Serial Dewa Arak 10 - Tiga Macan Lembah Neraka

Mode Malam
10 - Tiga Macan Lembah Neraka

Hari masih pagi. Matahari pun belum naik tinggi ketika tiga sosok tubuh berkelebat mendaki Lereng Gunung Jawi. Menilik dari gerakan mereka yang rata-rata gesit dan cepat, bisa diperkirakan kalau tiga orang ini memiliki kepandaian tinggi.

Lincah dan ringan laksana kera, tiga sosok itu ber- lompatan ke sana kemari. Gerakan mereka baru terhenti ketika tiba di sebuah tempat yang lapang.

"Benarkah di sini tempat tinggal tua bangka itu, Macan Tutul?" tanya salah seorang dari mereka. Orang itu ber- tubuh kekar berkulit kuning. Pakaiannya berupa rompi yang terbuat dari kulit macan loreng. Dunia persilatan men- julukinya Macan Loreng Lembah Neraka.

Orang yang dipanggil Macan Tutul menganggukkan kepalanya. Dia adalah seorang yang bertubuh pendek, gemuk, berkepala botak dan berkulit merah. Pakaiannya serupa dengan Macan Loreng Lembah Neraka. Hanya saja dari kulit macan tutul.

"Tapi, di sebelah mana, Macan Tutul?" tanya salah seorang lagi. Berbeda dengan kedua orang tadi, orang ketiga ini bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam legam. Sepasang matanya jauh di da lam rongga. Pakaiannya berupa rompi dari kulit macan kumbang. Julukan orang yang angker ini adalah Macan Kumbang Lembah Neraka.

Dalam dunia persilatan, nama ketiga orang ini dikenal sebagai dedengkot-dedengkot aliran hitam. Tiga Macan Lembah Neraka, begitu julukan mereka.

Macan Tutul Lembah Neraka mendongakkan kepalanya menatap wajah Macan Kumbang. Baru setelah itu tangannya yang gemuk dan pendek serta berkulit merah itu menuding ke arah Selatan.

"Di sanalah tempat tua bangka itu! Mari! Kita diburu waktu!" ajak Macan Tutul Lembah Neraka.Setelah berkata demikian, Macan Tutul Lembah Neraka melesat. Lucu sekali kelihatannya, seperti bukan seorang manusia yang tengah bertari. Melainkan sebuah bola yang menggelinding. Tapi sungguhpun Macan Tutul Lembah Neraka bertubuh pendek, sementara kedua rekannya ber­tubuh tinggi, tetap saja dia mampu mengimbangi lari kedua rekannya.

Berkat ilmu meringankan tubuh mereka yang luar biasa, tak lama kemudian, tampak oleh ketiga orang itu sebuah bangunan yang cukup besar.

"Itulah tempat tinggal si tua bangka!" teriak Macan Tutul Lembah Neraka seraya menudingkan tangannya.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara tubuh pendek Macan Tutul Lembah Neraka hinggap di depan pintu gubuk itu. Hanya berjarak sekitar tiga tombak dari pintu. Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka pun menghentikan larinya.

"Tapakjati! Keluar kau...!" teriak laki-laki pendek gemuk itu lantang. Suara yang dikeluarkannya didorong dengan pengerahan tenaga dalam, membuat sekeliling tempat itu bergetar hebat.

Macan Tutul Lembah Neraka menghentikan teriakan- nya. Ditunggunya beberapa saat jawaban dari dalam. Tapi sampai sekian lama menunggu, tak juga didengar sahutan.

"Tapakjati! Keluar! Atau kubakar habis gubukmu!" ancam laki-laki pendek gemuk itu lagi. Kulit wajahnya yang memang sudah merah, menjadi kian merah tatkala teriakannya sama sekali tidak digubris.

Kali ini teriakan Macan Tutul jauh lebih keras dari yang pertama. Tak pelak lagi, teriakan itu menggema ke seluruh tempat itu. Gema yang bersahut-sahutan terbawa angin.

Terdengar suara gemeretak dari murut Macan Tutul Lembah Neraka setelah sekian lamanya menunggu, tidak juga muncul orang yang sejak tadi dipanggil-panggilnya.

Tapi baru saja dia hendak berbuat sesuatu, di ambang pintu gubuk telah berdiri seorang kakek bertubuh kurus berkepala botak, berpakaian abu-abu. Kumis dan jenggot yang menghias wajahnya berwarna dua, panjang sampai ke dada.

Seperti tidak mengetahui kemarahan ketiga orang di depannya, kakek kurus berkepala botak itu menghampiri pelahan.

"Mengapa kalian berteriak-teriak memanggilku? Meski- pun usiaku telah lanjut, tapi aku belum tuli..." tenang- tenang saja kakek yang dipanggil Tapakjati itu berkata.

"Tidak usah berbasa-basi, Tapakjati!" sergah Macan Loreng Lembah Neraka keras. "Kami datang untuk menagih hutang nyawa!"
"He he he...!" Tapakjati tertawa terkekeh-kekeh sehingga mulutnya yang sudah ompong tidak bergigi terlihat.

"Sekarang kau boleh tertawa, Tapakjati! Tapi, sebentar lagi kau akan merintih dan meratap minta dikasihani!" ancam Macan Tutul Lembah Neraka.

"Aku tertawa karena merasa lucu mendengar ucapan kalian," sahut kakek kurus berkepala botak itu. Suaranya masih terdengar tenang. Rupanya ancaman Macan Tutul Lembah Neraka tidak membuatnya gentar sama sekali.

"Mana ucapan kami yang kau katakan lucu itu, Kakek Peot?!" sergah Macan Loreng setengah membentak.
"Ucapan tentang maksud kedatangan kalian kemari."

Macan Tutul Lembah Neraka mengernyitkan alisnya.

"Menagih hutang nyawa yang kau anggap lucu, Tapakjati?" tebak laki-laki pendek gemuk setengah tak percaya.

"He he he...!" hanya tawa terkekeh saja yang menyambut ucapan Macan Tutul Lembah Neraka. "Keparat kau, Tapakjati!" maki Macan Loreng Lembah Neraka. "Di mana letak kelucuannya?! Cepat katakan! Sebelum lehermu kupuntir!"

"He he he.... sungguh gagah sekali! Bukankah kau, Macan Loreng Lembah Neraka?!" tebak Eyang Tapakjati sambil menatap tajam tubuh kekar dan berkulit kuning itu. "Dan kalau aku tidak salah duga, kalianlah yang berjuluk Tiga Macan Lembah Neraka?!"

"Rupanya matamu masih belum lamur, Tapakjati! Memang kamilah yang berjuluk Tiga Macan Lembah Neraka!" sahut Macan Tutul Lembah Neraka sambil tersenyum lebar. Memang sudah menjadi kebiasaan di kalangan tokoh hitam, mereka akan merasa bangga apabila ada orang yang mengenal nama atau julukannya.

"Nah, kalau kalian benar Tiga Macan Lembah Neraka, kapan aku berhutang nyawa pada kalian?!" sambung Eyang Tapakjati lagi. "Seingatku, aku tidak pernah berurusan dengan orang-orang Lembah Neraka! Apalagi sampai mem- bunuh!"

"Kau memang tidak bersalah pada kami! Tapi orang yang ada hubungannya denganmu telah membunuh sahabat kami!" selak Macan Kumbang Lembah Neraka. Suaranya berat, penuh wibawa. Memang dibanding kedua saudaranya, laki-laki berkulit hitam ini yang paling pendiam dan jarang sekali bicara. Prinsipnya memang aneh. Pukul dulu, urusan bicara belakangan!

Eyang Tapakjati mengerutkan alisnya. Dia yang sudah lama menyepi di Lereng Gunung Jawi, mana tahu lagi urusan dunia persilatan.

"Siapa sahabat kalian?" tanya kakek kurus berkepala botak ini. Suaranya tidak lagi terdengar riang. Agaknya Eyang Tapakjati mulai menyadari keseriusan masalah yang dihadapinya. Dia tahu betul sifat tokoh yang berjuluk Tiga Macan Lembah Neraka ini. Mereka tidak akan mengusik orang yang tidak mempunyai urusan dengan mereka. Tapi, apabila orang mempunyai urusan dengan mereka, celakalah orang itu. Sampai kapan dan di mana pun, Tiga Macan Lembah Neraka ini akan terus memburu!

"Sahabat kami yang berjuluk Raksasa Rimba Neraka!" sahut Macan Tutul Lembah Neraka lantang.
"Raksasa Rimba Neraka?" gumam Eyang Tapakjati pelahan.
"Ya!" jawab Macan Tutul Lembah Neraka singkat.
"Lalu. siapa pembunuhnya yang kalian tuduh mem­punyai hubungan denganku?" desak Tapakjati ingin tahu.
"Dewa Arak," jawab Macan Loreng Lembah Neraka lambat-lambat penuh tekanan.
"Dewa Arak?!" ulang kakek kurus berkepala botak itu.

Dahinya berkernyit dalam. Jelas ada sesuatu yang dipikirkannya

"Ya, Dewa Arak!" tegas Macan Tutul Lembah Neraka. "Kau mengenalnya, kan?"
"Tidak!" sahut Eyang Tapakjati tegas.
"Bohong!" sentak Macan Tutul Lembah Neraka keras.

"Buat apa repot-repot berdebat segala, Macan Tutul. Bunuh saja, habis perkara!" selak Macan Kumbang Lembah Neraka cepat.

Merah wajah Eyang Tapakjati mendengar ucapan yang sangat merendahkan dirinya itu.

"Jangan kalian kira aku takut dengan kalian! Aku mengatakan tidak mengenal orang yang berjuluk Dewa Arak, karena memang aku tidak mengenalnya! Bukan karena aku takut pada kalian!" ucap kakek kurus ber­kepala botak itu menjelaskan. Tegas dan mantap sekali kata-katanya.

Tiga Macan Lembah Neraka terdiam seketika. Mereka mendengar adanya nada kesungguhan dalam suara itu. Macan Tutul Lembah Neraka merayapi sekujur wajah Eyang Tapakjati, seolah-olah dari situ dapat diketemu- kannya kebenaran ucapan itu.

"Benar kau sama sekali tidak mengenalnya, Tapakjati?!" tanya laki-laki pendek gemuk ini mulai lunak suaranya.

Eyang Tapakjati menggelengkan kepalanya.

"Mendengar julukannya pun baru kali ini," jawab kakek kurus berkepala botak itu jujur.
"Hhh...! Kalau begitu, kami salah alamat..." desah Macan Tutul Lembah Neraka pelan. "Mari kita pergi...!"

Setelah berkata demikian, Macan Tutul Lembah Neraka melangkahkan kakinya yang pendek dan gemuk meninggalkan tempat itu. Macan Loreng Lembah Neraka pun membalikkan tubuh dan bersiap melangkah meninggalkan tempat itu.

"Tunggu, Macan Tutul!"

Terdengar teriakan keras yang amat dikenal oleh Macan Tutul dan Macan Loreng Lembah Neraka. Suara berat dan bergaung penuh wibawa itu hanya dimiliki oleh Macan Kumbang Lembah Neraka!

"Ada apa, Macan Kumbang?" tanya Macan Tutul Lembah Neraka, seraya menghentikan langkah, dan membalikkan tubuhnya. Macan Loreng Lembah Neraka pun meng­hentikan langkah, dan membalikkan tubuhnya.

"Ada sesuatu yang kau lupakan, Macan Tutul," ucap laki- laki berkulit hitam itu.
"Apa?" tanya Macan Tutul Lembah Neraka ingin tahu.

Tapi Macan Kumbang Lembah Neraka tidak mem- pedulikannya. Pandangannya dialihkan, menatap sekujur wajah Eyang Tapakjati lekat-lekat. Hal ini tentu saja membuat kakek kurus berkepala botak yang sudah menarik napas lega, kembali merasa tidak enak.

Macan Tutul Lembah Neraka menahan perasaan men- dongkolnya. Dialihkan perhatiannya pada Eyang Tapakjati. Macan Loreng Lembah Neraka pun tidak ketinggalan.

"Tapakjati..."
"Hm..." hanya gumaman yang menyahuti panggilan Macan Kumbang Lembah Neraka.
"Kau kenal dengan Ki Wanayasa dan Pendekar Ruyung Maut?" tanya Macan Kumbang Lembah Neraka dengan suaranya yang khas.

"Wanayasa aku kenal, tapi Pendekar Ruyung Maut aku tidak kenal," jawab Eyang Tapakjati.
"Apa hubunganmu dengan Wanayasa?" kejar Laki-laki berkulit hitam legam itu.
"Dia muridku... "
"Dan Pendekar Ruyung Maut?" desak Macan Kumbang Lembah Neraka lagi.

Merah wajah Eyang Tapakjati. Tulikah Macan Kumbang Lembah Neraka ini? Bukankah sudah dikatakan kalau dia sama sekali tidak mengenal orang yang ditanyakan itu?

"Sudah kukatakan ladi. Aku sama sekali tidak mengenainya! Titik!" sahut kakek kurus berkepala botak ini tanpa berusaha menyembunyikan emosinya.

"Aneh...! Kau ini memang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, Tapakjati?" tanya Macan Kumbang Lembah Neraka lagi. Secercah senyum sinis menghias wajahnya.

"Aku tidak sepengecut itu, Macan Kumbang!" sentak Eyang Tapakjati keras.

"Begitukah?!" ejek Macan Tutul Lembah Neraka yang kini sudah mengerti. "Mungkin memang kau tidak tahu, Tapakjati. Tapi biarlah kuberitahu. Pendekar Ruyung Maut itu adalah adik seperguruan Wanayasa."

"Mustahil!" sergah Eyang Tapakjati keras. "Wanayasa hanya mempunyai satu orang adik seperguruan. Tribuana namanya!"

Macan Tutul Lembah Neraka tersenyum mengejek.

"Sekarang kau tentu sudah bisa memperkirakan siapa Pendekar Ruyung Maut itu, Tapakjati?!"

Wajah Eyang Tapakjati berubah hebat.

"Maksudmu... dia..., Pendekar Ruyung Maut itu adalah Tribuana?"

"Tepat!" sahut Macan Tutul Lembah Neraka. "Apakah sekarang kau masih mau mengatakan tidak mengenal Pendekar Ruyung Maut alias Tribuana itu?"

"Aku tidak sepengecut itu, Macan Tutul! Kalau benar Pendekar Ruyung Maut adalah Tribuana, jelas kalau pendekar itu adalah muridku!" tandas Eyang Tapakjati.

"Sekarang masalahnya sudah jelas, Tapakjati! Mau tidak mau kau harus tersangkut urusan ini. Kami harus menagih hutang nyawa sahabat kami!" tegas Macan Tutul Lembah Neraka sambil menatap tajam wajah kakek kurus berkepala botak itu.

Eyang Tapakjati membisu. Tidak membantah sedikit pun. Benar atau tidak dia tersangkut masalah ini, tidak dipedulikan lagi. Harga dirinya telah tersinggung. Sikap Tiga Macan Lembah Neraka begitu meremehkan dirinya. Dan ini membuat amarahnya bergolak.

Agak heran hati Macan Tutul Lembah Neraka ketika melihat kakek kurus berkepala botak itu diam saja.

"Perlu kau ketahui, Tapakjati. Dewa Arak adalah putra dari Tribuana, muridmu!"

"Apa?!" sepasang mata Eyang Tapakjati terbelalak lebar. "Dewa Arak putra Tribuana?! Jadi..., Jadi... dia adalah cucu muridku!"

"Benar! Dan karena itulah, kami harus menagih hutang nyawa sahabat kami padamu, Tapakjati!" tandas laki-laki bertubuh pendek gemuk itu keras.

"Akan kuturuti apa maumu, Macan Tutul! Aku malah bangga seandainya Dewa Arak benar-benar cucuku! Dan seandainya benar, dia yang membunuh Raksasa Rimba Neraka pun, aku akan membelanya! Karena dia berada di pihak yang benar!"

"Keparat! Kau cari mampus, Tapakjati!" selak Macan Tutul Lembah Neraka seraya melompat menerjang. Cepat bukan main gerakannya sehingga yang terlihat hanyalah bayangan hitam yang berkelebat ke arah Eyang Tapakjati.

Macan Tutul Lembah Neraka membuka serangan dengan sampokan tangan kanan yang membentuk cakar naga ke pelipis Eyang Tapakjati. Sementara tangan kirinya disilangkan di dada. Bersiaga terhadap serangan balasan lawan.

Serangan itu datang begitu cepat, tapi masih lebih cepat lagi gerakan yang dilakukan Eyang Tapakjati. Segera tubuhnya ditarik ke belakang, sehingga sampokan itu menyambar lewat di depan mukanya. Tidak hanya sampai di situ saja, yang dilakukan kakek kurus berkepala botak itu. Secepat kilat kaki kanannya menyambar deras ke perut lawan.

Macan Tutul Lembah Neraka tentu saja tidak mau perutnya tertendang. Segera saja tangan kirinya yang disilangkan di dada, dibacokkan ke bawah.

Takkk!

Benturan antara tangan dan kaki yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi tidak bisa dielakkan lagi. Akibatnya, baik Macan Tutul Lembah Neraka maupun Eyang Tapakjati sama-sama terhuyung mundur satu langkah. Dari hasil benturan ini dapat diketahui kalau tenaga dalam kedua tokoh itu berimbang.

Eyang Tapakjati terkejut juga mengetahui hal ini. Memang sebelumnya laki-laki kurus berkepala botak ini pernah mendengar kelihaian Macan Tutul Lembah Neraka. Tapi sungguh di luar dugaannya kalau sampai selihai itu. Kalau satu orang di antara mereka saja sudah begitu lihai, bagaimana kalau mereka maju berbareng? Diam-diam Eyang Tapakjati mengkhawatirkan nasib cucu muridnya bila terpaksa harus berhadapan dengan mereka sekaligus.

Tapi kakek kurus berkepala botak ini tidak bisa berpikir lama-lama, karena serangan dari Macan Tutul Lembah Neraka telah menyambar lagi. Tahu kalau lawan memiliki kepandaian yang amat tangguh, Eyang Tapakjati pun mengeluarkan ilmu andalannya, ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga'!

Macan Tutul Lembah Neraka menggeram hebat. Sepasang tangannya yang berbentuk cakar, menyambar- nyambar dahsyat mencari sasaran.

Eyang Tapakjati berusaha mempertahankan selembar nyawanya dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Kakek kurus kepala botak ini menyadari kalau lawan yang akan dihadapinya bukan hanya Macan Tutul seorang, tapi masih ada dua lawan tangguh lagi yang menunggunya. Kalau mengulur-ulur waktu, dia khawatir akan keburu lelah sebelum menghadapi lawan yang lainnya.

Pertarungan antara kedua tokoh yang sama-sama sakti itu berlangsung cepat. Sehingga dalam waktu sekejap saja, dua puluh jurus telah berlalu. Dan sampai sejauh ini, belum nampak tanda-tanda ada yang akan terdesak.

Macan Tutul Lembah Neraka meraung. Laki-laki pendek gemuk ini marah bukan main. Sungguh tidak disangka kalau lawannya begitu lihai, sehingga sampai sekian lamanya dia belum mampu mendesak.

"Haaat..!"

Macan Tutul meraung murka. Tubuhnya melompat menerjang Eyang Tapakjati. Dan selagi berada di udara, tubuhnya dibalikkan seraya mengibaskan kaki kanannya.

Eyang Tapakjati bersikap tenang. Kibasan kaki yang mengancam kepalanya itu, segera dibuat mati kutu dengan hanya merundukkan sedikit tubuhnya. Tapi, tak disangka- sangka kalau mendadak tubuh Macan Tutul Lembah Neraka berputar sekali lagi di udara. Dan dari atas, kedua tangan yang berbentuk cakar itu menyampok ke belakang kepala lawannya.

Eyang Tapakjati terperanjat kaget. Namun tidak menjadi gugup. Buru-buru dia melompat ke depan kemudian ber- gulingan menjauh.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara kedua kaki Macan Tutul Lembah Neraka menjejak tanah. Dan secepat kedua kaki itu mendarat, secepat itu pula laki-laki bertubuh pendek gemuk ini memburu tubuh Eyang Tapakjati yang sedang bergulingan menjauh.

"Hih...!"

Macan Tutul Lembah Neraka memekik keras seraya mengkelebatkan cakarnya ke arah tubuh Eyang Tapakjati.

Crab, Crab!

Jari-Jari Macan Tutul Lembah Neraka amblas ke dalam tanah, ketika tubuh Eyang Tapakjati telah bergulingan menghindar. Tapi laki-laki pendek gemuk ini tidak putus asa. Kembali tubuh yang bergulingan itu dikejar, dan dihujani dengan serangan-serangan cakarnya yang menimbulkan desir angin bercicitan.

Beberapa saat lamanya terjadi adegan yang lucu dan menarik. Tubuh Eyang Tapakjati terus bergulingan, men- coba melepaskan diri dari sambaran cakar Macan Tutul Lembah Neraka yang terus mencecarnya bertubi-tubi.

"Hiyaaa...!"

Mendadak Eyang Tapakjati memekik nyaring. Belum lagi habis gema teriakan itu, tahu-tahu tubuhnya sudah melenting laksana seekor ikan.

"Hih...!"

Macan Tutul Lembah Neraka tentu saja tidak mem- biarkan lawannya lolos. Cepat dia pun melompat, mengejar tubuh Eyang Tapakjati yang telah melenting lebih dulu.

"Hiaaat...!"

Seraya mengeluarkan bentakan nyaring, Macan Tutul Lembah Neraka mengirim serangan ke arah ulu hati. Kedua cakarnya, menyambar ganas menuju sasaran.

Eyang Tapakjati tidak punya pilihan lain lagi. Tubuhnya masih berada di udara. Dan merupakan suatu hal yang mustahil bila harus mengelak selagi kedua kakinya tidak mempunyai landasan untuk berpijak. Terpaksa dipapaknya serangan itu dengan kedua tangan yang membentuk cakar.

Prattt...!

Benturan antara dua pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi itu tidak bisa terelakkan. Dan akibatnya, tubuh kedua tokoh sakti itu sama-sama terjengkang. Rasa nyeri merayapi sekujur tangan mereka.

"Hup...!"

Hampir bersamaan kedua tokoh itu mendarat di tanah. Tampak jelas betapa Macan Tutul Lembah Neraka dan Eyang Tapakjati sama-sama terhuyung, begitu kedua kaki­nya hinggap di tanah.

Macan Tutul Lembah Neraka meraung murka. Begitu selesai memperbaiki posisi kuda-kudanya, seketika itu juga tangannya bergerak. Dan entah dari mana, tahu-tahu sebuah ruyung terbuat dari perak telah tergenggam di tangannya.

"Hiyaaa...!"

Seraya mengeluarkan pekikan melengking, Macan Tutul Lembah Neraka berlari menyerbu Eyang Tapakjati. Ruyung perak di tangannya diayunkan ke arah kepala tokoh ber- usia lanjut itu.

Wuuuttt..!

Angin berhembus keras mengawali tibanya serangan ruyung. Tapi, Eyang Tapakjati tidak menjadi gugup. Segera dilempar tubuhnya ke belakang, bersalto beberapa kali di udara. Dan begitu kedua kakinya menjejak tanah, pada kedua tangannya juga telah tergenggam sepasang tongkat pendek berwama hitam mengkilat. Tanpa ragu-ragu lagi, Eyang Tapakjati segera menggunakan ilmu andalannya, ilmu 'Sepasang Tongkat Pembunuh Naga'!

Angin menderu-deru keras begitu Eyang Tapakjati meng- gerak-gerakkan sepasang tongkat pendek di tangannya. Kini dengan dua tongkat di tangan, kakek kurus berkepala botak ini menghadapi serbuan Macan Tutul Lembah Neraka yang menggunakan ruyung perak!

Pertarungan kembali berlangsung sengit. Dengan senjata andalan di tangan, akibat yang ditimbulkan oleh pertarungan kedua tokoh itu menjadi semakin dahsyat. Debu mengepul tinggi ke udara. Tanah terbongkar di sana- sini.

Sebentar saja puluhan jurus telah berlalu. Dan sampai selama itu, belum ada tanda-tanda siapa yang akan ter- desak. Kepandaian kedua orang itu ternyata berimbang. Baik dalam hal tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuh.

Tapi menginjak jurus ke serarus dua puluh, napas Eyang Tapakjati mulai terengah-engah. Maklum, usia kakek ini sudah sangat tua. Di samping itu, sudah lama sekali tidak berlatih, kecuali hanya bersemadi. Itu pun hanya seperlunya saja. Maka tidak aneh kalau saat ini kakek kurus berkepala botak itu sudah kelelahan.

Seiring dengan rasa lelah yang timbul, gerakan-gerakan Eyang Tapakjati pun mulai menjadi lambat. Tenaganya mulai merosot jauh. Serangan-serangannya sudah ber- kurang, Beberapa kali sewaktu mengadu senjata, tubuh tokoh berusia lanjut ini terhuyung-huyung.

Tentu saja hal ini membuat Macan Tutul Lembah Neraka menjadi girang. Serangan-serangan ruyungnya pun se­makin ditingkatkan. Karuan saja hal ini membuat Eyang Tapakjati semakin kerepotan.

Pada jurus ke seratus tiga puluh satu, Macan Tutul Lembah Neraka mengayunkan ruyungnya ke pelipis Eyang Tapakjati. Bergegas kakek kurus berkepala botak itu mengangkat tongkatnya menangkis.

Trak!
"Akh...!"

Eyang Tapakjati memekik tertahan. Kondisinya yang sudah lelah, dan tenaganya yang sudah jauh berkurang, membuat tubuhnya terhuyung-huyung sewaktu menangkis serangan itu. Tongkat pendek di tangannya pun kontan terlepas dari genggaman. Dan sebelum kakek kurus itu sempat berbuat sesuatu. Macan Tutul Lembah Neraka kembali mengirimkan serangan susulan.

"Hiyaaa...!"

Senjata ruyung milik laki-laki pendek gemuk itu menyambar bertubi-tubi ke arah dada dan ulu hati Eyang Tapakjati.

Buk! Buk!
"Akh...!"

Kakek kurus itu memekik tertahan. Tubuhnya yang sudah lelah membuatnya tidak mampu mengelak, se­hingga dengan telak dan kerasnya semua sambaran ruyung Macan Tutul Lembah Neraka bersarang di sasaran- nya. Seketika itu juga tubuh Eyang Tapakjati terjungkal, dan jatuh berdebuk keras di tanah. Dari mulut, hidung, dan telinganya mengalir darah segar.

"Ha ha ha..!"

Macan Tutul Lembah Neraka tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawa kemenangan. Ditatapnya wajah Eyang Tapakjati yang sudah tak mampu bangkit lagi. Sekali pandang saja, laki-laki bertubuh pendek gemuk ini tahu kalau kakek kurus itu tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Luka-luka yang dideritanya terlalu parah.

Setelah melepaskan pandang mata mengejek, Macan Tutul Lembah Neraka lalu melangkah pelahan meng- hampiri kedua rekannya.

"Mari kita pergi." ucap laki-laki pendek gemuk ini pelan. Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat dari situ. Cepat bukan main gerakannya. Sungguh tidak sesuai dengan potongan tubuhnya yang gemuk dan pendek.

Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka pun melesat kabur dari situ. Mereka tak menyadari kalau sedari tadi ada sepasang mata yang mengintip semua kejadian itu. Sepasang mata dari seorang pemuda berwajah tampan, berpakaian merah muda!

***

Sesosok bayangan ungu berkelebat cepat mendaki Lereng Gunung Jawi. Cepat bukan main gerakannya. Rambutnya yang putih keperakan nampak berkibaran tersapu angin.

"Eh...?!"

Sosok bayangan ungu memekik kaget, ketika di sebuah tikungan hampir saja bertabrakan dengan orang yang ber- pakaian serba hitam. Untung dia sempat menahan langkahnya, kemudian kakinya dijejakkan sehingga tubuh­nya melenting ke atas. Sosok ungu itu lewat di atas kepala orang itu, berputar sekali di udara kemudian hinggap ringan di belakang sosok serba hitam tadi

Sosok serba hitam, itu pun tidak kalah kagetnya ketimbang sosok bayangan ungu tadi. Sosok hitam itu tentu saja tahu kalau tadi hampir terjadi tabrakan, namun batal karena orang itu mampu mengelak dengan cara yang luar biasa sekali!

Sosok serba hitam ini segera menghentikan langkahnya Tapi, salah seorang dari dua rekannya segera memegang tangannya.

"Jangan cari perkara, Macan Kumbang," ucap rekannya yang bertubuh pendek dan gemuk, yang ternyata adalah Macan Tutul Lembah Neraka.

Macan Kumbang Lembah Neraka mendengus.

"Aku hanya penasaran dan ingin tahu siapa orang itu. Gerakannya sewaktu mengelakkan tubrukan, benar-benar mengejutkan hatiku."

"Lupakanlah...! Kita mempunyai urusan yang jauh lebih penting. Membalas dendam kematian sahabat kita pada Dewa Arak!" selak Macan Loreng Lembah Neraka ikut campur tangan.Tanpa berkata apa-apa, Macan Kumbang Lembah Neraka segera melesat dari situ.

Macan Tutul dan Macan Loreng Lembah Neraka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lama kemudian keduanya pun sudah melesat, menyusul rekan mereka.

Bukan hanya Macan Kumbang Lembah Neraka yang menghentikan larinya. Sosok bayangan ungu itu pun meng­hentikan larinya. Di bawah jilatan sinar matahari yang cukup terik, tampak jelas sosok ungu itu. Sosok ungu itu ternyata adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan rambut putih keperakan tergerai sampai ke bahu. Sebuah guci arak perak tersampir di punggungnya. Siapa lagi kalau bukan Arya Buana alias Dewa Arak!

Tapi hanya sejenak saja Dewa Arak menghentikan larinya. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah kembali melesat. Sungguhpun begitu, benaknya berputar keras. Siapakah gerangan tiga sosok yang menitik dari gerakan­nya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi? duga Arya dalam hati.

Tak lama kemudian, Arya pun tiba di tanah lapang yang luas. Sebelum tewas, almarhum ayahnya telah mem- beritahu kepadanya tempal tinggal kakek gurunya. Sehingga kini Arya tidak mengalami kesulitan untuk men- carinya.

Memang niat Arya mendaki Lereng Gunung Jawi ini adalah untuk menengok kakek gurunya. Sekaligus mem- perkenalkan dirinya. Sudah sejak lama sebenarnya Arya mempunyai maksud demikian, hanya saja selalu tertunda- tunda, karena selama dalam perjalanannya selalu men- jumpai berbagai masalah.

Sekarang kebetulan dalam pengembaraannya Dewa Arak melewati Gunung Jawi, maka Arya pun tidak menyia- nyiakan kesempatan ini. Segera saja ditunaikan niat yang telah lama tertunda, mengunjungi kakek gurunya.

Begitu tiba di tanah lapang yang luas ini, Dewa Arak kian mempercepat larinya. Pemuda berambut putih keperakan ini tahu kalau tidak lama lagi, dia akan tiba di tempat kediaman kakek gurunya.

Apa yang diduganya memang tidak salah. Dari kejauhan, bangunan tempat tinggal Eyang Tapakjati pun sudah terlihat. Hati Arya berdebar tegang. Rasa gembira dan keinginan untuk segera bertemu membuatnya, jadi agak gelisah.

Tapi kegembiraan yang melanda hati Arya lenyap seketika. Mendadak pandangannya tertumbuk pada sosok tubuh yang tergolek di tanah. Perasaan tidak enak pun berkecamuk dalam dada Dewa Arak.

Sesaat kemudian pemuda berambut putih keperakan ini telah berada di dekat tubuh Eyang Tapakjati yang tergolek lemah tak berdaya.

Sepasang mata Dewa Arak membelalak lebar. Pelahan tubuhnya membungkuk. Diperhatikannya raut sosok wajah yang tergolek Itu. Ternyata ciri-ciri yang dimiliki kakek botak yang terbaring ini, persis seperti yang diceritakan ayahnya.

Pelahan tangan Dewa Arak diulurkan. Dirabanya detak jantung dan denyut nadi kakek kurus berkepala botak itu. Ah, ternyata kakek itu belum mati! Sungguhpun begitu, sekali lihat saja Arya telah mengetahui kalau Eyang Tapakjati tidak bisa diselamatkan lagi.

"Eyang...," panggil Arya. Pelahan sekali suaranya. Memang pemuda berambut putih keperakan ini masih kaget melihat kenyataan ini. Sungguh tidak disangkanya kalau perjumpaan pertama dengan kakek gurunya adalah perjumpaan untuk yang terakhir kalinya. Perjumpaan sekaligus perpisahan!

Mendadak kelopak mata Eyang Tapakjati yang semula terpejam rapat, membuka. Tapi sorot mata itu begitu kosong, seolah-olah tidak menampakkan sinar kehidupan.

"Siapa kau?" tanya Eyang Tapakjati dengan suara ter- putus-putus. Sepasang matanya menatap wajah Dewa Arak lekat-lekat "Sepertinya aku pernah mengenalmu...."

Tentu saja Eyang Tapakjati merasa mengenal Dewa Arak, karena wajah pemuda ini memang sangat mirip dengan ayahnya, Tribuana.

"Aku Arya, Eyang. Arya Buana...," ucap pemuda berambut putih keperakan itu memberitahu.
"Arya Buana...?" gumam kakek kecil kurus itu mengulang.
"Ya, Eyang. Aku cucu murid Eyang, Ayahku Tribuana."
"Ahhh...! Jadi, kaukah yang berjuluk Dewa Arak?" tanya Eyang Tapakjati setengah tidak percaya.

"Benar, Eyang, Kini aku datang menemui Eyang. Katakanlah, siapa yang telah melakukan semua ini pada Eyang?"

Kakek bertubuh kurus itu menggelengkan kepalanya.

"Lebih baik kau tidak usah mengetahuinya, Arya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang amat sakti. Cepatlah menyingkir dari sini. Mereka tengah mencarimu...."

Dewa Arak mengerutkan alisnya.

"Mereka? Siapa mereka, Eyang? Mengapa mencariku?" tanya Arya. Nada suaranya menyiratkan keingintahuan yang dalam.

Napas Eyang Tapakjati mulai tersengal-sengal.

"Mereka... hendak membalas dendam padamu, Arya," sahut kakek itu terputus-putus.
"Membalas dendam padaku?" tanya Arya meminta kepastian.
"Benar."
"Mengapa, Eyang?" desak Arya.
"Karena kau telah membunuh sahabat mereka," jawab Eyang Tapakjati memberi penjelasan.

Arya menarik napas dalam-dalam dan menghembus- kannya kuat-kuat. Wajahnya menyorotkan ketidak- mengertian yang amat sangat. Siapakah orang yang tengah mencari-carinya? Dan, siapakah orang yang telah dibunuh- nya? Dua pertanyaan itu menggayuti benak Dewa Arak.

"Eyang tahu siapa sahabat mereka?" tanya Arya.
"Ya," sahut Eyang Tapakjati seraya menganggukkan kepalanya. "Mereka mengatakannya."
"Siapa, Eyang?"
"Raksasa Rimba Neraka."
"Ahhh...!" seru Arya terkejut

"Kau mengenalnya, Arya?" tanya Eyang Tapakjati ketika dilihatnya Dewa Arak terkejut begitu mendengar nama Raksasa Rimba Neraka.

Pelahan kepala Arya mengangguk.

"Benar kau yang telah membunuhnya?" tanya kakek bertubuh kurus itu lagi.

Kembali kepala Arya mengangguk.

"Kalau begitu, cepatlah kau menyingkir, Arya. Kalau perlu, cari paman gurumu. Dan mintalah perlindungan padanya," saran Eyang Tapakjati. Raut wajahnya memancarkan kecemasan.

Wajah Arya memerah mendengar ucapan itu.

"Maaf, Eyang. Bukannya aku tidak menghargai saran Eyang. Tapi, aku bukanlah seorang pengecut, yang akan lari dari tanggung jawab. Lagi pula paman guru telah tiada, Eyang."

"Apa katamu, Arya?!" tanya Eyang Tapakjati kaget. "Paman gurumu telah tewas?"
"Benar, Eyang," sahut Arya sambil menganggukkan kepalanya.

Kemudian secara singkat diceritakannya tentang kematian paman gurunya. Juga kematian ayahnya (Untuk jelasnya, bacalah serial Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang").

"Hhh...! Sungguh tidak kusangka kalau umur mereka tenyata begitu singkat," keluh Eyang Tapakjati. Suaranya terdengar kian lemah, bahkan napasnya pun tersengal- sengal.

Melihat hal ini karuan saja Arya menjadi khawatir. Pemuda berambut putih keperakan ini takut, kakek kurus itu keburu tewas sebelum memberitahukan siapa orang yang tengah mencarinya.

"Eyang, katakanlah! Siapa orang yang tengah mencari- cariku...?"
"Lebih baik kau tidak usah tahu, Arya. Mereka sangat sakti...."

"Tapi, Eyang. Bagaimana bisa aku menjaga diri kalau tidak tahu siapa orang yang tengah mencariku," ucap Arya memberi alasan.

Eyang Tapakjati kontan termenung. Disadari kebenaran ucapan cucu muridnya itu.

"Mereka berjuluk Tiga Macan Lembah Neraka... akh...!" kepala kakek itu pun terkulai.

"Eyang...!" seru Arya tersentak kaget Diguncang- guncangnya tubuh Eyang Tapakjati yang telah tidak bernyawa lagi. Tapi, betapa pun keras guncangan Arya, dan betapa pun keras mulutnya menjerit-jerit memanggil kakek itu, tetap saja kakek itu diam tidak menjawab. Diam untuk selama-lamanya.

Melihat hal ini, Dewa Arak pun sadar, tidak ada gunanya lagi dia berteriak-teriak dan menguncang-guncangkan tubuh itu. Arya pun lalu membopong mayat Eyang Tapakjati. Kemudian beranjak bangkit dan berjalan pelahan meninggalkan tempat itu. Tapi, baru beberapa tindak melangkah, terdengar suara bentakan nyaring.

"Pencuri keparat! Jangan lari kau...!"

Seketika itu juga Dewa Arak menghentikan langkahnya. Dibalikkan tubuhnya, menghadap bangunan tempat tinggal kakek gurunya, tempat asal suara bentakan itu. Dilihatnya seorang pemuda berlari cepat ke arahnya. Dewa Arak pun berdiri menunggu. Ingin diketahuinya, siapa pemuda yang datang dari rumah tempat tinggal kakek gurunya.

Tak lama kemudian, pemuda itu pun telah berada di depan Dewa Arak, dalam jarak sekitar tiga tombak. Arya memperhatikan pemuda itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Seorang pemuda bertubuh agak pendek, berwajah tampan, berpakaian merah muda.

"Siapa kau, Kisanak? Dan mengapa menuduhku pencuri?" tanya Arya. Nada suaranya terdengar agak ketus. Pemuda ini tidak senang dimaki seperti itu.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Kisanak," sergah pemuda berbaju merah muda itu sinis.

Kalau saja saat itu Dewa Arak berada dalam keadaan biasa, mungkin emosinya masih bisa dikuasai. Tapi karena perasaan pemuda berambut putih keperakan ini sedang kacau, sikap pemuda baju merah muda itu membuat
amarahnya meledak.

"Tidak usah berbelit-belit, Kisanak!" potong Arya keras. "Katakan, apa maksudmu sebenarnya?"

"Kau adalah pencuri!" tandas pemuda berbaju merah muda itu keras.
"Keparat! Jelaskan maksudmu, sebelum habis kesabaranku!"

Pemuda berpakatan merah muda itu tersenyum sinis.

"Mayat yang kau bawa itu adalah mayat guruku! Apakah bukan pencuri namanya kalau seseorang membawa kabur hak milik orang lain?"

Seketika itu juga kemarahan Dewa Arak mereda. Urat- urat syarafnya yang tadi menegang kini mulai mengendur.

"Jadi, kau murid Eyang Tapakjati?" tanya Arya meminta kepastian.

Pemuda berbaju merah muda itu mengangguk. Secercah senyuman sinis tersungging di mulutnya.

"Benar! Namaku Jayalaga!"
"Ah! Kalau begitu ada kesalahpahaman di sini," ucap Arya pelan, lebih mirip desahan.

Senyum sinis pemuda berpakaian merah muda yang ternyata bemama Jayalaga semakin melebar.

"Kesalahpahaman?! Sandiwara macam apa lagi yang kau mainkan, Pencuri?! Ayo, katakan siapa kau sebenar- nya!"

Wajah Dewa Arak kembali memerah. Lagi-lagi dia mendapat makian seperti itu. Kalau saja tidak ingat pemuda yang berdiri di hadapannya ini adalah murid kakek gurunya, sudah sejak tadi diberinya hajaran. Tapi, Arya menyabarkan diri.

"Aku bukan pencuri, Kisanak! Dan aku juga tidak sedang bersandiwara. Aku Arya, Arya Buana. Ayahku, Tribuana adalah murid Eyang Tapakjati. Jadi, aku terhitung cucu murid gurumu!" Jelas Arya panjang lebar.

Senyum sinis di wajah Jayalaga belum juga sirna, kendati Dewa Arak telah memperkenalkan dirinya.

"Lalu, mengapa kau hendak mencuri mayat guruku?"

"Ehm...!" Dewa Arak berdehem untuk meredakan amarah yang bergelora di hatinya. Murid kakek gurunya ini benar-benar keterlaluan. Diam-diam Arya bingung sendiri. Tidak salahkah kakek gurunya ini mengangkat murid? Mengapa sikapnya begitu kasar dan sombong? Tapi, pemuda berambut putih keperakan ini menelan kemarahannya. Biar bagaimanapun, pemuda di hadapan- nya ini masih terhitung paman gurunya dan dia harus menghormatinya.

"Mungkin kau lupa. Bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku bukan pencuri?!" ucap Arya setengah memprotes. Perasaan tidak senangnya pada pemuda baju merah muda ini membuatnya enggan untuk memanggil Jayalaga, paman guru.

"Mana ada pencuri mengaku?!" dengus Jayalaga.
"Dengar dulu penjelasanku!" selak Arya agak keras.

"Ahhh...! Kau berani membentakku?! Aneh..! Mana ada murid keponakan bersikap kurang ajar pada paman gurunya! Sikapmu semakin membuatku yakin kalau kau ini adalah seorang pencuri!"

"Aku terpaksa bicara kasar karena kau tidak mau men­dengar penjelasanku!" semakin meninggi ucapan Dewa Arak.

Lagi-lagi Jayalaga tersenyum sinis.

"BaiKiah, kudengarkan alasanmu. Bicaralah!"

Terdengar suara gemeretak ketika seluruh tulang-tulang Dewa Arak berkerotokan. Kemarahannya yang berkobar membuat tenaga dalamnya bergolak sendiri, dan membuat tulang-tulangnya bergemeretakan.

Pemuda berbaju merah muda itu terkejut juga begitu mendengar suara berkerotokan keras. Sesaat sepasang matanya menatap Dewa Arak penuh kekaguman, tapi di lain saat sudah kembali seperti biasa, memandang penuh ejekan.

"Semula kukira almarhum Eyang Tapakjati tidak mempunyai murid lagi selain ayahku dan Paman Wanayasa. Maka begitu kulihat dia telah tewas, kubawa dia pergi. Beliau akan kukuburkan di tempat yang layak." jelas Arya.

"Pintar juga kau memberi alasan! Tapi, aku perlu bukti kebenaran ucapanmu!"
"Maksudmu?" tanya Arya masih belum mengerti.

"Kau harus membuktikan kalau kau benar cucu murid Eyang Tapakjati!" tandas pemuda baju merah muda itu tegas.

"Bagaimana caranya?"
"Kita bertarung!" sahut Jayalaga tegas.
"Bertarung?!" Arya mengerutkan alisnya.
"Ya! Jaga seranganku! Hiyaaa...!"

Setelah berkata demikian, tanpa mempedulikan Dewa Arak yang belum bersiap, dan juga tubuh Eyang Tapakjati yang masih berada dalam pondongan Arya, Jayalaga telah menerjang. Tangan kanannya menyampok keras ke arah pelipis.

Wuukkk...!

Angin berhembus keras sebelum serangan itu sendiri tiba.

Dewa Arak mengerutkan alisnya. Perasaan heran kian menyelimuti hatinya. Benarkah pemuda berbaju merah muda ini murid kakek gurunya? Kalau memang benar, kenapa sikapnya mencurigakan sekali? Tindak-tanduknya mencerminkan sikap tokoh persilatan beraliran hitam! Menyerang pun tidak mempedulikan siap atau tidaknya Lawan.

Tapi, sungguh pun begitu, Dewa Arak tidak menjadi gugup. Buru-buru tubuhnya didoyongkan ke belakang, sehingga serangan itu lewat sejengkal di depan wajahnya.

Jayalaga menggeram keras tatkala mengetahui serangannya begitu mudah dielakkan lawan. Tangan kirinya pun segera menyusuli dengan sebuah sapuan dari bawah ke atas, ke arah rahang Dewa Arak.

Melihat hal ini, kecurigaan Dewa Arak kian bertambah besar. Benarkah Jayalaga ini murid kakek gurunya? Rasanya mustahil! Tidak sadarkah pemuda itu kalau serangan-serangan yang dilakukannya dapat mengenai gurunya sendiri?

Dewa Arak tidak punya pilihan lain. Mayat kakek gurunya harus diselamatkan dulu. Pemuda berambut putih keperakan ini tidak ingin mayat kakek gurunya terkena sasaran serangan nyasar Jayalaga yang nampaknya tidak mempedulikan mayat gurunya itu.

"Hih...!"

Dewa Arak melempar tubuhnya ke belakang, kemudian bersalto beberapa kali di udara. Tapi, Jayalaga rupanya tidak ingjn memberi kesempatan pada lawannya. Begitu dilihatnya tubuh pemuda berambut putih keperakan itu melenting ke udara, bergegas melompat menyusul seraya mengirimkan serangan-serangannya.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara kedua kaki Arya menjejak tanah. Tapi secepat itu pula, tubuhnya kembali dilempar ke belakang. Karena begitu kedua kakinya mendarat, Jayalaga pun telah mendaratkan kedua kakinya, seraya mengirim­kan sebuah tendangan melingkar.

Wuuuttt..!

Tendangan kaki Jayalaga mengenai tempat kosong, karena tubuh Dewa Arak sudah tidak ada lagi di situ. Pemuda berpakaian merah muda itu menggeram keras. Sekilas dilihatnya Arya telah meletakkan mayat Eyang Tapakjati di tanah.

"Rupanya kau menginginkan nyawaku, Jayalaga," gumam Arya pelan, tapi terdengar cukup keras di telinga Jayalaga. Dalam kedongkolannya, Arya tidak memanggil Paman Guru kepada Jayalaga. Tambahan lagi memang Dewa Arak masih meragukan pengakuan pemuda itu. Pelahan-lahan kakinya dilangkahkan menghampiri Jayalaga.

"Tidak usah banyak bacot, Pencuri Busuk! Keluarkan seluruh kemampuanmu, kalau kau tidak ingin mati sia-sia di tanganku!"

"Orang sepertimu harus diberi pelajaran, Jayalaga! Agar kau sadar, bahwa tidak hanya kau saja yang memlliki kepandaian di dunia ini!"

"Tutup mulutmu, Pencuri! Hiyaaa...!"

Jayalaga melesat menerjang Dewa Arak. Tubuhnya meluncur cepat di udara, seraya melontarkan tendangan ke dada Arya.

Dewa Arak hanya tersenyum kecut. Pemuda berbaju ungu ini ingin membuktikan pada Jayalaga kalau dia adalah cucu murid Eyang Tapakjati. Maka segera dimainkan ilmu yang telah diwarisi dari ayahnya, ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau', dan ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga'.

Begitu serangan kaki itu telah menyambar dekat, segera Dewa Arak memapak dengan kedua tangan terkepal disilangkan di depan dada. Dewa Arak tidak bersikap main- main lagi. Segera dikeluarkannya tiga perempat bagian tenaga dalamnya.

Bukkk!

Suara benturan keras terdengar, begitu kaki dan tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi itu beradu. Seketika itu juga tubuh Jayalaga terpental kembali ke belakang. Sekujur kaki yang tertangkis tangan Dewa Arak terasa sakit bukan main. Seolah-olah tulang-tulangnya berpatahan.

Meskipun begitu, dengan sebuah gerakan indah dan manis, Jayalaga mampu mematahkan tenaga yang membuat tubuhnya terlempar ke belakang. Tubuhnya berputar beberapa kali di udara, kemudian mendarat di tanah dengan agak terhuyung-huyung. Tampak mulutnya menyeringai kesakitan. Rupanya kaki yang tertangkis tangan Dewa Arak tadi masih terasa ngilu bukan maiin.

Jayalaga terperanjat kaget. Pemuda berbaju merah muda ini pun sadar kalau lawan memiliki tenaga dalam yang jauh lebih kuat darinya. Maka dia tidak mau bertindak bodoh untuk mengadu tenaga dalam lagi dengan Dewa Arak.

"Hiaaat...!"

Sambil memekik nyaring, Jayalaga kembali menyerang Dewa Arak. Kedua tangannya yang bergerak cepat memainkan ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga', menyambar-nyambar mencari sasaran.

Jayalaga tidak tahu kalau lawan yang dihadapinya adalah Dewa Arak. Maka meskipun telah dikerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, mudah saja bagi Dewa Arak untuk mengkandaskan semua serangan Jayalaga. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang jauh berada di atas lawannya, tidak sulit bagi Arya untuk mengelakkan setiap serangan.

Sebaliknya setiap serangan balasan Dewa Arak mem­buat Jayalaga kalang kabut. Bahkan beberapa kali serangan Arya hampir mengenai sasaran. Hanya dengan terpontang-panting saja pemuda baju merah muda itu berhasil mengelakkannya.

Pertarungan antara kedua orang yang menggunakan jurus-jurus yang memiliki kemiripan satu sama lain itu berlangsung cepat. Tapi pertarungan jadi kurang menarik, karena kedua belah pihak telah cukup mengenal jurus masing-masing. Dan dengan sendirinya telah bisa memperkirakan arah serangan yang dituju, dan ke mana arah serangan selanjutnya akan dilancarkan.

Jayalaga mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Pemuda berbaju merah muda ini nampaknya bersemangat sekali untuk bisa menjatuhkan lawannya. Tapi, setelah pertarungan berlangsung tiga puluh lima jurus, pelahan namun pasti murid Eyang Tapakjati ini terdesak.

Memang dalam hal mutu ilmu silat, Jayalaga tidak kalah. Tapi dalam hal kekuatan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, pemuda berbaju merah muda ini berada di bawah lawannya. Maka tidak mengherankan kalau pemuda ini segera saja terdesak. Berkali-kali, karena terpaksa dan tidak ada jalan lain lagi, Jayalaga terpaksa menangkis serangan Dewa Arak. Dan akibatnya sudah bisa diduga. Tubuhnya pun terjengkang ke belakang, dengan dada terasa sesak.

Tapi meskipun begitu, Jalayaga yang memang terhitung orang yang mempunyai sifat keras hati, tidak mau menyerah. Tetap saja dia menyerang semakin dahsyat.

Tentu saja hal ini membuat Dewa Arak menjadi jengkel. Jayalaga terhitung pemuda yang tidak tahu dikasih hati, pikirnya. Sungguh pun pemuda yang ini, menilik ilmu-ilmu yang dimainkannya, benar murid kakek gurunya. Dan dengan sendirinya terhitung paman guru Dewa Arak, perlu diberi pelajaran agar tidak bersikap seperti itu lagi pada orang lain.

"Hiaaat..!"

Jayalaga mengirimkan serangan berupa tinju kanan ke arah dada Dewa Arak. Kali ini Arya yang memang bermaksud memberi hajaran, segera bertindak. Segera tubuhnya didoyongkan ke kanan, seraya mengangkat tangan kiri menangkis.

Wuuuttt..! Plakkk!

Untuk yang kesekian kalinya. Jayalaga menyeringai kesakitan. Dan sebelum dia sempat berbuat sesuatu, kaki kanan Dewa Arak telah melayang ke arah dada. Buru-buru diletakkan tangan kirinya ke bawah, menangkis tendangan itu.

Takkk! Bukkk...!
"Hugh...!"

Tubuh Jayalaga tenengkang ke belakang ketika tendangan Dewa arak menghantam perutnya. Keras bukan main tendangan itu. Sehingga beberapa saat lamanya, pemuda berbaju merah muda ini hanya mampu mem- bungkukkan tubuh sambil memegang perutnya

Diam-diam di dalam hati. Jayalaga takjub akan kejadian yang terjadi begitu cepat. Sungguh tidak disangkanya kalau kaki pemuda berambut putih keperakan itu mampu mengirimkan tendangan berantai yang begitu cepat. Begitu tendangannya ke arah dada tertangkis, Dewa Arak menarik pulang kakinya sedikit. Dan secepat itu pula menyusulinya dengan tendangan ke perut.

"Bagaimana?" tanya Arya seraya menghampiri Jayalaga yang masih membungkukkan tubuh. "Masih perlukah bukti kalau aku termasuk cucu murid Eyang Tapakjati?"

Pelahan-lahan Jayalaga meluruskan kembali tubuhnya. Mulutnya menyeringai, begitu merasakan sakit yang mendera ketika tubuhnya diluruskan.

"Tidak, tidak perlu lagi. Kau memang jelas cucu murid guruku." sahut pemuda berpakaian merah muda itu cepat. Sejak tadi pun sudah diketahuinya kalau pemuda berambut putih keperakan itu adalah cucu murid Eyang Tapakjati. Ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga' yang dimainkan pemuda berambut putih keperakan itu telah membuat persoalannya menjadi jelas.

***

"Kalau begitu, mari kita urus mayat Kakek Guru dulu," usul Dewa Arak.

"Usul yang baik sekali." sahut Jayalaga cepat. Lega hati Dewa Arak melihat sambutan pemuda berbaju merah muda itu yang kini sudah tidak sinis seperti sebelumnya. Sesaat kemudian. Arya segera beranjak menuju tempat mayat Eyang Tapakjatl tergolek.

Dengan mulut masih menyeringai, Jayalaga segera melangkah di belakang Dewa Arak.

Arya membungkukkan tubuhnya, dan membopong kembali mayat kakek gurunya. Dibawanya mayat itu ke sebuah tempat di bawah pohon yang rindang. Tempat yang diperkirakannya cocok untuk menjadi peristirahatan ter- akhir Eyang Tapakjati.

Setelah meletakkan mayat itu kembali di tanah, Dewa Arak mulai sibuk menggali sebuah lubang di bawah kerimbunan pepohonan yang lebat. Berkat tenaga dalamnya yang memang sudah mencapai tingkatan tinggi, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk menggali.

Sesaat kemudian sebuah lubang untuk mengubur mayat manusia telah siap. Segera Jayalaga menaruh mayat Eyang Tapakjati di dalam lubang itu. Kemudian Dewa Arak ber- sama pemuda berpakaian merah muda itu bersama-sama menimbuninya dengan gumpalan tanah dan batu-batu.

Dewa Arak menatap wajah Jayalaga tajam-tajam. Dalam jilatan cahaya matahari yang sudah agak tergelincir ke Barat, dilihatnya pemuda itu tertunduk sedih. Bahkan sepasang matanya merembang berkaca-kaca. Sepertinya kematian gurunya membuat pemuda itu terpukul! Kematian Eyang Tapakjatikah yang membuat sikap pemuda berbaju merah muda ini jadi aneh? duga Dewa Arak dalam hati."Sudahlah, Paman. Kematian Eyang Tapakjati tidak perlu kita sesali. Yang sudah berlalu biarkan berlalu. Walaupun kita mengeluarkan air mata darah, yang telah mati tidak akan bangkit kembali," hibur Dewa Arak. Kini pemuda berambut putih keperakan itu memanggil Jayalaga dengan panggilan menghormat.

"Aku menyesal sekali, Arya. Kau bisa berkata begitu karena tidak melihat sendiri kematian Eyang Tapakjati, sedangkan aku? Aku melihat dengan mata kepala sendiri ketika salah satu dari tiga orang sakti itu membantainya! Kalau saja tidak mengingat pesan Guru, sudah sejak tadi aku terjun ke kancah pertempuran membantunya meng- hadapi orang-orang biadab itu!" bantah Jayalaga keras. Memang Dewa Arak telah memberitahukan namanya selagi mereka mengubur mayat Eyang Tapakjati.

"Jadi, Paman melihat semua kejadian itu?" tanya Arya terkejut.
"Yahhh ..." Jayalaga menganggukkan kepalanya.
"Paman kenal orang yang telah membunuh Eyang?" tanya Arya lagi.

Agak ragu-ragu pemuda berpakaian merah muda itu menganggukkan kepalanya.

"Aku hanya tahu kalau kedatangan mereka hendak mencari seorang pemuda yang berjuluk Dewa Arak. Mereka berjuluk Tiga Macan Lembah Neraka. Kedatangan mereka untuk menuntut balas atas kematian Raksasa Rimba Neraka."

Dewa Arak mengerutkan alisnya. Cerita Jayalaga sudah didengarnya dari mulut Eyang Tapakjati.

"Apakah kau dapat mengingat ciri-ciri ketiga orang itu, Paman?" tanya Dewa Arak lagi.

"Aku ingat, Arya," sahut Jayalaga sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian diceritakannya ciri-ciri ketiga orang yang berjuluk Tiga Macan Lembah Neraka itu.

"O ya, Paman. Aku masih belum mengerti dengan sikap Paman tadi," ucap Dewa Arak tak kuat menyimpan perasaan itu.

"Hhh...!" Jayalaga menghela napas panjang. "Lupa- kanlah, Arya. Tadi aku masih terpukul dengan kematian Eyang Tapakjati"

"Lalu sikap Paman yang menyerang tanpa mem­pedulikan mayat Kakek Guru tadi?" tanya Arya lagi.

Jayalaga tersenyum.

"Itu memang kusengaja, Arya. Aku hanya ingin mengetahui kebenaran pengakuanmu. Kalau kau memang benar cucu murid Eyang Tapakjati, tentunya kau akan melindungi mayat itu mati-matian. Tapi bila kau hanya mengaku-aku saja, pasti kau tidak akan mempeduli- kannya," jelas Jayalaga.

"Ah...!" Dewa Arak berseru kaget. Kini baru di- mengertinya mengapa pemuda berpakaian merah muda ini menyerang kalang-kabut. Sesaat suasana pun menjadi hening.

"Kalau begitu, aku pergi dulu, Paman. Aku akan mencari mereka," ucap Arya tiba-tiba.
"Tunggu dulu, Arya," cegah Jayalaga cepat "Kita pergi sama-sama. Setelah kematian Guru, rasanya aku sudah tidak betah lagi tinggal di sini."

"Kalau begitu, cepatlah, Paman," sambut Dewa Arak tidak sabar.
"Tunggu sebentar, Arya."
"Ada apa lagi, Paman?"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Arya."
"Apa itu, Paman?"

Jayalaga terdiam. Ditatapnya wajah Dewa Arak dalam- dalam.

"Apakah kau yang berjuluk Dewa Arak, Arya?" tanya pemuda berbaju merah muda itu. Sejak tadi sewaktu Dewa Arak memberitahukan namanya, Jayalaga telah berpikir keras. Mengingat-ingat di mana pernah didengamya nama itu. Dan baru sekarang saja dia teringat kembali.

"Hhh...!" Dewa Arak menghela napas dalam-dalam. "Begitulah orang menjulukiku, Paman."

"Julukan yang aneh," desah Jayalaga sambil tersenyum. Sepasang matanya menatap sekilas pada guci arak yang tersampir di punggung Dewa Arak.

"Mungkin karena aku selalu meminum arak sebelum bertarung," kilah Arya begitu dilihatnya sepasang mata paman gurunya melirik ke arah guci arak di punggungnya,

"Mengapa begitu, Arya?" tanya Jayalaga lagi.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Dewa Arak pun men- ceritakan semuanya. Mulai dari keistimewaan guci itu, sampai pada ilmunya yang akan menjadi lumpuh jika tidak minum arak sebelum bertarung.

Jayalaga mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti.

"Bagaimana, Paman? Sudah cukup jelas?" tanya Arya setelah mengakhiri penjelasannya.

"Cukup, Arya."

"Kalau begitu, mari kita berangkat." ajak Dewa Arak, seraya melesat dari situ. Tentu saja Arya tidak mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Pemuda berambut putih keperakan ini hanya mengerahkan separuh ilmu meringankan tubuhnya, agar Jayalaga tidak tertinggal terlalu jauh.

***

"Ha ha ha...!"

Terdengar tawa bergelak dari mulut seorang laki-laki bertubuh pendek dan gemuk berkulit merah. Pakaiannya berupa rompi dari kulit macan tutul. Siapa lagi kalau bukan Macan Tutul Lembah Neraka! Salah seorang dari Tiga Macan Lembah Neraka.

Macan Tutul Lembah Neraka berdiri di tengah-tengah halaman yang luas, di depan sebuah gedung yang dikelilingi pagar kayu bulat yang tinggi. Di sekeliling laki-laki bertubuh gemuk pendek ini berdiri berpuluh-puluh orang berseragam sebuah perguruan silat. Rata-rata raut wajah pengepung itu memancarkan kemarahan yang amat sangat. Sementara di belakang orang-orang ini, bergeletakan belasan sosok tanpa nyawa.

Seorang laki-laki berusia setengah baya bertubuh sedang, mendekati Macan Tutul Lembah Neraka yang masih saja tertawa-tawa. Di punggung tangannya terlihat rajahan bergambar sebuah kapak. Laki-laki ini adalah Ketua Perguruan Kapak Sakti. Ki Gelagar namanya.

"Siapa kau, Kisanak? Dan mengapa mengacau per- guruanku?" tanya Ki Gelagar penuh wibawa.

Macan Tutul Lembah Neraka tertawa bergelak.

"Aku? Ha ha ha.... Orang persilatan mengenalku sebagai Macan Tutul Lembah Neraka! Dan kedatanganku kemari adalah untuk menanyakan di mana orang yang berjuluk Dewa Arak! Katakan padaku, di mana dia berada! Kalau tidak   "

Ki Gelagar terkejut bukan main. Sebagai seorang tokoh persilatan, tentu saja Ketua Perguruan Kapak Sakti ini memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai dunia persilatan. Dia tahu betul siapa itu tokoh yang berjuluk Macan Tutul Lembah Neraka.

Salah seorang dari Tiga Macan Lembah Neraka! Tokoh- tokoh yang berwatak ganjil, dan juga berkepandaian tinggi. Tapi, orang yang dicari Macan Tutul Lembah Neraka ini pun adalah seorang tokoh yang tidak kalah terkenal. Nama Dewa Arak telah bergaung ke seluruh penjuru desa, kadipaten-kadipaten, bahkan ke kotaraja.

"Sayang sekali, Macan Tutul Lembah Neraka. Aku tidak tahu di mana orang yang kau cari itu." jawab Ki Gelagar mencoba bersikap tenang.

"Apa kau bilang?!" sentak Macan Tutul Lembah Neraka keras. "Berani kau bilang tidak tahu? Apa kau sudah bosan hidup?!"

Ki Gelagar menarik napas panjang, dan meng- hembuskannya kuat-kuat.

"Aku memang tidak mengetahui di mana Dewa Arak berada, Macan Tutul Lembah Neraka. Tapi percayalah, apabila aku bertemu dengannya, akan kukatakan kalau kau tengah mencarinya. Bagaimana? Kau menerima usulku?"

Macan Tutul Lembah Neraka menggelengkan kepalanya.

"Sayang sekali. Aku tidak bisa menerima usulmu. Aku tidak sabar menunggu terlalu lama."

"Jadi...?" tanya Ki Gelagar dengan jantung berdegup keras. Firasat Ketua Perguruan Kapak Sakti itu mengata- kan ada bahaya yang mengancam. Seluruh urat-urat syaraf di tubuhnya mendadak menegang, bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kedua tangannya telah menyentuh gagang kapaknya.

"Aku akan menggunakan cara lain yang kutahu pasti sangat ampuh untuk memancing pemuda itu mencariku! Kau ingin tahu...?!"

"Apa itu?" tanya Ki Gelagar setengah hati. Tapi Macan Tutul Lembah Neraka seolah-olah tidak mendengar pertanyaan itu. Enak saja dilanjutkan ucapannya.

"Dari salah seorang penduduk, kudengar Dewa Arak ada di desa ini. Sekarang aku hanya tinggal memancing kedatangannya saja! Akan kubuat kekacauan di seluruh desa ini. Pasti dia akan datang! Dan aku memilih perguruanmu!"

"Keparat!" maki Ki Gelagar. Seketika itu juga kedua tangannya bergerak. Sesaat kemudian, di kedua tangannya telah tergenggam sepasang kapak berwarna hitam mengkilat.

"Haaat..!"

Sambil mengeluarkan seruan nyaring, Ki Gelagar memutar-mutarkan kedua senjatanya. Angin menderu keras, mengiringi putaran kapak itu.

"Hiyaaa...!"

Ki Gelagar menerjang Macan Tutul Lembah Neraka. Kapak hitam mengkilat di tangan kanannya diayunkan ke arah kepala laki-laki pendek gemuk itu. Sebenamya sasaran serangan kapak itu adalah ke leher. Tapi karena tubuh Macan Tutul Lembah Neraka yang terlalu pendek, serangan kapak itu jadi mengarah ke kepala.

Wuuuttt..!

Sebelum serangan itu tiba, Macan Tutul Lembah Neraka telah terlebih dulu melompat, membuat serangan kapak Ki Gelagar mengenai tempat kosong dan lewat di bawah kakinya lawannya.

Begitu tubuhnya berada di udara, laki-laki pendek gemuk itu langsung menerkam Ki Gelagar dengan kedua tangan mencengkeram ke arah leher.

"Ah...!" Ketua Perguruan Kapak Sakti terpekik kaget. Serangan itu datang tak terduga sama sekali. Sebisa- bisanya dilempar tubuhnya ke belakang dan bergulingan menjauh.

Tapi Macan Tutul Lembah Neraka yang memang berwatak kejam, tidak mau melepaskan lawannya begitu saja. Segera dia melompat memburu.

Para murid Perguruan Kapak Sakti yang melihat keadaan guru mereka terancam, tidak tinggal diam. Bagai dikomando, serentak mereka menghadang.

Suara desing kapak yang saling berkelebatan, mengancam tubuh Macan Tutul Lembah Neraka. Sehingga membuat laki-laki pendek gemuk ini terpaksa menunda serangannya terhadap Ki Gelagar. Kedua tangannya ber­kelebatan cepat.

Hebat bukan main akibatnya. Para penyerang Macan Tutul Lembah Neraka berpentalan, sebelum serangan mereka mengenai tubuhnya. Ada hembusan angin keras keluar dari tangan yang berputaran itu, angin yang membuat tubuh murid-murid Perguruan Kapak Sakti berpentalan tak tentu arah.

Terdengar suara berdebukan keras hampir berbarengan, begitu tubuh para pengeroyok yang sial itu berjatuhan. Beberapa saat lamanya mereka tak mampu bangkit. Dada mereka terasa sesak bukan main. Padahal tidak sedikit pun mereka tersentuh tangan Macan Tutul Lembah Neraka.

"Haaattt..!"

Ki Gelagar yang kini telah dapat memperbaiki posisinya, kembali menerjang lawannya. Sepasang kapak hitamnya kembali berkelebat cepat mengancam berbagai bagian tubuh Macan Tutul Lembah Neraka. Sesaat kemudian kedua orang ini pun sudah terlibat dalam sebuah per­tarungan sengit kembali.

Serangan sepasang kapak di tangan Ki Gelagar memang luar biasa. Sungguh tidak terlalu berlebihan kalau perguruan yang dipimpinnya dinamakan kapak sakti. Serangan sepasang kapaknya datang susul-menyusul seperti gelombang laut. Angin berkesiutan tajam mengiringi setiap gerakan kapak itu.

Tapi lawan yang dihadapi Ki Gelagar adalah seorang tokoh rimba persilatan aliran hitam yang memiliki kepandaian luar biasa. Tingkat kepandaian laki-laki pendek gemuk ini memang jauh di atas Ketua Perguruan Kapak Sakti. Baik dalam hal tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuh. Hasilnya, sungguh pun kedua kapak di tangan Ki Gelagar datang laksana gelombang, tetap saja laki-laki pendek gemuk ini mampu mengelak tanpa mengalami kesulitan.

Ki Gelagar menggertakkan gigi. Sejak semula sudah diduganya kalau dia bukanlah tandingan tokoh dari Lembah Neraka ini. Tapi, meskipun begitu Ketua Perguruan Kapak Sakti ini tetap mengerahkan seluruh kemampuan untuk mempertahankan selembar nyawanya.

Belasan jurus telah berlalu. Dan sampai sejauh ini tak ada satu pun serangan Ki Gelagar yang mengenai sasaran. Jangankan mengenai sasaran, tanda-tanda mendesak pun belum tampak. Padahal hingga saat ini Macan Tutul Lembah Neraka belum balas menyerang.

"Sekarang giliranku...!" seru Macan Tutul Lembah Neraka begitu Ki Gelagar kembali mengayunkan kapak ke arah kepalanya. Laki-laki pendek gemuk ini mengangkat tangan kirinya menangkis serangan itu.

Tuk..!
"Akh...!"

Ki Gelagar memekik tertahan. Pergelangan tangannya yang membentur tangan Macan Tutul Lembah Neraka terasa sakit bukan main. Seolah-olah yang berbenturan dengan tangannya bukan tangan manusia yang terdiri dari tulang dan daging, tapi potongan baja yang keras bukan main.

Tak pelak lagi kapak Ki Gelagar pun terlepas dari pegangan. Dan sebelum sempat berbuat sesuatu, kaki laki- laki pendek itu telah dikibaskan ke arah lututnya. Cepat bukan main gerakan Macan Tutul Lembah Neraka ini

Tukkk!
"Akh...!"

Ki Gelagar memekik tertahan ketika lututnya terhantam ujung kaki lawan. Seketika itu juga sambungan tulang lututnya terlepas! Kontan tubuh Ketua Perguruan Kapak Sakti ini oleng. Dan di saat itulah, Macan Tutul Lembah Neraka meluruk menyerbu. Kedua tangannya menyambar deras ke arah dada dan ulu hati Ki Gelagar.

Ki Gelagar terkejut bukan main. Tak terasa mulutnya memekik kaget. Disadari kalau dirinya tidak akan mampu mengelakkan serangan itu. Dan maut sudah berada di ambang pintu Ketua Perguruan Kapak Sakti ini tidak mampu berbuat apa-apa lagi, selain membelalakkan sepasang matanya, menanti datangnya maut.

Tapi di saat gawat bagi keselamatan Ki Gelagar, dari arah kanan terdengar suara mencicit nyaring, disusul dengan melesatnya benda berkilat ke arah pelipis Macan Tutul Lembah Neraka.

Sekilas Macan Tutul Lembah Neraka mengenal serangan maut. Dari suara desingannya, sudah bisa diukur kekuatan tenaga dalam pengirimnya. Maka laki-laki bertubuh gemuk pendek itu tidak berani bertindak gegabah. Cepat dibatalkan serangannya terhadap Ki Gelagar, lalu tubuhnya dibanting ke tanah. Kemudian bergulingan menjauh. Secara refleks, sudut matanya melirik benda yang menyambarnya tadi.

Laki-laki pendek gemuk ini terkejut bukan main tatkala melihat benda yang mengancam pelipisnya ternyata adalah benda cair. Entah air atau arak, dia tidak bisa memastikan.

Tapi yang jelas hal ini membuatnya terkejut bukan main. Seseorang yang dapat membuat air atau benda cair menjadi sebuah senjata rahasia, membuktikan kelihaian si pengirim serangan itu sendrri.

"Hih...!"

Tubuh Macan Tutul Lembah Neraka melenting ke atas, lalu mendarat dengan sikap waspada. Beberapa tombak di depannya, di sebelah Ki Gelagar, telah berdiri dua orang pemuda. Yang seorang berpakaian merah muda, sementara yang seorang lagi berpakaian ungu, berambut putih keperakan. Sebuah guci arak terbuat dari perak terpegang di tangan kanannya. Kedua orang ini adalah Dewa Arak dan Jayalaga. Dewa Araklah yang tadi telah menyelamatkan nyawa Ki Gelagar dengan semburan araknya.

Beberapa saat lamanya Dewa Arak dan Macan Tutul Lembah Neraka saling tatap.

"Dialah salah seorang dari Tiga Macan Lembah Neraka itu, Arya," bisik Jayalaga ke telinga Arya.

"Ehm...," Dewa Arak hanya berdehem untuk menutupi amarahnya yang bergolak di dalam dada. Kemudian diangkatnya guci araknya, lalu dituangkan ke mulutnya.

Gluk... gluk... gluk...!

Suara tegukan terdengar begitu arak itu melewati tenggorokan pemuda berambut putih keperakan itu. Tiba- tiba Macan Tutul Lembah Neraka menggeram.

"Kaukah orang yang berjuluk Dewa Arak?!" tanya salah seorang tokoh Tiga Macan Lembah Neraka ini keras. Sorot matanya menyiratkan hawa maut.

Arya menurunkan kembali guci araknya.

"Begitulah orang-orang menjulukiku. Kaukah orang yang telah membunuh Eyang Tapakjati?!" Dewa Arak balik bertanya. Dalam suara pemuda itu terkandung ancaman.

"Ha ha ha...! Sungguh tidak kusangka kalau begitu mudahnya aku bisa menemukanmu, Dewa Arak! Kuakui, memang akulah yang membunuh Eyang Tapakjati. Aku Macan Tutul Lembah Neraka. Lalu kau mau apa?!" tantang laki-laki pendek gemuk itu.

"Aku akan membalaskan dendamnya padamu! Kau kejam, Macan Tutul Lembah Neraka! Kau telah membunuh orang yang sama sekali tidak tahu-menahu dengan urusanmu!"

Macan Tutul Lembah Neraka mendengus.

"Aku tidak peduli!" sergah laki-laki pendek gemuk itu keras. "Pokoknya, siapa pun yang mempunyai hubungan denganmu harus mampus!"

"Kaulah yang harus mati, Macan Tutul Lembah Neraka! Sebagai balasan atas kekejianmu pada Eyang Tapakjati!"

"Kaulah yang harus mampus, Dewa Arak! Kau telah membunuh sahabatku, Raksasa Rimba Neraka! Kini aku meminta nyawamu sebagai gantinya! Hiya...!"

Setelah berkata demikian, Macan Tutul Lembah Neraka, meloncat menerjang Dewa Arak. Tubuhnya yang pendek dan gemuk ini sama sekali tidak mempengaruhi kelincahan gerakannya. Kedua tangannya melakukan sampokan beruntun ke arah ubun-ubun, dan pelipis.

Dewa Arak bersikap tenang. Dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang', tidak sulit baginya untuk mengelakkan setiap serangan itu. Dan dengan gerakan unik, langkah kaki sempoyongan dan tubuh terhuyung-huyung dielakkan serangan itu. Di lain saat, tubuhnya sudah tidak berada lagi di situ. Sehingga semua serangan Macan Tutul Lembah Neraka mengenai tempat kosong.

Laki-laki bertubuh pendek gemuk itu terkejut bukan main tatkala mendengar desiran angin keras menyambar di belakang tubuhnya. Ternyata Dewa Arak telah mengayunkan guci ke arah kepalanya. Buru-buru Macan Tutul Lembah Neraka melempar tubuh ke depan kemudian bergulingan, sehingga ayunan guci itu mengenai tempat kosong.

Dewa Arak yang tengah diamuk dendam, tidak membiarkan lawannya lolos begitu saja. Segera diburunya tubuh yang bergulingan itu. Cepat laksana kilat, gucinya disampirkan kembali ke punggung. Dan begitu guci itu telah kembali di punggung, dengan gerakan aneh dan tidak terduga-duga kedua tangannya melancarkan serentetan serangan ke arah tubuh yang sedang bergulingan itu.

Dalam keadaan kritis itu, Macan Tutul Lembah Neraka masih sempat membuktikan kalau dirinya adalah tokoh yang pantas menjadi salah seorang dari Tiga Macan Lembah Neraka. Sambil terus bergulingan, kedua tangannya melakukan tangkisan beruntun.

Plak, plak, plak... !

Suara benturan keras terdengar berulang-ulang begitu dua pasang tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi beradu. Macan Tutul Lembah Neraka menyeringai. Dirasakan sekujur tangannya terasa lumpuh. Bahkan dadanya pun dirasakan sesak bukan main. Laki-laki pendek gemuk ini pun sadar kalau tenaga dalam Dewa Arak lebih unggul darinya. Kenyataan ini membuatnya tidak berani lagi mengadu tenaga dalam dengan pemuda berambut putih keperakan itu.

Saat-saat selanjutnya Macan Tutul Lembah Neraka hanya mengelakkan diri terus dari hujan serangan Dewa Arak. Tubuhnya bergulingan terus, menghindarkan diri dari cecaran serangan Arya. Tapi sampai kapan laki-laki bertubuh pendek gemuk ini dapat terus bertahan dengan hanya mengelak terus-menerus?

Hal itu pun disadari oleh Macan Tutul Lembah Neraka, sehingga pada suatu saat...

"Hih...!"

Tiba-tiba saja seleret sinar keperakan menyambar ke perut Dewa Arak yang masih terus mencecar tubuh Macan Tutul Lembah Neraka yang bergulingan. Ternyata, sambil bergulingan tadi tangan laki-laki bertubuh pendek gemuk itu menyelinap ke balik pinggangnya. Dan dari situ, dikeluarkan senjata andalannya, sebuah ruyung perak! Begitu keluar dari tempatnya, langsung saja disabetkan ke perut Dewa Arak.

"Ah...!" Dewa Arak memekik tertahan seraya melenting ke belakang. Arya terkejut bukan main karena serangan ruyung itu datang begitu tiba-tiba.

Wuuuttt..!

Serangan ruyung itu mengenai tempat kosong. Tapi, itu tidak dipedulikan oleh Macan Tutul Lembah Neraka. Memang tujuan dari serangan ini hanyalah ingin mem- bebaskan diri dari cecaran serangan Dewa Arak. Maka begitu tubuh Dewa Arak melenting menjauh. Segera Macan Tutul Lembah Neraka bersalto beberapa kali dan mendarat ringan tiga tombak di depan Dewa Arak.

Wuk, wuk, wuk...!

Macan Tutul Lembah Neraka memutar ruyungnya. Suaranya menderu keras, seolah-olah di tempat itu terjadi badai. Murid-murid Perguruan Kapak Sakti pun bergegas menjauh.

"Hiyaaa...!"

Macan Tutul Lembah Neraka berteriak keras. Ruyung di genggamannya diayunkan ke kepala Dewa Arak.

Wuuukkk...!

Sambaran ruyung itu mengenai tempat kosong. Lewat setengah jengkal di atas kepala Dewa Arak begitu pemuda berambut putih keperakan ini menundukkan kepalanya. Ram but dan pakaian Dewa Arak berkibaran keras, pertanda betapa kuatnya tenaga dalam yang terkandung dalam babatan ruyung itu.

Tapi Dewa Arak tidak tinggal diam. Dengan ilmu 'Belalang Sakti', dihadapinya lawan dengan tangan kosong. Sesaat kemudian terjadilah pertempuran sengit.

Pertarungan antara kedua tokoh yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi itu berlangsung cepat. Sehingga tak terasa lima puluh jurus telah berlalu. Dan sampai sejauh itu Dewa Arak masih saja melayani Macan Tutul Lembah Neraka dengan tangan kosong. Guci peraknya tetap tersampir di punggung.

Hebat memang akibat yang ditimbulkan oleh dua orang tokoh sakti yang tengah bertarung ini. Pagar kayu bulat yang mengelilingi halaman itu, porak-poranda tersambar angin pukulan yang nyasar. Di sana-sini tanah terbongkar, bagaikan habis dibajak. Pohon-pohon yang berada dekat situ bertumbangan. Debu pun mengepul tinggi ke udara.

"Hih...!"

Tiba-tiba Dewa Arak memekik keras. Sesaat kemudian guci araknya telah tergenggam di tangan kanannya. Dan dengan guci di tangan, pemuda berambut putih keperakan ini, kini menghadapi lawan.

Begitu Dewa Arak mempergunakan gucinya, Macan Tutul Lembah Neraka mulai merasakan serangan-serangan lawannya begitu berat. Apa lagi, Dewa Arak terkadang menyerang lawannya dengan semburan-semburan arak dari mulutnya.

Lewat tujuh puluh Jurus Macan Tutul Lembah Neraka mulai terdesak. Laki-laki pendek gemuk itu diam-diam mengeluh dalam hati. Sungguh tidak disangkanya kalau kepandaian Dewa Arak begitu tinggi. Pantaslah kalau Raksasa Rimba Neraka sampai tewas di tangan pemuda berambut putih keperakan ini, pikirnya memaklumi.

Pelahan namun pasti gerakan ruyung perak di tangan Macan Tutul Lembah Neraka mulai terbatas ruang geraknya. Beberapa kali, sewaktu ruyung beradu dengan guci, tubuh laki-laki pendek gemuk itu terhuyung-huyung ke belakang. Macan Tutul Lembah Neraka juga merasakan sekujur tangannya seperti lumpuh, dadanya pun terasa sesak setiap kali terjadi benturan pada kedua senjata mereka.

Pada jurus ke sembilan puluh dua, Dewa Arak meng- ayunkan gucinya ke arah kepala Macan Tutul Lembah Neraka. Laki-laki pendek gemuk itu segera merundukkan kepalanya, sehingga ayunan guci itu lewat di atas kepalanya. Tapi sungguh tak disangka kalau di saat itu kaki Dewa Arak bergerak cepat mengarah ke perutnya.

Bukkk!
"Hugh...!"

Telak dan keras bukan main tendangan itu menghantam perut Macan Tutul Lembah Neraka. Seketika laki-laki pendek gemuk itu membungkukkan tubuhnya. Perutnya dirasakan mual dan mules bukan main. Sadarlah Macan Tutul Lembah Neraka kalau dia bukan tandingan Dewa Arak.

Baru saja Dewa Arak bergerak hendak melancarkan serangan susulan Macan Tutul Lembah Neraka segera memijit salah satu bagian ruyung peraknya.

Serrrr! Serrr... !

Terdengar suara berdesir begitu dari ujung ruyung yang tiba-tiba terbuka itu melesat puluhan jarum-jarum halus ke arah Dewa Arak.

Melihat hal ini, Dewa Arak tidak berani bersikap gegabah. Bukan tidak mungkin kalau jarum-jarum itu mengandung racun ganas. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, segera pemuda berambut putih keperakan ini melompat ke samping.

Dan di saat Dewa Arak tengah sibuk menghadapi jarum- jarum beracun itu, Macan Tutul Lembah Neraka segera melesat pergi dari situ. Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang memang sudah mencapai tingkatan tinggi, dalam beberapa kali lompatan saja laki-laki pendek gemuk itu sudah berada jauh dari situ.

"Kalau kau masih penasaran, kau boleh mencariku di Hutan Parigi, dekat Bukit Tombok...!" terdengar suara keras berkumandang di sekitar halaman Perguruan Kapak Sakti itu.

"Hhh...!"

Dewa Arak menghela napas panjang. Disadarinya kalau tidak mungkin lagi baginya dapat mengejar lawannya. Macan Tutul Lembah Neraka telah berada jauh dari situ. Dibiarkan saja Macan Tutul Lembah Neraka lenyap di kejauhan. Toh, laki-laki pendek gemuk itu telah mem- beritahukan tempat tinggalnya.

Dengan langkah lesu, Dewa Arak menghampiri Jayalaga yang berdiri di samping Ki Gelagar.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Anak Muda," ucap

Ketua Perguruan Kapak Sakti itu sambil mengulurkan tangan pada Dewa Arak. Arya pun segera menjabatnya erat-erat. "Kalau tidak karena pertolonganmu, mungkin saat ini aku sudah tewas di tangan Macan Tutul Lembah Neraka. Hhh...! Iblis itu benar-benar lihai sekali!"

Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan merah. Sesaat kemudian di hadapan Dewa Arak telah berdiri seorang gadis cantik berambut panjang, berpakaian merah menyala.

"Terima kasih atas pertolonganmu... nggg... boleh aku memanggilmu, Kakang?" tanya gadis berpakaian merah menyala itu sambil tersenyum manis.

"Boleh saja," sahut Dewa Arak tersenyum. "Kalau boleh kutahu siapa namamu, Nini?"

Wajah gadis berpakaian merah menyala itu memerah.

"Aku Puspa Rani, Ki Gelagar adalah ayahku...," lembut suara gadis itu.

"Lupakanlah, Puspa. Manusia hidup harus saling tolong menolong. Dan hanya kebetulan saja, aku yang kali ini menolong ayahmu. Bukan tidak mungkin kalau esok atau lusa, ayahmu atau malah kau sendiri yang menolongku. Siapa tahu?"

Tanpa sepengetahuan Dewa Arak, ada sepasang mata yang memandang penuh kebencian ke arahnya, begitu melihat pemuda berambut putih keperakan itu berbincang- bincang dengan Puspa Rani. Sepasang mata milik Jayalaga.

"O ya, Ki, Puspa. Aku permisi, dulu. Aku harus mengejar musuh-musuhku sebelum mereka pergi. Mari, Paman." setelah berkata demikian, Dewa Arak segera melesat dari situ, diikuti oleh Jayalaga.

"Sering-seringlah mampir, Kang," teriak Puspa Rani keras.
"Mudah-mudahan, Puspa," sahut Dewa Arak.

Ki Gelagar, Puspa Rani dan seluruh murid Perguruan Kapak Sakti memandangi kepergian Dewa Arak hingga bayangan pemuda itu lenyap di kejauhan.

"Siapakah pemuda itu, Ayah?" tanya Puspa Rani sambil berjalan ke dalam rumah bersama ayahnya. Pelan sekali suaranya, lebih mirip bisikan.

"Yang mana?" goda Ki Gelagar.

"Yang mana lagi?!" sergah Puspa Rani masih dengan suara berbisik. "Kalau yang satu lagi sih, aku sudah kenal, Ayah. Bukankah dia murid Eyang Tapakjati?"

"Jadi, maksudmu..." Ki Gelagar sengaja menahan ucapannya.

"Tentu saja pemuda yang telah menolong Ayah!" sentak gadis pakaian merah menyala ini agak keras.

"Ooo... dia?!" ucap Ki Gelagar pura-pura baru mengerti.
"Ya. Dia. Ayah." sambut Puspa Rani dengan wajah mem- berengut.

Ki Gelagar terdiam. Ditatapnya wajah putrinya lekat- lekat. Karuan saja hal itu membuat gadis berpakaian merah menyala itu menjadi malu, dan menundukkan kepalanya.

"Dia bernama Arya Buana. Dunia persilatan lebih mengenalnya dengan julukan Dewa Arak!" jawab Ki Gelagar. Sikapnya seolah-olah seperti telah tahu betul mengenai pemuda berambut putih keperakan itu. Padahal dia sendiri pun baru saja mendengarnya dari pembicaraan Macan Tutul Lembah Neraka dengan pemuda berbaju ungu itu.

"Ah...! Jadi, pemuda itu adalah tokoh yang meng- gemparkan itu, Ayah?!" tanya Puspa Rani setengah tidak percaya. "Sungguh tidak kusangka, orang yang begitu terkenal itu ternyata masih muda..."

Ki Gelagar sama sekali tidak menanggapi ucapan putrinya. Kepala Ketua Perguruan Kapak Sakti ini tertunduk menekuri lantai. Dla mengerti perasaan yang berkecamuk dalam benak putri tunggalnya ini. Puspa Rani telah menaruh simpati yang mendalam pada Dewa Arak. Padahal laki-laki setengah baya ini tahu kalau Dewa Arak bukanlah orang yang cocok untuk putrinya. Orang seperti Dewa Arak akan lebih mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi. Hal inilah yang membuat Ki Gelagar agak bingung.

Puspa Rani agak heran melihat ayahnya sama sekali tidak menanggapi ucapannya. Bahkan masuk ke ruang khususnya. Gadis berpakaian merah menyala ini tidak berani mengusik Dia pun melangkah meninggalkan tempat itu. Hatinya bernyanyi riang. Mulutnya bersiul-siul. Perjumpaannya dengan Dewa Arak membuat hatinya berbunga-bunga.

***

Tidak seperti biasanya, kali ini Dewa Arak berlari dengan mengerahkan separuh ilmu meringankan tubuhnya. Hal ini terpaksa dilakukannya. Karena kalau seluruh ilmu meringankan tubuhnya dikeluarkan, sudah dapat dipasti- kan kalau Jayalaga akan tertinggal jauh.

"Kau tahu di mana markas mereka, Paman?" tanya Arya tanpa menghentikan larinya. Sepasang matanya menatap tajam wajah paman gurunya.

Jayalaga menganggukkan kepalanya. Pemuda ber­pakaian merah muda ini sama sekali tidak menyahut. Arya pun terus berlari. Sementara Jayalaga juga terus saja berlari di sebelah Dewa Arak.

Tak terasa ma lam pun datang menjelang ketika Dewa Arak dan Jayalaga telah tiba di sebuah hutan.

"Kita bermalam di sini dulu, Arya." ucap Jayalaga mem­beri saran.
"Baik, Paman. Tapi kita harus mencari makanan dulu untuk mengisi perut," usul Arya.
"Sebuah usul yang bagus!" puji Jayalaga sambil meng- acungkan jempol.
"Biar aku saja yang mencari makanan, Paman." ucap Arya menawarkan diri.
"Dan aku yang memasaknya," sambung Jayalaga tidak mau kalah. "Bagaimana? Adil kan?"
"Terserah Paman sajalah." sahut Arya mengalah.
"Kalau begitu, cepat kau cari makanan itu, Arya!"

Tanpa menunggu dipenntah dua kali, Dewa Arak segera melesat dari situ. Tujuannya sudah jelas. Mencari makanan untuk mengganjal perut. Entah itu ayam hutan atau kelinci. Yang penting dapat digunakan sebagai obat lapar.

Cukup lama juga Arya pergi. Dan ketika kembali, di tangannya terjinjing dua ekor kelinci dan seekor ayam hutan.Jayalaga segera menerimanya begitu Arya meng- angsurkan binatang hasil buruannya. Sesaat kemudian, pemuda berpakaian merah muda ini sudah sibuk dengan masakannya.

Perut Arya yang memang sudah berkeroncongan, men- jerit-jerit minta diisi begitu mencium bau harum daging panggang.

Tak lama kemudian, mereka pun sudah sibuk dengan santapannya masing-masing. Baik Arya maupun Jayalaga makan daging panggang itu dengan lahap.

Beberapa saat kemudian, binatang panggangan itu pun habis. Yang tinggal hanyalah tulang-tulangnya.

Arya menguap. Mulutnya terbuka lebar-lebar. Seiring dengan habisnya daging panggang itu, rasa kantuk yang amat sangat pun menyerangnya. Begitu dahsyat sekali serangan kantuk kali ini.

Dewa Arak mengerutkan alisnya. Aneh sekali rasa kantuknya kali ini. Rasanya nikmat sekali kalau tubuhnya direbahkan.

"Aku sudah mengantuk sekali, Paman. Maaf, aku tidur duluan," ucap Arya.
"Tidurlah, Arya. Aku masih balum mengantuk. Nanti kalau aku mengantuk, aku pun akan tidur "

"Hup..!"

Dewa Arak menggenjotkan kakinya. Sesaat kemudian, tubuhnya pun melayang ke atas. Dan tanpa menimbulkan getaran sedikit pun pemuda berambut putih keperakan ini hinggap di cabang pohon.

Dewa Arak segera menjumput guci araknya yang tersampir di punggung. Kemudian digantungkannya di cabang pohon. Baru setelah itu tubuhnya direbahkan. Tak lama kemudian Dewa Arak pun tertidur lelap.

Arya tidak menyadari kalau semua gerak-geriknya diperhatikan sepasang mata milik seorang pemuda ber­pakaian merah muda. Bibir pemuda itu mengulas senyuman tipis begitu melihat Dewa Arak telah merebahkan tubuhnya.

Dan senyumnya pun semakin melebar tatkala di dengarnya suara dengkur halus, pertanda pemuda berambut putih keperakan itu telah tertidur lelap.

Tapi meskipun begitu, Jayalaga tetap menunggu be­berapa saat lamanya. Baru setelah diyakininya Arya benar- benar telah tertidur lelap, kedua kakinya digenjotkan.

"Hih...!"

Sesaat kemudian tubuh Jayalaga melayang ke atas. Dan hinggap di cabang pohon tempat Dewa Arak merebahkan tubuhnya. Dengan gerakan hati-hati, di ambilnya guci arak yang tergantung di cabang pohon itu.

Tappp...!

Sesaat kemudian, guci arak itu pun telah berpindah tempat. Kini guci pusaka Dewa Arak telah berada di tangan Jayalaga.

Jayalaga merayapi sekujur wajah Dewa Arak. Sorot matanya memancarkan kebencian. Pelahan-lahan tangan­nya tergetar pertanda telah dialiri tenaga dalam.

"Hih..!"

Jayalaga menggertakkan gigi seraya mengayunkan tangannya ke kepala Dewa Arak. Angin keras berkesiur mengiringi tibanya serangan itu.

Tapi sebelum pukulan itu menghantam sasaran. Jayalaga menghentikan gerakannya.

"Aku bukan pengecut! Yang hanya berani membunuh lawan yang tidak berdaya." desis pemuda berpakaian merah muda itu pelan seperti bicara pada dirinya sendiri.

Setelah berkata demikian. Jayalaga segera melompat turun dari cabang itu. Indah dan manis sekali gerakannya.

"Hup..!"

Ringan tanpa suara kedua kakinya mendarat di tanah. Dan secepat kedua kakinya telah berada dl tanah, secepat itu pula tubuh murid Eyang Tapakjati melesat dari situ. Terus berlari masuk ke dalam hutan. Sementara itu, Arya masih tertidur lelap. Pemuda berambut putih keperakan ini baru tersadar dari tidur nyenyaknya ketika pen- dengarannya yang tajam menangkap adanya suara ribut- ribut di dekatnya. Bergegas pemuda ini membuka matanya dan memandang ke arah asal suara.

Di bawah pohon, tampak berdiri tiga sosok tubuh yang membuat jantung Dewa Arak berdenyut cepat. Betapa tidak? Di bawah pohon tempatnya tidur, telah berdiri tiga orang yang mendongakkan wajah ke arah nya. Tiga orang itu ciri-cirinya mirip sekali dengan Tiga Macan Lembah Neraka yang diceritakan oleh Eyang Tapakjati maupun oleh Jayalaga. Apalagi di antara mereka dilihatnya Macan Tutul Lembah Neraka yang kemarin dipecundanginya.

"Dewa Arak! Turun kau...! Dan mari selesaikan urusan kita'" teriak Macan Tutul Lembah Neraka.

Sejak tadi, amarah Dewa Arak sudah berkobar-kobar begitu melihat tiga orang yang memang tengah dicari- carinya. Bergegas Arya menoleh ke tempat dia meng- gantungkan gucinya.

Wajah Dewa Arak kontan berubah ketika melihat guci yang semalam digantungkannya telah lenyap! Cabang pohon, tempat dia menggantungkan gucinya kosong. Perasaan penasaran mendorong Arya untuk memeriksa punggungnya. Ternyata di situ pun tidak ditemukan gucinya. Perasaan bingung bercampur was-was pun melandanya. Betapa tidak? Tanpa guci pusaka itu, ilmu andalannya menjadi hilang kemampuannya? Dan hal seperti ini juga pernah dialami oleh pemuda itu (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Cinta Sang Pendekar")

Tapi Dewa Arak tidak mempunyai pilihan lain lagi. Lawan telah mengajukan tantangan, dan pantang baginya menolak. Apa pun alasannya. Maka walaupun pikirannya masih digayuti berbagai macam pertanyaan, Arya tetap melompat turun dari pohon untuk memenuhi tantangan itu.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara kedua kakinya hinggap di tanah, sekitar tiga tombak di hadapan ketiga lawannya.

Macan Tutul Lembah Neraka menatap Arya. Ada sorot kegentaran pada sepasang matanya. Memang, sebenar- nyalah laki-laki pendek gemuk ini merasa gentar bukan main pada pemuda berambut putih keperakan di hadapannya ini. Telah dirasakannya sendiri kelihaian Dewa Arak yang menggiriskan itu.

Dewa Arak memandang ke sekelilingnya. Sepasang matanya berputar liar, seolah-olah ada sesuatu yang tengah dicarinya. Dan memang, Arya tengah mencari-cari Jayalaga. Ke mana perginya paman gurunya itu? tanya Arya dalam hati.

Mendadak Dewa Arak tersentak ketika tiba-tiba muncul sebuah dugaan. Apakah Jayalaga yang telah membawa lari guci araknya? Sepertinya dugaaan itu mustahil. Untuk apa pemuda berpakaian merah muda itu membawa lari guci peraknya. Tapi, kalau bukan, kenapa tiba-tiba saja pemuda itu lenyap begitu saja? Tapi Dewa Arak tidak bisa berpikir lebih lama lagi karena lawan-lawannya tampak sudah tidak sabar lagi. Macan Kumbang Lembah Neraka, orang yang paling beringas di antara Tiga Macan Lembah Neraka segera melangkah maju.

"Inikah orang yang kau ceritakan itu, Macan Tutul?" tanya laki-laki berkulit hitam itu seraya berpaling menatap rekannya.

Macan Tutul Lembah Neraka menganggukkan kepala­nya.

"Ya! Dialah Dewa Arak." jawab laki-laki bertubuh pendek gemuk itu pelan.
"Dan kau dikalahkannya?" tanya Macan Kumbang Lembah Neraka lagi. Nada suaranya menyiratkan ketidak- percayaan.

Kembali Macan Tutul Lembah Neraka menganggukkan kepalanya.

"Hati-hati, Macan Kumbang. Kepandaian pemuda itu tinggi sekali," ujar Macan Tutul Lembah Neraka menasihati.

"Ha ha ha...!" Macan Kumbang Lembah Neraka hanya tertawa bergelak. "Ingin kuketahui, sampai di mana tingkat kepandaiannya."

Setelah berkata demikian, laki-laki berkulit hitam itu mengalihkan perhatiannya kembali pada Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan itu memang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan antara Macan Tutul dan Macan Kumbang Lembah Neraka. Sementara benak- nya berputar terus, memikirkan di mana guci araknya dan ke mana pula perginya Jayalaga.

Mendadak saja hatinya berdebar keras tatkala teringat kejadian aneh semalam. Kecurigaan pada paman gurunya itu semakin membesar. Semalam dia terserang rasa kantuk yang amat sangat. Kantuk yang belum pemah dialami seumur hidupnya. Dan itu dialaminya setelah dia makan daging panggang yang dibuat oleh Jayalaga. Mungkinkah daging panggang itu telah dicampuri racun pembius?

Namun Arya tidak bisa berpikir terlalu lama lagi. Macan Kumbang Lembah Neraka telah menghampirinya dengan sorot mata beringas.

"Bersiaplah, Dewa Arak...!" seru laki-laki berkulit hitam itu bernada memperingatkan.

Arya memang sudah sejak tadi bersikap waspada. Disadari kalau kini tidak bisa menggunakan ilmu andalannya. Ilmu 'Belalang Sakti' membutuhkan arak untuk memainkannya. Sehingga mau tak mau Dewa Arak terpaksa menggunakan ilmu warisan ayahnya. Ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau', dan Ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga'.

"Haaat..!"

Sambil mengeluarkan suara melengking nyaring. Macan Kumbang Lembah Neraka menyerang Dewa Arak dengan totokan-totokan dua jari tangan ke arah ulu hati dan dada bertubi-tubi.

Suara berciutan nyaring bagai ada sesuatu yang robek, terdengar mengiringi tibanya serangan itu.

Dewa Arak tidak berani main-main. Dari suara angin yang berciutan itu, dapat diukur ketinggian tenaga dalam milik laki-laki berkulit hitam itu. Buru-buru didoyongkan tubuhnya ke kanan sehingga serangan itu lewat di samping tubuhnya. Sewaktu mengelak, tak lupa pemuda berambut putih keperakan ini mengirim sampokan ke pelipis lawan­nya.

Macan Kumbang Lembah Neraka terperanjat kaget. Dari gerakan mengelak Dewa Arak, bisa di perkirakannya ketinggian ilmu pemuda di hadapannya. Hanya orang-orang yang berkepandaian tinggi sajalah yang berani meng­elakkan serangan tanpa menggeser kaki. Karena hal seperti itu membutuhkan perhitungan yang matang.

Bukan hanya itu saja, yang membuat laki-laki berkulit hitam itu terkejut. Balasan serangan yang begitu tiba-tiba dari pemuda itu juga membuatnya terkejut. Apalagi ketika didengarnya desiran angin nyaring sebelum serangan itu sendiri tiba.

"Hup...!"

Macan Kumbang Lembah Neraka segera merendahkan tubuhnya sehingga serangan itu lewat di atas kepalanya. Rambut dan pakaiannya yang berkibaran keras menjadi bukti kehebatan tenaga dalam yang terkandung dalam serangan Dewa Arak. Dan ini membuat laki-laki berkulit hitam itu diam-diam mengakui pemberitahuan Macan Tutul Lembah Neraka.

Tidak hanya itu saja yang dilakukan Macan Kumbang Lembah Neraka. Seraya merendahkan tubuh, tangan kirinya melakukan totokan ke arah dada lawannya. Walaupun totokan itu hanya dilakukan dengan meng­gunakan dua jari, namun batu karang yang paling keras pun akan tembus!

Dewa Arak memuji kelihaian laki-laki berkulit hitam itu dalam hati. Kecepatan gerak laki-laki berkulit hitam itu memang mengagumkan. Apalagi ditambah dengan ilmu totokan yang dimilikinya. Ilmu totokan itu benar-benar menggiriskan hati. Rasa penasaran mendorong Arya untuk menjajaki kekuatan tenaga dalam lawannya. Maka ditangkisnya totokan yang mengarah ke dadanya itu dengan bacokan tangan kirinya.

Takkk!

Tak pelak lagi, benturan dua tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi pun tidak bisa dielakkan. Macan Kumbang Lembah Neraka memekik tertahan. Laki- laki berkulit hitam itu merasakan sekujur tangannya ngilu. Apalagi pada bagian yang berbenturan langsung dengan tangan Dewa Arak. Seolah-olah tangannya berbenturan dengan sebatang baja yang keras bukan kepalang. Jelas kalau tenaga dalamnya masih belum dapat mengimbangi tenaga dalam Arya.

Tapi tentu saja hal itu tidak membuat Macan Kumbang Lembah Neraka gentar. Bahkan sebaliknya, penasaran bukan main. Dan sebagai akibatnya serangan-serangannya pun kian dahsyat. Tapi, meskipun begitu Dewa Arak masih dapat mengimbanginya. Walaupun pemuda berambut putih keperakan ini tidak menggunakan ilmu 'Delapan Langkah Belalang', tapi tidak berarti kalau Dewa Arak menjadi seorang yang lemah tidak berdaya. Dengan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' dan ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga', dihadapinya kedahsyatan semua serangan Macan Kumbang Lembah Neraka.

Pertarungan antara kedua tokoh sakti itu berlangsung sengit dan cepat. Sehingga tidak terasa lima belas jurus telah berlalu. Dan saat ini belum nampak tanda-tanda ada yang akan terdesak. Sungguh pun Dewa Arak unggul dalam tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, tapi tidak berarti pemuda berambut putih keperakan ini akan mudah merobohkan lawannya.

Ilmu totokan yang dimiliki oleh Macan Kumbang Lembah Neraka ternyata memiliki ciri khas yang sama dengan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'. Sama-sama menitikberatkan pada penyerangan. Maka tidak aneh jika pertarungan antara keduanya berlangsung menarik.

Tapi lewat delapan puluh jurus, tampaklah keunggulan Dewa Arak. Pelahan namun pasti Macan Kumbang Lembah Neraka mulai terdesak.

Tentu saja hal itu diketahui oleh kedua rekannya. Macan Tutul Lembah Neraka menatap Macan Loreng Lembah Neraka dengan sinar mata memancarkan kemenangan.

"Aku tidak berlebihankan menceritakannya pada kalian." ucap laki-laki bertubuh pendek gemuk itu tiba-tiba. "Pemuda itu memang memiliki kepandaian luar biasa."

Macan Loreng Lembah Neraka hanya diam. Sepasang matanya masih memandang ke arah pertarungan.

"Pantas saja kalau Raksasa Rimba Neraka bisa tewas di tangannya," gumam Macan Loreng Lembah Neraka pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan. "Ah...! Kalau saja tidak melihat sendiri, aku tidak akan percaya. Orang semuda dia bisa memiliki tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh seperti itu. Sulit dipercaya!"

Macan Tutul Lembah Neraka sama sekali tidak menanggapi keheranan Macan Loreng Lembah Neraka. Pertarungan yang berlangsung di hadapan mereka jauh lebih menarik. Kapan lagi dapat menyaksikan pertarungan seseru ini.

"Tak lama lagi, Macan Kumbang akan roboh di tangan pemuda itu," kembali Macan Tutul Lembah Neraka yang memang bawel menyela, tanpa mengalihkan pandangan­nya dari pertarungan.

"Yahhh...," sahut Macan Loreng mendesah pelan. Juga tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan. "Pemuda itu memainkan jurus yang mirip dengan jurus- jurus Eyang Tapakjati."

***

Sementara itu pertarungan semakin mendekati penyelesaian. Macan Kumbang Lembah Neraka kelihatannya amat terdesak. Berkali-kali tubuhnya terhuyung. Dadanya dirasakan sesak bukan main. Sekujur tangannya pun terasa ngilu, setiap kali berbenturan dengan tangan Dewa Arak.

"Hiaaat...!"

Dewa Arak berteriak nyaring. Kaki kirinya menendang lurus ke dada Macan Kumbang. Laki-laki berkulit hitam itu segera mendoyongkan tubuhnya, sehingga serangan itu lewat di samping tubuhnya. Tapi, Arya yang memang sudah memperkirakan hal itu segera menyusulinya dengan tendangan menyamping kaki kanannya ke arah leher yang dilakukannya sambil menggeser kaki.

Kali ini Macan Kumbang Lembah Neraka tidak bisa mengelak lagi. Posisinya memang sejak tadi sudah terjepit. Terpaksa ditangkisnya serangan kaki itu dengan tangan bersilang seraya merundukkan sedikit kepalanya.

Plak!

Seketika itu juga kuda-kuda Macan Kumbang Lembah Neraka tergoyah. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Dan saat itulah Dewa Arak kembali melompat menerkam. Inilah jurus 'Harimau Lapar Menerkam Kambing'!

Wajah Macan Kumbang Lembah Neraka mendadak pucat. Disadari kalau dia tidak akan mampu mengelakkan serangan yang datang begitu mendadak. Menangkis pun sudah tidak sempat lagi. Yang dapat dilakukannya hanyalah menanti ajal dengan sepasang mata terbelalak lebar.

Tapi di saat gawat bagi keselamatan Macan Kumbang Lembah Neraka, dari arah samping kanan dan kirinya melesat dua sosok bayangan yang memotong laju lompatan Dewa Arak.

Plak, plak, plak... !

Suara benturan keras terdengar berkali-kali. Disusul dengan berpentalannya tiga sosok tubuh. Tubuh Dewa Arak dan dua sosok yang memotong laju lompatannya.

"Hup...!"

Dewa Arak bersalto beberapa kali di udara, kemudian mendarat ringan di tanah. Tanpa melihat pun sudah bisa diduga, siapa yang telah menangkis serangannya. Siapa lagi kalau bukan Macan Tutul dan Macan Loreng Lembah Neraka!

"Hup... ! Hup...!"

Hampir berbareng dengan mendaratnya kedua kaki Dewa Arak, kedua penolong Macan Kumbang pun mendaratkan kedua kakinya. Dan memang benar! Kedua orang itu tak lain adalah Macan Loreng dan Macan Tutul Lembah Neraka!

Dewa Arak bersikap waspada. Dari semula sudah diduganya kalau dia pasti akan menghadapi keroyokan tiga orang tokoh ini. Oleh karena itu pemuda berambut putih keperakan ini tidak terkejut lagi. Ditatapnya ketiga lawan yang masih berdiri di hadapannya satu persatu.

"Kau memang lihai!, Dewa Arak! Tapi bila kau mampu menghadapi kami bertiga selama tujuh puluh jurus, kami berjanji tidak akan mengusikmu lagi!" tegas Macan Tutul, yang selalu menjadi juru bicara dari Tiga Macan Lembah Neraka.

Arya mengerutkan alisnya mendengar penawaran yang menarik itu. Dengan Jurus 'Delapan Langkah Belalang', tidak sulit baginya untuk menghadapi pengeroyokan ketiga datuk golongan hitam ini. Tapi sayang, kini dia tidak bisa menggunakan jurus itu. Guci araknya lenyap entah ke mana. Dan bila dia bersikeras menggunakan ilmu 'Belalang Sakti', percuma saja. Ilmu itu tidak akan berarti apa-apa tanpa pancingan arak dari guci pusakanya.

Tantangan Macan Tutul Lembah Neraka bukanlah tanpa perhitungan. Semalam, Jayalaga datang menemuinya. Pemuda berbaju merah muda itu memberitahukan tempat Dewa Arak serta membuka rahasia kelemahannya. Itulah sebabnya mengapa Macan Tutul Lembah Neraka mau berjanji seperti itu.

"Tidak usah banyak basi-basi, Macan Tutul Lembah Neraka! Aku mencari kalian untuk membalaskan kematian Eyang Tapakjati! Aku hanya punya dua pilihan. Aku atau kalian yang harus mati!" tandas Arya.

"Ha ha ha...! Sombongnya!" Macan Loreng Lembah Neraka tertawa terbahak-bahak "Kalau begitu bersiaplah kau, Dewa Arak!"

Setelah berkata demikian, Macan Loreng Lembah Neraka segera melompat menerjang Dewa Arak. Belum juga serangan laki-laki bermuka kuning itu tiba, Macan Tutul dan Macan Kumbang Lembah Neraka juga telah melompat menyerang. Kini sibuklah Dewa Arak. Menghadapi seorang saja, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengalahkannya. Apalagi menghadapi tiga orang sekaligus.

Tapi, meskipun begitu Dewa Arak tidak menjadi gentar. Kalau saja pemuda berambut putih keperakan ini bersikap pengecut, sudah dari tadi melarikan diri. Dengan ketinggian ilmu meringankan tubuh yang berada di atas lawannya, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk melakukan itu. Tapi Arya sama sekali tidak melakukannya! Dan bahkan malah menantang ketiga lawannya bertarung sampai mati!

Sesaat kemudian, pertarungan sengit pun terjadi. Kali ini Dewa Arak harus berjuang lebih keras untuk melumpuhkan lawannya. Padahal Arya baru saja menguras seluruh kemampuannya sewaktu menghadapi Macan Kumbang Lembah Neraka.

Dan kini kembali harus mengerahkan seluruh kemampuannya kalau tidak ingin mati sia-sia.

Tapi betapa pun Arya telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Tetap saja pemuda berambut putih keperakan ini harus mengakui kalau ketiga tokoh ini terlalu berat baginya.

Tidak sampai dua puluh jurus, Dewa Arak sudah terdesak.

Pemuda berambut putih keperakan ini menggertakkan gigi. Dikeluarkannya gabungan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' dan ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga'. Tapi, tetap saja usaha kerasnya ini tidak menampakkan hasil. Arya tetap saja terdesak.

"Haaat..!"

Seraya mengeluarkan teriakan nyaring, Dewa Arak mengibaskan kaki kanannya ke arah Macan Kumbang Lembah Neraka seraya memutar tubuh.

Wusss...!

Angin berhembus keras mengiringi tibanya serangan kaki Dewa Arak.

"Hih...!"

Macan Kumbang Lembah Neraka menggertakkan gigi. Diangkat tangan kanannya ke samping kanan kepalanya. Melindungi kepala itu dari kibasan kaki Dewa Arak.

Plak!

Benturan keras antara tangan dan kaki yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi itu terjadi. Akibatnya hebat! Kuda-kuda Macan Kumbang Lembah Neraka tergoyah. Dan tubuhnya terhuyung ke samping. Sementara tubuh Dewa Arak bergetar, dan posisinya agak goyah.

Sebelum Arya mengirimkan serangan susulan. Macan Tutul Lembah Neraka telah menyerang dengan sampokan yang mengarah ke pelipisnya. Karuan saja hal ini membuat Dewa Arak yang belum sempat memperbaiki kuda- kudanya, berusaha mati-matian menyelamatkan diri.
Buru-buru Arya merundukkan tubuhnya sehingga sampokan itu lewat di atas kepalanya. Tapi di saat itulah serangan kaki Macan Loreng Lembah Neraka meluncur tiba.

Bukkk!
"Hugh...!"

Dewa Arak mengeluh pendek ketika tendangan laki-laki bermuka kuning itu mendarat telak dan keras di perutnya. Seketika itu juga tubuh Arya terbungkuk, karena perutnya terasa mual dan mules yang amat sangat. Dan belum lagi Dewa Arak mengatasi rasa sakit itu, Macan Kumbang Lembah Neraka telah memburunya dengan sapuan kaki.

Dukkk!
"Akh...!"

Kembali Dewa Arak memekik tertahan. Sapuan kaki laki- laki berkulit hitam itu tepat mengenai kakinya. Tak pelak lagi, tubuhnya terjungkal ke belakang. Tapi, sungguhpun rasa sakit yang amat sangat mendera kakinya. Arya masih berusaha memperbaiki posisinya.
Kali ini giliran Macan Tutul Lembah Neraka yang men- cecar Dewa Arak. Laki-laki pendek gemuk itu segera melancarkan pukulan ke arah perut Dewa Arak.

Wuuttt..!

Angin yang menderu keras menjadi pertanda kuatnya tenaga dalam yang terkandung dalam pukulan itu. Dewa Arak terkesiap kaget. Sebisa-bisanya pemuda berambut putih keperakan ini berusaha mengelak.

Bukkk!
"Hugh...!"

Untuk yang kedua kaliny perut Arya terkena serangan lawan. Tapi sungguhpun hanya berupa pukulan, akibatnya tidak kalah hebat dengan tendangan Macan Loreng Lembah Neraka tadi. Akibatnya kembali Arya mengeluh tertahan. Tubuhnya ambruk seketika di tanah. Dari mulut pemuda berambut putih keperakan itu meleleh cairan merah kental Dewa Arak pingsan!

"Ha ha ha...!"

Macan Tutul Lembah Neraka tertawa bergelak melihat lawan tangguhnya roboh. Ditatapnya tubuh yang tergolek lemah di tanah itu. Kemudian pelahan dihampirinya. Dengan ujung sepatunya wajah Dewa Arak dihadapkan ke arahnya.

Macan Kumbang hanya mendengus melihat kelakuan Macan Tutul Lembah Neraka. Dengan perasaan tidak sabar, dihampirinya tubuh Arya. Diraihnya kaki Dewa Arak kemudian diseretnya tubuh pemuda berambut putih keperakan itu meninggalkan tempat itu.

"Ha ha ha...!"

Suara tawa menggelegar kembali menggema di sekitar tempat itu. Suara tawa yang berasal dari mulut Tiga Macan Lembah Neraka. Sesaat kemudian tiga datuk sesat itu pun melesat meninggalkan tempat Itu. Meninggalkan gema suara yang masih bergaung memekakkan telinga.

Dari balik rerimbunan semak, sepasang mata milik seorang pemuda yang sejak tadi mengawasi semua peristiwa itu, tersenyum lebar. Pemuda itu berpakaian warna merah muda. Siapa lagi kalau bukan Jayalaga.

Sungguhpun Tiga Macan Lembah Neraka telah tidak berada lagi di situ, pemuda berpakaian merah muda ini tetap diam dl tempat persembunyiannya. Baru setelah merasa yakin kalau tidak ada lagi orang yang berada di situ, Jayalaga keluar dari persembunyiannya.

***

Tiga Macan Lembah Neraka membawa Dewa Arak ke sebuah bangunan tua yang sudah tidak dihuni lagi di dalam hutan. Dan memang di situlah markas mereka.

Brukkk!

Sembarangan saja Macan Kumbang melemparkan tubuh Dewa Arak ke lantai. Tentu saja Dewa Arak yang sudah tidak sadar, sama sekali tidak berbuat apa-apa.

Keadaan pemuda berambut putih keperakan itu menyedihkan sekali. Pakaiannya banyak yang koyak. Sekujur tubuhnya penuh luka-luka akibat terseret-seret. Memang Macan Kumbang Lembah Neraka membawa Dewa Arak hanya sebelah kakinya saja.

"Ikat dia...!" perintah Macan Kumbang Lembah Neraka.

Tanpa menunggu diperintah dua kali. Macan Loreng segera mencekal kaki Dewa Arak. Dan lagi-lagi pemuda berambut putih keperakan itu harus menerima kenyataan pahit. Diseret ke ruangan dalam.

Macan Loreng membawa Dewa Arak ke sebuah ruangan yang dindingnya terbuat dari tembok batu tebal. Pintunya pun terbuat dari jeruji-jeruji baja. Rupanya ruangan ini juga pernah dipergunakan sebagai tempat tahanan.

Kriiit..!

Terdengar derit nyaring, begitu Macan Loreng membuka jeruji pintu itu. Lalu diseretnya tubuh Dewa Arak masuk ke ruangan itu. Ruangan lembab yang lantainya dipenuhi lumut.

Macan Loreng terus menyeret tubuh Dewa Arak sampai ke dinding. Di dinding itu tertanam rantai-rantai baja besar yang pada ujungnya terdapat gelang-gelang baja yang juga besar.

Sesampainya di sini, dengan kasar Macan Loreng menegakkan tubuh Dewa Arak. Kemudian dimasukkannya kedua pergelangan tangan dan kaki Dewa Arak padagelang-gelang baja itu, kemudian dikuncinya .

Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Macan Loreng Lembah Neraka berlalu meninggalkan ruangan itu. Dilangkahkan kakinya ke arah pintu. Kemudian dibuka dan ditutupkannya kembali. Dan melangkah menuju ruang tengah. Ruangan tempat Macan Kumbang dan Macan Tutul Lembah Neraka tadi duduk.

"Bagaimana?" tanya Macan Kumbang begitu melihat Macan Loreng telah kembali tanpa Dewa Arak.

Macan Loreng hanya menggerakkan sedikit bagian atas mulutnya.

Rupanya isyarat seperti itu telah cukup dimengerti Macan Kumbang Lembah Neraka. Terbukti dia tidak bertanya lagi. Kepalanya ditolehkan kembali ke luar. Seperti ada sesuatu yang tengah ditunggunya.

"Mengapa dia belum juga datang...." desah laki-laki berkulit hitam itu bernada keluhan.

"Sabarlah, Macan Kumbang! Aku yakin tak lama lagi dia akan kembali. Anak itu memang punya sifat aneh. Tapi, aku percaya dia akan menepati janjinya," sahut Macan Tutul Lembah Neraka bernada menghibur.

"Betul, Macan Kumbang!" Macan Loreng Lembah Neraka ikut menimpali. "Aku percaya, Utari bukan termasuk gadis yang suka ingkar janji. Percayalah kata- kataku. Utari pasti datang!"

"Hhh...!" Macan Kumbang hanya menghembuskan napas berat sebagai jawaban atas nasihat kedua rekannya. Sesaat sepasang matanya menatap berganti-ganti Macan Tutul dan Macan Loreng. Tapi sesaat kemudian, pandangannya dialihkan kembali keluar. Dan tiba-tiba saja sepasang matanya berbinar-binar. Wajahnya kontan berseri-seri.

Di kejauhan, dilihatnya sesosok bayangan kebiruan yang bergerak cepat menuju ke markas mereka. Macan Kumbang Lembah Neraka kenal betul siapa pemilik pakaian berwarna biru itu. Siapa lagi kalau bukan Utari? Gadis yang mereka tunggu-tunggu!

Macan Tutul dan Macan Loreng Lembah Neraka tentu saja melihat perubahan mendadak pada wajah laki-laki berkulit hitam itu. Bagai dikomando, keduanya berbareng menatap ke luar. Dan seketika itu juga wajah keduanya pun berseri gembira.

"Apa kataku, Macan Kumbang! Benar kan? Utari selalu menepati janjinya. Kau saja yang terlalu berprasangka bukan-bukan." ucap Macan Tutul Lembah Neraka bernada menyalahkan.

"Ya, sudah! Aku mengaku salah. Dan kalianlah yang benar!" sergah laki-laki berkulit hitam itu seraya bangkit dari duduknya.

Tak lama kemudian, sosok berbaju biru itu pun telah mulai mendekati markas mereka. Bergegas Tiga Macan Lembah Neraka melangkah keluar, menyambut ke­datangan sosok berbaju biru itu.

Dan di halaman, Tiga Macan Lembah Neraka bertemu dengan sosok berbaju biru itu.

"Ah...!" sosok berbaju biru yang ternyata adalah seorang gadis berwajah cantik jelita, terpekik kaget. Dia nampak terkejut ketika tahu-tahu tiga sosok yang amat dikenalnya, melesat keluar dan menyongsong kedatangannya.

"Apakah ada berita gembira sehingga Paman bertiga tidak sabar menungguku masuk ke dalam?" tanya gadis yang bernama Utari itu seraya merayapi wajah Tiga Macan Lembah Neraka dengan sepasang matanya yang bening dan indah.

"Bukan hanya menggembirakan saja, Utari. Tapi juga mengejutkan," selak Macan Tutul Lembah Neraka, orang yang paling pandai bicara.

"Berita apa Paman?" tanya Utari seraya mengerutkan dahinya yang berkulit putih halus dan mulus itu.

Macan Tutul Lembah Neraka tidak langsung menjawab. Ditatapnya wajah gadis berpakaian biru itu tajam-tajam.

"Pembunuh gurumu telah kami tangkap!" ucap laki-laki gemuk pendek itu memberitahu. Pelan Macan Tutul Lembah Neraka mengucapkannya.

"Apa?!" sentak Utari. Tubuhnya sampai terjingkat ke belakang. Sepasang matanya terbelalak lebar, seolah-olah melihat hantu di siang bolong "Coba ulangi sekali lagi, Paman!"

Macan Tutul Lembah Neraka tertawa terkekeh.

"Mungkin kalau aku yang memberitahu, kau tidak akan percaya. Karena aku sering membohongimu, kan? Nah, sekarang kau boleh tanyakan pada Macan Kumbang! Kau tahu kan, Utari? Macan Kumbang adalah pamanmu yang selalu serius jika berbicara "

Utari, yang sebenamya adalah murid Raksasa Rimba Neraka ini menoleh ke arah Macan Kumbang Lembah Neraka. Laki-laki berkulit hitam itu menganggukkan kepala­nya.

"Apa yang dikatakan Macan Tutul benar. Pembunuh gurumu telah kami tangkap!"
"Maksud Paman, Dewa Arak...?!" tanya Utari masih tidak percaya.

"Siapa lagi Utari?" selak Macan Loreng Lembah Neraka.

"Sungguh? Paman bertiga tidak bohong?!" tanya Utari lagi masih kurang yakin. Memang ketiga pamannya ini sering kali mempermainkan dirinya. Terutama sekali Macan Tutul Lembah Neraka.

"Kalau kau tak percaya, kau boleh lihat sendiri di ruang tahanan. Kau tahu kan tempatnya?" ucap Macan Kumbang Lembah Neraka lagi.

Utari menganggukkan kepalanya. Seketika itu juga tubuhnya melesat ke dalam. Sementara Tiga Macan Lembah Neraka menatap punggung gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Gadis berpakaian biru itu melesat cepat ke dalam bangunan. Berita tentang tertangkapnya Dewa Arak telah membuat dendam gadis ini semakin berkobar. Utari memang sangat mendendam kepada Dewa Arak. Betapa tidak? Raksasa Rimba Neraka adalah orang yang telah merawatnya sejak bayi.

Hubungan Utari dengan datuk golongan hitam itu bukan lagi sekadar hubungan antara murid dengan guru, tetapi antara anak dengan ayah. Maka begitu mendengar gurunya tewas di tangan Dewa Arak, gadis itu keluar dari Rimba Neraka untuk membalas dendam.

Rupanya Tiga Macan Lembah Neraka, yang merupakan sahabat-sahabat Raksasa Rimba Neraka, tidak tinggal diam. Mereka ikut keluar dari Lembah Neraka, dan mem bantu gadis itu menemukan Dewa Arak. Memang antara Raksasa Rimba Neraka dengan Tiga Macan Lembah Neraka terjalin hubungan erat. Bahkan Tiga Macan Lembah Neraka menganggap Utari seperti anak mereka sendiri. Dan gadis berpakaian biru itu memanggil ketiga orang itu paman.

Sesaat kemudian, Utari telah berada di depan pintu ruang tahanan yang tak terkunci. Tampak olehnya sesosok berpakaian ungu terkulai lemah di dinding, dengan gelang- gelang baja melilit pergelangan tangan dan kakinya. Dengan jantung berdebar tegang, didorongnya pintu itu.

Kriiittt...!

Suara berderit nyaring terdengar begitu pintu baja itu terkuak. Dan secepat pintu itu terbuka, secepat itu pula Utari menghambur masuk. Dilangkahkan kakinya menuju sosok yang terborgol di dinding.

Bulu tengkuk Utari meremang begitu melihat keadaan Dewa Arak! Seluruh pakalan pemuda itu koyak-koyak. Sekujur kulitnya dipenuhi luka-luka yang masih mengalirkan darah. Seketika itu juga tahulah Utari kalau Dewa Arak telah diseret oleh Tiga Macan Lembah Neraka.

"Uhhh...!"

Tiba-tiba saja terdengar keluhan dari mulut Dewa Arak. Dan kepala yang terkulai itu pun mendongak, menatap Utari yang berdiri dalam jarak dua tombak di hadapannya.

"Ih...!"

Sebuah pekik keterkejutan keluar dari mulut Utari. Dan memang sewajarnyalah kalau gadis berpakaian biru ini terkejut. Kekagetan yang melanda hatinya terlampau banyak.

Semula sewaktu melihat rambut yang telah memutih itu. Utari mengira kalau yang terbelenggu adalah seorang kakek berusia lanjut. Maka dapat dibayangkan, betapa kaget hatinya ketika melihat orang yang berambut putih itu adalah seorang pemuda. Dan hal kedua yang mengejutkan- nya adalah sinar mata Dewa Arak! Sinar mata itu begitu tajam mencorong.

Bagaikan mata harimau dalam gelap! Hal ketiga yang membuat Utari terpekik adalah wajah pemuda itu.

Entah mengapa, tanpa disadari oleh gadis itu sendiri, ada rasa aneh yang menyelinap di dalam dadanya begitu terpandang wajah Dewa Arak! Sebuah perasaan aneh yang sulit dimengertinya, dan belum pemah dialaminya. Dan seketika itu juga, rasa dendamnya pada pemuda ini memudar pelahan-lahan.

"Hhh...!"

Utari menghela napas panjang. Ada apa dengan dirinya? Mengapa kini begitu bertemu pembunuh gurunya, rasa dendamnya pupus? Padahal selama ini dia bersama tiga pamannya telah bersusah payah mencari jejak Dewa Arak. Membunuh Dewa Arak setelah terlebih dulu menyiksanya! Mengapa sekarang dendamnya tidak ada lagi? Aneh! .

Tiba-tiba pendengaran Utari menangkap banyak langkah kaki mendekati ruang tahanan. Tanpa melihat pun gadis berpakaian biru ini sudah bisa menduga siapa pemilik langkah kaki itu. Siapa lagi kalau bukan Tiga Macan Lembah Neraka? Aneh! Mendadak saja, timbul perasaan khawatirnya atas keselamatan pemuda berambut putih keperakan ini.

Utari khawatir ketiga pamannya itu akan menyiksa Dewa Arak habis-habisan! Utari, Utari...apa yang terjadi pada dirimu? tanya gadis itu pada dirinya sendiri dengan perasaan bingung.
Cepat laksana kilat Utari melesat mendekati Dewa Arak.

"Maaf, demi keselamatanmu...." bisik gadis berpakaian biru itu pelan, seraya mengayunkan tangan ke tengkuk Dewa Arak.

"Hugh...!"

Dewa Arak mengeluh tertahan. Seketika itu juga tubuhnya kembali terkulai. Pemuda berambut putih keperakan ini pingsan untuk kedua kalinya.

Begitu kepala Dewa Arak terkulai, Utari pun melesat kembali ke tempat semula. Sekejap kemudian terdengar derit pintu yang terbuka.

Gadis berpakaian biru itu menoleh. Ditenangkan debaran jantungnya yang mendadak berdegup keras.

"Kau belum mulai menyiksanya, Utari?" tanya Macan Kumbang Lembah Neraka, yang memang berwatak paling beringas.

Utari menggelengkan kepalanya.

"Belum, Paman," jawab gadis berpakaian biru itu pelan.

"Mengapa, Utari?" tanya Macan Tutul Lembah Neraka. Sepasang alis laki-laki bertubuh gemuk pendek itu berkerut.

"Aku tidak berselera menyiksa orang yang tengah pingsan, Paman" jawab Utari cepat. Dan diam-diam gadis ini bersyukur, tatkala menyadari ketepatan jawaban pertanyaan itu.

"Ha ha ha...!" Macan Tutul Lembah Neraka tertawa bergelak.

"Mengapa kau tertawa, Paman?" sergah Utari dengan wajah merengut.
"Aku tertawa karena sikapmu itu, Utari!"

Jantung gadis berpakaian biru ini berdegup kencang. Apakah laki-laki pendek gemuk itu ini tahu perasaan yang terkandung dalam hatinya? tanya gadis itu dalam hati.

"Sikapku, Paman?" tanya Utari lagi .

"Ya!" jawab Macan Tutul Lembah Neraka tandas. "Kau kelihatan bingung menyiksanya karena dia pingsan, bukan?"

Pelahan kepala Utari terangguk pelan.

"Ha ha ha...!" kembali laki-laki bertubuh pendek gemuk itu tertawa terbahak-bahak. "Mengapa sebelumnya tidak kau beritahukan padaku?! Tapi, tunggulah sebentar, Paman akan membuat pembunuh gurumu ini sadar."

Setelah berkata demikian, Macan Tutul bergegas melangkah keluar. Utari menatap kepergian laki-laki pendek gemuk itu itu dengan perasaan tegang. Apa yang akan dilakukan Macan Tutul Lembah Neraka? tanyanya dalam hati. Diliriknya Macan Kumbang dan Macan Loreng. Macan Loreng hanya tersenyum-senyum. Sedangkan Macan Kumbang, seperti biasanya, diam memasang wajah angker.

Tak lama kemudian, Macan Tutul Lembah Neraka telah kembali. Di tangannya terjinjing sebuah ember. Tercekat hati Utari melihat perbuatan pamannya ini. Kini dia tahu, laki-laki pendek gemuk itu hendak menyadarkan Dewa Arak secara paksa.

"Bangun, Dewa Arak!" bentak Macan Tutul Lembah Neraka seraya mengguyurkan cairan dari dalam ember itu.

Byurrr...!

Seketika itu juga Dewa Arak gelagapan. Pemuda berambut putih keperakan ini kontan tersadar dari pingsannya. Seketika Arya menggelepar-gelepar. Sementara mulutnya mendesis-desis seperti merasakan kenyerian yang amat sangat.

Tentu saja hal ini membuat Utari terperanjat kaget! Mengapa hanya diguyur air saja, Dewa Arak menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan? pikirnya bingung.

Tapi kebingungan gadis berpakaian biru ini segera terjawab, begitu Macan Tutul Lembah Neraka kembali tertawa bergelak.

"Bagaimana, Dewa Arak? Nikmat, bukan? Kapan lagi kau akan mandi air cuka kalau tidak sekarang, heh?! Ha ha ha...!"

Air cuka? jerit Utari dalam hati. Pantas saja Dewa Arak sampai menggelepar-gelepar begitu. Sungguhpun gadis ini belum pernah merasakan. Tapi sudah bisa diperkirakannya sendiri. Luka-luka diguyur air cuka! Betapa nyerinya!

"Ah...! Kurasa masih belum terlalu nikmat, Macan Tutul! Biariah aku ikut menyumbangkan tenaga...," sambut Macan Kumbang Lembah Neraka seraya melangkah maju menghampiri Dewa Arak yang masih menggeliat-geliat karena dilanda rasa nyeri yang amat sangat.

"Hentikan...!" teriak Utari keras.

Tentu saja bentakan gadis berpakaian biru itu membuat Tiga Macan Lembah Neraka terkejut bukan main. Bahkan Macan Kumbang sampai menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang.

"Mengapa kau mencegahku menghukum keparat ini, Utari?" tanya laki-laki berkulit hitam itu. Nada suaranya penuh tuntutan. Sementara Macan Tutul dan Macan Loreng pun menatap heran pada murid Raksasa Rimba Neraka ini.

Utari pun segera tersadar. Disadari kalau sikapnya ini menimbulkan kecurigaan Tiga Macan Lembah Neraka. Untung di saat kritis itu otaknya kembali menemukan jalan keluar.

"Aku tidak ingin Paman bertiga menyiksanya, sebelum aku menyiksanya! Nanti, setelah aku puas, baru Paman boleh melanjutkannya," sahut Utari tandas.

"Ooo ...!"

Berbareng Tiga Macan Lembah Neraka menganggukkan kepalanya, maklum. Macan Kumbang pun segera mengurungkan niatnya. Dilangkahkan kakinya kembali ke tempatnya.

"Kalau begitu, silakan kau puas kan hatimu menyiksanya, Utari," ucap Macan Tutul Lembah Neraka mempersilakan. "Tapi ingat, jangan kau bunuh dia! Sisakan untuk kami! Sekarang kami ingin beristirahat!"

Setelah berkata demikian, Macan Tutul pun melangkah meninggalkan ruangan itu Macan Loreng dan Macan Kumbang Lembah Neraka mengikuti di belakang laki-laki bertubuh pendek gemuk itu tanpa banyak bicara.

"Hhh...!"

Utari menghela napas lega setelah ketiga pamannya berlalu. Kemudian bergegas dihampirinya Dewa Arak yang masih menggeliat-geliat.

"Ssst..!" Utari menaruh jari telunjuknya di bibir.

"Tenanglah.... aku tidak bermaksud jelek padamu. Aku ingin menyelamatkanmu... "

Sebelum Dewa Arak sempat mengerti ucapan gadis itu, tangan halus Utari telah mencengkeram rantai baja yang membelenggunya.

Trak, trak, trak, trak !

Seketika itu juga keempat rantai baja putus! Kontan tubuh Dewa Arak terkulai. Memang Arya lemah bukan main. Letih dan lemah yang belum pemah dirasakan seumur hidupnya.

"Hup...!"

Tanpa ragu-ragu lagi, Utari segera memondong pemuda itu di bahunya. Kemudian melangkah keluar dari situ. Sepasang matanya menatap liar ke sekelilingnya. Sementara pendengarannya dipasang tajam-tajam. Gadis berpakaian biru ini khawatir kalau Tiga Macan Lembah Neraka memergoki perbuatannya.

Dengan mengendap-endap, Utari membawa kabur Dewa Arak melalui pintu belakang. Dan begitu telah berada di luar, gadis berpakaian biru ini segera melesat cepat. Utari segera mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya.

Gadis berpakaian biru ini sadar, sewaktu-waktu bisa saja salah seorang dari Tiga Macan Lembah Neraka datang menjenguk ruang tahanan Dewa Arak. Dan bila hal itu terjadi, gadis ini berharap dia telah berada jauh dari situ.

***

Utari terus berlari mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya. Gadis berpakaian biru ini sudah mempunyai tempat tujuan untuk merawat luka-luka Dewa Arak yang telah membuatnya dilanda perasaan aneh yang sama sekali sulit dipahaminya.

Tak lama kemudian. Utari tiba di tempat yang ditujunya. Sebuah gua yang tersembunyi dan hanya diketahui olehnya sendiri.

Utari menengok ke kiri kanan, untuk memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya menuju ke gua itu. Sesudah yakin tidak ada yang mengetahuinya, gadis berpakaian biru ini melesat masuk.

Ternyata gua itu cukup panjang juga. Semakin ke dalam, ruangan di dalam gua itu semakin luas. Utari terus saja melangkah semakin ke dalam. Baru sesampainya di bagian ujung gua yang beruangan luas, Utari menghentikan langkahnya. Hati-hati sekali tubuh Dewa Arak direbahkan di tanah.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Nisanak," ucap Dewa Arak pelan.

Utari hanya melemparkan senyuman manis sebagai tanggapannya.

"Istirahatlah dulu. Kau masih lemah. Biar kuperiksa luka- lukamu," ujar gadis cantik itu memberi saran. Setelah berkata demikian, tangan putih, halus, dan mulus yang berjari-jari lentik itu mulai memeriksa sekujur tubuh Dewa Arak.

"Sebagian besar luka-luka luar. Hanya ada sedikit luka dalam," ucap Utari memberitahu.

Seketika tangan kanan gadis itu bergerak ke pinggang. Dan dari situ dikeluarkan obat bubuk yang kemudian ditaburkannya ke seluruh luka-luka luar Dewa Arak.

Dewa Arak meringis. Seketika rasa nyeri yang hebat menggigit sekujur kulitnya, begitu obat bubuk itu ditaburkan ke seluruh luka-lukanya.
"Memang agak nyeri sedikit. Tahanlah sebentar..."

Arya menatap wajah gadis yang duduk bersimpuh dl hadapannya tajam-tajam.

"Mengapa kau menolongku, Nini? Bukankah perbuatan- mu ini akan membuatmu terancam bahaya? Tiga Macan Lembah Neraka pasti akan mencarimu. Dan aku tidak bisa membantumu menghadapi mereka selama guci arakku belum ada di tanganku."

"Jadi, kalau guci arakmu telah kembali..., kau akan mampu menghadapi pa. eh... Tiga Macan Lembah Neraka?" tanya Utari seraya menatap Dewa Arak lekat- lekat.

"Mungkin...." sahut Dewa Arak tidak mau menyombongkan diri.
"Memangnya ke mana guci arakmu.. eh...."
"Arya, Arya Buana namaku," sahut Dewa Arak memberitahu. "Namamu Utari kan?"

Gadis berpakaian biru itu menganggukkan kepalanya. Dia tidak merasa heran, mendengar pemuda berambut putih keperakan itu menyebut namanya. Ketika di ruang tahanan tadi, sudah berkali-kali namanya disebut-sebut oleh Tiga Macan Lembah Neraka.

"Guciku dicuri oleh Jayalaga. Orangnya masih muda, kira-kira seusia denganku. Baju yang dipakainya berwarna merah muda," jelas Arya, menerangkan ciri-ciri Jayalaga.

Utari mengerutkan alisnya. Pemuda berpakaian merah muda? tanya nya dalam hati. Bukankah dalam perjalanan ke markas Tiga Macan Lembah Neraka, dia berpapasan dengan pemuda itu? Dan memang di tangan pemuda berpakaian merah muda itu dilihatnya sebuah guci. Jadi, orang itukah yang telah mencuri guci Dewa Arak? Lalu Utari pun menceritakan pertemuannya dengan Jayalaga kepada Dewa Arak.

"Kalau begitu, biar aku saja yang mencarinya, Kang Arya," usul Utari setelah menyelesaikan ceritanya.

Sebelum Dewa Arak sempat berbicara lagi, gadis berpakaian biru itu telah melesat keluar gua. Dewa Arak hanya bisa memandangi kepergian Utari dengan benak dipenuhi berbagai pertanyaan. Seorang gadis cantik telah menyelamatkannya. Apakah Utari jatuh cinta padanya?

"Hhh...!" desah Dewa Arak. Mudah-mudahan saja dugaannya kali ini keliru. Pemuda berambut putih keperakan itu berharap agar Utari tidak menaruh hati pada ya.

Tak lama kemudian, setelah luka-luka luarnya mulai tidak terasa mengganggu lagi, Dewa Arak segera duduk bersila. Kedua tangannya yang terbuka, dirapatkan di depan dada, bersemadi. Tak lama kemudian pemuda berambut putih keperakan ini sudah tenggelam dalam semadinya.

***

"Keparat..!" teriak Macan Kumbang begitu melihat ruang tahanan yang kosong melompong. Tidak ada lagi Utari dan Dewa Arak di situ. Yang ada hanya putusan rantai di tembok.

Tentu saja teriakan Macan Kumbang yang mengandung tenaga dalam tinggi, membuat Macan Tutul dan Macan Loreng Lembah Neraka, yang masih tenang-tenang di ruang depan terlonjak kaget. Bergegas mereka melesat ke ruang tahanan. Pasti ada sesuatu yang telah membuat rekannya berteriak-teriak seperti itu, pikir kedua orang itu.

Sekejap kemudian, kedua orang itu telah tiba di pintu ruang tahanan. Sesaat lamanya mereka terpaku melihat ruang tahanan yang kosong. Kemudian Macan Tutul dan Macan Loreng Lembah Neraka melangkah ke dalam. Pandangan mereka kini dalihkan pada Macan Kumbang yang masih termangu-mangu, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Di mana Dewa Arak dan Utari, Macan Kumbang?" tanya Macan Tutul Lembah Neraka. Pelahan suaranya. Rupanya laki-laki pendek gemuk itu terpukul juga melihat hal ini.

"Mengapa kau tanyakan padaku, Macan Tutul?!" sergah laki-laki berkulit hitam itu keras. "Sewaktu aku tiba, ruangan ini sudah seperti yang kau lihat!"

Tiga Macan Lembah Neraka saling pandang beberapa saat lamanya.

"Sungguh sulit dipercaya. Mungkinkah Utari yang telah menyelamatkan Dewa Arak?" tanya Macan Loreng Lembah Neraka pelan, seolah-olah bertanya pada dirinya sendiri. "Tapi, mengapa?"

Macan Tutul Lembah Neraka mendengus. "Kau memang bodoh, Macan Loreng! Apa lagi alasannya kalau bukan karena cinta! Utari pasti telah terpikat oleh ketampanan Dewa Arak!" tandas laki-laki bertubuh pendek gemuk itu keras.

"Pantas... dia tidak mengijinkan kita menyiksa Dewa Arak," gumam Macan Kumbang sambil mengangguk- anggukkan kepalanya, pertanda mulai paham dengan masalah yang dihadapi.

"Mereka pasti belum pergi jauh!" ucap Macan Loreng Lembah Neraka keras. "Mari kita kejar!"
"Kau benar Macan Loreng!" sambung Macan Tutul Lembah Neraka mendukung.

Setelah berkata demikian. Tiga Macan Lembah Neraka segera melesat meninggalkan tempat itu. Tujuannya sudah jelas. Mencari Utari yang telah melarikan Dewa Arak!

***

Sambil bersiul-siul, Jayalaga melangkah pelahan meninggalkan tempat di mana Dewa Arak berhasil ditangkap oleh Tiga Macan Lembah Neraka. Kini legalah hatinya. Memang sudah sejak semula dia tidak suka pada pemuda berambut putih keperakan itu. Bukankah gara- gara pemuda itu gurunya tewas?

Ketidaksukaannya pada Arya semakin bertambah tatkala diketahuinya kalau pemuda yang terhitung murid keponakannya itu, memiliki kepandaian jauh di atasnya.

Memang Jayalaga mempunyai watak yang aneh. Dia tidak suka kalau ada orang lain memiliki kelebihan dari- padanya. Apalagi kalau orang itu adalah seorang pemuda. Jayalaga ingin dialah pemuda yang paling hebat. Ketidaksukaannya berubah menjadi benci ketika dilihatnya Puspa Rani, gadis yang sejak dulu dicinta dan dirindukan- nya, malah terlihat bersimpati pada Dewa Arak.

Pemuda berpakaian merah muda ini memang sudah mempunyai rencana tersendiri. Jayalaga ingin menyingkir kan Dewa Arak. Dan rencana itu segera dikerjakannya sewaktu kemarin dia memanggang daging santapan malam mereka. Tanpa sepengetahuan Dewa Arak, semua daging panggang itu dibubuhi racun pembius. Tapi sebelumnya tentu saja Jayalaga tidak lupa untuk menelan obat penawar.

Rupanya racun itu bekerja cepat, sehingga Dewa Arak jadi tertidur pulas seperti orang mati. Sayang dia gagal untuk membunuh Arya dengan tangannya sendiri. Betapapun liciknya Jayalaga, tapi ajaran Eyang Tapakjati tetap diingatnya. Pemuda berpakaian merah muda ini tidak mau disebut pengecut, bila membunuh lawan yang tidak berdaya.Maka Jayalaga hanya membawa kabur guci Dewa Arak. Baru setelah itu dia memberitahu tempat Dewa Arak kepada Tiga Macan Lembah Neraka. Dan kejadian selanjutnya berjalan sesuai dengan rencananya.

Jayalaga tersenyum lebar. Ditimang-timangnya guci Dewa Arak. Kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Tujuannya adalah Perguruan Kapak Sakti. Dia ingin menjumpai Puspa Rani di sana.

Tapi baru juga kakinya melangkah, terdengar bentakan keras yang membuat gerakannya terhenti.

"Jayalaga! Jangan lari kau, Pengecut..!"

Pemuda berpakaian merah muda ini segera menoleh. Suara itu sama sekali belum dikenalnya. Tapi, kenapa pemilik suara itu memakinya pengecut?

Sekitar belasan tombak di depan Jayalaga, nampak sesosok bayangan biru bergerak cepat ke arahnya. Pemuda berpakaian merah muda ini mengerutkan alisnya. Sungguh pun masih cukup jauh darinya, sudah bisa diduganya kalau bayangan itu adalah seorang wanita.

Semakin dekat bayangan biru itu semakin jelas terlihat. Dan begitu jarak di antara mereka tinggal tiga tombak lagi, sosok itu menghentikan langkahnya.

Jayalaga menatap sosok bayangan biru yang telah berdiri di hadapannya. Pemuda berpakaian merah muda ini masih mengerutkan keningnya. Dia ternyata tidak mengenal sosok yang ternyata adalah seorang wanita cantik jelita. Rambutnya digelung ke atas dan berpakaian biru. Lalu, mengapa gadis ini mengenalnya? tanya murid Eyang Tapakjati ini dalam hati.

"Bukankah kau yang bernama Jayalaga?" tanya gadis berpakaian biru yang ternyata adalah Utari. Sepasang matanya menatap pakaian pemuda yang berdiri di hadapannya. Dan kemudian beralih pada guci arak perak yang berada dalam genggaman Jayalaga.

"Benar, Nisanak," sahut Jayalaga sambil meng­anggukkan kepalanya. "Siapakah Nisanak ini? Dan dari mana mengenal namaku?"

"Kau tak perlu tahu namaku! Tapi yang jelas, kedatanganku adalah untuk membunuh orang yang berjiwa pengecut sepertimu!" tandas Utari keras.

Merah wajah Jayalaga mendengar ucapan itu. Kemarahannya pun bergolak. Sudah berkali-kali wanita itu memakinya pengecut. Dan ini membuat Jayalaga murka.

"Nisanak!" ucap murid Eyang Tapakjati ini keras. "Aku sama sekali tidak mengenalmu. Bertemu pun baru kali ini. Tapi mengapa kau memusuhiku? Bahkan berkali-kali kau menyebutku pengecut! Cepat jelaskan maksud ucapanmu, sebelum habis kesabaranku!"

Utari hanya mendengus.

"Tidak usah banyak basa-basi, Jayalaga!"

Setelah berkata demikian, gadis berpakaian biru itu menjulurkan kedua tangannya ke depan. Kemudian terdengar suara berkerotokan begitu jari-Jari tangan Utari pelahan-lahan mengepal. Suara berkerotokan keras seperti ada tulang-tulang yang patah itu semakin keras terdengar, begitu Utari menarik tangannya yang terkepal ke sisi pinggang.

Jayalaga bergidik ngeri melihat perbuatan gadis ini. Tapi dia tidak terlalu lama tenggelam dalam perasaan ngerinya itu, karena serangan dari Utari telah menyambar tiba.

Utari membuka serangan dengan melontarkan kepalan kanannya ke arah dada Jayalaga. Ada suara berkeresekan keras seperti ada geledek menyambar bumi, begitu gadis berpakaian biru itu mengayunkan tinjunya. Bahkan bukan itu saja, angin berhawa panas pun mengiringi tibanya serangan itu.

Sepasang mata Jayalaga membelalak lebar, Ilmu macam apa ini? tanya murid Eyang Tapakjati ini dalam hati. Ilmu yang sangat menggiriskan! Jayalaga sama sekali tidak tahu, kalau itu adalah Ilmu 'Tinju Geledek'! Ilmu yang dimiliki oleh Raksasa Rimba Neraka.

Jayalaga tidak berani bertindak gegabah. Buru-buru dilempar tubuhnya ke samping. Tidak berani dia menentang bahaya untuk memapak pukulan si gadis. Terlalu besar resikonya, karena dia belum dapat mengukur ketinggian tenaga dalam lawan.

Brakkk... !

Sebatang pohon sepelukan orang dewasa tumbang seketika, begitu pukulan Utari yang berhasil dielakkan Jayalaga menghantamnya. Sepasang mata Jayalaga terbelalak melihat akibat yang ditimbulkan pukulan nyasar itu. Bagian batang yang tersambar pukulan Utari hancur berkeping-keping. Sungguh tidak disangkanya kalau gadis itu bisa berbuat demikian.

Tapi Jayalaga tidak bisa berlama-lama larut dalam kekagumannya. Serangan susulan dari Utari telah tiba. Pemuda berpakaian merah muda ini tidak punya pilihan lagi, kecuali menghadapi lawan dan balas menyerang.

Sadar akan kelihaian Utari, Jayalaga segera mengeluarkan jurus andalannya, jurus 'Sepasang Tangan Penakluk Naga'! Sesaat kemudian kedua orang yang masih sama-sama muda ini sudah terlibat dalam pertarungan sengit.

Utari merasa dendam sekali atas perbuatan Jayalaga terhadap Dewa Arak. Terbukti, seriap serangan gadis ini selalu mengarah pada bagian-bagian tubuh yang memati- kan. Tapi, Jayalaga bukanlah lawan lemah. Meskipun guru Jayalaga tidak sesakti Raksasa Rimba Neraka, tapi tidak berarti pemuda berpakaian merah muda ini mudah dipecundangi.

Jayalaga menggertakkan gigi. Untuk kesekian kalinya dia harus menerima kenyataan kalau dia bukanlah satu- satunya pemuda yang berkepandaian tinggi di dunia ini. Terbukti kini kembali Jayalaga berhadapan dengan orang muda yang berkepandaian tinggi. Wanita, lagi! Dan kenyataan ini membuat pemuda berpakaian merah muda ini agak terpukul. Tapi, sungguhpun begitu, Jayalaga tetap mengadakan perlawanan sengit.

Tiga puluh jurus telah berlalu. Dan tampak jelas kalau Jayalaga mulai terdesak. Pemuda berpakaian merah muda ini hanya mampu mengelak. Sesekali menangkis, dan selebihnya adalah hujan serangan dari Utari.

Jayalaga mengeluh dalam hati. Sekujur tubuhnya telah mandi keringat. Hawa panas menyengat yang keluar dari setiap sambaran lawan, benar-benar membuatnya tersiksa. Hampir-hampir dia tidak kuat menahannya.

"Haaat..!"

Utari berteriak nyaring. Dan belum lagi gema teriakannya habis, gadis berpakaian biru itu sudah melesat menerjang Jayalaga. Kedua tangannya yang terkepal, dilontarkan bertubi-tubi ke arah dada, ulu hati, dan perut pemuda berpakaian merah muda itu.

Jayalaga memekik tertahan. Murid Eyang Tapakjati ini memang terkejut bukan main Serangan itu datang begitu tiba-tiba. Tak sempat dielakkan lagi. Tak ada jalan lain kecuali menangkis serangan itu untuk menyelamatkan selembar nyawanya.

Plak. plak. plak... !
"Aaakh...!"

Terdengar suara keras beruntun, begitu dua pasang tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi itu berkali-kali berbenturan. Jayalaga memekik nyaring. Tubuhnya terhuyung-huyung dua langkah, sementara Utari terhuyung satu langkah. Jelas terlihat kalau dalam adu tenaga dalam tadi, Utari masih lebih unggul ketimbang lawannya.

Jayalaga masih menggeliat-geliatkan tubuhnya. Rasa panas yang menyengat menjalar ke sekujur tubuhnya begitu tangannya berbenturan dengan tangan lawannya. Dan belum lagi pemuda ini sempat berbuat sesuatu, Utari melancarkan pukulan susulan ke arah dada.

Buk!
"Aaa...!"

Jayalaga menjerit memilukan. Keras dan telak sekali pukulan Utari bersarang di dadanya. Suara berderak keras dari tulang-tulang dada yang berpatahan segera terdengar. Seketika itu juga pemuda berpakaian merah muda ini terjengkang. Darah segar mengalir deras dari mulut, hidung, dan telinganya.

Suara berdebukan keras terdengar begitu tubuh Jayalaga terbanting ke tanah. Sesaat lamanya pemuda ini menggelepar-gelepar meregang nyawa. Lalu diam tidak bergerak-gerak lagi.

"Hhh...!"

Utari menghela napas lega. Sesaat sepasang matanya terpaku pada mayat pemuda berpakaian merah muda itu. Kemudian bergegas menghampiri guci perak yang tadi diletakkan Jayalaga di bawah pohon angsana.

Utari kemudian mengambil guci itu. Memperhatikannya sejenak, sebelum akhirnya melesat meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian, suasana di situ pun kembali hening.

Utari berlari cepat mengerahkan seluruh ilmu meringan­kan tubuhnya. Dia ingin cepat-cepat tiba dan menyampaikan berita gembira pada Dewa Arak, bahwa gucinya telah berhasil ditemukan.

Saking tergesa-gesanya untuk segera berjumpa dengan Dewa Arak, membuat kewaspadaan gadis berpakaian biru ini berkurang. Utari sama sekali tidak menyadari kalau tak begitu jauh setelah meninggalkan mayat Jayalaga, tiga sosok berpakaian rompi dari kulit macan, memandanginya. Ketiga orang ini tak lain adalah Tiga Macan Lembah Neraka! .

"Itu Utari..." bisik Macan Tutul Lembah Neraka pada kedua rekannya seraya menunjuk bayangan biru yang berkelebat di depan mereka.

Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk laki- laki bertubuh pendek gemuk itu. Berbareng keduanya mengangguk.

"Mau ke mana dia?" tanya Macan Loreng pelan seperti bicara pada dirinya sendiri .

"Entahlah." sahut Macan Tutul seraya menggelengkan kepalanya "Tapi lebih baik kita ikut saja. Siapa tahu dia akan membawa kita pada Dewa Arak!"

"Mudah-mudahan saja," sahut Macan Kumbang Lembah Neraka mendukung "Mari kita kejar dia, sebelum pergi Jauh."

Setelah berkata demikian, laki-laki berkulit hitam itu segera melesat dari situ. Macan Tutul dan Macan Loreng Lembah Neraka pun segera mengikuti.

Tiga Macan Lembah Neraka membuntuti Utari dari jarak yang cukup jauh. Sehingga gadis berpakaian biru itu sama sekali tidak menyadarinya. Terus saja gadis itu berlari menuju gua persembunyiannya.

Utari baru memperlambat larinya setelah mendekati mulut gua. Macan Tutul yang paling cerdik di antara Tiga Macan Lembah Neraka, dapat menduga kalau di gua itulah Utari menyembunyikan Dewa Arak. Maka laki-laki bertubuh pendek gemuk itu pun menganggukkan kepala pada kedua rekannya.

Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka rupanya mengerti isyarat rekannya. Terbukti begitu Macan Tutul Lembah Neraka menganggukkan kepalanya, Macan Kumbang dan Macan Loreng mempercepat larinya. Akibatnya sudah dapat diduga. Sebelum gadis berpakaian biru itu memasuki mulut gua, Tiga Macan Lembah Neraka berdiri menghadang .

"Ah... ! "

Utari memekik kaget begitu mengenali tiga orang yang telah berada di hadapannya. Tak terasa gadis berpakaian biru itu melangkah mundur. Sepasang matanya terbelalak lebar, bagaikan melihat hantu

"Mana Dewa Arak, Utari?" tanya Macan Kumbang Lembah Neraka pelan. Tapi di dalam suaranya terkandung ancaman.

"Aku tidak tahu!" sahut gadis pakaian biru itu ketus. Suaranya bergetar, pertanda Utari tengah dilanda perasaan tegang.

"Ha ha ha...! Kau kira kami bodoh, Utari?" sahut Macan Tutul seraya tertawa mengejek. "Tanpa kau beritahu pun kami sudah tahu kalau Dewa Arak berada di dalam gua ini! Macan Kumbang! Macan Loreng! Periksa ke dalam! Biar gadis liar ini aku yang urus!"

Tanpa banyak membantah, Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka melangkah ke dalam gua. Sadar kalau yang berada di dalam adalah orang yang berbahaya, kedua orang ini bersikap waspada. Selagi melangkah, urat- urat syaraf mereka menegang. Bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Utari yang melihat hal ini menjadi khawatir. Tanpa memandang kalau tiga orang di hadapannya memiliki kepandaian di atasnya, gadis berpakaian biru ini berusaha mencegah masuknya kedua orang tokoh Tiga Macan Lembah Neraka itu.

Tapi belum lagi niat Utari terlaksana, Macan Tutul telah lebih dulu bergerak menghadang. Melihat hal ini Utari pun mentadi cemas bukan main.

"Kang Arya...! Hati-hati..! Macan Kumbang dan Macan Loreng masuk ke gua, dan hendak membunuhmu...!" teriak Utari keras dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya!

"Keparat!" Macan Tutul Lembah Neraka menggeram "Rupanya kau sudah tergila-gila pada ketampanan Dewa Arak, Utari! Lupakah kau pada tekadmu dulu?! Lupakah kau akan kebaikan gurumu?! Kau tahu, tanpa kebaikan gurumu, kau tidak akan jadi manusia seperti sekarang! Tapi sekarang apa balasanmu?! Bukannya kau bantu kami, tapi malah melindungi pembunuh gurumu!"

Seketika wajah gadis berpakaian biru itu pucat Dalam batinnya terjadi peperangan hebat. Kini Utari dihadapkan pada dua pilihan, antara membalaskan dendam gurunya atau menyelamatkan Dewa Arak! Sukar sekali untuk memilih salah satu di antaranya. Kepala gadis itu seakan ingin pecah rasanya.
***
Sementara itu Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka terkejut mendengar teriakan Utari yang memberitahu kedatangan mereka pada Dewa Arak. Kedua tokoh yang sudah pernah merasakan kelihaian Dewa Arak ini agak ngeri juga seandainya pemuda berambut putih keperakan itu mengetahui kedatangan mereka.

Dewa Arak yang tengah bersemadi, sayup-sayup mendengar teriakan Utari. Dan hal ini tentu saja membuat Arya terkejut. Dari pemberitahuan gadis berpakaian biru itu diketahuinya kalau dua di antara Tiga Macan Lembah Neraka telah masuk ke dalam gua. Dan itu berarti yang seorang lagi berada di luar. Hal ini tentu saja membuat Dewa Arak menjadi cemas akan keselamatan Utari.

Utari harus diselamatkan dulu! Begitu keputusan Dewa Arak. Tapi bila dia memaksa keluar melalui jalan depan, rasanya tidak mungkin. Karena sebelum dia keluar, pasti akan dihadang Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka terlebih dahulu. Harus dicarinya jalan keluar lain, pikir Dewa Arak. Dan Dewa Arak telah menemukannya.

Memang, tanpa sepengetahuan Utari, Dewa Arak telah menemukan jalan keluar lain dari gua ini. Tadi, sepeninggal Utari, Arya sempat memeriksa sekeliling gua. Dan secara kebetulan, pemuda ini menemukan jalan keluar lainnya.

Bergegas Dewa Arak menghampiri sebatang tongkat kecil yang menempel di dinding gua. Tongkat yang semula dikiranya untuk menaruh tangkai obor. Tanpa ragu-ragu lagi Arya segera menekan tongkat itu ke bawah.

Suara berderak keras terdengar, disusul dengan bergesernya dinding gua. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera menyelinap selagi dindng itu menggeser membuka.

Tentu saja Macan Loreng dan Macan Kumbang Lembah Neraka mendengar suara berderak keras itu. Dan kontan keduanya menjadi terkejut. Seketika itu pula langkah mereka dihentikan.

"Apa itu, Macan Loreng?" tanya Macan Kumbang yang memang agak kurang cerdas dibanding rekannya. "Jangan- jangan gua ini akan runtuh."

Macan Loreng mengerutkan alisnya. Diperhatikannya bagian atas gua, dan kemudian dindng-dindingnya.

"Tidak mungkin," bantah laki-laki berkulit kuning ini. "Nah! Getarannya sudah berhenti. Seandainya gua ini akan runtuh, mestinya getaran itu akan terus berlangsung, tidak berhenti seperti ini."

Macan Kumbang mengangguk. Disadarinya kebenaran ucapan Macan Loreng.

"Cepat, Macan Kumbang!" ucap Macan Loreng lagi. "Aku mempunyai firasat yang tidak enak dengan suara bunyi itu."

Setelah berkata demikian, Macan Loreng Lembah Neraka mempercepat langkahnya. Macan Kumbang pun tidak mau ketinggalan. Bergegas pula langkahnya diper- cepat. Meskipun begitu, kewaspadaan mereka sama sekali tidak mengendur.

Tatkala Macan Loreng dan Macan Kumbang Lembah Neraka telah tiba di bagian paling ujung gua. Keduanya terperanjat. Suasana tempat itu memang agak terang, karena di bagian atap gua ada celah-celah yang dapat diterobos sinar matahari.

"Keparat itu tidak ada, Macan Loreng!" seru Macan Kumbang Lembah Neraka keras. Sepasang matanya berkeliling, mencari kemungkinan ada tempat ber- sembunyi. Tapi laki-laki berkulit hitam ini kecewa. Tidak ada sama sekali tempat untuk bersembunyi di situ.

Macan Loreng mengerutkan alisnya. Benaknya berputar keras. Ruangan dalam gua ini memang kosong. Apakah pemuda itu sudah keluar gua? Tapi, kalau pemuda itu memang sudah keluar, pasti akan berpapasan dengan mereka di lorong gua! Ataukah ada jalan rahasia yang menuju keluar? duga laki-laki berwajah kuning itu.

Plak!

Macan Loreng Lembah Neraka menepuk kepalanya. Mengapa dia begitu bodoh? Sudah pasti Dewa Arak telah keluar melalui jalan rahasia! Dan suara derak keras tadi, sudah pasti terjadi sewaktu pemuda berambut putih keperakan itu keluar melalui jalan itu!

"Ada apa, Macan Loreng?" tanya Macan Kumbang Lembah Neraka. Agak heran hatinya melihat laki-laki berwajah kuning itu menepak kepalanya sendiri.

"Dewa Arak pasti keluar melalui jalan rahasia!" sahut Macan Loreng memberitahu.
"Kalau begitu mari kita cari jalan itu," sambut Macan Kumbang lagi.
"Tidak perlu, Macan Kumbang!" bantah Macan Loreng cepat.
"Mengapa?" tanya laki-laki berkulit hitam itu bingung.

"Terlalu memakan banyak waktu. Lebih baik kita segera keluar lewat mulut gua di depan! Aku khawatir telah terjadi sesuatu pada Macan Tutul!"

Setelah berkata demlkian, Macan Loreng segera melesat ke mulut gua. Macan Kumbang tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti laki-laki berwajah kuning itu.

Sementara di luar gua, Macan Tutul Lembah Neraka menjadi meluap amarahnya begitu melihat Utari malah berdiri termenung. Kemarahannya yang memang sudah timbul tatkala mengetahui murid Raksasa Rimba Neraka ini membebaskan Dewa Arak, semakin memuncak.

"Kalau begitu, lebih baik kau mampus saja, Utari!"

Setelah berkata demikian, Macan Tutul Lembah Neraka pun menerjang Utari. Kedua tangannya yang berbentuk cakar menyerang bertubi-tubi ke arah dada, ulu hati, dan pusar murid Raksasa Rimba Neraka itu

Cepat dan dahsyat bukan main serangan laki-laki bertubuh pendek gemuk itu. Sekali pun Utari dalam keadaan waspada pun, rasanya sulit bagi gadis itu untuk mengelak. Apalagi dalam keadaan bingung seperti ini. Akibatnya....

Buk! Buk... !
"Aaa...!"

Utari menjerit memilukan. Seketika itu juga tubuhnya melayang tiga tombak ke belakang. Dari mulut, hidung, dan telinganya, mengalir darah segar. Tulang-tulang dada Utari remuk seketika itu juga. Hebat bukan main akibat pukulan yang dilancarkan Macan Tutul Lembah Neraka.

"Utari.!"

Terdengar panggilan keras, disusul dengan ber- kelebatnya sesosok bayangan ungu.

"Hup.!"

Dengan kecepatan yang luar biasa, bayangan ungu itu menangkap guci arak yang terlepas dari pegangan Utari. Begitu guci arak itu telah ditangkap, bayangan ungu itu melesat ke arah tubuh Utari yang tergolek di tanah.

"Utari...," desah sosok ungu itu serak.

Utari membuka kelopak matanya. Sepasang matanya terlihat begitu kosong. Tidak nampak sinar kehidupan di dalamnya.

"Kang Arya...," pelahan sekali suara gadis itu. Cairan merah kental kembali keluar dari bibir mungil yang kini pucat pias itu.

Sosok ungu yang ternyata adalah Arya Buana alias Dewa Arak itu menatap Utari. Rasa sesal yang amat sangat, bergayut di hati pemuda berambut putih keperakan ini. Dewa Arak tahu kalau gadis itu menjadi seperti ini karena ingin menyelamatkan dirinya.

"Maafkan aku, Utari. Gara-gara aku, kau jadi celaka," ujar Arya dengan suara serak.

"Kau..., sama sekali tidak bersalah, Kang,..," ucap gadis berpakaian biru itu terputus-putus. Dan kembali cairan merah kental keluar dari mulut, dan hidung Utari. Dewa Arak segera menyeka dengan pakaiannya. Sesak dada Arya oleh keharuan yang menggelegak, melihat keadaan gadis ini. Kelopak matanya merembang berkaca-kaca.

"Kau..., kau bersedih, Kang Arya? Kau..., kau menyayangiku...?" tanya murid Raksasa Rimba Neraka itu lagi dengan suara terputus-putus. Kembali cairan merah kental mengalir keluar dari mulut dan hidung gadis itu. Dan lagi-lagi Dewa Arak menyekanya.

Dewa Arak mencoba tersenyum. Tapi karena rasa haru tengah melandanya, senyumnya terlihat sebagai seringai kepedihan.

"Aku puas, Kang, Aku puas dapat menolongmu.., aku... aku..., mencintaimu, Kang...."

"Utari...," desah Dewa Arak serak. Dipeluknya kepala gadis itu erat-erat, dan dibenamkan ke dadanya. Arya tak mempedulikan darah yang membasahi pakaiannya.

"Se... selamat tinggal, Kang Arya...." Dan kepala gadis berpakaian biru itu pun terkulai. Utari telah pergi untuk selamanya.

"Utari...," panggil Dewa Arak setengah berteriak. Kemudian dikatupkan kedua kelopak mata gadis itu. Bibir Utari menyunggingkan senyuman. Utari meninggalkan dunia ini dengan perasaan puas, karena dapat meninggal di pelukan pemuda yang dicintainya. Dewa Arak tidak menyadari kalau sejak tadi ada tiga pasang mata yang memperhatikannya.

Tiga Macan Lembah Neraka hanya bisa memandangi dan mendengar kan pembicaraan antara Dewa Arak dan Utari. Ketiga datuk golongan hitam ini telah lupa pada tujuan mereka semula. Kematian Utari telah membuat gairah mereka untuk membalas dendam pada Dewa Arak, telah sirna seketika.

Dan memang, keinginan untuk membalaskan kematian Raksasa Rimba Neraka pada Dewa Arak adalah semata- mata hanya untuk membantu mewujudkan keinginan Utari.

Tiga Macan Lembah Neraka tetap berdiri terpaku melihat Dewa Arak mengatupkan kedua kelopak mata Utari. Memang Tiga Macan Lembah Neraka sebenarnya sangat menyayangi gadis berpakaian biru itu. Mereka telah menganggap Utari seperti anak mereka sendiri. Rasa sayang yang amat besar itulah yang mendorong mereka rela meninggalkan Lembah Neraka.

Tiga Macan Lembah Neraka merasa terpukul sekali menerima kenyataan ini. Terutama sekali Macan Tutul Lembah Neraka yang tanpa sadar telah menurunkan tangan maut. Laki-laki pendek gemuk itu merasa menyesal bukan main. Sungguh tidak disangka kalau Utari tidak mampu mengelakkan serangannya. Kini Macan Tutul hanya dapat berdiri terpaku dengan wajah dan sepasang mata yang memancarkan penyesalan yang amat sangat.

Baru setelah Dewa Arak beranjak bangkit sambil mengangkat tubuh Utari, Tiga Macan Lembah Neraka tersadar. Berbareng mereka menghampiri Arya.

"Berikan mayat Utari pada kami, Dewa Arak," pinta Macan Tutul Lembah Neraka. Suaranya terdengar agak parau.

Dewa Arak menatap wajah Macan Tutul dalam-dalam.

"Apa kau masih belum puas, Macan Tutul. Apakah membunuhnya saja belum cukup bagimu?!" sentak Dewa Arak keras.
"Hhh...!"

Macan Tutul hanya menghela napas dalam-dalam. Laki- laki bertubuh pendek gemuk itu tidak marah mendapat perlakuan yang kasar itu. Dendamnya telah pupus seketika, seiring dengan kematian Utari. Bahkan Macan Tutul Lembah Neraka merasa seluruh semangat hidupnya telah hilang entah ke mana.

Dewa Arak mengalihkan perhatiannya pada Macan Loreng. Ditatapnya laki-laki berwajah kunlng itu lekat-lekat. Macan Loreng pun sama sekali tidak membalas pandangan Arya. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam. Sorot matanya memancarkan kepedihan yang teramat sangat.

Kini Arya mengalihkan pandangannya pada Macan Kumbang Lembah Neraka. Laki-laki berkulit hitam yang biasanya bersikap garang, angker, dan galak ini pun ternyata kehilangan keangkerannya. Dan memang sebenarnya, di antara Tiga Macan Lembah Neraka, Macan Kumbang Lembah Nerakalah yang paling menyayangi Utari.

"Utari keponakan kami, Dewa Arak," ucap Macan Kumbang. Suara laki-laki berkulit hitam ini terdengar lemah, seperti orang yang minta dikasihani. Suara yang biasanya terdengar garang dan berat itu kini mendadak sirna.

Dewa Arak yang masih emosi akibat kematian Utari yang mengenaskan itu, kian meledak emosinya.

"Jadi, mentang-mentang Utari keponakan kalian, lalu seenaknya saja kalian menyiksanya?!" sahut pemuda berambut putih keperakan itu. Kasar dan keras suaranya. "Kini, aku akan membuat dua buah perhitungan dengan kalian!" ucap Dewa Arak lagi sambil menatap wajah Tiga Macan Lembah Neraka berganti-ganti.

Tapi tak seorang pun dari Tiga Macan Lembah Neraka yang menyahuti ucapan Dewa Arak. Tatapan mata mereka kosong. Sepertinya ucapan Arya sama sekali tidak mereka dengar.

"Pertama, urusan Eyang Tapakjati yang telah kalian bunuh, dan yang kedua adalah kematian Utari!" tandas Dewa Arak keras.

Seperti sebelumnya, Tiga Macan Lembah Neraka juga tidak meladeni ucapan Dewa Arak. Mereka masih saja bersikap seperti semula. Menatap dengan mata kosong.

"Bersiaplah! Atau kalian akan mati sia-sia di tanganku...!" teriak Arya lagi. Setelah berkata begitu tubuh Utari dipindahkan ke bahu sebelah kiri. Kemudian pemuda berambut putih keperakan itu menerjang ke arah Macan Tutul. Tangan kanannya menyambar ke pelipis laki-laki bertubuh pendek gemuk itu dengan menggunakan jurus 'Belalang Sakti'.

Wuuut..!

Angin menyambar keras mengiringi tibanya serangan Dewa Arak. Tapi Macan Tutul Lembah Neraka sama sekali tidak mempedulikan serangan itu. Tidak mengelak ataupun menangkis. Sepertinya rasa berdosa atas kematian Utari telah membuatnya pasrah menerima kematian di tangan Dewa Arak.

Tentu saja Dewa Arak tidak mau membunuh orang yang sama sekali tidak melawan. Buru-buru serangannya ditarik pulang.

"Ayo lawan dan hadapi aku, Macan Tutul!" bentak Dewa Arak keras. Tapi laki-laki bertubuh pendek gemuk itu kembali tidak menyahutinya. Kepalanya masih tertunduk menekuri tanah.

Dewa Arak pun mengalihkan perhatiannya pada Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka.

"Ayo, Macan Tutul! Macan Kumbang! Lawanlah aku! Bukankah itu yang kalian inginkan!"

"Kau boleh membunuh kami, Dewa Arak! Percayalah, kami tidak akan melawan," ucap Macan Tutul lemah. "Tapi kami mohon kau sudi memenuhi permintaan terakhir kami. Sudilah kiranya kau membawa mayat Utari ke Lembah Neraka, dan menguburnya di sana."

Dewa Arak terlongong mendengar ucapan laki-laki ber­tubuh pendek gemuk itu. Kemarahannya pun pelahan mereda. Apalagi setelah kini pikirannya mulai normal. Baru kini pemuda berpakaian ungu itu menyadari kalau sejak tadi Tiga Macan Lembah Neraka sama sekali tidak berniat melawannya.

"Aku tidak bisa membunuh orang yang tidak mau melawan," keluh Dewa Arak pelan.
"Kalau begitu, maukah kau memenuhi permintaan kami?" tanya Macan Tutul Lembah Neraka lagi.
"Apa itu?" tanya Dewa Arak tak bergairah.

"Kami mohon, kau sudi menyerahkan mayat Utari kepada kami. Dia adalah keponakan kami, Dewa Arak. Kami akan mengurus mayat Utari sebaik-baiknya. .."

Dewa Arak tercenung mendengar permintaan itu. Disadari kalau Tiga Macan Lembah Neraka amat menyesali kematian Utari. Tadi pun pemuda berambut putih keperakan itu sempat melihat kalau laki-laki bertubuh pendek gemuk itu terpaku dengan wajah sepucat mayat, begitu melihat tubuh Utari menggelepar-gelepar. Sikap mereka pun kian mempertebal kepercayaannya. Dan memang Tiga Macan Lembah Neraka lebih berhak atas mayat Utari. Tiga Macan Lembah Neraka adalah paman- paman dari gadis berpakaian biru ini.

Tanpa banyak bicara Dewa Arak segera menyerahkan mayat Utari pada Macan Tutul Lembah Neraka. Laki-laki bertubuh pendek gemuk itu menerimanya. Tampak hati- hati sekali, tokoh Tiga Macan Lembah Neraka itu menerima mayat keponakannya.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Dewa Arak!" ucap Macan Tutul Lembah Neraka serak. "Percayalah, kami akan selalu mengingat kebaikan hatimu ini"

Setelah berkata demikian, Macan Tutul melangkah pelahan-lahan meninggalkan tempat itu. Macan Kumbang dan Macan Loreng Lembah Neraka melangkah pelan dengan kepala tertunduk di belakangnya.

Dewa Arak memandangi punggung tiga datuk golongan hitam yang berjalan meninggalkannya. Pemuda berpakaian ungu yang kini di pakaiannya banyak terdapat noda darah itu terus memandangi kepergian tiga tokoh itu. Akhirnya tubuh Tiga Macan Lembah Neraka semakin lama semakin mengecil, dan lenyap di kejauhan.

"Hhh...!"

Dewa Arak menghela napas berat. Kemudian dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Pemuda berambut putih keperakan itu mengambil arah yang berlawanan dengan arah yang ditempuh Tiga Macan Lembah Neraka. Pelahan-lahan saja Arya melangkah-kan kakinya. Meneruskan perjalanannya. Masih banyak tugas- tugas yang menantinya. Tugas selaku pendekar pembela kebenaran.

SELESAI

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Dewa Arak 10 - Tiga Macan Lembah Neraka"

Post a Comment

close