Pendekar Sakti Jilid 11-15

Mode Malam
Pendekar Sakti Jilid 11-15

Sambil mencekik leher ular dengan kedua tangan, dia menggelundung ke kiri di mana dia melihat beberapa potong batu karang. Sesudah mengambil sepotong batu karang yang sebesar kepalanya dan yang tajam runcing pinggirnya, dia lalu melepaskan cekikannya.

Ular itu menyerang lagi dengan mulut terbuka dan Kwan Cu secepat kilat memasukkan batu itu ke dalam mulut ular! Karena dia memasukkan dengan tenaga kuat dan gigi-gigi ular itu mendoyong ke dalam, maka sesudah batu karang ini memasuki mulut sampai di belakang gigi-gigi ular, batu itu tidak dapat keluar kembali akibat terganjal oleh gigi atas dan bawah!

"Bagus, Kwan Cu!" Ang-bin Sin-kai tertawa-tawa memuji.

Mendengar pujian guru ini, besarlah hati Kwan Cu. Ia tidak takut akan gigitan ular itu lagi. Kini ular itu pun menjadi bingung sekali, terus menggerak-gerakkan kepalanya berusaha hendak melepaskan benda aneh yang mengganjal mulutnya. Saking bingungnya, lilitan pada tubuh Kwan Cu yang untuk sesaat luar biasa eratnya, makin lama semakin kendor dan akhirnya dia melepaskan tubuh yang dililitnya. Ular itu menggeliat-geliat, memukul-mukulkan kepalanya pada tanah dan Kwan Cu segera bertindak. Ia mengambil sepotong batu lagi dan sekali pukul saja pecahlah kepala ular itu!

"Hemm, bagus! Lekas bikin api dan panggang sebelum darahnya kering. Jangan terlalu lama, dibikin setengah matang saja!" Ang-bin Sin-kai berkata dengan air liur memenuhi mulutnya dan beberapa kali menelan ludah.

Setelah daging ular matang dan merasai daging itu, Kwan Cu harus mengakui kebenaran kata-kata suhu-nya. Daging itu terasa manis dan gurih sekali biar pun dipanggang tanpa diberi bumbu dan garam, hanya saja setelah memasuki tubuh, membuat perut dan dada terasa panas dan darah mengalir lebih cepat dari biasanya.

Setelah makan kenyang. Ang-bin Sin-kai berkata kepada Kwan Cu.

"Perkelahianmu dengan ular tadi merupakan pengalaman baik sekali. Kau sekarang tahu bahwa ular itu mempunyai tenaga lemas. Kelihatannya saja ia lambat dan lemah, namun lilitannya makin lama makin kuat karena ia mempergunakan tenaga dalam yang mengalir di dalam tubuhnya. Menghadapi lawan yang memiliki tenaga lweekang (tenaga dalam), memang kita harus melayani dengan kelicikan pula. Kalau kau mempergunakan tenaga kasar, kau akan kalah. Maka baik sekali kau tadi mengerahkan ambekan (pernapasan) untuk menghadapi lilitan tubuh ular. Kalau kau menggunakan kekerasan, tentu akan ada tulangmu yang patah dan uratmu tergelincir dari tempatnya. Lain kali biar kau melatih diri menghadapi binatang yang selalu mempergunakan tenaga kasar, yakni harimau.”

Terbelalak sepasang mata Kwan Cu memandang suhu-nya.

"Waaah, Suhu. Bagaimana teecu menghadapi seekor harimau? Binatang itu galak sekali dan telah terkenal sebagai raja hutan. Apakah teecu kiranya akan sanggup mengalahkan harimau?"

"Kau baru saja mempunyai kepandaian ilmu pukulan Sam-hoan-ciang, tentu saja masih berat. Biar sekarang aku melatihmu dengan ilmu mempertahankan diri yang di sebut Ilmu Silat Pai-bun Tui-pek-to (Mengatur Pintu Menghadapi Ratusan Golok). Kalau kau sudah bisa mainkan ilmu silat ini, agaknya tak akan mudah kau diserang lawan."

Dengan girang Kwan Cu kemudian mulai mempelajari Pai-bun Tui-pek-to, yang dilakukan mengandalkan ginkang yang sangat tinggi. Isinya hanya ilmu-ilmu untuk mengelak dan menangkis serangan lawan serta melindungi diri mempergunakan kecepatan tubuh dan mengatur pada saat bagaimana mempergunakan tenaga lweekang dan saat bagaimana pula mempergunakan gwakang. Terlalu panjang untuk dituturkan sejelasnya, pendeknya ilmu silat Pai-bun Tui-pek-to ini sangat baik untuk seorang ahli silat tangan kosong kalau menghadapi lawan-lawan yang bersenjata.

Beberapa bulan berlalu tanpa terasa dan Kwan Cu sudah memperoleh kemajuan pesat. Belum boleh dikata bahwa dia sudah menyempurnakan ilmu Pai-bun Tui-pek-to, karena tak seperti Sam-hoan-ciang yang hanya mempunyai tiga jurus, ilmu mempertahankan diri ini meski pun hanya mempunyai delapan belas macam jurus, namun setiap jurus dapat dipecah-pecah menjadi puluhan bagian. Semua tergantung dari pada kedudukan lawan menyerang.

Kini Ang-bin Sin-kai menurut kehendak muridnya lagi, yaitu mencari Bukit Liang-san yang masih amat jauh. Pada saat mereka tiba di kota Thiat-ang-bun, kota kecil yang berpintu gerbang besi berwarna merah, mereka berhenti selama tiga hari.

Di dalam kota kecil itu banyak terdapat pemandangan indah, bahkan di sebelah selatan kota itu terdapat telaga kecil yang airnya sangat biru serta dikelilingi pohon-pohon dan kembang-kembang. Ang-bin Sin-kai senang sekali pelesir di daerah ini, maka dia sengaja bermalas-malasan untuk pergi meninggalkannya.

Pada hari ketiga, pada waktu Kwan Cu dan gurunya tengah berjalan di dekat telaga itu, tanpa sengaja mereka melihat berkelebatnya seorang Tartar yang wajahnya tampan dan berpakaian perwira.

Ang-bin Sin-kai tak mengenal orang ini, akan tetapi Kwan Cu mengenalnya dengan baik. Apa lagi, sejak mereka memasuki kota Thiat-ang-bun, Kwan Cu yang selalu mengambil perhatian pada apa yang berada di sekitarnya, melihat orang ini beberapa kali sehingga timbul pikirannya bahwa orang ini tentulah sedang menyelidiki keadaan dia dan gurunya. Dan orang itu bukan lain adalah An Lu Kui, adik dari Panglima An Lu Shan.

Akan tetapi An Lu Kui seperti yang tidak mengenal lagi kepada Kwan Cu dan anak ini pun tidak mempedulikannya. Ia tidak mempunyai hubungan lagi dengan perwira ini, tidak ada sangkut-pautnya lagi.

Kwan Cu tidak tahu bahwa sebetulnya, setelah bertemu dengan dia dan gurunya, An Lu Kui diam-diam melakukan penyelidikan dan selalu mengikutinya. Siapa tahu kalau-kalau anak aneh ini hendak mengambil kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang tulen. Sedangkan kakek jembel yang bersama dengan bocah itu, Lu Kui tidak mengenalnya sama sekali. Bila saja dia tahu bahwa kakek itu adalah Ang-bin Sin-kai, agaknya siang-siang dia telah angkat kaki dan kabur.

"Suhu, ada orang mengikuti kita," kata Kwan Cu perlahan kepada suhu-nya.

"Mana dia?"

"Entah, dia sudah pergi lagi, Suhu. Akan tetapi, telah beberapa kali teecu melihatnya dan agaknya dia memperhatikan kita."

"Siapa sih orangnya?"

"Dia adalah penculik yang dahulu membawa teecu dan Gui-siucai ke markas Panglima An Lu Shan, yaitu adik dari panglima itu sendiri yang bernama An Lu Kui."

"Hemm, dia mau apa?"

"Entahlah, Suhu. Akan tetapi, lebih baik kalau Suhu mengetahuinya, karena dia lihai juga. Dulu pernah teecu melihat dia mendorong roboh sebatang pohon besar, sungguh pun dia tidak berdaya menghadang Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan kedua orang muridnya."

Kwan Cu lalu menuturkan pengalamannya ketika diculik oleh An Lu Kui dahulu. Gurunya tersenyum dan berkata gembira,

"Bagus, kalu begitu, biarlah dia menjadi pengujimu."

"Penguji bagaimana, Suhu?"

"Kau sudah mempelajari ilmu mempertahankan diri Pai-bun Tui-pek-to, coba kau hadapi dia, hitung-hitung untuk berlatih. Kalau dia muncul lagi, kau pancing dia ke luar kota, ke tempat sunyi."

Kwan Cu mengangguk, dan hatinya berdebar. Ia tahu bahwa An Lu Kui murid mendiang Li Kong Hoat-ong itu tak boleh dibuat main-main. Ia adalah seorang perwira yang pandai dan gagah perkasa, lalu bagaimana dia yang baru melatih ilmu silat beberapa bulan saja sanggup menghadapinya? Akan tetapi karena dia bersama suhu-nya dan perlawanannya adalah atas perintah suhu-nya, hatinya menjadi besar.

Tidak lama kemudian, benar saja dia melihat An Lu Kui muncul lagi, berjalan di sebelah belakang. Kwan Cu menengok dan sengaja memperlihatkan muka ketakutan, kemudian menggandeng tangan suhu-nya dibawa berjalan menuju ke pegunungan kecil yang tidak jauh dari sana letaknya. Pancingannya berhasil karena melihat wajah Kwan Cu nampak ketakutan dan bergesa-gesa ke bukit kecil, An Lu Kui lalu mengejar!

Sesudah berada di tempat yang sunyi di bukit kecil itu, Kwan Cu berhenti dan bersama suhu-nya menengok ke belakang. Tampak An Lu Kui berlari cepat menghampiri mereka dan setelah berhadapan, dia menegur.

"Ehh, tidak tahunya kau Kwan Cu bocah itu! Kau hendak pergi ke manakah?"

Kwan Cu memang telah mendapat perintah dari gurunya untuk mencoba kepandaiannya dengan perwira ini, maka dia memancing keributan dengan meniru jawaban Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu ketika dahulu bertemu dengan dia di pintu gerbang kota raja, maka dia menjawab, "Aku datang dari belakang dan menuju ke depan. Ada urusan apakah kau menyusulku, An-sianseng?"

Mendengar jawaban yang kurang ajar ini tentu saja An Lu Kui mendelikkan matanya.

"Bocah gundul! Ketika dahulu menjadi murid Gui-suicai, kau masih mengerti aturan dan bersikap sopan, sekarang kau telah menjadi seorang berandalan. Jawab yang betul, kau hendak pergi ke mana?"

"Ke mana pun aku pergi, tidak ada sangkut-pautnya dengan kau!" kata Kwan Cu dengan sengaja agar perwira ini marah dan menyerangnya sehingga dia dapat mempraktekkan ilmu silatnya Pai-bun Tui-pek-to.

"Setan cilik! Bukankah kau hendak pergi ke tempat disembunyikan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Hayo jawab yang betul, kalau tidak, akan kukemplang kepalamu yang gundul itu sampai pecah!"

Tiba-tiba saja terdengar suara meledak dari Ang-bin Sin-kai. "Ha-ha-ha! Agaknya semua orang sudah tergila-gila kepada kitab tiada guna itu! Eh, Kwan Cu, kenapa kau meladeni badut ini? Kait saja kakinya, biar dia menggelundung ke bawah!"

Bukan main marahnya An Lu Kui mendengar ejekan ini. "Bangsat tua bangka! Apakah matamu buta dan tak mengenal orang? Kau sedang berhadapan dengan An Lu Kui, adik dari panglima besar An Lu Shan! Berlutut kau!"

Kwan Cu melangkah maju. "Orang she An, jangan kau menghina guruku!"

"Kau setan gundul mau apa?" bentak An Lu Kui yang cepat menampar dengan tangan kanannya ke arah kepala Kwan Cu yang gundul.


Akan tetapi dengan sedikit menundukkan kepala saja, Kwan Cu sudah dapat mengelak dari pukulan ini. An Lu Kui menjadi penasaran dan marah sekali. Oleh karena itu, sambil menggereng bagaikan seekor harimau buas, dia menubruk maju dan mengirim pukulan bertubi-tubi, diselingi dengan tendangan kakinya!

Akan tetapi, sebentar saja dia menjadi tertegun ketika melihat betapa dengan gerakan amat lincah, Kwan Cu dapat mengelak dari semua pukulan dan tendangannya itu. Bukan main! Baru beberapa bulan berselang, bocah gundul ini masih belum memiliki gerakan demikian lincah.

Ahh, jangan-jangan gurunya yang seperti pengemis jembel itu berkepandaian tinggi pula, pikirnya. Maka dia mempercepat serangannya dan kini dia menggunakan ilmu silatnya disertai pengerahan tenaga lweekang!

Kwan Cu baru saja belajar beberapa bulan. Ada pun An Lu Kui telah memiliki kepandaian tinggi, karena itu menghadapi serangan-serangan hebat ini, tentu saja Kwan Cu menjadi repot sekali. Memang betul bahwa dengan Ilmu Silat Pai-bun Tui-pek-to, dia masih dapat mengelak mau pun menangkis, akan tetapi dia tidak dapat membalas sama sekali dan seakan-akan untuk bernapas pun tiada kesempatan!

"Kau menyia-nyiakan banyak kesempatan baik!" kata Ang-bin Sin-kai mencela muridnya. "Campur Pai-bun Tui-pek-to dengan Sam-hoan-ciang!"

Kwan Cu maklum akan maksud suhu-nya. Namun karena kurang pengalaman tetap saja dia tidak dapat membalas serangan-serangan An Lu Kui yang mengamuk semakin hebat itu.

An Lu Kui kali ini benar-benar penasaran dan marah sekali. Sudah dua puluh jurus lebih dia menyerang, namun tetap saja belum pernah dia dapat menempiling kepala lawannya si bocah gundul ini. Kini mendengar ucapan kakek itu, mengertilah dia bahwa kakek ini memang benar-benar lihai dan terang bahwa si bocah gundul mendapat latihan dari dia.

Celaka, keluh An Lu Kui, bila aku tidak lekas-lekas mengalahkan setan cilik ini, aku bisa dipermainkan oleh setan besar itu. Maka, dia lalu mencabut sepasang siang-kek (senjata tombak bercagak) dari punggungnya dan lantas memutar dua senjata ini bagaikan kitiran cepatnya.

"Kwan Cu kau melompatlah ke punggungku dan lihat baik-baik cara aku mainkan Pai-bun Tui-pek-to dan Sam-hoan-ciang!" kata Ang-bin Sin-kai.

Kwan Cu tertawa gembira dan sekali dia mengenjotkan kedua kakinya, bagaikan seekor monyet dia telah melompat ke atas punggung suhu-nya. An Lu Kui merasa kepalang dan dia sudah merasa malu serta marah dijadikan permainan oleh Kwan Cu, maka kini dia menyerang kakek jembel itu dengan ilmu silatnya yang lihai dan berbahaya.

Kwan Cu melihat gerakan tubuh suhu-nya dengan penuh perhatian. Dengan digendong di punggung suhu-nya, dia merasa seakan-akan dia sendiri yang menghadapi An Lu Kui dan dia mengintai dari balik punggung gurunya itu kepada semua gerakan An Lu Kui dan gerakan suhu-nya. Benar saja, gurunya menghadapi sepasang tombak cagak An Lu Kui dengan ilmu mempertahankan diri Pai-bun Tui-pek-to!

Melihat betapa gerakan gurunya amat sederhana, namun dapat dengan tepat dan tenang menghindarkan semua serangan sepasang tombak cagak di tangan An Lu Kui, Kwan Cu menjadi kagum sekali. Kini terbukalah matanya dan tahulah dia bahwa tadi pada waktu menghadapi serangan An Lu Kui ia terlalu gugup dan terlalu banyak membuang gerakan sendiri. Sebenarnya, kalau dia bisa tenang seperti suhu-nya, tidak usah terlalu banyak bergerak dan hanya bergerak seperlunya saja, Ilmu Silat Pai-bun Tui-pek-to sudah dapat menyelamatkan diri dari serangan lawan.

"Kau lihat lowongan-lowongan itu?" kata Ang-bin Sin-kai pada muridnya. "Buka matamu baik-baik, setiap kali dia melakukan serangan, tentu terbuka sebuah pintu! Mengertikah kau? Coba sekarang kau mencari dan menemukan pintu yang terbuka dan kau gunakan tanganmu menyerang pintu terbuka itu!"

Kwan Cu mengerti. Yang dimaksud oleh gurunya mengenai pintu terbuka adalah bagian-bagian tubuh yang terbuka atau tidak terlindung dari lawan dan sekarang setelah berada di punggung suhu-nya dan tidak gugup karena dia sendiri tidak menghadapi serangan, memang matanya terbuka dan dia bisa melihat betapa setiap kali menyerang, An Lu Kui membuka sebagian tubuhnya yang tidak terlindung sama sekali.

Mendengar perintah suhu-nya ini, maka mulailah Kwan Cu menyerang dengan pukulan Sam-hoan-ciang! Tiap kali An Lu Kui menyerang, tentu terbuka sebuah pintu di dadanya, lambungnya, pundaknya, lehernya, dan lain-lain bagian tubuh lagi. Kwan Cu tidak ingin menyia-nyiakan waktu baik ini dan tiap kali serangan datang, suhu-nya mengelak dan dia menghantam dengan tangannya.

“Bak! Buk! Bak! Buk!” terdengar suara ketika tubuh An Lu Kui terpukul secara tepat oleh tangan Kwan Cu yang kecil!

An Lu Kui menyumpah-nyumpah, Ang-bin Sin-kai tertawa tergelak-gelak dan Kwan Cu bersorak girang. Bocah gundul itu kini duduk di punggung gurunya dengan tangan kanan terangkat, siap untuk menempiling, menampar, dan menghantam dan menyodok ke arah ‘pintu terbuka’ dari lawannya!

Ada pun bagi An Lu Kui, Ang-bin Sin-kai seakan-akan merupakan manusia asap saja. Ke mana pun sepasang tombaknya menyerang, selalu tidak mampu mengenai tubuh kakek aneh itu. Ia mulai menjadi gentar dan tamparan-tamparan tangan Kwan Cu biar pun tidak bisa melukainya, akan tetapi terasa cukup pedas dan memanaskan kulit, terutama sekali memanaskan hatinya.

"Orang Tartar, kau masih belum cukup?" tiba-tiba Ang-bin Sin-kai berseru.

Entah dengan gerakan apa, karena Kwan Cu sendiri tidak mengenal gerakan gurunya ini, tahu-tahu sepasang tombak cagak di tangan An Lu Kui itu telah pindah tangan. Ang-bin Sin-kai menggerakkan kedua tombak itu dan…

“Krakk!” terdengar suara dan patahlah dua batang tombak itu menjadi empat batang!

Sambil tersenyum Ang-bin Sin-kai melemparkan potongan-potongan tombak itu ke dalam jurang, kemudian berkata kepada An Lu Kui yang berdiri dengan muka merah dan hati terheran-heran.

"Tidak patut sekali seorang perwira seperti engkau ini menghina seorang bocah kecil. Pergilah!"

An Lu Kui menjadi malu sekali. Ia menjura sambil berkata, "Mohon banyak maaf siauwte tidak mengenal orang pandai. Siauwte An Lu Kui hendak mohon tanya, siapakah nama Lo-enghiong yang terhormat?"

Ang-bin Sin-kai tidak mau melayaninya, bahkan lalu menggerakkan kedua kakinya dan melompatlah dia turun dari bukit.

"An-sian-seng (tuan An), suhu-ku itu adalah Ang-bin Sin-kai!" berkata Kwan Cu yang lalu cepat-cepat berlari turun gunung mengikuti suhu-nya.

An Lu Kui tertinggal di bukit itu, berdiri tak bergerak bagaikan patung. Celaka tiga belas, pikirnya. Mengapa aku selalu bertemu dengan setan-setan itu? Dia lantas teringat akan pengalamannya dengan Pak-lo-sian Siangkoan Hai, dan belum lagi sakit hatinya karena terhina oleh kakek itu terbalas, sekarang dia mengalami hinaan pula dari Ang-bin Sin-kai!

Ahhh, alangkah banyak orang Han yang hebat dan luar biasa sekali, keluhnya. Baiknya mereka itu tidak ambil peduli tentang kedudukan dan keadaan pemerintah. Kalau kaisar tidak demikian bodoh dan dapat menghargai orang-orang seperti itu, negara manakah di dunia ini yang dapat menandingi Tiongkok?

Dengan hati mengkal sekali, An Lu Kui lalu turun dari bukit itu untuk kembali ke markas besar kakaknya di mana dia melatih diri dalam ilmu silat dan ilmu perang dengan sangat tekunnya. Dalam hal ilmu perang, barisan yang dipimpin oleh An Lu Shan benar-benar mendapat kemajuan yang hebat sekali, berkat petunjuk dan pelajaran dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng palsu yang diterjemahkan Gui Tin atau Gui-siucai itu…..

********************

Ada pun Kwan Cu lalu melanjutkan perjalanannya dengan Ang-bin Sin-kai, dan semenjak itu, Kwan Cu makin tekun mempelajari ilmu silat, karena kini terlihatlah olehnya kegunaan dari pada ilmu ini. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan murid-murid tokoh lain, dia tetap saja terhitung yang paling bodoh.

Terhitung beberapa bulan yang lalu, ketika menghadapi kedua orang murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, dia masih dipermainkan dan beberapa hari kemudian semenjak bertemu dengan An Lu Kui, terjadilah peristiwa lain yang di samping menunjukkan bahwa ia masih kalah jauh oleh murid tokoh lain, juga membikin tubuh dan hatinya sakit sekali.

Hal itu terjadi ketika mereka sudah sampai di kaki bukit Liang-san. Ketika itu, Kwan Cu sedang hendak bertanya keterangan pada penduduk dusun tentang mendiang gurunya yang dahulu di tempat ini terkenal dengan sebutan Gui-lokai (pengemis tua she Gui). Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti gembreng dipukul dan disusul oleh suara yang keras.

"Lu Thong, lihat ini adalah saudara misanmu!"

Di depan Kwan Cu muncullah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, hwesio gundul yang bundar seperti bal tubuhnya itu, tokoh utama dari selatan! Dan di sampingnya berjalan seorang anak laki-laki yang dikenal baik oleh Kwan Cu sebagai putera bangsawan yang dahulu menghina Gui Tin dan yang memerintah anjingnya untuk mengeroyok Gui-suicai!

Memang benar, anak itu adalah putera dari Lu Seng Hok, atau cucu dari Menteri Lu Pin! Seperti biasanya, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu melakukan perantauannya, kali ini diikuti oleh muridnya.

Semenjak menjadi murid Kak Thong Taisu, sikap Lu Thong benar-benar berubah sekali. Dia mempelajari ilmu silat dengan amat tekunnya dan menurut segala nasihat suhu-nya. Di luarnya, anak ini bersikap baik sekali, pendiam dan tidak jahat atau sombong seperti dahulu. Bahkan pakaiannya, menurut petunjuk dari suhu-nya, tidak mewah seperti dulu pula, melainkan pakaian sederhana saja.

Biar pun dia dibawa merantau dan hidup sengsara, dia tidak pernah mengeluh, bahkan tidak menolak ketika suhu-nya menyuruh dia mengemis makanan! Lu Thong mempunyai kekerasan hati dan ketekunan luar biasa sekali sehingga segala keinginan dan nafsunya dapat dia tekan sedemikian rupa hingga seolah dia merupakan seorang murid yang baik sekali. Tentu saja gurunya amat sayang kepadanya dan menurunkan ilmu-ilmu silat yang tinggi sehingga sebentar saja Lu Thong memperoleh kemajuan pesat sekali.

Ketika melihat Kwan Cu dan Ang-bin Sin-kai, tentu saja Jeng-kin-jiu menjadi girang sekali dan diam-diam dia mengandung hati iri terhadap Ang-bin Sin-kai. Sesungguhnya, adalah pengharapannya untuk menurunkan kepandaiannya bersama Ang-bin Sin-kai di tepi Laut Po-hai itu.

Sebaliknya, Lu Thong mengenal Kwan Cu sebagai bocah jembel yang dahulu menolong jembel tua di halaman rumahnya, maka diam-diam dia menjadi gemas sekali. Dulu dia mudah ditakut-takuti oleh bocah gundul ini, akan tetapi sekarang, sesudah dia merasa mempunyai kepandaian ilmu silat, dia tidak takut lagi dan bahkan ingin dia membalasnya! Tetapi dia tidak kenal kepada Ang-bin Sin-kai, yang sesungguhnya masih kongkong-nya sendiri, karena ayahnya adalah keponakan dari pengemis tua ini.

"Gundul bangkotan! Kau di sini?" Ang-bin Sin-kai menegur dengan muka girang.

Di antara para tokoh persilatan, dia lebih suka hwesio gemuk ini yang selain lucu, juga mempunyai kejujuran dan berhati baik. Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tertawa bergelak.

"Lucu, lucu sekali. Ha-ha-ha! Sekeluarga bertemu di sini, ha-ha-ha! Dan alangkah hebat dan lucunya keluarga ini. Ehh, pengemis kelaparan, kau tahu siapa anak yang menjadi muridku ini?"

Ang-bin Sin-kai memandang, akan tetapi dia tidak mengenal cucunya sendiri. Tadi ketika Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu memanggil Lu Thong, dia tidak memperhatikan. Maka dia lalu menggelengkan kepalanya.

"Kenalkah kau kepada pengemis kelaparan ini?" Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu bertanya kepada muridnya.

Juga Lu Thong menggelengkan kepala sesudah memandang tajam. "Teecu tidak kenal, Suhu."

"Lu Thong, inilah Kongkong-mu yang tidak mau mengajarkan ilmu silat kepadamu!" kata Kak Thong Taisu.

Terbelalak mata Lu Thong.

"Ang-bin Sin-kai...?" katanya perlahan.

"Ya, ya! Dialah Ang-bin Sin-kai Lu Sin, Twa-pek (Uwa) dari ayahmu!"

Ada pun Ang-bin Sin-kai juga terkejut mendengar kata-kata ini.

"Gundul jahat! Apakah muridmu ini putera Lu Seng Hok?"

Lu Thong sekarang telah dapat mengubah sikapnya dan dia pun sangat cerdik. Dia tahu bahwa Ang-bin Sin-kai ini merupakan seorang tokoh yang pandai, maka dia cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan pengemis tua itu.

"Kongkong, harap maafkan cucumu yang tidak tahu adat!" katanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Diam-diam Kwan Cu merasa heran sekali mengapa anak yang begitu jahat seperti ketika dilihatnya di depan gedung itu, kini dapat bersikap sopan santun dan baik.

Walau pun Ang-bin Sin-kai Lu Sin tidak setuju dengan pendirian adiknya Lu Pin yang bekerja membantu kaisar yang dianggapnya lemah dan tidak baik, akan tetapi melihat cucunya ini, timbul juga rasa terharu dalam hatinya.

"Baguslah kalau kau menjadi murid Jeng-kin-jiu, belajarlah baik-baik," berkata Ang-bin Sin-kai sambil mengelus-elus kepala Lu Thong yang berambut hitam panjang itu.

"Kongkong, biar pun cucumu ini menjadi murid dari Suhu Kak Thong Taisu, namun masih amat mengharapkan semacam ilmu silat dari Kongkong sebagai warisan sehingga kelak jangan ada yang mengatakan bahwa sebagai cucu Ang-bin Sin-kai yang terkenal, namun cucumu ini tidak tahu sama sekali tentang kepandaian Kongkong-nya sendiri. Bukankah itu amat tidak baik bagi keluarga kita?"

Semua orang termasuk Kwan Cu, tertegun mendengar ini. Ucapan itu selain tepat, juga cerdik sekali. Jeng-kin-jiu menegur muridnya.

"Ehh, Lu Thong. Apakah kau tidak puas dengan pelajaran yang kau dapat dari pinceng?"

Buru-buru Lu Thong memberi hormat kepada suhu-nya. "Tidak sama sekali, Suhu. Teecu merasa girang dan puas menerima pelajaran yang amat berharga dari Suhu. Hanya saja, teecu minta tanda mata sebagai warisan dari Kongkong, apakah ini salah?"

Terdengar Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.

"Tidak mengecewakan kau menjadi cucunya Lu Pin, karena kau mempunyai kecerdikan. Ha-ha-ha! Jangan bicara tentang kekeluargaan, sebab aku Lu Sin telah menjadi keluarga dari bumi dan langit. Tak ada manusia yang bukan keluargaku, karena bukankah semua manusia di seluruh dunia ini bersaudara belaka? Betapa pun juga, untuk kecerdikanmu itu, biarlah aku menurunkan ilmu silat keturunanku, yakni Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng (Dengan Tangan Kosong Merenggut Nyawa)! He, hwesio gundul, kau terimalah Kong-jiu Toat-beng untuk diajarkan kepada muridmu ini, akan tetapi bersumpahlah bahwa selama hidupmu kau tak akan mempergunakan ilmu ini!" katanya kemudian kepada Kak Thong Taisu.

Kak Thong Taisu tertawa bergelak. "Pengemis kelaparan! Apa kau kira aku sudah begitu rakus untuk mengambil ilmu silatmu? Tanpa meniru aku pun tak dapat kau kalahkan. Aku bersumpah!" dia mengangkat kedua tangan di depan dada seperti menghormat kepada Buddha.

Ang-bin Sin-kai mengangguk puas, lalu kakek ini segera bersilat tangan kosong. Dalam pandangan Lu Thong dan Kwan Cu, kakek ini bergerak luar biasa cepatnya bagai orang menari-nari dengan jari-jari tangan terbuka. Tetapi sesudah Ang-bin Sin-kai mengulangi sampai dua kali ilmu silat tangan kosong yang seluruhnya terdiri dari dua puluh empat jurus itu, Jeng-kin-jiu sudah dapat menghafalnya!

"Hebat, hebat! Pinceng sudah hafal semua," kata hwesio gemuk itu.

Ang-bin Sin-kai tertawa lagi. "Eh, Thong-ji (anak Thong), sekarang coba kau menghadapi Kwan Cu, hendak kulihat hwesio bundar ini sampai seberapa jauhnya memberi pelajaran kepadamu!" Kemudian Ang-bin Sin-kai menoleh kepada Kwan Cu. "Coba kau layani Lu Thong, hitung-hitung berlatih!"

Kwan Cu baru saja mempelajari dua macam ilmu silat, yakni ilmu mempertahankan diri Pai-bun Tui-pek-to dan ilmu menyerang Sam-hoan-ciang. Mendengar ucapan suhu-nya, dengan taat dia lalu berdiri menghadapi Lu Thong sambil memasang kuda-kuda.

"Lu Thong, kau hadapi dia dengan Lam-hai Kong-jiu (Tangan kosong Dari Laut Selatan)!" kata Jeng-kin-jiu sambil tertawa-tawa gembira.

Bagi dia dan juga Ang-bin Sin-kai, tidak ada kesenangan yang lebih menggembirakan dari pada pertandingan silat, bagaikan dua orang kakek yang sudah ‘nyandu’ adu ayam melihat dua jago berlaga.

Berbeda dengan Kwan Cu, Lu Thong sudah banyak mempelajari ilmu silat dari gurunya. Juga dalam hal tingkat kepandaian silat, Lu Thong juga cerdik dan berbakat, terutama sekali karena Kwan Cu baru-baru ini saja mulai mempelajari ilmu pukulan dari Ang-bin Sin-kai, juga baru saja anak ini mulai suka mempelajari ilmu silat yang tadinya dianggap sebagai ilmu memukul orang yang tiada gunanya.

Akan tetapi, kalau dilihat dari isinya, dasar dalam diri Kwan Cu jauh lebih kuat. Bocah gundul ini memiliki tubuh yang kuat, di tambah pula oleh nasibnya yang baik sehingga dia tanpa sengaja telah makan coa-ko (buah ular), kemudian Ang-bin Sin-kai yang memang sengaja terus-menerus melatihnya kuda-kuda sehingga memiliki dasar kuat sekali.

Begitu Lu Thong sudah siap, cucu menteri ini serentak melancarkan serangan-serangan hebat dengan kedua kepalan tangannya. Kwan Cu cepat memainkan Pai-bun Tui-pek-to, ilmu silat mempertahankan diri yang baru saja dipelajarinya. Pada saat lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Lu Thong, dia merasa kulit lengannya amat pedas, maka tahulah dia bahwa Lu Thong memiliki tenaga gwakang yang lihai sekali.

Memang, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu merupakan seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga hebat. Semenjak belajar kepadanya, dia telah melatih kedua tangan muridnya ini secara tekun dan menggembleng tangan Lu Thong melalui latihan-latihan memukul pasir panas. Meski pun usianya masih delapan tahun, akan tetapi Lu Thong kini sudah berani mempergunakan lengannya untuk menangkis serangan tongkat!

Kwan Cu berlaku sangat hati-hati dan dalam menghadapi serangan lawannya, dia selalu menggunakan tenaga lweekang. Dia tidak mau mengadu kekerasan, dan hanya menolak lengan lawan dengan meminjam tenaga.

Kagetlah Lu Thong ketika dia merasa betapa kedua tangan Kwan Cu seperti karet saja, amat lunak dan setiap pukulannya dapat ditangkis dengan tak banyak tenaga. Ia menjadi penasaran, kemudian mengeluarkan ilmu silatnya, menyerang dengan Ilmu Silat Lam-hai Kong-jiu yang ganasnya seperti gelombang Laut Selatan mengamuk.

Kwan Cu terdesak hebat dan payah juga. Biar pun ilmu silatnya Pai-bun Tui-pek-to dapat digunakan untuk menghindarkan semua serangan lawan, dan meski dia melihat adanya pintu-pintu terbuka dalam kedudukan Lu Thong, akan tetapi dia tidak sempat membalas serangan lawan. Dia belum memahami benar cara mengombinasikan Ilmu Silat Pai-bun Tui-pek-to dan Sam-hoan-ciang.

Namun dengan sekuat tenaga dia melakukan perlawanan. Beberapa kali kepalan tangan Lu Thong sudah mengenai tubuhnya, namun berkat tenaga lweekang, pukulan itu tidak sampai membuat dia terjungkal.

Menarik sekali kalau dilihat sikap kedua orang kakek yang menonton murid-murid mereka bertempur. Ang-bin Sin-kai duduk di atas tanah, bersandar kepada pohon dan menonton dengan mata merem melek, sedikit pun tak mengeluarkan suara dan tidak pula bergerak.

Akan tetapi sebaliknya, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tak mau diam, seperti orang melihat ayamnya diadu. Dia berjingkrak-jingkrak, sebentar-sebentar berseru "ah!", "bagus!" atau mencela "salah!" sambil memperhatikan semua gerakan muridnya. Kaki tangannya juga bergerak-gerak seakan-akan dia sendiri yang bertempur.

"Untuk apa kau sudah mempelajari tendangan Liong-jiauw-twi (Tendangan Kaki Naga)?" tiba-tiba dia berkata seperti mencela muridnya.

Padahal ucapan ini merupakan petunjuk dan mendengar ini, Lu Thong lalu menambah serangannya dengan tendangan yang datangnya bertubi-tubi dan cepatnya bukan main. Menghadapi serangan ini Kwan Cu tak berdaya dan sebuah tendangan dengan kerasnya mengenai pahanya sehingga tubuhnya terlempar jauh dan jatuh berduduk ke atas tanah!

"Ha-ha-ha! Ang-bin Sin-kai, muridmu kalah!"

Kwan Cu menjadi merah mukanya dan teringat akan nasihat suhu-nya, dia lalu menjura kepada Lu Thong dan berkata, "Kepandaianmu hebat. Aku mengaku kalah!"

Lu Thong lalu mengangkat dadanya dan memandang bangga. Gurunya menepuk-nepuk pundaknya dengan gembira. Ang-bin Sin-kai segera bangkit berdiri dan pada wajahnya terbayang sinar kegembiraan pula. Ia merasa gembira melihat jalannya pertandingan tadi, karena dia maklum bahwa dasar dari kedua orang anak itu sudah terlihat nyata.

Kwan Cu jauh lebih kuat. Kalau saja anak gundul itu sudah mempelajari ilmu menyerang yang hebat, sekali terkena pukulannya Lu Thong tentu tak akan dapat bangun kembali tanpa menderita luka hebat. Sedangkan Kwan Cu yang berkali-kali mengalami pukulan dan sekali tendangan hebat, sama sekali tidak terluka! Pula, dia pun senang melihat cara muridnya mengaku kalah.

"Hwesio gendut. Yang baik-baik kau melatih Lu Thong agar kelak tidak mengecewakan. Sepuluh tahun dari saat ini, kita bertemu lagi dan kita akan mengadu murid-murid kita. Beranikah kau?"

"Ha-ha-ha! Pengemis kurus, tentu saja aku berani. Boleh, boleh! Sepuluh tahun dari saat ini kita bertaruh dalam pibu murid-murid kita."

"Bagus! Taruhanku begini. Kalau muridku menang kau harus memberi hadiah semacam ilmu silat, sebaliknya kalau Lu Thong menang aku akan menambah dengan semacam ilmu silat pula kepadanya. Bagaimana?"

"Ha-ha-ha! Kau memang pengemis kelaparan yang licik! Bagimu, menambah pelajaran kepada muridku tak ada ruginya karena dia adalah cucumu sendiri. Akan tetapi bolehlah, aku pun sudah berjanji ingin menjadi guru dari bocah gundul goblok ini!"

Ang-bin Sin-kai lalu mengajak muridnya pergi, akan tetapi sebelum pergi, dia menoleh kepada Lu Thong dan memandang dengan tajam sambil berkata, "Thong-ji, karena kau adalah cucu dari Lu Pin, maka aku hendak memberi nasihat. Hilangkanlah semua sifat kesombonganmu, karena apa bila kau pelihara sifat itu, kelak kau tentu akan mengalami kekecewan karena kesombonganmu."

Ketika mengangkat muka memandang, Lu Thong merasa terkejut sekali melihat sinar mata kakek itu demikian tajam dan seakan-akan menembus sampai menjenguk ke dalam lubuk hatinya! Ia buru-buru menundukkan mukanya dan belakang lehernya terasa dingin.

“Baik, Kongkong," katanya perlahan.

Ang-bin Sin-kai lalu pergi bersama Kwan Cu. Bocah gundul ini merasa penasaran dan tidak hanya tubuhnya merasa sakit sekali. Begitu bertemu, gurunya sudah menurunkan ilmu silat yang hebat kepada Lu Thong seperti yang dilihatnya tadi. Sedangkan dia hanya menerima ilmu-ilmu silat yang digunakan untuk menahan serangan Lu Thong saja masih tidak sanggup! Akan tetapi, dasar dia memang anak yang taat dan penerima, dia tak mau berkata apa-apa dan diam-diam dia mengambil keputusan bahwa kelak dia akan mencari ilmu silat sendiri yang membuat dia tidak terkalahkan…..

********************

Setelah berhasil menggondol pergi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, Hek-i Hui-mo (Iblis Tebang Baju Hitam) lantas melarikan diri secepatnya. Dia tidak percaya akan keterangan Kwan Cu bocah gundul itu, bahwa kitab itu palsu, karena kalau palsu, kenapa Panglima An Lu Shan begitu mau bersusah payah untuk menterjemahkannya?

Hek-i Hui-mo adalah seorang pendeta Tibet yang selain berkepandaian tinggi sekali, juga di Tibet dia membentuk sebuah perkumpulan agama yang memisahkan diri dari Lama atau juga dari aliran pendeta Buddha jubah kuning. Semua murid-muridnya atau anak buahnya mengenakan jubah hitam seperti dia pula.

Hwesio ini mempunyai cita-cita untuk menguasai daerah Tibet dan untuk keperluan ini, perlu sekali menterjemahkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, selain untuk mempertinggi ilmu silat, juga untuk melatih ilmu perang kepada murid-muridnya. Kalau tokoh besar lain menganggap kitab itu tidak ada gunanya lagi, selain dianggap palsu juga dianggap tidak ada orang yang mampu menterjemahkannya, Hek-i Hui-mo beranggapan lain.

Dia tahu bahwa di Tiongkok tidak hanya Gui Tin yang pandai tentang sastra kuno. Dia mengenal pula nama dua orang sastrawan yang kepandaiannya mungkin tak kalah oleh Gui Tin. Yang seorang adalah Li Po, dan orang ke dua adalah Tu Fu.

Tidak ada harapan untuk minta bantuan Li Po karena sastrawan besar ini orangnya aneh dan keras. Maka ia hendak mencoba untuk minta bantuan sastrawan besar Tu Fu karena kebetulan sekali dia tahu di mana adanya sastrawan perantau ini pada waktu itu.

Di samping Li Po, Tu Fu merupakan seorang sastrawan yang amat pandai dan terkenal. (Bahkan sampai jaman atom ini hasil-hasil karyanya masih terkenal). Dia adalah seorang dari keluarga terpelajar dan berpangkat. Ia masih keturunan dari Tu Yu, seorang jenderal besar yang gagah perkasa dan terkenal sekali dari Kerajaan Cin barat.

Kakeknya juga seorang sastrawan besar yang ternama, bernama Tu Shen Yan, ada pun ayahnya pernah menjadi seorang jaksa. Namun Tu Fu berwatak jujur dan berjiwa patriot. Ia amat mencinta nusa bangsanya dan melihat keadaan pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang korup, ia tidak mau menduduki pangkat dan bahkan rela hidup sebagai perantau yang miskin, seperti halnya mendiang Gui Tin yang semasa hidupnya dia kenal baik.

Hek-i Hui-mo maklum bahwa selain Gui Tin yang sudah tewas, orang-orang yang kiranya dapat menterjemahkan kitab kuno yang telah berada di tangannya, hanya Tu Fu dan Li Po, akan tetapi yang dapat dia mintai tolong hanya Tu Fu seorang. Maka pergilah dia ke Ho-nan di mana dia tahu sastrawan muda itu berada pada waktu itu. Memang kini Tu Fu sudah menjadi seorang perantau yang menjelajah di propinsi-propinsi Kiang-su, Ce-king, Ho-nan, dan Shan-tung.

Di kota Kai-feng sebelah timur ibukota Ceng-cou, di dekat pintu gerbang sebelah timur, terdapat sebuah rumah bobrok, bentuknya laksana kelenteng. Memang rumah ini adalah bekas kelenteng yang telah rusak dan yang gentingnya sudah hampir tidak ada sehingga kalau hujan, tempat itu menjadi basah semua sedangkan di waktu panas tidak terlindung sama sekali.

Agaknya yang sanggup hidup di tempat rusak dan kotor ini hanya ayam dan babi belaka. Akan tetapi, pada waktu itu di sebelah dalam kelenteng ini ada seorang manusia yang tinggal.

Orang ini belum tua benar, usianya kurang lebih tiga puluh tiga tahun atau tidak lebih dari tiga puluh lima tahun. Melihat potongan pakaiannya, meski pun kain bajunya sudah lapuk dan penuh tambalan, jelas dapat dilihat bahwa dia seorang terpelajar. Pakaiannya seperti pakaian pendeta, panjang sampai ke kaki, dengan ikat pinggang terbuat dari tali hitam.

Kumisnya hitam serta panjang, menggantung di kanan kiri mulutnya. Jenggotnya sedikit saja, di tengah-tengah dagu dan tergantung sepanjang lehernya. Kepalanya tertutup oleh sebuah topi butut, topi sastrawan pula. Tubuhnya kecil kurus, tulang-tulang pipinya agak menonjol. Sepasang matanya lebar dan bersinar tajam, sedangkan dahinya lebar sekali.

Inilah dia Tu Fu, sastrawan yang rela hidup dalam kemiskinan karena dia tidak suka pada pemerintah sekarang yang dipimpin oleh orang-orang tidak jujur. Ia rela menderita seperti bangsanya, yakni rakyat kecil yang banyak sekali menderita seperti dia pula.

Di dalam kehidupannya yang miskin, kelaparan, dia berduka sekali dan menangis, bukan hanya karena kehilangan puteranya, terutama sekali karena penderitaan keluarganya ini mengingatkan dia akan keadaan para petani miskin, rakyat kecil yang banyak menderita kelaparan seperti keluarganya!

Sejak itu dia pergi merantau, membuat sajak-sajak yang isinya selain memuji alam indah permai sebagaimana menjadi kesukaan para sastrawan, juga dia membuat sajak-sajak keluhan dan protes terhadap pemerintah yang lalim! Betapa pun miskinnya Tu Fu, kalau orang menjenguk ke dalam kelenteng bobrok itu, dia akan melihat bahwa sastrawan ini tidak pernah berpisah dari alat tulisnya, yakni pena bulu, kertas, dan tinta!

Pada waktu itu, matahari telah condong ke barat dan keadaan di dalam kelenteng sudah mulai remang-remang. Akan tetapi, Tu Fu seperti tidak merasai ini semua dan dia masih saja duduk termenung seperti orang sedang bersemedhi, tangkai pena di tangan kanan dan sebuah kipas bobrok di tangan kiri.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang hwesio berpakaian hitam yang tubuhnya amat gendut, kulit mukanya hitam dan misainya panjang. Hwesio itu merangkapkan kedua tangan di depan dadanya dan berkata,

"Omitohud! Tu-siucai benar-benar rajin sekali. Untuk apakah kau bekerja begitu keras?" tanya hwesio ini yang bukan lain adalah Hek-i Hui-mo adanya.

Bagaikan dalam mimpi, Tu Fu menjawab, "Aku takkan berhenti bekerja sebelum berhasil menuliskan sesuatu yang berguna!"

"Tu-siucai bersusah payah menulis sajak, untuk apakah gerangan?" bertanya pula Hek-i Hui-mo.

"Untuk siapa?" Tu Fu mengerutkan kening. "Tentu saja untuk rakyat sebagai penambah semangat dan untuk negara sebagai obat pahit yang manjur!" Sambil berkata demikian, Tu Fu bangkit berdiri.

Baru sekarang dia memandang kepada pengunjungnya dengan mata terbelalak karena dia heran sekali siapa adanya pendeta yang tak dikenalnya ini. Namun, sebagai seorang terpelajar dan sopan, dia memberi hormat lalu bertanya,

"Siapakah Losuhu ini? Dan mengapa datang mengunjungi siauwte yang miskin? Harap dimaafkan, di sini siauwte tak mampu mengeluarkan air teh atau arak untuk disuguhkan."

Hek-i Hui-mo tertawa bergelak. "Mengapa Siucai memikirkan keadaan orang lain? Bagi pinceng tidak membutuhkan makan minum, tetapi sebaliknya kaulah yang memerlukan makan dan minum. Lihat, pinceng membawa sedikit daging dan arak untukmu!" Sambil berkata demikian, Hek-I Hui-mo mengeluarkan seguci arak wangi dan sebungkus daging panggang dari saku bajunya yang lebar.

To Fu menerima pemberian ini sambil menghela napas, "Apa artinya haus dan lapar? Kadang-kadang sampai sepuluh hari aku tidak makan minum dan bajuku mempunyai tambalan lebih seratus jumlahnya, akan tetapi, apakah artinya bila dibandingkan dengan penderitaan rakyat kecil? Jika mengingat penderitaan mereka itu, perutku terasa kenyang sendiri dan bajuku telah terlampau baik! Ah, Losuhu, agaknya hidupmu sebagai pendeta lebih bahagia dari pada hidupku sebagai seorang sastrawan!"

"Keliru, keliru! Tu-siucai keliru sekali!" jawab Hek-i Hui-mo sambil menggoyang-goyang dua tangannya. "Suka dan duka timbul karena hati dan pikiran diri sendiri. Kebahagiaan berada di dalam hati kita sendiri, demikian pula keadaan. Kebahagiaan dapat diusahakan secara mudah, mengapa kau masih saja duduk merenung menyusahkan keadaan orang lain? Jika kau suka menerima jabatan, apa lagi yang menyusahkanmu? Kau mempunyai kepandaian tinggi."

"Cukup!" tiba-tiba Tu Fu membentak dan suaranya keras saking marahnya. "Siapa sudi membantu orang-orang yang hidup seperti lintah menghisap darah petani miskin? Tidak! Lebih baik mati!" Kemudian, teringat bahwa dia sudah bersikap kasar terhadap seorang suci, dia lalu memberi hormat dan berkata dengan sikap halus, "Maaf, Losuhu. Kalau tadi siauwte dikuasai oleh nafsu amarah. Siapakah sebenarnya Losuhu?" ulangnya, karena pertanyaannya tadi belum terjawab.

"Nama pinceng Thian Seng Hwesio dan pinceng datang dari Tibet," jawab Hek-i Hui-mo. Memang sebenarnya dia bernama Thian Seng Hwesio, dan di kalangan kang-ouw saja dia disebut Hek-i Hui-mo.

Mendengar keterangan ini, Tu Fu memandang dengan mata lebar. "Dari barat? Ahhh, Losuhu melakukan perjalanan begitu jauh menjumpai siauwte, ada keperluan apakah?"

"Tu-siucai, pinceng tak mempedulikan perjalanan ribuan li jauhnya dengan maksud ingin memohon sedikit pertolongan darimu, maka pinceng mengharap kemurahan hatimu dan mengharap Tu-siucai takkan menolak."

Biar pun terkenal kejam dan ganas, namun Hek-i Hui-mo juga seorang cerdik dan banyak pengalaman. Menghadapi seorang sastrawan seperti Tu Fu yang meski kepandaiannya tinggi tapi tidak mau menduduki jabatan dan rela hidup menderita, maka dia tahu bahwa orang ini memiliki kekerasan hati yang luar biasa, dan seperti juga Gui Tin, tiada gunanya menghadapi orang seperti ini menggunakan kekerasan.

Andai kata ia menggunakan kekerasan kemudian memaksa sastrawan ini membantunya menterjemahkan kitab, hati sastrawan ini hanya akan tersinggung saja dan kalau sampai terjadi demikian, maka agaknya walau pun dia akan memukul sampai mati, sastrawan muda ini takkan sudi membantunya! Oleh karena itulah maka Hek-i Hui-mo menjalankan siasat licin dan bersikap halus dan manis budi.

Berbeda dengan Gui Tin yang lebih tua dan sudah banyak bertemu dengan orang-orang kang-ouw, Tu Fu tidak mengenal tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, maka dia tidak mengenal Hek-i Hui-mo dan keganasannya. Ia memang seorang yang berhati mulia dan suka menolong, apa lagi menolong seorang hwesio yang lajimnya menuntut kehidupan beribadat suci, tentu saja dia bersiap sedia untuk menolong.

"Tu-siucai tak perlu tergesa-gesa. Silakan makan terlebih dahulu, baru nanti kita bicara kembali," kata Hek-i Hui-mo.

Tu Fu tidak berlaku sungkan-sungkan dan sastrawan muda ini lalu makan habis daging dan minum arak itu sampai setengah guci.

Setelah Tu Fu selesai makan, barulah Hek-i Hui-mo mengeluarkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dari saku bajunya. Sambil memperlihatkan kitab itu kepada Tu Fu, dia berkata, "Pertama-tama pinceng ingin sekali mengetahui pendapat Tu-siucai mengenai kitab ini. Pinceng mendapat kitab kuno ini, akan tetapi tidak dapat mengerti huruf-hurufnya yang kuno dan sukar dibaca. Dan karena kitab ini bagi pinceng penting sekali, maka harap Siucai sudi menerangkan apakah kitab ini palsu atau bukan?"

Tu Fu menerima kitab itu seperti seorang kelaparan menerima sepotong kue.....

Sastrawan mana yang tidak tertarik dan penuh gairah melihat sejilid kitab? Ia menerima kitab itu dengan penuh khidmat, lalu mulai membuka lembaran-lembaran pertamanya.

"Hmm, sebuah kitab kuno yang menarik hati sekali," katanya perlahan, didengarkan oleh Hek-i Hui-mo dengan penuh perhatian. "Usianya sudah ribuan tahun dan ditulis dengan bahasa dalam jaman Kerajaan Couw Timur!"

Hek-i Hui-mo tertegun. "Pinceng mendengar bahwa kitab ini ditulis pada jaman Shia!"

Tu Fu menggelengkan kepalanya. "Tak mungkin! Sudah pasti sekali ditulis dalam bahasa Couw Timur, Losuhu, siauwte tahu betul akan hal ini."

"Kalau begitu, apakah kitab ini palsu?"

"Bagaimana orang dapat menyatakan palsu bila tidak melihat aslinya? Orang baru dapat mengenal kejahatan jika sudah mengenal kebaikan, maka orang pun baru bisa mengenal barang palsu apa bila sudah melihat barang tulennya. Siauwte tidak dapat mengatakan bahwa kitab ini palsu atau asli, namun kitab ini benar-benar amat menarik hati. Siauwte mengenal seorang yang benar-benar ahli dalam bahasa yang ditulis dalam kitab ini, yaitu Gui-siucai."

Kembali Hek-i Hui-mo tertegun. "Pinceng mendengar bahwa Giu-suicai sudah meninggal dunia, akan tetapi, pinceng lebih suka mohon pertolongan kepadamu, Tu-siucai. Harap kau suka menterjemahkan kitab ini untuk pinceng."

Tu Fu tidak menjawab, melainkan membuka lembaran kitab itu dan membacanya. Baru membaca dan membalik-balikkan beberapa lembaran kitab itu, berkerutlah keningnya.

"Aneh sekali! Kitab ini bernama Im-yang Bu-tek Cin-keng, sebuah kitab pelajaran yang luar biasa anehnya. Akan tetapi yang lebih aneh lagi adalah kau, Losuhu. Kitab ini adalah pelajaran tentang ilmu silat dan ilmu perang, bagaimana seorang hwesio yang menuntut penghidupan suci seperti Losuhu ingin mempelajari isi kitab ini? Apakah gunanya untuk Losuhu?"

Hek-i Hui-mo merasa muaknya panas. Kalau saja kulit mukanya tidak begitu hitam, tentu akan terlihat betapa mukanya menjadi merah. Ia merasa mendongkol dan marah sekali. Hemm, pikirnya, kalau saja aku tidak membutuhkan pertolongan cacing buku ini, kuketok kepalanya sampai pecah! Ia menarik muka sungguh-sungguh ketika menjawab.

"Tu-siucai, harap jangan salah mengerti. Kitab ini seperti kau katakan tadi adalah kitab ilmu silat dan ilmu perang. Untuk pinceng pribadi memang tidak ada gunanya, sungguh pun harus pinceng akui bahwa semenjak kecil pinceng paling suka mempelajari ilmu silat. Akan tetapi tidakkah kau lihat betapa buruknya keadaan negara? Jika pinceng bisa mempelajari ilmu silat dari dalam kitab ini yang juga belum tentu hebat, bukankah kelak pinceng dapat menurunkan ilmu kepandaian itu kepada para orang gagah sehingga bisa dipergunakan untuk membela negara?"

Pada saat Tu Fu hendak menjawab, mendadak terdengar suara ketawa nyaring dari luar kelenteng, disusul dengan suara seorang wanita berkata, "Bangsat gundul menjemukan! Kau kira dapat melarikan diri dariku? Kembalikan kitab itu!"

Hek-i Hui-mo terkejut sekali dan sekali dia melompat, dia sudah berada di luar kelenteng menghadapi Kiu-bwe Coa-li yang datang bersama muridnya, Sui Ceng! Hati Tu Fu kaget bukan main pada waktu melihat betapa hwesio gendut itu seakan-akan menghilang dari depannya.

"Aduh..., setankah dia?" katanya perlahan.

Kemudian dia mendengar suara gaduh di luar kelenteng. Tu Fu segera memburu keluar dan bukan main heran dan terkejutnya ketika dia melihat dua bayangan orang bertempur di halaman kelenteng seperti iblis sedang menari-nari!

Memang Hek-i Hui-mo tak membuang waktu lagi. Begitu dia melihat bahwa yang datang adalah Kiu-bwe Coa-li, tanpa banyak cakap lagi dia kemudian mengeluarkan tasbih dan Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) dan cepat menyerang dengan amat hebatnya. Kiu-bwe Coa-li tertawa mengejek dan wanita sakti ini pun lalu menggerakkan pecutnya yang bernama Kiu-bwe Sin-pian (Ruyung Lemas Berekor Sembilan).

Pertempuran kali ini bukan main dahsyatnya. Satu lawan satu, tanpa khawatir ada tokoh lain yang mengganggu mereka. Bun Sui Ceng berdiri di pinggir menonton pertempuran antara gurunya dan Hek-i Hui-mo dengan penuh perhatian. Mukanya yang manis serta elok itu sama sekali tidak nampak gelisah, karena anak ini selain mempunyai hati yang tabah, juga percaya penuh bahwa gurunya pasti akan menang.

"Kiu-bwe Coa-li, kau manusia usilan mengganggu saja!" seru Hek-i Hui-mo dan Tongkat Kepala Naga di tangan kanannya menyambar bagaikan halilintar ke arah kepala wanita itu.


"Pendeta busuk, kau pencuri tidak tahu malu!" balas memaki Kiu-bwe Coa-li.

Sedikit miringkan kepala saja, serangan lawan dapat digagalkan. Pecut berekor sembilan di tangannya tidak tinggal menganggur, cepat melakukan serangan balasan, merupakan sembilan ekor ular yang bergerak dari segala jurusan, menyerang sembilan jalan darah di tubuh lawannya!

Hek-i Hui-mo terkejut sekali melihat serangan hebat ini. Ia maklum akan kelihaian lawan dan telah mendengar pula tentang keganasan Kiu-bwe Coa-li, yang terkenal sekali turun tangan tentu akan menewaskan lawan. Maka tanpa ayal lagi dia segera menggerakkan tasbihnya diputar sedemikian rupa dibantu oleh Tongkat kepala Naga untuk melindungi tubuhnya.

“Tar! Tar! Tar! Tar!” beberapa kali terdengar suara dari pecut di tangan Kiu-bwe Coa-li, sungguh membikin hati menjadi ngeri.

Makin lama pertempuran berjalan makin seru dan gerakan mereka menjadi makin cepat. Tiga macam senjata berubah menjadi gulungan sinar dan yang paling menarik dan indah dipandang adalah gerakan cambuk di tangan Kiu-bwe Coa-li. Cambuk yang berujung sembilan itu merupakan segundukan sinar yang bertangan sembilan, seperti seekor ikan gurita yang berjari sembilan. Setiap ujung cambuk ini merupakan perenggut nyawa yang lihai sekali.

Namun ilmu silat Hek-i Hui-mo juga tidak kalah hebatnya. Dia adalah seorang tokoh barat yang pernah menggemparkan Tibet, yang sudah menjatuhkan jago-jago dan tokoh-tokoh dari barat dan boleh dibilang, selama dia melakukan perantauannya di dunia kang-ouw, Hek-i Hui-mo tidak pernah terkalahkan. Entah sudah berapa ratus orang lawan terpaksa mengakui kehebatan ilmu silatnya dan sudah berapa puluh lawan binasa di tangannya!

Tasbihnya berputar menjadi segundukan sinar bundar bagaikan mustika naga sakti. Ada pun tongkatnya yang merupakan naganya sehingga sepasang senjata di tangannya itu bergerak-gerak bagaikan seekor naga mengejar mustikanya!

Sukarlah untuk dikatakan siapakah yang lebih lihai di antara dua orang tokoh besar ini. Masing-masing memiliki keistimewaan sendiri dan keduanya mengaku bahwa selamanya baru kali ini mereka menghadapi tandingan yang benar-benar seimbang dan amat berat. Agaknya pertempuran ini akan menjadi sebuah pertandingan mati hidup yang berjalan lama sekali sebelum seorang di antara mereka menggeletak tak bernyawa lagi di depan kaki lawannya.

Pecut Kiu-bwe Coa-li menyambar, saking kerasnya, sampai terdengar angin bersiutan. Oleh karena sembilan ekor bulu pecut itu menyambarnya dari berbagai jurusan dengan kecepatan yang tidak sama, maka suara angin itu terdengar aneh sekali, bagai sembilan buah suling ditiup berbareng.

Hek-i Hui-mo menangkis dengan tongkat yang disapukan dan sehelai dari pada ujung pecut Kiu-bwe Coa-li menyambar dan melibat kaki meja sembahyang yang sudah berdiri miring. Tenaga wanita sakti ini hebat luar biasa, karena meja itu melayang ke atas dan bagaikan disambitkan, meja itu menimpa tempat di mana Sui Ceng berdiri.

Melihat hal itu, Tu Fu menjerit. Akan tetapi dia membelalakkan sepasang matanya saking kagum dan heran melihat anak perempuan yang manis itu menampar dengan tangan kirinya yang kecil.

"Brakkk!" meja itu pecah berkeping-keping!

Sekarang tongkat Liong-thouw-tung di tangan kanan Hek-i Hui-mo menyambar pinggang Kiu-bwe Coa-li. Serangan ini dilakukan sekuat tenaga sehingga wanita sakti itu tak berani menangkis. Tubuhnya melompat ke atas dan mundur.

Akan tetapi Hek-i Hui-mo tak mau memberi hati dan terus melangkah maju lalu menyapu lagi dengan tongkatnya, dibarengi memukul kepala lawan dengan tasbihnya! Kiu-bwe Coa-li segera mengelak dan tongkat yang kuat itu menyambar tiang kelenteng di bagian depan.

"Kraaaakk... bruuuk...!" Tiang itu patah dan mengeluarkan suara hiruk-pikuk!

"Aduh, tahan...! Tahan…! Apa-apaan sih semua ini? Apakah Ji-wi (Tuan Berdua) tidak malu? Orang-orang tua bertingkah bagaikan anak-anak kecil berebut kembang gula. Ada urusan dapat diurus, mohon mendengar kata-kata siauwte," Tu Fu berseru berkali-kali sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.

Kalau saja mereka tidak mengingat bahwa Tu Fu adalah orang yang bisa dimintai tolong menterjemahkan kitab yang tidak dapat mereka baca sendiri itu, mana dua orang tokoh lihai ini mau mendengarkan ucapan seorang sastrawan lemah seperti Tu Fu? Keduanya melompat kebelakang dan saling pandang bagaikan dua ekor harimau sedang marah.

"Tu-siucai, kau menahan kami mau apakah?" tanya Kiu-bwe Coa-li dengan suara dingin.

Tiba-tiba saja Tu Fu merasa bulu tengkuknya berdiri. Bukan main hebatnya wanita ini, pikirnya, sudah bukan merupakan manusia lagi!

"Harap Suthai suka bersabar, dan demikian pula Losuhu. Sebetulnya, mengapa Ji-wi bertempur mati-matian seakan-akan di dunia ini tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik dari pada saling gempur dan saling mencoba untuk membunuh?"

Hek-i Hui-mo menarik napas panjang. "Tak lain karena kitab itulah. Kami berebut Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"

Tu Fu masih membawa kitab itu. Kini dia mengangkat kitab itu tinggi-tinggi dan berkata, "Memperebutkan kitab ini? Alangkah lucunya. Dan untuk dapat membaca dan mengerti isinya saja, Ji-wi tidak bisa dan sengaja datang untuk minta siauwte menterjemahkan isi buku ini?"

Kiu-bwe Coa-li mengangguk dan berkata tegas, "Orang she Tu, tak usah direntang lebih panjang lagi. Memang kami membutuhkan isi kitab itu. Akan tetapi karena di sini kami dua orang, terpaksa kami harus melenyapkan salah seorang lebih dulu, barulah nanti kau yang bekerja, menterjemahkan kitab itu. Hayo, Hek-i Hui-mo, kita lanjutkan pertempuran kita!"

"Baik, Kiu-bwe Coa-li. Awaslah kau!"

Dua orang jago tua ini sudah bersiap-siap lagi untuk bertempur mati-matian. Akan tetapi Tu Fu segera mencegah mereka. Sastrawan ini, seperti juga Gui Tin dan Li Po atau pun sastrawan dan seniman-seniman lainnya, tidak suka akan kekerasan dan amat mencinta kedamaian, maka tentu saja Tu Fu tidak mau melihat dua orang aneh itu saling gempur mati-matian seperti tadi.

"Tahan!" katanya keras. "Kalau Ji-wi berkeras hendak saling bunuh, aku Tu Fu tak akan mau menterjemahkan kitab ini. Walau Ji-wi memaksa dan membunuhku, aku takkan mau menterjemahkannya."

Mendengar ini, kedua orang tokoh kang-ouw itu tertegun dan saling pandang. Mereka amat maklum bahwa sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman sama anehnya dengan orang-orang kang-ouw, bahkan mereka itu lebih hebat pula. Biar pun mereka itu memiliki jasmani yang lemah, namun mereka berhati keras dan tidak takut mati.

Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo percaya dan tahu bahwa ucapan yang keluar dari mulut sastrawan ini menyatakan tidak mau membantu, biar dia dibunuh atau disiksa sekali pun, tetap dia tidak akan mau menterjemahkan isi kitab itu. Dan apa artinya kitab itu tanpa ada penterjemahnya? Tiada beda dengan kertas-kertas pembungkus belaka!

"Habis, kalau di sini ada kami berdua, bagaimana Tu-siucai hendak mengaturnya?" tanya Hek-i Hui-mo dengan suara minta pertimbangan.

Tu Fu mempersilakan mereka duduk di atas lantai di depan kelenteng. Kemudian dia melambaikan tangan kepada Sui Ceng yang tanpa ragu-ragu datang menghampiri.

"Anak baik, kau benar-benar hidup dalam alam yang aneh," kata sastrawan itu sambil mengelus-elus rambut Sui Ceng yang hitam, halus, dan panjang, kemudian sastrawan ini berkata kepada kedua orang tokoh dunia kang-ouw itu. "Harap Ji-wi dengarkan baik-baik keputusanku yang tidak mungkin dapat diubah lagi. Siauwte sanggup membantu serta menterjemahkan isi kitab ini, akan tetapi hanya dengan syarat. Pertama, siauwte hanya akan menterjemahkan dengan cara membacanya saja dan Ji-wi harap mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengingatnya baik-baik. Kedua, sehabis membaca semua isi kitab, kitab ini harus dibakar di depan siauwte, supaya kelak tidak menjadi perebutan mati-matian kembali. Hanya dengan dua macam syarat ini siauwte mau menolong, kalau tidak, meski Ji-wi akan membunuh siauwte, tak nanti siauwte mau menterjemahkannya. Bagaimana?"

Kedua orang tokoh kang-ouw itu saling pandang. Celaka, pikir mereka, bagaimana dapat menghafal isi kitab dengan sekali mendengar saja? Akan tetapi kalau mereka tidak mau menerima, selain sastrawan aneh ini tidak mungkin dipaksa, juga mereka masih saling berhadapan dan untuk mendapatkan kitab itu harus bertempur mati-matian dulu.

Andai kata menang, bagaimana pula isi kitab dapat diterjemahkan? Apa lagi jika sampai terdengar oleh tiga orang tokoh besar yang lainnya dan mereka datang pula, tentu akan makin berabe saja!

"Aku setuju!" kata Kiu-bwe Coa-li. "Hanya aku minta supaya pembacaan dilakukan dua kali!"

Kiu-bwe Coa-li memang amat cerdik. Ia datang bersama muridnya dan dia percaya akan kecerdikan otak Sui Ceng. Tentu muridnya akan dapat membantu dan mengingat-ingat bunyi isi kitab itu.

Hek-i Hui-mo tidak dapat mencari jalan lain. Ia pun tahu bahwa fihak Kiu-bwe Coa-li lebih untung dengan adanya Sui Ceng, maka dia merasa ragu-ragu, lalu berkata, "Tidak adil sekali. Kau dibantu oleh muridmu sedangkan aku hanya seorang diri!"

"Kau boleh mencari seorang pembantu pula," jawab Kiu-bwe Coa-li.

Tu Fu mengerti akan maksud pembicaraan dua orang itu, akan tetapi dia pun tidak dapat memecahkan persoalan ini. Kebetulan sekali pada saat itu, terdengar tindakan kaki dan muncullah seorang anak laki-laki berusia kurang lebih delapan tahun.

"Tu-sianseng, hakseng (murid) datang membawa makanan," kata anak lelaki itu sambil memandang kepada tamu-tamu gurunya dengan mata terheran.

"Ehh, Tu-siucai, siapakah anak ini?" tanya Hek-i Hui-mo yang memandang tajam kepada anak laki-laki yang berwajah tampan dan jujur ini. Biar pun anak ini bertubuh kurus dan tinggi, namun dia memiliki bakat yang baik juga untuk belajar silat.

"Dia adalah Li Siang Pok, seorang anak dari kota Kai-feng. Ayahnya seorang sastrawan pula dan dia datang ke sini untuk belajar kesusastraan dari siauwte."

"Hemm, jadi dia boleh dibilang muridmu?"

Tu Fu mengangguk membenarkan.

"Bagus! Pinceng hendak mengambil dia sebagai pembantuku! Dengan adanya dia yang membantu pinceng, mengingat-ingat isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, maka keadaan pinceng dan Kiu-bwe Coa-li menjadi berimbang. Ini baru adil namanya!"

Tu Fu ragu-ragu, kemudian bertanya kepada Siang Pok, "Siang Pok, Losuhu ini minta bantuanmu untuk mengingat-ingat bunyi isi kitab kuno yang akan kubacakan. Maukah kau?"

Siang Pok adalah seorang anak yang suka sekali akan kesusastraan. Mendengar akan dibacanya kitab kuno, tentu saja tanpa berpikir panjang lagi dan tanpa bertanya lebih jelas, dia menganggukkan kepalanya.

"Hakseng bersedia, Sianseng!"

Demikianlah, mereka semua duduk bersila di atas kelenteng sebelah luar. Keadaan di situ sunyi dan ketika Tu Fu mulai membacakan isi kitab, suaranya terdengar lantang dan jelas. Empat orang yang duduk mengelilinginya, yakni Hek-i Hui-mo, Kiu-bwe Coa-li, Sui Ceng, dan Siang Pok, mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kitab itu tidak terlalu tebal sehingga isinya pun tidak begitu banyak, karena seperti juga kitab-kitab kuno lainnya, yang ditulis hanya garis besarnya saja. Sebagaimana diketahui, kitab itu isinya dibagi menjadi dua soal, yakni tentang ilmu silat dan tentang ilmu perang. Dalam hal bahasa kuno, kepandaian Tu Fu ini tidak kalah oleh mendiang Gui Tin, maka dia dapat membacanya dengan amat lancar.

Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng, tidak mendengarkan atau lebih tepat, tidak memperhatikan sama sekali akan bunyi ilmu perang yang dibaca oleh Tu Fu. Guru dan murid ini hanya mencurahkan seluruh perhatiannya kepada bunyi ilmu silat saja. Sebaliknya, karena tidak diberi tahu terlebih dahulu, anak laki-laki yang bernama Lai Siang Pok itu mendengarkan seluruh isi kitab, yaitu bagian ilmu silat dan bagian ilmu perangnya. Demikian pula, Hek-i Hui-mo, karena dia mempunyai cita-cita pemberontakan, dia juga memperhatikan kedua bagian ini.

Hampir satu hari lamanya Tu Fu membaca habis kitab itu untuk kedua kalinya dan semua fihak merasa puas. Karena mengerahkan seluruh ingatan untuk mengingat-ingat kembali apa yang telah mereka dengarkan tadi, kini Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo melihat saja dan tidak mempedulikan lagi ketika Tu Fu menggunakan api membakar kitab itu di depan mereka!

Setelah melihat kitab itu habis terbakar, Hek-i Hui-mo tertawa bergelak dan dengan cepat sekali dia melompat lalu mengempit Lai Siang Pok, terus di bawa lari!

"He, Losuhu! Lepaskan muridku!" Tu Fu berteriak-teriak, akan tetapi hanya suara ketawa dari jauh sana menjawabnya.

Ada pun Kiu-bwe Coa-li yang tidak mau terganggu pikirannya yang sedang menghafal itu lalu menggandeng tangan Sui Ceng dan pergi pula dari situ.

Tu Fu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata seorang diri. "Benar-benar aneh sekali orang-orang itu. Apa sih gunanya segala macam ilmu kekerasan yang kasar itu? Aneh... aneh...!" Sastrawan ini pun beberapa hari kemudian tidak kelihatan lagi di tempat itu, telah melanjutkan perantauannya…..

********************

Ketika sudah berada di tempat sunyi, Kiu-bwe Coa-li segera bertanya kepada muridnya. “Sui Ceng, coba kau ulangi kata-kata di dalam kitab yang dibaca oleh Tu-siucai tadi.”

Sui Ceng kemudian mengulangi kata-kata yang masih diingatnya. Kiu-bwe Coa-li tidak mempedulikan tentang peraturan latihan lweekang dan ginkang, yang paling diperhatikan hanya gerakan-gerakan ilmu silat yang terdapat di dalam kitab itu.

Semua ada tiga puluh enam pokok gerakan yang perkembangannya dapat timbul sendiri tergantung dari bakat dan kecerdikan masing-masing pelajar. Karena gerakan-gerakan itu hanya ditulis dan tidak digambar, maka dapat dibayangkan betapa sukarnya.

Setelah dia mendengarkan apa yang yang masih diingat oleh Sui Ceng dan dikumpulkan dengan ingatannya sendiri, Kiu-bwe Coa-li ternyata hanya mampu mengumpulkan empat belas gerakan saja! Akan tetapi, empat belas jurus pokok gerakan silat Im-yang Bu-tek Cin-keng ini baginya sudah cukup berharga. Memang dia seorang yang ahli dalam ilmu silat dan ternyata olehnya betapa hebat, lihai, dan aneh isi gerakan-gerakan ini.

Segera ia lalu mempelajari gerakan-gerakan ini dan disesuaikan dengan kepandaiannya sendiri. Selama tiga bulan Kiu-bwe Coa-li seakan-akan lupa makan dan lupa tidur, setiap hari hanya berlatih ilmu silat baru yang sesungguhnya dia ciptakan sendiri berdasarkan apa yang ia dengar dari kitab itu. Dan terciptalah ilmu silat baru yang benar-benar luar biasa sekali. Kiu-bwe Coa-li menjadi girang dan berbareng ia pun lalu melatih muridnya dengan sungguh-sungguh.

“Sui Ceng, ilmu silat yang kita dapatkan ini entah Im-yang Bu-tek Cin-keng yang asli atau bukan, namun kau harus tahu bahwa ini memang benar-benar ilmu silat yang aneh dan hebat sekali. Setelah kuperbaiki semua yang kita berdua ingat, kurasa ilmu silat yang kuciptakan berdasarkan dari Im-yang Bu-tek Cin-keng ini, takkan mudah dikalahkan oleh lain orang. Mari kita mencari seorang di antara mereka, hendak kucoba sampai di mana kegunaan ilmu silat baru ini!”

Maka berangkatlah Kiu-bwe Coa-li bersama muridnya, untuk mencari seorang di antara empat besar, yakni Hek-i Hui-mo, Jeng-kin Jiu Kak Thong Taisu, Ang-bin Sin-kai atau juga Pak-lo-sian Siangkoan Hai untuk mengadu ilmu silatnya yang baru! Perjalanan ini dilakukan lambat sekali karena sepanjang hari Kiu-bwe Coa-li terus melatih diri dengan ilmu silat baru ini, dan juga berbareng memberikan latihan-latihan ilmu silat tinggi kepada muridnya.

Pada suatu hari mereka pun tiba di kota Cin-leng yang cukup besar dan ramai. Berbeda dengan tokoh-tokoh kang-ouw lainnya, Kiu-bwe Coa-li paling teliti dalam memilih makan dan tempat menginap. Ia selalu memilih rumah penginapan yang terbersih dan memilih makanan dari restoran yang besar. Oleh karena itu, pakaian yang dipakai oleh Sui Ceng pun selalu bersih dan baik dan anak perempuan ini dibelikan pakaian beberapa stel yang dibungkus dengan kain kuning dan selalu buntalan itu digendong di atas punggungnya.

Di kota Cin-leng, begitu telah memasuki sebuah rumah penginapan yang besar, Kiu-bwe Coa-li terus saja berdiam dalam kamarnya, duduk di atas pembaringan dan bersemedhi. Sebaliknya, Sui Ceng yang ketika memasuki kota tadi melihat bangunan-bangunan indah dan keadaan kota yang ramai, lalu keluar dari hotel itu dan pergi berjalan-jalan.

Ketika tiba di depan sebuah restoran, perhatian Sui Ceng tertarik pada tujuh orang yang sedang makan di ruangan depan restoran itu. Mereka ini nampaknya seperti orang-orang gagah dan dari pakaian mereka, tahulah Sui Ceng bahwa mereka adalah serombongan piauwsu (pengawal kiriman barang berharga). Dari wajah mereka yang kelihatan muram dan percakapan mereka yang hangat, Sui Ceng dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat.

Oleh gurunya, Sui Ceng selalu dibekali uang, karena Kiu-bwe Coa-li berwatak terlalu angkuh untuk membiarkan muridnya mencuri atau mengemis makanan. Maka Sui Ceng lalu bertindak memasuki restoran itu dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari para piauwsu yang sedang bercakap-cakap itu.

Tentu saja ada beberapa orang yang memandang padanya dengan heran, karena jarang terjadi seorang anak perempuan berusia kurang lebih tujuh tahun memasuki restoran seorang diri. Akan tetapi selanjutnya tidak ada lagi yang menaruh perhatian, karena dia disangka puteri seorang kaya raya yang suka jajan!

Sui Ceng tertarik sekali ketika mendengar seorang di antara para piauwsu itu berkata, “Jalan satu-satunya bagi kita untuk menolong mereka, tidak lain kita harus minta bantuan dari Bin Kong Siansu ketua Kim-pan-sai. Selain orang tua itu, agaknya siluman itu takkan dapat di lawan.”

Pada saat itu terdengar suara banyak orang mendatangi di luar restoran. Ketika Sui Ceng melirik, yang datang itu adalah belasan orang laki-laki yang kelihatan gagah dan yang pada saat itu nampak marah sekali.

“Hee, pengecut-pengecut dari Hui-to Piauwkiok (Perusahaan Expedisi Golok Terbang)! Keluarlah untuk terima binasa!” teriak seorang di antara para pendatang itu.

“Hemm, menyebalkan sekali orang-orang Sin-to-pang itu!” kata seorang piauwsu sambil mencabut goloknya, lalu berjalan keluar diikuti oleh kawan-kawannya.

Sementara itu, ketika mendengar bahwa orang-orang yang datang adalah para anggota Sin-to-pang (Perkumpilan Golok Sakti), Sui Ceng terkejut sekali dan cepat berdiri lalu melihat dengan penuh perhatian.

“Kalian ini orang-orang Sin-to-pang mau apakah? Ketua kami dan isterinya mengalami bencana, namun kalian ini sebagai orang-orang yang menganggap diri gagah bukannya membantu bahkan mencari masalah!” kata piauwsu tadi sambil bersiap dengan golok di tanganya.

Seorang di antara anggota-anggota Sin-to-pang, yang semuanya juga memegang golok, menudingkan goloknya sambil memaki, “Orang-orang rendah! Kalau tidak ketua kalian si pemikat she Ong itu membujuk Thio-toanio, tidak nanti akan terjadi Thio-toanio sampai tertangkap oleh Toat-beng Hui-houw (Macan Terbang Pencabut Nyawa)! Sekarang mau atau tidak mau kalian harus menebus kesalahan ketuamu itu, baru kami akan menolong Thio-toanio.”

“Manusia-manusia sombong dan bodoh!” para piauwsu itu berseru.

Terjadilah perang tanding antara belasan anggota Sin-to-pang dan tujuh orang paiuwsu itu. Semua menggunakan golok dan pertempuran terjadi ramai sekali. Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu menjadi ketakutan dan cepat-cepat melarikan diri.

Akan tetapi, pada saat itu, sesosok bayangan yang kecil melompat ke tengah medan pertandingan dan terdengar seruan nyaring, “Tahan semua senjata!”

Bayangan ini adalah Sui Ceng yang tadi bergerak dengan tubuh ringan dan cepat, juga suaranya dikeluarkan dengan mengerahkan tenaga khikang sehingga terdengar nyaring dan berpengaruh. Beberapa orang segera menahan senjata mereka dan mundur, akan tetapi ada tiga orang anggota Sin-to-pang dan dua orang piauwsu yang berangasan dan masih saja bertanding dengan hebatnya.

“Tahan kataku!” teriak Sui Ceng. Sekali saja dia menggerakkan tangannya dan tubuhnya menyambar, terdengar suara berkerontangan dan empat batang golok telah terlepas dari pegangan dan terlempar ke atas tanah mengenai batu-batu.

Orang-orang itu kaget bukan main karena ternyata bahwa yang membuat tangan mereka lumpuh untuk sesaat tadi hanyalah seorang anak perempuan! Sui Ceng memang telah menggunakan gerakan jari-jari tangan untuk menotok urat-urat nadi mereka, kemudian mengandalkan ginkang-nya yang sudah tinggi, dia dapat melakukan serangan-serangan ini dengan amat mudah!

“Siauw-pangcu (ketua cilik)!!” para anggota-anggota Sin-to-pang berseru ketika mereka melihat Sui Ceng. Serta-merta orang-orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Sui Ceng!

Para piauwsu yang melihat hal ini menjadi tertegun dan kini dua orang di antara mereka mengenal pula Sui Ceng yang dulu pernah ikut ibunya, ketika ibunya menikah dengan Ong Kiat pemimpin mereka.

“Ah, tidak tahunya Siocia yang datang!” kata mereka sambil memberi hormat.

Menghadapi semua penghormatan ini, Sui Ceng sama sekali tidak merasa kikuk atau sungkan. Ia berdiri tegak, lalu berkata, “Mengapa di antara orang-orang sendiri sampai menimbulkan keributan yang tidak perlu? Ada urusan dapat diurus, ada persoalan dapat diselesaikan. Sebenarnya, apakah yang telah terjadi?”

Karena kini orang-orang datang lagi berduyun-duyun untuk mendengarkan pembicaraan mereka, para piauwsu itu mempersilakan Sui Ceng dan anggota-anggota Sin-to-pang untuk memasuki restoran. Mereka mengambil tempat di ruang atas dan di situ Sui Ceng duduk dikelilingi oleh orang-orang Sin-to-pang dan para piauwsu dari Hui-to Piauwkiok.

Maka berceritalah mereka tentang bencana yang menimpa Ong Kiat dan isterinya, yakni Thio Loan Eng. Bencana itu baru terjadi dua hari yang lalu. Pada saat itu, Ong Kiat yang menjadi ketua dari Hui-to Piauwkiok mengawal sendiri barang kiriman dari Hak-keng ke kota raja. Terpaksa dia turun tangan sendiri karena barang yang dikirim itu adalah barang berharga, yaitu sumbangan hartawan-hartawan di Hak-keng untuk para pembesar di kota raja.

Memang pada masa itu, di Tiongkok lajim terjadi pengiriman barang-barang ‘upeti’ yang amat mahal dari para hartawan kepada pembesar-pembesar tertentu sampai ke kaisar, akan tetapi tak seorang pun berani menyatakan bahwa kiriman itu merupakan ‘sogokan’.

Perjalanan dari Hak-keng ke kota raja harus melalui kota Cin-leng, dan sampai di kota ini rombongan yang terdiri dari dua gerobak kuda berisi barang kiriman dan dikawal oleh Ong Kiat beserta tujuh orang anak buahnya, tidak mengalami gangguan sesuatu. Para petualang di dunia liok-lim tidak ada yang berani mengganggu rombongan ini pada saat mereka melihat dua macam bendera yang tertancap di atas gerobak.

Yang pertama bendera berlukiskan sebuah golok terbang sebagai lambang dari Hui-to Piauwkiok (Perusahaan Expedisi Golok Terbang), dan bendera kedua adalah bendera kuning bertuliskan merah ONG, tanda bahwa Ong Kiat sendiri mengawal barang-barang berharga itu. Rombongan itu kemudian bermalam di kota Cin-leng.

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan ke kota raja. Akan tetapi perjalanan kali ini amat sukar, karena dari Cin-leng ke kota raja harus melalui hutan-hutan belukar yang amat liar dan di sana tidak terdapat jalan besar yang dapat dilalui gerobak dengan mudah. Terpaksa memperlebar jalan kecil di dalam hutan dengan membabat rumput dan pepohonan.

Baru saja mereka memasuki hutan kedua, kira-kira tiga puluh li dari kota Cin-leng di sebelah utara, senja telah tiba. Selagi Ong Kiat dan tujuh orang anak buahnya membabat alang-alang, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang keras dan menyeramkan sekali dan dari atas sebatang pohon besar menyambar turun bayangan orang yang tak dapat dilihat dengan jelas oleh karena cepatnya gerakan orang ini. Orang itu hanya melompat ke atas gerobak di depan dan menghilang lagi, meninggalkan gema ketawa yang menyeramkan.

“Ibliskah dia...?” tanya seorang anak buah, kawan Ong Kiat.

“Ssttt, jangan sembarangan bicara,” Ong Kiat mencela. “Apa kalian tak tahu bahwa orang itu sengaja mempermainkan kita? Lihat!” Ong Kiat menunjuk ke atas gerobak pertama dan ketika tujuh orang anak buahnya menengok, mereka menjadi pucat sekali.

Ternyata bahwa dua buah bendera yang tadinya tertancap di atas gerobak dan berkibar kibar tertiup angin, sekarang sudah lenyap tak meninggalkan bekas! Alangkah hebatnya kepandaian bayangan tadi, sekali melompat saja sudah dapat merampas dua bendera tanpa dapat mereka lihat sedikit pun juga.

Ong Kiat sendiri tidak dapat melihat gerakan orang tadi dengan jelas, akan tetapi karena ilmu silatnya lebih tinggi dari pada kawan-kawannya, dia masih dapat mengikuti ke mana bayangan tadi melayang sehingga dia juga sempat melihat lenyapnya dua benderanya. Ong Kiat lalu menghadap ke arah bayangan tadi menghilang, kemudian menjura sambil mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan dan berkata,

“Siauwte Ong Kiat mengharap supaya sahabat yang di depan jangan mempermainkan kami dan sukalah memberi maaf apa bila kami tidak menyambut kedatanganmu karena tidak tahu. Apa bila sahabat berlaku murah, kami Hui-to Piauwkiok bukanlah orang-orang yang tak kenal budi dan tentu akan memenuhi permintaan yang pantas dari padamu.”

Setelah Ong Kiat mengakhiri kata-katanya, keadaan sunyi sekali. Semua orang menahan napas dan yang terdengar hanya berkereseknya daun-daun pohon dipermainkan oleh angin lalu. Tiba-tiba terdengar lagi suara ketawa yang menyeramkan seperti tadi dan dari jurusan depan, menyambar dua benda merupakan sinar kuning dan putih yang meluncur mengarah dada dan leher Ong Kiat!

Piauwsu ini bukan seorang lemah. Ia tahu bahwa dia diserang dengan senjata rahasia yang aneh, maka cepat dia miringkan tubuhnya ke kiri. Ketika dua tangannya bergerak dari samping, dia telah menangkap dua benda kuning dan putih itu.

Alangkah mendongkolnya ketika dia melihat bahwa benda-benda itu bukan lain adalah dua buah benderanya yang tadi dicabut orang! Akan tetapi, diam-diam dia terkejut sekali karena ketika dia menyambut bendera-bendera tadi, kedua tangannya tergetar. Bukan main hebatnya tenaga yang menyambitkan dua bendera bergagang kayu itu.

“Ong Kiat, manusia lancang!” terdengar suara yang parau dan kasar. “Kau sudah berani sekali mengambil Pek-cilan sebagai isterimu, padahal dia telah dipastikan akan mampus di dalam tanganku. Akan tetapi aku masih mau mengampuni jiwamu dan hanya akan menghukummu dengan merampas dua gerobak barang ini. Kau dan anak buahmu lekas pergi dari sini dan tinggalkan dua gerobak barang ini di sini!”

Wajah Ong Kiat sebentar berubah pucat sebentar merah saking marah dan dongkolnya mendengar kata-kata yang sangat menghina ini. Dia adalah seorang gagah, walau pun pekerjaannya sebagai piauwsu mengharuskannya untuk bersikap baik terhadap para perampok agar jangan banyak dimusuhi orang, akan tetapi kalau orang terlalu menghina, dia pasti akan melawan!

“Sahabat manakah yang begitu sombong? Harap keluar memperkenalkan diri. Aku Ong Kiat bukanlah orang yang lantas menjadi ketakutan oleh gertak kosong belaka!” Sambil berkata demikian, dia mencabut goloknya yang tajam mengkilap.

Tujuh orang kawannya juga sudah mencabut goloknya masing-masing. Ong Kiat terkenal sebagai seorang ahli golok yang lihai, seorang murid Thian-san-pai yang tak boleh dibuat permainan. Juga tujuh orang kawannya telah mempelajari ilmu golok sehingga rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tangguh.

Kembali terdengar suara ketawa dan kali ini disertai ejekan. “Kalian sudah bosan hidup, jangan bilang aku berlaku kejam!”

Sehabis ucapan ini, dari belakang rumpun menyambar keluar tubuh seorang kakek yang betul-betul menyeramkan. Bajunya yang berlengan lebar berwarna biru muda, celananya biru tua dan kakinya telanjang. Hidungnya bengkok dan besar, ada pun mulutnya tertutup oleh cambang dan jenggot putih.

Kepalanya botak kelimis, hanya pada kanan kirinya terdapat rambut hitam yang kaku dan berdiri. Yang hebat adalah jari-jari tangannya, karena sepuluh jari tangannya itu berkuku panjang dan runcing bagaikan kuku harimau! Ketika dia melompat keluar, kedua kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seperti kaki harimau saja.

“Kau tidak mengenal aku? Ha-ha-ha!” Kakek yang menyeramkan ini mengeluarkan suara ketawa seperti auman harimau.

Ong Kiat memandang takjub. Melihat keadaan kakek ini, dia teringat akan seorang tokoh hek-to (jalan hitam, dunia orang jahat) yang di juluki orang Toat-beng Hui-houw (Harimau Terbang Pencabut Nyawa). Akan tetapi, Toat-beng Hui-houw kabarnya sudah lenyap dari dunia dan sudah puluhan tahun tak pernah memperlihatkan diri lagi.

Ong Kiat segera memberi hormat. “Siauwte bermata buta, tidak mengenal siapa adanya Locianpwe yang terhormat.”

Toat-beng Hui-houw sejak mudanya berwatak keras dan sombong sekali, maka begitu mendengar orang tidak mengenal namanya, dia menjadi makin marah. “Buka telingamu dan matamu lebar-lebar, Ong-piauwsu! Aku adalah Toat-beng Hui-houw, dan kau tentu sudah tahu bahwa siapa pun juga yang tidak mau mentaati perintah Toat-beng Hui-houw, berarti harus mati!” Sesudah berkata demikian, secepat kilat tangannya yang berkuku panjang itu menyambar ke arah kepala Ong Kiat!

Piauwsu muda ini terkejut sekali, tidak hanya karena nama itu, akan tetapi juga karena serangan yang datangnya tiba-tiba dan hebat bukan main ini. Cepat dia menggerakkan goloknya menangkis sekuat tenaga, bermaksud membabat putus kuku-kuku panjang dari lawannya itu.

“Traaang...!”

Ong Kiat berseru kaget. Cepat-cepat dia melompat ke belakang karena merasa betapa goloknya beradu dengan benda yang luar biasa keras dan kuatnya sehingga kalau dia tidak buru-buru menarik kembali goloknya dan melompat mundur, tentu golok itu akan terlepas dari pegangannya! Baiknya golok yang dipegangnya adalah golok pusaka yang ampuh dan kuat, kalau tidak demikian, agaknya golok itu sudah menjadi rusak pada saat bertemu dengan kuku-kuku yang demikian kerasnya!

“Ha-ha-ha! Kau harus mampus! Kau juga!” kata-kata ini diulangi terus.

Tubuhnya bergerak maju sambil menyerang dengan sepasang tangannya yang berkuku runcing dan panjang.

“Tranggg! Tranggg!”

Terdengar suara beberapa kali dan golok di tangan ketujuh orang kawan Ong Kiat itu terbang terlepas dari tangan, ada yang retak dan ada pula yang terpotong menjadi dua! Kemudian disusul jeritan-jeritan ngeri ketika kuku-kuku yang panjang itu mengenai tubuh mereka. Ada yang lehernya hampir putus, kulit perutnya robek dan sebentar saja tujuh orang piauwsu itu tergeletak tumpang tindih dalam keadaan yang amat mengerikan!

Keadaan mereka ini tiada bedanya dengan orang-orang yang telah diserang oleh seekor harimau yang ganas. Akan tetapi, Toat-beng Hui-houw sengaja hanya melukai pundak salah seorang di antara ketujuh kawan Ong Kiat itu yang kini duduk merintih-rintih dan memegangi pundak kanannya yang berlumur darah.

Ong Kiat menjadi marah sekali. Dengan nekat dia lalu menyerang dengan goloknya. Serangannya tidak boleh dibuat permainan, oleh karena dia mempergunakan ilmu golok Thian-san-pai yang lihai.

Toat-beng Hui-houw maklum akan hal ini. Karena itu dia pun tidak berani sembarangan menangkis, melainkan mempergunakan ginkang-nya yang istimewa untuk mengelak ke sana kemari. Orang sudah tahu akan kegesitan seekor harimau, akan tetapi Toat-beng Hui-houw (Harimau Terbang) karena gerakannya itu seakan-akan seekor harimau yang bersayap!

Tidak saja dia pandai dan cepat sekali mengelak ke sana ke mari, bahkan kadang kala dia melompat tinggi seperti terbang saja. Selain mengelak atau menangkis serangan Ong Kiat yang mengamuk seperti gila karena sudah nekat sekali, juga Toat-beng Hui-houw membalas dengan serangan-serangan kukunya yang berbahaya.

Betapa pun pandainya Ong Kiat mainkan goloknya, namun menghadapi kakek yang luar biasa sekali ini dia hanya dapat betahan sampai tiga puluh jurus saja. Agaknya kalau Toat-beng Hui-houw menghendaki kematiannya, dalam sepuluh jurus juga Ong Kiat akan roboh binasa.

Tetapi kakek ini hendak menawannya hidup-hidup, maka dia hanya berusaha merampas golok. Akhirnya, ketika golok itu diputar dan menyerang lehernya, kakek itu berseru keras sekali dan kedua tangannya bergerak. Tangan kanan mendahului golok mencengkeram ke arah lambung lawan dan tangan kiri menyusul untuk merampas golok!

Ong Kiat tak berdaya. Kalau dia membiarkan lambungnya dicengkeram, tentu dia akan binasa dan goloknya yang datangnya kalah cepat belum tentu akan mengenai lawan. Terpaksa dia melompat ke belakang dan menarik pulang goloknya, namun terlambat. Golok itu telah kena dicengkeram dan sekali renggut saja sudah pindah tangan!

Toat-beng Hui-houw mendesak terus dan akhirnya jalan darah di pundak Ong Kiat telah kena dicengkeram oleh jari-jari itu. Kulit pundaknya pecah, lantas Ong Kiat roboh dalam keadaan lumpuh tak berdaya lagi!

“Ha-ha-ha! Baru kalian tahu betapa lihainya Toat-beng Hui-houw!”

Dia lalu mempergunakan kakinya yang telanjang itu untuk menendang bangun anggota piauwsu yang terluka pundaknya tadi. “Hei, kau!” Aku sengaja tidak membikin mampus padamu agar kau dapat memanggil Pek-cilan, datang ke sini! Katakan bahwa selambat-lambatnya besok pagi ia harus datang di sini, bila tidak, suaminya akan kucekik mampus dan dia pun akan kucari ke rumahnya. Pakai kuda itu!”

Piauwsu itu tidak berdaya. Terpaksa dia menangkap kembali kudanya dan mengaburkan kuda itu kembali ke Hak-keng. Dia melakukan perjalanan cepat sekali tanpa berhenti, sedangkan luka dipundaknya tidak dirawat, maka ketika dia tiba di depan Thio Loan Eng, dia roboh pingsan!

Dapat diduga betapa hebat kemarahan dan kekagetan hati Loan Eng mendengar tentang keadaan suaminya. Tanpa banyak cakap lagi, dia lalu cepat melarikan kuda menuju ke tempat itu, diikuti oleh semua anggota piauwkok, yakni piauwsu-piauwsu yang kebetulan berada di kota yang jumlahnya ada sepuluh orang. Begitu sampai di tempat yang dituju, Loan Eng mencabut pedangnya dan berseru dengan suara keras,

“Toat-beng Hui-houw siluman buas, kau keluarlah untuk terima binasa!”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari Toat-beng Hui-houw, lalu tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu dia telah berdiri di hadapan Loan Eng. Pendekar wanita ini pun belum pernah bertemu dengan kakek ini, maka seperti juga Ong Kiat, dia terkejut sekali menyaksikan keseraman kakek ini. Akan tetapi ia tidak pernah mengenal takut, dan karena itu sambil menudingkan pedangnya ke muka orang, ia pun berkata,

“Toat-beng Hui-houw, antara kita tidak pernah terjadi permusuhan, mengapa kau berlaku begitu kejam, membunuh kawan-kawan kami dan bahkan menawan suamiku?”

Kakek yang menyeramkan itu tertawa bergelak dengan suara mengejek lalu dia berkata, “Pek-cilan, kau terlalu mengandalkan kegagahan sendiri dan sama sekali tidak melihat orang! Kau telah membunuh sute-ku Tauw-cai-houw, maka sekarang aku datang untuk menagih hutang!”

Terkejut hati Loan Eng mendengar ini. Ahhh, tidak tahunya kakek mengerikan ini adalah suheng (kakak seperguruan) dari Tauw-cai-houw, manusia gila yang dulu menculik dan hendak memanggang Kwan Cu hidup-hidup dan yang telah terbunuh olehnya dalam satu pertempuran. Tauw-cai-houw saja sudah amat lihai, apa lagi suheng-nya ini!

Akan tetapi Loan Eng tidak menjadi jeri. Ia tersenyum mengejek dan berkata, “Toat-beng Hui-houw, kau mau menang sendiri saja. Sute-mu (adik seperguruanmu) Tauw-cai-houw itu adalah orang gila. Aku melihat jelas dia menangkap seorang anak kecil yang hendak dipanggang dan dimakan dagingnya. Apakah aku harus berpeluk tangan saja dan tidak mencegahnya? Kau tentu maklum bahwa kejahatan seperti itu tidak dapat diampunkan lagi. Sute-mu bertempur dengan aku dan dia binasa, mengapa hal ini kau jadikan alasan untuk membunuh orang-orangku dan menawan suamiku?”

“Tolol! Sute-ku sedang meyakinkan Ilmu Hoat-lek Kim-ciong-ko (Ilmu Kebal Berdasarkan Ilmu Gaib) dan untuk itu dia membutuhkan daging serta darah seorang anak sin-tong (anak ajaib)! Kau datang mengganggu dan bahkan membunuhnya. Sekarang aku yang akan mengambil darahmu untuk dijadikan obat panjang usia, ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian, Toat-beng Hui-houw lalu menubruk dengan kuku-kuku tangannya yang sangat panjang dan runcing.

Loan Eng maklum bahwa dia menghadapi seorang kakek yang selain lihai sekali, juga agaknya pun miring otaknya, maka ia lantas berlaku hati-hati sekali. Pedangnya diputar cepat sehingga berubah menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan mata.

Kalau dibandingkan dengan ilmu golok Ong Kiat, ilmu pedang Loan Eng ini ternyata lebih ganas dan berbahaya. Akan tetapi kini Toat-beng Hui-houw bergerak cepat sekali dan kakek ini mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Pandangan mata Loan Eng menjadi kabur dan gelap saking cepatnya gerakan kakek itu, apa lagi kini dari kedua tangan kakek itu menyambar hawa dingin yang berbau sangat amis. Diam-diam Loan Eng bergidik.

Dia pernah mendengar akan kehebatan kakek ini, dan mendengar pula bahwa kuku-kuku yang panjang itu sewaktu-waktu apa bila menghadapi lawan tangguh, direndam dalam air obat terisi racun yang sangat jahat. Ia tahu bahwa sekali saja ia terkena kuku yang runcing seperti pisau itu, tentu ia akan terkena bisa dan celaka.

Akan tetapi Loan Eng memang terkenal seorang keras hati yang tak mau menyerah dan pantang mundur. Ia menyerang terus, mengerahkan tenaga dan seluruh kepandaiannya, menggerakkan pedangnya dalam tipu-tipu yang paling diandalkan.

Pertandingan terjadi luar biasa hebatnya, jauh lebih hebat dibandingkan ketika Toat-beng Hui-houw menghadapi Ong Kiat. Sepuluh orang piauwsu yang ikut datang bersama Loan Eng menjadi bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. Ingin membantu, akan tetapi maklum akan kekurangan sendiri dan baru melihat pertandingan itu saja mereka telah menjadi pening dan tak dapat membedakan mana kawan dan lawan karena gerakan dua orang yang bertempur luar biasa cepatnya.

Baru kali ini Loan Eng merasa mendapat lawan yang amat tangguh. Toat-beng Hui-houw benar-benar jauh lebih tangguh dari pada Tauw-cai-houw dan setelah melawan sampai empat puluh jurus lebih, akhirnya ia pun harus menyerah kalah. Sepuluh buah kuku yang runcing itu berhasil mencengkeram pedangnya dan tanpa dapat ditahan lagi, pedangnya terlepas dari tangannya.

Kemudian Toat-beng Hui-houw menubruk maju, disambut oleh tendangan kaki Loan Eng yang menggunakan ilmu tendang Soan-hong-twi.

Namun, alangkah kagetnya ketika kaki kirinya dapat tertangkap pula! Sebelum ia sempat memukul, pundaknya dapat dicengkeram dan matanya menjadi gelap. Loan Eng roboh pingsan…..

Melihat hal ini, sepuluh orang piauwsu yang berada di sana menjadi terkejut dan marah sekali. Dengan golok di tangan mereka menyerbu Toat-beng Hui-houw. Kakek yang amat mengerikan ini hanya tertawa bergelak. Begitu tubuhnya bergerak didahului oleh kedua tangannya yang berkuku panjang, tiga orang piauwsu roboh tak bernyawa pula!

Melihat kehebatan ini, tujuh orang piauwsu yang lain lalu melompat ke atas kuda mereka dan melarikan diri dari situ! Kemudian mereka mengadakan perundingan dalam restoran untuk mencari jalan guna menolong Ong Kiat beserta Loan Eng dan kemudian datang rombongan anggota Sin-to-pang sehingga terjadi pertempuran sebagaimana yang sudah dituturkan di bagian depan.

Ada pun orang-orang Sin-to-pang kemudian menuturkan bahwa mereka mendengar pula mengenai bencana yang menimpa Loan Eng. Mereka menjadi marah sekali. Semenjak mendengar bahwa Loan Eng menikah dengan Ong Kiat, semua anggota Sin-to-pang ini sudah merasa sakit hati dan tidak senang kepada Hui-to Piauwkiok. Dan kini, mendengar bahwa Loan Eng mendapat bencana, mereka menganggap bahwa itu adalah kesalahan Ong Kiat. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa justru Toat-beng Hui-houw turun gunung mengganggu Ong Kiat karena Ong Kiat memperisteri Loan Eng dan karena Loan Eng telah membinasakan Tauw-cai-houw, sute dari Toat-beng Hui-houw!

Demikianlah, dua rombongan dari Sin-to-pang dan Hui-to Piauwkiok saling menuturkan apa yang mereka ketahui kepada Sui Ceng dan baru sekarang rombongan Sin-to-pang mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya.

“Hanya ada dua jalan,” kata para piauwsu itu menutup penuturan mereka. “Pertama, kita minta bantuan Bin Kong Siansu dari Kim-san-pai, dan ke dua, kita harus minta bantuan Thian-san-pai untuk menghadapi Toat-beng Hui-houw yang lihai.”

Sementara itu, untuk beberapa lama Sui Ceng tidak dapat berkata-kata saking marahnya mendengar penuturan tentang bencana yang menimpa diri ibunya. Kini ia berseru keras dan mencela kata-kata mereka itu.

“Banyak cakap tanpa kerja tiada gunanya. Hayo kalian tunjukkan kepadaku di mana Ibu ditawan. Menghadapi siluman tua itu saja, kenapa mesti ribut-ribut minta bantuan orang lain?”

“Siauw-pangcu berkata benar! Sin-to-pang tak boleh memperlihatkan kelemahan. Hayo, kawan-kawan dari Hui-to Piauwkiok, marilah kita mengantar Pangcu ke tempat itu dan kita keroyok siluman itu!” kata orang-orang Sin-to-pang.

Akan tetapi, para piauwsu yang sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kelihaian Toat-beng Hui-houw, menjadi geli melihat sikap Sui Ceng dan para anggota Sin-to-pang. Ong Kiat dan Loan Eng sendiri dibantu oleh beberapa orang piauwsu yang tangguh, masih tidak berdaya menghadapi siluman tua itu, apa lagi anak kecil ini?

Melihat keraguan orang-orang Hui-to Piauwkiok, Sui Ceng membentak,

“Apakah kalian takut? Hemm, kalau aku berhasil menolong ayah tiriku, akan kuceritakan kepadanya bagaimana sikap kalian yang pengecut ini!”

Naik darah para piauwsu itu mendengar ejekan anak kecil ini.

“Siapa bilang kami takut? Hayo kita berangkat sekarang juga!” kata mereka.

Diam-diam Sui Ceng tersenyum karena dia telah berhasil membangunkan lagi semangat mereka. Orang-orang ini masih belum percaya kepadanya dan perlu dia memperlihatkan kepandaian agar mereka itu menjadi tenang dan bersemangat.

“Kalian boleh naik kuda dan maju secepatnya. Aku sendiri akan berlari cepat.”

Kembali diam-diam para piauwsu itu mentertawakan Sui Ceng.

“Hemm, anak ini sungguh sombong sekali dan keras seperti ibunya,” pikir mereka. Akan tetapi, karena rombongan Sin-to-pang yang datang berkuda itu pun telah mengaburkan kuda mereka, para piauwsu itu juga segera naik ke atas kuda dan menjalankan kuda mereka cepat sekali.

Pada saat mereka telah keluar dari kota Cin-leng, bukan main heran hati mereka ketika melihat seorang anak perempuan telah berlari-lari di depan kuda mereka. Ketika mereka memandang dengan penuh perhatian, tak salah lagi, anak kecil itu adalah Bun Sui Ceng adanya! Melihat kehebatan ilmu lari cepat dari ketua mereka, orang-orang Sin-to-pang bersorak,

“Hidup Siauw-pangcu!”

Ada pun orang-orang Hui-to Piauwkiok amat kagum dan diam-diam mereka pun menaruh harapan mudah-mudahan ketua mereka dan isterinya akan tertolong dari tangan siluman tua itu oleh anak perempuan yang ajaib ini. Ada pun Sui Ceng yang di depan, segera memberi tanda kepada orang-orang dari Hui-to Piauwkiok untuk menjadi penunjuk jalan karena dia sendiri belum tahu di mana adanya sarang Toat-beng Hui-houw.

Diam-diam Sui Ceng merasa agak khawatir juga. Bukan khawatir atau takut menghadapi Toat-beng Hui-houw, sama sekali tidak. Anak ini keberaniannya malah melebihi ibunya! Yang ia khawatirkan adalah gurunya. Ia tadi pergi tidak memberitahukan kepada Kiu-bwe Coa-li, dan takut kalau-kalau gurunya kelak akan menegur dan memarahinya.

Ketika tiba di tempat di mana kemarin harinya Loan Eng bertempur melawan Toat-beng Hui-houw, mereka semua kemudian berhenti dan turun dari kuda. Di situ masih nampak bekas-bekas pertempuran, bahkan mayat para piauwsu yang tidak keburu diambil oleh kawan-kawannya masih bergelimpangan di situ.

Kemudian Sui Ceng berseru menantang, “Toat-beng Hui-houw, lekas keluar! Marilah kita bertempur seribu jurus!”

Akan tetapi, biar pun berkali-kali ia berteriak, bahkan dibantu oleh para piauwsu bersama anggota Sin-to-pang yang memaki-maki, tidak terdengar jawaban dari iblis tua itu. Hanya gema suara mereka saja terdengar dari kanan dan kiri sehingga membuat burung-burung hutan beterbangan serta binatang-binatang kecil berlarian menyembunyikan diri di dalam semak-semak.

Ke mana perginya Toat-beng Hui-houw? Dan bagaimana nasib Loan Eng dan Ong Kiat? Tak jauh dari tempat Sui Ceng bersama kawan-kawannya berseru menantang, terdapat sebuah goa besar sekali di bukit batu karang. Goa inilah tempat sembunyi atau sarang Toat-beng Hui-houw dan ke dalam goa ini pula dia membawa Loan Eng dan Ong Kiat.

Pada saat itu, bukan dia tidak mendengar seruan-seruan yang ramai dari hutan itu, akan tetapi dia tengah asyik dengan perbuatannya yang amat terkutuk dan bukan merupakan perbuatan manusia lagi. Di dalam ruangan sebelah kiri goa itu, Loan Eng rebah di atas pembaringan batu dalam keadaan lumpuh dan tak dapat menggerakkan kaki tangannya karena jalan darahnya sudah dipukul dengan tiam-hoat (ilmu menotok) oleh iblis tua itu.

Biar pun ia tak dapat menggerakkan kaki tangannya, namun Loan Eng masih sadar dan tahu bahwa dia berada dalam cengkeraman seorang iblis yang jahat sekali. Beberapa kali dia melirik ke dalam ruangan yang suram-suram itu karena mendapat penerangan cahaya matahari yang masuk melalui mulut goa. Akan tetapi dia tidak melihat suaminya, dan dia diam-diam mengeluh.

Mendadak terdengar suara terkekeh-kekeh dan masuklah tubuh Toat-beng Hui-houw di dalam ruangan itu. Loan Eng mengerahkan seluruh tenaga untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, akan tetapi sia-sia belaka, bahkan usahanya ini melemaskan seluruh tubuhnya dan membuat luka di pundaknya terasa sakit sekali, hampir tak tertahankan.

“Ha-ha-ha! He-he-he! Pek-cilan, kau telah membunuh sute-ku dan sekarang kau sudah terjatuh ke dalam tanganku! Ha-ha-ha, kau benar-benar seperti bunga cilan putih. Cantik dan bersih. He-he-he! Darahmu tentu segar dan bersih pula, dan dapat membikin aku muda kembali!”

Sambil tertawa-tawa, kakek botak berkuku panjang ini menghampiri pembaringan batu di mana Loan Eng terlentang tak berdaya. Lebih dahulu kakek ini meraba kaki tangan Loan Eng, untuk melihat bahwa korbannya benar-benar masih berada dalam keadaan lumpuh tertotok sehingga tidak akan dapat melakukan serangan yang tiba-tiba.

Kemudian, dia mendekatkan mukanya pada muka Loan Eng yang tentu saja merasa jijik sekali. Akan tetapi apa dayanya? Dia menahan tekanan hatinya dan ingin melihat apa yang akan diperbuat oleh manusia iblis ini terhadap dirinya. Masih banyak waktu untuk membalas dendam, pikirnya. Tunggu saja kalau aku sampai terbebas.

Akan tetapi, perbuatan yang kemudian dilakukan oleh Toat-beng Hui-houw benar-benar di luar dugaannya. Belum pernah ada seorang manusia, betapa gilanya pun, melakukan perbuatan keji seperti itu. Ketika dia sudah mendekatkan mukanya dengan muka Loan Eng, ternyata dia tidak berbuat kurang ajar, bahkan kini mukanya diarahkan pada leher Loan Eng yang berkulit halus.

Tiba-tiba Loan Eng merasa betapa mulut kakek itu menempel pada lehernya, membuat ia merasa ngeri dan membuat bulu tengkuknya berdiri. Ia mengira bahwa kakek ini hanya ingin mencium lehernya saja. Akan tetapi, tidak tahunya, kakek ini tidak mau melepaskan lehernya lagi dan sampai lama, mulut kakek itu masih menempel pada lehernya.

Pelan-pelan Loan Eng merasa betapa kakek itu menggunakan giginya untuk menggigit lehernya yang terasa perih, kemudian ia merasa betapa mulut kakek itu mulai menghisap darah dari luka di leher bekas gigitan! Bukan main ngerinya hati Loan Eng menghadapi perbuatan kakek siluman ini sehingga kepalanya menjadi makin pening, tubuhnya makin lemas dan tak lama kemudian, nyonya muda ini menjadi pingsan!

Toat-beng Hui-houw ternyata membuktikan ancamannya. Dia hendak menghisap darah pembunuh sute-nya ini, bukan saja dengan maksud membalas dendam, akan tetapi juga untuk suatu maksud, yakni dia hendak ‘mengoper’ darah wanita muda yang cantik jelita itu agar supaya dia akan menjadi awet muda! Pikiran dari seorang yang telah lenyap peri kemanusiaannya, seorang yang telah berubah menjadi iblis jahat!

Sesudah kenyang menghisap darah Loan Eng, Toat-beng Hui-houw tertawa-tawa girang dan melompat-lompat keluar. Ia merasa telah menjadi muda kembali! Sebetulnya bukan karena isapan darah yang dilakukan seperti seorang iblis keji itu, melainkan disebabkan perasaan dan pikirannya yang sudah tidak normal lagi itulah yang membuat dia merasa seolah-olah menjadi muda kembali! Ia pun keluar dari goa dan kini dia mendengar suara tantangan yang keluar dari hutan.

“Ha-ha-ha, segala tikus busuk! Toat-beng Hui-houw berada disini, kalian mau apa?”

Suara ini dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang sepenuhnya hingga terdengar sampai jauh. Seperti tokoh-tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, Toat-beng Hui-houw juga pandai Ilmu Coan-im Jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh), maka tentu saja suaranya ini bergema jauh dan terdengar baik-baik oleh Sui Ceng dan kawan-kawannya.

Mendengar suara ini, Sui Ceng lalu melompat dan berlari cepat menuju ke arah suara itu, diikuti oleh kawan-kawannya yang segera tertinggal jauh. Dengan berkuda saja piauwsu dan anggota Sin-to-pang masih tidak dapat menandingi ilmu lari cepat Sui Ceng, apa lagi sekarang mereka berlari biasa!

Pada saat tiba di depan goa, Sui Ceng melihat seorang kakek yang mengerikan sedang menari-nari, berlompat-lompatan dan bernyanyi!

“Aku menjadi muda kembali, muda kembali...! Ha-ha-ha…! Toat-beng Hui-houw menjadi muda kembali!”

Untuk sesaat, Sui Ceng tertegun. Yang berada di hadapannya itu seperti bukan manusia lagi, melainkan seorang iblis yang mengerikan. Akan tetapi, Sui Ceng yang baru berusia delapan tahun itu tidak merasa takut sedikit pun juga. Dia bahkan melangkah maju dan menghadapi iblis tua itu dengan sikap tenang dan tabah.

“Ehh, kakek tua miring otak!”

Toat-beng Hui-houw segera menghentikan tariannya dan memandang heran. Bagaimana ada seorang anak perempuan kecil berani memakinya?

“Kaukah Toat-beng Hui-houw yang berani menangkap ibuku dan ayah tiriku? Lekas kau lepaskan mereka, barangkali nona kecilmu masih dapat mengampuni dosa-dosamu!”

Toat-beng Hui-houw menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan. Lagi mimpikah dia? Ataukah benar-benar ada seorang gadis cilik yang manis dan elok berdiri dengan gagah dan berani serta mengeluarkan ucapan macam itu kepadanya? Kemudian ia tertawa bergelak.

“Jadi kau memang puteri Pek-cilan? Ha-ha-ha! Memang bunga cantik berbiji manis pula! Agaknya darahmu lebih segar dari pada darah ibumu. Ha-ha-ha! Mari, mari! Kau hendak bertemu dengan ibumu bukan?” Sambil berkata demikian, dia cepat menubruk hendak menangkap Sui Ceng, seperti laku seorang kecil menubruk seekor burung yang indah.

Akan tetapi, betapa heran hati iblis ini ketika tiba-tiba tubuh kecil itu lenyap dan tahu-tahu sebuah kaki yang kecil mungil dalam sepatu merah bersulam bunga, bahkan menendang mukanya! Toat-beng Hui-houw terkejut dan heran, cepat dia miringkan kepalanya, akan tetapi ternyata bahwa tendangan ini adalah tendangan pancingan belaka dan sebelum Toat-beng Hui-houw sempat mengelak, perutnya sudah kena ditendang oleh sebuah kaki lain yang sama mungilnya!

“Bukkk!”

Kaki Sui Ceng tepat mengenai perut, akan tetapi bukan Toat-beng Hui-houw yang roboh, melainkan tubuh Sui Ceng sendiri yang terlempar ke belakang! Akan tetapi, bagai seekor burung walet, gadis cilik ini dapat berpoksai (membuat salto) di udara dan turun dengan ringan sekali.

Apa bila tadi Toat-beng Hui-houw sampai terkena tendangan Sui Ceng, bukan karena dia kurang lihai, akan tetapi karena kakek ini memandang rendah dan tidak mengira sama sekali bahwa bocah ini akan dapat melakukan gerakan sehebat itu!

Pada saat ditubruk tadi, secepat kilat Sui Ceng melakukan gerakan melompat Can-liong Seng-thian (Naga Terbang Naik ke Langit), kemudian disusul oleh tendangan Ji-liong-twi (Tendangan Sepasang Naga) yang bertubi-tubi sehingga dia berhasil menendang perut lawannya.

Akan tetapi, yang ditendangnya tertawa saja sedangkan dia sendiri terpental jauh. Bukan main kagetnya Sui Ceng dan anak ini maklum bahwa tenaga dan kepadaian lawannya betul-betul hebat sekali. Sebaliknya Toat-beng Hui-houw juga amat kagum menyaksikan kegesitan anak perempuan ini, namun kalau saja dia tahu bahwa anak ini adalah murid Kiu-bwe Coa-li, tentu akan lenyap keheranannya dan terganti oleh kekagetan hebat.

“Anak manis, aku harus mendapatkan darahmu!” katanya berkali-kali dan dia menubruk lagi.

Akan tetapi, berkat kegesitan dan ginkang-nya yang luar biasa, Sui Ceng lagi-lagi dapat menghindarkan diri. Pada waktu itu rombongan piauwsu dan para anak buah Sin-to-pang sudah datang di situ dan mereka menonton pertempuran dengan mata terbelalak kagum.

Anggota-anggota Sin-to-pang merasa bangga melihat ‘siauw-pangcu’ mereka itu berani menghadapi Toat-beng Hui-houw dengan tangan kosong. Melihat betapa kakek itu bagai seekor harimau buas yang menubruk ke sana sini, sedangkan tubuh Sui Ceng bagaikan seekor burung walet beterbangan dan berkelit cepat sekali, mereka itu tanpa terasa pula meleletkan lidah saking kagum dan tegangnya.

Kalau Toat-beng Hui-houw bermaksud membunuh Sui Ceng, tentu takkan sukar baginya. Biar pun untuk menjamah tubuh anak ini sulit sekali karena memang kegesitan Sui Ceng dapat mengimbangi kegesitan lawannya yang berjuluk Harimau Terbang, namun bila dia mau, dengan hawa pukulan tangannya, dia dapat merobohkan gadis cilik ini.

Akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Hui-houw mendapat pikiran lain. Tadi ia menghisap darah Loan Eng hanya karena hendak membalas sakit hati atas kematian sute-nya dan ingin awet muda. Sekarang melihat Sui Ceng yang masih terhitung anak-anak, dia takut kalau-kalau dia berubah menjadi anak-anak pula apa bila dia menghisap darah anak ini! Memang bodoh, gila, dan jahat merupakan satu keluarga, dan kakek ini telah mempunyai ketiga-tiganya.

“Aku tidak mau isap darahmu! Aku akan menangkapmu, memelihara dalam sangkar, kau burung cantik!” katanya berkali-kali dan kini dia menyerang dengan kedua tangannya.

Alangkah herannya hati Sui Ceng ketika melihat betapa kini sepuluh jari tangan iblis tua itu seperti tidak berkuku lagi. Ternyata bahwa kuku-kuku jarinya sudah dapat digulung ke dalam!

Berkali-kali dia mendesak hendak menangkap tanpa melukai tubuh Sui Ceng, namun hal ini benar-benar tidak mudah. Sui Ceng sudah mendapat gemblengan dari Kiu-bwe Coa-li, dan dalam hal ginkang dan kegesitan, memang semenjak kecil gadis cilik yang lincah ini berbakat baik sekali.

Ketika melihat betapa Sui Ceng terdesak, sambil berteriak-teriak nekat para piauwsu dan anak buah Sin-to-pang lalu menyerbu dengan golok di tangan. Baik anggota Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti), mau pun para piauwsu dari Hui-to Piauwkiok (Expedisi Golok Terbang) adalah ahli-ahli senjata golok, maka sekarang belasan batang golok berkilauan dan bergerak-gerak mengurung Toat-beng Hui-houw. Otomatis Sui Ceng juga terkurung karena dua orang ini bertempur begitu cepatnya sehingga mereka seakan-akan menjadi satu bayangan besar!

Para pengeroyok itu menjadi bingung. Mereka hanya dapat berteriak-teriak saja dan tidak berani sembarangan turun tangan, karena baru sedetik mereka melihat bayangan lawan, tiba-tiba bayangan itu lenyap dan berganti dengan bayangan Sui Ceng! Kedua orang ini berputaran, melompat ke sana ke mari, bagaimana mereka dapat membantu Sui Ceng?

“Jangan bantu aku! Jangan datang mendekat!” Sui Ceng berseru, akan tetapi terlambat.

Ketika tubuh Toat-beng Hui-houw mendadak menerjang ke arah para pengeroyok sambil meninggalkan Sui Ceng, terdengarlah jeritan berturut-turut dan empat orang pengeroyok roboh tak bernyawa lagi!

“Siluman tua, kau kejam sekali!” teriak Sui Ceng.

Anak ini secepat kilat menyambar sebatang golok dari seorang piauwsu yang roboh, lalu dia segera menerjang lagi ke depan dengan nekat, memutar golok sehingga merupakan segunduk sinar yang menyilaukan.

“Ha-ha-ha, burung cantik, kau harus menjadi peliharaanku!” berkata Toat-beng Hui-houw sambil menghadapi serangan-serangan Sui Ceng dengan tenang.

Ada pun para pengeroyok, ketika melihat betapa empat orang kawan mereka terbunuh dengan demikian mudahnya, serta mendengar perintah Sui Ceng, lalu mengundurkan diri dan menonton dari jauh saja. Mereka bukan merasa takut atau tidak mau membantu, akan tetapi mereka maklum sepenuhnya bahwa bantuan mereka itu sia-sia belaka dan tidak akan sanggup menolong, bahkan mereka pasti akan mengantarkan nyawa dengan cuma-cuma saja.

Sekarang gerakan Sui Ceng tidak lagi secepat dan segesit tadi. Hal ini karena sekarang gadis cilik ini memegang sebatang golok yang besar dan cukup berat. Tadinya Sui Ceng sengaja mengambil golok karena dia hendak bertempur mati-matian mengadu jiwa, akan tetapi sebaliknya, dengan golok di tangan justru dia mendatangkan kerugian pada dirinya sendiri. Golok itu terhadap Toat-beng Hui-houw tidak ada artinya sama sekali, sebaliknya menghambat gerakan sendiri.

Hanya dalam beberapa jurus saja, masih sambil tertawa-tawa, Toat-beng Hui-houw telah berhasil menangkap pinggangnya dan sekali dia menotok jalan darah thian-hu-hiat pada pundak gadis cilik itu, lemaslah tubuh Sui Ceng dan golok itu terlepas dari pegangan!

Pada saat itu tampak menyambar beberapa sinar halus sekali. Sinar ini adalah bulu-bulu halus dan panjang yang sekaligus menyerang Toat-beng Hui-houw di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian dari bulu-bulu halus ini melibat tubuh Sui Ceng dan sekali renggut, tubuh Sui Ceng sudah terlepas dari pegangan Toat-beng Hui-houw, kemudian melayang ke depan!

Toat-beng Hui-houw terkejut bukan main menghadapi serangan ini. Dia telah terkejut dan jeri melihat macam senjata yang menyerangnya, karena dari senjata ini saja tahulah dia bahwa yang datang menyerangnya adalah Kiu-bwe Coa-li! Kalau ada rasa takut di dalam dada Toat-beng Hui-houw manusia siluman ini, maka rasa takut itu mungkin hanyalah tertuju kepada lima orang tokoh besar di kalangan kang-ouw, di antaranya ialah Kiu-bwe Coa-li ini!

“Kiu-bwe Coa-li, mengapa kau mencampuri urusanku, sedangkan aku selamanya belum pernah mengganggumu?” katanya penasaran.

Ia cepat melompat ke belakang sebab jeri menghadapi pecut sembilan bulu dari Kiu-bwe Coa-li yang kini telah berdiri di hadapannya sambil menggandeng tangan Sui Ceng yang sudah dibebaskan dari totokan pula.

Diam-diam Kiu-bwe Coa-li mengerti mengapa muridnya tadi sampai kalah oleh Toat-beng Hui-houw. Tadi begitu datang melihat muridnya berada dalam pelukan kakek siluman itu, dia lalu melakukan serangan pecutnya yang paling dan jarang sekali ada orang mampu menghindarkan diri, yakni ilmu serangan Kiu-seng Kan-goat (Sembilan Bintang Mengejar Bulan).

Sembilan helai bulu pecutnya menyerang dari berbagai jurusan. Akan tetapi dia hanya berhasil merampas kembali muridnya dan sama sekali tidak dapat melukai kakek itu. Dari sini saja dia ketahui bahwa kepandaian kakek itu jauh lebih tinggi dari pada kepandaian muridnya.

“Siluman jahat, apa matamu sudah menjadi buta?” jawab Kiu-bwe Coa-li dan sepasang matanya mengeluarkan sinar membakar. “Kau berani mengganggu murid pinni (muridku), maka sekarang kau harus mati!”

Bukan main kagetnya Toat-beng Hui-houw.

“Dia ini muridmu...? Ahh, Kiu-bwe Coa-li, sungguh mati aku tidak tahu bahwa dia adalah muridmu. Akan tetapi, bukankah aku tidak mengganggunya? Kalau aku bermaksud untuk mengganggunya, apakah sekarang ia masih dapat bernapas?”

“Kau memang tidak melukainya, akan tetapi kau telah menghinanya, berarti kau sudah menghinaku pula. Maka bersiaplah untuk mati!”

Kembali Kiu-bwe Coa-li menggerakkan pecutnya, melakukan serangan-serangan dengan cara yang ganas dan tidak mengenal ampun sama sekali. Memang watak Kiu-bwe Coa-li luar biasa ganasnya. Sekali ia turun tangan, ia tidak akan merasa puas kalau lawannya belum roboh binasa!

Toat-beng Hui-houw bukannya orang lemah. Bangkit rasa penasarannya. Dia memang merasa segan bertempur melawan Kiu-bwe Coa-li dan tentu dia bersedia mengalah jika berurusan dengan orang yang dia anggap memiliki kedudukan lebih tinggi itu. Akan tetapi kalau dia didesak, dia terpaksa melawan.

“Kiu-bwe Coa-li, kau terlalu sekali. Kau kira aku Toat-beng Hui-houw takut menghadapi Kiu-bwe Joan-pian-mu (Pecut Berbulu Sembilan)?”

“Siapa peduli takut atau tidak? Aku hanya ingin kau mampus, habis perkara!” Kiu-bwe Coa-li mendesak terus.

Toat-beng Hui-houw mengeluarkan suara nyaring dan kini sepuluh kuku jari tangannya telah mulur kembali, panjang-panjang, tajam dan runcing mengerikan! Ia cepat mengelak dari serangan lawannya lantas membalas dengan serangan pukulan yang mendatangkan hawa dingin dan berbau amis.

Ternyata bahwa siluman tua ini telah mengeluarkan pukulan-pukulan maut disertai racun yang keluar dari hawa pukulan kukunya ini! Kalau tadi dia mengeluarkan ilmu ini, dalam beberapa jurus saja Sui Ceng tentu telah roboh binasa.

Menghadapi pukulan-pukulan hebat ini, Kiu-bwe Coa-li pertama-tama mendorong tubuh muridnya sehingga Sui Ceng terpental dan terpaksa melompat jauh ke pinggir, kemudian wanita sakti ini lalu memutar pecutnya sampai berbunyi mengaung dan kadang-kadang diselingi suara bergeletar dan dari pecutnya yang berekor sembilan ini keluar hawa yang menyambar-nyambar dan yang menolak hawa pukulan berbisa dari Toat-beng Hui-houw.

Para piauwsu dan anggota Sin-to-pang, semenjak tadi berdiri seperti patung. Munculnya seorang tokouw yang memegang cambuk ini saja sudah membuat mereka heran sekali, karena tak seorang pun di antara mereka melihat kedatangannya. Kemudian cara pecut tokouw itu merampas Sui Ceng dan kemudian mendengar pula bahwa tokouw ini adalah Kiu-bwe Coa-li yang tersohor dan menjadi guru Sui Ceng, mereka makin terbelalak.

Kini, sesudah pertandingan antara Toat-beng Hui-houw dan Kiu-bwe Coa-li berlangsung, mereka lalu menjadi bengong dan melongo. Menurut pendapat mereka, pertandingan ini bukan pertempuran orang-orang pandai, karena keduanya berdiri tidak pernah berpindah dari tempat masing-masing dan hanya kedua tangan mereka saja yang bergerak-gerak luar biasa cepat ke depan. Hampir saja ada yang tertawa menyaksikan pertandingan ini, karena gerakan kedua orang tua itu seakan-akan mereka sedang membadut.

Akan tetapi Sui Ceng menonton dengan wajah penuh ketegangan. Ia pun maklum bahwa permainan cambuk dari gurunya sedang dihadapi oleh lawan dengan ilmu pukulan berisi lweekang yang tinggi sekali tingkatnya. Pada waktu dua orang tua itu sedang bertempur dengan mengandalkan hawa pukulan lweekang, maka mereka hanya berdiri berhadapan dan saling memukul dari jauh, sama sekali tidak mengubah kedudukan kaki.

Akan tetapi, tak beberapa lama kemudian, Toat-beng Hui-houw terpaksa harus mengakui keunggulan lawannya, oleh karena bulu-bulu pecut Kiu-bwe Coa-li makin lama semakin mendesaknya, makin lama semakin dekat serangan ujung cambuk itu, terus mendesak hawa pukulannya yang hendak menentangnya.

Ia maklum bahwa kalau sampai ujung cambuk itu mengenai tubuhnya, sukarlah baginya untuk menyelamatkan diri lagi. Dia cukup mengenal akan kelihaian totokan ujung cambuk di tangan Kiu-bwe Coa-li, seorang di antara tokoh besar dunia persilatan.

“Cukup, siluman betina! Kali ini aku mengaku kalah, akan tetapi lain kali aku pasti akan mengalahkanmu!” kata Toat-beng Hui-houw sambil melompat mundur.

“Keparat pengecut! Kau belum mampus, bagaimana bisa bilang cukup?” berseru Kiu-bwe Coa-li sambil mengejar dan melakukan serangan kilat.

Toat-beng Hui-houw cepat mengerahkan tenaganya menangkis sambil melompat jauh, namun tetap saja sebuah dari pada sembilan ekor pecut itu dengan tepat menghantam pahanya. Baiknya dia cepat-cepat mengerahkan lweekang-nya ke arah bagian tubuh ini sehingga ketika pecut itu dengan suara nyaring menampar paha, hanya kain dan kulitnya saja yang pecah, akan tetapi dia tidak menderita luka dalam.


Gentarlah hati Toat-beng Hui-houw. Ia cepat melompat dan menyambar sebatang pohon besar. Sekali cabut saja jebollah pohon itu dan dia melontarkan pohon ke arah Kiu-bwe Coa-li yang mengejarnya! Terpaksa Kiu-bwe Coa-li melompat pergi dari sambaran pohon yang besar itu, dan ketika hendak melanjutkan pengejarannya, ia teringat pada muridnya.

“Mari, Sui Ceng, kita kejar siluman itu!” katanya sambil menggandeng tangan muridnya.

Akan tetapi Sui Ceng menarik tangannya dan berkata, “Nanti dulu, Suthai. Teecu harus menolong Ibu lebih dahulu.”

Kiu-bwe Coa-li menghentikan langkahnya. “Ibumu? Di mana dia?”

“Dia telah ditawan oleh Toat-beng Hui-houw. Karena itulah maka teecu datang ke tempat ini. Mungkin Ibu disembunyikan di dalam goa itu.” Sui Ceng menunjuk ke arah goa.

Kiu-bwe Coa-li mengerutkan keningnya. Dia sudah tahu persis akan kejahatan Toat-beng Hui-houw dan jika orang sudah terjatuh ke dalam tangan siluman itu, jangan harap akan tertolong lagi jiwanya.

“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat melihat dan memeriksa goa itu,” katanya.

Guru dan murid ini kemudian berlari-larian memasuki goa. Para piauwsu beserta anggota Sin-to-pang juga mendekati goa, akan tetapi mereka tidak berani lancang memasuki goa, hanya menanti dan berkumpul di luar goa sambil membicarakan pertempuran dahsyat yang tadi mereka saksikan.

Ada pun Sui Ceng dan gurunya yang memasuki goa, mendapat kenyataan bahwa goa itu lebar sekali dan di dalamnya terbagi-bagi menjadi tiga ruangan. Mereka memasuki ruang sebelah kiri dan membuka pintu ruangan itu yang terbuat dari pada kayu. Cahaya yang memasuki ruangan ini suram-suram saja, namun Sui Ceng segera mengenal tubuh yang terbaring membujur di atas pembaringan batu, sebab yang terlentang itu tidak lain adalah Loan Eng, ibunya sendiri!

“Ibuuu...!” Sui Ceng melompat dan menubruk ibunya.

Kiu-bwe Coa-li yang berdiri di belakang muridnya, segera mengulur tangan dan dengan beberapa totokan di jalan darah nyonya muda yang nampak lemas dan tidak berdaya lagi itu, dapatlah Loan Eng menggerakkan tubuhnya. Akan tetapi dia sudah demikian lemas sehingga hampir tidak kuat mengangkat tangannya. Ternyata bahwa darahnya hampir habis terisap oleh Toat-beng Hui-houw, manusia iblis itu!

“Ibu... kau kenapakah...?” Sui Ceng menggoyang-goyang tubuh ibunya dan memandang dengan mata terbelalak.

“Sui Ceng... kau datang...?” Suara Loan Eng lemah sekali, dan hanya terdengar seperti bisik-bisik saja, “Kebetulan sekali... aku ada pesan untukmu...”

“Suthai, tolong Ibuku, mengapa dia begitu lemah?” kata Sui Ceng tanpa mempedulikan kata-kata ibunya, karena ia tidak mau percaya bahwa ibunya akan mati.

Kiu-bwe Coa-li memegang pergelangan tangan Loan Eng, dan dia nampak terkejut, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan ketika ia memeriksa leher sebelah kiri dari nyonya muda itu, terdengar wanita sakti ini menggertakkan giginya.

“Jahanam benar...” bisiknya.

Ternyata bahwa kulit leher dari Loan Eng yang putih halus itu kini telah terluka dan di luar luka ini masih terdapat tanda gigitan dan darah-darah yang telah mengering!

“Ibumu tidak akan tertolong lagi, Sui Ceng. Dia sudah kehabisan darah,” katanya tenang. Mendengar ini, Sui Ceng menubruk ibunya dan menangis.

“Sui Ceng, anakku selamanya tidak akan menangis sedih,” kata Loan Eng. Mendengar tangis anaknya, agaknya Loan Eng mendapat tambahan tenaga baru. “Agaknya memang aku harus menebus dosaku pada kematian ayahmu yang kubunuh sendiri. Aku berpesan kepadamu, Sui Ceng. Kelak kau harus menjadi jodohnya murid ke dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, karena aku telah menerima pinangan orang tua itu. Nama murid itu The Kun Beng. Nah... hanya sekian pesanku...!” Loan Eng makin lemas.

“Ibu..., aku bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini. Akan kucincang hancur tubuh iblis itu...!” kata Sui Ceng di antara tangisnya.

Meski tubuhnya telah lemas sekali, mendengar kata-kata anaknya, Loan Eng memaksa bibirnya tersenyum. Ia merasa senang dan bangga melihat sikap puterinya yang gagah.

“Kau tentu akan berhasil, Sui Ceng, di bawah pimpinan gurumu yang sakti... dan tentang Sin-to-pang... kau... kau benar, perkumpulan mendiang ayahmu itu amat baik…, mereka telah berusaha menolongku... jadilah ketua yang baik kelak...! Sui Ceng, jangan lupa kau tunangan The Kun Beng murid Pak-lo-sian... nah, selamat tinggal, anakku...”

Habislah tenaga nyonya itu dan Pek-cilan Thio Loan Eng, pendekar wanita yang cantik dan gagah perkasa itu, menghembuskan napas terakhir dalam pelukan puterinya.

“Ibu...! Ibu...!” Sui Ceng menangis, kemudian dengan mata beringas ia bangkit berdiri dan berdongak ke atas sambil berkata,

“Toat-beng Hui-houw, manusia iblis. Tunggulah, akan tiba waktunya aku Bun Sui Ceng menghancurkan kepalamu!”

“Tenanglah, Sui Ceng. Apa sih sukarnya membikin mampus manusia seperti Toat-beng Hui-houw itu? Sekarang juga aku dapat mengejarnya dan membikin tamat riwayatnya,” kata Kiu-bwe Coa-li yang merasa kasihan kepada muridnya yang tersayang itu.

“Tidak, Suthai, dia tidak boleh mati di tanganmu atau di tangan siapa juga. Teecu sendiri yang akan membalaskan sakit hati ini.”

Kiu-bwe Coa-li mengangguk-angguk. “Boleh saja, Sui Ceng. Asalkan kau belajar dengan rajin, tak lama lagi kau akan dapat melaksanakan cita-citamu ini. Juga baik-baik saja kau menjadi ketua Sin-to-pang. Hanya aku merasa agak menyesal mengapa ibumu demikian tergesa-gesa menjodohkan kau dengan murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai.”

Sui Ceng tidak menjawab oleh karena di dalam hati gadis cilik ini sama sekali belum ada pikiran mengenai jodoh, bahkan ia menganggap ibunya tadi bersenda gurau saja. Ia lalu melanjutkan pemeriksaan di dalam goa.

Di kamar lainnya mereka mendapatkan tubuh Ong Kiat, juga sudah tewas dengan tubuh penuh luka-luka. Walau pun ketika Ong Kiat masih hidup, Sui Ceng tidak suka kepada piauwsu ini karena sudah mengawini ibunya, namun kini melihat piauwsu muda itu yang telah menjadi suami ibunya tewas dalam keadaan mengerikan dan menyedihkan, ia lalu berlutut pula dan berkata perlahan dengan janji bahwa dia akan membalaskan sakit hati mendiang ayah tirinya ini.

Lalu Sui Ceng dan gurunya keluar dari goa, disambut oleh para anggota Sin-to-pang dan para piauwsu yang memandang penuh hormat.

“Saudara-saudara sekalian, Ibu beserta Ayah sudah tewas di tangan iblis itu. Kelak aku sendiri yang akan membalaskan sakit hati dan membunuh iblis keparat itu, supaya kalian semua bertenang hati. Sekarang, kalian lakukanlah tugas kewajiban masing-masing, dan tunggu hingga aku datang untuk memimpin Sin-to-pang. Ada pun para piauwsu, terserah, hendak menjadi anggota Sin-to-pang baik-baik saja, mau melanjutkan pekerjaan sebagai piauwsu pun boleh. Hanya pesanku, baik Hui-to Piauwkiok mau pun Sin-to-pang, harus bekerja sama dalam segala hal. Ingat bahwa akulah yang mewarisi keduanya dan aku pula yang bertanggung jawab atas segala sepak terjang kalian!”

Para anggota Sin-to-pang dan anggota Hui-to Piauwkiok menjadi sedih sekali mendengar betapa ketua mereka telah tewas, akan tetapi melihat sikap dan mendengar ucapan Sui Ceng yang benar-benar gagah dan bersemangat, yang sesungguhnya mengherankan sekali keluar dari mulut anak yang masih demikian hijau, terbangunlah semangat mereka dan serentak menyatakan setuju.

Jenazah Loan Eng dan Ong Kiat diurus dan dirawat baik-baik. Setelah memberi hormat terakhir kepada makam ibu dan ayah tirinya, Sui Ceng lalu melanjutkan perjalanannya mengikuti gurunya.

Sejak saat itu Sui Ceng makin tekun belajar dan semua ilmu kepandaian dari Kiu-bwe Coa-li direnggut dan diteguknya seperti seorang kehausan minum air segar. Juga dia dan gurunya sangat tekun mempelajari ilmu silat aneh yang mereka dengar dari Tu Fu yang membacakan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Sebagaimana diketahui, isi kitab ini sebenarnya palsu, bahkan di dalamnya terkandung pelajaran ilmu silat dan latihan tenaga dalam secara terbalik. Kalau sekiranya Sui Ceng sendiri yang melatih diri menurut bunyi kitab ini, tentu ia akan mendapatkan kepandaian palsu yang membahayakan tubuhnya seperti halnya Kwan Cu.

Akan tetapi, ia berada di bawah asuhan Kiu-bwe Coa-li, seorang tokoh kang-ouw yang sudah amat tinggi kepandaiannya. Maka tentu saja Kiu-bwe Coa-li tidak dapat tertipu dan nenek yang sakti ini tahu bagaimana harus melatih ilmu silat aneh ini tanpa merusak tenaga sendiri.

Cara melatihnya bukan seperti yang dilakukan oleh Lu Kwan Cu, yang menjiplak begitu saja dan menelan semua pelajaran tanpa dipilih lagi. Kiu-bwe Coa-li tidak mau berlaku sembrono dan sebagai seorang ahli silat tinggi, ia tahu mana yang tidak betul dan mana yang berguna. Oleh sebab itu, di antara pelajaran-pelajaran yang masih ia ingat bersama muridnya, lalu dia saring dan pilih lagi, memilih mana yang sekiranya berguna dan dapat dipakai untuk mempertinggi kepandaiannya.

Melihat ketekunan muridnya, Kiu-bwe Coa-li menjadi girang sekali dan nenek sakti ini lalu membatalkan niatnya yang hendak mencoba ilmu silat barunya kepada seorang di antara tokoh-tokoh besar, bahkan ia lalu mengajak muridnya tinggal di puncak Bukit Wu-yi-san yang berada di Tiongkok Selatan, perbatasan Propinsi Hok-kian dan Kiang-si.

Kiu-bwe Coa-li memang berasal dari Hok-kian, maka ia disebut tokoh besar selatan yang ke dua. Sebagaimana diketahui, tokoh besar selatan yang pertama adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, yang selalu merantau di seluruh propinsi selatan dan tak tentu tempat tinggalnya…..

********************

Sementara itu, Hek-i Hui-mo dengan cepat membawa lari Lai Siang Pok yang menjadi ketakutan dan kaget setengah mati itu. Anak ini menangis dan minta dengan suara amat menyedihkan agar supaya dia dilepaskan kembali, namun Hek-i Hui-mo menjawab,

“Kau ingat baik-baik semua isi kitab yang di baca oleh Tu-siucai tadi, barulah kau ada harapan untuk hidup terus!”

Mendengar ini Siang Pok pun mengerti bahwa kakek yang menyeramkan ini benar-benar membutuhkan bantuan untuk mengingat bunyi isi kitab tadi, maka karena maklum bahwa hal itulah satu-satunya jalan baginya untuk dapat menolong diri sendiri dari bahaya, dia lalu mengumpulkan seluruh ingatan dan perhatiannya kepada bunyi isi kitab yang aneh itu.

Lai Siang Pok adalah seorang anak yang amat cerdik luar biasa dan semenjak kecil dia telah digembleng oleh ayah bundanya dalam ilmu kesusastraan. Oleh karena itu dia telah biasa menghafal, dan meski pun tadi dia mendengarkan isi kitab yang dibaca oleh Tu Fu dengan setengah hati saja, namun dia telah hampir dapat mengingat semuanya!

Setelah jauh dari kota Kai-feng, Hek-i Hui-mo menurunkan Lai Siang Pok dan berkata,

“Coba kau sekarang mengulang kembali isi kitab itu, hendak kudengar apakah kau ada gunanya bagiku atau tidak!”

Siang Pok mengumpulkan ingatannya, kemudian mengulang apa yang tadi didengarnya. Mendengar ini, Hek-i Hui-mo menjadi girang sekali karena semua yang diingat olehnya sendiri dari isi kitab itu, ternyata tidak ada seperempatnya dari apa yang dapat diingat oleh Siang Pok!

“Anak baik...! Kau patut menjadi muridku!” katanya girang sambil menepuk-nepuk pundak anak itu.

Tepukan ini bukanlah tepukan biasa, akan tetapi tepukan hendak memeriksa keadaan tubuh dan tulang dari anak laki-laki ini. Akan tetapi dia mempunyai watak yang tabah dan keras hati, maka digigitnya bibir untuk menahan rasa sakit.

“Bagus, tidak jelek!” kata Hek-i Hui-mo yang kemudian tertawa bergelak. “Hendak kulihat kelak, siapa yang paling pandai memilih dan mengajar muridnya. Ha-ha-ha, Siang Pok, kau menjadi muridku dan kelak kaulah yang akan menjagoi di antara murid-murid semua orang gila itu. Ha-ha-ha!”

Siang Pok tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kakek hitam ini, akan tetapi diam-diam ia menjadi girang juga. Sering kali anak ini membaca cerita-cerita kuno tentang pendekar dan pahlawan, kemudian diam-diam dia mengagumi sepak terjang dan kegagahan para pendekar itu.

Sekarang mendengar bahwa dia hendak diambil murid oleh kakek yang telah ia saksikan sendiri kelihaiannya, tentu saja dia menjadi girang. Cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan Hek-i Hui-mo sambil berkata,

“Segala petunjuk dari Suhu akan teecu pelajari dengan rajin.”

“Bagus, mari kita cepat pulang agar kau bisa segera berlatih. Kau sudah tertinggal jauh oleh murid-murid mereka itu.”

“Pulang? Ke mana, Suhu?”

“Ha-ha-ha, tentu saja ke Tibet, ke barat! Hayo!” Sambil berkata demikian, Hek-i Hui-mo menyambar tubuh muridnya.

Sekejap kemudian terpaksa Siang Pok meramkan kedua matanya karena angin bertiup kencang sekali, membuat kedua matanya pedas ketika suhu-nya membawanya lari luar biasa cepatnya seakan-akan terbang!

Walau pun Hek-i Hui-mo melakukan perjalanan cepat sekali dan jarang berhenti di jalan, namun dia harus menggunakan waktu sebulan lebih baru tiba di Tibet, daerah barat yang jauh itu. Siang Pok diterima dengan penuh penghormatan dan juga perasaan iri hati oleh orang-orang di barat, karena bila menjadi murid Hek-i Hui-mo, selain dianggap mendapat kehormatan tinggi, juga dianggap sebagai yang menerima kurnia besar.

Namun Siang Pok tidak mempedulikan semua itu dan mulai saat gurunya menurunkan pelajaran ilmu silat kepadanya, dia belajar dengan amat rajin dan tekun sehingga boleh dibilang lupa makan dan lupa tidur! Melihat ini, Hek-i Hui-mo semakin sayang kepadanya, karena makin besar harapan di hatinya, murid ini kelak akan menjunjung tinggi namanya dan akan mengalahkan semua murid tokoh-tokoh besar yang sudah berlatih lebih dulu.

Seperti juga Kiu-bwe Coa-li, Hek-i Hui-mo yang bernama Thian Seng Hwesio ini, jarang sekali keluar dan bersembunyi saja di kelentengnya, memberi latihan-latihan kepada Lai Siang Pok, karena seperti juga Kiu-bwe Coa-li, dia ingin mempelajari isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang didengarnya dari Tu Fu, kemudian kalau sudah mempelajarinya dengan sempurna, bersama muridnya dia akan mencari tokoh-tokoh lain untuk ditantang pibu!

Seperti telah kita ketahui, kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang terjatuh ke dalam tangan Hek-i Hui-mo dan yang kemudian isinya dibacakan oleh pujangga besar Tu Fu sambil didengarkan oleh Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo bersama murid-murid mereka, adalah kitab palsu. Akan tetapi biar pun palsu, kitab ini ditulis di jaman dahulu oleh orang yang pandai dan hafal akan isi kitab aslinya, maka biar pun palsu, isi kitab ini merupakan pelajaran yang aneh dan luar biasa sekali.

Bagi orang yang tidak memiliki ilmu silat tinggi, tentu saja kitab ini tidak ada artinya sama sekali dan jika orang biasa melatih diri meniru pelajaran isi kitab ini, bukannya mendapat kemajuan dan kepandaian tinggi, malah tubuh orang itu akan menjadi rusak. Akan tetapi sebaliknya, apa bila yang mendengarnya adalah orang-orang berilmu tinggi seperti Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li, mereka dapat menangkap serta menerima isi kitab untuk disaring kembali dan untuk dijadikan bahan menyempurnakan kepandaian silat mereka.

Oleh karena inilah, maka hasil dari pada mendengarkan isi kitab itu bagi Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li sangat jauh berlainan. Pelajaran yang mereka dengar itu, lalu diolah dan disaring sesuai dengan ilmu kepandaian yang sudah ada pada mereka, maka tentu saja tidak sama.

Bagi Kiu-bwe Coa-li, pelajaran dari Im-yang Bu-tek Cin-keng yang telah didengarnya dari pujangga Tu Fu itu mendatangkan kemajuan yang hebat sekali dalam hal ilmu lweekang, yakni penggunaan tenaga dalam. Walau pun pelajaran lweekang di dalam kitab itu tidak karuan dan sengaja dibolak-balikkan oleh penulis kitab palsu, namun sungguh kebetulan sekali perhatian Kiu-bwe Coa-li dan muridnya, Sui Ceng, justru dikerahkan ke jurusan ini.

Dengan kecerdikannya yang luar biasa, Kiu-bwe Coa-li bertekun mengupas pelajaran ini dan akhirnya dia pun dapat menemukan ilmu aslinya dengan jalan meraba-raba serta menduga-duga. Ia lalu memperbaiki dengan caranya sendiri, sesuai dengan kepandaian yang telah dimilikinya, sehingga akhirnya dia pun mendapatkan ilmu silat berdasarkan pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng yang seluruhnya menggunakan tenaga lweekang yang hebat luar biasa!

Sebaliknya, setelah mendengar dan mempelajari isi kitab itu, Hek-i Hui-mo mendapatkan gerakan-gerakan istimewa yang sesuai benar untuk menyempurnakan ilmu tongkatnya. Ilmu tongkat Hek-i Hui-mo, yakni permainan tongkat Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga), memang telah terkenal dan lihai sekali. Kini, setelah dia mempelajari isi kitab itu, dia mendapatkan sesuatu yang cocok sekali dan yang dapat dia olah sedemikian rupa sehingga ilmu tongkatnya menjadi maju dengan pesat dan kini merupakan ilmu tongkat yang aneh dan luar biasa!

Jika biasanya dia mainkan dua senjata, yakni tongkat Liong-thouw-tung di tangan kanan dan tasbih di tangan kiri, di mana tongkat menjadi alat penyerang dan tasbih sebagai alat penangkis, kini dengan hanya mainkan tongkatnya saja kelihaiannya sudah berlipat kali melebihi sepasang senjatanya itu. Sebab itu dia lalu tekun memperdalam kepandaiannya bermain tongkat yang kelak akan diturunkan kepada murid tunggalnya, yakni Lai Siang Pok.

Sebetulnya, kalau orang mengetahui isi dari pada kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang asli, orang takkan merasa heran mengapa isi kitab yang dibaca Tu Fu itu mendatangkan dua macam ilmu jauh berlainan bagi Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li. Kitab asli Im-yang Bu-tek Cin-keng memang merupakan raja kitab ilmu silat di dunia ini!

Di situ terdapat pelajaran pokok dan dasar dari pada segala macam gerakan ilmu silat di atas dunia. Ilmu silat dengan tangan kosong mau pun dengan senjata yang bagaimana pun juga, kesemuanya berpokok dan berdasar sama, yakni berdasarkan menyerang dan bertahan. Ada pun inti sari dari pada dua gerakan ini memang menjadi isi dari Im-yang Bu-tek Cin-keng yang asli.....

********************

Baiklah kita tinggalkan dahulu Siang Pok yang sedang digembleng oleh suhu-nya, yakni Hek-i Hui-mo di Pegunungan Tibet, juga kita biarkan dulu Sui Ceng yang tekun menerima latihan-latihan dari gurunya, Kiu-bwe Coa-li di Pegunungan Wu-yi-san di daerah selatan. Sekarang lebih dahulu kita menengok keadaan Lu Kwan Cu yang melakukan perantauan bersama gurunya, Ang-bin Sin-kai.

Kekalahannya yang berturut-turut menghadapi The Kun Beng dan Gouw Swi Kiat, kedua murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, kemudian kekalahannya pula dari Lu Thong murid dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, tidak mengecewakan hati Kwan Cu, bahkan seakan-akan menjadi dorongan kepadanya untuk berlatih makin giat dan tekun. Juga dia melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Liang-san untuk mencari goa tempat mendiang Gui Tin dulu menyimpan buku-bukunya. Ang-bin Sin-kai menuruti saja kehendak muridnya yang ingin mencari gunung itu.

“Kitab-kitab macam apa yang dapat ditinggalkan oleh seorang sastrawan kepadamu?” hanya demikian kata-katanya mencemoohkan. “Paling hebat hanyalah kitab-kitab Su-si Ngo-keng dan kitab-kitab kuno penuh oleh tulisan kosong tentang adat-istiadat, tentang peri kebajikan dan peri kemanusiaan yang kosong melompong!”

Mendengar omongan gurunya ini, Kwan Cu menyatakan tidak setujunya.

“Suhu, mengapa soal-soal mengenai peri kebajikan dan peri kemanusiaan Suhu anggap pelajaran yang kosong melompong? Bukankah manusia di dunia ini perlu sekali akan pelajaran serupa itu agar hidupnya tidak terlalu tersesat dan jahat?”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak mendengar ucapan muridnya ini.

“Kwan Cu, pelajaran mengenai peri kebajikan memang kosong melompong dan hanya merupakan pekerjaan orang-orang malas yang mengaku diri suci dan berjasa terhadap manusia. Siapakah orangnya yang tak tahu bahwa mencuri dianggap jahat? Akan tetapi tetap saja mereka mengambil barang lain orang. Siapa yang tak tahu bahwa membunuh dianggap jahat? Namun tetap saja mereka membunuh sesama hidup dengan hati enak saja. Apakah dengan munculnya pelajaran-pelajaran mengenai peri kebajikan itu dunia menjadi makin bersih? Lihat saja, makin kotorlah batin manusia. Jika kitab-kitab itu tidak memberi pelajaran tentang jahatnya mencuri, manusia juga tak akan mengenal kata-kata mencuri dan tidak akan ada pencuri di muka bumi ini. Kalau orang tidak membaca dan mendengar tentang pelajaran peri kebajikan yang menyatakan bahwa membunuh itu tak baik, orang tidak akan mengenal kata-kata membunuh dan tidak akan ada pembunuh. Kalau saja orang tidak mendengar sebutan kejahatan dari dalam kitab, orang tidak akan mengenal pula kata-kata kejahatan dan tidak akan ada kejahatan di dalam dunia ini!”

Kepala Kwan Cu yang gundul itu menjadi semakin kelimis karena dia mempergunakan otaknya untuk membuka arti ucapan gurunya yang sukar dimengerti itu. “Kalau begitu dunia akan kacau, Suhu. Tanpa ada pengertian tentang kejahatan, orang tak akan takut berbuat sekehendak hatinya!”

“Bodoh, berbuat sekehendak hati bukan perbuatan yang jahat! Kau kira dengan pelajaran yang memenuhi otak-otak tentang kejahatan dan segala macam omong kosong itu, akan membuat dunia menjadi baik dan aman? Tengok saja, di manakah terjadinya kejahatan-kejahatan besar? Bukan di dusun-dusun yang ditempati oleh orang-orang yang pikiran dan hatinya masih amat sederhana, yang belum banyak mengenal tentang pelajaran peri kebajikan yang di dalam pandangan orang-orang kota masih dianggap bodoh! Di dalam ketidak mengertian mereka tentang kejahatan itu, mereka bersih!”

“Suhu terpengaruh oleh filsafat Lo Cu!” tiba-tiba saja Kwan Cu berseru karena anak yang cerdik ini memang sudah hafal akan semua isi kitab kuno dan pelajaran tentang filsafat dan kebatinan.

“Bukan terpengaruh, hanya aku setuju dengan pendirian Lo Cu tentang itu. Orang-orang besar yang membuat kitab-kitab itu sudah berlaku terlalu sombong, hendak mendahului kehendak alam, hendak menggantikan kedudukan alam mengadakan perubahan besar dalam watak manusia. Padahal watak manusia itu memang baik seperti watak seluruh isi alam yang suci. Watak manusia seperti air telaga yang tenang, bila sekali dikacau, akan bergelombanglah air itu dan menjadi kacau dan tidak aman lagi. Pengertian tentang apa yang disebut baik dan jahat, menimbulkan nafsu dalam diri manusia dan pada sekarang ini, dunia kemanusiaan dirajai oleh maha raja nafsu, manusianya sendiri hanya menjadi hamba sahaya dan hulubalang yang taat dan setia kepadanya! Nafsulah yang menjadi penggerak manusia mencuri, membunuh, menipu, serta melakukan kejahatan-kejahatan lain, dan nafsu ini dipupuk dan diperkuat oleh pengertian tentang baik dan buruknya yang diajarkan oleh kitab-kitabmu itu! Anggaplah emas seperti batu karang, siapa yang sudi mencuri emas? Dengan pengertian tentang baik buruk, tentang dosa dan suci, manusia telah dibentuk menjadi makhluk yang paling kotor dan jahat di dunia ini.”

Kwan Cu mengerutkan keningnya. “Akan tetapi, Suhu, bukankah itu sebaliknya? Manusia merupakan makhluk yang paling pandai dan baik. Bukan hanya di antara manusia terjadi saling bunuh, bukankah binatang juga sering kali membunuh sesamanya?”

Ang-bin Sin-kai memandang kepada muridnya dengan mata terbelalak lebar. “Anak tolol, kau tahu apa? Binatang-binatang membunuh tidak seperti manusia membunuh! Manusia membunuh sesama manusia hanya terdorong oleh iblis, terdorong oleh dendam, benci, marah, dan sakit hati karena dirugikan, baik nama mau pun hartanya. Pernahkah kau mendengar binatang membunuh karena perasaan-perasaan jahat ini? Harimau boleh jadi setiap hari membunuh binatang lain, akan tetapi itu adalah kehendak alam yang telah memastikan bahwa harimau tidak bisa makan rumput, melainkan harus makan daging atau darah.”

“Akan tetapi, Suhu. Kalau semua manusia menurutkan ajaran Lo Cu semenjak dahulu, teecu kira dunia akan menjadi sunyi, dan tidak akan terdapat kemajuan seperti sekarang ini. Manusia mungkin masih menjadi makhluk-makhluk telanjang yang hidup di goa-goa, tiada lain kerjanya hanya makan dan tidur!”

“Kau sombong!” Ang-bin Sin-kai berteriak dan muka yang merah itu menjadi semakin merah. “Berani kau mendahului pertumbuhan alam? Memang mungkin sekali tidak akan ada kemajuan duniawi seperti sekarang, akan tetapi juga tak akan ada kejahatan seperti sekarang! Tentang kemajuan, orang mengenalnya hanya setelah kata-kata itu diciptakan. Coba kau tengok pohon siong itu. Ribuan tahun yang lalu keadaannya masih sama saja seperti sekarang, akan tetapi, katakan, hai bocah gundul sombong, siapakah yang dapat menyatakan bahwa pohon itu tidak mempunyai kemajuan? Lihat burung yang terbang itu. Seribu tahun yang lalu bangsanya pun berbuat seperti itu. Apakah sekarang dia kelihatan sudah terlalu kuno dan tidak menarik lagi? Kwan Cu, kau hanya memandang kulit saja, tetapi tidak melihat isi. Kemajuan lahir saja tiada artinya tanpa dibarengi kemajuan batin, karena lahir itu tidak kekal adanya.”

Sekarang Kwan Cu benar-benar kelihatan pusing dan teringatlah Ang-bin Sin-kai bahwa Kwan Cu hanyalah seorang kanak-kanak yang tentu saja masih belum dapat menerima semua filsafat hidup ini. Ang-bin Sin-kai menarik napas panjang dan dia seolah-olah baru kembali ke atas bumi dari perantauannya di awang-awang yang membuatnya lupa akan segala itu.

“Sudahlah, Kwan Cu. Mari kita melanjutkan perjalanan. Kalau dipikir-pikir, aku sendiri pun ingin sekali tahu buku-buku apa saja yang disimpan oleh mendiang Gui Tin di atas Bukit Liang-san itu.”

“Buku-buku yang lainnya, teecu pun tidak menghendakinya, Suhu. Hanya sebuah buku yang perlu sekali bagi teecu karena sudah dipesankan oleh Gui-sianseng kepada teecu. Yakni buku sejarah kuno di mana teecu akan membaca tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang asli! Dari buku itulah teecu akan mendapat petunjuk di mana teecu dapat mencari kitab rahasia itu.”

Ang-bin Sin-kai tertegun dan mukanya berubah.

“Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?” Ia mengulang setengah tidak percaya.

Kwan Cu mengangguk. “Memang kitab yang dahulu itu adalah kitab tiruan yang sengaja dipalsukan, Suhu. Aslinya masih disimpan baik-baik, kata Gui-sianseng, kitab itu berada di atas suatu pulau kosong yang sulit dicari. Hanya bisa didapatkan dengan pertolongan kitab sejarah yang disimpan oleh Gui-sianseng.”

“Kwan Cu, jika begitu kau benar-benar berjodoh dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Hayo kita percepat jalan agar segera dapat menemukan kitab itu, muridku!”

Ketika Ang-bin Sin-kai memandang kepada muridnya dan bertemu pandang, mukanya yang merah berubah pucat karena dia marah sekali.

“Kwan Cu! Kau kira aku mempunyai pikiran buruk? Aku sudah bersumpah tidak akan mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan aku Lu Sin selamanya akan memegang teguh sumpahku!”

Kwan Cu kaget sekali dan buru-buru dia berlutut minta maaf. Pandangan mata suhu-nya benar-benar tajam sekali, karena memang tadi dia memandang dengan curiga kepada suhu-nya yang disangkanya menginginkan kitab itu.

“Sudahlah, tak ada salahnya kau mencurigaiku, karena kalau tidak ingat akan sumpahku, memang aku ingin sekali melihat kemudian mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Siapa orangnya yang tidak ingin? Sudah berpuluh tahun aku merindukan kitab itu, seperti juga tokoh-tokoh persilatan yang lain. Akan tetapi, aku sudah tua dan tidak ada gunanya aku mempelajari ilmu silat lain lagi. Kaulah yang perlu mempelajarinya, maka kerinduanku sekarang bukan untuk aku sendiri, melainkan melihat kau dapat mempelajari kitab aneh itu.”

“Terima kasih atas budi kebaikanmu, Suhu.”

“Phuah, budi kebaikan macam manakah? Hayo kita lekas pergi. Aku tahu di mana kau akan dapat melatih gwakang dan memperdalam Sam-hoan-ciang dan Pai-bun Tui-pek-to yang sedang kau pelajari.”

Guru dan murid ini kemudian berangkat dan berlari cepat menuju ke Liang-san. Tiga hari kemudian tibalah mereka di sebuah hutan besar. Ang-bin Sin-kai segera menghentikan larinya dan berkata,

“Nah, di sini kita dapat beristirahat sambil mencari lawan untuk melatih ilmu silatmu.”

Hutan itu besar dan sunyi sekali. Di mana ada lawan untuk melatih ilmu silat? Kwan Cu memandang ke sana ke mari, akan tetapi keadaan sunyi saja, hanya bergeraknya daun pohon tertiup angin menimbulkan suara gemerisik. Pohon-pohon raksasa menimbulkan bayangan yang amat teduh dan silir angin membuat mata mengantuk.

Lapat-lapat terdengar suara binatang hutan. Kwan Cu merasa amat heran kenapa suara binatang hutan, kecuali burung dan ayam, yang kedengaran hanyalah geraman harimau belaka.

“Heran sekali, ke manakah perginya keluarga raja hutan?” kata Ang-bin Sin-kai perlahan. “Biasanya setiap kali aku datang, mereka itu sudah beramai-ramai menyambut dengan gigi dan kuku yang runcing!”

Tiba-tiba, seolah-olah menjadi jawaban dari kata-katanya, terdengarlah bunyi lengkingan suling bambu yang aneh sekali suaranya. Lengking ini amat tinggi dan panjang, tiba-tiba kemudian berubah menjadi irama rendah dengan irama terputus-putus seperti geraman harimau marah.

Berubah wajah Ang-bin Sin-kai mendengar ini.

“Ahh, kiranya dia berada di sini. Pantas saja harimau-harimau itu tidak nampak di sini.”

“Suhu, siapakah peniup suling yang aneh bunyinya itu?”

“Orang aneh... orang aneh, dan sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kita. Dia itulah Hang-houw-siauw Yok-ong (Raja Obat dengan Suling Penakluk Harimau)!”

Akan tetapi Kwan Cu belum pernah mendengar julukan orang yang terdengar aneh ini. Julukan Yok-ong (Raja Obat) saja sudah hebat, apa lagi ditambah dengan julukan kedua ini. Bagaimana bisa orang menaklukan harimau dengan suling? Atau, bagaimana suling bisa dipergunakan menjadi penakluk harimau?

Jawabannya segera terlihat olehnya. Dari jurusan barat, kelihatan seorang laki-laki tua berpakaian jubah panjang menutupi kedua kakinya hingga sebagian jubah itu terseret di belakangnya, sedang berjalan dengan tindakan perlahan. Ia memegang sebatang suling bambu yang ditiupnya sambil berjalan. Kedua matanya memandang lurus ke depan tidak mempedulikan kanan kiri. Juga sama sekali tidak dia mempedulikan apa yang terjadi di belakangnya, kejadian yang membuat Kwan Cu membuka mata selebar-lebarnya!

Ternyata olehnya bahwa di belakang kakek itu, berbaris belasan ekor harimau besar dan buas. Mereka berjalan merupakan barisan di belakang kakek ini dan sebentar-sebentar mengeluarkan geraman. Melihat keadaan ini, tahulah Kwan Cu bahwa binatang-binatang buas itu ternyata telah tertarik dan berada di bawah pengaruh suara suling yang aneh itu. Pantas saja di sebut Hang-houw-siauw (Suling Penakluk Harimau).

Kwan Cu benar-benar merasa aneh sekali. Dia sudah sering kali mendengar mengenai suling yang suaranya dapat mempengaruhi ular, akan tetapi harimau?

“Ha-ha-ha, Hang-houw-siauw Yok-ong betul-betul tabah sekali!” Ang-bin Sin-kai memuji. “Hanya dengan suara suling mampu menundukkan belasan raja hutan, benar-benar aku Ang-bin Sin-kai tidak mampu melakukannya!”

Melihat munculnya seorang anak laki-laki gundul bersama Ang-bin Sin-kai, untuk sesaat kakek berjubah panjang itu lupa meniup sulingnya dan dia memandang kepada kakek pengemis itu.

“Aha, kiranya Ang-bin Sin-kai si manusia sadar!” Memang Yok-ong ini amat mengagumi Ang-bin Sin-kai dan selalu menyebutnya manusia sadar. “Selagi jalan halus sempat dan dapat dipergunakan, mengapa memakai jalan kasar?”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Hang-houw-siauw Yok-ong! Enak saja kau bicara begitu! Dengan sulingmu, tentu saja kau sanggup menundukkan harimau dengan jalan halus, akan tetapi aku yang tak mengerti caranya, bagaimana harus menundukkan harimau? Aku takkan dapat membujuk mereka dengan kata-kata halus. Lihat, bagaimana aku harus menghadapi mereka ini?”

Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai menunjuk ke arah belakang Hang-houw-siauw Yok-ong. Kakek ini menengok dan melihat betapa belasan ekor harimau buas itu mulai gelisah dan kini mereka memperlihatkan gigi runcing dan muka buas, siap siaga untuk menyerang! Harimau-harimau itu kini sudah tidak berada di bawah pengaruh suara suling lagi dan mereka mengeluarkan geraman hebat lalu menubruk maju, menyerang Ang-bin Sin-kai, Yok-ong dan Kwan Cu!

Lu Kwan Cu terkejut sekali, akan tetapi dia sudah memiliki ketabahan dan ketenangan, maka ketika seekor harimau menubruk kepadanya, dia cepat melompat ke pinggir. Lain harimau segera menerkamnya, akan tetapi kembali dengan menggeser kaki menurutkan gerakan Pai-bun Tui-pek-to, dia dapat menyelamatkan diri.

Ada pun Hang-houw-siauw Yok-ong, juga berbuat seperti Kwan Cu. Kakek ini memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi hatinya amat lemah dan tidak tega melukai siapa pun juga. Ia adalah seorang ahli pengobatan dan hatinya sudah tercurah pada watak menyayang dan memelihara sesuatu yang sakit, mana sanggup dia melukai harimau-harimau itu? Ia bergerak ke sana ke mari dan sungguh mengagumkan, walau pun gerakannya nampak lambat saja, namun tak pernah ada kuku harimau yang dapat menyentuh jubahnya yang panjang itu.

Hebat adalah sepak terjang Ang-bin Sin-kai. Berbeda dengan Kwan Cu yang mengelak terus karena tidak mampu membalas serangan harimau dan Yok-ong yang sengaja tidak mau mengganggu bintang-binatang itu, Ang-bin Sin-kai tidak mau mandah saja dirinya diserang. Tiap kali kaki dan tangannya bergerak, terdengar harimau yang terpukul atau tertendang mengeluarkan gerengan kesakitan, dan tubuh harimau bergulingan di atas tanah saking kerasnya serangan Ang-bin Sin-kai.


Melihat ini, Hang-houw-siauw Yok-ong berteriak-teriak,

“Ang-bin Sin-kai, jangan berlaku kejam! Ampunkan nyawa harimau-harimau ini!”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Aku memandang mukamu dan tak akan mengganggu mereka lagi,” katanya dan sekali tubuhnya berkelebat, dia telah melompat ke atas dan tahu-tahu dia telah duduk di atas sebatang ranting pohon yang tinggi!

Ada pun Kwan Cu yang melihat perbuatan suhu-nya, segera melompat pula, akan tetapi dia tidak melompat ke atas pohon, melainkan melompat ke belakang Hang-houw-siauw Yok-ong mencari perlindungan!

Raja obat itu lalu meniup sulingnya dan... benar mengherankan sekali, tiba-tiba binatang-binatang yang buas dan sedang marah itu menghentikan serangan mereka, kemudian berdiri berkumpul di depan Yok-ong dengan kepala tunduk dan telinga digerak-gerakkan seakan-akan senang sekali medengar suara suling yang bagi telinga Kwan Cu terdengar menyakitkan anak telinga!

Suara suling yang ditiup oleh Yok-ong makin lama semakin meninggi, dan makin sakitlah telinga Kwan Cu sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi lalu menggunakan ibu jari untuk menyumpal lubang telinganya. Dan benar-benar hebat!

Harimau-harimau itu seolah-olah mendengar bunyi perintah yang tak dapat dibantah lagi. Serentak mereka membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu! Masih agak lama Yok-ong meniup sulingnya, kemudian setelah tidak terdengar lagi geraman harimau, dia menghentikan tiupannya dan menoleh kepada Ang-bin Sin-kai yang masih duduk di atas pohon.

“Ang-bin Sin-kai, terima kasih atas kemurahan hatimu terhadap harimau-harimau itu. Jika tadi diteruskan, tentu aku menjadi sibuk memelihara serta mengobati luka-luka mereka. Untuk kebaikan hatimu itu, kau patut diberi hadiah. Aku adalah orang miskin yang hanya mempunyai sebatang suling. Nah, terimalah barang pusakaku ini.” Dia melempar suling yang tadi ditiupnya ke arah Ang-bin Sin-kai yang cepat mengulur tangan menerimanya.

Hang-houw-siauw Yok-ong lalu berpaling kepada Kwan Cu. Untuk beberapa lamanya dia memandang anak itu dengan tajam.

“Hebat!” tiba-tiba saja dia berkata. “Dari mana kau memperoleh anak seperti ini?” Ia lalu mendekati Kwan Cu. “Coba ulur tangamu, anak yang baik.”

Kwan Cu segera mengulur tangan kanannya dan Yok-ong cepat memegang pergelangan tangan Kwan Cu. Untuk beberapa lamanya dia mengangguk-angguk dan berkatalah dia dengan suara keras.

“Benar-benar hebat! Darah yang luar biasa kuatnya, yang ditambah oleh semacam darah liar yang mempunyai kekuatan tekanan tiga kali lipat dari pada tekanan darah manusia, membuat seluruh urat di tubuhmu dipenuhi oleh aliran darah yang kuat dan cepat sekali. Berkat tulang dan dagingmu yang kuat dan bersih, hal itu akan menguntungkan dalam usahamu mempelajari bu (ilmu silat). Akan tetapi, urat halus dalam otak dapat terganggu karenanya. Anak baik, aku kasihan kepadamu, maka biarlah aku memberimu Liong-kak Hian-tan (Pil Darah Tanduk Naga) yang jarang kupergunakan.”

Ia lalu merogoh saku jubahnya yang lebar sekali dan mengeluarkan bungkusan dari kain kuning yang bersih. Ketika bungkusan itu dibuka, di dalamnya terdapat beberapa butir pil merah yang berbau amis.

“Untuk ketabahan dan kemurahan hatimu ketika menghadapi harimau-harimau tadi, kau kuberi hadiah tiga butir Liong-kak Hian-tan. Telanlah sehari sebutir, dan dalam tiga hari kau akan merasakan khasiatnya.”

Kwan Cu merasa ragu-ragu untuk menerima, tetapi tiba-tiba terdengar suara dari atas pohon,

“Murid goblok! Tidak lekas diterima dan menghaturkan terima kasih, mau tunggu kapan lagi?”

Sebenarnya bukan karena Kwan Cu merasa kurang percaya terhadap kakek Raja Obat itu, melainkan karena dia menjadi murid Ang-bin Sin-kai, maka dia merasa tidak patut tanpa ijin gurunya jika dia menerima pemberian orang lain. Sekarang mendengar ucapan suhu-nya, dia menjadi girang sekali, dan sesudah menerima tiga butir pil itu, dia cepat berlutut di depan Hang-houw-siauw Yok-ong dan menghaturkan terima kasihnya.

Yok-ong tertawa bergelak dan menengok ke atas pohon. “Ang-bin Sin-kai, muridmu ini benar-benar tahu menghargai guru dan orang-orang tua. Itu bagus sekali! Nah, sampai bertemu kembali!”

Sesudah berkata demikian, Hang-houw-siauw Yok-ong kemudian menyimpan bungkusan obatnya. Seperti main sulap saja, ketika dia merogoh saku di tangannya telah memegang sebatang suling lagi! Ia lalu berjalan pergi sambil meniup sulingnya!

Kwan Cu dan gurunya mendengarkan suara suling itu yang makin melenyap, kemudian terdengar suara suling lain. Pada waktu Kwan Cu menengok, ternyata suhu-nya sedang meniup suling pemberian Yok-ong tadi! Kwan Cu tercengang ketika mendengar tiupan suling suhu-nya amat merdu. Ternyata gurunya itu juga pandai sekali meniup suling melagukan sebuah lagu kuno!

“Bagus, Suhu pandai sekali bersuling!” Kwan Cu memuji.

Gurunya menghentikan tiupannya dan tertawa girang.

“Masih tak sepandai Hang-houw-siauw Yok-ong. Kau telanlah sebutir Liong-kak Hian-tan itu seperti yang dipesan oleh Yok-ong. Aku mau mencoba memanggil harimau dengan suling ini!”

Kwan Cu cepat-cepat menelan sebutir pil yang terasa masam dan amis sekali, kemudian menyimpan yang dua butir lagi di dalam saku bajunya. Pada saat itu, gurunya sedang mencoba untuk meniru tiupan suling Yok-ong ketika menundukkan harimau tadi. Akan tetapi tiupan sulingnya tidak karuan bunyinya sehingga mengusir burung-burung di atas pohon yang menjadi kaget ketakutan mendengar suara melengking yang aneh luar biasa itu!

Sampai capai bibir meniup suling, tapi harimau-harimau itu tidak juga datang! Kwan Cu tertawa geli melihat usaha suhu-nya tidak mendatangkan hasil itu.

“Jangan tertawa, lihat belakangmu!” tiba-tiba Ang-bin Sin-kai berseru.

Kwan Cu terkejut dan cepat menengok. Benar saja di belakangnya telah berdiri seekor harimau muda yang nampaknya juga terpesona dan bingung mendengar suara suling yang lucu dan aneh tadi. Kini, menghadapi Kwan Cu, dia mulai merendahkan tubuhnya dan menggaruk-garukkan kakinya, siap untuk menerkam.

“Kwan Cu, hadapi dia dengan Pai-bun Tui-pek-to! Jangan hanya mengelak saja, lawan dia dan kalahkan dia. Sekarang waktunya untuk menguji kepandaian. Dia ahli gwakang (tenaga luar), awaslah!” kata Ang-bin Sin-kai dengan gembira sekali.

Harimau itu mengaum lalu menubruk dengan kuat sekali. Kwan Cu sudah bersiap sedia. Dengan lincahnya dia melangkah ke kiri, membiarkan tubuh harimau itu menyambar lewat, kemudian memberi pukulan keras ke arah lambung harimau itu. Harimau terjatuh tunggang-langgang sambil menggereng.

Akan tetapi tubuh harimau muda itu terlampau kuat sehingga baginya pukulan Kwan Cu tadi hanya merupakan dorongan kuat belaka, sama sekali tidak melukainya. Ia menubruk lagi dan seperti juga tadi, Kwan Cu menghadapi dengan mengelak sambil memukul atau menendang.

Pertempuran seperti ini berjalan lama. Ang-bin Sin-kai hanya meniup suling seakan-akan mengiringi pertempuran itu dengan lagu perang, akan tetapi matanya memandang penuh perhatian. Akhirnya, sesudah berpuluh kali menubruk tanpa hasil bahkan beberapa kali menerima tendangan atau pukulan, harimau itu menjadi lelah. Demikian pula Kwan Cu. Ia telah mengerahkan benar tenaga untuk memukul dan menendang, akan tetapi sedikit pun tak dapat merobohkan lawannya.

“Kau harus dapat mengalahkan dia!” seru Ang-bin Sin-kai berkali-kali dengan suara tidak puas. Masa muridnya, murid Ang-bin Sin-kai tidak mampu mengalahkan seekor harimau yang masih muda?

Kwan Cu mengerti bahwa apa bila dia melanjutkan perkelahian secara ini, tidak mungkin dapat mengalahkan harimau itu. Maka dia mencari akal dan ketika harimau itu untuk ke sekian kalinya menubruknya, dia lalu mengelak dan menyambar ekor harimau.

Sekuat tenaga dia lantas mengayun tubuh harimau itu dan membantingnya. Akan tetapi karena tubuh harimau itu berat sekali dan dia telah merasa lelah, maka dia terbawa oleh bantingan ini sehingga terpelanting di atas tanah!

Harimau itu nanar seketika, akan tetapi segera berdiri kembali dan melihat tubuh Kwan Cu di dekatnya, dia segera menubruk! Kwan Cu sudah siap dan cepat menggulingkan tubuhnya mengelak, kemudian dia mendahului menerkam dan mencekik leher harimau itu dalam kempitan lengannya yang kecil akan tetapi kuat!

Harimau itu lalu meronta-ronta, akan tetapi Kwan Cu memutar lehernya sehingga kaki harimau tidak dapat mencakarnya. Makin lama harimau itu mejadi semakin lemah dan sebentar lagi dia tentu takkan berdaya.

Tiba-tiba terdengar auman keras sekali dan seekor harimau yang besar sekali keluar dari semak-semak, merunduk dan siap menerkam Kwan Cu yang mencekik anaknya! Ang-bin Sin-kai yang sedang enak-enakan meniup sulingnya saking gembira melihat kecerdikan Kwan Cu mengalahkan lawannya, melihat harimau besar itu, langsung berseru keras dan tubuhnya melayang turun.

Pada saat itu, harimau besar telah melompat menubruk Kwan Cu. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya terjengkang kembali ke belakang akibat dorongan tangan Ang-bin Sin-kai yang memapakinya di tengah udara! Sekarang pertempuran terpecah menjadi dua. Kwan Cu dengan cepat dapat membuat harimau muda itu pingsan karena tidak dapat bernapas, kemudian anak ini menonton pertempuran antara suhu-nya dan harimau besar.

Bukan main kagum hati Kwan Cu ketika melihat betapa suhu-nya menghadapi harimau itu dengan senjata suling. Ternyata suling yang ditiupnya dengan merdu tadi kini disulap menjadi sebatang senjata yang lihai sekali. Ke mana juga harimau itu menubruk, selalu dia tertotok oleh suling di bentulan lehernya.

Sesudah empat lima kali tertotok suling, harimau itu merasa kesakitan luar biasa dan segera membalikkan tubuh lalu berlari cepat sambil menggereng kesakitan! Sementara itu, harimau muda yang tadi pingsan, juga telah siuman kembali dan kini berlari menyusul harimau besar!

“Suhu, indah sekali permainan suling tadi. Teecu ingin belajar bersilat dengan suling.”

Ang-bin Sin-kai tertawa. “Memang indah dan mudah saja dilihat, akan tetapi jangan kira mudah dipelajarinya. Ketahuilah bahwa semakin sederhana bentuk senjata, makin sukar dipelajarinya dan semakin lihai permainannya. Kelak akan tiba saatnya kau belajar ilmu silat dengan suling.”

Guru dan murid ini lalu melanjutkan perjalanan ke Liang-san. Semenjak mengalahkan harimau muda itu, semangat Kwan Cu menjadi makin besar saja. Dan tiga hari kemudian setelah dia menghabiskan tiga butir pil merah pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong, dia merasa kepalanya dingin dan dadanya tenang. Pikirannya makin kuat saja dan kini dia tidak terganggu oleh rasa pening yang sering kali datang di kala dia melatih diri dengan pengendalian napas dalam semedhinya. Dia merasa girang dan Ang-bin Sin-kai berkata sambil menarik napas panjang.

“Karena itulah ketika dulu aku melihat dia memberi pil ini kepadamu, aku cepat menyuruh kau menerimanya. Hang-houw-siauw Yok-ong dulunya adalah seorang tabib istana yang amat terkenal, bukan saja karena ilmu pengobatannya, akan tetapi terutama karena ilmu silatnya yang tinggi dan pribadinya yang luhur. Mungkin sekali tingkat kepandaiannya tak akan menang dari tokoh-tokoh persilatan dari empat penjuru, akan tetapi mengenai ilmu pengobatan dan pribadi mulia, kiraku di dunia ini sukar mencari keduanya!”

“Yang diberikan kepada teecu itu, disebut olehnya Liong-kak Hian-tan (Pil Darah Tanduk Naga), apakah benar-benar terbuat dari pada darah yang berada di tanduk naga, Suhu?”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Orang-orang pembuat obat dan masakan sama saja, keduanya seperti orang gila! Untuk memudahkan mereka mengingat namanya dan untuk membuat obat atau masakannya terkenal, mereka itu suka sekali memberi nama yang aneh-aneh! Nama liong (naga) atau burung hong (burung dewata) selalu dibawa-bawa dalam pemberian nama pada obat. Siapa percaya tentang liong kalau belum melihatnya sendiri?”

“Apakah liong itu tidak ada, Suhu?”

“Aku sendiri percaya bahwa naga itu memang ada, hanya terus terang saja aku belum pernah melihat dengan mata sendiri. Memang telah kulihat banyak ular-ular besar sekali, bahkan ada pernah kulihat ular bertanduk lunak di kepalanya, akan tetapi, ular itu tidak berkaki seperti naga yang sering kali disebut-sebut! Betapa pun juga, aku percaya bahwa naga itu memang ada. Kalau tidak ada, kenapa rakyat di empat penjuru bisa melukiskan rupa dan bentuk tubuhnya? Pasti ada, seperti adanya pula burung hong!”

“Kalau begitu, obat Liong-kak Hian-tan itu benar-benar terbuat dari pada darah tanduk naga, Suhu?” kata Kwan Cu dengan suara tetap.

Ang-bin Sin-kai kembali tertawa. “Hal inilah yang meragukan, sebab biar pun kepandaian yang dimiliki oleh Hang-houw-siauw Yok-ong itu cukup lihai, mana dapat dia pergunakan untuk menangkap seekor liong dan mengambil darah dari tanduknya? Sudahlah, hal ini tidak penting, muridku. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa obat itu memang kupercaya amat baik bagimu.”

Sesudah sampai di lereng bukit Liang-san di sebelah barat, mereka mulai bertanya-tanya kepada orang kampung mengenai Gui Tin yang di tempat itu dahulu mengaku bernama Gui-lokai.

Beberapa orang sudah ditanya oleh Kwan Cu, akan tetapi tak ada seorang pun mengaku pernah kenal dengan Gui-lokai (pengemis tua Gui).

“Anak bodoh, mengapa kau tanya hanya orang-orang muda saja? Tanyalah kau kepada orang tua, dan wanita pula, karena yang biasa memberi derma kepada para pengemis kebanyakan hanya orang-orang wanita,” kata Ang-bin Sin-kai mencela muridnya.

Kwan Cu menganggap kata-kata suhu-nya benar, maka dia lalu bertanya pada seorang wanita dusun yang sudah agak tua akan tetapi masih rajin sekali bekerja. Wanita ini tengah memikul air bersama beberapa wanita lain.

Kwan Cu merasa tidak enak kalau langsung menghentikan orang yang sedang bekerja, apa lagi nampaknya wanita-wanita itu tergesa-gesa. Maka dia lalu ulurkan tangannya ke arah pundak wanita yang berada di depan dan dalam sekejap mata saja pikulan itu telah berpindah ke atas pundaknya sendiri! Tentu saja wanita itu terkejut dan amat heran, akan tetapi bocah gundul itu tersenyum kepadanya sambil berkata,

“Bibi, aku kasihan melihat kau bersusah payah memikul air yang berat ini. Biar aku yang membawakan ke rumahmu.”

Tentu saja wanita itu girang sekali dan tertawalah dia, memperlihatkan deretan gigi yang jarang dan kecil-kecil.

“Anak baik, terima kasih,” katanya sambil melanjutkan perjalanan di sebelah Kwan Cu.

Dua orang wanita di belakangnya juga memandang heran pada Kwan Cu, bocah gundul yang baik hati itu. Setelah menurunkan pikulan di depan rumah wanita itu, barulah Kwan Cu mengajukan pertanyaan,

“Bibi, pernahkah engkau mengenal seorang pengemis tua di daerah ini yang dipanggil Gui-lokai?”

“Gui-lokai...?” Wanita itu mengerutkan keningnya yang sudah mulai keriputan, “Ah, kakek yang gila itu? Siapa yang tidak mengenalnya? Dia adalah seorang tua yang malas dan gila, tidak mau bekerja, hanya menulis dan membaca saja kerjanya. Baiknya dia masih suka memberi pelajaran kepada beberapa orang anak, akan tetapi pelajaran membaca dan menulis, untuk apakah di dusun ini? Lebih baik belajar mencangkul tanah dari pada menggerakkan pit menulis!”

Bukan main girangnya hati Kwan Cu.

“Tahukah kau di mana adanya dia? Dan di mana tempat tinggalnya ketika dia berada di daerah ini?”

“Tempat tinggalnya? Di mana saja orang mau menerimanya. Kadang-kadang dia bahkan tidur di pinggir sawah, di tempat terbuka. Benar-benar orang aneh. Ehh, anak baik, kau pernah apakah dengan Gui-lokai maka kau mencarinya?”

Pada saat itu, seorang kakek tua yang mendatangi tempat itu mendengar kata-kata ini lalu menyambung,

“Aneh sekali! Baru kemarin sore ada juga dua orang lainnya yang menanyakan tentang Gui-lokai!”

Mendengar ini Kwan Cu merasa terheran.

“Lopek, siapakah mereka yang bertanya tentang Gui-lokai?”

“Seorang hwesio gemuk sekali dan seorang muridnya. Mereka pergi ke batu karang yang berbentuk menara dan berada di lereng barat untuk mencari goa yang dulu ditinggali oleh Gui-lokai,” jawab kakek itu.

“Di manakah batu karang itu, Lopek? Aku pun ingin sekali pergi ke goa tempat tinggal Gui-lokai!” Kwan Cu bertanya cepat-cepat.

Kakek itu ragu-ragu, akan tetapi wanita yang ditolongnya membawa air tadi cepat-cepat menudingkan jari telunjuknya ke arah puncak bukit yang tidak jauh dari situ. “Di sanalah tempatnya. Di sana terdapat sebuah batu karang yang menjulang tinggi, bentuknya mirip seperti menara. Di sekitar tempat itulah adanya goa tempat tinggal Gui-lokai ketika dia masih berada di daerah ini.”

“Terima kasih!” jawab Kwan Cu dan dua orang dusun itu menjadi bengong dan saling pandang ketika tiba-tiba Kwan Cu melompat dan lenyap dari depan mereka.

“Suhu, cepat, Suhu! Ada orang mendahului kita!” kata Kwan Cu ketika dia kembali ke tempat di mana Ang-bin Sin-kai menantinya.

“Siapa orangnya yang mendahului kita?” tanya Ang-bin Sin-kai dengan muka terheran.

“Entahlah, kata orang dusun itu, ada seorang hwesio gemuk dan muridnya juga mencari goa tempat tinggal Gui-siucai!”

Berubah wajah Ang-bin Sin-kai mendengar ini.

“Hemm, jangan-jangan Jeng-kin-jiu dan Lu Thong yang mendahului kita.”

“Mari cepat, Suhu. Goanya berada di puncak itu,” berkata Kwan Cu dan bocah gundul ini mendahului suhu-nya berlari ke arah puncak itu. Ang-bin Sin-kai menyusul dan guru ini pun merasa gelisah kalau-kalau kitab yang dikehendaki oleh muridnya itu sudah dicuri orang lain.

Sebentar saja mereka telah tiba di puncak bukit di mana terdapat batu karang berbentuk menara. Mudah saja mendapatkan goa bekas tempat tinggal Gui Tin, karena goa ini besar dan panjang. Kwan Cu segera membuat obor dan bersama gurunya dia memasuki goa itu.

Tak salah lagi, inilah bekas tempat tinggal Gui-lokai, karena dindingnya banyak terdapat pahatan dan ukiran, tentu Gui Tin mempergunakan waktunya untuk membuat sajak-sajak ini. Kwan Cu mencari terus hingga akhirnya dia mendapatkan lubang di mana tersimpan sebuah peti.

Dengan hati berdebar girang, Kwan Cu mengeluarkan peti itu dan segera membawanya keluar. Setelah tiba di luar, dia membuka peti tadi, akan tetapi tiba-tiba pundaknya di tarik orang dan ternyata suhu-nya yang menarik tadi.

“Hati-hati, Kwan Cu. Keliru sekali kalau berlaku tergesa-gesa seperti itu menghilangkan kewaspadaan. Aku masih bersangsi kenapa Gui-siucai semudah ini menyimpan petinya yang berisikan kitab-kitab yang lebih disayangnya dari pada harta benda lain. Aku sangsi kalau-kalau ada orang yang sudah mendahului kita dan sengaja memasang perangkap. Biarkan aku yang membuka peti ini!”

Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai menggunakan sulingnya untuk mencokel tutup peti dan benar saja dugaannya, begitu tutup peti terbuka, dari dalam menyambar keluar kepala seekor ular kehijauan yang mendesis dan menjulurkan lidahnya.

Kwan Cu tertawa. “Ahh, ular kecil seperti itu saja, apa sih bahayanya?”

Ang-bin Sin-kai mengerutkan keningnya dan memandang tajam kepada Kwan Cu.

“Salah, salah! Sama sekali salah kalau kau memandang rendah soal-soal kecil. Kau mau tahu tentang ular ini? Inilah yang di sebut Jeng-tok-coa (Ular Racun Hijau) yang bisanya jauh lebih berbahaya dari pada seekor ular sendok. Sekali pagut saja, tidak ada obat di dunia ini yang akan menyembuhkan dan menolong orang yang dipagutnya! Biar pun kau sendiri yang sudah mempunyai darah penolak racun di tubuhmu, agaknya akan bergulat dengan maut apa bila tadi kau membuka peti dan kena digigit oleh ular ini!”

Mendengar ini, Kwan Cu meleletkan lidahnya saking kaget dan ngerinya. Sekarang ular itu bergerak-gerak dan gerakannya betul-betul cepat sekali sehingga dapat dibayangkan kalau ular ini menyerang orang.

Ang-bin Sin-kai menggerakkan sulingnya. Sekali terbentur suling, pecahlah kepala ular itu, mengeluarkan lendir berwarna hijau yang berbau amis keharum-haruman dan yang membuat kepala menjadi pening ketika hidung mencium bau itu.

Ang-bin Sin-kai segera mengangkat peti itu menjauhi bangkai ular, kemudian barulah dia memperkenankan Kwan Cu memeriksa isi peti. Peti itu ternyata terisi banyak buku-buku tebal dan kuno.

Dengan jari-jari tangan gemetar saking menahan gelora hatinya, Kwan Cu memeriksa buku-buku itu satu demi satu. Buku-buku sajak, buku-buku tentang bintang-bintang dan kitab-kitab kebatinan yang amat kuno. Tetapi tidak ada sebuah pun kitab sejarah tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng!

“Heran sekali..., kitab yang dimaksudkan Gui-sianseng itu tidak ada... !” kata Kwan Cu setelah untuk kelima kalinya dia membuka dan memeriksa lagi buku-buku itu satu demi satu.

“Hemm, benar ada orang yang mendahului kita,” kata Ang-bin Sin-kai, “kau lihat di sana itu!”

Kwan Cu segera memandang dan dapat melihat bayangan dua orang berlari cepat sekali menuruni gunung itu. Bayangan seorang berkepala gundul yang gemuk bundar bersama seorang anak laki-laki yang sebaya dengan dia!

“Keparat!” Kwan Cu memaki dan hendak mengejar. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai menahan dan memegang pundaknya.

Tiba-tiba Kwan Cu membalikkan tubuhnya dan memandang kepada suhu-nya dengan mata basah dan muka pucat.

“Suhu, kau benar-benar tidak adil dan berat sebelah!” katanya dengan tangan terkepal.

“Ketika Suhu memberi pelajaran Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng (Dengan Tangan Kosong Merenggut Nyawa) kepada Lu Thong, teecu sudah tahu bahwa betapa pun juga, Suhu lebih memberatkan keluarga sendiri! Sekarang terbuktilah dugaan teecu. Sudah terang yang mencuri kitab dari Gui-siucai adalah Lu Thong dan gurunya, akan tetapi Suhu tidak mengejar mereka, bahkan melarang teecu mengejar. Suhu, sesungguhnya Suhu hendak berlaku bagaimanakah terhadap murid?”

Mendengar ucapan Kwan Cu yang sifatnya menegur dan menuntut ini, sepasang mata Ang-bin Sin-kai mengeluarkan cahaya berkilat.

“Tutup mulutmu! Bila sekali lagi kau berkata demikian terhadapku, betapa pun besar rasa sayangku kepadamu dan betapa pun baiknya bakatmu untuk menjadi muridku, kau akan kutinggalkan! Tuduhanmu hanya karena terdorong oleh rasa iri hati dan putus asa. Iri hati melihat aku menurunkan Kong-jiu Toat-beng kepada Lu Thong, perasaan iri hati yang tak berdasar. Dia adalah cucu luarku, kenapa aku tidak boleh memberi sesuatu kepadanya? Dan kau putus asa melihat kitab peninggalan Gui-siucai dicuri orang. Juga perasaan putus asa ini bodoh sekali. Kau tadi melihat sendiri betapa ilmu lari cepat hwesio gundul itu hebat sekali, tidak kalah olehku? Dikejar pun tidak akan ada gunanya, karena mereka sudah meninggalkan kita. Aku masih ragu-ragu... apakah betul Jeng-kin-jiu yang mencuri kitab itu, Si Gundul dari selatan itu tidak demikian hebat lari cepatnya. Aku lebih condong menduga kepada Hek-i Hui-mo!”

Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut di hadapan gurunya. “Ampunkan kelancangan mulut teecu, Suhu. Sesungguhnya, teecu bingung sekali melihat kitab itu sudah tidak ada lagi. Bagaimana kita harus berbuat sekarang, Suhu?”

“Tenanglah dan kita perlahan-lahan menyelidiki siapakah orangnya yang sudah mencuri kitab itu. Bukankah kau dulu bilang bahwa kitab itu ditulis dalam bahasa kuno yang sukar dimengerti dan yang hanya diajarkan mendiang Gui-siucai kepadamu?”

“Memang benar, Suhu. Akan tetapi siapa tahu kalau orang lain yang dapat membacanya. Menurut mendiang Gui-sianseng, pujangga-pujangga besar seperti Tu Fu dan Li Po pasti bisa membacanya. Hwesio gundul tadi terlalu jauh dari kita hingga sukar untuk mengenal mukanya, akan tetapi teecu yakin bahwa dia tentulah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.”

“Bagaimana kau bisa memastikannya?”

“Karena hanya Jeng-kin-jiu yang memiliki seorang murid laki-laki sebesar teecu. Setahu kita, Hek-i Hui-mo tidak mempunyai murid.”

Ang-bin Sin-kai mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku pun berpikir demikian. Namun, masih terlalu pagi untuk menuduh tanpa bukti. Sebaiknya kita menyusul ke kota raja dan bertanya terang-terangan kepada Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!”

Kwan Cu girang sekali karena ternyata bahwa suhu-nya benar-benar mau membantunya merampas kembali kitab itu. Mereka lalu berangkat dengan cepat, turun dari Liang-san menuju ke kota raja untuk mencari Jeng-kin-jiu yang mereka sangka telah mencuri kitab sejarah peninggalan Gui Tin.

Di dalam perjalanan menuju ke kota raja, mereka melalui kota Po-keng yang ramai dan terkenal sebagai tempat berkumpulnya para sastrawan dan orang-orang gagah.

“Kita mampir dulu ke rumah Kwa-pangcu (Ketua she Kwa), dia seorang sahabatku yang baik,” kata Ang-bin Sin-kai kepada Kwan Cu.

Yang disebut Kwa-pangcu oleh Ang-bin Sin-kai adalah Kwa Ok Sin, yakni seorang ahli silat Bu-tong-pai yang di samping memiliki ilmu pedang yang lihai, juga terkenal sebagai seorang ahli sastra terkemuka. Kwa Ok Sin atau Kwa-pangcu merupakan ketua dari perkumpulan Bun-bu-pang (Perkumpulan Ahli Silat dan Sastrawan) yang didirikan oleh para ahli sastra dan ahli-ahli silat di seluruh daerah Po-keng. Kwa Ok Sin dipilih karena memang dia memenuhi syarat, tidak saja ahli dalam bun (sastra), akan tetapi juga tinggi ilmu kepandaiannya dalam bu (silat).

Kwa Ok Sin yang memang keturunan kaya raya, amat besar rumahnya dan gedung ini selain dijadikan tempat tinggalnya, juga menjadi rumah perkumpulan Bun-bu-pai. Papan nama yang tergantung di depan rumahnya benar-benar amat indah.

Papan itu berukir dan berukuran besar sekali, ditulis dengan huruf-huruf yang amat indah dan gagah ‘RUMAH PERKUMPULAN BUN BU PAI’. Hal ini tidak mengherankan, karena sebagai perkumpulan ahli sastra, tentu saja tulisannya juga hebat!

Tak seorang pun di kota Po-keng yang tidak mengenal rumah ini, karena perkumpulan Bun-bu-pai memang dihormati oleh setiap orang. Bahkan dengan adanya perkumpulan ini, di daerah Po-keng bersih dari pada semua penjahat. Penjahat manakah berani main gila di kedung naga dan goa harimau?

Karena itu, tidak mengherankan apa bila nama Bun-bu-pai di Po-keng ini amat terkenal dan namanya dipuji-puji hingga jauh di luar daerah Po-keng. Bahkan, pujangga-pujangga besar dan ternama semacam Li Po dan Tu Fu sendiri tidak jarang datang berkunjung ke Bun-bu-pai untuk bercakap-cakap dengan Kwa Ok Sin dan para anggota lain. Juga para locianpwe, ahli-ahli silat tingkat tinggi dari seluruh Tiongkok apa bila lewat Po-keng selalu memerlukan untuk mampir.

Sungguh sangat kebetulan sekali, ketika Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu tiba di Po-keng, Bun-bu-pai tengah penuh dengan para anggotanya. Hari itu dari berbagai tempat mereka sengaja datang berkumpul sebab ada beberapa hal yang amat penting dan mesti mereka rundingkan. Bahkan banyak tokoh-tokoh dari jauh datang mengunjungi pertemuan itu.

Kwan Cu dan gurunya berdiri di depan gedung Bun-bu-pai, dan Kwan Cu amat kagum melihat papan nama yang ditulis amat indah itu.

“Alangkah indahnya tulisan itu, Suhu,” kata bocah gundul itu dengan kagum.

Ang-bin Sin-kai tersenyum. “Apa sih indahnya tulisan macam itu? Marilah kita masuk dan kau akan melihat tulisan yang jauh lebih indah dari pada ini.”

Mereka masuk melalui pintu gerbang dan ketika tiba di ruang depan, benar saja. Di sana tergantung tulisan-tulisan dan lian-lian (tulisan berpasangan dan merupakan sajak indah) yang ditulis dengan indah sekali dalam berbagai-bagai bentuk.

Selama hidup belum pernah Kwan Cu menyaksikan sekumpulan tulisan demikian indah, baik gaya mau pun isinya, maka tiada bosannya dia membaca dan menikmati tulisan itu satu demi satu. Hal ini memang tidak mengherankan oleh karena yang tergantung di situ adalah hasil karya pujangga-pujangga terkemuka. Bahkan Tu Fu dan Li Po sendiri pun menyumbang ruangan ini dengan tulisan-tulisan dan sajak-sajak mereka!

Tidak seperti rumah perkumpulan lainnya, di situ tidak ada penjaga. Memang, siapakah orangnya yang akan berani mencuri atau membikin ribut di tempat ini? Karena itu tidak perlulah diadakan penjagaan.

Ketika Kwan Cu sedang enak-enak dan asyiknya membaca tulisan-tulisan itu, tiba-tiba terdengar suara halus, “Anak baik, sekecil ini sudah dapat menghargai tulisan baik!”

Pada saat Kwan Cu menengok, dia melihat seorang laki-laki tinggi tegap berusia kurang lebih empat puluh tahun dan sungguh pun pakaiannya seperti seorang ahli silat, namun gerak-geriknya sangat halus dan sopan. Orang itu kini menghadapi Ang-bin Sin-kai, lalu menjura dan berkata,

“Sungguh kebetulan sekali Ang-bin Sin-kai locianpwe datang berkunjung. Memang kami sedang berkumpul dan ada sesuatu yang hendak disampaikan kepada Locianpwe.”

Ang-bin Sin-kai tertegun. Orang yang menyambutnya ini adalah Kwa Ok Sin sendiri, sang ketua dari Bun-bu-pai. Biasanya, tidak beginilah sambutan Kwa-pangcu yang sudah lama menjadi sahabat baiknya. Sambutan kali ini mengapa begini dingin dan pada wajah ketua ini seakan-akan terbayang kekurang senangan dan juga kegelisahan?

“Selamat bertemu, Kwa-pangcu! Apakah gerangan yang telah terjadi?”

“Silakan masuk saja dan kau orang tua akan mendengarnya sendiri nanti,” Kwa-pangcu menjawab dengan muka masih tetap dingin dan beberapa kali dia melirik ke arah Kwan Cu seakan-akan dia pernah mendengar sesuatu mengenai bocah gundul yang pandai membaca sajak itu.

Ang-bin Sin-kai lalu memberi tanda kepada muridnya untuk masuk ke dalam. Di ruang ke dua, Kwan Cu kembali kagum sekali melihat lukisan-lukisan indah tergantung di dinding, ada pun di bawah terdapat tempat senjata penuh dengan senjata-senjata persilatan yang delapan belas macam banyaknya. Senjata-senjata yang ada di situ semuanya terdiri dari senjata-senjata pilihan belaka, sehingga bukan hanya Kwan Cu, bahkan Ang-bin Sin-kai sendiri memandang sambil mengeluarkan suara pujian.

Akhirnya tibalah mereka di dalam ruang tengah. Ruang ini luas sekali, dan di sana telah berkumpul lebih dari dua puluh orang. Melihat orang-orang ini Kwan Cu tertegun.

Sesungguhnya memang aneh karena tempat itu dipenuhi orang-orang yang berpakaian beraneka macam. Ada yang mirip seorang sastrawan dan bersikap lemah lembut sekali, ada yang berpakaian seperti ahli silat atau guru silat, bahkan ada pula pendeta-pendeta dan hwesio kepala gundul atau tosu-tsou yang rambutnya digelung di atas kepala.

Pendeknya, di tempat ini berkumpul ahli-ahli sastra dan ahli-ahli silat yang agaknya tidak memiliki kepandaian kepalang tanggung. Sikap mereka saja sudah menjelaskan bahwa baik ahli sastra mau pun ahli silat yang berkumpul di sana rata-rata memiliki kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya di bidangnya masing-masing.

Baik nama mau pun orangnya, Ang-bin Sin-kai sudah amat terkenal di antara para tokoh persilatan dan sastrawan itu. Akan tetapi, jika biasanya mereka menyambut kedatangan Ang-bin Sin-kai dengan muka girang dan kata-kata ramah, adalah pada saat itu tidak ada seorang pun yang berdiri dari tempat duduknya dan hanya memandang dengan sinar mata dingin.

Tentu saja Ang-bin Sin-kai menjadi heran dan tidak enak hati sekali, akan tetapi dia tetap bersikap tenang dan mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku, lalu memandang ke kanan kiri menentang pandang mata semua orang yang duduk di situ. Pandang mata Ang-bin Sin-kai sangat tajam dan berpengaruh, karena itu siapa pun juga yang bertemu pandang dengan dia, lalu menundukkan muka atau mengalihkan pandang matanya.

Kwa-pangcu duduk kembali ke bangkunya yang berada di kepala meja. Di kanan kirinya duduk dua orang tokoh besar yang sudah amat terkenal, yakni sebelah kiri adalah Pouw Hong Taisu, ketua dari Thian-san-pai yang berilmu tinggi. Ada pun di sebelah kanannya duduk Bin Kong Siansu, seorang tokoh besar ketua Kim-pan-sai.

Diam-diam Ang-bin Sin-kai sudah merasa amat heran melihat dua orang tokoh besar ini, karena tidak biasanya ketua-ketua dari Thian-pan-sai dan Kim-pan-sai duduk di tempat ini. Tidak mungkin kehadiran mereka itu hanya hal yang kebetulan saja, sebab apa bila memang begitu, tentu dua orang kakek itu telah menyambutnya dengan ramah sebagai orang-orang segolongan yang bertemu jauh dari tempat kediaman masing-masing.

“Cu-wi sekalian, karena ada saudara yang baru datang, maka kuharap soal-soal penting yang tadi telah dibicarakan, diulangi lagi laporannya,” Kwa Ok Sin berkata dengan suara kereng.

Semua orang kemudian menyatakan setuju. Dari ujung kiri berdirilah seorang muda yang nampaknya gagah. Dia adalah Lie Seng, anak murid Go-bi-pai yang memiliki kepandaian cukup tinggi dan sudah terkenal sebagai seorang pendekar muda yang banyak menolong rakyat.....

Karena semua orang telah mendengar penuturannya, kini Lie Sieng memandang kepada Ang-bin Sin-kai dan berkata,

“Tadi sudah siauwte ceritakan bahwa kemarin hari ketika siauwte bersama pujangga Tu Fu, tiba-tiba ada seorang tinggi gemuk yang berkepala gundul, malam-malam datang dan menculik Tu-siucai. Gerakan orang itu cepat sekali dan ketika siauwte berusaha untuk menolong Tu-siucai, dengan sekali dorong saja siauwte roboh tak sadarkan diri. Karena cepatnya gerakan orang itu, siauwte tak sempat mengenal mukanya, hanya tahu bahwa kepalanya gundul dan pakaiannya seperti pakain pendeta. Tubuhnya gemuk sekali.”

“Apakah bajunya hitam semua?” tiba-tiba Ang-bin Sin-kai bertanya.

Lie Seng menggelengkan kepalanya. “Entahlah, karena sebelum menyerang, orang itu melambaikan tangan ke arah lampu yang menjadi padam seketika.”

Kwa Ok Sin berdiri kemudian berkata, “Demikianlah persoalan pertama yang kita hadapi. Ternyata bahwa Tu-siucai telah diculik orang jahat yang lihai, entah dengan maksud apa. Karena kita semua sudah mengenal Tu-siucai sebagai seorang sastrawan yang berjiwa gagah, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menggunakan kepandaian dan mencoba menolong Tu-siucai dari tangan orang jahat.”

Warta ini menggirangkan hati Kwan Cu. Tanpa dapat ditahan lagi dia berkata dengan suaranya yang kecil nyaring.

“Penculiknya pasti Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!”

Semua orang terkejut.

“Ehh, anak gundul, bagaimana kau berani menuduh Kak Thong Taisu?” terdengar suara keras dan yang membentak ini adalah Pouw Hong Taisu ketua dari Thian-san-pai yang semenjak tadi memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan mata membenci.

Tak senang hati Kwan Cu mendengar suara yang galak ini, maka dia menjawab dengan suara kasar juga. “Karena hanya si gundul itulah yang mempunyai alasan untuk menculik seorang sastrawan besar!”

“Diam kau, Kwan Cu!” Ang-bin Sin-kai menegur.

Ketika guru dan murid ini saling bertemu pandang, tahulah Kwan Cu akan kesalahannya sendiri. Ia maklum bahwa urusan Im-yang Bu-tek Cin-keng ini tidak perlu diketahui oleh orang lain, maka dia lalu menundukkan muka dan menutup mulut.

“Muridku ini memang panjang lidah,” kata Ang-bin Sin-kai kepada semua orang.

“Tuduhannya tadi hanya kira-kira saja, karena memang muridku sudah pernah melihat Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang berkepala gundul dan bertubuh gendut. Betapa pun juga, aku akan pergi ke kota raja untuk menyelidiki apakah benar-benar Jeng-kin-jiu yang menculik Tu-siucai.”

“Syukurlah, memang sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menyelidiki dan coba menolong Tu-siucai,” kata Kwa Ok Sin, kemudian dia berpaling kepada Pouw Hong Taisu ketua Thian-san-pai sambil berkata,

“Karena masalah pertama telah dibicarakan, maka lebih baik sekarang Taisu menuturkan lagi persoalan kedua yang Taisu bawa jauh-jauh dari Thian-san!” Sambil berkata begini, Kwa Ok Sin lalu duduk kembali dan kini semua mata memandang kepada Pouw Hong Taisu yang sudah bangkit berdiri dengan muka merah.

Pouw Hong Taisu bertubuh jangkung, mukanya lonjong dan rambutnya yang digelung di atas kepala itu masih hitam sekali sungguh pun usianya tak kurang dari lima puluh tahun. Di punggungnya kelihatan gagang sepasang golok, karena memang tokoh Thian-san-pai in terkenal sekali sebagai seorang ahli ilmu silat siang-to (sepasang golok).

“Cu-wi sekalian, sesungguhnya bukan hanya pinto (aku) seorang saja yang membawa persoalan ini seperti yang telah kuceritakan tadi. Soal yang kubawa juga persoalan dari sahabatku Bin Kong Siansu dari Kim-san-pai. Kami mempunyai persoalan yang sama, karena muridnya dan murid pinto sudah terbunuh mati oleh seorang saja.” Sampai di sini Pouw Hong Taisu memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan mata bernyala. Agaknya orang tua ini sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Pouw Hong Taisu lantas menggebrak meja dan aneh sekali. Cawan arak yang tadinya disuguhkan kepada Ang-bin Sin-kai dan berada di hadapan Pengemis Sakti ini, tiba-tiba mencelat ke atas tinggi sekali. Benar-benar hebat demonstrasi tenaga lweekang dari tokoh Thian-san-pai ini, karena begitu banyak cawan arak di atas meja, namun begitu dia menggebrak meja yang mencelat hanyalah cawan arak milik Ang-bin Sin-kai saja, tepat seperti dikehendakinya!

Melihat ini, terkejutlah Ang-bin Sin-kai karena dia maklum bahwa orang sedang marah kepadanya. Akan tetapi dengan tenang sekali dia mengulur tangan menerima kembali cawannya dan meletakkannya lagi di hadapannya.

“Tenang, Pouw Hong Taisu, ceritakanlah dengan jelas persoalannya lebih dahulu, jangan marah-marah seperti anak kecil!” kata Ang-bin Sin-kai untuk melampiaskan kedongkolan hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari Bin Kong Siansu yang juga sekarang telah berdiri di dekat Pouw Hong Taisu. Tokoh Kim-san-pai ini lalu berkata mengejek.

“Pinto merasa heran sekali melihat ketenanganmu, Ang-bin Sni-kai! Kau bahkan masih dapat memberi nasihat kepada Pouw Hong Taisu untuk berlaku tenang. Sungguh berani mati dan tak tahu malu sekali!”

Sambil melontarkan kata-kata ini, Bin Kong Siansu mengerakkan tangan kanannya ke arah cawan arak di depan Ang-bin Sin-kai dan...

“Praaaakk!”

Cawan itu pecah berkeping-keping seperti telah dipukul dengan palu besi! Padahal yang menyerang cawan arak itu hanya angin pukulan tangan saja dari Bin Kong Siansu. Dari sini saja sudah dapat diukur sampai bagaimana hebatnya kepandaian tokoh Kim-san-pai ini.

Kwan Cu tertawa geli mendengar ucapan suhu-nya. Dia tadi sudah menyaksikan sikap kedua orang tosu itu, dan sudah mendengar pula kata-kata mereka, maka karena selama ini dia selalu berada dengan suhu-nya dan merasa yakin bahwa suhu-nya tidak pernah melakukan hal yang tidak patut, dia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalah fahaman dari fihak mereka.

Oleh karena ini, anak ini pun merasa tenang-tenang saja, bahkan ada kegembiraan di dalam hatinya. Dia bahkan mengharapkan agar suhu-nya dapat bertanding melawan dua orang jago tua dari Kim-san-pai dan Thian-san-pai itu agar di dalam pertempuran yang hebat, dia mendapat pemandangan yang bagus dan penambahan pengalaman!

“Bin Kong dan Pouw Hong dua tua bangka yang sudah pikun. Apa sih harganya untuk main-main seperti ini? Lebih baik kau bicara terus terang, sebetulnya ada urusan apakah maka kalian seperti kemasukan setan dan marah-marah padaku?” kata Ang-bin Sin-kai sambil memandang kepada dua orang tosu itu.

“Pengemis busuk, kau masih berpura-pura tidak tahu? Kau sudah membunuh mati Ong Kiat, murid yang pinto tahu betul belum pernah melakukan pelanggaran dan yang selalu bersikap sebagai seorang pendekar yang patut menjadi kebanggan Thian-san-pai. Akan tetapi, mengapa kau seorang tua yang sudah mendapat nama baik malah menurunkan tangan kejam dan membunuhnya? Tak perlu banyak cakap lagi, sekarang kebetulan kau datang sehingga memudahkan pinto untuk membalas dendam dan menagih hutang. Kini bersiaplah! Mari kita mengadu nyawa, tua sama tua, jangan hanya berani mengganggu orang-orang muda!” Sambil berkata begitu, tokoh Thian-san-pai ini mencabut sepasang goloknya yang ternyata berwarna kebiruan menyilaukan mata.

Inilah sebuah tantangan terbuka dan kini semuanya memandang ke arah Ang-bin Sin-kai untuk melihat bagaimana tokoh besar dari timur itu bersikap. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai masih bersikap tenang dan kini kakek pengemis ini memandang kepada Bin Kong Siansu sambil berkata,

“Bin Kong Siansu, baru saja Pouw Hong Taisu dari Thian-san-pai sudah melontarkan tuduhannya. Agar dapat sekaligus membereskan persoalan ini, cobalah kau menuturkan pula tentang muridmu yang katanya kubunuh itu.”

Melihat sikap Ang-bin Sin-kai, Bin Kong Siansu merasa ragu-ragu, akan tetapi akhirnya dia menjawab juga.

“Benar-benarkah kau tidak tahu atau hanya berpura-pura, Ang-bin Sin-kai? Seperti juga murid Pouw Hong Taisu, muridku, atau lebih tepat cucu muridku yang bernama Pek-cilan Thio Loan Eng yang menjadi isteri dari Ong Kiat anak murid Thian-san-pai, juga terbunuh olehmu secara sewenang-wenang? Karena itu, sekarang engkau pun harus menghadapi sebatang pedangku untuk menentukan siapa yang harus membayar nyawa muridku!” Bin Kong Siansu lalu menggerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning emas telah berada di tangannya.

Tiba-tiba terdengar orang menjerit dan Kwan Cu sudah melompat maju menghadapi Bin Kong Siansu.

“Siapa bilang Thio-toanio mati? Bohong! Bohong semua! Thio-toanio tidak mati...!”

“Hmm, anak gundul, otakmu sudah agak miring rupanya. Kami sendiri telah menyaksikan kuburan dari Thio Loan Eng. Dia dibunuh oleh gurumu, kau masih mau main sandiwara untuk menutupi kedosaan gurumu?!” Bin Kong Siansu membentak diikuti tangan kirinya menyambar menempiling kepala Kwan Cu yang gundul.

Gerakan itu cepat sekali sehingga meski pun Kwan Cu mengelak, tetap saja dia terkena kemplangan tangan kiri tosu itu. Tubuh Kwan Cu mencelat dan bergulingan menabrak meja kursi, akan tetapi anak ini tidak apa-apa, lalu bangkit berdiri lagi.

“Thio-toanio mati...? Terbunuh...? Ahhh, Suhu, kita harus membalaskan sakit hatinya...” katanya setengah menangis sambil menghampiri suhu-nya.

“Bocah lancang, kau diamlah saja, jangan turut campur,” kata Ang-bin Sin-kai menghibur.

Kakek ini maklum bahwa mendengar tentang kematian Pek-cilan, kesedihan muridnya mungkin masih lebih besar dari pada kesedihan dan kemarahan Bin Kong Siansu, tokoh Kim-pan-sai itu.

“Bin Kong dan Pouw Hong, apa kalian berdua menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa aku membunuh murid-murid kalian?” tanya Ang-bin Sin-kai.

“Apa bila kami melihat dengan mata kepala sendiri, apakah kau kira masih dapat hidup sampai sekarang?!” bentak Pouw Hong Taisu marah.

Ketua Thian-san-pai ini memang wataknya sedikit sombong. Berbeda dengan Bin Kong Siansu yang agak jeri menghadapi Ang-bin Sin-kai, ketua Thian-san-pai ini menganggap kepandaian sendiri akan dapat mengatasi kepandaian Pengemis Sakti Muka Merah.

“Kalau begitu, siapakah yang memberi tahu kepada kalian bahwa aku sudah membunuh murid kalian?”

Bin Kong Siansu dan Pouw Hong Taisu saling pandang, kemudian Bin Kong Siansu yang menjawab,

“Ang-bin Sin-kai, kami mendengar dari seorang yang boleh dipercaya benar-benar, dan kami sudah bersumpah tidak akan memberitahukan namanya kepada siapa pun juga.”

”Hm, hem, hemm, jadi kalian percaya penuh kepadanya?”

“Tentu saja kami percaya! Dia orang terhormat, tidak seperti engkau!” Pouw Hong Taisu membentak sambil melangkah maju dengan sepasang goloknya siap untuk menyerang.

Bersinar sepasang mata Ang-bin Sin-kai. “Kalau aku bilang bahwa aku tidak membunuh murid-muridmu, apakah kalian tidak percaya padaku?”

Bin Kong Siansu ragu-ragu, akan tetapi Pouw Hong Taisu membentak,

“Siapa bisa percaya kepada seorang yang telah membunuh mati muridku?”

Akan tetapi Bin Kong Siansu lalu cepat-cepat berkata, “Ang-bin Sin-kai! Orang yang telah memberi tahukan mengenai pembunuhan itu adalah seorang yang ternama dan dia telah bersumpah. Maka apa bila kau juga mau bersumpah bahwa kau tidak membunuh anak muridku, aku Bin Kong Siansu berjanji hendak menyelidiki lebih lanjut urusan ini.”

Ang-bin Sin-kai makin marah. Ia menggebrak meja di depannya dan empat kaki meja itu melesak ke dalam sampai setengahnya, akan tetapi semua cawan arak yang berada di atas meja tidak ada satu pun yang terguling!

“Kalian percaya omonganku atau tidak, habis perkara! Kalian kira aku ini orang macam apakah? Kalian percaya, bagus. Tidak percaya pun boleh, siapa pusing? Hayo Kwan Cu, kita pergi!”

Ang-bin Sin-kai menggandeng tangan muridnya, bangkit meninggalkan bangkunya. Akan tetapi sebelum dia meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba menyambar tubuh dua orang dan tahu-tahu Bin Kong Siansu dan Pouw Hong Taisu telah berdiri menghadang di depannya.

“Jembel pembunuh! Enak saja kau mau minggat dari hukuman mati!” bentak Pouw Hong Taisu yang langsung menyerang dengan sabetan sepasang goloknya yang kebiruan.

“Kwan Cu, menyingkir ke sana!” kata Ang-bin Sin-kai.

Secepat kilat kaki kanan Ang-bin Sin-kai menendang pantat muridnya sehingga tubuh Kwan Cu mencelat seperti bal karet ke pojok ruangan di mana terdapat tumpukan meja yang agaknya memang kelebihan dan ditumpuk di situ supaya tidak memenuhi ruangan. Sambil berpoksai dan berjumpalitan dengan gerakan Koai-liong Hoan-sin (Naga Siluman Balikkan Badan), bocah gundul itu lalu mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga dia dapat turun ke atas meja itu dengan baik, lalu menonton dengan enaknya!

Ada pun Ang-bin Sin-kai yang menghadapi sabetan sepasang golok dari kanan dan kiri, berlaku tenang akan tetapi cepat sekali. Ia maklum akan kelihaian ilmu golok dari ketua Thian-san-pai ini, maka melihat dua sinar kebiruan menyambar dari kanan kiri mengarah leher dan perut, dia lalu menggenjot tubuhnya mencelat mundur menghindarkan diri.

“Ang-bin Sin-kai, makanlah golokku!” Pouw Hong Taisu mengejar sambil menghujankan serangan bertubi-tubi yang kesemuanya amat berbahaya.


Permainan golok kakek Thian-san-pai ini memang sangat hebat. Tingkat kepandaiannya sudah mencapai puncak, maka sepasang goloknya itu menyambar-nyambar merupakan sepasang tangan maut. Nampak dua gulungan sinar biru yang terang sekali bergulung-gulung mengepung tubuh Ang-bin Sin-kai!

Melihat permainan golok ini, Kwan Cu menjadi kagum sekali dan dia memuji dari tempat duduknya yang tinggi.

“Bagus, bagus! Sinar golok yang bagus sekali!”

Anak ini terlalu percaya terhadap suhu-nya sehingga seruannya tadi sama sekali tidak tercampur rasa kekhawatiran terhadap keselamatan gurunya. Dalam hal ini dia memang benar, karena betapa pun hebat ilmu golok dari tokoh Thian-san-pai itu, namun gerakan Ang-bin Sin-kai lebih hebat dan cepat lagi.

Kakek ini nampaknya seperti tengah menari-nari di antara gulungan sinar biru itu. Yang membuat Kwan Cu menjadi bengong dan kagum adalah ketika dia mendapat kenyataan bahwa dalam menghadapi sepasang golok tokoh dari Thian-san-pai itu, suhu-nya hanya mempergunakan Ilmu Silat Pai-bun Tui-pek-to (Atur Pintu Tahan Ratusan Golok) yang telah dia pelajari!

Ahhh, betapa tadinya dia memandang rendah ilmu silat tangan kosong ini! Betapa buta matanya yang menganggap gurunya berat sebelah karena telah memberi pelajaran Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng (Dengan Tangan Kosong Mencabut Nyawa) kepada Lu Thong. Dan sekarang dia menyaksikan dengan matanya sendiri betapa ilmu silat yang telah dia pelajari dengan baik itu, yakni Pai-bun Tui-pek-to, ternyata oleh gurunya telah dimainkan dan dapat dipergunakan untuk menghadapi amukan Pouw Hong Taisu dengan sepasang goloknya!

Pada saat dia memperhatikan permainan kedua tangan dan kaki suhu-nya, dia menjadi makin heran. Pai-bun Tui-pek-to yang dimainkan oleh suhu-nya itu sama sekali tidak ada bedanya dengan permainannya sendiri, bahkan gerakan suhu-nya itu nampaknya terlalu lambat. Bagaimana dapat dipergunakan untuk menghadapi lawan yang begitu tangguh?

Ketika dia mencurahkan perhatiannya, barulah dia tahu. Setiap kali senjata golok Pouw Hong Taisu menyambar, kalau suhu-nya tidak sempat lagi untuk mengelak, suhu-nya lalu menggunakan tangan untuk dipukulkan ke arah golok itu dan benar-benar heran sekali, golok itu selalu terpukul oleh angin keras sehingga menjadi mencong dan menyeleweng arahnya!

Ia maklum bahwa dalam mainkan Pai-bun Tui-pek-to, perbedaan antara dia dan gurunya adalah bahwa gurunya hanya bergerak dengan perhitungan yang tepat sekali menunggu perkembangan serangan lawan. Tiap gerakan suhu-nya bukan hanya gerakan percuma, melainkan gerakan yang penuh isi, tak mau bergerak dengan sia-sia atau untuk selingan belaka. Maka bocah gundul ini mengangguk-anggukkan kepalanya dan tahulah dia kini akan arti kata-kata suhu-nya yang sering menyatakan bahwa semua ilmu silat itu lihai, tergantung orang yang menggerakkan atau memainkannya!

Setelah ‘mengukur’ tingkat ilmu golok dari Thian-san-pai itu, Ang-bin Sin-kai sudah dapat menguras semua gerakan ilmu golok ini dan diam-diam Pengemis Sakti ini mencatat di dalam hatinya beberapa gerakan golok yang dianggapnya luar biasa serta sangat baik untuk dijadikan penambah pengetahuan ilmu silatnya.

Beginilah sikap seorang jagoan besar. Di dalam setiap pertempuran menghadapi lawan tangguh dia selalu membuka matanya untuk memetik beberapa gerakan yang baik dari lawannya. Dengan sikap seperti ini maka tokoh-tokoh besar dunia persilatan selalu makin tinggi saja kepandaiannya dan semakin tenar namanya.

Kalau Ang-bin Sin-kai mau, sebetulnya dengan mudah saja dia akan dapat merobohkan Pouw Hong Taisu. Akan tetapi betapa pun juga, tokoh besar dari timur ini dahulunya adalah seorang sastrawan. Maka masih ada sifat-sifat sopan dan halus di dalam dirinya dan dia merasa tidak seharusnya dia merobohkan tokoh pertama dari Thian-san-pai di hadapan orang banyak.

Selain hal ini akan menjatuhkan nama Pouw Hong Taisu, juga akan menimbulkan akibat dendam dan bibit permusuhan dengan partai Thian-san-pai yang besar. Lagi pula, ketua Thian-san-pai ini menyerang dirinya karena menduga bahwa dia membunuh anak murid Thian-san, karena itu tidak seharusnya ketua ini dirobohkan. Ia hanya mau merobohkan seorang yang memang jahat dan ketua Thian-san-pai ini biar pun agak keras kepala dan sombong, namun sekali-kali bukan orang jahat!

“Pouw Hong Taisu, biarlah pinto menggantikanmu menghadapi Ang-bin Sin-kai!” tiba-tiba Bin Kong Siansu berkata keras.

Pedangnya berubah menjadi sinar yang panjang dan gemerlapan, mengalahkan cahaya sepasang golok ketua Thian-san-pai itu. Ternyata bahwa tokoh dari Kim-san-pai itu telah turun tangan menyerang Ang-bin Sin-kai dengan hebatnya.

Tadi dia telah menyaksikan kehebatan Ang-bin Sin-kai dan tahu bahwa kawannya itu tak akan dapat menangkan Pengemis Sakti yang benar-benar amat luar biasa itu. Ia sendiri pun masih sangsi apakah dia akan sanggup mengalahkan Ang-bin Sin-kai, akan tetapi karena dia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya, dia sengaja maju sebelum Pouw Hong Taisu dirobohkan untuk menolong kawan ini.

Akan tetapi Pouw Hong Taisu benar-benar berhati keras. Walau pun dia maklum bahwa lawannya ini lihai sekali dan sukarlah baginya untuk menang, akan tetapi kalau mundur, berati dia mengalah atau kalah.

“Tidak, Bin Kong Siansu. Aku harus menjatuhkan pengemis ini!” jawabnya dan sepasang goloknya langsung diputar semakin hebat dalam gerakan-gerakan terlihai dari ilmu golok Thian-san-pai.

“Ha-ha-ha, tua bangka pikun. Majulah kalian berdua, mari kita tua sama tua main-main sebentar!” Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.

Tiba-tiba tubuhnya lenyap dan berubah menjadi bayangan yang cepat sekali gerakannya menyambar-nyambar di antara sinar golok dan pedang! Baru kini kakek ini menunjukkan kelihaiannya.

Tidak saja dua orang pengeroyoknya yang sangat terkejut karena seakan-akan mereka berdua mengeroyok sesosok bayangan setan, akan tetapi juga Kwan Cu duduk dengan bengong karena matanya yang terlatih masih tidak mampu mengikuti gerakan suhu-nya yang demikian cepatnya! Sekarang dia betul-betul melihat suhu-nya dengan kepandaian yang sesungguhnya, yang membuat hatinya berdebar bangga dan kagum.

Tiba-tiba Kwan Cu merasa tubuhnya terikat oleh sesuatu yang kuat sekali dan sebelum dia sempat memberontak, tubuhnya sudah terlempar naik ke atas melalui genteng yang sudah dilobangi dan nyeplos terus ke atas genteng! Ketika dia membuka matanya yang terheran-heran, ternyata dia telah berdiri di depan Kiu-bwe Coa-li dan Bun Sui Ceng!

“Ehh..., apa artinya ini...?” tanyanya sambil memandang muka Sui Ceng yang manis dan kini bersinar seperti sepasang bintang pagi.

“Artinya, jika aku tak memerlukanmu, pada saat ini juga aku tentu sudah menghancurkan batok kepalamu yang gundul ini sebab ternyata kau adalah seorang penipu cilik, seorang pembohong pandai yang kurang ajar sekali!”

Kwan Cu memandang kepada nenek sakti itu dengan kedua matanya dibuka lebar-lebar. “Eh, ehh, ehhh…! Suthai, mengapakah datang-datang marah besar kepada teecu? Apa kesalahanku?”

“Kau tahu tempat kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang asli, mengapa dahulu tidak mau memberi tahu kepadaku?”

“Itulah rahasiaku sendiri, Suthai. Kenapa harus dibuka kepada orang lain? Dan aku yang menutup rahasiaku sendiri, Suthai anggap pembohong dan penipu? Dalam hal apakah teecu membohong dan perbuatan mana pula yang merupakan penipuan?”

Dilawan dengan amat tabah oleh bocah gundul ini, Kiu-bwe Coa-li tertegun dan tak dapat menjawab!

“Sudahlah tak perlu banyak cakap. Sekarang kau harus ikut pinni dan membawa pinni ke tempat disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kalau kau masih ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini. Kalau kau menolak, sekarang juga kuhancurkan batok kepalamu.”

“Teecu masih mau hidup karena di dalam hidup teecu masih ada dua hal yang harus teecu penuhi, yakni pertama mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng, dan kedua kalinya, membalaskan sakit Thio-toanio yang telah terbunuh orang!” Sambil berkata demikian, dia memandang kepada Sui Ceng.

Anak perempuan ini tiba-tiba mengucurkan air matanya dan membalas pandangan Kwan Cu dengan penuh arti. “Terima kasih, Kwan Cu, akan tetapi aku sendiri yang kelak akan menghancurkan kepala si keparat Toat-beng Hui-Houw!” kata Sui Ceng.

“Apa...?! Pembunuh ibumu Toat-beng Hui-houw?” muka Kwan Cu menjadi girang sekali. “Dan suhu di bawah dikeroyok orang karena disangka suhu yang membunuh ibumu!”

Mendengar ini, Kiu-bwe Coa-li langsung menotok pundak Kwan Cu yang segera menjadi lemas tak berdaya lagi!

“Sui Ceng, cepat bawa bocah gundul ini ke luar kota dan tunggulah aku di pingggir hutan sebelah utara. Biar aku lebih dahulu membereskan Ang-bin Sin-kai si manusia pelanggar sumpah!”

Sui Ceng mengangguk dan dia segera memondong Kwan Cu dan meloncat pergi! Biar pun seluruh tubuhnya lumpuh, namun panca indera Kwan Cu masih bekerja baik, maka kagumlah dia melihat kemajuan ilmu lari Sui Ceng yang walau pun menggendongnya, masih dapat berlari dengan ringan dan cepat sekali.

Ada pun Kiu-bwe Coa-li setelah melihat Sui Ceng membawa Kwan Cu pergi jauh, lalu menyambar turun ke dalam ruangan di mana Ang-bin Sin-kai masih dikeroyok dengan hebat oleh dua orang kakek tua Kim-san-pai dan Thian-san-pai.

Menghadapi ilmu pedang Kim-san-pai yang betul-betul ganas dan gerakannya amat kuat, Ang-bin Sin-kai menjadi kagum dan gembira. Tak mungkin lagi baginya untuk main-main seperti tadi ketika menghadapi Pouw Hong Taisu seorang, karena kini keroyokan kedua orang tokoh besar itu benar-benar tidak boleh dipandang ringan begitu saja.

Oleh karena itu, begitu tubuhnya berkelebatan untuk menghindari serangan lawan, ia pun mulai membalas dengan pukulan-pukulannya yang sangat lihai. Beberapa kali dia hampir saja berhasil memukul runtuh senjata lawan, akan tetapi kedua orang kakek yang cukup mengenal kelihaiannya, bertempur dengan hati-hati dan saling membantu.

“Tar! Tar! Tar!”

Pada saat itu tiba-tiba saja terdengar bunyi nyaring sekali dan tahu-tahu sembilan sinar menyambar ke arah medan pertempuran! Inilah pecut ekor sembilan dari Kiu-bwe Coa-li yang telah turun tangan. Bagai sembilan ekor ular sakti, bulu-bulu cambuk itu melayang-layang dan setiap helai merupakan senjata maut yang luar biasa lihainya.

Pada saat itu, karena kini Ang-bin Sin-kai membalas serangan kedua orang lawannya, Pouw Hong Taisu dan Bin Kong Siansu mencurahkan seluruh perhatian pada serangan Ang-bin Sin-kai dan tidak bisa menjaga datangnya ‘ular-ular hidup’ ini. Maka tanpa dapat dicegah pula, sepasang golok di tangan Pouw Hong Taisu serta pedang di tangan Bin Kong Siansu, gagangnya telah terkena libatan bulu-bulu cambuk dan ditarik oleh Kiu-bwe Coa-li sehingga senjata-senjata itu terlepas dari pegangan!

Ada pun Ang-bin Sin-kai, biar pun dia menghadapi keroyokan dua orang yang lihai, tetapi memang tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi, maka kedatangan Kiu-bwe Coa-li ini dia ketahui baik-baik. Apa lagi saat terdengar bunyi bergeletar tadi, tahulah dia bahwa senjata istimewa dari Kiu-bwe Coa-li telah beraksi. Ia tidak berani lengah dan ketika tiga helai bulu cambuk menyambar ke arahnya, dia segera menggulingkan tubuhnya sambil menghantamkan kedua tangannya ke arah tubuh Kiu-bwe Coa-li!

Ang-bin Sin-kai sengaja mengerahkan tenaga membalas dengan pukulan maut, karena tiga helai bulu cambuk tadi pun menyerangnya dengan maksud membunuh. Dia merasa heran dan juga marah mengapa datang-datang Kiu-bwe Coa-li hendak membunuhnya, sedangkan terhadap dua orang tokoh Kim-san-pai dan Thian-san-pai itu, iblis wanita ini hanya merampas senjata mereka saja.

Pukulan yang dilancarkan Ang-bin Sin-kai mengandung hawa yang dahsyat sekali dan biar pun jarak antara Ang-bin Sin-kai dan Kiu-bwe Coa-li ada tiga tombak, namun nenek sakti itu merasakan datangnya hawa pukulan yang menyambar ke arah lambung dan ulu hatinya! Terpaksa ia menarik cambuknya sambil melompat ke kanan menghindarkan diri dan dengan demikian, dia gagal menyerang Ang-bin Sin-kai, namun berhasil merampas senjata-senjata Pouw Hong Taisu dan Bin Kong Siansu!

Ketua Kim-pan-sai dan ketua Thian-san-pai menjadi marah sekali. Akan tetapi mereka juga amat terkejut menyaksikan kelihaian nenek sakti yang dikenal baik namanya namun belum pernah disaksikan kepandaiannya itu.

“Suthai, apakah maksud kedatanganmu ini dan mengapa kau mencampuri urusan kami?” kata Pouw Hong Taisu dengan mata bernyala merah.

Kiu-bwe Coa-li menjebikan bibirnya dengan mengejek, “Hemm, tua bangka tak tahu diri! Kalau aku tidak datang turun tangan, apakah kau kira akan dapat mengalahkan Ang-bin Sin-kai? Ada dua hal yang mengharuskan aku turun tangan. Pertama, karena kalian telah menyerang orang yang tidak berdosa, ke dua, karena aku sendiri yang akan memberi hajaran pada Ang-bin Sin-kai, si manusia pelanggar sumpah!”

“Kiu-bwe Coa-li!” Pouw Hong Taisu membentak marah, “Kau tidak tahu, pengemis jahat ini telah membunuh murid-murid kami!”

“Bodoh, kalian tua bangka-tua bangka bodoh! Pembunuh Pek-cilan Thio Loan Eng dan Ong Kiat bukanlah Ang-bin Sin-kai, melainkan Toat-beng Hui-houw dan hal ini pinni (aku) telah menyaksikan sendiri!”

Mendengar kata-kata ini, tentu saja dua orang tokoh persilatan itu kaget sekali dan muka mereka menjadi pucat. Mereka telah melakukan kesalahan luar biasa besarnya terhadap Ang-bin Sin-kai dan hal itu bukan urusan yang kecil saja. Akan tetapi pada saat mereka menengok kepada Ang-bin Sin-kai, orang tua ini hanya tersenyum-senyum saja.

“Nah, terimalah senjata-senjatamu kembali, kalau kalian tidak bisa menerima dan binasa karenanya, jangan salahkan aku, anggap saja sebagai hukumanmu!” kata Kiu-bwe Coa-li dan begitu ia menggerakkan cambuknya, sepasang golok itu terlepas dan meluncur ke arah Pouw Hong Taisu sedangkan pedang itu meluncur ke arah Bin Kong Siansu!

Luncuran ini hebat sekali, cepatnya melebihi anak panah ada pun tenaganya melebihi tusukan seorang ahli silat! Kedua ketua Kim-san-pai dan Thian-san-pai itu terkejut sekali.

Dengan gerakan Monyet Sakti Memetik Bunga, Bin Kong Siansu dapat mengelak ke kiri dan tangannya menyambut pedangnya sendiri pada gagangnya. Dia berhasil menerima pedangnya itu akan tetapi dia merasa telapak tangannya pedas sekali.

Yang lebih hebat adalah Pouw Hong Taisu karena tosu ini menghadapi serangan dari sepasang goloknya yang meluncur ke arah tenggorokan, akan tetapi tangan kirinya agak terlambat menyambar yang meluncur ke lambung. Terpaksa dia melemparkan tubuh ke kiri sehingga golok itu meluncur terus mengancam seorang tamu muda yang duduk di belakangnya!

Keadaan amat berbahaya bagi tamu muda itu, akan tetapi tiba-tiba tubuh Ang-bin Sin-kai berkelebat dan sekali tendang saja, golok itu terlempar ke atas dan menancap pada tiang melintang di atas hingga separuhnya. Gagang golok itu bergoyang-goyang, tanda bahwa luncuran tadi amat kuatnya!

Pouw Hong Taisu menjadi pucat, demikian pula semua tamu. Ternyata bahwa gedung Bun-bu-pang telah kedatangan dua orang tamu yang mempunyai kepandaian luar biasa sekali.

Walau pun mereka sudah mendengar dan mengenal Ang-bin Sin-kai dan Kiu-bwe Coa-li sebagai tokoh-tokoh besar yang tiada taranya, akan tetapi baru hari ini mereka kebetulan bisa menyaksikan kepandaian mereka yang betul-betul hebat. Keringat dingin mengucur pada jidat mereka, terutama sekali Bin Kong Siansu dan Pouw Hong Taisu yang sudah merasa bersalah terhadap Ang-bin Sin-kai yang mereka tuduh secara keji sekali.

Kini Kiu-bwe Coa-li menghadapi Ang-bin Sin-kai. Sepasang matanya menyatakan bahwa nenek sakti ini sedang marah bukan main.

“Ang-bin Sin-kai, pengemis hina dina. Kau benar-benar berjiwa pengemis rendah dan tidak merasa jijik untuk menelan ludah sendiri yang sudah kau keluarkan di atas lumpur busuk! Orang lain boleh kau bodohi begitu saja, akan tetapi pinni tidak sudi kau tipu!” sambil berkata demikian Kiu-bwe Coa-li menggerakkan cambuknya dan sembilan helai bulu cambuk itu mengancam sembilan jalan darah di tubuh Ang-bin Sin-kai!

Ang-bin Sin-kai kaget sekali menghadapi serangan yang hebat ini. Ia sebenarnya terkejut bukan karena jeri melainkan heran kenapa iblis wanita ini betul-betul menyerang dengan niat membunuh. Kesalahan apakah yang sudah diperbuatnya? Agaknya hari ini dia sial benar-benar, semua orang menuduhnya yang bukan-bukan dan menghendaki jiwanya!

Menghadapi Kiu-bwe Coa-li jauh sekali bedanya dengan menghadapi keroyokan Pouw Hong Taisu dan Bin Kong Siansu, karena dia maklum bahwa nenek ini benar-benar lihai dan sangat berbahaya. Cepat Ang-bin Sin-kai menggunakan ginkang-nya untuk mencelat mundur sehingga bulu-bulu cambuk yang panjang itu tidak sampai mengenai tubuhnya.

Ia mengangkat kedua tangan sambil berkata keras, “Eh, ehh, ehhh, nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li! Kau agaknya tidak lebih waras dari dua orang yang menyerang aku tadi. Katakan lebih dulu kenapa kau menganggap aku si tua bangka ini sebagai si pelanggar sumpah?”

“Bagus, jembel siluman masih hendak berputar lidah! Mengakulah bahwa kau dahulu pernah bersumpah tidak akan mempergunakan Lu Kwan Cu untuk mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Betul tidak?”

“Betul,” jawab Ang-bin Sin-kai dengan suara tenang.

Kiu-bwe Coa-li tersenyum mengejek. “Dan bila mana kau melanggar sumpahmu itu, kau bersumpah akan mampus seperti anjing, betulkah?”

“Memang begitulah kira-kira bunyi sumpahku.”

Mata kiu-bwe Coa-li mendelik. “Jahanam! Dan sekarang kau ternyata bersama Kwan Cu mencari kitab peninggalan Gui Tin untuk mencari tahu di mana disimpan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Karena itu, kau harus mampus seperti anjing di bawah cambukku.”

Terbelalak mata Ang-bin Sin-kai memandang nenek sakti itu. “Eh, ehh, ehhh, nanti dulu. Dari manakah kau bisa mengetahui semua ini?”

“Semua orang sudah tahu. Empat tokoh besar di seluruh penjuru sudah tahu, mengapa aku tidak?”

“Kiu-bwe Coa-li, siluman perempuan yang galak. Memang betul Kwan Cu mencari kitab peninggalan itu atas pesanan mendiang Gui-siucai, apakah hubungannya dengan aku? Ingat, sumpahku adalah apa bila aku mempergunakan dia mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kini soalnya lain lagi, bukan aku yang mencari, melainkan anak itu. Dia berhak mendapatkannya, karena bukankah dia hanya memenuhi pesanan terakhir dari gurunya yakni Gui-suicai?”

“Bohong! Kau sengaja memutar balikkan kenyataan untuk menutupi kesalahanmu. Apa kau takut mampus?”

Ang-bin Sin-kai mulai marah. “Kiu-bwe Coa-li, alangkah sombongmu. Kau kira aku takut kepadamu? Kau boleh menuduh apa pun juga, aku tidak takut dan kau mau apa?”

“Bangsat tua, mampuslah!” Kiu-bwe Coa-li menggerakkan cambuknya.

“Tar! Tar! Tar!”

Cambuknya berbunyi keras sekali sehingga semua orang yang berkumpul di situ menjadi jeri dan tak terasa pula segera mindur mepet ke tembok, takut kalau-kalau terkena ujung cambuk yang lihai itu.

Kiu-bwe Coa-li mengamuk seperti iblis. Ujung cambuknya kalau mengenai bangku, maka pecahlah bangku itu seperti dibacok kapak tajam. Sengaja dia menggunakan cambuknya menangkap meja dan bangku, lalu dilontarkannya meja bangku itu ke pinggir sehingga sibuklah orang-orang yang berada di situ untuk mengelak dari hujan bangku yang tadi mereka duduki.

Yang celaka adalah kaum sastrawan, karena berbeda dengan kaum persilatan yang bisa menangkis atau mengelak, mereka ini tertimpa meja serta bangku sehingga menderita benjol!

Ruangan yang luas itu kini bersih dari meja dan bangku, dan tanpa membuang waktu lagi, Kiu-bwe Coa-li serentak menyerang dengan cambuknya. Ang-bin Sin-kai yang tahu kelihaian lawan tidak mau berlaku sembrono menghadapinya dengan tangan kosong.

Memang biasanya kakek ini tidak pernah mempergunakan senjata dalam pertempuran menghadapi siapa pun juga. Akan tetapi karena dia tahu bahwa cambuk dari Kiu-bwe Coa-li amat berbahaya, sekarang dia mencabut suling pemberian dari Hang-houw-siauw Yok-ong untuk menangkis.

Pertempuran antara kedua orang tokoh besar ini berlangsung amat hebatnya. Biar pun orang-orang yang berkumpul di situ telah berdiri mepet pada tembok, namun sambaran angin yang keluar dari cambuk dan kedua tangan Ang-bin Sin-kai masih terasakan oleh mereka yang membuat rambut dan pakaian mereka berkibar dan kulit terasa dingin!

Suara yang mengiringi pertempuran ini pun terdengar amat mengerikan. Tidak saja suara bersiutnya bulu-bulu cambuk yang sembilan helai banyaknya itu diselingi dengan suara menjetar yang menulikan telinga, juga suara dari suling yang dimainkan oleh Ang-bin Sin-kai menimbulkan suara angin yang mengerikan. Karena suling ini digerakkan secara cepat sekali, angin yang memasuki lubang-lubang suling menimbulkan suara bagaikan seekor binatang buas menangis.

Semua orang bergidik mendengar suara-suara ini dan kaburlah pandangan mata mereka melihat betapa bayangan dua orang tokoh besar itu lenyap sama sekali. Di ruangan itu kini hanya terlihat gulungan sinar yang tak tentu ujudnya, yang bergerak-gerak ke sana ke mari sehingga sukar untuk diduga siapa yang menang siapa yang kalah.

Melihat cara Kiu-bwe Coa-li mainkan cambuknya, Ang-bin Sin-kai merasa terkejut bukan main. Pernah dia menyaksikan permainan cambuk lawannya ini, yaitu dulu ketika mereka berebutan kitab palsu Im-yang Bu-tek Cin-keng dan biar pun dia sendiri belum pernah menghadapi Kiu-bwe Coa-li, namun dia sudah dapat mengukur kelihaian lawan ini. Akan tetapi sekarang permainan cambuk itu sudah maju dengan pesat sekali. Berat dan aneh.

Tiba-tiba dia teringat akan tenaga lweekang yang pernah didapat bocah gundul itu dalam mempelajari lweekang dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu. Maka mengertilah dia bahwa entah dengan cara bagaimana, iblis wanita ini sudah pula mempelajari ilmu lweekang dari kitab palsu itu!

Menduga tentang ini, otomatis Ang-bin Sin-kai menoleh ke arah tumpukan meja di mana tadi dia melemparkan Kwan Cu supaya terhindar dari pada gangguan lawan. Alangkah kagetnya ketika dia tidak melihat muridnya berada di situ. Ia sudah tahu akan ketaatan muridnya ini dan tak mungkin Kwan Cu berani pergi dari situ tanpa perkenannya. Tentu telah terjadi sesuatu dengan anak itu.

Pikiran ini membuat Ang-bin Sin-kai marah sekali dan tiba-tiba dia berseru keras sekali. Begitu kedua tangannya bergerak dia telah dapat memegang tiga helai bulu pecut dan direnggutnya sekuat tenaga!

Kiu-bwe Coa-li sangat terkejut dan cepat dia mempergunakan bulu pecut yang lain untuk dipukulkan ke arah kepala Ang-bin Sin-kai. Dia maklum bahwa untuk lain orang, sekali pukulan dengan ujung sehelai bulu pecut saja sudah cukup untuk merobohkan lawan. Akan tetapi menghadapi Ang-bin Sin-kai, belum tentu dia mampu merobohkan kakek ini dengan semua bulu pecutnya dirangkap menjadi satu kalau tidak mengenai bagian yang penting seperti ubun-ubun kepala!

Ang-bin Sin-kai marah sekali dan begitu dia menarik, tiga helai bulu pecut itu copot! Akan tetapi serangan enam helai bulu pecut sudah menyambar ubun-ubun kepalanya, maka cepat-cepat dia mengelak sambil miringkan tubuhnya. Betapa pun cepat gerakannya, dia terlambat dan beberapa helai bulu pecut masih mengenai pundaknya yang menimbulkan rasa sakit dan ngilu.

Dia mengerahkan tenaga lweekang untuk melawan pecutan ini dan tubuhnya mendadak menubruk maju dengan kedua tangan dipentang. Ternyata dalam kemarahannya Ang-bin Sin-kai sudah mengeluarkan tipu serangan yang sangat berbahaya, yakni pukulan yang disebut Pukulan Ombak Mengamuk! Kakek muka merah ini telah dapat menangkap dan meniru inti pukulan serangan ombak terhadap batu karang pada waktu dia masih suka bermain-main dengan ombak di pinggir Laut Po-hai!


Kiu-bwe Coa-li berseru kaget ketika hawa pukulan lawan membuat semua bulu pecutnya terpental kembali dan membuat tubuhnya terhuyung ke belakang! Ia kembali berseru dan tiba-tiba tubuhnya melayang naik untuk menghindari serangan lawan.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Ang-bin Sin-kai untuk melompat naik dan nyeplos dari genteng yang sudah berlubang, di atas meja di mana tadi Kwan Cu berada. Ia maklum bahwa muridnya keluar dari tempat ini.

“Kwan Cu...!” Ia berteriak di atas genteng sambil memandang ke kanan dan kiri. Namun keadaan di situ sunyi saja, tak nampak bayangan seorang pun manusia.

“Kwan Cu...! Hai... Kwan Cu bocah gundul, kau di mana?!” kembali kakek ini berseru memanggil sambil mengerahkan tenaga khikang-nya sehingga seruan ini tentu akan bisa terdengar oleh Kwan Cu seandainya anak itu berada dalam jarak beberapa lie saja dari tempat itu.

Dan memang betul, Kwan Cu dapat mendengar suara gurunya yang memanggil ini, akan tetapi dia tidak berdaya karena dia telah lumpuh dan pada saat itu dia rebah di bawah pohon ditunggu oleh Bun Sui Ceng yang mendongeng kepadanya tentang Pek-cilan Thio Loan Eng yang terbunuh oleh Toat-beng Hui-houw!

“Jangan kau khawatir, Kwan Cu. Biar pun kelihatan galak, guruku berhati mulia dan kau pasti tak akan diganggunya, asal saja kau mau memberi petunjuk kepadanya bagaimana untuk mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng,” kata Sui Ceng kepada bocah gundul itu.

Ada pun Ang-bin Sin-kai, setelah memanggil beberapa kali dan tidak mendapat jawaban, menjadi semakin gelisah dan bingung. Ia berpikir sejenak dan timbul dugaannya bahwa Kwan Cu tentu telah diculik oleh Kiu-bwe Coa-li pada saat dia masih dikeroyok oleh dua Pouw Hong Taisu dan Bin Kong Siansu! Akan tetapi, siapa tahu kalau-kalau anak itu bersembunyi di dalam rumah?

Ia lalu melompat kembali turun ke tengah ruangan itu dan dia tidak melihat lagi bayangan Kiu-bwe Coa-li. Orang-orang yang berada di situ tadi melihat Ang-bin Sin-kai melayang naik melalui atap yang bolong, dan Kiu-bwe Coa-li setelah mengeluarkan suara tertawa yang nyaring dan mendirikan bulu tengkuk, lalu berkelebat pergi dari pintu. Semua orang menahan napas. Dan sekarang melihat Ang-bin Sin-kai melayang turun kembali, mereka memandang penuh perhatian.

“Di mana adanya muridku?” tanya Ang-bin Sin-kai kepada mereka.

Tak seorang pun menjawab.

“Hai...! Tulikah kalian semua? Di mana adanya Kwan Cu muridku yang tadi duduk di atas tumpukan meja itu?”

Bin Kong Siansu dan Pouw Hong Taisu melangkah maju. Dua orang kakek ini segera merangkap dua tangan dan memberi hormat dengan muka nampak malu dan menyesal.

“Muridmu sudah diambil oleh Kiu-bwe Coa-li ketika kau tadi bertempur melawan kami,” kata Pouw Hong Taisu dengan suara menyesal. “Semua adalah kesalahan kami, Ang-bin Sin-kai dan kami mohon maaf sebanyaknya. Benar-benar tadi kami semua berlaku amat buruk terhadapmu. Maaf, maaf...,” kata Bin Kong Siansu dengan hati tidak enak sekali.

“Marah, menyesal! Ahh, orang-orang seperti kalian masih bisa diombang-ambingkan oleh perasaan dan nafsu, sungguh lucu dan menggelikan sekali!” kata Ang-bin Sinkai gemas. “Ehh, orang she Kwa, apakah kau pun tidak malu menjadi ketua Bun-bu-pang?” Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai lalu melompat pergi meninggalkan rumah perkumpulan Bun-bu-pang itu. Semua orang saling pandang dan menghela napas.

“Biarlah hal ini merupakan pelajaran bagi kita sekalian,” kata Kwa Ok Sin sambil menarik napas panjang. “Lain kali kita harus berlaku hati-hati sekali dalam memutuskan sesuatu urusan, harus melakukan penyelidikan sedalam-dalamnya dan tidak percaya begitu saja kata-kata orang lain.”

Pouw Hong Taisu dan Bin Kong Siansu menjadi merah mukanya. Diam-diam mereka mengutuk Hek-i Hui-mo, karena sebenarnya Hek-i Hui-mo yang membakar hati mereka dan Hek-i Hui-mo yang memberi tahu mereka bahwa Ang-bin Sin-kai yang membunuh murid-murid mereka.

“Kiu-bwe Coa-li, hati-hati kau! Apa bila sampai kau ganggu muridku, aku Ang-bin Sin-kai belum mau mati sebelum mencabuti sembilan ekormu,” sepanjang jalan Ang-bin Sin-kai berkata begini meski pun hatinya tak begitu mengkhawatirkan akan keadaan muridnya.

Ia tahu bahwa Kiu-bwe Coa-li menculik Kwan Cu ada maksudnya, yakni hendak mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi oleh karena kitab sejarah peninggalan Gui Tin yang dapat memberi petunjuk di mana adanya kitab sakti itu telah dicuri orang, tentu Kwan Cu akan berkata terus terang dan Kiu-bwe Coa-li tentu akan berusaha merampas kembali kitab sejarah yang tercuri.

“Betulkah Jeng-kin-jiu yang telah mencurinya? Tak salah lagi, karena Kwan Cu menduga Jeng-kin-jiu, tentu Kiu-bwe Coa-li akan menyusul pendeta gundul gendut itu ke kota raja. Hemm, tiada jalan lain, aku pun harus menyusul ke sana. Betapa pun juga, kitab sejarah itu tidak boleh terjatuh ke dalam tangan orang lain, harus menjadi milik Kwan Cu yang memang berhak.”

Setelah mengambil keputusan begini, Ang-bin Sin-kai lalu berlari cepat menuju ke kota raja…..

********************

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Sakti Jilid 11-15"

Post a Comment

close