Pendekar Sakti Jilid 31-35

Mode Malam
Pendekar Sakti Jilid 31-35

Ada pun Kwan Cu, setelah menghadapi keroyokan dua orang hwesio itu beberapa puluh jurus, diam-diam terkejut. Baru sekali ini dia menjumpai lawan-lawan yang benar-benar tangguh. Walau pun dengan mudah dia dapat menghadapi semua serangan mereka dan dapat menyelamatkan diri tanpa banyak kesukaran, namun untuk membalas menyerang, juga bukan hal yang mudah. Setiap pukulan sulingnya dapat ditangkis oleh tangan yang keras dan kuat dari Mo Beng Hosiang, ada pun senjata yang aneh dari Mo Keng Hosiang juga cukup tangguh untuk menangkis setiap serangannya sulingnya.

Ketika dia mempelajari ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng di pulau berdaun putih, Kwan Cu sudah mempelajari pula semua ilmu-ilmu silat tinggi yang terukir pada dinding-dinding goa. Ilmu silat itu hampir meliputi seluruh pokok dasar ilmu silat tinggi yang ada di dunia persilatan.

Dari latihan-latihan ini, kemudian dimatangkan oleh kepandaian pokok dasar persilatan yang dipelajarinya dari kitab rahasia itu, Kwan Cu sudah dapat menggabung semua ilmu silat itu sehingga dengan sendirinya menciptakan berbagai ilmu silat yang aneh-aneh. Di antaranya, dia telah dapat mengatur ilmu silat tangan kosong berdasarkan lweekang dan khikang, disertai hawa di dalam tubuh menurut latihan siulian dari kitab itu.

Ilmu silat ini dia beri nama Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Ia memberi nama ilmu sihir karena di dalam gerakan ilmu silat ini bangkit tenaga batin yang amat kuat sehingga kedua lengannya dapat mengebulkan uap putih seperti mega putih. Uap putih inilah yang mempunyai pengaruh menolak segala serangan yang dilakukan berdasarkan tenaga dari ilmu hitam atau segala macam hoat-sut (ilmu sihir).

Selain ini, masih banyak sekali ilmu-ilmu silat yang aneh dan tinggi yang diciptakan oleh Kwan Cu. Akan tetapi maklumlah, dia masih muda sekali dan belum banyak pengalaman bertempur sehingga ketika menghadapi dua orang hwesio yang tangguh itu, dia masih belum mendapat jalan bagaimana harus mengalahkan mereka.

Menghadapi ketangguhan mereka, timbullah niat di dalam hati Kwan Cu untuk mencoba ilmu-ilmu silat yang diciptakannya sendiri. Karena itu, ketika dia mengelak dari serangan lawan-lawannya, dia segera menyelipkan sulingnya kembali pada ikat pinggangnya, lalu dia mengeluarkan seruan tinggi dan nyaring.

Maka berubahlah ilmu silatnya. Kini dia tidak mau meniru ilmu silat dari kedua lawannya untuk menjaga diri, melainkan langsung mengerahkan tenaga dalam dan mainkan Pek-in Hoat-sut.

Bukan main hebatnya akibat dari permainan ilmu silatnya ini. Dengan dua kali sampokan lengannya yang mengebulkan uap putih, tangan Mo Beng Hosiang tertangkis dan lantas memekik kesakitan, sedangkan Mo Keng Hosiang berseru terkejut karena senjatanya terpental dan terputus pada tengah-tengahnya! Kemudian, dua kali lagi pukulan Kwan Cu diikuti oleh jerit kesakitan dan terpentallah tubuh dua orang hwesio itu sampai ke dinding ruangan dan mereka rebah tak bergerak lagi karena sudah pingsan!

Akan tetapi, Kwan Cu sendiri setelah mengeluarkan empat kali gerakan itu, tubuhnya lalu terhuyung-huyung dan cepat-cepat dia mengatur pernapasannya sehingga sebentar saja keadaannya sudah pulih kembali. Tahulah dia bahwa dalam menggunakan tenaga luar biasa ini, karena kurang pengalaman, dia telah mengerahkan terlampau keras sehingga menguras hawa di dalam tubuhnya sendiri!

Oleh karena itu, dia sekarang maklum bahwa ilmu silatnya Pek-in Hoat-sut tidak boleh dibuat main-main dan harus dilakukan dengan sewajarnya dan tidak dipaksa. Akan tetapi dia girang sekali melihat hasilnya, meski pun dia merasa agak menyesal karena khawatir kalau-kalau dua orang hwesio itu tewas.

“Hebat… Hebat…! Entah ilmu silat iblis apakah yang sudah kau pergunakan tadi. Anak muda, kau benar-benar lihai sekali. Amat aneh kalau Ang-bin Sin-kai mempunyai murid seperti engkau.”

“Kiam Ki Sianjin, aku memang murid dari mendiang suhu Ang-bin Sin-kai,” kata Kwan Cu sederhana.

Sesudah dapat mengalahkan dua orang lawannya yang tangguh tadi, besarlah hati Kwan Cu. Dia sedang mencari musuh-musuh besar suhu-nya yang sangat tangguh, yakni di antaranya Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo, dua orang tokoh besar yang sama sekali tidak boleh dipandang rendah. Maka sekarang, di samping dia ingin memberi hajaran kepada orang-orang yang bermaksud mencelakakan kongkong-nya ini, juga dia hendak menguji kepandaiannya sendiri.

“Hemm, biarlah, aku tidak peduli kau murid dari siapa. Akan tetapi coba kau menghadapi pedangku, kita main-main sebentar, anak muda.”

Baru saja kata-kata ini habis dikeluarkan dan tangannya bergerak sedikit ke belakang, tahu-tahu tosu ini sudah memegang sebatang pedang yang bukan sembarang pedang, karena pedang itu hitam seluruhnya!

“Hemm, orang tua. Siapa yang percaya omonganmu? Kau bilang main-main, akan tetapi mengeluarkan pedang. Dan kau pun bermaksud mencelakakan kongkong, maka dengan demikian berarti bahwa kau juga musuh. Tak perlu kau menggunakan kata-kata hendak main-main, marilah kita mengadu kepandaian, hendak kucoba lihainya Dewa Utara!”

“Bagus, terimalah ini!” Kiam Ki Sianjin berseru sambil melompat maju dan menusukkan pedang hitamnya ke arah ulu hati Kwan Cu.

Akan tetapi, melihat gerakan ini dan mengerling sekilas ke arah pundak tosu itu, Kwan Cu sudah dapat menduga bahwa serangan ini tidak akan dilanjutkan oleh tosu itu dan hanya merupakan pancingan belaka. Sebab itu dia sengaja berdiri tegak, tidak mengelak mau pun menangkis sama sekali!

Sikap pemuda ini sangat mengherankan hati Kiam Ki Sianjin, akan tetapi karena sudah kepalang, dia melanjutkan serangannya. Memang benar dugaan Kwan Cu, serangannya yang dia namakan gerak tipu Menggertak Bintang Menghancurkan Bulan ini, serangan pedang ke ulu hati lawan tadi hanya gertakan belaka, akan tetapi sebetulnya pada saat pedangnya sudah mendekati, dia akan menariknya kembali dan berbareng tangan kirinya menghantam ke arah kepala lawan sambil mengajukan kaki kirinya ke depan!

Apa bila lawan dapat terpikat, tentu akan mengelak atau menangkis serangan pedang sehingga tidak menyangka akan datangnya pukulan tangan kiri yang tiba-tiba dan amat berbahaya itu. Pukulan tangan kiri ini memang hebat sekali, baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan seorang lawan yang kurang kuat. Di dalam pukulan ini, Kiam Ki Sianjin menggunakan tenaga yang disebut Soan-hong-kang (Tenaga Angin Puyuh).

Namun Kwan Cu sudah bersiap sedia menghadapi ini. Ia sudah dapat menduga bahwa serangan susulanlah yang berbahaya. Menghadapi pukulan yang mendatangkan hawa pukulan dingin ini, dia hendak mencoba tenaga pukulan Pek-in Hoat-sut, maka dia tidak mau mengelak, sebaliknya lalu mengangkat lengan kanan yang telah mengeluarkan uap putih untuk menangkis.

“Dukkk...!”

“Ayaaaaaaa, lihai sekali!”

Kiam Ki Sianjin berseru sambil mudur dua langkah, karena pertemuan lengan itu sudah membikin gempur kuda-kudanya.

Juga Kwan Cu merasa lengan kanannya tergetar hebat dan dia pun mundur sampai dua langkah. Bukan main hebatnya pukulan Soan-hong-kang dari Kiam Ki Sianjin tadi. Akan tetapi diam-diam Kwan Cu menjadi girang bukan main.

Dia tadi hanya mengerahkan setengahnya lebih dari tenaga Pek-in Hoat-sut, kira-kira hanya enam bagian. Kalau tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya, dia yakin bahwa dia tentu akan dapat membuat tosu itu terpental jauh. Hal ini amat membesarkan hatinya dan dia tersenyum lebar. Tentu saja dengan pengertian bahwa ilmunya masih lebih tinggi dari lawannya ini, dia pun menjadi tabah sekali.

“Totiang (panggilan untuk tosu), kau belum lagi menyaksikan semua pukulanku ini, bagai mana sudah tahu kelihaiannya? Nah, kini cobalah kau tahan!” Setelah berkata demikian, Kwan Cu membalas serangan tosu itu dengan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut, kini dia tambah tenaganya kira-kira tujuh bagian.

Benar saja, Kiam Ki Sianjin terkejut bukan main. Ia melihat betapa kedua lengan tangan pemuda itu mengebulkan uap asap putih yang mendatangkan hawa panas luar biasa. Angin pukulan itu saja sudah menggetarkan tubuhnya. Maka dia lalu menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Tangan kirinya menggunakan tenaga Soan-hong-kang, sedangkan tangan kanannya memainkan pedang hitamnya dengan cepat sekali.

Akan tetapi harus dia akui bahwa dia terdesak hebat, karena sebelum mengenai tubuh lawan, pedang hitamnya itu telah bertolak kembali oleh hawa pukulan aneh dari lengan beruap putih itu! Sampai tiga puluh jurus Kwan Cu sambil tersenyum-senyum girang memainkan ilmu Pek-in Hoat-sut.

Hatinya semakin besar karena dengan ilmu silat ini saja, apa bila dia mau mengerahkan tenaga sepenuhnya, dia percaya akan dapat segera menang dari tosu ini. Akan tetapi pengalamannya tadi sudah membuat dia kapok, tidak berani lagi dia mengerahkan terlalu banyak tenaga, khawatir kalau-kalau dia kehabisan hawa dalam tubuh.

“Kurang cukup lihai, Totiang? Nah, ini ilmu silatku yang lain!” Pemuda ini dengan gembira mengejek.

Tiba-tiba saja ilmu silatnya berubah hebat sekali. Kalau tadi gerakannya tenang namun bertenaga, sekarang gerakannya lincah dan seperti tidak karuan. Dia melompat-lompat, menubruk dan kedua kakinya bukan menendang, melainkan mencakar! Namun kedua tangannya yang dibuka laksana cakar pula, mencengkeram sana-sini dengan kekuatan serta kecepatan luar biasa sekali. Inilah ilmu silat ciptaannya sendiri yang dikarangnya menurut lukisan-lukisan pada dinding.

Banyak sekali pelajaran ilmu silat yang berupa Kin-na-hoat atau ilmu silat mencengkeram yang dipergunakan untuk merampas senjata musuh. Karena banyaknya ilmu silat macam ini, dia lalu memilih dan menciptakannya menurut gerakan seekor burung merak, maka ilmu silat ciptaannya yang aneh ini bernama Kong-ciak Sin-na atau Ilmu Mencengkeram Burung Merak!

Kembali Kiam Ki Sianjin tertegun. Kalau selama hidupnya dia belum pernah menyaksikan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang tadi dimainkan oleh pemuda ini dan yang telah membuat dirinya repot sekali, adalah ilmu silat yang dimainkan lawannya sekarang ini, jangankan melihat, bahkan dalam mimpi pun belum pernah dia menyaksikannya!

Dia bisa menduga bahwa ini adalah sejenis ilmu mencengkeram, akan tetapi Kin-na-hoat macam apa? Gerakannya kacau-balau, namun pemuda itu seakan-akan kini mempunyai empat tangan. Kedua kakinya merupakan dua tangan pula karena pemuda itu melompat tinggi dan baik kaki mau pun tangannya lalu mencakar-cakar dan mencengkeram ke arah mata, hidung, tenggorokan, ulu hati dan mencoba untuk merampas pedangnya!

Kiam Ki Sianjin bingung dan kelabakan. Dia lalu menjadi penasaran dan mencoba untuk membabat pinggang pemuda itu ketika lawannya sedang melompat tinggi. Akan tetapi, kaki Kwan Cu mencengkeram ke arah pundaknya sedemikian cepatnya sehingga kalau Kiam Ki Sianjin melanjutkan babatannya, sebelum pedang mengenai tubuh lawan tentu pundaknya sudah akan terkena cengkeraman kaki atau semacam tendangan yang aneh gerakannya.

Kiam Ki Sianjin menarik kembali tangannya untuk membabat kaki yang menyerangnya. Akan tetapi tiba-tiba tangan Kwan Cu mencengkeram pergelangan tangannya dan di lain saat, pedangnya telah terampas!

Kwan Cu tertawa dan melompat berjumpalitan ke belakang, kemudian dia berdiri sambil tersenyum-senyum dengan pedang hitam di tangannya.

“Pedang busuk!” katanya dan sekali dia menekuk tiga jarinya pada pedang itu, terdengar suara nyaring karena pedang itu telah patah pada bagian tengahnya!

“Terimalah kembali senjatamu!” seru Kwan Cu sambil melontarkan potongan pedang itu kepada pemiliknya.

Kiam Ki Sianjin melihat dua sinar hitam berkelebat menuju ke tenggorokan dan dadanya. Dia cepat-cepat mengelak sambil melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari senjatanya sendiri. Akan tetapi ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari depannya!

“Setan...! Iblis...!” Beberapa kali Kiam Ki Sianjin berkata seorang diri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dia harus akui bahwa selamanya dia belum pernah menghadapi lawan yang sedemikian pandainya dan dia mengaku bahwa di dunia persilatan telah muncul seorang pendekar muda yang amat sakti. Maka dia berjanji hendak memperdalam ilmu silatnya karena dia merasa bahwa dia telah tertinggal jauh sekali…..

********************

Hati Kwan Cu gembira dan puas sekali ketika dia meninggalkan ruangan besar tempat orang-orang penting itu berkumpul. Tanpa disengaja dan dicari, sekarang dia telah dapat menemukan sebuah peta berikut penjelasan dari An Lu Kui beserta kawan-kawannya tentang tempat persembunyian Menteri Lu Pin. Hal ini sudah amat membesarkan hatinya karena selain dia juga sudah mendengar makin jelas mengenai kegagahan sepak terjang kongkong-nya itu, juga ia mendapat kesempatan untuk mencari kongkong-nya kemudian melindungi orang tua yang baik hati itu.

Selain dari pada itu, dia pun mendapat kesempatan untuk menguji kepandaiannya pada orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Akan tetapi di samping kepuasan ini juga dia maklum bahwa kini tidak saja dia menghadapi musuh besar yang lihai dan yang sudah menewaskan suhu-nya, namun juga mendapat musuh-musuh besar yang mengancam keselamatan kongkong-nya.

Malam itu ia tidak langsung keluar dari lingkungan istana, akan tetapi masih mencari-cari dan menyelidiki. Dia ingin sekali menyelidiki keadaan di sana dan juga ingin mencari pangeran botak putera An Lu Kui untuk menolong wanita yang terancam oleh pangeran mata keranjang itu.

Malam sudah amat larut dan bulan tua mulai menampakkan diri di antara mega-mega hitam. Kwan Cu sudah mulai putus asa mencari tempat kediaman Pangeran An Kong karena keadaan di situ sunyi belaka. Dia pikir bahwa pangeran botak itu mungkin sekali berada di luar istana dan hal ini membuat dia menyesal sekali mengapa tadi siang dia tidak mengikuti pangeran itu, dan tidak menanyakan keterangan kepada Lu Thong. Dia menyesal karena dipikirnya bahwa wanita itu tidak akan dapat tertolong lagi.

Akan tetapi mendadak dia mendengar suara wanita menangis perlahan. Cepat bagaikan seekor burung, dari atas genteng Kwan Cu melompat ke bawah dan mengintai ke dalam sebuah kamar dari rumah gedung yang berada di sebelah selatan kelompok bangunan istana itu. Hatinya berdebar girang dan juga warna merah menjalari mukanya ketika dia melihat siapa adanya orang yang berada di dalam kamar itu.

Di dalam kamar itu sangat terang dan keadaan perabot kamarnya mewah sekali. Bahkan dari luar jendela saja sudah dapat tercium bau yang amat harum, tanda bahwa penghuni kamar adalah seorang pesolek yang mewah. Di atas meja yang indah terdapat guci arak yang menyiarkan bau harum pula, arak baik yang amat mahal.

Wanita yang menangis terisak-isak dengan suara perlahan karena takut, adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun, berwajah cantik akan tetapi pucat sekali. Rambutnya terlepas serta terurai menutupi sebagian mukanya yang berkulit halus, ada pun pakaiannya kusut. Gadis ini duduk di atas sebuah bangku sambil menangis sedih.

Di depannya, juga duduk di atas bangku sambil kadang-kadang minum arak dari cawan emasnya, nampaklah pangeran botak An Kong dengan mata bersinar-sinar dan mulut tersenyum-senyum.

“Kui Lan, mengapa kau begitu keras hati dan keras kepala? Mengapa pula kau berduka? Ingatlah, bukan sembarang wanita dapat masuk ke kamar ini dan lebih-lebih lagi bukan sembarang wanita dapat menjadi biniku, walau pun hanya bini muda. Aku amat sayang kepadamu, Kui Lan, kau cantik jelita dan halus gerak-gerikmu, aku sayang dan kasihan kepadamu. Tahukah kau bahwa kalau bukan kau, tapi gadis lain yang berkeras menolak kehendakku, akan kusuruh algojo untuk menyiksanya? Atau aku akan mempergunakan kekerasan. Akan tetapi kepadamu aku tidak mau berlaku demikian, Kui Lan. Aku cinta padamu dan aku ingin kau membalas cintaku itu.”

Jawaban Kui Lan gadis itu, hanyalah suara tangis yang lebih menyedihkan hati. Kwan Cu sudah mendidih darahnya menyaksikan keadaan ini, akan tetapi dia masih bersabar. Dia hendak mendengar dan melihat lebih lanjut apa yang akan terjadi, oleh karena dia belum mengerti duduknya perkara.

“Kui Lan, kalau kau mau menyambut cinta kasihku, dan kalau kau mau berlaku manis kepadaku, percayalah, ada kemungkinan kau akan kuangkat menjadi isteriku yang sah! Menurutlah, Kui Lan, bungaku yang manis,” kata pula An Kong dengan suara membujuk setelah dia menenggak habis arak di dalam cawannya.

Kini gadis itu menurunkan kedua tangan yang menutupi mukanya. Kwan Cu mendapat kenyataan bahwa gadis itu memang luar biasa cantiknya.

“Siauw-ong-ya...” Gadis itu berkata dengan suara gemetar, namun terdengar merdu dan halus, “aku tidak menghendaki semua kedudukan tinggi itu. Apakah kau tidak kasihan kepadaku, Siauw-ong-ya. Kau sudah tahu bahwa aku... bahwa di sana sudah ada The Kun Beng... bahwa aku harus bersetia kepadanya karena... Aku sangat cinta padanya... Siauw-ong-ya, kembalikanlah aku kepada orang tuaku atau… atau kau bunuh saja aku agar aku dapat bersetia pada The Kun Beng sampai matiku, sesuai dengan sumpahku...”

Mendengar ini, Kwan Cu menjadi terkejut sekali. The Kun Beng... Ia ingat betul nama ini dan terbayanglah wajah seorang bocah tampan yang manis budi, yaitu murid ke dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Sekaligus terbayang pula semua pengalaman dirinya dengan murid Pak-lo-sian ini ketika dia masih kecil dan perhatiannya makin membesar terhadap gadis yang mengaku cinta kepada The Kun Beng ini.

Tapi sebaliknya, An Kong nampak marah sekali. Pemuda botak ini bangkit berdiri dengan kasar sehingga bangku yang didudukinya terguling, menimbulkan suara berisik. Mukanya menjadi semakin merah, sebagian karena pengaruh arak akan tetapi sebagian besar lagi karena pengaruh kemarahannya.

“Kau benar-benar keras kepala dan menggemaskan! Bagaimana kau berani menyebut-nyebut nama The Kun Beng, pemuda liar murid iblis tua Siangkoan Hai itu? Apa kau kira aku takut jika kau menyebut-nyebut namanya? Apa kau kira aku tak tahu akan riwayatmu yang kotor dengan pemuda itu? Kui Lan! Boleh jadi kau mencinta pemuda iblis itu karena tertarik oleh ketampanannya, akan tetapi kau goblok sekali. Kau pun tahu bahwa dia tak mungkin dapat menjadi suamimu karena dia sudah bertunangan dengan Bun Sui Ceng, gadis liar itu!”

Kembali Kwan Cu terkejut dan hatinya berdebar keras, mukanya pun berubah. Kun Beng bertunangan dengan Sui Ceng? Terbayanglah wajah Sui Ceng yang manis dan teringat kembali dia akan pembohongan terhadap gadis raksasa Liyani pada saat dia menuturkan bahwa dia mencinta Bun Sui Ceng!

Ataukah hal itu bukan suatu kebohongan? Apakah benar-benar dia mencinta Sui Ceng? Tak mungkin! Akan tetapi mengapa dia merasai hatinya berdebar dan telinganya panas mendengar bahwa Sui Ceng sudah bertunangan dengan Kun Beng?

Kembali Kui Lan mengucurkan air mata. “Meski semua itu benar belaka, Siauw-ong-ya, namun aku cinta kepada Kun Beng dan aku bersumpah tidak akan menjadi isteri laki-laki lain, biar pun aku tiada harapan untuk menjadi isterinya.”

“Perempuan bodoh! Bagaimana kau masih setia terhadap seorang laki-laki yang berlaku begitu kejam terhadapmu? Dia telah merusak namamu, telah mengkhianati suheng-nya sendiri, telah melakukan perbuatan terkutuk padamu, telah menyeretmu ke dalam lumpur kehinaan...”

“Cukup. Siauw-ong-ya! Walau pun apa yang akan terjadi, aku akan bersetia sampai mati kepadanya. Dia tetap merupakan laki-laki tunggal yang boleh menguasai hati, jiwa dan ragaku. Bunuhlah aku kalau kau kehendaki!”

Marahlah An Kong mendengar ini. Ia melompat dan tahu-tahu sudah berdiri di depan Kui Lan. Ia mengulur tangan menangkap pergelangan tangan wanita itu, akan tetapi Kui Lan sigap mengelak.

Kwan Cu yang tadinya sudah bersiap hendak melompat masuk, tertegun melihat betapa gadis itu sedikitnya mengerti ilmu silat, karena gerakannya ketika mengelak menunjukkan bahwa dia mengerti ilmu menjaga diri.

Akan tetapi, kepandaian gadis itu ternyata tidak seberapa karena di lain saat, tangannya sudah tertangkap oleh An Kong.

“Kui Lan, aku cinta padamu. Marilah kita minum arak bersama, Manis!” kembali suaranya melembut karena sesungguhnya dia tidak tega untuk bersikap kasar terhadap gadis ini. Dia menarik Kui Lan ke meja dan melepaskan pegangannya, lalu menuangkan arak ke dalam cawannya yang kosong.

“Minumlah, Manis, mari kita habiskan isi cawan ini seorang setengah. Hayo minumlah, Sayang...”

Tetapi Kui Lan menggunakan tangan kanannya yang tidak terpegang untuk menyampok cawan. Gerakan ini tidak hanya membuat cawan itu terlepas dari pegangan An Kong, malah guci arak yang berdiri di atas meja pun terguling sehingga pecah. Arak yang putih harum mengalir keluar membasahi meja.

Habislah kesabaran An Kong. “Kau menghendaki kekerasan, bunga liar? Baik, baik, aku akan melayani kehendakmu!” setelah berkata demikian, An Kong hendak memeluk.

Akan tetapi Kui Lan menampar mukanya sehingga terpaksa dia menggunakan tangan kiri menangkap tangan yang menampar itu. Pada saat mereka bergulat, terdengarlah suara tenang akan tetapi berpengaruh,

“An Kong, anjing berwajah manusia, lepaskan dia!”

An Kong kaget sekali. Cepat dia melepaskan Kui Lan dan melompat sambil membalikkan tubuhnya. Di lain saat dia telah mencabut sepasang senjatanya, yakni kebutan di tangan kiri dan joan-pian di tangan kanan.

Pada waktu dia memandang, ternyata bahwa yang berada di dalam kamarnya itu adalah pemuda berpakaian sederhana yang siang tadi dia lihat di rumah makan dan yang telah dihinanya kemudian dia dicegah oleh Lu Thong, suheng-nya. Memuncak kemarahannya dan dengan gemas dia membentak,

“Jembel busuk, bagaimana kau berani memasuki kamarku?”

Kwan Cu tersenyum mengejek. “An Kong, semua yang mengelilingi dirimu, pangkat dan kedudukan, pakaian yang mewah, kamar yang indah, kesemuanya ini hanya merupakan selimut yang menyembunyikan watak aslimu yang rendah dan hina dina. Orang macam kau masih berani memaki aku?”

“Bangsat bermulut kotor! Kau telah mengetahui namaku, apakah kau tidak tahu bahwa aku adalah murid dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, tokoh besar dari selatan? Siapakah kau yang begitu berani mati mengantarkan nyawa sendiri ke sini?”

“Aku bernama Kwan Cu dan gurumu itu sudah lama aku kenal, jadi tidak perlu lagi kau memperkenalkannya kepadaku.”

An Kong sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi, sambil berseru keras dia segera menyerang dengan joan-pian di tangan kanannya, lalu diikuti oleh sambaran kebutannya yang menotok jalan darah Kwan Cu di bagian iga.

Kwan Cu maklum bahwa kepandaian An Kong cukup tinggi kalau dibandingkan dengan ahli silat-ahli silat tingkat biasa, akan tetapi baginya tentu saja bukan apa-apa. Dengan mudah dan sigap dia miringkan tubuh untuk mengelak dari sambaran joan-pian, ada pun serangan kebutan ke arah iganya itu dapat dia sampok dengan jari-jari tangannya. Lalu secepat kilat Kwan Cu melanjutkan gerakan menyerang, dia menyampok muka pemuda botak itu dengan telapak tangannya.

An Kong terkejut sekali melihat cepatnya gerakan lawan dan bagaimana lawannya dapat menyampok serangan kebutannya yang terkenal lihai sekali itu. Cepat dia menggunakan kebutannya untuk menangkis tamparan pada mukanya ini dengan maksud untuk melukai tangan Kwan Cu.

Akan tetapi, betapa heran dan kagetnya ketika kebutannya itu pada saat beradu dengan tangan lawannya, kemudian terpental kembali dan menyabet ke arah mukanya sendiri! An Kong mengeluarkan teriakan tertahan dan cepat melompat mundur sambil berjungkir balik beberapa kali.

“Ha, An Kong, lihatlah baik-baik. Cambukmu bahkan lebih mengerti bahwa orang macam kau yang harus dihajar!” kata Kwan Cu yang tidak mau memberi hati lagi.

Pemuda ini lantas menyerang dengan pukulan-pukulan tangan miring yang dipelajarinya dari lukisan-lukisan di dinding goa. Ini merupakan ilmu silat tangan kosong lain macam lagi yang telah dipahaminya, yaitu ilmu silat yang dimainkan dengan kedua tangan miring dan jari-jari tangan terbuka. Kwan Cu menamakan ilmu silatnya ini Heng-pai Hud-jiu (Ilmu Silat Memuja Budha Tangan Miring). Namun gerakan kakinya masih mengambil sistem dari Ilmu Siat Sam-hoan-ciang (Ilmu Silat Tiga Lingkaran) yang dia pelajari dari suhu-nya, Ang-bin Sin-kai.

Menghadapi serangan-serangan aneh ini, An Kong tak berdaya dan segera dia terdesak mundur terus. Meski pemuda botak ini mengerahkan kepandaian dan tenaga, mencoba menyerang lawan dengan sepasang senjatanya, akan tetapi tubuh lawannya bagaikan bayangan saja yang tak dapat diserang dengan senjata.

Kwan Cu yang sudah tahu akan semua gerakan lawan, tahu pula ke arah mana senjata itu menyambar, tentu saja lebih dulu dapat mempersiapkan diri mencari kedudukan yang kosong lalu menyerang tanpa mempedulikan sambaran senjata yang tentu takkan dapat mengenai tubuhnya yang sudah mengambil tempat yang kosong itu.

Ada pun Kui Lan, gadis itu, berdiri dengan mulut ternganga. Ia tahu betul akan kelihaian An Kong yang memiliki kepandaian setingkat dengan The Kun Beng. Akan tetapi bagai mana pemuda aneh itu mampu menghadapinya dengan tangan kosong, bahkan dalam beberapa gebrakan saja telah mendesak An Kong sedemikian rupa?

Kwan Cu belum pernah menghadapi peristiwa seperti yang dia lihat di dalam kamar tadi. Hal ini menimbulkan kebenciannya terhadap An Kong dan karena kali ini dia menghadapi musuh dengan hati benci. Karena itu, dia tidak main-main lagi dan ingin menyelesaikan pertempuran itu secepat mungkin.

Pada saat lawannya sudah terdesak hebat di pojok kamar, Kwan Cu cepat memasukkan tangannya menghantam pinggang An Kong. Pemuda botak ini menjerit keras dan kedua senjatanya terlepas dari tangannya, lalu dia terhuyung-huyung dan roboh pingsan. Dari mulutnya keluar darah!


Pada saat itu terdengar pintu kamar diketok orang dan suara yang keras memanggil.

“Kong-ji (anak kong), kau belum tidur?”

Itulah suara An Lu Kui, pikir Kwan Cu. Dia mendengar pula tindakan kaki banyak orang, maka tahulah dia bahwa An Lu Kui tidak datang sendiri. Cepat dia melompat ke depan gadis itu.

Kui Lan melangkah mundur dengan wajah makin pucat. Sepasang matanya yang bening memandang kepada Kwan Cu penuh kecurigaan. Ketika Kwan Cu mengulurkan tangan dengan maksud mengajak gadis itu lari keluar dari tempat itu, Kui Lan mundur lagi sambil menggeleng-geleng kepala dan berkata,

“Tidak... tidak... jangan kau sentuh aku.”

Bukan main gemasnya Kwan Cu mendengar ucapan ini. Mukanya menjadi merah sekali. Dia tahu bahwa gadis ini telah menjadi ngeri hatinya melihat laki-laki, setelah mengalami kekagetan dari An Kong. Hmm, apakah dia menganggap aku juga seorang laki-laki mata keranjang? Hatinya gemas dan dia berkata dengan kaku,

“Nona, kamar ini sudah terkurung, maka aku tidak perlu banyak cakap. Pendeknya, kau ingin keluar dari sini atau tidak?”

“Tentu saja!” jawab Kui Lan cepat dan gadis ini lalu menggerakkan kaki melompat ke arah jendela yang masih tertutup.

Kwan Cu maklum akan maksud gadis itu, yakni hendak keluar dari kamar itu. Akan tetapi, melihat gerakan gadis itu yang tidak begitu kuat, dia khawatir sekali dan sebelum gadis itu sampai di jendela, dia telah menyambar dan tahu-tahu dia sudah memeluk pinggang yang ramping itu, langsung dipondongnya tanpa mempedulikan betapa gadis itu terus meronta-ronta dalam pondongannya.

Kwan Cu mencabut suling dan melompat ke arah jendela, sekaligus menendang daun jendela terbuka sambil memutar sulingnya. Baiknya dia melakukan hal ini karena begitu jendela terbuka, beberapa batang golok sudah menyerang ke arah jendela. Akan tetapi golok-golok ini tertangkis oleh putaran sulingnya sehingga beterbangan dan mencelat ke sana-sini dan ada pula yang patah menjadi dua! Kemudian Kwan Cu meloncat ke atas genteng.

An Lu Kui dan beberapa orang perwira menyusul, akan tetapi dua orang yang terdepan, roboh kembali ke bawah genteng karena tendangan Kwan Cu yang telah siap sedia. An Lu Kui yang sudah tahu akan kelihaian Kwan Cu, tidak berani mengejar, hanya berteriak-teriak memberi tanda pada para pengawal istana untuk mengejar pemuda itu, kemudian dia segera memasuki kamar puteranya. Alangkah kagetnya ketika dia melihat keadaan An Kong, maka dia segera menolongnya.

Sedangkan Kwan Cu dengan gadis itu masih berada di dalam pondongannya, berloncat-loncatan dari genteng ke genteng hingga dia sampai di dinding tembok yang mengelilingi kelompok bangunan istana.

Para pengawal telah siap sedia dan segera mengeroyok pemuda itu. Akan tetapi mereka ini tentu saja hanya merupakan makanan empuk bagi Kwan Cu. Dengan menggerakkan kedua kaki dan tangan kanannya, beberapa orang pengawal lantas terlempar jauh dalam keadaan pingsan menimpa kawan-kawan lain sehingga para pengeroyok menjadi gentar. Ketika mereka memandang, ternyata pemuda itu bagaikan seekor burung garuda sudah melompat naik ke atas dinding yang demikian tingginya.

Barisan anak panah dari dalam dan luar tembok menghujankan anak panah mereka ke arah bayangan Kwan Cu, namun pemuda itu terlalu gesit bagi mereka. Apa lagi dengan tangan kanannya mengebut ke sana ke mari, anak-anak panah itu runtuh semua dan sebentar saja Kwan Cu sudah melompat turun di luar tembok dan menghilang ke dalam kegelapan.

Gempar seluruh istana. Belum pernah istana diserbu oleh seorang pengacau sedemikian lihainya sehingga nama Lu Kwan Cu menjadi buah tutur semua orang. Ketika Lu Thong mendengar akan hal ini, diam-diam dia mengeluh dan berkali-kali menyayangkan bahwa pemuda sedemikian saktinya tidak mau bekerja sama dengan dia…..

********************

Kita tinggalkan dulu Lu Kwan Cu yang menolong Kui Lan dan membawa lari gadis itu dari dalam istana. Marilah kita menengok keadaan Menteri Lu Pin, menteri yang amat setia dan berjiwa patriot.

Di sepanjang lembah Sungai Fen-ho, di sebelah selatan kira-kira lima puluh lie dari kota Tai-goan, di antara dua pegunungan besar yakni Pegunungan Tai-hang dan Pegunungan Lu-liang, terdapat daerah pegunungan yang amat liar. Banyak bukit-bukit kecil di daerah ini dan di antaranya terdapat sebuah bukit yang penuh batu karang, akan tetapi anehnya di atas batu-batu karang ini tumbuh pula pohon-pohon besar.

Di atas bukit ini, di tempat yang sangat tersembunyi dan tertutup oleh batu-batu karang raksasa yang menjulang tinggi, tempat yang amat sunyi dan sepi seperti mati, terdapat sebuah goa batu karang. Goa ini luar biasa besarnya dan amat gelap sehingga orang akan merasa ragu-ragu untuk memasukinya, karena goa semacam ini biasanya menjadi tempat persembunyian binatang-binatang buas. Malah di dalam dongeng, goa-goa besar seperti ini biasanya ditempati oleh naga-naga atau siluman-siluman buas!

Apa lagi kalau ada orang memberanikan diri memasuki goa ini, mungkin dia akan jatuh pingsan saking kaget dan takutnya. Agak ke sebelah dalam dari goa ini yang diterangi oleh cahaya matahari dari lobang-lobang di atas goa, terdapat pintu raksasa yang amat tebal dan berat. Sepuluh orang biasa saja belum tentu dapat mendorong pintu itu sampai terbuka.

Di belakang pintu raksasa ini terdapat ruangan yang luas serta tinggi. Dan hebatnya, di sepanjang dinding ruangan luas ini nampak barisan tengkorak-tengkorak yang tinggi dan besar, berdiri berderet-deret dengan mulut terbuka yang menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar. Tengkorak-tengkorak ini dahsyat dan menyeramkan sekali karena amat besar dan tinggi, sedikitnya ada tiga kali tinggi manusia biasa.

Bukan main seramnya keadaan di goa itu. Tengkorak-tengkorak raksasa itu seakan-akan hidup. Mata mereka yang bolong itu seperti melirik-lirik, ada pun gigi yang besar-besar itu seperti berbunyi menggerut-gerut. Bahkan kedua lengan yang besar-besar itu bagaikan bergerak-gerak hendak menerkam siapa saja yang berani memasuki ruangan itu.

Inilah goa Tengkorak yang dijadikan tempat sembunyi oleh Menteri Lu Pin. Sebagaimana telah dituturkan pada bagian depan, Menteri Lu Pin ditolong oleh Ang-bin Sin-kai dari kepungan para pasukan An Lu Shan, kemudian Ang-bin Sin-kai menunjukkan tempat sembunyi yang baik bagi adiknya itu, yakni di goa ini.

Tadinya goa ini menjadi tempat bertapa dari Ang-bin Sin-kai selama bertahun-tahun dan di sana memang banyak terdapat tulang belulang rangka bekas tulang binatang-binatang purba kala. Sesudah Menteri Lu Pin bersembunyi di sana, menteri yang juga seorang ahli seni ukir yang amat pandai itu dalam waktu senggangnya kemudian membuat tengkorak-tengkorak dari tulang-tulang binatang purba, lalu didirikan di situ sebagai penjaga goa!

Tengkorak-tengkorak raksasa inilah yang menolongnya dari bencana, karena siapa saja yang berhasil membuka pintu raksasa, akan terkejut dan ketakutan, lalu mundur kembali. Siapa orangnya yang tidak akan gentar menghadapi tengkorak-tengkorak raksasa yang demikian dahsyat dan mengerikan?

Di dalam persembunyian itu, Menteri Lu Pin tidak tinggal diam dan enak-enak saja. Dia mengadakan hubungan dengan para pemimpin pemberontak atau pejuang rakyat yang menentang pemerintahan An Lu Shan dan kawan-kawannya. Tiga orang panglimanya yang setia kerap kali datang ke goa itu untuk menerima petunjuk-petunjuk, mendatangi patriot-patriot yang dikenal baik oleh Lu Pin, menerima harta pusaka yang diambil sedikit demi sedikit untuk membiayai pasukan-pasukan pejuang!

Akhirnya, harta pusaka itu habis digunakan oleh para pejuang dan yang tinggal hanyalah sebatang pedang pusaka Kerajaan Tang yang disebut Liong-coan-kiam. Lu Pin merasa puas dan senang sekali. Betapa pun juga, dia masih sempat melakukan bakti terhadap negara. Kalau tadinya para pemimpin pejuang masih sering datang untuk merawat dan mencarikan makan baginya, kini kakek ini tidak memperbolehkan mereka datang lagi.

“Kalian berjuanglah. Usirlah penjajah dari tanah air dan tolonglah rakyat jelata dari pada penindasan. Itulah kewajiban orang-orang gagah di dunia ini. Dan tentang aku... jangan kalian pedulikan. Aku sudah tua dan kalau untuk mencari makan saja, di bukit ini masih banyak buah-buah dan sayur-sayur yang dapat kumakan. Tinggalkan aku seorang diri,” katanya.

Dan semenjak saat itu, benar saja kakek ini hidup sebagai seorang pertapa, seorang diri di tempat sunyi itu. Pada waktu dia merasa lapar, dia keluar dari goanya untuk mencari buah-buah yang dapat mengenyangkan perut. Pintu raksasa itu dapat dibuka dari dalam dengan mudah, karena ada alat pembukanya.

Pada suatu hari, karena makanan yang disediakan di dalam goa sudah habis, kakek Lu Pin hendak keluar dari goa untuk mencari buah-buah baru. Seperti biasa pula, sebelum membuka pintu raksasa itu terlebih dahulu dia mengintai dari lubang kecil yang sengaja dibuatnya untuk mencari tahu keadaan di luar goa.

Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa di luar goa itu sudah dipenuhi orang-orang yang berpakaian sebagai tentara dan terdengar pula ringkik kuda di luar goa. Dia dapat mengerti bahwa mereka ini adalah pasukan dari pemberontak An Lu Shan, maka segera dia menutup itu dan kembali ke dalam goa, duduk di dekat hio-louw besar sekali sambil bersemedhi untuk menenteramkan hatinya.

Ia maklum bahwa fihak pemberontak telah menemukan tempat persembunyiannya. Akan tetapi diam-diam kakek ini tertawa memikirkan bahwa kedatangan mereka itu tentu bukan semata-mata untuk menangkapnya, melainkan lebih banyak akibat tertarik untuk merebut kembali harta pusaka Kerajaan Tang. Dan harta pusaka itu telah habis dia pergunakan untuk membiayai perjuangan rakyat!

Benar saja dugaan Menteri Lu Pin. Yang datang itu adalah barisan penyelidik dari An Lu Shan yang terus-menerus mencari Lu Pin serta harta pusaka kerajaan yang dibawanya lari. Melihat keadaan goa ini, para penyelidik itu menjadi curiga. Biar pun mereka belum dapat memastikan bahwa orang yang dicari-carinya berada di dalam goa, akan tetapi keadaan goa yang tersembunyi ini hendak mereka selidiki.

Di antara pemimpin pasukan ini, terdapat beberapa orang perwira yang sangat kuat dan berkepandaian tinggi. Dengan mempersatukan seluruh tenaga, akhirnya mereka berhasil juga membuka pintu raksasa.

Akan tetapi segera mereka melompat mundur kembali dengan muka pucat sekali dan tubuh menggigil ketika mereka menyaksikan barisan tengkorak besar-besar menyambut mereka di belakang pintu! Dan anehnya pintu raksasa itu tertutup sendiri!

Hal ini sebetulnya terjadi karena memang pintu itu dipasangi alat oleh Menteri Lu Pin dan apa bila terbuka, dapat tertutup kembali. Untuk kakek itu, mudah saja membuka pintu dari luar karena ada rahasianya dari luar.

“Goa siluman...,” berkata seorang perwira ketakutan.

“Goa tengkorak raksasa... siapa tahu di dalamnya terdapat siluman atau raksasa hidup?” kata yang lain.

“Agaknya tak mungkin tempat seperti ini didiami oleh manusia,” kata pula suara lain.

Akan tetapi mereka tetap tidak mau meninggalkan goa itu dan menjaga di luar goa, agak jauh di tempat aman. Sampai dua pekan lamanya mereka tetap berada di tempat itu!

Tentu saja kakek Lu Pin yang sudah tua dan lemah tubuhnya itu tidak mempu menahan lagi. Setiap hari dia selalu mengintai dari lobang dan melihat betapa goa itu tetap terjaga, tahulah dia bahwa dia akan mati kelaparan di dalam goa. Akan tetapi dia tidak gentar menghadapi maut.

Di dalam keadaan tersiksa ini, teringatlah dia akan Lu Kwan Cu. Seluruh keluarganya telah musnah, kecuali Lu Thong. Ia telah mendengar dari para pemimpin pejuang rakyat bahwa cucunya itu bahkan menerima kedudukan dari pemberontak An Lu Shan. Hal ini amat menyakitkan hatinya.

“Thian Yang Agung, mengapa dalam keluarga hamba terlahir manusia seperti itu? Rusak dan hancurlah nama keluarga Lu oleh binatang Lu Thong itu...” berpikir sampai disini, sering kali kakek ini menangis sedih.

Lalu dia teringat kepada Lu Kwan Cu, cucu angkatnya. Kepada anak inilah harapannya disandarkan dan sekarang, pada saat menghadapi maut, kakek ini mengerahkan seluruh tenaga terakhir untuk mengukir beberapa huruf pada dinding goa. Dengan tangan-tangan gemetar dan tubuh lemas dia mengukir huruf-huruf pesan terakhir untuk Lu Kwan Cu ini, kemudian setelah ukiran huruf-huruf itu selesai, dia roboh tak sadarkan diri lagi sampai maut merenggut nyawanya!

Pada saat bekas Menteri Lu Pin yang setia itu menghembuskan napas terakhir di dalam Goa Tengkorak, di luar goa terjadi hal yang lebih hebat lagi.

Tiga orang tinggi besar berpakaian seperti petani sedang dikeroyok hebat oleh puluhan orang pasukan penyelidik An Lu Shan. Mereka ini bukan lain adalah tiga orang panglima yang dahulu mengawal Menteri Lu Pin. Sudah berbulan-bulan mereka tidak datang dan kini mereka sengaja datang hendak mengunjungi kakek Lu Pin. Betapa kaget dan cemas hati mereka melihat puluhan orang anggota pasukan musuh sedang menjaga di situ!

Tanpa banyak tanya lagi, tiga orang panglima yang sekarang sudah berganti berpakaian bagai petani itu lalu mencabut senjata dan menyerang pasukan musuh. Mereka mainkan golok besar mereka dan sekali lagi mereka mengamuk seperti ketika dahulu mereka mengamuk membela Lu Pin dari kepungan bala tentara musuh. Banyak anggota tentara lawan mandi darah menjadi korban golok besar mereka.

Akan tetapi selain fihak musuh terlalu banyak jumlahnya, juga di situ berkumpul pula para perwira-perwira barisan pemberontak An Lu Shan yang berkepandaian tinggi, maka tiga orang panglima itu sebentar saja sudah terkurung dan terdesak sangat hebat. Telah ada beberapa luka di tubuh mereka terkena senjata musuh, namun mereka mengamuk terus laksana tiga ekor naga sakti.

Pada saat nyawa tiga orang panglima gagah yang setia ini terancam maut, tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring.

“Anjing-anjing pengkhianat, rebahlah kalian!”

Bentakan ini disusul munculnya seorang gadis cantik yang gagah sekali. Usianya masih sangat muda, baru belasan tahun. Pakaiannya sederhana sekali dan ringkas, pedangnya tergantung di pinggang sebelah kiri.

Akan tetapi gadis muda ini benar-benar hebat sekali sepak terjangnya. Begitu ia muncul, terdengar jeritan-jeritan di sana-sini dan kelihatan robohnya banyak anggota tentara An Lu Shan yang mengeroyok ketiga orang panglima itu. Padahal gadis itu tidak mencabut senjata sama sekali dan hanya mempergunakan kedua tangan dan kakinya saja.

Melihat hal ini, para perwira yang tadi mendesak tiga orang panglima pengikut Lu Pin itu terpecah menjadi dua dan empat orang perwira segera menyambut kedatangan gadis itu. Melihat gerakan yang tangkas dan kuat dari para perwira, gadis ini kemudian mencabut senjatanya, yakni sebatang pedang panjang yang cahayanya berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Akan tetapi empat orang perwira musuh itu ternyata cukup tangguh sehingga meski pun dengan susah payah, mereka masih dapat menghadapi amukan gadis cantik ini. Akan tetapi tiba-tiba entah dari mana datangnya, muncul seorang nenek tua yang memegang cambuk. Sekali cambuknya berbunyi di udara, empat orang perwira yang mengeroyok gadis itu berseru kaget dan senjata golok mereka terbang pergi dari tangan mereka.

Ternyata bahwa cambuk itu mempunyai sembilan cabang dan kini dengan sekali gerakan saja telah dapat membelit serta merampas senjata empat orang itu sekaligus! Gadis itu berseru gembira dan dua kali pedangnya bergerak, robohlah dua orang perwira dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Yang dua lagi tidak sempat melarikan diri, karena cambuk nenek itu mengejar mereka dan ujung-ujung cambuk yang seperti ular itu menotok jalan darah kematian di punggung mereka, membuat mereka roboh tak bernyawa lagi.

Kemudian gadis dan nenek itu mengamuk. Banyak sekali tentara di fihak musuh tewas, termasuk para perwira yang mengeroyok tiga panglima pengikut Lu Pin. Hanya sedikit saja yang dapat melarikan diri, karena biar pun banyak yang melompat ke atas kuda dan membalapkan kuda mereka, namun gadis cantik itu mengeluarkan panah tangan lantas berkali-kali tangannya bergerak. Setiap gerakan melayangkan sebatang anak panah dan robohlah seorang penunggang kuda. Dari puluhan orang pasukan itu, hanya ada tujuh orang saja yang sempat melarikan diri dan terbebas dari pada maut.

Siapakah gadis dan nenek yang sakti itu? Nenek itu bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li, nenek sakti tokoh besar dari selatan. Gadis itu adalah muridnya, yakni Bun Sui Ceng, bocah perempuan yang dahulu amat lincah itu dan kini telah berubah menjadi seorang gadis yang amat cantik dan perkasa.....


Tiga orang panglima itu memandang semua sepak terjang yang hebat dari nenek serta gadis itu dengan bengong dan kagum. Kemudian mereka cepat menjura dengan hormat dan seorang di antara mereka berkata,

“Banyak terima kasih atas budi pertolongan Suthai dan Lihiap. Jika tidak ada pertolongan Ji-wi, tentu kami sudah menjadi korban keganasan anjing pemberontak itu. Mohon tanya, siapakah Suthai dan Lihiap yang gagah perkasa?”

Kiu-bwe Coa-li menggerak-gerakkan cambuknya dengan sikap tidak sabar, “Sudahlah, cukup segala penghormatan ini. Pinni (aku) bukan menteri, juga bukan kaisar. Lebih baik lekas tunjukkan saja di mana adanya Lu Pin bekas menteri itu!”

Melihat sikap yang amat galak dari Kiu-bwe Coa-li, tiga orang panglima itu terkejut sekali. Mereka maklum bahwa di dunia kang-ouw banyak sekali terdapat orang-orang aneh dan maklum pula bahwa tokoh-tokoh ini sering kali mengejar harta-harta pusaka. Siapa tahu kalau-kalau nenek sakti yang amat galak ini pun mencari Menteri Lu Pin dengan maksud kurang baik. Mereka adalah patriot-patriot sejati yang gagah, yang siap mengorbankan nyawa untuk membela tanah air dan bangsa, siap pula membela Menteri Lu Pin yang amat mereka junjung tinggi.

“Suthai menanyakan Lu-taijin ada maksud apakah?” tanya seorang di antara mereka.

Bun Sui Ceng memandang khawatir. Ia sudah maklum akan watak gurunya yang keras dan tidak mau dibantah oleh siapa pun juga. Benar saja, nenek sakti itu mengerutkan kening dan pecutnya bergerak-gerak di tangannya.

“Kau peduli apa dengan segala urusanku? Hayo katakan di mana dia berada dan habis perkara!”

Namun tiga orang panglima itu adalah orang-orang yang setia. Jangankan baru gertakan seorang nenek tua yang sakti, walau pun maut mengancam nyawa, mereka takkan sudi membuka rahasia persembunyian Menteri Lu Pin.

“Kalau Suthai tidak memberitahukan maksud Suthai menjumpai Lu-taijin, maafkan kami tidak dapat memberitahukan di mana tempat tinggalnya.”

Baru saja pembicara itu menutup mulutnya terdengar bunyi nyaring sekali dan…

“Tarrr…!”

Cambuk di tangan nenek itu menyambar turun ke atas kepala tiga orang panglima tadi!

“Suthai, jangan...!” Bun Siu Ceng melompat maju sambil mengangkat kedua tangannya seakan-akan melindungi kepala ketiga orang panglima itu. “Mereka adalah para pejuang rakyat, jangan dibunuh!”

“Pejuang atau bukan, mereka telah kurang ajar dan harus dibunuh, habis perkara!” jawab Kiu-bwe Coa-li dengan suara menyeramkan.

Sui Ceng cepat menjatuhkan diri berlutut di hadapan gurunya dan berkata dengan suara memohon.

“Suthai, ampunkan kesalahan mereka. Mereka tidak tahu siapa adanya Suthai. Biarlah teecu (murid) yang bicara dengan mereka.”

Cambuk berekor sembilan itu masih bergetar di tangan Kiu-bwe Coa-li dan dipegang di atas kepalanya. Akan tetapi, perlahan-lahan cambuk itu turun dan nenek itu lalu berkata penuh penyesalan.

“Hemm, kau anak nakal! Siapa peduli akan menteri dan kaisar? Dasar kau yang senang mencari-cari perkara!”

Namun jawaban ini sudah cukup bagi Sui Ceng. Setiap kali gurunya menyebutnya ‘anak nakal’, itu berarti bahwa gurunya memenuhi permintaannya. Dengan girang dia kemudian melompat bangun dan menghadapi tiga orang panglima yang memandang dengan mata terbelalak, masih kaget dan takut melihat sikap Kiu-bwe Coa-li yang aneh dan galak.

“Sam-wi Lo-pek (Paman Bertiga), sebenarnya guruku ini tidak peduli sama sekali tentang di mana adanya Lu-taijin. Hanya atas desakanku saja beliau terpaksa mencari tempat persembunyian Lu-taijin. Harap Sam-wi jangan mencurigai kami. Walau pun kami sudah mendengar bahwa Lu-taijin membawa harta pusaka besar, namun kami bukan sebangsa perampok dan kunjungan kami hanya sekedar hendak bertemu karena aku ingin sekali bicara dengan orang tua yang mulia dan gagah perkasa itu.”

Merahlah wajah tiga orang panglima itu mendengar ini. Mereka segera menjura dalam sekali dan salah seorang di antara mereka berkata,

“Maaf, maaf! Mohon maaf sebanyaknya bahwa kami yang sudah menerima pertolongan, sebaliknya telah berani mati untuk mencurigai Ji-wi. Kebetulan sekali kami pun baru saja tiba dengan maksud mengunjungi Lu-taijin yang sudah lama kami tinggalkan di sini. Akan tetapi ketika tadi kami melihat pasukan pemberontak berkumpul di sini, kami menjadi khawatir dan segera menyerbu mereka. Lu-taijin berada di dalam goa itu, Lihiap. Marilah kita bersama-sama masuk ke dalam untuk menemuinya, karena kami sudah sangat ingin melihat keadaannya.”

Biar pun tiga orang panglima itu bergerak cepat memasuki goa, tetap saja Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng dapat mendahului mereka. Dan alangkah heran dan kaget hati tiga orang itu ketika melihat betapa dengan tangan kirinya saja Kiu-bwe Coa-li dapat mendorong pintu raksasa itu sehingga terbuka, nampaknya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun juga.

Mereka mengeluarkan lidah saking kagumnya. Mereka bertiga yang bertenaga besar masih tak dapat mendorong pintu itu terbuka dan biasanya mereka hanya masuk dengan mempergunakan alat pembuka pintu yang tersembunyi di luar pintu itu.

Lima orang ini memasuki pintu. Kiu-bwe Coa-li nampak tertegun sejenak ketika melihat tengkorak-tengkorak raksasa itu. Biar pun ia seorang nenek sakti yang sudah ratusan kali menghadapi bahaya maut dan kejadian yang aneh-aneh serta menyeramkan, akan tetapi selama hidupnya baru pertama kali ini ia menyaksikan tengkorak-tengkorak yang begitu menyeramkan.

Ada pun Bun Sui Ceng yang masuk di belakang gurunya, mengeluarkan seruan tertahan dan merasa bulu tengkuknya berdiri! Tak terasa pula dia memegang tangan gurunya.

“Apa kau takut?” tanya Kiu-bwe Coa-li tak puas sambil menoleh dan memandang kepada muridnya. Bun Sui Ceng cepat melepaskan pegangan tangannya dan menggeleng, kini mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya yang manis.

Mereka masuk terus ke dalam dan tiba-tiba tiga orang panglima itu menjerit berbareng.

“Lu-taijin...!”

Tergopoh-gopoh mereka berlari mendatangi tubuh kakek yang telah menggeletak miring di bawah dinding goa itu. Tangan kiri kakek itu memegang pedang Liong-coan-kiam, ada pun tangan kanannya memegang alat pengukir.

“Lu-taijin...!” kembali tiga bekas penglima itu berseru sambil beramai-ramai mengangkat tubuh kakek itu yang sudah lemas dan dingin.

Melihat sekelebatan saja, Kiu-bwe Coa-li tahu bahwa kakek itu sudah tak bernyawa lagi.

“Tidak perlu ribut-ribut, dia sudah mati,” katanya. “Marilah kita pergi, Sui Ceng, untuk apa berdiam di sini lebih lama lagi setelah orang yang ingin kau temui itu meninggal dunia?”

Akan tetapi muridnya tidak menjawab dan ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, dia melihat muridnya itu tengah membaca ukir-ukiran yang berada di dinding tepat di mana kakek tadi menggeletak mati. Kiu-bwe Coa-li melangkah maju dan turut membaca huruf-huruf yang diukir amat indahnya itu.

Lu Kwan Cu

Kau cucu tunggal setelah seluruh keluargaku dibakar oleh pemberontak An Lu Shan. Lu Thong tidak termasuk hitungan. Kepadamu kuharapkan agar kau membinasakan seluruh keluarga An Lu Shan, bukan untuk membalaskan kesengsaraan keluargaku, melainkan kesengsaraan rakyat dan negara! Pedang Liong-coan-kiam kuberikan kepadamu. Sekali lagi, bebaskanlah rakyat dari pada angkara penjahat besar An Lu Shan sekeluarganya!

Kongkong-mu,
LU PIN

“Hebat! Sampai nyawanya meninggalkan raga, beliau tetap seorang patriot sejati untuk nusa dan bangsanya,” kata Sui Ceng dan ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, ia melihat mata muridnya itu berlinang air mata.

“Hmm, hmm, hmm, kau sudah terpengaruh oleh semangat kakek itu, Sui Ceng. Mari kita kembali ke gunung, untuk apa menyeret diri ke dalam kancah permusuhan?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Suthai. Meski pun Suthai di mulut berkata demikian, akan tetapi teecu telah tahu akan perasaan hati Suthai. Bukankah dulu Suthai juga menjadi marah dan mencoba untuk membasmi kaki tangan An Lu Shan? Teecu akan membantu untuk memenuhi cita-cita Lu-taijin yang mulia, hendak teecu basmi para penjahat yang menindas rakyat itu,” katanya dengan gagah.

Kiu-bwe Coa-li menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mereka itu kuat sekali, Sui Ceng. An Lu Shan dibantu oleh banyak orang pandai dan agaknya sudah menjadi takdir bahwa negara kita harus berada dalam kekuasaan mereka. Lagi pula, bukankah menurut pesan Lu-taijin, yang diserahi tugas adalah Lu Kwan Cu? Heran aku, siapakah Lu Kwan Cu itu?”

Tiba-tiba Sui Ceng tersenyum. Gadis ini memang luar biasa sekali, mudah menangis dan mudah pula tersenyum. Dia teringat akan Kwan Cu, bocah gundul itu dan tak terasa pula dia tersenyum geli apa bila mengingat betapa tugas seberat itu diserahkan kepada bocah gundul setolol itu!

“Suthai, tidak ingatkah Suthai akan anak laki-laki yang menjadi sebab keributan dahulu? Semua tokoh besar memperebutkan dia, gara-gara kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu!”

Berubah wajah nenek sakti itu. “Ahh... dia...?” Dia mengerutkan kening dan berkata. “Sui Ceng, bocah itu bukan bocah biasa dan siapa tahu kalau-kalau dia sudah mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

Sui Ceng kembali tersenyum geli. “Mana mungkin begitu, Suthai? Pada waktu gurunya, Ang-bin Sin-kai, tewas oleh keroyokan kaki tangan An Lu Shan, Kwan Cu tidak muncul dan sudah lama sekali dia tak memperlihatkan diri. Bagaimana dia bisa melakukan tugas sepenting ini? Biarlah aku mewakilinya, karena tugas ini bukan hanya tugasnya, akan tetapi tugas setiap orang gagah yang membela negara dan bangsanya.”

Diam-diam Kiu-bwe Coa-li bangga dan girang melihat sikap muridnya. Tidak percuma ia mempunyai murid yang hanya seorang ini, karena memang muridnya ini berjiwa gagah. Dia sendiri jemu untuk berurusan dengan segala keruwetan dunia, apa lagi ia memang merasa amat kecewa ketika tak berhasil membinasakan tokoh-tokoh yang mengkhianati bangsa.

“Baiklah, Sui Ceng. Kau boleh melakukan tugas ini, akan tetapi kau berhati-hatilah. Dan jangan lupa bahwa kau harus mencari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, maksudku sebetulnya, kau harus mencari pemuda murid iblis utara itu, The Kun Beng.”

Merah sekali wajah Sui Ceng. Sebetulnya ia mengerti akan maksud gurunya, akan tetapi untuk mendapatkan penjelasan yang lebih nyata, ia pura-pura bertanya,

“Mengapa teecu harus mencari dia, Suthai?”

“Bocah bodoh! Seorang anak harus mentaati kehendak orang tuanya. Sebagai gurumu, aku sendiri tidak dapat berkata apa-apa, karena dalam hal perjodohan, orang tuamulah yang lebih berhak. Biar pun ibumu sudah tidak ada, akan tetapi pesannya harus ditaati. Bukankah ibumu sudah mengikatkan tali perjodohan antara kau dan The Kun Beng murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Nah, kau carilah dia supaya perjodohan ini dapat dilangsungkan segera. Tentu saja kau harus memberi tahu padaku apa bila pernikahan akan dilangsungkan.”

Warna merah makin menjalar luas sampai membikin merah kedua telinga gadis itu.

“Aahh, Suthai...! Perlu benarkah itu? Antara dia dan aku tidak ada hubungan sedikit pun juga. Bahkan semenjak kanak-kanak sampai sekarang, aku tak pernah melihat dia!”

“Meski pun begitu, Sui Ceng. Jodoh itu sudah ditakdirkan oleh Thian dan disahkan oleh orang tua. Apakah sulitnya mencari murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Dia tentu lihai sekali seperti suhu-nya.”

Sui Ceng cemberut. “Walau pun dia lihai dan baik, teecu tidak peduli, Suthai. Mana ada wanita mencari laki-laki? Jika dia memang sudah diikatkan dengan teecu, kenapa bukan dia yang mencari teecu? Mengapa harus teecu yang mencarinya? Teecu tidak sudi!”

Kiu-bwe Coa-li tertawa, suara ketawanya aneh sekali. “Bodoh, apa kau lupa bahwa kita berdua menyembunyikan diri di gunung dan tidak seorang pun tahu di mana kita berdua? Andai kata dia mencari, apa kau kira dia mampu menemukan kita? Sudahlah, kau boleh berangkat dan hati-hatilah, jangan kau berpikiran singkat. Ingatlah semua nasehat dan pelajaran yang selama ini kau dapatkan dariku.”

Kiu-bwe Coa-li lalu meraba kepala muridnya dengan sentuhan mesra. Menghadapi sikap yang tidak seperti biasanya dari gurunya, terharulah hati Sui Ceng sehingga gadis ini lalu memeluk gurunya sambil menangis.

“Jaga baik-baik dirimu, Suthai. Tidak lama lagi teecu tentu akan menyambangi Suthai di puncak gunung.”

Pada saat itu, tiga orang panglima sedang sibuk mencoba untuk memindahkan hio-louw (tempat abu hio) yang sangat besar, akan tetapi sia-sia belaka. Hio-louw itu beratnya seribu kati lebih dan tidak dapat mereka angkat!

Mendengar suara mereka “ah-ah-uh-uh-uh!” mengerahkan tenaga, Kiu-bwe Coa-li lantas menengok.

“Eh, ehh, ehh, tidak mengurus jenazah baik-baik melainkan mengangkat-angkat hio-louw besar itu, apa-apaan kalian ini?” Kiu-bwe Coa-li menegur mereka.

Mendengar ini, tiga orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li.

“Suthai yang mulia, tolonglah kami. Lu-taijin dulu pernah berpesan bahwa apa bila beliau meninggal dunia, agar supaya jenazahnya dikubur di bawah hio-louw ini. Tidak tahunya hio-louw ini demikian beratnya sehingga kami bertiga tidak kuat memindahkannya.”

“Hm, hm, hm, orang-orang lemah seperti kalian ini mana bisa berhasil melawan pasukan-pasukan An Lu Shan?” kata Kiu-bwe Coa-li mengejek.

Akan tetapi dia bertindak juga menghampiri hio-louw itu. Dengan tangan kanannya dia memegang telinga hio-louw lalu dengan sekali sentak, hio-louw itu terangkat naik dan diturunkannya lagi di tempat yang agak jauh dari tempat semula!

Ketiga orang itu saling pandang dan mereka menghaturkan terima kasih sambil berlutut. Kemudian mereka cepat-cepat menggali lubang di bawah hio-louw itu.

Kiu-bwe Coa-li mengambil pedang Liong-coan-kiam dari tangan jenazah Lu Pin. Nenek ini memandang pedang itu dan mengangguk-angguk kagum.

“Pedang pusaka yang baik,” katanya.

“Suthai, pedang itu adalah pedang untuk Kwan Cu,” berkata Sui Ceng, mengira bahwa gurunya menginginkan pedang tadi.

“Untuk apa pedang macam ini bagiku?” kata Kiu-bwe Coa-li.

Sekali dia menggerakkan tangan yang memegang pedang, pedang itu meluncur seperti anak panah dan tertancap sampai ke gagangnya pada dinding batu karang yang diukir oleh Lu Pin! Pedang itu tertancap di tengah-tengah tulisan-tulisan itu sehingga sukarlah bagi orang biasa untuk mencabutnya kembali!

“Aku pergi dulu, Sui Ceng,” kata nenek itu dan tanpa menanti jawaban tubuhnya sudah berkelebat lenyap dari situ.

Tiga orang panglima yang sedang menggali lubang, melihat kepergian nenek itu, menjadi bingung sekali. Mereka keluar dari lubang dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sui Ceng.

“Lihiap, harap kau jangan pergi dahulu. Siapa yang akan mengembalikan hio-louw itu ke tempat semula?”

Sui Ceng ragu-ragu. Akan tetapi melihat kepada mayat Menteri Lu Pin yang wajahnya masih membayangkan keagungan, dia pun lalu mengangguk.

Tiga orang itu bekerja keras dan sesudah lubang itu cukup dalam, dan dengan penuh penghormatan serta diantar oleh tangis, mereka mengubur jenazah Menteri Lu Pin. Sui Ceng lalu mengerahkan tenaganya, akan tetapi hanya sesudah mempergunakan kedua tangannya, gadis ini dapat memindahkan hio-louw yang memang amat berat itu.

Tiga orang panglima itu juga membaca tulisan yang diukir di dinding, kemudian mereka menyatakan kepada Sui Ceng bahwa di dalam perjuangan mereka hendak mendengar-dengar pula kalau-kalau ada pemuda seperti yang dimaksudkan oleh mendiang Lu-taijin itu. Setelah itu, mereka lalu keluar dari goa.

Sui Ceng berkata, “Mari kita tutup goa ini dengan batu-batu agar tidak ada sembarang orang dapat memasukinya dan mengganggu goa ini.” Setelah berkata demikian, gadis ini melempar-lemparkan batu-batu besar menutupi mulut goa.

Tiga orang itu tertegun. “Akan tetapi... bagaimana kalau pemuda yang bernama Lu Kwan Cu itu datang ke sini? Bagaimana dia akan dapat masuk?”

Sui Ceng tertawa. “Kalau dia sanggup menunaikan tugas yang diberikan kepadanya, apa susahnya untuk membongkar batu-batu ini dan membuka goa?”

Terpaksa tiga orang itu lalu membantu sehingga sebentar saja goa itu telah tertutup oleh batu-batu yang bertumpuk dan tidak kelihatan dari luar. Kemudian tanpa banyak cakap lagi Sui Ceng lalu melompat pergi diikuti oleh pandang mata tiga orang panglima itu yang merasa takjub dan kagum sekali…..

********************

“Turunkan aku...! Lepaskan aku...! Lepaskan, kau laki-laki kurang ajar!”

Gadis dalam pondongan Kwan Cu itu meronta-ronta dan memaki-maki minta dilepaskan dari pondongan. Namun Kwan Cu tidak mempedulikannya, sama sekali tidak menjawab bahkan membiarkan saja kedua tangan gadis itu memukul-mukuli dadanya.

Ia merasa betapa pukulan tangan gadis itu cukup antep dan keras, namun baginya tidak terasa sama sekali. Diam-diam Kwan Cu merasa mendongkol sekali, maka dia sengaja tersenyum sambil berlari terus dengan cepatnya, keluar dari kota raja.

Akhirnya gadis itu tak dapat melanjutkan makiannya karena dia merasa lelah. Dia hanya menangis sambil menyembunyikan mukanya di atas dada pemuda yang membawanya lari.

Setelah tiba jauh dari tembok kota raja, Kwan Cu masuk ke dalam hutan dan barulah dia menurunkan gadis itu di bawah sebatang pohon. Malam telah berganti pagi dan keadaan yang suram sejuk itu seakan-akan menyatakan kepadanya akan kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh gadis yang telah ditolongnya. Kwan Cu tersenyum.

“Nah, di sini kau boleh memaki-maki dan menjerit sekerasmu. Para pengejar dari istana telah tertinggal jauh dan keadaan kita tidak terancam bahaya lagi.”

“Kau... kau laki-laki kasar, kurang ajar dan sombong! Kau berani memondongku, laki-laki sopan tidak akan sudi menyentuh kulit tubuh seorang gadis yang tidak dikenalnya. Kalau ada kakakku di sini, kepalamu tentu akan dihancurkan!” Gadis itu memaki lagi dengan sepasang matanya bersinar-sinar, menyaingi bintang pagi yang masih berkedip-kedip di angkasa.

Kwan Cu tersenyum lebar. “Kau maksudkan kakakmu Gouw Swi Kiat? Murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Aha, dia takkan marah-marah seperti kau, bahkan akan mengucapkan terima kasih kepadaku. Wahai gadis manis, tahukah kau mengapa aku menolongmu?”

“Mengapa lagi kalau kau tidak tertarik oleh kecantikan seorang gadis muda? Laki-laki di mana-mana sama saja, gila kecantikan dan lupa daratan, lupa peri kemanusiaan menjadi budak nafsu binatang!”

Berkerut kening Kwan Cu. Hatinya tersinggung sekali.

“Hemm, entah karena memang watakmu yang galak dan kasar ataukah karena kau telah mengalami banyak penderitaan maka kau bisa mengeluarkan tuduhan keji itu. Dengarlah perempuan, aku menolongmu karena empat hal. Pertama-tama aku benci melihat An Kong si pangeran botak yang mata keranjang itu. Ke dua karena aku mendengar bahwa kau adalah kekasih The Kun Beng, salah seorang kenalanku yang baik. Ke tiga, karena kau adalah adik dari Swi Kiat seorang sahabatku pula, dan keempat karena aku melihat muka si tua Siangkoan Hai dan murid-muridnya. Kau kira aku mempunyai maksud lain apa lagi? Kalau kau tidak suka, sudahlah, biarkan aku pergi. Terima kasih atas segala makian dan tuduhanmu yang keji!”

Setelah melontarkan kata-kata ini dengan suara gemas, Kwan Cu segera membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Dia merasa mengkal sekali.

“In-kong... (tuan penolong), perlahan dulu...”

Kwan Cu mengangkat alis dan menoleh. Ia tertegun melihat gadis itu berdiri memandang padanya dengan mata sayu dan di atas kedua pipi yang halus itu nampak butiran-butiran air mata! Benar-benar heran sekali, bagaimana gadis ini yang tadi marah-marah malah sekarang berbalik menangis? Sikap dan watak wanita benar-benar merupakan teka-teki besar bagi Kwan Cu.

“Ada apa lagi kau memanggil aku? Mengapa pula memakai sebutan In-kong? Aku tidak menolongmu. Apakah kurang cukup makian-makianmu tadi?”

Makin deras keluarnya air mata dari sepasang mata yang bening itu.

“Benar-benarkah kau... tidak akan menggangguku seperti yang kusangka semula?”

Kwan Cu tersenyum pahit, lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Kau memang manis dan gampang menggugah hati laki-laki untuk mengganggumu. Akan tetapi karena kau sudah terlalu banyak menderita yang diakibatkan oleh sinar mata keranjang pria kau kemudian menganggap bahwa semua laki-laki gila nafsu dan mata keranjang. Tidak Nona, aku Lu Kwan Cu selama hidupku tidak akan mempergunakan kekerasan mengganggu wanita.”

Gadis ini terkejut mendengar nama ini, karena tadi di dalam kamar An Kong, dia sama sekali tidak memperhatikan nama ini.

“Jadi kau ini Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai yang sering di sebut-sebut oleh Kun Beng? Ahh, maafkan aku... maafkan aku yang sedang menderita ini...”

Tiba-tiba gadis itu menubruk maju dan berlutut di depan Kwan Cu.

Pemuda ini menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Kemudian dia mengangkat tubuh gadis itu sambil memegang kedua pundaknya.

“Sudahlah, Nona, tak perlu semua penghormatan ini dan kau janganlah terlalu berduka, tidak baik untuk kesehatanmu.”

Mendengar ucapan ini, gadis itu lalu memeluk dan menjatuhkan mukanya di dada Kwan Cu seakan seorang adik yang minta hiburan dari seorang kakak yang menyayanginya.

“Nasibku amat buruk...,” keluhnya sambil menangis.

Kembali Kwan Cu menggeleng kepala berkali-kali. Aneh sekali watak gadis ini, pikirnya. Tadi ditolong dan dipondong begitu saja, memaki-maki dan meronta-ronta, mengatakan dia kurang ajar dan tidak sopan. Sekarang atas kehendak sendiri bahkan memeluknya dan mendekapkan muka di dadanya. Alangkah anehnya. Akan tetapi timbul hati kasihan di dalam hatinya menyaksikan gadis itu terisak-isak di dadanya.

“Tenanglah, diamlah, Nona. Kenapa kau begini berduka?” Tanpa terasa, darah Kwan Cu panas juga.

Dia seorang pemuda yang belum pernah berdekatan dengan seorang wanita, apa lagi sampai bersentuhan kulit atau lebih-lebih lagi memeluk tubuh seorang gadis yang begitu cantik. Otomatis tangannya mengelus-elus rambut yang hitam panjang serta halus itu, sedangkan hatinya berdebar tidak karuan.

Rabaan tangan penuh kasih dan iba di rambutnya agaknya terasa oleh gadis itu. Dengan kaget dia menjauhkan dirinya, memandang kepada Kwan Cu, akan tetapi sekarang sinar ketakutan dan curiga telah lenyap dari matanya.

“Apakah kau kenal baik dengan Kun Beng dan kakakku Swi Kiat?” tanya gadis itu.

“Aku hanya bertemu dengan mereka pada waktu aku masih kecil. Dahulu kakakmu itu seorang anak yang berangasan, berbeda dengan Kun Beng yang halus dan ramah. Akan tetapi dahulu aku tidak tahu bahwa Swi Kiat mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Kui Lan.”

Gadis itu, Gouw Kui Lan, tersenyum pahit. “Memang kakakku selalu ikut dengan gurunya dan aku tinggal di rumah bersama orang tuaku. Akan tetapi sekarang kedua orang tuaku sudah meninggal dunia dan aku hidup berdua dengan Kiat-ko. In-kong, aku hendak minta pertolonganmu, kau usahakanlah perdamaian antara Kiat-ko dan Kun Beng.”

“Ehh, mengapakah? Apakah mereka itu berselisih?”

Kui Lan mengangguk dan menarik napas panjang, kemudian duduk di atas akar pohon. “Duduklah, In-kong. Mereka tak hanya berselisih, bahkan Kiat-ko telah bersumpah untuk mencari dan membunuh Kun Beng... Dan aku tidak rela melihat Kun Beng terbunuh oleh kakakku. Aku... aku cinta kepada Kun Beng.”

Merah muka Kwan Cu mendengar pengakuan yang dianggapnya amat ganjil dari mulut gadis ini.

“Aku sudah mendengar ketika kau bicara dengan pangeran botak An Kong. Akan tetapi, kenapa mereka bermusuhan? Mereka adalah saudara sepergururan, bagaimana mereka bisa bermusuhan sedemikian hebatnya sehingga kakakmu bersumpah untuk membunuh sute-nya sendiri?”

Sampai beberapa lama Kui Lan ragu-ragu, kemudian dia menghela napas dan berkata, “Kun Beng sering kali membicarakan engkau, dan memujimu sebagai seorang yang aneh dan berbudi. Oleh karena itu, tiada salahnya apa bila aku menceritakan semua peristiwa yang kualami kepadamu, apa lagi karena aku juga hendak minta tolong kepadamu untuk mengakurkan mereka kembali.”

Kui Lan lalu bercerita, menuturkan pengalamannya dengan singkat. Akan tetapi, supaya lebih jelas bagi kita, marilah kita mengikuti sendiri semua pengalamannya itu.

Swi Kiat dan Kui Lan adalah putera-puteri dari keluarga Gouw yang bertempat tinggal di dalam Propinsi Hok-kian. Sesungguhnya ayah dari kedua orang anak ini adalah bekas seorang perwira Kerajaan Tang yang sudah mengundurkan diri karena tidak suka melihat kaisar dan para pembesar lain melakukan korupsi besar-besaran dan bukan merupakan pemimpin dan pelindung rakyat, malah sebaliknya mereka merupakan pemeras-pemeras berwewenang yang lebih jahat dari pada perampok-perampok tulen.

Bekas perwira she Gouw ini lalu membawa keluarganya pindah ke dalam dusun. Dengan uang simpanan yang tidak seberapa dia membeli tanah dan hidup sebagai petani yang berbahagia dan tenteram. Dia di segani di dusunnya karena selain luas pengertiannya, juga dia mempunyai kepandaian silat yang bagi orang-orang dusun sudah sangat tinggi sehingga dusun itu menjadi aman. Tidak ada orang jahat berani memperlihatkan aksinya setelah Gouw-ciangkun ini tinggal di situ.

Pada suatu hari, Swi Kiat dan adiknya bermain-main di halaman depan rumahnya. Ketika itu Swi Kiat baru berusia lima tahun dan Kui Lan berusia tiga tahun. Sebagai putera seorang petani, Swi Kiat memang amat rajin. Kalau dia tidak membantu para pekerja di ladang, baik hanya untuk mengawasi atau pun membantu sedikit-sedikit sesuai dengan kemampuan tenaganya yang masih kecil, tentulah dia membantu pekerjaan ibunya. Pada hari itu, Swi Kiat sedang bertugas menjaga adiknya yang masih kecil dan mengajaknya bermain-main.

Pada saat mereka bermain-main, mendadak kelihatan seorang kakek kecil pendek yang berpakaian sederhana. Entah kakek ini datangnya dari mana karena tahu-tahu dia telah berada di luar pekarangan rumah dan duduk di atas rumput, memandang ke arah dua orang anak yang bermain-main itu.

Swi Kiat dan Kui Lan melihat pula orang itu, akan tetapi tidak memperhatikannya karena hanya mengira bahwa kakek itu seorang dusun lain yang duduk beristirahat. Padahal sebetulnya kakek ini bukan lain adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, seorang tokoh besar yang baru namanya saja sudah cukup hebat untuk membuat penjahat-penjahat segera mengangkat kaki seribu!

“Engko Kiat, ambilkan bunga itu...,” kata Kui Lan merengek-rengek.

“Mengapa kau minta bunga yang buruk di atas pohon itu? Lebih baik kucarikan bunga teratai di empang atau bunga mawar di kebun belakang, lebih bagus dan lebih mudah mengambilnya,” jawab kakaknya.

“Tidak mau, aku mau bunga yang di atas pohon itu!’ Kui Lan tetap merengek.

“Baiklah, baiklah, tapi jangan kau menangis,” Swi Kiat marah-marah, akan tetapi dia lalu naik ke atas pohon itu untuk mencarikan bunga bagi adiknya.

Dalam usia lima tahun, Swi Kiat telah mulai berlatih silat dan tubuhnya digembleng oleh ayahnya sehingga dia mempunyai tenaga dan kegesitan yang lebih dari pada anak-anak biasa. Bagaikan seekor monyet, dia memanjat pohon itu dan mengambilkan tiga tangkai bunga.

Tetapi, sebelum dia turun, tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya sakit dan gatal-gatal. Alangkah kagetnya ketika anak ini melihat bahwa dia telah dikeroyok oleh ratusan ekor semut merah karena tanpa disengaja dia tadi telah menyentuh sarang mereka.

Swi Kiat memiliki ketabahan besar dan biar pun dia sibuk sekali mengusir semut-semut yang menggigit badannya, dia tidak mengeluarkan keluhan dan hanya berseru, “Semut... semut...!”

Ia merayap turun sambil menggaruk sana menepuk sini. Gigitan semut-semut merah itu sakit dan gatal luar biasa sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi. Ketika dua tangannya sibuk mengusir semut, keseimbangan tubuhnya menjadi kacau sehingga dia terpeleset dari atas dahan!

Anak itu tentu akan mengalami bencana hebat karena dia terjatuh dari dahan yang tinggi sekali. Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah, tiba-tiba terdengar suara orang.

“Bodoh sekali...!”

Dan tahu-tahu tubuh Swi Kiat sudah ditangkap oleh sebuah lengan yang pendek kecil sehingga dia tidak sampai terbanting ke atas tanah. Kakek yang tadi tengah duduk di luar pekarangan, tahu-tahu telah berada di situ dan dapat menyambut tubuh Swi Kiat dengan amat mudah.

Swi Kiat masih sibuk mengusiri semut dan menggaruk ke sana ke mari. Biar pun semua semut itu sudah pergi, akan tetapi gatal-gatal masih hebat sekali sehingga anak ini tidak mempedulikan kakek yang telah menolongnya.

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya dan pundak Swi Kiat ditampar. Aneh sekali, seketika itu juga lenyaplah rasa gatal serta sakit bekas gigitan semut, sungguh pun di sana sini masih nampak merah-merah bekas gigitan. Swi Kiat memandang dengan mata terbelalak, barulah dia teringat bahwa kakek ini telah menolongnya, maka serta merta dia menjatuhkan diri berlutut.

“Kakek yang baik, terima kasih atas pertolonganmu.”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai senang sekali melihat Swi Kiat. Ia dapat melihat bahwa anak ini bertulang baik dan bakatnya luar biasa. Juga melihat betapa dalam penderitaan, anak itu tidak mengeluh sama sekali, membuktikan bahwa anak itu mempunyai ketabahan dan ketenangan. Tiga tangkai kembang masih saja di pegangnya, ini pun menyatakan bahwa dia memiliki dasar kesetiaan.

Swi Kiat lalu memberikan kembang itu kepada Kui Lan yang menerimanya dan lantas bersembunyi di belakang kakaknya, karena dia takut melihat kakek kecil pendek yang suaranya nyaring itu.

“Anak yang tangkas, apa bila hendak mengambil bunga di atas pohon, mengapa harus susah-susah memanjat pohon yang banyak semutnya?” kata Siangkoan Hai tertawa.

“Ehh, kakek yang aneh. Kembang berada di atas pohon, jika tidak memanjat naik, habis bagaimana mengambilnya?” tanya Swi Kiat heran.

Siangkoan Hai tertawa semakin keras. “Banyak jalannya. Kau dapat menyambit tangkai kembang sehingga kembang-kembang itu turun sendiri ke bawah, atau kau dapat pula melompat dan mengambilnya tanpa menyentuh dahan pohon yang banyak semutnya.”

Swi Kiat berpikir sejenak, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Membicarakannya sangat mudah, akan tetapi siapa dapat melakukan hal itu?” Memang Swi Kiat seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah begitu saja bila tidak melihat buktinya.

“Kau tidak percaya kepadaku? Lihatlah baik-baik!”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengambil segenggam batu kerikil, lantas sekali tangannya bergerak, lima butir kerikil lalu melayang ke arah pohon dan... tak lama kemudian, lima tangkai bunga melayang ke bawah.

“Hebat bukan main kepandaianmu menyambit, kakek yang baik. Akan tetapi, bagaimana dengan jalan ke dua?”

Siangkoan Hai tertawa makin keras dan tiba-tiba tubuhnya yang pendek kecil melayang ke arah pohon. Gerakan tubuhnya hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata karena tiba-tiba dia sudah turun kembali dan ditangannya terdapat sepuluh tangkai bunga!

Bunga-bunga ini dia berikan kepada Kui Lan yang tertawa-tawa gembira. Anak ini belum dapat menghargai dan mengagumi semua perbuatan kakek itu yang dianggapnya aneh. Yang membikin dia gembira adalah pemberian bunga-bunga yang banyak itu.

“Luar biasa sekali!” tiba-tiba terdengar suara Gouw-ciangkun datang berlari-lari dari luar pekarangan, terus menjura dengan hormat kepada Siangkoan Hai.

“Ayah, kakek ini lihai sekali, aku ingin belajar ilmu kepandaian dari padanya,” berkata Swi Kiat sambil memandang kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan mata kagum.

“Locianpwe benar-benar amat mulia, sudi mengajak main-main anak-anakku yang bodoh dan nakal,” kata Gouw-ciangkun.

“Memang puteramu ini berjodoh dengan aku, biarlah dia menjadi muridku,” Pak-lo-sian Siangkoan Hai berkata.

Gouw-ciangkun adalah seorang bekas perwira dan ahli silat, karena itu dia pun tahu akan perlunya anak-anaknya mempelajari kepandaian silat. Mendengar ucapan kakek yang kecil pendek ini, dia lalu menjura dan berkata,

“Banyak terima kasih atas budi Locianpwe, tetapi bolehkah kiranya siauwte mengetahui nama Locianpwe yang mulia?”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai berwatak keras dan sombong, akan tetapi dia jujur dan baik hati. Ia tidak menjawab pertanyaan Gouw-ciangkun, karena baginya perkenalan tak ada artinya dan bersopan-sopan juga bukan kegemarannya, dia bahkan bertanya kepada Swi Kiat.

“Ehh, bocah tangkas. Sukakah kau menjadi muridku?”

Swi Kiat memang cerdik. Ia sudah yakin betul bahwa kakek ini seorang luar biasa, maka dia segera menjatuhkan diri berlutut.

“Suhu, teecu merasa gembira sekali.”

Siangkoan Hai tertawa dan menoleh kepada Gouw-ciangkun. “Puteramu sudah setuju, aku tak punya banyak waktu. Selamat tinggal!” Tiba-tiba saja ia berkelebat dan tahu-tahu kakek itu dan juga Swi Kiat tidak kelihatan pula bayangannya.

Gouw-ciangkun terkejut bukan main. Ia girang bahwa puteranya mendapatkan guru yang demikian lihai, akan tetapi dia juga merasa gelisah karena tidak tahu siapakah gerangan guru anaknya itu. Maka biar pun kakek itu sudah tidak kelihatan, dia tetap berseru keras.

“Locianpwe, mohon kau sudi meninggalkan nama!”

Entah dari mana datangnya, terdengar amat jauh akan tetapi jelas sekali, ada jawaban, “Orang menyebutku Pak-lo-sian!”

Mendengar ini, Gouw-ciangkun tertegun dan berdiri seperti patung. Ia girang bukan main dan juga kaget karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa kakek kecil pendek itu adalah tokoh besar dari utara yang karena kesaktiannya mendapatkan julukan Dewa Utara!

Demikianlah, semenjak hari itu Swi Kiat mengikuti suhu-nya dan tidak lama kemudian gurunya mengambil murid seorang anak lain, yakni The Kun Beng. Hanya sekali dalam setahun, kadang-kadang sampai dua tahun, Swi Kiat datang mengunjungi orang tuanya atas perkenan suhu-nya yang mengajaknya merantau jauh.

Kehidupan keluarga Gouw aman dan tenteram sampai terjadi sebuah peristiwa beberapa belas tahun kemudian…..

Ketika itu Kui Lan telah berusia tujuh belas tahun dan dia merupakan seorang gadis yang sangat cantik jelita, bagaikan bunga mawar yang sedang mekar semerbak. Gadis ini pun mempelajari ilmu silat akan tetapi hanya di bawah pengajaran ayahnya sendiri yang tentu saja kalah jauh apa bila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Siangkoan Hai.

Tiap kali Swi Kiat pulang mengunjungi orang tuanya, pemuda ini tentu memberi petunjuk-petunjuk kepada adiknya sehingga Kui Lan memperoleh kemajuan pesat. Tentu saja kini tingkat kepandaian Swi Kiat telah jauh melewati ayahnya sehingga orang tua itu menjadi amat bangga dan girang.

Sebagaimana sudah dituturkan di bagian depan, sejak Gouw-ciangkun tinggal di dusun itu, keadaan di situ aman dan tenteram, tidak ada penjahat yang berani memperlihatkan aksinya. Apa lagi setelah Kui Lan menjadi dewasa dan memiliki kepandaian silat tinggi, orang-orang makin menaruh hormat dan segan terhadap keluarga Gouw ini.

Akan tetapi, pada suatu hari, dusun ini sudah kedatangan rombongan orang-orang kasar yang ternyata adalah gerombolan perampok ganas yang melarikan diri dari utara karena mereka diobarak-abrik oleh Swi Kiat dan Kun Beng! Kepala perampok yang memimpin gerombolan ini bernama Ang Hok yang berjuluk Tok-hui-coa (Si Ular Terbang Berbisa).

Berkat penyelidikannya, Ang Hok mendapat keterangan bahwa seorang di antara kedua pemuda murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang gagah itu adalah putera Gouw-ciangkun yang tinggal di dusun Keng-kin-bun di sebelah utara kota raja. Dengan hati mengandung dendam, Tok-hui-coa Ang Hok lalu melarikan diri sambil membawa anak buahnya yang belum tewas menuju dusun itu untuk membalas dendamnya kepada keluarga Gouw!

Pada senja hari itu, Gouw-cingkun ditemani oleh isterinya serta Gouw Kui Lan, sedang makan malam sehabis bekerja keras sehari penuh, mengepalai para buruh tani di sawah. Mereka makan sambil bercakap-cakap dan seperti biasanya yang dipercakapkan mereka tentulah Swi Kiat.

“Tahun baru kurang tiga pekan lagi,” kata Gouw-ciangkun, “tentu Swi Kiat akan pulang.”

“Dulu Kiat-ko bilang bahwa sekarang dia jarang ikut suhu-nya merantau, karena kakek itu sekarang selalu bertapa di puncak gunung. Bahkan Kiat-ko sering kali mendapat tugas untuk membasmi para perampok dan membantu perjuangan rakyat dari pemberontak An Lu Shan,” kata Kui Lan menyambung.

Mereka bicara dengan asyik sekali. Tiba-tiba saja mereka terganggu oleh suara gemuruh di luar rumah, suara banyak orang datang berkumpul di sana. Lalu terdengar bentakan keras.

“Inilah rumah keluarga Gouw! Bakar habis, bunuh semua orang!”

Gouw-ciangkun cepat menyambar goloknya, sedangkan Kui Lan juga buru-buru berlari ke kamarnya mengambil pedang. Akan tetapi pada waktu itu, rumah bagian depan telah dibakar serta pintu depan sudah didorong roboh oleh Tok-hui-coa Ang Hok. Di belakang kepala perampok ini ikut masuk anak buahnya yang sebanyak dua puluh orang.

“Penjahat-penjahat rendah dari mana berani kurang ajar di rumah kami?” Gouw-ciangkun membentak marah dan menggerakkan golok menghadang mereka.

“Ha-ha-ha-ha! Inikah Gouw-ciangkun yang menjadi ayah dari si laknat Gouw Swi Kiat? Keluarga Gouw, bersiaplah untuk terima binasa!” kata Tok-hui-coa Ang Hok sambil maju menyerbu, mainkan ruyungnya yang besar dan berat.

Gouw-ciangkun dapat menduga bahwa mereka itu tentu penjahat-penjahat yang merasa sakit hati terhadap puteranya. Karena itu, tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyambut serangan lawan dan mengamuk. Akan tetapi alangkah kagetnya saat dia merasa telapak tangannya panas dan sakit ketika goloknya bertemu dengan ruyung itu. Ternyata bahwa tenaga kepala perampok itu besar sekali. Sebentar saja Gouw-ciangkun sudah dikeroyok oleh banyak orang.

“Penjahat-penjahat anjing, jangan kurang ajar!’ Tiba-tiba Kui Lan membentak.

Gadis ini melompat keluar dari kamarnya dengan pedang di tangannya. Seorang anggota perampok yang sudah menghampiri nyonya Gouw dengan golok di tangan, tiba-tiba saja diserangnya sehingga penjahat itu menjerit dengan dada tertembus pedang!

“Ibu, menyingkirlah ke dalam kamar!” seru Kui Lan sambil memutar pedang, membantu ayahnya yang sudah terkepung dan terdesak.

Ada pun Tok-hui-coa Ang Hok ketika melihat munculnya seorang gadis yang sedemikian gagahnya, menjadi seperti linglung dan dia memandang tanpa berkedip.

“Ha-ha-ha-ha, tidak kusangka di sini terdapat setangkai bunga cilan yang harum! Kawan-kawan, keroyok dan binasakan anjing tua ini, biar aku memetik kembang itu!” katanya kemudian dan dengan ruyung diputar cepat dia menyambut Kui Lan.

Biar pun Gouw-ciangkun gagah, akan tetapi dia telah mulai tua dan tenaganya terbatas. Lagi pula, selama menjadi petani, jarang sekali dia melatih ilmu silatnya dan juga tidak pernah bertempur, maka gerakannya kaku sekali. Bagaimana kini dia dapat menghadapi keroyokan belasan orang perampok itu?

Memang benar bahwa dia telah berhasil pula merobohkan tiga orang pengeroyok setelah mengamuk secara nekat dan mati-matian. Akan tetapi akhirnya tubuhnya menjadi korban keganasan para perampok, dihujani oleh pukulan senjata tajam sehingga ia roboh mandi darah.

Ada pun Kui Lan, mana dia dapat melawan Tok-hui-coa Ang Hok yang sudah kawakan dan penuh tipu muslihat pertempuran? Baru dua puluh jurus saja pedang di tangan gadis ini telah terlempar jauh. Sebelum Kui Lan dapat mengelak, ia telah diringkus dan sebuah totokan di pundak membuatnya tidak berdaya lagi.

“Ha-ha-ha, kawan-kawan. Bunuh semua orang di dalam rumah dan bakar habis rumah ini!” teriak Ang Hok sambil lari keluar memondong tubuh Kui Lan.

Para perampok itu tentu saja tak mau menyia-nyiakan waktu baik ini. Mereka merampok dulu habis-habisan, baru membunuh nyonya Gouw dan membakar rumah itu. Kemudian, dalam perjalanan mereka menyusul pemimpin mereka, mereka terlebih dulu merampok habis dusun itu dan melakukan pembunuhan keji.

Dalam keadaan lumpuh tertotok jalan darahnya, Kui Lan dibawa pergi oleh Tok-hui-coa Ang Hok ke arah pegunungan batu karang di mana banyak terdapat goa-goa yang besar. Di goa-goa itulah sarang para perampok yang baru datang dari utara ini.

Di sepanjang jalan terdengar suara Ang Hok tertawa-tawa menyeramkan. Kepala rampok yang usianya sekitar empat puluh tahun, bertubuh tegap dan berwajah menyeramkan ini merasa girang sekali. Sekali ini hasil pekerjaannya memang hebat. Tidak saja dia dapat membalas dendam dan menghabiskan keluarga Gouw untuk membalaskan sakit hatinya terhadap Gouw Swi Kiat, juga dia berhasil mendapatkan seorang gadis yang cantik jelita seperti Kui Lan yang sedang dipondongnya itu.

Hampir pingsan Kui Lan mengalami perlakuan yang kasar dan tidak senonoh oleh kepala rampok ini, akan tetapi apa dayanya? Selain kalah pandai dalam ilmu silat, juga ia telah dibikin tidak berdaya, semua urat-urat ditubuhnya lemas dan tenaganya lenyap. Baiknya sebelum Ang Hok melakukan hal-hal yang lebih hebat lagi, datanglah para anak buahnya yang tertawa-tawa sambil memanggul hasil-hasil rampokan.

Ang Hok meninggalkan Kui Lan dan keluar dari dalam goa, menemui anak buahnya.

“Kawan-kawan sekalian. Bunga yang kupetik itu sungguh-sungguh cantik dan aku sudah mengambil keputusan untuk menjadikan isteriku. Bersiap-siaplah untuk merayakan pesta pernikahanku malam nanti!’

Kawan-kawannya bersorak gembira. Memang hal itu merupakan hal baru yang sangat mengherankan. Biasanya kepala rampok itu mengganggu anak bini orang dan sesudah bosan lalu dioperkannya kepada anak buahnya. Baru kali ini agaknya kepala rampok itu jatuh hati terhadap seorang wanita!

Kawanan perampok itu lalu mendatangi dusun-dusun dan memaksa orang-orang dusun supaya menyediakan hidangan untuk meramaikan pesta pernikahan pemimpin mereka. Kasihan sekali orang-orang dusun ini, karena mereka dengan hati berat dan terpaksa harus melakukan segala perintah ini. Suasana di pegunungan batu karang pada malam hari itu ramai sekali dan para perampok menari-nari dan minum sampai mabuk.

Akan tetapi, tiba-tiba di sana-sini terdengar jeritan orang dan beberapa orang perampok roboh tak bernyawa lagi. Seorang pemuda yang amat tampan dan gagah tahu-tahu telah berdiri di situ dan kedua tangannya bergerak-gerak. Tiap kali tangannya bergerak, sebutir benda hitam melayang dan mengenai seorang perampok yang tak dapat menghindarkan diri lagi, terus saja roboh dan mati!

Gegerlah keadaan di situ. Orang-orang dusun melihat kesempatan baik ini, cepat-cepat melarikan diri, pulang ke rumah mereka masing-masing di bawah gunung. Ada pun para perampok menjadi amat marah sehingga sebentar saja pemuda itu telah dikepung oleh perampok-perampok yang memegang senjata tajam di tangan.

Tok-hui-coa Ang Hok sendiri sudah menghadapi pemuda itu dengan ruyungnya yang berat. Sepasang matanya yang besar itu menjadi merah. Bukan main marahnya melihat pesta pernikahannya diganggu orang, apa lagi orang itu hanya seorang pemuda saja.

Akan tetapi, begitu dia mencabut ruyung dan melompat ke depan pemuda itu, barulah dia melihat siapa adanya orang ini dan terkejutlah dia bukan main.....

Pemuda itu dikenalnya sebagai The Kun Beng, orang kedua yang telah mengobrak-abrik sarangnya di utara, yakni sute (adik seperguruan) dari Gouw Swi Kiat!

Tanpa banyak cakap lagi, Ang Hok lalu berseru, “Kawan-kawan, keroyok...!” Dia sendiri pun lalu memutar ruyungnya dan mengemplang kepala pemuda itu.

Memang benar, pemuda ini adalah The Kun Beng, murid kedua Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sudah kita kenal ketika dia masih kecil. Pemuda ini sudah dewasa, wajahnya tampan sekali. Mukanya berkulit putih halus, berbentuk bulat dengan sepasang alis hitam melengkung panjang menghias sepasang mata yang tajam berapi-api. Akan tetapi biar pun kedua matanya membayangkan pengaruh dan keberanian, namun mulutnya selalu tersenyum manis membayangkan kelembutan hatinya.

Kun Beng berdua dengan Swi Kiat memang telah mengobrak-abrik sarang Ang Hok yang mereka dengar amat jahat. Mereka berhasil mengobrak-abrik sarang, membunuh banyak perampok, akan tetapi Ang Hok tidak dapat mereka tewaskan karena kepala rampok ini keburu melarikan diri.

Lalu dua orang pendekar muda itu berpencar. Kun Beng berkewajiban untuk mengejar Ang Hok dan membasmi orang-orang jahat ini sampai ke akar-akarnya, ada pun Swi Kiat hendak pergi membantu perjuangan para petani yang sedang terkurung dan terancam oleh barisan dari pemerintah penjajah. Ini semua merupakan tugas yang diberikan oleh guru mereka.

Demikianlah, di satu fihak Swi Kiat menuju ke barat untuk melakukan tugas membantu barisan pejuang rakyat, ada pun Kun Beng terus mengejar Ang Hok ke selatan. Swi Kiat berjanji hendak menyusul ke selatan setelah tugasnya selesai.

Akan tetapi alangkah terkejutnya hati Kun Beng ketika tiba di dusun Keng-kin-bun pada malam hari itu, dia melihat ada rumah terbakar dan tangisan penduduk yang demikian memilukan hati. Segera dia mencari keterangan dan begitu mendengar bahwa di dekat situ terdapat gunung batu karang yang dijadikan sarang oleh gerombolan kejam, dia pun segera berlari secepat terbang menyusul ke tempat itu.

Dengan hati penuh kegeraman, dia melihat bahwa gerombolan itu bukan lain merupakan sisa-sisa perampok yang telah dibasminya. Mereka sedang merayakan pesta pernikahan Ang Hok dengan seorang gadis dusun yang diculiknya!

Segera pemuda ini menghujankan senjata rahasianya, yakni batu-batu hitam biasa yang bisa dipungutnya di mana saja. Memang, di samping ilmu silatnya yang tinggi, Kun Beng terkenal dengan kepandaiannya menggunakan batu-batu kecil sebagai senjata rahasia.

Dia melontarkan batu-batu bundar itu seperti seorang bermain gundu. Akan tetapi jangan dikira bahwa batu-batu itu tidak berbahaya sebab sentilan jari tangannya dapat membuat batu-batu itu berubah menjadi peluru yang dapat menembus tubuh manusia!

Demikianlah, setelah kini Ang Hok sendiri bersama anak buahnya maju mengeroyoknya, Kun Beng tertawa mengejek sambil mengeluarkan senjatanya yang telah banyak dikenal dan ditakuti oleh para penjahat, yakni sepasang tombak pendek. Sekali tangkis saja, dua batang golok penjahat lantas terlepas dari pegangan dan orang-orangnya roboh terpukul tombak yang gerakannya demikian cepat tak dapat diikuti oleh pandangan mata mereka.

Ang Hok maklum bahwa kepandaian pemuda ini memang lihai sekali, karena itu sambil berteriak-teriak mendorong anak buahnya agar mengurung lebih rapat, dia lalu melompat dan lari ke dalam goa. Disambarnya tubuh Kui Lan dan dibawanya lari turun gunung!

Kun Beng marah sekali. Tombaknya digerakkan cepat dan sebentar saja belasan orang pengeroyok sudah roboh malang melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi. Kemudian pemuda perkasa ini lalu melompat dan mengejar Ang Hok.

Karena ilmu lari cepat dari Ang Hok memang sudah tinggi, maka walau pun Kun Beng belum kehilangan bayangan kepala rampok itu, masih saja dia belum dapat menyusulnya sampai fajar menyingsing dari timur. Ang Hok bukan seorang bodoh. Ia tidak mau turun gunung, sebaliknya dia bahkan berputar-putar di sekitar pegunungan yang banyak batu karangnya itu sehingga dia dapat bersembunyi. Akan tetapi mata pemuda pengejarnya awas sekali dan ke mana pun juga dia lari, selalu dapat dikejarnya.

Akhirnya Ang Hok berlaku nekat, dia berlari masuk ke dalam hutan batu karang penuh dengan rawa-rawa berbahaya. Mendadak, ketika melintasi sebuah tempat yang tertutup rumput setengah kering, kepala rampok ini memekik keras dan tubuhnya amblas sampai ke pinggang.

Ternyata bahwa dia sudah menginjak rawa berlumpur yang tertutup atau ditumbuhi oleh rumput! Dia meronta-ronta, namun gerakannya ini bahkan membuat tubuhnya tenggelam makin dalam sampai sebatas dada!

“Tolong... tolong…!”

Betapa pun kejam dan ganas adanya Tok-hui-coa Ang Hok, dan betapa pun berani dan tabah hatinya, saat menghadapi maut yang mencengkeramnya sedikit demi sedikit, mulut maut yang menelan nyawanya lambat-lambat itu, timbullah perasaan ngeri dan takutnya.

Kui Lan biar pun telah setengah lumpuh akibat totokan, namun ia masih sadar dan ia pun merasa ngeri ketika tubuhnya ikut amblas sampai pinggang. Ketika Ang Hok meronta-ronta, dia terbawa pula tenggelam sehingga sampai di pundak. Bahkan kedua lengannya yang lemas ikut pula tenggelam, berbeda dengan Ang Hok yang kini mengangkat kedua tangan ke atas dengan jari-jari tangan terbuka dan terpentang lebar.

Tadinya Kun Beng sudah kehilangan jejak Ang Hok, akan tetapi pekik mengerikan serta jeritan minta tolong itu menariknya ke tempat itu. Ia melihat betapa Ang Hok dan gadis itu terbenam di dalam lumpur, di dalam rawa yang kurang lebih empat tombak lebarnya.

“Tolonglah aku...!” jerit Ang Hok ketika dia melihat pemuda itu muncul di pinggir rawa.

Akan tetapi Kun Beng tentu saja tidak mau mempedulikannya, bahkan dia lalu memutar otak bagaimana dia dapat menolong gadis itu yang sebentar lagi tentu terbenam sampai lenyap.

“Tolonglah... Taihiap... tolonglah aku...!” kembali Ang Hok menjerit-jerit.

“Aku tak dapat menolongmu, pula agaknya inilah hukuman Thian kepadamu atas segala kejahatanmu, Tok-hui-coa,” Kun Beng berkata dengan suara dingin. “Apa bila aku dapat menolong juga bukan kau yang kutolong, melainkan nona itu yang menjadi korbanmu.”

Tanpa disadarinya Kun Beng mengeluarkan kata-kata yang salah sehingga tiba-tiba Ang Hok menjadi beringas dan tertawa bergelak.

“Kau tidak mau menolongku dan bermaksud menolong nona ini? Ha-ha-ha, lihat kalau kau tidak mau segera menolongku, sebelum aku mati terbenam, terlebih dahulu aku akan menekannya ke bawah lumpur!”

Sambil berkata demikian, kepala rampok ini lalu menaruh tangannya yang berlumpur di atas kepala Kui Lan. Memang, kalau dia mau, sekali tekan saja akan tamatlah riwayat hidup gadis ini, kepalanya akan terbenam di dalam lumpur dan dia pun akan mati.

Bingung sekali hati Kun Beng. Keparat, pikirnya, sekarang justru dia hendak memaksaku dengan mengancam nyawa gadis itu. Akan tetapi pemuda ini melihat bahwa kalau dia menolong kepala rampok ini, tentu keadaan gadis itu akan terlambat dan akan mati juga. Diam-diam dia lalu menggenggam erat-erat sebutir batu hitam.

“Dia akan mati, mati tersiksa. Kalau aku turun tangan membunuhnya, lebih baik baginya, bagiku dan juga bagi gadis itu,” pikir Kun Beng dan secepat kilat tangannya menyambar.

“Tak!”

Sebelum dia tahu apa yang terjadi, kepala Ang Hok telah terkena sambaran batu dan dia tewas pada saat itu juga. Batu ini memasuki kepalanya dan sekarang dengan lemas dia terkulai, perlahan-lahan tubuhnya dihisap oleh lumpur, seakan-akan di bawah lumpur itu terdapat siluman-siluman yang menarik kedua kakinya ke bawah!

Sekarang lumpur sudah sampai di bawah leher Kui Lan. Kun Beng tidak mau membuang banyak waktu lagi. Tubuhnya melompat dan melayang di atas permukaan rawa, kedua tangannya diulur ke depan. Karena tangan gadis itu sudah terbenam dan yang kelihatan hanya kepala, leher dan pundaknya, Kun Beng tak dapat berbuat lain kecuali menyambar baju di pundak gadis itu dan di dalam lompatannya yang kuat dan cepat, dia menarik baju itu.

“Breeeettt!”

“Celaka!” seru Kun Beng yang sudah berada di seberang rawa.

Karena kuatnya gadis itu terbenam dan juga kuatnya dia menarik baju, dia tidak berhasil membetot tubuh gadis itu karena pakaiannya yang disambar tadi robek-robek! Ketika dia menoleh, ternyata bahwa pakaian sebelah atas dari gadis itu telah lenyap dan ‘terbang’, kini berada di tangannya, pakaian yang penuh lumpur.

Dengan muka merah dan hati bingung, Kun Beng melemparkan pakaian itu. Akan tetapi tiba-tiba dia menjadi girang karena betapa pun juga, sebelah tangan gadis itu telah keluar dari dalam lumpur, terbawa oleh betotannya tadi.

Ada pun Kui Lan yang sejak tertawan oleh kepala rampok tadi sudah banyak mengalami penderitaan dan kekagetan, kini menjadi makin bingung dan malu sehingga kepalanya terkulai dan ia pun jatuh pingsan!

Sekali lagi Kun Beng melompat, dan kini dia menambah tenaga lompatannya. Ia berhasil menyambar lengan Kui Lan dan memabawa gadis itu ikut melayang. Akan tetapi tenaga lompatannya tertahan oleh berat tubuh gadis itu, apa lagi karena lumpur yang menahan tubuh gadis itu ternyata banyak melenyapkan tenaga lompatan Kun Beng. Hal ini lantas membuat Kun Beng dan Kui Lan melayang turun sebelum sampai di seberang lumpur itu!

Akan tetapi, kepandaian Kun Beng ternyata sudah hebat sekali. Dengan tenang pemuda ini menahan napas, lalu berseru keras sekali dan tahu-tahu tubuhnya mumbul kembali dalam keadaan berpoksai (membuat salto) dan dengan memondong tubuh Kui Lan yang penuh lumpur, akhirnya dia berhasil melompat ke seberang lumpur, di atas tanah yang keras! Pemuda itu menarik napas panjang dengan hati lega. Ia menoleh ke arah lumpur dan bergidik.

“Berbahya sekali,” pikirnya.

Kalau sampai dia terjatuh ke dalam lumpur itu bersama gadis yang dipondongnya, tentu mereka berdua akan tewas. Ia menoleh ke arah Ang Hok dan ternyata penjahat itu telah tenggelam, hanya kelihatan sedikit rambutnya saja. Ketika dia memandang ke bawah, ke arah tubuh gadis yang dipondongnya, mukanya menjadi merah sekali.

Ternyata bahwa tubuh bagian atas dari gadis itu sama sekali tidak tertutup oleh pakaian lagi! Akan tetapi dia merasa lega bahwa tubuh itu diselimuti oleh lumpur tebal sehingga gadis itu seakan-akan memakai pakaian berwarna abu-abu yang sangat pas dan ketat mencetak bentuk tubuhnya yang menggairahkan hati.

Kun Beng lalu membawa lari gadis itu, kembali ke dalam goa di mana tadi dipergunakan oleh gerombolan perampok sebagai sarang. Ternyata di dalam goa itu terdapat segala macam keperluan, sampai-sampai di situ tertimbun beras dan makanan.

Perlahan Kui Lan membuka matanya dan serentak gadis ini meloncat bangun begitu dia melihat bahwa dia sedang terbaring di atas pasir di dalam goa. Hatinya berdebar keras dan alangkah kagetnya pada saat dia menengok ke bawah melihat betapa punggung dan dadanya sama sekali tidak tertutup oleh pakaian.

Kemudian ia melihat seorang pemuda duduk di atas batu membelakanginya, nampaknya tengah melamun. Pemuda itu adalah pemuda tampan dan gagah yang tadi menolong dirinya.

“Keparat!” desis mulut Kui Lan melihat pemuda ini karena ia teringat akan keadaannya yang setengah telanjang.

Tanpa pikir panjang lagi ia kemudian menerjang dengan kepalan tangannya. Akan tetapi, bagaikan mempunyai mata di belakang kepalanya, pemuda itu mengelak dan berdiri lalu menoleh sambil tersenyum.

“Nona, mengapa kau menyerangku?”

“Kau... orang yang tidak tahu malu! Kau telah berani menghinaku, telah berani... merobek pakaianku. Hayo kembalikan pakaianku!”

Biar pun hatinya berdebar tak karuan dan darahnya panas mengalir di seluruh tubuhnya, terutama di mukanya yang tampan, Kun Beng berkata,

“Sabarlah, Nona. Aku tahu perasaanmu, akan tetapi harap kau jangan malu-malu. Meski pun pakaianmu sudah hilang, akan tetapi tubuhmu tertutup lumpur tebal. Bukankah itu sama pula dengan pakaian untuk sementara ini? Memang aku sengaja menanti sampai kau siuman agar kita dapat bicara secara baik-baik.”

“Kau... kau kurang ajar!” seru Kui Lan.

Kini dia cepat-cepat mempergunakan kedua lengan untuk disilangkan menutupi dadanya. Pergerakan ini membuat lumpur yang kering itu rontok sehingga nampak kulitnya yang putih. Kun Beng cepat membalikkan tubuh membelakangi gadis itu.

“Nona, aku sekarang sudah lega melihat kau tidak apa-apa. Sekarang aku akan pergi untuk mencarikan pakaian supaya kau dapat memakainya. Akan tetapi pesanku, jangan sekali-kali kau banyak bergerak dan jangan melenyapkan lumpur itu, karena betapa pun juga, lumpur itu merupakan pakaian yang indah dan cukup sopan.”

Setelah berkata demikian, Kun Beng berkelebat dan lenyap dari goa itu.

Kui Lan tertegun. Bukan main cepatnya gerakan pemuda itu, pikirnya, luar biasa sekali. Alangkah gagahnya dan tangkasnya karena kalau tidak mempunyai kepandaian tinggi, bagaimana dapat menolongnya dari cengkeraman penjahat dan dapat mengeluarkannya dari lumpur itu? Dan alangkah... tampannya!

Berpikir sampai di sini, Kui Lan lalu menjatuhkan diri duduk di atas batu dan tiba-tiba dia menjadi pucat. Baru sekarang dia teringat akan keadaan rumah dan orang tuanya.

“Ayah... ibu...!” Gadis ini berbisik dengan muka pucat sekali.

Dia belum tahu dengan jelas bagaimana nasib ayah bundanya, karena pada saat terjadi pengeroyokan, ia tidak sempat melihat keadaan ayahnya. Kui Lan melompat bangun dan lari keluar dari goa. Akan tetapi, dia segera melompat ke dalam kembali setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan setengah telanjang!

Ia bingung sekali. Menurutkan perasaannya, ingin sekali ia terbang kembali ke dusunnya melihat keadaan orang tuanya. Akan tetapi keadaannya tidak mengijinkannya.

Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari luar goa.

“Kui Lan, pakailah pakaian ini.”

Dan dari luar goa lalu dilemparkan segulung pakaian yang diterima oleh gadis itu dengan girang. Cepat-cepat gadis ini menanggalkan semua pakaian yang masih menempel pada tubuhnya karena pakaian yang sudah terbenam lumpur itu betul-betul membuat seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan kaku sekali. Sesudah dia memakai pakaian yang dilempar masuk oleh Kun Beng, ternyata pakaian itu pas betul dengan tubuhnya dan cukup pantas biar pun hanya pakaian wanita petani.

“Terima kasih, kau baik betul...,” kata gadis itu dari dalam goa.

“Tak usah berterima kasih, Kui Lan. Apakah kau sudah selesai berpakaian?” Pemuda itu bertanya.

Tiba-tiba terasalah di dalam hati Kui Lan betapa pemuda itu suaranya kini amat lemah lembut dan halus, sedangkan panggilan namanya begitu saja juga jauh berbeda dengan tadi.

Akan tetapi gadis ini kembali teringat akan orang tua dan rumahnya, maka ia cepat-cepat melompat keluar dari goa itu. Kun Beng sudah berdiri di depan goa sehingga mereka kini berhadapan.

“Aduh, pantas sekali kau memakai pakaian itu!” pujinya dengan pandang mata kagum.

Kui Lan menunduk dengan muka merah. “Jangan kau mengejek, ini hanya pakaian gadis petani sederhana saja.”

“Bahkan kesederhanaannya menonjolkan kecantikan yang wajar.” Kun Beng memuji lagi.

Pemuda ini memang sengaja memuji dan hendak menghibur hati gadis yang cantik ini. Karena ketika dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan tadi, dia mendengar betapa ayah bunda dari gadis ini telah dibunuh secara mengerikan oleh kawanan perampok, ada pun rumahnya juga sudah terbakar musnah!

Berdebar-debar hati Kui Lan saat mendengar pujian-pujian itu. Ia mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu. Memang tampan, tampan dan gagah sekali, pikirnya. Dua pasang mata bertemu dan keduanya memandang penuh arti, sungguh pun berbeda sekali.

Kun Beng memandang dengan penuh keharuan dan iba hati terhadap gadis itu, namun sebaliknya Kui Lan memandang dengan penuh kagum, terima kasih dan ... suka. Ya, hati gadis ini telah jatuh begitu bertemu pandang dengan Kun Beng.

“Kau... siapakah namamu?” tanyanya setelah menunduk lagi karena pertemuan pandang itu membuat dia merasa malu-malu.

“Namaku The Kun Beng, pemuda perantau. Dan aku sudah tahu akan namamu, Kui Lan bukan? Aku mendengar dari orang-orang dusun itu.”

Kui Lan teringat kembali kepada orang tuanya. Dia cepat-cepat meloncat dan berkata, “Aku harus pulang...!”

Akan tetapi tiba-tiba gadis ini merasa terkejut dan marah sekali karena Kun Beng telah menangkap lengan kanannya.

“Ehh, kau mau apakah? Lepaskan tanganku!” bentaknya.

Kun Beng melepaskan pegangannya dan pandang matanya makin sayu.

“Kui Lan, kuminta supaya kau jangan kembali ke dusunmu.”

Gadis itu membuka matanya lebar-lebar. “Mengapa aku kau larang pulang dan apa pula maksud dan kehendakmu ingin menahanku?”

“Marilah kita duduk di tempat teduh itu, Kui Lan, dan kita bicara dengan tenang.” Tanpa sungkan-sungkan lagi Kun Beng lalu memegang tangan gadis itu dan menggandengnya, seperti laku seorang kakak terhadap seorang adiknya.

Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari Kun Beng dan pemuda ini sama sekali tidak kelihatan hendak berbuat kurang ajar, hati Kui Lan mulai berdebar gelisah. Pasti ada apa-apa yang hebat, pikirnya. Otomatis dia teringat akan orang tuanya, maka dengan wajah pucat ia lalu memegang lengan pemuda itu tanpa menanti sampai di tempat teduh dan mengguncang-guncang lengan itu.

“Taihiap... katakanlah, apa yang terjadi dengan dusunku...? Dengan orang tuaku...?!”

Kun Beng mengerutkan alisnya. “Sabar dan tenanglah, Kui Lan. Marilah kita duduk di tempat yang teduh dan kau harus mendengar dengan tenang.”

“Tidak, tidak! Lekas kau katakan sekarang juga, atau... lebih baik aku pulang!” Ia hendak pergi, akan tetapi kembali Kun Beng menangkap lengannya. Pegangan tangan pemuda itu demikian kuatnya sehingga takkan ada gunanya kalau kiranya gadis itu memberontak.

“Apa boleh buat, Kui Lan. Dengarlah, kawanan perampok itu telah banyak mendatangkan bencana di kampungmu, merampoki rumah-rumah, membakar dan membunuh.”

“Ayah dan ibu...?”

Kun Beng mengangguk perlahan. “Ayah bundamu tewas dan rumahmu sudah dibakar oleh mereka...”

Tadi malam Kui Lan mengalami hal-hal yang menggoncangkan batinnya, dan tubuhnya masih lemah sekali. Kini mendengar warta yang hebat ini, seketika dia menjadi pucat, terhuyung dan tentu akan roboh kalau saja Kun Beng tidak cepat-cepat memeluk serta memondongnya.

Pemuda ini memang sudah dapat menduga lebih dahulu, maka cepat dia menotok jalan darah di leher gadis itu agar goncangan hebat tidak merusak ingatan gadis itu. Ia sengaja melarang gadis itu ke kampungnya, karena kalau gadis itu melihat sendiri bencana yang menimpa keluarganya, akan lebih fatal akibatnya.

Untuk menjaga ini pula, pada waktu dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan, dia sengaja menyeret mayat-mayat perampok dan melempar mereka ke dalam rawa lumpur sehingga mereka semua terkubur di situ, supaya tidak kelihatan lagi oleh gadis itu musuh-musuh besarnya yang telah menghancurkan keluarganya.

Kemudian dia lalu membawa tubuh Kui Lan kembali ke dalam goa. Kui Lan mengalami pukulan batin dan tubuhnya mulai panas sekali. Ketika ia siuman dari pingsan, ia terus mengigau, memanggil-manggil ayah bundanya dan berkali-kali ia kembali roboh pingsan. Kun Beng merasa kasihan sekali, dan pemuda ini lalu merawat gadis itu baik-baik.

Selama tiga hari Kui Lan berada dalam keadaan setengah sadar dan setengah pingsan, tapi berkat perawatan yang penuh perhatian dari Kun Beng, krisis berbahaya telah lewat dan dia mulai sadar kembali. Panasnya berangsur-angsur berkurang dan kini ia merasa letih dan lemah. Ketika ia membuka matanya pada pagi hari ketiga, ia melihat Kun Beng duduk di dekatnya sambil memegang sebuah mangkok bubur.

"Makanlah, Kui Lan. Bubur ini akan menguatkan tubuhmu," katanya halus.

Untuk sejenak Kui Lan merasa nanar. Dia mengumpulkan ingatannya, mengenangkan semua peristiwa yang sudah terjadi. Kemudian dia menangis sambil menutupkan kedua tangan di mukanya. Dia teringat akan ayah bundanya yang tewas.

"Tenang, Manis. Jangan menurutkan perasaan hati," Kun Beng menghibur.

"Aku... sebatang kara...," Kui Lan mengeluh.

"Apa kau kira aku bukan orang?" Tanpa disengaja Kun Beng berkata demikian, meski pun maksudnya hanya untuk menghibur.

Kui Lan bangun duduk, akan tetapi segera meramkan mata kembali karena pusing. Kun Beng cepat menjaga punggungnya dan menempelkan mangkok pada bibir gadis itu.

"Minumlah bubur ini dulu."

Tanpa membuka matanya, Kui Lan lalu makan bubur itu, atau lebih tepat meminumnya. Setelah menghabiskan bubur hangat itu ia merasa peningnya hilang dan tubuhnya segar. Dibukanya kembali matanya, dan dipandangnya muka pemuda yang kini sedang berlutut di dekatnya.

"Berapa lamakah aku tak sadarkan diri?"

"Kau terkena demam selama tiga hari dan kau tidak ingat apa-apa, setiap hari kau hanya mengigau saja," kata Kun Beng sambil tersenyum. "Syukurlah sekarang kau telah sehat kembali."

"Tiga hari? Dan selama itu... kau telah menjaga dan merawatku di sini?"

Merah muka Kun Beng ketika gadis itu memandangnya sedemikian rupa. Ia pun segera mengangguk, akan tetapi segera dibukanya mulutnya.

"Apa artinya itu? Kau perlu ditolong dan di sini terdapat banyak bahan makanan."

"Ahh... The-taihiap... kau baik sekali..." kembali Kui Lan menangis saking terharu dan juga bersyukur bahwa di dalam penderitaannya yang hebat, dia bertemu dengan seorang pendekar muda yang demikian gagah perkasa dan budiman.

"Hushhh, sudahlah, memang sudah kewajibanku untuk menolongmu," Kun Beng berkata sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu.

Tiba-tiba Kui Lan memegang lengan Kun Beng erat-erat. "Katakan, Taihiap, mengapa kau menolongku? Mengapa kau rela mengorbankan waktu dan tenaga untukku?"

Mata gadis itu memandang tajam. Kini terlihat sinar mata yang ganjil dan yang membuat Kun Beng berdebar hatinya. Gadis itu memang cantik sekali dan menarik hatinya yang masih muda, juga membuat darahnya yang masih panas itu bergolak.

"Mengapa? Karena kau perlu ditolong, karena aku kasihan padamu..."

"Taihiap, kau... kau suka kepadaku?"

Makin merah muka Kun Beng. Pertanyaan seperti ini tak disangkanya akan keluar dari mulut gadis itu. Akan tetapi ia maklum bahwa gadis itu masih lemah hatinya, masih amat perasa hatinya, dan sekali-kali tidak boleh dibikin kecewa atau berduka.

Untuk sekedar menghibur hati gadis itu, harus dibikin senang hatinya, dan pula memang dia suka kepada Kui Lan. Laki-laki manakah yang tidak akan suka melihat gadis yang demikian cantik manis, dan juga yang harus dikasihani nasibnya?

"Tentu saja, Kui Lan. Aku suka sekali padamu," jawabnya sambil tersenyum manis.

Dengan mata basah Kui Lan memandang kepada pemuda itu, suaranya tergetar penuh haru ketika dia mengajukan pertanyaan penuh mendesak.

"Dan cinta kepadaku?"

Bukan main bingungnya hati Kun Beng. Cinta? Ini adalah urusan lain lagi. Ia tidak berani memastikan apakah dia cinta kepada gadis ini. Apakah suka itu cinta? Ia memang suka dan kasihan, akan tetapi apakah ini boleh disamakan dengan cinta? Ia masih terlalu hijau untuk mengetahui soal-soal pelik ini.

Semenjak Kun Beng telah pandai mempertimbangkan sesuatu, pertunangannya dengan Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li seperti yang telah ditetapkan oleh gurunya membuat dia sering kali termenung mengenangkan wajah Sui Ceng.

Wajah seorang anak perempuan yang lincah, gembira dan juga manis sekali. Wajah ini lambat-laun menjadi bayang-bayang dalam mimpi dan biar pun dia tidak pernah bertemu dengan tunangannya itu, namun dia menggambarkan di dalam angan-angannya seorang gadis yang gagah perkasa, berwajah cantik manis dan setiap gerak-geriknya mencocoki hatinya. Ia berkeras hati menentukan bahwa dia mencintai Sui Ceng, tunangannya itu. Bukankah sudah semestinya begitu?

Namun bagaimana dia harus menjawab gadis yang sedang menderita sangat hebat ini? Wajahnya yang agak pucat, yang kini basah dengan air mata, suara yang mengandung harap dan permohonan itu, ahh, tidak sanggup Kun Beng mengecewakan Kui Lan.

Lagi pula, dia hanyalah seorang pemuda yang pertahanan imannya masih sangat lemah dalam menghadapi rayuan seorang wanita yang demikian cantiknya, yang dari pandang matanya merayu-rayu dan mengharapkan jawaban bahwa dia juga mencintai. Akhirnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Kun Beng mengangguk-anggukkan kepalanya!

Kui Lan mengeluarkan keluh perlahan, suara keluhnya yang menyatakan keharuan dan kebahagiaan hatinya. Dia lantas menubruk pemuda itu dan menyadarkan mukanya pada dada Kun Beng.

Pemuda ini merasa betapa air mata yang hangat menembus baju dan membasahi kulit dadanya. Sampai lama mereka berada dalam keadaan ini dan semenjak saat itu mereka tenggelam dalam gelombang asmara, bagaikan dua orang yang amat berbahaya. Kurang pandai sedikit saja menguasai kemudi, biduk pun akan terguling tertelan buih-buih ombak yang berupa nafsu-nafsu hewani dalam diri setiap manusia!

Sampai dua hari lagi mereka berdua berada di dalam goa itu. Pada hari kedua, di waktu senja, tampak bayangan seorang pemuda bertubuh tegap bermuka gagah berlari-larian naik di pegunungan batu karang itu. Gerakannya amat gesit dan cepat, tanda bahwa dia telah memiliki ilmu ginkang yang luar biasa. Memang, setiap orang ahli silat tinggi yang melihatnya berlari-lari seperti itu akan mengetahui bahwa dia adalah seorang ahli dalam ilmu lari cepat Liok-te Hui-teng (Terbang di Atas Bumi).

Pemuda ini bukan lain adalah Gouw Swi Kiat, putera dari keluarga Gouw yang terbasmi oleh perampok, atau kakak dari Gouw Kui Lan. Wajahnya muram dan berduka, karena pemuda ini telah tiba di dusunnya dan melihat kehancuran keluarganya.

Ketika dia bertanya mengenai adik perempuannya, penduduk di dusunnya tak ada yang dapat memberitahukannya, hanya menyatakan bahwa ketika terjadi keributan, Kui Lan dilarikan oleh kepala perampok yang bersarang di atas pegunungan batu karang itu dan yang tadinya hendak dijadikan isteri oleh kepala rampok.

"Kemudian datanglah seorang pemuda gagah yang membunuh semua perampok itu, dan tentang adikmu, entah bagaimana nasibnya. Kami sekalian tak seorang pun berani naik ke sana," demikian orang-orang dusun menutup penuturannya.

Mendengar ini, Swi Kiat lalu langsung menuju ke gunung itu. Hatinya sedih bukan main, juga geram dan marah. Kalau saja para perampok itu masih hidup, biar pun sampai ke ujung dunia, pasti akan dikejar dan dibunuhnya semua.

Sesudah mencari ke sana ke mari, akhirnya dia pun sampai di luar goa bekas sarang perampok dan lapat-lapat terdengar olehnya ada orang sedang bercakap-cakap. Swi Kiat cepat menyelinap di antara batu-batu karang dan tanpa mengintai ke dalam, dia segera memasang telinga mendengarkan percakapan itu dari luar goa. Alangkah terkejutnya dan herannya ketika dia mengenal suara adiknya!

"Taihiap, sungguh aneh dan amat lucu bila kita renungkan keadaan kita. Aku yang telah menyerahkan jiwa ragaku kepadamu dengan penuh keikhlasan serta cinta kasih, belum pernah mendengar riwayatmu, bahkan belum mengenal betul keadaanmu. Sebaliknya, kau yang sekarang telah dapat dikatakan menjadi suamiku, juga belum mengetahui betul keadaanku…" suara ini terdengar demikian manja dan mesra.

Swi Kiat yang mengenal betul suara adiknya, menjadi ragu-ragu. Betul-betulkah itu Kui Lan yang bicara? Mengapa bicara seperti itu dan bicara kepada siapakah? Karena ingin tahu sekali, Swi Kiat dengan amat hati-hati mengintai dan alangkah herannya ketika dia melihat benar-benar adiknya dengan pakaian seperti petani wanita sedang rebah di atas lantai goa, merebahkan kepalanya di atas pangkuan seorang pemuda yang bukan lain adalah The Kun Beng, sute-nya sendiri!

Swi Kiat mengejap-ngejapkan matanya, merasa seperti dalam sebuah mimpi. Akan tetapi dia mendengar Kun Beng yang menjawab kata-kata adiknya tadi.

"Kui Lan, pertemuan kita memang kehendak Thian. Aku kasihan sekali kepadamu dan aku bersedia mengorbankan nyawa untuk menolong dan membelamu."

"Terima kasih, Taihiap. Kau memang laki-laki yang paling mulia di atas dunia ini."

Kun Beng duduk seperti orang melamun, wajahnya nampak tidak gembira. Berkali-kali dia menghela napas dan seperti tidak merasakan sesuatu sungguh pun tangan kirinya terus mengelus-elus rambut kepala gadis itu.

"Sayang sekali iblis mengganggu kita, Kui Lan, sehingga kita tidak berdaya dibuatnya, sehingga kita lupa... dan kita melakukan pelanggaran yang hebat... aku menyesal sekali."

"Tidak, Taihiap! Tidak demikian, aku tidak merasa menyesal. Aku memang sudah rela menyerahkan jiwa ragaku kepadamu. Hanya kau seorang di dunia ini yang akan dapat menguasai hatiku. Aku... aku girang dan bangga dapat menjadi..."

Sebelum Kui Lan mengatakan ‘istrimu’, lebih dulu Kun beng memutuskan omongannya. Pemuda ini paling takut dan tidak suka mendengar pengakuan Kui Lan sebagai isterinya.

"Kui Lan, aku berdosa besar. Aku telah mempergunakan kesempatan untuk menggangu seorang gadis sebatang kara..."

"Aku tidak sebatang kara, Taihiap. Bukankah ada kau di sini?"

"Maksudku, hidup seorang diri di dunia ini tanpa sanak tanpa saudara, sebatang kara seperti aku pula."

"Salah!" Kui Lan tertawa kecil. "Aku mempunyai rahasia, Taihiap. Sebetulnya aku masih memiliki seorang saudara, yakni kakakku yang menjadi seorang pendekar besar seperti engkau pula. Kakakku adalah murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, seorang..."

"Apa katamu?! Siapakah nama kakakmu itu?" Kun Beng bertanya terkejut sekali dan melompat bangun sehingga Kui Lan juga ikut bangun.

"Mengapa kau sepucat ini, Taihiap? Kakakku adalah Gouw Swi Kiat."

"Aduhai, Kui Lan. Kenapa tidak kau katakan hal ini dulu-dulu kepadaku? Celaka...! Kukira kau…"

"Kau kira apa, Taihiap?" Kui Lan benar-benar gugup dan bingung.

"Kukira kau seorang gadis dusun biasa saja yang bernasib malang dan... dan... kalau aku tahu bahwa kau adalah adik dari suheng-ku, aku takkan... takkan berani..."

"Jadi kau ini sute dari Kiat-ko? Dia tidak pernah menceritakan perihal dirimu."

"Memang suhu melarang kami berbicara mengenai keadaan suhu dan murid-muridnya. Aduh, Kui Lan, bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Kau adik dari Gouw-suheng, dan aku... aku telah..."

Tiba-tiba terdengar suara dari luar goa dan Kun Beng cepat melompat. Akan tetapi dia didahului oleh masuknya seorang pemuda yang datang-datang terus memaki-maki.

"Kui Lan, kau gadis tak tahu malu! Kau mencemarkan nama keluarga kita! Sute, kau pun seorang berjiwa rendah, kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu!"

Kalau saja yang muncul itu seorang siluman atau iblis yang bermuka mengerikan, belum tentu mereka akan sekaget itu. Apa lagi Kun Beng yang menjadi pucat dan dengan suara perlahan dia hanya bisa berkata, "Suheng..."

"Kiat-ko…," keluh Kui Lan yang sudah langsung mencucurkan air mata melihat kakaknya itu, "Mengapa kau baru datang? Ayah dan ibu..."

Wajah Swi Kiat menjadi semakin muram. "Ayah dan ibu dibunuh orang dan kau bahkan main gila dengan seorang laki-laki. Tak malukah engkau?"

"Kiat-ko, jangan berkata demikian keji! Ayah ibu dibunuh perampok dan para perampok itu telah terbalas oleh The-Taihiap ini. Dan aku... aku cinta padanya. Kiat-ko, kami... kami saling mencinta... harap kau ampunkan kami..."

Melihat adiknya ini, kemarahan hati Swi Kiat mereda. Ia pun menarik napas panjang, lalu menghadapi Kun Beng dengan muka keras.

"Sute, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Kau harus menikah dengan adikku dan kau harus segera memberi laporan pada suhu, membatalkan pertunanganmu dengan Bun Sui Ceng!"

Muka Kun Beng menjadi pucat dan tubuhnya gemetar.

"Suheng, tak kusangka bahwa Kui Lan adalah adikmu... Tak mungkin aku membatalkan pertunangan itu, suhu akan marah sekali."

"Apa kau bilang? Tidak peduli suhu marah, namun kau harus berani menghadapi akibat perbuatanmu sendiri. Kau harus menjadi suami Kui Lan!"

Kun Beng menggeleng kepalanya. "Tidak ada niatku untuk menjadi suaminya, Suheng. Memang kami telah lupa dan terbujuk iblis, akan tetapi..."

"Apa? Kau tidak cinta padanya?"

"Aku... terus terang saja aku suka dan kasihan sekali kepada adikmu. Agaknya karena nasibnya yang malang, dan karena tadinya aku sendiri tidak tahu bahwa engkau adalah kakaknya, aku... aku merasa kasihan dan dia... dia menderita sakit, kurawat… dan... dan keadaan yang sunyi ini, ditambah cinta kasih adikmu kepadaku, membuat aku lupa..."

"Keparat! Lekas kau katakan bahwa kau bersedia membatalkan pertunanganmu dengan Bun Sui Ceng dan bersedia menikah dengan Kui Lan. Kalau tidak, aku akan lupa bahwa kau adalah sute-ku dan aku akan menghabiskan perhitungan ini dengan senjata!"

Swi Kiat yang berwatak keras menjadi merah mukanya dan dia sudah mencabut keluar senjatanya, yakni sebuah kipas yang amat lihai kalau dimainkan oleh murid Pak-lo-sian Siang-Koan Hai ini.

"Apa boleh buat, Suheng. Aku... aku tidak dapat melakukan sesuatu yang berlawanan dengan suara hati. Aku malu terhadap suhu, dan pula... aku tak ingin menjadi suami Kui Lan...”

"Keparat pengecut!"

Swi Kiat cepat menyerang sute-nya dengan kipas di tangannya. Serangan ini ditujukan ke arah ulu hati Kun Beng, sebuah serangan yang dapat mendatangkan maut apa bila mengenai sasaran.

Kipas ini pada bagian gagang dan rangkanya terbuat dari pada gading gajah, sedangkan permukaannya terbuat dari kulit harimau, tidak saja dapat dipergunakan untuk menampar dan memukul, juga amat berbahaya karena ujung-ujung gagangnya dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah.

Kun Beng cepat mengelak sambil berkata, "Suheng, jangan kau serang aku! Aku sudah menerima salah dan berdosa, janganlah menambah dosaku dengan mengangkat tangan melawanmu..."

Akan tetapi Swi Kiat tidak peduli, bahkan mendesak lebih hebat lagi.

"Kiat-ko... jangan kau serang dia...!" Kui Lan menjerit sambil menangis.

Gadis ini hatinya hancur ketika tadi mendengar penolakan Kun Beng. Dari sikap pemuda itu, kini tahulah ia bahwa sebetulnya Kun Beng sudah bertunangan, dan bahwa pemuda itu sebenarnya tidak cinta kepadanya, hanya suka dan kasihan. Rasa suka yang timbul dikarenakan hati kasihan, dan bahwa perbuatan Kun Beng terhadap dirinya lebih banyak dikuasai oleh nafsu semata, bukan oleh cinta kasih yang murni.

Hatinya perih sekali dan juga sakit, akan tetapi sekarang melihat Kun Beng diserang oleh kakaknya, ia menjadi khawatir. Betapa pun juga, ia masih cinta sekali kepada Kun Beng dan cintanya itu tidak akan mudah hilang begitu saja.

Seruan Kui Lan menambah kemarahan di hati Swi Kiat yang menyerang lebih hebat lagi dengan gerak tipu Khai-san Coan-hoa (Buka Kipas Menembus Bunga) dan dilanjutkan dengan gerak tipu Khai-san Koan-jit (Buka Kipas Menutup Matahari). Inilah tipu-tipu yang amat hebat dari ilmu kipas Im-yang San-hoat.

Melihat serangan-serangan ini, Kun Beng terkejut sekali karena maklum bahwa kakak seperguruannya bukan main-main lagi, namun menyerang untuk mengarah nyawanya!

"Suheng, ingatlah akan hubungan kita, ingatlah Suhu!" Kun Beng berseru kembali sambil sibuk mengelak ke sana ke mari atas serangan-serangan maut yang sedang dilancarkan oleh suheng-nya.

"Mampuslah, bedebah!" Swi Kiat maju mendesaknya.

Oleh karena cepatnya Swi Kiat menyerang, kipas maut pada tangannya sudah berhasil menyerempet pundak kiri Kun Beng yang lalu mengeluh sambil terhuyung ke belakang. Mukanya pucat dan dia telah menderita luka cukup parah di dekat sambungan tulang.

"Kiat-ko...! Jangan bunuh dia...!" Kui Lan menubruk kakaknya.

Pada saat itu, Kun beng sudah naik darah dan sambil meringis kesakitan pemuda ini juga telah mencabut senjatanya, yakni tombak pendek. Dengan senjata ini dia lalu membalas serangan suheng-nya, karena dia merasa telah dilukai.

Tusukan tombaknya ke arah dada itu dielakkan oleh Swi Kiat. Akan tetapi karena pada saat itu Kui Lan memberot bajunya dari belakang, gerakkannya terhalang dan tombak di tangan Kun Beng menyerempet pinggir lengannya.

"Brett!" baju itu robek sedikit dan kulit lengan terluka, walau pun tidak parah namun cukup banyak mengeluarkan darah.

"Kiat-ko, sudahilah pertempuran ini...! The-taihiap, cukuplah... kasihanilah aku...!" Kui Lan menangis dan memeluk kakaknya.

Tentu saja Swi Kiat menjadi terhalang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Beng untuk melompat keluar dari goa dan melarikan diri. Melihat hal ini, Kui Lan menjatuhkan diri di atas lantai goa dan menangis tersedu-sedu.

Tadinya Swi Kiat hendak mengejar bayangan Kun beng, akan tetapi melihat keadaan adiknya dia tidak tega meninggalkannya dan dia belutut di depan adiknya dan mendekap kepalanya.

"Kiat-ko..., ayah dan ibu..." Kui Lan terisak-isak.

Mengingat akan ayah bundanya, tak terasa Swi Kiat juga mencucurkan air mata. Kakak beradik itu menangisi nasib mereka dan kematian orang tuanya, dan keduanya melirik keluar goa di mana nampak bayangan Kun Beng berlari-larian cepat sekali, merupakan bayangan hitam di kala senja itu, seperti seekor kalong yang besar sekali terbang pergi.

"Kiat-ko, dia sudah pergi..." kata-kata ini merupakan ratapan hatinya yang merasa perih sekali.

"Aku akan mengejarnya," kata Swi Kiat.

"Kiat-ko, jangan kau bunuh dia. Betapa pun juga, aku cinta padanya, aku rela berkorban bagaimana juga untuknya. Aku akan setia sampai mati kepada The Kun Beng..."

Swi Kiat sudah mengerti bahwa hubungan antara adiknya dan sute-nya sudah demikian rupa sehingga mereka harus menjadi suami isteri, baik dengan cara kasar mau pun halus dia harus mengusahakan hal itu.

"Aku akan mengejarnya, Kui Lan. Jangan khawatir, aku tidak akan membunuhnya. Andai kata aku bermaksud membunuhnya juga, belum tentu aku mampu sebab kepandaiannya tidak kalah oleh kepandaianku. Aku akan mengusahakan agar dia suka kembali padamu, suka menjadi suamimu."

Setelah berkata demikian, Swi Kiat melepaskan pelukannya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat keluar, berlari mengejar Kun Beng yang sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.

Kui Lan yang ditinggal seorang diri di dalam goa menangis terguguk. Ia tidak tahu bahwa semenjak tadi, semenjak terjadi pertempuran antara Kun Beng dan Swi Kiat, terdapat bayangan orang lain yang mengintai dan mendengarkan semua peristiwa itu. Jangankan Kui Lan yang kepandaiannya belum cukup tinggi sehingga pendengarannya tidak dapat menangkap gerakan orang yang amat ringan itu, bahkan Kun Beng dan Swi Kiat yang mencurahkan seluruh perhatian untuk pertempuran itu, tidak mengetahui akan adanya bayangan ini.

Bukan main kagetnya hati Kui Lan ketika secara tiba-tiba di belakangnya berdiri seorang pemuda yang yang berkepala botak dan berpakaian mewah sekali. Orang itu tersenyum kepadanya dan sepasang matanya memandang penuh kagum sehingga Kui Lan merasa seakan-akan orang muda itu hendak menelannya bulat-bulat dengan sinar matanya.

"Siapa kau...?" tegur Kui Lan kaget sambil melompat bangun.

Orang itu masih muda, berwajah cukup menarik, hanya kepalanya saja botak. Pakaian yang dikenakannya sangat indah dan mudah dilihat bahwa dia seorang bangsawan, baik dari gerak-geriknya mau pun pakaiannya, terutama dari pakaiannya, karena bangsawan mana pun juga kalau memakai pakaian butut akan lenyap sifat kebangsawannya.

“Aku bernama An Kong, seorang pangeran," pemuda itu berkata sambil menjura hormat, akan tetapi mulutnya tersenyum dan matanya melirik ceriwis. "Nona Kui Lan, aku tanpa sengaja telah mendengar semua urusanmu. Kau harus dikasihani, nasibmu buruk sekali. Kau telah dikhianati oleh pemuda keparat itu sehingga kini kakakmu bermusuhan dengan sute-nya sendiri. Orang bernasib malang dan cantik jelita sepertimu ini, siapakah yang tidak menaruh hati kasihan? Hanya orang jahat seperti The Kun Beng itu saja yang tega melukai hatimu. Kau harus ditolong, maka ikutlah aku, nona. Kau akan mengalami hidup bahagia di istanaku. Jangan kau pedulikan lagi pemuda keparat itu dan kakakmu yang berhati keras. Marilah!" Sambil berkata demikian, Pangeran An Kong kemudian mengulur tangan menangkap pergelangan tangan Kui Lan.

Kui Lan cepat menarik tangannya, akan tetapi terlambat. Pemuda itu gerakannya cepat sekali dan sebelum dia dapat memberontak, dia sudah diangkat dan dipondong! Kui Lan terkejut dan menjerit, akan tetapi sebuah totokan yang tepat sudah membuat dia tidak kuasa lagi membuka mulut.

Bagaimana pemuda itu dapat tiba di situ? Sebetulnya, karena Swi Kiat membantu para pejuang rakyat dan membebaskan mereka dari kepungan, pihak pemerintah lalu menjadi marah sekali. An Kong adalah putera dari An Lu Kui, dan pemuda ini secara kebetulan dapat melihat Swi Kiat.

Karena dia pun sedang membantu usaha ayahnya yang sedang berlomba mencari jasa dan kedudukan di kerajaan, diam-diam dia lalu mengikuti perjalanan Swi Kiat. Hanya dia saja yang sanggup melakukan hal ini, karena An Kong adalah murid dari Jeng-kin-Jiu Kak Thong Taisu dan dia memiliki kepandaian tinggi.

Diam-diam dia mengikuti jejak Swi Kiat, tapi tidak berani menurunkan tangan. Ia maklum akan kelihaian murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Ia hendak mencari tahu lebih dahulu di mana tempat tinggal pemuda itu sehingga dia dapat membawa kawan-kawannya untuk menangkapnya.

Demikianlah, dia mengikuti Swi Kiat terus hingga sampai di pegunungan itu dan secara kebetulan sekali dia melihat pertempuran antara Kun Beng dan Swi Kiat. An Kong adalah seorang pemuda mata keranjang, maka begitu melihat Kui Lan, hatinya menjadi tertarik sekali. Apa lagi dia mendapat kenyataan bahwa Kui Lan adalah adik Gouw Swi Kiat, maka tentu saja hal ini sangat baik sekali baginya. Ia dapat menangkap Kui Lan, selain untuk memenuhi hasrat hatinya, juga hal ini berarti sebuah pukulan hebat bagi Swi Kiat!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Kui Lan dibawa ke istana oleh An Kong dan hampir saja Kui Lan menjadi korban keganasan dan kekejian bangsawan rendah ini kalau saja tidak datang Lu Kwan Cu yang menolongnya.

Semua itu diceritakan oleh Kui Lan kepada Kwan Cu yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Tentu saja cerita Kui Lan tidak sejelas yang di atas, hanya terbatas pada apa yang diketahui oleh gadis itu. Namun Kwan Cu sudah dapat menduga apa yang terjadi seluruhnya.

********************
Kwan Cu menarik napas panjang ketika dia mendengar penuturan itu.

"Kasihan sekali kau, Kui Lan. Dan terlalu Kun Beng. Tidak kusangka dia akan tersesat sejauh itu."

"Dia tidak tersesat, semua yang sudah terjadi adalah kesalahanku. Aku sudah setengah menduga bahwa dia tidak cinta kepadaku, akan tetapi cinta kasih membuat aku buta dan akulah yang menyeretnya sehingga dia melakukan semua hal atas diriku sebagaimana yang kukehendaki."

"Begitukah?" tanya Kwan Cu.

Diam-diam pemuda itu berdebar hatinya. Bukankah Kun Beng itu tunangan Sui Ceng? Dan sekarang Kun Beng melakukan perbuatan itu kepada Kui Lan, berarti Kun Beng tak berharga lagi menjadi calon suami Sui Ceng.

"Memang akulah yang bersalah. The-taihiap tidak berdosa, dan aku tidak menyesal. Biar pun dia tidak mau menjadi suamiku, namun aku tetap akan bersetia kepadanya sampai mati."

Terharu hati Kwan Cu mendengar ucapan ini. Dia mengelus-elus kepala Kui Lan seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya.

"Kau anak baik, Kui Lan. Sayang sekali kau terlalu lemah iman, tidak mampu menguasai hati menolak godaan iblis yang berupa napsu. Akan tetapi, hal itu pun bukan salahmu karena pada waktu itu, kau baru saja menderita tekanan batin yang hebat bukan main sehingga imanmu menjadi lemah."

Dengan mata basah Kui Lan lalu berkata, "Taihiap, sukakah kau menolongku mencari mereka itu dan mendamaikan mereka? Apa bila mereka sampai saling bermusuhan, baik kakakku atau The-Taihiap yang tewas, aku akan kehilangan salah satu orang yang paling kucinta dan kematian seorang di antara mereka akan membawa nyawaku pula."

Kwan Cu mengangguk-angguk. "Baiklah, Kui Lan. Mereka itu pun sahabat-sahabatku, apa bila aku dapat menemukan mereka, tentu akan kuusahakan sedapat mungkin untuk mencegah mereka saling membunuh."

"Terima kasih, Lu-taihiap, terima kasih. Budimu tak akan kulupakan selama hidupku."

Kwan Cu tersenyum. "Kau memang anak baik dan perasaanmu halus sekali. Aku pun seorang yang hidup sebatang kara, biarlah kau kuanggap adikku sendiri."

Bukan main girangnya hati Kui Lan mendengar ini. "Terima kasih kepada Thian bahwa hatimu sudah tergerak untuk menolongku, Koko yang baik. Tadinya aku sudah bingung sekali ke mana aku harus pergi dalam keadaan seorang diri ini, akan tetapi setelah kau mengangkatku sebagai adikmu, aku tak khawatir lagi karena kau tentu akan membawaku ke mana pun kau pergi."

Kwan Cu tertegun. Dia berdiri seperti patung tak mengeluarkan kata-kata lagi. Gadis ini cerdik sekali dan dapat mempergunakan kesempatan dengan amat cepatnya. Hal itu tak pernah disangka-sangkanya dan dia merasa betul, sebagai adiknya, Kui Lan tentu akan ikut dengan dia, atau setidaknya dia harus dapat mencarikan tempat yang layak bagi Kui Lan!

"Kui Lan, kau seorang gadis dan kepandaianmu juga belum cukup, mana bisa melakukan perjalanan jauh yang masih tidak ada ketentuan tujuannya?"

"Dengan kau di sampingku, aku takut apakah?" kata Kui Lan sambil tersenyum.

"Tentu saja aku akan selalu melindungimu, akan tetapi kalau kita melakukan perantauan bersama, akan menimbulkan tiga macam kerugian."

"Kerugian? Coba sebutkan apa itu!" Kui Lan berkata dengan muka cemberut, akan tetapi bahkan menambah kemanisannya.

"Pertama, akan mendatangkan kesan buruk karena orang-orang akan menganggap tidak pantas seorang gadis melakukan perantauan bersama seorang pemuda."

"He, bukankah kau ini kakakku sendiri? Apanya yang tidak pantas bagi seorang gadis melakukan perjalanan bersama kakaknya?"

"Kui Lan, pandangan mata dan pendengaran telinga orang-orang kang-ouw amat tajam, mereka akan tahu bahwa kita bukanlah saudara kandung dan tentu akan timbul dugaan yang tidak-tidak yang kesemuanya hanya akan merusak nama baik kita. Hal yang kedua, kalau kau ikut aku, perjalanan tak dapat dilakukan cepat-cepat dan bagaimana aku dapat menyusul mereka? Ke tiga, andai kata tersusul, dan kau berada di dekatku, tentu mereka akan naik darah karena kau yang menjadi pokok pertentangan mereka. Maka lebih baik kau jangan terlihat oleh mereka."

Menghadapi alasan-alasan yang amat kuat ini, Kui Lan hanya bisa menghela napas dan akhirnya mengangkat pundak. Gadis ini lalu berkata tanpa berdaya,

"Habis, apakah kau mau meninggalkan aku seorang diri di hutan ini?"

"Tentu saja tidak, adik Kui Lan. Aku mengenal sebuah tempat yang amat cocok bagimu, di mana kau boleh tinggal dengan hati tenteram dan aku pun bisa meninggalkan engkau dengan hati tenang pula. Kau boleh tinggal di tempat itu dengan aman sampai aku dapat menemukan Swi Kiat dan Kun Beng."

"Di mana tempat itu?" Kui Lan ragu-ragu karena pada dewasa itu agaknya tidak mungkin mendapat tempat yang aman bagi seorang gadis muda seperti dia, yang sudah banyak mengalami ganguan-ganguan dari orang jahat.

"Di dusun Kau-Ling di sebelah utara kota Tan-Shan ada sebuah Kwan-im-bio (Kelenteng Dewi Kwan Im) yang amat besar dan para nikouw (pendeta wanita) yang berada di situ terkenal sebagai pendeta-pendeta yang saleh beribadah. Kau boleh tinggal di sana untuk sementara waktu dengan hati aman dan tentram."

Kui Lan mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya. Maka, dua orang muda ini pun berangkatlah menuju ke kota Tan-shan yang letaknya di sebelah timur laut dari kota raja.

Menurut pendapat Kui Lan, mereka telah melakukan perjalanan cepat sekali sebab gadis ini di sepanjang jalan telah mempergunakan ilmu lari cepat yang pernah dia pelajari dari ayahnya. Akan tetapi tidak demikian menurut anggapan Kwan Cu. Kalau saja pemuda ini tidak melakukan perjalanan bersama Kui Lan, dalam waktu satu hari saja dia tentu akan sampai ke dusun Kau-ling. Sekarang bersama Kui Lan, dalam waktu lima hari barulah mereka tiba di dusun itu dan langsung menuju Kwan-im-bio.

"Taihiap datang...!" seru beberapa orang nikouw yang kebetulan berada di pekarangan depan kuil itu untuk melakukan tugas menyapu dan lain-lain.

Agaknya mereka merasa gembira sekali melihat kedatangan pemuda ini dan tahulah Kui Lan bahwa Kwan Cu telah dikenal baik oleh semua nikouw yang sudah tua-tua itu.

"Selamat datang, Taihiap. Kebetulan sekali Taihiap berkenan mengunjungi tempat kami karena kedatangan Taihiap memang sedang diperlukan sekali," kata seorang nikouw tua yang pekerjaannya sebagai nikouw penyambut tamu.

"Ada terjadi apakah, suthai? Dan di manakah Ngo Lian Suthai? Teecu mohon bertemu dengan beliau," kata Kwan Cu.

"Ngo Lian Suthai terluka oleh Luan-ho Oei-Liong (Naga Kuning dari Sungai Luan) dan keadaannya payah."

Kwan Cu terkejut bukan main. "Suthai maksudkan Luan-ho Oei-Liong si bajak laut yang merajalela di sungai Luan-ho?"

Kwan Cu memang pernah mendengar nama ini dan biar pun dia belum pernah bertemu dengan orangnya, akan tetapi sudah lama dia mempunyai niat untuk memberi hajaran kepada bajak yang dikabarkan orang amat ganas ini.

"Benar dia, Taihiap."

"Akan tetapi, kenapa demikian? Apakah Ngo Lian Suthai melakukan pelayaran di Sungai Luan?"

Nikouw tua itu menggeleng kepalanya yang gundul halus. "Marilah kita duduk di ruang tamu, Taihiap. Di sana kita akan bicara dengan leluasa."

"Perkenankan teecu (murid) menjumpai Ngo Lian Suthai sendiri supaya teecu mendapat keterangan lebih jelas."

"Menyesal sekali, Taihiap. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Ngo Lian Suthai tidak boleh banyak bicara dan bergerak. Beliau harus istirahat. Tentu saja kau boleh bertemu dengan Ngo Lian Suthai, akan tetapi tidak baik kalau mengajaknya bercakap-cakap. Hal itu akan mengganggu kesehatannya."

Terpaksa Kwan Cu membenarkan pendapat ini dan dengan menggandeng tangan Kui Lan, dia mengikuti nikouw itu ke ruang tamu.

"Siapakah Siocia ini, Taihiap?" Nikouw tua itu bertanya sambil memandang kepada Kui Lan dengan sepasang matanya yang bening.

"Dia ini adalah Gouw Kui Lan, yaitu adik angkatku. Justru kedatanganku ini untuk minta pertolongan Ngo Lian Suthai supaya suka menerima adikku sementara waktu tinggal di sini."

"Tentu saja boleh, Taihiap. Jangan khawatir, Nona, engkau boleh tinggal di sini seperti di dalam rumahmu sendiri."

"Terima kasih, Suthai. Sambil menunggu kedatangan saudaraku, tentu saja aku akan ikut membantu pekerjaan-pekerjaan yang dapat kulakukan di dalam bio ini," berkata Kui Lan sambil memandang ke sekeliling.

Tempat itu memang menyenangkan sekali. Selain bersih, juga dikelilingi oleh tanaman bunga, nampaknya aman dan penuh kedamaian.

"Sekarang ceritakanlah, Suthai. Apa yang terjadi dengan Ngo Lian Suthai?"

Nikouw tua itu lalu menuturkan apa yang telah terjadi lima hari yang lalu sebelum Kwan Cu dan Kui Lan tiba di depan kuil itu.

Ngo Lian Suthai adalah seorang nikouw berusia enam puluh tahun yang menjadi ketua dari Kwan-im-bio. Selain seseorang ahli batin yang patuh akan semua isi kitab dari Dewi Kwan Im, juga Ngo Lian Suthai memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi, karena dia adalah murid dari Bu-tong-pai.

Lebih dari dua puluh tahun Ngo Lian Suthai memimpin para nikouw di Kwan-im-bio itu dan selama itu, kuil ini menjadi semakin terkenal dan mendapatkan banyak penyumbang. Kuil itu lalu dibangun sehingga merupakan kuil terbesar di daerah utara. Selain perabot-perabot yang berada di dalam kuil terdiri dari barang-barang berharga sumbangan para penderma, juga di situ terdapat patung-patung yang sukar didapat, di antaranya terdapat sebuah patung setengah badan yang amat besar.

Tinggi patung itu sama dengan tinggi seorang manusia biasa akan tetapi karena hanya setengah badan, maka ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari ukuran badan manusia. Patung itu terbuat dari pada perunggu dan indah sekali. Hanya bentuknya menyeramkan sekali, karena biar pun dia merupakan sebuah patung pendeta laki-laki yang berpakaian sebagai pendeta biasa, namun pada kepalanya terdapat sepasang tanduk seperti tanduk kerbau dan mulutnya bercaling seperti mulut babi!

Jarang ada orang yang dapat mengerti apakah arti patung ini dan patung dewa atau iblis manakah gerangan. Akan tetapi Ngo Lian Suthai yang mendapatkan serta membawa patung itu dapat menceritakan dengan jelas.

Patung ini dibuat oleh seorang pendeta Budha yang pandai. Dan arti dari pada patung ini adalah untuk menggambarkan betapa pada waktu itu banyak terdapat orang-orang yang mengaku pendeta dan berpakaian seperti pendeta, namun sebenarnya masih memiliki akhlak yang bejat.

Oleh karena itu, untuk menyindir bahwa kepala pendeta macam itu masih terisi pikiran-pikiran busuk, maka kepala patung ditumbuhi sepasang tanduk, dan karena banyak pula di antara pendeta itu mengeluarkan kata-kata yang tidak selayaknya seorang suci, pada mulut patung itu dipasangi caling!

Jadi singkatnya, patung itu adalah untuk memperingatkan para pendeta atau orang yang menganut penghidupan suci, supaya sesudah digunduli dan jubahnya merupakan jubah pendeta, isi hati dan pikirannya tidak boleh kotor lagi.

Patung yang sangat indah dan sukar didapat ini oleh Ngo Lian Suthai diletakkan di ruang tengah sehingga setiap anak muridnya dapat melihatnya setiap hari, merupakan patung peringatan yang mengerikan hati bagi setiap muridnya.

Pada suatu hari, lima hari yang lalu sebelum Kwan Cu datang, di dalam bio kedatangan seorang tamu, seorang laki-laki tinggi besar bermuka kuning yang membawa golok besar terselip di punggungnya. Laki-laki itu sikapnya kasar sekali, akan tetapi nikouw itu tetap menyambutnya, karena mengira bahwa orang itu hendak bersembahyang minta berkah dari Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im, yakni Dewi Welas Asih).

"Di mana Ngo Lian Suthai? Aku hendak berbicara dengan dia!" Laki-laki tinggi besar itu berkata dengan kasar dan matanya jelalatan ke dalam.

"Congsu siapakah dan ada keperluan apa hendak bertemu dengan Ngo Lian Suthai?" tanya nikouw tua penyambut itu.

"Beritahukan bahwa Luan-ho Oei-Liong datang hendak bertemu," kata laki-laki itu.

Mendengar nama kepala bajak ini, terkejutlah nikouw tua itu.

"Baik… baik, silahkan Congsu duduk menunggu sebentar, pinni (aku) akan melaporkan kepada Ngo Lian Suthai," katanya dan cepat-cepat masuk ke belakang utuk melaporkan hal itu kepada ketuanya.

Akan tetapi Luan-ho Oei-Liong tidak sabar lagi. Dia segera bertindak masuk ke ruangan tengah di mana terdapat patung besar dari perunggu itu. Sambil tersenyum puas dia lalu mengangkat patung itu dengan kedua tangannya, terus diangkat keluar dan diletakkan di ruang tamu.

Semua nikouw yang melihat itu menjadi gempar. Mereka tidak berani mencegah, apa lagi sesudah melihat betapa laki-laki kasar itu mengangkat dan memindahkan patung dengan mudahnya. Patung itu beratnya hampir seribu kati dan selain Ngo Lian Suthai, tidak ada yang kuat mengangkatnya.

Tak lama kemudian, dari dalam keluarlah seorang nenek yang berpakaian pendeta serba putih, memegang sebatang tongkat hitam yang panjang dan kecil. Gerak-gerik nenek ini lemah-lembut, begitu pula wajahnya membayangkan sifat yang mulia, akan tetapi kedua matanya amat berpengaruh.

Pada waktu dia melirik ke arah patung perunggu yang sudah berdiri di ruang tamu, dia menggerakkan alisnya yang sudah hampir putih itu dan memandang Luan-ho Oei-liong.

"Congsu, pinni telah keluar, ceritakan apakah maksud kedatanganmu dan mengapa pula kau memindahkan patung itu?"

Melihat sikap yang halus serta sinar mata yang berpengaruh itu, Luan-ho Oei-liong yang bermuka kuning berubah sikapnya, tidak sekasar tadi dan dia menjura memberi hormat.

"Ngo Lian Suthai, sudah lama siauwte mendengar namamu yang besar sebagai seorang gagah yang berhati mulia dan pemurah. Oleh karena itu, hari ini aku sengaja datang ke sini untuk memberi hormat dan untuk mohon pertolonganmu."

"Pertolongan apakah yang dapat diberikan oleh pinni yang tua dan lemah ini kepada Congsu yang muda dan gagah perkasa?"

"Hanya sedikit pertolongan saja, Suthai, yaitu harap Suthai memberikan patung perunggu ini kepadaku, atau kalau Suthai berkeberatan aku bersedia membelinya," jawab kepala bajak itu sambil menunjuk ke arah patung yang berdiri di ruang itu.

Ngo Lian Suthai nampak heran luar biasa. "Patung ini? Untuk apakah kau membutuhkan patung ini, Congsu?"

"Terus terang saja, Ngo Lian Suthai, patung ini hendak kupergunakan untuk tumbal dan jimat penunggu perahu sehingga pengaruh jahat akan merasa takut untuk mengganggu kami. Pendeknya, patung ini akan kami sembah sebagai juru pelindung keselamatan."

Ngo Lian Suthai mengerutkan keningnya. "Salah sekali, Congsu. Patung ini merupakan lambang kejahatan dan kepalsuan, tidak seharusnya dipuja-puja. Maaf, untuk keperluan itu terpaksa pinni tidak dapat memberikan patung ini kepadamu."

Berubah air muka kepala bajak itu mendengar ucapan ini, akan tetapi dia masih tetap tersenyum menyeringai.

"Sebetulnya keinginan memiliki patung ini adalah atas desakan adikku perempuan Sin-jiu Siang-kiam (Sepasang Pedang Tangan Sakti) yang bernama Oei Hwa. Dialah yang terus merasa khawatir akan mara bahaya yang dapat menimpa kami, maka mendesak agar supaya aku datang ke sini untuk minta atau membeli patung ini, Suthai. Harap kau orang tua suka mengalah dan menolong kami."

Ngo Lian Suthai tentu saja sudah mendengar nama Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa, nama seorang gadis cantik jelita akan tetapi berwatak seperti siluman, yang kabarnya memiliki kepandaian amat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari Luan-ho Oei-liong, kakaknya. Maka ucapan pemimpin bajak tadi boleh dibilang di samping hendak memperkenalkan adiknya, juga merupakan ancaman halus.

Akan tetapi pendeta wanita itu sama sekali tidak merasa gentar. Karena hatinya sudah bersih dari perbuatan menyeleweng, maka rasa takut pun lenyap dari lubuk hatinya.

"Menyesal sekali, Congsu. Patung ini buatan sucouw (kakek guru) yang membuat patung ini dengan maksud untuk memperingatkan kepada mereka yang menyeleweng dari pada garis-garis kehidupan manusia sesuai kehendak Thian. Pinni sangat membutuhkan untuk memberi peringatan kepada murid pinni khususnya dan masyarakat umumnya."

"Ngo Lian Suthai, kalau begitu percuma saja kau berjubah pendeta dan memakai nama sebagai orang suci!" mendadak Luan-ho Oei-liong berkata marah. Kesabarannya sudah habis.

"Dengan alasan yang mana kau dapat berkata begitu, Congsu?" Ngo Lian Suthai masih bersikap tenang dan sabar, bibirnya pun tetap tersenyum ramah.

"Kau berpura-pura menjadi orang suci, akan tetapi masih pelit dan kikir. Jangankan untuk menolong orang lain, memberikan patung yang bahkan akan kubeli saja kau tidak rela! Mana sifat-sifat kesucianmu?"

Ngo Lian Suthai menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sungguh-sungguh.

"Congsu, tidak ada manusia yang benar-benar suci, kalau pun ada yang mengaku suci, itu hanya pura-pura dan bohong belaka. Pinni sendiri hanya seorang manusia berdosa yang berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhkan segala macam nafsu keduniaan. Memberi itu sifatnya bermacam-macam, begitu pula dengan menolong. Pemberian atau pertolongan yang mendatangkan keburukan, apa lagi bisa mendatangkan kejahatan dan penyelewengan, bukanlah pertolongan atau pemberian lagi namanya. Patung ini adalah lambang kejahatan, seharusnya dianggap sebagai peringatan, bukan untuk dipuja-puja. Apa bila pinni memberikan kepadamu untuk kau puja-puja, hal itu berarti bahwa pinni justru telah menolong kau berbuat sesat. Dan ini adalah dosa besar, Congsu. Kewajiban pinni bukan menolong manusia menjadi sesat, sebaliknya bahkan mengulur tangan untuk mencegah mereka berbuat keliru dalam hidupnya. Sekali lagi menyesal sekali, pinni tidak dapat memberikan patung ini."

"Meski dibeli dengan harga mahal?" Luan-ho Oei-liong mendesak sambil bangkit berdiri dari bangkunya.

"Patung ini hanya dapat dibeli dengan budi pekerti yang baik dan kesadaran. Apa bila Congsu sudah sadar betul dan dapat memperbedakan antara baik dan buruk, mengejar kebajikan dan meninggalkan kejahatan, barulah patung ini layak kau bawa agar supaya kau selalu ingat betapa buruknya kejahatan dan kepalsuan seperti digambarkan pada diri patung ini."

Merah sekali wajah kepala bajak yang berkulit muka kuning itu. Dia mencabut goloknya dan membentak,

"Nikouw tua bangka yang sombong dan bosan hidup. Kalau begitu hendak kubeli dengan golokku!"

Setelah berkata demikian, Luan-ho Oei-liong segera menyerang nenek tua itu dengan goloknya, disabetnya ke arah leher! Memang kepala bajak ini sudah mendengar bahwa nenek itu memiliki kepandaian silat yang lihai, maka dia mendahului menyerangnya.

"Omitohud, untuk membasmi kejahatan, terpaksa pinni melayanimu, Luan-ho Oei-liong !" kata nikouw tua itu yang cepat mengangkat tongkatnya menangkis sambaran golok itu.

Ngo Lian Suthai adalah ahli lweekang, akan tetapi ketika ia menangkis sambaran golok, ia merasa tanggannya gemetar. Ia telah tua sekali dan selama menjadi kepala nikouw di Kwan-im-bio, ia tidak pernah bertempur lagi dan hanya melatih ilmu silat untuk menjaga kesehatan jasmani saja. Maka tenaganya banyak berkurang, apa lagi tenaga dari bajak laut itu memang besar sekali.

Para nikouw yang berada di situ tak seorang pun berani maju karena mereka maklum bahwa kepandaian bajak laut itu hebat sekali, jauh melebihi kepandaian mereka yang tak seberapa. Akan tetapi Ngo Lian Suthai memang patut dipuji. Biar pun sudah amat tua, ia masih gesit dan tongkatnya merupakan benteng pertahanan yang sukar ditembus.

Kepala bajak itu menjadi penasaran dan gemas. Goloknya segera diputar semakin cepat dan kali ini serangan dilakukan sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Kalau saja pertempuran itu terjadi pada tiga puluh tahun yang lalu, belum tentu Luan-ho Oei-liong dapat menahan nikouw ini. Akan tetapi sekarang nikouw itu sudah kehabisan tenaga dan hanya dapat bertarung sampai tiga puluh jurus. Ia mulai lemah dan setiap kali menangkis serangan, tongkatnya terpental ke belakang.

Akhirnya, kepala bajak laut itu berhasil membacok ke arah pundak kiri, akan tetapi dia membalikkan goloknya sehingga bagian yang tidak tajam yang memukul pundak. Namun pukulan itu bahkan lebih hebat akibatnya, karena tidak saja meremukkan tulang pundak nikouw itu, tetapi juga mendatangkan luka di dalam dada! Ngo Lian Suthai terguling dan pingsan.

"Ha-ha-ha, Ngo Lian Suthai, kau mencari penyakit sendiri, baiknya aku Luan-ho Oei-liong bukanlah orang yang kejam. Kalau aku menggunakan mata golokku, bukankah tubuhmu sudah putus menjadi dua?" Sambil berkata demikian, kepala bajak ini menyambar patung perunggu dan dibawanya lari keluar dari bio.

Para nikouw lalu sibuk mengangkat ketua mereka ke dalam kamar untuk dirawat lukanya. Namun luka itu parah sekali sehingga setelah siuman, Ngo Lian Suthai tak dapat bangun lagi. Dengan suara tenang dan perlahan, nikouw tua itu menyatakan bahwa nyawanya tidak akan dapat ditolong lagi.

"Paling lama aku akan dapat bertahan sampai satu bulan," katanya sambil tersenyum. "Hal ini tidak mengapa, hanya sayang sekali patung itu akan tersenyum dan setan yang menjadi penghuni di dalamnya akan bersorak kemenangan karena kelak dia dipuja-puja oleh manusia-manusia sesat."

Demikian peristiwa yang diceritakan oleh nikouw tua penyambut tamu kepada Kwan Cu. Pemuda ini menjadi marah sekali, kemudian dia mendapat perkenan untuk menemui Ngo Lian Suthai di dalam kamarnya.

Pendeta wanita yang sudah tua itu nampak berbaring di atas dipan sederhana dengan pundak di balut. Mukanya pucat sekali dan tubuhnya lemah, akan tetapi begitu melihat Kwan Cu, dia tersenyum dan mengangkat tangan memberi salam.

"Ahh, Lu-taihiap, kau datang? Kau baik-baik saja, bukan?"

Kwan Cu terharu. Ia telah mengenal nenek ini ketika dia melakukan perjalanan melewati dusun ini dan mampir karena tertarik akan keharuman nama Kwan-im-bio dan nama Ngo Lian Suthai yang amat dihormati oleh banyak orang. Sekali pandang saja Kwan Cu dapat melihat bahwa nenek itu mengalami luka hebat di dalam dadanya dan tak dapat ditolong pula, kecuali kalau di situ ada Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Obat.

"Teecu menyesal sekali mendengar mala petaka yang menimpa diri Suthai," kata Kwan Cu.

"Bukan mala petaka, orang muda. Segala sesuatu yang telah ditentukan Thian pasti akan terjadi, kita tidak mampu menolak atau menawarnya. Kau datang dengan siapa?" tanya nenek itu sambil memandang ke arah Kui Lan.

Nona itu lalu maju dan berlutut, sedangkan Kwan Cu memperkenalkan, "Nona ini adalah Gouw Kui Lan, adik angkat teecu. Kedatangan teecu ini pun hendak mohon pertolongan Suthai agar sudi menerima Kui Lan tinggal untuk sementara waktu di sini, sampai teecu dapat menemukan kakaknya."

"Boleh, boleh, tidak perlu khawatir. Tinggalkan dia di sini, tentu akan kami jaga baik-baik. Akan tetapi, kalau kau hendak pergi Taihiap, dapatkah kau menolongku mencari Luan-ho Oei-liong di Sungai Luan-ho?"

"Untuk membalaskan sakit hati Suthai terhadap dia? Teecu tentu akan mencari dia dan menghajarnya!" kata Kwan Cu gemas.

"Bukan begitu, Taihiap. Pinni tidak merasa sakit hati pada siapa pun juga. Yang penting adalah patung itu, hendaknya kau suka merampasnya kembali. Mata biasa tidak dapat melihatnya, akan tetapi pinni tahu betul bahwa patung itu sudah dijadikan tempat tinggal oleh pengaruh jahat atau boleh juga disebut siluman. Oleh karena itulah maka pinni tidak menghendaki patung itu terjatuh ke dalam tangan orang lain, apa lagi orang-orang yang sesat. Hal ini akan menimbulkan bahaya dan kejahatan akan merajalela. Kalau sudah terkejar olehmu hancurkan saja patung itu."

"Baiklah, Suthai. Teecu akan pergi mencari Luan-ho Oei-liong untuk memenuhi perintah Suthai."

Nenek itu menarik napas lega. Ada pun Kui Lan lalu maju ke depan dan berkata lembut, "Suthai, dalam keadaan seperti ini, sangat tidak baik kalau Suthai terlalu banyak bicara. Biarkan teecu merawat dan menjaga Suthai."

Ngo Lian Suthai tersenyum dan memegang lengan gadis itu, lalu melirik ke arah Kwan Cu.

"Lu-Taihiap, terima kasih kau sudah membawa anak baik ini ke sini. Ternyata dia akan menjadi perawat yang berhati mulia."

Kwan Cu merasa bahwa dia sudah terlalu lama mengganggu nenek itu, maka dia lalu bermohon diri dan berpesan kepada Kui Lan agar hati-hati tinggal di tempat itu, menanti sampai dia dapat menemukan Swi Kiat.

Pemuda itu kemudian meninggalkan Kwan-im-bio dan segera menuju ke utara karena terlebih dahulu, sebelum mencari Swi Kiat dan Kun Beng, Kwan Cu hendak memenuhi permintaan Ngo Lian Suthai, yakni mencari kepala bajak dan merampas kembali patung setan itu…..

********************

Setelah melewati kota Ceng-tek dan mendekati laut, sungai Luan-ho menjadi makin lebar dan besar. Ada bagian-bagian yang merupakan sungai besar sekali sehingga pantainya di seberang nampak amat jauh, seakan-akan samudera kecil saja.

Di sana-sini kelihatan perahu-perahu nelayan, akan tetapi itu hanyalah perahu-perahu nelayan miskin tanpa layar. Ada pula yang mempunyai layar, akan tetapi layar yang butut dan penuh tambalan. Mereka ini boleh berlayar dengan hati tenang.

Akan tetapi tak ada perahu besar para saudagar yang berani melintasi daerah ini, karena nama Luan-ho Oei-liong sudah sangat terkenal. Kalau pun ada yang melintas, tentulah perahu-perahu saudagar yang sudah mendapat izin dari kepala bajak laut itu, tentu saja setelah membayar uang ‘pajak’!

Di bagian timur dekat laut, memang terdapat banyak sekali perahu-perahu basar para saudagar dan dari penghasilan memunggut ‘pajak’ inilah Luan-ho Oei-liong menjadi kaya raya. Siapa tidak mau membayar pajak, tentu kapalnya akan dirampok habis-habisan.

Semua nelayan memandang kepada Kwan Cu dengan mata kaget dan ketakutan ketika pemuda ini bertanya di mana dia dapat bertemu dengan bajak air Luan-ho Oei-liong. Mereka mengira bahwa pemuda ini adalah sahabat bajak itu dan tentu saja juga seorang penjahat. Akan tetapi Kwan Cu tersenyum melihat salah sangka ini dan berkata,

"Kawan-kawan harap jangan salah lihat. Aku bukan sahabat kepala bajak itu, melainkan seorang yang mempunyai kepentingan untuk bertemu dengan dia. Tunjukkan saja di mana tempat tinggalnya agar aku dapat menjumpainya."

Walau pun merasa amat heran, namun semua nelayan tahu belaka di mana orang dapat bertemu dengan kepala bajak yang menjadi raja Sungai Luan-ho itu.

"Congsu harap menurutkan aliran air sungai ini dan setelah melalui kota Ceng-tek, di dalam hutan-hutan pohon pek kiranya Congsu akan dapat bertemu dengannya. Kalau dia tidak berada di darat dalam hutan itu, tentulah dia berada di perahunya dan sedang berlayar," kata seorang di antara mereka.

Kwan Cu mengucapkan terima kasih dan segera melanjutkan perjalanannya menurutkan aliran air sungai. Dan benar saja, di dalam hutan yang besar di mana sungai itu mengalir terdapat rumah-rumah para bajak air yang merupakan sebuah perkampungan kecil. Para bajak menyambut Kwan Cu dengan pandangan curiga.

"Mengapa kau mencari ketua kami?" tanya seorang di antara mereka.

"Aku datang untuk membayar pajak kepadanya," Kwan Cu menjawab sambil tersenyum. "Karena aku utusan para saudagar di kota raja yang hendak mengirim barang melalui sungai Luan-ho, tentu saja untuk hubungan pertama kali ini aku harus bertemu dengan dia sendiri."

Para bajak itu memang sudah dipesan kepalanya bahwa mereka tidak boleh sekali-kali mengganggu para pembayar pajak yang bahkan harus dilindungi. Karena itu, mendengar bahwa Kwan Cu adalah ‘langganan’ baru, segera mereka memberi keterangan.

"Ketua kami sedang berada di perahunya, di sebelah timur hutan ini. Akan tetapi beliau sibuk dan pada waktu sekarang kiranya akan marah kalau ada orang mengganggunya."

"Aku tidak mengganggunya, justru mendatangkankan keuntungan baginya. Tak mungkin dia akan marah," kata Kwan Cu tersenyum. "Apa bila kalian takut mengantarku, berilah pinjam sebuah sampan dan aku akan menjumpainya sendiri."

Para bajak itu melihat Kwan Cu hanya seorang pemuda yang kelihatan lemah dan tidak membawa senjata, tidak bercuriga apa-apa, bahkan lalu menggeluarkan sebuah sampan berikut dayungnya untuk dipinjamkan kepada Kwan Cu. Tentu saja untuk ini Kwan Cu harus lebih dulu mengeluarkan sepotong uang emas sebagai hadiahnya.

Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, Kwan Cu mendayung perahunya dengan tenaga biasa. Akan tetapi setelah perahunya dibantu oleh aliran air meninggalkan hutan-hutan itu jauh di belakangnya, dia mendayung cepat sekali dan tak lama kemudian sampailah perahunya di bagian sungai yang airnya melimpah-limpah dan amat lebarnya, seperti samudera kecil. Dan di tengah-tengah samudera kecil itu dia melihat perahu-perahu atau kapal-kapal besar dengan layar hitam. Itulah tanda dari perahu bajak sungai!

Jauh di utara, di kaki langit, nampak mega putih menjulang tinggi seperti uap dari kawah berapi. Sinar senja mendatangkan pemandangan yang sangat indahnya dan air sungai mengalir tenang. Kwan Cu tertarik dengan sebuah perahu yang paling besar dan dicat paling mewah di antara perahu-perahu yang nampak layar hitamnya di sana-sini. Ke arah perahu besar inilah dia mendayung biduknya.

Ia mendayung perahunya dari sebelah kanan perahu besar itu dan perahu itu sedemikian besarnya sehingga dia tidak melihat adanya sampan lain yang datang dari kiri perahu, yang didayung oleh seorang gadis dengan kecepatan luar biasa pula.

Yang mendebarkan hati Kwan Cu ialah sebuah patung yang besar sekali, dari perunggu, yang berdiri di atas perahu dengan megahnya. Tidak salah lagi, tentu inilah patung yang dirampas dari kuil Kwan-im-bio!

Dengan gerakan lincah Kwan Cu melompat ke arah perahu besar, tanpa menimbulkan sedikit pun goncangan pada perahu itu. Hal ini sudah menunjukkan betapa tinggi ginkang yang dimilikinya, sungguh kepandaian yang hanya dimiliki ahli-ahli silat tinggi di masa itu.

Dengan hati tertarik Kwan Cu mendekati patung itu. Di atas perahu sunyi saja dan ada terdengar suara perlahan dari percakapan orang yang agaknya berada di dalam bilik di atas perahu itu.

Patung itu memang hebat. Terbuat dari pada perunggu dan ukirannya halus bukan main. Kedua mata dan tanduknya warna merah dan seakan-akan mata itu mengeluarkan sinar yang ganjil. Mengingat kata-kata Ngo Lian Suthai bahwa di dalam patung ini tersembunyi pengaruh jahat, Kwan Cu bergidik.

Tiba-tiba perahu bergoncang sedikit. Pada saat Kwan Cu menoleh, dia melihat seorang gadis yang cantik jelita sudah berdiri di belakangnya. Gadis ini sikapnya gagah sekali, bertubuh langsing padat dan usianya paling banyak baru delapan belas tahun.

"Hemm, tentu inilah Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa adik dari kepala bajak itu," pikir Kwan Cu saat melihat gadis itu membawa sepasang pedang yang gagangnya kelihatan tersembul di balik punggungnya.

Sebaiknya, gadis yang baru saja lompat naik dari sampan itu, terkejut melihat Kwan Cu. Akan tetapi dia segera membentak, "Maling hina dina, kau boleh mampus lebih dulu!"

Kata-kata itu langsung disusul oleh tonjokan tangannya yang kecil mungil, tepat menuju ke arah dada Kwan Cu.

Pemuda ini cepat-cepat mengelak dan diam-diam ia merasa amat kagum karena pukulan itu mendatangkan angin pukulan yang antep dan berbahaya. Hemm, lihai sekali, pikirnya. Pukulan tadi membuktikan adanya tenaga lweekang yang tak boleh dipandang ringan.

Sebaliknya, ketika gadis tadi melihat cara Kwan Cu mengelak, dia jadi tertegun. Elakan itu demikian cepat dan mudah, sewajarnya seolah-olah orang menghadapi pukulan biasa saja. Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu sepasang pedang sudah berada di tangannya. Tanpa banyak cakap lagi gadis itu segera menyerang Kwan Cu dengan sepasang pedangnya.

Melihat gerakan pedang ini, Kwan Cu menjadi semakin heran. Bukan ilmu pedang biasa saja, pikirnya. Cepat, kuat dan amat ganas. Gerakan ini mengingatkan dia akan ilmu silat dari tokoh-tokoh besar di kalangan kang-ouw, tingkatnya tak kalah oleh ilmu pedang dari Ang-bin Sin-kai sendiri! Murid siapakah wanita ini?

Kwan Cu cepat mengelak dan untuk mengimbangi serangan-serangan gadis itu, dia lalu mengeluarkan ilmunya yang didapat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Terjadilah keanehan! Im-yang Bu-tek Cin-keng memang hebat, begitu Kwan Cu memainkan ilmunya ini, semua gerakan-gerakan silat lawannya dapat ditiru dan dimainkan sama baiknya!

Gadis itu mengeluarkan seruan kaget dan membelalakkan mata dengan amat heran.

"Keparat, mengapa kau meniru-niru gerakan orang?" bentaknya dengan suaranya yang halus, akan tetapi dia tidak mengendurkan serangan-serangannya.

Kwan Cu yang memperhatikan wajah gadis itu, sesudah kini mendengarkan suaranya untuk kedua kalinya, menjadi berdebar hatinya. Mungkinkah? Tak salah lagi, inilah wajah Bun Sui Ceng! Dia ingat betul wajah itu, sama benar dengan wajah yang diimpikan, dan ilmu pedang yang dimainkannya ini memang tepat kalau diturunkan oleh Kiu-bwe Coa-li, wanita sakti itu!

Ketika gadis itu masih menyerang dan mencoba mendesak Kwan Cu dengan sepasang pedangnya, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari seorang wanita.

"Siapa berani main gila di perahuku? Apakah belum mendengar nama Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa?" Bentakan ini disusul oleh keluarnya seorang gadis dari pintu bilik.

Gadis itu otomatis menghentikan serangannya dan Kwan Cu menoleh ke arah pintu. Dia melihat seorang gadis yang bertubuh langsing dan hampir sama dengan tubuh dara yang menyerangnya. Gadis yang baru muncul ini juga memegang sepasang pedang, namun pedangnya itu berwarna dua macam. Yang kiri putih dan yang kanan hitam.

Wajahnya cantik sekali, pakaiannya sangat mewah dan bedanya dengan gadis yang tadi menyerang Kwan Cu adalah sikap yang sangat genit dari gadis yang muncul dari pintu ini. Matanya menggerling tajam penuh gairah pada Kwan Cu, bibirnya tersenyum manis. Akan tetapi ketika ia mengerling ke arah gadis yang menyerang Kwan Cu, sinar matanya berapi-api dan bibirnya cemberut.

Dari belakang Sin-jiu Siang-kiam Oei-Hwa ini muncul seorang laki-laki pula, yaitu seorang laki-laki tinggi besar yang berkulit muka kuning. Menjadi kebalikan dari sikap Oei Hwa, laki-laki ini memandang kepada gadis penyerang Kwan Cu tadi dengan mata kagum dan kurang ajar sebaliknya memandang kepada Kwan Cu dengan marah.

"Kau siapakah, berani lancang naik ke perahu Luan-ho Oei Liong? Apakah kau sudah tidak menyayangi kepalamu lagi?" tanyanya sambil menudingkan jari telunjuknya kepada Kwan Cu.

Pertanyaan yang diajukan oleh Oei Liong ini membuat gadis yang baru saja menyerang Kwan Cu itu menjadi kaget. Dia menoleh memandang ke arah Kwan Cu dengan bingung. Ternyata bahwa pemuda ini bukannya anggota bajak. Jadi siapakah gerangan pemuda tampan yang kelihatan bodoh akan tetapi telah berhasil mengelak dari semua serangan pedangnya ini?

Ada pun Oei Hwa yang memandang ke arah gadis itu dengan marah, lalu menyambung pertanyaan kakaknya sambil menudingkan telunjuknya yang runcing kepadanya,

"Dan kau ini, bocah lancang, siapa pulakah kau?"

Setelah Oei Hwa muncul, memang Kwan Cu makin yakin di dalam hatinya bahwa gadis yang disangkanya Sin-Jiu Siang-kiam Oei Hwa itu adalah pendatang dari luar dan kalau dia tidak salah sangka, tentulah gadis ini Bun Sui Ceng adanya!

"Luan-ho Oei Liong, soal namaku tidak penting. Ada pun kedatanganku ini adalah untuk mengambil kembali patung ini yang akan kukembalikan ke kuil Kwan-im-bio dan memberi hajaran padamu atas kekurang ajaran terhadap Ngo Lian Suthai!" kata Kwan Cu sambil tersenyum.

"Sin-jiu Siang-kiam Oei-Hwa, ada pun tentang aku, soal namaku juga tidak penting. Dan kedatanganku sengaja hendak membasmi semua bajak sungai Luan-ho agar kalian tidak mengganggu lagi kepada mereka yang berlalu lintas di sungai ini!" kata gadis itu sambil melirik ke arah Kwan Cu.

Pemuda ini pun memandangnya dan keduanya tersenyum, merasa geli dan lucu serta gembira dapat mempermainkan pemimpin-pemimpin bajak itu.

"Keparat! Kalau begitu biar kuantar kau ke neraka!" Oei Liong mencabut golok besarnya.

Akan tetapi adiknya mencegah, kemudian Oei Hwa melangkah maju dan bertanya,

"Kalau kedatangan kalian ini sama-sama hendak memusuhi kami, kenapa datang-datang kalian bertempur di atas perahuku?"

Memang Oei Hwa jauh lebih cerdik dari pada kakaknya dan gadis ini hendak menyelidiki lebih dulu keadaan dua orang penyerang yang tidak mau memperkenalkan nama itu.

Menghadapi pertanyaan ini dan melihat betapa kedua mata yang bening itu memandang kepadanya penuh perhatian dan agak mesra, Kwan Cu menjadi bingung, lalu menjawab sekenanya saja.

"Kami... kami hendak berlatih dulu sebelum menghadapi kalian."

Gadis yang tadi menyerangnya itu memandangnya dengan sinar mata lucu, kemudian menyambung sambil mengangguk-angguk.

"Betul, kawan yang baru datang ini hendak mempelajari beberapa petunjuk supaya dapat digunakan menghadapi kalian kepala-kepala bajak yang sudah tiba masanya mampus!"

Kwan Cu menjadi geli dan gemas. Ternyata gadis itu, kalau benar Sui Ceng, masih sama dengan dulu, lincah jenaka dan suka mempermainkan orang. Juga agak sombong seperti gurunya, Kiu-bwe Coa-li sehingga datang-datang berani mengaku bahwa tadi dia sudah memberi petunjuk kepadanya!

Oei Liong tak sabar lagi. Ia membentak keras sambil menyerang Kwan Cu dengan golok besarnya. Serangan ini hebat sekali datangnya dan mendatangkan angin keras.

Melihat ini, gadis yang tadi menyerang Kwan Cu menjadi khawatir sekali. Setelah kini dia mengerti bahwa pemuda yang tadi diserangnya bukanlah penjahat, ia ingin menolongnya dari ancaman serangan golok yang diketahuinya amat lihai itu. Ia hendak melompat dan menangkis serangan golok yang tertuju kepada Kwan Cu, akan tetapi Oei Hwa sudah mendahuluinya dan menyerang sambil membentak marah,

"Gadis liar, jangan berlagak!"

Terpaksa gadis itu menangkis dan terjadilah pertempuran yang hebat antara dua orang gadis yang sama cantiknya itu. Sama-sama bersenjata siang-kiam (sepasang pedang) lagi. Setelah bergerak, ternyata bahwa keduanya juga sama lincah dan gesit, akan tetapi setelah pertandingan berlangsung belasan jurus, segera kelihatan bahwa ilmu pedang dari Oei Hwa masih kalah jauh.

Ilmu pedang dari gadis itu benar-benat hebat sekali, ganas dan gerakannya sukar sekali diduga, apa lagi ditambah pula dengan tenaga lweekang-nya yang mengatasi Oei Hwa. Oleh karena itu, sebentar saja Oei Hwa terdesak hebat.

Tentu saja Sin-jiu Siang-kiam ini terkejut dan heran sekali. Belum pernah ia menghadapi seorang lawan yang begini lihai, padahal sudah ratusan kali dia bertempur menghadapi orang kang-ouw!

Di lain fihak, Luan-ho Oei-liong juga sibuk sekali menghadapi Kwan Cu. Berkali-kali golok besarnya menyambar, membabat, menusuk serta membacok, akan tetapi pemuda yang bertangan kosong itu seolah-olah merupakan bayangan iblis, semua serangannya selalu mengenai tempat kosong belaka!

"Setan keparat!" bentaknya berkali-kali sambil memperhebat serangannya.

Akan tetapi sebentar saja, setelah beberapa kali Kwan Cu mempermainkannya dengan menjewer telinga, menyepak pantat, mencolok perut, Oei Liong menjadi kewalahan dan gentar sekali, mengira bahwa pemuda ini memang benar-benar iblis sendiri yang datang mengganggunya. Mana ada manusia memiliki kepandaian sehebat itu sehingga dengan tangan kosong dapat mempermainkannya sedemikian rupa, padahal tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw tak akan berani main-main terhadap golok besarnya?

Tiba-tiba Oei Hwa bersuit keras sekali, memberi tanda kepada kakaknya untuk melarikan diri. Sebelum Kwan Cu dan gadis lihai itu mengerti apa maksud suitan itu, Oei Hwa dan Oei Liong melompat ke pinggir perahu terus terjun ke dalam air.

Pada saat itu pula, perahu besar itu bergoyang-goyang ke kanan kiri! Ternyata bahwa Oei Hwa tadi melihat anak buahnya datang ke perahu besar dengan sampan, maka dia memberi tanda kepada kakaknya untuk melarikan diri. Kini, dengan bantuan para anak buahnya, mereka berusaha menggulingkan perahu itu! Akan tetapi tidak mudahlah untuk menggulingkan perahu sebesar itu.

Kwan Cu dan gadis itu terhuyung-huyung di atas perahu dan gadis itu menjadi gelisah sekali.

"Celaka!" serunya.

Akan tetapi, ketika dia memandang kepada Kwan Cu, dia melihat pemuda itu tersenyum saja seenaknya, seakan-akan digoyang-goyang seperti itu di atas perahu merupakan hal yang menyenangkan baginya.

"Mengapa kau cengar-cengir saja seperti monyet? Berbuatlah sesuatu, Tolol!" Gadis itu membentak mengkal.

Kemudian gadis itu melihat perahunya di tepi perahu besar, yang tergolek-golek karena gerakan air yang diakibatkan oleh usaha para bajak laut menggulingkan perahu.

"Hayo lompat ke dalam perahu itu!" ajaknya.

Kwan Cu tersenyum lebar, karena betapa pun galaknya sikap gadis itu, ternyata untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri masih teringat kepadanya sehingga mengajaknya lari bersama.

Gadis itu melompat terlebih dahulu. Akan tetapi segera terdengar jeritnya dan air muncrat tinggi-tinggi. Ternyata bahwa perahu itu adalah perangkap yang sengaja dipasang oleh Oei Hwa yang amat cerdik.

Karena sukar untuk menggulingkan perahu besar, Oei Hwa sengaja membawa perahu kecil itu, dipasang sedemikian rupa sehingga dari atas terlihat sebagai jalan satu-satunya untuk melarikan diri, akan tetapi sebenarnya dia dan kakaknya berada di bawah perahu. Begitu gadis itu meloncat turun, perahu kecil itu segera digulingkan dan ditarik tenggelam sehingga tentu saja gadis itu terjun ke dalam air!

Melihat ini, Kwan Cu terkejut bukan main. Baginya sendiri, masih banyak jalan untuk bisa membebaskan diri dari kepungan bajak. Akan tetapi melihat bahaya yang mengancam gadis yang disangkanya Bun Sui Ceng itu, dia terpaksa melompat pula ke dalam air!

Baiknya Oei Liong tergila-gila oleh kecantikan gadis itu, sehingga sebelum Oei Hwa turun tangan, terlebih dulu Oei Liong menangkap gadis itu dan dibawa tenggelam sehingga gadis itu menjadi lelah dan pingsan karena banyak minum air!

Sebaliknya, Oei Hwa juga mempunyai maksud hati yang sama dengan kakaknya. Dia tertarik oleh ketampanan wajah Kwan Cu, maka bagaikan seekor ikan duyung, nona ini menangkap kedua kaki Kwan Cu dan menyeretnya ke bawah permukaan air!

Oei Liong memeluk tubuh gadis tawanannya, dibawa berenang ke perahu, demikian pula Oei Hwa. Pertama-tama, di atas perahu mereka menolong dua orang tawanannya itu.

Tubuh gadis itu dijungkir balikkan sehingga banyak air sungai keluar dari mulutnya. Akan tetapi anehnya, ketika Oei Hwa membalikkan tubuh Kwan Cu, tidak setetes pun air keluar dari pemuda ini.....

Oei Hwa menggaruk-garuk kepalanya, apa lagi ketika dia melihat perut pemuda itu yang tadinya kembung itu kini telah kempes kembali.

"Hwa-moi (adik Hwa), gadis ini cantik luar biasa, tidak kalah olehmu. Dia pantas menjadi isteriku!" kata Oei Liong tertawa girang.

Oei Liong cepat mempergunakan tambang pengikat layar untuk membelenggu kaki dan tangan gadis itu, sedangkan sepasang pedang gadis itu yang diambil oleh anak buahnya dia rampas. Demikian pula Oei Hwa lalu membelenggu kaki tangan Kwan Cu.

"Hwa-moi, pemuda ini berbahaya sekali. Lebih baik lekas kita binasakan dia!" kata Oei Liong

Adiknya melirik dengan sepasang pipi merah. Dalam pakaian basah kuyup serta rambut yang awut-awutan, warna merah di pipi itu membuat Oei Hwa kelihatan makin cantik.

"Kau memikirkan kepentingan dirimu sendiri saja, Twako. Pemuda ini kulihat seratus kali lebih baik dari padamu. Apa hanya kau saja yang memikirkan jodoh?"

Oei Liong tertegun, kemudian tertawa tergelak-gelak sambil menudingkan jari telunjuknya kepada muka adiknya yang menjadi malu.

"Sudahlah, mari kita menghaturkan terima kasih kepada Dewa Air yang telah melindungi kita," kata Oei Hwa. Keduanya lalu maju dan berlutut di depan patung perunggu itu!

Kemudian, diantarkan oleh anak buah mereka, kakak beradik ini lalu menggotong tubuh Kwan Cu dan gadis tawanan itu ke pantai dan langsung dibawa ke dalam hutan, sarang mereka. Hati mereka girang sekali karena mereka menemukan orang-orang muda yang menjadi tawanan itu lihai sekali, akan tetapi mereka memiliki daya untuk membuat dua orang tawanan mereka itu tak berdaya, yakni dengan jalan meminumkan obat beracun!

Tiba-tiba, sebelum mereka jauh meninggalkan pantai, salah seorang anak buah mereka menjerit sambil menudingkan telunjuk ke tengah sungai. Semua orang menengok dan aneh sekali! Perahu besar di mana patung perunggu itu disimpan perlahan-lahan mulai tenggelam, seakan-akan pada bagian bawahnya bocor.

"Celaka, lekas cegah dia tenggelam!" teriak Oei Hwa dan Oei Liong.

Semua anak buah bajak segera berperahu dan cepat menuju ke perahu besar itu. Akan tetapi terlambat, perahu itu telah tenggelam bersama arca yang mengerikan itu!

"Celaka!" Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa membanting-banting kakinya ketika melihat perahu itu tenggelam.

Ia tidak begitu menyayangkan perahunya yang besar dan indah itu tenggelam, terutama sekali yang membikin ia merasa menyesal adalah tenggelamnya patung perunggu yang berada di atas perahunya. Tenggelamnya patung itu merupakan tanda bencana bagi dia dan kawan-kawannya!

"Sudahlah, Hwa-moi," Luan-ho Oei Liong menghibur adiknya, "Untuk pengganti patung Dewa Air, aku sudah mendapatkan nona ini dan kau mendapatkan pemuda ganteng itu, bukankah mereka lebih baik? Mudah nanti kita mencari patung baru yang lebih baik."

Terhibur juga hati Oei Hwa ketika ia melirik ke arah Kwan Cu yang dipondongnya. Maka ia lalu melanjutkan perjalanannya bersama kakaknya dan para bajak sungai, menuju ke hutan yang mereka jadikan sarang.

Malam hari itu bulan bersinar gemilang. Di dusun dalam hutan itu, para bajak air sedang mengadakan perayaan pesta pernikahan dua orang pemimpin mereka. Pesta diadakan di lapangan yang luas dan dua orang tawanan itu didudukkan di tengah lapangan dengan kaki tangannya dibelenggu.

Para bajak sungai hendak menyaksikan betapa kedua orang calon pengantin itu hendak diberi obat yang disebut oleh pemimpin mereka sebagai obat pengantin! Padahal obat itu adalah obat beracun yang akan membuat Kwan Cu dan nona tawanan itu mabuk dan kehilangan ingatan sehingga keduanya akan menuruti segala kehendak Oei Liong serta Oei Hwa!

Kwan Cu saling lirik dengan nona di sebelahnya. Diam-diam pemuda ini merasa sangat geli karena nona ini cemberut dan memandangnya dengan muka marah. Sedikit pun tak kelihatan nona perkasa itu takut, maka diam-diam Kwan Cu menjadi kagum.

Baginya sendiri, tidak ada yang perlu ditakutkan, karena kalau dia mau, sesungguhnya hanya dengan beberapa gerakan saja semua belenggu kaki tangannya akan mudah dia putuskan dan dengan mudah pula dia akan bisa menolong keselamatan mereka berdua. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini dan akan menanti dan melihat lebih dulu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kwan Cu mengganggap semua itu sebagai lelucon yang menggelikan belaka, bahkan semua yang sedang dihadapinya merupakan hiburan yang menggirangkan hatinya.

"Dasar kau yang menjadi biang keladi!" Nona di sebelahnya menggerutu kepadanya.

Kwan Cu tersenyum dan memandang dengan mata jenaka. Gadis itu makin marah, akan tetapi juga terheran-heran. Dia sendiri memang berhati tabah dan keras, sedikit pun tidak sudi memperlihatkan kelemahan hati dan tidak mau kelihatan takut.

Akan tetapi tersenyum-senyum seperti pemuda itu, dengan pandangan mata demikian jenaka seakan-akan merasa gembira sekali, tak mungkin dapat dia lakukan! Bagaimana dalam keadaan demikian berbahaya dan tak berdaya, pemuda itu masih bisa tersenyum-senyum gembira?

"Kau cengar-cengir mau apakah?" bentaknya perlahan-lahan sambil pelototkan matanya. "Sungguh, kalau bukan kau tolol atau gila, agaknya aku yang sudah berubah ingatanku melihat orang tertawan dan berada dalam keadaan bahaya masih cengar-cengir seperti badut!"

"Mengapa tidak bergirang hati? Kau dengar sendiri tadi, kau dan aku hendak dikawinkan dengan Oei Liong dan Oei Hwa. Siapa yang tidak girang?"

Nona itu menjebikan bibirnya yang merah. "Hemm, kau girang hendak menjadi suami Oei Hwa, siluman wanita itu? Dasar mata keranjang! Huh, muak perutku melihat mukamu!"

Kwan Cu semakin geli hatinya. "Jadi kau tidak suka dikawin oleh Oei Liong, kepala bajak yang gagah dan bermuka kuning itu?"

"Siapa sudi? Lebih baik aku mati!"

"Aha, sudah tentu kau tidak suka karena kau sudah bertunangan! Bukankah kau adalah tunangannya The Kun Beng?"

Nona itu membelalakkan matanya dan mukanya berubah. "Bagaimana kau bisa tahu? Siapakah kau?"

"Bun Sui Ceng, lupa lagikah kau kepadaku? Dahulu sudah sering kali kita bertemu."

"Heeee...?! Siapa kau?" Gadis itu yang ternyata memang benar Bun Sui Ceng adanya, bertanya kaget.

"Aku selamanya takkan bisa lupa kepadamu, takkan lupa kepada mendiang ibumu yang berhati mulia. Aku adalah bocah gundul yang dulu pernah ditolong oleh ibumu."

"Kwan Cu...?!? Kau Lu Kwan Cu...?" Sui Ceng memandang dengan mata terbelalak dan sinar matanya mencari-cari, menyelidiki ke seluruh kepala serta muka Kwan Cu, maka tertawalah gadis itu, tertawa geli sekali.

Kwan Cu mengerutkan kening. Kalau tadi dia mentertawai gadis itu, sekarang dia yang ditertawai. Apanyakah yang menggelikan? Apakah mukanya bercoreng hitam?

"Ehh, Sui Ceng, kau cekikikan itu ada apakah?" tanyanya mendongkol.

Sui Ceng makin geli, menggigit bibirnya agar mulutnya tidak terbuka dalam ketawanya, karena dia tidak mungkin dapat menggunakan tangan untuk menutupi mulutnya. Oleh karena gerakan bibir itu, ia nampak lucu sekali.

"Alangkah lucunya keadaanku," akhirnya dia dapat berkata, "tak kusangka dapat bertemu dengan kau disini, dalam keadaan begini pula. Hi-hi-hi Kwan Cu, kau masih dogol seperti dulu, dogol dan tolol, sungguh menggelikan hati sekali. Dan kau sekarang agaknya mata keranjang sekali, sehingga engkau kelihatan gembira benar hendak dikawin oleh siluman wanita Oei Hwa itu."

"Kau keliru Sui Ceng. Aku bergirang bukan karena akan dipaksa menjadi suami Oei Hwa, melainkan bergirang karena kau dan aku keduanya akan menikah. Dan melihat keadaan kita ini, aku merasa bahwa kitalah yang akan saling menikah, kau dengan aku dan aku dengan kau… bukankah ini menggembirakan sekali?"

Untuk sejenak Sui Ceng tertegun dan memandang dengan sinar mata bodoh kemudian tiba-tiba mukanya menjadi merah sekali sampai ke telinga-telinganya.

"Kwan Cu, kalau aku tidak tahu bahwa kau adalah seorang yang dogol, tolol dan jujur, aku tentu akan menganggap ucapanmu itu kurang ajar sekali."

Kwan Cu tersenyum. "Terus terang saja, Sui Ceng, kau tentu lebih suka menikah dengan aku dari pada dengan siluman muka kuning itu, bukan?"

"Tentu saja, orang bodoh! Akan tetapi, jangan kita mengoceh yang bukan-bukan. Lebih baik sekarang mencari jalan bagaimana caranya kita dapat lepas dari bencana ini, atau bagaimana nanti sikap kita kalau mereka memaksa kita."

"Terserah kepadamu, aku akan menurut saja apa yang akan kau lakukan."

"Kalau mereka memaksa, tentu aku akan memberontak dan melawan mati-matian, begitu mendapat kesempatan melepaskan diri dari belenggu ini."

Kwan Cu mengangguk-angguk. "Aku pun begitu," katanya.

Hening sesaat dan mereka saling pandang.

"Kwan Cu, kau berubah sekali, maka tadi aku tidak mengenalmu. Dulu kau gundul dan buruk, seperti anak cacingan, sekarang..."

"Sekarang bagaimana...?"

"Hemm, harus kuakui bahwa kau sekarang telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, pantas saja siluman wanita itu tergila-gila padamu."

Merah wajah Kwan Cu, merah karena girang. "Ahhh, pujianmu itu berlebihan. Aku bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Kun Beng..."

"Kau sudah bertemu dengan dia? Aku belum pernah melihatnya sekarang."

"Aku pun belum. Akan tetapi semenjak pertemuan tadi, aku sudah menduga bahwa kau tentulah Sui Ceng, kau masih lincah dan jenaka seperti dulu... dan... lebih cantik!"

Sui Ceng menundukkan mukanya, kini agak kecewa menghadapi bahaya yang mungkin akan menamatkan nyawanya, nyawa mereka berdua.

"Sayang sekali, Kwan Cu. Tadinya aku hendak mendahului dan mawakili engkau, hendak menjalankan pesan terakhir dari menteri Lu Pin yang agung. Ternyata agaknya riwayat kita akan tamat sampai di tempat ini..." Gadis itu menghela napas berulang-ulang.

"Pesanan dari Lu-kongkong? Pesan apakah...?" Kwan Cu bertanya.

"Jadi kau belum sampai ke Goa Tengkorak?"

"Aku memang hendak menuju ke sana, akan tetapi tertunda karena peristiwa ini."

"Hemm, sayang... pesanan itu akan hilang begitu saja agaknya kau dan aku tidak akan terlepas dari ancaman ini. Kasihan Lu-Taijian..."

"Bagaimana bunyi pesan itu?"

"Kau harus pergi ke sana sendiri dan membacanya sendiri."

Percakapan mereka terhenti karena dengan iringan tambur serta gembreng, diiringkan pula oleh anak buah bajak sungai, nampak datang Oei Liong dan Oei Hwa, keduanya dalam pakaian pengantin!

"Ha-ha-ha-ha-ha...!" Kwan Cu tertawa terkekeh-kekeh.

"Hushh! kau cekakakan ada apakah? Girang barang kali melihat mempelai datang?" Sui Ceng menegur

Kwan Cu semakin geli. "Lihat, alangkah lucunya mereka itu...! Mereka sudah berpakaian pengantin dan kita masih dibelenggu begini macam, hendak kulihat apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya?"

Sui Ceng benar-benar merasa heran melihat sikap pemuda ini yang sama sekali tidak susah atau takut. Dia sendiri semenjak tadi sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk memutuskan belenggu, namun sia-sia belaka.

Kwan Cu tidak berusaha meloloskan diri, sebaliknya menanti kelanjutan perbuatan para bajak itu bagaikan seorang anak kecil hendak menikmati tontonan yang bagus. Memang benar-benar pemuda aneh sekali!

Oei Liong dan Oei Hwa datang membawa cawan arak dan di tangan kiri masing-masing memegang guci kecil penuh arak. Inilah arak yang mengandung racun perampas ingatan orang!

"Manisku, sebelum engkau memakai pakaian pengantin, terlebih dahulu minumlah arak ini sebagai tanda pemberian selamat dariku," kata Oei Liong sambil memperlihatkan guci itu.

"Kau juga, Kanda. Minumlah arak ini sebagai tanda cinta kasihku," kata Oei Hwa yang mukanya sudah merah itu dengan sikap genit sekali. Nona ini memang tadi sudah minum arak sampai mabuk sehingga tidak mengenal malu lagi.

"Aku tidak sudi!" jawab Sui Ceng membentak keras dan mengedikkan kepalanya.

"Sayang sekali apa bila harus dipaksa, Manisku. Maafkan, terpaksa aku mempergunakan kekerasan." Sambil berkata demikian, Oei Liong lalu menggerakkan tangan menotokkan leher Sui Ceng yang tak dapat mengelak sehingga jalan darahnya terkena totokan yang lihai itu dan lemaslah dia tak berdaya lagi!

Oei Liong sudah siap untuk mendekati Sui Ceng dan membuka mulut gadis itu, ketika mendadak terdengar suara orang-orang menjerit dan berlari-lari. Ternyata bahwa yang berlari-lari itu adalah para bajak yang menjaga di luar dusun.

"Celaka... ada siluman mengamuk!" Begitu terdengar teriakan-teriakan itu dan para bajak yang belari-lari itu mukanya pucat sekali dan tubuhnya menggigil.

Oei Liong terkejut dan terpaksa menunda niatnya untuk memaksa Sui Ceng minum arak itu. Juga diam-diam Kwan Cu membatalkan niatnya untuk memutuskan belenggu. Kalau sekiranya tidak ada gangguan itu, tentu dia telah memutuskan belengu dan memberikan hajaran kepada Oei Liong. Ia tidak akan membiarkan saja Sui Ceng dipaksa minum arak yang memang dia curigai itu.

"Ada apakah ribut-rbut? Siapa yang kurang ajar dan tidak tahu aturan sehingga berani mengganggu upacara pernikahan kami?" teriak Oei Liong dengan marah sekali.

Kepala bajak ini telah mencabut golok besarnya, demikian pula Oei Hwa telah mencabut sepasang pedangnya. Dengan hati marah dan mendongkol keduanya lantas melompat menuju ke arah terjadinya ribut-ribut tadi.

Akan tetapi mereka tak perlu lari jauh dan tiba-tiba keduanya berdiri kaku seperti patung ketika melihat apa yang menyebabkan anak buah mereka ketakutan setengah mati itu.

Dari luar dusun, nampak bayangan besar berlompat-lompatan menuju ke tempat mereka dan di bawah sinar bulan purnama, kini bayangan itu kelihatan nyata sekali, yakni patung perunggu yang tadi tenggelam bersama perahu ke dasar sungai! Terkena cahaya bulan, patung itu seolah-olah hidup, dua matanya yang merah mengeluarkan sinar mengerikan. Patung itu benar-benar bergerak, melompat-lompat dengan lompatan panjang ke tempat berkumpulnya para bajak itu.

Ketika terjadi ramai-ramai tadi, diam-diam Kwan Cu menggerakkan kedua kakinya yang terbelenggu dan dari belakang dia mengayun kakinya itu menendang ke arah leher Sui Ceng. Tanpa sepengetahuan gadis itu, ia telah berhasil membuka totokan yang membuat gadis itu bebas kembali jalan darahnya.

Gadis ini merasa heran akan tetapi dia tidak sempat untuk menyelidiki siapa yang telah membebaskannya karena pada saat itu dia pun memandang ke arah bayangan yang berlompatan itu dengan mata terbelak dan muka pucat. Sui Ceng adalah seorang gadis yang gagah perkasa, akan tetapai melihat patung yang tadi sudah tenggelam bersama perahu itu muncul di darat dan hidup, bulu tengkuknya berdiri semua dan dia bergidik dengan hati merasa seram dan ngeri.

Jangankan Oei Liong, Oei Hwa dan Sui Ceng, sedangkan Kwan Cu sendiri yang sejak kecilnya mengalami banyak sekali hal-hal yang aneh dan menyeramkan, pada waktu itu duduk melenggong dengan mulut terbuka dan mata terbelalak lebar memandang ke arah patung itu seakan-akan dia sendiri sudah berubah menjadi patung.

Semua bajak sungai, seorang demi seorang lantas mengambil langkah seribu dan berlari tunggang-langgang ke dalam hutan yang lebat ketika patung itu terus melompat-lompat menghampiri mereka. Kini tinggal Oei Liong dan Oei Hwa sendiri yang masih berdiri di situ dengan tangan memegang senjata, akan tetapi tangan mereka terasa lumpuh saking besarnya rasa takut yang mengamuk di dalam hati dan pikiran.

"Oei Liong dan Oei Hwa, kalian telah berdosa besar!" demikian patung itu mengeluarkan suara. Suaranya amat besar dan nyaring sehingga Kwan Cu yang tadinya sudah seperti berubah menjadi patung, kini siuman kembali dari keadaannya.

"Kalian membiarkan kami tenggelam dan sekarang melakukan upacara pernikahan tanpa minta ijin. Karena dosa-dosa itu, kalian harus binasa...!"

Kemudian terdengar patung itu menggereng dan melompat-lompat lagi menghampiri Oei Liong dan Oei Hwa!

Kakak beradik ini merupakan orang-orang berhati kejam dan mereka tidak akan merasa ragu-ragu untuk menyembelih leher manusia. Akan tetapi mereka itu amat percaya akan tahayul. Kini menghadapi kemurkaan patung itu, mereka menjadi pucat sekali dan tanpa dikomando, keduanya lalu melompat dan melarikan diri! Oei Liong sampai tersandung dan jatuh dua kali karena walau pun dia berkepandaian tinggi, kedua kakinya menggigil sehingga membuat larinya kaku sekali!

"Ha-ha-ha-ha-ha!" Kwan Cu tertawa geli sesudah melihat semua bajak laut berlari pergi. "Saudara yang baik, lekaslah kau keluar dari kurungan itu!"

Sui Ceng tertegun. Gadis ini pun sudah pucat sekali. Ia membayangkan betapa hebatnya mati dalam tangan patung mengerikan ini. Akan tetapi mengapa Kwan Cu mengajaknya bicara?

Terjadilah hal yang sangat aneh. Patung itu tertawa bergelak-gelak tanpa menggerakkan bibirnya, dan tiba-tiba patung itu terlempar ke atas dan jatuh berdebuk, bergulingkan di atas tanah dalam keadaan rusak karena terbentur batu. Akan tetapi ketika terlempar dia meninggalkan seorang manusia yang ternyata bersembunyi di dalamnya! Manusia ini lalu tertawa bergelak-gelak dan ternyata dia adalah seorang pemuda yang tubuhnya tinggi besar, bermata lebar dan suaranya besar.

"Matamu sungguh tajam, Kawan! Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku bersembunyi di dalamnya?" tanyanya sambil memandang kepada Kwan Cu.

Kwan Cu menatap wajah pemuda tinggi besar itu dengan tajam, kemudian dia pun ikut tertawa terpingkal-pingkal.

"Ha-ha-ha, tidak tahunya saudara Kong Hoat yang bermain setan-setanan, pantas saja demikian lihai sehingga tikus-tikus itu melarikan diri."

Pemuda itu terkejut dan sekali dia melompat, dia telah berada di dekat Kwan Cu. Dengan cepat dia membuka belenggu yang mengikat tangan dan kaki Kwan Cu serta Sui Ceng, kemudian dia bertanya,

"Kau siapakah?"

"Lihat baik-baik, kawan. Sudah lupa lagikah kau kepadaku? Bagaimana dengan keadaan Liok-te Mo-li, ibumu?"

Pemuda itu memang benar pemuda nelayan yang gagah perkasa, putera dari Liok-te Mo-li. Setelah mendengar suara Kwan Cu dan memandang dengan penuh perhatian, dia lalu teringat dan dengan girang sekali dia menepuk-nepuk pemuda itu.

"Ha-ha-ha, tidak tahunya saudara Lu Kwan Cu! Bagus, bagus, tak percuma aku bermain gila seperti tadi. Kalau saja aku tahu bahwa kaulah yang mereka tawan, tentu aku akan mengejar mereka terus sampai mereka mampus ketakutan! Sekali lagi, bagaimana kau bisa tahu bahwa di dalam patung ada orang yang sembunyi?"

"Mudah saja. Kau boleh saja menyembunyikan badanmu, akan tetapi pada waktu kau melompat, kau tidak mungkin dapat menyembunyikan telapak kakimu."

Sui Ceng terheran-heran. Dia sendiri biar pun memandang kepada patung yang hidup itu dengan mata melotot, tidak dapat melihat telapak kaki itu.

Kong Hoat tertawa-tawa lagi, kini bergelak-gelak keras dan dari kedua matanya keluar air mata bercucuran. Melihat ini, Sui Ceng melongo dan tak dapat bicara apa-apa. Pemuda tinggi besar ini benar-benar orang aneh sekali, aneh, seperti juga Kwan Cu.

"Ha-ha-ha, saudara Kwan Cu. Apa kau tadi melihat betapa siluman wanita itu berlari-lari tunggang-langgang sampai dia terkentut-kentut?" sambil berkata demikian, pemuda yang bertubuh besar ini memukul-mukul pundak Kwan Cu dengan keras. Apa bila bukan Kwan Cu yang dipukul, tentu pundak itu akan remuk tulang-tulangnya!

Kwan Cu tertawa terbahak-bahak. "Aku lebih memperhatikan Oei Liong yang berlari-lari tunggang-langgang sampai terkencing-kencing!" Kwan Cu juga memukul-mukul pundak Kong Hoat.

Dalam sendau gurau ini, diam-diam kedua orang itu saling menguji kepandaian masing-masing dan sangat terkejut. Tahulah Kong Hoat bahwa tenaga dan kepandaian Kwan Cu jauh mengatasi kepandaiannya, maka ia menjadi makin kagum, menghormat, dan girang bukan main.

"Ehh, sampai lupa aku. Siapakah Lihiap ini?"

Kwan Cu teringat dan dia memperkenalkan Sui Ceng. "Saudara Kong Hoat, Nona ini pun bukan orang luar. Dia adalah nona Bun Sui Ceng, murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li."

Mendengar ini seketika lenyap suara ketawa Kong Hoat. Ia cepat menjura dengan penuh hormat kepada Sui Ceng dan berkata,

"Aduh, alangkah bahagia hatiku dapat bertemu dengan murid dari wanita sakti itu. Bun Lihiap, siauwte adalah Kong Hoat, seorang nelayan bodoh."

Sui Ceng tertawa. Semenjak tadi melihat pemuda kasar dan jujur ini, dia merasa kagum dan geli, terutama sekali melihat betapa setiap kali tertawa terpingkal-pingkal, Kong Hoat selalu mengucurkan air mata.

"Kong-enghiong, kau terlalu merendahkan diri. Kalau tidak ada kau yang menolong, aku dan dia ini entah sudah mati atau belum pada saat ini," kata Sui Ceng sambil melirik ke arah Kwan Cu dengan pandang matanya memandang rendah. "Lebih baik aku sekarang segera mengejar untuk membasmi para bajak sungai itu."

"Tak perlu, lihiap. Tidak akan ada gunanya. Kalau kau mengejar, mereka akan lari cerai berai dan biar pun kau berhasil, tentu hanya beberapa orang saja yang dapat kau susul. Sebaliknya, jika kau tidak mengejar, kurasa mereka semua akan datang kembali setelah melihat bahwa patung hidup itu sebetulnya hanya main-main belaka." Kembali Kong Hoat tertawa sambil mengucurkan air mata.

"Sui Ceng, dia berkata benar. Mereka tadi melarikan diri hanya karena kaget dan takut setengah mampus terhadap patung itu. Saudara Kong Hoat, lebih baik kau menceritakan bagaimana kau bisa melakukan permainan tadi?"

Sui Ceng terpaksa menunda niatnya mengejar para bajak, karena dia sendiri pun ingin sekali mendengar penuturan pemuda tinggi besar itu.

"Aku memang mendapat tugas dari ibuku untuk menyelidiki keadaan bajak sungai yang dipimpin oleh Luan-ho Oei Liong dan Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa. Semenjak mudanya Ibuku memang menjagoi di kalangan bajak, menguasai daerah sungai dan telaga, juga bahkan sudah menjelajahi sampai ke samudera. Akan tetapi ibu tidak pernah melakukan kejahatan, apa lagi merampok rakyat yang memiliki mata pencaharian menjadi nelayan. Karena mendengar akan kejahatan bajak sungai yang dipimpin oleh dua saudara Oei itu, ibu lalu menyuruh aku untuk menyelidiki. Kebetulan sekali aku melihat kalian dikeroyok dan karena aku sendiri sangsi apakah aku akan mampu menghadapi dua orang saudara yang ternyata amat lihai ilmu silatnya itu, aku lalu terjun dan menyelam ke bawah perahu besar dan menenggelamkan perahu itu. Kemudian aku lalu menggunakan akal, memakai patung itu untuk mengusir mereka dan menolong kalian bebas dari belenggu." Sesudah menuturkan pengalamannya, kembali nelayan muda yang gagah ini tertawa bergelak sambil mencucurkan air mata.

Sui Ceng geli sekali melihat keadaan pemuda ini dan karena melihat sikap Kong Hoat yang jujur dan polos, tanpa sungkan-sungkan dia lantas mencela, "Saudara Kong Hoat, kau... cengeng (mudah menangis) sekali!"

Kong Hoat tidak menjadi marah mendengar celaan ini, bahkan sambil tertawa dia pun menjawab, "Bukan salahku, salahnya mataku yang gampang menangis. Karena mataku ini maka di tempatku aku dijuluki orang Nelayan Cengeng!"

Ucapan ini menambah kegelian hati Sui Ceng dan Kwan Cu sehingga tiga orang muda yang perkasa itu tertawa-tawa.

Mendadak terdengar suara orang-orang berteriak. Ternyata, sambil berteriak, para bajak sungai itu dengan dipimpin oleh Oei Liong dan Oei Hwa datang menyerbu!

"Nah, mereka benar-benar datang. Tentunya mereka sudah tahu akan tipuanku tadi. Biar aku mengambil senjataku yang kusembunyikan di luar dusun ini!" kata Kong Hoat sambil berlari keluar dari dusun untuk mengambil senjatanya, yakni sebatang dayung yang amat panjang dan berat.

"Apakah kau bersenjata?" tanya Sui Ceng kepada Kwan Cu.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya.

"Sepasang pedangku juga dirampas oleh keparat Oei Liong, akan tetapi jangan khawatir, dengan tangan kosong aku sanggup melayani mereka. Apa lagi ikat pinggangku masih ada!"

Gadis ini lalu meloloskan ikat pinggang sebelah luar yang berwarna merah dan sekali dia menggerakkan tangan, ikat pinggang itu bergerak-gerak laksana seekor ular merah yang menyambar-nyambar. Diam-diam Kwan Cu merasa amat kagum dan teringatlah dia akan kelihaian ilmu dari Kiu-Bwe Coa-li, guru dari gadis ini. Dia yakin bahwa dengan senjata ang-kin (sabuk merah) itu, Sui Ceng cukup kuat untuk menghadapi lawan-lawannya. Dia sendiri tersenyum dan tahu bahwa gadis ini masih memandang rendah kepadanya, maka dia pikir tak perlu memamerkan kepandaian dan akan bergerak secara sembunyi saja.

Gerombolan bajak muncul dan meraka telah bersenjata lengkap

"Di mana adanya keparat yang sudah menipu kami dan menghina Dewa Sungai?!" Oei Liong berseru sambil mengangkat goloknya tinggi-tinggi.

"Aku di sini dan siap untuk mengemplang pecah kepalamu!" tiba-tiba terdengar teriakan keras dan terlihat Kong Hoat muncul berlari-lari sambil menyeret dayungnya yang besar dan berat.

"Kepung! Bikin mampus keparat itu, tangkap dua orang mempelai!" Seru Oei Liong dan Oei Hwa.

Mereka ini menyerahkan pemuda nelayan bersenjata dayung itu kepada para anak buah mereka, karena bagi mereka, lebih baik mereka berusaha menangkap kembali Kwan Cu dan Sui Ceng.

"Kwan Cu, kau mundurlah, biar aku yang menghadapi mereka dan menghajar mereka dengan sabukku!" berkata Sui Ceng yang merasa khawatir kalau-kalau kepandaian Kwan Cu masih terlampau rendah untuk menghadapi kedua orang pemimpin bajak itu dengan tangan kosong saja.

Kwan Cu tersenyum dan benar-benar melompat mundur di belakang Sui Ceng, lalu dia duduk di bawah pohon dengan sikap sebagai seorang yang akan menonton pertunjukan bagus. Akan tetapi, secara diam-diam matanya mencari-cari batu-batu kecil dan kedua tangannya menggerayang mengumpulkan batu-batu ini.

Keadaan menjadi geger. Puluhan orang bajak sungai yang sudah dikumpulkan itu segera menyerbu, sebagian mengepung Kong Hoat dan sebagian pula membantu Oei Liong dan Oei Hwa yang mencoba untuk menangkap Kwan Cu dan Sui Ceng hidup-hidup.

Ketika Oei Hwa melihat bahwa Kwan Cu tidak mau melawan, bahkan duduk di bawah pohon hatinya girang bukan main dan mengira bahwa pemuda itu memang suka menjadi suaminya maka tidak melawan. Ia mendahului semua orang melompat ke dekat Kwan Cu dan dengan sikap yang genit ia berkata,

"Calon suamiku, apakah tadi kau tidak mengalami kekagetan? Marilah kita menyingkir lebih dulu sementara kawan-kawan kita menangkap gadis yang masih berkepala batu ini dan membunuh orang kasar itu!"

"Cih, perempuan hina dina!" Sui Ceng memaki dengan marah dan segera sinar merah dari sabuknya meluncur ke arah leher Oei Hwa.

Kepala bajak ini sangat terkejut dan cepat menangkis. Akan tetapi inilah kesalahannya. Ketika ditangkis, sabuk itu bahkan melibat pedang dan pedang itu pasti akan terampas kalau saja Oei Hwa yang menjadi kaget tidak cepat-cepat mempergunakan pedang yang kiri untuk menusuk dan membabat tangan Sui Ceng.

Terpaksa murid Kiu-bwe Coa-li ini melepaskan libatan sabuknya karena ia pun maklum akan kelihaian lawan. Ia menarik sabuknya sambil tertawa menghina, kemudian kembali menyerang lagi. Terpaksa Oei Hwa melayaninya dan menyerang dengan sengit.

"Hwa-moi, jangan lukai dia. Ingat, dia calon Soso-mu (kakak ipar perempuan)!" kata Oei Liong.

Dia segera maju pula membantu adiknya, tetapi bukan untuk membinasakan Sui Ceng, melainkan berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup. Juga beberapa orang bajak yang kepandaiannya sudah tinggi ikut pula menyerbu.

Akan tetapi Oei Liong dan kawan-kawannya kecele sekali kalau dia mengira akan dapat menangkap hidup-hidup gadis perkasa itu. Biar pun hanya bersenjata sehelai sabuk yang lemas, akan tetapi gadis ini lihai sekali. Tadinya para bajak mengira bahwa betapa pun pandainya gadis itu, tanpa senjata tajam, hanya memegang sehelai sabuk, tentu mudah ditawan, dan sabuk itu tentu tidak berbahaya.

Akan tetapi tak disangka-sangka, setiap kali sabuk yang berubah menjadi sinar merah itu melayang dan ujungnya ‘mencium’ tubuh seorang anggota bajak, orang itu tentu segera memekik ngeri lantas roboh tak bernyawa lagi dalam keadaan tidak terluka sama sekali! Ternyata bahwa inilah ilmu cambuk dari Kiu-bwe Coa-li yang selalu mengarah pada jalan darah kematian dari pada lawan!

Dalam beberapa gebrakan saja, para bajak sungai yang tadinya berlomba ingin sekali berjasa dan menawan serta memeluk gadis cantik itu, dikagetkan oleh robohnya tujuh orang kawan mereka dalam keadaan tewas! Gentarlah mereka semua dan tanpa ada perintah dari Oei Liong dan Oei Hwa, sebagian besar sudah mundur tak teratur!

Di lain fihak, para bajak yang mengeroyok Kong Hoat, juga menemui ‘batunya’. Dayung di tangan nelayan muda ini sungguh lihai sekali dan kekuatannya laksana seekor gajah mengamuk. Banyak kepala anak buah bajak yang pecah terpukul dayung, tulang-tulang iga patah-patah dan remuk kena sambaran senjata yang keras itu.

Para bajak menjadi semakin kocar-kacir. Banyak pula yang tak tahan menghadapi Kong Hoat lalu mengundurkan diri, hanya bergerombol di tempat yang jauh sambil menonton mereka yang masih bertempur.

"Pergunakan jala wasiat!" tiba-tiba Oei Hwa membentak keras, memberi perintah kepada anak buahnya.

Barulah para bajak itu teringat akan senjata yang ampuh itu. Beramai-ramai mereka lalu mengambil jala-jala yang sengaja dibuat bukan untuk menjala ikan, namun untuk menjala manusia, yakni lawan yang tangguh sekali.

Oei Liong sendiri bersama Oei Hwa juga mencabut jala yang tipis dan dilipat-lipat serta diselipkan di punggung mereka dan sekali Oei Liong menggerakkan tangan, sehelai jala melayang di atas kepala Sui Ceng.

Gadis ini cepat-cepat mengelak. Akan tetapi sehelai jala lainnya yang berwarna hijau dan dilepaskan oleh Oei Hwa telah menyambar di atas kepalanya. Sui Ceng terkejut sekali. Kalau sampai dirinya tertutup oleh jala, maka semua ilmu silatnya tak akan ada gunanya lagi, tentu akan rusak dan terhalang. Maka ia melompat lagi mengelak, dan sebentar saja dia sudah terdesak hebat.

Di lain fihak, Kong Hoat juga didesak hebat oleh para bajak yang kini mempergunakan jala untuk mengalahkannya.

"Kwan Cu, mengapa kau diam saja?" Sui Ceng berseru gemas melihat pemuda ini masih enak-enak saja duduk di bawah pohon.

"Sebentar aku akan rampas jala-jala mereka," kata Kwan Cu.

Dia cepat mengeluarkan sulingnya, kemudian dia berlari menghampiri Sui Ceng karena di samping ia lebih menghawatirkan keselamatan gadis ini, juga dalam pertempuran dua rombongan itu, kedudukan Sui Ceng yang lebih berbahaya karena selain dikeroyok oleh para bajak, juga di situ ada Oei Liong dan Oei Hwa yang lihai.

Dengan gerakan yang kaku dibuat-buat, Kwan Cu menyerbu dengan sulingnya. Dia tidak menyerang siapa pun juga, hanya menunggu saja dan ketika ada jala seorang bajak laut dilemparkan ke atas untuk menangkap Sui Ceng, tubuhnya lantas berkelebat, sulingnya digerakkan ke arah jala dan tahu-tahu jala itu robek di tengah-tengahnya sehingga tidak dapat digunakan lagi.

Lain jala menyambar pula. Kwan Cu mengulur tangan kirinya dan tahu-tahu jala ini telah dirampasnya, disendal cepat dan putuslah tali jala yang dipegang oleh bajak itu!

Sui Ceng amat kagum dan memuji kecerdikan Kwan Cu, sungguh pun dia melihat bahwa semua itu bukan karena kepandaian Kwan Cu, melainkan karena kecerdikan pemuda itu. Dia segera meniru perbuatan Kwan Cu, menyambut setiap jala, lalu disambar dan ditarik kuat-kuat sehingga tali jala menjadi putus!

"Kanda, kenapa engkau membantunya? Dia membikin susah pada kami!" seru Oei Hwa dengan kecewa sekali.

"Kwan Cu, calon isterimu itu bawel sekali, mulutnya perlu digampar!" Sui Ceng berkata gemas dengan suara menghina, dan dia cepat melompat ke arah Oei Hwa, benar-benar mengirim pukulan atau tamparan pada muka Oei Hwa.

Dalam menampar ini, Sui Ceng mempergunakan gerak tipu Yu-coan Hoa-jiu (Pukulan Menembus Bunga), maka biar pun tidak hebat datangnya, namun sukar untuk dielakkan.

"Plakk!"

Sebelah pipi Oei Hwa kena ditampar oleh Sui Ceng sehingga kelihatan bekas kemerah-merahan, sementara sudut bibir yang terkena tamparan juga menjadi berdarah. Sui Ceng tertawa girang dan puas, akan tetapi sebaliknya Oei Hwa menjadi marah sekali.

"Liong-ko, terpaksa aku harus menghancurkan kepala budak ini!" seru Oei Hwa marah sekali dan dia cepat melemparkan pedang di tangan kirinya ke arah Sui Ceng.

Lemparan pedang ini adalah ilmu timpuk yang disebut Kim-liong Touw-ka (Naga Emas membuka Pakaian) dan hebatnya bukan main. Pedang itu meluncur cepat bagaikan kilat, menyambar ke arah dada Sui Ceng.

Tentu saja Sui Ceng terkejut sekali karena hal ini benar-benar tidak pernah disangka-sangkanya, dan tahu-tahu sudah ada ‘pedang terbang’ menuju ke dadanya. Dia cepat melempar tubuh ke kiri, akan tetapi tubuhnya masih akan terserempet pedang jika pada saat itu tidak ada sinar berkelebat.

“Tringg…!” pedang yang meluncur tadi tahu-tahu menyeleweng ke pinggir!

Sui Ceng cepat memasang kuda-kuda. Oei Hwa yang melihat timpukan pedang kirinya meleset, segera melompat maju dan memutar pedang di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya cepat mencabut lipatan jalanya. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika melihat betapa jalanya itu sudah hancur dan robek-robek.

Semua itu adalah perbuatan Kwan Cu yang sudah bekerja secara cepat dan diam-diam, mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang tinggi tanpa diketahui oleh siapa pun juga. Tadi ketika melihat Oei Hwa bergerak, dia sudah tahu bahwa nona ini hendak menggunakan pedangnya untuk menimpuk, maka dia segera menyusul timpukan itu dengan batu kecil sehingga pedang tadi tidak dapat mengenai tubuh Sui Ceng. Kemudian dengan gerakan seperti seorang yang mainkan ilmu silat secara ngawur, dia menggerakkan sulingnya ke sana ke mari dan dalam keadaan kacau balau itu dia telah berhasil merusak jala-jala dari Oei Hwa, Oei Liong, dan beberapa orang bajak lain yang berdekatan!

Sesudah melihat bahwa keadaan Sui Ceng tidak berbahaya lagi, dia menengok ke arah Kong Hoat. Alangkah kaget hatinya ketika melihat pemuda kasar ini telah tertangkap oleh jala. Pemuda ini terus mengamuk, memutar dayung di dalam jala itu sehingga para bajak tak ada yang berani mendekat, hanya menambah jala untuk lebih memperkuat kurungan sehingga sebentar saja tubuh Kong Hoat sudah dikurung oleh tujuh helai jala.

Dia benar-benar seperti seekor ikan buas tertangkap di dalam jala, bergerak-gerak dan meronta-ronta tanpa dapat keluar dari jala. Akan tetapi mereka yang menangkapnya juga tidak berani turun tangan!

Kwan Cu cepat melompat dan dengan sulingnya dia menyontek jala-jala itu. Para bajak menyerbu, akan tetapi dengan sangat lincah dan gerakan lucu dibuat-buat seakan-akan gerakannya kaku, Kwan Cu mengelak dan memutari jala. Ia seperti sedang main kucing dan tikus, dikejar-kejar oleh para bajak dan menggelilingi jala itu.

Akan tetapi, diam-diam Kwan Cu mempergunakan kepandaiannya. Suling di tangannya yang dipegang ketika dia berlari-lari mengitari jala menjauhi para bajak, diam-diam sudah merobek jala itu di sana sini sehingga tiba-tiba Kong Hoat merasa jala itu mengendur. Ketika nelayan ini mempergunakan dayungnya mengangkat, ternyata jala-jala itu sudah robek sehingga dengan mudah saja dia dapat keluar dari situ.

“Jahanam keparat, rasakan pembalasanku!" seru nelayan ini dengan amarah meluap dan dayungnya lalu mengamuk hebat sekali.

Kwan Cu kembali duduk di bawah pohon sambil menonton pertempuran. Dia melihat Sui Ceng kini hanya dikeroyok dua oleh Oei Hwa serta Oei Liong, karena para anak buah bajak sudah pada mengundurkan diri, tak berani lagi menghadapi gadis perkasa itu.

Ada pun Kong Hoat kini juga dijauhi oleh lawan-lawannya setelah dia berhasil menyapu roboh enam orang bajak lagi. Melihat Sui Ceng di keroyok, Kong Hoat segera berlari-lari sambil menyeret dayungnya, langsung membantu Sui Ceng.

Sekarang pertempuran terpecah dua. Sui Ceng menghadapi Oei Hwa sedangkan Kong Hoat mengamuk dan menyerang Oei Liong. Hebat sekali pertempuran ini. Kepandaian mereka seimbang, hanya bedanya Kong Hoat lebih mengandalkan tenaga besar ada pun Oei Liong lihai sekali permainan goloknya dan lebih cepat gerakkannya.

Ada pun pertandingan antara Sui Ceng dan Oei Hwa tidak begitu ramai, karena memang tingkat kepandaian Sui Ceng jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat kepandaian Oei Hwa. Kini, sesudah tidak dikeroyok lagi, Sui Ceng menggerakkan sabuk merahnya sedemikian cepatnya sehingga Oei Hwa menjadi pening dan tidak lama kemudian dia menjerit keras, lalu terhuyung-huyung dan roboh telentang tak bergerak lagi. Ujung sabuk di tangan Sui Ceng telah menotok jalan darah kematian di dadanya!

Melihat Kong Hoat terdesak oleh Oei Liong, Sui Ceng cepat menggerakkan sabuknya. Pada saat itu, golok Oei Liong sedang menyambar dari atas untuk dibacokkan ke arah kepala Kong Hoat. Akan tetapi alangkah kaget hati Oei Liong ketika tiba-tiba dia merasa goloknya terlepas dari tangan dan pada waktu dia menengok, ternyata bahwa goloknya itu sudah terampas oleh sabuk merah Sui Ceng. Kecut hati kepala bajak ini dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut minta-minta ampun.

Melihat ini, Sui Ceng ragu-ragu, akan tetapi Kong Hoat segera menggerakkan dayungnya dan sekali kemplang saja remuklah kepala Luan-ho Oei Liong.

"Saudara Kong Hoat, kenapa kau membunuh dia yang sudah tidak melawan?" tanya Sui Ceng dengan suara tidak puas karena menganggap perbuatan Kong Hoat ini keterlaluan.

"Bun-lihiap, kejahatan bagaikan pohon liar dan untuk membasminya kita harus mencabut akarnya. Apa bila kepalanya mati, anak buahnya masih ada harapan untuk kapok," kata Kong Hoat.

Kata-kata ini segera terbukti. Para anak buah bajak yang melihat kedua orang pemimpin mereka tewas, sisanya lalu melempar senjata dan berlutut. Mereka khawatir kalau-kalau keluarga mereka yang tinggal di dusun itu dibasmi oleh tiga orang pendekar itu, maka cepat-cepat mereka memohon ampun.

"Sam-taihiap (Tiga Pendekar Besar), mohon sudi mengampuni kami."

Melihat bahwa kata-kata Kong Hoat ternyata benar adanya, Sui Ceng lalu tersenyum dan berkata,

"Terserah kepadamu untuk meghadapi mereka, saudara Kong Hoat. Kau lebih mengerti bagaimana harus melayani mereka itu."

Kong Hoat lalu mengangkat dayungnya dan memalangkan dayung itu di depan dadanya, kemudian dia berkata,

"Kalian semua harus bersyukur bahwa dua orang kawanku yang gagah perkasa ini masih mengampuni jiwa anjingmu. Sekarang kalian harus dapat mengubah cara hidupmu. Kami tak akan melarang kalau kiranya kalian membajak perahu-perahu pembesar pemerintah penjajah, atau minta sumbangan dari para hartawan. Akan tetapi, kalian jangan bertindak sembarangan saja seperti yang dilakukan oleh dua orang pemimpinmu yang telah tewas. Kalian kami bebaskan, akan tetapi hati-hati, kalau lain kali kami masih mendengar bahwa sepak terjangmu keterlaluan, pohon ini menjadi contohnya!"

Sesudah berkata demikian, Kong Hoat lalu menggerakkan dayungnya ke arah sebatang pohon. Terdengar suara keras, kemudian pohon itu tumbang karena patah dihantam oleh dayung itu.

Semua bajak menjadi pucat dan mengangguk-angguk, menyatakan taat akan pesanan ini.

"Ketahuilah bahwa kawan-kawanku ini adalah pendekar-pendekar berilmu tinggi, ada pun aku sendiri meski pun tidak ternama akan tetapi kiranya kalian sudah mendengar nama ibuku, yakni Liok-te Mo-li!"

Mendengar nama ini, benar saja semua bajak itu menjadi gemetar seluruh tubuh mereka dan saling memandang dengan gelisah. Nama Liok-te Mo-li siapakah yang tidak pernah mendengarnya? Wanita sakti itu boleh dibilang menjadi ratu dari segala bajak air, karena selain sakti, juga pandai sekali di dalam air dan ganasnya terhadap penjahat luar biasa.

"Hamba sekalian akan mentaati perintah dan tidak berani melanggarnya," kata beberapa orang bajak itu.

"Nah, sekarang uruslah semua mayat ini dan ubahlah cara hidup kalian," kata pula Kong Hoat. Kemudian tanpa banyak cakap lagi, Kong Hoat, Sui Ceng dan Kwan Cu keluar dari dusun itu.

Setelah tiba di luar hutan, Kong Hoat kemudian menjura kepada Sui Ceng dan Kwan Cu, katanya dengan sejujurnya,

"Ji-wi benar-benar hebat sekali, siauwte benar-benar tunduk atas kepandaian Ji-wi yang luar biasa tingginya. Mudah-mudahan saja kelak siauwte akan mendapat keberuntungan untuk bertemu dengan Ji-wi. Selamat tinggal." Sesudah berkata demikian, nelayan muda itu menyeret dayung dan pergi situ.

Sui Ceng dan Kwan Cu berpandangan dan Kwan Cu tertawa.

"Kong Hoat benar-benar hebat dan mengagumkan. Akan tetapi kau lebih-lebih luar biasa sekali, Sui Ceng. Aku tunduk betul akan kepandaianmu."

"Akan tetapi kau jauh lebih cerdik, Kwan Cu. Tadi aku benar-benar binggung sekali ketika dikurung oleh jala-jala itu. Baiknya kau datang dan memberi contoh yang amat baik. Aku percaya penuh bahwa dengan akalmu yang cerdik, kau akan mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silat. Ehh, kata guruku, kau mungkin sudah mempelajari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Betulkah ini?"

Merah wajah Kwan Cu. Tadi ia telah berhasil menyembuyikan kepandaiannya, maka kini ia hanya menggeleng-geleng kepalanya tanpa memberi jawaban. Untuk menyimpangkan perhatian Sui Ceng tiba-tiba dia berkata,

"Sui Ceng, tadi kau kehilangan sepasang pedangmu, apakah kau tak mau mengambilnya dulu? Bukankah tadi dirampas oleh Oei Liong?"

Benar saja. Sui Ceng lupa untuk bertanya-tanya lagi tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng, sebaliknya dia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata,

"Pedang-pedang itu pedang biasa saja, tanpa itu pun aku masih mempunyai ang-kin ini. Kalau pedang Liong-coan-kiam, barulah boleh disebut pedang baik!"

"Liong-coa-kiam? Pedang apakah itu dan milik siapa?" Kwan Cu bertanya dengan suara girang karena dia telah berhasil mengalihkan perhatian Sui Ceng dari pertanyaan tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Sui Ceng kelihatan kaget dan menyesal bahwa dia telah terlanjur bicara tentang pedang itu.

"Pedang Liong-coa-kiam adalah pedang peninggalan Menteri Lu Pin untukmu, berada di Goa Tengkorak."

Kini Kwan Cu teringat akan tugasnya mengunjungi Goa Tengkorak, maka dia lalu berkata cepat.

"Ahh, aku harus ke sana sekarang juga! Aku perlu bertemu dengan kongkong Lu Pin."

Sudah bergerak bibir Sui Ceng untuk menceritakan tentang kematian Lu Pin, akan tetapi ditahannya bibir itu. Memang, biar pun Sui Ceng pernah berkata akan pesan terakhir dari Menteri Lu Pin, tapi Kwan Cu mengira bahwa kongkong-nya masih hidup, yakni menurut anggapan orang-orang di dalam istana.

"Kalau begitu kita berpisah di sini," kata Sui Ceng.

Kwan Cu nampak kecewa sekali. "Benar kata-katamu, Sui Ceng. Kau... kau tentu tidak sudi melakukan perjalanan bersamaku."

Sui Ceng tertawa melihat sikap pemuda ini. "Bukan begitu, kita memang tidak memiliki keperluan untuk melakukan perjalanan bersama. Bahkan aku mengajak kau berlomba, siapakah yang akan dapat memenuhi pesanan kongkong-mu itu lebih dahulu."

“Hm… kau tidak adil. Kau sudah tahu akan pesanan itu, sedangkan aku belum. Baiklah, aku segera akan menyusulmu, Sui Ceng. Kita pasti akan bertemu lagi kelak."

"Selamat berpisah," kata Sui Ceng sambil memutar tubuhnya.

"Selamat berpisah, sampai berjumpa kembali," Kwan Cu berkata tanpa memutar tubuh, bahkan memandang kepada gadis itu yang mulai berjalan pergi.

Akan tetapi tiba-tiba Sui Ceng membalikkan tubuhnya sambil berseru,

"Kwan..." Sui Ceng terpaksa menghentikan panggilannya karena melihat bahwa pemuda itu ternyata belum pergi, masih berdiri memandangnya! Merah muka Sui Ceng melihat kenyataan ini.

"Ada apakah, Sui Ceng? Masih ada sesuatu yang harus kita bicarakan agaknya?"

"Aku lupa untuk bertanya mengenai sikapmu tadi ketika kita masih dibelenggu," berkata sampai di sini, wajah nona itu menjadi makin merah dan sepasang matanya menyinarkan cahaya penasaran. "Kau bilang bahwa kau gembira sekali karena keaadan kita waktu itu menyatakan bahwa kita seakan-akan saling... saling menikah? Mengapa? Mengapa kau gembira?"

Terbelalak lebar sepasang mata Kwan Cu yang bersinar tajam dan sangat berpengaruh itu. Perlahan-lahan kedua pipinya merah sekali.....

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Sakti Jilid 31-35"

Post a Comment

close