Serial Dewa Arak 03 - Cinta Sang Pendekar

Mode Malam
03 - Cinta Sang Pendekar

"Ha ha ha...!"

Terdengar suara tawa keras yang memecah kesunyian di pagi ini. Sesosok tubuh berkulit hitam yang tengah bersemadi, membuka sepasang matanya dan memandang ke arah asal suara itu. Suara tawa yang menggelegar, membuat isi dadanya terasa bergetar. Suatu bukti nyata ketinggian tenaga dalam pemillk suara itu.

Sekitar tiga tombak di hadapan laki-laki berkulit hitam itu, berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Bibirnya tampak tersenyum sinis, dan sepasang matanya berkilat tajam.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh dua tahun. Kulitnya berwarna kecoklatan, seperti juga warna pakaiannya. Di kanan-kiri pinggangnya terselip sebatang kapak berwarna perak mengkilat.

"Kaget, Ular Hitam?" tanya pemuda itu mengejek. Sikapnya terlihat memandang rendah kepada orang di depannya.

Orang tua berjuluk Ular Hitam itu, bangkit dari semadinya dengan sikap waspada. Pameran tenaga dalam yang disalurkan lewat suara tadi membuatnya berhati-hati.

"Siapa kau, Anak Muda?" tanya Ular Hitam tanpa mempedulikan pertanyaan pemuda itu.

Seketika sepasang mata pemuda berpakaian serba coklat itu berkilat, karena pertanyaannya sama sekali tidak dipedulikan kakek di hadapannya. Raut wajahnya terpancar kemarahan.

"Kau kenal Ki Jatayu?" tanya pemuda itu. Dingin dan datar suaranya.

"Hah ... ?! Apa hubunganmu dengannya ... ?" tanya Datuk Barat ini dengan jantung berdebar keras. Wajah Ular Hitam langsung berubah mendengar nama yang disebut pemuda itu. Dia kenal betul siapa Ki Jatayu. Salah seorang pelayan kakaknya yang kabur membawa kitab pusaka.

"Aku muridnya...," pelan dan tenang suara pemuda itu.
"Apa?!" sepasang mata Ular Hitam terbelalak bagaikan melihat hantu.

"Kau terkejut, Ular Hitam? Aku yakin sekarang kau tentu sudah tahu maksud kedatanganku ke sini, bukan?"

Belum juga gema ucapannya habis, murid Ki Jatayu itu telah melesat menerjang Ular Hitam. Jari jari kedua tangannya terbuka lurus. Tangan kanannya bergerak menusuk ke arah leher, sementara tangan kiri terpalang di depan dada.

Angin berdecit tajam, berdesing dan mengaung, seolah-olah sebatang pedang yang amat tajam mengibas-ngibas mencari sasaran.

Sebagai datuk yang telah puluhan tahun malang-melintang di dunia persilatan, Ular Hitam mengenal betul serangan berbahaya. Maka, buru­buru digeser kakinya ke samping. Sehingga serangan itu lewat beberapa rambut di depan tubuhnya. Tetapi sesuatu yang mengejutkan kakek itu terjadi.

Brettt ... !

Baju di bagian dadanya robek memanjang, seperti tersayat pisau atau pedang tajam. Tentu saja hal ini membuat Datuk Barat ini kaget bukan main! Padahal kakek ini tahu pasti kalau serangan itu telah dielakkan sebelum sempat mengenainya. Jadi, angin serangan itulah yang telah menyerempet bajunya. Seketika Ular Hitam tersentak ketika teringat akan ilmu yang mempunyai akibat begitu dahysat itu.

'"Tangan Pedang'...!" teriak Datuk Barat itu keras.

'Tangan Pedang' adalah salah satu ilmu milik Ki Gering Langit yang mempunyai keistimewaan membuat tangan setajam pedang! Bahkan bagi yang telah memiliki tenaga dalam tinggi, angin serangannya pun tak kalah dahsyatnya dibanding babaran pedang tajam!

"Rupanya matamu belum lamur, Ular Hitam!" ejek pemuda berpakaian coklat itu.

Ular Hitam menggeram. Terdengar suara bergemeletuk keras dari sekujur tulang-tulang tubuhnya. Ketika amarahnya meluap-luap, kakek ini mengeluarkan ilmu andalannya. ilmu 'Ular Terbang'. Kedua tangannya yang membentuk kepala ular, berkelebatan cepat melakukan sodokan-sodokan tak terduga ke bagian ulu hati dan tenggorokan.

Angin berdecit keras mengiringi tibanya serangan serangan Ular Hitam itu. Suatu tanda kalau serangannya ditunjang tenaga dalam tinggi. Tetapi pemuda berbaju coklat itu hanya tersenyum mengejek. Dengan gerakan yang tak kalah cepat, dijegalnya serangan-serangan yang mengancam lewat tebasan-tebasan dengan sisi tapak tangan miring.

Takkk! Takkk!

Benturan antara dua tangan yang sama­sama memiliki tenaga dalam tinggi pun tak terhindari lagi. Tubuh Ular Hitam terhuyung dua langkah ke belakang, sementara tubuh pemuda murid Ki Jatayu hanya bergetar saja.

Ular Hitam terperanjat melihat kenyataan ini. Memang sudah diduga kalau tenaga dalam yang dimiliki pemuda sombong di hadapannya cukup tinggi. Namun sungguh di luar dugaan kalau sampai begitu tinggi, sehingga tidak kalah dahsyat dengan yang dimiliki anak asuhnya, si Dewa Arak.

Rasa perih yang melanda, membuat kakek itu melirik kedua tangannya yang tadi berbenturan dengan sisi tangan pemuda itu. Pucat wajah Ular Hitam ketika melihat lengan bajunya robek seperti tersayat pedang. Bahkan sepasang tangannya pun nampak bergaris tipis memanjang, yang pelahan namun pasti muncul bintik-bintik merah. Darah!

Tapi kakek ini tidak mempedulikan. Kembali diterjangnya murid Ki Jatayu itu dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Tentu saja pemuda berbaju coklat itu tidak tinggal diam. Langsung dibalasnya serangan dahsyat itu dengan tak kalah dahsyat.

Baik Ular Hitam maupun murid Ki Jatayu, sama-sama memiliki gerakan yang amat cepat. Sehingga tidak aneh, kalau yang nampak hanyalah dua buah bayangan berwarna hitam dan coklat yang saling sambar, dan terkadang saling terpental.

Dalam waktu sebentar saja pertarungan itu telah berlangsung lebih dari sepuluh jurus. Dan selama itu, beberapa kali sosok bayangan hitam terpental keluar dari arena pertarungan. Tapi, hal itu berlangsung hanya sekejap saja karena sosok bayangan coklat kemudian memburunya. Maka kembali kedua bayangan itu saling sambar.

Suara mendesing dan mengaung menyemaraki pertarungan antara kedua orang sakti itu. Pepohonan bertumbangan, batu-batu besar maupun kecil beterbangan. Dan debu pun ikut mengepul tinggi ke udara.

Pada jurus kelima puluh tujuh, untuk yang kesekian kalinya, sosok bayangan hitam kembali terpental ke belakang. Tapi kali ini lebih parah dari sebelumnya. Sosok bayangan memang adalah Ular Hitam, terjengkang dan terguling-guling di tanah. Namun dengan sigap laki-laki tua itu mematahkan daya guling, kemudian melompat bangkit dan kembali bersiap siaga.

Keadaan kakek ini sungguh mengenaskan! Seluruh pakaiannya koyak bagai tersayat-sayat pedang. Bahkan pada beberapa bagian tubuhnya terdapat garis memanjang samar-samar! .

Ular Hitam sekarang menyadari kalau pemuda di hadapannya ini tidak mungkin dapat dikalahkan. Maka kakek itu memutuskan untuk bertindak nekad. Pemuda ini akan diajaknya mengadu nyawa!

"Ha ha ha...!"

Untuk yang kesekian kalinya, pemuda berpakaian coklat itu tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawa kemenangan. Sementara Datuk Barat itu hanya menatap tanpa berkedip, penuh kewaspadaan. Seluruh panca inderanya terpusat penuh.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah-langkah kaki mendekat dari belakangnya. Sambil tetap tak melepaskan pengawasan terhadap pemuda di hadapannya, kakek ini menengok ke belakang.

Beberapa tombak di belakangnya tertihat seorang wanita setengah baya. Pakaiannya serba kuning, dan di bagian dada sebelah kiri terdapat sulaman bunga mawar berwarna merah. Dia berjalan menghampirinya. Wanita itu adalah Nyi Sani, ibu Arya Buana atau Dewa Arak .

"Sani! Cepat pergi dari sini! Cepat ... !" teriak Ular Hitam kalap.

Setelah berkata demikian, kakek itu segera menerjang pemuda berbaju coklat di hadapannya dengan serangan-serangan yang mematikan. Tujuannya jelas untuk mengalihkan perhatian pemuda itu dari Nyi Sani.

Nyi Sani adalah seorang wanita cerdik. Ia tahu, Ular Hitam tak akan menyuruhnya pergi dengan nada begitu keras, kalau tidak ada sesuatu yang berbahaya. Itulah sebabnya bergegas dibalikkan tubuhnya dan berlari ke arah kedatangannya tadi.

Tapi baru beberapa langkah, wanita itu teringat sesuatu.

"Bagaimana dengan Aki sendiri?!" tanya Nyi Sani sambil mengerahkan tenaga dalam. Sehingga, suaranya terdengar keras mengatasi bisingnya suara pertempuran.

"Jangan pikirkan aku! Aku akan menyusul belakangan!"

Untuk sesaat Nyi Sani terdiam. Bekas Ketua Perguruan Mawar Merah ini bimbang. Berat rasanya meninggalkan kakek itu sendirian yang menghadapi lawan tangguh. Digigit bibirnya untuk menguatkan hati, baru setelah itu dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

"Jangan harap dapat lolos dari tanganku!"

Setelah berkata demikian, sambil tetap melakukan desakan-desakan, tangan pemuda berbaju coklat yang bernama Darba ini sudah menyelusup ke balik pinggang. Sementara Ular Hitam hanya dapat mundur dan bertahan.

Dengan kecepatan gerak yang sukar diikuti mata, tangan itu telah keluar lagi, lalu menyambar cepat ke arah Ular Hitam.

Wuttt ... !

Datuk Barat ini kaget bukan kepalang. Sekelebatan terlihat seleret sinar berwarna keperakan menyambar ke arahnya. Karena untuk mengelak sudah tidak memungkinkan lagi, maka untung-untungan sinar itu ditangkis dengan tangannya.

"Akh...!"

Seketika Ular Hitam menjerit kesakitan. Darah langsung muncrat dari tangan kanannya yang buntung sebatas pergelangan. Rupanya seleret sinar keperakan itu adalah kapak mengkilat yang tergantung di pinggang pemuda itu.

Belum lagi kakek ini sempat berbuat sesuatu, kaki kiri Darba telah kembali melayang. Rasanya kibasan kaki itu memang sulit dihindari.

Buk!
"Hugh...!"

Dengan telak dan keras, kaki itu menghantam perut Datuk Barat Kakek itu mengeluh pendek, dan tubuhnya terbungkuk. Ada cairan merah menitik di sudut bibirnya. Jelas kalau Ular Hitam terluka dalam.

Dan belum lagi kakek itu mampu berbuat sesuatu, kembali tangan murid Ki Jatayu yang memegang kapak keperakan itu berkelebat cepat bagai kilat

Crakkk...!
"Akh ... !"

Ular Hitam memekik sesaat, sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan kepala terpisah dari leher! Datuk ini tewas seketika.

Dan rupanya kapak di tangan Darba tidak bertugas sampai di situ saja. Kembali tangan pemuda ini bergerak, mengayunkan kapak perak itu.

Singgg ... !

Seleret sinar keperakan melesat ke arah Nyi Sani yang tengah berlari. Ibu Dewa Arak ini mencoba berkelit, tapi sayang terlambat!

Crakkk...!
"Akh ... !"

Nyi Sani memekik tertahan. Tanpa ampun lagi, kapak itu menembus punggungnya. Langkah kakinya pun langsung terhenti seiring dengan lenyapnya nyawa dari badan. Seketika tubuh yang bersimbah darah itu ambruk ke tanah.

"Ha ha ha...!"

Suara tawa kemenangan dan kepuasan yang berkepanjangan menggema di sekitar tempat itu. Dengan cepat, pemuda itu melesat cepat meninggalkan tempat pembantaian. Suara itu pelahan lenyap seiring lenyapnya tubuh Darba di kejauhan.

"Tidaaak...!"

Jeritan keras melengking terdengar memecah ke sunyian malam. Seorang pemuda berwajah jantan dan berambut putih keperakan, tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Napasnya terengah-engah seperti habis berlari jauh.

Wajah pemuda berpakaian ungu itu basah oleh keringat. Di dalam mimpi tadi, pemuda itu melihat ada banjir besar yang tiba-tiba melanda tempat tinggal pembimbingnya, Ular Hitam. Kakek itu dan ibunya pun tak luput dari amukan air bah. Betapapun kedua orang yang disayanginya itu mencoba bertahan, tapi air itu terlalu kuat buat mereka. Maka keduanya hanyut dilanda air bah itu!

"Ah ... !" pelahan pemuda itu mengeluh. Kedua tangannya ditekapkan ke wajah. Beberapa saat lamanya, dibiarkan kedua tapak tangannya hinggap di sana. Kemudian pelahan-lahan diusap keringat yang membasahi wajah.

"Mimpi itu lagi...," keluh pemuda itu lagi pelan. "Mimpi yang sama. Aneh! Ataukah ini merupakan suatu petunjuk dari Gusti Allah?" duga pemuda itu tiba-tiba.

Teringat hal itu, pemuda yang tak lain adalah Arya Buana atau berjuluk Dewa Arak bergegas bangkit dari pembaringan. Pemuda ini berbaring di sebuah dipan beralaskan tikar butut. Ia memang tidak berada di dalam kamar sebuah rumah penginapan, melainkan di sebuah gubuk kecil. Rupanya gubuk kecil itu memang tidak terpakai lagi, dan terletak di tengah sawah.

Diraihnya guci yang diletakkan di sampingnya, lalu didekatkan ke mulutnya. Dituangkan arak itu ke dalam mulutnya. Seketika tubuh Dewa Arak terasa hangat. Baru kemudian guci itu diikat di punggungnya. Kini pemuda itu bergegas bangkit melangkahkan kakinya menghampiri pintu.

Begitu pintu terbuka, tampak hamparan tanaman padi yang telah mengering, menyambutnya di tengah keredupan malam yang hanya diterangi bulan sepotong.

Arya melangkahkan kakinya melalui pematang-pematang sawah. Fikirannya terus menerawang memikirkan mimpi-mimpi yang sama dan senantiasa mengganggu tidurnya setiap malam.

Malam hari itu juga, Arya Buana melanjutkan perjalanannya. Mimpi-mimpi yang sama dan berturut-turut dialami, membuat perasaannya tidak enak. Dia merasakan ada hal­hal yang tidak beres terjadi pada diri Ular Hitam dan ibunya.

Dewa Arak segera menuju ke arah Barat. Karena pemuda itu mendengar dari para perantau, kalau di sana terjadi tindak kekacauan dan kejahatan. Karena mungkin saja Ular Hitam dan ibunya memerlukan pertolongan saat ini, maka pemuda ini memutuskan untuk menunda dulu urusannya mencari Melati.

Arya yang tengah gelisah memikirkan nasib ibunya dan Ular Hitam, melakukan perjalanan dengan cepat, tanpa menghentikan langkahnya sekali pun. Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang memang sudah mencapai tingkat tinggi,

menjelang siang hari, Arya sudah tiba di sebuah tanah lapang yang luas. Tanah di daerah ini kering, bahkan pecah-pecah. Tak ada satu pun tanaman yang tumbuh di sana.
"Hhh ... !"

Arya menghela napas panjang. Panas matahari mulai terasa menyengat kulitnya. Matanya beredar ke sekelilingnya. Tak nampak apa apa kecuali hamparan tanah lapang yang luas. Tidak nampak satu pohon pun untuk berteduh dari sengatan panas yang amat terik ini.

Tengah pemuda berpakaian ungu ini termenung bimbang, pendengarannya yang tajam menangkap suara derap kaki kuda di be lakangnya.

Dengan perasaan harap-harap cemas, Dewa Arak menolehkan kepalanya ke belakang. Dia khawatir kalau suara itu tercipta karena khayalannya semata-mata.

Tapi ternyata tidak. Ternyata agak jauh di depan sana, tampak seekor kuda coklat yang menarik sebuah gerobak. Setelah yakin dengan penglihatannya, Dewa Arak ini segera membalikkan tubuhnya. Dihadapkan wajah dan tubuhnya ke arah kereta kuda itu berasal.

S e makin lama ke re ta kuda itu se makin dekat jaraknya dari tempat Arya berada. Dan begitu berjarak sekitar lima tombak, pemuda berambut putih keperakan ini melambaikan tangannya.

"Hooop...!"

Seketika si kusir menarik tali kekang kudanya, maka kuda berwarna coklat kehitaman yang sejak tadi memang berjalan lambat-lambat kontan berhenti. Arya menghampiri kusir kereta kuda itu. Dalam jarak sekitar tiga tombak tadi, Dewa Arak segera dapat mengetahui kalau kusir itu masih amat muda. Dan setelah melangkah mendekati, jelas terlihat kalau wajah kusir itu sungguh tampan.

Kusir yang ternyata seorang pria berusia sekitar sembilan belas tahun itu berkulit putih, halus, dan mulus. Rasanya terlalu tampan untuk seorang lelaki. Hidungnya mancung, dan bibirnya
merah.

Kalau saja Arya tidak melihat sebaris kumis tipis yang bertengger di atas bibirnya, pasti pemuda ini menduga kalau kusir itu seorang wanita. Dandanan rambutnya digelung ke atas. Pakaiannya serba hitam, sehingga terlihat kontras sekali dengan kulitnya yang putih.

"Mengapa kau memandangiku seperti itu, Kisanak?" tegur kusir itu, yang merasa jengah dipandangi Arya Buana terus-menerus.

"Ah ... ! Fh..., maaf. Maksudku, aku hanya terpana saja. Maaf," ucap Arya gugup. Kini pemuda berpakaian ungu ini menyadari betapa tidak sopan sikapnya barusan.

"Ha ha ha...!" pemuda tampan itu tertawa.
"Boleh aku mengenal namamu? Namaku Gumala."

Arya tersenyum simpul. Entah kenapa ia merasa suka sekali kepada pemuda tampan ini.

Mungkin karena sikapnya yang lucu, atau karena hal-hal lain yang kurang diketahuinya secara pasti. Yang jelas, ia merasa tertarik pada pemuda tampan di hadapannya ini.

"Boleh saja...," sahut Dewa Arak.
"Benar?" tanya Gumala meminta ketegasan.
"Tentu saja!" tegas Arya. "Tapi ada syaratnya.... "

Wajah Gumala yang tadinya berseri-seru kontan berubah.

"Untuk mengenal namamu saja, ada syaratnya?"
"Tentu!" jawab Arya dengan wajah dibuat sungguh-sungguh. Dia memang mencoba untuk memancing pemuda itu.

"Apa syaratnya?" tanya pemuda yang mengaku bernama Gumala lagi. Wajahnya yang tadi ceria kini terlihat muram.

"Kau memberikan tumpangan di keretamu! Bagaimana?"

"Ha ha ha...!" Gumala tertawa. Wajahnya kembali berseri. "Kukira apa?! Tidak tahunya itu syaratnya! Kalau hanya itu, dengan senang hati kuterima syaratmu! Nah, sekarang perkenalkan siapa dirimu?"

"Namaku Arya Buana. Orang-orang yang dekat denganku biasa memanggil Arya."
"Arya Buana? Cukup gagah namamu!" puji Gumala.
"Tentu saja!" potong Arya cepat "Nama harus disesuaikan dengan orangnya!"

"Ah! Bisa saja kau ini!" cibir Gumala. Tapi tiba-tiba dahinya berkerut seperti tengah mengingat-ingat.

"Eh, tunggu dulu. Arya Buana.... Sering kudengar, kalau orang membicarakan namamu. Apakah kau orangnyayang selalu diperbincangkan itu? Kaukah yang dijuluki Dewa Arak itu? Kalau melihat ciri-ciri yang ada, aku yakin kaulah orang yang berjuluk Dewa Arak."

"Begitulah orang menjulukiku. Tapi, aku lebih suka kau memanggilku Arya saja," tegas Arya Buana, disertai helaan napas.

Gumala manggut-manggut. "Oh ya, berapa sih ... , umurmu?"

"Heh?! Mau apa tanya-tanya umur segala? Atau... barangkali kau ingin menjodohkan aku dengan adik atau kakakmu? Sayang sekali, aku sudah punya kekasih!" tegas Arya menggoda sambil tertawa.

Tapi tawa Arya secara mendadak berhenti, karena melihat wajah Gumala berubah hebat! Sekilas tadi rasanya sepasang mata pemuda itu mencorong tajam. Ataukah ia salah lihat? .

"Ha ha ha...!"

Sekarang ganti Gumala yang tertawa melihat tawa pemuda berambut putih keperakan itu yang lenyap secara mendadak.

Sementara Arya yang tadi sudah merasa cemas melihat perubahan wajah pemuda itu jadi ikut tertawa juga.

"Kau ini kelihatannya terlalu genit. Kau tahu, maksudku bertanya demikian adalah untuk mengetahui, siapa di antara kita yang lebih tua. Umurku sembilan belas tahun...."

"Aku dua puluh...," jawab Arya setengah hati.

"Nah! Kalau begitu, bagaimana kalau aku memanggilmu Kakang Arya?" usul pemuda tampan mirip wanita itu.

"Boleh saja," sahut Arya. "Dan aku memanggilmu Adi Gumala."
"Ya! Bagus, bukan?"

Arya hanya tersenyum saja. Sungguhpun sebenarnya perasaan bingung berkecamuk di benaknya. Rasanya dia seperti pernah melihat wajah, mata maupun bibir pemuda itu. Tapi Arya lupa, kapan dan di mana?

"Ayo, Kang Arya. Naiklah cepat! Atau, kau memang senang tertawa-tawa di situ terus sampai kulit dan rambutmu hitam terbakar sinar matahari?" ledek Gumala memenggal lamunan pemuda berambut putih keperakan itu.

Tanpa banyak cakap lagi, Arya segera naik ke atas kereta. Pemuda itu duduk di samping Gumala, seketika Gumala menyentak tali kekang kudanya. Mulutnya mendecak pelan, dan kudanya pun berjalan pelahan meninggalkan tanah lapang yang luas itu.

"Kau mau ke Barat juga, Adi Gumala?" tanya Dewa Arak.
"Ya. Tak ada salahnya kalau kita melakukan perjalanan bersama, bukan?"
"Tentu saja tidak!"

***

Sebuah kereta kuda yang ditumpangi dua orang pemuda yang sama-sama tampan melaju pelahan-lahan memasuki pintu gerbang Desa Jipang. Mereka adalah Arya Buana dan kawan barunya, Gumala. Selama beberapa hari menempuh perjalanan bersama Gumala. Pemuda berambut putih keperakan ini banyak melihat keanehan terhadap pemuda itu.

Pernah suatu ketika mereka singgah di penginapan, Gumala tidak menyewa satu kamar.

Dia selalu memaksa untuk menyewa dua buah kamar. Alasannya, karena tidak biasa tidur berdua. Sejak kecil sampai dewasa pemuda itu terbiasa tidur sendiri. Apabila dipaksa tidur berdua, matanya tak akan bisa terpejam sampai pagi hari. Begitu alasannya jika didesak Arya.

Mendengar alasan pemuda itu, Arya tentu saja tidak ingin memaksa. Dan yang lebih mengherankan, Arya Buana sering memergoki Gumala tengah menatapnya dengan sinar mata aneh. Sampai saat ini kelakuan Gumala memang menjadi beban pikiran Dewa Arak itu.

Dan sekarang ini Dewa Arak memperhatikan ke adaan sekelilingnya. Sepi. Dalam hati pemuda ini mulai timbul rasa curiga. Timbullah satu pertanyaan, mengapa Desa Jipang begini sepi ? .

Belum juga pemuda ini mendapat jawaban dari pertanyaan yang bergayut di benaknya, penglihatannya yang tajam menangkap banyak kelebatan gerakan tubuh, di balik pepohonan yang berjajar di kanan kiri jalan utama desa ini. Kontan seluruh urat syaraf di sekujur tubuh Arya menegang waspada. Dugaannya sebentar lagi pasti akan terjadi pertempuran.

Dan memang, dugaan Dewa Arak tidak meleset. Belum berapa jauh kereta kuda yang ditumpangi memasuki desa, terdengar suara berdesing nyaring.

Cappp!

Sebatang tombak menancap tepat di depan kereta kuda itu. Kontan kuda itu menjadi terkejut, meringkik keras sambil mengangkat kedua kakinya ke atas.

"Keparat ... !" Gumala berteriak memaki.

Pemuda itu bergegas menenangkan kudanya. Dan begitu kuda coklat kehitaman itu sudah tenang, tubuhnya pun melesat keluar dari kereta. Gerakannya gesit dan indah. Arya sendiri jadi terkejut dibuatnya.

Baru saja kedua kaki pemuda tampan itu mendarat di tanah, di depannya telah bermunculan banyak sekali laki-laki berwajah kasar dengan senjata terhunus di tangan.

"Siapa kalian?! Mengapa menghadang perjalanan kami?! Menyingkirlah sebelum kesabaranku hilang!" ucap pemuda berbaju hitam ini keras.

Ternyata pertanyaan Gumala dij awab dengan serbuan belasan sosok tubuh itu. Mereka menerjang pemuda tampan itu dengan senjata terhunus. Seketika terdengar suara desing pedang dan golok yang berkelebatan menyambar Gumala bagai hujan.

Tapi pemuda yang wajahnya bagai wanita itu hanya tersenyum mengejek. Dengan enaknya dielakkan setiap serangan yang menyambar ke arahnya. Tubuh Gumala menyelinap cepat di balik kelebatan babatan sinar pedang dan golok.

Arya yang semula sudah bersiap-siap membantu bila kawan barunya ini terancam bahaya, segera mengurungkan niatnya begitu melihat gerakan kawannya. Sekali lihat saja, pemuda berambut putih keperakan ini segera tahu bahwa Gumala sulit untuk dapat dicelakakan lawan-lawannya.

Apa yang diperkirakan Dewa Arak ini memang tidak salah. Ketika Gumala balas menyerang, satu demi satu lawannya berjatuhan. Ke mana saja tangan atau kaki pemuda itu bergerak, di situ pasti ada saja yang rubuh.

"Akh...!"
"Ugh...!"

Terdengar jerit kesakitan saling sambut. Maka tidak sampai delapan jurus, sembilan penghadang itu sudah bergeletakan di tanah. Ada yang patah kakinya, ada yang patah tangannya, dan ada yang bocor kepalanya. Yang jelas, tidak ada satu pun di antara mereka yang terluka parah.

Plok! Plok! Plok!

Suara tepuk tangan terdengar seiring rubuhnya penghadang terakhir. Gumala memandang ke arah kereta. Ditatapnya Arya yang tengah duduk sambil bertepuk tangan. Dikebut­kebutkannya tangan dan pakaiannya sebelum berjalan menghampiri kereta.

"Tidak kusangka kau selihai itu, Adi Gumala!" puji Arya tulus.

"Kau ini memuji atau meledek, Kang Arya! Apa sih artinya kepandaian yang kumiliki bila dibandingkan dengan kepandaianmu?! Siapa yang tidak kenal Dewa Arak yang telah menewaskan banyak lawan tangguh?" sergah Gumala sedikit me rah waj ahnya.

Kontan wajah Arya memerah. "Ah! Sudahlah, Adi Gumala! Lebih baik kita lanjutkan perjalanan ini. Kurasa ada sesuatu yang tengah terjadi di desa ini. Rasanya aku harus berbuat sesuatu."

"Sekarang akan ke mana, Kang Arya?" tanya Gumala setelah duduk di samping pemuda berambut putih keperakan itu, seraya menggenggam tali kekang kuda.

"Jalan saja terus, nanti kutunjukkan jalannya!"

Gumala menghela tali kekang kudanya. Mulutnya berdecak pelan. Dan kuda coklat kehitaman itu pun melangkah pelahan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan sosok­sosok tubuh yang bergelimpangan di tanah merintih-rintih.

***

"Hooop ... !"

Gumala menarik tali kekang kudanya, ketika Arya memberitahukan untuk berhenti. Dan te pat di de pan se buah kedai, ke re ta kuda itu berhenti. Arya lalu melompat turun diikuti Gumala. Ringan sekali gerakan tubuh mereka. S e cara be riringan ke duanya be rj alan me masuki kedai itu. Suasana kedai tampak sepi-sepi saja.

Arya berjalan menghampiri sebuah meja yang kosong, kemudian duduk di situ. Gumala pun mengi-kuti.

Pemilik kedai itu terkejut bukan main melihat kdatangan Arya Buana. Tergopoh-gopoh ia berlari menyambut.

"Arya...!" teriak laki-laki tua pemilik kedai itu gembira. "Syukur pada Gusti Allah kau datang kemari."

"Memangnya ada apa, Ki?" tanya Arya. Tenang saja terdengar suaranya.

Kakek pemilik kedai itu merenung sebentar. Dia memang telah kenal betul dengan Arya. Karena pemuda ini pernah singgah di kedainya dan menginap di situ.

"Nanti saja Aki ceritakan, Den. Sekarang mungkin Den Arya dan Den...."
"Gumala," sahut Gumala singkat, begitu dilihatnya kakek pemilik kedai itu memandang ke arahnya.

"Oh ya..., Den Arya dan Den Gumala mungkin sudah lapar. Akan kusediakan dulu pesanan Aden berdua."

Arya yang memang sudah lapar, segera saja memesan makanan untuk mereka berdua.

Kakek pemilik kedai itu segera melangkah masuk ke dalam untuk menyiapkan pesanan makanan. Sambil menunggu pesanan siap, Gumala mengedarkan pandangan ke luar. Dari meja mereka, memang dapat melihat bebas ke luar melalui pintu.

"Hei ... !" tiba-tiba Gumala berteriak keras. Pandangannya yang tajam melihat seorang lelaki mengendap-endap mendekati kudanya sambil menghunus golok. Kuda itu memang ditambatkan Gumala di seberang jalan depan rumah makan.

Sadar akan bahaya yang mengancam kudanya, Gumala cepat menggerakkan tangannya.

Krakkk!

Pinggiran meja kontan gompal ketika tangan halus Gumala menekan pelan. Dan secepat kilat pemuda berpakaian serba hitam itu melemparkan potongan kayu yang hanya selebar dua jari.

Singgg...!

Laksana lesatan sebatang anak panah lepas dari busur, potongan daun meja itu melesat ke arah orang yang menghampiri kuda. Bersamaan dengan melesatnya potongan daun meja itu, tubuh Gumala melesat keluar pintu. Gerakannya cepat bukan main. Bahkan Arya yang melihatnya jadi terlongong.

Takkk!
"Akh...!"

Potongan daun meja itu tepat menghantam siku orang yang mengendap-endap mendekati kuda. Keras bukan main, sehingga orang itu terpekik tertahan. Golok di tangannya pun terlepas dan jatuh di tanah.

Baru saja orang itu memungut goloknya kembali, di hadapannya telah berdiri Gumala.

"Pengecut ... !" maki Gumala geram.

Seketika tangan kanan pemuda itu bergerak menampar. Cepat bukan main gerakannya. Walaupun orang yang hendak mencelakakan kuda itu bergerak mengelak, tetap saja tapak tangan Gumala mendarat keras di pipi kanannya. Tubuh orang yang sial itu langsung terputar sebelum akhirnya rubuh ke tanah dalam keadaan pingsan.

Pemuda berpakaian serba hitam ini memandang ke sekeliling, karena barangkali saja orang yang sial ini tidak sendirian. Tapi tak ditemukannya tanda-tanda adanya teman-teman orang sial itu.

Maka setelah melempar pandang sekali lagi pada sosok tubuh yang tergolek di tanah, Gumala beranjak meninggalkan tempat itu menuju kedai.

"Luar biasa kau, Adi Gumala," puji Arya begitu melihat pemuda tampan itu telah duduk kembali di mejanya, menghadapi makanan yang telah terhidang. "Sekarang marilah kita makan dulu!"

Setelah berkata demikian, pemuda berpakaian ungu ini mulai menyantap pesanannya. Tanpa banyak cakap Gumala pun mengikutinya. Beberapa saat kemudian kedua pemuda ini sudah sibuk dengan santapannya masing-masing.

Dewa Arak diam-diam semakin sering memperhatikan Gumala terutama tentang kepandaiannya. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan pemuda itu. Kepandaian Gumala memang belum dapat diketahui secara pasti.

Semula sewaktu melihat perkelahian pemuda itu dalam menghadapi kawanan penghadang, sedikit sudah bisa diperkirakannya tingkat kepandaian pemuda ini. Tapi apa yang disaksikannya waktu itu, berbeda dengan yang baru saja disaksikan tadi. Kecepatan gerakan pemuda itu benar-benar mengejutkannya.

Namun Arya bersikap biasa-biasa saja. Dari gelagatnya, pemuda ini tahu kalau Gumala memang berusaha menyembunyikan kepandaiannya, Entah apa alasannya. Itulah sebabnya pemuda berambut putih keperakan ini tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang hal itu.

Setelah selesai menyantap pesanannya, baru Arya Buana memanggil kakek pemilik kedai. Bergegas laki-laki tua itu datang menghampiri.

"Sekarang kuharap Aki bersedia menceritakan apa yang terjadi di desa ini," pinta Arya Buana ketika kakek itu telah duduk.

Kakek pemilik kedai itu menghela napas. Sebentar dipandanginya wajah Arya dalam-dalam.

"Kejadiannya belum lama terjadi, Den. Beberapa pekan yang lalu muncul seorang pemuda tampan dan berpakaian serba coklat ke desa ini. Ilmu kepandaiannya luar biasa. Hanya seorang diri saja dia mampu membasmi Perguruan Garuda Emas, yang menjadi pelindung desa ini dari kejahatan para penjahat yang hendak menjarah. Dan benar saja. Setelah Perguruan Garuda Emas runtuh, penjahat-penjahat mulai menjarah desa ini. Siapa yang menentang pasti akan merasakan akibatnya! Hanya Adenlah yang kami harapkan akan dapat membebaskan desa ini dari belenggu kekejaman mereka."

Dewa Arak tercenung, Perguruan Garuda Emas runtuh! Hampir tidak dipercayai pendengarannya sendiri. Perguruan itu ternyata runtuh oleh seorang pemuda tidak dikenal.

"Bagaimana keadaan si Paruh Garuda?" tanya Arya menyebut nama pemimpin Perguruan Garuda Emas.

"Beliau tewas di tangan pemuda itu. Yang selamat dari maut hanya si Cakar Garuda. Itu pun karena kebetulan ia tidak berada di tempat."

"Lalu, apakah pemuda itu masih berada di sini, Ki?"

"Tidak! Sehabis menghancurkan bangunan Perguruan Garuda Emas, ia pergi dari desa ini. Yang tinggal di sini hanya para penjahat yang menjadi anak buahnya," jelas kakek pemilik kedai itu lagi.

"Bisa Aki tunjukkan di mana markas penjahat itu?" pinta Arya.
"Den Arya tahu rumah kepala desa?" kakek itu malah balik bertanya.

Pemuda berambut putih keperakan itu menganggukkan kepalanya. "Jadi, penjahat­penjahat itu bermarkas di sana?"

"Ya!" jawab kakek pemilik kedai itu singkat.

"Kalau begitu, kami akan ke sana sekarang, Ki!" ujar Dewa Arak cepat. "Mari, Adi Gumala!"

Setelah berkata demikian, Arya membayar makan annya, lalu se ge ra me le sat ke luar kedai, diikuti Gumala yang tak kalah gesitnya. Mereka melompat menaiki kereta kuda hampir bersamaan.

"Hiya...!"

Gumala segera menggebah kudanya. Sesaat kemudian kereta kuda itu sudah bergerak cepat meninggalkan kedai itu, diikuti pandangan mata kakek pemilik kedai hingga lenyap di kejauhan.

Kereta kuda itu bergerak cepat menyusuri jalan utama Desa Jipang. Rumah kepala desa itu memang jauh dari kedai yang tadi disinggahi Arya.

"Adi Gumala," sapa Dewa Arak ketika kereta kuda ini mulai melewati jalan yang agak sempit. Di sebelah kanannya, nampak sungai mengalir. Melihat sungai itu timbullah keinginan pemuda ini untuk mandi.

"Ada apa, Kang?" tanya Gumala sambil menolehkan kepalanya sebentar.

Sesaat lamanya Arya terkesima. Sementara itu tercium bau harum aneh yang menyergap hidungnya. Bau harum seperti yang biasa keluar dari tubuh seorang wanita!

"Heh! Ditanya malah melamun!"
"Oh..., eh..., apa Adi Gumala?" tanya Arya
"Lho?! Yang mau bertanya itu sebenarnya siapa? Aku atau Kakang Arya?"

Plak!

Arya menepak keningnya. Betapa pelupanya dia! Diam-diam pemuda itu menertawakan kebodohannya sendiri.

"Kenapa, Kang? Digigit nyamuk?" goda Gumala lagi.

"Ya... eh, tidak!"
"Lalu, kenapa kepalanya sendiri dipukul?"

"Tidak apa-apa! Aku hanya ingin mandi saja. Bagaimana kalau kita mandi sama-sama, Adi Gumala?"

Sekelebat Arya melihat wajah pemuda itu memerah. Tapi di lain saat kembali normal seperti sediakala.

"Kakang sajalah," tolak Gumala halus. "Aku masih belum ingin mandi. Biar aku menunggu saja di sini."

Arya temnenung sejenak. "Baiklah kalau begitu!"

Setelah berkata demikian, pemuda berambut putih keperakan ini segera melompat turun. Arya Buana kemudian bergegas menuruni jalan itu, menuju sungai yang terletak di bawah jalan. Sebentar kemudian, dia sudah sampai di pinggir sungai yang berair cukup jernih. Pemuda ini segera meletakkan guci araknya di tanah, lalu membuka bajunya. Hanya celananya saja yang tidak ditanggalkan. Sesaat kemudian....

Byurrr...!

Air muncrat tinggi ke atas ketika Arya Buana terjun ke dalam air. Tubuh pemuda itu pun langsung tenggelam ke dalam air. Beberapa saat lamanya me nye lam di air, baru se te lah itu kepalanya muncul dari dalam air. Kemudian menyelam kembali beberapa saat, lalu timbul lagi. Tapi tiba-tiba....

"Tolooong...!"

Terdengar jerit seorang wanita mengusik keasyikan Arya dari mandinya. Pemuda berambut putih keperakan ini kontan menolehkan kepalanya ke arah asal jeritan itu.

Beberapa tombak dari tempatnya berada, tampak seorang wanita yang tengah timbul tenggelam terbawa arus sungai. Melihat adanya cucian dan pakaian yang tercerai berai terbawa arus, Arya cepat mengetahui kalau wanita itu tengah mencuci di situ. Kemudian tubuhnya terpeleset tercebur ke sungai, dan terbawa arus. Tanpa pikir panjang lagi, Dewa Arak segera mengejar tubuh wanita yang tengah terbawa arus itu.

Tapi betapapun Arya telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, tetap harus diakui kalau kemampuannya tak mampu menandingi arus sungai. Jarak antara Arya dengan wanita itu nyaris tidak berubah. Arus air memang deras, apalagi di tempat hanyutnya wanita itu.

Sesaat lamanya terjadi kejar-kejaran antara Dewa. Arak yang sekuat tenaga berenang dibantu arus air dengan wanita yang terbawa arus sungai.

Dan kini lambat laun jarak di antara mereka kian mendekat. Dan hanya tinggal satu tombak lagi, maka wanita itu pun akan terjangkau tangan Dewa Arak. Tapi tiba-tiba Arya Buana merasakan adanya kelainan pada suasana di sekitarnya. Arus air sungai ini tiba-tiba menjadi deras bukan main. Tubuhnya pun tanpa ampun terseret deras. Tentu saja pemuda ini kaget bukan main.

Memang, pemuda berambut putih keperakan ini masih muda dan kurang pengalaman. Maka tidak aneh, kalau belum menyadari mengapa tiba-tiba arus sungai mendadak begitu deras.

Ketika terdengar gemuruh air, baru pemuda ini sadar akan apa yang terjadi. Ternyata tubuhnya telah terseret arus sungai menuju air terjun! Dan Arya tahu apa yang akan menantinya di bawah sana. Apalagi kalau bukan batu-batu yang akan meremukkan sekujur tubuh dan tulang-tulangnya.

Kini Arya berbalik arah. Sekuat tenaga ia berenang melawan arus yang akan membawanya ke air terjun. Dibatalkan niatnya untuk menolong wanita yang hanyut itu.

Tetapi di sini pemuda berambut keperakan ini baru menyadari betapa sedikit ilmu yang dimilikinya bila dibandingkan kekuasaan Allah. Tenaga dalam yang selama ini boleh dibilang belum tertandingi, tidak berarti apa-apa menghadapi arus air yang akan membawa tubuhnya untuk dirajam di bawah sana.

Sedikit demi sedikit tubuhnya mulai terseret mendekati air terjun. Dan kekuatan arus air yang menariknya pun semakin kuat.

Sementara itu, Gumala rupanya tidak sabar menunggu Arya terlalu lama. Setelah lama mempertimbangkan, akhirnya diputuskan untuk menyusul Dewa Arak. Dapat dibayangkan betapa kaget hati Gumala, melihat pemuda berambut putih keperakan itu tengah berjuang keras menghadapi arus air yang akan meluluh­lantakkan tubuhnya di bawah sana.

Pemuda tampan ini segera memutar otaknya, mencari jalan untuk menyelamatkan Arya. Sepasang matanya berputar berkeliling. Akhirnya, pandang matanya segera tertumbuk pada sebatang pohon yang mempunyai cabang yang melintang tepat di mulut air terjun.

Buru-buru Gumala berkelebat ke sana. Rencananya, dengan bergelayut pada cabang pohon itu, tubuh Dewa Arak hendak ditangkapnya.

Sementara itu Dewa Arak yang sama sekali tidak melihat kedatangan temannya itu, seperti merasa pasrah atas keadaan dirinya. Namun demikian dia tetap mencoba melawan tarikan arus air ini dengan tenaganya. Yang jelas, harus dicari cara lain kalau ingin selamat. Dalam waktu yang hanya beberapa detik itu otaknya bekerja keras.

Untunglah di saat terakhir, Arya menemukan suatu jalan. Dan seperti merestui pilihannya, tiba-tiba sebuah ranting pohon sebesar pergelangan tangan dan sepanjang hampir setengah tombak, melayang deras ke arahnya.

Buru-buru Arya mengulurkan tangan menangkapnya. Baru saja tangan pemuda itu berhasil mencekal cabang pohon itu, tubuhnya telah sampai di bibir air terjun.

Saat Dewa Arak berhasil menangkap ranting pohon, tubuh Gumala melesat ke arah cabang pohon.

"Hiyaaa...!"
"Hup!"

Cabang pohon itu bergoyang keras ketika kedua kaki pemuda tampan itu hinggap. Landasan tempat untuk melompat memang tidak memungkinkan. Apalagi perasaan hati pemuda itu dilanda rasa cemas memikirkan keselamatan Arya.

Ketika kakinya telah berhasil mengait cabang pohon itu, Gumala segera menjulurkan kedua tangannya berusaha menangkap tubuh Arya. Tapi....

"Aaa ... !" Arus yang membawa tubuh Arya ternyata lebih cepat dari pada tangkapan Gumala. Maka tubuh Dewa Arak pun meluncur deras ke bawah....

Secepat kedua kakinya menginjak cabang pohon itu, secepat itu pula Gumala merubah posisinya. Kini tubuhnya bergantung di cabang pohon itu dengan kedua kakinya. Kepalanya mengarah ke bawah. Kedua tangannya berusaha menangkap tubuh Arya yang terbawa arus.

Tapi....
"Aaa ... !"

Terdengar jerit kengerian dari mulut Dewa Arak yang tubuhnya melayang deras ke bawah sambil menggenggam ranting pohon.

Pucat wajah Gumala! Beberapa saat lamanya, dia terdiam dalam keadaan seperti itu. Gumala memandang ke bawah sana, dengan sinar mata tidak percaya apa yang dilihatnya.

"Kakang ... !"

Tiba-tiba saja Gumala menjerit keras. Tanpa mempedulikan keselamatannya lagi, pemuda tampan itu melompat turun ke pinggir sungai dan mengikuti arah turunnya air terjun itu. Ingin diketahui apakah Arya tewas atau tidak! Dan seandainya tewas, mayat pemuda itu harus ditemukan!

***

Sungguhpun keadaannya bagai telur di ujung tanduk, Arya berusaha agar pikirannya tetap jernih. Segera saja disabetkannya ranting pohon yang digenggamnya ke air yang ikut tercurah bersamanya.

Pyarrr ... !

Seketika kelompokair itu terpecah muncrat ke sana kemari. Begitu kerasnya benturan itu, ranting pohon yang digenggamnya pun terlepas dari pegangan. Dengan meminjam tenaga benturan tadi, Dewa Arak bersalto ke depan. Dan sekarang Arya telah terpisah dari curahan air terjun. Tetapi tentu saja begitu tenaga dorongnya habis, tubuhnya langsung melayang deras ke bawah!

Beberapa saat lamanya tubuh Arya melayang-layang di udara. Angin yang menderu keras di atas, membuat rambutnya yang putih keperakan berkibaran. Dewa Arak bertahan sekuat tenaga agar tidak jatuh pingsan saat melayang­layang. Betapapun rasa kengerian yang amat sangat mencekam hatinya, tetap dikuatkan hati agar tetap sadar.

Dan berkat kemauannya yang kuat, rasa takut yang melanda dapat ditekannya. Ia masih tetap sadar ketika tubuhnya melayang deras ke bawah, ke air!

Byurrr...!

Beberapa saat lamanya Arya gelagapan. Tubuhnya seketika tenggelam dalam air. Arus air sungai yang deras itu segera melahap tubuhnya yang memang sudah setengah sadar. Pemuda berambut putih keperakan yang memang sudah lelah ini tidak kuasa lagi melawan arus sungai yang deras itu. Tubuhnya segera saja terombang­ ambing dipermainkan air.

***

"Ohhh ... !"

Arya mengeluh. Sepasang matanya pelahan mulai terbuka. Beberapa saat lamanya dikerjap­kerjapkan matanya untuk lebih memperjelas pandangan.

Pemuda yang kini bertelanjang dada ini membelalakkan matanya. Diperhatikan keadaan sekelilingnya. Kini baru disadari kalau tubuhnya tergeletak di tanah yang basah dan lembab. Kembali riak air menghantam kakinya.

Arya bergegas bangkit dan memperhatikan sekelilingnya. Ternyata ia berada di pinggir sungai. Sekarang Arya baru teringat kembali akan kejadian yang dialaminya. Jadi, rupanya arus air itu telah menghempaskannya kemari!

Tiba-tiba hidung pemuda berambut putih keperakan ini mencium bau harum daging panggang. Seketika leher Arya menoleh ke sana kemari mencari asal bau harum itu. Dan dalam sekejap saja, telah diketahui arahnya. Asap yang membumbung tinggi segera saja terlihat olehnya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera menghampiri asal asap itu. Perutnya yang terasa lapar sekali, membuatnya jadi bergegas menghampiri bau yang merangsang hidungnya itu. Rupanya 'perjuangannya' menghadapi arus air sungai telah membuat perutnya lapar.

Tak berapa lama kemudian, Arya melihat seseorang yang tengah memanggang seekor ayam. Ternyata itulah yang menjadi sumber bau harum itu. Pemuda ini bergegas mendekatinya. Dan rupanya orang yang tengah memanggang ayam itu mengetahui kedatangannya. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk, kini terangkat memandang ke depan.

Dalam jarak yang hanya tinggal sekitar tiga tombak, baik Arya maupun orang yang tengah memanggang ayam sama-sama dapat melihat jelas diri masing-masing.

"Ahhh ... !"

Dewa Arak dan orang itu sama-sama kaget. Langkah Arya langsung terhenti. Begitu pula orang itu. Tangannya yang sejak tadi sibuk membolak­balik ayam panggang di tangannya agar tidak hangus, berhenti bergerak.

Sementara itu, seketika Dewa Arak mengerinyitkan keningnya. Orang yang tengah memanggang ayam itu ciri-cirinya cocok betul dengan yang diceritakan kakek pemilik kedai. Pemuda berwajah tampan, dengan raut wajah menyiratkan kekejaman. Pakaiannya serba coklat. Dialah yang telah membasmi Perguruan Garuda Emas seorang diri.

Pemuda yang tak lain adalah Darba itu juga terperanjat kaget ketika melihat Arya. Inikah orang yang berjuluk Dewa Arak itu? Kalau memang benar demikian, kenapa tidak tampak guci yang menjadi senjata andalannya?

"Kaukah Dewa Arak itu?" tanya Darba bernada kasar.
"Begitulah julukan yang diberikan padaku!" datar saja nada suara Arya
"Kau murid Ki Gering Langit, bukan?" Arya menganggukkan kepalanya.
"Benar."

Darba menggeram.

"Kalau begitu, kau harus mampus!"

Setelah berkata demikian, Darba membanting ayam panggangnya. Secepat ayam itu jatuh ke tanah, secepat itu pula tubuhnya melesat ke arah Arya. Jari jari kedua tangannya terbuka lurus melakukan tusukan-tusukan dan bacokan­bacokan bertubi-tubi. Inilah ilmu 'Tangan Pedang'!

Arya terperanjat kaget bukan main. Dirasakan beberapa helai rambutnya berguguran. Padahal serangan itu belum mengenainya. Tahulah pemuda berambut putih keperakan itu kalau lawannya ini memiliki sebuah ilmu dahsyat.

Dan Arya mengenal ilmu yang digunakan pemuda baju coklat itu. Ilmu 'Tangan Pedang'. Salah satu ilmu milik gurunya yang dicuri dua orang pelayan gurunya sendiri. Seketika itu juga semangat pemuda ini timbul.

Pemuda itu pasti mempunyai hubungan dengan salah satu dari dua orang pelayan gurunya. Mungkin pula muridnya! Dan jika itu benar, dia tidak perlu bersusah-payah mencari Melati. Dari pemuda ini pun bisa dikorek keterangan mengenai kedua pelayan itu. Dari sini tugasnya dapat dimulai, untuk mengambil kembali kitab-kitab milik gurunya.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Dewa Arak segera mengelak dengan menggunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Tanpa meminum arak seperti biasanya, pemuda ini kontan mengerutkan alisnya. Dirasakan adanya perbedaan yang menyolok!

Di jurus jurus awal, pemuda berambut putih keperakan ini tidak merasakan kelainan. Tapi menjelang jurus kedua puluh, baru dirasakan akibatnya. Napasnya mulai terasa memburu. Bahkan kepalanya pun terasa pusing.

Kini Arya baru menyadari bahwa arak yang biasa diminum itu sebenarnya adalah sumber tenaga untuk ilmu 'Belalang Sakti'. Jika meminum arak, tidak ada kesulitan baginya untuk merubah kuda-kuda, dari posisi sempoyongan seperti lemah tak berdaya ke posisi mantap dan penuh tenaga .

Tapi sekarang, berkali-kali pemuda ini mengalami kesulitan. Pelahan namun pasti kekuatannya mulai mengendur. Jurus 'Belalang

Mabuk', dan jurus 'Delapan Langkah Belalang' ternyata banyak menguras tenaga.

Seiring mulai lelahnya Arya, desakan­desakan Darba dirasakannya semakin berat. Lambat namun pasti Dewa Arak terdesak.

"Ha ha ha...!" pemuda berpakaian coklat itu tertawa bergelak. Suatu tawa kemenangan. "Hanya sampai di sini sajakah kepandaianmu yang tersohor itu, Dewa Arak?! Sungguh lucu sekali!"

Sambil berkata demikian, Darba terus memperhebat serangan-serangannya. Akibatnya, Arya semakin kewalahan! Pontang-panting Dewa Arak berjuang menyelamatkan selembar nyawanya.

Lewat empat puluh jurus, keadaan Arya kian mengkhawatirkan. Pemuda berambut putih keperakan ini tidak lagi mempergunakan jurus 'Belalang Mabuk'-nya. Melainkan hanya menggunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Jurus ini memang tidak terlalu membutuhkan tenaga seperti halnya jurus 'Belalang Mabuk'.

'Delapan Langkah Belalang', memang sebagian besar merupakan ilmu mengelak. Hanya sebagian kecil saja yang mengandung bagian penyerangan. Dengan jurus ini, Arya memang dapat menyelamatkan diri dari setiap serangan maut Darba. Tetapi sampai kapan dapat bertahan?

Tiba-tiba Darba meraung. Murid Ki Jatayu ini menjadi geram karena setelah sekian lamanya,

Dewa Arak yang sudah terdesak ini masih mampu bertahan. Dan ini membuatnya marah bukan kepalang!

"Hiyaaa...!"

Pemuda berbaju coklat ini berteriak nyaring. Serangan-serangannya mendadak berubah secara tiba-tiba. Itulah jurus 'Selaksa Pedang Menembus Benteng'.

Arya terperanjat kaget. Kondisinya yang sudah lelah, tidak memungkinkan lagi untuk menghindari serangan itu. Tak ada jalan lain kecuali menangkis serangan itu. Buru-buru pemuda berambut putih keperakan ini mengempos seluruh tenaga yang dimiliki, kemudian menangkis keras serangan lawan.

Plak ... ! Plak...!

Terdengar suara benturan keras berkali­kali, ketika dua pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi bertemu!

Arya yang memang sudah lelah, tak mampu menahan gempuran Darba yang memang memiliki tenaga dalam tinggi! Kontan tubuhnya terjengkang ke belakang. Sementara pemuda berpakaian coklat itu hanya terhuyung dua langkah ke belakang.

Belum juga Dewa Arak sempat berbuat sesuatu, serangan susulan telah menyusul lagi. Tak ada pilihan lain bagi Arya kecuali mernbanting tubuh ke tanah dan bergulingan. Tentu saja Darba tidak membiarkan lawannya lolos. Dikejarnya terus tubuh yang bergulingan itu dengan serangan-serangan maut.

Dewa Arak sadar kalau keadaannya amat berbahaya. Tidak mungkin dia harus terus berguling-gulingan untuk menyelamatkan diri. Paling tidak harus dicari jalan untuk lolos dari keadaan yang sulit ini!

"Haaat ... !"

Sambil berteriak keras, tubuh Arya melenting ke udara. Berbareng dengan itu kaki kanannya menyapu pelipis lawannya.

Darba terperanjat, kaget bukan main. Sungguh di luar dugaan kalau Dewa Arak masih mampu berbuat seperti itu. Pemuda baju coklat ini tidak tahu kalau itu adalah salah satu keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti*. Dengan ilmu itu Dewa Arak dapat melakukan gerakan melompat seperti apa pun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Tepat saat kaki Arya melakukan sapuan, Darba pun tengah melancarkan serangan bertubi­tubi pada bagian dada, ulu hati, dan tenggorokan! Tentu kedua orang itu sama-sama terkejut bukan kepalang! Sedapat mungkin masing-masing berusaha mengelakkan serangan. Tapi terlambat!

Plak! Buk..!
"Akh ... !"
"Hugh...!"

Baik Arya maupun Darba sama-sama terkena serangan masing-masing. Hanya saja berkat usaha terakhir mereka, jatuhnya serangan

itu tidak tepat pada sasaran semula! Sapuan kaki Dewa Arak mengenai pangkal lengan Darba. Sementara tusukan dan bacokan tangan murid Ki Jatayu ini, mengenai bawah ketiak dan perut Arya.

Tubuh kedua pemuda yang sama-sama berilmu tinggi itu, terhuyung-huyung. Darba meringis. Dirasakan tulang pangkal lengannya seakan-akan patah. Untuk sesaat lamanya, tangannya terasa lumpuh.

Sementara keadaan yang dialami Arya lebih parah lagi!Pemuda berambut putih keperakan ini terjengkang ke belakang. Seketika dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar. Dan belum sempat Dewa Arak menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba....

"Hiyaaa ... !"

Sambil berteriak nyaring, Darba kembali menerjang Arya! Tangan kanannya menusuk ke arah leher Dewa Arak. Sebuah serangan maut yang siap menghunjam tubuh lawan!

Arya terperangah. Disadari kalau serangan itu tidak mungkin dihindari. Dua serangan beruntun pemuda baju coklat itu tadi telah membuatnya terluka parah. Kini Dewa Arak hanya dapat membelalakkan sepasang matanya, menanti maut tanpa mampu berbuat sesuatu.

Tepat ketika serangan itu hampir menebas leher Arya, sebuah bayangan hitam berkelebat memotong serangan itu.

Plak ... !

Tubuh Darba terhuyung dua langkah ke belakang. Seketika tangannya bergetar hebat.

Pemuda murid Ki Jatayu ini segera mengetahui kalau sosok bayangan hitam yang muncul dan menangkis serangannya, ternyata memiliki tenaga dalam dahsyat.

Pemuda baju coklat ini meraung keras. Ditatapnya tajam-tajam sosok tubuh hitam yang telah menangkis serangannya itu. Matanya bersinar merah, memancarkan kemarahan yang amat sangat.

Dan tahu-tahu sosok baju hitam yang tak lain dari Gumala telah berdiri di depan Arya. Sikapnya nampak jelas melindungi pemuda berambut putih keperakan itu.

"Kau terluka, Kakang?" tanya Gumala. Kecemasan tampak membayang di wajahnya.

Arya hanya menganggukkan kepalanya. "Pergilah kau, Adi Gumala. Lekas! Pemuda itu hebat sekali. Biar, aku yang menahannya...."

Setelah berkata demikian, Dewa Arak terbatuk-batuk. Cairan merah kental seketika keluar dari mulutnya.

"Tidak, Kang. Kau terluka cukup parah. Biar aku yang menghadapinya. Kau beristirahat saja...," ucap pemuda tampan ini menenangkan.

"Tapi, Adi...," Arya masih mencoba membantah. Gumala tidak menghiraukannya lagi karena dilihatnya pemuda baju coklat itu telah siap menyerangnya.

Pemuda tampan ini tahu kalau orang yang hampir menewaskan Arya ini memiliki kepandaian tinggi. Kalau tidak, mana mungkin Dewa Arak terluka cukup parah? Juga, sudah dirasakan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki lawannya ini ketika tadi menangkis serangan yang mengarah ke tubuh Dewa Arak. Bahkan tubuhnya sampai terhuyung dua langkah ke belakang.

"Siapa kau, keparat! Mengapa mencampuri urusanku!?" sentak Darba.

Darba yang cerdik ini tidak mau langsung menyerang. Ia tahu kalau pemuda di hadapannya ini juga seorang yang berilmu tinggi. Barangkali saja tanpa kekerasan dapat diusirnya calon lawan ini.

"Siapa pun diriku, tidak perlu kau tahu! Terpaksa aku ikut campur dalam urusan ini karena orang yang hendak kau bunuh itu adalah temanku! Paham?!" sahut Gumala tak kalah tegas.

"Keparat! Kalau begitu, kau boleh ikut bersamanya ke neraka!"

Seiring selesainya ucapan itu, tangan kanan Darba bergerak ke arah pinggangnya. Dan ketika tangan itu keluar lagi, telah tergenggam sebuah kapak berwarna perak.

"Ah, kiranya kaulah orangnya ... !" teriak Gumala.

Pemuda ini seketika teringat akan penuturan kakek pemilik kedai tentang ciri-ciri Darba. Jadi inilah orang yang telah membasmi Perguruan Garuda Emas seorang diri! Tapi

Gumala tidak bisa berbicara lagi, karena kapak di tangan Darba telah melesat ke arahnya.

Wuk..!

Angin mengaung keras mengawali tibanya serangan kapak itu. Gumala yang tahu betapa lihainya lawan di hadapannya, tidak berani bertindak ceroboh.

Singgg ... !

Cepat-cepat Gumala menghunus pedangnya. Dan begitu pedang itu digerak­gerakkan, terdengar suara mendesing dahsyat. Cring...!

Dua buah senjata yang berbeda bertemu di tengah jalan, dalam sebuah benturan yang keras dan nyaring.

"Haaat...!"

Darba menggertakkan gigi, menandakan kemarahannya yang memuncak. Kapak di tangannya segera berkelebatan kian dahsyat seiring kemarahannya yang semakin berkobar.

Tapi Gumala mampu membendung setiap serangan lawan. Pedang di tangannya mengeluarkan bunyi menggerung dahsyat setiap kali digerakkannya. Sepertinya di dalam pedang itu mengandung kekuatan seekor naga.

Pertarungan antara kedua orang muda itu berlangsung sengit dan cepat. Sehingga sebentar saja belasan jurus telah berlalu. Tapi sampai saat ini, belum nampak tanda-tanda yang akan terdesak. Pertarungan masih berlangsung se imbang.

"Tahan!" teriak Darba keras sambil melempar tubuh ke belakang, dan hinggap sekitar dua tombak dari tempatnya semula.

Mendengar teriakan itu, Gumala langsung menghentikan gerakannya. Tangan kanannya yang menggenggam pedang, bersilangan dengan tangan kiri di depan dada. Pemuda itu bersiap menghadapi kemungkinan adanya serangan gelap Darba.

Tapi pemuda baju coklat itu memang tidak berniat licik.

"Katakan apa hubunganmu dengan Ki Gering Langit?!" tanya Darba keras. "Aku yakin ilmu pedang yang kau gunakan adalah 'Ilmu Pedang Seribu Naga'!"

Wajah Gumala memucat. Sorot matanya mengandung kecemasan ketika sudut matanya melirik Arya. Tapi, ketika nampaknya Dewa Arak sama sekali tidak mendengar percakapan itu karena tengah tergeletak di tanah, sinar kecemasan pada wajahnya pun lenyap.

Tiba-tiba saja diluar dugaan, tubuh Gumala melesat ke arah Darba dan langsung menghujaninya dengan serangan-serangan dahsyat. Karuan saja hal itu membuat murid Ki Jatayu ini kaget bukan main. Buru-buru dibanting tubuhnya ke tanah kemudian bergulingan menjauh.

Gumala yang memang sebenarnya tidak berniat mendesak lawannya, tanpa membuang­buang waktu lagi segera menyambar tubuh Arya dan melesat kabur dari situ. Dikerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki setinggi mungkin.

"Keparat!" maki Darba begitu dilihat lawannya telah lenyap. Sesaat lamanya pemuda itu kebingungan hendak mengejar ke mana. Beberapa saat lamanya ia termenung, berpikir sambil memandang berkeliling, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengejar dari arah kedatangan Arya tadi.

***

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, Gumala berlari cepat sambil memanggul tubuh Arya. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, melihat barangkali Darba mengejarnya. Lega hatinya ketika tak juga melihat bayangan pemuda itu di belakangnya. Pelahan dikurangi kecepatan lari yang memhuat napasnya terengah­engah. Sambil terus berlari, ditatapnya wajah Arya yang terkulai lemah di kedua tangannya. Pemuda berambut putih keperakan itu rupanya telah pingsan.

Gumala baru menghentikan larinya ketika telah tiba di dekat kereta kuda yang ditinggalkan tadi. S e ge ra dicarinya te mpat yang te rse mbunyi di balik semak-semak, kemudian direbahkannya tubuh pemuda itu di situ.

Sekali lihat saja Gumala dapat mengetahui kalau luka-luka yang diderita Dewa Arak cukup parah. Bagian-bagian yang terkena serangan itu memang terlihat jelas. Bagian dada sebelah kiri yang terkena tusukan, tampak kulitnya sobek. Gumpalan darah yang telah mengering, mengelilingi sekitar luka itu.

Sementara bagian perut yang terkena sabetan sisi tangan miring Darba, tampak sebuah goresan halus tipis memanjang. Bentuknya seperti terkena bacokan pedang. Tapi tentu bacokan sisi tangan miring Darba jauh lebih berbahaya.

Bacokan pedang bila mengenai kulit, paling tidak hanya melukai kulit dan daging. Tapi tidak demikian dengan bacokan sisi tangan pemuda baju coklat itu. Bukan hanya kulit dan daging yang dilukai, tapi juga bagian dalam dada.

Hal seperti itulah yang dialami Arya. Pemuda ini mengalami luka dalam yang cukup parah. Dan kini Gumala mencoba mengobatinya. Tanpa ragu-ragu lagi, seperti orang yang sudah terbiasa, Gumala membersihkan luka di bagian dada kiri Arya. Baru setelah itu, dibalurinya dengan obat bubuk yang diambil dari buntalan di dalam kereta kudanya.

"Ohhh ... !" Arya mengeluh. Mulutnya menyeringai kesakitan. Dike rjap-kerjapkan matanya untuk mengusir rasa pening yang menggayuti kepalanya, dan untuk memperjelas pandangannya. Karena yang terlihat di depannya hanyalah bayang-bayang wajah yang tidak jelas.

"Syukurlah kau sudah sadar, Kakang," tegur sebuah suara.
"Siapa kau...? Di manakah aku ... ?" tanya pemuda itu lirih.
"Tenanglah, Kakang. Aku Gumala, dan kau berada di tempat aman."
"Gu... ma... la...," desah pemuda berambut putih keperakan itu.

Samar-samar Arya kembali teringat semua kejadian yang dialaminya. Mulai dari mandi di sungai sampai bertemu dan hampir celaka di tangan pemuda baju coklat. Kalau saja Gumala tidak datang menolongnya, mungkin nasibnya lain lagi.

"Uhk... uhk..!"

Tiba-tiba Arya terbatuk-batuk. Melihat hal ini, buru-buru Gumala mengeluarkan sebuah obat pulung berwarna kecoklat-coklatan.

"Telanlah ini...," perintah Gumala seraya menyorongkan air dalam sebuah kendi ke mulut Arya.

Tanpa ragu-ragu Dewa Arak menerima obat pulung itu dan menelannya. Juga segera diminumnya air yang disodorkan Gumala, untuk lebih mempercepat hancurnya obat pulung itu di dalam perutnya.

"Berbaringlah, Kang. Tak lama lagi kau akan segera sembuh. Obat pulung ini sangat manjur untuk mengobati segala macam luka dalam."

Arya hanya bergumam tidak jelas. Ia sudah tidak sanggup lagi berkata-kata. Rasa kantuk yang amat sangat telah menyerangnya. Tanpa disuruh pun pemuda ini sudah merebahkan tubuhnya. Rasa kantuk itubegitu kuat menyerangnya. Sekilas masih dapat ditangkapnya ucapan Gumala.

"Aku pergi dulu, Kang."

Setelah itu semuanya menjadi gelap.

Arya Buana tidak tahu berapa lama telah terlelap. Yang diketahui hanyalah ketika tersadar, Gumala telah berada di sisinya kembali. Di samping pemuda itu telah tergeletak guci arak dan pakaiannya. Dewa Arak beranjak bangkit. Kini rasa sakit dan nyeri tidak lagi menyerang dadanya. Benar seperti kata Gumala, obat pulung itu benar­benar manjur.

"Bagaimana, Kang? Masih ada yang terasa sakit?" sambut Gumala begitu pemuda berambut putih keperakan itu bangun dari berbaringnya.

Arya tersenyum. "Obatmu benar-benar manjur, Adi Gumala," pujinya tulus. "Sekarang aku merasa sudah sehat lagi."

"Memangnya kalau kau sudah sehat lagi kenapa, Kang?"

"Kenapa?!" Arya membelalakkan matanya. "Ya, tentu saja meneruskan tugas kita yang tertunda, Adi Gumala!"

"Oh, iya!" pemuda tampan mirip wanita ini menepak kepalanya pelan. "Kalau begitu, tunggu apa lagi, Kang? Bukankah kau ingin menengok ibu dan kake kmu?"

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dikenakan pakaian dan diikatkan kembali gucinya di punggung. Sementara Gumala melangkah mendahului Arya meninggalkan tempat itu menuju kereta kuda. Kemudian dia naik ke atasnya, diikuti Arya.

"Hiyaaa ... !"

Gumala menghela tali kekang kudanya menuju rumah Kepala Desa Jipang.

Selagi kereta kuda itu berjalan, tiba-tiba pandang mata Arya menangkap berkelebatnya sesosok bayangan putih yang bergerak cepat ke arah Barat.

Dewa Arak tersentak. Ingatannya langsung melayang pada Melati yang selalu memakai pakaian serba putih. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda ini pun melompat dari kereta. Tubuhnya melesat cepat ke arah bayangan putih tadi.

"Kau teruskan saja perjalananmu, Gumala. Sampai di simpang tiga, belok ke kiri. Sekitar sepuluh tombak dari situ, ada sebuah rumah yang paling besar dan bagus. Itulah rumah kepala desa. Aku datang belakangan," jelas Arya dari kejauhan.

Memang dengan tingkat ilmu kepandaiannya yang tinggi, tak sukar bagi Dewa Arak untuk mengirimkan pesan jarak jauh ke orang yang dituju. Sedangkan Gumala hanya dapat mengangguk. Fntah kepada siapa anggukan kepalanya itu ditujukan. Karena tubuh Arya sudah lenyap dari situ.

Dewa Arak segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Disadari kalau bayangan putih yang sekilas dilihatnya tadi adalah Melati. Maka jelas dia tidak akan bisa mengejarnya kecuali mengerahkan segenap kemampuannya.

Tapi betapapun pemuda berambut putih keperakan ini telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, tetap saja jaraknya dengan sosok bayangan putih itu tidak berubah.

Keruan saja hal ini membuat Arya menjadi penasaran. Sepanjang pengetahuannya, tingkat kepandaian gadis berpakaian putih itu, masih di bawahnya. Tapi mengapa, sampai sekian lamanya mengejar tidak juga dapat menyusul? Jangankan menyusul, memperpendek jarak pun tak mampu.

Setibanya di suatu tempat yang di kanan kirinya banyak ditumbuhi semak lebat, Dewa Arak kehilangan jejak. Pemuda berbaju ungu ini menghentikan larinya. Sepasang matanya menatap semak-semak di sekitarnya penuh kewaspadaan.

Mendadak pendengaran Dewa Arak yang tajam menangkap adanya suara berkerisik pelan di belakangnya. Cepat-cepat dibalikkan tubuhnya. Sementara seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang waspada.

"Mengapa kau mengikutiku, Anak Bagus?" Sebuah suara serak menyambut begitu Arya membalikkan tubuhnya.

Dewa Arak menatap sosok tubuh di hadapannya penuh perhatian. Tampak seorang nenek berusia sekitar enam puluh tahun, berkulit putih pucat, dan berpakaian serba putih. Pada dahinya terdapat benda kecil berbentuk bulan sabit yang diikat oleh tali melingkari kepalanya. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat yang berujung logam tipis berbentuk bulan sabit.

Arya mengeluh dalam hati. Tidak disangka kalau bayangan yang tadi dikejarnya bukan Melati, melainkan nenek ini.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Anak Bagus!" kembali nenek ini berujar. Tapi kali ini suaranya mengandung ancaman maut. ''Tak ada seorang pun yang dapat hidup setelah mempermainkan Dewi Bulan!"

Begitu selesai dengan ucapannya, nenek yang berjuluk Dewi Bulan itu menggerakkan tangan yang menggenggam tongkat bulan sabitnya.

Cappp!

Tongkat itu menancap dalam di tanah. "Bersiaplah kau, Anak Bagus! Hiyaaa...!"

Didahului oleh sebuah teriakan nyaring yang menggetarkan jantung, Dewi Bulan melompat menerjang Arya. Kedua tangannya yang membentuk cakar aneh menyambar-nyambar dahsyat ke arah Arya, sehingga menimbulkan suara angin berciutan.

Dewa Arak terperanjat kaget. Pemuda ini tahu, tidak ada gunanya berusaha mencegah. Nenek aneh ini pasti tidak akan mendengarkan ucapannya. Maka cepat-cepat digeser kakinya mengelakkan serangan itu.

Tapi tiba-tiba tubuh nenek itu berbalik. Dan bersamaan dengan itu kakinya mengibas, mengancam pelipis. Sebuah serangan yang sama sekali tidak terduga!

Kali ini Arya tidak punya pilihan lain lagi kecuali menangkis. Buru-buru diangkat tangan kirinya melindungi pelipis

Plak!

Tubuh Arya terhuyung selangkah ke belakang, sementara Dewi Bulan terhuyung dua langkah. Dari benturan tadi, nenek itu sudah dapat mengetahui kalau tenaga dalam lawannya lebih unggul.

"Keparat!" maki si nenek. Wajahnya terlihat merah bukan main. "Besar sekali nyalimu, bocah! Kau telah berani membuatku terhuyung. Maka kali ini jangan harap kuampuni nyawamu!"

Sambil meraung keras laksana binatang terluka, Dewi Bulan kembali menerjang Arya. Kedua tangannya yang membentuk cakar aneh berkelebatan cepat dan tiba-tiba, ke bagian-bagian tubuh Arya yang mematikan.

Arya mengenal betul setiap serangan­serangan berbahaya. Tapi dia tidak ingin terkecoh seperti tadi. Pemuda berambut putih keperakan ini kini telah tahu, sungguhpun serangan tangan nenek itu amat berbahaya, tapi jelas kaki nenek itu jauh lebih berbahaya. Mirip binatang kalajengking! Sabetan ekornya yang justru lebih berbahaya daripada serangan jepitnya.

Maka, walaupun Arya seperti terpaku terhadap serangan-serangan tangan nenek itu, tapi sepasang matanya tak pemah lepas mengawasi kedua kaki lawan.

Selama beberapa gebrakan Arya menggunakan ilmu warisan yang diperoleh dari ayahnya, yakni 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'. Tentu saja bila dibanding ayahnya, almarhum Tribuana, ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' yang dimainkan Dewa Arak jauh lebih dahsyat. Hal ini memang tidak aneh. Karena, baik dalam hal tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuh, pemuda berambut putih keperakan ini telah mampu me nye mpurnakannya.

Tapi setelah bertarung selama beberapa jurus, yakinlah Dewa Arak kalau ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau', tidak dapat dipakai untuk menandingi lawannya. Pelahan-lahan pemuda itu mulai terdesak.

"Sekarang kau baru tahu rasa, bocah keparat!" Dewi Bulan berseru gembira melihat lawannya hanya dapat menangkis dan main mundur, dan hanya sesekali balas menyerang.

Pada jurus kesebelas, Arya tidak punya pilihan lain lagi. Dia harus segera menggunakan ilmu andalannya, 'Belalang Sakti'. Itulah sebabnya pada suatu kesempatan, dilentingkan tubuhnya ke belakang, kemudian bersalto beberapa kali di udara. Dan begitu kedua kakinya mendarat ringan di tanah, tangan kanannya telah menggenggam guci araknya.

Dewi Bulan yang sudah dicekam amarah, tentu saja tidak akan membiarkan lawannya lolos. Cepat dia melompat mengejar, sambil mengirimkan serangkaian serangan maut. Sementara pemuda berpakaian ungu itu mengangkat guci araknya ke atas kepalanya. Dan....

Gluk... gluk... gluk ... !

Suara tegukan terdengar begitu arak itu memasuki tenggorokannya. Tubuh pemuda itu sebentar kemudian sempoyongan. Bersamaan dengan itu, serangan yang dilancarkan Dewi Bulan pun meluncur tiba.

Si nenek sudah bersorak dalam hati. Ia yakin betul kalau serangannya kali ini akan menemui sasaran. Sudah terbayang di benaknya bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya ini, akan jatuh terkapar.

Dapat dibayangkan betapa terkejut hari Dewi Bulan, ketika serangan yang sudah dipastikan akan mengenai sasaran itu tahu -tahu hanya menyambar tempat kosong. Tubuh pemuda itu tiba-tiba saja lenyap dari hadapannya. Yang diketahui, sebelum serangan itu tiba pemuda berambut putih keperakan itu telah bergerak dengan langkah kaki terhuyung seperti orang yang akan jatuh.

Selagi nenek itu kebingungan mencari lawannya, dirasakan angin dingin berhembus di belakangnya. Cepat dilempar tubuhnya ke depan dan bergulingan menjauh, mendekati tongkatnya yang tertancap di tanah.

Tappp!

Disambarnya tongkat bulan sabitnya, dan langsung diputar-putar seperti sebuah tameng yang akan melindungi tubuhnya.

Wuk... wuk... wuk...!

Angin menderu-deru keras ketika nenek itu memutar-mutarkan tongkatnya. Tapi baru saja Dewi Bulan akan menerjang Arya, terdengar lengkingan tinggi di kejauhan. Sepertinya suara itu dikeluarkan dari mulut yang memiliki tenaga dalam tinggi. Seketika wajah perempuan tua itu berubah. Tongkat bulan sabitnya yang sudah diputar-putar, dan siap diarahkan ke tubuh Arya, dihentikan. Matanya tajam menatap wajah pemuda berambut putih keperakan di depannya.

"Kali ini kau mujur ini, bocah! Tapi lain kali jangan harap akan semujur ini!"

Belum juga gema suaranya hilang, nenek itu sudah melesat cepat dari situ. Cepat sekali gerakannya, sehingga dalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap ditelan lebatnya pepohonan dan semak-semak yang terdapat di kanan kiri jalan.

Sementara itu Dewa Arak menggeleng­gelengkan kepala. Diam-diam hatinya menyesal karena telah membuat bibit permusuhan dengan tokoh selihai nenek tadi. Seorang lawan yang cukup tangguh.

Tiba-tiba Arya teringat Gumala yang tadi dltinggalkannya. Kawan barunya yang masih menjadi teka-teki itu ternyata memiliki kepandaian yang jauh di atas dugaannya semula. Kepandaian Gumala ternyata sangat tinggi.

Kalau tidak, mana mungkin mampu menyelamatkan dirinya dari pemuda berbaju coklat yang memiliki kepandaian luar biasa itu? Dengan benak masih dipenuhi tanda tanya, Arya melesat dari situ. Dia menyusul Gumala, menuju rumah Kepala Desa Jipang.

***

Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkatan tinggi, dalam waktu sebentar saja Dewa Arak telah tiba di simpang tiga. Dari situ, tam-aklah Gumala tengah bertarung melawan belasan orang kasar yang mengeroyoknya. Beberapa sosok tubuh nampak bergeletakan di tanah. Rupanya, sudah cukup lama juga pemuda tampan itu bertarung.

Mulanya Dewa Arak ingin membantu Gumala. Tapi ketika melihat ada bayangan tubuh pemuda berbaju coklat di atas atap, diurungkan niatnya. Secepat kilat Arya Buana melesat ke atas, bersembunyi di sebuah cabang pohon. Dia mengintai gerak-gerik pemuda itu, sambil memperhatikan keadaan Gumala.

"Tahan ... !"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. Serentak belasan orang yang tengah mengeroyok Gumala berlompatan mundur. Sehingga yang tinggal hanya pemuda tampan itu sendiri.

Berbareng habisnya gema teriakan itu, dari dalam pintu gerbang muncul tiga sosok tubuh kasar, berpakaian dan berdandan serupa. Mereka berpakaian rompi dari kulit buaya. Gumala me mpe rhatikan me re ka seje nak. Ia tahu kalau ketiga orang itu adalah pemimpin penjahat yang telah menguasai desa ini. Wajah maupun dandanan mereka mirip satu sama lain. Yang membedakannya hanyalah warna ikat kepalanya yang mempunyai warna berbeda. Hitam, totol ­totol, dan putih.

"Inikah orang yang telah melukai teman­teman kalian?" tanya seseorang berikat kepala putih kepada anak buahnya yang telah mengurung Gumala. Laki-laki itu berjuluk Buaya Putih.

"Benar, Kang," sahut mereka.

"Hm...," si ikat kepala putih mengangguk­angguk. Ditatap pemuda di hadapannya tajam­tajam. Sepasang matanya yang besar mengamati Gumala dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Senyum mengejek tersungging di bibirnya.

Sementara orang yang berikat kepala totol­totol dan hitam yang sebenarnya masing-masing berjuluk Buaya Belang dan Buaya Hitam, hanya tertawa-tawa saja melihat tingkah kakaknya.

Baru saja Buaya Putih melangkah mendekat, Gumala telah melompat menerjang. Melihat sikap lawan yang terlalu memandang rendah dirinya, membuat kemarahan pemuda tampan itu bangkit. Dalam kobaran hawa amarah yang meluap, Gumala menyerang tanpa sungkan­sungkan lagi.

"Ahhh...!"

Buaya Putih memekik kaget. Kecepatan gerak pemuda yang mirip wanita ini, benar-benar mengejutkannya. Sepasang matanya hanya dapat menangkap sekelebatan bayangan hitam yang menyambar deras ke arah kepalanya. Angin bercicitan nyaring mengiringi tibanya serangan itu.

Untung-untungan laki-laki berjuluk Buaya Putih itu membanting tubuhnya ke tanah dan langsung bergulingan menjauh dari arena.

Tapi Gumala yang tengah dilanda luapan amarah itu tidak akan melepaskan lawannya. Tekadnya sudah bulat untuk melenyapkan Buaya Putih yang terlalu memandang rendah dirinya.

Sementara itu keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuh Buaya Putih ketika merasa serangan bayangan hitam yang terus mengikuti ke mana tubuhnya menghindar. Perasaan paniklangsung menghinggapinya.

Tubuhnya terus bergulingan, berusaha menyelamatkan diri.

Buaya Belang dan Buaya Hitam tentu saja menyadari bahaya maut yang mengancam kakaknya. Sebagai tokoh-tokoh yang telah mempunyai pengalaman luas dalam dunia persilatan, segera saja kedua orang ini sadar kalau lawan yang dikira empuk itu ternyata memiliki kepandaian tinggi. Bahkan berada jauh di atas kepandaian Buaya Putih.

Maka, tanpa sungkan-sungkan lagi Buaya Hitam dan Buaya Belang mencabut senjata masing-masing, yang terbuat dari kulit buaya. Ujung-ujung sabuk itu berduri-duri. Dan tentu saja sebagai orang yang berwatak kejam, pada duri-duri itu juga dilumuri racun-racun yang mematikan.

Ctar! Ctar!

Suara nyaring memekakkan telinga terdengar ketika kedua orang itu melecutkan sabuk yang panjangnya lebih dari setengah tombak. Dan seperti juga ikat kepala, warna sabuk kedua orang ini pun sesuai julukannya.

Wut..! Wut ... !

Kedua buah sabuk itu menyambar­nyambar ke arah pelipis dan ubun -ubun Gumala yang tengah memburu tubuh Buaya Putih.

Pemuda tampan mirip wanita ini terpaksa membatalkan desakannya terhadap Buaya Putih. Ditarik kepalanya ke belakang, sehingga kedua serangan sabuk itu menyambar tempat kosong. Seketika dikirimkan serangan balasan berupa sapuan kaki, untuk menahan laju desakan lawan.

Harapan Gumala terpenuhi, karena memang kedua orang itu melompat ke belakang. Maka kesempatan yang sebentar ini, dipergunakan Gumala untuk memperbaiki posisinya.

***

Begitu terbebas dari desakan Gumala, Buaya Putih segera melentingkan tubuhnya seraya bersalto sekali di udara. Manis sekali kakinya hinggap di tanah. Namun demikian wajahnya pucat seperti kapas. Hampir saja nyawanya melayang!

Melihat kenyataan ini, Buaya Putih tidak akan main-main lagi. Maka segera diloloskan sabuk kulit buaya berwarna putih yang melilit pinggangnya.

Ctar!

Dilecutkannya sabuk itu sekali ke udara. Kemudian dilangkahkan kakinya menghampiri kedua adiknya untuk bergabung.

Gumala kini tidak bersikap ceroboh. Pemuda ini tahu kalau ujung sabuk lawan mengandung racun jahat. Sempat tercium olehnya bau amis memuakkan ketika cambuk itu menyambar-nyambar tadi.

"Haaat ... !"

Buaya Putih mendahului menyerang. Sabuk di tangannya melecut di udara sebelum menyambar deras ke arah ubun-ubun Gumala.

"Hiyaaa ... !"

Buaya Hitam pun tak ketinggalan. Sabuknya mematuk-matuk ganas ke arah dada.

"Hiaaat ... !" teriak Buaya Belang tak mau kalah. Sabuk buriknya menyapu ke arah kedua lutut.

Tiga buah serangan secara bersamaan datang, mengancam tubuh Gumala. Suatu kerja sama yang teratur baik. Memang cukup berbahaya serangan ini. Apalagi senjata mereka lemas seperti sabuk kulit. Arah sasaran yang dituju tentu dapat berubah-ubah dalam seketika. Hal ini jelas akan menyulitkan lawan yang diserang.

Tapi yang diserang kali ini adalah Gumala, yang memiliki kepandaian luar biasa. Terbukti, pemuda tampan ini sanggup menghadapi Darba!

Gerakannya lincah laksana seekor belut, tubuhnya menyelihap di antara hujan serangan sabuk.

Namun demikian, Gumala tampak kerepotan juga. Kali ini serangan-serangan sabuk itu benar-benar berbahaya. Rupanya dengan maju bertiga, mereka memiliki tambahan tenaga secara aneh, dan terus mendesak Gumala.

Setiap serangan Gumala kini selalu dapat ditahan. Sebaliknya pemuda ini agak repot juga menghadapi setiap serangan balasan lawannya. Untunglah berkat ilmu meringankan tubuhnya yang memang berada amat jauh di atas lawan­lawannya, sampai saat ini dia masih mampu menyelamatkan diri dari setiap serangan lawan.

Belasan jurus telah berlalu. Dan Gumala belum juga mampu mendesak lawannya. Hal ini membuat pemuda ini penasaran bukan main. Dia tahu betul kalau tingkat kepandaian ketiga orang lawannya ini berada jauh di bawahnya. Baik dalam hal tenaga dalam, maupun ilmu meringankan tubuh. Tapi, kenapa setelah maju bertiga mereka mampu membuatnya kerepotan?

Otak cerdas pemuda berbaju hitam ini segera saja dapat menebak apa penyebabnya. Pasti kare na me re ka menye rang secara te ratur. Saling kerja sama, saling bantu, dan saling dukung. Jadi, seolah-olah mereka terdiri dari satu pikiran saja.

Gumala yakin kalau saja mereka mengeroyok secara tak teratur, jangankan hanya tiga orang, biar ditambah dua kali lipat pun mampu mengalahkan tanpa mengalami kerepotan seperti ini.

Jadi rupanya karena keteraturan dalam penyerangan inilah yang menyebabkan mereka begitu tangguh. Kalau saja Gumala bisa membuat mereka kurang menjadi satu saja, pasti kehebatan itu akan hancur.

Mendapat pikiran demikian, Gumala mulai menelaah setiap serangannya tadi. Ditemukan kalau tadi penyerangannya berpindah-pindah. Pertama menyerang Buaya Putih, lalu mengancam Buaya Hitam. Di lain saat, mencecar Buaya Belang. Tekadnya sekarang adalah mengarahkan serangan pada satu orang saja.

"Haaat..!"

Kini Gumala mengarahkan serangannya pada Buaya Putih yang memang sejak tadi diincarnya. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, Buaya Hitam dan Buaya Belang bergegas datang menolongnya, menyampoki serangan itu bersama-sama.

Tapi kali ini tidak seperti yang sudah­sudah. Gumala kini tidak mempedulikan adanya bantuan itu.

Terus saja dicecarnya Buaya Putih. Melihat hal ini, Buaya Hitam dan Buaya Belang pontang­panting mengikuti setiap serangan Gumala. Mereka berusaha untuk terus berada di sisi Buaya Putih.

Dalam beberapa gebrakan selanjutnya, kekompakan kelompok itu pun membuyar. Namun demikian ketiga orang itu berupaya untuk menyatukan posisi lagi. Hanya saja mereka tetap tidak mampu karena Buaya Putih memang tak mampu melakukannya. Cecaran demi cecaran Gumala benar-benar merepotkannya. Sampai pada suatu saat...

Crokkk!
"Akh ... !"

Buaya Putih memekik tertahan. Tangan Gumala yang berbentuk cakar telah menghantam telak pelipisnya. Pimpinan tiga buaya ini terhuyung sesaat. Setelah itu tubuhnya pun ambruk di tanah, diam selama-lamanya. Mati.

"Kakang ... !" jerit Buaya Hitam.
"Grrrh ... ! Kubunuh kau!" geram Buaya Belang.

Kemarahan dua orang itu kini semakin memuncak melihat kematian Buaya Putih. Seketika keduanya menerjang Gumala. Cambuk di tangan kedua orang ini melecut nyaring di udara.

Gumala hanya tersenyum mengejek. Tanpa kerja sama yang teratur seperti halnya tadi, tidak sulit baginya untuk merubuhkan mereka. Dibiarkan saja tubuh lawannya mendekat. Dan ketika jarak keduanya telah dekat, tiba-tiba dihentakkan kedua tangannya ke depan.

Wuuuttt ... !

Angin yang amat kuat berhembus keras ke depan akibat hentakan tangan Gumala.

Bressss...!

Tubuh Buaya Belang dan Buaya Hitam yang tengah berada di udara, terlempar deras ke belakang bagai dilanda angin ribut sejauh beberapa tombak ke belakang. Luncuran kedua tubuh itu baru terhenti ketika menghantam pagar tembok hingga rubuh. Dan memang, Buaya Belang dan Buaya Hitam tidak bangun-bangun lagi.

Karuan saja kematian ketiga orang pemimpinnya membuat orang-orang kasar yang tadi mengurung Gumala menjadi gentar.

"Kini giliran kalian," tegas Gumala seraya menatap mereka satu persatu. Tentu saja hal itu membuat orang-orang kasar itu tanpa sadar melangkah mundur setindak.

Tapi tiba-tiba Gumala menoleh ke samping kiri disertai sikap waspada. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya suara berkerisik pelan. Ternyata di samping kirinya dalam jarak sekitar tiga tombak, telah berdiri seorang pemuda tampan berbaju coklat. Pada kedua pinggangnya terdapat sebuah kapak.

"Kaget?" ucap pemuda yang ternyata adalah Darba. Bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.

"Pantang bagiku untuk membokong lawan. Maka sengaja kuremas-remas daun kering agar kau mengetahui kehadhanku!"

"Aku tidak punya urusan denganmu! Menyingkirlah!"

"Tidak punya urusan denganku?! Lucu sekali! Belum lama ini kau telah menyelamatkan musuh besarku. Bahkan baru saja telah membunuh tiga orang anak buahku. Dan sekarang kau bilang tidak punya urusan denganku?! Lucu sekali!"

"Jadi, apa maumu sekarang?" tanya Gumala, bernada menantang.
"Sederhana saja...."
"Apa?"

"Membunuhmu!" tegas kata-kata Darba. "Kau kira mudah membunuhku?" ejek Gumala sambil tersenyum sinis.

"Ha ha ha...!" Darba tertawa. "Dulu, guruku memang tidak menang melawan Ki Julaga, gurumu itu. Tapi sekarang? Kita buktikan siapa di antara mereka yang lebih hebat!"

"Dari mana kau tahu guruku?" tanya Gumala kaget.

"Ha ha ha..., mudah saja! Hanya ada tiga orang yang menguasai ilmu-ilmu Ki Gering Langit, selain si tua bangka itu. Dua orang lainnya adalah guruku yang bernama Ki Jatayu, dan Ki Julaga! Dan tak mungkin kalau kau murid si tua bangka itu. Jadi jelas kau adalah murid Ki Julaga! Hanya yang membuatku tidak habis mengerti, mengapa kau malah akrab dengan murid si tua bangka itu? Padahal orang tua itulah yang telah membuat gurumu sengsara!" jelas Darba. Pemuda itu memang sejak tadi memperhatikan perkelahian

Gumala, sehingga berhasil mengetahui dari siapa Gumala memperoleh ilmu itu.

"Bukan urusanmu!" bentak Gumala garang seraya melompat menerjang Darba.

Tahu kelihaian pemuda berbaju coklat itu, Gumala segera mengerahkan segenap kemampuannya. Tangan kanannya yang berbentuk cakar menyambar ke arah pelipis, sementara tangan kirinya dipalangkan di depan dada.

Melihat serangan itu, Darba hanya tertawa mengejek. Dengan sebuah gerakan sederhana, didoyongkan tubuhnya ke belakang seraya mengangkat tangan kirinya untuk menangkis serangan itu. Bersamaan dengan itu, kaki kanannya menendang ke arah perut

Plak! Dughk ... !

Suara benturan keras antara tangan dengan tangan, dan tangan dengan kaki yang mengandung tenaga dalam dahsyat, terdengar beberapa kali. Tendangan Darba berhasil dipatahkan Gumala dengan tangan kiri yang terpalang dari atas ke bawah. Akibat benturan itu, baik Gumala maupun Darba sama-sama terhu­yung. Gumala terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara Darba terhuyung satu langkah.

Gumala menggertakkan gigi. Begitu daya dorong yang membuatnya terhuyung habis, kembali diterjangnya Darba.

Kedua tangan Gumala menyambar­nyambar ke berbagai bagian tubuh yang mematikan. Tapi, Darba bukanlah orang yang ilmunya setaraf Buaya Putih dan adik-adiknya. Tingkat kepandaian pemuda baju coklat ini amat tinggi.

Itulah sebabnya, walaupun serangan Gumala datang bertubi-tubi bagaikan hujan, Darba tidak mengalami kesulitan dalam menanggulanginya. Apalagi ketika dia mengeluarkan ilmu 'Tangan Pedang' yang menjadi andalannya. Gumala tampak berkali-kali berteriak kaget .

Pertarungan antara kedua orang muda ini berlangsung cepat. Dalam waktu sebentar saja, belasan jurus tebh berialu. Meskipun demikian, belum nampak tanda-tanda yang akan terdesak. Kelihatannya pertarungan masih berlangsung se imbang.

Memang dalam hal tenaga dalam, Darba lebih kuat daripada Gumala. Tapi keunggulan pemuda baju coklat itu bisa diredam oleh tingginya ilmu meringankan tubuh milik Gumala. Itulah sebabnya, selama belasan jurus pertarungan masih berjalan seimbang.

Dalam hati Gumala mengakui kalau menghadapi pemuda berbaju coklat ini cukup berat baginya. Ilmu tangan kosong murid Ki Jatayu ini benar-benar membuatnya repot bukan main. Angin dari setiap gerakan tangan pemuda itu bisa membuat pakaiannya koyak-koyak

Darba mengerutkan alisnya. Ada perasaan heran menjalari hatinya. Mengapa murid Ki Julaga itu kelihatan begitu takut terkena angin serangan tangannya? Memang, angin itu dapat merobek kulit dan daging. Tapi tentu saja tidak berarti buat pemuda di hadapannya ini. Gumala mempunyai tenaga dalam yang tinggi, sehingga angin serangan itu tak akan mampu melukai kulitnya. Paling tidak hanya akan mengoyak pakaian.

Tapi, kenapa pemuda itu terlihat begitu khawatir?

Setelah tanpa hasil menerka-nerka, akhirnya Darba memutuskan untuk tidak memikirkannya. Biarlah pemuda itu sendiri yang kerepotan menghadapi angin serangan tangannya. Maka segera Darba meningkatkan serangannya.

Lewat jurus kedua puluh, Gumala mulai terdesak. Sebenarnya kalau saja Gumala tidak mempedulikan angin serangan yang mengenai pakaiannya, dia tak akan terdesak begitu. Pemuda ini banyak melakukan gerakan untuk mengelakkan serangan yang sebenarnya tidak berbahaya. Jadi, dia tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang.

Memang berkat 'kerajinannya' mengelakkan angin serangan itu, pakaiannya sampai saat ini masih tetap utuh. Hanya ada satu bagian yang robek memanjang pada bahu kanan atas.

"Haaat ... !"

Tiba-tiba Gumala berteriak nyaring. Kemudian tubuhnya melenting ke belakang sambil berputaran beberapa kali di udara. Dan begitu kedua kakinya hinggap di tanah, tangannya telah menggenggam sebatang pedang.
Singgg ... ! Singgg...!

Baru saja kaki Gumala hinggap di tanah, terdengar desingan nyaring disusul berkelebatnya dua berkas sinar keperakan ke arahnya. Di belakang dua leret sinar itu tubuh Darba menerjang ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Rupanya begitu melihat lawannya melentingkan tubuh ke belakang, Darba yang cerdik segera saja tahu kabu Gumala hendak menggunakan jurus baru. Maka, tanpa ragu-ragu segera dicabut kedua buah kapaknya dan dilemparkan ke arah Gumala. Tak cukup hanya sampai di situ, ia pun melompat menerjang di belakang kedua kapaknya.

Gumala kaget sekali. Tiga buah serangan mendadak telah mengancamnya begitu kedua kakinya menjejak tanah. Dan ini di luar dugaannya sama sekali.

Trang ... ! Trang...!

Dua kali terdengar suara berdencing nyaring. Dua buah kapak itu pun terpental balik dan jatuh ke tanah. Sementara tangan Gumala yang menggenggam pedang pun bergetar hebat. Memang betapa kuatnya tenaga dalam yang terkandung dalam lemparan kapak itu.

Namun sebelum Gumala dapat memperbaiki posisinya, serangan susulan dari Darba telah menyambar tiba.

Bukkk!
"Hekh..!"

Tubuh Gumala melintir. Pukulan sisi tangan Darba telak menghantamnya. Untunglah di saat terakhir masih sempat dielakkan bacokan sisi tangan itu, sehingga tidak mengenai dada, melainkan bahunya.

Putaran tubuh Gumala terhenti ketika menabrak pagar tembok. Tanpa ampun bgi, tubuh yang sedang sempoyongan itu jatuh terguling di tanah.

Belum juga pemuda berbaju hitam ini menyadari apa yang terjadi, sosok tubuh yang disangkanya sudah tewas tadi tiba-tiba bergerak. Tangannya yang menggenggam sabuk kulit buaya berwarna hitam itu melayang. Siapa lagi kalau bukan Buaya Hitam!

Wut ... ! Prattt...!
"Akh ... !"

Gumala mengeluh ketika ujung cambuk berduri itu melecut pada bagian bawah dadanya. Kontan rasa panas menjalar di sekitar tempat yang terkena sabetan. Kepalanya pun terasa pusing. Sementara Buaya Hitam sehabis melecutkan sabuknya, mengeluh tertahan dan rubuh dengan napas putus. Baru sekarang ini dia benar-benar mati.

"Ha ha ha...! Sekarang tamatlah riwayatmu!"

Masih tertangkap oleh pendengaran Gumala, suara tawa penuh kemenangan dari Darba. Dicobanya untuk bangkit. Tapi rasa pusing yang menggayuti kepala menghambatnya. Gumala memejamkan matanya ketika dirasakan ada sambaran angin yang berkesiur ke arahnya. Dia hanya menunggu kematian!

Dapat dibayangkan, betapa kaget hati pemuda berbaju hitam itu ketika pukulan yang ditunggu-tunggunya takjuga sampai. Malah justru dirasakan tubuhnya diangkat sepasang tangan kokoh. Aneh sekali. Tapi, pikirannya yang masih bekerja, dapat merangkai kejadiannya. Bahkan samar-samar didengarnya teriakan­teriakan penuh kemarahan dari Darba.

"Mau ke mana kau, keparat!"

Memang, Gumala telah ditolong seseorang! Kemudian dirasakan hembusan angin keras meniup dari arah depan. Pertanda kalau orang yang menolongnya tengah membawanya kabur. Dibuka matanya lebar-lebar mencoba melihat penolongnya. Samar-samar terlihat seraut wajah yang tak jelas. Tapi dari rambutnya yang berwarna putih keperakan dan panjang meriap, dapat dikenali siapa penolongnya ini.

"Kakang Arya...," bisik Gumala lemah sebelum akhirnya rubuh tak sadarkan diri.

Sang penolong yang memang tak lain adalah Arya Buana, membawa lari Gumala dengan kecepatan tinggi. Pandangan matanya yang tajam dapat melihat kalau kawannya itu terkena racun ganas. Kalau tidak lekas ditolong, bukan mustahil kalau pemuda teman seperjalanannya ini akan tewas.

Dewa Arak memang agak terlambat menolongnya. Karena tadi begitu dilihatnya Gumala mampu mendesak lawannya, pemuda ini masuk ke dalam gedung, mencari tahu barangkali guru pemuda berbaju coklat itu ada di dalam. Begitu keluar, dilihatnya Gumala dalam keadaan gawat. Buru-buru dia bergerak menolong dan membawanya kabur.

***

Arya menghentikan larinya ketika merasa yakin kalau Darba tidak mengejarnya lagi. Diturunkannya tubuh Gumala hati-hati di atas rumput, lalu diperhatikannya luka yang terdapat pada tubuh pemuda itu.

Sekali pandang saja Dewa Arak ini segera tahu, kalau luka pada bagian bawah dada itulah yang lebih berbahaya, karena mengandung racun ganas. Untungnya racun itu daya kerjanya lambat, sehingga belum menjalar ke mana-mana.

Arya tidak mau membuang-buang waktu lagi. Cepat tangannya bergerak.

Breeettt..!
"Akh ... !"

Arya Buana terpekik kaget! Sepasang matanya terbelalak lebar seolah tak percaya akan apa yang dilihatnya. Dibalik baju yang telah terobek lebar itu, pada bagian dada nampak terpampang dua buah bukit kembar yang mulus menantang.

Darah kelaki-lakian Arya Buana seketika bergolak. Jantungnya jadi semakin keras berdegup. Pemuda itu menelan ludah dengan perasaan tegang. Ternyata kawannya yang disangka seorang pemuda ternyata wanita! Ditatapnya sekali lagi dua buah bukit kembar di hadapannya, untuk lebih meyakinkan penglihatannya. Benar tidak salah lagi! Itu adalah payudara wanita!

Perasaan penasaran membuat Arya memperhatikan wajah Gumala palsu. Dan sekarang jantungnya semakin berdebar tegang, ketika kini dapat melihat wajah itu lebih jelas lagi. Wajah itu.... Mulut itu.... Bibir itu..., dan sepasang mata itu..., mengingatkannya pada seseorang. Seorang gadis berpakaian serba putih yang amat dekat di hatinya. Melati!

Melati! Jerit hati pemuda berambut putih keperakan ini ketika kini dikenalinya wajah itu. Benar! Wajah itu adalah milik Melati. Wajah yang selalu dirindukannya. Dan kini wajah itu berada dalam ancaman bahaya maut , Arya Buana kini dilanda kebimbangan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Tentu saja sudah pasti mengobati Melati. Tapi, caranya....

Tidakkah gadis itu nanti akan bertambah marah padanya?

Beberapa saat lamanya terjadi perang batin dalam diri Arya. Antara mengobati gadis itu, dengan kemarahan yang sudah pasti bakal diterimanya. Karena jalan satu-satunya untuk mengeluarkan racun hanyalah dengan menyedot darah itu keluar. Menyedotnya dengan mulut!

Setelah lama dilanda kebimbangan, akhirnya Dewa Arak memutuskan untuk melakukannya. Biarlah! Marah pun tak mengapa. Yang penting gadis itu dapat selamat. Kini walaupun dengan setengah hati, Arya mendekatkan mulutnya ke bagian bawah dua bukit kembar itu. Ditempelkan bibirnya dan disedotnya darah yang telah mengandung racun itu, kemudian diludahkan.

Demikian dilakukannya berkali-kali sampai akhirnya darah yang diludahkannya mulai memerah, tidak hitam seperti sebelumnya.

"Ohhh ... !"

Terdengar keluhan dari mulut Melati, ketika Arya masih sibuk menyedot sisa racun yang masih bersemayam sampai diyakininya racun itu bersih sama sekali. Dan sudah diduga oleh Arya kalau Melati akan terkejut setengah mati. Gadis itu seketika memekik, lalu bergegas bangkit dengan wajah memerah bagai kepiting rebus.

"Manusia kurang ajar!" teriak Melati keras. Tangannya pun melayang.

Plak ... !

Dengan deras dan keras telapak tangan gadis itu menampar pipi Arya. Begitu kerasnya sehingga nampak pada pipi pemuda itu tergambar telapak tangan berwarna merah.

"Tunggu sebentar, Melati! Akan kujelaskan...," ucap Arya gugup.

Tapi Gumala yang sebenarnya Melati itu sama sekali tidak mempedulikannya. Segera dia bangkit, lalu merapikan pakaiannya. Dan kembali diterjangnya pemuda itu.

Bukkk!

Dengan telak, tendangan itu menghantam Arya yang sama sekali tidak berusaha mengelak atau melawan. Untungnya Melati hanya mengerahkan sebagian kecil tenaga dalamnya ketika melihat pemuda berambut putih keperakan ini sama sekali tidak mengelak atau menangkis. Meskipun begitu, tetap saja sekujur tubuh Arya yang terkena sasaran pukulan dan tendangan itu jadi matang biru.

Tiba-tiba terdengar seruan tertahan keluar dari mulut Melati. Tubuhnya kemudian melesat dari situ, meninggalkan Arya.

"Melati! Tunggu ... !" teriak pemuda berbaju ungu itu keras tanpa berusaha mengejar.

Tapi gadis itu sama sekali tidak mengacuhkan teriakan Arya. Jangankan berhenti, menoleh pun tidak, la terus saja berlari, sehingga sesaat kemudian tubuhnya lenyap diteian jalan.

"Melati..., ahhh Melati...," keluh Dewa Arak. Sepasang matanya memandang kosong ke depan.

Sudah diduga kalau peristiwa seperti ini akan terjadi. Dia sama sekali tidak menyalahkan Melati. Memang wajar kalau gadis itu bersikap demikian, karena tentu merasa malu.

Hanya satu hal yang disesali Arya, mengapa perjumpaannya dengan gadis yang telah mencuri sekeping hatinya itu selalu menimbulkan hal yang berakhir tidak menyenangkan.

"Hhh ... !"

Dewa Arak menghela napas dalam-dalam. Diambilnya guci yang terikat di punggung, lalu diangkatnya ke atas mulutnya. Dan....

Gluk... gluk... gluk..!

Terdengar suara tegukan ketika arak itu memasuki tenggorokan Arya. Sesaat kemudian kedua kaki pemuda ini pun goyah. Tapi ia tidak peduli. Dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan tugas yang tertunda, mengunjungi tempat kediaman pembimbingnya. Ingin dibuktikan, apakah ada kejadian tidak enak yang menimpa guru dan ibunya, seperti yang selalu muncul dalam mimpi­mimpinya.

***

Gumala yang kini ternyata adalah Melati, melesat kabur dengan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Sebenarnya dia tidak menyalahkan tindakan Arya. Disadari kalau Dewa Arak melakukan hal itu hanyalah untuk menyelamatkan nyawanya. Sama sekali tidak untuk melakukan hal yang bersifat kurang ajar.

Memang sebenarnya Dewa Arak itu tidak mengetahui kalau ia adalah seorang wanita. Bahkan wanita yang dirindukan dan dicari-carinya selama ini. Memang selama melakukan perjalanan bersama Dewa Arak, pemuda itu telah bercerita banyak tentang Melati. Tentu saja juga diungkapkan perasaan cintanya terhadap Melati yang diutarakan pada Gumala, kawan seperjalanan yang dikira adalah seorang pemuda.

Diceritakan pula oleh Dewa Arak kalau Melati telah membencinya. Hampir saja Melati yang waktu itu menyamar sebagai Gumala membuka rahasianya sendiri. Sebenarnya Melati sama sekali tidak membenci pemuda itu. Bahkan sebaliknya mencintainya. Tapi, rasa malu dan beberapa sebab-sebab lain membuatnya merasa rendah diri bersama-sama Arya.

Salah satu hal yang paling berat adalah janjinya terhadap 'ayahnya' Gadis itu memang telah bersumpah untuk memberi hukuman pada pemuda itu. Tapi janji itu sulit dilakukannya, karena cintanya pada Arya Buana. Maka Melati memutuskan untuk menjauhi Arya saja.

Tapi ternyata rasa rindu untuk melihat Dewa Arak itu tidak tertahankan lagi. Setelah lama otaknya bekerja keras, akhirnya didapatkan satu jalan untuk dekat dengan pemuda itu tanpa diketahui. Apalagi kalau tidak dengan jalan me nyamar.

Tapi siapa sangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Tanpa sengaja, pemuda itu telah berhasil membongkar rahasianya. Bahkan dengan cara yang membuatnya malu besar. Dewa Arak telah melihat bagian tubuhnya yang paling dirahasiakan! Payudaranya! .

Dan sekarang, bagaimana Melati dapat bertemu dengan pemuda itu lagi? Rasanya setiap kali melihat Arya, kembali teringat peristiwa memalukan itu.

Sambil terus berlari cepat, pikiran Melati terus bekerja. Disadari kalau ia tidak mampu berpisah dengan pemuda berambut putih keperakan itu terlalu lama. Rasa rindu senantiasa menggigit hatinya, setiap kali berpisah dengan pemuda itu.

Begitu juga kali ini. Secara diam-diam dibayanginya perjalanan Dewa Arak, tanpa sepengetahuan pemuda itu sendiri.

***

Arya me lakukan pe rj alanan dengan berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Mimpi buruk yang berturut-turut dan perasaan tidak enak yang selalu mengganggu hati, membuatnya bertindak begitu.

Beberapa hari kemudian, sampailah pemuda berambut putih keperakan ini di pintu gerbang sebelah Barat Desa Jati Alas. Desa yang terdekat dengan tempat tinggal pembimbingnya, Ular Hitam.

Arya Buana memperlambat langkahnya. Matanya memandang berkeliling, memperhatikan keadaan desa ini. Dan kening pemuda ini seketika berkerut. Suasana desa ini sepi sekali. Pintu-pintu dan jendela jendela semua tertutup rapat .

Kening Dewa Arak berkerut. Dugaannya, pasti ada sesuatu kejadian yang telah menimpa desa yang baru beberapa pekan ditinggalkan ini. Dan perasaannya pun jadi kian tidak enak. Mungkinkah Ular Hitam tidak melihat keadaan ini? Bukankah Desa Jati Alas in! adalah tempatnya memenuhi keperluan sehari-hari? Mustahil kalau tidak melihat keadaan yang mencurigakan ini!

"Tuan Dewa Arak...!"

Sebuah panggilan menyadarkan lamunan pemuda ini. Ditolehkan kepalanya ke arah asal suara. Tampaklah seorang pemuda bertubuh tegap yang dikenalnya bernama Surya tengah berlari-lari menghampiri (Baca Serial Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang").

"Ada apa?" tanya Arya begitu tubuh Surya telah dekat.

"Gawat, Tuan Dewa Arak..!" ujar Surya masih terengah-engah.

"Panggil saja aku Arya...," pinta pemuda berambut keperakan itu. Risih rasanya mendapat panggilan yang begitu tinggi. "Ada apa?"

Sementara itu, Surya mengatur napasnya sebelum kembali berbicara. "Beberapa pekan yang lalu, seorang pemuda datang ke desa ini menanyakan tempat tinggal Kakek Ular Hitam...."

"Pemuda? Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Arya. Dadanya tiba-tiba terasa berdebar tegang.
"Nggg..., tampan.... Pakaiannya coklat. Dan di kanan kiri pinggangnya terselip sebuah kapak berwarna perak..."

Berubah wajah Dewa Arak mendengarnya. Jelas kalau pemuda yang disebutkan ciri-cirinya itu adalah Darba. Arya pun sudah mengetahui pula maksud pemuda itu mencari pembimbingnya. Hal ini membuat perasaan tidak enaknya semakin menjadi jadi.

"Lalu ... ?" tanya Arya pelan. Ketegangan membuat suaranya se pe rti te rce kat di tenggorokan.

"Melihat sikapnya yang mencurigakan, Ki Pandu tidak memberitahukannya. Tapi, akibatnya gawat! Pemuda itu membunuh Ki Pandu! Tidak hanya itu saja. Semua penduduk yang tidak mau menunjukkan tempat tinggal Kakek Ular Hitam dibunuh tanpa kenal ampun."

"Ahhh ... !" desah Arya kaget. "Akhirnya salah seorang penduduk memberitahukannya...," jelas Surya pelahan.

Sepertinya pemuda ini merasa menyesal mengapa hal itu terjadi.

Arya hanya diam terpaku. Dimaklumi kalau akhirnya ada penduduk yang memberitahukannya. Memang sebagai seorang pendekar, Dewa Arak lebih mementingkan penduduk biasa daripada orang yang pandai ilmu silat.

"Setelah mendapat keterangan tentang tempat tinggal Kakek Ular Hitam, pemuda itu pun pergi. Aku bergegas pergi ke sana, dengan meminjam seekor kuda yang memiliki kemampuan beriari paling cepat. Maksudku, ingin memberitahukan Kakek Ular Hitam, ada orang jahat mencarinya."

"Lalu ... ?" tanya Arya. Dadanya berdebar tegang.
Surya tampak ragu. "Sayang kedatanganku terlambat, Den Arya."

"Lalu..., apa yang terjadi dengan kakek dan ibuku ... ?!" desak Arya setengah berteriak. Ketegangan membuat pikiran jernihnya menguap. Dicekalnya leher baju Surya dan dihentak­hentakkannya. "Katakan! Katakan, apa yang terjadi pada kakek dan ibuku ... !"

Tubuh Surya gemetar. Apalagi ketika menatap sepasang mata yang mencorong dari pemuda berambut putih keperakan itu. Nyalinya kontan menciut

"Den Arya..., sadar, Den. Sadar...," ucap Surya gemetar.

Ucapan Surya itu rupanya berhasil menyadarkan Dewa Arak. Pelahan cekalan Arya pada leher baju pemuda itu mengendur. Kemudian tubuh Surya pun diturunkan.

"Hhh ... !" Arya menghembuskan napas berat. Sepasang matanya pun kembali meredup. Ditekap wajahnya dengan kedua tangan. "Maafkan aku, Kang," ucap Arya lirih. "Aku khilaf. Tapi, kuharap Kakang bersedia mengatakan apa terjadi pada kakek dan ibu. Katakan, Kang. Sekalipun berita itu buruk, aku sudah siap untuk mendengarnya."

Surya menelan Iudahnya sebentar. Ditatapnya dalam-dalam wajah Arya Buana.

"Aku melihat..., Kakek Ular Hitam, dan ibu Den Arya tergeletak di tanah...."

Arya memejamkan matanya. Sudah dapat diduga bagaimana nasib kedua orang yang sangat dicintainya itu. Benaiiah apa yang dilihatnya dalam mimpi-mimpinya itu.

"Bagaimana ke adaan mereka?"
"Mereka tewas dengan cara yang menyedihkan, Den...."
"Jahanam!" jerit Dewa Arak keras.

"Kalau Aden ingin menengoknya, silakan, Den. Mereka kukuburkan di halaman samping, dekat pohon jambu."

Tapi Arya sudah tidak mendengar ucapan Surya lagi. Tepat saat jeritan kemarahannya keluar dari mulut, tubuhnya pun melesat dari situ. Sedangkan Surya hanya dapat menggelenggelengkan kepalanya sambil menatap tubuh pemuda berambut putih keperakan yang kian mengecil dan akhirnya lenyap ditelan jalan.

***

Arya duduk bersimpuh di depan dua buah gundukan tanah yang masih baru. Pada dua buah gundukan itu terpancang papan nisan yang bertuliskan nama orang-orang yang terkubur di dalamnya. Dalam hati pemuda berambut putih keperakan ini bersyukur, melihat adanya papan nisan pada dua buah kuburan ini.

Sekuat tenaganya Arya berusaha menahan jatuhnya air mata. Pantang baginya untuk menangis, betapapun beratnya kesedihan yang ditanggung.

"Kakek..., Ibu...," ucap Arya pelan di depan dua kuburan itu. "Mengapa kalian pergi begitu cepat. Aku belum lagi sempat membalas budi kalian yang begitu besar terhadapku. Aku berjanji, Kek, Ibu.... Akan kubalas perbuatan keji ini!"

Dewa Arak menghentikan ucapannya. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya suara langkah kaki pelahan di belakangnya. Khawatir kalau pemuda baju coklat itu lagi yang datang, Arya buru-buru menoleh namun bersikap waspada.

Sekitar lima tombak di depannya tampak berdiri dua sosok tubuh. Salah seorang di antara mereka telah dikenalnya. Dialah nenek yang selalu berpakaian serba putih, berjuluk Dewi Bulan.

Sementara orang yang berdiri di sebelahnya, seorang laki-laki tua bertubuh agak pendek, bulat, dan berkepala botak Sebuah rompi berwarna hijau, dan celana sebatas bawah lutut yang juga berwarna hijau, menutupi kulit tubuhnya yang berwarna kehijauan. Kelabang Hijau, begitu julukan yang dimilikinya.

Si nenek mulanya terperanjat ketika melihat Arya. Jelas, pemuda itulah yang telah membuatnya terhuyung belum lama ini. Tapi di lain saat rasa terperanjatnya berganti rasa marah yang meluap-luap.

"Dia bocah yang kuceritakan itu, Kelabang Hijau!" tegas Dewi Bulan memberitahu kakek gundul di sebelahnya. "Sekarang tidak akan kubiarkan dia lolos lagi!"

"Sabar dulu, Dewi Bulan!" cegah Kelabang Hijau sambil menarik tangan nenek yang sudah bergerak maju itu.

"Apa hakmu menghalangiku?!" tantang Dewi Bulan. Disentakkan tangannya yang dicekal kakek gundul berkulit kehijauan itu.

"Aku memang tidak berhak menghalangi tindakanmu! Tapi, tidak untuk kali ini!" tegas Kelabang Hijau.

"Heh?! Kenapa begitu?" suara Dewi Bulan mulai melunak. Disadari adanya tekanan kesungguhan pada nada suara kakek berompi hijau ini.

"Karena dia pasti mempunyai hubungan dengan Ular Hitam! Kalau tidak, tak mungkin akan duduk termenung di situ. Apakah kau tidak mendengar berita yang menghebohkan dunia persilatan belakangan ini?"

"Berita apa itu?" tanya Dewi Bulan tertarik.

"Ular Hitam memiliki seorang murid yang telah menggemparkan dunia persilatan. Kudengar banyak tokoh tangguh yang rubuh di tangannya!"

Nenek berpakaian putih itu menganggukkan kepalanya. "Aku juga tahu. Kalau tidak salah, pemuda itu berjuluk Dewa Arak!"

"Tepat" Dewi Bulan termenung.
"Dan ciri-ciri Dewa Arak mirip pemuda ini!" sambung Kelabang Hijau lagi.
"Ahhh ... ! Kau benar!" nenek tinggi kurus ini mulai teringat.

Sementara itu, Arya juga terkejut melihat nenek berpakaian serba putih itu. Kelihaian nenek ini sudah dirasakannya. Sekarang dia datang berdua dengan kawannya yang sekali lihat saja diketahui kalau kepandaiannya tidak rendah.

Dewa Arak sekarang tengah dilanda kemarahan yang meluap-luap. Tapi, tentu saja sebagai seorang pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, pemuda ini tidak meluapkan amarahnya secara sembarangan. Maka Arya yang memang tidak ingin mencari permusuhan, mencoba bersikap tenang. Ditunggu bagaimana tindakan Dewi Bulan terhadapnya.

Jelas terlihat kalau nenek itu akan menyerangnya. Tapi, untungnya ditahan oleh kakek berkulit kehijauan di sebelahnya.

Untuk beberapa saat lamanya tampak kalau kedua orang itu saling bertengkar. Tentu saja berkat pendengarannya yang tajam, Arya dapat mendengar apa yang dipertengkarkan. Dan hal ini membuatnya agak terkejut. Karena dari percakapan itu dapat diketahui kalau kakek dan nenek ini seperti mengenal almarhum pembimbingnya, Ular Hitam. Siapakah kedua orang ini sebenarnya?

Kini Kelabang Hijau dan Dewi Bulan melangkah menghampiri. Dewa Arak. Sedangkan pemuda itu berdiri diam menanti. Sikapnya terlihat tenang saja, walaupun sebenarnya jantung berdebar tegang.

"Anak Muda," tegur kakek berkulit kehijauan itu. "Katakan secara jujur, apa hubunganmu dengan almarhum Ular Hitam?"

Arya tidak mendengar adanya nada permusuhan dalam pertanyaan kakek itu. Baik terhadapnya maupun terhadap gurunya.

"Saya muridnya, Kek," jawab Arya jujur. Memang, walaupun pemuda ini tidak belajar secara langsung, tapi Ular Hitamlah yang membimbingnya untuk mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Ki Gering Langit, Biarpun kakek itu sendiri tidak mau dianggap guru, Arya tetap menganggapnya guru.

"Bisa kupercaya kata-katamu, Anak Muda?" tegas Kelabang Hijau kurang percaya.
"Dia bohong!" selak Dewi Bulan sebelum Arya sempat menjawab. "Tidak sedikit pun kulihat ilmu-ilmu yang dimiliki Ular Hitam ketika aku me lawannya! "

"Apa yang nenek katakan memang benar!" sahut Dewa Arak. "Tapi, beliaulah yang selama ini membimbingku sehingga memiliki kepandaian seperti sekarang ini. Salahkah kalau aku menganggapnya sebagai guru?"

"Apa yang dikatakannya memang benar, Dewi Bulan," tegas Kelabang Hijau mendukung alasan Arya. ''Tapi perlu kau ketahui, Anak Muda. Kami mempunyai urusan dengan Ular Hitam. Nah, sekarang bersediakah kau mewakilinya untuk menyelesaikan urusan itu?"

"Sepanjang urusan itu tidak bertentangan dengan kebenaran, aku bersedia mewakili almarhum guruku!" jawab Arya tegas.

"Ha ha ha...! Bagus! Kami percaya, kau tidak akan mengecewakan kami! Dewi Bulan telah banyak bercerita tentang dirimu! Julukanmu pun telah membuat banyak tokoh berpikir beberapa kali untuk berurusan denganmu! Kami yakin kau dan Ular Hitam tidak ada bedanya!"

Seketika berubah wajah Arya.

"Maksud, Kakek?" tanya Dewa Arak.

Wajah Kelabang Hijau berubah serius.

"Sejak puluhan tahun yang lalu, kami adalah sepasang tokoh yang tidak terkalahkan.Kami pun gemar bertanding, sehingga tak terhitung lawan yang rubuh di tangan kami. Sampai akhirnya, kami bertemu dengan Ular Hitam. Melalui suatu pertarungan yang sengit, kami berhasil dikalahkannya. Tentu saja hal ini membuat penasaran, di samping malu yang besar. Maka kami katakan padanya, bahwa sepuluh tahun lagi kami akan datang menantang untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Tapi rupanya kami sedang sial, karena lagi-lagi berhasil dikalahkan gurumu. '

"Semenjak itu kami pun kembali giat berlatih, memperdalam ilmu-ilmu kesaktian. Tapi siapa sangka, di waktu kami telah merasa yakin akan dapat mengalahkannya, Ular Hitam telah lebih dulu pergi ke alam baka. Siapa yang tidak kesal? Untunglah ada dirimu yang menjadi muridnya. Tapi tentu saja kau akan kami beri kelonggaran. Kau kuberikan kesempatan mencari kawan untuk menantang kami berdua. Kau kami tunggu bulan purnama mendatang di Puncak Bukit Gading. Dekat pohon flamboyan kembar."

Setelah berkata demikian, Kelabang Hijau segera melesat dari situ, diikuti Dewi Bulan. Begitu cepatnya mereka bergerak, sehingga dalam sekejap saja yang terlihat hanya dua buah titik yang semakin lama semakin kecil yang akhirnya lenyap di kejauhan.

"Hhh ... !" Arya menghela napas panjang. Dipandanginya bayangan tubuh kedua orang itu, sampai akhirnya tak terlihat lagi.

***

Arya yang tengah diamuk amarah meluap­luap, mengerahkan segenap kemampuan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Dewa Arak memang ingin buru-buru sampai di rumah kediaman Kepala Desa Jipang, yang kini ditempati Darba dan anak buahnya.

Beberapa hari. kemudian, pemuda berambut putih keperakan ini pun telah sampai di mulut desa. Tapi, Dewa Arak agak terperanjat ketika tiba di simpang tiga. Tampak di depan pintu gerbang rumah kepala desa itu tengah terjadi keributan. Di situ juga terlihat beberapa orang yang dikenali sebagai anak buah Darba. Mereka kini tengah mengeroyok seseorang yang tidak jelas terlihat karena jarak yang agak jauh.

Bergegas Arya berlari menghampiri. Sesaat kemudian Dewa Arak telah berada dalam jarak tiga tombak dari arena pertempuran. Dari sini dapat terlihat jelas, siapa orang yang tengah dikeroyok itu. Dan ini membuat pemuda berbaju ungu ini menjadi agak terkejut.

Orang yang tengah dikeroyok itu berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tegap dan kekar. Pada baju hitam bagian dada sebelah kiri terdapat sulaman cakar burung garuda dari benang emas. Di tangannya tergenggam sebuah baja hitam berbentuk cakar yang dikibas-kibaskan dengan ganas. Ke mana saja cakar baja hitam bergerak, di situ pasti ada sesosok tubuh yang rubuh.

"Cakar Garuda...," desah Arya.

Tapi pemuda ini tidak bisa berlama-lama mengamati pertarungan. Ternyata Darba yang memang ada di situ dan tengah dicarinya, bergerak menghampiri.

"Heh?! Kau lagi, Dewa Arak? Rupanya kau tidak kapok juga. Atau, kali ini bersama-sama temanmu akan mengeroyokku?" ejek Darba memanas-manasi.

Sepasang matanya berkeliaran ke sekeliling mencari-cari Gumala. Diam-diam pemuda ini memang merasa cemas, kalau pemuda murid Ki Julaga itu datang. Hatinya merasa lega ketika tidak melihat bayangan pemuda berbaju hitam itu.

"Pembunuh biadab! Kau harus menebus perbuatan kejimu itu pada guru dan ibuku!"

"Ha ha ha...!" tawa mu rid Ki Jatayu itu meledak. "Syukurlah kalau kau telah mengetahuinya. Sayang, waktu itu kau tidak berada di sana, Dewa Arak. Kalau saja ada, tentu aku tidak perlu repot-repot lagi mencarimu!"

Arya menekan kemarahan yang membakar dada. Walau perasaan marah yang melanda telah begitu besarnya, tapi pemuda ini berusaha untuk tidak mengumbarnya. Diangkatnya guci araknya ke atas kepala.

Gluk... gluk... gluk...!

Terdengar suara tegukan ketika arak itu mulai memasuki tenggorokannya. Tubuhnya pun mulai terasa hangat. Dewa Arak sadar kalau lawan di hadapannya ini memiliki kepandaian tinggi. Maka kini dia tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan ilmu andalannya.

Sret! Sret!

Darba pun mencabut kapak yang terselip di pinggangnya. Secepat itu pula, pemuda berbaju coklat ini melayangkannya ke arah Arya Buana.

Suara angin menderu keras menyambar sebelum serangan kapak itu sendiri tiba. Arya tidak berani bertindak gegabah. Segera saja kakinya bergerak melangkah terhuyung dan sempoyongan, sehingga serangan kapak Darba mengenai tempat kosong.

Tapi pemuda baju coklat itu tidak bingung. Rupanya Darba telah cukup mengenal Ilmu 'Delapan Langkah Belalang'. Terbukti walaupun serangan keduakapaknya mengenai tempat kosong, tapi dengan kecepatan gerak tangan yang mengagumkan, diputarnya kedua kapak itu. Seketika dua senjata itu dihantamkan ke belakang melalui bawah ketiak.

Dugaan Darba sama sekali tidak salah. Selagi pergelangan tangannya memutar kapak dari belakang, Dewa Arak memapak menggunakan guci ke belakang punggung Darba.

Klanggg...! Klanggg ... !

Terdengar benturan nyaring ketika kapak itu bertemu badan guci. Akibatnya kedua belah pihak sama-sama terhuyung dua langkah.

Bedanya, kalau Arya terhuyung mundur, sedangkan Darba melangkah maju.

Meskipun tubuhnya masih terhuyung, Dewa Arak menyempatkan diri memeriksa gucinya. Benturan yang keras itu membuatnya merasa khawatir kalau-kalau gucinya itu rusak. Legalah hatinya ketika dilihatnya tidak ada kerusakan sedikit pun pada gucinya. Jangankan rengat, gompal saja tidak!

Ketika tenaga yang mendorongnya habis, cepat-cepat Arya memburu dengan totokan­totokan ke arah kepala Darba. Cepat bukan main gerakan pemuda berambut putih keperakan itu. Tapi, gerakan yang dilakukan murid Ki Jatayu juga tak kalah cepat.

Wut! Wut ... !

Sambil membalikkan tubuh, Darba mengayunkan kedua kapaknya memapak tangan kiri Dewa Arak yang melakukan totokan-totokan berbahaya ke kepalanya. Dan tentu saja pemuda berpakaian ungu ini tidak bersedia tangannya terpapas putus oleh sepasang kapak di tangan lawan. Dengan liukan aneh, kembali ditarik pulang serangannya. Berbareng dengan itu, kaki kanan Dewa Arak mencuat ke depan menyambar ulu hati.

Seketika Darba terperanjat, namun tidak menjadi gugup. Segera digenjotkan kakinya. Di lain saat, tubuhnya melenting, lewat di atas kaki yang mengarah ulu hatinya itu.

Wut ... !

Bersamaan dengan itu, kapak di tangan kanannya disabetkan ke arah leher Arya. Sedangkan Dewa Arak yang tahu akan keistimewaan gucinya, tidak ragu-ragu lagi untuk menangkisnya.
Klanggg...!

Lincah laksana seekor kera, Darba menggulingkan tubuhnya di tanah. Cepat-cepat dia bangkit kembali, lalu dengan kecepatan mengagumkan langsung menyerang Arya. Kedua kapak di tangannya pun kembali berkelebat cepat mencari sasaran.

Arya yang memang tengah sakit hati terhadap pemuda itu, tidak sungkan-sungkan lagi mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Tubuh pemuda itu meliuk-liuk aneh, dan langkah-langkahnya sempoyongan. Tapi justru dengan beriingkah seperti itulah letak kedahsyatannya.

Darba kini harus menelan kenyataan pahit. Lawannya ternyata kini tidak selemah dulu. Dengan guci di tangan, kepandaian Dewa Arak kini luar biasa sekali. Sekarang pemuda berbaju coklat itu merasakan kehebatan Arya Buana. Dan Darba juga baru sadar kalau kehebatan pemuda di hadapannya ini bertumpu pada gucinya.

Puluhan jurus telah berlalu, tapi belum nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak. Kepandaian keduanya kelihatan masih seimbang.

***

Sementara itu pertarungan antara Cakar Garuda menghadapi pengeroyokan anak buah Darba, berlangsung tidak seimbang. Kepandaian Wakil Ketua Perguruan Garuda Emas itu, memang terlalu tangguh untuk para pengeroyoknya. Setiap kali besi berbentuk cakar di tangannya bergerak, setiap kali pula ada satu nyawa melayang. Jerit kematian terdengar saling susul.

"Aaa ... !"

Pekik nyaring melengking panjang, mengiringi rubuhnya orang terakhir para pengeroyok itu.

Cakar Garuda memandangi tubuh-tubuh yang terkapar itu sejenak, baru kemudian beralih pada pertarungan antara Dewa Arak menghadapi Darba.

Terdengar suara bergemeletuk dari gigi-gigi Wakil Ketua Perguruan Garuda Emas ini. Amarahnya langsung bangkit ketika melihat orang yang dicari-carinya, karena telah membasmi perguruannya.

"Hiyaaa...!"

Diiringi pekik kemarahan laksana binatang terluka, Cakar Garuda melompat menerjang Darba, ketika pemuda itu tengah melentingkan tubuhnya ke belakang untuk menghindari serangan Dewa Arak.

Arya kaget bukan main, ia tahu kalau Cakar Garuda bukanlah tandingan Darba. Kepandaian Wakil Ketua Perguruan Garuda Emas itu masih terlalu rendah. Jadi, kalau dia menyerang pemuda baju coklat itu sama saja dengan mencari mati.

"Tahan ... !" cegah Arya be rte riak.

Tapi terlambat. Tubuh Cakar Garuda telah melompat menerjang. Seketika Dewa Arak jadi menunda serangannya. Tubuh Cakar Garuda yang melayang itu jelas menghalangi gerakannya.
Darba hanya mendengus. Tiba-tiba saja jari jari kedua tangannya yang terbuka, dihentakkan ke depan.

Wusss....
Bresss...!
"Hugh...!"

Angin yang amat kuat keluar dari telapak tangan Darba yang terbuka itu, dan meluruk deras ke arah Cakar Garuda. Wakil Ketua Perguruan Garuda Emas ini kaget sekali. Dicobanya untuk mengelak. Tapi tubuhnya yang berada di udara itu menyulitkannya untuk menghindari. Apalagi memang tingkat ilmu meringankan tubuhnya belum mencapai taraf kesempurnaan.

Kontan serangan pukulan jarak jauh itu menghantam telak tubuh Cakar Garuda, sehingga mengeluh tertahan. Tubuhnya terpental kembali ke belakang bagai diterjang angin ribut. Dari mulut, hidung, dan tehnganya mengalir darah segar. Pukulan jarak jauh Darba memang mengandung tenaga dalam yang amat tinggi.

Brukkk..!

Diiringi suara berdebuk keras, tubuh Wakil Ketua Perguruan Garuda Emas ini jatuh di tanah. Be be rapa saat lamanya dia me ngge le par-ge le par di tanah, kemudian akhirnya diam tidak bergerak lagi.

Arya Buana terpaku sesaat. Tapi tak lama kemudian amarahnya melonjak.

"Hiyaaa ... !"

Sambil berteriak melengking nyaring memekakkan telinga, Dewa Arak menerjang Darba.

Wut ... !

Ketika guci Dewa Arak terayun deras ke arah kepala Darba, pemuda berbaju coklat itu menarik kepalanya ke belakang tanpa menarik kakinya.

Wusss...!

Guci itu meluncur deras beberapa rambut di depan wajah Darba. Begitu kerasnya tenaga yang terkandung dalam serangan itu, sehingga rambut berikut seluruh pakaian Darba berkibar keras. Dan cepat-cepat pemuda berbaju coklat itu memberi serangan balasan yang tidak kalah be rbahayanya.

Wut ... !

Cepat bagai kilat kakinya melesat ke arah dada Dewa Arak. Sadar akan bahaya besar yang mengancam, Arya segera menangkis serangan itu dengan tangan kirinya disertai tetakan ke bawah.

Takkk ... !

Tubuh Darba melintir. Memang bila dibanding Dewa Arak, posisi pemuda berbaju coklat itu lebih tidak menguntungkan. Namun demikian, berkat kelihaiannya, Darba dapat segera memperbaiki posisinya. Bahkan kembali menerjang lawan dengan serangan-serangan dahsyat.

Pertarungan sengit pun kembali berlangsung. Dalam hal ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam, memang tingkat keduanya berimbang. Itulah sebabnya sampai sekian lamanya pertarungan itu berlangsung kembali, tetap belum nampak tanda-tanda siapa yang akan terdesak.

Memasuki jurus keseratus lima puluh, mulai tampak kalau Dewa Arak berhasil mendesak lawan. Ki Gering Langit memang menciptakan ilmu 'Belalang Sakti', khusus untuk menangkal ilmu-ilmu yang telah dibawa lari pelayan­pe layannya!

Maka tidaklah aneh jika memasuki jurus keseratus lima puluh, Darba mulai terdesak. Sepasang kapak perak mengkilat di tangannya kini gerakannya sudah mulai terlambat, tidak lagi malang-melintang seperti sebelumnya.

Dua senjata itu lebih banyak dipakai untuk melindungi setiap serangan yang datang. Hanya sekali-sekali saja sepasang kapak perak itu meluruk ke arah Arya. Itu pun tidak sedahsyat seperti sebelumnya.

Sebaliknya serangan Dewa Arak semakin dahsyat, bertubi-tubi bagaikan hujan. Dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang' dan jurus 'Belalang Mabuk'-nya, Arya terus melakukan desakan. Sampai pada suatu saat...

"Hiyaaat..!"
Wut ... !

Darba kembali berteriak seraya melancarkan serangan dahsyat pada suatu kesempatan baik. Kedua kapak perak dibabatkannya ke arah leher dan kepala lawan. Tapi untuk yang kesekian kalinya, dengan mempergunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang' Arya berusaha menghinda rinya. Langkahnya terhuyung-huyung seperti biasa untuk mengelak dari ancaman kedua kapak perak itu. Dan tahu­tahu tubuh Arya telah berada di belakang Darba.

Sebelum pemuda berbaju coklat itu sadar, Arya sudah mengayunkan guci araknya.

Wut..!

Dengan deras guci itu melayang ke arah kepala Darba. Murid Ki Jatayu ini terperanjat kaget Maka sedapat dapatnya dirundukkan kepalanya untuk menghindari sambaran guci lawan.

Wusss ... !

Usaha untung-untungannya berhasil juga. Guci itu lewat di atas kepalanya. Tapi, Arya tidak tinggal diam. Segera dilancarkan serangan susulan .

Bukkk...!
"Huakkk...!"

Telak sekali pukulan tangan kiri Dewa Arak mendarat di punggung Darba. Keras bukan main, sehingga tubuh pemuda itu terjerembab ke depan. Cairan merah kental terlontar keluar dari mulutnya. Jelas pemuda berbaju coklat itu terluka dalam!

Namun kekuatan tubuh murid Ki Jatayu ini memang patut dipuji. Sekalipun sudah terluka parah, dan posisinya tidak memungkinkan, dia masih berusaha menghambat serangan susulan lawan. Seketika disabetkan kedua kapaknya ke be lakang.

Wut..!

Begitu serangan Darba lewat, kaki kanan Dewa Arak mencuat ke depan.
Bukkk ... !

"Hugh...!" Darba mengeluh pendek. Tendangan itu telak mendarat di perutnya, dan kapak peraknya pun terlepas dari genggaman!

Babatan kedua kapak itu hanya mengenai tempat kosong, karena Dewa Arak memang belum mengirimkan serangan susulan. Baru begitu serangan kedua kapak itu lewat, kaki kanan Dewa Arak me ncuat ke de pan .

Bukkk ... !
"Hugh...!" Darba mengehah pendek.

Untuk yang kedua kalinya serangan Arya mengenai sasarannya. Tendangan itu telak mendarat di perut lawan. Tubuh pemuda itu terbungkuk, dan kapak peraknya terlepas dari genggaman. Mulutnya meringis menahan rasa sakit dan mual pada perutnya. Darah segar pun menetes dari sela-sela bibirnya. Dan belum lagi pemuda berbaju coklat itu memperbaiki posisinya, kembali tangan Arya berkelebat.

Wut..!
Prak!

"Aaakh ... !" terdengar suara berderak keras, ketika guci pusaka di tangan Arya membentur kepala pemuda baju coklat itu Darba mengeluh tertahan, kemudian ambruk ke tanah. Pemuda itu tidak akan pernah bangkit lagi selama-lamanya.

Arya Buana memandangi tubuh yang terbujur di tanah itu sebentar, kemudian beralih ke tubuh Cakar Garuda, dan belasan sosok tubuh anak buah Darba yang terbujur di tanah. Dan kini kembali tatapannya beralih pada tubuh Darba. Sebentar kemudian pemuda berambut putih keperakan ini menengadahkan kepalanya, menatap langit.

"Kakek..., Ibu..., tenanglah kalian di dalam kubur ... ! "

Setelah berkata demikian, tubuh Dewa Arak melesat meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi kebisingan dan hiruk pikuk pertarungan. Di tempat itu kini hanya ada keheningan dan kesenyapan, setelah tubuh Arya Buana alias si Dewa Arak lenyap ditelan jalan.

***

Seorang pemuda berwajah jantan, dan berambut putih keperakan tampak terduduk di atas sebuah batu besar yang lebar dan datar di Puncak Bukit Gading. Kepalanya tertunduk sepertinya ada beban berat yang tengah menekan batinnya.

Pemuda yang memang adalah Arya Buana, tengah merenung seperti ada yang menggayuti pikirannya. Dan itu bisa ditebak permasalahannya. Pertama dengan Melati. Dan kedua dengan dua orarig saingan gurunya yang mengajaknya bertarung.

Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, Arya tak lupa menanyakan kepada setiap orang tentang seorang gadis cantik berpakaian putih atau seorang pemuda tampan berpakaian hitam. Tapi sampai sekian jauh, keterangan ini tidak didapatkan. Sampai akhirnya dia tiba di tempat ini.

"Hhh ... !"

Pemuda berpakaian ungu itu mendesah. Kepala Arya mendongak, menatap bulan bulat berwarna kuning keemasan yang nampak di langit. Malam ini memang bulan purnama, malam yang dijanjikan Kelabang Hijau. Memang, di tempat inilah kakek gundul berkulit kehijauan itu menjanjikan pertarungan dengan Dewa Arak.

"Hi hi hi...!" tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik.

Arya Buana yang tengah menikmati indahnya purnama bergegas memalingkan kepalanya. Tanpa melihat pun sebenarnya sudah dapat diduga kalau orang yang mengeluarkan tawa seperti itu pasti Dewi Bulan!

Dugaan pemuda ini memang tidak salah. Sekitar tiga tombak di samping kanannya, tampak dua sosok tubuh yang memang sudah ditunggu­tunggunya.

"Luar biasa!" teriak Kelabang Hijau. "Dewa Arak! Rupanya kau ini memang terlalu sombong! Bukankah sudah kukatakan, kalau kami telah terbiasa bertanding berdua? Bukankah kau telah diberikan kebebasan membawa kawan untuk menghadapi kami. Berapa pun jumlah kawanmu tak masalah. Tapi rupanya kau ini terlalu berani. Atau kau terlalu sombong, sehingga saran kami sama sekali tidak digubris?!"

"Ada banyak alasan yang membuatku tidak dapat memenuhi saranmu itu, Kek," ucap Arya tenang seraya bangkit dari batu yang didudukinya.

"Ya! Karena begitulah bunyi perjanjian antara kami dengannya!" selak Kelabang Hijau.
"Hm.... Apa itu, Dewa Arak!?" tanya Dewi Bulan. Kasar dan ketus suaranya.

"Pertama, kusadari kalau urusan ini adalah urusan pribadi guruku, Kakek Ular Hitam. Jadi, tidak sepantasnya kalau membawa-bawa orang luar dalam urusan pribadi ini. Dan kedua, sangat sulit mencari orang yang memiliki tingkat kepandaian seperti kakek berdua. Kalau kupaksakan, bukankah hanya akan mencelakakan orang itu?"

Kelabang Hijau manggut-manggut.

"Bisa kuterima alasanmu, Dewa Arak" "Terima kasih, Kek!"
"Jangan'terburu-buru berterima kasih, Dewa Arak!" sergah Dewi Bulan cepat. "Urusan kami denganmu kini tidak hanya satu macam!"

Arya mengerutkan keningnya.

"Apa maksudmu, Nek?"
"Tidak usah berpura-pura, Dewa Arak! Bukankah kau yang telah membunuh majikan kami?!"
"Membunuh majikan kalian?! Aneh?! Kalau boleh kutahu, siapa majikan kalian?" tanya Arya.

Kerut pada dahinya pun semakin dalam.

"Seorang pemuda bersenjata sepasang kapak warna perak mengkilat!"
"Dia majikan kalian?" tanya Dewa Arak Nada suaranya mengandung keheranan yang be sar.

"Kami bertemu dan bertempur. Dengan licik dia memancing kami ke dalam suatu perjanjian. Yaitu, apabila dalam tiga puluh jurus kami tidak berhasil merobohkannya, dia akan menjadi majikan kami! Jadi, terpaksa kami harus membalaskan dendamnya padamu,Dewa Arak!"

"Bagaimana? Bisa dimulai sekarang? Atau kau sengaja ingin mengulur waktu, Dewa Arak?!" selak Dewi Bulan keras. Nenek ini memang sudah merasa kurang suka terhadap Arya Buana, karena telah membuatnya terhuyung dalam adu tenaga beberapa waktu yang lalu.

"Lebih cepat lebih baik, Nek!" sambut Dewa Arak. Sadar akan kelihaian kedua orang yang berada di hadapannya itu, pemuda ini segera memindahkan guci ke tangannya. Sebentar kemudian diangkat gucinya ke atas kepala, dan dituangkan ke mulutnya.

Gluk... gluk... gluk...!

Terdengar suara tegukan ketika arak itu memasuki tenggorokannya. Di lain saat tubuh Arya pun mulai terasa hangat dan agak limbung. Dewa Arak menurunkan gucinya kembali. Dan saat itulah nenek berpakaian putih itu melesat ke arahnya. Gerakannya cepat bukan main.

"Hiyaaa ... !"

Dewi Bulan telah merasakan sendiri kelihaian pemuda di hadapannya ini. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi digunakan tongkat bulan sabitnya untuk mendesak Dewa Arak.

Wut..!

Tongkat berujung bulan sabit itu meluncur cepat ke arah perut Arya. Angin bersiut nyaring mengiringi tibanya serangan itu. Hebat dan cepat bukan main serangan itu.

Tapi yang diserangnya kali ini bukanlah tokoh kosong. Seorang tokoh muda yang telah berkali-kali menghadapi lawan yang teramat tangguh. Dan bahkan telah berkali-kali pula terancam serangan berbahaya. Maka menghadapi serangan tongkat berujung bulan sabit itu, pemuda berambut putih keperakan ini tidak menjadi gugup karenanya.

Seperti biasa, dengan gerakan tak lumrah dari jurus 'Delapan Langkah Belalang', dielakkan serangan itu. Walaupun keadaan mengancam, berkat gerak aneh jurus itu, Dewa Arak malah berbalik mengancam.

Sekali mengelak, Dewa Arak telah berada di belakang Dewi Bulan. Tapi sebelum pemuda itu sempat melepaskan serangan, Kelabang Hijau telah terlebih dulu menyerangnya.

Terpaksa Arya mengurungkan niat untuk menyerang Dewi Bulan. Dan dengan cepat pula dielakkannya serangan kakek itu. Dan belum juga sempat membalas, kembali serangan Dewi Bulan telah mengancam. Tentu saja hal ini membuat Dewa Arak kewalahan menghadapi hujan serangan dahsyat yang sating susul.

Beberapa gebrak kemudian, keriga orang ini pun sudah terlibat sebuah pertarungan berat sebelah. Dewa Arak terus-menerus didesak lawannya, tanpa mampu balas menyerang.

Untunglah pemuda berambut putih keperakan ini memiliki jurus 'Delapan Langkah Belalang' yang sangat aneh sehingga dapat mengelakkan serangan yang bagaimanapun sulitnya. Dan berkat jurus inilah Dewa Arak mampu mengelak, sekalipun hujan serangan datang silih berganti bagaikan hujan.

Untuk pertama kalinya, Arya harus mengakui betapa beratnya tekanan kedua lawannya ini. Lebih berat ketimbang Darba. Kerja sama kedua orang ini begitu rapi, saling bantu dan saling melindungi.

Belasan jurus telah berlalu. Dan selama itu, belum ada satu pun serangan balasan yang dilancarkan Arya. Serangan silih berganti lawannya membuatnya tidak mempunyai kesempatan balas menyerang. Sampai sekian lamanya, Dewa Arak hanya mampu mengelak dan bertahan.

Tempat pertarungan puri tanpa terasa telah bergeser jauh. Hal ini karena Arya terus­menerus bermain mundur. Pernah sesekali, pemuda ini mencoba balas menyerang menggunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang', tapi akibatnya ia sendiri yang hampir celaka. Karena begitu serangannya hampir dilancarkan, serangan balasan dari lawan-lawannya telah meluncur tiba.

Terpaksa Arya pontang-panting menyelamatkan diri.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan ketiga orang yang tengah bertarung, sepasang mata indah milik seorang wanita cantik berpakaian serba putih, mengamati jalannya pertarungan dari balik semak-semak. Wajahnya yang cantik menyiratkan perasaan cemas yang dalam. Beberapa kali terlihat kedua tangannya mengepal, pertanda hatinya tengah dilanda perasaan tegang.

Empat puluh lima jurus telah berlalu. Dan kedudukan Arya pun semakin terjepit. Hingga akhirnya pada jurus kelima puluh satu, serangan tombak bulan sabit milik Dewi Bulan meluncur deras mengancam dadariya. Maka Dewa Arak memutuskan untuk menangkisnya.

Klanggg...!
"Hugh !?"

Tubuh Dewa Arak terjengkang ke belakang beberapa tombak jauhnya. Selintas tadi terlihat Kelabang Hijau menempelkan kedua tapak tangannya di punggung Dewi Bulan, begitu Arya memapak serangan tusukan tombak berujung bulan sabit.

Melihat hal ini Dewa Arak terperanjat. Dia tahu kalau kakek berkepala gundul itu tengah menyalurkan tenaga dalam. Tenaganya disatukan dengan tenaga nenek itu, lalu bersama-sama menghadapi tenaga Arya.

Tak pelak lagi, perpaduan dua tenaga dalam dahsyat itu tidak dapat ditahan Dewa Arak. Untung saja beradunya tenaga dalam tadi terjadi secara tidak langsung melainkan melalui

perantara. Sehingga akibatnya tidak terlalu berarti bagi Dewa Arak. Pemuda berpakaian ungu ini hanya merasa sedikit sesak pada dadanya.

Ilmu 'Belalang Sakti' memang memiliki keistimewaan dalam hal meringankan tubuh. Gerakan sesulit apa pun akan sama seperti gerakan biasa. Sehingga walaupun Arya berada dalam keadaan kritis, dan serangan Dewi Bulan kembali menyambar cepat, dia masih mampu mengelakkannya.

"Keparat!" Nenek itu berteriak memaki. Perasaan geramnya kian bergejolak, ketika Arya kembali berhasil lolos.

Tapi tepat saat serangan Dewi Bulan tiba, serangan Kelabang Hijau juga menyambar tiba. Arya terperanjat. Padahal dia baru saja mengelakkan serangan nenek berpakaian putih. Tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mengelak ataupun menangkls, karena serangan itu datangnya terlalu cepat .

Di saat yang kritis itu, tiba-tiba melesat satu bayangan putih yang dengan kecepatan luar biasa menangkis serangan itu.

Plak ... !

Tubuh sosok bayangan putih itu terpental balik ke belakang. Sedangkan tubuh kakek gundul berkulit kehijauan terhuyung ke belakang. Tapi manis sekali sosok bayangan putih itu mematahkan daya lontar pada tubuhnya. Kedua kakinya pun hinggap di tanah hampir tanpa suara.

Kelabang Hijau langsung menggeram. Kakek berkulit kehijauan ini murka bukan kepalang karena menyadari ada orang yang sanggup membuat tubuhnya terhuyung dalam adu tenaga. Apa lagi ketika melihat bahwa yang menangkisnya adalah seorang gadis yang masih sangat muda.

"Siapa kau, Cah Ayu! Menyingkirlah cepat sebelum aku terpaksa bertindak keras terhadapmu!" ancam Kelabang Hijau. Bagaimanapun juga dia merasa malu untuk bertindak kasar terhadap seorang gadis yang masih begitu muda.

"Melati...!" teriak Arya keras. Ditatapnya gadis yang telah menyelamatkannya penuh rasa rindu.

Tapi Melati hanya tersenyum sekilas. Namun hal itu sudah cukup bagi Arya. Kontan semangatnya pun bangkit kembali.

"Kau hadapi nenek itu, Melati!" teriak Arya seraya melompat mendekati Kelabang Hijau .

Tapi tiba-tiba kakek berkepala gundul itu menggoyang-goyangkan tangannya di depan dada.
.
"Tunggu, Dewa Arak!" cegah Kelabang Hijau.

"Mengapa, Kek?" tanya Arya. Tidak ada nada permusuhan dalam suaranya. Dewa Arak tahu, kalau kakek dan nenek ini menyerangnya bukan karena dendam.

"Urusan ini telah selesai sampai di sini." "Heh?!" Arya tersentak kaget "Mengapa begitu?"

Kelabang Hijau menghela napas. "Kami telah bersepakat untuk mengaku kalah padamu jika kau sanggup menghadapi kami selama lima puluh jurus. Sekaligus menganggap habis semua urusan."

Melati tersenyum mengejek. "Lalu, mengapa tadi kalian masih menyerang terus? Padahal jelas jelas pertarungan sudah berlangsung lebih dari lima puluh jurus!"

"Maaf, kami khilaf!"

"Lalu maksudmu bagaimana, Kek?" selak Dewa Arak yang tidak ingin urusan jadi berlarut­larut.

"Ya. Ternyata kaulah pemenangnya. Kami berdua mengaku kalah! Selamat tinggal, Dewa
Arak!"

Setelah berkata demikian, tubuh kakek berpakaian rompi hijau ini melesat diikuti sesosok bayangan putih. Cepat sekali gerakan kedua bayangan itu. Dalam sekejap saja hanya tinggal dua buah titik kecil hitam di kejauhan yang kemudian lenyap.

Kali ini Arya tidak ingin kecolongan lagi! Begitu, Kelabang Hijau dan Dewi Bulan melesat dari situ, buru-buru dialihkan perhatiannya ke arah Melati. Dan begitu dilihatnya gadis itu hendak melesat kabur kembali, segera Dewa Arak melompat menghadang. Kini mereka berhadapan dalam jarak dua tombak.

"Melati...," tegur Dewa Arak Suaranya terdengar gemetar.

Gadis yang dulu terkenal berjuluk Dewi Penyebar Maut ini tidak menjawab, dan hanya berdiri diam. Kepalanya pun ditundukkam dalam­dalam. Memang sejak mengenal pemuda di hadapannya ini, sifatnya telah benar-benar berubah. Hampir tidak pernah lagi gadis itu menurunkan tangan maut pada lawannya, kalau tidak terpaksa sekali!

"Melati...," sapa Arya lagi. Dilangkahkan kakinya mendekati gadis yang masih tetap diam tidak bergeming.

"Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku padamu. Maukah kau memaafkan?"

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu. Dewa Arak diam menunggu sabar. Akhirnya setelah beberapa saat lamanya, kepala gadis itu terangguk pelan.

"Ah ... ! Terima kasih, Melati! Sudah kuduga, kau pasti gadis yang baik Nggg... Maukah kau melakukan perjalanan bersamaku lagi..., seperti beberapa waktu yang lalu?"

Beberapa saat lamanya suasana menjadi hening, begitu Arya menghentikan ucapannya .

"Untuk apa..,?" akhirnya keluar juga suara dari mulut gadis itu.
"Aku ingin menemui gurumu ... ?"
Melati tersentak. "Menemui guruku?!"

"Ya. Guruku, Ki Gering Langit telah menugaskan agar aku mengambil kembali kitab­kitab yang dulu.., maaf... telah dicuri gurumu. Oh, ya.... Siapakah gurumu? Ki Julaga..., atau Ki Jatayu?"

"Ki Julaga."

"Bagaimana, Melati?" desak Dewa Arak. Perasaan tegang melanda hatinya. Hanya tinggal gadis di hadapannya inilah yang dapat menunjukkan tempat tinggal orang-orang yang telah membawa lari kitab-kitab pusaka gurunya. Kalau Melati menolak, sia-sialah usaha yang selama ini dilakukannya.

"Aku bersedia," ucap Melati. "Guruku memang sudah lama ingin mengembalikan kitab­kitab itu. Beliau merasa bersalah telah mencurinya, dan sudah lama berniat ingin mengembalikannya. Syukur kalau kau berniat mengambilnya..., Kang."

Arya tersenyum simpul. Geli juga hatinya melihat gadis itu ragu-ragu memanggilnya.
"Panggillah aku seperti Gumala memanggilku."

Melati tersenyum. Arya pun tersenyum. Hati Dewa Arak diam-diam agak heran. Mengapa kini alam jadi terasa lebih indah dan berseri-seri. Pohon-pohon, batu-batu, rembulan di langit, sepertinya semua ikut tersenyum bersamanya.

"Di sanalah selama ini guruku tinggal, Kang Arya," jelas Melati. Tangannya menunjuk pada sebuah gua yang cukup besar dan kelihatan gelap menghitam di kejauhan.

Dewa Arak menatap suasana di sekitarnya. Harus diakui kalau tanpa bantuan Melati, tidak mungkin baginya dapat menemukan tempat tinggal Ki Julaga. Tempat kakek itu begitu tersembunyi, terletak di sebuah gua yang terdapat di lereng bukit yang sukar didaki.

Berkat ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi, tidak sulit bagi mereka untuk mencapai gua. Dalam beberapa kali lompatan saja, Melati dan Dewa Arak telah berada di mulut gua.

Tapi tiba-tiba Melati tersentak kaget, karena mendengar suara orang bertengkar dari dalam gua. Bergegas gadis itu berkelebat memasuki gua itu, diikuti Arya yang sama sekali tidak tahu-menahu.

Diam-diam Dewa Arak kaget juga ketika mengetahui bagian dalam gua ini ternyata luas sekali.

Sekejap kemudian Arya melihat Melati tengah menatap cemas pada dua orang kakek yang tengah berhadapan. Yang seorang bertubuh kecil kurus dan kelihatan sudah tua sekali. Rambut, kumis, alis, dan jenggotnya telah putih semua. Bahkan jenggot itu panjang sampai ke dada. Fntah berapa usia kakek ini.

Sedangkan yang seorang lagi juga kurus. Hanya saja tubuhnya tidak kecil, melainkan agak tinggi. Kumisnya hanya beberapa lembar dan panjang menjuntai melewati mulut Matanya sipit memancarkan kelicikan.

"Yang mana gurumu?" tanya Dewa Arak lirih.

Melati menoleh. "Yang kecil!"

"Kau harus serahkan padaku, Kakang Julaga?!" kembali terdengar suara si tinggi kurus. Nada suaranya penuh ancaman.

"Tidak! Sekali kukatakan tidak, selamanya tidak, Adi Jatayu! Kitab itu dan kitab lainnya akan kukembalikan kepada yang berhak!" bantah si kecil kurus.

"Kau bodoh, Kakang!"

"Tidak! Justru aku bodoh kalau sampai terkena bujukanmu lagi seperti dulu!"

"Kalau begitu terpaksa akan kugunakan kekerasan!" teriak Ki Jatayu.

"Silakan. Aku tidak akan melawan, dan kau boleh membunuhku. Tapi, jangan harap akan dapat mendapatkan kitab-kitab yang bukan hakmu itu!" tegas dan jelas kata-kata Ki Julaga.

Ki Jatayu menggeram. Sepasang matanya yang sipit seperti memancarkan api ketika menatap wajah guru Melati itu.

"Kalau begitu, kau harus kukirim ke neraka!"

Setelah berkata demikian, Ki Jatayu melompat menerjang. Cepat bukan main gerakannya. Baik Dewa Arak maupun Melati sama-sama te rke sima me lihat kecepatan gerak yang belum pernah mereka saksikan selama ini.

Ki Jatayu menyerang Ki Julaga dengan tusukan-tusukan jari tangan terbuka lurus. Decit angin tajam membuat Dewa Arak dan Melati mengernyitkan alisnya. Suara itu membuat telinga mereka sakit.

"'Tangan Pedang'...," desis Dewa Arak dan Melati bersamaan. Dan dapat dibayangkan betapa kagetnya hati mereka ketika melihat kakek kecil kurus itu sama sekali tidak bergerak menangkis atau melawan serangan Ki Jatayu.

"Kakek ... !" Melati menjerit pilu. Sementara itu Dewa Arak sendiri sudah melompat cepat, mencoba menghambat serangan Ki Jatayu dengan sebuah serangan ke arah pelipis. Sadar kalau ka­kek ini memiliki kepandaian yang sukar dibayangkan, Dewa Arak mengerahkan seluruh te naganya.

Ki Julaga yang semula sudah pasrah tidak berusaha menahan atau menangkis serangan itu, tersentak ketika mendengar jeritan. Dikenali betul, siapa pemilik suara itu. Suara Melati, murid yang amat disayanginya. Sekelebat benaknya bekerja keras. Kalau dirinya mati, siapayang akan melindungi gadis itu dari Ki Julaga yang diketahuinya pasti berwatak telengas. Selintasan pikiran itulahyang membuatnya merubah keputusan. Segera diulurkan tangannya untuk menangkis serangan Ki Jatayu.

Tapi secara tiba-tiba Ki Jatayu menarik pulang serangannya. Dan dengan kecepatan yang sukar dilihat mata biasa, kakek bermata sipit ini menggerakkan tangannya, ke belakang, menangkis serangan Dewa Arak.

Plak!

Tubuh Dewa Arak terpental ke belakang. Dirasakan sekujur tangannya sakit-sakit. Dadanya pun terasa sesak bukan main.

Brukkk...!

Dengan deras dan keras punggung pemuda itu menghantam dinding gua sampai tergetar karena kerasnya benturan.

"Kakang ... !" Melati berteriak kaget. Secepat kilat tubuhnya melesat ke arah Dewa Arak. Dengan perasaan cemas yang tergambar di wajah, didekatinya tubuh pemuda berambut putih keperakan itu.

Lega hatinya ketika pemuda itu bangkit, tak nampak ada tanda-tanda terluka.

"Siapa kau, Anak Muda! Menyingkirlah cepat sebelum kesabaranku hilang!" bentak Ki Jatayu. Diam-diam kakek ini kaget bukan main. Menurut perkiraannya, paling tidak tangan pemuda itu patah-patah ketika membentur tangannya tadi.

"Ki Jatayu...," ujar Dewa Arak. "Guruku, Ki Gering Langit telah menugaskanku untuk mencari dan memlnta kembali kitab-kitab yang telah kau larikan itu!"

Wajah Ki Jatayu dan Ki Julaga berubah pucat. Hati kedua kakek ini dilanda rasa kaget yang amat sangat. Tapi, hanya sesaat saja kekagetan itu melanda hati kakek tinggi kurus ini. Di lain saat, wajah itu memerah. Sepasang matanya berkilat penuh kemarahan.

"Jadi..., kau njpanya orang yang telah membunuh muridku, heh?!" tanya Ki Jatayu. Keras dan kasar suaranya. Memang telah didengar berita tentang tewasnya murid kesayangannya di tangan Arya Buana alias Dewa Arak.

"Benar! Karena dia telah membunuh guru dan ibuku! Lagipula, muridmu memang sudah sepantasnya dilenyapkan dari muka bumi!" tegas Dewa Arak.

"Keparat ... !" maki Ki Jatayu. "Kau harus mati di tanganku, Dewa Arak!"

Dewa Arak sadar kalau lawan yang kini dihadapinya adalah seorang yang sangat sakti. Dugaan Arya Buana tepat sekali! Tenaga dalam yang dimiliki kakek ini telah mencapai tingkatan yang sukar untuk dibayangkannya. Maka, tanpa ragu-ragu lagi diraihnya guci arak yang terikat di punggungnya. Sebentar saja guci itu sudah berada di atas kepalanya. Dan....

Gluk... gluk... gluk...!

Suara tegukan terdengar ketika arak itu memasuki tenggorokannya. Sesaat kemudian tubuh pemuda itu pun limbung.

Ki Jatayu, dan juga Ki Julaga mengerutkan alisnya. Ilmu apakah yang akan dikeluarkan pemuda ini?

"Haaat..!"

Sambil berteriak melengking nyaring Dewa Arak mengayunkan guci di tangannya.

Wut ... !

Guci itu menyambar dahsyat ke arah kepala Ki Jatayu. Angin menderu begitu keras menandakan tingginya tenaga yang terkandung dalam ayunan guci itu. Tapi kakek tinggi kurus itu hanya mendengus. Tanpa bergeming sedikit pun, diangkat tangan kirinya untuk melindungi kepala.

Dukkk ... !

Tak pelak lagi guci perak itu membentur tangan kiri Ki Jatayu. Akibatnya tangan kakek itu tergetar hebat. Tapi tidak demikian halnya Dewa Arak. Tubuhnya terpelanting bagai diseruduk kerbau. Sekujur tangannya terasa sakit bukan main. Dadanya pun kontan sesak. Tapi berkat keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti', tidak sulit bagi Arya untuk segera memperbaiki posisinya.

Benturan yang kedua kali ini menyadarkan Dewa Arak, bahwa tidak selayaknya melawan kekerasan kakek itu dengan kekerasan pula. Sudah dibuktikan sendiri kekuatan tenaga dalam kakek itu yang luar biasa. Mengadu tenaga dengan kakek itu sama saja mencari penyakit. Kalau saja kakek itu mendesak dan memojokkan mengadu tenaga dalam secara langsung, ia mungkin sudah tewas!

"Ahhh ... !" Melati terperanjat. Segera saja dia bergerak hendak membantu pemuda yang dicintainya. Tapi, baru saja kakinya melangkah, sebuah tangan telah menyentuh pergelangan tangannya.

Gadis berpakaian serba putih ini menoleh. Ternyata Ki Julaga yang menyentuh pergelangan tangannya.

"Biarkan pemuda itu melaksanakan pesan gurunya. Kurasa Ki Gering Langit tidak akan sembarangan memberi tugas, kalau tidak diyakininya muridnya itu akan mampu. Lihat saja dulu!"

"Tapi, Kek...," Melati mencoba membantah. "Tenanglah, Melati," bujuk kakek kecil kurus itu.

Terpaksa Melati tidak membantah lagi. Pandangan matanya dialihkan kembali ke arah pertarungan. Walaupun gurunya telah menyuruhnya bersikap tenang, tetap saja gadis itu tidak mampu. Perasaan cemas akan keselamatan Dewa Arak tetap saja melanda. Apalagi pemuda itu sangat dicintainya.

Sementara Arya kini merubah siasatnya. Dia sadar kalau dalam hal tenaga dalam, bukanlah tandingan kakek itu. Dan kalau memaksa bertarung seperti itu, adalah suatu perbuatan bodoh. Orang setua seperti Ki Jatayu, apalagi jika lama tidak berlatih, tentu otot-ototnya agak kaku.

Apalagi, kelihatannya kondisi tubuh Ki Jatayu sudah tidak memungkinkan lagi untuk bertarung lama.

Maka Dewa Arak kini memaksa diri untuk tidak menyerang. Dibiarkan saja Ki Jatayu yang telah dikuasai amarahnya terus menyerangnya kalang kabut. Sementara Dewa Arak terus mengelakkan setiap serangan itu dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang'.

"Hiyaaa ... !"

Ki Jatayu berteriak nyaring. Jari jari kedua tangannya terbuka lurus melakukan tusukan­tusukan bertubi-tubi ke arah leher, ulu hati, dan pusar. Cepat luar biasa gerakannya. Angin berdecit nyaring, seperti ada puluhan ekor tikus yang mencicit berbarengan.

Tapi lagi-lagi dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang', Dewa Arak dapat mengelakkan serangan itu. Meskipun serangan itu berhasil dielakkan, tapi tak urung sekujur pakaian Arya telah compang camping tersayat-sayat di sana sini, akibat terkena angin serangan tangan Ki Jatayu. Memang kakek tinggi kurus ini menggunakan ilmu 'Tangan Pedang' dalam menghadapi Dewa Arak.

Ki Jatayu menggeram keras, murka bukan kepalang. Masalahnya, semua serangannya tidak ada yang mengenai sasaran. Padahal pertarungan telah berlangsung lebih dari seratus jurus. Dan selama itu Arya hanya mengelak dan menghindar. Sesekali menyerang, tapi lekas ditarik kembali begitu melihat kakek itu hendak menangkisnya.

Kemarahan membuat Ki Jatayu kian memperhebat serangannya. Ruangan dalam gua itu sampai bergetar hebat akibat angin pukulan yang salah sasaran dari kakek ini.

Tak terasa lima puluh jurus kembali telah berlalu. Dan selama itu, tetap saja belum ada satu pun serangan kakek tinggi kurus ini yang mengenai sasaran. Hal ini membuat kemarahan Ki Jatayu kian berkobar. Amarah, membuat napasnya kian cepat memburu. Kakek ini memang sudah merasa lelah bukan main! .

Sebetulnya kalau saja Ki Jatayu tidak terlalu bernafsu, tidak akan selelah itu. Tapi, karena bertarung diiringi amarah yang meluap­luap, kelelahan lebih cepat datang.

"Grrrrhhh ... !"

Tiba-tiba saja kakek itu menggeram, disertai pengerahan seluruh tenaga dalamnya. Ki Jatayu memang bermaksud merubuhkan Dewa Arak melalui serangan suara, seperti seekor harimau yang mengaum untuk melumpuhkan mangsanya.

Akibatnya memang hebat sekali. Tubuh Melati sendiri sampai terhuyung akan jatuh. Padahal bukan dirinya yang diserang! Apalagi Dewa Arak yang menerima serangan itu secara langsung!
Wajah Dewa Arak memucat. Kedua kakinya mendadak lemas secara tiba-tiba. Tanpa dapat ditahan lagi, tubuhnya pun ambruk ke tanah. Dan saat itulah Ki Jatayu melompat menerkam.

Kedua tangannya mengembang, dengan jari jari membentuk cakar. Serangan itu mengingatkan orang akan serangan seekor harimau pada mangsa yang telah tidak berdaya lagi.

Wuttt ... !

Angin menderu dahsyat, seolah-olah di tempat itu terjadi badai.

"Ah ... !" Melati menjerit melihat bahaya maut mengancam Dewa Arak.

"Fhm...," Ki Julaga berdehem untuk menutupi keterkejutan hatinya. Disadari kalau dia tidak mungkin dapat menolong murid Ki Gering Langit ini. Serangan itu datang tiba-tiba sekali, sementara jaraknya dari pemuda berambut putih keperakan itu cukup jauh.

Arya memang terperanjat bukan main melihat serangan itu. Tapi, sebenarnya pemuda ini tidak gugup. Ilmu 'Belalang Sakti" memang memiliki banyak keistimewaan. Dalam posisi sesulit apa pun dia dapat bergerak dan melompat. Di samping itu, dari keadaan lemah tak bertenaga, mendadak akan menjadi kokoh kuat, dan mantap penuh tenaga.

Maka walaupun menurut perkiraan serangan itu tidak akan dapat dielakkan, tapi Arya masih mampu mengelak. Tubuhnya melenting ke atas.

Brakkk...!

Lantai gua hancur berantakan ketika kedua tangan Ki Jatayu menghantamnya. Di saat
itulah, Dewa Arak yang tadi melenting tepat di atas tubuh Ki Jatayu, mengayunkan gucinya. Dikerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki dalam serangan ini .

Wusss...!
Prak ... !
"Aaakh ... !" Ki Jatayu menjerit keras.

Memang, tanpa ampun lagi, guci itu telak sekali menghantam kepala Ki Jatayu. Kakek ini memang sudah terlalu lelah sehingga tak mampu mengelak. Apalagi kedua tangannya masih terhunjam dalam di tanah. Terdengar suara keras berderak. Disusul ambruknya tubuh itu di tanah.
Beberapa saat lamanya tubuh itu menggelepar-gelepar sebelum akhirnya diam tak bergerak lagi.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara, kedua kaki Arya hinggap di tanah. Belum juga pemuda berambut putih keperakan ini berbuat sesuatu, terdengar seruan gembira disusul melesatnya sesosok bayangan putih menghampirinya.

"Kakang ... !"

Dewa Arak mengembangkan lengannya. Langsung didekapnya tubuh Melati erat-erat, begitu tubuh gadis berpakaian putih itu telah berada di dalam pelukannya .

Sesaat lamanya mereka saling berpelukan erat seperti melupakan ada orang lain di situ. Pelukan keduanya baru mengendur ketika terdengar suara mendehem. Rupanya saking gembira, keduanya lupa pada Ki Julaga!

"Ah ... ! Hampir aku putus asa melihat keadaanmu itu, Kang Arya. Kau... kau..., hebat sekali...," puji Melati dengan wajah memerah.

Pelahan namun pasti dilepaskan pelukannya. Rasa gembiranya melihat pemuda itu selamat dari bahaya maut, sungguh membuatnya lupa. Dan kini begitu teringat, timbullah rasa malunya. Apalagi di situ ada Ki Julaga, gurunya. Dewa Arak pun melepaskan pelukannya.

"Kau hebat, Anak Muda," puji Ki Julaga sambil melangkah mendekat .

Seketika wajah Dewa Arak memerah. "Ah! Kakek membuat aku malu saja. Apalah artinya kepandaian yang kumiliki bila dibandingkan de­ngan kepandaian Kakek."

Kakek kecil kurus ini hanya tersenyum. Perasaan kagum timbul dalam hatinya, melihat sikap rendah hati yang ditunjukkan pemuda itu.

"Siapa namamu, Anak Muda?"
"Arya, Kek," jawab Dewa Arak sopan.

Dari Melati Dewa Arak telah tahu kalau kakek di hadapannya ini, sudah lama ingin mengembalikan kitab-kitab Ki Gering Langit. Maka Arya memutuskan untuk tidak memerangi kakek ini. Apalagi dari pembicaraan yang tadi didengarnya, diketahui kalau kakek ini telah sadar dari kekeliruannya.

"Julukannya Dewa Arak, Kek," selak Melati penuh rasa bangga.

Ki Julaga hanya manggut-manggut. Tentu saja dia tidak pernah mendengar julukan itu, karena selama ini bersembunyi di guanya.

"Oh ya, Arya. Semua kitab-kitab yang kau cari, kebetulan ada di sini. Ki Jatayu telah membawa kitab-kitab yang telah dicurinya kemari. Maksudnya, ingin ditukarkan dengan kitab-kitab yang ada di sini."

Setelah berkata demikian kakek ini lalu memberi semua kitab-kitab Ki Gering Langit yang telah dicuri, dan diserahkan pada Dewa Arak .

"Inilah semua kitab-kitab itu, Arya," ucap Ki Julaga.

Dewa Arak menerima kitab-kitab itu. Diperhatikan sejenak satu persatu. Lalu diambilnya satu dari sekian banyak kitab. Sebuah kitab yang sangat tipis dan pada sampulnya bertuliskan huruf-huruf yang berbunyi, 'Jurus Membakar Matahari'! Jurus sakti yang dipersiapkan khusus untuk 'Tenaga Dalam Inti Matahari' yang telah dimiliki Arya. Kemudian kitab-kitab yang lainnya dikembalikan kepada kakek itu kembali.

"Heh?! Mengapa, Arya?" tanya kakek itu heran. Melati pun kaget.

"Semula memang aku berniat mengambilnya untuk dikembalikan ke tempat semula. Tapi karena kini Kakek telah menyadari kesalahan Kakek, kuputuskan untuk meninggalkan semua itu pada Kakek. Di tangan Kakek kitab-kitab itu akan aman. Tak mungkin kalau harus kubawa sekian banyak kitab dalam pengembaraanku," jelas Arya.

Ki Julaga manggut-manggut mengerti.

"Kalau begitu, aku mohon diri, Kek," pamit Arya. "Banyak orang yang masih membutuhkan pertolonganku."

"Aku ikut!" teriak Melati. "Boleh, Kek?" tanya gadis itu sambil memandang penuh harap pada Ki Julaga.

Ki Julaga termenung sejenak. Kemudian pelahan-lahan kepalanya menggeleng.

"Kenapa, Kek?" tanya Melati. Rasa kecewa yang amat sangat membayang pada wajahnya.

"Kau baru saja datang. Dan, rasa rinduku padamu belum juga hilang. Masa' sudah akan pergi lagi. Tinggallah di sini sekitar sepekan, agar kerinduanku padamu terobati."

"Tapi, Kek...."

"Benar kata Kakek, Melati," Dewa Arak memberi dukungan. "Setelah kerinduan Kakek padamu terobati, kau bisa menyusulku. Tidak sulit kan mencari jejakku?"

Melati pun terdiam. Ucapan Arya menyadarkan dirinya, untuk tidak terlalu mementingkan diri sendiri. Waktu untuknya dan untuk Dewa Arak masih sangat panjang. Tapi, bagi Ki Julaga? Kapan lagi dapat membalas budi kakek kecil kurus ini selama ini kalau tidak sekarang?

"Pergilah, Melati.... Kakek tadi hanya bergurau saja," ucap kakek kecil kurus itu ketika muridnya termenung.

Sesak dada gadis berpakaian serba putih ini karena rasa haru yang mendalam. Melati tahu kalau ucapan gurunya ini tidak sesuai dengan isi hati kakek itu sendiri. Kakek itu terlalu menyayanginya dan tidak ingin membuatnya bersedih.

"Kakek...!"

Melati beriari ke arah Ki Julaga. Kakek itu pun mengembangkan lengan dan memeluk tubuh gadis itu. Dibelai belainya rambut gadis itu penuh kasih sayang. Tanpa dapat ditahan sebutir air bening menggulir dari sepasang matanya. Namun gadis itu bergegas menghapusnya.

"Melati ingin tinggal..., dan menemani Kakek...," ucap Melati terputus-putus. Air mata gadis ini pun tumpah tanpa dapat ditahannya lagi.

"Tidak usah memaksakan diri, Melati. Pergilah! Sungguh, Kakek tidak apa-apa."
'Tidak, Kek! Melati ingin tinggal bersama Kakek!" tegas kata-kata gadis itu.

Dewa Arak tersenyum. Ada rasa keharuan yang mendalam di hatinya melihat adegan yang mengharukan itu. Tapi Dewa Arak tidak ingin mengusik mereka. Diguratkan jarinya pada dinding gua.

Melati.. aku pergi dulu. Jika kau sudah merasa cukup menemani Kakek, carilah aku. Ingat, aku selalu menyayangimu. Arya .

Dewa Arak melangkah pelahan meninggalkan gua itu. Ada keharuan yang amat sangat menyelubungi hati melihat adegan pertemuan yang baru saja disaksikannya. Dia sadar, Melati bukan miliknya sendiri.

Lambat tapi pasti, sosok tubuh Arya kian mengecil dan mengecil. Hingga akhirnya lenyap di kejauhan. Masih banyak tugas yang harus dikerjakan Dewa Arak. Tugasnya selaku seorang pendekar.

SELESAI

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Dewa Arak 03 - Cinta Sang Pendekar"

Post a Comment

close