Pendekar Slebor Episode 05 Darah Pembangkit Mayat

Mode Malam
Pijar El
-------------------------------
----------------------------

Episode 05 Darah Pembangkit Mayat

1

Buleleng. Suatu daerah yang cukup indah di Pulau Dewata-Bali.

Purnama mengambang di angkasa. Bisu dengan bias cahayanya yang lembut. Bintang-bintang yang bertaburan mengintip dari celah awan tipis yang bergerak lamban. Seakan, benda-benda langit itu mewarnai Hari Raya Galungan yang dirayakan hari ini.

Seluruh penduduk Buleleng pada hari keramat seperti ini selalu mempersembahkan sesaji untuk para dewa, diiringi tarian gadis-gadis cantik dan para pemuda tampan.

Cokorde* Buleleng telah meninggalkan upacara.

Sementara acara terus dijalin oleh pergantian pasangan tari.

Di antara puluhan orang yang meramaikan

kemeriahan upacara, berdiri seorang pemuda tampan di sisi sebuah gapura. Pakaiannya sederhana, terdiri dari baju hijau dan celana hijau pula. Pada bahunya yang kekar tersampir sehelai kain bercorak catur.

Sementara tubuhnya bersender di gapura, angin malam nan dingin menjamah wajah tampan serta rambut sepanjang bahu yang tak tertata itu. Matanya yang seperkasa elang, menikmati gelora tari yang sedang dipergelarkan.

Sesekali pemuda itu terlihat menarik napas dalam-dalam. Entah apa yang menyebabkannya begitu.

Mungkin sekadar ungkapan keterpesonaannya pada keindahan tari. Atau mungkin hanya ingin menikmati hawa malam. Atau bisa jadi ada sebab lain. Karena, matanya saat itu sedang tertuju lekat pada dara penari di depan sana.

“Idayu Wayan Laksmi cantik bukan, Beli*?” usik seorang pemuda tanggung di sebelahnya.

“Apa?” pemuda berpakaian hijau itu malah balik bertanya, karena belum menangkap arah ucapan pemuda tanggung ini.

“Itu, penari itu. Dia begitu menawan, bukan?”

tegas pemuda tanggung tadi.

“Ooo, ya, ya. Betul,” kata pemuda berpakaian hijau-hijau membenarkan sambil mengangguk-angguk.

“Namanya Idayu Wayan Laksmi.”

“Apa?”

“Namanya Idayu Wayan Laskmi,” ulang si Pemuda tanggung.

“Ooo....” lagi-lagi pemuda berpakaian hijau-hijau membulatkan bibirnya, “Dari mana kau tahu?”

Pemuda tanggung bertelanjang dada dan

mengenakan penutup kain di pinggang hingga betis itu tersenyum bangga.

“Tentu saja aku kenal. Dia kan, Mbok* saya”

cetusnya.

Pemuda berpakaian hijau-hijau itu tertawa ringan.

“Kenapa Beli tertawa?”

“Rupanya kau punya tujuan tertentu membangga-banggakan kakakmu, ya?” ujar pemuda berpakaian hijau-hijau menggoda.

“Ah, kata siapa?” sangkal pemuda tanggung dengan wajah asam.

“Kataku.”

“Ah Mbok-ku terlalu cantik untuk orang semacam Beli” kilah pemuda tanggung itu lagi. Tanpa sadar telah dilontarkan sendiri tujuannya membangga-banggakan kakak perempuannya.

Pemuda berpakaian hijau-hijau itu mengangkat bahu.

“Ya sudah, kalau kau tak memerlukan aku,” kata pemuda berpakaian hijau seraya melangkah hendak pergi dari tempat itu.

“Beli tunggu” tahan si Pemuda tanggung.

“Nan, kan?” goda pemuda yang penampilannya aneh itu. Langkahnya dihentikan. “Kenapa?”

“Beli jadi kekasih Mbok-ku, ya?” kata si Pemuda tanggung ini. Jawaban itu membuat lelaki muda yang diajak bicara tertawa kembali lebih keras.

“Sinting kau, ya?” gurau pemuda yang pada bahunya tersampir kain bercorak papan catur itu. “Kenal pun belum, tahu-tahu saja kau sewenang-wenang menjodohkan orang”

“Tolonglah, Beli...” pintanya memelas.

Pemuda tampan dan gagah di depannya meng-

garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bibirnya memperlihatkan senyum, seperti seekor sapi tolol.

“Yaaa, aku sih mau saja. Siapa sih, yang sudi menolak gadis cantik seperti kakakmu. Tapi kenapa kau begitu ngotot menjodohkan aku dengan kakakmu? Apa...,” didekatinya pemuda tanggung itu.

“Kakakmu kakinya berbulu ya? Jadi, tidak ada pemuda yang mendekatinya?”

Pemuda tanggung itu langsung membelalak sewot.

Ingin rasanya menyemprot pemuda acuh yang mem-bisikinya itu.

“Aaah Jangan cepat naik darah Aku hanya bergurau, kok” kata pemuda acuh itu, sebelum pemuda tanggung di depannya berkata.

“Jadi Beli mau, bukan?” desak si Pemuda tanggung.

“Kalau mau, bagaimana?”

“Jangan nafsu dulu, Beli”

Pemuda berambut gondrong di depannya mengumpat dalam hati.

“Bisa-bisanya anak ini menembakku dengan

ucapan itu”

“Ada syaratnya, Beli” kata pemuda tanggung itu.

“Apa?”

“Nama Beli siapa?”

“Andika,” jawab pemuda berpakaian hijau yang ternyata Andika. Dialah pendekar muda yang begitu terkenal sebagai Pendekar Slebor.

“Beli Andika seorang pendekar?” lanjut si Pemuda tanggung.

“Ngg..., orang bilang begitu.”

“Pokoknya Beli harus seorang pendekar. Kalau tidak, ya tak jadi....”

Andika mengerutkan kening. Apa hubungannya kependekarannya dengan kakak perempuan si Pemuda tanggung ini? Keingintahuannya membuat Andika jadi bertanya-tanya.

“Memangnya kenapa?” tanya Andika.

Pemuda tanggung itu segera menarik Andika ke balik gapura. Matanya melirik takut-takut ke beberapa arah, seakan takut ada orang mengawasi.

Di balik gapura dibisikinya Andika dengan suara amat perlahan.

“I Made Raka, punya niat jahat sama Mbok...” jelas pemuda tanggung itu.

“Siapa I Made Raka?” tanya Andika sambil

menautkan sepasang alisnya.

“Dia amat ditakuti di banyak Banjar*” jelas pemuda tanggung. “Dia jatuh hati pada Mbok. Tapi, Mbok tidak mau karena tabiat dan prilakunya tidak senonoh dan kejam.”

“Rupanya dia jawara, ya?” tanya Andika.

“Lagi pula, I Made Raka suka mempermainkan wanita, Beli. Sudah dipermainkan, ditinggal begitu saja tanpa dinikahi. Banyak wanita yang bisulan gara-gara dia....”

“Bisulan?” Andika tak mengerti.

“Begini....”

Si Pemuda tanggung itu membusungkan perutnya sambil memberi isyarat dengan kedua tangan.

“Kini, Mbok-ku lah yang mulai diincarnya. Dan sebelum berangkat ke upacara tadi, sempat kudengar dia berbicara dengan dua kaki tangan I Made Raka.

Kelihatannya, mereka berniat busuk pada Mbok Laksmi” sambung si Pemuda tanggung. “Beli mesti tolong dia”

“Kenapa mesti aku?” tanya Andika. “Apa tidak ada orang yang berani menghadapi kecoak-kecoak kudis macam mereka?”

Si Pemuda tanggung lebih mendekat ke telinga Andika. Sebentar kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Sebab I Made Raka masih keluarga dekat

Cokorde...”

Andika mengangguk-angguk. Rupanya, orang yang bernama I Made Raka tergolong manusia yang me-nerapkan aji mumpung, dengan memanfaatkan ke-kuasaan seorang keluarganya untuk berbuat semena-mena. Manusia macam begini mesti dibuat kerak bubur

“Bagaimana, Beli” pancing si Pemuda tanggung itu, memenggal kata hati Andika.

“Bagaimana apanya?” “Mau kan, jadi kekasih Mbok-ku?”

“Mmm. Kalau menolong kakakmu dari manusia itu, aku mau. Tapi tidak untuk kekasihnya...,” tutur Andika.

“Huh, sombong” maki si Pemuda tanggung itu, merasa tersinggung.

Andika menyeringai bodoh. Tak terasa dia jadi menggerutu sendiri.

“Memangnya aku ini apa? Kambing congek yang gampang diamprok-amprokkan?”

“Kenapa Beli?”

“Ah, tidaaak....”

***

Malam terus beranjak makin larut. Tengah malam terlewati tanpa terasa. Upacara Galungan telah selesai beberapa saat lalu. Sementara para pengunjung telah kembali ke rumah masing-masing.

Begitu pula Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg, adiknya yang telah berbicara dengan Andika beberapa saat lalu.

Pendekar Slebor sendiri tidak terlihat bersama mereka. Pendekar muda Tanah Jawa Dwipa ini berada di sekitar lima belas kaki di belakang kedua kakak beradik itu. Dia mengintai sambil berjalan di antara semak yang tumbuh di sisi jalan setapak.

“Ada pemuda asing yang ingin berkenalan dengan Mbok Laksmi,” cetus I Ktut Regeg seraya tetap melangkah di sisi kakaknya. “Waktu Mbok menari, kukatakan kalau Mbok kembang Buleleng. Eee, tampaknya dia tertarik sama Mbok.”

Idayu Wayan Laksmi di sampingnya membelalak-kan mata. Gadis ini amat tahu, siapa I Ktut Regeg. Seorang adik yang begitu membanggakan kecantikan kakaknya secara berlebihan. Sehingga, terkadang dia seperti seorang penjual patung yang sedang memuji-muji dagangannya sendiri pada pembeli.

“Dia yang bertanya padaku kok, Mbok, ” sergah I Ktut Regeg, berbohong. Sementara, kakaknya terus memelototi. “Mbok pasti tidak akan melotot seperti itu, kalau sudah melihat orangnya. Dia tampan, lho.

Biarpun yahhh..., penampilannya agak berantakan....”

Di semak-semak, kini giliran Andika melotot kesal.

“Setelah urusan ini selesai akan kusumpal mulut lancangmu dengan kotoran kerbau” ancam Andika dalam hati.

Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg terus me-lanjutkan langkah sambil berbincang ringan. Di belakang mereka, Andika tetap menguntit tanpa diketahui. Sepanjang perjalanan, berkali-kali matanya mengawasi wajah Idayu Wayan Laksmi ketika menengok ke belakang.

Menurut Andika, wanita itu memang luar biasa.

Kecantikannya yang terpancar di wajahnya begitu mempesona. Matanya bulat menggemaskan dengan bulu lentik bagai gapaian tangan bidadari. Apalagi dengan tanda hitam yang diletakkan pada kedua pangkal hidungnya di bawah dahi. Makin menggemaskan saja. Di atas mata itu, sepasang alis tipis namun hitam tumbuh memikat. Hidungnya amat pas dengan bentuk bibir yang tipis memerah. Sementara bagian bawah bibirnya, tampak bagai buah ranum menggoda.

Wanita itu mengenakan kain yang dibebatkan sebagai penutup tubuhnya. Pinggangnya dililit selendang 'Tengkulang'.

Sedang rambutnya digelung gaya khas Bali, dihiasi bebungaan.

Berbeda dengan adiknya, yang bertubuh kurus dan agak hitam. Sedangkan Idayu Wayan Laksmi berkulit kuning langsat. Tubuhnya pun sintal. Tak heran kalau banyak pria yang jatuh hati padanya.

Tanpa terasa mereka telah berjalan cukup jauh.

Rumah kedua kakak beradik itu mungkin sudah dekat. Namun sepanjang perjalanan belum ada tanda-tanda kalau I Made Raka muncul seperti cerita I Ktut Regeg. Andika pun mulai berpikir kalau dirinya telah dibodohi seorang pembual kecil bernama I Ktut Regeg.

Ketika kesabaran Andika sudah nyaris habis, mendadak tiga kelebat bayangan masuk ke jalan setapak dari semak-semak. Mereka langsung menghadang Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg.

“I Made Raka,” bisik Idayu Wayan Laksmi takut-takut, saat melihat siapa penghadangnya.

“Ya, aku. Kau terkejut, Geg*?” tegur I Made Raka dengan bibir mengumbar senyum nakal.

Lelaki itu berwajah cukup tampan. Tubuhnya agak kurus dan mengenakan bebatan kain batik sutera.

Kepalanya yang berambut sepanjang bahu ditutup kain berujung lancip pada satu sisinya.

“Beli mau membiarkan aku lewat, bukan?” ucap Idayu Wayan Laksmi ragu-ragu.

“Aku membiarkanmu lewat?” I Made Raka tertawa berderai-derai, diikuti anak buahnya yang berdiri di belakang.

Tawa ketiga lelaki itu membuat Idayu Wayan Laksmi menjadi kian takut. Direngkuhnya tangan I Ktut Regeg kuat-kuat. Sementara, matanya menatap takut-takut pada I Made Raka. I Ktut Regeg yang direngkuh malah seperti tidak mempedulikan kedatangan ketiga lelaki di depannya. Matanya sibuk melirik ke sana kemari, mencari Andika. Setelah matanya menemukan pendekar muda itu di satu semak, baru ditatapnya I Made Raka bengis-bengis.

“Kami akan pulang, Beli, ” kata I Ktut Regeg mantap. “Jangan coba-coba mengganggu kami”

Sekali lagi, tawa ketiga penghadang mereka meledak.

“Apa aku tak salah dengar? Cacing kecil ini berani mengancamku, ya?” kata I Made Raka, setelah tawanya terhenti.

Dengan gaya seorang ksatria, I Ktut Regeg maju ke depan tubuh Idayu Wayan Laksmi. Dadanya yang tipis dibusungkan dengan wajah terangkat menantang.

“Kau tak salah dengar, Beli, ” tukas I Ktut Regeg sok pahlawan, dengan suara lantang. “Biar bagai-manapun, aku orang Bali sejati yang siap mengorban-kan jiwa demi keadilan dan kebenaran. 'Sepi ing pamrih rame inggawe'”

I Ktut Regeg seakan-akan benar-benar memiliki keberanian. Padahal kalau Andika tidak di dekat mereka, sudah pasti dia ikut merengkuh tubuh kakaknya kuat-kuat.

“Ha ha ha...” I Made Raka tergelak nyaring. “Kau cukup punya nyali untuk meminta dihajar.”

“Cobalah” tantang I Ktut Regeg.

Kata-kata I Ktut Regeg bagai menginjak-injak kepala I Made Raka. Yang makin membuat jengkel, anak itu juga memukul dadanya sendiri seraya mengangkat wajah tinggi-tinggi.

“Regeg” hardik Idayu Wayan Laksmi, mem-

peringati.

“Biar, Mbok. Jangan dipisahkan” seru I Ktut Regeg jumawa. Padahal, berkelahi pun belum pernah. “Akan kucincang kau, Bocah” bentak I Made Raka, tak bisa menahan kegusaran. Didekatinya I Ktut Regeg dengan langkah terbanting keras. Tangannya siap menghajar wajah I Ktut Regeg.

Baru saja tangan I Made Raka terangkat tinggi-tinggi, mendadak satu desiran halus terdengar.

Wesss...

Prot

Sesuatu yang lembek dan hangat tahu-tahu

mampir di telapak tangan lelaki itu. Tak hanya lembek dan hangat. Begitu I Made Raka mengendus tangannya, ternyata benda lembek dan hangat itu juga bau...

“Kotoran sapi sebagai hadiah perkenalan” ucap seseorang tiba-tiba dari belakang Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg.

Seketika I Made Raka melotot lebar-lebar. Diturun-kan tangannya cepat-cepat. Bodohnya, tangannya yang tertiban ampas binatang itu kembali diciumnya.

Seolah hendak dibuktikan kalau itu benar-benar kotoran sapi. Maka, kontan saja wajahnya jadi memerah serta cuping hidung terangkat tinggi-tinggi.

Sebentar kemudian....

“Khoeeek”

*** 2

“Siapa orang yang berani kurang ajar pada I Made Raka?” bentak I Made Raka kalap sambil mengibas-ngibaskan tangan.

Andika melangkah ke depan. Dari kegelapan naungan pepohonan lebat, Pendekar Slebor muncul.

Wajah dan penampilannya kini jelas terlihat karena siraman sinar purnama.

“Kau bicara padaku?” tanya Andika pura-pura bodoh.

I Made Raka mengawasi Andika tajam. Bola matanya yang nyaris membulat penuh seperti hendak menelan pemuda di depannya. Wajahnya tampak merah matang, seperti kepiting rebus.

“Siapa kau?” tanya lelaki itu menghardik. “Baru kali ini kulihat wajahmu”

“Rasanya aku juga baru kali ini melihat tampang menjengkelkanmu itu,” balas Andika enteng.

“Siapa namamu?” ulang I Made Raka lebih keras.

“Kenapa tanya-tanya segala? Naksir ya?”

“Bangsat”

“He he he...,” Andika malah terkekeh, seperti tak merasa bersalah secuil pun.

“He he he...,” timpal I Ktut Regeg mengikuti gaya Andika, membuat kemarahan I Made Raka makin menjadi.

Lelaki itu lalu uring-uringan tak karuan. Dia mencak-mencak seperti kakek peot kebakaran jenggot. “Kalian telah mempermainkan keluarga Cokorde

Kalian tahu itu? Kalau kalian tak segera bersujud minta maaf padaku, akan menyesal seumur hidup”

maki I Made Raka panjang pendek.

“Wah, gerakanmu nyatanya lebih bagus daripada tarian di upacara tadi,” cemooh Andika seraya mengusap-usap dagu serta mengangkat satu alisnya.

“Cukup sudah Hajar” perintah I Made Raka pada kedua anak buahnya.

Lelaki bertubuh tinggi dan buntal maju ke muka.

Dihampirinya Andika dengan wajah dipasang garang.

Dia mengira orang akan ngeri melihat wajahnya.

Padahal, mimik mukanya lebih mirip orang dungu.

Sambil menggeram, tangan lelaki berbadan boros itu melayang di udara. Gerakannya lamban, namun cukup bertenaga. Bagi Andika, lawannya sekarang ini tak lebih cecunguk yang hanya modal tenaga.

Dengan bibir tetap menyeringai, Pendekar Slebor bergerak sedikit ke belakang. Tanpa terlihat bergerak sedikit pun, tangannya langsung menjentik ke ikat kain penutup tubuh tinggi dan gemuk itu.

Tes

Semuanya terjadi begitu cepat. Sampai-sampai, laki-laki itu sendiri tak menyadari kalau kain penutup tubuhnya telah melorot. Maka bukan main blingsatan-nya lelaki berbadan seperti kerbau itu, menyadari badannya yang seperti tumpukan lemak terbuka bebas tanpa penutup, kecuali celana pendek hitamnya. Kedua tangannya berusaha menutupi bagian perutnya yang buncit, tapi tetap terlihat seperti kepala dedemit sedang mengintip.

Lalu tanpa mempedulikan Andika lagi, bergegas diangkatnya kain dari bawah tubuhnya. Lalu, dia lari menuju tempat gelap. “Awas ada kerbau hamil” ledek Andika, diiringi tawa renyah.

Kaki-tangan I Made Raka yang lain langsung maju.

Penampilannya cukup meyakinkan. Kumisnya mem-bentang, tak beda tanduk kambing buduk. Menilik pakaiannya yang berbentuk kemeja hitam tanpa kerah serta celana pangsi bisa jadi dia bukan penduduk asli Bali.

Penuh lagak meyakinkan, lelaki itu meloloskan golok besar dari libatan kain di pinggangnya. Sret

Dia pun menggeram aneh. Barisan gigi kuningnya diperlihatkan lebar-lebar seperti tak tahu malu.

“Akan kubuat daging cincang kau, Anak Muda”

ancam laki-laki itu berat.

“Monggo*...” kata Andika, seraya mengayun tangan ke depan untuk mempersilakan.

“Hiaaah”

Laki-laki bertampang bengis ini mulai membuka serangan. Satu tebasan telengas ditujukan ke batang leher Pendekar Slebor. Meski mata senjata itu nyaris mampir di leher, namun Andika masih terlihat tenang-tenang saja.

Dan ketika tinggal seujung kuku lagi golok besar milik lelaki berkumis baplang membabat lehernya, tubuh Pendekar Slebor tahu-tahu berkelebat secepat hantu. Gerakan menghindarnya memang terlalu cepat, sehingga laki-laki berkumis itu menyangka Andika menghilang begitu saja.

Mata orang itu mendadak melotot sebesar uang logam, tanpa berkedip sedikit pun. Bibirnya langsung bergetar tergagap-gagap.

“Ded... ded... de...,” laki-laki berkumis baplang itu, tergagap.

“Dedemit” bentak Andika. Seperti dikejar sekawanan setan, lelaki itu langsung lari tunggang langgang. Malah kepalanya tak sempat lagi menoleh ke arah tuan besarnya yang juga ikut melongo, menyaksikan pemuda yang mem-permainkannya yang tiba-tiba menghilang, dan muncul tiba-tiba pula.

Sesaat kemudian, I Made Raka ikut tunggang langgang, mengekori kedua anak buahnya. Masih bagus, tak terkencing-kencing.

“Nah Sekarang kalian aman untuk meneruskan perjalanan pulang,” ucap Andika, setelah ketiga lelaki bejat tadi tak terlihat lagi.

“Oi, hebat Beli betul-betul pendekar jempolan”

puji I Ktut Regeg pada Andika.

“Ya, ya,” sergah Andika. “Tapi kau juga menyebut berantakan tadi, bukan?”

I Ktut Regeg terkekeh.

“Ini orang yang kuceritakan tadi, Mbok,” ujar I Ktut Regeg langsung menoleh ke arah Idayu Wayan Laksmi. Diperkenalkannya Andika. Bahkan langsung disambarnya lengan Andika untuk didekatkan pada kakaknya.

“Terima kasih atas pertolongan Beli.”

Gadis jelita itu tersipu-sipu, meski masih ada sisa ketakutan di wajahnya.

“Aku Andika,” kata Andika memperkenalkan.

“Laksmi,” balas gadis itu disambutnya uluran tangan pemuda tampan di depannya sungkan-sungkan.

“Ya, aku sudah tahu,” kata Andika lagi.

“Dari aku dia tahu, lho Mbok” sela I Ktut Regeg.

“Aku tak mau tahu,” tukas Andika acuh. “Bagaimana kalau kuantar kalian sampai di rumah?”

“Ooo.... lebih baik begitu, Beli” serobot I Ktut Regeg, sambil mengerling pada kakaknya.

Idayu Wayan Laksmi tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menarik napas panjang-panjang. Dan sebentar saja, ketiganya sudah nampak berjalan beriringan diselingi obrolan ringan.

***

Idayu Wayan Laksmi mempersilakan Andika untuk masuk dulu. Mulanya pemuda itu menolak, karena hari sudah larut malam. Tapi Idayu Wayan Laksmi terus memaksa. Lebih-lebih I Ktut Regeg. Akhirnya Pendekar Slebor ikut juga masuk ke dalam rumah berbentuk gubuk besar ini.

“Mana kedua orangtua kalian?” tanya Andika, setibanya di dalam ruang tengah.

“Kami hanya tinggal berdua,” jawab Idayu Wayan Laksmi. “Kedua orangtua kami telah meninggal beberapa tahun lalu.”

Andika mengangguk-angguk. Dia ikut prihatin, walau tak ditampakkan secara langsung.

“Silakan duduk, Beli”

Andika menggeser bangku kayu berukir, lalu duduk. Idayu Wayan Laksmi sendiri pamit pada Andika untuk pergi ke belakang sebentar. Sedangkan I Ktut Regeg sudah pergi entah ke mana. Anak muda tanggung itu tidak terlihat lagi di ruang depan.

Selang tak lama kemudian, Idayu Wayan Laksmi muncul lagi membawa secangkir kopi hangat. Diletak-kannya cangkir tanah liat itu di meja di depan Andika.

Langsung dipersilakannya Andika.

Andika mengangkat cangkir, lalu menyeruputnya.

“Maafkan adikku, Beli,” Idayu Wayan Laksmi mulai angkat bicara, begitu Andika selesai meneguk kopi. “Mungkin dia telah lancang berbicara pada Beli.”

“Ah, biasa,” sergah Andika. “Sekarang ke mana anak itu?”

“Di belakang. Entah apa yang dikerjakannya. Tapi dia membawa peti berukir dengan golok. Aku tidak tahu lagi, apa yang akan dikerjakannya,” ucap Idayu Wayan Laksmi.

“Peti? Peti apa?”

“Aku tidak tahu, Beli. Katanya, dia menemukannya di dekat pantai.”

“Boleh aku melihatnya?” tanya Andika.

Idayu Wayan Laksmi mengangguk. Segera diantar-nya Andika ke halaman belakang rumah mereka. Di sana, I Ktut Regeg tampak tengah berusaha mencongkel tutup peti dengan golok.

“Apa yang kau kerjakan, Regeg?”

I Ktut Regeg menoleh pada Andika.

“Ini, Beli. Aku hanya penasaran pada isi peti ini.

Tampaknya isinya menarik,” sahut I Ktut Regeg tanpa berhenti mencongkel.

“Boleh kulihat?” pinta Andika, segera berjongkok di sisi I Ktut Regeg.

“Ini....”

Anak muda tanggung itu menyerahkan peti selebar lengan manusia itu. Andika segera menerimanya, kemudian memandanginya beberapa saat.

Peti dari kayu jenis langka itu pada setiap sisinya diberi ukiran yang menggambarkan perkelahian Kala* dengan seorang ksatria. Cukup berat juga.

Ketika diguncang-guncangkan, terdengar bunyi sesuatu yang bergulir. Jelas, peti ini memiliki isi. Entah apa, Andika sendiri tak tahu.

“Beli bisa tolong membukakannya?”

“Kenapa harus dibuka? Mungkin ini milik se- seorang. Bukankah lebih baik menunggu orang yang merasa kehilangan benda ini, kemudian diserahkan kembali padanya?” cegah Andika.

“Tapi aku menemukannya dalam keadaan ter-

kubur ketika hendak....”

“Eee...,” potong Andika cepat. “Kau lupa pada ucapanmu ketika I Made Raka menghadang kalian?

Kau bilang, kau adalah orang Bali sejati yang sudi membela kebenaran dan keadilan dengan

pengorbanan jiwa?”

I Ktut Regeg membuang napas.

“Bagaimana? Setuju?” tanya Andika.

“Tapi aku hanya ingin melihat isinya, Beli”

Andika menggelengkan kepala, lalu bangkit membawa peti itu masuk ke rumah.

“Beli....”

“Aku tak dengar....”

“Huh, pendekar berantakan” makinya mangkel.

***

Malam meringkus seluruh pelosok Buleleng.

Seusai upacara Galungan, desa menjadi sepi. Apalagi ketika hari bergulir ke ambang pagi.

Karena desakan Idayu Wayan Laksmi yang masih takut kalau-kalau I Made Raka datang menyatroni kembali, Andika akhirnya bermalam di gubuk besar milik dua kakak-beradik itu.

Tempat kediaman itu kini senyap. Baik Idayu Wayan Laksmi, I Ktut Regeg, maupun Andika, semuanya tidur nyenyak. Rasa letih yang sarat membuat mereka begitu.

*** 3

Jauh di pinggir utara daerah Buleleng, tampak dua orang berjalan menelusuri lembah. Ada sesuatu yang tengah dilakukan mereka. Keduanya tampak bersama-sama menyeret sebuah peti besar dengan tambang yang diikatkan pada satu bagian peti.

Melihat bentuknya, cepat bisa diduga kalau benda itu sebuah peti jenazah.

Warna peti mati itu sudah begitu kusam. Namun karena terbuat dari kayu jenis langka yang tahan rapuh, jadi tidak mengalami kerusakan meski terseret-seret di jalan berbatu. Hanya saja tetap terdengar suara ribut, karena benturan-benturan.

Sementara debu beterbangan di sisi peti mati, membuat peti itu makin terlihat kusam dan angker.

Buat orang-orang biasa, peti itu mungkin harus diseret empat atau lima orang karena demikian besarnya. Namun tidak bagi kedua lelaki itu.

Sebenarnya, bukan karena badan mereka besar.

Malah bisa dibilang, perawakan keduanya tak seimbang dengan beban yang sedang dibawa.

Yang seorang berbadan kurus agak bungkuk.

Wajahnya buruk. Malah bisa dikatakan mengerikan, karena matanya yang membesar seperti hendak melompat keluar dan hidung yang tak berbatang.

Rambutnya panjang dan kotor, berwarna kemerahan.

Dia mengenakan rompi sepanjang paha, serta kain hitam sebagai pengganti celana.

Sedang yang seorang lagi berbadan kurus, tapi lebih tinggi. Wajahnya tak bisa digambarkan, karena mengenakan caping yang menutupi seluruh kepalanya. Pakaiannya hanya berupa kain merah panjang, yang diberi lubang di tengahnya sebagai kerah. Agar tidak terbuka ke mana-mana, kain di bagian pinggang diikat kulit ular yang berguna juga untuk meng-gantung pundi-pundi kecil dari tanah liat.

Mereka terus melangkah pasti ke sebuah padang ilalang. Tumbuhan setinggi manusia itu diterabas tanpa kesulitan berarti. Setelah melewati padang ilalang, mereka tiba di sebuah bukit kecil yang di atasnya berdiri satu gubuk panggung kecil.

“Kita sudah sampai, kakang Lalinggi,” ucap lelaki berwajah buruk.

Lelaki yang dipanggil Lalinggi menoleh. Lalu diberinya isyarat kecil dengan gerakan kepala, disambut anggukan oleh laki-laki berwajah buruk.

Segera laki-laki berwajah buruk itu melepas tambang penyeret peti. Mulai dilakukannya gerakan pernapasan. Diawali komat-kamit dibibirnya, tangannya membentuk paruh gagak dalam gerakan perlahan berbentuk putaran. Sesaat berikutnya....

“Husss”

Bfiiing

Bersama lengkingan tinggi, tiba-tiba dua rangkum pukulan tak berwujud dari laki-laki berwajah buruk meluncur deras ke arah gubuk panggung.

Brak Brak

Bagai dihantam dua bongkah batu besar dari dua sisi, gubuk naas itu kontan porak-poranda. Dinding-nya yang terbuat dari papan berhamburan ke segala arah. Begitu pula atapnya yang terbuat dari daun kelapa kering.

Di antara tebaran pecahan kayu dan serpihan atap, tampak sesosok tubuh menerobos ringan laksana rajawali di udara. Kedua tangannya mem-bentang lebar, menjaga keseimbangan agar tetap meluncur lurus ke atas. Pada ketinggian puncak, sosok tubuh itu berputaran di udara. Dan kini tubuhnya meluncur lurus ke bawah dengan kedua tangan terlebih dahulu. Sebelum benar-benar tiba di permukaan tanah, kembali dilakukannya putaran, sehingga kakinya menjejak mantap tanpa cedera.

Tepat di depan puing-puing reruntuhan gubuk, orang itu berdiri tegak.

Melihat ketangkasannya di udara, bisa diduga kalau laki-laki itu berkepandaian cukup tinggi. Usianya kira-kira delapan puluh tahun. Seperti layaknya penduduk Bali, dia mengenakan babatan kain batik dari dada hingga ke batas lutut. Di pinggangnya terlihat kain hitam sebagai tempat menyisipkan keris.

Rambutnya yang putih, panjangnya sampai ke punggung. Di wajahnya yang berkeriput, tak ada selembar kumis atau jenggot pun. Mungkin karena itu pula wajahnya terlihat bersih berwibawa.

“Siapa kalian berdua?” tanya orang tua itu dengan segumpal ketidakmengertian.

“Kami Sepasang Datuk Karang” balas lelaki bercaping itu, memperkenalkan diri.

Wajah lelaki tua yang berdiri dua puluh tombak di depan mereka terlihat makin mengerut. Sepertinya, sedang berusaha mengingat-ingat nama yang baru disebutkan tadi.

“Aku tak kenal kalian,” kata laki-laki tua itu lebih lanjut.

“Tentu saja kau tidak tahu kami, karena selama ini selalu menyembunyikan diri seperti seorang pecundang” kata Lalinggi lagi, yang merupakan orang tertua dari Sepasang Datuk Karang. “Jadi, siapa sebenarnya kalian? Dan ada sangkut-paut apa denganku?”

“Kami menginginkan peti yang kau kubur di pulau ini, lima puluh tahun lalu” sambar lelaki yang berwajah buruk.

Si Lelaki tua itu memegangi dagunya. Wajahnya kembali memperlihatkan kerutan lebih banyak.

Sedang matanya menyipit, tertuju ke arah lain.

Sepertinya dia berusaha mengingat peristiwa lima puluh tahun lalu.

“Hm, peti itu,” gumam laki-laki tua itu perlahan.

“Kenapa dengan peti itu? Dan kenapa kalian begitu menginginkannya?”

“Kau tak perlu tahu Tunjukkan saja, di mana tempatnya” bentak lelaki berwajah buruk yang cepat naik darah.

“Tidak bisa.” putus laki-laki tua itu tegas, sambil menggeleng.

“Perlu kau tahu, Pak Tua. Kami hanya ingin agar kau memberitahu di mana peti itu dikuburkan. Kalau kau tak bersedia dengan cara yang baik ini, kami akan memaksa mulutmu berbicara,” ancam lelaki bercaping dingin dan datar.

“Cepat katakan” bentak lelaki berwajah buruk sekali lagi.

Dan sekali lagi pula orang yang diminta bicara ini menggeleng mantap.

“Paksa dia, Gumbala” perintah Lalinggi.

Lelaki kurus berwajah buruk yang bernama

Gumbala pun bersiap. Sambil maju dengan langkah membentuk kuda-kuda, tangannya memainkan jurus kembangan. Sama seperti saat pertama menghancurkan gubuk, kedua tangannya membentuk paruh gagak. Empat tombak lagi jaraknya dengan lelaki tua itu, tangan seorang dari Sepasang Datuk Karang ini bagai sedang mencabik-cabik udara di depannya.

“Hiaaah”

Tiba-tiba kaki Gumbala melangkah cepat. Seretan kaki pada tanah kering itu menyebabkan debu beterbangan ke udara, menutupi sehagian tubuhnya.

Bfing

Bunyi melengking tinggi tercipta, manakala tangan kanan laki-laki berwajah buruk itu menyambar cepat ke dada lawan.

Tentu saja lelaki tua ini tak sudi dadanya ter-tembus jari Gumbala. Segera dibentuknya benteng pertahanan dengan menyorongkan pergelangan tangan ke depan.

Des

Serangan pertama Gumbala dapat ditangkis laki-laki tua ini.

Bfing Bfing

Dan belum juga laki-laki tua itu bersiap, Gumbala kembali meruntunkan dua cabikan jari ke kening dan selangkangan. Benar-benar jurus kejam mematikan

Jika sambaran angin pukulannya saja sudah terasa bagai sabetan cemeti, bagaimana lagi kalau benar mengenai sasaran?

Lelaki tua menyadari keampuhan jurus seorang dari Sepasang Datuk Karang ini. Bertindak gegabah berakibat maut. Apalagi setelah merasakan bagaimana perihnya angin pukulan Gumbala. Maka serangan yang datang kali ini tidak dipapakinya. Dia tahu, jika dicoba memapak berarti angin pukulan lawan akan jatuh tepat di wajahnya. Hal itu bisa mengakibatkan penglihatannya hilang beberapa saat.

Dan jelas, itu sangat berbahaya. Maka lelaki tua itu pun segera menyeret langkah ke belakang tiga tindak. Tak urung, sambaran angin patukan jari Gumbala menyambar sebagian wajahnya. Untunglah, tak begitu parah.

Dan ketika tangan Gumbala hanya memakan

angin di depan dada, lelaki tua melihat tempat kosong di bagian kepala. Dengan sigap diangkatnya kaki tinggi-tinggi, lalu disentakkannya ke arah kepala.

Deb

Seorang dari Sepasang Datuk Karang ini rupanya cukup jeli membaca serangan lelaki tua itu. Dengan cepat dia menjatuhkan diri ke tanah. Berbarengan dengan itu, kaki kanannya diputar dari belakang ke depan, untuk membabat sebelah kaki lawannya yang sedang menopang tubuh.

Srrrt

“Haih”

Mau tak mau, lelaki tua itu harus mendorong kaki yang masih di udara kuat-kuat ke atas. Dengan begitu, ayunan kakinya bisa dimanfaatkan untuk berjumpalitan ke belakang.

Wrrr

Bring

Sekejapan saja. di belakang suara geletar kain penutup tubuh lelaki tua itu kembali menyusul lengkingan nyaring dari patukan jari Gumbala ke punggungnya yang terbuka.

Keberuntungan tampaknya masih mengikuti si Lelaki tua. Kecepatan sambaran tangan Gumbala, tidak bisa mengimbangi putaran tubuhnya. Alhasil.

patukan tadi pun lolos begitu saja.

“Aku tak mengerti, apa gunanya peti itu bagi kalian?” kata lelaki tua setelah membentuk kuda-kuda delapan langkah di depan lawannya. “Kau tak perlu mengerti. Kau hanya perlu

mengatakan, di mana kau kubur peti itu. Dengan begitu, kau tak akan kehilangan nyawa” hardik Gumbala.

Baru saja kata-kata itu kering, tanpa mau menunggu lebih lama, Gumbala melabrak lelaki tua itu.

“Hiiiah”

Bfing... bfing... bfing

Dengan maksud mencecar, Gumbala mengirim

tiga patukan bertubi-tubi ke arah laki-laki tua itu.

Patukan pertama mengarah ke biji mata kanan, yang kedua mengarah ke uluhati, sedang yang ketiga ke daerah kematian di selangkangan.

“Haith... hiah... hih”

Lelaki tua ini cepat memiringkan tubuh ke kiri dan kanan. Dengan cara itu, dia tak lagi terganggu angin pukulan Gumbala yang menyerbu ke depan.

Kemudian....

“Khaaa”

Beriring satu teriakan menggelegar, tangan laki-laki tua ini mengejang membentuk kepalan. Secepat itu pula dua kepalan tadi dihantamkan ke dada tipis Gumbala di sampingnya.

Wuuubh

Namun, seorang dari Sepasang Datuk Karang ini cepat bertindak sambil menarik dadanya ke belakang, telapak tangannya cepat disorongkan ke depan.

Gumbala mementahkan serangan lawannya, dan langsung melenting berputaran.

“Kau belum berbicara, Tua Bangka?” seru

Gumbala, begitu mendarat di tanah.

“Aku tak akan sudi buka mulut pada manusia- manusia macam kalian” balas lelaki tua.

“Baik kalau memang begitu maumu” geram

Gumbala.

Selesai berkata penuh ancaman tadi, Gumbala membuka satu jurus baru. Kali ini jurus-jurus andalannya hendak dikerahkan agar urusan cepat selesai.

Dalam lima tarikan napas, Gumbala terdengar menggeram bagai erangan naga. Dan tangannya yang masih membentuk paruh gagak dibenamkan di dadanya yang mencekung. Saat berikutnya, tubuh kurus-nya berguncang hebat. Perlahan, sepasang kakinya meregang bagai ditarik kekuatan tak terlihat.

“Huaaa”

Diawali satu teriakan ganjil, Gumbala meng-hempaskan tangannya ke muka dengan punggung tangan lebih dahulu. Dorongan angin besar seketika pun tercipta, menerpa lelaki tua itu hingga terseret beberapa kaki ke belakang.

Saat selanjutnya keanehan terjadi. Dari setiap ujung jari Gumbala, perlahan menyembul kuku-kuku hitam lancip. Dan setiap kukunya, asap kekuningan terlihat mengambang di sekitarnya. Tampaknya dia sedang memusatkan racun keji pada setiap ujung jarinya.

Pada saat lelaki tua itu terpana-pana dalam tatapan tak berkedip, Gumbala tiba-tiba meluruk ke arahnya.

“Hwaaa”

Teriakan berbau maut dari mulut Gumbala

menyentakkan lelaki tua itu, hingga tersadar.

Mengetahui lawan akan merangseknya dengan jurus-jurus andalan, lelaki tua itu segera meloloskan keris dari lipatan kain di pinggang. Sret

Wes

Baru sekejap keris pusaka diloloskan, tangan Gumbala menyambar deras ke wajahnya. Seketika sebentuk cahaya kekuningan terbersit dalam bentuk melengkung di ujung sambaran.

Lelaki tua itu terkesiap. Disadari benar kalau lengkungan sinar kuning itu akan membuat tubuhnya mengejang biru, jika sedikit saja tersentuh. Karena itu, sebisa mungkin wajahnya dijorokkan ke belakang.

Dengan kerisnya, dibabatnya tangan lawan yang menuju wajahnya.

Wesss

Trang

Luar biasa Mata keris yang mampu membelah batu karang ini ternyata tidak berdaya membentur ujung tangan lawan. Senjata itu bagai baru saja menghantam baja murni, hingga menyebabkan timbulnya percikan bunga api. Bahkan tubuhnya sampai terjajar beberapa langkah.

Untuk kedua kalinya lelaki tua itu terpana. Matanya terbelalak besar sebagai ungkapan kekagetan sekaligus kekagumannya. Sayang, keterpanaannya kali ini membuatnya tak ingat pada serangan lawan.

Maka kesempatan itu dimanfaatkan benar-benar oleh Gumbala. Seketika satu sodokan mematikan dilancarkan ke depan. Dua tangannya yang berkuku panjang dan tajam langsung dihujamkan ke bagian dada lelaki tua ini.

Cras Cras

“Aaakh”

Satu lengkingan panjang kontan terlontar dari si Lelaki Tua. Tubuhnya sendiri tersentak tertahan dua langkah ke belakang. Kedua tangannya langsung memegangi dadanya yang berlubang kehitaman.

Hangus dengan darah membeku.

Setelah berdiri limbung beberapa saat, tubuh tua itu tersungkur. Sekujur badannya membiru. Yang lebih menggiriskan setiap lembar rambutnya ber-tebaran disapu angin.

“Kau memang bodoh, Tua Bangka” sergah

Gumbala.

Laki-laki berwajah buruk ini tiba-tiba meludahi mayat laki-laki tua itu. Lalu langsung didekati kawannya.

“Kita harus mencari tahu dari yang lainnya, Kang.

Dia terlalu keras kepala untuk buka mulut,” ujar Gumbala pada Lalinggi.

Yang diajak bicara hanya mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, keduanya sudah meninggalkan bukit kecil itu bersama gemuruh peti mati terseret.

*** 4

Tak terasa, telah dua malam Andika menginap di rumah Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg. Dan sore ini, Pendekar Slebor berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Padahal tujuannya saat ini belum bisa dipastikan. Ke mana kaki melangkah, ke sana pula tujuannya.

Sebenarnya, jauh di lubuk hati, Idayu Wayan Laksmi tidak ingin Andika pergi. Di samping merasa aman akan kehadiran seorang pendekar muda di rumahnya, dia juga mulai merasakan tumbuhnya benih yang sulit dilukiskan.

“Bagaimana kalau I Made Raka kembali lagi ke sini, Beli?” tanya Idayu Wayan Laksmi sebagai alasan keberatannya terhadap kepergian Andika, ketika mereka berada di luar rumah.

“Kau bisa berdoa pada Tuhan untuk memohon perlindungan. Karena sebaik-baiknya perlindungan, ada di tangan-Nya,” sahut Andika.

“Biar saja dia pergi Mbok Dikira hanya dia saja yang bisa menghadapi si Raka”

I Ktut Regeg yang masih mangkel pada Andika yang melarangnya membuka peti, dengan acuh bersuara dari dalam rumah gubuk.

“Regeg” bentak Idayu Wayan Laksmi kesal.

Adiknya itu malah tidak membantunya sama sekali untuk menahan Andika.

Andika sendiri hanya tersenyum menahan tawa.

“Tapi Beli janji akan kembali lagi ke sini, bukan?”

mohon Idayu Wayan Laksmi, sepenuh hati. Wajah ayunya menampakkan keberatan nan dalam.

“Akan kuusahakan,” jawab Andika, lembut.

“Biarkan dia pergi, Mbok Dia itu pemuda sombong” sergah I Ktut Regeg lagi.

Anak muda tanggung itu kini sudah muncul di ambang pintu. Kepalanya dijulurkan dengan wajah ditekuk.

“Waktu itu saja dia mengatakan, tak ingin menjadi kekasih Mbok. Padahal aku sudah setengah mampus menawarkan Mbok jadi keka....”

I Ktut Regeg memenggal ocehannya, karena tiba-tiba saja kakaknya berbalik dengan mata melotot.

“Keterlaluan kamu, Geg” hardik Idayu Wayan Laksmi.

I Ktut Regeg cepat menutup mulutnya dengan tangan.

“Eee, ketelepasan,” gumam pemuda tanggung itu enteng.

“Maafkan adikku, Beli, ” tutur Idayu Wayan Laksmi cepat pada Andika. “Mulutnya memang suka seenaknya berbicara.”

Tampak wajah gadis itu bersemu merah karena menahan malu.

“Tidak apa-apa,” sahut Andika.

Dalam hati, pendekar muda itu ingin sekali menyumpal mulut I Ktut Regeg dengan setumpuk telur busuk.

“Aku pamit, Laksmi,” hatur Andika.

Setelah menjura pada Idayu Wayan Laksmi,

Pendekar Slebor pun berbalik dan melangkah pergi.

“Tunggu, Beli...” tahan Idayu Wayan Laksmi.

Gadis itu ingin sekali mengiringi kepergian Andika hingga ke batas desa. Tapi rasa sungkan membuatnya tak jadi mengungkap keinginan, ketika Andika menoleh.

“Ada apa, Laksmi?” tanya Andika, karena gadis ayu itu tidak juga bicara.

Idayu Wayan Laksmi tergagap, wajahnya kembali dirayapi warna merah merona.

“Tid... tidak apa-apa, Beli” jawab Idayu Wayan Laksmi cepat. “Aku hanya ingin mengatakan, hati-hati.”

“Terimakasih,” kata Andika, lalu melangkah kembali.

Idayu Wayan Laksmi terus memandangi punggung pemuda itu sampai tertelan kerimbunan semak di kejauhan. Entah disadari atau tidak, mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Mungkin merasa begitu kehilangan pada lelaki tampan yang baru dikenalnya dua hari itu.

***

Matahari terus merangkak dalam garis edarnya.

Pada puncak siang, sinarnya memanggang garang wajah bumi. Suasana menjadi tidak nyaman. Bahkan angin pun terasa panas berhembus.

Andika kini telah tiba di suatu daerah berhutan.

Berarti, Pendekar Slebor berjalan semalaman hingga siang ini. Panas yang sejak tadi tak dipedulikannya, kini tidak bisa lagi menyengat karena lindungan daun pepohonan tinggi.

Sambil bersiul mendendangkan lagu ceria, Andika menembus hutan yang tak begitu lebat. Dan begitu memasuki pedalaman hutan, telinganya yang terlatih menangkap suara erangan. Langkahnya dihentikan untuk memasang pendengaran lebih tajam.

“Hm.... Kira-kira tiga puluh depa dari sini,” bisik Pendekar Slebor menentukan asal suara itu.

Cepat Pendekar Slebor menggenjot tubuhnya.

Naluri kependekarannya langsung memerintah untuk segera tiba. Maka segera dikerahkannya ilmu meringankan tubuh, sehingga sekejap saja tubuhnya sudah berkelebatan dari satu pohon ke pohon lain.

Bahkan lebih cepat daripada macan kumbang, dan lebih tangkas dari seekor kera.

Tak lama Pendekar Slebor berkelebat, kini telah tiba di tempat kejadian. Tampak di depan sana seorang wanita tua terkapar di tanah. Erangannya masih terdengar. Hanya sudah demikian lirih. Tubuhnya berusaha merangkak, namun hanya sempat menggapai-gapaikan tangan saja. Tubuhnya begitu lemah, akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dari luka menganga di bahu kirinya.

Andika cepat menghampiri. Diangkatnya tubuh lemah wanita tua itu, lalu disandarkan ke pahanya.

“Kenapa Odah*? Apa yang terjadi?” tanya Andika.

“Me... mereka menginginkan peti itu...,” gumam wanita tua itu lemah.

“Peti apa, Odah?” susul Andika, tak mengeri.

“Pe...”

Hembusan napas panjang terdengar. Seketika nyawa wanita malang itu telah berakhir menyedihkan.

Andika meninju tanah geram. Bukan karena belum sempat mengetahui maksud yang hendak disampai-kan wanita tua di pangkuannya, melainkan gundah tak sempat memberi pertolongan.

“Manusia keparat mana lagi yang melakukan perbuatan biadab ini?” desis Pendekar Slebor sambil meletakkan kepala si Wanita tua ke tanah.

Dan baru saja kepala wanita tua itu menyentuh tanah, di kejauhan terdengar teriakan tinggi meng- angkasa.

Pendekar Slebor bergegas bangkit. Kembali matanya menatap mayat wanita tua itu.

“Aku akan kembali untuk menguburmu dengan layak, Odah, ” kata Andika sebelum menggenjot tubuhnya.

Setelah itu, Pendekar Slebor langsung melesat ke asal teriakan yang didengarnya barusan.

Tak memakan waktu lama, Andika sudah dapat menemukan tempat yang dituju. Tampak dua lelaki sedang mengeroyok lelaki tua berusia tak berbeda dengan wanita tua yang ditemui sebelumnya. Kira-kira sembilan puluh tahun.

Lelaki tua yang sedang habis-habisan dikeroyok itu berambut putih merata, layaknya orang berusia lanjut. Tak seperti orang Bali pada umumnya, jubah yang dikenakannya berwarna biru tua dengan pangsi hitam. Wajahnya berkesan keras, namun sinar matanya sejuk. Kumisnya tebal memutih menghiasi wajahnya yang berwibawa.

Sementara dua lelaki yang sedang bernafsu hendak menghabisinya, yang seorang mengenakan caping dan seorang lagi berwajah buruk. Tak salah lagi, mereka adalah Sepasang Datuk Karang yang selalu menyeret peti mati besar.

Keadaan gawat yang dialami si Lelaki tua itu membuat Andika secepatnya memutuskan untuk campur tangan.

“Berhenti” seru Pendekar Slebor lantang dari jarak dua puluh lima tombak.

Sepasang Datuk Karang langsung menghentikan tekanan mereka pada laki-laki tua yang sudah di-basahi cucuran darah dari sudut bibirnya. Keduanya segera menoleh berbarengan ke arah Andika. “Mau apa kau?” bentak orang yang bernama Gumbala kasar. Matanya berkilat bengis, seakan siap menyantap pendekar muda itu.

“Ah, ah, ah Bukan kau yang mesti bertanya, tapi aku Mau apa kalian terhadap lelaki tua itu?” balas Pendekar Slebor, tak kalah kasar. Jangan tanya, bagaimana bencinya Andika terhadap orang yang sok berkuasa seperti Gumbala.

“Bocah busuk” maki Gumbala menggeram.

Kaki laki-laki berwajah buruk itu melangkah gusar hendak memberi sedikit pelajaran pada pemuda yang dianggap hijau yang punya nyali mengusik mereka.

Lalinggi, lelaki yang bercaping segera mencegah.

Dibentangkannya sebelah tangan di depan Gumbala.

“Anak Muda Kami harap kau tak ikut campur pada urusan kami. Kami hanya ingin lelaki tua itu mengatakan sesuatu pada kami, tapi....”

“Tapi kenapa kalian memaksanya juga?” serobot Pendekar Slebor, tak peduli.

“Banyak mulut kau...” Gumbala kian tak sabar.

Sekali lagi, Lalinggi menahan kawannya.

“Sekali lagi kukatakan padamu, Anak Muda.

Jangan campuri urusan kami,” ancam Lalinggi dingin.

“Hmmm....”

Andika mengangguk-angguk dengan wajah men-cemooh. Tangannya mengusap-usap dagu, seolah seorang guru sedang menilai kedua muridnya yang nakal.

“Apa orangtua kalian tidak pernah memberitahu, kalau memaksa orang lain adalah perbuatan yang tak se... no... nohhh” hardik Pendekar Slebor dengan mata membulat.

Andika lantas mengalihkan pandangannya kearah laki-laki tua yang jadi korban keroyokan Sepasang Datuk Karang.

“Pak Tua, izinkan aku sendiri mendidik dua bocah tak tahu adat ini Mungkin aku perlu memberi sedikit jeweran di telinga masing-masing...,” kata Pendekar Slebor dengan wajah dibuat judes.

Sampai di situ, Lalinggi pun terpancing.

Kemarahannya akhirnya pecah juga. Hanya tokoh persilatan yang tak memiliki harga diri yang sudi diperlakukan seperti anak kecil.

“Kau boleh menghajarnya sekarang, Gumbala,”

ucap Lalinggi. “Biar kuurus lelaki tua itu.”

Seperti diberi kesempatan untuk bersenang-senang, Gumbala maju bernafsu ke arah Pendekar Slebor.

“Bersiaplah. Karena mulutmu akan segera

kurobek, Bocah Busuk” geram Gumbala sambil membuka jurus 'Paruh Gagak'nya.

“Heeeaaa”

Teriakan serak tercipta bersama terjangan tubuh kurus Gumbala. Diterkamnya Pendekar Slebor dengan satu lompatan ke udara. Sepasang tangannya yang berbentuk paruh gagak, membuat serentetan cabikan ke depan. Sasarannya, tentu saja wajah pemuda di depannya.

Meski lawan sudah siap merobek-robek wajahnya, Pendekar Slebor masih sempat tersenyum-senyum mengejek. Sewaktu wajah buruk Gumbala mengeras karena teriakan, Andika pun menarik otot-otot wajahnya, hingga terlihat seperti orang telat buang air.

“Waaa Ada setan laut ngamuk” jerit Pendekar Slebor dibuat-buat.

Ketika tangan Gumbala nyaris tiba di wajahnya, barulah Andika berkelit secepat kilat ke satu sisi. Krak Glarrr...

Seketika dua batang pohon besar yang ber-

himpitan menjadi korban sasaran jurus kejam Gumbala. Setengah bagian kayu pohon itu terkoyak sebesar kuali. Serat-seratnya berhamburan ke mana-mana, tersapu angin yang bertiup cukup kencang.

Andika memang keterlaluan. Tak terlalu berlebihan kalau dijuluki Pendekar Slebor, saat pemuda itu santai meniup-niup serat kayu yang terbang ke arahnya seraya berjingkat-jingkat.

Tingkah urakan itu benar-benar dianggap sebagai sebuah penghinaan oleh Gumbala. Malah keinginan-nya untuk mencabik-cabik Andika makin menggebu saja. Dengan penuh nafsu, sekali lagi diterjangnya Pendekar Slebor.

“Khiiiah”

Bfing Bfing

Satu terkaman lagi dilakukan Gumbala. Kali ini, tangannya diayunkan bertubi-tubi dari samping kanan.

Tapi, santai saja Pendekar Slebor memapaki satu persatu patukan tangan lawan. Plak Plak Plak

Angin pukulan kuat yang bisa melecut kulit tubuh milik Gumbala, seperti ditelan begitu saja oleh tenaga papakan Andika. Tindakan itu sungguh membingung-kan laki-laki berwajah buruk itu. Yang lebih mem-bingungkan ketika Gumbala merasakan sesuatu yang tak beres di dada cekungnya.

Lelaki buruk rupa itu berjumpalitan ke belakang.

Ingin dibuktikan, bagaimana perasaannya tadi. Saat dadanya dilihat, ternyata sudah ada tulisan dari serat kayu menembus kulit luarnya. Bunyinya 'Aku Hewan Langka, Lestarikan'

Mata Gumbala lantas saja terbelalak. Tulisan itu terlalu panjang untuk dibuat dalam waktu demikian singkat. Untuk membuat serat kayu tembus ke kulit saja, sudah cukup sulit. Bagaimana pemuda itu bisa melakukannya demikian cepat?

Kini mata bulat Gumbala beralih ke arah Andika.

Ketercengangannya belum tuntas. Benaknya masih bertanya-tanya, siapa pemuda itu sesungguhnya.

Sementara Pendekar Slebor yang sedang diperhatikan, sibuk mengamati hasil karyanya di tubuh Gumbala. Sebelah alisnya terangkat seraya mem-perdengarkan gumaman panjang.

Ingin sekali saat itu Gumbala melontarkan pertanyaan, siapa lawan yang dihadapinya kini. Tapi karena hatinya berbisik kalau sedang menghadapi lawan tangguh yang mungkin tidak terkalahkan, dia malah berpikir untuk menyingkir saja.

“Kang Lalinggi Lebih baik kita menyingkir” teriak Gumbala seraya melayang ke belakang.

Saat itu, Lalinggi tampak telah berhasil membuat lelaki tua yang dihadapi terluka lebih parah. Dan karena sudah memastikan kalau lawannya tidak akan membuka mulut tentang peti yang dicari, maka usul Gumbala untuk menyingkir disetujuinya.

Seketika keduanya melesat pergi diiringi tawa terkekeh Andika. Tapi setelah itu, tawanya terpenggal begitu saja kala menyadari satu kesalahan.

“Astaga Kenapa kubiarkan saja bajingan bercaping itu menggasak Pak Tua,” desah Pendekar Slebor.

Dengan kekhawatiran menggelegak, Andika bergegas menoleh pada si Lelaki Tua. Kekhawatirannya terbukti. Orang tua naas itu sedang terbaring lemas dengan napas terengah-engah.

“Maafkan aku, Pak Tua. Mestinya aku tak mem- biarkan seorang dari mereka membuatmu seperti ini,” sesal Andika, di sampingnya.

Sambil memegangi dadanya yang terbakar telapak tangan Lalinggi, lelaki tua itu megap-megap berusaha mengucapkan sesuatu.

“Jangan berkata apa-apa dulu, Pak Tua Biar kucoba mengobati lukamu dulu” sergah Andika.

“Ja... jang... an,” tolak laki-laki tua itu, lirih tersendat. “Aku sudah tak mungkin ditolong lagi.

Serbuk racun itu pasti sudah merasuki tubuhku.

Sebentar lagi, jantungku tentu akan dihanguskannya.

Aku hanya minta padamu... satu hal. Akhhh....”

“Katakanlah, Pak Tua Aku akan berusaha

sebisanya memenuhi,” ucap Andika.

Susah payah si Lelaki Tua menyeret napas satu-satu. Dikumpulkannya udara ke paru-paru yang terasa tercabik-cabik.

“Tolong selamatkan peti berukir satria yang sedang bertarung dengan raksasa 'Kala'. Jangan sampai peti itu jatuh ke tangan kedua orang tadi...,”

pinta laki-laki tua itu nyaris tak kentara.

“Peti berukir satria....”

Tiba-tiba benak Andika kembali pada peristiwa dua malam lalu, saat I Ktut Regeg sedang berusaha membongkar satu peti kecil. Peti yang ditemukan I Ktut Regeg pun memiliki ukiran seperti digambarkan lelaki tua di dekatnya.

“Kalau peti itu sampai jatuh ke tangan mereka, dunia persilatan akan menghadapi bahaya besar,”

lanjut si Lelaki Tua, membuyarkan lamunan Andika.

“Kenapa begitu, Pak Tua?” tanya Andika ingin tahu.

Tak ada jawaban. Kecuali suara hembusan napas terakhir. Sebuah napas kematian. 5

Rasa penasaran bergumpal dalam benak Pendekar Slebor. Ada apa sebenarnya dengan peti itu, sehingga begitu diinginkan dua lelaki yang mengaku sebagai Sepasang Datuk Karang? Geletar keingintahuannya pun meminta, untuk segera kembali ke rumah Idayu Wayan Laksmi setelah dua jenazah orang tua malang yang didapat Andika dikuburkan.

Dengan pengerahan ilmu meringankan tubuh

penuh, tidak terlalu lama Pendekar Slebor sudah sampai kembali ke pekarangan rumah Idayu Wayan Laksmi dan adiknya, I Ktut Regeg. Kebetulan saat itu I Ktut Regeg sedang bersila di depan pintu, menimang-nimang ayam sabungan kesayangannya.

“Geg Kebetulan sekali kau tidak ke mana-mana,”

sapa Andika, mengejutkan anak muda tanggung itu.

I Ktut Regeg menatapnya acuh.

“Kenapa kembali?” tanya pemuda tanggung itu sedikit tak ramah.

Andika duduk di sampingnya. Maksudnya untuk sedikit melunakkan ambekan hati anak kurus itu.

Sambil tersenyum lebar, digandengkannya tangan ke belakang I Ktut Regeg.

“Kau masih kesal padaku karena soal peti itu, ya?”

rayu Andika.

I Ktut Regeg bersikap bodoh sambil terus menimang-nimang ayam jantan di tangannya. Mulutnya pun sengaja bersiul kencang-kencang, seakan tidak ingin mendengar ucapan Andika.

“Kau marah, karena aku melarangmu membuka- nya, bukan?” lanjut Andika.

Sambil berkata demikian, Pendekar Slebor meninju bahu kurus I Ktut Regeg perlahan. “Biar si Setan Kurus ini bisa merasa lebih akrab,” pikirnya.

I Ktut Regeg tetap acuh tak acuh.

“Hey? Bagaimana kalau kita membukanya

sekarang? Aku pikir boleh juga kita melihat isinya, bukan? Yang penting, kita tidak berniat jahat. Hanya melihat isinya saja, toh?” bujuk Andika susah payah, dengan mimik dibuat semanis mungkin. Padahal, hatinya mendongkol.

Si Anak Kurus itu mulai mau menoleh padanya.

“O, ya?” tanya I Ktut Regeg, masih tetap terdengar dingin.

“Ooo, iya.... Pasti itu” sergah Andika cepat.

“Cari sana di laut” sentak I Ktut Regeg.

Andika memiringkan kepala. Ditatapnya I Ktut Regeg tak mengerti.

“Apa kau bilang tadi?” tanya Pendekar Slebor dengan alis bertaut.

“Aku bilang, cari sana di laut” ulang I Ktut Regeg satu-satu.

Andika terlonjak. Seperti kerasukan, dia berdiri cepat. Lalu dicengkeramnya bahu I Ktut Regeg, sehingga terangkat.

“Apa maksudmu?” teriak Pendekar Slebor

bersama beliakan mata.

“Peti itu baru saja kubuang ke laut. Apa tidak mengerti juga? Ah, pendekar sakti kok bodoh...,”

gerutu pemuda tanggung itu tenang, tak peduli pada tubuhnya yang tergantung di tangan kekar Andika.

“Apa kau sinting?” maki Andika. “Peti itu amat berharga, tahu? Bisa membuat bencana, jika dua manusia busuk itu menemukannya” “Siapa suruh ' Beli' melarangku membukanya?” I Ktut Regeg balik membentak, “Kalau waktu itu kita membukanya, tentu sudah tahu apa isinya. Dan kita tahu pula, peti itu berbahaya atau tidak?”

Napas I Ktut Regeg turun naik. Dada kerempeng-nya kembang-kempis seperti orang sekarat.

Sementara Andika jadi jengkel. Dilepas begitu saja tubuh I Ktut Regeg.

Bruk

Tumpukan tulang hidup itu kontan mencium tanah.

Pantatnya pun terantuk batu sebesar kepalan centeng, membuatnya meringis-ringis sambil memegangi pantat.

“Sekarang katakan, di mana kau buang benda itu?” tanya Andika mulai tenang kembali.

“Aku sudah bilang di laut”

“Aku tidak tuli. Aku juga sudah dengar, kau tadi bilang di laut. Tapi di sebelah mana? Apa di Lautan Cina?” desak Andika, langsung menjewer I Ktut Regeg kuat-kuat.

“Di Pantai Buleleng sebelah barat” jawab I Ktut Regeg sembari meringis-ringis.

“Anak pintar,” kata Andika, memuji. Tapi setelah itu dihadiahkannya tamparan gemas ke kepala I Ktut Regeg.

Plak

“Adow Heee. beraninya sama anak kecil”

Andika tak mempedulikan lagi ejekan anak biang kerok itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya secepatnya pergi ke Pantai Buleleng untuk menyelamatkan peti yang dimaksud, sebelum didahului Sepasang Datuk Karang.

“Tak ada titip salam buat Mbok-ku. ' Beli'?” ledek I Ktut Regeg, belum puas. “Kalau naksir, ya naksir Jangan pura-pura segala”

Baru saja selesai ucapan I Ktut Regeg....

“Tolooong...”

Terdengar jeritan keras minta tolong. Jelas, itu suara Idayu Wayan Laksmi, kakak I Ktut Regeg.

“Ada apa, Geg?” tanya Andika.

Dengan sigap, tubuh Pendekar Slebor segera memburu ke pintu gubuk besar itu. Dilewatinya I Ktut Regeg yang masih terlongong-longong karena kaget.

“Mana aku tahu?” kata I Ktut Regeg. Padahal tubuh pendekar muda itu sudah menghilang di balik pintu.

Begitu berada di dalam gubuk, Andika menemukan sesuatu yang membuatnya gusar. Dalam keadaan mendesak saat Pendekar Slebor harus menemukan secepatnya peti berbahaya itu, seseorang ternyata telah menculik Idayu Wayan Laksmi. Kesimpulan seperti itu bisa langsung diambil Andika, manakala matanya melihat dinding bilik bambu di ruang tengah tampak jebol besar. Sementara kendi air minum berantakan di lantai tanah.

Satu lagi kesimpulan yang bisa diambil. Jelas, penculik Idayu Wayan Laksmi memiliki ilmu yang tak bisa dianggap remeh. Kalau ilmunya tanggung, sudah pasti penculik itu bisa langsung dipergoki Andika sebelum bisa membawa lari Idayu Wayan Laksmi.

Waktu yang dibutuhkan si Penculik untuk menjalankan niat jahatnya, ternyata lebih cepat daripada gerakan masuk si Pendekar Slebor

Di satu sisi Pendekar Slebor tidak boleh didahului Sepasang Datuk Karang untuk menemukan peti. Di sisi lain, Pendekar Slebor juga harus menyelamatkan Idayu Wayan Laksmi, yang tentu saja harus menghadapi si Penculik. Kepandaian si Penculik ini diperkirakan akan banyak membuang waktunya.

“Monyet buduk, kutu botak. bangsat norak...”

Pendekar Slebor memaki-maki kalap. Kalau matanya tak tertumbuk pada sehelai daun lontar di meja kayu, tentu akan terus menyumpah-nyumpah sampai kehabisan suara.

“Apalagi ini,” gumam Pendekar Slebor. Diraihnya daun lontar itu, dan langsung dibuka lipatannya.

Maaf, jika aku harus menculik Idayu Wayan Laksmi. Karena hanya dengan cara itu aku bisa mengundangmu untuk sedikit berpesta di tepi desa dekat gapura masuk. Ya Berpesta menghadapi orang bayaranku. Aku ingin sekali melihatmu terkapar di tangan orangku itu. Sekali lagi, aku minta maaf atas semua ini.

IMade Raka.

“Maaf... maaf. Gonderuwo”

Andika dongkol. Direjamnya daun lontar itu geram, sambil membayangkan kalau daun itu adalah wajah manusia bernama I Made Raka.

Dari lubang besar di dinding gedek, Andika melompat keluar. Satu-satunya cara terbaik adalah lari dengan kekuatan penuh, agar cepat tiba dibatas desa. Sekejapan baginya bisa saja amat berharga, mengingat pesan lelaki tua tentang peti berukir itu.

Pengerahan kemampuan ilmu meringankan tubuh yang tak tanggung, membuat jarak cukup jauh ke tapal batas desa bisa ditempuh Pendekar Slebor hanya dalam waktu singkat.

*** Tapal batas desa saat itu lengang. Tak tampak ada orang melintas, karena hari sudah begitu senja. Para petani yang biasanya lewat, sudah tak terlihat seorang pun. Mereka mungkin sudah tiba di rumah masing-masing.

Dalam siraman warna jingga lembayung, dua orang berdiri bersandar pada gapura. Yang seorang adalah wanita uzur berpakaian berbentuk piyama longgar warna hitam. Tubuhnya yang renta, ditopang se-batang tongkat di tangan kanan. Rambutnya yang putih merata dibiarkan terlepas ke mana-mana.

Sebagian besar wajahnya pun tertutup juluran rambut. Sehingga, wajahnya sulit dikenali. Namun yang jelas, dia memiliki dagu panjang berkerut dengan bibir berkesan kejam.

Sedang orang kedua tak lain dari I Made Raka.

Ketika Andika tiba di sana, lelaki itu menyambut bersemangat, penuh basa-basi menyebalkan. Sambil merentangkan tangan lebar-lebar, disambutnya kedatangan Pendekar Slebor.

“Ah, akhirnya kau datang juga Kupikir kau agak ngeri dengan tantanganku,” kata I Made Raka seraya tersenyum lebar mengejek.

“Jangan banyak mulut, Raka Mana Laksmi?

Cepat serahkan padaku” terabas Andika tak sabar.

“Ooo, jangan terburu nafsu. Aku tahu, wanita itu memang menggiurkan....”

“Di mana dia?” bentak Andika geram. Wajah pemuda itu mulai memerah.

“Sesuai aturan, kau harus bertarung dulu dengan-nya.”

I Made Raka mengerlingkan bola matanya ke arah perempuan tua di belakangnya.

“Aku tak ada waktu menuruti kemauan bodohmu” hardik Andika makin keras.

Pendekar Slebor segera mendekati lelaki itu dengan mata merah membara. Ingin sekali dipatah-kannya batang leher I Made Raka. Namun baru dua langkah maju, perempuan tua di belakang I Made Raka melompat ringan, lalu turun tepat di depan tuannya.

“Anak Muda Kau harus menghadapi aku,” ucap perempuan tua itu dingin.

“Kenapa harus? Apa kau pikir aku sudi sepertimu, yang mau saja dijadikan kacung oleh manusia sampah seperti dia?” dengus Andika, sebal.

“Kau harus menghadapiku,” ulang wanita itu penuh tekanan, seperti tidak peduli perkataan pemuda di depannya. “Aku telah dibayar mahal oleh I Made Raka untuk menjajal kehebatanmu, Bocah”

Tak ada niat perempuan tua itu memberi

kesempatan Andika untuk menyanggah lagi. Seketika disambarnya leher Andika dengan cakaran cepat.

Wesss

“Upfh”

Andika tak menduga perempuan ini begitu bernafsu menghajarnya. Tapi untuk disebut bernafsu, wajah perempuan tua yang dihadapinya tetap tak memperlihatkan perubahan mimik. Masih saja dingin dan kaku. Kalau begitu, perempuan tua ini mungkin semacam manusia budak uang Siap membunuh dengan tangan dingin jika ada yang bersedia mem-bayarnya.

Selaku pendekar berpengalaman menumpuk,

terjangan mendadak seperti ini dapat dihindari Pendekar Slebor dengan sedikit mengegoskan badan ke belakang. Namun luputnya serangan pertama tidak berarti bahaya terlewati. Karena dengan lebih cepat dan panas, si Perempuan Tua mengayunkan tongkat ke kaki Andika yang masih bertahan di tempat. Wuuut

Pendekar Slebor yang sudah telanjur menyorongkan badan ke belakang, tidak bisa lagi berbuat lain, kecuali meneruskan dorongan tubuhnya. Dia langsung berjumpalitan ke belakang. Dan saat berikutnya, kakinya sudah membuat kuda-kuda kembali.

“Baik..., baik. Kau ternyata memaksa,” ucap Andika.

Pendekar Slebor segera membuka bagian jurus awal yang diciptanya di Lembah Kutukan dahulu.

Jurus-jurusnya yang semula ganjil dan agak lucu kini terbentang di depan mata lawan. Kakinya berjingkat, sementara tangannya menggapai angkasa tinggi-tinggi, seperti gerakan orang yang sedang menghindari sambaran petir.

“Ayo seranglah” tantang Pendekar Slebor.

Berbareng satu erangan serak, perempuan tua itu meluruk ke arah Andika. Tongkatnya berputar menderu-deru di atas kepala, samping kiri lalu samping kanannya. Hendak diremukkannya tulang-belulang Pendekar Slebor dalam seruntun hantaman kilat.

Wung... wung... wung Prak, prak

Suara berderak mendadak terdengar. Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu saja, tubuh Pendekar Slebor berpilin di udara. Mungkin salah satu bagian tubuhnya telah membentur ujung senjata lawan, sehingga menyebabkannya terlempar seperti gasing.

Tak ada teriakan terdengar. Dan perempuan tua itu yakin benar kalau tongkatnya tentu telah menghantam telak kepala pendekar gagah itu. Sehingga mulutnya tak sempat lagi mengeluarkan suara.

Sementara tubuh Andika pun jatuh ke pangkuan bumi seperti sepotong pelepah pisang, kaku tanpa gerak. Sungguh suatu hasil yang begitu meng-gembirakan bagi si Perempuan Tua. Itu sebabnya, dia lantas terkikik nyaring.

“Hi hi hi... Hanya sebegitu saja kemampuanmu, Bocah Aku kira sebelumnya, aku akan sedikit susah payah untuk merontokkanmu,” ucap perempuan itu menggebu.

Sebagian cuping hidung wanita ini tampak

mengembang-kempis seperti kelinci.

“Kau lihat itu,” ujar wanita tua itu lagi pada I Made Paka. “Orang yang kau katakan memiliki ilmu dedemit, nyatanya tak ada apa-apanya melawan Nyi Ngurah Tambi, dukun sakti di Tanah Bali”

I Made Raka seperti tak percaya melihat kejadian yang dilihatnya. Mengapa pendekar muda itu demikian cepat terkalahkan? Tapi mengingat Nyi Ngurah Tambi memiliki ilmu hitam yang bisa saja membuat seseorang kehilangan kesadaran, dia baru bisa tertawa mengiringi cekikikan perempuan tua itu.

“Hua ha ha... Tak percuma aku membayar

sekantung uang emas padamu, Nyi Ngurah Tambi”

puji I Made Raka.

“Hua ha ha...”

Mendadak seseorang menyerobot keasyikan tawa I Made Raka. Entah dari mana datangnya suara itu.

Dan ketika I Made Raka mengawasi sekelilingnya, tak ditemukan seorang pun di sana. Nyi Ngurah Tambi pun melakukan hal yang sama.

Dan saat keduanya melempar pandang kembali pada tempat pendekar tadi terkapar, pemuda itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. “Hua ha ha...”

Terdengar lagi suara tawa meriah. Asalnya dari belakang tubuh I Made Raka. Kontan saja lelaki mata keranjang itu berbalik.

“Waaa...” I Made Raka memekik kaget, menyaksikan Pendekar Slebor sudah berdiri bersidekap dalam keadaan sehat walatiat.

Terbirit-birit I Made Raka lari ke arah Nyi Ngurah Tambi. Lelaki bernyali kodok itu langsung berlindung di belakang punggung si Perempuan Tua.

Nyi Ngurah Tambi merasa dipermainkan. Meski masih bingung kenapa lawan masih tetap utuh.

Padahal, telinganya tadi mendengar suara berderak sesuatu yang remuk. Seraya menggeram hendak dilabraknya Pendekar Slebor kembali.

“Eit... eit” cegah Andika sambil mengangkat tangan ke depan. “Tak usah terburu-buru, Barangkali kau perlu meneliti tongkatmu dulu, sebelum menyerangku kembali.”

Secepatnya, Nyi Ngurah Tambi melirik tongkatnya.

Matanya jadi mendelik tiba-tiba. Tongkat kayu itu ternyata sudah berubah bentuk Kedua ujungnya kini sudah seperti ujung kuas. Entah, bagaimana kayu yang direndamnya bertahun-tahun dalam ramuan pengeras bisa hancur masai seperti itu? Rupanya itulah yang tadi terdengar berderak di telinganya

Dengan gusar dihempasnya tongkat dari tangan.

Sekali lagi, si Perempuan Tua menggeram penuh ancaman. Dan baru saja kakinya maju selangkah, Pendekar Slebor untuk kedua kalinya menahan.

“Eit, jangan terburu-buru. Bagaimana kalau kita sedikit berdamai?”

Nyi Ngurah Tambi menatap pemuda yang berdiri empat tombak darinya di balik juluran rambut. Rupanya, dia terpancing dengan kata damai yang diajukan Andika.

“Ya Tentu kau tahu apa maksudku,” sergah Andika cepat.

Pendekar Slebor segera mengeluarkan dua buah kantung kecil dari balik baju.

“Kau tahu ini?” tanya Andika sambil mengguncang-guncang kantung-kantung itu di depan wajahnya. “Ini adalah dua kantung uang emas. Kau tak perlu bersusah payah mendapatkannya. Kau tahu, kalau aku cukup sulit dikalahkan. Perlu usaha yang berat, tentunya. Nah Kau akan dapatkan kantung uang ini, tanpa harus buang-buang tenaga bertarung denganku. Kau cukup memberitahuku, di mana Idayu Wayan Laksmi disembunyikan....”

“Jangan terima, Nyi” sambar I Made Raka cepat.

“Aku akan membay....”

“Ah, diam kau” bentak Andika.

Seketika tangan Andika menjentik satu keeping uang emas yang diambilnya dari salah satu kantung ke arah I Made Raka. Tuk

I Made Raka langsung bungkam seribu bahasa.

Tubuhnya yang melorot ke tanah langsung kaku matanya mendelik tak berkedip. Andika memang telah menotok satu jalan darahnya.

“Bagaimana?” Andika mulai lagi pada Nyi Ngurah Tambi.

Untuk sesaat, dukun perempuan ini hanya

menimbang-nimbang. Tubuhnya diam bagai arca.

Sedang matanya menatap lurus-lurus pada Andika.

Sepertinya, dia hendak meyakinkan diri dengan tawaran pemuda di depannya.

“Hey? Kenapa masih menimbang-nimbang?

Berapa kau dibayar manusia mata keranjang itu? Satu kantung, bukan? Nah? Kini kau bisa menerima dua kantung dengan bicara. Tak sulit?” ucap Andika.

“Hmmm, baiklah,” putus Nyi Ngurah Tambi. Uang toh lebih penting daripada kehormatan baginya.

“Bagus Sebelum kuberikan dua kantung ini, cepat katakan di mana wanita itu disembunyikan?”

“Aku ingin uangnya dulu. Kau bisa saja lari dariku setelah kuberitahu” kata Nyi Ngurah Tambi, keras.

“Baik..., baik. Nih”

Andika pun melempar dua kantung uang di

tangannya. Dan dengan tangkas, tangan Nyi Ngurah Tambi menyambar dua kantung itu. Setelah puas meneliti isi kantung, baru perempuan itu menampakkan senyum yang lebih mirip seringai.

“Perempuan itu disembunyikan Raka di sebuah gubuk dekat gapura, kira-kira sepeminum teh ke utara,” jelas perempuan tua itu.

“Kau tidak menipuku, bukan?” tanya Andika, ingin lebih yakin.

“Pemuda sundal” maki Nyi Ngurah Tambi kesal.

“Baik, baik.... Aku percaya padamu,” tukas Andika bergegas.

Bukannya Pendekar Slebor takut pada Nyi Ngurah Tambi, tapi hanya paling tidak tahan kalau mulut peot nenek-nenek itu melantunkan makian menyakitkan telinga. Dia bisa jadi sinting mendengarnya

“Kalau begitu, terimakasih at...”

“Pergi kau” hardik Nyi Ngurah Tambi, memenggal kalimat basa-basi Andika.

“Ya, ya, ya... Baik, baik” Andika kelimpungan.

Lalu Pendekar Slebor bergegas pergi. Lagi pula, dia memang sedang mengejar waktu agar tak kecolongan Sepasang Datuk Karang untuk mendapatkan peti berukir. Belum begitu jauh meninggalkan tempat tadi, si Pemuda Urakan itu kontan menahan geli. Sambil berlari cepat, dia masih juga memegangi perutnya.

Sementara dari kejauhan telinganya mendengar sumpah serapah Nyi Ngurah Tambi dan I Made Raka yang telah terbebas dari pengaruh totokan di tubuhnya.

“Pencopet Busuuuk” teriak mereka berbarengan di kejauhan.

Ternyata, dua kantung uang yang dipakainya untuk menyogok Nyi Ngurah Tambi adalah uang perempuan tua itu sendiri yang didapat dari I Made Raka. Sedang yang sekantung lagi milik I Made Raka yang berada di sakunya. Tak percuma Pendekar Slebor pernah menjadi copet budiman sewaktu masih menjadi bocah kotapraja dulu.

“Dengan begitu, aku toh bisa lebih cepat

membebaskan Laksmi,” ucap Andika tersedak-sedak tawa.

*** 6

Sejak kepergian Pendekar Slebor untuk menyelamatkan Idayu Wayan Laksmi. I Ktut Regeg duduk menanti di anak tangga rumah seperti orang bodoh.

Sebelah tangannya menopang dagu, sedang tangan yang lain menjentik-jentik papan anak tangga berirama. Sampai saat ini, dia belum mengetahui apa yang terjadi terhadap kakaknya. Yang cuma diketahuinya, kakaknya sedang dalam bahaya dan Andika, pendekar muda yang dikenalnya, sedang berusaha menyelamatkan.

Tanpa disadarinya, dua lelaki tiba di tempat itu sambil menyeret peti mati besar. Siapa lagi kalau bukan Gumbala dan Lalinggi yang berjuluk Sepasang Datuk Karang.

Sebenarnya suara bergemuruh yang ditimbulkan gesekan peti mati dengan permukaan tanah bisa ditangkap jelas telinga I Ktut Regeg. Tapi karena pikirannya saat itu hanya tertuju pada nasib Idayu Wayan Laksmi, I Ktut Regeg jadi tidak begitu mempedulikan. Sampai akhirnya, Lalinggi menepuk pundaknya.

“Apakah kau yang bernama Regeg, Bocah?” sapa laki-laki bercaping itu di sisi I Ktut Regeg.

I Ktut Regeg tersentak. Lamunannya seketika buyar. Kepalanya menoleh pada Lalinggi.

“Ya, kenapa?” sahut pemuda tanggung itu singkat tak bersemangat.

“Kudengar desas-desus dari beberapa orang desa, kau menemukan peti kecil berukir. Apa benar?”

sambung Lalinggi.

I Ktut Regeg mendengus acuh. “Apa pedulimu?”

kata I Ktut Regeg masabodo.

“Lebih baik kau beritahukan padaku, di mana benda itu sekarang...,” tandas Lalinggi datar.

I Ktut Regeg mengadukan pandangan ke penutup wajah Lalinggi. Kedua bola matanya tampak agak membesar.

“Kalau aku tak mau memberitahu, kenapa?”

tantang pemuda tanggung ini.

Lalinggi jadi tertawa sumbang.

“Kau anak yang bernyali besar, Bocah....”

Usai berkata, sebelah tangan Lalinggi merogoh sesuatu dari balik pakaian. I Ktut Regeg menyangka, lelaki bercaping itu hendak bertindak kasar padanya.

Maka dia tersentak hendak bangkit menghindar.

Tangan Lalinggi cepat menahan pundak I Ktut Regeg.

“Tidak perlu takut. Aku tidak mengancammu, bukan? Ini....”

Dari balik pakaiannya, tangan Lalinggi tadi mengeluarkan kantung kecil.

“Kantung ini berisi uang yang cukup untuk hidupmu setahun,” lanjut Lalinggi. “Kalau kau memberitahu peti berukir itu, kantung uang ini akan menjadi milikmu. Bagaimana?”

Sekali lagi I Ktut Regeg menoleh ke Lalinggi.

Dipandanginya caping penutup wajah lelaki di sampingnya tajam-tajam, seakan hendak menerobos ke celah anyaman untuk mengenali wajahnya. Kalau tadi pantatnya dibikin berdenyut-denyut oleh Andika karena peti berukir itu, kini ada orang aneh yang menawarinya uang. “Kau tak yakin dengan tawaranku ini?” tanya Lalinggi.

Maka laki-laki bercaping ini segera mengeluarkan keping-keping uang ke sebelah telapak tangannya.

Setelah itu, dimasukkannya kembali.

“Sebenarnya aku bukan tidak yakin pada tawaran-mu. Tapi aku hanya jadi penasaran pada isi peti berukir itu...,” tutur I Ktut Regeg nyaris bergumam pada diri sendiri.

“Ah Tidak ada benda berharga di dalamnya.

Kalaupun kau bisa melihat isinya, tentu kau akan segera membuang kembali,” sergah Lalinggi.

“Jadi, apa isinya?”

“Ooo, sudahlah. Kau bersedia menerima uang ini, atau tidak?”

I Ktut Regeg menimbang sesaat. Toh, dia mungkin tak bisa lagi mendapatkan peti berukir yang telah dibuangnya di laut. Sedangkan uang sekantung kecil itu, bisa dipastikan akan jadi miliknya. Syaratnya mudah pula. Hanya membuka mulut sedikit, beres.

“Aku telah membuangnya di sekitar pantai barat Buleleng,” jawab I Ktut Regeg akhirnya.

“Bagus, Bocah” Lalinggi mengangguk-angguk kepala. “Terimalah ini....”

Laki-laki bercaping itu segera melepar kantung uang ke udara.

I Ktut Regeg bergegas mengasongkan tangan untuk menangkapnya. Tapi sebelum sempat jatuh ke telapak tangan I Ktut Regeg, satu tangan menyambar-nya di udara. Dan ternyata, tangan itu milik Gumbala.

“Tapi kalau kau membohongi kami, maka kepala-mu yang jadi penggantinya,” ancam lelaki buruk itu.

Setelah itu, Gumbala baru meletakkan kantung uang itu ke telapak tangan I Ktut Regeg. Belum juga I Ktut Regeg mengucapkan terima kasih, kedua laki-laki itu pergi begitu saja sambil menyeret peti mati besar seperti biasa. Tidak dipedulikan lagi pemuda tanggung yang berjingkat-jingkat sambil melempar-lempar kantung uang ke udara.

Malam telah menjelang. Andika dan Idayu Wayan Laksmi pun tiba. Tapi mereka tak menemukan I Ktut Regeg di pekarangan. Di dalam rumah panggung, barulah pemuda tanggung itu ditemukan sedang berbaring sambil berongkang kaki. Tangannya masih menggenggam kantung uang, sementara pikirannya melayang mengkhayalkan barang-barang yang bisa dibeli dengan uang itu.

“Regeg...,” isak Idayu Wayan Laksmi seraya meng-hambur ke arah I Ktut Regeg. Dipeluknya sang Adik erat-erat, lega karena bisa selamat dari kejahatan I Made Raka.

“Mbok tidak apa-apa?” sambut I Ktut Regeg, ikut lega.

Idayu Wayan Laksmi menggeleng. Tangannya sibuk menghapus airmata di pipi.

“Untung Tuan Andika menolongku,” tutur gadis itu.

“Sekarang mana dia?” tanya I Ktut Regeg, hendak melaporkan tentang kedatangan dua lelaki sore tadi.

“Di luar,” jawab Idayu Wayan Laksmi.

I Ktut Regeg bergegas keluar. Tapi di sana tak menemukan siapa-siapa lagi, kecuali kelengangan malam yang diramaikan tembang hewan malam.

Andika sendiri sudah beranjak pergi sejak Idayu Wayan Laksmi masuk ke dalam rumahnya. Tak ada waktu lagi baginya untuk mengantar masuk atau berbasa-basi. Pendekar Slebor harus segera ke tepi pantai barat Buleleng, untuk mencari peti berukir. Sungguh Dia tidak mau kedahuluan Sepasang Datu Karang. Padahal tanpa diketahuinya, dua lelaki aliran sesat itu memang sudah mendahuluinya sejak sore tadi.

Belum begitu jauh dia meninggalkan rumah Idayu Wayan Laksmi, di tengah jalan menuju tepi desa Pendekar Slebor bertemu sepasukan prajurit kerajaan yang berjumlah sekitar tiga puluhan orang, lengkap dengan tombak dan tameng. Seorang di antaranya berpakaian seorang patih. Juga, ada seorang yang pernah dilihat Andika sewaktu upacara malam purnama waktu itu. Dialah Corkode Ida Bagu Tanca Raja Buleleng.

“Ada apa gerangan ini, Gusti?” tanya Andika setelah dekat, dan langsung menjura hormat.

“Kau orang asing yang tinggal di kediaman Idayu Wayan Laksmi?” tanya Cokorde berwibawa.

“Benar.”

“Tangkap dia” perintah Cokorde tiba-tiba saja, benar-benar mengejutkan Andika.

“Tunggu dulu” sergah Andika. “Bisakah Gusti jelaskan padaku, kenapa aku hendak ditangkap?”

Cokorde tak segera menjawab karena patih di sebelahnya menyarankan agar tidak perlu melayani pertanyaan Andika.

“Langsung tangkap saja, Paduka. Nanti setelah tiba di kerajaan, barulah disuruh bicara,” saran patih yang bernama I Wayan Rama.

Patih itu berusia sekitar empat puluh delapan tahun. Badannya kekar berotot. Sikapnya semakin gagah dengan sebilah keris pusaka di pinggangnya.

Wajahnya tampak garang, meski tanpa kumis melintang atau cambang bauk. Apalagi kalau memperhatikan alis matanya yang lebat, hampir menyatu pada pangkalnya. Sinar matanya tetap mencerminkan semangat bergelora, meski rambutnya sudah banyak ditumbuhi uban.

Berbeda dengan patihnya, Cokorde Ida Bagus Tanca bertubuh agak pendek dan agak gemuk. Meski begitu, perutnya tidak terlihat buncit. Dengan pakaian kebesarannya, dia tampak tak kalah gagah dengan Patih I Wayan Rama. Wajahnya putih, dengan kumis rapi. Karena usianya sudah cukup tua, wajahnya yang cukup tampan, tampak sudah dihiasi kerutan.

“Tangkap pemuda itu” perintah Cokorde Ida Bagus Tanca, setelah menyetujui saran patihnya.

Andika jadi gelagapan tak karuan. Bibirnya meringis tak mengerti. Apalagi ketika kedua puluh delapan orang prajurit mulai maju ke arahnya.

“Kutu koreng Bisa-bisa aku kedahuluan Sepasang Datuk Karang...,” maki Andika.

Sementara, seluruh prajurit sudah mengurung Pendekar Slebor dari setiap penjuru.

Tunggu duluuu” teriak Andika kembali agak sedikit mengkel. “Ini pasti salah paham”

“Tidak ada yang salah paham. Seorang keluarga kerajaan telah melaporkan. kalau kau telah membunuh tiga sesepuh Buleleng” tandas Patih I Wayan Rama lantang.

“Siapa yang telah melaporkan kebohongan itu?”

sangkal Andika:

Selama ini, Pendekar Slebor hanya tahu ada sepasang suami-istri tua yang dibunuh Sepasang Datuk Karang. Entah, siapa sesepuh lain yang dimaksud Patih I Wayan Rama.

“Tuan tadi menyebut-nyebut seorang keluarga kerajaan yang melaporkan hal itu?” tanya Andika lagi.

“Apa dia I Made Raka?” Mata Patih I Wayan Rama menyipit.

“Dari mana kau tahu?”

Tiba-tiba Andika tertawa.

“Sebaiknya Tuan sedikit mencari tahu, apa orang itu bisa dipercaya atau tidak. Menurutku, dia hanya seekor ular berkepala dua”

“Tutup mulutmu, Anak Muda” bentak Cokorde dengan mata agak terbelalak. “Menyerah atau terpaksa kami menggunakan kekerasan?”

Andika menggeleng. Bagaimana mau menyerah kalau kesalahan tidak pernah dibuat. Menyerahkan diri untuk dihukum karena fitnah, rasanya terlalu bodoh baginya.

“Kuminta pada Gusti, agar menyelidiki kembali perkara ini,” kata Andika.

Patih I Wayan Rama tak bisa bersabar lagi. Setelah meminta izin Cokorde, diperintahkannya pasukan untuk segera menyerang Andika.

“Seraaang”

Seketika kepungan berbentuk lingkaran besar yang dibentuk para prajurit bergerak mengecil ke satu titik, yakni ke tubuh Andika. Bagai puluhan kuda liar, mereka meluruk menciptakan gumpalan debu yang tersamar kegelapan malam. Tombak di tangan masing-masing teracung lurus ke depan, siap merencah tubuh Pendekar Slebor dari tiap jurusan.

“Hiiiaaa...”

Dengan mulut mengumpat panjang-pendek,

Pendekar Slebor menghindari tusukan demi tusukan tombak. Seiring serbuan tiap senjata lawan, tubuh pendekar urakan itu melengos kian kemari. Sejengkal ruang pun, saat itu amat berarti baginya agar mata tombak tidak sempat menembus atau menyodok kulitnya. Sebenarnya, bisa saja Pendekar Slebor melompat tinggi-tinggi ke atas, lalu hinggap di mana pun suka.

Setelah itu, tubuhnya bisa digenjot secepat mungkin, pergi dari tempat tersebut. Hal itu tidak dilakukannya, karena Andika tidak mau menjadi buronan pihak kerajaan untuk sesuatu yang tak pernah dibuatnya.

“Haih”

Trak Trak

Dua batang tombak yang menutup ruang gerak Pendekar Slebor di bagian tulang rusuk, patah berkeping oleh tamparan tangannya.

Slep... slep... slep...

Beberapa batang lain kontan kandas dihimpit ketiak Andika. Saat berikutnya, semua terbelah berantakan dicongkel sepasang pergelangan tangan Pendekar Slebor.

Prak

Bisa saja untuk selanjutnya Pendekar Slebor mengirim pukulan beruntun pada para prajurit yang telah kehilangan tombaknya. Namun, Andika tahu kalau lawannya hanya korban kesalahpahaman akibat termakan fitnah manusia licik I Made Raka.

Satu-satunya cara yang bisa diperbuat Pendekar Slebor agar terhindar dari hujaman senjata lawan, sekaligus tidak membuat para prajurit terluka, adalah menotok jalan darah masing-masing. Namun niat tersebut tak terlaksana, manakala prajurit yang masih memiliki senjata cepat menerobos masuk di antara prajurit lain, seraya menusukkan ujung tombak.

Serangan susulan mendadak itu menerabas dari depan. Sehingga, memaksa Pendekar Slebor

melemparkan tubuh ke belakang, melewati kepala beberapa prajurit di belakangnya. Setelah memutar tubuh di udara sekali, kakinya menjejak kembali di tanah.

Belum lagi Pendekar Slebor bisa menarik napas lega, lima prajurit di belakang lapisan pertama membokongnya berbarengan.

“Hiaaa”

Zeb... zeb... zeb...

Telinga pendekar Tanah Jawa Dwipa yang terlatih ini segera dapat menangkap ancaman bahaya di belakang. Dengan tangkas dirinya dijatuhkan ke tanah. Dan seketika kaki kelima prajurit tadi langsung tersapu keras, manakala tubuh Pendekar Slebor bergulir cepat ke arah mereka. Akibatnya, mereka pun jatuh berdebam susul-menyusul.

Bruk Bruk

Kini Andika sudah berdiri kembali sekitar tiga depa di tempat yang agak aman dari kepungan.

“Hm, mereka tampaknya begitu terlatih untuk kulumpuhkan dengan mudah,” desis Pendekar Slebor. “Kodok bengkak Aku makin sulit saja untuk segera tiba di pantai barat Buleleng....”

“Serang lagiii...” seru seorang prajurit, penuh gelora.

Para prajurit baik yang masih bersenjata maupun yang tidak, dengan berapi-api menerjang untuk yang kesekian kalinya. Selaku prajurit sejati, mereka memang digembleng untuk tidak mudah menyerah.

Sikap mereka bagai sudah tidak lagi memiliki rasa takut mati. Mereka percaya, mati dalam mengemban tugas negera adalah terhormat.

Hal itu semua terangkum dalam dasar hukum adat dalam Tri Pepali, atau Tiga Dasar Hukum bagi kehidupan manusia sebagai keyakinan mereka. 'Sepi ingpamrih rame inggawe'.

Kali ini, serangan para prajurit demikian kompak menggebu. Keadaan yang makin menempatkan

Andika pada keadaan yang sulit, di mana harus menyelamatkan dirinya tanpa melukai seorang lawan pun. Maka saat itulah Pendekar Slebor harus menentukan pilihan. Membiarkan dirinya direncah lawan, atau menghantam balik dengan akibat kematian. Dan mendadak....

“Berhenti”

Pada saat yang rawan itulah, tiba-tiba teriakan mengguntur menyelamatkan Andika dari tindakan yang tak diharapkan. Dan seketika, semua mata mencari arah datangnya suara.

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang laki-laki tua berpakaian hitam-hitam di belakang Cokorde Ida Bagus Tanca.

“Ki Lantanggeni Kenapa kau mencegah kami menangkap bocah perusuh ini?” tanya Raja Buleleng itu, seperti tidak senang. Rupanya, raja ini sudah kenal dekat dengan laki-laki tua yang dipanggil Ki Lantanggeni tadi.

“Dia tidak bersalah, Cokorde. Akulah saksinya,”

kata Ki Lantanggeni.

Kemudian Ki Lantanggeni segera menceritakan apa yang disaksikan terhadap tindakan I Made Raka selama ini. Juga tentang fitnah yang dilimpahkan kepada Pendekar Slebor.

*** 7

Di pantai barat Buleleng. Ombak susul-menyusul, menepis jutaan buih ketepian. Deburnya menciptakan irama alam teratur, seakan tetabuhan genderang dari alam jauh tak tergapai mata. Tebaran pasir putih di mana-mana, membersitkan cahaya-cahaya kecil kala sinar mentari senja menimpa, bagai timbunan permata halus berkilau menawan.

Di bibir pantai, jejak memanjang terlihat. Asalnya dari seretan peti mati besar yang ditarik dua lelaki.

Siapa lagi kalau bukan Sepasang Datuk Karang.

“Apakah anak itu telah membohongi kita, Kang?”

ungkap Gumbala.

Telah lama mereka hanya memusatkan mata pada pantai, mencari kotak berukir yang diincar.

“Hampir sepanjang pantai kita susuri, kotak berukir itu belum juga kita temui,” kata Gumbala lagi.

Lalinggi tidak menyahut. Dari balik caping yang menutup wajahnya, mata lelaki itu terus mengawasi jengkal demi jengkal pantai barat Buleleng.

“Kita belum lagi sampai di batas pantai, Gumbala,”

ujar Lalinggi, dingin akhirnya.

“Tapi kalau anak sundal itu membohongi, sia-sia saja usaha kita. Dengan begitu, kita toh hanya membuang waktu percuma,” sungut Gumbala.

“Aku tahu. Tapi, percayalah. Jika anak itu membohongi kita, dia harus menerima akibatnya,” balas Lalinggi.

“Ya Aku ingin sekali menghancurkan batok kepalanya” “Apakah sekarang kau bisa diam dan meneruskan pencarian?” bentak Lalinggi.

Gumbala diam. Kalau Lalinggi sudah menghardik seperti itu, dia tidak berani macam-macam lagi.

Dengan menekuk wajah buruknya dalam-dalam, diturutinya perintah Lalinggi.

Kini keduanya meneruskan pencarian. Sampai di satu bagian pantai mereka menemukan sesuatu yang terapung-apung di bibir pantai.

“Itu dia, Kang” seru Gumbala.

“Ya, aku tahu.”

Mereka pun segera mendekat. Benar Ternyata benda terapung itu memang kotak berukir yang selama ini dicari. Tanpa menunggu perintah Lalinggi lagi, Gumbala dengan wajah berseri-seri segera menjemput kotak itu.

“Ini, Kang...,” kotak di tangannya segera pula diantar pada Lalinggi. “Periksalah dulu, Kang,” pinta Gumbala.

Lalinggi menerima kotak itu dari tangan Gumbala.

Untuk beberapa saat, diteliti seluruh bagian kotak, untuk meyakinkan kalau tidak keliru. Tak lama kemudian kepala bercaping Lalinggi pun bergerak-gerak berirama. Rupanya, dia mengangguk-angguk puas.

“Sebentar lagi kita akan menjadi murid seorang tokoh hitam yang bakal menaklukkan dunia

persilatan Gumbala,” kata Lalinggi.

Selesai mengungkapkan isi hatinya, Lalinggi tertawa canggung. Hal yang selama ini belum pernah dilakukannya.

Sedang Gumbala ikut menimpali tawa Lalinggi, penuh kemenangan. Suaranya yang serak, terdengar bagai jeritan burung pemakan bangkai. “Sekarang kita harus cepat pergi dari sini,” ajak Lalinggi setelah puas tertawa.

Gumbala cepat mengangguk. Maka kini keduanya pun pergi. Seperti biasa, mereka menyeret peti mati besar bersama-sama. Hanya, kali ini ada satu peti kecil berukir di tangan Lalinggi.

***

Goa Karang Hitam berada tak begitu jauh dari pantai barat Buleleng. Letaknya tepat di kaki satu bukit karang yang tak begitu menjulang. Sewaktu menemukan goa itu, Lalinggi dan Gumbala ber-sepakat untuk memanfaatkanya sebagai tempat menjalankan sebuah rencana.

“Goa ini benar-benar cocok dengan rencana kita.

Kebetulan sekali, Kang,” cetus Gumbala saat keduanya telah memasuki goa buntu, sedalam kira-kira lima puluh depa.

“Ya,” jawab Lalinggi singkat seraya mengangkat kayu bakar yang digunakan sebagai penerang.

Dipandanginya seluruh bagian dinding goa yang dipenuhi lumut. “Kita harus segera membuat api unggun.”

Gumbala menuruti ucapan Lalinggi. Kayu-kayu kering yang telah dikumpulkan sebelum memasuki goa, segera diserakkannya di dasar goa berpasir ini.

Lalu mulai dibuatnya api dengan memantik-mantik dua buah batu di atas jerami kering.

“Api unggun sudah menyala, Kang.” lapor

Gumbala.

Lalinggi mengangguk lemah. Setelah itu kayu bakar di tangannya disatukan dengan kayu api unggun. “Sekarang kau geser peti mati itu ke sini,” perintah Lalinggi.

Gumbala bergegas menjalankan perintah Lalinggi.

Kini peti mati besar yang selama ini selalu diseret-seret telah berada tepat di sisi api unggun. Lidah api unggun menjilat-jilat liar, hendak menggapai langit-langit goa. Cahayanya menyapu sisi peti mati, membuat benda besar itu terlihat kian angker.

“Sekarang apa lagi, Kang?” tanya Gumbala.

Tak ada jawaban dari Lalinggi. Lelaki itu hanya menurunkan peti berukir dari tangannya ke dasar goa. Tepat di hadapan peti berukir, Lalinggi duduk bersila. Tangannya bersidekap, sedang matanya terpejam.

Ketika waktu berlalu cukup lama, tangan Lalinggi mulai bergerak ke depan. Seluruh otot-otot di tangannya mengejang. Satu telapak tangannya yang terbuka pun tiba di lubang kunci peti berukir. Tak begitu lama, telapak tangan itu menempel, maka asap putih kehitaman mengebul dari sela-sela antara telapak tangan dengan sisi lubang kunci. Krak

Tiba-tiba saja peti berukir terbuka bersama suara berderak. Namun, hanya berupa kuakan celah kecil.

“Biar aku yang buka, Kang,” serobot Gumbala tak sabar, mengetahui pengunci peti berukir telah dapat dihancurkan Lalinggi.

“Tunggu dulu” cegah Lalinggi cepat. “Jangan berlaku ceroboh”

Tangan Gumbala urung diulurkan ke peti berukir.

Bentakan keras Lalinggi, lumayan membuatnya kaget.

“Kenapa, Kang?” tanya laki-laki berwajah buruk itu.

“Lihat saja...,” kata Lalinggi dingin.

Kemudian laki-laki bercaping ini melepas satu pundi yang digantung di sekitar pinggang. Pundi itu kemudian digulung dengan bajunya, hingga membentuk sebuah bantalan kain.

“Kau pegang penutup peti itu,” ujar Lalinggi pada Gumbala. “Kalau kubilang buka, kau harus

secepatnya membuka penutup peti itu. Mengerti?”

Gumbala hanya mengangguk-angguk.

“Siap...,” Lalinggi memberi aba-aba.

Gumbala yang berada di belakang peti menatap Lalinggi tegang, menanti aba-aba selanjutnya.

Sementara, Lalinggi siap dengan bantalan kain di tangan.

“Buka” seru Lalinggi.

Secepat kilat, Gumbala menarik penutup peti.

Dalam saat yang hampir bersamaan, Lalinggi pun mendekapkan buntalan kain ke mulut peti yang baru saja terkuak.

Blep Jep Jep Jep

Serentak suara halus terdengar. Sewaktu Lalinggi mengangkat bantalan kain dari mulut peti, terlihatlah puluhan batang bambu beracun berwarna biru kehijauan. Kain pada bagian yang tertancap batang bambu itu tampak kontan terbakar menghitam serta mengepulkan asap sewarna dengan batang-batang bambu.

“Kau lihat,” ujar Lalinggi. “Kalau kau seenaknya membuka peti ini, pasti sudah mengejang hangus seperti kain ini....”

Mata besar Gumbala terbelalak kian besar.

Mungkin lebih besar daripada mata burung hantu.

Dan dia hanya menelan ludah. Kalau saja tak dicegah Lalinggi, tentu sudah mampus Gumbala ngeri membayangkannya.

Lalu, apa isi peti itu sebenarnya? Sambil tertawa nyaring yang membuat dinding goa bergetar, Lalinggi mengambil isi peti berukir di depannya. Ternyata, sebuah kepala manusia

“Hua ha ha... Kau akan hidup kembali Ki Rawe Rontek Dan kau pasti akan membalas budi baik kami, dengan menurunkan ilmu 'Rawe Rontek'mu pada kami Hua ha ha...”

Tak hanya Lalinggi, Gumbala pun turut terbahak-bahak.

“Kita akan menjadi dua jago persilatan, Kang”

teriak Gumbala. “Hua ha ha...”

***

Sementara itu di tepi pantai barat Buleleng malam ini, tampak pula dua laki-laki lain. Seperti Lalinggi dan Gumbala, mereka pun sama-sama menelusuri tepi pantai. Jejak panjang yang ditinggalkan di belakang, menandakan kalau mereka sudah cukup lama

berjalan di sana.

Salah seorang lelaki tua bercaping kerucut.

Pantulan cahaya rembulan di laut, menerangi samar wajahnya yang berkeriput serta berjanggut.

Kekurusan lelaki tua itu menyebabkan tulang pipinya jadi menonjol.

“Tampaknya kita telah didahului, Andika,” kata lelaki tua itu.

Saat ini, mereka telah tiba di batas pantai sebelah selatan. Dan memang pemuda di sebelah laki-laki tua itu adalah Pendekar Slebor. Setelah lelaki tua yang tak lain adalah Ki Lantanggeni itu menyelamatkan Pendekar Slebor dari keroyokan prajurit Buleleng, Andika memang langsung menceritakan tentang kotak berukir. Maka, kini mereka berada di pantai barat Buleleng.

Pendekar Slebor hanya menghela napas. Dia juga seyakin lelaki tua di sebelahnya, kalau peti berukir yang dicari telah diambil orang lain.

“Apakah orang-orang yang mendahului kita

Sepasang Datuk Karang, Ki Lantanggeni?” tanya Andika penasaran.

“Besar kemungkinan begitu,” sahut Ki

Lantanggeni. “Bagaimana kalau kita mencari tahu pada penduduk sekitar pantai ini?”

Andika setuju. Maka mereka melangkah ke

pedalaman pesisir menuju desa penduduk terdekat untuk mencari keterangan.

Siapakah Ki Lantanggeni sebenarnya, sehingga ikut campur dalam masalah peti berukir yang telah menelan beberapa korban nyawa itu?

***

Kira-kira enam puluh tahun lalu, ada seorang tokoh golongan hitam yang memiliki ilmu sesat 'Rawe Rontek'. Dengan ilmu itu, si Tokoh Sesat amat sulit dibinasakan. Setiap luka yang berhasil merobek kulit tubuhnya, selalu saja menutup kembali tanpa cacat, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Lebih dahsyat lagi, setiap kali bagian tubuhnya terpotong, setiap kali pula bagian tubuh itu menyatu kembali. Bahkan kepalanya sendiri Di dunia persilatan, dia amat tersohor sebagai Ki Rawe Rontek.

Kisah Ki Rawe Rontek, berasal dari perjalanan hidup seorang pemuda dari sebuah desa kecil bernama Watukarang. Namanya, Lantang. Sejak kecil, pemuda itu memiliki tabiat buruk dan perangai tercela. Seperti bibit perusuh, dia tumbuh dalam kejahatan demi kejahatan. Mencuri, menganiaya, dan membuat kekacauan adalah pekerjaan biasa.

Suatu hari, terjadi perampokan yang mengakibatkan terbunuhnya satu keluarga secara keji. Pada malam yang sama dengan saat perampokan, Lantang pun mempunyai niat buruk pada seorang kembang desa, bernama Saridewi. Cintanya yang selama ini selalu ditolak Saridewi, membuatnya bermata gelap.

Hendak dilarikannya Saridewi, lalu dipaksa untuk dikawini.

Naas, pada saat mengendap-endap di samping kamar si Kembang Desa, orangtua Saridewi yang terkenal kasar, keluar dan hampir memergokinya.

Kontan saja Lantang lari tunggang-langgang, karena begitu takut akan kekasaran lelaki itu. Saat itulah perampok yang sedang dikejar para penduduk bertemu Lantang.

Dengan licik, si Perampok menghajar Lantang seraya meneriakinya perampok. Lantang yang memang tak memiliki kepandaian silat, tak bisa berbuat apa-apa. Dia megap-megap dihajar oleh si Perampok. Bahkan para penduduk yang sudah kalap, tanpa banyak tanya langsung saja menghajarnya habis-habisan.

“Ampun Ampun Aku bukan perampok” teriak Lantang kala itu.

“Ah Mana ada orang maling yang mau mengaku”

hardik si Perampok dengan mimik sinis penuh kesungguhan.

“Aku Lantang Aku memang suka berbuat

kericuhan, tapi tidak pernah merampok” sangkal Lantang lagi.

“Kau tidak hanya merampok Kau juga membantai seluruh keluarga korban dengan golok itu” tuding si Perampok lagi, seraya menunjuk golok berlumur darah yang sempat diselipkan di balik pakaian Lantang.

Lantang terkesiap. Wajahnya yang sudah babak belur tampak demikian takut. Dikeluarkannya golok dari balik baju. Dengan mata bengkak terbelalak, diperhatikannya senjata itu tanpa bisa berkata sepatah pun. Bibirnya kelu dan pita suaranya seperti tersumpal.

“Ayo, tunggu apa lagi?” seru si Perampok pada penduduk. “Cepat cincang dia Bunuh seperti dia membunuh keluarga korban”

Amukan penduduk meledak seketika. Pikiran mereka tak lagi jernih. Bersama segenap kekalapan, Lantang dihajar kembali tanpa ampun.

“Sungguh, demi Tuhan Aku tak pernah merampok atau membunuh” teriak serak Lantang di antara suara-suara pukulan kayu para penduduk yang menghantam tubuhnya.

Sementara Lantang menerima siksaan tak ter-hingga. Perampok yang memfitnahnya melarikan diri secara diam-diam.

Jika beberapa saat saja Lantang dibiarkan dihajar orang-orang gelap mata itu, sudah bisa dipastikan nyawa mudanya akan melayang. Untunglah sebuah bayangan berkelebat cepat, menyambar di antara kerumunan penduduk. Lalu disambarnya tubuh Lantang pada saat hampir sekarat.

Gerakan bayangan itu begitu cepat bagai

bayangan hantu. Setiap orang yang berada di sana mendadak takjub dan lupa pada kemarahan. Seakan, suatu kekuatan gaib telah menguasai diri mereka masing-masing. Memang, yang menyelamatkan Lantang bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seorang pertapa tua yang hanya muncul dua puluh tahun sekali, untuk mencari seorang murid. Namanya Ki Gintung.

Karena Ki Gintung adalah seorang pertapa yang memiliki ketajaman mata batin, dia bisa menilai kalau Lantang sebenarnya memiliki hati baik. Hanya karena dikucilkan penduduk yang disebabkan kemelaratan-nya, dia menjadi seorang pemuda berjiwa pem-berontak. Kejahatan-kejahatannya selama ini hanya cara untuk unjuk rasa terhadap sikap orang-orang desanya yang sudah menganggapnya seperti anjing geladak tak berarti. Ki Gintung juga bisa menilai kalau pemuda yang telah diselamatkannya memiliki kemauan keras dan bentuk tubuh yang bagus.

Dengan semua pertimbangan itu, Ki Gintung membuat keputusan untuk mengangkat Lantang sebagai murid kelima.

Sejak saat itulah Lantang mendapat godokan lahir batin dari si Pertapa Tua. Godokan batin ini membuatnya menjadi seorang berjiwa matang dan bersih. Sedangkan godokan lahir. membuatnya menjadi seorang tangguh. Maka, jadilah dia seorang ksatria.

Selama lima tahun menjalani didikan keras Ki Gintung, suatu saat Lantang diperkenalkan pada keempat kakak seperguruannya yang telah

meninggalkan goa penggodokan terlebih dahulu.

Betapa kagetnya Lantang, manakala melihat salah seorang kakak seperguruannya. Dari keempat lelaki itu, ada seorang yang dulu memfitnahnya hingga dihajar habis oleh penduduk

Rupanya panggilan duniawi menyebabkan kakak seperguruannya itu mengkhianati seluruh petuah Ki Gintung, sekaligus mengkhianati amanat ilmu-ilmu yang telah diberikan.

Karena tak ingin mengecewakan Ki Gintung, Lantang tak mengungkap makar yang dilakukan Artapati, kakak seperguruan yang melakukan perampokan waktu itu. Padahal, tanpa perlu diberitahu, mata batin Ki Gintung sendiri sudah bisa merasakan pengkhianatan Artapati.

Namun apa mau dikata? Ki Gintung tak bisa berbuat apa-apa, karena usianya yang kian lanjut. Dia tak ingin bergelimang darah lagi. Dan akibatnya, pertapa itu menderita sakit parah. Merasa dirinya sudah mendekat ajal, Ki Gintung pada suatu hari memanggil Lantang seorang diri. Di samping Lantang adalah murid satu-satunya yang masih tinggal di tempat, dia juga murid kesayangan Ki Gintung.

“Sepertinya ajalku akan segera tiba, Lantang,”

ucap Ki Gintung tersendat. Napasnya terseret satu-satu. “Saatnyalah aku memberimu wasiat....”

Lantang diam tanpa suara. Ditatapnya sang Guru tercinta dengan mata menahan bias bening.

“Di bawah batu tempat bertapaku,” lanjut Ki Gintung. “Ada sebuah tempat penyimpanan rahasia.

Di sana, aku menyimpan kitab berisi ajian-ajian ilmu hitam, lengkap dengan seluruh riwayatnya. Kuberikan kitab itu padamu. Pelajarilah. Tapi, jangan dipakai kecuali jika memang mendesak sekali....”

Wasiat Ki Gintung selesai. Dan saat itu pula, usianya pun tamat.

Betapa kehilangannya Lantang. Baginya, Ki Gintung lebih dari sekadar guru. Ki Gintung juga sudah dianggap sebagai orangtuanya sendiri. Itu sebabnya, dia sempat pula menitikkan airmata kehilangan, meski sudah berusaha menahannya. Selesai menguburkan jenazah gurunya, Lantang segera memeriksa batu tempat bertapa Ki Gintung. Di balik batu bundar serta datar itu, ditemukannya lubang tempat penyimpanan sebuah kitab kuno, seperti pernah dikatakan Ki Gintung.

Lalu, diambilnya kitab itu. Selama berminggu-minggu, mulai dipelajari seluruh riwayat ilmu hitam dalam kitab termasuk ajian 'Rawe Rontek'.

Sayang, sebelum ilmu-ilmu dalam kitab sempat dikuasai, Artapati datang secara diam-diam. Dengan licik, mata air yang biasa dipakai Lantang untuk minum dicampur racun. Dan ketika Lantang tak sadarkan diri, kitab kuno warisan mendiang Ki Gintung pun dicuri.

Sejak saat itu, Lantang tak pernah lagi bertemu Artapati. Suatu hari, Lantang pulang kembali ke desanya untuk melihat keadaan Saridewi, kembang desa yang dicintainya dulu hingga sekarang.

***

“Bagaimana dengan Lantang dan Artapati, Ki?”

tanya Andika penasaran, karena Ki Lantanggeni memutuskan cerita.

“Keduanya bertemu kembali di desa itu. Artapati sudah berhasil menguasai ajian 'Rawa Rontek”. Niat Artapati ke desa itu adalah menculik Saridewi.

Artapati memang licik. Sengaja Saridewi diculik untuk memancing kemarahan Lantang,” papar Ki

Lantanggeni meneruskan cerita.

Sementara dia dan Andika sudah tiba di tapal batas sebuah desa di dekat panlai barat Buleleng.

“Lalu?” tanya Andika untuk kedua kalinya.

“Dengan telengas, wanita yang dicintai Lantang dibunuh Artapati di depan matanya sendiri. Lantang tentu saja jadi amat murka. Dia pun melabrak Artapati. Saat itu, Lantang nyaris kehilangan nyawa.

Untunglah, datang tiga saudara seperguruannya yang lain. Dengan penggabungan kepandaian, mereka bisa menandingi kemampuan Artapati. Rupanya, sejak lama ketiga kakak perguruan Lantang yang lain telah mengawasi setiap sepak terjang Artapati yang keji.

Mereka bertarung habis-habisan. Dan satu persatu kakak perguruan Lantang bisa dibunuh Artapati.

Namun begitu, Artapati harus membayar mahal nyawa ketiga saudara seperguruannya, dengan nyawanya sendiri. Pada saat puncak di mana Artapati dan Lantang sudah kehilangan tenaga, Lantang teringat pada rahasia kelemahan ajian 'Rawe Rontek'.

Dengan rahasia yang pernah dibaca dari kitab yang dicuri akhirnya Artapati bisa dibunuh.”

Ki Lantanggeni mengakhiri cerita. Napasnya terlihat agak memberat. Tampaknya dia terhanyut oleh ceritanya sendiri.

“Apakah Lantang adalah kau sendiri, Ki?” duga Andika, saat mendapati keadaan Ki Lantanggeni.

Lelaki tua bercaping kerucut itu mengangguk.

“Dan orang yang disebut Ki Rawe Rontek adalah saudara seperguruanmu yang bernama Artapati?”

duga Andika lagi.

Kembali laki-laki tua itu mengangguk.

Malam semakin larut. Di langit, bulan sabit diselimuti awan tipis bagai serpihan-serpihan kain tembus pandang. Sementara di laut, suasana tak juga lekang dari debur ombak yang mulai meninggi.

Goa Karang Hitam yang terletak tak begitu jauh dari pantai barat Buleleng tampak diterangi cahaya kemerahan yang berasal dari api unggun. Di dalam- nya, Sepasang Datuk Karang akan memulai suatu upacara. Mereka akan berusaha menyatukan kembali kepala Artapati, alias Ki Rawe Rontek dengan tubuhnya. Dengan penyatuan itu, Lalinggi dan Gumbala berharap Ki Rawe Rontek akan hidup kembali.

Mereka percaya, ilmu 'Rawe Rontek' yang dimiliki Artapati masih tetap menyatu dengan jasadnya yang tak membusuk.

Setelah berhasil membuka peti kecil berukir tempat kepala Ki Rawe Rontek, Lalinggi memerintah Gumbala untuk membuka peti mati besar yang selama ini selalu dibawa-bawa. Di dalam peti itu tersimpan tubuh Ki Rawe Rontek. Mereka membawanya dari pemakaman di Pulau Jawa Dwipa, setelah melakukan pencarian selama bertahun-tahun.

Memang Lantang yang kini dikenal Andika sebagai Ki Lantanggeni sengaja mengubur kepala dan tubuh kakak seperguruannya yang murtad itu, secara terpisah. Karena menurut kitab kuno warisan gurunya, orang penganut ilmu 'Rawe Rontek' akan bisa bangkit dari kematiannya, jika kepala dan tubuhnya tidak dikuburkan secara terpisah jauh.

Semakin jauh, akan semakin menutup kemungkinan bagi si Pemilik ilmu sesat tersebut untuk bangkit kembali. Makanya Lantang mengubur tubuh Artapati di tanah Jawa Dwipa, sedangkan kepalanya dikuburkan di Pulau Bali. Untuk urusan penguburan kepala Artapati, dipercayakannya pada tiga tokoh Pulau Dewata yang belum lama dibunuh oleh Sepasang Datuk Karang.

Kini Gumbala tampak telah membuka penutup peti mati. Kedua lelaki aliran sesat itu bersama-sama mengeluarkan tubuh Ki Rawe Rontek. Tanpa kesulitan, mereka bisa memindahkan tubuh besar berotot itu ke satu bagian lantai goa.

“Sekarang ambil kain hitam di dalam peti itu, Gumbala,” ujar Lalinggi.

Setelah menerima kain hitam yang dimaksud, Lalinggi menyatukan kepala Ki Rawe Rontek dengan tubuh kakunya. Kemudian dilanjutkan dengan menutup mayat si Tokoh penganut ilmu 'Rawe Rontek' dengan kain hitam lebar hingga seluruh bagian tubuhnya tertutup.

Sementara Gumbala diam memperhatikan dengan mata tak berkedip, Lalinggi melepas pundi-pundi kecil dari pinggangnya. Di dalam pundi-pundi tersebut, tersimpan serbuk dupa yang selanjutnya dibakar Lalinggi di seputar mayat Ki Rawe Rontek.

Asap dupa tampak menyebar. Harum namun berkesan menggidikkan, membuat orang yang mencium aromanya akan langsung merinding. Hal itu dialami Gumbala. Walau sebagai tokoh sesat yang sudah biasa melakukan hal mengerikan, tetap saja seluruh bulu di kuduknya terasa meremang hebat. Tanpa terasa tengkuknya diusap. Berbeda sekali dengan sikap Lalinggi yang tetap dingin dan tenang.

“Sekarang apa lagi yang harus kita lakukan, Kang?” tanya Gumbala mengetahui Lalinggi telah selesai membakar serbuk dupa.

“Darah....”

“Darah?”

“Ya Kita perlu darah seorang perawan suci. Ki Rawe Rontek memerlukan itu, sebagai daya hidup karena telah begitu lama mati dan terkubur di perut bumi,” jelas Lalinggi nyaris mendesis bagai kerasukan.

“Aku akan cari ke desa terdekat....” “Bodoh” hardik Lalinggi. “Cari di desa yang jauh dari tempat ini. Aku tak mau orang-orang di desa terdekat menemukan tempat persembunyian kita”

“Ba... baik, Kang,” gagap Gumbala.

Lelaki buruk rupa itu pun segera beranjak lagi. Di luar goa, Gumbala bergumam sendiri.

“Hm, kenapa aku tak mencoba menculik seorang perawan dari desa tempat anak lelaki yang telah memberitahukan tempat pembuangan peti berukir itu....”

Dengan mengerahkan segenap kemampuan ilmu meringankan tubuh, tubuh Gumbala pun melesat bagai anak panah lepas dari busur.

Tak begitu lama Gumbala keluar, Lalinggi

menyusul. Rupanya, dia tak begitu yakin dengan kerja Gumbala yang dinilainya sering kali bertindak ceroboh.

“Aku harus pula mencari seorang perawan di desa lain,” bisik Lalinggi. “Kalau Gumbala gagal, aku tetap bisa mendapatkan perawan sebagai tumbal Ki Rawe Rontek.”

***

Di luar malam purnama, Desa Umbuldadi diringkus sepi. Dini hari yang datang bersama dingin, membuat para penduduk lelap dalam selimut masing-masing.

Jalan-jalan di desa sepi dan lengang. Temaram lampu bambu dari beberapa rumah di tepinya, hanya mampu menerangi sebagian jalan.

Di satu rumah panggung, Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg terpulas dihanyut mimpi. Idayu Wayan Laksmi tidur di kamarnya. Begitu juga I Ktut Regeg.

Kalau kamar Idayu Wayan Laksmi ada di tengah bangunan, kamar I Ktut Regeg berada di belakang bangunan.

Malam itu, entah kenapa I Ktut Regeg mendadak terjaga. Setelah mengerjap-ngerjap mata beberapa saat, anak muda tanggung itu duduk terpaku di tepi balai-balai. Pikiran dan hatinya resah, tanpa dia tahu penyebabnya.

“Sial Nyamuk tak ngalor-ngidul, panas juga tidak.

Tapi, kenapa aku tidak bisa tidur lagi. Padahal, aku baru saja mau bermimpi bercengkerama dengan bidadari. Apa bisa kuteruskan mimpinya, ya?” gumam I Ktut Regeg, setengah menggerutu. Digaruk-garuknya kepala dengan jengkel. “Ayo..., ayo mengantuk lagi

Kalau tidak, bidadari itu bisa pulang lagi ke kampungnya”

Namun, tetap saja I Ktut Regeg tak bisa tidur.

Dengan satu dengusan kesal, dia bangkit. Dibanting-nya langkah ke lantai kayu, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Anak muda tanggung berbadan kurus itu mondar-mandir tak karuan. Tiba-tiba....

Srek

I Ktut Regeg terdiam. Telinganya dipasang tajam-tajam. Dia biasa mendengar suara-suara hewan malam dan sangat hafal. Tapi suara yang satu ini bukan dari binatang malam. I Ktut Regeg jadi curiga.

Sambil mengendap-endap, didekatinya jendela kamar. Dari salah satu celahnya I Ktut Regeg mulai mengintip.

“Lho? Itu kan lelaki jelek yang memberiku uang untuk sebuah keterangan tentang peti berukir yang kubuang ke pantai?” bisik I Ktut Regeg kala melihat pengendap di luar. “Mau apa dia datang ke sini lagi?

Dan kenapa pula dengan cara mengendap-endap seperti maling ayam?”

I Ktut Regeg menjauhi jendela dengan hati-hati.

Dia merasa kalau lelaki di luar itu hendak berniat tidak baik.

“Apa akalku supaya dia cepat-cepat pergi...,” desis pemuda tanggung itu, amat perlahan. “Ah Aku ada akal....”

Wajah anak muda tanggung itu berseri. Benaknya memunculkan rencana kecil. Akan diteriakinya lelaki itu sebagai maling Tak peduli maling ayam, atau maling jemuran, maling sandal, atau maling sundal.

Bergegas I Ktut Regeg menguak daun jendela.

Mulutnya terbuka lebar, siap meneriakkan kata maling.

“Ma....”

Teriakan I Ktut Regeg tak dilanjutkan, terhenti begitu saja seperti orang tersedak. Dengan mulut masih menganga, I Ktut Regeg celingukkan ke sana kemari. Orang yang hendak diteriaki ternyata sudah tidak terlihat lagi, menghilang bagai hantu.

I Ktut Regeg mengusap-usap mata tak percaya.

“Ah Barangkali aku masih bermimpi. Dan lelaki jelek itu adalah penjelmaan bidadari. Hi hi hi..., bidadari malang,” ceracau I Ktut Regeg.

Dia menguap lebar-lebar, lalu melangkah kembali ke balai-balai kayunya.

Baru saja I Ktut Regeg hendak merebahkan tubuh di sana, satu suara keras mengejutkannya.

Brak

Kontan saja anak muda tanggung itu terlonjak sambil teriak-teriak kelimpungan.

“Maliiing Maliiing Ada bidadari jadi maliiing”

“Aaa”

Menyusul, suara jeritan Idayu Wayan Laksmi dari kamar tengah.

I Ktut Regeg sekali lagi tersentak. Teriakannya macet seketika. Rasanya, sekarang ini dia tidak bermimpi Untuk meyakinkan diri disiapkannya kepalan ke hidungnya, lalu segera dilayangkan tanpa ragu. Bukh

“Aduh... aduh Sakit Wah Berarti aku tidak mimpi” seru pemuda tanggung itu tersadar.

Hidung I Ktut Regeg yang berdenyut-denyut dipegangi seraya berlari ke kamar kakaknya.

“Mbok Ada apa Mbok?.”

Setibanya di kamar Idayu Wayan Laksmi, I Ktut Regeg hanya menemukan balai-balai kayu Idayu Wayan Laksmi yang kosong berantakan. Idayu Wayan Laksmi tak ada lagi di sana. Sementara, dinding bilik di sebelah timur kamarnya sudah jebol. I Ktut Regeg jadi teringat kejadian kemarin. Dinding bilik yang baru saja diperbaiki kemarin juga jebol sewaktu Idayu Wayan Laksmi diculik.

“Jangan-jangan Mbok diculik lagi,” duga I Ktut Regeg.

Tiba-tiba saja, pemuda itu berlari ke kamarnya kembali. Di dekat jendela kamarnya, dia berteriak sekali lagi.

“Tolooong Bukan maliiing Bukan maliiing Eh...

penculiiik Penculiiik Mbok-ku diculiiik”

Anak muda tanggung itu terus berteriak blingsatan, sampai beberapa penduduk datang membawa

senjata masing-masing.

***

Sementara itu di desa dekat pantai barat Buleleng, Andika dan Ki Lantanggeni telah mendapat keterangan dari salah seorang penduduk yang menegaskan, kalau peti berukir yang sedang dicari memang telah dibawa dua lelaki. Seorang berwajah buruk dengan badan agak bungkuk, dan seorang lagi mengenakan caping keranjang.

Tapi ketika Andika menanyakan ke mana dua lelaki yang dilihat penduduk itu, jawaban yang didapat tidak memuaskan. Ternyata si Nelayan tidak tahu ke mana Sepasang Datuk Karang membawa peti berukir itu. Dia hanya memberi petunjuk kalau dua lelaki yang dilihatnya pergi ke arah utara.

Sesudah menghaturkan terimakasih, Andika dan Ki Lantanggeni langsung memacu tubuh ke arah utara. Mereka berharap, belum terlambat untuk mengejar Sepasang Datuk Karang.

Jarak ke utara yang ditempuh sudah cukup jauh.

Saat itulah mereka menangkap sesosok tubuh yang berkelebat, sama cepat dengan gerakan mereka. Di punggung orang itu tampak beban sebesar manusia.

Meski tampak lebih berat dari badannya sendiri yang agak kurus membungkuk, orang itu tidak terlihat mengalami hambatan saat berlari dengan membawa beban.

Andika dan Ki Lantanggeni cepat bersembunyi di balik serumpun pohon kelapa. Keduanya memang tak ingin diketahui oleh lelaki yang mencurigakan itu.

Terlebih-lebih sampai bentrokan.

“Sepertinya aku pernah melihat orang itu,” bisik Andika perlahan pada Ki Lantanggeni.

“Bagaimana kalau kita coba ikuti dulu?” usul Ki Lantanggeni.

Andika setuju. Mereka pun mulai membuntuti lelaki yang dicurigai. Orang yang dikuntit memang melewati daerah terbuka dengan sinar bulan yang samar menerangi seluruh tubuhnya. Namun baik mata Andika maupun Ki Lantanggeni bisa melihat siapa sesungguhnya orang itu.

“Dia adalah salah seorang dari Sepasang Datuk Karang,” ucap Andika tak kentara.

Ki Lantanggeni masih bisa menangkap ucapan pendekar muda di sisinya.

“Siapa dia?” tanya orang tua itu ingin tahu.

“Dialah orang yang telah membunuh tiga sesepuh Buleleng,” jawab Andika, memperjelas keterangan-nya.

“Sepasang Datuk Karang? Tapi, mana yang

seorang lagi. Bukankah kau bilang Sepasang Datuk Karang dua orang?”

“Itulah yang harus kita ketahui, Ki.”

“Kalau begitu, aku akan meringkusnya....”

“Jangan, Ki. Apa kau tak ingat dengan peti berukir itu?”

Ki Lantanggeni menoleh pada Andika. Dia belum paham maksud Pendekar Slebor.

“Nelayan tadi berkata, kalau mereka telah mendapatkan peti itu. Jadi, pasti mereka sedang mencoba menjalankan satu rencana. Biar kita ikuti lelaki itu.

Dengan begitu, mungkin dia akan membawa kita langsung pada peti berukir tersebut, sekaligus bisa bertemu kawannya. Sekali tepuk, dua nyawa”

Ki Lantanggeni tersenyum. Baru dimengerti maksud Pendekar Slebor. Dalam hati, dia sempat memuji kecerdikan pemuda yang baru saja dikenalnya.

“Kalau begitu, mari kita ikuti lagi Jangan sampai kita kehilangan jejak,” ajak Ki Lantanggeni.

Mereka pun mengerahkan ilmu meringankan

tubuh masing-masing, berlari cepat di belakang Gumbala dalam jarak yang cukup aman, sehingga orang yang dikuntit tidak merasa curiga.

Tak ada sepenimum teh kemudian, Andika dan Ki Lantanggeni melihat Gumbala tiba di bibir Goa Karang Hitam.

“Kang Aku telah mendapatkan seorang perawan, Kang” seru Gumbala gembira.

Tak ada sahutan dari dalam goa.

“Kang?”

Gumbala memajukan kepala. Diperhatikannya dalam goa tajam-tajam.

“Kang? Kau masih di dalam, Kang?” tanya

Gumbala.

Laki-laki buruk rupa itu mulai melangkah masuk.

Padahal, semula dia berharap Lalinggi menyambut-nya dengan senyum lebar di luar karena telah berhasil menjalankan tugas dengan sempurna.

Tak jauh dari Goa Karang Hitam, Andika dan Ki Lantanggeni saling berpandangan.

“Tampaknya orang yang satunya sedang tidak ada dalam goa itu, Ki,” bisik Andika. “Ah Aku jadi ada akal, Ki....”

Lalu tanpa memberi kesempatan Ki Lantanggeni bertanya, pemuda itu langsung saja mengangkat tangan ke depan mulut.

“Hoi Aku di sini” teriak Pendekar Slebor dengan suara dibuat tersamar mungkin.

Gumbala yang mendengar teriakan Andika segera mengurungkan niat untuk masuk ke dalam goa.

“Kang? Apa kau di sana, Kang Lalinggi?” tanya Gumbala.

“Yhuaaah” sahut Andika.

“Sedang apa di situ, Kang?” tanya Gumbala heran.

Matanya mencari-cari ke asal suara. “Cepat ke sini, kau” teriak Andika lagi.

Gumbala baru hendak meletakkan beban di

pundaknya yang ternyata Idayu Wayan Laksmi. Tapi, kembali terdengar teriakan Andika.

“Bawa sekalian perempuan itu”

“Baik, Kang” sahut Gumbala. “Heran? Sedang apa Kang Lalinggi di sana, ya?” gumam Gumbala, sambil melangkah ke balik karang tempat

persembunyian Andika dan Ki Lantanggeni.

Sewaktu hendak melangkah ke balik karang, Gumbala akan membuka suara kembali. Dia ingin membanggakan hasil kerjanya pada Lalinggi yang dikira berada di balik karang. Tapi belum sempat mulutnya menganga, satu sergapan cepat datang ke arahnya.

Tuk

Mata Gumbala kontan membalalak. Tubuhnya

mengejang seketika, setelah itu lunglai. Dia ter-jerembab bersama tubuh Idayu Wayan Laksmi yang juga dalam keadaan tertotok

Bruk

“Kau mencari kakangmu?” ledek Andika.

Mata Pendekar Slebor tampak memelototi tubuh yang tanpa bisa bergerak.

“Lihat jelas-jelas dengan matamu yang sebesar koreng itu. Apa aku kakangmu?” lanjut Pendekar Slebor seraya membantu Idayu Wayan Laksmi berdiri, setelah membebaskan totokan di tubuh wanita ayu itu.

Dengan gerakan lembut Idayu Wayan Laksmi

berdiri, dan langsung memandang Andika.

“Kau tidak apa-apa, Laksmi?” tanya Andika.

Wanita itu menggeleng. Wajahnya pucat pasi.

Sedangkan satu tangannya mendekap bahu sebelah kanan.

“Kenapa?” tanya Andika lagi.

Tidak apa-apa, Beli Aku hanya tergores batu karang sewaktu lelaki itu jatuh tadi.”

Biar kulihat...,” Andika memeriksa luka Idayu Wayan Laksmi.

Bahu gadis itu memang tidak terluka terlalu parah.

Tapi, goresannya cukup dalam. Darah pun mulai membasahi pakaian di bagian bahunya.

“Ah Maafkan aku, Laksmi. Aku tak cepat-cepat menangkap tubuhmu tadi. Aku tak tahu kalau orang yang dibopong lelaki jelek ini ternyata dirimu,” sesal Andika. “Biar kubalut dengan kainku....”

Andika segera melepas kain bercorak catur dari pundaknya.

“Tak usah..., tak usah Beli. Aku tak apa-apa.

Sungguh...,” cegah Idayu Wayan Laksmi sungguh-sungguh.

“Tidak Kamu harus dibalut,” tegas Andika bersikeras.

Pendekar Slebor mulai mengangsurkan kain

miliknya ke bahu Idayu Wayan Laksmi. Dan Idayu Wayan Laksmi pun rupanya bersikeras pula. Satu tangannya menahan tangan pemuda tampan di depannya itu, sehingga tangan keduanya bertemu.

Tanpa disadari, tangan mereka saling terpagut.

Andika terpaku. Ada sebentuk kehangatan men-jalar dari tangan wanita ayu yang pernah ditolongnya dulu. Kehangatan yang sulit sekali dijelaskan oleh kata-kata. Ditemukannya mata lentik Idayu Wayan Laksmi. Pada saat yang sama, Idayu Wayan Laksmi pun menatap mata berkesan tegar milik Andika.

“Oh, Tuhan.... Betapa sempurna kecantikan wanita ini,” bisik Andika dalam hati. “Hm... ehem.” Ki Lantanggeni di belakang Andika berdehem-dehem usil.

Andika tersadar. Untung saja Pendekar Slebor masih bisa menguasai diri, kalau tidak tentu sudah gelagapan seperti orang tolol.

“Oh, ya. Ki Lantanggeni, perkenalkan.... Ini Laksmi,” tutur Andika memperkenalkan si Gadis pada Ki Lantanggeni.

Orang tua bercaping dan selalu tampak tenang itu menjura dalam, seolah-olah tidak terlalu mem-persoalkan kalau yang diperkenalkan padanya berusia jauh lebih muda darinya. Merasa risih pada penghormatan Ki Lantanggeni, Idayu Wayan Laksmi pun bergegas menundukkan tubuh lebih dalam.

“Bagaimana, Andika?” tanya Ki Lantanggeni.

“Ah Itu tadi kan hanya sikap wajar seorang anak muda sepertiku, Ki. Aku tak bisa menjadikannya kekasih. Kau kan tahu, aku masih memiliki tugas lain di dunia persilatan,” bisik Andika di telinga Ki Lantanggeni.

Lelaki tua itu mendadak saja terkekeh.

“Hei? Aku bukan menanyakan perihal hubungan-mu dengan gadis ayu ini,” kata Ki Lantanggeni sedikit dikeraskan agar Idayu Wayan Laksmi bisa mendengar. “Aku menanyakan, bagaimana tindakan kita selanjutnya....”

Andika melotot. Seluruh pipinya mendadak

matang Lebih merah dari daging panggang

“Mati aku,” gumam Pendekar Slebor dengan

menutup kelopak mata. Malu sekali hatinya

*** 9

Andika dan Ki Lantanggeni akhirnya sepakat untuk memasuki Goa Karang Hitam. Mereka berharap, di dalam sana dapat menemukan peti berukir tempat kepala Artapati yang lebih dikenal sebagai Ki Rawe Rontek.

Pada saat bersamaan, ketika mereka baru men-jejakkan kaki di bibir goa, Lalinggi tiba. Di pundaknya ada seorang perawan yang didapat entah dari desa mana. Yang pasti, bukan dari desa di sekitar pantai barat Buleleng.

Mengetahui ada tiga orang hendak masuk dalam goa, Lalinggi menghentikan langkah. Dengan sekali genjot tanpa menimbulkan suara, laki-laki bercaping itu berpindah ke tempat tersembunyi. Dari sana diperhatikannya ketiga penyusup itu.

“Keparat.... Anak muda itu bisa membawa

kesulitan besar padaku,” geram Lalinggi saat mengenali Andika.

Dia tahu, bagaimana ketinggian ilmu kesaktian Andika yang hingga saat itu belum dikenalnya sebagai Pendekar Slebor, karena pernah pula menyaksikan pertarungan Andika dengan Gumbala.

“Ke mana pula si Gumbala?” bisik Lalinggi kesal.

“Sendiri seperti ini, menghadapi pemuda itu saja belum tentu aku akan menang secara mudah. Apalagi dengan dua orang yang bersamanya itu....”

Lalinggi meletakkan wanita yang diculiknya ke tanah. Sambil melakukannya, kepalanya menoleh kian kemari, mencari-cari Gumbala.

Dengan gelisah, Lalinggi menunggu. Dia makin gelisah ketika Andika, Ki Lantanggeni dan Idayu Wayan Laksmi telah hilang tertelan goa.

“Keparat.... Ke mana Gumbala? Semua rencana yang bertahun-tahun kuusahakan bisa berantakan dalam sekejap,” gerutu Lalinggi.

Karena dorongan kegelisahan yang bergeliat dalam diri, Lalinggi berjalan hilir-mudik di tempat persembunyiannya. Sampai suatu saat, kakinya terantuk sesuatu.

“Sialan” maki Lalinggi jengkel dengan suara tertahan.

Baru saja laki-laki bercaping itu hendak mengangkat kaki hendak menendang sesuatu di tanah yang dikiranya tumpukan karang, mendadak saja niatnya diurungkan. Dari balik caping penutup wajah diperhatikannya sesuatu yang menghalangi barusan.

“Gumbala...,” desis Lalinggi kaget.

Sementara di dalam goa, Andika dan Ki

Lantanggeni serta Idayu Wayan Laksmi telah sampai di tempat Lalinggi dan Gumbala mempersiapkan upacara kebangkitan Ki Rawe Rontek.

“Apa-apaan ini?” tanya Andika seperti tak ditujukan pada siapa-siapa.

DitatapnyaKi Lantanggeni, meminta penjelasan pada lelaki yang sudah banyak makan asam garam dunia persilatan itu.

Ki Lantanggeni melangkah lebih dekat pada jasad Ki Rawe Rontek yang tertutup kain hitam lebar.

“Tampaknya Sepasang Datuk Karang hendak

menghidupkan kembali saudara seperguruanku,”

gumam laki-laki tua itu menjawab keingintahuan Andika. Andika kembali menatap mata Ki Lantanggeni lekat-lekat. Dia tak puas atas penjelasan lelaki tua itu.

Ki Lantanggeni mengerti maksud Andika.

“Kau masih ingat ceritaku tentang ajian hitam

'Rawe Rontek'? Ilmu itu akan tetap tinggal bersama jasad si Penganutnya, meski telah lama mati. Jika suatu saat ada orang lain menolongnya menyatukan kembali bagian tubuhnya lalu melaksanakan suatu upacara gaib, dia akan bisa membangkitkan kembali ilmu hitamnya. Pada akhirnya, dia akan bangkit kembali dari kematian...,” jelas Ki Lantanggeni.

Idayu Wayan Laksmi bersidekap rapat. Bahunya terangkat dalam getaran halus. Dia jadi merinding, mendengar pengungkapan lelaki tua yang baru dikenalnya itu. Selama hidup, baru kali ini dia mendengar tentang ilmu sesat yang mengerikan.

“Lalu kenapa belum juga hidup kembali?” tanya Andika, sambil menyusul Ki Lantanggeni ke dekat jasad Artapati alias Ki Rawe Rontek.

Ki Lantanggeni diam sesaat. Pikirannya mencoba menerka-nerka.

“Hmmm… Mungkin ada satu persyaratan yang

kurang...,” duga laki-laki tua itu datar.

“Persyaratan apa?”

Ki Lantanggeni menatap Idayu Wayan Laksmi yang masih menciut ketakutan di satu sudut dinding goa.

Andika jadi turut memperhatikan gadis ayu itu.

“O, aku mengerti,” sela Andika. “Tumbal. Begitu maksudmu, Ki?”

Ki Lantanggeni mengangguk sekali.

“Darah seorang perawan suci mungkin adalah syarat terakhir. Itu sebabnya, mereka berusaha menculik Laksmi....”

Demi mendengar percakapan kedua orang berbeda usia itu, Idayu Wayan Laksmi merasakan bulu kuduknya kian meremang hebat. Mimik wajahnya memperlihatkan ketakutan dalam. Setarikan napas berikutnya, gadis itu berlari mendekati Andika.

Dipeluknya pemuda itu dari belakang, sehingga membuat pendekar ugal-ugalan itu tak bisa berkutik.

Kecuali, senyum-senyum pada Ki Lantanggeni seperti lelaki kehilangan akal.

“Tak perlu takut, Laksmi...,” ucap Ki Lantanggeni.

“Ya, tak perlu takut,” timpal Andika. “Toh kau sudah selamat, dan aku masih ada di sampingmu.

Juga Ki Lantanggeni....”

Bujukan Ki Lantanggeni dan Andika percuma.

Ketakutan gadis itu tidak juga bisa diredam, meski sedikit. Malah dia makin merapatkan tubuh pada Andika. Kala itulah, tanpa disadari mereka darah dari luka di bahu Idayu Wayan Laksmi menetes jatuh ke kain hitam penutup mayat Ki Rawe Rontek. Menetes dan menetes....

“Hei? Kalian yang ada di dalam goa Keluar”

Mendadak terdengar suara lantang seseorang dari luar.

Andika dan Ki Lantanggeni menoleh tenang

dengan mimik wajah tak berubah. Lain halnya Idayu Wayan Laksmi. Gadis itu terlonjak tak alang kepalang.

Wajahnya makin kehilangan darah. Kalau saja Andika tak segera mendekap mulutnya, mungkin akan menjerit sejadi-jadinya.

“Aku tahu kalian ada di dalam. Jadi, jangan berpura-pura” suara itu membahana kembali. “Aku juga tahu, kalian pula yang telah memperdayai pasanganku di balik batu karang. Kini, dia telah kubebaskan. Itu berarti kalian bisa menghadapi kami, Sepasang Datuk Karang, secara langsung. Tak perlu lagi main kucing-kucingan, jika kalian memang bukan pengecut”

“Wah Si Tuan Rumah tampaknya marah, Ki,” kata Andika acuh tak acuh. “Sebagai tamu yang baik, kita tentu harus memenuhi permintaan mereka....”

Dengan gaya dibuat-buat, Andika membungkukkan badan sambil mengayun satu tangan perlahan. Diperhatikannya Ki Lantanggeni.

“Sebagai orang yang lebih tua, kau patut

didahulukan...,” seloroh Andika.

Ki Lantanggeni tertawa lebar.

“Kau jadi mengingatkan aku pada cerita seorang pendekar muda tanah Jawa Dwipa yang amat

tersohor dengan julukan Pendekar Slebor, Andika...,”

ucap orang tua itu sambil melangkah.

Andika mengerutkan kening.

“Memangnya aku ini siapa? Bagong, atau

Semar?” ceracau hati Andika.

Lalu Pendekar Slebor pun mengikuti lelaki tua itu keluar seiring seulas senyum dikulum. Idayu Wayan Laksmi mengikuti rapat di sisinya.

Di luar, Sepasang Datuk Karang menunggu garang.

Keduanya berdiri tegang bagai dua tonggak kayu tak bernyawa. Cara berdiri mereka begitu menantang.

Lalinggi mendekap tangan di depan dada, sedangkan Gumbala bertolak pinggang angkuh.

“Hei? Apa kabar” sapa Andika setibanya di mulut goa dengan maksud mengejek. “Kita bertemu lagi, ya? Ada perlu apa? Menagih utang atau minta digebuk?”

“Jangan banyak omong lagi, Kang,” bisik Gumbala.

“Mereka bisa menggagalkan usaha kita yang sudah dibangun bertahun-tahun.”

Lalinggi mengangguki Gumbala. Dia setuju pendapat lelaki berwajah buruk itu. Lalu dengan gerakan kepala diberinya isyarat pada Gumbala untuk segera menghajar Pendekar Slebor.

Gumbala tampak senang. Tak tanggung-tanggung lagi, dipersiapkannya pukulan tenaga dalamnya.

Seperti pernah dipakai saat menghancurkan gubuk salah seorang sesepuh Buleleng, Gumbala meng-gerakkan sepasang tangannya dalam bentuk paruh burung gagak. Sesaat dicobanya memusatkan seluruh kekuatan tenaga dalam pada kedua tangan.

Saat berikutnya....

“Hiah”

Wesss

Serangkum angin pukulan keras memburu ke arah Pendekar Slebor, Ki Lantanggeni, dan Idayu Wayan Laksmi.

Pendekar Slebor terkejut. Begitu juga lelaki tua di sisinya. Mereka sama sekali tidak menduga kalau orang itu akan melepaskan pukulan jarak jauh. Idayu Wayan Laksmi yang tak biasa menghadapi keadaan seperti itu malah menjerit tak tanggung-tanggung.

“Aaa”

Dilihat dari tempat mereka berdiri, ketiga orang itu benar-benar dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Di bibir goa, mereka tak bisa bergerak terlalu bebas, meskipun Pendekar Slebor termasuk dalam jajaran tokoh atas aliran putih. Terlebih, karena pukulan jarak jauh Gumbala yang melingkupi hampir seluruh mulut goa.

Maka mau tak mau Pendekar Slebor melakukan tindakan yang cukup nekat. Beriring teriakan yang sanggup merontokkan bebatuan dinding goa, pendekar muda dari Lembah Kutukan itu merangsek ke depan. Pukulan jarak jauh Gumbala akan dihadangnya tanpa persiapan benteng pertahanan diri yang matang.

“Hiaaa”

Des

Pukulan tanpa wujud Gumbala seketika menghajar seluruh bagian tubuhnya, bagai satu sapuan topan raksasa. Pakaian di sekujur tubuh Pendekar Slebor langsung koyak-koyak. Tubuhnya yang meluncur ke depan terhenti sekejap, setelah itu mulai terseret ke belakang kembali.

“Hiaaa”

Pendekar Slebor bertahan, dengan mencoba

mengerahkan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan yang masih sempat dapat dikerahkan dalam keadaan terlambat seperti itu. Maka benturan dua kekuatan hebat itu membuat sepasang kakinya mulai melesak, karena hendak mempertahankan kuda-kuda. Dalam sekejap, kakinya sudah terkubur ke bumi sebatas betis.

Sekujur tubuh Pendekar Slebor saat itu bagai ditimpa beruntun ribuan kerikil tajam. Dirasakannya setiap pori-pori kulit seperti hendak terbelah.

“Ki Lantanggeni Cepat keluarkan Laksmi dari mulut goa” teriak Pendekar Slebor di sela jeritan.

Ki Lantanggeni cepat tanggap maksud Andika.

Kalau dia tetap di mulut goa, keadaan akan makin tak menguntungkan. Maka cepat disambarnya tubuh Idayu Wayan Laksmi, langsung melesat keluar.

Bersamaan dengan keluarnya Ki Lantanggeni dan Idayu Wayan Laksmi, Pendekar Slebor melepas pertahanan. Seketika tubuhnya dihentakkan keluar dari terjangan angin pukulan jarak jauh Gumbala.

“Khiaaah”

Ketika Pendekar Slebor berpuntar di udara, sisa pukulan jarak jauh lawan tanpa tertahan lagi menghantam bibir goa. Maka bongkahan batu sebesar manusia pun beruntuhan. Akibatnya, mulut Goa Karang Hitam tertimbun cepat.

Menyadari pukulan jarak jauhnya dapat membuat seluruh goa tertutup bongkahan-bongkahan batu cadas, Gumbala cepat menghentikan pengerahan ilmu andalannya.

“Kau tak apa-apa, Andika?” tanya Ki Lantanggeni, saat Andika tiba di depannya dalam keadaan tak karuan.

“Tak apa-apa, Ki,” sahut Andika.

Berhubung ada gadis yang bersama Ki

Lantanggeni di belakangnya, Andika lebih sudi bilang tak apa-apa. Padahal dadanya begitu sesak Tak cuma itu. Dari lubang hidung si Pendekar Urakan itu pun merembes darah segar. Andika baru menyadari ketika merasakan anyir darah itu mengalir ke mulutnya.

“Hey, binatang langka itu telah membuat hidungku berdarah,” gerutu Pendekar SIebor berbisik mangkel.

Baru saja Andika menyeka hidung dengan koyakan tangan bajunya, Lalinggi ganti menyerang. Lelaki yang biasanya bersikap setenang permukaan telaga dan sedingin es itu, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Tentu saja penyebabnya karena kegusaran-nya, akibat tindakan ketiga orang itu yang mengacaukan rencananya.

“Kau telah membuat rencanaku kacau balau, Pemuda Sialan” maki Lalinggi murka seraya melabrak Pendekar Slebor garang.

“Hih”

Deb Deb

Seperti Gumbala, Lalinggi pun tak ingin tanggung- tanggung lagi menghadapi lawannya. Jurus-jurus maut tingkat tertinggi yang dimilikinya langsung dikerahkan. Sepasang tangan dan kakinya menyabet deras dengan gerakan berputar bergantian, ke arah kepala dan kaki Pendekar Slebor.

Untuk serangan kalap itu, Andika mengeluarkan jurus yang sudah amat dikenal kalangan kaum persilatan. Jurus 'Memapak Peti Membabibuta'. Dia tahu, serangan lawan harus dihadapi dengan jurus-jurus utamanya.

Seperti orang gila kelimpungan, Pendekar Slebor menangkis sabetan demi sabetan tangan dan kaki lawan.

Des Des Des

Lalinggi tersentak mundur beberapa tindak.

Dirasakan tangan dan kakinya seperti baru saja menimpa benda tak terlihat yang demikian keras.

Sehingga membuat sekujur tangan dan kakinya berdenyut-denyut nyeri. Bagaimana lawan bisa bergerak secepat itu? Padahal, dia telah melancarkan serangan cepat yang sanggup meremukkan empat puluh batang besi sekaligus. Itu sebabnya, jurusnya diberi nama 'Empat Puluh Hantaman Dewa'.

Lebih herannya lagi, pemuda itu bergerak seperti main-main, tak seperti biasanya orang bertempur.

Tapi setiap gerakan yang dibuat sanggup membentengi sekujur tubuhnya dalam satu gebrakan

Empat-lima tombak di belakang Pendekar Slebor, Ki Lantanggeni juga tersentak. Matanya terbelalak tak percaya pada penglihatannya. Dia hampir-hampir tak melihat tangan Andika bergerak menangkis, kecuali gerakan-gerakan ngawur ke berbagai arah. Tapi kenyataannya, hantaman-hantaman lawan kandas begitu saja Sampai di situ, Ki Lantanggeni baru sadar kalau pemuda yang selama ini bersamanya adalah seorang pendekar kalangan atas. Di tanah Jawa Dwipa, mungkin dia begitu terkenal Sayang, dia tidak mengetahui julukan pemuda itu.

Lain lagi Lalinggi. Tidak seperti Ki Lantanggeni yang telah lama mengucilkan diri di Pulau Bali, Lalinggi adalah tokoh sesat yang masih berkubang di dunia persilatan. Dengan begitu, dia sering mendengar kabar burung mengenai seorang pendekar kenamaan berusia muda yang memiliki jurus aneh....

“Kau.... Pendekar Slebor,” desis Lalinggi kaget.

Meskipun hanya berbisik, ucapan Lalinggi tertangkap pula telinga Ki Lantanggeni. Untuk kedua kalinya, lelaki tua itu terperangah.

“Apa? Pendekar Slebor?” sentak hati orang tua itu.

Lagi-lagi dia hampir tak percaya. Bodoh sekali dia selama ini, tak mengetahui kalau pemuda itu adalah pendekar muda dengan nama besar Pendekar Slebor.

“Gumbala Bantu aku Kita menghadapi lawan berat” seru Lalinggi tak malu-malu.

“Apa, Kang?”

“Bodoh Cepat ke sini dan bantu aku Pemuda sialan ini ternyata Pendekar Slebor” teriak Lalinggi kalap.

Gumbala yang hendak memeriksa goa, mendadak terbelalak. Matanya makin membesar saja seperti hantu telat buang air

“Cepat, Goblok Kenapa jadi bengong seperti itu”

bentak Lalinggi makin kalap.

“Iy... iya, Kang” sahut Gumbala tersadar. Lalu segera dia melompat ke sisi pasangannya dengan genjotan tubuh lebar.

“Siapkan jurus 'Sepasang Iblis Menghimpit Badai'” kata Lalinggi memberi aba-aba.

“Siap, Kang” jawab Gumbala.

Sementara benak laki-laki buruk rupa itu masih bergumam tak menentu. Pantas, dulu dia begitu mudah dipermainkan lawan....

Lalinggi mulai mempersiapkan jurus gabungan andalan mereka. Mula-mula dilakukannya hal yang amat jarang sekali diperbuat, kecuali pada saat-saat menghadapi lawan amat berat seperti sekarang.

Dilepaskannya caping di kepala. Dan terlihatlah wajah asli Lalinggi.

Wajah lelaki itu ternyata tak kalah buruk dengan Gumbala. Seluruh wajahnya dipenuhi kerutan mengerikan bagai luka bakar. Bibirnya bagai bentuk mulut makhluk melata dari rawa, bergelombang men-jijikkan. Sedangkan hidungnya seperti dikoyak-koyak pisau tajam Yang lebih menyeramkan lagi adalah matanya. Yang bersinar kebiru-biruan menyilaukan

Kini lelaki itu mengatur pernapasan. Kedua tangannya kaku di depan dada dengan keadaan seperti sedang mendekap sesuatu. Satu kakinya terangkat tinggi, hingga dengkulnya menyentuh siku kedua tangan. Beberapa saat kemudian, matanya bertambah menyilaukan. Sinar kebiruan perlahan-lahan merambat ke sekujur tubuhnya, seakan satu selimut biru tembus pandang. Rupanya, inti kekuatan ilmunya kali ini berpusat di mata lelaki itu.

Saat tubuh Lalinggi sudah terbungkus seluruhnya oleh sinar kebiru-biruan, Gumbala maju ke depan.

Dengan menarik napas dalam-dalam, kedua tangan Gumbala disatukan dengan tangan Lalinggi.

Keanehan pun terjadi lagi. Sinar kebiru-biruan di sekujur tubuh Lalinggi mulai merambat pula ke tubuh Gumbala sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, kedua lelaki itu benar-benar terbungkus selubung sinar tersebut.

“Wan... wah... wah Ada yang mau main lampu-lampuan rupanya,” leceh Andika. Kepalanya mengangguk-angguk seperti burung pelatuk kurang kerjaan. “Baik kalau itu yang kalian mau....”

Pendekar Slebor pun mulai mempersiapkan

jurusnya 'Guntur Selaksa'. Jurus ciptaannya ini sering kali digunakan untuk benteng pertahanan, di samping untuk melakukan serangan balasan pula. Jurus yang pernah membuatnya sanggup melindungi diri dari setiap sambaran lidah petir

“Iii...”

Diawali satu lengkingan aneh, Sepasang Datuk Karang memulai serangan. Lalinggi menghentak tubuh Gumbala, sehingga pasangannya terayun cepat di tangannya.

“Iii...”

Beriring satu lengkingan ganjil kembali, tubuh Gumbala kini malah berputar. Sedang tubuh Lalinggi menjadi pusat tumpuannya. Putaran itu makin lama bertambah cepat.

Pada saat putaran tubuh Sepasang Datuk Karang menderu ke arah Pendekar Slebor, Andika pun sudah mencapai pengerahan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan tingkat terakhir. Kekuatan sakti dalam tubuhnya membentuk sinar pula, seperti milik lawan. Bedanya sinar yang membentengi tubuh Pendekar Slebor berwarna putih keperakan.

Angin besar menerbangkan debu dan kerikil di sekitar arena pertarungan maut, akibat putaran tubuh Sepasang Datuk Karang. Dan mereka makin dekat saja ke arah Pendekar Slebor.

Wrrr Angin yang tercipta dari jurus langka Sepasang Datuk Karang bagai amukan topan badai. Dalam jarak dua puluh tombak, sekeliling kancah pertarungan bagai hendak diobrak-abrik. Bahkan batu-batu karang sebesar kepala manusia mulai beterbangan, layaknya sekumpulan bulu.

Agar Idayu Wayan Laksmi tak terluka, Ki

Lantanggeni mengambil keputusan cepat untuk membawanya segera keluar dari sekitar kancah pertarungan. Disambarnya kembali tubuh Idayu Wayan Laksmi yang sudah begitu lunglai ketakutan.

Sekitar dua puluh lima tombak dari tempat pertarungan, barulah Ki Lantanggeni menurunkan tubuh wanita Bali itu.

Jarak antara Pendekar Slebor dengan putaran tubuh Sepasang Datuk Karang tinggal dua tombak lagi. Angin makin menggila. Pendekar Slebor merasa tubuhnya bagai hendak dilempar kekuatan raksasa.

“Hiaaa”

Terdengar teriakan mengguruh terlontar dari mulut Pendekar Slebor. Tampaknya, dia tak ingin menunggu dua lawannya sampai. Di akhir teriakan, seluruh otot-otot kakinya dikejangkan kemudian digenjotnya ke arah lawan.

Seperti berjalan di dasar laut, kaki Pendekar Slebor bergerak sejengkal demi sejengkal ditahan dorongan angin raksasa milik Sepasang Datuk Karang. Tanah bercadas tempat pijakannya lebur terparut kakinya, seakan tanah keras itu hanya berupa tepung.

Pada saatnya, tubuh mereka pun bentrok.

Tangan Pendekar Slebor menjulur ke depan

seperti gerakan seorang pencuri jemuran, siap menerkam kepala Lalinggi yang masih berpusing. “Haaaih”

Des

Terkaman Pendekar Slebor dapat digagalkan Sepasang Datuk Karang. Pada saat yang sama, Gumbala menekuk dua kakinya yang masih melayang di udara. Maka tangan Pendekar Slebor dan kaki Gumbala bertemu dahsyat. Benturan selubung sinar kebiru-biruan dengan selubung sinar putih keperak-perakan terjadi. menimbulkan percikan-percikan bunga api di udara.

Cras Cras

Sepasang Datuk Karang mencoba menyusun

serangan balasan. Sementara kaitan dua tangan mereka tiba-tiba terlepas. Tubuh Gumbala terus berputar. Pada saat sepasang kakinya menghadapi tubuh Lalinggi, pasangannya itu pun segera menangkap kakinya.

Wuk

Tep

Lalu kedua tangan Gumbala yang kini menghadap Andika, beruntun mencabik di udara dengan jari membentuk paruh gagak.

Jep Jep Jep...

Pendekar Slebor tentu saja tak sudi wajahnya yang masih bagus dan mulus diacak-acak jari tangan Gumbala. Dengan kedua tangannya ditangkisnya serangan itu berkali-kali.

Taks Taks Taks...

“Kau tentu ingin merusak wajahku seperti wajah kalian yang porak-poranda itu Dasar sirik” cerocos Andika. “Sudah jelek, ya jelek saja Tak usah mengajak orang lain ikut jelek”

Pendekar Slebor masih sempat meledek, meski pertarungan berlangsung dalam tempo yang demikian cepat.

Pertarungan dahsyat berlanjut. Sembilan puluh sembilan jurus berlalu cepat seperti angin. Masing-masing masih terlihat tangguh dengan jurus andalan.

Percikan demi percikan bunga api masih terus tercipta, mengiringi setiap bentrokan. Deru angin raksasa ciptaan Sepasang Datuk Karang tetap menyapu gila ke berbagai arah, ke segenap penjuru.

Selama itu, otak encer pendekar muda dari Lembah Kutukan itu terus merekam titik-titik lemah jurus andalan lawan. Tak ada gading yang tak retak.

Dia yakin, ada satu kunci untuk menembus pertahanan rapat lawannya.

Memang sampai saat ini, usahanya untuk membongkar titik lemah jurus kedua lawannya masih tak menghasilkan apa-apa. Bahkan pada satu kali, jari tangan Gumbala berhasil menyayat dada Pendekar Slebor.

Sret

Maka sobekan luka memanjang dari bahu kiri ke lambung kanan Pendekar Slebor pun terlihat. Darah pun merembes dari luka yang cukup dalam.

“Monyet kudis Setan ileran Kunyuk bau Bau

Bauuu...”

Umpatan panjang-pendek pendekar yang kadang lebih cerewet dari mulut nenek-nenek pikun itu pun merajalela ke segenap kancah pertarungan.

Kepala Pendekar Slebor jadi panas meledak-ledak.

Dengan menghentak-hentak kaki ke tanah dan kepala menggeleng-geleng tak karuan seperti bocah kecil dilanda kejengkelan, Pendekar Slebor mencoba membayar perbuatan Gumbala.

“Hiaaaiii, ai... ai... aiii”

Orang sinting satu kampung pun kalah dengan terjangan Pendekar Slebor kali ini. Tangan dan kakinya merangsek bergantian dalam satu rangkai jurus yang sulit ditangkap mata biasa. Sesekali tangannya mengarah ke punggung Gumbala yang melengkung bak tanda tanya. Sesekali pula, kakinya menyapu ke leher Lalinggi.

“Akan kubuat punggungmu membengkok ke

depan, Manusia Bau Agar nanti kau berterima kasih padaku di liang lahat” maki Pendekar Slebor.

Wus Wus Wus

Kedua tangan Andika berputar ke depan, hendak menampar punggung orang yang telah melukainya.

Kecepatan yang terbawa gerakan Pendekar Slebor kali ini sungguh sulit dipapaki kedua tangan lawan lagi.

Agar punggungnya tetap awet membungkuk ke belakang, Gumbala terpaksa melakukan gerakan yang begitu sulit dalam keadaan berputar seperti itu.

Badannya ditekuk dalam-dalam ke bawah, dan terus melaju ke kolong selangkangan Lalinggi. Dan gerakannya dimanfaatkan Lalinggi untuk memutar tubuh ke depan. Kaki lelaki yang semula selalu bertopi keranjang itu dengan cepat meluncur lurus ke depan.

Des

“Augkh

Andika mengerang sesaat. Dadanya lagi-lagi menjadi sasaran empuk. Sehingga tubuh pendekar muda itu terlempar deras ke belakang.

“Andikaaa” teriak Idayu Wayan Laksmi di

belakang sana, khawatir akan nasib pemuda yang mulai menempati ruang dalam kalbunya.

Tepat lima tombak di depan Ki Lantanggeni dan Idayu Wayan Laksmi, tubuh Andika berdebam me- ninju tanah. Punggungnya jatuh lebih dahulu.

Beberapa saat pemuda itu mengerang-erang. Dada dan punggungnya dirasa bagai dilantak dari dalam.

“Andika kau tak apa-apa?” seru Ki Lantanggeni.

“Andikaaa ' Beli' Andikaaa” teriak Idayu Wayan Laksmi lagi makin was-was.

Demi mendengar teriakan suara gadis ayu itu, Andika langsung bangkit walau dipaksakan. Mulutnya meringis-ringis dengan darah kehitaman membasahi.

Tapi, dasar anak muda kepala batu dan sedikit sombong, dia malah membusungkan dada sok

jumawa.

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” jawab Pendekar Slebor sok kuat. Padahal, dadanya masih terasa remuk.

“Kau yakin, Andika? Biar aku membantumu?”

“Jangan, Ki” cegah Andika. “Biar aku saja yang melabrak manusia-manusia bau itu”

Padahal mulut Pendekar Slebor meringis-ringis terus. Untung saja saat itu membelakangi Ki Lantanggeni dan Idayu Wayan Laksmi. Kalau tidak, tentu kedua orang itu bisa melihat wajah mengenas-kan pendekar muda kepala batu itu.

Pendekar Slebor menarik napas kuat-kuat. Diperhatikannya putaran tubuh lawan yang tercipta kembali, dan kini meluncur ke arahnya. Saat itulah dia teringat pada serangan terakhir Sepasang Datuk Karang. Dalam waktu yang demikian cepat, mata tajamnya menangkap suatu titik yang begitu dilindungi oleh Sepasang Datuk Karang. Mereka berusaha berputar mengganti kedudukan, agar lawan tidak dekat pada titik itu. Titik itu adalah kaitan tangan milik Lalinggi dengan kaki Gumbala

“Kali ini akan kubuat kerak kolak kalian” dengus Andika, diawali satu seringai.

Pendekar Slebor yakin, telah berhasil memecah-kan teka-teki kelemahan lawan. Maka tanpa menunggu serangan tiba. Pendekar Slebor melarikan tubuh deras ke arah mereka.

“Hiaaa”

Kalau seseorang ingin menilai, tentu mereka akan melihat gerak lari Pendekar Slebor mirip maling kesiangan. Tapi di balik itu, sedang disiapkannya satu terjangan penuh siasat matang. Memang aneh kalau Andika tak segera tiba di dekat lawannya. Karena, tak sedikit pun mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang begitu disegani di kalangan persilatan. Dia memang lari, tapi larinya seperti lari orang awam.

Tindakan Pendekar Slebor sungguh-sungguh mem-bingungkan lawan. Apa sesungguhnya yang mau diperbuat pendekar muda yang banyak memiliki tingkah urakan itu?

Pada saat mereka bertanya-tanya heran dalam hati, tubuh Pendekar Slebor telah tiba di dekat keduanya. Dengan lari seperti itu, baik Lalinggi maupun Gumbala begitu yakin akan segera bisa merontokkan kembali tubuh Pendekar Slebor.

Dengan lengkingan aneh, mereka memutar tubuh lebih cepat untuk menghantam Pendekar Slebor. Tapi di luar dugaan, mendadak saja Pendekar Slebor mengerahkan kembali ilmu kecepatannya.

“Iii...”

Wut

Hantaman sapuan tubuh Gumbala luput, karena Pendekar Slebor sudah melenting indah gemulai ke atas. Di udara, dia bersalto cepat. Lalu dilepaskannya kain pusaka bercorak catur dari pundaknya.

Sret Sekedip mata saja, kain pusaka itu sudah melecut tepat ke arah pegangan tangan Lalinggi.

Prat

“Wuaaa”

Lalinggi kontan menjerit tak alang kepalang. Jari-jemarinya langsung hancur berantakan seperti batang pohon pisang tertumbuk balok kayu. Tentu saja tubuh Gumbala jadi terlepas. Lelaki itu kontan terlempar ke udara.

Entah bagaimana caranya, dalam keadaan masih tetap di udara Pendekar Slebor melepas inti tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan ke arah Gumbala.

Wezzz

“Aaa...”

Tanpa bisa menghindar lagi, leher belakang lelaki buruk rupa itu termakan telak pukulan jarak jauh Pendekar Slebor. Lehernya remuk seketika. Bahkan kepala lelaki itu nyaris saja terlepas, begitu ambruk di tanah.

Pendekar Slebor kini berdiri dua tombak persis di depan hidung Lalinggi. Mata kebiru-biruan lelaki itu membeliak mendapati Pendekar Slebor siap melecut kain pusaka kembali.

“Wuaaa” raung Lalinggi, menyangka Pendekar Slebor akan segera melepas lecutan kembali.

Matanya terpejam, mulutnya membuka lebar seperti lalat.

Lalinggi menunggu-nunggu lecutan senjata pusaka Pendekar Slebor, tapi tak juga datang. Takut-takut, matanya dibuka tapi ternyata Andika sudah tidak ada lagi di depannya. Tapi, telinganya mendengar tawa pemuda tersebut di belakang. Ketika menoleh, tampak Pendekar Slebor tengah memegang pakaiannya.

“Ini untuk membayar pakaianku yang dirusak oleh kawanmu...,” kata Pendekar Slebor ringan.

Lalinggi terlonjak. Ketika melirik ke bawah, tubuhnya sudah polos seperti bayi baru lahir Entah malu atau takut mati, laki-laki yang juga buruk rupa itu langsung lari tunggang langgang sambil melindungi bagian 'rahasianya' dengan tangan hancur.

“Oiii, ada tuyul” teriak Andika sambil tergelak.

Idayu Wayan Laksmi yang melihat kejadian itu menutup wajah cepat-cepat. Ngeri campur geli....

***

Bagaimana keadaan jasad Ki Rawe Rontek yang

telah ditetesi darah Idayu Wayan Laksmi secara tidak disengaja? Apakah dia berhasil bangkit kembali? Apa sesungguhnya rahasia kelemahan ilmu hitam yang luar biasa itu, sehingga Ki Rawe Rontek dikabarkan masih mampu hidup kembali meski kepalanya telah terpenggal sekalipun? Kalau bangkit kembali, mampukah Andika menghadapinya? Ikuti kelanjutan kisah ini dalam episode : BANGKITNYA KI RAWE RONTEK

SELESAI

Catatan:
* Cokorde = raja
* Beli = panggilan untuk kakak lelaki
* Mbok = kakak perempuan
* Banjar = kelompok keluarga dalam wilayah Bali
* Geg = kependekan Jegeg (manis)
* Monggo = silakan
* Kala = raksasa
* Odah = nenek

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Musuh Dalam Selimut (Hui Hong Tjiam Liong)] akan diupload pada pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Slebor Episode 05 Darah Pembangkit Mayat"

Post a Comment

close