kuning. Apalagi ketika wajahnya disengat sinar mentari. Matanya yang segaris terlihat makin menyipit kala mentari di ubun-ubun Bandar Sunda Kelapa mengusik dengan sengatannya yang terik.

Kaki orang Tiongkok itu menuruni jembatan menuju tepi dermaga dengan langkah mantap.

Dengan mantap pula kakinya melangkah menjauhi dermaga ke arah Andika berdiri. Ketika makin dekat ke arah Pendekar Slebor, bisa ditangkap ketampanan wajah lelaki Tiongkok itu. Dengan ikatan rambut di atas kepala, dia terlihat lebih muda dari pada usianya yang berkisar antara tiga puluh, hingga tiga puluh lima tahun.

Sekitar tiga puluh tombak dari tempat Andika, dua lelaki lain datang menyambutnya. Kalau melihat ciri-cirinya, mereka adalah Rudapaksi dan Rudapaksa, dua pendekar muda yang terlihat di sebuah kedai di pasar Desa Ambangan.

“Selamat datang di Sunda Kelapa, Saudagar Chin Liong” sambung Rudapaksa, lelaki yang tertua.

Sikapnya penuh keramahan serta kehangatan.

Sambil tetap tersenyum, tangan kanannya diulurkan.

Berbeda dengan sikap Rudapaksa, lelaki Tiongkok bernama Chin Liong tak memperlihatkan kehangatan.

Dia memang menjabat uluran tangan Rudapaksa.

Namun, wajahnya sedikit pun tak menampakkan seulas senyum.

“Ah, ya. Ini adik seperguruanku. Namanya, Rudapaksi,” lanjut Rudapaksa, tak mau memper-besar hal sepele dari sikap Chin Liong.

Rudapaksi ikut menjulurkan tangan kanan. Lalu disambut Chin Liong dengan wajah tetap dingin.

“Kenapa saudara Chin Liong begitu terlambat dari rencana semula?” tanya Rudapaksa selanjutnya.

“Mmm, aku terpaksa melalui jalur Maluku, karena musuh kerajaan kami tentu sudah mempersiapkan penyerangan di sekitar Selat Malaka yang biasa kami lalui... jadi meski agak jauh, aku harus menempuh Laut Tiongkok Selatan,” tutur Chin Liong dengan bahasa Melayu terpatah-patah.

“Musuh kerajaan?” tanya Rudapaksi agak heran.

“Apa mereka menginginkan benda itu juga?”

Sesaat Chin Liong menatap Rudapaksi lekat-lekat.

“Ya. Mereka bahkan bersedia memenggal kepala rakyat tak berdosa, untuk mendapatkan benda ini.”

Rudapaksa dan Rudapaksi menautkan alis ber- bareng. Rupanya, mereka mendapat tugas yang tidak main-main dari guru mereka

***

Sementara itu, ada hal-hal yang mengundang teka-teki di daerah Pesisir Utara Pulau Jawa Dwipa ini, bagi Andika. Pertama kali menjejakkan kaki, Pendekar Slebor sudah dihadang pada kejadian aneh. Tentang orang yang tiba-tiba menjadi hilang ingatan, lalu memiliki kekuatan raksasa dan bertingkah buas.

Sehari berikutnya, Andika dibuat penasaran oleh pertemuan tiga lelaki di Bandar Sunda Kelapa yang hati-hati memperbincangkan tentang sesuatu.

Bahkan tampaknya akan mengakibatkan per-

tumpahan darah

“Aku harus menyelidiki semua itu agar semuanya menjadi jelas,” bisik Andika perlahan.

Untuk itu Pendekar Slebor harus pergi ke Danau Panca Warna, sebagaimana disebutkan kawan Buntar.

Matahari mulai tersuruk di barat cakrawala. Andika pun mengayunkan kakinya, meninggalkan Bandar Sunda Kelapa yang tetap berdenyut dengan kesibukannya, kembali ke Desa Ambangan.

*** 3

Di Desa Ambangan, Andika langsung menanyakan letak Danau Panca Warna pada seorang penduduk yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan.

Setelah mengetahui letak danau itu, Andika melanjutkan langkahnya. Namun baru saja kakinya terayun dua tindak, pemuda desa yang ditanyainya tadi menahannya.

“Tunggu, Kang” panggil pemuda itu. Andika menoleh.

“Ada apa, Kisanak?” tanya Pendekar Slebor seraya berbalik, dengan penasaran.

“Sebaiknya Kakang jangan ke tempat itu,” lanjut pemuda tadi. Wajahnya tampak bersungguh-sungguh, saat mengucapkan kalimat terakhir.

“Kenapa, Kisanak?” tanya Andika lagi. Wajahnya makin dipulas warna penasaran.

“Apa kau tidak tahu danau itu kini sudah dihuni mambang jahat?” pemuda itu malah balik bertanya.

Mendengar penjelasan pemuda itu, Andika jadi melepas tawa ringan. Memang, masyarakat Jawa Dwipa seringkali menghubung-hubungkan satu kejadian dengan hal-hal berbau takhayul. Bisa jadi, mungkin karena pengaruh kepercayaan nenek moyang.

“Mambang jahatnya pakai brewok, ya,” seloroh Andika tanpa maksud mengejek.

Maksudnya, Andika sekadar berkelakar. Tapi kepercayaan seseorang, rupanya terlalu peka untuk dijadikan sedikit gurauan. Buktinya, pemuda itu langsung memperlihatkan wajah tak senang pada Pendekar Slebor. Andika akhirnya hanya bisa mengangkat bahu tinggi-tinggi.

“Kenapa Kisanak bisa berkata seperti itu?”

“Sampai hari ini, sudah lima orang penggali pasir yang tiba-tiba gila setelah menyelam ke dasar danau...,” jelas pemuda itu.

“Lima orang?” penggal Andika tanpa sadar. Tentu saja Pendekar Slebor menjadi terkejut, sebab yang diketahui hanya Buntar.

“Ya Kemarin sore empat penggali pasir menjadi hilang ingatan secara bersamaan. Mereka mengoceh-kan sesuatu yang mereka lihat di dasar danau. Entah, benda apa. Apa kau belum mendengar berita itu?”

tanya pemuda itu. Kata-kata yang terlontar dari mulutnya terdengar tertahan-tahan. Ada kesan ketakutan dalam dirinya.

Andika hanya menggeleng sebagai jawabannya.

Sementara itu, tangannya mengusap-usap dagu perlahan. Tampaknya, berita yang keluar dari mulut Buntar sinting tak bisa dianggap main-main lagi

“Jadi, sebaiknya urungkan saja niatmu untuk pergi ke Danau Panca Warna. Para penggali pasir saja tak sudi lagi menjadikan tempat itu sebagai mata pen-caharian sejak hari ini,” lanjut pemuda itu, memperingati.

Andika mengangguk-angguk. Bisa dimaklumi perhatian penduduk desa seperti pemuda di hadapan-nya. Sifat tolong menolong penduduk desa memang masih berakar kuat.

“Terima kasih atas nasihatnya, Kisanak,” ucap Andika tulus.

Pemuda itu hanya membalas ucapan terima kasih Andika dengan senyum ramah dan tulus pula. “Kalau begitu, aku mohon pamit,” tutur pemuda itu sopan seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“Silakan,” sahut Andika, juga mengangkat tangan.

Pemuda desa itu melangkah, meninggalkan Andika yang masih terpaku di tengah jalan setapak. Ketika dia sudah berjalan sepuluh tombak, Andika segera menggenjot ilmu meringankan tubuhnya untuk segera tiba di Danau Panca Warna. Itu sebabnya, ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan sampai pada tingkat yang paling tinggi.

Dalam sekerdipan mata, tubuh Andika sudah lenyap dari tempat berdiri semula. Bumi seakan menelannya begitu saja. Sementara pada saat yang bersamaan, pemuda desa tadi menoleh ke arah tempat Andika berdiri. Dia ingin memastikan apakah Andika melangkah menuju Danau Panca Warna.

Melihat tubuh Andika tiba-tiba hilang tanpa bekas di depannya, biji mata pemuda desa itu langsung terbelalak tak tanggung-tanggung. Sepasang bola matanya seakan hendak melompat keluar. Beberapa saat dia tampak tergagap-gagap. Seluruh wajahnya saat itu pula seperti kehilangan darah. Tak lama kemudian, dia lari tunggang langgang dengan wajah seputih mayat.

“Tolooong Ada mambang danau” jerit pemuda itu terseok-seok.

***

Cakrawala telah diselimuti lembayung, ketika Andika tiba di Danau Panca Warna. Hari menjelang senja. Matahari tampak memudar berwarna jingga di atas permukaan danau. Kemilau bayangannya tampak menari-nari bersama riak halus air danau. Jika diperhatikan sepintas, danau itu berkesan damai. Panorama sore yang melingkupinya, mampu menyejukkan hati setiap insan yang menikmatinya.

Tidak hanya itu. Kulit pun seperti dimanja dengan hembusan angin sepoi-sepoi basah yang sesekali berlari di permukaan danau.

Namun di balik kedamaian itu, sebenarnya ter-sembunyi sebuah kekuatan dari luar bumi pembawa bencana pertumpahan darah. Dan Andika bisa merasakannya, meski belum bisa menduga lebih jauh akan akibat yang bakal menimpa dunia persilatan oleh kehadiran benda asing di dasar danau ini.

Pada dasarnya, Pendekar Slebor sudah cukup yakin oleh berita yang disampaikan Buntar melalui setiap ocehannya. Tak mungkin orang awam seperti Buntar mendadak memiliki kekuatan raksasa kalau tak ada sesuatu yang mempengaruhinya. Namun begitu, Andika tetap merasa penasaran untuk melihat sendiri benda yang dimaksud Buntar dengan mata kepala sendiri.

Maka tanpa berpikir untuk kedua kali, pendekar muda itu langsung melempar diri ke dalam danau.

Rasa penasarannya yang makin membludak, membuatnya tak sempat berpikir untuk membuka pakaian.

Byur

Air dingin Danau Panca Warna menusuk seluruh permukaan kulit Andika. Sesaat bisa dinikmati kesegaran alami, mengenyahkan kepenatan yang sejak siang tadi menggelayuti tubuhnya. Setelah mengisi penuh paru-parunya dengan udara di permukaan danau, Andika langsung menyelam.

Cahaya senja ternyata masih cukup mampu

menembus ke dalam danau. Bahkan masih bisa menerangi dasarnya, biarpun kilaunya sudah redup.

Perlahan-lahan Pendekar Slebor menyelam menuju dasar danau sedalam sekitar sepuluh tombak. Makin menembus ke dalam, air makin terasa dingin menggigit. Dan tekanan pun makin memberat di sekitar dadanya.

Saat matanya sudah dapat menangkap per-

mukaan dasar danau, Pendekar Slebor mulai menelusuri dari satu bagian ke bagian lainnya. Indra penglihatannya saat ini benar-benar dipertajam, agar mampu menangkap keganjilan keganjilan yang ada.

Namun sampai sejauh itu tak juga ditemukan benda yang dimaksud. Yang terlihat hanya hamparan pasir danau, batu-batu alam, tumbuhan danau, dan ikan-ikan yang riang bebas di dalamnya.

Sementara itu, dada Pendekar Slebor mulai terasa sesak. Sudah beberapa kali napasnya dihembuskan sedikit demi sedikit. Kini, persediaan udara dalam paru-paru benar-benar telah menipis. Andika harus kembali ke permukaan dulu untuk mengambil napas kembali, lalu menyelam lagi.

Dan baru saja Andika hendak membuang sisa udara pernapasannya, tiba-tiba saja matanya menangkap sesuatu yang amat menarik. Suatu kilauan cahaya merah bara

Andika memekik girang dalam hati. Pasti, benda ini yang dimaksud Buntar tempo hari Maka tanpa mempedulikan sesak di dadanya, mulai didekatinya benda bercahaya yang berjarak sekitar tujuh tombak dari tempatnya.

Andika makin dekat. Dan matanya pun terus menyipit, karena terpaan cahaya menyilaukan dari benda asing itu. Anehnya cahaya merah bara menyilaukan itu terasa seperti mengirimkan getaran ke dalam diri Andika. Suatu getaran yang makin menarik dirinya, untuk terus mendekati.

Menyadari hal itu, dada Andika mulai berdegup-degup kencang. Dan ini tentu saja menyebabkan persediaan udara dalam paru-parunya menjadi cepat terkuras. Apalagi, dia hanya mengandalkan sisa udara saja. Semua itu benar-benar di luar per-hitungan. Biarpun telah memiliki pengalaman matang dalam dunia persilatan, namun dalam menghadapi keganjilan benda itu Andika tak mau ambil resiko.

Segera Andika memutuskan kembali ke per-

mukaan, untuk menghirup udara segar. Setelah itu, dia akan kembali lagi. Tapi, maksud itu hanya sempat terpercik di benaknya. Sebab satu tarikan tiba-tiba saja membetot tubuhnya Kekuatannya lebih kuat daripada cengkeraman tangan-tangan sepuluh gurita raksasa

Andika tergagap. Dalam keterkejutannya, air danau jadi tertelan. Tentu saja hal itu membuatnya makin blingsatan.

Andika sedikit menenangkan hatinya, tapi itu pun tak menolong. Bahkan ketika dicoba untuk mengerahkan kekuatan sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan, hasilnya tetap nihil.

“Gila” maki pemuda itu dalam hati.

Bagaimana dia tidak memaki, kalau kekuatan tarikan tadi seperti menelan kekuatan sakti miliknya?

Sebagai pendekar keras kepala, Andika tidak mau menyerah begitu saja. Sekali lagi, tenaga sakti miliknya dikerahkan. Bahkan sampai sehabis-habisnya.

Glrrrblb... blp

Sekejap, tercipta suatu pusaran besar yang diramaikan oleh beribu-ribu gelembung udara. Itu pun masih ditingkahi kerjapan sinar menyilaukan akibat benturan tenaga sakti Andika dengan tenaga tarikan benda aneh itu.

Setelah itu, semuanya bagai tersapu begitu saja.

Sinar menyilaukan yang tadi tercipta, pusaran air, dan ribuan gelembung, lenyap tanpa bekas. Hanya sisa-sisa pasir yang bertebaran tak beraturan di sekitar tempat itu. Sementara Andika kembali dikekang tenaga tarikan yang tak bisa dipahaminya.

Andika kian gelagapan. Dan ini amat mem-

bahayakan bagi dirinya. Maka tanpa dapat ditahan lagi, pernapasannya menarik air danau dalam satu sedotan tak disengaja. Air pun merambah ke saluran pernapasan pendekar muda ini, sehingga membuat dadanya bagai dicabik-cabik sekawanan serigala.

Sesaat kemudian kepalanya berdenyut amat keras, menyusul rasa sakit seakan dihimpit dua gunung raksasa.

Tubuh Andika kejang. Kesadarannya perlahan mengabur. Begitu pula pandangannya. Sampai akhirnya, dia tak ingat apa-apa lagi. Pingsan

*** 4

Seseorang tampak berdiri mematung dalam

kegelapan malam di tepian Danau Panca Warna. Cara berdirinya seperti menantang rembulan yang bagai mengambang sepenggalan di atas permukaan air Danau Panca Warna. Pakaiannya berwarna biru tua ketat. Rambutnya pendek dengan ikat kepala yang sewarna pakaiannya. Di pinggangnya terselip dua toya pendek sepanjang lengan.

Entah, apa yang sedang diperbuat orang itu di tepi danau yang kini dijauhi penduduk. Yang pasti, matanya jatuh lurus pada bayangan lembut rembulan di permukaan air. Sesaat kemudian terdengar keluhan dari mulutnya. Setelah itu, ditariknya napas dalam-dalam, dan dihempaskannya keras. Seakan, dirinya sedang dirasuki kejengkelan.

Rupanya orang itu telah puas memandang permukaan danau. Setelah sekian lama hanya berdiam tanpa bergerak, kini tubuhnya dipalingkan untuk segera berlalu dari tempat sunyi ini. Tapi niat untuk pergi mendadak diurungkan, manakala matanya menangkap sesuatu terapung lamban di tengah danau.

Orang itu menyipitkan matanya, berusaha mem-perjelas pandangan. Bisa jadi, dia telah salah lihat.

Namun semakin ditatapnya lebih jelas, malah hatinya semakin yakin kalau pandangannya tidak keliru.

Yang dilihatnya adalah tubuh seseorang berbaju hijau muda.

“Ya, Tuhan...,” desis orang itu meninggi, disergap keterkejutan. “Aku harus segera menolongnya.

Mudah-mudahan masih bernapas”

Orang itu lantas berlari menuju sebuah sampan kecil yang tertambat tak jauh dari tempatnya. Dengan sigap, dia melompat ke lambung sampan. Gerakannya terlihat amat ringan. Sehingga sampan itu tidak terbalik meski kakinya menjejak di sisinya. Diambilnya pengayuh yang tergeletak di lambung sampan.

Lalu dikayuhnya sampan itu penuh ketergesa-gesaan.

Tanpa banyak memakan waktu, orang itu telah sampai di dekat tubuh yang terapung tadi. Segera diangkatnya tubuh itu ke atas sampan. Setelah berada di pangkuan, diperiksanya denyut nadi lelaki malang yang ternyata Andika.

“Ahhh,” desah orang itu lega. “Untunglah masih bernyawa. Rupanya, kau memiliki nasib cukup baik, Kisanak. Kalau saja terapung dalam keadaan tertelungkup, tentu nyawamu sudah ditunggu para penghuni kubur.”

***

Pagi telah menjelang, beriring kicau burung di pucuk-pucuk pepohonan. Kabut tipis tampak merambat lamban, diiringi alunan kokok ayam jantan di kejauhan. Sementara terabasan sinar tipis di sela-sela dedaunan bagai menghiasi garis-garis ke-hidupan.

Setelah semalaman tak sadarkan diri, kini Andika siuman. Kelopak matanya terbuka perlahan, lalu mengerjap-ngerjap sesaat.

“Di mana aku?” desah Pendekar Slebor, masih dalam keadaan telentang.

Perlahan pemuda itu bangkit, lalu duduk lemah di bibir balai-balai bambu tempatnya terbaring. Sambil menarik napas berkali-kali, pandangannya beredar ke sekeliling ruangan.

Ternyata, Andika berada dalam sebuah gubuk kecil yang terbilang kotor. Di sana sini terlihat sarang laba-laba serta debu tebal. Di lantai tanah, tampak bekas api unggun yang masih mengepulkan asap tipis.

Sementara, jendela yang hanya satu-satunya di gubuk bilik itu sedikit terkuak, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk.

“Ke mana tuan rumah yang jorok ini” gerutu Andika.

Andika segera bangkit, dan melangkah menuju pintu gubuk yang sudah berlubang-lubang dimakan rayap. Matanya lantas mengerut, tatkala sinar matahari menimpa wajahnya yang agak pucat.

Dengan tangan kanan, dia berusaha menghalangi cahaya matahari yang langsung menimpa matanya.

Setelah dapat menguasai silau, matanya mulai mencari-cari. Tentu saja hendak mencari pemilik gubuk yang seperti kandang setan itu.

“Oi, Kisanak” seru Pendekar Slebor tatkala matanya telah menemukan seseorang berbaju biru tua sedang memancing.

Dengan agak tertatih, gubuk di tepi danau tadi ditinggalkannya untuk menghampiri orang berbaju biru yang membelakanginya.

“Kisanak,” tegur Andika sekali lagi, karena orang itu sama sekali tidak menoleh waktu diteriakinya tadi.

Tangannya dijulurkan ke bahu orang berambut pendek itu, lalu disentuhnya.

Orang yang ditegur akhirnya menoleh juga. Dan betapa terperanjatnya Andika, ketika melihat wajah orang berambut pendek yang ternyata seorang wanita.

Sedikit gelagapan, Andika segera menarik tangannya dari bahu wanita itu.

“Ma.... maaf, Nisanak. Aku tak bermaksud kurang ajar. Kukira kau...,” ucap Andika terbata.

“Lelaki?” terabas wanita itu, seperti tidak mempedulikan ucapan Andika. “Atau memang kau berpura-pura tidak tahu, agar dapat menyentuh tubuhku?”

Andika menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Apalagi yang meski dikatakan kalau menghadapi wanita kenes macam ini.

“Kenapa aku berada di gubukmu?” tanya Andika lagi.

“Itu bukan milikku, tapi hanya gubuk terbengkalai di tepi danau ini. Tapi yang penting bisa dimanfaatkan untuk bermalam,” sahut wanita tadi, acuh. Kemudian dia terlihat asyik kembali dengan kailnya.

“Jadi, kenapa aku berada di gubuk itu?” ulang Andika, sedikit memperbaiki kalimatnya.

“Kau sendiri kenapa berada di danau ini?” wanita itu balik bertanya, tanpa berpaling.

“Aku?” Andika tergugu.

Entah kenapa, Pendekar Slebor tak ingat apa-apa lagi. Tentang kejadian yang kemarin sore dialaminya pun tidak ada di benaknya. Itu sebabnya, dia tak mengerti maksud ucapan wanita di depannya.

“Kenapa aku ada di danau ini?” tanya Andika kebodoh-bodohan.

Ucapan Andika barusan tentu saja memancing kejengkelan wanita berambut pendek ini.

“Kau orang dungu atau pemuda pikun?” ledek wanita itu memalingkan tubuhnya ke arah Andika.

“Aku..., aku tidak tahu. Aku tidak ingat apa-apa. Apa kau sudi menjelaskan padaku?” pinta Andika.

Wajahnya tampak sulit dijelaskan, dengan alis terangkat kecil.

Wanita itu menatap Andika lekat-lekat. Kelopak matanya yang berhias bulu mata lentik berwarna legam, tampak mengerut. Begitu juga kening di wajahnya. Setelah menemukan kesungguhan di wajah Andika, wanita itu tersenyum tipis.

“Aku menemukanmu terapung di danau ini tadi malam.”

“Aku? Terapung? Kenapa begitu?” tanya Andika beruntun.

Pendekar muda itu benar-benar diombang-ambing kebingungan. Tak ada sedikit pun ingatan yang tertinggal di kepalanya.

“Mana aku tahu” sahut wanita itu cepat. Kembali dia jengkel. Lalu, tubuhnya berbalik lagi. Kailnya kali ini rupanya mendapat mangsa.

“Hih”

Berbareng dengan satu teriakan kecil, wanita itu menarik kail yang bergerak-gerak. Tapi yang terkait di mata kail membuat wanita itu tertawa renyah.

“Hi hi hi... Kukira mendapat ikan besar, tak tahunya hanya kain gombal” ujar wanita itu diselingi tawa sambil menggoyang-goyangkan kail yang kini digelayuti kain bercorak catur.

Sementara dia sibuk tertawa, Andika malah menatap kain itu penuh perhatian. Kain itu meng-ingatkannya pada sesuatu. Tapi, entah apa. Pendekar Slebor sendiri masih samar.

“Hey? Kenapa kau tidak tertawa?” sentak wanita berambut pendek ini pada Andika. “Apa kau tidak berselera untuk berguyon?”

Andika menyahuti hanya dengan gelengkan kepala.

“Huh Rupanya aku telah menolong pemuda

bodoh,” rutuk wanita itu dongkol.

Andika tak mempedulikan. Malah kakinya melangkah kembali menuju gubuk dengan kepala tertunduk. Benaknya masih tidak habis pikir, kenapa ingatannya hilang begitu saja.

“Apakah aku memang pemuda bodoh seperti

disebut wanita itu? Lalu, siapa aku? Siapa namaku?

Dan, kenapa aku berada di sini?” kata batin Pendekar Slebor, bertanya pada diri sendiri.

“Hey” panggil wanita tadi. “Kau tidak tersinggung dengan ucapanku tadi, kan?”

Andika menoleh, lalu menggeleng.

“Aku Ratna Kumala. Kau boleh memanggilku Ratna. Siapa namamu?” lanjut wanita itu bersama sebaris senyum tipis sebagai permohonan per-sahabatan.

Andika menaikkan keningnya. “Aku tidak tahu,”

jawab pemuda itu perlahan. Ratna Kumala merengut lagi. “Nisanak Boleh aku minta kain itu?” pinta Andika.

“Untuk apa gombal ini?” tukas Ratna Kumala, sambil menahan tawa.

“Aku tidak tahu. Rasanya kain itu ingin kumiliki.”

Ratna Kumala tertawa. Kali ini lebih nyaring, dan terdengar riang.

“Kau bisa menjengkelkan, sekaligus lucu Nih

Ambillah”

Ratna Kumala melempar kain bercorak catur basah pada Andika. Dan seketika Pendekar Slebor pun menangkapnya.

“Terima kasih,” hatur Andika.

Kemudian Pendekar Slebor melanjutkan langkah- nya, meninggalkan wanita itu.

“Hey Jangan panggil aku Nisanak lagi, ya Apalagi Kisanak”

Andika tak menyahut, dan terus berjalan sambil terus mengamati kain bercorak catur di tangannya.

***

Desa Ambangan kini telah dibanjiri pendatang dari berbagai daerah. Mereka rata-rata tokoh persilatan, baik dari golongan putih atau hitam, dari kelas bawah hingga kelas atas.

Orang-orang itu layaknya semut yang mendatangi gula. Ya Desa Ambangan belakangan ini menjadi gula bagi seluruh kalangan persilatan, setelah tersiar kabar tentang benda sakti di dasar Danau Panca Warna.

Tujuan utama mereka tentu saja untuk mendapatkan benda sakti itu. Di samping, ada pula yang hendak bertemu rekan segolongan, yang pada umumnya dilakukan oleh para pendekar golongan putih.

Sementara ada pula yang berniat mencari guru atau menjajal ilmu yang sudah dimiliki.

Dan pagi ini, datang lagi tiga orang berpenampilan sangar. Yang seorang adalah laki-laki berwajah penuh brewok kasar. Rambutnya berdiri tegak, seperti duri landak. Matanya memancarkan sinar kekejaman dengan alis yang tumbuh samar-samar. Hidungnya pesek. Wajahnya yang berbentuk persegi, menampakkan rahangnya yang kokoh. Lelaki berperawakan tinggi besar itu dikenal dengan nama Atma Sungsang.

Yang berjalan di tengah bernama Kebo Ireng. Jika mendengar namanya, bisa terbayang kalau

perawakannya besar dan kekar. Padahal sebaliknya, justru lelaki itu berbadan kerempeng. Dan tubuhnya paling tinggi dibanding dua temannya. Wajahnya tirus, sebagaimana orang kurus. Hidungnya lancip dan matanya cekung. Sejumput jenggot ikut menghiasi wajahnya yang mirip tikus.

Yang terakhir bernama Jarjaran. Melihat penam-pilannya yang mirip Atma Sungsang, sudah bisa dipastikan kalau dia masih bersaudara dengannya.

Bedanya, Jarjaran tidak memelihara brewok. Dagunya tampak licin, karena sering dipangkas dengan goloknya.

Mereka bertiga mengenakan pakaian sewarna.

Hitam. Celananya sebatas lutut. Laki-laki bernama Atma Sungsang menyandang parang berukuran besar pada pinggangnya. Sedangkan Kebo Ireng membawa senjata berbentuk kipas.

Ketiga lelaki sangar itu kini memasuki sebuah penginapan. Sebagaimana desa yang dekat bandar, penginapan itu diramaikan oleh para pendatang dari beberapa negeri yang menginap untuk menunggu bongkar muat barang di kapalnya. Namun mulai tiga hari yang lalu, penginapan ini juga dipenuhi para pendekar yang mengisi kamar demi kamar di sana.

Kebo Ireng selaku lelaki tertua, memasuki ruang tengah penginapan lebih dahulu. Langkahnya terlihat angkuh. Tak beda Atma Sungsang dan Jarjaran di belakangnya.

“Kami pesan tiga kamar,” ucap Kebo Ireng dingin pada pemilik penginapan di meja penerimaan tamu.

“Aduh.... Sayang sekali, Tuan. Kami hanya punya sisa dua kamar,” jawab pemilik penginapan ramah.

“Tiga” terabas Kebo Ireng, keras.

“Wah Kalau Tuan menghendaki tiga kamar, sebaiknya cari di penginapan lain saja. Barangkali di sana masih banyak kamar, Tuan...,” usul pemilik penginapan, sambil tersenyum sopan.

“Jangan bertele-tele Menyediakan tiga kamar, atau ditukar nyawamu?” ancam Kebo Ireng, tetap dingin.

Diancam seperti itu, laki-laki tua pemilik penginapan ini jadi mengerut. Wajahnya berubah pias pasi.

“Ma..., af, Tuan. Kami sungguh-sungguh hanya punya dua kamar. Kamar lain sudah terisi semua,”

ucap laki-laki tua itu agak memelas.

Brakkk

Baru saja ucapan pemilik penginapan itu selesai mendadak saja Kebo Ireng menggebrak meja setinggi pinggang di depannya.

Gebrakannya terlihat ringan. Tapi akibatnya tidak pernah diduga. Meja jati itu langsung jebol berkeping-keping. Padahal tebalnya hampir sejari telunjuk.

Pemilik penginapan tersentak ke belakang. Wajahnya makin memucat. Bulir-bulir keringat dingin pun sudah membasahi keningnya.

“Apa kau tak punya otak? Kenapa tak diusir saja seorang tamu yang menempati kamarmu?” dengus Kebo Ireng tanpa perubahan pada wajahnya. Wajah dan bicaranya tetap dingin. Sedangkan matanya memandang penuh ancaman.

“Ba..., bagaimana aku harus mengusir tamuku sendiri, Tuan?” jawab pemilik kedai, masih berusaha menolak.

“Kau bertele-tele sekali, Bangsat” hardik Atma Sungsang dari belakang Kebo Ireng.

Lelaki ini rupanya sudah tidak sabar lagi. Gagang parang di pinggangnya bahkan sudah diangkat.

Namun, Kebo Ireng mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat pada Atma Sungsang untuk tetap tenang.

“Jangan sia-siakan nyawamu...,” ujar Kebo Ireng setengah berbisik pada pemilik penginapan. “Toh lebih baik kau kehilangan seorang pelangganmu, ketimbang mesti kehilangan nyawa?”

“Baik..., baiklah,” sahut pemilik penginapan terbata-bata.

Kemudian laki-laki tua itu segera meninggalkan meja penerima tamu. Dia naik ke lantai atas dengan setengah berlari.

Sementara tiga lelaki sangar itu hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah pemilik kedai yang terlihat bagai tikus comberan di mata mereka. Dan tawa mereka langsung putus ketika....

“Kunyuk Apa kau kira aku ini anjing yang bisa kau usir seenaknya, hah”

Terdengar keributan dari lantai atas. Rupanya pelanggan yang hendak diminta keluar oleh pemilik penginapan, tidak bisa menerima perlakuan itu begitu saja. Kemudian terdengar suara langkah berlari, diselingi makian-makian kasar.

Pemilik penginapan itu berlari serabutan menuruni anak tangga penginapan yang terbuat dari kayu yang disusun berputar pada satu tiang. Sementara seorang lelaki setengah baya berbadan tegap menyusul di belakangnya, dengan mengacung-acungkan samurai.

“Ampun, Tuan.... Ampun” teriak si pemilik penginapan mengiba-iba sambil tetap berlari.

“Berhenti” bentak Jarjaran.

Kedua yang tengah kejar-kejaran berhenti tiba-tiba begitu mendengar bentakan yang terasa menggetarkan dinding kayu penginapan.

“Kisanak Kuminta kau meninggalkan penginapan ini. Kamarmu akan kami pergunakan,” sentak Kebo Ireng lantang dari lantai bawah.

“Apa?” balas lelaki yang memegang samurai.

Wajahnya yang hitam tampak semakin matang terbakar kegusaran. “Seenak dengkulmu saja bicara.

Kau pikir dirimu raja?”

Sementara Kebo Ireng menatap laki-laki itu disertai sebaris senyum sinis. Sikapnya begitu mengejek, seolah-olah menganggap kemarahan lelaki setengah baya itu hanya sebagai tontonan meng-asyikkan.

“Jangan menatapku seperti itu, Kunyuk”

Kebo Ireng malah terkekeh.

“Kau terlalu banyak bacot, Kisanak,” cemooh Kebo Ireng seraya menjentik pecahan meja jati di depannya.

Zing

Mendadak melesat sesuatu dari tangan Kebo Ireng. Begitu cepatnya, sehingga laki-laki yang memegang samurai tak menduga sama sekali. Dan....

Jep

“Wuaaa...”

Lengkingan panjang terdengar dari mulut lelaki setengah baya malang itu. Tanpa pernah diduga, pecahan kayu itu ternyata langsung menembus perutnya. Dari sini bisa diukur, betapa dahsyatnya tenaga dalam Kebo Ireng.

“Satu... dua,” dengan santai Kebo Ireng meng-hitung. “Tiga...”

Bersamaan dengan berhentinya hitungan Kebo Ireng, tubuh lelaki itu ambruk, lalu menggelinding di atas anak tangga.

Brak

Tubuh laki-laki itu baru berhenti bergulir, setelah menabrak dinding ruangan di bawah. Tak ada gerakan sedikit pun di tubuhnya. Tampak darah mengalir dari lukanya akibat terjangan pecahan kayu.

Sementara, semua mata memandang ke arah

sosok yang telah diam tak berkutik lagi. Sedangkan mata Kebo Ireng telah tertuju pada pemilik penginapan.

“Nah Sekarang, kami bisa mendapat kamar, bukan?” kata Kebo Ireng pada pemilik penginapan.

Pemilik penginapan tak bisa menyahut. Tubuhnya masih mengejang kaku, setelah menyaksikan satu kejadian mengerikan. Bibirnya bergetar hebat, seakan hendak mengucapkan sesuatu yang tak bisa di-keluarkannya.

“Tidak perlu, Ki. Beri saja mereka kandang kambing” tiba-tiba terdengar suara wanita yang berasal dari pintu masuk penginapan.

*** 5

“Siapa yang berani bertingkah di hadapan Tiga Setan Selatan?”

Kali ini Atma Sungsang yang membentak. Tubuhnya segera berbalik, menghadap pintu masuk. Kini terlihatlah seorang gadis berambut pendek berpakaian biru tua tengah berdiri santai tepat di mulut pintu. Dan gadis itu memang Ratna Kumala.

Sementara itu para penghuni kamar lain ber-munculan di dekat pintu masing-masing setelah mendengar jeritan tadi. Di antaranya, malah sudah menyiapkan senjata di tangan. Mereka adalah beberapa tokoh persilatan yang selalu siaga terhadap kekacauan. Namun belum ada satu pun yang hendak turun tangan.

“Ooo, Tiga Setan Kurapan?” ejek Ratna Kumala acuh tak acuh.

“Perempuan keparat Rupanya dia minta di-cincang, Kang,” dengus Jarjaran amat geram.

Meski mata ketiga lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Tiga Setan Selatan itu menghujam lurus-lurus ke arahnya, namun Ratna Kumala tetap bersikap santai. Malah dengan tenang kakinya melangkah ke dalam ruangan sambil menoleh ke sana kemari, melihat-lihat keadaan penginapan. Seakan-akan tak dipedulikannya Tiga Setan Selatan yang begitu muak melihat tingkahnya.

“Hm.... Para tamu terhormat. Para saudagar dan para pendekar. Penginapan ini rupanya telah di-masuki tiga ekor kecoa mabok. Tapi, percayalah padaku. Mereka tak akan senang ditonton seperti itu,” celoteh Ratna Kumala.

Kebo Ireng berusaha menahan diri agar tak kalap menerima ejekan habis-habisan dari Ratna Kumala.

Namun beda dengan Atma Sungsang. Seluruh wajah lelaki itu langsung matang. Rahangnya bergemelutuk, memperlihatkan tarikan otot kegeraman. Dari hidung-nya yang pesek terdengar dengusan napas sebagaimana banteng murka. Maka tanpa meminta pertimbangan Kebo Ireng lagi, Atma Sungsang menerjang Ratna Kumala dengan parang besar di tangan disertai makian yang menggelegar ke seluruh ruangan.

Kemarahannya yang memuncak membuat Atma

Sungsang ingin secepatnya menghabisi gadis itu, maka senjatanya langsung diarahkan ke kepala wanita yang membuat ubun-ubunnya hendak

meledak ini.

Wet

“Heit”

Ratna Kumala bertindak cepat dalam menghadapi sabetan parang yang bergerak dahsyat. Tubuhnya langsung bersalto ke belakang. Namun, serangan Atma Sungsang memang tak tanggung-tanggung.

Sebelum kaki gadis itu mendarat mantap di tanah, parangnya sudah diayunkan kembali dalam

kecepatan luar biasa.

“Heaaa”

Wet Wet

Mau tak mau, Ratna bersalto ke belakang kembali.

Bahkan sampai tubuhnya hampir mencapai pintu keluar, Atma Sungsang tetap memburu bagai kerasukan.

Pada saat bersamaan, mendadak seseorang masuk ke rumah penginapan ini. Begitu asyiknya dia memperhatikan sesuatu di tangannya, sampai-sampai tak menyadari kalau tubuh Ratna Kumala berputar deras ke arahnya. Dan....

Buk

“Adaow”

Orang itu berteriak nyaring, begitu kaki Ratna Kumala mendepaknya tanpa sengaja. Orang yang ternyata pemuda berpakaian hijau itu tak lain Andika alias Pendekar Slebor. Kini pendekar ini telah kehilangan seluruh ingatannya akibat gangguan pada otak besarnya, ketika mengalami cidera di dasar Danau Panca Warna.

Andika langsung tersuruk mendapat hantaman keras tadi. Kain bercorak catur yang menjadi pusat perhatiannya tadi terlempar dari tangannya. Dan memang, kain itu sampai saat ini masih menjadi bahan pemikirannya.

“Sialan Tengik sekali kau, Ratna” maki pemuda itu pada Ratna Kumala yang sudah berdiri di sisinya.

Andika segera bangkit dengan wajah bersungut-sungut. “Kenapa kau bercanda keterlaluan dengan lelaki bengkak itu, sih?”

Mendengar kicauan jengkel Andika, Ratna Kumala jadi tertawa geli. Matanya melirik Atma Sungsang yang lantas mendelik mendengar ucapan Andika.

“Tadi kau meninggalkanku begitu saja. Setelah kutemui, malah menabrakku tanpa permisi” rutuk Andika.

“Hey, Pemuda Dungu” hardik Atma Sungsang.

Atma Sungsang benar-benar jengkel disebut lelaki bengkak. Apalagi, dia memang sedang diamuk kemarahan oleh ulah Ratna Kumala.

“Hah? Apa?” tanya Andika, seraya mengangkat wajah kebodoh-bodohan.

“Apa? Kau tadi menyebutku apa?”

“Lelaki bengkak,” sahut Andika, seperti tak merasa salah.

“Keppparaaat...” desis Atma Sungsang. Hidungnya sudah kembang kempis karena gusar.

Di lain pihak, Andika malah sibuk mencari-cari kain bercorak caturnya. Matanya jelalatan ke sana kemari, sampai akhirnya kain yang dicari ditemukan tengah berada di bawah kaki Atma Sungsang.

“Na, itu dia” seru pemuda itu tertahan.

Lalu Andika menghampiri kain itu tanpa mempedulikan Atma Sungsang. Padahal, lelaki tinggi besar itu sudah ingin mengunyahnya hidup-hidup.

“Den Gemuk Permisi, ya. Apa kakinya bisa diangkat?” kata Andika kalem. Sementara tangannya sudah siap menarik kain bercorak catur di kaki Atma Sungsang.

“Babi Rupanya, kau memang minta mampus”

hardik Atma Sungsang. Tangannya pun terangkat tinggi-tinggi, untuk membenamkan ujung parangnya ke punggung Andika yang sedang merunduk.

Wet

“Awas” pekik Ratna Kumala, memperingati.

Teriakan Ratna Kumala begitu melengking nyaring, membuat telinga Andika bagai ditusuk sebatang lidi.

Bukan itu saja. Pendekar muda yang sedang mengalami gangguan ingatan itu jadi tersentak tak alang kepalang. Dan seketika kain bercorak catur yang sudah dipegangnya ditarik mendadak. Akibatnya....

Bruk

Atma Sungsang kontan jatuh berdebam di lantai penginapan. Tubuhnya yang tambun menciptakan getaran kecil pada tiang dan dinding kayu penginapan.

“Aduh.... Maaf ya, Den Gemuk. Aku tak sengaja,”

ucap Andika tergesa-gesa. Bibirnya meringis-ringis melihat Atma Sungsang jatuh. Padahal yang merasakan sakit bukan dia.

“Babi Babi Babi” maki Atma Sungsang gencar.

Segera laki-laki itu mencelat bangkit. Ke-kalapannya kini benar-benar membuatnya nyaris edan. Dia berteriak sekuat-kuatnya, tatkala melabrak Andika kembali.

“Khuaaa...”

Wet Wet

Dua tebasan Atma Sungsang sekaligus hendak memotong lutut dan leher Andika. Gerakannya benar-benar sudah membabi buta. Tak dipedulikan lagi, apakah lawannya nanti bakal menjadi daging cincang atau perkedel.

“Mak Mat..”

Andika melompat tak karuan. Tangannya mendekap wajahnya sendiri, mirip anak kecil yang hendak dipukuli ibunya,

Sebelumnya, Ratna Kumala sudah mengira riwayat Andika akan tamat di ujung parang Atma Sungsang.

Bagaimana perkiraan itu tidak muncul, kalau serangan Atma Sungsang demikian cepat mengancam tubuh Andika. Padahal selama ini yang diketahuinya, Andika hanyalah pemuda bodoh yang pikun Kini, gadis itu boleh ternganga. Nyatanya, pemuda yang dianggap bodoh itu mampu mementahkan tebasan Atma Sungsang dengan gerakan cepat luar biasa. Meski terlihat tolol.

“Hiaaa”

Wet Deb

Serangan susulan Atma Sungsang yang berupa tebasan-tebasan parang, disertai tendangan-tendangan dengan ganas ke beberapa bagian tubuh Andika. Terkadang, menyapu gencar ke kepala.

Sesekali menotok. Malah tak jarang pula mencoba menghantam selangkangan. Namun semua itu dengan mudah dihindari Andika. Sampai suatu saat, tubuhnya seperti berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sementara itu, Ratna Kumala makin terpana.

Sungguh tak dikira kalau pemuda tolol itu akan melakukan gerakan mengagumkan?

Tak hanya Ratna Kumala terkagum-kagum melihat setiap kelitan Andika. Bahkan tamu penginapan pun sampai berdecak-decak kagum Meski di antara mereka terdapat tokoh berkepandaian cukup tinggi, tak urung mereka sampai terlongong bengong.

Di ruang tengah, pertarungan berjalan kian sengit.

Tapi sampai sejauh itu, Pendekar Slebor belum tampak hendak balas menyerang. Sampai suatu saat, tubuhnya melenting gesit ke udara. Setelah beberapa kali berputaran, kakinya menjejak ringan sejauh enam tombak di depan Atma Sungsang.

Di lain pihak, Atma Sungsang tampak tersengal-sengal kehabisan napas. Hampir seluruh tenaga dalam, kecepatan, dan jurus-jurus dahsyat dikerah-kannya. Namun, Pendekar Slebor tetap biasa-biasa saja.

Kini, Atma Sungsang menatap jalang pada Andika dengan napas senin-kemis. Sedangkan Andika bergerak kian kemari, memperlihatkan kembangan jurus yang terlihat ganjil. Setiap kali tubuhnya bergerak, bayangannya yang terlihat. Gerakannya benar-benar bagai sambaran kilat. Tak ada yang indah dari jurus-jurusnya. Tapi, mata para tokoh yang sudah banyak makan asam garam akan segera tahu kalau gerakan itu merupakan gerakan tangguh yang amat sulit ditembus. Itulah jurus ketiga puluh dari rangkaian jurus 'Memapak Petir Membabi Buta'.

Entah bagaimana jurus-jurus yang tercipta di Lembah Kutukan masih melekat kuat dalam otaknya.

Padahal buat Andika sendiri, seperti asal gerak saja.

Bisa jadi setiap jurus ciptaannya sudah begitu menyatu dalam dirinya, sehingga kelumpuhan ingatan yang dialami tak sedikit pun mempengaruhi jurus-jurusnya.

Melihat jurus-jurus Andika, Atma Sungsang jadi tercekat. Tak mungkin seorang berkepandaian tanggung dapat melakukannya. Bahkan Kebo Ireng yang berkepadaian lebih tinggi dari dirinya pun, tidak bakalan mampu.

Dan tiba-tiba saja, Atma Sungsang menyadari kalau dirinya tengah berhadapan dengan tokoh kelas atas dunia persilatan. Padahal, dirinya sendiri? Hanya bajingan tengik yang masih perlu mencari guru

Tanpa disadari, kaki Atma Sungsang tersurut dua langkah. Pada saat itu pula dia ingat desas-desus tentang seorang pendekar kalangan atas yang mampu melakukan gerakan secepat kerjapan kilat.

“Pendekar Slebor...,” desah Atma Sungsang cukup keras bersama wajahnya yang memucat.

Tak lama kemudian, Atma Sungsang berbalik, lantas mengambil langkah seribu. Dia berlarian menuju jendela besar penginapan. Dan langsung diterjangnya jendela agar bisa cepat tiba di luar.

Sementara, Kebo Ireng dan Jarjaran telah menyusut di sudut meja penerimaan tamu yang sudah berlubang pada bagian tengahnya. Sama seperti Atma Sungsang, mereka pun teringat pada kebesaran nama Pendekar Slebor. Mendengar nama besar itu, nyali mereka langsung menciut.

“Loh? Den Gemuk tadi ke mana?” tanya Andika dengan wajah bingung ketika gerakannya berhenti perlahan-lahan.

Pendekar Slebor jadi celingukan ke sana kemari, mencari-cari lawannya tadi.

“Wah, Den Gemuk.... Rupanya dia lupa kalau pintu keluar ada di belakang sana,” gumam Andika saat matanya menemukan jendela besar di sudut timur porak poranda.

“Pemuda tak tahu diri Jadi selama ini kau hanya mau mempermainkan aku, ya?”

Tiba-tiba terdengar bentakan seorang wanita di belakang Pendekar Slebor.

Andika cepat menoleh. Rupanya, Ratna Kumala sedang menghampirinya dengan wajah garang.

Tangan lentiknya bahkan menuding-nuding kasar.

“Ada apa, Ratna?” tanya Andika heran.

Pemuda itu bingung, tahu-tahu wanita jelita yang dikenalnya beberapa hari ini membentak-bentak tak karuan.

“Kenapa? Jangan berpura-pura lagi padaku Apa kau pikir telingaku tuli? Aku dengar ucapan lelaki bajingan tadi” dengus Ratna Kumala.

“Ucapan apa?”

“Apa?” mata Ratna Kumala mendelik sejadi-jadinya. “Lelaki tadi mengatakan kalau kau adalah Pendekar Slebor, yang sakti dan suka menipu wanita”

“Siapa Pendekar Slebor?” tanya Andika lagi, benar-benar menjengkelkan Ratna Kumala.

“Siapa? Ya, kau Kau telah berpura-pura tolol untuk mempermainkan aku. Kau mencoba mem- perolok-olok aku, heh. Kau... penipu”

Andika melongo. Tangannya menggaruk-garuk kepala.

“Mulai sekarang, jangan pernah dekati aku lagi.

Anggap saja aku tak pernah menolongmu. Dan, aku tak pernah kenal padamu Apa dikira aku akan memelas padamu agar aku tetap dekat padamu?

O.... Terima kasih, Pendekar Muda...,” cecar Ratna Kumala lagi.

Andika makin melongo seperti sapi ompong.

“Ratna, tunggu” tahan Andika ketika Ratna Kumala berbalik pergi.

Langkah gadis itu terbanting-banting keras di lantai penginapan. Tampaknya hatinya begitu kesal dengan pemuda ganteng di belakangnya.

“Ratna”

Terdengar panggilan sekali lagi. Tapi, kali ini bukan berasal dari mulut Andika.

*** 6

“Tak patut kau bersikap seperti itu pada pendekar terhormat seperti dia”

Terdengar kembali suara lelaki dari arah tangga.

Suaranya terdengar berwibawa. Dan dari nadanya, terkesan kalau lelaki itu kenal baik pada Ratna.

Sesaat Ratna terdiam di tempat. Kemudian tubuhnya berbalik. Wajahnya tampak terlihat jengkel ber-campur gembira.

“O, jadi kau menginap di tempat ini rupanya, Kakang Rudapaksa?” ucap gadis itu seraya memandang lelaki di tangga penginapan.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ratna Kau harus minta maaf pada Pendekar Slebor,” ujar lelaki berjubah biru tua bernada memerintah. Wajahnya yang tampan menawan, dihiasi sebaris kumis tipis memperlihatkan kesungguhan. Dan dia memang Rudapaksa.

“Mana Kakang Rudapaksi?” tanya Ratna Kumala, mencoba mengalihkan pembicaraan lagi.

Ratna Kumala dan Rudapaksa memang satu

perguruan. Begitu juga Rudapaksi. Mereka adalah murid-murid terbaik Ki Kenaka, guru besar Perguruan Topan Utara.

“Rupanya kau tak mendengarku, ya? Kuperingatkan, kau harus minta maaf pada pendekar itu”

hardik Rudapaksa.

Dihardik seperti itu, wajah Ratna Kumala jadi memerah. Perlakuan kakak seperguruannya sama sekali tidak membuatnya untuk segera meminta maaf pada Andika. Malah hatinya bertambah kesal. Sambil menggerutu, tubuhnya berbalik kembali ke arah pintu.

“Biar namanya selebar jagad sekalipun, aku tak sudi meminta maaf padanya” dengus gadis itu seraya melangkah pergi.

“Ratna”

Rudapaksa berusaha menahannya. Tapi, Ratna Kumala sudah menghilang di sisi pintu keluar. Dan ini membuat Rudapaksa menggeleng-geleng kepala.

“Dasar anak keras kepala,” rutuk pemuda itu perlahan.

Rudapaksa lalu berbalik menghadap Pendekar Slebor. Dihampirinya pendekar muda yang sudah kondang namanya ini.

“Maafkan adik seperguruanku itu, Tuan

Pendekar,” ucap pemuda itu.

Sementara pendekar muda yang ditegur masih berdiri terpaku menatap pintu keluar, tempat Ratna Kumala menghilang.

“Tuan Pendekar,” sapa Rudapaksa sekali lagi.

“Eh, apa? Tuan berbicara denganku?” tanya Andika, setelah tersadar dari keterpakuannya.

“Ya,” jawab Rudapaksa seraya tersenyum. “Maafkan adik seperguruanku tadi.”

“Tak apa-apa,” jawab Andika singkat, kemudian berbalik. Sebentar saja dia sudah meninggalkan penginapan untuk menyusul Ratna Kumala.

***

Malam turun merambah di Desa Ambangan. Bulan sabit tampak mengambang hening di angkasa berawan tipis. Satwa malam mulai memperdengarkan senandungnya di sela-sela kegelapan.

Di atas sebatang pohon meranti yang tumbang di pinggir jalan setapak, Ratna Kumala membisu.

Matanya memandang lurus pada kepingan rembulan pucat di atas sana. Pikirannya sendiri mengembara pada kejadian beberapa hari lalu, saat menolong Andika di Danau Panca Warna.

Sewaktu tubuh pemuda tampan itu diangkat dari dinginnya air danau, entah kenapa Ratna Kumala menatapnya lama-lama. Ada semacam keter-pesonaan yang sulit dijabarkan kata-kata, ketika mendapati gurat-gurat ketampanan wajah Andika. Garis dan lekuk wajah itu membuat hatinya bergetar halus.

Dia sendiri tak mengerti, perasaan macam apa itu.

Dan ketika hari-hari dilalui bersama pemuda itu, perasaan yang menyeruak saat pertama kalinya menatap tidak juga pupus. Hari memang terus berlalu. Tapi, getaran itu malah kian menguat men-cengkeram rongga batin Ratna Kumala.

“Kenapa dengan diriku ini?” desah batin gadis itu.

Baru pertama kali ini dia menemukan gejolak aneh saat bertemu seorang pemuda. Apakah ini cinta buta? Atau sekadar kekaguman? Tanpa disadari, kepalanya menggeleng-geleng perlahan-lahan. Dia tidak bisa mengatakan kalau itu hanya sekadar rasa kagum.

Kalau hanya kagum, kenapa Ratna Kumala harus merasa kecewa tatkala dibohongi Andika? Apakah ini pertanda kekhawatirannya jika harus kehilangan, setelah diketahui kalau pemuda itu adalah Pendekar Slebor? Apalagi, seorang pendekar adalah milik semua orang lemah, bukan milik dirinya.

“Apa mungkin aku telah jatuh hati padamu, sementara namamu pun belum sempat kuketahui?” bisik Ratna Kumala perlahan.

“Ratna....”

Lamunan Ratna Kumala buyar seketika, begitu terdengar suara halus di belakangnya. Cepat kepalanya menoleh ke asal suara tadi. Ternyata Andika sudah berdiri di sana dengan mata lekat menatapnya. Seketika wajah Ratna Kumala bersemu.

Tanpa diduga pemuda yang sedang mengisi benaknya tiba-tiba berada di belakangnya.

“Kenapa kau dekati aku lagi? Bukankah sudah kukatakan, jangan coba....”

“Ratna...,” sela Andika. “Kalau kau marah karena kesalahanku, maafkanlah. Tapi bisakah kau jelaskan padaku, apa salahku?”

Ratna Kumala tak menyahut, tapi diam dalam seribu bahasa.

“Apa kau tak merasa telah mempermainkanku?”

tanya Ratna Kumala akhirnya, setelah cukup lama berdiam diri.

“Mempermainkanmu bagaimana?” tanya Andika tak mengerti.

“Kau tak pernah mengatakan padaku kalau dirimu adalalah Pendekar Slebor,” sahut Ratna Kumala tanpa menoleh.

Kali ini Andika yang membisu. Matanya menancap lurus ke rerumputan berembun.

“Aku sendiri tak tahu, apakah aku adalah orang yang kau sebutkan tadi,” balas Andika, nyaris men-desah.

“Kau mulai berpura-pura lagi padaku,” ujar Ratna Kumala kesal.

Andika menarik napas dalam-dalam.

“Ratna pandangah aku,” pinta Andika penuh harap. Ratna Kumala tak mempedulikan.

“Ratna...,” ulang Andika sambil menatap punggung Ratna Kumala.

Pemuda itu melangkah dan langsung memegang bahu gadis muda yang berusia sebaya dengannya.

Lalu, perlahan diputarnya tubuh Ratna Kumala agar menghadap dirinya.

“Lihallah aku. Rat. Tatap mataku. Apakah aku terlihat berpura-pura padamu?” sangkal Andika lembut. Matanya terarah tepat di manik mata indah gadis berambut pendek di depannya

Sementara, Ratna Kumala sledikit pun tak sanggup membalas tatapan Iembut itu. Entah kenapa, wajahnya kini terasa hangat. Itu sebabnya, wajahnya tak mau diperlihatkan. Dia khawatir perubahan wajahnya diketahui Andika.

Sesaat kemudian Andika melepas pegangannya pada bahu Ratna Kumala, lalu berbalik. Kini, dihadapinya temaram cahaya rembulan yang menyapu wajah jantannya.

“Percayalah padaku, Rat. Aku tak pernah bermaksud membohongimu. Apalagi, mempermainkanmu. Ingatanku benar-benar lenyap begitu saja. Aku tak tahu, kenapa tiba-tiba berada di gubuk tepi danau itu. Dan aku juga tak tahu, kalau kau menyelamatkan-ku. Kini bahkan aku tidak tahu siapa diriku, dan siapa namaku,” tutur Andika di sela-sela desau angin yang bertiup dan suara jangkrik.

Keduanya kini terdiam. Mereka berdiri saling membelakangi, sibuk dengan isi benak masing-masing.

Entah, apa yang saat ini tengah mereka pikirkan.

Hanya mereka yang tahu.

Sekian lama sunyi.... “Maafkan aku.... Aku telah menuduhmu yang tidak-tidak,” akhirnya Ratna Kumala membuka suara, walau hampir berbisik dengan kepala tertunduk.

“Aku bisa maklum. Kesalahan memang bagian dari diri kita.”

Ratna Kumala tergugu. Segera direnunginya kata-kata bijak dari hati arif seorang pemuda tampan di dekatnya.

***

Hari bergulir tanpa kenal letih. Dan waktu jualah yang mengakrabkan Ratna Kumala dan Andika. Nama Andika yang masih belum diketahui Ratna Kumala, kini sudah tidak menjadi persoalan. Dan Andika sendiri bersedia dipanggil apa saja oleh Ratna Kumala, berhubung dia sendiri lupa pada namanya.

Akhirnya, Ratna Kumala memutuskan untuk

memanggil dengan sebutan Slebor.

Hari-hari dilalui Andika di gubuk, di tepi Danau Panca Warna. Di sini, dia mencoba mengembalikan semua ingatannya. Meski tetap sulit. Tapi terus berusaha. Di samping karena sifat kepala batu yang membuatnya tak mudah menyerah, juga karena Ratna Kumala pun terus mendorong semangatnya.

Di kala senggang, Ratna Kumala bercerita kalau dirinya adalah adik seperguruan Rudapaksa dan Rudapaksi. Beberapa bulan lalu, guru mereka memberi tugas penting pada kedua kakak seperguruannya. Ratna Kumala yang tak dipilih untuk menjalankan tugas, tentu saja menjadi iri. Apalagi dia pun salah satu murid terbaik Ki Kenaka, Ketua Perguruan Topan Utara. Menurutnya, gurunya pilih kasih pada murid lelaki. Lalu karena kesal, diputuskan untuk pergi dari perguruan tanpa pamit pada Ki Kenaka.

Tujuannya tentu saja hendak ikut menjalankan tugas bersama Rudapaksa dan Rudapaksi. Tapi hingga sejauh itu, kedua kakak seperguruannya malah menyuruhnya pulang ke perguruan.

“Itu sebabnya aku pergi ke tepi danau ini, untuk melepas kejengkelanku pada malam kau terapung,”

jelas Ratna Kumala, mengakhiri ceritanya.

Tapi baru saja Ratna Kumala bercerita.....

“Aaa...”

Tiba-tiba teriakan menyayat hati terdengar. Andika terkesiap. Sama halnya Ratna Kumala. Seketika mereka saling bertatapan, seakan tidak mempercayai apa yang didengar barusan. Dan belum lagi keduanya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi, sudah terdengar lagi satu teriakan membahana.

“Huaaa”

Kali ini mereka tak menunggu lebih lama. Andika segera menggenjot tubuhnya. Langsung melesat bagaikan kilat menuju arah datangnya suara. Sedangkan Ratna Kumala menyusul di belakangnya. Meski agak jauh tertinggal karena ilmu lari cepat Andika jauh di atasnya, Ratna Kumala berusaha untuk terus mengikuti.

Tak lama, Andika sudah menghentikan larinya, dan langsung berdiri mematung sambil menatap sesuatu di tanah.

“Apa yang terjadi, Slebor?” tanya Ratna Kumala setelah kakinya menjejak di belakang Andika.

Andika tak segera menjawab, karena tahu Ratna Kumala akan segera menyaksikan apa yang dilihatnya.

Di tanah berumput yang tak jauh dari danau, tampak tergeletak bermandikan darah dua mayat yang amat dikenal Ratna Kumala. Masing-masing di kening mayat itu terdapat lubang sebesar ibu jari.

Sedangkan di tubuh dan pakaian terdapat sayatan kasar.

“Kakang Rudapaksa.... Kakang Rudapaksi,” desis Ratna Kumala.

Nyaris gadis itu menjerit, saat mengenali kedua mayat yang terbujur kaku di depannya. Kejengkelan terhadap kedua kakak seperguruannya memang timbul belakangan ini. Namun tak urung perasaannya seperti tercabik-cabik mendapati kenyataan itu. Biar bagaimanapun, mereka tetap kakak seperguruan yang dicintainya.

“Bedebah keji Siapa yang telah melakukan ini?”

dengus gadis itu dengan mata mencari-cari jalang. Di bawah kelopak matanya yang berbulu lentik tampak menggenang segaris air mata.

Dengan lembut Andika memegang kedua pangkal lengan Ratna Kumala. Lalu, dibangunkannya gadis itu dari bersimpuhnya.

“Aku turut menyesal atas kejadian ini, Rat,” ucap pemuda itu perlahan

Tatkala Ratna kumala membenamkan wajah di dada bidang Andika untuk melepas kesedihannya, tiba-tiba saja....

“Serbuuu”

Bagai aliran air bah, diiringi teriakan menggelegar sepasukan berseragam merah mendadak menyerbu Andika dan Ratna Kumala. Pasukan yang berjumlah puluhan orang itu mengenakan penutup kepala merah berlipat ke belakang. Di bagian lengan baju mereka yang memanjang hingga ke lutut, terdapat tulisan Tiongkok berbentuk elang. Celana mereka yang juga berwarna merah, tertutup sepatu panjang di bagian betis.

Entah, bagaimana cara mereka bersembunyi di dalam semak dan pepohonan. Sampai-sampai pen-dengaran Andika yang terlatih, tidak bisa menangkap desah napas mereka sedikit pun. Dari cara melompat, Andika tahu kalau mereka adalah pendekar-pendekar Tiongkok berkepandaian tinggi.

“Pasukan Tiongkok dari mana ini?” tanya Ratna Kumala garang.

Benak gadis itu langsung bisa menduga kalau para pengepungnya adalah yang menghabisi nyawa dua saudara seperguruannya.

“Sudah pasti dari negeri Tiongkok,” sahut Andika setengah berkelakar. Namun demikian, matanya tetap bergerak waspada. “Yang pasti pula, mereka berniat merencah kita berdua.”

Ucapan Andika barusan sepertinya tidak meleset.

Setelah memutari Andika dan Ratna Kumala beberapa lama, puluhan lelaki bermata sipit itu berhamburan dalam terjangan dahsyat.

“Hiaaa”

Mulut Andika seketika berteriak menggelegar.

Berbareng dengan itu, tubuhnya cepat melenting ke udara sambil menyambar pinggang Ratna Kumala.

Tapi lompatan Pendekar Slebor tidak dibiarkan pasukan dari Tiongkok itu. Dengan sigap, para penyerbu bersenjatakan tombak itu mengangkat senjata ke atas. Lalu dengan serentak tombak itu ditusukkan ke tubuh Andika dan Ratna Kumala yang melayang di udara.

Andika tentu saja tak membiarkan tubuhnya dicabik-cabik puluhan tombak. Maka tanpa sempat tertangkap mata pasukan itu, tangan kirinya yang masih bebas menyambar kain bercorak catur dari pundak dan langsung dikebutkannya.

Bet Bet

Trak Trak

Puluhan tombak setajam taring-taring serigala seketika tersambar Kain Pusaka Pendekar Slebor, hingga berbenturan satu dengan yang lain. Sebagian malah ada yang tersasar ke tubuh kawan mereka sendiri. Tapi karena pasukan dari Tiongkok ini memiliki kepandaian tinggi, maka tombak yang tersasar itu dapat segera dikuasai dengan baik.

Sementara Pendekar Slebor langsung melenting tinggi-tinggi, sambil berputaran di udara.

“Sial” maki Andika, begitu hinggap di sebuah batang pohon besar. “Mereka rupanya tidak sudi mengongkosi kawan sendiri ke neraka.”

Belum sempat Andika bernapas lega, empat orang Tiongkok ini serempak menyusul ke dahan pohon.

Setelah berputar di udara beberapa kali, dua orang menjejakkan kaki disisi Andika dan Ratna Kumala.

Sedangkan, dua orang lain hinggap di dahan yang berhadapan.

“Haiii”

Seorang di sisi kiri Andika mengayunkan pangkal tombak ke kepala Andika dengan tenaga dalam tinggi. Sehingga, tombaknya menciptakan angin yang menderu kencang.

Wesss

“Hih”

Tanpa menemui kesulitan, Pendekar Slebor melecutkan kain pusaka di tangan kirinya. Cletar

Krak

Pangkal tombak lawan langsung terpatah dua.

Sementara itu, Ratna Kumala yang berada dalam rangkulan Andika harus menghadapi lawan di sisinya. Gadis yang memiliki sifat keras kepala ini ternyata cukup mampu mengimbangi setiap serangan.

Kini dua orang lawan di depan tak mau tinggal diam. Mereka segera memutar tombak masing-masing, bersiap memperkuat serangan.

“Hih”

Salah seorang menghentikan putaran tombak secara mendadak. Lalu tiba-tiba tombaknya ditusukkan ke dada Pendekar Slebor dengan tenaga penuh.

Menurut perkiraannya, dia akan segera menamatkan pendekar muda itu di ujung senjatanya. Tapi, dugaan-nya meleset sama sekali. Justru dari sini Pendekar Slebor bisa melihat kesempatan bagus.

“Bhaaa”

Dengan satu gerakan tak terduga, Andika melesat ke arah salah seorang lawan yang kehilangan tombak, dan sedang melepaskan pukulan. Secepat kilat, ditariknya tangan orang itu ke arahnya.

Sehingga....

Jep

“Aaa”

Tombak lawan di depan yang tertuju pada Andika, kontan menembus pinggang orang yang tangannya ditarik untuk dijadikan tameng.

“Wah Tega nian kau membunuh kawan sendiri,”

seloroh Pendekar Slebor. “Lain kali, lebih baik meminta izin dulu pada kawanmu itu.”

Andika langsung menggejot tubuhnya, hingga melayang kembali di udara bersama Ratna Kumala dalam rangkulannya. Kedua tubuh itu menyeruak daun pepohonan, hingga merontokkan yang kering.

Pada pucuk satu pohon, Pendekar Slebor menjejak. Kemudian tubuhnya digenjot kembali. Tubuhnya melesat dari satu pucuk ke pucuk pohon lain dengan kecepatan angin. Sampai akhirnya, pasukan dari Tiongkok itu hanya bisa menggerutu kesal ketika tubuh mereka lenyap.

*** 7

Dua hari setelah terbunuhnya Rudapaksa dan Rudapaksi, Danau Panca Warna didatangi ratusan tokoh persilatan dari seluruh penjuru baik secara perorangan, maupun perkelompok.

Sedikit demi sedikit, mereka telah berkumpul di sekitar Danau Panca Warna membentuk lingkaran yang kian membesar. Entah siapa yang memberi petunjuk, yang jelas mereka berkumpul serempak setelah memastikan tentang benda pusaka di dasar Danau Panca Warna dari penduduk desa tempat mereka menginap.

Dalam beragam pakaian dan senjata, seluruh tokoh itu menatap tegang ke permukaan air danau.

Sesekali mata mereka melirik waspada satu dengan yang lain. Sikap curiga seperti itu terutama diperlihatkan orang-orang pada barisan terdepan. Mereka umumnya adalah tokoh-tokoh golongan sesat yang begitu berhasrat untuk menguasai benda pusaka di dasar Danau Panca Warna ini.

Sementara, para pendekar aliran putih lebih suka mengambil tempat yang agak jauh dari tepi danau.

Tujuan mereka memang bukan hendak menguasai-nya, tapi hendak menyelamatkan. Mereka takut, pusaka yang hendak diperebutkan itu bakal jatuh ke tangan para durjana.

Di beberapa tempat lain yang terbilang jauh dari danau, beberapa orang tampak berkerumun untuk menyaksikan peristiwa hebat yang tampaknya akan segera meletus. Dari sekian banyak tokoh, beberapa orang tampak menonjol. Di antaranya adalah lelaki berpenampilan menggetarkan hati. Tubuhnya yang gempal dan tinggi ditutup pakaian padri berwarna putih. Pakaiannya pun masih digabung kain hitam bertotol putih berbentuk jubah yang menutupi dari bahu kiri ke pinggang kanan. Orang persilatan mengenalnya sebagai si Padri Sesat. Padahal, nama aslinya adalah Kudungga.

Sebagaimana seorang padri, kepala Kudungga gundul dengan beberapa titik hitam di ubun-ubunnya.

Kesan menyeramkan tergambar di wajah yang ditumbuhi brewok lebat dan kasar. Sedangkan matanya yang bulat tajam, dihiasi alis hitam tebal. Dia tak tampak membawa senjata, kecuali tasbih berbiji sebesar buah duku di tangan kanannya yang kekar berbulu.

Sementara di sebelah timur danau, tampak lelaki tua berwajah culas. Kumis dan janggut putihnya tergerai tipis, hingga ke dadanya yang cekung.

Rambutnya juga sudah berwarna putih. Tanpa alis, matanya terlihat tajam. Dia mengenakan celana pangsi hitam. Dadanya yang kurus tak ditutupi apa-apa.

Bibir lelaki tua itu terus menyeringai kejam.

Sementara, kedua tangannya menepuk-nepuk kecapi kayu. Orang persilatan mengenalnya sebagai Dedengkot Iblis. Sedangkan nama aslinya sendiri tak pernah diketahui.

Di sebelah selatan danau, berdiri mematung seorang lelaki berpenampilan perlente yang dikenal bernama Lodaya Burang. Namun dia lebih dikenal sebagai Kumbang Bengis Dari Timur. Sesuai namanya, dia memang gemar memetik 'bunga' desa yang tak berdosa. Sifatnya kejam. Itu terlihat dari wajahnya yang begitu dingin. Rambutnya tersisir rapi dan berminyak. Wajahnya masih terlihat tampan, meski telah disemaraki kerutan. Lelaki gagah itu berpakaian seorang bangsawan dengan kancing dan berantai emas. Celana panjang hitamnya ditutupi kain batik sebatas lutut.

Ketiga lelaki itu memang tokoh kelas atas golongan sesat yang amat ditakuti di tanah Jawa Dwipa.

Sementara, jauh di lereng bukit yang memagari danau, Andika dan Ratna Kumala sedang memperhatikan seluruh tokoh persilatan itu. Keduanya bersembunyi di balik sebongkah batu sebesar kerbau.

“Aku tak mengerti, kenapa mereka berkumpul seperti orang yang hendak nonton pertujukan ludruk?” tanya Andika. Ingatannya yang hilang membuatnya melupakan benda pusaka di dasar danau yang menyebabkan dirinya sampai menjadi pikun seperti sekarang ini.

“Apa kau belum mendengar berita santer itu?”

tanya Ratna Kumala agak heran karena tokoh kelas satu seperti Andika bisa luput dari desas-desus tersebut.

“Aku tak tahu,” jawab Andika sambil melirik Ratna.

“O, iya,” sergah Ratna Kumala cepat-cepat.

Kepalanya mengangguk-angguk. “Aku lupa kalau kau kehilangan ingatan.”

“Kehilangan ingatan? Apa kau menganggapku gila? Sinting? Sableng?” cecar Andika, tak senang mendengar ucapan Ratna Kumala.

“Ei, ei Tentu saja kau tidak gila. Maksudku, kau mengalami....”

“Ya Aku sudah tahu,” potong Andika bersungut- sungut.

Melihat tingkah pemuda di sisinya barusan, Ratna Kumala jadi tersenyum-senyum kecil.

“Kenapa?” tanya Andika. Matanya membesar pada Ratna Kumala.

“Sebenarnya sulit mengatakan kalau kau tidak sinting. Sebab, tingkahmu lebih ngaco dibandingkan orang sinting.”

Usai berkata begitu. Ratna Kumala tertawa tertahan. Tangannya lantas menutup bibirnya yang merah ranum.

“Sialan” maki Andika.

Ratna Kumala terus tertawa.

“Sudah... sudah Kau ingin meledekku terus, atau ingin menceritakan kenapa mereka berkumpul di danau itu?” sergah Andika.

“Baik..., baik,” ucap Ratna Kumala sambil menghentikan tawa. “Apa kau masih ingat ketika kita singgah di Desa Ambangan untuk mencari makanan mentah?”

“Tentu saja ingat. Kau pikir, aku pikun?” selak Andika cepat.

Setelah itu, Andika jadi tersenyum-senyum malu setelah sadar kalau dirinya saat ini memang pikun minta ampun.

Setelah tersenyum sejenak, Ratna Kumala

meneruskan ucapan.

“Waktu itu, aku dengar dari percakapan orang di kedai kalau di dasar Danau Panca Warna ada benda sakti yang jatuh dari langit. Mereka menyebutnya Pusaka Langit....”

“Benda sakti? Pusaka Langit?” bisik Andika, tanpa maksud bertanya.

Samar-samar benak Andika dilintasi bayangan kejadian yang dialami di dasar Danau Panca Warna beberapa waktu lalu. Tentang pasir danau, tentang cahaya merah bara menyilaukan, dan tentang pusaran air. Setelah itu, semuanya seperti sirna kembali dari kepalanya.

“Andika” sapa Ratna Kumala perlahan.

Andika tersadar. Kepalanya lantas menoleh pada Ratna Kumala.

“Siapa Andika?” tanya pemuda itu bodoh.

Ratna Kumala tersenyum kembali. Kali ini tersimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Dan senyumnya pun menyimpan makna khusus.

“Ya, kau...,” jawab Ratna Kumala agak tersipu, ketika mata elang Andika memergoki pandangan hangatnya.

“Aku? Jadi, namaku Andika? Dari mana kau tahu?”

tanya Andika heran.

“Aku..., aku, akh Apa itu penting?”

“Terserahmu. Apa kau anggap itu penting?” Andika malah balik bertanya.

“Ng..., aku ke Desa Ambangan kemarin. Di sana, kucoba mengorek keterangan tentang dirimu. Termasuk, namamu dari beberapa orang persilatan....”

“Apa? Hanya untuk itu kau singgah ke sana? Apa kau sinting? Mestinya kau tahu, itu akan membahayakan dirimu. Karena, pembunuh kakak seperguruanmu tentu berniat menghabisimu pula” kata Andika panjang lebar.

Wajah Ratna Kumala dalam sekejap berubah memerah. Matanya pun berkilat-kilat kesal.

“Kau memang tak tahu berterima kasih. Belum lagi berterima kasih karena telah kuselamatkan, kini malah membentak-bentakku karena telah berusaha menolongmu, agar kau ingat pada dirimu sendiri,” sungut Ratna Kumala seraya membuang wajah kesisi lain.

“Baik Terima kasih.... Terima kasih banyak

Cukup? Tapi, tetap saja aku tak setuju dengan tindakanmu ke desa itu Toh, aku akan ingat kembali pada namaku suatu saat. Aku yakin itu” ucap Andika.

“Tapi, aku tak suka memanggilmu dengan sebutan Slebor” bentak Ratna Kumala di depan hidung Andika.

“Kenapa? Aku sendiri tak punya masalah. Lantas kenapa tiba-tiba kau yang mesti tak suka? Kenapa, Ratna?” desak Andika.

Ratna Kumala mati kutu. Kenapa? Tentu saja gadis itu tak sudi memanggil orang yang telah menawan hatinya dengan sebutan dungu seperti itu.

Tapi alasan itu tentu saja tak dikatakannya, dan hanya disembunyikan di sudut hatinya yang terdalam.

“Ah, sudahlah,” tukas Andika. “Kenapa aku harus meributkan soal itu. Toh kau masih sehat walafiat...”

Ratna Kumala langsung lega, karena Andika tidak mendesaknya. Meskipun hatinya masih agak jengkel.

***

Sementara jauh di bawah sana, para pendatang tampak sudah memulai acara dahsyat yang akan segera terjadi.

“Hari ini kita berkumpul,” kata Lodaya Burang, membuka keheningan. “Dan kita semua tahu, benda sakti yang bersemayam di dasar danau inilah yang mengundang kita semua untuk memilikinya. Tapi, tak mungkin semuanya bisa memilikinya. Yang jelas, harus ada satu orang yang benar-benar menjadi pemilik tunggal Pusaka Langit Dan orang itu harus benar-benar pantas memilikinya Untuk itu, kita harus melakukan pertandingan, agar dapat mengambil Pusaka Langit. Siapa yang paling unggul, dialah yang berhak menyelam ke dasar Danau Panca Warna.”

Semua orang yang mendengar suara Lodaya

Burang termanggut-manggut. Entah menyetujui usul itu, atau tidak. Yang jelas, bagi mereka yang berkepandaian rendah, perlahan-lahan mundur ke belakang, lalu hilang entah ke mana.

“Jika ada yang ingin memulai, kupersilakan menghadapiku. Dengan satu syarat, kita bertaruh nyawa”

tantang Lodaya Burang.

Tampaknya, laki-laki perlente itu benar-benar bernafsu memiliki Pusaka Langit, sehingga lebih dahulu mengajukan tanding.

“Ha ha ha..., Kumbang Perlente Mana ada yang berani menyambut tantanganmu, kecuali aku” tiba-tiba Dedengkot Iblis menyelak disertai tenaga dalam.

Sehingga, permukaan air danau terlihat beriak.

“Ooo Rupanya kau, Tua Bangka. Apa tidak sebaiknya kau memikirkan dirimu yang sudah dekat liang kubur, daripada ikut memperebutkan Pusaka Langit?” ejek Lodaya Burang dengan wajah dingin.

Sebagai tokoh yang sudah bulukan dalam dunia persilatan, Dedengkot Iblis tak terpancing ejekan Lodaya Burang barusan. Dia amat tahu siasat tokoh macam Lodaya Burang yang ingin memancing kemarahannya, agar bertarung tanpa kendali.

“Ah Jangan terlalu banyak basa-basi, Kumbang Bengis dari Timur. Apa kau tak berani menghadapiku, sehingga menyarankan agar aku mundur?” tukas Dedengkot Iblis, balik mengejek.

Lodaya Burang jadi termakan ucapannya sendiri.

Lelaki perlente itu malah terpancing ucapan Dedengkot Iblis. Wajahnya seketika terbakar berang.

“Hhh, Bajingan Tua Mari kita buktikan saja”

bentak laki-laki perlente itu seraya melompat tinggi ke dataran kosong.

Seketika itu pula Dedengkot Iblis menyusul.

Dan tanpa ingin menunggu lebih lama, Kumbang Bengis melancarkan serangan pembuka.

“Khiaaa”

Tapak Maut yang di kalangan persilatan begitu terkenal kejam dari Kumbang Bengis, menerabas deras ke dada Dedengkot Iblis. Angin pukulannya seketika menimbulkan suara menderu-deru.

Deb Wut Wut Deb

Tentu saja Dedengkot Iblis tak mau terhantam begitu saja. Tubuhnya langsung melengos ke kiri dan kanan, bagai gerakan seekor cengcorang. Kemudian, kecapi di kedua tangannya diangkat dengan gerakan menebas ke atas.

Dreng

Bunyi getaran senar kecapi milik laki-laki tua itu terdengar melengking ketika berbenturan dengan tangan Kumbang Bengis. Tenaga dalam tingkat tinggi yang disalurkan pada masing-masing tangan mereka, membuat lengkingan tali senar kecapi Dedengkot Iblis mampu memecahkan gendang telinga orang yang berilmu cekak. Terbukti, beberapa orang yang berada di sekitar arena pertarungan berjatuhan sambil mendekap telinga masing-masing.

Kini Dedengkot Iblis balas menyerang. Kecapinya diayunkan ke samping, terarah pada rusuk sebelah kiri Kumbang Bengis. Namun laki-laki perlente itu mengetahui ancaman yang datang ke arahnya.

Segera kakinya diangkat berbarengan dengan gerakan tubuhnya ke belakang. Dreng

Sekali lagi, bunyi melengking terdengar ketika lutut Kumbang bengis bertumbukan dengan sisi kecapi Dedengkot Iblis.

“Hiaaat”

Berbareng satu teriakan garang, tubuh Dedengkot Iblis langsung berputar cepat. Kaki kanannya terbentang tinggi, bermaksud memecahkan kepala Kumbang Bengis dengan satu sapuan dahsyat.

Namun, mata jeli Kumbang Bengis masih mampu menangkap gerakan kilat Dedengkot Iblis. Segera dia menjatuhkan diri ke tanah berumput searah dengan sapuan kaki Dedengkot Iblis. Setelah itu tubuhnya bergulingan, tangannya menghentak tanah untuk kemudian bergegas bangkit.

Kumbang Bengis menjejakkan kakinya, sepuluh tombak di depan Dedengkot Iblis. Tak ada sekerdip mata setelah menyentuh tanah, dia sudah mempersiapkan kuda-kuda kembali.

“Jurus-jurusmu rupanya masih cukup bagus, meski semakin peot, Tua Bangka” ledek Lodaya Burang bersama tatapan matanya yang dingin.

“Tak perlu banyak memuji, Mata Keranjang

Karena, hanya aku yang pantas mendapat Pusaka Langit” balas Dedengkot Iblis.

Selesai berkata demikian, lelaki tua sakti itu menerjang Kumbang Bengis.

“Haaat”

“Tunggu” cegah Lodaya Burang tiba-tiba.

Dedengkot Iblis sebenarnya tak mengerti, kenapa Lodaya Burang mendadak menahan serangannya. Di kalangan tokoh kelas satu, pantang untuk menghentikan pertarungan jika belum ada yang tewas.

Namun begitu, Dedengkot Iblis cepat menghentikan juga terjangannya.

“Ada seseorang yang hendak berbuat

kecurangan” kata Lodaya Burang seraya menunjuk ke seberang danau yang dibatasi bukit cemara.

Di sana, memang terlihat seseorang berpakaian hijau dan bertopeng kain warna hijau pula. Dia tampak sedang bersiap terjun ke Danau Panca Warna.

“Bangsat Pengecut dari mana yang hendak mendahului kita itu?” hardik Dedengkot Iblis geram.

Sementara itu orang di seberang sana telah melompat ke danau.

“Aku tidak ingin didahului” teriak Dedengkot Iblis penuh kemurkaan.

Tanpa mengindahkan Lodaya Burang lagi, dia bergegas menggenjot tubuhnya ke udara. Gerakannya begitu indah di udara. Tubuh lelaki tua itu berputaran dengan tangan terbentang. Sementara kecapinya yang telah ditautkan ke punggung, memperdengarkan bunyi mendesing. Tak lama, Dedengkot Iblis menembus permukaan air danau bagai sebatang tombak. Byur

Tak ada seorang tokoh kelas atas golongan sesat pun yang tidak berhasrat memiliki Pusaka Langit.

Memang, suatu keharusan bagi mereka untuk memiliki benda pusaka apa pun yang sanggup melambungkan nama ke puncak kekuasaan dunia persilatan. Meskipun, itu hanya baru kabar angin dari mulut ke mulut. Lodaya Burang sebagai seorang tokoh kelas atas golongan sesat menyadari benar hal itu. Itu sebabnya, dia tak sudi membiarkan seorang pun mendahuluinya untuk mendapatkan Pusaka Langit. Sesaat setelah Dedengkot Iblis menyelam, dia pun memburu ke arah danau. Byur

Lodaya Burang menyusul ke dalam Danau Panca Warna.

Menyaksikan dua saingannya telah masuk ke dalam danau, Kudungga yang dikenal sebagai si Padri Sesat secepatnya melakukan tindakan sama. Dari tempatnya berdiri, segera kakinya bergerak.

Kehandalan ilmu meringankan tubuhnya, membuat gerakan kaki Kudungga terlihat menjadi puluhan. Dan dalam sekejap, lelaki kasar itu telah tiba pula di bibir danau. Lalu.....

Byur

Tubuh tinggi gempal Kudungga seketika me-nampar permukaan air danau, menciptakan percikan air yang tinggi.

Kini, tiga tokoh sakti aliran sesat telah siap berlaga bertaruh nyawa dalam dinginnya dasar Danau Panca Warna. Ditambah, seseorang yang hendak melakukan kecurangan....

*** 8

Selang beberapa saat, setelah ketiga tokoh kelas satu golongan sesat itu tertelan Danau Panca Warna, permukaan danau menjadi tenang kembali. Hanya tersisa riak kecil yang berkejar-kejaran menuju tepian.

Sementara suasana menjadi sepi. Sedangkan tokoh lain seperti tidak mau bertindak apa-apa. Di antara mereka tak ada yang mau mengantar bahaya untuk ikut menyelam ke danau. Sebagian berpikir, jika mereka ikut masuk ke danau, itu sama artinya mencari mati. Karena, harus menghadapi tiga tokoh kejam Di samping itu mereka juga sudah mendengar bagaimana kekuatan pengaruh Pusaka Langit bagi orang-orang berkepandaian tanggung. Bahkan sebagian yang lain hanya ingin menunggu apa yang akan terjadi. Mereka adalah tokoh-tokoh golongan putih.

Ketegangan menyelimuti diri para tokoh persilatan lain. Hati mereka semua seperti tak henti bertanya, apa yang akan terjadi kemudian. Dan ketegangan pun membuat mereka bagai patung tak bernyawa.

Bahkan rasanya mereka ingin menahan napas saat menanti kejadian berikutnya. Sementara, desau angin yang berjinjit di permukaan air danau, makin mem-bangun suasana mencekam.

Sesaat demi sesaat mereka menanti, namun belum ada tanda-tanda kalau ketiga tokoh sesat dan seorang yang wajahnya tertutup itu akan segera muncul. Padahal, daya tahan pernapasan seseorang sudah mengalami saat-saat amat membahayakan dalam waktu selama itu.

Sampai akhirnya....

Blup Blup Blup...

Mendadak sesosok tubuh muncul ke permukaan danau dalam keadaan mengerikan. Sayatan-sayatan kasar merencah sekitar badan orang itu, hingga pakaiannya terserpih. Di keningnya terdapat lubang sebesar jari. Sementara, air disekitarnya berubah merah. Ternyata, lelaki itu Lodaya Burang

Blup Blup Blup...

Tak lama berikutnya, Dedengkot Iblis menyusul.

Keadaannya juga mengerikan Selanjutnya, giliran si Padri Sesat. Keadaannya pun tak kalah mengerikan dengan dua orang sebelumnya.

Kini seluruh orang yang berada di pinggir danau terperangah. Kelopak mata mereka membesar tegang. Tak pernah ada yang menyangka kalau tiga tokoh aliran sesat itu akan mengalami nasib begitu menggiriskan Keterkejutan tak luput melanda diri Andika dan Ratna Kumala di tempat persembunyian.

Berbeda dengan mereka yang berada di sekitar danau, kedua anak muda itu terkejut karena menyaksikan luka di kening ketiga mayat dari kejauhan.

“Apakah aku tidak salah lihat, Andika?” gumam Ratna Kumala.

“Tampaknya, kita akan segera bertemu pembunuh kedua saudara seperguruanmu...,” tanggap Andika tanpa melepaskan pandangan dari tiga mayat yang terapung di danau.

“Aku tidak mengerti, kenapa bajingan itu membunuh kakak seperguruanku. Dan, kenapa pula mereka membunuh tiga tokoh sakti aliran sesat?”

tanya Ratna Kumala, masih terdengar bergumam. “Aku juga tidak mengerti. Yang pasti, orang itu membunuh bukan karena kurang kerjaan,” tukas Andika seraya bangkit dari duduknya.

“Hendak ke mana kau?” tanya Ranta Kumala cemas.

Andika mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Kau ingin tahu alasan orang itu membunuh kedua kakak seperguruanmu dan tiga orang tokoh sesat itu, atau tidak?”

Kaki Pendekar Slebor melangkah, menuju jalan setapak yang menurun ke arah Danau Panca Warna.

“Apa maksudmu?” tanya Ratna Kumala, seraya ikut bangkit.

“Akan kuringkus orang itu.”

“Aku ikut”

Sepasang alis sayap elang milik Andika merapat.

Tampaknya dia tak begitu suka oleh ucapan terakhir Ratna Kumala. Ditatapnya gadis berambut pendek itu lekat-lekat, dengan kelopak mata agak mengerut.

“Apa kau pikir orang yang akan kuhadapi nanti centeng pasar berkepandaian tanggung? Apa kematian ketiga tokoh aliran sesat itu tidak membuka matamu?” tegas Andika.

Ratna Kumala menaikkan wajahnya tinggi-tinggi.

“Apa kau kira aku takut?” ujarnya agak tersinggung.

“Aku yakin kau tidak akan takut. Karena, kau memang perempuan nekat yang tidak bisa berpikir jernih,” sindir Andika, seraya menaikkan sudut bibir.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak mengerti? Apa otakmu sudah digadai-kan? Ini bukan masalah takut atau tidak, Ratna. Ini masalah hidup-mati. Mengerti?” sambut Andika.

Mata Ratna Kumala membesar sejadi-jadinya. Gadis yang juga keras kepala itu mulai jengkel mendengar ucapan Andika yang terdengar ceplas-ceplos tadi.

“Sudah kubilang, aku tidak takut Apa kau pikir seorang pengecut tidak akan mati? Semua orang pasti akan mati, Andika. Kalau aku mesti mati hari ini di tangan bajingan itu, apa bedanya? Mati toh hanya masalah waktu. Aku bahkan lebih suka mati dalam perjuangan, ketimbang mati penasaran atau mati ketakutan...,” sergah Ratna Kumala panjang.

Andika berdecak jengkel. Tangannya lantas menggaruk-garuk kepala. Dia mati kutu menghadapi gadis jelita satu ini. Dihelanya napas dalam-dalam, mencoba mengenyahkan kedongkolan yang mulai menggelayuti tenggorokan.

“Baiklah,” Andika menyerah. “Tapi kau harus menunggu di tepi danau. Biar aku saja yang menyelam.”

Kini, Ratna Kumala mengangguk puas.

Kemudian, mereka segera turun dengan

mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Maka sebentar saja mereka telah tiba di bibir danau.

Dan tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menatap dan puluhan mulut yang kasak-kusuk melihat kehadirannya, Andika langsung loncat ke dalam Danau Panca Warna.

Byur

Rasa dingin langsung merambah sekujur tubuh Andika. Gelembung-gelembung kecil yang diciptakan sibakan air, menari-nari di sekitar wajahnya. Untuk kedua kalinya, dia akan menyelam ke dalam danau berair bening, namun selalu siap membawa hawa maut.

Sempat pula ingatan pendekar muda itu ber- kelebat tentang kejadian-kejadian yang pernah menimpanya. Terutama saat melakukan penyelaman pertama, hingga menemukan benda sakti yang kini disebut-sebut orang dunia persilatan bernama Pusaka Langit. Sekilas tergambar di kepalanya, bagaimana rasa sesak yang melanda dadanya kala sinar merah bara menyilaukan menyedot dirinya.

Setelah itu, ingatannya pun pupus kembali.

Kejadian yang tersembul sesaat di benaknya, membuat Andika terpaku. Untunglah, dinginnya air danau segera menyadarkannya.

Kini Andika menggerakkan kakinya, mengayuh untuk menyelam ke dasar Danau Panca Warna.

Setelah dasar danau terlihat, penyelaman diteruskan ke sekitarnya. Tumbuhan danau yang menggapai-gapai lemah gemulai, disibakkan dengan kedua tangannya. Perlahan Andika maju. Seluruh kemampuan indra pengelihatannya dikerahkan untuk menebus keremangan dasar danau.

Beberapa saat kemudian, mata Pendekar Slebor menangkap sesosok tubuh berpakaian serba hijau sedang berenang menuju permukaan.

“Akhirnya kau kutemukan juga kunyuk busuk itu”

kutuk hati Andika.

Wrrr

Tanpa menunggu lebih lama, Andika mengirim pukulan jarak jauhnya. Saat telapak tangannya terdorong ke depan, segulungan gelembung udara yang memanjang meluncur ke arah sasaran.

Bentuknya seperti rentangan tambang yang tembus pandang.

Sebenarnya, pantang bagi seorang pendekar seperti Andika melakukan bokongan. Namun, semuanya sudah matang dipertimbangannya. Dia tahu, pukulan jarak jauh akan melemah jika dilakukan dalam air. Di samping itu, orang yang dituju pun cukup jauh dari tempatnya. Kalau pun bokongannya akan mengenai sasaran, pasti tidak akan berakibat parah. Tujuan Andika memang bukan hendak melumpuhkan, melainkan sedikit memberi per-ingatan.

Mendengar bunyi ganjil di belakangnya, orang berpakaian serba hijau itu bergerak siaga. Tangannya cepat mengayuh ke depan, sehingga tubuhnya terdorong cepat ke belakang. Maka pukulan jarak jauh Andika hanya melintas di depan dadanya.

Saat orang berpakaian serba hijau itu berbalik, pada tangan kirinya terlihat kain putih tembus pandang yang didalamnya terdapat batu sebesar kepala bayi, memancarkan sinar merah bara menyilaukan

Hal itu langsung menusuk benak Andika. Secara samar-samar, bayangan kejadian beberapa waktu lalu terbersit kembali. Keningnya berkerut. Andika berusaha mempertahankan bayangan itu. Beberapa saat ia hampir berhasil. Bayangan kejadian berupa cahaya merah bara seperti yang baru saja dilihatnya di tangan orang itu makin menjelas di benaknya.

Sebelum semuanya menjadi benar-benar jelas, tiba-tiba telinganya menangkap suara sumbang menggetarkan.

Wrrr...

Pendekar Slebor terkesiap. Secepatnya disadari kalau sosok berpakaian serba hijau itu telah melakuan serangan balik berupa pukulan jarak jauh kini mengancam.

“Arrrgkh”

Andika berteriak keras seraya berputaran di dalam air. Suaranya yang disertai gelembung udara terdengar aneh dan menyeramkan. Teriakannya membuat Andika mampu menghindari terjangan tenaga pukulan yang jauh lebih dahsyat dari pukulannya.

“Gila Pukulan macam apa itu?” Serapahnya dalam hati.

Nyaris Pendekar Slebor tak mempercayai kejadian di depan matanya tadi. Bagaimana mungkin orang itu bisa mengirimkan pukulan yang mampu menciptakan pusaran sebesar kerbau di sekitar tubuhnya?

Ketika mata elangnya tertumbuk kembali pada batu merah bara di tangan orang itu, Pendekar Slebor langsung teringat pada cerita Ratna Kumala tentang benda pusaka dari langit.... Pusaka Langit

Hanya ada satu dugaan di kepala Andika saat itu.

Dia yakin, benda pusaka itulah yang telah memperkuat tenaga pukulan orang. Jadi, Pusaka Langit benar-benar nyata dan bukan bualan belaka orang-orang persilatan

Memang pantas jika hati Andika berkata seperti itu. Karena, dia tidak lagi ingat tentang kehebohan Pusaka Langit, sampai Ratna Kumala menceritakan semuanya. Padahal sebelumnya, dia tidak mempercayai. Meskipun, beberapa kali bayangan kejadian berapa waktu lalu terbersit samar dalam ingatannya.

Kalau di dalam air saja benda itu mampu melipatgandakan kekuatan seseorang, apa lagi jika di daratan? Tentu orang yang memilikinya akan mampu membelah gunung karang

Menyadari bahaya yang akan mengancam dunia persilatan bila benda pusaka itu berada di tangan orang sebengis lelaki berbaju hijau, Andika memutuskan untuk menghadapinya habis-habisan.

Dia tak mau sungkan-sungkan lagi melepas pukulan pamungkasnya sekalipun. Maka tangannya cepat bergerak dari depan dada, membentang ke samping dengan telapak terbuka lebar. Perlahan sepasang tangan pendekar muda itu terangkat, lalu kembali ke depan dada. Setelah menyatukan kedua telapak tangan, matanya terpejam. Sesaat berikutnya....

Wrrr...

Satu pukulan jarak jauh yang lebih kuat

dilancarkan Pendekar Slebor. Seperti serangan sebelumnya, pukulannya kali ini pun menimbulkan gelembung-gelembung udara memanjang yang terbentang ke arah orang berbaju serba hijau itu.

Bedanya, kali ini gelembung-gelembung udara itu lebih besar dan bergerak berputar di sekitar tenaga pukulannya.

Orang berbaju serba hijau yang menyaksikan pukulan Pendekar Slebor berniat mementahkannya.

Bahkan sekaligus menguji keampuhan Pusaka Langit yang terbungkus kain putih tembus pandang di tangannya.

Bersamaan tindakan itu, Andika segera merang-seknya. Seketika sepasang kaki dan tangannya dikayuh sekuat tenaga. Maka pengerahan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan membuat tubuhnya meluncur bagai seekor hiu memburu mangsa.

Di pihak lain, orang berpakaian serba hijau juga melakukan hal yang luar biasa. Pukulan sakti Pendekar Slebor yang bisa meremuk redamkan bongkahan karang sebesar kerbau, ternyata dapat dibelokkan ke arah lain dengan sabetan kain berisi Pusaka Langit

Pendekar Slebor tentu saja dibuat tersentak melihat kenyataan di depan matanya barusan. Tapi karena tubuhnya sudah telanjur meluncur deras ke arah lawan, tidak dipedulikan lagi kekuatan maha dahsyat dalam Pusaka Langit. Yang ada dalam kepalanya hanya tekad untuk merebut pusaka itu agar dapat diamankan dari tangan keji.

Wrrr...

Dalam terjangannya, tangan Pendekar Slebor membentang ke depan, mengarah ke dada orang berbaju hijau yang masih lengah.

Deb

Terdengar bunyi tertahan, ketika jari-jari mengejang Andika menotok tulang dada orang berbaju hijau yang langsung terdorong deras ke belakang. Luncuran tubuhnya baru berhenti ketika punggungnya menimpa batu cadas besar di

belakangnya.

Grrr...

Batu cadas yang menjulang ke permukaan kontan remuk di bagian yang terhajar punggung lelaki itu.

Tapi orang bertopeng kain hijau ini tampak tidak mengalami sesuatu yang berarti. Dengan tenang, kakinya menjejak ke batu cadas, lalu berenang menuju Pendekar Slebor.

Mata Pendekar Slebor jadi membesar, karena baru kali ini menemukan orang yang bisa menahan pukulan pamungkas warisan Pendekar Lembah Kutukan. Apalagi, tetap sehat walafiat seperti lelaki itu.

Sementara itu, mata orang berbaju serba hijau itu tampak berbinar angkuh. Kalau saja wajahnya tak tertutup, tentu Pendekar Slebor akan menyaksikan senyum penuh ejekan lawannya.

Lelaki bertopeng kain hijau itu makin dekat ke arah Pendekar Slebor. Sementara itu, tangannya sudah siap melancarkan jurus yang mungkin menciptakan pusaran air raksasa karena daya sakti dari Pusaka Langit....

*** 9

Sekujur tubuh Pendekar Slebor jadi mengejang karena tegang. Biarpun sudah banyak menelan asam garam rimba persilatan, tapi tak luput pula dicekam ketegangan. Seumur hidupnya, baru kali ini menjalani pertarungan maut di bawah air. Terlebih, kesaktian orang berbaju serba hijau itu sulit diukur akibat pangaruh kekuatan Pusaka Langit.

Bahkan kini dada Pendekar Slebor mulai terasa sesak. Entah sudah berapa lama berada di bawah air, dia sendiri tidak tahu. Yang pasti, paru-parunya harus diisi udara baru, kalau tidak ingin dadanya pecah.

Namun, Pendekar Slebor tidak bisa begitu saja melayang ke permukaan. Baru saja sepasang kakinya hendak dikayuh ke atas, orang berpakaian serba hijau itu telah tiba di depannya.

Srrr...

Tangan kanan lelaki bertopeng bergerak menyapu ke perut Pendekar Slebor. Untunglah, pada saat yang gawat pendekar muda itu mampu melakukan

gerakan kecil ke belakang. Sehingga, tangan lawannya lewat beberapa rambut dari perutnya. Kalau saja Pendekar Slebor kalah cepat, bisa dipastikan isi perutnya akan ambrol saat itu juga, terkena tombak kecil bermata tiga di tangan lawannya. Rupanya orang berpakaian serba hijau itu mengeluarkan senjata saat Andika lengah

Selesai dengan satu sabetan, lelaki bertopeng hijau itu mengirimkan tebasan dan tusukan susulan.

Senjatanya berpindah-pindah sasaran. Dari dada, ke kepala, lalu sesekali ke leher Pendekar Slebor.

Serangan bertubi-tubi ini membuat Pendekar Slebor kewalahan. Di samping pernapasannya yang sudah tak memungkinkan, gerakan lawannya pun menggila. Kalau saja kecepatan sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan tidak menyatu dalam dirinya, sulit dibayangkan lagi bagaimana keadaan-nya. Tubuhnya pasti akan tercabik senjata lawan.

Saat berikutnya, lelaki bertopeng itu mulai pula memanfaatkan Pusaka Langit sebagai senjata. Tanpa memberi kesempatan secuil pun pada Pendekar Slebor, tangannya yang menggenggam kain tembus pandang berisi Pusaka Langit segera diayunkan.

Srrr...

Bagai palu aneh, batu merah bara dalam

bungkusan kain tembus pandang itu menderu ke kepala Andika. Sekejap lagi, kepalanya tentu akan remuk. Namun, keadaan terdesak seperti itu mampu membuat Pendekar Slebor melakuan hal yang sebenarnya sudah tidak mungkin. Entah, naluri macam apa yang menuntun tubuhnya hingga bisa bergeser ke belakang tanpa disadari.

Sekali lagi, serangan orang berbaju serba hijau itu luput. Tapi bukan berarti Pendekar Slebor tidak menerima akibat lain yang tak kalah parah. Pusaka Langit ternyata telah melipatgandakan tenaga dorongan berbentuk gelombang dalam air akibat hantaman tadi.

Pendekar yang mengalami gangguan pada ingatannya itu langsung terdorong deras ke belakang, meski di dalam air. Tubuhnya baru berhenti meluncur, setelah menghantam batu cadas besar.

Grrrgh...

Cadas yang menjadi sasaran tubuh Andika kontan menjadi gompal Pecahannya pun berhamburan di dasar danau berpasir. Andika sendiri mengalami akibat yang tak kalah hebat. Dari mulutnya keluar cairan merah kental. Yang kemudian melayang bagai asap merah dalam air. Sementara, rasa sesak yang mendera punggung memaksanya melepas pernapasan. Maka air pun cepat merasuk ke saluran napasnya. Dan ini membuat Pendekar Slebor jadi gelagapan.

Kesempatan itu cepat digunakan sebaik-baiknya oleh orang berbaju serba hijau itu. Kembali dilabrak-nya Pendekar Slebor. Setelah mengayun kaki dan tangannya sekuat tenaga, tubuhnya meluncur deras dengan kaki kanan mengarah ke dada Andika.

Bekh

“Aaargkh

Andika langsung memekik dalam air. Namun suaranya yang terlontar kuat, teredam begitu saja.

Sementara, terjangan air ke dalam jalan napasnya kian parah. Wajah tampan pendekar muda itu tampak mengejang dalam bias air danau. Matanya mem-belalak, menahan sakit tak terkira. Perlahan-lahan pandangannya mengabur. Sebelum seluruh

kesadarannya lenyap, tangan kekarnya men-cengkeram orang berbaju hijau itu dengan sisa tenaga terakhir.

Srrrt...

Serangan balasan terakhir Pendekar Slebor ternyata hanya mampu menyambar topeng kain berwarna hijau dan baju bagian depan lawan. Kini, pandangan yang mengabur dapat menyaksikan wajah lawannya. Sekaligus, melihat tanda tubuh berwarna hitam berbentuk bayangan ular di dada.

Setelah itu, semuanya hilang. Pendekar Slebor telah tak sadarkan diri.

Tubuh tegapnya langsung mengapung lamban dalam dekapan dingin air Danau Panca Warna.

Pakaian hijau-hijau dan kain bercorak caturnya melambai-lambai lemah, selemah tubuhnya saat ini.

***

Matahari pagi mendaki sepenggalan di cakrawala.

Cahayanya yang kemerahan telah memudar sejak tadi. Perlahan benda alam raksasa itu mengirim kehangatan ke wajah bumi. Begitu juga di sekitar Dana Panca Warna.

Beriring terusirnya kabut, Andika alias Pendekar Slebor siuman dari pingsannya. Tubuhnya tergeletak lemah di bibir danau berpasir lembut, beberapa tombak dari permukaan. Mata elangnya mengerjap-ngerjap silau, diterkam sinar matahari. Kepalanya bergerak lambat.

“Kenapa aku bisa berada di luar danau?” desah Pendekar Slebor seraya mencoba bangkit.

Andika segera mendekap dada dengan kedua tangannya ketika dirambati rasa nyeri hebat, akibat luka yang dialami dalam pertempuran kemarin.

Begitu pula bagian punggungnya. Bahkan sekujur badannya terasa bagai direncah beribu sembilu.

Merasa dirinya tak mungkin berada di tempat itu tanpa bantuan seseorang, Andika menoleh ke kanan dan kiri. Tanpa susah payah mencari, matanya telah menemukan seseorang berbaju koko kuning yang dipadu celana pangsi hitam. Dia berdiri membelakangi Andika. Dari bentuk tubuh dan warna putih rambutnya, bisa diduga kalau lelaki itu sudah berumur lanjut. Rambutnya yang digelung ke atas, diikat kain warna biru tua. Meski kelihatan tua, cara berdirinya tampak gagah. Satu tanda kalau dia terbiasa melatih diri dengan ilmu olah kanuragan.

“Kau sudah siuman, Anak Muda?” sapa orang tua itu tanpa berbalik.

“Begitulah, Ki. Semula kupikir aku sudah melayat ke akherat menemui arwah para leluhur,” sahut Andika mencoba akrab, meski hatinya masih diliputi tanda tanya. “Maaf, Ki. Kalau boleh tahu, siapa kau sebenarnya?” Andika berusaha bangkit meski agak terseok.

“Aku hanya seorang lelaki tua tak berarti,” jawab lelaki itu, sedikit pun tidak memuaskan Andika.

“Tentu saja aku tahu kalau kau lelaki, Ki. Karena pinggulmu memang tak besar seperti milik perempuan,” kelakar Andika. “Tapi, aku tak tahu namamu. Tak mungkin aku memanggilmu hanya dengan sebutan saja. Sebab, kau telah menolongku.”

“Anak muda..., Anak Muda. Tak perlu kau ikuti anggapan orang banyak bahwa seorang menolong mengharapkan penghormatan dan sanjungan nama.

Dunia memang seringkali brengsek. Nilai-nilai suci seperti pertolongan tanpa pamrih, selalu saja hendak diganti nilai-nilai yang mengharuskan seseorang menuntut pamrih pada orang yang ditolongnya,” tutur lelaki itu bijak, masih belum juga menoleh.

“Ah Kau ini, Ki. Bikin aku malu saja,” ujar Andika.

Mulut Pendekar Slebor jadi meringis-ringis. Entah karena malu oleh ucapan lelaki tua di depannya, atau karena sakit di tubuhnya.

“Tapi, bukankah tidak salah kalau aku mengetahui namamu?” lanjut Andika.

“Memang tidak.”

“Nah Jadi, boleh aku tahu siapa namamu, Ki?” “Kau kenal Ratna Kumala?” lontar lelaki tua itu, malah balik bertanya.

Andika menautkan alis. “Ya Memang kenapa, Ki?”

“Kau tahu di mana dia?”

Mendadak Andika tersadar. Ya Ke mana Ratna Kumala? Lalu ke mana pula para pendekar yang berkumpul di sini kemarin?

“Kau tak tahu?” usik lelaki tua.

Kepala Andika menggeleng lamban.

“Kau ingin tahu?” lanjut lelaki tua itu lagi, seakan tahu jawaban Andika.

“Tentu, Ki. Ke mana dia? Apa terjadi sesuatu padanya?” sahut Andika cepat. Kekhawatiran terhadap gadis keras kepala itu kontan menelusuri relung hatinya.

“Anak kepala batu itu pasti berbuat macam-macam lagi,” rutuk orang tua itu, seperti tak berniat menjawab pertanyaan Andika barusan.

“Kalau tak salah duga, kau tentu guru Ratna?”

terka Andika.

Tak ada jawaban. Namun begitu, Andika tetap yakin kalau lelaki tua penolongnya memang guru Ratna Kumala. Ini bisa dinilai dari tekanan suaranya yang terdengar kebapakan saat bergumam tadi.

“Namaku, Kalingga. Aku memang guru gadis brengsek itu,” jawab orang tua yang ternyata bernama Kalingga dengan satu helaan napas.

Kemudian tubuhnya berpaling menghadap Andika.

Kini, mata Andika bisa melihat wajah tua berwibawa di depannya.

Tak ada jenggot putih menghias dagu tuanya.

Hanya kumis tebal yang melintang hingga ke sudut bibir. Warnanya tak seputih rambut di kepalanya.

“Jadi, kau hendak mencari murid wanitamu itu, Ki Kalingga?” tanya Andika, ingin tahu.

“Itu salah satu tujuanku.”

“Maksudmu, kau punya tujuan lain?”

“Tepat.”

Andika tak melanjutkan pertanyaan, karena merasa pertanyaannya terlalu beruntun untuk masalah pribadi lelaki tua itu. Padahal, sungguh tidak pantas seseorang terlalu ingin turut campur dalam urusan pribadi orang lain.

“Kenapa kau tak bertanya lagi?” usik Ki Kalingga, saat mendapati wajah penasaran pemuda di depannya.

“Kau tidak keberatan, Ki?”

“Aku bahkan berharap, kau bertanya lebih jauh.”

“Ooo....”

Andika memajukan bibir bulat-bulat. Sementara, benaknya bertanya-tanya heran. Kenapa lelaki tua ini menginginkan dia bertanya lebih jauh? Apakah ada maksud tertentu?

“Mana pertanyaanmu?” tegur Ki Kalingga,

menyadarkan ketercenungan Andika.

“O, ya. Aku lupa. Apa tujuanmu, selain mencari Ratna, Ki Kalingga?”

“Aku tak akan menjawabnya sekarang. Kecuali, bila kau sudi menukarnya dengan jawabanmu,” kilah Ki Kalingga, dibarengi sebaris senyum tipis yang ramah.

Mata Andika jadi menyipit. Dalam hati, dia agak menggerutu dengan jawaban konyol Ki Kalingga terhadapnya. Benar-benar orangtua aneh Dia tak ingat kalau dirinya lebih aneh lagi. Sehingga, kaum persilatan menjulukinya Pendekar Slebor.

“Baik..., baik, Ki. Terserah kau sajalah,” ucap Andika seraya melepas napas. “Kau ingin menanya- kan apa padaku?”

“Siapa namamu? Dan, apa tujuanmu?”

“Aku..., ah Apa itu perlu, Ki?”

“Perlu,” terabas Ki Kalingga cepat.

“Aku Andika. Kaum persilatan menjulukiku Pendekar Slebor. Tapi kau tak perlu memuji lantaran aku keturunan Pendekar Lembah Kutukan yang sudah menjadi cerita rakyat. Karena aku sendiri tak ingin....”

Ucapan Pendekar Slebor terputus. Ada hal aneh yang tiba-tiba dirasakannya. Sesaat dia memikirkan keanehan itu. Sampai akhirnya....

“Kodok buduk Kutu kupret Monyet ngantuk

Rupanya ingatanku sudah kembali” seru Andika, girang bukan alang kepalang.

“Kenapa?” tanya Ki Kalingga, karena tak mengerti permasalahannya.

“Tidak apa-apa, Ki. Aku baru saja mendapat anugerahTuhan...”

“Ooo...”

Kali ini Ki Kalingga yang memajukan bibir bulat-bulat. Padahal, hatinya kebingungan. Baru kali ini ditemukannya orang aneh yang menyumpah-nyumpah sewaktu mendapat anugerah Tuhan.

Namun tanpa diketahui, dalam hati terdalam Andika terpercik serangkai puji syukur kepada-Nya.

Dan memang wajar bila dia memanjat syukur dalam hati. Karena, kesembuhan ingatannya begitu tiba-tiba. Barangkali karena hantaman kedua sinar Pusaka Langit yang melabrak matanya, saat bertempur melawan lelaki bertopeng di dasar danau kemarin.

Ingat pertempuran kemarin, Andika jadi terbayang wajah lawannya yang sempat dilihatnya sebelum pingsan. Rasanya, dia pernah melihat wajah lelaki itu.

Tapi, entah di mana.

“Bisa kembali ke percakapan kita?” tegur Ki Kalingga ketika melihat Andika tercenung.

“Oh Tentu saja bisa, Ki. Jadi apa tujuanmu yang lain?”

“Sebelum kujawab, akan kuceritakan sebuah kisah padamu,” kata Ki Kalingga memulai. “Lima ratus tahun yang lalu, ada sebuah benda langit yang menembus lapisan udara bumi, dan jatuh ke hulu Sungai Kuning di Cina. Seorang sakti yang hidup di masa Dinasti Ming tahu kalau benda itu memiliki kekuatan bintang yang sangat dahsyat, dari wangsit saat bertapa.”

Andika manggut-manggut dengan kening berkerut.

Rupanya dia benar-benar tertarik mendengarnya.

“Dia pun menelusuri hulu Sungai Kuning, untuk mencari benda langit itu. Ketika benda itu ditemukan dia mendapat kesulitan, karena ternyata mampu memancarkan kekuatan yang mempengaruhi diri seseorang. Itu sebabnya, ia menangguhkan untuk mengambilnya. Lalu, dia bertapa kembali untuk memohon petunjuk Yang Maha Kuasa, untuk

mengetahui bagaimana cara menangkal kekuatan benda itu, hingga bisa diambilnya. Sampai suatu malam, dia kembali mendapat wangsit. Dalam wangsit itu, dia diberi petunjuk untuk membuat sehelai selendang dari serat pohon yang hanya tumbuh di suatu goa angker, di suatu pegunungan tertinggi di Tibet,” lanjut Ki Kalingga.

Andika makin tertarik. Bahkan pandangannya kali ini tak beralih dari wajah Ki Kalingga.

“Meski mendapat halangan yang nyaris merengut jiwanya, akhirnya dia bisa juga mendapatkan serat pohon, yang kemudian dijadikan selendang putih tembus pandang. Dengan selendang itulah ia berhasil mengambil benda langit tersebut. Dan dengan kesaktiannya, benda angkasa raya itu dijadikan pedang pusaka tak tertandingi.”

Sebentar Ki Kalingga menghentikan ceritanya.

Sepertinya, dia ingin mencari kata-kata yang tepat untuk menuturkan ceritanya.

“Empat ratus tahun kemudian, setelah berpindah tangan dari satu keturunan ke keturunan berikutnya, pedang pusaka itu melebur, layaknya lilin terbakar api. Dan leburannya lalu menyatu dengan bumi. Yang tertinggal hanya gagangnya saja. Tapi rupanya, kekuatan benda angkasa yang menjadi bahan pedang, lenyap setelah empat ratus tahun kemudian.

Sementara selendang penjinak kekuatan benda langit dan gagang pedang pusaka itu, lima puluh tujuh tahun yang lalu dititipkan pada seorang keturunan si Pertapa Sakti itu kepadaku. Menurut buyutnya, benda angkasa seperti itu akan jatuh ke bumi kembali, setiap lima ratus tahun sekali. Dan ketika lima ratus tahun sejak benda langit pertama ditemukan, amanatnya yang dititipkan padaku hendak diambilnya kembali,” Ki Kalingga menyelesaikan ceritanya.

“Lalu, apa hubungannya dengan diriku. Sampai-sampai, kau merasa perlu menanyakan nama dan julukanku?” tanya Andika tidak mengerti.

“Aku berharap, kau sudi menolongku menyelamatkan benda angkasa sakti itu dari tangan orang-orang berhati iblis.”

“O. Jadi, itu tujuanmu selain mencari Ratna?”

“Ya.”

“Kenapa bukan kau saja yang melakukannya?”

“Aku sudah tua. Sudah jenuh oleh gelora dunia persilatan yang selalu berbau anyir darah. Aku berharap, kau sebagai tokoh muda yang disegani, sudi melanjutkan perjuanganku. Kini, aku hanya ingin mendidik murid-muridku menjadi orang berguna bagi rakyat, bagi orang banyak,” tutur Ki Kalingga perlahan, namun tetap berkesan tegas berwibawa.

“Nah Kurasa aku sudah cukup menyampaikan amanatku padamu, Pendekar Slebor. Terima kasih atas kesediaanmu meneruskan perjuanganku,” lanjut Ki Kalinga, seraya menepuk bahu kekar Andika.

“Tapi, Ki....”

Belum sempat Andika melanjutkan ucapan, lelaki tua itu sudah melesat cepat bagai tersapu angin.

Tampak jelas, bagaimana tingginya ilmu meringankan tubuh Ki Kalingga. Mungkin hanya segelintir orang yang mampu melakukannya, termasuk Andika sendiri.

Setelah Ki Kalinga pergi, Andika tercenung.

Ingatannya yang mulai pulih, membuatnya cepat terbayang pada kematian dua murid terbaik Ki Kalingga, Rudapaksa dan Rudapaksi.

“Kalau gurunya sudah sesakti itu, murid terbaiknya tentu tak kalah hebat. Tapi, bagaimana kedua murid pilihan itu dapat dibunuh dengan mudah? Musuh macam apa yang mesti kuhadapi ini?” desis Andika dengan alis bertaut rapat.

Cukup lama Andika terdiam, memikirkan lawan yang akan dihadapi. Sampai akhirnya, dia teringat pada lelaki bertopeng di dasar danau.

“Diakah orangnya?” gumam Andika.

Andika berusaha mengingat-ingat wajah yang sempat dilihatnya secara sekilas itu. Ya Dia yakin pernah melihat wajah itu. Di mana dan kapan ter-lihatnya, belum begitu jelas. Karena, setiap kali mengingat, luka dalam yang diderita membuat daya ingatannya buyar seketika.

Akhirnya, diputuskan untuk menyembuhkan luka dalamnya lebih dahulu. Andika lalu bersila di tanah.

Matanya perlahan-lahan terperjam. Sedang sepasang tangannya bersidekap di depan dada. Dia memulai semadi untuk menyalurkan hawa murni ke bagian tubuhnya yang terluka.

Lambat laun, tubuh Pendekar Slebor mulai terasa segar kembali. Maka Andika pun memenggal semadi-nya. Berbareng dengan gerakan tangan untuk meng-hapus peluh yang membasahi keningnya, dia mulai mengingat kembali lelaki yang dihadapi di dasar Danau Panca Warna.

Dan tiba-tiba gangguan datang lagi tanpa disangka-sangka. Telinga tajamnya menangkap desir lembut dari arah belakang.

Zing...

“Hiaaah”

Tanpa mau menoleh ke belakang lagi, tubuh Pendekar Slebor melenting ringan ke atas. Andika sudah sering mendengar suara seperti itu. Bahkan bisa dibilang sudah begitu akrab selama mengarungi buasnya rimba persilatan. Desing itu adalah suara yang ditimbulkan luncuran senjata tajam kecil.

Dugaan Andika tidak meleset sedikit pun. Tampak sebilah pisau belati hendak memangsa punggungnya.

Jlep

Luput dari sasaran, belati itu menembus batang pohon cemara lima belas tombak di depan Andika.

“Kutu koreng” maki Andika di udara.

Setelah berputaran beberapa kali, tubuh Pendekar Slebor meluncur turun kembali. Sepasang kakinya ringan sekali menjejak tanah berpasir tanpa kesulitan. “Siapa manusia biang kurap yang coba-coba main-main?” bentak Andika jengkel, seraya mengedarkan pandangan liar ke sekitar tempatnya berdiri.

Tak terdengar jawaban. Bahkan desahan napas sekalipun. Tampaknya, si Pembokong telah melarikan diri ketika Andika sibuk menghindari serangan gelap tadi.

Dengan bibir bergerak-gerak menggerutu, Andika mengalihkan pandangan ke belati di pohon cemara.

Di gagangnya, terdapat sehelai daun lontar yang diikat seutas tali.

“Permainan macam apa lagi itu?” gerutu Pendekar Slebor dongkol.

Kakinya lantas melangkah menuju pohon cemara sasaran belati itu. Setibanya di dekat pohon itu, Andika mencabut belati. Kemudian, ikatannya dibuka.

Dibentangnya daun lontar yang terdapat di belati, lalu terlihat tulisan di dalamnya.

Maafkan aku bila menyuruh seseorang

menyampaikan pesanku ini, meski sebenarnya lebih pantas disampaikan langsung. Tuan Pendekar, kulihat kau sudah cukup akrab dengan adik seperguruanku Ratna Kumala. Untuk itu, aku meminta tolong pada Tuan untuk menjaga keselamatannya.

Tugas yang kami jalankan amat berbahaya. Bisa saja kami akan terbunuh suatu saat. Jadi, untuk kedua kalinya aku memohon pertolongan Tuan. Bila ternyata kami memang terbunuh, sudilah kiranya Tuan Pendekar menyelamatkan gagang pedang yang kami simpan di satu tiang Penginapan Mekar Harum di Desa Ambangan.

Tertanda, Rudapaksa. Andika menutup daun lontar itu. Lalu tanpa sadar, diremas-remasnya. Persoalan kini mulai menjadi jelas bagi dirinya. Bahkan sekarang bisa teringat jelas, siapa lelaki yang bertarung dengannya di dasar danau kemarin, setelah surat itu menyebut-nyebut tentang tugas yang diemban Rudapaksa dan Rudapaksi.

Wajah lawannya memang wajah lelaki dari Tiongkok yang dilihatnya di Bandar Sunda Kelapa, bersama Rudapaksa dan Rudapaksi beberapa saat lalu.... Ya

Chin Liong

Lalu, ke mana Ratna? Pertanyaan yang sempat diajukan pada Ki Kalingga kini tersembul lagi di lerung benaknya. Andika terpaku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada diri gadis kepala batu itu.

Plok

Tiba-tiba, Andika menepuk keningnya keras.

“Mengapa aku lamban sekali berpikir Tentu saja Chin Liong telah menculiknya, karena mengira Ratna Kumala tahu tempat persembunyian gagang pedang pusaka yang disebut Rudapaksa dalam suratnya”

cetus hati Andika. “Heh Rupanya lelaki itu sudah mengkhianati Rudapaksa dan Rudapaksi untuk menguasai selendang penjinak Pusaka Langit, sekaligus ingin mendapatkan benda angkasa raya dan gagang pedang pusaka itu”

Bibir Pendekar Slebor tampak menyeringai, antara senang karena berhasil memecahkan teka-teki, dengan kegusaran atas pengkhianatan Chin Liong.

“Seujung rambut saja gadis itu terusik kau akan kubuat hancur seperti sambal terasi, Chin Liong...”

Selesai mengucapkan kalimat terakhir, Andika melesat dari tempat itu.

Kini tepian Danau Panca Warna sunyi. Desir angin yang membelai permukaan danau terdengar men-dayu. Tanpa diketahui Andika, beberapa depa dari tempatnya berdiri teronggok dua timbunan tanah yang cukup besar. Pada satu ujung timbunan, tertancap batang pohon kering. Di dalamnya bersemayam puluhan mayat yang dibantai sepasukan orang berpakaian merah, bersama lelaki biadab yang membawa selendang berisi Pusaka Langit.... Salah seorang di antara mayat-mayat itu adalah Ratna Kumala

*** 10

Karena letaknya tak jauh dari pusat perniagaan Bandar Sunda Kelapa, Desa Ambangan tak pernah mati dari kesibukan. Pasar di desa itu terus berdenyut siang dan malam, tak seperti pasar di tempat lain yang baru ramai jika jatuh hari pasaran. Hal itu wajar saja, jika memperhatikan bagaimana barang-barang yang dibongkar muat di Bandar Sunda Kelapa, sebagian dibawa ke pasar tersebut untuk dijual.

Sementara, kapal-kapal niaga yang membawa barang tak pernah kenal kata siang atau malam untuk berlabuh di bandar.

Malam itu, Andika tiba di pusat Desa Ambangan.

Mestinya, dia bisa tiba lebih awal di sana. Karena, jarak antara Danau Panca Warna dengan pusat desa hanya berjarak sepeminum teh. Namun, penduduk desa tentu akan mengenalinya sebagai seorang pendekar yang menolong Buntar waktu itu. Akibatnya, kedatangannya di desa itu akan cepat tercium lawan yang bisa saja menguping dari obrolan penduduk. Itu sebabnya, diputuskannya untuk datang malam hari.

Tempat yang dituju Pendekar Slebor adalah Penginapan Mekar Harum, tempat di mana

Rudapaksa menyembunyikan gagang pedang pusaka dari Tiongkok pada satu tiangnya. Agar tak mudah dikenali, sengaja dia mengenakan caping lebar dan berjalan pada tempat-tempat yang tak terlalu terang.

Sementara, matanya terus mengawasi kian kemari.

Siapa tahu saat itu dia bisa menemukan Chin Liong

Saat Pendekar Slebor melintasi satu kelontong yang cukup terang oleh cahaya lampu minyak, seseorang yang dikenalnya melintas tepat di depannya. Langkah Andika bergegas berhenti. Tangannya cepat-cepat menurunkan caping ke depan. Andika amat hafal wajah lelaki desa yang bernama Diding itu.

Dia adalah kawan Buntar, orang yang ditolongnya tempo hari. Kalau cahaya dari lampu minyak kelontong dibiarkan menerpa wajah, tentu Diding akan mengenalinya pula.

Setelah Diding lewat beberapa langkah darinya, Andika meliriknya. Dia hanya ingin meyakinkan kalau Diding tidak menoleh ke belakang. Yakin kalau lelaki desa itu tidak akan menoleh, Andika segera melanjutkan langkahnya.

Tapi baru dua tindak kakinya bergerak....

“Lho, Den Pendekar Mau ke mana?”

Terdengar panggilan Diding di belakangnya.

“Benar-benar apes,” rutuk Andika membatin.

“Matamu jeli juga, Kang,” ujar Andika, setengah menggerutu ketika Diding sudah berdiri di hadapan-nya. Mata besar Diding berbinar-binar senang bisa bertemu kembali pendekar sebaik Andika.

“O, jelas...,” tukas Diding bangga. Hidungnya kembang-kempis merasa dipuji. “Den Pendekar mau ke mana?”

Bukannya menjawab, Andika malah meraih pergelangan tangan lelaki desa itu.

“Ikut aku,” bisik Andika, seraya menarik Diding ke satu lorong di antara dua bangunan kelontong.

“Eh, eh... Jangan narik-narik seperti ini, Den. Nanti aku dikira pencopet yang ketangkap basah,” kicau Diding.

“Diam”

Mendapat bentakan Andika, mulut Diding yang berbibir setebal tahu langsung saja terkatup rapat-rapat.

“Kuminta, kau tidak berbicara pada siapa pun kalau aku ada di desa ini,” ujar Andika di sudut lorong. Matanya terpaut erat pada mata Diding, sebagai isyarat kalau pembicaraannya sangat penting.

Diding mengangguk-angguk tergesa dengan alis terangkat tinggi-tinggi.

“Ho-oh... ho-oh,” ucap Diding ketolol-tololan.

“Dan satu lagi....”

“Apa, Den?”

“Apa kau melihat lelaki Tiongkok?”

Kening Diding berkerut.

“Lihat, Den...,” jawab Diding.

“Bagus. Di mana dia?” lanjut Andika.

“Itu, tuh Di perkampungan Tiongkok di ujung pasar. Ada Bun li, ada Bo Liang, Mei Lan, Ling ling.

Mpeh Lim Giok yang perutnya sebesar tong juga ada....”

Andika menarik napas kesal. Yang ditanya lain, yang dijawab lain lagi. Andika jadi menggerutu dalam hati.

“Aku tak menanyakan para pendatang dari negeri Tiongkok yang menetap di daerah ini.”

“Jadi yang mana, Den?”

“Lelaki Tiongkok berwajah tampan yang baru datang saat ada kegemparan benda langit yang jatuh ke danau. Pakaiannya berwarna merah, dan ter-kadang mengenakan pakaian warna hijau,” urai Andika, menjelaskan ciri-ciri Chin Liong.

Kembali kening Diding berkerut. Kali ini, benaknya sungguh-sungguh mengingat lelaki pendatang dari Tiongkok yang sampai di desanya belakangan ini. “O, iya Den. Aku pernah lihat lelaki Tiongkok yang seperti Aden gambarkan....”

“Di mana?” sela Andika cepat.

“Di... mmm, penginapan Mekar Harum”

“Penginapan Mekar Harum,” gumam Andika, tak kentara.

Terbersit pikiran dalam benak Pendekar Slebor kalau Chin Liong telah mendahuluinya. Meskipun, belum diyakini benar apakah Chin Liong telah mendapatkan gagang pedang pusaka itu atau belum.

“Aku harus segera ke sana...,” bisik Andika.

“Ah Aku sih tidak perlu diajak, Den,” tukas Diding.

“Siapa yang mengajakmu?” tanya Andika, seraya memberi senyum sebagai tanda terima kasih.

Diding cengar-cengir tak karuan.

“O, kukira mau ngajakku, he he he.”

“Kalau mau ikut, ya boleh saja. Tapi asal berani mati.”

“Kok?”

“Aku bukan mau menginap di sana, tapi mau mencari seorang pembunuh berdarah dingin. Mau ikut?”

“Ah-ah Terima kasih banyak kalau gitu”

Sekali lagi, Andika tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih, Andika berlalu dari lorong itu.

Tinggal Diding yang mengedik-ngedikkan bahu kalau ngeri membayangkan dirinya harus berhadapan dengan pembunuh berdarah dingin.

“Hiiiy, amit-amit” desis laki-laki itu.

***

Penginapan Mekar Harum kini terselimut sepi.

Para pendekar yang beberapa hari lalu menginap di sana, sejak kemarin mulai pergi satu persatu. Mereka sudah kehilangan keberanian untuk mendapatkan Pusaka Langit, setelah tiga tokoh utama aliran sesat terbantai oleh orang aneh dalam sekali tepuk.

Kini penginapan itu ibarat kembang desa yang kehilangan kecantikannya. Tak ada lagi yang mau bertandang ke sana. Sementara, para pedagang dari negeri lain tidak begitu berminat menyewa kamar di sana, karena terletak begitu terpencil di sudut desa.

Suasana Penginapan Mekar Harum memang sama sekali tidak menarik. Bahkan boleh dibilang agak berkesan angker. Letaknya persis di bibir tebing yang menghadap Danau Panca Warna. Bangunannya tampak kuno, berdiri di ketinggian dengan kawalan pepohonan cemara yang besar dan rimbun.

Keangkeran juga terlihat pada bangunannya. Pintu utamanya terbuat dari kayu meranti berwarna merah kusam, bagai darah mengering. Di beberapa bagian dindingnya, lumut meranggas liar ditambah beberapa bagian lain yang sempal. Atapnya terbuat dari genting beton dan dihiasi patung besar berbentuk buto ijo pada ujung-ujungnya.

Di ruang tengah bangunan itu, tampak seseorang berpakaian merah duduk menyendiri di satu kursi bermeja. Kedua tangannya tampak memutar-mutar cangkir bambu berisi tuak. Sesekali, tangannya terangkat untuk meneguk isinya. Setelah tuak dalam bambu habis, dituangnya kembali tuak dari tabung bambu panjang yang disandarkan di sisi meja.

Tampaknya, hanya lelaki itu yang masih berminat menyewa kamar di Penginapan Mekar Sari. Karena, tak ada satu orang pun terlihat selain dia dan pemilik penginapan tua yang duduk terkantuk-kantuk dibelai angin malam. Saat hari makin teringkus kegelapan malam, terdengar langkah seseorang memasuki ruangan tengah penginapan itu. Kesunyian di sana membuat langkah-langkah itu terdengar jelas berirama bagai detak jantung orang sekarat.

“Kita bertemu lagi, Chin Liong” seru seseorang di belakang lelaki berpakaian merah yang ternyata Chin Liong, lelaki Tiongkok yang dicari Andika.

Chin Liong tak menoleh. Wajahnya tetap dingin, sedingin gunung karang. Tak ditanggapinya seruan itu, meski terdengar penuh kegeraman. Karena, dia sendiri tahu kalau orang yang baru datang berdiri cukup jauh dari tempatnya. Dengan begitu, masih punya banyak kesempatan untuk menghindar kalau orang di belakangnya mencoba bermain api.

“Kau tak gembira bertemu lagi denganku?” lanjut lelaki berpakaian hijau-hijau itu.

Dia mengenakan kain bercorak catur di pundaknya. Ya Dia adalah Andika yang baru tiba di penginapan ini.

“Ah Sayang sekali kalau kau tak gembira,”

sambung Andika seraya melangkah perlahan mendekati Chin Liong. “Padahal ini malam terakhirmu untuk menikmati dunia konyol ini....”

“Bicara apa kau, Kisanak?” ujar Chin Liong datar dan dingin.

Matanya yang sipit terpaku lurus pada satu sudut ruangan, seperti tak mempedulikan kehadiran Andika.

Andika tersenyum sinis.

“Aku bicara apa? Kau tak dengar ucapanku tadi?

Sayang sekali Lelaki sehebat kau, ternyata malas membersihkan kuping,” cemooh Andika, memancing kemarahan calon lawannya. Chin Liong tak melontarkan sepatah kata pun untuk menanggapi ucapan terakhir Andika. Malah dia berdiri dari kursinya.

“Kurasa kau berbicara pada orang yang tidak tepat. Ada baiknya, aku masuk kamar. Aku perlu istirahat. Jadi aku mohon pamit, Kisanak,” tutur Chin Liong dengan kalimat terputus-putus dan kaku. Dia memang belum begitu menguasai bahasa Melayu.

“Tunggu, Bajingan Bau” bentak Andika tiba-tiba.

Lelaki tua pemilik penginapan yang semula mengangguk-angguk dipermainkan kantuk, mendadak saja tersentak. Matanya terbelalak karena begitu kaget-nya.

Sementara, Chin Liong mengurungkan niat untuk masuk kamarnya. Dia berdiri tanpa gerak, tepat di antara meja dan kursi yang didudukinya tadi.

“Ada apa lagi, Kisanak?” tanya Chin Liong tetap datar.

“Di mana kau sembunyikan wanita yang kau culik itu?”

Chin Liong menoleh. Matanya bertumbukan

langsung pada Andika. Wajah tampan lelaki Tiongkok itu tak terlihat berubah sedikit pun. Tetap dingin.

“Wanita?” tanya Chin Liong singkat.

“Jangan coba-coba bermain-main denganku, Chin Liong” hardik Andika, mulai gusar.

Bagaimana tidak gusar hati Andika kalau wanita yang telah menyelamatkannya, dan menjadi kawan baiknya belakangan ini dalam ancaman tangan keji Chin Liong?

“Kau sungguh aneh, Kisanak. Aku bahkan tidak mengenalmu. Tapi, tiba-tiba saja kau menuduhku menyembunyikan seorang wanita...,” sangkal Chin Liong tenang. “Kau..., benar-benar tai kucing” maki Andika.

Kegusaran Pendekar Slebor sudah tiba di ubun-ubun. Pendekar muda itu merasa dirinya sedang dipermainkan.

“Aku sudah tak mau banyak basa-basi lagi, Chin Liong Katakan, di mana wanita itu Kalau tak kau serahkan, terpaksa kita harus bersabung nyawa kembali seperti di dasar danau,” ancam Andika dengan mata terbakar merah.

Menanggapi ancaman Andika, Chin Liong malah tersenyum tipis dan sinis. Kepalanya menggeleng-gelengkan perlahan. Di mata Andika, sikapnya seperti sedang mengejek.

“Telor busuk Kentut busuk Bubur busuk” maki Andika kalap, sekalap kakek-kakek kehilangan cangklong kesayangan.

Usai menyemprotkan sumpah serapahnya,

Pendekar Slebor langsung menerjang Chin Liong.

“Khiaaah”

Beriring teriakan menggeledek, tubuh Andika meluncur secepat kilat ke arah Chin Liong. Satu tendangan dilancarkan ke dada laki-laki Tiongkok itu.

“Hih”

Kecepatan gerak Andika yang hanya dimiliki para Pendekar Lembah Kutukan, memaksa Chin Liong membuang diri ke samping secepat mungkin.

Brak

Kaki Chin Liong membentur meja kayu enam tombak dari tempatnya semula, hingga langsung hancur berkeping-keping. Setelah berguling di lantai beberapa kali, kakinya menjejak lantai. Sekejap tubuh lelaki Tiongkok itu berputar di udara, lalu mendarat mantap di satu meja lain.

Andika memburu kembali. Didekatinya laki-laki sipit itu dengan bersalto melewati pecahan kayu meja. Setibanya di dekat lawan, kaki tangannya diputar untuk menyapu kepala.

Serangan Andika kali ini tidak berusaha dihindari.

Dipapakinya tendangan Andika dengan tangan kiri.

Des

Sementara tangan kanan Chin Liong yang bebas, segera mengirim serangan balasan ke perut Andika yang masih di udara.

“Hih”

Bet

Pendekar Slebor tak ingin perutnya jadi sasaran empuk pukulan lawan. Segera kedua tangannya membentuk silang untuk menangkis pukulan Chin Liong.

Des

Pukulan Chin Liong dapat dimentahkan Pendekar Slebor. Kini, tubuh Chin Liong meluncur turun dan tiba di sisi meja tempat Andika berdiri. Melihat kaki Chin Liong berada tepat di depannya, Pendekar Slebor menyentak sepasang tangan dengan telapak membentuk cakar.

“Haih”

Jep Jep

Lagi-lagi, gempuran Pendekar Slebor tak menemui sasaran. Karena, Chin Liong melompat ke lantai yang tak kalah cepat dengan sentakan tangannya.

Sementara itu, lelaki tua pemilik penginapan menjadi kalang kabut. Terbungkuk-bungkuk dia berlari kelimpungan kian kemari, mengkhawatirkan meja-mejanya yang mulai berantakan akibat pertempuran dua lelaki muda tangguh itu.

“Hey., hey Kalian jangan bercanda di sini” bentak laki-laki tua itu seraya mengacung-acungkan tongkat. “Kali ini, jangan berharap kau akan mem-

pecundangi aku”

Terdengar seruan Pendekar Slebor di sela-sela teriakan jengkel si pemilik penginapan.

“Keluarkan Pusaka Langit itu Aku tak gentar dengan benda seperti itu'

Lelaki yang diteriaki hanya menatap Pendekar Slebor dengan mata kian menyipit. Meski sudah memulai pertarungan, wajahnya tetap tak me-nunjukkan perubahan. Seakan wajah lelaki Tiongkok itu terbuat dari potongan arca saja

“Ayo, tunggu apa lagi? Serang aku dengan senjata yang paling hebat sekalipun,” tantang Andika dengan wajah matang.

Tetap saja Chin Liong berdiri dalam kuda-kuda tanpa bergerak-gerak. Tentu saja hal itu membuat Pendekar Slebor makin diberangus kegusaran.

“Kau memang....”

Andika kehabisan kata-kata untuk memancing kemarahan lawan. Bibirnya terkatup. Sedangkan rahangnya mengeras.

Merasa tak ada gunanya lagi banyak bicara, Pendekar Slebor mulai membuka jurus baru. Tubuh Andika mulai bergerak ke sana kemari, seperti kehilangan keseimbangan. Namun, bukan berarti gerakannya tidak mengandung maut.

Sedangkan Chin Liong sendiri bisa menilai, bagaimana dahsyatnya gerakan yang sedang diperlihatkan Pendekar Slebor. Seumur hidup, belum pernah dia melihat jurus serupa itu. Jurus yang luar biasa cepat, dan liar. Malah dalam setiap pergantian gerakan, tercipta berpuluh bayangan kaki atau tangan lawannya.

Pendekar Slebor rupanya sudah tak ingin membuang waktu lagi. Hingga telah mengerahkan jurus 'Mengubak Hujanan Petir', jurus keseratus dari rangkaian jurus yang diciptakannya di Lembah Kutukan.

Kedahsyatan jurus itu terletak pada dinding kekuatan yang tercipta di sekitar tubuh Pendekar Slebor. Selama turun ke dunia persilatan, baru kali ini Pendekar Slebor mengeluarkan jurus 'Mengubak Hujanan Petir'. Karena, Andika berpikir kalau lawan akan segera mengeluarkan Pusaka Langit ber-kekuatan bintang. Jurus 'Mengubak Hujanan Petir'

mungkin bisa menandinginya. Karena, Andika pernah melindungi diri dengan kekuatan jurus tersebut, ketika menjalani penyempurnaan di Lembah Kutukan. Saat itu rentetan lidah petir bagai membentur dinding tak terlihat, hendak menyambar tubuh Pendekar Slebor. Akibat yang terjadi sungguh menakjubkan Sekitar tubuhnya berpendar cahaya terang benderang yang mampu membutakan mata seseorang

Menyadari lawan mengerahkan jurus ampuh, Chin Liong tak mau kalah bahaya. Tak ada waktu lagi baginya untuk menimbang lebih lama. Segera dipersiapkannya jurus andalan. Disatukannya telapak tangan di depan dada. Sepasang kelopak matanya mengatup. Lalu terdengar tarikan napas panjangnya.

Beberapa saat napasnya diatur tarikan demi tarikan, hembusan demi hembusan. Sampai akhirnya, dia mendorong kedua tangan ke depan dengan telapak mengejang bersama hembusan napas keras.

“Hsss....”

Chin Liong kini siap memainkan jurus 'Naga Menerjang Badai'. Suatu jurus yang diimbangi pengerahan tenaga geledek dalam tubuh melalui pernapasan. Terciptanya pemusatan tenaga geledek pada sepasang tangannya, membuat tangan lelaki Tiongkok mengeluarkan percikan api. Bentuknya bagai bunga yang berpijar indah. Namun, di balik itu terpendam kekuatan yang mampu menjebol gulungan ombak laut sebesar gunung

Kemudian, sepasang tangan laki-laki Tiongkok itu mulai berputar teratur dan lamban. Gerakannya seperti seseorang yang sedang menggapai seluruh udara dalam ruangan tersebut. Dan tiba-tiba saja....

Sret Sret

Terjulur lidah-lidah geledek ke seluruh ruangan.

Seakan dalam ruang ini sedang terjadi badai petir.

“Khiaaa”

Dimulai satu bentakan membahana, Chin Liong meluruk menuju Andika. Sepasang tangannya tetap berputar, namun lebih cepat dari sebelumnya. Setibanya di dekat Pendekar Slebor, kedua tangannya meng-hentak dari samping kiri.

“Hsss...”

Web Sret Sret

Dalam luncuran teramat deras, tangan Chin Liong mengancam kedua sisi dada Andika. Namun

Pendekar Slebor yang sudah siap sejak tadi, tak sudi dadanya dijebol tangan lawan. Dengan sigap, kedua tangan dinaikkan dari bawah dengan tenaga penuh untuk membentengi dada.

Dret

Percikan bunga api raksasa langsung membersit, manakala tangan mereka berbenturan. Kalau tangan Pendekar Slebor masih terpaku pada keadaan semula, maka tangan Chin Liong terhentak ke belakang, seakan baru menimpa dinding karet kuat yang tak terlihat. Chin Liong sempat terkesiap melihat kenyataan itu.

Dengan wajah yang sukar dilukiskan, kakinya tersurut tiga langkah ke belakang, akibat dorongan kuat pada sepasang tangannya. Tapi sebagai tokoh sakti yang amat disegani di seluruh daratan Tiongkok, dia tak pernah berpikir untuk mengurungkan serangan berikutnya.

“Khaaaih”

Entah apa yang hendak dilakukannya saat itu, Pendekar Slebor sendiri tidak mengerti. Tubuhnya mendadak saja melenting ke belakang, bagai sebatang tombak melengkung. Di udara, dia memutar tubuhnya sehingga kakinya meluncur lebih dahulu.

Srrr... Tep

Pada satu tiang penyangga bangunan, kaki Chin Liong menjejak. Lalu saat berikutnya, kakinya dihentakkan. Kemudian tubuhnya meluncur kembali, kali ini dengan tangan yang menyilang di atas kepala serta putaran tubuh, membentuk sebuah pengebor hidup

“Khaaaih”

Teriakan dan lidah geledek milik Chin Liong, seperti hendak melantakkan ruangan penginapan.

Bukan cuma itu. Gerak aneh yang sedang dilakukannya pun tampak hendak melantakkan dinding kekuatan Pendekar Slebor.

Sementara itu, Andika membengkokkan kedua lutut dengan kaki terpentang. Sepasang tangannya mengepal kejang di sisi-sisi pinggang. Pendekar Slebor sedang mencoba membuat kuda-kuda

bertahan, karena ia tahu kalau lawan hendak mengadu tenaga.

Sambil mengimbangi teriakan mengguntur Chin Liong, Pendekar Slebor menarik seluruh otot-otot dadanya. Dada bidangnya seketika mengeras, memperlihatkan garis-garis otot yang menojol.

“Khaaah”

Drarrr

Gemuruh besar tercipta saat tangan Chin Liong mampu menguak dinding pertahanan Pendekar Slebor. Bahkan tangannya yang berputar mampu mendarat telak di dada Andika. Dan itu terjadi karena pendekar muda kesohor itu memang sengaja membuka dadanya.

Kenyataannya, akibat yang menimpa Chin Liong sungguh luar biasa. Kulit di sekujur tubuhnya tiba-tiba memerah dan terbakar. Sedangkan tubuhnya terlontar ke belakang, bagai terseret di udara.

“Wuaaa”

Duk Brak

Tiang besar yang semula berdiri kokoh dan angkuh, menjadi porak poranda terhajar tubuh Chin Liong. Andai tidak ada tiang lain, tentu bangunan penginapan itu akan segera runtuh

Sementara itu Pendekar Slebor masih tertancap tegak dalam kuda-kudanya. Tapi, hal itu bukan berarti tidak mengalami akibat dari pertumbukan dua kekuatan liar tadi. Dari lubang hidung dan mulutnya mengalir darah kental kehitaman. Darah itu terus mengalir lambat melalui dagu Andika, lalu menetes di kain bercorak catur yang melingkari pundaknya.

Sesaat kemudian, tubuh pemuda itu bergetar seperti kehilangan tenaga. Dia yakin, dirinya telah mengalami luka dalam. Itu sebabnya, segera dilepas-kannya kekuatan sakti yang memperkuat jurus

'Mengubak Hujanan Petir'nya. Lalu, dia segera mengerahkan hawa murni untuk mengobati luka dalam yang diderita. Terdengar pengaturan napas Andika. Sepasang matanya terpejam rapat. Sementara, sepasang tangannya disatukan oleh ujung jari tengah di depan dada.

Tak lama kemudian, suasana menjadi hening.

Pendekar Slebor telah menyelesaikan pengerahan hawa murni dalam tubuhnya. Sedang tujuh tombak di depannya, Chin Liong tergeletak tanpa gerak.

Badannya tertelungkup, menutupi pecahan-

pecahan tiang bangunan.

“Kau terlalu rakus untuk memiliki Pusaka Langit, Sobat,” desah Andika perlahan. “Rupanya, kau tak ingin membiarkan aku merebut benda sakti itu dari tanganmu. Sehingga, kau lebih rela kehilangan nyawa ketimbang mempergunakan benda itu untuk

melawanku.”

Di salah satu sudut ruangan, lelaki tua pemilik penginapan meringkuk seperti tikus kehilangan akal.

Kedua tangannya menutup telinga rapat-rapat.

“Tolong..., tolong Ada dua orang gila ingin meng-hancurkan penginapanku satu-satunya,” lirih orang tua itu seperti sedang sekarat.

Selanjutnya, terdengar langkah ringan Andika.

Didekatinya tubuh Chin Liong yang tergolek. Darah kental kehitaman menodai lantai. Andika berharap lawannya belum mati. Masih ada satu urusan yang mesti diselesaikan. Ya Dia belum tahu, di mana Ratna Kumala. Menurutnya, Ratna Kumala disandera Chin Liong. Oleh karena itu, dia ingin menanyakannya pada lelaki Tiongkok itu. Itu pun kalau masih hidup.

“Chin Liong...,” sapa Andika seraya membalik tubuh lelaki itu dengan kedua tangannya.

Saat itulah mata Andika tertumbuk pada suatu yang membuatnya amat terkesiap. Tidak, dia tidak melihat gagang pedang pusaka seperti yang disebutkan Rudapaksa dalam suratnya. Nyatanya, dada Chin Liong tak memiliki tanda tubuh berbentuk bayangan ular seperti yang dilihatnya, ketika bertempur di dasar Danau Panca Warna.

Jantung pemuda itu mendadak hendak berhenti berdenyut. Bulu halus di tengkuknya meremang hebat, dirayapi kekhawatiran yang menyeruak dirinya.

“Dia bukan lelaki yang bertempur denganku di dasar danau itu...,” desis Andika. “Ya, Tuhan....

Tampaknya aku telah salah tangan....”

Pada waktu yang bersamaan, terdengar tawa lantang seseorang yang menggema liar di sekitar ruangan besar itu.

“Hua ha ha... Bagaimana Pendekar Slebor yang juga bodoh? Apakah kau sudah menyadari dirimu telah kupermainkan? Begitu mengasyikan permainan-ku, bukan? Tentang surat palsu dari Rudapaksa yang kubuat dengan tanganku. Juga, tentang cerita bohong mengenai gagang pedang pusaka yang tersimpan di satu tiang bangunan ini. Kau telah terkecoh, Babi Bodoh Hua ha ha.... Kau hendak mencari teman wanitamu itu, bukan? Carilah dia di antara puluhan mayat yang telah terbantai di tepi Danau Panca Warna tempo hari. Hua ha ha... Selamat tinggal, Pendekar Bodoh”

Tubuh Andika mengejang. Tak ada sepatah kata pun yang bisa diucapkan. Lidahnya kelu. Seluruh sendinya kaku. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena begitu terpukul oleh rasa bersalah yang men-cengkeramnya saat itu.

*** Siapakah lelaki yang telah mempermainkan Andika? Bagaimana dengan Pusaka Langit? Benarkah cerita Ki Kalingga mengenai benda langit yang pernah turun lima ratus tahun lalu? Apa yang akan diperbuat Andika selanjutnya? Matikah Chin Liong, lelaki Tiongkok yang menjadi korban fitnahan lelaki terselubung teka-teki?

Ikuti kelanjutan kisah ini dalam episode : PENGEJARAN KE CINA SELESAI

SELESAI

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Slebor Episode 07 Pusaka Langit"

Post a Comment

close