Pendekar Sakti Jilid 16-20

Mode Malam
Pendekar Sakti Jilid 16-20

Pada masa itu yang menjadi kaisar kerajaan dari Kerjaan Tang adalah Kaisar Hian Tiong yang terkenal sebagai seorang yang doyan pelesir. Kaisar ini selalu tenggelam dalam kesenangan, memelihara banyak sekali selir yang cantik-cantik, setiap hari menghibur diri di tengah-tengah selir-selirnya sambil melihat tari-tarian dan nyanyian merdu, sama sekali tidak mau peduli akan pemerintahannya dan juga tidak mau peduli akan keadaan rakyat jelata yang banyak menderita.

Istana-istana indah dan megah dibangun di mana-mana, menghamburkan banyak uang yang mengalir masuk dari hasil keringat rakyat petani. Istana-istana indah di mana selalu dihias dengan perabot-perabot mahal dan juga ‘perabot-perabot hidup’ berupa dara-dara jelita yang dikumpulkan dari berbagai daerah!

Tidak mengherankan jika pujangga besar Tu Fu menjadi naik darah dan sedih juga ketika pada suatu hari di musim dingin dia pulang dari perjalanan dari Tiang-san dan melewati Bukit Li-shan. Di situ, yaitu di puncak Bukit Li-shan di mana terdapat sebuah di antara istana-istana kaisar yang disebut Istana Hwa Ceng, Tu Fu mendengar bahwa kaisar Hian Tiong sedang berpesta pora, berpelesir mendengarkan musik dan nyanyian, menonton tari-tarian dan bersenang-senang dengan para selirnya.

Teringatlah Tu Fu akan keadaan rakyat jelata yang sangat sengsara dan menderita di dalam angin dingin dan kelaparan, rakyat yang menggeletak kelaparan dan kedinginan di atas jalan-jalan raya di Tiang-san. Maka menulislah pujangga patriot ini kata-kata yang sampai kini masih dihargai oleh seluruh rakyat.

Di belakang pintu gerbang
merah indah cemerlang
anggur dan daging berlebih-lebihan
hingga masak membusuk!

Di luar pintu gerbang
Kotor sunyi melengang
Berserakan tulang rangka
Sisa korban dingin dan lapar!

Memang, Kaisar Hian Tiong terlalu banyak mengumbar kesenangan jasmani atau boleh juga disebut terlalu menurutkan nafsu hewan. Di dalam istana di kota raja, selirnya tidak terhitung banyaknya, terdiri dari gadis-gadis cantik jelita yang didatangkan dari berbagai daerah.

Ada yang memang diserahkan oleh orang tuanya dengan hati bangga, akan tetapi tidak kurang pula yang didapatkan oleh kaisar dengan jalan keras, yaitu dengan paksaan dan sebagian besar adalah ‘hadiah’ yang diberikan oleh para pembesar untuk mengambil hati sang junjungan. Yang paling hebat, di antara sekian banyaknya selir itu, ada pula yang tadinya telah menjadi isteri orang, yang direnggut dari suaminya untuk dipaksa melayani kaisar, orang terbesar di dalam negeri, orang yang dianggap sebagai ‘Pilihan Tuhan’!

Di antara para selirnya ini, terdapat seorang wanita muda yang amat cantik jelita. Kaisar pernah tergila-gila kepada selirnya ini yang diberinya nama Bi Lian atau Teratai Jelita kepada selirnya ini. Untuk menggambarkan betapa cantiknya Bi Lian, seorang ahli sajak di dalam istana atas perintah kaisar telah membuatkan sajak pujian kepada Bi Lian yang ditempel di kamar selir cantik ini. Beginilah sajak itu,

Rambut panjang hitam dan halus.
Melebihi kehalusan benang sutera.
Diikal menjadi mahkota hidup.
Terhias bunga cilan dengan dua kuncup
Sisir emas jadi penahan,
Sedap, wangi, semerbak harum!
Wajah indah jelita berbentuk telur
Berkulit halus dan betapa putihnya,
Putih kuning seperti susu.
Dua alis melengkung hitam
Menghias sepasang mata burung hong.
Kering tajam lunak menikam kalbu
Hidung kecil mancung berbentuk sempurna
Bagaikan ukiran batu kemala.
Mulut kecil mungil, merah membasah
Di balik bibir manis
Tersembunyi gigi mutiara!
Tubuh ramping
Mengalahkan batang yang-liu (cemara)
Tertiup angin
Melenggak-lenggok mempesona
Tangan kaki kecil mungil
Seperti kuncup bunga,
Setiap gerakan
Menyedapkan pandangan mata
Di dalam dunia memang banyak wanita jelita
Namun siapakah dapat menyamai bunga istana
Teratai Jelita (Bi Lian) kekasih raja?

Namun cinta kasih seorang laki-laki seperti Kaisar Hian Tiong tidak bertahan lama, tidak tahan uji. Hanya dicinta dan dipuja kala masih baru. Setiap kali berganti kekasih, datang yang baru lupa yang lama. Demikian pun halnya dengan Bi Lian. Belum cukup setahun menjadi kekasih kaisar yang paling dicinta, kaisar mulai bosan dan kini jarang lagi datang ke kamarnya.

Semenjak dibawa dengan paksa ke kota raja dan menjadi penghuni harem kaisar, remuk redamlah hati Bi Lian. Dia telah memiliki seorang tunangan, seorang pemuda terpelajar yang sedianya menjadi suaminya. Akan tetapi nasib buruk menimpa dirinya dan dari kota Hang-ciu ia dibawa secaa paksa, bagai seekor domba muda dibawa ke penjagalan untuk di sembelih!

Dengan hati hancur dia harus melayani segala kehendak kaisar yang sangat buas dalam pandangannya itu. Memang tadinya dia agak terhibur ketika dirinya dihujani benda-benda mahal dan indah, ketika dia hidup dalam kemewahan, selalu dilayani oleh para pelayan. Akan tetapi, setelah kaisar mulai bosan dengan dia, dia lalu teringat kembali kepada Can Kwan tunangannya. Dia merasa rindu bukan main, dan setiap hari dia menangis di dalam kamarnya.

Pada malam hari itu, seperti biasa Bi Lian duduk di dalam kamarnya seorang diri. Sore tadi pelayannya datang dan hendak memandikannya serta membereskan pakaian dan rambutnya seperti biasa. Namun Bi Lian menolak dan menyuruh pelayan itu mundur.

Dia duduk termenung dalam kamarnya, mendengarkan suara tetabuhan yang dibunyikan orang di bagian lain dari istana yang luas itu. Bunyi suling dan yang kini membuat hatinya semakin hancur dan berduka. Dia memandang ke arah sajak pujian untuk dirinya yang tergantung dekat pembaringannya. Bunyi sajak itu bahkan membuat Bi Lian terharu dan sedih, mengingatkan dia akan sajak yang pernah dibacanya dahulu.

Aduh sayang, setangkai mawar indah
terbawa hanyut oleh air bah!
Air buas mengalir terus tanpa peduli
mawar yang malang
tertinggal di atas lumpur!

Teringat akan bunyi sajak ini, tak terasa pula dua titik air mata bagaikan dua butir mutiara menitik turun di atas sepasang pipinya yang putih halus kemerahan.

“Can Kwan...” keluh-kesah yang berkali-kali dibisikkan oleh hati wanita muda itu sekarang keluar dari bibirnya, merupakan keluh kesah yang amat menyayat hatinya, dan tak dapat ditahan lagi berderailah air matanya.

“Cui Hwa...” tiba-tiba saja terdengar suara panggilan perlahan dari luar jendelanya yang menembus ke dalam taman bunga yang sengaja dibuat oleh kaisar di luar kamarnya atas permintaannya beberapa bulan yang lalu.

Bi Lian terkejut bukan main. Nama Cui Hwa adalah nama aslinya sebelum ia dibawa ke istana kaisar dan nama ini hampir setahun tidak pernah disebut orang. Namanya sudah berganti menjadi Bi Lian. Maka dapat dibayangkan betapa heran dan terkejutnya ketika ia mendengar nama lama itu disebut orang. Terutama sekali yang membuatnya terkejut adalah suara itu! Suara orang yang tak pernah dapat dilupakannya, bahkan suara orang yang pada saat itu sedang memenuhi pikiran dan hatinya... Can Kwan!

Seperti dalam mimpi, Bi Lian atau Cui Hwa berjalan menghampiri jendela dan membuka jendela itu. Sesosok bayangan orang melompat masuk dan dengan cepat telah berada di dalam kamar Bi Lian. Wanita ini memandang dan...

“Can Kwan...!” serunya sambil berdiri memandang dengan mata terbelalak serta mulut ternganga.

Ada pun orang yang masuk itu, seorang pemuda yang tampan dan berpakaian seperti seorang pelajar, juga berdiri dengan pandangan mata kagum menyaksikan kecantikan wanita yang berdiri di hadapannya.

“Cui Hwa...”

Walau pun dahulu mereka belum pernah bersentuh tangan, hanya bicara secara sopan sebagaimana lazimnya orang bertunangan, namun pada saat itu suara hati mereka yang bicara dan perasaan rindu dendam yang hebat mempengaruhi jiwa raga. Tanpa dapat dicegah lagi oleh akal sadar, keduanya saling menubruk dan berangkulan.

“Cui Hwa... kekasihku...”

“Can Kwan, alangkah senangnya bertemu denganmu walau hanya dalam mimpi...”

“Cui Hwa, siapa bilang dalam mimpi?” Can Kwan segera melepaskan rangkulannya dan memegang kedua pundak wanita muda itu, memandang dengan mata penuh cinta kasih mesra. “Kau lihatlah baik-baik, bukankah aku Can Kwan tunanganmu? Aku benar-benar datang kekasihku.”

Namun Cui Hwa menggeleng-gelengkan kepalanya yang cantik.

“Tidak mungkin! Benar-benar tidak mungkin! Bagaimana kau dapat masuk ke sini? Istana dikurung pagar tembok yang tinggi, terjaga kuat oleh pasukan! Sedangkan kau adalah seorang pelajar yang lemah, yang hanya kuat menggerakkan tangkai pena dan membalik lembaran buku. Kau tak mungkin dapat datang ke sini, kecuali kalau... kalau...”

Tiba-tiba pucatlah muka Cui Hwa atau Bi Lian. Ia hampir menjerit ngeri, tetapi buru-buru menutupkan mulutnya dengan tangan, lalu bertindak mundur sampai tiga langkah.

“Cui Hwa, mengapa kau?”

“Can Kwan... tak salah lagi... kau tentu telah mati...! Rohmu yang datang mengunjungiku. Ahh, Can Kwan. Kalau kau sudah mati, tenanglah, aku pasti akan menyusulmu. Sudah tidak tahan lagi aku berada di sini, terpisah darimu!” Bi Lian lalu menangis tersedu-sedu.

Can Kwan melangkah maju kemudian merangkulnya kembali. Dia tertawa perlahan dan membelai rambut kepala Bi Lian.

“Cui Hwa, pernahkah engkau mendengar roh dapat memelukmu seperti yang kulakukan sekarang ini? Lihatlah aku baik-baik, aku belum mati. Aku adalah Can Kwan yang masih hidup, masih berdarah masih berdaging. Ketahuilah, semenjak kau dibawa ke sini, aku lalu melepaskan pena dan berlatih giat sekali mempelajari ilmu silat dari seorang gagah. Akhirnya, pada malam ini aku berhasil melampaui penjaga-penjaga itu dan naik melalui pagar, walau pun dengan susah payah namun aku berhasil sampai ke kamarmu.”

“Can Kwan...! Can Kwan…!” Bukan main girang dan terharunya hati Bi Lian mendengar ucapan kekasihnya ini. “Akan tetapi, apa gunanya...? Kau bisa masuk ke sini, akan tetapi bagaimana keluarnya? Bagaimana pula kalau nanti kau ketahuan oleh penjaga? Ssstt... bersembunyilah, pelayanku datang...”

Akan tetapi, Can Kwan tidak bersembunyi, sebaliknya dengan sekali lompatan dia telah berada di depan pelayan wanita itu dan menotok pundak wanita itu. Pelayan itu roboh tak sadarkan diri lagi.

“Can Kwan, kau... mem... membunuhnya?” tanya Cui Hwa dengan kaget dan ngeri.

Can Kwan tersenyum. Bukan main tampannya wajah pemuda itu dalam pandangan Cui Hwa. “Tidak, Cui Hwa, aku hanya membikin dia tak berdaya untuk beberapa jam saja. Ia tidak apa-apa.”

“Can Kwan, setelah kau datang ke sini... apa kehendakmu?”

Can Kwan memegang kedua tangan kekasihnya. “Cui Hwa, mari kita pergi dari sini, mari kita mulai hidup baru sebagai suami istri, jauh dari sorga dunia yang merupakan neraka bagi batin kita ini.”

“Can Kwan! Bagaimana mungkin? Kau… kau pasti akan tertangkap dan mereka akan membunuhmu! Ahh, Can Kwan... biarlah aku seorang yang menderita, aku tidak tahan melihat kau mereka bunuh! Pergilah, kau cari seorang isteri lain yang bijaksana, biarlah, aku... aku tak berharga lagi menjadi... isterimu. Tak boleh kau mendapat bencana karena aku... tinggalkanlah aku, Can Kwan. Kedatanganmu ini sudah merupakan bahagia yang sebesarnya bagiku dan akan menghiburku sampai aku mati. Akan kuingat sebagai tanda cintamu...”

“Hushh, Cui Hwa, jangan mengeluarkan omongan bodoh! Kini aku sengaja datang untuk membawamu keluar dari sini.”

“Bagaimana caranya?”

“Akan kubawa kau melompati pagar tembok, keluar dari istana.”

“Kalau kau diketahui oleh penjaga?”

“Akan kubuka jalan darah, biar mati bersamamu!”

“Tidak, Can Kwan...” Cui Hwa menangis dan memandang dengan muka ngeri. “Kau tidak boleh mati karena aku...! Apa dayamu menghadapi para pengawal yang jumlahnya amat banyak itu? Biar aku sengsara, biar aku mati asal kau bahagia, asal kau hidup...”

“Cui Hwa...!”

Pada saat itu pula terdengar bentakan-bentakan dari luar.

“Penjahat! Pencuri!”

“Tangkap, tangkaaaap!”

Cui Hwa menjadi pucat. “Celaka, Can Kwan, mereka sudah datang!”

Wajah Can Kwan yang tampan menjadi beringas dan pemuda ini mencabut pedangnya, lalu melompat keluar. Ia langsung disambut oleh belasan orang pengawal yang segera mengepungnya.

Can Kwan memang sudah mempelajari ilmu silat dengan tekunnya dari seorang pandai, dan pedangnya bergerak laksana naga mengamuk. Beberapa orang pengawal sebentar saja sudah roboh mandi darah di bawah sabetan pedangnya.

Akan tetapi makin banyak pengawal datang mengeroyok sambil berteriak-teriak, dan biar pun Can Kwan pernah belajar silat secara amat tekun, namun sampai di manakah tingkat kepandaian seorang yang baru belajar ilmu silat selama setahun? Dia mulai merasa lelah dan telah mendapat beberapa luka ringan.

“Can Kwan...!” Terdengar seruan Cui Hwa menyayat kalbu.

Pemuda itu menengok dan alangkah kagetnya melihat tubuh kekasihnya itu terhuyung-huyung mandi darah! Sebuah pisau menancap di ulu hati Bi Lian atau Cui Hwa.

Ternyata bahwa ketika melihat betapa kekasihnya dikeroyok dan tidak melihat jalan lain untuk melarikan diri, dan tahu pula bahwa pertemuannya dengan Can Kwan itu tentu akan mengakibatkan bencana hebat bagi dirinya dan pemuda itu, wanita muda itu telah mengambil keputusan pendek membunuh diri.

“Cui Hwa...!” Can Kwan tak mempedulikan lagi keroyokan para pengawal dan menubruk tubuh kekasihnya yang segera dipeluknya.

Akan tetapi tubuh Cui Hwa sudah lemas dan manita muda ini hanya dapat membuka mata sebentar memandang kepada Can Kwan sambil berbisik lemah,

“Aku... menunggumu...” dan tewaslah dia.

“Cui Hwa...!”

Para pengeroyok cepat meloncat maju, beberapa belas batang tombak dan golok datang bagaikan hujan ke arah tubuh pemuda itu. Sudah jelas nasib Can Kwan, karena biar pun dia mempunyai kepandaian sepuluh kali lipat dari pada kepandaiannya yang sekarang, belum tentu dia akan dapat menyelamatkan diri dari serangan hebat itu.

Mendadak berkelebat bayangan yang cepat sekali, menyambar ke arah para penyerang yang hendak membunuh pemuda itu. Terdengar suara keras sekali, senjata beterbangan dibarengi pekik kesakitan dan tidak kurang dari tujuh orang pengeroyok terguling roboh! Seorang kakek berpakaian tambal-tambalan telah berdiri di depan Can Kwan dan dialah yang menolong pemuda ini.

Can Kwan sudah berdiri dan kini dengan muka pucat serta menyinarkan sakit hati yang hebat, dia menerjang kepada para pengeroyok. Akan tetapi, kakek itu lalu menggerakkan tangannya dan sekali rampas saja pedang Can Kwan telah berpindah tangan!

“Tak perlu melawan lagi, kau tidak akan menang!” kata kakek ini.

“Kalau tidak bisa menang, biarlah aku mati bersama Cui Hwa kekasihku!” jawab pemuda yang sudah nekat itu.

“Bodoh!” kakek itu mencela dan tubuhnya berkelebat ke arah Can Kwan.

Pemuda ini hendak mengelak, akan tetapi gerakan kakek itu amat cepatnya sehingga tahu-tahu dia telah dikempit dan dibawa meloncat tinggi ke atas genteng. Para pengawal istana berteriak mengejar, akan tetapi sebentar saja kakek itu telah menghilang bersama pemuda yang dikempitnya.

Can Kwan hanya merasa sambaran angin dingin meniup mukanya sehingga dia terpaksa meramkan kedua matanya. Tak lama kemudian, kakek itu membawanya meloncat turun dan ketika Can Kwan membuka matanya, tahu-tahu dia telah berada di atas tanah, jauh di luar istana!

“Locianpwe, kenapa kau menghalangi kehendakku mengamuk? Aku ingin mati bersama Cui Hwa!” kata Can Kwan penasaran, karena dia tidak menghendaki pertolongan kakek ini.

Kakek ini tertawa bergelak. “Pikiran muda mendekati kegilaan, sebab selalu dikendalikan oleh nafsu! Orang muda, kau benar-benar sudah gila. Aku yang sudah tua bangka, masih tidak begitu gila untuk mengakhiri hidup yang membosankan ini, apa lagi kau yang masih begini muda. Nyawa adalah kurnia Thian, kenapa hendak dipermainkan? Kau mengacau di istana kaisar, bukankah itu termasuk pelanggaran dan pemberontakan?”

“Siapa yang mau menghargai kaisar lalim? Dia sudah merampas tunanganku dan aku memang sudah setahun mengandung maksud merampas kembali Cui Hwa!”

“Kau keliru! Kalau memang bermaksud melawan kehendak kaisar, mengapa tidak sejak dahulu sebelum tunanganmu menjadi selir kaisar? Sekarang tunanganmu sudah menjadi selir terkasih, sudah hidup bahagia namun kau datang-datang mendatangkan bencana padanya. Kalau kau tidak datang, apa kau kira tunanganmu itu akan mati? Kau bertindak menurutkan nafsu hati tanpa menggunakan akal budi dan pikiran sehat. Andai kata kau tadi berhasil membawa lari bekas kekasihmu itu, apa kau kira akan dapat bersembunyi dari para petugas kaisar? Ke mana pun kau pergi, kau tentu akan bertemu dengan kaki tangan pemerintah dan akhirnya kau akan dibekuk juga! Kalau kau yang menderita dan kena bencana, itu tak mengapa karena memang kau sengaja, akan tetapi kau menyeret wanita itu ke jurang kecelakaan! Bahkan, kalau kau masih mempunyai keluarga, seluruh keluargamu akan terseret juga.”

Mendengar ucapan terakhir ini Can Kwan nampak lemas. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil menangis. ”Teecu memang mengaku bahwa teecu seorang anak puthauw (tidak berbakti), mohon petunjuk dari Locianpwe.”

“Hmm, bagus! Lebih baik menghadapi seorang yang menyesali perbuatannya yang salah dari pada menghadapi seorang yang menyombongkan perbuatannya yang baik! Anak muda, jangan dikira bahwa seandainya kau berhasil membawa lari wanita itu, hidupnya akan bahagia. Ah, orang muda seperti kau selalu tertipu oleh nafsu hati. Sekarang wanita itu telah tewas, sudahlah. Dia telah terbebas dari pada penderitaan hidup, yaitu kalau dia memang menderita di dalam istana itu. Lebih baik kau pulang dan rawat orang tuamu baik-baik, menikah atas pilihan orang tuamu sebagai seorang anak berbakti. Apa bila kau berjalan di atas kebenaran, pasti kelak kau akan berbahagia.”

“Terima kasih, Locianpwe. Teecu mohon tanya, siapakah adanya Locianpwe yang telah menolong teecu?”

“Aku? Aku adalah pengemis miskin dan orang menyebutku Ang-bin Sin-kai!”

Can Kwan terkejut sekali. Ia sudah tentu pernah mendengar nama tokoh besar ini, maka dengan girang dia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau Locianpwe sudi, teecu mohon diterima menjadi murid…”

Akan tetapi karena tidak ada jawaban, Can Kwan mengangkat mukanya dan alangkah herannya ketika melihat bahwa kakek itu sudah lenyap dari situ! Dengan hati kecewa dia lalu berdiri dan berjalan pulang, kedukaan hatinya banyak terobati oleh nasehat-nasehat dari Ang-bin Sin-kai.

Memang, kakek itu adalah Ang-bin Sin-kai. Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, Ang-bin Sin-kai pergi menuju ke kota raja hendak mencari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Setibanya di kota raja, diam-diam dia pergi ke rumah keponakannya, yaitu Lu Seng Hok, karena dia tahu bahwa Jeng-kin-jiu tinggal di rumah muridnya, Lu Thong atau putera dari Lu Seng Hok.

Akan tetapi dia merasa kecewa sekali sebab Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan Lu Thong belum pulang dari perantauannya. Ang-bin Sin-kai lalu menyelidiki kota raja untuk melihat kalau-kalau Kiu-bwe Coa-li yang menculik Lu Kwan Cu telah berada di sana, akan tetapi ternyata iblis wanita itu pun belum nampak berada di kota raja.

Untuk menghilangkan kekesalan hatinya, sambil menunggu kemunculan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu atau Kiu-bwe Coa-li, timbul seleranya untuk makan hidangan istana serta melihat-lihat kebun bunga di istana yang luar biasa indahnya itu.

Dahulu memang sering kali dia melancong dan bersuka ria di istana kaisar, tanpa ada seorang pun yang melihat dirinya. Ia bermain-main di taman bunga, tidur di kamar-kamar besar yang indah sesudah mengunci dan mengganjal pintu kamar dari dalam sehingga tak ada orang yang dapat membukanya, atau memasuki dapur istana dan menyikat habis hidangan-hidangan untuk raja yang paling lezat. Ada kalanya pula dia menikmati bacaan buku-buku di perpustakaan istana atau minum anggur terbaik di gudang minuman.

Kebetulan sekali pada malam hari itu, ketika memasuki istana, dia melihat Can Kwan di keroyok, maka dia menolong pemuda itu setelah mengetahui sebab-sebab pertempuran. Diam-diam dia menaruh hati kasihan kepada pemuda itu, dan makin besar rasa jemunya terhadap kaisar yang merampas tunangan orang lain. Akan tetapi, kalau dia tidak berlaku keras dan mengeluarkan nasehat-nasehat seperti yang telah diucapkan kepada pemuda itu, dia tidak akan dapat menimbulkan semangat hidup baru di dalam hati Can Kwan.

Karena itu, setelah meninggalkan Can Kwan, kembalilah Ang-bin Sin-kai ke istana lagi. Keadaan di istana untuk sesaat gempar dengan peristiwa tadi dan kini jenazah Bi Lian atau Cui Hwa telah dirawat sebagaimana mestinya dan kaisar yang diberi tahu tentang hal itu, hanya mengeluarkan perintah untuk menangkap pemuda yang tidak dikenal siapa adanya.

Ang-bin Sin-kai langsung menuju ke dapur istana. Di depan pintu-pintu dapur itu terjaga kuat-kuat, namun dengan menggunakan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Ang-bin Sin-kai melompat ke atas genteng dan membuka beberapa buah genteng, kemudian mengintai ke dalam. Dia melihat tukang-tukang masak sedang sibuk menyiapkan hidangan malam untuk kaisar. Di atas sebuah meja yang besar sudah berjajar hidangan yang lengkap, masakan-masakan istimewa dan yang masih mengebulkan asap.

Ang-bin Sin-kai beberapa kali menelan ludahnya. Uap masakan yang sedap menyerang hidungnya, membuat perutnya yang hampir kempis itu berkeruyukan. Di antara semua masakan yang ada di atas meja, yang paling menimbulkan air liurnya adalah masakan daging burung dara kebiri dan daging ikan emas.

Ingin sekali dia cepat-cepat menyerbu ke bawah dan menghabiskan masakan-masakan itu. Akan tetapi dia tidak mau menimbulkan keributan, karena kalau terjadi hal demikian, tentu para pengawal akan datang mengeroyok dan akan mengganggu makannya.

Tukang-tukang masak dan pelayan yang bekerja di dalam dapur istana ada lima orang. Semuanya bertubuh gemuk, oleh karena mereka ini adalah orang-orang yang setiap hari galang-gulung dengan masakan enak, sehingga banyak juga gajih dan daging memasuki mulut mereka sehingga tubuh mereka menjadi gendut dan gemuk.

Mereka bekerja sambil bercakap-cakap gembira, diselingi dengan percakapan mengenai Bi Lian. Siapa orangnya yang takkan merasa sayang melihat selir yang demikian cantik jelita membunuh diri?

Tiba-tiba, lima potong benda hitam melayang cepat dari atas tanpa menimbulkan suara dan sungguh aneh sekali. Lima orang tukang masak itu mendadak menjadi kaku seperti mereka tiba-tiba menjadi patung! Yang memegang mangkok masih tetap berdiri dengan mangkok di tangan, yang memasak masih tetap berdiri di depan api. Bahkan seorang pelayan yang secara diam-diam mencuri sepotong daging, masih berdiri dengan daging di tangan mendekati mulutnya yang sudah ternganga siap mencaplok daging itu!

Apa yang terjadi? Ternyata bahwa Ang-bin Sin-kai sudah menggunakan kepandaiannya yang luar biasa. Dengan pecahan genteng, dia menyabit lima orang itu dan dengan tepat sekali menotok jalan darah tai-twi-hiat mereka sehingga lima orang itu menjadi kaku dan tak dapat bergerak sama sekali.

Pada saat itu, Ang-bin Sin-kai melayang turun dengan kecepatan seperti seekor burung walet. Gerakannya sukar diikuti dengan mata dan di dalam kekakuan mereka, lima orang itu hanya melihat bayangan besar menyambar turun dan lenyap lagi. Kemudian, kembali lima potong benda hitam menyambar dari atas dan berbareng dengan ini, lima orang itu dapat bergerak kembali! Mereka saling pandang dengan mata terbelalak.

“Apa yang terjadi?”

“Kenapa tadi semua badanku menjadi kaku?”

“Apakah kau melihat bayangan menyeramkan tadi?”

“Setan! Tentu ada setan yang mengganggu kita...”

Lima orang itu menjadi kacau balau, akan tetapi karena tidak melihat sesuatu, mereka tidak berani membikin ribut, takut kalau mendapat teguran dari atasannya. Sebaliknya, mereka mempercepat pekerjaan mereka supaya dapat segera meninggalkan dapur yang luas dan yang kini kelihatan menyeramkan itu. Tidak lama kemudian, masakan-masakan itu pun sudah selesai. Pelayan-pelayan dipanggil untuk mengangkut hidangan ke kamar makan kaisar.

“Hee, mana masakan burung dara?”

“Ahh, masakan ikan emas juga telah lenyap!”

“Celaka... tentu iblis tadi yang mengambilnya...”

“Ssttt, jangan keras-keras! Masih bagus dia hanya mengambil masakan, tidak mengambil nyawa kita!”

Dengan cepat, masakan-masakan itu lalu dibawa keluar dan lima orang tukang masak itu bekerja cepat-cepat dengan bulu tengkuk berdiri. Ingin mereka segera pergi dari tempat itu.

Sesudah semua orang pergi dan pintu dapur ditutup kembali, dari atas melayang turun tubuh Ang-bin Sin-kai sambil tertawa-tawa. Pada kedua tangannya terlihat dua mangkok masakan daging burung dara dan daging ikan emas yang lenyap tadi.

“Ha-ha-ha, sekarang aku bisa berpesta. Sayang masakan-masakan ini telah agak dingin karena dibawa ke atas. Harus dipanaskan dulu!”

Dengan enaknya, dia lalu menyalakan api dan memanaskan dua macam masakan itu. Kemudian tubuhnya berkelebat keluar dari atas genteng dan sebentar kemudian dia telah datang kembali membawa tiga guci arak wangi yang diambilnya dari gudang minuman! Tidak lama kemudian, Ang-bin Sin-kai berpesta-pora, makan minum di dapur itu dengan senangnya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa seorang di antara para tukang masak tadi, yang agak besar nyalinya, menyelinap di balik pintu dan mengintai ke dalam. Ketika tukang masak ini melihat seorang kakek sedang makan minum, diam-diam dia lalu pergi dari sana dan membuat laporan kepada kepala penjaga.

“Di dalam dapur ada seorang maling...” kata tukang masak itu dengan tubuh gemetar dan mukanya pucat.

“Apa? Mengapa tidak kau tangkap?”

Tukang juru masak yang gemuk itu terbelalak matanya. “Ditangkap? Bagaimana aku bisa menangkapnya? Dia sakti sekali!” Kemudian dia menceritakan bagaimana dia bersama kawan-kawannya telah mengalami hal yang aneh terjadi.

Kepala penjaga ini adalah seorang tua bernama Song Cin atau yang biasa disebut Song Ciangkun. Sebetulnya dia memang seorang perwira yang telah banyak berjasa sehingga setelah dia tua, dia lalu ditarik oleh kaisar menjadi kepala pengawal atau penjaga istana. Song Cin mempunyai kepandaian silat dan ilmu pedang yang tinggi sehingga di kalangan kang-ouw namanya sudah terkenal sekali. Ketika mendengar penuturan tukang masak ini, dia mengerutkan keningnya.

“Apakah dia sudah tua, tingkahnya seperti orang gila dan pakaiannya penuh tambalan?” tanyanya menegas.

“Betul, betul, Song Ciangkun. Pakaiannya seperti pengemis!”

Song Cin mengangguk-angguk. “Sudahlah, jangan ribut-ribut. Kau mengasolah, biar aku yang membereskan orang itu.”

“Song Ciangkun... apakah... apakah dia adalah setan penjaga dapur?” Tukang masak itu bertanya.

Song Cin mengangguk. “Betul, dan kau tidak boleh mengganggunya kalau kau sayang kepada nyawamu.”

Mendengar ini, tukang masak itu cepat-cepat pergi dan tanpa mencuci tangan lagi, ia lalu merayap ke bawah selimut di dalam kamarnya!

Ada pun Song Cin sudah merasa yakin bahwa orang yang mengganggu dapur tentulah Ang-bin Sin-kai. Sudah beberapa kali kakek aneh itu menyerbu dapur dan dia tahu pasti bahwa dia sendiri beserta semua anak buahnya bukanlah lawan bagi Ang-bin Sin-kai. Oleh karena itu, dia langsung menuju ke kamar makan kaisar.

Kaisar tengah duduk makan minum dengan beberapa selirnya. Tidak seperti biasanya, pada waktu itu kaisar sedang menjamu dua orang yang berpakaian layaknya panglima perang besar. Kedua orang ini berpakaian seperti panglima perang suku Tajik, sebuah kerajaan yang pada masa itu menjadi besar dan kuat di samping Kerajaan Tibet.

Song Cin tahu siapa adanya dua orang panglima ini, karena sore tadi dia sendiri yang menerima mereka dan menghadapkan mereka kepada kaisar. Mereka adalah dua orang panglima-panglima besar dari Kerajaan Tajik yang datang membawa surat dari Panglima An Lu Shan.

Sudah lama bangsa Tajik mengadakan penyerbuan-penyerbuan ke selatan dan kekuatan mereka memang besar sekali. Akan tetapi tiba-tiba setelah An Lu Shan diangkat menjadi panglima di utara oleh kaisar, serbuan-serbuan ini mengecil dan akhirnya, pada hari itu, dua orang panglima bangsa Tajik datang menghadap kaisar membawa surat dari An Lu Shan yang memberi laporan kepada kaisar bahwa bangsa Tajik kini sudah menyatakan damai! Dua orang panglima Tajik itu merupakan utusan dari bangsa Tajik untuk memberi penghormatan kepada kaisar.

Tentu saja kabar girang ini lalu diterima oleh Kaisar Hian Tiong dengan gembira sekali. Ia menganggap semua ini sebagai jasa besar dari An Lu Shan sehingga untuk menyatakan kegembiraannya, dia mengundang makan malam kedua orang panglima besar Tajik ini. Oleh karena sedang berpesta gembira, tentu saja kaisar mengerutkan kening tanda tidak senang ketika Song Cin datang mengganggunya tanpa dipanggil.

“Song Ciangkun,” kata kaisar dengan suara tak senang, “apa keperluanmu menghadap tanpa dipanggil?”

“Mohon beribu ampun apa bila hamba mengganggu kesenangan Baginda dan para tamu agung,” kata Song Ciangkun dengan sikap merendah, “tapi hamba terpaksa melaporkan karena pada saat ini, kembali dapur istana didatangi oleh Ang-bin Sin-kai. Kami menanti keputusan Baginda!”

Berubah air muka baginda kaisar mendengar laporan ini. Sungguh aneh, biar pun Song Cin dan kaisar tidak melihatnya, namun muka kedua orang tamu agung Panglima Tajik itu juga berubah dan nampak mereka saling menukar pandang, nampaknya kaget sekali. Namun kaisar dapat menentramkan hatinya lagi dan tiba-tiba tertawa.

“Bagus! Orang aneh itu menambahkan kegembiraan kami! Song Ciangkun, undang dia secara baik-baik untuk menemani kami minum arak!”

Song Cin tidak heran mendengar ini, karena memang kaisar mengagumi Ang-bin Sin-kai yang sebetulnya masih kakak dari menteri setia Lu Pin. Akan tetapi dua orang tamu Tajik itu benar-benar nampak terkejut sekali. Setelah memberi hormat, Song Ciangkun segera mengundurkan diri dan berlari menuju ke dapur istana.

Song Cin mengetuk pintu dapur dan berkata keras, “Ang-bin Sin-kai Locianpwe, siauwte Song Cin mohon bertemu, membawa perintah hong-siang (raja)!”

“Masuklah, Song Ciangkun.”

Song Cin masuk dan dia melihat kakek aneh itu masih duduk menghadapi meja sambil minum arak. Cepat dia memberi hormat dan berkata,

“Siauwte membawa titah hong-siang mengundang Locianpwe untuk menemani baginda minum arak.”

Ang-bin Sin-kai tertegun, kemudian tertawa bergelak.

“Bagus, memang masakan di sini kurang lengkap. Baik, aku pergi menghadap baginda!” Sehabis berkata demikian, tubuhnya berkelebat.

Song Cin hanya merasa ada angin menyambar dan bayangan berkelebat di sisinya, dan kakek itu telah lenyap! Ia menghela napas dan mengagumi kelihaian kakek itu, kemudian melakukan penjagaan seperti biasa.

Pada saat melihat Ang-bin Sin-kai muncul di ambang pintu, baginda kaisar melambaikan tangan sambil tersenyum.

“Mari, mari, Lu-koai-hiap (pendekar aneh she Lu), kau duduklah di sini bersama kami.”

Ang-bin Sin-kai menjura tanda menghormat.

“Terima kasih, sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa Baginda yang mulia sudi mengundang hamba.”

Tanpa ragu-ragu lagi dia lalu melangkah maju dan menduduki sebuah bangku kosong, berhadapan dengan dua orang tamu itu. Sepasang matanya memandang tajam sekali sehingga dua orang Tajik itu merasa tidak enak sekali.

“Ha-ha-ha, Jiwi Ciangkun. Perkenalkanlah, ini adalah orang aneh dari timur yang disebut Ang-bin Sin-kai. Dan Lu-koai-hiap, kedua orang tamu ini adalah panglima-panglima Tajik yang mewakili pemerintahannya menyatakan perdamaian dengan negeri kita.”

Ang-bin Sin-kai hanya menerima perkenalan ini dengan sikap dingin, kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi dia mempergunakan sumpitnya yang panjang untuk menjangkau mangkok-mangkok masakan yang paling enak. Baginda Kaisar tertawa melihat ini dan memberi isyarat kepada pelayan untuk menambah arak.

Walau pun nampaknya bersikap acuh tak acuh, akan tetapi diam-diam Ang-bin Sin-kai memperhatikan gerak-gerik dua orang tamu itu, panglima-panglima yang bertubuh tinggi besar itu. Mendadak mukanya berubah pucat, kemudian perhatiannya tercurah kepada tangan-tangan kedua orang tamu itu yang memegang sumpit.

Pada saat mereka telah minum kosong cawan arak dan baginda nampak gembira sekali. Seorang di antara dua tamu itu mengambil guci arak dengan tangan kanan dan mengisi cawan kosong baginda kaisar. Kemudian dia pun memenuhi cawan Ang-bin Sin-kai dan cawannya sendiri beserta kawannya.

“Hamba menyuguhkan secawan arak untuk keselamatan kaisar. Hidup Baginda Kaisar, semoga panjang usianya!” katanya sambil mengangkat cawan araknya.

Kaisar Hian Tiong tertawa sambil mengangkat cawan araknya. Akan tetapi sebelum dia meneguk araknya, tiba-tiba tangan Ang-bin Sin-kai bergerak dan cawan itu terlempar dari tangan baginda!

“Lu-koai-hiap...!” kaisar menegur marah.

Akan tetapi Ang-bin Sin-kai memandang kepada penyuguh arak itu dengan marah sekali. “Kalian bukan orang Tajik! Kalian adalah jahanam-jahanam pembunuh! Hayo mengaku, siapa kalian?!” Ang-bin Sin-kai berdiri dan sikapnya mengancam sekali.

Kaisar Hian Tiong pucat dan mengira bahwa pengemis sakti itu sudah menjadi mabuk. Selagi dia hendak menegur, tiba-tiba dua orang tamunya itu menggerakkan tangan dan berkeredepan benda-benda yang menyambar ke arah tubuh kaisar serta Ang-bin Sin-kai. Benda-benda ini adalah pisau-pisau mengkilat, semacam senjata rahasia yang sangat tajam, runcing dan dilemparkan dengan tenaga kuat sekali.

Kaisar memekik kaget dan hendak membuang diri ke belakang untuk mengelak, namun Ang-bin Sin-kai sudah mendahuluinya, menggerakkan sepasang sumpitnya mengibas. Maka, runtuhlah empat buah pisau yang menyambar baginda. Ada pun empat buah lagi yang menyambar ke arah Ang-bin Sin-kai, dipukul runtuh dengan tangan kirinya!

“Celaka...!” Seorang di antara dua orang Tajik itu mengeluh.

Akan tetapi pada saat itu Ang-bin Sin-kai telah melompat dan tubuhnya menyambar ke arah penyuguh arak dengan sepasang sumpit menusuk matanya!

Panglima Tajik itu cepat mengelak, tetapi sumpit di tangan Ang-bin Sin-kai seakan-akan bermata, karena sumpit itu mengejar terus dan akhirnya terdengar jerit mengerikan ketika sepasang sumpit daging itu menancap pada mata panglima yang tadi menyuguhkan arak kepada kaisar! Tubuhnya terguling dan dia berkelojotan.

Tiba-tiba kembali menyambar pisau-pisau terbang dan kali ini pisau-pisau itu mengenai tubuh orang yang sudah terluka matanya ini, menancap di ulu hati dan leher sehingga orang itu seketika tewas tanpa dapat bersambat lagi. Orang Tajik ke dua itulah yang tadi melepaskan pisau membunuh kawannya sendiri dan kini tubuhnya berkelebat lari ke arah pintu.

“Bangsat hina, hendak lari ke mana kau?!”

Ang-bin Sin-kai melompat mengejar. Akan tetapi gerakan penjahat itu benar-benar cepat sekali sehingga sebentar saja dia telah melompat ke atas genteng. Namun, mana mau Ang-bin Sin-kai memberi hati kepadanya? Kakek sakti ini pun melompat dan mengejar terus dengan kecepatan melebihi anak panah.

Kaisar Hian Tiong bertepuk tangan memberi tanda kepada para penjaga, maka tak lama kemudian ramailah keadaan di situ. Ruangan itu segera penuh dengan para penjaga dan pengawal kaisar. Song Cin mengepalai para penjaga untuk melakukan pengejaran pula dan dia sendiri lantas melompat ke atas genteng mengejar Ang-bin Sin-kai yang masih berlari-lari menyusul tamu Tajik tadi.

“Bangsat pengkhianat, kau hendak lari ke mana?” Ang-bin Sin-kai berseru keras, tangan kanannya menjangkau ke depan hendak mencekik tengkuk penjahat.

Karena merasa tiada gunanya melarikan diri dari kakek sakti itu, penjahat ini mendadak membalikkan tubuhnya dan dua tangannya terayun. Maka, delapan buah pisau terbang menyambar kepada Ang-bin Sin-kai.

Boleh jadi kepandaiannya melempar pisau terbang itu untuk orang lain amat berbahaya, akan tetapi terhadap Ang-bin Sin-kai, serangan ini tidak ada bedanya dengan permainan kanak-kanak belaka. Dengan menggerakkan kedua tangannya, delapan pisau itu telah tertangkap semua oleh Ang-bin Sin-kai!

Penjahat itu terbelalak memandang kehebatan lawannya ini dan dia lalu berlaku nekat. Ketika Ang-bin Sin-kai menubruk, tubuh penjahat itu tanpa sebab telah terpelanting jatuh dan menggelundung di atas genteng.

Ang-bin Sin-kai merasa amat heran dan cepat menyambar tubuh orang yang akan jatuh ke bawah itu, karena dia ingin menangkapnya hidup-hidup untuk ditanyai keterangan. Akan tetapi ternyata bahwa orang itu telah mati dengan sebatang pisau menancap di ulu hatinya!

Melihat kedatangan Song Cin, Ang-bin Sin-kai lalu melemparkan tubuh penjahat yang sudah menjadi mayat itu kepada kepala penjaga ini, kemudian dia berlarian kembali ke ruang makan. Ternyata bahwa penjahat yang pertama juga sudah mati.

“Lu-koai-siap, bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka bukan orang Tajik dan mereka mengandung maksud tidak baik kepada kami?” tanya kaisar kepada Ang-bin Sin-kai.

Kakek ini tersenyum. “Mudah saja. Ketika tadi hamba makan bersama mereka, hamba melihat cara mereka memegang sumpit tidak seperti kebiasaan orang-orang Tajik yang hamba ketahui baik-baik. Sumpit ke dua mereka pegang di antara ibu jari dan telunjuk seperti cara kita, sedangkan kebiasaan orang-orang Tajik memegang sumpit ke dua di antara telunjuk dan jari tengah. Kemudian, ketika penyuguh arak tadi menuangkan arak dari guci ke cawan Paduka, hamba sempat melihat dia melepaskan bubuk putih secara pandai dan tidak kentara, maka tahulah hamba bahwa dia mencampuri racun ke dalam arak itu dan hamba segera bertindak mencegah Paduka meminumnya.”

Kaisar mengangguk-angguk. “Sungguh heran sekali mengapa mereka dapat membawa surat dari An-ciangkun!”

“Hemm, kalau hamba yang mengurus perkara ini, akan hamba selidiki keadaan An Lu Shan itu! Paduka terlampau banyak mencari hiburan dan kesenangan hingga lalai dalam memperhatikan keadaan para petugas. Dan juga kematian selir Paduka belum lama ini, adalah akibat dari kelalaian Paduka sendiri. Maafkan kelancangan hamba ini, akan tetapi hamba hanya mau membuka mulut bukan semata untuk mencela, akan tetapi ini demi kebaikan Paduka dan negara! Sekarang ijinkanlah hamba pergi!” Tanpa menanti ijin dari kaisar, Ang-bin Sin-kai berkelebat dan lenyap dari situ.

Akan tetapi pada keesokan harinya, datang serombongan perwira utusan An Lu Shan yang menyatakan bahwa cap kebesaran An Lu Shan sudah tercuri orang dan bahwa kini panglima itu meminta cap baru dari kaisar. Pemberitahuan ini dilakukan karena khawatir kalau-kalau cap yang lenyap itu disalah gunakan oleh orang lain!

Dengan adanya pemberitahuan ini, lenyaplah semua kecurigaan kaisar terhadap diri An Lu Shan dan inilah kesalahan kaisar. Kalau saja dia menyuruh orang menyelidiki lebih teliti, tentu akan diketahuinya bahwa memang diam-diam An Lu Shan memiliki cita-cita memberontak dan sebenarnya kedua orang yang mengaku sebagai perwira-perwira Tajik itu adalah kaki tangannya yang diberi tugas untuk membunuh kaisar…..

********************

Kita ikuti perjalanan Lu Kwan Cu, bocah gundul yang diculik Kiu-bwe Coa-li. Biar pun dia merasa dongkol sekali atas perbuatan Kiu-bwe Coa-li terhadap dirinya namun berada di dekat Sui Ceng yang bicara dengan lucu dan menghibur dengan kata-kata membesarkan hati, Kwan Cu berlaku tenang dan mulai memutar otaknya.

Dia dapat menduga apa maksud wanita sakti itu menculiknya. Tentu ada hubungannya dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, pikirnya. Kalau tidak untuk kitab itu, apa perlunya Kiu-bwe Coa-li menculiknya.

Tak lama kemudian setelah Bun Sui Ceng menggendong dan meletakkannya di pinggir hutan, datanglah Kiu-bwe Coa-li dan sekali menepukkan tangannya ke pundak Kwan Cu, bocah gundul ini terbebas dari totokannya. Diam-diam Kiu-bwe Coa-li memuji anak ini, karena begitu terbebas, Kwan Cu sudah lantas melompat berdiri, seakan-akan dia tidak terpengaruh sama sekali oleh bekas totokannya itu.

Padahal, untuk orang biasa, kalau habis mengalami pengaruh totokannya, tentu sampai beberapa lama akan menjadi kaku tubuhnya dan setelah digerak-gerakkan beberapa kali baru dapat bergerak seperti biasa. Akan tetapi anak ini begitu terbebas, lantas saja bisa melompat berdiri.

“Suthai, kau benar-benar keterlaluan sekali!” Dengan mata bersinar marah segera Kwan Cu menegur Kiu-bwe Coa-li! “Kalau ada keperluan dengan aku, mengapa tidak bertanya dengan baik-baik saja? Akan tetapi kau malah tiba-tiba menyerang dan menculik, apakah perbuatan ini boleh dibuat bangga?”

Untuk sejenak Kiu-bwe Coa-li memandang bengong. Selama ini belum pernah ada orang yang berani menegurnya seperti itu! Kemudian timbul marahnya.

“Anak setan, kau berani menegurku?” Tangan kirinya bergerak dan ujung lengan bajunya yang panjang menyambar ke arah pipi Kwan Cu.

“Plakk!”

Kwan Cu merasa seakan-akan kepalanya disambar petir dan dia roboh berguling-guling, kemudian dia melompat dengan berdiri pula dengan tegak, sedikit pun tidak takut. Juga rasa sakit tadi hanya di pipi saja dan sekarang tidak terasa lagi.

“Kiu-bwe Coa-li merupakan nama besar yang sering kali kudengar dipuji-puji oleh semua orang gagah di dunia kang-ouw. Akan tetapi, belum pernah aku mendengar bahwa tokoh besar ini hanya mempunyai kesukaan memukul anak kecil yang tak mampu melawan!”

Mendengar ucapan ini, Kiu-bwe Coa-li menjadi marah dan sepasang matanya memancar sinar yang aneh sekali. Memang benar-benar hebat sekali keberanian Kwan Cu, dia tidak saja menegur, bahkan sekarang dia mencela tokoh besar yang ditakuti oleh semua orang gagah di dunia kang-ouw ini!

“Bocah setan penipu busuk!” Kiu-bwe Coa-li memaki sambil melompat maju dan kedua tangannya menggigil dalam nafsunya hendak menghancurkan mulut kecil yang berani mencelanya itu. “Tidak kuhancurkan kepalamu juga sudah untung kau! Kau telah berani menipuku, kemudian menegur, bahkan sekarang mencela! Berapa banyak sih cadangan nyawamu maka berani main gila memutar lidah?”

Pecut di tangan Kiu-bwe Coa-li menggigil dan Sui Ceng memandang dengan khawatir sekali. Gurunya ini memang baik, akan tetapi kalau sudah marah agaknya tidak ada iblis yang dapat melebihi keganasannya! Maka ia tahu bahwa kali ini nyawa Kwan Cu takkan tertolong lagi. Cepat ia melompat maju ke depan gurunya dan berkata,

“Suthai, harap jangan bunuh Kwan Cu. Teecu kasihan padanya, lagi pula, kalau dia mati, siapa yang akan dapat menunjukkan di mana adanya Im-yang Bu-tek Cin-keng?”

Mendengar ini, cambuk yang sudah diangkat tadi turun kembali dan Sui Ceng bernapas lega. Akan tetapi, alangkah kagetnya anak perempuan ini ketika tiba-tiba dia mendengar isak tangis dan ternyata bahwa Kwan Cu kini telah duduk di atas tanah sambil menutup mukanya, menangis!

Tentu saja Kiu-bwe Coa-li menjadi terheran, bahkan Sui Ceng sendiri pun merasa heran sekali atas sikap Kwan Cu. Dipukul, dimaki, dihina tidak pernah meruntuhkan air mata, sekarang tiada hujan tiada angin menangis sedih!

Memang hal ini aneh sekali, karena tidak biasanya Kwan Cu menangis. Anak ini berhati keras dan amat berani, bersemangat baja sehingga baginya merupakan pantangan untuk mengeluarkan air mata, apa lagi air mata karena takut atau bingung. Akan tetapi, pada saat itu, hatinya merasa amat terharu dan berduka.

Kwan Cu masih merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Loan Eng kepadanya, dan kepada nyonya itu dia sudah menganggap seperti ibunya sendiri. Tadinya dia pun sudah merasa hancur hatinya mendengar betapa Pek-cilan Thio Loan Eng dan suaminya telah terbunuh orang, akan tetapi dia masih dapat menahan kedukaan hatinya. Kini, tiba-tiba dia melihat Sui Ceng bersikap membela dan berkasihan kepadanya, maka tanpa dapat ditahan lagi Kwan Cu teringat akan kebaikan dan cinta kasih ibu anak ini terhadap dia dan keharuan besar karena sikap manis Sui Ceng membuat dia terisak-isak!

Sui Ceng menjadi gelisah sekali dan bingung melihat bocah gundul itu menangis begitu sedihnya. Ia khawatir kalau-kalau pukulan tangan gurunya tadi telah membuat otak Kwan Cu menjadi rusak dan atau miring! Ia cukup maklum akan keganasan dan kehebatan tangan gurunya kalau memukul.

Sui Ceng maju mendekat dan mengulurkan tangan untuk meraba kepala Kwan Cu yang gundul, untuk melihat apakah kepala itu terasa panas. Ternyata tidak terasa panas dan tidak apa-apa.....

“Sui Ceng, apa kau mengira bocah ini gila?” Kiu-bwe Coa-li berkata dan hampir tak dapat menahan senyumnya saking geli melihat perbuatan Sui Ceng.

Akan tetapi Sui Ceng seperti tidak mendengar ucapan gurunya, bahkan dia lalu bertanya kepada Kwan Cu dengan suara halus,

“Kwan Cu, apamukah yang sakit? Kenapa kau menangis begitu sedih? Sudahlah, Kwan Cu, untuk apa menangis terus? Sebenarnya dipikir-pikir hidup tidak begitu menyedihkan!” dalam usahanya menghibur Kwan Cu, anak gadis yang masih kecil ini mengeluarkan kata-kata yang lucu.

Mendengar ini, Kwan Cu mengangkat mukanya. Dengan kekerasan hatinya dia sudah dapat menahan air matanya dan kini dia berkata perlahan,

“Sui Ceng, aku tidak menyedihkan sesuatu, hanya hatiku merasa sakit apa bila teringat akan kematian ibumu. Aku harus membalaskan dendamnya, walau aku akan berkorban nyawaku yang tak berharga!”

Sesudah mendengar ucapan Kwan Cu ini, tiba-tiba saja Sui Ceng mengeluh dan anak perempuan inilah yang sekarang menangis sedih, tersedu-sedu menutupi muka dengan dua tangannya! Sekarang Kwan Cu yang memegang pundaknya dan menghibur, seperti seorang kakak kepada adiknya.

“Siauw-pangcu, jangan menangis. Tak pantas seorang ketua perkumpulan besar seperti engkau meruntuhkan air mata!” kata Kwan Cu.

Seketika keringlah air mata di mata Sui Ceng yang bening. Ia memandang Kwan Cu dan kini wajahnya berseri.

“Kau benar! Aku harus seperti mendiang ayahku. Aku akan menahan derita ini dengan tabah dan sebagai seorang Siauw-pangcu (ketua cilik), aku tidak boleh menangis. Akan tetapi, bukan kau yang berhak membalaskan sakit hati ibuku, Kwan Cu. Kedua tanganku sendiri yang akan menghancurkan kepala Toat-beng Hui-houw!” Setelah berkata begitu, Sui Ceng bangkit berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya yang kecil.

“Cukup semua itu, Sui Ceng! Apa sih sukarnya untuk mencari dan membunuh Toat-beng Hui-houw? Jangan bersikap lemah seperti bukan muridku saja! Hayo lekas kau ceritakan, Kwan Cu. Di mana adanya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang asli? Awas, jangan kau membohong, karena sekali kau membohong, kepalamu akan hancur oleh cambukku dan pinni tak mau mengampunimu lagi, biar pun Sui Ceng sayang kepadamu.”

Mendengar disebutnya tentang Sui Ceng sayang kepadanya, Kwan Cu segera menoleh kepada anak perempuan itu. Dia berkata mesra dengan wajah berseri, lalu mengangguk-anggukkan kepala yang gundul.

“Sui Ceng memang manis dan baik sekali, seperti ibunya...”

“Bocah gundul, jangan nyeleweng. Jawab pertanyaanku!” Kiu-bwe Coa-li membentak tak sabar.

Kwan Cu memandang kepada wanita sakti itu, sama sekali tidak nampak takut.

Sambil menahan kegemasannya, Kiu-bwe Coa-li berkata, “Di manakah adanya kitab asli Im-yang Bu-tek Cin-keng?”

“Jika begitu pertanyaan Suthai, teecu tidak bisa menjawab karena memang teecu sendiri tidak tahu di mana adanya kitab asli Im-yang Bu-tek Cin-keng.” Suara anak ini terdengar tegas, sepasang matanya memandang jujur dan tabah.

Maka kecillah hati Kiu-bwe Coa-li. Tadinya dia mengharapkan akan mendengar petunjuk anak gundul itu agar bisa memperoleh kitab pelajaran ilmu silat yang diidam-idamkannya semenjak lama sekali. Akan tetapi mendengar jawaban Kwan Cu, ia tahu bahwa anak ini tidak membohong dan kecewalah hatinya.

Sesudah menentang pandang mata anak gundul itu sekian lamanya, Kiu-bwe Coa-li lalu berkata,

“Aku mau percaya omonganmu. Akan tetapi, kau dan gurumu mencari apakah di Bukit Liang-san?”

Tertegunlah Kwan Cu mendengar pertanyaan ini.

“Eh, eh, ehh, bagaimana Suthai dapat saja mengerti dan tahu akan segala gerakan teecu dan suhu? Apakah Suthai selama ini mengikuti kami dan diam-diam menyelidiki segala kelakuan kami?”

Sepasang mata Kiu-bwe Coa-li bernyala lagi. Tangannya sudah merasa gatal-gatal untuk menampar kepala gundul yang bicaranya selalu menusuk dan mengganggu hatinya itu.

“Kwan Cu, jawablah sebenarnya saja kepada Suthai,” Sui Ceng memberi nasehat karena gadis cilik ini merasa khawatir kalau-kalau gurunya akan marah dan menyiksa Kwan Cu lagi.

Senang hati Kwan Cu mendengar kata-kata Sui Ceng ini. Betapa pun juga di dunia ini masih ada orang-orang yang menaruh hati kasihan kepadanya. Sepasang matanya yang lebar lalu memandang kepada Kiu-bwe Coa-li dan berkata,

“Suthai, agaknya tidak perlu pula kusembunyikan lebih lama lagi. Pertama-tama karena Suthai sangat bernafsu untuk mendapatkan tempat di mana disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dan kedua karena agaknya teecu memang tidak bernasib bagus untuk mendapatkan kitab itu. Ketahuilah bahwa teecu mengajak suhu ke Liang-san disebabkan teecu hendak mencari kitab sejarah peninggalan guru teecu mendiang Gui-siucai. Kitab sejarah itu ternyata telah dicuri orang!”

“Hemm, jangan bicara kacau balau! Apa perlunya kau bercerita mengenai kitab sejarah? Apa hubungannya dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?”

“Sebetulnya, jika orang hendak mencari di mana adanya kitab rahasia yang diperebutkan itu, orang harus membaca kitab sejarah peninggalan Gui-siucai, karena di situ terdapat petunjuk-petunjuk tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng.”

Kiu-bwe Coa-li nampak bernafsu kembali. “Begitukah? Siapa yang sudah mencuri kitab sejarah itu? Hayo katakan cepat!”

“Teecu bersama suhu sedang menyelidiki hal ini pula. Menurut penuturan orang dusun di lereng Liang-san, yang datang adalah hwesio gundul gemuk sekali bersama muridnya, dan teecu sendiri ketika berada di lereng, juga melihat bayangan mereka. Agaknya, tidak salah lagi, yang mencuri itu tentunya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu bersama muridnya. Kalau bukan mereka, siapa lagi?”

Kiu-bwe Coa-li menyumpah-nyumpah. “Keparat gundul!”

“Ehh, mengapa Suthai memaki teecu? Apa salahku?”

“Tolol! Bukan kau yang kumaki. Melainkan Jeng-kin-jiu!”

Sui Ceng tertawa. “Kwan Cu, apa kau kira di dunia ini hanya kau sendiri yang gundul?”

Memang Sui Ceng mempunyai watak jenaka, di mana saja ada kesempatan, dia selalu memperlihatkan wataknya ini. Kwan Cu juga tersenyum mendengar godaan ini.

“Kwan Cu, coba jelaskan sekali lagi, benar-benarkah di dalam kitab sejarah itu adanya petunjuk-petunjuk mengenai tempat tersimpannya Im-yang Bu-tek Cin-keng? Kau tidak bohong?” tanya Kiu-bwe Coa-li, sekarang suaranya tidak begitu galak lagi.

“Teecu bersumpah bahwa demikianlah yang teecu dengar dari mendiang Gui-sianseng. Betul tidaknya, bagaimana teecu bisa memastikannya kalau teecu sendiri belum pernah melihat kitab sejarah itu? Sebelum meninggal dunia, Gui-sianseng pernah meninggalkan pesan kepada teecu untuk mencari kitab itu dan kemudian menurut petunjuk ini mencari tempat disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi, sekarang teecu tidak bernafsu lagi untuk mendapatkan kitab aneh itu.”

“Mengapa?” Kiu-bwe Coa-li memandang tajam.

“Karena menurut mendiang Gui-sianseng, Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan di sebuah pulau kosong yang sukar sekali didatangi orang. Sekarang orang-orang gagah di seluruh dunia yang berkepandaian tinggi seperti Suthai sendiri dan yang lain-lain, sudah turun tangan memperebutkan kitab itu. Bagaimana seorang bodoh seperti teecu ada harapan? Tidak, teecu tak begitu bodoh untuk membuang waktu memperebutkan kitab yang belum tentu berguna bagi teecu sendiri.”

“Bagus, memang sebaiknya kau jangan membuang nyawamu untuk mencarinya. Lebih baik kau membantu aku mencarinya. Hayo kita menyusul si gundul Jeng-kin-jiu ke kota raja!”

Demikianlah Kiu-bwe Coa-li membawa Kwan Cu dan Sui Ceng menuju ke kota raja. Akan tetapi karena wanita sakti ini maklum bahwa Ang-bin Sin-kai tentunya tidak akan tinggal diam dan pasti berusaha mencari muridnya, maka dia mengambil jalan memutar melalui hutan-hutan besar agar jangan sampai bertemu dengan Ang-bin Sin-kai.

Bukan sekali-kali Kiu-bwe Coa-li takut menghadapi pengemis sakti itu, melainkan dia tak ingin usahanya untuk mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng terganggu. Kalau dia sudah mendapatkan kitab itu, dia tidak akan peduli siapa pun juga akan mengganggunya. Dia sedang mencari kitab sejarah yang menurut Kwan Cu dicuri oleh Jeng-kin-jiu. Sedangkan menghadapi Jeng-kin-jiu seorang pun sudah merupakan hal yang tidak boleh dipandang ringan, apa lagi kalau harus ditambah gangguan dari Ang-bin Sin-kai!

Karena itulah maka biar pun Ang-bin Sin-kai melakukan perjalanan cepat, pengemis sakti ini tidak bertemu dengan muridnya yang diculik oleh Kiu-bwe Coa-li.

Pada suatu hari, Kiu-bwe Coa-li mengajak dua orang anak itu berhenti di sebuah hutan yang luas. Kiu-bwe Coa-li adalah seorang wanita sakti yang memiliki kesenangan aneh sekali, yakni memancing ikan! Dan di dalam hutan itu terdapat sebuah telaga, terdengar suara air bercipakan dan kelihatan perut-perut ikan yang mengkilap ketika ikan-ikan itu bercanda dan timbul di permukaan air. Melihat semua ini, keinginan Kiu-bwe Coa-li untuk memancing tak dapat ditahan lagi!

Kesenangan ini bukan karena Kiu-bwe Coa-li terlampau doyan makan daging ikan, sama sekali bukan. Dia senang memancing karena kesenangan atau kenikmatan yang hanya dapat dirasa oleh para pemancing ikan, yakni kesenangan yang dirasakan pada waktu pancing atau kail digondol ikan. Ketegangan, harapan dan kepuasan terasa di dalam hati apa bila ujung kail disambar ikan.

Kiu-bwe Coa-li membuat gagang pancing dari ranting bambu dan tak lama kemudian kaki wanita sakti ini duduk di atas sebuah batu besar di pinggir telaga, memegang gagang pancing, diam tak bergerak dan sama sekali lupa akan keadaan sekelilingnya, juga tidak mempedulikan lagi kepada Sui Ceng dan Kwan Cu.

Dua orang anak itu menjadi bosan juga menunggui wanita itu memancing ikan, maka keduanya lalu pergi berjalan-jalan di dalam hutan. Sui Ceng paling suka akan kembang-kembang indah, maka ia mengajak Kwan Cu mencari bunga-bunga yang banyak tumbuh di dalam hutan. Mereka berjalan-jalan sambil bercakap-cakap.

“Lihat, Sui Ceng... Di sana ada kembang cilan!” tiba-tiba Kwan Cu berseru girang sambil menudingkan telunjuknya ke arah serumpun pohon bunga cilan.

Akan tetapi kegembiraan hati Kwan Cu segera lenyap dan mukanya menjadi menyesal sekali ketika dia melihat wajah Sui Ceng. Gadis cilik ini menjadi pucat sekali dan berdiri seperti patung, sedangkan sekelompok bunga yang tadi dipetik dan dipegangnya, tanpa terasa pula jatuh ke atas tanah.

“Aduh, maaf... Sui Ceng... maafkan aku. Aku tidak sengaja mengingatkan kau...,” berkata Kwan Cu sambil memegang tangan Sui Ceng. Seperti seorang kakak yang menghibur adiknya, Kwan Cu menggunakan tangan untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Sui Ceng!

“Sudahlah, Sui Ceng, kematian ibumu tak perlu selalu disedihkan. Aku bersumpah akan mencari kemudian memecahkan kepala Toat-beng Hui-houw manusia jahanam itu untuk membalas sakit hati ibumu!”

Kwan Cu tahu bahwa tentu Sui Ceng teringat kepada ibunya ketika melihat bunga cilan, karena ibunya sangat suka akan bunga ini, bahkan ibunya mendapat julukan Pek-cilan (Bunga Cilan Putih) karena sering memakai bunga cilan sebagai penghias rambutnya.

“Apa yang kau katakan?” Sui Ceng membelalakkan kedua matanya memandang kepada Kwan Cu seperti orang marah. “Keparat jahanam Toat-beng Hui-houw tidak boleh dibikin mampus oleh orang lain. Aku sendiri yang akan membelek dadanya dan mengeluarkan jantungnya, lalu memenggal kepalanya untuk kupergunakan sembahyang kepada ibu!”

“Ha-ha-ha! Dua ekor anak domba berdaging empuk lagi bersombong hendak membunuh seekor harimau jantan. Ha-ha-ha!” tiba-tiba terdengar suara ketawa.

Suara ini begitu menyeramkan, besar dan serak sehingga Kwan Cu dan Sui Ceng kaget bukan main. Kedua orang anak ini cepat menengok dan alangkah terkejut hati mereka ketika di hadapan mereka telah berdiri seorang kakek yang bentuk tubuh dan wajahnya aneh sekali. Apa lagi Sui Ceng yang mengenal kakek ini, wajahnya lantas menjadi pucat seketika.

Kakek ini tubuhnya agak bongkok, kepala penuh cambang bauk berwarna putih dan yang mengerikan adalah kedua tangannya, karena sepuluh jari di tangannya berkuku panjang melengkung seperti cakar harimau. Ada pun kedua kakinya telanjang sama sekali.

“Toat-beng Hui-houw...!” seru Sui Ceng yang pernah bertemu dengan siluman ini.

Mendengar disebutnya nama ini, serentak Kwan Cu mengepal tinjunya dan memandang dengan mata marah. Sama sekali dia tidak menjadi takut lagi melihat wajah yang sangat menyeramkan itu. Jadi inikah pembunuh dari Pek-cilan Thio Loan Eng?

Kembali Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak.

“Bocah gundul jelek! Kau tadi bilang hendak memecahkan kepala Toat-beng Hui-houw? Ha-ha-ha! Akulah yang akan memecahkan kepalamu dan kumakan otakmu yang kental membeku! Dan kau... kuncup bunga yang cantik, jantungmu tentu empuk dan darahmu hangat manis, lebih hangat dan lebih manis dari pada darah ibumu. Ha-ha-ha!”

Sui Ceng dan Kwan Cu yang sudah tak dapat menahan kemarahannya pula, telah maju berbareng dan menyerang dengan pukulan mereka yang biar pun dilakukan oleh lengan tangan kecil, namun mendatangkan angin pukulan yang hebat juga.


Melihat gerakan ini, Toat-beng Hui-houw menjadi gembira sekali.

“Anak-anak baik... bertulang bersih... ha-ha-ha!”

Dia lalu mainkan ilmu silatnya dengan cepat, mempergunakan sepasang tangannya yang berkuku panjang untuk menangkap tangan kedua anak itu yang menyerang.

Akan tetapi, baik Sui Ceng mau pun Kwan Cu adalah murid-murid orang pandai, maka mereka tidak main seruduk saja dan di dalam ilmu silat mereka sudah mendapat latihan dasar yang tinggi. Melihat bentuk kuku dan gerakan tangan manusia yang seperti iblis itu, mereka tidak membiarkan tangan mereka terpegang. Keduanya menggunakan ginkang untuk bergerak ke sana ke mari menjauhi jangkauan tangan lawan sambil menyerang ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan lemah.

Namun kedua orang anak ini masih terlalu muda dan tenaga mereka kurang kuat. Biar pun sudah dua kali Kwan Cu berhasil menggunakan ilmu pukulan dari Ilmu Silat Pai-bun Tui-pek-to dan menghantam lambung Toat-beng Hui-houw, akan tetapi pukulannya yang keras dan mengandung tenaga lweekang itu seolah-olah mengenai benda dari karet saja dan terpental kembali membuat tubuhnya sendiri terhuyung-huyung!

Juga Toat-beng Hui-houw terkejut sekali karena pukulan anak ini antep sekali. Baiknya dia telah menduga bahwa mereka ini adalah murid-murid orang pandai, maka semenjak siang-siang dia sudah mengerahkan lweekang pada tubuhnya ketika menerima pukulan-pukulan yang cepat itu sehingga dia dapat menolak pukulan itu dan tidak menderita luka.

Juga Sui Ceng memperlihatkan kecepatannya. Pernah dua jarinya menotok jalan darah di punggung kakek ini, namun ternyata bahwa jarinya mengenai kulit lemas dan daging yang tak berurat. Ia kaget dan maklum bahwa kakek seperti iblis ini telah menggunakan Ilmu Pi-ki Hu-hiat (Menutup Hawa Melindung Jalan Darah) sehingga totokannya itu gagal sama sekali.

Tapi Sui Ceng benar-benar memiliki gerakan seperti burung walet cepatnya. Tangannya yang kecil itu meluncur laksana seekor ular dan tahu-tahu dua jarinya dipentang lantas menusuk sepasang mata Toat-beng Hui-houw!

Harimau Terbang Pencabut Nyawa ini mengeluakan seruan tertahan. Hebat bukan main serangan anak perempuan ini, karena kalau matanya terkena tusukan jari tangan, tentu dia akan menjadi buta. Maka dia cepat melompat ke atas untuk menghindarkan tusukan ke arah matanya.

Tidak tahunya Sui Ceng benar-benar cerdik sekali. Pada saat tangannya tidak berhasil menusuk mata lawan yang melompat tinggi, cepat ia menjambret jenggot dan membetot dengan gentakan keras.

“Aduuuuuuhhh...!”

Toat-beng Hui-houw menjerit lalu menggereng bagai seekor harimau dicabut jenggotnya. Sebagian dari bulu jenggotnya telah tercabut oleh tangan Sui Ceng! Bukan main sakitnya sehingga matanya sampai mengeluarkan air mata. Pedas dan perih.

Hal ini mendatangkan marah yang luar biasa. Begitu dia menubruk sambil mengeluarkan suara mengerikan, Kwan Cu dan Sui Ceng tidak dapat mengelak lagi dan kedua orang anak ini telah tertangkap!

Kwan Cu dan Sui Ceng tak mau mengalah begitu saja dan cepat menggerakkan tangan memukul, namun segera mereka menjadi lemas dan habislah seluruh tenaga pada waktu Toat-beng Hui-houw menekan pundak mereka dengan tangan yang berkuku panjang.

Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak dan beberapa kali dia mempergunakan tangannya mengelus-elus kulit leher Sui Ceng yang halus, seakan-akan seorang anak kecil melihat kulit buah leeci yang halus dan menggairahkan!

Sui Ceng yang tidak berdaya menutup matanya dengan ngeri karena dia teringat betapa leher ibunya juga sudah digigit dan dihisap darahnya oleh manusia siluman ini! Ada pun Kwan Cu yang dielus-elus kepalanya, merasa bergidik pula karena kepalanya tentu akan dipecahkan dan otaknya dilalap oleh setan ini seperti ancamannya tadi.

“Ha-ha-ha! Sukar untuk memilih, makan otak dulu atau minum darah dulu. Sama-sama enaknya, sama-sama manisnya!” kakek ini bicara seorang diri seperti seorang kelaparan menghadapi arak wangi dan daging muda, bingung untuk mengambil keputusan, makan dulu atau minum dulu!

“Toat-beng Hui-houw, kau boleh membunuhku, akan tetapi jangan kau mengganggu Sui Ceng. Tidak kasihankah kau melihat dia? Tidak malukah kau membunuh seorang anak perempuan kecil seperti dia?” kata Kwan Cu.

Meski dia dan Sui Ceng berada di bawah pengaruh totokan yang lihai sehingga menjadi lumpuh, akan tetapi kedua orang anak ini tadi mengumpulkan tenaga lweekang sehingga mereka dapat melindungi penapasan dan tidak kehilangan suara mereka sehingga masih dapat bicara.

Kwan Cu hendak menolong Sui Ceng, dia sendiri rela mati. Akan tetapi tak disangkanya, anak perempuan itu mempunyai keberanian yang tidak kalah olehnya. Sui Ceng bahkan menjadi marah dan membentak,

“Kwan Cu, kau kira aku takut mati? Biarkan iblis ini membunuhku, nyawaku akan selalu mengejarnya. Sebelum menghancurkan kepalanya, nyawaku akan terus menjadi setan penasaran!”

Toat-beng Hui-houw tertawa ha-ha-he-he sambil memandang bergantian kepada kedua anak itu.

“Hemm, aku tidak suka melihat matamu melotot terus memandangku. Kau akan kumakan dulu otakmu!” katanya kepada Kwan Cu sambil mendekati anak itu.

“Bagus, Toat-beng Hui-houw, mau bunuh lekaslah bunuh, aku tidak takut! Akan tetapi kalau kau berani mengganggu Sui Ceng, hemm... kurasa kau tidak akan lama sanggup mempertahankan kepalamu yang botak itu, karena gurunya, Kiu-bwe Coa-li, tentu selalu akan mengejar-ngejarmu!”

Benar saja, mendengar nama ini, berubahlah wajah Toat-beng Hui-houw. Dia memang tahu bahwa Sui Ceng adalah murid Kiu-bwe Coa-li, nenek sakti yang ditakutinya, dan tadi dia lupa sama sekali akan nenek ini. Matanya segera jelalatan ke kanan kiri, mencari-cari kalau-kalau nenek itu berada di dekat situ.

“Aku harus cepat-cepat membereskan kalian!” katanya dan tangannya sudah diangkat tinggi untuk memukul pecah kepala gundul itu.

Akan tetapi, kata-kata Kwan Cu tadi mengingatkan Sui Ceng akan gurunya, maka ia lalu mengumpulkan tenaga dan menjerit keras sekali.

“Suthai...! Tolong teecu!”

Mendengar jeritan itu, Toat-beng Hui-houw terkejut sekali. Ia tidak jadi memukul kepala Kwan Cu, bahkan sebaliknya dengan sekali meloncat dia telah berada di dekat Sui Ceng dan kedua tangannya mencekik leher anak itu.

“Jangan membuka mulut, kau...!”

Akan tetapi, jeritan Sui Ceng tadi sudah membangunkan Kiu-bwe Coa-li dari keadaannya yang seperti sedang mimpi di pinggir telaga. Pada saat itu, pancingnya sedang digondol ikan dan ia tengah menikmati perjuangan ikan itu yang hendak melepaskan pancing yang mengait mulutnya. Mendadak dia mendengar jerit muridnya dan bagaikan seekor burung garuda yang dikagetkan oleh sesuatu, tubuhnya berkelebat ke arah suara muridnya.

“Toat-beng Hui-houw, lepaskan muridku kalau kau tak ingin mampus!” bentaknya marah dan disusul oleh bunyi bergeletar keras sekali.

Dalam kemarahannya, Kiu-bwe Coa-li telah mengeluarkan cambuknya dan kini sembilan helai bulu cambuk menyambar-nyambar mengancam di atas kepala Toat-beng Hui-houw.

Kakek berkuku panjang itu melepaskan cekikannya, akan tetapi dia memegangi tangan Sui Ceng dan berkata menyeringai.

“Kiu-bwe Coa-li, siapa mau mengganggu muridmu? Aku hanya main-main saja.”

“Bangsat tua bangka! Siapa tidak mengenal watakmu yang curang? Hayo kau lepaskan muridku. Berlaku lamban berarti kepalamu akan hancur oleh cambukku!” Kiu-bwe Coa-li mengancam dengan sikap garang sekali.

“Ha-ha-ha! Bila aku curang, apakah kau juga boleh dipercaya? Muridmu berada di dalam tanganku dan cobalah kau bergerak kalau berani. Sebelum aku terkena cambukmu, pasti nyawa muridmu akan melayang lebih dulu!”

“Apa yang kau kehendaki manusia jahat?” Kiu-bwe Coa-li ragu-ragu untuk menyerang, karena maklum bahwa Toat-beng Hui-houw bisa membuktikan ancamannya itu.

“Aku mau melepaskan muridmu ini, akan tetapi bocah gundul ini akan kubawa. Otaknya bagus sekali untuk punggungku yang suka sakit pada musim dingin karena sudah kurang isinya! Dan pula, sebelum aku melepaskan muridmu, lebih dulu kau harus berjanji tidak akan menyerangku!”

Kiu-bwe Coa-li memutar otaknya. Dia lebih menyayangkan nyawa muridnya dan tentang Kwan Cu, ia tidak peduli akan anak itu. Maka ia lalu berkata dengan suara dingin,

“Kau mau bawa anak gundul itu, bukan urusanku. Kalau kau melepaskan muridku, aku pun tak sudi berurusan dengan orang macam kau lagi!”

Tadinya memang Kiu-bwe Coa-li sangat membutuhkan bantuan Kwan Cu. Akan tetapi sekarang anak itu sudah memberi tahu tentang kitab sejarah yang menjadi petunjuk di mana adanya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dan kitab itu sudah dicuri oleh Jeng-kin-jiu, maka untuk apa lagi membawa anak itu? Membikin repot saja!

Setelah mendengar kata-kata gurunya ini, Sui Ceng terkejut sekali.

“Suthai, jangan berikan Kwan Cu kepadanya! Siluman itu hendak memecahkan kepala Kwan Cu dan hendak makan otaknya!”

“Peduli amat! Aku tidak perlu lagi dengan anak itu!” jawab subo-nya.

Ada pun Toat-beng Hui-houw, sesudah mendengar janji yang dikeluarkan oleh Kiu-bwe Coa-li, menjadi girang dan segera melepaskan Sui Ceng. Kemudian dia melompat dan mengempit tubuh Kwan Cu, pergi dari situ sambil berkata,

“Selamat tinggal, Kiu-bwe Coa-li!”

“Siluman jahat, lepaskan Kwan Cu!” Sui Ceng membentak dan hendak mengejar.

“Sui Ceng, jangan kejar dia!” Gurunya mencegah.

“Suthai, dia hendak membunuh Kwan Cu! Dan dialah pembunuh ibuku! Bagaimana teecu harus diam saja?” Kembali Sui Ceng menggerakkan kedua kakinya hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba gurunya memegang pundaknya sehingga dia tidak dapat bergerak lagi.

“Tidak, Sui Ceng. Aku telah memberi janjiku tak akan mengganggunya. Soal pembalasan dendam, mudah saja. Lain kali kalau kita bertemu dengan dia, pasti dia tidak akan kuberi ampun lagi. Kali ini aku terpaksa melepaskannya, karena kalau tidak, kau tadi tentu akan dibunuhnya.”

Sui Ceng memandang ke arah bayangan Toat-beng Hui-houw yang membawa Kwan Cu dan air matanya membanjir keluar.

“Kwan Cu...! Kwan Cu...!” Ia menjerit-jerit dengan hati perih.

Kwan Cu yang dikempit oleh Toat-beng Hui-houw dan dibawa lari cepat, merasa sangat mendongkol kepada Kiu-bwe Coa-li.

“Kiu-bwe Coa-li benar-benar orang bong-im-pwe-gi (orang tak kenal budi). Walau pun dia mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, mana dapat dia membacanya? Dan orang macam Toat-beng Hui-houw ini dengan kepandaiannya yang rendah dan sifatnya yang pengecut, mana bisa dia menjagoi di dunia kang-ouw?”

Mendengar kata-kata ini, Toat-beng Hui-houw cepat-cepat melepaskan kempitannya dan menurunkan Kwan Cu di atas tanah.

“Kau bicara apa tadi?” tanyanya.

“Aku bicara sendiri, apa hubungannya dengan kau?”

“Aku hendak makan otakmu, akan tetapi jika otakmu miring, jangan-jangan aku akan ikut menjadi gila. Kau bicara seorang diri, bila tidak miring otakmu, apa lagi? Kau sebut-sebut Im-yang Bu-tek Cin-keng, kau tahu apakah tentang kitab itu?”

“Toat-beng Hui-houw, kau bermimpi! Kiu-bwe Coa-li membawaku, ada perlu apakah jika tidak menghendaki kitab itu? Hanya aku seorang yang akan bisa mendapatakan kitab itu. Sayang kitab itu akan terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak pandai membacanya, karena mendiang Gui-siucai hanya mengajarkan tulisan itu kepadaku seorang,” Kwan Cu dengan cerdik menggunakan akal untuk menarik perhatian orang menyeramkan ini.

“Apa maksudmu? Apakah di dunia ini sungguh-sungguh terdapat kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?”

“Tentu saja ada! Lima tokoh besar dunia sedang memperebutkan kitab itu dan siapa saja yang mendapatkannya dan bisa membacanya, tentu akan mempunyai kepandaian yang tak terlawan oleh siapa pun juga di dunia ini. Akan tetapi kau, yang mempunyai kesukaan makan otak dan darah, perlu apa bertanya-tanya? Mau bunuh padaku, lekas bunuh, agar aku tidak dipaksa-paksa oleh para tokoh kang-ouw untuk mencarikan kitab itu dan untuk menterjemahkannya!”

“Benarkah kau bisa mencarikan kitab itu, bocah gundul? Di mana adanya kitab itu?”

“Mau apa kau bertanya-tanya?”

“Setan cilik! Bila kau sanggup mendapatkan kitab itu untukku, aku mau menukar dengan kepalamu!”

“Sukar, sukar...! Untuk mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, hanya ada sebuah petunjuk yang terdapat di dalam kitab sejarah peninggalan Gui Tin siucai.”

“Di mana adanya kitab sejarah itu?“ Toat-beng Hui-houw mendesak dan Kwan Cu girang sekali melihat umpannya mulai berhasil.

“Kitab itu telah dicuri oleh Ang-bin Sin-kai!”

Terbelalak mata Toat-beng Hui-houw mendengar ini.

“Sukar kalau begitu!” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang botak, lalu memandang ke arah Kwan Cu yang gundul kelimis, agaknya mulai tertarik lagi dengan otak di dalam kepala gundul itu.

Kwan Cu cepat berkata, “Apa sukarnya! Memang, kepandaian Kiu-bwe Coa-li amat tinggi dan seandainya kitab itu berada di tangannya, akan sukarlah bagimu merampasnya. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai...? Kakek yang berpenyakitan itu? Ahh, menghadapi Kiu-bwe Coa-li saja dia kalah jauh dan tidak dapat menahan serangan nenek itu lebih dari sepuluh jurus!”

“Apa katamu? Ang-bin Sin-kai terkenal dengan kepandaiannya yang amat tinggi!”

“Toat-beng Hui-houw, kalau tidak percaya, sudahlah. Aku tidak mau banyak bicara lagi.”

Toat-beng Hui-houw mulai tertarik lagi melihat sikap Kwan Cu.

“Bocah gundul, betul-betulkah kata-katamu itu?”

“Siapa membohong? Ang-bin Sin-kai mendapatkan kitab itu atas bantuanku. Kemudian dia dan aku bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa dia melarikan diri setelah dihajar oleh cambuk Kiu-bwe Coa-li. Kini dia lari dan dikejar-kejar oleh Kiu-bwe Coa-li, dan hanya aku yang tahu di mana Ang-bin Sin-kai dengan kitab sejarah yang dibawanya itu?”

“Di mana?”

“Di kota raja!”

Toat-beng Hui-houw berpikir-pikir sejenak. Apa salahnya kalau dia pun mencoba-coba mendapat kitab sejarah itu untuk kemudian mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Sudah lama dia mendengar tentang kitab pelajaran yang tiada bandingannya di dunia ini dan apa bila benar-benar dia dapat mendapatkan kitab itu atas bantuan anak gundul ini, bukankah dia akan menjagoi di seluruh permukaan bumi? Ia tidak akan perlu takut lagi menghadapi Kiu-bwe Coa-li dan tokoh-tokoh lain.

Sedangkan anak ini... andai kata dia membohong, masih belum terlambat baginya untuk memecahkan batok kepalanya dan makan otaknya. Dan lagi, apa salahnya kalau kelak setelah dia bisa mendapatkan Im-yang Bu-tek Cin-keng atas bantuan anak ini, dia makan juga otaknya?

“Kalau begitu, mari kita menyusul ke kota raja,” katanya kemudian.

“Apa kau tidak mau makan otakku lagi?” tanya Kwan Cu berani.

“Tidak, otakmu perlu kupergunakan untuk mencari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi awas, apa bila tidak berhasil mendapatkan kitab itu, tidak hanya otakmu yang kumakan, juga darahmu kuminum habis-habis!”

Kwan Cu mengangkat pundak, acuh tak acuh. “Apa bedanya? Kalau aku mati, otakku akan dimakan cacing dan darahku diminum semut! Masih jauh lebih baik kalau dimakan dan diminum oleh seorang manusia seperti kau sekali pun!”

Akan tetapi Toat-beng Hui-houw tidak mau banyak cakap lagi dan setelah membebaskan Kwan Cu dari totokannya, dia segera menggandeng tangan anak ini dan diajaknya berlari cepat sekali menuju ke kota raja.

“Kita harus mendahului Kiu-bwe Coa-li ke kota raja, kemudian merampas kitab sejarah itu dari tangan Ang-bin Sin-kai!” Kwan Cu berkata

Ucapan ini lalu membuat Toat-beng Hui-houw membawanya berlari seperti di kejar setan cepatnya. Menuju ke kota raja…..

********************

Ang-bin Sin-kai sudah mulai tidak sabar dan gelisah sekali memikirkan keadaan Kwan Cu, karena selama dia berada di kota raja, belum juga kelihatan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu datang. Juga belum kelihatan bayangan Kiu-bwe Coa-li.

Sudah beberapa hari dia berada di kota raja, tiga kali dia masuk ke dalam dapur istana menikmati masakan-masakan yang langka terdapat di luar istana. Bahkan dia pernah mendatangi gedung Lu Pin adiknya secara diam-diam untuk melihat apakah Jeng-kin-jiu sudah kembali ke kota raja. Dari gedung adiknya dia pergi ke rumah Lu Seng Hok ayah Lu Thong, akan tetapi juga di situ sunyi tidak kelihatan Jeng-kin-jiu atau Lu Thong.

Ia sudah mulai bosan menanti dan pada malam ke empat, kembali dia memasuki dapur istana lalu mabuk-mabukan seorang diri di dalam dapur itu. Tiba-tiba saja dia mendengar suara genteng dibuka orang dan tahu-tahu berkelebat bayangan seorang kakek yang melayang turun dengan seorang anak laki-laki gundul. Anak itu bukan lain adalah Kwan Cu dan kakek itu adalah Toat-beng Hui-houw.

“Ang-bin Sin-kai, lekas kau serahkan kitab sejarah peninggalan Gui-siucai itu kepadaku!” Toat-beng Hui-houw membentak.

Kakek berkuku panjang ini masih belum percaya betul kepada Kwan Cu dan ketika dia merhadapan dengan Ang-bin Sin-kai, dia masih memegangi pergelangan tangan Kwan Cu. Kalau anak ini ternyata membohong, dia akan membunuhnya terlebih dulu.

Kwan Cu juga maklum akan hal ini. Karena itu dia memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan muka khawatir sambil memutar otaknya.

“Kitab sejarah yang mana?” Ang-bin Sin-kai menjawab sambil mengerutkan keningnya. “Toat-beng Hui-houw, apakah kau sudah menjadi gila? Kau membunuh anak-anak murid Kim-san-pai dan Thian-san-pai sehingga menyusahkan kepadaku, sekarang kau datang menuduh yang bukan-bukan lagi! Benar-benar kau sudah miring otakmu!”

Mendengar jawaban ini, Toat-beng Hui-houw sudah menekan lebih keras di pergelangan tangan Kwan Cu, membuat anak itu kesakitan sekali dan hampir memekik. Akan tetapi Kwan Cu menahan rasa sakit, lalu menudingkan jari telunjuknya kepada Ang-bin Sin-kai.

“Ang-bin Sin-kai, kau orang tua benar-benar licik sekali! Bukankah kitab itu dahulu selalu kau bawa-bawa? Kenapa sekarang tidak mengaku?”

Selagi Ang-bin Sin-kai memandang terheran-heran, Kwan Cu berkata kepada Toat-beng Hui-houw,

“Locianpwe, mengapa kau begitu bodoh dan mau percaya pada omongannya? Dia telah membohongimu! Lihat saja, mukanya sudah berubah merah sekali, itulah tandanya dia membohong. Aku percaya bahwa kitab itu tentu berada di dalam saku bajunya. Lekas serang dia dan rampas kitab itu!”

Toat-beng Hui-houw ragu-ragu dan memang otaknya agak bodoh maka dia mau percaya omongan anak ini. Dia melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Kwan Cu dan memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan mata terbelalak.

Sebaliknya, Ang-bin Sin-kai adalah seorang yang cerdik dan sekelebatan saja dia dapat melihat betapa pergelangan tangan Kwan Cu yang dipegang oleh Toat-beng Hui-houw tadi menjadi matang biru, maka dia lalu tertawa bergelak sambil berkata,

“Toat-beng Hui-houw, kalau kau goblok, adalah anak gundul itu pintar sekali tidak kena ditipu. Misalnya benar kitab itu berada di tanganku, habis kau mau apa?”

“Berikan kepadaku!” Toat-beng Hui-houw membentak kemudian serentak menubruk maju sambil mengulur sepasang tangannya yang berkuku panjang seperti cakar harimau.


Ang-bin Sin-kai mengelak cepat sambil tertawa-tawa.

Sekarang Kwan Cu cepat melompat ke pinggir dan berubahlah air mukanya, kini gembira sekali.

“Suhu, pukul batang hidungnya! Kemplang kepala botaknya! Siluman ini tadinya hendak makan otak teecu, sehingga terpaksa teecu membawanya ke sini kepada Suhu!”

Dengan keterangan ini, semakin jelaslah bagi Ang-bin Sin-kai bahwa entah bagaimana, muridnya itu terjatuh ke tangan Toat-beng Hui-houw dan dengan mempergunakan akal, Kwan Cu berhasil memancing siluman ini untuk mencari dirinya dengan alasan hendak merampas kitab sejarah yang dapat menunjukkan tempat kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Mengingat akan hal ini, makin besarlah suara ketawa Ang-bin Sin-kai.

Ada pun Toat-beng Hui-houw saat mendengar Kwan Cu menyebut Suhu kepada Ang-bin Sin-kai, sadar bahwa dia telah ditipu oleh bocah gundul itu, akan tetapi sekarang dia tak memiliki kesempatan lagi untuk menyerang Kwan Cu, karena Ang-bin Sin-kai juga sudah membalas serangan-serangannya dan mendesaknya dengan hebat.

Segera Toat-beng Hui-houw mengeluh dalam hatinya ketika beberapa kali ia menyerang tetapi selalu dapat dielakkan oleh Ang-bin Sin-kai dengan amat cepatnya, bahkan kakek pengemis itu melayaninya sambil tertawa-tawa dan bahkan berani menangkis tangannya yang berkuku panjang dan yang mengandung racun!

“Ang-bin Sin-kai, kau tua bangka busuk bersama muridmu anjing kecil gundul itu hari ini harus mampus dalam tanganku!” bentaknya.

Toat-beng Hui-houw lantas menerkam sambil menggunakan ilmu silatnya yang paling dia andalkan, yaitu Ilmu Silat Hui-houw Lo-lim (Macan Terbang Mengacau Hutan). Sepuluh kuku jari tangannya tiba-tiba mulur panjang dan runcing, dan gerakkannya tiada bedanya dengan seekor harimau yang ganas sekali.

Tidak hanya kedua tangannya yang bergerak mencakar-cakar seperti harimau, juga dua kakinya yang telanjang itu menendang-nendang bagai kaki harimau yang mencakar! Dari tenggorokannya keluar suara gerengan-gerengan yang menggetarkan tiang-tiang dapur istana itu, bahkan Kwan Cu yang berdiri di pinggir berdebar jantungnya mendengar suara yang mirip suara harimau besar ini.

“Toat-beng Hui-houw, seekor harimau pun tidak sebodoh dan seganas kau tua bangka tak tahu malu!” Ang-bin Sin-kai balas memaki.

Tetapi dia segera menghadapi serangan-serangan yang bukan main ganasnya. Ang-bin Sin-kai memang belum pernah bertempur melawan kakek berkuku panjang ini. Sungguh pun kedua orang kakek ini sudah pernah bertemu, namun baru kali ini mereka mendapat kesempatan mengadu kepandaian dan mengukur tenaga masing-masing!

Kwan Cu menonton pertempuran itu dengan hati gembira. Ia berdiri bertolak pinggang dan berkata, “Suhu, pukul kepalanya yang botak itu! Dia sudah membunuh Thio-toanio secara keji! Dia benar-benar siluman jahat yang menjelma manusia!”

Mendengar suara Kwan Cu tadi, bukan main mendongkol dan marahnya hati Toat-beng Hui-houw. Dia telah dipermainkan, ditipu dan diejek oleh bocah gundul ini. Kalau saja dia bisa merobohkan Ang-bin Sin-kai, dia tentu akan menangkap bocah gundul itu dan akan mencari jalan yang paling mengerikan untuk membikin mampus setan gundul!

Maka dia kemudian mengeluarkan serangan yang luar biasa cepat dan hebatnya. Kedua tangannya yang berkuku panjang itu menyerang bergantian secara bertubi-tubi laksana ilmu tendangan Lian-hoan-twi. Dari sepuluh kuku jarinya itu tersebar bau yang amat amis memuakkan, menyambar ke arah muka Ang-bin Sin-kai.

Tetapi Ang-bin Sin-kai yang kini telah dapat mengukur inti kepandaiannya dari lawannya, hanya tersenyum-senyum saja dan seperti seorang anak kecil, dia menjatuhkan diri ke belakang lantas berpoksai (membuat salto berjungkir-balik), menggelundung ke belakang seperti bal ditendang.

Inilah gerakan yang di sebut Trenggiling Turun Gunung, yang gerakannya begitu cepat dan wajar sehingga Kwan Cu merasa amat kagum. Dengan gerakan seperti ini, serangan yang bagaimana hebat pun dapat dielakkan dengan mudahnya.

Beberapa jurus lamanya Toat-beng Hui-houw terus menerus mengejar dan menyerang, akan tetapi tiba-tiba Ang-bin Sin-kai tidak merasa lagi adanya sambaran angin serangan lawan. Pada waktu kakek ini melompat berdiri, dia terkejut sekali melihat kini Toat-beng Hui-houw melakukan pukulan maut!

“Manusia curang!” Kwan Cu membentak.

Ang-bin Sin-kai mainkan Ilmu Silat Pai-bun Tui-pek-to untuk mengelak, akan tetapi tetap saja dia terdesak hebat bukan main, meski pun dalam beberapa jurus dia masih berhasil menghindarkan diri dari serangan lawan yang ganas itu.

“Tua bangka tak tahu diri!” Ang-bin Sin-kai memaki.

Dia menggerakkan dua tangan memukul. Sambaran angin pukulannya hebat sekali dan sambaran ini mampu mematahkan dan menumbangkan batang-batang pohon dari jarak jauh.

Toat-beng Hui-houw terkejut bukan main ketika merasa pinggangnya sakit, maka cepat dia membalikan tubuhnya dan mengerahkan lweekang untuk melawan pukulan Ang-bin Sin-kai yang lihai. Kemudian dia menerkam dan kuku-kukunya mencengkeram hendak mencekik leher kakek pengemis itu.

Akan tetapi Ang-bin Sin-kai sekarang telah menjadi marah sekali. Ia mengibaskan kedua tangannya ke arah kuku lawan dan…

“Kraakk!” terdengar suara, maka patah-patahlah semua kuku di ujung tangan Toat-beng Hui-houw dan tubuh kakek ini sendiri terpental, membentur tembok dan roboh pingsan!

Ang-bin Sin-kai memandang kepada Kwan Cu. “Kau mau membalas dendam keamtian Pek-cilan? Nah, sekarang mudah bagimu untuk melakukan hal itu.”

Kwan Cu menengok dan memandang pada Toat-beng Hui-houw yang masih tergeletak pingsan di atas lantai. Memang mudah sekali baginya, hanya dengan sekali pukul atau sekali tendang saja dia dapat membunuh Toat-beng Hui-houw, membalaskan sakit hati Pek-cilan Thio Loan Eng.

Dengan hati gemas Kwan Cu melangkah maju mendekati tubuh Toat-beng Hui-houw yang menggeletak di situ. Dia memegang leher baju kakek itu dan menyeretnya ke arah meja, kemudian dia menarik tubuh Toat-beng Hui-houw dan didudukkan di atas bangku menyandar tembok menghadapi meja. Toat-beng Hui-houw yang masih pingsan itu tidak berdaya dan kini dia terduduk bersandar tembok seperti orang tidur.

Kwan Cu mengambil semangkok besar masakan. Dengan gemas sekali dia memasang mangkok itu di atas kepala botak Toat-beng Hui-houw bagai topi! Masakan yang kuahnya kuning itu mengalir turun ke atas muka kakek ini sehingga kelihatan lucu sekali.

“Tidak, Suhu. Teecu tidak dapat membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti ini,” kata Kwan Cu sambil meninggalkan musuh besar itu.

Diam-diam Ang-bin Sin-kai menjadi girang sekali mendengar ucapan muridnya ini, sebab tadi dia memang hanya mencoba saja untuk menguji sifat kegagahan muridnya.

“Jika begitu, hayo kita lekas pergi dari sini. Mungkin Jeng-kin-jiu sekarang sudah pulang.” Setelah berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat keluar melalui genteng yang tadi di buka oleh Toat-beng Hui-houw diikuti oleh Kwan Cu yang merasa girang bisa berkumpul kembali dengan suhu-nya.

Pukulan dari Ang-bin Sin-kai tadi betul-betul hebat sekali dan Toat-beng Hui-houw selain menderita patah semua kukunya yang diandalkan, juga menjadi pingsan sampai selama satu malam! Hawa pukulan itu demikian kerasnya sehingga melumpuhkan semua urat di dalam tubuhnya.

Ketika keesokan harinya seorang pegawai dapur istana membuka pintu, dia menjerit dan segera berlari keluar kembali ketika melihat seorang kakek yang aneh sekali duduk di atas bangku menghadapi pintu!

“Tolong... toloooong... ada siluman!” teriaknya sambil berlari-lari.

Seorang penjaga yang mendengar ini ikut berteriak-teriak hingga sebentar saja keadaan menjadi geger. Di antara para penjaga yang kini berkumpul, ada juga yang berhati tabah. Sesudah mendengar penuturan pegawai dapur bahwa di dalam dapur terdapat seorang siluman sedang duduk menghadapi meja dan makan minum, dia cepat membuka pintu dapur dan sambil memegang goloknya dia melangkah masuk.

Kawan-kawannya menjenguk dari pintu dan tidak berani ikut masuk. Ketika penjaga yang tabah ini melihat ke dalam dapur, dia terkejut sekali dan meremanglah bulu tengkuknya. Memang menyeramkan sekali makhluk yang kelihatan duduk menghadapi meja itu.

Seorang kakek botak yang wajahnya menyeramkan dan bersikap aneh sekali, bertopi mangkok dan mukanya penuh benda cair berwarna kuning, membuat muka itu nampak makin mengerikan.

“Siluman dari manakah yang berani mengacau di dapur istana?” Penjaga ini membentak sambil melangkah maju, siap dengan goloknya di depan dada.

Akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Hui-houw baru saja siuman kembali dari pingsannya dan kepalanya masih terasa pening. Dia membuka matanya, akan tetapi merasa malas untuk bergerak. Dia terus mengejap-ngejapkan matanya karena masih mengingat-ingat akan peristiwa semalam.

Munculnya penjaga di depan pintu dan diikuti teguran penjaga yang memegang golok di depannya itu mengingatkan Toat-beng Hui-houw akan semua pengalamannya dan ingat kembalilah dia bahwa dia masih berada di dalam dapur istana. Dia merasa heran sekali kenapa Ang-bin Sin-kai atau bocah gundul itu tidak membinasakannya, padahal dia telah pingsan tidak berdaya!

Sementara itu, ketika penjaga yang memegang golok tadi telah datang dekat dan melihat bahwa ‘siluman’ itu sesungguhnya seorang kakek botak dan bahwa keseraman mukanya diakibatkan oleh kuah masakan yang mengalir turun dari mangkok yang dijadikan topi, agak lenyap rasa takutnya. Ia menyangka bahwa kakek ini tentulah seorang yang miring otaknya, kalau tidak bagaimana dia memakai mangkok yang penuh masakan sebagai topi?

“Bangsat tua, dari mana kau berani sekali mengacau di sini? Hayo lekas berlutut dan menyerah, kalau tidak golokku akan makan kepalamu!” bentak penjaga itu.

Tetapi Toat-beng Hui-houw masih termenung saja, seakan-akan tidak mendengar seruan penjaga ini. Ada pun para penjaga lainnya ketika mendengar kawannya memaki-maki ‘siluman’ itu, menjadi besar hati dan mulailah mereka memasuki dapur.

Melihat kawan-kawannya sudah ikut masuk, penjaga tadi makin tabah hatinya dan kini membentak keras, “Lihat kupenggal kepala siluman ini!”

Sambil berkata demikian, benar-benar dia mengayunkan goloknya yang tajam itu dan membacok kepala Toat-beng Hui-houw! Akan tetapi, alangkah terkejutnya dia, juga para penjaga yang sudah memasuki dapur saat melihat keajaiban yang mengejutkan.

Ketika golok itu menyambar kepala botak yang kelimis, terdengar suara berdetak seperti golok menyambar batu dan dan bukan kepala botak itu yang terbelah, melainkan gagang golok itu terpental dan terlepas dari pegangan penjaga yang tadi membacoknya karena penjaga itu merasa tangannya sakit!

Kejadian aneh ini disusul oleh suara kakek itu tertawa bergelak menyeramkan sekali, lalu ketika kakek itu berdiri, meja yang berada di depannya mendadak terbang melayang ke arah para penjaga yang berkerumun di depan pintu!

Tentu para penjaga menjadi kaget dan ketakutan. Mereka cepat bergerak mengelak atau menangkis meja yang tiba-tiba hidup dan menyambar kepala mereka itu. Ketika akhirnya meja itu dapat dilemparkan ke pinggir dan mereka memandang, ternyata bahwa kakek botak itu telah lenyap dari dapur itu!

“Celaka, benar-benar siluman...!” kata mereka.

Sayang sekali pada hari sepagi itu kepala penjaga Song Cin masih belum hadir sehingga tak dapat menyaksikan peristiwa ini. Sebenarnya, hanya Song Cin seorang yang kiranya akan dapat menghadapi siluman itu.

Ketika Song Cin diberi tahu, perwira ini mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia juga merasa bingung karena dia tahu bahwa tidak mungkin kakek yang dikira siluman oleh anak buahnya itu Ang-bin Sin-kai adanya. Siapakah kakek yang aneh ini? Pertanyaan ini selamanya hanya akan tetap tinggal sebagai teka-teki yang tidak pernah terjawab olehnya.....

********************
Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu baru saja datang dari perantauannya bersama muridnya, Lu Thong. Ayah Lu Thong, yakni Lu Seng Hok dan isterinya, girang sekali melihat putera mereka kembali dengan selamat. Sesungguhnya, Lu Seng Hok dan isterinya tidak suka melihat putera mereka diajak merantau oleh hwesio itu, karena tentu saja mereka merasa khawatir kalau-kalau putera tunggal mereka itu tak akan pulang kembali.

Dengan sikap hormat dan tidak memperlihatkan ketidak senangan hatinya, Lu Seng Hok berkata kepada Jeng-kin-jiu yang tengah makan minum dengan gembira.

“Twa-suhu, kami harap sukalah kiranya Twa-suhu melatih ilmu silat kepada Thong-ji di sini saja dan tidak membawanya ke luar kota, karena kami selalu merasa gelisah dan khawatir. Segala keperluan untuk latihan itu, tinggal Twa-suhu katakan saja maka kami akan sediakan semua.”

Mendengar ini, Kak Thong Taisu tertawa bergelak, lalu minum araknya dari cawan besar sebelum dia menjawab. “Lu-taijin tidak tahu bahwa ilmu silat baru dapat sempurna kalau latihan-latihan itu disertai pula dengan pengalaman pertempuran. Apa gunanya memiliki ilmu silat bila tanpa ada pengalaman-pengalaman pertempuran menghadapi orang-orang pandai? Ilmu silat itu akan mentah, tidak berisi.”

“Betapa pun juga, Twa-suhu, kami berdua lebih-lebih ibu anak itu merasa amat gelisah dan rindu kalau terlalu lama Twa-suhu dan Thong-ji tidak pulang.”

Lu Thong yang hadir pula di situ, lalu berdiri dari bangkunya dan mengerutkan keningnya sambil berkata manja, “Ayah... kenapa ayah melarangku pergi dengan Suhu? Bila mana Suhu pergi merantau, aku harus ikut serta! Ayah tidak tahu betapa senangnya merantau di luar, di dunia bebas, tidak seperti di sini, terkurung dan sempit sekali!”

“Ha-ha-ha!” Jeng-kin-jiu tertawa bergelak, “Memang lebih enak menjadi seperti burung di udara dari pada terkurung dalam sangkar emas!”

“Thong-ji!” Lu Seng Hok membentak anaknya. “Apakah kau sudah tidak mau menuruti omongan ayahmu lagi? Untuk mencapai kedudukan tinggi tidak hanya belajar silat, akan tetapi kau pun harus belajar ilmu surat dengan baik!” Dengan uring-uringan ayah ini lalu meninggalkan ruangan itu setelah memberi hormat kepada Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang hanya tertawa saja.

Setelah Lu Seng Hok pergi, Jeng-kin-jiu berkata dengan suara bersunguh-sungguh pada muridnya, “Lu Thong, kata-kata ayahmu tadi ada benarnya. Lihatlah aku ini, selamanya menjadi seorang perantau yang tidak memiliki rumah tangga yang baik. Bahkan menjadi hwesio pun tidak mempunyai kelenteng untuk tempat tinggal. Kau keturunan orang besar dan apa bila kelak tidak menduduki pangkat tinggi, tentu akan mengecewakan hati para leluhurmu.”

“Akan tetapi teecu lebih senang belajar ilmu silat dari pada ilmu surat, Suhu. Teecu ingin mempunyai kepandaian silat yang paling tinggi!” bantah Lu Thong.

Jeng-kin-jiu tertawa. “Enak saja kau bicara. Apa kau kira belajar ilmu silat itu ada batas tingginya sampai mencapai tingkat tertinggi? Tak mungkin. Gunung Thai-san yang begitu tinggi pun masih ada langit di atasnya, apa lagi kepandaian orang. Kecuali kalau kau bisa mempelajari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng...”

Lu Thong tertarik sekali. Akan tetapi sebelum dia mengajukan pertanyaan, tiba-tiba saja terdengar bentakan halus.

“Tua bangka gundul, lekas kau serahkan kitab sejarah peninggalan Gui-siucai padaku!”

Bentakan ini lantas disusul melayangnya tubuh Kiu-bwe Coa-li bersama Sui Ceng yang memasuki ruangan itu. Sikap Kiu-bwe Coa-li mengancam sekali, di tangannya telah siap cambuknya yang lihai sehingga Jeng-kin-jiu menjadi amat terkejut dan tak berani berlaku sembrono. Dia melompat bangun sambil menyambar toyanya yang tadi disandarkan di tembok dekat tempat duduknya.

“Kiu-bwe Coa-li, kau setan betina dari selatan! Kau datang-datang bicara mengacau tidak karuan, apakah aku terlihat seperti seekor cacing buku maka kau bilang aku menyimpan kitab sejarah? Lebih baik simpan cambukmu yang menjijikkan itu dan mari kita minum arak wangi!”

“Gundul busuk! Siapa sudi minum arakmu yang masam? Tak usah berpura-pura suci dan pinni tidak mempunyai banyak waktu untuk mengobrol. Kau sudah mencuri kitab sejarah peninggalan Gui Tin di dalam goanya di lereng Liang-san. Sekarang lebih baik lekas kau serahkan kitab itu kepada pinni kalau kau tak ingin kepalamu yang gundul itu retak-retak oleh cambukku!”

Mendengar ucapan ini, darah Jeng-kin-jiu langsung naik ke ubun-ubun saking marahnya. Sepasang matanya yang bundar itu melotot hampir keluar dari ruangnya. Hidung serta bibirnya bergerak-gerak seperti bibir kuda mencium asap.

“Kau... kau... benar-benar kurang ajar sekali, Kiu-bwe Coa-li! Kau tidak ingat bahwa kita sama-sama dari selatan? Apa kau mau merendahkan jago-jago selatan?”

“Tutup mulutmu dan serahkan kitab itu!” kata Kiu-bwe Coa-li yang memang wataknya keras luar biasa.

“Ayaaa...!” Jeng-kin-jiu menggelengkan kepalanya yang bundar, “kau benar-benar sudah kemasukan iblis-iblis dari laut selatan! Pinceng tidak membawa kitab itu, juga andai kata ada, tak mungkin kuserahkan kepadamu!”

Pada saat itu, Lu Thong yang semenjak tadi memandang kepada Kiu-bwe Coa-li dengan mata terbelalak dan perasaan mendongkol berkata, “Suhu, inikah Kiu-bwe Coa-li yang sering kali Suhu sohorkan? Apa bila hanya seperti ini, mengapa banyak tanya-tanya lagi, Suhu? Orang sombong biasanya rendah kepandaiannya!”

Sui Ceng marah sekali dan melompat ke depan Lu Thong, lalu menampar pipi Lu Thong. Oleh karena pakaian Lu Thong seperti anak bangsawan dan terpelajar, maka Sui Ceng mengira bahwa anak ini tidak pandai ilmu silat. Akan tetapi siapa sangka bahwa sekali menggerakkan kepalanya saja, Lu Thong telah dapat mengelak dari serangannya!

“Bangsat mewah, kau memang patut diberi hajaran!” Setelah berkata demikian, Sui Ceng melompat dan menerjang Lu Thong yang segera menyambutnya gembira.


Memang Lu Thong amat suka menghadapi lawan tangguh. Kini bertempur melawan anak murid Kiu-bwe Coa-li, sungguh merupakan ujian yang bagus sekali baginya. Jeng-kin-jiu memandang kepada dua orang anak yang sudah bertanding itu, lalu tertawa bergelak-gelak.

“Kiu-bwe Coa-li, kau tunggu apa lagi? Lekaslah turun tangan atau lekas minggat saja dari sini!” sambil berkata demikian, toyanya digerakkan sehingga meja bangku yang membuat ruangan itu menjadi sempit, beterbangan ke kanan kiri. Baru sambaran angin toyanya saja sudah dapat membuat meja bangku terlempar jauh, dapat diduga betapa besarnya tenaga gwakang hwesio gendut ini.

“Jeng-kin-jiu, mampuslah kau hari ini!”

Kiu-bwe Coa-li menggerakkan cambuknya dan sembilan helai bulu cambuk itu memenuhi ruangan karena menyambar ke arah Jeng-kin-jiu dari segala jurusan! Kakek gundul ini melompat menjauhi lawannya karena dia anggap tidak baik bertempur di dekat tempat dua orang anak itu bertanding.

Maka pertempuran terpecah pada dua tempat dan begitu Jeng-kin-jiu memutar toyanya, angin dingin menyambar-nyambar dan selalu mampu menahan datangnya ujung cambuk yang ekornya ada sembilan itu. Namun sebaliknya, toyanya juga tidak diberi kesempatan menyerang, oleh karena gerakan sembilan ekor cambuk itu benar-benar cepat sekali dan datang secara bertubi-tubi.

Ada pun Lu Thong yang bertanding dengan Sui Ceng, merasa kagum bukan main. Dari pembawaannya, Sui Ceng memang anak yang mempunyai kelincahan serta kecepatan gerakan tubuh. Kemudian, sesudah dilatih oleh Kiu-bwe Coa-li, maka ginkang dari anak perempuan ini menjadi luar biasa sekali. Tubuhnya berkelebatan menyambar-nyambar laksana seekor tawon yang licah sekali.

Akan tetapi, Lu Thong juga mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Biar pun matanya agak kabur karena kecepatan gerakan Sui Ceng, namun dia selalu dapat mengelak atau menangkis serangan gadis cilik itu.

Tadi begitu melihat Sui Ceng serta mendengar gadis cilik ini berbicara, diam-diam Lu Thong merasa kagum dan sayang. Hatinya yang sudah mulai dewasa itu tertarik oleh Sui Ceng bagaikan sebatang jarum tertarik oleh besi sembrani. Dia menganggap Sui Ceng demikian lincah, lucu dan sangat manis, apa lagi sesudah kini dia menyaksikan kelihaian Sui Ceng, benar-benar Lu Thong suka sekali pada gadis ini.

Oleh karena itu, dia tidak mau membalas serangan Sui Ceng dengan hebat dan hanya menangkis atau membalas sekedarnya untuk menjaga jangan sampai dia terdesak hebat saja. Karena sesungguhnya, biar pun kepandaian mereka seimbang atau bahkan boleh dibilang Sui Ceng menang cepat, namun tenaga Lu Thong besar dan kini pemuda cilik ini sudah pandai sekali memainkan Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng (Dengan Tangan Kosong Mencabut Nyawa), yaitu ilmu silat yang diwarisinya dari Ang-bin Sin-kai melalui gurunya sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini.

Oleh karena itu, pertempuran antara Sui Ceng dengan Lu Thong juga ramai sekali dan seimbang. Seperti juga pertempuran antara Kiu-bwe Coa-li dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, sukar dikatakan siapa yang akan menang di antara dua orang murid ini.

Orang-orang di gedung itu mulai geger setelah mereka mengetahui bahwa di ruangan ini terjadi pertempuran hebat sekali. Para penjaga datang, akan tetapi Lu Thong membentak mereka supaya jangan ikut campur. Pula, bagaimana para penjaga itu berani campur tangan kalau dari gerakan toya dan cambuk itu anginnya saja cukup kuat untuk membuat mereka terdorong mundur? Juga Lu Seng Hok berdiri menonton dengan hati gelisah.

Sambil menggerakkan toyanya yang hebat, Kak Thong Taisu berkali-kali memaki dan mentertawakan Kiu-bwe Coa-li yang dianggapnya sebagai orang yang lagi kemasukan iblis, yang menuduh orang sesuka hatinya dan lain-lain.

Kalau semua orang yang menyaksikan pertempuran ini merasa gelisah, ada dua orang lain yang berada di atas genteng dan menyaksikan pertempuran itu dengan hati merasa geli. Mereka ini adalah Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu!

“Tua bangka-tua bangka di bawah itu sudah gila semua. Ha-ha-ha, kini mereka sedang memperebutkan sumur tak berair! Tak salah dugaanku, tentu yang mencuri kitab sejarah itu adalah Hek-i Hui-mo. Pantas saja larinya dahulu itu cepat bukan main,” kata Ang-bin Sin-kai.

“Akan tetapi, Suhu. Bukankah Hek-i Hui-mo tidak pernah membawa-bawa muridnya dan sepanjang pengetahuan kita, dia tidak mempunyai murid?”

“Siapa tahu? Aku pun tadinya tak pernah berpikir punya murid sebelum bertemu dengan kau. Sudahlah, hayo kita pergi menyusul Hek-i Hui-mo!”

Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat pergi dari situ, diikuti oleh Kwan Cu. Akan tetapi, Kwan Cu adalah seorang anak yang memiliki pribudi tinggi. Melihat betapa Kiu-bwe Coa-li bertempur mati-matian dengan Jeng-kin-jiu hanya untuk memperebutkan sesuatu yang kosong, dia merasa tidak tega.

Terutama sekali terhadap Jeng-kin-jiu, hwesio gendut yang dahulu sudah memberi nama kepadanya itu. Lebih-lebih lagi karena dia pun melihat betapa Sui Ceng ikut bertempur hebat melawan Lu Thong. Maka sebelum dia melompat untuk menyusul suhu-nya, dia bernyanyi dengan suara keras karena dia mengerahkan khikang-nya.

Anjing-anjing bodoh berebut tulang
tanpa ingat bahaya kehilangan nyawa.
Tak tahunya serigala belang
membawa lari tulang sambil tertawa.

Tadi ketika Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu berada di atas genteng, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan Kiu-bwe Coa-li tentu saja dapat mendengar, terutama sekali suara tindakan kaki Kwan Cu yang belum begitu tinggi ginkang-nya seperti Ang-bin Sin-kai.

Akan tetapi oleh karena kedua orang yang bertempur ini menghadapi lawan yang amat berat, mereka tak dapat dan tidak berani memecah perhatian yang berarti memperlemah pertahanan sendiri. Mereka hanya tahu bahwa di atas genteng ada orang-orang pandai yang mengintai dan menonton pertempuran mereka.

Akan tetapi ketika mendengar suara nyanyian Kwan Cu yang keras itu, mereka menjadi terkejut dan otomatis mereka menarik senjata masing-masing.

“Sui Ceng, berhenti!” seru Kiu-bwe Coa-li kepada muridnya.

Ada pun Jeng-kin-jiu yang juga mendengar nyanyian itu, tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Si gundul Kwan Cu benar-benar tepat sekali memaki kita! Memang kita anjing-anjing bodoh berebut tulang. Ehh, Kiu-bwe Coa-li, apakah kau masih belum insyaf bahwa kau sudah memperebutkan sesuatu yang kosong dan yang sudah dibawa lari oleh serigala belang seperti dinyanyikan Kwan Cu tadi?”

“Jadi Kwan Cu yang bernyanyi tadi?” Sui Ceng berkata dan wajahnya tiba-tiba berubah girang bukan main. Cepat anak ini melompat keluar dan melayang ke atas genteng untuk melihat.

“Bodoh, mereka telah pergi!” kata Kiu-bwe Coa-li.

Hal ini memang benar, karena ketika Sui Ceng tiba di atas genteng, di atas sunyi tidak nampak bayangan seorang manusia pun. Gadis cilik itu pun turun kembali.

Melihat wajah Sui Ceng nampak girang, Lu Thong menjadi iri hati dan cemburu. Ia tidak tahu bahwa Sui Ceng merasa girang bukan main mendengar suara Kwan Cu, karena itu hanya berarti bahwa Kwan Cu sudah berhasil menyelamatkan diri dari bahaya maut di tangan Toat-beng Hui-houw yang menyeramkan!

Lu Thong mengira bahwa Sui Ceng suka kepada Kwan Cu, maka dia pun berkata, “Ahh, pengemis kecil gundul itukah? Sayang, jika dia tidak pergi, tentu akan kuberi kesempatan untuk dia menebus kekalahannya dariku dahulu.”

“Sombong! Orang macam kau akan dapat mengalahkan dia?” bentak Sui Ceng. Biar pun dia mengerti bahwa Lu Thong memang lebih pandai dari pada Kwan Cu, namun dia tidak senang mendengar Kwan Cu dihina.

Ada pun Kiu-bwe Coa-li, sesudah mendengar nyanyian Kwan Cu tadi, timbul keraguan di dalam hatinya. Siapa tahu kalau dia telah ditipu oleh bocah gundul itu dan sengaja diadu dengan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu? Maka ia lalu bertanya dengan suara bersungguh-sungguh.

“Jeng-kin-jiu, benar-benarkah pinni telah salah sangka dan telah berlaku sembrono?”

Hwesio itu melebarkan matanya dan tertawa. “Bukan hanya sembrono saja, malahan tadi kukira kau telah kemasukan iblis laut selatan! Pinceng bukan kutu buku, mana pinceng menyimpan kitab-kitab? Kalau kitab suci pelajaran Nabi Buddha, tentu saja ada dan jika kau masih ingin memperdalam pengetahuanmu dalam pelajaran itu, bolehlah kau pinjam dari pinceng dengan cuma-cuma tanpa bayar!”

Mendengar ini, Kiu-bwe Coa-li menjadi merah mukanya. “Kalau begitu, maafkan pinni, Jeng-kin-jiu. Memang benar pinni sudah tertipu oleh anak setan itu. Sui Ceng, hayo kita pergi!” kata Kiu-bwe Coa-li kepada muridnya.

Lu Thong buru-buru berkata Sui Ceng. “Nona yang baik, meski pun gurumu minta maaf kepada guruku, namun aku hendak minta maaf kepadamu bahwa tadi aku sudah berani bertempur melawanmu. Harap kau tak berkecil hati dan kita dapat menjadi sahabat baik.”

“Cih, manusia tak tahu malu!” jawab Sui Ceng yang segera melompat menyusul gurunya yang sudah pergi lebih dulu.

Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Lu Thong, apa kau suka kepada anak itu?” tanyanya.

Tentu saja Lu Thong tak berani menjawab dan mukanya menjadi merah karena malunya. Sementara itu, ayahnya datang menghampiri mereka dan bertanya dengan muka kurang senang.

“Siapakah mereka tadi dan kenapa kalian bertempur di sini?” matanya tajam memandang anaknya seperti hendak menyatakan betapa tidak baiknya hidup sebagai ahli silat yang bisanya hanya bertempur dan membunuh orang.

“Ayah, mereka itu adalah orang-orang gagah. Nenek tadi adalah Kiu-bwe Coa-li yang sudah tersohor sebagai ahli silat dari selatan yang berilmu tinggi. Kalau bukan Suhu yang menghadapinya, dalam beberapa jurus saja orang lain tentu akan tewas kalau diserang olehnya.”

Lu Thong mengucapkan kata-kata ini dengan muka girang dan penuh kegembiraan, tadi seolah-olah dia bukan berkelahi mati-matian, melainkan menari dalam sebuah pesta dan berjumpa dengan seorang anak perempuan yang manis. Lu Seng Hok ayahnya hanya menggeleng-gelengkan kepala saja dan menarik napas.

Akan tetapi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tertawa bergelak lalu tubuhnya ‘menggelinding’ ke kamarnya di sebelah belakang, di mana dia terus melempar tubuhnya yang bundar ke atas pembaringan dan sebentar saja terdengar dia mendengkur seperti kerbau.

Ketika melihat kesempatan baik ini, Lu Seng Hok dan isterinya membujuk-bujuk kepada Lu Thong agar supaya anak ini, biar pun menjadi murid Jeng-kin-jiu dan belajar ilmu silat kepadanya, namun jangan mencampuri urusan pertempuran hwesio gundul itu.

“Akan tetapi, ingat. Kau adalah seorang anak dari keluarga berpangkat dan bangsawan, bagaimana kau dapat bercampur gaul dengan segala orang-orang kang-ouw yang kotor dan jahat? Apakah kelak kau akan mencemarkan nama nenek moyangmu?”

“Ayah, bukankah Ang-bin Sin-kai itu juga keluarga kita?”

“Bodoh, kau mau meniru hal yang buruk? Coba kau lihat, alangkah jauhnya perbedaan antara Ang-bin Sin-kai dan Kongkong-mu Lu Pin!”

“Ang-bin Sin-kai lebih terkenal!” bantah Lu Thong.

“Tetapi bukan terkenal kebaikan dan kebesarannya, melainkan tersohor karena jahatnya dan kurang ajarnya. Ahh, Lu Thong, jangan kau mengecewakan hati orang tuamu...”

Melihat ayahnya sudah mulai marah dan ibunya meruntuhkan air mata, Lu Thong cepat menutup mulutnya kemudian menundukkan kepala. Akan tetapi di dalam hatinya, anak ini mentertawakan orang tuanya.

Dan pada malam harinya, pada saat Lu Thong telah tidur, tiba-tiba dia merasa tubuhnya digoyangkan orang dan ketika dia membuka matanya, ternyata suhu-nya telah berdiri di luar jendelanya yang terbuka sambil melambaikan tangan, memberi isyarat kepadanya supaya ikut keluar! Lu Thong tidak sangsi lagi, lalu melompat keluar dari kamarnya.

“Kita pergi sekarang juga!” kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. “Tak usah membawa bekal atau pakaian.”

Melihat kesungguhan muka gurunya yang biasanya selalu tersenyum-senyum dan lucu, Lu Thong agak tertegun. “Baiklah, Suhu. Akan tetapi, kenapa berangkat malam-malam? Ada keperluan amat pentingkah?”

“Kiu-bwe Coa-li telah datang dan menyerangku mati-matian, tentu kitab yang dicarinya itu amat penting. Juga Ang-bin Sin-kai berkeliaran, itu berarti di dunia luar ini terjadi sesuatu yang patut diperhatikan. Apakah kau kira aku suka terbenam di dalam gedung ini saja?”

Maka berangkatlah guru dan murid ini malam-malam, meninggalkan gedung keluarga Lu, tanpa memberi tahu atau berpamit kepada Lu seng Hok dan isterinya yang tentu saja menjadi gelisah setengah mati pada keesokan harinya…..

********************

Ang-bin Sin-kai memang benar-benar merasa sayang kepada Kwan Cu. Hal ini terbukti dari usahanya menyusul Hek-i Hui-mo ke barat, yakni ke Tibet! Baginya sendiri, dia tidak nanti sudi melanggar sumpahnya dan dia tidak akan mau mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng untuk diri sendiri, melainkan karena dia ingin agar supaya muridnya itu dapat mempelajari ilmu kepandaian dari kitab itu.

Padahal, perjalanan ke Tibet bukanlah semudah orang melihat gambar peta bumi saja! Apa lagi pada jaman dahulu, di mana tidak ada jalan sama sekali. Jangankan jalan besar dan rata, bahkan jalan atau lorong kecil pun belum ada.

Perjalanan ke Tibet merupakan perjalanan yang puluhan ribu li jauhnya, melalui gurun, padang pasir bergaram, tanah tandus yang beratus atau beribu li luasnya. Juga melalui gunung-gunung yang luar biasa tingginya, hutan-hutan yang liar dan belum pernah dilalui manusia. Bila sedang melalui gurun pasir, panas membakar kulit, akan tetapi sebaliknya kalau melalui puncak bukit yang tinggi, hawa dingin menggerogoti tulang iga!

Guru dan murid ini melakukan perjalanan selama berbulan-bulan. Dengan amat sulit dan banyak susah payah, akhirnya mereka tiba di Pegunungan Kun-lun-san. Memang kalau orang hendak pergi ke Tibet melalu jurusan utara, maka dia harus melewati Pegunungan Kun-lun-san yang termasuk daerah Tibet Utara.

Namun semua kesukaran perjalanan itu sama sekali tidak terasa oleh Kwan Cu. Bahkan anak ini merasa sangat gembira. Perjalanan yang luar biasa jauhnya ini mendatangkan pengalaman-pengalaman baru yang hebat-hebat dan di sepanjang perjalanan, Ang-bin Sin-kai tidak pernah lalai untuk melatih ilmu silat kepada muridnya.

Kni Kwan Cu sudah mulai menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tingkat tinggi sehingga kepandaiannya maju dengan pesat sekali. Di samping itu, juga Ang-bin Sin-kai mengajak muridnya mampir di tempat tinggal para tokoh besar dunia kang-ouw dan selalu mencari kesempatan untuk memperlebar dan memperluas pengetahuan muridnya itu tentang ilmu silat.

“Lihatlah baik-baik, muridku,” katanya jika berhasil minta kepada seorang ahli silat untuk menunjukkan kepandaiannya. “Betapa pun jauh perbedaan gaya dalam permainan silat, tetapi semuanya berdasarkan kekuatan mereka atas kedudukan tubuh dan pemasangan kaki. Memang ini sangat penting, Kwan Cu. Betapa pun bagus dan lihai gerakan serta gayanya, tapi tanpa keteguhan dan kedudukan kaki, dia bukanlah seorang ahli silat yang kuat.”

Pegunungan Kun-lun-san penuh dengan puncak-puncak yang tertutup salju dan di setiap tempat terdapat sungai-sungai es. Melalui daerah seperti ini orang harus berlaku hati-hati sekali. Hampir saja Kwan Cu menemui bencana ketika mereka melewati sebuah sungai es yang lebar.

Permukaan es itu tampak mengkilap kebiru-biruan, yaitu bayangan-bayangan langit yang tercermin ke dalam permukaan es. Pada mulanya Kwan Cu merasa gembira sekali dan berlari-larian di atas es yang licin itu. Ia telah memiliki ginkang tinggi dan juga tubuhnya sudah kuat sehingga dia tidak khawatir terpeleset jatuh.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya bahwa es itu belum lama membeku sehingga permukaannya masih tipis. Ketika dia berlari dan tiba di bagian yang amat tipis, tiba-tiba pecahlah permukaan kaca es itu dan tubuhnya terjeblos ke bawah.

Air yang luar biasa dinginnya menerima tubuh Kwan Cu dan seketika anak ini menjadi kaku seluruh tubuhnya! Dia cepat menahan napas dan mengerahkan tenaga serta hawa tubuh untuk membuat tubuhnya hangat dan untuk membuat aliran darah pada tubuhnya menjadi lebih cepat. Akan tetapi, hawa dingin dari air yang setengah membeku itu luar biasa sekali dan kalau gurunya tidak cepat turun tangan, pasti nyawa anak ini tidak akan tertolong lagi.

Ang-bin Sin-kai yang sudah banyak pengalamannya tidak mau mengejar ke tempat itu karena kalau dia sendiri sampai terjeblos, walau pun kepandaiannya tinggi, namun belum tentu dia akan dapat melawan serangan hawa dingin yang luar biasa itu. Dia lalu cepat mempergunakan lweekang-nya untuk mencabut sebatang akar yang sangat panjang dari pohon besar yang sudah habis daunnya dimakan salju dan dengan akar ini dia kemudian menolong Kwan Cu.

Anak gundul ini meski pun tubuhnya sudah hampir beku, namun pikirannya masih sadar. Begitu melihat akar, dia cepat menangkapnya dan memegangnya erat-erat, sungguh pun jari-jari tangannya sudah kaku dan sukar digerakkan lagi dan kulit tangannya sudah mati rasa!

Memang, sesungguhnya kakek ini sudah amat tua. Pada waktu Ang-bin Sin-kai masih kanak-kanak, kakek ini telah menjadi seorang tokoh besar dalam dunia persilatan. Tidak saja ilmu silatnya yang tinggi, juga dia terkenal sebagai seorang pendeta yang berpribudi tinggi sehingga namanya terkenal di seluruh dunia.

Sudah menjadi lajim pada jaman itu, ahli-ahli silat datang dari atas gunung atau tempat-tempat sunyi, atau lebih tepat lagi, puncak-puncak gunung yang sunyi paling disuka oleh ahli-ahli silat untuk dijadikan tempat tinggal mereka. Hal ini sudah sewajarnya, karena pada masa itu, ilmu-ilmu silat yang tinggi dimiliki oleh ahli tapa dan pendeta suci.

Ilmu silat yang tinggi memang tidak boleh dipisahkan dengan ilmu batin, maka tentu saja para pendeta yang mempelajari ilmu batin dan memiliki tenaga batin yang kuat dan suci dapat menciptakan ilmu silat yang tinggi. Dan pendeta-pendeta ini memang paling suka bertempat tinggal di puncak gunung-gunung yang sunyi untuk bertapa. Di samping ini, mereka tidak mempunyai pekerjaan sehingga dalam mempelajari ilmu silat, mereka amat tekun dan rajin sehingga memperoleh kemajuan luar biasa.

Seperti juga gunung-gunung besar lainnya, pegunungan Kun-lun-san menjadi perhatian para pertapa. Di puncak-puncak yang tinggi itu banyak sekali bersembunyi orang-orang yang mempunyai kepandaian lihai. Di antaranya, puncak yang tertinggi dijadikan tempat tinggal oleh Seng Thian Siansu. Beberapa tahun kemudian, menyusul tiga orang saudara seperguruannya, yakni Seng Te Siansu, Seng Jin Siansu serta Seng Giok Siansu atau yang disebut Kun-lun Sam-lojin (Tiga Kakek dari Kun-lun-san).

Seng Thian Siansu sudah sangat tua dan memang kalau dibandingkan, usianya berbeda jauh sekali dengan sute-sute-nya, ada sekitar lima puluh tahun selisihnya! Bersama para sute-nya ini, Seng Thian Siansu lalu membentuk partai yang disebut Kun-lun-pai. Mereka telah banyak menerima murid-murid yang berbakat baik sehingga beberapa belas tahun kemudian, nama Kun-lun-pai meningkat dan menjadi harum akibat perbuatan-perbuatan para anak murid mereka yang gagah perkasa dan budiman.

Setelah Seng Thian Siansu merasa dirinya terlalu tua, usianya sudah seratus dua puluh tahun, dia mencuci tangan dan Kun-lun-pai lalu dipegang oleh tiga orang sute-nya yang kemudian terkenal dengan sebutan Kun-lun Sam-lojin itu. Semenjak saat itu, Seng Thian Siansu hanya bertapa saja di dalam goa, sama sekali tak mau mencampuri urusan dunia lagi.

Mengapa sekarang kakek yang sudah tua dan lemah sekali ini memaksa diri keluar dari goa dan bertemu dengan Ang-bin Sin-kai? Mari kita dengarkan percakapannya dengan Ang-bin Sin-kai.

“Benar kata-katamu, Locianpwe. Teecu adalah Lu Sin dan sesungguhnya teecu lewat di Kun-lun-san karena hendak menuju ke Tibet. Akan tetapi, sungguh teecu merasa heran sekali melihat Locianpwe berada di sini dalam keadaan hawa yang sedingin ini. Hendak ke manakah Locianpwe, kalau kiranya teecu boleh bertanya?”

Seng Thian Siansu tersenyum dan kembali Kwan Cu terheran. Bukan hanya matanya yang masih nampak ‘muda’, bahkan gigi kakek ini masih lengkap dan putih rapi!

“Ang-bin Sin-kai, kau ternyata masih belum melupakan sifat-sifatmu yang baik! Memang agaknya sudah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa, maka hari ini pinto terpaksa harus meninggalkan tempat pertapaan dan nasibkulah yang buruk, sehingga tua-tua terpaksa membereskan urusan penasaran.”

“Ah, Locianpwe, urusan apakah gerangan yang memaksa Locianpwe harus turun tangan sendiri? Kalau sekiranya teecu boleh membantu, harap Locianpwe beri tahukan kepada teecu, tentu teecu bersedia membantu sekuat tenaga.”

Kakek itu tersenyum lagi. “Kau masih tetap gagah! Terima kasih, Ang-bin Sin-kai. Marilah kita duduk di sana, nanti kuceritakan apa yang telah mengeruhkan suasana Kun-lun-san yang sunyi bersih ini.”

Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu mengikuti kakek itu yang duduk di atas sebuah batu hitam yang bertumpuk pada sebelah kiri lereng itu. Sesudah duduk dan menaruh tongkatnya di sebelahnya, mulailah Seng Thian Siansu bercerita.

Kurang lebih setahun yang lalu, di Pegunungan Kun-lun-san datanglah lima orang aneh yang memiliki kepandaian amat tinggi. Mereka menyebut diri sebagai Ngo-eng Kiam-hiap (Pendekar-pendekar Pedang Lima Garuda) dan sesudah memilih puncak yang berada di sebelah kanan puncak di mana Seng Thian Siansu mendirikan Kun-lun-pai, mereka lalu menambah sebutan menjadi Kun-lun Ngo-eng (Lima Garuda dari Kun-lun-san)!

Hal ini masih tidak dapat menggoncangkan hati dan pikiran fihak Kun-lun-pai yang selalu mengutamakan kebenaran dan perdamaian. Akan tetapi, pihak Kun-lun Ngo-eng ternyata bukanlah orang-orang yang suka hidup tenteram dan mereka ini tidak puas bahwa di situ ada puncak yang menjadi pusat dari partai Kun-lun-pai yang terkenal.

Beberapa kali mereka sengaja melanggar wilayah atau daerah puncak Kun-lun-san yang didiami oleh Kun-lun-pai, bahkan mereka pernah menghina dan memukul seorang anak murid Kun-lun-pai yang sedang turun gunung. Akan tetapi, tetap saja Kun-lun Sam-lojin berlaku sabar dan menekan marah, karena mereka tidak mau cekcok dengan ‘tetangga’!

Agaknya dari fihak Kun-lun Ngo-eng juga tak berani gegabah terhadap Kun-lun-pai. Oleh karena itu, setelah didiamkan saja, akhirnya mereka juga tinggal diam, tidak melanjutkan kekurang ajaran mereka terhadap Kun-lun-pai.

Akan tetapi, diam-diam Kun-lun Sam-lojin merasa mendongkol dan marah sekali ketika mendengar laporan dari para murid Kun-lun-pai bahwa sebenarnya ‘tetangga’ mereka itu bukanlah orang baik-baik. Bahkan ada beberapa orang anak murid yang melihat dengan mata sendiri betapa kelima orang aneh yang usianya telah tua-tua itu pernah menculik orang-orang muda, laki-laki dan perempuan, dan dibawa ke atas puncak!

Kun-lun Sam-lojin, yaitu Seng Te Siansu, Seng Jin Siansu dan Seng Giok Siansu, hampir tak dapat menahan kemarahan hati mereka dan siap untuk menyerbu. Akan tetapi, ketika Seng Thian Siansu mendengar akan maksud tiga orang sute-nya ini, ia cepat mencegah mereka. Tiga orang tua dari Kun-lun-san ini memang sangat patuh kepada Seng Thian Siansu yang bukan saja menjadi suheng mereka, bahkan boleh di bilang menjadi wakil guru mereka, maka mereka menahan sabar dan mencoba untuk melupakan hal Kun-lun Ngo-eng itu.

Akan tetapi, beberapa hari yang lalu terjadi sesuatu yang menggoncangkan Pegunungan Kun-lun-san. Hal ini terjadi setelah Hek-eng Sianjin, yakni orang termuda dari Kun-lun Ngo-eng, menculik seorang gadis dari dusun yang menjadi tempat tinggal suku bangsa Hui, seorang gadis cantik jelita yang menjadi kembang dusun itu, bahkan ia adalah puteri dari kepala suku bangsa itu.

Tentu saja suku bangsa Hui yang jumlahnya lebih tiga puluh keluarga itu menjadi marah sekali. Mereka mengumpulkan orang-orang lelaki dan empat puluh orang lebih laki-laki tua muda membawa senjata menyerbu ke puncak gunung yang ditinggali oleh Kun-lun Ngo-eng. Akan tetapi, mana bisa mereka menang? Hek-eng Sianjin seorang diri keluar dan begitu pendeta berjubah hitam ini memainkan pedangnya yang lihai, belasan orang langsung roboh dan tewas, sedangkan yang lain-lain lalu melarikan diri.

Tangis riuh-rendah di dalam dusun orang-orang Hui ini menarik perhatian seorang kakek pendek kecil yang kebetulan lewat di dusun itu bersama dua orang anak laki-laki. Kakek ini bukan lain adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai bersama Gouw Swi Kiat dan The Kun Beng murid-muridnya!

“Ehh, ada apakah ribut-ribut ini?” tanyanya pada orang Hui itu.

Kepala suku bangsa Hui segera maju dan berlutut kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Ia dapat melihat bahwa yang datang ini adalah seorang kakek yang luar biasa dan tentunya memiliki kepandaian tinggi.

“Lo-enghiong, kami keluarga Hui tertimpa mala petaka hebat...! Anakku perempuan telah diculik oleh saikong siluman dari puncak Kun-lun-san, dan pada saat aku serta saudara-saudaraku menyerbu ke sana untuk menolong, belasan orang saudaraku bahkan tewas oleh saikong siluman...”

Siangkoan Hai mengerutkan keningnya dan memandang tak percaya.

“Aneh, siapa orangnya yang berani berbuat jahat di sini? Bukankah puncak sebelah barat itu pusat dari Kun-lun-pai yang tersohor? Mengapa kau tidak minta tolong ke sana?”

“Sudah, Lo-enghiong. Kami sudah menghadap Kun-lun Sam-lojin, akan tetapi mereka tak mau turun gunung menolong...”

Siangkoan Hai membelalakkan matanya. “Aneh, aneh! Mengapa begitu?”

“Suhu, lebih baik kita menolong dulu nona yang diculik itu!” kata The Kun Beng tak sabar.

“Memang kita harus lekas menolong, dan hendak kulihat siapakah orangnya yang berani berlaku jahat seperti itu. Baru kemudian aku hendak menegur Kun-lun Sam-lojin kenapa tidak mau menolong mereka ini.” Siangkoan Hai lalu berkata pada orang-orang itu.

“Hayo bawa kami ke tempat saikong siluman itu!”

Demikianlah, beramai-ramai orang-orang Hui itu lalu mengantar Siangkoan Hai dan dua orang muridnya menuju ke puncak tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng. Di atas puncak itu terdapat sebuah bangunan besar yang terkurung pagar tembok. Orang-orang Hui yang pernah dihajar oleh Hek-eng Sianjin, tidak berani datang lebih dekat dan hanya menanti dari jauh. Mereka melihat betapa kakek yang pendek kecil ini berjalan menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh dua orang muridnya yang berjalan dengan gagahnya.

Ketika mereka sudah tiba di dekat pintu, Siangkoan Hai dan dua orang muridnya merasa heran karena ternyata bahwa pintu gerbang itu terjaga oleh tiga orang pemuda dan dua orang gadis yang semuanya berwajah elok. Usia mereka antara tujuh belas sampai dua puluh tahun, pakaian mereka mewah sekali.

“Orang-orang muda, beritahukan kepada Kun-lun Ngo-eng bahwa Pak-lo-sian Siangkoan Hai sudah datang minta bertemu!” kata kakek tokoh besar utara itu kepada para penjaga remaja tadi.

Lima orang muda itu lalu berlari masuk setelah menutup pintu gerbang rapat-rapat!

Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa tergelak. “Kun-lun Ngo-heng! Apakah pintumu terbuka untuk angin dan setan yang tak nampak, akan tetapi tertutup bagi tamu manusia? Kalau kalian melarang aku masuk, keluarlah menemuiku di luar. Aku Pak-lo-sian Siangkoan Hai perlu sekali bicara dengan kalian!”

Tiba-tiba di atas tembok yang mengurung bangunan itu, tersembullah lima buah bendera yang berwarna putih, kuning, hijau, merah dan hitam! Bendera-bendera ini berkibar-kibar tertiup angin gunung, merupakan pemandangan yang indah beraneka warna. Kemudian, terdengar suara dari balik tembok itu.

“Kami tak mengenal Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan tidak mempunyai urusan dengan dia! Orang tua pendek kecil harap jangan mencari penyakit dan lekas pergi dari sini!”

Mendadak kelima buah bendera yang berkibar di atas tembok itu berubah arah kibarnya, yaitu kalau tadi berkibar ke kanan, sekarang berkibar ke kiri, padahal angin masih jelas terasa berkibar ke kanan!

Siangkoan Hai maklum bahwa orang-orang di bawah tembok sana telah memperlihatkan kepandaiannya. Dia juga tahu bahwa bendera itu berkibar karena ditiup oleh orang yang mempunyai tenaga khikang yang luar biasa tingginya. Agaknya Kun-lun Ngo-eng hendak menggertaknya dan mendemonstrasikan kepandaian supaya dia menjadi ketakutan dan segera pergi.

Kembali Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa bergelak dan sesudah melihat ke kanan kiri, kakek pendek ini lalu menghampiri sebatang pohon yang tinggi. Sekali dia mengerahkan tenaga, akar pohon itu telah tercabut dari tanah! Dia lalu menghampiri tembok bangunan itu dan melemparkan pohon tadi ke atas. Pohon itu melayang dan tepat berdiri di atas tembok di dekat bendera-bendera itu dan tentu saja pohon itu jauh lebih tinggi dari pada bendera-bendera tadi.

“Ha-ha-ha! Kun-lun Ngo-eng. Jangan dikira bahwa bendera-benderamu itu paling tinggi di dunia ini!”

Perbuatan Siangkoan Hai ini menimbulkan kegemparan pada sebelah dalam bangunan, karena terdengar seruan-seruan memuji dengan kagum. Siangkoan Hai dan kedua orang muridnya mendengar bahwa yang memuji itu adalah suara-suara banyak orang-orang muda, bahkan ada yang suaranya menyatakan masih suara anak-anak.

Lalu terdengar suara wanita yang merdu dan nyaring.

“Pak-lo-sian Siangkoan Hai! Tak perlu kau memamerkan kepandaian seperti anak kecil! Kalau kau mampu, masuklah saja, tembok kami tidak terlalu tinggi kiranya!” inilah suara Jeng-eng Mo-li, orang ketiga dari Kun-lun Ngo-eng.

Siangkoan Hai tertawa bergelak mendengar ini, kemudian berbisik kepada Kun Beng dan Swi Kiat kedua orang muridnya.

“Kalau sampai murid-murid mereka menyerang, kalian layani mereka akan tetapi jangan sampai membunuh orang.”

Kun Beng dan Swi Kiat mengangguk. Mereka sudah mengerti akan kehendak suhu-nya ini. Kemudian, dua orang anak muda ini lalu ikut suhu mereka melompat ke atas tembok. Dari atas tembok ini mereka memandang ke bawah dan terlihatlah lima orang aneh serta belasan orang anak-anak muda yang elok-elok.

Lima orang ini terdiri dari tiga orang kakek dan dua orang wanita. Usia mereka antara empat puluh sampai lima puluh tahun, akan tetapi mereka masih nampak muda. Apa lagi dua orang wanita, meski dari muka mereka mudah dilihat bahwa mereka telah setengah tua, namun muka itu masih dibedaki tebal dan di beri pemerah bibir dan pipi.

Pakaian mereka juga aneh sekali, karena seorang berpakaian warna putih, orang kedua berpakaian kuning, lalu hijau, merah dan hitam! Untuk lebih mengenal mereka, marilah kita memperhatikan seorang demi seorang.

Orang pertama yang berpakaian putih adalah kakek Pek-eng Sianjin atau orang tertua dari Kun-lun Ngo-eng. Pek-eng Sianjin memang usianya paling tua dan rambutnya telah bercampur uban, pakaiannya dan juga gelung rambutnya menandakan bahwa dia adalah seorang tosu. Pedangnya menempel pada punggung dan tubuhnya yang jangkung kurus membuat dia nampak amat gesit. Orang tertua inilah yang di sebut Pek-eng atau Garuda Putih!

Orang kedua adalah seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Inilah Ui-eng Suthai atau Garuda Kuning, pakaiannya juga berwarna kuning seluruhnya. Akan tetapi bentuk pakaiannya sama dengan Pek-eng Sianjin, yakni potongan pakaian yang biasa di pakai oleh pendeta atau tokouw. Walau pun pakaiannya seperti pertapa wanita, namun bedak dan pemerah pipi dan bibirnya menonjolkan sifat-sifat aslinya.

Tak dapat disangkal bahwa sewaktu mudanya, Ui-eng Suthai ini tentulah seorang wanita yang amat cantik. Mudah dilihat dari bentuk mata, hidung dan mulutnya. Meski sekarang telah ada gurat-gurat usia tua pada pinggir mata dan mulut, akan tetapi dia masih tetap mempunyai penarik sebagai seorang wanita.

Seperti juga suheng-nya, dia memakai pedang di punggungnya. Hanya bedanya, gagang pedangnya memakai ronce-ronce benang emas warna kuning, ada pun gagang pedang Pek-eng Sianjin memakai ronce-ronce benang sutera putih.

Orang ketiga juga seorang wanita, berpakaian hijau seluruhnya. Usianya beberapa tahun lebih muda dari Ui-eng Suthai, akan tetapi orang ketiga ini nampaknya jauh lebih muda. Namanya Jeng-eng Mo-li (Iblis Wanita Garuda Hijau) dan melihat potongan tubuhnya yang langsing, air mukanya yang ramah berseri, mulutnya yang selalu tersenyum, mudah diduga bahwa dia adalah seorang perempuan yang berwatak gembira. Akan tetapi, kalau orang melihat sepasang matanya yang liar mengerling penuh nafsu, akan dapatlah dilihat iblis yang tersembunyi di dalam tubuh lincah ini.

Dandanannya jauh lebih ‘aksi’ dari pada suci-nya yang oleh karena potongan pakaiannya bukan potongan pakaian pendeta wanita, maka kelihatan lebih menarik dan sangat ketat mencetak tubuhnya yang memang bentuknya bagus sekali. Rambutnya disanggul bagai dara-dara muda dan pedangnya yang beronce hijau tergantung di pinggang kirinya.

Biar pun bentuk air muka Jeng-eng Mo-li tidak sebaik muka Ui-eng Suthai, namun karena Jeng-eng Mo-li lincah, genit dan gembira, maka boleh dibilang dia jauh lebih menarik dari pada suci-nya. Iblis Wanita Garuda Hijau inilah yang tadi mengeluarkan suaranya ketika menantang Pak-lo-sian Siangkoan Hai untuk memasuki tempat tinggal mereka.

Orang keempat bernama Ang-eng Sianjin yang berpakaian bagai pendeta tosu, berwarna merah seluruhnya, usianya sebaya dengan Jeng-eng Mo-li. Demikian pun orang ke lima yang bernama Hek-eng Sianjin bertubuh gemuk dengan perut besar seperti perut arca penjaga dapur, adalah Hek-eng Sianjin bertubuh tinggi besar, tubuh seorang gagah yang bertenaga kuat. Keduanya juga memakai pedang pada punggungnya.

Maka ketahuanlah sekarang bahwa Kun-lun Ngo-eng terdiri dari tiga orang tosu, seorang tokouw serta seorang perempuan genit. Mereka ini kelima-limanya adalah ahli-ahli ilmu pedang dari satu cabang perguruan dan kelimanya merupakan ahli Ilmu Pedang Sin-eng Kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Sakti).

“He-he-he, seperti anak wayang saja!” seru Pak-lo-sian Siangkoan Hai melihat lima orang yang pakaiannya aneh itu. “Apakah kalian hendak main sandiwara Ngo-koai-jio-kaw-kut (Lima Setan Memperebutkan Tulang Anjing)?”

Sudah tentu saja tidak ada cerita yang berjudul seperti itu dan ucapan ini dikeluarkan oleh Singkoan Hai hanya untuk mengejek mereka saja, sebagai pembalasan atas sikap mereka yang sombong. Pak-lo-sian Siangkoan Hai terkenal seorang kakek gagah yang berwatak sombong dan tidak mau kalah, maka ketika dia melihat sikap mereka ini, sejak tadi darahnya telah naik ke kepalanya!

Sedangkan orang yang paling galak di antara Kun-lun Ngo-eng, adalah Ui-eng Suthai, pertapa wanita berpakaian kuning itu. Mendengar ejekan Pak-lo-sian Siangkoan Hai itu, mukanya langsung menjadi merah dan sekali tangan kirinya bergerak, lantas tersebarlah jarum-jarum rahasia tujuh belas batang banyaknya, menyambar ke arah Siangkoan Hai dan kedua orang muridnya!

Jarum rahasia yang dilepaskan oleh Ui-eng Suthai bukanlah senjata rahasia biasa saja. Jarum-jarum ini disebut Toat-beng-ciam (Jarum Pencabut Nyawa) dan amat halus serta kecilnya sehingga apa bila jarum-jarum ini mengenai sasaran, dapat menyusup ke dalam kulit daging dan kemudian masuk ke dalam jalan darah dan terbawa oleh darah!

Dalam penggunaan jarum-jarum ini, orang yang melontarkannya harus memiliki tenaga lweekang yang tinggi dan melihat betapa sekali lempar dapat menyerang lawan dengan tujuh belas batang jarum, dapatlah dinilai betapa hebatnya tenaga lweekang dari Ui-eng Suthai!

Orang biasa saja bila diserang oleh jarum-jarum ini, akan celakalah dia karena nyawanya takkan tertolong lagi. Bahkan ahli-ahli silat yang kurang pandai sukar membebaskan diri dari sambaran jarum-jarum itu, terlebih lagi dalam keadaan sedang berdiri di atas pagar tembok yang lebarnya hanya pas saja dengan kaki!

Namun, yang diserang adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Si Dewa Tua dari Utara, mana dia jeri menghadapi jarum-jarum halus ini? Entah kapan diambilnya, tahu-tahu di kedua tangannya sudah terpegang sepasang kipas hitam putihnya dan kini sambil tersenyum mengejek, Pak-lo-siang Siangkoan Hai mengebutkan kipas putih pada tangan kirinya ke arah jarum-jarum yang menyambarnya ke atas itu. Aneh sekali, ketika terkena sambaran angin kebutan kipas putih, jarum-jarum kecil itu tiba-tiba membalik dan runtuh semua ke bawah.

“Ha-ha-ha, siluman rase! Hendak aku mengukur dengan jarum-jarummu sampai berapa dim tebalnya bedak di mukamu!” Siangkoan Hai tertawa sambil cepat mengebutkan kipas hitam di tangan kanannya.

Hebat sekali akibatnya! Jarum-jarum yang belasan batang banyaknya itu kini terbawa hawa kebutan kipas hitam dan meluncur, seluruhnya menuju ke muka Ui-eng Suthai.....

Ui-eng Suthai menjerit marah dan segera memutar pedangnya, memukul runtuh semua jarum-jarumnya sendiri. Melihat kelihaian lawan, memang sejak tadi dia sudah mencabut pedangnya dan bersiap sedia. Kemudian, sambil mengeluarkan pekik nyaring, tokouw ini lantas menggerakkan tubuhnya yang cepat melayang ke atas dan menyerang Siangkoan Hai dengan pedangnya.

Akan tetapi, terdengar suara ketawa bergelak dan tiba-tiba Siangkoan Hai sudah lenyap dari atas tembok itu, karena ketika tadi Ui-eng Suthai melayang naik, dia telah membetot tangan kedua muridnya dan membawa mereka melompat turun ke dalam.

“Bangsat tua, bagus sekali kau mengantarkan nyawa!” Pek-eng Sian-jin membentak dan segera menyerang dengan pedangnya.

Melihat serangan ini, segera tahulah Siangkoan Hai bahwa ilmu pedang Pek-eng Sianjin benar-benar lihai dan tenaganya bahkan lebih kuat dari pada Ui-eng Suthai. Maka ia pun tidak berani berlaku ayal.

Tanpa dapat terlihat saking cepatnya, dia sudah menyimpan kembali sepasang kipasnya dan kini Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengeluarkan tombaknya! Ia mainkan tombak itu dan pandangan mata Pek-eng Sianjin segera berkunang-kunang saat melihat ujung tombak di tangan kakek pendek kecil itu berubah menjadi puluhan banyaknya!

Tombak itu tergetar dan mengaung dengan suara yang menyakitkan telinga, sedangkan setiap kali pedangnya terbentur oleh ujung tombak, hampir saja pedangnya terpental dan terlepas dari pegangan. Pada waktu secara nekat Pek-eng Sianjin melompat ke atas lalu menukik ke bawah sambil membabat dengan pedangnya ke arah leher lawan, Siangkoan Hai memutar tombaknya sehingga pedang lawan tertempel dan ikut terputar.

“Turun kau!” bentak Siangkoan Hai.

Benar saja, tanpa dapat menahan diri lagi Pek-eng Sianjin terbetot turun dan pedangnya menancap di atas tanah dengan tubuhnya masih di atas! Untuk sejenak, seakan-akan Pek-eng-Sianjin berubah menjadi sebatang tongkat panjang, dengan tangan memegang gagang pedang yang tertancap di atas tanah dan kakinya lurus ke atas. Akan tetapi dia segera dapat melompat dan membalik sehingga dia dapat berdiri kembali, lalu mencabut pedangnya.

“Nanti dulu sebelum kalian melanjutkan permainan wayang ini!” Pak-lo-sian Siangkoan Hai berseru. “Aku datang bukan untuk mencari permusuhan, sungguh pun aku tidak akan menolak setiap pertempuran yang menggembirakan. Namun, sebenarnya kedatanganku ini untuk bertanya kepada kalian, mengapa kalian suka menculik anak-anak muda? Di mana mereka itu semua dan mengapa melakukan kejahatan itu?”

Pek-eng Sianjin tertawa mengejek. “Hemm, pernah pinto mendengar nama Pak-lo-sian Siangkoan Hai sebagai seorang gagah, tidak tahunya hanyalah seorang kakek kate yang lancang mulut lancang tangan dan tukang mencampuri urusan orang lain! Kami memilih dan mengumpulkan murid-murid kami supaya dapat mewarisi ilmu pedang kami, lalu ada sangkut paut apakah dengan kau orang tua?”

Mendengar ucapan ini. Pak-lo-sian Siangkoan Hai terkejut dan tertegun. Kalau demikian halnya, dia telah salah duga! Ia melirik ke kanan kiri dan melihat di situ terdapat belasan orang-orang muda laki-laki dan perempuan yang semuanya berwajah tampan dan cantik sekali. Mereka ini dengan pedang di tangan sudah pula mengurung Kun beng dan Swi Kiat! Sikap mereka itu semua bermusuh, seolah-olah mereka tidak suka ada orang-orang mengganggu lima orang guru mereka!

Akan tetapi, pandangan mata Siangkoan Hai amat tajam dan dari sinar mata orang-orang muda yang layu dan keluar dari wajah yang kepucatan, dia pun tahu bahwa orang-orang muda itu menderita sekali di dalam batin mereka. Entah apa yang telah terjadi dengan mereka, namun Siangkoan Hai tahu bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dengan semua orang muda itu. Ia segera teringat akan sesuatu dan bertanya lagi,

“Ah, begitukah gerangan kenapa kalian berlima mengumpulkan pemuda-pemuda tampan dan dara-dara cantik?” dia menghitung dengan matanya, lalu bertanya lagi, “Jadi semua murid-muridmu berjumlah tujuh belas orang?”

Pek-eng Sianjin mengangguk sambil tertawa. “Murid-muridku hebat semua, bukan? Hee, Pak-lo-sian, kau juga mempunyai dua orang murid yang baik, tidak perlu kau merasa iri hati.”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengangguk-anggukkan kepala seakan-akan merasa setuju dengan omongan ini. Akan tetapi dia lalu berkata keras sambil menepuk kepalanya.

“Ucapanmu benar sekali! Akan tetapi, melihat murid-muridmu banyak yang perempuan dan manis-manis pula, tiba-tiba saja timbul keinginanku untuk mempunyai seorang murid perempuan pula! Eh, Kun-lun Ngo-eng, kalian berlima seperti garuda-garuda yang suka menyambar anak-anak ayam, berikanlah seorang anak murid perempuan kepadaku!”

Kun-lun Ngo-eng main mata dan saling pandang sambil tersenyum. Tidak tahunya kakek pendek kecil yang lihai ini tidak banyak bedanya dengan mereka! Ang-eng Sianjin yang berpakaian serba merah itu tertawa bergelak lalu berkata,

“Ha-ha-ha, orang tua pendek kecil, ternyata kau rakus juga ya? Karena kau telah datang dan berhasil masuk ke sini, nah... kau lihatlah murid-murid kami yang cantik-cantik, dan pilihlah yang paling jelita menurut penglihatanmu!”

Ang-eng Sianjin memang cerdik dan dapat berpikir cepat. Dia tadi sudah menyaksikan kelihaian kakek kecil ini dan tahu bahwa biar pun mengeroyok lima, belum tentu dia dan saudara-saudaranya akan sanggup menang, maka lebih baik kehilangan seorang ‘murid’ dari pada harus menghadapi resiko yang lebih berbahaya.

Ada pun Kun Beng dan Swi Kiat pada saat mendengar percakapan ini, merahlah muka mereka dan dengan mata melotot mereka memandang kepada suhu mereka. Dua orang anak ini sudah mengenal baik kebersihan hati suhu mereka, lalu mengapa suhu-nya kini berkata seperti itu? Sudah miringkah otak guru mereka ini?

Hampir saja Swi Kiat yang berwatak keras ini membuka mulut, akan tetapi tangannya disentuh oleh Kun Beng. Bocah ini masih tidak percaya dan menduga bahwa suhu-nya tentu main-main saja dengan lima orang aneh itu.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai memang betul main-main dan sengaja mengeluarkan ucapan tadi untuk memancing saja. Kini dia memandang kepada murid-murid perempuan yang cantik dan berpakaian mewah itu, lalu menggelengkan kepalanya dan berkata,

“Tidak ada yang cocok! Kembang-kembang ini sudah terpengaruh oleh pelajaran kalian, aku tidak mau. Aku ingin yang masih bersih, yang masih baru. Ehh, Kun-lun Ngo-eng, bukankah kemarin kalian menculik anak perempuan kepala suku bangsa Hui? Di mana dia? Mengapa tidak ada di antara mereka? Coba kau keluarkan yang itu, mungkin cocok menjadi muridku!”

Berubahlah wajah lima orang aneh itu ketika mendengar ini. Mereka tahu bahwa ternyata kakek ini datang untuk mencari perkara. Terdengar Kun-lun Ngo-eng berseru keras dan lima batang pedang dicabut serentak.

“Kau memang mencari mampus!” bentak Pek-eng Sianjin dan segera memimpin empat orang saudaranya menyerang.

Siangkoan Hai tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, terbukalah kedokmu sekarang! Kau kira aku tidak tahu bahwa anak-anak ini sudah terpengaruh oleh racun dan kehilangan kehendak sendiri? Kalian benar-benar iblis yang harus mampus!”

Setelah berkata demikian, dia menggerakkan tombaknya secara luar biasa sekali cepat dan kuatnya sehingga lima orang lawannya mencelat mundur untuk menghindarkan diri dari sambaran hawa pukulan tombak itu!

Belasan orang anak murid Kun-lun Ngo-eng juga serentak bergerak menyerang Kun Beng dan Swi Kiat. Dua orang anak muda ini cepat melawan. Kun Beng mempergunakan tombaknya dan Swi Kiat mempergunakan sepasang kipasnya.

Ternyata bahwa orang-orang muda itu merupakan makanan lunak bagi Kun Beng dan Swi Kiat karena mereka itu hanya pandai beraksi belaka dengan pedang mereka, namun tidak mempunyai ilmu kepandaian yang berarti. Sebentar saja beberapa orang di antara mereka sudah roboh tunggang-langgang. Baiknya dua orang murid Pak-lo-sian ini sudah dipesan oleh suhu mereka supaya tidak menewaskan nyawa lawan, kalau tidak tentulah mereka akan mengamuk, terutama sekali Swi Kiat yang sudah merasa marah sekali.

Ada pun Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sekarang sudah tahu akan rahasia lima orang lawannya yang betul-betul jahat dan merupakan penjahat-penjahat cabul yang berkedok pakaian pendeta, menjadi marah sekali. Permainan tombaknya makin lama makin kuat sehingga lima orang lawannya benar-benar terdesak hebat.

Ilmu pedang mereka memang luar biasa, namun menghadapi jago tua tokoh besar dari utara ini, mereka benar-benar kalah pengalaman, kalah latihan dan juga kalah tenaga. Pak-lo-sian memang mempunyai dasar watak yang amat baik dan berbudi tinggi, namun sekali dia marah, dia bisa berubah menjadi ganas di samping kesombongannya dan sifat yang tidak mau kalah oleh siapa pun juga dalam hal ilmu silat!

Makin lama, gerakan ilmu pedang lima orang Garuda Kun-lun-san itu makin mengendur dan kini mereka berkelahi sambil mundur, masuk ke dalam ruangan depan bangunan itu. Akan tetapi Pak-lo-sian Siangkoan Hai mana mau memberi ampun dan melepaskan lima orang itu?

Dengan ganasnya dia menyerbu terus dan mengejar mereka masuk ke dalam bangunan. Pada saat itu, kakek kate yang sedang marah ini agak kehilangan kewaspadaannya dan dengan nekat dia menyerbu. Niatnya hanya satu, yaitu membasmi kelima orang ini dan membalaskan dendam orang-orang muda yang terjatuh dalam tangan Kun-lun Ngo-eng dan menjadi seperti boneka-boneka hidup itu.

Lima orang Garuda Kun-lun itu tidak kuat menghadapi amukan Siang-koan Hai, maka mereka segera meloncat ke dalam serta menutup pintunya. Sekali ayunkan tombaknya, terdengar suara keras dan pecahlah pintu itu!

Pak-lo-sian Siangkoan Hai menyerbu masuk dan mendadak dari atas turun batu besar menimpa kepalanya! Namun Siangkoan Hai tidak akan mendapat sebutan Dewa Utara dan tidak akan disebut tokoh terbesar di utara kalau dia tidak dapat menghadapi bahaya serangan mendadak ini.

Batu yang beratnya seribu kati itu menimpa kepalanya dari atas secara mendadak dan agaknya tak dapat dielakkan pula. Siangkoan Hai tidak menjadi gugup, bahkan dia hanya mempergunakan tangan kirinya, mendorong batu itu dari samping sehingga batu itu tidak menimpa kepalanya, sebaliknya terlempar ke depan ke arah lima orang lawannya!

Kun-lun Ngo-eng terkejut bukan main. Mereka cepat meloncat mundur sehingga batu itu menimpa lantai dan sambil menerbitkan suara gaduh, lantai itu pecah dan berhamburan! Ketika debu yang tebal itu menipis, Siangkoan Hai tak melihat lawan-lawannya lagi yang sudah melenyapkan diri melalui tirai debu tadi.

“Lima ekor anjing busuk, kalian jangan harap akan dapat melepaskan diri dari tombakku!” bentak Siangkoan Hai yang menjadi makin marah.

Kakek ini lantas meloncat dan menendang roboh pintu terusan sehingga daun pintu itu pecah. Ia tiba di sebuah ruangan yang aneh bentuknya dan yang membuat dia bingung untuk sejenak. Pintu ruangan ini dipasangi cermin sehingga dia melihat bayangannya sendiri di dalam cermin-cemin itu. Tiba-tiba cermin itu terbuka dan dari situ menyambar puluhan anak panah.

Siangkoan Hai hendak memutar tombaknya, akan tetapi tiba-tiba lantai yang diinjaknya merosot turun membawa tubuhnya ke bawah pula! Dia tidak dapat keluar dari kurungan ini, karena semua pintu menyemburkan anak panah, maka terpaksa dia hanya bersiap sedia menghadapi segala bahaya. Lantai yang turun ini akhirnya berhenti dan Siangkoan Hai mendapatkan dirinya terkurung di dalam sumur yang dindingnya terbuat dari pada besi tebal dan keadaan di situ gelap sekali!

Terdengarlah suara orang-orang tertawa, disusul oleh suara Jeng-eng Mo-li yang merdu dan nyaring.

“Siangkoan Hai, kau boleh bertapa di situ sampai mampus. Murid-muridmu akan menjadi murid kami dan sewaktu-waktu kau boleh melihat mereka. Ha-ha-ha!”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai hanya bisa memaki-maki gemas, akan tetapi Kun-lun Ngo-eng sudah pergi meninggalkan tempat itu. Suara tertawa mereka makin lama makin menjauh. Siangkoan Hai memukul-mukulkan tongkatnya di sekitarnya, akan tetapi yang nampak hanya bunga api berpijar. Dia benar-benar tidak berdaya lagi! Dewa Utara yang gagah perkasa itu kini seperti seekor naga yang terkurung dan tidak berdaya keluar.

Kun Beng dan Swi Kiat masih mengamuk di halaman depan dan kini para murid Kun-lun Ngo-eng yang berpakain mewah itu telah dibikin kocar-kacir.

“Suheng, jangan berlaku kejam kepada mereka. Kulihat mereka ini seperti orang-orang mabuk.” Berkali-kali Kun Beng memperingatkan suheng-nya.

Kalau sudah marah, Swi Kiat tidak peduli lagi kepada orang lain dan tidak kenal kasihan. Di sana-sini nampak tubuh para murid itu bergelimpangan, mengerang kesakitan karena pukulan dan tendangan dua orang muda itu.

Tiba-tiba muncul lima orang aneh yang tadi bertempur dengan Siangkoan Hai. Melihat mereka, Kun Beng dan Swi Kiat menjadi pucat, karena munculnya lima orang ini berarti bahwa suhu mereka tentu telah mengalami bencana.

“Di mana Suhu-ku?” seru Swi Kiat sambil melompat ke tempat mereka.

Pek-eng Sianjin tertawa bergelak, dan Ui-eng Suthai menghampiri Swi Kiat, memandang tajam dengan mata kagum.

“Kau benar-benar gagah, orang muda,” katanya.

Ada pun Jeng-eng Mo-li juga melompat ke depan Kun Beng, mengulurkan tangan untuk meraba pipi pemuda itu. Kun Beng mengelak, akan tetapi dia kalah cepat dan pipinya telah disentuh oleh wanita berpakaian hijau ini.

“Kau tampan sekali,” kata Jeng-eng Mo-li.

Melihat sikap mereka, Kun Beng tak dapat menahan sabar lagi dan mencabut tombaknya yang tadi sudah disimpan. Apa lagi Swi Kiat. Dengan muka merah dan dada berombak, pemuda cilik ini mengeluarkan kipasnya dan serentak menyerang Ui-eng Suthai yang berada di depannya. Juga Kun Beng segera mengerjakan tombaknya untuk menyerang Jeng-eng Mo-li sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

“Bagus, pemuda yang tampan dan gagah, memiliki kepandaian yang berisi juga!” berkata Ui-eng Suthai sambil mengelak dari serangan Swi Kiat.

“Benar, Suci (Kakak Seperguruan). Pemuda yang ini pun ilmu tombaknya tidak tercela. Benar-benar pemuda yang menawan hati!” Jeng-eng Mo-li berkata sambil terus tertawa ha-ha-hi-hi dan menghadapi Kun Beng dengan tangan kosong.

Memang, kepandaian Swi Kiat dan Kun Beng sudah tinggi dan boleh dibilang luar biasa kalau dibandingkan dengan pemuda-pemuda yang sebaya dengan mereka. Akan tetapi kini mereka menghadapi dua orang tokoh kang-ouw yang selain memiliki kepandaian tinggi, juga sudah matang pengalamannya.

Beberapa jurus kemudian, setelah menghindarkan diri dari serangan dua orang pemuda itu tanpa membalas sedikit pun, Ui-eng Suthai lalu mencabut keluar sehelai sapu tangan kuning dari saku bajunya dan sekali ia mengebutkan sapu tangan itu ke arah muka Swi Kiat, pemuda ini mencium bau yang amat wangi dan yang membuatnya lemas dan pening. Tak tertahankan lagi dia terhuyung-huyung dan roboh pingsan di dalam pelukan Ui-eng Suthai!

Hampir berbareng, Jeng-eng Mo-li juga mengebutkan sapu tangannya yang berwarna hijau dan juga Kun Beng roboh pingsan dalam pelukannya. Sambil tertawa-tawa dengan pipi menjadi merah, kedua orang wanita cabul ini lalu memondong tubuh korban mereka dan membawanya lari ke dalam, diikuti pandangan mata tiga orang saudara seperguruan mereka yang tersenyum-senyum geli. Demikianlah perangai Kun-lun Ngo-eng yang bejat moralnya!

Tertawannya Pak-lo-sian Siangkoan Hai, menimbulkan kemarahan besar pada Kun-lun Sam-lojin. Mereka menganggap bahwa kini Kun-lun Ngo-eng berlaku keterlaluan sekali. Kun-lun Sam-lojin mengenal Pak-lo-sian sebagai tokoh besar di dunia kang-ouw, dan jika sekarang orang tua itu sampai mendapat celaka di Kun-lun-san, bukankah itu membuat buruk nama Kun-lun-pai?

“Mereka sudah terlalu berani. Apa bila didiamkan saja, akhirnya kita jugalah yang akan mendapatkan nama buruk. Kejahatan merajalela di depan mata, apakah kita harus diam saja?” berkata Seng Giok Siansu, orang termuda dari Kun-lun Sam-lojin. Memang orang termuda dari Kun-lun Sam-lojin ini beradat paling keras di antara saudara-saudaranya.

“Habis apakah yang harus kita lakukan? Twa-suheng Seng Thian Siansu melarang kita mencampuri urusan mereka dan mencari permusuhan. Apa bila kita turun tangan, tentu twa-suheng marah sekali,” kata Seng Te Siansu hati-hati.

“Memang sukar,” kata Seng Jin Siasu, “menurutkan twa-suheng dan tinggal peluk tangan saja, hati dan pribadi tidak mengijinkan. Jika menyerbu Kun-lun Ngo-eng dan melanggar larangan twa-suheng, berarti pembangkangan terhadap saudara tua. Akan tetapi, kurasa lebih baik kita melanggar larangan dari pada melanggar peri kemanusiaan dan kewajiban sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi peri kebajikan! Sekarang twa-suheng lagi bersiulian (bersemedhi) dan tidak mungkin diganggu. Bagaimana kalau diam-diam kita pergi ke sana dan mengusir orang-orang jahat sambil menolong Pak-lo-sian? Kalau kelak twa-suheng marah, biarlah kita beramai mohon maaf dan memberi alasan yang tepat.”

Akhirnya dua orang saudaranya menyetujui, dan berangkatlah mereka bertiga menyerbu bangunan besar tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng. Terjadi pertempuran amat hebat antara Kun-lun Ngo-eng dan Kun-lun Sam-lojin. Akan tetapi, ternyata bahwa ilmu pedang dari Kun-lun Ngo-eng lihai sekali dan jumlah mereka juga lebih besar.

Dalam pertempuran mati-matian, Seng Giok Siansu, orang ketiga dari Kun-lun Sam-lojin akhirnya roboh lantas tewas oleh jarum dari Ui-eng Suthai yang disebut Toat-beng-ciam (Jarum Pencabut Nyawa). Ada pun dua orang tokoh Kun-lun-pai yang lain, yaitu Seng Te Siansu dan Seng Jin Siansu, terluka dan dapat ditawan!

Sesudah terjadi peristiwa yang hebat ini, barulah Seng Thian Siansu keluar dari tempat pertapaannya dan turun gunung. Dia memaksa diri biar pun tubuhnya sudah tua serta lemah, dan berniat hendak mengadu nyawa dengan Kun-lun Ngo-eng. Agaknya, biar pun kepandaiannya lihai, kakek yang sudah amat tua ini akan menghadapi bencana di depan bangunan tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng. Baiknya di tengah jalan dia bertemu dengan Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu!

Mendengar penuturan kakek tua renta itu, Ang-bin Sin-kai menjadi marah sekali.

“Locianpwe, mereka itu sungguh-sungguh jahat dan layak sekali dibasmi. Kiranya tidak perlu Locianpwe sendiri yang mengotorkan tangan, biar teecu mewakili Locianpwe untuk membereskan persoalan ini, menolong Pak-lo-sian serta sute-sute dari Locianpwe,” kata Ang-bin Sin-kai.

“Terima kasih, Ang-bin Sin-kai, terima kasih. Apa bila bukan engkau yang mengajukan penawaran membantu, agaknya aku takkan percaya dan terpaksa turun tangan sendiri, meski tenagaku sudah lemah. Akan tetapi aku pecaya penuh padamu dan kau wakililah aku. Kelak sebelum mati mungkin sekali aku akan dapat meninggalkan sesuatu bagimu.”

Ang-bin Sin-kai tersenyum, lalu menoleh kepada Kwan Cu. “Kwan Cu, kau mendengar sudah bahwa Locianpwe hendak memberi hadiah sesuatu. Kelak kalau ada kesempatan, kau wakililah gurumu menerima hadiah itu.”

Sesudah itu, Ang-bin Sin-kai memberi hormat kepada Seng Thian Siansu, lalu mengajak muridnya cepat-cepat menuju ke tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng…..

********************

Pada saat siuman kembali, Kun Beng mendapatkan dirinya sedang rebah di atas sebuah pembaringan yang ditilami dengan kain sutera hijau. Pembaringan itu indah sekali dan bantalnya disulam benang emas, berbau harum sekali. Kamar itu pun sangat indahnya, dihiasi dengan dinding yang dipenuhi gambar-gambar pemandangan dan bunga, dengan perabot-perabot yang serba mahal dan indah seperti kamar seorang puteri bangsawan.

Semua ini masih belum mengherankan hati Kun Beng yang masih merasa pening. Akan tetapi ketika mendengar suara ketawa merdu di dekatnya dan dia menengok, serentak dia melompat turun dari pembaringan kemudian berdiri di atas lantai. Ternyata bahwa di dekatnya tadi duduk Jeng-eng Mo-li yang tertawa-tawa manis kepadanya.

Perempuan ini sekarang tak kelihatan galak lagi, melainkan telah berhias dengan bedak dan gincu tebal. Lagaknya tersenyum-senyum dengan mata melirik-lirik itu benar-benar membuat Kun Beng merasa bulu tengkuknya berdiri dan muak sekali. Pemuda yang baru menjelang dewasa ini masih belum paham akan segala kemesuman perempuan cabul seperti Jeng-eng Mo-li, akan tetapi dia telah dapat merasakan dan mengerti akan sikap perempuan itu dan karenanya dia merasa muak sekali.

Seketika itu juga teringatlah dia akan semua peristiwa yang terjadi dan tahulah dia bahwa dia telah tertawan dan dibawa ke kamar perempuan rendah ini. Wajahnya menjadi merah sekali saking jengah dan marahnya.

“Anak yang baik, kau telah berada disini. Berlakulah manis kepadaku dan kau akan hidup sebagai seorang pangeran di tempat ini,” kata Jeng-eng Mo-li dengan suara dibuat-buat agar terdengar menarik merdu.

“Siluman jahat!” Kun Beng membentak.

Pemuda ini hendak melompat keluar dari kamar itu. Akan tetapi, baru saja tiba di pintu, lengan kanannya telah ditangkap oleh Jeng-eng Mo-li dan perempuan itu menariknya kembali ke dalam kamar.

“Kalau kau keluar, kau akan menjumpai maut. Di luar menanti kematian dan di dalam kamar kau akan hidup penuh kesenangan,” kata Jeng-eng Mo-li dengan suara bernada membujuk.

“Anjing hina-dina, lebih baik aku mati!” seru Kun Beng dan kali ini pemuda ini mengayun tangan kanan memukul ke arah kepala Jeng-eng Mo-li!

Akan tetapi, dengan mudah saja Jeng-eng Mo-li miringkan kepala mengelak dari pukulan ini. Bahkan sekali menggerakkan tangan, dia telah bisa menangkap pergelangan tangan Kun Beng dan sebelum pemuda itu sempat bergerak, lengan kedua sudah ditangkap pula sehingga Kun Beng sama sekali tidak berdaya lagi!

“Bodoh, kau menurutlah saja. Aku sangat sayang kepadamu karena kau lain dari pada pemuda-pemuda yang lemah itu. Kalau kau mau berlaku manis dan tidak membandel, kau akan kujadikan pangeran di antara mereka semua dan kau tidak usah diberi minum arak pembius. Kau lihat, orang-orang muda yang berada di sini dipaksa dengan minum obat sehingga mereka seperti boneka hidup. Aku tidak suka akan boneka-boneka hidup, aku ingin seorang kekasih yang betul-betul suka kepadaku. Nah, berlakulah manis, kau tentu akan hidup bahagia di sini.”

Namun, sebagai jawaban atas bujukan ini, kaki Kun Beng bergerak-gerak cepat sekali dan tahu-tahu dia telah mengirim tendangan yang amat kuat dan berbahaya sekali bagi keselamatan Jeng-eng Mo-li! Karena Jeng-eng Mo-li sedang memegangi kedua tangan Kun Beng dengan dua tangannya sendiri, maka tendangan yang tiba-tiba dan datangnya dari jarak dekat ini tak dapat ditangkis.

Terpaksa dia melepaskan pegangannya dan melompat mundur. Namun Kun Beng yang sudah menjadi marah dan benci sekali kepada perempuan ini, cepat menyambar meja di depannya dan dengan meja di tangan, dia menyerang Jeng-eng Mo-li dengan hebatnya!

“Bocah tak kenal budi!” Jeng-eng Mo-li membentak keras karena dia pun merasa jengkel sekali menghadapi pemuda yang nekat ini.

Dengan sebuah bangku di tangan, dia menangkis serangan Kun Beng dan terdengarlah suara keras ketika meja dan bangku beradu. Patah-patah kaki meja yang dipegang Kun Beng dan pemuda ini sendiri terlempar oleh benturan pukulan ini. Namun Kun Beng tidak takut dan dia melangkah maju lagi dengan kedua tangan terkepal, siap untuk menyerang dan melawan mati-matian.

Kalau saja Kun Beng tidak memiliki wajah yang tampan dan yang menarik hati Jeng-eng Mo-li, tentu perempuan ini telah menggunakan kepandaian untuk membunuhnya. Meski Jeng-eng Mo-li merasa amat tersinggung dan juga kecewa, akan tetapi ia masih sayang kepada pemuda ini. Maka, ketika Kun Beng menyerbu lagi, cepat ia mengebutkan sapu tangan hijaunya dan robohlah Kun Beng untuk kedua kalinya!

Sama halnya dengan Kun Beng, di kamar lain Swi Kiat sedang digoda dan dibujuk oleh Ui-eng Suthai. Pemuda yang berangasan ini memaki-maki dan memberontak sehingga terpaksa Ui-eng Suthai menotoknya dan memberinya minum semacam arak yang sudah dicampur dengan bisa yang amat luar biasa.

Bisa ini seketika itu juga membuat lumpuh semangat dan menutup semua pikiran hingga Swi Kiat seakan-akan menjadi boneka hidup yang hanya mempunyai satu maksud, yakni menurut serta mentaati segala kehendak dan perintah yang dikeluarkan Ui-eng Suthai! Namun sebelum Swi Kiat berada dalam keadaan lumpuh itu, satu pikiran terkandung di dalam otaknya, yakni pikiran membenci perempuan karena dia merasa muak dan benci kepada semua lagak dan kelakuan Ui-eng Suthai.

Ada pun Pak-lo-sian Siangkoan Hai orang aneh yang wataknya juga luar biasa sekali itu, setelah mendapat kenyataan bahwa dia tidak dapat keluar dari sumur kering, bukannya menjadi gelisah atau bingung. Sehabis memaki-maki Kun-lun Ngo-eng dengan kata-kata kotor, bahkan dia lalu bernyanyi-nyanyi dengan suara keras sehingga gemanya keluar dari sumur dan terdengar sampai jauh dari bangunan besar itu! Akan tetapi, tidak lama kemudian suaranya tidak terdengar lagi, agaknya orang tua ini telah tidur pulas. Betulkah Siangkoan Hai dapat tidur dalam keadaan seperti itu?

Sama sekali tidak! Kakek yang aneh ini ketika bergerak-gerak dan meraba-raba di dalam sumur kering, tiba-tiba tangannya menyentuh tulang-tulang manusia. Ketika dia meraba terus, ternyata bahwa tulang-tulang itu masih utuh, bahkan ada pula tengkoraknya. Dan di tangan rangka manusia ini, dia mendapatkan selembar benda terbuat dari pada kulit.

Siangkoan Hai mengambil benda itu, kemudian disimpannya pada saku bajunya, hendak diselidikinya apa bila dia dapat keluar dari kurungan itu. Ia percaya penuh bahwa tentu suara nyanyiannya yang keras dapat terdengar oleh orang-orang gagah yang berada di Kun-lun-san, maka setelah menyimpan benda itu, kembali dia bernyanyi-nyanyi keras.

Kakek ini tidak merasa khawatir karena menghadapi kepandaian Kun-lun Ngo-eng, dia tak usah takut. Mereka berlima tidak dapat mengganggunya walau pun dia telah tertawan di dalam sumur.

Ada pun soal makan, Pak-lo-sian Siangkoan Hai ini adalah seorang yang aneh. Pernah dia tidak makan sampai sebulan lamanya dan sekali dia ‘membuka puasanya’ dia dapat menghabiskan belasan kati daging dan beberapa guci arak besar! Selama dia sanggup mempertahankan diri, tentu akan datang orang gagah menolongnya, pikir kakek ini.

Tidak seperti Ui-eng Suthai yang sudah tidak sabar lagi dan terus saja memberi minum arak pembius kepada Swi Kiat, Jeng-eng Mo-li masih merasa sayang kepada Kun Beng. Bila pemuda ini siuman, beberapa kali dia membujuk dengan kasar dan halus, kemudian membuat pemuda ini pingsan kembali dengan kebutan sapu tangan hijaunya. Namun, Kun Beng berjiwa gagah dan bersemangat pendekar, mana dia sudi menuruti kehendak perempuan cabul yang berjiwa kotor itu?

“Kau benar-benar bandel dan agaknya kau lebih suka menjadi seekor anjing hidup!” kata Jeng-eng Mo-li marah dan jengkel sekali.

Ia keluar dari kamar dan tak lama kemudian ia datang kembali diikuti oleh seorang gadis muda yang cantik dan seorang pemuda yang tampan, akan tetapi wajah dua orang muda ini pucat dan sinar matanya lenyap seakan-akan tidak bercahaya lagi.

Melihat mereka ini, Kun Beng bergidik karena kini dia pun maklum bahwa yang dianggap murid-murid Kun-lun Ngo-eng, tidak tahunya hanyalah orang-orang muda yang berada di bawah pengaruh obat pembius sehingga mereka ini lebih tepat disebut boneka-boneka hidup!

Jeng-eng Mo-li berkata kepada Kun Beng,

“Anak bodoh, kau lihat ini. Sukakah kau menjadi seperti mereka?” Kemudian wanita jahat itu menoleh kepada sepasang pemuda-pemudi yang berdiri seperti patung di situ, sambil memandang tajam dan membentak keras,

“Kalian berdua sekarang menjadi anjing. Hayo merayap di atas empat kakimu!”

Sesudah mendengar ucapan ini, dua orang muda itu segera berlutut dan merangkak-rangkak memutari kamar itu bagaikan dua ekor anjing jantan dan betina! Sambil tertawa genit Jeng-eng Mo-li kemudian mengambil dua potong kue dari atas meja yang tadinya dipergunakan untuk membujuk dan menjamu Kun Beng, melemparkan dua potong kue itu di atas lantai dan berkata lagi,

“Makan kue itu seperti anjing makan, pergunakan mulutmu!” Dan benar saja, dua orang muda itu lalu makan kue itu seperti dua ekor anjing saja!

“Keluar dari sini!” Jeng-eng Mo-li membentak dan berlarilah keluar dua orang muda itu seperti anjing-anjing dipukul!

Menyaksikan pertunjukan yang hebat ini, Kun Beng menjadi pucat sekali dan segera mukanya berubah merah.

“Perempuan iblis, kau harus mampus!” Sambil berkata demikian, pemuda ini melompat dan menerkam Jeng-eng Mo-li, hendak mencekik leher perempuan jahat ini.

Akan tetapi memang kepandaiannya kalah jauh, beberapa gebrakan saja dia telah kena ditotok jalan darahnya dan tak dapat berkutik lagi. Jeng-eng Mo-li kini sudah marah sekali dan habis kesabarannya.

“Kalau kau tidak mau menurut kepadaku, baik! Kau akan menjadi boneka hidup!”

Setelah berkata demikian, dia lalu mengambil sebotol arak berwarna hitam dan ketika dia membuka tutup botol itu, bau yang keras sekali memenuhi kamar. Dia menghampiri Kun Beng yang sudah di atas pembaringan tak dapat bergerak lagi dan hendak menuangkan isi botol ke dalam mulut pemuda itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras dari luar kamar.

“Perempuan iblis!”

Dan menyambarlah angin pukulan yang demikian kerasnya sehingga ketika Jeng-eng Mo-li mengelak, botol di tangannya itu terpukul oleh angin pukulan dan terlepas dari pegangan! Botol itu jatuh pecah di atas lantai, dan bau yang keras itu makin menghebat.

Jeng-eng Mo-li terkejut sekali karena suara itu adalah suara Pak-lo-sian Siangkoan Hai! Dia cepat melompat keluar kamar dari pintu rahasia. Pak-lo-sian Siangkoan Hai tidak mempedulikannya, sebaliknya lebih dulu membebaskan muridnya dari pengaruh totokan, kemudian dia mengajak Kun Beng melompat keluar.

Bagaimanakah Pak-lo-sian dapat keluar dari sumur kering dan dapat menolong Kun Beng pada saat yang amat tepat? Mudah diduga bahwa ini tentulah hasil usaha Ang-bin Sin-kai, akan tetapi sesungguhnya bukan hasil kerja kakek sakti ini, melainkan muridnya yang menolong Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, dengan cepat sekali Ang-bin Sin-kai dan muridnya berlari cepat menuju ke tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng atau Lima Garuda dari Kun-lun-san itu. Tak seperti Siangkoan Hai yang menantang dari depan, Ang-bin Sin-kai mengambil jalan dari atas! Dia sudah dapat menduga bahwa orang seperti Pak-lo-sian itu kalau sampai kalah, tentu di situ terdapat tempat-tempat rahasia dan jebakan-jebakan.

Dia memegang tangan Kwan Cu dan mengajak muridnya melayang naik ke atas pagar tembok yang tinggi. Kemudian, dengan menggenjotkan sebelah kaki ke atas tembok, dia dapat melompat terus genteng dengan gerakan sedemikian ringannya sehingga sedikit pun tidak terdengar oleh orang-orang yang berada di bawah.

Dalam percakapan dengan Seng Thian Siansu, Ang-bin Sin-kai sudah mendengar bahwa di dalam bangunan itu, orang-orang yang berbahaya hanyalah Kun-lun Ngo-eng saja, sedangkan para ‘murid-muridnya’ tidak memiliki kepandaian berarti.

“Kwan Cu, kau lihat baik-baik. Pada saat aku sudah di keroyok oleh lima orang Kun-lun Ngo-eng itu, kau baru boleh turun dan segera cari orang-orang yang perlu ditolong,” kata pengemis sakti itu kepada muridnya.

Kemudian, guru dan murid ini sampai di tengah-tengah bangunan itu di mana terdapat sebuah ruangan di bawahnya. Mereka melihat tiga orang laki-laki tua dan seorang wanita setengah tua yang cantik dan genit duduk menghadapi meja dan sedang makan minum dengan senangnya.

Mereka ini adalah Pek-eng Sianjin, Ang-eng Sianjin, dan Hek-eng Sianjin sedangkan yang perempuan adalah Ui-eng Suthai. Ada pun Jeng-eng Mo-li tidak kelihatan karena wanita busuk ini sedang membujuk dan mengancam Kun Beng di dalam kamarnya sendiri!

Mereka ini dilayani oleh anak-anak muda laki-laki dan perempuan yang bergerak seperti patung hidup. Kwan Cu terkejut sekali ketika melihat Swi Kiat berada di antara para anak muda yang melayani empat orang tokoh jahat itu. Seperti anak-anak muda yang lain, Swi Kiat juga berwajah pucat dan pandang matanya tak bersinar.

Tadinya Ang-bin Sin-kai hendak menunggu sampai lima tokoh jahat itu berkumpul semua supaya dia dapat menyerang mereka dan memberi kesempatan kepada muridnya untuk menolong Pak-lo-sian, murid-muridnya, dan lain orang yang ditawan di situ. Akan tetapi saat kakek pengemis ini menyaksikan keadaan orang-orang muda itu, seketika mukanya menjadi merah padam dan alisnya berdiri. Kemarahannya memuncak, karena kakek ini mengerti apakah yang menimpa pada diri anak-anak muda itu!

Pada saat Ang-bin Sin-kai yang sudah marah sekali itu hendak turun tangan, tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dan juga amat ringannya, kemudian disusul oleh suara orang menyuling lagu kuno yang indah!

“Hang-hong-siauw Yok-ong datang...,” Ang-bin Sin-kai berkata perlahan pada muridnya. Kemudian dia berkata kepada bayangan yang datang itu.

“Yok-ong (Raja Obat), kebetulan sekali kau datang. Banyak pekerjaan mulia untukmu!” Setelah berkata demikian, dengan hati girang dan besar, Ang-bin Sin-kai melompat turun dan segera melayang ke atas meja di tengah ruangan itu.

Ketika tadi mendengar suara suling dari Hang-hong-siauw Yok-ong, empat orang tokoh Kun-lun Ngo-eng itu terkejut sekali dan masing-masing melompat bangun dari tempat duduknya, apa lagi ketika mereka mendengar suara Ang-bin Sin-kai yang belum mereka kenal.

Tentu saja mereka amat kaget ketika mendengar suara orang di atas ruangan. Bagai mana ada orang bisa berada di atas genteng tanpa mereka dengar sama sekali suara kakinya? Padahal mereka rata-rata memiliki pendengaran yang amat tajam!

Oleh karena itu, dapat dibayangkan alangkah hebat kekagetan mereka ketika tiba-tiba bertiup angin kencang dibarengi berkelebatnya bayangan manusia dan tahu-tahu di atas meja yang mereka hadapi tadi, kini telah berdiri seorang kakek pengemis yang rambut dan jenggotnya panjang dan pakaiannya tidak karuan macamnya. Ketika dari atas, kakek ini melayang ke atas meja dan kini berdiri di atas dua buah mangkok sayur, memandangi masakan-masakan di atas meja sambil tersenyum-senyum lalu berkata mengejek,

“Masakan busuk... aku tidak doyan...!”

Pek-eng Sianjin tahu bahwa tempat tinggalnya kedatangan orang pandai yang tentu telah mengetahui akan semua peristiwa yang belum lama terjadi. Memang dia sudah merasa tidak enak sekali dengan tertawannya Pak-lo-sian dan juga Kun-lun Sam-lojin, dan tentu saja dia dapat menduga bahwa kedatangan kakek pengemis ini tentu ada hubungannya dengan orang-orang kang-ouw yang tertawan itu.

Maka dia lalu memberi tanda rahasia kepada tiga orang saudaranya dan serentak empat orang ini mengepung serta menyerang tubuh Ang-bin Sin-kai yang masih berdiri di atas meja dengan kedua kaki di atas mangkok. Yang diserang hanya menggerakkan kedua kakinya dengan sangat tenang dan melayanglah empat buah mangkok berisi sayuran ke arah empat penyerangnya!

Ketika Pek-eng Sianjin dan ketiga orang saudaranya melihat mangkok melayang ke arah mereka, cepat mereka memukul dengan pedang dan alangkah kaget hati mereka ketika telapak tangan mereka terasa sakit dan panas walau pun mangkok-mangkok itu berhasil dipukul pecah.

Mereka mendesak maju dan mengurung meja. Tetapi dengan mangkok-mangkok di atas meja, Ang-bin Sin-kai melayani mereka dengan cara menendangi mangkok-mangkok itu ke arah empat pengeroyoknya.

Sementara itu, Hang-hong-siauw Yok-ong juga melayang turun, akan tetapi raja obat ini sama sekali tidak ikut bertempur. Bahkan dia tertawa geli melihat cara Ang-bin Sin-kai melayani keempat orang lawannya. Untuk beberapa lamanya Hang-hong-siauw Yok-ong menonton sambil tertawa-tawa.

Kemudian dia menotok roboh semua orang muda yang tadi melayani Pek-eng Sianjin dan saudara-saudaranya. Tubuh para orang muda itu oleh Yok-ong dikumpulkan di sudut ruangan yang lebar itu, dibaringkan saja berjajar di atas lantai, lalu dia mencari-cari lagi anak-anak muda lainnya yang memang banyak terculik oleh lima orang jahat itu.

Setelah melihat suhu-nya dikeroyok oleh empat orang lawan di dalam ruangan itu, Kwan Cu lalu melompat turun ke bagian belakang. Tugasnya ialah menolong orang-orang yang tertawan di situ, akan tetapi di manakah tempat untuk menyimpan para tawanan?

Ketika dia tengah mencari, tiba-tiba dia mendengar suara orang bernyanyi. Ia mengenal suara Pak-lo-sian Siangkoan Hai, maka cepat-cepat dia menghampiri tempat dari mana suara itu datang, yakni dari dalam sebuah sumur yang amat dalam dan gelap.

“Pak-lo-sian Locianpwe...!” Kwan Cu memanggil dari atas sumur.

Suara nyanyian itu berhenti dan tak lama kemudian terdengar suara tertawa.

“Ha-ha-ha, bocah gundul. Bukankah kau murid Ang-bin Sin-kai? Lekas kau cari tambang yang panjang dan masukkan ujungnya ke dalam sumur. Ujung yang lain kau ikatkan saja kepada tiang agar aku dapat naik!”

“Baik, Locianpwe, tunggulah sebentar.”

Kwan Cu lalu berlari-lari ke belakang untuk mencari tambang yang cukup panjang. Dia bertemu dengan beberapa ‘murid’ Kun-lun Ngo-eng yang segera menyerangnya. Akan tetapi, sebetulnya para murid ini hanya mengerti ilmu silat kembangan saja dan mereka itu bertempur bagai orang-orang yang digerakkan oleh mesin, maka sebentar saja Kwan Cu sudah dapat meloloskan diri dari kepungan.

Anak gundul yang cerdik ini dapat melihat sikap mereka yang aneh, maka dia menjadi curiga dan tidak mau memukul atau merobohkan mereka, hanya menangkis saja yang membuat mereka terpental mundur. Akhirnya Kwan Cu dapat menemukan tambang yang panjang dan cepat dia membawa tambang itu ke tempat di mana terdapat sumur tadi.

“Locianpwe, tangkap tambang!” serunya ke dalam sumur sambil mengulur tambang itu ke dalam sumur yang amat gelap itu.

Kwan Cu tidak mengikatkan ujung tambang pada tiang, kan tetapi memeganginya dan membelit-belitkan pada dua tangannya. Tak lama kemudian tambang itu bergerak-gerak dan dengan cepatnya tubuh Pak-lo-sian Siangkoan Hai merayap naik melalui tambang bagaikan seekor kera saja.

Ketika tiba di atas dan melihat betapa tambang itu dipegangi oleh Kwan Cu, Pak-lo-sian tertawa memuji. Akan tetapi Kwan Cu berkata,

“Cepat, Locianpwe, teecu mendengar suara Kun Beng memaki-maki di kamar belakang sebelah kiri. Agaknya dia dalam bahaya!”

Memang pada waktu mencari tambang tadi, Kwan Cu mendengar suara Kun Beng yang sedang memaki-maki Jeng-eng Mo-li. Bocah gundul ini tidak berani menolong karena dia dapat menduga bahwa orang kelima dari Kun-lun Ngo-eng sangat boleh jadi berada di kamar itu dan dia maklum bahwa kepandaiannya sendiri masih jauh untuk menghadapi lawan tangguh.

Mendengar ini, Pak-lo-sian Siangkoan Hai segera melompat dan lenyap dari situ. Seperti sudah dituturkan di bagian depan, dengan tepat sekali Pak-lo-sian Siangkoan Hai dapat menyelamatkan Kun Beng dari bahaya terkena obat bius yang amat berbahaya. Ada pun Jeng-eng Mo-li setelah berlari keluar dan melihat empat orang saudaranya mengeroyok Ang-bin Sin-kai namun kelihatan amat terdesak, segera membantu.

“Ha-ha-ha! Kini lengkap Kun-lun Ngo-mo (Lima Iblis Kun-lun-san)! Bagus, bagus!” Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai menggerakkan kakinya.

Terdengar teriakan kaget dan tubuh Ui-eng Suthai terlempar ke arah Yok-ong yang kini berada di sudut, menjaga orang-orang muda yang semua telah ditotoknya dan sekarang dibaringkan berjajar di atas lantai, belasan orang jumlahnya.

Sambil meniup sulingnya, Yok-ong semenjak tadi menonton pertandingan antara Ang-bin Sin-kai dikeroyok lima orang. Nampaknya dia gembira sekali dan sulingnya ditiup keras, menyanyikan lagu perang sehingga sesuai sekali dengan jalannya pertempuran. Karena inilah maka Ang-bin Sin-kai merasa mendongkol sekali dan sengaja menendang seorang lawannya ke arah Yok-ong.

Melihat tubuh wanita jahat itu melayang ke arahnya, Yok-ong tidak menghentikan suara sulingnya. Dia hanya mengangkat kaki kirinya dan sekali mendupak, tubuh Ui-eng Suthai telah dikirim kembali ke tengah medan pertempuran!

Pak-lo-sian Siangkoan Hai sebelum membawa Kun Beng ke tempat itu, terlebih dahulu menolong dan membebaskan Seng Te Siansu dan Seng Jin Siansu, dua orang tokoh Kun-lun-pai yang ditawan di dalam sebuah kamar besi. Kemudian beramai-ramai mereka menuju ke ruang tengah di mana terjadi pertempuran antara Ang-bin Sin-kai dikeroyok lima.

Pak-lo-sian marah sekali ketika mendengar dari Kun Beng mengenai kejahatan Kun-lun Ngo-eng. Apa lagi ketika tiba di ruang itu dia melihat muridnya yang pertama, Swi kiat, rebah bersama orang-orang muda lain dengan muka pucat.

“Harus kubikin mampus kelima Kun-lun Ngo-eng!” katanya penuh geram.

Ang-bin Sin-kai yang sedang mempermainkan lima orang lawannya kebetulan sekali bisa melihat betapa Pak-lo-sian Siangkoan Hai masuk melalui sebuah pintu, diikuti oleh Kun Beng dan dua orang kakek Kun-lun-pai. Kakek pengemis ini segera berkata,

“Hee, Pak-lo-sian, mari kau ikut main-main!” serunya dan kembali seorang pengeroyok, kini Hek-eng Sianjin, terlempar tubuhnya terkena dorongannya.

Tubuh Hek-eng Sianjin berputar-putar di tengah udara dan melayang menuju ke tempat Pak-lo-sian Siangkoan Hai berdiri. Kakek sakti dari utara yang telah merasa amat gemas dan marah kepada lima orang jahat itu, mengulur tangan kanannya. Sekali sambar dia sudah dapat menangkap leher Hek-eng Sianjin.

“Mampuslah kau!” serunya dan tubuh itu dia lemparkan ke arah dinding.

Terdengar suara keras ketika kepala Hek-eng Sianjin pecah beradu dengan dinding batu yang keras itu. Tubuhnya menggeletak di bawah tembok dan darah mengalir membasahi lantai.

Yok-ong menghentikan tiupan sulingnya dan berkata memuji,

“Memang begitulah seharusnya menghukum orang jahat. Kalau tidak dihabiskan jiwanya, iblis yang mengeram di dalam tubuhnya tak akan mau pergi!”

Namun baru saja dia menutup mulutnya, Ang-bin Sin-kai telah menangkap lengan Ui-eng Suthai yang ternyata masih dapat mengeroyok juga sesudah tadi digunakan sebagai bal oleh Yok-ong dan Ang-bin Sin-kai, kemudian sambil membetot dia melemparkan tubuh Ui-eng Suthai ke arah Yok-ong!

“Ini bagianmu!” seru Ang-bin Sin-kai lantang.

“Eh, eh, ehh, aku tidak biasa menghancurkan kepala orang!” kata Yok-ong gugup karena tidak tersangka bahwa dia harus menewaskan seorang di antara Kun-lun Ngo-eng.

Dia seorang Raja Obat, kesukaannya menyembuhkan orang sakit dan mencegah orang tercengkeram dan dibawa oleh Giam-lo-ong (Raja Maut). Bagaimana ia bisa membunuh orang? Maka setelah tubuh Ui-eng Suthai itu melayang ke dekatnya, dia lalu mendorong kembali sehingga tubuh wanita itu terpental ke arah Pak-lo-sian Siangkoan Hai.....

Pak-lo-sian Siangkoan Hai dapat menduga bahwa muridnya, yaitu Swi Kiat, pasti menjadi korban perempuan ini karena perempuan kedua Kun-lun Ngo-eng, yakni Jeng-eng Mo-li, dilihatnya tadi menggoda Kun Beng. Maka marahnya tidak dapat dikendalikan lagi dan melihat perempuan ini, dia pun mengangkat kaki kanannya menendang ke arah lambung Ui-eng Suthai.

Wanita ini menjerit ngeri. Tubuhnya terlempar ke arah dinding, terbentur keras dan roboh di atas tubuh Hek-eng Sianjin dalam keadaan tidak bernyawa pula. Yang membunuhnya adalah tendangan tadi karena Pak-lo-sian tak mau berlaku kepalang tanggung dan telah mengerahkan seluruh tenaga dalam tendangannya. Karena itu, mana Ui-eng Suthai kuat menahan tendangan itu?

Sesudah menewaskan dua orang jahat itu, Pak-lo-sian Siangkoan Hai menjadi semakin buas. Dia memang paling benci kepada orang-orang jahat, apa lagi setelah dia melihat keadaan orang-orang muda itu, terutama sekali keadaan muridnya yang disayanginya.

Sambil mengeluarkan seruan keras dia melompat maju dan menyerang tiga orang lain yang masih dipermainkan oleh Ang-bin Sin-kai. Bagaimana tiga orang itu dapat bertahan menghadapi serangannya? Sedangkan hanya menghadapi Ang-bin Sin-kai seorang saja mereka sudah menjadi sibuk dan terdesak hebat. Kini Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang kepandaiannya setingkat dengan Ang-bin Sin-kai ikut pula menyerbu, tentu saja mereka tak dapat mempertahankan diri lagi.

Jeng-eng Mo-li yang mula-mula menjadi korban dari kipas hitam di tangan Pak-lo-sian. Kipas ini menyambar bagaikan seekor burung gagak liar, dan meski pun Jeng-eng Mo-li berusaha sedapat mungkin untuk menangkis dengan pedangnya, namun sia-sia belaka. Pedangnya patah menjadi dua dan kepalanya terkena totokan gagang kipas.

Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Jeng-eng Mo-li roboh kemudian ketika Pak-lo-sian menendangnya, tubuh itu terlempar ke sudut ruangan, bertumpuk dengan tubuh Ui-eng Suthai dan Hek-eng Sianjin!

Pek-eng Sianjin menjadi pucat ketakutan dan dia mencoba untuk terus bertahan. Ilmu pedangnya memang paling kuat di antara saudara-saudaranya, maka dia masih mampu mempertahankan diri.

Akan tetapi Ang-eng Sianjin tak dapat menangkis lagi. Ketika Pak-lo-sian Siangkoan Hai menggunakan kipasnya untuk menyerang, dia berusaha melompat pergi, namun kipas itu seperti ada matanya dan hidup. Dengan kecepatan luar biasa kipas itu mengikutinya dan tahu-tahu belakang lehernya terkena pukulan.


Terdengar suara keras dan patahlah tulang leher Ang-eng Sianjin sehingga ia pun roboh tak bernyawa lagi. Pak-lo-sian menendangnya pula hingga mayatnya bertumpuk dengan mayat saudara-saudaranya.

Habislah keberanian Pek-eng Sianjin sesudah melihat empat orang adik seperguruannya tewas dalam keadaan amat mengerikan itu. Timbul kegetiran hatinya dan dalam keadaan ketakutan, dia lalu berlutut dan melempar pedangnya.

“Pinto (aku) Pek-eng Sianjin mohon ampun dan minta hidup,” Pek-eng Sianjin berkata dengan bibir gemetar.

Mendengar ini, Yok-ong lalu mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya. Tokoh besar ini merasa jemu dan muak melihat sikap pengecut dari Pek-eng Sianjin ini, karena itu dia lantas membalikkan tubuh dan menghampiri para anak muda yang masih rebah tertotok olehnya. Dia kini mulai memeriksa keadaan mereka dan mempersiapkan obat-obat untuk menolong orang-orang muda yang sudah menjadi boneka hidup akibat obat pembius dari Kun-lun Ngo-eng.

“Dia harus mampus!” seru Seng Te Siansu dan Seng Jin Siansu yang merasa sakit hati mengingat akan kematian adik seperguruan mereka, yakni Seng Giok Siansu.

Sedangkan Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan wajah beringas sudah mendekati Pek-eng Sianjin. Tanpa banyak cakap lagi dia mengangkat kipasnya untuk menotok kepala ketua Kun-lun Ngo-eng itu agar nyawanya menyusul adik-adiknya memasuki pintu neraka.

Akan tetapi Ang-bin Sin-kai berseru, “Pak-lo-sian, tahan!”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai menoleh kepada kakek pengemis itu. Kedua matanya merah dan masih menyinarkan kemarahan besar.

“Mengapa kau menahanku, Ang-bin Sin-kai? Apakah tidak sepatutnya anjing macam ini dilenyapkan dari muka bumi?”

“Nanti dulu, Pak-lo-sian. Aku akan merasa menyesal sekali kalau kau sampai membunuh seorang yang sudah menyerah. Pembunuhan macam itu tidak patut dilakukan oleh orang gagah.” Kemudian pengemis sakti ini bertanya kepada Pek-eng Sianjin.

“Berdasarkan apakah kau mohon ampun dan minta hidup? Apakah kau sudah bertobat dan tidak akan melakukan kejahatan lagi?”

“Pinto sudah bertobat dan berjanji akan hidup melalui jalan benar,” jawab Pek-eng Sianjin dengan suara sungguh-sungguh karena timbul harapan akan mendapat ampun.

“Bohong!” bentak Pak-lo-sian Siangkoan Hai sambil mengangkat lagi kipasnya, “Ucapan manusia semacam ini tidak boleh dipercaya, karena mulutnya, seperti juga pikiran dan hatinya, telah dikuasai oleh iblis. Dia harus mati!”

“Benar sekali, dia harus mati!” berkata pula Seng Te Siansu dan Seng Ji Siansu, setuju dengan pendapat Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Ang-bin Sin-kai mengangkat tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ingatlah ujar-ujar guru besar Khong Hu Cu dalam kitab Lun Gi bahwa kejahatan barulah disebut kejahatan sesungguhnya apa bila orangnya tidak berusaha untuk mengubah atau memperbaiki kejahatan dan semua kesalahannya itu! Pek-eng Sianjin telah berjanji akan mengubah cara hidupnya dan melakukan kebaikan untuk menebus dosa-dosanya, maka dia berhak hidup.”

“Ang-bin Sin-kai, kau gegabah sekali! Beranikah kau menanggung bahwa dia kelak tidak akan berbuat kejahatan? Bila kelak dia berbuat jahat, bukankah itu sama halnya dengan kau sendiri yang berbuat kejahatan?” bentak Pak-lo-sian marah.

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak, “Pak-lo-sian, aku adalah seorang laki-laki sejati, sekali bicara tidak akan kutelan kembali! Tentu saja aku berani bertanggung jawab, akan tetapi apakah kepalamu yang putih itu sudah sedemikian bodoh?” Kakek itu tidak melanjutkan keterangannya, melainkan berkata kepada Pek-eng Sianjin,

“Kau tadi berjanji akan mengubah jalan hidupmu dan melakukan kebaikan, apakah kau berani bersumpah?”

Pek-eng Sianjin mengangguk.

“Nah, kalau begitu bersumpahlah, biar kami menjadi saksi.”

“Jika aku, Pek-eng Sianjin, tidak bertobat dan kembali melakukan kejahatan, biarlah aku dan semua keturunan atau anak muridku binasa oleh orang-orang gagah!”

Baru saja Pek-eng Sianjin menutup mulutnya, Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak kemudian berkata,

“Nah, kau pergilah!”

Sambil berkata demikian, kedua tangan Ang-bin Sin-kai bergerak cepat dan tahu-tahu jari tangan kirinya menotok punggung, ada pun jari tangan kanan memencet pinggang ketua Kun-lun Ngo-eng itu.

Pek-eng Sianjin menjerit kesakitan dan tubuhnya bergulingan di atas lantai. Sesudah dia dapat mengumpulkan tenaga dan napas, sambil meringis menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, dia pun bangkit berdiri. Ternyata bahwa tubuhnya sudah menjadi bongkok dan kedua tangan kakinya tak mungkin dapat digunakan untuk memukul orang lagi! Dia telah kehilangan dasar-dasar tenaganya dan menjadi orang biasa yang bertubuh lemah!

“Ha-ha-ha, Ang-bin Sin-kai, kau benar-benar lihai dan cerdik luar biasa!” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Dia tahu bahwa Pek-eng Sianjin tak dapat berlaku jahat lagi. Meski pun ingin melakukan kejahatannya, namun tenaganya sudah habis dan dia tidak merupakan orang berbahaya lagi. Juga kedua orang tosu dari Kun-lun-pai, mengangguk-angguk memuji dan merasa lega melihat hajaran yang diberikan kepada Pek-eng Sianjin.

“Hemmm, dia tidak mungkin dapat diobati lagi dan selama hidupnya akan tinggal menjadi orang bercacad,” kata Yok-ong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sementara itu, sambil meringis menahan kesakitan Pek-eng Sianjin memandang kepada Ang-bin Sin-kai dan berkata penuh dendam.

“Ang-bin Sin-kai, ternyata kau kejam sekali dan tidak percaya terhadap sumpahku. Kau sudah membuat aku menderita selama hidupku. Baik, kau tunggu saja, kelak tentu akan ada orang yang membalaskan sakit hatiku ini, apa bila tidak kepadamu, tentulah kepada murid-muridmu!” Sesudah berkata demikian, Pek-eng Sianjin segera berjalan terpincang-pincang pergi dari tempat itu.

Terdengar Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa bergelak.

“Pengemis bangkotan, kau mencari penyakit! Kalau tadi kau membiarkan dia kubunuh, tentu dia sudah menjadi setan dan tak akan bisa mengeluarkan ancaman lagi. Sekarang kau harus berhati-hati, karena kau menambah adanya seorang yang berbahaya.”

“Biarlah,” jawab Ang-bin Sin-kai tenang, “kalau dia memenuhi ancamannya, tak bisa lain berarti dia melanggar sumpahnya sendiri.”

Semua orang lalu mencurahkan perhatiannya kepada Yok-ong yang mulai mengeluarkan kepandaiannya untuk mengobati para orang muda yang masih tergeletak di tempat itu. Seorang demi seorang diurutnya di bagian belakang kepala, lalu diberi minum sebutir pil putih yang sudah dicairkan dengan arak obat.

Setiap anak muda yang mengalami pengobatan ini lantas muntah-muntah dan keluarlah arak hitam yang membuat mereka seperti boneka hidup. Kemudian sadarlah mereka dan setelah dibebaskan dari totokan, ramailah di situ karena mereka mulai menangis sedih!

Juga Swi Kiat mengalami pengobatan. Karena pemuda ini sudah mempunyai dasar yang kuat dan sudah berlatih lweekang secara mendalam, sebentar saja kesehatannya sudah pulih kembali. Dia memandang kepada suhu-nya, kemudian berlutut dan walau pun tidak terdengar menangis, namun mukanya menjadi merah dan dari kedua matanya melompat keluar dua titik air mata.

“Swi Kiat, tak usah kau memikirkan hal yang sudah lewat. Memang pengalaman pahit ini membuat kau kehilangan dasar kekuatan di dalam tubuhmu, akan tetapi kalau kau tetap giat berlatih, kau akan mendapatkan kembali tenagamu,” gurunya berkata dengan suara mengandung keharuan.

“Teecu bersumpah takkan mendekati wanita selama hidup teecu!” suara ini terdengar keras dan mengandung kebencian besar terhadap wanita, yang ditimbulkan oleh Ui-eng Suthai.

Setelah semua orang menerima tiga butir pil putih dari Yok-ong, lalu kedua orang tokoh Kun-lun-pai diberi tugas untuk mengurus semua anak muda dan mengantarkan mereka kembali ke rumah dan dusun masing-masing.

Setelah pengobatan itu beres semua, barulah Ang-bin Sin-kai teringat kepada muridnya. “Ehh, mana Kwan Cu?” tanyanya sambil memandang ke sana-sini dan baru dia merasa khawatir karena ternyata bahwa semenjak tadi tidak kelihatan Kwan Cu di tempat itu.

“Muridmu yang gundul itu?” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai. “Tadi dia menolongku keluar dari sumur.”

Tak hanya Ang-bin Sin-kai yang merasa khawatir, bahkan Pak-lo-sian Saingkoan Hai dan juga Hang-houw-siauw Yok-ong turut mengkhawatirkan keadaan anak itu. Jangan-jangan anak itu mengalami bencana yang tidak mereka ketahui. Beramai-ramai mereka segera pergi ke tempat di mana tadi Kwan Cu menolong Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Kwan Cu...!” Ang-bin Sin-kai berteriak nyaring sekali sambil mengerahkan khikang-nya sehingga suaranya dapat terdengar dari tempat jauh di sekitar tampat itu.

Tidak lama kemudian, setelah gema panggilan itu lenyap, tiba-tiba terdengarlah jawaban Kwan Cu.

“Teecu berada di sini, Suhu!”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang diikuti oleh Swi Kiat dan Kun Beng lalu Ang-bin Sin-kai dan Hang-houw-siauw Yok-ong, saling pandang dengan heran karena suara Kwan Cu itu tidak dapat ditentukan dari mana datangnya.

“Ehh, Kwan Cu, kau di manakah?” kembali Ang-bin Sin-kai bertanya.

“Teecu di sini, Suhu. Di bawah sini, tunggulah sebentar, teecu akan segera keluar!”

Baru semua orang tahu bahwa Kwan Cu sedang berada di dalam sumur di mana tadinya Pak-lo-sian Siangkoan Hai terkurung! Oleh karena dia berada di bawah, maka suaranya terdengar bergema ke atas dan tidak dapat ditentukan dari mana datangnya.

“Ha-ha-ha-ha-ha! Ang-bin Sin-kai, muridmu itu benar-benar lucu dan aneh! Mengapa dia memasuki neraka ini? Ha-ha-ha, benar-benar anak ajaib, tapi di samping kebodohannya harus kupuji ketabahan hatinya. Agaknya dia turun mempergunakan tambang yang tadi dipakai untuk menolongku,” berkata Pak-lo-sian sambil menunjuk ke arah tambang yang ujungnya diikatkan pada tiang dan ujung yang lain menjulur masuk ke dalam sumur kecil yang gelap sekali itu. Semua orang kini memandang ke arah sumur, menanti munculnya Kwan Cu bocah gundul yang aneh itu.

Memang betul, Kwan Cu telah memasuki sumur itu. Bocah ini selain mempunyai pikiran yang aneh-aneh, juga sangat tabah dan cerdik. Dia tahu bahwa suhu-nya pasti sanggup menghadapi para pengeroyoknya, apa lagi tadi dia melihat ada Yok-ong yang sekarang ditambah pula dengan Pak-lo-sian. Dia tidak khawatir kalau orang-orang tua itu tak akan dapat menolong semua korban Kun-lun Ngo-eng.

Karena itu, ketika dia melihat sumur kecil yang gelap itu, timbul keinginan hatinya hendak memeriksa di bawah! Tadi dia mendengar Pak-lo-sian bernyanyi-nyanyi di bawah sumur, tentu di sana tempatnya enak, maka dia merasa penasaran kalau belum melihat apakah sebetulnya yang ada di dalam sumur itu.

Sebelum memasuki sumur, lebih dahulu dia mengambil alat pembuat api yang terletak di atas meja dalam ruang yang berdekatan. Kemudian, setelah mengikatkan ujung tambang pada tiang dan membawa alat pembuat api itu, dia lalu merayap turun melalui tambang.

Ketika kakinya menyentuh dasar sumur, mula-mula yang terinjak olehnya adalah benda keras. Ia melepaskan tambang dan segera meraba-raba benda itu yang ternyata adalah tulang-tulang manusia! Dari rabaan ini Kwan Cu bisa menduga bahwa benda itu tentulah tulang-tulang, namun dia tidak mengira bahwa tulang-tulang yang diinjaknya tadi adalah tulang rangka manusia.

Dengan tenang dia lalu menyalakan alat pembuat api dan membakar lilin yang memang sengaja dibawanya dari atas. Matanya menjadi silau karena tempat yang gelap pekat itu tiba-tiba menjadi terang. Pertama-tama yang ditemui penglihatannya ialah tulang-tulang itu dan biar pun dia memiliki ketabahan luar biasa, dia merasa seram juga saat mendapat kenyataan bahwa yang diraba-rabanya tadi kiranya adalah tulang belulang manusia yang masih utuh semua, lengkap dengan kepalanya.

Di bawah penerangan lilin, Kwan Cu memeriksa rangka itu dan dia mendapat kenyataan bahwa kepala rangka itu telah pecah! Dia lalu memeriksa keadaan di sekitarnya.

Tempat itu lebarnya kira-kira tujuh kaki dan ketika dia memeriksa ke sana ke mari, dia melihat benda putih di sudut kiri. Sesudah diambilnya, ternyata bahwa benda itu adalah sebuah kitab yang sudah tidak ada sampulnya lagi. Berdebar hati anak ini, karena setiap melihat kitab, dia teringat akan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang tengah dicari-carinya. Dia meleletkan lilin di atas tanah yang lembab, lalu duduk dan membuka-buka kitab itu.

Hampir saja dia berseru kegirangan karena melihat huruf-huruf yang tertulis di kitab itu ternyata adalah huruf-huruf kuno yang sama dengan huruf-huruf di dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu, yang dulu diperebutkan oleh lima orang tokoh besar! Segera anak ini membaca kitab itu. Kegembiraannya bertambah ketika dia mendapat kenyataan bahwa inilah kitab sejarah peninggalan Gui-siucai yang telah dicuri orang dari goa tempat tinggal mendiang Gu-siucai itu!

Mendapatkan kitab ini, segera dia hendak naik kembali sambil membawa kitab itu. Akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa Pak-lo-sian Siangkoan Hai tadi pun berada di tempat ini! Dan sampul kitab itu sudah lenyap, siapa tahu kalau-kalau Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga melihat kitab ini? Berbahaya sekali kalau terjadi hal seperti itu, karena kalau dia tiba di atas membawa kitab itu, tentu Pak-lo-sian Siangkoan Hai tidak akan tinggal diam dan tentu akan berusaha merampasnya!

Ia teringat betapa tokoh-tokoh besar yang lain seperti Kiu-bwe Coa-li juga mencari kitab ini, maka akan besarlah bahayanya kalau dia membawa kitab itu. Ia tidak memerlukan membaca seluruh isi kitab sejarah ini, hanya perlu mengetahui tentang rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tempat kitab itu. Pikirannya bekerja cepat dan ia segera mengambil keputusan untuk membaca bagian itu saja di tempat tersembunyi ini.

Ia cepat membuka-buka kitab itu dan matanya bergerak-gerak mencari tulisan mengenai Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akhirnya usahanya berhasil karena di tengah-tengah buku, di halaman ke dua puluh empat, dia menemukan tulisan mengenai kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Setelah pandang matanya berlari-lari membaca bagian ini, lalu dia membaca berulang-ulang bagian yang terpenting, yang berbunyi seperti berikut:

‘Kitab ini terkutuk dan menjadi alat perusak dunia kalau terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Sebaliknya menjadi kitab suci yang akan membangun kebajikan apa bila terjatuh ke dalam seorang manusia berbudi. Tertulis oleh manusia dewa dan ketika pada saat terakhir terjatuh ke dalam tangan Liu Pang (kelak menjadi Kaisar Kao Tsu) dan khawatir kalau-kalau kitab rahasia ini terjatuh ke dalam tangan orang jahat, Liu Pang kemudian menyembunyikannya ke dalam tempat rahasia di atas pulau kosong.

Ketika menyembunyikan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia menuju ke kota di mulut Sungai Yalu, lalu naik perahu yang dibawa oleh air sungai itu ke laut. Dari sini menuju ke kanan, melalui pulau-pulau besar dan di antara pulau-pulau itu terdapat sebuah pulau kecil yang bentuknya bulat, ditumbuhi oleh pohon-pohon berdaun putih. Di sinilah kitab itu disimpan. Dia yang berjodoh tentu akan mendapat tuntunan tangan Thian Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan kitab ini.’

Hanya bagian itulah yang dibaca berkali-kali oleh Kwan Cu, terutama sekali dia berusaha mengingat-ingat keterangan tentang disimpannya kitab itu. Hatinya berdebar girang dan dia terkejut sekali ketika mendengar suara gurunya memanggilnya. Dia cepat menjawab dan karena khawatir akan ditemukannya kitab itu oleh orang lain, dia lalu membakar kitab itu dengan lilinnya!

Orang-orang yang menunggu di atas sumur, tiba-tiba melihat asap keluar dari sumur itu. Tentu saja semua orang menjadi heran dan terutama Ang-bin Sin-kai merasa khawatir sekali.

“Ehh, Kwan Cu! Apa yang terjadi? Ada kebakaran di dalam?” tanyanya hilang sabar.

“Teecu sekarang juga keluar, Suhu,” jawab Kwan Cu dari dalam.

Setelah melihat betapa kitab itu terbakar habis, anak ini kemudian merayap naik melalui tambang. Begitu dia muncul di permukaan sumur, Kun Beng lantas tertawa bergelak, dan orang-orang lain juga tersenyum geli. Ternyata bahwa muka Kwan Cu tanpa disadarinya sudah menjadi hitam penuh angus. Hal ini terjadi karena kitab itu agak basah dan ketika dibakar, maka menimbulkan asap hitam yang menghanguskan mukanya!

“Ehh, Kwan Cu, apa kau berubah menjadi setan bumi?” tanya Ang-bin Sin-kai berkelakar karena melihat muridnya yang terkasih ini.

Sebaliknya, Pak-lo-sian Siangkoan Hai memandang penuh kecurigaan kepada Kwan Cu. Kakek ini maklum bahwa di dalam kepala yang gundul itu terdapat hal-hal rahasia yang banyak sekali dan yang di antaranya ingin dia ketahui, apa lagi yang berkenaan dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!

“Kwan Cu, apakah yang kau bakar di dalam sumur tadi?” tanyanya penuh kecurigaan.

“Di dalam gelap sekali, Locianpwe, maka teecu membakar kayu-kayu kering dan lain-lain yang berada di sana yang dapat di bakar.”

“Kau menemukan apa di sana?” tanya pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan pandang mata tajam.

“Sama seperti yang telah ditemukan Locianpwe tentunya,” jawab Kwan Cu cerdik. “Apa lagi yang bisa teecu ketemukan di dalam sana selain yang telah dilihat oleh Locianpwe?” Jawaban ini menyimpang.

Ang-bin Sin-kai tahu akan hal ini, juga Pak-lo-sian dapat menduga bahwa tentulah ada ‘apa-apanya’ yang disembunyikan oleh bocah gundul ini.

Ang-bin Sin-kai tertawa dan berkata kepada Kwan Cu. “Kwan Cu, sudahlah jangan kau layani obrolan Pak-lo-sian, tentu tak akan ada habisnya. Mari kita pergi.” Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat keluar, diikuti oleh Kwan Cu.

Sesudah tiba di luar, Ang-bin Sin-kai bertanya dengan sungguh-sungguh, “Kwan Cu, kau menyembunyikan sesuatu dari Pak-lo-sian. Apakah itu?”

“Suhu, sebetulnya teecu telah menemukan kitab sejarah dari Gui-siucai di dalam sumur itu! Dan teecu telah membakarnya menjadi abu.”

Saking terkejut dan herannya, Ang-bin Sin-kai menahan larinya dan berdiri memandang muridnya.

“Kau bakar...?”

Kwan Cu tersenyum. “Tentu saja setelah teecu membaca tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

Berubahlah wajah Ang-bin Sin-kai dan dia nampak agak gelisah.

“Kau tunggu di sini, jangan pergi sebelum aku kembali!”

Belum juga Kwan Cu sempat bertanya, Ang-bin Sin-kai telah melompat dan lenyap dari hadapan muridnya ini. Dia cepat berlari kembali ke rumah besar tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng dan mengintai di atas ruangan di mana tadi Pak-lo-sian Siangkoan Hai berada. Ia bergerak hati-hati sekali karena maklum bahwa jika Pak-lo-sian berada di situ, banyak sekali kemungkinan kakek sakti dari utara itu akan tetap saja mendengar kedatangannya.

Akan tetapi, ternyata dugaannya tidak salah. Ia tidak melihat Pak-lo-sian Siangkoan Hai di sana. Dua orang tokoh Kun-lun-pai sedang mengatur untuk mengantar para pemuda dan pemudi, sedangkan Hang-houw-siauw Yok-ong tidak nampak di situ lagi. Yang ada hanyalah Swi Kiat dan Kun Beng yang berdiri dekat sumur dan melihat ke dalam sumur itu. Tidak salah lagi, tentu Pak-lo-sian Siangkoan Hai sedang menyelidiki di dalam sumur karena merasa curiga kepada Kwan Cu!

Memang tepat sekali dugaan ini. Tadi sesudah Ang-bin Sin-kai pergi bersama Kwan Cu, Pak-lo-sian mengambil sampul buku dari sakunya dan ketika melihat bahwa sampul itu bertuliskan huruf-huruf besar ‘BUKU SEJARAH KUNO’, dia cepat pergi ke dalam sumur dan memeriksa sambil membawa lilin!

Ang-bin Sin-kai cepat-cepat kembali ke tempat di mana dia meninggalkan muridnya tadi. Dia mendapatkan Kwan Cu tengah duduk di bawah pohon dan menyuling!

“Ehhh, dari mana kau mendapat suling itu?” tanya Ang-bin Sin-kai dengan hati berdebar karena dia mengenal suling bercahaya hijau itu adalah suling Hang-houw-siauw Yok-ong!

“Dari Yok-ong Locianpwe,” jawab Kwan Cu. Lalu dia menceritakan bahwa tadi Yok-ong lewat di situ dan memberikan suling itu kepadanya sambil berkata,

“Kau anak baik. Di antara semua murid-murid tokoh besar, agaknya hanya kau yang ada harapan. Kau simpan suling ini dan mudah-mudahan kelak kita dapat bertemu pula.”

Ang-bin Sin-kai menarik napas lega. Ternyata Raja Obat itu mempunyai pandangan mata yang sangat tajam, pikirnya. Hanya Raja Obat itu saja yang dapat melihat bahan baik dalam diri Kwan Cu yang diejek dan dihina oleh lain-lain tokoh besar.

“Kwan Cu, ternyata dugaanku benar. Pak-lo-sian sedang memeriksa di dalam sumur dan kalau dia melihat abu kitab yang kau bakar, tentu dia akan berusaha menyusul kita dan akan menggunakan kekerasan. Hayo kita cepat-cepat pergi, aku segan untuk berurusan dengan kakek yang berkepala keras itu!”

Karena ingin menghindar dari kejaran Pak-lo-sian, Ang-bin Sin-kai segera menggendong Kwan Cu, dibawa pergi ke puncak sebuah gunung yang berada di sebelah timur puncak Kun-lun-san, sebuah puncak gunung yang liar, penuh hutan belukar dan jarang sekali didatangi manusia.

“Perjalanan yang kau hadapi penuh bahaya, muridku. Tidak saja kau harus melakukan perjalanan jauh, akan tetapi juga kau akan menghadapi tokoh-tokoh besar yang selalu tidak mau tinggal diam sebelum mereka dapat merampas kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Oleh karena itu, sementara kita tinggal dulu di tempat sunyi ini dan kau harus berlatih giat untuk mempertinggi kepandaianmu. Mulai hari ini, kita takkan turun gunung sebelum kau menguras habis kepandaian yang kumiliki.”

Demikianlah, mulai hari itu Ang-bin Sin-kai mengerahkan seluruh perhatian serta tenaga untuk mendidik dan menggembleng Kwan Cu. Sebaliknya Kwan Cu juga berlatih dengan giat sekali. Tak pernah terlihat anak ini menganggur, meski suhu-nya sedang beristirahat, dia selalu melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang baru dia pelajari dari suhu-nya.

Bertahun-tahun Kwan Cu dan suhu-nya seolah-olah terasing dari dunia luar dan hidup di tengah-tengah hutan, di puncak sebuah bukit yang sangat tinggi. Mereka hanya makan buah-buahan dan kadang-kadang binatang hutan yang mereka tangkap. Di waktu makan masakan sederhana itu dan mendengar gurunya mengeluh panjang pendek oleh karena gurunya itu sudah sangat rindu akan arak dan masakan enak, Kwan Cu menjadi terharu sekali.

“Suhu, sungguh teecu tidak mengerti mengapa suhu sampai menyiksa diri hanya untuk melatih ilmu kepada teecu. Ahh, budi yang begini besar, dan apakah teecu akan dapat membalasnya?”

Mendengar ucapan ini, lenyaplah keluh kesah dari bibir Ang-bin Sin-kai dan dia berseri.

“Kwan Cu, pembalasaan yang kuharapkan hanya kalau kau kelak dapat menjadi seorang gagah yang menjunjung tinggi peri kebajikan, bisa berbuat banyak terhadap orang-orang lain. Akan tetapi, kau tak mungkin dapat menjadi seorang gagah tanpa tandingan kalau kau tidak dapat menemukan Im-yang Bu-tek Cin-keng! Kepandaianku belum cukup untuk menjagoi di seluruh dunia dan tetap saja kalau kau hanya menerima latihan dari aku, kau sewaktu-waktu akan bertemu dengan orang jahat yang lebih pandai dari padamu! Oleh karena itu, pelajaran yang kau terima dariku ini anggaplah sebagai bekal bagimu untuk mencari kitab itu. Aku sendiri sudah terlalu tua untuk ikut mencarinya, kau akan mencari sendiri, muridku, dan karenanya, aku mana bisa rela membiarkan kau pergi menempuh perjalanan sukar itu sebelum memiliki kepandaian yang boleh diandalkan?”

Mendengar ini makin kuatlah hati Kwan Cu dan semakin giatlah dia. Dia menjadi terharu sekali ketika gurunya pada suatu hari pergi turun gunung seorang diri dan ketika kembali membawa beberapa stel pakaian baru untuknya! Suhu-nya sendiri tidak pernah berganti pakaian, kecuali kalau pakaian yang menempel pada tubuhnya itu sudah benar-benar hancur.

Atas kehendak gurunya yang ingin melihat dia berpakaian pantas, sekarang Kwan Cu memakai pakaian yang cukup baik dan sepatu yang baru pula, pemberian suhu-nya yang amat mengasihinya.

Beberapa tahun kemudian, kepandaian Kwan Cu sudah cukup tinggi. Dia sudah berusia lima belas tahun, akan tetapi setiap kali gurunya menyuruh dia menggunduli kepalanya! Ia kelihatan seperti seorang hwesio kecil yang bertubuh sedang dan padat, penuh berisi tenaga yang luar biasa. Wajahnya yang tampan menjadi makin halus dan kemerahan, berkat dari hawa gunung yang sejuk dan latihan-latihan silat yang tiada henti-hentinya.

Kembali beberapa bulan yang telah lewat. Pada suatu hari Kwan Cu berlatih seorang diri. Hari masih pagi sekali dan suhu-nya masih belum bangun dari tidurnya di dalam sebuah goa. Akhir-akhir ini, suhu-nya nampak malas dan bangunnya pun apa bila matahari telah naik tinggi. Tubuh suhu-nya nampak makin kurus dan kakek ini beberapa kali mengeluh dan menyatakan bahwa dia telah menjadi amat tua.

“Aku sudah sangat tua, Kwan Cu, tiada nafsu lagi untuk melakukan sesuatu. Keinginanku satu-satunya hanya bertemu sekali lagi dengan adikku Lu Pin yang tercinta,” demikianlah berkali-kali kakek pengemis yang sakti ini mengeluh.

Pagi hari itu Kwan Cu melatih ilmu silat Sin-ci Tin-san (Jari Sakti Menggetarkan Gunung), yaitu ilmu silat paling lihai yang pernah dia pelajari dari gurunya. Ilmu silat ini dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan, merupakan ilmu tiam-hoat (menotok) yang luar biasa lihainya yang merupakan ilmu pukulan dengan jari tangan yang luar biasa kuatnya.

Sudah berbulan-bulan dia terus melatih ilmu silat ini, akan tetapi hasilnya masih kurang memuaskan hatinya. Pada pagi hari ini, sesudah pada malam tadi mendapat wejangan dari gurunya yang membentangkan semua kouw-koat (teori silat) dari pada ilmu pukulan Sin-ci Tin-san ini, dia melatih diri sebaiknya. Yang dijadikan sasaran adalah pohon-pohon kecil yang tumbuh di situ.

Pada saat bersilat dengan ilmu silat Sin-ci Tin-san, dia kelihatan lincah sekali. Tubuhnya mencelat ke sana kemari serta kedua tangannya terbuka dengan dua jari tangan, yakni telunjuk dan jari tengah, ditusukkan ke sana ke mari dan sepasang kakinya melakukan langkah-langkah yang amat teratur.

Kemudian mulailah dia menyerang pohon-pohon yang besarnya sama dengan tubuhnya sendiri. Dan bukan main hebatnya kepandaian anak muda yang usianya baru lima belas tahun ini. Tiap kali jari tangannya baik yang kanan mau pun yang kiri, menusuk ke batang sebuah pohon, terdengar suara berderak kemudian pohon itu patah dan tumbang berikut semua daunnya!

Kalau ada orang lain yang melihat hal ini, tentu menjadi kagum sekali. Akan tetapi aneh, wajah Kwan Cu kelihatan tidak puas, bahkan kecewa. Mulutnya berkali-kali berkata,

“Tidak baik, tidak baik! Gwakang-ku lebih besar keluarnya dari pada tenaga lweekang!”

Kembali dengan tangan kirinya dia menusuk sebatang pohon yang langsung patah dan tumbang.

“Kau terlalu terburu nafsu, Kwan Cu. Nafsumu itu yang memperbesar tenaga gwakang sehingga tidak seimbang dengan tenaga dalam!” terdengar orang bicara dan ketika Kwan Cu menengok, ternyata bahwa suhu-nya sudah berdiri di belakangnya.

Kwan Cu berlutut. “Suhu, mohon petunjuk dari suhu yang mulia.”

Ang-bin Sin-kai tersenyum. “Dalam menghadapi segala macam hal, terutama sekali saat menghadapi perlawanan dari musuh yang tangguh, pantangan yang paling utama adalah timbulnya nafsu yang menguasai diri sendiri. Dalam keadaan seperti itu, kau harus dapat menguasai dirimu seluruhnya, dari semua urat-urat besar sampai urat-urat saraf, pikiran dan hati. Kau harus dapat mengatur semua panca inderamu, dan sadar serta tak sadar harus waspada betul-betul. Kekuatan yang tenaganya tampak seperti pukulanmu kepada pohon itu, hanya boleh digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil atau membikin gentar lawan yang bodoh. Akan tetapi sama sekali tidak ada gunanya kalau kau menghadapi lawan yang tangguh. Ingatlah, segala yang tenang, tidak bergerak dan diam itulah yang betul-betul kuat.”

“Mohon suhu memberi penjelasan mengenai Sin-ci Tin-san, karena sesungguhnya teecu belum dapat melakukannya dengan baik.”

Ang-bin Sin-kai menghampiri sebatang pohon dan dia menggunakan satu jarinya untuk menusuk pohon itu seperti yang dilakukan oleh Kwan Cu tadi. Pohon itu tidak bergerak sedikit pun juga, bahkan tiada sehelai pun daun yang rontok. Akan tetapi ketika Ang-bin Sin-kai menggunakan telapak tangan mendorongnya perlahan, ternyata bahwa pukulan atau lebih tepat tusukan jarinya tadi telah membuat hancur batang pohon di balik kulitnya dan sekali dorong perlahan saja pohon itu lantas tumbang ke tanah!

“Dalam pukulan Sin-ci Tin-san, kau harus mengerahkan tenaga lweekang. Akan tetapi, kau harus tenang dan jangan sampai pikiran dan hati dikuasai nafsu, tenaga lweekang itu akan berubah menjadi tenaga gwakang yang kasar.”

Demikianlah, Kwan Cu digembleng terus oleh suhu-nya sehingga setahun kemudian dia telah memiliki tenaga lweekang yang kuat sekali, ginkang yang memungkinkan dia berlari seperti terbang, serta ilmu silat yang lihai. Suling yang didapatnya dari Yok-ong ternyata merupakan senjata yang amat ampuh. Suling ini terbuat dari pada baja hijau dan kuatnya bukan main.

Ang-bin Sin-kai melatih ilmu pedang tunggalnya yang membuat dia dapat menjagoi dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu, yakni ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat (Ilmu Pedang Memecah dan Membuka). Ilmu pedang ini dilatih oleh Kwan Cu menggunakan sulingnya dan ternyata cocok sekali.

Selain pandai memainkan suling sebagai pedang, juga pemuda ini pandai sekali meniup lagu-lagu merdu dari sulingnya, juga kepandaian ini dia dapat dari Ang-bin Sin-kai yang tahu akan teori meniup suling sungguh pun ia sendiri kurang berbakat. Sebaliknya Kwan Cu amat berbakat dan dia dapat meniup banyak lagu-lagu yang dikenal oleh gurunya.

Dua tahun kemudian, setelah berusia delapan belas tahun, Kwan Cu di panggil gurunya.

“Muridku, kini kiranya sudah cukup kepandaianmu untuk kau pakai sebagai bekal dalam perjalanmu mencari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kau pergilah menuruti petunjuk yang kau baca dalam kitab sejarah. Berhati-hatilah, muridku, aku hanya memberi bekal doa restu kepadamu. Kuharap saja kelak kalau kau sudah mendapatkan ilmu silat yang paling lihai dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, aku masih belum mati sehingga aku dapat menyaksikan kelihaianmu. Nah, pergilah, Kwan Cu.”

Kwan Cu yang berlutut di depan suhu-nya merasa sangat berat untuk berpisah dan pergi meninggalkan suhu-nya yang kini nampak tua sekali.

“Semenjak dahulu memang teecu bercita-cita mencari kitab itu. Akan tetapi suhu sudah amat tua dan siapakah yang akan melayani suhu kalau teecu pergi?” katanya ragu-ragu.

“Kwan Cu, apakah kau akan memanjakan gurumu seperti memanjakan seorang kakek tua renta yang kekanak-kanakan? Aku masih kuat dan aku tak membutuhkan pelayanan orang lain.”

“Akan tetapi... kalau teecu rindu kepada suhu dan hendak bertemu, ke manakah teecu harus mencari suhu?”

“Aku akan ke kota raja mencari Lu Pin adikku, setelah itu, aku tak akan jauh dari tempat kau mencari kitab itu, Kwan Cu karena aku hendak tinggal di pantai Laut Po-hai!”

Setelah mendapat wejangan dan nasehat-nasehat yang kiranya cukup berharga untuk dia bawa sebagai bekal menempuh hidup dan perjalanan seorang diri, akhirnya Kwan Cu lalu mulai turun gunung dan mulai dengan perjalanannya yang amat jauh, yakni ke pantai sebelah timur dari Tiongkok.

Ia melakukan perjalanan cepat melalui propinsi-propinsi Cing-hai, Kang-su, Shen-si, lalu mengikuti sepanjang tapal batas Mongolia, terus menuju Timur…..

********************

Baru sekarang Kwan Cu merasa alangkah sunyinya hidup seorang diri dan melakukan perjalanan tak berteman. Dia rindu kepada suhu-nya yang baginya merupakan penganti ayah bundanya. Namun hati Kwan Cu memang kuat dan keras, sebentar saja dia telah melenyapkan rasa sunyi itu dan memaksa hati bergembira.

Suling pemberian Yok-ong yang kini menjadi senjatanya, juga merupakan kawan yang paling setia. Setiap kali dia beristirahat di mana saja, dia selalu meniup sulingnya. Suara sulingnya inilah yang menghibur hatinya, biar pun dia berada di dalam hutan yang sunyi, apa bila dia meniup suling maka lenyaplah rasa sunyi dalam hati.

Perjalanan yang dilakukan oleh pemuda ini bukanlah perjalanan dekat, paling sedikit ada empat ribu kilo meter! Terlebih pula perjalanan ini banyak melalui gunung-gunung serta hutan-hutan liar yang sukar dilalui.

Akan tetapi Kwan Cu sekarang sudah merupakan seorang pemuda yang berkepandaian tinggi sehingga perjalanan yang sukar itu dapat dilakukan dengan cepatnya. Ginkang-nya telah terlampau tinggi untuk dapat dihalangi oleh jurang-jurang lebar atau pun jalan-jalan yang menanjak.

Semenjak turun gunung, dia tak lagi mencukur rambutnya sehingga kini dia benar-benar merupakan pemuda yang gagah dan tampan luar biasa, dengan sepasang mata bersinar tajam namun jujur dan bibirnya selalu tersenyum membayangkan hati yang lapang dan tabah. Dia mengikat rambutnya dengan sapu tangan agar rambut itu tidak turun menutupi mukanya.

Kurang lebih setengah tahun dia melakukan perjalanan, meski kadang-kadang berhenti untuk menikmati pemandangan alam di beberapa gunung yang aneh atau mengagumi bangunan-bangunan indah di kota-kota besar. Ia melakukan perjalanan cepat dan selalu berusaha menghindarkan diri dari setiap bentrokan sesuai dengan nasehat suhu-nya.

Memang beberapa kali ia pernah dihadang oleh para perampok yang hendak merampas pakaiannya, akan tetapi Kwan Cu tidak mau melayani para perampok itu dan setiap kali dia hanya membuat para perampok berdiri bengong seperti patung karena pemuda yang hendak dijadikan korbannya itu tiba-tiba saja tertawa dan berkelebat melenyapkan diri dari depan mata mereka!

Lebih enam bulan kemudian dia tiba di perbatasan utara dari propinsi Ho-pei. Di tempat ini dia teringat akan pengalaman-pengalamannya ketika dia dan Gui-siucai ditawan oleh panglima An Lu Shan.

Keadaan di sekitar daerah ini sekarang sudah sangat berubah, tidak seperti dahulu lagi. Kwan Cu merasa heran betapa daerah ini sekarang amat ramai, penuh oleh tentara yang bermacam-macam pakaiannya dan bermacam-macam pula kebangsaannya. Dia melihat tentara-tentara dari suku bangsa Hui, Daur dan juga Mongol. Mereka semua berpakaian perang dan bersenjata lengkap, berbaris ke sana kemari seolah-olah tengah menantikan datangnya perang besar!

Di setiap tanah lapang dia meyaksikan barisan-barisan besar berbaris rapi dan berlatih perang-perangan. Kwan Cu menjadi semakin kagum dan heran karena setiap anggota tentara mampu mainkan senjata mereka dengan gerakan ilmu silat yang tinggi. Biar pun hanya beberapa jurus saja mereka itu mainkan senjata masing-masing, tombak, golok atau pedang, namun gerakan ini terang sekali adalah gerakan ilmu silat yang diajarkan oleh seorang ahli silat tinggi!

Tentu saja pemuda yang sama sekali gelap terhadap keadaan dalam negeri dan tentang situasi pemerintahan ini, tidak mengerti bahwa pada waktu itu, Panglima An Lu Shan sedang mengerahkan seluruh tenaga suku-suku bangsa yang berada di Tiongkok Timur laut, untuk membentuk sebuah barisan yang besar sekali dengan maksud menyerang ke selatan dan merampas kedudukan kaisar! An Lu Shan mulai dengan persiapannya untuk memberontak.

Yang paling mengherankan hati Kwan Cu adalah keadaan di dalam dusun dan kota di daerah itu. Tak pernah dia bertemu dengan laki-laki berpakaian preman. Semua laki-laki berpakaian tentara dan menjadi anggota tentara. Hanya anak-anak dan wanita saja yang berpakaian biasa.

Sebaliknya, semua orang memandang padanya dengan mata yang terheran-heran pula karena sesungguhnya Kwan Cu merupakan satu-satunya laki-laki dewasa di tempat itu yang berpakaian preman. Akan tetapi hal ini tidak lama, karena tiba-tiba datang seorang komandan pasukan yang dengan langkah lebar menghampiri Kwan Cu.

“He, orang muda! Kau masih enak-enakan saja di sini? Hayo ikut aku mendaftarkan diri agar segera masuk tempat latihan!” sambil berkata demikian, komandan itu memegang pergelangan tangan Kwan Cu erat-erat.


Kalau dia menghendaki, dengan mudah Kwan Cu akan mampu melepaskan tangannya. Akan tetapi dia tidak mau menimbulkan keributan, maka sambil tersenyum ia berkata,

“Sobat, apakah maksudmu? Aku tak mengerti sama sekali. Ketahuilah bahwa aku adalah seorang perantau yang datang dari jauh dan tidak tahu peraturan di sini. Harap kau suka menjelaskan.”

“Setiap orang laki-laki di daerah ini harus menjadi tentara, hanya ini saja dan tidak ada penjelasan lain!”

“Mengapa harus? Aku bukan orang sini dan aku tidak mau menjadi tentara,” kata Kwan Cu.

Sementara itu mendengar suara ribut-ribut, di tempat itu telah berkumpul banyak tentara dan tahu-tahu Kwan Cu sudah dikurung!

“Anak muda, sudahlah jangan banyak rewel. Ketahuilah bahwa setiap orang yang tidak mau menjadi tentara dan membela tanah air dianggap pengkhianat dan akan menjadi penghuni goa maut!”

Kwan Cu menjadi penasaran sekali, akan tetapi tetap saja dia masih lebih merasa heran dari pada marah.

“Apakah goa maut itu? Dan mengapa pula ada cara memaksa orang menjadi tentara? Sungguh mati aku tak mengerti sama sekali!”

Komandan itu tertawa, “Oya, aku lupa bahwa kau bukan orang sini. Kau mau melihat goa maut? Mari, mari ikut!” sambil berkata demikian komandan itu tertawa-tawa dan menarik lengan Kwan Cu diikuti oleh para anggota yang juga tertawa-tawa geli.

Masih saja Kwan Cu bersabar dan dia membiarkan dirinya ditarik bagaikan kerbau oleh komandan itu yang membawanya pergi keluar kota. Dusun itu berada di lereng bukit dan jalannya naik turun melalui hutan-hutan. Di pinggir sebuah hutan di luar kota, Kwan Cu dibawa ke sebuah bukit kecil dan dari jauh sudah kelihatan sebuah goa yang merupakan terowongan besar dan di sebelah dalamnya tampak anak tangga. Di depan goa itu dijaga oleh seorang tentara berbangsa Mongol yang bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa, memegang sebatang tombak yang besar dan panjang lagi berat.

Komandan yang menarik tangan Kwan Cu lalu berbicara dalam bahasa Monggol kepada penjaga itu yang tertawa bergelak-gelak, membuka mulutnya dan lebar dan cambangnya yang menjuntai ke bawah itu ikut bergerak-gerak lucu.

“Nah, inilah goa maut. Siapa pun juga yang menjadi pengkhianat dimasukkan ke dalam goa ini lalu dijerumuskan ke dalam sumur maut dan didiamkan sampai mati di situ. Nah, sekarang pilihlah.”

Dari dalam goa itu lapat-lapat terdengar suara rintihan dan tangisan sehingga terbangkit semangat Kwan Cu untuk menolong mereka itu. Akan tetapi, dia teringat bahwa dia kini sedang berurusan dengan tentara pemerintah dan dia tidak mau menimbulkan keributan hebat. Maka dia lalu mengangguk dan berkata,

“Aku menurut saja.”

Terdengar suara gelak ketawa. Komandan itu bersama para tentara yang mengikutinya lalu beramai-ramai menghantar Kwan Cu kembali ke dusun untuk mendaftarkan pemuda itu sebagai calon tentara.

Akan tetapi baru saja mereka keluar dari hutan dan turun dari bukit di mana terdapat goa maut itu, tiba-tiba mereka ribut-ribut kemudian sibuk mencari-cari seperti seorang wanita kehilangan gelangnya. Tanpa diketahui oleh seorang pun, tiba-tiba saja pemuda yang tadi berada di tengah-tengah mereka telah lenyap!

“Ehh, di mana dia?”

“Aneh sekali, tak mungkin dia melarikan diri!”

“Aku tadi masih melihat dia berjalan sambil tersenyum-senyum.”

“Dia bisa menghilang, tentu dia siluman!”

Ramailah orang-orang itu bicara sambil mencari-cari Kwan Cu, namun pemuda itu tidak kelihatan lagi bayangannya.

Sebenarnya, dengan kepandaiannya, Kwan Cu tadi mempergunakan kesempatan selagi orang tidak memeganginya, dia melompat ke atas dan dengan bantuan cabang pohon di atasnya, ia lalu melarikan diri dengan cepat dan ringan sekali sehingga tak menimbulkan suara apa pun. Dia ingin sekali menyelidiki keadaan goa maut itu dan hendak berusaha menolong orang-orang yang mengeluarkan suara rintihan dan tangisan tadi.

Kalau tentara negeri menghukum orang bersalah atau orang jahat, tentu dia takkan mau campur tangan. Akan tetapi tadi pun ia akan dimasukkan ke dalam goa itu hanya karena dia menolak menjadi tentara. Kalau memang demikian, tentu banyak sudah orang-orang yang dimasukkan ke dalam goa maut itu tanpa dosa! Jika begini keadaannya, dia harus menolong mereka itu.....

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Sakti Jilid 16-20"

Post a Comment

close