Pendekar Bodoh Jilid 26-30

Mode Malam
Pendekar Bodoh Jilid 26-30

Benar saja sebagaimana kata Yousuf, keadaan di sana menyenangkan sekali. Tamasya alam indah dan mengagumkan, hawa pegunungan segar dan menyehatkan. Orang-orang yang tinggal di sekitar bukit itu adalah orang-orang petani yang ramah tamah dan hidup sederhana.

Rumah Yousuf masih ada dan bagus, hanya agak kotor karena tidak terawat. Ketiganya lalu bekerja keras membereskan rumah itu. Lin Lin dan Ma Hoa lalu mengatur taman di sekitar rumah, oleh karena di bukit itu terdapat banyak kembang-kembang yang indah.

Dan beberapa hari kemudian, para petani yang lewat di depan rumah itu, tidak habisnya mengagumi keindahan tempat itu dan mereka merasa seakan-akan tempat ini berubah semenjak rombongan ini tiba. Memang, siapa yang tidak kagum? Rumah itu kecil namun indah bentuknya, dikelilingi oleh kembang-kembang tanaman kedua gadis itu, dan rumah ini ditinggali oleh seorang bangsa Turki yang bersikap halus dan ramah tamah, bersama dua orang gadis yang cantik jelita bagaikan dua orang bidadari dari kahyangan, ditambah lagi dengan adanya seekor merak yang berbulu bagus sekali!

Yousuf dengan hati sungguh-sungguh lalu melatih ilmu silat kepada Lin Lin dan Ma Hoa dan oleh karena ilmu silat Turki jauh berbeda dalam gaya dan variasi jika dibandingkan dengan ilmu silat Tiongkok walau pun pada dasarnya tak berbeda jauh, maka Lin Lin dan Ma Hoa merasa suka sekali mempelajari ilmu silat ini.

Tingkat kepandaian Yousuf memang masih lebih tinggi dari pada tingkat kedua gadis itu sehingga berkat latihan-latihan ini, kepandaian kedua orang gadis ini maju pesat. Oleh karena tiap hari belajar ilmu silat, ketiga orang itu tidak merasa sunyi dan bahkan merasa betah dan senang tinggal di tempat itu. Hanya, kadang-kadang saja, Lin Lin dan Ma Hoa terkenang kepada pujaan hati masing-masing yang membuat mereka termenung, akan tetapi pikiran ini segera terhibur apa bila mereka mengingat bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali.

Sementara itu, Merak Sakti yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, setiap hari hanya berjalan-jalan di dalam taman atau kadang-kadang ia terbang tinggi sekali berputar-putar sehingga mengagumkan orang-orang yang melihatnya. Merak ini agaknya juga merasa senang sekali tinggal di situ dan bulunya makin indah mengkilap.

Pada suatu pagi yang cerah, di kala matahari dengan sinarnya yang nakal mengusir awan dan halimun pagi dari udara dan muka bumi dan burung-burung menyambut kedatangan Raja Siang itu dengan nyanyian dan pujian yang merdu dan sedap didengar, Lin Lin dan Ma Hoa sudah berada di taman bunga mereka dan mencabuti rumput-rumput liar yang hendak mengganggu keindahan bunga. Mereka bekerja sambil bersenda gurau karena memang hawa pagi itu membuat dan memaksa orang untuk bergembira.

“Lin Lin,” kata Ma Hoa sambil tersenyum manis. “Alangkah senangnya hatimu kalau pada saat yang indah ini Saudara Cin Hai berada di sini!”

Menghadapi serangan godaan ini, Lin Lin yang pandai bicara serta lincah itu juga segera tersenyum dan memandang tajam, lalu mengangguk-anggukkan kepala dan menjawab, “Memang betul, tentu saja hatimu akan merasa senang sekali, akan tetapi kau bersabar saja, kawan! Tak lama lagi tentu kau akan dapat bertemu kembali dengan dia itu!”

Ma Hoa melengak dan tidak mengerti. “Ih, eh, apa maksudmu? Siapa yang kau maksud dengan dia itu?”

Lin Lin berpura-pura memandang heran. “Siapa lagi, bukankah yang tadi kau maksudkan adalah Engko Kwee An?”

“Eh, anak bengal! Apakah telingamu sudah menjadi tuli? Kau dengar aku bilang apakah tadi?”

Lin Lin memandang kepada Ma Hoa dengan wajah berseri. “Enci Hoa, bukankah kau tadi berkata begini. Alangkah senang hatiku kalau pada saat yang indah ini Kanda Kwee An berada di sini?”

Ma Hoa memandang dengan gemas dan mengulurkan tangan hendak mencubit Lin Lin, akan tetapi gadis itu segera mengelak.

“Lin Lin, jangan kau bicara tak karuan! Aku tidak pernah mengeluarkan ucapan itu dari mulutku.”

“Tapi siapakah yang mendengar ucapan mulutmu? Aku tadi justru mendengar suara yang keluar dari hatimu sehingga aku tidak mendengar jelas suara yang keluar dari mulutmu! Bukankah hatimu tadi berkata seperti yang kuulangi tadi?”

Ma Hoa mengerling tajam dengan bibir menyatakan kegemasan hatinya. Memang walau pun mulutnya menyatakan dan menyebut-nyebut nama Cin Hai, akan tetapi tepat sebagai mana godaan Lin Lin, hatinya memaksudkan Kwee An! Maka karena malu dan gemas, Ma Hoa lalu mengejar Lin Lin dan hendak dicubitnya, akan tetapi Lin Lin berlari mengitari bunga-bunga sambil tertawa-tawa dan berkata,

“Awas, Enci Hoa, apa bila engkau mencubit aku, kelak aku akan minta Engko An untuk membalasnya.”

Ma Hoa makin gemas dan sambil tertawa, mereka berkejaran di dalam taman bunga itu, bagaikan dua ekor kupu-kupu yang cantik dan indah.

Mendadak keduanya berhenti tertawa, bahkan lalu berdiri diam sambil memasang telinga dengan penuh perhatian. Di antara kicau burung yang bermacam-macam itu, terdengar Merak Sakti yang memekik-mekik aneh sekali karena mereka belum pernah mendengar suara merak itu memekik seperti ini sehingga mereka tidak tahu apakah merak itu sedang marah atau sedang bergirang.

Biasanya kedua orang gadis ini telah hafal akan tanda-tanda yang dikeluarkan oleh suara Merak Sakti, akan tetapi kali ini mereka saling pandang dengan hati heran dan terkejut. Kemudian, serentak mereka lalu melompat dan berlari cepat ke arah suara tadi.

Pada waktu mereka tiba di sebuah lereng yang penuh rumput hijau, mereka menyaksikan pemandangan yang membuat mereka segera tertegun dan berhenti dengan tiba-tiba. Di atas rumput yang tebal itu, tampak Sin-kong-ciak sedang mendekam seperti berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya ke bawah sambil mengeluarkan pekik yang aneh itu, sedangkan seorang kakek yang tua sekali dan yang memakai pakaian penuh tambalan dan butut, sedang membelai-belai leher dan kepala merak itu.

Yang membuat Lin Lin dan Ma Hoa terheran sekali adalah sikap merak itu. Kedua orang gadis ini cukup kenal adat Merak Sakti yang angkuh dan tidak mau tunduk kepada siapa pun juga, maka melihat betapa merak itu sekarang berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala, mereka menjadi heran sekali.

Tiba-tiba saja kakek itu memegang kedua kaki Merak Sakti, lalu melemparkannya ke atas sambil tertawa-tawa. Merak itu menurut saja dan membiarkan dirinya untuk dilemparkan tanpa mengembangkan sayap untuk terbang. Saat burung itu jatuh kembali, dua kakinya lalu diterima oleh tangan kiri kakek itu, kemudian dilempar lagi ke atas berulang-ulang.

Permainan ini dilakukan oleh kakek itu sambil tertawa-tawa girang. Ada pun Merak Sakti juga mengeluarkan suara yang dikenal oleh kedua orang gadis itu sebagai pernyataan hatinya yang senang dan gembira.

Meski pun mendengar suara gembira dari merak itu, namun Lin Lin menjadi marah sekali dan mengira bahwa kakek ini tentu menggunakan kepandaiannya yang membuat Merak Sakti tidak berdaya kemudian mempermainkan burung itu. Gadis ini melompat maju dan membentak,

“Kakek jahat, lepaskan burung merakku!”

Akan tetapi jangankan mentaati perintah Lin Lin, bahkan kakek itu menengok pun tidak, terus melempar-lemparkan tubuh burung itu ke atas sambil tertawa-tawa dan kemudian bertanya kepada Merak Sakti,

“Kong-ciak, apakah kau sudah puas?”

Lin Lin marah sekali, lalu maju menyerang dan memukul dengan tangan kanan ke arah dada kakek itu untuk mendorongnya roboh. Akan tetapi alangkah terkejut dan herannya ketika ia merasa betapa kepalan tangannya seakan-akan memukul kapas hingga tenaga pukulannya menjadi lenyap sendiri, sedangkan kakek tua itu tetap saja sama sekali tidak memandangnya seakan-akan Lin Lin tidak ada di situ.

Ma Hoa yang melihat Lin Lin mulai menyerang kakek itu, lalu membantu dan kedua orang gadis ini lalu menyerang berbareng kepada si kakek tua itu. Sementara itu, Merak Sakti yang agaknya telah merasa puas dengan permainannya lalu mengembangkan sayapnya dan terbang ke atas cabang pohon, bertengger di situ sambil menonton pertempuran.

Sesungguhnya ucapan ini saja sudah cukup bagi kedua gadis itu untuk menyadari bahwa kakek tua ini tak bermaksud jahat. Akan tetapi karena Lin Lin dan Ma Hoa merasa marah dan penasaran, maka mereka lalu maju berbareng dan menyerang dengan hebat.

Akan tetapi, biar pun kakek tua itu agaknya tak berpindah dari tempatnya, namun pukulan kedua orang dara muda itu satu kali pun tak pernah berhasil mengenai tubuhnya. Lin Lin merasa penasaran sekali, demikian pula Ma Hoa, karena mengira bahwa kakek ini tentu mempergunakan ilmu sihir. Semakin besar dugaan mereka ketika mereka merasa telah hampir mengenai tubuh orang tua itu, tiba-tiba saja tangan mereka melesat ke samping seakan-akan didorong oleh tangan kuat yang tidak kelihatan.

Mereka ini keduanya sama sekali tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan tokoh persilatan tertinggi yang bukan lain orang adalah Bu Pun Su sendiri. Sebenarnya, Bu Pun Su tidak menggunakan ilmu sihir, hanya mengerahkan tenaga khikang-nya yang sudah sempurna itu sehingga hawa yang keluar dari kedua tangannya cukup kuat untuk menangkis tiap pukulan Lin Lin dan Ma Hoa.

Pada saat kedua orang gadis itu menjadi sibuk serta makin terheran dan marah, tiba-tiba terdengar bentakan orang,

“Kakek tua! Jangan kau mengganggu kedua anakku!”

Ternyata yang datang ini adalah Yousuf sendiri. Lin Lin dan Ma Hoa merasa girang sekali dan Lin Lin segera berteriak,

“Ayah, kau usir kakek yang pandai sihir ini!”

Juga Ma Hoa berkata, “Dia telah menyihir dan mempermainkan Sin-kong-ciak!”

Yousuf menjadi marah sekali, lalu membentak dua gadis itu, “Kalian minggirlah, biarkan aku menghadapinya!” Kemudian ia meloncat ke depan Bu Pun Su dan membentak,

“Kakek tua! Memalukan sekali untuk mengganggu seekor burung merak dan dua orang anak yang masih bodoh. Marilah kita tua lawan tua!”

Tiba-tiba Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh sehingga Yousuf cepat-cepat menggunakan tenaga dalamnya untuk menolak tenaga yang keluar dari suara ketawa ini.

“Hi-hi-hi, kau orang Turki ini benar-benar berbeda dengan yang lain! Kau benar-benar lain daripada yang lain. Bagus, bagus! Kau lucu sekali! Usiamu paling banyak hanya setengah umurku, tapi kau bilang tua lawan tua! Eh, kakek-kakek tua bangka, mari kita main-main sebentar.”

Ucapan Bu Pun Su ini mendapat sambutan suara Merak Sakti yang mengeluarkan suara terkekeh-kekeh pula, suara yang dikenal oleh Lin Lin dan Ma Hoa apa bila merak sakti itu sedang merasa gembira. Sungguh aneh. Lin Lin masih mengira bahwa merak itu masih terkena sihir, maka ia segera menghampiri di bawah pohon di mana merak itu bertengger dan memanggil,

“Kong-ciak-ko, kau turunlah ke sini!”

Akan tetapi Merak Sakti itu sama sekali tidak mau turun. Hal ini semakin mempertebal dugaan Lin Lin dan Ma Hoa bahwa kakek luar biasa itu tentu telah menyihir Merak Sakti, karena biasanya merak itu sangat taat terhadap perintah Lin Lin.

“Ha-ha-ha-ha! Nona, jangan kau heran, kong-ciak itu bukannya bersifat palsu dan karena mendapat kawan baru lalu melupakan kawan lama. Akan tetapi adalah bertemu majikan lama melupakan majikan baru.”

“Kakek tua, majulah dan hendak kulihat sampai di mana kesaktianmu!” Yousuf berteriak melihat betapa kakek itu memandang ringan kepada mereka semua.

Sambil berkata demikian, Yousuf lalu menyerang dengan kedua tangannya dengan ilmu silat Turki yang paling lihai. Kedua tangannya ini yang kanan memukul, sedang yang kiri mencengkeram ke arah lambung lawan, dan kaki kirinya juga menendang ke arah depan dengan cepat.

“Ha-ha-ha! Bagus, aku mendapat kesempatan menyaksikan ilmu silat Turki yang lihai!” kata kakek itu yang masih tertawa haha-hihi sambil mengelak perlahan.

Sungguh aneh sekali, agaknya kakek itu sudah tahu bahwa di antara ketiga serangan ini, yang sungguh-sungguh adalah serangan kaki, oleh karena dua tangan yang menyerang hanya untuk menarik dan mengalihkan perhatian lawan saja. Bu Pun Su sama sekali tak mengelak dari serangan kedua tangan, hanya mengelak dari tendangan kaki Yousuf.

Ketika tidak mengenai sasaran, tendangan ini tidak ditarik mundur sebagaimana biasanya tendangan dalam ilmu silat Tiongkok, akan tetapi lalu diteruskan dan dibanting ke pinggir terus memutar ke belakang hingga tubuh Yousuf terputar di atas sebelah kaki dan sekali putaran dia lantas mengayun lagi kaki itu menendang, dibarengi dengan serangan kedua tangan lagi! Ini adalah gerak tipu yang luar biasa dan tidak terduga, dan biasanya dengan gerakan ini, Yousuf dapat menjatuhkan lawannya.

Akan tetapi, kali ini dia benar-benar kecele, karena Bu Pun Su agaknya sudah tahu akan maksud dan gerakannya sehingga dapat mengelak pada waktu yang tepat. Bahkan pada saat kakek jembel ini balas menyerangnya, Yousuf langsung melengak sebab Bu Pun Su menggunakan serangan yang persis seperti yang telah dilakukannya tadi. Malah gerakan kakek jembel ini lebih cepat dan lebih hebat dari pada gerakannnya sendiri.

Yousuf penasaran sekali, lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Akan tetapi, makin lama ia menjadi makin heran sehingga dia bertempur dengan mata terbelalak dan mulut menyelangap oleh karena makin banyak ia mengeluarkan kepandaiannya, makin banyak pula gerakan-gerakannya ditiru dengan tepat oleh Bu Pun Su!

Juga Lin Lin dan Ma Hoa ketika melihat betapa kakek itu melawan Yousuf dengan ilmu silat Turki yang sama, tak terasa pula saling pandang dengan terheran-heran.

“Ayah, ia tentu sudah menggunakan ilmu sihir!” Lin Lin memberi peringatan kepada ayah angkatnya.

Yousuf teringat dan timbul persangkaan demikian pula, maka tiba-tiba saja orang Turki ini mengheningkan cipta, mengumpulkan tenaga di dalam pusar dan setelah mengerahkan seluruh tenaga batinnya ke mulut, dia membentak sambil menunjuk ke arah dada kakek jembel itu dan kedua matanya yang amat tajam dan hitam itu menatap mata kakek itu,

“Kau berlututlah!”

Ini adalah sejenis ilmu sihir yang didasarkan tenaga batin untuk mempengaruhi semangat dan kemauan lawan yang disebut Ilmu Penakluk Semangat. Bahkan Lin Lin dan Ma Hoa yang tidak diserang langsung oleh ilmu ini, akan tetapi karena mereka memperhatikan dan turut mendengar bentakan yang memerintah dan berpengaruh itu, tanpa terasa pula mendapat desakan hebat dan tiba-tiba tanpa disadarinya lagi mereka lalu menjatuhkan diri berlutut!

Akan tetapi sesudah Yousuf mengeluarkan bentakan tadi, bukan kakek jembel itu yang berlutut, bahkan Yousuf sendiri yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jembel!

“Ha-ha-ha! Aku jembel tua bangka tidak layak menerima penghormatan ini!” kata Bu Pun Su sambil tertawa bergelak dan suara ketawanya ini agaknya sudah membuyarkan ilmu sihir Yousuf sehingga ketiga orang itu sadar bahwa mereka sedang berlutut di depan Si Kakek jembel!

Yousuf kaget sekali oleh karena yang dapat melawan ilmunya ini adalah gurunya sendiri, seorang pertapa tua yang sakti di Turki dan ia ingat gurunya pernah menerangkan bahwa apa bila Ilmu Penakluk Semangat ini digunakan untuk menyerang orang yang mempunyai ilmu batin lebih tinggi dan kuat, maka akibatnya dapat terbalik karena tenaga itu terpental dan memukul dirinya sendiri!

Yousuf cepat melompat bangun dengan muka merah, sedangkan kedua orang gadis itu pun dengan malu lalu mencabut pedang mereka. Yousuf juga mencabut pedangnya dan ketiga orang ini lalu menyerbu dan menyerang Bu Pun Su!

Tiba-tiba terdengar pekik marah dari atas dan Merak Sakti sambil mengibaskan sayapnya lalu menangkis pedang ketiga orang itu! Karena Merak Sakti itu pun mempunyai tenaga besar, maka ia berhasil menangkis senjata Yousuf dan Lin Lin, bahkan pedang di tangan Lin Lin terpental jauh sekali! Akan tetapi, ternyata bahwa Merak Sakti itu tidak berniat jahat dan hanya ingin mencegah ketiga orang itu menyerang Bu Pun Su dengan senjata tajam dan setelah menangkis satu kali, merak itu lalu terbang lagi ke cabang tadi!

“Ha-ha-ha, bagus, Kong-ciak! Tak percuma aku memeliharamu sejak kecil!” kata kakek jembel itu sambil tertawa girang.

Yousuf dan Ma Hoa tercengang mendengar ini, akan tetapi Lin Lin yang merasa marah sekali karena pedangnya dibikin terpental oleh Merak Sakti, lalu tak terasa lagi mencabut keluar pedang karatan yang dulu dia ambil dari goa di pulau Kim-san-to. Dengan pedang buntung yang bobrok ini ia maju lagi menyerang.

Tiba-tiba wajah Bu Pun Su berubah pada saat dia melihat pedang itu dan cepat sekali tangannya bergerak ke depan. Lin Lin tidak tahu bagaimana kakek itu bergerak karena tahu-tahu pedangnya telah berpindah tangan.

“Han Le... betul-betulkah kau telah mendahului aku?” kata Bu Pun Su sambil memandang pedang itu dengan muka berduka dan kepalanya yang putih tiada hentinya menggeleng-geleng. “Han Le Sute... mengapa kau mendahului Seheng-mu? Ahhh…, aku Bu Pun Su benar-benar telah tua sekali dan sudah cukup lama hidup di dunia ini...” setelah berkata demikian, ia menghela napas panjang.

Bukan main terkejutnya Lin Lin, Ma Hoa dan Yousuf, mendengar bahwa kakek luar biasa ini adalah Bu Pun Su, guru dari Cin Hai. Yousuf pernah diceritakan oleh Lin Lin tentang kehebatan kepandaian Cin Hai, dan menceritakan pula bahwa suhu pemuda itu bernama Bu Pun Su, tokoh yang namanya telah terkenal di seluruh penjuru.

Lin I Lin dan Ma Hoa cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su, sedangkan Yousuf segera membungkuk dalam-dalam hingga jidatnya hampir menyentuh tanah, satu cara penghormatan yang paling besar dari bangsa Turki.

“Locianpwe, mohon beribu ampun bahwa teecu telah berani berlaku kurang ajar,” kata Lin Lin dengan hormat.

Bu Pun Su menghela napas. “Sudahlah, aku orang tua tak tahu diri ini yang harus minta maaf. Ketahuilah, kadang-kadang aku mempunyai keinginan untuk menjadi kanak-kanak kembali dan ingin mempermainkan orang. Agaknya aku sudah pikun dan sudah terlalu tua...” Kemudian ia berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Aku tahu siapa kalian ini. Kau tentu Lin Lin tunangan muridku Cin Hai. Syukur bahwa kau sudah bisa terlepas dari cengkeraman Boan Sip si jahat itu. Dan kau ini tentu Ma Hoa murid Nelayan Cengeng. Hm, kepandaianmu yang kau keluarkan tadi jelas menunjukkan bahwa kau adalah murid Si Cengeng itu. Dan kau, Sahabat, kau tentulah Yo Su Pu yang terkenal.” Memang, nama Yousuf apa bila diucapkan oleh lidah orang Han akan berubah, ada yang menyebut Yo Suhu, Yo Se Fei, Yo Su Pu dan lain-lain.

Yousuf kembali menjura, “Saya yang bodoh dan rendah memperoleh kehormatan besar sekali dapat bertemu dengan Lo-suhu yang sakti.”

Bu Pun Su lalu berkata lagi, “Apakah artinya kesaktian dan kepandaian? Hanya sepintas lalu saja. Siapa yang mau belajar dia tentu akan menjadi pandai. Tidak dengan sengaja aku bertemu dengan Kong-ciak di tempat ini, maka aku merasa ingin tahu siapa yang membawa Kong-ciak ke sini? Dan melihat pedang ini di tangan Lin Lin, tahulah aku tadi bahwa kalian tentu telah mengunjungi pulau itu. Pedang inilah yang menceritakan padaku bahwa Sute-ku yang tinggal di pulau itu telah meninggal dunia, karena ini adalah pedang miliknya! Coba kau tuturkan pengalamanmu mendapatkan pedang dan burung merak ini,” perintahnya kepada Lin Lin.

Sementara itu, Merak Sakti telah terbang turun dan dan hinggap di atas pundak Bu Pun Su.

Dengan singkat Lin Lin menuturkan pengalaman mereka di Pulau Kim-san-to dan ketika ia menceritakan betapa pulau itu terbakar musnah, Bu Pun Su mengangguk-angguk.

“Ya, ya, ya. Aku kemarin aku sudah melihat dari pantai bahwa pulau itu telah lenyap dari permukaan laut. Dan harimau bertanduk serta rajawali emas tentu telah tewas pula.”

Kakek ini menghela napas dan pada waktu mendengar disebutnya kedua binatang itu, Si Merak Sakti lalu mengeluarkan keluhan panjang, kemudian dua butir air mata runtuh dari sepasang matanya yang indah. Kemudian merak ini terbang ke atas dan berputar-putar di udara.

“Hmm, kong-ciak itu memang perasa sekali. Tentu dia bersedih mendengar nasib kedua kawannya. Ketahuilah, merak itu dan dua binatang lain di atas pulau yang musnah adalah binatang-binatang peliharaanku. Terutama merak ini, semenjak kecil dia telah ikut aku di pulau itu. Sesudah aku meninggalkan pulau, maka sute-ku yang bernasib malang itu tinggal di pulau dan bertapa di sana. Tidak tahunya sekarang ia telah menjadi rangka dan pedangnya pun telah tinggal sepotong. Hm, demikianlah nasib manusia. Kepandaiannya yang luar biasa pun turut lenyap tak berbekas. Manusia... manusia... kau calon rangka dan debu ini, masih mau mengagulkan apamukah...?”

Kata-kata ini diucapkan oleh kakek itu sambil memandang ke atas dan Yousuf merasa terkena sekali hatinya sehingga dia menundukkan muka dengan penuh khidmat.

“Lin Lin,” Bu Pun Su berkata, “Kau memang berjodoh dengan pedang ini, maka Sute-ku sengaja memilih kau untuk memilikinya. Ketahuilah, pedang ini bukan sembarang pedang dan yang tinggal sepotong ini adalah sari pedang itu. Tadi kulihat ketika kau memegang pedang pendek ini, agaknya kau lebih pandai menggunakan pedang pendek, karena itu biarlah pedang buntung ini kubuat menjadi pedang pendek untukmu.”

Lin Lin merasa girang sekali dan dia cepat menghaturkan terima kasih pada Bu Pun Su. Kakek tua itu lalu tinggal di atas bukit itu selama tiga pekan untuk menggembleng dan membuat pedang pendek dari sisa pedang berkarat itu. Kemudian dia berikan pedang yang menjadi sebatang belati panjang kepada Lin Lin sambil berkata,

“Terimalah pedang pendek ini yang kuberi nama Han-le-kiam untuk memperingati nama Sute-ku Han Le. Dan untuk memperlengkapi kehendak Sute-ku yang memberi pedang ini kepadamu, kau berhak menerima pelajaran ilmu silat dari persilatan kami.”

Bukan main girangnya hati Lin Lin yang segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek sakti itu.

“Akan tetapi bukan aku si tua bangka yang hendak menurunkan kepandaian ini padamu. Aku sudah satu kali menerima murid dan itu sudah lebih dari cukup. Cin Hai atau calon suamimu itulah yang akan bertugas menurunkan ilmu kepandaian padamu. Jangan kau anggap aku main-main, akan tetapi tanpa perkenanku, tidak nanti dia berani menurunkan ilmu kepandaian yang dipelajarinya dariku, biar kepada isterinya sekali pun.”

Lin Lin segera bertanya dengan berani, “Akan tetapi, Locianpwe, teecu masih belum tahu di mana adanya... dia!” Ma Hoa dan Yousuf diam-diam tersenyum dan Bu Pun Su tertawa bergelak,

“Seperti juga tidak ada persatuan yang tidak berakhir, demikian pun tidak ada perceraian yang kekal. Kelak tentu tiba saatnya kau bertemu kembali dengan Cin Hai dan Ma Hoa dengan Kwee An. Dan bila mana kau sudah bertemu calon suamimu itu, sampaikanlah pesanku supaya kau diberi pelajaran pokok yang telah kuajarkan kepadanya, kemudian memberi pelajaran ilmu pedang yang baru diciptakannya kepadamu.”

Kemudian sambil memandang kepada Yousuf, Bu Pun Su berkata pula,

“Kau tidak salah memilih Saudara Yo Su Pu ini sebagai ayah angkatmu karena memang dia ini orang baik dan berhati mulia. Saudara Yo, akan lebih baik lagi kalau mimpi buruk yang mengganggu hatimu itu dapat dilenyapkan sama sekali.”

Yousuf terkejut sekali, oleh karena mendengar ucapan ini dia dapat mengetahui bahwa kakek sakti ini ternyata telah dapat membaca isi hatinya yang bercita-cita menjadi kaisar di negerinya. Dia lalu tersenyum dan menjura sambil berkata,

“Lo-suhu, terima kasih atas nasehatmu ini. Memang, semenjak bertemu dengan anakku ini, cita-cita gila itu telah kubuang jauh-jauh.”

“Bagus sekali, itu hanya menambah tebal keyakinanku bahwa kau memang mempunyai kebijaksanaan besar yang jarang dimiliki oleh sembarangan orang.”

Kemudian Bu Pun Su pergi dari tempat itu sesudah membelai leher dan kepala Merak Sakti yang nampak sedih ditinggalkan oleh majikan lamanya ini…..

********************

Oleh karena menyangka kalau-kalau Lin Lin dan Ma Hoa sudah mendahului pulang ke kampung Lin Lin, maka Kwee An dan Cin Hai lalu menuju ke selatan untuk kembali ke daerah Tiang-an.

Ketika mereka sampai di rumah Kwee An, ternyata bahwa rumah itu masih tertutup dan ketika mereka bertanya kepada orang di kampung itu yang menyambut kedatangan Kwee An dengan girang, mereka mendapat keterangan bahwa Lin Lin belum pernah kembali ke situ, dan bahwa Kwee Tiong masih tetap tinggal di kelenteng Ban-hok-tong di Tiang-an, dan bahwa Kwee Tiong sekarang bahkan telah mencukur rambutnya dan masuk menjadi hwesio!

Hal ini mengejutkan hati Kwee An, maka ia lalu mengajak Cin Hai mengunjungi kakaknya itu di Kelenteng Ban-hok-tong di kota Tiang-an. Pada waktu mereka sampai di kelenteng Ban-hok-tong yang mengingatkan Cin Hai akan pengalamannya ketika masih kecil dan mempelajari ilmu kesusasteraan dari Kui-sianseng guru sasterawan yang kurus kering itu, mereka pun disambut oleh seorang hwesio tua yang bertubuh tegap dan sikapnya masih gagah.

Hwesio ini adalah Tong Kak Hosiang, hwesio perantau yang dahulu mengajar silat pada putera-putera Kwee Ciangkun, seorang pendeta yang selain mempunyai ilmu silat cukup tinggi dari cabang Kun-lun-pai, juga mempunyai pengertian yang dalam mengenai Agama Buddha serta menjalankan ibadat dengan sungguh-sungguh.

Pada saat Tong Kak Hosiang mendengar pengakuan Kwee An bahwa pemuda ini adalah putera termuda dari Kwee In Liang, dia menyambut dengan girang sekali.

“Ahh, ternyata Kwee-kongcu! Silakan masuk!” Hwesio ini memandang kepada Kwee An dengan mata kagum karena Kwee Tiong sering kali menceritakan mengenai kegagahan serta ketinggian ilmu silat adiknya ini.

“Lo-suhu, teecu mohon bertemu dengan kakakku Kwee Tiong.”

Tong Kak Hosiang tersenyum, “Baik, baik, tentu saja, Kwee-kongcu. Tiong Yu memang telah lama merindukan kau. O ya, hampir lupa pinceng memberi tahukan bahwa kakakmu kini bernama Tiong Yu Hwesio.”

Ketika hwesio tua itu mengantar mereka masuk ke ruangan dalam, mereka mendengar suara Kwee Tiong yang amat lantang membaca liamkeng (kitab suci yang dibaca sambil berdoa) diiringi suara kayu yang dipukul-pukulkan untuk mengikuti irama doa dan untuk menghalau segala gangguan yang memasuki pikiran di waktu membaca liamkeng.

“Tiong-ko!” Kwee An memanggil dengan suara di kerongkongan.

Suara liamkeng berhenti dan Kwee Tiong berpaling. Alangkah bedanya wajah pemuda ini dibandingkan dengan dahulu dan hal ini pun dilihat jelas oleh Cin Hai. Pada wajah yang cakap itu kini terbayang kesabaran dan ketenangan yang besar sehingga diam-diam Cin Hai merasa kagum sekali dan juga girang melihat perubahan besar ini.

Ketika melihat Kwee An, Kwee Tiong segera bangkit berdiri dengan tenang dan keduanya lalu berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Agaknya dalam pelukan mesra ini keduanya telah saling mencurahkan keharuan di hati masing-masing.

Pada saat Kwee Tiong melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Kwee An sambil memandang wajah adiknya, ia melihat dua butir air mata membasahi mata Kwee An. Kwee Tiong lalu tersenyum untuk membesarkan hati adiknya sambil mengguncang-guncangkan pundak adiknya dan berkata lantang,

“An-te, kau kelihatan semakin gagah dan tampan saja!” Sambil berkata demikian, Kwee Tiong cepat menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus dua tetes air mata yang telah menetes di atas pipi adiknya.

“Tiong-ko, kau...”

Akan tetapi Kwee Tiong tidak memberi kesempatan kepada adiknya untuk melanjutkan kata-katanya dan untuk melampiaskan keharuan hatinya, maka dengan muka girang dia kemudian menarik tangan adiknya itu ke ruang tamu, sedangkan gerakan kakinya masih menunjukkan kegagahan dan kejantanannya seperti yang dulu.

Ketika melihat Kwee Tiong, Cin Hai yang menunggu di ruang tamu lalu menjura dengan hormat.

”Eh, ehh, Pendekar Bodoh ikut datang pula! Kau memang hebat sekali, Cin Hai adikku. Tiada habisnya aku mengagumi kau.” Ucapan ini keluar dari hatinya yang tulus sehingga Cin Hai merasa girang dan terharu, maka dia lalu angkat kedua tangan memberi hormat lagi.

“Tiong Yu Hwesio saudaraku yang baik. Kebijaksanaanmu yang sudah mengambil jalan suci ini membuat aku yang bodoh dan kasar menjadi malu saja.”

Kwee Tiong menghampiri Cin Hai dan menepuk-nepuk pundaknya. “Ahh, jangan begitu, Cin Hai! Aku masih Kwee Tiong bagimu, seperti dulu. Hanya saja bedanya, kini kedua mataku telah terbuka dan aku benar-benar girang bertemu dengan kau. O ya, di mana Lin Lin adikku yang manis?” Matanya mencari-cari dan mengharapkan munculnya Lin Lin di situ.

Sesudah duduk menghadapi meja, Kwee An lalu menceritakan pengalamannya, bahwa kini mereka berdua sedang mencari Lin Lin. Ketika mendengar tentang pembalasan sakit hati yang hampir selesai dan tinggal Hai Kong seorang itu, pada wajah Kwee Tiong tidak tampak kegirangan sebagaimana yang diduga semula, bahkan pemuda yang kini menjadi hwesio itu menghela napas dan merangkapkan kedua tangan, lalu berkata,

“Ah, inilah yang membuat aku mengambil keputusan untuk menjadi orang yang beribadat. Tadinya aku selalu merasa takut kepada musuh, sedih karena kehilangan orang tua dan saudara-saudara, dan penasaran karena ingin membalas dendam. Tetapi apakah artinya semua perasaan yang hanya mengganggu batin itu? Setelah aku mendapat petunjuk dari Tong Kak Suhu dan masuk menjadi hwesio, baru terbukalah mataku. Aku kini merasa berbahagia dan tidak menakuti sesuatu oleh karena di dalam hatiku memang tidak ada perasaan bermusuh kepada siapa pun juga. Tentang pembalasan sakit hati itu, Adikku, biarlah kau yang memiliki kepandaian tinggi dan yang merasa sakit hati, kau perjuangkan sebagai sebuah tugas suci berdasarkan kebaktian. Sedangkan aku yang tiada memiliki kepandaian ini, biarlah aku setiap waktu berdoa untuk keselamatanmu, keselamatan Lin Lin, dan keselamatan semua kawan-kawan baik.”

Cin Hai yang mendengar ucapan ini, mengangguk-angguk dan dia maklum sepenuhnya bahwa memang jalan yang diambil oleh Kwee Tiong itu dianggapnya tepat sekali.

Sesudah saling menuturkan pengalaman masing-masing dan melepas kerinduan dengan mengobrol semalam penuh, pada keesokan harinya Kwee An dan Cin Hai meninggalkan Kelenteng Ban-hok-tong.

“Kwee An marilah kita mampir sebentar di Tiang-an, karena sudah lama aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota itu. Sering kali aku terkenang kepada kota di mana aku tinggal ketika kita masih kecil.”

Juga Kwee An ingin melihat kota kelahirannya, maka ia menyetujui ajakan Cin Hai ini dan keduanya lalu memasuki kota Tiang-an yang berada di dekat Kelenteng Ban-hok-tong itu. Mereka lalu berjalan-jalan di dalam kota itu sampai sore. Dan ketika mereka berjalan sampai di ujung timur, tiba-tiba saja mereka mendengar suara yang lantang dari dalam sebuah rumah. Mendengar suara ini, Cin Hai menyentuh tangan Kwee An dan berbisik,

“Coba, kau dengarkan itu, apakah kau masih mengenalnya?”

Kwee An segera memasang telinga dengan penuh perhatian, dan dari jendela rumah itu terdengar suara yang jelas sekali.

“Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-yaaaa...”

Kwee An hampir tertawa bergelak, tapi cepat-cepat ia menggunakan tangan kanan untuk menutup mulutnya dan menahan ketawanya. “Itulah Kui Sianseng!” katanya.

Cin Hai tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kalau tidak salah tentu dia. Siapa lagi yang dapat mengucapkan ujar-ujar itu demikian bagusnya? Tahukah kau berapa kali dia dulu pernah memukul dan mengetok kepalaku yang dulu gundul?”

Kwee An hampir tertawa keras-keras dan dia lalu membelalakkan mata kepada Cin Hai sambil tersenyum lebar. “Kau juga?”

Cin Hai bertanya heran, “Apa maksudmu?”

“Kau juga menjadi korban kesukaannya memukul kepala murid-muridnya? Ha-ha, jangan kata kau yang dulu memang banyak orang membenci, sedangkan aku sendiri pun entah sudah berapa kali merasakan ketokan di kepalaku.”

Cin Hai benar-benar tak pernah menyangka hal ini dan sedikit kebencian yang berada di hatinya terhadap Kui Sianseng lenyap seketika.

“Kalau begitu, Si Tua itu tentu masih saja mengobral hadiah ketokan kepala itu kepada anak-anak yang sekarang menjadi murid-muridnya. Hayo, kita mengintai dia!”

Bagaikan dua orang anak-anak nakal, Cin Hai dan Kwee An menghampiri rumah kecil itu dengan perlahan dan mengintai dari balik jendela. Benar juga dugaan mereka, di dalam rumah itu Kui Sianseng yang tampak sudah tua sekali dan tubuhnya makin kurus kering, sedang berdiri dengan tangan kanan di belakang punggung dan tangan kiri memegang sebuah kitab yang dikenal baik sekali oleh Cin Hai dan Kwee An, oleh karena kitab yang terbungkus kulit kambing itu adalah kitab yang dulu dipakai untuk mengajar mereka pula.

Di hadapan kakek sastrawan ini duduk di bangku dengan kedua tangan bersilang, tiga orang anak laki-laki yang mengerutkan kening seperti kakek-kakek yang sedang berpikir keras.

“Kalian anak-anak goblok, bodoh dan tolol! Dengarkan sekali lagi! Seng-cia-cu-seng-ya. Ji-to-cu-to-ya! Apakah artinya, siapa tahu?”

Kwee An dan Cin Hai mengintai dan menahan geli hatinya, dan Cin Hai lalu teringat akan segala yang dialaminya di waktu kecil, karena sifat dan sikap Kui Sianseng sama sekali tidak berubah seperti dulu.

Seorang di antara para murid yang jumlahnya tiga orang anak-anak itu bangkit berdiri dan mengacungkan tangan, lalu berkata dengan suara lantang,

“Seng-cia-cu-seng-ya. Ji-to-cu-to-ya, artinya: kesempurnaan hati suci murni harus dicapai sendiri dengan penyempurnaan watak pribadi. Jalan kebenaran yang menjadi sifat setiap orang harus diajukan dalam perbuatan sendiri.”

Kakek kurus kering itu mengangguk-anggukkan kepala bagai burung sedang makan padi. “Bagus, bagus! Begitulah sifat seorang kuncu (budiman) tulen!” ia memuji. “Kok-ji, kitab apa yang mengandung ujar-ujar itu dan fasal ke berapa?”

Anak yang tadi menjawab dengan lagak bagaikan seorang ahli pikir yang sudah seumur kakek-kakek itu, menjawab lantang,

“Terdapat di dalam kitab Tiong-yong, fasal... fasal...,” anak ini tidak mampu melanjutkan jawabannya dan memandang ke kanan kiri dengan bingung.

“Anak bodoh dan tolol!” gurunya memaki.

Cin Hai baru melihat bahwa makian ini agaknya memang telah menjadi kembang bibir Kui Sianseng. Baru saja anak itu dipuji-pujinya, sekarang sudah dimaki tolol. Kemudian Kui Sianseng berkata lagi,

“Dengarlah, ujar-ujar itu terdapat dalam... fasal...” Ia juga lupa dan mencari-cari di dalam kitabnya, membuka-buka buku kitab itu dengan bingung.

Sambil menahan rasa geli yang membuat perutnya kaku, Cin Hai lalu menjawab dari luar, “Dalam fasal dua puluh lima ayat pertama!”

Kui Sianseng terkejut sekali dan menoleh ke arah jendela yang rendah, dan nampak dua sosok bayangan masuk ke dalam kamar. Kedua anak muda itu lalu menjura dan memberi hormat kepada Kui Sianseng. Cin Hai berkata,

“Kui Sianseng, hakseng berdua menghaturkan hormat.”

Kui Sianseng terheran dan ragu-ragu. “Jiwi ini siapakah?”

“Kui Sianseng,” kata Kwee An, “sudah lupakah kepadaku? Aku adalah Kwee An, putera Kwee-ciangkun!”

Kui Sianseng melengak, kemudian setelah teringat, ia lalu tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri. Kelihatan sekali kebanggaannya melihat betapa muridnya kini sudah menjadi dewasa, gagah, dan cakap! Dia lalu memegang lengan Kwee An dan dengan muka yang terang berkata kepada ketiga anak muridnya,

“Nah, kalian lihatlah! Kwee-kongcu ini dulu adalah muridku yang baik dan pandai. Kalau kalian belajar baik-baik dari aku, kelak kau pun akan menjadi seorang berguna seperti dia ini!”

Kemudian dia teringat kepada Cin Hai yang sudah dapat menemukan fasal dalam kitab Tiong Yong, maka dia lalu menjura dengan hormat kepada Cin Hai dan bertanya, “Dan kongcu yang cerdik pandai serta hafal akan fasal dan ayat di dalam kitab Nabi kita ini, siapakah namamu yang mulia?”

Cin Hai menahan geli hatinya, lalu menjawab sambil menjura, “Sianseng, sudah lupakah kepada hakseng yang tolol dan bodoh?”

Selagi Kui Sianseng memandang heran dan mengingat-ingat, Kwee An yang tidak dapat menahan kegembiraan hatinya lalu berkata, “Kui Sianseng, ini adalah Cin Hai, juga salah seorang muridmu yang dulu belajar darimu di Kelenteng Ban-hok-tong!”

Cin Hai tertawa bergelak. “Kui Sianseng, sekarang hakseng tak berani lagi menggunduli kepala, supaya jangan dijadikan sasaran pukulan dan ketokan!”

Merahlah muka Kui Sianseng dan ia merasa betapa ia dulu memang sering kali memukul kepala anak gundul ini. Akan tetapi, sebagaimana sudah lazimnya sifat manusia yang selalu teringat adalah sifai-sifat keburukan orang lain, maka Kui Sianseng lalu memegang tangan Cin Hai dan kini dengan suara sungguh-sungguh berkata kepada para muridnya,

“Lihatlah Kongcu ini, begitu gagah dan tampannya! Ketahuilah, dulu dia ini juga seorang muridku! Aku sayang sekali kepadanya maka tidak heran sekarang dia menjadi seorang pandai dan sekali mendengar saja sudah dapat menjawab pertanyaan tentang fatsal tadi! Kalian tadi mendengar bahwa dahulu aku sering mengetok kepalanya? Nah, jangan dikira bahwa ketokan kepalanya tidak ada gunanya! Tanpa diketok kepalanya, seorang murid tak akan menjadi pandai!”

Hati Cin Hai yang dulu sering kali mengenangkan guru ini dengan benci dan mendongkol, kini menjadi lemah, bahkan dia merasa kasihan sekali melihat betapa pakaian guru ini butut dan tambal-tambalan, tanda bahwa keadaannya miskin sekali, sedangkan tubuhnya makin kurus kering dan lemah bagaikan mayat hidup!

Betapa pun juga, guru-guru yang pandai ujar-ujar akan tetapi tak mampu melaksanakan ini patut dikasihani oleh karena dia adalah seorang jujur dan rela hidup dalam kemiskinan dan masih tekun menurunkan ilmu-ilmu batin yang hanya dikenal di bibir saja itu kepada anak-anak dengan menerima upah kecil! Ia mengerti bahwa segala penderitaan, makian, pukulan yang diterima dari guru ini dalam waktu mengajar, bukan tak ada gunanya! Sakit dan derita merupakan obat pahit yang dapat menguatkan batin dan meneguhkan iman.

Maka teringatlah ia kepada ucapan Bu Pun Su dulu,

“Segala apa di dunia ini mempunyai dua muka yang berlainan dan baik buruknya muka itu terpandang oleh seseorang, hal ini tergantung sepenuhnya pada orang itu sendiri, oleh karenanya banyak pertentangan di dunia ini yang terjadi karena perbedaan pandangan ini!”

Dan ia merasa betapa tepatnya ucapan ini. Dulu ia memandang perbuatan Kui Sianseng kepadanya amat buruk dan kejam sehingga menimbulkan rasa benci dan sakit hati. Akan tetapi sekarang, dia telah mempunyai pandangan lain dan menganggap bahwa perbuatan Kui Sianseng itu sudah menjadi watak guru ini dan bukan timbul karena membencinya, maka dia bahkan menganggap semua siksaan itu besifat baik, sehingga sebaliknya kini menimbulkan rasa terima kasih!

Cin Hai lalu memberi isyarat dengan matanya kepada Kwee An dan ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa potong uang emas yang ada padanya. Ia masukkan uang itu ke dalam saku Kui Sianseng tanpa dilihat oleh guru ini, kemudian setelah mereka berkelebat maka lenyaplah keduanya dari depan Kui Sianseng. Tentu saja hal ini tak terduga sama sekali oleh guru itu, juga oleh anak anak tadi yang menganggap kedua pemuda ini main sulap.

“Hebat, hebat... mereka sudah menjadi orang-orang gagah yang memiliki kepandaian luar biasa,” katanya. Kemudian dia berkata keras-keras agar terdengar oleh murid-muridnya yang kecil-kecil. “Mereka hebat luar biasa dan mereka itu adalah murid-muridku. Kalian bertiga yang bodoh ini jika mau belajar sungguh-sungguh, kelak pun tentu akan menjadi seperti mereka.”

Ketika seorang muridnya menjatuhkan kitab ke atas tanah karena terheran-heran melihat lenyapnya Kwee An dan Cin Hai hingga tanpa disengaja kitab yang dipegangnya jatuh, Kui Sianseng marah sekali dan melangkah maju, siap dengan jari-jarinya untuk mengetuk kepala yang gundul itu. Akan tetapi tiba-tiba bayangan Cin Hai kembali muncul dan guru ini teringat akan kejadian dulu-dulu, maka ia lalu menahan tangannya, dan sebaliknya ia lalu mengetok kepalanya sendiri yang sudah botak.

“Jangan kau lakukan kepada orang lain apa yang kau sendiri tidak mau diperlakukan oleh orang lain kepadamu,” kata-kata Cin Hai yang dulu bergema di dalam telinganya.

Sejak saat itu Kui Sianseng memiliki kebiasaan baru, yaitu setiap kali ia mengetok kepala muridnya, tentu ia juga menambahkan sebuah ketokan kepada kepalanya sendiri…..

********************
Cin Hai dan Kwee An sambil tertawa-tawa mengenangkan peristiwa pertemuan dengan Kui Sianseng tadi, lalu berjalan cepat meninggalkan Tiang-an. Mereka keluar dari kota itu dari jurusan timur dan tidak melewati Kelenteng Ban-hok-tong yang berada di sebelah barat kota itu. Hari telah agak gelap ketika mereka tiba di sebuah hutan di luar kota.

Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berseru minta tolong dan ketika mereka berlari menghampiri, ternyata seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti piauwsu (pengawal kiriman barang berharga) sedang dikeroyok oleh lima orang perampok. Meski piauwsu ini melawan secara nekad sambil memutar-mutar goloknya, namun pengeroyoknya ternyata memiliki kepandaian yang lihai hingga pundak kiri piauwsu itu telah berlumur darah akibat mendapat luka bacokan pedang. Akan tetapi, sambil berseru minta tolong, piauwsu itu terus saja melawan dengan nekad.

Cin Hai marah sekali melihat pengeroyokan ini dan sekali pandang saja ia maklum bahwa piauwsu ini tentu tengah dirampok, oleh karena di pinggir tampak sebuah kereta dan para pendorongnya yang terdiri dari empat orang telah berjongkok sambil menggigil ketakutan di belakang kereta.

“Perampok ganas, pergilah dari sini!” katanya dan tubuhnya langsung menyambar cepat ke arah tempat pertempuran.

Cin Hai tidak mau membuang banyak waktu, ia segera mempergunakan kepandaian Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak Sin-na yang hebat. Memang ilmu silat yang belum lama ia pelajari dari Bu Pun Su ini lihai sekali.

Begitu kedua tangannya bergerak, pedang kelima orang perampok itu tahu-tahu sudah kena dibikin terpental dan sebelum kelima orang perampok yang juga memiliki ilmu silat lumayan itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka sudah dipegang oleh tangan kanan kiri pemuda itu dan dilempar-lemparkan ke kanan kiri seperti orang melempar-lemparkan kentang busuk saja.

Tentu saja mereka merasa jeri dan ngeri melihat ilmu kepandaian sehebat ini dan tanpa menoleh lagi mereka lalu berlari secepatnya ke jurusan yang sama sehingga merupakan balap lari yang ramai. Kwee An tertawa bergelak, sedangkan Cin Hai hanya tersenyum saja melihat pemandangan yang lucu itu.

Sedangkan piauwsu itu ketika melihat pemuda luar biasa lihainya yang sudah menolong jiwanya, segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Hai sambil berkata dengan suara terharu,

“Taihiap yang gagah perkasa sudah menolong jiwaku yang tak berharga, aku tua bangka lemah tidak akan dapat membalas budi besar ini dan untuk menyatakan terima kasihku, biarlah Taihiap menyebut nama Taihiap yang mulia agar dapat kuingat selama hidupku!”

Cin Hai merasa tidak enak sekali melihat dirinya sedemikian dihormati oleh piauwsu itu, maka buru-buru ia memegang pundak piauwsu itu dan menariknya berdiri sambil berkata,

“Lo-piauwsu janganlah berlaku demikian. Pertolongan yang tak ada artinya ini untuk apa dibesar-besarkan?”

Ketika piauwsu tua itu mengangkat muka dan memandang dengan sepasang matanya yang luar biasa lebar, Cin Hai merasa bahwa dia seperti pernah melihat muka ini, akan tetapi tidak ingat lagi di mana dan bila mana. Tiba-tiba Kwee An berseru sambil meloncat menghampiri,

“Tan-kauwsu! Kaukah ini?”

Memang benar, piauwsu itu ternyata adalah Tan-kauwsu, guru silat yang dahulu pernah mengajar silat kepada putera-putera keluarga Kwee In Liang! Tan-kauwsu memandang heran dan dia segera mengenali Kwee An, maka sambil menjura ia berkata girang,

“Kwee-kongcu! Tak kuduga kita telah bertemu di sini! Ah, aku orang tua telah mendengar tentang kemajuan dan kelihaianmu dan telah mendengar pula bahwa kau sudah menjadi murid Eng Yang Cu Locianpwe tokoh Kim-san-pai yang lihai itu! Sukurlah, kepandaianmu tentu telah berlipat ganda dan aku orang tua yang tidak berguna ini hanya turut merasa gembira!”

Kemudian dia memandang kepada Cin Hai dengan mata kagum dan dia pun melanjutkan kata-katanya,

“Akan tetapi, siapakah Taihiap yang muda akan tetapi telah mempunyai kepandaian yang demikian lihainya sehingga belum pernah mataku yang tua menyaksikan kelihaian seperti yang telah Taihiap lakukan tadi?”

Ketika mengingat bahwa piauwsu ini bukan lain adalah Tan-kauwsu yang dulu membenci dirinya dan bahkan mengejarnya untuk membunuh, timbul pula rasa benci Cin Hai, maka ia tidak mau menjawab dan hanya memandang tajam dengan muka tidak senang.

Kwee An belum pernah mendengar tentang kekejaman Tan-kauwsu kepada Cin Hai, oleh karena Cin Hai memang tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun juga, maka Kwee An lalu tertawa girang dan berkata,

“Tan-kauwsu, sebenarnya pemuda kawanku ini pun bukan orang luar, akan tetapi kurasa kau tak akan dapat menduganya dia ini siapa biar pun kau akan mengingat-ingat sampai semalam penuh! Biarlah aku membantumu. Dia ini adalah Cin Hai anak gundul yang dulu pernah pula belajar silat padamu!”

Tiba-tiba saja pucatlah wajah Tan-kauwsu mendengar bahwa anak muda yang luar biasa gagahnya yang baru saja telah menolong jiwanya itu, bukan lain adalah Si Cin Hai, anak gundul yang dahulu hendak diambil jiwanya! Kedua kaki Tan-kauwsu menggigil dan ia tak dapat menahan dirinya lagi. Serta merta ia menjatuhkan diri berlutut lagi di depan Cin Hai dan tak tertahan lagi kedua matanya mengucurkan air mata!

“Taihiap... aku... aku... ahh, apakah yang harus kukatakan? Kalau Taihiap suka, ambillah jiwaku. Aku tua bangka yang tak tahu diri akan mati dengan rela di dalam tanganmu!”

Kwee An memandang heran dan segera berkata, “Ehh, ehhh, apa-apan ini? Tan-kauwsu, apakah kau mendadak telah menjadi mabok?”

Akan tetapi Cin Hai mengejapkan mata pada kawannya itu dan kini ia tidak mengangkat bangun tubuh orang tua yang berlutut di depannya.

“Tan-kauwsu, memang benarlah kata ujar-ujar kuno yang menyatakan bahwa apa yang diperbuat orang pada masa mudanya, akan mendatangkan sesal pada masa tuanya. Kau dulu berkeras hendak membunuhku, namun sekarang kau bahkan minta dibunuh olehku dengan rela. Bukankah ini merupakan buah dari pohon kebencian yang dulu kau tanam dengan dua tanganmu sendiri? Kau minta aku membalas dendam? Tidak, Tan-kauwsu! Akan terlalu senang bagimu. Biarlah kau pikir-pikirkan lagi perbuatanmu yang sewenang-wenang dulu itu dan menyesalinya. Kau tak berhutang jiwa padaku, maka bagaimana aku bisa membunuhmu? Nah, selamat tinggal! Mari, Kwee An, kita pergi dari sini!”

Sesudah berkata demikian, Cin Hai lalu melompat pergi dan terpaksa Kwee An menyusul kawannya itu dengan heran. Kemudian, atas desakan Kwee An, Cin Hai lalu menuturkan pengalamannya. Kwee An menghela napas dan berkata,

“Memang nasib manusia itu tidak tentu. Sekali waktu ia boleh berada di bawah, di tempat yang serendah-rendahnya, akan tetapi akan datang masanya dia akan berada di atas, di tempat yang setinggi-tingginya.”

Setelah meninggalkan Tiang-an, kedua pemuda itu lalu menuju ke kota raja, oleh karena selain mencari jejak Lin Lin dan Ma Hoa, keduanya juga tidak pernah lupa untuk mencari Hai Kong Hosiang, hwesio yang kini merupakan musuh besar satu-satunya yang masih belum berhasil mereka balas. Dan ke mana lagi mencari hwesio itu kalau tidak di kota raja? Mereka merasa ragu-ragu apakah Hai Kong Hosiang berada di sana, akan tetapi karena tidak mempunyai pandangan lain di mana hwesio itu mungkin berada, mereka pun hendak mencoba-coba dan pergi ke kota raja.

Mereka langsung menuju ke Enghiong-koan, gedung perhimpunan para perwira Sayap Garuda di mana dahulu mereka pernah datang mengacau dan berhasil membunuh mati musuh-musuhnya. Pada waktu mereka tiba di atas genteng gedung itu, mereka melihat dua orang sedang bertempur mengeroyok seorang kakek, ada pun di sekeliling tempat pertempuran, para perwira Sayap Garuda menonton sambil berseru-seru membesarkan hati kakek yang dikeroyok itu.

Melihat gerakan kakek tua renta itu, terkejut Kwee An dan Cin Hai oleh karena gerakan kakek ini yang benar-benar luar biasa hebatnya sehingga kedua pengeroyoknya terdesak mundur terus. Dan ketika Cin Hai memandang tegas, ternyata bahwa kakek tua renta itu adalah Kiam Ki Sianjin sedangkan dua pengeroyoknya adalah Eng Yang Cu guru Kwee An dan Nelayan Cengeng sendiri.

Melihat betapa Eng Yang Cu dan Kong Hwat Lojin terdesak hebat oleh ilmu silat Kiam Ki Sianjin yang hebat luar biasa, kedua pemuda itu segera melompat turun.

“Kwee An, jangan kau ikut turun tangan, biarlah aku sendiri menghadapi kakek tua renta itu. Ia adalah supek dari Hai Kong Hosiang.”

Kwee An kaget sekali dan menjadi jeri. Kalau Hai Kong Hosiang saja telah begitu hebat, apa lagi supek-nya.

Cin Hai melompat masuk ke gelanggang pertempuran dan berkata dengan suara hormat kepada Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu,

“Jiwi Locianpwe, biarkan teecu yang menghadapi setan ini, dan kalau teecu tidak dapat menandinginya, barulah jiwi berdua maju memberi hajaran kepadanya.”

Sesungguhnya Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng telah terdesak sekali, dan kata-kata yang diucapkan oleh Cin Hai ini terang menandakan bahwa pemuda ini pandai membawa diri dan menghormat mereka, maka keduanya lalu melompat mundur.

“Kiam Ki Sianjin!” kata Cin Hai dengan tenang, “dahulu Suhu-ku Bu Pun Su sudah pernah mengampuni kau, maka apakah sekarang kau yang begini tua masih mau memamerkan kepandaian di depan mata umum?”

Kiam Ki Sianjin memandang kepada Cin Hai dengan sepasang matanya yang telah tua akan tetapi masih awas itu, lalu dia pun tertawa cekikikan dan tangan kanannya membuat gerakan merendah seperti hendak berkata bahwa Cin Hai masih kanak-kanak dan masih kecil, sedang tangan kirinya menuding keluar. Dengan gerakan ini Kiam Ki Sianjin hendak berkata bahwa Cin Hai yang masih muda dan masih kanak-kanak itu jangan datang untuk mengantar kematian, lebih baik keluar dan pergi saja sebelum terlambat!

“Kiam Ki Sianjin, tak perlu kau menggertak. Keluarkanlah semua kepandaianmu jika kau memang gagah!” Cin Hai menantang akan tetapi sikapnya tetap tenang dan waspada.

Kiam Ki Sianjin menjadi marah sekali. Sambil mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, dia lalu menerjang maju dengan hebat sekali!

Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu adalah tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Akan tetapi menghadapi Kiam Ki Sianjin, mereka berdua terdesak hebat setelah bertempur dua ratus jurus lebih, oleh karena itu kini mereka memandang ke arah Cin Hai dengan penuh kekuatiran. Mereka maklum bahwa sebagai murid tunggal Bu Pun Su, pemuda itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, akan tetapi, tetap saja mereka merasa ragu-ragu dan cemas oleh karena sekarang pemuda itu menghadapi seorang lawan yang jauh lebih berpengalaman dan yang telah mereka rasakan sendiri kehebatan ilmu kepandaiannya!

Akan tetapi, mereka menjadi kagum sekali ketika melihat betapa dengan lincahnya Cin Hai dapat mengimbangi ginkang dari kakek itu. Bahkan ketika melihat betapa pemuda itu berani mengadu lengan dengan Kiam Ki Sianjin, tanpa terasa pula Nelayan Cengeng lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengalirkan air mata dari kedua matanya. Ini merupakan tanda bahwa Nelayan Tua ini merasa gembira sekali.

Tadi ia pernah beradu lengan dengan Kiam Ki Sianjin, akan tetapi adu lengan yang sekali itu saja sudah cukup membuatnya kapok oleh karena betapa lengannya sakit sekali dan seakan-akan ada puluhan jarum yang menusuk-nusuk ke dalam daging lengannya! Kini dia melihat betapa Cin Hai berani beradu tenaga dengan kakek sakti itu tanpa merasa sakit dan bahkan agaknya Kiam Ki Sianjin tidak saja nampak terkejut, akan tetapi juga terdorong sedikit tiap kali keduanya mengadu tenaga dalam!

Sementara itu, Kwee An memandang pertempuran hebat itu dengan bengong dan anak muda ini merasa heran sekali kenapa kini kepandaian Cin Hai agaknya telah bertambah berlipat ganda! Tadinya Kwee An merasa bangga bahwa dia telah menerima pelajaran ilmu silat dari ayah angkatnya, yaitu Hek Mo-ko dan diam-diam ia mengharapkan bahwa sekarang tingkat ilmu kepandaiannya sudah menyusul kepandaian Cin Hai. Tak tahunya kepandaian Cin Hai kini pun meningkat luar biasa sekali dan bahkan ia merasa bahwa kepandaian pemuda ini sekarang berada di tingkat yang lebih tinggi dari pada kepandaian Hek Pek Mo-ko sendiri.

Tentu saja mereka ini tidak tahu bahwa Cin Hai sudah mengeluarkan llmu Silat Pek-in Hoat-sut atau Ilmu Silat Awan Putih! Kedua lengan tangannya mengeluarkan uap putih yang menimbulkan tenaga hebat sekali hingga lweekang yang tinggi dari Kiam Ki Sianjin masih saja tidak cukup kuat menghadapi ilmu pukulan ini!

Selama hidupnya baru sekali Kiam Ki Sianjin menerima tandingan yang lebih tinggi ilmu kepandaiannya dari kepandaiannya sendiri, yaitu ketika dia berhadapan dengan Bu Pun Su. Sudah tiga kali selama hidupnya ia bertemu dengan Bu Pun Su dan tiap kali bertemu ia selalu dipermainkan oleh kakek jembel itu.

Sekarang baru pertama kalinya dia menghadapi seorang pemuda yang dapat menandingi kelihaiannya sehingga tentu saja dia menjadi marah, penasaran dan gemas sekali! Ia tadi ketika menghadapi Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng walau pun dapat mendesak, tapi agak sukar merobohkan kedua orang lawan yang bukan sembarang orang itu dan yang telah termasuk tingkat tokoh besar dalam lapangan ilmu silat, maka ia telah mengerahkan tenaganya, hingga membuat tubuhnya yang telah tua sekali itu menjadi lelah luar biasa.

Kini ketika menghadapi Cin Hai yang ternyata lebih lihai lagi dari pada kedua kakek itu, ia benar-benar merasa terkejut dan marah. Namanya yang sudah terkenal menjulang tinggi sampai ke langit itu akan runtuh kalau dia tak dapat mengalahkan pemuda ini. Jika diingat bahwa pemuda ini adalah murid Bu Pun Su, maka ia merasa makin penasaran dan ingin membalas kekalahannya yang dulu-dulu dari Bu Pun Su kepada muridnya ini.

Karena marahnya, Kiam Ki Sianjin lalu melupakan sumpahnya sendiri dan tiba-tiba saja dia mencabut keluar sebatang pedang yang aneh bentuknya. Pedang ini tipis sekali dan seakan-akan lemas tak bertenaga, akan tetapi, di bawah ujungnya yang runcing terdapat dua buah kaitan di kanan-kirinya dan pedang ini mengeluarkan cahaya berkilauan saking tajamnya.

Beberapa tahun yang lalu pada saat dia merasa bahwa dirinya telah amat tua dan telah banyak darah dia alirkan melalui pedang ini, dia merasa menyesal sekali dan takut untuk menerima hukuman dari semua dosanya. Maka ia lalu bersumpah takkan menggunakan pedang ini untuk membunuh orang lagi. Akan tetapi, oleh karena sekarang dia merasa marah sekali, dia tidak ingat lagi akan sumpah itu dan mencabut keluar senjatanya yang hebat.

Cin Hai terkejut melihat gerakan ini. Dia tidak mempunyai permusuhan dengan Kiam Ki Sianjin dan tadi pun dia hanya ingin menolong Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu saja serta hendak mencoba kepandaian kakek luar biasa ini. Sekarang melihat betapa kakek itu mencabut keluar pedangnya, maka tahulah bahwa kakek itu sudah marah sekali dan bermaksud mengadu jiwa.

“Kiam Ki Sianjin!” Cin Hai berkata keras-keras, “kita tak pernah saling bermusuhan hingga tak perlu mengadu jiwa!”

Kiam Ki Sianjin telah salah mengerti dan menduga bahwa pemuda itu merasa jeri melihat pedangnya. Maka, sambil tertawa cekikikan dia lalu menerjang maju dengan cepatnya.

“Baiklah, agaknya kau hendak membela muridmu yang durhaka Hai Kong Hosiang itu!” kata Cin Hai.

Secepat kilat pemuda ini pun kemudian mengelak sambil mencabut keluar pedangnya, Liong-coan-kiam. Karena maklum bahwa ilmu kepandaian kakek ini hebat sekali dan dia takkan dapat mengambil kemenangan apa bila ia hanya mengandalkan pengertian pokok persilatan dan hanya mengikuti gerakan serangan orang tua itu tanpa membalas dengan serangan berbahaya, maka dengan ilmu pedang yang dia ciptakan bersama Ang I Niocu dan yang telah diyakinkan sempurna itu, pedangnya lantas bergerak-gerak aneh laksana terbang ke udara dan tiada ubahnya dengan seekor naga sakti yang keluar dari surga dan menyambar-nyambar ke arah Kiam Ki Sianjin dengan garangnya.

Akan tetapi, Kiam Ki Sianjin benar-benar hebat dan luar biasa sekali ilmu silatnya. Walau pun dia merasa sangat terkejut melihat ilmu pedang yang seumur hidupnya belum pernah disaksikan itu, namun pengalamannya membuat dia dapat menduga ke mana arah tujuan pedang Cin Hai dan sanggup menjaga diri dengan baiknya serta dapat pula melancarkan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Kedua orang ini bertempur mengadu ilmu sampai tiga ratus jurus lebih dan para penonton sudah merasa pening karena terpengaruh oleh gerakan pedang yang dimainkan secara hebat itu. Bahkan Kwee An sampai menjadi merah matanya karena tidak tahan melihat menyambarnya sinar pedang. Juga para perwira yang tadinya berseru-seru, kini diam tak bergerak dan hanya memandang dengan muka pucat. Banyak di antara mereka yang mengalirkan air mata karena mata mereka terasa pedas sekali sehingga terpaksa mereka mengalihkan pandangan matanya dan tidak langsung memandang ke arah pertempuran.

Hanya Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng saja yang masih sanggup menonton dengan tertariknya, akan tetapi juga kedua orang ini agak pucat karena maklum bahwa sekarang sedang berlangsung pertandingan tingkat tinggi yang langka terlihat. Kini mereka makin kagum saja kepada Cin Hai yang bagaikan sebuah batu mustika, baru sekarang tergosok dan kelihatan betul-betul sinar dan nilainya. Kedua tokoh besar ini diam-diam menghela napas saking tertarik dan kagumnya.

Biar pun di luarnya tidak menyatakan perubahan, namun sebetulnya Kiam Ki Sianjin telah merasa lelah sekali. Rasa penasaran dan marah telah berkobar di dalam dadanya yang membuat seluruh tubuhnya terasa panas sekali. Inilah kesalahannya dan ia pun maklum akan hal ini, akan tetapi ia tidak berdaya. Nafsu marah dan penasaran yang sudah lama dapat ditenggelamkan pada dasar hatinya, kini tiba-tiba melonjak dan timbul pula dengan serentak, maka tentu saja tangannya menjadi semakin lemah.

Baiknya Cin Hai memang tidak bermaksud membunuh atau melukainya, karena betapa pun juga, pemuda ini merasa kasihan melihat kakek yang sangat tua hingga merupakan rangka hidup ini. Ia dapat menduga bahwa kakek ini telah mulai lelah, maka ia mendesak makin hebat dengan maksud agar kakek ini dapat menyerah karena kelelahannya.

Benar saja, desakannya sudah membuat Kiam Ki Sianjin merasa lelah sekali. Tubuhnya sudah penuh keringat dan napasnya mulai terengah-engah hingga membuat gerakannya menjadi lambat.

Pada suatu kesempatan yang baik, tiba-tiba saja pedang Cin Hai menusuk ke arah leher kakek itu. Kiam Ki Sianjin mendadak melakukan gerakan nekad sekali dan tanpa peduli akan tikaman pedang Cin Hai, dia membalas menikam ke arah dada Cin Hai. Ternyata bahwa dalam keadaan putus asa, kakek ini hendak mengajak mati bersama.

Cin Hai merasa terkejut sekali. Cepat dia menarik kembali pedangnya dan dihentakkan untuk menangkis pedang lawannya. Kiam Ki Sianjin merasa betapa pedang pemuda itu menempel keras pada pedangnya, karena itu ia pun lalu mengerahkan tenaga dalam dan mengait pedang Cin Hai dengan kaitan pedangnya.

Kedua lawan tua dan muda ini saling mengerahkan tenaga lweekang dan pedang mereka saling melengket bagaikan menjadi satu. Keduanya tak bergerak, saling pandang seperti dua buah patung, tangan kanan memegang pedang yang saling menempel, tangan kiri diacungkan ke atas dengan jari-jari tangan terbuka seakan-akan menerima kekuatan dari atas.

“Krakk…!” mendadak terdengar suara keras sekali dan pedang di tangan Kiam Ki Sianjin telah patah menjadi dua.

Secepat kilat Cin Hai melompat mundur lantas berjungkir balik di udara sampai lima kali untuk menghindarkan diri dari serangan tenaga dalam kakek luar biasa itu. Ternyata tadi ketika ia mengerahkan tenaga dalamnya sampai sepenuhnya, tiba-tiba kakek itu menarik kembali tenaganya sehingga pedangnya menjadi patah. Cin Hai terkejut dan menyangka bahwa penarikan tenaga ini merupakan siasat yang akan digunakan untuk memukulnya selagi dia kehabisan tenaga, maka ia lalu berjungkir balik di udara.

Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa sebenarnya kakek itu telah kehabisan napas dan tenaga. Ia telah amat tua dan tenaganya banyak berkurang maka sekarang menghadapi Cin Hai setelah tadi melawan keroyokan Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng, ia tidak-kuat lagi dan tenaganya runtuh. Ketika semua orang memandang ternyata Kiam Ki Sianjin masih berdiri dengan pedang potong di tangan, tanpa bergerak sedikit pun dan kedua matanya masih meram.

Cin Hai mendekati dan melihat keadaan Kiam Ki Sianjin, ia menjadi terkejut dan merasa menyesal, karena dia tahu bahwa kakek itu sudah putus nyawanya karena serangan dari dalam. Ini hanya terjadi kalau orang terlalu marah.

Seorang perwira menghampiri tubuh Kiam Ki Sianjin yang masih berdiri diam dan hendak menariknya.

“Jangan!” teriak Cin Hai dan maju melompat hendak mencegah.

Akan tetapi terlambat. Ketika perwira itu memegang lengan Kiam Ki Sianjin serta hendak menolong dan menuntunnya, tiba-tiba saja ia menjerit ngeri dan terjengkang ke belakang bagaikan mendapat pukulan hebat. Sementara itu tubuh Kiam Ki Sianjin lantas roboh ke depan dalam keadaan masih kaku.

Perwira itu roboh dan tewas pada saat itu juga oleh karena ia terkena hawa dari tenaga dalam yang masih terkumpul di lengan tangan kakek itu dan biar pun ia telah mati, akan tetapi tubuhnya masih hangat dan hawa tenaga keluar serta menghantam perwira itu hingga binasa.

Dengan menyesal, Cin Hai segera mengajak kawan-kawannya lari dari tempat itu untuk menghindari pertempuran-pertempuran selanjutnya, oleh karena mereka maklum bahwa kematian kakek ini tentu tak akan dibiarkan saja oleh para perwira tadi!

Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu tiada habisnya memuji-muji kelihaian Cin Hai yang diterima dengan ucapan merendah oleh pemuda ini. Juga Kwee An, walau pun dia tidak mengucapkan sesuatu, namun pandangan matanya kepada pemuda itu berubah penuh hormat dan bangga serta memandang tinggi.

Nelayan Cengeng lalu menceritakan bahwa dalam usahanya mencari jejak Lin Lin serta Ma Hoa, di jalan ia bertemu dengan Eng Yang Cu yang telah dikenal baik. Eng Yang Cu mendengar tentang penderitaan yang dialami oleh muridnya, karena itu mereka berdua merasa marah sekali kepada Hai Kong Hosiang kemudian mencarinya ke kota raja untuk mengadu kepandaian dan membalas sakit hati keluarga Kwee An. Akan tetapi, ternyata bahwa mereka tidak dapat menemukan Hai Kong Hosiang, sebaliknya bertemu dengan Kiam Ki Sianjin yang menyerang mereka dengan hebat ketika mendengar bahwa mereka datang hendak membunuh Hai Kong Hosiang!

Sesudah menceritakan pengalaman masing-masing, Cin Hai lantas menceritakan kepada Eng Yang Cu tentang ikatan jodoh antara Kwee An dan Ma Hoa dan minta pertimbangan orang tua ini. Cin Hai yang tahu bahwa Kwee An tentu tidak berani bicara sendiri, telah mewakili pemuda itu. Eng Yang Cu tertawa bergelak-gelak ketika mendengar ini.

“Ha-ha-ha! Aku sudah tahu tentang hal ini dan telah berunding dengan Nelayan Cengeng. Tentu saja pinto merasa bersyukur sekali, dan pinto yakin bahwa murid Si Cengeng ini tentu seorang nona yang sangat baik, asal saja sifat cengeng dari gurunya tidak menurun kepadanya!”

Nelayan Cengeng tertawa bergelak.

“Eng Yang Cu, begitulah jika orang selamanya membujang! Tidak tahu akan sifat wanita. Wanita manakah yang tidak cengeng? Ha-ha-ha!”

Ketika mereka berempat sedang mengobrol gembira, tiba-tiba saja terdengar suara yang datangnya dari jauh sekali akan tetapi cukup jelas.

“Orang Turki dan kedua nona berada di bukit utara dekat tapal batas!”

Mendengar suara tanpa rupa ini, Cin Hai segera berlutut memberi hormat ke arah suara itu.

“Siapakah yang bicara dan memiliki khikang mukjijat itu?” tanya Eng Yang Cu.

“Suhu sendiri yang memberi tahu bahwa mereka berada di utara!” kata Cin Hai yang lalu mengangguk-anggukkan kepala menghaturkan terima kasih kepada gurunya.

Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu saling pandang dan mereka ini kagum sekali akan kelihaian Bu Pun Su yang telah dapat mengirim suara dari tempat jauh. Kwee An merasa girang sekali dan sesudah kedua orang tua itu berjanji hendak menghadiri perjodohan mereka, keduanya lalu pergi ke lain jurusan. Kwee An dan Cin Hai dengan hati girang lalu mempergunakan ilmu lari cepat untuk menuju ke utara, di mana kekasih mereka sudah menanti dengan hati rindu!

Kwee An dan Cin Hai yang melakukan perjalanan dengan cepat sekali, beberapa hari kemudian telah tiba di pegunungan di utara dekat tapal batas. Mereka mulai mencari-cari hingga akhirnya tibalah mereka di dalam sebuah dusun di dekat lereng tempat tinggal Yousuf.

Ketika mereka bertanya pada penduduk kampung tentang rumah seorang Turki dengan dua orang nona Han, mereka segera disambut oleh kepala kampung itu yang ternyata juga seorang Han dan berpakaian sebagai pembesar kampungan. Orang ini tubuhnya pendek dan ramah tamah sekali. Ia menyatakan kenal baik kepada Yousuf karena sering kali saling mengunjungi dan bercakap-cakap.

Bukan main girangnya hati Kwee An dan Cin Hai yang langsung menjadi berdebar ketika mengetahui bahwa rumah kekasih mereka sudah dekat di depan! Kepala kampung yang baik hati dan ramah tamah itu bahkan lalu mengantar mereka menuju ke rumah Yousuf yang berada di lereng sebelah kiri dusun itu.

Ketika dari jauh mereka telah melihat rumah kecil indah yang dikelilingi bunga-bunga itu tiba-tiba dari atas bukit yang tak jauh dari situ terdengar suara pekik burung merak yang nyaring sekali. Cin Hai teringat akan cerita Nelayan Cengeng tentang Merak Sakti, maka hatinya tertarik sekali dan ia lalu berkata kepada Kwee An,

“Saudara Kwee An, kau pergilah ke sana dulu dengan Chungcu (Kepala kampung), aku ingin sekali melihat burung aneh itu.”

Kwee An tersenyum dan ia maklum bahwa selain tertarik hatinya oleh burung merak itu, juga Cin Hai hendak menyembunyikan rasa girang dan malunya karena hendak bertemu dengan Lin Lin!

“Akan tetapi jangan terlalu lama,” katanya. “Aku tidak tanggung jawab kalau nanti adikku marah-marah!”

Cin Hai mendelikkan mata dan melompat cepat ke arah puncak bukit itu hingga membuat kepala kampung merasa heran dan kagum sekali! Kwee An sambil tersenyum-senyum melanjutkan perjalanan menuju ke rumah dengan hati berdebar.

Kebetulan sekali, ketika mereka sampai di dekat rumah, Kwee An melihat seorang gadis yang sedang menyirami kembang mawar hutan yang indah dan sedang mekar dengan segarnya. Gadis ini cantik jelita dan mengenakan pakaian bertitik-titik hijau dengan leher warna merah. Rambutnya yang hitam panjang itu disanggul ke belakang dan agak kusut karena tertiup oleh angin gunung, akan tetapi kekusutan rambutnya ini malah menambah kemanisannya.

Kwee An tiba-tiba berhenti dan memberi isyarat kepada kepala kampung itu supaya tidak mengeluarkan suara. Kemudian dia menghampiri gadis itu dengan meringankan tindakan kakinya dari belakang. Setelah berada dekat di belakang gadis itu, Kwee An sudah tidak dapat menahan lagi perasaan girang dan debaran jantungnya yang mengeras, kemudian mengeluarkan panggilan yang diucapkan dengan bibir gemetar,

“Hoa-moi...”

Ma Hoa cepat menengok sambil berdiri. Matanya yang indah dan lebar terbelalak, lantas wajahnya mendadak menjadi merah. Tanpa terasa lagi tempat air yang tadi dipegangnya terjatuh ke atas tanah dan hanya dapat berkata,

“Kau... kau... An-ko...”

Kemudian, setelah dua pasang mata itu saling bertemu dan saling pandang dalam seribu satu bahasa, dan sinar mata itu mewakili hati masing-masing yang melepas kerinduan dengan pandangan mesra, Ma Hoa menundukkan kepalanya, lalu berkata perlahan,

“Koko, mengapa baru sekarang kau datang?” Ucapan ini biar pun terdengar seakan-akan gadis itu menegur, akan tetapi bagi telinga Kwee An adalah sebuah pengakuan bahwa gadis itu telah lama merindukannya!

“Moi-moi, maafkanlah bahwa baru sekarang aku berhasil menemukan tempat ini. Kau semakin cantik dan manis, hingga bunga ini nampak buruk berada di dekatmu!”

Ma Hoa mengerling dengan tajam dan bibirnya tersenyum senang, karena wanita mana yang tak akan merasa bahagia dan bangga apa bila mendapat pujian dari kekasihnya?

Dalam kebahagiaan pertemuan ini, Kwee An sama sekali lupa bahwa dia datang dengan kepala kampung yang kini berdiri menjauhinya dan duduk di atas sebuah batu karena merasa jengah dan malu apa bila harus mendekati mereka. Juga Kwee An lupa untuk bertanya tentang Lin Lin atau Yousuf.

Sebaliknya Ma Hoa juga sama sekali tidak ingat untuk bertanya mengenai Cin Hai atau orang-orang lain. Pendek kata, pada saat itu, mereka merasakan bahwa di atas dunia ini hanya ada mereka berdua saja.

Tiba-tiba, ketika kedua teruna remaja ini sedang bercakap-cakap dengan suara bisikan mesra, terdengar bentakan keras dari dalam rumah kecil itu.

“Ada tamu datang! Silakan kau minum air teh, anak muda!”

Dan berbareng dengan bentakan ini tubuh Yousuf muncul dari pintu dan orang Turki yang berilmu tinggi ini lalu melempar sebuah poci yang tadi dipegangnya ke arah Kwee An! Melihat hal ini, kepala kampung yang tadi duduk segera bangkit berdiri dan memandang dengan hati kuatir. Dia tahu akan keanehan sikap orang Turki ini.

Ia juga pernah mendengar tentang lemparan poci teh dan mengerti pula akan maksudnya oleh karena dahulu pernah ada beberapa orang pemuda kampung yang tertarik dengan kecantikan kedua orang gadis itu dan datang pula ke situ. Akan tetapi, mereka ini pun mendapat sambutan lemparan poci teh yang membuat mereka lari tunggang langgang, oleh karena mereka tak sanggup menerima poci yang menyambar mereka bagai seekor burung yang dapat beterbangan dan bergerak-gerak!

Ternyata bahwa Yousuf menggunakan poci teh itu untuk mencoba pemuda yang berani mendekati Ma Hoa atau Lin Lin dan lemparan poci ini adalah semacam kepandaian sihir yang digerakkan oleh tenaga khikang.

Melihat menyambarnya poci teh ke arah kepalanya, Kwee An terkejut sekali karena dia telah merasa datangnya serangan angin sambaran benda itu. Namun Kwee An tidak saja sudah mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, bahkan sekarang setelah lama melakukan perjalanan dengan Cin Hai, ia mendapat petunjuk-petunjuk berharga dari pemuda itu dan kepandaiannya telah mengalami banyak kemajuan. Di samping itu, Cin Hai juga memberi petunjuk tentang penyempurnaan latihan lweekang hingga dalam hal tenaga lweekang dan khikang, Kwee An juga mendapat kemajuan pesat.

Melihat datangnya poci teh yang menyambar, Kwee An lalu mengulur tangan kanannya dan dia semakin terkejut ketika merasa betapa poci itu terdorong oleh tenaga yang kuat sekali. Akan tetapi dia dapat mengerahkan lweekang-nya dan menerima poci teh dengan baik, bahkan air teh yang di dalam poci sama sekali tidak tumpah keluar!

“Bagus, bagus! Ma Hoa, siapakah pemuda yang gagah ini?” tanya Yousuf yang segera melangkah menghampiri.

“Lekas kau minum air teh dari poci. Ini adalah Yo-peh-peh,” bisik Ma Hoa.

Tanpa ragu-ragu Kwee An melakukan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu dan dia minum air teh dari mulut poci begitu saja tanpa cawan. Yousuf makin girang dan tertawa bergelak-gelak.

“Yo-peh-peh, ini adalah An-koko yang sering kali kau dengar namanya itu.”

Yousuf terkejut dan tahu bahwa dia tadi telah salah sangka. Maka cepat dia menghampiri dan membungkuk. “Maaf, Kwee-taihiap, aku tua bangka sembrono sudah berlaku kurang ajar.”

Akan tetapi, dengan hormat sekali Kwee An lalu menjura sesudah memberikan poci teh kepada kekasihnya dan berkata, “Yo-peh-peh, setelah Hoa-moi menyebut kau Peh-peh, maka kau bukanlah orang lain dan perkenankanlah aku menyebut Peh-peh pula padamu yang baik hati dan berkepandaian tinggi!”

Yousuf makin girang melihat sikap yang sopan santun dari pemuda ini, maka dia segera maju memeluknya. “Bagus, Ma-Hoa tidak keliru memilih. Memang Nelayan Cengeng itu pandai memilih jodoh muridnya!”

Ia lalu melihat kepala kampung itu dan segera memanggilnya, dan beramai-ramai mereka lalu masuk ke dalam rumah.

“Di mana Lin Lin?” tanya Kwee An dan baru sekarang ia teringat kepada adiknya.

Ma Hoa memandangnya dengan mata berseri, lalu menjawab, “Entahlah, semenjak tadi dia keluar dengan Sin-kong-ciak. Sebentar lagi tentu dia datang. Dan di manakah adanya Sie-taihiap? Mengapa ia tidak datang bersamamu?”

“Kebetulan sekali! Dia tadi mendengar suara kong-ciak dan pergi mencarinya, tentu dia telah bertemu dengan Lin Lin!”

Kemudian ketiga orang itu saling menceritakan tentang pengalaman mereka, disaksikan dan didengar oleh kepala kampung…..

********************

Ketika Cin Hai lari cepat ke arah puncak di mana dia mendengar burung merak memekik nyaring, dia mendengar lagi pekik burung merak itu yang agaknya sedang marah. Cin Hai mempercepat larinya dan ketika dia tiba di puncak, dia melihat pertempuran yang hebat antara seekor burung merak yang bulunya indah dan bertubuh besar sekali melawan seorang hwesio tinggi besar. Alangkah kaget dan girangnya ketika melihat bahwa hwesio itu bukan lain Hai Kong Hosiang!

Ternyata bahwa hwesio jahat ini dapat mengetahui tempat tinggal Yousuf, Lin Lin dan Ma Hoa. Maka timbullah niatnya hendak mengganggu gadis itu, terutama Lin Lin oleh karena ia tahu bahwa gadis ini adalah puteri Kwee-ciangkun yang menjadi musuh besarnya!

Demikianlah, saat ia mengintai ke bukit itu, kebetulan sekali ia melihat Lin Lin dan burung merak, maka segera ia muncul untuk menangkap Lin Lin. Tidak dinyana, burung merak itu dengan ganas sekali telah menyerangnya dan sebentar saja manusia dan burung ini bertempur sengit.

Ketika Cin Hai tiba di situ, burung merak sedang menyambar-nyambar dari atas dan Hai Kong Hosiang melawan dari bawah. Pertempuran berjalan ramai sekali, akan tetapi pada saat Cin Hai memperhatikan, dia menjadi terkejut oleh karena melihat betapa gerakan burung itu kaku sekali, seakan-akan telah mendapat luka berat!

Memang benar, sebelum Cin Hai datang, Hai Kong Hosiang yang kosen itu telah berhasil melukai Sin-kong-ciak dengan sebuah pukulan tangannya. Pukulan ini tepat mengenai dada kanan Merak Sakti itu dan kalau saja Merak Sakti tidak mempunyai kekebalan dan tenaga luar biasa, pasti ia telah tewas dan dadanya hancur pada saat itu juga! Namun, Merak Sakti telah mendapat gemblengan luar biasa dari Bu Pun Su dan sute-nya yang sakti dan sudah menjadi seekor binatang sakti yang memiliki kekuatan luar biasa maka pukulan ini biar pun telah melukainya, akan tetapi tidak dapat membunuhnya.

Betapa pun juga, kepandaian Hai Kong Hosiang terlampau tinggi baginya dan kini meski pun dia menyambar-nyambar namun dia tak berdaya menyerang Hai Kong Hosiang dan bahkan tiap kali mereka bergebrak hampir saja Merak Sakti itu terkena serangan dahsyat dari Hai Kong Hosiang!

Melihat ini Cin Hai menjadi marah dan sekali loncat saja ia telah berada di dekat tempat pertempuran. Alangkah herannya ketika melihat seekor kuda yang dikenalnya baik-baik berada pula di situ, makan rumput hijau tanpa mempedulikan.

Kuda itu adalah kuda Pek-gin-ma atau Kuda Perak Putih kepunyaan Pangeran Vayami yang dulu telah dibawa oleh Bu Pun Su untuk dikembalikan kepada yang punya. Ia dapat menduga bahwa kuda ini terjatuh ke dalam tangan Hai Kong Hosiang dan dugaannya memang betul. Hai Kong Hosiang datang ke bukit itu sambil menunggang Pek-gin-ma yang semenjak dia pergi dengan Pangeran Vayami ke Pulau Kim-san-to, memang sudah berada di tangannya dan dipelihara baik-baik di kota raja.

“Hai Kong Hosiang, mari kita menentukan perhitungan terakhir hari ini!” kata Cin Hai yang menyambung ucapannya itu dengan suara halus ke arah Merak Sakti.

“Sin-kong-ciak-ko, biarlah siauwte menghadapi hwesio gundul kurang ajar ini dan engkau beristirahatiah dulu!”

Merak Sakti ini agaknya maklum bahwa pemuda yang datang adalah seorang yang boleh dipercaya, maka ia lalu terbang ke atas dahan pohon di dekat situ dan setelah hinggap di sana dia lalu menggunakan paruh serta kepalanya untuk mengusap-usap dada kanannya yang terluka dan terasa sakit.

Ketika Hai Kong Hosiang melihat siapa yang datang, bukan kepalang marahnya.

“Bangsat besar, akhirnya aku dapat juga bertemu dengan engkau!” katanya dan sedikit pun dia tidak merasa jeri.

Memang dia tahu bahwa kepandaian pemuda ini tinggi sekali sebagaimana sudah dia rasakan ketika mereka bertempur di atas perahu Pangeran Vayami, akan tetapi kini dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi supek-nya.

Setelah mengeluarkan makian marah, Hai Kong Hosiang langsung maju dengan tongkat ularnya. Cin Hai mencabut pedangnya Liong-coan-kiam dan menangkis hingga sebentar saja dua orang musuh besar ini sudah bertempur mati-matian di atas bukit itu, disaksikan oleh Sin-kong-ciak yang bertengger di atas dahan pohon.

Setelah bertempur beberapa puluh jurus, keduanya tercengang dan kaget sekali melihat kemajuan ilmu silat lawan. Akan tetapi kekagetan Hai Kong Hosiang lebih besar lagi oleh karena tenaga lweekang-nya yang telah dilatih sempurna itu tidak berdaya menghadapi Cin Hai! Ia merasa betapa pemuda ini sekarang memiliki tenaga lweekang yang berlipat ganda hebatnya dari pada dulu.

Dan ketika Cin Hai membuka serangan dengan ilmu pedangnya yang baru diciptakannya sendiri itu, maklumlah Hai Kong Hosiang bahwa pemuda ini sekarang sudah memiliki ilmu kepandaian hampir menyamai tingkat Bu Pun Su sendiri! Diam-diam dia menjadi bingung dan jeri terutama sekali ketika Cin Hai dengan senyum sindir berkata,

“Hai Kong, sekarang kau harus menghadap Supek-mu!”

Hai Kong Hosiang maklum bahwa supek-nya telah meninggal dunia dan hal ini membuat ia semakin jeri lagi. Ia tak perlu bertanya bagaimana supek-nya meninggal namun dapat menduga bahwa tentulah pemuda ini yang merobohkannya, kalau tidak, tidak nanti Cin Hai mengeluarkan kata-kata yang bermaksud melemahkan pertahanannya dan membuat kacau pikirannya itu.

Dengan nekad Hai Kong Hosiang kemudian menyerang lagi dengan Ilmu Silat Tongkat Jian-coa Tung-hoat atau Ilmu Tongkat Seribu Ular yang menjadi kebanggaannya. Akan tetapi, serangan dengan ilmu tongkat yang telah dikenal baik-baik oleh Cin Hai ini, hanya memperlebar senyum di mulut pemuda itu saja.

Ketika Cin Hai mengeluarkan seruan keras dan menggerakkan jurus ke dua puluh satu dari ilmu pedangnya, mendadak tongkat di tangan Hai Kong Hosiang terlempar ke udara dan terdengar sayap mengibas karena saat melihat tongkat hwesio itu melayang ke atas, Merak Sakti cepat menyambarnya dan membawa terbang tongkat itu untuk dilempar jauh ke dalam sebuah jurang yang curam sekali!

Hai Kong Hosiang menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia berjungkir balik dengan kepala di atas tanah dan kedua kaki bergerak-gerak di atas! Gerakannya sangat cepat dan hebat, dan kedua kakinya mengeluarkan tenaga luar biasa karena anginnya saja menyambar-nyambar membuat daun-daun pohon yang bergantungan di situ bergoyang-goyang bagai tertiup angin keras!

Namun Hai Kong Hosiang tak dapat menakut-nakuti Cin Hai dengan ilmunya ini, bahkan pemuda ini lalu dengan tenangnya menyimpan kembali pedangnya, oleh karena dia tidak mau disebut licin akibat melawan seorang bertangan kosong dengan senjata di tangan! Ia maju menghadapi Hai Kong Hosiang yang telah berdiri dengan terbalik itu.

Hai Kong Hosiang mengeluarkan seruan keras dan mengerikan kemudian kedua kakinya menyambar dalam serangan-serangan kilat dan maut! Cin Hai segera menyambutnya dengan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang ajaib, dan benar saja. Ilmu silat yang dilakukan dengan tubuh terbalik ini tidak berdaya menghadapi Pek-in Hoat-sut dan setiap kali hawa pukulan kaki itu menyambar dan terpukul balik oleh uap putih yang keluar dari sepasang lengan Cin Hai, maka kaki Hai Kong lantas terpental kembali yang membuat tubuhnya bergoyang-goyang.

Cin Hai maklum bahwa dalam keadaan terbalik itu, agak sulit baginya untuk mencari jalan darah lawan dalam keadaan jungkir balik itu. Kalau saja Hai Kong Hosiang bertempur sambil berdiri di atas kedua kakinya, tak akan sukar agaknya bagi dia untuk merobohkan hwesio itu.

Cin Hai yang sejak tadi memperhatikan gerakan Hai Kong Hosiang, tiba-tiba mengambil keputusan untuk meniru gerakan lawannya ini. Segera dia berseru keras dan berjungkir balik, kepala di atas tanah dan kedua kaki di atas. Maka bertempurlah mereka dalam keadaan aneh itu dengan hebatnya.....


Kembali Hai Kong Hosiang menjadi terkejut setengah mati. Bagaimana pemuda ini dapat melakukan ilmu silat ini dengan sama baiknya?

“Siluman!” bentaknya dengan hati ngeri dan menyerang kembali dengan nekad.

Tubuhnya berputar-putar di atas kepala dan kedua kakinya menyambar-nyambar, akan tetapi oleh karena kini Cin Hai juga berdiri di atas kepalanya seperti dia, sedangkan ilmu silatnya ini khusus diadakan untuk menghadapi seorang yang berkelahi dengan normal, maka semua pukulan kakinya ini menjadi ngawur. Kaki yang tadinya harus menyerang ke pundak lawan yang berdiri biasa, kini menyerang tumit kaki Cin Hai.

Hai Kong Hosiang benar-benar bingung hingga kepalanya menjadi pening. Ia lalu berseru keras dan berdiri lagi di atas kedua kakinya, akan tetapi Cin Hai juga sudah berdiri dan menyerangnya dengan hebat.

Menghadapi Pek-in Hoat-sut dengan berdiri di atas kedua kakinya, Hai Kong Hosiang tak kuat menahan lagi dan dengan telak jari tangan Cin Hai berhasil menotok pundaknya dan tangan kiri anak muda itu menepuk pinggangnya. Hai Kong Hosiang tanpa mengeluarkan suara lalu roboh terbanting dalam keadaan lumpuh kaki tangannya.

Sebelum Cin Hai sempat mengeluarkan kata-kata atau menurunkan tangan keras untuk menghabisi jiwa hwesio itu, tiba-tiba Merak Sakti turun menyambar. Agaknya Merak Sakti ini hendak membalas dendamnya oleh karena dadanya dilukai oleh Hai Kong Hosiang, dan kini sambil memekik-mekik marah dia menyambar dan mematuk ke arah kedua mata Hai Kong Hosiang.

Biar pun kedua kaki tangannya telah lumpuh, namun hwesio ini masih mempunyai tenaga untuk mengguling-gulingkan tubuhnya sehingga ia dapat berhasil mengelak paruh merak yang hendak mematuk matanya.

Cin Hai melangkah mundur, kemudian berdiri di dekat Pek-gin-ma yang masih enak-enak makan rumput. Sambil bertolak pinggang Cin Hai melihat pergulatan ini dan berkata,

“Kong-ciak-ko, jangan kau habisi jiwanya. Itu bukan tugasmu.”

Setelah beberapa kali menggulingkan tubuhnya untuk menghindarkan sepasang matanya dari serangan Merak Sakti, akhirnya Hai Kong Hosiang terpaksa menyerah juga. Sambil mengeluarkan jeritan ngeri, Hai Kong Hosiang masih berusaha mengelak, akan tetapi dia terlambat. Patuk yang merah dan kecil runcing dari Merak Sakti itu telah bergerak dua kali dan kedua mata Hai Kong Hosiang menjadi buta!

Pada saat itu pula terdengar seruan girang, “Hai-ko!”

Cin Hai cepat berpaling dan melihat bahwa yang berseru itu tak lain adalah Lin Lin! Gadis ini ternyata tadi sudah terjun ke dalam sebuah jurang dan bersembunyi ketika diserang hebat oleh Hai Kong Hosiang! Lin Lin maklum bahwa ia bukan lawan hwesio ini, maka ia berusaha melarikan diri dan memanggil Ma Hoa dan Yousuf untuk membantunya, akan tetapi ia kehabisan jalan dan akhirnya jalan satu-satunya ialah terjun ke dalam jurang itu! Untung baginya bahwa jurang itu dangkal dan pada saat itu, Sin-kong-ciak sudah datang membelanya.

“Lin Lin...!” Cin Hai berseru girang sekali. Mereka lalu saling berpegangan tangan dengan hati penuh kebahagiaan. “Lihat, Hai Kong yang jahat pun harus makan buah yang sudah ditanamnya sendiri!” Mereka sambil berpegang tangan lalu menonton betapa Merak Sakti menyerang Hai Kong Hosiang.

Setelah berhasil membalas sakit hatinya, Merak Sakti terbang melayang ke angkasa dan memekik-mekik girang. Dan pada saat itu, dari lereng bukit berlari-lari Kwee An, Ma Hoa, dan Yousuf menuju ke tempat itu. Mereka juga mendengar pekik Merak Sakti dan merasa kuatir, maka ketiga orang ini lalu berlari cepat menyusul Cin Hai.

Melihat Hai Kong Hosiang sudah rebah di tanah dengan mata buta dan tak berdaya lagi, Kwee An segera mencabut pedangnya dan hendak menusuk tubuh musuh besarnya itu.

Akan tetapi tiba-tiba Ma Hoa menjerit, “Koko, jangan!”

Kalau orang lain yang mencegah, mungkin takkan dihiraukan oleh Kwee An yang sedang merasa marah sekali. Akan tetapi suara Ma Hoa ini memiliki pengaruh yang melemaskan tubuhnya dan memadamkan api kemarahannya.

“Jangan, An-ko, biarlah kita ampuni jiwa anjing ini supaya jangan menodai kegembiraan pertemuan kita!”

Kwee An memandang kepada kekasihnya lama sekali, kemudian ia menghela napas dan segera berpaling kepada Lin Lin. Ia melihat betapa adik perempuannya yang masih saling berpegang tangan dengan Cin Hai juga tidak berniat menurunkan tangan membunuh Hai Kong Hosiang, maka mereka lalu hanya saling pandang dengan bingung.

Yousuf tertawa. “'Anak-anak! Demikianlah seharusnya orang yang memiliki pribudi tinggi. Jangan terlalu mengandalkan kekuatan dan kepandaian untuk secara mudah mengambil nyawa orang lain, betapa besar pun dosanya terhadap kita! Ada kekuasaan terbesar di dunia ini yang akan mengadili segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dan biarlah Dia mengatur sendiri hukuman yang akan ditimpakan kepadanya!”

Cin Hai merasa kagum sekali mendengar ucapan ini, dan Lin Lin lalu memimpin tangan kekasihnya untuk mendekati Yousuf. “Ayah, inilah calon mantumu dan Hai-ko, ketahuilah bahwa orang tua ini adalah ayah angkatku!”

Cin Hai memberi hormat dan dibalas dengan selayaknya oleh Yousuf.

Mendadak tubuh Hai Kong Hosiang bergerak dan bergulingan sambil mulutnya berteriak, “Bangsat-bangsat rendah, kalian kira aku tak akan dapat membalas dendam? Tunggulah pembalasanku!”

Sambil memaki-maki dan berteriak-teriak, Hai Kong Hosiang lalu menggulingkan dirinya cepat sekali dan tahu-tahu tubuhnya terguling masuk ke dalam sebuah jurang yang amat dalam!

“Nah, begitulah hukuman seorang jahat!” kata lagi Yousuf dan dia lalu mengajak mereka semua kembali ke rumahnya. Cin Hai tak lupa membawa Pek-gin-ma bersama mereka.

Malam yang indah. Bulan bersinar gemilang dan penuh hingga keadaan malam itu sama dengan siang, akan tetapi lebih indah. Daun-daun pohon menghitam dan mendatangkan pemandangan yang menarik sekali.

Di bawah pohon nampak dua orang muda berdiri dan bercakap-cakap dengan asyik dan mesra. Mereka ini adalah Lin Lin dan Cin Hai. Dengan suara penuh cinta kasih, kedua orang ini saling menuturkan pengalaman masing-masing diselingi pandangan mata yang menyatakan betapa besarnya cinta kasih mereka.

Ketika Lin Lin mendengar tentang nasib Ang I Niocu, gadis ini menangis karena terharu dan kasihan sehingga Cin Hai lalu mengelus dan membelai rambutnya sambil berkata,

“Lin Lin, kita tak boleh melupakan Ang I Niocu yang sudah mengorbankan jiwanya dalam usahanya mempertemukan kita. Akan tetapi, kita pun tak boleh terlalu bersedih. Biar pun dia telah pergi ke alam akhir, akan tetapi dia juga meninggalkan sesuatu untuk kita buat sebagai kenangan.”

Sesudah berkata demikian, Cin Hai lalu mengeluarkan potongan kain merah dari pakaian Ang I Niocu yang dia temukan di permukaan air laut itu. Lin Lin menahan sedu sedannya dan mendekap kain itu ke dadanya.

“Enci Im Giok....” bisiknya pelan, “kau... kau di manakah?” Kemudian, matanya terbelalak memandang kepada Cin Hai sambil berkata, “Engko Hai, aku tidak percaya bahwa Enci Im Giok telah meninggal dunia! Kalau aku tidak melihat jenazahnya dengan mata kepala sendiri aku tidak percaya jika seorang seperti dia dapat meninggal dunia!”

Cin Hai menghela napas dan menjawab lirih, “Mudah-mudahan saja betul dugaanmu itu. Akan tetapi, menghadapi ledakan dan kebakaran hebat semacam itu, manusia manakah yang sanggup menyelamatkan dirinya?”

Untuk beberapa lama mereka berdiam diri saja, seakan-akan berdoa kepada Thian Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Ang I Niocu yang mereka sayangi. Kemudian, sesudah keharuan hatinya agak mereda, Lin Lin lalu menceritakan kepada kekasihnya mengenai pertemuannya dengan Bu Pun Su dan tentang pedang pendek Han-le-kiam yang dibuat oleh kakek sakti dan diberikan kepadanya. Kemudian ia berkata,

“Hai-ko, Suhu-mu berpesan agar supaya engkau memberi pelajaran ilmu pedang padaku, karena setelah aku memiliki pedang ini aku berhak pula mempelajari ilmu pedangnya.”

Cin Hai menghela napas dan berkata, “Lin-moi, ketahuilah. Dulu ketika aku mempelajari ilmu silat dari Suhu, aku diharuskan bersumpah.”

“Aku pun bersedia bersumpah!” memotong Lin Lin sambil cemberut.

Cin Hai tersenyum. “Bukan begitu maksudku Lin-moi. Aku dulu harus bersumpah bahwa selain harus mempergunakan ilmu kepandaian itu untuk kebenaran dan keadilan juga aku tidak boleh mengajarkan kepada orang lain, siapa pun juga orang itu.”

“Apa kau tidak percaya kepadaku?” Lin Lin memotongnya lagi.

Cin Hai memegang lengan kekasihnya. “Kau harus belajar bersabar, Lin-moi. Aku hanya hendak menyatakan kepadamu bahwa apa bila bukan atas kehendak Suhu sendiri, walau pun di dalam hati aku ingin sekali memberi pelajaran kepadamu, namun aku tidak akan berani. Sekarang Suhu bahkan menyuruh aku memimpinmu, tentu saja aku merasa amat girang dan berbahagia! Akan tetapi, oleh karena telah menjadi keharusan, kau pun harus mengucapkan sumpah, Lin-moi. Dengan demikian, sungguh pun Suhu tidak menyaksikan sendiri, akan tetapi kita tidak melakukan pelanggaran, oleh karena syarat terutama bagi seorang murid kepada gurunya yang terpenting ialah ketaatan dan kesetiaan!”

Lin Lin mengangguk girang. Kemudian ia lalu memegang pedang pendek Han-le-kiam itu dengan dua tangannya, diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala sambil berlutut. Dengan suaranya yang nyaring dan merdu, dara jelita itu bersumpah,

“Teecu Kwee Lin, dengan disaksikan oleh Pedang Han-le-kiam pemberian Suhu Bu Pun Su, dan disaksikan pula oleh Hai-ko, dan oleh bulan purnama, oleh langit dan bumi, teecu bersumpah bahwa kalau teecu sudah mempelajari ilmu silat dan ilmu pedang dari Hai-ko sebagai wakil Suhu Bu Pun Su, kepandaian itu akan teecu gunakan semata-mata untuk menjaga diri dari serangan orang jahat, untuk menolong sesama hidup yang menderita, dan untuk membasmi penjahat-penjahat dan penindas rakyat.”

Cin Hai menyaksikan sumpah ini sambil berdiri di bawah pohon dan memandang dengan wajah sungguh-sungguh. Kemudian mereka lalu kembali ke pondok kecil di lereng bukit itu.

Keadaan di bukit itu demikian indahnya hingga Cin Hai dan Kwee An merasa kerasan sekali. Mereka mengambil keputusan untuk berdiam di tempat indah itu beberapa bulan sebelum mengajak dua orang gadis kekasih mereka kembali ke pedalaman.

Dan mulai keesokan harinya Cin Hai mengajarkan ilmu-ilmu silatnya yang dia dapatkan dari Bu Pun Su. Akan tetapi, untuk dapat memiliki kepandaian mengenai dasar ilmu silat sebagaimana yang sudah dia miliki, bukanlah pelajaran yang dapat dipahamkan dalam beberapa bulan saja, maka Cin Hai lalu menurunkan Ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sin-na kepada Lin Lin. Juga memberi pelajaran ilmu pedang yang dulu sudah diciptakannya sendiri itu.

“Apakah namanya kiam-hoat (ilmu pedang) ini?” tanya Lin Lin.

Cin Hai memandang dengan sinar mata bodoh, oleh karena sesungguhnya ia sendiri juga tidak tahu. Ia telah ciptakan ilmu pedangnya dan bahkan ilmu pedangnya yang luar biasa itu telah berjasa ketika digunakan dalam pertempuran hebat menghadapi Kiam Ki Sianjin yang tangguh, akan tetapi sampai sekarang, ia sendiri masih belum tahu apa nama ilmu pedang ini.

“Ehh, kenapa kau hanya bengong saja?” Lin Lin bertanya. “Kau bilang bahwa kau sendiri pencipta ilmu pedang ini, masa tidak tahu namanya?”

“Lin-moi, bayi yang baru terlahir tidak membawa nama pula.”

Lin Lin tertawa geli. “Jadi kau menganggap ilmu pedangmu ini seperti bayi? Kalau begitu kau terlambat memberi nama kepada bayimu! Jangan-jangan dia sudah jenggotan masih belum mempunyai nama!”

Cin Hai tertawa juga mendengar kelakar ini, kemudian dia lalu berkata dengan sungguh-sungguh,

“Lin-moi, ilmu pedang ini kuciptakan atas anjuran dan desakan Ang I Niocu, kalau tidak dia yang mendesak dan memberi saran, mungkin sampai sekarang atau selamanya aku tak akan bisa menciptakan kiam-hoat sendiri. Pada waktu aku menciptakan kiam-hoat ini, selain Ang I Niocu yang memberi petunjuk-petunjuk, juga aku mendapat bantuan yang amat berharga dari daun-daun bambu.”

Lin Lin merasa heran sekali mendengar ini, sehingga Cin Hai harus menceritakan bagai mana dia mencipta ilmu pedangnya itu, dan betapa Ang I Niocu telah memberi petunjuk-petunjuk pula tentang gaya gerakan untuk memperindah kiam-hoatnya.

“Aku sudah mempelajari Tari Bidadari dari Ang I Niocu dan karenanya, selain suka akan seni suara, aku pun suka akan seni tari. Menurut pikiranku, ilmu silat tiada jauh bedanya dengan seni tari, atau boleh kusebut saja bahwa ilmu silat adalah seni tari yang tidak saja mempunyai gerakan indah dan manis dipandang, akan tetapi juga memerlukan bakat dan darah seni untuk dapat melakukannya dengan sempurna. Bedanya antara keduanya itu, yaitu antara tarian biasa dengan ilmu silat adalah bahwa tarian hanya menggambarkan keindahan, sebaliknya ilmu silat khusus mengatur gerakan kaki tangan yang seluruhnya ditujukan untuk menjadi gerakan yang cepat, baik dalam menyerang dan menangkis atau mengelak.”

“Eh, ehh, Hai-ko, biar pun uraianmu itu amat menarik hati, akan tetapi telah melantur jauh dari pada inti percakapan kita semula,” kata Lin Lin menggoda sambil tersenyum karena melihat betapa pandangan mata pemuda itu telah melayang jauh seperti orang melamun. “Kalau kau bercakap seperti ini, kau seperti seorang kakek-kakek saja.”

Cin Hai bagaikan terbetot kembali dari alam renungan dan turut tersenyum pula. “Oh ya, kita sedang mempercakapkan soal nama ilmu pedang kita. Hm, apakah gerangan nama yang terbaik? Akan tetapi, apa pula artinya memberi nama yang indah?” ia lalu mencela sendiri.

Tak tertahan pula geli hati Lin Lin hingga ia tertawa. “Bagaimana sih kau ini? Berbantah-bantah seorang diri, seolah-olah dalam dirimu terdapat dua orang yang sekarang sedang bertengkar!”

“Biarlah kuberi nama Ilmu Pedang Daun Bambu saja!”

Sepasang mata Lin Lin yang indah itu bersinar gembira. “Alangkah lucu dan anehnya nama itu. Ilmu Pedang Daun Bambu! Aneh seperti... penciptanya!”

Cin Hai memandang dengan mata terbelalak. “Apa? Apakah dalam pandanganmu aku ini orang aneh?”

“Memang, aneh sekali! Karena di seluruh dunia ini tidak mungkin aku berjumpa dengan seorang pemuda seperti engkau. Engkau berbeda dengan orang-orang lain, bukankah itu aneh namanya?”

“Kalau begitu sama saja dengan kau. Aku pun belum pernah dan rasanya takkan pernah bertemu dengan gadis seperti kau, semanis kau, secantik kau, dan se... nakal engkau!”

Lin Lin mengulurkan tangannya dan jari-jari yang halus itu mencubit lengan Cin Hai yang tertawa dengan hati beruntung.

“Sudahlah, Moi-moi, kalau kita bersendau-gurau saja, sampai kapan engkau akan dapat menghafal pelajaran Kiam-hoat-mu?”

“Tapi aku tidak suka nama kiam-hoat itu. Ilmu Pedang Daun Bambu, sungguh lucu! Kalau aku bertanding dengan seorang lawan mempergunakan ilmu pedang ini, kemudian lawan itu kalah sehingga aku menjadi bangga, tetapi apa bila lawan yang kalah itu menanyakan nama ilmu pedangku, bukankah kebanggaanku akan musnah dan terganti rasa malu bila aku menyebutkan bahwa ilmu pedang yang hebat itu, yang telah dapat mengalahkannya, namanya tak kurang tak lebih hanya Ilmu Pedang Daun Bambu saja? Murah sekali!”

“Apa yang murah?”

“Daun bambu itu!”

Cin Hai hanya tertawa. “Kalau begitu, biarlah ilmu pedangku ini akan dirubah sedikit untuk sekalian disesuaikan dengan gerakan-gerakanmu serta dengan pedangmu yang pendek ini. Kemudian, setelah kau dengan aku menciptakan ilmu pedang baru berdasarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, kau lalu memberi nama sendiri. Bagaimana?”

Bersinar-sinar mata Lin Lin mendengar ini. “Bagus! Hai-ko! Bagus sekali, bahkan aku sudah dapat nama itu!”

Cin Hai terheran. ”Sudah ada namanya? Ini lebih aneh lagi! Bayinya belum terlahir sudah diberi nama! Apakah namanya?”

“Namanya Han-le Kiam-sut, sesuai dengan nama pedang pemberian Suhu.”

Cin Hai merasa girang karena menurut pikirannya, nama itu pun baik dan cocok sekali. Begitulah, mulai saat itu Cin Hai mengajar ilmu pedang kepada Lin Lin, berdasarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, namun diadakan perubahan di sana-sini untuk disesuaikan dengan pedang pendek di tangan Lin Lin.

Memang gerakan-gerakan pedang pendek berbeda dengan pedang panjang, oleh karena pedang pendek yang merupakan sebilah belati atau pisau itu harus digunakan lebih cepat supaya jangan didahului oleh ujung senjata yang lebih panjang. Senjata yang pendek ini harus dipergunakan dalam pertempuran secara mendekat dan rapat baru dapat berhasil, dan ini pun ada kebaikannya, karena dalam menghadapi seorang lawan yang bersenjata toya, lebih menguntungkan apa bila menghadapinya secara rapat sehingga gerak senjata yang panjang itu menjadi kurang leluasa. Sudah tentu hal ini membutuhkan keberanian dasar dan ketenangan serta kewaspadaan, juga terutama sekali harus memiliki ginkang (ilmu meringankan badan) yang tinggi hingga gerakan bisa dilakukan dengan lincah dan cepat.

Akan tetapi, Lin Lin memang sudah mempelajari dasar-dasar ilmu silat yang cukup baik dan tinggi serta ginkang-nya memang sudah hebat, apa lagi kini mendapat petunjuk dan latihan lweekang dan ginkang, maka dalam beberapa hari saja ilmu kepandaiannya telah maju dengan pesatnya.

Tak hanya Cin Hai dan Lin Lin yang hidup penuh kebahagiaan di lereng bukit yang indah itu. Kwee An dan Ma Hoa juga hidup dengan penuh kebahagiaan. Mereka berdua saling mencinta dan saling mengindahkan, saling menghormati dan seperti halnya Cin Hai dan Lin Lin, kedua teruna remaja ini pun bergaul dengan mesra akan tetapi penuh kesopanan dan jangankan dalam perbuatan, bahkan di dalam pikiran pun sama sekali tidak terdapat hal-hal yang melanggar norma kesusilaan.

Keadaan ini membuat Yousuf merasa girang dan kagum sekali. Diam-diam orang tua ini, seperti halnya orang-orang tua lain, amat memperhatikan pergaulan anak-anak muda itu. Tadinya timbul juga perasaan curiga dan tidak senang melihat pergaulan yang bebas itu, yang tidak dapat dilarangnya oleh karena memang sudah biasa bagi orang-orang gagah untuk bergaul secara bebas.

Akan tetapi, melihat betapa keempat anak muda itu bergaul dengan penuh kesopanan, ia menjadi amat kagum. Makin yakin dan pasti perasaan hatinya bahwa mereka itu memang cocok untuk menjadi jodoh masing-masing, sama-sama cakap, sama-sama gagah, dan jsama-sama sopan pula!

Biar pun selalu memilih tempat terpisah dari Lin Lin dan Cin Hai, tiap hari Kwee An dan Ma Hoa berjalan-jalan di pegunungan yang luas itu, menikmati keindahan tamasya alam sambil membicarakan mengenai ilmu silat. Tidak jarang mereka berlatih bersama, saling mengisi kekurangan dan saling belajar. Pada saat itu, tingkat kepandaian Kwee An lebih tinggi setingkat dari Ma Hoa, maka dia lalu memberi pelajaran kepada kekasihnya itu.

Telah beberapa hari ini, Ma Hoa selalu melepaskan rambutnya yang hitam dan kering indah di atas pundaknya. Rambutnya yang amat indah melambai-lambai tertiup angin dan mengeluarkan keharuman bunga yang selalu menghias rambutnya. Hal ini terjadi sejak malam terang bulan pada waktu ia berjalan-jalan bersama Kwee An bermandikan cahaya bulan yang sejuk.

Angin gunung bertiup perlahan dan tiba-tiba saja ikatan rambut Ma Hoa terlepas, hingga rambutnya itu terurai ke atas pundaknya. Kebetulan sekali dia berdiri menghadapi bulan hingga mukanya tertimpa cahaya sepenuhnya. Ketika ia menggunakan kedua tangannya hendak menyanggul dan mengikat rambutnya, Kwee An yang sedang berdiri memandang padanya dengan mata terbelalak segera mengangkat tangan berkata,

“Jangan... jangan sanggul rambutmu, Hoa-moi, biarkan saja...”

“Eh, ehh, kau kenapa, An-ko?” tanya Ma Hoa dengan heran sambil melepaskan kembali rambutnya yang telah dipegangnya.

“Kau... kau nampak cantik sekali dalam keadaan seperti ini, Moi-moi. Dengan rambutmu yang halus hitam berombak-ombak di sekitar lehermu dan melambai-lambai tertiup angin, seakan-akan setiap lembar rambut itu hidup dan bernyawa, kau seperti seorang bidadari yang baru turun dari surga. Demi segala kecantikan dan keindahan, jangan kau sanggul rambutmu, Moi-moi, biarkan saja terurai di atas kedua pundakmu!”

Mata Ma Hoa sampai bertitik dua butir air mata karena merasa amat terharu dan girang mendengar pujian yang keluar dari mulut kekasihnya ini dan semenjak saat itu dia berjanji tidak akan menyanggul rambutnya lagi. Tentu saja dia tidak memberi tahu kepada orang lain tentang hal ini dan hanya mengatakan bahwa dia lebih suka mengurai rambutnya.

Lin Lin dan Cin Hai, begitu pula Yousuf, menyatakan kagumnya karena dengan mengurai rambutnya yang berombak menghitam itu sesuai sekali dengan potongan wajahnya yang membulat telur.

Pada suatu hari, pada saat Kwee An bersama Ma Hoa sedang berdiri sambil mengagumi pemandangan di sebuah lereng yang baru kali itu mereka datangi, menikmati keindahan yang ditimbulkan oleh matahari yang baru muncul sehingga indah luar biasa itu, tiba-tiba mereka melihat dua orang mendaki bukit dengan tindakan kaki cepat sekali. Keduanya merasa terkejut oleh karena kedua orang itu berlari cepat sekali, tanda ginkang mereka sudah mencapai tingkat tinggi.

Keduanya lalu berdiri menunggu dengan hati berdebar-debar dan menduga-duga, siapa gerangan orang asing itu. Ketika mereka datang dekat Kwee An dan Ma Hoa, ternyata bahwa mereka adalah seorang hwesio gundul yang tua dan seorang laki-laki muda yang rambutnya juga panjang terurai tertiup angin.

Di samping berambut panjang, laki-laki itu pun berpakaian secara aneh sekali. Potongan baju itu berbeda dengan pakaian bangsa Han yang biasanya dipakai orang. Juga kakinya mengenakan sepatu yang panjang sampai ke atas betis. Akan tetapi gerak-gerik laki-laki ini gesit dan cepat, agaknya kepandaiannya tidak di sebelah bawah hwesio gundul itu.

Agaknya kedua pendaki bukit yang aneh itu pun sudah melihat Kwee An dan Ma Hoa, karena mereka segera menuju ke arah kedua anak muda itu. Setelah sampai di hadapan Kwee An dan Ma Hoa yang memandang heran, hwesio tua itu lalu menjura dan bertanya,

“Jiwi mohon tanya di mana rumah seorang Turki bernama Yousuf?”

Kwee An dan Ma Hoa saling pandang, sedangkan orang muda berambut panjang itu memandang Ma Hoa dengan sinar mata kagum yang tidak disembunyikan.

“Suhu ini siapakah dan apakah perlunya mencari rumah Yo-sianseng?” tanya Kwee An yang berlaku hati-hati karena menaruh curiga kepada dua orang pengunjung ini.

“Ehh, siapakah nama Nona yang cantik bagaikan bidadari ini? Kumaksudkan rambutnya yang cantik dan indah, alangkah bagusnya,” kata pemuda berambut panjang itu dengan kagum.

Suaranya juga aneh, karena terdengar seperti suara wanita halus dan merdu. Akan tetapi tak perlu disangsikan lagi bahwa ia adalah seorang pria, sebab selain potongan tubuhnya yang kuat dan dadanya yang bidang itu, juga jelas nampak kalamenjing di lehernya yang tak akan terdapat pada leher seorang wanita.

Ma Hoa menjadi marah sekali dan memandang dengan mata bernyala-nyala. Dia hendak menegur dan mendamprat, akan tetapi Kwee An memberi isyarat padanya agar supaya dia bersabar.

”Pinceng hendak mencari dua orang gadis yang berada dengan orang Turki itu. Kenalkah Jiwi kepada dua orang nona bernama Ma Hoa dan Lin Lin?”

Makin curiga dan terkejutlah Kwee An dan Ma Hoa mendengar pertanyaan ini.

“Akulah yang bernama Ma Hoa. Suhu mencari aku ada keperluan apakah?”

Tiba-tiba saja mata hwesio itu terbelalak dan dia tertawa terbahak-bahak dengan girang. “Ha-ha-ha! Dicari-cari sampai pusing tidak bertemu, tahu-tahu mencari keterangan pada orang yang dicari! Ini namanya memang harus mampus di tangan pinceng ini hari!”

Bukan main terkejutnya hati Kwee An dan Ma Hoa mendengar ini, karena sungguh tidak pernah mereka sangka bahwa kiranya hwesio tua ini mencari Ma Hoa dan Lin Lin dengan maksud jahat!

Kwee An melompat maju dengan marah. “Hwesio tua! Apa maksud kata-katamu yang jahat itu? Siapakah kau dan mengapa kau datang-datang mengandung niat yang buruk dan jahat?”

“Buka lebar-lebar mata dan telingamu! Pinceng adalah Bo Lang Hwesio dan Boan Sip adalah muridku. Muridku itu telah terbunuh mati oleh Ma Hoa dan Lin Lin, maka sekarang pinceng mencari dua orang pembunuh itu untuk maksud apa lagi?” Sambil berkata begini, Bo Lang Hwesio tertawa lagi bergelak. “Dan ketahuilah bahwa anak muda kawanku ini adalah Ke Ce, pendekar gagah dari Mongolia Dalam. Dia adalah adik sepupu Pangeran Vayami dan datang hendak membalas dendam terhadap Yousuf! Karena Yousuf orang Turki itulah yang telah menggagalkan usaha Pangeran Vayami dan mungkin orang Turki itu pula yang telah membunuh Pangeran Vayami!”

Bukan main marahnya Kwee An mendengar ucapan ini. “Hm, jadi kau ini guru Boan Sip yang jahat? Pantas muridnya jahat, tidak tahu, gurunya juga berpemandangan sempit dan berpikiran dangkal! Ada pun pembunuh Vayami bukanlah Yo-sianseng akan tetapi Hek Pek Mo-ko dan tak perlu kau mencari kedua orang tua itu, cukup aku wakilnya!”

“Bagus!” Bo Lang Hwesio membentak marah dan dia segera melompat ke arah Ma Hoa dan mengirim serangan kilat!

“Bo Lang Suhu, jangan kau bunuh bidadari itu, tangkap hidup-hidup untukku!” teriak Ke Ce sambil menyerbu dan menyerang Kwee An.

“Ha-ha-ha, dasar kau mata keranjang!” kata Bo Lang Hwesio.

Ma Hoa terkejut melihat serangan Bo Lang Hwesio yang mencengkeram dan hendak menangkap pundaknya, karena serangan ini mendatangkan angin gerakan yang lihai. Ia maklum bahwa lweekang hwesio tua ini tinggi sekali dan merupakan lawan yang tangguh, maka dia cepat mempergunakan ginkang-nya untuk melompat ke pinggir dan mengelak.

Sementara itu, Kwee An dengan tenang lalu menangkis pukulan Ke Ce dan keduanya berseru heran dan kagum karena ketika kedua lengan tangan mereka beradu, keduanya terpental mundur karena hebatnya tenaga lawan. Diam-diam Kwee An terkejut karena tak disangkanya bahwa pendekar dari Mongolia Dalam ini memiliki tenaga dalam yang begitu besarnya sehingga tidak kalah oleh tenaganya sendiri! Maka ia segera membalas dengan serangan kilat dan mengerahkan kepandaiannya karena maklum bahwa kali ini lawannya bukan orang lemah.

Pada waktu Bo Lang Hwesio dan Ke Ce datang, Kwee An dan Ma Hoa sedang berdiri di dekat tebing gunung yang curam sekali hingga hutan dan pohon-pohon nampak kecil di bawah mereka. Oleh karena itu, ketika mereka berdua diserang, mereka sedang berdiri membelakangi tebing itu hingga keadaan mereka amat berbahaya.

Hal ini pun diketahui oleh Bo Lang Hwesio dan Ke Ce, maka mereka mendesak dengan hebat dan tidak mau memberi kesempatan kepada dua orang muda itu untuk berpindah tempat. Dengan ilmu silatnya yang tinggi Kwee An masih dapat mempertahankan diri dari serbuan Ke Ce, bahkan pada saat dia membalas dengan serangan-serangannya, Ke Ce menjadi sibuk sekali karena harus berlaku awas untuk menghindarkan diri dari kaki dan tangan Kwee An yang mempunyai gerakan gesit dan tak terduga sama sekali itu.

Akan tetapi Ma Hoa yang menghadapi Bo Lang Hwesio, menjadi terdesak hebat sekali sehingga gadis ini makin mundur mendekati tebing yang curam dan berbahaya! Kwee An yang melihat hal ini, merasa kuatir sekali, maka dia pun segera mengirim serangan kilat dengan tipu gerakan menyerampang dengan kaki kanan sambil membarengi memukul dengan tangan kanan hingga Ke Ce terpaksa harus mempergunakan gerakan Ikan Leehi Melompati Ombak. Tubuh pemuda rambut panjang itu melompat ke atas dan berjungkir balik ke belakang dan karenanya dapat menghindarkan diri dari serangan Kwee An yang berbahaya tadi.

Kesempatan ini digunakan oleh Kwee An untuk cepat melompat ke dekat Ma Hoa sambil berseru, “Hoa-moi, hati-hati di belakangmu tebing!”

Sambil berseru demikian, dia lantas menyerbu untuk menahan serangan Bo Lang Hwesio yang lihai itu. Akan tetapi, pada saat itu, Ke Ce yang sudah mengejarnya, lalu mengirim pukulan yang berupa dorongan dengan kedua telapak tangan dibarengi bentakan yang keras sekali, bagaikan seekor harimau mengaum!

Kwee An merasa terkejut sekali ketika dari dorongan ini keluar tenaga dan angin yang luar biasa hingga ia terhuyung ke belakang dan pada saat itu, Bo Lang Hwesio yang tahu bahwa Kwee An mempunyai ilmu kepandaian cukup lihai, segera mengejar dan mengirim tendangan maut ke arah perut Kwee An yang sedang terhuyung ke belakang itu!

Ma Hoa menjerit ngeri melihat ini karena tendangan ini benar-benar berbahaya sekali dan agaknya Kwee An tidak akan dapat mengelak lagi. Akan tetapi, Kwee An sudah memiliki ketenangan serta kepandaian yang hampir sempurna, maka pada waktu merasa betapa tendangan maut mengancam perutnya, dia berseru keras dan tubuhnya mumbul ke atas dengan gesit seperti seekor burung walet. Cara menghindarkan diri dari tendangan maut ini sama sekali tidak diduga oleh Bo Lang Hwesio sendiri hingga tak terasa lagi hwesio ini mengeluarkan seruan kagum.

Akan tetapi, selagi tubuh Kwee An masih berada di udara, tiba-tiba Ke Ce menyerang lagi dengan pukulan atau dorongan kedua telapak tangannya dibarengi bentakan hebat tadi. Kembali Kwee An merasa betapa besar tenaga yang mendorongnya sedangkan pada saat itu tubuhnya masih terapung di udara. Tanpa dapat dicegah lagi ia terdorong mundur dan ketika tubuhnya melayang turun, ia telah berada di sebelah sana tebing.

Ma Hoa menjerit lagi dengan lebih ngeri dan ketika tubuh dara ini berkelebat, ternyata ia pun telah menyusul melompat ke dalam tebing yang curam itu, menyusul tubuh Kwee An yang sudah meluncur ke bawah. Keduanya jatuh ke dalam tebing yang tak dapat diukur dalamnya.

Pada saat Kwee An melihat betapa tubuh Ma Hoa juga jatuh menyusul dirinya, ia segera mengulur tangannya. Ma Hoa menangkap tangan itu dan keduanya lalu meluncur terus ke bawah sambil saling berpegangan tangan. Entah kenapa, setelah mereka berpegang tangan, rasa takut karena terjatuh itu lenyap sama sekali.

Inilah daya rasa cinta yang besar dan dia mengalahkan segala rasa takut. Bahkan maut sendiri tidak dapat melenyapkan perasaan sentosa dan aman yang ditimbulkan oleh rasa cinta…..

********************

Melihat betapa Ma Hoa ikut meloncat ke dalam jurang yang curam itu, Ke Ce menyatakan penyesalannya. “Sayang... sayang sekali…,” katanya. Akan tetapi sebaliknya Bo Lang Hwesio tertawa bergelak.

“Boan Sip, muridku!” teriaknya bagaikan gila sambil berdongak ke angkasa memandang awan, “seorang pembunuhmu telah tewas, kau terimalah nyawanya, dan sekarang tinggal yang seorang lagi!”

“Pendeta jahat dan rendah! Kau apakan kedua anak muda itu?” tiba-tiba terdengar suara yang keras dan Yousuf yang berlari mendatangi telah berada di situ.

Dari jauh tadi dia telah melihat betapa Kwee An dan Ma Hoa terguling ke dalam jurang, maka alangkah marah dan terkejutnya. Ketika ia memandang kepada pemuda berambut panjang itu, ia berkata lagi, “Hm, Ke Ce, kau juga menempuh kejahatan, apakah kau tidak takut akan tertimbun oleh dosa?”

Melihat kedatangan Yousuf, Ke Ce menjadi marah sekali. “Bangsat rendah!” ia memaki. “Kaulah yang berdosa besar, kau telah merintangi kehendak Kakanda Vayami yang suci, bahkan kau telah memberanikan diri untuk berusaha merampas Pulau Kim-san-to!”

Sambil berkata demikian, Ke Ce lalu menerjang dan menyerang dengan sengit. Yousuf yang merasa gelisah memikirkan nasib Kwee An dan Ma Hoa, segera menyambutnya dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya. Melihat bahwa kegesitan dan tenaga orang Turki ini masih mengatasi Ke Ce, Bo Lang Hwesio tidak mau membuang waktu lagi dan segera maju mengeroyok.

“Majulah, majulah! Biar kubinasakan sekalian kau hwesio jahat, untuk membalaskan dua anak muda itu!” teriak Yousuf dengan gemas karena kalau dia teringat akan kedua anak muda yang dilihatnya terguling ke dalam jurang tadi, rasanya dia mau berteriak keras dan menangis.

Akan tetapi, dia segera terkejut sekali oleh karena ilmu kepandaian dan tenaga hwesio gundul ini sungguh lihai sekali. Baru menghadapi Ke Ce saja, mungkin setelah bertempur lama baru dia akan dapat mengalahkannya, apa lagi sekarang ditambah dengan Bo Lang Hwesio yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi lagi.

Tanpa terasa lagi Yousuf lalu mengumpulkan khikang-nya dan berseru memanggil, “Lin Lin…! Cin Hai...! Lekas ke sini...!”

“Ha-ha-ha! Kau memanggil kawan-kawanmu, ha-ha-ha!” Ke Ce menyindir dengan tertawa menghina, “Panggillah semua agar lebih puas hatiku membasmi kau sekalian semua kaki tanganmu.”

Akan tetapi Bo Lang Hwesio menjadi girang sekali pada waktu mendengar nama Lin Lin disebut. Akan terlaksana agaknya usaha membalas dendam kali ini. Kalau benar-benar yang bernama Lin Lin itu adalah Kwee Lin pembunuh muridnya, maka akan bereslah tugasnya membalas dendam.

Teriakan Yousuf itu dilakukan dengan tenaga khikang sepenuhnya, karena itu suaranya bergema keras dan dapat terdengar sampai di tempat jauh. Ketika itu, Lin Lin dan Cin Hai sedang berlatih ilmu pedang di dekat rumah, maka ketika mendengar teriakan memanggil ini, keduanya terkejut sekali.

Lin Lin lalu segera meloncat tanpa membuang waktu lagi, sambil membawa Han-le-kiam di tangan kanannya. Cin Hai juga lalu meloncat bahkan ia mendahului Lin Lin oleh karena ia maklum bahwa Yousuf berada dalam bahaya. Pendengarannya yang lebih tajam dari pada pendengaran Lin Lin dapat menangkap suara yang penuh kecemasan itu.

Cin Hai yang datang terlebih dahulu dari pada Lin Lin, ketika melihat Yousuf didesak dan dikeroyok dua oleh seorang hwesio serta seorang pemuda gagah yang berpakaian aneh dan berambut panjang, tanpa banyak cakap lagi lalu menyerbu karena ia melihat betapa kedua orang lawan Yousuf itu tangguh dan hebat ilmu silatnya.

Ia tidak mau mencabut pedangnya karena melihat betapa ketiga orang itu pun bertempur dengan tangan kosong dan memang menjadi pantangan bagi Cin Hai untuk melawan musuh yang bertangan kosong dengan menggunakan senjata. Apa lagi memang dengan kedua tangannya dia cukup kuat menghadapi musuh yang bagaimana lihai pun, maka kalau tidak sangat terpaksa, dia pun tidak mau menggunakan Liong-coan-kiam.

Sebaliknya, pada saat Bo Lang Hwesio dan Ke Ce melihat sepak terjang anak muda ini, mereka terkejut sekali karena baik kegesitan mau pun tenaga Cin Hai benar-benar luar biasa, dan membuat mereka menjadi gentar! Bo Lang Hwesio menjadi penasaran oleh karena belum pernah dia melihat seorang yang masih begini muda dapat memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi darinya, maka dia kemudian mengerahkan tenaganya dan mengeluarkan ilmu kepandaian untuk menghadapi Cin Hai seorang diri dan pertempuran berjalan seru dan hebat!

Tak lama kemudian sampailah Lin Lin di tempat pertempuran dan begitu melihat bahwa yang sedang bertempur dengan Cin Hai adalah hwesio tua yang telah dikenalnya sebagai guru Boan Sip, dia segera berteriak keras, “Hai-ko, iblis tua itu adalah Bo Lang Hwesio, suhu dari Boan Sip yang jahat!”

Cin Hai terkejut sekali dan tanpa terasa ia melompat mundur. Juga Bo Lang Hwesio yang melihat Lin Lin, segera bertanya, “Apakah kau yang bernama Kwee Lin dan yang telah membunuh muridku?”

“Benar!” Lin Lin menjawab tanpa merasa takut sedikit pun juga. “Aku dan Ma Hoa sudah menghancurkan kepala Boan Sip, kau mau apa?”

“Celaka dan sungguh sayang,“ Ke Ce yang juga berhenti sebentar dan bersama Yousuf memperhatikan percakapan mereka, tiba-tiba berkata, “Mengapa musuh-musuhmu begini cantik-cantik seperti bidadari, Bo Lang Suhu? Celaka, celaka dan sayang sekali!”

“Anak muda!” berkata Bo Lang Hwesio kepada Cin Hai. “Kau mendengar sendiri bahwa Nona itu adalah pembunuh muridku, karena itu janganlah kau turut campur. Biarkan aku bertempur mengadu jiwa dengan dia!” Ucapan ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia merasa jeri terhadap Cin Hai yang lihai.

Akan tetapi sambil tersenyum, Cin Hai menjawab, “Bo Lang Hwesio, ketahuilah bahwa kalau kiranya aku bertemu dengan muridmu itu, aku pun tentu akan membunuhnya untuk yang kedua kalinya! Muridmu adalah pembunuh keluarga nona ini, dan kebetulan sekali ibu nona ini adalah bibiku pula! Muridmu sudah membunuh keluarganya dan dia telah membalas dan membunuh muridmu yang murtad itu, bukankah ini sudah pantas? Kalau sekarang kau hendak membela murid jahat itu, maka banyak kemungkinan semua orang akan menuduh bahwa kaulah orangnya yang salah dalam mendidik murid itu! Peribahasa menyatakan bahwa pohon yang tidak sehat menghasilkan buah yang masam, itu berarti bahwa guru yang buruk tentu menjadikan muridnya jahat pula.”

Merahlah muka Bo Lang Hwesio mendengar ini karena marahnya.

“Jangan banyak cakap, kalau kau mau membela perempuan ini, pinceng pun tidak takut!”

“Hai-ko, biarlah aku melawan sendiri pendeta siluman ini dengan pedangku!” seru Lin Lin.

Dan Cin Hai yang maklum bahwa gadis ini tentu hendak mencoba Ilmu Pedang Han-le Kiam-sut yang baru dipelajarinya, segera berpikir bahwa baik juga membiarkan gadis itu mencoba ilmu pedangnya karena dia telah memberi latihan ginkang dan lweekang. Akan tetapi oleh karena ilmu pedang itu baru saja dipelajari sehingga tentu saja belum matang dan sempurna ia lalu berkata,

“Baik, Moi-moi, kau lawanlah dia, bila dia terlalu berat bagimu, baru aku yang akan turun tangan!”

Dengan seruan garang, Lin Lin lalu maju menerjang dengan pedang Han-le-kiam. Ketika mencipta ilmu pedang ini, Lin Lin yang berwatak jenaka dan gembira itu sudah memberi nama pada tiap jurus dan gerakan bersama dengan Cin Hai. Maka muncullah sebutan-sebutan aneh dan lucu dalam tiap gerakan yang hanya dikenal dan dimengerti oleh Lin Lin dan Cin Hai.

Ada gerak tipu-gerak tipu yang diberi nama Cin-hai Kwa-houw atau Cin Hai Menunggang Harimau, ada Pula Lin-lin Chio-cu atau Lin Lin Merebut Mustika, bahkan ada nama Ang-I Lo-be atau Ang I Niocu Turun Dari Kuda.

Ketika dia menerjang maju, dia menggunakan tipu gerakan Lin-lin Chio-cu. Tangan kanan yang memegang pedang menusuk tenggorokan Bo Lang Hwesio, sedangkan tangan kiri bukan diangkat ke belakang sebagai imbangan badan, akan tetapi bahkan melaksanakan serangan pula dengan sebuah gerakan dari Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na.

Hebatnya Ilmu Pedang Han-le Kiam-sut ini ialah perkembangan atau perubahannya yang benar-benar tak terduga dan semua serangan hanya merupakan pancingan belaka yang kemudian disusul menurut gerak dan serangan pembalasan lawan.

Maka ketika Bo Lang Hwesio yang menggunakan kedua ujung lengan bajunya mengebut ke arah pedang pendek yang menyambar ke tenggorokan, dan lengan kiri dengan tenaga lweekang sepenuhnya menghantam pergelangan tangan kiri Lin Lin yang mencengkeram dada, tiba-tiba pedang pendek itu sudah meluncur ke bawah mengubah sasaran dan kini bergerak menusuk iga kiri, sedangkan tangan kiri dara itu yang tadi mencengkeram dada ketika hendak dihantam oleh tangan Bo Lang Hwesio, tiba-tiba ditarik mundur dan terus diluncurkan ke atas dengan dua jari terbuka, mengarah kedua mata lawan.

Hwesio itu terkejut bukan main melihat perubahan gerakan yang sekaligus mematahkan serangan atau tangkisannya itu dan yang terus dilanjutkan dengan serangan lainnya. Dia cepat mengebutkan ujung lengan bajunya yang panjang untuk menangkis dan membelit pedang lawan yang mengarah iga kirinya, sedangkan untuk menghindarkan serangan jari pada matanya, ia menundukkan kepala.

Akan tetapi, kembali Lin Lin merubah gerakannya karena sebelum pedangnya tertangkis dan terlibat oleh ujung lengan baju, pedang itu dengan mengeluarkan suara angin sudah berkelebat dengan belokan indah dan kini melakukan serangan hendak memenggal leher hwesio yang sedang menundukkan kepala itu, sedangkan tangan kiri ditarik dan langsung menyodok perut.

Memang hebat bukan main llmu Pedang Han-le Kiam-sut ciptaan Cin Hai ini. Gerakan-gerakannya demikian cepat dan perubahannya amat tak terduga-duga sehingga tiap kali serangan tak berhasil, lalu disusul dengan gerak serangan lain yang disesuaikan dengan kedudukan atau posisi lawan.

Sungguh sayang bahwa Lin Lin belum mahir dan belum cepat betul dalam menjalankan serangan-serangan sehingga meski pun perubahannya cepat, tetapi semua masih dapat dilihat oleh lawan hingga masih sempat mengelak. Kalau saja yang mainkan itu Cin Hai atau Ang I Niocu yang sudah memiliki kecepatan tubuh yang otomatis dan memiliki gaya gerakan yang tidak sewajarnya hingga dapat membuat gerakan palsu yang tidak terduga, tentu ilmu pedang ini akan merupakan ilmu pedang yang amat sukar dilawan.

Betapa pun juga, Bo Lang Hwesio sudah dapat dibikin bingung dan untuk menghindari serangan-serangan selanjutnya yang bertubi-tubi dan yang seakan-akan otomatis serta timbul dari cara ia menangkis atau pun mengelak itu, dia lalu berseru dan melangkah ke belakang dua tombak lebih jauhnya.

Sesudah jauh dari Lin Lin barulah dia terhindar dari serangan yang bertubi-tubi dan kini dia menghadapi gadis itu dengan hati-hati sekali, lalu maju menyerang dengan cepat, memutar-mutar dua ujung lengan baju bagaikan kitiran angin cepatnya.....

Sementara itu, semenjak tadi Ke Ce hanya berdiri dan memandang dengan kagum, sama sekali lupa kepada Yousuf yang masih berdiri saja karena orang Turki ini tidak akan mau menyerang apa bila tak diserang. Yousuf hanya berdiri dengan tegak sambil memandang pertempuran itu dan ia pun merasa kagum sekali melihat kehebatan ilmu pedang Lin Lin. Karena ia maklum bahwa gadis itu mendapat latihan dan pelajaran dari Cin Hai, maka makin kagum dan hormatlah dia terhadap pemuda itu.

Tiba-tiba melihat betapa Bo Lang Hwesio agaknya tak dapat mengalahkan Lin Lin dalam waktu pendek, Ke Ce yang curang hatinya itu lantas membentak keras dan kedua lengan tangannya mendorong ke arah Lin Lin. Ini adalah Pukulan Angin Taufan yang hebat dan merupakan semacam pukulan khikang yang tinggi tingkatnya di daerah Mongolia Dalam dan yang tak sembarang orang bisa menguasai atau mempelajarinya dengan sempurna. Tenaga khikang Ke Ce sudah hampir sempurna, maka Kwee An sendiri sampai tak dapat menahan serangan ini!

Akan tetapi, kali ini Ke Ce tercengang sekali ketika tiba-tiba saja angin pukulannya yang dahsyat bagaikan tenaga angin taufan itu membalik dan membuat dia sendiri bergoyang-goyang! Ketika dia memandang, ternyata bahwa dari tempat di mana dia berdiri, Cin Hai dengan tubuh setengah membongkok juga mengulurkan dua tangannya dan melakukan gerakan yang sama dengan gerakannya sendiri dan ternyata bahwa tenaga pukulan atau dorongan yang keluar dari kedua lengan anak muda itu lebih kuat sehingga telah berhasil menggempur tenaga dorongannya!

Terbelalak mata Ke Ce memandang oleh karena bagaimana seorang bangsa Han dapat memiliki ilmu mendorong ini? Dia tidak tahu bahwa Cin Hai mengerti semua gerakan ilmu pukulan dan baru melihat gerakan pundak dan lengannya saja, pemuda itu sudah dapat menirunya kemudian pada saat yang tepat telah mengirim kembali tenaga yang tadinya ditujukan dengan maksud merobohkan Lin Lin itu.

“Ehh, jangan main curang, kawan!” kata Cin Hai sambil tersenyum memandang.

Yousuf menjadi marah sekali melihat betapa dengan curangnya Ke Ce sudah menyerang Lin Lin yang masih bertempur ramai melawan Bo Lang Hwesio, maka ia berseru,

“Ke Ce, bila tubuhmu sudah gatal-gatal ingin dipukul, akulah lawanmu!” ia lalu menerjang dengan marah dan hebat hingga Ke Ce terpaksa melayani.

Cin Hai memandang dengan penuh perhatian dan sebentar saja maklumlah dia bahwa meski pun ilmu kepandaian kedua orang ini tidak jauh selisihnya, akan tetapi kepandaian Yousuf masih lebih kuat dan tak perlu dikuatirkan keadaannya. Maka ia lalu memusatkan perhatiannya kepada Lin Lin lagi.

Ia melihat betapa gadis itu dengan garang melakukan serangan, akan tetapi menghadapi Bo Lang Hwesio dia kalah pengalaman. Bo Lang Hwesio ternyata gagah sekali dan Cin Hai maklum bahwa apa bila pergelangan tangan Lin Lin kena dikebut oleh ujung lengan baju atau pedang Han-le-kiam dilibat, tentu Lin Lin akan kalah dan mendapat celaka.

Baru saja dia berpikir demikian, tiba-tiba saja dengan membentak keras Bo Lang Hwesio menyerang dengan telapak tangan dimiringkan memukul leher gadis itu dan pada waktu Lin Lin dengan lincahnya berkelit, tiba-tiba ujung lengan baju hwesio yang kosen itu telah berhasil melibat ujung pedang Han-le-kiam. Lin Lin berusaha mencabutnya, tapi pedang itu seakan-akan telah melengket pada lengan baju dan tidak dapat ditarik kembali.

Cin Hai berseru keras, dan sekali tubuhnya berkelebat dia dapat mengirim serangan ke arah leher hwesio itu yang cepat mengangkat tangan yang tadinya dipakai memukul leher Lin Lin untuk menangkis karena sudah tidak ada jalan lain lagi baginya untuk mengelak. Pada saat kedua lengan tangan mereka beradu, Bo Lang Hwesio mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya, maka ketika Lin Lin menarik pedangnya…..

“Brettt!” sobeklah ujung lengan bajunya! Sedangkan tubuhnya menjadi terhuyung mundur ketika tenaga Cin Hai yang luar biasa mendorongnya dari pertemuan lengan itu!

“Hebat!” serunya sambil meloncat mundur kemudian mengangkat kedua tangan memberi hormat. “Aku yang tua dan lemah tak kuat melawan terus, biar lain kali bertemu pula! Ke Ce hayo kita pergi!” teriaknya kepada kawannya yang sementara itu telah didesak hebat oleh Yousuf!

“Sampai lain kali!” kata Ke Ce.

Pada saat itu juga tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik empat kali di udara dan turun melayang ke tempat agak jauh hingga tentu saja kegesitan ini membuat Yousuf dan yang lain-lainnya merasa kagum sekali. Memang sungguh hebat gerakan tadi dan jarang dapat dilakukan oleh orang yang ilmu ginkang-nya belum tinggi! Setelah kedua orang itu berlari turun gunung dengan cepat, Yousuf lalu menceritakan bahwa Kwee An dan Ma Hoa telah terdorong masuk ke dalam jurang!

“Celaka!” kata Cin Hai dan Lin Lin yang segera berlari ke pinggir jurang dan menjenguk.

Lin Lin menjerit ngeri dan menangis sedih ketika melihat betapa jurang itu dalamnya tak terkira hingga tidak kelihatan dasarnya! Cin Hai menggeleng-gelengkan kepala.

“Ayah, kenapa tidak semenjak tadi kau memberitahu?” kata Lin Lin sambil menangis dan membanting-banting kaki dengan gemasnya. “Kalau tadi aku tahu, tentu aku tidak akan melepaskan dua binatang kejam dan busuk itu!”

Juga Cin Hai merasa kecewa karena kalau dia tahu bahwa Kwee An dan Ma Hoa telah terbinasa dan terlempar ke dalam jurang oleh kedua orang tadi tentu dia juga tidak akan melepas mereka! Yousuf merasa menyesal sekali dan merasa bahwa ia telah lupa sama sekali untuk menceritakan hal itu.

“Biar aku mencari mereka di dalam jurang!” kata Yousuf yang lalu berlari secepat terbang ke rumahnya. Tidak lama kemudian dia kembali lagi membawa segulung tambang yang panjang sekali.

"Peganglah ini, Cin Hai, aku hendak turun dan mencari Kwee An dan Ma Hoa,” katanya sambil memberikan tambang itu kepada Cin Hai.

“Jangan, Yo-pe-peh, biar aku saja yang turun. Kau dan Lin Lin yang memegang tambang itu!” kata Cin Hai.

“Biarkanlah aku yang turun,” kata pula Yousuf dan tiba-tiba dari kedua mata orang tua ini mengalir turun air mata!

Lin Lin dan Cin Hai maklum bahwa orang tua ini merasa bersalah sekali dan dia merasa demikian menyesal sehingga sekarang ia hendak menebus kesalahannya dan ingin turun mencari mereka yang jatuh ke dalam jurang.

Lin Lin merasa sangat terharu dan lalu menubruk dan memeluk pundak ayah angkat itu, “Ayah... maafkanlah kami berdua... kami tidak menyalahkan kau. Ayah... biarkan Hai-ko saja yang turun.”

“Benar, Yo-peh-peh, kau sudah tua dan aku yang muda lebih bertanggung jawab akan tugas berat ini. Tidak ada yang bersalah dalam hal ini dan soal kedua orang bangsat kecil itu, biar lain kali kita mencari mereka untuk membalas dendam!!”

Akhirnya Yousuf menurut juga dan tambang yang panjang itu lalu dilempar ke bawah dan ujungnya dipegang oleh Yousuf serta Lin Lin. Akan tetapi ternyata bahwa tambang yang panjangnya tak kurang dari seratus kaki itu masih bergoyang-goyang, yang menandakan bahwa tambang itu belum mencapai dasar jurang! Lin Lin bergidik dan ngeri.

“Alangkah dalamnya!” katanya dengan bibir gemetar.

“Di rumah sudah tidak ada tambang lagi,” kata Yousuf yang juga pucat wajahnya.

“Biarlah, sebegini juga cukuplah. Biar aku turun sampai di ujung tambang dan melihat apa yang berada di bawahnya,” Cin Hai berkata. “Peganglah tambang kuat-kuat!”

Pemuda itu melangkah ke pinggir jurang dan tiba-tiba Lin Lin memegang lengannya. Cin Hai menengok.

“Ko-ko... hati-hatilah kau...”

Cin Hai tersenyum dan meraba dagu gadis itu, kemudian dia segera turun ke bawah menyusur tambang. Karena dia telah memiliki kepandaian ginkang yang sempurna, maka mudah saja dia merayap melalui tambang itu. Ternyata bahwa tebing itu tinggi sekali dan di bawahnya tertutup oleh awan atau halimun tebal hingga keadaannya gelap benar.

Sesudah kedua kakinya merasa sudah tiba di ujung tambang paling bawah, Cin Hai lalu meraba-raba dengan kaki dan ternyata memang benar bahwa tambang itu masih dalam keadaan tergantung di udara dan belum sampai ke tanah. Ia lalu mengayun tubuhnya ke depan sehingga tambang itu ikut terayun.

Tubuhnya terayun-ayun beberapa kali, makin lama semakin keras dan akhirnya dia dapat menyentuh tanah di depannya. Ternyata bahwa tanah itu bukan batu karang yang keras, dan ditumbuhi rumput dan pohon kecil. Akan tetapi karena tanah itu letaknya tegak lurus ke arah atas, tentu saja tidak mungkin baginya untuk mendarat di sana. Dia berkali-kali memejamkan mata dan membukanya lagi untuk dapat membiasakan mata itu menembus halimun. Kemudian matanya memandang ke sekelilingnya mencari-cari.

Baik Cin Hai mau pun Lin Lin dan Yousuf sama sekali tidak pernah menyangka atau pun menaruh curiga terhadap Bo Lang Hwesio dan Ke Ce. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya kedua orang itu masih belum pergi dari situ. Memang benar bahwa mereka sudah lari turun gunung, akan tetapi tiba-tiba Ke Ce berhenti berlari dan berkata perlahan, “Bo Lang Suhu, mari kita kembali ke atas!”

“Apa kau gila?” seru Bo Lang Hwesio yang tak dapat menangkap maksudnya,

“Dara manis itu... ia cantik jelita dan ia musuhmu, bukan? Kalau saja kita bisa menyergap dia, tanpa bantuan Yousuf dan pemuda lihai itu, kita berdua masa tak dapat menangkap dia?” Sambil berkata demikian, sepasang mata Ke Ce yang cerdik itu berputar-putar dan mulutnya tersenyum.

Untuk beberapa lama Bo Lang Hwesio tertegun karena merasa malu dan rendah untuk melakukan hal ini. Akan tetapi menghadapi mereka bertiga yang tangguh, sampai kapan dia dapat membalas sakit hati muridnya terhadap Lin Lin? Akhirnya dia menganggukkan kepalanya yang gundul. Mereka berdua dengan berindap-indap dan sembunyi-sembunyi lalu naik lagi ke atas bukit.

Pada saat mereka tiba di tempat itu sambil mengintai dan bersembunyi di balik pohon, Cin Hai masih berada di bawah dan ujung tambang masih dipegang oleh Yousuf dan Lin Lin. Bukan main girang hati Bo Lang Hwesio dan Ke Ce. Sambil tertawa dan membentak keras mereka berdua keluar dari tempat persembunyian mereka, dan lari cepat ke arah Yousuf dan Lin Lin yang masih memegang tambang di mana tubuh Cin Hai bergantung di bawah.

Tidak perlu diceritakan lagi alangkah terkejut hati Yousuf dan Lin Lin melihat kedatangan mereka. Keduanya memandang dengan wajah pucat sekali dan merasa bahwa sekarang mereka berdua berikut Cin Hai, pasti akan binasa.

“Pegang tambang itu kuat-kuat, aku melawan mereka mati-matian,” kata Yousuf.

Lin Lin lalu memegang tambang itu seorang diri dengan sekuat tenaga karena biar pun sesungguhnya tenaganya sudah lebih dari cukup untuk memegang ujung tambang yang digantungi tubuh kekasihnya, akan tetapi oleh karena merasa takut kalau-kalau tambang itu terlepas dari tangan dan ngeri memikirkan nasib Cin Hai kalau terjadi hal demikian, maka dia lalu memegangnya erat-erat, seakan-akan nyawanya sendiri yang tergantung di ujung tambang itu.

Yousuf yang tadi ketika mengambil tambang juga mengambil pedangnya, lalu mencabut pedang itu dan menyambut mereka sambil berlari agar pertempuran dapat dilakukan di tempat yang jauh dari Lin Lin. Akan tetapi, Bo Lang Hwesio dan Ke Ce yang hendak bertindak cepat, lalu menerjang dengan hebat hingga sebentar saja Yousuf terkurung dan terdesak hebat sekali.

Sementara itu, Cin Hai yang tidak tahu apa-apa tentang peristiwa yang sedang terjadi di atas, masih mencari-cari dengan matanya. Ketika dia menggunakan ketajaman matanya menembus halimun tebal dan melihat ke bawah, ia hanya melihat warna putih kebiruan yang bergerak-gerak di bawah kakinya, jauh di bawah. Dia menduga bahwa itu mungkin juga daun-daun pohon.

Cin Hai lalu mencari akal, dan ketika tangannya menyentuh akar-akar serta daun pohon kecil, ia segera memegang akar pohon itu kuat-kuat dan sambil menggantungkan kedua kakinya pada akar pohon, dia lalu mempergunakan kedua tangan untuk mengikat ujung tambang itu pada pinggangnya. Dengan demikian, dia mulai mencari-cari ke kanan-kiri sambil merayap dan berpegangan pada akar-akar pohon tanpa takut terpeleset atau akar itu patah, karena pinggangnya telah terikat tambang.

Pada waktu Lin Lin memandang dengan berdebar cemas betapa Yousuf terkurung hebat oleh dua orang musuh yang tangguh itu tiba-tiba ia mendengar suara di atas kepalanya. Alangkah girangnya karena melihat Merak Sakti terbang berkeliling di atasnya.

“Kong-ciak-ko, lekas tolong Ayah!” teriak Lin Lin dengan keras.

Merak Sakti menyambar turun bagaikan tahu akan perintah Lin Lin, dan juga berkat rasa kesetiaannya timbul melihat Yousuf dikeroyok, lalu dia menyambar ke arah Ke Ce sambil memekik keras!

Ke Ce terkejut sekali ketika melihat bayangan kuning kebiru-biruan menyambar turun dari angkasa ke arah kepalanya. Ia cepat mengelak dan mengeluarkan keringat dingin ketika patuk merak yang kecil merah serta tajam itu meluncur di dekat kepalanya, hampir saja berhasil mematuk matanya! Saat Merak Sakti menyambar lagi, ia cepat mengulur tangan dengan gerakan Eng-jiauw-kang untuk mencengkeram dan menangkap leher merak yang bagus itu.

Akan tetapi merak itu bukan burung sembarang burung, melainkan peliharaan orang sakti dan telah menerima latihan-latihan sehingga dia menjadi seekor merak sakti. Menghadapi serangan ini, dia tak menjadi gentar dan sambil terbang ia mengebut tangan yang hendak mencengkeramnya itu dengan sayap.

“Blekkk!”

Ke Ce hampir saja mengeluarkan pekik karena tangannya yang terpukul sayap itu terasa sakit dan pedas. Ternyata bahwa kebutan sayap merak itu mengandung tenaga yang bukan main besarnya! Ke Ce menjadi marah sekali dan mempergunakan ilmu pukulan Angin Taufan untuk mendorong jauh merak yang lihai itu.

Akan tetapi Merak Sakti yang agaknya sudah maklum pula akan kelihaian pukulan yang mendatangkan angin ini sehingga setiap kali Ke Ce memukul, dia selalu mengelak cepat. Betapa pun juga, serangan-serangan Ke Ce dengan ilmu pukulan ini membuat merak itu tak berdaya untuk menyerangnya.

Biar pun kini hanya menghadapi seorang lawan saja, namun oleh karena kepandaian Bo Lang Hweso lebih tinggi dari pada kepandaiannya, tetap saja Yousuf terdesak hebat dan berada dalam keadaan berbahaya! Lin Lin mengeluarkan keringat dingin ketika melihat betapa bantuan Sin-kong-ciak tetap belum dapat menolong ayah angkatnya, bahkan kini merak itu hanya berani terbang berputaran di atas kepala Ke Ce oleh karena tadi hampir saja pukulan Angin Taufan orang mongol itu mengenai dadanya!

Lin Lin mulai menarik-narik tambang membetot-betot untuk memberi tanda kepada Cin Hai. Tiba-tiba saja dia merasa tambang itu dikedut dari bawah, tanda bahwa Cin Hai telah merasa akan isyarat yang dia berikan dan kini membalas dengan kedutan seakan-akan hendak bertanya.

“Hai-ko... lekas kau naik...!” Lin Lin berteriak ke arah bawah tebing, akan tetapi suaranya ditelan halimun dan tak dapat menembus ke bawah.

Ia berteriak berkali-kali dan Ke Ce yang melihat hal ini, segera melompat ke arahnya! Lin Lin segera menggunakan tangan kiri untuk menahan tambang, ada pun tangan kanannya cepat mencabut pedangnya! Dia hanya berdiri dengan mata tajam menentang Ke Ce dan pedangnya siap di tangan kanan. Tekadnya hendak melawan mati-matian dan apa bila ia kalah, dia tetap takkan melepaskan tambang itu dan bersedia melompat ke dalam tebing menyusul kekasihnya!

Sementara itu, pada saat melihat betapa Ke Ce menghampiri Lin Lin, Sin-kong-ciak lalu berteriak-teriak nyaring dan mulai menyambar kepala Ke Ce lagi! Ke Ce segera memukul, memaksa merak itu mengelak dan kembali terbang ke atas dengan jeri. Ke Ce tertawa menyeringai dan menghadapi Lin Lin sambil berkata,

“Nona manis, kau lepaskan saja tambang itu dan kau ikut aku pergi ke…”

Pada saat itu, Sin-kong-ciak menyambar lagi dan mencakar ke arah mukanya sehingga terpaksa Ke Ce mengelak dan tak melanjutkan ucapannya terhadap Lin Lin.

“Burung celaka!” makinya. “Burung bedebah! Apa bila aku berhasil menangkapmu, akan kupanggang dagingmu sampai gosong!”

Tetapi Merak Sakti itu hanya terbang berkeliling di atas kepalanya sambil mengeluarkan pekik nyaring berkali-kali. Pekik inilah yang kemudian terdengar oleh Cin Hai dan yang membuat pemuda itu menjadi curiga, terlebih lagi karena dia merasa betapa tambang itu berkali-kali ditarik dari atas. Dengan cepat Cin Hai lalu mulai memanjat tambang itu untuk naik kembali ke atas oleh karena penyelidikannya tidak menghasilkan sesuatu.

Sementara itu, berkat sambaran-sambaran yang dilakukan oleh Sin-kong-ciak, Ke Ce tak mendapat kesempatan untuk mengganggu Lin Lin, karena apa bila ia telah usir merak itu dengan pukulan Angin Taufannya dan ia menghampiri Lin Lin, gadis itu telah siap dengan pedangnya yang tidak boleh dipandang ringan biar pun gerakannya tidak leluasa karena tangan kiri memegang tambang.

Sebelum Ke Ce dapat bertindak lebih jauh, merak itu sudah turun menyambar lagi hingga pemuda Mongol ini menjadi marah benar-benar. Lin Lin yang merasa gugup dan cemas melihat keadaan Yousuf dan keadaannya sendiri, beberapa kali berseru,

“Hai-ko, lekas... lekas keluar...!”

Mendengar ini dan melihat betapa tambang di tangan Lin Lin bergoyang-goyang, Ke Ce menjadi takut. Hanya Cin Hai saja yang dia takuti, maka kini menduga bahwa pemuda itu akan segera muncul, dia lalu angkat kaki lebar sambil mengajak Bo Lang Hwesio,

“Bo Lang-Suhu, lekas pergi!”

Sementara itu, Yousuf telah beberapa kali terkena sampokan ujung lengan baju Bo Lang Hwesio yang sangat lihai, bahkan pukulan terakhir yang mengenainya telah menghantam pundak dekat leher yang membuat dadanya terasa sesak dan sakit. Akan tetapi berkat ilmu lweekang-nya yang sudah tinggi, ia dapat mengumpulkan tenaga dan masih dapat melawan dengan gigih!

Bo Lang Hwesio merasa heran sekali melihat keuletan orang Turki ini, karena pukulan-pukulan ujung lengan bajunya tadi biasanya cukup untuk membinasakan seorang lawan gagah dengan sekali pukul saja. Kakek Turki ini telah empat kali menerima pukulannya dan masih saja kuat melakukan perlawanan! Diam-diam dia merasa kagum dan gentar juga. Apakah kakek ini memiliki ilmu kekebalan yang hebat?

Karena hatinya sudah gentar, maka ketika Ke Ce melarikan diri dan mengajak dia untuk kabur, ia lalu meloncat jauh dan mengejar kawannya itu, lari turun gunung dengan cepat. Dan kali ini mereka benar-benar lari dari atas gunung itu karena takut akan pembalasan Cin Hai!

Ketika Cin Hai sudah mendarat dan berada di atas tebing, dia menjadi terkejut sekali melihat Lin Lin memegang ujung tambang dengan pedang di tangan kanan dan air mata gadis itu mengalir di kedua pipi. Ketika ia memandang ke arah Yousuf, ia segera berseru kaget karena kakek itu roboh tak sadarkan diri!

Keduanya lalu berlari menghampiri dan sambil memeriksa keadaan luka-luka pada tubuh Yousuf, Cin Hai mendengar keterangan Lin Lin dengan mata berapi dan muka merah.

“Keparat betul dua bangsat rendah itu!” katanya sambil mengertak gigi. “Alangkah curang dan rendahnya perbuatan mereka!”

Cin Hai agak lega melihat bahwa biar pun Yousuf mendapat luka-luka yang hebat, namun tenaga dalam kakek itu sudah cukup kuat untuk melindungi jantung serta paru-parunya sehingga tidak sampai menderita luka. Akan tetapi ia memerlukan rawatan teliti dan lama sebelum dapat sembuh sama sekali. Kemudian dia lalu memondong tubuh Yousuf dan bersama Lin Lin dia kembali ke rumah untuk segera memberi pertolongan kepada orang Turki itu.

Sesudah mendapat urutan dan pencetan pada jalan darahnya, kakek itu siuman kembali dan ia lalu tersenyum melihat bahwa Lin Lin dan Cin Hai masih selamat dan berada di dekatnya!

“Lain kali akan kubalas dia...,” katanya lemah.

Kemudian Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya ketika dia mencari-cari jejak kedua kawan yang terjatuh ke dalam tebing.

“Halimun terlalu tebal dan tebing itu terlalu dalam hingga sukar untuk melihat nyata. Akan tetapi oleh karena tebing itu merupakan lereng gunung, aku akan mencoba untuk mencari dari kaki gunung dan hendak memanjat ke atas pada tempat itu. Mudah-mudahan saja Thian Yang Maha Kuasa melindungi mereka berdua!”

Tiba-tiba Lin Lin menepuk jidatnya dengan perlahan. “Ahh... mengapa kita begitu bodoh? Kong-ciak-ko tentu dapat mencari mereka.”

Mendengar ini, Cin Hai dan Yousuf girang sekali karena mereka juga berpendapat bahwa burung merak itu tentu saja dapat mencari mereka.

“Pergilah kalian segera membawa Sin-kong-ciak dan suruh burung itu mencari Kwee An dan Ma Hoa. Lekas!” kata Yousuf dengan suara gembira.

Lin Lin dan Cin Hai lalu berlari-lari keluar dan Lin Lin bersuit memanggil burung merak yang segera terbang datang.

“Kong-ciak-ko, mari kau ikut kami!” katanya sambil berlari cepat kembali ke tebing tadi. Burung merak itu mengeluarkan suara girang dan terbang mengikuti di atas mereka.

Sesudah tiba di tebing Lin Lin lalu memberi tanda dengan tangannya, menyuruh burung merak itu turun. Kemudian, sambil menunjuk ke bawah tebing, Lin Lin berkata,

“Kong-ciak-ko, kau dengarlah baik-baik! Kwee An dan Ma Hoa hilang di bawah sana, kau carilah mereka sampai dapat!” Sesudah mengulangi perintah ini sampai beberapa kali, tiba-tiba merak itu lalu memekik girang dan segera terbang ke bawah tebing. Ternyata ia telah dapat menangkap maksud perintah tadi!

Lin lin merasa begitu tegang dan gembira sehingga dia memegang tangan Cin Hai dan keduanya lalu berdiri menanti di pinggir tebing dengan wajah agak tegang dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya hati dua anak muda ini yang berdebar-debar dan bersama-sama berdoa semoga burung merak itu akan dapat menemukan kedua kawan mereka dan kembali sambil membawa berita baik!

Lama sekali mereka menanti dan tiba-tiba saja mereka mendengar merak itu memekik di sebelah bawah. Dan bukan main heran hati mereka karena pekik merak itu adalah pekik kemarahan, seperti biasanya dikeluarkan apa bila dia menghadapi seorang lawan! Merak itu memekik berkali-kali, dan dengan wajah pucat Lin Lin bertanya kepada Cin Hai,

“Siapakah gerangan yang membuat Kong-ciak-ko demikian marah?”

Cin Hai juga tak bisa menduga dan hanya menjenguk ke bawah yang terlihat putih pekat tertutup halimun itu dengan penuh perhatian dan harap-harap cemas.

Sesudah terdengar pekik merah itu beberapa kali lagi, lalu di bawah menjadi sunyi, sunyi yang makin menggelisahkan hati kedua teruna remaja itu. Tiba-tiba saja terdengar bunyi pukulan sayap merak itu, lantas muncullah Sin-kong-ciak menembus halimun, terbang ke atas dan langsung mendarat di dekat Lin Lin.

Dia mengangguk-anggukkan kepala sambil mengeluarkan keluhan-keluhan aneh. Ketika Cin Hai dan Lin Lin memandang, ternyata bahwa pada kaki merak itu sudah terlibat oleh seutas tali hijau yang ternyata terbuat dari pada semacam akar pohon. Tali itu di bagian depan mengikat sepotong batu karang kecil yang agaknya digunakan untuk disambitkan sehingga tali dapat melibat kaki Merak Sakti.

Tentu saja ilmu kepandaian melempar tali dengan batu karang ini yang dapat melibat kaki Merak Sakti, menunjukkan bahwa pelemparnya tentulah seorang luar biasa. Jangankan tali itu sampai dapat melibat kaki Merak Sakti yang lihai dan pandai mengelak, sedangkan untuk menangkap burung biasa dengan cara aneh itu pun agaknya tidak akan mudah dilakukan oleh sembarang orang! Dan yang membuat kedua anak muda itu merasa heran adalah sepotong kertas yang berada di ujung tali itu.

Cin Hai cepat-cepat mencabut kertas itu dan ternyata bahwa di situ terdapat tulisan yang dilakukan dengan corat-coret kasar dan berbunyi,

Pergilah kalian dan pelihara Merak ini baik-baik. Kalau ada jodoh, kelak bertemu.

“Aneh...“ kata Cin Hai, “tulisan siapakah ini dan apa pula maksudnya? Apa hubungannya dengan Kwee An dan Ma Hoa?”

Lin Lin yang membaca surat itu berkali-kali, juga tidak mengerti dan hanya memandang dengan bengong. “Tentu di sebelah bawah yang penuh rahasia itu ada seorang yang luar biasa pandai,” katanya, “dengan batu dia mampu membelitkan tali bersurat kepada kaki Kong-ciak-ko dan ia dapat mengetahui pula keadaan kita berdua di sini. Sungguh heran dan ajaib!”

Sekali lagi Cin Hai membaca surat itu dengan teliti. “Dengan kata-kata pergilah kalian, orang aneh itu sudah mengetahui bahwa kita berdua berada di sini dan menyuruh pergi, tentu karena kedua orang saudara kita itu selamat. Ia menyuruh kita memelihara merak baik-baik karena agaknya ia kagum dan suka sekali kepada merak ini, ada pun kata-kata bila ada jodoh kelak bertemu merupakan ucapan yang biasa dilakukan oleh pertapa atau orang-orang tua yang sakti. Ini hanya dugaanku saja, terutama mengenai keselamatan Kwee An dan Ma Hoa, aku sendiri belum dapat memastikan benar.”

Mereka lalu kembali ke rumah Yousuf dan menceritakan kejadian itu sambil menunjukkan surat itu. Yousuf juga merasa heran, akan tetapi dia berkata dengan suara mengandung penuh harapan, “Orang yang mengirim surat secara aneh ini tentu seorang pandai dan kalau dia dapat mengetahui keadaan kalian di atas tebing, tentu dia tahu pula apa yang kalian cari. Maka menurut dugaanku, Kwee An dan Ma Hoa tentu tertolong olehnya!”

“Akan, tetapi, kalau benar demikian halnya, mengapa dia tidak menyuruh An-ko dan Ma Hoa kembali ke sini?” tanya Lin Lin.

Yousuf menggeleng-gelengkan kepala dan memejamkan matanya sebab pembicaraan ini biar pun dilakukan sambil berbaring, tapi cukup melelahkan tubuhnya yang lemah. Yousuf ialah seorang perantau yang banyak pengalaman dan ia mengerti pula cara pengobatan, maka ia dapat merawat luka-lukanya sendiri.

Semenjak terjadinya peristiwa yang menguatirkan itu, yaitu lenyapnya Kwee An dan Ma Hoa serta terlukanya Yousuf, Cin Hai lalu menggembleng Lin Lin lebih rajin dan tekun lagi sambil memberi nasehat agar supaya gadis kekasihnya itu melatih diri baik-baik siang dan malam karena Cin Hai hendak meninggalkannya.

“Kau harus dapat menguasai Ilmu Pedang Han-le Kiam-sut beserta kedua Ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sin-na baik-baik untuk menjaga dari bahaya mendatang, sebab aku harus meninggalkan kau dan Yo-peh-peh beberapa lama untuk mencari Kwee An dan Ma Hoa. Hatiku takkan tenteram sebelum dapat menemukan mereka,” katanya.

Lin Lin juga menyatakan setuju. Tentu saja ia ingin sekali ikut akan tetapi keadaan Yousuf yang rebah dengan tubuh masih amat lemah dan belum sembuh lukanya itu memerlukan tenaga bantuan dan rawatannya sehingga ia merasa tidak tega untuk meninggalkan ayah angkatnya yang dikasihinya itu. Demikianlah, sejak saat itu mereka berlatih siang malam tanpa kenal lelah sehingga setelah digembleng secara demikian untuk sebulan lamanya, Cin Hai menjadi puas sekali.

“Lin-moi,” katanya girang setelah ia mencoba melawan Lin Lin dan mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang gadis itu kini benar-benar sudah hebat sekali. “Sekarang, biarlah Bo Lang Hwesio dan Ke Ce datang, bahkan biarlah mereka itu membawa dua tiga orang kawan lagi. Dengan adanya kau di sini, seorang diri saja engkau akan sanggup memukul roboh mereka semua.”

“Benarkah itu, Koko? Menurut pendapatku sendiri, kepandaianku masih sama saja.”

Cin Hai tersenyum “Memang demikianlah adanya. Kemajuan sendiri pasti takkan pernah terasa atau terlihat oleh diri sendiri, orang lain yang bisa menentukannya. Makin pandai seseorang ia akan makin merasa dirinya bodoh. Kau ingat akan nama guru kita? Bu Pun Su, artinya Tiada Kepandaian! Suhu yang ilmunya telah mencapai puncak kesempurnaan itu, bahkan mengaku bahwa beliau tak memiliki kepandaian sama sekali. Kepandaianmu sekarang telah berlipat beberapa kali kalau dibandingkan dengan sebulan yang lalu. Jika kau tidak percaya, mari kita tanyakan kepada Yo-pekhu.”

Keduanya lalu mendatangi Yousuf yang berangsur sembuh dan kini telah dapat duduk.

“Yo-pekhu, coba kau lihat ilmu pedang Lin Lin dan nyatakan pendapatmu!” kata Cin Hai.

Yousuf tersenyum sambil mengangguk-angguk dan Lin Lin lantas bersilat dengan pedang pendeknya di depan Yousuf. Pedang pendek Han-le-kiam menyambar-nyambar sehingga merupakan sinar putih kebiru-biruan berkelebat di sekeliling tubuh Lin Lin yang laksana menari-nari dengan gaya indah.

Walau pun pedang itu pendek saja, namun sinarnya seakan-akan menjadi senjata yang panjang hingga dapat dibayangkan bahwa gerakan pedang itu cepat sekali. Yang hebat ialah bahwa tangan kiri Lin Lin tak tinggal diam, akan tetapi membarengi gerakan tangan kanan yang memegang pedang pendek dan melakukan serangan pula sambil mainkan jurus-jurus yang lihai dan aneh dan Ilmu Silat Pek-in Hoatsut dan Kong-ciak Sin-na.

Setelah ia berhenti mainkan ilmu pedangnya, ia lalu memandang ke arah ayah angkatnya itu dengan mata mengandung pertanyaan. Yousuf menarik napas panjang karena tadi ia seperti menahan napas karena kagumnya.

“Ah, sungguh sulit dipercaya bahwa kepandaian ini baru kau pelajari beberapa puluh hari saja. Terus terang saja, kini aku sendiri belum tentu kuat menghadapimu dalam sepuluh jurus. Kau hebat, anakku dan terima kasih kepada Cin Hai yang telah mendidikmu.”

Cin Hai tersenyum girang, lalu menjura sambil berkata, “Terima kasih itu tak seharusnya ditujukan kepadaku, Yo-pekhu, akan tetapi kepada Suhu Bu Pun Su. Sekarang aku akan turun gunung hendak mencari jejak Kwee An dan Ma Hoa. Dengan kepandaian Lin Lin sekarang, aku dapat meninggalkan kalian berdua dengan hati tenteram. Lin-moi, harap kau jangan malas untuk melatih diri selama aku pergi.”

Lin Lin mengerling tajam. “Apakah memang aku biasanya malas? Koko, jangan terlalu lama pergi!”

“Mana aku kuat meninggalkan kau terlalu lama?”

Kemudian, sesudah sekali lagi memandang kepada Lin Lin dan menjura kepada Yousuf, Cin Hai lalu melompat dan tubuhnya berkelebat lenyap dari hadapan kedua orang itu.

“Lin Lin, kau tentu bahagia sekali mendapat jodoh seperti Cin Hai,” kata Yousuf dengan suara gembira.

Lin Lin tidak menjawab, hanya menjatuhkan diri duduk di atas sebuah kursi pembaringan Yousuf sambil tersenyum dan pandang matanya melayang jauh dalam lamunan.

Cin Hai mempergunakan ilmunya untuk berlari cepat menuruni bukit itu. Dia terus turun sampai di kaki bukit, lantas mengambil jalan memutar menuju ke kaki gunung di bawah tebing yang curam di mana Kwee An dan Ma Hoa terjatuh.

Ternyata bagian ini ialah bagian sebelah timur, penuh dengan hutan belukar, dan lereng gunung itu walau pun terdiri dari tanah yang tidak keras, akan tetapi sukar dilalui karena penuh dengan jurang-jurang dan rawa-rawa yang penuh alang-alang. Bahkan ada bagian yang nampaknya seperti tanah rata ditumbuhi rumput tebal, akan tetapi ketika terinjak, ternyata bahwa di bawahnya merupakan tanah lumpur yang berbahaya sebab sekali saja kedua kaki masuk ke situ, orang tak akan mampu menarik kembali kedua kakinya yang makin lama tersedot makin dalam!

Karena rawa yang demikian ini luas sekali dan tak mungkin diloncati begitu saja karena lebarnya, Cin Hai kemudian mencari akal. Ia menggunakan pedangnya untuk memotong banyak batang pohon bambu dan melemparkan bambu itu ke atas rumput itu.

Dia membawa beberapa batang bambu yang panjang dan menginjak bambu yang telah dilempar di atas rumput, kemudian dia menurunkan bambu sebatang lagi disambungkan kepada bambu yang diinjaknya. Dengan cara demikian dia membuat jembatan bambu yang sambung menyambung dan yang dapat diinjaknya tanpa kuatir tenggelam, hingga akhirnya setelah menghabiskan tujuh bambu panjang, ia dapat juga menyeberang rawa yang aneh dan berbahaya ini!

Cin Hai terus maju dengan hati-hati sekali, pedang Liong-coan-kiam siap di tangan sebab dia tidak tahu apa yang akan muncul di tempat yang belum pernah terinjak oleh kaki manusia itu. Akhirnya dia tiba juga di suatu tempat yang merupakan lereng yang curam dan yang tegak ke atas. Ketika dia memandang ke atas ternyata di atas penuh dengan halimun dan mengira-ngira di mana kiranya Kwee An dan Ma Hoa terjatuh.

Ketika ia maju sedikit ia melihat banyak goa di lereng itu, besar-besar dan gelap. Hatinya berdebar amat keras. Boleh jadi sekali orang aneh yang telah mengirim surat itu tinggal di salah sebuah di antara goa-goa ini!

Ia lalu meneliti setiap goa dan memeriksa tanah lembek di depan goa. Kalau goa itu ada orangnya, pasti ia akan melihat tapak kaki di depan goa itu, karena betapa pun tinggi ilmu ginkang seseorang, kalau menginjak tanah lembek itu pasti meninggalkan bekas. Setelah meneliti dan memeriksa beberapa buah goa, akhirnya ia berseru perlahan.

Di depan goa yang besar dan gelap, ia melihat kaki manusia! Ketika ia memeriksa lebih teliti, hatinya tergoncang karena tapak kaki itu demikian tipisnya, seakan-akan tanah itu hanya disentuh saja oleh orang yang berjalan di atasnya.

Ia kemudian mengerahkan ginkang-nya dan berjalan di dekat tapak-tapak kaki itu dengan ringan sekali. Akan tetapi ia melihat, ternyata bahwa tapak kakinya lebih dalam dari pada tapak kaki yang dilihatnya itu. Dari sini dapat dia menduga bahwa ilmu ginkang orang itu ternyata lebih tinggi dari pada ginkang-nya sendiri!

Cin Hai berlaku makin berhati-hati karena dia tahu bahwa orang itu tentu seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang sukar diukur sampai di mana tingginya dan ia belum tahu pula apakah orang itu kawan atau lawan. Ia segera membuat api dari kayu kering, dan dengan sebatang obor menyala yang dibuatnya dari pada alang-alang yang sudah kering, ia lalu memasuki goa itu, obor di tangan kiri dan Liong-coan-kiam di tangan kanan.

Goa itu ternyata lebar dan dalam sekali. la melihat beberapa buah batu hitam licin yang halus permukaannya hingga dapat dibuat duduk orang, maka semakin keras dugaannya bahwa di situ tentu pernah tinggal seorang manusia atau pertapa. Akan tetapi, selain batu-batu itu, tidak terdapat benda lain, juga tidak nampak seorang pun di dalam goa.

la menjadi kecewa dan tiba-tiba saja kepalanya tertumbuk pada sebuah batu kecil yang ternyata tergantung di atas langit-langit goa. Ia mengangkat obornya ke atas dan betapa girangnya ketika melihat bahwa batu kecil yang tertumbuk oleh kepalanya itu ternyata adalah sepotong batu karang yang diikat dengan tali, persis seperti yang dahulu dipakai untuk membelit kaki Sin-kong-ciak!

Dia tidak ragu-ragu lagi. Di sinilah tempat orang aneh yang berahasia itu. Dia memeriksa semakin teliti dan ketika ia mengangkat obornya ke sebelah kiri, ia melihat corat-coret di atas dinding tanah batu itu. Dia segera menghampiri dan ternyata bahwa corat-coret itu merupakan lukisan orang dalam berbagai posisi yang jelas menggambarkan orang yang sedang bermain silat!

Di sana-sini terdapat tulisan-tulisan dan ketika ia membaca tulisan itu, ia menjadi tertarik sekali karena tulisan-tulisan itu merupakan ujar-ujar dari Khongcu yang diambil dari kitab Tiong-yong! Di antara sekian banyaknya ujar-ujar yang ditulis di atas dinding itu, dengan gaya tulisan yang persis sama seperti yang dituliskan di atas kertas yang terbawa oleh kaki Sin-kong-ciak, ia tertarik akan sebuah ujar-ujar yang dulu pernah dia pelajari dari Kui Sianseng, gurunya yang suka memukul kepalanya itu. Ujar-ujar ini demikian bunyinya,

Kou Kuncu Put Kho-i Put Siu-sin. Su siu-sin Put kho-i Put Su-jin. Su Su-jin Put-kho-i Ti-jin. Su Ti-jin, Put Kho-i Put Ti Thian!

Ia teringat kepada Kui Sianseng yang memecahkan arti ujar-ujar tersebut sebagai berikut, ‘seorang Budiman seharusnya menyempurnakan diri (batin dan pikiran) pribadi. Untuk dapat menyempurnakan diri pribadi, tak dapat tidak harus mencinta dan berbakti kepada ayah bunda. Untuk dapat mencinta dan berbakti pada ayah bunda, tak dapat tidak harus mengetahui tentang peri kemanusiaan. Dan untuk dapat mengetahui tentang peri kemanusiaan, tak dapat tiada ia harus mengetahui tentang KETUHANAN.”

Setelah membaca ujar-ujar yang dulu sering dihafalkan itu, tiba-tiba saja Cin Hai berdiri bengong karena ia teringat kepada ayah bundanya dan ingat pula bahwa ia belum juga mencari kuburan mereka! Sampai lama juga ia berdiri diam tak bergerak hingga setelah api obornya padam, barulah ia sadar dan segera keluar dari goa itu oleh karena merasa malu dan tidak enak hati untuk berdiam lebih lama dalam tempat kediaman orang lain tanpa seijin tuan rumah!

Ia terus mencari hingga sehari penuh ia keluar masuk goa untuk mencari jejak Kwee An dan Ma Hoa. Akan tetapi jangankan orangnya, bayangannya pun tidak dilihatnya!

Cin Hai merasa kecewa, akan tetapi ia juga merasa lega karena tidak melihat bukti-bukti bahwa dua orang yang dikasihinya itu telah tewas! Karena, andai kata keduanya terjatuh dan terbanting mati di situ, tentu ia akan melihat tanda-tanda atau bekas-bekasnya.

Karena hari telah mulai gelap, maka Cin Hai lalu memasuki goa yang penuh tulisan dan lukisan itu lagi untuk bermalam. Dia anggap bahwa goa itu paling bersih dan paling baik, tidak mengandung hawa dan bau yang tidak enak seperti goa lainnya, dan lagi pula, ada kemungkinan penghuni goa itu datang sehingga dia dapat bertemu dengannya! Dia ingin sekali bertemu dengan ahli ujar-ujar Khongcu ini yang sudah mengirim berita ketika dia berada di atas dengan Lin Lin dan dia merasa yakin bahwa penulis surat itu tentu tahu akan nasib Kwee An dan Ma Hoa!

Karena merasa asing di dalam goa seorang diri, maka Cin Hai lalu menyalakan api lagi dan memeriksa lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan di dinding itu. Ternyata lukisan-lukisan itu mengandung pelajaran ilmu silat yang aneh dan tinggi. Akan tetapi sebagai seorang berjiwa gagah, Cin Hai tidak mau mencuri dan mempelajari ilmu silat orang lain, maka ia lalu mengalihkan perhatian pada tulisan-tulisan dan ujar-ujar yang selalu menarik hatinya.

Mendadak dia melihat lukisan-lukisan yang mengerikan, yaitu sebuah tengkorak, sebuah tubuh manusia dengan segala macam kekotorannya, dan sebuah muka yang amat jahat, sejahat-jahatnya bagaikan setan sendiri memperlihatkan muka!

Dan di bawah tiga buah lukisan aneh itu, terdapat syair yang sangat menarik hatinya. Dia lalu membaca dengan penuh perhatian,

Alangkah buruk nasibku! Aku dipaksa untuk tinggal di tubuh hina. Dikurung dalam segala kerendahan jasmani! Diliputi oleh segala kepanasan hawa nafsu!

Hanya satu hiburan bagiku: Akan tiba saatnya aku pergi meninggalkan semua keburukan ini. Dan kembali ke tempat asal, kembali ke tempat suci!

Sekali lagi Cin Hai dibikin bengong dan termenung membaca syair yang penuh arti ini. Ia maklum dan dapat merasakan bahwa syair ini merupakan rintihan jiwa atau roh manusia, bukan penulis syair itu saja akan tetapi setiap manusia, termasuk dia sendiri!

Ia lantas bergidik memandang tengkorak itu yang tiba-tiba nampak menjadi tengkoraknya sendiri, ngeri melihat tubuh dengan segala kekotoran itu, dan meremang bulu tengkuknya melihat wajah mengerikan itu, wajah yang penuh diliputi nafsu-nafsu jahat yang tiap saat menyerang batin manusia! Siapakah pelukis dan penyair ini? Makin tertarik hatinya sebab ia merasa bahwa orang ini bukanlah orang sembarangan.

Tiba-tiba terdengar suara, “Ah… ah... uh... uh...!” yang keras di belakangnya dan secepat kilat Cin Hai membalikkan tubuhnya.

Dia melihat seorang tua kurus tinggi tahu-tahu sudah berdiri di pintu goa tanpa terdengar olehnya. Orang itu kelihatan marah sekali dan tiba-tiba dia mengangkat tangan kanannya lalu digerakkan ke arah Cin Hai.

Bukan main terkejutnya Cin Hai sebab tiba-tiba dari tangan itu menyambar angin pukulan yang keras sekali. Cin Hai cepat mengelak ke samping, akan tetapi angin pukulan yang keras itu telah menyambar dan membikin padam api obor yang dipegangnya!

Di dalam goa menjadi gelap sekali. Jangankan untuk melihat orang lain, memandang jari tangan sendiri di depan mata pun tak kelihatan! Cin Hai maklum bahwa betapa pun tinggi kepandaian seorang dan betapa pun tajam pandangan mata seseorang, namun, tanpa ada sinar yang menerangi sama sekali, mata tidak akan ada gunanya lagi. Maka dia lalu meraba-raba dan berdiri mepet dinding goa.

Ia mendengar angin pukulan orang itu masih menyerang secara membabi buta. Ia pun maklum bahwa meski angin pukulan itu akan dapat ditahannya dan takkan mencelakakan dirinya karena ia pun memiliki tenaga lweekang cukup tinggi, namun apa bila ia membuat gerakan, akan terdengar oleh orang itu dan jika orang itu menyerang dengan nekad di dalam gelap, tentu mau tidak mau dia harus membalas dan pertempuran di dalam gelap hanya dapat diakhiri dengan maut! Dan hal ini tidak ia kehendaki, karena ia tidak punya permusuhan sesuatu dengan orang itu.

Ia pun tidak berani membuka mulut, karena ia tidak tahu akan watak orang aneh itu. Ia hanya menanti sampai orang itu membuka mulut, akan tetapi ternyata orang itu pun tidak bicara sesuatu, hanya ah-ah-uh-uh seperti suara monyet!

Semalam itu Cin Hai hanya duduk saja menyandar dinding dengan mengatur napas dan bersemedhi karena hanya dengan jalan duduk diam begini dia dapat beristirahat sambil mencurahkan perasaannya sehingga tak mudah diserang lawan secara diam-diam.....

Pada esok harinya, ketika sinar matahari mulai menerangi tempat itu, Cin Hai mendapat kenyataan bahwa kakek itu tidak ada pula di tempat itu! Ia lalu berdiri dan keluar dari goa dan ternyata bahwa kakek itu telah berdiri di depan goa sambil bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan marah!

“Locianpwe, mohon kau orang tua suka memberi maaf kepadaku kalau tanpa disengaja aku telah mengganggu,” kata Cin Hai sambil menjura penuh hormat.

Akan tetapi, orang tua itu dengan muka merengut, menggerak-gerakkan kedua tangannya seolah-olah mengusir supaya Cin Hai lekas pergi dari situ sambil mulutnya mengeluarkan suara, “Ah-ah uh-uh!” dan terkejutlah Cin Hai karena dia mendapat kenyataan bahwa empek-empek itu ternyata adalah orang gagu!

“Locianpwe, aku datang bukan dengan maksud jahat. Apakah kau orang tua yang sudah mengirim surat yang diikatkan di kaki Sin-kong-ciak dulu itu?”

Kakek itu menggeleng-gelengkan kepala dengan keras sehingga kembali Cin Hai tertegun karena kalau bukan kakek ini, siapa lagi yang tinggal di tempat itu?

“Locianpwe, kalau begitu, tolonglah kau memberi tahukan tentang dua orang muda yang terjun di tempat ini dari atas!” kata lagi Cin Hai sambil menggerak-gerakkan kedua tangan membantu kata-katanya agar lebih jelas bagi kakek gagu itu.

Akan tetapi kembali kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bersuara “ah-ah uh-uh” tidak karuan dan tangannya semakin cepat bergerak mengusir Cin Hai karena dia beberapa kali menuding ke arah bawah bukit.

“Locianpwe, aku tidak akan turun sebelum mendapat keterangan kedua orang muda yang menjadi kawan-kawanku itu,” kata Cin Hai sambil menggelengkan kepala.

Tiba-tiba saja kakek itu menjadi marah dan sambil mengeluarkan seruan laksana seekor binatang buas, dia menerkam Cin Hai dengan ilmu pukulan yang aneh dan cepat. Cin Hai biar pun belum pernah melihat ilmu pukulan macam ini, namun pandangannya yang awas dan pengertiannya yang mendalam dalam hal gerakan pundak, tahu bahwa inilah ilmu silat seperti yang dilukiskan di dalam goa itu. Ia cepat mengelak dan tidak mau membalas karena ingin tahu sampai di mana kelihaian orang aneh ini.

Lima jurus kakek itu menyerang dan semakin lama makin heranlah kakek itu dan jelas nampak pada mukanya bahwa dia benar-benar merasa heran sekali karena serangannya itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Cin Hai. Cin Hai mendapat kenyataan bahwa biar pun ilmu pukulan kakek itu hebat dan dalam hal keganasan tidak kalah dengan ilmu silat Hek Pek Moko, namun tingkat kepandaian kakek ini masih belum sangat tinggi dan juga ginkang kakek ini masih jauh dari pada sempurna.

Maka dia segera maklum bahwa selain kakek gagu ini, tentu masih ada seorang lain yang betul-betul tinggi dan sakti kepandaiannya. Mungkin kakek ini hanyalah kawan atau murid saja dari orang pandai yang sebenarnya dan yang belum juga mau memperlihatkan diri.

Sesudah menyerang lagi lima jurus tanpa hasil, tiba-tiba kakek itu lalu berseru keras dan melarikan diri ke atas bukit. Walau pun dalam hal ilmu silat Cin Hai masih jauh lebih lihai dari padanya, namun ketika menyaksikan betapa kakek itu mendaki bukit dengan cepat sekali bagaikan orang berlari di tanah datar saja, diam-diam Cin Hai menjadi kagum sekali. Akan tetapi ia merasa menyesal dan kecewa sekali karena pertemuannya dengan kakek gagu yang aneh ini pun tidak menghasilkan sesuatu dan tentang Kwee An dan Ma Hoa masih tetap merupakan teka-teki gelap baginya.

Dia mengejar dan melompat ke atas sebuah batu besar, akan tetapi dia urungkan niatnya untuk mengejar terus. Apa gunanya? Kalau pun dia dapat menyusul kakek itu, takkan ada gunanya karena ia tak dapat mengajak kakek itu bercakap-cakap.

Ia berdiri termenung di atas tempat yang tinggi itu dan tiba-tiba ia mendengar suara riuh dari jauh. Ia segera memandang dan melihat betapa dari jurusan utara datang sepasukan tentara yang panjang dan besar jumlahnya. Debu mengepul ke atas ketika tanah yang kering terinjak oleh banyak kaki orang itu.

Tiba-tiba dari jurusan selatan, nampak pasukan lain lagi. Pasukan ini tidak begitu panjang akan tetapi pada bagian depan terdapat beberapa orang penunggang kuda yang agaknya menjadi pemimpin pasukan itu. Juga debu mengepul hebat di bawah kaki pasukan ini. Kedua pasukan itu agaknya hendak berperang, sebab masing-masing membawa bendera yang berkibar dan keduanya bergerak maju untuk saling bertemu.

Cin Hai menjadi tertarik sekali, maka ia segera melompat turun dari batu karang, terus lari pergi dari tempat itu. Dia mempergunakan jembatan bambu yang dibuatnya kemarin dan setelah meninggalkan rawa itu, ia berlari cepat menuju ke tempat di mana kedua pasukan bertemu.

Dan setelah dia sampai di sana, terdengarlah sorak sorai yang hebat dan dibarengi suara senjata beradu dan pekik manusia berperang. Cin Hai mendekati dan ketika dia melihat bahwa yang sedang bertempur itu adalah pasukan kerajaan melawan pasukan bangsa Mongol, dia segera menyerbu dan ikut membantu pasukan kerajaan. Melihat orang-orang Mongol ini, dia teringat kepada Pangeran Vayami dan Ke Ce yang menimbulkan benci di dalam hatinya.

Sebelum Cin Hai datang, tentara kerajaan sedang terdesak oleh amukan tentara Mongol yang dikepalai seorang panglima perang bangsa Mongol yang kosen sekali. Juga jumlah mereka yang lebih besar membuat tentara kerajaan melawan dengan sia-sia dan banyak korban jatuh di pihak mereka.

Akan tetapi ketika Cin Hai menyerbu, di mana saja ia datang tentu pihak Mongol menjadi kocar-kacir, karena baik dengan kedua tangan atau pun kakinya, setiap gerakan pemuda ini membuat seorang bangsa Mongol terguling!

Melihat datangnya seorang pemuda Han yang amat lihai membantu pihak mereka, timbul kembali semangat pasukan kerajaan sehingga mereka lalu menyerbu lagi dengan nekad dan penuh semangat sehingga ketika Cin Hai membantu ke sana ke mari, pihak tentara kerajaan kini mendapat kemajuan dan musuh dapat dibikin kacau.

Akan tetapi, pada waktu Cin Hai menyerbu sampai di tengah-tengah, dia melihat seorang panglima bangsa Mongol yang amat kosen dan yang sedang dikeroyok oleh empat orang panglima kerajaan, yaitu Perwira-perwira Sayap Garuda yang bersenjata pedang. Akan tetapi, panglima Mongol yang berkulit hitam serta bertubuh tinggi besar itu mengamuk dengan hebatnya hingga empat orang Perwira Sayap Garuda itu terdesak hebat. Bahkan di atas tanah menggeletak tiga orang Perwira Sayap Garuda dalam keadaan mandi darah dan mati!

Bukan main marahnya Cin Hai karena ia maklum bahwa Panglima Mongol yang tangguh ini takkan menemukan tandingan. Melihat betapa empat orang perwira kerajaan terdesak hebat dan bahkan telah ada tiga orang yang tewas, dia lalu berseru keras dan menyerbu menghadapi perwira Mongol itu sambil berseru,

“Cuwi Ciangkun, mundurlah dan biarkan aku menghadapi raksasa Mongol ini!”

Keempat Perwira Sayap Garuda menjadi girang mendapat bantuan ini dan oleh karena mereka tadi memang sudah kewalahan menghadapi lawan tangguh itu, maka mereka lalu meloncat ke belakang membiarkan anak muda itu menggantikan mereka.

Panglima Mongol tinggi besar itu tertawa lebar pada saat melihat bahwa kini yang maju menghadapinya hanyalah seorang muda berpakaian seperti seorang pelajar.

“Ha-ha-ha! Agaknya kalian telah kehabisan panglima hingga harus mengajukan seorang kanak-kanak yang masih harus berada dalam pelukan ibunya!” ia menyindir.

Cin Hai menghadapi sindiran dan hinaan ini dengan tersenyum saja, lalu ia pun bertanya, “Panglima yang sombong, siapakah kau dan apakah kau masih mempunyai hubungan dengan Pangeran Vayami?”

Panglima tinggi besar muka hitam itu tercengang mendengar disebutnya nama ini. “Hmm, dari mana kau tahu nama pengkhianat kami itu? Vayami adalah seorang pengkhianat, jangan dihubungkan dengan aku, Balaki, seorang pahlawan sejati dari Mongol!”

Balaki ini sebenarnya adalah seorang panglima tinggi di daerah Mongol, tangan kanan Yagali Khan, raja muda yang memimpin dan memerintah Mongolia pada masa itu. Dan ilmu kepandaian Balaki amat tinggi.

Ketika mendengar tentang gagalnya expedisi Mongolia mencari Pulau Kim-san-to, maka ketika Yagali Khan mengadakan serbuan ke pedalaman Tiongkok, dia lalu menawarkan diri untuk mengepalai sendiri barisan Mongol. Tiap pasukan Han yang bertemu dengan pasukan pimpinan Balaki ini, pasti dihancurkan dan dikalahkan dengan mudah. Pasukan yang kini sedang bertempur, tentu akan hancur binasa pula kalau tidak kebetulan Cin Hai muncul sebagai bintang penolong.

“Anak muda,” kata pula Balaki, “kau siapakah dan mengapa pula kau yang berpakaian pelajar ini berani maju menyambutku?”

“Aku adalah seorang rakyat biasa yang tentu saja takkan tinggal diam melihat kau bangsa Mongol bermain gila di tanah airku!” jawab Cin Hai dengan tenang.

Balaki tertawa terbahak-bahak. “Ha, kau ingin bermain menjadi patriot? Ha-ha-ha, bagus, aku akan membuat kau tewas sebagai seorang pahlawan negara!”

Sambil berkata begitu, Balaki lalu menerjang maju dengan golok besarnya. Gerakannya antep dan cepat sehingga Cin Hai tidak berani memandang ringan, lalu cepat mencabut pedangnya dan melayaninya dengan hati-hati.

Pada saat melihat pertempuran hebat ini, para anak buah tentara kedua pihak menjadi gembira dan mereka yang berada dekat pertempuran ini segera menghentikan serbuan masing-masing dan kini menonton sambil bersorak menambah semangat jago masing-masing! Juga keempat Perwira Sayap Garuda melihat kelihaian Cin Hai, menjadi kagum dan berbesar hati oleh karena selama ini belum pernah ada yang kuat menghadapi Balaki yang terkenal kosen itu.

Seperti biasanya, Cin Hai hanya mempertahankan diri dulu untuk mengukur kepandaian lawan dan ternyata bahwa ilmu kepandaian Balaki dengan ilmu golok tunggalnya, walau pun benar-benar lihai namun masih tidak dapat mengimbangi kegesitan Cin Hai sehingga pemuda ini dengan mudah dapat mengelak atau pun menangkis semua serangan yang datang bertubi-tubi itu.

Hal ini tentu saja membuat Balaki merasa penasaran sekali oleh karena belum pernah ia melihat seorang lawan yang mampu menahan serangannya tanpa membalas sedemikian lamanya. Ia lalu berseru keras dan tiba-tiba tangan kirinya mengeluarkan sebuah benda yang bulat.

Cin Hai mengira bahwa itu tentu semacam senjata rahasia, maka ia berlaku waspada dan cepat bersiap sedia menghadapi serangan senjata gelap musuh. Akan tetapi Balaki tidak menggunakan senjata aneh itu, hanya menggenggamnya di tangan kiri, ada pun golok di tangan kanannya masih menyerang ganas.

Tiba-tiba ketika Cin Hai mengelak dari serangan golok lawannya, Balaki membuka tangan kirinya dan tahu-tahu selarik sinar keemasan yang bercahaya terang menyambar ke arah muka Cin Hai. Sinar ini demikian cepat datangnya sehingga tidak mungkin lagi dikelit oleh kegesitan seorang manusia, maka Cin Hai merasa terkejut sekali dan tak terasa pula ia berseru.

Akan tetapi, ternyata bahwa sinar atau cahaya itu tidak menyakitinya, hanya membuat matanya terasa pedas sekali karena ternyata bahwa benda di tangan kiri Balaki itu adalah sebuah cermin yang digunakannya untuk memantulkan cahaya matahari yang bersinar terang. Pantulan cahaya matahari itu dipergunakan untuk menyerang mata lawan, dan mengagetkannya sehingga tentu saja orang itu akan menjadi silau dan kaget.

Benar saja, Cin Hai yang lihai itu sama sekali tak menduga akan kelihaian lawan hingga ketika matanya bertemu dengan pantulan cahaya matahari yang disinarkan dari cermin itu, dia pun tidak kuat menahan dan terpaksa menutup kedua matanya. Saat inilah yang dimaksudkan oleh senjata cermin itu dan pada saat Cin Hai tersilau dan meramkan mata, golok di tangan Balaki menyambar cepat dan hebat ke arah leher Cin Hai.

Sudah banyak sekali lawan yang tewas dalam tangan Balaki terkena tipu ini, dan kali ini pun dia sudah merasa pasti bahwa pemuda ini tentu akan roboh dengan kepala terpisah dari tubuh. Akan tetapi, kalau ia berpendapat demikian, ia belum kenal dan belum tahu betul siapa adanya Cin Hai!

Pemuda ini selain sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan luar biasa, juga sudah menerima gemblengan hebat dari Bu Pun Su, ditambah lagi pengalaman bertempur yang banyak menghadapi lawan-lawan tangguh, hingga dalam keadaan bagaimana berbahaya pun, hatinya tetap tenang dan kewaspadaannya tidak tergoncang.

Memang, ketika matanya tersorot sinar matahari, ia merasa terkejut dan tidak tahan untuk tidak memejamkan mata. Akan tetapi hanya matanya saja yang tertutup dan untuk saat itu tidak dapat dipergunakan, akan tetapi, telinga dan perasaannya masih tajam dan tidak terpengaruh sama sekali.

Dia dapat merasa dan mendengar suara angin serangan golok yang mengarah lehernya. Maka, ketika semua orang sudah merasa ngeri, terutama keempat orang Perwira Sayap Garuda, dan menyangka bahwa pemuda itu pasti akan binasa di tangan Balaki seperti orang-orang lain yang pernah menghadapinya, tiba-tiba saja tubuh Cin Hai melompat ke belakang dengan cepat sekali sehingga mata golok itu lewat menyerempet di dekat kulit lehernya.

Tidak hanya Balaki yang amat terkejut, akan tetapi semua orang yang melihat lompatan ke belakang secara aneh itu merasa kagum sekali. Belum pernah mereka dapat melihat seorang melompat ke belakang sedemikian cepatnya dan tepat pada saat bahaya maut sedang mengancam leher.

Kini Cin Hai merasa marah juga karena hampir saja ia tadi menjadi korban senjata golok pahlawan Mongol ini. Sebaliknya, Balaki menyangka bahwa pemuda itu menjadi gentar, maka dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan cepat mengejar untuk mengirim serangan dengan ilmu golok yang paling ia andalkan. Goloknya terputar-putar garang bagai seekor naga mengamuk hingga tubuhnya sendiri lenyap di dalam gulungan golok.

“Rasakan pembalasanku!” kata Cin Hai dan pemuda ini mulai memainkan jurus-jurus limu Pedang Daun Bambu ciptaan sendiri.

Ketika ia mencipta ilmu pedang ini, ia menusukkan pedangnya dan menyerang batang-batang bambu yang runcing bagaikan golok dan dapat mengenai sasaran dengan tepat tanpa menyentuh daun-daun itu. Kini menghadapi putaran golok Balaki, meski pun dalam pandangan mata orang lain tubuh Balaki sudah lenyap tergulung sinar golok, namun bagi mata Cin Hai, ia masih dapat melihat berkelebatnya ujung golok hingga dengan cepat ia dapat ‘memasukkan’ pedangnya di antara sinar golok.

Terdengar Balaki memekik. Pekik ini ia keluarkan bukan karena kesakitan, akan tetapi juga karena terkejut dan takjub. Ia tidak tahu bagaimana lawannya dapat menyerangnya dan tahu-tahu dia merasa lengan tangannya sakit sekali sehingga goloknya terlepas dari pegangan dan ternyata bahwa lengannya telah tertusuk ujung pedang Cin Hai.

Bukan main girangnya hati keempat Perwira Sayap Garuda melihat ini, akan tetapi Balaki segera memberi aba-aba keras dan menyerbulah semua anak buahnya, sedangkan dia sendiri cepat meloloskan diri dari keributan itu hingga Cin Hai tidak dapat mengejar dan merobohkannya. Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi kini tentara Mongol telah lemah semangat bertempurnya dan tidak lama kemudian mereka melarikan diri, meninggalkan kawan-kawan yang telah tewas atau terluka sehingga tempat itu penuh orang-orang mati dan luka.

Ini merupakan kekalahan besar pertama kali yang diderita oleh Balaki semenjak dia mulai menginjakkan kakinya di pedalaman Tiongkok. Keempat orang Perwira Sayap Garuda itu merasa girang dan berterima kasih sekali kepada Cin Hai.

Melihat sikap mereka yang baik, Cin Hai menjadi heran sekali karena mereka ini berbeda sekali dengan perwira-perwira Sayap Garuda yang pernah dilihatnya ketika dia dan Kwee An mengamuk di dalam Eng-hiong-koan di kota raja dulu pada waktu ia membasmi para perwira yang menjadi musuh besar Kwee-ciangkun.

“Hohan (orang baik atau orang gagah) yang muda sudah memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, sungguh membuat kami berempat menaruh hormat dan merasa kagum serta amat berterima kasih sekali!” kata salah seorang di antara empat Perwira Sayap Garuda itu. “Bolehkah kami mengetahui nama Hohan yang gagah perkasa?”

Dengan suara merendah, Cin Hai berkata terus terang untuk mencoba dan melihat sikap mereka, “Siauwte yang muda dan bodoh bernama Sie Cin Hai. Mungkin Cuwi-ciangkun akan teringat dengan nama hamba apa bila teringat akan peristiwa pembasmian keluarga Kwee-ciangkun!” sambil berkata demikian, Cin Hai memandang tajam.

Jelas sekali nampak betapa empat orang perwira itu terkejut sekali dan saling pandang. Segera mereka lalu mengangkat tangan memberi hormat, sedangkan pemimpin mereka yang tertua berkata,

“Ah, tak tahunya Sie-taihiap yang menolong kami! Pantas saja demikian lihai! Sie-taihiap, kami semua Perwira Sayap Garuda, sudah tentu saja pernah mendengar nama Taihiap yang gagah perkasa, bahkan kaisar sendiri telah lama sekali mencari-cari Taihiap!”

Cin Hai benar-benar merasa tertegun dan heran melihat sikap mereka ini.

“Apa? Apakah kaisar mencari untuk menghukum aku yang dulu telah pernah membunuh beberapa orang perwira jahat?”

“Ahh, agaknya sudah lama Sie-taihiap tidak ke kota raja hingga tidak tahu akan keadaan dan perubahan di sana,” berkata salah seorang di antara mereka dan kemudian mereka menceritakan hal yang amat menggembirakan hati Cin Hai.

Ternyata bahwa semenjak Beng Kong Hosiang yang menjadi pemimpin para perwira itu tewas di tangan Balutin, kemudian para perwira tinggi yang jahat telah tewas pula, yang menggantikan dan memegang pucuk pimpinan ialah seorang panglima baru yang masih muda dan gagah perkasa bernama Kam Hong Sin.

Panglima Kam ini selaih gagah perkasa, juga berjiwa gagah dan tidak palsu seperti Beng Kong Hosiang dan perwira lain yang dulu memegang kekuasaan. Bahkan Panglima Kam ini mengindahkan kaum kang-ouw dan memiliki pergaulan yang luas dengan orang-orang gagah sehingga dia sangat dihormati dan disegani. Panglima ini pula yang menyadarkan pikiran kaisar hingga kaisar tidak lagi mempunyai pandangan buruk terhadap orang-orang kang-ouw.

Dengan tangan besi Kam Hong Sin lalu memilih ulang perwira-perwira Sayap Garuda dan mengadakan peraturan-peraturan keras dengan ancaman hukuman berat. Kalau seorang perwira sedikit saja melanggar, dia akan dihukum dan dipecat dari kedudukannya. Oleh karena tindakan ini, maka banyak muncul perwira-perwira baru pilihan Kam-ciangkun dan bahkan tidak sedikit orang-orang kang-ouw yang masuk menjadi Perwira Sayap Garuda!

“Karena inilah, Sie-taihiap, maka selain Kam-ciangkun sendiri, juga kaisar ingin bertemu dengan Taihiap. Telah lama Kam-ciangkun mengagumi Taihiap dan lain-lain orang gagah dan mengharapkan untuk dapat bertemu serta berkenalan,” kata Perwira Sayap Garuda itu.

Tentu saja Cin Hai menjadi girang sekali mendengar mengenai perubahan baik ini. Tanpa diminta lagi dia lalu menyediakan tenaga untuk membantu mengusir para penyerbu dari Mongol.

Ketika ia bertanya tentang penyerbuan orang-orang Mongol ini, perwira itu menceritakan, “Sudah sebulan lebih tentara Mongol yang dipimpin oleh Yagali Khan menyerbu daerah Tiongkok dan raja muda ini mempunyai banyak sekali pembantu-pembantu yang pandai. Balaki tadi adalah seorang di antara para jagonya itu, maka kedudukannya kuat sekali. Kam-ciangkun lalu menggerakkan banyak tentara yang dipecah-pecah menjadi beberapa bagian dan mengadakan pengepungan terhadap barisan induk dari tentara Mongol yang berkedudukan di sebelah dalam tembok besar, di daerah Tiang-lo-sia. Pasukan kami ini merupakan bagian dari barisan yang harus mengadakan pengepungan dari selatan, akan tetapi tak terduga-duga kami bertemu dengan barisan Balaki tadi sehingga jika saja tidak mendapat bantuan dari taihiap, tentu kami mendapat bencana besar.”

Kemudian Cin Hai mendengar betapa tentara kerajaan sering kali menderita kekalahan sehingga ia pun menjadi penasaran dan mengambil keputusan untuk ikut ke Tiang-lo-sia membantu usaha para pasukan kerajaan mengusir musuh. Tentu saja para perwira itu merasa girang sekali oleh karena dengan adanya pembantu yang sangat lihai ini, banyak harapan usaha mereka akan berhasil dan sekarang mereka tidak usah kuatir menderita kekalahan apa bila di jalan bertemu dengan pasukan musuh.

Pada saat pasukan di mana Cin Hai berada tiba di Tiang-lo-sia, di sebelah luar daerah kekuasaan Yagali Khan, mereka bertemu dengan pasukan-pasukan lain yang mengurung dari lain jurusan. Pengepungan dilakukan, dan tak lama kemudian berturut-turut pasukan-pasukan kerajaan datang dari segenap penjuru hingga daerah Tiang-lo-sia akhirnya telah dikurung.

Pimpinan serbuan ini adalah seorang perwira tinggi she Liang. Dia lalu mencari seorang untuk dijadikan utusan, oleh karena ia membawa surat dari kaisar yang ditujukan kepada Yagali Khan. Surat ini berisi bujukan halus yang juga mengandung ancaman agar supaya Yagali Khan suka untuk menarik kembali pasukannya dan jangan melanggar tapal batas negara.

Ketika mendengar bahwa komandan pasukan-pasukan kerajaan mencari seorang utusan untuk mengantar surat kaisar, Cin Hai segera mengajukan diri untuk melakukan tugas ini. Keempat perwira yang pernah ditolongnya dari serbuan Balaki lalu menceritakan kepada Liang-ciangkun akan kegagahan dan jasa Cin Hai dan betapa pemuda ini dengan mudah sudah mengalahkan Balaki. Liang-ciangkun menjadi kagum dan tanpa ragu-ragu lagi dia lalu memberikan tugas membawa surat itu kepada Cin Hai.

Yagali Khan beserta para pembantunya sudah mendengar bahwa pihak tentara Han akan mengirim utusan yang membawa surat dari kaisar, dan bahwa utusan ini adalah seorang pemuda yang pernah mengalahkan Balaki. Oleh karena ini, kedatangan Cin Hai yang tak mau dikawal dan hanya datang seorang diri itu disambut oleh Panglima-panglima Mongol dan kemudian Cin Hai dibawa menghadap kepada Yagali Khan.

Cin Hai kagum sekali melihat keangkeran tempat itu, karena selain pengawal dan prajurit berbaris rapi dengan golok besar di tangan sambil berdiri tegak, juga para perwira yang menyambutnya rata-rata bertubuh tinggi besar dan kelihatan gagah sekali. Dan ketika ia tiba di ruang di mana Yagali Khan duduk di atas sebuah kursi indah, ia melihat bahwa di dekat raja muda ini duduk pula tiga orang panglima besar, seorang di antaranya bukan lain adalah Balaki sendiri!

Orang ke dua adalah seorang tua berambut putih panjang yang terurai di pundak, ada pun pakaiannya mengingatkan dia kepada Pangeran Vayami, jubah merah yang indah. Orang ke tiga pendek gemuk setengah tua, juga berpakaian merah hingga dapat diduga bahwa kedua orang ini tentulah pendeta-pendeta Sakya Buddha atau pendeta Agama Buddha Merah seperti halnya Pangeran Vayami.

Sikap ketiga orang yang duduk di dekat Yagali Khan ini nampak angker dan mereka tidak bergerak bagaikan patung. Akan tetapi dari mata mereka memancarkan sinar berapi-api yang ditujukan kepada Cin Hai yang masuk dengan tindakan kaki gagah dan tenang.

Melihat bahwa orang yang pernah mengalahkan Balaki hanyalah seorang pemuda yang usianya paling banyak dua puluh tahun saja, Yagali Khan merasa heran bukan main. Ia menyambut kedatangan Cin Hai dengan dingin dan tidak berdiri dari tempat duduknya, hanya berkata dengan suara nyaring dan dalam bahasa Han yang cukup fasih.

“Tuankah utusan kaisar?”

“Betul, Yagali Khan, akulah yang mendapatkan kehormatan untuk menjadi utusan kaisar,” jawab Cin Hai dengan tenang dan dia sama sekali tidak mau memberikan hormat karena melihat sikap mereka demikian dingin.

Dari saku bajunya ia mengeluarkan surat kaisar yang ditujukan kepada Raja Muda Yagali Khan dan memberikannya kepada raja muda Mongol itu. Baik Yagali Khan sendiri mau pun ketiga panglima besar yang duduk di sampingnya, merasa penasaran dan heran atas sikap dingin dan keberanian Cin Hai.

“Anak muda, kau berani dan tinggi hati. Apakah ini terdorong oleh sifatmu yang sombong dan karena kau mengandalkan ilmu kepandaianmu?” bertanya pula Yagali Khan sambil menerima surat itu.

“Tidak demikian, Yagali Khan. Aku adalah seorang utusan, dan pada saat ini aku boleh dibilang sebagai wakil kaisar yang memerintahkan datang untuk memberikan surat serta untuk mengadakan perundingan dengan kau. Maka sesuai pula dengan kebesaran kaisar negaraku, aku pun tidak boleh merendahkan diri di depan seorang raja muda asing, apa lagi karena aku berada di atas tanah sendiri sedangkan kau dan barisanmu merupakan tamu-tamu belaka.”

Jawaban ini diucapkan dengan tenang dan tabah sehingga Yagali Khan merasa makin heran dan kagum.

“Anak muda, kalau aku menggerakkan seluruh perwira dan pasukanku, apa kau kira kau yang hanya seorang diri ini, betapa pun tinggi kepandaianmu, akan dapat membela diri dan pulang dengan selamat?”

“Aku tidak takut karena hal seperti itu tak mungkin terjadi,” jawab Cin Hai.

“Kenapa kau bisa berkata demikian? Dengan hanya mengangkat tangan kananku, ribuan prajurit akan menyerbu dan menghancurkan tubuhmu dengan golok dan pedang.”

“Sekali lagi aku yakin bahwa hal ini tak akan mungkin terjadi. Pertama karena aku adalah seorang utusan, dan negara mana pun di dunia ini tak akan mengganggu seorang utusan kaisar! Ke dua kalinya, kalau kau melanggar aturan ini dan mengerahkan prajurit untuk mongeroyokku, aku akan melawan mati-matian dan sebelum aku mati, tentu aku akan berhasil merobohkan ratusan orang-orangmu hingga mati pun tak akan rugi. Dan ke tiga kalinya, bila kau melakukan pelanggaran ini, nama Yagali Khan akan tenggelam ke dalam lumpur kehinaan hingga andai kata kelak kau bisa menjadi seorang raja yang bagaimana pun besarnya, namamu akan tetap dipandang rendah sebagai seorang raja yang curang dan tidak tahu akan kesopanan negara.”

Semua yang hadir di sana tertegun mendengar jawaban yang berani sekali akan tetapi tepat ini. Wajah Yagali Khan berubah merah dan kalau saja yang mengucapkan kata-kata ini bukan seorang utusan kaisar, tentu dia akan mencabut pedangnya lantas memenggal kepala orang itu dengan tangannya sendiri.

Ia hanya mengeluarkan suara, “hmm, hmm…”

Kemudian setelah menatap wajah Cin Hai yang membalas pandangannya dengan tenang dan mulut tersenyum, lalu dia membuka surat kaisar itu.

Sebagai seorang utusan, Cin Hai sudah diberi tahu oleh komandan pasukan kerajaan mengenai isi surat agar ia dapat mengetahui baik-baik akan tugasnya. Isi surat itu adalah bujukan halus yang mengandung ancaman supaya Yagali Khan suka insyaf serta tidak menanam bibit permusuhan dan mengacau daerah Tiongkok, karena hal ini hanya akan mengakibatkan kehancurannya dan kerusakan kedua belah pihak.

Setelah membaca surat itu, Yagali Khan memandang kepada Cin Hai dan berkata, “Hm, kaisarmu ini sama saja dengan kau, sombong dan mengagulkan diri! Apakah yang kalian andalkan? Kami memiliki pasukan yang jumlahnya besar dan kuat, senjata kami lengkap dan perwira-perwira kami berkepandaian tinggi! Jangan kau menjadi sombong sesudah berhasil mengalahkan salah seorang di antara perwira-perwira kami. Apakah kaisarmu itu menjadi sombong karena mengandalkan kau?”

Cin Hai tersenyum. “Yagali Khan, jangan kau memandang rendah pada negara Tiongkok! Betapa pun besar jumlah barisanmu, dibandingkan dengan barisan dan rakyat Tiongkok, belum ada seper seratusnya! Tentang senjata dan kekuatan, kami pun tidak akan kalah. Ada pun tentang orang pandai, kami tidak kekurangan. Ketahuilah, bahwa baru aku saja yang hanya menjadi utusan biasa dan bukan seorang panglima, namun aku tidak gentar untuk menghadapi perwiramu yang mana pun juga! Apa lagi panglima kami yang gagah perkasa dan ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada kepandaianku! Dan jumlah panglima yang gagah perkasa di pihak kami bukan hanya ratusan atau ribuan jumlahnya, bahkan ada laksaan! Sia-sia saja kalau kau hendak menyerbu ke negara kami. Lagi pula, apakah perlunya? Kau dan kami adalah tetangga yang harus mengadakan perhubungan baik. Apakah kau belum mendengar betapa para Lama di Tibet juga telah mengadakan hubungan baik dan damai dengan kami? Padahal mereka itu kuat sekali, lebih kuat dari pada barisanmu. Oleh karena inilah, dan demi menjaga keamanan rakyat, kaisar kami minta kepadamu untuk menggunakan kebijaksanaan dan kembali pulang dengan damai.”

Ucapan Cin Hai ini sebenarnya bukan omong kosong, oleh karena negeri mana di dunia ini yang memiliki rakyat lebih banyak dari pada Tiongkok? Ada pun tentang kepandaian, Cin Hai maklum bahwa banyak sekali orang-orang pandai di negaranya, maka meski pun agak berlebihan ketika ia mengatakan bahwa masih banyak sekali orang-orang yang jauh lebih pandai darinya, akan tetapi ada benarnya juga.

Para perwira yang mendengar ucapan ini diam-diam merasa gentar juga, bahkan Yagali Khan sendiri juga merasa ngeri. Akan tetapi dia tidak mau menyatakan ini, bahkan lalu berkata,

“Anak muda, jangan kau kira aku merasa takut mendengar ocehanmu itu! Dan mengenai kesombonganmu yang sanggup dan berani menghadapi setiap perwira kami, baiklah kau buktikan! Kami bukan hendak mencelakakan seorang utusan sebab kami bukanlah orang rendah seperti yang orang kira, akan tetapi kami mengajak kau secara terang-terangan untuk mengadu kepandaian. Apa bila kau dapat merobohkan seorang jago yang kutunjuk, biarlah kami anggap bicaramu tadi tidak bohong belaka dan kami akan menarik mundur pasukan-pasukan kami!”

Cin Hai maklum bahwa sekarang semua terletak penuh di atas kedua pundaknya untuk menentukan apakah bujukan kaisar ini berhasil atau tidak. Kalau ia bisa merobohkan jago yang ditunjuk oleh Yagali Khan, mereka tentu akan merasa jeri juga menghadapi perwira-perwira yang ia sombongkan memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya. Akan tetapi kalau dia sampai kalah, maka tidak saja jiwanya terancam, akan tetapi juga kata-katanya tadi akan dianggap bohong dan raja muda itu tentu akan melanjutkan serbuannya!

Dia menganggap bahwa perlu sekali raja muda ini diberi bukti akan kelihaiannya supaya dapat tunduk. Maka ia menjawab sambil tersenyum tenang,

”Boleh, boleh, Yagali Khan. Apakah kau akan mengajukan Balaki?”

Merah wajah Balaki mendengar ini dan dia segera memandang kepada Cin Hai dengan mata melotot. “Biarkan hamba mengadu jiwa dengan orang ini!” katanya kepada Yagali Khan.

Akan tetapi raja muda itu sambil tersenyum lalu berkata, “Bukan kau lawannya, Balaki.”

Lalu ia menyuruh pendeta Jubah Merah yang rambutnya putih itu dalam bahasa Mongol. Pendeta itu tersenyum, lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di depan junjungannya, kemudian barulah dia menghampiri Cin Hai yang sudah siap.

“Anak muda,” katanya dengan suara yang halus dan dalam bahasa Han yang amat kaku, “siapakah namamu? Aku tidak biasa menewaskan seorang tanpa mengenal namanya.”

Walau pun kata-kata ini diucapkan dengan suara halus, namun mengandung pandangan yang merendahkan sekali. Cin Hai tertawa dan menjawab,

“Agaknya kau telah yakin benar bahwa aku pasti akan tewas dalam tanganmu! Namaku adalah Sie Cin Hai atau kau boleh saja sebut aku sebagai Pendekar Bodoh karena nama inilah yang dikenal oleh orang-orang yang menjadi lawanku. Pakaianmu mengingatkan aku akan Pangeran Vayami. Agaknya kau sepaham dengan dia.”

“Jangan kau ngaco, Vayami bukanlah apa-apaku! Aku adalah pendeta tinggi dari Sakya Buddha dan disebut Thai Kek Losu. Anak muda, apakah kau betul-betul berani menerima tantangan ini? Ketahuilah, bahwa sekali Thai Kek Losu turun tangan, biasanya pasti akan ada orang melepaskan nyawanya!”

“Thai Kek Losu, seorang laki-laki kalau sudah mengeluarkan kata-kata, biar sampai mati pun tak akan menelan kembali kata-kata itu. Aku telah menerima tantangan ini dan tentu saja akan kuhadapi sampai akhir. Ada pun mengenai kematian, siapakah orangnya yang akhirnya tidak akan mati? Hanya bedanya, ada orang mati seperti harimau dan ada pula yang mati seperti babi. Dan aku memilih yang pertama itu! Kau majulah!”

Oleh karena maklum bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang ringan, maka Cin Hai lalu mencabut Liong-coan-kiam dari pinggangnya, dan melintangkan pedang itu di dadanya. Thai Kek Losu tertawa bergelak mendengar kata-kata Cin Hai itu.

“Pendekar Bodoh, tidak tahunya kau mempunyai semangat dan kegagahan juga! Bagus, bagus, kau hadapi senjataku ini yang akan membebaskan jiwamu dari pada penderitaan hidup!”

Sambil berkata demikian, pendeta rambut putih ini lalu mengeluarkan sebuah tengkorak dari dalam bajunya yang lebar. Tengkorak ini mungkin tengkorak anak-anak, karena kecil saja dan pada leher tengkorak itu dipasangi rantai warna kuning yang panjangnya kurang lebih lima kaki. Dengan memegang ujung rantai itu, maka tengkorak yang mengerikan ini menjadi senjata yang luar biasa sekali, senjata rantai yang berujung tengkorak!

Cin Hai merasa terkejut juga melihat senjata ini karena selama hidupnya belum pernah ia melihat senjata semacam ini, maka dia berlaku waspada dan tidak mau menyerang lebih dulu. Melihat keraguan Cin Hai, Thai Kek Losu lalu melangkah maju sambil mengayunkan rantainya. Tengkorak kecil itu langsung melayang dan menyambar ke arah muka Cin Hai, seakan-akan hendak menciumnya!

Cin Hai bergidik akibat ngeri, maka ia cepat-cepat menahan napas untuk menenteramkan hatinya yang secara aneh sekali tiba-tiba tergoncang ketika melihat tengkorak itu dan dia lalu melompat ke samping. Ia dapat menduga bahwa senjata aneh ini tentu mengandung kekuatan hoatsut (sihir) yang dapat membuat lawan merasa terkejut, semangatnya lemah dan ngeri, maka ia lalu menggerak-gerakkan tangan kirinya yang tak memegang senjata itu untuk memainkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut atau Ilmu Sihir Awan Putih!

Beberapa kali dia menggerakkan lengan kiri sambil mengerahkan semangat serta tenaga lweekang hingga dari lengannya yang kiri itu mengepul uap putih! Kembali tengkorak itu menyambar ke arah kepalanya dan cepat sekali Cin Hai segera membacok tengkorak itu dengan pedangnya.

Akan tetapi segera ia menarik kembali pedangnya dan melompat lagi untuk mengelakkan diri. Entah bagaimana, ia merasa tak tega untuk membacok dan memecahkan tengkorak itu yang tiba-tiba saja tampak seolah-olah menjadi kepala seorang anak-anak yang masih utuh, lengkap dengan mata, rambut, dan hidung serta mulutnya!

Memang senjata di tangan Thai Kek Losu ini bukan senjata biasa. Sebelum tengkorak itu diikat dengan rantai, sudah lebih dulu dibawa bertapa dan dimasuki ilmu sihir. Hendaknya diketahui bahwa kepala itu diambil dari kepala seorang anak yang masih hidup, yang dikorbankan secara kejam dan tak mengenal peri kemanusiaan oleh pendeta itu! Khasiat senjata ini ialah dapat menyihir lawan dan membuat lawan di samping serasa pusing dan gentar, juga apa bila lawan hendak melawan dengan sungguh-sungguh, maka tengkorak itu akan nampak seperti masih hidup dan lengkap merupakan kepala seorang anak kecil yang menangis!

Oleh karena maklum akan kelihaian senjata ini, Cin Hai lalu menyabarkan diri dan hanya memperhatikan gerak lawannya saja. Ia mempergunakan kelincahannya untuk mengelak dari setiap serangan. Setelah ia memperhatikan serangan lawan, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat kakek ini benar-benar lihai serta tenaga lweekang-nya belum tentu kalah olehnya!

Akan tetapi dengan kepandaian serta pengertiannya mengenai pokok-pokok dasar segala macam gerak dan serangan lawan, Cin Hai sebetulnya tidak perlu merasa gentar. Hanya senjata hebat itulah yang membuatnya ragu-ragu dan ngeri.

Baiknya dia sudah memainkan Pek-in Hoat-sut dengan tangan kirinya sehingga sebagian besar hawa siluman yang merupakan daya sihir itu telah dapat ditolak sebagian. Namun ternyata bahwa kekuatan sihir atau ilmu hitam dari Thai Kek Losu kuat sekali. Meski pun kini Cin Hai tidak merasa gentar lagi, akan tetapi tetap dia tidak tega untuk membacok kepala atau tengkorak itu.

Cin Hai lantas mengeluarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, dan sesudah dia membalasnya dengan serangan-serangan yang amat lihai itu, Thai Kek Losu baru merasa terkejut. Ilmu pedang lawannya yang muda ini memang luar biasa. Tadi ketika dia melihat bahwa Cin Hai tak terpengaruh oleh daya sihir senjatanya dan lengan kiri pemuda itu begerak-gerak menurut garis Pat-kwa sehingga dapat menolak daya sihir, dia telah merasa kagum dan maklum bahwa ia menghadapi murid seorang sakti.

Akan tetapi dia maklum bahwa pemuda itu masih belum mampu menolak daya sihir yang membuat dia tidak tega membacok tengkorak itu dan diam-diam dia merasa girang oleh karena dengan ilmu silatnya yang tinggi, tentu dia akan mampu mendesak dan akhirnya mengalahkan lawannya ini. Tak usah banyak-banyak, jika sekali saja muka atau kepala lawannya dapat tercium oleh mulut tengkorak itu, pasti ia akan roboh dan tewas.

Kini setelah Cin Hai mengeluarkan Ilmu Silat Daun Bambu, baru ia terkejut sekali karena gerakan anak muda itu membuat ia terpaksa mencurahkan sebagian perhatiannya untuk menjaga diri. Serangan-serangan ujung pedang Liong-coan-kiam sungguh hebat dan sulit diduga, sedangkan untuk melukai kepala lawannya dengan tengkoraknya, juga bukanlah merupakan hal yang mudah karena pemuda itu memiliki kegesitan yang jauh lebih tinggi dari pada kepandaian ginkang-nya sendiri.

Untuk dapat mempercepat kemenangannya, Thai Kek Losu lantas merogoh saku jubah dengan tangan kirinya dan ketika tangan kirinya itu bergerak, maka menyambarlah tujuh batang jarum hitam ke arah jalan darah di seluruh tubuh Cin Hai, antaranya dua batang menuju matanya. Inilah Hek-kang-ciam atau Jarum Baja Hitam yang cepat sekali lajunya karena biar pun kecil akan tetapi berat sekali.

Cin Hai dengan tenang memutar pedangnya dan aneh sekali! Semua jarum itu menempel pada Pedang Liong-coan-kiam dan melengket di sana. Kemudian sambil berseru keras, ketika Cin Hai menggerakkan pedangnya, semua jarum itu menyambar kembali ke arah tuannya.

Thai Kek Losu merasa terkejut sekali dan cepat-cepat dia melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarumnya sendiri! Sebenarnya tidak aneh, oleh karena Liong-coan-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang mengandung daya tarik sembrani sehingga jarum-jarum kecil itu dapat lengket dengan mudah. Kemudian sambil mengerahkan lweekang-nya, pemuda itu dapat membuat jarum-jarum yang menempel itu terlepas dan melayang ke arah lawannya.

Kemudian tangan kiri Thai Kek Losu bergerak dan kali ini Cin Hai hanya mengelak, oleh karena yang menyambar hanya tiga batang jarum saja, akan tetapi kesempatan itu lalu digunakan oleh Thai Kek Losu untuk menghantamkan tengkoraknya ke arah batok kepala Cin Hai. Serangan ini tiba-tiba datangnya dan selain tidak terduga oleh karena perhatian Cin Hai tercurah kepada jarum-jarum itu, juga cepat sekali hingga tanpa terasa pula Cin Hai menangkis dengan pedangnya.

Terdengar suara keras ketika tengkorak itu mencium pedang dan tiba-tiba saja dari muka tengkorak itu menyambar keluar tujuh batang jarum-jarum yang berwarna kehijau-hijauan dan berbau amis karena mengandung racun. Inilah kelihaian tengkorak itu yang sengaja diserangkan dengan tiba-tiba supaya ditangkis oleh lawannya. Dari kedua lubang hidung keluar empat batang jarum, sedangkan dari mulut tengkorak itu keluar pula tiga batang. Semua jarum ini menyambar ke arah tubuh Cin Hai dengan cepat sekali.

Kali ini Cin Hai benar-benar terkejut karena sama sekali tak pernah menduga akan hal ini. Ia cepat melempar tubuh ke belakang hingga seperti jatuh terjengkang dan ini pun hampir saja tidak dapat menolongnya oleh karena jarum-jarum itu lewat dekat sekali dengan kulit mukanya hingga hidungnya mencium bau yang luar biasa amis dan busuknya.

Setelah pengalaman ini, Cin Hai menjadi marah sekali, sebaliknya Thai Kek Losu menjadi kecewa dan gentar. Memang tipu tadi adalah tipu terakhir yang disengaja karena ia pasti akan dapat merobohkan lawannya. Tak tahunya, anak muda itu benar-benar hebat sekali sehingga pada saat dan keadaan yang agaknya tak mungkin dapat melepaskan diri dari bahaya maut itu, Cin Hai masih dapat mengelaknya.

Ia merasa rugi oleh karena tipu itu tidak berhasil, sebab Cin Hai takkan merasa tidak tega lagi kepada tengkorak itu oleh karena ketika pedangnya membentur tengkorak, ternyata tengkorak itu tidak pecah. Sekaligus pengalaman ini membuat hati pemuda itu menjadi tetap dan rasa kasihan serta tidak tega terhadap tengkorak itu menjadi lenyap, bahkan tergantikan rasa benci oleh karena ternyata bahwa tengkorak kecil yang dikasihinya tadi mengandung senjata maut yang hampir saja menewaskannya.

Kini Cin Hai menerjang maju lagi sambil memutar-mutar pedangnya serta mengeluarkan gerakan dan jurus-jurus Ilmu Pedang Daun Bambu yang paling hebat sehingga Thai Lek Losu terdesak mundur tanpa dapat membalas.

Pada ketika yang baik, Cin Hai menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan Thai Kek Losu melalui cahaya rantai musuh dengan gerakan miring. Thai Kek Losu mencoba untuk menghindarkan serangan ini dengan mengadu nyawa, yakni dia membarenginya dengan memukulkan tengkoraknya pada muka Cin Hai. Dua senjata itu menyerang dengan cepat dalam waktu hampir bersamaan, dan kalau sekiranya kedua orang itu tidak mau menarik kembali serangan mereka, tentu kedua-duanya akan tewas.

Akan tetapi, tentu saja Cin Hai tidak sudi mengadu jiwanya. Ia maklum bahwa tengkorak itu berbahaya sekali dan mengandung racun hebat dan sekali saja ia kena tercium mulut tengkorak yang kebiru-biruan itu, maka dia akan mengalami bencana besar.

Secepat kilat dia membalik gerakan pedangnya yang memang mudah berubah-ubah itu, dan kini pedang itu menyambar ke arah rantai. Sebelum tengkorak mengenai mukanya, pedang Liong-coan-kiam dengan dorongan tenaga lweekang sepenuhnya sudah berhasil menebas putus rantai itu hingga tengkorak yang berada di ujung rantai terpental jauh dan menggelinding bagaikan bal. Pada saat itu juga, kaki kiri Cin Hai dengan cepat melayang dan mendupak dada Thai Kek Losu yang lantas terpental pula seperti tengkorak tadi dan kebetulan sekali dia jatuh ke arah tempat duduk Balaki.

Balaki tidak berani menyambut tubuh Thai Kek Losu, hanya cepat bukan main tubuhnya melayang pergi dari kursinya dan pada lain saat, tubuh Thai Kek Losu telah jatuh di atas kursi itu dan duduk dengan muka pucat.

“Yagali Khan, kuharap saja sebagai seorang raja besar, kau suka pegang teguh semua ucapanmu!” kata Cin Hai yang kemudian bertindak pergi keluar dari situ dengan langkah tenang.

Yagali Khan mengertak giginya. Jagonya yang nomor satu telah dikalahkan oleh seorang utusan atau pembawa surat saja, apa lagi kalau menghadapi panglima besar kaisar.....

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bodoh Jilid 26-30"

Post a Comment

close