Pendekar Remaja Jilid 26-30

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------

Pendekar Remaja Jilid 26-30

“Tidak usah kau kuatir,” Kaisar menghibur selirnya, “walau pun pemberontak, dia adalah pemberontak yang baik! Lucu, bukan? Dia melarangku keluar dan melarang orang-orang masuk ke dalam kamar sebab dia tidak mau pengobatan puteramu terganggu! Ia mengira bahwa ketiga orang tabib kita adalah orang yang berhati khianat. Lucu, bukan?”

Bukan main terkejutnya hati Song Tian Ci mendengar ini. Sampai berapa jauhnya orang muda itu mengetahui rahasia komplotannya? Akan tetapi dia pun menjadi lega hati ketika Kaisar tidak menyatakan sesuatu tentang dia dan Bu Kwan Ji.

“Siapa dapat percaya tuduhan jahat itu? Paduka, harap waspada dan berhati-hati, siapa tahu kalau kedua orang ini benar-benar mempunyai niat buruk!”

Akan tetapi Kaisar hanya tertawa saja dan mengajak selirnya duduk di ujung yang jauh dari tempat tidur pangeran di mana mereka lalu bercakap-cakap dengan mesra.

Sementara itu, ketika Bu Kwan Ji melihat Hong Beng berada di kamar itu dengan tongkat di tangan, ia lalu keluar dan cepat mengajak kawan-kawannya berunding.

“Celaka,” kata Bu Kwan Ji sesudah mengajak kawan-kawannya pergi dari situ, “pemuda putera Pendekar Bodoh itu bersama kawan wanitanya telah berada di kamar Pangeran. Tidak tahunya merekalah yang melakukan semua larangan dan agaknya mereka hendak mengobati Pangeran disaksikan sendiri oleh Kaisar!”

Ketiga orang tabib itu menjadi pucat mendengar ini. “Tentu Kaisar telah diberi tahu oleh mereka tentang penukaran buah itu!” kata Ang Lok Cu.

“Habis, apa yang dapat kita lakukan?” kata Bu Kwan Ji bingung. “Kaisar sendiri berada di dalam kamar itu dan agaknya membantu mereka. Celaka!” Akan tetapi diam-diam dia menaruh pengharapan besar kepada kekasihnya, yakni Song Tian Ci yang sudah masuk ke dalam kamar Putera Mahkota.

“Kita masuk saja dengan berkeras kemudian mengeroyok kedua orang muda itu! Apa sih sukarnya?” kata Ban Sai Cinjin sambil mengebulkan asap huncwe-nya.

“Akan tetapi, hal ini akan membikin marah Kaisar dan celakalah kita kalau Kaisar sudah bercuriga kepada kita!” bantah Bu Kwan Ji yang menjadi gelisah sekali.

Akan tetapi dalam hal siasat kejahatan, Bu Kwan Ji kalah jauh oleh Ban Sai Cinjin, kalah cerdik dan kalah pengalaman. Sambil tertawa haha-hehe, Ban Sai Cinjin berkata,

“Bu-ciangkun, kenapa begitu bodoh? Kau adalah seorang panglima besar yang dipercaya penuh oleh Kaisar. Bukan rahasia lagi bahwa kau sedang mengejar-ngejar pemberontak, yakni putera-putera Pendekar Bodoh. Dan sekarang kau mengetahui bahwa kedua orang pemberontak yang kau kejar-kejar itu berada di dalam kamar Pangeran Mahkota. Kalau tiba-tiba kau masuk menyerbu dengan para perwira untuk menangkap atau membunuh pemberontak-pemberontak yang berbahaya, meski Kaisar akan menjadi marah, mudah saja bagimu mencari alasan yang kuat. Kau dapat mengatakan bahwa kau menguatirkan keadaan Kaisar dan hendak melenyapkan orang-orang jahat yang dapat mencuri masuk ke dalam istana. Apa salahnya?”

Tiga orang tabib itu segera menyatakan persetujuannya dan Bu Kwan Ji berpikir keras. Ada benarnya juga ucapan kakek mewah ini. Memang dia dapat melakukan hal itu, dan seandainya dia dapat menangkap atau membunuh kedua orang muda tadi, dan apa bila Kaisar marah, mudah saja baginya untuk minta maaf, apa lagi masih ada Song Tian Ci yang akan membelanya dan yang akan membujuk Kaisar!

Sore hari itu Pangeran Mahkota sudah nampak sehat setelah dua kali dia makan buah Giok-ko. Menurut perhitungan, sekali lagi atau sehari lagi maka akan tertolonglah nyawa Pangeran Mahkota ini. Diam-diam Goat Lan dan Hong Beng merasa girang sekali dan Goat Lan berkata kepada Kaisar,

“Oleh karena Paduka telah menyaksikan sendiri bahwa hamba dan kawan hamba bukan orang-orang jahat atau pemberontak-pemberontak sebagaimana orang sudah menuduh hamba, maka sudah jelas bahwa Pangeran Ong Tiang Houw sekeluarga tidak berdosa apa-apa. Karena itu hamba mohon sudilah kiranya Paduka menaruh hati kasihan kepada keluarga Pangeran Ong dan membebaskan mereka.”

Kaisar mengangguk-angguk. “Mudah saja, Nona. Biarlah kita melihat dan menanti satu hari lagi sampai puteraku betul-betul sembuh.”

Sementara itu, dengan bisikan-bisikan mesra dan bujukan-bujukan halus, Song Tian Ci berusaha membangkitkan kecurigaan Kaisar terhadap dua orang muda itu. “Betapa pun juga, hamba masih curiga besar,” katanya, “maka harus hamba sendiri yang minumkan obat kepada puteranda!”

Pada saat itu obat daun yang dimasak oleh Goat Lan telah matang dan telah didinginkan. Goat Lan sudah bersiap hendak memberi minum kepada Pangeran ketika tiba-tiba selir cantik itu meminta obat di tangannya. Akan tetapi, gadis yang memiliki kepandaian tinggi ini berkeras menolaknya.

“Aku harus memeriksa dulu isi cawan itu!” kata selir itu dengan bengis. “Siapa tahu kalau kau memberinya minum racun seperti kemarin dulu?”

Goat Lan tak menduga bahwa selir ini adalah pemegang kendali komplotan yang hendak membunuh Putera Mahkota, maka dengan halus ia berkata,

“Maaf, tidak boleh orang lain yang meminumkannya, kecuali aku sendiri!”

Selir itu hendak marah dan hendak merampas cawan, akan tetapi mana mungkin ia bisa mendekati Goat Lan? Pada waktu selir itu masih mengejar-ngejar sambil memaki-maki, Kaisar datang membujuknya.

“Biarlah, biarkan Nona itu meminumkannya sendiri. Apa bila kelak ternyata bahwa putera kita sembuh, masih banyak waktu untuk mengadilinya!”

Malam hari itu, di atas genteng kamar itu terdapat empat orang yang mengintai ke dalam. Hanya Hong Beng dan Goat Lan saja yang dapat mengetahui hal ini, bahkan mereka berdua tahu betul bahwa yang datang adalah empat orang yang berkepandaian tinggi.

Memang yang berada di atas itu adalah Ban Sai Cinjin dan ketiga orang tabib istana. Bu Kwan Ji tidak berani muncul, karena tentu saja ia tidak mau secara berterang melakukan percobaan ini. Ia hanya memberi tugas kepada empat orang kawannya ini untuk terlebih dahulu secara rahasia mencoba untuk membunuh kedua orang muda itu atau kalau tidak mungkin boleh juga membunuh Pangeran Mahkota!

Goat Lan dan Hong Beng tahu betul bahwa mereka tak usah menguatirkan keselamatan Kaisar dan selirnya. Siapa berani mengganggu Kaisar? Akan tetapi, keselamatan Putera Mahkota harus dijaga baik-baik.

Pada malam hari itu, Goat Lan tengah memasak daun obat berikutnya untuk diminumkan keesokan harinya. Akan tetapi malam hari itu, begitu mendengar suara kaki orang di atas genteng, dia lalu meninggalkan masakan obat dan mendekati Pangeran Mahkota yang sudah tertidur. Ia memberi isyarat dengan mata kepada Hong Beng yang membalasnya, dan pemuda ini pun siap sedia di dekat pintu dengan penuh kewaspadaan.

Sesaat suasana sunyi saja. Tiba-tiba terdengar angin mendesir dan tiga sinar kecil sekali menyambar ke bawah, ke arah Putera Mahkota, Goat Lan serta Hong Beng! Goat Lan menyambar ujung selimut di atas pembaringan itu dan sekali dia mengebut, dua batang jarum yang mengarah dia dan Pangeran sudah menancap pada selimut itu! Juga Hong Beng dengan mudah saja mengelak sehingga nampak sebatang jarum hitam menancap pada lantai di dekatnya!

Kaisar belum tidur dan Kaisar ini di waktu mudanya pernah mempelajari ilmu silat, maka dia dapat melihat juga sinar tiga batang jarum tadi.

“Apakah itu?” tanyanya.

Goat Lan dan Hong Beng lalu memperlihatkan tiga batang jarum itu kepada Kaisar dan meletakkan senjata-senjata rahasia itu ke atas meja sambil berkata,

“Ada orang jahat sengaja menyerang hamba berdua dan Pangeran!”

Kaisar terkejut sekali, akan tetapi pada saat itu dari atas menyambar turun asap hitam yang bergulung-gulung.

“Cepat, Koko. Telan obat ini!” Gadis itu mengeluarkan sebutir pil merah kepada Hong Beng yang segera menelannya.

Hawa harum dan hangat keluar dari dalam perutnya, memenuhi mulut dan hidung. Goat Lan sendiri menelan sebutir pil merah dan berkata kepada Kaisar,

“Harap paduka menyelamatkan diri di ujung kamar, akan tetapi sebaiknya semua orang berbaring di atas lantai agar jangan terserang oleh asap beracun itu!”

Dengan cekatan sekali Goat Lan lalu memondong Pangeran yang masih tidur, kemudian menidurkannya di sudut kamar, di atas lantai yang sudah ditilami dengan selimut tebal. Bingunglah semua pelayan dan mereka dengan wajah pucat lalu menurut nasehat Goat Lan, berbaring di atas lantai.

Sementara itu, asap makin banyak masuk. Memang ini adalah perbuatan Ban Sai Cinjin yang mengeluarkan asap pemabok. Dia tidak ingin membunuh Kaisar, maka asap yang dilepaskan dari huncwe-nya hanyalah asap yang cukup kuat untuk memabukkan orang.

Dalam suasana tegang dan sibuk ini, selir Kaisar tiba-tiba melompat dan berlari menuju ke tempat pemasakan obat.

“Aku masih tidak percaya kepadamu! Mungkin semua ini adalah buatanmu sendiri untuk meracuni kami!”

Selir ini lantas berpura-pura lari menghampiri Goat Lan, akan tetapi dengan cerdik sekali kakinya menendang tempat obat sehingga tumpahlah seluruh obat ini. Goat Lan hendak menghalangi, akan tetapi terlambat. Dengan gemas Goat Lan lalu membentak,

“Mundurlah! Hanya kepada Kaisar dan Pangeran saja aku tunduk, tetapi tidak kepadamu! Kalau kau tidak mundur, terpaksa akan kupukul!”

Akan tetapi sebelum ia menggerakkan tangan, selir itu telah menghisap asap hitam dan sambil mengeluh dia segera terhuyung-huyung. Untung Goat Lan cepat menangkapnya, kemudian mengangkat dan membawanya kepada Kaisar. Gadis itu membiarkan selir tadi berbaring di situ dan dia cepat kembali ke tempat Hong Beng berdiri.

“Ban Sai Cinjin, manusia pengecut! Jika kau berani, turunlah! Jangan menggunakan akal busuk!”

Terdengar Ban Sai Cinjin tertawa bergelak, lalu disusul dengan suara Ang Lok Cu, tosu yang melepas jarum-jarum berbisa tadi.

“Jangan gelisah, Hong-siang! Hamba sekalian datang untuk membebaskan Paduka dan menangkap pemberontak berbahaya ini!”

Genteng dibuka dari atas dan agaknya orang-orang di atas genteng itu akan menyerbu ke dalam, akan tetapi terdengar Kaisar berseru keras,

“Ang Lok Cu Totiang! Apakah kau dan yang lain-lainnya sudah gila? Hayo cepat mundur sebelum aku menjatuhkan hukuman mati kepada kalian!”

Suara Kaisar sangat berpengaruh sehingga terdengar oleh para bayangkari di luar pintu, yang tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar, akan tetapi mereka tetap saja tidak berani masuk.

Mendengar bentakan Kaisar ini, Ang Lok Cu dan kawan-kawannya menjadi jeri juga dan mereka mengajak Ban Sai Cinjin pergi dari situ. Ban Sai Cinjin merasa kecewa dan tidak puas, akan tetapi tanpa bantuan kawan-kawan ini, apa dayanya terhadap Goat Lan dan Hong Beng yang sudah dikenal kelihaiannya itu? Mereka pun segera pergi dari tempat itu dan asap hitam yang ringan itu perlahan-lahan naik ke atas genteng sehingga kamar itu menjadi bersih kembali.

Selir yang tadinya pingsan kini sudah siuman kembali, dan menangis terisak-isak karena mendapat marah dari Kaisar yang masih belum sadar bahwa selirnya inilah sebenarnya kepala komplotan jahat itu! Selama itu sampai pagi tidak terjadi sesuatu lagi.

Baiknya Goat Lan masih mempunyai banyak daun obat sehingga ia dapat memasak obat lagi. Begitu terang tanah dan Pangeran sudah bangun, gadis ini kemudian memberi buah Giok-ko ke tiga. Semenjak makan obat Giok-ko dan daun To-hio, keadaan Pangeran itu sudah baik sekali. Kalau biasanya ia selalu mengeluarkan kotoran darah, kini darah telah berhenti dan sakit pada perutnya sudah lenyap sama sekali.

Giranglah hati Kaisar dan dia hendak menyuruh membuka pintu. Akan tetapi Goat Lan mencegahnya dan menyatakan bahwa masih sekali lagi Pangeran harus minum air daun obat siang nanti.

Akan tetapi tiba-tiba di luar terdengar suara gaduh dan disusul dengan teriakan-teriakan keras.

“Buka pintu! Tangkap pemberontak! Tolong dan bebaskan Kaisar!”

Suara gaduh itu adalah suara senjata yang beradu karena ternyata bahwa Bu Kwan Ji bersama beberapa orang perwira serta tiga orang tabib itu sudah datang menyerbu dan memaksa membuka pintu. Ketika bayangkari melawan, mereka ini langsung diserang!

Pintu terbuka dan lima orang bayangkari cepat menghampiri Kaisar untuk melindunginya, sedangkan yang lain masih menahan majunya para penyerbu itu!

“Cepat lindungi Kaisar dan Pangeran!” seru Goat Lan kepada lima orang bayangkari itu, kemudian dia dan Hong Beng lalu menyerbu keluar.

“Tangkap pemberontak!” seru Bu Kwan Ji ketika melihat kedua orang muda itu.

“Kaulah pemberontak dan pengkhianat!” seru Goat Lan.

Sedangkan Hong Beng tidak mau banyak cakap lagi, langsung menyerang dengan amat hebatnya. Dua orang perwira kena dirobohkan oleh tendangannya dan kini dia menyerbu tiga orang tabib istana itu dengan tongkatnya!

Ada pun Goat Lan segera dikeroyok oleh Bu Kwan Ji, Ban Sai Cinjin dan beberapa orang perwira ikut pula menyerbu, tiga orang mengeroyok Goat Lan sedangkan tiga orang lagi mengeroyok Hong Beng. Enam orang perwira ini adalah kawan-kawan atau kaki tangan Bu Kwan Ji, demikian pula dua orang yang sudah roboh oleh tendangan Hong Beng.

Pertempuran hebat terjadi di luar kamar pangeran, tempat yang cukup luas itu. Kaisar menjadi marah sekali.

“Lekas panggil datang semua perwira dan pengawal istana!” perintahnya kepada salah seorang bayangkari, dan Kaisar lalu mengambil sendiri obat di atas tungku, lalu memberi minum secawan obat kepada puteranya. Obat terakhir dan selamatlah nyawa Pangeran Mahkota!

Amukan Hong Beng dan Goat Lan hebat sekali. Dengan sepasang bambu runcingnya, Goat Lan dapat menahan serbuan para pengeroyoknya, bahkan dengan kecepatan kilat dia berhasil menotok lambung Bu Kwan Ji yang roboh terguling dalam keadaan pingsan dan merobohkan pula dua orang perwira!

Ada pun Hong Beng juga sudah berhasil melukai pundak Ang Lok Cu dan bahkan telah menewaskan Cu Siang Hwesio! Akan tetapi mereka tetap saja masih dikurung, terutama sekali Ban Sai Cinjin merupakan lawan yang tangguh bukan main, yang berusaha sekuat tenaga untuk merobohkan Goat Lan!

Pada saat itu pula, datanglah seorang panglima yang gagah sekali, diiringi oleh beberapa orang pengawal yang nampaknya gagah dan kuat. Panglima muda ini bukan lain adalah Kam Liong yang gagah perkasa!

Sejenak pemuda ini menjadi bingung melihat betapa ada dua orang muda yang elok sedang mengamuk laksana sepasang naga dan banyak perwira pengawal telah rebah di sana-sini. Tentu saja tidak sukar baginya untuk memilih kawan, dan serta merta dia dan kawan-kawan lainnya lalu mengeroyok Hong Beng dan Goat Lan.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan Kaisar, “Kam-ciangkun! Jangan serang mereka! Bantulah mereka menangkap para pengkhianat!”

Panglima muda ini menjadi terkejut dan merasa amat heran, apa lagi Ban Sai Cinjin yang mendengar bentakan Kaisar ini, maklumlah dia bahwa tidak ada harapan lagi baginya. Ternyata bahwa usaha Bu Kwan Ji telah gagal! Dengan menyebarkan asap hitamnya ia lalu melarikan diri keluar dari istana!

Beberapa orang perwira hendak mengejarnya, akan tetapi dengan tabir asap hitam yang jahat sebagai pelindung, tak seorang pun dapat mendekatinya. Baru saja mencium asap, pengeiar-pengejar itu sudah jatuh menggeletak seperti mayat! Akhirnya kakek ini berhasil melarikan diri tanpa seorang pun dapat menangkapnya.

Ada pun Cu Tong Hwesio tak kuat menghadapi tongkat Hong Beng, maka dia pun roboh dengan dada tertotok tongkat. Sebentar saja, dengan bantuan Kam Liong, semua orang kaki tangan Bu Kwan Ji sudah tertangkap dan banyak yang tewas.

“Penggal kepala mereka, baik yang masih hidup mau pun yang sudah matil” seru Kaisar dengan marah sekali. “Kecuali Bu-ciangkun, jangan bunuh dia, tahan dengan kuat. Aku perlu mendengar keterangan dan pengakuan tentang pengkhianatannya!”

Pucatlah wajah Tian Ci mendengar ini. Kalau Bu Kwan Ji dibunuh seketika itu juga, akan amanlah dia. Akan tetapi sekarang Kaisar hendak memeriksa perwira itu, sungguh amat berbahaya baginya!

Setelah keadaan menjadi beres, Goat Lan dan Hong Beng berlutut di depan Kaisar minta ampun tentang kelancangan mereka yang sudah berani menahan Kaisar di dalam kamar itu. Kaisar tersenyum dan berkata,

“Tentu saja ada hukuman bagi pelanggar dan ada hadiah bagi yang berjasa. Kalian telah melanggar dan berbareng berjasa pula. Sekarang tinggallah di gedung tamu, tunggu saja keputusanku!”

Sesungguhnya Goat Lan dan Hong Beng hendak pergi pada saat itu juga, akan tetapi mereka tidak berani membantah kehendak Kaisar, dan lagi, mereka berdua perlu sekali beristirahat setelah tiga hari tiga malam tidak pernah tidur dan jarang makan itu. Maka sepasukan pengawal lalu mengiringkan mereka dengan penuh penghormatan ke gedung tamu yang letaknya di sebelah kiri istana.

Pada esok harinya, terjadi peristiwa yang menggemparkan, ketika Bu Kwan Ji kedapatan telah terbunuh di dalam kamar tahanannya! Tak ada seorang pun mengetahui siapa yang membunuh perwira ini sehingga Kaisar menjadi marah sekali, karena sebenarnya Kaisar ingin sekali membongkar rahasia komplotan itu.

Tiada seorang pun yang mengetahui, kecuali Song Tian Ci, selir Kaisar itu. Oleh karena sesungguhnya, yang membunuh adalah penjaga tahanan sendiri yang sudah ‘dibeli’ oleh selir yang lihai ini.

Song Tian Ci maklum bahwa kalau Bu Kwan Ji sampai diperiksa di bawah alat penyiksa, bukan tidak mungkin kalau orang she Bu ini akan membongkar rahasia perhubungannya dengan perwira ini. Dengan matinya Bu Kwan Ji, maka amanlah nama Song Tian Ci dan semenjak saat itu, dia tak berani lagi berpikir untuk merebut kedudukan calon kaisar bagi puteranya.

Akan tetapi diam-diam Song Tian Ci menaruh hati dendam kepada Goat Lan dan Hong Beng, karena orang muda inilah yang menggagalkan rencananya dan bahkan membuat ia berada dalam bahaya besar. Wanita ini cerdik sekali dan mempunyai pandangan mata yang amat tajam. Pengalamannya di dalam kamar Pangeran telah membuka matanya dan ia dapat mengetahui bahwa antara Goat Lan dan Hong Beng terdapat pertalian cinta kasih yang besar. Inilah kesempatan membalas dendam! Ia maklum bahwa salah satu jalan terbaik untuk membalas dendam adalah menghancurkan kebahagiaan orang.

Dengan amat licin dia lalu membujuk Kaisar. Dipuji-pujinya Goat Lan setinggi langit dan tentu saja Kaisar membenarkan pujian ini.

“Sudah sepatutnya apa bila gadis seperti Nona Kwee itu diberi ganjaran yang setimpal dengan jasa-jasanya,” katanya mengakhiri pujiannya.

“Memang,” Kaisar membenarkan, “Aku sendiri pun kini sedang bingung memikirkan apa gerangan yang dapat kuhadiahkan kepadanya. Kalau dia seorang laki-laki tentu dia akan kuangkat menjadi seorang pembesar tinggi. Akan tetapi dia adalah seorang gadis.”

“Kedudukan tinggi bagi seorang gadis adalah menjadi isteri seorang berpangkat tinggi. Nona Kwee sangat cantik jelita dan gagah perkasa, mengambilnya sebagai seorang selir jauh lebih berharga dari pada mengambil selir seorang bidadari kahyangan!”

Kaisar memandang selirnya ini dengan mata terbelalak. “Apakah kau mabuk? Aku sudah tua, mana dapat menyia-nyiakan hidup seorang gadis seperti dia? Tidak, aku tidak ingin menambah selirku!”

“Harap Paduka jangan salah paham,” Song Tian Ci membantah, “maksud hamba bukan Paduka yang harus mengambilnya menjadi selir, akan tetapi untuk Pangeran Mahkota! Bukankah Nona Kwee telah berjasa besar menyelamatkan nyawa Putera Mahkota? Lihat saja alangkah telaten dan sabar Nona itu merawatnya, tanda bahwa Nona itu tentu suka kepada Pangeran. Bila Nona itu bisa diambil sebagai selirnya, tidak saja dapat menjaga keselamatan Pangeran, juga hal itu merupakan hadiah yang paling berharga untuknya!”

Kaisar mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggotnya. “Akan tetapi puteraku baru berusia lima belas tahun kurang, dan Nona itu agaknya sudah ada dua puluh tahun.”

“Soal usia tidak menjadi halangan, apa lagi bukan sebagai isteri yang sah, hanya sebagai selir nomor satu.”

“Bagaimana kalau dia menolaknya?”

“Tak mungkin ada seorang gadis dari rakyat biasa akan menolak anugerah Paduka yang demikian besarnya. Penolakan berarti penghinaan karena sama halnya dengan menolak Pangeran! Akan tetapi, untuk hal ini mudah saja. Bukankah Nona Kwee dan kawannya sudah melakukan pelanggaran besar? Menahan Paduka di dalam kamar sampai tiga hari saja telah cukup untuk menghukum mati kepada mereka. Sekarang hukuman ditiadakan, bahkan dia diangkat menjadi mantu Kaisar, tak mungkin dia menolak!”

Begitulah, dengan siasat yang licin sekali Song Tian Ci berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan Giok Lan, berusaha memisahkannya dari Hong Beng untuk dijadikan selir oleh Pangeran Mahkota! Dan akhirnya Kaisar merasa setuju sekali.

Pada keesokan harinya, Goat Lan dan Hong Beng dipanggil menghadap. Para menteri dan hulubalang lengkap menghadap raja yang sudah duduk di singgasana dengan wajah girang. Juga Pangeran Mahkota itu hadir pula di dekat ayahnya.

Semua pembesar yang setia kepada Kaisar, memandang kepada Pangeran itu dengan wajah riang. Semua sudah mendengar tentang penyembuhan itu, maka ketika Goat Lan dan Hong Beng datang menghadap, semua mata ditujukan kepada mereka dengan hati kagum sekali.

Sambil menunjuk kepada Goat Lan dan Hong Beng yang berlutut di depan Kaisar, Kaisar berkata, “Kalian semua yang hadir di sini sudah mendengar mengenai jasa besar dari kedua orang muda ini. Lihatlah, betapa puteraku sudah sembuh sama sekali, semua ini berkat pengobatan Nona Kwee Goat Lan dan sahabatnya yang bernama Sie Hong Beng. Oleh karena itu, pada hari ini aku hendak memberi hadiah dan anugerah kepada mereka berdua.”

Semua yang hadir mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum, sebab mereka semua merasa bahwa hal ini sudah cukup pantas.

“Anugerah pertama,” kata Kaisar, “adalah pembebasan mereka dari tuntutan. Sungguh pun mereka berdua sudah berani berlaku lancang memasuki istana tanpa ijin, bahkan telah menahan Kaisar dan Pangeran di dalam kamar selama tiga hari, akan tetapi aku bebaskan mereka dari kesalahan ini.”

Goat Lan dan Hong Beng mengangguk-anggukkan kepala dan menyatakan terima kasih mereka.

“Anugerah kedua bagi Sie Hong Beng, dia kuberi pangkat congtok dan boleh melakukan tugasnya di kota Nan-kiang, kuberi dua ekor kuda terbaik dari kandang kuda istana dan uang perak seribu tael. Bagaimana penerimaanmu tentang anugerah ini, orang muda?”

Sie Hong Beng merasa terkejut sekali. Ia sama sekali tidak mengharapkan hadiah, akan tetapi bagaimana dia dapat menolak hadiah Kaisar? Dia cepat mengangguk-anggukkan kepala dan berkata dengan suara perlahan,

“Mohon ampun sebanyaknya apa bila hamba berani berlaku tidak patut. Bukan sekali-kali hamba tidak menghargai karunia Paduka yang dilimpahkan kepada hamba, akan tetapi sesungguhnya hamba tidak sanggup untuk menjabat pangkat di suatu tempat. Mohon Hong-siang suka mengampuni hamba dan memperbolehkan hamba menolak kedudukan dan pangkat itu.”

Hening suasana di situ. Tak ada seorang pun berani mengangkat kepala karena merasa heran dan juga kuatir mendengar jawaban Hong Beng. Kaisar sendiri merasa tertegun, akan tetapi kemudian terdengar dia berkata,

“Darah petualang agaknya mengalir pada tubuhmu, anak muda. Tidak apalah, kalau kau tidak dapat menerima pangkat, biar hadiah uang kutambah lima ratus tael lagi!”

Lega hati Hong Beng dan biar pun ia tidak suka menerima hadiah uang akan tetapi tentu saja ia tidak berani menolak lagi. Cepat ia menghaturkan terima kasihnya sambil berlutut.

“Dan sekarang untuk Nona Kwee Goat Lan yang paling berjasa dalam urusan ini. Tanpa adanya Nona ini, mungkin puteraku tidak akan dapat sembuh dari sakitnya. Oleh karena pembelaannya ini, maka seakan-akan berarti bahwa jiwa dan raga Pangeran telah dapat dirampasnya dari tangan maut, dan oleh karena itu, biarlah untuk selama hidupnya, dia memiliki jiwa raga Pangeran! Biar pun puteraku baru berusia lima belas tahun dan belum menikah, akan tetapi aku mengangkat Nona Kwee menjadi selir pertama dari puteraku atau sama dengan mantuku yang pertama!”

Bukan main kagetnya Goat Lan dan Hong Beng mendengar ini. Muka Goat Lan sampai menjadi pucat sekali dan kedua kakinya yang berlutut itu menggigil. Tidak disangkanya sama sekali bahwa dia akan mendapat anugerah macam ini.

Dia mengerling ke arah Hong Beng yang juga menjadi pucat dan mengerutkan kening. Kemudian ketika tak disengaja dia menengok ke arah Pangeran Mahkota, Pangeran itu tersenyum-senyum malu, agaknya suka sekali akan keputusan ayahnya ini!

Semua yang hadir juga merasa setuju sekali dengan keputusan ini, karena hal ini mereka anggap sebagai anugerah terbesar yang mungkin diberikan kepada gadis itu.

“Bagaimana, Nona Kwee Goat Lan? Engkau tentu dapat menerirna keputusan kami ini, bukan?” Kaisar mendesak ketika dilihatnya nona itu menundukkan mukanya. Ketika Goat Lan mengangkat muka, Kaisar melihat betapa pucatnya wajah gadis itu.

“Mohon beribu ampun bahwa hamba terpaksa tak dapat menerima penghormatan besar ini!”

Kali ini keadaan bahkan menjadi jauh lebih sunyi dari pada ketika Hong Beng menolak pengangkatan. Bagaimana gadis ini berani menolak pinangan dari Kaisar yang diucapkan oleh Kaisar sendiri untuk Putera Mahkota? Hampir tak dapat mereka percaya!

Terdengar orang menarik kursi dan ternyata Pangeran Mahkota yang mundur dari tempat duduknya memberi hormat kepada Kaisar sebagai pengganti ucapan maaf dan akhirnya, setelah memandang ke arah Goat Lan dengan muka merah dan mata sayu Pangeran ini lalu mengundurkan diri ke dalam! Setelah itu, belum juga Kaisar mengeluarkan suara.

Tak seorang pun yang memandang wajah Kaisar yang sebentar pucat sebentar merah itu. Ia merasa terhina sekali. Di hadapan para pembesar, para hulubalang, seorang gadis biasa saja telah berani menolak pinangannya! Pinangan seorang raja besar untuk putera mahkota, ditolak oleh seorang gadis biasa saja. Alangkah hinanya! Lalu dia teringat akan ucapan Song Tian Ci selirnya itu, bahwa gadis ini mempunyai dosa dan untuk dosa itu sudah patut memberi hukuman mati kepadanya.

“Kwee Goat Lan...!” tiba-tiba suara Kaisar memecah kesunyian, suara yang telah cukup dikenal oleh para penghadap, karena kalau suara Kaisar sudah lambat dan parau, tanda bahwa orang besar ini sedang marah sekali, “insyaf benarkah kau akan apa yang kau ucapkan tadi? Sadarkah kau bahwa jawabanmu itu berarti penolakan terhadap pinangan rajamu? Kau telah menghina Kaisar sekaligus membuat malu seorang Pangeran, seorang Putera Mahkota! Tahukah kau akan dosamu yang besar ini?”

Dengan air mata menitik keluar dari pelupuk matanya, Goat Lan menganggukkan kepala. “Hamba terpaksa... hamba tak dapat menerima kehormatan besar itu.” Hanya kekerasan hatinya saja yang menahan Goat Lan tidak sampai menangis tersedu-sedu di situ!

“Kwee Goat Lan, tahukah kau bahwa untuk dosamu masuk ke dalam istana tanpa ijin dan menahanku di dalam kamar sampai tiga hari itu saja sudah cukup untuk memberikan hukuman mati kepadamu?”

Seorang menteri tua segera maju dan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang penuh uban dia berkata, “Mohon Paduka sudi mengampuni gadis ini tentang dosa dan pelanggaran itu karena paduka tadi dalam anugerah pertama sudah membebaskannya dari kesalahan itu.”

Memang menteri tua yang berpengalaman ini menjadi kuatir sekali kalau-kalau di dalam kemarahannya Kaisar akan menarik kembali keputusan yang sudah dikeluarkan terlebih dulu dan kalau hal ini terjadi, amat tidak baik bagi pribadi Kaisar sendiri. Keputusan yang keluar dari mulut seorang kaisar besar, tak dapat diubahnya lagi!

Kaisar teringat akan hal ini dan berkatalah dia, “Sesungguhnya aku sudah mengampuni kesalahan yang itu, akan tetapi gadis ini berani sekali menghinaku serta membikin malu Pangeran, maka untuk kedosaannya ini kuputuskan hukum buang keluar Tembok Besar di utara!”

Terdengar isak tertahan di leher gadis itu. Sebagai seorang gagah, tentu saja dia tidak takut dan dapat melarikan diri, akan tetapi sebagai seorang setiawan dan seorang yang menjunjung tinggi kepada Kaisar, tentu saja dia tak berani melakukan hal ini, karena hal ini akan merupakan pemberontakan yang akan mencemarkan namanya sekaligus nama keluarganya. Bagaimana dia dapat mencemarkan nama ayah ibunya?

“Ayah... Ibu...” Goat Lan mengeluh dalam hatinya, akan tetapi tanpa disadarinya bibirnya ikut menggerakkan sebutan ini.

Hong Beng yang berlutut tak jauh darinya mendengar keluhan ini dan dapat dibayangkan betapa hancurnya hati pemuda ini mendengar keputusan hukuman yang dijatuhkan oleh Kaisar kepada Goat Lan.

“Hamba tidak dapat menerima keputusan hukuman yang dijatuhkan atas diri Nona Kwee Goat Lan!” Hong Beng berseru keras sekali sehingga semua orang terkejut.

Kaisar memandangnya dengan marah. “Hmm, agaknya bukan desas-desus kosong saja bahwa keturunan Pendekar Bodoh memang memiliki jiwa pemberontak. Teringat olehku betapa dulu ayahmu dan kawan-kawannya juga pernah melawan tentara kerajaan!” kata Kaisar dengan marah. “Dan apakah sekarang kau ingin mengulangi perbuatan ayahmu yang tidak benar itu? Kau hendak melawan keputusan dari Kaisarmu?”

Menteri tua yang tadi membela Goat Lan, yaitu seorang bangsawan she Liem, segera mengajukan usulnya,

“Hamba mohon sudilah kiranya Paduka suka mempertimbangkan keadaan kedua orang muda ini. Jasa mereka amat besar, karena selain telah menyembuhkan Putera Mahkota, mereka jugalah yang menghancurkan komplotan jahat dari Bu Kwan Ji. Kalau sekarang Paduka menjatuhkan hukuman berat, bukankah hal ini akan mengejutkan orang-orang gagah yang banyak terdapat di antara rakyat dan membuat mereka takut sehingga tidak berani membantu pemerintah untuk menyatakan kesetiaan mereka?”

Kaisar mendongkol juga mendengar ucapan ini, meski pun diam-diam ia harus mengakui kebenarannya. “Habis, kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya?”

“Harap Paduka sudi mengampunkan hamba yang lancang. Hukuman mengusir Nona ini ke utara sudah dikeluarkan sehingga tidak mungkin dicabut kembali, hanya dapat diubah sifatnya. Hukuman ini bukan pembuangan seumur hidup, tetapi pembuangan sementara saja. Hamba teringat bahwa kini bangsa Tartar sedang bergerak dari barat dan utara, melakukan pengacauan dan merampok serta menculik rakyat yang tinggal di perbatasan utara dan barat. Mengapa tidak memberi kesempatan kepada Nona Kwee dan kawannya yang gagah perkasa ini untuk membuktikan kesetiaan dan kebaktian mereka terhadap negara? Hamba rasa lebih baik kalau memberi tugas kepada mereka ini untuk mengusir musuh, dan apa bila mereka berdua ternyata benar-benar setia, Paduka akan melakukan sesuatu yang adil dan mulia apa bila mengampuni mereka ini!”

Kaisar mengangguk-angguk dan merasa setuju sekali. Sekelebatan saja menteri tua she Liem ini dapat menduga bahwa di antara kedua orang muda itu pastilah ada hubungan kasih, terbukti dari kerling mereka dan betapa pemuda itu dengan mati-matian berani membela Goat Lan di depan Kaisar. Karena itu timbullah hati kasihan di dalam dadanya sehingga mengajukan usul ini.

Demikianlah, pada hari itu juga, Goat Lan dan Hong Beng diberi tanda cap pada lengan tangan mereka dengan sejenis tinta yang tak dapat dihapus oleh siapa pun juga, kecuali apa bila dicuci dengan obat yang tersimpan di istana. Cap dari Kaisar ini merupakan tanda bahwa mereka masih berada di dalam urusan dan apa bila cap ini belum dihapus oleh Kaisar, berarti mereka selama hidup akan menjadi pesakitan! Kaisar berjanji bahwa apa bila mereka membuktikan kesetiaan mereka dan berhasil mengusir para pengacau di utara, cap di lengan itu akan dihapus bersih sebagai tanda pengampunan bagi mereka!

Dengan hati sedih, Hong Beng dan Goat Lan segera berangkat ke utara, dikawal oleh sepasukan prajurit istimewa yang selain akan mengamat-amati mereka, juga bertugas membantu mereka membasmi para pengacau. Pasukan ini terdiri dari empat puluh orang perjurit pilihan yang pandai ilmu silat.

Pada hari keberangkatan pertama, kedua mata Goat Lan menjadi merah dan ia tak dapat banyak mengeluarkan kata-kata. Baiknya masih ada Hong Beng di sampingnya sehingga berkat hiburan-hiburan pemuda ini, pada keesokan harinya Goat Lan telah mendapatkan kembali kegembiraannya. Dengan amat mudah Goat Lan dapat merubah hukum buang itu seperti sebuah perjalanan pelesir saja. Tiada hentinya di sepanjang jalan ia berjenaka sehingga kini sebaliknya Hong Beng yang terhibur!

Pada esok harinya, pagi-pagi sekali mendadak ada serombongan pasukan berkuda yang menyusul cepat dan ketika pasukan itu tiba, semua prajurit pengawal Hong Beng dan Goat Lan cepat-cepat memberi hormat kepada seorang panglima muda yang mengepalai pasukan itu. Hong Beng dan Goat Lan segera mengenal panglima muda yang gagah dan tampan ini sebagai panglima yang membantu mereka mengalahkan Bu Kwan Ji beserta kaki tangannya di depan kamar Pangeran itu.

Memang panglima muda ini adalah Kam Liong! Ia cepat turun dari kudanya dan menjura kepada Hong Beng dan Goat Lan sambil berkata dengan senyum,

“Alangkah gembira hati siauwte dapat mengejar dan menyusul Ji-wi hari ini! Siauwte Kam Liong adalah orang pertama yang merasa amat menyesal dan kecewa mendengar nasib malang yang menimpa diri Ji-wi yang mulia, karena sebenarnya antara Ji-wi dan siauwte terdapat hubungan yang sudah lama, semenjak ayah kita masing-masing masih muda!”

Hong Beng dan Goat Lan segera membalas penghormatan panglima muda ini dengan gembira dan juga terheran. Kam Liong lalu memerintahkan agar pasukan itu beristirahat kemudian dia mengajak kedua orang muda itu untuk duduk di tempat tersendiri sambil mengeluarkan perbekalan mereka untuk makan minum.

Di bawah sebatang pohon yang besar mereka duduk bercakap-cakap sambil makan. Di situlah Kam Liong menceritakan bahwa ia adalah putera dari Panglima Besar Kam Hong Sin yang sudah kenal baik dengan ayah ibu kedua orang muda itu.

“Siauwte telah bertemu dengan kedua saudaramu, Sie-enghiong,” katanya kepada Hong Beng sehingga pemuda ini menjadi terheran. “Bukanlah adikmu perempuan bernama Sie Hong Li dengan pedangnya Liong-coan-kiam yang hebat itu? Hanya sayang aku belum mengetahui nama saudaramu laki-laki itu, juga tak tahu apakah dia adik atau kakakmu.”

Hong Beng adalah seorang pemuda yang pendiam akan tetapi cerdik sekali. Biar pun dia tahu bahwa panglima muda ini telah salah duga, namun dia tidak segera mengemukakan hal ini, bahkan lalu bertanya,

“Siapakah dia, di mana kau bertemu dengannya dan bagaimana rupanya?”

Dengan gembira Kam Liong lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Lie Siong ketika pemuda ini menolong Lilani. “Pemuda itu sungguh aneh, tidak mau menyebutkan nama dan tidak mengaku pula siapa orang tuanya, akan tetapi melihat ilmu silatnya, aku tidak ragu-ragu lagi bahwa kalau dia bukan saudaramu, Sie-enghiong, pasti dia adalah saudara dari Kwee Lihiap ini!”

Akan tetapi, Hong Beng dan Goat Lan yang mendengar penuturan itu saling pandang dengan terheran-heran.

“Aku tidak mempunyai saudara laki-laki, Kam-ciangkun,” kata Hong Beng.

“Dan adikku masih kecil,” kata Goat Lan.

Kam Liong memandang kepada mereka dengan tajam. Memang pemuda ini mempunyai mata yang tajam sekali, tanda bahwa otaknya cerdik.

“Ahh, kalau begitu, tidak salah lagi! Dia tentulah putera Ang I Niocu.”

Kemudian Kam Liong merubah arah pembicaraan dan menyatakan maksudnya menyusul rombongan yang mengantar kedua orang muda keluar Tembok Besar itu.

“Semenjak kemarin dulu siauwte bertemu dengan Ji-wi, pada saat kita bersama memberi hajaran kepada komplotan Bu Kwan Ji yang busuk, siauwte telah merasa tertarik sekali dan ingin mengadakan perkenalan. Akan tetapi, sayang sekali siauwte menerima tugas keluar kota raja dan baru kemarin siauwte datang. Alangkah kecewa hatiku mendengar bahwa Ji-wi sudah berangkat menerima keputusan dari Hong-Siang yang sesungguhnya amat kurang bijaksana itu. Akan tetapi, harap Ji-wi tidak kuatir. Apa bila sudah selesai tugasku di selatan, aku pasti akan menyusul ke utara sehingga kita bisa bersama-sama menghancurkan pengacau-pengacau itu! Siauwte pernah bertugas di utara dan memiliki tempat merupakan benteng di sebelah dusun di lereng Gunung Alkata-san. Ji-wi harap mendirikan markas di sana, dan sementara itu bila mana siauwte ke selatan, siauwte akan mengunjungi Kwee-lo-enghiong dan Sie Taihiap untuk menyampaikan warta ini dan memberitahukan bahwa Ji-wi berada dalam keadaan selamat!”

Hong Beng dan Goat Lan merasa girang sekali dan juga bersyukur, karena itu mereka lalu menyatakan terima kasih berulang-ulang. Saking gembiranya, kedua orang muda ini menerima saja usul Kam Liong yang ramah-tamah ketika Kam Liong mengajak keduanya mempertebal persahabatan dengan menyebut nama masing-masing begitu saja tanpa embel-embel lagi!

Kam Liong lalu memberi perintah kepada prajurit-prajurit yang mengawal Hong Beng dan Goat Lan, memberi tahu ke mana mereka harus pergi untuk mendapatkan benteng yang dulu menjadi tempat tinggal pasukannya itu. Kemudian, tiga orang muda yang gagah ini lalu berpisah.

Sebelum berpisah, Kam Liong melakukan sesuatu yang sangat mengharukan hati kedua orang muda itu. Panglima gagah perkasa ini memerintahkan kepada prajurit-prajuritnya untuk meninggalkan semua kuda sehingga pasukan pengawas Hong Beng dan Goat Lan semua mendapat seekor kuda. Kuda Kam Liong sendiri diserahkan kepada Hong Beng dan Goat Lan juga mendapatkan seekor kuda yang terbagus!

Ketika Hong Beng dan Goat Lan hendak menolak, Kam Liong berkata,

“Tujuan perjalanan kalian masih sangat jauh dan panjang, ada pun kami dapat mudah saja membeli kuda atau meminjam di kota. Bahkan untuk berjalan kaki ke kota raja pun sudah tak berapa jauh.” Terpaksa kedua orang muda itu menerima sambil menghaturkan terima kasih.

Tentu saja Hong Beng dan Goat Lan sama sekali tidak dapat membaca isi hati panglima muda itu. Biar pun Kam Liong sangat mengagumi kedua remaja itu dan memang ingin mengikat tali persahabatan, namun kalau tidak ada ‘apa-apanya’ belum tentu Kam Liong akan berlaku luar biasa baiknya itu.

Semenjak Kam Liong bertemu dengan Lili, hati pemuda ini telah runtuh dan dia terjeblos dalam perangkap asmara. Dia jatuh cinta kepada Lili dan semenjak hari pertemuan itu, setiap malam ia selalu termenung dan merindukan Lili. Ia ingin sekali menyuruh seorang perantara untuk mengajukan pinangan kepada orang tua Lili di Shaning, namun hatinya masih ragu-ragu sebab meminang puteri Pendekar Bodoh bukanlah perkara lumrah saja! Baginya, lebih mudah meminang puteri seorang pangeran di kota raja dari pada harus meminang puteri Pendekar Bodoh yang dahulu sering kali disebut-sebut oleh ayahnya, Kam Hong Sin yang sudah gugur dalam peperangan.

Lalu, tanpa disangka-sangkanya, dia mendengar berita tentang adanya putera Pendekar Bodoh yang mengacau di istana! Ketika itu dia baru saja datang dari luar kota, karena memang pekerjaan terutama dari Kam Liong adalah melakukan pemeriksaan terhadap benteng-benteng penjagaan tentara kerajaan di batas negara. Karena itu dia dapat cepat datang pada saat Kaisar memanggil bantuan sehingga bisa bertemu dengan Hong Beng dan Goat Lan.

Akan tetapi, sayang sekali datang laporan dari seorang perwira sehingga ia mesti keluar kota kembali untuk beberapa hari. Maka ketika ia kembali ke kota raja, ia telah terlambat karena Hong Beng dan Goat Lan sudah mendapat hukuman buang ke utara.

Kam Liong tidak mau melepaskan kesempatan baik ini. Dia tergila-gila kepada Lili, dan sekarang kakak dari gadis itu berada di sini, bagaimana dia tidak melakukan sesuatu untuk mengambil hati? Demikianlah, ia lalu menyusul dengan cepat dan berhasil menarik dan menawan hati Hong Beng.

Di sepanjang perjalanan, Hong Beng dan Goat Lan tiada henti memuji kebaikan hati Kam Liong. Perwira-perwira yang memimpin pasukan pengawal itu menambahkan,

“Memang Kam-ciangkun baik sekali dan ilmu silatnya juga tinggi. Kabarnya dia mendapat didikan langsung dari tokoh-tokoh Kun-lun-pai. Sejak berusia tujuh belas tahun, dia telah berjasa dalam peperangan, membantu perjuangan ayahnya. Bahkan pada saat ayahnya gugur dalam peperangan, Kam-ciangkun ikut bertempur bahu membahu dengan ayahnya itu.”

Semakin kagumlah hati Hong Beng dan Goat Lang, dan ini sesuai benar dengan maksud hati Kam Liong! Kemudian, sesudah menyelesaikan urusannya di kota raja, Kam Liong berangkat ke selatan dan pertama-tama dia menuju ke Shaning hendak mencari rumah Pendekar Bodoh untuk melaporkan keadaan Hong Beng, dan terutama sekali agar dapat bertemu dengan Lili!

Dia pikir lebih baik bertemu dengan Pendekar Bodoh dahulu sebelum memberanikan diri mengirim perantara mengajukan pinangan. Baiknya dia mempunyai alasan yang sangat tepat, yakni berita tentang keadaan Hong Beng. Kalau tidak ada alasan, ia merasa sukar juga menjumpai suami isteri pendekar besar itu…..

********************

Baiklah, kita meninggalkan Kam Liong yang menuju ke rumah Sie Cin Hai di Shaning. Mari kita mendahuluinya ke Shaning dan menengok keadaan keluarga Sie ini.

Sejak Sin-kai Lo Sian Si Pengemis Sakti tinggal di rumah keluarga Sie, baik Lili mau pun suami isteri Sie merasa terhibur dari kedukaan mereka karena kematian Yousuf. Walau pun kematian Yousuf sudah terjadi belasan tahun yang lalu, namun tiap kali teringat oleh mereka bahwa pembunuhnya, yakni Bouw Hun Ti, belum terbalas, mereka merasa sedih sekali. Akan tetapi, kini dengan adanya Lo Sian, seakan-akan Yousuf masih belum mati.

Keadaan dan sikap Lo Sian ini hampir sama dengan kakek Turki itu. Juga seperti Yousuf, Lo Sian sangat suka minum arak wangi, suka pula bernyanyi-nyanyi dan mendongeng. Berbeda dengan Yousuf yang suka mendongeng cerita-cerita dari Turki, adalah Lo Sian pandai sekali mendongeng cerita-cerita Tiongkok kuno.

Dia boleh lupa akan keadaan pengalamannya pada masa lampau, yakni segala hal yang menyangkut dengan dirinya, akan tetapi ternyata dia tidak melupakan dongeng-dongeng yang terjejal di dalam ingatannya ketika ia masih kecil!

Lili tak sabar menanti kedatangan Hong Beng, karena dia telah mernperhitungkan bahwa Hong Beng dan Goat Lan seharusnya telah datang. Ke manakah gerangan perginya dua orang itu? Lili menyesal sekali mengapa dulu dia tidak ikut saja. Alangkah senangnya bila mereka itu mengalami hal-hal yang hebat dan berbahaya!

Baiknya di rumah itu ada Lo Sian yang disebutnya pek-pek atau twa-pek. Kedua orang tuanya, yakni Sie Cin Hai dan Lin Lin, sudah mendengar penuturannya yang tentu saja banyak dilebih-lebihkan mengenai pertemuan antara Goat Lan dan Hong Beng sehingga suami isteri itu merasa girang sekali. Memang Lili amat nakal, jenaka dan lucu. Katanya ketika dia menceritakan hal kakaknya dan Goat Lan,

“Engko Hong Beng agaknya tak dapat berpisah lagi dari Enci Lan! Ahh, kalau Ayah dan Ibu melihat betapa tadinya sebelum saling mengenal ternyata mereka sudah saling jatuh cinta!” Gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan lengan baju.

“Apa maksudmu?” tanya ayahnya mengerutkan kening.

Lili menceritakan betapa dia telah menggoda Hong Beng dan Goat Lan sehingga kedua orang muda yang tidak saling mengenal itu sampai bertempur!

“Ahh, kau nakal sekali, Lili!” ayahnya menegur. “Kenakalan seperti itu berbahaya sekali. Kenapa kau seperti anak kecil saja?”

Lili tidak merasa aneh mendengar teguran ayahnya, karena memang sejak kecil, hanya ayahnya saja yang selalu menegurnya. Akan tetapi dia juga maklum betul-betul bahwa ayahnya ini hanya galak di luarnya saja, padahal di dalam hati sangat menyayang dan memanjakannya.

“Mengapa, Ayah? Bukankah dengan demikian mereka jadi dapat saling mengenal tingkat kepandaian masing-masing?” Kemudian dia lalu melanjutkan penuturannya, betapa Goat Lan merasa berkuatir ketika mendengar Hong Beng ditantang pibu oleh para pemimpin Hek-tung Kai-pang.

Setelah selesai dengan penuturannya dan gadis ini pergi ke belakang mengunjungi Lo Sian di kebun di mana Lo Sian mengerjakan taman bunga, membuangi daun kering dan rumput, Pendekar Bodoh berkata kepada isterinya,

“Ahh, kurang pantas sekali kalau Hong Beng melakukan perjalanan berdua saja dengan Goat Lan. Mereka itu belum menikah dan sudah terlalu lama mereka pergi berdua. Hal ini tidak baik... tidak baik...” Ia menggeleng-geleng kepalanya.

“Apanya yang tidak baik?” Lin Lin membantah. “Mereka sudah bertunangan.”

“Tapi masih belum pantas melakukan perjalanan bersama dalam masa pertunangan, itu melanggar adat kesopanan kita,” kata suaminya.

“Ahhh, kau terlalu kukuh! Tidak ingatkah kau betapa dahulu kita sebelum menikah juga melakukan perantauan, bahkan lebih jauh dan lebih lama lagi? Asal kita dapat menjaga kesopanan, apa salahnya? Lagi pula, aku percaya penuh Beng-ji akan mampu menjaga kesopanan, demikian pula Goat Lan.”

“Kita lain lagi, isteriku,” kata Cin Hai. “Ketika kita melakukan perjalanan bersama, kita sudah yatim piatu. Akan tetapi anak-anak itu masih ada orang tuanya. Boleh saja secara kebetulan mereka bertemu di jalan dan menyelesaikan urusan bersama, akan tetapi tidak untuk selanjutnya merantau dan tidak pulang sampai sekarang!”

“Sudahlah, suamiku, kenapa ribut-ribut? Siapa tahu kalau mereka juga menemui urusan yang penting? Untuk menenteramkan hatimu, lebih baik kita pergi mengunjungi Enci Hoa dan suaminya di Tiang-an untuk menetapkan hari pernikahan kedua anak itu. Sekalian kita melihat-lihat kalau-kalau mereka sudah pulang ke sana.”

Sie Cin Hai menyetujui pikiran isterinya ini. Demikianlah, pada keesokan harinya kedua suami-isteri pendekar ini lalu melakukan perjalanan ke Tiang-an.

Lili yang ditinggalkan berdua dengan Lo Sian, melewatkan waktunya bersama Pengemis Sakti ini. Lili mencoba terus menerus untuk mengembalikan ingatan bekas suhu-nya ini, akan tetapi hasilnya sia-sia belaka.

Kini Lo Sian selalu nampak senang dan gembira. Di dalam rumah keluarga Sie, ia seperti seekor burung yang akhirnya menemukan sarang yang baik. Badannya menjadi segar dan gemuk dan tiap hari dia minum arak yang selalu disediakan oleh keluarga Sie.

Untuk menyenangkan hati Lo Sian yang telah menolong jiwanya dan telah melepas budi besar, Lili lalu menyuruh pelayan membeli arak terbaik dari Hang-ciu sehingga Lo Sian merasa girang bukan main. Dengan ditemani oleh Lili, sering kali ia minum arak di loteng belakang sambil menikmati keindahan taman bunga yang dirawatnya dan yang berada di bawah loteng itu.

Pada malam hari itu, Lo Sian nampak masih duduk di atas loteng pada bagian belakang rumah, minum arak seorang diri. Baru saja datang seguci besar arak wangi yang dibeli oleh Lili dan gadis itu bahkan membuat kue yang diberikan kepada suhu-nya. Pengemis Sakti ini makan minum seorang diri sambil bernyanyi-nyanyi.

Ketika Lili yang berada di bagian bawah mendengar suara nyanyian suhu-nya, ia merasa heran. Suara pengemis Sakti itu tidak seperti biasanya, kini terdengar bernada sedih. Dia segera naik ke atas loteng dan melihat betapa bekas suhu-nya itu minum arak langsung dari guci dan kaki kirinya ditumpangkan di atas meja!

“Pek-pek, kau kenapakah?” tanya Lili sambil menghampiri kakek itu.

Lo Sian menunda minumnya dan pada saat dia menengok kepada Lili, gadis ini terkejut melihat pipi Lo Sian telah basah dengan air mata!

“Pek-pek, mengapa kau bersedih?”

Lo Sian terpaksa tersenyum ketika ia memandang wajah Lili. Alangkah sukanya ia pada gadis ini, seperti kepada puterinya sendiri.

“Tidak, Lili, aku tidak merasa bersedih. Dengan kau dan orang tuamu yang mulia berada di dekatku, bagaimana aku dapaf bersedih? Hanya aku menyesal sekali, Lili, menyesal bahwa sekarang aku sudah menjadi seorang yang begini tiada guna! Aku hanya menjadi pengganggu orang tuamu, aku telah banyak mengecewakan kau dan orang tuamu sebab tidak mampu mengingat-ingat hal yang telah terjadi. Terutama sekali aku tak dapat ingat lagi di mana dan bagaimana Lie Kong Sian Taihiap meninggal dunia! Ahh, aku menjadi sebuah boneka hidup!”

“Pek-pek, kenapa hal begitu saja dibuat menyesal? Kau tak berdaya dan bukan salahmu kalau kau kehilangan ingatanmu. Lebih baik menghibur hati, agar tubuhmu menjadi sehat dan siapa tahu kalau kesehatanmu akan dapat memulihkan ingatanmu. Dengan banyak berpikir serta banyak pusing, kurasa tidak akan mendatangkan manfaat bagi ingatanmu, Pek-pek.”

“Kau betul, Lili. Kau selalu benar, sungguh aneh seorang gadis muda seperti kau dapat mengeluarkan ucapan yang begini bijaksana. Pantas benar kau menjadi puteri Pendekar Bodoh...”

Lili tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menghampiri meja dan menyalakan lilin di atas meja yang belum dipasang oleh Lo Sian. Melihat kue-kue di atas piring belum ada yang termakan oleh Lo Sian, Lili bertanya,

“Ehh, kenapa kue-kue ini belum kau makan, Pek-pek?”

“Nanti dulu, aku lebih senang minum arak yang wangi dan enak ini! Kau sungguh pandai memilih arak yang baik!” Setelah berkata demikian, Lo Sian lalu mengangkat guci besar itu dengan kedua tangannya, menuangkan isinya yang masih setengah itu langsung ke mulutnya dengan sikap seperti tadi, yaitu kaki kiri di atas meja!

Lili hanya berdiri di belakang Pengemis Sakti itu sambil tersenyum geli, karena dia dapat menduga bahwa Lo Sian tentu sudah setengah mabuk. Akan tetapi pada saat itu pula, Lili terkejut sekali melihat berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang melayang turun laksana seekor burung besar dari atas wuwungan! Bayangan itu gerakannya gesit sekali dan melihat betapa ia melayang dengan dua lengan dikembangkan, dapat diduga bahwa dia memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Lo Sian yang sedang enak minum arak, tidak melihat berkelebatnya bayangan itu, akan tetapi Lili yang bermata tajam tentu saja dapat melihatnya. Dengan amat kuatir, gadis ini lalu meninggalkan Lo Sian, berlari turun ke bawah melalui anak tangga untuk mencegat bayangan tadi di bawah. Lo Sian masih saja minum arak, kakek ini tidak heran melihat Lili berlari-larian karena hal ini sudah menjadi kebiasaan gadis jenaka ini

Ketika tiba di bawah, Lili tidak melihat bayangan orang. Cepat-cepat dia melompat keluar dan mengelilingi rumahnya. Bayangan tadi dilihatnya melompat ke bawah ke arah depan rumah, akan tetapi mengapa sekarang tidak nampak lagi? Apakah dia salah lihat? Tidak mungkin, pikirnya, dan dengan penasaran sekali ia kemudian menyelidiki seluruh pinggir rumahnya.

Ketika tidak menemukan sesuatu, dia cepat masuk lagi ke dalam rumah dan tiba-tiba dia teringat bahwa ayah bundanya mempunyai banyak musuh. Cepat dia menuju ke kamar ayah dan ibunya yang berada di sebelah dalam. Kagetlah ia ketika melihat bahwa kamar ayah bundanya ternyata telah dimasuki orang, karena pintu kamar yang tadinya terkunci kini sudah dibuka dengan paksa!

Cepat dia ke dalam dan di situ kosong saja. Hanya sebuah lemari kayu, tempat pakaian ayah bundanya telah dibongkar orang secara paksa dan sekarang terbuka dengan isinya berantakan ke bawah. Ia merasa heran, karena pakaian itu masih utuh, tidak ada yang hilang, demikian pula tempat uang tidak diganggu.

Siapakah bayangan tadi dan apa maksudnya membongkar lemari dan memasuki kamar ayah bundanya? Dia cepat mengejar lagi keluar dari kamar. Lili marah sekali dan ingin ia menangkap maling itu. Kini dia berlari menuju ke belakang.

Makin marah dan gemas hatinya melihat tiga orang pelayan rumahnya, seorang pelayan laki-laki dan dua orang pelayan wanita sudah berada dalam keadaan tertotok di ruangan belakang. Ketika dia menghampiri mereka untuk membebaskan mereka dari totokan, dia mendapat kenyataan yang mengejutkan hatinya pada waktu melihat bahwa ketiga orang pelayan ini terkena totokan yang sama dengan ilmu totok yang dipelajarinya sendiri yakni ilmu totok dari Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na!

Tiba-tiba teringatlah dia akan sesuatu dan mukanya menjadi merah padam. Siapa lagi kalau bukan pemuda kurang ajar yang telah merampas sepatunya dulu? Pemuda yang mengaku putera Ang I Niocu? Hanya pemuda itu saja yang pandai Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na!

Kalau memang betul bayangan orang yang menjadi maling ini ternyata adalah pemuda putera Ang I Niocu yang belum diketahui namanya itu, kenapa ia datang seperti seorang maling? Tak mungkin putera Ang I Niocu melakukan hal ini!

Tiba-tiba ia teringat kepada Lo Sian yang berada di atas loteng dan wajahnya menjadi pucat ketika dia teringat betapa dahulu di rumah Thian Kek Hwesio, pemuda itu pernah menyerang Lo Sian karena marah mendengar Pengemis Sakti itu menyatakan bahwa Lie Kong Sian telah mati!

Dia cepat berlari-lari melalui anak tangga menuju ke loteng dan alangkah kagetnya ketika ia melihat guci arak yang tadi diminum oleh Lo Sian, kini telah menggeletak di atas lantai dan isinya mengalir keluar. Lo Sian sendiri tidak kelihatan pergi ke mana!

Lili menjadi bingung. Dia mencari ke sana ke mari, akan tetapi biar pun dia memanggil-manggil, tetap saja ia tidak dapat menemukan Lo Sian. Hati gadis ini marah bukan main. Segera diambilnya Pedang Liong-coan-kiam dan kipasnya, kemudian dengan amat cepat dia lalu melompat keluar rumah dan mencari di sekitar rumah itu.

Tiba-tiba dia melihat bayangan dua orang sedang bertempur dengan hebatnya. Karena malam itu sangat gelap, Lili hanya dapat melihat bahwa yang bertempur itu adalah dua orang laki-laki yang masih muda.

“Bangsat rendah, berani sekali kalian mengganggu rumahku!” berseru Lili dengan marah sekali.

Dia tidak tahu yang mana di antara kedua orang ini yang tadi datang ke rumahnya, akan tetapi dia lalu menyerbu mereka! Akan tetapi, kedua orang muda itu ketika mendengar suaranya, tiba-tiba mereka lalu menghentikan pertempuran, bahkan keduanya lalu berlari pergi meninggalkan tempat itu.

Kebetulan sekali, sinar lampu dari dalam rumahnya masih menerangi sedikit tempat itu sehingga ketika dia melihat orang yang berlari menerjang sinar penerangan ini, ia melihat bahwa orang itu adalah Song Kam Seng! Bukan main marahnya hati Lili. Ia pun maklum bahwa pemuda ini tentu datang untuk mencari ayahnya, karena bukankah Kam Seng sudah berjanji hendak membalaskan dendam hatinya karena ayahnya dulu dibunuh oleh Pendekar Bodoh?

“Kam Seng, manusia pengecut! Jangan berlaku sebagai maling hina dina! Apa bila kau berani, mari kita mengadu nyawa!” teriak Lili sambil mengejar cepat.

Akan tetapi Kam Seng tidak menjawab bahkan berlari makin cepat, dikejar terus oleh Lili. Pemuda ini memang maklum akan kepandaian Lili dan kalau dia melawan juga, ia takkan menang. Apa lagi, betapa pun juga, tak dapat dia bertempur melawan Lili, gadis musuh besarnya, gadis yang sesungguhnya amat dicintainya itu. Maka ia lalu melarikan diri lebih cepat lagi. Bukan saja karena ginkang dari Kam Seng sudah sangat maju, akan tetapi terutama sekali karena malam itu gelap, sebentar saja pemuda itu sudah meninggalkan Lili dan menghilang di dalam gelap!

Lili menjadi jengkel sekali. Ia memaki-maki, memanggil-manggil nama Kam Seng sambil menantang-nantang, akan tetapi karena tidak memperoleh jawaban, akhirnya dia kembali ke rumahnya. Dan ternyata Lo Sian masih belum kelihatan sehingga gadis ini menjadi makin bingung.

Sebetulnya, ke manakah perginya Lo Sian? Ketika dia sedang minum arak dan Lili telah berlari ke bawah, tiba-tiba dari atas wuwungan menyambar turun bayangan yang cepat masuk loteng itu. Lo Sian terkejut sekali ketika melihat seorang pemuda sudah berdiri di hadapannya. Dia mengenal pemuda ini sebagai pemuda yang pernah menyerangnya di rumah Thian Kek Hwesio, yaitu pemuda yang mengaku sebagai putera Lie Kong Sian.

Sebelum ia sempat bertanya, Lie Siong, pemuda itu, telah mengulurkan tangan menotok jalan darah thian-hu-hiat di pundaknya. Totokan ini berdasarkan gerakan serangan dari Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na, ilmu silat warisan Bu Pun Su yang dulu dia pelajari dari Ang I Niocu, maka bukan main cepat dan hebatnya.

Lo Sian sedang memegang guci arak dan dia berada dalam keadaan setengah mabuk, bagaimana dia mampu menghindarkan diri dari serangan ini? Tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas terkena totokan itu dan guci arak itu tertepas dari pegangannya.

Lie Siong cepat menyambar guci arak itu dan meletakkannya di atas lantai. Akan tetapi oleh karena dia tidak memperhatikan guci itu, dia meletakkan guci dalam keadaan miring sehingga isinya mengalir keluar. Kemudian, secepat kilat pemuda ini segera mengempit tubuh Lo Sian dan membawanya melompat turun!

Supaya tidak membingungkan, baiknya diceritakan secara singkat bahwa sejak berpisah dari Lo Sian dan Lili, pikiran Lie Siong sangat terganggu akibat ucapan Lo Sian yang menerangkan tentang kematian ayahnya. Oleh karena itu, ia menunda niatnya mengajak Lilani ke utara mencari rombongan suku bangsa Haimi untuk mengembalikan gadis itu kepada bangsanya, sebaliknya lalu mengajak gadis itu menuju ke Pulau Pek-le-to untuk mencari ayahnya! Akan tetapi, ia mendapatkan pulau itu berada dalam keadaan kosong!

Hatinya menjadi gelisah sekali, keadaan pemuda ini makin menderita batinnya. Pertama dia merasa menyesal akibat telah mengikat diri dengan Lilani, gadis yang amat mencinta dirinya. Kedua, dia merasa menyesal dan bingung karena mendengar bahwa ayahnya telah meninggal dunia seperti yang dikatakan oleh Lo Sian Si Pengemis Sakti.

Dia harus dapat mencari orang tua itu untuk mencari keterangan tentang ayahnya. Akan tetapi kalau teringat betapa dia telah bertempur dan bentrok dengan Lili, puteri Pendekar Bodoh, dia menjadi bingung. Semenjak dia dapat mencabut sepatu Lili, sepatu yang kecil mungil itu selalu tersimpan dalam saku bajunya sebelah dalam, disembunyikan sebagai sebuah jimat!

Ada pun Lilani, gadis yang bernasib malang itu, semakin lama semakin merasa hancur hatinya. Dia amat mencinta Lie Siong, bersedia menyerahkan jiwa raganya, akan tetapi melihat pemuda itu sama sekali tidak mengacuhkannya, dia menjadi sedih sekali.

Bila teringat betapa dia telah kehilangan ayah bundanya, kehilangan kakeknya, dan kini dia menderita karena mencinta seorang pemuda yang tak mengacuhkannya, ahhh, gadis ini sering kali mengucurkan air mata di waktu malam. Tetapi betapa pun juga, dia selalu menyembunyikan perasaan dukanya dari mata Lie Siong.

Sesudah mendapatkan Pulau Pek-le-to kosong dan tidak mengetahui ke mana perginya ayahnya, Lie Siong lalu berkata kepada Lilani,

“Lilani, terpaksa aku harus menyusul ke Shaning...”

“Ahh, ke rumah nona cantik jelita yang galak itu? Kau dahulu bilang bahwa dia adalah puteri Pendekar Bodoh, sungguh cocok sekali...”

Lie Siong memandang tajam. “Apa maksudmu, Lilani? Kau cemburu?”

“Tidak, Taihiap, mengapa aku cemburu? Ada hak apakah maka aku dapat cemburu? Aku seorang tak berharga, tidak seperti nona puteri Pendekar Bodoh itu, yang cantik, pandai, lihai... dan...”

“Sudahlah, jangan kau berbicara tidak karuan! Hatiku sedang bingung memikirkan ayah. Siapa yang peduli gadis liar itu?” kata Lie Siong sambil mengajak gadis itu melanjutkan perjalanan. “Sekarang aku terpaksa harus pergi menyusul ke Shaning untuk menangkap pengemis gila itu. Agaknya dari dia saja aku akan mengetahui di mana adanya ayahku. Terpaksa urusan mencari suku bangsamu di utara ditunda dulu.”

Lilani tidak membantah, hanya merasa dadanya sesak oleh cemburu. Cinta orang muda manakah yang tidak terhias oleh rasa cemburu? Bukan cinta tulen kalau tidak ada rasa cemburu di dalamnya, kata orang tua.

Pada malam harinya, Lie Siong dan Lilani bermalam di sebuah hotel. Dan tidak seperti biasanya, Lie Siong berkeras tidak mau tidur sekamar dan minta kepada pelayan untuk menyediakan dua kamar yang berdampingan.

Lilani makin merasa tidak enak, gelisah dan berduka. Sampai tengah malam gadis ini tidak dapat tidur dan karena hatinya selalu teringat kepada Lie Siong, tak tertahan lagi ia lalu keluar dari kamarnya dengan perlahan. Ia sengaja membuka kedua sepatunya agar tindakan kakinya tak sampai mengagetkan Lie Siong yang ia tahu pendengarannya amat tajam itu. Ia ingin melihat apakah pemuda pujaan hatinya itu telah tidur.

Dengan kaki telanjang ia berjalan menghampiri jendela kamar Lie Siong, lalu mengintai ke dalam setelah dia mendapatkan sebuah lubang di antara celah-celah jendela itu. Dia melihat kamar itu masih terang dan ternyata pemuda pujaannya itu masih belum tidur.

Lie Siong nampak tengah duduk melamun di atas kursi dan kedua tangannya memegang sebuah benda kecil. Jari-jari tangannya mempermainkan benda itu dan ketika Lilani memandang dengan tegas, ternyata bahwa benda itu adalah sebuah sepatu yang bagus dan kecil mungil bentuknya! Bukan main panas dan perihnya hati Lilani.

Itu adalah sepatu wanita, pikirnya, dan terang bukan sepatunya. Sepatunya tidak sekecil itu! Ah, sepatu siapa lagi kalau bukan sepatu gadis puteri Pendekar Bodoh itu? Biar pun Lie Siong tidak menceritakan mengenai hasil pertempurannya melawan Lili namun Lilani dapat menduga dengan tepat.

Hal ini mudah saja bagi seorang wanita yang berada dalam keadaan cemburu, karena wanita yang sedang cemburu mempunyai kecerdikan luar biasa dalam hal menyelidiki segala sesuatu mengenai hubungan laki-laki yang dicintainya dengan wanita lain!

Bagaikan terpukul, Lilani terhuyung ke belakang dan ia menahan isak tangisnya. Karena tangisnya tak dapat tertahan lagi, maka ia tidak berani kembali ke kamarnya, takut kalau nanti Lie Siong akan mendengar suara tangisnya. Sebaliknya dia malah lari ke belakang dan keluar dari pintu belakang hotel itu menuju ke kebun belakang yang sunyi dan gelap!

Di situ dia menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil kehilangan ibunya. Ia merasa sedih, gemas, dan marah. Sedih karena merasa kehilangan seorang kekasih yang dicinta sepenuh hatinya. Juga gemas melihat Lie Siong yang tak mengacuhkannya, sebaliknya tergila-gila kepada sebuah sepatu wanita lain dan marah kepada diri sendiri mengapa ia sampai demikian dalam jatuh dalam jurang asmara terhadap pemuda itu.

Di dalam kesedihannya itu, Lilani sampai tidak tahu bahwa ia tidak berada seorang diri di dalam taman itu. Dia tidak tahu bahwa di situ duduk dua orang laki-laki pemabukan yang sudah lama duduk minum arak berdua saja di situ dan keadaan mereka sudah setengah mabuk ketika Lilani datang ke situ dan menangis.

Lilani yang sedang menangis itu tiba-tiba merasa lehernya dipeluk orang dan terdengar suara parau,

“Nona manis, kenapa kau menangis? Marilah kuhibur kau…”

Lilani melompat berdiri dengan mata terbelalak. Dengan penuh kebencian dan kengerian dia melihat dua orang laki-laki menyeringai dan memandangnya seperti orang kelaparan, kemudian tangan kedua orang itu terulur maju hendak menangkapnya!

Lilani sedang merasa sedih, marah, kecewa dan perasaan yang sudah amat menggencet batinnya ini ditambah lagi oleh kebencian dan kengerian yang amat besar melihat lagak dua orang laki-laki ini. Hampir saja Lilani menjerit sekerasnya kalau ia tidak ingat bahwa jeritannya akan terdengar oleh Lie Siong dan dia tidak mau keadaannya diketahui oleh pemuda itu.

Maka sambil menahan berdebarnya hati yang membuat dadanya terasa sakit itu, ia lalu mengelak ke kiri dan tak disangkanya sama sekali, seorang di antara mereka itu memiliki gerakan yang cepat juga. Lilani sedang menderita dan keadaan malam itu agak gelap, maka gadis ini kurang cepat elakannya dan tahu-tahu lengannya sudah tertangkap oleh seorang di antara dua pemabukan itu.

“Ha-ha-ha-ha, lenganmu lemas dan halus seperti sutera, Nona... ha-ha-ha!” Orang ini lalu merangkulnya dan hendak menciumnya.

“Bukk!”

Terdengar suara orang terpukul dan disusul oleh pekik mengerikan dari laki-laki itu yang segera roboh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa lagi! Pukulan Lilani amat hebat karena selain gadis ini memiliki kepandaian silat yang lumayan, dan kini lebih lihai karena sering kali mendapat latihan dari Lie Siong, juga pukulan dari jarak dekat ini tepat sekali mengenai ulu hati lawan sehingga jantung di dalam dada orang itu menjadi terluka!

Orang ke dua yang masih mabuk tidak tahu bahwa kawannya sudah mati, bahkan terus tertawa-tawa dan berkata kepada kawannya itu, “A-siok, terlalu sekali kau... nona manis ditinggal tidur...” Dan ia maju pula hendak merangkul Lilani.

Gadis ini sekarang sudah seperti seorang gila dan gelap mata. Sebelum tangan orang ke dua ini dapat menyentuh bajunya dia kembali mengirim serangan dengan pukulan keras ke arah dada disusul dengan tendangan ke arah lambung pemabukan ini. Terdengar jerit keras dan pemabukan ke dua ini pun roboh dalam keadaan mati!

“Eh, eh, eh, apakah yang terjadi di sini?” Seorang pelayan hotel datang berlari-lari sambil membawa sebuah lampu minyak. Akan tetapi, jawaban yang didapat hanyalah sebuah pukulan tiba-tiba yang tepat mengenai lehernya. Pelayan ini terputar di atas kakinya lalu roboh. Celaka baginya, lampu yang dibawanya itu jatuh menimpanya hingga terbakarlah pakaiannya!

Melihat betapa pelayan itu berkelojotan di dalam cahaya api, Lilani memandang dengan muka sepucat mayat dan kedua mata terbuka lebar, ada pun kedua tangannya menutup mulutnya menahan jeritannya. Alangkah ngerinya!

Dan kemudian, seperti baru sadar, dia melihat pula dua orang pemabukan yang sudah dibunuhnya di tempat itu juga. Dengan perasaan sangat tergoncang gadis yang masih bertelanjang kaki ini lalu lari secepatnya, kembali ke dalam kamarnya!

Dia berdiri di tengah kamarnya sambil terengah-engah dan meramkan kedua matanya. Kepalanya terasa pening sekali, dadanya berdetak-detak seakan-akan ada orang sedang memukul-mukulkan palu di dalamnya. Tubuhnya lemas kedua kaki menggigil dan kedua tangan gemetar. Telinganya mendengar suara gaduh yang tak karuan terdengarnya, ada pun pemandangan yang mengerikan dari ketiga mayat itu, terutama sekali pelayan yang terbakar, selalu terbayang di depan matanya.

“Aku harus tenang... harus tenang…” pikirnya dan dia lantas menjatuhkan diri di tengah kamar itu juga, duduk bersila lalu untuk menenangkan pikiran dengan bersemedhi. Untuk memperdalam lweekang-nya, memang gadis ini telah mempelajari siulian (semedhi) dari Lie Siong.

Suara ribut-ribut di luar kamarnya itu mengagetkan Lie Siong. Pemuda ini cepat-cepat menyalakan lilin di dalam kamarnya, lalu berjalan keluar hendak melihat apa gerangan yang ribut-ribut di tengah malam seperti itu. Ketika ia mendengar bahwa ada tiga orang terbunuh oleh seorang gadis, ia terkejut sekali.

Cepat dia menuju ke kamar Lilani dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa pintu kamar gadis itu setengah terbuka! Dia cepat melangkah masuk dan biar pun kamar itu gelap, dia masih dapat melihat bayangan gadis itu duduk bersila di atas lantai.

Sungguh cara siulian yang aneh, pikirnya. Kenapa tidak di atas pembaringan saja? Akan tetapi, ia tidak berani mengganggu seorang yang sedang semedhi dan secara diam-diam hendak meninggalkan kamar itu lagi kalau saja tidak mendengar isak tertahan dari gadis itu.

“Lilani, kau kenapakah?” tanyanya heran dan kuatir.

Gadis itu tidak menjawab sama sekali. Lie Siong menjadi heran dan segera menyalakan sebatang lilin di dalam kamar itu. Pada saat sinar lilin di atas meja itu sudah menerangi seluruh kamar dan ia memutar tubuh memandang, Lie Siong pun menjadi terkejut sekali. Dilihatnya Lilani dengan sepasang kaki telanjang duduk bersila di atas lantai, pakaiannya kusut, pipinya yang amat pucat itu basah dengan air matanya.

“Lilani...!” Lie Siong melangkah maju, berlutut dekat gadis itu dan tangannya memegang pundak kanan Lilani. “Kau kenapakah...?” Akan tetapi Lie Siong terpaksa memutuskan kata-katanya karena tiba-tiba kedua tangan Lilani mendorong dadanya dengan gerakan cepat dan amat kuat.

Lie Siong yang sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis ini akan menyerangnya, tidak mengelak atau menangkis sama sekali. Dadanya terdorong ke belakang dan ia pun langsung terlempar ke belakang dengan cepatnya sampai membentur bangku! Lie Siong membelalakkan matanya.

Tenaga dorongan dan tarikan muka Lilani lebih mengherankannya dari pada sikap gadis itu sendiri. Dorongan tenaga Lilani tak seperti biasanya, akan tetapi mengandung tenaga yang amat kuat dan aneh, sedangkan ketika gadis itu mendorongnya, gadis memandang dengan penuh kebencian, akan tetapi bibirnya tersenyum!

“Ha, kau takkan dapat mendekatiku... kau akan mampus....” bisik gadis ini dengan suara aneh. Ternyata bahwa pukulan batin yang datang secara bertubi-tubi dan hebat itu sudah membuat pikiran gadis ini terganggu dan berubah!

“Lilani...” Lie Siong melompat bangun, “apa maksudmu? Kau kenapakah...?”

Melihat Lie Siong melompat bangun, gadis itu turut melompat bangun pula, menunduk dan memandangi kedua kakinya yang telanjang, kemudian berkata sambil menyeringai, “Ha-ha-ha, sepatu itu... sepatuku! Lihat, Taihiap, bukankah kedua kakiku telanjang? Aku perlu sepatu... akan tetapi sepatu itu terlalu kecil... terlalu kecil...” dan ia lalu menangis! Tiba-tiba dia menghentikan tangisnya dan berkata lagi dengan mata bersinar dan mulut tersenyum, “Aku bunuh dia! Aku bunuh mereka! Berani sekali main gila terhadap Lilani, puteri kepala suku bangsa Haimi!”

Sejak tadi, Lie Siong memandang keadaan gadis ini dengan bengong. Melihat senyum di bibir Lilani, pemuda ini merasa bulu tengkuknya meremang. Ini tak sewajarnya, pikirnya. Lebih-lebih terkejutnya ketika dia mendengar ucapan terakhir tentang pembunuhan yang keluar dari mulut Lilani.

“Lilani, jadi yang membunuh tiga orang di belakang hotel itu... kaukah orangnya?”

Lilani tertawa terkekeh. “Ya, memang aku!” teriaknya keras. “Aku Lilani sekali mencinta orang, akan berlaku setia selama hidup! Aku takkan sudi main gila dengan laki-laki lain, lebih baik aku mati! Kubunuh mereka itu, kubakar dia hidup-hidup!” Dan tiba-tiba gadis ini lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil tersedu-sedu.

Lie Siong berdiri tertegun, hatinya terharu bukan main ketika ia mendengar Lilani berkata seperti keluhan menyedihkan, “Taihiap... Taihiap... aku cinta padamu...”

Teriakan Lilani telah terdengar oleh orang-orang yang berada di luar kamar sehingga kini mereka menyerbu ke arah kamar Lilani sambil berteriak-teriak,

“Tangkap pembunuh! Tangkap siluman perempuan...!”

Memang tadi ketika Lilani berlari kembali ke kamarnya, kebetulan sekali ada seorang tamu yang menjenguk dari jendelanya karena ia tertarik oleh teriakan-teriakan dua orang pemabukan yang terpukul oleh Lilani. Maka sesudah terjadi geger, dia lalu menceritakan pengalamannya dan kini mendengar teriakan-teriakan Lilani yang mengaku bahwa dia yang membunuh tiga orang itu, semua orang lalu menyerbu ke arah kamar Lilani!

Pada saat belasan orang itu sudah berada di depan pintu kamar Lilani, mereka tiba-tiba berhenti karena siapa orangnya yang tidak merasa gentar menghadapi seorang siluman wanita yang dalam waktu sebentar saja sudah membunuh tiga orang laki-laki dengan keadaan mengerikan?

“Siluman perempuan, menyerahlah untuk kami bawa ke depan pengadilan! Apa bila kau melawan kami akan mengeroyok dan membakarmu!” seorang di antara para penyerbu itu berteriak.

Lilani yang mendengar ini segera bangkit berdiri, wajahnya nampak amat menyeramkan. “Akan kubunuh kalian semua!” katanya.

Lie Siong merasa gelisah sekali. “Lilani, jangan...” katanya.

Akan tetapi Lilani tidak peduli dan hendak melompat menerjang keluar. Lie Siong segera mendahuluinya, cepat mengirim serangan kilat dan robohlah gadis itu dalam pelukannya dengan tubuh lemas tak berdaya sedikit pun juga.

“Serahkan dia kepada kami!” terdengar teriakan berulang-ulang dari para penyerbu itu.

Lie Siong maklum bahwa mereka itu sedang marah sekali, jadi tidak perlu bicara dengan mereka. Maka ia lalu menyambar pakaian gadis itu, dan sekali ia berkelebat keluar pintu, ia telah melompat keluar sambil menggendong Lilani.

Beberapa orang yang berdiri menghalangi pintu terlempar ke kanan kiri ketika terdorong oleh sebelah tangannya! Lie Siong tidak mempedulikan teriakan-teriakan mereka, dan ia langsung memasuki kamarnya, menyambar pedang serta buntalannya, sambil dikejar beramai-ramai oleh orang-orang itu.

Akan tetapi ketika mereka sampai di depan kamar pemuda ini, Lie Siong telah berkelebat keluar dan orang-orang itu hanya berdiri sambil melongo ketika melihat betapa pemuda yang menggendong gadis itu sekali mengenjotkan tubuh, telah dapat melompat ke atas genteng dan menghilang di dalam gelap!

Pada waktu Lie Siong melihat betapa keadaan gadis itu makin lama semakin tidak beres pikirannya, dia menjadi bingung sekali. Dia tidak tega dan merasa amat kasihan kepada Lilani, sungguh pun harus dia akui bahwa dia tidak mencinta gadis ini seperti cinta Lilani kepadanya. Dia hanya merasa kasihan dan bertanggung jawab.

Kini melihat keadaan Lilani yang demikian, dia merasa makin kasihan. Hatinya tidak tega untuk meninggalkan gadis ini, sungguh pun dia tahu kalau dia terus menerus berada di dekat gadis ini, dia takkan dapat bergerak bebas. Sekarang dia hendak mencari Lo Sian untuk bertanya tentang keadaan ayahnya, akan tetapi dengan Lilani yang sudah menjadi gila ini di dekatnya, bagaimana ia dapat mencapai maksudnya? Untuk membiarkan gadis ini terlepas seorang diri saja, dia juga tak sampai hati.

Akhirnya ia teringat kepada Thian Kek Hwesio di kuil Siauw-lim-si di kota Kiciu. Bukankah dulu pendeta gundul yang gemuk itu pernah mengobati Lo Sian? Pikiran ini membuat dia merubah niatnya untuk ke Shaning, dan ia langsung membawa Lilani ke Ki-ciu.

Ketika ia memasuki kuil itu, mau tak mau ia berdebar dan mukanya berubah merah. Dia teringat betapa di sini ia bertempur melawah Lili, puteri Pendekar Bodoh itu dan betapa ia terluka pundaknya akan tetapi berhasil merampas sebuah sepatu gadis itu yang sampai kini masih disimpannya baik-baik di dalam kantong bajunya!

Thian Kek Hwesio menerimanya dengan muka dan sikap ramah tamah. Hwesio ini segera mengenalnya sebagai pemuda yang mengaku menjadi putera Lie Kong Sian, maka dia segera menyambut dengan ucapan halus,

“Anak muda, keperluan apakah yang membawamu datang ke tempatku yang buruk ini? Jangan kau menghunus pedangmu, pinceng sama sekali tidak pandai melayanimu dan pinceng paling takut melihat berkelebatnya pedang!”

Makin merah wajah Lie Siong mendengar sindiran ini. Betapa pun kerasnya hatinya, dia masih mempunyai perasaan juga dan kalau perlu, dia dapat menjadi seorang pemuda yang ramah tamah, sopan santun, dan halus. Memang pemuda ini merupakan bayangan ke dua dari sifat ibunya, Ang I Niocu, Pendekar Baju Merah yang aneh itu. Ia pun cepat menjura dengan hormat sekali dan berkata,

“Lo-suhu, mohon kau orang tua sudi memberi maaf sebesarnya kepada aku yang muda, kasar dan bodoh. Kedatanganku ini tidak lain hendak mohon pertolonganmu. Sahabatku, Nona ini, entah mengapa tiba-tiba menjadi aneh sekali dan pikirannya berubah, mohon kau orang tua sudi mengobatinya.”

Thian Kek Hwesio memandang kepada Lilani dengan mata tajam, sedangkan gadis itu berdiri bengong dan sama sekali tidak melihatnya, melainkan menatap ke arah patung-patung batu sambil melamun.

“Nona, kau kenapakah?” tanya hwesio itu dengan suara halus, akan tetapi Lie Siong merasa kagum sekali karena di dalam suara yang halus ini timbul pengaruh yang kuat sekali, yang dapat membuat orang menjadi tunduk.

Mungkin dikarenakan suara ini, atau memang jalan pikiran Lilani sedang teringat kepada kakeknya ketika melihat betapa hwesio itu memandangnya dengan mata mengasihani, karena tiba-tiba saja gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu. Kemudian Lilani berkata-kata dalam bahasa Haimi yang sama sekali tak dimengerti oleh Lie Siong, akan tetapi ia menjadi kagum sekali karena Thian Kek Hwesio ternyata dapat mengerti ucapan gadis ini, bahkan lalu menjawab dalam bahasa Haimi pula!

“Sicu, sahabatmu ini menderita tekanan batin yang sangat hebat sehingga mengganggu urat syarafnya. Pinceng tidak tahu mengapa dia mengalami kedukaan dan kekecewaan sedemikian rupa, akan tetapi mudah sekali untuk menyembuhkannya asal saja dia mau beristirahat di sini.”

Dengan girang sekali Lie Siong lalu menjura dan menghaturkan terima kasih. “Lo-suhu, sesungguhnya aku mempunyai urusan yang amat penting, maka kalau kiranya Lo-suhu sudi menolong, aku hendak meninggalkannya untuk sementara waktu di sini.”

“Boleh saja, Sicu. Pinceng percaya bahwa kau tentu kelak akan datang mengambilnya kembali setelah dia menjadi sembuh. Pinceng merasa bahwa gadis ini tak dapat ditinggal begitu saja olehmu.”

“Tentu, Lo-suhu. Aku takkan pergi lama dan pasti akan kembali mengambil Lilani, karena memang tujuan kami hendak ke utara.”

“Pinceng percaya penuh kepada omongan putera Lie Kong Sian Taihiap.”

Lie Siong memandang dengan penuh terima kasih, kemudian ia pun menghampiri Lilani. “Lilani, harap kau beristirahat di sini dulu dan aku akan kembali mengambilmu lagi apa bila urusanku sudah selesai.”

Akan tetapi gadis itu tidak menjawabnya, hanya berkata-kata dalam bahasa Haimi yang tidak dimengerti oleh Lie Siong. Akan tetapi Thian Kek Hwesio terharu ketika mendengar gadis itu berkata, “Taihiap, hanya engkau seorang yang kucinta, dan aku akan menurut segala kata-katamu.”

Ucapan yang tak dimengerti oleh Lie Siong akan tetapi dapat dimengerti baik oleh hwesio ini membuat Thian Kek Hwesio dapat menduga bahwa gadis ini tentulah sudah menderita asmara tak terbalas! Lie Siong lalu meninggalkan kuil dan segera menuju ke Shaning.

Demikianlah, pada malam hari itu, sebagaimana telah dituturkan pada bagian depan, Lie Siong melompat ke atas wuwungan rumah keluarga Pendekar Bodoh. Siangnya dia telah mendapat keterangan bahwa Lo Sian masih tinggal di rumah Sie Cin Hai dan bahwa Pendekar Bodoh beserta isterinya tidak berada di rumah. Yang ada hanya Lo Sian dan Lili, puteri Pendekar Bodoh.

Hal ini menggirangkan hatinya, karena betapa pun juga, Lie Siong merasa gentar juga menghadapi Pendekar Bodoh suami isteri. Kepandaian puterinya saja sudah sedemikian hebat, apa lagi mereka!

Ia sama sekali tidak mengira bahwa kedatangannya pada malam hari itu kebetulan sekali bertepatan dengan kedatangan seorang pemuda lain, yakni Song Kam Seng! Berbeda dengan Lie Siong, maksud kedatangan ini adalah hendak membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh!

Akan tetapi dengan kecewa Kam Seng mendengar keterangan bahwa Pendekar Bodoh dan isterinya sedang keluar kota, maka dia lalu datang dengan maksud mencuri pedang Liong-cu-kiam, pedang yang dulu telah mengalahkan mendiang ayahnya, Song Kun!

Kedatangan Kam Seng di malam hari itu lebih dulu dari Lie Siong. Kam Seng langsung masuk ke dalam dan berhasil mencari kamar Pendekar Bodoh yang digeledahnya, akan tetapi dia tidak dapat menemukan pedang itu karena pedang itu dibawa oleh Pendekar Bodoh.

Ada pun Lie Siong yang masuk dari kebun belakang, melihat tiga orang pelayan yang cepat ditotoknya sehingga mereka itu tidak berdaya lagi. Kemudian pemuda ini melayang naik ke atas loteng ketika dia melihat berkelebatnya bayangan Lili yang mencari-cari di luar rumah! Saat yang baik itu merupakan kesempatan baginya. Ia merobohkan Lo Sian dengan totokan dan membawa orang tua itu melompat turun.

Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar seruan perlahan,

“Bangsat, jangan kau berani menculik Suhu!” Tiba-tiba sesosok bayangan yang cukup gesit telah menyerangnya dari samping.

Lie Siong menjadi kaget dan juga heran. Siapakah adanya pemuda yang menjadi murid Lo Sian ini? Dia cepat mengelak dan meloncat jauh, kemudian melarikan diri dengan ilmu lari cepatnya, akan tetapi ternyata bahwa ilmu lari larinya hanya menang sedikit saja dari pemuda yang mengejarnya itu. Mudah saja kita menduga bahwa pemuda ini bukan lain adalah Song Kam Seng yang juga sudah keluar dari gedung itu dengan tangan hampa.

Melihat pengejarnya juga mampu berlari cepat, Lie Siong lalu menyembunyikan Lo Sian yang tidak dapat bergerak itu di dalam serumpun tetumbuhan, kemudian dia keluar dan menghampiri Song Kam Seng. Tanpa banyak cakap lagi keduanya lantas bertempur dan ternyata kepandaian mereka berimbang.

Harus diketahui bahwa Song Kam Seng sekarang bukan seperti dulu ketika ia dikalahkan oleh Lili. Kam Seng telah melatih diri dengan hebat dan tekunnya, telah banyak mewarisi kepandaian Wi Kong Siansu, maka tidak mudah bagi Lie Siong untuk mengalahkannya.

Dan ketika mereka bertempur dengan serunya, datanglah Lili yang mengejar. Keduanya takut kepada gadis ini, bukan takut kalah bertempur, akan tetapi Lie Siong tidak mau usahanya membawa Lo Sian akan terganggu, ada pun Song Kam Seng betapa pun juga tidak mau bertempur dengan gadis yang lihai dan yang dicintainya ini. Maka keduanya lalu berlari dan kebetulan sekali Lili mengejar Kam Seng, mendiamkan Lie Siong yang dengan enaknya lalu dapat membawa lari Lo Sian!

Demikianlah, seperti sudah kita ketahui, Lili menjadi bingung dan sedih sekali. Ketika ia mendengar keterangan para pelayannya yang dibuat tak berdaya oleh totokan Lie Siong, barulah gadis ini dapat menduga bahwa yang datang di rumahnya malam itu adalah dua orang, yaitu Kam Seng dan Lie Siong!

Tak salah lagi, pikirnya, yang mencuri Lo-pek-hu tentulah manusia kurang ajar yang dulu mengaku putera Ang I Niocu itu! Ia setengah dapat menduga bahwa penculikan ini tentu ada hubungannya dengan ucapan Lo Sian mengenai kematian Lie Kong Sian. Rupanya ucapan itu ada betulnya dan kini pemuda yang mengaku putera Lie Kong Sian itu tentu menculik Lo Sian untuk mendapat keterangan tentang ayahnya.

Hanya perbuatan Kam Seng yang membongkar kamar dan membuka lemari ayahnya itu masih membingungkannya. Munculnya Kam Seng di malam hari di rumahnya tidak aneh, karena memang pemuda itu pernah mengancam hendak membalas dendam terhadap ayahnya, akan tetapi mengapa pemuda itu membongkar-bongkar lemari seperti seorang maling biasa? Benar-benar ia tidak mengerti.

Pada keesokan harinya, Lili lalu menyerahkan perawatan rumah kepada para pelayan, sedangkan ia sendiri lalu pergi menyusul orang tuanya di Tiang-an. Tak enak ia berdiam di rumah saja, maka sambil mencoba untuk mengejar ‘pemuda kurang ajar’ yang sudah menculik Lo Sian, dia menuju ke Tiang-an untuk menyusul ayah-bundanya dan memberi laporan tentang terjadinya peristiwa itu…..

********************

Mari kita mengikuti perjalanan Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh dengan Lin Lin isterinya yang menuju ke Tiang-an untuk mengunjungi Kwee An dan Ma Hoa untuk membicarakan tentang perjodohan putera mereka.

Mereka melakukan perjalanan berkuda dan seperti biasa, Lin Lin amat gembira di dalam perjalanan itu sehingga suaminya sering kali memandang dengan kagum karena merasa seakan-akan isterinya ini masih seperti dulu saja! Baginya, Lin Lin sampai sekarang tidak berubah, masih seperti Lin Lin pada waktu remaja puteri, lincah dan jenaka.

Pada suatu hari, ketika sepasang suami isteri pendekar ini berada di sebelah selatan kota Tiang-an, kurang lebih tiga puluh lie lagi dari Tiang-an, dan mereka sedang menjalankan kuda dengan cepatnya, tiba-tiba pada sebuah tikungan jalan, hampir saja kuda mereka beradu dengan seekor kuda yang dilarikan cepat dari depan!

Penunggang kuda itu seorang pemuda yang tampan dan gagah, cepat menarik kendali kudanya dan sambil mengeluarkan suara keras, kudanya yang besar itu berhenti dengan tiba-tiba, mengangkat kedua kaki depan ke atas dan meringkik-ringkik!

Pemuda ini adalah Kam Liong, panglima muda yang sedang menuju ke selatan untuk mengadakan pemeriksaan pada penjagaan di selatan, serta sekaligus hendak singgah di Shaning untuk mewartakan kepada Pendekar Bodoh tentang mala petaka yang menimpa diri puteranya.

Kam Liong membelalakkan matanya dan tadinya dia hendak marah terhadap dua orang penunggang kuda itu, akan tetapi akhirnya dia menjadi heran dan terkejut sekali betapa dua orang penunggang kuda itu pun dapat menghentikan kuda mereka dengan tiba-tiba dan tenang saja, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

Ia sendiri yang terkenal sebagai seorang ahli penunggang kuda hanya bisa menghentikan larinya kuda dengan kekerasan sampai kudanya merasa sakit pada hidungnya sehingga berjingkrak-jingkrak, akan tetapi bagaimanakah dua orang itu demikian tenang dan kuda mereka berhenti seakan-akan empat kaki kuda mereka tiba-tiba berakar pada tanah?

Dia dapat menduga bahwa dua orang yang nampaknya gagah ini tentulah orang-orang berkepandaian tinggi, maka cepat Kam Liong melompat turun dari kudanya dan menjura dengan hormatnya.

“Harap Ji-wi sudi memberi maaf kepada siauwte kalau siauwte mendatangkan kekagetan kepada Ji-wi.”

“Siapa yang kaget?” Lin Lin menjawab sambil tersenyum manis karena dia merasa suka kepada pemuda yang nampak sopan ini. “Kalau ada yang kaget, agaknya kudamu itulah yang kaget.”

Merah muka Kam Liong mendengar ucapan nyonya setengah tua yang cantik itu. Walau pun nyonya itu mengatakan bahwa yang kaget adalah kudanya, akan tetapi tentu mereka itu telah melihat bahwa yang kaget sebenarnya adalah dia sendiri!

“Siauwte she Kam bernama Liong,” ia memperkenalkan diri, “karena siauwte mempunyai urusan penting, maka buru-buru membalapkan kuda. Sungguh sangat hebat kepandaian Ji-wi menunggang kuda, benar-benar membuat siauwte tunduk sekali.”

Cin Hai dan Lin Lin memandang tajam. Jadi inikah pemuda putera Panglima Hong Sin seperti yang telah diceritakan oleh Lili itu? Tentu saja mereka tidak menduga sama sekali oleh karena Kam Liong memang selalu berpakaian biasa saja apa bila sedang melakukan pemeriksaan.

“Kaukah putera dari Panglima Kam Hong Sin?” tanya Cin Hai tiba-tiba dengan langsung, sesuai dengan wataknya yang jujur.

Kam Liong tertegun. “Benar, Lo-enghiong, tidak tahu siauwte sedang berhadapan dengan siapakah?”

“Ayahmu adalah seorang yang jujur dan baik,” kata Cin Hai tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu, “kami kenal baik dengan ayahmu itu. Sayang kami belum dapat bertemu lagi sebelum dia gugur dalam peperangan.”

Kam Liong memandang semakin tajam dan tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Cepat dia mengerling ke arah nyonya itu, dan sekilas melihat saja maka lenyaplah keraguannya. Wajah nyonya itu sama benar dengan wajah Lili, gadis yang dirindukannya!

Dengan hati berdebar gembira dia menjura lagi sambil berkata, “Salahkah kalau siauwte mengatakan bahwa Sie-taihiap, Pendekar Bodoh yang terhormat bersama dengan isteri yang siauwte hadapi ini?”

“Pandangan matamu tajam juga, orang muda. Kau tidak menduga salah,” jawab Lin Lin.

Mendadak Kam Liong menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Cin Hai dan Lin Lin saling pandang dengan senyum di bibir, kemudian terpaksa mereka pun melompat turun dari kuda. Cin Hai cepat memegang pundak Kam Liong untuk mengangkatnya bangun.

Pemuda ini amat cerdik. Dia tertarik oleh Lili dan ingin sekali meminang gadis itu menjadi isterinya, maka kini bertemu dengan orang tua gadis itu, cepat ia memberi hormat. Ketika merasa betapa kedua tangan Cin Hai menyentuh pundaknya, Kam Liong secara sengaja mengerahkan tenaga Jeng-kin-kang (Tenaga Seribu Kati) supaya dapat memperlihatkan kemampuannya.

Akan tetapi, alangkah kagetnya saat pundaknya yang tadinya dikeraskan dengan tenaga Jeng-king-kang itu begitu tersentuh dan tertekan oleh jari-jari tangan Cin Hai, mendadak tenaganya lenyap sama sekali dan tubuhnya berubah menjadi lemas hingga dia terpaksa menurut saja ketika dia diangkat bangun.

“Mohon ampun sebanyaknya bahwa siauwte yang bodoh bermata buta, tidak melihat dan mengenal pendekar-pendekat besar! Sebenarnya pertemuan ini sangat membahagiakan hatiku, karena sesungguhnya siauwte memang hendak pergi ke Shaning ingin bertemu dengan Ji-wi.”

“Ada keperluan apakah Ciangkun hendak bertemu dengan kami?” tanya Cin Hai sambil memandang dengan penuh perhatian, karena sesungguhnya ia tidak begitu suka untuk berhubungan dengan segala perwira atau panglima kerajaan. Hatinya masih terluka oleh sepak terjang para perwira kerajaan yang banyak menyusahkan hidupnya pada waktu ia muda dulu.

Akan tetapi, hati Lin Lin sudah tertarik oleh kesopanan pemuda ini. Biar pun dia memiliki kedudukan tinggi, akan tetapi pandai sekali membawa diri, tidak sombong dan bersikap sopan santun. Bagi para pembaca yang sudah pernah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa Lin Lin sendiri adalah puteri dari seorang perwira, maka tentu saja dia tidak merasakan ketidak sukaan terhadap kaum perwira seperti yang dirasakan oleh suaminya.

“Tentu ada keperluan yang amat penting sehingga Ciangkun sampai meninggalkan kota raja untuk mencari kami,” kata Lin Lin dengan suara lebih halus.

“Sesungguhnya, siauwte membawa berita yang amat penting mengenai keadaan putera Ji-wi, yaitu Sie Hong Beng.”

“Dia di mana? Apa yang terjadi?” Lin Lin mendesak dengan muka berubah mengandung kekuatiran.

Sudah lajimnya para lbu selalu menguatirkan keadaan puteranya. Cin Hai tetap tenang saja dan hanya sinar matanya yang mendesak kepada Kam Liong supaya cepat-cepat menceritakan apa yang telah terjadi atas diri Hong Beng.

Kam Liong lalu menuturkan dengan sejelasnya betapa Goat Lan dan Hong Beng dengan cara kekerasan telah berhasil menolong Putera Mahkota, dan betapa kemudian Goat Lan diberi karunia, diangkat menjadi selir pertama untuk Putera Mahkota yang ditolak dengan tegas oleh Giok Lan sehingga gadis itu dihukum buang ke utara dan dikawani oleh Hong Beng! Tentu saja ia tidak lupa untuk menuturkan betapa ia telah menyusul kedua orang muda itu dan memberi kuda serta memberi petunjuk.

“Siauwte sudah memberi tahu kepada Saudara Hong Beng dan Nona Kwee agar supaya mereka dan para pengawal mereka mengambil kedudukan di lereng Gunung Alkata-san, di mana siauwte dahulu mempunyai sebuah benteng yang cukup baik kedudukannya dan kuat. Bila sudah selesai tugas siauwte ke selatan, siauwte juga akan memimpin pasukan ke utara. Hal ini penting sekali karena bukan hanya bangsa Tartar saja yang mengacau, akan tetapi ada desas-desus yang mengabarkan bahwa kini bangsa Mongol di utara di bawah pimpinan raja mereka, Malangi Khan, juga hendak menyerbu ke selatan!”

Mendengar penuturan pemuda ini, Cin Hai hanya menggigit bibirnya, akan tetapi Lin Lin membanting-banting kedua kakinya dengan gemas.

“Kaisar bu-to (tiada pribudi)! Sudah ditolong nyawa anaknya, masih tidak berterima kasih, bahkan hendak menjadikan calon mantuku sebagai selir Putera Mahkota! Dia kira orang macam apakah Goat Lan itu? Sungguh tak tahu membedakan orang!”

Kam Liong adalah seorang panglima muda yang mempunyai kesetiaan terhadap Kaisar, seperti ayahnya dahulu. Oleh karena itu, mendengar betapa Lin Lin memaki Kaisar, dia menjadi tidak senang juga. Ia pun terkejut mendengar bahwa Goat Lan adalah tunangan Hong Beng sebagaimana baru saja disebut oleh Lin Lin bahwa Goat Lan adalah calon mantunya. Untuk membela nama Kaisar, Kam Liong berkata,

“Sayang sekali bahwa Nona Kwee Goat Lan atau Saudara Sie Hong Beng tidak berterus terang saja kepada Hong-siang bahwa mereka berdua sudah bertunangan. Kalau Kaisar mengetahui akan hal ini, siauwte merasa pasti Nona Kwee tak akan dipaksa menjadi selir Putera Mahkota. Sebenarnya, menjadi selir pertama dari Putera Mahkota adalah suatu kehormatan yang tinggi sekali, karena siapa tahu kalau Putera Mahkota kelak menjadi kaisar dan selir pertama sangat dicintanya, wanita itu mempunyai harapan untuk menjadi permaisuri? Dengan penolakan Nona Kwee, penolakan secara langsung di hadapan para menteri serta pembesar tinggi, sudah tentu saja Kaisar merasa terhina sekali sehingga menjatuhkan hukum buang. Siauwte menjelaskan hal ini supaya Ji-wi tidak menjadi salah mengerti.”

Cin Hai dan Lin Lin mengangguk-angguk, bahkan Cin Hai lalu menarik napas panjang dan berkata,

“Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu kaum bangsawan dan pembesar mempunyai kekuasaan dan kebenaran tersendiri, tanah yang mereka injak pun berada di atas kepala rakyat kecil!”

“Kita harus menyusul Beng-ji ke utara!” kata Lin Lin. “Baiknya kita memberi tahu kepada Engko An dan Enci Ma Hoa tentang hal ini. Mereka juga berhak mendengar berita perihal puteri mereka.”

“Ke utara bukan tempat dekat dan tidak dapat dilakukan dalam waktu pendek. Kalau kita langsung ke sana, bagaimana dengan Lili? Apakah dia takkan gelisah dan menanti-nanti kita?” kata Cin Hai. Kedua suami-isteri ini dalam ketegangannya sampai lupa bahwa di situ masih ada Kam Liong yang diam-diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Maaf, Ji-wi harap jangan mengira siauwte hendak kurang ajar. Akan tetapi sesungguhnya perjalanan siauwte ke selatan akan melalui Shaning. Jika kiranya Ji-wi tak berkeberatan, siauwte dapat menyampaikan berita ini ke rumah ji-wi, karena siauwte pernah mendapat kehormatan bertemu dengan puteri Ji-wi.”

Cin Hai mengerutkan keningnya, akan tetapi Lin Lin menjawab dengan girang,

“Bagus, kau baik sekali, Ciangkun. Lili juga telah menceritakan pertemuannya denganmu. Baiklah, apa bila kau melalui Shaning, tolong kau beritahukan kepada puteri kami bahwa kami mungkin akan terus ke utara untuk menyusul Hong Beng.”

Kam Liong merasa girang sekali, akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaan hatinya pada wajahnya, hanya menyatakan kesanggupannya dengan sikap sopan. Mereka lalu berpisah, kedua suami-isteri pendekar itu cepat mengaburkan kudanya ke Tiang-an, ada pun Kam Liong dengan hati girang lalu menuju ke Shaning.

Ketika tiba di halaman depan rumah gedung yang ditinggali oleh Kwee An di Tiang-an, seorang pelayan tua yang segera mengenal mereka cepat menyambut dan memegang kendali kuda mereka untuk dibawa ke kandang kuda.

“Selamat datang, Sie-taihiap berdua, selamat datang!” katanya girang.

Terdengar suara teriakan girang dan nampak seorang anak laki-laki yang bermuka putih dan bundar berusia kurang lebih sembilan tahun berlari keluar dari pintu depan.

“Kouw-kouw dan Kouw-thio datang...!” serunya.

“Cin-ji (Anak Cin), engkau sudah besar sekarang!” seru Lin Lin yang segera menyambut anak itu dengan kedua tangan terbuka. Dipeluknya Kwee Cin, anak ke dua dari Kwee An dan Ma Hoa dengan girang.

Pada waktu Cin Hai memeluknya pula, anak itu berbisik kepadanya, “Kouw-thio (Paman, suami Bibi), kapan kau mau mengajarku Liong-cu Kiam-sut?”

Cin Hai tertawa. Ketika anak ini baru berusia lima tahun, anak ini telah pula mengajukan permintaan untuk belajar ilmu pedang darinya. Dan sekarang anak ini menanyakan hal itu pula, sungguh seorang anak yang teguh kehendaknya.

“Bukankah ilmu pedang ayahmu juga bagus sekali? Dan ilmu bambu runcing ibumu tiada keduanya di dunia ini!” kata Cin Hai.

Kwee Cin berkata bangga, “Memang ilmu bambu runcing Ibu tidak ada bandingannya di atas dunia ini, akan tetapi kata Ayah, dalam hal ilmu pedang, tak ada yang melebihi Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut dari Kouw-thio!”

“Baiklah, Cin-ji, kelak kalau ada waktu, kau boleh mempelajari ilmu pedang dariku.”

Kwee Cin menjadi girang sekali dan ia lalu menarik tangan bibi dan pamannya itu, diajak masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, sebelum mereka melangkah ke ambang pintu, dari dalam keluarlah Kwee An dan Ma Hoa dengan wajah girang sekali. Kedua suami isteri ini telah mendengar dari pelayan akan kedatangan kedua orang tamu dari Shaning ini.

Mereka segera bercakap-cakap dengan gembira sekali, akan tetapi kegembiraan mereka itu tidak berlangsung lama, terutama bagi pihak tuan rumah. Ketika Lin Lin menceritakan lagi penuturan Kam Liong mengenai peristiwa yang terjadi di istana kaisar dan hukuman yang dijatuhkan Kaisar kepada Goat Lan, wajah Ma Hoa menjadi pucat.

Seperti juga suaminya, Ma Hoa juga puteri seorang perwira, maka ia tahu betul akan arti semua peristiwa ini.

“Keputusan Kaisar tidak dapat diubah. Tidak ada jalan lain, kita harus menyusul ke utara untuk membantu tugas yang diberikan kepada anak kita!” kata Ma Hoa sesudah dapat menenteramkan hatinya dari berita mengejutkan ini.

“Memang kami berdua pun telah mengambil keputusan hendak menyusul ke sana,” kata Lin Lin yang kemudian menceritakan bahwa Hong Beng dan Goat Lan sudah mendapat pertolongan Kam Liong bahkan telah diberi nasehat untuk menempati bekas benteng di lereng Bukit Alkata-san.

“Biar aku saja yang pergi bersama Lin Lin dan Cin Hai,” kata Kwee An kepada isterinya. “Kita tidak dapat pergi berdua meninggalkan Cin-ji seorang diri di rumah. Begitu banyak orang-orang jahat sedang memusuhi kita, maka tidak baik kalau rumah ditinggalkan, apa lagi jika meninggalkan Cin-ji seorang diri tanpa ada yang menjaganya.”

“Ayah, aku juga mau pergi! Aku mau ikut pergi menyusul Enci Lan dan membantu dia menghancurkan para pengacau yang mengganggu orang-orang di daerah perbatasan!” tiba-tiba Kwee Cin berkata dengan penuh semangat. Anak ini nampak lucu sekali, kedua tangannya dikepal dan sepasang matanya bersinar-sinar!

“Tidak boleh, sama sekali tidak boleh!” ayahnya berkata. “Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah. Kau tinggal di rumah dengan ibumu!”

Kwee Cin tampak murung, akan tetapi Ma Hoa yang dapat merasakan kebenaran ucapan suaminya ini, lalu menghibur puteranya dan berkata, “Ayahmu berkata benar, Cin-ji. Kau tak boleh ikut dan kita berdua tinggal di rumah menjaga kalau-kalau ada musuh datang.”

“Kalau ada musuh datang, jangan sembunyikan aku di dalam kamar, Ibu. Biarkan aku ikut menghadapi mereka!”

Sesudah ibunya menyanggupi, barulah Kwee Cin tidak murung lagi. Cin Hai dan Lin Lin hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An, dan pada keesokan harinya, Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin berangkat naik kuda menuju ke utara…..

********************

Kam Liong yang merasa senang sekali, membalapkan kudanya menuju ke kota Shaning. Ia merasa amat bahagia, karena dapat bertemu dengan Pendekar Bodoh dan isterinya dan bisa membantu mereka. Tak dapat tidak, dia tentu telah mendatangkan kesan baik di dalam hati mereka. Akan lebih licinlah jalan menuju kepada cita-citanya, yaitu melakukan pinangan terhadap Lili. Dan sekarang ia bahkan telah mendapat perkenan mereka untuk menyampaikan berita tentang Hong Beng dan tentang kedua suami isteri itu kepada Lili, gadis yang membuatnya tidak nyenyak tidur setiap malam.

Akan tetapi, ketika ia teringat akan sesuatu, tak terasa pula ia menahan lari kudanya. Ia duduk di atas kuda yang kini tak lari lagi itu dengan bengong dan wajahnya menjadi amat muram. Bagaimana kalau ternyata bahwa Lili juga telah ditunangkan dengan lain orang? Seperti halnya Hong Beng dan Goat Lan, tanpa ia duga mereka ini sudah bertunangan! Siapa tahu kalau-kalau Lili juga sudah ditunangkan! Tidak, tidak, tidak mungkin! Ia cepat membantah jalan pikirannya sendiri dan kembali ia mengaburkan kudanya.

Ketika ia memasuki kota Shaning, tiba-tiba ia melihat seorang gadis berjalan seorang diri dari depan. Ia menjadi terkejut dan juga girang karena ia mengenal gadis itu yang bukan lain adalah Lili yang berjalan sambil menggendong buntalan, ada pun gagang pedangnya nampak pada balik punggungnya. Meski pun gadis itu berada di tempat yang jauh, sekali melihat bayangannya saja, Kam Liong akan mengenalnya!

Ia cepat melompat turun dari kudanya dan kini ia berjalan kaki sambil menuntun kuda, menyongsong kedatangan Lili. Gadis ini pun ternyata sudah mengenalinya, maka segera menghampirinya. Lili bukan seorang gadis pemalu dan dia ramah tamah pula. Panglima muda ini telah berlaku ramah kepadanya, bahkan telah memberi surat tentang kakaknya, maka tidak dapat dia membiarkan pemuda itu berlalu begitu saja. Sesudah berhadapan keduanya saling memberi hormat sambil menjura.

“Sie-siocia (Nona Sie), sungguh kebetulan sekali kita dapat bertemu di sini! Aku sedang menuju ke rumahmu untuk menyampaikan pesan orang tuamu!”

Lili tertegun. Bagaimana ayah bundanya dapat menyampaikan pesan kepadanya melalui Panglima Muda ini? Akan tetapi, setelah membalas penghormatan pemuda itu ia berkata,

“Di manakah kau berjumpa dengan ayah ibuku, Kam-ciangkun?”

“Di luar kota Tiang-an. Akan tetapi, marilah kita duduk di sana karena ceritaku panjang, Nona.” Kam Liong menunjuk ke arah sebatang pohon besar yang berada di pinggir jalan, maka Lili lalu mengikuti pemuda ini ke tempat itu.

Setelah mengikat kudanya pada akar pohon dan membiarkan binatang itu makan rumput di bawah pohon, Kam Liong lalu mengajak gadis itu duduk di atas batu besar dan dia pun mulai menceritakan semua hal yang telah terjadi. Ia menuturkan tentang Goat Lan dan Hong Beng, kemudian menuturkan pula tentang pertemuannya dengan Pendekar Bodoh dan isterinya.

“Kalau begitu, ayah dan ibuku telah berangkat dan menyusul ke utara, Kam-ciangkun?”

Kam Liong mengangguk. “Mungkin ayah bundamu telah pergi dengan Kwee Lo-enghiong, karena menurut mereka, sebelum berangkat hendak pergi ke Tiang-an mengajak orang tua gagah she Kwee itu.”

Lili nampak kecewa. “Ahh, kalau begitu mereka tentu telah berangkat. Aku harus segera menyusul mereka ke utara! Ahh, kasihan sekali Engko Hong Beng dan Enci Goat Lan!” Kemudian ia bangkit berdiri, menjura kepada Kam Liong dan berkata,

“Kam-ciangkun, banyak terima kasih untuk semua jerih payahmu menyampaikan berita penting ini kepadaku. Aku harus berangkat sekarang juga untuk menyusul mereka di utara!”

“Nanti dulu, Nona Sie. Ketahuilah bahwa aku sendiri pun hendak memimpin pasukan menuju ke utara. Aku telah berjanji kepada kakakmu untuk membantu mereka menghalau para pengacau dan membuat penjagaan kuat di perbatasan utara untuk menolak bahaya yang datang dari pihak Mongol. Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah, selain di daerah itu amat tidak aman dan banyak sekali penjahat, juga bagi yang belum pernah melakukan perantauan ke daerah itu, akan sukar mencari jalan ke Alkata-san. Tentu saja aku percaya penuh bahwa kau tak akan gentar menghadapi para penjahat, akan tetapi, kalau kau sudi, lebih baik kau melakukan perjalanan bersama aku dan pasukanku. Selain tidak membuang banyak waktu untuk mencari-cari, juga di tempat berbahaya itu lebih baik berkawan dari pada seorang diri saja. Daerah itu amat dingin dan kalau sampai kau terserang hawa dingin kemudian jatuh sakit, siapakah yang akan menolongmu? Dengan bergabung, kita lebih kuat menghadapi bahaya. Tentu saja aku tidak memaksamu, yakni kalau kau sudi melakukan perjalanan dengan orang bodoh seperti aku ini.”

Lili berpikir sejenak. Panglima Muda ini cukup sopan dan pemurah, juga seorang kawan seperjuangan yang tidak menjemukan. Dan dia sudah banyak menolongnya, maka apa salahnya melakukan perjalanan bersama? Kalau dipikir-pikir memang betul juga ucapan Panglima Muda ini, karena bukankah Sin Kong Tianglo, guru dari Goat Lan yang sangat sakti pun terkena bencana di daerah dingin itu? Selain dari pada semua itu, dia masih ingin banyak bertanya kepada panglima ini, baik mengenai pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, mau pun penjelasan tentang isi suratnya dahulu, yaitu surat dari Kam Liong yang memberitahukan bahwa kakaknya telah menjadi orang buruan!

“Baiklah, Kam-ciangkun, dan untuk kedua kalinya, terima kasih atas kebaikan hatimu.”

Kam Liong merasa girang sekali, seakan-akan kejatuhan bulan. Akan tetapi tentu saja ia tak mengutarakan kegirangannya ini, hanya nampak senyumnya melebar dan wajahnya berseri.

“Marilah kita ke kota Shaning dulu, Nona. Aku perlu memberi pesan kepada pembesar di Shaning agar pekerjaanku memeriksa penjagaan di selatan dapat diwakili oleh seorang perwira lain.”

Demikianlah, kedua orang muda ini masuk kota Shaning dan Kam Liong cepat memberi perintah pada pembesar setempat untuk menyampaikan surat-surat perintahnya kepada komandan barisan yang menjaga di daerah selatan. Ketika melihat tanda pangkat yang dikeluarkan oleh Kam Liong, pembesar itu segera menghormatinya sebagai seorang panglima kerajaan yang berkedudukan tinggi. Pemuda ini lalu meminta seekor kuda yang baik untuk Lili, dan pada hari itu juga, berangkatlah keduanya keluar dari kota Shaning, langsung menuju ke utara!

Sungguh sangat sedap dipandang melihat sepasang orang muda ini membalapkan kuda mereka. Yang laki-laki muda, tampan, dan gagah sekali. Yang wanita cantik jelita dan juga amat gagah. Mereka seakan-akan merupakan dua orang pembalap yang melarikan kuda untuk berlomba.

Diam-diam Kam Liong makin merasa kagum kepada Lili yang ternyata selain memiliki kepandaian tinggi, juga pandai sekali naik kuda. Ingin sekali dia menyaksikan sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian puteri dari Pendekar Bodoh ini. Dia telah menyaksikan kepandaian Hong Beng dan merasa kagum sekali. Apakah Lili juga sepandai kakaknya?

Di sepanjang jalan, Kam Liong selalu disambut dengan penuh penghormatan oleh para perwira dan pembesar setempat sehingga diam-diam Lili juga mengagumi pemuda yang masih muda sudah menduduki tempat tinggi ini. Juga Kam Liong selalu memperlihatkan sikap sopan santun, jauh sekali bedanya dengan pemuda kurang ajar yang dulu mencuri sepatunya itu! Lebih-lebih kalau ia teringat betapa pemuda kurang ajar itu telah menculik Lo Sian, makin gemaslah hatinya!

Pada saat Kam Liong ditanya oleh Lili mengenai pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, Panglima Muda ini lalu menceritakannya dengan sejelasnya, diiringi dengan pujian-pujian kepada Goat Lan dan Hong Beng sehingga Lili makin suka kepada pemuda ini.

“Dan ketika aku melihatmu, kau nampak murung. Sebenarnya, kalau boleh kiranya aku mengetahui, kau sedang menuju ke manakah, Nona?”

Apa bila pertanyaan ini diajukan oleh Kam Liong pada saat mereka bertemu, belum tentu Lili mau menceritakannya. Akan tetapi oleh karena gadis ini melihat betapa Kam Liong sungguh-sungguh seorang pemuda yang baik, gagah, dan boleh dijadikan kawan, ia lalu berkata sambil menarik napas panjang.

“Ahh, di rumah telah terjadi peristiwa yang cukup menggemparkan dan membingungkan hatiku.”

Kam Liong segera memandang dengan penuh perhatian. “Apakah yang terjadi, Nona? Siapa kiranya orang gila yang berani main-main di rumah orang tuamu?”

“Ada orang jahat yang telah menculik Sin-kai Lo Sian bekas suhu-ku.”

“Apa...? Kau maksudkan Sin-kai Lo Sian, orang tua gagah yang kujumpai bersamamu dulu, orang tua yang menuliskan kata-kata bersemangat di dinding makam panglima itu?”

Lili mengangguk. “Benar, dia yang diculik orang.”

Ia lalu menuturkan peristiwa yang terjadi di rumahnya, betapa seorang pemuda bernama Song Kam Seng masuk ke dalam rumah seperti maling dan betapa tahu-tahu Lo Sian telah lenyap. Ia tidak menceritakan kepada Kam Liong bahwa ia tahu siapa penculik itu. Hatinya segan menuturkan siapa adanya orang yang menculik Lo Sian, karena kalau memang betul pemuda kurang ajar itu adalah putera Ang I Niocu, bukankah itu berarti ia memburukkan nama Ang I Niocu yang amat dikasihi oleh ayah bundanya?

Kam Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aneh sekali. Orang yang bernama Song Kam Seng itu, mengapa dia masuk rumah seperti pencuri? Apakah yang dicurinya?”

“Entahlah, hanya kutahu bahwa dia menaruh hati dendam terhadap ayah, dan rupanya karena ayah tidak berada di rumah dia hendak mencuri sesuatu.”

“Yang lebih aneh lagi adalah lenyapnya Sin-kai Lo Sian. Siapa orangnya yang berani dan dapat menculiknya? Dia adalah seorang tua yang memiliki kepandaian tinggi, bagaimana bisa diculik begitu saja? Aku masih meragukan apakah betul-betul diculik orang. Siapa tahu kalau memang dia sengaja pergi? Orang-orang kang-ouw memang banyak yang mempunyai watak aneh,” kata- pemuda itu.

Setelah diam sejenak, Lili teringat akan surat dulu itu, maka tanyanya, “Dan sekarang, Kam-ciangkun, maukah kau menjelaskan isi suratmu kepadaku dahulu itu? Kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh kakakku Hong Beng sehingga kau menyatakan bahwa dia menjadi orang buruan?”

Merahlah wajah Kam Liong mendengar pertanyaan ini. “Aku telah salah sangka, Nona. Ketika itu, aku memang mengira bahwa pemuda itu putera Pendekar Bodoh, karena dia pandai sekali dan dia dapat mainkan ilmu-ilmu silat yang menjadi kepandaian ayahmu. Akan tetapi ketika aku bertemu dengan Saudara Hong Beng barulah aku tahu bahwa sesungguhnya pemuda itu bukanlah putera ayahmu.” Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Lie Siong ketika Lie Siong menolong Lilani dari tangan Gui Kongcu.

Mendengar penuturan ini, diam-diam Lili merasa dadanya tidak enak sekali. Hemm, tidak tahunya ‘pemuda kurang ajar’ yang telah merampas sepatunya itu telah menolong gadis cantik yang dulu dilihatnya mengejar-ngejar pemuda itu dan agaknya hubungan mereka menjadi demikian eratnya sehingga mereka tidak dapat berpisah lagi!

Mendengar penuturan Kam Liong bahwa pemuda yang disangka saudaranya itu memiliki pedang yang berbentuk naga dan lidah merah dari pedang naga itu lihai sekali, dia tidak sangsi pula bahwa pemuda yang menolong Lilani itu tentulah pemuda kurang ajar yang mengaku-putera Ang I Niocu.

“Tahukah kau, Kam-ciangkun, siapa nama pemuda yang kau sangka saudaraku itu?”

“Dia berwatak aneh, keras dan tinggi hati sekali, Nona. Dia tidak mau memperkenalkan namanya. Akan tetapi ilmu pedangnya sungguh-sungguh hebat sekali. Kalau melihat ilmu silatnya, kurasa kepandaiannya tak berada di sebelah bawah dari kepandaian kakakmu, Saudara Hong Beng.”

Lili mencibirkan bibirnya sehingga dalam pandangan Kam Liong nampak manis sekali. “Huh, kepandaian macam itu saja mengapa dikagumi? Kalau aku bertemu dia, pedang naganya pasti tak akan berkepala lagi!”

Kam Liong merasa heran sekali mengapa gadis ini agaknya amat marah dan membenci pemuda berpedang naga itu, akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya. Makin besar keinginan hatinya untuk menyaksikan kepandaian gadis yang agaknya jumawa sekali ini. Dia tidak percaya apa bila kepandaian gadis ini akan lebih tinggi dari pada kepandaian pemuda yang menolong Lilani itu.

Pada waktu mereka tiba di kota raja, Kam Liong segera mengajak Lili singgah di rumah gedungnya dan ia memperkenalkan gadis ini kepada ibunya yang sudah janda. Nyonya Kam ternyata adalah seorang wanita terpelajar yang halus dan ramah-tamah, dan terus mengajak Lili bercakap-cakap.

Sementara itu Kam Liong lalu membuat laporan kepada Kaisar, dan kemudian menerima perintah untuk memimpin sepasukan besar tentara pilihan untuk menuju ke utara dan menggempur para pengacau serta memperkuat penjagaan tapal batas karena terdengar berita akan adanya serangan dari Malangi Khan, raja bangsa Mongol.

Kam Liong membutuhkan waktu selama tiga hari di kota raja untuk membuat persiapan, kemudian berangkatlah pasukan di bawah pimpinannya. Kini pemuda itu mengenakan pakaian panglima dan makin gagah saja. Lili minta diri dari Nyonya Kam yang baik hati, kemudian gadis ini pun ikut dengan pasukan itu, naik kuda di depan bersama Kam Liong.

Ketika mendengar bahwa gadis itu adalah puteri Pendekar Bodoh, semua perwira dalam barisan itu menjadi kagum dan diam-diam mereka tersenyum karena menaruh harapan bahwa komandan mereka, Kam-ciangkun, akan berjodoh dengan pendekar wanita yang lincah dan jelita ini.

Lima hari setelah pasukan ini berangkat ke utara, mereka mulai melewati daerah yang amat sukar dan dingin. Diam-diam Lili merasa bersyukur bahwa ia ikut dalam rombongan ini, karena memang harus diakuinya bahwa kalau dia melakukan perjalanan seorang diri tentu dia akan menempuh kesukaran besar sekali.

Pada suatu hari, ketika pasukan itu dengan susah payah mendaki sebuah lereng gunung yang tertutup salju, tiba-tiba saja Kam Liong dan Lili yang berkuda di depan, melihat dua orang tua berlari cepat dari arah kanan.

“Hei...! Bukankah itu Kam-ciangkun yang memimpin pasukan?” tiba-tiba salah seorang di antara kedua kakek itu berseru girang sambil berlari menghampiri.

Ketika kedua orang ini sudah dekat, hampir saja Lili tidak dapat menahan ketawanya. Dia melihat dua orang pendeta, seorang tosu dan seorang hwesio yang keadaannya sangat lucu.

Mereka sudah tua dan tosu itu bertubuh tinggi kurus, mukanya yang keriputan saking tuanya itu nampak makin menyedihkan karena selalu dia bermuka seperti orang hendak menangis! Ada pun hwesio yang menjadi kawannya itu pun lucu sekali. Tubuhnya gemuk seperti tong besar, bajunya terbuka sehingga biar pun berada di tempat dingin, perutnya yang gendut selalu nampak. Mukanya bundar seperti bal dan selalu menyeringai seperti orang yang merasa gembira sekali.

“Kam-ciangkun, apakah kau hendak memimpin pasukanmu ke Alkata-san?” bertanya Si Tosu yang mau menangis itu.

Sebelum Kam Liong menjawab dan berkata dengan dua orang pendeta itu, Lili tak dapat menahan hatinya lagi dan bertanya girang,

“Apakah dua orang pendeta ini bukan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio?”

Kedua orang pendeta itu terkejut dan memandang kepada Lili dengan penuh perhatian.

“Kam-ciangkun, siapakah Nona yang cantik dan gagah ini?” Si Hwesio bertanya sambil tersenyum-seyum.

“Kawan lama, Ji-wi Losuhu (Dua Orang Pendeta). Kawan lama!” Kam Liong menjawab gembira. “Tentu Ji-wi takkan dapat menduga siapa dia, karena dia ini adalah Nona Sie Hong Lie, puteri dari Sie Cin Hai Taihiap Pendekar Bodoh!”

“Apa...?!” Ceng To Tosu dengan mewek-mewek mau menangis lalu menghampiri Lili dan memegang tangan kirinya, sedangkan Ceng Tek Hwesio yang semakin lebar ketawanya juga menghampirinya dan memegang tangan kanannya.

Lili menjadi gembira sekali. Sering kali ayah dan ibunya terkekeh-kekeh kalau bercerita tentang kedua orang ini yang muncul pada masa ayah ibunya masih muda. Kini melihat mereka, walau pun sudah nampak tua sekali namun keadaan mereka masih tetap tidak berubah, persis seperti yang digambarkan oleh ayah dan ibunya, mau tidak mau Lili lalu tertawa terpingkal-pingkal sehingga dia menggunakan tangan yang dipegang lengannya itu untuk menutupi mulutnya.

“Ji-wi Losuhu,” akhirnya dia berkata sesudah dapat menahan geli hatinya. “Jiwi hendak pergi kemanakah? Apakah Jiwi telah bertemu dengan ayah bundaku?”

“Di mana ayahmu? Di manakah Sie Taihiap? Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu dengan dia,” jawab Ceng To Tosu.

“Ayah dan Ibu juga berada di daerah utara ini,” kata Lili.

“Apa...? Betulkah?” tanya Ceng Tek Hwesio.

Kemudian Kam Liong lalu menuturkan kepada kedua orang pendeta ini tentang semua peristiwa yang terjadi sehingga kedua orang pendeta itu menjadi girang sekali.

“Ahh, usiaku yang tinggal sedikit ini ternyata penuh dengan kebahagiaan,” kata Ceng To Tosu. “Berjumpa dengan Nona Sie Hong Li puteri Sie Taihiap sudah merupakan hal yang membahagiakan, apa lagi sekarang ada kemungkinan bertemu lagi dengan Sie Taihiap sendiri dan puteranya!”

“Akan tetapi Ji-wi Losuhu mengapa sampai berada di tempat ini? Ada keperluan penting apakah?” tanya Kam Liong.

Kini Ceng Tek Hwesio yang menceritakan dengan muka berseri-seri seakan-akan cerita itu merupakan sebuah cerita yang menggirangkan hati. Padahal cerita itu amat hebat dan seharusnya patut dibuat gelisah.

Ternyata bahwa Malangi Khan, raja bangsa Mongol, sudah membuat persiapan perang besar-besaran dan bala tentaranya dipecah menjadi dua, satu barisan menyerang dari utara dan barisan ke dua menyerang dari barat. Pertempuran-pertempuran kecil sudah pecah antara barisan Mongol yang di bagian barat sebagian besar sudah menggabung dengan tentara Tartar, melawan pasukan-pasukan penjaga kerajaan yang tidak berapa kuat.

“Sudah demikian hebat keadaannya?” kata Kam Liong dengan kaget.

“Itu masih belum hebat, Kam-ciangkun. Yang paling menggemaskan adalah terdapatnya banyak sekali orang-orang kang-ouw yang menggabungkan diri dan membantu Malangi Khan!”

“Hebat, siapakah pengkhianat-pengkhianat bangsa itu?”

“Belum diketahui, Ciangkun. Akan tetapi menurut laporan-laporan para prajurit yang dulu menjaga di perbatasan dan telah dipukul mundur, di antara pemimpin-pemimpin pasukan Tartar dan Mongol, banyak sekali terdapat orang-orang bangsa kita sendiri yang memiliki kepandaian tinggi. Oleh karena itu kami sengaja mencarimu atas perintah suhu-mu dan siok-humu (pamanmu) yang telah mengumpulkan beberapa orang gagah untuk menjadi sukarelawan menghadapi serbuan musuh.”

Berseri wajah Kam Liong mendengar berita ini. “Suhu dan Siok-hu? Di mana mereka?”

“Tidak jauh dari sini, di hutan sebelah barat itu, Ciangkun. Marilah kau ikut bersama kami menjumpainya dan kau juga, Nona Sie. Kau akan bertemu dengan orang-orang gagah di sana.”

Tentu saja Lili tidak menolak. Sesudah berpesan kepada para perwira untuk memberi kesempatan kepada pasukan beristirahat di situ, Kam Liong beserta Lili lalu berjalan kaki mengikuti dua orang pendeta itu. Mereka mempergunakan ilmu lari cepat, maka tak lama kemudian sampailah mereka di hutan yang nampak dari tempat pemberhentian tadi.

Suhu dari Kam Liong adalah seorang tosu yang bertubuh tinggi besar berwajah galak. Sungguh pun usianya telah mendekati empat puluh tahun, akan tetapi rambut kepalanya masih subur dan hitam sehingga ia nampak lebih muda dari usia sebenarnya! Tiong Kun Tojin masih terhitung suheng (kakak seperguruan) yang ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari pada mendiang Kam Hong Sin.

Ada pun yang disebut paman atau siok-hu dari Kam Liong, adalah adik misan dari ayah Kam Liong dan bernama Kam Wi. Kam Wi juga bukan orang sembarangan, karena dia memiliki kepandaian yang tinggi pula. Ia menjadi sute (adik seperguruan) dari Tiong Kun Tojin. Selain sudah mewarisi ilmu silat Kun-lun-pai, juga Kam Wi telah mempelajari Ilmu Houw-jiauw-kang yang lihai, semacam ilmu silat tangan kosong yang amat berbahaya.

Oleh karena itu, Kam Wi jarang sekali mempergunakan senjata, sungguh pun dia pandai pula memainkan pedang. Dia selalu menghadapi lawannya hanya dengan tangan kosong, mengandalkan Ilmu Silat Houw-jiauw-kang yang sempurna. Dan oleh karena Ilmu Silat Houw-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Harimau) inilah maka dia sudah mendapat julukan Sin-houw-enghiong (Pendekar Harimau Sakti)!

Tiong Kun Tojin dan Kam Wi mempunyai watak yang cocok. Keduanya beradat keras, berangasan, akan tetapi jujur serta gagah perkasa, pembela kebenaran dan keadilan. Kalau Tiong Kun Tojin sudah berusia empat puluh tahun, adalah Kam Wi baru berusia tiga puluh tahun lebih. Juga ia mempunyai tubuh tinggi besar seperti suheng-nya.

Pada waktu mendengar tentang penyerbuan dan pengacauan bangsa Mongol dan Tartar di daerah perbatasan negaranya, maka kedua orang gagah ini timbul semangat dan jiwa patriotnya. Mereka segera meninggalkan Gunung Kun-lun-san dan menuju ke utara.

Di sepanjang perjalanan mereka mengajak para tokoh kang-ouw. Kemudian mereka lalu berkumpul di hutan itu, hutan yang hanya dilindungi oleh pohon-pohon gundul karena daunnya telah rontok semua. Dahan-dahannya kini penuh oleh salju yang menggantikan kedudukan daun-daun yang sudah lenyap.

Di tengah-tengah hutan yang berada di lereng gunung itu terdapat sebuah goa besar dan karena adanya goa besar inilah maka tokoh-tokoh Kun-lun-pai itu memilih tempat ini.

Ketika Kam Liong dan Lili yang mengikuti dua orang pendeta itu tiba di luar goa, mereka melihat sinar api dari dalam goa. Ternyata bahwa di dalam goa itu duduk lima orang yang mengelilingi api unggun yang bernyala besar. Hawa panas keluar dari goa itu dan karena hawa di luar goa demikian dinginnya, maka panas ini mendatangkan udara yang nyaman sekali.

“Aduh, enak... enak...!” kata Ceng Tek Hwesio sambil tersenyum-senyum dan mendekati mulut goa.

“Kam-ciangkun, kalau kau dan Nona Sie kuat menghadapi panas yang hebat itu, maka masuklah, berjumpa dengan suhu-mu. Kami berdua tidak kuat bertahan terlalu lama di dalam neraka itu!” kata Ceng To Tosu.

Dari luar Kam Liong sudah melihat suhu-nya dan pamannya duduk bersama tiga orang lain yang tidak dikenalnya. Nampak mereka sedang bercakap-cakap dengan asyiknya. Kam Liong maklum bahwa tanpa mempunyai tenaga lweekang yang tinggi, tak mungkin orang akan dapat bertahan duduk di goa yang panas itu sampai lama.

Ia telah maklum akan kepandaian Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu, namun kedua orang pendeta itu masih tidak kuat tinggal lama-lama di dalam goa dan kini hanya duduk di luar goa! Akan tetapi, tidak percuma ia menjadi murid Tiong Kun Tojin, tokoh luar biasa dari Kun-lun-pai. Ia maklum bahwa untuk kuat bertahan di dalam goa yang panas itu, dia harus mengerahkan lweekang-nya guna memperkuat daya Im-kang di dalam tubuh untuk melawan daya Yang-kang. Ia lalu melirik kepada Lili yang memandang ke dalam dengan sikap acuh tak acuh.

“Nona, kalau terlalu panas untukmu, biarlah aku masuk menjumpai Suhu dan siok-hu.”

“Siapa bilang terlalu panas? Aku pun ingin sekali berjumpa dengan orang-orang yang suka mendekati api itu,” jawab Lili, karena diam-diam gadis ini pun amat tertarik hatinya melihat lima orang yang seakan-akan mendemonstrasikan kepandaian mereka itu.

Mendengar jawaban ini, selain tertegun Kam Liong juga kagum dan gembira, karena kali ini ia akan dapat menyaksikan dan membuktikan hingga di mana keunggulan kepandaian gadis ini. Ia lalu melangkah masuk diikuti oleh Lili.

Bukan main panasnya hawa di dalam goa itu. Baiknya di langit-langit goa terdapat lobang di antara batu karang sehingga asap api unggun itu dapat keluar dan tidak menyesakkan napas di dalam goa. Akan tetapi api yang besar itu benar-benar membuat kulit serasa hampir terbakar.

Ketika melihat kedatangan Kam Liong dan Lili, lima orang yang sedang bercakap-cakap itu segera menunda percakapan mereka dan kini semua mata tertuju kepada dua orang muda ini.

“Suhu, sungguh menggembirakan dapat bertemu dengan Suhu di sini!” kata Kam Liong setelah berlutut, kemudian ia berpaling kepada pamannya dan berkata, “Siok-hu, apakah Siok-hu baik-baik saja?”

Kedua orang tua itu girang melihat Kam Liong.

“Ah, kebetulan sekali. Kau baru datang?” tanya suhu-nya. “Memang kami sedang bicara tentang penyerbuan musuh. Kebetulan kau datang, karena sesungguhnya secara resmi, kaulah yang bertanggung jawab menghadapi mereka.”

Sebaliknya, pada saat Kam Wi melihat Lili yang masih muda dan cantik itu dapat pula bertahan memasuki goa dan sama sekali tidak nampak kepanasan, diam-diam ia merasa kagum sekali.

“Eh… Liong-ji (Anak Liong), siapakah Nona yang gagah ini?”

“Dia adalah Nona Sie Hong Li, puteri dari Sie Taihiap!”

“Kau maksudkan Sie Taihiap Pendekar Bodoh?” tanya Kam Wi setengah tidak percaya.

Ketika Kam Liong mengangguk membenarkan pertanyaan ini, tidak saja Kam Wi yang memandang dengan penuh perhatian bahkan Tiong Kun Tojin dan ketiga orang lain itu memandang dengan penuh perhatian. Terdengar seorang di antara ketiga kakek yang duduk di situ mengeluarkan seruan heran dan berkata,

“Ah, kebetulan sekali! Telah lama sekali kami merindukan untuk menyaksikan kepandaian Pendekar Bodoh yang telah amat terkenal namanya. Hari ini bertemu dengan puterinya, setidaknya kami akan dapat menilai sampai di mana tingkat kepandaian Pendekar Bodoh yang terkenal itu!”

Mendengar nama ayahnya disebut-sebut oleh suara orang yang agaknya sombong ini, Lili segera mengangkat mukanya memandang dengan penuh perhatian. Suhu dari Kam Liong dan juga pamannya, memang patut menjadi orang gagah.

Wajah mereka kereng dan tubuh mereka pun tinggi besar, terutama sekali pandang mata dua orang tokoh Kun-lun-pai ini amat tajam dan memandang dengan jujur dan langsung. Akan tetapi, tiga orang kakek lainnya yang duduk di situ betul-betul membuat Lili hampir tertawa geli. Orang-orang macam ini pantas sekali kalau menjadi sahabat Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio, karena mereka ini pun mempunyai bentuk tubuh yang aneh.

Yang bicara tadi adalah seorang yang tubuhnya seperti anak-anak, kepalanya botak dan jenggotnya sudah putih semua. Dia mengempit sebuah payung butut. Orang yang ke dua bertubuh gemuk pendek dengan muka lebar dan mulut serta mata besar. Kepalanya tertutup kopyah pendeta yang bertuliskan huruf ‘Buddha’. Orang ini selalu tersenyum lebar dan di pinggangnya terlilit rantai yang panjang dan besar. Orang ke tiga bertubuh tinggi kecil dan kepalanya yang kecil tertutup kopyah. Kumisnya hanya beberapa lembar di kanan kiri, ada pun jenggotnya yang hitam berbentuk jenggot kambing. Ia memegang sebatang tongkat sederhana.

Lili sama sekali tak pernah menduga bahwa tiga orang ini adalah Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun) yang amat tersohor namanya. Seperti pernah dituturkan di bagian depan, pada waktu mencarikan obat untuk putera pangeran, Goat Lan pernah bertemu dengan tiga orang kakek itu. Juga pernah dituturkan bahwa ketiga orang kakek ini setelah mendengar dari Ban Sai Cinjin bahwa pertandingan pibu melawan rombongan Pendekar Bodoh akan diadakan setahun lagi, yaitu pada permulaan musim semi, lalu meninggalkan Ban Sai Cinjin untuk melanjutkan perantauan mereka.

Sungguh pun ketiga orang kakek ini memiliki kegemaran yang buruk, yaitu suka sekali berkelahi dan mencoba ilmu kepandaian serta tidak mau kalah, namun mereka masih tetap merupakan orang-orang gagah yang tak mau melakukan kejahatan. Bahkan orang pertama, Thian-he Te-it Siansu yang bertubuh kate, dan Lak Mau Couwsu yang pendek gemuk, mempunyai jiwa pahlawan.

Mereka berdua ini merasa tak senang mendengar betapa bangsanya banyak yang diculik dan dirampok oleh orang-orang Mongol dan Tartar. Orang ke tiga, yang bernama Bouw Ki, sebetulnya adalah seorang keturunan Mongol, akan tetapi ketika mendengar betapa kedua orang suheng-nya hendak membantu tentara kerajaan mengusir para pengacau bangsa Tartar dan Mongol, dia segera menyatakan kesediaannya untuk membantu pula!

Dahulu Bouw Ki menjadi tokoh di negara Mongol. Akan tetapi semenjak Malangi Khan merebut tahta kerajaan, dia melarikan diri dan mendendam kepada Malangi Khan yang sudah banyak membunuh keluarganya.

Demikianlah, ketika Hailun Thai-lek Sam-kui bertemu dengan Tiong Kun Tojin dan Kam Wi, kedua orang tokoh Kun-lun-pai ini, mereka segera mengadakan pertemuan di dalam goa itu untuk merundingkan maksud mereka membantu gerakan tentara pemerintah yang hendak mengusir bangsa Tartar dan Mongol. Inilah sebab mengapa Lili menjumpai mereka di dalam goa.

Ketika kelima orang tua itu mengadakan pertemuan di dalam goa, dengan jujur Kam Wi menyatakan bahwa hawa sangat dingin. Mendengar ini, Thian-he Te-it Siansu tertawa bergelak dan ia mengusulkan membuat api unggun di dalam goa. Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu disuruh mengumpulkan kayu kering dan tidak lama kemudian bernyala api unggun besar di dalam goa itu.....

Karena panasnya tak tertahankan lagi oleh Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu, maka kedua orang ini lalu keluar dan kemudian disuruh oleh Tiong Kun Tojin untuk mencegat perjalanan barisan dari kerajaan hingga kebetulan bertemu dengan Kam Liong.

Ada pun kelima orang pandai itu, sesudah menyalakan api unggun, timbullah sifat Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menguji kepandaian orang. Mereka dengan sengaja menambah bahan bakar sehingga kini api unggun itu diadakan tidak lagi untuk mengusir hawa dingin, melainkan diadakan untuk menguji kepandaian masing-masing!

Tentu saja kedua orang tokoh Kun-lun-pai yang mengerti maksud tiga orang tamunya, tidak mau menyerah kalah begitu saja dan seakan-akan tidak mengerti maksud mereka. Kedua orang ini bahkan mengajak Hailun Thai-lek Sam-kui bercakap-cakap sampai Kam Liong dan Lili datang.

Lili yang merasa mendongkol juga ketika mendengar ucapan Thian-he Te-it Siansu yang menyinggung nama ayahnya, lalu berkata,

“Siapakah gerangan Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah) yang telah mengenal nama ayahku?”

Ketiga orang aneh itu tidak menjawab, melainkan hanya tertawa-tawa saja dan Bouw Ki sekarang menambah lagi kayu bakar pada api unggun itu sehingga kini makin besarlah nyalanya dan makin panas hawanya.

Tiong Kun Tojin merasa tak enak melihat sikap tiga orang kakek itu, karena menghadapi puteri Pendekar Bodoh ia tak berani memandang rendah, maka ia lalu memperkenalkan,

“Kam Liong, dan kau juga Nona Sie. Ketahuilah bahwa tiga orang tua ini adalah Hailun Thai-lek Sam-kui yang sangat terkenal. Mereka datang untuk membantu kita mengusir pengacau di perbatasan.”

Kam Liong terkejut dan menjura dengan hormat kepada tiga orang kakek itu, akan tetapi Lili tiba-tiba tertawa mengejek.

“Ahh, tidak tahunya aku berhadapan dengan tiga orang kakek gagah perkasa, demikian gagah perkasanya sehingga suka mengeroyok seorang gadis yang bernama Goat Lan!”

Tiong Kun Tojin dan Kam Wi, juga Kam Liong menjadi tertegun mendengar ucapan ini, dan mereka merasa khawatir sekali melihat gadis itu berani mengejek tiga orang kakek itu. Akan tetapi, Hailun Thai-lek Sam-kui memang memiliki watak yang aneh, mereka ini tidak pernah marah, dan hanya satu kesukaannya, yaitu berkelahi mencari kemenangan! Kini mendengar ejekan Lili, mereka sama sekali tidak marah. Lak Mau Couwsu berkata sambil memperlebar senyumnya,

“Ah, murid Sin Kong Tianglo itu telah menceritakan tentang perjumpaannya dengan kami bertiga? Bagus, katakan kepadanya bahwa lain kali dia tak akan kami lepaskan sebelum mengaku kalah. Ha-ha-ha!”

Tiong Kun Tojin adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang dikenal berwatak keras, jujur dan suka berterus terang. Melihat betapa di antara ketiga orang kakek itu dan Lili terdapat pertentangan, dia lalu berkata terus terang,

“Dalam waktu seperti ini, di mana negara dan bangsa sedang terancam oleh musuh dari luar, sungguh sangat disesalkan kalau di antara kita saling cakar-cakaran! Lebih baik kita melupakan untuk sementara waktu urusan lama yang terjadi di antara kita, dan mari kita mempersatukan tenaga untuk menolong negara! Ada pun tentang pengujian kepandaian, dapat dilakukan di sini tanpa membahayakan nyawa! Biarlah kutambah lagi api ini untuk melihat siapa yang paling kuat di antara kita.”

Sambil berkata demikian, tokoh Kun-lun-pai ini lalu menambahkan kayu bakar lagi pada api unggun yang sudah sangat besar itu. Kam Liong hampir tak dapat menahannya lagi. Peluhnya telah mulai keluar membasahi jidatnya. Pada waktu ia mengerling ke arah Lili, ternyata bahwa gadis ini masih tersenyum-senyum seakan-akan tak merasa panas sama sekali!

“Kam Liong, kau keluarlah. Kau tak usah ikut serta dalam ujian ini!” kata suhu-nya untuk menolong muridnya ini, karena dia maklum bahwa kepandaian Kam Liong masih belum cukup matang untuk dapat menahan panas yang demikian hebatnya.

Kam Liong lalu menjura dan setelah mengerling sekali kepada Lili, ia lalu keluar dari situ, disambut oleh Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu.

“Aduh, kukira kau tak akan keluar, Kam-ciangkun. Kalau aku yang berada di dalam, bisa kering seluruh tubuhku!” kata hwesio gemuk itu.

“Ehh, apakah Nona Sie masih bertahan di dalam?” tanya Ceng To Tosu heran.

Kam Liong mengangguk. Ia belum berani mengeluarkan suara, karena pergantian hawa dari dalam yang panas menjadi dingin sekali di luar, membutuhkan pengerahan tenaga lweekang untuk mengatur aliran darahnya.

Ada pun Lili yang menghadapi kelima orang itu, sambil tersenyum-senyum memandang kepada mereka. Dilihatnya betapa muka kelima orang itu merah sekali tersorot oleh api unggun dan betapa mereka mempertahankan dengan sinkang mereka yang tinggi, tetap saja nampak betapa mereka itu telah mulai terserang rasa panas yang luar biasa ini.

Lili sendiri juga merasakan serangan hawa panas itu, akan tetapi dia bukanlah puteri Pendekat Bodoh dan cucu murid Bu Pun Su kalau harus kalah sedemikian mudahnya. Ia sudah mempelajari latihan sinkang yang luar biasa dari ayahnya, yaitu latihan sinkang pokok yang dahulu diajarkan oleh Bu Pun Su kepada ayahnya. Pengerahan sinkang-nya membuat tubuhnya sebentar-sebentar terasa dingin sekali, maka dia berseru,

“Aduh dinginnya...”

Thian-he Te-it Siansu memandangnya dengan kagum dan heran, lalu menganggukkan kepalanya dan berkata, “Memang dingin sekali! Biar kutambah lagi kayu bakarnya!” Kakek botak yang kecil ini lalu menambah kayu bakar lagi sehingga api berkobar semakin tinggi dan hawa panas makin menghebat!

Melihat hal ini, diam-diam Lili terkejut sekali. Sinkang dari lima orang tua ini benar-benar hebat sekali, dan karena ia kalah latihan, kalau dilanjutkan akhirnya ia sendiri yang akan mundur dan mengaku kalah. Akan tetapi, Lili adalah puteri Pendekar Bodoh dan ibunya terkenal amat cerdik. Gadis ini pun mempunyai kecerdikan, ketabahan, dan ketenangan yang luar biasa sekali.

Dia lalu berpikir dan mengingat-ingat dongeng yang dulu sering ia dengar dari kakeknya, yaitu Yousuf. Sesudah mengingat sebuah dongeng tentang padang pasir, dia kemudian tersenyum, menghafalkan sajak tentang Abdullah yang terserang panas di padang pasir. Setelah hafal betul di luar kepala, gadis ini lalu tersenyum-senyum girang. Dia lalu berdiri dan mengumpulkan semua kayu bakar, dan dilemparkannya kayu bakar itu ke dalam api unggun. Api kini menyala hebat sekali sampai menyundul pada langit-langit goa!

Lima orang tua itu kaget sekali dan cepat mereka mengerahkan tenaga dalam, karena kini hawa panas luar biasa hebatnya. Lili sendiri lalu duduk bersila, mengatur napas dan duduk bagaikan orang bersemedhi, seluruh perasaannya melupakan adanya api unggun, bahkan kini membayangkan keadaan di luar goa yang tertutup salju dan dingin sekali.

Sesudah hawa panas sedikit mereda, tiba-tiba gadis ini lalu menyanyikan sajak yang tadi dihafalnya di luar kepala. Dia bernyanyi tanpa mempergunakan perasaannya sehingga ia tidak terpengaruh oleh nyanyiannya sendiri.

Lima orang tua itu mendengar suara yang merdu dan indah, tak dapat bertahan lagi lalu memperhatikan kata-kata nyanyian itu. Memang Lili mempunyai suara yang amat merdu, dan terdengarlah dia bernyanyi keras,

Abdullah kelana sengsara.
Haus, lapar, lelah tak berdaya.
Tersesat di gurun pasir tandus.
Matahari membakar, panas... haus!
Tak tertahankan panasnya, serasa dibakar.
Mata silau, terasa pedas, perih, nanar.
Kulit mengering.
Kepala pening...
Aduh panasnya, panas tak tertahankan...!

Dahulu ketika Yousuf menyanyikan sajak ini ketika mendongengkannya tentang Abdullah si musafir kelana, Lili sering kali merasa ikut kepanasan dan seolah-olah dia merasakan betapa sengsaranya berada di padang pasir yang kering itu. Kini dia bernyanyi dengan suaranya yang merdu, didengarkan dengan penuh perhatian oleh lima orang tua itu. Dan akibatnya sungguh hebat!

Ketika dia bernyanyi sampai di bagian ‘mata silau, terasa pedas, perih, nanar’, terdengar keluhan Kam Wi yang tidak kuat lagi membuka matanya, seakan-akan api unggun yang bernyala itu berubah menjadi matahari yang luar biasa panas dan menyilaukan matanya. Kepalanya menjadi pening dan betapa pun ditahan-tahannya, ia tidak kuat lagi sehingga untuk berjalan keluar saja dia tidak kuat lagi.

Suheng-nya, Tiong Kun Tojin, yang melihat keadaan sute-nya ini, segera menggerakkan kaki kanannya mendorong tubuh sute-nya itu yang lalu terpental dan bergulingan keluar sampai di pintu goa. Setelah mendapatkan hawa segar dari luar, barulah Kam Wi dapat mengerahkan tenaga dan melompat keluar dengan terengah-engah!

Tiong Kun Tojin menolong sute-nya tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun, sebab dia sendiri juga sudah hampir tidak kuat, apa lagi ketika Lili mengulang nyanyiannya dan menambahkan semua sisa kayu bakar pada api unggun itu!

Juga Hailun Thai-lek Sam-kui dengan susah payah berusaha untuk menahan serangan hawa panas yang luar biasa dan yang sekarang menjadi berlipat ganda hebatnya setelah mereka mendengarkan nyanyian Lili.

“Tutup mulut...! Jangan menyanyi...!” Thian-he Te-it Siansu membentak.

Akan tetapi bentakannya ini membuat dia semakin lemah dan pertahanannya tidak dapat melawan pengaruh panas yang mendesak. Sambil berseru keras tubuhnya berkelebat keluar dari situ dan langsung diikuti oleh kedua orang sute-nya. Sesampai di luar, mereka terengah-engah dan cepat-cepat duduk bersemedhi untuk mengatur napas.

Tiong Kun Tojin berusaha mencoba untuk mempertahankan diri. Sebagai seorang tokoh Kun-lun-pai yang sudah ternama, dia merasa malu kalau harus mengaku kalah dalam hal menghadapi api unggun oleh gadis yang cerdik dan banyak akal ini. Akan tetapi gema nyanyian Lili betul-betul membuat dia bohwat (kehabisan akal) dan terpaksa ia lalu berdiri dari tempat duduknya, memandang ke arah Lili yang ternyata sekarang bernyanyi sambil duduk bersemedhi meramkan matanya itu.

Lili memang sedang memusatkan tenaganya dan biar pun mulutnya bernyanyi, tetapi dia bernyanyi tanpa menggunakan perasaan atau pikiran. Tahulah Tiong Kun Tojin akan akal bulus gadis ini dan diam-diam ia menjadi kagum sekali. Ia tidak kuat berdiam di situ lebih lama lagi dan dengan tindakan perlahan ia keluar dari goa.

Berbeda dengan yang lain-lain, dia keluar dengan tenang dan sambil berjalan. Dia sudah mengatur napasnya sehingga ketika tiba di luar goa, keadaannya tidak apa-apa, hanya mukanya saja telah penuh dengan peluh!

Baru saja tiba di luar, berkelebatlah bayangan Lili. Gadis ini hanya nampak merah saja mukanya, tanpa peluh setitik pun. Kemerahan mukanya menambah kemanisan gadis ini sehingga semua orang memandangnya dengan penuh kekaguman.

“Ahh, tidak mengecewakan kau menjadi puteri Pendekar Bodoh!” Tiong Kun Tojin memuji dengan setulus hati.

Juga Sin-houw-enghiong Kam Wi yang berwatak kasar dan jujur lantas berkata kepada Kam Liong,

“Liong-ji, apa bila kau dapat berjodoh dengan Nona ini, hatiku akan puas sekali dan roh ayahmu akan tersenyum bahagia! Aku akan mencari Pendekar Bodoh untuk mengajukan pinangan!”

Kam Liong menjadi kaget sekali dan menyesal akan kelancangan pamannya yang kasar itu. Diam-diam dia mengerling ke arah Lili yang menjadi merah sekali mukanya, bukan merah akibat panasnya api, akan tetapi merah sampai ke telinga-telinganya saking malu, jengah dan marahnya.

Dia memandang dengan mata bersinar tajam kepada pembicara itu, agaknya siap untuk memaki. Akan tetapi Kam Liong buru-buru menghampirinya dan menjura amat dalam lalu berkata,

“Nona Sie, mohon maaf sebanyaknya apa bila ucapan pamanku menyinggung hatimu. Percayalah, Siok-hu (Paman) tidak bermaksud buruk dan dia sama sekali bukan hendak menghinamu. Harap kau sudi memaafkannya.”

Mendengar ucapan dan melihat sikap pemuda ini, Lili merasa tidak enak hati kalau terus melanjutkan kemarahannya terhadap orang tinggi besar yang kasar itu. Akan tetapi tetap saja dia mengomel,

“Agaknya orang di sini tidak tahu aturan dan boleh bicara apa saja seenak hatinya, tanpa mempedulikan orang lain seolah-olah dia yang lebih tinggi dan lebih pintar. Kam-ciangkun, marilah kita melanjutkan perjalanan, aku hendak mencari keluargaku. Untuk apa kita lama-lama di sini? Kalau kau masih hendak lama berdiam di tempat ini, terpaksa aku akan pergi lebih dulu!”

Kam Liong menjadi serba salah dan memandang kepada suhu serta pamannya. Akan tetapi sebelum tiga orang ini dapat mengeluarkan kata-kata, Thian-he Teit Siansu, orang pertama dari Thai-lek Sam-kui itu, berkata sambil tertawa,

“Nona Sie, kau telah mengakali kami bertiga. Kau cerdik sekali! Akan tetapi hatiku belum puas karena belum melihat kepandaianmu yang sebenarnya. Marilah kau melayani kami sebentar, hendak kulihat apakah kepandaianmu sama tingginya dengan akal bulusmu!” Sambil berkata demikian, kakek kate ini menggerak-gerakkan payungnya.

Pada waktu itu Lili sedang merasa jengkel dan marah karena ucapan Kam Wi tadi, maka kini mendengar orang menantangnya, ia menjawab marah,

“Kalian ini tiga orang iblis tua ternyata jahat dan sombong. Kalian kira aku takut kepada kalian? Di dalam waktu seperti ini, kalian datang katanya hendak membantu perjuangan dan mengusir para pengacau, akan tetapi siapa tahu bahwa ternyata kalian hanya hendak mencari permusuhan dengan setiap orang yang kalian jumpai. Kalian hendak mengajak berkelahi? Baik, majulah aku Sie Hong Li tidak takut sedikit pun!”

Sambil berkata begitu sekali ia menggerakkan kedua tangannya, pedang Liong-coan-kiam sudah berada di tangan kanan dan kipas maut telah berada di tangan kirinya! Dia berdiri dengan sikap gagah sekali, mukanya merah matanya menyala.

Melihat sikap ini, Tiong Kun Tojin lalu cepat melangkah maju dan berkata kepada Hailun Thai-ek Sam-kui,

“Sam-wi sungguh tidak dapat membedakan orang. Bicara terhadap seorang gadis muda seperti Nona Sie, seharusnya jangan disamakan dengan pembicaraan terhadap seorang yang telah masak oleh api pengalaman.” Kemudian tosu ini lalu berpaling kepada Lili dan berkata,

“Nona Sie, sesungguhnya memang sudah menjadi watak Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menguji kepandaian tiap orang yang dijumpainya. Ini adalah cara penghargaan mereka. Kalau yang dijumpainya itu adalah seorang yang mereka anggap tidak cukup sempurna kepandaiannya dan tidak cukup berharga, walau dipaksa-paksa sekali pun jangan harap akan dapat membuat mereka turun tangan mengajak bertanding! Tantangannya ini ialah suatu cara penghormatan yang aneh, Nona. Oleh karena itu, harap kau jangan marah dan lakukanlah pertandingan ini secara persahabatan saja, yaitu hanya merupakan pibu (pertandingan kepandaian) biasa untuk menentukan siapa yang tingkatnya lebih unggul!”

Lili tersenyum menyindir saat menjawab, “Totiang, aku pun bukan seorang kanak-kanak, sungguh pun harus aku akui bahwa pengalamanku belum banyak. Ketiga orang tua ini termasuk tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal dan sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi mengapa hanya untuk menghadapi aku seorang saja mereka bertiga hendak maju berbareng? Bukan aku merasa takut, akan tetapi bukankah kalau hal ini hanya sebuah pibu biasa maka nama mereka akan merosot turun?”

Bouw Ki orang ke tiga dari Thailek Sam-kui tertawa bergelak.

“Nona Sie, kami bertiga disebut Tiga Setan, mengapa takut nama merosot? Kami tidak mempedulikan nama dan juga telah menjadi kebiasaan kami untuk maju bersama, hidup bertiga mati bertiga! Nona, bila mana seorang di antara kami menang, kami tidak dapat memperebutkan kemenangan itu dan kalau kalah, harus kami pikul bertiga. Ha-ha-ha!”

Lili adalah seorang gadis yang keras hati, mendengar omongan ini dia menjadi semakin marah.

“Majulah, majulah! Siapa takut padamu?”

Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui mengeluarkan suara aneh dan payungnya menyambar ke arah pinggang Lili.

“Anak Pendekar Bodoh, awaslah!” serunya.

Lili melihat bahwa biar pun payung itu merupakan benda sederhana saja, namun dia tahu bahwa itu adalah sebuah senjata luar biasa. Tidak saja gagang payung dapat mewakili sebuah tongkat, juga setiap jari-jari payung itu merupakan tongkat-tongkat kecil yang dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah. Maka ia tidak berlaku ayal lagi dan cepat ia mengebutkan kipas di tangan kirinya menangkis. Terdengar suara keras ketika kipas dan payung beradu dan ketika dari kipas ini datang angin pukulan yang aneh, Thian-he Te-it Siansu menjadi kagum sekali.

Begitu pukulan pertama dari payung Thian-he Te-it Siansu dapat tertangkis oleh Lili, lalu menyusullah serangan-serangan dari Bouw Ki yang menggerakkan tongkatnya dan Lak Mou Couwsu yang mainkan rantai besarnya. Sebentar saja Lili telah terkurung oleh tiga orang tokoh besar itu dengan rapat sekali.

Akan tetapi, gadis yang berhati tabah dan berani sekali ini tidak menjadi gentar seujung rambut pun, bahkan ia lalu mempercepat permainan kipas San-sui San-hoat peninggalan dari Swi Kiat Siansu dan memperhebat pula serangan pedang di tangan kanannya yang memainkan Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut ciptaan ayahnya.

Ketika Thian-he Te-it Siansu menyerang dengan payung dikembangkan ke arah lambung Lili, gadis ini lalu berseru keras dan cepat mengembangkan kipasnya pula, dikebutkan ke arah payung sedangkan pedangnya tidak tinggal diam, melainkan menahan datangnya rantai dan tongkat!

“Nanti dulu!” seru Thian-te Te-it Siansu pada saat merasa betapa kebutan kipas itu telah menolak hawa pukulan dari payungnya. “Bukankah yang kau mainkan ini ilmu kipas maut San-sui San-hoat dari Swi Kiat Siansu?”

Lili tidak mau menahan senjatanya dan sambil menyerang terus dia berseru, “Kalau betul kau mau apa?”

“Ha-ha-ha! Katanya kau puteri Pendekar Bodoh, kenapa menghadapi dengan Ilmu Kipas Maut dari Swi Kiat Siansu? Mana kepandaian dari Pendekar Bodoh, ayahmu?” Thian-he Te-it Siansu yang paling pandai bicara di antara kedua mengejek Lili.

Memang sesungguhnya, Thian-he Tiat Siansu agak jeri menghadapi ilmu kipas maut dari Swi Kiat Siansu, karena ia pernah jatuh bangun oleh Swi Kiat Siansu yang mainkan ilmu silat ini. Ketiga orang Iblis Geledek dari Hailun ini memang pernah mengadu kepandaian dengan Swi Kiat Siansu dan biar pun tokoh terbesar dari utara ini hanya mainkan sebuah kipas butut, namun ketiga orang iblis ini terpaksa mengakui keunggulan Swi Kiat Siansu!

Kini melihat bahwa gadis muda ini pandai pula memainkan ilmu Kipas San-sui San-hoat, di samping jeri terhadap ilmu kipas itu sendiri, juga Thian-he Te-it Siansu merasa jeri apa bila menghadapi nama kakek jagoan dari utara itu. Maka dia sengaja mengejek Lili agar mengeluarkan kepandaian yang dipelajarinya dari Pendekar Bodoh.

Lili adalah seorang gadis muda yang betapa pun cerdik dan tabahnya, akan tetapi masih kurang pengalaman. Dalam sebuah pibu, sebetulnya ia boleh saja mengeluarkan segala kepandaian yang pernah dia pelajari, karena namanya juga pibu (mengadu kepandaian). Kalau dia menyimpan dan tidak mempergunakan sesuatu kepandaiannya, kalah menang justru tak dapat dipergunakan sebagai ukuran. Mendengar ejekan Thian-he Te-it Siansu itu, dia menjadi marah sekali.

“Tua bangka, kau kira aku hanya mengandalkan pelajaran dari Swi Kiat Siansu belaka? Untuk mengalahkan orang-orang macam kalian ini cukup dengan pedang beserta tangan kiriku saja.” Sambil berkata demikian, Lili cepat menyelipkan kipas mautnya di pinggang, kemudian ia menyerang lagi sambil memutar pedang Liong-coan-kiam sehingga pedang itu berubah menjadi segulung sinar putih yang menyilaukan mata.

“Bagus sekali. Aku tidak pernah menyaksikan ilmu pedang seperti ini, akan tetapi ilmu ini betul-betul hebat!” seru Lak Mou Couwsu yang jujur.

Memang Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut merupakan ciptaan dari Pendekar Bodoh sendiri, yaitu sebagian dari Ilmu Pedang Daun Bambu yang amat sulit dipelajarinya, maka jarang ada orang yang pernah menyaksikannya. Ilmu Pedang Daun Bambu adalah ilmu pedang yang baru dapat dimainkan oleh orang yang telah memiliki kepandaian pokok segala ilmu silat dan dasar-dasar gerakan tubuh seperti yang telah dimiliki oleh Pendekar Bodoh.

Meski pun Lili sudah dilatih oleh ayahnya semenjak kecil, akan tetapi tetap saja gadis ini belum sanggup menangkap pelajaran mengenal pokok dan dasar ilmu silat seperti yang dimiliki ayahnya, maka sukarlah baginya untuk mempelajari Ilmu Pedang Daun Bambu. Dan sebagai gantinya, Pendekar Bodoh lalu menciptakan Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut untuk puterinya.

Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut ini memang benar-benar hebat, tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Lak Mou Couwsu yang jujur. Apa bila sekiranya yang menghadapi ilmu pedang ini hanya seorang di antara Hailun Thai-lek Sam-kui, belum tentu mereka akan kuat menahan. Gerakan pedang ini sama sekali tidak pernah terduga dan pergerakannya amat wajar, tetapi tepat dan sesuai dengan gerakan lawan.

Ilmu pedang ini menjadi ‘hidup’ apa bila digunakan menghadapi serangan lawan, karena sambil menangkis, pedang Liong-coan-kiam itu akan terus bergerak dan secara otomatis menyerang bagian yang paling lemah dari lawan yang masih berada dalam kedudukan menyerang itu.

Pernah dituturkan di dalam cerita Pendekar Bodoh betapa pendekar ini menciptakan Ilmu Pedang Daun Bambu dengan menjadikan daun-daun bambu yang bergerak-gerak tertiup angin sebagai ‘lawan-lawan’ yang ratusan jumlahnya. Apa bila daun-daun bambu itu tak bergerak tertiup angin, agaknya Sie Cin Hai si Pendekar Bodoh juga tidak akan berhasil menciptakan ilmu pedang yang lihai ini. Akan tetapi dengan ratusan daun bambu yang bergerak-gerak, maka gerakan pedangnya menjadi ‘hidup’ sehingga sungguh pun batang bambu terlindung oleh ratusan daunnya yang bergerak-gerak, namun tetap saja ujung pedangnya dapat melukai batang-batang bambu tanpa melanggar sehelai pun daun!

Tentu saja dalam hal ilmu pedang, Lili masih jauh di bawah kepandaian ayahnya. Selain belum matang betul, juga pengertiannya mengenai pokok dasar gerakan masih belum sepandai ayahnya. Ditambah pula sekarang dia menghadapi keroyokan tiga tokoh besar di dunia kang-ouw yang telah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu silat mereka yang aneh pula, maka sesudah bertempur puluhan jurus, Lili mulai terkurung rapat dan terdesak.

Sementara itu, tidak saja Tiong Kun Tojin dan Kam Wi memandang dengan amat kagum menyaksikan ilmu kepandaian Lill, akan tetapi terutama sekali Kam Liong menjadi sangat terkejut. Sedikit pun tidak pernah disangkanya bahwa gadis ini memiliki kepandaian yang sedemikian hebatnya sehingga mampu menghadapi keroyokan Hailun Thai-lek Sam-kui! Akan tetapi dia merasa bukan main cemasnya pada saat melihat betapa gulungan sinar pedang gadis itu semakin menjadi kecil karena terdesak oleh tiga senjata istimewa yang dimainkan oleh tiga iblis tua itu.

“Liong-ji,” tiba-tiba saja Kam Wi berkata dengan penuh kekaguman, “Nona ini betul-betul patut menjadi isterimu! Aku akan melamarnya untukmu kepada Pendekar Bodoh!”

Ucapan ini dikeluarkan dengan keras sehingga terdengar pula oleh Lili yang menggigit bibirnya dengan muka makin merah. Akan tetapi dia tidak sempat untuk melayani orang kasar yang jujur ini.

“Memang mengagumkan sekali,” Tiong Kun Tojin berkata, “pinto sendiri pun sepenuhnya setuju kalau Kam Liong dapat berjodoh dengan Nona Sie yang gagah perkasa ini.” Akan tetapi ucapan tosu ini hanya perlahan dan terdengar oleh Kam Liong dan Kam Wi saja. Tentu saja Kam Liong merasa amat gembira mendengar ucapan dua orang ini.

“Sungguh pun teecu merasa setuju sekali akan tetapi orang seperti teecu mana berharga untuk menjadi jodohnya?” kata pemuda ini dengan hati berdebar.

Ucapan terakhir dari pemuda ini terdengar oleh Lili maka ia menjadi makin tak enak hati. Dia ingin sekali mengalahkan ketiga orang lawannya dan segera pergi dari mereka yang membuatnya amat jengah dan malu, akan tetapi bagaimana ia dapat lolos dari kepungan tiga orang lawan yang hebat ini?

Dia telah mendengar penuturan Goat Lan betapa gadis kosen itu pun kalah menghadapi keroyokan Thai-lek Sam-kui, maka teringatlah dia akan cerita Goat Lan bahwa tiga iblis tua ini tak bermaksud mencelakakan lawannya dan hanya bertempur mati-matian karena haus akan kemenangan belaka!

Mereka tidak akan melukaiku, pikir Lili, dan gadis ini memutar otaknya yang cerdik. Kalau aku tidak menggunakan senjata, mereka tentu takkan mendesak hebat dalam kekuatiran mereka melukaiku dan apa bila mereka memperlambat gerakan, maka dengan ilmu silat Kong-ciak Sin-na (Ilmu Silat Burung Merak) apakah aku takkan dapat merampas senjata mereka? Setelah berpikir demikian gadis ini kemudian menyimpan pedangnya dan kini ia bersilat dengan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na, ilmu silat tangan kosong ciptaan Bu Pun Su kakek gurunya yang khusus untuk menghadapi lawan bersenjata!

Tubuh gadis yang lincah ini menjadi makin ringan dan dia lalu melompat ke sana ke mari bagai burung merak indah yang menyambar-nyambar di antara sambaran senjata lawan sambil mencari kesempatan untuk mengulur tangan dan mencengkeram senjata lawan untuk dirampasnya.

“Aduh, hebat! Inilah agaknya Kong-ciak Sin-na dari Bu Pun Su yang lihai!” Thian-he Te-it Siansu berseru. “Dia mau merampas senjata, lekas kita menghadapinya dengan tangan kosong pula!”

Ternyata kakek kate ini cerdik sekali dan ia telah tahu akan maksud gadis itu. Lili menjadi semakin gelisah dan gemas. Karena sekarang ketiga orang lawannya bertangan kosong dan mereka ternyata adalah ahli-ahli lweekeh yang tenaganya hebat, harapannya untuk dapat lolos menjadi tipis sekali. Di dalam kemarahannya, Lili kemudian merubah gerakan tubuhnya dan kini dua lengannya mengebulkan uap putih dan hawa pukulan yang hebat keluar dari lengan yang berkulit putih halus itu!

“Hebat sekali, inilah Pek-in Hoat-sut dari Bu Pun Su!” teriak Thian-te Te-it Siansu dengan gembira.

Dia sudah mencabut payungnya lagi yang segera dikembangkan untuk menangkis hawa pukulan yang luar biasa dari Lili. Juga kedua orang adiknya lalu mengeluarkan senjata masing-masing karena dengan bertangan kosong, mereka tidak akan berani menghadapi Pek-in Hoat-sut yang lihai.

Bukan main gemasnya hati Lili. Dia berseru nyaring, “Baiklah, aku akan mengadu jiwa dengan kalian!”

Dan sekejap mata kemudian, kipas dan pedangnya sudah berada di kedua tangannya. Inilah keputusan terakhir yang berarti bahwa gadis ini bukan hendak pibu lagi, melainkan hendak bertempur mati-matian dengan maksud membunuh!

Akan tetapi, ketiga orang iblis tua itu tidak takut sama sekali, bahkan terdengar mereka tertawa-tawa mengejek sambil mengurung Lili. Memang mereka bertiga tentu saja lebih kuat dari pada Lili, dan betapa pun gadis ini mainkan kipas dan pedangnya, tetap saja ia terkurung dan tak dapat lolos!

Tiba-tiba saja berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu tanpa dapat dicegah lagi oleh Tiong Kun Tojin mau pun Kam Wi, Kam Liong telah meloncat masuk ke dalam gelanggang pertempuran dengan pedang di tangan.

“Sam-wi Totiang, harap suka melepaskan Nona Sie!” Panglima Muda ini berteriak sambil memutar pedangnya, membantu Lili menangkis serangan lawan.

Thai-lek Sam-kui lalu menunda serangannya, “Ha-ha-ha, Kam-ciangkun, tentu saja kami akan menghentikan serangan kalau Nona Sie suka mengaku bahwa kepandaian Hailun Thai-lek Sam-kui masih lebih tinggi dari pada kepandaian Pendekar Bodoh!”

“Jangan ngacau!” bentak Lili. “Biar pun ada sepuluh orang seperti kalian, ayahku takkan kalah!” Dengan gemas sekali, gadis ini lalu menyerang lagi dan disambut oleh Thai-lek Sam-kui sambil tertawa-tawa.

“Sam-wi Totiang, jangan serang dia!” Kam Liong kembali mencegah.

“Kam-ciangkun, kau sayang kepada Nona ini? Boleh kau bantu padanya agar permainan ini lebih gembira. Ha-ha-ha!” Thian-he Te-it Siansu tertawa bergelak.

Demikianiah, pertempuran kini menjadi lebih ramai lagi dengan adanya Kam Liong yang membantu Lili. Lili menjadi makin gemas. Bantuan dari Kam Liong tidak menyenangkan hatinya, karena hal itu dianggap merendahkannya. Akan tetapi apa pula yang dapat dia lakukan? Betapa pun juga, harus ia akui bahwa seorang diri saja tak mungkin ia akan dapat lolos dan kini bantuan Kam Liong, biar pun tak dapat mendatangkan kemenangan baginya namun dapat membuat ia agak bernapas lega, tidak repot seperti tadi.

Melihat betapa pertempuran itu, terutama dari pihak Lili, dilakukan dengan mati-matian dan sungguh-sungguh, timbul hati khawatir pada Tiong Kun Tojin dan Kam Wi. Keduanya saling memberi tanda dengan mata dan sekali mereka menggerakkan tubuh, mereka pun telah melompat ke dalam gelanggang pertempuran.

“Sam-wi Beng-yu, harap suka mengalah dan mundur!” Tiong Kun Tojin berkata sambil menggerakkan tangannya ke arah payung yang dipegang oleh Thian-he Te-it Siansu. Si Kakek Kate ini merasa betapa angin pukulan yang amat hebat keluar dari tangan tokoh Kun-lun-pai itu, maka cepat dia menarik kembali payungnya dan melompat mundur.

Juga Kam Wi sebagai tokoh Kun-lunpai ke dua, lalu memperlihatkan kepandaiannya. Dia hanya mengebutkan kedua ujung lengan bajunya, akan tetapi kedua ujung baju itu sudah cukup untuk menggempur tongkat dan rantai di tangan Bouw Ki dan Lak Mou Couwsu sehingga senjata mereka terpental ke belakang!

Hailun Thai-lek Sam-kui melompat mundur dan Thian-he Te-it Siansu tertawa bergelak. “Nona Sie, sekarang sudah sepantasnya kalau kau mengakui bahwa kepandaian Hailun Thai-lek Sam-kui masih lebih unggul dari pada kepandaian Pendekar Bodoh!”

“Manusia sombong, kalau sewaktu-waktu kalian mendapat kehormatan bertemu dengan ayah, kalian ini seorang demi seorang tentu akan mendapat tamparan agar melenyapkan kesombonganmu!” Setelah berkata demikian, Lili lalu mengangguk kepada Kam Liong dan berkata,

“Kam-ciangkun, maafkan, aku tidak dapat berdiam di sini lebih lama lagi!” Dia kemudian melompat jauh dan tidak pedulikan lagi seruan Kam Liong yang hendak menahannya.

Tiong Kun Tojin menarik napas. “Seorang gadis yang gagah. Aku setuju usul Sute untuk menjodohkannya dengan Kam Liong.”

Kam Wi menegur Thai-lek Sam-kui mengapa mereka ini sebagai orang-orang tua masih suka mengganggu seorang gadis muda seperti itu. Ada pun Kam Liong, betapa pun mendongkolnya terhadap Thai-lek Sam-kui, namun ia tidak berani menegur. Mereka lalu masuk kembali ke dalam goa yang kini telah padam api unggunnya, lalu merundingkan cara untuk mencegah penyerbuan tentara musuh, yaitu bala tentara Mongol dan Tartar.

“Pinto mendengar berita bahwa pasukan Mongol dibantu oleh orang-orang pandai dari pedalaman, entah siapa-siapa orangnya. Oleh karena inilah maka pinto dan Siok-hu-mu sengaja mengumpulkan teman-teman untuk menghadapi pengkhianat-pengkhianat bangsa yang tak tahu malu itu,” kata Tiong Kun Tojin kepada muridnya. “Baiknya kau pimpin dulu pasukanmu untuk menjaga garis depan di sepanjang tembok besar, pinto akan menanti dahulu di sini sampai kawan-kawan kita tiba di sini, baru kami akan menyusul ke garis depan.”

Setelah berunding, Kam Liong lalu kembali ke tempat di mana pasukannya berhenti dan kemudian memimpin pasukannya maju terus ke utara. Di dalam hatinya ia merasa amat menyesal dan kecewa sekali karena Lili telah meninggalkannya sehingga diam-diam dia menyumpahi Hailun Thai-lek Sam-kui yang telah menyebabkan gadis itu menjadi marah-marah dan pergi.

Akan tetapi secara diam-diam dia juga merasa girang dan bersyukur sekali karena suhu dan siok-hu-nya sudah berjanji hendak meminang Lili untuknya kepada Pendekar Bodoh! Maklum bahwa gadis itu pasti akan pergi ke Gunung Alkata-san dimana Hong Beng dan Goat Lan berada, maka dia pun tidak merasa khawatir. Dia lalu mempercepat perjalanan pasukannya ke Gunung Alkata-san…..

********************

Mari kita sekarang mengikuti perjalanan Lie Siong putera Ang I Niocu, pemuda remaja yang gagah perkasa dan berwatak sukar dan aneh itu. Sebagaimana telah diketahui, Lie Siong berhasil menotok Lo Sian hingga tidak berdaya dan membawa Pengemis Sakti itu. Ia menculik Lo Sian bukan karena ia benci kepada pengemis ini, akan tetapi sebenarnya karena dia ingin sekali mengetahui keadaan ayahnya, yakni pendekar besar Lie Kong Sian.

Setelah membawa Lo Sian jauh dari Shaning malam hari itu, Lie Siong lalu menurunkan Lo Sian dari pondongannya dan meletakkannya di atas rumput. Dia tidak membebaskan Lo Sian dari totokan, sebaliknya bahkan lalu merebahkan diri di bawah pohon dan tidur. Pemuda ini telah melakukan perjalanan jauh dan merasa lelah sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah bangun dan ketika melihat ke arah Lo Sian, dia melihat pengemis tua itu masih berbaring tanpa dapat bergerak. Timbullah rasa kasihan dalam hatinya, maka dia lalu menghampiri Lo Sian dan melepaskan totokannya. Beberapa kali urutan dan tepukan pada tubuh pengemis itu, terbebaslah Lo Sian. Akan tetapi oleh karena selama setengah malam Lo Sian berada dalam keadaan tertotok, dia masih merasa lemas dan hanya dapat bangun duduk dengan payah sekali.

Pengemis ini segera meramkan mata bersemedhi untuk menyalurkan tenaga dalamnya dan mengatur napasnya agar supaya jalan darahnya bisa normal kembali. Lie Siong lalu menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan pengemis itu dan membantunya dengan menyalurkan hawa dan tenaga dalamnya hingga sebentar saja Lo Sian merasa tubuhnya hangat dan kuat.

Diam-diam Lo Sian merasa heran melihat pemuda ini. Baru saja menotok, menculik dan menyiksanya dengan membiarkannya dalam keadaan tertotok sampai setengah malam, akan tetapi sekarang bahkan membantunya melancarkan jalan darahnya sehingga cepat menjadi baik kembali. Sungguh pemuda yang aneh sekali!

Ia membuka matanya dan menggerakkan tangannya. Lie Siong lalu menjauhkan diri dan duduk menghadapi pengemis itu.

“Anak muda, apa maksudmu menculik kemudian membawaku ke tempat ini?” kata-kata pertama yang keluar dari mulut Lo Sian ini terdengar tenang sekali.

Pandangan mata pengemis ini yang begitu tenang dan mengandung tenaga batin yang tinggi, membuat Lie Siong tiba-tiba merasa malu kepada diri sendiri sehingga mukanya menjadi kemerah-merahan. Pandang mata ini mengingatkan dia pada ayahnya. Seperti itulah pandang mata ayahnya, kalau dia tak salah ingat.

“Maaf, Lopek. Sebenarnya aku tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan kau, dan sungguh tidak ada alasan sama sekali bagiku untuk menyusahkan kau orang tua. Akan tetapi ucapanmu yang kudengar di rumah Thian Kek Hwesio di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu dahulu itu selalu tidak pernah dapat terlupakan olehku. Ketahuilah, terus terang saja aku adalah putera tunggal dari Lie Kong Sian, Ang I Niocu adalah ibuku, dan namaku Lie Siong. Cukup sekian keterangan mengenai diriku. Sekarang yang paling penting, apakah maksud kata-katamu dahulu itu yang menyatakan bahwa ayahku telah meninggal dunia? Ketahuilah bahwa aku sedang mencari ayahku dan di Pulau Pek-le-to aku tidak dapat menemukannya. Karena kau mengenal ayahku, maka aku ingin agar kau menceritakan apa maksud kata-katamu tentang kematian ayah itu.” Setelah berkata demikian, pemuda itu memandang tajam.

Lo Sian merasa ngeri melihat mata yang berbentuk bagus itu mengeluarkan sinar yang amat tajam, seakan-akan hendak menembus dadanya. Ia tidak tahu bahwa seperti itulah mata Ang I Niocu, Pendekar Wanita Baju Merah yang dulu telah menggemparkan dunia persilatan.

“Sayang sekali, orang muda. Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu, karena sebetulnya aku sendiri pun tidak tahu apa yang telah terjadi dengan ayahmu itu.”

“Lopek, harap kau orang tua jangan main-main! Kau pernah berkata bahwa Ayah mati, akan tetapi sekarang kau menyatakan tidak tahu apa-apa. Apa artinya ini?”

“Aku bicara sebenarnya, anak muda, dan sama sekali aku tidak mempermainkanmu atau juga membohong kepadamu. Aku telah kehilangan ingatan sama sekali, aku tidak tahu apa yang telah terjadi dahulu. Ingatanku hanya terbatas semenjak di tempat Thian Kek Hwesio sampai sekarang. Sebelum itu, yang teringat olehku hanya bahwa ayahmu telah meninggal dunia.”

“Di mana matinya dan bagaimana? Di mana makamnya.” Lie Kong mendesak.

Lo Sian menarik napas panjang. “Percayalah, anak yang baik. Satu-satunya hal yang akan kukerjakan pertama-tama kalau ingatanku dapat kembali adalah mengingat tentang ayahmu itu. Akan tetapi apa daya, pikiranku hampir menjadi rusak dan harapanku untuk hidup hampir musnah karena aku telah berusaha mengingat-ingat tanpa hasil sedikit pun juga. Kau tenanglah dan coba dengar penuturanku.”

Lo Sian lalu menceritakan semua pengalamannya, yaitu semenjak tahu-tahu dia merasa berada di tempat tinggal Thian Kek Hwesio yang menyembuhkannya dan menceritakan pula semua pengalamannya yang didengarnya kembali dari Lili, yaitu pada waktu ia dulu menolong Lili.

“Ahh, sampai sekarang aku tidak bisa mengingat kembali hal yang terjadi sebelum aku disembuhkan oleh Thian Kek Hwesio. Hanya ada dua hal yang masih terbayang di depan mataku, yaitu ayahmu yang telah meninggal dan ucapan pemakan jantung yang selama ini membuatku tak dapat tidur.”

Lie Siong mengerutkan alisnya. Dapatkah dia mempercaya omongan seorang yang baru saja sembuh dari sakit gila?

“Betapa pun juga, anak muda. Aku mempunyai perasaan bahwa ayahmu itu pasti mati dalam keadaan yang mengerikan, dan aku juga merasa yakin bahwa kalau aku melihat kuburannya, tentu akan mengenal tempat itu.”

Timbul kembali harapan Lie Siong. Ia berpikir sejenak, kemudian berkata,

“Kalau begitu, Lopek. Terpaksa kau harus ikut dengan aku mencari makam ayah, kalau benar-benar dia telah meninggal dunia seperti yang kau katakan tadi.”

“Boleh, boleh! Hanya saja... bagaimana dengan Lili?”

“Lili siapa?”

“Sie Hong Li, nona yang kutinggalkan seorang diri. Dia adalah anak baik, seperti anak atau keponakanku sendiri. Dia tentu akan gelisah sekali.”

“Biar saja, dia bukan anak kecil lagi dan kepandaiannya cukup tinggi untuk menjaga diri sendiri,” jawab Lie Siong tegas.

“Ke mana kita akan pergi?”

“Sudah kukatakan tadi, mencari makam ayah.”

“Setelah itu?”

“Aku akan mengantarkan seorang gadis ke utara untuk mencarikan suku bangsanya.”

Lo Sian teringat akan cerita Lili. “Ahh, gadis yang dulu kau ganggu itu?”

Merah muka Lie Siong. “Jangan berbicara sembarangan, Lopek! Gadis itu adalah Lilani, seorang gadis Haimi yang kutolong dari gangguan orang jahat. Sekarang dia menderita penyakit pikiran dan kutinggalkan di rumah Thian Kek Hwesio. Kita sekarang menuju ke sana untuk melihat keadaannya.”

Lo Sian tertegun mendengar kekerasan hati pemuda ini. Lili boleh disebut seorang gadis yang berhati keras, akan tetapi pemuda ini lebih-lebih lagi!

“Baiklah, aku menurut saja, karena aku merasa kagum dan menghormat pada ayahmu, seorang pendekar besar. Biar pun aku tidak ingat lagi, namun aku merasa yakin bahwa aku dahulu tentu pernah ditolong oleh ayahmu. Maka sudah menjadi kewajibanku kalau sekarang aku membantumu mencarikan makamnya. Jangan sekali-kali kau menganggap kepergianku denganmu ini sebagai tanda bahwa aku takut kepadamu, anak muda. Ahh, bukan sekali-kali. Biar pun kepandaianmu boleh lebih tinggi dariku, namun aku Sin-kai Lo Sian bukanlah seorang yang takut mati. Aku menuruti kehendakmu karena aku pun ingin sekali mendapatkan makam pendekar besar Lie Kong Sian ayahmu.”

Lie Siong mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat suka melihat sikap pengemis ini yang dianggapnya cukup gagah dan patut dijadikan kawan seperjalanan. Berangkatlah kedua orang ini menuju ke Ki-ciu untuk melihat keadaan Lilani gadis Haimi yang bernasib malang itu. Tentu saja sebagai seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, Lie Siong tidak menceritakan hubungannya dengan Lilani itu.

Dengan hati girang Lie Siong mendapatkan Lilani telah sembuh dari sakitnya, hanya saja gadis ini sekarang berubah menjadi pendiam sekali. Dia telah mendapat banyak nasehat dan petuah dari Thian Kek Hwesio, karena setelah diobati, gadis ini menganggap Thian Kek Hwesio sebagai satu-satunya orang yang dapat diajak bertukar pikiran. Pendeta tua yang sudah banyak sekali pengalamannya ini dan yang paham dengan bahasa Haimi, mendengarkan pengakuan dan penuturan Lilani dengan wajah tenang dan sabar.

“Itulah salahnya bila orang-orang muda kurang memperhatikan tentang kesopanan yang sudah jauh lebih tua dari pada kita umurnya. Amat tidak sempurna kalau seorang gadis seperti engkau melakukan perjalanan berdua dengan seorang pemuda seperti Lie Siong yang tampan dan gagah. Mudah sekali bagi iblis untuk mengganggu kalian.” Hwesio itu menarik napas panjang. “Akan tetapi tak perlu hal itu dibicarakan lagi. Yang terpenting sekarang, dengarlah nasehatku. Apa bila kau memang benar-benar sudah merasa yakin bahwa cintamu tidak terbalas oleh pemuda itu, jalan satu-satunya bagimu adalah kembali ke bangsamu sendiri! Kebiasaanmu dan kebiasaan Lie Siong, sebagai seorang gadis Haimi dan seorang pemuda Han tidak cocok sekali. Kau biasa hidup bebas, sedangkan orang Han selalu terikat oleh peraturan-peraturan kesusilaan dan kesopanan sehingga kalau ikatan itu terlepas sedikit saja, akan membahayakan. Memang baik sekali kalau dia mau menikah denganmu, akan tetapi kalau hal demikian tidak terjadi, jalan satu-satunya adalah seperti yang kukatakan tadi. Nah, terserah kepadamu.”

Lilani mendengarkan nasehat ini sambil meramkan mata untuk menahan air mata yang mulai mengucur. Alangkah besamya cinta hatinya terhadap Lie Siong. Akan tetapi ia juga dapat merasakan bahwa pemuda itu tidak mencintainya. Sebelum mendengar nasehat dari Thian Kek Hwesio, memang dia sudah mengambil keputusan untuk kembali kepada bangsanya, dan dia sekarang makin tetap lagi hatinya.

Demikianlah, ketika Lie Siong datang, Thian Kek Hwesio lalu memanggil pemuda itu ke dalam kamarnya dan berkata,

“Anak muda she Lie. Pinceng telah mendengar semua penuturan Lilani tentang hubungan kalian. Katakan saja terus terang kepada pinceng, apakah ada niat dalam hatimu untuk mengawininya?”

Lie Siong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali dan kemudian menggeleng kepalanya. Akan tetapi pernyataan dengan gelengan kepala ini segera disusulnya dengan berkata, “Betapa pun juga, Losuhu, aku takkan membuatnya sengsara dan meninggalkan dia begitu saja. Aku akan menjaganya, kalau perlu mengambilnya sebagai adik angkat, atau… bagaimana saja menurut sekehendak hatinya asalkan... asalkan jangan menjadi suaminya!”

“Pinceng maklum akan isi hatimu. Kau sudah bersalah, akan tetapi kalau kau sudah mau mengakui kesalahanmu dan kini mau bertanggung jawab memperhatikan nasib gadis itu, kau boleh disebut orang baik.”

“Aku akan mencari suku bangsa Haimi dan membawa Lilani kembali kepada bangsanya. Tentu saja aku tidak akan memaksanya, hanya saja inilah kehendakku.”

Thian Kek Hwesio mengangguk-angguk. “Baik, itulah jalan yang terbaik. Pinceng merasa girang sekali mendengar kau mempunyai ketetapan hati seperti itu. Dengar, anak muda. Kalau kau bukan putera pendekar besar Lie Kong Sian dan Ang I Niocu yang keduanya sudah memupuk perbuatan baik dan kebajikan, kiranya pinceng tak akan mau bersusah payah memberi nasehat dan mencampuri urusanmu. Akan tetapi, sebagai seorang lelaki yang gagah, kau harus berani bertanggung jawab atas segala perbuatanmu. Di dalam kegelapan pikiran kau sudah melakukan pelanggaran bersama Lilani dan sungguh pun kau tidak dapat mengawininya, akan tetapi kau harus penuh tanggung jawab mengatur kehidupannya dan sekali-kali jangan menyia-nyiakan dia sehingga gadis yang malang itu hidup dalam kesengsaraan. Kalau kau meninggalkannya begitu saja tanpa persetujuan hatinya, kau akan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah). Mengertikah kau?”

Kalau sekiranya yang bicara itu bukan Thian Kek Hwesio yang memiliki daya pengaruh luar biasa memancar keluar dari wajahnya yang tenang, sabar dan berwibawa itu, pasti Lie Siong akan menjadi marah sekali. Akan tetapi kali ini pemuda itu hanya menundukkan kepala dan menyatakan kesanggupannya.....


Ketika Lilani bertemu dengan Lie Siong, gadis itu memandang dengan mata sayu, lalu bertanya perlahan, “Taihiap, bilakah kita akan mencari suku bangsaku?”

“Sekarang juga, Lilani. Hari ini juga!” jawab Lie Siong dengan hati diliputi keharuan besar.

Ada pun Lo Sian begitu bertemu dengan Thian Kek Hwesio, cepat-cepat dia memberi hormat. Hwesio sangat tua itu mengangguk-angguk lagi dengan senang.

“Adanya Sin-kai Lo Sian bersama Lie Siong, menandakan bahwa pemuda itu betul-betul seorang yang boleh dipercaya,” pikir hwesio ini, karena dia tahu betul orang macam apa adanya Sin-kai Lo Sian.

“Lebih baik kita mengantar dulu Nona Lilani ke utara. Setelah kita dapat bertemu dengan rombongan suku bangsa Haimi dan mengembalikan Nona itu kepada bangsanya, baru kita mencoba untuk mencari keterangan perihal ayahmu,” kata Lo Sian sesudah mereka bertiga mulai melakukan perjalanan.

Lie Siong menyetujui pikiran ini, akan tetapi dia hendak mengetahui pendirian Lilani yang kini nampak demikian pendiam dan wajahnya selalu diliputi kemurungan.

“Taihiap tahu bahwa aku selalu hanya menurut saja. Sesuka hatimu sajalah, aku hanya ikut, karena apakah daya seorang seperti aku?” jawaban ini tak saja membuat Lie Siong menjadi amat terharu, bahkan Lo Sian yang tidak tahu apa-apa tentang urusan mereka, menjadi kasihan sekali melihat Lilani. Dia lalu bersikap ramah tamah dan baik terhadap gadis ini sehingga Lilani merasa agak terhibur dan suka kepada Pengemis Sakti ini.

Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di kota Ciang-kou, dekat dengan tapal batas Mongolia di Propinsi Ho-pak. Mereka melihat kota itu sunyi seperti kota-kota dan dusun lainnya di dekat tapal batas, karena penduduknya sebagian besar telah pergi mengungsi ke selatan, takut akan penyerbuan dan gangguan tentara-tentara.

Di sepanjang jalan, Lie Siong dan Lo Sian mendengar tentang kekacauan dan gangguan para tentara Mongol dan Tartar. Lo Sian yang berjiwa patriot itu menjadi marah sekali dan beberapa kali dia menyatakan kepada Lie Siong bahwa kalau dia bertemu dengan tentara musuh, dia tentu akan menyerang mereka! Sebaliknya, pemuda itu hanya diam saja tidak menyatakan perasaannya hingga sukar bagi Lo Sian untuk mengetahui isi hati pemuda aneh ini.

Seperti biasa, di dalam kota Ciang-kou mereka mencari tempat bermalam di dalam kuil yang sudah ditinggal pergi oleh para hwesio-nya, dan di sana hanya terdapat dua orang hwesio penjaga kuil yang ramah tamah.

“Sicu, sungguh amat berani sekali Ji-wi Sicu datang ke tempat ini. Setiap waktu kota ini dapat diserbu oleh gerombolan musuh yang jahat. Tentu saja untuk Nona ini tidak ada bahayanya.” Kedua hwesio ini memandang kepada Lilani dengan kening dikerutkan.

Betapa pun Lilani bersikap sebagai seorang gadis Han, tetap saja kecantikannya yang berbeda dengan gadis-gadis Han itu mudah menimbulkan dugaan bahwa dia bukanlah gadis bangsa Han. Kulit seorang gadis Haimi berbeda dengan gadis Han yang kulitnya kekuning-kuningan. Sebaliknya kulit tubuh gadis ini putih kemerah-merahan.

“Biarkan mereka datang, akan kami sikat!” kata Lo Sian dengan marah sekali.

Kedua orang hwesio itu diam saja, akan tetapi di dalam hatinya mengejek orang yang berpakaian pengemis itu. Siapa berani bersikap sombong terhadap gerombolan Mongol yang mempunyai banyak perwira pandai?

Akan tetapi, ketika Lie Siong minta tolong kepada hwesio itu untuk membelikan makanan dan mengeluarkan uang perak, pendeta-pendeta itu bersikap manis dan membantu serta melayani mereka dengan ramah. Lie Siong dan kawan-kawannya tidak mengira bahwa diam-diam kedua orang hwesio itu telah melaporkan hal keadaan mereka, terutama Lilani kepada seorang gagah yang selalu melakukan pengawasan terhadap mata-mata Mongol di tempat itu. Orang gagah ini bukan lain adalah Kam Wi, paman dari Kam Liong!

Di dalam usahanya mencari kawan-kawan yang hendak membantu pertahanan tapal batas dari serangan musuh, Kam Wi memisahkan diri dari suheng-nya, Tiong Kun Tojin dan pergi sampai ke kota Ciang-kou. Di sepanjang jalan dia selalu berlaku waspada. Apa bila dia melihat ada orang-orang kang-ouw yang hendak menyeberang ke utara untuk bersekutu dengan orang-orang Mongol, tentu orang-orang kang-ouw itu akan dibujuknya, baik dengan jalan halus atau pun dengan cara kasar!

Mendengar laporan kedua orang hwesio itu bahwa ada dua orang gagah yang sikapnya mencurigakan bersama seorang gadis Haimi hendak bermalam di kuil, diam-diam Kam Wi merasa curiga sekali. Pada keesokan harinya, ketika Lie Siong, Lo Sian dan Lilani melanjutkan perjalanan mereka, sebelum meninggalkan kota yang sunyi itu, tiba-tiba saja mereka sudah berhadapan dengan seorang laki-laki tinggi besar yang melompat keluar dari sebuah tikungan jalan. Orang ini bukan lain adalah Kam Wi.

Begitu melihat keadaan Lilani, maka tahulah Kam Wi tokoh Kun-lun-pai itu bahwa gadis ini memang seorang gadis Haimi. Maka, untuk mencari bukti, dia segera menegur Lilani dalam bahasa Haimi,

“Apakah kau orang Haimi?”

Ditegur demikian tiba-tiba dalam bahasanya sendiri, Lilani menjadi terkejut, akan tetapi dia menjawab juga, “Betul! Saudara siapakah?”

Akan tetapi Kam Wi tak banyak cakap lagi, segera membentak dan mengulur tangannya hendak menangkap pundak kiri Lilani, “Mata-mata Mongol! Jangan harap kau akan dapat melepaskan diri dari Sin-houw Enghiong!”

Akan tetapi Lilani bukanlah seorang gadis yang lemah. Ia pun telah mendapat tambahan pelajaran silat dari Lie Siong, maka kegesitannya bertambah. Melihat betapa orang tinggi besar yang berwajah galak itu tiba-tiba menyerang dan hendak menangkap pundaknya, dia cepat mengelak dan melompat mundur.

Bukan main marahnya hati Kam Wi melihat cengkeramannya dapat dielakkan oleh gadis itu. Sekarang kecurigaannya makin bertambah. Seorang gadis Haimi dapat mengelak dari cengkeramannya pastilah bukan orang sembarangan dan patut kalau menjadi mata-mata Mongol atau setidaknya pencari orang-orang kang-ouw untuk membantu gerakan bangsa Mongol.

“Bagus, kau berani mengelak? Cobalah kau mengelak lagi kalau dapat!” Sambil berkata demikian, Kam Wi mengeluarkan kepandaiannya yang sangat diandalkan, yaitu Ilmu Silat Houw-jiauw-kang! Tangannya terulur maju merupakan cengkeraman atau kuku harimau dan dia menubruk ke depan untuk menangkap atau mencengkeram pundak gadis itu!

Lilani benar-benar menjadi bingung dan gugup. Serangan kali ini hebat bukan main dan kedua tangan Kam Wi yang merupakan kuku harimau itu betul-betul sulit untuk dielakkan lagi. Jalan ke kanan kiri atau ke belakang telah tertutup sehingga Lilani hanya akan dapat menghindarkan serangan ini kalau ia dapat ke atas atau amblas ke dalam bumi!

Tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras dan tahu-tahu tubuh gadis itu benar-benar mumbul ke atas! Kam Wi sampai membelalakkan matanya ketika tiba-tiba yang hendak ditangkapnya itu lenyap dari depan matanya dan telah melompati tubuhnya, melalui atas kepala dan tiba di belakangnya! Ia cepat menengok dan ternyata bahwa yang menolong gadis itu adalah pemuda yang tadi bersama gadis itu datang dengan tenangnya.

Memang sesungguhnya adalah Lie Siong yang telah menolong Lilani dari cengkeraman Kam Wi tadi. Ketika tadi pemuda itu melihat betapa Lilani terancam bahaya cengkeraman yang demikian lihainya, cepat dia melompat sambil menyambar pinggang Lilani, dibawa lompat melewati atas kepala Kam Wi dengan gerakan Hui-niau Coan-in (Burung Terbang menerjang Mega)! Dengan gerakan ginkang yang luar biasa ini ia pun berhasil menolong gadis itu sehingga kini Kam Wi memandang dengan tertegun dan penuh kekaguman.

“Siapa Saudara muda yang gagah ini? Mengapa dapat bersama dengan seorang gadis Haimi yang menjadi mata-mata Mongol? Apakah mungkin seorang enghiong yang gagah perkasa sampai tersesat dan hendak mengkhianati bangsa sendiri?”

Sebelum Lie Siong sempat menjawab, Lo Sian sudah mendahuluinya. Pengemis tua ini mengangkat kedua tangan menjura sambil berkata,

“Orang gagah, harap kau suka bersabar dahulu, agaknya kau sudah salah sangka! Kami sekali-kali bukanlah pengkhianat-pengkhianat seperti yang kau kira!”

Kam Wi berpaling kepada Lo Sian dan ketika melihat pengemis ini ia memandang penuh perhatian dan berkata,

“Ahh, bukankah aku berhadapan dengan Sin-kai Lo Sian?”

Lo Sian tertegun dan ia mengerti bahwa dulu tentu orang yang gagah ini pernah bertemu atau bahkan kenal dengannya, akan tetapi dia telah lupa sama sekali. Karena itu dengan senyum ramah ia berkata,

“Maaf, memang benar siauwte adalah Lo Sian orang yang bodoh. Akan tetapi sungguh otakku yang tumpul tidak ingat lagi siapa adanya orang gagah yang berdiri di hadapanku sekarang.”

Kam Wi tertawa bergelak. “Ah, ahh, Sin-kai Lo Sian benar-benar suka bergurau! Kini aku sudah tak ragu-ragu lagi bahwa kawan-kawanmu ini pasti bukan orang jahat, akan tetapi sungguh sangat mengherankan apa bila seorang Sin-kai Lo Sian sampai lupa kepadaku. Aku adalah Kam Wi, sudah lupa lagikah kau akan Sin-houw-enghiong dari Kun-lun-pai?”

Akan tetapi Kam Wi tidak tahu bahwa benar-benar Lo Sian tidak ingat lagi kepadanya. Bagaimanakah pengemis ini dapat ingat kepadanya sedangkan terhadap diri sendiri saja sudah lupa? Akan tetapi Lo Sian tidak mau berpanjang lebar, maka cepat ia menjura lagi sambil berkata,

“Ah, tidak tahunya Sin-houw-enghiong Kam Wi, tokoh dari Kun-lun-pai! Maaf, maaf, kami tidak tahu sebelumnya maka sudah berani bertindak kurang ajar. Harap Enghiong suka melepaskan kami, karena sesungguhnya kami bukanlah orang-orang jahat. Kami hendak mengantar Nona ini kembali ke bangsanya maka bisa sampai di tempat ini.”

Kam Wi berdiri ternganga. Lo Sian sama sekali tidak menyangka bahwa ucapannya ini benar-benar mengherankan hati Kam Wi karena dahulu Lo Sian tidak sedemikian ‘sopan santun’ sikapnya. Mengapa pengemis ini begini berubah?

“Sungguh aneh!” Kam Wi berkata. “Kalian tidak bermaksud menggabungkan diri dengan para pengkhianat bangsa, akan tetapi ingin mencari suku bangsa Haimi, sedangkan suku bangsa Haimi sudah bersekutu dengan orang-orang Mongol! Bangsa Haimi dan bangsa Mongol sudah menjadi sekutu untuk menyerang dan mengganggu negara kita!”

“Kau bohong!” tiba-tiba Lilani berseru keras. “Bangsaku tidak pernah berlaku seperti itu! Selamanya bangsaku bahkan selalu diganggu oleh orang-orang Mongol, dan sebaliknya selalu mendapat pertolongan bangsa Han. Tak mungkin sekarang bisa bersekutu dengan perampok-perampok Mongol!”

“Nona, baiknya kau datang bersama Sin-kai Lo Sian sehingga aku percaya bahwa kau bukanlah orang jahat. Apa bila tidak demikian halnya, tuduhan bohong kepada Sin-houw Enghiong Kam Wi sudah merupakan alasan yang cukup untuk membuatku turun tangan. Aku Kam Wi selama hidup tak pernah berbohong. Agaknya kau telah lama meninggalkan bangsamu sehingga kau tidak tahu betapa pemimpinmu yang bernama Saliban itu sudah membawa bangsamu bersekutu dengan orang.-orang Mongol!”

Lilani kaget sekali. Saliban adalah seorang di antara sekian banyak pamannya. Memang dia tahu bahwa di antara paman-pamannya, Saliban adalah seorang yang jahat. Menurut cerita mendiang ibunya, Meilani, dulu Saliban pernah memberontak bahkan hampir saja membunuh kakeknya karena pamannya itu ditolak cintanya oleh ibunya yang pada masa itu sudah bertunangan dengan Manako, mendiang ayahnya.

Lilani berpaling kepada Lie Siong, “Taihiap, bantulah aku untuk menolong bangsaku dan melenyapkan Saliban yang memang jahat itu! Mari kita pergi mencari mereka.”

Lie Siong tidak membantah dan kedua orang muda ini tanpa melirik lagi kepada Kam Wi lalu pergi dari situ. Ada pun Sin-kai Lo Sian cepat memberi hormat kepada Kam Wi dan berkata,

“Sin-houw-enghiong, terima kasih atas kepercayaanmu. Biarlah lain waktu kita berjumpa lagi.” Setelah berkata demikian, Sin-kai Lo Sian hendak pergi.

Akan tetapi Kam Wi menahannya dengan kata-kata, “Nanti dulu, kawan. Negara sedang terancam oleh penyerbuan pengacau-pengacau Mongol dan Tartar. Apakah kau sebagai seorang gagah mau berpeluk tangan saja?”

“Siapa bilang aku hendak peluk tangan saja? Dimana saja aku bertemu dengan mereka, aku akan mengerahkan sedikit kebodohanku untuk menghancurkan mereka.”

“Bagus, kalau begitu kau benar-benar seorang sahabat. Ketahuilah bahwa aku sedang mengumpulkan kawan-kawan seperjuangan. Jika kau bermaksud membantu, pergilah ke Gunung Alkata-san dan bantulah tentara kerajaan di sana.”

“Aku akan memperhatikan omonganmu, Sin-houw-enghiong. Akan tetapi terlebih dahulu aku akan membantu Nona Lilani mencari bangsanya!” Maka pergilah Lo Sian menyusul Lie Siong dan Lilani yang telah berangkat lebih dulu.

Setelah mengalami peristiwa yang tidak enak itu, dan yang disebabkan oleh keadaannya sebagai seorang gadis Haimi, Lilani lalu berganti pakaian. Ia merasa malu dan menyesal sekali mendengar betapa bangsanya sudah dibawa tersesat oleh Saliban sehingga suku bangsa Haimi kini dipandang sebagai musuh oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Untuk mencegah terjadinya hal seperti yang tadi dialami saat bertemu dengan Sin-houw-enghiong Kam Wi, Lilani lalu mengenakan pakaian seperti seorang gadis Han, bahkan rambutnya juga diubah susunannya sehingga kini dia benar-benar merupakan seorang gadis Han yang cantik.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan cepat, sama sekali tidak menduga bahwa diam-diam Sin-houw-enghiong Kam Wi tokoh Kun-lun-pai itu masih membayangi mereka. Kam Wi merasa curiga kepada mereka yang disangkanya mata-mata bangsa Mongol.

Kehadiran Lo Sian memang menimbulkan kepercayaannya, akan tetapi sebaliknya sikap Lo Sian yang amat berbeda dengan dahulu, mengembalikan kecurigaannya. Ia tadi telah menyaksikan kelihaian pemuda tampan yang mengawani gadis itu, maka khawatirlah dia kalau-kalau mereka itu benar-benar akan menggabungkan diri dengan kaum pengacau.

Pada suatu pagi, tibalah mereka di dusun yang berada di sebelah selatan kaki Gunung Alkata-san. Dusun itu cukup ramai dan di situ banyak sekali orang gagah dari berbagai golongan. Memang amat mengherankan apa bila melihat di tempat yang jauh di sebelah utara itu begitu banyak terdapat orang-orang dari selatan. Mereka ini adalah orang-orang yang biasa melakukan perdagangan dengan orang-orang Mongol dan biar pun keadaan amat mengkhawatirkan dengan timbulnya bahaya perang, namun orang-orang yang ulet ini masih saja mencari-cari kesempatan untuk mendapatkan keuntungan besar.

Pada saat Lo Sian dan kedua orang kawannya sedang enak berjalan, tiba-tiba terdengar bentakan keras,

“Ha, bangsat muda, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau di sini!” Orang ini ketika dilihat ternyata adalah Ban Sai Cinjin!

Seperti telah diketahui, Ban Sai Cinjin pernah bentrok dengan Lie Siong dan pemuda itu mengamuk dan telah membunuh beberapa orang murid dan kawan Ban Sai Cinjin ketika orang-orang muda itu mengganggu Lilani dahulu. Kini melihat pemuda ini, bukan main marahnya Ban Sai Cinjin sehingga dia langsung menegur di jalan raya.

Ban Sai Cinjin bukan seorang diri di situ, akan tetapi ditemani oleh seorang pengemis tua yang sangat menyeramkan. Rambutnya dipotong pendek dan berdiri kaku seperti kawat. Pengemis menyeramkan ini sesungguhnya bukan lain adalah Coa-ong Lojin, ketua dari perkumpulan Coa-tung Kai-pang!

Sebagaimana sudah dituturkan, dua orang pengurus kelas satu dari Coa-tung Kai-pang pernah bertempur dan dikalahkan oleh Hong Beng yang telah diangkat menjadi ketua dari Hek-tung Kai-pang. Dalam usahanya mencari kawan-kawan, Ban Sai Cinjin berhasil pula menempel raja pengemis yang terkenal galak dan ganas ini dan kini mereka berada di utara karena memang Ban Sai Cinjin sudah mengadakan persekutuan dengan Malangi Khan. Yang menjadi perantara adalah muridnya sendiri yaitu Bouw Hun Ti yang sudah lebih dahulu menggabungkan diri dengan tentara Mongol dan membantu mereka.

Setelah Ban Sai Cinjin tidak berhasil mengadakan persekutuan jahat dengan Perwira Bu Kwan Ji, maka kakek jahat ini lalu pergi dan langsung menuju ke utara. Dia mengubah cita-citanya.

Kini dia berusaha menggunakan kekuatan tentara Mongol dan berpura-pura membantu Malangi Khan dan kemudian setelah mendapat kemenangan, akan merampas kedudukan tinggi di kerajaan! Dia terkenal hartawan dan dengan mempergunakan hartanya, banyak orang yang gagah-gagah yang terbujuk oleh Ban Sai Cinjin untuk membantu usahanya yang penuh khianat ini.

Ketika secara tiba-tiba Ban Sai Cinjin melihat Lie Siong, maka tak tertahan lagi ia segera membentak sambil memandang dengan penuh kebencian. Demikian pula sebaliknya, Lie Siong yang sudah pernah melihat Ban Sai Cinjin juga timbul marahnya.

“Setan tua, kau berada di sini? Orang macam kau tentu tidak mempunyai maksud baik!” bentak Lie Siong sambil mencabut pedangnya.

Akan tetapi pada saat itu Ban Sai Cinjin telah melihat Lo Sian dan kakek ini memandang dengan wajah berubah. Ketika kakek mewah ini melihat betapa Lo Sian seolah-olah tidak mengenalnya, dia menjadi lega dan bertanya,

“Pengemis tua ini bukankah gurumu?” kata-kata ini mengandung sindiran sekaligus juga mencoba untuk menguji apakah Lo Sian masih belum sembuh dari pengaruh racun yang dulu ia jejalkan ke mulutnya.

“Bangsat tua tak usah banyak mulut! Minggirlah dan beri kami jalan sebelum kesabaranku habis!” kata Lie Siong.

Kalau menurutkan kata hatinya, ingin sekali Lie Siong rnenyerang saja kakek itu. Akan tetapi ia bukan seorang yang sembrono dan bodoh. Ia sudah maklum akan kepandaian Ban Sai Cinjin, dan dengan adanya Lo Sian dan Lilani di situ, maka tugasnya akan lebih berat.

Kepandaian kedua orang ini masih jauh untuk dapat menghadapi Ban Sai Cinjin dan jika kakek mewah ini mengganggu mereka, akan sukarlah baginya untuk melindungi mereka. Oleh karena ini maka Lie Siong menahan kesabarannya dan bila mana mungkin hendak segera menjauhi kakek lihai ini tanpa pertempuran.

Akan tetapi pada saat pengemis yang menyeramkan itu melihat Lo Sian, rambutnya dan jenggotnya yang kaku seakan-akan menjadi makin kaku, sepasang matanya memandang marah.

“Bukankah kau yang bernama Sin-kai Lo Sian?” dia bertanya sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah Lo Sian.

Sesungguhnya pada saat itu Lo Sian sedang memandang kepada Ban Sai Cinjin dengan sepasang mata terbelalak. Ia merasa seperti pernah melihat orang tua yang berpakaian mewah dengan baju bulu itu, akan tetapi dia lupa lagi di mana. Ketika mendengar orang menyebutkan namanya, dia lalu memandang kepada pengemis yang menyeramkan itu sambil menjawab,

“Benar, kawan. Aku adalah Lo Sian.”

“Bagus!” seru Coa-ong Lojin dengan marah. “Kaulah yang menjadi biang keladi dan telah mengacau perkumpulanku ketika aku pergi. Tidak ingatkah kau?”

Memang dahulu di waktu mudanya, pernah Lo Sian mengobrak-abrik Coa-tung Kai-pang, akan tetapi tentu saja ia tidak ingat lagi akan hal itu. Dia hendak menjawab, akan tetapi tak diberi kesempatan oleh Coa-ong Lojin yang langsung menyerangnya dengan tangan kosong. Ilmu silat dari raja pengemis ini benar-benar hebat. Kedua lengannya bergerak bagaikan dua ekor ular dan mengarah kepada leher dan lambung Lo Sian.

Lie Siong melihat hebatnya serangan ini, maka cepat dia melompat dan menggerakkan pedangnya menahan serangan itu sambil membentak, “Pengemis hina, jangan berlaku sombong di depan kami!”

Coa-ong Lojin terkejut sekali melihat berkelebatnya sinar pedang di tangan Lie Siong. Sungguh pun pedang itu tidak diserangkan kepadanya, hanya digunakan untuk menjaga Lo Sian, namun lidah pedang naga yang panjang berwarna merah itu menyambar ke jurusan urat nadi tangan kanannya.

Sambil berseru keras ia menarik kembali tangannya dan kemudian menyerang Lie Siong dengan hebat. Dengan gerakan cepat sekali tahu-tahu sebatang tongkat yang bengkak-bengkok seperti ular telah berada di tangannya dan tongkat itu lalu dipergunakan untuk menyerang dada Lie Siong.

Tentu saja pemuda ini tidak berlaku lambat dan cepat menangkis dengan keras untuk mematahkan tongkat itu. Akan tetapi dia kaget sekali karena ternyata bahwa tongkat itu sama sekali tidak menjadi rusak pada saat beradu dengan pedangnya dan ketika mereka bertempur, Lie Siong mendapat kenyataan bahwa ilmu tongkat pengemis ini hebat luar biasa!

Memang, Coa-ong Lojin adalah seorang berilmu tinggi dan dia sendiri yang menciptakan Ilmu Tongkat Coa-tung-hoat ini. Seorang yang telah dapat menciptakan ilmu silat tentu dapat dibayangkan betapa tinggi dan mahir dia dalam hal ilmu silat.

Tentu saja Lie Siong tidak mau kalah, untungnya ia telah mempelajari ginkang luar biasa dari ibunya, dan dalam hal ilmu silat, ibunya sudah menggemblengnya semenjak kecil sehingga kini dia telah memiliki kepandaian yang tinggi.

Ketika melihat betapa Lie Siong telah bertempur dengan hebat, Lo Sian tidak mau tinggal diam dan demikian pula Lilani. Mereka berdua maju bersama untuk membantu Lie Siong. Akan tetapi dari samping segera berkelebat bayangan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin dibarengi suaranya yang parau.

“Ha-ha-ha, Lo Sian pengemis jembel. Kau masih belum melupakan ilmu silatmu?” Sambil tertawa-tawa Ban Sai Cinjin lalu menghadapi Lilani dan Lo Sian.

Tentu saja kedua orang itu bukan lawannya dan sebentar saja ujung huncwe-nya telah dapat menotok roboh Lilani dan Lo Sian! Kemudian sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin menyerbu dan membantu Coa-ong Lojin mengeroyok Lie Siong!

Kalau hanya menghadapi Coa-ong Lojin atau Ban Sai Cinjin seorang saja Lie Siong pasti akan mampu mempertahankan diri dan belum tentu kalah. Akan tetapi kini dia dikeroyok oleh dua orang kakek yang lihai itu, tentu saja ia menjadi repot sekali. Apa lagi ia merasa amat gelisah pada saat melihat betapa Lo Sian dan Lilani telah dirobohkan oleh Ban Sai Cinjin.

Kebenciannya terhadap Ban Sai Cinjin meluap-luap dan pedang naganya ditujukan terus untuk merobohkan kakek mewah ini. Oleh karena perhatiannya terutama ditujukan untuk menghadapi kakek ini, maka setelah pertempuran berjalan hampir lima puluh jurus, ujung tongkat ular dari Coa-ong Lojin dengan tepat menotok pundaknya dari kanan. Lie Siong mengeluarkan seruan keras, tubuhnya terhuyung-huyung, lantas pedangnya terlepas dari pegangan dan robohlah dia tak sadarkan diri lagi!

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak-gelak. “Kita bawa mereka ke rumahku!” katanya setelah mengambil pedang Lie Siong, dan bersama Coa-ong Lojin lalu berlari cepat menuju ke rumah gedung milik Ban Sai Cinjin.

Di kota ini Ban Sai Cinjin amat berpengaruh. Kota ini telah ditinggalkan oleh para petugas dan penjaga, maka siapa yang berani menghalangi kakek mewah yang kaya dan lihai ini? Ketika tadi terjadi pertempuran, orang-orang sudah meninggalkan jalan itu sehingga keadaan menjadi sepi sekali.

Setelah tiba di dalam gedung, Ban Sai Cinjin lalu melemparkan tubuh Lie Siong ke dalam sebuah kamar. “Dia yang paling berbahaya,” katanya.

Kemudian dia membawa Lo Sian dan Lilani ke dalam ruang depan. Dengan sekali tepuk saja Lilani dan Lo Sian siuman kembali dari keadaan yang tidak berdaya. Lilani segera menghampiri Lo Sian dan memegang tangan kanan pengemis ini dengan wajah pucat dan penuh kekuatiran. Sebaliknya Lo Sian tetap tenang, berdiri memandang kepada Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin.

“Ban Sai Cinjin, apakah yang hendak kau lakukan kepada dua orang ini?” tanya Coa-ong Lojin sambil tertawa-tawa dan menenggak arak yang telah tersedia di atas meja. Matanya yang besar itu mengerling ke arah Lilani penuh gairah.

Ban Sai Cinjin tersenyum. “Kalau kau suka bunga Haimi ini, ambillah,” katanya kepada kawannya itu yang hanya tertawa saja. “Dia sudah menyebabkan kematian banyak orang tamuku, bahkan rumahku sampai dibakar oleh pemuda tadi! Ada pun pengemis ini... ahh, lihat, bukankah dia mirip seperti boneka hidup?” Dia mendekati Lo Sian yang menentang pandang matanya dengan berani.

“Lo Sian, kau benar-benar sudah lupa kepadaku?”

Sesungguhnya Lo Sian sama sekali tidak ingat lagi kepada Ban Sai Cinjin, akan tetapi ia telah mendengar banyak dari Lili mengenai kakek mewah ini. Karena itu dengan senyum mengejek dia pun berkata,

“Sungguh pun ingatanku sudah banyak berkurang dan aku tak pernah bertemu kau, akan tetapi aku sudah cukup banyak mendengar namamu, Ban Sai Cinjin! Kau seorang pandai yang jahat dan tidak berperi kemanusiaan. Kalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah. Akan tetapi jangan kau mengganggu Nona ini, karena dia hendak mencari dan kembali kepada bangsanya, orang-orang Haimi. Dan pula, pemuda tadi itu harap kau bebaskan, jangan kau mengganggu putera seorang pendekar besar yang berjiwa bersih. Dia adalah putera dari pendekar besar Lie Kong Sian, harap kau mengingat nama ayahnya dan suka melepaskannya!”

Tadi pada saat mendengar bahwa Lilani sedang mencari suku bangsanya, Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin saling pandang dengan muka berubah. Akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda yang ditawannya itu adalah putera Lie Kong Sian, tiba-tiba wajah Ban Sai Cinjin menjadi pucat dan kaget sekali.

“Apa...? Dia putera Lie Kong Sian... Kalau begitu kau... kau ingat kembali akan peristiwa dahulu...?”

Lo Sian sebetulnya tidak mengerti maksud pertanyaan ini, akan tetapi dia adalah seorang yang banyak pengalaman dan cerdik. Sengaja dia mengangguk dan berkata, “Mengapa tidak ingat? Kau maksudkan peristiwa dulu tentang Lie Kong Sian Taihiap? Tentu saja!”

“Bangsat rendah! Jadi kau sengaja membawa puteranya untuk mencariku? Ahhh, kalau begitu kalian harus mampus!”

Kakek mewah ini bangkit berdiri dan huncwe mautnya sudah dipegang erat-erat di dalam tangannya.

“Nanti dulu, sahabat,” tiba-tiba Coa-ong Lojin mencegahnya. “Kau boleh saja membunuh Lo Sian, akan tetapi gadis ini...” dia menghampiri Lilani yang menjadi ketakutan. “Ehh, Nona, benar-benarkah kau hendak pergi mencari bangsamu?”

Lilani mengangguk tanpa dapat mengeluarkan suara jawaban.

“Kenalkah kau kepada Saliban?”

“Dia adalah pamanku.”

Kembali Coa-ong Lojin dan Ban Sai Cinjin saling pandang.

“Biar aku yang membawamu kepada pamanmu, Nona!” kata Ban Sai Cinjin. “Pamanmu itu adalah kawan baik kami, jangan kuatir, kami tidak akan mengganggumu. Akan tetapi pengemis ini dan pemuda tadi harus mampus!”

“Jangan bunuh mereka!” Lilani menjerit dengan bingung dan ia bersikap untuk melawan mati-matian guna membela Lo Sian dan Lie Siong.

“Kau tidak tahu, Nona. Mereka ini adalah orang-orang berbahaya yang kelak hanya akan menggagalkan rencana kita, rencana kami dan pamanmu. Nah, Lo Sian, kau bersiaplah untuk mampus!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menghampiri Lo Sian.

Sementara itu, Lo Sian semenjak tadi telah memutar otaknya. Ahh, pasti ada apa-apanya dalam ucapan Ban Sai Cinjin tadi. Kakek mewah ini pasti tahu akan kematian Lie Kong Sian dan menurut ucapannya tadi, sangat boleh jadi Lie Kong Sian terbunuh oleh Ban Sai Cinjin.

“Ban Sai Cinjin!” katanya sambil memandang tajam sama sekali tidak gentar menghadapi saat-saat maut iu. “Jadi kaukah yang membunuh Lie Kong Sian?”

Terdengar suara ketawa yang parau dan menyeramkan dari kakek mewah itu. “Ha-ha-ha! Kau kini berpura-pura tidak tahu? Sebentar lagi kau boleh menyusul dia!”

Huncwe-nya terayun, akan tetapi tiba-tiba Lilani menubruk Lo Sian, melindunginya dan berteriak keras, “Jangan bunuh dia!”

“Lilani, minggirlah, biar aku menghadapinya. Aku tidak takut mati,” Lo Sian berkata. “Kini puaslah hatiku karena aku sudah tahu siapa yang membunuh Lie Kong Sian Taihiap.”

Akan tetapi Lilani memegangi tangan Lo Sian dan tidak mau melepaskannya. Ban Sai Cinjin kembali mengangkat huncwe-nya, siap untuk dipukulkan. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras dan sesosok bayangan melompat masuk dari pintu depan.

“Ban Sai Cinjin, manusia rendah! Jadi kaukah yang mendalangi semua pemberontakan dan pengkhianatan?”

Ketika Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin menengok, mereka melihat seorang lelaki tinggi besar yang berwajah kasar berdiri sambil bertolak pinggang.

“Sin-houw-enghiong Kam Wi!” berkata Ban Sai Cinjin dengan alis dikerutkan. “Kau yang kudengar sudah bertapa mengasingkan diri di Kun-lun-san, datang ke sini mau apakah? Aku mempunyai perhitungan lama dengan Sin-kai Lo Sian, apakah kau mau mencampuri urusan orang lain?”

“Ban Sai Cinjin, janganlah kau memutar-mutar persoalan. Urusan dengan segala macam pengemis tak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, tadi mendengar bahwa kau adalah sahabat dari Saliban, maka mudah saja diduga bahwa tentu kau pula yang telah membujuk banyak orang-orang gagah di kalangan kang-ouw untuk menjadi pengkhianat-pengkhianat yang amat rendah. Dan hal ini, aku Sin-houw-enghiong Kam Wi tidak dapat membiarkannya begitu saja!”

Sambil berkata demikian ia melirik ke arah Coa-ong Lojin, karena sesungguhnya ketika tadi menyatakan bahwa urusan ia tidak mempunyai sangkut paut dengan segala macam pengemis, diam-diam dia telah menyindir Coa-ong Lojin.

Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ucapan ini. “Kam Wi, kau manusia macam apa berani berlagak besar-besaran di hadapanku? Sepak terjangku yang mana pun juga, kau tidak boleh tahu dan tidak boleh mencampuri. Urusan hubunganku dengan Saliban, baik kita bicarakan nanti sesudah aku bikin mampus pengemis hina ini!” Dia kembali hendak menghampiri Lo Sian yang masih dipegangi lengannya oleh Lilani.

“Tahan dulu! Tidak boleh kau mengabaikan aku begitu saja, Ban Sai Cinjin! Kau kira aku orang macam apa maka tidak kau layani lebih dulu?”

Kini Ban Sai Cinjin benar-benar menjadi marah. “Kam Wi, biar pun orang lain boleh takut mendengar kepandaianmu Houw-jiauw-kang, akan tetapi aku Ban Sai Cinjin tidak takut! Sebetulnya apakah kehendakmu?”

“Kau harus ikut dengan aku ke kota raja untuk menerima hukuman atas semua perbuatan pengkhianatanmu!”

“Ho-ho-ho! Sejak kapan tokoh Kun-lun-pai menjadi kaki tangan kaisar?” Ban Sai Cinjin menyindir.

“Ban Sai Cinjin, dengan membawamu ke kota raja, berarti aku masih mau memandang mukamu sebagai orang kang-ouw. Aku selamanya tidak peduli akan urusan pemerintah, akan tetapi kalau negara sedang dikacau musuh dan timbul pengkhianat seperti engkau, aku harus turun tangan. Tinggal kau pilih, kubawa ke kota raja atau kau minta diadili oleh orang-orang kang-ouw sendiri!”

“Kalau aku memilih yang terakhir?” tantang Ban Sai Cinjin.

“Hukuman dunia kang-ouw bagi seorang pengkhianat bangsa hanyalah kematian!”

“Bagus, Kam Wi! Kau hendak menghukum mati padaku? Ha-ha-ha! Aku merasa seperti mendengar seekor kucing hendak membunuh harimau! Majulah, biar aku membereskan jiwa anjingmu dulu sebelum aku bikin mampus Lo Sian!”

Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin segera menggerakkan huncwe-nya, akan tetapi Coa-ong Lojin yang semenjak tadi sudah menjadi marah sekali kepada Kam Wi yang dia anggap sombong sekali, segera mendahuluinya berkata,

“Sahabat Ban Sai Cinjin, biarlah aku sendiri yang membereskan cacing dari bukit Kun-lun ini!”

Karena melihat bahwa Kam Wi tidak bersenjata, Coa-ong Lojin tidak mau merendahkan diri dengan menyerang dan menggunakan senjata tongkatnya. Ia maju memukul dengan tangan kosong.

Kam Wi cepat mengelak. “Ha-ha, sejak tadi aku sudah menduga bahwa kau tentulah raja pengemis Coa-tung Kai-pang yang jahat dan hina dina! Hayo keluarkan tongkatmu yang lapuk itu, hendak kulihat betapa jahatnya tongkat ularmu.”

“Bangsat she Kam! Sudah semenjak lama aku mendengar bahwa Houw-jiauw-kang dari Kun-lun-pai adalah hebat sekali. Kebetulan sekali kau datang membawa kesombonganmu di sini, biarlah kini kucoba sampai di mana sih kepandaianmu maka kau berani bersikap sesombong ini!” Setelah berkata demikian, Coa-ong Lojin lalu menyerang dengan kedua tangan dibuka dan jari-jari tangannya mengeras dan menegang.

Melihat betapa kedua tangan pengemis itu sekarang tergetar dan mengeluarkan cahaya kehitaman, tahulah Kam Wi bahwa lawannya ini memiliki ilmu pukulan yang dia dengar disebut Hek-coa Tok-jiu (Tangan Racun Ular Hitam) yang amat berbahaya. Akan tetapi ia tidak takut dan cepat dia mengelak kemudian mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya. Tangan kanannya mencengkeram ke arah lambung lawan hingga hampir saja lambung Coa-ong Lojin menjadi korban.

Harus diketahui bahwa tidak saja Ilmu Silat Houw-jiauw-kang ini amat hebat, akan tetapi juga tenaga lweekang dari Kam Wi sudah mencapai tingkat tinggi sehingga walau pun cengkeramannya tidak mengenai sasaran, akan tetapi angin pukulannya sudah membuat lawannya merasa lambungnya bagaikan terlanggar benda tajam! Coa-ong Lojin menjadi terkejut sekali dan tahulah dia bahwa tokoh Kun-lun-pai ini benar-benar tak boleh dibuat permainan! Dia lalu bersilat dengan amat hati-hati.

Namun segera ternyata bahwa kepandaian Kam Wi benar-benar lebih menang setingkat. Di samping ia menang tenaga, juga ginkang-nya amat mengagumkan. Sepasang kakinya berlompatan bagaikan seekor harimau dan kedua tangannya sangat ganas. Sekali saja Coa-ong Lojin kena sampok atau diterkam, pasti akan celakalah dia.

Hal ini dimaklumi sedalamnya oleh Coa-ong Lojin. Maka, sesudah bertempur dua puluh jurus lebih, raja pengemis yang berlaku hati-hati ini mulai terdesak dan main mundur.

“Ha-ha-ha-ha, begini sajakah kepandaian raja pengemis dari Coa-tung Kai-pang? Hayo, jembel busuk, keluarkan kepandaianmu! Mana tongkatmu pemukul anjing itu?” Kam Wi mengejek sambil menyerang makin hebat.

Sementara itu, Lo Sian dan Lilani menyaksikan pertempuran itu dengan hati gelisah. Lo Sian maklum bahwa meski pun kepandaian tokoh Kun-lun-pai ini lebih tinggi, namun apa bila Ban Sai Cinjin ikut maju mengeroyok, maka akan celakalah dia. Dia merasa bingung sekali. Untuk membantu, dia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh.

Tiba-tiba terdengar Lo Sian berseru keras, “Sin-houw-enghiong, awas belakang!”

Sebetulnya seruan ini tidak perlu lagi, karena Kam Wi yang berkepandaian tinggi sudah mendengar adanya suara angin pukulan yang sangat hebat menyambar dari belakang. Pada saat itu ia sedang mendesak Coa-ong Lojin, maka ketika mendengar suara pukulan dari belakang dan melihat berkelebatnya huncwe maut yang berkilauan, cepat ia berseru keras sekali.

Tubuhnya mumbul ke atas dan kaki kanannya menendang ke depan untuk menghalangi serangan gelap yang dilakukan Ban Sai Cinjin. Dengan lompatan tinggi yang dilakukan dengan ginkang hebat ini, selamatlah ia dari penyerangan Ban Sai Cinjin yang dilakukan dengan cara pengecut sekali itu.

Sesampainya tubuhnya di atas, Kam Wi lalu menukar kedudukan kakinya. Kaki kiri yang ditekuk ke belakang itu tiba-tiba ditendangkan pula ke arah Coa-ong Lojin, ada pun kaki kanan bagaikan halilintar menyambar dengan sepakan ke belakang sehingga kedua kaki itu menggunting dengan kaki kanannya menyerang ke arah pergelangan tangan Ban Sai Cinjin! Inilah gerakan tendangan berantai yang disebut Soan-hoang-twi yang sangat lihai karena sepasang kaki itu melakukan tendangan dengan tenaga seribu kati beratnya!

“Bangsat Ban Sai Cinjin, kau benar-benar curang sekali!” seru Kam Wi yang kini sudah turun lagi ke bawah.

Akan tetapi Ban Sai Cinjin tidak mempedulikan makian ini, Dengan muka merah saking marah dan malunya dia lalu menyerang dengan huncwe mautnya, sedangkan Coa-ong Lojin juga sudah mencabut tongkat ularnya!

Kam Wi, tokoh Kun-lun-pai itu benar-benar tangguh karena selain ilmu silatnya sudah tinggi, dia memiliki banyak sekali pengalaman bertempur melawan orang-orang pandai. Akan tetapi kali ini ia menghadapi dua orang jago kawakan yang tingkat kepandaiannya sudah sama dengan dia, karena itu dengan bertangan kosong saja menghadapi mereka, bagaimana ia dapat bertahan?

Lo Sian dan Lilani yang telah menjadi bingung itu baru teringat bahwa kalau Lie Siong dapat membantu, tentu Kam Wi akan dapat menghadapi dua orang lawan jahat itu, maka ketika melihat betapa dua orang kakek itu sedang mengeroyok Kam Wi, Lo Sian dan Lilali cepat berlari ke dalam kamar di mana Lie Siong tadi dilempar oleh Ban Sai Cinjin.

Mereka melihat pemuda ini masih rebah tak bergerak, hanya napasnya saja yang masih ada seperti orang pingsan. Cepat Lo Sian menepuk pundak pemuda itu dan mengurut jalan darahnya. Akan tetapi ia tidak dapat membebaskan Lie Siong dari totokan Coa-ong Lojin yang selain lihai, juga berbeda dengan totokan biasa.

Betapa pun Lo Sian mengurut-urut pundak Lie Siong, tetap saja pemuda itu tidak sadar dan pundaknya bahkan ada tanda titik merah sebesar kacang kedelai. Lo Sian menjadi gelisah sekali sedangkan Lilani lalu mulai menangis sambil memeluki tubuh Lie Siong.

“Mari kita bawa dia lari keluar dari sini saja!” kata Lilani.

“Kau boleh membawa dia lari, Lilani. Akan tetapi aku tak dapat meninggalkan Sin-houw-enghiong begitu saja. Aku harus membantunya, biar pun untuk usaha ini aku akan tewas. Tidak selayaknya aku meninggalkan seorang penolong begitu saja mati sendiri!”

Lilani dapat memaklumi sifat gagah dari Lo Sian ini. Dia sendiri pun apa bila tidak ingat akan keselamatan Lie Siong yang dicintanya, belum tentu sudi meninggalkan Kam Wi dalam keadaan terancam bahaya seperti itu. Maka gadis ini lalu memondong tubuh Lie Siong dan berkata, “Lo-enghiong, berlakulah hati-hati!” kemudian ia melompat keluar dari pintu belakang.

Lo Sian segera kembali ke ruang depan dan ia melihat betapa Kam Wi kini telah terdesak hebat sekali. Sungguh sangat lucu dan harus dikasihani melihat orang tinggi besar yang bertangan kosong ini melompat ke kanan kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat dan huncwe maut. Ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangan kedua orang lawannya.

“Sin-houw-enghiong, biar siauwte membelamu dengan nyawaku!” tiba-tiba saja Lo Sian berseru keras.

Pengemis Sakti ini telah melepaskan ikat pinggangnya dan dia menyerbu bersenjatakan ikat pinggang ini. Biar pun ikat pinggang itu hanya terbuat dari sehelai kain, akan tetapi di dalam tangan seorang ahli dapat menjadi senjata yang cukup berbahaya.

Dan sesungguhnya, kepandaian Lo Sian sudah mencapai tingkat tinggi juga, hanya saja apa bila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ban Sai Cinjin, Coa-ong Lojin, mau pun Sin-houw-enghiong Kam Wi, dia masih ketinggalan amat jauh!

Lo Sian amat benci kepada Ban Sai Cinjin, biar pun dia tidak ingat lagi akan perlakuan kejam kakek mewah ini terhadapnya belasan tahun yang lalu. Mungkin perasaan hatinya membisikkan sesuatu karena baru melihatnya saja, Lo Sian sudah merasa benci sekali. Oleh karena itu, begitu ia menyerbu ia tujukan ikat pinggangnya untuk menyerang Ban Sai Cinjin.

Ban Sai Cinjin menjadi marah sekali. “Jembel kelaparan! Aku tidak akan mengampuni jiwamu untuk kedua kalinya!” Sambil berkata demikian, huncwe-nya bergerak cepat dan ia sengaja menangkis ikat pinggang itu, terus memutar huncwe-nya sedemikian rupa.

Sebenarnya ikat pinggang itu ketika digunakan oleh Lo Sian, sudah menjadi kaku seperti besi. Akan tetapi begitu beradu dengan huncwe di tangan Ban Sai Cinjin, seluruh tenaga lweekang yang disalurkan oleh Lo Sian ke dalam ikat pinggangnya menjadi buyar karena dia memang kalah tenaga sehingga ikat pinggang menjadi lemas lagi.

Karena ikat pinggang itu kini telah melibat huncwe, ketika Ban Sai Cinjin mengerahkan tenaga membetotnya, terlepaslah ikat pinggang itu dari tangan Lo Sian. Dalam keadaan terhuyung-huyung Lo Sian hendak mempertahankan diri, akan tetapi tangan kiri Ban Sai Cinjin cepat meluncur maju dan sekali totok saja robohlah Lo Sian dengan tubuh lemas. Jalan darah kin-hun-hiat di bagian iganya telah kena ditotok sehingga biar pun pikirannya masih terang dan panca inderanya masih dapat dipergunakan, namun seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga lagi.

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak-gelak, akan tetapi cepat ia kembali mengeroyok Kam Wi, karena sebentar saja dia meninggalkan Kam Wi untuk menghadapi Lo Sian, keadaan Coa-ong Lojin menjadi terdesak hebat oleh jagoan dari Kun-lun-pai itu. Kini kembali Kam Wi terkurung dan jago Kun-lun yang sudah lelah ini pun akhirnya kena ditendang roboh oleh Ban Sai Cinjin!

“Ha-ha-ha!” Ban Sai Cinjin tertawa bergelak, kemudian dengan amat tenangnya dia lalu memasang tembakau pada kepala pipanya yang panjang, menyalakan tembakaunya dan mengebulkan asap yang wangi. Ia nampak puas sekali, demikian pun Coa-ong Lojin.

“Kita bereskan saja mereka sekarang juga agar jangan merupakan gangguan lagi!” kata pengemis tongkat ular itu.

“Nanti dulu, aku mau bicara sedikit kepada mereka,” jawab Ban Sai Cinjin yang segera menghampiri Kam Wi yang sekarang sudah menggeletak di lantai dengan mata melotot memandangnya penuh keberanian.

“Orang she Kam! Sesungguhnya tidak ada permusuhan di antara kita, akan tetapi kau sendiri yang datang mencari mampus, maka jangan menjadi penasaran kalau hari ini kau menemui maut. Kalau engkau mempunyai kepandaian lebih tinggi, tentu bukan engkau melainkan kami yang menggeletak di sini tak bernyawa lagi! Sebelum aku membunuhmu, ketahuilah bahwa memang sesungguhnya aku yang mengadakan persekutuan dengan bangsa Mongol! Kau tahu mengapa? Karena Kaisar amat lemah, tidak pantas menjadi seorang junjungan! Aku tahu, kau membela Kaisar karena keponakanmu, Kam-ciangkun, menjadi panglima kerajaan. Karena itu aku harus membunuhmu!”

Kemudian Ban Sai Cinjin menghampiri Lo Sian dan berkata, “Kau pengemis jembel hina dina, selalu kau mencampuri urusanku dan selalu pula kau menghalangi jalanku. Agaknya memang dulu di dalam penjelmaan yang lalu kau telah berhutang nyawa kepadaku maka sekarang kau takkan mampus kalau tidak di tanganku. Dahulu aku sudah mengampuni nyawamu dan hanya merampas ingatanmu, akan tetapi agaknya kau iri hati kepada Lie Kong Sian dan suheng-mu Mo-kai Nyo Tiang Le. Kau juga harus mampus!”

Bukan main kagetnya hati Lo Sian mendengar ini. Baru sekarang dia tahu bahwa yang membuat dia menjadi gila dan kehilangan pikiran adalah Ban Sai Cinjin, yang membunuh Lie Kong Sian. Bahkan suheng-nya, Mo-kai Nyo Tiang Le seperti yang telah diceritakan oleh Lili kepadanya, agaknya juga telah terbunuh oleh penjahat besar ini!

Akan tetapi apa dayanya? Dia telah berada di dalam tangan orang ini dan agaknya tak lama lagi dia akan mati. Maka seperti juga Kam Wi, Lo Sian hanya memandang dengan mata melotot, sedikit pun tidak merasa takut.....

*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Remaja Jilid 26-30"

Post a Comment

close