Pendekar Remaja Jilid 01-05

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------

Pendekar Remaja Jilid 01-05

Kota Shaning terletak di lembah Sungai Yang-ce yang mengalir melalui Propinsi An-hui. Kota ini cukup besar dan penduduknya padat terbukti dari bangunan-bangunan rumah yang berhimpit-himpitan. Berbeda dengan tempat-tempat di sekitar lembah Sungai Huai yang juga mengalir melalui Propinsi An-hui dan yang sering kali membanjiri kanan kirinya, lembah di sekitar Sungai Yang-ce amat subur dan makmur.

Demikian pula keadaan kota Shaning. Kemakmuran kota ini terpancar keluar dan dapat dilihat dari seri wajah para penduduknya. Di sepanjang Sungai Yang-ce nelayan-nelayan melakukan pekerjaan mereka sambil bernyanyi gembira, juga petani-petani mengerjakan sawah ladang dengan giat dan muka berseri-seri, yakin akan hasil tanah yang diolahnya, para penggembala menghalau hewan ternaknya dengan perasaan ayem dan hati senang sambil memperdengarkan suara suling bambunya di kala mereka duduk di bawah pohon memandang dan menjaga hewan-hewan yang sedang makan rumput yang hijau segar. Juga di dalam kotanya sendiri jelas nampak kemakmuran dengan banyaknya pedagang-pedagang yang menjual kebutuhan penduduk dengan harga murah.

Pembesar-pembesar setempat melakukan tugas mereka dengan sangat baik, jujur, dan adil, berbeda sekali dengan sebagian besar petugas yang mempergunakan kedudukan dan kekuasaan mereka untuk menghisap rakyat dan memenuhi kantung mereka sendiri. Hal ini tidak terjadi karena kebetulan saja pejabat-pejabat di Shaning adalah orang-orang yang baik budi, akan tetapi terutama sekali karena pengaruh seorang pendekar besar yang bertempat tinggal di koti Shaning.

Pendekar inilah yang membuat para pembesar merasa takut untuk bertindak tidak adil atau memeras rakyat. Bahkan dengan adanya pendekar ini, maka daerah di sekitar kota Shaning menjadi aman sekali. Tak ada seorang pun perampok yang berani mengganggu daerah ini.

Memang tidak mengherankan apa bila para petualang dari kalangan Hek-to (jalan hitam atau dunia penjahat) tidak berani melakukan kejahatan di daerah itu, karena pendekar ini bukan lain adalah Sie Cin Hai, yaitu pendekar berilmu tinggi yang telah membuat gempar seluruh dunia persilatan dan kelihaiannya telah diakui oleh para tokoh persilatan di empat penjuru.

Di samping pendekar ini yang di kalangan kang-ouw mendapat nama julukan Pendekar Bodoh, juga isterinya adalah seorang pendekar wanita yang tidak kurang-kurang lihainya, karena isterinya ini adalah bekas sumoi-nya (adik seperguruan) sendiri, yang selain lihai ilmu silatnya, juga amat cantik jelita.

Di samping sepasang suami isteri yang tinggi ilmu kepandaiannya itu, masih ada lagi seorang yang juga amat disegani, yakni ayah angkatnya Nyonya Sie yang bernama Yo Se Fu. Melihat warna kulitnya dan potongan mukanya, orang akan menduga bahwa Yo Se Fu ini bukanlah seorang Han. Memang betul, kakek tua yang disebut Yo Se Fu ini berasal dari Turki dan dahulu namanya adalah Yousuf, seorang bangsawan Turki yang selain berilmu tinggi juga amat baik budi.

Di dalam cerita Pendekar Bodoh, diceritakan bahwa Yousuf atau Yo Se Fu ini sudah diangkat sebagai ayah oleh Lin Lin atau Kwee Lin yang sekarang menjadi Nyonya Sie Cin Hai. Selain ilmu silatnya yang tinggi, juga Yo Se Fu memiliki ilmu hoat-sut (sihir) yang cukup tinggi.

Dengan adanya keluarga inilah, maka kota Shaning menjadi tenteram dan damai. Rumah mereka yang besar mendatangkan rasa aman di dalam hati semua penduduk Shaning, seakan-akan di dalam rumah besar itu terdapat ribuan orang penjaga keamanan yang boleh dipercaya.

Pada suatu pagi yang cerah, semua penduduk Shaning sudah keluar dari pintu rumah masing-masing untuk melakukan pekerjaan mereka. Ada yang hendak pergi ke ladang untuk mencangkul tanah, juga ada yang pergi ke sungai untuk mulai dengan pekerjaan mereka mencari ikan atau menambangkan perahu, ada pula yang pergi untuk berdagang dan lain-lain.

Yang amat menarik adalah kenyataan bahwa pintu rumah para penduduk itu dibiarkan terbuka begitu saja sungguh pun di antaranya ada yang sama sekali kosong ditinggalkan oleh para penghuninya yang pergi bekerja. Memang telah lama sekali penduduk Shaning tak mengenal adanya perampokan atau pencurian sehingga mereka boleh meninggalkan rumah-rumahnya dengan pintu terbuka dan dengan hati aman!

Kalau pada pagi hari itu di jalan raya yang banyak toko-tokonya itu keadaan demikian ramainya, di lorong-lorong kecil tempat tinggal para petani dan nelayan amatlah sunyinya karena semua orang pergi meninggalkan rumah untuk bekerja.

Tiba-tiba terdengar suara nyanyian memecah kesunyian sebuah lorong kecil yang diapit oleh dua deretan rumah di kanan kiri. Suara nyanyian itu merdu sekali, dan dari suaranya yang bening dan tinggi nadanya itu dapat diduga bahwa yang bernyanyi adalah seorang anak perempuan. Di samping merdu sekali, juga suara itu terdengar sangat gembira dan jenaka.

Plak! Plok! Plak! Plok!
Si Tolol naik kuda,
Kudanya sudah tua,
Jalannya kaya onta!

Kemudian dari sebuah belokan di lorong itu muncullah penyanyinya. Cocok betul dengan suaranya yang bening merdu, anak perempuan yang kurang lebih berusia delapan tahun itu luar biasa cantik dan manisnya.

Rambutnya yang hitam serta panjang itu dikuncir dua, dengan jambul di atas kepala, di kanan kiri yang membuatnya nampak lucu sekali. Mukanya halus dan putih kemerahan, dengan sepasang mata yang indah bening bagaikan mata burung Hong.

Kesegaran mukanya ini makin jelas karena hiasan setangkai bunga merah di atas telinga kanannya. Kalau melihat bunga merah itu, orang akan membandingkannya dengan mulut kecil mungil dan merah yang selalu tersenyum gembira itu. Baik dari sepasang matanya yang bersinar-sinar, atau dari hidungnya yang kecil mancung dan dikembang-kempiskan dengan cara lucu, mau pun dari bibirnya yang tersenyum-senyum, nampak kegembiraan yang membuat wajah ayu itu selalu berseri-seri.

Pakaian yang dikenakannya juga amat pantas, menambah kemungilan dan kelucuannya. Bajunya berwarna merah dengan pinggiran putih. Celananya warna putih bersih dengan pita lebar warna hijau di bagian bawah, sepatunya yang kecil berwarna hitam. Baik baju mau pun celananya terbuat dari pada sutera mahal yang indah dan juga sepatunya yang baru dan baik itu menunjukkan bahwa dia adalah anak seorang yang berkeadaan cukup baik, dan kejenakaannya menunjukkan kemanjaan.

Siapakah anak perempuan yang sangat lucu dan menyenangkan hati setiap orang yang memandangnya ini?

Apa bila pertanyaan ini diajukan kepada penduduk kota Shaning, setiap orang, baik dia petani, nelayan, mau pun pedagang, baik dia kakek-kakek, orang dewasa, mau pun anak kecil, akan dapat menjawabnya dengan cepat. Dia adalah anak kedua dari pendekar Sie Cin Hai. Anak perempuan ini sebetulnya bernama Sie Hong Li, akan tetapi ibunya yang sangat memanjakannya biasa menyebutnya Lili dan untuk memudahkan, lebih baik kita pun menyebut Lili saja kepadanya.

Lili memang memiliki sifat periang dan jenaka, sungguh pun harus diakui bahwa kadang kala dia amat bengal sehingga sering kali dimarahi oleh ayahnya. Jauh bedanya dengan kakaknya yang usianya dua tahun lebih tua darinya, yakni putera sulung keluarga Sie yang bernama Sie Hong Beng.

Semenjak kecil Hong Beng menunjukkan sifat pendiam, akan tetapi kedua matanya yang bersinar-sinar bagaikan bintang pagi itu mencerminkan kecerdasan otak yang luar biasa. Sebaliknya, Lili tidak begitu maju dalam hal pelajaran membaca dan menulis. Sebetulnya bukan karena anak perempuan ini terlampau bodoh, akan tetapi karena dia memang tak suka duduk diam dan tekun belajar.

Pada waktu menghafalkan pelajaran, pikirannya lebih sering melayang pada kesenangan bermain-main, dan bahkan sering kali dia mengganggu serta menggoda kakaknya yang sedang tekun belajar sehingga dia mendapat omelan dari ayahnya. Kalau sudah begitu, tentu ibunya yang akan datang menghibur dan memanjanya, atau juga kakeknya, yakni Yousuf yang amat mencintanya. Hal ini membuat Lili menjadi makin bengal.

Betapa pun juga, dalam hal pelajaran ilmu silat harus diakui bahwa Lili mempunyai bakat yang luar biasa dan baik sekali. Gerakan-gerakan kaki tangannya amat lemas dan indah kadang-kadang mengingatkan ayah atau ibunya kepada Ang I Niocu, seorang pendekar wanita kenamaan yang menjadi sahabat baik mereka dan yang tinggal dengan suaminya di seberang laut, di sebuah pulau kecil.

Oleh karena bakatnya ini maka biar pun usianya baru saja delapan tahun dan sungguh pun dia tidak dapat menandingi kakaknya yang memang luar biasa cerdik dan pandainya itu, Lili sudah menjadi seorang anak yang pandai ilmu silat, bahkan laki-laki dewasa yang biasa saja jangan harap akan dapat mengalahkannya!

Lili memang benar-benar nakal. Hampir setiap hari dia pasti pergi dari rumah, pergi ke kampung-kampung, bermain-main dengan kawan-kawan satu kampung atau... berkelahi! Memang luar biasa sekali, apa lagi pada jaman itu, ada seorang anak perempuan selalu mencari jago-jago kecil di setiap kampung dan mengajaknya mengadu kepalan!

Dan hasilnya selalu tentu Lili yang menang, ada pun jago kecil itu mendapat telur yang menjendol di kepala atau pipinya menjadi matang biru. Apa bila sudah begitu, orang tua anak itulah yang akan datang mengadu sehingga sering kali Lili dimarahi secara keras oleh ayahnya.

“Lili! Apakah kelak kau akan menjadi tukang pukul orang? Sungguh tak tahu malu, anak perempuan bertingkah sekasar itu!” Ayahnya mengomel.

Akan tetapi di luar tahunya Cin Hai biar pun telah dimarahi oleh ayahnya, Lili masih dapat mendongeng di depan ibunya atau kakeknya tentang jalannya ‘pertempuran’ yang tadinya dia lakukan dengan anak laki-laki itu!

Demikianlah, pada hari itu seperti biasa, Lili telah mulai ‘keluyuran’ dan keluar dari rumah sejak pagi-pagi sekali. Kali ini dia lebih bebas dari pada biasanya, oleh karena telah ada sepekan ini ayah dan ibunya pergi ke barat untuk mengantarkan kakaknya, Hong Beng, ke tempat pertapaan seorang kakek sakti bernama Pok Pok Sianjin yang juga terkenal sebagai ahli silat nomor satu di bagian barat!

Sepuluh tahun yang lalu, sebelum Hong Beng lahir bahkan sebelum Sie Cin Hai menikah dengan Lin Lin, kakek sakti ini pernah berjanji kepada Cin Hai bahwa kelak dia akan memberi pelajaran ilmu silat tongkat kepada keturunan Pendekar Bodoh, maka setelah kini Hong Beng berusia sepuluh tahun, Cin Hai bersama isterinya lalu membawa putera mereka ini ke tempat pertapaan Pok Pok Sianjin untuk menagih janji, sekalian melakukan perjalanan melancong untuk menghibur hati.

Lili yang hanya tinggal berdua dengan kakeknya, tentu saja lebih bebas karena Yousuf memang amat memanjakan cucu perempuannya ini. Sambil menyanyikan lagu-lagu lucu yang dia pelajari dari Yousuf karena kakek asal Turki ini sering mendongeng kisah-kisah kuno kepada kedua cucunya, dongeng Turki yang didongengkan sambil bernyanyi. Lili berjalan sambil berlompatan meniru larinya kuda yang dinyanyikannya dalam lagu ‘Kisah Si Tolol Naik Kuda’.

Lorong kecil yang dilaluinya itu dipasangi batu-batu lebar dan rata pada bagian tengah, dijajarkan memanjang dan jalan batu ini dipergunakan pada waktu musim hujan karena jalan kecil itu tentu akan menjadi amat becek berlumpur.

Kini Lili melompat-lompat dari satu batu ke batu lain sambil bernyanyi gembira, kadang kala diseling oleh suara lucu meniru bunyi ringkik kuda, sehingga siapa saja yang melihat kelucuan dan kegembiraan anak perempuan ini, tentu akan ikut tertawa gembira.

Memang Lili sedang gembira sekali. Betapa tidak? Ayah ibunya tidak berada di rumah, ini berarti bahwa ia tidak usah menghafalkan pelajaran membaca kitab-kitab kuno yang sulit itu, tidak usah menghafalkan ujar-ujar dan sajak-sajak kuno yang sering membingungkan kepalanya.

Sebetulnya, oleh ibunya telah ditinggalkan pelajaran-pelajaran yang harus dihafalkan dan ditulisnya, dan Yousuf mendapat tugas untuk mengawasinya. Akan tetapi, kakek ini tidak kuat menghadapi senyum atau rengek Lili dan sekali saja anak perempuan ini dengan pandang mata manja menyatakan keinginannya hendak pergi bermain, Yousuf tak dapat dan tidak tega melarangnya pula!

Ketika Lili sedang berlompatan sambil menyanyi dengan riangnya, tiba-tiba ia mendengar bunyi derap kaki kuda yang sesungguhnya. Ia berhenti dan berdiri di atas jalan batu itu dengan mata dipentang lebar.

Dari sebuah tikungan jauh di depan, muncullah tiga orang penunggang kuda, seorang di depan dan dua lainnya di belakangnya. Dan ketika dia melihat penunggang kuda yang di depan itu, tak terasa lagi, Lili memandang dengan mata terbelalak dan mulutnya berkata perlahan,

“Ahh, dia itu benar-benar Si Tolol Menunggang Kuda yang didongengkan oleh Kongkong (Kakek)!”

Penunggang kuda yang di depan itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun. Mukanya cukup tampan dan hidungnya mancung, akan tetapi ia memelihara cambang bauk yang membuatnya menjadi brewok dari bawah telinga sampai ke dagu dan bawah hidungnya, menutupi mulutnya. Kepala dibungkus dengan ikat kepala yang lebar, menyembunyikan semua rambutnya, dan ikat kepala ini berwarna merah.

Pakaiannya berwarna putih dan sepatunya tinggi sampai ke lutut, terbuat dari pada kulit. Di pinggang kirinya nampak gagang sebatang golok dengan ronce-ronce sutera merah. Kuda yang ditungganginya berwarna putih dan bagus, dengan kendali warna merah pula. Pendeknya, seorang setengah tua yang gagah.

Lili menganggap laki-laki ini seperti Si Tolol Naik Kuda yang tadi dinyanyikan oleh karena memang di dalam dongeng kakeknya itu, terdapat seorang lelaki tampan yang naik kuda, akan tetapi karena ketolotannya, dia sering kali menghadapi hal-hal yang lucu.

Dua orang yang menunggang kuda di belakang Si Brewok ini adalah dua orang pemuda, seorang berjubah putih dan yang ke dua berjubah hitam. Keduanya memakai topi putih yang bentuknya segi empat.

Memang tidak terlalu salah bila mana Lili mempersamakan penunggang kuda itu dengan tokoh dalam dongeng kakeknya, karena orang-orang ini memang bukan orang Han, dan muka mereka memiliki potongan yang sama pula dengan Yousuf. Dan bila Lili mengenal siapa adanya Si Brewok itu dan tahu apa maksud kedatangannya di kota Shaning, tentu anak ini takkan berdiri setenang dan sesenang itu menghadapi ketiga orang penunggang kuda ini!

Melihat ada seorang anak perempuan yang cantik jelita sedang berdiri di tengah jalan sambil memandang dengan mata terbelatak, Si Brewok lantas menahan kudanya, diturut oleh kedua orang pengikutnya.

“Hei, Nona kecil! Tahukah kau di mana rumahnya bangsat tua Yousuf?” suaranya parau dan kata-katanya ini diucapkan dalam bahasa Han yang sangat kasar dan kaku, akan tetapi yang amat menyakitkan hati Lili adalah sebutan ‘bangsat tua’ kepada kakeknya itu!

Lili sudah tahu pula bahwa kongkong-nya itu mempunyai nama yang aneh, dan pernah kakeknya itu menceritakan bahwa ia datang dari negeri barat yang amat jauh dan di sana ia disebut sebagai ‘Yousuf’. Akan tetapi Lili sendiri selalu menyebutnya ‘Yo-kongkong’. Ia dapat menduga bahwa orang berkuda ini tentu mencari kongkong-nya, akan tetapi dia sengaja menjawab dengan mulut mentertawakan orang itu.

“Tidak ada bangsat-bangsat di sini, biar tua mau pun muda. Apakah kau yang bernama Aladin?” Lili menyebutkan nama tokoh dongeng yang diceritakan oleb kakeknya itu.

Si Brewok itu memandang heran mendengar pertanyaan ini.

“Eh, apa maksudmu?” tanyanya sambil menahan kendali kudanya yang telah tidak sabar dan kaki depannya menggaruk-garuk tanah.

Lili tidak menjawab, hanya tersenyum mengejek, kemudian dia pun membuat gerakan melompat-lompat seperti kuda dan terdengar pula nyanyiannya.

Plak! Plok! Plak Plok!
Si Tolol naik kuda,
Kudanya putih tua,
Jalannya seperti onta!

Ia sengaja mengganti kata-kata ‘kudanya sudah tua’ menjadi ‘kudanya putih tua’ karena kuda yang ditunggangi oleh Si Brewok itu memang berbulu putih.

Mendengar nyanyian ini, Si Brewok dan dua orang kawannya nampak terkejut dan heran. Nyanyian dongeng Turki, bagaimana anak bangsa Han ini dapat menyanyikannya?

“Bocah kurang ajar, siapakah yang mengajarmu bernyanyi seperti itu?” Laki-laki brewok itu membentak sambil memandang tajam.

Lili masih tersenyum-senyum lucu dan karena mengira bahwa tiga orang itu mengagumi nyanyiannya seperti orang-orang lain, dia lalu menjawab bangga,

“Di kota ini, siapa lagi kalau bukan Yo-kongkong yang dapat mengajarkan nyanyian yang bagus-bagus? Kalau kau mencari orang, lebih baik kau bertanya kepada kakekku Yo Se Fu, akan tetapi jangan berlaku kurang ajar kepadanya!”

Berubahlah wajah Si Brewok itu pada saat ia bertanya, “Jadi Yo Se Fu adalah kakekmu? Apakah kau anak dari Sie Cin Hai?”

“Dia memang ayahku! Siapa yang tidak tahu akan hal ini?” kata pula Lili dengan bangga karena memang dia tahu bahwa ayahnya dipuji-puji dan disegani orang.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat betapa Si Brewok itu ketika mendengar bahwa dia adalah cucu Yo Se Fu dan anak Sie Cin Hai, lalu mukanya berubah beringas dan sambil mencabut gotok tajam yang tergantung di pinggang, membentak,

“Bagus! Kalau begitu, kau pun harus mampus mendahului Yousuf!”

Setelah membentak demikian, Si Brewok itu segera majukan kudanya dan menggunakan goloknya membacok ke arah Lili yang masih berdiri di atas jalan batu, di sebelah kanan kudanya itu! Bacokan itu cepat dan kuat sekali sehingga yang nampak hanya sinar putih berkelebat dari goloknya yang tajam berkilau, yang diikuti sinar merah dari ronce-ronce goloknya. Bagaikan kilat menyambar, golok ini menyambar ke arah leher Lili yang masih berdiri tak bergerak. Agaknya dengan sekali bacok saja, akan putuslah leher anak itu!


Akan tetapi, biar pun usianya baru delapan tahun, Lili adalah anak dari Pendekar Bodoh, seorang pendekar gagah perkasa yang mempunyai kepandaian tinggi, dan sejak kecil Lili telah mendapat gemblengan ilmu silat dari ayah dan ibunya, bahkan mendapat banyak petunjuk dari Yousuf. Maka biar pun dia belum memiliki ilmu silat tinggi, namun dia telah memiliki dasar-dasarnya dan telah pula memiliki gerakan otomatis dan gaya reflek, yakni gerakan yang timbul dengan sendirinya pada kondisi bahaya, gerakan yang dikendalikan oleh perasaan dan urat syaraf apa bila melihat atau mendengar sesuatu yang mungkin mendatangkan bahaya atau serangan pada dirinya, seperti yang dimiliki oleh semua jago silat yang telah tinggi kepandaiannya.

Karena itu, ketika Lili melihat berkelebatnya sinar golok ke arah lehernya dan mendengar bunyi angin sambaran senjata itu, otomatis dia lalu membuang tubuh bagian atas ke kiri sehingga golok itu menyambar lewat di atas punggungnya. Demikian cepat dan kerasnya sambaran golok itu sehingga Lili merasa betapa leher dan punggungnya menjadi dingin!

Ketiga orang itu melongo pada saat melihat betapa anak perempuan itu dengan gerakan yang indah dapat mengelakkan diri dari serangan tadi, padahal Si Brewok itu biasanya bila sudah turun tangan, jarang sekali dapat digagalkan biar pun yang diserang memiliki kepandaian silat. Apa lagi hanya seorang anak-anak!

Merasa bahwa dirinya berada dalam bahaya maut, Lili cepat menggunakan kesempatan saat ketiga orang itu masih terheran-heran, lalu melompat cepat ke pinggir sebuah rumah dan rnelarikan diri. Dia mendengar suara kaki orang turun dari kuda dan mengejarnya.

Cepat bagaikan seekor tikus yang dikejar oleh kucing, Lili menyelinap masuk ke dalam sebuah pintu rumah yang terbuka dan bersembunyi di balik pintu. Dia sama sekali tidak merasa ketakutan, akan tetapi tidak berani pula mengeluarkan suara, hanya berdiri diam sambil mengepal kedua tinjunya yang kecil!

Para pengejarnya berlari cepat melewati pintu rumah itu dan tak lama kemudian mereka datang kembali dengan langkah perlahan. Ketika tiba di depan pintu rumah itu, Si Brewok melangkah masuk, akan tetapi hanya menjenguk ke dalam saja. Melihat di dalam rumah tidak ada orang, dia lalu keluar lagi dan berkata kepada kawan-kawannya.

“Setan cilik itu sudah pergi, biarlah kita mencari Yousuf terlebih dahulu. Mudah saja untuk mencarinya kemudian!”

Orang-orang itu lalu pergi lagi dan Lili yang bersembunyi di balik daun pintu tersenyum girang, lantas keluar dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah kawan-kawannya. Anak kecil ini tidak begitu mempedulikan ucapan orang-orang tadi dan tidak tahu akan adanya bahaya yang mengancam kakeknya, karena biar pun dia dapat menduga bahwa mereka tidak mempunyai maksud baik terhadap kakeknya, akan tetapi ia percaya penuh bahwa kakeknya yang amat pandai itu akan dapat mengusir mereka.

Siapakah sebetulnya tiga orang tadi? Dan mengapa mereka mencari Yousuf dan tiba-tiba menyerang Lili anak kecil itu pada waktu mendengar bahwa Lili adalah cucu perempuan Yousuf dan anak Sie Cin Hai? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, marilah kita meninjau secara singkat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada dua belas tahun yang lampau…..

********************

Kira-kira dua belas tahun yang lalu, beberapa kali Kerajaan Turki mengirim ekspedisi ke Tiongkok ketika mendengar bahwa di tempat-tempat tertentu di Tiongkok terdapat harta terpendam yang nilainya sangat besar.

Ekspedisi pertama dilakukan untuk memperebutkan sebuah pulau di seberang timur laut Tiongkok, yang disebut Kim-san-tho (Pulau Bukit Emas) dan yang disangka mengandung bukit penuh logam kuning berharga itu. Dalam usaha memperebutkan pulau ini, terjadilah perang hebat antara barisan Turki, barisan Mongol, dan juga barisan Kerajaan Tiongkok untuk maksud yang sama.

Pemimpin besar dari barisan Turki adalah seorang gagah perkasa bernama Balutin yang amat sakti sehingga ekspedisi itu berhasil sampai di tempat tujuan. Akan tetapi kemudian Balutin tewas dalam pertempuran ketika melawan tentara Tiongkok yang dibantu oleh seorang hwesio lihai sekali bernama Hai Kong Hosiang bersama supek-nya, yaitu Kiam Ki Sianjin yang gagu akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya.

Kemudian, di Turki terjadi perpecahan setelah ada usaha-usaha yang jahat dari seorang pangeran yang disebut Pangeran Muda. Pada waktu itu, yang berkuasa di Turki adalah Pangeran Tua yang adil dan bijaksana, dan diantara kedua orang pangeran ini timbullah permusuhan, akan tetapi akhirnya pengaruh Pangeran Muda serta kaki tangannya yang terdiri dari orang-orang jahat dapat dihancurkan. Peristiwa hebat ini dapat diikuti dengan jelas dalam cerita Pendekar Bodoh.

Dalam keributan-keributan itu, terdapat seorang pemuda yang dilupakan orang. Pemuda ini adalah putera tunggal dari Balutin yang gagah perkasa itu, dan yang telah berusia dua puluh lima tahun ketika ayahnya gugur dalam ekspedisi mencari Pulau Bukit Emas.

Tentu saja dia merasa amat berduka dan hatinya penuh diliputi dendam. Akan tetapi, biar pun dia telah mewarisi hampir seluruh kepandaian ayahnya, namun dia maklum bahwa ia tidak berdaya membalas dendam atas kematian ayahnya itu. Sedangkan ayahnya sendiri masih kalah melawan jago-jago bangsa Han apa lagi dia.

Pemuda ini mempunyai darah Tionghoa, oleh karena ibunya adalah seorang bangsa Han pula yang dahulu diculik oleh Balutin dan dipaksa menjadi isterinya. Akan tetapi, ibunya meninggal dunia ketika melahirkannya sehingga terpaksa dia dirawat oleh seorang inang pengasuh yang juga seorang perempuan bangsa Han yang diculik oleh Balutin.

Ia telah menganggap inang pengasuh itu sebagai ibu sendiri dan oleh inang pengasuh itu ia juga diberi nama Tionghoa, yaitu Bouw Hun Ti. Selain ini, Bouw Hun Ti juga mendapat pelajaran membaca dan menulis bahasa Tionghoa oleh inang pengasuhnya, maka selain bahasa Turki, Bouw Hun Ti juga mahir bahasa Han. Mungkin karena ia masih berdarah Tionghoa, maka ia cinta sekali kepada inang pengasuhnya itu.

Balutin sendiri tak begitu peduli pada puteranya, karena panglima ini memang berwatak kurang baik dan sungguh pun dia mempunyai kedudukan tinggi, akan tetapi dia terkenal pula sebagai seorang laki-laki mata keranjang.

Betapa pun juga, dia memberikan latihan ilmu silat tinggi kepada putera tunggalnya itu sehingga Bouw Hun Ti mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi, akan tetapi yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Setelah Balutin tewas dalam pertempuran, Bouw Hun Ti kemudian keluar dari negerinya, bersama inang pengasuhnya yang kini sudah menjadi nenek-nenek pergi ke pedalaman Tiongkok, di mana ia lalu mengembara setelah mengantar inang pengasuh itu kembali ke kampung halamannya. Cita-cita Bouw Hun Ti hanya satu, ialah membalas dendam atas kematian ayahnya.

Oleh karena maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih belum cukup tinggi untuk dapat melaksanakan maksud ini, maka dia mulai mencari guru dalam perantauannya. Akhirnya dia pun bertemu dengan Ban Sai Cinjin, yakni seorang yang berilmu tinggi. Bouw Hun Ti lalu mengangkat guru kepada orang berilmu ini dan mempelajari ilmu silat, terutama ilmu golok yang amat lihai gerakannya.

Sesudah bertahun-tahun mempelajari ilmu silat dari Ban Sai Cinjin, dan kepandaiannya sudah banyak maju, Bouw Hun Ti lalu mencari musuhnya, pembunuh ayahnya. Alangkah kecewanya pada saat dia mendengar bahwa Hai Kong Hosiang dan Kam Ki Sianjin telah meninggal dunia. Pada waktu itu, inang pengasuhnya sudah meninggal dunia pula akibat usia tua.

Hal ini membuatnya tidak kerasan untuk tinggal lebih lama di pedalaman Tiongkok dan ia segera kembali ke negaranya, dengan hati tetap mengandung dendam yang belum dapat terbalas. Di dalam hati kecilnya dia merasa benci terhadap orang-orang Han yang telah membunuh ayahnya, dan terutama sekali ia memindahkan kebenciannya dari dua musuh besar yang telah mati itu kepada para pendekar yang dahulu pernah memusuhi pengikut Pangeran Muda.

Memang, Bouw Hun Ti juga menjadi pengikut setia dari Pangeran Muda, maka setelah ia kembali ke Turki, dia pun kembali bersekutu dengan Pangeran Muda bahkan sekarang mendapat kepercayaan besar dan kedudukan tinggi karena Pangeran Muda tahu bahwa dia telah memiliki kepandaian tinggi.

Kedudukan yang tinggi membuat watak Bouw Hun Ti yang sudah kejam dan sombong makin menjadi. Pengaruhnya besar sekali dan mengandalkan kepandaiannya, dia mulai mendesak pengaruh Pangeran Muda dan bahkan dia mulai bercita-cita untuk mendesak pula kedudukan raja dengan pengaruhnya!

Pangeran Muda yang melihat hal ini menjadi khawatir sekali, maka segera dicarinya akal untuk melenyapkan orang berbahaya ini. Pada suatu hari, dia memanggil Bouw Hun Ti menghadap dan dinyatakannya bahwa dia amat membutuhkan seorang penasehat yang cerdik pandai. Dalam percakapan ini, disebutnya nama Yousuf.

“Kalau saja Yousuf bisa didatangkan dan membantuku, ah, hatiku akan menjadi senang. Ia adalah seorang yang arif bijaksana dan pandai mengurus pemerintahan. Oleh karena itu harap kau suka mencarinya di pedalaman Tiongkok, dan apa bila mungkin, sekalian kau balaskan sakit hati kita terhadap seorang pendekar yang disebut Pendekar Bodoh, bernama Cin Hai, she Sie! Menurut para penyelidik, sekarang Yousuf tinggal di rumah Pendekar Bodoh itu, di kota Shaning dalam Propinsi An-hui.”

Maka berangkatlah Bouw Hun Ti ke pedalaman Tiongkok untuk melakukan tugas ini. Ia membawa dua orang pengikut yang mempunyai kepandaian cukup tinggi dan langsung menuju ke Propinsi An-hui.

Pada luarnya saja dia seakan-akan mentaati perintah Pangeran Muda, padahal di dalam hati dia mempunyai pendapat lain. Kalau sampai orang yang bernama Yousuf itu dibawa ke tanah airnya, maka hal itu berarti bahwa ia akan menghadapi saingan berat, apa lagi dia mendengar bahwa Yousuf juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Hatinya yang kejam dan penuh kedengkian membuat dia merasa sangat benci terhadap Yousuf, lebih-lebih sesudah dia mendengar dari para prajurit yang dulu turut melakukan ekspedisi mencari pulau emas, bahwa Yousuf pernah mengkhianati Kerajaan Turki, dan mengkhianati ekspedisi yang dipimpin oleh Balutin, ayahnya. Ia menganggap kegagalan ayahnya adalah akibat dari pada pengkhianatan Yousuf ini dan oleh karena ini Yousuf harus dibunuh, tidak saja untuk membalaskan dendam ayahnya, akan tetapi juga untuk mencegah orang tua itu memperoleh kedudukan tinggi di Turki!

Demikianlah sedikit riwayat Bouw Hun Ti, seorang yang berkepandaian tinggi dan yang kini datang memasuki kota Shaning dengan maksud yang sangat buruk dan berbahaya. Kalau saja dia tadinya tidak memandang rendah kepada anak perempuan yang menjadi cucu Yousuf itu, tentulah Lili sudah menjadi korbannya yang pertama. Baiknya Lili dapat mengelak serangannya dan karenanya membuat Bouw Hun Ti terheran-heran sehingga terlambat mengejarnya.

Kini Bouw Hun Ti bersama dua orang pengikutnya melanjutkan perjalanannya mencari rumah kediaman Pendekar Bodoh. Ia adalah orang yang cerdik dan sebelum memasuki kota Shaning terlebih dahulu dia telah melakukan penyelidikan sehingga dia tahu bahwa Cin Hai beserta isterinya sedang keluar kota dan yang berada di rumah hanyalah Yousuf seorang.

Berita ini sangat menggembirakan hatinya karena sepanjang pendengarannya, Pendekar Bodoh dan isterinya adalah orang-orang yang merupakan lawan amat tangguh, ditambah pula dengan Yousuf, maka ia merasa jeri juga! Kini kedua suami isteri itu tidak berada di rumah dan hal ini merupakan kesempatan yang amat baik baginya.

Rumah Sie Cin Hai adalah sebuah bangunan besar yang dilindungi pekarangan luas, sedangkan di kanan kiri dan belakang rumah ditanami bunga-bunga indah. Tanaman ini diurus oleh Yousuf sendiri yang memang amat suka bunga. Karena adanya pekarangan ini, maka letak rumah-rumah tetangga di kanan kiri agak jauh dari bangunan itu.

Pada pagi hari itu, Yousuf yang kini telah tua sekali itu sedang berada di kebun bunga sebelah kiri rumah, memetik dan membuangi daun-daun kering dan membunuh ulat-ulat yang mengganggu tanaman. Dengan perlahan dan asyik sekali, ia melangkah dari pohon ini ke pohon itu, dan nampaknya amat gembira.

Memang, kakek tua ini merasa hidupnya bahagia sekali. Betapa tidak? Anak angkatnya yang terkasih, sudah mempunyai rumah tangga yang baik dan dia telah mempunyai dua orang cucu sedangkan kehidupan mereka sekeluarga dalam keadaan aman dan damai. Ketenteraman hati ini membuat dia sehat-sehat saja dan jarang sekali menderita sakit, sungguh pun usianya telah tua dan tenaganya telah banyak berkurang.

Seorang pelayan wanita lalu datang menghampirinya dan membungkuk sambil berkata, “Yo-loya, minuman untuk Loya telah tersedia di ruang tengah.”

Yo Se Fu atau Yousuf mengangguk, kemudian menjawab, “Biarlah dulu, dan lebih baik kau menyediakan makan pagi untuk Siocia (Nona Kecil).”

“Siocia semenjak tadi telah pergi keluar, Loya.”

Yousuf menggeleng-geleng kepala, “Ah, anak itu! Sepagi ini telah pergi. Kalau nanti ayah ibunya datang dan mendapatkan ia tidak berada di rumah, bukan saja ia akan mendapat marah, aku pula akan mendapat teguran. Mengapa kalian tidak mencegahnya dan tidak menyuruh ia memberi tahukan lebih dulu kepadaku sebelum pergi?”

“Siocia tidak bisa dicegah, Loya. Kami pun telah minta ia memberi tahu lebih dulu kepada Loya, akan tetapi dia menjawab bahwa Loya takkan melarangnya keluar bermain dengan teman-temannya.”

Yousuf hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Sudahlah, dan kau bersama pelayan lain bekerjalah baik-baik, jaga agar semua barang dalam rumah nampak bersih agar tuan dan nyonyamu akan senang hati kalau datang nanti.”

“Baik, Yo-loya,” kata pelayan itu yang kemudian mengundurkan diri.

“Anak bandel...” Yousuf berkata seorang diri dengan mulut tersenyum, “mungkin seperti ibunya ketika masih kecil.”

Dia lalu melanjutkan pekeriaannya membuangi daun-daun kering dan ulat-ulat. Kadang-kadang Yousuf tersenyum geli seorang diri kalau ia teringat akan kenakalan-kenakalan Lili, dan tersenyum bangga apa bila teringat kepada Hong Beng yang pendiam, tampan, dan cerdik.

Amat berbahagialah orang tua yang mempunyai anak seperti Hong Li dan Hong Beng dan Yousuf merasa turut beruntung melihat Sie Cin Hai dan Lin Lin berbahagia, karena kedua orang yang dianggap laksana anak sendiri itu memang orang-orang baik hati dan juga amat berbakti kepadanya. Tidak ada kesenangan lain bagi hati kakek tua ini kecuali melihat Cin Hai serumah tangga sehat-sehat dan hidup beruntung.

Tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda dan ketika ia menengok, ia merasa terkejut dan heran karena melihat ada tiga orang penunggang kuda masuk ke dalam pekarangan itu. Orang-orang yang baru datang ini adalah Bouw Hun Ti bersama dua orang pengikutnya. Yousuf segera melangkah dan menghampiri tiga orang pengunjung itu.

Mudah saja bagi Bouw Hun Ti untuk menduga siapa adanya kakek tua yang berpakaian seperti orang Han akan tetapi berwajah orang Turki itu, karena itu dengan cekatan dia melompat turun dari kudanya dan bertanya,

“Apakah Saudara Yousuf yang terhormat baik-baik saja?”

Yousuf terkejut sekali mendengar pertanyaan ini dan dia lalu memandang dengan penuh perhatian. Matanya yang tua itu sudah agak lamur, akan tetapi dia masih dapat melihat bahwa orang ini adalah seorang Turki, baik dipandang dari kepalanya mau pun bentuk mukanya sungguh pun kulitnya kekuning-kuningan seperti kulit orang Han. Akan tetapi, betapa pun ia mengingat-ingat, ia tidak merasa pernah melihat orang ini, maka jawabnya ragu-ragu,

“Maaf, Saudara Muda, sepasang mataku telah terlalu tua untuk mengingat kembali wajah orang-orang yang sudah lama tidak bertemu denganku. Saudara ini siapakah dan datang dari mana?”

Bouw Hun Ti tertawa bergelak hingga Yousuf merasa tak enak di dalam hatinya, karena suara tawa ini menunjukkan bahwa dia berhadapan dengan seorang yang berhati kejam dan sombong. Memang Yousuf mempunyai perasaan halus dan pandangan tajam, dapat mengenal watak-watak manusia hanya dengan mendengar suara tawanya atau melihat wajahnya.

“Saudara Yousuf, walau pun kau sudah lupa kepadaku, agaknya kau tidak lupa kepada Panglima Besar Balutin yang telah gugur dalam menjalankan tugas yang gagal karena pengkhianatan bangsa kita sendiri!”

Makin tidak enaklah hati Yousuf mendengar ucapan ini, karena dia maklum bahwa yang dimaksudkan dengan pengkhianatan itu tentu dia sendiri. Akan tetapi dengan tenang dia mengangguk dan menjawab,

“Tentu saja aku kenal Panglima Balutin yang gagah perkasa, sungguh pun harus kuakui bahwa perkenalan itu tidak sangat erat. Akan tetapi, aku masih belum mengerti apakah hubungannya perkenalanku dengan Balutin itu dengan kunjunganmu sekarang ini. Apa kau sengaja datang jauh-jauh dari Turki hanya untuk mencariku?”

Bouw Hun Ti mengangguk. “Memang kami sengaja datang untuk mencarimu, dan amat kebetulan kita bisa bertemu dengan mudah. Saudara Yousuf, lupakah kau kepada Bouw Hun Ti, putera dari Balutin? Dulu aku hanya dapat melihatmu dari jauh, mengingat akan kedudukanmu dan selalu aku memandangmu dengan kagum, yaitu sebelum mendengar betapa kau mengkhianati ekspedisi pemerintahan kita.”

Yousuf teringat bahwa Balutin memang mempunyai seorang putera yang berkepandaian tinggi, akan tetapi dulu ia belum pernah berhubungan dengan orang muda itu. “Sudahlah, tidak ada gunanya kita membicarakan hal yang sudah lampau. Setiap orang mempunyai kesalahan-kesalahannya sendiri, tergantung dari sudut orang itu memandangnya. Yang terpenting sekarang beritahukanlah maksud kedatanganmu ini.”

“Ha-ha-ha! Setidaknya kau masih memiliki sifat terus terang dan langsung seperti sifat bangsa kita!” Sekarang suara Bouw Hun Ti berubah kasar dan tanpa penghormatan pula. “Yousuf, aku datang atas perintah Pangeran untuk membawamu ke Turki!”

Mendengar ini, Yousuf merasa kaget dan memandang penuh kecurigaan. Ia tahu bahwa Pangeran Tua tak mungkin akan memanggilnya, karena ia telah minta ijin dari Pangeran Tua untuk meninggalkan tanah air dan masuk menjadi bangsa Han sedangkan Pangeran Tua telah memberi perkenan sepenuhnya. Dan semenjak saat itu, hubungannya dengan Turki telah putus sama sekali dan ia telah menganggap diri sendiri sebagai seorang Han asli. Mengapa sekarang tiba-tiba Pangeran Tua yang memanggilnya?

“Bouw Hun Ti, kalau benar Pangeran Tua memanggilku, tentu ada suratnya. Perlihatkan suratnya kepadaku.”

Bouw Hun Ti tersenyum sindir. “Untuk memanggil seorang hambanya, Pangeran tidak perlu menggunakan surat. Apakah kau tidak percaya padaku? Ketahuilah, Yousuf bahwa aku adalah tangan kanan Pangeran dan kalau kau sudah tiba di sana, akan kau ketahui sendiri.”

“Kau selalu menyebut Pangeran, yang mana maksudmu? Tentulah bukan Pangeran Tua yang menyuruhmu, bukan?”

“Siapa sudi membantu Pangeran yang lemah itu? Pangeran Muda yang mengutus aku untuk membawamu kembali!”

Kini mengertilah Yousuf, dan dia tahu pula bahwa orang ini memang sengaja datang hendak membikin ribut. Semua orang tahu belaka bahwa dia, Yousuf, adalah pengikut Pangeran Tua dan yang selalu memusuhi segala tindakan yang tak patut dari Pangeran Muda, maka tentu saja kalau sekarang pangeran itu mengutus seorang untuk memanggil atau membawanya ke Turki, itu berarti bahwa utusan ini telah diberi wewenang penuh untuk membawanya hidup-hidup atau pun mati!

Akan tetapi, walau pun telah tua sekali, Yousuf masih belum kehilangan keberanian dan kegagahannya. Dia memandang tajam dan berkata,

“Dengarlah, Bouw Hun Ti! Apa bila Pangeran Muda yang memanggilku, jangankan tanpa surat, biar pun dengan surat yang disimpan dalam kotak emas permata sekali pun, aku tidak akan mau mentaatinya!”

“Ha-ha-ha! Bagus, Yousuf, memang inilah yang kukehendaki! Dengan jawabanmu ini, maka ada alasan bagiku untuk memenggal batang lehermu!” Sambil tertawa bergelak, Bouw Hun Ti lalu menggerakkan tangan kanannya dan goloknya yang tajam berkilauan telah dicabutnya!

Yousuf sama sekati tidak takut menghadapi Bouw Hun Ti, biar pun dia dapat menduga bahwa putera Balutin ini tentu kepandaiannya tinggi sekali. Akan tetapi ketika Bouw Hun Ti mencabut goloknya, tiba-tiba saja wajah Yousuf menjadi sangat pucat dan sepasang matanya terbelalak lebar. Diluar dugaan Bouw Hun Ti, kakek ini segera menjatuhkan diri berlutut menyembah dengan jidat menempel di tanah sambil berkata penuh hormat,

“Hamba menanti perintah.”

Melihat hal ini, Bouw Hun Ti yang tadinya merasa heran, menjadi girang sekali karena ia mengerti bahwa goloknya inilah yang membuat Yousuf bersikap seperti itu. Golok yang dipegangnya ini adalah golok pusaka yang biasa digunakan oleh Pangeran Tua dan yang dipergunakan sebagai lambang kekuasaannya. Menurut peraturan lama dari kerajaan itu, barang siapa pun yang diberi kekuasaan oleh Pangeran Tua untuk memegang golok ini, maka dia berhak menghukum setiap orang sebagai wakil penuh.

Biar pun Yousuf merasa heran kenapa golok pusaka dari Pangeran Tua itu bisa terjatuh ke dalam tangan orang ini, akan tetapi kesetiaannya terhadap Pangeran Tua membuat ia tidak berani banyak cakap dan segera berlutut, karena ia pikir bahwa di bawah pengaruh golok itu, ia harus menyerah dan membiarkan dirinya dibawa ke Turki!

Akan tetapi, Yousuf masih tidak tahu akan kekejian hati Bouw Hun Ti yang memang telah memiliki keinginan untuk membunuhnya. Ketika melihat Yousuf bertutut dan menyembah di hadapannya seperti itu, manusia berhati kejam dan curang ini lalu mengayun goloknya ke arah leher Yousuf!

Bukan main terkejutnya hati Yousuf ketika mendengar sambaran angin di atas lehernya, namun sudah terlambat. Sebelum ia tahu apa yang terjadi atas dirinya, golok yang tajam itu telah membabat lehernya! Dari lehernya darah mengalir keluar bagai pancuran ketika kepala kakek tua yang bernasib malang itu menggelinding ke atas tanah!

Dua orang pelayan wanita menjerit ketika mereka keluar dan melihat tubuh Yousuf rebah di tanah dengan leher putus. Mereka hendak melarikan diri, akan tetapi hanya dengan satu lompatan saja Bouw Hun Ti sudah dapat menyusul mereka dan dua kali goloknya bergerak, maka robohlah dua orang pelayan itu dalam keadaan mandi darah dan tidak bernyawa lagi!

Melihat darah para korbannya itu, Bouw Hun Ti menjadi makin buas.

“Tunggu di sini, biar aku mengadakan pemeriksaan di dalam!” katanya kepada dua orang pengiringnya yang memandang semua kejadian itu dengan muka menahan kengerian hati.

Bouw Hun Ti segera berlari masuk ke dalam rumah Sie Cin Hai, aduk sana bongkar sini membunuh dua orang pelayan laki-laki yang kebetulan berada di situ, kemudian keluar lagi. Dia lalu mengambil kepala Yousuf dengan memegang rambutnya dan membungkus kepala itu dengan sapu tangan lebar, lalu memberi tanda kepada dua orang pengiringnya untuk pergi dari situ.

Beberapa orang yang kebetulan lewat di depan rumah itu, menjadi ketakutan dan segera melarikan diri sambil berteriak-teriak, memberi tahu kepada semua orang bahwa Kakek Yo telah dibunuh orang! Orang-orang sekota menjadi gempar dan mereka lalu membawa senjata dan beramai-ramai menuju ke tempat itu.

Akan tetapi, Bouw Hun Ti dan kedua pengiringnya sambil membawa kepala Yousuf telah pergi dari situ. Orang-orang itu hanya mendapatkan mayat Yousuf yang kepalanya hilang beserta mayat empat orang pelayan.

Gegerlah keadaan di situ, dan terdengarlah suara tangis para wanita ketika mendengar bahwa Empek Yo yang baik hati itu terbunuh orang. Mereka lalu mencari-cari ke dalam rumah dan ketika mereka tidak melihat Hong Li, keadaan menjadi makin ribut lagi.

“Aduh celaka! Nona Lili lenyap...!” Mereka mengeluh dan peluh dingin keluar dari jidat mereka karena mereka dapat membayangkan betapa akan marahnya pendekar besar Sie Cin Hai dan isterinya apa bila mengetahui hal ini!

Sementara itu, Bouw Hun Ti yang melarikan kuda bersama dua orang pengiringnya itu, lalu memberikan bungkusan kepala itu kepada mereka dan berkata,

“Kalian berdua kembalilah dulu ke Turki dan berikan ini kepada Pangeran Muda. Kalian boleh ceritakan kepada Beliau bahwa karena Yousuf menolak dibawa ke Turki, terpaksa kubunuh mati. Aku sendiri hendak mencari anak perempuan dari Pendekar Bodoh itu dan kemudian sebelum kembali ke Turki, aku hendak mengunjungi guruku.”

Kedua orang pengiringnya tak berani membantah, menerima bungkusan kepala itu, akan tetapi lalu berkata dengan muka pucat, “Kepala ini tentu akan membusuk sebelum kami tiba di Turki.”

Bouw Hun Ti tertawa bergelak, lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk sambil berkata, “Campurkan obat ini dengan air, kemudian balurkan di seluruh kulit muka dan kepala itu, terutama beri yang banyak pada bagian leher, tentu akan terpelihara baik dan tidak rusak kepala jahanam itu!”

Setelah memberikan obat itu kepada mereka, Bouw Hun Ti lalu pergi menuju ke lorong di mana tadi dia telah bertemu dengan Hong Li! Sedangkan kedua orang pengiringnya yang merasa tidak aman berada di dalam kota itu lebih lama lagi, segera membalapkan kuda keluar dari kota sambil membawa bungkusan kepala itu…..

********************
Agaknya memang sudah nasib Hong Li untuk mengalami bencana pada hari itu, karena anak perempuan ini kebetulan sekali sedang berjalan hendak pulang dan di tengah jalan tiba-tiba dia bertemu dengan Bouw Hun Ti yang melarikan kuda dari depan, muncul di sebuah tikungan!

Lili terkejut sekali pada saat mengenal Si Brewok yang tadi mengejar-ngejar dan hendak membunuhnya. Cepat anak ini membalikkan tubuh dan lari pergi akan tetapi Bouw Hun Ti telah melihatnya dan sambil berseru girang, orang ini melompat turun dari kuda dan mengejar!

Lili telah menerima latihan silat dari dua orang tuanya, maka sekecil itu dia telah memiliki kepandaian lari cepat yang cukup mengagumkan dan sekiranya yang mengejarnya ialah seorang laki-laki biasa saja, tidak mungkin dia akan dapat tertangkap. Akan tetapi, yang rnengejarnya adalah Bouw Hun Ti, orang yang memiliki kepandaian tinggi. Maka, dalam beberapa lompatan saja Bouw Hun Ti telah berhasil menyusulnya.

“Anak setan, kau hendak lari ke mana?”

Lili maklum bahwa percuma saja ia melarikan diri, akan tetapi ia memiliki keberanian luar biasa warisan kedua orang tuanya. Maka ketika melihat bahwa pengejarnya telah datang dekat, tiba-tiba ia berhenti, membalikkan tubuh dan berdiri sambil memasang kuda-kuda dan sepasang matanya memandang dengan tajam dan berani!

Bouw Hun Ti merasa kagum juga melihat sikap anak perempuan ini, apa lagi ketika Lili tiba-tiba menyerang dengan kepalan tangannya yang mungil itu, melakukan serangan ke arah pusarnya dengan pukulan yang dilakukan amat indah dan baiknya, kekagumannya bertambah dan timbullah rasa sayangnya kepada anak ini! Dia lalu mengulur tangan dan dengan mudah gerakannya yang cepat itu membuat dia berhasil menangkap tangan Lili dan sekali dia membetot, tubuh Lili telah tertangkap dan berada dalam pondongannya!

“Setan kecil, kau mungil sekali!” kata Bouw Hun Ti sambil tertawa-tawa.

Akan tetapi, Lili tidak mau menyerah demikian saja. Biar pun tangan kanannya yang tadi memukul telah terpegang dan dia telah dipondong orang, kini tangan kirinya memukul ke arah kepala dan muka yang brewok itu, sedangkan kedua kakinya meronta-ronta hendak melepaskan diri!

Tapi apakah daya seorang anak perempuan berusia delapan tahun terhadap Bouw Hun Ti, ahli silat yang tangguh itu? Sekali saja ia mengulur tangan dan memencet pundak Lili, anak perempuan itu mengeluh lantas tubuhnya menjadi lemas tak berdaya sama sekali. Kaki tangannya serasa lumpuh tak bertenaga sehingga dia kini tidak dapat meronta-ronta lagi.

“Ha-ha-ha! Setan cilik, kau harus ikut aku. Hendak kulihat Pendekar Bodoh dan isterinya dapat berbuat apa!”

Bouw Hun Ti lalu membawa anak dalam pondongannya itu menuju ke kudanya dan dia segera melompat naik ke atas kuda lalu melarikan kudanya dengan cepatnya ke luar kota. Hal ini tidak terlihat oleh siapa pun juga, oleh karena semua orang yang mendengar tentang peristiwa hebat yang terjadi di rumah Sie Cin Hai, berbondong-bondong pergi ke rumah itu.

Penduduk kota Shaning segera merawat jenazah Yousuf dan empat orang pelayan itu. Mereka semua menghormati Yousuf sebagai seorang kakek yang selain baik hati, juga peramah dan berpengetahuan luas. Apa lagi mengingat bahwa kakek ini adalah ayah angkat dari Sie-hujin (Nyonya Sie), maka tanpa ada yang perintah, mereka lalu membeli peti mati yang baik dan melakukan upacara sembahyang dengan segala kehormatan.

Setelah kelima jenazah itu dirawat baik-baik dan ditaruh di dalam peti mati, lima buah peti mati itu dijajarkan di ruang depan dan dipasangi lima meja sembahyang. Mereka, atas anjuran dari Kepala Kota Shaning, siang malam menjaga peti-peti ini, dan orang yang datang untuk bersembahyang serta ikut berduka cita, terus membanjir setiap waktu tiada hentinya. Mereka akan menunggu sampai datangnya Sie Cin Hai suami isteri, sebelum mengubur peti-peti itu.

Tiga hari kemudian, dari luar kota Shaning datang dua orang penunggang kuda, seorang laki-laki dan seorang wanita. Usia mereka kurang lebih tiga puluhan tahun, dan keduanya nampak gagah sekali.

Yang laki-laki berpakaian sederhana, wajahnya tampan dan tenang serta sikapnya gagah sekali. Gagang pedangnya nampak tersembul di atas punggungnya. Yang wanita cantik sekali dan senyumnya selalu meramaikan wajahnya yang manis. Juga wanita ini terlihat gagah perkasa dengan pedang yang tergantung pada pinggangnya. Mereka ini tidak lain adalah Sie Cin Hai dan Kwee Lin atau Lin Lin, Pendekar Bodoh dengan isterinya yang baru pulang dari barat.

“Hai-ko,” terdengar Lin Lin berkata dengan wajah berseri, “anak kita Lili tentu akan girang sekali melihat kita datang!”

Sinar gembira memancar dari wajah yang tenang dari Pendekar Bodoh itu pada waktu ia mendengar isterinya menyebut nama Lili, anak perempuannya yang nakal namun selalu mendatangkan kegembiraan itu.

“Girang?” katanya. “Kurasa di samping kegirangannya, ia akan cemberut atau menangis mencela kita yang tidak mau membawanya ketika pergi dulu. Tidak ingatkah kau betapa dia dulu menangis dan hendak memaksa ikut kalau tidak kubentak-bentak?”

“Memang dia agak keras hati dan bandel,” Lin Lin membenarkan.

“Seperti ibunya,” kata Cin Hai.

Lin Lin menengok kepada suaminya sambil cemberut. “Kau anggap aku keras hati dan bandel? Kalau begitu, mengapa kau dulu menikah dengan aku?”

Cin Hai tertawa. “Karena keras hati dan kebandelanmu itulah!”

“He?! Bagaimana pula ini?”

“Aku suka kepadamu karena kau adalah Lin Lin yang keras hati dan bandel!” Mereka saling pandang dan akhirnya keduanya tertawa bahagia. Memang, semenjak mereka menikah, sepasang suami isteri ini selalu masih suka bersendau gurau dengan gembira, menandakan bahwa mereka hidup bahagia sekali.

“Bagaimana pun juga Hai-ko, jangan kau terlalu keras terhadap Lili, dia masih kecil dan kecerdikannya memang tidak seperti anak kita Beng-ji.”

“Kalau terlalu dikasih hati dan dimanja, ia akan menjadi bodoh. Apa kau suka melihat ia menjadi bodoh seperti...” Cin Hai hendak berkata seperti ‘keledai’ akan tetapi ia didahului oleh isterinya.

“Seperti ayahnya!”

Sekarang Cin Hai yang menengok dan memandang kepada isterinya dengan hati agak mendongkol, karena ia baru saja memikirkan keledai yang bodoh sehingga ketika Lin Lin menyatakan bahwa anaknya bodoh seperti ayahnya, ia merasa seakan-akan dialah yang dipersamakan dengan keledai!

“Jadi kau anggap aku bodoh?”

Lin Lin tertawa geli sampai menekan perutnya dan dia menuding ke arah muka Cin Hai sambil berkata, “Tidak ada orang lainnya di seluruh dunia ini yang lebih bodoh dari pada Pendekar Bodoh! Kau masih berani mengaku bahwa kau tidak bodoh!”

“Dan kau suka kepada orang bodoh?” tanya Cin Hai masih mendongkol.

“Kalau kau tidak bodoh, aku tak akan suka kepadamu!”

Demikianlah, di sepanjang perjalanan mereka, setiap waktu kedua orang ini bersenda gurau, saling menggoda, seolah-olah mereka sedang melakukan perjalanan bulan madu dari sepasang pengantin baru! Kedua orang ini, terutama Cin Hai yang biasanya amat cermat pandangannya, lupa dalam mabuk kebahagiaan mereka, bahwa kesenangan dan kesusahan selalu timbul silih berganti.

Cin Hai yang telah kenyang mempelajari dan menghafal semua ujar-ujar kuno itu di masa kecilnya, pada saat-saat bergembira ria dengan isterinya seperti waktu itu, seakan lupa dengan bunyi ujar-ujar nasehat bahwa jangan terlalu bergembira dalam kesenangan dan jangan terlalu berduka dalam kesusahan!

Setelah sampai di gerbang kota, Lin Lin sudah tidak sabar lagi, ingin lekas-lekas melihat rumah, bertemu dengan Lili dan dengan ayah angkatnya, Yousuf. Maka dia mencambuk kuda yang ditungganginya agar berlari lebih cepat lagi. Cin Hai mengikuti dari belakang. Mereka berdua sama sekali tak melihat betapa orang-orang di pinggir jalan memandang kepada mereka dengan wajah pucat dan duka.

Baru setelah tiba di pekarangan rumah mereka, Lin Lin dan Cin Hai memandang dengan muka menjadi pucat dan dada berdebar keras. Untuk beberapa lamanya Lin Lin bahkan duduk saja di atas kudanya seperti patung tak kuasa bergerak karena seluruh tubuhnya seakan-akan menjadi kaku oleh kecemasan hebat.

Cin Hai melompat turun terlebih dulu dan segera menarik tangan isterinya. Keduanya lalu berlari cepat menuju ke ruangan depan di mana nampak meja sembahyang dan peti mati berjajar-jajar, hio yang sedang mengebulkan asapnya, dan banyak orang duduk sambil memandang mereka dengan muka sedih!

Kedatangan mereka disambut oleh Kepala Kota serta isterinya yang langsung memeluk Lin Lin sambil menangis.

“Kui-lopeh, apakah yang telah terjadi?” tanya Cin Hai. “Dan siapakah yang... meninggal dunia...?”

Sementara itu, Lin Lin segera bertanya dengan suara keras, “Mana anakku...? Mana... Ayah...?”

“Sabarlah, Taihiap, dan kau juga Lihiap,” kata Kepala Kota itu yang seperti juga semua orang lainnya, menyebut taihiap (pendekar besar) kepada Cin Hai, dan menyebut lihiap (pendekar wanita) kepada Lin Lin. “Memang telah terjadi hal yang sangat hebat selama kalian pergi. Terjadinya sudah tiga hari yang lalu. Seorang laki-laki brewok bersama dua orang kawannya yang tidak diketahui siapa adanya dan apa sebabnya, telah datang ke sini pada pagi hari tiga hari yang lalu kemudian orang brewok itu telah membunuh Yo-lo-enghiong (Orang Gagah Yo), juga membunuh mati empat orang pelayanmu.”

“Dan... Lili... bagaimana?” tanya Cin Hai dengan pucat, sedangkan Lin Lin memandang kepada Kepala Kota itu seakan-akan berada dalam sebuah mimpi buruk.

“Itulah yang membingungkan kami, Taihiap,” jawab Kepala Kota itu, “pada saat peristiwa itu, anakmu sedang pergi bermain keluar rumah, akan tetapi, meski kami telah mencari di setiap tempat, namun tak juga bertemu dengan Lili, entah ke mana ia pergi.”

Cin Hai mengangguk-angguk. “Hmm, jika orang sudah berani membunuh gakhu (mertua laki-laki), tentu ia berani menculik anakku pula.”

Mendengar ini, bagai meledaklah rasa marah yang telah mendesak-desak dalam dada Lin Lin.

“Keparat jahanam! Siapa dia itu dan di mana dia? Biar kukeluarkan isi perutnya!” Sambil berkata demikian, Lin Lin menggerakkan tangan kanannya dan…

“Srttt!” pedang Han-le-kiam yang pendek dan berkilau saking tajamnya itu telah dicabut keluar dari sarung pedang.

Cin Hai memegang lengan isterinya. “Sabarlah, dan tenanglah.”

“Bagaimana aku bisa bersabar kalau mendengar ada anjing berkeliaran di kota ini dan berani mengganggu Ayah serta Anakku? Mari, Hai-ko. Mari kita mencarinya sekarang juga! Hendak kulihat sampai bagaimana lihainya sehingga anjing itu berani main-main dengan aku!”

Cin Hai membujuk isterinya dan menarik tangannya. “Lebih dahulu kita harus memberi hormat dan menghaturkan maaf kepada gakhu karena kita telah meninggalkan dia. Kalau kita berada di sini, apakah hal ini akan dapat terjadi?”

Mendengar ucapan ini, dengan gerakan perlahan Lin Lin menengok ke arah peti Yousuf, dan tiba-tiba saja nyonya muda ini menjerit dan melemparkan pedangnya, lalu berlari ke depan peti mati Yousuf, lalu berlutut memeluki peti itu sambil menangis tersedu-sedu.

“Ayah... Ayah, ampunkan anakmu yang tak berbakti ini...” Lin Lin menjambak rambutnya sendiri sehingga menjadi awut-awutan! “Aku telah pergi meninggalkan Ayah... bersenang dan tertawa-tawa di jalan, tidak tahunya Ayah mengalami nasib seperti ini...!” Kemudian ia bangun berdiri dan mengepal tinjunya, memandang ke arah peti mati dengan air mata mengalir dan sepasang matanya yang dipentang lebar itu pun penuh air mata.

“Ayah! Bagaimana kau sampai kalah oleh anjing itu? Mungkinkah kau yang gagah ini kalah olehnya? Ayah! Katakanlah siapa orang itu, akan kucekik lehernya sekarang juga!” Akan tetapi ia teringat kembali bahwa ayah angkatnya telah mati, maka ia lalu menubruk peti mati itu dan sambil menangis menjerit-jerit dia berusaha membuka tutup peti yang telah dipaku.

Cin Hai tadi pun berlutut di belakangnya, dan ketika melihat perbuatan isterinya itu, dia cepat memegang lengannya dan berkata perlahan,

“Lin Lin, kau hendak berbuat apakah?”

“Buka! Buka! Aku hendak melihat ayahku...!”

Orang-orang yang berada di sana tidak dapat menahan mengucurnya air mata melihat pemandangan yang amat mengharukan ini, akan tetapi mereka kaget sekali mendengar nyonya itu hendak membuka peti! Juga Kepala Kota merasa terkejut dan kuatir sekali, maka dia melangkah maju dan berkata mencegah,

“Taihiap, lihat! Jangan dibuka peti itu...!”

Tiba-tiba Lin Lin melompat berdiri dan memandang kepada Kepala Kota itu dengan mata bernyala! “Apa katamu? Mengapa tidak boleh dibuka?”

Melihat wajah yang pucat seperti mayat dan mata yang bernyala marah itu, Kepala Kota melangkah mundur dua tindak dengan terkejut dan ucapan yang telah di ujung lidahnya terpaksa dia telan kembali!

“Hayo buka!” Sekali lagi Lin Lin memekik.

“Kui-lopeh, biarlah. Buka saja tutup peti mati ini supaya kami dapat memandang wajah gakhu sekali lagi,” kata Cin Hai perlahan sambil menahan jatuhnya air mata.

Kepala Kota she Kui itu hendak menjawab dan memberi keterangan, akan tetapi baru saja bibirnya bergerak, Lin Lin yang sudah tak sabar lagi itu membentak lagi,

“Hayo buka sekarang juga! Kalau kalian tidak mau, biarlah aku sendiri yang membuka!” Sambil berkata demikian, Lin Lin melangkah maju dan hendak membuka tutup peti itu dengan paksa.

Cin Hai merasa kuatir kalau-kalau peti itu akan menjadi rusak bila Lin Lin mengerahkan tenaganya, maka ia segera memberi tanda sehingga Kepala Kota itu terpaksa menyuruh para penjaga untuk mengambil alat dan tutup itu dibuka dengan tangan-tangan gemetar oleh empat orang.

Peti dibuka perlahan. Semua orang menahan napas, sedang di sana-sini terdengar isak tertahan. Begitu peti itu terbuka dan Lin Lin bersama Cin Hai menjenguk ke dalam peti itu, keduanya langsung menjerit seakan-akan dari dalam peti itu melayang ular-ular yang menggigit mereka.

“Ayah...!!” Dan jeritan yang mengerikan ini disusul dengan robohnya tubuh Lin Lin. Dia pingsan!

“Gakhu...!” Cin Hai juga memekik dan mukanya berubah menjadi pucat sekali.

Siapa orangnya yang tidak akan merasa ngeri serta hancur hatinya melihat ayah dan mertuanya mati dalam keadaan demikian mengerikan, tanpa kepala! Akan tetapi, Cin Hai yang memiliki kekuatan batin luar biasa itu, dapat menekan penderitaan hatinya, dan setelah memandang sekali lagi ke arah tubuh Yousuf yang tak berkepala lagi itu, ia lalu menutup petinya dan menyuruh orang-memakunya kembali.

Ia kemudian mengangkat tubuh isterinya dan dipondong, dibawa masuk ke dalam rumah. Dia merasa kasihan sekali kepada Lin Lin dan memaklumi sepenuhnya akan perasaan dan penderitaan batin isterinya ini. Ayah Lin Lin yang asli, yaitu Kwee In Liang, tewas sekeluarganya terbunuh oleh orang, dan sekarang ayah pungutnya juga tewas terbunuh, bahkan dalam keadaan yang amat mengerikan.

Setelah siuman kembali, Lin Lin menangis sedih, dihibur oleh Cin Hai. Akan tetapi betapa pun juga, bencana besar yang menimpa keluarga Sie ini tidak mudah dihibur begitu saja, bahkan Pendekar Bodoh sendiri yang biasanya berlaku tenang dan berbatin kuat, kali ini duduk bengong seakan-akan semangatnya terbang melayang.

Peristiwa ini amat berat, tidak saja Yousuf telah terbunuh mati secara kejam sekali, akan tetapi juga anak mereka yang tersayang, Hong Li, telah diculik oleh pembunuh jahat dan kejam itu! Sungguh pun tak ada bukti yang nyata bahwa pembunuh itulah yang menculik Lili, akan tetapi siapa lagi kalau bukan pembunuh itu yang berani melakukan perbuatan keji ini.

“Aku harus mencarinya! Aku harus mencari jahanam itu, harus membunuhnya!” kata Lin Lin berulang-ulang sambil menangis!

“Tentu saja isteriku!” kata Cin Hai sambil memegang tangannya. “Akan tetapi kita harus berlaku tenang dan mempergunakan pikiran jernih. Ada sesuatu yang menghibur hatiku yaitu karena Lili diculik orang, maka tentu ia masih selamat. Jika penjahat itu bermaksud membunuh anak kita, tentu sudah ia lakukan di sini seperti yang diperbuatnya terhadap gakhu, tak perlu susah-susah diculiknya lagi. Hanya sayangnya, penjahat itu sama sekali tidak meninggalkan nama-nama yang jejak, sehingga sulitlah bagi kita untuk mencarinya karena kita tidak tahu ke jurusan mana kita harus mencari!”

Terhibur juga hati Lin Lin mendengar ucapan ini, karena memang kata-kata suaminya itu beralasan. Kalau penculik itu bermaksud membunuh Lili tentu tak perlu dibawanya pergi.

“Bagaimana pun juga, kita harus mencarinya!” katanya kemudian.

“Tentu saja, akan tetapi kita harus mengurus penguburan jenazah ayahmu dulu, dan kita harus melakukan penyelidikan di sini, kalau-kalau ada orang yang dapat menceritakan terjadinya peristiwa itu lebih jelas lagi!”

Penguburan kelima jenazah itu dilakukan dengan baik dalam suasana diliputi kesedihan. Sebagian besar penduduk kota Shaning mengantar dan kota itu nampak dalam suasana berkabung.

Setelah selesai penguburan, Cin Hai lalu mencari keterangan ke sana kemari kalau-kalau ada yang dapat menceritakan peristiwa itu lebih jelas lagi. Akan tetapi, orang-orang yang kebetulan lewat ketika peristiwa maut itu terjadi, sudah melarikan diri karena ketakutan, dan mereka hanya dapat menceritakan bahwa yang memegang golok berlumpur darah adalah seorang yang bermuka brewok dan kepalanya memakai ikat kepala warna merah dan walau pun kulitnya kuning, akan tetapi potongan mukanya seperti orang asing dan agaknya sebangsa dengan Yousuf, usianya kurang lebih empat puluh tahun.

“Bisa jadi orang itu adalah musuh dari gakhu,” kata Cin Hai sesudah memutar otaknya karena keterangan-keterangan itu amat sedikit, “mungkin sekali dia adalah seorang Turki. Ingatkah kau bahwa para pengikut Pangeran Muda dari Turki terdiri dari orang jahat yang berkepandaian tinggi? Siapa tahu kalau-kalau orang itu merupakan utusan dari Pangeran Muda yang merasa sakit hati terhadap gakhu.”

“Akan tetapi, mengapa dia menculik anak kita?” kata Lin Lin dengan hati sakit hati.

“Inilah yang harus kita selidiki. Sekarang tidak ada lain jalan bagi kita selain menyusul ke barat!”

“Ke Turki?” tanya Lin Lin memandang dengan mata terbelalak.

“Kalau perlu kita boleh menyusul ke sana. Akan tetapi, lebih baik kita mencari keterangan dan menyelidiki ke daerah barat di mana terdapat banyak orang-orang Turki.”

“Ke daerah Kansu di barat?” tanya pula Lin Lin.

Pendekar Bodoh mengangguk. “Kau masih ingat betapa kita pernah pergi ke daerah itu dan betapa para pengikut Pangeran Tua yang dipimpin oleh gakhu dan Suhu bertempur melawan pengikut-pengikut Pangeran Muda?”

Lin Lin mengangguk dan tentu saja dia masih ingat akan pengalaman-pengalamannya yang ketika mereka bersama kawan-kawan mereka yang lain mengembara ke barat ke daerah Kansu di mana mereka mengalami peristiwa-peristiwa hebat.

Memang di daerah ini terdapat banyak sekali orang-orang Turki, maka apa bila hendak mencari keterangan tentang pembunuh Yousuf yang disangkanya orang Turki itu, tidak ada lain tempat yang lebih tepat dan baik selain daerah Kansu.

“Baiklah aku menurut saja. Pendeknya, jangankan ke Kansu atau ke Turki, biar mesti ke seberang lautan sekali pun, aku harus dapat mencari jahanam itu!” kata Lin Lin.

“Dan kita sekalian mampir di Tiang-an, karena sudah setahun kita tidak bertemu dengan Kwee An,” kata Cin Hai.

Demikianlah, sepasang pendekar yang sedang bersedih hati itu kemudian menyerahkan penjagaan rumah mereka kepada para tetangga, lantas mereka berangkat menunggang kuda, mulai dengan usaha mereka mencari pembunuh Yousuf dan mencari anak mereka yang terculik orang…..

********************

Marilah sekarang kita ikuti nasib Hong Li atau Lili yang dibawa pergi oleh Bouw Hun Ti. Sebenarnya putera Balutin ini memiliki hati yang lebih kejam dan keji dari pada ayahnya. Tidak dibunuhnya Lili bukan sekali-kali timbul dari hati nuraninya, oleh karena manusia ini agaknya tidak memiliki pribudi sama sekali dan hatinya sudah membeku terhadap segala macam kebajikan dan sudah tak mengenal peri kemanusiaan lagi, seakan-akan ia adalah iblis bertubuh manusia!

Ia tidak membunuh Lili, pertama-tama untuk mendatangkan siksaan batin kepada orang tua anak itu, kedua kalinya oleh karena ia suka melihat kemungilan dan kejelitaan Lili dan diam-diam ia mengandung maksud yang amat busuk dan keji.

Dia hendak merawat anak perempuan itu karena dia dapat membayangkan bahwa paling banyak tujuh delapan tahun kemudian, anak perempuan ini akan menjadi seorang gadis remaja yang luar biasa cantiknya. Dan ia berniat mengambil anak ini sebagai isterinya apa bila anak itu telah besar kelak! Sungguh sebuah niat yang amat busuk dan keji!

Bouw Hun Ti menuju ke tempat tinggal suhunya, yaitu Ban Sai Cinjin, seorang tua yang berwatak jauh lebih rendah dari pada Bouw Hun Ti sendiri. Biar pun usianya telah lebih dari lima puluh tahun, akan tetapi Ban Sai Cinjin terkenal pula sebagai seorang yang gila perempuan dan di dalam rumahnya, ia mempunyai bini muda yang tidak kurang dari lima orang jumlahnya, masih muda-muda lagi cantik-cantik! Dia dapat melakukan hal ini oleh karena selain amat berpengaruh dan ditakuti orang, juga dia terkenal kaya raya.

Gedungnya besar dan mewah. Jubah luarnya terbuat dari pada kapas halus serta tebal yang berharga sangat mahal, ditambah pula dengan baju bulunya yang selalu menutup jubahnya. Juga tua bangka yang tidak tahu diri ini memilih warna yang mencolok untuk pakaiannya, jika tidak merah, tentu biru dan lain-lain warna yang membayangkan bahwa biar pun usianya telah tua, namun hatinya lebih muda dari pada seorang teruna!

Ban Sai Cinjin bertempat tinggal di dusun Tong-si-bun di Propinsi Hupei yang berdekatan dan berada di sebelah barat Propinsi An-hui. Oleh karena itu, sesudah keluar dari kota Shaning, Bouw Hun Ti langsung menuju ke barat dan memasuki Propinsi Hupei.

Jalan yang ditempuhnya ini berlainan dengan jalan yang ditempuh oleh Cin Hai beserta isterinya, oleh karena sepasang pendekar itu yang menuju ke Tiang-an tempat tinggal kakak Lin Lin yang bernama Kwee An, melakukan perjalanan lurus ke utara.

Biar pun Bouw Hun Ti memiliki kuda yang baik dan melakukan perjalanan dengan cepat, akan tetapi oleh karena jarak yang ditempuhnya memang jauh, maka tiga hari kemudian ia baru tiba di tapal batas Propinsi Hupei. Ia merasa bingung dan juga gemas sekali oleh karena Lili yang berada dalam pengaruh totokannya itu sama sekali tidak mau makan sehingga wajah anak itu pucat sekali serta tubuhnya lemas!

Apa bila berada dalam perjalanan, ia membebaskan anak itu dari totokan. Akan tetapi tiap kali memasuki kampung atau kota, ia menotoknya kembali pada urat gagu anak itu agar jangan sampai berteriak minta tolong.

Pada hari ketiga itu dia sampai di sebuah dusun yang cukup besar dan ramai. Dusun ini adalah dusun Sin-seng-chun dan adanya dua buah rumah penginapan serta tiga buah rumah makan besar itu cukup menjadi bukti bahwa dusun itu cukup makmur dan banyak didatangi tamu dari luar!

Bouw Hun Ti menghentikan kudanya pada sebuah rumah makan yang terbaik, kemudian mengikat tali kudanya pada patok-patok yang telah disediakan di pinggir rumah makan itu. Kemudian ia menuntun Lili memasuki rumah makan.

Dia merasa gelisah bukan main dan merasa takut kalau-kalau anak perempuan ini akan menderita sakit dan mati di tengah jalan. Oleh karena itu, kali ini ia hendak memaksanya makan! Ia memesan arak dan masakan untuk diri sendiri dan minta semangkuk bubur untuk Lili.

Setelah pesanannya dihidangkan oleh pelayan rumah makan, dia lalu berkata kepada Lili dengan suara halus agar tidak menimbulkan kecurigaan orang.

“Kau makanlah!”

Akan tetapi, seperti yang sudah dilakukannya selama dia diculik oleh Si Brewok itu, Lili menggelengkan kepala sambil mengatupkan bibirnya. Bouw Hun Ti benar-benar merasa kewalahan dan diam-diam dia merasa heran melihat kekerasan hati anak ini. Anak kecil baru berusia delapan tahun saja sudah berani berlaku nekad dan mogok makan selama tiga hari, sama sekali tidak mau menurut perintahnya! Ia mulai merasa ragu-ragu apakah kelak anak ini tidak hanya mendatangkan kepusingan dan kesukaran kepadanya.

“Makanlah!” katanya lagi dan kali ini kemendongkolannya membuat suaranya terdengar agak keras. Pelayan melayaninya dengan pandang mata kasihan lalu bertanya,

“Tuan, apakah Nona kecil ini menderita sakit?”

Bouw Hun Ti memang sedang marah sekali sehingga pelayan itu menjadi terkejut dan melangkah mundur.

“Mau apa kau tanya-tanya? Pergi!” bentak Bouw Hun Ti yang sedang marah itu dan pelayan tadi segera pergi dengan ketakutan seperti seekor anjing yang sedang diancam dengan cambuk.

“Mau makan atau tidak?” sekali lagi Bouw Hun Ti membentak Lili, akan tetapi Lili tetap menggeleng kepala.

Bukan main marahnya Bouw Hun Ti. Kalau saja di situ tidak banyak orang dan dia tidak ingin menimbulkan onar, tentu dia telah memukul kepala anak ini biar mampus seketika itu juga! Ia lalu mendapat akal dan tiba-tiba ia tersenyum menyeringai hingga mukanya nampak kejam sekali.

“Kau tidak mau makan, anak manis?” Sambil berkata demikian, dia lalu menepuk-nepuk punggung Lili, akan tetapi sebenarnya, di luar tahunya semua orang, dia telah melakukan tiam-hoat (totokan) pada jalan darah di punggung anak itu pula.

Lili merasa kesakitan yang luar biasa hebatnya menyerang seluruh tubuhnya, sehingga ia menggeliat-geliat kesakitan seperti cacing terkena abu panas! Kalau saja urat gagunya tidak tertotok, tentu dia akan menjerit-jerit kesakitan. Akan tetapi, karena dia tidak dapat mengeluarkan suara, hanya air matanya saja mengucur turun membasahi pipinya dan kulit mukanya sampai berkerut-kerut saking besarnya penderitaan nyeri yang menyerang tubuhnya! Bibirnya digigit-gigit sampai berdarah! Bukan main besarnya penderitaan anak kecil berusia delapan tahun itu.

“Bagaimana? Kau masih mau makan atau tidak?” tanya Bouw Hun Ti sambil tersenyum iblis.

Biar pun Lili masih anak-anak, akan tetapi ia adalah anak seorang pendekar besar, maka dia tahu apa artinya rasa sakit yang menyerang dirinya dengan hebat itu. Karena dapat menduga bahwa penculiknya adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan tentu akan terus menyiksanya apa bila dia membangkang, terpaksa dia menganggukkan kepalanya dan tangannya yang telah menggigil akibat kesakitan dan kelaparan itu, lalu meraba-raba mangkuk.

“Anak baik, kau makanlah yang kenyang!” Bouw Hun Ti berkata sambil menepuk-nepuk punggung anak itu.

Seketika itu juga lenyaplah rasa nyeri yang menyerang tubuh Lili tadi. Anak kecil mulai makan bubur dalam mangkuk dan biar pun dia makan dengan otomatis tanpa menikmati rasa bubur itu, namun ia merasa tubuhnya segar kembali, tidak lemas seperti tadi. Maka dihabiskanlah semangkuk bubur itu tanpa mau memandang wajah penculiknya, karena ia maklum betapa penjahat itu memandangnya dengan mengejek.

Para tamu yang berada di situ sama sekali tidak tahu akan kekejaman ini dan mereka ikut merasa lega melihat betapa ‘anak sakit’ itu makan dengan lahapnya.

“Nah, begitulah!” kata Bouw Hun Ti kepada Lili. “Dan mulai sekarang, kau harus menurut segala kata-kataku, kalau tidak, tentu kau akan menderita sakit dan siapakah yang akan susah kalau terjadi demikian?”

Dalam pendengaran orang-orang lain, ucapan ini seperti ucapan seorang ayah memberi nasehat kepada anaknya, akan tetapi dalam pendengaran Lili kata-kata itu merupakan ancaman bahwa kalau lain kali ia tidak menurut, ia akan menderita siksaan seperti tadi!

Akan tetapi, orang salah menduga apa bila mengira bahwa di antara semua orang yang berada di tempat itu tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Si Brewok dan anak kecil itu!

Di sudut rumah makan itu, menghadapi meja seorang diri, duduk seorang lelaki berusia antara tiga puluh lima tahun. Orang ini berwajah putih, dan gagah, berambut hitam dan bermata tajam. Kumisnya pendek sedangkan jenggotnya hanya sekepal laksana jenggot kambing.

Yang aneh sekali adalah pakaiannya, karena pakaian yang dipakainya itu penuh dengan tambal-tambalan, akan tetapi terbuat dari pada bahan yang sangat bersih! Bahkan kain berwarna putih yang dipergunakan untuk menambal bajunya yang hitam itu pun demikian bersihnya seakan kain baru yang sengaja ditambalkan di situ! Juga pengikat rambutnya yang terbuat dari pada sutera itu sama sekali tidak sesuai dengan bajunya yang penuh tambal-tambalan seperti baju seorang pengemis!

Lama sebelum Bouw Hun Ti masuk, orang ini telah masuk dan duduk di dalam restoran, dan kelakuannya sudah membuat semua orang terheran. Tadinya, pelayan yang melihat seorang berbaju tambal-tambalan memasuki restoran, lalu menyambutnya dengan muka masam dan berkata dengan nada menghina,

“Tidak ada tempat untuk golongan pengemis di restoran ini!”

Orang yang berbaju tambal-tambalan itu tidak menjadi marah, hanya tersenyum sambil menjawab, “Yang kau layani semua ini orangnya atau pakaiannya?”

“Apa maksudmu?” tanya pelayan yang sombong itu.

“Kau memandang orang dari keadaan pakaiannya, orang semacam kau ini benar-benar menyebalkan!”

“Aku tak peduli tentang pakaian, pendeknya kau punya uang atau tidak? Bagimu, semua pesanan makanan harus dibayar dimuka!”

Sikap serta omongan pelayan ini memang benar-benar kurang ajar sekali. Akan tetapi orang itu masih tetap tersenyum sabar, sungguh pun jawabannya menyatakan bahwa ia amat mendongkol.

“Berapa kau menjual kepalamu? Kiranya aku sanggup membayarnya!” Sambil berkata demikian, orang itu merogoh sakunya dan ketika ia menarik kembali tangannya ternyata bahwa ia telah menggenggam beberapa potong uang perak dan emas!

Tentu saja pelayan itu menjadi sangat malu dan juga tercengang ketika melihat seorang berpakaian tambal-tambalan mempunyai uang perak sebanyak itu, bahkan memiliki uang emas pula. Tanpa dapat berkata apa-apa lagi dia lalu mengundurkan diri dan lain orang pelayan lalu melayani orang berbaju tambalan itu.

Sungguh amat baik nasibnya pelayan tadi, karena kalau sampai orang berbaju tambalan itu turun tangan, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya. Kalau saja dia tahu siapa adanya orang ini, tentu dia akan menjadi ketakutan sekali, dan untungnya orang itu tidak menyebut namanya.

Orang berbaju tambalan itu adalah Lo Sian yang berjuluk Sin-kai (Pengemis Sakti) dan namanya telah terkenal di segenap penjuru, karena di samping ilmu kepandaiannya amat tinggi juga Lo Sian terkenal sebagai pendekar pembasmi kejahatan. Pendekar yang suka mengenakan pakaian tambal-tambalan ini sebenarnya adalah salah seorang tokoh dari Thian-san-pai, yang sedang turun gunung berbareng dengan seorang suheng-nya (kakak seperguruannya).

Kakak seperguruannya juga selalu mengenakan pakaian tambal-tambalan, bahkan jika pakaian Lo Sian masih terpelihara bersih-bersih, adalah pakaian kakak seperguruannya itu amat buruk dan kotor, seperti pakaian pengemis tulen. Suheng-nya ini bernama Nyo Tiang Le dan dijuluki Mo-kai (Pengemis Iblis)!

Julukan ini diberikan orang kepadanya oleh karena sepak terjangnya yang laksana iblis mengamuk apa bila dia menghadapi orang-orang jahat. Di dalam memusuhi orang-orang jahat, Nyo Tiang Le memang bertindak secara ganas dan tak kenal ampun, maka semua orang menjadi ngeri dan jeri melihatnya sehingga dia diberi julukan Pengemis Iblis!

Secara kebetulan sekali Lo Sian si Pengemis Sakti lewat di dusun Sin-seng-chun dan makan di restoran itu sehingga dia melihat Bouw Hun Ti masuk sambil menuntun tangan Lili. Lo Sian hanya memandang sambil lalu saja, karena sungguh pun dia telah memiliki pengalaman yang luas dan mengenal hampir semua orang gagah di kalangan kang-ouw, akan tetapi ia belum pernah melihat Bouw Hun Ti yang datang dari Turki itu.

Akan tetapi ketika ia mendengar betapa Bouw Hun Ti beberapa kali membentak-bentak anak itu, dia merasa heran dan memandang juga. Dia merasa heran mengapa anak itu tidak mau makan, sedangkan mellhat wajahnya sepintas lalu saja tahulah ia bahwa anak itu sedang menderita lapar sekali. Diam-diam ia pun merasa heran melihat wajah laki-laki yang seperti orang asing ini, maka diam-diam dia mulai menaruh perhatian, sungguh pun dia hanya memandang dengan kerling matanya saja.

Alangkah terkejutnya hati Lo Sian ketika kemudian dia melihat betapa laki-laki brewok itu menepuk-nepuk pundak anak perempuan itu kemudian tiba-tiba dia menotok jalan darah Koan-goan-hiat anak itu! Ia merasa kaget bukan main karena totokan itu dapat membuat anak itu tewas seketika, atau setidaknya mendatangkan rasa sakit yang hebatnya luar biasa!

Gilakah Si Brewok itu? Mengapa ada orang memperlakukan anak sendiri semacam itu? Lo Sian memandang tajam dan hampir saja dia bertindak untuk memberi hajaran kepada orang kejam ini, kalau saja pada saat itu Bouw Hun Ti tidak sudah melepaskan Lili dari pengaruh totokannya kembali.

Jelas kelihatan oleh Lo Sian betapa anak perempuan itu menahan sakit dan biar pun air mata anak itu bercucuran, akan tetapi tidak sedikit pun suara isak keluar dari mulutnya. Ia berdebar deras karena kini ia menduga bahwa anak perempuan ini tentu telah ditotok urat gagunya yang membuatnya sama sekali tidak dapat mengeluarkan suara. Hatinya mulai menaruh curiga kepada orang brewok itu dan dia menduga bahwa orang ini tentu seorang penculik anak kecil. Lo Sian mulai bersiap untuk menyelidiki perkara ini dan jika perlu menolong anak itu.

Akan tetapi pada saat itu terjadilah hal lain yang cukup meributkan. Orang melihat betapa Bouw Hun Ti tiba-tiba saja melemparkan daging yang sedang dikunyahnya ke atas lantai sambil menyumpah-nyumpah.

“Bangsat dan penipu belaka pemilik rumah makan ini!” Ia menyumpah-nyumpah sambil memegang pipinya.

Sesungguhnya, tanpa disengaja, Bouw Hun Ti yang mempunyai penyakit gigi, kena gigit sepotong tulang kecil yang bersembunyi di dalam daging sehingga sakitnya bukan main dan membuat matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut serasa mau pecah. Siapa yang pernah menderita sakit gigi tentu akan dapat membayangkan rasa sakit yang diderita oleh Bouw Hun Ti pada saat itu.

Penyakit ini memang paling jahat dan berbahaya karena membuat orang naik darah dan terutama sekali Bouw Hun Ti yang berwatak buruk itu, tiba-tiba menjadi marah sekali. Ia lantas memegang mangkok tempat masakan itu dan membantingnya ke lantai sehingga hancur berkeping-keping!

Pelayan yang tadi menghina Lo Sian adalah pelayan kepala dan dia memang terkenal beradat keras serta sombong. Tadi dia sudah ‘kecele’ oleh Lo Sian sehingga sedikitnya kesombongannya tersinggung, maka hal itu membuat dia merasa malu dan mendongkol. Kini naiklah darahnya melihat ada orang yang membuat ribut. Dengan langkah lebar dia menghampiri lalu membentak,

“Orang kasar dari manakah yang berani mengacau di rumah makan kami? Mengapa kau memaki-maki dan merusak barang kami? Kau harus mengganti harganya!”

Pelayan itu memang sedang sial dan ia benar-benar mencari penyakit sendiri. Bouw Hun Ti yang sedang menderita sakit gigi dan sedang marah-marah itu seperti api yang mulai menyala, kini seakan-akan api itu disiram pula dengan minyak hingga makin berkobar. Ia lalu bangkit berdiri dengan perlahan dan kedua matanya seakan-akan hendak menelan bulat-bulat pelayan itu.

“Apa katamu tadi...?” katanya perlahan dengan muka merah. “Kau sudah menipu orang, menjual daging liat dan tulang, masih tidak mau mengaku salah bahkan berani memaki aku?”

“Siapa bilang kami menjual daging liat dan tulang? Barangkali gigimu yang telah ompong sehingga tak kuat mengunyah daging!” pelayan itu tidak mau kalah dan beberapa orang terdengar tertawa mendengar ucapan ini.

Diam-diam Lo Sian memandang dengan penuh perhatian dan hati tertarik. Ia tahu bahwa pelayan itu terlalu sombong dan akan mengalami celaka. Benar saja, tiba-tiba Bouw Hun Ti yang mendengar ucapan ini lalu membungkuk dan mengambil sekerat daging yang tadi dilemparnya, kemudian sekali dia mengayun tangan, daging itu melayang dan tepat menotok jalan darah di dadanya.

Pelayan itu segera menjerit keras, lantas roboh dan bergulingan sambil berteriak-teriak, “Aduh...! Mati aku...! Aduh...! Aduh...!”

Gegerlah semua tamu dan pelayan yang ada di situ. Dua orang pelayan yang bertubuh tinggi besar melangkah maju.

“Bangsat kurang ajar! Kau berani memukul orang?”

Dua orang pelayan itu juga mencari penyakit, pikir Lo Sian yang menonton keributan itu sambil tersenyum simpul.

Akan tetapi dua orang pelayan yang hanya memiliki tenaga besar karena tiap hari dilatih mencacah bakso, tidak dapat melihat bahwa Bouw Hun Ti memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Karena itu, dengan kepalan tangan mereka lalu menyerang hebat untuk memberi hajaran kepada Si Brewok itu. Akan tetapi, Bouw Hun Ti sama sekali tidak pedulikan datangnya pukulan kedua orang itu, bahkan lalu maju menyambut dengan kedua tangan terulur maju merupakan cengkeraman garuda.

“Bukk! Bukk!”

Dua pukulan itu tepat mengenai dada dan pundak Bouw Hun Ti, akan tetapi aneh sekali. Si Brewok itu seakan-akan tidak merasa sama sekali, sebaliknya dua orang pelayan itu memekik kesakitan dan memandang tangan mereka yang kini menjadi bengkak dan biru setelah memukul tubuh yang mereka rasakan keras seperti besi itu!

Sementara itu, cengkeraman tangan Si Brewok sudah mencapai sasaran, yakni rambut kedua orang pelayan itu. Ketika Bouw Hun Ti mengangkat kedua lengannya maka tubuh dua orang itu terangkat ke atas dan Bouw Hun Ti lalu menggerakkan kedua tangannya, membenturkan kepala dua orang itu satu kepada yang lain.

“Dukk!”

Ketika Bouw Hun Ti melepaskan tangannya, dua orang pelayan itu roboh dengan tubuh lemas dan pingsan serta kepala mereka yang saling bertumbuk tadi pecah kulitnya dan mengeluarkan darah! Masih untung bagi mereka bahwa Bouw Hun Ti tak menggunakan seluruh tenaganya, karena kalau Si Brewok mau, dua butir kepala itu pasti akan menjadi pecah dan nyawa mereka berdua akan melayang!

Pada saat itu dari luar pintu terdengarlah bentakan keras dengan suara yang parau,

“Jago dari manakah memperlihatkan kegagahan di sini?” Bentakan ini disusul masuknya seorang laki-laki berpakaian mewah dan bertubuh tinggi besar bermuka hitam.

Inilah Tiat-tauw-ciang (Si Kepala Besi) yang bernama Thio Seng, seorang yang terkenal sebagai jago di dusun itu. Thio Seng tidak saja mempunyai kepandaian silat yang tinggi, akan tetapi dia juga terkenal sebagai seorang yang kaya raya. Selain mempunyai banyak tanah, juga rumah makan itu adalah miliknya. Pengaruhnya sangat besar dan agaknya pengaruhnya ini yang membuat para pelayannya berwatak sombong.

Pada waktu terjadi pertempuran di rumah makan itu, kebetulan sekali Thio Seng sedang berada di luar rumah makan, maka dia langsung mendengar dari para pelayan tentang mengamuknya seorang tamu. Dengan marah dia lalu masuk ke dalam rumah makannya dan membentak Bouw Hun Ti.

Ketika melihat seorang tinggi besar bermuka hitam memasuki pintu rumah makan, Bouw Hun Ti yang masih marah itu bertanya dengan suara kasar,

“Muka Hitam, siapakah kau dan mau apa?”

Thio Seng dapat menduga bahwa orang ini tentu memiliki ilmu silat, maka dia menjawab sambil mengangkat dada,

“Akulah yang disebut Tiat-tauw-ciang Thio Seng dan pemilik rumah makan ini!” Dengan ucapan ini Thio Seng menduga bahwa orang itu tentu sudah mendengar namanya dan akan minta maaf menyatakan tidak tahu bahwa restoran itu miliknya.

Akan tetapi, selama hidupnya Bouw Hun Ti belum pernah mendengar nama ini, maka dia menjawab, “Tidak peduli pemilik rumah ini bernama kepala besi atau pun kepala udang, orang telah melakukan penipuan di dalam rumah makan ini! Daging keras dan busuk tapi dijual!”

Marahlah Thio Seng mendengar ini. “Eh, kau sombong sekali, sobat! Siapakah kau yang tidak tahu aturan ini?”

“Siapa adanya aku bukan urusanmu! Dan jangan kau menghadang di jalan, aku hendak pergi!” Sambil berkata begini, Bouw Hun Ti memegang tangan Lili dan hendak menarik gadis cilik itu keluar dari sana.

Akan tetapi Thio Seng berdiri sambil bertolak pinggang dan berkata,

“Hemm, sabar dulu, sobat! Kalau kau tidak mengganti kerusakan ini dan memberi uang obat kepada pelayan-pelayanku serta berlutut minta ampun kepada Tiat-tauw-ciang, kau jangan harap bisa keluar dari sini!” Sambil berkata demikian, Thio Seng membuka jubah dan topinya, dan kini nampaklah kepalanya yang licin tidak berambut di bagian muka dan tengah, mengkilap bagaikan digosok dengan minyak.

Inilah kepalanya yang sangat ditakuti orang, karena dengan kepala ini, Thio Seng pernah mengalahkan banyak jago silat, bahkan pernah pula berdemonstrasi membentur dinding dengan kepalanya sehingga dinding bata yang tebal itu menjadi pecah!

Mendengar ucapan orang she Thio itu, Bouw Hun Ti tidak dapat menahan marahnya lagi. Dia segera melepaskan tangan Lili dan melangkah maju sambil menendang meja kursi yang berada di dekatnya untuk mencari ruang yang lebih lebar.

“Kau mau melakukan kekerasan? Baik, agaknya kau ingin pula dihajar!”

“Rasakan pukulanku!” Thio Seng berseru dan mulai menyerang dengan pukulan tangan kanan.

Melihat gerakan yang keras dan cepat itu, Lo Sian yang masih duduk di sudut diam-diam memuji dan maklum bahwa Si Muka Hitam yang kasar ini memiliki kepandalan yang tidak rendah.....

Akan tetapi, dia merasa terkejut dan kagum ketika melihat gerakan Bouw Hun Ti. Ketika pukulan Thio Seng itu telah menyambar dekat dengan dadanya, mendadak Bouw Hun Ti segera melembungkan dadanya tanpa menangkis sedikit pun. Padahal melihat kerasnya pukulan, Lo Sian maklum bahwa hal itu amat berbahaya.

“Bukkk!”

Terdengar suara keras saat pukulan itu tepat menghantam dada, akan tetapi aneh sekali. Bukan Bouw Hun Ti yang roboh, bahkan tubuh Thio Seng yang terjengkang ke belakang seakan-akan dia baru saja terdorong oleh tenaga amat besar!

Lo Sian terkejut benar-benar karena sesungguhnya tak pernah disangkanya orang yang brewok itu memiliki lweekang yang demikian tingginya! Sungguh seorang yang memiliki kepandaian tinggi, lawan yang amat tangguh, pikirnya.

Oleh karena itu, maka maksudnya hendak menolong anak perempuan itu dipikirnya lagi masak-masak. Dia harus menggunakan siasat untuk menolong anak itu, karena dengan jalan kekerasan, belum tentu dia akan dapat menangkan Si Brewok itu.

Sementara itu, Thio Seng yang barusan memukul, merasa terkejut dan marah karena dia merasa seakan-akan memukul karet. Biar pun tangannya tidak menjadi bengkak seperti tangan pelayannya ketika tadi memukul Bouw Hun Ti, akan tetapi dia sudah terpental ke belakang oleh kehebatan tenaga lawan. Dia tahu bahwa lawannya adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, maka Thio Seng lalu mengambil jalan pendek dan nekat.

“Bangsat rendah, awas serangan balasanku!” serunya dan tubuhnya lantas membungkuk dengan kepala di depan dan matanya melirik tajam bagaikan laku seekor kerbau jantan yang hendak menyerang.

“Hemm, majulah, hendak kurasakan betapa empuknya kepala tahumu!” kata Bouw Hun Ti sambil memasang perutnya ke depan!

Pada saat itu Lo Sian sudah mendapatkan akal untuk bertindak. Dia tadi melihat betapa dengan menggunakan sepotong daging Si Brewok itu dapat menyerang lawannya. Maka secara diam-diam dia lalu mengambil sekerat daging yang agak keras, kemudian setelah membidik dengan hati-hati, dia lalu menyambitkan daging itu ke arah leher Lili.

Anak ini sedang asyik menonton pertempuran dan selama tiga hari itu Lili tiada hentinya merasa heran serta marah kenapa ayah dan ibunya, juga kakeknya, tidak mengejar dan memberi hajaran kepada penculiknya ini!

Tadi ketika melihat para pelayan menyerang Bouw Hun Ti, ia mengharap agar Bouw Hun Ti akan kalah dan binasa. Akan tetapi alangkah kecewanya ketika melihat bahwa para pelayan yang hanya pandai berlagak itu dengan mudah dapat dirobohkan oleh Si Brewok yang amat dibencinya itu. Pengharapannya menipis dan kemudian anak ini merasa putus asa, bahkan kini dia merasa menyesal kepada ayah ibu serta kakeknya yang tidak juga muncul untuk menolongnya!

Ketika daging yang disambitkan oleh Lo Sian dengan tepat mengenai lehernya sehingga tiba-tiba dia merasa betapa kekakuan leher dan lidahnya lenyap, yang dapat dia serukan hanya jeritan, “Ayah... Ibu... tolong...!”

Pada saat itu, Bouw Hun Ti tengah menghadapi Thio Seng yang hendak menyerangnya dengan kepala. Bukan main kagetnya mendengar suara Lili karena dia tahu betul bahwa anak itu sudah ditotok jalan darahnya. Dengan heran Bouw Hun Ti menengok dan pada saat itu pula, Thio Seng sudah menyeruduk maju, menyerang perut Bouw Hun Ti dengan kepalanya yang botak licin!

Tadinya Bouw Hun Ti tidak bermaksud membunuh pemilik rumah makan ini dan hanya hendak mempermainkannya. Akan tetapi oleh karena pada saat itu ia sedang menengok sehingga keadaannya amat berbahaya, ketika ia merasa betapa angin serudukan kepala dari Si Muka Hitam itu sedemikian kuatnya dan tidak ada kesempatan lagi baginya untuk menghindarkan diri, ia lalu mengerahkan sinkang-nya dan...

“Ceppp!”

Kepala Thio Seng menancap pada perutnya laksana anak panah menancap pada batang pohon! Memang betul-betul luar biasa karena kini tubuh Thio Seng menjadi kaku, kepala menancap di perut Bouw Hun Ti dan kakinya terangkat lurus ke belakang!

Dengan sinkang-nya yang benar-benar luar biasa sekali Bouw Hun Ti sudah menyedot perutnya sehingga rongga perutnya menjadi kosong, lantas pada waktu kepala lawannya menyeruduk perutnya dia segera menggunakan tenaga lweekang untuk menggencet dan menolak tenaga serudukan itu!

Ketika Bouw Hun Ti melembungkan perutnya lagi, tubuh Thio Seng terlempar dan roboh dalam keadaan tidak bernyawa lagi! Ternyata bahwa penolakan tenaga dari perut Bouw Hun Ti sudah membuat tenaga serudukan Thio Seng balik menyerang kepalanya sendiri sehingga dia mendapat luka di dalam kepala dan tewas pada saat itu juga!

Melihat hal yang mengerikan ini, segera ributlah keadaan di situ. Dan ketika Bouw Hun Ti menengok untuk membawa pergi Lili, dia melihat anak itu sudah dipondong oleh seorang laki-laki berpakaian tambal-tambalan!

“Lepaskan anak itu!” seru Bouw Hun Ti dan tangannya diulur ke depan sedangkan kedua kakinya melompat dalam serbuan itu.

Lo Sian melihat tangan Si Brewok menyambar ke jalan darah Tai-twi-hiat, maka dia cepat mengangkat tangan kirinya menangkis. Dua tangan orang-orang yang berilmu tinggi dan ahli lweekeh bertemu dengan keras dan Lo Sian terpental ke belakang! Untung ia berlaku waspada dan hanya terhuyung-huyung saja tidak sampai roboh, sedangkan Bouw Hun Ti juga melangkah mundur dua langkah.

Bukan main marahnya Bouw Hun Ti, dan berbareng dia juga merasa terkejut karena tak pernah disangkanya di tempat itu ia akan bertemu dengan seorang yang memiliki tenaga lweekang demikian tingginya.

“Bangsat rendah kau ingin mampus!”

Dan dia lalu bergerak maju kembali untuk melakukan serangan.

Akan tetapi, para pelayan bersama beberapa orang kaki tangan Thio Seng yang melihat betapa Thio Seng telah terbunuh oleh orang brewok itu menjadi marah dan kini serentak maju menyerang dengan senjata di tangan. Hal ini membuat Bouw Hun Ti terpaksa harus menunda niatnya menyerang Lo Sian, dan sebaliknya dia segera memutar tubuhnya dan menghadapi para penyerangnya.

Bukan main ributnya pertempuran itu, karena biar pun Bouw Hun Ti tidak menggunakan senjata, akan tetapi begitu tubuhnya bergerak, pedang dan golok beterbangan dan tubuh para pengeroyoknya jatuh tumpang tindih dan malang melintang! Jangan kata sampai kena pukulan dan tendangan Bouw Hun Ti, baru keserempet sedikit saja sudah membuat para pengeroyok itu bergulingan jatuh tak dapat bangun pula!

Tentu saja kehebatan sepak terjang Si Brewok ini membuat pengeroyok lainnya menjadi terkejut dan gentar hingga mereka merasa ragu-ragu untuk maju menyerang. Bouw Hun Ti cepat menengok, akan tetapi dia tidak melihat lagi pengemis berbaju tambalan yang tadi memondong Lili.

“Kau hendak lari ke mana?!” dia berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang melewati kepala para pengeroyoknya yang berdiri melongo di depan pintu!

Bouw Hun Ti melompat naik ke atas genteng memandang ke kanan kiri, akan tetapi tetap saja dia tidak melihat adanya orang yang sudah merampas anak itu. Bukan main marah dan mendongkol hatinya, tapi kepada siapakah dia harus melampiaskan rasa marahnya? Dia melompat turun lagi dan ketika dia melihat salah seorang di antara para pelayan itu memegang tali kudanya, dia cepat menyambar dengan tendangannya.

Pelayan yang bermaksud menahan kudanya itu menjerit ngeri dan tubuhnya terlempar jauh, jatuh di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa pula! Untuk melampiaskan rasa kedongkolan hatinya karena Lili dirampas orang, Bouw Hun Ti telah membunuh seorang lagi!

Ia lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kudanya cepat-cepat menuju ke barat, dengan harapan kalau-kalau dia akan dapat menyusul orang yang membawa lari anak kecil tawanannya itu. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa Lo Sian, Si Pengemis Sakti itu, tidak membawa lari Lili ke barat, melainkan ke selatan!

Lo Sian lalu membawa Lili bersembunyi ke dalam sebuah kelenteng tua yang terdapat di sebelah selatan dusun itu. Ia menurunkan Lili yang semenjak tadi meronta-ronta dalam pondongannya dan ketika diturunkan, Lili langsung melompat dan menyerangnya dengan pukulan kedua tangannya!

Lo Sian berseru terheran-heran. Bukan saja dia merasa heran mengapa anak ini begitu dilepaskan lalu tiba-tiba menyerangnya dengan marah, akan tetapi ia juga merasa heran melihat bahwa gerakan serangan anak kecil ini sangat indah dan baik sekali, merupakan tipu pukulan dari ilmu silat yang bermutu tinggi!

Ia mengelak cepat dan berkata, “Eh, ehh, anak baik, mengapa kau menyerang aku?”

Akan tetapi, tanpa berkata sesuatu apa pun, Lili terus menyerangnya dengan membabi buta, menggerakkan kedua tangan, bahkan mengirim tendangan dengan kakinya! Dalam keheranannya, Lo Sian menjadi gembira dan ingin melihat sampai di mana kepandaian anak ini dan ilmu silatnya dari cabang mana, maka dia tetap mengelak ke sana ke mari dengan cepatnya.

Makin lama makin terheranlah dia pada saat mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dimainkan oleh Lili untuk menyerangnya, benar-benar merupakan ilmu pukulan yang luar biasa sekali gerak-geriknya dan yang sama sekali belum pernah dilihatnya! Dia paham dengan ilmu silat cabang-cabang besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Gobi-pai dan lain-lainnya, akan tetapi ilmu silat anak kecil ini benar-benar belum pernah dilihatnya dan yang harus diakui amat hebat! Kalau ia tidak memiliki gerakan yang cepat, tentu ia telah kena terpukul, sungguh pun pukulan anak itu tentu saja tak akan mendatangkan bahaya apa pun terhadap tubuhnya.

Dia lalu mengulur tangan dan menangkap pergelangan tangan Lili, lalu merangkul anak itu.

“Anak yang baik, dengarlah. Aku bukan orang jahat!”

“Kau juga penculik!” tiba-tiba Lili berseru keras dan sepasang mata yang indah bening itu memandang tajam dan marah, bibirnya dikatupkan keras-keras.

Makin tertariklah hati Lo Sian melihat anak ini. Dia dapat menduga bahwa anak ini tentu bukan anak sembarangan, dan ia kagum sekali menyaksikan keberanian dan kekerasan hati anak ini.

“Bukan, bukan, anakku! Mungkin kau masih dipengaruhi oleh Si Brewok yang kejam tadi! Dia memang orang jahat dan aku menolongmu dan merampasmu dari tangannya!”

Lili memang cerdik dan setelah kini terbuka matanya dan tahu pula bahwa orang berbaju tambalan ini selain mempunyai wajah yang sabar dan baik juga kata-katanya tak sekasar dan seganas Si Brewok tadi, maka tiba-tiba saja dia menangis tersedu-sedu!

Lo Sian menarik napas panjang dan mengelus-elus kepala anak itu.

“Kasihan, anak yang baik. Kau siapakah dan anak siapa serta bagaimana pula sampai terjatuh ke dalam tangan penculik jahat itu?”

Lili masih merasa gemas kepada ayah ibunya yang sampai saat itu belum juga datang menyusul dan menolongnya. Karena ia masih kecil, maka ia tidak dapat berpikir jauh dan tidak tahu bahwa kedua orang tuanya tidak mungkin dapat menyusulnya dengan mudah karena tidak tahu ke mana ia dibawa pergi. Yang ia ketahui hanyalah ayah ibunya belum muncul dan dalam anggapannya, ayah ibunya itu seolah-olah membiarkan saja ia dibawa pergi oleh penculik jahat tadi!

Penderitaan-penderitaan yang dia alami selama tiga hari itu memang benar-benar hebat. Seorang anak kecil seperti dia, baru berusia delapan tahun, sudah dibawa lari seorang kejam seperti Bouw Hun Ti, lalu mengalami kekagetan, kelaparan, bahkan selalu berada dalam pengaruh totokan yang membuatnya gagu, dan tadi malah dia telah ditotok hingga merasakan kesakitan yang luar biasa.

Tentu saja dia merasa marah dan sakit hati mengapa ayah ibunya membiarkan saja dia menderita sehebat itu! Sekarang dia telah tertolong oleh seorang lain, tentu saja segala simpatinya tercurah kepada orang ini dan ada waktu dia melihat orang itu mengelus-elus kepalanya dan memandangnya penuh rasa terharu dan sayang, tiba-tiba dia memeluk Lo Sian dan menangis di atas dada pengemis sakti itu!

“Anakku sayang, sudahlah jangan menangis. Si jahat itu telah pergi dan kau tidak akan tersiksa lagi. Percayalah, dengan adanya aku di sini, tidak akan ada orang yang berani mengganggumu. Aku bernama Lo Sian dan kau boleh menyebutku Lo-pekhu. Siapakah namamu?” Lo Sian mengulang pertanyaannya.

Di dalam pelukan Lo Sian, Lili teringat kepada kakeknya, karena di samping ayah ibunya, orang yang mengasihinya hanyalah kakeknya itulah, karena ini ia seakan-akan mendapat pengganti kakeknya dalam diri Lo Sian ini.

“Namaku Lili,” jawabnya tanpa mengangkat muka dari dada Pengemis Sakti itu.

“Nama yang bagus!” kata Lo Sian. “Dan siapa Ayah Ibumu?”

Mendadak Lili mengerutkan alisnya dan dia memandang dengan marah kepada Lo Sian. Bibirnya yang manis itu cemberut, sedangkan matanya yang masih basah oleh air mata itu menyinarkan cahaya tajam yang membuat Lo Sian memandang makin kagum saja.

“Ayah ibuku tidak mau menolongku! Jangan kau tanyakan nama mereka!” Ia benar-benar marah dan mengepal tinjunya!

Lo Sian tersenyum. Alangkah pemarah dan galaknya anak ini, pikirnya. Akan tetapi, di dalam kemarahannya, anak ini benar-benar kelihatan gagah dan bersemangat. Tentu dia anak seorang pendekar, pikirnya.

“Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahukan nama Ayah Ibumu, sedikitnya kau mau memberitahukan she-mu dan di mana pula kau tinggal.”

Lili tahu bahwa ayahnya bernama Sie Cin Hai dan ibunya bernama Kwee Lin, akan tetapi karena tadi dia sudah berkata tak hendak memberitahukan nama ayah ibunya, maka dia pun tidak mau memakai she (nama keturunan) mereka. Ia teringat akan nama kakeknya, maka ia menjawab,

“Aku she Yo dan di mana tempatku, aku tidak mau bilang karena aku tidak mau pulang!”

“Eh, ehh, kenapa tidak mau pulang? Ayah ibumu tentu akan mencari-carimu. Katakanlah di mana tempat tinggalmu agar aku dapat mengantar kau pulang ke rumah orang tuamu,” kata Lo Sian membujuk.

“Tidak, tidak! Aku tidak mau pulang! Ayah dan Ibu tidak mau menolong dan mencariku, untuk apa aku pulang? Lopek, aku mau ikut kau saja!”

Lo Sian tersenyum. “Maukah kau menceritakan bagaimana kau sampai terjatuh ke dalam tangan penculik kejam tadi?”

“Dia datang dan mengejarku ketika aku sedang bermain-main di luar rumah, di kampung lain. Aku tidak tahu mengapa ia membenci dan menculik aku!”

Lo Sian menjadi makin bingung. Anak ini tidak mau memberitahukan siapa orang tuanya dan di mana rumahnya, bahkan tidak mau pulang. Malah pancingannya untuk mendapat keterangan secara jelas ternyata gagal, dan mengapa Si Brewok tadi menculik anak ini pun masih merupakan teka-teki baginya.

Yang dapat memberi keterangan hanyalah Si Brewok tadi. Akan tetapi ia maklum bahwa Si Brewok itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Dia sendiri belum tentu akan dapat mengalahkannya, karena dari peraduan lengan tangan mereka tadi saja dia segera maklum bahwa tenaga lweekang orang itu masih lebih tinggi setingkat dari pada tenaganya sendiri!

“Anak yang baik, ilmu silatmu baik sekali. Dari siapakah kau belajar ilmu silat itu? Siapa yang melatihmu?”

“Yang mengajarku Ayah, Ibu, dan juga Kakekku!”

Terkejutlah Lo Sian mendengar ini. Dugaannya tidak salah. Anak ini datang dari keluarga pendekar. Tidak saja ayahnya yang dapat silat, bahkan ibu dan kakeknya agaknya juga orang-orang berkepandaian tinggi.

“Siapakah nama kakekmu, Lili?”

“Kakekku she Yo, namanya aku tidak tahu.”

Lo Sian mengangguk-angguk dan menduga bahwa kakek she Yo itu tentulah ayah dari bapak anak ini, kalau tidak demikian tentu anak ini tidak ber-she Yo pula.

“Di antara ketiga orang tua itu, siapakah yang terlihai ilmu silatnya?”

Dasar anak-anak, biar pun ia sedang marah kepada orang tuanya, akan tetapi tentu saja dia paling suka membanggakan kepandaian mereka, oleh karena itu tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab,

“Tentu saja Ayahku! Ke dua Ibu, dan ke tiga Kakek.”

“Kalau misalnya Ayahmu bisa menyusulmu, apa kau kira Ayahmu akan mampu menang melawan penculik tadi?”

Tiba-tiba saja Lili tertawa geli dan suara ketawanya demikian nyaring sehingga Lo Sian kembali melongo. Anak ini benar-benar aneh, begitu tiba-tiba dapat tertawa lagi seriang itu. Ia tidak tahu bahwa anak ini memang mempunyai sifat seperti ibunya, bahkan suara ketawanya juga merdu dan nyaring seperti suara ketawa ibunya.

“Tak usah Ayah sendiri maju, menghadapi Kakekku saja, dalam tiga jurus pasti dia akan dapat dirobohkan!”

Lo Sian tentu saja tak mau mempercayai omongan anak itu yang dianggapnya membual belaka. Akan tetapi menilik dari ilmu silat yang tadi dimainkan oleh Lili, ia percaya bahwa keluarga anak kecil ini tentu memiliki ilmu silat yang tinggi.

Maka, sambil mencari-cari orang tua serta tempat tinggal anak ini, untuk sementara dia hendak membawa anak ini bersama dia, membawanya merantau dan melatih silat, oleh karena dia memang belum mempunyai murid dan anak ini tak akan mengecewakan apa bila menjadi muridnya.

“Baiklah, Lili, kau boleh ikut padaku, dan maukah kau belajar silat padaku dan menjadi muridku?”

Dengan muka girang Lili lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambil berkata, “Tentu saja suka, Suhu (Guru)!”

Demikianlah, mulai hari itu juga, Lili menjadi murid Lo Sian dan ikut Pengemis Sakti ini merantau. Biar pun beberapa kali Lo Sian membujuknya, akan tetapi dia tetap tidak mau memberi tahukan nama orang tuanya atau tempat tinggalnya hingga Lo Sian melakukan perjalanan sambil mencari-cari secara diam-diam, karena sesungguhnya dia ingin sekali mempertemukan anak ini dengan kedua orang tuanya kembali.

********************

Di kota Tiang-an, kota di sebelah kota raja terdapat sebuah rumah gedung kuno yang besar. Rumah ini dikenal sebagai tempat tinggal keluarga Kwee, yang dahulu ditinggali oleh Kwee-ciangkun (Perwira Kwee), seorang pembesar millter yang gagah perkasa.

Akan tetapi, kini rumah itu ditinggali oleh seorang putera dari mendiang Kwee-ciangkun yang bernama Kwee An. Bagi para pembaca yang pernah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu tahu bahwa Kwee An ini adalah kakak dari Kwee Lin atau Lin Lin yang menjadi nyonya Sie Cin Hai.

Kwee An memiliki ilmu silat yang tinggi, karena orang muda ini adalah murid tersayang dari jago tua Eng Yang Cu, seorang tosu tokoh dari Kim-san-pai yang termasyhur. Selain mendapat gemblengan ilmu silat dari tokoh Kim-san-pai ini, Kwee An pernah menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi dari Kong Hwat Lojin si Nelayan Cengeng, bahkan pernah pula menerima gemblengan ilmu silat yang ganas dan aneh dari seorang penjahat besar yang bernama Hek Moko. Oleh karena itu, ilmu silat Kwee An amat tinggi dan namanya pun amat terkenal di kalangan kang-ouw.

Isteri dari Kwee An juga seorang puteri dari seorang pembesar kerajaan, dan isterinya ini bernama Ma Hoa, seorang wanita yang cantik manis. Dalam hal kepandaian ilmu silat, Ma Hoa ini tidak berada di sebelah bawah suaminya, karena selain mendapat pelajaran ilmu silat dari suhunya yang juga dianggap sebagai ayah angkat sendiri, yaitu Nelayan Cengeng, juga Ma Hoa pernah menerima pelajaran Ilmu Silat Bambu Runcing yang amat luar biasa dari Hok Peng Taisu, orang ajaib yang dianggap menjadi tokoh nomor satu dari daerah timur!

Saudara kandung dari Kwee An yang masih ada hanyalah Lin Lin yang kini tinggal bersama suaminya di Propinsi An-hui dan seorang kakak yang bernama Kwee Tiong dan yang kini hidup sebagai seorang hwesio di Kelenteng Ban Hok Tong, sebuah kelenteng kuno di luar tembok kota Tiang-an di sebelah barat.

Kwee An hanya mempunyai seorang anak perempuan yang pada waktu itu telah berusia sembilan tahun. Anak ini diberi nama Kwee Goat Lan yang berarti Anggrek Bulan. Goat berarti bulan dan Lan berarti bunga anggrek. Nama ini diberikan kepada anak itu oleh karena ketika mengandung, Ma Hoa bermimpi melihat bunga anggrek pada waktu terang bulan!

Dalam usia sembilan tahun, telah kelihatan bahwa kelak Goat Lan akan menjadi seorang gadis yang amat manis dan jenaka. Sebagai seorang anak tunggal, Goat Lan dimanja sekali oleh kedua orang tuanya, maka dia menjadi nakal sekali.

Semenjak kecil dia telah mendapat latihan dasar-dasar ilmu silat tinggi dari kedua orang tuanya, bahkan ia telah dapat mainkan sepasang bambu runcing seperti ibunya, sungguh pun permainannya baru merupakan ilmu silat kembangan belaka. Akan tetapi, anak ini memiliki dasar-dasar yang amat luar biasa dalam hal ilmu ginkang (meringankan tubuh) sehingga dalam usia sembilan tahun dia telah dapat melompat tinggi dan sering kali dia berlari di atas genteng atau melompat naik ke cabang pohon-pohon tinggi!

Yang mengherankan adalah kesukaannya akan ilmu kesusastraan, sehingga sering kali dua orang tuanya saling pandang dengan heran karena baik Kwee An mau pun Ma Hoa kurang suka mempelajari ilmu menulis dan membaca. Mengapakah anak tunggal mereka begitu tekun dan rajin mempelajari ilmu sastera?

“Agaknya ia telah mendapat warisan dari Cin Hai yang juga menjadi seorang kutu buku!” pernah Kwee An berkata secara berkelakar kepada isterinya.

“Tidak mungkin!” bantah Ma Hoa. “Kita jarang bertemu dengan Cin Hai, bahkan anak kita hampir tak mengenalnya. Kurasa ia mewarisi kesukaan ini dari kakeknya sebab mendiang ayahku memang suka sekali akan kesusastraan.”

Memang anak itu sangat suka membaca buku-buku kesusastraan kuno serta sajak-sajak baru, dan selain itu ia pun amat suka melukis. Maka tidak heran apa bila Goat Lan suka sekali pergi ke Kelenteng Ban-hok-tong mengunjungi pekhu-nya, oleh karena Kwee Tiong memang semenjak menjadi hwesio, kesukaannya tiada lain hanya membaca kitab-kitab dan memperdalam pengetahuannya dalam hal kesusastraan.

Dari Kwee Tiong dia mendapat tambahan pengetahuan yang tak sedikit, dan tiap kali dia datang ke kuil itu, selalu pekhu-nya itu pandai sekali mendongengkan sejarah kuno atau mengajarnya sajak-sajak baru yang amat indah.

Kwee An maklum bahwa kakaknya yang telah menjadi hwesio itu amat sayang kepada Goat Lan, dan di dalam hatinya, Kwee An merasa kasihan kepada kakaknya, maka untuk menghibur hati Kwee Tiong, dia membiarkan saja anaknya sering mengunjungi pekhu-nya itu, bahkan tidak jarang Goat Lan bermalam di kelenteng itu.

Dahulu Kelenteng Ban-hok-tong yang besar dan kuno ini tidak banyak penghuninya dan ditinggalkan terlantar. Tapi semenjak diketuai oleh Tong Kak Hosiang yang menjadi guru Kwee Tiong dalam pelajaran Agama Buddha, maka banyak sekali murid-muridnya yang menjadi hwesio.

Ketika Tong Kak Hosiang meninggal dunia dan kedudukan ketua diserahkan pada Kwee Tiong, maka Ban-hok-tong telah mempunyai penghuni yang sangat banyak. Tidak kurang dari dua puluh lima orang hwesio tinggal di kelenteng itu di bawah pimpinan Kwee Tiong yang kini menjadi penganut Agama Buddha yang amat setia.

Sesudah menjadi ketua kelenteng, namanya yang tadinya diubah oleh suhunya menjadi Tiong Yu Hwesio itu, kini kembali diubah menjadi Thian Tiong Hosiang. Dengan bantuan Kwee An, Thian Tiong Hosiang memperbaiki bangunan Kelenteng Ban-hok-tong dan di bawah bimbingannya, perkembangan Agama Buddha di daerah Tiang-an makin meluas.

Semua hwesio yang berada di kelenteng itu, tua muda, sangat suka dan sayang kepada Goat Lan yang mungil dan cerdik, dan di antara mereka ini, banyak terdapat orang-orang yang mempunyai ilmu kesusastraan tinggi. Maka, di bawah petunjuk-petunjuk mereka itu, pengetahuan Goat Lan makin maju saja.

Selain kesusastraan dan melukis, Goat Lan ternyata mempunyai kecerdikan luar biasa dalam hal permainan catur. Seorang hwesio ahli catur di kelenteng itu yang mengajarkan dia bermain catur, sekarang bahkan merasa sangat sukar untuk menjatuhkan muridnya yang baru berusia sembilan tahun ini!

Pada suatu hari, Goat Lan seperti biasa bermain-main di dalam Kelenteng Ban-hok-tong. Ketika dia seorang diri memasuki halaman kelenteng, dia disambut oleh seorang hwesio pembersih halaman yang segera berkata,

“Kwee-siocia, baik sekali sekarang kau datang! Siang tadi datang dua orang tamu aneh di kelenteng kita, dan semenjak tadi mereka berdua bermain catur tiada hentinya!”

Goat Lan memang paling suka menonton orang bermain catur, maka ia segera bertanya,

“Thian Seng Suhu, siapakah mereka dan dari mana datangnya?”

“Entahlah, mereka memang aneh seperti yang telah pinceng katakan tadi. Kalau ditanya nama dan tempat tinggal mereka, keduanya hanya tertawa-tawa saja. Begitu memasuki kelenteng, mereka terus saja bertanya apakah di kelenteng ini ada alat bermain catur, kemudian dari siang tadi sampai senja mereka tidak pernah berhenti main. Aneh, aneh! Akan tetapi Losuhu memesan agar supaya kami jangan mengganggu mereka karena betapa pun juga, tamu-tamu tidak boleh diganggu dan harus dihormati.”

“Aku mau nonton mereka bertanding catur!” kata Goat Lan.

“Akan tetapi Siocia...”

“Ah, Pekhu tidak akan marah kepadaku!” Goat Lan memotong. “Lagi pula, aku pun tidak hendak mengganggu mereka, hanya menonton saja, apakah salahnya?”

Sambil berkata demikian, Goat Lan lalu berlari-lari memasuki ruang tamu yang berada di sebelah kiri. Baru saja tiba di luar ruangan itu, dia telah mencium bau arak yang sangat wangi dan suara parau seorang berkata,

“Tianglo, kudamu sudah terjebak! Ha-ha-ha!” Kemudian suara ini tertawa terbahak-bahak menyatakan kegirangan hati yang luar biasa sekali seperti seorang anak-anak menang dalam sebuah permainan.

“Hemm, jangan bergirang-girang dulu, Im-yang Giok-cu, biar kukorbankan kuda kurus ini, mendapat ganti seorang prajuritmu pun lumayan juga!” Terdengar suara lain yang tinggi kecil.

Goat Lan tidak sabar lagi dan cepat memasuki ruangan itu. Ia melihat dua orang sedang duduk bersila menghadapi papan catur dan keadaan mereka memang aneh, tepat benar seperti penuturan Thian Seng Hwesio tadi.

Orang pertama adalah seorang kakek gundul bertubuh gemuk tinggi bermuka merah, di dekatnya terletak sebuah keranjang kecil berwarna hitam. Melihat bentuk keranjang yang ada gantungannya ini, Goat Lan pun maklum bahwa inilah sebuah keranjang yang biasa dipergunakan oleh para hwesio untuk mencari dan mengumpulkan daun-daun obat, dan di samping keranjang obat ini, nampak juga sebuah pisau pemotong daun dan akar yang bentuknya panjang dan tipis.

Orang ke dua juga aneh, tubuhnya kecil pendek dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang penganut Agama Tao. Seperti orang pertama, kakek ini pun usianya kurang lebih lima puluh tahun. Sambil menghadapi papan catur, tiada hentinya tosu ini minum arak dari sebuah ciu-ouw (tempat arak) yang bentuknya seperti buah labu, akan tetapi guci arak ini terbuat dari logam yang kekuning-kuningan seperti emas. Dari sinilah bau arak wangi tadi tersiar.

Melihat bentuk tubuh orang-orang ini, Goat Lan menduga bahwa yang suaranya kecil tentu Si Tosu Pendek ini. Akan tetapi dia salah duga dan menjadi terheran dan juga geli ketika mendengar hwesio tinggi besar itu bicara dengan suara yang amat kecil dan tinggi.

“Im-yang Giok-cu, kalau kau tidak mengurangi kesukaanmu minum arak, tentu kelak kau akan menderita penyakit dalam perutmu.”

Tosu itu tertawa dan menjawab dengan suaranva yang parau.

“Sin-kong Tianglo, kau boleh memberi nasehat kepada pemabok-pemabok yang lemah, akan tetapi apa bila kau memberi nasehat tentang minum arak kepadaku, sungguh lucu!” Kembali dia tertawa.

“Aku tahu bahwa kau berjuluk Ciu-cin-mo (Iblis Arak), akan tetapi bagaimana pun juga, kau hanyalah seorang manusia biasa dengan perut biasa pula. Memang agaknya kau tak menghendaki usia panjang.”

Mendengar percakapan serta melihat sikap mereka, agaknya permainan catur itu sudah mempengaruhi mereka sehingga mereka menjadi panas!

“Sin-kong Tianglo, kau tukang obat tua! Sudah kukatakan, aku tak butuh pertolongan dan nasehatmu. Lebih baik kau curahkan perhatianmu kepada rajamu. Nah, lihat, rajamu kini terancam bahaya maut, Ha-ha-ha!” Sambil berkata demikian, dia menggerakkan sebuah biji caturnya dan memang benar, kedudukan raja dari barisan catur hwesio itu terancam bahaya dan terdesak sekali.

Mereka kembali memperhatikan papan catur dengan penuh ketekunan hingga keadaan menjadi sunyi dan bunyi pernapasan kedua orang itu terdengar nyata. Goat Lan merasa heran sekali mengapa bunyi pernapasan kedua kakek itu demikian panjang dan lama!

Memang kedudukan raja hitam dari hwesio itu sangat terdesak dan terancam sehingga hwesio itu menatap papan caturnya dengan jidat dikerutkan. Sampai lama ia tidak dapat menjalankan biji caturnya untuk melindungi atau menolong rajanya, sedangkan Si Tosu memandang dengan bibir tersenyum mengejek, akan tetapi dia juga tidak melepaskan pandang matanya dari papan catur. Nampaknya kedua orang itu sedang asyik sekali dan sama sekali tidak mempedulikan kedatangan Goat Lan yang kini sudah mendekat dan menonton permainan itu sambil duduk bersila pula.

“Gerakkan benteng melindungi raja!” tiba-tiba suara Goat Lan yang nyaring dan merdu terdengar.

Melihat betapa raja hitam terdesak, tanpa terasa pula anak ini membuka mulut memberi jalan. Hwesio itu yang tadinya tak bergerak bagaikan patung, kini bibirnya bergerak-gerak dan meski pun dia masih tidak tahu apakah baiknya gerakan ini karena dengan demikian bentengnya akan terancam dan dimakan oleh kuda lawan, akan tetapi oleh karena dia telah kehabisan jalan, ia kemudian menggerakkan tangannya dan menggeser kedudukan benteng menutup rajanya. Ia melakukan ini tanpa menoleh sedikit pun kepada Goat Lan.

Tosu itu tercengang ketika Si Hwesio benar-benar menggerakkan bentengnya, kemudian sambil tertawa bergelak ia lalu makan benteng itu dengan kudanya.

“Benteng telah kurampas! Ha-ha-ha, kini kedudukanmu makin lemah, Tianglo! Ha-ha-ha!” Tosu kate itu tertawa senang.

Akan tetapi suara tawanya itu diputus oleh suara Goat Lan yang berseru girang, “Berhasil jebakan memancing kuda keluar kandang! Lekas geser menteri menyerang kedudukan raja musuh!”

Bukan main girangnya hati hwesio itu. Tadinya dia memang sama sekali tidak mengerti apa kebaikannya memajukan benteng yang hanya diberikan secara cuma-cuma kepada kuda lawan, tidak tahunya bahwa dengan gerakan memancing itu membuat kuda lawan meninggalkan depan raja hingga kedudukan raja merah menjadi terbuka, memungkinkan menterinya untuk menyerang!

“Bagus, bagus!” katanya gembira sambil mengajukan menterinya yang kini seakan-akan menodong dada raja lawan dengan pedang. “Rajamu sekarang terjepit, Im-yang Giok-cu. Bagus!”

Wajah tosu yang tadinya tersenyum-senyum girang itu tiba-tiba saja menjadi masam dan dengan mulut cemberut dia menundukkan kepala, menatap papan catur dengan bingung karena kini benar-benar kedudukan rajanya menjadi terdesak hebat!

Hingga beberapa lama ia diam tak bergerak, bahkan lupa untuk minum araknya. Memang sesungguhnya kepandaian bermain catur kedua kakek ini masih sangat rendah sehingga setiap kali raja mereka terancam bahaya, mereka langsung menjadi bingung, tidak tahu harus menggerakkan biji catur yang mana!

“Ha, Im-yang Giok-cu, hayo gerakkan biji caturmu! Atau kau menerima kalah saja dan memberi Im-yang Sin-na (nama ilmu silat) kepadaku?” hwesio gemuk itu berkata dengan wajah girang.

Tosu itu tak menjawab, hanya mencurahkan seluruh perhatian kepada papan catur, terus memutar otak mencari jalan keluar bagi rajanya.

“Menteri setia bergerak melindungi raja, bila perlu mengadu jiwa dengan menteri musuh!” tiba-tiba Goat Lan berkata lagi sekarang membantu tosu itu!

Anak ini merasa tak sabar sekali kenapa kedua kakek ini begitu bodoh dalam permainan catur hingga serangan yang demikian ringan saja sudah membuat mereka tak berdaya!

Bercahayalah wajah tosu kecil itu. “Ha-ha-ha, benar! Itulah jalan terbaik. Ha-ha-ha! Hayo, Tianglo, kalau berani, kita bersama korbankan menteri!” Ia lalu menggeser menterinya ke kiri dan melindungi raja merah dari pada ancaman menteri hitam.

Hwesio itu menjadi sangat penasaran dan mengerling ke arah Goat Lan tanpa menoleh. Kemudian dia memandang ke arah papan catur lagi dan berkata dengan suaranya yang tinggi.

“Memang jaman sekarang ini jaman yang buruk sekali! Anak-anak saja sudah kehilangan kesetiaannya, suka mengkhianati ke sana ke mari! Sungguh sayang!”

Goat Lan adalah seorang anak yang berotak cerdik dan dia telah banyak membaca-baca kitab-kitab kuno yang berisi filsafat-flisafat dan kata-kata yang bermaksud dalam. Maka ucapan hwesio itu sungguh pun hanya menyindir, akan tetapi Goat Lan bisa menangkap maksudnya dan tahu bahwa dialah yang dianggap tak setia karena baru saja membantu hwesio itu, kini berbalik membantu Si Tosu!

Dia lalu menggunakan pikirannya mengingat-ingat dan mencari-cari kata-kata yang tepat untuk menjawab sindiran ini, kemudian dia berkata dengan suara nyaring, seakan-akan membaca kitab dan tidak ditujukan kepada siapa pun juga.

“Membantu yang terdesak, ini baru adil namanya! Berlaku lurus tidak berat sebelah, ini baru bijaksana!”

Ini adalah ujar-ujar kuno yang hanya dikenal oleh mereka yang sudah pernah membaca kitab-kitab peninggalan para pujangga jaman dahulu. Mendengar ujar-ujar ini diucapkan oleh seorang anak perempuan kecil, dua orang kakek itu tercengang dan keduanya lalu mengerling ke arah Goat Lan dan untuk beberapa lama mereka melupakan pemainan caturnya dan melirik dengan penuh perhatian.

“Otak yang baik!” Si Hwesio memuji. “Sayang agak lancang!” Sambil berkata demikian, tiba-tiba tanpa menggerakkan tubuh, duduknya telah menggeser dan sekarang ia duduk membelakangi Goat Lan!

“Benar-benar pandai!” Si Tosu juga memuji. “Sayang dia perempuan!” Dan tosu ini pun tanpa menggerakkan tubuh, tahu-tahu telah menggeser pula menghadapi hwesio itu.

Melihat gerakan mereka ini, Goat Lan menjadi bengong. Bagaimana orang dapat pindah duduknya tanpa menggerakkan tangan dan kaki? Seakan-akan mereka itu duduk di atas roda-roda yang dapat menggelinding dengan sendirinya.

Akan tetapi, anak yang cerdik ini dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang pandai yang mempergunakan semacam tenaga dalam yang luar biasa sehingga tubuh mereka itu dalam keadaan bersila dapat pindah tempat. Dan di samping kecerdikannya, Goat Lan memang nakal dan memiliki watak yang tak mau kalah.

Kini ia duduk di belakang hwesio yang gemuk itu sehingga tak dapat melihat papan catur. Untuk bangun dan berpindah tempat, ia merasa malu. Maka ia lalu mengendurkan kedua kakinya menempel pada lantai. Kemudian ia menggerakkan tenaga pada kedua kaki dan mengerahkan ginkang-nya, maka tiba-tiba saja tubuhnya yang kecil itu mencelat naik dan turun di sebelah kanan hwesio itu sehingga kedudukannya menjadi seperti tadi dan dia kembali dapat melihat papan catur itu seperti tadi!

“Ahh, tidak jelek!” kata hwesio gemuk itu.

“Bagus!” Si Tosu juga memuji.

“Inilah murid yang pantas untukku!” kata pula hwesio itu.

“Tidak! Sudah lama aku ingin mendapatkan murid, dia inilah orangnya!”

Kini kedua orang kakek itu saling pandang dan kembali mereka menjadi panas hati. Apa bila tadi mereka panas karena permainan catur, kini hati mereka menjadi panas karena hendak memperebutkan Goat Lan sebagai murid. Sementara itu Goat Lan hanya diam saja seakan-akan tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang kakek itu.

“Im-yang Giok-cu, mari kita lanjutkan permainan catur ini dan siapa yang menang, dia berhak mendapatkan murid ini.”

“Boleh, boleh! Sekarang giliranmu, hayo kau teruskan!”

Sin Kong Tianglo lantas menggerakkan biji caturnya, dan Goat Lan mulai memperhatikan lagi, siap membantu yang terdesak. Akhirnya kedua orang kakek itu selalu mendapat petunjuk dari Goat Lan dan setelah biji-biji catur mereka tinggal sedikit dan pertandingan itu makin sulit dan ramai, mereka keduanya hanya merupakan tukang menggerakkan biji catur saja dan yang menjadi pengaturnya adalah Goat Lan!

Memang anak ini ahli dalam main catur, maka ia dapat mengatur siasat yang amat baik sehingga pertandingan itu berjalan ramai, saling mendesak dengan hebat. Kedua orang kakek itu merasa tegang karena sering kali raja mereka terkurung, akan tetapi sering kali juga mendesak lawan sehingga seakan-akan merekalah yang bertanding, bukan biji-biji catur.

Betapa pun juga, yang menjadi pengatur adalah Goat Lan yang benar-benar tidak berat sebelah. Karena itu, setelah bertanding sampai hari menjadi gelap dan malam telah tiba, keadaan pertandingan itu masih sama kuatnya!

Mereka bertiga, hwesio, tosu dan anak perempuan itu, demikian asyik dan tekun hingga mereka tidak melihat bahwa ruang itu telah penuh dengan para hwesio yang menonton pula pertandingan catur aneh itu! Tiada seorang pun di antara mereka berani menegur, hanya Thian Tiong Hosiang yang memandang khawatir kepada keponakannya. Sebagai seorang yang berpengalaman, ia dapat menduga bahwa kedua orang kakek itu bukan sembarang orang, dan ia takut kalau-kalau seorang di antara mereka yang kalah akan menjadi marah.

Akan tetapi Goat Lan benar-benar pandai. Ia mengatur sedemikian rupa sehingga pada akhlr pertandingan, kedudukan keduanya sama lemah sama kuat, yakni yang tinggal hanyalah si raja merah dan si raja hitam! Hal ini berarti bahwa pertandingan itu berakhir dengan sama kuat, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang!

Thian Tiong Hosiang menarik napas lega dan hendak menghampiri mereka, akan tetapi tiba-tiba Si Tosu Kate itu melompat berdiri dan berkata,

“Sin Kong Tianglo, kau harus mengalah dan biarkan aku mendidik anak ini.”

Hwesio gemuk itu bangun berdiri dengan tenang dan mengambil keranjang obat serta pisaunya, lalu berkata, “Enak saja kau bicara, Im-yang Giok-cu. Bukankah kita berjanji bahwa siapa yang menang dia berhak menjadi guru anak ini?”

“Akan tetapi dalam permainan catur kita tidak ada yang kalah dan yang menang!” seru Si Tosu.

Hwesio itu tersenyum. “Apakah kita hanya bisa bermain catur dan tidak mempunyai ilmu kepandaian lain? Kita belum mencoba kepandaian lain untuk menentukan kemenangan.”

“Ho-ho! Kau mau mengajak main-main? Baiklah, mari kita mencari penentuan di luar!” kata tosu itu sambil melangkah keluar dan membawa guci araknya.

“Aku ingin merasakan kelihaianmu!” kata hwesio itu yang juga bertindak keluar sambil membawa keranjang obat dan pisaunya.

Sementara itu, ketika mendengar kedua orang kakek itu menyebut nama masing-masing, Thian Tiong Hosiang menjadi terkejut sekali. Ia segera melangkah maju dan memegang lengan Goat Lan sambil berkata,

“Goat Lan kau sudah mendatangkan onar! Lekas kau pulang dengan cepat, biar diantar oleh seorang Suhu!”

“Tidak, Pekhu, aku mau nonton mereka bertanding!”

“Ehh, anak nakal!” kata Thian Tiong Hosiang dengan bingung, karena tadi ia mendengar betapa dua orang kakek yang lihai ini sedang memperebutkan Goat Lan untuk diambil murid. “Kau harus pulang, biar aku sendiri mengantarmu!”

Akan tetapi tiba-tiba Goat Lan membetot tangannya dan lari melompat ke dalam gelap!

Thian Tiong Hosiang yang merasa sangat khawatir kalau-kalau keponakannya itu akan menimbulkan keributan, dan juga tidak ingin melihat ia pulang seorang diri ke dalam kota pada malam hari yang gelap itu, lalu berkata kepada para hwesio yang berada di situ, “Cari dia dan antarkan pulang ke kota!” Sedangkan ia sendiri dengan langkah lebar lalu keluar hendak melihat apakah yang dilakukan oleh kedua orang kakek itu.

Karena malam amat gelap sedangkan pekarangan di sekeliling kelenteng itu sangat luas dengan kebun bunga dan kebun-kebun sayurnya, maka para hwesio yang mencari Goat Lan menggunakan obor. Akan tetapi dicari-cari kemana pun juga, bayangan Goat Lan tetap tidak nampak!

Ketika para pencari yang memegang obor itu tiba kembali di halaman tengah, mereka melihat betapa dua orang kakek itu sedang bertanding di dalam gelap, maka mereka menjadi tertarik dan berkerumun menonton pertandingan itu sehingga keadaan di tempat itu menjadi terang sekali. Mereka telah lupa untuk mencari anak nakal tadi!

Thian Tiong Hosiang sendiri ketika melihat betapa kedua orang kakek itu bertempur, telah berkali-kali berseru kepada mereka agar supaya menghentikan pertempuran itu. Akan tetapi kedua orang kakek itu sama sekali tidak mau mendengarnya.

Thian Tiong Hosiang menjadi bingung sekali. Hendak turun tangan memisah, biar pun ia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, akan tetapi dia juga maklum bahwa kepandaiannya itu dapat disebut amat rendah apa bila dibandingkan dengan kedua orang kakek itu. Apa lagi pada waktu dia mendengar dari para hwesio bahwa Goat Lan tidak dapat ditemukan, kebingungan dan kegelisahannya makin bertambah, maka dia lalu keluar dari kelenteng, lalu mempergunakan ilmu lari cepat menuju ke Tiang-an, mencari adiknya, Kwee An atau ayah Goat Lan!

Sementara itu, Goat Lan yang tadi melarikan diri pada saat hendak dipaksa pulang oleh pekhu-nya, sebetulnya tidak pergi jauh. Anak yang nakal ini mempergunakan kegelapan malam untuk cepat bersembunyi di belakang batang pohon besar yang banyak tumbuh di sekitar kelenteng itu, kemudian ketika banyak hwesio mencarinya, dia memanjat pohon besar dan melompat ke atas genteng. Dengan bersembunyi di atas genteng, ia mengintai ke bawah, melihat kesibukan orang-orang di bawah dan melihat pula pertempuran antara kedua orang kakek itu yang berlangsung dengan amat ramainya, jauh lebih ramai dari pada pertandingan catur tadi!

Sebetulnya, siapakah kedua orang kakek itu dan mengapa Thian Tiong Hosiang terkejut mendengar nama mereka?

Tidak heran bahwa Thian Tiong Hosiang merasa amat terkejut, oleh karena nama-nama itu adalah nama-nama tokoh besar dunia persilatan yang tak asing lagi bagi orang-orang yang hidup di dunia kang-ouw.....

Sin Kong Tianglo, hwesio yang gemuk tinggi itu, adalah seorang tokoh besar yang amat terkenal dari Pegunungan Gobi-san. Selain ilmu silatnya yang amat tinggi dan lihai, dia juga terkenal dengan kepandaiannya sebagai seorang ahli pengobatan sehingga untuk kepandaian ini ia mendapat julukan Yok-ong (Raja Obat).

Biar pun tempat pertapaannya di Pegunungan Gobi-san, akan tetapi jarang ada orang yang dapat bertemu dengannya, karena ia banyak merantau ke gunung-gunung mencari daun-daun dan akar-akar obat yang kemudian digunakan untuk menolong orang-orang yang menderita sakit. Ke mana saja dia pergi, tentu dia akan mempergunakan ilmunya untuk menolong orang sakit sehingga namanya sebagai ahli pengobatan lebih terkenal dari pada namanya sebagai seorang ahli silat.

Tosu yang pendek kecil itu, Im-yang Giok-cu, tidak kalah ternamanya. Dia seorang tokoh besar dari Pegunungan Kunlun dan ilmu kepandaiannya telah amat dikenal. Tokoh besar ini pun jarang menampakkan diri di dunia ramai dan biar pun dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap dan lebih suka merantau ke mana-mana, akan tetapi dia jarang sekali memperkenalkan diri.

Oleh karena itu, munculnya dua orang tokoh besar ini tentu saja amat mengejutkan hati Thian Tiong Hosiang. Sebetulnya, bukan sengaja dua orang tokoh besar ini mengadakan pertemuan di Tiang-an.

Sudah lama sekali Sin Kong Tianglo mendengar nama Pendekar Bodoh sebagai seorang pendekar terbesar di masa itu dan ketika mendengar bahwa Pendekar Bodoh adalah murid terkasih dari mendiang Bu Pun Su, jago tua tanpa tandingan itu, dia merasa amat gembira dan ingin sekali mencoba kepandaian Pendekar Bodoh.

Dahulu pernah dia berhadapan dengan Bu Pun Su dan sesudah mengadakan pibu (adu kepandaian) sampai seratus jurus lebih, akhirnya dia tidak tahan menghadapi Bu Pun Su dan berjanji hendak mencoba kepandaian lagi sepuluh tahun kemudian. Sayang bahwa setelah dia melatih diri dan menciptakan ilmu silat yang hebat, dia mendengar bahwa Bu Pun Su telah meninggal dunia, maka kini perhatiannya beralih kepada Pendekar Bodoh yang menjadi murid Bu Pun Su.

Akibat keinginan hati inilah, maka Sin Kong Tianglo pergi meninggalkan daerah Gobi-san yang luas itu dan turun ke dunia ramai. Ia mendengar bahwa Pendekar Bodoh berada di kota Tiang-an, maka dia lalu menuju ke kota itu.

Di tengah jalan, ketika dia melalui sebuah dusun, dia mendengar suara orang bernyanyi-nyanyi dengan suara yang keras dan parau. Dia merasa heran sekali karena di sekitar tempat itu tidak terdapat orang, dari manakah datangnya suara nyanyian yang hebat ini. Ia melihat beberapa orang berlari-lari seakan-akan ketakutan dan ketika ia menghampiri mereka dan bertanya, seorang di antara penduduk kampung itu menjawab dengan muka pucat.

“Apakah Losuhu tidak mendengar suara nyanyian yang hebat itu?”

“Pinceng mendengar. Siapakah gerangan yang bernyanyi dengan suara seburuk itu?”

“Yang bernyanyi adalah seorang iblis!”

Tentu saja Sin Kong Tianglo menjadi heran mendengar ini dan dia minta penjelasan lebih lanjut. Ternyata bahwa menurut cerita orang itu, di kampung tersebut muncul seorang kakek yang tiba-tiba saja berada di atas jembatan kampung dan memenuhi jembatan kecil itu.

Kakek ini terus menerus minum arak sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara yang dapat membuat anak telinga serasa mau pecah. Karena dengan adanya dia yang merebahkan diri sambil bernyanyi-nyanyi di atas jembatan yang kecil itu, lalu lintas menjadi terhalang. Orang-orang telah membujuknya, bahkan berusaha menggusurnya dari jembatan itu!

Sin Kong Tianglo menjadi tertarik hatinya dan segera menuju ke tempat itu. Benar saja, dia melihat seorang kakek kate sedang rebah miring di atas jembatan dengan guci pada tangan kanan dan bernyanyi-nyanyi.

Akan tetapi, wajahnya berubah girang ketika dia melihat Si Kate itu karena dia mengenal orang ini sebagai seorang yang dulu telah dikenalnya baik, yaitu Im-yang Giok-cu! Maka ia lalu menegur dan kakek kate itu ketika melihat Sin Kong Tianglo, lalu melompat berdiri dan berkata,

“Ha-ha-ha-ha! Sungguh untungku baik sekali! Aku sedang kesepian dan merasa jengkel, kebetulan kau datang! Ehh, Tianglo! Beranikah kau main catur denganku?”

Demikianlah, keduanya lalu bercakap-cakap sambil meninggalkan dusun itu dan Im-yang Giok-cu yang mendengar bahwa hwesio itu ingin mencari Pendekar Bodoh untuk diajak pibu, dia pun menyatakan keinginannya bertemu dengan pendekar muda yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan itu!

Akan tetapi, karena sudah merasa sangat kangen dengan permainan catur, mereka lalu menunda perjalanan dan ketika melihat Kelenteng Ban-hok-tong, mereka lalu masuk ke dalam dan minta pinjam papan catur, terus saja bertanding catur!

Goat Lan yang bersembunyi di atas genteng mengintai pertempuran di bawah dengan muka senang sekali. Memang ia pun amat suka akan ilmu silat meski pun kesukaannya akan ilmu silat tidak sebesar kesukaannya membaca kitab, melukis atau bermain catur!

Keadaan di bawah amat terang karena belasan orang hwesio dengan obor bernyala di tangan, berdiri berkelompok menonton pertandingan, sehingga kegelapan malam terusir pergi, terganti cahaya terang bagaikan siang, sungguh pun kalau orang melihat ke atas, langit hitam kelam tak berbintang sedikit pun.

Menurut pandangan Goat Lan yang menonton di atas genteng, dua kakek itu melakukan pertandingan dengan cara yang sangat aneh. Nampaknya mereka seperti bukan sedang bertempur atau bersilat, akan tetapi seperti dua orang pelawak yang sedang menari-nari dengan lucunya!

Im-yang Giok-cu menari dengan guci araknya di tangan kanan yang digerakkan perlahan dan lambat bagai orang menyerang, sementara itu Sin Kong Tianglo juga menggerakkan pisau pemotong daun di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang keranjang obat, seakan-akan ia sedang menggunakan pisaunya untuk mencari daun-daun obat!

Akan tetapi, sesungguhnya kedua orang kakek itu bukan sedang main-main, juga bukan sedang menari atau melawak! Oleh karena, biar pun mereka itu bergerak dengan amat lambat seakan-akan bukan sedang bertempur, namun obor yang dipegang tinggi-tinggi oleh para hwesio itu apinya bergerak-gerak bagaikan tertiup angin besar, padahal pada saat itu daun-daun di atas pohon tak bergerak sama sekali, tanda bahwa tidak ada angin! Kalau saja Goat Lan tidak berada di atas genteng, tentu dia akan merasakan pula apa yang dirasakan oleh para hwesio itu, yaitu angin sambaran dari kedua orang itu sampai mendatangkan hawa dingin pada muka mereka!

Lama juga dua orang itu bertempur berputar-putaran, tipu dilawan tipu, gerakan-gerakan dilawan gerakan. Sebetulnya, kedua orang itu tidak bertempur untuk saling merobohkan, hanya mengadu kepandaian saja dan oleh karena mereka maklum akan kelihaian lawan masing-masing, maka tanpa dijanjikan lebih dahulu, mereka membatasi gerakan mereka dengan tipu-tipu gerakan yang dikeluarkan untuk kemudian dipecahkan oleh yang lain. Dengan demikian, mereka hanya saling serang dengan angin pukulan saja dan siapa yang tak dapat memecahkan sesuatu serangan, berarti kalah tinggi kepandaiannya.

Telah lima puluh jurus lebih kedua orang kakek itu mengeluarkan ilmu kepandaian, akan tetapi keduanya sama pandai dan sama tangguhnya. Im-yang Giok-cu terkenal dengan ilmu silat Im-yang Kim-na-hwat yang permainannya berdasarkan pada gerak berlawanan dari Im dan Yang, maka tenaga serangannya merupakan perpaduan dari tenaga kasar dan lemas dan lweekang-nya telah mencapai puncak yang amat tinggi.

Sebaliknya, sejak dikalahkan oleh Bu Pun Su, Sin Kong Tianglo juga terus melatih diri sehingga tidak saja tenaga lweekang-nya tidak berada di sebelah bawah tingkat Im-yang Giok-cu, akan tetapi ilmu silatnya juga telah maju amat hebatnya. Ilmu silatnya berbeda dengan ilmu silat cabang persilatan Gobi-pai dan bahkan dia telah menciptakan berbagai ilmu pukulan yang belum pernah dilihat orang lain.

Ketika itu, Goat Lan yang sedang menonton dengan hati kurang tertarik karena gerakan kedua orang kakek itu sangat lambat, mendadak mendengar suara ayahnya dari sebelah belakang,

“Goat Lan, kau sedang berbuat apakah?”

Ia cepat menengok ke belakang dan alangkah heran dan juga girangnya ketika ia melihat bahwa ayah dan ibunya juga sudah berdiri di atas genteng, tidak jauh di belakangnya! Agaknya ayah ibunya telah semenjak tadi berdiri di situ.

Memang benar, sebenarnya Kwee An dan Ma Hoa telah semenjak tadi berdiri di tempat itu, dan secara diam-diam memperhatikan jalannya pertempuran sambil melihat ke arah anak mereka dengan hati geli. Tadinya mereka merasa gelisah juga ketika Thian Tiong Hosiang datang memberi tahu bahwa Goat Lan sudah menimbulkan keributan di antara dua orang kakek yang ternama sekali itu dan bahwa kedua kakek itu hendak mengambil murid anak mereka, bahkan kini sedang bertempur karena memperebutkan Goat Lan.

Mereka merasa gelisah kalau-kalau mereka terlambat dan anak mereka sudah dibawa pergi oleh kedua orang tua aneh itu. Akan tetapi, ketika mereka menuju ke Ban-hok-tong dengan berlari cepat sekali hingga Thian Tiong Hosiang tertinggal jauh, mereka melihat Goat Lan sedang mengintai ke bawah dari atas genteng dengan muka terlihat jemu dan bosan!

Kedua suami isteri ini menjadi lega dan mereka lalu mencurahkan perhatian mereka ke arah dua orang kakek yang masih saling serang itu. Bukan main terkejut hati Kwee An dan Ma Hoa melihat gerakan-gerakan mereka itu.

“Kepandaian mereka benar-benar hebat!” kata Kwee An kepada isterinya.

Ma Hoa mengangguk dan menarik napas panjang. “Memang benar, nama kedua tokoh ini bukan nama kosong belaka.”

Goat Lan bangun berdiri dan menghampiri ayah ibunya. Mendengar ucapan ayah ibunya yang memuji kepandaian dua orang kakek itu, dia berkata mencela,

“Apanya sih yang hebat? Kepandaian mereka bahkan lebih jelek dari pada permainan catur mereka!”

Kwee An dan Ma Hoa sudah mendengar dari penuturan Thian Tiong Hosiang betapa Goat Lan memberi petunjuk-petunjuk kepada dua orang kakek itu ketika bermain catur, maka mereka tersenyum geli.

“Anak bodoh, ilmu silat yang kau lihat amat lambat itu merupakan ilmu silat yang jarang terdapat di dunia ini! Mari kita turun untuk lebih mengenal dua orang tokoh besar itu!”

Kwee An memegang lengan tangan anaknya lalu dia melompat turun ke bawah bagaikan seekor burung alap-alap sedang menyambar mangsanya, diikuti oleh Ma Hoa yang juga melompat turun dengan indah dan cepatnya.

Baik Im-yang Giok-cu mau pun Sin Kong Tianglo yang memiliki kepandaian tinggi, dapat melihat berkelebatnya dua bayangan orang ini, maka dengan heran mereka lalu berhenti bertempur dan memandang kepada Kwee An dan Ma Hoa yang telah berdiri di hadapan mereka.

Kwee An dan Ma Hoa menjura kepada mereka dan Kwee An berkata, “Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), kami berdua suami isteri yang bodoh sudah mendengar bahwa anak kami telah mengganggu Ji-wi, maka sengaja datang menghaturkan maaf!”

“Aha, pantas saja anak ini demikian baik, tidak tahunya ayah ibunya lihai dan mempunyai kepandaian tinggi!” kata Sin Kong Tianglo sambil memandang kagum.

Tiba-tiba Im-yang Giok-cu teringat akan sesuatu dan bertanya,

“Apakah kau yang bernama Pendekar Bodoh?” Pertanyaan ini dia tujukan kepada Kwee An sambil memandang tajam.

Kwee An tersenyum dan diam-diam ia memuji nama Cin Hai yang sudah begitu terkenal sehingga tokoh besar ini pun sampai mengenalnya pula.

“Bukan, Locianpwe. Pendekar Bodoh adalah adik iparku dan kini dia tinggal di Propinsi An-hui. Siauwte bernama Kwee An sedangkan Suhu adalah mendiang Eng Yang Cu dari Kim-san-pai.”

Tosu kate itu mengangguk-angguk, “Hemm, aku kenal baik kepada Eng Yang Cu ketika dia masih hidup. Bagus, sebagai murid Kim-san-pai, kepandaianmu tak mengecewakan!”

Diam-diam Im-yang Giok-cu terheran karena melihat gerakan melompat turun dari Kwee An tadi, agaknya tingkat kepandaian pemuda ini tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Eng Yang Cu. Tentu saja dia tidak tahu bahwa setelah menerima pelajaran silat dari Eng Yang Cu, Kwee An masih menerima gemblengan-gemblengan ilmu silat tinggi dari mendiang Kong Hwat Lojin si Nelayan Cengeng, dan juga dari mendiang Hek Moko si Iblis Hitam. Maka apa bila dibandingkan, memang ilmu kepandaiannya sudah lebih tinggi dari mendiang suhu-nya itu!

“Sayang sekali bahwa ternyata Pendekar Bodoh tidak tinggal di sini lagi,” kata pula Sin Kong Tianglo sambil menarik napas panjang. “Biarlah kususul dia ke An-hui, akan tetapi, melihat bakat anakmu yang amat baik, kuharap kau berdua suami isteri rela memberikan anakmu untuk menjadi muridku.”

“Nanti dulu, Tianglo!” Im-yang Giok-cu berkata. “Aku pun berhak menjadi guru anak ini, karena pertandingan tadi pun tak dapat dianggap bahwa kau telah menang dariku!”

“Eh, ehh, kalau begitu mari kita lanjutkan pertandingan tadi,” mengajak Sin Kong Tianglo yang tak mau kalah.

“Ji-wi Locianpwe!” mendadak terdengar seruan Ma Hoa yang merasa mendongkol sekali melihat betapa anaknya diperebutkan oleh kedua orang kakek itu. “Anakku tidak akan menjadi murid siapa pun juga, maka tidak seharusnya Ji-wi memperebutkannya!”

Kedua orang kakek itu tercengang mendengar ucapan ini dan mereka lalu memandang kepada Ma Hoa dengan heran. “Ah, kau betul-betul seorang Ibu yang tidak sayang pada anak! Anakmu akan diberi pelajaran ilmu kepandaian tinggi, kenapa kau malah ribut-ribut menolaknya? Ketahuilah, andai kata kau hendak mencarikan guru bagi anakmu itu, biar pun kau mengelilingi dunia ini, belum tentu akan mendapatkan guru seperti aku atau Sin Kong Tianglo ini!” jawab Im-yang Giok-cu dengan penasaran. Memang adat Si Kate ini agak keras.

Kwee An merasa serba salah. Ia maklum akan kekerasan hati isterinya dan tadinya ia memang hendak menggunakan jalan atau cara yang halus untuk menolak maksud kedua orang kakek yang hendak mengambil Goat Lan sebagai murid itu. Akan tetapi, siapa tahu isterinya telah mendahuluinya! Ia segera menjura kepada mereka dan berkata halus,

“Harap Ji-wi sudi memaafkan. Sesungguhnya kami, terutama isteriku, sangat berat untuk berpisah dengan anak kami yang hanya satu-satunya ini.”

Akan tetapi Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu tidak mau mempedulikannya, bahkan hwesio itu lalu bertanya kepada Ma Hoa.

“Apa bila kau menolak maksud kami mengangkat murid kepada anakmu, habis siapakah yang akan menjadi guru anak ini dan yang akan melatihnya ilmu silat?”

Karena merasa dirinya dipandang rendah, Ma Hoa mengangkat kepalanya dan segera menjawab, “Kami sendiri yang akan mendidiknya dan kami sendiri yang akan menjadi gurunya!”

Tiba-tiba kedua orang kakek itu saling pandang dan tertawa bergelak.

“Im-yang Giok-cu, lihatlah! Kalau ibunya demikian bersemangat, apa lagi anaknya! Anak itu sungguh bernasib baik mempunyai seorang ibu seperti ini!” kata hwesio itu.

Kemudian Im-yang Giok-cu memandang kepada Ma Hoa, lantas berkata dengan muka sungguh-sungguh, “Nyonya muda, kau harus sadar bahwa jaman ini adalah jaman yang buruk. Kekacauan terjadi di mana-mana sedangkan anakmu ini bertulang baik dan patut menjadi calon pendekar! Apakah kau ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik ini? Apakah kau kira akan dapat memberi pelajaran ilmu silat yang lebih baik dari pada kami kepada anakmu ini?”

Melihat suasana yang panas itu, Kwee An hendak maju menengahi, akan tetapi kembali dia didahului oleh isterinya yang berkata marah, “Locianpwe berdua terlalu memandang rendah orang lain. Mengenai ilmu kepandaian, siapakah yang belum mendengar nama Ji-wi? Aku yang muda memang hanya memiliki sedikit kebodohan, akan tetapi kalau Ji-wi merasa penasaran dan kurang percaya, boleh kita coba dan uji!”

Ucapan ini merupakan tantangan halus! Kwee An merasa menyesal sekali, akan tetapi ucapan telah dikeluarkan dan tak mungkin ditarik kembali!

Kedua orang kakek itu kembali saling pandang dan mereka tertawa gembira.

“Bagus, bagus!” kata Im-yang Giok-cu. “Tianglo, kita sudah bertemu dengan orang-orang yang bersemangat! Mari kita mencoba kepandaian orang-orang muda yang bersemangat besar ini!”

“Nanti dulu,” kata hwesio itu, “tantangan orang muda sekali-kali tidak boleh ditolak. Akan tetapi, lebih baik diatur begini saja!” Sambil berkata demikian dia memandang pada Kwee An dan Mai Hoa. “Kalian berdua main-main sebentar dengan kami orang-orang tua, bila kalian anggap bahwa kepandaian kami cukup berharga, kalian harus merelakan anakmu ini menjadi muridku!”

“Ehh, bukan! Menjadi muridku!” kata tosu itu.

Kembali mereka bercekcok dan berebutan! Ma Hoa merasa mendongkol sekali.

“Kalau begini, takkan ada habis-habisnya,” kemudian Sin Kong Tianglo yang lebih sabar berkata, “Baiklah diatur begini, Im-yang Giok-cu. Jika nanti kita berdua dapat dikalahkan oleh orang-orang muda ini, berarti memang kepandaian kita masih rendah dan tak patut menjadi guru. Akan tetapi kalau kita menang, kita berdua menjadi guru anak ini! Bagai mana?”

“Baik sekali!” kata Si Kate yang segera berkata kepada Ma Hoa.

“Nah, kalian boleh maju, hendak kami lihat sampai di mana kepandaianmu hingga berani menolak kami sebagai guru-guru anakmu!”

Kedua orang kakek itu segera bersiap dan mereka memang memandang ringan karena Kwee An hanyalah murid Eng Yang Cu sedangkan Ma Hoa hanya isteri dari jago muda itu, mana bisa memiliki kepandaian tinggi yang menyamai tingkat mereka?

Ma Hoa lalu memberi tanda kepada suaminya yang masih nampak ragu-ragu dan dari pandangan mata isterinya ini Kwee An dapat menerka maksud isterinya. Pertama, kedua orang kakek ini memang memandang rendah kepada mereka, ke dua, jika anak tunggal mereka harus menjadi murid orang lain, terlebih dahulu ia harus membuktikan sampai di mana kelihaian orang itu.

Maka berbareng dengan isterinya, dia pun lantas maju menyerang Sin Kong Tianglo, ada pun Ma Hoa dengan gerakan cepat telah mencabut senjatanya yang aneh, yaitu dua batang bambu kuning yang panjangnya sama dengan lengannya dan besarnya sebesar ibu jari tangannya!

Begitu sepasang suami isteri itu menyerang, kedua orang kakek itu berseru karena heran dan terkejut. Terutama Im-yang Giok-cu yang menghadapi Ma Hoa, karena nyonya muda itu dengan sangat cepatnya sudah menggerakkan sepasang bambu runcingnya, yang kiri menyambar arah leher sedangkan yang kanan melesat menuju ke pusar. Dua serangan yang luar biasa sekali karena yang diarah adalah jalan-jalan darah yang berbahaya.

Juga Sin Kong Tianglo yang diserang oleh Kwee An dengan mempergunakan ilmu silat warisan Hek Moko, menjadi terkejut melihat betapa tangan kanan Kwee An melancarkan pukulan ke arah lambung, sedangkan tangan kiri pemuda itu diulur dengan jari terbuka mencengkeram pundak!

Keduanya cepat mengelak dan mengebutkan lengan baju untuk menolak dan membikin terpental tangan pasangan suami isteri itu, akan tetapi ternyata bahwa Kwee An yang ditangkis hanya miring sedikit kedudukan kuda-kudanya sedangkan Ma Hoa bahkan tak terpengaruh oleh tangkisan ujung baju Im-yang Giok-cu.

“Hebat sekali!” seru Im-yang Giok-cu yang segera menurunkan guci araknya yang tadi digantungkan di punggung, dan kini dia lantas menyerang dengan guci araknya ke arah kepala Ma Hoa!

“Lihai juga!” Sin Kong Tianglo juga berseru memuji dan kakek ini kemudian melanjutkan kata-katanya. “Orang muda, cabutlah pedangmu itu, hendak kulihat sampai di manakah kelihaianmu!”

Kwee An tidak ragu-ragu lagi dan segera mencabut pedangnya yang luar biasa, yaitu pedang Oei-kang-kiam yang bersinar kekuning-kuningan karena terbuat dari logam yang disebut baja kuning, karena itulah diberi nama Oei-kang-kiam (Pedang Baja Kuning). Pedang ini adalah pemberian puteri kepala suku bangsa Haimi yang bernama Meilani, yang pernah jatuh cinta kepadanya sebelum dia menikah dengan Ma Hoa. Kemudian dia kembali menyerang yang disambut oleh Sin Kong Tianglo dengan pisau dan keranjang obatnya.

Pertempuran berjalan berat sebelah dan sefihak, oleh karena ternyata bahwa dua orang kakek itu sama sekali tidak balas menyerang, hanya mempertahankan diri saja, karena memang mereka hanya bermaksud menguji kepandaian suami isteri itu. Namun setelah bertempur beberapa puluh jurus lamanya, makin heranlah mereka berdua.

Sin Kong Tianglo mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang milik Kwee An benar-benar luar biasa dan tingkat kepandaian orang muda ini tak kalah oleh tingkat kepandaian Eng Yang Cu, tokoh Kim-san-pai. Juga ilmu pedang Kwee An meski sebagian menunjukkan pelajaran Kim-san-pai, akan tetapi sudah tercampur dengan ilmu pedang lain yang amat aneh dan dahsyat! Memang Kwee An telah mencampur adukkan ilmu pedangnya dengan pelajaran-pelajaran yang dia terima dari Nelayan Cengeng dan Hek Moko.

Yang lebih-lebih merasa heran adalah Im-yang Giok-cu. Begitu tadi Ma Hoa menyerang dengan sepasang bambu kuning dia langsung merasa heran dan terkejut, karena senjata macam ini setahunya hanya dimiliki oleh seorang tokoh besar dari timur, yakni Hok Peng Taisu. Akan tetapi dia masih meragukan dugaannya ini dan melayani nyonya muda itu dengan guci araknya.

Tidak disangkanya, permainan bambu kuning yang ada di kedua tangan nyonya muda ini demikian hebatnya sehingga ia harus berlaku cepat dan gesit karena tubuhnya terkurung oleh ujung-ujung bambu kuning yang sekarang agaknya sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya itu!

“Tahan dulu!” Im-yang Giok-cu berseru sambil melompat mundur, diturut oleh Sin Kong Tianglo.

Biar pun baru bertempur puluhan jurus, baik Kwee An mau pun Ma Hoa maklum bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek ini benar-benar hebat dan masih lebih tinggi dari pada tingkat mereka. Buktinya, selama itu mereka sama sekali tidak pernah membalas, dan hanya menangkis atau mengelak saja, namun pertahanan mereka begitu kuat biar pun gerakan mereka nampak lambat sehingga pedang di tangan Kwee An dan bambu kuning di tangan Ma Hoa seakan-akan menghadapi benteng baja yang kuat! Maka mendengar seruan Im-yang Giok-cu, mereka pun menahan senjata masing-masing.

Para hwesio dan juga Thian Tiong Hosiang yang semenjak tadi menonton dan berdiri di situ, merasa kagum dan tidak ada yang mengeluarkan suara.

“Toanio, apakah kau murid Hok Peng Taisu?”

Ma Hoa menjura dan menjawab, “Benar Locianpwe, Hok Pek Taisu adalah Suhu-ku.”

Im-yang Giok-cu tiba-tiba saja tertawa bergelak dengan suaranya yang parau dan besar. “Ha-ha-ha, inilah yang disebut kalau belum bertanding belum kenal dan tahu! Ketahuilah, bahwa aku adalah Sute (Adik Seperguruan) dari Suhu-mu!”

Ma Hoa terkejut sekali, sebab memang suhu-nya tak pernah mau menuturkan riwayatnya sehingga dia belum pernah tahu bahwa suhu-nya itu mempunyai seorang sute, bahkan sebenarnya Hok Peng Taisu mempunyai pula seorang suheng (kakak seperguruan). Dia percaya penuh kepada orang tua ini karena tak mungkin orang berilmu tinggi seperti dia itu mau mendusta.

Namun, Im-yang Giok-cu tersenyum dan melanjutkan, “Tentu kau kurang percaya kalau belum dibuktikan. Memang ilmu bambu kuning yang kau mainkan itu merupakan ciptaan suheng-ku sendiri sehingga aku tak dapat memainkannya. Akan tetapi ketahuilah bahwa dasar-dasar ilmu silat bambu runcing itu adalah ilmu silat Im-yang Kun-hwat dari cabang kami. Sekarang marilah kita main-main sebentar, jika dalam sepuluh jurus aku tak dapat mengalahkan kau, jangan kau mau percaya bahwa aku adalah Susiok-mu (Paman Guru) sendiri!”

Ma Hoa sebenarnya sudah percaya, tetapi mendengar ucapan ini, dia mau mencobanya juga. Masa dalam sepuluh jurus ia akan dikalahkan? Ia lalu berkata,

“Maafkan kelancangan teecu (murid)!” lalu ia maju menyerang dengan bambu kuningnya.

Im-yang Giok-cu mempergunakan gucinya menangkis ada pun tangan kirinya menyerang dengan cengkeraman ke arah pergelangan tangan Ma Hoa. Gerakannya otomatis dan cepat sekali sehingga Ma Hoa menjadi amat terkejut, akan tetapi nyonya muda ini masih terlampau gesit untuk dapat dikalahkan dalam segebrakan saja.

Ia cepat menarik kembali tangannya yang dicengkeram lantas melanjutkan serangannya dengan jurus kedua. Kini Im-yang Giok-cu membalas setiap serangan dan gerakannya yang lambat itu sebetulnya tak dapat dikata lambat. Memang aneh, jika tangan kanannya menangkis dengan lambat, tangan kirinya menyusul cepat sekali melakukan serangan, seolah-olah bahkan mendahului gerakan tangan kanan, dan demikian sebaliknya hingga Ma Hoa menjadi bingung.

Tepat pada jurus ke sepuluh, ketika Ma Hoa menyerang dengan tusukan bambu kuning di tangan kanan pada leher kakek itu sedangkan tangan kiri menotokkan bambu kuning itu pada jalan darah hong-hut-hiat di dada, tiba-tiba Im-yang Giok-cu memiringkan kepala dan secepat kilat menggigit bambu kuning yang tadinya menyerang leher itu, sedangkan ketika bambu kuning yang kedua menotok dadanya, dia cepat menggunakan ilmu Pi-ki Hu-hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah) sehingga saat bambu itu menotok jalan darahnya, Ma Hoa merasa betapa dada itu menjadi keras bagaikan batu karang dan sebelum dia hilang kagetnya, tangan kiri kakek itu telah menangkap bambunya! Dengan bambu kuning di tangan kiri terpegang, maka berarti ia telah kalah!

Ma Hoa melepaskan kedua senjatanya lalu berlutut dan menyebut, “Susiok!”

Im-yang Giok-cu melepaskan kedua bambu kuning itu dan tertawa bergelak.

“Aduh, sungguh berbahaya! Hampir saja aku mendapat malu dan terpaksa kau tak akan mengakui aku sebagai Paman Gurumu! Sungguh tak mengecewakan kau menjadi murid Suheng-ku, sayang bahwa kau agaknya belum cukup lama belajar dari Suheng-ku itu!” Memang kata-kata ini benar karena sesungguhnya, Ma Hoa hanya belajar silat kepada Hok Peng Taisu selama tiga atau empat bulan saja.

Kwee An juga memberi hormat dengan menjura kepada susiok dari isterinya itu.

“Dengarlah, Kwee An dan kau juga, ehhh, siapa pula namamu?” tanya kakek itu kepada Ma Hoa.

“Teecu bernama Ma Hoa.”

“Hemm, bagus, dengarlah. Kalau kalian memang sayang kepada anakmu yang berbakat baik itu biarlah dia kalian serahkan kepada kami untuk dididik selama empat atau lima tahun. Kami akan membawanya ke Bukit Long-ki-san yang tak berapa jauh letaknya dari sini. Kawanku ini, Sin Kong Tianglo, adalah seorang tokoh besar dari Gobi-san dan ilmu kepandaiannya tak boleh disebut lebih rendah dari pada kepandaianku, sungguh pun tak mudah pula baginya untuk mengalahkan aku. Kalau kalian rela melepas anakmu, maka itu berarti bahwa nasib anakmu memang baik. Tapi, kalau kalian tidak membolehkannya, setelah kini aku mengetahui bahwa kau adalah murid Suheng-ku, tentu saja aku takkan memaksa.”

Sebenarnya Ma Hoa merasa berat sekali jika harus berpisah dari puterinya, akan tetapi karena dia maklum bahwa apa bila puterinya menjadi murid kedua orang tua itu kelak akan menjadi orang yang tinggi kepandaiannya, ia menjadi ragu-ragu untuk menolaknya. Ia memandang kepada suaminya dengan mata mengandung penyerahan.

“Ji-wi Locianpwe,” kata Kwee An dengan hormat, “teecu berdua tentu saja merasa amat berbahagia apa bila anak teecu menerima pelajaran dari Ji-wi. Akan tetapi oleh karena teecu hanya memiliki seorang anak, maka perkenankanlah teecu berdua sewaktu-waktu datang menengok anak kami itu.”

“Boleh, boleh...,” Im-yang Giok-cu berkata sambil tertawa, “tentu saja hal itu tidak ada halangannya.”

“Goat Lan, kau tentu suka menjadi murid kedua Locianpwe ini, bukan?” tanya Ma Hoa kepada anaknya. “Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dari pada ayah bundamu sendiri, dan ketahuilah bahwa Locianpwe ini adalah Susiok-kongmu sendiri.”

Semenjak tadi, Goat Lan telah mendengarkan percakapan orang-orang tua dengan amat teliti, maka sebagai seorang anak yang cerdik sekali dia segera maklum bahwa tidak ada guru-guru yang lebih sempurna baginya dari pada dua kakek yang aneh dan yang bodoh kepandaian caturnya itu. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

“Teecu merasa suka sekali menjadi murid Ji-wi Suhu (Guru Berdua).”

Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo saling pandang dan tertawa bergelak dengan hati puas, akan tetapi Goat Lan lalu berdiri dan memeluk ibunya.

“Ibu, kalau kau lama sekali tidak datang mengunjungi tempatku, aku akan minggat dari tempat tinggal Suhu dan pulang sendiri!”

Semua orang tertawa mendengar ucapan yang nakal ini.

“Jangan khawatir, Goat Lan. Kami juga tak akan merasa senang kalau terlalu lama tidak bertemu dengan kau,” kata Kwee An.

Kedua orang kakek itu lalu mengajak Goat Lan pergi dari sana, tidak mau ditahan-tahan lagi. Karena maklum bahwa mereka adalah orang-orang berwatak aneh, maka Kwee An dan Ma Hoa juga tidak berani memaksa dan menahannya. Setelah memeluk ayah ibunya dengan mesra, dan mendengar bisikan ibunya, “Goat Lan, jangan menangis dan jangan nakal!” Goat Lan lalu dituntun oleh kedua suhu-nya di kanan kiri dan sekali kedua kakek itu berkelebat, maka anak perempuan itu telah dibawa lompat dan lenyap dari situ!

Kwee An dan Ma Hoa saling pandang. Terharulah hati Kwee An melihat betapa kedua mata isterinya yang tercinta itu menjadi basah, maka dia lalu mengajak isterinya pulang dan menghiburnya…..

********************

Kita tinggalkan dahulu Goat Lan yang sedang dibawa oleh kedua orang suhu-nya untuk berlatih silat di atas puncak Bukit Liong-ki-san, sebuah bukit yang puncaknya nampak di sebelah selatan kota Tiang-an. Dan marilah kita kembali mengikuti perjalanan Lili atau Sie Hong Li, puteri dari Pendekar Bodoh yang ikut merantau bersama suhu-nya, yaitu Sinkai Lo Sian si Pengemis Sakti itu.

Karena Lili tidak pernah mau mengaku setiap kali ditanya tentang orang tuanya, lambat laun Lo Sian tak mau bertanya lagi dan ia pun telah merasa suka sekali kepada muridnya yang jenaka ini. Dia merasa hidupnya berubah menjadi penuh kegembiraan sesudah dia mendapatkan murid ini dan ia membawa Lili ke tempat-tempat yang indah dan kota-kota yang besar sambil memberi latihan silat kepada muridnya.

Lili juga terhibur dan merasa suka kepada suhu-nya yang ramah tamah dan tidak galak. Di dekat suhu-nya ia merasa seakan-akan dekat dengan engkongnya (kakeknya), Yousuf atau Yo Se Fu. Kadang-kadang memang amat rindu kepada ayah bundanya dan kepada kakeknya, akan tetapi anak yang memiliki kekerasan hati luar biasa ini mampu menekan perasaannya dan sama sekali tak pernah memperlihatkan kelemahan hati dan perasaan rindunya.

Lo Sian membawa muridnya merantau ke barat, dan pada suatu hari mereka masuk ke dalam sebuah hutan yang belum pernah dimasuki Lo Sian. Hutan itu besar sekali, penuh dengan pohon-pohon yang ratusan tahun usianya.

“Lili, mari kita mempercepat perjalanan kita,” ajaknya kepada Lili yang sebentar-sebentar berhenti untuk memetik kembang.

Dia tertawa geli dan juga kagum melihat Lili memetik setangkai kembang mawar yang lalu ditancapkan di atas telinga kanan. Bunga itu berwarna putih sehingga pantas sekali dengan bajunya yang merah.

“Hayo kita berlari cepat, Lili. Hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi malam akan tiba. Kalau kita kemalaman di hutan ini, tentu terpaksa kita harus tidur di atas pohon!”

“Tidak apa, Suhu,” jawab Lili sambil tertawa. “Teecu tidak akan jatuh lagi.”

Suhu-nya tertawa. Muridnya ini memang luar biasa tabahnya. Beberapa hari yang lalu ketika mereka kemalaman dalam sebuah hutan dan tidur di atas cabang pohon besar, di dalam tidurnya Lili bermimpi dan ngelindur sehingga terpelanting jatuh dari atas pohon!

Akan tetapi, anak ini benar-benar mempunyai ketenangan dan hati yang berani sehingga sebelum tubuhnya terbanting ke atas tanah, dia telah sadar dan dapat mempergunakan ginkang-nya yang sudah baik sekali itu untuk mengatur keseimbangan tubuh dan dapat melompat turun dengan baik. Kalau ia tidak tenang dan berlaku cepat, setidaknya tentu akan menderita tulang patah! Akan tetapi, Lili tidak menjadi pucat atau ketakutan sedikit pun, bahkan tertawa-tawa ketika suhu-nya melompat ke bawah dan bertanya kepadanya.

“Suhu, aku bermimpi berkelahi dengan monyet di atas pohon dan aku tergelincir jatuh!” katanya sambit tertawa!

Kini mereka mempergunakan kepandaian berlari cepat dan dalam kepandaian ini, Lili benar-benar memiliki kecepatan yang mengagumkan. Sebelum menjadi murid Lo Sian, gadis cilik ini memang sudah memiliki ginkang luar biasa berkat latihan ayah bundanya. Oleh karena ia telah memiliki dasar-dasar untuk pelajaran ilmu silat tinggi, maka dengan mudah Lo Sian menambah pengetahuan serta kepandaian muridnya itu yang mampu menangkap dan mempelajari serta melatih dengan lancar dan mudah sekali.

Pada waktu mereka hampir keluar dari hutan, tiba-tiba saja Lo Sian menahan larinya dan memandang ke kiri. Lili juga menahan tindakannya dan turut memandang karena wajah suhu-nya memperlihatkan keheranan. Memang sungguh aneh, di tempat yang sunyi itu dan tersembunyi di balik pohon-pohon besar, kelihatan sebuah bangunan kelenteng yang mentereng dan bersih sekali. Lantainya mengkilap dan temboknya terkapur putih bersih. Benar-benar mengherankan sekali.

“Ehh, Suhu. Rumah siapakah begini indah di dalam hutan ini?”

“Sstt, aku pun sedang heran memikirnya. Mari kita menyelidiki, aku ingin sekali tahu.”

Lo Sian dengan diikuti oleh Lili lalu menyelinap di antara pohon-pohon itu dan mendekati bangunan yang besar dan indah tadi. Karena di bagian depan nampak kosong dan sunyi, mereka lalu mengitari rumah itu dan akhirnya tiba di sebelah belakang.

Lo Sian mengajak Lili mendekati kelenteng itu dan mendadak mereka mendengar suara anak kecil tertawa-tawa penuh ejekan. Lo Sian dan Lili menghampiri lantas bersembunyi di balik daun-daun pohon. Alangkah terkejut dan heran hati mereka ketika melihat dua orang anak laki-laki di ruangan belakang yang berlantai mengkilap itu.

Seorang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan Lili nampak tangannya terikat ke belakang dan bajunya terbuka sehingga nampak dadanya yang kurus dan perutnya yang gembung. Melihat wajahnya yang pucat serta perutnya yang gembung itu dapat diduga bahwa ia adalah seorang anak miskin yang sering kali menderita kelaparan dan agaknya perutnya yang gendut itu penuh dengan cacing!

Di depan anak kecil yang tangannya terikat itu, tampak berdiri seorang hwesio kecil yang berkepala gundul licin. Hwesio kecil ini memegang sebatang pisau belati dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menuding ke arah anak yang terikat itu. Suara ketawa tadi adalah suara ketawa dari si hwesio itu.

“Ha-ha-ha! Hendak kulihat kebenaran ucapan Suhu,” terdengar hwesio kecil itu berkata. “Kalau orang kurus perutnya gendut, itu berarti bahwa perutnya penuh cacing! Aku tidak percaya keterangan Suhu ini karena biasanya cacing berada di dalam tanah, mana bisa berada di dalam perutmu? Kau datang hendak mencuri makanan dan sudah sepatutnya mendapat sedikit hukuman. Aku tidak akan membinasakanmu, hanya akan membuktikan kebenaran ucapan Suhu. Kalau betul di dalam perutmu terdapat banyak cacing, betapa lucunya! Ha-ha-ha, biarlah aku menolongmu dan hanya melenyapkan cacing-cacing dari dalam perutmu. Aku adalah ahli bedah yang pandai!”

Sambil berkata demikian, hwesio kecil itu menunjuk-nunjuk perut yang gendut dari anak yang terikat kedua tangannya itu. Sungguh mengagumkan sekali bahwa anak kecil yang terikat itu tidak menjadi ketakutan mendengar ini, bahkan lalu tertawa!

“Kau hwesio gila, persis seperti gurumu! Memang kau dan gurumu orang-orang gila yang pura-pura menjadi hwesio. Aku memang hendak mencuri makanan karena perutku lapar. Sekarang kau telah menangkapku, mau bunuh mau sembelih, atau pun mau membedah perutku, terserah. Aku tidak takut!”

“Bagus, maling hina dina! Sekarang juga aku hendak mengeluarkan cacing dari perutmu yang buncit ini!”

Hwesio kecil itu melangkah maju dan dengan tangan kirinya dia meraba-raba perut anak kecil yang terikat tangannya, seakan-akan hendak memilih dulu tempat yang tepat untuk dibelek!

“Suhu…,” dengan mata terbelalak Lili menoleh kepada suhu-nya dan menunjuk ke arah kedua anak itu, “hwesio gila itu hendak membunuhnya!”

Lo Sian juga merasa terkejut bukan main melihat kelakuan hwesio itu dan diam-diam dia mengagumi anak miskin itu, maka ia mengambil keputusan hendak menolongnya. Pohon di belakang mana mereka bersembunyi mempunyai banyak buah-buah kecil dan cukup keras. Ia memetik sebutir buah yang tergantung paling rendah dan ketika hwesio kecil itu hendak mulai dengan perbuatannya yang keji, Lo Sian menggerakkan tangannya. Buah kecil itu lalu meluncur cepat sekali dan dengan cepat menghantam ke arah pergelangan hwesio kecil yang memegang pisau!

Akan tetapi, ternyata hwesio yang masih kecil dan usianya sebaya dengan anak miskin itu, amat lihai dan agaknya dapat mendengar suara sambaran buah itu. Ia cepat menarik tangannya dan buah itu kini menyambar ke arah pisau yang dipegangnya!

“Trangg...!” Pisau itu jatuh di atas lantai mengeluarkan suara nyaring dan hwesio kecil itu melompat mundur dengan cepat dan kaget.

Pada saat itu, Lo Sian dan Lili melompat keluar dari tempat persembunyian mereka dan berlari ke dalam ruang itu. Hwesio kecil yang berhati kejam itu ketika melihat dua orang muncul dari balik pohon, segera membungkuk dan memungut pisaunya tadi. Dia melihat kepada Lo Sian dan dengan berani sekali, dia menyambut kedatangan Lo Sian dengan serangan pisaunya!

Si Pengemis Sakti terkejut juga melihat betapa serangan ini cukup hebat dan berbahaya, maka ia lalu miringkan tubuhnya dan mengulur tangan hendak merampas pisau itu. Akan tetapi, alangkah herannya ketika hwesio kecil itu dapat mengelak pula!

Sementara itu, Lili segera menghampiri anak yang terikat tangannya dan cepat membuka ikatan tangan. Anak itu memandang kepadanya dengah mata mengandung rasa terima kasih, akan tetapi mereka berdua lalu berpaling menonton pertempuran antara Lo Sian dan hwesio kecil tadi.

Sebetulnya tidak tepat kalau disebut pertempuran, oleh karena Lo Sian sebetulnya hanya ingin mencoba sampai di mana kelihaian anak ini dan sengaja tidak ingin membalas. Dia memperhatikan gerakan hwesio itu dan diam-diam merasa amat terkejut ketika mengenal ilmu silat yang dimainkan oleh hwesio kecil itu.

Ia cepat mengulur tangan dan dengan gerakan kilat berhasil menotok pundak hwesio itu yang segera roboh dengan tubuh lemas. Ternyata bahwa Lo Sian sudah menotok jalan darahnya yang membuatnya menjadi lemas dan tidak berdaya, sungguh pun totokan itu tidak mendatangkan rasa sakit.

“Hayo kita cepat pergi dari sini!” kata Lo Sian kepada Lili dan anak itu.

Karena maklum bahwa anak miskin itu tidak dapat berlari cepat, Lo Sian lalu memegang tangannya dan sebentar kemudian anak itu merasa terheran-heran sebab kedua kakinya tidak menginjak tanah dan tubuhnya melayang-layang ditarik oleh pengemis aneh yang menolongnya.

Lili merasa heran sekali melihat betapa suhu-nya berlari seolah-olah takut pada sesuatu. Akan tetapi melihat kesungguhan wajah suhu-nya, ia tak banyak bertanya dan mengikuti suhu-nya dengan cepat.

Setelah senja berganti malam dan keadaan menjadi gelap, mereka pun tiba di luar dusun yang berdekatan dengan hutan itu, dan ketika itu barulah Lo Sian menghentikan larinya. Akan tetapi pengemis sakti itu masih nampak gelisah dan berkata,

“Kita bermalam di sini saja.” Lalu dia mengajak Lili dan anak miskin itu duduk di tempat yang jauh dari jalan kecil menuju ke kampung, bersembunyi di balik gerombolan pohon.

“Mengapa kita tidak mencari tempat penginapan di dusun, Suhu?”

Suhu-nya menggelengkan kepala. “Terlalu berbahaya.”

“Suhu, mengapa Suhu melarikan diri? Apakah yang ditakutkan? Hwesio kecil itu sudah kalah dan kenapa kita harus berlari-lari ketakutan?” tanya Lili dengan suara mengandung penuh penasaran.

“Kau tidak tahu, Lili. Melihat dari gerakan ilmu silatnya, hwesio kecil itu tentu seorang pelayan atau murid dari seorang tua yang sangat jahat dan lihai. Kalau betul dugaanku, maka berbahayalah apa bila kita bertemu dengan dia!”

“Siapakah orang jahat itu, Suhu?”

Lo Sian menghela napas. “Dia itu adalah Ban Sai Cinjin, seorang pertapa yang sangat sakti dan tinggi ilmu silatnya, akan tetapi juga amat jahat dan kejam. Aku sama sekali tak kuat menghadapinya. Kepandaiannya sangat tinggi dan ilmu silatnya luar biasa sekali. Pernah aku melihat ia menghajar lima orang kang-ouw yang gagah, dan karena itu ketika aku melihat gerakan hwesio kecil tadi, aku dapat menduga bahwa kepandaian hwesio kecil itu tentu datang dari Ban Sai Cinjin!”

“Akan tetapi, Suhu...”

Tiba-tiba Lo Sian menggunakan tangannya untuk menutup mulut muridnya.

“Ssshhh...” bisiknya. Lili menjadi heran, dan anak miskin itu pun diam tak berani berkutik sedikit pun.

Tak lama kemudian, di dalam gelap terlihat bayangan orang yang bergerak cepat sekali. Bayangan itu setelah dekat ternyata adalah bayangan seorang tua yang gemuk sekali, agak pendek dan gerakan dua kakinya ketika berlari di atas jalan kecil menuju ke dusun itu benar-benar hebat!

Lili melihat betapa kedua kaki orang tua gemuk pendek itu seakan-akan tidak menginjak tanah, akan tetapi jelas sekali kelihatan betapa tanah yang dilalui oleh orang itu melesak ke dalam karena injakan kakinya ketika berlari.....


Ketika orang yang berlari itu berkelebat di dekat tempat mereka sedang bersembunyi, Lili mendengar suara yang parau dari orang itu berkata-kata seorang diri bagaikan sedang berdoa,

“Siauw-koai (Setan Kecil), Lo-koai (Setan Besar), semuanya harus tunduk kepadaku!” Ucapan ini terdengar berkali-kali, makin lama makin perlahan sehingga akhirnya lenyap bersama bayangan orang gemuk yang luar biasa itu! Ternyata bahwa ia lari menghilang ke dalam dusun di depan.

Barulah Lo Sian bergerak dan menghela napas ketika orang itu sudah pergi dan lenyap. “Hebat...!” bisiknya.

“Suhu, dia itukah orang jahat yang bernama Ban Sai Cinjin?”

Gurunya mengangguk di dalam gelap. “Sekarang dia sedang mencari kita di dusun itu dan kalau kita tadi bermalam di sana, tentu kita semua akan tewas di dalam tangannya yang kejam.”

“Akan tetapi, Suhu. Ia kelihatan bukan seperti seorang hwesio. Kepalanya biar pun botak, akan tetapi tidak gundul dan pakaiannya mewah sekali!”

“Memang aneh. Dulu ia gundul dan berpakaian seperti hwesio. Heran benar, sekarang ia agaknya telah menjadi orang biasa dan bajunya yang dari bulu itu menandakan bahwa ia benar-benar seorang kaya raya! Aneh!”

Kalau Lili dan Lo Sian dapat melihat keadaan orang yang lewat tadi dengan jelas, adalah anak miskin itu hanya melihat bayangannya yang berkelebat saja.

“Memang Ban Sai Cinjin seorang kaya!” katanya. “Kaya raya, kejam, dan gila!”

Setelah mendengar suara ini, barulah Lo Sian agaknya teringat bahwa ada orang lain di situ. Ia memandang kepada anak miskin itu dan bertanya, “Anak yang malang, siapakah kau dan coba ceritakan pula keadaan Ban Sai Cinjin yang kau ketahui.”

Anak itu lalu menceritakan bahwa ia bernama Thio Kam Seng, yatim piatu semenjak kecil karena ayah bundanya meninggal dunia akibat sakit dan kelaparan. Semenjak usia enam tahun ia hidup seorang diri sebagai seorang pengemis, merantau dari kota ke kota dan dari dusun ke dusun. Akhirnya ia sampai di dusun Tong-sim-bun di depan itu dan telah setahun lebih ia tinggal di dusun itu dan hidup sebagai seorang pengemis.

Ia mengetahui tentang Ban Sai Cinjin yang dikatakan sebagai seorang hartawan besar, memiliki banyak rumah dan toko di dusun itu, bahkan telah mendirikan sebuah kelenteng besar di dalam hutan sebagai tempat pertapaannya! Watak dari Ban Sai Cinjin yang kejam dan aneh itu memang telah terkenal, akan tetapi oleh karena orang tua ini amat kaya, dan pula tinggi kepandaiannya, tak seorang pun berani mencelanya.

“Aku mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hidup mewah di dalam kelentengnya itu, bahkan sering mendatangkan penyanyi-penyanyi dari kota dan sering pula memesan masakan-masakan mewah. Karena aku merasa amat lapar, aku mencoba untuk mencuri makanan di kelenteng itu. Sungguh celaka aku terlihat oleh hwesio kecil yang kejam itu dan hampir saja celaka kalau tidak mendapat pertolongan In-kong (Tuan Penolong).”

Lo Sian si Pengemis Sakti tidak mengira sama sekali bahwa Ban Sai Cinjin adalah guru dari orang yang menculik Lili! Memang, sesungguhnya Ban Sai Cinjin ini adalah pertapa sakti yang pernah memberi pelajaran silat kepada Bouw Hun Ti atau penclilik Lili itu.

Kepandaian Ban Sai Cinjin memang sangat hebat dan sesudah merasakan kesenangan dunia, pertapa ini sekarang menjadi seorang yang suka mengumbar nafsunya. Dia dapat mengumpulkan harta kekayaan dan menjadi seorang hartawan besar, hidup mewah dan suka mengganggu anak bini orang.

Akan tetapi, untuk menutupi mata umum, ia mendirikan sebuah kelenteng besar di mana katanya digunakan sebagai tempat ‘menebus dosa’ dan bersemedhi. Padahal sebetulnya tempat ini merupakan tempat persembunyiannya di mana ia menghibur diri dengan cara yang amat tidak mengenal malu. Di tempat inilah dia dapat berlaku leluasa, jauh dari mata orang dusun atau orang kota.

Ban Sai Cinjin sangat terkenal akan kelihaiannya dalam hal ginkang dan lweekang, juga senjatanya amat ditakuti orang. Senjata ini memang istimewa sekali, karena merupakan huncwe (pipa tembakau) yang panjang dan terbuat dari pada logam yang keras diselaput emas!

Pada waktu-waktu biasa, ia menggunakan huncwe-nya ini sebagai pipa biasa yang diisi dengan tembakau-tembakau yang paling mahal dan enak, juga kantong tembakaunya yang tergantung pada gagang huncwe ini terisi penuh dengan tembakau yang kekuning-kuningan bagaikan benang emas.

Akan tetapi pada saat dia menghadapi musuh, kantong itu akan berganti dengan sebuah kantong lain yang berisikan tembakau luar biasa sekali yang berwarna hitam. Dan apa bila ia mengambil tembakau ini lalu dinyalakan di dalam pipanya, maka akan tercium bau yang sangat tidak enak dan keras sekali. Asap tembakau ini saja sudah cukup membuat lawannya menjadi pening dan pikirannya kacau karena sebetulnya asap ini mengandung semacam racun yang berbahaya dan melemahkan semangat.

Apa lagi kalau ia sudah mainkan senjata istimewa ini yang terputar cepat dan dari mulut pipa itu menyembur bunga api karena tembakau yang masih terbakar itu tertiup angin, bukan main berbahayanya. Oleh karena ini pula, maka Ban Sai Cinjin mendapat julukan Si Huncwe Maut!

Lo Sian yang berhati budiman itu menjadi tergerak hatinya ketika mendengar penuturan anak miskin itu. Ia memandang kepada Thio Kam Seng yang kurus dan pucat, dan biar pun ia maklum bahwa anak ini tidak memiliki cukup bakat dan kecerdikan untuk menjadi seorang ahli silat, namun dia tadi telah menyaksikan sendirl bahwa anak ini cukup tabah dan berjiwa gagah. Tadi sudah disaksikannya betapa anak ini menghadapi maut di ujung pisau hwesio kecil itu dengan berani.

“Kam Seng, apakah kau suka ikut padaku dan belajar silat agar kelak jangan sampai kau terhina orang?”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba saja anak itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambil menangis! Saking girang dan terharunya, ia sampai tak dapat mengeluarkan satu patah pun kata, hanya berkata terputus-putus,

“Suhu..., Suhu...”

Setelah pada malam hari itu bersembunyi di sana, keesokan harinya pagi-pagi sekali Lo Sian mengajak kedua orang muridnya untuk melanjutkan perjalanan. Dia menggandeng tangan Kam Seng agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.

Beberapa hari lewat tanpa terasa dan mereka telah memasuki Propinsi Sensi. Pada saat mereka lewat kota Tai-goan, Lo Sian sengaja mampir di kota yang besar dan ramai itu. Kota Tai-goan terkenal dengan araknya yang terbuat dari pada buah leci, dan karena Lo Sian adalah seorang yang suka sekali minum arak, maka sampai beberapa hari ia tidak mau tinggalkan kota itu dan memuaskan dirinya dengan minuman yang enak ini.

Pada suatu hari, ketika ia dan kedua orang muridnya keluar dari sebuah rumah makan di mana ia telah menghabiskan banyak cawan arak, ia mendengar orang berseru keras dan tiba-tiba orang itu menyerangnya dengan pukulan hebat ke arah dadanya.

Lo Sian cepat mengelak dan alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa yang menyerang dirinya ini bukan lain adalah orang brewok yang dahulu menculik Lili! Memang orang ini bukan lain adalah Bouw Hun Ti yang sedang berusaha mencari gurunya dan karena dia melakukan perjalanan berkuda dengan cepat, maka dia telah sampai di tempat itu lebih dulu dan kini ia hendak kembali ke timur setelah mendengar bahwa suhu-nya kini tinggal di dusun Tong-sim-bun.

Kebetulan sekali di kota Tai-goan ini dia bertemu dengan Lo Sian, pengemis yang sudah merampas Lili dari padanya itu! Tanpa menunggu lagi dia segera mengirim pukulan maut yang baiknya masih dapat dikelit oleh Lo Sian.

Lo Sian maklum bahwa orang ini mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dia segera mencabut pedangnya yang selalu disembunylkan di dalam bajunya. Bouw Hun Ti tertawa bergelak melihat ini dan segera mencabut goloknya.

“Jembel hina dina! Hari ini kau pasti akan mampus di ujung golokku!” serunya keras sambil menyerang.

Lo Sian menangkis dan mereka lalu bertempur hebat di depan rumah makan itu. Semua orang yang menyaksikan pertempuran ini tidak ada satu pun yang berani turut campur, bahkan mereka lari cerai berai karena takut melihat dua orang itu mainkan senjata tajam secara demikian hebatnya.

Sementara itu, ketika melihat bahwa yang menyerang suhu-nya adalah penculik brewok yang dibencinya, seketika Lili menjadi pucat karena terkejut sekali. Akan tetapi anak ini memang hebat sekali keberaniannya. Ia tidak melarikan diri, bahkan lalu mengumpulkan batu-batu kecil dan mulai menyambit ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari Bouw Hun Ti.

Sungguh pun sambitan batu yang dilepas oleh Lili ini apa bila ditujukan kepada orang biasa akan merupakan serangan yang amat berbahaya, akan tetapi terhadap Bouw Hun Ti sama sekali tidak ada artinya. Tidak saja semua batu itu terlempar ketika terpukul oleh sinar goloknya, biar pun andai kata mengenai tubuhnya pun tak akan terasa olehnya!

Kam Seng yang melihat suhu-nya bertempur melawan seorang laki-laki brewok yang berwajah galak menyeramkan, dan juga melihat betapa Lili menyambit dengan batu, tak mau tinggal diam dan ia pun mulai menyambit pula! Akan tetapi, ia segera menghentikan bantuannya ini karena pandangan matanya telah menjadi kabur dan silau, ketika kedua orang yang bertempur itu kini telah lenyap terbungkus oleh sinar senjata. Kam Seng tidak dapat membedakan lagi mana gurunya dan mana lawan gurunya!

Akan tetapi, Lili yang sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi dan sepasang matanya yang bening sudah terlatih baik semenjak kecil oleh ayah ibunya, masih dapat melihat gerakan suhu-nya dan gerakan musuh itu, maka masih saja ia melanjutkan sambitannya, kini lebih hati-hati dan membidik dengan baik. Sungguh pun serangan Lili ini tidak berarti baginya, namun cukup membikin gemas hati Bouw Hun Ti.

“Setan kecil, lebih dulu kubikin mampus kau!” serunya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat menyambar Lili dan goloknya membacok ke arah kepala anak kecil itu!

Lili memiliki ketenangan ayahnya dan kegesitan ibunya. Melihat sinar golok menyambar ke arah kepalanya, dia cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah lantas bergulingan menjauhkan diri. Akan tetapi, Bouw Hun Ti yang merasa penasaran terus mengejarnya setelah menangkis serangan Lo Sian yang menyerangnya dari samping dalam usahanya menolong muridnya.

Lili bergulingan terus sampai tiba-tiba dia merasakan bahwa tubuhnya berguling ke atas pangkuan seorang yang duduk di bawah pohon dekat situ. Dia memandang dan ternyata bahwa ia telah berada di atas pangkuan seorang pengemis yang tinggi kurus dan berbaju penuh tambalan dan buruk sekali.

Melihat betapa anak itu kini berada di atas pangkuan seorang pengemis, Bouw Hun Ti melanjutkan serangannya. Akan tetapi tiba-tiba dia berseru keras dan goloknya terpental hampir terlepas dari pegangan pada waktu golok itu telah mendekati tubuh Lili. Ternyata bahwa pengemis jembel itu telah mengangkat tongkatnya dan menangkis golok itu!

“Hemm, manusia kejam! Apakah kau masih mau menjual lagak di hadapan Mo-kai Nyo Tiang Le?”

Bouw Hun Ti makin terkejut karena ia sudah mendengar nama Pengemis Setan ini yang amat lihai! Tadi ketika menghadapi Lo Sian, walau pun dia yakin akan bisa mendapatkan kemenangan, akan tetapi kepandaian Lo Sian sudah cukup kuat sehingga ia tak mungkin menjatuhkannya dalam waktu pendek. Apa lagi sekarang ditambah pula dengan seorang pengemis aneh yang dari tangkisan tongkatnya tadi saja sudah menunjukkan bahwa ilmu kepandaiannya amat tinggi!

Bagaimana sebatang tongkat bambu dapat menangkis goloknya yang terkenal tajam dan yang digerakkan dengan tenaga luar biasa? Bouw Hun Ti menjadi gentar juga kemudian dengan marah sekali ia lalu melarikan diri! Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan gurunya untuk minta pertolongan dan bantuan.

Lo Sian yang baru dapat mengenali pengemis itu, cepat-cepat menghampiri dan berseru girang. “Suheng! Kau di sini?”

“Sute, dari mana kau mendapatkan anak ini?” Mo-kai Nyo Tiang Le balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan adik seperguruannya.

Mendengar pertanyaan ini, barulah Lo Sian teringat kepada Bouw Hun Ti yang sudah melarikan diri. Ia menghela napas dan berkata,

“Sayang sekali Suheng. Orang yang dapat menjawab pertanyaanmu itu sudah melarikan diri. Aku sendiri tidak tahu siapa sebetulnya anak ini.” Ia lalu menuturkan pengalamannya pada waktu merampas Lili dari tangan Bouw Hun Ti, kemudian menuturkan pula tentang pengalamannya menolong Thio Kam Seng.

Si Pengemis Setan itu tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Lo Sian. Ia segera memandang kepada Lili yang kini sudah berdiri, lalu berkata kepadanya, “Hemm, anak nakal! Kau tidak mau menceritakan siapa ayah ibumu? Ha-ha-ha, tak perlu kau bercerita lagi! Aku sudah tahu, siapa ayahmu! Dia adalah seorang maling, seorang tukang colong ayam! Karena itulah maka kau malu untuk mengaku! Ha-ha-ha!”

Bukan main marahnya hati Lili mendengar ucapan ini. Gadis cilik ini berdiri tegak dengan kepala dikedikkan, dadanya diangkat dan pandang matanya bersinar-sinar seakan-akan mengeluarkan cahaya api. Kalau ada orang yang telah mengenal ibunya, dan melihat Lili bersikap seperti itu, tentulah akan mengatakan bahwa anak perempuan ini persis sekali seperti ibunya kalau sedang marah.

“Kau... kau berani menghina ayahku? Jika Ayah mendengar hal ini, biar pun kau berada di ujung dunia, Ayah pasti akan mematahkan batang lehermu! Ayahku adalah seorang gagah perkasa tanpa tandingan! Orang macam kau, biar ada seratus pun akan dapat dia patahkan batang lehernya dengan mudah!” Lili betul-betul marah bukan main mendengar ayahnya disebut tukang colong ayam!

Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. Agaknya dia geli sekali sehingga sambil tertawa dia meraba-raba perutnya. “Ha-ha-ha-ha! Pandai sekali kau menutupi keadaan ayahmu! Ha-ha-ha, ayahmu hanya seorang maling kecil. Memang dia bisa mematahkan batang leher, akan tetapi hanyalah batang leher ayam. Tentu saja dia kuat mematahkan batang leher seratus ekor ayam yang dicurinya! Ha-ha-ha!”

“Orang tua kurang ajar!” Lili semakin marah hingga ia membanting-banting kakinya yang kecil.

Dia lupa bahwa suhu-nya tadi menyebut suheng kepada jembel ini. Namun, jangankan baru supek-nya yang baru dikenal sekarang, walau pun siapa juga tidak boleh menghina ayahnya!

“Hati-hatilah kau! Beritahukan siapa namamu supaya dapat kuberitahukan kepada Ayah. Kau pasti akan dipukul mati! Siapakah orangnya yang tidak tahu bahwa Ayah...” tiba-tiba Lili terhenti karena ia teringat bahwa ia tidak ingin memberitahukan nama orang tuanya, bahkan ia belum pernah mengaku kepada suhu-nya.

“...bahwa ayahmu hanyalah seorang tukang colong ayam...!” Pengemis tua itu langsung melanjutkan kata-katanya yang terhenti sambil tertawa bergelak.

“Bukan!” Lili menggigit bibirnya dengan hati gemas. “Nah, biarlah aku mengaku! Ayahku adalah Sie Cin Hai yang berjuluk Pendekar Bodoh! Ibuku adalah Kwee Lin yang terkenal gagah perkasa! Siapa yang tidak kenal kepada ayah ibuku yang menjadi murid terkasih dari Sukong Bu Pun Su?”

Sambil berkata demikian, Lili memandang dengan tajam kepada pengemis itu dan juga kepada gurunya. Ia merasa bangga dan girang sekali ketika melihat betapa pengemis itu yang tadinya tengah tertawa, kini membuka mulutnya dengan melongo, ada pun suhu-nya sendiri pun memandangnya dengan mata terbelalak heran!

Lo Sian lalu mengelus-elus kepala Lili dan berkata, “Ah, anak baik, kenapa tidak dulu-dulu kau katakan kepadaku? Jika aku tahu, tentu kau sudah kuantarkan kepada orang tuamu! Aku tahu siapa adanya ayah ibumu itu dan ketahuilah bahwa Suhu-mu dan Supek-mu ini masih orang-orang segolongan dengan ayahmu!”

“Akan tetapi, mengapa Supek tadi menghina ayahku? Mengapa ayahku disebut tukang colong ayam?”

Nyo Tiang Le tertawa bergelak dan Lo Sian juga tersenyum. “Lili, Supek-mu tadi hanya bergurau. Pada waktu ia mengatakan bahwa ayahmu seorang maling ayam, ia tidak tahu bahwa ayahmu adalah Sie Taihiap! Kalau ia tidak mempergunakan akal ini, apakah kau akan suka menyebutkan nama ayahmu?”

Lili memang cerdik. Kini ia tahu bahwa ia telah kena diakali, maka sambil tersenyum ia berkata kepada Nyo Tiang Le, “Supek sudah menipuku! Akan tetapi, kalau Supek tidak menarik kembali ucapannya tadi, aku selamanya akan benci kepada Supek!”

Suara tawa Mo-kai Nyo Tiang Le makin keras. “Ha-ha-ha! Siapa bilang bahwa Pendekar Bodoh pencuri ayam? Apa bila ada orang yang mengatakan demikian di depanku, mulut orang itu tentu akan kuhajar dengan seratus kali pukulan tongkatku! Tidak, anak manis, ayahmu bukan pencuri ayam akan tetapi dia adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa!”

Berserilah wajah Lili mendengar pujian terhadap ayahnya ini.

“Suheng, kalau begitu, aku hendak mengantarkan anak ini pulang kepada Sie Taihiap di Shaning.”

Nyo Tiang Le menggelengkan kepalanya. “Berbahaya sekali, Sute! Kau tentu telah dapat menduga siapa adanya orang brewok tadi?”

Lo Sian menggelengkan kepalanya. “Sungguh pun ilmu silatnya sangat lihai dan gerakan goloknya mengingatkan aku akan ilmu kepandaian golok milik Ban Sai Cinjin, akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu siapa adanya orang itu.”

“Dia adalah murid dari Ban Sai Cinjin, seorang peranakan Turki. Apakah kau masih ingat pada Balutin yang dulu memimpin barisan Turki ke pedalaman dan menimbulkan banyak kerusakan!”

Lo Sian mengangguk karena dahulu ia memang membantu tentara kerajaan menghadapi perwira yang amat tangguh itu.

“Nah, orang tadi adalah putera dari Balutin itulah! Namanya Bouw Hun Ti dan dia amat lihai, apa lagi setelah mendapat latihan dari Ban Sai Cinjin. Entah mengapa dia menculik anak Pendekar Bodoh ini, akan tetapi sudah jelas bahwa kalau ia melihat kau mengantar anak ini pulang, tentu ia akan turun tangan dan hal ini berbahaya sekali.”

Lo Sian menundukkan kepalanya karena dia juga maklum bahwa kepandaian Bouw Hun Ti masih lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri sehingga ia tidak dapat melindungi keselamatan Lili dengan baik.

“Habis, bagaimana baiknya, Suheng?”

“Aku sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pertapaan Pok Pok Sianjin di puncak Beng-san. Biarlah kubawa kedua anak ini bersamaku ke sana. Kau pergilah seorang diri mencari Pendekar Bodoh dan memberi tahu bahwa puterinya sudah selamat dan sedang bersama dengan aku. Kam Seng ini nasibnya buruk dan patut ditolong. Sedangkan dulu aku pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su, maka sekarang sudah selayaknyalah apa bila aku membalas dan menolong cucu muridnya ini! Nona kecil, kau tentu mau ikut dengan aku, bukan?”

Lili memandang kepada suhu-nya dan berkata, “Suhu, teecu memang tidak mau pulang. Teecu baru mau pulang kalau Ayah dan Ibu menyusul teecu! Akan tetapi, bila selamanya teecu harus ikut Supek, teecu tidak suka.”

“Mengapa begitu, Lili?” tanya Lo Sian sambil tersenyum.

“Supek seorang pengemis!”

“Hussh!” kata Lo Sian mencela. “Aku pun seorang pengemis!”

“Benar, akan tetapi Suhu berbeda dengan Supek. Suhu adalah pengemis bersih, akan tetapi Supek...”

“Hussh, Lili!” Menegur suhu-nya.

Akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le bahkan tertawa geli dan berkata, “Biarlah, Sute. Sudah sewajarnya apa bila seorang anak perempuan suka akan kebersihan dan keindahan. He, Lili anak nakal, kau lihatlah baik-baik, apakah aku masih nampak kotor dan menjijikkan?”

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya kedua tangan Pengemis Setan itu bergerak dan tahu-tahu jubah luarnya yang butut itu telah terlepas sehingga Lili dan juga Thio Kam Seng, anak piatu itu memandang dengan mata terbelalak heran.

Setelah jubah butut kotor dan penuh tambalan itu terlepas, kini pengemis tua itu nampak bersih dan gagah sekali. Tubuhnya tertutup oleh pakaian warna putih bersih dari sutera halus, sebatang pedang tergantung di pinggang kirinya! Dan sikap pengemis tua itu pun berubah sama sekali, wajahnya yang tadi tertawa-tawa bagaikan orang gila itu menjadi sungguh-sungguh dan nampak kereng sekali!

“Bagaimana, apakah kau masih merasa jijik untuk ikut Supek-mu?” tanya Nyo Tiang Le dengan suara kereng.

Lili merasa heran dan tertegun sehingga dia memandang dengan mata tak berkedip, lalu menggelengkan kepalanya. Pengemis tua yang aneh itu kemudian mengenakan kembali pakaian bututnya dan wajahnya kembali berseri-seri. Kini Lili baru merasa lega, karena sebenarnya hatinya lebih enak dan senang menghadapi pengemis tua yang berpakaian butut dan yang tertawa-tawa ramah ini dari pada menghadapinya dalam pakaian gagah dan sikap kereng tadi!

“Kenapa pakaian bersih dan indah ditutupi oleh pakaian yang demikian kotor dan buruk?” kini ia berani membuka mulut bertanya.

Nyo Tiang Le tertawa bergelak, seperti tadi sebelum memperlihatkan pakaiannya yang dipakai di sebelah dalam.

“Ha-ha-ha, anak baik! Banyak sekali orang yang di luarnya mengenakan pakaian-pakaian indah dan mahal, memakai baju kebesaran dan tanda pangkat, akan tetapi coba bukalah pakaian yang indah-indah itu, kau akan melihat sesuatu yang kotor, seperti sebutir buah yang kulitnya merah kekuningan dan nampak segar akan tetapi apa bila dikupas kulitnya akan terlihat isinya busuk! Bagiku, aku lebih suka yang sebaliknya, dari luar tampak kotor akan tetapi di sebelah dalam bersih! Ha-ha-ha!”

Lili tidak percuma menjadi puteri Pendekar Bodoh, seorang pendekar besar yang gagah perkasa dan yang terkenal ahli dalam hal filsafat hidup dan hafal akan semua ujar-ujar kuno. Telah sering kali ayahnya memberi pelajaran budi pekertiepadanya dan sering kali pula dia mendengar ayahnya mengucapkan ujar-ujar kuno mengenai filsafat hidup. Dan kini, mendengar ucapan Nyo Tiang Le itu, anak yang berotak tajam ini dapat menangkap maksudnya, maka dia lalu membantah,

“Supek, betapa pun juga aku lebih suka lagi kalau yang bersih itu tidak hanya dalamnya saja, akan tetapi luar dalam! Biar pun isinya sama bersih dan sama enak, kalau disuruh memilih, aku lebih suka buah yang kulitnya menarik dan bersih dari pada yang kulitnya kotor!”

Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. “Benar benar! Kau memang seorang perempuan, sudah seharusnya tahu merghargai keindahan, luar mau pun dalam!”

Demikianlah, sesudah memesan kepada Lili dan Kam Seng supaya patuh kepada supek mereka, dan memberi janji kepada Lili bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali, Lo Sian lalu meninggalkan mereka menuju ke timur untuk mencari Pendekar Bodoh di Shaning dan mengabarkan tentang keadaan Lili kepada pendekar besar itu.

Nyo Tiang Le juga segera membawa kedua anak itu melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Beng-san. Pengemis Setan ini sungguh pun menjadi suheng dari Lo Sian, akan tetapi apa bila dibandingkan dengan Pengemis Sakti itu, kepandaiannya jauh lebih tinggi, juga usianya berbeda jauh sekali. Lo Sian baru berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le usianya sudah lima puluh tahun lebih.

Bahkan kepandaian Lo Sian sebagian besar terlatih oleh Nyo Tiang Le dan suhu mereka hanya memberi pelajaran-pelajaran dasar saja kepada Sin-kai Lo Sian. Kepandaian Nyo Tiang Le ini hanya sedikit lebih rendah dibandingkan tingkat kepandaian empat besar di timur, barat, selatan, dan utara, yakni Hok Peng Taisu guru Ma Hoa, Pok Pok Sianjin di Beng-san yang kini menjadi guru dari Sie Hong Beng putera Pendekar Bodoh, mendiang Bu Pun Su, guru dari Cin Hai si Pendekar Bodoh dan isterinya, dan Swi Kiat Siansu, tokoh di utara yang terkenal dengan senjatanya kipas maut itu! Kepada empat orang tokoh besar ini, Nyo Tiang Le telah kenal baik, bahkan dia pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su yang terkenal paling lihai di antara para tokoh besar itu.

Mo-kai Nyo Tiang Le suka sekali melihat Lili dan karena ia tidak mempunyai murid, maka melihat murid sute-nya ini tergeraklah hatinya. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk mewariskan ilmu pedangnya kepada Lili yang ia tahu memiliki bakat yang baik sekali. Dia memang sedang menuju ke Beng-san untuk bertemu dengan Pok Pok Sianjin, seorang di antara tokoh-tokoh besar dunia persilatan masih hidup.

Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang bernasib malang itu, benar-benar telah mendapat karunia besar dan agaknya nasibnya telah mulai bersinar terang saat ia bertemu dengan Lo Sian, karena tak disangka-sangkanya bahwa ia akan terjatuh ke dalam tangan orang luar biasa sehingga ia dapat menjadi murid seorang gagah seperti Lo Sian, bahkan kini ia ikut melakukan perjalanan dengan Nyo Tiang Le dan ikut pula mendapat latihan ilmu silat tinggi…..

********************

Mari sekarang kita mengikuti perjalanan Cin Hai dan Lin Lin yang meninggalkan rumah mereka di Shaning untuk pergi mencari puteri mereka yang lenyap terculik orang.

Semenjak Kong Hwat Lojin atau Nelayan Cengeng yang menjadi guru dan ayah angkat Ma Hoa meninggal dunia pada dua tahun yang lalu, belum pernah Pendekar Bodoh dan isterinya mengunjungi Tiang-an. Maka setelah mereka tiba di perbatasan kota Tiang-an, mereka berhenti sebentar dan memandang tembok kota itu dengan pikiran yang penuh kenangan masa lampau. Bagi Lin Lin, kota ini adalah kota kelahirannya dan bagi Cin Hai, kota ini pun merupakan kota di mana dia pernah mengalami banyak sekali penderitaan hidup pada waktu dia masih kecil.

Mereka memasuki kota dan mengunjungi rumah Kwee An. Rumah ini adalah rumah tua, gedung besar dan kuno yang dulu menjadi tempat tinggal mendiang Kwee In Liang, yaitu ayah Kwee An dan Kwee Lin. Kedatangan mereka mendapat sambutan yang hangat sekali dari Kwee An dan Ma Hoa. Ma Hoa merangkul Lin Lin dan sampai lama mereka saling peluk dan mencium dengan hati girang sekali.

“Enci Ma Hoa, sekarang kau makin gemuk dan makin cantik saja!” Lin Lin berkata sambil memandang kepada soso (kakak iparnya) itu. Oleh karena sudah terbiasa sejak belum menikah dulu, Lin Lin tidak menyebut soso pada iparnya ini, akan tetapi masih menyebut enci.

“Lin Lin, kaulah yang semakin cantik, akan tetapi mengapakah kau kelihatan agak pucat? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu ke sini?”

Cin Hai dan Kwee An yang saling berpegang tangan dengan perasaan gembira itu juga mengucapkan kata-kata ramah tamah.

“Ahhh, kami mendapat kesusahan,” kata Lin Lin sambil menghela napas lalu menggigit bibirnya untuk menahan jangan sampai meruntuhkan air mata. “Lili telah terculik orang!”

Pucatlah wajah Ma Hoa dan Kwee An mendengar berita hebat ini.

“Apa...?!” Ma Hoa melompat bangun dan memegang lengan tangan Lin Lin. “Siapa orang yang demikian berani mampus melakukan hal itu? Lin Lin, beritahukan siapa orangnya, akan kuhancurkan kepalanya!” Ma Hoa benar-benar marah sekali mendengar berita ini dan sepasang matanya berkilat.

Kwee An juga marah sekali dan kedua tangannya dikepal, akan tetapi ia lebih tenang dan sabar dari pada isterinya. Ia memegang tangan adiknya dan berkata,

“Ahh, bagaimana bisa terjadi hal itu? Lin Lin, marilah kita semua masuk ke dalam dan ceritakanlah hal itu sejelasnya.”

Suara yang lemah lembut dan sikap mencinta dari kakaknya ini lebih tajam menyentuh perasaan Lin Lin dari pada sikap Ma Hoa yang menunjukkan pembelaannya dengan hati marah. Tak terasa lagi Lin Lin meramkan mata menahan keluarnya air mata yang tetap saja menembus celah-celah bulu matanya lantas mengalir turun ke atas pipinya. Sambil menyandarkan kepalanya di pundak Kwee An, Lin Lin menangis dan menurut saja ditarik oleh Kwee An menuju ke ruang dalam, diikuti oleh Cin Hai dan Ma Hoa.

Setelah mereka duduk di atas kursi dan Lin Lin sudah dapat menekan perasaan gelisah dan sedihnya, maka berceritalah Lin Lin dan Cin Hai mengenai penculikan terhadap Lili, dan juga tentang terbunuhnya Yousuf. Mendengar bahwa Yousuf terbunuh pula dalam keadaan yang sangat mengerikan dan menyedihkan, yaitu dipenggal kepalanya, Ma Hoa menjerit dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia berdiri dan dengan tangan terkepal ia berkata keras,

“Lin Lin, kita harus mencari jahanam itu sampai dapat! Hatiku belum puas kalau belum menusuk mata jahanam itu dengan senjataku!”

Juga Kwee An merasa marah dan sedih sekali mendengar berita ini. Ketika mendengar dari Cin Hai bahwa menurut orang-orang yang melihatnya, pembunuh Yousuf itu adalah seorang Turki, Kwee An berkata,

“Tidak mungkin salah lagi, tentu pembunuhnya adalah utusan Pangeran Muda dari Turki yang semenjak dahulu memusuhi Yo-pekhu!”

“Kami pun menduga demikian,” kata Cin Hai. “Oleh karena itu, kami hendak menyusul ke barat, hendak mencari keterangan dan menyelidiki ke Kansu di mana banyak terdapat orang-orang Turki baik pengikut Pangeran Muda mau pun pengikut Pangeran Tua.”

“Betul sekali,” kata Kwee An mengangguk-anggukkan kepala. “Di sana banyak terdapat kawan-kawan baik dari Yo-pekhu, dan kurasa dari mereka ini kau akan bisa mendapatkan keterangan.”

“Aku ingin sekali ikut pergi,” tiba-tiba saja Ma Hoa berkata, “aku ingin mendapat bagianku menghajar penculik Lili!”

Kwee An memandang kepada isterinya, kemudian sambil tersenyum dia berkata, “Dalam keadaanmu sekarang ini lebih baik jangan melakukan perjalanan sejauh itu.”

Ma Hoa membalas pandangan suaminya dan tiba-tiba mukanya berubah merah. Lin Lin mengerti akan maksud ucapan itu, maka dia merangkul Ma Hoa sambil berkata, “Enci yang baik! Sudah berapa bulankah?”

Makin merahlah muka Ma Hoa dan dengan suara perlahan ia berkata, “Dua...”

Cin Hai sama sekali tidak mengerti apakah maksud pembicaraan antara isterinya dan Ma Hoa, maka ia memandang kepada mereka dengan sinar mata bodoh. Melihat wajah dan pandangan mata bodoh dari Cin Hai ini, tak tertahan pula Ma Hoa dan Lin Lin tertawa geli, bahkan Kwee An juga tersenyum, teringat akan peristiwa dulu-dulu tentang Cin Hai yang dalam beberapa hal memang agak bodoh. Pandangan mata seperti itulah yang lalu membuat ia mendapat julukan Pendekar Bodoh!

“Eh, eh, kalian mengapakah?” Cin Hai tidak merasa aneh melihat isterinya tertawa-tawa, oleh karena memang demikianlah sifat Lin Lin. Dalam keadaan bersedih dia bisa tertawa gembira, sebaliknya dalam kegembiraan tiba-tiba murung!

“Jangan tanya-tanya, ini urusan wanita. Laki-laki tahu apa!” kata Lin Lin.

Akhirnya bisa juga Cin Hai menduga bahwa yang dimaksudkan tentu Ma Hoa kini dalam keadaan mengandung dua bulan. Akan tetapi karena merasa jengah dan malu, dia diam saja.

Dua pasang suami isteri itu lalu bercakap-cakap melepaskan rindu.

“Eh, sampai lupa aku! Mana si cantik Goat Lan? Kenapa semenjak tadi aku tidak melihat dia?” kata Lin Lin.

“Ah, dia telah dibawa oleh dua orang kakek yang kalian tentu sudah kenal namanya.”

“Dibawa? Apa maksudmu? Siapakah mereka?” tanya Cin Hai.

“Goat Lan telah diambil murid oleh Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo dan dibawa ke Liong-ki-san untuk dilatih ilmu silat.”

Cin Hai dan Lin Lin merasa girang mendengar ini dan keduanya lalu memberi selamat. Ma Hoa menceritakan peristiwa tentang kedatangan kedua orang kakek gagah itu di Kuil Ban-hok-tong.

“Enci Hoa,” kata Lin Lin yang mendadak teringat akan sesuatu, “aku sudah mengadakan pembicaraan dengan suamiku mengenai anakmu itu. Kau tentu dapat menduga maksud kami, yaitu tentang anakmu dan anak kami Hong Beng.”

Wajah Ma Hoa berseri. “Ahh, bagaimana dengan puteramu yang elok itu?”

Lin Lin lalu menceritakan bahwa Hong Beng sudah diantarkan ke Pok Pok Sianjin untuk menerima latihan ilmu silat.

“Kiranya tidak ada jodoh yang lebih tepat bagi Hong Beng selain anakmu yang cantik itu. Bagaimana kalau kita resmikan pertunangan itu sekarang?”

Kwee An tertawa. “Kedua anak itu baru berusia sepuluh tahun, bagaimana pertunangan mereka harus diresmikan?”

“Maksudku, pertunangan ini disahkan di antara kita, orang-orang tua mereka. Kau tentu menerima pinanganku, bukan?” menegaskan Lin Lin.

“Lin Lin, kau masih saja tidak sabar seperti dulu!” kata Ma Hoa tertawa. “Dulu pernah kita bicarakan hal ini dan sudah saling setuju. Tentu saja, kami setuju sekali dan menerima pinanganmu dengan kedua tangan terbuka. Memang selain putera kalian siapa lagi yang patut menjadi mantu kami?”

Demikianlah, di antara tawa dan sendau gurau, mereka meresmikan pertunangan Hong Beng dan Goat Lan. Dengan amat mudahnya Lin Lin telah lupa kesedihannya kehilangan Lili. Cin Hai yang pendiam tidak dapat melupakan nasib puterinya, akan tetapi tidak tega untuk mengingatkan isterinya mengenai hal yang tidak menyenangkan ini, maka dia diam saja.

Sesudah mengunjungi Kwee Tiong atau Thian Tiong Hosiang, ketua Kuil Ban-hok-tong, kakak tertua dari Lin Lin yang kini menjadi hwesio alim itu, Lin Lin dan Cin Hai segera melanjutkan perjalanannya ke barat. Mereka hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An. Ma Hoa dan suaminya mengantarkan mereka sampai di luar batas kota dan mereka lalu berpisah.

Cin Hai dan Lin Lin melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat dan sesudah berpisah dari Ma Hoa, seluruh perhatian Lin Lin kembali tercurah kepada puterinya dan timbul lagi kegelisahannya. Perjalanan mereka amat jauh, dan beberapa pekan kemudian setelah melaksanakan perjalanan cepat sekali, barulah mereka tiba di Kansu dan menuju ke kota Lancouw. Pada sepanjang perjalanan mereka teringat akan segala pengalaman mereka yang penuh bahaya pada sepuluh tahun lebih yang lampau pada waktu mereka dengan kawan-kawan lain mengunjungi propinsi ini.

Cin Hai dan Lin Lin lalu masuk ke perkampungan orang Turki di mana dahulu Yousuf tinggal. Orang-orang Turki yang tinggal di sana ternyata masih ingat kepada mereka, karena pada saat mereka masuk ke kampung itu, mereka disambut dengan girang sekali oleh para kawan dari Yousuf itu. Cin Hai segera dihujani pertanyaan mengenai keadaan Yousuf.

Ketika mendengar bahwa bekas pemimpin mereka itu telah tewas dengan keadaan amat menyedihkan, dipenggal kepalanya oleh seorang Turki lain yang brewok, maka sedihlah hati mereka.

“Bouw Hun Ti!” seru seorang di antara mereka yang sudah lanjut usianya. “Tentu Bouw Hun Ti si anjing pengkhianat yang melakukan hal itu.”

Cin Hai dan Lin Lin segera mendesak orang tua itu.

“Sahabat,” kata Cin Hai, “sesungguhnya kami datang dari tempat yang amat jauh, tak lain maksud kami hanyalah hendak menemui saudara-saudara dan minta pertolongan untuk menduga siapa adanya bangsat yang telah membunuh Yo Se Fu dan yang telah berani menculik puteri kami itu. Tadi kami mendengar disebutnya nama Bouw Hun Ti, siapakah gerangan dia itu dan mengapa kalian mengira bahwa dialah yang melakukan perbuatan itu?”

Orang Turki tua itu baru saja datang dari Turki dan ia tahu akan keadaan Bouw Hun Ti, maka dia lalu menceritakan sejelasnya kepada Cin Hai dan Lin Lin. Ketika mendengar bahwa Bouw Hun Ti diutus oleh Pangeran Muda untuk membawa Yousuf dengan paksa ke Turki dan bahwa Bouw Hun Ti adalah putera dari Balutin dan terkenal jahat kejam dan berkepandaian tinggi.

Cin Hai dan Lin Lin tidak ragu-ragu lagi bahwa memang dialah orang yang dicari-carinya. Mereka lalu mengambil keputusan untuk menunggu di Lancouw, menghadang perjalanan Bouw Hun Ti yang tentunya akan pulang ke Turki dengan membawa Lili yang diculiknya, karena menurut keterangan orang-orang Turki itu, Bouw Hun Ti sampai saat itu belum kembali dari timur.

Akan tetapi, setelah menanti dua pekan belum juga kelihatan penculik dan pembunuh itu datang, Cin Hai dan Lin Lin menjadi kecewa dan gelisah bukan main. Betapa pun lambat musuh itu melakukan perjalanan, tidak mungkin akan makan waktu selama itu. Akhirnya Cin Hai dan Lin Lin mengambil keputusan untuk kembali ke timur, mencari musuh yang membawa lari puteri mereka itu.

Kepada orang-orang Turki yang ada di situ mereka minta tolong agar supaya mengamat-amati, jika melihat Bouw Hun Ti dan seorang anak perempuan, agar berusaha merampas anak perempuan itu. Orang-orang Turki itu maklum bahwa Lin Lin adalah anak angkat Yousuf, sehingga dengan demikian anak perempuan yang diculik oleh Bouw Hun Ti itu adalah cucu dari Yousuf, maka tentu saja mereka bersedia untuk membantu suami isteri itu dan menolong Lili. Mereka maklum bahwa di antara mereka tidak seorang pun dapat melawan Bouw Hun Ti yang lihai, akan tetapi dengan akal dan tipu, mereka merasa yakin akan dapat menculik kembali anak itu dari tangan Bouw Hun Ti dan mengantarkannya kepada suami isteri itu.

Maka berangkatlah Cin Hai dan Lin Lin kembali ke timur. Sungguh pun mereka merasa kecewa dan gelisah, akan tetapi ada juga sedikit kegembiraan karena sudah mengetahui nama dan keadaan musuh besar mereka.

Kini mereka kembali ke timur tidak melalui jalan yang mereka lalui ketika mereka menuju ke Lancouw, yakni jalan sebelah selatan, akan tetapi mereka melalui jalan sebelah timur, di sepanjang perbatasan Mongolia Dalam. Mereka mengambil keputusan hendak mampir di tempat pertapaan Pok Pok Sianjin untuk menengok Hong Beng yang belajar ilmu silat di situ…..

********************

Mo-kai Nyo Tiang Le bersama dua orang anak-anak murid sute-nya, yakni Lili dan Kam Seng, sampai di Gunung Beng-san. Dengan perlahan Nyo Tiang Le mengajak dua orang anak-anak itu mendaki bukit yang indah sambil menikmati pemandangan alam yang luar biasa mengagumkan.

Setelah jatuh ke tangan orang-orang yang bisa ia percaya, Kam Seng kini timbul kembali sifat-sifat aslinya, yaitu pemberani, bersemangat, dan jenaka. Lili merasa suka kepada kawan ini dan ketika mendaki bukit yang indah itu, Lili dan Kam Seng mendahului supek mereka sebab Pengemis Setan ini sebentar-sebentar berhenti untuk menikmati keindahan pemandangan alam.

Lili dan Kam Seng sudah diberi tahu oleh supek ini bahwa tuiuan mereka adalah puncak bukit di sebelah utara itu. Maka mereka tidak sabar menunggu supek mereka yang dapat berdiri diam bagaikan patung sampai lama sekali untuk menikmati tamasya alam.

“Supek benar-benar aneh,” kata Kam Seng sambil tertawa dan napas tersengal karena ia harus mengikuti Lili yang gerakannya lebih gesit dan sangat cepat itu, “apakah indahnya pohon-pohon dan rumput di bawah gunung?”

Lili hanya tersenyum sambil berkata, “Hayo cepat kita naik. Itu di atas banyak kembang merah yang indah!”

Dia lalu melompat ke depan dengan cepat bagaikan seekor anak kijang. Tentu saja Kam Seng tak bisa menyusulnya, dan anak yang sudah terengah-engah akibat telah mendaki bukit itu mencoba untuk mempercepat langkahnya sambil bersungut-sungut,

“Supek aneh, Lili juga aneh. Kembang macam itu saja, apa sih indahnya?”

Memang, Kam Seng yang sejak kecil selalu menderita lahir batin, perasaannya menjadi acuh tak acuh, hingga tak dapat merasai atau menikmati sesuatu yang sedap dipandang. Matanya telah terlampau banyak melihat hal-hal yang menimbulkan rasa sedih dan putus harapan, bahkan dulu ketika ia menderita kelaparan dan kesengsaraan, segala sesuatu yang betapa indah pun nampak buruk dan menjemukan.

Karena Lili berhenti dan mengagumi bunga-bunga yang tumbuh di pinggir jalan kecil itu, maka Kam Seng dapat menyusulnya juga. Lili meraba bunga itu, dan nampaknya girang bukan main. Kedua pipinya bersinar kemerahan, matanya berseri gembira. Ia memetik beberapa tangkai bunga yang terindah, diikat menjadi satu kemudian dibawanya dengan hati-hati dan penuh rasa sayang.

Pada saat itu dari sebuah lereng bukit berlari turun seorang anak laki-laki yang sangat gesit gerakannya. Anak ini berwajah tampan dan gagah sekali. Sepasang alisnya hitam tebal, kelihatan jelas kulit mukanya yang putih kemerahan. Rambutnya juga tebal dan hitam, diikat di atas kepala dengan sehelai pita kuning. Tubuhnya tegap hingga nampak telah hampir dewasa, biar pun usianya sebenarnya baru sebelas tahun kurang. Matanya lebar dan bersinar terang, membayangkan bahwa dia mempunyai watak yang jujur.

Anak laki-laki ini berlari turun dengan muka mengandung kemarahan. Ia melihat ada dua orang anak yang berada di taman bunga itu dan melihat pula seorang anak perempuan memetiki kembang yang menjadi kesayangan gurunya, maka dia menjadi marah sekali.

“Hai! Jangan sembarangan memetik dan merusak kembang!” tegurnya dari jauh sambil berlari cepat menghampiri Lili dan Kam Seng.

Lili dan Kam Seng terkejut, lalu memandang. Kam Seng diam saja karena merasa bahwa jika taman bunga ini kepunyaan seseorang, memang mereka berdua telah berlaku salah. Akan tetapi Lili yang berwatak keras tentu saja tidak mau mengaku salah begitu saja. Ia memutar tubuh menanti kedatangan anak laki-laki itu dan berteriak,

“Turunlah! Apa kau kira aku takut padamu? Kembang indah memang sudah seharusnya dipetik, mengapa kau bilang merusak?”

Anak laki-laki yang berlari turun itu ketika mendengar suara Lili dan setelah berada lebih dekat, berubah menjadi girang sekali dan seketika itu juga lenyaplah kemarahannya.

“Lili...!” serunya girang dan dia mempercepat larinya.

Lili tertegun mendengar suara ini. Tadi ia memang tak dapat melihat jelas, karena senja kala telah mulai tiba dan udara menjadi kurang terang. Kini mendengar suara panggilan itu, dia jadi tertegun dan akhirnya berlari menyambut anak laki-laki itu sambil berseru,

“Hong Beng...!”

Memang semenjak kecil Lili menyebut kakaknya dengan memanggil namanya begitu saja tanpa diberi tambahan kakak atau engko. Biar pun berkali-kali ayah-bundanya menyuruh dia menyebut Hong Beng kakak, akan tetapi anak yang bandel ini tetap saja tak pernah mentaatinya dan tetap menyebut kakaknya Hong Beng saja!

Segera kedua orang anak itu berhadapan dan dengan girang. Hong Beng memegang kedua tangan adiknya.

“Lili... dengan siapa kau datang? Mana Ayah dan Ibu? Dan siapakah Siauwko (Engko Kecil) itu?”

“Aku datang bersama Supek. Ayah dan Ibu tentunya berada di rumah, dan dia ini adalah Kam Seng, anak yatim piatu yang diambil murid oleh Suhu.”

Hong Beng tercengang mendengar keterangan singkat ini. “Ehh, siapakah Supek-mu dan siapa pula Suhu-mu? Mengapa kau meninggalkan rumah?”

Memang seperti telah dituturkan di bagian depan, Hong Beng dibawa oleh ayahnya ke puncak Beng-san untuk berguru kepada Pok Pok Sianjin, seorang tua berilmu tinggi yang menjadi tokoh besar di barat. Pada waktu dia pergi, adiknya berada di rumah dan tidak mempunyai guru karena seperti juga dia sendiri, adiknya pun belajar silat dari ayah dan ibu mereka. Mengapa tiba-tiba saja adiknya itu mempunyai seorang suhu dan supek dan meninggalkan rumah?

Lili hendak menuturkan pengalamannya, akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara suling yang amat nyaring dari atas puncak.

“Ah, Suhu sedang berlatih. Mari kau kubawa menghadap Suhu. Kau juga ikutlah Saudara Kam Seng. O ya, mana itu Supek-mu yang kau katakan datang bersamamu?”

“Supek sedang tergila-gila kepada pohon dan kembang, maka tertinggal di belakang.” Lili menerangkan sambil tertawa. Dia telah memungut kembangnya kembali dan memegang kembang itu dengan rasa sayang.

Akan tetapi Hong Beng meminta kembang itu dan berkata, “Lili, Suhu akan marah kalau melihat kembangnya dipetik orang.”

“Mengapa?” tanya Lili dengan heran.

“Menurut penuturan Suhu, kembang juga memiliki semangat seperti orang, maka memetik kembang yang sedang mekar berarti sama dengan membunuh orang muda seperti kita!”

Lili memandang kakaknya dengan mata terbelalak penuh rasa sesal. Akan tetapi sambil tertawa Hong Beng lalu menggandeng tangannya, kemudian mengajaknya berlari naik ke puncak dari mana terdengar suara tiupan suling yang aneh itu.

“Hayo, Kam Seng. Larilah yang cepat!” ajak Lili sambil menoleh ke belakang.

Dan merahlah muka Kam Seng karena mana bisa ia berlari cepat di jalan menanjak yang sukar itu? Terpaksa ia menguatkan kaki dan tubuhnya yang sudah lelah untuk mengikuti mereka, akan tetapi dia tetap tertinggal jauh.....

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Remaja Jilid 01-05"

Post a Comment

close