Serial Dewa Arak 05 - Banjir Darah Di Bojong Gading

Mode Malam
05 - Banjir Darah Di Bojong Gading

"Auuunggg...!"

Lolongan anjing hutan terdengar menggaung panjang, membuat suasana malam yang sudah menyeramkan, menjadi semakin seram.

Dalam suasana malam yang agak gelap itu, nampak sesosok bayangan kuning berkelebat. Dan menilik dari gerakannya, bisa diketahui kalau bayangan kuning ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Sosok bayangan kuning itu berlari terus dengan kecepatan tinggi. Ketika kebetulan cahaya sinar obor menjilat wajahnya, tampak kalau sosok bayangan kuning itu adalah seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun. Tubuhnya kecil kurus, dan wajahnya kecil mirip wajah seekor tikus. Kumisnya hitam dan jarang-jarang.

Si wajah tirus itu baru memperlambat langkahnya ketika mendekati sebuah bangunan besar yang berhalaman luas. Pagar yang terbuat dari kayu bulat yang kokoh kuat mengelilingi bangunan itu. Di atas pintu gerbang, terpampang sebuah papan tebal yang berukir indah. Di situ tertulis huruf-huruf yang ber- bunyi "Perguruan Naga Api".

Kakek berwajah tirus itu menghentikan langkah­nya di depan pintu gerbang perguruan yang tertutup rapat itu. Perlahan-lahan diketuknya pintu gerbang itu.

Tok...! Tok...!

Kelihatannya pelan saja kakek itu mengetuk, tapiAkibatnya cukup dahsyat. Seolah-olah pintu gerbang dari jati tebal itu digedor oleh balok kayu yang besar. Dan karuan saja suara berisik itu membuat para murid Perguruan Naga Api yang tengah bertugas jaga, berlarian mendekati pintu gerbang.

"Buka pintu gerbang...!" perintah salah seorang dari mereka yang bercambang bauk lebat.

"Tapi, Kang Somali," bantah seorang yang bertahi lalat besar di pipinya. "Bagaimana kalau orang yang mengetuk itu tidak bermaksud baik?"

Si cambang bauk lebat yang bernama Somali menatap tajam pada orang yang menyatakan dugaan itu.

"Tidak mungkin, Adi Prawira! Kalau orang itu bermaksud tidak baik, tak mungkin datang terang- terangan begitu."

Orang yang dipanggil Prawira mengangguk- anggukkan kepalanya, tanda menerima alasan Somali.

Segera Prawira melangkah maju. Diangkatnya palang kayu yang mengunci pintu gerbang itu, kemudian baru ditariknya daun pintu gerbang itu.

Kriiittt...!

Suara bergerit tajam terdengar mengiringi ter- bukanya pintu gerbang itu.

"Ah...! Kiranya Ki Temula...!" kata Prawira kaget. "Silakan masuk, Ki!"

Kakek berwajah tirus yang dipanggil Ki Temula hanya tersenyum. Kemudian dilangkahkan kakinya masuk ke dalam. Begitu kakek itu masuk, Prawira segera menutup pintu kembali.

"Apakah Adi Gayadi ada?" tanya Ki Temula, seraya memalingkan wajah ke arah Somali.

"Ada, Ki. Guru ada di dalam," jawab Somali.
"Apakah Aki ada keperluan dengan Guru?"
"Benar!" sahut kakek berwajah tirus itu singkat.
"Kalau begitu, mari kuantar untuk menemui beliau!"

Setelah berkata demikian, Somali segera bergerak melangkah mendahului. Ki Temula pun mengikutinya Sementara para murid yang tengah mendapat giliran jaga, kembali pada tugasnya masing-masing. Ki Temula memang sahabat kental Ketua Perguruan Naga Api. Sering mereka mengadakan pertemuan. Kadang-kadang di Perguruan Naga Api, dan sesekali di perguruan yang dipimpin Ki Temula ini. Tidak jarang pula, di hutan-hutan sunyi, atau di puncak- puncak gunung. Sehingga bukan merupakan hal yang mengejutkan kalau malam ini kakek berwajah tirus itu datang berkunjung.

Somali mengantarkan Ki Temula sampai di depan sebuah bangunan, tempat Ki Gayadi biasa ber- semadi. Biar ada peristiwa penting apa pun, biasanya Somali tidak akan berani memberitahukan pada gurunya, bila tengah bersemadi. Tapi, kedatangan Ki Temula merupakan suatu pengecualian.

Tok...! Tok...!

Somali menunggu sejenak sehabis mengetuk daun pintu pondok kecil itu.

"Siapa?!"

Terdengar sahutan dari dalam pondok itu. Nada- nya terdengar agak kasar, seperti orang yang merasa terganggu.

"Aku, Guru..!" sambut Somali cepat.
"Siapa?!" Kian keras suara dari dalam pondok itu.
"Somali, Guru."
"Hm.... Ada keperluan apa sehingga kau berani membangunkan aku, Somali?!"

Somali menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Hatinya memang merasa tidak enak juga, karena telah mengganggu ketenangan semadi gurunya.

"Aku mengantarkan Ki Temula yang ingin bertemu guru ..... "

Hening sejenak, setelah si cambang bauk itu menyelesaikan perkataannya. Tidak ada suara sahutan yang terdengar dari dalam pondok.

Somali dan Ki Temula menanti.

Kriiittt..!

Terdengar suara bergerit agak nyaring, disusul terbukanya pintu pondok kecil itu. Nampak di balik pintu itu berdiri sesosok tubuh pendek gemuk berwajah cerah, penuh senyum. Usianya paling banyak enam puluh tahun. Kakek inilah yang bernama Ki Gayadi, Ketua Perguruan Naga Api.

"Ha ha ha...! Kakang Temula, mari.... Silakan masuk, Kakang," ucap Ki Gayadi mempersilakan. Senyum lebar tersungging di wajahnya yang penuh keceriaan.

"Terima kasih, Adi Gayadi," sambut kakek berwajah tirus itu sambil melangkah masuk ke dalam.

Begitu Ki Temula telah melangkah masuk, Ki Gayadi kembali menutup pintu pondoknya. Somali yang tahu diri sudah lebih dahulu pergi, setelah memberi penghormatan pada kedua orang tua itu.

"Urusan apa yang membawa Kakang ke sini? Ataukah ada perubahan rencana pada pertemuan Kita tiga purnama mendatang?" tanya Ki Gayadi begitu menjatuhkan tubuh, duduk bersila di depan tamunya. Memang, kakek pendek gemuk ini merasa heran melihat kedatangan Ki Temula yang tidak diduga-duga itu.

Kakek berwajah tirus itu menundukkan kepalanya sebentar.

"Memang, aku mempunyai keperluan padamu, Adi Gayadi Makanya, malam-malam begini kupaksakan datang menemuimu."

"Kalau boleh kutahu, apa keperluan itu, Kang?"
"Membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, dengan cepat Ki Temula menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan.

Wusss...!

Ki Gayadi terkejut bukan main. Serangan itu datangnya terlalu tiba-tiba dan tidak tersangka- sangka. Apalagi, Ketua Perguruan Naga Api ini tengah duduk bersila dan tidak bersikap waspada. Bahkan jarak antara mereka terlalu dekat. Maka, walaupun kakek bertubuh pendek gemuk ini berusaha mengelak, tetap saja terlambat!

Bresss... !
"Aaakh...!"

Ki Gayadi berteriak keras memilukan. Pukulan jarak jauh itu telak dan kerasnya menghantam perutnya. Seketika itu juga tubuh kakek pendek gendut itu lerlempar jauh ke belakang menabrak dinding pondok yang terbuat dari papan.

Brak... !

Seketika itu juga dinding papan itu jebol, terlanda tubuh laki-laki tua Ketua Perguruan Naga Api.

Brukkk.. !

Terdengar suara berdebuk keras ketika tubuh Ketua Perguruan Naga Api itu jatuh ke tanah.

"Huakkk. .!"

Segumpal cairan kental berwarna merah keluar dari mulut kakek pendek gemuk yang berusaha bangkit dari terbaringnya.

"Hup...!"

Ki Temula melompat keluar, menyusul tubuh Ketua Perguruan Naga Api yang tergolek di sana. Ringan tanpa suara, kedua kakinya mendarat di tanah, di depan Ki Gayadi.

Laki-laki tua pendek gemuk itu berusaha bangkit, tapi luka dalam yang dideritanya terlalu parah, sehingga tak mampu berdiri. Pukulan yang dilepaskan Ki Temula memang hebat sekali, karena disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Seluruh tulang- belulangnya seolah-olah hancur berantakan semuanya.

"Pergilah ke neraka, Gayadi...!" dengus Ki Temula. Dingin dan datar suaranya. Dan tiba tiba saja kakinya bergerak menyepak.

Prak... !
"Aaakh...!"

Ki Gayadi memekik tertahan. Kepala kakek pendek gemuk ini pecah ketika kaki Ki Temula telak menghantamnya. Sesaat tubuhnya menggelepar-gelepar, sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi untuk selamanya.

***

"Ha ha ha...!"

Ki Temula tertawa terbahak-bahak melihat Ketua Perguruan Naga Api itu tewas. Sama sekali tidak dipedulikan derap langkah kaki yang menuju ke tempatnya berdiri. Memang suara jebolnya dinding papan itu telah didengar murid-murid Perguruan Naga Api. Mereka segera memburu ke arah asal suara itu.

"Guru...!" teriak Somali keras. Laki-laki bercambang bauk ini memang merupakan satu-satunya orang yang paling dekat jaraknya dari tempat gurunya terbantai. Memang, ruang semadi Ki Gayadi letaknya agak terpisah dari bangunan lainnya, tapi Somali saat itu tidak jauh dari situ.

Sepasang mata Somali menatap penuh rasa tidak percaya, pada sosok tubuh yang tergolek di tanah. Kemudian tatapannya berpindah pada Ki Temula yang tengah tertawa terbahak-bahak.

Ki Temula menghentikan tawanya ketika melihat kehadiran Somali. Sepasang matanya nampak beringas, memandang pemuda bercambang bauk lebat itu. Tapi Somali sama sekali tidak gentar. Kematian gurunya di tangan kakek kecil kurus yang berdiri di hadapannya ini, benar-benar membuatnya terpukul. Jelas, ini terjadi Akibat keteledorannya.

"Keparat..! Kau harus mengganti nyawa guruku dengan nyawamu!"

Srat.. !

Somali mencabut pedangnya, lalu....

"Heyaaat..!"

Didahului sebuah pekik melengking nyaring, pemuda bercambang bauk lebat ini melompat menerjang Ki Temula. Pedangnya diputar-putar- kannya di atas kepala sebelum dibabatkannya ke leher kakek pembunuh gurunya itu.

Singgg...!

Suara mendesing nyaring mengawali tibanya serangan pedang itu. Namun Ki Temula hanya mendengus.

"Susullah arwah gurumu ke neraka, manusia dungu...!" desis laki-!Aki berwajah tirus itu tajam. Kemudian tanpa ragu-ragu lagi, diulurkan tangan kanannya.

Tappp...!

Dengan sigap, pedang Somali ditangkap laki-laki tua berwajah tirus itu. Dan sebelum pemuda itu berbuat sesuatu, Ki Temula cepat menariknya. Tentu saja Somali yang tidak ingin pedangnya terebut, berusaha menahan sekuat tenaga. Tapi tenyata tenaganya kalah kuat. Apalagi tubuhnya sendiri saat itu tengah berada di udara. Maka tak pelak lagi, tubuhnya ikut tertarik oleh tenaga lawan.

Pada saat tubuh Somali mendekat, dengan cepat, Ki Temula menyodokkan ujung pedang ke perut Somali .

Ceppp...!
"Aaakh...!"

Somali menjerit ngeri. Gagang pedang itu tembus hingga ke punggungnya. Memang hebat tenaga dalam kakek itu. Dalam posisi terbalik, pedang itu mampu menembus perut pemuda bercambang bauk lebat itu.

Tapi, daya tahan tubuh Somali patut dipuji. Meskipun luka-luka yang diderita parah, dia masih mampu bertahan. Padahal, kedua kakinya tampak menggigil keras. Tentu saja hal ini membuat Ki Temula jadi kehilangan kesabarannya. Maka tangannya pun terayun menampar ke arah pipi.

Prak... !

Terdengar suara berderak keras ketika kepala pemuda bercambang bauk itu pecan terhantam tangan laki-laki tua itu. Tanpa sempat mengeluh lagi tubuh Somali terjerembab jatuh.

Tepat saat tubuh Somali ambruk, murid-murid Perguruan Naga Api yang lain pun tiba. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati mereka melihat dua sosok tubuh yang tergeletak di tanah. Berkat sinar obor yang terpancang di sudut rumah, mereka dapat melihat jelas dua sosok tubuh yang tergeletak diam tidak bergerak itu.

"Guru...!" teriak mereka berbareng. Beberapa saat lamanya berpasang-pasang mata terpaku menatap tak percaya sosok tubuh yang tergolek di tanah.

Melihat kesempatan yang baik itu, Ki Temula tidak menyia-nyiakannya.

"Hup...!"

Kakek kecil kurus berwajah tirus ini segera melesat dari situ. Cepat bukan main gerakannya, sehingga dalam sekejap mata saja tubuhnya sudah berjarak sepuluh tombak dari tempat semula.

Melihat Ki Temula melarikan diri, para murid perguruan itu pun tersadar.

"Pembunuh keparat itu kabur...!" teriak Prawira.
"Kejar...!" sambut yang lain.

Tak pelak lagi, sebagian besar dari mereka berlari mengejar Ki Temula. Sementara sisanya menghampiri mayat Ki Gayadi dan Somali.

Mereka segera mengangkat tubuh-tubuh yang telah kaku itu ke ruang utama perguruan.

Sementara itu, sepertinya Prawira dan beberapa murid perguruan tak mampu mengejar Ki Temula. Ilmu meringankan tubuh kakek berwajah tirus itu berada jauh di atas mereka. Maka, tanpa mengalami kesulitan kakek itu berhasil melompati pagar dari kayu bulat dan kuat yang mengelilingi bangunan besar berhalaman luas itu.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara kedua kaki Ki Temula mendarat ringan di tanah. Dan sekali tubuh kakek ini melesat, tubuhnya pun lenyap ditelan kegetapan malam.

"Keparat..!" maki Prawira yang kalang kabut melihat buronannya berhasil kabur dari situ.

***

Beberapa saat lamanya, Prawira dan murid-murid lainnya menatap ke arah kepergian Ki Temula. Wajah mereka menyiratkan perasaan dendam dan kemarahan yang amat sangat. Beberapa saat kemudian, dengan langkah bergegas mereka semua melesat ke ruang utama perguruan tempat Ki Gayadi dan Somali dibaringkan.

"Bagaimana, Kakang Branta?" tanya Prawira pada seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun. Napas pemuda bertahi lalat besar ini agak memburu.

Orang yang dipanggil Branta tersenyum getir.

"Beliau telah tewas...," sahui Branta lirih.

"Keparat..!" Prawira berteriak keras. "Keparat kau. Ki Temula! Tunggulah pembalasanku...!"
"Tutup mulutmu, Prawira...!" bentak Branta keras .

Seketika sepasang mata Branta tampak berKilat penuh kemarahan ketika menatap wajah adik seper- guruannya itu. Memang, di Perguruan Naga Api hanya tinggal satu orang murid kepala, yaitu Branta. Sementara murid tingkat dua ada dua orang, yaitu Somali dan Prawira.

Sebenarnya, masih ada tokoh yang terhitung sesepuh di Perguruan Naga Api. Dia adalah kakak seperguruan Ki Gayadi yang bernama Ki Santa. Hanya sayangnya beliau jarang ikut campur dalam urusan perguruan. Kakek itu lebih suka bersemadi dan menyepi.

Mendengar bentakan Branta, Prawira langsung melengak kaget .

"Mengapa, Kang?! Tidak bolehkah aku membalas dendam pada orang yang membunuh Guru secara licik itu?!" sergah pemuda Itu. Ada nada penasaran dalam suaranya.

Branta menatap Prawira tajam, tapi yang ditatap malah membalas tidak kalah tajamnya pula. Beberapa saat lamanya kedua pasang mata itu saling tatap.

"Hhh...!"

Setelah Branta menghela napas panjang, dialihkan pandangannya dari Prawira. Dia tahu kalau diterus- kan mungkin tidak akan bisa menahan diri. Dan ucapan Prawira yang berani menentangnya secara jelas di depan murid-murid lainnya membuat amarah- nya bangkit. Hanya saja, Branta tidak ingin menambah suasana yang sudah rusuh ini menjadi semakin rusuh oleh keributan dengan Prawira.

Maka, walaupun dadanya terasa sesak oleh hawa amarah yang membakar. Branta tetap menyabarkan hatinya. Dialihkan pandangannya pada wajah adik- adik seperguruan yang lain. Sudah bisa diduga kalau di wajah mereka tersirat adanya ketidakpuasan pada sikapnya yang membentak Prawira.

"Kuharap kalian semua bisa menahan diri, dan jangan mudah terpancing oleh peristiwa ini. Yang paling penting bagi kalian adalah berpikir secara jernih. Buangiah jauh-jauh perasaan amarah yang melanda hati kalian," ujar Branta menenangkan adik- adik seperguruannya.

"Kakang. Guru telah dibunuh orang! Dan sekarang kau menyuruh kami bersabar?! Bahkan melarang kami untuk membalas dendam. Murid macam apa kau ini?!" sergah Prawira keras.

"Jaga mulutmu, Prawira! Redakan amarahmu! Bukan hanya kau saja yang terpukul dan dendam atas kematian Guru!" tegas Branta.

Prawira pun terdiam. Disadari kebenaran ucapan kakak seperguruannya ini. Tapi amarah yang ber- kobar di dalam dada, membuatnya menuduh kehati- hatian kakak seperguruannya itu, sebagai sikap pengecut! Hanya saja, perasaan segan pada kakak seperguruannya, memaksanya untuk diam, dan tidak membantah lagi. Dia bertekad akan membalaskan dendam ini secara diam-diam.

"Sudahlah...! Kita pikirkan hal itu nanti. Sekarang yang penting, uruslah mayat-mayat ini," ucap Branta lagi mengalihkan persoalan.

Pemuda bermata sayu ini sudah merasa lega melihat usahanya meredakan amarah Prawira telah berhasil. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Prawira masih sangat penasaran, dan bertekad akan mencari pembunuh gurunya itu.

Setelah berkata demikian, Branta lalu mengangkat mayat gurunya dan membawanya masuk ke dalam. Prawira pun mengikutinya sambil memanggul tubuh Somali.Seorang pemuda berambut putih keperakan dan dibiarkan meriap, melangkah pelahan memasuki mulut sebuah hutan. Di punggungnya tersampir sebuah guci arak yang terbuat dari perak.

Baru saja beberapa langkah, kening pemuda ini mendadak berkerut. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya banyak langkah kaki yang menuju ke arahnya. Tapi pemuda yang tak lain Arya Buana atau lebih terkenal dengan julukan Dewa Arak, tidak mempedulikannya. Dewa Arak pura-pura tidak tahu dan terus saja melangkahkan kakinya.

Benar saja. Beberapa langkah kemudian, Dewa Arak sudah melihat serombongan orang yang rata- rata berusia muda.

Jumlah mereka tak kurang dari dua puluh orang, dan semuanya berpakaian warna putih-putih. Di bagian dada sebelah kiri, ada sulaman gambar kepala naga yang tengah menyemburkan api.

Sekali lihat saja Dewa Arak tahu kalau rombongan itu berasal dari sebuah perguruan beraliran putih. Hal ini bisa diketahui dari sikap mereka yang rata-rata tidak menampakkan keliaran dan kecongkakan.

Hanya saja yang membuat Dewa Arak tidak habis pikir, adalah wajah mereka yang rata-rata mem- bayangkan kemarahan hebat. Dewa Arak pun mem- pertajam pendengarannya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka, walaupun jaraknya cukup jauh dengan mereka.

"Kita harus membalas dendam..! Semalam aku ragu mendengar kata-kata yang diucapkan KakangBranta. Tapi, tak lama kemudian aku teringat. Ternyata pembunuh itu menggunakan ilmu 'Cakar Garuda' ketika membunuh Kakang Somali."

"Benar, Kakang Prawira! Kau harus membalas dendam pada kakek itu!" sambut yang lainnya.

Dewa Arak mengerutkan alisnya. Dia seketika menduga kalau rombongan ini pasti hendak ber- tarung.

Semakin lama jaraknya dengan rombongan itu semakin dekat. Dan dengan sendirinya percakapan mereka pun semakin jelas terdengar telinganya. Tak lama kemudian Dewa Arak berpapasan dengan mereka pada sebuah jalan kecil yang di kanan kirinya ditumbuhi semak-semak dan pohon-pohon rimbun.

Kekaguman Dewa Arak semakin bertambah, ketika melihat rombongan itu menghentikan langkah- nya. Bahkan menggeser tubuh mereka ke pinggir, memberi jalan padanya untuk lewat. Baru setelah Arya lewat, mereka kembali melanjutkan langkahnya.

Arya ragu-ragu untuk meneruskan langkahnya. Simpatinya seketika timbul melihat sikap mereka. Ingin diketahui, masalah apa yang membuat pemuda- pemuda gagah itu hendak bertarung. Memang dari ucapan yang tadi sempat didengar, diketahui kalau rombongan itu ingin membalas dendam. Tapi pada siapa?

Beberapa saat lamanya batin pemuda ini ber- perang, antara melanjutkan perjalanannya ataukah mengikuti rombongan pemuda gagah itu tadi. Akhirnya, Dewa Arak memutuskan untuk mengikuti rombongan berseragam putih-putih itu. Langkahnya segera dihentikan dan berbalik ke arah yang tadi ditinggalkan. Sesaat matanya menatap ke arah pohon di depannya, dan
"Hup...!"

Ringan tanpa suara, kedua kakinya hinggap di cabang sebatang pohon, kemudian melompat ke cabang lainnya. Begitu seterusnya. Sehingga tak lama kemudian, rombongan orang berseragam putih-putih itu terlihat kembali.

Kening Dewa Arak berkernyit ketika melihat rombongan pemuda itu mulai mendaki lereng gunung. Pemuda berambut putih keperakan itu tahu kalau yang mereka daki itu adalah Gunung Munjul, yang pada salah satu lerengnya terdapat sebuah perguruan yang bernama Perguruan Garuda Sakti. Apakah rombongan orang itu hendak menuju ke sana? Maka perasaan tidak enak pun menjalari hati Dewa Arak. Karena yang diketahuinya, Perguruan Garuda Sakti adalah sebuah perguruan beraliran putih.

Dugaan Dewa Arak tidak meleset. Rombongan itu ternyata benar menuju Perguruan Garuda Sakti, dan rata-rata gerakan mereka cukup gesit ketika mendaki lereng gunung itu.

Tak lama kemudian, rombongan itu pun sudah mendekati pintu gerbang Perguruan Garuda Sakti. Dan rupanya dua orang murid Perguruan Garuda Sakti yang tengah menjaga pintu gerbang itu melihat kehadiran rombongan itu. Nampak jelas kalau dua orang penjaga itu agak bingung melihatnya.

Tapi sebelum mereka sempat bertindak, tiba-tiba saja rombongan murid Perguruan Naga Api yang dipimpin Prawira itu meluruk menyerbu.

"Serbuuu...!"

Maka serentak dua puluh orang murid Perguruan Naga Api itu meluruk ke arah pintu gerbang.

Singgg...! Singgg...!

Suara desing golok dan pedang yang melesat keluar dari sarungnya, menyemaraki suasana yang hening dan sepi itu. Melihat hal ini, karuan saja dua orang murid Perguruan Garuda Sakti yang menjaga pintu gerbang itu terkejut. Serentak keduanya mencabut senjatanya masing-masing, mencoba meng-halau serbuan dua puluh orang itu.

Sementara Dewa Arak yang melihat hal itu tidak berani gegabah ikut campur, karena belum tahu masalahnya. Ikut campur tangan sebelum tahu masalahnya merupakan perbuatan tidak bijaksana.

Lagi pula, dua puluh orang itu kelihatannya ber- sikap ksatria. Jelas mereka kelihatan tidak bermain curang. Buktinya dua orang penjaga itu tidak di- keroyok melainkan diserang oleh dua di antara mereka. Sedangkan sisanya menyerbu masuk. Dewa Arak memutuskan untuk menonton saja sambil ber- tengger di atas sebuah cabang pohon.
Trang..! Trang...!

Denting suara senjata beradu terdengar ketika dua orang penjaga pintu gerbang itu menangkis dua buah serangan yang mengancam nyawa mereka. Sesaat kemudian keempat orang itu sudah terlibat pertarungan mati-matian.

Sementara itu, Prawira dan rekan-rekan lain menerobos masuk. Mereka segera berhadapan dengan murid-murid Perguruan Garuda Sakti. Tak pelak lagi. pertarungan massal pun terjadi .

Mulanya pertarungan itu berjalan seimbang. Tapi lama-kelamaan, mulal nampak kalau Prawira dan rekan-rekannya lebih unggul katimbang mereka. Memang rombongan yang menyerbu adalah murid- murid pilihan, walau bukan murid-murid kepala. Sementara di Perguruan Garuda Sakti, hanya ter- dapat murid-murid rendahan.

"Aaa...!"

Jerit kematian pertama terdengar dari mulut penjaga pintu gerbang ketika golok murid Perguruan Naga Api menembus perutnya hingga ke punggung.

"Aaakh...!"

Kembali salah seorang murid Perguruan Garuda Sakti memekik tertahan ketika pedang di tangan lawan memenggal lehernya hingga buntung. Beberapa saat lamanya tubuhnya menggelepar- gelepar sebelum akhirnya, diam tidak bergerak lagi.

Belum lama tubuh orang kedua itu roboh ke tanah, terdengar lagi jerit kematian dari mulut murid Perguruan Garuda Sakti Satu persatu tubuh mereka berguguran ambmk ke tanah.

Dewa Arak mengerutkan alisnya. Pandangan matanya yang tajam, dapat melihat adanya sosok tubuh yang bersembunyi di balik wuwungan rumah. Dan hal ini membuat Dewa Arak heran. Menilik dari pakaiannya yang berwarna kuning, dapat diper- kirakan kalau yang bersembunyi itu adalah orang Perguruan Garuda Sakti. Tapi mengapa tidak mem- bantu murid-murid perguruan yang dalam keadaan kritis itu?

Belum lagi Dewa Arak menemukan jawabannya, dari dalam salah satu bangunan berkelebat sesosok tubuh. Dan tahu-tahu, di arena pertarungan telah berdiri seorang kakek bertubuh tinggi kurus dan berwajah mirip kuda.

"Mundur semua...!" teriak kakek muka kuda itu.

Seketika itu juga, murid-murid Perguruan Garuda Sakti yang tengah bertarung berlompatan mundur. Sedangkan murid-murid Perguruan Naga Api tidak mengejar, dan hanya berlompatan mundur untuk berkumpul.

Kakek muka kuda itu memandang berkeliling. Wajahnya nampak beringas melihat murid-murid Perguruan Garuda Sakti yang bergeletakan tanpa nyawa di sana-sini.

"Kalian semua harus mati...!" dengus kakek itu dingin.
"Hiyaaa...!"

Tubuh kakek muka kuda melesat ke arah kumpulan murid-murid Perguruan Naga Api. Sasaran pertama adalah seorang murid bernama Kelana yang berada paling depan.

Wut.. !

Tangan kakek muka kuda itu melayang deras ke arah kepala pemuda berkuping caplang itu. Tentu saja Kelana tidak membiarkan kepalanya hancur ditampar tangan mengandung tenaga dalam tinggi itu. Buru-buru disabetkan pedangnya pada tangan yang menampar itu.

Trak...!

Pedang itu langsung patah begitu tertangkis tangan si kakek muka kuda. Karuan saja hal ini membuat Kelana kaget bukan main. Belum lagi pemuda ini sadar, kaki kanan kakek itu sudah melayang ke arah dadanya.

Buk... !
"Aaakh...!"

Dengan deras dan keras, kaki itu menghantam dadanya. Seketika itu juga tubuh Kelana terlempar jauh ke belakang dan jatuh di tanah menimbulkan suara berdebuk nyaring. Darah segar langsung berhamburan dari mulut, hidung dan telinganya. Saat itu juga nyawa pemuda itu melayang meninggalkan raganya. Tulang dadanya remuk seketika.

Tidak hanya sampai di situ saja yang dilakukan si kakek muka kuda. Patahan pedang Kelana yang berada di tangannya langsung dilesatkan ke arah lawannya.

Singgg...!
Cappp.. !
"Aaa...!"

Seorang yang bertubuh pendek menjerit panjang ketika patahan pedang itu menancap di perutnya hingga tembus ke punggung. Beberapa saat lamanya tubuh laki-laki itu menggelepar-gelepar di tanah sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi.

"Serbuuu...!" perintah Prawira keras. Pemuda ini sadar kalau lawan di hadapannya memiliki kepandaian tinggi. Jadi kalau dihadapi seorang demi seorang hanya akan mengantarkan nyawa sia-sia.

Kini delapan belas orang murid Perguruan Naga Api itu, menyerbu kakek muka kuda secara ber- bareng. Belasan senjata tajam berkelebat meng- ancam sekujur tubuhnya.

Tapi si kakek muka kuda itu hanya mendengus. Bahkan enak saja menyelinap di antara hujan senjata yang menyambar tubuhnya. Sehingga, tak satu pun serangan pengeroyoknya yang mengenai sasaran.

Selama beberapa gebrakan, kakek muka kuda ini hanya mengelak. Dan pada saat mempunyai kesempatan, mulai balas menyerang. Tangan dan kakinya segera berkelebat, mencari sasaran yang mematikan.

Plak! Buk!
"Aaakh... !"
"Aaa...!"

Dua orang pengeroyoknya menjerit tertahan dan langsung roboh ke tanah, tidak bergerak lagi untuk selamanya.

Tamparan dan tendangan yang ditunjang tenaga dalam tinggi itu memang tidak mungkin bisa ditahan, sehingga dada dan perut mereka hancur!

Tentu saja hal ini membuat Prawira dan rekan- rekannya semakin marah. Akibatnya, serangan yang dilancarkan pun semakin dahsyat Tapi, karena tingkat kepandaian mereka memang terpaut jauh, maka tidak sulit bagi kakek muka kuda untuk mengelakkan setiap serangan.

Dewa Arak kaget bukan main melihat hal ini. Sungguh tidak disangka kalau kakek muka kuda itu bersikap begitu telengas. Seperti tidak berperasaan, begitu enaknya dia membunuhi murid-murid Perguruan Naga Api yang telah bersikap begitu ksatria.

Jiwa kependekaran Dewa Arak pun bangkit, karena tidak suka melihat kekejaman kakek Itu. Masalahnya, dia sendiri hampir tidak pernah membunuh sembarangan orang, sekalipun lawannya itu seorang penjahat! Tapi, kakek muka kuda itu begitu gampangnya membunuhi murid Perguruan Naga Api. Padahal dari sikap yang ditunjukkan, jelas kalau mereka adalah golongan penentang ketidakadilan.

Segera saja Dewa Arak melompat turun dari cabang pohon yang sejak tadi didudukinya, dan langsung meluruk ke arena pertempuran. Sempat dilihatnya orang yang bersembunyi di balik wuwungan itu melesat kabur.

Saat itu, Prawira tengah menyerang kakek muka kuda dengan sebuah tusukan ke arah perut. Seketika kakek muka kuda melangkahkan kakinya ke belakang. Sehingga tusukan pedang itu tidak menemui sasaran. Sebelum Prawira menarik pulang serangan, tangan kakek itu telah lebih dulu menangkap pedangnya.

Prawira yang mengetahui adanya bahaya besar yang mengancam, tidak berani bersikap malu-malu. Buru-buru dilepaskan pedangnya, dan secepat itu pula dilempar tubuhnya ke belakang.

Tapi kakek muka kuda itu ternyata tidak mem- biarkannya lolos. Begitu Prawira melempar tubuh ke belakang segera dihentakkan kedua tangannya ke depan.

Wut!

Angin berhembus keras ke arah tubuh pemuda bertahi lalat besar itu. Tentu saja wajah Prawira memucat, karena menyadari adanya bahaya maut mengancam. Jelas, dia tidak mampu mengelak- kannya.

Tapi di saat kritis itu, dari arah yang berlawanan tiba-tiba berhembus angin keras yang memapak angin pukulan kakek muka kuda. Tak dapat dicegah lagi, dua angin pukulan itu kini bertemu di udara.

Blarrrr...!

Ledakan keras seketika terdengar begitu dua angin pukulan itu bertemu. Sekitar tempat itu sampai bergetar Akibat ledakan itu.

Bukan hanya itu saja. Bahkan para murid Perguruan Naga Api yang berada dekat situ kontan berpentalan ke belakang, Akibat pengaruh getaran tadi.

"Keparat..!" maki kakek muka kuda.

Sebagai orang yang telah mempunyai pengalaman luas, kakek ini tahu kalau ada orang berkepandaian tinggi yang telah menyelamatkan korbannya. Dan tentu saja hal ini membuatnya geram bukan main.

Dengan pandang mata marah, diarahkan sepasang matanya ke arah asal angin pukulan tadi.

Di sebelah kanan Prawira yang kini telah selamat hinggap di tanah, tampak seorang pemuda berambut putih keperakan yang tengah berdiri tenang. Di tangan kanannya telah tergenggam sebuah guci arak yang terbuat dari perak.

"Siapa kau?!" tanya kakek muka kuda. Kasar dan keras suaranya. "Mengapa mencampuri urusanku!"

Pemuda yang tak lain dari Dewa Arak itu ter- senyum getir.

"Aku Arya. Sudah menjadi watakku untuk tidak membiarkan melihat kekejaman berlangsung di depan mataku!" sahut Dewa Arak, keras dan tegas suaranya.

"Ketidakadilan?! Apa maksudmu, Anak Muda?! Apakah yang kau maksud dengan ketidakadilan itu? Apakah tindakanku yang telah menghukum orang- orang yang telah mengacau dan membunuhi murid- muridku salah?!"

"Kau terlalu kejam, Ki!" tandas Arya tajam.

"Kuperingatkan padamu, Anak Muda. Ini adalah urusan dalam perguruan. Perguruanku dikacau, dan murid-muridku dibantai! Adalah hakku untuk meng­hukum si pengacau. Dan ini tidak ada sangkut pautnya denganmu!" tegas kakek muka kuda, langsung merah mukanya.

Dewa Arak menggelengkan kepalanya.

"Sayang sekali, Ki. Sejak mulai mempelajari ilmu silat, aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan adanya kekejaman berlangsung di depan mataku!" tegas Arya.

"Kau keras kepala, Anak Muda! Tapi..., tunggu dulu! Katamu tadi namamu Arya?" tanya kakek muka kuda. Sepasang matanya menatap Dewa Arak penuh selidik. Kemarahannya pun seketika mereda, ketika mengingat nama Arya Buana.

"Begitulah nama yang diberikan orang tuaku, Ki."

"Arya?!" ulang kakek itu. Sepasang alisnya berkerut "Rasanya aku pernah mendengar orang yang mempunyai nama seperti itu?! Kalau tidak salah..., Arya Buana. Apa betul itu namamu?!"

"Benar, Ki. Namaku adalah Arya Buana. Aki sendiri siapa?" tanya Dewa Arak yang kemarahannya juga telah mereda.

"Aku? Namaku tidak sekondang dirimu, Anak Muda! Bukankah kau yang berjuluk Dewa Arak? Aku tahu, orang sering membicarakanmu!" ujar orang tua itu, yang mulai merendah. Dia memang merasa tidak mungkin mampu berhadapan dengan tokoh yang telah terkenal kedigdayaannya.

"Ah...! Berita itu terlalu berlebih-lebihan, Ki," ucap Arya merendah. "Apakah Aki bernama Ki Temula, Ketua Perguruan Garuda Sakti itu?!"

Kakek muka kuda itu menggelengkan kepalanya.

"Bukan. Namaku Ki Matija. Sedangkan Ki Temula adalah kakak seperguruanku. Sayang sekali dia sudah enam hari masuk ruang semadi, sehingga tidak bisa keluar sekarang. Dan kalau tidak salah, besok baru bisa keluar."

"Bohong! Kau bohong, Ki Matija!" teriak Prawira. Keras sekali suaranya.

Wajah kakek muka kuda yang bernama Ki Matija itu memerah. Sepasang matanya memancarkan kemarahan ketika menatap pemuda bertahi lalat besar itu.

"Tutup mulutmu, pengacau! Kalau tidak me- mandang Dewa Arak, sudah kubunuh kau!"

"Demi membela kehormatan, bagiku mati tidak berarti apa-apa, Ki Matija! Tidak seperti kau, pengecut!" teriak Prawira sambil menuding ke arah laki-laki tua muka kuda itu.

"Keparat...! Akan kuadukan sikapmu yang tidak pantas ini pada gurumu!" bentak Ki Matija.
"Tidak perlu berpura-pura bodoh, Ki Matija!"

Ki Matija yang memang mempunyai sifat pemberang, seketika wajahnya merah padam. Sikap Prawira dirasakan sudah keterlaluan. Bahkan Dewa Arak pun terkejut melihatnya. Tapi belum sempat Ki Matija dan Dewa Arak berbuat sesuatu, Prawira telah melanjutkan ucapannya.

"Kau pikir untuk apa kami semua ke sini mem- pertaruhkan nyawa, Ki Matija?! Dengarlah baik-baik! Kami datang untuk membalaskan kematian guru kami! Kau tahu, Ki Gayadi telah dibunuh Ki Temula secara licik! Maka, demi budi baik dan kehormatan Ki Gayadi, kami semua rela mati di sini!"

"Apa?!" sepasang mata Ki Matija membelalak lebar. "Ki Gayadi tewas?! Benarkah apa yang kau ucapkan ttu, Anak Muda? Kapan dia tewas?"

Nampak jelas kalau kakek muka kuda itu kaget bukan main. Bahkan Dewa Arak sendiri terkejut mendengarnya. Pemuda ini sadar kalau persoalan yang dihadapi bukan persoalan kecil. Bahkan bisa terjadi pertumpahan darah antara dua perguruan ini!

"Semalam!" sahut Prawira keras.

Sesaat lamanya keheningan melanda tempat itu. Berita yang dikatakan Prawira memang membuat terkejut semua orang yang ada di situ.

"Benarkah apa yang kudengar ini? Benarkah Adi Gayadi telah mendahuluiku?" tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh sebuah suara.

Dan belum lagi gema suara itu lenyap, sesosok bayangan berkelebat dan telah berdiri di tengah- tengah mereka. Tampak di situ seorang kakek kecil kurus berwajah tirus mirip tikus.

"Kakang...!" seru Ki Matija kaget melihat kehadiran kakak seperguruannya.

Prawira mendesis melihat kehadiran kakek itu. Perasaan geram yang hebat tersirat di wajahnya. Tapi baru saja dia hendak bergerak. Dewa Arak telah lebih dulu memegang pergelangan tangannya.

"Tenangiah, Kisanak. Dalam persoalan sebesar ini, tidak baik bersikap ceroboh. Lebih baik, dengar dulu apa yang dikatakan Ki Temula," ucap Arya menasehati.

Prawira menoleh, dan menatap Dewa Arak lekat- lekat. Pemuda berambut putih keperakan itu ter- senyum lalu menganggukkan kepalanya.

"Hhh."

Prawira menghela napas panjang. Kedua tangan­nya yang semula sudah menegang penuh kemarahan, pelahan mengendur. Dilangkahkan kakinya ke belakang. Dia memang telah percaya penuh pada Dewa Arak. Sebab tanpa pertolongan pendekar kondang itu, mungkin dia dan seluruh rekannya telah tewas di tangan Ki Matija.

"Ah...! Tidak salahkah pengilhatanku ini? Benarkah Dewa Arak yang telah menggemparkan dunia persilatan itu, yang berkunjung ke sini?" ucap kakek kecil kurus itu. Pandangan matanya memancarkan ketidakpercayaan melihat kehadiran Dewa Arak di sini.

Wajah Arya memerah karena merasa malu.

"Ah! Berita itu terlalu dilebih-lebihkan, Ki." elak Dewa Arak malu. "Mana bisa dibandingkan dirimu, Ki. Hampir semua orang tahu siapa dirimu, Ki. Bahkan para prajurit dan Panglima pilihan Kerajaan Bojong Gading berasal dari perguruan ini!"

"Aku dan rekan-rekanku datang kemari untuk membalaskan kematian guruku. Ki Temula!" selak Prawira. Pemuda bertahi lalat besar ini menjadi tidak sabar melihat orang yang dicari malah terlibat pembicaraan dengan Dewa Arak.
Ki Temula segera megnalihkan perhatiannya.

"Semua pembicaraanmu telah kudengar, Anak Muda," sahut kakek kecil kurus yang bernama Ki Temula ini. Suaranya terdengar pelan. "Mungkin perlu kuberitahukan padamu, bahwa telah enam hari lamanya aku tidak keluar dan ruang semadi. Kalau tidak percaya pada ucapanku, kau boleh bertanya pada semua muridku yang ada di sini. Mungkin perlu kau ketahui, Anak Muda.... Ki Gayadi adalah segala- nya bagiku. Dia tidak hanya sekedar seorang sahabat. Bahkan boleh dikatakan kami seperti kakak adik. Jadi kesedihanmu atas kematian gurumu itu mungkin tidak sebesar kesedihanku. Hanya ini yang bisa kukatakan padamu. Sekarang terserah bagaimana penilaianmu. Tapi yang jelas, aku tidak akan tinggal diam. Aku juga akan mencari orang yang telah memakai namaku, dan membunuh sahabat terbaik- ku."

Prawira dan rekan-rekannya terdiam. Mereka melihat adanya nada kesungguhan pada suara dan wajah kakek kecil kurus itu. Keragu-raguan kembali melanda hati mereka. Tentu saja hal ini membuat bingung. Kalau bukan kakek ini lalu siapa orang yang telah datang kemarin malam itu?

Dalam kebingungannya. Prawira menatap satu persatu rekan-rekannya. Tapi semua rekannya malah menundukkan kepala. Makin bingungiah hati pemuda ini. Dipandangnya Dewa Arak. Dari sinar matanya, jelas kalau dia meminta pendapat pemuda berambut putih keperakan itu.

Dewa Arak mulanya tidak ingin ikut campur, karena ini adalah urusan dalam kedua perguruan itu. Tapi ketika Prawira memandangnya dengan sorot mata penuh permohonan, terpaksa Dewa Arak ikut campur.

"Kalau menurut pendapatku, jelas ada orang yang sengaja mengadu domba dengan jalan membunuh Ki Gayadi," ucap Arya mengemukakan pendapat.

Ki Temula mengerutkan alisnya. Memang dugaan Dewa Arak masuk akal. Tapi yang masih menjadi pertanyaan, untuk apa si pengadu domba itu melaku- kan semua ini?

"Kau yakin kalau yang membunuh gurumu adalah aku, Anak Muda?" tanya Ki Temula pada Prawira.

Prawira yang kini sudah mereda amarahnya menganggukkan kepala.

"Jelas sekali aku melihatmu, Ki. Bahkan bukan hanya aku saja. Masih ada tiga orang lagi yang melihatnya. Sayang, dua di antara mereka sudah tewas. Yang tersisa hanya aku dan Sentanu," jawab pemuda itu sambil menunjuk pemuda berhidung besar di sebelahnya.

Lagi-lagi kakek kecil kurus itu menghela napas panjang.
"Matija," panggil Ki Temula pada kakek muka kuda itu.

"Ya, Kang"

"Kau kutugaskan untuk menyelidiki peristiwa ini. Cari, siapa pembunuh Ki Gayadi! Siapa pun dia, kalau bisa kau tangkap hidup-hidup, bawa dia ke hadapanku! Tapi, kalau dia mati di tanganmu, bawa mayatnya pun tidak apa-apa. Yang perlu kutegaskan adalah, kau harus bertindak tegas. Sekalipun orang itu aku sendiri. Ingat, kebenaran tidak mengenal tali persaudaraan! Mengerti, Matija!"

"Mengerti, Kang," sahut kakek muka kuda itu seraya menganggukkan kepalanya.
"Bagus!"
"Kapan aku harus berangkat, Kang?"
"Sekarang juga! Aku tidak ingin persoalan ini menjadi berlarut-larut!" tegas Ki Temula.
"Baik, Kang!"

Setelah berpamitan pada kakak seperguruannya dan pada Dewa Arak, Ki Matija berkelebat dari situ. Cepat bukan main gerakannya. Sehingga dalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap di balik pagar. Memang ilmu meringankan tubuh kakek muka kuda itu hampir mencapai tingkat kesempurnaan.

"Sekarang masalah ini sudah kita selesaikan. Aku harap, kalian kembali ke perguruan. Aku yakin, kedatangan kalian kemari tanpa seijin Ki Santa!" tebak Ki Temula pelan.

Prawira dan rekan-rekannya memasukkan kembali senjata-senjata yang digenggam ke dalam sarung masing-masing
"Kami pergi dulu, Ki," pamit Prawira.

"Silakan. O, ya. Kalau murid-murid utamaku telah kembali, aku akan datang menjenguk ke sana. Sampaikan salamku pada Ki Santa!"

"Akan kusampaikan, Ki!"

Ki Temula dan Dewa Arak memandangi kepergian murid-murid Perguruan Naga Api itu hingga lenyap di balik pagar.

"Terima kasih, Dewa Arak. Tanpa campur tangan­mu, mungkin persoalan ini kian membesar. Dan Akibatnya bukan hanya bagi dua perguruan saja, tapi kemungkinan besar akan merembet ke Kerajaan Bojong Gading. Karena, banyak murid Perguruan Naga Api dan Perguruan Garuda Sakti yang menjadi prajurit dan panglima di sana! Syukurlah, kau telah bertindak tepat'"

"Ah! Kau terlalu berlebihan memuji, Ki!" sambut Dewa Arak merendah.

"Ha ha ha...! Semua berita yang kudengar cocok sekali dengan apa yang kulihat. Kau memang mengagumkan, Dewa Arak! Mari, mari masuk...!"

Ki Temula melangkah mendahului masuk ke dalam salah satu bangunan, diikuti Dewa Arak.Murid-murid Perguruan Naga Api berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Lincah laksana kera, mereka melompat ke sana kemari, menuruni lereng. Dan tak lama kemudian, mereka pun telah memasuki hutan. Karena medan ini lebih mudah ditempuh, maka perjalanan pun jadi lebih cepat.

Tapi, ketika mereka sampai di tempat saat ber- papasan dengan Dewa Arak, langkah mereka serentak terhenti. Pandangan mata mereka ter- tumbuk pada sosok tubuh yang berdiri menghadang jalan.

Prawira dan kawan-kawannya kaget seketika. Jelas sekali mereka mengenali sosok tubuh yang meng­hadang jalan itu. Seorang kakek kecil kurus ber- pakaian kuning. Wajahnya tirus mirip wajah seekor tikus. Siapa lagi kalau bukan wajah Ki Temula.

Melihat sikap yang dttunjukkan Ki Temula, Prawira merasakan adanya bahaya mengancam.

Srat.. !

Tanpa ragu-ragu lagi, pemuda bertahi lalat besar di wajah itu menghunus pedangnya.

Srat.. ! Srat.. !

Adik-adik seperguruan Prawira pun segera meng­ikuti tindakannya. Prawira melangkah waspada. Selangkah demi selangkah pemuda bertahi lalat besar ini berjalan. Dan dengan demikian, jarak di antara mereka pun semakin bertambah dekat."Maai, Ki. Mengapa kau menghadang perjalanan kami? Apakah ada sesuatu yang hendak dibicara- kan?" tanya Prawira. Dicobanya mengusir dugaan jelek yang muncul.

"Ha ha ha...!" kakek kecil kurus itu tertawa. Dan secara mendadak pula dihentikan tawanya. "Enak saja! Sehabis mengacau, dan membunuh ingin pergi begitu saja, heh! Orang seperti kalian harus mati!"

Wajah murid-murid Perguruan Naga Api kontan berubah hebat!

"Apa maksudmu, Ki? Bukankah baru saja kau telah mengutus Ki Matija untuk membuat masalah ini jadi jelas? Tapi, mengapa sekarang bersikap lain? Kami jadi tidak mengerti!" tanya Prawira keras.

"Kalian tidak perlu mengerti!" sergah kakek kecil kurus itu. "Yang jelas, kalian harus mampus! Habis perkara! Hiyaaa...!"

Setelah berkata demikian, Ki Temula melesat menerjang. Kedua jari tangannya mengembang membentuk cakar burung. Ibu jari dan kelingkingnya dilipat ke dalam. Seketika angin tajam bersiutan nyaring mengi-ringi tibanya serangan itu.

Prawira kaget bukan main! Dia tahu betapa dahsyatnya serangan itu. Pengalaman ketika hampir tewas di tangan Ki Matija, telah membuatnya lebih berhati-hati. Telah dibuktikan sendiri, betapa dahsyat­nya kepandaian kakek muka kuda itu. Apalagi kepandaian kakek di hadapannya, yang merupakan kakak seperguruan Ki Matija.

Dengan demikian, pemuda ini tidak boleh berlaku sembrono. Serangan-serangan yang datang itu tidak ditangkisnya, melainkan dihindari. Cepat-cepat dibanting tubuhnya ke tanah, dan terus bergulingan menjauh.

Tapi Ki Temula ternyata tidak membiarkannya lolos. Dikejarnya tubuh yang bergulingan itu dengan serangan cakar garudanya.

Untunglah di saat kritis bagi Prawira, datang bantuan dari adik-adik seperguruannya. Secara berbareng, tiga orang murid Perguruan Naga Api menyerang kakek kecil kurus itu dengan tusukan pedang.

Singgg...! Singgg...! Singgg...!
"Keparat...!"

Ki Temula dongkol bukan main. Terpaksa diurung- kan serangannya ke arah Prawira. Tubuhnya segera digeliatkan sedikit, agar serangan itu tidak mengenai bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Kemudian secara berbareng kedua tangannya mengibas.

Takkk...! Takkk...! Takkk...!

Pedang-pedang itu meleset ketika telak mengenai dada dan perut Ki Temula. Sepertinya yang ditusuk itu bukanlah tubuh manusia, melainkan sebuah benda licin.

Ketiga murid Perguruan Naga Api itu terkejut ketika tangan mereka bergetar hebat dan terasa sakit-sakit. Dan belum lagi sempat berbuat sesuatu, kibasan cakar kakek kecil kurus itu telah menyambar ke arah mereka.

Wut.. !
"Akh...!"
"Aaa...!"

Jerit lengking kematian terdengar saling susul. Kibasan cakar Ki Temula telak merobek leher mereka. Darah seketika menyembur dari leher mereka yang terluka. Beberapa saat lamanya mereka menggelepar-gelepar meregang nyawa di tanah, sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi.

Prawira bangkit berdiri. Wajahnya pucat melihat kematian tiga orang adik seperguruannya yang hanya sekali gebrak saja. Pemuda itu tahu kalau mereka tewas karena hendak menyelamatkannya. Hal ini membuatnya geram bukan main. Tanpa mempeduli- kan keselamatannya lagi, Prawira segera melompat menerjang Ki Temula.

Tapi Prawira kalah cepat. Ternyata adik-adik seperguruannya yang lain telah mendahuluinya. Secara serentak mereka menyerang kakek kecil kurus itu dengan senjata terhunus.

Suara desing senjata mereka mengiringi tibanya hujan serangan ke arah Ki Temula. Tapi laki-laki tua berwajah tirus itu tenang-tenang saja, dan malah membiarkan saja serangan itu. Baru setelah serangan itu hampir menyambar, cepat laksana kilat dia mengelak. Tubuhnya menyelinap di antara sambaran senjata lawannya.

Berkat ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan tinggi, tak sulit bagi kakek kecil kurus ini untuk mengelakkan serangan-serangan itu. Sebaliknya setiap serangan balasannya, selalu mengenai sasaran. Dan sudah dapat dipastikan, setiap serangannya selalu membuat nyawa lawan melayang ke akhirat.

"Aaakh...!"

Suara Jerit kematian terdengar saling susul mengiringi robohnya tubuh-tubuh tanpa nyawa. Dalam waktu sebentar saja, sudah tujuh orang murid Perguruan Naga Api yang roboh bergelimpangan tak bernyawa.

Memang sudah dapat diduga kalau akhirnya hampir semua murid Perguruan Naga Api akan tewas di tangan kakek kecil kurus yang sakti ini. Dan untung saja tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat cepat memasuki kancah pertarungan yang langsung menghujani Ki Temula dengan serangan bertubi-tubi.

Plak...! Plak...!

Berturut turut Ki Temula menangkis serangan orang yang baru datang itu. Akibatnya, tubuh bayangan itu terjengkang ke belakang, sementara tubuh Ki Temula terhuyung-huyung dua langkah ke belakang.

"Ah...!"

Ki Temula berseru kaget. Disadari kalau penyerangnya itu memiliki tenaga dalam yang tidak kalah dahsyat darinya.

"Mundur semua !" teriak orang yang menyerang Ki Temula kepada sisa murid-murid Perguruan Naga Api. Maka serentak Prawira dan sembilan rekannya berlompatan mundur. Mereka mengenali betul pemilik suara itu.

Sekitar tiga tombak di hadapan Ki Temula, telah berdiri seorang kakek bungkuk berusia sekitar tujuh puluh tahun. Kumis, Jenggot. dan cambangnya berwarna hitam. Hanya alisnya saja yang kelihatan berwarna putih.

"Apa kabar, Santa?" tanya Ki Temula. Bibirnya yang tipis menyunggingkan senyuman mengejek. Keter- kejutan hatinya pun sirna tatkala mengetahui orang yang telah menangkis serangannya. Tidak aneh kalau orang yang menyerangnya itu memiliki tenaga dalam tinggi, karena dia adalah kakak seperguruan Ki Gayadi!

Ki Santa mengedarkan pandangannya ke sekitar- nya. Tampak sosok-sosok tubuh murid Perguruan Naga Api yang telah berserakan tanpa nyawa. Karuan saja hal ini membuatnya marah bukan kepalang.

"Tidak usah banyak basa-basi. Temula! Aku menyesal sekali, tidak mempercayai ucapan murid- muridku. Akibatnya, kembali mereka berguguran Akibat kekejianmu! Kau harus membalas semua kekejianmu ini dengan nyawamu, Temula!"

"Ha ha ha..! Mampukah kau melakukannya. Santa?!" ejek kakek kecil kurus itu tajam.

"Kita lihat saja buktinya!" sergah kakek beralis putih, yang ternyata tidak pandai berdebat.

Setelah berkata demikian. tubuh Ki Santa berkelebat menerjang. Sepasang kakinya melayang- kan tendangan bertubi-tubi ke arah dada dan perut Ki Temula.

Ki Santa mengawalinya dengan tendangan lurus kaki kanannya ke arah perut. Namun Ki Temula kelihatannya bersikap tenang. Tanpa ragu-ragu lagi ditangkisnya tendangan itu dengan sabetan tangan kanan. Tapi di luar dugaan, Ki Santa menarik kembali kakinya di tengah jalan. Dan secepat itu pula dirubah menjadi sebuah tendangan miring ke arah dada.
"Heh?!" dengus Ki Temula.

Cepat-cepat laki-laki berwajah tirus itu men- doyongkan tubuhnya ke belakang, sehingga tendangan lawan hanya mengenai tempat kosong. Dan saat itulah tangan kanannya bergerak cepat melakukan totokan ke arah mata kaki Ki Santa. Keras bukan main totokan itu sehingga menimbulkan suara angin bersiutan nyaring.

Ki Santa tentu saja tidak ingin mata kakinya hancur oleh totokan lawan. Buru-buru ditarik kakinya kembali, dan secepatnya mengirimkan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya. Tampaknya kedua tokoh sakti itu semakin bertarung sengit. Masing-masing berusaha menjatuhkan lawan secepatnya.

Suara angin mencicit dan menderu, menyemaraki pertarungan dua tokoh sakti lain perguruan itu. Batu- batu besar dan kecil beterbangan tak tentu arah. Ranting-ranting berpatahan di sana-sini. Dan debu mengepul tinggi ke udara. Prawira dan kawan- kawannya buru-buru menjauh, karena tidak berani menonton pertarungan itu dalam jarak dekat. Jangankan terkena pukulan mereka, bahkan angin pukulannya saja sudah cukup membuat nyawa terancam!

Ki Santa mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, seperti ingin buru-buru mengakhiri per- kelahian ini. Kakek ini sadar kalau lawannya mempunyai banyak keunggulan dibanding dirinya.

Memang kelihatannya Ki Temula masih giat berlatih diri. Sedangkan Ki Santa sendiri, hampir tidak pernah lagi melatih ilmu-ilmu yang dimiliki, kecuali hanya bersemadi. Itu pun hanya sekedarnya saja.

Memang kakek ini sudah tidak berniat lagi untuk mengotori tangannya dengan darah. Tapi melihat keselamatan murid-muridnya terancam, guru mana yang sampai hati?

Memang tidak aneh jika menginjak jurus ke seratus, napas Ki Santa mulai memburu. Otot-otot tubuhnya yang sudah tua dan tidak pernah terlatih lagi itu, tidak kuat lagi untuk dipakai bertanding demikian lama.

"Ha ha ha...!"

Ki Temula tertawa terbahak-bahak melihat keadaan lawannya yang mulai kepayahan. Kakek kecil kurus ini yakin, tak lama lagi akan dapat merobohkan lawannya.

Saking merosotnya kondisi tubuh, maka per- lawanan Ki Santa pun semakin mengendur. Perlahan
namun pasti, kakek beralis putih ini mulai terdesak.

Prawira dan adik-adik seperguruannya tentu saja melihat kenyataan ini. Beberapa kali terlihat tubuh Ki Santa terhuyung ke belakang, setiap kali menangkis serangan Ki Temula. Sampai akhirnya....

Plak...!

"Akh...!" Ki Santa mengeluh tertahan.

Tubuh laki-laki tua beralis putih itu terjajar ke belakang ketika sebuah tamparan Ki Temula meng- hantam bahunya. Seketika dirasakan sekujur tulang- tulang tangannya terasa remuk-redam.

"Hiyaaa...!"

Ki Temula melompat menerjang. Tangan kanannya yang berbentuk cakar Garuda dijulurkan ke depan, ke arah ulu hati Ki Santa. Terdengar angin bersiutan nyaring mengiringi tibanya serangan cakar itu.

Sepasang mata Ki Santa terbelalak lebar. Kelihatannya kondisi tubuhnya yang sudah lelah. Tidak memungkinkan untuk menangkis atau mengelakkan serangan itu. Yang dapat dilakukan hanyalah menanti datangnya maut dengan mata terbuka lebar.

"Hiyaaa...!"
"Haaat...!"
"Hih... "

Sambil berteriak nyaring, tiga sosok tubuh berkelebat memotong laju serangan Ki Temula. Mereka tidak lain adalah murid-murid Perguruan Naga Api yang secara nekad menyerang kakek berwajah tirus. Tampak tiga batang pedang pun berkelebat cepat mencari sasaran, menuju ke bagian- bagian tubuh yang mematikan.

"Jangan...!" teriak Ki Santa mencegah. Kakek beralis putih ini tahu akibat yang akan dihadapi tiga orang muridnya bila mencoba memotong serangan Ketua Perguruan Garuda Sakti.

Sementara itu, Ki Temula kelihatan geram dan marah bukan main melihat tindakan tiga orang itu. Terpaksa diurungkan niatnya menyerang Ki Santa. Segera kedua tangannya berputaran cepat. Maka...

"Aaakh...!"
"Aaa...!"
"Aaa.!"

Terdengar jerit kematian yang saling susul. Sedangkan Ki Santa memandang dengan mata membelalak. Hampir saja air matanya menetes melihat robohnya tiga sosok tubuh murid yang telah menyelamatkan nyawanya. Kepala mereka semua remuk terkena cakar maut Ki Temula.

"Ha ha ha...! Kini giliranmu, Santa! Ingin kulihat, siapa yang akan menyelamatkanmu kali ini! Hiya...!"

Ki Temula meluruk menerjang Ki Santa. Kedua tangannya yang berbentuk cakar menyerang ke arah ubun-ubun dan dada kakek beralis putih itu.

Tapi sebelum Ki Santa berbuat sesuatu, sesosok bayangan ungu telah lebih dulu melesat memapak serangan itu.

Prarrt...!

Tubuh kedua orang itu sama-sama terjengkang ke belakang. Sedangkan Ki Temula kaget bukan main. Sekujur tangannya terasa nyeri bukan main. Bahkan dadanya pun terasa sesak. Sadarlah kakek kecil kurus berwajah tikus itu kalau orang yang baru datang ini memiliki tenaga dalam sangat tinggi.

"Dewa Arak...!" dengus Ki Temula tajam ketika melihat sosok pemuda berambut putih keperakan di hadapannya.

Ki Temula sadar, keberadaan Dewa Arak di situ jelas akan membuat kedudukannya tidak menguntungkan. Rasanya bodoh kalau dia masih memaksakan diri untuk melawan pemuda berbaju ungu itu. Mungkin kalau menghadapi Dewa Arak saja, dia tidak gentar. Tapi di sana masih ada Ki Santa!

Maka, sebelum Dewa Arak sempat berbuat sesuatu, tangannya segera bergerak ke balik jubah- nya. Dan secepat tangan itu keluar, secepat itu pula berhamburan puluhan batang jarum halus ke arah Arya. Bersamaan dengan itu, tubuh kakek berwajah tirus itu melesat pergi dari situ.

Dewa Arak kaget bukan main. Serangan itu sama sekali di luar dugaannya. Memang, bagi Dewa Arak tidak sulit untuk mengelakkan serangan itu dan terus mengejar Ki Temula. Tapi, Dewa Arak tidak ingin mengambil resiko. Kalau serangan itu dielakkan, bukan tidak mungkin akan membawa korban murid- murid Perguruan Naga Api, atau Ki Santa. Dan Arya tidak ingin hal itu terjadi. Segera dikeluarkan jurus yang jarang digunakannya, jurus 'Pukulan Belalang'!

Wusss..!

Angin berhawa panas menyambar deras dan langsung memukul runtuh jarum-jarum yang dilepaskan Ki Temula. Tapi begitu jarum-jarum itu jatuh ke tanah, kakek kecil kurus itu telah lenyap dari situ.

Dewa Arak memang tidak berniat mengejarnya, karena disadari kalau hal itu tidak ada gunanya. Hutan ini cukup lebat, lagi pula lawannya telah lenyap. Merupakan suatu pekerjaan amat sulit dan berbahaya jika melakukan pengejaran, karena lawan dapat saja membokongnya dari belakang!

Ki Santa memandang takjub terhadap Dewa Arak Dari adu tenaga tadi, dan pukulan berhawa panas yang dilepaskan, dapat diketahui kalau pemuda berambut putih keperakan ini memiliki kepandaian tinggi.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Dewa Arak," ucap Ki Santa.

Walaupun kakek ini belum pernah melihat Arya, tapi dia segera dapat mengenalinya. Memang, nama besar Dewa Arak telah sampai ke Kerajaan Bojong Gading. Kini rasa lelahnya telah menghilang. "Kalau tidak ada dirimu, mungkin hari ini aku hanya tinggal nama saja," sambung Ki Santa merendah.

"Ah! Jangan berterima kasih kepadaku, Ki. Berterima kasihlah pada Gusti Allah. Aku hanya perantara-Nya. Gusti Allah-lah yang telah menuntun langkahku kemari."

Ki Santa tersenyum. Kekagumannya pada Dewa Arak pun semakin bertambah tebal. Jelas, pemuda ini tidak mempunyai sifat sombong! Ini nampak dari tindak-tanduknya.

"Kau benar, Dewa Arak," dukung Ki Santa. "Hhh...! Sungguh tidak kusangka kalau Ki Temula bisa sekeji ini... "

"Maaf, Ki Aku tidak sependapat denganmu," sergah Arya pelan, seraya mengerutkan keningnya. "Aku yakin bukan Ki Temula pelaku semua pem- bunuhan keji ini. Masalahnya belum lama ini aku juga habis dari Perguruan Garuda Sakti dan berbincang- bincang dengan Ki Temula."

Mendengar pernyataan ini, Ki Santa tersentak. Rasanya memang ada yang tak beres dalam persoalan ini. Ingatan laki-laki beralis putih itu tiba- tiba terarah pada seorang tokoh hitam yang menjadi musuh Ki Gayadi, adik seperguruannya itu. Namun di lain hal, dia malah jadi sangsi. Ya! Mengapa orang itu begitu sempurnanya memainkan ilmu 'Cakar Garuda'? Sungguh suatu persoalan yang rumit!

"Hhh.. !" Ki Santa menghela napas.

"Bisa kuterima ketidakpercayaanmu, Dewa Arak. Semula aku juga tidak percaya ketika mendengar berita itu dari Branta. Bahkan Branta juga telah melarang mereka untuk bertindak brutal seperti ini. Tapi sungguh tidak kusangka kalau mereka pergi juga secara sembunyi- sembunyi. Khawatir masalah itu akan bertambah runyam, maka aku segara menyusul kemari. Untung saja kedatanganku tepat pada waktunya. Kalau tidak... , hhh... ! Sukar dpercaya ... "

Dewa Arak mengerutkan alisnya.

"Tadi, Aki mengatakan kalau mulanya tidak percaya bahwa pembunuh Ki Gayadi itu adalah Ki Temula?"

"Benar," jawab kakek berahs putih itu singkat "Apa alasannya untuk tidak mempercayai?" kejar Dewa Arak lagi.

"Karena aku tahu kalau Ki Temula adalah sahabat akrab adik seperguruanku "
"Hanya itu saja, Ki?"

"Masih ada satu alasan lagi, Dewa Arak," sahut Ki Santa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

"Apa itu, Ki," desak Dewa Arak penuh gairah.

"Kami. Maksudku, Ki Gayadi dan Ki Temula dulu mempunyai musuh yang mempunyai keahlian menyamar. Sudah lama dia mendendam pada kedua orang itu, tapi tidak pernah berhasil terlampiaskan"

"Siapa dia, Ki?" tanya Dewa Arak ingin tahu.
"Peri Muka Seratus."
"Peri?" kening Dewa Arak berkernyit.

"Benar!" tegas kakek beralis putih itu. "Kabarnya dulu dia adalah seorang wanita berwajah cantik, sehingga orang memberi julukan peri."

"Hm...," gumam Dewa Arak. Kepalanya terangguk- angguk. "Lalu mengapa sekarang pendirianmu berubah, Ki? Maaf, bukannya aku sok tahu. Tapi dari nada bicaramu, sepertinya kini kau percaya kalau pembunuh Ki Gayadi justru adalah Ki Temula."

Ki Santa menatap wajah Dewa Arak tajam-tajam. Sepasang bola matanya merayapi sekujur wajah pemuda tampan berambut putih keperakan yang berdiri di hadapannya ini.

"Peri Muka Seratus memang memiliki kepandaian tinggi. Tapi rasanya tidak mungkin kalau sampai menguasai ilmu milik Perguruan Garuda Sakti. Apalagi memainkan ilmu 'Cakar Garuda' begitu sempurna. Menyamar wajah orang dia memang bisa. Tapi memainkan ilmu orang yang disamarinya dengan begitu sempurna, jelas tidak mungkin dapat dilakukannya!" tandas Ki Santa.

Dewa Arak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Perlu kau ketahui, Dewa Arak," sambung kakek alis putih itu lagi. "Hanya ada dua orang yang menguasai Ilmu 'Cakar Garuda'. Yang pertama Ki Matija, dan kedua Ki Temula!

Sementara, orang yang tadi bertempur denganku mempergunakan Ilmu 'Cakar Garuda'. Dan memainkannya demikian sempurna. Nah! Dari pertempuran tadi, aku yakin kalau Ki Temula pembunuh adik seperguruanku!"

Dewa Arak menghela napas panjang. Memang dia sendiri pun tadi melihat jelas kalau orang yang menyerang Ki Santa adalah Ki Temula. Tapi, bukankah belum lama ini dia habis berbincang- bincang dengan Ki Temula? Dan kelihatannya, kakek muka tirus itu menolak mentah-mentah jika dituduh membunuh Ki Gayadi.

"Prawira...'" panggil Ki Santa keras.

"Ya, Paman Guru," sahut pemuda bertahi lalat itu cepat, seraya melangkah mendekati kakek beralis putih itu.
"Kau dan Sentanu kembali ke perguruan. Katakan pada Branta agar segera kemari bersama seluruh murid. Kita akan menyerbu Perguruan Garuda Sakti untuk membalas dendam!"

"Ki..!" teriak Arya kaget. Ditatapnya tajam-tajam wajah kakek berahs putih itu. Tapi Ki Santa sama sekali tidak mempedulikannya.

"Cepat, Prawira...!" perintah Ki Santa lagi.

Pemuda bertahi lalat ini tidak bisa membantah. Bersama Sentanu, dia segera melesat meninggalkan tempat itu. Tapi belum begitu jauh mereka pergi, tiba- tiba sesosok bayangan ungu melesat menghadang. Sesaat kemudian, di hadapan kedua orang muda itu telah berdiri Dewa Arak.

"Tunggu sebentar...!" seru Dewa Arak mencegah. Kedua tangannya diulurkan ke depan.

Seketika Prawira dan Sentanu menahan langkah­nya. Dengan pandangan meminta pertimbangan, mereka menoleh ke arah Ki Santa. Kakek beralis putih ini melangkah maju.

"Kuakui, aku dan seluruh murid Perguruan Naga Api yang ada di sini, berhutang nyawa padamu, Dewa Arak. Tapi, hal itu tidak berarti kau seenaknya ikut campur urusan ini! Ini urusan dalam perguruan, Dewa Arak. Urusan kehormatan! Kehormatan bagi kami lebih daripada nyawa. Aku berjanji, atas nama Perguruan Naga Api, akan membalas budimu!"

Keras dan tajam sekali kata-kata yang keluar dari mulut kakek beralis putih itu. Bahkan wajah Dewa Arak pun jadi merah padam. Arya memang paling tidak suka kalau ada orang yang mengungkit-ungkit pertolongan yang diberikan tanpa pamrih itu. Apalagi dengan nada kasar begitu!

"Aku kecewa sekali melihat sikapmu, Ki. Jadi memang pantas kalau adik seperguruanmu yang menjadi Ketua Perguruan Naga Api, dan bukan dirimu! Sebab, wawasan pikiranmu terlalu sempit! Hanya amarah dan dendam saja yang kau ikuti! Kau tentu tahu, Akibat apa yang terjadi karena keputusanmu ini. Perang saudara! Apakah kau ingin hal itu terjadi? Kalau ingin, silakan! Silakan turuti amarahmu itu! Dan si pembunuh sebenarnya, pasti akan bersorak-sorak di belakang tengkukmu!"

Napas Dewa Arak terengah-engah. Ucapan yang didorong karena harga dirinya tersinggung, dan kecemasan akan terjadinya sesuatu yang mengeri- kan, membuat ucapannya begitu berapl-api. Bahkan terdengar kasar dan keras.

Kepala Ki Santa bagai tersiram seember air es. Ucapan Dewa Arak menyadarkan dan meredakan amarahnya yang menggelegak.

Amarahnya memang telah sampai ke ubun-ubun. Ditariknya napas panjang-panjang, dan dihembuskannya kuat-kuat untuk mendinginkan kepalanya yang dirasakan panas terbakar amarah.

"Jadi menurutmu..., kudiamkan saja semua peng- hinaan yang dilakukan Ki Temula itu padaku?!"

Dewa Arak tersenyum pahit.

"Jangan salah mengerti, Ki. Terus terang ku- katakan padamu, aku tidak membela pihak mana pun dalam hal ini Aku hanya ingin meluruskan keadaan yang sebenarnya. Kalau ternyata terbukti Ki Temula yang bersalah, terserah tindakanmu. Kau berhak melakukan pembalasan, dan aku akan berada di belakangmu! Tapi dalam persoalan ini. aku melihat adanya banyak kejanggalan. Terutama pertarungan- mu dengan orang yang kau anggap sebagai Ki Temula!"

"Kejanggalan?!" tanya Ki Santa. Kening kakek ini berkernyit dalam. "Boleh kutahu, di mana kejang- galannya, Dewa Arak?"

"Tentu saja, Ki, Malah kau harus tahu. Karena kaulah orang yang paling berkepentingan dalam hal ini!"

Kakek beralis putih itu hanya tersenyum hambar.

"Boleh kutahu, sudah berapa jurus kau dan Ki Temula bertempur?"

Ki Santa mengerutkan alisnya yang putih. Nampak jelas kakek ini tengah mengingat-ingat.

"Kira-Kira... seratus jurus."

Dewa Arak mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Waktu yang cukup lama. Apalagi, sebelum ber­tempur denganmu pembunuh itu juga telah ber­tempur dengan murid-muridmu. Berarti sudah lama sekali dia berada di sini. Padahal.... aku baru saja pamit pada Ki Temula untuk mencoba menyingkap rahasia ini."

Wajah Ki Santa seketika berubah hebat.

"Jadi..., kau baru saja dari sana, Dewa Arak?!"
"Benar!"

"Lalu..., kalau bukan Ki Temula, siapa orang yang membunuh adik seperguruanku dan murid-murid- nya?" tanya kakek beralis putih ini. Kedengarannya, memang bodoh sekali pertanyaan itu.

"itulah yang harus kita selidiki, Ki!" sahut Dewa Arak tegas. "Sekarang kau bisa memaklumi tindakanku yang mencegah keputusanmu tadi, Ki?"

"Hhh...!" Ki Santa menghela napas panjang. "Maafkan atas kekasaran ucapanku tadi, Dewa Arak."

Dewa Arak tersenyum lebar.

"Tidak ada yang perlu di maafkan, Ki. Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu. Ucapanku ter­lalu kasar tadi."

"Tapi, kadang-kadang sikap kasar pun diperlukan juga, Dewa Arak."

"Ya, Kira-Kira begitu...," desah Arya. "O, ya. Sekarang, apa yang hendak kau lakukan, Ki?"

Ki Santa termenung beberapa saat lamanya.

"Menyuruh semua muridku kembali ke perguruan dan tidak melakukan perbuatan apa pun sampai keadaan menjadi tenang. Hhh...! Terpaksa aku harus turun tangan untuk menyingkap rahasia ini."

"Apakah tidak sebaiknya diwakilkan padaku, Ki?" tanya Dewa Arak menawarkan bantuan.
"Bersantai-santai saja di perguruan, sementara kau bersusah payah menyelidikinya? Tidak, Dewa Arak! Sudah terlalu banyak kau menanam budi pada kami! Dan, aku tidak ingin menumpuk budimu, sehingga kami tidak mampu membayarnya."

Dewa Arak menghembuskan napas panjang. "Aku mohon, jangan sebut-sebut lagi tentang budi, Ki! Aku menolong secara sukarela, tanpa pamrih!" tandas Arya tegas.

Ki Santa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ditepuk-tepuknya bahu Dewa Arak.

"Sikapmu inilah yang lebih menimbulkan ke- kaguman di hatiku daripada kepandaian yang kau miliki, Dewa Arak. Jarang orang seusiamu yang memiliki kepandaian tinggi dan sekaligus mempunyai sifat arif sepertimu!" puji kakek beralis putih itu.

"Ah! Kau memang pandai sekali memuji orang, Ki," elak Arya malu-malu. "O, ya. Aku pergi dulu, Ki!"

Setelah berkata demikian, Dewa Arak meng- gerakkan tubuhnya. Kelihatannya seperti melangkah saja. Tapi hebatnya, dalam sekejap mata saja tubuhnya sudah berada lebih sepuluh tombak dari tempat semula. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah lenyap ditelan kerimbunan semak-semak dan pepohonan yang lebat.

"Bukan main...!" desah Ki Santa dengan mata memancarkan kekaguman. Sepasang matanya masih saja menatap lurus ke depan, sekalipun tubuh Dewa Arak telah tidak terlihat lagi.

"Pemuda luar biasa...," desah kakek itu lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebentar kemudian, Ki Santa telah memerintah- kan murid-murid Perguruan Naga Api yang masih tersisa untuk menguburkan eman teman mereka yang tewas. Dan setelah pekerjaan itu selesai. Ki Santa dan murid-muridnya pun berkelebat meninggal- kan tempat itu.Siang baru saja merambat menuju senja, ketika sosok bayangan ungu berkelebat cepat menyusuri Lereng Gunung Munjul. Berkat ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan, tidak berapa lama kemudian bayangan ungu yang ternyata Dewa Arak sudah berada di depan pintu gerbang Perguruan Garuda Sakti. Dan tentu saja kedatangannya segera diketahui oleh dua orang murid perguruan yang tengah berjaga-jaga.

"Ah...! Kiranya Dewa Arak. .," desah salah seorang penjaga. Nada suaranya menyiratkan perasaan lega. Memang, semula begitu melihat sesosok tubuh yang melesat cepat ke arah perguruan, hati dua orang murid ini sudah merasa tegang. Tidak aneh, karena baru saja perguruan mereka telah diserbu.

"Ki Temula ada?" tanya Arya cepat.

"Ada Silakan masuk, Dewa Arak." sahut salah seorang penjaga, kemudian mengantarkan Arya ke dalam. Mereka lalu bersama-sama menuju ruang utama perguruan.

Tentu saja kedatangan Dewa Arak mengejutkan Ki Temula, yang saat itu tengah duduk menyendiri di ruang utama. Sebuah ruangan yang tertata apik, walaupun berdinding papan. Pada tiap sisi dinding, dihiasi senjata-senjata kebanggaan perguruan.

Sementara itu, Ki Temula bergegas menghampiri Dewa Arak dengan benak dipenuhi tanda tanya. Masalahnya, pemuda berambut keperakan itu belum lama pamit dari sini. Dan sekarang, dia kembali lagi.Apakah ada sesuatu yang tertinggal?

"Ada apa, Arya? Bukankah..."

"Aku ingin bicara, Ki. Ada persoalan yang amat penting," potong Dewa Arak, melihat keheranan yang membayang di wajah kakek kecil kurus itu tatkala melihat kedatangannya.

"Mari. Kita bicara di dalam," ajak Ketua Perguruan Garuda Sakti ini seraya melangkah masuk lebih dulu. Tanpa banyak bicara, Arya segera mengikutinya.

"Sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan, Arya?" tanya Ki Temula setelah mereka duduk berdua di sebuah ruangan dalam yang sepi. Dewa Arak memang telah meminta agar kakek kecil kurus itu memanggil nama saja, bukan julukannya.

Dewa Arak mendehem sebentar, kemudian menceritakan peristiwa yang terjadi di hutan di kaki Gunung Munjul ini. Dari mulai pertarungan antara Ki Santa dengan kakek kecil kurus yang wajahnya mirip Ki Temula, sampai pada keputusan Ki Santa yang hendak menyerang markas Perguruan Garuda Sakti secara besar-besaran. Untunglah niatan itu berhasil dicegahnya.

"Ahhh...!" desah Ki Temula.

Perasaan kaget yang amat sangat nampak jelas di wajah laki-laki berwajah tikus itu. Tapi meskipun demikian, sorot matanya memancarkan kegembiraan. Bukankah kini dia telah bebas dari tuduhan?

"Sungguh tidak kusangka, persoalan telah menjadi segawat ini.... Untung ada kau, Arya. Sehingga, kesalahpahaman ini dapat diatasi. Bukankah dari kejadian ini mereka tahu kalau aku bukan pelaku pembunuhan itu?" lanjut Ki Temula.

"Memang, kecurigaan mereka padamu sudah agak pupus, Ki. Tapi, tetap saja masih ada satu ganjalan lagi yang membuatku dan Ki Santa merasa heran...," ujar Arya seraya mengerutkan keningnya.

"Apa itu, Arya? Katakanlah...! Barangkali saja dapat kubantu," pinta Ki Temula. Kembali perasaan tidak enak melanda hatinya. Sikap Dewa Arak itulah yang membuatnya demikian.

Dewa Arak menatap kakek kecil kurus di depannya tajam-tajam. Sepasang matanya merayapi sekujur wajah kakek itu, seolah-olah dengan cara begitu masalah yang membingungkan hatinya bisa ter- singkap.

"Pembunuh itu menguasai seluruh ilmu per- guruanmu, Ki. Bahkan ilmu 'Cakar Garuda' pun dikuasainya. Padahal Ki Santa mengatakan bahwa hanya kau dan adik seperguruanmu yang menguasai ilmu itu. Ini yang masih menjadi teka-teki buatku, Ki."
"Benar kata-katamu ini, Arya?" tanya kakek kecil kurus ini meminta kepastian.

Dewa Arak mengernyitkan keningnya. Tidak enak hatinya mendapat pertanyaan seperti itu. Terasa seperti adanya nada ketidakpercayaan dalam suara kakek itu.

"Perlukah bersumpah, Ki?" sindir Dewa Arak

Wajah Ki Temula memerah. Bisa dimaklumi ketidaksenangan hati pemuda di hadapannya ini.

"Maaf, Arya. Tentu saja tidak perlu sampai seberat itu. Ahhh...! Tapi.... maksudku. kuharap kau bisa memakluminya. Berita yang kudengar ini terlalu mengejutkan hatiku "

"Jadi, benar yang dikatakan Ki Santa itu, Ki?" desak Dewa Arak.

Perlahan-lahan kepala Ki Temula mengangguk.

"Jadi..., Kini tinggal Ki Matijalah sebagai tertuduh itu, Ki," ujar Dewa Arak.
"Bisa kumaklumi kecurigaanmu itu, Arya," ucap kakek itu pelan.
"Ada satu hal lagi yang membuatku curiga pada nya, Ki!" sambung Arya.
"Apa itu, Arya. Katakan saja, jangan ragu-ragu...," desak Ki Temula.

"Sikap Ki Matija yang terlalu telengas! Aku melihat sendiri, Ki. Betapa mudahnya dia menurunkan tangan maut pada murid-murid Perguruan Naga Api!"

"Memang sudah menjadi sifatnya, Arya," jelas Ki Temula. "Adik seperguruanku itu memang mempunyai sifat aneh. Apabila orang berbuat baik padanya, dia akan membalas dengan kebaikan melebihi yang diterimanya. Demikian pula jika orang menyakitinya, pembalasan yang dilakukannya lebih pula. Dia mempunyai sifat angin-anginan. Mudah marah, tapi mudah pula memaafkan orang."

"Jadi..., dengan kata lain... Aki tidak sependapat denganku?" tanya Dewa Arak meminta ketegasan.

Ki Temula termenung sejenak.

"Yahhh.... Kira-kira begitu, Arya. Tidak mungkin kalau Matija adalah pelaku semua pembunuhan keji itu," Jawab Ki Temula tegas.

"Hhh...!"

Dewa Arak menghela napas panjang dan berat, dan keningnya berkernyit. Ketegasan kata-kata kakek kecil kurus itu membuatnya agak bingung.

"Kalau bukan Aki atau Ki Matija..., lalu siapa lagi? Masih adakah orang lain yang menguasai ilmu 'Cakar Garuda' selain dirimu dan Ki Matija, Ki?"

Ki Temula menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada. Hanya aku dan Matija yang menguasai ilmu 'Cakar Garuda'. Eh, tapi..!"
"Ada apa, Ki?" tanya Dewa Arak. Kaget juga pemuda ini, melihat kakek kecil kurus ini menghentikan ucapannya begitu tiba-tiba. Wajah Ki Temula berubah dan keningnya berkernyit dalam. Rupanya memang ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.

Ki Temula menatap tajam Dewa Arak. Sedangkan yang ditatap bersikap tenang-tenang saja.

"Kau mau berjanji untuk tidak memberitahukan pada orang lain, Arya?" tanya kakek kecil kurus itu. Pelan sekali suaranya.

Dewa Arak tercenung sebentar. Dibalasnya pandang mata Ketua Perguruan Garuda Sakti ini tak kalah tajam. Ada perasaan curiga di hatinya, melihat sikap Ki Temula yang seperti menyembunyikan sesuatu. Sementara itu Ki Temula juga menyadari adanya kecurigaan pemuda berambut putih keperakan di depannya.

"Jangan salah paham, Arya. Bukan maksudku ingin menyembunyikan sesuatu. Tapi..., ini lain... Rahasia perguruan. Tanpa adanya janjimu, aku terpaksa tidak berani mengatakannya."

"Meskipun karena sikapmu itu akan semakin banyak korban berjatuhan, Ki?" sindir Dewa Arak.

Ki Temula tersentak sehingga mengerutkan alisnya.

"Korban?! Apa maksudmu, Arya?" tanya Ki Temula. Sepasang matanya merayapi wajah Dewa Arak penuh selidik.

"Maaf, Ki. Tanpa Aki teruskan pun sudah dapat kuduga bahwa ada orang ketiga yang menguasai ilmu-ilmu Perguruan Garuda Sakti, termasuk 'Cakar Garuda'! Dan orang itu adalah, apa yang dijadikan sebagai rahasia perguruan," tebak Arya. "Bukan tidak mungkin kalau orang ketiga itulah yang memfitnah Aki selama ini!"

"Tidak mungkin!" bantah Ki Temula keras seraya bangkit dari duduknya.

"Mengapa tidak mungkin? Aki terlalu menutup- nutupi persoalan. Padahal masalah ini sudah terlalu berlarut-larut. Bahkan pertumpahan darah hanya tinggal menunggu waktu saja. Pembunuh itu jelas, orang dalam Perguruan Garuda Sakti!" tegas Dewa Arak bernada menuduh.

"Jaga mulutmu, Dewa Arak!" teriak Ki Temula keras. Sepasang mata kakek ini berkilat-kilat memancarkan sinar kemarahan. Dalam kemarahan- nya, Ki Temula tidak memanggil pemuda di hadapannya dengan namanya.

"Lalu kalau bukan orang dalam Perguruan Garuda Sakti, siapa lagi yang mampu memainkan semua ilmu perguruan ini? Terutama sekali ilmu 'Cakar Garuda'! Pikirlah, Ki!" balas Dewa Arak tak kalah keras.

Ki Temula terdiam. Perlahan-lahan kakek kecil kurus ini kembali duduk di tempatnya.

"Bukan hanya kau yang bingung, Arya. Aku pun dilanda perasaan yang sama," keluh Ki Temula, mulai reda amarahnya.

"Hanya dengan keterusterangan Aki, persoalan ini mungkin bisa terungkapkan. Mengapa Aki yakin kalau orang ketiga ini tidak mungkin melakukannya?" tanya Dewa Arak. Juga lunak dan pelan suaranya.

Ki Temula menghela napas panjang. Nampak jelas kakek ini merasa berat untuk menjawab pertanyaan itu.

"Baiklah, Ki. Aku berjanji tidak akan memberitahu- kan cerita ini kepada siapa pun," desah Dewa Arak mengalah.

Ki Temula tersenyum mendengar janji Dewa Arak.

"Puluhan tahun yang lalu," tutur kakek itu memulai ceritanya. "Guruku mempunyai tiga orang murid. Kerpala sebagai murid tertua, lalu aku, dan Matija. Kami bertiga memang memiliki bakat menonjol. Tak aneh, kalau semua ilmu guru bisa dikuasai dengan cepat. Tapi sayang, Kakang Kerpala tergelincir ke jalan sesat, sehingga Guru terpaksa mengutusku dan Matija untuk membawanya pulang. Hanya sayang Kakang Kerpala waktu itu menolak, sehingga ter­paksa aku dan Matija membawanya pulang dengan kekerasan. Maka Guru pun menghukumnya dengan hukuman seumur hidup."

"Jadi...," gumam Dewa Arak yang mulai paham keadaan sebenarnya.
"Ya. Sampai sekarang dia masih berada dalam ruang hukuman," keluh Ki Temula.

Dewa Arak mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Itulah sebabnya, mengapa aku tidak percaya ketika kau menyatakan kecurigaanmu padanya," sambung kakek itu lagi .

"Bisa kulihat ruang hukuman itu, Ki?" tanya Arya meminta.

Ki Temula tersentak kaget dan beberapa saat lamanya termenung. Tampak jelas kalau kakek ini tengah menimbang-nimbang. Ditatapnya lagi wajah Dewa Arak tajam-tajam, kemudian pelahan tapi pasti kepalanya terangguk pelan.

"Mari kuantar ke sana, Arya," ajak Ki Temula pada pemuda berambut putih keperakan itu sambil bangkit dari duduknya. Maka Dewa Arak pun bangkit dan berjalan mengikuti Ki Temula.

"Inilah ruang tahanan itu, Arya," jelas Ki Temula menunjukkan sebuah ruangan berukuran dua tombak kali dua tombak yang terpisah jauh dari bangunan- bangunan lainnya. Dinding-dindingnya terbuat dari batu cadas yang amat tebal. Sementara pintunya terbuat dari batangan baja bulat sebesar paha.

Dewa Arak memperhatikan ruang tahanan ini. Ruang tahanan ini ternyata tidak dibuat manusia, melainkan secara alami. Hanya pintu ruang tahanan itu saja yang dibuat tangan manusia.

Setelah memeriksa beberapa saat, tahulah Dewa Arak kalau tidak mungkin membobol ruang tahanan ini dengan kekerasan. Dinding ruang itu terlalu tebal, dan tak akan mungkin dapat dihancurkan tangan manusia.

Begitu pula pintunya yang terbuat dari baja yang amat kuat. Mungkin orang yang memiliki tenaga dalam tinggi bisa mendobraknya. Hanya saja, sebelum pintu ini didobrak, terlebih dahulu atap ruangan itu yang runtuh. Dan, orang yang hendak menjebol pintu itu lebih dulu akan mati terkubur.

Perhatian Dewa Arak ini. Kini beralih pada jeruji- jeruji baja itu. Dengan seksama, diamat-amatinya jeruji-jeruji itu karena barangkali ada tanda-tanda pernah dibengkokkan secara paksa. Tapi kembali Arya kecewa. Ternyata batang-batang jeruji itu mulus semua, tidak ada tanda-tanda pernah dibengkokkan secara paksa.

Di dalam ruang tahanan yang lebih patut disebut gua tahanan itu, tampak meringkuk seorang kakek kecil kurus. Wajahnya berwarna hitam. Dan tangan dan kakinya terlilit gelang-gelang baja yang disambung dengan rantai baja yang besar dan kuat. Sepertinya, yang diikat itu bukan manusia melainkan binatang tak berdaya.

"Bagaimana, Arya?" tanya Ki Temula yang sejak tadi memperhatikan Dewa Arak meneliti tempat itu. Ada nada kemenangan dalam suaranya.

"Hhh...!" Dewa Arak menghela napas panjang. "Rasanya memang tidak mungkin Ki Kerpala bisa keluar dari sini...."

"Itulah sebabnya mengapa aku tidak sependapat denganmu, Arya!"
"O ya, Ki. Apakah kau sering menjenguknya?" tanya Dewa Arak tiba-tiba.

Ki Temula mengerutkan alisnya.

"Tidak. Aku datang menjenguknya tiga hari sekali. Itu pun hanya untuk membawakan makanan."
"Kapan, Ki?" kejar Dewa Arak lagi.
"Malam atau siang?"
"Pagi," jawab kakek itu singkat.

Sekali lagi Dewa Arak menatap ke dalam ruang tahanan. Tampak kakek kecil kurus berwajah hitam itu masih saja memejamkan mata. Mungkin sedang tidur.

"Aku rasa sudah cukup, Ki," ucap Dewa Arak "Dan terima kasih atas kesediaan Aki memenuhi per- mintaanku."

"Tidak perlu berterima kasih, Arya. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau yang sama sekali tidak mempunyai sangkut-paut dalam hal ini, tapi secara suka rela campur tangan...," sergah Ki Temula sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

"Memang itu sudah menjadi tekadku sejak mempelajari ilmu silat, Ki," jelas Dewa Arak

"Ha ha ha...!" Ki Temula tertawa terbahak-bahak. "Kau luar biasa, Arya. Sebenarnya bukan hanya kau saja yang mempunyai tekad seperti itu. Tapi sayangnya begitu telah merasa cukup, mereka pun lupa akan tekadnya!"

Dewa Arak hanya tersenyum saja.

"Aku pergi dulu, Ki," pamit Dewa Arak. Lama-lama rasanya memang risih juga dipuji terus-menerus. Seketika tubuhnya pun melesat. Cepat bukan main gerakannya, sehingga dalam sekejap saja yang terlihat hanya sebuah titik yang semakin lama
semakin mengecil dan akhirnya lenyap di kejauhan.

***

Malam mulai jatuh menyelimuti bumi ketika dari lereng Gunung Munjul, melesat sesosok bayangan kuning. Cepat sekali gerakannya, sehingga yang terlihat hanya kelebatan bayangan kuning yang ber­gerak cepat ke kaki gunung.

Suasana malam yang gelap membuat wajah sosok bayangan kuning itu sukar dikenali. Yang terlihat hanyalah tubuhnya yang kecil kurus.

Cukup lama juga tubuh kecil kurus ini berlari, sehingga hutan di kaki Gunung Munjul pun telah jauh di belakangnya. Dan tiba-tiba larinya dihentikan di depan sebuah rumah berdinding bilik. Kemudian dilangkahkan kakinya mendekati pintu rumah itu. Tapi baru saja kakinya melangkah masuk sebuah suara telah menyambutnya.

"Mengapa lama sekali, Kakang?"

Sosok tubuh kecil kurus itu menatap ke arah pemilik suara. Tampak seorang wanita setengah baya berpakaian biru tengah duduk di sebuah bangku. Rambutnya digelung ke atas, dan di punggungnya tersampir sebatang pedang. Orang itu dikenal betjuluk Peri Muka Seratus. Di samping wanita itu juga duduk seorang laki-laki.

"Keadaan menghendaki demikian, Komala," jawab laki-laki kurus itu sambil memandang Peri Muka Seratus. Wanita itu memang mempunyai nama asli Komala. Kemudian sepasang matanya beralih, pada seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun dan berpakaian indah. Dia juga tengah duduk di sebelah Peri Muka Seratus.

"Bagaimana usahamu, Kang? Berhasil...?" tanya laki-laki berpakaian indah itu, sambil menatap sosok tubuh kecil kurus yang kemudian duduk di hadapannya.

Laki-laki kecil kurus hanya menghela napas panjang.

"Sayang sekali, Adi Pradipta," desah laki-laki kurus yang ternyata seorang kakek, pelan bernada keluhan.

Wajah laki-laki setengah baya yang dipanggil Pradipta seketika berubah. Dia adalah seorang adipati di Kadipaten Tasik.

"Jadi..., usahamu gagal, Kang?" terdengar ada nada kekecewaan dari ucapan Pradipta.
"Gagal sih, tidak. "
"Lalu...?" desak Pradipta.
"Tidak berjalan sesuai rencana kita," jelas kakek kecil kurus.
"Hm...," gumam Adipati Pradipta sambil meng- angguk-anggukkan kepalanya.

"Seseorang telah ikut campur tangan dalam urusan ini! Kalau tidak, mungkin semua berjalan sesuai rencana!" tambah si kakek kecil kurus.

"Keparat!" maki Peri Muka Seratus. "Siapa orang yang usilan itu, Kang? Sudah kau singkirkan dia?"

"Belum, Komala," jawab kakek kecil kurus itu seraya menggelengkan kepalanya.

"Mengapa, Kang?! Bereskan saja orang itu, sebelum mengacaukan rencana Kita selanjutnya!" selak Pradipta.

"Orang itu memiliki kepandaian tinggi, Adi. Aku sendiri ragu, apakah sanggup menghadapinya."
"Kau kenal orang itu, Kang?" tanya Pradipta. Mulai melunak suaranya.

"Kenal sih, tidak. Tapi berita mengenai kepandaiannya yang tinggi, sudah sering kudengar," jelas kakek itu,

"Jadi, kau belum pernah bertempur dengannya, Kang?!"

"Sudah! Satu kali. Dan kabar itu tidak berlebihan. Tenaga dalam yang dimilikinya cukup tinggi!"

"Ah...!" keluh Pradipta kaget. "Kalau begitu orang itu hebat sekali! Siapa dia, Kang?!"

Kakek kecil kurus itu bangkit berdiri, lalu melangkah pelahan ke arah jendela. Pandangannya menatap kosong ke luar beberapa saat lamanya. Baru setelah itu dibalikkan tubuhnya.

"Dewa Arak...!" jawab kakek kurus itu lambat- lambat tapi penuh tekanan.

"Dewa Arak...?!" ulang Pradipta dan Peri Muka Seratus terkejut. Memang nama besar Dewa Arak sudah sering terdengar, sebuah julukan yang telah menggoncangkan dunia persilatan, dengan banyak tewasnya tokoh sakti di tangannya.

"Ya! Dewa Arak...!" tegas kakek itu lagi. Kemudian diceritakan pertarungannya waktu menghadapi Dewa Arak, selagi dia hampir berhasil membasmi murid- murid Perguruan Naga Api.

Tampak jelas Pradipta kebingungan mendengar berita itu. Adipati ini melangkah mondar-mandir di ruangan itu. Keningnya berkernyit dalam dan rupanya tengah berpikir keras.

"Aku ada usul, Kang...!" ucap adipati itu keras. Sepasang matanya nampak berseri-seri.

Melihat sikap adipati itu, kakek kecil kurus menatap tajam ke arah laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu. Ada rasa keingintahuan yang mendalam pada sorot matanya.

"Coba kemukakan usulmu, Adi Pradipta," pinta kakek itu penuh gairah.

Adipati Pradipta berdehem sebentar.

"Tidak ada jalan lain lagi, Kakang. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk segera merebut Istana Bojong Gading. Kita langsung saja pada puncak rencana," tegas Adipati Pradipta.

"Maksudmu bagaimana, Pradipta?" tanya Peri Muka Seratus. Wanita licik ini memang masih belum mengerti.

"Ya, Adi. Aku dan gurumu belum paham maksudmu," tambah kakek kecil kurus itu. Memang, Peri Muka Seratus adalah guru Adipati Pradipta.

"Begini, Kang. Kakang dan seluruh murid kakang malam ini juga menyerbu Perguruan Naga Api. Bantai semua yang ada di sana, tapi sisakan seorang saja. Sudah bisa kuperkirakan kalau orang yang tak terbunuh itu pasti ingin mengadakan pembalasan. Dugaanku, kalau tidak ke Panglima Jumali, dia tentu mengadu ke Panglima Gotawa. Dan paling tidak, pasti panglima itu membalas dendam dengan membawa pasukannya. Bila ini benar, aku akan mengutus anak buahku untuk memberitahu Panglima Jatalu. Maka dapat dipastikan akan terjadi bentrok antar pasukan. Bagaimana, Kang? Bisa kau terima usulku ini?" jelas adipati itu. Ada senyum terkembang di bibirnya.

Kakek kecil kurus ini mengacungkan ibu jarinya.
Bahkan Peri Muka Seratus pun tersenyum lebar.

"Dan selagi mereka semua saling bentrok, Kita akan menyerbu Istana Bojong Gading. Begitu bukan maksudmu, Pradipta?" tebak Peri Muka Seratus.

"Benar, Guru."

"Otakmu memang selalu cemerlang, Adi," puji kakek berpakaian kuning itu. "Memang mulanya sudah terpikir olehku untuk segera memajukan rencana Kita, lebih cepat dari semula. Hanya saja, aku tidak tahu dari mana harus memulai. Kau memang cerdik, Adi Pradipta!"

"Ha ha ha...!" Adipati Pradipta tertawa terbahak- bahak. "Tak lama lagi Kerajaan Bojong Gading akan jatuh ke tanganku! Ha ha ha...!"
Kakek kecil kurus berpakaian kuning itu mengerutkan alisnya ketika teringat sesuatu.

"Tunggu, Adi. Bagaimana dengan seragam Perguruan Garuda Sakti untuk murid-muridku?"

Adipati Pradipta tersenyum lebar.

"Tidak perlu kau pusingkan masalah itu, Kang. Semuanya sejak jauh-jauh hari sudah kupersiapkan. Kakang tinggal menyuruh mereka untuk mengena- kannya. Dan..., menghancurkan Perguruan Naga Api!"

"Ha ha ha...!"

Suara gelak tawa langsung pecah dari rumah kecil berdinding bilik. Mereka memang tidak pertu merasa khawatir terdengar orang, karena tempat itu letaknya amat jauh dari tempat lainnya.Glaar... !

Kembali untuk yang kesekian kalinya halilintar menggelegar di angkasa. Beberapa saat lamanya, suasana malam yang tersetimut awan hitam dan tebal sehingga menutupi bulan, menjadi terang benderang. Titik-titik hujan pun pelahan-lahan turun membasahi bumi, diiringi hembusan angin dingin membekukan tulang.

Dalam suasana malam seperti itu, rasanya orang lebih suka tinggal di dalam rumah. Tapi, tidak demikian halnya dengan sosok bayangan serba kuning yang tengah berkelebatan. Tubuhnya kecil kurus, namun gerakannya cepat bukan main.

Glarr...!

Halilintar menggelegar lagi. Untuk beberapa saat lamanya keadaan kembali menjadi terang benderang. Cahaya terang yang sekilas itu cukup untuk menerangi wajah sosok bayangan kuning yang ternyata seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun dan berwajah mirip tikus.

Dan ternyata tidak hanya kakek kecil kurus berpakaian kuning itu saja yang berkeliaran di malam gelap dan dingin itu. Di belakangnya juga berkelebat puluhan sosok tubuh berpakaian kuning yang bergerak gesit bukan main. Rupanya kakek kecil kurus berpakaian kuning itu adalah pemimpin orang berseragam kuning yang mengikuri di belakangnya.Tak lama kemudian kakek kecil kurus itu meng- hentikan gerakannya, dan cepat menyelinap ke batik sebatang pohon. Kepalanya ditolehkan ke belakang, melihat rombongan orang berseragam kuning yang masih berlarian agak jauh di belakang.

Sebentar kemudian, sepasang matanya dialihkan ke depan, menatap sebuah bangunan besar dan megah yang dikelilingi pagar kayu bulat yang kelihatan kokoh kuat Pada bagian atas pintu gerbang, terpampang sebuah papan tebal berukir yang bertuliskan huruf-huruf yang berbunyi, Perguruan Naga Api.

Tak lama kemudian, rombongan orang berseragam kuning itu pun tiba. Mereka pun bergerombol bersembunyi. Sementara kakek kecil kurus ber­pakaian kuning itu segera membalikkan tubuhnya, menghadap mereka yang jumlahnya tak kurang dari tiga puluh orang.

"Ingat! Jangan kalian bunuh semua! Sisakan satu orang, agar mengabarkan penyerbuan Kita! Kalian mengerti?!" desis kakek pakaian kuning seraya menatap tajam.

"Mengerti...!" desah mereka serempak.
"Bagus! Mari Kita mulai!"

Tanpa diperintah dua kali, puluhan sosok tubuh itu berkelebat cepat menuju markas Perguruan Naga Api. Sementara itu, kakek berpakaian kuning telah terlebih dulu melesat pergi. Keadaan alam saat itu memang menguntungkan orang-orang berseragam kuning. Laksana iblis bergentayangan, mereka berkelebatan cepat mendekati sasaran.

Kakek berpakaian kuning merupakan orang pertama yang telah mendekati pintu gerbang. Cepat laksana kilat, sebelum kedua penjaga itu menyadari, tubuhnya telah melesat cepat ke arah mereka.

"Aaakh...!"
"Aaa...!"

Jerit kematian panjang seketika terdengar susul- menyusul mengikuti robohnya dua sosok penjaga itu ke tanah. Karuan saja jeritan itu menyentakkan suasana yang semula hening itu. Dan suara jeritan yang memang sudah keras, jadi bertambah keras. Seketika suasana di perguruan itu menjadi gempar.

Sesaat kemudian, dari dalam bangunan-bangunan yang terdapat dalam markas Perguruan Naga Api, berkelebatan beberapa orang yang bergerak cepat ke arah asal jeritan tadi. Tapi, belum juga mereka mencapai tempat itu, sosok-sosok bayangan kuning berkelebatan cepat menghadang.

Di antara mereka yang berkelebat keluar, tampak Prawira dan Sentanu. Mereka nampak geram dihadang orang-orang berseragam kuning itu. Sinar lampu obor yang terpancang hampir di setiap tempat, cukup untuk menerangi halaman luas itu, sehingga mereka dapat melihat jelas orang-orang yang menghadang.

"Keparat..! Kalian murid-murid Perguruan Garuda Sakti...!" sentak Prawira kaget melihat orang-orang itu berseragam kuning.

Dan seketika itu juga, orang-orang berseragam kuning serentak menyerang. Maka, denting senjata beradu pun mulai menyemaraki suasana malam yang semula hening dan sunyi mencekam itu. Sesekali diselingi jerit tertahan orang yang terkena serangan lawan.

Tampak kakek berpakaian kuning dan bertubuh kecil kurus tengah mengamuk hebat. Ke mana saja tangan atau kakinya bergerak, sudah dapat dipasti- kan di situ ada tubuh yang roboh tanpa nyawa. Sehingga dalam sebentar saja, sudah lima orang
tewas di tangannya.

Murid-murid Perguruan Naga Api yang kepandaian- nya jauh di bawah kakek itu, terdesak hebat. Apalagi ditambah para pengikutnya memang dalam hal jumlah tidak kalah. Tapi banyak hal yang merugikan mereka. Salah satu di antaranya adalah ketidak- siapan dalam menghadapi lawan yang tidak disangka- sangka itu. Apalagi ketika beberapa saat kemudian, terbukti bahwa rata-rata kepandaian orang-orang Perguruan Garuda Sakti di atas mereka.

Tampak satu persatu murid Perguruan Naga Api berguguran. Apalagi yang dihadapi kini juga kakek kecil kurus berpakaian kuning. Keadaan mereka tak ubahnya semut-semut menerjang api yang langsung roboh tanpa daya.

"Keparat..! Temula, akulah lawanmu!"

Berbareng selesainya ucapan itu, sesosok tubuh berjubah putih masuk ke tengah arena dan langsung menerjang kakek berpakaian kuning yang ternyata Ki Temula. Dia mengenal serangan yang berbahaya itu. Cepat-cepat Ki Temula melompat mundur ke belakang, sehingga serangan itu mengenai tempat kosong.

"Mengapa tidak sejak tadi kau keluar, Santa?!" ejek kakek berwajah tirus tajam.

Tapi si penyerang yang ternyata Ki Santa tidak mempedulikan ejekan Ki Temula, dan cepat menyerang lawannya. Amarahnya memang sudah sejak tadi berkobar-kobar, melihat banyak murid Perguruan Naga Api yang tergeletak tanpa nyawa.

Jari-jari tangannya terkembang membentuk cakar naga. Tangan kanannya meluruk deras ke arah ulu hati, sementara cakar tangan kiri menempel di pergelangan tangan kanan. Posisi tangan itu ter- palang di depan dada.

Ki Temula yang sudah tahu kelihaian kakek beralis putih itu, tanpa sungkan-sungkan lagi mengeluarkan ilmu andalannya. 'Cakar Garuda'. Ibu jari dan kelingkingnya dilipat ke dalam, membentuk cakar garuda. Tanpa sungkan-sungkan lagi, dipapaknya serangan cakar itu.

Prattt!

Tubuh Ki Santa terdorong dua langkah, sementara Ki Temula hanya terhuyung satu langkah ke belakang. Tapi, begitu daya dorong yang membuat tubuh mereka terhuyung habis, mereka pun saling gebrak kembali.

Ki Santa bertarung bagai macan luka. Kemarahan yang amat sangat berkobar-kobar dalam hatinya. melihat satu persatu murid Perguruan Naga Api berguguran.

"Aaakh...!"

Kembali terdengar jeritan menyayat. Kali ini terdengar dari mulut Prawira! Pemuda bertahi lalat besar ini berdiri tertatih-tatih sambil memegangi perutnya yang robek memanjang. Darah mengalir deras dari luka lewat sela-sela jarinya. Kemudian, tubuhnya roboh untuk selama-lamanya. Mati.

Gigi Ki Santa bergemeletuk menahan geram. Pilu hatinya melihat murid-muridnya terbantai di depan mata tanpa dia mampu berbuat apa-apa. Maka kemarahannya pun ditumpahkan pada Ki Temula. Namun walau kakek beralis putih ini telah mengerah- kan segenap kemampuan yang dimiliki, tetap saja tidak mampu mendesak lawannya.

Memasuki jurus ketujuh puluh, Ki Santa mulai terdesak. Sampai akhirnya pada jurus ke tujuh puluh tiga, sebuah pukulan Ki Temula telak bersarang di perutnya.

"Hukh...!" keluh Ki Santa tertahan dan tubuhnya kontan terbungkuk. Di saat itulah, kembali kaki kakek kecil kurus itu bergerak menendang.

Prak... !

Terdengar suara berderak keras ketika tendangan itu menghantam kepala Ki Santa.

"Aaakh...!"

Kakek beralis putih itu memekik tertahan. Beberapa saat lamanya tubuh Ki Santa terhuyung- huyung, sebelum akhirnya roboh ke tanah dengan kepala pecah. Ki Santa tewas seketika itu juga.

"Ha ha ha...!" tawa bergelak penuh kemenangan terdengar dari mulut Ki Temula. "Bakar habis semua bangunan ini...!" Tanpa diperintah dua kali, orang- orang berseragam kuning itu melemparkan beberapa obor ke arah bangunan. Tak lama kemudian, api pun mulai berkobar melahap bangunan Perguruan Naga Api.

"Ada yang berhasil meloloskan diri?" tanya kakek berpakaian kuning itu pada salah seorang anak buahnya.

"Ada, Guru," jawab orang itu.

"Bagus...! Dan kita hanya tinggal menunggu api pertempuran meletus. Sebentar lagi, Kerajaan Bojong Gading akan Kita kuasai. Bojong Gading akan dibanjiri darah!" desis kakek kecil kurus itu tajam.

"Benar, Guru...," sahut si murid membenarkan.

"Kumpulkan mereka semua cepat, dan segera pergi dari sini! Api itu akan menarik perhatian orang untuk menuju kemari! Cepat laksanakan!"

"Baik, Guru...!" sahut murid itu. Segera kawan- kawannya diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu. Sementara si kakek kecil kurus telah lebih dulu melesat dari situ.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara, kedua kakinya hinggap di luar pagar yang mengelilingi bangunan Perguruan Naga Api. Tapi baru saja kakinya akan melangkah, sebuah teguran telah menyapanya.

"Mau ke mana, Kang?"

Kakek berwajah tirus mirip tikus itu seketika mengangkat kepalanya. Di depannya dalam jarak sekitar tiga tombak, berdiri seorang kakek berpakaian kuning dan wajahnya mirip kuda. Siapa lagi kalau bukan Ki Matija.

"Matija...," desis kakek bertubuh kurus itu.
"Ya. Aku, Kang," desah Ki Matija pelan.
"Mau apa kau kemari, Matija?!" tanya Ki Temula.

Keras dan tajam nada suaranya.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Kang. Apa yang kau lakukan di Perguruan Naga Api?! Sungguh tidak kusangka kalau memang kaulah pelakunya!" tandas kakek beimuka kuda itu seraya tersenyum mengejek.

Ki Temula menghela napas panjang.

"Kau salah paham, Matija. Perlu kau ketahui, aku... eh...! Matija! Awas di belakangmu...!" teriak Ki Temula kalap.

Ki Matija terkejut bukan main mendengar peringatan itu. Secepat kilat dibalikkan tubuhnya ke belakang, bersiap untuk menghadapi segala kemung- kinan. Tapi ternyata di belakangnya tidak ada apa- apa. Sadarlah Ki Matija, kalau dirinya tertipu.

Buru-buru Ki Matija berbalik, tapi terlambat! Ki Temula yang telah menemukan kesempatan, tidak menyia-nyiakannya begitu kakek muka kuda itu membalikkan tubuh. Cepat laksana Kilat, dia melompat menerjang. Dikerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya dalam penyerangan ini.

Prattt..!
"Aaakh...!"

Ki Matija memekik tertahan. Serangan Ki Temula dalam jurus 'Cakar Garuda', telah menghantam pelipisnya. Tanpa ampun lagi tubuhnya terjengkang ke belakang dengan tulang pelipis retak. Ki Matija tewas, setelah meregang nyawa sebentar. Darah segar langsung membasahi bumi.

"Ha ha ha...!"

Kembali tawa kemenangan terdengar dari mulut Ki Temula. Kemudian diangkatnya tubuh kakek muka kuda itu, lalu dilemparkan ke dalam api yang tengah berkobar. Tanpa ampun lagi, tubuh wakil ketua Perguruan Garuda Sakti segera dilalap api. Sementara Ki Temula segera melesat kabur dari situ.

"Sayang waktuku tidak banyak, Matija! Kalau saja waktuku banyak, tak akan kubiarkan kau mati secara demikian enak," desah kakek berwajah tirus itu pelahan.

Setelah berkata demikian, tubuh Ki Temula melesat dari situ. Dalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya sudah lenyap ditelan kegelapan malam.

***

Sesosok bayangan ungu melesat cepat mendaki Lereng Gunung Munjul. Gerakannya gesit bukan main. Suasana malam begitu gelap, sehingga wajahnya tersembunyikan. Dan yang terlihat hanyalah sekelebat sinar ungu dan putih keperakan.

Rupanya bayangan itu menuju ruang tahanan tempat Ki Kerpala berada. Ya, dia memang menuju ruang tahanan yang lebih mirip gua itu. Langkahnya terhenti di sebuah ruang yang depannya berjeruji besi baja bulat, dan berdinding baru cadas yang amat tebal. Jelas, itu adalah ruang tahanan untuk Ki Kerpala.

Glarrrr...!

Halilintar menggelegar kembali. Sesaat sinarnya yang terang menyinari bumi. Tapi waktu yang hanya sesaat itu, sudah cukup untuk menerangi wajah bayangan ungu itu dan ruang tahanan Ki Kerpala.

"Kosong...," desis si bayangan ungu yang ternyata adalah Arya Buana alias Dewa Arak. Ruangan tahanan itu memang kosong, tak ada seorang pun di dalamnya. Yang ada hanya rantai-rantai baja yang berserakan di lantai.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak melesat dari situ. Dikerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki, sehingga yang terlihat hanya bayangan ungu saja yang berkelebatan cepat. Dan tak lama kemudian, Dewa Arak telah berada di depan pintu gerbang Perguruan Garuda Sakti.

"Ki Temula ada?" tanya Arya pada murid Perguruan Garuda Sakti yang menjaga pintu gerbang.
"Ada. Silakan masuk, Dewa Arak!" ucap salah seorang di antara mereka.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya melangkah masuk dengan diantar salah seorang dari dua penjaga pintu gerbang itu. Dan kini mereka tiba di ruang semadi Ki Temula. Penjaga itu lalu meninggalkan Dewa Arak. Setelah mengetuk pintu sebentar, Arya segera masuk ketika mendapat sahutan dari dalam.

"Arya! Silakan masuk," kata Ki Temula, seraya berdiri menyambut Arya.
"Aku membawa berita buruk untukmu, Ki," jelas Arya.

"Penting sekalikah berita itu, Arya? Sehingga di malam selarut ini kau datang mengunjungiku?" tanya Ki Temula begitu mereka berdua telah berada di dalam ruang semadinya.

"Sangat penting, Ki," sahut Arya cepat.

Ki Temula mengerutkan alisnya.

"Hm..., urusan orang yang menyamar sebagai aku kan?" tebak kakek berwajah tirus itu.
"Benar, Ki. Dan aku telah tahu sekarang, siapa orang yang telah memfitnahmu itu!" tandas Dewa Arak.

Wajah Ki Temula berubah. Sepasang matanya menyipit merayapi wajah Dewa Arak.

"Benarkah apa yang kau katakan, Arya. Yakinkah kau kalau kali ini dugaanmu tidak meleset?" tanya Ki Temula kurang yakin.

"Yakin, Ki," sahut Arya seraya menganggukkan kepalanya.

"Siapa orang itu, Arya?" tanya kakek kecil kurus itu. Agak bergetar suaranya karena perasaan tegang yang melanda hatinya.

"Hhh...!" desah Dewa Arak sebelum memulai ucapannya. "Orang itu adalah..., Ki Kerpala, Ki."

"Tidak mungkin!" sentak Ki Temula. Sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan. "Tarik kembali ucapanmu, Arya! Atau..., terpaksa Kita berhadapan sebagai musuh!"

Dewa Arak menatap tajam Ki Temula.

"Apakah memang sudah menjadi sifatmu untuk tidak mempercayai ucapan setiap orang, Ki?" sindir Arya tajam.

"Apakah kau tidak berkeinginan untuk membuktikan kebenaran berita yang kubawa ini. Mari Kita cepat melihat ruang tahanan itu, Ki. Aku berani mempertaruhkan kepalaku seandainya ucapanku tidak benar!"

"Baik! Mari Kita melihatnya! Dan ingat, Dewa Arak. Kalau ternyata terbukti kata-katamu itu tidak benar. Enyahlah kau dari sini, dan jangan injak tempatku lagi!"

"Baik! Mari Kita buktikan! Cepat, sebelum dia kembali lagi ke sana!"

Setelah berkata demikian, tubuh Dewa Arak melesat Cepat bukan main gerakannya. Ki Temula tentu tak mau kalah. Tubuhnya berkelebat cepat menyusul Dewa Arak yang telah melesat lebih dulu.

***

"Mustahil...!" teriak Ki Temula ketika melihat ruang tahanan sudah kosong, dan rantai-rantai baja yang berserakan di lantai dalam keadaan utuh. Bergegas diambilnya kunci pintu jeruji baja itu, kemudian dibukanya.

Dewa Arak tidak berkata apa-apa dan hanya mengikuti tubuh Ketua Perguruan Garuda Sakti yang telah masuk ke dalam ruangan itu. Ki Temula membungkukkan tubuh, memungut gelang-gelang baja yang melilit pergelangan tangan dan kaki Ki Kerpala. Diperhatikannya sejenak, kemudian diper- lihatkan pada Arya.

"Tidak ada tanda-tanda dibuka dengan kekerasan," desah Dewa Arak. Alisnya berkerut pertanda tengah berpikir keras. Memang Arya telah mendengar, bahkan telah menjumpai tokoh-tokoh yang memiliki berbagal ilmu yang aneh. Tapi, penemuannya kali ini membuat Dewa Arak bingung.

Ki Temula tampak tercenung. Wajahnya menyorotkan penyesalan yang mendalam. Ditatapnya lagi seruruh ruangan tahanan itu.

"Hhh...!" kakek kecil kurus ini menghela napas panjang. "Maafkan atas kekasaran sikapku, Dewa Arak. Ahhh..., betapa tololnya aku! Padahal dulu telah kuketahui kalau Kakang Kerpala gemar mempelajari ilmu-ilmu hitam. Tak salah lagi, ilmu yang digunakan- nya untuk membuat tangan dan kakinya lolos dari gelang-gelang baja itu pastilah aji 'Welut Putih'. Tapi, ilmu apa yang membuatnya mampu menerobos sela- sela jeruji baja ini? Hhh...! Kecerobohanku telah menyebabkan peristiwa ini terjadi."

"Sudahlah, Ki. Tidak ada gunanya lagi menyesal dan mengeluh sekarang. Yang harus Kita lakukan adalah mencegah terjadinya peristiwa selanjutnya," usul Dewa Arak.

Ki Temula menatap tajam Dewa Arak.

"Apa yang kau ucapkan sama sekali tidak salah, Arya. Tapi, pelaksanaan ucapan itu yang sulit. Apalagi kau sama sekali belum mengetahui kelihaian Kakang Kerpala. Dulu sewaktu aku dan Adi Matija menangkapnya, dia tengah mempelajari ilmu 'Sirna Raga'. Hhh...! Aku khawatir kalau sekarang ilmu itu telah sempurna dikuasainya. Entah bagaimana menghadapinya...," ujar Ketua Perguruan Garuda Sakti itu bernada mengeluh.

'"Sirna Raga'?!" tanya Dewa Arak Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang amat sangat. Telah didengarnya kehebatan ilmu 'Sirna Raga' itu. Dengan ilmu itu, seseorang akan mampu menghilang. Jadi bagaimana caranya menghadapi ilmu seperti itu?

"Yang masih kubingungkan. Dengan ilmu apa dia sanggup meloloskan diri dari celah-celah jeruji baja yang sempit ini? Mungkinkah dengan aji 'Welut Putih' juga?" tanya Ki Temula seperti untuk dirinya sendiri.

Dewa Arak tercenung. Keistimewaan aji 'Welut Putih' memang sudah pernah didengarnya. Ilmu itu mampu membuat tubuh si pemilik aji itu selicin belut, dan mampu membuat tubuh seolah tak bertulang. Memang sukar bagi lawan untuk menyarangkan serangan karena kelicinan kulitnya itu.

"Sudahlah, Ki. Lagi pula bukan maksudku mem­buat pusing Aki dengan menunjukkan hal ini. Aku hanya ingin memberitahu ada orang yang telah mencemarkan nama Aki."

Ki Temula sama sekali tidak menyahut. Kakek ini masih dibingungkan dengan lolosnya Ki Kerpala dari dalam kurungan itu.

"Lebih baik Kita tunggu saja, Ki. Bukan tidak mungkin, setelah selesai dengan aksinya Ki Kerpala akan kembali kemari. Dengan demikian Kita berdua bisa mencoba untuk menangkapnya," usul Dewa Arak.

"Hhh...!" Lagi-lagi Ki Temula menghela napas panjang. "Jadi merepotkanmu saja, Arya."

"Sama sekali tidak, Ki," sergah Dewa Arak cepat "Memang sudah menjadi sifatku yang suka menyelesaikan urusan yang tidak wajar."

"Terima kasih, Arya," ucap kakek itu pelahan.
"Lupakanlah, Ki," sahut Dewa Arak risih.

Setelah itu suasana pun hening. Tidak terdengar lagi ada yang berbicara. Keduanya tenggelam dalam lamunan masing-masing. Tapi meskipun demikian, sepasang mata dan pendengaran mereka dipasang tajam-tajam, menunggu kembalinya Ki Kerpala ke dalam kurungan.Seorang pria berseragam putih-putih melangkah tersuruk-suruk menembus kepekatan malam yang gelap gulita.

Glaar... !

Ketika kilat menyambar dan menerangi bumi, tampaklah kalau sosok tubuh itu adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun. Di baju bagian dada kirinya yang putih, tersulam gambar kepala seekor naga yang tengah menyemburkan api.

Dari sini sudah bisa ditebak kalau pemuda ini adalah salah seorang murid Perguruan Naga Api. Memang, pemuda itu adalah Sentanu yang sengaja dibiarkan lolos oleh kawanan penyerang berseragam kuning, tanpa setahu pemuda itu sendiri.

"Hhh... hhh... hhh...!"

Napas Sentanu nampak terengah-engah, tapi sama sekali tidak dipedulikannya. Terus saja kakinya berlari menuju Kotaraja Kerajaan Bojong Gading.

Setelah cukup jauh dari bangunan perguruannya, Sentanu menolehkan kepala. Dan terkejutlah hati pemuda ini ketika melihat api membumbung tinggi dari arah yang ditinggalkannya. Tanpa ke sana pun pemuda ini sudah tahu kalau tempat yang tengah dilalap oleh api itu adalah bangunan perguruannya.Dada Sentanu seketika sesak oleh rasa amarah dan haru yang mendalam. Kalau menuruti perasaan hatinya, ingin rasanya dia kembali ke sana dan mengadu nyawa dengan orang-orang yang telah membumi-hanguskan perguruannya. Tapi kalau diri- nya juga tewas, siapa yang akan membalas kekejian ini?

Entah berapa lama Sentanu berlari, dan pemuda ini tidak mempedulikannya. Langkahnya semakin dipercepat ketika tak jauh di depannya sudah nampak sebuah bangunan besar dan megah. Halamannya luas, dan dikurung pagar tembok yang tinggi dan kokoh.

"Berhenti...! Siapa kau?!" cegat salah seorang penjaga pintu gerbang, begitu melihat Sentanu bergerak menuju pintu gerbang yang dijaganya. Tombak di tangannya ditodongkan ke perut Sentanu. Sentanu mengatur napasnya sejenak .

"Tolong... tolong antarkan aku menghadap Panglima Jumali," pinta Sentanu terengah-engah.

"Ada urusan apa hendak menemui beliau?" tanya penjaga itu. Todongan tombaknya tidak juga dijauh- kan dari tubuh Sentanu. Sementara, sepasang matanya merayapi wajah pemuda di hadapannya, dalam keremangan cahaya obor yang terpancang dekat situ.

"Aku adalah adik seperguruannya. Katakan saja pada Panglima Jumali bahwa ada murid Perguruan Naga Api yang ingin bertemu."

"Ahhh...!" seru penjaga itu terkejut. Dijauhkannya todongan tombaknya dari perut Sentanu. Penjaga itu rupanya tahu kalau Panglima Jumali adalah murid Perguruan Naga Api. "Maaf... aku tidak tahu."

"Tidak mengapa...," desah Sentanu. Dimakluminya perlakuan penjaga itu padanya.
"Kalau begitu, harap Kisanak menunggu sebentar."

Setelah berkata demikian, penjaga itu berlari masuk ke dalam. Sedangkan Sentanu berdiri di depan pintu gerbang ditemani seorang penjaga lain.

Tak lama kemudian, penjaga yang melapor itu telah kembali bersama seorang pria tinggi besar bercambang bauk lebat dan berpakaian seragam Panglima.

"Benarkah kau dari Perguruan Naga Api?" tanya Panglima yang bernama Jumali itu ketika sampai di depan pintu gerbang. Sepasang matanya menatap tajam sosok tubuh yang berdiri di hadapannya.

"Benar, Panglima. Hamba bernama Sentanu," jelas pemuda itu. Tak berani Sentanu memanggil orang yang berdiri di hadapannya dengan panggilan keakraban. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang Panglima kerajaan, dan kali ini berada di depan prajurirnya. Harus dijaga martabat orang itu, meskipun juga berasal dari Perguruan Naga Api.

"Sentanu? Kau adik seperguruan Adi Branta?" tanya Panglima Jumali mulai teringat. Memang dia pernah kenal orang yang bernama Sentanu, tapi itu lima tahun yang lalu. Wajar kalau sekarang telah agak lupa.

"Benar, Panglima," sahut Sentanu.

"Ahhh...! Silakan masuk, Adi Sentanu. Dan tidak usah terlalu banyak peradatan. Panggil saja aku seperti layaknya seseorang memanggil kakak seper­guruannya. Mari!...! Mari, silakan masuk...!"

Tanpa sungkan-sungkan lagi Panglima Jumali menarik tangan Sentanu dan membawanya masuk. Panglima itu tahu kalau pemuda di hadapannya ini pasti membawa berita yang sangat penting. Kalau tidak, mana mungkin datang menemuinya tengah malam begini.

Sentanu melangkah mengikuti Panglima itu yang sudah berjalan cepat menuju bangunan tempat untuk menerima tamu penting.

"Sekarang katakan, apa maksudmu datang menemuiku malam-malam begini, Adi Sentanu," tagih Panglima itu tidak sabar begitu mereka telah duduk di dalam.

Wajah Sentanu berubah muram.

"Bencana menimpa perguruan Kita, Kang" tutur Sentanu, yang kini tidak ragu-ragu lagi memanggil Panglima itu dengan panggilan kekerabatan.

"Bencana? Apa maksudmu. Adi Sentanu. Aku masih tidak mengerti!" tegas Panglima itu, langsung berkernyit dahinya.

"Perguruan Naga Api sekarang telah musnah, Kang," sahut Sentanu. Perlahan sekali suaranya seperti mendesah, tapi akibatnya bagi Panglima Jumali tidaklah demikian.

"Apa?!" pekik Panglima itu. Tubuhnya sampai terlonjak dari duduknya. "Apa katamu, Adi Sentanu?!"

Sentanu menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat wajah kakak seperguruannya yang begitu tegang. Bahkan suaranya terdengar gemetar.

"Guru dan semua murid perguruan telah tewas, Kang. Hanya aku yang selamat. Dan itu pun karena melarikan diri. Namun demikian, berat rasanya hatiku berbuat ini. Tapi terpaksa, Kang. Aku harus mem- beritahukan berita ini padamu."

"Ya Tuhan...!" keluh Panglima Jumali. Kedua tangannya ditekapkan ke wajah, dan sesaat kemudian diturunkan kembali. Terdengar suara ber- gemeretak keras ketika Panglima ini mengepalkan kedua tangannya.

"Betapa berdosanya aku. Di sini aku enak-enakan saja, dan tak pernah menengok perguruan. Sementara Guru dan yang lainnya dibunuh orang. Hhh...! Murid macam apa aku ini!"

Sentanu membiarkan saja. Dia tahu kalau Panglima Jumali tengah terpukul.

"Katakan, Adi Sentanu! Siapa yang melakukan perbuatan keji itu?!" desak Panglima itu. Ada ancaman hebat yang tersembunyi dalam kata- katanya.

"Perguruan Garuda Sakti, Kang...."

"Apa?! Sentanu! Sadarkah kau akan apa yang telah kau ucapkan itu?!"

"Aku sadar, Kang. Dan semula pun aku ragu. Tapi kejadian kemarin malam telah menghapus semua keragu-raguanku."

Kemudian Sentanu menceritakan semua yang terjadi.

Panglima Jumali mendengarkan penuh seksama. Wajahnya sebentar pucat, sebentar kemudian memerah mendengar hal-hal yang menggiriskan. Baru setelah Sentanu menyelesaikan ceritanya, Panglima ini menarik napas panjang.

"Kita harus membalas dendam, Adi Sentanu!" desis Panglima itu tajam. "Jaladi!" teriaknya keras.

Sesaat kemudian terdengar derap langkah mendekat, lalu muncul seorang pengawal yang segera memberi hormat padanya.

"Panglima memanggilku?" tanya pengawal yang bernama Jaladi itu.

"Ya! Berikan surat ini pada Panglima Gotawa dan Panglima Mantaya! Cepat..!" perintah Panglima Jumali sambil memberikan surat yang saat itu juga dibuatnya.

"Baik, Panglima," sahut prajurit itu sambil menerima surat yang disodorkan Panglima Jumali.

"Sekarang mari Kita berangkat, Adi Sentanu. Kita basmi Perguruan Garuda Sakti. Aku rela, sekalipun akibat perbuatanku ini harus dihukum oleh raja!"

***

"Biadab! Terkutuk! Harus kubalaskan perbuatan keji ini!" teriak Panglima Jumali. Begitu melihat keadaan markas Perguruan Naga Api yang kini telah menjadi puing-puing.

"Benar, Kang," sahut Panglima Gotawa yang juga bekas murid Perguruan Naga Api.

"Kita harus hancurkan Perguruan Garuda Sakti!" sambut Panglima Mantaya, juga bekas murid Perguruan Naga Api.

"Mari berangkat! Kita hancurkan markas mereka seperti mereka menghancurkan perguruan Kita!"

Setelah berkata demikian, rombongan yang dipimpin tiga orang Panglima itu segera bergerak. Jumlah mereka ratusan orang, dan kini bergerak menuju markas Perguruan Garuda Sakti.

Menjelang pagi, rombongan itu telah tiba di tujuan. Dan tanpa bicara apa-apa, pasukan itu langsung menyerbu.

Tentu saja murid-murid Perguruan Garuda Sakti menjadi terkejut bukan kepalang melihat serbuan pasukan Kerajaan Bojong Gading. Tapi terpaksa mereka melawan, karena tidak ingin mati konyol. Sebentar saja, terjadilah pertempuran massal.

Tapi karena jumlah mereka yang hanya sekitar tiga puluh lima orang, sementara jumlah pasukan penyerbu itu tidak kurang dari dua ratus orang, maka dalam waktu sebentar saja mereka sudah terdesak hebat. Apalagi di antara para penyerbu terdapat bekas murid Perguruan Naga Api.

Bagi yang berhadapan dengan prajurit masih untung. Tapi siallah bagi mereka yang bertemu Panglima Jumali, Panglima Gotawa, maupun Panglima Mantaya. Ketiga Panglima itu adalah bekas murid kepala Perguruan Naga Api.

Dan walaupun telah lama keluar, mereka tetap rajin melatih diri. Sehingga, tidak aneh kalau kepandaian mereka semakin lihai karenanya. Ke mana saja ketiga Panglima ini bergerak, pasti ada satu tubuh yang roboh ke tanah.

Dan mendadak saja sepak terjang Panglima- Panglima ini tertahan, ketika bertemu dua orang murid kepala Perguruan Garuda Sakti.

"Apa maksudmu menyerang perguruan kami, Panglima Jumali?!" tanya salah seorang dari dua orang murid kepala yang berkulit wajah kuning. Keras nada suaranya.

"Tidak usah berpura-pura bodoh...!" sentak Panglima Jumali. "Aku datang untuk membalaskan dendam Guru dan adik-adik seperguruanku yang kalian bantai!"

"Apa?! Gilakah kau, Jumali?" sergah salah seorang lagi yang berkulit muka merah.

"Tidak usah banyak bacot! Awas serangan...!" selak Panglima Gotawa seraya menusukkan tombak pendeknya ke perut si wajah kuning.

Wut.. !

Si muka kuning tidak bisa berkata apa-apa lagi Cepat-cepat dielakkan serangan tombak itu dengan menggeser kaki. Kemudian dibalasnya serangan itu dengan menyabetkan pedang secara mendatar ke leher Panglima itu.

Melihat kawannya sudah menyerang, Panglima Jumali pun tidak tinggal diam. Cepat diputar pedangnya laksana baling-baling. Kemudian secara tidak terduga-duga, ditusukkan ke arah kerongkongan si muka merah.

Si muka merah cepat menarik kepalanya ke belakang. Golok yang sejak tadi sudah terhunus di tangannya, segera disabetkan ke tangan Panglima Jumali yang menghunus pedang.

"Eh...!"

Panglima Jumali berseru kaget. Cepat-cepat ditarik pulang serangannya. Tak lupa, dilontarkannya tendangan lurus ke arah perut lawan.

Si muka merah melompat ke belakang seraya mengirimkan serangan yang tak kalah dahsyatnya. Sesaat kemudian keduanya sudah terlibat per- tempuran sengit, dan berjalan seimbang. Sedangkan pertempuran antara murid-murid Perguruan Garuda Sakti melawan pasukan kerajaan berlangsung berat sebelah. Dan tampak, satu demi satu mereka roboh. Sudah dapat dipastikan kalau tak lama lagi mereka semua akan tewas di tangan pasukan kerajaan itu.

Mendadak saja terdengar suara sorak sorai, disusul munculnya pasukan kerajaan di bawah pimpinan Panglima Jatalu. Tanpa bicara apa-apa, pasukan itu segera menyerbu pasukan yang tengah membantai murid-murid Perguruan Garuda Sakti.

Panglima Mantaya kaget. Dia tahu, siapa Panglima Jatalu itu. Seorang Panglima bekas murid kepala Perguruan Garuda Sakti. Rupanya berita penyerbuan ke perguruan ini sampai juga ke telinganya. Maka dia langsung buru-buru membawa pasukan untuk membela perguruannya.

Tak dapat dihindarkan lagi, terjadilah pertempuran antara kedua pasukan dari kerajaan yang sama, Kerajaan Bojong Gading. Panglima Mantaya tanpa ragu-ragu lagi segera menyongsong datangnya Panglima Jatalu. Dan sesaat kemudian keduanya sudah terlibat dalam pertempuran sengit. Dan kini, kembali korban berjatuhan.

Tapi sebelum pertempuran semakin berlarut-larut Terdengar bentakan nyaring. "Hentikan per­tempuran...!"

Belum lagi gema suara bentakan itu lenyap, melesat dua sosok tubuh ke arena pertempuran. Sosok tubuh berwarna ungu dan kuning. Rupanya bentakan yang dikeluarkan disertai pengerahan tenaga dalam itu, membuat semua orang yang ada di situ terpaku. Dada mereka semua terasa tergetar. Bahkan lutut pun terasa lemas . Seketika itu juga pertarungan terhenti. Begitu juga pertarungan antara dua Panglima melawan dua murid kepala Perguruan Garuda Sakti. Dari suara bentakan, keempat orang itu sudah bisa memperkirakan kesaktian pemiliknya. Segera semua mata tertuju pada asal suara itu.

Di tengah-tengah arena pertempuran, telah berdiri dua sosok tubuh. Yang pertama adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun dan berambut putih keperakan, yang tak lain adalah Dewa Arak. Sedangkan yang seorang lagi adalah kakek ber­pakaian kuning berwajah tirus mirip tikus. Siapa lagi kalau bukan Ki Temula.

Memang, semula kedua orang sakti ini menunggu kembalinya Ki Kerpala. Tapi setelah lelah menunggu, sampai hari menjelang pagi, tidak juga nampak ada tanda-tanda kemunculannya. Dan pada saat itulah mereka malah mendengar suara denting senjata dan lengking kematian di kejauhan.

Ki Temula dan Dewa Arak menjadi curiga. Suara ribut-ribut itu sepertinya berasal dari sekitar Perguruan Garuda Sakti. Maka, cepat mereka melesat meninggalkan tempat itu menuju ke sana.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati kedua orang sakti ini, melihat pertempuran massal yang terjadi di situ. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera berteriak mencegah per­tempuran itu berlanjut.

"Keparat..!" teriak Panglima Jumali ketika mengenali salah satu dari dua orang yang baru datang itu.
"Hiyaaa...!"

Sambil bertenak melengking nyaring, panglima itu menyerang kakek kecil kurus itu. Pedang di tangannya melesat cepat menusuk lurus ke arah ulu hati.

"Sabar dulu, Panglima. Tahan dulu amarahmu," desah kakek itu lirih seraya menggerakkan tangannya mendorong ke depan.

Wuuussa... !

Serangkum angin keras berhembus ke arah tubuh Panglima Jumali. Dan tusukan pedang itu pun melenceng arahnya, seperti tertahan oleh dinding yang tidak nampak.

Tubuh Panglima Jumali terhuyung. Meskipun demikian, Panglima ini tidak putus asa. Disadari kalau kakek di hadapannya ini bukan tandingannya. Tapi hal itu tidak membuatnya menjadi gentar. Namun sebelum Panglima itu kembali menyerang, Dewa Arak telah melangkah maju dan berdiri di tengah-tengah, di antara panglima itu dan Ki Temula.

"Sabar, Panglima," bujuk Arya pelan.

"Siapa kau?! Mengapa mencampuri urusanku!? Menyingkirlah sebelum kesabaranku hilang!"

"Namaku Arya, Panglima. Kehadiranku di sini hanya untuk menghilangkan kesalahpahaman yang terjadi," jelas Dewa Arak, masih tetap tenang suaranya.

"Arya?!" kata Panglima itu mengulang perkataan Dewa Arak. Keningnya berkernyit. Nama itu seperti pernah didengarnya. Tapi kapan dan di mana? Dia terus mengingat-ingatnya Dan sekarang dia ingat, karena pernah mendengarnya dari mulut Sentanu. Arya inilah yang telah dua kali menyelamatkan murid- murid Perguruan Naga Api.

"Benar, Panglima. Mengapa?"

Panglima Jumali menggeleng-gelengkan kepala­nya.

"Tidak! Tidak apa-apa. Hm.... bukankah kau yang telah menolong murid-murid Perguruan Naga Api dari ancaman maut orang-orang jahat ini? Tapi kenapa sekarang kau malah bersama dengan gembong penjahat ini?" tanya Panglima Jumali sambil menunjuk Ki Temula. Dia benar-benar tidak mengerti.

Dewa Arak menganggukkan kepalanya. "Menolong murid-murid Perguruan Naga Api memang benar. Tapi Ki Temula dan murid-murid Perguruan Garuda Sakti bukanlah orang jahat Panglima."

Wajah Panglima Jumali berubah. "Ucapan apa ini?! Ki Temula dan murid-murid Perguruan Garuda Sakti telah membumihanguskan Perguruan Naga Api. dan membunuh Ki Santa! Itu bukan perbuatan jahat katamu, Arya?! Lalu, perbuatan manakah yang kau anggap jahat?"

"Apa?! Benarkah apa yang kau ucapkan itu, Panglima? Benarkah Perguruan Naga Api telah dibumihanguskan?!" tanya Dewa Arak. Wajah pemuda ini memancarkan keterkejutan yang amat sangat. Sementara Ki Temula hanya berdiri terpaku, tak tahu harus berbuat apa.

Panglima Jumali hanya tersenyum sinis. Tak dijawabnya pertanyaan Dewa Arak. Sebaliknya perhatiannya malah dialihkan pada rombongan prajurit di belakangnya.

"Sentanu...! Kemari kau!" teriak Panglima Jumali sambil melambaikan tangannya.

Pemuda berhidung besar itu melangkah maju.

"Nah, Dewa Arak. Inilah satu-satunya murid Perguruan Naga Api yang berhasil lolos dari pembantaian Ki Temula dan orang-orang Perguruan Garuda Sakti! Sentanu! Ceritakanlah apa yang kau alami! Agar Dewa Arak tidak tertipu oleh penjahat culas itu!" teriak Panglima Jumali sambil menuding Ki Temula.

"Tutup mulutmu, Panglima Jumali!" teriak Panglima Jatalu keras. Tidak senang hatinya melihat gurunya berkali-kali dihina Panglima Jumali. Kalau tidak segan pada gurunya, sudah diterjangnya Panglima itu.

"Tenanglah, Jatalu," bujuk Ki Temula, pelan sekali. Memang, berita yang didengarnya dari mulut Panglima Jumali terlalu mengejutkan hatinya, sehingga membuatnya agak terpukul.

Panglima Jatalu pun terdiam. Bisa dimaklumi kata- kata gurunya. Kalau perasaan harinya dituruti, bisa jadi persoalan ini akan menjadi kian kusut. Padahal, gurunya telah bersusah-payah berusaha meluruskan persoalan.

"Maafkan aku, Guru," ucap Panglima Jatalu pelan.Dewa Arak menatap tajam. langsung ke bola mata Sentanu.

Pemuda berambut putih keperakan ini mengenali pemuda berhidung besar ini sebagai salah seorang yang pernah menyerbu Perguruan Garuda Sakti.

"Benar yang dikatakan Panglima Jumali, Sentanu?" tanya Dewa Arak. Sepasang matanya yang tajam mencorong dan bersinar kehijauan merayapi sekujur wajah pemuda di hadapannya.

Sentanu bergidik melihat sorot mata Dewa Arak. Sepasang mata di hadapannya seolah-olah bukan mata manusia saja, tapi lebih cocok mata harimau!

"Semua yang dikatakan Panglima Jumali benar. Semalam, Ki Temula bersama tiga puluh murid Perguruan Garuda Sakti menyerbu. Ki Santa tewas di tangannya. Sementara, semua murid Perguruan Naga Api, tewas pula di tangan murid-murid Perguruan Garuda Sakti. Tidak itu saja yang dilakukan, mereka juga membakar habis bangunan perguruan kami!"

Dewa Arak tepekur. Terasa ada kesedihan yang mendalam pada suara pemuda di hadapannya. Dia tahu Sentanu berkata benar. Tapi, Ki Temula juga tidak salah. Yang masih menjadi tanda tanya baginya, siapa puluhan orang yang diyakini Sentanu sebagai murid-murid Perguruan Garuda Sakti?

Dengan pandang mata penuh pertanyaan, ditatapnya wajah Ki Temula. Sementara yang ditatap tengah tercenung bingung. Keningnya berkernyit dalam Kakek ini memang tengah berpikir keras."Kau yakin kalau orang-orang itu adalah murid- murid Perguruan Garuda Sakti, Sentanu?" tanya Dewa Arak lagi meminta ketegasan.

Sentanu menatap tajam wajah Dewa Arak. "Jangan salah paham, Sentanu. Yakinkah kau kalau mereka bukan orang-orang persilatan golongan hitam?"

"Hhh...!" Sentanu menghela napas panjang. "Kau tidak mempercayaiku, Dewa Arak?" tanya Sentanu. Nada suaranya terdengar kesal.

Dewa Arak menggelengkan kepalanya. Mulutnya menyunggingkan senyum.

"Aku mempercayaimu. Sentanu. Hanya saja, aku butuh keterangan yang sejelas-jelasnya. Maka, aku mohon agar kau bersedia memberikan keterangan yang jelas," tegas Arya.

Mendengar ucapan Dewa Arak, wajah Sentanu kembali berseri.

"Aku tidak akan begitu sembarangan menuduh, Arya. Orang orang yang menyerbu Perguruan Naga Api semalam berseragam kuning, dan di dada kiri ada sulaman gambar kepala seekor burung garuda.

"Hanya itu saja, Sentanu?" tanya Dewa Arak seraya mengernyitkan keningnya. Dan memang, kalau hanya atas dasar itu saja, betapa kerdilnya wawasan pemuda ini Sentanu menggelengkan kepalanya.

"Tidak hanya itu saja, Arya. Mereka juga memainkan semua ilmu Perguruan Garuda Sakti, kecuali ilmu 'Cakar Garuda' Kepandaian mereka rata rata tinggi, sehingga tidak aneh kalau semua murid perguruan kami semuanya terbantai. Tingkat kepandaian mereka rata-rata setingkat dengan Kakang Prawira."

"Ahhh...!" desah Arya terkejut bukan main.

Ditatapnya wajah Ki Temula tajam. Sudah dapat diduga kalau orang-orang itu adalah didikan Ki Kerpala. Dan mendengar kelihaian mereka, sudah bisa diperkirakan kalau Ki Kerpala telah lama men- didiknya. Luar biasa! Sekian tahun Ki Kerpala telah mampu keluar tanpa diketahui Ki Temula. Diam-diam Dewa Arak menyalahkan keteledoran Ketua Perguruan Garuda Sakti itu.

"Bagaimana, Dewa Arak. Masih tidak percaya akan semua ucapannya? Cepat Menyingkirlah dari situ, Dewa Arak. Sebelum kakek licik itu membokongmu!" tegas Panglima Jumali.

Dewa Arak tersenyum.

"Terima kasih atas nasihatmu, Panglima. Aku percaya akan keterangan Sentanu, Tapi, ketahuilah Aku telah lama menyelidiki peristiwa ini."

"Lalu bagaimana akhirnya, Dewa Arak?" tanya Panglima Jumali penuh gairah dan berusaha melunakkan hatinya.

"Aku berhasil menemukan pelaku semua kejahatan ini."

"Siapa dia, Dewa Arak? Ki Temula kan?" tebak Panglima itu langsung.

Dewa Arak menggelengkan kepalanya

"Bukan, Panglima. Bukan Ki Temula pelakunya."

"Ahhh...!" terdengar seruan-seruan terkejut dari mulut Panglima Jumali, Panglima Gotawa, Panglima Mantaya dan Sentanu.

"Bukan dia pelakunya? Lalu, siapa?" desak Panglima Jumali keras.

Tapi sebelum Dewa Arak sempat menjawab, seorang prajurit berseru keras.

"Panglima, istana kerajaan diserbu!"

"Apa?!" teriak Panglima Jumali, Panglima Gotawa, Panglima Mantaya dan Panglima Jatalu berbareng.

Bagai berlomba mereka berlari ke arah prajurit yang berteriak itu. Dan apa yang dikatakan prajurit itu memang benar. Dari ketinggian lereng gunung, nampak terlihat serombongan orang bergerak cepat menuju Istana Kerajaan Bojong Gading.

"Cepat kembali ke istana!"

Serentak seluruh rombongan bergerak menuruni lereng menuju Kotaraja Kerajaan Bojong Gading.

***

Dua orang prajurit penjaga pintu gerbang Kerajaan Bojong Gading mengernyitkan kening, melihat di kejauhan debu tebal mengepul tinggi di udara.

"Apa itu, Badrun?" tanya salah seorang dari mereka.

Orang yang dipanggil Badrun menyipitkan matanya.

"Astaga...! Itu serombongan pasukan berkuda!"
"Apa?!" sahut temannya kaget "Mengapa prajurit penjaga perbatasan tidak memberi kabar?"

Setelah berkata demikian, kawan Badrun itu berlari masuk memberitahukan hal itu.

Sesaat kemudian, gegerlah suasana dalam istana. Apalagi tatkala diketahui, pasukan prajurit di bawah pimpinan empat orang Panglima tidak berada di tempat. Yang tinggal hanya sepasukan prajurit di bawah pimpinan Panglima Dampu.

Memang, pasukan berkuda itu tak lain dari pasukan prajurit Kadipaten Tasik, dibantu murid- murid Ki Kerpala dan tak ketinggalan pula Peri Muka Seratus. Mereka memang bermaksud mengadakan pemberontakan di bawah pimpinan Adipati Tasik, Pradipta.

Di bawah pimpinan Panglima Dampu dan Patih Rantaka, prajurit Kerajaan Bojong Gading berusaha keras mempertahankan istana. Satu keuntungan bagi pasukan Kerajaan Bojong Gading adalah, mereka mempunyai tempat berlindung yang amat kuat. Dan kelebihan itu dimanfaatkan oleh mereka. Segera saja dipersiapkan pasukan panah untuk mencegah pasukan penyerang mendekati istana.

Dan siasat itu berhasil baik. Pasukan pemberontak yang mencoba maju segera berguguran dibantai pasukan panah, sebelum sempat mendekat. Berkali- kali mereka maju, tapi berkali-kali terpaksa mundur kembali dengan membawa banyak korban.

"Keparat!" Peri Muka Seratus menggeram melihat banyaknya korban di pasukan mereka. "Kakang Kerpala, lebih baik kita yang lebih dulu masuk ke sana. Kita hancurkan dulu pasukan panah itu. Karena kalau tidak, sampai kapan pun pasukan Kita tidak akan mampu masuk!"

"Usulmu baik sekali, Komala. Mari Kita habisi mereka!" sahut Ki Kerpala gembira.

Maka kedua tokoh sakti ini segera melesat ke arah benteng Istana Bojong Gading.

Pasukan panah prajurit Bojong Gading yang memang sejak tadi sudah siap siaga, segera menjepretkan gendewanya begitu melihat dua sosok tubuh melesat cepat mendekati benteng.

Twang...! Twang...!

Puluhan batang anak panah melesat menyambar ke arah Ki Kerpala dan Peri Muka Seratus. Tapi kali ini yang menjadi sasaran anak panah itu bukanlah tokoh yang gampang tewas begitu saja, melainkan dua tokoh tingkat tinggi. Maka begitu melihat sambaran puluhan anak panah yang melesat ke arah mereka, keduanya tidak menjadi gugup.

Peri Muka Seratus segera mencabut pedangnya, kemudian memutar-mutarnya laksana baling baling.

Trang...! Trang...! Trang...!

Akibatnya, puluhan anak panah yang menyambar ke arahnya, kandas di tengah jalan. Tak satu pun yang mampu mengenai sasarannya. Memang hebat tindakan Peri Muka Seratus! Tapi, masih lebih hebat lagi apa yang dilakukan Ki Kerpala! Kakek ini sama sekali tidak menggunakan senjata. Dibiarkan saja hujan anak panah yang menyambar tubuhnya.

Tasss...! Tasss !

Puluhan anak panah yang menyambar sekujur tubuhnya meleset begitu mengenai sasaran. Seolah- olah yang dipanah itu bukanlah tubuh manusia, melainkan batang logam yang licin! Inilah keistimewaan aji 'Welut Putih' milik kakek kecil kurus ini.

Sementara anak panah yang menyambar ke arah matanya, ditepis dengan tangan kosong. Maka, kontan anak-anak panah itu berpentalan dalam keadaan patah. Dari peragaan ini saja, sudah bisa diperkirakan kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki kakek ini.

"Hup...!"

Tanpa mengalami halangan yang berarti, Ki Kerpala mendaratkan kedua kakinya di atas tembok benteng itu.

"Hup...!"

Peri Muka Seratus pun menyusul tiba. Tak ada sedikit pun bagian tubuhnya yang terluka. Jangankan terluka. Lecet pun tidak.

Dan begitu berhasil mendarat, kedua tokoh tingkat tinggi itu segera mengamuk dahsyat.

Setiap kali tangan atau kaki mereka bergerak, sudah dapat dipastikan akan ada tubuh yang rubuh dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Jerit lengking kematian terdengar saling susul. Dalam sekejap mata saja, lebih dari separuh pasukan panah itu yang tewas.

Dan di saat itulah pasukan pemberontak itu maju menyerbu. Kali ini, tanpa ada penghalang mereka dapat mencapai pintu gerbang. Adipati Pradipta adalah orang yang pertama kali mencapai pintu gerbang istana. Laki-laki setengah baya itu terdiam sejenak di depan pintu gerbang istana yang tertutup rapat. Seluruh tenaga dalamnya kini dikumpulkan. Sambil mengeluarkan pekik nyaring, Adipati Pradipta memukulkan kedua tangannya ke depan.

"Hiyaaa...!"
Brakkk... !

Terdengar suara keras ketika pintu gerbang itu hancur berantakan. Dan begitu pintu gerbang itu hancur, pasukan pemberontak itu pun maju menyerbu sambil mengeluarkan teriakan-teriakan liar. Maka tak dapat dicegah lagi, pertempuran massal pun terjadi. Pasukan Kerajaan Bojong Gading di bawah pimpinan Panglima Dampu dan Patih Rantaka, mati-matian melawan.

Tapi karena di pihak lawan banyak terdapat tokoh cukup tinggi ilmunya yang merupakan murid Ki Kerpala, maka sebentar saja pasukan kerajaan sudah terdesak hebat. Satu persatu mereka berguguran.

Adipati Pradipta tertawa tergelak. Dengan perasaan tak sabar dia terus bergerak mendahului pasukannya menuju istana. Hatinya benar-benar tak sabar lagi untuk segera masuk ke dalam istana itu, dan membunuh Raja Bojong Gading, Prabu Nalanda.

Tapi di saat-saat gawat bagi keutuhan Kerajaan Bojong Gading, terdengar derap langkah kuda. Itu pun masih disusul dengan munculnya, pasukan kerajaan yang dipimpin empat orang Panglima.

Munculnya bantuan tak terduga-duga ini, tentu saja mengejutkan pihak Adipati Pradipta. Tapi sebaliknya, menggembirakan pasukan Kerajaan Bojong Gading.

Dewa Arak dan Ki Temula tanpa membuang-buang waktu lagi segera menerjang Ki Kerpala dan Peri Muka Seratus yang tengah menyebar maut.

Ki Temula segera menghadang Ki Kerpala, sementara Dewa Arak menghadang Peri Muka Seratus.

"Cukup, Kakang! Hentikan semua kekejaman ini Tanganmu sudah terlalu banyak berlumur darah!" geram kakek kecil kurus bermuka tikus ini pelan tapi penuh wibawa.

Ki Kerpala menghentikan gerakannya. Ditatapnya wajah adik seperguruannya tajam-tajam.

"Menyingkirlah, Temula. Aku tidak ingin mem- bunuhmu. Jangan sampai pikiranku berubah!"

"Aku bersedia menyingkir. Tapi dengan satu syarat! Kau harus ikut aku. Kita kembali ke Perguruan Garuda Sakti!" tandas Ki Temula tegas.

"Keparat..! Rupanya kau memilih mati, Temula! Kalau begitu, mampuslah!"

Setelah berkata demikian, Ki Kerpala melompat menerjang. Jari-jari tangannya terkembang mem- bentuk cakar garuda. Serangannya lurus ke arah kepala dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menyilang di depan dada.

Wut...!

Ki Temula mendoyongkan tubuhnya ke belakang.

Tangan kanannya digerakkan dari dalam ke luar untuk menangkis serangan itu. Sadar kalau lawan di hadapannya ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, tanpa sungkan-sungkan lagi dikeluarkannya ilmu 'Cakar Garuda'

Takkk...!
"Akh...!"

Ki Temula terpekik kaget. Sekujur tangannya terasa sakit-sakit. Bahkan seluruh tubuhnya pun tergetar hebat. Belum lagi kekagetannya hilang, kaki kanan kakak seperguruannya lelah menyusul tiba-tiba dengan sebuah tendangan miring ke arah kepala.

Cepat-cepat Ki Temula merendahkan tubuhnya membentuk kuda-kuda rendah, sehingga serangan itu lewat di atas kepalanya. Beberapa saat kemudian, kedua kakak beradik seperguruan ini sudah terlibat pertempuran sengit. Pertempuran yang hampir seimbang karena satu sama lain telah mengetahui ilmu masing-masing.Sementara di tempat terpisah. Peri Muka Seratus menatap Arya lekat-lekat. Tokoh hitam yang ahli dalam penyamaran ini teringat akan cerita Ki Kerpala.

"Hm..., kaukah yang berjuluk Dewa Arak itu?" tanya perempuan itu sambil tersenyum sinis.

Tapi Dewa Arak sama sekali tidak mempedulikan ucapan lawannya. Dengan sikap tenang, diambilnya guci yang tersampir di punggung. Kemudian diangkat- nya ke atas kepala, dan dituangkan ke dalam mulutnya.

Gluk... gluk... gluk...!

Suara tegukan terdengar ketika arak itu memasuki kerongkongannya. Sesaat kemudian, hawa yang hangat pun mulai naik dari perut dan terus ke atas kepalanya.

Peri Muka Seratus geram bukan kepalang melihat sikap Dewa Arak yang seperti tidak mempedulikannya Sambil mengeluarkan pekik melengking nyaring, diterjangnya pemuda berambut putih keperakan di depannya. Pedang di tangannya menusuk cepat ke arah leher.

Tapi dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang', mudah saja bagi Dewa Arak untuk mengelakkan serangan itu. Bahkan sekaligus berbalik mengancam lawannya. Sesaat kemudian keduanya sudah terlibat pertarungan cukup sengit.Tapi lama kelamaan, nampaklah keunggulan Dewa Arak. Dan pertarungan pun berlangsung berat sebelah. Kepandaian yang dimiliki Peri Muka Seratus itu sebenarnya tinggi. Tapi lawan yang dihadapinya adalah Dewa Arak, seorang pendekar muda yang memiliki ilmu lebih tinggi. Dengan keistimewaan ilmu 'Delapan Langkah Belalang', setiap serangan perempuan yang bernama asli Komala itu kandas percuma. Sebaliknya setiap serangan Dewa Arak membuatnya terpontang-panting menyelamatkan diri.

Tak heran belum sampai tiga puluh jurus, Peri Muka Seratus sudah terdesak hebat. Dan sudah dapat dipastikan kalau tak lama lagi tokoh hitam yang ahli dalam penyamaran ini akan roboh di tangan Arya.

Berbeda dengan keadaan Dewa Arak yang berada di atas angin, keadaan Ki Temula malah sebaliknya. Kakek ini malah terdesak hebat. Ki Kerpala dengan keistimewaan aji 'Welut Putih', membuat Ketua Perguruan Garuda Sakti itu terdesak hebat.

"Haaat..!"

Ki Temula berteriak nyaring. Dengan kuda-kuda rendah dan saling bersilang, tangan kanannya menyambar deras ke arah ulu hati lawannya. Dan sungguh di luar dugaan, Ki Kerpala sama sekali tidak mempedulikan serangan itu. Dibiarkan saja serangan itu, dan sebaliknya kaki kanannya menendang ke arah lutut adik seperguruannya.

Prattt..! Rrrttt..! Tukkk...!
"Akh...!"

Kejadian yang berlangsung terlalu cepat. Serangan cakar Ki Temula yang tepat mengenai ulu hati langsung meleset seperti menghantam sebuah benda licin. Tak sedikit pun jari-jari tangan yang biasanya mampu menembus baru karang keras itu mampu melukai kulit Ki Kerpala. Tangan itu langsung terpeleset membawa serta baju kakak seperguruannya yang koyak terkena cakaran tangan.

Sebaliknya tendangan Ki Kerpala tak mampu dielakkan Ki Temula. Telak dan keras sekali tendangan itu mengenai lutut. Seketika itu juga sambungan tulang lutut Ki Temula terlepas dan tubuhnya kontan terhuyung.

"Hiyaaa...!"

Ki Kerpala melompat memburu. Tangan kanannya menyampok deras ke arah pelipis.

Wajah Ki Temula pucat. Disadari kalau dirinya tidak akan mungkin mampu mengelak atau menangkis serangan itu. Yang dapat dilakukannya hanya membelalakkan sepasang matanya sambil menanti datangnya maut.

Sementara itu, Dewa Arak yang bertanding dengan Peri Muka Seratus, sesekali perhatiannya terarah pada pertarungan Ki Temula melawan kakak seperguruannya. Maka begitu melihat ancaman maut yang mengancam laki-laki berwajah tirus itu, Arya langsung menghentikan desakan pada lawannya.

"Hih...!"

Dewa Arak memekik keras sambil menghentakkan kedua tangannya ke depan, mengerahkan jurus 'Pukulan Belalang' yang jarang digunakannya.

Wuttt...!

Serangkum angin berhawa panas menyembur keras mencegat tubuh Ki Kerpala yang tengah mem­buru Ki Temula. Maka laki-laki berwajah hitam itu kaget bukan main. Dia sadar betul kalau pukulan jarak jauh itu begitu dahsyat. Segera diurungkan serangannya, kemudian langsung dibanting tubuhnya ke tanah dan bergulingan menjauh.

Peri Muka Seratus tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Begitu melihat lawan perhatiannya terpecah, segera wanita licik ini melompat menerjang.

Pedang di tangannya diayunkan membacok kepala Dewa Arak dari atas ke bawah.

Tapi Peri Muka Seratus kecelik. Sungguh tidak dikira kalau Dewa Arak telah memperhitungkan hal itu. Arya segera membalikkan tubuh dan meng- hentakkan kedua tangannya menyambut serangan Peri Muka Seratus.

Wusss... ! Bressss... !
"Aaa...!"

Peri Muka Seratus melengking panjang. Serangan jurus 'Pukulan Belalang' yang dilontarkan Dewa Arak telak menghantam dadanya. Seketika itu juga. Tubuh­nya yang tengah berada di udara terpental jauh ke belakang. Sekujur tubuh wanita sesat ini hangus. Tampak cairan merah berhamburan keluar dari mulut, hidung, dan telinganya. Tamatlah riwayat Peri Muka Seratus.

"Jahanam...!" Ki Kerpala menggeram hebat melihat kematian bekas kekasihnya. Memang puluhan tahun yang lalu. Peri Muka Seratus adalah kekasih Ki Kerpala.

Tanpa mempedulikan adik seperguruannya lagi, tubuh Ki Kerpala melesat ke arah Arya. Kakek ini melambung tinggi ke udara. Kemudian dari atas tubuhnya menukik turun, menyerang ubun-ubun Dewa Arak dengan jari-jari tangan terpentang lebar.

Karena tak ada kesempatan mengelak, Dewa Arak terpaksa menangkisnya. Sadar akan kesaktian lawan, tanpa sungkan-sungkan lagi dikerahkan seluruh tenaga dalamnya yang telah mencapai taraf kesempurnaan.

Plak...!

Maka benturan dua buah tangan yang sama-sama memiliki tenaga dalam tinggi terjadi. Tubuh Ki Kerpala terpental balik ke udara. Sedangkan Dewa Arak tidak bergeming sedikit pun, tapi kedua kakinya me- nimbulkan jejak cukup dalam di tanah. Rupanya tekanan dari atas yang terlalu berat, tak dapat ditahan tanah.

"Hiyaaa...!"

Dewa Arak segera bergerak mendahului. Guci yang tadi digenggamnya, kini telah kembali tersampir di punggung. Kedua tangannya yang berisi ilmu 'Belalang Sakti', bergerak-gerak aneh, dan secara tidak terduga-duga menyerang lawannya yang kini telah melayang turun.

"Hup...!"

Secepat kedua kakinya menapak tanah, secepat itu pula Ki Kerpala menggerakkan tangan menangkis serangan itu. Kakek ini masih merasa penasaran bukan main. Benturan tenaga dalam sebelumnya masih belum membuatnya puas. Mungkinkah Dewa Arak mampu menandingi tenaga dalam yang dimilikinya?

Dan kini, tak pelak lagi benturan antara sepasang tangan yang sama-sama memiliki tenaga dalam tinggi, tidak tercegah lagi.

Plakkk...!

Baik tubuh Dewa Arak maupun tubuh Ki Kerpala sama-sama terhuyung mundur dua langkah ke belakang. Keduanya merasakan sekujur tangan mereka sakit dan nyeri.

Dewa Arak kaget bukan main. Sungguh tidak disangka kalau tenaga dalam yang dimiliki kakek berwajah hitam ini setingkat dengannya. Padahal, selama ini Dewa Arak tidak pernah lalai berlatih. Baik berlatih dengan cara bersemadi maupun pernapasan untuk menambah kekuatan tenaga dalamnya. Dan pemuda ini juga tahu pasti kalau tenaga dalam yang dimilikinya kini telah maju pesat. Jauh lebih kuat daripada saat pertama kali terjun ke dunia persilatan. Tapi sekarang kenyataannya? Kakek ini mampu membendungnya!

Tapi kekagetan yang dialami Dewa Arak, tidak separah yang dialami Ki Kerpala. Kakek ini kaget sekaligus terpukul bukan main, melihat kenyataan kalau lawannya yang masih sangat muda itu mampu mengimbangi tenaga dalamnya. Padahal sejak dikurung gurunya, dia selalu berlatih.

Tanpa diketahui kedua orang adik seper­guruannya, Ki Kerpala terus berlatih keras. Baik semadi, pernapasan, bahkan ilmu-ilmu hitam. Dugaannya, kini tidak akan ada seorang pun yang mampu menandingi kekuatan tenaga dalamnya. Tapi kenyataannya? Lawan yang masih muda itu mampu mengimbangi!

Tapi perasaan amarah Ki Kerpala ketika teringat kematian kekasihnya, telah mengusir perasaan terkejut itu. Dengan amarah meluap-luap, kembali diterjang lawannya. Sedangkan Arya tanpa sungkan sungkan lagi cepat menyambut tenangan itu. Sesaat kemudian keduanya sudah lertibat dalam per­tarungan sengit.

Melihat kakak seperguruannya telah bertarung melawan Dewa Arak, Ki Temula segera melangkah menghampiri Prabu Nalanda. Raja Bojong Gading ini kini sudah tidak khawatir lagi.

Sementara itu pertempuran antara pasukan pemberontak dengan pasukan Kerajaan Bojong Gading telah berakhir. Dengan datangnya bantuan pasukan dari empat orang Panglima itu, pasukan pemberontak pimpinan Adipati Pradipta berhasil dilumpuhkan. Bahkan sang adipati sendiri tewas.

Panglima Jumali, Panglima Gotawa, Panglima Mantaya, dan Panglima Jatalu, segera menjatuhkan diri di hadapan Prabu Nalanda.

"Kami siap menerima hukuman atas kesalahan kami, Gusti Prabu." ucap mereka serentak.

Prabu Nalanda tersenyum.

"Semula aku marah sekali atas tindakan kalian ini. Tapi, Ki Temula telah menceritakan semuanya pada ku. Dan aku memakluminya. Kalian semua ku- maafkan. Bangkitlah..." tutur Prabu Nalanda bijaksana.

"Ahhh...! Terima kasih, Gusti Prabu," sahut keempat Panglima itu sambil bangkit berdiri.

"Jadi, pemuda itukah orang yang kau ceritakan itu, Ki?" tanya Prabu Nalanda sambil menatap Dewa Arak yang tengah bertarung melawan Ki Kerpala. Dan kini semua pasang mata tertuju pada pertarungan antara Dewa Arak melawan kakek bermuka hitam itu.

"Benar, Gusti Prabu." sahut Ki Temula. Memang, laki-laki berwajah tirus itu sudah menceritakan pada Prabu Nalanda, mengenai semua kesalahpahaman yang terjadi. Demikian pula tentang kerja keras Dewa Arak untuk menyelesaikan pertikaian itu.

"Rasanya tidak pantas kalau Kita tidak membalas semua jasa-jasanya yang besar ini, Ki. Dialah yang telah menyelamatkan Kerajaan Bojong Gading dari kehancuran," tegas Prabu Nalanda lagi. Pelan suara­nya.

Ki Temula mengernyitkan alisnya.

"Maaf, Gusti Prabu. Bukannya hamba tidak setuju. Tapi sepengetahuan hamba, pemuda itu benar-benar tidak suka jika pertolongannya itu dianggap jasa-jasa yang perlu dibalas," bantah Ki Temula dengan nada halus.

"Kita kan punya akal untuk mengatasinya, Ki," tegas Prabu Nalanda kalem, seraya tersenyum.
"Maksud, Gusti Prabu?" tanya Ki Temula, masih belum dapat menangkap maksud ucapan Prabu Nalanda.

"Sudahlah, Ki. Serahkan saja semuanya padaku," potong Raja Bojong Gading itu cepat sambil mengulapkan tangan.

Ki Temula tidak bisa membantah lagi, dan hanya mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran.

Tampak gigi Dewa Arak bergemeletuk. Seluruh kemampuannya telah dikeluarkan, tapi tak juga mampu mendesak kakek di hadapannya ini. Seratus jurus telah berlalu, tapi belum nampak ada tanda- tanda yang akan terdesak. Pertarungan masih ber­langsung seimbang.
Sebetulnya dengan keistimewaan Jurus 'Delapan Langkah Belalang', Dewa Arak beberapa kali hampir berhasil menyarangkan pukulan atau tendangan ke sekujur tubuh lawan. Dan memang, setiap pukulan itu selalu meleset dan tergelincir setiap mengenai sasaran. Itulah keistimewaan aji 'Welut Putih' yang mampu membuat kulit tubuh menjadi licin sekali.

Prabu Nalanda mengerutkan alisnya. Kecepatan gerak kedua tokoh sakti itu, membuatnya tidak dapat melihat jelas jalannya pertarungan. Yang terlihat hanyalah kelebatan bayangan keunguan dan kekuningan yang kadang saling belit, tapi kadang terpisah.

Ki Temula sejak tadi tengah menunggu-nunggu Ki Kerpala menggunakan ilmu 'Sirna Raga'. Tapi, sampai sekian lamanya menanti, ternyata tak juga nampak ada tanda-tanda akan dikeluarkan. Jadi, rupanya kakak seperguruannya ini tidak berhasil mendapat- kan ilmu dahsyat itu.

"Bagaimana, Ki? Siapa kira-kira yang akan menang?" tanya Prabu Nalanda sambil menolehkan kepalanya menatap Ki Temula.

"Dewa Arak memang luar biasa," desah kakek kecil kurus itu sambil menggeleng-gelengkan kepala, penuh kekaguman.

"Jadi, kakak seperguruanmu itu akan dapat dikalahkannya?" tanya Prabu Nalanda berseri-seri. Ada nada kekaguman dalam nada suaranya. Prabu Nalanda sukar membayangkan, sampai di mana ketinggian ilmu pemuda yang berjuluk Dewa Arak itu. Padahal Ki Temula saja tidak mampu menghadapi Ki Kerpala.

"Sebenarnya Dewa Arak memang mampu mengalahkannya. Gusti Prabu. Tapi kakak seperguruan hamba memiliki aji 'Welut Putih'. Sehingga, setiap pukulan atau tendangan Dewa Arak tidak berarti apa-apa," jelas Ki Temula.

"Jadi... bagaimana, Ki?"

Ki Temula menghela napas panjang.

"Rasanya sulit bagi pemuda itu untuk mengalah­kannya. Sayang, dia masih kurang berpengalaman dalam menghadapi ilmu-ilmu aneh, Gusti. Padahal, dia memiliki ilmu yang dapat melumpuhkan aji 'Welut Putih' itu."

"Ahhh..., jadi ..." suara Prabu Nalanda terputus di tengah jalan.

"Yahhh.... Kita hanya tinggal menunggu waktu saja, Gusti. Mudah-mudahan Dewa Arak berhasil menemu- kan caranya. Kalau tidak, mungkin dia akan tewas di tangan kakak seperguruan hamba. Lambat laun Dewa Arak akan kelelahan karena setiap serangannya hanya sia-sia. Sementara kakak seper- guruan hamba nampaknya menyimpan tenaga, karena jarang melakukan serangan. Hamba dapat menduga siasatnya. Dia menunggu Dewa Arak kelelahan, lalu baru turun tangan Dan saat itu, tidak begitu sulit untuk menjatuhkan Dewa Arak"

"Kau tahu, bagaimana seharusnya Dewa Arak menghadapi lawannya, Ki?" tanya Prabu Nalanda yang gelisah mendengar uraian panjang lebar kakek kecil kurus itu.

Ki Temula menganggukkan kepalanya, "Cepat beritahukan padanya, Ki," pinta Prabu Nalanda penuh gairah.

"Maaf, Gusti Prabu. Bukannya hamba membantah perintah Gusti. Tapi hamba tidak bisa bersikap seperti itu. Biar mereka bertarung secara jantan."

"Ahhh...!" Prabu Nalanda menghela napas. Alasan Ketua Perguruan Garuda Sakti itu memang bisa diterima dan masuk akal. Maka, raja ini tidak mendesak lagi. Dialihkan pandangannya ke depan, ke arah pertarungan.

Sementara itu pertarungan sudah berlangsung hampir seratus tujuh puluh lima jurus. Dan selama itu, entah berapa kali pukulan, tendangan, dan gebukan guci Dewa Arak bersarang di sekujur tubuh Ki Kerpala, namun tanpa hasil apa-apa. Sementara setiap serangan Ki Kerpala, belum ada satu pun yang mengenai sasarannya. Memang dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang'-nya, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk mengelakkan setiap serangan itu.

Pada jurus keseratus delapan puluh, Dewa Arak melentingkan tubuhnya ke belakang dan bersalto beberapa kali di udara. Sementara Ki Kerpala yang sejak menginjak jurus keseratus tujuh puluh lima, telah merasakan kalau serangan-serangan Dewa Arak telah mengendur, segera melompat memburu. Tidak dibiarkan lawannya memulihkan tenaga.

"Hiyaaa...!"

Tapi Dewa Arak sudah memperhitungkan hal itu. Sengaja sekarang ini serangannya agak dikendurkan, supaya lawan mengira dirinya lelah. Padahal, berkat keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti', Arya hampir tidak pernah lelah. Setiap kali tenaganya mengendur, dia segera meminum araknya, dan seketika itu juga pulih kembali. Dia berlaku seperti itu untuk menghilangkan kewaspadaan lawan.

Ternyata usahanya berhasil, karena Ki Kerpala sudah mulai terpancing dan memburunya penuh emosi. Di saat itulah, kedua tangan Dewa Arak dihentakkan ke depan, menggunakan jurus 'Pukulan Belalang'!

Wuuusss... !

Angin berhawa panas berhembus keras ke arah tubuh Ki Kerpala yang tengah berada di udara. Kakek berwajah hitam ini berteriak ngeri. Dan....

Bresss... !
"Aaa...!"

Pukulan jarak jauh itu telak bersarang di dada Ki Kerpala. Seketika itu juga tubuhnya terhempas jauh ke belakang, dan jatuh berdebuk di tanah dalam keadaan tanpa nyawa. Sekujur tubuhnya hangus. Tampak darah bercucuran dari mulut, hidung, dan telinganya.

"Hhh...!" Arya menghela napas lega. Diangkatnya guci arak yang sejak tadi digenggam ke atas kepala, lalu dituangkan arak itu ke dalam mulutnya.

Gluk... gluk... gluk...!

Suara tegukan terdengar begitu arak itu memasuki tenggorokannya.

Prabu Nalanda dan Ki Temula bergegas meng- hampiri Dewa Arak.

"Terima kasih atas semua pertolonganmu, Arya," ucap Prabu Nalanda tanpa ragu-ragu.
"Ah! Jangan berterima kasih padaku, Gusti Prabu. Berterima kasihlah pada Gusti Allah," elak Dewa Arak.

Memang pemuda ini sudah bisa menduga kalau orang yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang raja.

"Apa yang kau katakan tidak salah, Arya. Tapi, sebagai seorang yang telah menerima pertolongan begitu besar, wajar kalau aku memberi sesuatu, sebagai tanda syukurku atas pertolongan Gusti Allah," ujar Prabu Nalanda, sambil tersenyum lebar.

"Tapi, Gusti.. ," Arya mencoba membantah.

"Kau harus menerimanya, Arya. Atau kau ingin mempermalukanku di hadapan seluruh prajuritku?"

Dewa Arak tidak bisa membantah lagi.

"Nah! Sebagai tanda terima kasihku pada Gusti Allah, kau akan kunikahkan dengan putriku, Arya," tegas Prabu Nalanda penuh wibawa, namun terdengar buru-buru.

"Hah...?!" Dewa Arak melengak kaget. Ucapan Prabu Nalanda itu tak ubahnya petir di tengah hari. "Tapi, Gusti Prabu..."

"Ingat, Arya. Jangan membantah perintah seorang raja...!" potong Prabu Nalanda cepat.

Dewa Arak tertegun kebingungan. Dengan pandangan mata seperti orang bodoh, ditatapnya Ki Temula. Tapi kakek itu malah mengangkat bahu, lalu menghindari pandangan mata Dewa Arak.

Di saat gawat itu, tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh, dan tahu-tahu di dekat mereka telah berdiri seorang gadis berpakaian putih. Wajahnya tampak cantik laksana dewi. Rambutnya panjang terurai.

"Ayahanda..." sapa gadis itu lirih sambil memberi hormat pada Raja Bojong Gading itu.

Prabu Nalanda menoleh ke arah Ki Temula.

"lnilah wanita yang kuceritakan itu, Ki. Wanita perkasa yang telah menyelamatkanku beberapa minggu lalu, dari tangan maut Peri Muka Seratus ketika aku tengah berburu." jelas Raja Bojong Gading itu. "Sebagai tanda terima kasihku, kujadikan dia anakku."

"Melati...," desah Dewa Arak terkejut. Sepasang matanya terbelalak melihat gadis yang dicintainya itu telah menjadi putri seorang raja.

"Inilah putriku yang akan kujodohkan denganmu, Arya. Bagaimana, kau suka?" tanya Prabu Nalanda sambil tersenyum dikulum. Dia telah tahu ada pertalian cinta antara Melati, anak angkatnya dengan si Dewa Arak. Maka dia memang tidak ragu-ragu lagi untuk memutuskan demikian.

Wajah Dewa Arak seketika memerah. Sungguh terbuka sekali Prabu Nalanda mengajukan pertanyaan seperti itu. Bahkan Melati sendiri sampai menundukkan wajahnya yang mendadak menyem- burat merah.

"Itu..., eh! Anu... terserah Gusti Prabu saja...," jawab Dewa Arak terbata-bata.
"Jawablah sebagaimana seorang lelaki memberi jawaban, Arya," tegur Prabu Nalanda dengan suara penuh wibawa.

Kian merah wajah Dewa Arak

"Hamba setuju, Gusti Prabu." tegas Arya Buana .

"Bagus! itu baru jawaban seorang lelaki sejati!" puji Raja Bojong Gading ini dengan wajah berseri-seri.

"Tapi hamba punya satu permintaan, Gusti," sambung Dewa Arak cepat.
"Apa itu, Arya? Katakan saja, jangan malu-rnalu."

"Hamba ingin usul agar pernikahan dilaksanakan nanti saja. Masih banyak tugas yang harus kukerjakan, Gusti Prabu."

Prabu Nalanda mengernyitkan keningnya, tapi sesaat kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Disadari banyak orang yang membutuhkan per­tolongan Dewa Arak.

"Aku tidak keberatan, Arya."

"Ayahanda...," ucap Melati yang sejak tadi menundukkan kepalanya. Suaranya pelan sekali.
"Ada apa, Anakku," sahut Prabu Nalanda.

"Maafkan Ananda, Ayahanda. Ananda datang terlambat sehingga tidak bisa membantu Ayahanda menghadapi para pengacau itu "

"Tidak mengapa, Anakku. Ayah pun memaklumi- nya," jawab Prabu Nalanda sambil tersenyum. Memang, Raja Bojong Gading ini tahu kalau selama ini Melati sibuk mencari Dewa Arak, setelah didengarnya Arya ada di Kotaraja Kerajaan Bojong Gading ini.

"Terima kasih, Ayahanda," ucap Melati seraya memberi hormat. "Ayahanda...."
"Ada apa lagi, Anakku? Katakanlah...," tegas Prabu Nalanda, masih dengan senyum di bibir.
"Hamba mohon pamit, Ayahanda. Hamba khawatir akan keselamatan guru hamba."

Prabu Nalanda tersenyum maklum. Diusap-usapnya rambut Melati yang hitam tebal itu.

"Pergilah, Anakku. Tapi ingat, jangan lupakan Ayahmu ini. Sekali-sekali mampirlah kemari."
"Akan kuusahakan, Ayahanda," sambut Melati gembira mendapat persetujuan itu.
"Hamba juga mohon diri, Gusti Prabu," pamit Dewa Arak pula.
"Silakan, Arya. O, ya. Kalau sempat, sering- seringlah datang kemari!"

Dewa Arak hanya menganggukkan kepalanya, lalu segera melesat dari situ bersama Melati. Dalam sekejap saja tubuh keduanya sudah lenyap meninggalkan para prajurit dan perwira Kerajaan Bojong Gading.

"Bagaimana kau bisa sampai kemari, Melati?" tanya Dewa Arak yang agak bingung melihat kemunculan Melati di sini.

Melati menghela napas. Wajahnya yang semula cerah, mendadak muram. Tentu saja hal ini membuat Arya merasa tidak enak.

"Sejak kita datang waktu itu, sebenarnya Kakek sudah terluka dalam. Tapi, Kakek tidak ingin aku mengetahuinya. Sampai akhirnya aku mengetahuinya sendiri. Maka cepat-cepat aku pergi mencarimu, karena kaulah yang telah membawa obat pulung itu."

Arya terdiam. Ingatannya melayang pada Ki Julaga yang selalu dipanggil kakek oleh gadis itu (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak, dalam episode "Cinta Sang Pendekar") Perlahan diambilnya sebuah gulungan kain dari jepitan sabuk di pinggangnya, kemudian diberikan pada Melati.

"O ya, Kang. Kita kan sekarang sudah dijodohkan!?" ujar Melati, tak tahan menyimpan perasaannya sejak tadi. Ditatapnya lekat-lekat wajah Dewa Arak.

"Benar! Seharusnya aku berterima kasih pada Prabu Nalanda. Kalau saja tidak ada beliau, mungkin aku belum resmi dijodohkan denganmu," goda Arya.

"Apa?!" pekik Melati. Sepasang matanya melotot "Enaknya!"

Setelah berkata demikian, dicubitnya pinggang Arya, namun tidak keras. Arya malah membiarkannya dan menangkap tangan gadis itu. Pelahan dibawanya tangan itu ke mulutnya, dan dikecup lembut. Lama sekali baru dilepaskan kecupan itu.

"Pergilah, Melati. Kakek menantikanmu," ucap Arya pelan, namun cukup jelas terdengar.
"Tapi aku masih kangen, Kang," rajuk Melati sambil merangkul pinggang Arya.
"Ya. Tapi di lain saat Kita kan masih bisa bertemu lagi," bujuk Arya dengan perasaan haru melihat Melati sangat membutuhkannya.

Setelah puas melepas kerinduan, akhirnya Melati meninggalkan tempat itu.

"Nanti kau mampir ya, Kang...," teriak Melati di kejauhan.

"Pasti..., pasti Melati," teriak Arya pula sambil memperhatikan kepergian gadis yang disayanginya itu.

Setelah bayangan Melati lenyap di kejauhan, Arya baru melangkahkan kakinya untuk menyongsong tugas-tugas lain yang telah menunggunya. Tugas selaku seorang pendekar pembela keadilan.

SELESAI

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Dewa Arak 05 - Banjir Darah Di Bojong Gading"

Post a Comment

close