Pendekar Bodoh Jilid 46-49 (Tamat)

Mode Malam

Pendekar Bodoh Jilid 46-49 (Tamat)

“Nelayan Cengeng, biar pun matamu mudah mengeluarkan air mata, namun harus dipuji ketajamannya,” katanya.

Nelayan Cengeng memang cerdik dan melihat seorang kakek lihai menyebut nama Ma Hoa, dia lalu teringat akan cerita gadis itu tentang suhu-nya yang baru, maka dia sengaja menyebut namanya. Sedangkan Hok Peng Taisu tadi melihat betapa Nelayan Cengeng itu tertawa sambil mengeluarkan air mata maka mudah saja baginya untuk menerka siapa adanya kakek aneh ini.

“Bagaimana dengan murid kita itu?” tanya Hok Peng Taisu.

“Baik, baik, dan kuhaturkan terima kasih kepadamu yang sudah memberi bimbingan pada dia. Kepandaian yang kau berikan padanya dalam beberapa bulan saja itu tidak mungkin dapat kuberikan dalam sepuluh tahun!” jawab Nelayan Cengeng sejujurnya.

“Ahh, memang kau benar-benar mempunyai sifat betina, mudah menangis dan suka puji memuji. Sudahlah, Kong Hwat Lojin, sekarang mari kita bicara tentang hal penting. Ehh, siapakah anak muda ini?”

“Dia adalah calon suami murid kita.”

Hok Peng Taisu mengangguk-angguk dan memandang dengan kagum. Baru mendengar pertanyaan Kwee An mengenai harta itu tadi saja sudah membuat dia dapat menghargai sikap dan kebersihan hati pemuda itu.

“Sekarang dengarlah kalian. Kedatanganku ke tempat ini bukanlah tanpa maksud. Aku mendengar tentang perebutan harta pusaka itu, dan karenanya aku ingin menggunakan kesempatan selagi mereka itu saling gempur dan berebut, aku hendak mengambil harta pusaka itu!”

Nelayan Cengeng memandangnya tajam, “Untuk apakah harta itu bagimu, Taisu?”

“Ha-ha-ha-ha! Kini kau mengajukan pertanyaan yang bodoh sakali. Kau boleh menjawab sendiri pertanyaan itu dengan jawaban yang kau berikan kepada pemuda ini tadi!”

Nelayan Cengeng mengangguk-angguk. “Kalau begitu, aku setuju membantumu.”

Kakek botak itu lalu berkata, “Memang aku perlu sekali dengan bantuan kalian. Aku akan mengambil harta itu dan kalian beserta Ma Hoa dan yang lain-lain berkewajiban untuk menjalankan tugas membagi-bagikan harta pusaka itu kepada rakyat jelata yang miskin. Bagaimana, sanggupkah kalian?”

Tentu saja Nelayan Cengeng dan Kwee An langsung menyatakan kesanggupan mereka. Kemudian, Hok Peng Taisu meminta mereka menanti sebentar dan sekali berkelebat saja kakek botak itu telah lenyap dari pandangan mata.

Nelayan Cengeng menarik napas panjang lantas berkata, “Entah mana yang lebih tinggi kepandaian Kakek Botak ini dengan Kakek Jembel. Pada dewasa ini, kedua orang itulah yang menduduki tingkat tertinggi dalam dunia persilatan.”

Kwee An juga merasa kagum melihat kelihaian Hok Peng Taisu dan mereka berdua lalu mengintai ke arah goa itu. Mereka melihat betapa kakek itu bergerak cepat sekali laksana seekor burung elang menyambar-nyambar dan tahu-tahu semua penjaga sudah tertotok roboh olehnya.

“Bukan main!” seru Kwee An dengan kagum sekali.

Tadi dia melihat dengan baik betapa kakek botak itu mempergunakan tongkat bambunya untuk menotok dan tiap totokannya ternyata berhasil baik dan gerakannya demikian cepat sehingga serangannya ini tak memberi kesempatan sama sekali kepada para penjaga itu untuk melawan atau pun melihatnya!

Tidak lama kemudian, kembali kakek botak itu keluar dari goa dan menuju ke tempat mereka dan sekarang dia telah membawa buntalan besar yang nampaknya berat sekali. Ternyata bahwa kakek botak itu telah menggunakan mantel luarnya untuk membungkus semua harta pusaka yang banyak itu dan mengangkutnya keluar dalam waktu yang amat cepatnya.

“Nah, kalian terimalah ini. Memang benar kata-katamu tadi. Kong Hwat Lojin, di antara harta pusaka itu terdapat mata uang emas yang memakai cap huruf-huruf Turki. Tentang pembagiannya terserah kepada kalian, aku percaya penuh kepadamu. Tugasku hanyalah mengambil harta itu, dan untuk membagikannya kepada yang berhak, terserah padamu. Nah, aku pergi dulu!” Dan sebelum Kwee An mau pun Nelayan Cengeng dapat membuka mulut, kakek botak itu telah lenyap dari situ!

Nelayan Cengeng dan Kwee An lalu membawa pulang buntalan itu ke rumah Yousuf dan menceritakan semua pengalamannya. Saat mereka memeriksa harta pusaka itu, ternyata memang terdapat banyak mata uang emas dari Turki jaman dahulu, karena itu Nelayan Cengeng lalu memberikan mata uang yang banyak sekali itu kepada Yousuf dan berkata,

“Saudara Yo, bangsamulah yang berhak menerima sebagian dari pada harta ini. Bawalah kembali ke Turki, sedangkan bagian lain akan kubagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya.”

Yousuf menerima harta pusaka itu sambil berlinang air mata. “Kedudukan Pangeran Tua yang kini menjadi Raja amat lemah karena miskinnya dan Pangeran Muda menggunakan kesempatan ini untuk membeli orang-orang pandai dengan emas. Maka pemberian ini merupakan pertolongan yang datangnya dari Tuhan Yang Agung, karena harta pusaka ini akan dapat digunakan membiayai pembangunan Kerajaan Turki.”

“Terserah kepadamu, Saudaraku. Aku cukup percaya dan tahu akan kebijaksanaanmu!”

Yousuf lalu menyuruh orang membuat kantung-kantung dari kulit kambing untuk tempat menyimpan sekalian harta pusaka itu.

Demikianlah pengalaman Nelayan Cengeng dan Kwee An seperti yang mereka tuturkan kepada Ang I Niocu dan Ma Hoa.

“Kalau demikian, memang telah ada persesuaian antara Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su Susiok-couw,” kata Ang I Niocu. “Kita harus menjalankan tugas membagi-bagikan harta pusaka itu dengan baik.”

“Harta ini harus cepat dibagikan dan tidak boleh ditunda-tunda lagi, oleh karena Hai Kong Hosiang tentu takkan tinggal diam saja kalau mengetahui bahwa benda itu berada pada kita,” kata Kwee An. “Maka lebih baik kita segera melakukan tugas itu tanpa menundanya lagi.”

“Akan tetapi, bagaimana dengan Lin Lin dan Cin Hai? Apakah kita tidak harus menunggu sampai Lin Lin sembuh?” Ma Hoa berkata ragu-ragu.

“Tak perlu,” jawab Ang I Niocu. “Bukankah Susiok-couw sudah memberi perintah kepada mereka untuk menyusul ke Goa Tengkorak kalau Lin Lin sudah sembuh? Kita berangkat dulu dan kelak kita dapat bertemu dengan mereka di timur.”

“Biarlah aku yang menanti mereka di sini dan akan kuberitahukan kepada mereka tentang semua ini,” Yousuf menyatakan kesanggupannya.

Semua orang telah menyetujui keputusan ini. Harta benda itu lalu dibagi menjadi empat kantung dan mereka, yaitu Nelayan Cengeng, Ang I Niocu, Ma Hoa, serta Kwee An lalu masing-masing mendapat sekantung.

Setelah berpamit kepada Yousuf serta kawan-kawannya, empat orang pendekar itu pergi meninggalkan Lan-couw yang memberi kenang-kenangan hebat kepada mereka. Mereka menuju ke timur dan di sepanjang jalan mereka membagi-bagikan harta itu kepada rakyat miskin. Pemberian ini dilakukan secara diam-diam dan tanpa diketahui oleh mereka yang diberi sehingga tentu saja terjadi kegemparan hebat karena banyak sekali orang miskin tahu-tahu menemukan beberapa potong emas dan permata di dalam rumah mereka. Maka timbullah desas-desus di sana-sini bahwa Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im) telah turun ke dunia memberi pertolongan kepada orang-orang miskin yang sedang menderita sengsara…..

********************

Setelah tinggal di dalam goa batu karang itu sepekan lamanya, akhirnya kesehatan Lin Lin sudah pulih kembali seperti sedia kala. Penyakitnya yang aneh, yaitu gangguan pada urat syaraf di otaknya yang ditimbulkan oleh obat kembang semut merah itu telah lenyap sama sekali.

Hal ini dapat dia rasakan karena kalau biasanya tiap hari dia sering merasakan kepalanya kadang-kadang berdenyutan keras sekali hingga Cin Hai terpaksa memegang tangannya dan mengalirkan hawa ke dalam tubuh kekasihnya itu untuk membantu dan memperkuat jalan darah pada otaknya, sekarang denyutan kepala itu telah hilang sama sekali! Bahkan ketekunannya berlatih dan semedhi membuat dia dan Cin Hai mendapat kemajuan yang lumayan.

Sepasang teruna remaja itu lalu pergi menuju ke rumah Yousuf dan ketika Lin Lin berlutut di hadapan ayah angkatnya, Yousuf mengelus-elus rambut gadis itu dengan hati terharu dan mata merah, karena menahan runtuhnya air matanya,

“Lin Lin, anakku yang baik. Aku mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Adil bahwa kau sudah terbebas dari keadaan bahaya. Kalau kau bertemu dengan suhu-mu Bu Pun Su, sampaikanlah hormat dan terima kasihku, karena sesungguhnya dialah yang sudah menolongmu.”

Lin Lin dan Cin Hai terkejut. “Apakah Yo-pekhu tidak ikut dengan kami ke timur?”

Yousuf menggelengkan kepalanya. Lin Lin memegang tangan ayahnya itu dan berkata, “Ayah, kau harus ikut dengan kami ke timur. Hatiku takkan merasa tenteram kalau harus berpisah lagi dengan kau.”

Yousuf tersenyum dan memandang kepada Lin Lin dengan kasih sayang besar. “Anakku yang baik, alangkah bahagianya perasaan hatiku mendengar ucapan itu. Ternyata Tuhan sudah memberi berkah yang berlimpah-limpah kepada aku yang penuh dosa ini sehingga pada waktu usiaku telah tua, aku masih dapat memperoleh seorang anak seperti engkau! Percayalah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku selain hidup dekat dengan engkau dan melihat kau berbahagia, melihat kau hidup beruntung dengan suamimu dan bermain-main dengan cucuku kelak!” Mendengar ucapan terakhir ini, baik Lin Lin mau pun Cin Hai menjadi merah mukanya.

“Kalau begitu, marilah kau ikut dengan kami ke timur, Ayah,” kata Lin Lin dengan girang.

Kembali Yousuf menggelengkan kepalanya. “Sekarang belum bisa, Anakku. Kau dan Cin Hai berangkatlah dahulu menyusul Suhu-mu, karena aku masih mempunyai tugas yang amat penting.”

Kemudian orang Turki yang baik hati ini menuturkan tentang harta pusaka itu, dan juga menuturkan bahwa Ang I Niocu dan yang lain-lain telah berangkat untuk melakukan tugas membagi-bagi harta pusaka kepada rakyat jelata yang membutuhkannya.

“Sedangkan emas yang menjadi hak milik Kerajaan Turki, harus kuantarkan lebih dahulu ke negeriku supaya dapat digunakan untuk membangunkan kembali kerajaan yang telah dikacau oleh Pangeran Muda.”

Karena dapat mempertimbangkan bahwa hal itu memang sangat penting dan memang sudah menjadi kewajiban Yousuf untuk bekerja demi kebaikan negara serta bangsanya, maka terpaksa Lin Lin dan Cin Hai tak dapat membantah pula.

“Hanya kuminta, Ayah, agar supaya kau jangan terlalu lama tinggal di negeri barat dan segera menyusul kami ke timur. Kebahagiaanku takkan lengkap kalau kau tidak berada di dekatku.”

Sesudah melihat kekasihnya sembuh, Cin Hai lalu menuturkan mengenai tewasnya Pek I Toanio dan Biauw Suthai di tangan Hai Kong Hosiang. Mendengar ini, bukan main marah dan terkejutnya Lin Lin, maka sambil menangis, ia lalu mengajak Cin Hai untuk mampir di kampung itu, di mana jenazah Biauw Suthai dan Pek I Toanio dimakamkan.

Lin Lin bersembahyang di depan kuburan guru dan suci-nya dan sambil menangis ia pun bersumpah,

“Suci dan Subo, aku bersumpah bahwa sakit hati ini pasti akan kubalaskan dan bangsat gundul Hai Kong pasti akan mampus di dalam tanganku untuk membalas dendam hati Subo dan Suci.”

Setelah berdiam di makam subo dan suci-nya sampai setengah hari lamanya, Lin Lin lalu melanjutkan perjalanannya bersama Cin Hai. Kebencian gadis itu terhadap Hai Kong Hosiang bertambah-tambah, karena memang hwesio itu telah banyak membuat sakit hati kepadanya, bahkan hwesio itu akhir-akhir ini sudah melukainya dan kalau tidak tertolong oleh obat kembang semut merah, tentu jiwanya akan melayang pula!

Cin Hai maklum akan perasaan hati kekasihnya, maka dengan lemah lembut dia berkata, “Lin-moi, janganlah kau berkuatir. Aku pun bersumpah untuk menebus kesalahanku yang dulu telah melepaskan hwesio itu dan tidak membinasakannya sehingga dia masih hidup dan kini mendatangkan mala petaka pula.”

Lin Lin memandang kekasihnya dan tersenyum manis menghibur.

“Koko yang baik, semua itu bukan salahmu, sama sekali bukan!”

Melihat senyum manis kembali telah menghias bibir gadis yang sangat dicintanya itu, hati Cin Hai menjadi gembira sekali karena dia pun tahu bahwa kekasihnya telah melupakan kesedihannya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan penuh kegembiraannya dan kebahagiaan yang hanya dapat dirasakan oleh sepasang teruna remaja pada waktu melakukan perjalanan bersama! Dalam kegembiraannya ini, sering kali mereka berhenti di bawah pohon yang besar dan Cin Hai teringat kembali untuk meniup sulingnya, memenuhi permintaan Lin Lin. Gadis itu kini dapat pula menarikan Tarian Bidadari dengan pedangnya dan di dalam pandangan mata Cin Hai, apa bila Lin Lin menari diiringi sulingnya, maka gadis ini lebih menarik tariannya dari pada tarian Ang I Niocu sendiri!

Untuk membalas kebaikan Cin Hai yang telah meniup suling untuknya, maka ketika Cin Hai minta supaya dia bernyanyi, Lin Lin tidak menolaknya. Gadis ini memang mempunyai suara yang merdu dan bagus, maka nyanyiannya terdengar merdu sekali.

Memang, bagi siapa saja yang pernah mengalaminya, tentu akan mengaku bahwa tidak ada kegembiraan penuh bahagia yang lebih nikmat dari pada berduaan dengan seorang tunangan yang saling mencinta mesra, bercakap-cakap, bersendau gurau namun tetap saling menjaga kesusilaan sebagaimana layaknya dilakukan oleh orang-orang sopan dan berbudi. Sekali saja kesusilaan dilanggar karena dorongan nafsu yang ditimbulkan oleh iblis maka akan hancur leburlah kebahagiaan murni yang mereka nikmati.

Tetapi, Lin Lin dan Cin Hai adalah orang-orang muda yang sudah sama-sama mendapat gemblengan dan didikan dari orang-orang bijaksana dan sakti, maka iman mereka telah menjadi kuat dan batin mereka sudah bersih. Mereka telah menjadi majikan dari pada nafsu sendiri dan menganggap nafsu sebagai hamba yang menjadi alat, bukan seperti halnya orang-orang lemah iman yang malah dikuasai dan diperhamba oleh nafsu yang menunggangi mereka.

Pada suatu hari, ketika mereka tiba di sebuah hutan yang besar, mereka melihat dua orang berlari-lari cepat dengan wajah seakan-akan sedang menderita ketakutan hebat. Dua orang itu terdiri dari seorang laki-laki setengah tua yang bersikap gagah sekali dan yang memelihara kumis tebal menjungat ke atas di kanan kiri hidungnya, matanya tajam dan sikapnya agung. Sedangkan orang kedua adalah seorang gadis yang sangat cantik jelita, bermata jeli dan bermuka manis bukan main, akan tetapi pada waktu itu wajahnya kemerah-merahan dan matanya mengandung kedukaan besar,

“Mereka seperti orang ketakutan, mari kita tolong!” kata Lin Lin dan Cin Hai mengangguk. Mereka lalu menghadang di tengah jalan dan Cin Hai berseru,

“Ji-wi harap berhenti dulu!”

Kedua orang yang sedang berlari itu menahan kaki mereka dan dengan napas tersengal-sengal mereka berhenti, memandang kepada Cin Hai dan Lin Lin dengan heran.

“Mengapa ji-wi berlari-lari seakan-akan ada yang mengejar ji-wi?” Lin Lin bertanya sambil memandang dengan kagum dan hati suka kepada gadis manis tadi.

“Memang kami sedang dikejar-kejar orang, akan tetapi urusan ini adalah urusan bangsa kami sendiri dan sedikit pun tidak ada sangkut pautnya dengan Ji-wi,” kata laki-laki tadi dengan suara gagah, menandakan bahwa dia memiliki keangkuhan serta ketinggian hati, tidak suka minta tolong kepada orang lain.

Cin Hai tersenyum. “Sahabat, ketahuilah bahwa kami bukan bermaksud jahat tetapi kami hanya ingin menolong kepadamu, yaitu apa bila kau berada dalam bahaya.”

“Memang aku dan anakku ini sedang berada dalam keadaan bahaya. Akan tetapi bagi seorang kepala suku bangsa Haimi seperti aku, tak pernah aku minta tolong kepada lain orang untuk memusuhi bangsa sendiri!”

“Suku Haimi?” seru Cin Hai yang teringat akan penuturan Kwee An ketika pemuda itu dulu menceritakan pengalamannya. “Apakah kau bukan Sanoko yang gagah dan nona ini Nona Meilani?”

Kedua orang itu tercengang. “Bagaimana kau dapat mengetahui nama kami?” Sonoko bertanya dengan muka heran.

Lin Lin yang juga sudah mendengar penuturan itu dari Cin Hai, lalu berkata girang, “Nona Meilani, kau tentu masih ingat kepada Kwee An, bukan?”

Mendengar nama ini disebut-sebut, Meilani menundukkan kepala dengan muka merah. “Dia... dia adalah suamiku...”

“Benar,” kata Lin Lin yang sudah tahu pula akan ‘perkawinan’ itu. “Dan aku adalah bekas adik iparmu, karena Kwee An itu adalah kakakku!”

Mendengar ucapan ini, Meilani mengeluarkan isak tangis, lalu dia maju menubruk Lin Lin. Dua orang gadis itu berpelukan dengan mesra, dan Lin Lin mencium bau kembang yang luar biasa harumnya keluar dari tubuh gadis bangsa Haimi yang cantik itu.

Juga Sanoko menjadi girang sekali. Ia cepat menjura kepada Cin Hai dan berkata, “Maaf, maaf! Tidak tahunya kami bertemu dengan sanak keluarga sendiri. Tidak tahu siapakah nama enghiong yang mulia?”

“Siauwte bernama Sie Cin Hai.”

“Apakah kau juga masih keluarga Kwee An?” tanya Sanoko.

Cin Hai merasa ragu-ragu untuk menjawab, akan tetapi Lin Lin mendahuluinya.

“Dia itu adalah tunanganku.”

Meilani yang sudah pandai berbahasa Han, membelalakkan matanya yang sangat indah dan sambil tersenyum manis hingga giginya yang hitam berkilauan itu nampak sedikit, ia bertanya kepada Lin Lin, “Apakah artinya tunangan?”

“Tunangan adalah... calon suami.”

“Ahh...” Meilani kemudian berlari menghampiri Cin Hai, memeluknya dan mencium kedua pipinya.

Tentu saja Cin Hai menjadi kaget sekali sehingga matanya terbelalak lebar, dan mukanya menjadi merah bagaikan udang direbus. Juga Lin Lin yang melihat hal ini menjadi heran sekali, akan tetapi sebagai seorang wanita, dia menjadi cemburu dan wajahnya berubah pucat.

Sanoko agaknya tahu akan hal ini, maka cepat-cepat ia berkata,

“Nona, kebiasaan suku bangsa kami adalah bahwa setiap orang wanita berhak, bahkan diharuskan memberi selamat kepada seorang mempelai laki-laki dengan cara seperti itu.”

Kini legalah hati Lin Lin, karena dia tadi melihat betapa wajah Cin Hai menjadi kemerah-merahan dan dengan belaian kasih sayang seperti itu dari seorang gadis yang secantik Meilani, bukanlah hal yang boleh dianggap ringan bagi pertahanan hati Cin Hai. Dan apa bila dia harus mendapat saingan dari seorang gadis seperti Meilani, akan berbahayalah! Kecuali giginya yang hitam mengkilap, Meilani adalah gadis yang jarang terdapat karena cantik jelitanya.

Meilani kembali menghampiri Lin Lin dan memeluknya. “Siapakah namamu, Adikku yang baik?” tanyanya.

“Panggil saja Lin Lin kepadaku,” jawab Lin Lin sambil tersenyum.

Diam-diam ia mengerling ke arah Cin Hai dengan pandangan tajam. Adakah Cin Hai juga mencium bau kembang yang harum dan sedap itu? Demikian pikirnya.

“Sanoko Lo-enghiong, karena sudah kau ketahui bahwa kita adalah orang sendiri, maka ceritakanlah mengapa kau bersama Nona Meilani berlari-lari dan siapa pula yang sedang mengejarmu?”

“Amat memalukan kalau diceritakan,” kata orang tua itu sambil menarik napas panjang, “Semua ini adalah gara-gara keponakanku sendiri. Lenyap sudah sifat-sifat ksatria yang setia, gagah dan jujur, setelah dia merantau dan memiliki kepandaian dari... orang-orang Han. Maafkan ucapanku ini, Sie-taihiap, aku tak bermaksud menghina orang-orang Han.”

Cin Hai tersenyum dan mengangguk. “Siauwte juga tidak akan membela bangsa sendiri kalau memang dia benar-benar jahat dan terus terang saja, di antara bangsa Han juga banyak yang jahat, sebagaimana terdapat pula pada bangsa lain. Teruskanlah ceritamu, Lo-enghiong.”

Sanoko segera bercerita secara singkat. Ternyata bahwa biar pun sudah menjadi ‘janda’ yaitu setelah ditinggal pergi oleh Kwee An saat baru saja melangsungkan ‘pernikahannya’ dengan Meilani, Meilani tetap menjadi pujaan para pemuda bangsa Haimi. Akan tetapi, agaknya gadis itu telah mengalami penyakit patah hati sehingga ia menolak tiap pinangan pemuda bangsanya. Menurut adat kebiasaan mereka, seorang janda yang telah ditinggal oleh suaminya lebih dari seratus hari, maka dia berhak untuk menerima pinangan laki-laki lain dan si suami itu apa bila telah kembali, tidak berhak lagi terhadap bekas isterinya.

Meilani tinggal menjadi janda kembang sampai berbulan-bulan, dan akhirnya ia jatuh hati juga pada seorang pemuda yang baru saja kembali pulang dari perantauan, yaitu seorang pemuda pemburu yang gagah berani bernama Manoko. Ketika Manoko mengajukan pinangan, maka pinangan itu diterima.

Akan tetapi, pada saat itu datanglah seorang pemuda keponakan Sanoko sendiri yang semenjak kecil telah merantau ke daerah selatan dan telah mempelajari silat dari seorang guru bangsa Han. Ketika pemuda yang bernama Saliban ini datang, maka semua orang mengaguminya karena dia memang benar-benar pandai dan berilmu silat tinggi. Semua jago-jago Haimi jatuh dalam tangannya.

Juga orang-orang Haimi banyak yang membencinya, karena tenyata bahwa keponakan dari Sanoko itu beradat buruk, jahat, dan sombong sekali. Dia bertingkah meniru lagak orang-orang Han, bahkan dia tidak memelihara kumis dan cambang seperti orang Han, dan berbicara pun dia selalu mempergunakan bahasa Han!

Semenjak datang dan kembali tinggal bersama bangsa sendiri, telah sering kali Saliban mengganggu anak bini orang, dan semenjak ia datang, ia menaruh hati kepada Meilani, saudara misannya itu. Dia tidak mau atau memang dia tidak suka mengikat diri dengan sebuah pernikahan dan niatnya hanya ingin menjadikan Meilani sebagai kekasihnya saja! Tentu hal ini tidak dapat diterima oleh Meilani yang memang menaruh hati benci kepada pemuda yang mempunyai lagak menjemukan itu.

Ketika pinangan Manako diterima, Saliban menjadi marah sekali. Dia lalu menggunakan kepandaian dan pengaruhnya untuk menghasut teman-temannya kemudian mengadakan pemberontakan. Hal ini terjadi pada hari perkawinan Meilani dengan Manako.

Tiba-tiba saja Saliban menyerang, sehingga terjadi pertempuran hebat di antara bangsa sendiri. Pengikut-pengikut Sanoko tak ada yang kuat melawan Saliban sehingga banyak yang menjadi korban, sedangkan Manoko sendiri terluka pada pundaknya dan melarikan diri ke dalam hutan. Sanoko dan Meilani setelah mengadakan perlawanan hebat, ternyata tak kuat menghadapi Saliban yang tangguh itu, maka mereka melarikan diri, dikejar-kejar oleh Saliban dan kawan-kawannya yang bermaksud membunuh Sanoko, mengangkat diri sendiri menjadi kepala suku dan memaksa Meilani menjadi kekasihnya!

Bukan main marahnya hati Cin Hai dan Lin Lin mendengar penuturan ini, dan pada saat Sanoko mengakhiri cerita-ceritanya, tiba-tiba terdengar sorakan ramai dari depan.

“Itulah mereka telah datang, biarlah aku dengan anakku mengadakan perlawanan sampai titik darah penghabisan!” kata Sanoko sambil bangun berdiri dan memegang pedangnya dengan sikap gagah. Juga Meilani telah mencabut pedangnya dan bersiap sedia.

“Duduklah, Lo-enghiong, dan kau juga, Meilani. Biarkan aku yang menghadapi bangsat-bangsat itu!” kata Lin Lin dengan gagahnya.

Meilani dan Sanoko ragu-ragu, akan tetapi Cin Hai berkata, “Benar, Lo-enghiong, biarkan tunanganku itu menghadapi Saliban. Kau dan Nona Meilani sudah lelah, kini mengasolah sambil menonton!” Mendengar kata-kata itu, mundurlah kedua orang ini dan membiarkan Lin Lin seorang diri menghadapi Saliban.

Benar saja, yang datang itu adalah serombongan orang Haimi terdiri dari belasan orang yang dipimpin oleh seorang pemuda Haimi yang berpakaian seperti orang Han dan yang lagaknya sombong sekali. Melihat betapa orang-orang Haimi yang masih muda-muda itu semuanya memelihara kumis yang melintang di bawah hidung dan menjungat ke atas, tak dapat ditahan lagi Lin Lin tertawa geli, sedangkan Cin Hai tak terasa lagi meraba-raba kulit bawah hidungnya yang masih halus dan belum ditumbuhi kumis itu.

Saliban melihat betapa seorang gadis Han yang cantik luar biasa dengan sikap gagah menghadang di jalan, sedangkan Sanoko bersama Meilani hanya duduk di bawah pohon seakan-akan dilindungi oleh gadis itu, menjadi terheran-heran dan melihat kecantikan Lin Lin, timbullah sikap kurang ajarnya. Ia tersenyum dibuat-buat dan berkata,

“Nona cantik, apakah kau sudah mendengar nama Saliban yang gagah perkasa sehingga sengaja kau datang menyambutku untuk berkenalan?”

“Jadi inikah tikus yang bernama Saliban? Eh, tikus, apa maksudmu mengejar Sanoko dan Meilani?” berkata Lin Lin dengan suara mengejek.

“Lin-moi, dia itu bukan tikus! Lihat saja dia tidak berkumis, mungkin kumisnya itu telah dia sembunyikan di belakang menjadi ekor! Dia ini lebih cocok disebut monyet buduk!” kata pula Cin Hai untuk mengejek orang itu.

Bukan main marahnya Saliban mendengar ejekan-ejekan ini dan lenyaplah maksudnya hendak mengganggu Lin Lin, berubah menjadi kebencian besar.

“Dari mana datangnya dua ekor anjing kurang ajar ini?” dia membalas memaki dan sekali tangan kirinya bergerak, sebatang piauw menyambar ke arah Cin Hai yang sedang duduk di bawah pohon dan sekali lagi tangannya bergerak, maka sebatang piauw lain sudah pula menyambar ke leher Lin Lin!

Dengan tenang Cin Hai memungut ranting kayu yang terletak di dekatnya dan pada saat piauw itu menyambar ke arahnya, dia menggerakkan ranting itu dan sekaligus piauw itu kena dipukul sedemikian rupa sehingga piauw itu membuat gerakan membalik dan kini meluncur kembali ke arah kaki Saliban!

Sementara itu, piauw yang meluncur ke arah leher Lin Lin, disambut dengan sikap dingin oleh gadis itu. Ketika piauw menyambar, dia lalu mengulur tangan dan berhasil menjepit piaiuw itu di antara jari-jari tangannya, lalu melihat betapa piauw yang melayang ke arah Cin Hai telah di’retour’ oleh pemuda itu, dia menanti sampai piauw itu melayang ke kaki Saliban dan saat melihat Saliban meloncat naik untuk mengelak dari sambaran piauwnya sendiri, Lin Lin tersenyum dan ia pun lalu menyambitkan piauw yang ditangkapnya tadi ke arah kaki Saliban lagi yang justru hendak turun. Terpaksa Saliban melompat lagi ke atas sehingga dia telah berlompat-lompatan dua kali untuk menghindarkan diri dari sambaran piauwnya sendiri!

“Ha-ha-ha! Lihat, benar-benar ia monyet yang pandai menari-nari!” Cin Hai tertawa sambil menuding ke arah Saliban, sedangkan Lin Lin juga tertawa mengejek.

Sanoko dan Meilani terpaksa ikut tersenyum melihat kejenakaan dua orang muda yang ternyata dapat mempermainkan Saliban. Diam-diam Meilani merasa kagum sekali melihat Lin Lin yang mempunyai cara demikian indah untuk menerima sambitan piauw dari jarak dekat dan mengembalikannya ke arah kaki lawan hanya untuk mempermainkannya.

Saliban makin marah, maka dia lalu mencabut pedangnya sambil berseru,

“Bangsat-bangsat kurang ajar! Kau mencampuri urusan suku bangsa lain?”

“Saliban, orang rendah! Jangan kau membuka mulut besar! Kami berdua memang selalu mencampuri urusan semua orang-orang biadab macam kau yang hendak mengandalkan kejahatan untuk mencelakakan orang. Kau sungguh tidak tahu malu. Meilani tidak suka menjadi permainanmu, mengapa kau hendak memaksa?”

“Meilani adalah adik misanku. Dia telah menjadi janda dan memalukan sekali kalau dia menerima pinangan orang lain! Itu berarti merendahkan nama keluarga kami! Kau berhak apakah mencampuri urusan rumah tangga kami?”

“Dengarlah!” bentak Lin Lin dengan marah. “Meilani adalah kakak iparku karena ia adalah janda dari kakakku Kwee An. Kakakku dan aku pun sudah setuju kalau dia menikah lagi dengan orang yang dipilihnya sendiri atas persetujuan Ayahnya, kau ini mempunyai hak apa maka berani menghalanginya?”

“Bagus, kalau begitu biarlah kalian kubinasakan semua!”

Sambil berkata demikian Saliban lalu maju menubruk dan menyerang dengan pedangnya ke arah Lin Lin. Akan tetapi Lin Lin dengan tenang sekali menghadapinya dengan tangan kosong.

“Adik Lin Lin, kau pergunakan pedangku ini!” kata Meilani karena merasa kuatir melihat betapa gadis itu menghadapi Saliban yang lihai dengan tangan kosong saja.

Akan tetapi Lin Lin menoleh dan hanya tersenyum kepadanya sambil menjawab, “Untuk menghadapi seekor tikus… ehh, monyet macam ini perlu apakah harus mempergunakan pedang? Tanganku cukup untuk merobohkannya!”

Juga Cin Hai yang melihat gerakan Saliban walau pun cukup lihai namun masih belum cukup berbahaya bagi Lin Lin, berkata kepada Meilani, “Tenanglah, Nona. Lin-moi cukup kuat menghadapinya dengan tangan kosong.”

Sementara itu, Saliban yang merasa terhina sekali oleh ucapan Lin Lin, dengan nekat lalu menyerang sambil mencurahkan seluruh kepandaian dan tenaganya. Akan tetapi, sambil menari-nari dan mempergunakan Ilmu Silat Tarian Bidadari yang sudah dipelajarinya, Lin Lin mempermainkan Saliban hingga Meilani memandang bengong. Bagaimana mungkin menghadapi seorang tangguh seperti Saliban itu dengan menari-nari macam itu?

Kawan-kawan Saliban maju mengeroyok Lin Lin, akan tetapi tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu beberapa buah senjata di tangan mereka melayang dan terpental ke mana-mana. Ternyata Cin Hai yang begitu melihat gerakan mereka sudah mendahului dan dengan sekali bergerak saja ia telah membuat pedang dan golok mereka terlepas dari pegangan!

Orang-orang Haimi itu terkejut sekali dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba kembali tubuh Cin Hai berkelebat dan bergerak, dan terdengar jerit kesakitan berkali-kali. Pada waktu mereka semua meraba ke arah hidung mereka yang terasa sakit dan perih, ternyata bahwa Cin Hai sudah mempergunakan kecepatan gerakannya untuk mencabuti kumis-kumis mereka itu seorang demi seorang!

Sambil melemparkan rambut-rambut kumis itu ke udara sehingga beterbangan tertiup angin, Cin Hai tertawa-tawa sehingga Meilani yang melihat hal ini tak kuasa lagi menahan geli hatinya dan ikut tertawa terkekeh-kekeh. Sanoko yang melihat kehebatan gerakan itu dengan kepala pening, juga tersenyum meski di dalam hatinya dia merasa kasihan juga kepada anak buahnya yang memberontak itu karena bagi seorang laki-laki Haimi, dicabut kumisnya sama dengan dicabut kepalanya dari leher!

“Kalian yang memberontak dan mengikuti bangsat Saliban, tidak pantas berkumis lagi!” kata Cin Hai sambil memandang kepada belasan orang yang sekarang telah kehilangan kumisnya itu. Mereka menundukkan kepala sambil menutupi hidungnya yang berdarah itu, dan merasa amat malu karena tanpa kumis bagi mereka hampir sama dengan berdiri telanjang dihadapan orang lain!

“Kalau kalian sayang jiwa, hayo berlutut minta ampun kepada kepala suku yang asli, yaitu Sanoko!” teriak Cin Hai lagi.

Orang-orang itu telah merasai kelihaian Cin Hai, dan kini mereka tidak berani membantah lagi, lalu berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada Sanoko yang berdiri sambil memandang dengan kagum kepada Cin Hai. Sementara itu, Saliban telah merasa pening karena dipermainkan oleh Lin Lin, dan pada waktu gadis itu sudah merasa cukup puas mempermainkan Saliban, tiba-tiba dia mengubah gerakannya dan kini dia mainkan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na yang lihai, ilmu silat yang diajarkan oleh Bu Pun Su!

Saliban terkejut sekali ketika tubuh gadis itu melompat tinggi dan menyambar-nyambar dari atas bagai seekor burung besar menyerang marah. Ia menyabet dengan pedangnya, namun lebih dulu sudah ditotok oleh Lin Lin dan sebelum dia tahu bagaimana hal itu bisa terjadi tahu-tahu pedangnya telah berpindah tangan!

Saliban merasa amat terkejut dan hendak melompat pergi. Akan tetap kaki Lin Lin telah mendahuluinya menendang pundaknya dari atas hingga tak ampun lagi ia terguling roboh sambil mengeluh kesakitan karena sambungan tulang pundaknya telah terlepas.

Melihat keponakannya yang jahat itu sudah roboh, Sanoko lalu menghampiri Cin Hai dan Lin Lin dan memintakan ampun untuk jiwa Saliban, sehingga Cin Hai dan Lin Lin merasa kagum akan kemurahan hati kepala Suku ini.

“Saliban,” kata Cin Hai kepada pemuda Haimi itu, “dengarlah betapa pamanmu mintakan ampun untuk kau yang telah memberontak dan berbuat jahat kepadanya. Tidak malukah kau? Orang seperti engkau ini seharusnya dibinasakan, karena selain berbuat jahat, kau pun telah merusak nama baik Suhu-mu yang tentu seorang Han adanya. Kau tidak lekas minta ampun?”

Melihat kelihaian Lin Lin dan Cin Hai, Saliban segera insyaf bahwa ilmu kepandaiannya sebetulnya masih amat rendah dan ia merasa malu dan menyesal, maka sambil merayap ia berlutut minta ampun kepada pamannya dan bersumpah bahwa dia takkan mengulang perbuatannya lagi.

Pada saat itu, dari jauh datang serombongan orang Haimi yang dipimpin oleh Manako. Pemuda ini walau pun sudah terluka pundaknya, namun dengan nekat ia mengumpulkan kawan-kawan dan menyusul untuk menyerbu Saliban serta menolong calon isteri dan mertuanya. Juga Manako memaafkan Saliban, sedangkan Cin Hai dan Lin Lin diam-diam memuji ketampanan serta kegagahan Manako, hanya mereka diam-diam menyayangkan bahwa anak muda ini sebenarnya belum pantas memakai cambang yang demikian tebal dan panjangnya.

Setelah mereka bercakap-cakap dan beramah tamah dengan orang-orang Haimi serta meninggalkan banyak nasehat kepada Saliban, Cin Hai dan Lin Lin kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.

Pada saat mereka berdua tiba di Pegunungan Lian-ko-san yang tidak jauh lagi dari Goa Tengkorak, hanya tinggal satu hari perjalanan lagi, dan sedang berjalan melalui sebuah padang rumput, tiba-tiba muncul tiga orang yang membuat mereka terkejut dan bersiap sedia, karena tiga orang itu bukan lain ialah Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio.

Tiga orang ini yang sudah dikalahkan oleh Bu Pun Su, maklum bahwa anak-anak muda yang menjadi musuh mereka itu masih berada di daerah barat, maka sengaja mereka menghadang di sana untuk membalas dendam. Ketika Bu Pun Su lewat di situ, mereka bersembunyi saja tidak berani keluar, akan tetapi setelah kini melihat kedatangan Cin Hai dan Lin Lin, mereka lalu muncul dan menghadang di jalan dengan hati penuh dendam, terutama sekali Bo Lang Hwesio yang hendak membalas dendam terhadap Lin Lin atas kematian muridnya dahulu, yaitu Boan Sip yang menjadi gara gara semua permusuhan.

Cin Hai berlaku tenang-tenang saja, juga Lin Lin dengan tabah dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri berdiri di sebelah kiri kekasihnya sambil memandang tajam kepada musuh-musuh besar itu.

“Eh, kiranya Sam-wi Lo-suhu yang berada di sini. Tidak tahu mempunyai maksud apakah maka menghadang perjalanan kami?” kata Cin Hai dengan sikap hormat.

“Pendekar Bodoh! Telah berkali-kali kau dengan kawan-kawanmu memusuhi dan menjadi penghalang kami, bahkan Suhu-mu sendiri sudah menghina kepada kami. Kini kebetulan kita bertemu di sini, masih hendak bertanya tentang maksud kami? Cabutlah senjatamu dan biarlah saat ini akan menentukan siapa diantara kita yang lebih kuat!” kata Thai Kek Losu kepada Cin Hai.

Aedangkan Bo Lang Hwesio dengan mata memandang marah membentak kepada Lin Lin. “Dan kau tentu masih ingat akan dosamu membinasakan muridku, maka sekarang aku hendak membalas dendam. Hutang jiwa ya harus dibayar jiwa pula!” Sambil berkata demikian, Bo Lang Hwesio mengeluarkan sepasang poan-koan-pit.

Lin Lin sudah mendengar mengenai pertempuran tokoh-tokoh besar ini melawan Bu Pun Su, maka melihat poan-koan-pit itu, ia menyindir,

“Bo Lang Hwesio, agaknya kau telah mencuri sepasang poan-koan-pit baru, apakah yang dulu telah tak dapat digunakan lagi?”

Marahlah Bo Lang Hwesio mendengar ini, maka sambil menerjang maju dia membentak lagi, “Perempuan rendah, bersedialah untuk mampus!”

Dengan tenang Lin Lin kemudian mencabut keluar Han-le-kiam dari pinggangnya, segera menyampok poan-koan-pit lawan yang menyerangnya, kemudian secepat kilat ia pun lalu balas menyerang dengan hebat.

Sementara itu, Thai Kek Losu sudah mengeluarkan senjatanya yang sangat hebat, yaitu tengkorak kecil yang rantai pengikatnya kini telah diperbaikinya dan diganti, ada pun Sian Kek Losu juga mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yakni sebatang gendewa. Juga gendewanya yang dulu telah dipatahkan oleh Bu Pun Su itu kini telah digantinya dengan sebatang gendewa yang baru, terbuat dari pada besi kuning.

Cin Hai maklum akan kelihaian senjata-senjata lawannya, maka ia pun tidak mau berlaku sungkan lagi, segera mencabut keluar sepasang pedangnya Liong-cu-kiam yang panjang dan pendek, dipegang pada kedua tangannya. Kedua Pendeta Sakya Buddha itu terkejut melihat sepasang pedang yang mengeluarkan sinar gemilang itu, maka mereka maklum bahwa sepasang pedang itu tentu pedang-pedang pusaka yang ampuh dan tajam sekali. Mereka lalu membentak dan mendahului menyerang dengan hebat.

Cin Hai memperlihatkan kegesitannya dan melawan dengan tenang serta waspada. Dia melihat betapa gerakan Thai Kek Losu jauh lebih gesit dari pada dulu, agaknya selama ini pendeta itu sudah melatih diri, sedangkan gerakan Sian Kek Losu juga hebat bukan main. Untung ia mempergunakan sepasang pedang Liong-cu-kiam yang tajam sehingga kedua lawannya tidak berani menahan pedangnya dengan senjata mereka sehingga serangan dua orang itu dapat dibalas dengan serangan-serangan kilat yang cukup membuat kedua lawannya berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa murid Bu Pun Su ini tidak boleh dibuat gegabah!

Sementara itu, pertempuran antara Lin Lin dan Bo Lang Hwesio juga berjalan seru sekali. Ilmu Pedang Han-le-kiam memang luar biasa dan sangat cepat, sedangkan kini Lin Lin telah memperoleh kemajuan hebat dan bahkan telah melatih diri dengan limu Silat Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sin-na.

Akan tetapi menghadapi Bo Lang Hwesio yang sudah jauh lebih berpengalaman dan ulet itu, dia mendapatkan lawan yang amat kuat dan tangguh. Sepasang poan-koan-pit pada tangan Bo Lang Hwesio menyambar-nyambar ke arah jalan darah yang berbahaya dan juga setiap kali pedang Han-le-kiam kena disampok oleh poan-koan-pit, Lin Lin merasa betapa telapak tangannya menggetar sebab ternyata tenaga hwesio itu masih lebih besar sedangkan ilmu lweekang-nya pun lebih tinggi dari pada Lin Lin.

Maka gadis ini yang tahu akan keadaan itu segera mempergunakan kelincahannya dan ginkang-nya untuk menghindarkan diri dari desakan poan-koan-pit, sedangkan jurus-jurus berbahaya yang ia keluarkan dari ilmu pedangnya membuat Bo Lang Hwesio diam-diam merasa terkejut juga.

Alangkah beda tingkat ilmu pedang gadis ini dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu ketika dia dengan Ke Ce menyerbu ke atas bukit tempat tinggal Yousuf dan berhasil menjatuhkan Kwee An dan Ma Hoa ke dalam jurang. Ketika dahulu itu, walau pun ilmu pedang gadis ini sudah aneh dan luar biasa, akan tetapi gerakannya belum sematang ini. Maka hwesio itu cepat mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga setelah bertempur lama, Lin-Lin merasa terdesak juga!

Ada pun Cin Hai yang dikeroyok dua oleh Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, meski pun belum terdesak, tetapi sukar pula baginya untuk mendesak kedua lawannya yang berilmu tinggi. Terutama sekali tengkorak di tangan Thai Kek Losu sangat berbahaya karena Cin Hai tidak berani menangkisnya dengan pedang. Dia maklum bahwa tengkorak itu amat berbahaya dan bila ditangkis akan menyebarkan jarum-jarum beracun yang lihai sekali.

Juga gendewa di tangan Sian Kek Losu bukanlah senjata yang mudah dilawan biar pun dia dapat menduga ke arah mana gerakan gendewa itu akan dilancarkan. Maka untuk menghadapi kedua lawan yang tangguh ini, Cin Hai memainkan dua macam ilmu pedang dengan kedua tangannya.

Pedang panjang di tangan kanan ia mainkan dengan jurus-jurus dari Ilmu Pedang Daun Bambu, sedangkan pedang pendek di tangan kiri ia mainkan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan Kiam-hoat, sehingga kedua pendeta Sakya Buddha itu benar-benar merasa terkejut dan mengadakan perlawanan dengan mati-matian. Mereka harus mengakui bahwa selain Bu Pun Su, belum pernah mereka menemukan tandingan seorang pemuda yang sedemikian tinggi ilmu silatnya!

Pada saat pertempuran sedang berjalan dengan seru, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang gerakannya ringan sekali dan laki-laki ini langsung membentak marah,

“Pendeta-pendeta pada dewasa ini hanya menggunakan pakaian sebagai kedok belaka, akan tetapi di dalam tubuh mengandung iman yang bobrok dan batin yang amat rendah! Jangan kalian berani mengganggu murid seorang sakti dan mulia seperti Bu Pun Su!”

Kemudian laki-laki itu menarik keluar pedangnya dan menerjang Bo Lang Hwesio sambil berkata kepada Lin Lin. “Nona, kau bantulah kawanmu itu dan biarkan Si Gundul ini tewas dalam tanganku.”

Lin Lin mendengar suara ini diucapkan dengan halus dan sopan akan tetapi mengandung pengaruh besar, karena itu dia lalu meninggalkan Bo Lang Hwesio dan melompat untuk membantu Cin Hai.

Lin Lin maklum bahwa ilmu kepandaian Thai Kek Losu terlampau tinggi baginya, maka ia lalu menyerang Sian Kek Losu! Memang perhitungannya tepat karena di antara ketiga orang lawan yang paling lihai dan sangat berbahaya untuk dilawan adalah Thai Kek Losu.

Bo Lang Hwesio memiliki ilmu kepandaian yang hanya sedikit berada di bawah tingkat kepandaian pendeta Sakya Buddha ini, bahkan di dalam hal lweekang, mungkin Bo Lang Hwesio lebih tinggi tingkatnya! Ada pun Sian Kek Losu hanya memiliki tenaga besar saja dan ilmu silatnya biar pun tinggi, namun tidak selihai kedua orang kawannya itu.

Kini pertempuran terpecah menjadi tiga dan keadaan berubah dengan cepatnya. Orang yang baru datang tadi dengan ilmu pedangnya yang gerakannya luar biasa cepat dan aneh, segera berhasil mendesak Bo Lang Hwesio. Ketika Lin Lin dan Cin Hai mendapat kesempatan memandang ke arah orang itu, hampir saja mereka berseru karena heran dan kagum.

Ternyata ilmu pedang yang dimainkan oleh orang itu memiliki dasar-dasar gerakan yang sama dengan ilmu silat mereka! Lin Lin teringat akan penuturan Ma Hoa ketika bertemu dengannya di dalam goa bersama Ang I Niocu, karena itu sambil menangkis serangan gendewa di tangan Sian Kek Losu ia berseru,

“Enghiong yang gagah bukankah Lie-enghiong tunangan Ang I Niocu?”

Orang itu tersenyum dan sambil menangkis poan-koan-pit di tangan Bo Lang Hwesio, dia pun menjawab,

“Betul, dan Ji-wi tentulah Nona Lin Lin dan Saudara Cin Hai!”

Mendengar percakapan ini, Cin Hai merasa heran sekali. Hal ini merupakan ‘surprise’ baginya, yaitu merupakan hal yang sama sekali tidak pernah diduga-duganya. Tunangan Ang I Niocu? Dan demikian gagah perkasa?

Hatinya menjadi girang dan fia ingin sekali cepat-cepat mengakhiri pertempuran ini agar supaya dapat bercakap-cakap dengan orang yang memiliki ilmu kepandaian yang sama dengan kepandaiannya sendiri.

Ia dulu mendengar bahwa Ang I Niocu ditolong oleh Lie Kong Sian, akan tetapi Dara Baju Merah itu tidak menceritakan bahwa ia telah menjadi tunangan Lie Kong Sian. Ia maklum bahwa orang ini adalah Suheng dari Song Kun, maka boleh dibilang masih suheng-nya sendiri pula.....

Dengan Ilmu Pedang Han-le Kiam-hoat Lin Lin dapat mendesak Sian Kek Losu dan pada saat gendewa di tangan Sian Kek Losu menangkis dengan sekuat tenaga untuk membuat pedang pendek di tangan Lin Lin terpental, gadis itu dengan sangat cerdik dan cepatnya lantas menarik kembali pedangnya dan ketika melihat ada lowongan yang terbuka segera menggunakan gerak tipu Ang I Memetik Kembang, langsung pedangnya ditusukkan ke arah iga lawan di bawah lengan yang memegang gendewa.

Sian Kek Losu berusaha mengelak. Akan tetapi gerakan Lin Lin itu luar biasa cepatnya dan juga tidak diduganya semula, maka tiada ampun lagi pedang Han-le-kiam yang tajam itu dengan jitu menusuk dadanya dari bawah lengan! Sian Kek Losu menjerit, kemudian gendewanya terlepas, tubuhnya sempoyongan lalu roboh dan tewas pada saat itu juga!

Juga Bo Lang Hwesio yang sudah tidak tahan menghadapi Lie Kong Sian, dengan nekat lalu memutar-mutar poan-koan-pit di tangannya dan menyerang bagaikan harimau terluka yang sudah nekat hendak mengadu jiwa. Lie Kong Sian terus mengurung dengan sinar pedangnya sehingga kini Bo Lang Hwesio terpaksa mempergunakan lweekang-nya untuk mengerahkan tenaga pada kedua senjatanya, menangkis sambil terdesak mundur.

Ujung pedang Lie Kong Sian berkelebat cepat mengarah tenggorokannya dan Bo Lang Hwesio lantas membuat gerakan nekat yang hendak memberi pukulan maut tanpa peduli akan keselamatan sendiri. Pada waktu pedang itu meluncur ke arah lehernya, dia hanya sedikit miringkan kepala dan berbareng dengan itu mengirim tusukan dengan sepasang poan-koan-pit ke arah dada Lie Kong Sian.

Bila Lie Kong Sian meneruskan serangannya dengan membalikkan pedang, maka ia pun akan termakan oleh sepasang poan-koan-pit itu dan keduanya pasti akan tewas! Akan tetapi tentu saja Lie Kong Sian tidak mau diajak mati bersama, maka ia berseru keras dan menggerakkan tangan kirinya yang mengeluarkan uap putih.

Kiranya Lie Kong Sian telah menggunakan gerakan dari Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut untuk menangkis tusukan poan-koan-pit itu! Sedangkan pedangnya tetap dia teruskan dengan bacokan ke arah leher lawan!

Bo Lang Hwesio merasa girang melihat ini karena dia telah mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya yang tinggi ke arah tangan yang memegang senjata, maka ia merasa pasti bahwa tusukannya akan menewaskan musuh. Tidak tahunya, ketika tangan kiri Lie Kong Sian menyampok, poan-koan-pitnya kena disampok terpental oleh tenaga yang luar biasa sehingga dia merasa terkejut sekali. Pada waktu itu pedang Lie Kong Sian telah datang menyambar. Bo Lang Hwesio berusaha mengelak, akan tetapi terlambat. Ia pun menjerit keras dan roboh mandi darah dengan leher hampir putus oleh pedang Lie Kong Sian!

Kini Lin Lin dan Lie Kong Sian melihat pertempuran yang terjadi antara Cin Hai dan Thai Kek Losu dengan serunya. Thai Kek Losu yang harus menghadapi Cin Hai seorang diri, merasa jeri sekali karena dia pernah merasai kelihaian pemuda ini. Melihat betapa Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio sudah tewas, dia menjadi nekat dan menyerang Cin Hai dengan mati-matian. Tengkorak kecil di tangannya lalu diputar-putar laksana maut sendiri terbang berkeliaran mencari korban.

Ada pun Cin Hai yang pernah menghadapi That Kek Losu, bahkan dahulu hampir saja mendapatkan celaka karena pengaruh racun jahat yang keluar dari tengkorak itu, bersilat dengan sangat hati-hati. Sebegitu jauh dia belum berani membacok tengkorak itu, kuatir kalau-kalau racun jahat dan senjata-senjata rahasia yang ada di dalam tengkorak itu akan menyambar keluar dan biar pun ia akan dapat mengelak namun hawa beracun yang luar biasa itu masih tetap merupakan bahaya besar. Dulu pun baru lewat dekat mukanya saja dan dia mencium bau racun, dia telah terkena celaka dan kalau tidak kebetulan bertemu dengan suhu-nya, tentu dia telah binasa.

Melihat keragu-raguan kekasihnya, Lin Lin hendak maju membantu, akan tetapi Cin Hai melarangnya. “Mundurlah Lin-moi, sekarang juga aku akan merobohkannya. Lihat!”

Lin Lin melompat mundur kembali dan pada saat itu tengkorak kecil menyambar ke arah Cin Hai dengan mulut di depan seakan-akan hendak mencium muka pemuda itu. Cin Hai tidak mengelak, hanya memandang dengan tajam dan kedua pedang di tangannya telah siap sedia.

Ketika tengkorak itu sudah datang dekat, tiba-tiba saja pedang pendek di tangan kirinya menyambar dari samping dengan miring, yaitu dia tidak menggunakan tajamnya pedang untuk membacok, hanya mempergunakan permukaan pedang untuk menampar dari arah samping dengan tenaga yang diatur sedemikian rupa hingga tengkorak itu kena ditampar dan terbalik, kini mukanya menghadap kepada Thai Kek Losu.

Secepat kilat pedang Cin Hai di tangan kanan lalu membacok tengkorak itu dari belakang sambil menggunakan tenaga lweekang sekerasnya dan ketika terdengar suara ledakan yang terjadi pada waktu tengkorak itu kena bacok, Cin Hai segera lompat menjauh dan kebetulan sekali Lin Lin pada saat itu berdiri dekat, maka Cin Hai segera menyambar lengan kekasihnya dan dibawanya melompat juga!

Memang Cin Hai telah berlaku sangat hati-hati dan hal ini ada baiknya bagi dia dan Lin Lin, karena kalau ia tidak bertindak cepat, mungkin mereka akan terancam bahaya. Pada waktu tengkorak itu meledak, tidak hanya dari mulut, hidung serta matanya saja keluar jarum-jarum beracun yang amat jahat dan yang kesemuanya melayang ke arah Thai Kek Losu, akan tetapi setelah semua jarum habis, tengkorak itu sendiri meledak dan pecah berhamburan menjadi potongan-potongan kecil yang lantas menyambar ke sekelilingnya. Potongan ini tidak boleh dipandang rendah, karena setiap potongan kecil ini mengandung racun jahat dan apa bila melukai kulit, akan membahayakan jiwa yang terluka!

Thai Kek Losu yang tadinya sudah merasa gembira melihat Cin Hai berani membacok tengkorak itu, menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa semua senjata rahasia yang keluar dari tengkorak yang telah terbalik itu menyambar ke arahnya! Ia hendak mengelak pergi, akan tetapi terlambat. Beberapa batang jarum telah mengenai tubuhnya dan tanpa berteriak lagi ia roboh dan tewas oleh jarum-jarumnya sendiri!

Lie Kong Sian juga melompat pergi ketika ledakan tengkorak terjadi, dan dia kemudian menghampiri Cin Hai dan Lin Lin.

“Sute dan Sumoi, kalian benar-benar gagah perkasa. Apakah Supek Bu Pun Su dalam keadaan sehat-sehat saja?” katanya sambil tersenyum tenang.

Melihat sikap orang ini, baik Lin Lin mau pun Cin Hai merasa tertarik dan suka. Sikap Lie Kong Sian polos, jujur, dan sederhana sekali, hampir sama dengan sikap Bu Pun Su.

Setelah menjura dan memberi hormat, Cin Hai segera memegang tangan Lie Kong Sian dengan girang dan berkata, “Beliau sehat, Suheng. Sudah lama aku mendengar tentang namamu yang besar. Alangkah senangnya hatiku dapat bertemu dengan kau, apa lagi karena mendengar tadi bahwa kau telah bertunangan dengan Ang I Niocu!”

Kembali Lie Kong Sian tersenyum. “Aku memang sedang mencarinya, di manakah dia?”

Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya dan menceritakan pula bahwa Ang I Niocu dan yang lain-lainnya mendapat tugas dari Bu Pun Su untuk membagi-bagikan harta pusaka kepada rakyat miskin.

“Lie-suheng, ada berita girang untukmu,” tiba-tiba saja Lin Lin yang lincah dan jenaka itu berkata kepada Lie Kong Sian sambil menatap wajah pemuda yang tenang dan tampan itu.

Lie Kong Sian sudah mendengar dari Ang I Niocu tentang kejenakaan gadis ini dan dia tahu bahwa tunangannya amat mengasihinya maka sambil tertawa dia berkata, “Sumoi, kau tentu akan menggodaku. Silakanlah, apakah berita girang yang kau maksudkan?”

“Aku sudah mendengar tentang syarat-syarat yang diajukan oleh Enci Im Giok kepadamu dan...”

“Ehh, ehhh, dari mana kau bisa mengetahui hal itu?” Lie Kong Sian memotong sambil memandang heran, akan tetapi dia tidak marah karena bibirnya tetap tersenyum.

“Dari Enci Ma Hoa.”

Lie Kong Sian mengangguk-angguk dan Lin Lin melanjutkan bicaranya, “Dan sekarang, dua dari pada tiga syarat itu telah terpenuhi. Aku dan Engko Hai sudah bertemu kembali sebagaimana yang diharapkan oleh Enci Im Giok dan syarat ke dua pun telah terlaksana.”

Lie Kong Sian menatap wajah Lin Lin dengan tajam, kini senyumnya menghilang. “Sumoi, apa maksudmu? Syarat yang mana? Lekas kau ceritakan padaku!”

“Sute-mu yang jahat itu telah tewas dalam tangan Hai-ko!”

“Apa?!” Wajah Lie Kong Sian menjadi pucat sekali dan dua butir air mata menitik turun.

Ia memandang kepada Cin Hai yang berdiri sambil menundukkan kepala karena pemuda ini pun sudah mendengar betapa besar cinta kasih Lie Kong Sian terhadap Song Kun. Sikap dan wajah Cin Hai ini membuat hati Lie Kong Sian lemah kembali.

Kalau saja yang membunuh Song Kun bukan pemuda ini, pasti ia akan menjadi marah dan membalas dendam. Akan tetapi, pemuda ini adalah sute-nya sendiri pula, murid Bu Pun Su yang tidak saja kepandaiannya lebih tinggi dari pada dirinya sendiri, akan tetapi pemuda ini adalah seorang pemuda yang sangat dicinta oleh Ang I Niocu.

“Sute, kau benar-benar lihai sekali. Tak sembarang orang dapat merobohkan Song Kun, bahkan terus terang saja, aku sendiri tidak sanggup mengalahkannya. Coba kau tuturkan bagaimana hal itu terjadi.”

“Maafkan aku banyak-banyak, Lie-suheng. Memang dia lihai sekali dan andai kata dia tak tersesat dan menjadi seorang jahat, mungkin aku pun tidak akan dapat mengalahkannya. Akan tetapi, kejahatan pasti akan hancur dan kalah pada akhirnya.”

Kemudian Cin Hai lalu menceritakan mengenai pertempurannya dengan Song Kun yang disaksikan oleh Bu Pun Su. Juga menuturkan pula betapa Song Kun telah mencuri obat dan menggunakan obat itu untuk mengancam dan hendak mengganggu Lin Lin.

Mendengar ini semua, Lie Kong Sian menarik napas panjang. “Sayang betapa pun gagah seseorang, apa bila ia tidak memiliki kesempurnaan budi, ia menjadi orang yang sehina-hinanya dan serendah-rendahnya dan akhirnya orang itu pasti akan mengalami bencana besar dalam hidupnya.”

“Kau benar, Suheng,” kata Cin Hai dan Lin Lin hampir berbareng.

“Dan sekarang kalian hendak pergi ke manakah?”

“Kami hendak pergi ke Goa Tengkorak, tempat tinggal Suhu Bu Pun Su,” jawab Cin Hai.

“Bagus! Aku pun ingin sekali bertemu dengan orang tua itu,” kata Lie Kong Sian.

“Untuk memenuhi syarat ke tiga, bukan Suheng?” Lin Lin menggoda dan Lie Kong Sian mengangguk-angguk sambil tersenyum dan memandangnya.

“Kau benar-benar nakal, Sumoi.” Ketiganya lalu tertawa.

“Sebelum kita pergi, lebih dulu marilah kita mengubur jenazah tiga orang ini.”

Mendengar ucapan Lie Kong Sian ini, Lin Lin dan Cin Hai merasa kagum dan diam-diam memuji keluhuran budi tunangan Ang I Niocu itu. Cin Hai makin merasa girang bahwa Ang I Niocu mendapat calon suami yang selain gagah perkasa, juga berbudi tinggi.

Jenazah Thai Kek Losu, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio lalu mereka kubur dengan baik-baik, menjadi tiga gundukan tanah berjajar dan sebagai tandanya, Lie Kong Sian memindahkan tiga batang pohon Siong yang masih kecil, dan ditanam di depan kuburan-kuburan itu.

Matahari telah menurun ke barat ketika mereka bertiga selesai melakukan pekerjaan itu dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Goa Tengkorak…..

********************

Kini kita ikuti perjalanan Ang I Niocu yang bertugas membagi-bagikan sekantung harta pusaka itu kepada rakyat jelata yang miskin. Oleh karena Dara Baju Merah ini memang sudah biasa melakukan perjalanan seorang diri, dan pula untuk membagi-bagikan harta benda itu memang seharusnya berpencar, maka dia segera memisahkan diri dan berjanji akan saling bertemu dengan kawan-kawannya ini di rumah Lin Lin di Tiang-an sebagai tempat tujuan terakhir.

Mereka saling berpesan bahwa apa bila ada yang berjumpa dengan Cin Hai dan Lin Lin, harus memberi tahu bahwa kedua teruna remaja itu pun ditunggu di Tiang-an. Dengan demikian, maka nantinya mereka tak usah saling mencari dan dapat mengarahkan tujuan perjalanan mereka ke suatu tempat tertentu.

Ang I Niocu lalu melakukan perjalanan seorang diri seperti biasa, bebas bagaikan seekor burung di udara. Dia membagi-bagi harta benda itu dengan adil dan memilih orang-orang yang benar-benar berada dalam keadaan yang amat sengsara. Pekerjaan ini dia lakukan dengan hati gembira sebab keharuan dan kegirangan wajah orang-orang yang menerima pembagian itu membuat hatinya ikut merasa terharu dan girang sekali.

Pada suatu hari, ketika ia tiba di luar kota Lang-i, tiba-tiba ia melihat bayangan dua orang dari jalan simpangan. Ang I Niocu cepat bersembunyi di belakang sebatang pohon ketika melihat bahwa dua orang itu bukan lain ialah Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio. Kedua orang itu berlari cepat memasuki kota Lang-i, maka diam-diam Ang I Niocu mengikuti mereka.

Dara Baju Merah ini merasa benci bukan main terhadap Hai Kong Hosiang yang sudah mencelakakan Lin Lin, maka dia sudah mengambil keputusan untuk mencari kesempatan membunuh hwesio jahat itu agar kelak tidak menimbulkan kekacauan pula. Akan tetapi, melihat bahwa hwesio itu bersama Wi Wi Toanio yang kosen, ia merasa ragu-ragu untuk turun tangan, karena terlalu berat baginya untuk menghadapi dua orang tangguh itu.

Kedua orang itu menuju ke sebelah barat kota dan secara diam-diam Ang I Niocu terus mengikuti mereka. Sesudah tiba di ujung kota, mereka masuk ke dalam sebuah gedung yang besar. Ang I Niocu mengambil jalan dari belakang dan pada saat melihat bahwa di belakang gedung itu sunyi, ia lalu melompati pagar tembok dan mengintai. Dan apa yang dilihatnya di dalam gedung itu membuat hatinya berdebar karena terkejut dan heran.

Ternyata bahwa di dalam gedung itu terdapat sebuah ruangan yang amat lebar dan yang dipasangi banyak meja dan kursi. Ruangan itu telah penuh oleh banyak orang dan justru orang-orang inilah yang membuat Ang I Niocu terkejut, karena dia melihat wajah-wajah yang telah dikenalnya baik, antara lain Kam Hong Sin perwira tinggi kerajaan, Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tojin. Si Hwesio yang selalu tertawa dan tosu yang selalu mewek, Kong-lam Sam-lojin tiga orang tokoh Liong-san, Giok Im Cu, Giok Yang Cu, dan Giok Keng Cu. Tampak juga Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan dua orang yang baru masuk, yaitu Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio!

Orang-orang ini adalah sebagian dari pada orang-orang yang tadinya mewakili golongan-golongan yang bermusuhan, yaitu golongan Turki, Mongol, dan kerajaan yang semuanya telah dikalahkan oleh Bu Pun Su. Mengapa mereka sekarang mengadakan pertemuan bersama? Apakah mereka hendak mengadu kepandaian?

Ang I Niocu mengintai dengan hati-hati sekali oleh karena dia maklum bahwa orang yang berada di dalam itu bukanlah orang-orang lemah dan berbahaya sekali baginya apa bila sampai dapat terlihat oleh mereka. Kebetulan sekali di luar gedung itu terdapat setumpuk rumput kering, maka ia mendapatkan tempat persembunyian yang baik sekali di belakang rumput itu, sambil mengintai melalui celah-celah jendela yang berada dekat di situ.

Agaknya Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio merupakan orang terakhir yang dinanti-nantikan, karena setelah mereka berdua datang dan disambut oleh Kam Hong Sin lalu dipersilakan duduk, perwira itu segera berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada semua orang.

“Cu-wi sekalian. Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih dan selamat datang bagi Cu-wi sekalian yang telah sudi memenuhi undangan kami untuk berkumpul di sini. Hal ini membuktikan bahwa bagaimana pun juga, Cu-wi sekalian masih ingat akan kebangsaan sendiri. Sebagaimana yang Cu-wi sekalian ketahui, harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan bangsa kita itu telah dicuri dan dibawa pergi orang. Kita tak perlu membongkar-bongkar urusan yang lalu dan sekarang kita merupakan sekumpulan orang yang hendak berusaha mendapatkan kembali harta pusaka itu dan membasmi para pemberontak yang telah berani berlancang tangan mencuri harta pusaka dari tangan kita.”

Hai Kong Hosiang berdiri sendiri dan mengangkat tangannya, tanda bahwa ia minta Kam Hong Sin berhenti bicara karena ia sendiri hendak bicara. Matanya yang tinggal satu itu bersinar-sinar tajam memandang kepada Kam Hong Sin ketika ia berbicara.

“Kam-ciangkun, pencuri harta pusaka itu adalah Hok Peng Taisu, seorang yang berilmu tinggi dan tangguh. Selain dia, masih ada pula Bu Pun Su yang selalu mengacaukan keadaan, karena kami tahu bahwa dia pun menghendaki harta pusaka itu! Siapa tahu kalau-kalau kedua orang tua jahat itu telah bersekutu! Hal ini tak boleh dipandang ringan, karena selain mereka berdua yang lihai, masih banyak terdapat anak muridnya yang tak boleh dipandang ringan, seperti Pendekar Bodoh, Ang I Niocu, Kwee Lin, Ma Hoa, Kwee An, dan ada pula Nelayan Cengeng!”

Kam Hong Sin mengangguk-angguk, “Aku maklum, Hai Kong Suhu, dan aku pun telah tahu akan kelihaian mereka. Akan tetapi dengan kerja sama yang baik dan mengerahkan tenaga kita dibantu dengan para Perwira Sayap Garuda yang banyak jumlahnya, apakah sukarnya untuk menangkap mereka dan merampas kembali harta pusaka itu?”

Wi Wi Toanio berdiri dan biar pun suaranya halus, akan tetapi jelas terdengar bahwa ia merasa gemas dan marah sekali ketika ia berkata,

“Apa artinya berbicara tentang merampas kembali harta pusaka? Harta itu telah mereka sebar dan bagi-bagikan kepada rakyat! Ini semua adalah salahnya Bu Pun Su dan kalau perundingan ini dimaksudkan untuk menghukum dia, aku baru mau turut serta!” Setelah berkata demikian, Wi Wi Toanio duduk kembali di dekat Hai Kong Hosiang.

Terdengar seruan-seruan marah dari sana sini mendengar bahwa harta pusaka itu sudah dibagi-bagi kepada rakyat. Ada pun Kam Hong Sin yang sudah mengetahui hal itu, hanya tersenyum dan berkata,

“Cuwi sekalian, memang benar ucapan Wi Wi Toanio tadi. Aku pun sudah mendengar tentang hal itu, dan rupanya para pemberontak itu hendak menghasut rakyat agar supaya memberontak pula dengan menyogok harta benda pada mereka. Akan tetapi, kita akan bertindak tegas dan membasmi sebelum mereka mendapat kesempatan mengumpulkan tenaga bantuan. Aku membawa surat resmi dari Kaisar sendiri yang ditujukan kepada Cuwi yang gagah perkasa.”

Sambil berkata demikian, Kam Hong Sin mengeluarkan sesampul surat yang dibungkus sutera kuning bersulamkan burung Hong. Ketika dia membacakan surat itu, semua orang terdiam dengan penuh hormat, karena bagaimana pun juga, menerima surat dari kaisar sendiri adalah satu penghormatan besar yang jarang sekali dirasakan orang!

Isi surat itu ternyata adalah satu pengharapan dari Kaisar agar orang-orang gagah suka membantu usaha Kaisar menangkap atau menghukum para pemberontak yang dipimpin oleh Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu!

Ternyata dalam sakit hatinya untuk dapat membalas kekalahannya, Kam Hong Sin sudah berhasil membujuk Kaisar untuk mengeluarkan putusan menghukum kedua tokoh besar itu supaya dia dapat mencari bala bantuan dengan mudah. Selain mengharapkan untuk mendapat pertolongan, di dalam surat itu Kaisar menjelaskan bahwa orang-orang gagah yang suka mengulurkan tangan menolong kelak akan diberi pangkat tinggi, tempat tinggal gedung besar di dalam kota raja, dan sejumlah uang yang banyak sekali.

Tentu saja semua orang yang hadir di situ merasa mengilar mendengar janji upah yang besar itu. Bukan semata-mata upahnya yang mereka inginkan, akan tetapi nama besar dan penghormatan. Kini terbukalah kesempatan untuk membantu Kaisar dan membuat pahala yang akan mendatangkan hasil besar dan nama baik di samping menebus semua dosa mereka yang lalu!

Memang, hampir semua orang yang hadir di sana, kecuali hamba-hamba Kaisar, dahulu sering kali melakukan pelanggaran-pelanggaran yang berarti berdosa kepada Kaisar, dan dengan adanya kesempatan ini, maka dosa-dosa itu tentu akan dilupakan dan bahkan akan mengangkat diri mereka menjadi orang-orang berkedudukan tinggi!

“Kalau demikian, aku setuju!” kata Wi Wi Toanio dan untuk menutupi keinginannya akan kedudukan dan kemuliaan yang dijanjikan oleh Kaisar itu, ia berkata lagi, “Bukan, karena aku inginkan semua kemuliaan itu, akan tetapi karena aku akan mendapat kesempatan membalas dendam kepada Bu Pun Su yang sudah menghina kita dan kepada Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka itu! Tentang kelihaian mereka, jangan kuatir, aku memiliki seorang supek yang menjadi tokoh nomor satu di daerah barat, yaitu Pok Pok Sianjin. Kalau aku berhasil minta bantuannya, jangankan baru Bu Pun Su dan Hok Pek Taisu biar ditambah seratus orang lagi, dengan mudah mereka akan dapat dihancurkan!”

Semua orang memandang heran karena sepanjang pendengaran mereka, tokoh besar dari barat yang disebut Pok Pok Sianjin itu kabarnya sudah musnah dan sudah naik ke Sorga menjadi dewa! Demikianlah dongeng yang dituturkan orang.

Hai Kong Hosiang tertawa. “Memang di atas dunia ini terdapat empat orang tokoh besar yang dapat disebut menduduki tempat tertinggi di dunia persilatan. Untuk daerah selatan dan timur, nama Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu disebut-sebut sebagai dua tokoh besar tanpa tandingan. Akan tetapi di bagian barat terdapat Pok Pok Sianjin, ada pun di bagian utara terdapat Swi Kiat Siansu, Suhu dari Thai Kek Losu. Kudengar bahwa Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu sudah tewas oleh Pendekar Bodoh, maka kalau kita pergi ke utara dan melaporkan hal ini kepada Swi Kiat Siansu, mustahil dia tidak akan turun gunung membantu kita!”

Semua orang merasa girang sekali karena kalau saja dua orang sakti itu benar-benar mau turun gunung membantu, pekerjaan yang berat dan hebat ini akan jauh lebih ringan lagi. Tiba-tiba Ceng To Tosu sambil mewek-mewek bangun berdiri dari tempat duduknya dan berkata,

“Cu-wi, sesudah diadakan persetujuan untuk bekerja sama, menurut pendapat pinto yang bodoh, ada baiknya kalau diangkat seorang ketua atau pemimpin agar segala pekerjaan yang dilakukan berada di bawah pimpinan seorang yang tepat dan yang terbaik di antara kita semua!”

Mendengar ucapan ini, semua orang saling pandang dan mulailah mereka sama-sama mempertimbangkan, siapa kiranya yang tepat untuk dijadikan pemimpin.

“Seorang ketua harus mempunyai kepandaian tertinggi, maka untuk menentukan siapa yang patut menjadi ketua, lebih baik kita mengajukan beberapa orang calon, kemudian calon-calon itu menguji kesaktian untuk membuktikan bahwa dia memang cukup pandai untuk diangkat menjadi ketua,” kata Hai Kong Hosiang.

Orang-orang lalu saling bercakap-cakap hingga keadaan menjadi riuh, sedangkan Ang I Niocu yang melihat dan mendengar semua ini, diam-diam merasa terkejut sekali. Kalau mereka semua telah bersatu dan berhasil memanggil kedua orang tokoh besar yang tadi disebutkan, maka pihaknya akan menghadapi lawan yang amat tangguh.

Ia pernah mendengar nama Pok Pok Sianjin yang bertapa di Puncak Go-bi-san dan juga sudah mendengar nama Swi Kiat Siansu yang bertapa di pegunungan daerah Mongolia, dan kabarnya kedua orang itu memiliki kesaktian yang luar biasa! Sambil menahan napas agar jangan mengeluarkan suara berisik, Ang I Niocu melanjutkan pengintaiannya.

Sesudah dipilih-pilih, pada akhirnya yang diajukan menjadi calon adalah tiga orang yang dianggap memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, yaitu Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan Kam Hong Sin sendiri. Tadinya Siok Kwat Mo-li Si Nenek Bongkok juga dipilih, akan tetapi ia tidak mau menerimanya dan mengundurkan diri sambil berkata,

“Hai Kong Suheng telah dipilih, kenapa pula aku sebagai Sumoi-nya harus maju? Biarlah dia yang mewakili aku sekalian!”

Sambil tersenyum Kam Hong Sin berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio, “Oleh karena kita berada di antara kawan-kawan sendiri, maka kuharap adu kepandaian ini dilakukan dalam cara damai sebagaimana yang biasa dilakukan oleh perwira-perwira kerajaan.”

“Bagus, bagaimanakah cara itu, Kam-ciangkun?” tanya Wi Wi Toanio.

“Di waktu para perwira menguji kepandaian, mereka mempergunakan sepasang sumpit gading yang dipegang pada tangan kanan seperti orang sedang makan nasi. Kemudian dengan sumpit itu mereka saling menjepit dan berusaha membetot sumpit pada tangan lawannya dan siapa yang sumpitnya terlepas, dia dianggap kalah.”

“Baik sekali!” Hai Kong Hosiang memuji. “Memang siapa yang lebih tinggi lweekang-nya akan mendapat kemenangan. Akan tetapi, tentu saja kita tidak boleh menyerang tangan orang dengan sumpit itu, bukan?”

“Tidak boleh sama sekali! Dalam hal ini tentunya kita harus mengandalkan kejujuran dan kepandaian, sama sekali tidak boleh melukai tangan lawan!”

Setelah mendapat persetujuan, Kam Hong Sin, Wi Wi Toanio dan Hai Kong Hosiang lalu duduk mengelilingi sebuah meja dan para pelayan segera mengambil tiga pasang sumpit gading. Untuk menguji kekuatan sumpitnya itu, Kam Hong Siang lalu berseru keras dan menancapkan sepasang sumpit itu di atas meja sehingga sumpit itu menancap sampai setengahnya di dalam kayu meja yang keras itu.

Wi Wi Toanio tersenyum. Ia pun ingin menguji kekuatan sumpitnya yang akan digunakan dalam pertandingan ini, maka dia pun mengetuk-ngetuk ujung meja dengan perlahan dan hancurlah ujung meja itu berhamburan ke bawah.

Hai Kong Hosiang tidak mau kalah. Dia menggunakan sepasang sumpitnya seperti dua batang pensil dan menggurat-guratkan ujungnya pada permukaan meja. Maka tampaklah guratan-guratan yang dalam pada permukaan meja itu, bagaikan tanah lempung yang digurat-gurat dengan pisau tajam saja.

Orang-orang yang melihat demonstrasi lweekang dari tiga orang itu bersorak memuji, dan Ang I Niocu sendiri diam-diam merasa kagum melihat pengerahan tenaga lweekang yang tidak boleh dianggap ringan itu.

Menurut kebiasaan seperti dituturkan oleh Kam Hong Sin, karena pengikut pertandingan itu ada tiga orang, maka segera dilakukan undian untuk menentukan siapa yang harus bertanding lebih dulu. Pemenang pertandingan pertama ini lalu akan berhadapan dengan orang ke tiga untuk menentukan juara dan jabatan ketua.

Pada saat undian dilakukan, ternyata bahwa yang mendapat giliran pertama adalah Kam Hong Sin dan Wi Wi Toanio. Mereka tersenyum dan duduk berhadapan dengan tangan menjepit sumpit masing-masing.

“Ciangkun, silakan kau mulai lebih dulu, oleh karena kau yang lebih tahu mengenai cara pertandingan ini.”

Kam Hong Sin mengangguk dan berseru, “Toanio, jagalah sumpitmu!” Sambil berkata demikian, sepasang sumpit Kam Hong Sin digerakkan dengan terbuka seperti sepasang patuk burung, hendak menjepit sumpit di tangan Wi Wi Toanio.

Nenek tua ini tidak mengelak karena dia hendak mengukur sampai di mana kehebatan tenaga lawan. Ia membiarkan sepasang sumpitnya terjepit dan tenyata bahwa sepasang sumpitnya itu terjepit kuat bagaikan terjepit oleh catut besi saja. Kini adu tenaga dimulai.

Kam Hong Sin mengerahkan tenaga untuk memutar sumpit lawannya agar terlepas dari pegangan. Akan tetapi ia merasa betapa sumpit itu dipegang dengan kendur dan tenaga lweekang-nya tidak berdaya menghadapi tenaga halus yang meruntuhkan gerakannya dengan menyerah, akan tetapi yang mengandung kekuatan yang luar biasa besarnya hingga ketika ia mencoba untuk memutarnya, sepasang sumpit lawan itu bergerak sedikit pun tidak.

“Ciangkun, kau sudah terlalu lama menjepit!” kata Wi Wi Toanio sambil tersenyum.

Hal ini mengherankan Kam Hong Sin oleh karena di dalam pengerahan tenaga khikang, mengucapkan kata-kata merupakan pantangan. Ia membarengi pada saat Wi Wi Toanio membuka mulut, lalu membetot keras untuk menarik sumpit lawan supaya terlepas, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sumpit lawan itu menjadi demikian licin hingga jepitannya terlepas.

Kini Wi Wi Toanio yang menggerakkan sumpitnya dan ketika sumpitnya sudah terjepit sepasang sumpit Kam Hong Sin, nenek itu tiba-tiba membuat gerakan mendorong, bukan membetot. Ini adalah gerakan yang licin dan penuh perhitungan, karena pada waktu itu Kam Hong Sin memang sedang mengerahkan tenaga untuk menahan sumpitnya, maka tentu saja ketika tiba-tiba didorong, tangannya menjadi terdorong dan sumpitnya hampir terlepas.

Pada saat dia mempertahankan diri dan mulai merobah tenaganya dari menarik menjadi mendorong untuk melawan tenaga dorongan lawan, tiba-tiba Wi Wi Toanio secara tidak terduga-duga membetot sekerasnya sambil berseru,

“Lepas!”

Hal ini betul-betul tak pernah diduganya, maka Kam Hong Sin tak dapat mempertahankan sumpitnya lagi dan sungguh pun dia masih mampu mempertahankan sebatang, yang lain telah kena dibetot terlepas! Kam Hong Sin bangun berdiri dan menjura di depan Wi Wi Toanio mengaku kalah, sedangkan para hadirin bertepuk tangan memuji.

Hai Kong Hosiang tertawa terbahak-bahak. “Permainan yang bagus sekali! Selain tenaga dan keuletan, dalam permainan ini juga diperlukan kecepatan serta kelincahan, ditambah lagi otak yang cerdik! Aku yang bodoh mana dapat melawan Toanio?” Akan tetapi sambil berkata demikian, dia lalu duduk menghadapi Wi Wi Toanio, menggantikan tempat Kam Hong Sin yang sudah kalah.

“Seranglah, Hai Kong!” kata Wi Wi Toanio menantang.

“Tidak, engkau saja yang menyerang, aku hendak mempertahankan diri saja,” jawab Hai Kong Hosiang yang cerdik.

Hwesio ini terkenal amat cerdik dan banyak tipu muslihatnya, maka Wi Wi Toanio berlaku hati-hati sekali. Nenek ini benar-benar ingin diangkat menjadi ketua, karena hal ini akan menguntungkannya. Kalau dia yang menjadi pemimpin, maka dia mendapat kesempatan lebih banyak untuk membalas dendamnya kepada Bu Pun Su. Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lweekang dan ilmu silat, mungkin tingkatnya masih lebih tinggi dari Hai Kong Hosiang, akan tetapi dalam hal kecerdikan, dia sering mengagumi hwesio ini.

Wi Wi Toanio segera menyergap dengan sumpitnya untuk menjepit kedua sumpit Hai Kong Hosiang, akan tetapi tiba-tiba hwesio ini membuka mulut sumpitnya dan kini sumpit-sumpit itu menjadi saling jepit! Sepasang sumpit Wi Wi Toanio menjepit sumpit Hai Kong Hosiang sebelah bawah, sedangkan sepasang sumpit Hai Kong Hosiang menjepit sumpit Wi Wi Toanio sebelah atas, bagaikan mulut dua ekor jangkerik sedang saling gigit dalam sebuah perkelahian yang sengit!

Saking tegangnya pertandingan itu, tiada terdengar sedikit pun suara di antara penonton yang memandangnya. Kini Wi Wi Toanio maklum bahwa Hai Kong Hosiang yang cerdik tidak mau mengadu kecepatan, karena itu dia sengaja menjepit sebuah sumpit lawan dan membiarkan sumpitnya yang sebatang terjepit pula sehingga dalam keadaan demikian, terpaksa mereka harus mengandalkan tenaga belaka.

Mereka masing-masing tidak mau mengalah, dan dua pasang sumpit itu sampai tergetar saking serunya pertemuan tenaga mereka yang disalurkan melalui sepasang sumpit pada tangan masing-masing! Sebentar sumpit terputar ke kanan, sebentar ke kiri, akan tetapi keduanya sama kuat hingga empat batang sumpit itu seakan-akan telah tumbuh menjadi satu!

Dari getaran-getaran yang menyerang ke jari-jari tangannya, Hai Kong Hosiang maklum akan kehebatan tenaga lweekang Wi Wi Toanio. Akan tetapi, nenek tua itu pun merasa betapa sepasang sumpit di tangan Hai Kong Hosiang demikian kokoh kuatnya bagaikan dua bukit karang yang sukar dirobohkan!

Lama sekali adu tenaga ini berlangsung dan pada jidat Hai Kong Hosiang sudah nampak keringat keluar membasahi jidatnya, sedangkan Wi Wi Toanio juga mulai nampak pucat! Kam Hong Sin berdiri dengan mata terpentang lebar karena baru kali ini dia menyaksikan pertandingan sumpit yang demikian seru dan hebatnya.

Tiba-tiba Wi Wi berseru keras sekali dan dia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Hai Kong mencoba untuk bertahan, akan tetapi tiba-tiba…

“Krekkk!”

Terdengar suara keras dan tiga batang sumpit telah patah, yaitu dua batang sumpit Hai Kong Hosiang dan sebatang sumpit Wi Wi Toanio! Hal ini menunjukkan bahwa lweekang Wi Wi Toanio masih menang setingkat!

Hai Kong Hosiang menghapus keringatnya sambil tertawa. “Sudah kukatakan bahwa aku tak akan bisa menang menghadapi Wi Wi Toanio yang tangguh! Akan tetapi, kita semua enak-enak mengadu kepandaian hingga melupakan orang yang mengintai dari luar!”

Ang I Niocu merasa terkejut bukan main dan serba salah. Terang bahwa mata Hai Kong Hosiang yang tinggal satu itu awas sekali dan sudah dapat melihatnya. Ang I Niocu tidak kenal arti takut, akan tetapi dalam keadaan seperti itu dia benar-benar menjadi bingung. Kalau ia melarikan diri dari situ, dia akan merasa malu kepada diri sendiri, sebaliknya jika dia melompat masuk, dia yakin bahwa dia tidak akan kuat menghadapi sekian banyaknya orang-orang gagah.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dari sebelah atasnya yang disusul ucapan mengejek, “Ha-ha-ha, memang semenjak tadi aku berada di sini. Bagaimana aku bisa masuk sebelum diundang?”

Ang I Niocu terkejut bukan main. Bagaimana ada orang bisa berada di atasnya tanpa dia ketahui sama sekali? Dia menengok dan melihat seorang kakek botak duduk di atas tiang yang melintang di atas kepalanya. Kakek itu duduk bagaikan seorang anak-anak sedang menonton pertunjukan indah, sedangkan pada lengan kirinya terjepit sepasang tongkat bambu warna kuning.

Dia menjadi tercengang karena dapat menduga bahwa orang ini tentulah Hok Peng Taisu yang pernah diceritakan oleh Ma Hoa kepadanya. Dan, orang inilah agaknya yang sudah mencuri harta pusaka itu. Sementara itu, kakek botak yang bukan lain adalah Hok Peng Taisu itu, memandang kepadanya dan mengedipkan mata sambil menyeringai, memberi tanda agar Dara Baju Merah itu jangan mengeluarkan suara.

Sementara itu, ketika Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya mendengar suara dari luar itu, segera berjaga-jaga dan Kam Hong Sin sebagai tuan rumah lalu berkata, “Tamu yang berada di luar dipersilakan masuk!”

Terdengar suara tertawa bergelak dan tiba-tiba ada tubuh seorang kakek botak melayang masuk dengan gerakan yang ringan sekali. Dengan sepasang matanya yang amat tajam, kakek botak itu menyapa semua orang yang berada di ruang itu dan berkata,

“Aduh, semua telah berkumpul. Bagus, bagus! Tadi telah kusaksikan pertandingan sumpit yang bagus. Aku tua bangka pun memiliki semacam permainan sumpit yang sama, akan tetapi apakah ada orang yang cukup bergembira untuk melayaniku bermain-main atau tidak, entahlah!”

“Biarlah pinceng melayanimu, Kakek Tua!” kata Hai Kong Hosiang.

“Bagus, bagus, akan tetapi sebagai tamu baru, aku belum mendapat jamuan, sedangkan perutmu yang gendut sudah diisi penuh, tentu saja aku akan kalah tenaga! Biarkan aku makan beberapa mangkok sayur dahulu!” Sambil berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu mengambil semangkok daging kambing dan sepasang sumpit bambu. Sambil berdiri dia makan daging itu sepotong demi sepotong dan kelihatannya dia menikmati makanan itu.

“Locianpwe ini siapakah?” Kam Hong Sin bertanya karena merasa penasaran melihat lagak orang yang tidak tahu akan kesopanan.

“Baru saja namaku kau sebut-sebut, sekarang hendak bertanya pula, bukankah ini aneh namanya? Akan tetapi, aku jangan kau bandingkan dengan Bu Pun Su yang lihai!”

Terkejutlah semua orang, dan ketika mereka melihat ke arah dua batang tongkat bambu yang dikempit di bawah lengan kiri, Kam Hong Sin menjadi pucat dan bertanya,

“Apakah kau Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka?”

Tiba-tiba Hok Peng Taisu tertawa bergelak-gelak. “Sudah berpuluh tahun aku orang tua menyembunyikan diri dalam goa dan akibat perbuatan orang-orang yang suka mencurilah yang menyebabkan aku keluar dari goa. Sekarang aku bahkan dituduh menjadi pencuri. Lucu, lucu!” Kemudian, dengan tangan kiri masih menyangga mangkok sedang di bawah lengan kiri itu masih terjepit tongkat-tongkat bambunya, tangan kanan memegang sumpit, ia menuding ke arah Hai Kong Hosiang dengan sumpitnya itu dan bertanya,

“Bagaimana, apakah kau masih mau melayani aku bermain sumpit?”

“Boleh, asal kau orang tua jangan bermain curang!”

Kembali Hok Peng Taisu tertawa bergelak dan dia mengulurkan tangan yang memegang sumpit sambil berkata, “Nah, kau jepitlah sumpitku ini!”

Hai Kong Hosiang yang melihat bahwa sepasang sumpit kakek itu adalah sumpit bambu biasa saja, lalu melangkah maju dan dengan sumpit gading yang kuat dia lalu menyerang maju, akan tetapi bukan menjepit sumpit kakek itu, melainkan menotok dengan sepasang sumpitnya ke arah pergelangan tangan Hok Peng Taisu!

Akan tetapi, kakek botak ini agaknya tidak tahu akan kecurangan lawan, maka dia hanya menggerakkan sumpitnya ke bawah, lalu sesudah dapat menangkis sumpit di tangan Hai Kong Hosiang, dia memutar sumpitnya sedemikian rupa hingga sumpit Hai Kong Hosiang ikut terputar-putar tanpa dapat ditahan pula!

Terpaksa Hai Kong Hosiang lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot, akan tetapi sumpitnya seolah-olah sudah timbul akar pada sumpit kakek itu sehingga tak dapat dibetot. Ia mengerahkan tenaganya lagi dan tiba-tiba kakek itu melepaskannya sehingga tubuh Hai Kong Hosiang terhuyung ke belakang.

“Ha-ha-ha! Kau lucu sekali hwesio!” katanya, lalu dengan sumpitnya ia menjepit sepotong daging yang dimasukkan ke dalam mulutnya seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu!

Wi Wi Toanio yang dapat memaklumi akan kelihaian kakek botak ini, secara diam-diam menghampirinya dari belakang dengan sepasang sumpit gading di tangannya.

“Hok Peng Taisu, aku pun ikut bermain-main dengan sumpit!”

Dan belum juga habis kata-kata ini dia ucapkan, dia telah menyerang dengan sepasang sumpitnya, menotok jalan darah Hok Peng Taisu dari belakangnya! Kakek botak itu tidak bergerak atau pun membalikkan tubuh, seakan-akan dia tidak mendengar ucapan tadi, hanya tangan kanannya yang memegang sumpit saja digerakkan ke belakang tubuhnya. Pada saat itu, Hai Kong Hosiang yang merasa penasaran, lalu menyerang lagi dari depan dengan sepasang sumpitnya digerakkan ke arah kakek botak itu.

Biar pun diserang dari belakang dan depan, agaknya Hok Peng Taisu masih saja terus enak-enakan mengunyah daging beberapa potong yang tadi dimasukkan ke dalam mulut. Ketika sumpit Wi Wi Toanio telah dekat dengan tubuhnya, tiba-tiba saja sumpit di tangan kanannya bergerak dan…

“Krekkk!”

Terdengar suara, diikuti seruan Wi Wi Toanio yang melompat mundur karena merasa telapak tangannya sakit sekali, dan ternyata bahwa sepasang sumpitnya telah terpotong menjadi dua, setelah tadi terjepit oleh sumpit bambu Hok Peng Taisu!

Sedangkan dua batang sumpit Hai Kong Hosiang yang menyambar ke arah ulu hatinya, juga tidak dielakkan oleh kakek botak itu, akan tetapi tiba-tiba dia membuka mulutnya dan dua kali dia meniupkan daging-daging yang dimakan tadi dari mulut! Daging-daging itu meluncur bagaikan pelor dan tepat sekali mengenai ujung sepasang sumpit itu.

Hai Kong Hosiang hanya merasa betapa tusukan sumpitnya tertahan oleh tenaga yang kuat sekali dan tahu-tahu dia melihat betapa dua batang sumpitnya telah menancap pada dua potong daging bakso yang besar! Bukan main marahnya Hai Kong Hosiang melihat hal ini dan dia merasa dirinya dipermainkan, maka dia pun berseru.

“Jangan jual lagak di sini!” Sambil berseru demikian dia mengayunkan tangan sehingga sepasang sumpitnya yang masih ada baksonya itu meluncur cepat ke arah dua mata Hok Peng Taisu!

Akan tetapi kakek botak itu sambil terkekeh-kekeh lalu berkata. “Hwesio, mengapa kau tidak makan bakso-bakso itu?”

Lalu dia mengangkat kedua tongkat bambunya, memukul ke arah sepasang sumpit yang melayang itu. Heran sekali, ketika tongkat bambu itu beradu dengan sumpit, bakso yang berada di ujung sepasang sumpit itu melayang kembali ke arah Hai Kong Hosiang, ada pun sumpit-sumpitnya melayang ke samping, menuju kepada Wi Wi Toanio!

Hai Kong Hosiang mengelak dan sambil menyumpah-nyumpah segera mencabut keluar tongkat ularnya. Sedangkan Wi Wi Toanio juga menjadi marah dan menyampok kedua batang sumpit yang melayang ke arah dirinya itu hingga runtuh ke atas lantai! Kemudian, nenek ini pun maju menyerang dengan kedua tangan merupakan cakar burung garuda. Sebenarnya, Ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Kuku Garuda) yang dimiliki oleh nenek ini bukan Eng-jiauw-kang biasa, maka gerakannya aneh serta lihai sekali.

Melihat dirinya akan dikeroyok, Hok Peng Taisu segera menggerakkan sepasang tongkat bambunya dan dua kali tubuhnya berkelebat, tahu-tahu tongkat ular di tangan Hai Kong Hosiang sudah kena dibikin terpental dan Wi Wi Toanio hampir saja terkena sabetan itu pada pipinya! Keduanya merasa terkejut sekali dan melompat mundur.

Hok Peng Taisu tertawa terbahak-bahak. “Kalian ini benar-benar merupakan tuan rumah yang kurang sopan! Sekarang lebih baik aku pergi saja lagi!” Sesudah berkata demikian, kakek botak itu menggerakkan kakinya dan melayang pergi.

“Locianpwe, tunggu dulu!” tiba-tiba Kam Hong Sin berseru dan memburu ke pintu.

“Apa kehendakmu?” terdengar suara kakek botak itu dari atas genteng.

“Kami hendak menantangmu dan juga Bu Pun Su untuk mengadakan pertandingan adu kepandaian di Puncak Hoa-san pada bulan tiga. Apakah kau berani menerima tantangan kami ini?”

Kembali kakek botak itu tertawa terkekeh-kekeh. “Tak usah kau ceritakan, aku pun sudah maklum akan maksud kalian yang buruk itu. Baik, baik, memang sudah lama sekali aku ingin bertemu dengan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu. Mengenai Bu Pun Su, aku tidak tanggung bahwa dia akan mau melayani ajakan kalian yang gila itu!”

Hok Peng Taisu lalu melayang ke tempat mana Ang I Niocu bersembunyi dan memberi tanda dengan tangan agar supaya Dara Baju Merah itu mengikutinya. Ang I Niocu segera melompat ke atas genteng dan mengikuti kakek itu pergi dari sana. Sesudah berada di tempat jauh, kakek botak itu berkata,

“Bukankah kau yang bernama Ang I Niocu?”

Ang I Niocu menjura dengan sangat hormatnya. “Betul Locianpwe dan sudah lama aku yang bodoh mendengar tentang nama Locianpwe dari Ma Hoa. Aku merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan seorang sakti seperti Locianpwe.”

“Ahh, jangan terlalu memuji, Nona. Kau tentu sudah mendengar semua kehendak mereka itu, bukan? Nah, sekarang semua terserah padamu apakah kau hendak menyampaikan undangan mereka terhadap Bu Pun Su atau tidak. Hanya saja, boleh kau katakan pada Bu Pun Su bahwa aku tua bangka tentu akan menghadapi tantangan mereka itu pada waktunya di Puncak Hoa-san!”

Setelah berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu berkelebat pergi sedangkan Ang I Niocu kemudian melanjutkan perjalanannya. Memang dia pun ada maksud untuk pergi ke Goa Tengkorak menemui susiok-couw-nya, sekalian hendak menemui Bu Pun Su untuk minta ijin orang tua itu tentang perjodohannya dengan Lie Kong Sian…..

********************
Nelayan Cengeng, Kwee An dan Ma Hoa menjalankan tugas membagi-bagikan harta itu sambil melanjutkan perjalanan menuju ke timur. Seperti halnya Ang I Niocu, mereka pun mengalami banyak sekali kebahagiaan dari pekerjaan yang mulia ini.

Pada waktu mereka menyeberang sebatang sungai yang menjadi anak Sungai Huangho, Nelayan Cengeng melihat ada beberapa perahu nelayan hilir mudik dengan para nelayan bernyanyi-nyanyi sambil mendayung perahu mereka. Pemandangan dan pendengaran ini membangkitkan hatinya dan menimbulkan rindunya pada kehidupan nelayan yang sudah dinikmatinya semenjak masih muda, maka dia berkata kepada Ma Hoa dan Kwee An.

“Ma Hoa dan Kwee An, sudah lama sekali aku merasa rindu untuk hidup kembali sebagai seorang nelayan, mendayung perahu menjala ikan dan hidup dengan aman dan tenteram di atas air! Terus terang saja kuakui bahwa hampir setiap malam aku bermimpi duduk di atas perahu seorang diri, dibuai ombak, minum arak sambil menikmati cahaya bulan di waktu malam. Kini kalian sudah saling berjumpa kembali dan juga kawan-kawanmu telah dapat kita ketemukan, maka hatiku kini merasa aman dan senang. Oleh karena itu, aku ingin tinggal dan hidup kembali sebagai nelayan di sungai ini. Kalian teruskan perjalanan kalian dan ini adalah sisa harta benda yang harus kubagi-bagikan, boleh kalian habiskan dan bagi-bagikan kepada rakyat miskin. Kelak apa bila sudah tiba saatnya kalian hendak melangsungkan pernikahan, berilah kabar dan aku pasti akan datang.”

Ma Hoa maklum pula bahwa suhu-nya ini memang suka sekali hidup di atas air sebagai seorang nelayan, bahkan dulu suhu-nya pernah menyatakan bahwa ia ingin mati di dalam sebuah perahu, maka berkata,

“Suhu, sungguh berat hatiku harus berpisah dengan Suhu. Suhu tentu tahu bahwa teecu menganggap Suhu sebagai ayah sendiri, maka kelak kalau Suhu telah bosan merantau di atas sungai ini, teecu harap Suhu suka tinggal bersama teecu supaya teecu mendapat kesempatan merawat Suhu dan membalas budi.”

Nelayan Cengeng tertawa bergelak sampai air matanya keluar.

“Muridku, anakku yang baik!” katanya sambil menaruhkan tangannya di atas kepala Ma Hoa. “Tidak ada kegembiraan yang lebih besar bagiku selain melihat kau hidup bahagia dengan Kwee An! Aku berjanji bahwa kelak apa bila aku sudah bosan di sungai ini, pasti aku akan hidup dekat dengan kau dan suamimu.”

Sesudah banyak mendapat nasehat-nasehat serta petuah-petuah dari Nelayan Cengeng yang baik hati itu, Kwee An dan Ma Hoa lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Ma Hoa mengajak Kwee An mengunjungi suhu-nya ke dua, yaitu Hok Peng Taisu di Bukit Hong-lun-san, di mana dulu ia diberi pelajaran silat Bambu Runcing. Bukit itu masih indah seperti dahulu, kaya akan tamasya alam yang mengagumkan hati. Ketika mereka tiba di puncak, mendadak mereka mendengar suara angin pukulan yang hebat sambil dibarengi bentakan-bentakan seperti orang sedang berkelahi.

Dengan cepat mereka lalu menghampiri tempat itu dan Ma Hoa menahan geli hatinya pada waktu melihat betapa suhu-nya bersilat seorang diri dengan sepasang tongkatnya. Gerakan kakek botak itu sedemikian kuatnya sehingga semua daun-daun di sekitarnya bergerak-gerak terkena pukulan angin yang keluar dari pukulan dan sambaran tongkat itu! Kwee An berdiri bengong dan merasa kagum bukan main melihat kehebatan kakek luar biasa itu.

“Suhu, kau orang tua benar-benar rajin sekali!” Ma Hoa memuji.

Hok Peng Taisu segera menghentikan latihannya dan berpaling kepada mereka sambil tersenyum. Ma Hoa kemudian menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Kwee An yang juga berlutut.

“Bagus, bagus, bagus sekali kalian datang ke sini. Di mana Nelayan Cengeng?”

“Dia rindu kepada perahu dan sungai, Suhu, maka dia tidak melanjutkan perjalanan dan hendak hidup beberapa lama di atas Sungai Liang-ho,” jawab Ma Hoa.

Hok Peng Taisu menarik napas panjang. “Nelayan Cengeng memang orang beruntung. Tidak seperti aku yang sudah tua masih menimbulkan perkara dan mencari permusuhan. Tahukah kau bahwa aku akan mengadakan pertandingan di Puncak Hoa-san pada bulan tiga? Oleh karena itu aku harus melatih diri dan melepaskan urat-urat yang sudah kaku!”

Di waktu mudanya kakek botak ini memang gemar sekali mengadu kepandaian dengan orang-orang pandai, maka kini agaknya kegemaran itu timbul kembali dalam menghadapi tantangan Hai Kong Hosiang. Kemudian dia segera menceritakan mengenai tantangan itu kepada Ma Hoa dan Kwee An.

“Bu Pun Su adalah seorang tokoh besar, maka tentu saja dia pun akan menyambut tantangan ini. Aku kenal padanya sebagai seorang yang sabar, akan tetapi menghadapi sebuah tantangan yang keluar dari mulut hwesio jahat itu, tentu dia akan turun gunung. Oleh karena itu, hendaknya kalian datang kepadanya dan ceritakanlah tentang tantangan itu kepada Bu Pun Su, sekalian sampaikan salamku kepadanya. Katakan bahwa selatan dan timur tak seharusnya kalah terhadap barat dan utara!” Dengan ucapan ini, Hok Peng Taisu hendak menyatakan bahwa dia dan Bu Pun Su takkan kalah menghadapi Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu, tokoh-tokoh besar dari barat dan utara itu!

Ma Hoa dan Kwee An kemudian turun dari Bukit Hong-lun-san dan karena mereka telah mendengar dari Cin Hai di mana letak Goa Tengkorak itu, maka mereka langsung menuju ke sana.

Ketika mereka sampai di depan Goa Tengkorak, mereka melihat Lin Lin sedang duduk dengan bengong bagai orang melamun dengan muka nampak sedih. Melihat kedatangan mereka, gadis ini tidak merasa girang, bahkan lalu memeluk kakaknya menangis sedih.

Kwee An yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan adiknya yang terkasih itu, cepat mengusap-usap rambut Lin Lin dan bertanya, “Adikku sayang, mengapa kau bersedih? Di manakah Cin Hai dan di mana pula Suhu-mu?”

Sesudah tangisnya mereda, Lin Lin lalu berkata, “Mereka berada di dalam. Suhu sedang menderita sakit keras. Hai-ko dan Enci Im Giok yang menjaganya. Aku… aku tak dapat menahan kegelisahan dan kesedihanku maka aku lalu keluar, karena di depan Suhu aku tidak berani memperlihatkan kesedihanku.”

Bukan main kagetnya hati Ma Hoa dan Kwee An mendengar penjelasan ini. Segera Ma Hoa bertanya,

“Suhu-mu adalah seorang yang sakti, mengapa ia bisa menderita sakit? Dan bilakah Ang I Niocu tiba di sini?”

Kemudian, dengan suara perlahan supaya suara mereka jangan sampai terdengar dari dalam dan mengganggu Bu Pun Su, Lin Lin lalu menceritakan bahwa setelah ia dan Cin Hai, juga bersama Lie Kong Sian, tiba di tempat itu, mereka mendapatkan Bu Pun Su sudah berbaring tak sadarkan diri di dalam goa, dijaga oleh tiga ekor burung sakti yang diam tak bergerak seperti sedang merasa bingung dan berduka pula.

Lie Kong Sian yang paham akan ilmu pengobatan, lalu memeriksa nadi kakek jembel itu dan menyatakan bahwa Bu Pun Su menderita kelemahan karena usia tua, dan agaknya kesedihan hati membuat jantungnya terserang hebat, juga penderitaan batin membuat kakek itu tidak kuat menahan dan jatuh pingsan. Pemuda itu lalu mengatakan kepada Cin Hai dan Lin Lin agar supaya menjaga Bu Pun Su dan membantu kesempurnaan jalan darahnya dengan tenaga lweekang, sedangkan ia sendiri hendak pergi ke pulaunya untuk mencari semacam rumput darah yang mungkin akan menyembuhkan Bu Pun Su.

Semenjak masuk Goa Tengkorak, Cin Hai lalu memegang tangan kanan suhu-nya dan mengerahkan tenaganya membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhu itu. Telah sepekan lamanya Cin Hai duduk bersila tak bergerak di dekat suhu-nya dan hanya makan sedikit sekali, itu pun kalau sudah dipaksa-paksa oleh Lin Lin.

Baru tiga hari yang lalu Ang I Niocu tiba di situ dan gadis ini pun menjaga susiok-couwnya siang malam bersama mereka.

“Apakah selama ini Suhu-mu tidak pernah siuman?” tanya Kwee An dengan terharu.

“Pernah satu kali, dan sesudah siuman dia hanya mengucapkan tiga kata, yaitu bahwa dia sudah tua, lalu jatuh pingsan lagi.” Kembali air mata mengalir turun dari kedua mata Lin Lin.

Tiga orang muda itu lalu masuk ke dalam Goa Tengkorak dengan tindakan kaki perlahan dan hati-hati sekali. Benar saja, mereka melihat Bu Pun Su berbaring di atas lantai di dalam kamar hio-louw, berbaring diam tak bergerak seperti sudah mati.

Terlihat Cin Hai duduk di sisi kanannya dan memegang tangan kanan kakek itu sambil bersemedhi mengerahkan tenaga lweekang-nya untuk membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhu-nya, ada pun Ang I Niocu duduk di sebelah kirinya, juga bersila tak bergerak bagaikan patung. Biar pun ilmu lweekang-nya belum setinggi Cin Hai, namun kadang kala dia menggantikan Cin Hai dengan memegang tangan kiri kakek itu untuk membantunya dengan tenaga lweekang-nya agar Cin Hai tidak merasa terlalu lelah.

Melihat hal ini Ma Hoa teringat akan kepandaian suhu-nya, yaitu Hok Peng Taisu, tentang ilmu pengobatan, maka ia lalu memberi tanda kepada Kwee An dan Lin Lin untuk keluar dari tempat itu. Cin Hai dan Ang I Niocu agaknya tidak melihat atau tidak mempedulikan kedatangan mereka.

Ketika Kwee An dan Ma Hoa melihat tiga ekor burung sakti berdiri di ruangan tengkorak tanpa bergerak dan dengan muka seakan-akan sedang berduka sekali, mereka merasa amat terharu. Burung-burung itu benar-benar luar biasa hingga memiliki perasaan seperti manusia biasa.

Setelah tiba di luar goa, Kwee An bertanya mengapa Ma Hoa memanggil mereka keluar.

“An-ko, harap kau suka secepatnya pergi pada Suhu di Hong-lun-san untuk mengabarkan hal ini kepada Suhu. Suhu adalah seorang ahli pengobatan dan dia tentu akan sanggup menolong Bu Pun Su Locianpwe.”

Mendengar hal ini, Lin Lin menyatakan kegirangannya, maka dia pun mendesak kepada kakaknya untuk segera minta petolongan orang berilmu itu. Kwee An lantas menyatakan persetujuannya dan ia berpesan kepada kekasihnya dan adiknya supaya mereka berdua menjaga di luar goa, agar jangan sampai ada musuh yang datang membuat kekacauan pada waktu Bu Pun Su menderita sakit keras. Kwee An kemudian mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk berlari secepat mungkin ke Hong-lun-san.

Dengan adanya Ma Hoa yang mengawaninya, Lin Lin menjaga di depan goa dan duduk di atas batu karang sambil bercakap-cakap dan tidak melamun seperti tadi. Mereka saling menuturkan pengalaman masing-masing dan Ma Hoa merasa girang mendengar tentang ditewaskannya Thai Kek Losu, Sian Kek Losio dan Bo Lang Hwesio. Sebaliknya, ketika mendengar tentang tantangan Hai Kong Hosiang yang ditujukan kepada Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su, Lin Lin merasa berkuatir sekali. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana suhu-nya akan dapat memenuhi tantangan itu?

Pada waktu mereka sedang duduk bercakap-cakap dengan asyiknya, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu seorang wanita tua sudah berdiri di hadapan mereka. Dengan hati terkejut Lin Lin dan Ma Hoa bangkit berdiri dan memandang dengan tajam kepada Wi Wi Toanio yang datang itu!

Melihat nenek ini, Lin Lin menjadi marah sekali karena teringat betapa bekas kekasih Bu Pun Su ini sudah menjalankan kecurangan untuk mencelakai suhu-nya itu. Maka sambil mencabut Han-le-kiam dari pinggangnya, ia membentak,

“Mau apa kau datang ke sini?”

Wi Wi Toanio memandang dengan mata mengejek lalu jawabnya, “Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian anak-anak kecil. Minggirlah, dan biarkan aku bertemu dengan Lu Kwan Cu!”

“Tidak! Tak seorang pun boleh masuk ke dalam goa ini mengganggu Suhu! Pergilah kau sebelum pedangku bicara!”

“Anak kecil kurang ajar! Kau berani menghina dan mengusirku?” Wi Wi Toanio menjadi marah sekali.

Ma Hoa juga sudah mencabut sepasang bambu runcingnya dan berkata, “Nenek jahat, kau pergilah dengan baik-baik dan jangan mencari mati.”

Makin marahlah Wi Wi Toanio mendengar ini. Dengan seruan keras dia melompat dan menerjang ke arah Lin Lin dan Ma Hoa dengan limu Silat Cakar Garuda yang lihai dan berbahaya itu. Akan tetapi Lin Lin dan Ma Hoa sudah siap dan menghadapinya dengan mengirim serangan-serangan mematikan.

Ternyata Wi Wi Toanio memang lihai sekali. Ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari pada kepandaian Hai Kong Hosiang, maka biar pun Lin Lin dan Ma Hoa mengeroyok dua dan mainkan senjata mereka dengan cara hebat, namun nenek itu tidak menjadi gentar dan membalas dengan cengkeraman-cengkeraman yang dahsyat.

Sambil bertempur Wi Wi Toanio mengeluarkan pekik-pekik menyeramkan dan tubuhnya menyambar-nyambar bagai seekor burung garuda. Ginkang-nya ternyata telah mencapai tingkat tinggi sekali hingga tubuhnya itu melayang-layang seolah-olah dia dapat terbang saja. Namun Lin Lin dan Ma Hoa yang berlaku hati-hati tidak mau kalah dan bekerja sama dengan mati-matian untuk merobohkan pengacau ini.

Pada saat pertempuran terjadi, Cin Hai sedang membantu suhu-nya dengan mengalirkan hawa melalui telapak tangan, sedangkan Ang I Niocu hanya bersila sambil bersemedhi untuk mengumpulkan tenaga yang sudah banyak dikerahkan membantu susiok-couw-nya itu.

Kini dia mendengar suara-suara orang berkelahi di luar, maka tahulah dia bahwa Lin Lin dan Ma Hoa sedang menghadapi lawan tangguh. Tanpa mengeluarkan suara, dia lantas mengambil sebatang pedang Liong-cu-kiam yang diletakkan di dekat Cin Hai, kemudian dia bertindak keluar.

Pada saat itu, sambil memekik keras Wi Wi Toanio melompat ke atas dengan kedua tangannya terulur ke depan dan bermaksud merampas senjata kedua lawannya. Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan dua batang pedang yang bercahaya berkilauan langsung menyambutnya dengan serangan hebat!

Wi Wi Toanio sedang melayang bagaikan seekor burung garuda yang ganas, sedangkan Ang I Niocu pun melayang menyambutnya dengan pedang Liong-cu-kiam, bagai seekor burung hong yang indah dan gesit! Wi Wi Toanio terkejut melihat serangan ini, maka dia lalu berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya telah terputar dan berjungkir balik beberapa kali ke belakang!

Melihat Ang I Niocu datang membantu, Lin Lin dan Ma Hoa menjadi gembira dan mereka lalu mainkan senjata mereka dengan seru dan hebat mendesak Wi Wi Toanio yang kini merasa sibuk juga menghadapi tiga orang gadis jelita yang mengamuk bagaikan tiga ekor naga betina itu!

Ang I Niocu memang lihai dan dengan sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam di kedua tangan, dia merupakan seekor harimau yang tumbuh sayap. Juga Lin Lin dengan Han-le Kiam-hoat-nya merupakan lawan yang amat berbahaya karena ilmu pedangnya ini boleh dianggap menduduki tingkat tinggi sekali di antara segala macam ilmu pedang, ada pun Ma Hoa dengan Ilmu Silat Bambu Runcingnya juga merupakan lawan yang tidak mudah dilawan!

Tentu saja setelah ketiga orang dara ini maju mengeroyok, biar pun ilmu kepandaian Wi Wi Toanio tinggi dan pengalamannya banyak, namun tetap saja dia merasa kewalahan sehingga sebentar saja dia terdesak mundur dan jiwanya berada dalam bahaya!

Wi Wi Toanio mengeluarkan jarum-jarum rahasianya dan kedua tangannya lantas diayun menyebar puluhan batang jarum ke arah tiga dara itu. Akan tetapi Ma Hoa memutar-mutar sepasang bambu rucingnya dan Ang I Niocu juga memutar sepasang pedangnya, hingga semua jarum kena terpukul runtuh. Sementara itu melihat kesempatan baik, Lin Lin maju mengirim serangan hebat ke arah dada lawannya dengan tusukan cepat.

Wi Wi Toanio mencoba mengelak akan tetapi ketika ia merendahkan diri, Lin Lin merobah gerakannya dan pedangnya meluncur ke bawah! Wi Wi Toanio ketika itu terancam pula oleh sabetan pedang Ang I Niocu dari kiri dan tusukan bambu runcing yang menotok ke iganya, maka dengan bingung dia membanting diri ke belakang!

Meski pun gerakannya sudah cepat sekali, akan tetapi ujung pedang pendek Han-le-kiam di tangan Lin Lin masih lebih cepat dan ujung pedang ini berhasil melukai pundak Wi Wi Toanio yang lalu berguling ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan selanjutnya.

Tiga orang gadis itu hendak mengejar dan mengirim serangan maut, akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara dari dalam goa,

“Jangan bunuh dia!”

Ang I Niocu, Lin Lin, dan Ma Hoa tercengang dan mereka cepat-cepat menahan senjata masing-masing, sedangkan Wi Wi Toanio yang merasa jeri menghadapi tiga orang gadis kosen itu, lalu melarikan diri turun dari bukit itu secepatnya!

Ang I Niocu merasa girang sekali mendengar suara tadi, karena suara yang mencegah mereka tadi adalah suara Bu Pun Su. Juga Lin Lin mengenal suara suhu-nya, maka dia lalu cepat-cepat mengajak Ma Hoa dan Ang I Niocu untuk masuk ke dalam goa.

Mereka melihat bahwa Bu Pun Su telah siuman kembali akan tetapi masih rebah dengan tubuh lemah, ada pun Cin Hai duduk bersila di dekatnya dengan wajah muram. Bu Pun Su memang hebat sekali, karena biar pun dia berada dalam keadaan sedemikian rupa, namun pendengarannya masih sangat tajam sehingga dia dapat mendengar pertempuran yang terjadi di luar dan seruan-seruan Wi Wi Toanio itu dikenalnya baik-baik, maka dia lalu mengerahkan khikang-nya dan mencegah ketiga orang gadis itu membunuh Wi Wi Toanio. Tanpa menyaksikan dengan mata sendiri, dari pendengaran dan dugaan saja dia maklum bahwa Wi Wi Toanio tak akan dapat menang menghadapi tiga dara yang gagah perkasa itu!

Ang I Niocu, Lin Lin, dan Ma Hoa lalu menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Bu Pun Su tersenyum dengan lemah dan bibirnya bergerak, mengeluarkan bisikan perlahan,

“Kalian lihat, betapa pun tinggi kepandaian orang, ia harus tunduk terhadap usia tua!”

Kemudian Bu Pun Su memandang kepada Ma Hoa dan berkata. “Nona Ma Hoa, kau datang ke sini tentu mempunyai maksud tertentu. Katakanlah!”

Ma Hoa tadinya segan untuk menceritakan mengenai pesanan suhu-nya, dan tadinya dia berniat untuk menahan saja pesanan itu karena Bu Pun Su sedang sakit. Tidak tahunya kakek ini bermata awas hingga tahu bahwa kedatangannya mempunyai maksud tertentu, maka sambil berlutut dia lalu berkata,

“Maafkan teecu, Locianpwe. Sebetulnya teecu tidak berani mengganggu Locianpwe yang sedang menderita sakit.”

Terdengar suara tertawa Bu Pun Su yang seperti biasa, gembira dan terlepas, hanya kali ini suara ketawanya tidak sekeras dahulu. “Anak yang baik, tubuhku memang sakit, akan tetapi semangatku masih seperti biasa. Ceritakanlah.”

“Sebetulnya teecu sudah diperintahkan oleh Suhu Hok Peng Taisu untuk menyampaikan tantangan Hai Kong Hosiang yang ditujukan kepada Suhu dan Locianpwe.”

“Hemm, Hai Kong menantang aku dan Hok Peng?”

“Benar, Locianpwe. Hwesio itu menantang untuk mengadu kepandaian pada bulan tiga di Puncak Hoa-san, dan mereka hendak mengajukan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat sebagai jago untuk menghadapi Locianpwe dan Suhu. Suhu berpesan agar teecu menyampaikan kepada Locianpwe bahwa selatan dan timur tidak seharusnya kalah terhadap barat dan utara!”

Bu Pun Su tertawa lagi, akan tetapi suara ketawanya makin lemah.

“Hok Peng ternyata lebih muda semangatnya dari pada aku! Alangkah senangnya kalau bersama Hok Peng aku dapat menghadapi Pok Pok dan Swi Kiat!” Akan tetapi dia lalu menarik napas panjang dan berbisik,

“Tak mungkin, bulan tiga masih lama, aku tak akan dapat bertahan selama itu...”

Mendengar ucapan ini, tak dapat dicegah lagi Lin Lin lalu menangis terisak-isak.

“Ehh, ehhh, Lin Lin muridku yang nakal! Mengapa kau menangis? Suhu-mu sebentar lagi terbebas dari pada kesengsaraan, kenapa kau malah menangis? Seharusnya kau malah bersyukur dan bergembira!”

Akan tetapi, mendengar ini, Lin Lin makin hebat tangisnya, bahkan kini Ang I Niocu dan Ma Hoa juga ikut menangis. Bu Pun Su menarik napas panjang,

“Hm-hmm... perempuan, perempuan... kalau tidak menangis, kau bukan perempuan lagi namanya...”

Setelah tangisnya reda, Lin Lin lalu berkata kepada suhu-nya, “Suhu, perkenankan pada teecu untuk mengajukan sebuah permohonan.”

“Nah, nah, sesudah menangis lalu mengajukan permohonan, cocok sekali ucapan orang jaman dahulu bahwa di balik air mata wanita itu tersembunyi maksud-maksud tertentu!”

“Teecu ingin mohon perkenan dari Suhu untuk mengijinkan Enci Im Giok melangsungkan perjodohannya dengan Lie Kong Sian Suheng!”

Mendengar ucapan Lin Lin ini, Ang I Niocu cepat-cepat menundukkan kepalanya hendak menyembunyikan mukanya yang menjadi kemerah-merahan.

Bu Pun Su menjawab dan suaranya makin melemah seperti bisikan.

“Aku tahu... semenjak mereka datang aku sudah tahu... Im Giok dan Kong Sian memang cocok, aku setuju...,” tiba-tiba ia mengeluh panjang dan kembali Bu Pun Su jatuh pingsan, tak sadarkan diri seperti orang tidur pulas!

Cin Hai cepat menyambar nadi tangan suhu-nya dan berbisik, “Suhu telah terlalu banyak menggunakan tenaga untuk bercakap-cakap.”

Tiba-tiba saja masuk seorang laki-laki ke dalam Goa Tengkorak dan ketika semua orang memandang, ternyata yang datang ini adalah Lie Kong Sian. Pemuda ini dengan cepat sekali lalu menghancurkan daun darah yang dia ambil dari pulaunya, memeras daun itu dan meminumkannya ke dalam mulut Bu Pun Su. Setelah itu, pemuda ini lalu duduk di sebelah Bu Pun Su untuk menggantikan Cin Hai membantu peredaran hawa dalam tubuh supek-nya.

Tak lama kemudian, bagaikan api lilin yang hampir padam kini bernyala kembali, Bu Pun Su menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya. Ternyata khasiat daun darah sudah bekerja dan dia merasa tubuhnya enak sekali. Kakek sakti itu lalu bangun dan duduk.

“Im Giok, kuulangi kata-kataku tadi. Kau memang berjodoh dengan Kong Sian dan aku merasa girang sekali bahwa kau mendapatkan jodoh dengan murid Han Le sendiri!”

Ang I Niocu dan Lie Kong Sian menundukkan kepala dan tidak berani bergerak karena jengahnya. Kemudian Bu Pun Su berkata sambil menuding keluar goa,

“Ada orang datang!”

Semua orang memandang karena mereka tak mendengar sesuatu, kecuali Cin Hai yang dapat mendengar tindakan kaki yang halus sekali. Dan benar saja, tidak lama kemudian, masuklah Kwee An bersama Hok Peng Taisu yang datang-datang tertawa bergelak lalu menghampiri Bu Pun Su.

Bu Pun Su juga tertawa girang. “Hok Peng, apa kau datang hendak memeriksa tubuhku yang sudah bobrok ini?”

“Bu Pun Su, benar-benarkah kau hendak mendahului aku? Kau hanya lebih tua beberapa tahun saja dariku, dan menurut patut, kau harus lebih kuat menolak cengkeraman maut!”

Setelah berkata demikian, Hok Peng Taisu segera duduk di dekat Bu Pun Su kemudian mengulurkan tangan untuk memeriksa nadi dan detik jantung kakek jembel itu. Sesudah memeriksa sambil memejamkan mata beberapa lama, kakek jembel itu bertanya,

“Bagaimana, Hok Peng, masih berapa lama lagikah?”

Kakek botak itu memandang wajah Bu Pun Su dengan tajam. “Bu Pun Su, aku tidak ingin mengetahui urusan pribadimu, akan tetapi orang seperti kau ini tidak layak menerima luka di jantung akibat tekanan batin! Jantungmu terluka hebat sekali karena kau agaknya telah teringat akan hal-hal yang sudah lampau, yang membuat kau merasa malu, marah, dan berduka. Melihat keadaanmu, paling lama kau hanya akan dapat bertahan selama satu pekan saja!”

“Bagus, kalau begitu masih ada waktu beberapa hari lagi,” kata Bu Pun Su.

“Sungguh sayang Bu Pun Su. Benar-benar sayang, karena sebenarnya aku ingin sekali mengajak kau menikmati adu kepandaian di Puncak Hoa-san dan bermain-main sebentar dengan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu sebelum kau pergi! Pergi seorang diri saja ke Hoa-san kurang menggembirakan!”

Bu Pun Su tertawa, “Apa dayaku? Tadi aku pun sudah mendengar dari muridmu tentang tantangan itu, akan tetapi kepergianku tak dapat ditunda-tunda lagi!”

Mendengar bahwa usia Bu Pun Su tinggal sepekan lagi dan mendengar pula betapa dua orang kakek yang aneh itu membicarakan kematian Bu Pun Su bagai orang yang hendak pergi melancong saja, Ang I Niocu, Lin Lin dan Ma Hoa tak dapat menahan keharuan hati lagi sehingga terdengarlah isak tangis mereka. Lin Lin bahkan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suhu-nya dan menangis sedih.

“Ehh, ehh, kembali kau memperlihatkan sikapmu yang nakal, Lin Lin!” kata Bu Pun Su. Kemudian, kakek jembel itu berkata kepada kakek botak,

“Hok Peng, jangan kau kecewa, karena betapa pun juga, tantangan Hai Kong Hosiang itu harus kita hadapi! Memang aku tidak dapat datang sendiri, tetapi aku hendak mewakilkan kepada Cin Hai untuk menghadapi mereka.”

“Suhu, teecu masih terlalu lemah untuk menghadapi mereka, terutama Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu yang sakti itu,” kata Cin Hai.

“Jangan khawatir, mereka itu sudah tua bangka dan tubuh mereka sudah bobrok seperti aku! Kita masih mempunyai waktu sepekan dan selama itu, aku akan menurunkan semua sisa-sisa kepandaianku kepadamu. Pula, sesudah aku pergi, kau boleh minta bimbingan Hok Peng untuk memperdalam kepandaianmu sehingga tidak akan mengecewakan kelak apa bila kau mewakili daerah selatan dan timur bersama Hok Peng!”

“Bagus!” kata Hok Peng. “Aku setuju sekali kalau anak muda ini mewakilimu, karena dia mempunyai bahan cukup baik. Nah, aku tidak akan mengganggu lebih jauh, Bu Pun Su. Pergunakanlah sisa waktu yang tak lama lagi itu dengan sebaiknya dan selamat berpisah sampai berjumpa kembali.”

Bu Pun Su mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Terima kasih, paling lama lima tahun lagi kita bertemu!”

Hok Peng tertawa bergelak-gelak. “Mungkin sekali sebelum lima tahun aku sudah akan menyusulmu!” Kemudian kakek ini berkelebat keluar dan lenyap dari pandangan mata.

Bu Pun Su menarik napas panjang. “Lie Kong Sian, obatmu itu benar baik sekali karena sekarang aku merasa sehat kembali. Sekarang kalian dengarkan pesanku yang terakhir. Im Giok telah kuberi persetujuan menjadi jodoh Lie Kong Sian dan semoga kalian berdua hidup berbahagia. Pedang Liong-cu-kiam kuberikan kepada Cin Hai dan Im Giok, yang panjang untuk Cin Hai sedang yang pendek untuk Im Giok karena kalian berdualah yang telah mendapatkannya.”

Cin Hai, Ang I Niocu dan Lie Kong Sian menghaturkan terima kasih.

“Masih ada lagi,” Bu Pun Su berkata, “Kelak, apa bila kalian memperoleh keturunan, juga bagi Nona Ma Hoa, kuanjurkan supaya menuruti nasehat ini, kalian harus menggunduli putera-puteramu.”

Semua orang memandang heran dan menganggap bahwa kakek itu sudah mulai bicara tidak karuan seperti biasanya orang-orang tua yang sudah mendekati saat kematiannya.

“Hal ini jangan kalian pandang rendah,” kata Bu Pun Su. “Dan kau, Cin Hai, jangan kau anggap Gurumu berkelakar dan menyindir kau yang ketika kecil bergundul kepala, karena sesungguhnya bagi seorang anak laki-laki lebih baik rambutnya digunduli ketika ia masih kecil agar hawa yang sehat dan sejuk tidak tertolak oleh rambut hingga membuat kepala anak itu menjadi segar dan baik perjalanan darahnya sehingga selain memperkuat, juga menambah kecerdikan anak itu. Pesanku yang lain ialah kalau aku sudah pergi, tubuhku yang bobrok ini supaya dibakar di dalam goa ini dan abunya kalian masukkan ke dalam hio-louw besar, kemudian kalian tinggalkan goa ini dan menutupnya dengan batu besar rapat-rapat, lalu tutuplah goa ini dengan pohon-pohon agar tak sampai ditemukan orang lain. Aku ingin mengaso dengan tenteram di tempat ini.”

Semua orang mendengarkan pesan ini dengan hati terharu sekali.

“Nah, sekarang kalian keluarlah semua, kecuali Cin Hai sebab aku hendak menggunakan sisa waktuku untuk melatihnya sebagai persiapan untuk menghadapi adu kepandaian di Puncak Hoa-san kelak.”

Dengan hati sedih dan wajah muram, Ang I Niocu, Lie Kong Sian, Lin Lin, Ma Hoa dan Kwee An lalu mengundurkan diri dan keluar dari goa itu. Mereka menjaga di luar sambil bercakap-cakap menuturkan pengalaman masing-masing dan tidak berani mengganggu ke dalam di mana Bu Pun Su menggunakan kesempatan terakhir untuk melatih Cin Hai dengan ilmu-ilmu kepandaian yang belum dipelajarinya.

Tentu saja dalam waktu yang hanya beberapa hari itu, Cin Hai tidak mungkin mempelajari semua ilmu itu berikut prakteknya, dan hanya dapat mempelajari pokok-pokok teorinya saja, untuk kemudian dipelajari prakteknya. Akan tetapi ia telah mencatat dalam otaknya segala pelajaran itu dengan teliti sehingga Bu Pun Su menjadi puas.

Lima hari kemudian, Cin Hai keluar dari dalam goa dengan wajah muram dan ia memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk masuk ke dalam. Lin Lin berlari mendahului dan ketika melihat tubuh suhu-nya berbaring dengan wajah pucat dan napas lemah, ia segera menubruknya sambil menangis.

Bu Pun Su menggerakkan tangannya yang sudah amat lemah itu untuk membelai rambut Lin Lin.

“Jangan menangis, jangan menangis,” bisiknya, “jangan antarkan kepergianku dengan air mata... aku tidak suka...!” Lin Lin cepat menahan tangisnya dan terisak-isak dengan hati hancur.

“Anak-anak... pesanku terakhir... sesudah selesai pertandingan pibu di Hoa-san... kalian pulanglah dan langsungkan perjodohan... hiduplah dengan aman dan tenteram bahagia, jauhi segala permusuhan...!” dia terengah-engah karena sebenarnya waktu lima hari yang dia pergunakan siang malam untuk memberikan gemblengan terakhir kepada Cin Hai itu terlampau melelahkannya dan membuatnya cepat lemah.

“Sekarang... antarkan kepergianku dengan cita-cita tinggi dan luhur... selamat... tinggal!” lemaslah lehernya dan pada saat itu Bu Pun Su, tokoh persilatan yang amat tinggi ilmu kepandaiannya itu, terpaksa menyerah kalah terhadap maut yang merenggut nyawanya.

Lin Lin, Ang I Niocu, dan Ma Hoa berusaha menahan tangis mereka karena mereka ingin mentaati pesan terakhir dari Bu Pun Su. Mereka berenam lalu mengadakan persiapan untuk menyempurnakan jenazah kakek itu kemudian membakarnya di dalam goa dengan penuh khidmat. Setelah selesai dan mayat itu sudah menjadi abu seluruhnya, abunya lalu disimpan di dalam hiolouw besar yang berdiri di tengah kamar.

Selama beberapa hari mereka mengadakan perkabungan di tempat itu dan mengadakan sembahyangan untuk memberi penghormatan terakhir, kemudian beramai-ramai mereka lantas menutup pintu Goa Tengkorak dengan batu-batu besar dan menimbunnya dengan pohon-pohon kecil sehingga goa itu tertutup sama sekali dan tidak tampak dari luar.

Sesudah itu, atas anjuran Ma Hoa, mereka berenam lalu pergi ke Hong-lun-san untuk memberi kabar kepada Hok Peng Taisu mengenai kematian Bu Pun Su. Kakek botak itu menerima warta ini sambil tersenyum dan menarik napas panjang.

“Ahh, dia lebih beruntung dari pada aku. Sekarang dia sudah enak-enak sedangkan aku masih harus menderita.”

Oleh karena waktu untuk menerima tantangan tinggal sebulan lebih lagi, maka Hok Peng Taisu lalu melatih Cin Hai dengan berbagai kepandaian yang belum pernah dipelajari oleh anak muda itu sampai hampir sepuluh hari lamanya. Orang-orang muda yang lain merasa suka sekali tinggal di bukit yang indah itu dan mereka juga berlatih silat di bawah pengawasan Hok Peng Taisu.

Setelah menganggap bahwa ilmu kepandaian Cin Hai cukup kuat, Hok Peng Taisu lalu mengajak mereka mulai melakukan perjalanan menuju ke Puncak Hoa-san.

Untuk memperkuat rombongan mereka, Ma Hoa minta perkenan kepada Hok Peng Taisu untuk singgah di tempat kediaman Nelayan Cengeng, yaitu di Sungai Liong-ho. Ternyata kakek nelayan itu sedang enak-enakan di atas sebuah perahu kecil, bersenang-senang seorang diri mencari ikan sambil bernyanyi-nyanyi.

Melihat kedatangan mereka, Nelayan Cengeng merasa girang bukan main, dan ia segera menyatakan keinginannya untuk ikut pergi ke Hoa-san! Tentang kematian Bu Pun Su, ia menyambutnya dengan ucapan yang hampir sama dengan ucapan Hok Peng Taisu dulu, karena ia berkata,

“Aku harap akan dapat segera menyusulnya!”

Hok Peng Taisu lalu menyerahkan pimpinan rombongan itu kepada Nelayan Cengeng karena dia hendak melakukan perjalanan dari lain jurusan untuk singgah di tempat tinggal beberapa orang kenalannya.

“Kalau sudah tiba di kaki Bukit Hoa-san, kalian tunggulah kedatanganku, dan kalau aku yang datang lebih dahulu, aku pun akan menanti kalian,” kata kakek botak itu yang lalu berkelebat pergi.

Seperti juga Bu Pun Su, Kakek aneh ini tidak suka melakukan perjalanan dengan orang lain, dan lebih suka berjalan seorang diri saja…..

********************

Ternyata bahwa pihak Hai Kong Hosiang telah berkumpul di Puncak Hoa-san menanti kedatangan dua orang musuh besar, yaitu Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu. Wi Wi Toanio sudah berhasil mengundang datang Pok Pok Sianjin, supek-nya yang tinggal di Puncak Go-bi-san daerah barat yang telah berpuluh tahun mengasingkan diri itu.

Wi Wi Toanio tak berani menceritakan tentang hal yang sebenarnya, maka dengan cerdik nenek itu hanya menceritakan bahwa dia hendak mengadakan pibu dengan Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu dan karena merasa tidak kuasa menghadapi, mereka minta bantuan supek ini.

Sebenarnya Pok Pok Sianjin tidak mau mempedulikan segala urusan dunia. Akan tetapi mendengar nama Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu sebagai dua orang tokoh tertinggi dari daerah selatan dan timur, maka tergeraklah hatinya hingga timbul kegembiraannya untuk mengukur kepandaian mereka. Apakah salahnya mengukur tenaga di dalam sebuah pibu yang adil dan dilakukan dalam suasana persahabatan? Oleh karena inilah maka Pok Pok Sianjin menyanggupi dan tepat pada waktunya.

Sementara itu, Swi Kiat Siansu, guru Thai Kek Losu, pada waktu dibujuk oleh Hai Kong Hosiang yang menceritakan betapa kedua orang muridnya, yaitu Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, tewas dalam tangan Cin Hai, Lin Lin dan Lie Kong Sian, tergerak pula hatinya ketika mendengar betapa pembunuh-pembunuh muridnya itu, dibela pula oleh Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu.

Kalau saja kedua tokoh besar itu tidak muncul untuk membela pembunuh-pembunuh dua muridnya, tentu ia tidak akan sudi turun gunung karena ia pun telah mendengar tentang kesesatan murid-muridnya itu. Akan tetapi dia tergerak untuk mencoba pula kepandaian Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu yang amat terkenal.

Rombongan Hai Kong Hosiang terdiri dari dua belas orang, yaitu Pok Pok Sianjin, Swi Kiat Siansu, Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin, Kam Hong Sin, Ceng Tek Hosiang, Ceng To Tosu, Giok Im Cu, Giok Keng Cu, dan Giok Yang Cu. Selain dua belas orang-orang yang lihai ini, masih terdapat ratusan perwira yang sengaja menjaga di sekitar tempat itu.

Melihat keadaan rombongan yang berjumlah banyak ini, terutama melihat para perwira, Pok Pok Sianjin merasa heran dan bertanya kepada Wi Wi Toanio, “Wi Wi, kenapa begini banyak orang berada di sini? Apakah kalian hendak mengadakan perang besar?”

“Tidak, Supek. Mereka adalah kawan-kawan teecu, dan perwira-perwira itu hanya untuk penjagaan kalau-kalau pihak lawan membawa pula bantuan besar untuk sengaja mencari permusuhan.”

Juga Swi Kiat Siansu merasa heran melihat banyaknya orang menjaga di situ, maka dia berkata kepada Hai Kong Hosiang, “Aku tidak menghendaki adanya pertempuran besar. Kalian boleh saja bertempur dan bermusuhan, akan tetapi jangan harap untuk melibatkan diriku dalam keadaan semacam itu!”

Hai Kong Hosiang segera menyatakan kesanggupannya untuk mencegah para perwira itu membuat kacau dan hanya minta agar supaya Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu menghadapi Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu di dalam pibu yang hendak diadakan.

Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu merasa girang dapat saling bertemu dan mereka segera bermain catur di bawah sebatang pohon dan tidak mempedulikan lagi keadaan di sekitarnya.

Pada saat dua orang kakek yang sudah amat tua itu asyik bermain catur, maka datanglah rombongan Hok Peng Taisu yang hanya terdiri dari delapan orang, yaitu Hok Peng Taisu sendiri, Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Ang I Niocu, Lie Kong Sian dan Nelayan Cengeng.

Dengan sikap tenang dan gagah Hok Peng Taisu berjalan memimpin semua kawannya naik bukit Hoa-san dan sama sekali tidak gentar melihat para perwira yang berderet-deret menyambut kedatangan mereka itu.

Pada saat Hai Kong Hosiang dan yang lain-lainnya menyambut, Hok Peng Taisu berlaku seakan-akan tidak melihat mereka, akan tetapi langsung menghampiri kedua orang kakek yang tengah bermain catur itu sambil tertawa dan berkata,

“Kalau saja Bu Pun Su belum meninggalkan kita, kalian berdua tentu akan dipukul hancur dalam permainan catur ini. Sayang aku tidak pandai bermain catur!”

Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu yang sudah melihat kedatangannya, segera berdiri sambil tertawa.

“Hok Peng, kau nyata masih nampak sehat-sehat saja biar pun kepalamu sudah menjadi botak dan hampir habis semua rambutmu!” kata Pok Pok Sianjin.

Sedangkan Swi Kiat Siansu berkata dengan kecewa. “Kau bilang tadi bahwa Bu Pun Su sudah meninggalkan kita? Ah, sayang sekali...! Dari tempat jauh, aku datang karena ingin merasakan pula kelihaiannya, ternyata ia telah mendahuluiku pergi... sungguh sayang.”

Hok Peng Taisu tertawa pula. “Jangan kau kecewa, Swi Kiat Siansu! Sungguh pun Bu Pun Su telah berpulang ke asalnya, akan tetapi dia telah mengirim salamnya dan bahkan mengirim seorang wakil yang akan cukup menggembirakan hatimu.”

Swi Kiat Siansu memandang tajam. “Apa? Apakah kau mewakili dia pula?”

Hok Peng Taisu menggeleng-gelengkan kepala. “Apa kau kira aku sedemikian serakah untuk memborong semua kehormatan? Bukan, bukan aku, akan tetapi muridnya.” Kakek botak ini lalu melambaikan tangan ke arah Cin Hai yang segera menghampiri mereka.

“Inilah wakil Bu Pun Su, dia disebut Pendekar Bodoh!”

Cin Hai lalu menjura dengan penuh penghormatan kepada Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin sambil berkata, “Teecu Sie Cin Hai yang bodoh merasa mendapat kehormatan besar dapat bertemu dengan Ji-wi Locianpwe.”

Pok Pok Sianjin bertubuh tinggi kurus dan agak bongkok. Rambut serta kumisnya sudah putih semua dan terurai ke bawah tak terawat sama sekali. Tangan kanannya membawa sebatang tongkat panjang yang bengkok-bengkok dan tangan kirinya selalu mengelus-elus jenggotnya yang panjang.

Dia mengangguk-angguk senang melihat sikap Cin Hai yang sopan santun. Melihat sikap serta pandang mata pemuda itu, maklumlah dia bahwa pemuda ini adalah seorang yang ‘berisi’.

Swi Kiat Siansu bertubuh gemuk bulat bagai patung Jilaihud, jubahnya kuning dan hanya berupa sehelai kain yang dibelit-belitkan pada tubuhnya. Tangan kanannya memegang sebatang kipas dan agaknya dia selalu merasa kepanasan karena kipas itu tiada hentinya digunakan untuk mengipasi tubuhnya.

Ketika mendengar bahwa julukan pemuda itu adalah Pendekar Bodoh, kakek yang juga sudah tua sekali ini segera menaruh hormat dan tahu bahwa orang yang menggunakan julukan serendah itu pasti memiliki kepandaian yang berarti.

“Bagus sekali,” kata Swi Kiat Siansu. ”Bu Pun Su, ternyata pandai memilih murid-murid, tidak seperti aku yang selalu salah memilih. Pendekar Bodoh, tentu kau pula yang telah membantuku memberi hajaran pada kedua muridku Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu?”

Cin Hai menjawab dengan tenang.

“Locianpwe, mana teecu berani memberi hajaran kepada orang lain? Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu sengaja hendak membunuh teecu dan kawan-kawan, maka terpaksa kami membela diri.”

Swi Kiat Siansu mengangguk-angguk, lalu dia berkata kepada Hai Kong Hosiang, “Hai Kong Bengyu, kau telah berhasil mengundang aku untuk mengadakan pibu dengan Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu dan kini mereka berdua telah datang, biar pun Bu Pun Su sendiri hanya diwakili oleh muridnya. Akan tetapi, kau harus ingat bahwa pibu ini adalah urusan kami sendiri dan kau bersama kawan-kawanmu yang banyak jumlahnya itu tidak boleh mencampuri urusan kami. Urusan pribadi terhadap para tamu tiada hubungannya dengan pibu ini!”

Pok Pok Sianjin juga berkata kepada Wi Wi Toanio, “Aku telah bertemu dengan jago-jago dari selatan dan timur, jangan mengganggu pibu ini.”

Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio biar pun merasa kecewa, akan tetapi mereka tidak berani membantah, hanya mereka mengharap agar dalam pibu ini, Cin Hai dan Hok Peng Taisu kena dikalahkan, karena dengan begitu akan mudah bagi mereka untuk menyerang Ang I Niocu dan kawan-kawannya. Mereka memang merasa gentar terhadap Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su dan biar pun mereka tahu akan kelihaian Cin Hai yang mewakili Bu Pun Su, namun mereka tidak begitu jeri terhadap Cin Hai.....

Sementara itu, Hok Peng Taisu lalu menghadapi kedua kakek sakti dari barat dan utara itu dan berkata,

“Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu, kita ini seperti anak-anak kecil yang bodoh hingga dapat dibujuk oleh orang-orang muda untuk datang ke sini sehingga saling berhadapan! Akan tetapi setelah kita bertemu di sini, maka kita tidak perlu merasa sungkan lagi karena aku juga dapat menduga isi hati kalian yang tentu tidak jauh bedanya dengan isi hatiku. Bukankah kalian datang ini karena ingin menguji kepandaianku dan kepandaian Bu Pun Su?”

Swi Kiat Siansu tertawa. “Ha-ha-ha-ha! Benar, benar! Orang-orang yang sudah terlalu tua seperti kita ini memang kembali menjadi bocah-bocah lagi. Sayang sekali Bu Pun Su tak dapat hadir, kalau dia ada alangkah senangnya!”

“Locianpwe,” kata Cin Hai dengan masih menghormat, “dahulu mendiang Suhu pernah menyatakan kekecewaannya karena tak dapat menerima penghormatan ini sendiri, akan tetapi Suhu telah menitahkan teecu untuk mewakilinya. Oleh karena taat kepada perintah Suhu, maka teecu melupakan kebodohan sendiri dan berani berlaku lancang menghadapi Ji-wi Locianpwe untuk melayani Locianpwe berdua bermain-main!”

Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Pendekar Bodoh,” kata Pok Pok Sianjin. “Kau terlalu merendahkan diri sendiri dan dapat menyesuaikan dirimu, bagus sekali!”

“Locianpwe,” Cin Hai berkata, “teecu teringat akan ujar-ujar Nabi Khong Cu yang pernah menyatakan bahwa jika orang bodoh suka menggunakan cara sendiri dan orang rendah berlaku agung, maka dia akan selamat. Sedangkan orang yang tak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya dan berkukuh memegang aturan kuno yang sudah tidak sesuai lagi, maka orang demikian itu tentu akan mengalami bencana yang menimpa dirinya!”

“Itulah ujar-ujar dalam kitab Tiong-yong!” seru Pok Pok Sianjin dengan kagum. “Ehh, anak muda, kau benar-benar mengherankan! Ucapan-ucapanmu tidak pantas keluar dari mulut seorang semuda engkau! Tahukah engkau bahwa usiamu ini membuat kau lebih pantas menjadi cucuku? Dan kau hendak melayani kami bermain-main?”

“Locianpwe, para bijak jaman dahulu pernah menyatakan bahwa kepandaian dan pribudi orang tak diukur dari tinggi rendah usianya, seperti juga kebersihan lahir batin seseorang tidak dapat dilihat dari pakaiannya! Oleh karena itu, apakah salahnya perbedaan usia di antara kita? Apakah artinya muda dan tua? Buah yang sudah terlalu tua akan membusuk dan kemudian jatuh ke atas tanah untuk bersemi lagi menjadi pohon muda, dan akhirnya pun akan menjadi tua kembali! Lagi pula, Locianpwe hanya bermaksud untuk main-main, maka biarlah teecu menerima pengajaran dan supaya bertambah pengalaman teecu dari main-main ini!”

“Ha-ha-ha-ha! Kau memang pandai sekali, Pendekar Bodoh!” kata Pok Pok Sianjin. “Hok Peng Taisu, tak salah kau membawa anak muda ini! Sekarang biarlah aku bermain-main dengan anak muda ini lebih dulu sedangkan Swi Kiat Siansu bermain-main dengan kau, dan kemudian kita bertukar lawan!”

Hok Peng Taisu hanya mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah Pok Pok Sianjin. Kalian berdua pada saat ini boleh kuanggap sebagai tuan rumah, sebab itu biarlah ketentuan-ketentuannya terserah kepadamu saja.”

Pok Pok Sianjin lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian ia mengambil dua biji catur dan menyerahkannya sebuah kepada Cin Hai sambil berkata, “Pendekar Bodoh, kita masing-masing memegang sebuah biji catur dan marilah kita menaruh biji catur ini di kepala. Kemudian kita saling serang dan berusaha menjatuhkan biji catur itu dari atas kepala. Siapa yang biji caturnya terjatuh, harus berani mengaku kalah!”

Cin Hai diam-diam merasa terkejut oleh karena biar pun ‘main-main’ ini nampaknya tidak berbahaya, namun karena biji catur itu ditaruh di atas kepala, maka untuk menjaga agar jangan sampai biji catur itu terpukul jatuh, sama halnya dengan menjaga kepala sendiri, sebab kepala itu tak akan terluput dari pada bahaya pukulan! Akan tetapi, dengan tenang dia mengangguk dan lalu menaruh biji catur itu di atas kepalanya sesudah menyingkap rambutnya sehingga biji catur itu menyentuh kulit kepala.

“Teecu telah siap, Locianpwe!” katanya.

“Bagus, mari kita mulai!”

Kakek tua yang tinggi kurus dan agak bongkok itu lalu melangkah maju dan mengebutkan tangannya ke arah biji catur di atas kepala Cin Hai dan pemuda ini merasakan betapa sambaran angin yang keluar dari kibasan tangan ini sungguh dahsyat dan keras hingga ia merasa betapa rambut kepalanya tertiup keras! Ia segera menggerakkan dua lengannya dan mainkan gerak Pek-in Hoat-sut kemudian menolak sambaran angin itu dengan angin pukulannya, bahkan lantas membalas dengan pukulan Mega Putih Menutup Matahari ke arah biji catur di atas kepala Pok Pok Sianjin.

Melihat betapa sampokannya tadi terpental kembali oleh uap putih yang keluar dari kedua lengan Cin Hai, Pok Pok Sianjin lalu tertawa dan berkata, “Bagus, Pek-in Hoat-sut yang kau mainkan ini mengingatkan aku kepada Bu Pun Su! Ha-ha-ha-ha, kau benar-benar merupakan Bu Pun muda!”

Kemudian dia menyerang kembali dengan kebutan tangan atau tamparan yang dilakukan dengan cepat serta mendatangkan angin pukulan yang hebat. Cin Hai berlaku waspada dan hati-hati sekali. Ia cepat mempergunakan kelincahannya dan mengelak sambil balas menyerang.

Demikianlah, kedua orang itu saling serang dengan hebatnya dan biar pun tubuh mereka berkelebatan ke sana ke mari, akan tetapi belum pernah kedua lengan tangan mereka beradu karena mereka mempergunakan lweekang dan ginkang untuk menyerang lawan dengan angin pukulan saja!

Nelayan Cengeng beserta kawan-kawan lainnya yang menonton pertempuran ini hatinya merasa berdebar-debar penuh ketegangan karena sungguh pun mereka berdua itu hanya ‘main-main’ belaka, namun kehebatan pertandingan itu lebih mendebarkan hati dari pada pertempuran dua ekor naga yang saling terkam! Juga Hok Peng Taisu memandang tajam dan diam-diam ia mengagumi kelincahan dan ketenangan Cin Hai.

Harus diketahui bahwa pertandingan adu kepandaian semacam ini lebih berat dari pada pertandingan dalam pertempuran biasa karena di dalam pertandingan bersyarat ini orang harus membagi dua perhatiannya, yaitu selain menjaga pukulan lawan juga harus dapat menjaga supaya biji catur di atas kepala itu jangan tergelincir jatuh di waktu tubuh mereka bergerak. Dengan tenaga khikang tentu dapat menyedot biji catur itu hingga seakan-akan menempel pada kulit kepala, akan tetapi sebentar saja perhatian mereka terlepas, maka biji catur itu ada kemungkinan terguling ke bawah yang berarti kekalahan bagi mereka!

Supaya dapat melakukan hal ini dibutuhkan kepandaian tinggi serta khikang yang sudah sempurna, maka Pok Pok Sianjin sengaja memilih cara ini karena bila mana anak muda itu tidak sanggup melakukannya berarti bahwa kepandaiannya belum cukup tinggi untuk melayaninya!

Akan tetapi, alangkah kagum hatinya ketika melihat bahwa bukan saja Cin Hai sanggup melakukan permainan ini dengan begitu baik, bahkan dapat juga melancarkan serangan balasan yang cukup mengejutkannya! Dia tidak tahu bahwa Cin Hai sudah mempelajari pokok-pokok pergerakan silat dengan sempurna sehingga dapat menduga ke mana arah serangan lawannya, sehingga sungguh pun ia harus mengakui bahwa lweekang dari Pok Pok Sianjin lebih tinggi dari pada lweekang-nya sendiri, akan tetapi oleh karena dia telah mengetahui lebih dulu arah serangan lawan, maka dia dapat menjaga diri lebih cepat dari pada lawannya.

Tipu berganti tipu dan ilmu bertukar ilmu, akan tetapi setelah bertempur lima puluh jurus, belum juga Pok Pok Sianjin berhasil mengalahkan Cin Hai. Ia makin menjadi kagum dan juga penasaran, dan ketika Cin Hai mainkan ilmu serangan yang baru-baru ini dia terima dari Bu Pun Su, yakni Ilmu Serangan Halilintar Menyambar Hujan, pukulan-pukulannya telah berhasil membuat biji catur di atas kepala Pok Pok Sianjin menjadi miring.

Bukan main kagum dan terkejutnya hati Pok Pok Sianjin saat melihat hebatnya serangan pemuda itu, hingga dia berseru keras memuji.

“Kau benar-benar murid Bu Pun Su tulen!” katanya sambil menyambar tongkatnya yang tadi ditancapkan di atas tanah. “Keluarkan senjatamu, Pendekar Bodoh, dan marilah kita bermain-main dengan senjata agar lebih menyenangkan!”

Cin Hai dengan hati gelisah terpaksa mengeluarkan pedang Liong-cu-kiam. Akan tetapi oleh karena suara kakek itu diliputi dengan kegembiraan, ia menenteramkan hatinya dan menggerakkan pedang itu dengan cepat.

“Pedang bagus!” Pok Pok Sianjin memuji pula.

Tongkatnya segera berkelebat dengan hebatnya sehingga Cin Hai merasa amat kagum. Belum pernah dia menyaksikan ilmu tongkat sehebat ini. Biar pun ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali hingga tidak mudah orang melawannya, tetapi menghadapi ilmu tongkat Pok Pok Sianjin, ia benar-benar tidak berdaya.

Tentang kecepatan bergerak dan lihainya perubahan gerakan, mungkin ilmu pedangnya tidak kalah karena beberapa kali Pok Pok Sianjin mengeluarkan seruan kaget akibat tidak menduga perubahan yang tiba-tiba terjadi pada pedang Cin Hai, akan tetapi permainan tongkat kakek ini mengandung tenaga-tenaga yang mukjijat. Tongkat di tangannya itu seolah-olah hidup sehingga dapat digunakan untuk menempel, memutar, membetot, atau mendorong dengan tenaga yang cocok sekali hingga beberapa kali hampir saja pedang Cin Hai kena dirampas.

Cin Hai lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan oleh karena ilmu pedangnya Daun Bambu memang sungguh hebat dan dapat disesuaikan dengan kepandaian lawan yang bagaimana pun juga, maka dia dapat melakukan perlawanan cukup seru. Tetapi dia kalah pengalaman dan juga ilmu tongkat Pok Pok Sianjin itu memang lain dari pada yang lain hingga lagi-lagi ketika dia menusuk, pedangnya kena ditempel oleh tongkat itu.

Kakek itu memutar-mutar tongkatnya dan ternyata tenaga putaran itu luar biasa kuatnya. Pedang Cin Hai ikut terputar dan tiba-tiba saja tongkat itu meluncur ke atas kepalanya, menyabet biji catur itu dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka.

Cin Hai terkejut sekali, akan tetapi anak muda ini memang mempunyai ketenangan yang sempurna dan kecerdikan luar biasa. Melihat bahwa ia tak dapat mengelak lagi, apa lagi menangkis, ia lalu berseru keras dan mengerahkan khikang-nya hingga tiba-tiba biji catur di atas kepalanya mumbul setengah kaki lebih dan setelah tongkat kakek itu lewat di atas kepalanya, biji catur itu turun kembali di atas kepalanya seperti tadi.

Hal ini membuat semua orang yang menonton berseru kagum dan juga Pok Pok Sianjin tertawa bergelak-gelak sambil menancapkan tongkatnya di atas tanah lagi.

“Ha-ha-ha-ha! Dasar kau murid Bu Pun Su selain lihai juga cerdik dan licin sekali. Kau pantas sekali disebut Pendekar Bodoh! Hebat, hebat!” Pok Pok Sianjin berseru dengan gembira sekali sambil menepuk-nepuk pundak Cin Hai.

Pemuda ini merasa betapa tangan kakek yang menepuk pundaknya seperti orang memuji itu berat sekali, maka cepat-cepat dia lalu mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba Pok Pok Sianjin merasa betapa pundak pemuda itu lemas bagaikan kapuk! Ia memperhebat suara ketawanya dan Cin Hai menyimpan pedang sambil menjura dan berkata,

“Locianpwe kalau teecu bisa mempelajari ilmu tongkatmu, teecu akan merasa berbahagia sekali!”

Bukan main senangnya hati Pok Pok Sianjin mendengar ucapan ini karena ucapan ini saja menunjukkan betapa pemuda itu menghargainya, maka dia tertawa lagi dan berkata, “Kalau ada jodoh dan usiaku masih panjang, aku akan senang sekali mewariskan ilmu tongkat ini kepada salah seorang keturunanmu!”

Walau pun ucapan ini dikeluarkan seperti main-main belaka dan sambil lalu, akan tetapi Cin Hai mencatat di dalam hati dengan baik-baik.

Swi Kiat Siansu dan Hok Peng Taisu juga memuji kepandaian mereka yang baru saja mengadu kepandaian dan kini kedua orang itu saling pandang. “Sekarang tiba giliran kita, Hok Peng Taisu. Sudah lama aku mengagumi Ilmu Silat Bambu Runcingmu, marilah kita main-main sebentar.”

Hok Peng Taisu tersenyum dan tidak mau berlaku sungkun-sungkan lagi. Dia langsung memegang sepasang tongkat bambunya pada kedua tangan dan sesudah menjura lantas berkata, “Mana sepasang tongkat bambuku dapat dibandingkan dengan kipas mautmu?”

Memang senjata Swi Kiat Siansu ialah kipas yang selalu dipakai untuk mengebut-ngebut tubuhnya itu. Kipas ini sangat lebar dan gagangnya terbuat dari pada gading gajah yang ujungnya runcing, sedangkan permukaannya terbuat dari pada kulit harimau yang sudah direndam obat sehingga menjadi kuat dan keras. Kini dia memegang kipas itu di tangan kanan dan siap menanti datangnya serangan lawan.

“Karena pibu ini harus dilakukan dengan kepala dingin, maka lebih baik kita gunakan pula syarat seperti yang dilakukan oleh Pok Pok Sianjin tadi,” kata Swi Kiat Siansu.

“Terserah kepadamu, Sahabat, karena seperti telah kukatakan tadi, sebagai tuan rumah kau berhak mengambil penentuan,” jawab Hok Peng Taisu.

“Baiknya diatur begini saja. Kalau seorang di antara kita sampai kena diserang ujung baju atau ujung lengan bajunya hingga robek, maka dia dianggap kalah.”

Hok Peng Taisu mengangguk dan tertawa gembira karena mendapat kenyataan bahwa pihak lawan benar-benar tidak menghendaki pertempuran mati-matian.

“Baik, baik. Mari kita mulai!”

Dua orang kakek tua itu segera bergerak dan sebentar saja mereka berdua lenyap dalam sebuah pertempuran yang memusingkan pandangan mata orang yang kurang tinggi ilmu kepandaiannya. Gerakan mereka sama cepat dan gerakan senjata mereka sama lihai, hingga bayangan mereka terkurung oleh gulungan sinar senjata yang berkelebatan hebat sekali.

Semua orang yang menonton pertempuran ini merasa kagum dan juga khawatir karena agaknya di dalam pertempuran semacam ini tidak mungkin dapat menang apa bila tidak merobohkan lawan dengan serangan maut!

Akan tetapi bagi Hok Peng Taisu dan Swi Kiat Siansu yang sedang bertempur, mereka berdua maklum akan tingkat kepandaian lawan yang seimbang. Akan tetapi betapa pun juga Swi Kiat Siansu secara diam-diam mengakui bahwa Ilmu silat Bambu Runcing dari Hok Peng Taisu benar-benar lihai sekali dan masih dapat menekan permainan kipasnya sendiri! Dia terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri dan demikianlah, mereka bertempur dengan hebat sampai puluhan jurus lamanya.

Tiba-tiba terdengar Swi Kiat Siansu berseru, “Aku mengaku kalah!“

Sedangkan Hok Peng Taisu juga berseru, “Kau lihai sekali!”

Dan kedua-duanya melompat ke belakang sambil menahan senjata masing-masing dan menjura sebagai penghormatan kepada lawan. Ternyata bahwa sepasang bambu runcing Hok Peng Taisu telah berhasil melobangi jubah Swi Kiat Siansu di kanan kiri sedangkan ujung lengan baju Hok Peng Taisu pada saat yang sama juga kena terobek oleh gagang kipas kakek gemuk itu! Melihat hal ini mudah diputuskan bahwa Hok Peng Taisu masih menang setingkat.

Swi Kiat Siansu berkata kepada Pok Pok Sianjin sambil tertawa, “Memang orang-orang selatan dan timur lebih rajin melatih diri dari pada kita.” Kemudian ia menghadapi Cin Hai dan berkata,

“Pendekar Bodoh, marilah kita main-main sebentar, ingin aku merasakan lihainya ilmu pedangmu!”

Cin Hai lalu mencabut Liong-cu-kiam-nya dan bersiap sedia. Suhu-nya pernah berpesan agar supaya berhati-hati menghadapi kakek gemuk ini oleh karena meski pun tabiatnya jujur dan baik, akan tetapi Swi Kiat Siansu memiliki dasar watak yang enggan mengaku kalah. Lain halnya dengan Pok Pok Sianjin yang lebih berani mengaku kalah dan juga berani pula mengaku salah. Kini menghadapi kakek gemuk ini, Cin Hai berlaku hati-hati sekali.

“Locianpwe, sebelumnya terima kasih atas pengajaranmu ini. Apakah syaratnya masih sama dengan tadi, yaitu saling berusaha menyerang pakaian?”

“Ya, dan kau berhati-hatilah menjaga kipasku supaya aku jangan sampai salah tangan!” Sambil berkata demikian, Swi Kiat Siansu lalu maju menyerang kepada Cin Hai.

Kakek gemuk ini biar pun tadi mengakui keunggulan Hok Peng Taisu, namun diam-diam dia merasa jengkel dan penasaran juga, maka kini menghadapi Cin Hai, dia mengambil keputusan untuk mencari kemenangan untuk menebus kekalahannya yang tadi. Maka tak heran apa bila kipasnya bergerak dengan kecepatan yang sukar untuk dapat diikuti oleh pandangan mata, merupakan gulungan sinar kuning yang menggulung dengan dahsyat ke arah tubuh Cin Hai!

Cin Hai terkejut dan cepat mainkan pedangnya untuk melindungi dirinya dan setiap kali pedangnya bertemu dengan gagang kipas dia merasa betapa telapak tangannya tergetar! Dari bentrokan ini saja dia dapat mengukur sampai di mana kehebatan tenaga lawannya, maka dengan penuh ketekunan dan hati-hati sekali dia segera mainkan ilmu pedangnya, Daun Bambu dengan tangan kanan, sedangkan untuk menjaga diri, tangan kirinya lantas melakukan gerakan-gerakan Pek-in Hoat-sut.

Sementara itu Pok Pok Sianjin berkata kepada Hok Peng Taisu, “Hok Peng Taisu marilah kita main-main sebentar agar aku mengenal lebih baik bambu runcingmu!”

“Mari!” Hok Peng Taisu menjawab sambil tersenyum dan bersiap sedia dengan sepasang bambu runcingnya.

Keduanya lalu menggerakkan senjata masing-masing dan bertempur seru. Sungguh pun di antara keduanya tidak menggunakan syarat apa-apa, akan tetapi sebagai tokoh-tokoh berilmu tinggi mereka bisa menjaga diri. Biar pun serangan-serangan mereka merupakan pukulan maut, akan tetapi di dalam hati sama sekali tidak memiliki niat atau nafsu untuk membunuh atau melukai lawan.

Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya merasa kecewa sekali melihat betapa empat orang itu mengadu kepandaian secara persahabatan, oleh karena kini lenyaplah harapan mereka untuk mengalahkan Hok Peng Taisu mau pun Cin Hai. Biar pun andai kata kalah terhadap Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin, tetapi kekalahan itu belum tentu membuat Hok Peng Taisu dan Cin Hai mundur untuk membela kawan-kawan lainnya yang hendak mereka basmi.

Kini melihat betapa keempat orang itu sedang bertempur dengan serunya, diam-diam dia mengeluarkan jarum-jarumnya yang mengandung racun Ular Hijau yang amat berbahaya itu lalu tiba-tiba saja dia mengayunkan tangannya menyerang dengan jarum-jarumnya ke arah Cin Hai dan Hok Peng Taisu!

Pada saat itu, pertempuran antara Cin Hai dan Swi Kiat Siansu sedang berjalan dengan ramai-ramainya. Biar pun Cin Hai sudah mengeluarkan ilmu kepandaiannya, namun pada suatu saat, kipas pada tangan Swi Kiat Siansu menyambar sedemikian hebatnya sambil mengibas dengan tenaga sepenuhnya hingga pedang Cin Hai kena disampok dan lepas dari pegangan!

Akan tetapi, dalam kagetnya, Cin Hai lalu menggunakan tangan kiri melancarkan pukulan Halilintar Menyambar Hujan yang mengandung daya pukulan luar biasa sekali. Pukulan ini ditujukan kepada kipas di tangan Swi Kiat Siansu dengan tenaga sepenuhnya dan…

“Brakk!”

Permukaan kipas yang terbuat dari pada kulit harimau itu menjadi robek dan hancur berkeping-keping sedangkan pedang Liong-cu-kiam yang terpental dari tangan Cin Hai, menancap di atas lantai!

Pada saat itulah datangnya jarum-jarum dari Hai Kong Hosiang secara tiba-tiba. Cin Hai yang masih tergetar oleh pukulan kipas tadi mendengar datangnya angin senjata rahasia yang lembut itu. Ia cepat mengelak, akan tetapi tetap saja ada sebatang jarum Ular Hijau menancap pada pundaknya hingga dia terhuyung-huyung lalu roboh dengan tubuh terasa panas sekali.

Akan tetapi ia cepat dapat mengerahkan lweekang-nya untuk menolak pengaruh racun itu hingga ia masih dapat menguasai dirinya dan tidak menjadi pingsan. Sambil bersila ia lalu mengatur napas dan memelihara jalan darahnya.

Sementara itu, Swi Kiat Siansu yang merasa terkejut sekali karena senjata kipasnya kena dipukul hancur oleh Cin Hai, kini melihat betapa pemuda itu terkena serangan senjata rahasia yang dilepas oleh Hai Kong Hosiang, menjadi marah sekali.

“Bangsat gundul curang!” bentaknya marah. “Kau membikin malu saja kepadaku!” Sambil berkata demikian, dia lalu menyambit dengan gagang kipasnya yang masih terpegang di dalam tangannya.

Gagang kipas itu meluncur cepat menuju ke arah tenggorokan Hai Kong Hosiang yang cepat mengelak hingga mengenai tempat kosong. Swi Kiat Siansu masih penasaran dan cepat tubuhnya berkelebat ke arah Hai Kong Hosiang kemudian menyerangnya dengan pukulan tangan terbuka.

Hai Kong Hosiang bukanlah orang yang lemah dan ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi, maka tentu saja ia dapat mengelak dan membalas dengan pukulan nekat. Ia maklum bahwa ia telah gagal mengharapkan bantuan kakek ini yang sekarang bahkan menyerangnya karena marah melihat kecurangannya tadi, maka sambil berseru keras ia melawan sekuat tenaga, berkali-kali ia berjungkir balik, kepala di bawah dan kaki di atas sambil menggerak-gerakkan dua kakinya untuk menyerang Swi Kiat Siansu secara hebat sekali.

Tentu saja Swi Kiat Siansu makin marah dan dengan seruan keras ketika kaki Hai Kong Hosiang menendang ke arah kedua pundaknya, dia lantas menangkap kaki itu dan cepat membanting tubuh Hai Kong Hosiang yang tinggi besar itu ke atas batu karang! Segera terdengar pekik keras dan kepala hwesio jahat itu pecah berantakan ketika dibenturkan kepada batu karang!

Sementara itu, Lin Lin lalu berlari menghampiri Cin Hai dan memeluk kekasihnya dengan hati bingung. Ada pun Hok Peng Taisu yang sedang bertempur mengadu kepandaian dengan Pok Pok Sianjin, cepat melompat mundur dan menghampiri Swi Kiat Siansu yang masih marah sekali itu.

Melihat kesedihan Lin Lin, Swi Kiat Siansu lalu mengeluarkan sebotol obat warna merah. Sebagai seorang pertapa di daerah Mongolia ia maklum akan berbahayanya jarum-jarum Ular Hijau dan dia tahu pula obatnya, karena dia pun adalah seorang ahli pengobatan. Untuk menjaga diri, dia selalu membawa obat-obat anti racun dan obat Semut Merah tersedia pula dalam saku bajunya.

Dengan amat berterima kasih, Lin Lin cepat meminumkan obat itu kepada Cin Hai dan seketika itu juga sembuhlah Cin Hai. Akan tetapi, seperti Lin Lin dulu, begitu dia sembuh, perang tanding antara Racun Ular Hijau dan Obat Semut Merah itu lalu mempengaruhi otaknya dan tiba-tiba dia menjadi marah sekali. Hanya karena kekuatan batinnya sudah jauh lebih kuat dari pada Lin Lin, maka dia masih dapat membedakan mana kawan mana lawan.

Pada suatu saat, Wi Wi Toanio beserta kawan-kawannya datang menyerbu, diikuti oleh perwira-perwira di bawah perintah Kam Hong Sin. Cin Hai langsung melompat ke atas, memungut pedangnya yang menancap di tanah, lalu mengamuk hebat sekali. Juga Lin Lin, Ang I Niocu, Lie Kong Sian, Ma Hoa, Kwee An, dan Nelayan Cengeng tidak mau tinggal diam dan menyambut serbuan musuh yang besar jumlahnya itu.

Perang tanding terjadi amat hebatnya, sedangkan Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, dan Hok Peng Taisu merasa segan untuk ikut mencampuri pertempuran itu, sungguh pun mereka merasa penasaran melihat betapa Cin Hai dan kawan-kawannya dikeroyok oleh sekian banyak orang.

Dalam kemarahannya yang bukan sewajarnya, Cin Hai mendesak Wi Wi Toanio, Siok Kwat Mo-li, dan Lok Kun Tojin yang mengeroyoknya. Pedang Liong-cu-kiam di tangannya menyambar-nyambar dengan amat dahsyatnya hingga ketiga orang pengeroyoknya yang berilmu tinggi itu merasa kewalahan karena belum pernah mereka menyaksikan sepak terjang yang demikian hebatnya!

Dalam jurus ke dua puluh lebih, Wi Wi Toanio kena terbabat pinggangnya oleh pedang Liong-cu-kiam sehingga sambil menjerit wanita itu roboh mandi darah dan tewas seketika itu juga! Siok Kwat Moli dan Lok Kun Tojin terkejut dan gentar hingga gerakan mereka menjadi lambat karenanya.

Cin Hai tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dua kali ia membuat gerakan tangan kanan menusuk dan tangan kirinya melancarkan pukulan Halilintar Menyambar Hujan ke arah Lok Kun Tojin. Terdengar pekik mengerikan ketika pedang itu menembus dada Siok Kwat Mo-li dan pukulan tangan kirinya yang dahsyat memecahkan kepala Lok Kun Tojin.

Setelah membunuh tiga orang lawannya, tiba-tiba Cin Hai merasa pening dan mengantuk sekali dan tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terguling dan telah tidur mendengkur sambil memegang pedang Liong-cu-kiam yang telah menjadi merah karena darah.

Sementara itu, pertempuran masih berjalan hebat dan Ang I Niocu dan kawan-kawannya mengamuk hebat serta menjatuhkan banyak korban di pihak lawan. Akan tetapi musuh terlampau banyak hingga mereka terdesak hebat.

Tiba-tiba berkelebat tiga bayangan orang dan di mana saja tubuh mereka menyambar, senjata-senjata para perwira terpental ke atas. Mereka ini ternyata adalah tiga orang kakek sakti yang tidak tahan pula melihat pertempuran itu karena merasa ngeri melihat banyaknya darah berhamburan. Sambil bergerak mereka berseru,

“Tahan pertempuran, tahan!”

Semua orang merasa jeri juga melihat mereka ikut turun tangan, karena itu semua lalu mengundurkan diri.

Dengan marah Swi Kiat Siansu lalu menghadapi Kam Hong Sin dan kawan-kawannya sambil berkata, “Kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah panglima kerajaan, sekarang juga tentu kuhancurkan kepalamu! Kau telah bersekutu dengan Hai Kong yang jahat, dan dengan tipu muslihat kalian berhasil mengundang aku bersama Pok Pok Sianjin sehingga terpaksa kami turun gunung membuat dosa-dosa baru. Tapi, tidak tahunya kalian hendak menggunakan kami agar memusuhi orang-orang baik dan membela Hai Kong yang jahat. Lihatlah bukti kekuasaan dan keadilan Tuhan Yang Agung. Mereka yang jahat menemui kematian mengerikan!” Ia menuding ke arah mayat Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan Siok Kwat Mo-li. “Biarlah kali ini menjadi pelajaran bagimu agar supaya lain kali di dalam menjalankan tugas, kau akan berlaku hati-hati dan dapat mempertimbangkan orang yang baik dan yang jahat!”

Kam Hong Sin memberi hormat dan berkata dengan tegas, “Locianpwe, siauwte adalah seorang petugas yang hanya menjalankan kewajiban siauwte sebagai seorang panglima. Anak murid Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu ini telah merampas harta pusaka dan mereka membagikan harta pusaka kepada mereka yang tidak berhak. Padahal harta pusaka itu adalah hak milik kerajaan. Bagi siauwte, lebih baik mati sebagai seorang perwira yang menjalankan tugasnya dari pada mati sebagai seorang pengkhianat.”

Mendengar ucapan yang gagah dan patut dihargai ini, Hok Peng Taisu melangkah maju dan berkata, “Kam-ciangkun, aku sudah lama mendengar bahwa engkau adalah seorang perwira yang gagah, dan ternyata bahwa hal ini ada betulnya. Akan tetapi, agaknya kau masih terlampau muda untuk memegang jabatan tinggi itu hingga pertimbanganmu belum masak benar. Ketahuilah bahwa harta pusaka itu adalah hasil rampokan di jaman dahulu, dan rakyat yang dirampok. Maka aku dan kawan-kawan lain mengembalikan harta itu dan membagi-bagikan kepada para rakyat miskin, bukankah ini sudah adil namanya? Apakah artinya harta sekian banyak itu bagi Kaisar yang sudah kaya? Akan tetapi besar sekali artinya bagi rakyat yang hampir tak dapat makan karena miskinnya!”

Kam Hong Sin merasa terpukul oleh ucapan ini dan dia lalu menjura dan bertanya, “Kalau betul siauwte telah salah jalan, habis apakah yang sekarang harus kulakukan?”

“Lekaslah tarik mundur anak buahmu dan bawalah semua orang yang tewas untuk diurus sebaiknya. Kemudian, setiap langkahmu harus kau perhatikan baik-baik agar kau jangan menanam bibit permusuhan dengan orang-orang gagah, agar kau dapat memperhatikan dan membedakan antara orang-orang gagah dengan penjahat-penjahat seperti Hai Kong Hosiang itu!” kata Hok Peng Taisu.

Kam Hong Sin lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat semua korban dan dibawa turun gunung, sedangkan kawan-kawannya pun ikut turun gunung pula. Ceng To Tosu menghampiri Cin Hai yang sementara itu telah didekati oleh Lin Lin dan telah sadar kembali, sembuh seperti sedia kala. Bahkan anak muda ini sudah lupa bahwa dia telah membunuh Siok Kwat Mo-li, Wi Wi Toanio, dan Lok Kun Tojin.

Ceng To Tosu yang selalu mewek itu menjura kepada Cin Hai dan berkata, “Sie-taihiap, kau maafkan pinto yang sudah lancang tangan sehingga terbawa-bawa dalam urusan ini, karena pinto hanya memenuhi tugas sebagai pembantu kerajaan Kaisar.”

Cin Hai tersenyum. “Tidak apa, Totiang, dan maaf sama-sama. Kita semua menunaikan tugas masing-masing, hanya sayangnya dalam bidang lain sehingga timbullah kesalahan paham ini.” Ceng To Tosu mengangguk-angguk dan mulutnya semakin mewek bagaikan benar-benar hendak menangis.

“Aku juga minta maaf, Taihiap,” berkata Ceng Tek Hwesio sambil tertawa-tawa gembira, seakan-akan baru saja tadi bukan terjadi perang hebat, akan tetapi pesta minum arak yang menggirangkan hatinya!

“Kau adalah orang yang paling berbahagia, Ceng Tek Hwesio, dan semoga kau masih panjang usia sehingga kelak kita dapat bertemu kembali,” jawab Cin Hai.

Keduanya lalu mengundurkan diri, berlari-lari menyusul rombongan Kam Hong Sin turun gunung.

Cin Hai dan kawan-kawannya lalu menghampiri Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin dan pemuda itu menjatuhkan diri berlutut lalu berkata,

“Ji-wi Locianpwe yang mulia, teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi serta kebaikan Locianpwe berdua yang telah dapat menyelesaikan persoalan ini dengan penuh kebijaksanaan. Terutama sekali kepada Swi Kiat Siansu Locianpwe, terima kasih atas pertolongan kepada teecu.” Cin Hai tadi telah mendengar dari Lin Lin akan pertolongan yang diberikan oleh kakek itu kepadanya.

Bukan main kagum dan senangnya hati kedua tokoh dari barat dan utara itu melihat sikap Cin Hai yang meski pun tingkat ilmu kepandaiannya tidak lebih rendah dari pada mereka, akan tetapi telah berani bersikap demikian sopan santun dan merendah. Swi Kiat Siansu mengangkat bangun kepadanya dan berkata,

“Sikapmu ini telah menjatuhkan hati kami, Pendekar Bodoh. Bukan kepandaian saja yang bisa menjatuhkan seseorang, akan tetapi sikap yang baik jauh lebih berpengaruh. Melihat sikapmu saja, kami dapat mengetahui bahwa permusuhan antara pihakmu dengan pihak Hai Kong, pihakmu yang berada di pihak benar. Sekarang maafkan kami. Tentang ilmu kepandaian, terus terang kunyatakan bahwa orang-orang selatan dan timur benar-benar pandai, tidak seperti kami yang menyembunyikan diri dan lupa untuk berlatih diri.”

“Kalian jangan terlalu merendah,” jawab Hok Peng Taisu. “Ilmu kipas dari Swi Kiat Siansu sungguh mengagumkan, sedangkan ilmu tongkat Pok Pok Sianjin benar-benar membuat aku merasa tunduk.”

Setelah mengeluarkan ucapan-ucapan merendah, kedua kakek dari barat dan utara itu lalu berkelebat pergi, sedangkan Hok Peng Taisu lalu berkata,

“Untung sekali bahwa persoalan ini dapat diselesaikan dengan mudah. Sekarang kalian pulanglah dan jauhkan diri dari segala persengketaan yang tak perlu. Ma Hoa kalau kelak kau melangsungkan pernikahanmu, jangan lupa mengundang aku untuk minum arak!” Setelah berkata demikian, kakek botak ini pun lalu berkelebat pergi dengan cepat sekali.

Nelayan Cengeng tertawa bergelak karena girangnya dan air matanya mengalir keluar. “Ha-ha-ha! Memang yang benar selalu pasti menang! Sekarang segala hal sudah beres, dan aku pun ingin sekali segera menyaksikan kalian semua melangsungkan pernikahan dan membangun rumah tangga yang bahagia!”

Cin Hai menyatakan bahwa dia bersama Lin Lin hendak bersembahyang dahulu di depan Goa Tengkorak sebagai penghormatan terakhir dan sebagai laporan kepada mendiang suhu-nya bahwa tugas sudah diselesaikan dengan baik. Setelah berjanji akan bertemu di Tiang-an dengan kawan-kawannya, sepasang teruna remaja ini dengan cepat lalu turun gunung.

Nelayan Cengeng tertawa girang. “Lebih cepat dilangsungkan pernikahan mereka dan pernikahan Ma Hoa, lebih baik lagi. Marilah kita langsung menuju ke Tiang-an. Dan Niocu hendak pergi ke manakah?” tanyanya kepada Ang I Niocu.

Dara Baju Merah itu tak dapat menjawab dan Ma Hoa tersenyum lalu menggoda sambil mengerling ke arah Lie Kong Sian.

“Syarat-syarat telah dipenuhi semua, mau tunggu apa lagi? Lie-taihiap, kenapa kau diam saja?”

Lie Kong Sian maklum akan maksud kata-kata ini, biar pun ia merasa malu dan mukanya menjadi merah, akan tetapi karena ia berhati jujur dan polos, ia lalu berkata kepada Ang I Niocu,

“Moi-moi, di depan kawan-kawan baik yang menjadi saksi, biar kuulangi lagi pinanganku yang dulu itu. Benar sebagaimana kata Nona Ma Hoa tadi, semua syarat-syaratmu telah terpenuhi. Sie-sute dan Nona Lin Lin telah bertemu kembali, Sute-ku Song Kun juga telah tewas, dan kita telah mendapat persetujuan dari mendiang Supek Bu Pun Su.”

Merahlah muka Ang I Niocu, melebihi merahnya warna bajunya! Sambil menundukkan kepalanya, ia pun berkata, “Dulu pernah kukatakan bahwa selain yang tiga itu, masih ada sebuah syarat lagi.”

“Apakah itu? Biarlah kawan-kawan menjadi saksi, aku akan memenuhi syarat ke empat ini, betapa pun beratnya!”

Ang I Niocu mengerling tajam. “Pantaskah diucapkan di sini?”

Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Niocu, di antara kawan sendiri, mengapa harus malu-malu? Atau, haruskah kami bertiga pergi dulu dari sini?”

Makin malulah Ang I Niocu mendengar ini. Ia menjadi serba salah, kemudian dia berkata perlahan, “Syarat yang ke empat adalah cita-citaku semenjak dulu, yaitu orang yang patut menjadi suamiku harus lebih dulu dapat menjatuhkan aku dalam sebuah pertandingan!”

Tercenganglah semua orang mendengar syarat ini, tidak terkecuali Lie Kong Sian. Akan tetapi, Lie Kong Sian dengan tenang-tenang saja lalu berkata, ”Baiklah apa bila demikian kehendakmu, terpaksa aku akan berusaha menjatuhkanmu!”

Ang I Niocu mencabut Liong-cu-kiamnya dan bersiap menghadapi tunangannya. Ma Hoa, Kwee An, dan Nelayan Cengeng lalu mengundurkan diri dan berdiri agak jauh dari tempat yang akan dijadikan gelanggang pertempuran antara kedua orang itu.

“Cobalah kalau bisa!” kata Ang I Niocu dengan mata bersinar gembira dan bibir tersenyum manis. Sikapnya menantang sekali, karena dia merasa telah dapat mempermainkan Lie Kong Sian dan karena ia merasa bahwa nilai dirinya telah naik!

“Jagalah!” seru Lie Kong Sian sambil mencabut pedangnya pula lantas maju menyerang dengan hebat.

Sebentar saja kedua orang itu bertempur hebat sekali hingga tubuh mereka seakan-akan menjadi satu gulungan warna merah dari baju Ang I Niocu dan warna biru dari baju Lie Kong Sian!

Diam-diam Lie Kong Sian menggunakan tangan kirinya melepaskan dua helai tali sutera warna hijau dan menggenggam tali itu pada tangannya. Kemudian, ketika pedang Ang I Niocu menyambar, dia sengaja memasang pundaknya untuk menerima tusukan itu!

Ang I Niocu terkejut sekali dan sambil menjerit ngeri ia miringkan pedangnya agar jangan sampai menusuk pundak Lie Kong Sian, tetapi terlambat! Pedangnya masih menggores bahu kanan Lie Kong Sian hingga bajunya robek dan mengalirlah darah dari bajunya.

Akan tetapi Lie Kong Sian yang memang sengaja melakukan hal ini, mempergunakan kesempatan selagi Ang I Niocu terkejut dan menyesal, tangan kirinya bergerak cepat dan tahu-tahu sutera hijau itu telah melayang dan melibat kedua tangan Ang I Niocu yang terus dibetotnya dan sekali dia menggerakkan tangan kiri lagi, tali sutera ke dua langsung melayang dan membelit pergelangan kaki gadis itu!

Beberapa kali dia menggerakkan tangan dan tali-tali itu sudah mengikat kedua kaki dan kedua tangan Ang I Niocu dengan kencang, sedangkan pedang Liong-cu-kiam juga telah terampas oleh Lie Kong Sian! Tubuh Ang I Niocu terguling dan kini dia rebah setengah duduk di atas tanah dengan kaki tangan terbelenggu!

Ia menjadi bingung sekali dan berkata, “Lepaskan aku, lepaskan!”

Akan tetapi Lie Kong Sian hanya berdiri bertolak pinggang sambil memandang dengan tersenyum!

“Lepaskan... lepaskan aku...!” Ang I Niocu berkata lagi dan ia hampir saja menangis.

Dia meronta-ronta dan mengerahkan tenaga lweekang-nya untuk dapat melepaskan diri dari pada belenggu itu. Akan tetapi tali sutera itu terbuat dari pada bahan yang tidak saja kuat dan ulet sekali, akan tetapi juga mempunyai sifat lunak dan dapat mulur sehingga tenaga lweekang-nya tiada berguna!

Terdengar suara tawa bergelak-gelak dari Nelayan Cengeng yang segera menghampiri Ang I Niocu. Juga Kwee An dan Ma Hoa menghampirinya sambil tertawa-tawa.

“Lo-enghiong, Kwee An, Ma Hoa! Lekas lepaskan aku...!” kata Ang I Niocu dengan suara memohon karena Dara Baju Merah ini merasa malu sekali.

“Ha-ha-ha!” Nelayan Cengeng tertawa geli hingga air matanya mengalir keluar di sekujur pipinya. “Mempelai wanita sudah tertawan...! Ha-ha-ha!” Kakek ini dengan gelinya tertawa gembira dan sama sekali tak mau menolong Ang I Niocu.

“Kwee An, tolonglah aku!” kata Ang I Niocu.

Sambil mengangkat jari telujuknya, Kwee An berkata, “Niocu, kini kau sudah mendapat bukti akan kelihaian calon suamimu! Tidak boleh seorang calon isteri menantang suami, inilah jadinya!” Dia menggoda sambil tersenyum.

“Ma Hoa, benar-benarkah kau tak mau menolongku membuka belenggu ini?” Ang I Niocu menengok kepada Ma Hoa.

Akan tetapi gadis itu yang kini telah menyanggul rambutnya atas permintaan Kwee An sebagai ‘pembayaran kaul’ karena musuh-musuh telah dapat ditewaskan dan dikalahkan semua, hanya tertawa saja, bahkan kemudian bertepuk tangan gembira sambil bernyanyi menggoda,

“Mempelai perempuan telah tertawan! Masuk perangkap mempelai pria!”

Berkali-kali Ma Hoa bernyanyi sambil bertepuk tangan hingga Ang I Niocu menjadi makin jengah dan malu.

“Adik Hoa, awas! Bila sampai terbuka ikatan tanganku, akan kucubit bibirmu yang nakal. Hayo lepaskan aku!” kata Ang I Niocu.

Akan tetapi dengan sikap nakal dan menggoda, Ma Hoa berkata, “Enci Im Giok, yang mengikat kaki tanganmu bukanlah aku. Mengapa aku yang harus membukanya? Mintalah kepada orang yang melakukannya!”

Lie Kong Sian menghampiri Ang I Niocu dengan senyum di bibir. “Bagaimana, Moi-moi, sudah takluk kau kepadaku kini?”

Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya meronta-ronta sambil berkata,

“Lepaskan... lepaskan!”

Lie Kong Sian menjura kepada Nelayan Cengeng, juga kepada Kwee An dan Ma Hoa sambil berkata, “Maafkan, kami hendak pergi dahulu, kembali ke pulau tempat kediaman kami. Kelak, apa bila dilangsungkan pernikahan antara Saudara Kwee An dan Nona Ma Hoa, juga antara Sie-sute dan Sumoi Lin Lin, kami tentu akan hadir!”

Setelah berkata demikian, tanpa melepaskan ikatan kaki tangan Ang I Niocu, pemuda itu lalu membungkuk dan memondong tubuh kekasihnya itu dan membawanya berlari cepat bagaikan terbang, menuju ke pulaunya yang indah yang merupakan sarang bahagia bagi dia dan calon isterinya.

Nelayan Cengeng, Kwee An, serta Ma Hoa merasa girang dan juga terharu sekali dapat menyaksikan kebahagiaan orang muda itu. Bahkan Ma Hoa sampai menitikkan air mata sambil berkata,

“Syukurlah, kalau Enci Im Giok berbahagia. Dia orang berbudi mulia...”

Kemudian mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Tiang-an untuk menanti datangnya Cin Hai dan Lin Lin di Tiang-an.

Tak lama kemudian, datanglah Cin Hai dan Lin Lin membawa tiga ekor burung sakti, dan sebulan kemudian dilangsungkanlah perkawinan yang meriah antara Kwee An dengan Ma Hoa, dan Cin Hai dengan Lin Lin.

Selain Ang I Niocu dan Lie Kong Sian yang sudah menjadi suami isteri, hadir pula banyak tokoh persilatan dari seluruh penjuru dunia, dan di antaranya yang hadir adalah Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, Hok Peng Taisu, Eng Yang Cu, Giok Gan Kui-bo, Sie Lok dan Sie Kiong kedua paman Cin Hai, dan banyak orang lagi.

Yousuf juga datang dan orang Turki ini selanjutnya tinggal bersama Cin Hai dan Lin Lin, menikmati kebahagiaan hidup sebagai ayah angkat yang dikasihi dan dihormat.

Perkawinan diberkahi oleh Kwee Tiong sebagai seorang hwesio yang mengucapkan doa sambil mengalirkan air mata oleh karena merasa bahagia melihat kedua adiknya, Kwee An dan Lin Lin, melangsungkan upacara pernikahan dengan bahagia.

Yang sangat menggembirakan hati kedua pasang mempelai itu ialah datangnya Sanoko, kepala suku Haimi itu, bersama Meilani dan suaminya Manoko, dan juga Kam Hong Sin, panglima yang dulu pernah menjadi lawan, datang menghadiri pesta pernikahan itu dan melupakan segala permusuhan yang telah lalu.

Setelah upacara pernikahan selesai, Ang I Niocu bersama suaminya kembali ke Pulau Pek-le-to di mana mereka hidup penuh kebahagiaan, jauh dari dunia ramai, dikawani oleh Rajawali Sakti yang diberikan oleh Lin Lin kepada mereka.

Juga Kwee An bersama isterinya dan Cin Hai dengan Lin Lin, hidup penuh kebahagiaan, masing-masing didampingi oleh Nelayan Cengeng dan Yousuf yang merupakan ayah angkat bagi Ma Hoa dan Lin Lin.....

T A M A T

*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Cersil Hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bodoh Jilid 46-49 (Tamat)"

Post a Comment

close