Serial Dewa Arak 02 - Dewi Penyebar Maut

Mode Malam
02 - Dewi Penyebar Maut

"Ayah...," suara pelan mengandung isak terdengar memecah kesunyian pagi. Suara itu berasal dari sebuah mulut mungil berpakaian serba putih yang duduk bersimpuh di depan sebuah gundukan tanah merah.

Wajah sosok tubuh ramping ini tidak terlihat karena kepalanya tertunduk .

"Aku menyesal sekali, Ayah...," kembali suara mengandung isak itu terdengar. Menilik suaranya yang begitu menyayat, dapat diperkirakan kalau sosok tubuh ramping ini adalah seorang wanita.

"Kalau aku tidak datang terlambat, mungkin Ayah tidak meninggal. Aku menyesal sekali. Tapi, tenanglah di dalam kuburmu. Akan kubalaskan sakit hatimu. Akan kubunuh mereka yang telah secara curang mengeroyok mu. Dengar janjiku ini, Ayah. Kalau tidak berhasil memenuhi janjiku ini, maka akan kuganti namaku, Ayah. Akan kubuang nama Melati!"

Tegas dan mantap sekali ucapan terakhir yang keluar dari mulut sosok yang berpakaian serba putih, dan ternyata bernama Melati itu. Apalagi kata-kata itu ditutup dengan kepalan tangannya di depan dada, sambil mengangkat wajah! Tangan yang terkepal itu begitu indah! Jari jemarinya terlihat lentik, halus, dan berkulit putih mulus.

Punggung tangannya yang tidak tertutup baju bertangan panjang itu pun putih, halus, dan mulus! Tetapi bila dibandingkan dengan wajah yang kini nampak jelas itu, tangan itu tidak berarti apa-apa. Wajah sosok serba putih itu begitu cantik

jelita, laksana Dewi! Kulit wajahnya putih, halus, dan mulus. Hidungnya mbangir, dan bibirnya yang tipis dan mungil itu berwarna merah segar.

Hanya satu yang menyeramkan pada gadis berusia sekitar sembilan belas tahun itu. Sepasang matanya yang tajam mencorong, dan bersinar kehijauan! Persis seperti sorot mata kucing dalam gelap.

Setelah mengucapkan sumpahnya, Melati bangkit dari duduknya, kemudian melesat dari situ. Cepat sekali gerakannya. Sehingga dalam sekejap mata saja, hanya terlihat sebuah titik di kejauhan yang semakin lama semakin mengecil dan akhirnya lenyap.

***

Seraut wajah cantik jelita berpakaian serba putih, dengan sikap tak acuh melangkah memasuki sebuah kedai di Desa Waringin. Dihampirinya sebuah meja yang masih kosong. Dan dengan malas dihenyakkan tubuhnya ke kursi. Tak dipedulikan berpasang-pasang mata yang menatap liar ke arahnya.

Sang pemilik kedai, seorang setengah tua yang berwajah totol-totol hitam, tergopoh-gopoh datang menghampirinya.

"Mau pesan apa, Nisanak?" tanya pemilik kedai ramah.

Wanita yang tidak lain dari Melati ini lalu memesan makanan yang disukainya. Suaranya begitu merdu.
Sang pemilik kedai mengangguk-angguk mengerti, kemudian berlalu untuk menyiapkan pesanan itu. Sebelum berlalu, mulutnya sempat berbisik pelahan pada Melati.

"Hati-hati, Nisanak. Di sini banyak orang jahat. Kalau bisa, cepatlah pergi dari sini..."

Melati hanya tersenyum sinis. Sama sekali tidak digubris peringatan. pemilik kedai itu.
Tidak lama, pemilik kedai itu sudah kembali sambil membawa makanan pesanan Melati. Setelah mempersilakan, ia pun berlalu dari situ.

Baru beberapa langkah pemilik kedai itu meninggalkan meja Melati, dua orang berwajah kasar yang sejak tadi menatap liar pada Melati, bangkit dari kursinya. Tampaknya mereka melangkah mendekati meja Melati.

"Nisanak...," ucap salah seorang di antara mereka yang berkulit hitam dan berwajah penuh bercak­bercak putih. Lagaknya membuat Melati merasa perutnya mual. "Makan sendirian tidak enak. Lebih baik pindah ke meja kami, dan kita makan bersama­sama."

"Benar, Nisanak," sambut seorang lagi, yang bermulut lebar.

"Lalat-lalat kotor menyebalkan!" ucap Melati tak acuh. Tanpa mempedullkan mereka, gadis itu terus saja melanjutkan makannya. "Aku heran, kenapa di kedai sebersih ini masih ada dua ekor lalat busuk yang menjemukan?!"

"Keparat!" teriak si muka hitam berang. "Perempuan tak tahu diuntung! Berani benar kau menghina Sepasang Setan Hitam?! Kau harus dihukum atas kekurangajaranmu itu! Kecuali kalau kau mau meminta maaf dan mencium kami masing­masing sepuluh kali."

"Ya, betul," sambut si mulut lebar. Sudah terbayang di benaknya betapa nikmat dicium gadis secantik wanita berpakaian serba putih ini.

Sepasang mata Melati mencorong mendengar ucapan yang kurang ajar itu. Tangannya yang tengah menyuap nasi, terhenti di depan mulut.

"Lalat-lalat busuk bermulut kotor! Orang seperti kalian tidak pantas hidup lebih lama lagi!" bentak gadis itu geram.

"Ha ha ha...!" si mulut lebar tertawa bergelak. "Kau dengar apa yang dikatakannya, Kang? Lucu! Sungguh lucu! Kelinci hendak mengalahkan harimau!"

Si muka hitam yang berangasan tidak menyahuti gurauan rekannya. Sambil mendengus seperti kerbau marah, kedua tangannya begitu kurang ajar hendak mencengkeram ke arah dada Melati.

Wajah gadis itu langsung memerah melihat serangan yang kurang ajar ini. Seketika itu juga tangannya cepat bergerak menyambut. Dan di lain saat, dua tangan yang mungil dan indah itu sudah mencekal pergelangan kedua tangan si muka hitam yang terarah ke dada. Pelahan sekali tangan gadis itu meremas, tetapi akibatnya hebat bukan kepalang! Terdengar suara gemeretak tulang patah dari pergelangan si muka hitam. Kelihatannya tulang­tulang itu hancur diremas tangan mungil yang mengandung tenaga dalam tinggi itu.

"Akh ... !" si muka hitam berteriak kesakitan. Keringat sebesar biji-biji jagung bermunculan di wajahnya karena menahan rasa sakit pada kedua tangannya.

Si muka hitam kaget bukan main. Sekuat tenaga ditarik kedua tangannya yang dipegangi Melati. Tapi betapa pun telah mengerahkan segenap tenaganya, tetap saja dia tidak mampu membebaskan kedua tangannya dari cekalan tangan halus itu. Belum lagi sempat berbuat sesuatu, tangan kiri gadis berpakaian serba putih itu sudah bergerak menampar pelipis si muka hitam.

Prakkk...!"
"Akh ... !"

Terdengar suara berderak keras ketika tangan halus gadis itu menghantam pelipis si muka hitam. Orang pertama dari Sepasang Setan Hitam ini mengeluh tertahan, sebelum rubuh ke tanah dengan napas putus.

Si mulut lebar meraung murka melihat temannya tewas. Tak dipikirkan lagi, bahwa kematian rekannya yang begitu mudah menjadi suatu tanda betapa tingginya kepandaian yang dimiliki gadis berpakaian serba putih itu. Dengan amarah meluap-luap, dicabut senjatanya yang berupa sebuah kapak dari baja putih. Seketika diayunkannya senjata itu ke kepala Melati. Dan memang, hilang sudah gairahnya pada gadis itu.
Wuttt..!

Angin keras berhembus sebelum serangan kapak itu tiba. Tetapi, Melati sama sekali tidak gugup melihat serangan itu. Hanya dimiringkan kepalanya sedikit, maka kapak itu lewat beberapa rambut di depan mukanya. Dan sebelum kapak itu menghantam meja, tangan Melati sudah bergerak cepat menotok pergelangan tangan si mulut lebar.

Si mulut lebar mengeluh tertahan. Pergelangan tangannya terasa lumpuh, sulit digerakkan lagi. Dan sebelum ia berbuat sesuatu, kapak itu kini sudah berpindah ke tangan Melati. Begitu tangan gadis yang kini telah menggenggam kapak itu bergerak, si mulut lebar menjerit ngeri. Dadanya tertembus kapaknya sendiri. Beberapa saat lamanya tubuh salah satu dari Sepasang Setan Hitam itu menggelepar-gelepar sebelum akhirnya tidak bergerak-gerak untuk selama­lamanya.

Setelah menewaskan si mulut lebar, Melati kembali duduk menghadapi mejanya. Sikapnya tak acuh, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Para pengunjung yang melihat keganasan gadis itu menjadi ngeri.

Beberapa di antara mereka secara diam-diam meninggalkan kedai itu setelah membayar makanannya. Tentu saja Melati mengetahuinya. Tapi, gadis itu tidak mempedulikan. Terus saja dilanjutkan makannya yang tertunda.

Tak lama kemudian, Melati menyelesaikan makannya. Diletakkan pembayarannya di atas meja. Dengan sikap tidak peduli, dilangkahkan kakinya berjalan ke luar kedai.

Sepeninggal Melati, maka terdengarlah suara­suara bergumam mirip kerumunan lebah di dalam kedai itu. Semuanya sibuk membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.

"Sayang sekali!" ucap salah seorang pengunjung menyayangkan. "Siapa sangka kalau di balik wajah cantik seperti Dewi, tersembunyi hati yang kejam."

"Benar!" sambut yang lain. "Begitu mudah dan enaknya ia menyebar maut di sini!"
"Tindakannya seperti Malaikat Pencabut Nyawa saja!" orang pertama menyahuti lagi.
"Ah, tidak cocok dong!" sergah yang lain.
"Mana ada malaikat wanita! Kalau menurutku, julukan yang pantas baginya adalah Dewi Penyebar Maut!"
"Benar ... !" sahut salah seorang.
"Akur ... !"

Sejak peristiwa di kedai itu, tanpa sepengetahuan Melati sendiri, ia telah dijuluki orang Dewi Penyebar Maut. Dalam waktu sebentar saja, julukan itu telah menyebar ke seluruh pelosok desa. Bahkan sampai ke desa-desa sekitar.

Dewi Penyebar Maut, sebuah julukan bagi seorang gadis cantik yang berpakaian serba putih, tapi berhati kejam.

***

"Perguruan Elang Sakti," gumam Melati sinis, membaca tulisan pada sebuah papan besar dan tebal yang tergantung di depan pintu gerbang sebuah bangunan besar yang dikelilingi tembok tinggi.

"up !".

Melati melompati tembok yang tingginya tidak kurang dari satu tombak itu. Tanpa suara, kakinya mendarat seperti seekor kucing.

Tetapi belum juga gadis itu berbuat sesuatu, terdengar sebuah bentakan keras.

"Berhenti!"

Melati menoleh ke arah asal suara itu. Nampak di depannya berdiri seorang pemuda gagah dengan kedua tangan bersedekap. Tatapan matanya penuh selidik. Tetapi, sepasang mata yang semula tajam itu mendadak lunak begitu melihat wajah Melati.

"Eh! Nggg..., siapa Nini? Mengapa masuk secara gelap-gelapan?" tanya pemuda itu gagap.
"Siapa pun aku, tidak perlu kau tahu. Yang jelas, kedatanganku ke sini adalah karena mempunyai keperluan yang sangat penting dengan gurumu!" sahut Melati sambil tersenyum sinis.

"Ahhh.... Ada keperluan apakah, sehingga Nini ingin bertemu guruku?"
"Aku ingin mengirimnya ke akherat!" lantang dan tegas kata-kata Melati.

"Apa?!" Sepasang mata pemuda itu terbelalak. Kini sikapnya seketika berubah kembali. "Jangan harap mampu melakukannya sebelum melangkahi mayatku!"

"Hi hi hi...! Berapa sih, susahnya melangkahi mayatmu?!" ejek Melati tajam, setelah tawa mengikiknya selesai.
"Boleh kau coba!" tantang pemuda itu.

"Manusia dungu yang suka mencari penyakit sendiri! Jangan salahkan aku kalau kau mati di tanganku!"
Setelah berkata demikian, tubuh Melati berkelebat ke arah sasaran. Pemuda itu kaget sekali. Yang terlihat hanya sekelebat bayangan yang cepat meluruk ke arahnya. Dengan sebisanya, pemuda itu bergerak menangkis. Tapi usahanya sia-sia.

Crokkk!
"Aaakh...!"

Pemuda malang itu langsung rubuh sambil berteriak keras menyayat. Darah segar seketika membasahi ubun-ubunnya yang pecah!

Tanpa mempedulikan keadaan pemuda itu lagi, Melati bergerak menghampiri pintu gerbang. Tepat di depan pintu gerbang itu langkahnya terhenti seraya bertolak pinggang.

"Satria, Mega..., keluar! Kalian harus menerima kematian!" teriak Melati lantang.

Teriakan Melati yang disertai pengerahan tenaga dalam, langsung menggema ke sekitar tempat itu. Akibatnya sudah bisa diduga. Belasan murid Perguruan Elang Sakti bermunculan, dan bersikap waspada.

"Iblis dari mana yang tersesat ke sini?!" tanya salah seorang murid kepala, bernada kasar. Kemudian dengan amarah meluap-luap, dihampirinya Melati. Untuk sesaat hatinya terperangah melihat kecantikan si pengacau yang luar biasa itu. Tapi, sekejap kemudian perasaannya sudah bisa dikuasai.

Tetapi sebelum Melati menjawab, terdengar sebuah suara dari arah belakang para murid itu. "Mundur, Kusna!"

Si murid kepala yang ternyata bernama Kusna, segera mengenali suara gurunya. Maka buru-buru dia melangkah mundur. Seiring mundurnya Kusna, dari belakang kerumunan murid itu menyeruak dua orang pria berusia tiga puluhan.

"Kaliankah yang bernama Satria dan Mega itu?" tanya Melati sinis.

"Tidak salah! Aku Satria, dan ini temanku, Mega," jawab Satria yang kini bersama Mega menjadi Ketua Perguruan Elang Sakti (Untuk mengetahui kisah tentang Satria dan Mega sebelumnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang").

"Ada urusan apakah, sehingga Nini datang mencari kami? Bahkan dengan cara yang sangat tidak sopan!"
Wajah Melati berubah beringas melihat orang yang dicarinya telah di depan mata.

"Hutang nyawa!" sahut gadis itu keras, bernada penuh kebencian.

Berkerut kening Satria mendengar jawaban yang tidak disangka-sangka itu.

"Hutang nyawa? Aku tidak mengerti maksudmu, Nini. Apakah kau tidak salah alamat?"
"Tidak!" bentak Melati lagi. "Bersiaplah kalian berdua untuk menerima kematian!"
"Tunggu dulu, Nini!" cegah Satria cepat. "Kalau boleh tahu, siapakah yang telah kami bunuh?"

Semakin beringas wajah Melati. Kini sepasang matanya mencorong tajam bersinar kehijauan.

"Ayahku," jawab Melati, agak ditekan suaranya.
"Ayahmu? Siapa nama ayahmu?" tanya Mega cepat.

"Ayahku berjuluk Raja Racun Pencabut Nyawa! Jelas?! Atau masih mau mungkir?" Geraham Melati bergemeletuk, karena menahan amarah (Bila ingin jelas tentang Raja Racun Pencabut Nyawa, silakan baca serial Dewa Arak, dalam episode "Pedang Bintang").

"Tidak mungkin!" potong Satria cepat. "Raja Racun itu tidak mempunyai anak, lagipula..."
"Terimalah kematianmu, manusia pengecut!" potong gadis itu cepat sambil menyerang Satria dengan mendorongkan tangannya ke depan.

Wuuuttt ... !

Angin kuat berhembus menyambar ke arah Satria. Ketua Perguruan Elang Sakti ini buru-buru melempar tubuh ke samping dan bergulingan beberapa kali di tanah. Akibatnya serangan itu lewat terus ke belakang dan kontan menghantam murid-murid Satria yang tidak sem pat mengelak lagi.

Suara jerit kesakitan terdengar saling susul, ketika pukulan jarak jauh Melati menghantam mereka. Tidak kurang dari lima orang terjengkang rubuh ke belakang dengan dada pecah!

Satria dan Mega terkejut bukan main. Dalam segebrakan saja dapat diketahui kalau gadis berpakaian serba putih ini memiliki tenaga dalam tinggi. Tanpa ragu-ragu lagi, keduanya segera mencabut senjatanya dan menyerang secara berbareng.

"Hi hi hi...," Melati tertawa mengikik. "Keroyoklah aku, manusia-manusia pengecut! Tapi, kali ini jangan harap akan semujur dulu!" berbareng dengan selesainya Melati mengucapkan ancamannya, serangan dua batang pedang itu telah menyambar kembali. Tetapi, gadis itu hanya tersenyum sinis.

Kemudian, tangannya yang telanjang segera memapak bacokan kedua pedang itu.

Satria dan Mega kaget sekali. Apa yang diperbuat gadis berpakaian serba putih ini benar-benar membuat mereka terkejut. Menangkis serangan pedang dengan tangan telanjang, membutuhkan tenaga dalam yang amat tinggi. Dan selama ini hanya Bargolalah yang berani menangkis seperti itu (Baca; Serial Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang"). Mungkinkah gadis yang mengaku putri Raja Racun Pencabut Nyawa itu mempunyai tenaga dalam setingkat Bargola? Tapi....

Trakkk! Trakkk!

Satria dan Mega menyeringai. Tangan dua orang Ketua Perguruan Elang Sakti yang menggenggam pedang, terasa lumpuh ketika tangan telanjang gadis itu menangkis pedang mereka. Hampir saja pedang mereka terlepas dari genggaman. Kini, terbukti bahwa tenaga dalam yang dimiliki gadis itu benar­benar setingkat dengan Bargola.

"Hi hi hi...," kembali Melati tertawa mengikik.

Hati gadis itu kelihatan gembira melihat kedua lawannya kaget. Sengaja dia tidak terburu-buru membinasakan, karena ingin melihat mereka ketakutan sebelum maut menjemput.

"Kini, terimalah kematian kalian!"

Setelah berkata demikian, tubuh Melati melesat cepat menerjang kedua pemimpin Perguruan Elang Sakti itu. Jari jari kedua tangannya berkelebat cepat, membentuk cakar naga. Angin tajam berciutan mengiringi tibanya serangan itu.

Satria dan Mega kebingungan. Gerakan lawan yang terlalu cepat membuat mereka tidak dapat menduga, ke arah mana dan dengan cara bagaimana gadis itu menyerang. Dengan cara untung-untungan mereka memutar pedang bagai baling-baling untuk membuat pertahanan.

Tapi, mendadak putaran pedang itu lenyap. Se­dangkan pedang-pedang itu sendiri sudah berpentalan jatuh ke lantai, sehingga menimbulkan suara berkerontangan. Satria dan Mega tidak tahu bagaimana hal itu terjadi. Yang jelas, tiba-tiba sekujur tangan mereka terasa lumpuh. Tetapi diyakini, pasti tangan gadis berpakaian serba putih itu telah menotok pergelangan tangan mereka. Dan belum lagi dapat berbuat sesuatu, tangan Melati telah menyambar pelipis dan ubun-ubun mereka, yang merupakan dua bagian tubuh yang mematikan.

Crokkk! Plakkk!

Terdengar suara berderak dua kali berturut-turut Dan seiring lenyapnya suara itu, tubuh Satria dan Mega rubuh ke tanah, tanpa bersuara lagi. Mati.

Tentu saja kematian kedua pemimpin Perguruan Elang Sakti itu membuat para muridnya menjadi terkejut bercampur marah. Dengan serentak mereka yang kini berjumlah tiga belas orang, mencabut senjata masing-masing.

Srattt! Srattt! Srattt!

Melati hanya tersenyum sinis.

"Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian. Kuperingatkan, jangan ikut campur dalam masalah ini, kalau tidak ingin bernasib seperti guru kalian," ancam gadis itu.

"Perempuan keparat! lblis berwajah manusia! Kau kira kami takut mati? Serbuuu ... !" teriak salah seorang dari mereka.

Tiga belas orang murid itu pun serentak menerjang Melati. Belasan senjata tajam yang terdiri dari pedang dan golok berkelebat menyambar sekujur tubuh gadis itu. Tapi Melati melayani hanya dengan senyum sinis.

Dan seketika kedua tangannya yang lembut dan halus itu memapak semua serangan lawannya, sekaligus memberikan sera ngan-serangan balasan.

Akibatnya sudah bisa diduga. Ke mana tangan atau kaki Melati bergerak, berarti di situ ada korban. Dan dalam waktu yang singkat, tidak ada seorang pun murid Perguruan Elang Sakti yang masih berdiri. Semua telah terkapar tanpa nyawa.

Melati memandangi hamparan mayat-mayat di sekelilingnya beberapa saat. Pandang matanya berhenti agak lama pada tubuh Satria dan Mega. Kepalanya pun kemudian menengadah.

"Ayah...," desis gadis itu pelan tapi tajam. "Lihat­lah! Telah kubalaskan dendammu. Telah kubunuh dua dari empat orang yang telah secara pengecut mengeroyokmu! Kini tinggal dua orang lagi, Ayah. Dan setelah itu tenanglah kau di alam sana!"

Belum habis gema suaranya, Melati sudah melesat dari situ. Tujuannya jelas, mencari pembunuh Raja Racun Pencabut Nyawa. Masih tinggal dua orang lagi yang dicarinya. Ningrum, dan Ular Hitam.

Tanpa sepengetahuan Melati, ada sepasang mata yang mengintai semua perbuatannya. Dan begitu dilihatnya gadis itu telah pergi, baru si pemilik sepasang mata itu berani keluar. Ditatapnya belasan sosok tubuh yang terkapar bergelimpangan disertai perasaan ngeri.

"Sungguh ganas dan kejam sekali, Dewi Penyebar Maut itu...," desahnya bergidik. Memang, dia juga sudah melihat peristiwa di kedai beberapa hari yang lalu, sewaktu Melati menewaskan Sepasang Setan Hitam. Oleh karena itu, begitu melihat, langsung dikenalinya.

"Tolooong ... ! Tolooong ... ! Ada pembunuhan!" te­riaknya sambil berlari ke luar.

Dalam waktu sebentar saja, halaman depan Perguruan Elang Sakti dipenuhi penduduk yang berkumpul karena mendengar teriakan itu! Dan julukan Dewi Penyebar Maut pun, kembali digumamkan orang dengan perasaan ngeri.

Suara irama napas teratur, tetap, dan berulang-ulang terdengar memecah keheningan pagi dalam sebuah hutan di luar Desa Kemukus. Suara itu ternyata berasal dari hidung dan mulut seorang gadis yang tengah bersemadi.

Gadis itu berwajah cantik manis, dan berpakaian serba hijau. Di pipi kirinya bertengger sebuah tahi lalat, yang membuat wajahnya yang memang cantik itu kian bertambah menarik. Gadis itu adalah Ningrum, putri Raja Pisau Terbang. Sudah beberapa hari ini, gadis itu berada di hutan. Dia memang dalam perjalanan mengikuti jejak Arya Buana, si Dewa Arak yang telah membuat hatinya terguncang pada pandangan pertama.

Selama beberapa hari di dalam hutan ini, Ningrum berlatih keras. Gadis ini merasa kecewa menyadari betapa kepandaiannya masih terlalu rendah. Sehingga sewaktu menghadapi Raja Racun Pencabut Nyawa, ia terdesak. Padahal, waktu itu ia dibantu dua orang murid kepala Perguruan Tangan Sakti! Hal ini membuatnya penasaran sekali.

Maka, dalam perjalanannya menyusuri jejak pemuda berambut putih keperakan, ia selalu menyempatkan diri untuk berlatih. Tapi bila situasinya tidak memungkinkan, dia hanya bersemadi dan latihan pemapasan saja. Dan bila situasinya memungkinkan, ia pun melatih pula jurus jurus pisau terbang dan tangan kosong.

Pelahan-lahan sang mentari mulai meninggi.

Sinarnya yang hangat pun mulai menerpa sekujur tubuh dan wajah Ningrum. Tapi, sedikit pun gadis itu tidak terganggu, dan tetap tenggelam dalam semadinya. Napasnya keluar masuk dengan irama tetap.

Putri Raja Pisau Terbang ini baru menghentikan semadi, ketika pendengarannya yang tajam menangkap suara-suara langkah kaki menuju ke arahnya.

Baru saja Ningrum membuka mata, di depannya, telah berdiri beberapa sosok tubuh berwajah kasar sambil menatap liar. Bergegas gadis yang bertahi lalat di pipi kiri ini bangkit dari bersilanya. Melihat dari gelagatnya, Ningrum tahu bahwa saat ini tengah berhadapan dengan orang-orang yang tidak berniat baik.

"Ha ha ha...! Sungguh tidak disangka di dalam hutan ini aku dapat bertemu seorang bidadari! Ha ha ha...! Mimpi apa aku semalam?!" seru orang paling depan yang bertubuh tinggi besar, berwajah kasar. Di lehernya tergantung seuntai kalung bermatakan tengkorak kepala bayi. Tampaknya dia gembira sekali.

Ucapan si tinggi besar ini segera disambut gelak tawa tujuh sosok tubuh yang berada di belakangnya.

"Bagaimana? Cocokkah bila kujadikan permaisuriku?" tanya si tinggi besar yang rupanya pemimpin gerombolan itu sambil menoleh ke belakang.

"Ha ha ha...! Kakang memang pintar memilih. Wanita ini memang pantas menjadi permaisuri Kakang. Dan kelihatannya dia menguasai sedikit ilmu silat. Dunia persilatan akan memuji Kakang, karena pandai memilih istri," sahut salah seorang dari mereka.

Ningrum tak kuat lagi menahan kemarahannya mendengar pembicaraan mereka.

"Manusia-manusia bermulut kotor! Pergilah kalian sebelum hilang kesabaranku!"

"Ha ha ha...!" kembali laki laki tinggi besar yang berjuluk Raksasa Kulit Baja itu tertawa bergelak. "Kalian lihat! Bukan hanya wajahnya saja, sikapnya pun memenuhi persyaratan untuk menjadi permaisuriku. Ha ha ha...!"

Untuk yang kesekian kalinya tujuh orang yang berada di belakang Raksasa Kulit Baja itu tertawa bergelak. Kali ini amarah Ningrum pun meledak.

"Tutup mulutmu yang bau itu, raksasa busuk!" bentak gadis itu keras.

Kontan berubah merah wajah si tinggi besar mendengar makian pedas itu. Tawanya pun seketika terhenti.

"Rupanya kau tidak senang diperlakukan baik-baik, Cah Ayu! Kau lebih suka diperlakukan secara kasar dulu, baru mau tunduk, heh?! Akan kuturuti bila itu yang diinginkan!"

Setelah berkata demikian, Raksasa Kulit Baja menggerakkan ujung telunjuk, pada salah seorang yang berdiri di belakangnya.

Sambil tertawa-tawa, si muka kuning, yang diberi isyarat Raksasa Kulit Baja ini melangkah maju. Sepasang matanya liar menatap Ningrum. Sekejap kemudian, dia telah bergerak menyerang gadis itu. Tangannya menangkap lengan kanan gadis yang bertahi lalat di pipi kirinya ini. Dikiranya, gadis ini pasti tak akan dapat mengelakkan sergapannya.

Tetapi, si muka kuning tertipu. Dengan sebuah gerakan sederhana, Ningrum telah membuat tangkapan itu hanya mengenai tempat kosong.

Sebaliknya adalah ujung kaki putri Raja Pisau Terbang ini telah mendarat di perut si muka kuning.

Bukkk..!
"Hugh!"

Si muka kuning mengeluh tertahan. Sodokan ujung kaki Ningrum memang keras sekali. Tak pelak lagi, tubuh si muka kuning terbungkuk-bungkuk seraya memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa mulas bukan main. Dan selagi si muka kuning sibuk merasakan sakit pada perutnya, kaki Ningrum kembali bergerak menendang bahunya. Tentu saja gadis itu tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Sebab kalau hal itu dilakukan, si muka kuning ini pasti tewas.

Desss!

Tubuh si muka kuning terpental ke belakang dan keras sekali mencium tanah. Laki-laki itu terguling­guling sesaat, untuk kemudian tidak bergerak lagi. Pingsan.

Tentu saja hal ini membuat Raksasa Kulit Baja dan anak buahnya yang lain terperanjat kaget. Dengan mata terbelalak, mereka menatap Ningrum. Sungguh sulit dipercaya dengan apa yang terjadi di depan mereka ini. Benarkah gadis yang mereka sangka seekor domba ternyata adalah singa betina?

Raksasa Kulit Baja tentu saja merasa penasaran sekali. Dengan gerak kepalanya, diperintahkan sisa anak buahnya untuk menyerang berbareng. Maka keenam orang anak buahnya melangkah maju mengepung Ningrum. Sadar kalau gadis itu bukanlah lawan empuk, mereka pun tidak mau bersikap main- main lagi.

"Mengapa tanggung-tanggung, raksasa busuk? Majulah! Biar urusan ini cepat selesai!' ejek Ningrum sambil tersenyum sinis.

Mendengar ejekan itu, Raksasa Kulit Baja meraung murka.

"Kau terlalu sombong, perempuan keparat! Kalau nanti sudah tertangkap, kau akan kutelanjangi dan kuperkosa sampai aku puas. Tidak sampai di situ saja, tubuhmu akan kuberikan pada mereka, agar dapat dinikmati sampai kau mati kelelahan!"

Ningrum bergidik mendengarnya, dan wajahnya langsung memerah. Ucapan Raksasa Kulit Baja itu benar-benar membuat kemarahannya berkobar. Orang seperti dia memang tidak patut untuk dibiarkan hidup. Tetapi putri Raja Pisau Terbang itu tidak bisa berlama-lama termenung.

Serangan­serangan anak buah Raksasa Kulit Baja itu telah menyambar cepat ke arahnya .

Ningrum tersenyum mengejek. Dari gerakan dan serangan mereka, sudah dapat dinilai kekuatan lawannya. Jangankan hanya tujuh orang, biar ditambah dua kali lipat lagi pun masih sanggup menghadapinya. Maka, sikapnya pun tenang menghadapi hujan serangan itu.

Ningrum yang tidak sudi bersentuhan tangan dengan mereka, tidak menangkis serangan-serangan itu. Dengan ilmu meringankan tubuh yang jauh di atas lawan-lawannya, dihindari setiap serangan yang datang.

Serta-merta, dibalas serangan-serangan yang datang dengan sepasang kakinya yang berkelebatan ke sana kemari. Terdengar suara berdebuk berulang ulang, disusul berpentalannya tubuh para pengeroyoknya. Hanya beberapa gebrakan saja, semua lawan telah bergeletakan di tanah dalam keadaan pingsan.

Beberapa di antaranya mengalami patah kaki, maupun patah tangan. Bahkan ada pula yang benjol-benjol kepalanya.

"Kini giliranmu, raksasa busuk!" tantang Ningrum sambil berkacak-pinggang.

Raksasa Kulit Baja menggeram. Wanita ini sungguh keterlaluan! Berkali-kali menghinanya. Maka dengan wajah merah, dilangkahkan kakinya menghampiri Ningrum.

"Hiyaaa ... !" manusia bertubuh raksasa itu membuka serangan dengan sebuah cengkeraman ke arah bahu Ningrum. Bagaimanapun juga Raksasa Kulit Baja ini merasa sayang untuk memukul mati gadis yang telah membangkitkan gairahnya ini.

Wut...!

Sambaran angin keras mengawali tibanya cengkeraman itu. Dari angin serangan ini, Ningrum dapat mengetahui kalau lawannya ini memiliki tenaga dalam tinggi.

Tetapi, walaupun serangan itu mengandung tenaga dalam tinggi, tapi gerakannya kelihatan terlalu lambat. Mudah saja bagi putri Raja Pisau Terbang ini untuk mengelakkannya. Bahkan menyusuli dengan totokan ujung kakinya pada punggung Raksasa Kulit Baja.

Tukkk...!
"Aih ... !"

Ningrum menjerit kaget, ketika ujung kakinya membentur kulit daging yang keras, sehingga tendangannya membalik. Dirasakan, jari jari kakinya terasa nyeri bukan main. Dan ini membuatnya kaget tak terkirakan, juga penasaran. Maka dikirimkan serangan bertubi-tubi pada bagian tubuh Raksasa Kulit Baja yang lainnya.

Namun tetap saja hasilnya sama saja. Ningrum menjadi bingung. Laki-laki tinggi besar itu ternyata memiliki ilmu kebal! Bahkan pisau terbang gadis itu pun tidak mampu melukai kulit lawannya ini.

"Ha ha ha...! Silakan kau pilih kulitku yang paling empuk, Manis," ejek Raksasa Kulit Baja menantang.

Ningrum sadar, bahwa tidak ada gunanya lagi melawan Raksasa Kulit Baja yang ternyata memiliki ilmu kebal ini. Maka gadis ini memutuskan untuk melarikan diri saja. Dan memang, adalah suatu perbuatan bodoh untuk melawan terus. Karena sudah dapat dipastikan, lama-kelamaan gadis itu akan kehabisan tenaga. Dan apabila hal itu terjadi, bahaya yang mengerikan akan diterima dari si tinggi besar ini.

Setelah berpikir demikian, Ningrum segera melesat kabur. Tentu saja Raksasa Kulit Baja menjadi terkejut bukan main. Sungguh di luar dugaan kalau lawannya ini melarikan diri. Buru-buru manusia bertubuh bagai raksasa itu berlari mengejar. Tapi karena ilmu meringankan tubuhnya masih berada jauh di bawah putri Raja Pisau Terbang itu, jarak antara mereka semakin bertambah jauh saja. Sampai akhirnya tubuh gadis itu lenyap di kejauhan.

Raksasa Kulit Baja memaki-maki dan menyumpah serapah. Dipandangi arah tubuh Ningrum menghilang, kemudian bergerak mengikutinya. Tak dipedulikan lagi anak buahnya yang tergeletak di dalam hutan dalam keadaan pingsan.

"Akan kucari ke mana pun kau pergi, perempuan keparat!" teriaknya keras. "Sekalian akan kucari pembunuh saudara angkatku, si Harimau Mata Satu. Ya, akan kucari si Dewa Arak alias Arya Buana...." (Harimau Mata Satu terbunuh oleh Arya Buana dalam serial Dewa Arak, episode "Pedang Bintang").

***

Ningrum mengerahkan segenap kemampuannya. Hatinya benar-benar ngeri membayangkan kalau sampai bisa ditangkap Raksasa Kulit Baja itu. Ancaman si tinggi besar itu tidak main-main dan benar-benar membuat bulu tengkuknya meremang.

Legalah hati Ningrum ketika tidak melihat lagi bayangan tubuh Raksasa Kulit Baja yang mengejarnya.

"Hhh ... !" desah Ningrum pelan.

Gadis itu menghentikan larinya, dan untuk beberapa saat hanya berdiri termenung. Otaknya berpikir keras, apakah terus melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat ayahnya. Jika kembali ke tempat ayahnya, dia bisa kembali berlatih. Disadari kalau dengan tingkat kepandaian sekarang ini, akan banyak mengalami kekecewaan-kekecewaan dalam petualangannya.

Setelah lama mempertimbangkan, Ningrum memutuskan untuk kembali pulang ke tempat kediaman ayahnya. Tekadnya, harus berlatih keras, dan tidak malas-malasan seperti dulu. Setelah keputusannya bulat, gadis berpakaian serba hijau ini pun melesat dengan tujuan pasti. Tempat kediaman ayahnya.

Beberapa hari kemudian, sampailah gadis ini di mulut sebuah hutan yang menjadi tempat menyepi ayahnya. Dan baru saja hendak melangkah masuk, sebuah seruan keras membuatnya terpaksa mengurungkan langkah.

"Nisanak yang di depan! Tunggu sebentar!" Ningrum menoleh ke belakang. Tampak di kejauhan, sesosok bayangan putih melesat cepat menuju ke arahnya. Dalam waktu sekejap saja sosok bayangan itu telah berada di depannya.

Ningrum memperhatikan sosok tubuh di hadapannya ini dengan pandangan mata kagum. Betapa tidak? Sosok tubuh di hadapannya ini ternyata adalah seorang wanita cantik jelita. Walaupun Ningrum menyadari kalau dirinya terhitung cantik, tapi secara jujur diakui kalau wanita di hadapannya ini memiliki kecantikan yang mengunggulinya.

"Ada apa, Kak?" tanya Ningrum ramah.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin bertanya. Apakah betul di sini tempat tinggal Raja Pisau Terbang?" tanya wanita yang tidak lain adalah Melati.

Ningrum mengerutkan alisnya yang indah. Dari mana wanita di hadapannya ini mengetahui kalau ayahnya tinggal di sini? .

"Kalau boleh tahu, Kakak ini sebenarnya siapa?"
"Panggil saja aku Melati," jawab gadis berpakaian serba putih ini pelan. Dari raut wajah dan nada suaranya, nampak kalau gadis itu tidak suka mendapat pertanyaan itu.

"Hm... Begini, Kak. Ada urusan apa sehingga Kakak menanyakan tempat tinggal Raja PisauTerbang?" tanya Ningrum lagi, bernada tidak enak. Tentu saja dia pun mengetahui kalau wanita di hadapannya ini tidak senang mendapat pertanyaan seperti itu. Perasaan simpatinya pun pupus seketika.

"Apa urusannya hal itu denganmu?!" sambut Melati ketus.

"Apa urusannya?!" pekik Ningrum keras. Meluap sudah kemarahan yang sejak tadi ditahan-tahannya.

"Perlu kau ketahui, wanita liar! Aku adalah putri dari orang yang kau cari itu!"

Terbelalak sepasang mata Melati yang berjuluk Dewi Penyebar Maut itu.

"Apa?! Kau putri Raja Pisau Terbang? Kau..., kau yang bernama Ningrum itu? Ah ... ! Mengapa aku begitu bodoh?! Gadis cantik bertahi lalat di pipi kiri, dan berpakaian serba hijau! Tololnya aku...!Sungguh aku tidak tahu kalau musuhku berada di depan mata!"

Kini ganti sepasang mata Ningrum yang terbelalak. "Apa katamu?! Siapa dan apa maksudmu sebenar nya?" tanya Ningrum tak mengerti.

"Ingatkah kau pada Raja Racun Pencabut Nyawa yang telah kau bunuh secara curang?!" tanya Melati dengan kasar sambil mencorongkan matanya.

Tak terasa Ningrum mengangguk.

"Nah! Perlu kau ketahui, Ningrum. Raja Racun Pencabut Nyawa itu adalah ayahku. Sengaja aku datang ke sini untuk mencabut nyawamu! Bersiaplah, Ningrum. Agar kau tidak mati secara percuma!"

"Ayahnya iblis, anaknya pun pasti kuntilanak! Jadi, sudah kewajibanku untuk melenyapkan bibit penyakit yang ada di dunia!" balas Ningrum tak kalah gertak.

"Terimalah kematianmu, Ningrum!"

Dibarengi ucapannya, Melati menerjang putri Raja Pisau Terbang dengan jari jari tangan berbentuk cakar naga ke arah ulu hati.

Suara bercicitan terdengar mengawali serangan Melati. Dari bunyi angin itu, Ningrum sudah dapat mengetahui betapa tingginya tenaga dalam yang mengarah dadanya itu.

Buru-buru gadis bertahi lalat ini melangkahkan kaki kanannya ke kiri belakang, sehingga serangan itu lewat di depan dadanya. Dengan cepat Ningrum mengirimkan serangan balasan ke arah pelipis Dewi Penyebar Maut itu.

Gadis berpakaian serba putih itu memiringkan kepalanya, sambil tangan kirinya menangkis serangan itu.

Plakkk...!
"Aih ... !"

Ningrum menjerit. Dirasakan jari jari tangannya yang beradu dengan jari jari tangan lawan sakit bukan main. Bahkan sekujur tangannya terasa lumpuh. Suatu bukti kalau tenaga dalam Dewi Penyebar Maut jauh lebih kuat darinya.

Tetapi bukan Ningrum namanya kalau baru beradu tangan sekali, sudah kapok. Malah sebaliknya, rasa penasaran segera timbul. Mana mungkin gadis itu lebih lihai darinya. Gurunya saja belum jelas.

Mungkinkah guru gadis itu lebih lihai dari ayahnya? Karena belum dibuktikan, jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak melawan gadis itu. Dan kini Ningrum menyerang dahsyat. Dikeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.

Tetapi, lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya, Ningrum harus menerima kenyataan pahit. Setiap serangannya selalu mudah dapat dielakkan Dewi Penyebar Maut. Sebaliknya, setiap serangan balasan yang dilakukan gadis itu, memaksanya pontang­panting untuk menyelamatkan diri.

Setelah beberapa jurus bertarung, sadarlah Ningrum kalau gadis yang bernama Melati itu memiliki kemampuan beberapa tingkat di atasnya. Baik dalam tenaga, maupun kecepatan gerak. Dan dalam waktu sebentar saja Ningrum sudah terdesak hebat, sehingga hanya mampu bertahan tanpa berani balas menyerang.

Ningrum sadar. Kalau keadaan ini terus berlangsung, sudah pasti akhirnya ia akan rubuh di tangan putri Raja Racun Pencabut Nyawa ini. Maka taktik harus dirubah, kalau ingin selamat.

"Cabut senjatamu, gadis jahat! Kalau kau tidak mau mati sia-sia di tanganku!" dengus Ningrum.

Belum habis ucapannya, tubuh Ningrum sudah melenting ke belakang. Dan ketika hinggap di tanah dengan manis, pada kedua tangannya telah tergenggam sebuah pisau putih berkilat.

"Menghadapi pengecut-pengecut seperti kau dan dua orang temanmu yang telah kukirim ke akherat, tidak perlu mengeluarkan senjata!" dengus Dewi Penyebar Maut tak kalah garangnya.

Putri Raja Pisau Terbang ini kaget mendengar ucapan gadis berpakaian serba putih itu. Sudah bisa ditebak, siapa yang dimaksud dua orang temannya itu. Pasti Satria dan Mega! Jadi, iblis wanita ini telah membunuhnya!

Menilik kepandaiannya, memang merupakan suatu hal yang mudah bagi gadis itu untuk membunuh kedua murid kepala Perguruan Tangan Sakti.

"Kuntilanak sombong! Kau harus mati di tanganku untuk menebus nyawa kedua orang temanku yang telah kau bunuh itu! Haaat ... !"

Sambil berteriak nyaring, Ningrum melompat menerjang Melati. Dua buah pisau putih berkilat di tangannya, mengeluarkan suara berdesing ketika berkelebat cepat mencari sasaran-sasaran di tubuh gadis berpakaian serba putih itu.

Melati tahu betapa berbahayanya sepasang pisau terbang itu. Juga, betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam setiap sabetan, atau tusukan pisau itu. Maka gadis itu tidak berani bertindak ceroboh.

Apalagi untuk memapak kedua pisau itu dengan tangan telanjang. Sekarang ini Ningrum tidak bisa disamakan dengan Satria dan Mega!

Beberapa saat lamanya, Dewi Penyebar Maut hanya menghindar terus. Gadis ini tidak ingin bertindak gegabah. Diperhatikan baik-baik setiap serangan Ningrum. Memang, dengan tingkat ilmu meringankan tubuh yang berada cukup jauh di atas Ningrum tidak sukar baginya untuk mengelakkan setiap serangan.

Ningrum menggertakkan giginya dengan perasaan geram. Hatinya dongkol bukan kepalang, melihat lawannya itu hanya mengelak tanpa balas menyerang. Jelas dia merasa diremehkan.

Hal ini membuat amarahnya kian meluap. Dan sebagai akibatnya, serangan kedua pisau terbangnya pun semakin bertubi-tubi.

Melati yang merasa sudah cukup mengetahui perkembangan gerak dan ciri khas pada setiap serangan lawan, kini mulai balas menyerang.

Pelahan namun pasti, putri Raja Pisau Terbang itu mulai terdesak. Serangan-serangan pisau terbangnya mulai mengendor. Sampai akhirnya sepasang pisau berwarna putih berkilat itu hanya dipakai untuk mempertahankan diri dari setiap serangan Melati.

Tak terasa Ningrum mengeluh dalam hati. Diakui kalau kepandaian Melati memang berada jauh di atasnya. Dan rasa-rasanya, kepandaian gadis ini tak kalah dengan kepandaian Raja Racun Pencabut Nyawa!

"Akh...!"

Ningrum memekik ketika sebuah totokan ujung kaki Dewi Penyebar Maut menyerang pergelangan tangan kirinya. Kontan sekujur tangannya terasa lumpuh. Dan tanpa dapat ditahan lagi, pisau terbangnya pun terlepas dari pegangan.

Belum lagi gadis itu berbuat sesuatu, serangan susulan dari Melati telah menyusul tiba. Tangan kanan menyampok pelipis, sedangkan tangan kiri dari arah bawah, mengancam dagu.

Ningrum kaget bukan main. Serangan itu datang begitu cepat. Sudah bisa diperkirakan kalau akhirnya ia akan tewas di tangan putri Raja Racun Pencabut Nyawa ini.

Mendadak saja, ada sesuatu yang menarik tubuhnya ke belakang. Dan untunglah, kedua serangan maut itu hanya mengenai tempat kosong. Buru-buru Ningrum menoleh ke belakang, melihat sosok yang telah menolongnya.

Tampak di belakangnya telah berdiri sosok tubuh tua dari seorang kakek berusia enam puluh tahun. Sepasang matanya tampak tajam berkilat. Raut mukanya menampakkan kesabaran. Ningrum kenal betul siapa pemilik wajah ini.

"Ayah...," desah gadis itu dengan suara lemah.

Kakek penolong yang ternyata adalah Raja Pisau Terbang itu hanya tersenyum getir. Ditarik tubuh putrinya ke belakang, kemudian dilangkahkan kakinya beberapa tindak.

"Ada urusan apa dengan anakku, sehingga sedemikian tega hendak menurunkan tangan maut padanya, Nisanak?" tanya Raja Pisau Terbang, bernada sabar. Tidak tampak ada nada kemarahan, baik pada suara maupun wajahnya.

"Dia adalah putri Raja Racun, Ayah!" selak Ningrum cepat.
"Ahhh ... ! Benarkah demikian?" tanya Raja Pisau Terbang memastikan.
"Benar!" jawab Melati ketus.

Melati mengangkat dagunya, seperti menantang. Memang, begitu geram hatinya melihat pada saat terakhir Ningrum berhasil lolos dari maut. Dan gadis ini tahu betul orang yang telah menyelamatkan gadis itu.

Raja Pisau Terbang! Ini diketahui karena Ningrum memanggil orang itu dengan sebutan ayah.

"Dan aku datang untuk membalaskan kematian ayahku pada anakmu itu!" tegas Melati.

Raja Pisau Terbang mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun berkali-kali Melati bersikap kasar padanya, tetap saja ia tidak menampakkan kemarahan.

"Putri Raja Racun Pencabut Nyawa? Aneh! Tidak salahkah pendengaranku, Nisanak. Sepanjang pengetahuanku, almarhum Raja Racun tidak mempunyai anak seorang pun. Yang justru kudengar adalah keponakannya, yang bernama Arya Buana alias si Dewa Arak!" bantah Raja Pisau Terbang, seperti tidak mengerti.

"Aku tidak butuh keterangan darimu, Orang Tua! Yang kuinginkan adalah melenyapkan anakmu untuk membalas kematian ayahku! Menyingkirlah dari situ! Aku tidak mau membunuh orang yang tidak punya urusan apa-apa denganku!" tandas Melati tegas.

"Bagus! Aku hargai pendirianmu. Berarti, kau bukanlah seorang gadis jahat. Marilah kita berbincang-bincang. Aku yakin ada kesalahpahaman dalam hal ini..."

"Jaga seranganku, Orang Tua!" teriak Melati tiba­tiba sambil menyerang bagian dada kakek itu dengan jari jari tangan berbentuk cakar naga. Jari jari tangan yang membentuk cakar itu nampak berwarna merah.

Raja Pisau Terbang hanya tersenyum. Ia tahu kalau serangan cakar itu tidak akan mencapai sasaran. Jarak antara dirinya dengan gadis itu sekitar satu setengah tombak. Jadi, mustahil dapat dijangkau tangan manusia.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya kakek ini ketika melihat cengkeraman itu terus menjulur menyambar dadanya. Gadis ini ternyata memiliki ilmu yang dapat memanjangkan tangan! Dan Raja Pisau Terbang ini tahu, siapa pemilik ilmu itu. Ki Gering Langit!

"Jurus 'Naga Merah Mengulur Kuku'...!" teriak kakek itu dengan hati kaget bukan kepalang.

Jelaslah kalau ilmu yang digunakan gadis itu adalah ilmu 'Cakar Naga Merah'! Buru-buru kakek ini menangkis serangan maut itu dengan pengerahan seluruh tenaga dalam.

Prattt ... !

Tubuh Raja Pisau Terbang terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara tubuh Melati hanya terhuyung satu langkah. Tangannya yang tadinya mulur, langsung memendek lagi seperti sediakala.

Seketika pucat wajah Raja Pisau Terbang! Dari adu tenaga itu tadi sudah dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dimiliki gadis berpakaian serba putih itu, masih lebih tinggi darinya. Suatu hal yang nampaknya amat mustahil!

"Tahan ... !" teriak Raja Pisau Terbang untuk mencegah gadis itu menyerangnya lebih lanjut. "Ada hubungan apa kau dengan Ki Gering Langit?"

Seketika Melati pun menghentikan gerakannya. Sikap kakek itu membuat gadis itu jadi menghormatinya, sehingga tanpa sadar dihentikan gerakannya.

"Aku tidak mengenalnya!" tandas gadis itu, setelah mengerutkan alisnya sesaat.
"Tidak mungkin! Bukankah jurus itu adalah 'Naga

Merah Mengulur Kuku'? Salah satu jurus dari ilmu 'Cakar Naga Merah'?" desak kakek berwajah sabar ini penasaran.

Melati menganggukkan kepalanya.

"Memang betul apa yang kau katakan itu, Orang Tua. Tapi, aku sama sekali tidak kenal terhadap orang yang kau sebutkan tadi!"

"Aneh! Lalu dari mana kau mendapatkan ilmu itu? Apakah kau menemukan kitab-kitab peninggalannya?"

"Kau ini aneh, Orang Tua. Tentu saja ilmu itu kupelajari dari guruku. Beliaulah yang telah mengajarkan aku...."

"Siapa nama gurumu?" selak Raja Pisau Terbang cepat.

Gadis berpakaian serba putih itu menggelengkan kepalanya.

"Ia melarangku untuk menyebutkan namanya. Jadi, terpaksa tidak dapat kuberitahukan padamu."
Alis Raja Pisau Terbang nampak berkerut. Ia bingung memikirkan masalah ini. Tapi yang sudah jelas, gadis itu sama sekali tidak mengenal Ki Gering Langit!

"Jaga seranganku, Nisanak!" tiba-tiba Raja Pisau Terbang menyambitkan beberapa buah pisau terbangnya ke arah Melati.

Karuan saja serangan tiba-tiba itu membuat Melati terkejut bukan main. Apalagi yang melepaskan adalah seorang ahli pisau, sehingga berjuluk Raja Pisau Terbang. Sudah dapat diperkirakan kedahsyatan serangan pisau-pisau itu.

Dewi Penyebar Maut melempar tubuhnya ke belakang, kemudian bergulingan beberapa kali di tanah. Maka semua serangan itu hanya mengenai tempat kosong. Dan cepat-cepat gadis itu bangkit berdiri, tapi menjadi terlongong. Kakek itu dan Ningrum telah lenyap dari tempatnya semula.

Melati menggertakkan giginya menahan rasa geram. Secara untung-untungan dia mengejar masuk ke dalam hutan itu. Cukup lama juga gadis itu berada di dalam hutan. Dan sewaktu kembali ke luar, wajah gadis itu merah padam.

"Kali ini kau boleh mujur, Ningrum! Tapi, kelak apabila kita berjumpa lagi, jangan harap akan semujur ini!" Dewi Penyebar Maut itu berteriak sambil mengerahkan tenaga dalamnya, sehingga suaranya bergema ke seluruh pelosok hutan.

Puas dengan ancamannya, Melati melesat meninggalkan tempat itu. Dari mulutnya yang mungil itu terdengar suara desahan. "Dewa Arak, kau pun harus bertanggung jawab atas kematian ayahku. Meskipun bukan kau yang membunuhnya, tapi jika tidak kau biarkan, Ayah tidak mungkin mati. Ya, kau harus mendapat hukuman pula. Apalagi kau tidak berniat membalas dendam atas kematiannya. Padahal, ia pamanmu sendiri..."

Seorang pemuda yang berwajah tampan, berahang kokoh, berambut putih keperak-perakan, dan berpakaian berwarna ungu tengah melangkah memasuki pintu gerbang Desa Canting.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun. Di punggungnya tergantung sebuah guci arak yang terbuat dari perak. Dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, pemuda itu mengayun kakinya memasuki desa yang kelihatan sepi. Sepasang matanya bergerak liar memperhatikan setiap bangunan yang ditemukan.

Langkah pemuda yang tak lain adalah Dewa Arak atau Arya Buana ini baru terhenti ketika sepasang matanya tertumbuk pada sebuah papan tebal, dan lebar. Di situ tertulis huruf-huruf yang berbunyi 'Perguruan Mawar Merah'. Papan tebal itu bergantung pada pintu gerbang sebuah bangunan yang dikelilingi tembok cukup tinggi.

Arya mengerutkan alisnya yang tebal. Ada perasaan curiga yang timbul di hati ketika melihat keadaan papan nama perguruan yang begitu kumuh, dan tak terurus. Bahkan huruf-huruf yang membentuk nama Perguruan Mawar Merah itu pun sudah banyak yang terkelupas.

"Kalau tidak salah, inilah yang dimaksud Paman Lindu itu," gumam Arya pelan.

Sebelum tewas, Raja Racun Pencabut Nyawa memang sempat memberitahu Ular Hitam tentang keberadaan ibu kandung Arya Buana (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang").

Dan berdasarkan pesan itulah, pemuda berpakaian ungu ini memasuki Desa Canting dan mencari Perguruan Mawar Merah.

Beberapa saat lamanya Dewa Arak termenung di depan pintu gerbang perguruan itu. Sedikit pun tidak ada suara yang terdengar dari dalam. Sepi sekali. Dari celah pintu gerbang yang tidak tertutup rapat itu, pemuda berambut putih keperakan ini mengintai ke dalam. Tetap sepi. Perasaan curiga dan penasaran memaksa Arya melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang itu.

Tapi, baru beberapa langkah kakinya melewati ambang pintu, terdengar sebuah teguran halus.

"Apa yang kau cari, Anak Muda?"

Arya menoleh ke arah asal suara itu. Tampak seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun, berjalan menghampirinya. Tubuhnya kecil dan kurus, sehingga membuatnya terlihat lebih tua.

"Betulkah ini Perguruan Mawah Merah, Nyi?" tanya Arya Buana sopan.
"Betul," wanita itu menganggukkan kepalanya. "Kau siapa, Anak Muda?"

"Aku Arya Buana, Nyi. Orang-orang biasa memanggil Arya. Lalu, kalau boleh tahu, siapa namamu, Nyi?"

"Aku? Panggil saja Nyi Parti," jawab nenek itu memperkenalkan diri. "Ada urusan apa kau ke sini, Nak Arya?"

Pemuda berambut putih keperakan ini termenung sejenak.

"Betulkah ini Perguruan Mawar Merah, Nyi?" tanya Arya ingin memastikan.

"Betul," Nyi Parti menganggukkan kepalanya, tapi hatinya heran. Memang pertanyaan itu sudah dijawabnya tadi.

Arya memperhatikan sekelilingnya sekilas. Keragu­raguan nampak terbayang pada wajahnya.

"Mengapa begitu sepi, Nyi?"

Wanita yang bernama Nyi Parti itu menghela napas.

"Sudah bertahun-tahun perguruan ini bubar, Anak Muda. Yahhh..., sejak pemimpin kami diculik orang."

"Diculik?!" Sepasang mata Arya terbelalak. Perasaan tidak enak seketika menjalari hatinya.

Pemimpin Perguruan Mawar Merah diculik! Bukankah menurut penururan Raja Racun Pencabut Nyawa sebelum meninggal, Ketua Perguruan Mawar Merah adalah ibunya? Jadi ibunya.... Tidak berani pemuda berpakaian ungu ini melanjutkan dugaannya.

"Ya, diculik. Oleh seorang datuk sesat...." "Bukankah Ketua Perguruan Mawar Merah adalah Nyi Sani?" tanya Arya memastikan.

"Memang. Padahal Nyi Sani memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi tidak berdaya juga menghadapi lawannya..."

Lemaslah tubuh Arya. Benar. Ibunya telah diculik orang yang disebut datuk kaum sesat oleh Nyi Parti. Datuk kaum sesat? Arya terlonjak bagai disengat kalajengking. Datuk kaum sesat hanya ada dua. Ular Hitam dan Bargola. Tidak mungkin kalau Ular Hitam yang melakukannya. Jadi, tinggal satu tertuduh lagi. Bargola!

"Tadi, Nyi Parti katakan I..., eh! Nyi Sani diculik datuk kaum sesat. Bagaimana ciri-cirinya, Nyi?" tanya Arya.

Beberapa saat lamanya, kening Nyi Parti berkerut.

Tampaknya tengah berpikir keras.

"Penculik itu bertubuh tinggi besar. Dan berkulit hitam legam. Di telinga kirinya terdapat sebuah anting, anting yang berukuran sebesar gelang dan berwarna putih."

"Bargola...," desis Arya Buana pelan.

Tiba-tiba Nyi Parti terlonjak.

"Ya. Nama itu pula yang diucapkan Den Lindu. Beberapa waktu yang lalu, Den Lindu bersama temannya yang selalu berselubung putih itu juga mencari-cari ke mana Bargola membawa Nyi Sani."

"Ketemu?" Arya tiba-tiba merasa bodoh mengajukan pertanyaan itu.
"Tidak!"
"Sudah lamakah kejadian itu, Nyi?" tanya Arya lagi.

Kembali Nyi Parti mengerutkan keningnya. Rupanya begitulah yang dilakukan kalau sedang mengingat-ingat.

"Kalau tidak salah..., sudah empat belas tahun!"

"Empat belas tahun!" pemuda berambut putih keperakan ini terpekik kaget. Apakah dalam waktu yang selama itu ibunya masih hidup? Perasaan ragu­ragu yang hebat melanda hari Arya Buana. Tetapi hidup atau mati, harus ditemuinya. Paling tidak, jika ibunya sudah meninggal, harus ditemukan kuburannya!

Setelah mengambil keputusan begitu, Arya segera melesat meninggalkan tempat itu, setelah terlebih dulu berpamit pada Nyi Parti.

Nyi Parti memandangi kepergian pemuda berambut putih keperakan itu sambil menggeleng­gelengkan kepalanya. Sampai bayangan tubuh pemuda itu lenyap ditelan jalan, dia masih terpaku di situ.

***

Arya bergerak cepat meninggalkan Perguruan Mawar Merah dengan perasaan resah. Ke mana harus mencari Bargola? Mencari seseorang di dunia yang luas ini laksana mencari sebuah jarum di tumpukan jerami! Apalagi, tokoh ini sudah terlalu lama tidak terdengar beritanya. Jelas kalau datuk itu telah mengasingkan diri.

Hanya ada satu patokan yang bisa dijadikan pegangan Dewa Arak ini. Bargola adalah datuk yang merajai daerah Timur. Jadi, kemungkinan besar tetap berada di wilayah kekqasaannya. Tapi wilayah Timur sangat luas. Apalagi, jangan jangan dia telah menyepi. Perasaan putus asa mulai merayapi hari Arya Buana. Ke mana ia harus mencari datuk itu?

Plakkk!

Arya menepak kepalanya sendiri. Betapa bodohnya ia! Mengapa bingung-bingung? Bukankah di antara dua datuk, hanya Bargola yang mempunyai perguruan? Mengapa harus pusing-pusing? Ya, datangi saja perguruan itu!

Wajah pemuda berambut putih keperakan ini pun kembali cerah. Dengan langkah penuh semangat, kembali dilanjutkan pencariannya.

Beberapa hari kemudian, pemuda ini sudah sampai pada sebuah desa yang termasuk dalam wilayah Timur. Rasa lelah yang menyerang kedua kaki, membuatnya memutuskan untuk beristirahat. Pandangan mata Arya liar mengawasi sekelilingnya. Dan senyumnya pun melebar ketika menemukan apa yang dicari.

Dengan langkah lebar, dihampirinya sebuah pohon

yang cukup besar. Dan...

" up ".

Sekali mengenjotkan kaki, tubuh Dewa Arak ini melayang ke atas dan hinggap ringan pada sebuah cabang besar. Diambilnya guci yang bertengger di punggung, kemudian digantungkan pada sebuah ranting. Baru setelah itu dibaringkan tubuhnya.

Tanpa sengaja pandangan mata Arya menerawang jauh ke arah rumah-rumah penduduk yang berada di depannya. Dan seketika matanya yang sudah merem­melek itu membelalak lebar.

Dari ketinggian di atas cabang pohon itu, pemuda ini melihat asap tebal dan hitam yang membumbung tinggi. Sekali lihat saja Arya tahu kalau asap itu berasal dari rumah yang terbakar. Dan tidak hanya satu buah! Jelas, ada kejanggalan di sini!

Naluri Dewa Arak sebagai seorang pendekar langsung bangkit. Lenyap seketika rasa lelahnya. Segera disambarnya guci arak yang baru saja digantungkan di ranting pohon, lalu diikatkan lagi ke punggungnya. Bergegas pemuda itu melompat turun.

Ringan sekali kedua kaki Dewa Arak hinggap di tanah, sehingga tak terdengar suara sedikit pun. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya melesat ke arah asap itu berasal.

Berkat ilmu meringankan tubuh yang memang sudah mencapai taraf kesempurnaan, Arya tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk tiba di tempat asal api itu.

Seperti yang diduga Arya, api itu memang tidak wajar. Di depan rumah yang terbakar itu, tampak tengah terjadi pertempuran yang tidak seimbang.

Arya memperhatikan orang-orang yang bertempur itu sejenak. Tampak seorang yang bertubuh bagai raksasa, berwajah kasar, dan memakai kalung ber­matakan tengkorak kepala bayi, tengah dikeroyok belasan orang bersenjata. Melihat senjata yang mereka gunakan, Dewa Arak itu dapat menduga kalau para pengeroyok itu adalah penduduk desa yang rata-rata tidak memiliki ilmu olah kanuragan.

Si tinggi besar yang tidak lain dari Raksasa Kulit Baja ini tertawa-tawa. Dibiarkan saja hujan senjata menghantam tubuhnya. Dan setiap senjata yang mengenai tubuh raksasa ini, selalu terpental balik.

Sebaliknya, setiap Raksasa Kulit Baja ini melakukan serangan balasan, sudah dapat dipastikan ada satu tubuh yang tumbang. Beberapa di antaranya, dengan tulang tangan atau kaki patah. Malah ada pula yang menyemburkan darah dari mulut.

Sekali lihat saja Arya tahu, jika hal ini terus dibiarkan, tidak akan ada lagi penduduk yang berdiri tegak. Jiwa kependekaran pemuda berarnbut putih keperak-perakan ini bangkit. Apalagi si tinggi besar ini juga bertangan telengas. Setiap kali melakukan serangan, selalu menimbulkan akibat yang parah bagi para pengeroyoknya.

"Manusia keji! Akulah lawanmu!" Sambil berkata demikian, Arya bergerak memasuki kancah pertempuran. Langsung saja dikirimkan sebuah serangan berupa tepakan ke arah hahu Raksasa

Kulit Baja ini. Dewa Arak yang memang tidak pernah menurunkan tangan maut kalau tidak terpaksa sekali, sengaja mengarahkan serangan ke arah bagian tubuh yang tidak berbahaya.

Pemuda ini memang tahu kalau lawannya memiliki ilmu kebal, sehingga tidak sungkan-sungkan lagi mengerahkan separuh dari tenaga dalamnya.

Plakkk!

Arya Buana terperanjat kaget. Tepakan tangannya seolah-olah bukan menghantam tubuh manusia, melainkan seperti menghantam gumpalan karet keras yang membuat tenaganya berbalik!

"Hebat...," puji Dewa Arak dalam hati.

Sementara itu, Raksasa Kulit Baja juga dilanda kekagetan serupa. Walaupun tepakan tangan Arya tidak membuatnya kesakitan atau terluka dalam, tapi karena kuatnya tenaga dalam lawan, tubuhnya tak urung terhuyung-huyung dua langkah ke belakang.

"Menyingkirlah, Kisanak semua!" perintah Arya pada para penduduk yang masih berdiri di situ.

"Tapi.... Orang ini sangat berbahaya, Kisanak," bantah salah seorang penduduk, memberitahu pemuda berambut putih keperak-perakan di depannya.

"Saya akan mencoba menjauhkan dia dari desa ini, Paman," jawab Arya merendah, sambil tersenyum tipis.

"Tapi...."

"Sudahlah, Paman. Lebih baik, padamkanlah api yang membakar rumah itu sebelum seluruh desa ini musnah dilalap api!"

Ucapan itu menyadarkan para penduduk desa akan ancaman bahaya lain. Kontan mereka serentak meninggalkan arena pertarungan.

"Groahhh..!" tiba-tiba saja Raksasa Kulit Baja itu menggeram hebat. Sejak tadi ia memang menatap Arya seperti orang terkesima. Keningnya berkerut, seperti sedang mengingat sesuatu.

"Jahanam! Kaukah yang berjuluk Dewa Arak itu?!" tanya manusia tinggi besar itu dengan suara keras. Sepasang matanya memerah karena amarah yang meluap-luap.

Belum lagi Arya memberikan tanggapan, Raksasa Kulit Baja itu telah menyelak lagi. "Ya. Kau pasti Dewa Arak itu. Pakaianmu, rambutmu, dan juga guci arak di punggungmu! Grrrhhh ... ! Kau harus mati di tanganku, keparat!"

"Tunggu ... !" cegah Arya begitu melihat manusia raksasa itu akan menyerangnya. "Siapa kau? Dan mengapa ingin membunuhku?! Padahal kita bertemu pun baru kali ini?"

"Groahhh...!" dengus Raksasa Kulit Baja menggeram.

"Baiklah! Agar tidak mati penasaran, akan kuberitahu padamu, keparat! Aku, Raksasa Kulit Baja. Saudara angkat Harimau Mata Satu yang telah kau bunuh! Dan aku membakar rumah itu, karena orang­orang keparat itu tidak mau memberitahu di mana dirimu. Sungguh tidak kusangka kalau kau datang sendiri mencari mati. Orang lain boleh takut padamu. Tapi, jangan harap kau akan mampu menghadapiku!"

Arya manggut-manggut. Disadari kalau tidak mungkin lagi menghindari pertempuran. Raksasa Kulit Baja tidak mungkin akan menghabiskan persoalan sebelum salah satu di antara mereka tewas. Tentu saja pemuda berambut putih keperak­perakan ini tidak ingin mati. Masih banyak tugas yang belum diselesaikan.

"Mampuslah kau, keparat!" teriak Raksasa Kulit Baja disertai suara mengguntur seraya menyerang dengan sebuah pukulan ke arah dada Dewa Arak.

Angin keras bertiup mengawali serangan itu. Dari sini saja Dewa Arak dapat menilai kekuatan yang terkandung dalam serangan itu. Hanya saja gerakan itu terlalu lambat.

Dewa Arak mencondongkan tubuhnya ke kanan sehingga serangan itu lewat di depan dadanya. Dan cepat bagai kilat kaki kanannya terayun deras ke arah perut lawan.

Tukkk ... !

Tendangan cepat yang dilakukan Dewa Arak tidak mampu dielakkan Raksasa Kulit Baja yang memiliki gerakan terlampau lambat. Dengan telak tendangan itu mengenai perutnya.

Tapi lagi-lagi tendangan Dewa Arak tidak menghasilkan apa-apa. Tubuh manusia raksasa itu hanya terhuyung dua langkah ke belakang. Kini ia kembali menerjang dengan serangan-serangan buas dan brutal.

Sadarlah Arya kalau lawannya ini benar-benar memiliki kekebalan tubuh. Pemuda itu kini tidak ragu­ragu lagi untuk menyarangkan serangan pada sasaran-sasaran yang berbahaya dan bertenaga dalam penuh. Hanya saja, Dewa Arak ini masih belum ingin menggunakan ilmu andalannya. Untuk menghadapi Raksasa Kulit Baja ini, hanya digunakan ilmu warisan ayahnya saja.

Beberapa jurus telah berlalu. Dan entah sudah berapa kali serangan Dewa Arak mendarat di berbagai bagian tubuh Raksasa Kulit Baja. Namun tak nampak tanda tanda sedikit pun kalau serangan Arya itu dirasakannya.

Diam-diam pemuda berpakaian ungu ini terkejut bukan kepalang melihat kekuatan tubuh lawannya ini. Sepanjang pengetahuannya, kekebalan hanya dapat dimiliki oleh orang yang telah memiliki tenaga dalam tinggi, misalnya Dewa Arak sendiri. Itu pun hanya terbatas pada bagian-bagian yang tidak berbahaya saja.

Tapi kekebalan yang dimiliki Raksasa Kulit Baja ini sungguh aneh. Padahal si manusia raksasa ini tidak memiliki tenaga dalam, tapi hanya memiliki tenaga luar yang besar.

Dewa Arak segera sadar kalau Raksasa Kulit Baja ini mendapatkan ilmu kekebalan tubuh lewat cara yang tidak wajar. Ular Hitam pernah menceritakan kepadanya tentang berbagai macam ilmu yang terdapat di dunia persilatan.

Sebagai seorang yang telah lama malang­melintang dalam rimba persilatan, tentu saja Ular Hitam memiliki pengetahuan luas. Pengalamannya yang sudah ratusan kali bertempur menghadapi lawan. Ular Hitam mengatakan kalau kekebalan bisa didapat dengan dua cara. Dengan meningkatkan tenaga dalam, dan dengan mempelajari ilmu hitam. Dari sini Arya menduga bahwa orang macam Raksasa Kulit Baja pasti mendapatkannya dari ilmu hitam.

Tak terasa dua puluh jurus telah berlalu. Dan pertarungan antara kedua orang itu telah bergeser jauh dari tempat semula. Itu memang disengaja Dewa Arak, karena ingin menghindari dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Plakkk!

Kibasan kaki Dewa Arak yang dilakukan sambil berputar itu telak menghantam pelipis Raksasa Kulit Baja. Kibasan yang disertai pengerahan tenaga sepenuhnya itu membuat tubuh lawannya terlempar, melayang sejauh beberapa tombak. Kemudian tubuh besar itu jatuh, dan terguling guling di tanah.

Tapi lagi-lagi, Raksasa Kulit Baja kembali bangkit tanpa kurang suatu apa pun.
"Gila...!" teriak Arya putus asa. Pemuda berambut putih keperak-perakan ini jadi hilang kesabarannya. Dengan perasaan geram bercampur bingung, diambil guci araknya.

Gluk... gluk... gluk....

Terdengar suara berceglukan ketika arak itu memasuki tenggorokan. Arya mengusap mulutnya dengan punggung tangan, lalu disimpan lagi guci araknya di punggung.

Tak berapa lama kemudian, tubuhnya pun mulai sempoyongan. Pemuda berbaju ungu ini terpaksa menggunakan jurus 'Belalang Mabuk'-nya.

"Haaat ... !" Raksasa Kulit Baja melolos senjatanya. Tampak sebuah rantai baja berujung mata arit tajam berkilat, yang sejak tadi melilit pinggang, kini berputar-putar mencari mangsa.

Wukkk... wukkk... wukkk ... !

Seketika disabetkan rantai baja itu ke arah kepala Dewa Arak.

Singgg. .!

Suara mendesing nyaring terdengar ketika rantai baja itu menyambar ke arah kepala Arya.
Tubuh pemuda berambut putih keperak-perakan yang semula sempoyongan itu, mendadak berubah kokoh. Dan secepat posisi tubuh itu berubah, secepat itu pula tubuh Dewa Arak melayang ke arah Raksasa Kulit Baja. Kedua tangannya bergerak persis seperti seekor belalang yang tengah mempermainkan kaki­kakinya.

Prattt...!
Pralll. .!

Rantai baja yang menyambar kepala itu tertangkis tangan Arya, dan kontan putus berantakan!
Belum lagi, Raksasa Kulit Baja berbuat sesuatu, tubuh Arya telah berada di mukanya. Dan...
Prattt! Prattt! Desss. !

Bertubi-tubi dan hampir bersamaan, tiga buah serangan Dewa Arak mendarat telak pada sasaran. Kedua tangannya menghantam pelipis dan ubun­ubun.

Disusul kedua kakinya menggedor dada. Kelihatannya itu adalah serangan maut!

Jangankan ketiga-tiganya. Satu saja serangan itu diterima seorang seperti datuk sesat sekalipun, cukup membuat orang itu pergi ke alam kubur! Kini ketiga tiganya diterima sekaligus oleh Raksasa Kulit Baja!

Tanpa ampun lagi, tubuh Raksasa Kulit Baja terlempar jauh, tidak kurang dari delapan tombak!

Luncuran tubuhnya baru berhenti ketika menabrak sebuah pohon besar hingga tumbang, menimbulkan suara gemuruh. Bahkan pohon itu juga menimpa tubuh Raksasa Kulit Baja yang tergolek di bawahnya.

Arya menghentikan gerakannya. Dengan posisi kaki tidak tetap, dia masih bergerak sempoyongan. Kedua tangannya terus bergerak-gerak liar di depan dada.

Beberapa saat lamanya pemuda berambut putih keperakan ini menunggu. Sepertinya tidak ada tanda­tanda kalau lawannya yang luar biasa itu akan bangkit kembali.

Lalu Arya pun membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu, walaupun langkahnya sempoyongan. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara ribut-ribut dari arah belakangnya. Segera Arya menoleh. Terbelalaklah sepasang matanya yang sudah sayu itu ketika melihat pemandangan di belakangnya.

Tampak batang pohon itu bergerak-gerak, kemudian tiba-tiba terangkat dan terlempar ke arahnya. Suara yang ditimbulkan begitu bergemuruh.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan, mengirimkan pukulan jarak jauh.

Wuttt ... ! Brakkk ... !

Batang pohon itu hancur berkeping-keping sebelum mengenai Arya. Bahkan daun-daunnya langsung mengering layu.

Arya Buana menatap sosok tubuh yang kini bangkit dari tindihan pohon tadi. Siapa lagi kalau bukan sosok Raksasa Kulit Baja. Seketika sepasang mata Dewa Arak membelalak. Ternyata manusia raksasa itu tidak terluka sama sekali!

"Ilmu iblis!" desah Arya, antara takjub dan ngeri.

"Ha ha ha...! Keluarkan semua ilmumu, dewa keparat!" Raksasa Kulit Baja tertawa pongah. "Sekarang kau baru tahu kehebatan ilmu 'Tameng Waja'ku! Kalau saja ilmu ini sudah kumiliki sejak dulu, mungkin akulah yang akan menjadi raja kaum sesat! Ha ha ha...!"

Dewa Arak menarik napas dalam-dalam. Dikumpulkannya segenap tenaganya. Kemudian...

"Hiyaaa ... !" Arya Buana berteriak keras, kemudian mendorongkan kedua tangannya ke depan.
W uttt...!

Angin panas berhembus keras menyambar tubuh Raksasa Kulit Baja yang tengah melangkah menghampirinya.

Bresss ... !

Pukulan jarak jauh yang dilepaskan pemuda berambut putih keperakan itu telak menghantam dada saudara angkat Harimau Mata Satu.

Akibatnya hebat sekali! Tubuh Raksasa Kulit Baja melayang jauh bagai dihempas angin ribut, dan jatuh belasan tombak dari tempat semula.

"Iblis!" pekik Arya ketika melihat lawannya itu bangkit kembali.

Sungguh tidak ada tanda-tanda sedikit pun kalau tokoh itu terpengaruh pukulan yang merupakan usaha terakhir Dewa Arak. Hanya satu yang membuktikan kalau pukulan Arya tepat menghantam sasaran. Pakaian Raksasa Kulit Baja itu hangus, dan pelahan-lahan hancur berkeping-keping ketika angin meniupnya. Dan kini, si tinggi besar ini jadi telanjang bulat!

"Keparat!" Raksasa Kulit Baja berteriak memaki. "Kali ini kau mujur, Dewa Arak! Tapi, jangan harap lain kali akan seberuntung ini!"

Setelah berkata demikian, Raksasa Kulit Baja melesat kabur dari situ. Dia merasa malu melanjutkan pertarungan tanpa penutup tubuh.

Arya menghela napas lega. Pemuda berambut putih keperakan ini merasa lelah bukan main. Sungguh bingung memikirkan bagaimana caranya menghadapi Raksasa Kulit Baja itu. Dengan langkah lunglai, diayunkan kakinya melanjutkan perjalanan mencari jejak Bargola.

Siang ini udara begitu panas. Matahari menyengat kulit sejuruh makhluk yang ada di permukaan maya­pada ini. Demikian pula dengan Arya Buana. Pemuda itu tengah mempercepat langkahnya ketika beberapa tombak di depannya membentang sebuah sungai. Ingin rasanya segera mandi atau setidak-tidaknya membasuh muka untuk menyegarkan diri. Sekujur tubuhnya dirasakan penat dan lengket akibat pertarung-annya melawan Raksasa Kulit Baja. Apalagi udara demikian panasnya.

Pertarungannya yang alot tadi benar-benar membuat tenaga Dewa Arak terkuras. Tetapi diam­diam pemuda itu mengakui kehebatan ilmu Tameng Waja' milik Raksasa Kulit Baja. Bahkan pertarungannya melawan Siluman Tengkorak Putih seperti tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan manusia yang tubuhnya bagai raksasa itu.

"Hhh ... !" Arya menghela napas berat.

Dia memang baru menyadari kalau kepandaian yang tinggi tidak menjamin kemenangan dalam suatu pertarungan. Ternyata pengalaman dan pengetahuan luas juga tidak kalah pentingnya. Dan ini telah dialaminya sendiri.

Pemuda berbaju ungu ini yakin, masih banyak lagi hal baru yang akan dijumpai dalam petualangannya.

Ia memang belum berpengalaman, sehingga banyak hal yang tidak diketahuinya. Berbeda dengan Ular Hitam. Pembimbing Dewa Arak itu banyak pengalaman dalam dunia persilatan. Mungkin kalau Ular Hitam yang menghadapi, Raksasa Kulit Baja belum tentu akan mampu menandingi.

Arya terus menyusuri sepanjang sungai itu. Melihat betapa jernihnya air itu, maka dia berniat mandi untuk menyegarkan tubuh. Tentu saja untuk itu, harus dicari tempat yang tersembunyi sehingga tidak dapat dilihat orang.

Hampir saja pemuda itu bersorak ketika melihat ada tempat tersembunyi, yang terletak di kelokan sungai. Rerimbunan semak dan pepohonan, rapat menutupinya.

Bergegas Dewa Arak menghampiri tempat itu. Ketika rerimbunan semak-semak dan pepohonan disibak, mendadak wajah Arya memerah. Ternyata di dalam sungai itu ada seorang wanita yang tengah mandi! Memang, hanya rambutnya saja yang terlihat, tapi cukup membuat pemuda ini memerah wajahnya. Tubuh wanita itu terlindung sebuah baru besar yang datar, dan tengah menundukkan kepalanya.

Rupanya bunyi semak-semak dan pepohonan yang tersibak tangan Arya cukup keras. Terbukti wanita itu mendongakkan kepalanya, memandang ke arah suara itu berasal. Sesaat lamanya sepasang mata wanita itu terbelalak. Keterkejutan yang amat sangat nampak pada wajahnya.

"Manusia kurang ajar!" teriak wanita itu keras seraya lebih menyembunyikan tubuhnya ke dalam air. Kontan wajah Arya kian memerah.

"Celaka! Bisa-bisa aku dituduh sebagai lelaki hidung belang yang hendak mengintip wanita mandi!" ujar Dewa Arak dalam hati.

Pemuda berambut putih keperakan itu langsung membatalkan niatnya untuk mandi, dan buru-buru berlalu dari situ dengan wajah memerah. Jantung dalam dadanya berdetak keras. Ada perasaan aneh menyelinap ketika sekilas melihat wajah yang memandang kepadanya dengan terbelalak itu.

Wajah itu demikian cantik. Belum pernah Arya melihat wajah secantik itu. Ada sesuatu yang terselip dalam dadanya ketika melihat wajah itu. Sesuatu yang belum pernah dirasakan ketika melihat wanita­wanita cantik lainnya.

Pemuda berbaju ungu ini meninggalkan tempat itu dengan perasaan berat. Seketika ada sesuatu yang hilang dan dalam rongga dadanya. Hal ini membuat Arya merasa bingung sendiri. Apa yang terjadi pada dirinya? Baru kali ini Arya mengalami hal seperti itu. Dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Tanpa sadar Arya menghentikan larinya. Ditolehkan kepalanya ke arah tempat yang baru saja ditinggalkan. Ada dorongan kuat yang seolah-olah membetot kedua kakinya untuk kembali ke sana.

Selagi Dewa Arak ini dilanda perasaan bimbang, tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat mendekatinya. Cepat sekali gerakan bayangan itu, sehingga dalam sekejap saja telah berdiri di depannya.

Arya menatap sosok bayangan putih di hadapannya, yang ternyata seorang wanita berwajah sangat cantik. Beberapa saat lamanya pemuda berambut putih keperak-perakan ini terkesima, tapi mendadak tersentak kaget. Memang! Wajah wanita di depannya adalah wanita yang tadi tengah mandi!

"Mau lari ke mana kau, manusia kurang ajar?!" tanya gadis yang berpakaian serba putih itu sinis. Mulutnya menyunggingkan senyum mengejek. "Manusia semacam kau tidak pantas dibiarkan hidup!"

Kontan wajah Arya memerah.

"Ini..., eh anu ... Kau salah paham, Nini. Nggg... sungguh! Aku... aku tidak bermaksud begitu.... Sungguh!" dengan gugup pemuda ini mencoba menerangkan yang sebenarnya.

"Pengecut!" desis sosok serba putih itu.

Walaupun wanita itu mendamprat, namun tak urung memperhatikan Arya sekilas. Diam-diam dipuji kegagahan pemuda berambut putih keperakan yang ada di depannya ini. Dan memang ada perasaan aneh yang mencuat dari dalam dadanya ketika menatap wajah pemuda ini. Dan perasaannya ini pula yang telah mencegahnya untuk menurunkan tangan maut pada pemuda di hadapannya.

Gadis yang berpakaian serba putih ini ternyata Melati. Kalau saja tidak terpengaruh perasaan aneh yang menjalari hatinya, pasti ia akan tahu kalau pemuda berambut putih keperakan ini adalah orang yang dicari-carinya untuk diberikan hukuman! Arya Buana, si Dewa Arak yang juga keponakan ayahnya!

Merah padam wajah Arya dimaki seperti itu. Kalau saja bukan gadis ini yang mengatakan demikian, mungkin sudah turun tangan menghajarnya. Pantang baginya dimaki seperti itu.

Sementara itu, si gadis setelah memaki Arya segera melesat kabur dari situ. Tercekat hati Dewa Arak melihat kecepatan gerak gadis itu. Dan ini dipujinya dalam hati. Mata pemuda itu terus menatap punggung gadis yang habis memakinya hingga lenyap di kejauhan.

"Huh...!" Arya mendesah pelan, mencoba mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari dada, seiring dengan perginya gadis berpakaian putih itu.

***

Arya memasuki sebuah kedai dengan langkah lunglai. Memang, sejak pertemuannya dengan gadis yang ditemuinya di sungai, Arya jadi sering merasa lesu. Bahkan jadi sering melamun. Kadang-kadang tersenyum sendiri, bila teringat pada raut wajah gadis itu sewaktu dipergoki tengah mandi di sungai. Tapi di lain saat, wajah pemuda berambut keperakan ini menjadi murung, mengingat betapa gadis itu seperti jadi membencinya karena persoalan itu.

"Hhh ... !" desah Arya pelan.

Pemuda itu menghenyakkan tubuhnya di salah satu kursi dalam kedai. Sering dicobanya untuk mengusir bayangan gadis itu dari pelupuk matanya, tapi tidak mampu. Selalu terbayang kembali di benaknya, senyum sinis gadis itu. Juga, keterkejutannya sewaktu dipergokinya tengah mandi.

Apalagi sikapnya yang begitu dingin. Dan anehnya, semua tingkah laku itu di matanya sangat menarik.

"Mau pesan apa, Tuan?" sebuah suara, pelan dan sopan menyadarkan Arya dari lamunan. Dengan suara agak gagap, disebutkan pesanannya. Dan pemilik kedai itu pun bergegas masuk ke dalam untuk menyiapkan pesanan pemuda berbaju ungu itu.

"Ha ha ha...!" tiba-tiba terdengar tawa terbahak­bahak dari meja yang terletak di sebelah kiri Arya.

Dengan sudut mata, Arya melirik ke arah asal suara itu. Dilihatnya tiga orang laki-laki kasar tengah tertawa-tawa. Dengan lagak memuakkan, mereka memandang ke satu arah.

Sambil lalu Arya mengikuti arah pandangan ketiga

orang kasar itu. Kontan sepasang matanya terbelalak. Jantung dalam dadanya berdebar kencang. Betapa tidak? Di sebuah meja di sudut sana duduk tenang sesosok tubuh yang selama ini mengganggu pikirannya.

Jadi, rupanya orang-orang kasar itu tengah mengganggu gadis itu Perasaan tegang melanda hatinya. Dan ini disadari Arya. Diam-diam pemuda itu merasa heran, karena tidak pernah merasa tegang seperti ini walaupun keadaan yang dihadapi begitu gawat. Tapi sekarang?

Salah seorang dari tiga laki-laki kasar itu tiba-tiba bangkit dari kursinya. Sambil tertawa-tawa dihampirinya meja gadis berpakaian serba putih, yang ternyata Melati.

Jantung dalam dada Arya kian keras berdetak. Perasaan pemuda ini tegang bukan main. Seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Sungguh bertolak belakang keadaan pemuda ini dengan keadaan Melati. Gadis itu nampak tenang-tenang saja menikmati makanannya.

Perasaan tegang yang melanda Dewa Arak memaksanya meraih guci arak yang sejak tadi sudah diletakkan di atas meja.

Gluk... gluk... gluk....

Suara tegukan terdengar ketika arak itu memasuki tenggorokan. Sesaat kemudian hawa arak yang hangat menyerbu, membuat perasaan tegangnya berkurang.

Suara tegukan yang timbul sewaktu Arya meminum arak, rupanya terdengar tiga orang kasar itu. Terbukti ketiganya menoleh ke arah asal suara itu. Dan ketika pandangan mereka tertumbuk pada sesosok tubuh yang mengeluarkan suara tegukan itu, kontan wajah mereka memucat.

"De..., Dewa Arak?!" desis mereka dengan suara bergetar. Tentu saja mereka telah mendengar berita yang menggemparkan tentang tokoh aneh ini, yang dalam pemunculannya telah membuat dunia persilatan gempar.

Sebenarnya mereka tadi juga telah melihat Arya. Tapi karena tengah terpusat pada gadis berpakaian serba putih, mereka tidak teringat akan tokoh itu. Baru setelah pemuda berambut putih keperak­perakan itu mengeluarkan suara tegukan yang keluar dari mulutnya, mereka semua tersadar.

Ketiga pasang mata milik orang-orang kasar itu berputar liar, mencari jalan untuk kabur. Begitu ada kesempatan, bergegas mereka bergerak saling mendahului untuk melarikan diri. Sedangkan Arya sama sekali tidak mengejar, dan dibiarkan saja ketiga orang kasar itu melarikan diri.

Tetapi baru saja Dewa Arak hendak menikmati araknya kembali, terdengar bunyi kursi tarseret. Sebentar kemudian disusul suara langkah kaki mendekati mejanya. Arya mengangkat kepalanya, dan tampaklah gadis berpakaian serba putih itu telah berdiri di hadapannya. Pandangan matanya begitu menusuk.

"Kau yang berjuluk Dewa Arak?!" tanya Melati dengan suara merdu.

Dan sebenarnya diam-diam gadis ini merasa heran terhadap kelakuannya kali ini. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini jika berhadapan dengan orang yang diduga sebagai musuh. Biasanya, Melati selalu mengharapkan anggukan kepala dari orang yang ditanya. Namun kali ini, gadis itu berharap agar pemuda itu menggelengkan kepalanya.

Betapa kecewanya hati gadis itu ketika dilihatnya Arya menganggukkan kepalanya.

"Namamu Arya Buana?" tanya Melati lagi.

Kembali Arya menganggukkan kepalanya.

"Begitulah nama yang diberikan orang tuaku, Nini..."

"Kalau begitu, bersiaplah kau, Dewa Arak ... !" teriak Melati dengan suara yang diusahakan keras. Berat rasanya bersikap kasar terhadap pemuda di hadapannya ini. Tapi, hal itu mau tidak mau harus dilakukannya. Tidak mungkin sumpahnya sendiri dikhianati.

Srattt!

Dicabut pedangnya, dan ditodongkan ke dada Arya.

"Keluarkan senjatamu, Dewa Arak! Atau kau lebih suka mati sia-sia di tanganku!" teriak Melati yang dijuluki Dewi Penyebar Maut itu. Namun demikian, suaranya terdengar agak gemetar. Bukan karena perasaan marah, tapi karena harus berperang melawan perasaannya sendiri. Tak heran kalau dia mencabut pedang, karena untuk lebih menguatkan hatinya.

"Nini," ucap Arya sambil menengadahkan kepala.

Sesaat tak ada suara yang keluar dari mulut pemuda itu. Dia hanya menatap wajah cantik yang berdiri di depannya. Pandangan matanya sayu. Memang pemuda ini merasa terpukul melihat gadis yang dikagumi ini nampak membencinya. Dan sekarang bahkan memusuhinya.

"Bukankah telah kukatakan padamu, kalau peristiwa itu terjadi tidak sengaja. Aku...."
"Aku tidak meributkan masalah itu lagi!" potong Melati cepat. Wajahnya seketika menyemburat merah.

"Lalu masalah apa, Nini? Rasanya baru dua kali kita bertemu. Dan sepengetahuanku, belum pernah aku berbuat salah pada Nini. Kecuali peristiwa di sungai itu...," sahut pemuda ini setelah termenung beberapa saat lamanya.

"Kau memang tidak salah padaku, Dewa Arak.

Tapi, pada ayahku kau mempunyai kesalahan besar." Tercekat hati Arya Buana mendengar ucapan gadis
itu.

"Ayahmu? Siapa ayahmu?"

Melati menghela napas berat. Digertakkan giginya untuk lebih menguatkan hati.

"Raja Racun Pencabut Nyawa..."

Pelan dan lambat-lambat gadis itu mengucapkan kata-katanya. Tapi, akibatnya tidak demikian bagi Arya.

"Apa?!" Arya terlonjak kaget. Bangku yang didudukinya hancur berantakan karena getaran tenaga dalam yang menghambur dari tubuhnya.

"Siapa nama ayahmu, Nini...?" pemuda berambut putih keperakan ini mengulangi pertanyaannya dengan suara gemetar.

"Raja Racun Pencabut Nyawa!" ulang Melati. Kali ini suaranya lebih keras.

"Tidak mungkin!" teriak Arya lantang. Benda-benda yang terletak di atas meja, bergetaran keras. Jelas, ini akibat pengaruh teriakan pemuda itu yang mengandung tenaga dalam dahsyat.

"Paman Lindu tidak punya anak!"

*******

Melati sama sekali tidak mengacuhkan bantahan Arya. Sambil meletakkan tangan kirinya di pinggang, tangan kanannya yang menggenggam pedang menuding wajah pemuda berpakaian ungu ini.

"Paman?! Kau memanggil ayahku paman?! Aneh sekali! Sang Paman mati dibunuh, tapi si Keponakan membiarkan saja pembunuh-pembunuh pamannya berkeliaran! Aneh sekali! Keponakan macam apa kau ini, Dewa Arak?!"

Merah muka Arya mendengar sindiran tajam itu. Ditatapnya wajah gadis yang telah menjatuhkan hatinya ini lekat-lekat.

"Banyak hal yang tidak kau mengerti, Nini. Paman Lindu bukan orang baik-baik. Tindakannya banyak merugikan orang. Tak sedikit orang yang tewas di tangannya. Dan adalah wajar kalau akhirnya tewas di tangan orang-orang yang telah dirugikannya itu. Setidak-tidaknya, orang yang membunuh Paman Lindu memiliki itikad baik, yakni memusnahkan sumber kerusakan di muka bumi," kilah Arya.

"Aku tidak peduli orang macam apa ayahku! Yang kutahu, beliau telah dibunuh secara pengecut. Dan telah menjadi kewajibanku untuk membalaskan kematiannya. Pikirlah, Dewa Arak! Kapan lagi aku membalas budinya, kalau tidak sekarang?"

Suara gadis itu kian pelan. Dan Arya menangkap ada isak tertahan di dalamnya, sehingga membuat hatinya tersentuh. Bisa dimaklumi perasaan yang terkandung dalam hati gadis itu, karena dia sendiri pernah mengalami hal yang serupa. Hal ini membuatnya terdiam.

"Bersiaplah, Dewa Arak," tegas Melati lagi. Kini suaranya sudah kembali terdengar seperti biasa. Dingin.

"Eh! Apa maksudmu, Nini?" tanya Arya kaget.

"Tidak usah banyak cakap, Dewa Arak! Aku harus membuat perhitungan padamu atas kematian ayahku! Bersiaplah, agar tidak mati percuma!"

"Tahan dulu, Nini!" teriak pemuda ini mencegah. Tetapi gadis itu tidak menghiraukannya. Pedang di tangan kanannya berkelebat menebas leher Arya.

Suara berdesing nyaring mengawali tibanya serangan itu. Buru-buru Arya melempar tubuhnya ke belakang seraya tangan kanannya menyambar guci arak yang terletak di atas meja.

Wut...!
Tappp!

Pedang Melati hanya menyambar tempat kosong, karena tubuh pemuda berambut putih keperakan itu telah agak jauh dari situ.

Begitu kedua kakinya mendarat di tanah, Arya segera melompat ke luar kedai. Tak lupa dilemparkan uang pembayaran pesanannya ke meja tempat dia tadi duduk.

"Mau kabur ke mana kau, pengecut! Jangan harap dapat lolos dari tanganku!" sambil berkata demikian, Melati melompat mengejar.

Dewa Arak tentu saja tidak suka dianggap pengecut Sesampainya di luar kedai, dihentikan langkahnya. Kemudian dibalikkan tubuhnya, menanti Melati.

Baru juga Arya membalikkan tubuhnya, Melati telah berdiri di hadapannya. Dalam hati, Arya memuji kecepatan gerak gadis ini. Sulit dibayangkan kepandaian dan tenaga dalam gadis itu. Dan jika melihat ilmu meringankan tubuhnya, gadis berpakaian serba putih ini merupakan seorang lawan yang amat berat dan berbahaya!

"Rupanya kau tidak pengecut, Dewa Arak. Tidak seperti Raja Pisau Terbang dan putrinya! Sebelum berhasil kubunuh, mereka telah melarikan diri dengan cara licik. Mudah-mudahan kau tidak sepengecut itu," ujar Dewi Penyebar Maut seraya tersenyum sinis.

Berubah wajah Arya. Benarkah apa yang dikatakan gadis ini. Rasanya mustahil Raja Pisau Terbang dapat dikalahkan. Tokoh itu adalah seorang datuk. Kalau benar gadis itu telah mengalahkannya, sukar dibayangkan sampai di mana tingkat kepandaian gadis berpakaian serba putih itu.

"Kau..., kau telah menemui mereka? Dari mana kau mengetahuinya?" tanya pemuda berambut putih keperakan ini dengan suara tersendat.

Memang, Arya Buana kaget juga mendengar ucapan itu. Dia dapat memperkirakan kalau ikut campurnya Raja Pisau Terbang, karena anaknya terancam maut. Tapi yang menjadi pertanyaan, dari mana gadis itu mengetahui kalau Ningrum adalah salah seorang pembunuh ayahnya?

"Lho, apa susahnya mengetahui siapa pengecut­pengecut yang membunuh ayahku? Saksi sangat banyak!" jawab Dewi Penyebar Maut. "Sayang sekali, Ningrum bisa lolos dari tanganku. Kalau tidak, hanya tinggal kau dan Ular Hitam. Dan setelah itu tugasku pun selesai!"

"Jadi..., jadi..." Arya tergagap, karena tercekat hatinya.

"Ya. Dua orang yang ikut andil dalam membunuh ayahku telah kubereskan," selak Melati sambil menganggukkan kepalanya.

"Maksudmu, Kakang Satria dan Kakang Mega?" tanya Dewa Arak dengan wajah pucat pasi.

Gadis berpakaian serba putih itu tidak menjawab, tapi hanya mengangguk kecil. Tapi anggukan itu sudah cukup bagi Arya.

"Kau keterlaluan, Nini!" bentak Arya Buana keras.

Tapi gadis itu hanya menyambutnya dengan tawa sinis.

Srakkk!

Melati memasukkan pedang ke dalam sarungnya.

"Sekarang giliranmu, Dewa Arak!"

Setelah berkata demikian, gadis berpakaian serba putih ini menerjang Arya. Kaki kanannya melangkah ke depan membentuk kuda-kuda ke arah kanan. Tangan kiri mengancam pelipis, sedangkan tangan kanan terpalang di depan perut. Melati yang sebenarnya tidak sampai hati mencelakai pemuda yang telah menjatuhkan hatinya ini, tidak mengerahkan seluruh tenaga sewaktu menyerang. Hanya dikerahkan tiga perempat dari tenaganya.

Angin berciut keras menyambar Arya sebelum serangan itu tiba. Pemuda berambut putih keperakan ini pun segera tahu kalau serangan lawan itu mengandung tenaga dalam cukup kuat.

Dewa Arak cepat menarik kaki kanannya mundur sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang. Berbarengan dengan itu, tangan kanannya diulurkan memapak serangan yang mengarah ke pelipis. Arya yang tidak ingin mencelakakan gadis yang mengaku putri pamannya ini, hanya mengerahkan separuh dari tenaganya.

Plakkk!

Dua buah tangan yang mengandung tenaga dalam yang sangat kuat bertemu. Arya terhuyung dua langkah ke belakang. Sedangkan Melati hanya terhuyung satu langkah.

Pemuda berambut putih keperakan ini terkejut. Ternyata tenaga dalam gadis itu cukup tinggi juga. Sedangkan Melati sudah bisa memastikan kalau pemuda yang berjuluk Dewa Arak ini, ternyata hanya mengeluarkan kekuatan tenaga dalam sedikit rendah dibanding tenaga dalamnya. Jadi dia tidak akan menambah kekuatan tenaganya dalam serangan selanjutnya.

Sedangkan Arya yang merasakan betapa kuatnya tenaga dalam gadis itu, terpaksa menambah tenaga untuk pertarungan selanjutnya. Dalam pertarungannya melawan gadis ini, pemuda berambut putih keperakan ini hanya menggunakan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'. Rasanya, tidak tega jika menggunakan ilmu andalannya.

Dalam waktu sebentar saja, mereka sudah bertarung lebih dari lima jurus. Melati penasaran bukan main ketika menyadari tenaga dalam pemuda itu ternyata sepertinya semakin lama semakin kuat.

Semula dengan tiga perempat dari tenaganya saja, pemuda itu sudah terhuyung. Tapi kini sampai mengeluarkan hampir seluruh tenaganya, pemuda itu mampu menangkisnya tanpa terhuyung. Kini gadis ini sadar kalau Dewa Arak tadi tidak bersungguh­sungguh dalam menangkis serangannya.

Hal ini membuat Dewi Penyebar Maut yang memang mempunyai watak ganjil jadi tersinggung. Gadis ini merasa diremehkan. Dan sebagai akibatnya, kini dikerahkan seluruh kemampuan dalam serangan selanjutnya. Ilmu 'Cakar Naga Merah'-nya menyambar-nyambar buas ke arah Arya.

"Tahan ... !" Dewa Arak berseru keras sambil melentingkan tubuhnya ke belakang menghindari serangan Melati yang bertubi-tubi.

Gadis berpakaian serba putih yang tengah dilanda penasaran itu terpaksa menahan serangannya. Dengan napas masih memburu, ditatapnya Arya.

"Mengapa berhenti, Dewa Arak? Takut?"

Pemuda berpakaian ungu itu sama sekali tidak menggubris ejekan tajam Melati. Wajahnya terlihat tegang bukan main.

"Dari mana kau dapatkan ilmu itu, Nini?" tanya Dewa Arak dengan suara gemetar.

Sepasang mata putri Raja Racun Pencabut Nyawa itu seketika membelalak.

"Apa hubunganmu dengan ilmu yang kumiliki?! Mau kudapatkan dari mana saja, atau dari mencuri pun itu urusanku. Dan tidak ada sangkut-pautnya denganmu!" jawab gadis itu ketus.

"Memang ada hubungannya, jika dugaanku benar. Maka sudah menjadi urusanku kalau ilmu yang kau gunakan itu adalah 'Cakar Naga Merah'," tandas Arya tegas.

"Kalau memang benar ilmu itu adalah 'Cakar Naga Merah', kau mau apa?" tantang Melati.

"Harus kau katakan dari mana memperolehnya! Apakah kau mempelajarinya dari Ki Gering Langit?"

Wajah Melati memerah. Pelahan-lahan kemarahan mulai membakar hatinya. Pemuda di hadapannya ini terlalu usilan dan sombong.

"Apa hakmu dengan ilmuku ini, Dewa Arak?!" "Apakah Ki Gering Langit itu gurumu, Nini?" desak Arya, tidak menggubris ucapan gadis itu.

Kemarahan yang sejak tadi membakar hati Melati, kini tak bisa ditahan lagi.

"Keparat! Kau terlalu sombong, Dewa Arak! Jangan dikira aku takut padamu!"

Setelah berkata demikian, gadis itu kembali menerjang Arya. Tidak dipedulikannya lagi teriakan­teriakan mencegah dari pemuda itu. Hatinya telah sangat tersinggung terhadap sikap pemuda itu, yang sama sekali tidak menganggap dirinya.

Dewa Arak tidak punya pilihan lagi. Cepat-cepat disambut serangan Melati, dan dibalasnya dengan serangan yang tak kalah dahsat. Kali ini Dewa Arak terpaksa menggunakan ilmu andalannya. 'Belalang Mabuk', dan 'Delapan langkah Belalang'. Tak lupa, diambilnya guci arak yang berada di punggungnya. Dan diangkat ke atas mulutnya.

Gluk... gluk... gluk ... !

Terdengar suara berceglukan dari mulut Arya ketika arak itu memasuki mulutnya. Sesaat kemudian tubuhnya mulai sempoyongan.

Melati mulai menyerang secara ganas. Kini hatinya tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan segenap kemampuannya. Disadari kalau kepandaian pemuda di hadapannya ini tidak serendah dugaannya. Berkali­kali tubuhnya terhuyung setiap kali pemuda itu menangkis serangannya.

Hal ini membuat amarah gadis itu kian meluap. Apalagi terlihat jelas kalau pemuda itu jarang sekali membalas serangannya. Lebih sering Arya mengelakkan serangan atau menangkisnya.

Delapan puluh jurus telah terlewati, tapi belum nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak. Diam­diam Arya memuji kelihaian lawannya ini. Pantaslah kalau Raja Pisau Terbang harus melarikan diri dari hadapannya. Kepandaian gadis berpakaian serba putih ini memang sangat tinggi.

Melati menggertakkan gigi. Gadis ini sadar, tak mungkin rasanya mengalahkan Arya Buana. Diiringi sebuah keluhan tertahan dari kerongkongannya, Dewi Penyebar Maut segera melesat meninggalkan Dewa Arak.

Tentu saja Arya yang tidak menduga hal itu menjadi kaget bukan main.

"Nini!" teriak Arya keras. "Tunggu ... !"

Tetapi gadis berpakaian serba putih itu tak menggubris teriakan Arya, dan terus saja berlari. Dalam sekejap tubuhnya sudah lenyap di kejauhan.

Arya hanya termenung memandangi kepergian Melati. Disadari kalau tidak ada gunanya mengejar gadis itu.

"Hhh ... !" Arya menghela napas berat. Dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, untuk menyusuri jejak Bargola yang telah menculik ibunya.

Pandangan mata pemuda berbaju ungu itu terpaku pada sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tinggi. Dia adalah Arya Buana alias Dewa Arak. Setelah cukup lama bersikap seperti itu, baru kemudian dihampirinya gerbang yang sudah tidak memiliki pintu lagi.

Di ambang pintu itu, langkah kaki Arya terhenti. Pemuda ini lalu berjongkok, mengamat-amati kepingan-kepingan papan tebal yang berserakan di bawah kakinya. Pada tiap kepingan papan tebal itu tertera tulisan.

Dewa Arak lalu menyusun tiap kepingan papan bertulisan itu, dan benarlah dugaannya. Kepingan papan tebal itu memang mulanya adalah papan nama perguruan, yang kini sudah hancur berantakan.

"Perguruan Beruang Hitam," gumam pemuda itu pelan.

Perguruan itu memang didirikan Bargola, yang sekarang tengah dicarinya. Pemuda itu datang ke sini dengan harapan ada berita mengenai tempat Datuk Timur itu mengasingkan diri.

Dengan langkah setengah hati-hati, Arya melangkah masuk. Seperti yang sudah diduganya, hanya kelengangan dan kesunyian saja yang dijumpai. Juga, bangunan-bangunan yang bekas terbakar di sana-sini.

"Hhh ... !" Arya menghembuskan napas kecewa. Tanpa diberitahu pun, ia telah bisa menebak orang yang mengobrak-abrik perguruan ini. Siapa lagi kalau bukan Raja Racun Pencabut Nyawa yang dibantu Siluman Tengkorak Putih?

Kali ini Arya tidak menyalahkan tindakan pamannya itu. Wajar bila pamannya melampiaskan kekesalan atas tindakan Bargola yang menculik adik kandungnya. Tidak tanggung-tanggung, dihancurkannya perguruan yang didirikan Bargola itu.

Tengah pemuda itu termenung bingung, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki dari arah bangunan yang tidak terbakar.

Tanpa pikir panjang lagi, Arya melompat ke atas dan hinggap di atas sebuah cabang pohon yang terletak tidak jauh dari situ. Dari situ Dewa Arak mengintai ke arah suara langkah kaki tadi berasal.

Tampaklah seorang laki-laki tengah melangkah keluar dari bangunan itu. Wajah maupun potongan tubuhnya tidak jelas, karena jarak yang cukup jauh. Kepala laki-laki itu nampak menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah-olah ada sesuatu yang ditakutinya. Baru setelah itu, sosok tubuh itu melangkah ke luar dengan berindap-indap.

Melihat tindak-tanduk orang itu, Arya menjadi curiga. Keadaan tempat itu sebenarnya sudah membuat orang berpikir kalau di situ tidak ada penghuninya. Kalau sosok tubuh itu tetap tinggal di situ, berarti ada satu dugaan. Dia sengaja bersembunyi di situ.

Setelah sosok tubuh itu lenyap ditelan kejauhan, Arya melompat turun dari tempat persembunyiannya.

Rasa ingin tahu memaksanya untuk menyelidiki ke dalam bangunan itu.

Dengan sikap waspada, Arya melangkah masuk. Heran juga hatinya ketika melihat keadaan dalam bangunan itu. Begitu kotor, kumuh dan tak terurus.

Debu dan sarang laba-laba berserakan di sana-sini. Semua ruangan keadaannya sama. Lalu, di manakah orang itu tinggal?

Sungguh pun jaraknya cukup jauh, Arya dapat melihat kalau pakaian orang itu bersih. Padahal di seluruh ruangan yang ada di dalam bangunan ini, tidak ada tempat yang bersih. Aneh! Ataukah ada ruang rahasia di dalam bangunan besar ini?

Pemuda berambut putih keperakan ini tahu bahwa akan memakan waktu yang sangat lama, kalau mencoba mencari ruang rahasia itu. Jalan yang paling mudah adalah menunggu lelaki tadi kembali, kemudian menguntitnya menuju ruang rahasia itu. Kalau memang benar ruang rahasia itu ada.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya segera keluar dari gedung itu. Diintainya keadaan di depan sebelum dilangkahkan kakinya ke luar. Barangkali saja orang yang tadi diintainya telah kembali. Tapi di luar sepi. Bergegas pemuda ini kembali ke tempat persembunyiannya semula. Menunggu.

Cukup lama juga pemuda berambut putih keperakan ini menunggu, sebelum akhirnya melihat orang itu di kejauhan.

Kini nampak jelas, kalau kelakuan orang itu yang aneh. Sebelum melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang yang terdapat papan nama perguruan, orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sikap penuh curiga.

Baru setelah yakin tidak ada yang melihatnya, orang itu bergegas masuk ke dalam. Kelihatennya setengah berlari saat memasuki bangunan besar yang baru saja ditinggalkan Arya.

Bergegas Dewa Arak melompat turun dari cabang pohon itu. Dan dengan hati-hati diikutinya orang itu.

Orang yang ternyata adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun, bertubuh sedang, dan berkumis tebal itu, sama sekali tidak sadar kalau tengah diikuti. Bahkan tenang-tenang saja saat melangkahkan kakinya di dalam.

Sampai di sebuah ruangan, diambilnya sebuah kursi rusak yang memang terdapat di situ, lalu, berdiri di atasnya. Sebentar kemudian diulurkan tangannya ke atas.

Arya yang mengintip dari balik pintu yang terbuka, kaget juga melihat apa yang dilakukan orang itu. Si kumis tebal itu ternyata hendak menangkap cecak yang tadi juga dilihatnya.

Anehnya, cecak itu diam saja. Binatang melata itu tidak berusaha mengelak dari ancaman tangan si kumis tebal. Seolah-olah tidak tahu adanya bahaya yang mengancam.

Kreppp!

Tangan si kumis tebal dengan tepatnya mencengkeram tubuh cecak itu. Arya terbelalak. Tapi di lain saat, pemuda ini sadar, kalau cecak itu bukanlah cecak sungguhan. Cecak itu pasti alat rahasia menuju ruangan tersembunyi.

Dugaan Arya tidak salah. Begitu si kumis telah memutar 'cecak' itu, tiba-tiba terdengar suara berderak keras. Sesaat kemudian lantai di tengah­tengah ruangan bergeser. Dan begitu bunyi berderak itu berakhir di belakang si kumis tebal terlihat sebuah lubang berukuran setengah tombak kali setengah tombak.

Begitu melihat lantai ruangan itu bergeser, tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya segera melesat dan melompat masuk ke dalam. Untuk berjaga jaga terhadap sesuatu yang tidak diinginkan, pemuda

berambut putih keperakan ini mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.
Ringan dan hampir tanpa suara, kedua kaki Arya hinggap di tanah. Belum lagi pemuda ini berbuat sesuatu, terdengar sebuah teguran keras.

"Kaukah itu, Sentaka?"

Tercekat hati Arya mendengar teguran keras itu dan buru-buru menyelinap ke balik tiang.

Baru saja Arya bersembunyi, terdengar suara yang cukup keras. Pemuda berbaju ungu ini mengintai dari balik tiang. Tampak si kumis tebal itu kini telah turut pula. Rupanya suara itu berasal dari kedua kaki kumis tebal itu yang hinggap di dalam ruangan ini.

Sekilas Arya memperhatikan sekelilingnya. Segera saja dapat diketahui, kalau dirinya kini berada di dalam sebuah ruangan cukup luas. Keadaan di sini hanya remang-remang saja, karena hanya diterangi sebuah obor yang terpasang di sudut ruangan ini.

Arya memperhatikan arah asal suara teguran itu. Segera saja dapat diketahui kalau suara itu berasal dari ruangan yang terang benderang di sebelah sana.

Kini Arya mengalihkan perhatiannya pada si kumis tebal yang sekarang diketahui bernama Sentaka. Tampak Sentaka tengah mendekati sebuah tangkai obor yang tidak terpakai, lalu ditarik ke bawah. Terdengar suara berderak keras. Maka, lantai di ruangan atas yang tadi terbuka itu pun bergerak menutup kembali.

Tiba-tiba pendengaran Arya yang tajam menangkap suara langkah mendekati. Dari bunyi suara langkah yang pelan hampir tanpa suara, pemuda berbaju ungu ini dapat memperkirakan kalau orang yang akan hadir ini memiliki kepandaian tinggi. Dengan demikian dia harus bersikap waspada.

Bahkan suara napasnya pun ditahan.

Sesaat kemudian terlihat sesosok tubuh tinggi besar dan berkulit hitam legam tiba di situ.

Sungguhpun suasana di situ remang-remang, Arya dapat mengenali kalau sosok tubuh itu adalah orang yang tengah dicari-carinya. Siapa lagi kalau bukan Bargola! Ciri-ciri orang itu persis dengan apa yang dikatakan Kakek Ular Hitam.

"Sentaka," sapa orang tinggi besar itu kepada si kumis tebal.
"Ada apa, Guru?" sahut Sentaka.

"Tahukah kau, ada orang lain yang masuk ke sini sebelum kau tiba? Kuakui ilmu meringankan tubuh orang itu hebat sekali. Kalau saja tidak waspada penuh, tidak mungkin aku mendengarnya."

"Tapi, Guru. Aku yakin betul, kalau aku masuk ke dalam bangunan ini sendiri. Bagaimana mungkin ada orang yang masuk ke sini?" bantah si kumis tebal yang bernama Sentaka itu.

"Tapi aku mendengar suaranya, Sentaka! Dan telingaku belum pernah tertipu!" tandas Bargola.
"Barangkali saja hanya suara kucing melompat..."

Dan seperti hendak membela Sentaka, terdengar suara mengeong lirih. Sebentar kemudian muncullah? seekor kucing, yang langsung berjalan mendekati kedua orang itu.

Dengan sorot mata penuh kemenangan, Sentaka menatap wajah gurunya. Bargola tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ditatapnya binatang itu sejenak, sebelum dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

Arya menunggu sampai tubuh Bargola lenyap di balik ruangan. Kemudian, dipungutnya sebuah batu sebesar kacang kedelai dan dijentokkan ke arah

Sentaka.
Singgg .!
Tukkk!

Tubuh Sentaka mengejang ketika batu itu mengenai punggungnya. Tanpa sempat mengeluh lagi, si kumis tebal itu pingsan. Sebelum tubuh itu sempat jatuh ke tanah, pemuda berambut putih keperakan itu telah lebih dulu melesat untuk menyangga tubuh Sentaka yang hendak rubuh. Pelahan-lahan sekali, direbahkannya tubuh itu di tanah. Setelah itu dengan hati-hati, Arya melangkahkan kakinya menuju arah Bargola tadi lenyap.

Pemuda berpakaian ungu ini melintasi lorong yang diterangi cahaya obor yang terpancang di kanan kiri dinding. Baru beberapa langkah Arya memasuki lorong, terdengar suara-suara bernada marah dari arah depannya. Buru-buru Dewa Arak mempercepat langkahnya, seraya tetap mendengarkan suara itu.

"Sampai kapan lagi aku harus bersabar, Sani," pendengaran Arya menangkap suara yang bernada marah itu. Suara itu segera dikenal sebagai suara Bargola!

Arya merasa tengkuknya tiba-tiba dingin mendengar suara itu. Bukan karena gentar pada pemilik suara itu. Tapi, karena isi ucapan itu. Datuk itu marah-marah pada orang yang bernama Sani! .

"Sani? Ibukukah?" tanya Arya dalam hati.

Tak terasa pemuda itu mempercepat langkahnya. Sementara suara itu terus bergema sepanjang lorong yang dilalui.

"Empat belas tahun bukan waktu yang singkat, Sani. Bayangkan! Empat belas tahun lamanya aku menunggu kesediaanmu, untuk sukarela

menyerahkan diri padaku. Tapi kau benar-benar wanita tak tahu diuntung! Padahal, karena kaulah aku rela mengundurkan diri dari dunia persilatan. Sekuat tenaga kutahan rasa penasaranku untuk menantang Siluman Tengkorak Putih. Hhh ... ! Kini kesabaranku sudah habis, Sani! Mungkin kau termasuk seorang wanita yang lebih suka dikasari daripada diperlakukan baik-baik!"

"Jangan harap dapat menyentuh tubuhku, Bargola!" teriak wanita itu. "Sebelum kau menjamah tubuhku, aku lebih dulu akan bunuh diri!"

"Ha ha ha...! Boleh kau coba kalau bisa, Sani!" tantang Bargola.

Tepat pada saat itu, Arya berada di ambang pintu. Tampak Bargola bergerak lambat-lambat meng­hampiri seorang wanita setengah baya berpakaian kuning, yang di dada sebelah kirinya terdapat sulaman bunga mawar merah. Dan pemuda berambut putih keperakan ini melihat jelas kalau wanita itu tengah menggerakkan tangan kanannya untuk memukul ubun-ubunnya sendiri.

Wut...!

Serasa terbang semangat Arya melihat hal ini. Jaraknya yang terlampau jauh dan kedatangannya yang agak terlambat, membuatnya tidak berdaya untuk mencegah.

Tapi sebelum niat wanita itu terlaksana, Bargola sambil tertawa terbahak-bahak memutar-mutar kedua tangannya di depan dada dari luar ke dalam. Dari kedua tangan yang berputar itu, bertiup angin keras yang langsung menyerbu ke arah wanita setengah baya itu.

Wanita berpakaian kuning itu memekik. Tanpa dapat dicegahnya lagi, tubuhnya terlontar ke belakang, dan jatuh di pembaringan. Untung Bargola tidak berniat mencelakainya, sehingga dalam serangannya itu hanya membuat perut wanita itu mual dan tubuhnya terlempar.

Sambil terkekeh-kekeh, Datuk Timur itu melangkah mendekati wanita yang di dada sebelah kirinya terdapat sulaman bunga mawar merah. Pandang matanya nampak liar penuh nafsu. Tapi sebelum datuk yang menggiriskan ini mengoyak­ngoyak pakaian wanita yang dipanggil Sani, tiba-tiba...

"Bargola, manusia rendah! Orang semacam kau memang tidak layak dibiarkan hidup!" terdengar bentakan keras menggeledek.

"Heh!" Bargola sangat terkejut mendengar teriakan itu. Dengan amarah yang meluap karena kesenangannya terganggu, dibalikkan tubuhnya menghadap ke arah asal suara.

Di ambang pintu, tampak berdiri seorang pemuda berambut putih keperak-perakan, berwajah jantan, dan berpakaian ungu. Di tangannya tergenggam sebuah guci arak yang terbuat dari perak.

"Ha ha ha...!" kembali Bargola tertawa bergelak. Tidak salahkah penglihatanku? Bukankah kau yang berjuluk Dewa Arak itu? Ha ha ha...! Pucuk dicinta. ulam tiba! Bahkan lebih dari yang kuharapkan. Mari, mari Dewa Arak. Ingin kulihat, sampai di mana kelihaianmu. Sehingga mampu menundukkan Siluman Tengkorak Putih yang tersohor itu!" (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang").

Arya sudah bisa mengukur kelihaian lawan di hadapannya ini. Memang, kemungkinan besar kepandaian datuk ini masih di bawah kepandaian Siluman Tengkorak Putih. Tapi biar bagaimanapun,datuk ini tidak kalah berbahaya. Bargola telah memiliki pengalaman luas. Dan itu kelebihannya dibanding Siluman Tengkorak Putih.

Sekilas Dewa Arak menatap wajah wanita berpakaian kuning yang masih meringkuk di pembaringan. Kontan hatinya bergetar. Walaupun waktu itu usianya belum mencapai lima tahun saat ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya, raut wajah ibunya tak mungkin dapat terlupakan. Wanita yang tengah meringkuk di pembaringan itu benar­benar ibunya!

Amarah Arya pun bangkit. Bargola nyata-nyata telah melukai ibunya. Bahkan kalau ia tadi terlambat, mungkin datuk ini telah pula menodai. Kesalahan datuk sesat ini tidak dapat diampuni lagi. Maka, pemuda berambut putih keperakan ini bertekad untuk melenyapkan datuk ini selama-lamanya.

°Hm ... !"

Diawali sebuah dengusan yang menjadi ciri khasnya, Datuk Timur itu melesat menerjang Arya. Tanpa sungkan-sungkan lagi, Bargola mengerahkan ilmu andalannya, 'Tapak Bara'. Kedua tangannya dengan jari jari terbuka berwarna merah, menyambar ganas ke arah ulu hati dan pusar Dewa Arak. Seketika hawa panas berhembus keras sebelum serangan itu tiba.

Arya yang tahu betapa berbahayanya kedua serangan itu, sebelum datuk itu menyerangnya, telah menuangkan guci arak ke dalam mulutnya.

Gluk... gluk... gluk ... !

Begitu serangan Bargola tiba, Arya mengelakkannya dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Kakinya bergerak sempoyongan seperti akan jatuh, melangkah, dan meliuk-liuk aneh.

Hebatnya, kedua serangan itu dapat dielakkan seperti tidak sengaja. Bahkan tubuh Dewa Arak ini telah berada di belakang datuk itu. Dengan cepat pemuda berambut putih keperakan ini pun mengayunkan gucinya menghantam punggung Bargola.

Bargola terperanjat. Sungguh di luar dugaan kalau lawannya bisa berbuat seperti itu dalam tempo yang cepat! Tapi, Bargola adalah seorang datuk yang telah kenyang pengalaman. Telah puluhan bahkan mungkin ratusan kali laki-laki kasar ini berhasil meloloskan diri dari ancaman maut.

Maka, pada saat yang kritis itu pun ia masih sanggup menyelamatkan selembar nyawanya. Cepat dibanting tubuhnya ke tanah, dan hinggap dengan bertumpu pada kedua tangan dan ujung kakinya.

Wuttt!

Sambaran guci Arya lewat di atas tubuhnya.

Sementara itu, saat kedua tapak tangannya hinggap di tanah, kaki kanan Bargola menendang ke belakang, mengarah dada Dewa Arak.

Pemuda berambut putih keperakan ini tercekat hatinya melihat serangan itu. Tidak ada waktu lagi untuk menghindari serangan tiba-tiba itu. Tendangan Bargola datangnya hampir bersamaan dengan lolosnya serangan guci yang mengancam punggung datuk itu.

Tidak ada jalan lain bagi Arya, kecuali menangkis serangan itu dengan tangan kirinya yang bebas. Cepat-cepat digerakkan tangan kirinya menepak kaki Bargola.

Plakkk!

Tubuh Datuk Timur itu terputar dan terpelanting. Sedangkan tubuh Arya sendiri terjajar satu langkah ke belakang.

Bargola meraung murka. Selama puluhan bahkan mungkin ratusan kali bertarung, baru kali ini sewaktu adu tenaga dalam, tubuhnya sampai terpelanting. Apalagi oleh seorang lawan yang masih sangat muda. Rasa penasarannya pun semakin memuncak.

Sebagai akibatnya, serangan-serangannya seketika bertambah dahsyat! Datuk ini mengamuk membabi buta. Kedua tangannya yang berisi ilmu 'Tapak Bara', dan mengandung tenaga panas itu menyambar-nyambar ganas mencari sasaran.

Tetapi yang dihadapi Bargola kali ini adalah Dewa Arak, murid pilihan Ki Gering Langit. Bagi pemuda berambut putih keperak-perakan itu, hawa panas yang mengiringi setiap serangan Bargola seperti tiupan angin sejuk. Karena, dia sendiri memiliki tenaga yang mengandung hawa panas. Bahkan jauh lebih dahsyat ketimbang hawa panas yang dimiliki datuk itu.

Dengan ilmu 'Belalang Sakti', Arya menghadapi setiap serangan Bargola. Setiap serangan yang datang dielakkan secara mudah, menggunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Bahkan pemuda itu sekaligus mengirimkan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya, menggunakan jurus 'Belalang Mabuk'.

Nyi Sani bergegas menghindar dari tempat itu. Karena untuk keluar dari ruangan sudah tidak sempat lagi, terpaksa dia bersembunyi di balik sebuah lemari. Ini dilakukan untuk berjaga jaga dari sambaran pukulan yang nyasar.

Sebentar saja sekujur tubuh Ketua Perguruan Mawar Merah ini sudah basah oleh keringat. Hawa di dalam ruangan ini terasa panas bukan main, dan terasa menyengat kulit.

Sementara itu pertarungan antara kedua orang sakti itu berjalan sengit, dan terlihat seimbang. Tapi lewat enam puluh jurus, Bargola mulai terdesak. Datuk sesat ini memang kalah segala-galanya dibanding Dewa Arak. Baik tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh, maupun kalah dalam mutu ilmunya.

Hanya berkat pengalaman bertarung saja yang membuat Arya agak mengalami sedikit kesulitan untuk mendesak laki-laki kasar itu.

Keadaan sekitar arena pertempuran. itu sudah kacau-balau. Dinding ruangan itu tak henti-hentinya bergetar setiap kali Dewa Arak atau Bargola melepaskan pukulan. Dan setiap kali kedua tangan atau kaki mereka beradu, lantai dan dinding ruangan bergetar lebih kuat lagi.

Pada jurus ke delapan puluh satu, Bargola menggerakkan kaki kanannya menyapu kaki Arya.

Wut...!

"Hup ... !" Dewa Arak melompat ke belakang dengan langkah sempoyongan.

Bargola memang sudah menunggu saat ini. Begitu dilihatnya Arya melompat ke belakang, segera disusulnya tubuh Arya dengan kedua tangan yang berisi tenaga dalam penuh. Seketika didorongkan ke arah dada pemuda berambut putih keperak-perakan itu.

Wut..!

Angin berhawa panas luar biasa kerasnya, menderu hebat. Dalam perkiraan Datuk Timur ini, Dewa Arak tidak akan sanggup mengelak lagi. Jalan satu-satunya hanya menangkis, karena serangannya itu begitu tiba-tiba. Dan melihat posisi lawan yang kurang menguntungkan, ia banyak menerima keuntungan dalam adu tenaga ini.

Tetapi, Bargola lupa pada satu hal. Ilmu yang dimiliki Arya adalah ilmu 'Belalang Sakti'. Dan belalang adalah binatang yang dapat terbang. Sehingga walaupun sebagai manusia Arya tidak mungkin dapat terbang, tapi keistimewaan binatang itu dimiliki juga. Dewa Arak memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tidak dimiliki manusia biasa! Dalam posisi yang seburuk apa pun, ia dapat melompat atau melenting sempurna.

Baru datuk ini terperanjat kaget ketika tiba-tiba Dewa Arak melompat melewati atas kepalanya. Bukan itu saja yang diperbuat pemuda berambut putih keperakan itu. Sambil melompat, diayunkan guci araknya ke kepala Datuk Timur itu.

Wuuuttt!

Bargola terperanjat kaget bukan main. Serangan guci itu berbarengan dengan serangan kedua tangannya yang hanya menghantam tempat kosong. Itu jelas, karena Dewa Arak telah melompat dari situ. Sebisa-bisanya dirundukkan kepalanya.

Bukkk ... !

Bargola menyeringai. Tubuhnya terhuyung-huyung jauh ke depan. Kepalanya memang dapat diselamatkan dari ancaman maut guci Dewa Arak, tapi tak urung guci itu berhasil juga menghantam bahunya. Terdengar suara berderak keras, ketika guci itu menghantam sasaran. Suatu bukti kalau tulang­tulang bahu itu patah.

Datuk Timur ini berusaha memperbaiki posisi, dan secepat itu pula membalikkan tubuhnya. Tapi, sayangnya terlambat. Arya yang melihat tubuh datuk sesat itu terhuyung-huyung jauh ke depan, segera melesat mengejar.

Dewa Arak kembali mengayunkan gucinya ke arah. kepala Bargola, tepat saat tubuh datuk itu berbalik.

Kali ini serangan susulan Arya tidak dapat dielakkan lagi. Dan....

Wut...!
Prakkk...!
"Akh ... !"

Telak dan keras sekali guci perak itu menghantam kepala Bargola. Terdengar suara berderak keras ketika kepala datuk itu pecah, terhantam guci yang mengandung tenaga dalam tinggi.

Darah seketika muncrat dari kepala yang pecah. Sesaat lamanya tubuh Bargola bergoyang-goyang, baru kemudian ambruk dan tidak bergerak lagi untuk selama-lamanya.

Arya memandangi sosok tubuh tinggi besar berkulit hitam legam yang kini terkapar di depannya. Sebentar kemudian pandangannya dialihkan pada sesosok tubuh wanita setengah baya yang masih bersembunyi di balik lemari.

Dada Arya berdebar keras menatap wanita berpakaian serba kuning itu. Wajah ibunya yang telah sekian belas tahun dirindukan.

Wanita berpakaian serba kuning yang bernama Nyi Sani, memperhatikan pemuda berambut putih keperakan itu tanpa berkedip. Wajah Arya memang mirip wajah suaminya, sehingga tidak aneh kalau Nyi Sani merasa mengenali.

"I... Ibu...," Arya memanggil dengan suara serak. "Si... siapa kau?" tanya Nyi Sani tersentak. Nada suaranya terdengar menggigil.

" aku... aku Arya, Bu. Arya Buana...," jawab pemuda berpakaian ungu itu.

"Arya... Arya Buana ... ?" ulang Ketua Perguruan Mawar Merah itu. Nada suaranya terdengar ragu­ragu.

" benar, Bu. Ayahku bernama Tribuana, dan berjuluk Pendekar Ruyung Maut..."

"Tidak mungkin!" sentak Nyi Sani. "Wajahmu memang mirip suamiku. Juga, warna pakaianmu memang warna kesenangan anakku. Tapi.., kau bukan Arya Buana! Kau bukan anakku!"

"Ibu...," lirih suara pemuda berambut putih keperakan itu. "Aku benar-benar Arya Buana anakmu ... "

"Bukan! Kau bohong! Anakku tidak memiliki rambut mengerikan seperti itu! Juga tidak pemabukan! Arya adalah anak yang baik!" Nyi Sani masih mencoba menyangkal.

"Percayalah, Bu. Aku memang benar Arya Buana, anakmu. Rambutku menjadi seperti ini karena pengaruh ilmu yang kupelajari. Begitu pula arak yang selalu menemaniku."

Nyi Sani hanya terdiam saja. Ia sebenarnya sudah menduga keras kalau pemuda yang berdiri di hadapannya ini adalah anaknya. Nalurinya sebagai seorang ibu menyatakan demikian. Tapi melihat keadaan aneh pada pemuda itu membuatnya ragu, walaupun bukti-bukti telah cukup meyakinkan.

Melihat wanita yang diduga ibunya itu diam saja, Arya buru-buru melanjutkan ucapannya.

"Aku mencari Ibu atas perintah Ayah, dan petunjuk Paman Lindu..."

Kini wanita berpakaian serba kuning ini tidak ragu­ragu lagi. Mulutnya yang gemetar nampak komat­kamit seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada suara yang ke luar. Beberapa saat lamanya, baru keluarlah kata-kata yang sejak tadi hendak diucapkannya.

"Arya..., Arya anakku..."

"Ibu ... !" seru Arya. Tubuhnya pun meluruk ke arah ibunya. Dijatuhkan tubuhnya bersimpuh di hadapan ibunya dan dipeluknya kedua kaki itu erat-erat.

"Bu.... betapa rindunya aku pada Ibu...."

Nyi Sani mengusap-usap rambut anaknya yang putih keperak-perakan itu penuh kasih sayang.

"Aku pun merindukanmu, Arya...," ucap Nyi Sani lirih menahan keharuan yang menyeruak ke dalam rongga dadanya. "Bagaimana keadaan ayahmu? Apakah baik-baik saja?"

Tangan pemuda yang memeluk kedua kaki wanita itu menegang seketika. Didongakkan kepalanya dan ditatapnya wajah ibunya dengan pandangan sedih.

"Ada apa, Arya? Katakan, apa yang terjadi terhadap ayahmu?" desak wanita berpakaian kuning itu dengan perasaan tidak enak.

Dari sikap yang diperlihatkan anaknya, wanita itu merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Hatinya kini dalam perasaan yang tidak menentu.

Pelahan-lahan Arya bangkit dari beriututnya. Sambil menundukkan kepala, karena tak ingin melihat kekecewaan dan kesedihan yang akan dialami ibunya, pemuda itu menatap tanah di ujung kaki ibunya.

"Ayah sudah tiada, Bu..."

"Apa katamu, Arya?" walau sudah dapat menduga, tak urung berita yang didengar dari mulut anaknya ini membuatnya kaget bukan kepalang. Tanpa sadar dicengkeram kedua bahu Arya dan diguncang­guncangnya.

"Ayahmu tewas? Siapa yang membunuhnya, Arya?"

Pemuda berambut putih keperak-perakan ini lalu menceritakan semuanya. Mulai dari perpisahan dengan ayahnya, sampai menerima pesan dari pamannya tempat di mana ibunya berada.

"Walau Paman telah mengetahui bahwa Ibu telah tidak berada lagi di Perguruan Mawar Merah, Paman tetap memberitahu tempat itu. Mungkin maksud Paman agar aku dapat melacak jejak Ibu," ucap Arya Buana menutup ceritanya.

Nyi Sani tercenung setelah putranya itu mengakhiri cerita. Raut wajahnya nampak memancarkan kesedihan yang hebat. Baru saja ia merasa gembira dapat bertemu putranya kembali, kini harus mendengar berita mengenai kematian suami dari kakak kandungnya.

"Sungguh tidak kusangka, kalau umur ayah dan pamanmu begitu singkat, Arya," keluh Nyi Sani.

Mendengar keluhan ibunya, Arya tersadar. Tidak sepantasnya kalau mereka tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut. Yang mati tidak akan hidup kembali, sekalipun mereka menangis hingga mengeluarkan air mata darah.

"Sudahlah, Bu. Tidak ada gunanya kita menangisi kepergian mereka. Ini akan merugikan diri kita sendiri Yang sudah tiada, toh tidak akan kembali lagi."

Mendengar ucapan putranya, Nyi Sani tersadar. Disusut air matanya, kemudian sambil tersenyum ditakapnya wajah Arya. Senyumnya terlihat getir.

"Nah! Begitu dong, Bu," puji pemuda berpakaian ungu ini. "Sekarang, aku ingin mendengar pengalaman Ibu sejak Paman Lindu membawa Ibu meninggalkan aku dan Ayah."

Istri Pendekar Ruyung Maut itu menghela napas sebelum memulai bicara.

"Ceritanya panjang, Arya. Panjang dan sama sekali tidak menarik."
"Tak apa, Bu. Aku ingin mendengarnya," sahut pemuda berambut putih keperakan ini mendesak.
"Baiklah, kalau itu maumu." Nyi Sani terpaksa mengalah. Pandang matanya menerawang ke atas.

"Lebih dari lima belas tahun lalu, karena tidak punya pilihan lain lagi, aku terpaksa pergi mengikuti kakak kandungku, yaitu pamanmu Arya. Ia membawaku ke sebuah tempat yang jauh. Di sana,

kami tinggal berdua. Tapi itu hanya berlangsung beberapa bulan saja, karena pamanmu kembali pergi dan lama tidak pernah kembali. Untuk mengisi waktu luang yang membuatku bosan, aku mendirikan perguruan silat. Perguruan itu kuberi nama Perguruan Mawar Merah."

Sampai di sini, wanita setengah baya ini menghentikan ceritanya. Arya yang memang tidak berniat memotong cerita itu, tetap diam mendengarkan. Sesaat lamanya suasana menjadi hening.

"Lebih dari setengah tahun suasana tenang-tenang saja. Sampai suatu hari muncul seorang kakek tinggi besar berkulit hitam legam...

"Bargola...," desis Arya

"Benar. Sialnya kakek itu tertarik padaku. Wajahku, katanya, mengingatkan pada istrinya. Ia pun lalu meminta agar aku bersedia menjadi istrinya."

"Dan Ibu mau?" selak Arya.

"Tidak! Dengan tegas permintaannya kutolak!" tandas wanita berpakaian kuning ini. "Tapi ternyata, itu tidak membuatnya putus asa. Tahu kalau lewat cara baik-baik gagal, dia lalu menggunakan cara kasar. Maka dengan paksa aku dibawanya kabur. Karena kepandaiannya jauh berada di atasku, aku jadi tidak berdaya sehingga dibawa ke sini. Setiap hari dia membujukku agar aku bersedia menjadi istrinya. Tapi aku tetap mengulur waktu, sampai akhirnya kesabarannya habis. Untung engkau datang, Arya," ucap Nyi Sani menutup ceritanya.

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini pemuda itu mengerti, mengapa Bargola tidak terdengar kabar beritanya lagi. Rupanya datuk itu disibuki oleh urusan asmara! Hatinya telah terpincuk pada seorang wanita. Terpikir begitu, tak terasa jantung dalam dada pemuda berambut putih keperak­perakan ini berdebar keras.

Terbayang kembali di benaknya wajah seorang gadis berpakaian serba putih yang telah membuat pikirannya tak karuan. Wajah seorang wanita yang telah mencuri sekeping hatinya. Tak terasa wajah pemuda ini berubah mendung.

"Ada apa, Arya?" tanya ibunya yang tentu saja melihat perubahan wajah putranya. Karena memang sejak tadi ibunya memperhatikan wajah pemuda itu. Dari sepasang mata pemuda di hadapannya yang tengah memandang kosong pada satu titik, Nyi Sani tahu kalau putranya ini tengah melamun. Hanya saja ia tidak tahu, apa yang dilamunkan Arya Buana.

Dewa Arak tersentak. Teguran itu mengingatkan kalau dirinya tidak sendirian di tempat ini.

"Ah ... ! Tid..., tidak ada apa-apa, Bu," jawab Arya gagap.

"Ibu tahu ada sesuatu yang sedang memberatkan pikiranmu. Katakanlah, barangkali Ibu bisa
membantumu. Atau..., Ibu tidak boleh mengetahuinya? Rahasia pribadimu barangkali?" tanya Nyi Sani sambil tersenyum maklum.

Seketika wajah Arya menyemburat merah.

"Sama sekali bukan, Bu."
"Lalu, kenapa kau tampaknya berat untuk mengatakannya?"

Dewa Arak menghembuskan napasnya. Sepertinya dangan menghembuskan napas, dia berharap dapat membuang beban yang bersarang di dadanya.

"Ini menyangkut Paman Lindu, Bu."
"Paman Lindu?! Memangnya ada apa dengan pamanmu?!"
"Bu, apakah Paman Lindu mempunyai anak?"

"Anak? Pamanmu? Tidak, Arya. Pamanmu tidak mempunyai anak. Bagaimana mungkin mempunyai anak kalau beristri pun tidak. Dari mana kau mendapat berita seperti itu, Arya?" tanya Nyi Sani penasaran.

"Itulah masalahnya, Bu," keluh Arya.

"Katakan Arya, dari mana kau mendapat fitnah seperti itu?" desak ibunya lagi.

Pemuda berambut putih keperakan ini ragu. Tapi ketika melihat pandangan mata ibunya, ia tidak dapat menghindar lagi.

"Dari orang yang bersangkutan, Bu," ujar Arya lemah.

"Dari orang yang bersangkutan? Apa maksudmu, Arya? Ibu tidak mengerti! Katakanlah yang jelas! Aneh, mengapa kau kelihatannya takut betul untuk mengatakannya," desak Nyi Sani sambil mengerutkan dahinya.

Merah wajah pemuda itu. Teguran ibunya telak betul mengenai sasaran. Segera dikuatkan hatinya untuk mengucapkan sesuatu.

"Dari anak Paman Lindu sendiri, Bu."

"Anak Paman Lindu? Baiklah. Rupanya kau perlu tahu juga, Arya. Tapi janganlah berprasangka buruk pada pamanmu, karena mungkin saja kau menduga dia mempunyai istri gelap. Kau tahu, pamanmu itu mandul. Itu karena kesukaannya bermain racun yang akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. Bahkan bukan hanya mandul saja. Pamanmu itu sama sekali tidak mempunyai keinginan terhadap wanita. Jadi, bagaimana mungkin mempunyai seorang anak? O ya..., orang yang mengaku-aku anak pamanmu itu laki-laki?" jelas Nyi Sani yang diakhiri dengan pertanyaan.

Arya menggelengkan kepalanya.

"Wanita?"

Kali ini Arya menganggukkan kepalanya.

"Berapa kira-kira usianya?" tanya Nyi Sani lagi.

Dan memang, sedikit banyak istri Pendekar Ruyung Maut ini sudah bisa menduga, kalau putranya ini mempunyai perasaan lain terhadap wanita yang mengaku anak kakak kandungnya. Sebenarnya tanpa diberitahu pun bekas Ketua Perguruan Mawar Merah ini sudah dapat memperkirakan usia wanita itu. Tapi dia ingin memastikan kebenaran dugaannya lebih dahulu.

"Kira-kira..., sembilan belas atau delapan belas, Bu...," jelas Arya, yang wajahnya kian memerah. Bahkan dahinya pun berkerut.

Nyi Sani menahan senyum yang hampir saja tercipta dari mulutnya. Tepat dugaannya! Putranya ini pasti sudah terpincuk pada gadis itu.

"Cantik?" goda Nyi Sani.

Semakin merah wajah Arya.

"Begitulah kira-kira, Bu."
"Siapa namanya?" tanya wanita itu dengan senyum dikulum.
"Entahlah, Bu," jawab Arya sambil menggeleng kan kepalanya.
"Lho, aneh?! Kau tidak tahu namanya?" sepasang mata Nyi Sani terbelalak.

"Bagaimana mungkin ia akan memperkenalkan namanya, Bu. Begitu bertemu, dia marah-marah. Bahkan hendak membunuhku."

"Heh?! Ini lebih gila lagi! Apakah tidak kau katakan kalau kau adalah keponakan orang yang dianggap ayahnya?"

"Dia sudah tahu, Bu. Justru karena itulah ia hendak membunuhku. Katanya, aku keponakan yang sama sekali tidak berguna. Pamannya dibunuh orang, sama sekali tidak berniat membalaskan kematiannya. Begitu katanya."

Bekas Ketua Perguruan Mawar Merah ini tercenung. Bisa diterima alasan gadis itu menyerang Arya. Tapi, Arya pun sama sekali tidak bersalah. Lindu, kakaknya memang terlalu banyak membuat kesalahan. Adalah wajar kalau akhirnya tewas di tangan orang yang dendam padanya.

Sesaat lamanya suasana menjadi hening. Arya telah selesai dengan ceritanya. Sementara ibunya sibuk dengan pikirannya sendiri. Wanita ini tengah mencoba memeras seluruh ingatannya terhadap setiap perkataan yang diucapkan kakaknya dulu. Tapi, tetap saja dia tidak mampu mengingatnya.

"Bu, apa tidak sebaiknya kalau kita keluar dari tempat ini dulu ... ?" usul Arya memenggal lamunan ibunya. Nyi Sani tersentak sadar dari lamunannya.

"Kau benar, Arya. Memang sebaiknya kalau kita keluar dari tempat terkutuk ini. Aku sudah bosan tinggal di sini, dan ingin melihat dunia luar yang bebas lepas!"

Di lain saat ibu dan anak ini sudah beranjak dari ruangan itu. Masing-masing melangkahkan kakinya dengan benak yang dipenuhi pikiran send iri-sendiri.

Sementara itu, Sentaka masih tergeletak pingsan.

"Haaat ... ! Hiyaaa...!"
Wut!
Brakkk...!

Teriakan-teriakan melengking tinggi, diselingi angin menderu-deru keras, terdengar dari dalam sebuah hutan. Itu pun masih ditingkahi suara bergemuruh, Semua itu ternyata berasal dari tindakan seraut wajah cantik. Usianya sekitar sembilan belas tahun, dan berpakaian serba putih. Rambutnya panjang terurai, hampir mencapai pinggang. Siapa lagi kalau bukan Melati.

Gadis ini rupanya sedang marah. Di dalam hutan ini, kekesalan hatinya dilampiaskan pada pepohonan dan semak-semak belukar.

"Mampus kau, pemuda sombong!" teriak gadis itu keras. Tangan kanannya dengan jurus 'Naga Merah Membuang Mustika' didorongkan ke depan.

Wuuusss ... !

Angin keras berhembus keluar dari tangan yang mendorong itu. Desiran angin itu terus melesat ke depan dan menghantam sebatang pohon sebesar dua pelukan tangan orang dewasa.

Brakkk ... !

Pohon itu hancur berkeping-keping menimbulkan suara bergemuruh dahsyat!

"Hhh ... !" Melati menghela napas. Lega sudah dadanya sekarang.

Kegagalannya mengalahkan Arya Buana alias Dewa Arak, dan melihat sikap pemuda itu membuatnya mendongkol bukan kepalang. Rasa kemangkelan hatinya itu pun dilampiaskan dengan mengamuk di dalam hutan ini.

Kini kedongkolannya telah sirna. Yang tinggal sekarang hanyalah akibat dari pelampiasan kedongkolannya. Dipandangi keadaan sekelilingnya. Pohon-pohon bertumbangan, semak-semak yang centang perenang, dan tanah yang terbongkar di sana sini.

"Semua ini gara-gara Dewa Arak!" sangkal gadis itu membela diri, dalam hati.

Dengan punggung tangan, disusuti peluh yang membasahi dahi dan lehernya yang mulus. Kemudian dihampirinya sebatang pohon, lalu direbahkan tubuhnya di situ untuk beristirahat.

Setelah cukup lama berbaring seperti itu, Melati beranjak bangkit. Kemudian sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melesat dari situ. Dalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap bagai ditelan bumi.

***

Tubuh Melati berkelebatan cepat. Kini tinggal satu lagi tujuannya. Menuju tempat Ular Hitam! Dari berita yang didapat, dia tahu kalau tanpa bantuan Datuk Barat itu, ayahnya tidak akan bisa dikalahkan lawan­lawannya. Jadi, bila dihitung-hitung, kakek itulah yang menjadi penyebab utama ayahnya tewas.

Kalau saja gadis berpakaian serba putih ini mencari tempat tinggal Ular Hitam sepuluh tahun yang lalu, sampai kapan pun tidak akan bisa menemukan. Untungnya, ia mencarinya sekarang. Sejak kemunculan Arya Buana alias Dewa Arak, tempat tinggal Ular Hitam sudah bukan merupakan rahasia lagi.

Maka, mudah saja bagi gadis yang berjuluk Dewi Penyebar Maut ini mendapat petunjuk tempat tinggal Ular Hitam.

Beberapa hari kemudian, ia pun sudah melewati Desa Jati Alas. Desa yang paling dekat dengan tempat tinggal Ular Hitam.

Sesampai di luar Desa Jati Alas, menurut petunjuk yang diterima, dia hanya tinggal melalui sebuah hutan. Dan setelah itu akan sampai di tempat kediaman Ular Hitam.

Petunjuk yang diterimanya itu benar. Beberapa lama kemudian setelah ia keluar dari mulut Desa Jati Alas, dijumpai sebuah hutan. Bergegas dipercepat langkahnya.

Sesaat kemudian Melati telah tiba di mulut hutan itu. Tapi baru saja hendak melangkahkan kakinya memasuki mulut hutan, dari depan terlihat sesosok bayangan hitam melesat cepat menuju mulut hutan.

Seketika Melati menahan langkahnya. Gerakan sosok bayangan hitam itu cepat bukan main. Sampai­sampai tercekat hati gadis ini melihatnya. Kecurigaannya pun mendadak timbul. Sosok bayangan hitam ini ternyata datang dari arah tempat tinggal Ular Hitam. Bukan tidak mungkin kalau justru sosok bayangan hitam itu adalah orang yang dicari­carinya.

Berpikiran demikian, Melati bergegas menghadang jalan sosok bayangan hitam itu.

"Kisanak yang di depan, pelahan dulu!" seru Melati keras dan tegas. Berbareng dengan itu kedua tangannya didorongkan ke depan, mengirimkan sebuah serangan jarak jauh. Melati yang berjuluk Dewi Penyebar Maut memang berwatak telengas.

Langsung saja mengerahkan seluruh tenaga dalam serangannya itu.

Wuuuttt ... !

Angin menderu keras keluar dari sepasang tangan yang mendorong itu.

Seketika terdengar seruan kaget dari sosok bayangan hitam di depan. Sama sekali tidak diduga, kalau di depannya disambut sebuah pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.

Tahu betapa berbahayanya serangan itu, sosok bayangan hitam itu menghentikan larinya. Berbareng dengan itu, kedua tangannya didorongkan pula ke depan disertai pengerahan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

Wuuuttt...!
Blarrr ... !

Dua pukulan jarak jauh yang sama-sama dahsyat itu beradu di tengah jalan. Udara sampai bergetar hebat akibat pertemuan dua buah tenaga dahsyat itu.

Akibatnya bagi kedua orang itu hebat sekali! Baik Melati maupun sosok bayangan hitam itu sama-sama terjengkang keras ke belakang, kemudian berguling­guling di tanah.

Tapi dengan sigap keduanya bergegas bangkit berdiri. Sikap mereka sama-sama waspada. Baik Melati maupun sosok bayangan hitam, sama-sama menyadari kalau mereka satu sama lain adalah lawan yang amat tangguh.

Dewi Penyebar Maut merasa penasaran bukan main melihat sosok bayangan hitam itu mampu membuatnya bergulingan. Dengan rasa penasaran yang meluap-luap, diperhatikan sosok tubuh di hadapannya yang berjarak sekitar sepuluh tombak.

Gadis berpakaian serba putih ini mengerutkan alisnya. Di depannya berdiri seorang kakek bertubuh tinggi kurus, berkulit hitam legam, dan sorot mata mencorong kehijauan.

"Ular Hitam!" jerit Melati keras. "Kau..., kau Ular Hitam, bukan?!"

Kakek yang ternyata memang Ular Hitam itu hanya tersenyum.

"Siapa kau, Nisanak? Dan mengapa tiba-tiba menyerangku tanpa sebab? Dari mana kau tahu julukanku?" berondong kakek itu.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku! Kedatanganku untuk mencabut nyawamu! Bersiaplah kau, Ular Hitam!"

"Eit ... ! Tunggu dulu, Nisanak! Katakan, mengapa kau ingin membunuhku?" Ular Hitam menggoyang­goyangkan kedua tangannya di depan dada mencegah gadis itu yang sudah bersiap menyerang­nya.

"Karena kau telah membunuh ayahku!" jerit Melati penuh kemarahan.
"Fitnah!" teriak Ular Hitam tak kalah keras. "Siapa nama ayahmu?!"
"Raja Racun Pencabut Nyawa!"

Wajah Ular Hitam berubah. Rasa keterkejutan yang amat sangat terpancar di wajahnya.Jadi, gadis ini putri orang yang sangat memusuhinya itu? .

"Bagaimana, ular kepala dua? Masih ingin menyangkal lagi?!" ejek Melati tajam.

Ular Hitam menghela napas panjang.

"Tak bisa kupungkiri hal itu. Ayahmu memang mati di tanganku."

"Heh?! Mengaku juga? Kau ini memang jantan, atau ingin dianggap jantan, manusia pengecut!" Merah wajah Ular Hitam.

"Jaga mulutmu, 'Nisanak! Aku bukan orang semacam itu!"

"Bukan orang semacam itu?! Hm..,! Lalu bukan pengecutkah namanya kalau bertarung dengan orang lain secara keroyokan?"

Ular Hitam terdiam. Kembali tidak bisa disangkal perkataan gadis itu.

"Kini terimalah kematianmu, ular pengecut!"

Setelah berkata demikian, Melati melompat menerjang Datuk Barat itu. Kedua tangannya berputar di samping kiri tubuhnya, kemudian berbareng terayun ke arah kepala kakek itu.

Wuuuttt ... !

Angin menderu keras mengawali tibanya serangan Melati.

Ular Hitam merendahkan tubuh sehingga serangan itu lewat beberapa rambut di atas kepalanya. Tapi tak urung rambutnya berkibaran keras juga. Suatu tanda kalau serangan kedua cakar itu mengandung tenaga dalam tinggi.
Ular Hitam mulanya merasa tak sampai hati menurunkan tangan besi pada gadis yang masih muda belia ini. Tapi, melihat betapa telengasnya gadis berpakaian serba putih ini, membuat kakek ini memutuskan untuk tidak bertindak sungkan-sungkan.

Bersikap lunak hanya akan mencelakakan diri sendiri. Itulah sebabnya, sambil merendahkan tubuh, kedua tangan Ular Hitam dengan telapak terbuka, melakukan sodokan bertubi-tubi pada dada dan perut lawannya yang telengas ini.

Hebat dan berbahaya sekali serangan Ular Hitam ini. Apalagi serangan itu dilakukan dengan kecepatan gerak luar biasa, yang menjadi ciri khas ilmu 'Ular Terbang'. Akibatnya, serangan sodokan bertubi-tubi itu menjadi amat berbahaya!

Tapi apa yang dilakukan Dewi Penyebar Maut, tidak kalah hebatnya! Dengan sebuah gerakan yang tidak masuk akal, karena posisi kakinya begitu sulit untuk mengenjotkan tubuh. Digerakkan tubuhnya secara aneh. Akibatnya seluruh tubuhnya dari mulai dada ke bawah terangkat ke atas. Dan dengan posisi seperti itu, kedua tangannya menyampok bagian belakang kepala Ular Hitam dari atas ke bawah.

Wuuuttt. !

Ular Hitam terkejut bukan main melihat hal ini. Dikenali betul gerakan yang dilakukan gadis berpakaian serba putih ini. Itu adalah jurus 'Naga Merah Mengangkat Ekor', salah satu jurus dari ilmu 'Cakar Naga Merah'! Siapa lagi pemilik ilmu itu kalau bukan kakak kandungnya, Ki Gering Langit.

Tetapi datuk ini tidak dapat berpikir lebih lama lagi. Serangan maut yang mengancam belakang kepalanya telah menyambar tiba. Maka cepat-cepat dielakkan serangan itu kalau tidak ingin mati konyol. Karena, untuk menangkis sudah tidak memungkin­kan lagi. Cepat-cepat Ular Hitam melompat ke depan, dari langsung bergulingan di tanah. Dan selamatlah dia dari serangan maut itu.

Tetapi Dewi Penyebar Maut yang hatinya tengah dilanda dendam membara, tentu saja tidak berhenti sampai di situ. Setelah kelihatan lawannya berhasil lolos, segera disusulinya dengan serangan-serangan dahsyat!.

Tentu saja Ular Hitam pun tak tinggal diam, dan segera menyambutnya. Di lain saat kedua tokoh yang sama-sama sakti itu sudah terlibat dalam pert­arungan sengit.

Dua puluh jurus telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda yang terdesak. Sementara itu Ular Hitam kini semakin yakin kalau ilmu yang digunakan lawannya adalah 'Cakar Naga Merah'! Maka pada suatu kesempatan, kakek itu cepat melentingkan tubuhnya ke belakang, dan bersalto beberapa kali di udara. Manis sekali kakinya hinggap beberapa tombak dari tempat semula.

"Tahan ... !" teriak Ular Hitam keras mencegah Dewi Penyebar Maut yang sudah bergerak mengejarnya.

Gadis berpakaian serba putih ini memang seorang yang tidak suka menyerang lawan yang belum siap. Maka begitu mendengar teriakan itu, gerakannya seketika terhenti. Dengan napas agak memburu, ditatapnya wajah orang yang dibencinya ini tajam­tajam.

"Apa hubunganmu dengan Ki Gering Langit?" tanya Ular Hitam cepat sebelum Melati sempat membuka mulut.
Berkilat sepasang mata putri Raja Racun Pencabut Nyawa ini mendengar pertanyaan itu. Gadis ini marah bukan main. Sudah tiga orang bertanya serupa, dan hal ini membuatnya terasa muak. Karena memang, ia sama sekali tidak mengenal tokoh itu.

"Aku sama sekali tidak mengenalnya!" jawab gadis itu ketus. "Jangan coba-coba mengalihkan persoalan, Ular Hitam!"

Merah wajah Ular Hitam. Kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu memang pedas bukan main.

"Aneh ... ! Lalu dari mana kau mendapatkan ilmu 'Cakar Naga Merah' itu?" tanya Ular Hitam lagi dengan perasaan bingung.

"Aku datang ke sini bukan untuk berbincang­bincang denganmu, Ular Hitam. Bersiaplah! Aku tidak segan-segan lagi membunuhmu sekarang, sekalipun kau belum siap!"

Setelah berkata demikian, Melati kembali menyerang Ular Hitam. Tidak ada pilihan lain lagi bagi kakek ini kecuali meladeni serangan gadis yang telah kalap oleh pengaruh dendam itu. Sebentar saja mereka sudah kembali bertarung sengit. Keduanya sama-sama mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki.

Hebat sekali akibat pertarungan dua orang sakti itu. Suara menderu hebat diseling suara bercicitan dari udara yang terobek akibat gerakan 'Cakar Naga Merah' milik Melati, mewarnai pertarungan itu. Pohon­pohon bertumbangan terlanda angin pukulan yang tidak mengenai sasaran. Batu-batu besar dan kecil berpentalan tak tentu arah seperti dilanda angin topan.

Tak terasa delapan puluh jurus telah berlalu. Tapi, masih belum nampak tanda-tanda siapa, yang akan terdesak. Pertarungan masih berjalan berimbang.

Sebenarnya bila dibandingkan, Melati masih sedikit lebih unggul dalam hal tenaga dalam dan mutu ilmu silat. Dalam hal kecepatan gerak, keduanya berimbang. Hanya saja, Ular Hitam menang pengalaman. Itulah sebabnya sampai sekian lamanya, pertarungan masih berlangsung seimbang.

Hal ini membuat Melati yang mempunyai watak pemberang, jadi tidak sabar. Dengan serangan bertubi-tubi berusaha dipojokkannya Ular Hitam. Gadis ini memang berniat mengadu keras lawan keras.

Dan begitu kelihatan lawannya telah tersudut, gadis berpakaian serba putih ini segera meluruk menerjang, sambil mendorongkan kedua tangannya ke depan.

Ular Hitam terperanjat kaget. Posisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengelakkan serangan itu. Sungguh tidak diduga kalau gadis itu memaksanya untuk mengadu tenaga dalam secara langsung. Berarti dia mengajak mengadu nyawa!

Sebagai seorang yang telah kenyang pengalaman, Datuk Barat ini tahu betul kalau adu tenaga dalam semacam ini amat berbahaya. Bagi lawan yang kalah kuat, kemungkinan besar akan tewas. Tapi walaupun demikian, bukan berarti kalau yang lebih kuat tenaganya tidak menderita apa-apa. Apalagi jika tenaga dalam antara keduanya tidak berbeda jauh. Paling tidak, dia akan teriuka parah!

Karena tidak ada pilihan lain lagi, Ular Hitam mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kemudian sambil mengeluarkan teriakan melengking nyaring, kakek itu melompat dengan kedua tangan didorongkan ke depan. Rupanya Ular Hitam benar­benar nekad menyambut serangan Melati.

"Tahan ... !"

Terdengar suatu teriakan nyaring bernada mencegah. Dan belum habis gema suara itu, sesosok bayangan ungu berkelebat ke arena pertarungan.

"Hiyaaa...!"

"up".

Dengan kecepatan gerak menakjubkan, sosok bayangan itu telah memotong lompatan Ular Hitam. Dan sebelum Datuk Barat ini sadar, sosok bayangan ungu itu mendorongkan tangan ke bahu sehingga tubuhnya terlempar ke samping.

Pada saat tangan orang itu mendorong tubuh Ular Hitam, sosok bayangan ungu itu membarengi dengan egosan tubuhnya, untuk mengelakkan serangan Melati. Tapi terlambat! Kedua tangan gadis itu lebih dulu tiba.

Bukkk...!

Kedua tangan Melati begitu telak menghantam tubuh sosok bayangan ungu itu. Untungnya, karena si bayangan ungu itu sempat mengegoskan tubuh, serangan itu menyimpang dari sasaran semula. Tidak mengenai dada, tapi mengenai bahunya. Meskipun demikian, akibat yang diderita si bayangan ungu itu cukup dahsyat juga.

Tubuhnya terlempar beberapa tombak, kemudian jatuh berdebuk di tanah, lalu terguling-guling. Gulingan itu baru berhenti ketika tubuh itu akhirnya membentur sebatang pohon.

"Arya ... !" jerit Ular Hitam keras. Wajah kakek ini

pucat pasi ketika mengenali sosok bayangan ungu yang terguling-guling di tanah itu. Pakaian, rambut, dan terutama sekali guci arak yang terlempar dari punggungnya, membuat Ular Hitam segera mengenali pemuda itu.

"Arya...!" teriak kakek itu lagi. Dengan lari laksana terbang, dihampirinya sosok bayangan ungu yang tak lain adalah Arya Buana. Pemuda itu kini tergolek seperti tidak bergerak lagi. Cairan kental berwarna merah mengucur keluar dari mulut dan hidungnya.

"Arya...?!" sentak Melati. Gadis itu terpaku kaku di tempatnya. Bibirnya yang telah menggumamkan nama pemuda itu nampak menggigil keras. Ditatapnya tubuh pemuda itu yang diam tidak bergerak lagi. Kemudian dengan pandangan mata jijik ditatap kedua tangannya yang tadi menghantam tubuh pemuda itu.

Beberapa saat lamanya Melati terpaku. Kemudian sambil mengeluarkan isak tertahan dari kerong­kongannya dia berlari meninggalkan tempat itu. Tidak dihiraukan air bening yang menggulir membasahi pipinya.

Seorang wanita selengah baya berpakaian serba kuning, yang tiba di situ hampir berbarengan dengan kedatangan Arya Buana, sempat melihat air mata yang bercucuran dari sepasang mata gadis itu. Tapi, segera hal itu terlupakan ketika melihat sosok tubuh Dewa Arak yang terkapar tidak bergerak.

Wanita itu adalah Nyi Sani. Arya Buana memang sengaja mengajak ibunya ke tempat tinggal Kakek Ular Hitam, untuk diperkenalkan. Dia juga meminta agar ibunya bisa tinggal di situ Tapi siapa sangka di tengah perjalanan, pemuda itu melihat Ular Hitam tengah bertarung melawan gadis yang telah mencuri

sekeping hatinya. Pada saat pertarungan itu dalam keadaan kritis, ia pun segera melesat mendahului ibunya untuk mencegah terjadinya korban nyawa. Usaha pemuda ini memang berhasil, tapi membawa akibat yang tidak ringan. Dia kini tergolek tanpa. mampu berbuat apa-apa lagi.

Nyi Sani ikut jongkok di sebelah Ular Hitam yang telah jongkok lebih dulu. Kakek itu tengah memeriksa detak jantung dan denyut nadi Arya.

"Bagaimana, Kek?" tanya Nyi Sani. Tanpa dijelaskan pun ia sudah bisa menduga, siapa kakek ini. Arya telah bercerita banyak mengenai pem­bimbingnya.

"Bersyukurlah kepada Gusti Allah, Nyi!" hanya itu yang diucapkan Ular Hitam.
"Jadi ... ?" sebuah senyuman tersungging di wajah wanita tua yang sejak tadi cemas itu.
"Arya masih hidup..." lanjut kakek berkulit hitam itu.
"Ahhh ... !" Nyi Sani mendesah lega

***

Sepekan lebih Arya Buana alias si Dewa Arak terkapar di pembaringan. Untungnya di saat-saat terakhir, masih sempat diegoskan tubuhnya, sehingga pukulan Melati hanya bersarang di bahu.

Tapi walaupun demikian, karena dashyatnya tenaga yang terkandung dalam serangan itu, tak urung luka dalamnya cukup parah. Padahal Arya telah mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya.
Pada hari ke delapan, Arya baru dijinkan Kakek Ular Hitam meninggalkan pembaringan. Pemuda

berambut putih keperakan ini merasa sekujur tubuhnya terasa lemas sekali. Pemuda yang berjuluk Dewa Arak ini segera mengambil tempat untuk duduk bersila, sesaat kemudian sudah tenggelam dalam semadinya.
Selama tiga hari setelah diijinkan meninggalkan pembaringan, Arya berusaha memulihkan tenaga dalam dengan semadi, dan melatih ilmu andalan. Baru pada hari yang keempat, pemuda itu meminta ijin Ular Hitam dan ibunya untuk melanjutkan perjalanan, karena masih banyak tugas yang belum diselesaikan. Terutama tugas dari gurunya, Ki Gering Langit.

"Arya...," ujar Ular Hitam sebelum Arya berangkat meninggalkan dirinya dan ibunya. Nyi Sani memang telah memutuskan untuk tinggal di kediaman Ular Hitam.

"Ya, Kek...."

"Sebelum kau pergi, aku akan memberitahukan sesuatu hal kepadamu. Hm, mengenai gadis yang berpakaian serba putih itu."

"Maksud, Kakek?" tanya Arya tidak mengerti.

"Selama di sini, aku dan ibumu terus memikirkan gadis itu. Dan, syukurlah! Akhirnya kami berhasil mengetahui keberadaan gadis itu. Ibumu mengetahui asal-usulnya, sedangkan aku mengetahui siapa gu ru nya."

Pemuda berambut putih keperakan ini merasa jantung dalam dadanya berdetak kencang. Entah kenapa, ia sendiri tidak mengerti. Setiap kali ada pembicaraan mengenai gadis berpakaian serba putih itu, jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari biasa.

"Benar, Arya," sambung Nyi Sani. "Berhari-hari di sini Ibu memeras ingatan tentang semua perkataan

yang diucapkan almarhum pamanmu. Beruntung sebelum gadis itu pergi, Ibu sempat melihatnya. Dan hal itu yang sangat membantu, sehingga Ibu berhasil mengingatnya."

"Jadi..., benarkah gadis itu putri dari Paman, Bu?" tanya Arya dengan suara gemetar.

Nyi Sani tersenyum. Bisa dimaklumi ketegangan yang melanda hari putranya itu.

"Sebenarnya bukan."
"Jadi ... ?"

"Ia adalah seorang anak yang diselamatkan pamanmu ketika masih bayi. Orang tuanya telah tewas dalam keadaan menyedihkan. Mungkin dibunuh orang jahat. Sejak masih bayi pamanmu merawatnya penuh kasih sayang, sampai ia berumur lima tahun. Anak itu diberi nama Melati. Karena kesukaannya pada pakaian serba putih yang terdapat sulaman bunga melati pada dada kiri. Pada suatu hari, ketika pamanmu pergi entah untuk urusan apa, anak itu ditinggalkan. Dan ketika ia kembali, anak itu telah lenyap. Tak ada yang tahu, ke mana perginya anak itu. Pamanmu mencari-cari, bahkan sampai meminta bantuan Ibu. Tapi, tetap saja Melati tidak berhasil ditemukan. Ia lenyap begitu saja seperti ditelan bumi," urai Nyi Sani menutup ceritanya.

"Kenapa Paman tidak menitipkannya pada Ibu?" tanya Arya heran.

Nyi Sani menghela napas panjang. Sejenak ditatap anaknya dalam-dalam.

"Aku sendiri juga tidak mengerti, Arya. Pamanmu tidak pernah menjawab setiap kali Ibu menanya­kannya."
Pemuda berbaju ungu ini terdiam beberapa saat. Pandangan matanya tertuju pada satu titik. Jelas ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.

"Kakek menemukan suatu hal yang mengejutkan, Arya," selak Ular Hitam memenggal lamunan pemuda berambut putih keperakan itu.

"Apa, Kek?" tanya pemuda itu ingin tahu.
"Kau sudah pernah bertarung melawan gadis itu kan?" Ular Hitam malah balik bertanya.

"Sudah, Kek," Arya menganggukkan kepalanya. "Apa kau menjumpai sesuatu yang mengejut­kanmu?" desak kakek itu lagi.

"Ada, Kek," sahut Arya membenarkan. "Jurus 'Cakar Naga Merah'!"
"Tepat!"
"Apa tidak mungkin kalau Melati adalah murid Guru, Kek?" tebak Dewa Arak.
"Bukan, Arya. Gadis itu sama sekali tidak mengenal Kakang Gering Langit!"
"Jadi ... ?" desak Arya.
"Heh?!" Sepasang alis Ular Hitam berkerut. "Kau tidak dapat menduganya, Arya?"

Pemuda berambut putih keperakan ini mengerutkan alisnya sejenak. Dicobanya untuk berpikir, tapi tetap saja tidak dapat menduga apa­apa. Pikirannya benar-benar seperti buntu!

"Hhh ... !" Ular Hitam menghela napas. "Rupanya ada sesuatu yang memberati pikiranmu, Arya. Sehingga otakmu yang biasanya cerdas, kini tidak mampu menduga hal yang sebenarnya sangat mudah!"

Wajah Arya memerah. Memang secara jujur diakui, kalau benaknya diganggu bayangan Melati. Sikap gadis itu yang selalu memusuhi, membuatnya hampir gila. Otaknya buntu, tidak bisa diajak berpikir.

Melihat keadaan Arya, Ular Hitam tidak tega untuk mendesak lebih lama.

"Gadis yang bernama Melati itu adalah murid orang yang hendak kau cari atas perintah gurumu!" jelas Ular Hitam.

"Ahhh ... !" Dewa Arak tersentak.

Arya jadi merasa begitu bodoh. Dalam Kitab Belalang Sakti, Ki Gering Langit telah memberi tugas untuk mencari dua orang yang sebenarnya pelayan di rumah kakek itu. Mereka telah kabur membawa lari kitab-kitab milik Ki Gering Langit. Waktu itu puluhan tahun yang lalu, rumah Ki Gering Langit adalah rumah yang selama ini ditempati Pendekar Ruyung Maut.

"Jadi ... ?"
"Ya!" selak Ular Hitam. "Melati adalah satu-satunya kunci yang dapat menunjukkan kepadamu di mana dua orang pengkhianat itu!"

Dewa Arak mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Satu yang perlu kau perhatikan, Arya," sambung kakek itu lagi. "Kau harus berhati-hati! Aku tidak bisa membayangkan sampai di mana kepandaian pengkhianat-pengkhianat itu. Bayangkan! Muridnya saja sampai selihai itu! Hhh ... ! Kau harus sering­sering bersemadi untuk lebih memantapkan tenaga dalammu, Arya. Aku khawatir, pengkhianat-peng­khianat itu kini telah memiliki tingkat tenaga dalam yang sukar diukur tingginya!"

"Akan kuingat baik-baik nasihat Kakek. O ya, Kek. Aku ada suatu masalah yang ingin kutanyakan pada Kakek." Kemudian Arya menceritakan tentang Raksasa Kulit Baja yang memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.

Setelah mendengar penuturan pemuda berambut putih keperakan ini Ular Hitam mengangguk-angguk kan kepalanya.

"Setiap ilmu memiliki kelemahan, Arya. Apalagi ilmu yang didapat dengan cara tidak wajar. Mengenai ilmu kekebalan tubuh yang kau ceritakan itu, banyak sekali yang kuketahui penangkalnya. Mungkin salah satunya ada yang benar."

Lalu Ular Hitam memberitahu macam-macam cara menaklukkan ilmu kekebalan tubuh. Arya mendengar­kan dan mencatat di otaknya semua petunjuk yang diberikan Ular Hitam.

Setelah semua petunjuk kakek bertubuh tinggi kurus itu dihapalnya, Arya pun pamit pada ibu dan kakeknya. Mereka melepas kepergian pemuda berambut putih keperakan itu dengan pandang mata berkaca-kaca.

***

Arya kini melakukan perjalanan mencari berita tentang Melati yang berjuluk Dewi Penyebar Maut. Karena ciri-ciri gadis itu yang memang menyolok, pemuda berambut putih keperakan ini sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk melakukan pengejaran. Hampir di setiap tempat berita mengenai Melati selalu didapat. Dan berita yang didapatnya membuat Arya mengerutkan dahinya.

Betapa tidak? Hampir di setiap desa dan tempat yang dikunjunginya, Melati selalu menyebar maut! Tidak ada orang yang masih hidup apabila telah berurusan dengannya. Satu hal yang melegakan Arya, Melati menimbulkan korban karena ia diusik. Tak pernah gadis itu yang memulai lebih dulu.

Arya mempercepat langkahnya. Dari desa yang baru saja ditanyainya, didapat keterangan bahwa orang yang tengah dicarinya belum lama melalui desa

itu. Dan sudah pasti telah menimbulkan korban nyawa! Perkara biasa. Bergajul-bergajul itu pasti hendak berbuat kurang ajar padanya.

Setelah melewati perbatasan desa, dan mendekati mulut sebuah hutan, pendengaran Arya yang tajam menangkap adanya suara-suara pertarungan di depan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuh pemuda ini berkelebat cepat ke arah asal suara pertempuran.

Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf kesempurnaan, dalam waktu sebentar saja Arya sudah melihat orang yang bertarung. Dan mendadak pemuda berambut putih keperakan ini tersentak begitu mengenali kedua orang yang sedang bertarung itu.

Tidak jauh darinya, sekitar sepuluh tombak di depan, nampak seorang gadis cantik berpakaian serba putih dan bersenjatakan pedang, tengah bertarung melawan seseorang bertubuh tinggi besar, dan berwajah kasar. Di lehernya tergantung kaking yang bermatakan tengkorak kepala bayi. Siapa lagi kalau bukan Melati yang tengah bertarung melawan Raksasa Kulit Baja.

Pandangan mata Dewa Arak yang tajam segera saja dapat mengetahui kalau Melati terlihat kelelahan.

Peluhnya yang membanjiri tubuh dan gerakannya yang sudah tidak gesit lagi, menjadi bukti dugaan pemuda berambut putih keperakan itu.

"Ha ha ha...!" terdengar tawa terbahak-bahak dari mulut Raksasa Kulit Baja itu.

Pemuda ini tahu kalau Melati, seperti dirinya juga dulu, kebingungan dan habis daya melawan kehebatan ilmu lawannya. Dan Dewa Arak yang telah mendapat petunjuk cara menghadapi Raksasa Kulit Baja, segera melompat ke arena pertempuran. "Mundur, Melati!" perintah Dewa Arak.

Terdengar seruan kaget dari mulut gadis itu. Dan memang sebenarnya Melati mengalami kekagetan yang bertumpuk-tumpuk. Dari mana Arya Buana mengetahui namanya? Tapi dalam kekagetan yang melanda hatinya itu, menyeruak rasa gembira yang tak terperikan. Arya Buana ternyata masih hidup! Pemuda yang telah membuat gejolak perasaannya tak menentu itu ternyata tidak mati akibat pukulannya! Oh, mengapa dia tidak pernah merasa segembira seperti sekarang? Inikah yang dinamakan cinta? Mengapa pemuda itu ada di sini? Apakah Arya juga memperhatikan dirinya?

Tanpa sadar gadis itu melompat mundur. Arya yang melihat hal ini menjadi tersentak sekaligus gembira. Berarti benarlah dugaan ibunya. Gadis ini adalah Melati kecil yang dulu ditemukan pamannya sewaktu masih bayi!

"Grrroah ... !" Raksasa Kulit Baja meraung murka begitu melihat siapa yang masuk ke arena pert­empuran, dan kini berdiri di hadapannya sambil menuangkan arak ke dalam mulut.

Gluk... gluk... gluk ... !

"Sungguh besar nyalimu, Dewa Arak! Kali ini jangan harap dapat lolos dari tanganku!"

Setelah berkata demikian, manusia raksasa itu melolos rantai berujung arit yang melilit pinggangnya. Sambil menggeram marah, diputar-putar, dan dilemparkannya ke arah Arya.

Singgg ... !

Suara mendesing nyaring terdengar ketika rantai berujung arit itu meluncur cepat ke arah kepala Dewa Arak. Sedangkan pemuda itu seperti biasa tengah sempoyongan sehabis menenggak araknya, seolah­olah tidak menyadari adanya bahaya mengancam. Tapi begitu serangan rantai itu menyambar dekat, Dewa Arak cepat menggerakkan tangan memapak, setelah lebih dulu menyimpan kembali gucinya di punggung.

Pralll ... !

Rantai yang terbuat dari baja itu putus berantakan ketika mengenai tangan kanan Dewa Arak. Berbareng dengan itu, tangan kiri pemuda itu menangkap ujung rantai yang tersisa.

Kreppp! !
up"

Hanya sekali sentak, tubuh Raksasa Kulit Baja terbetot dan melayang ke arah Dewa Arak. Hal ini memang disengaja. Pemuda itu ingin mencoba salah satu cara yang diberikan Ular Hitam. Menurut Ular Hitam, kalau Raksasa Kulit Baja memperoleh kekebalan dengan cara melumuri ramuan-ramuan ke tubuhnya, pasti ada bagian tubuh yang tidak terkena ramuan itu. Karena tidak mungkin seluruh tubuhnya terlumuri ramuan. Dan bagian yarig tidak terkena ramuan itu adalah kelemahan dari Raksasa Kulit Baja. Arya tahu, di antara seluruh tubuh tinggi besar ini hanya satu anggota tubuh yang belum pernah diserangnya. Telapak kaki! Kini pemuda berambut putih keperakan itu akan mencobanya.

Wuuuttt ... !

Begitu tubuh Raksasa Kulit Baja itu telah menyambar dekat, Dewa Arak mencuatkan kakinya. Maka dengan ujung kaki, disodoknya telapak kaki manuka bertubuh raksasa itu.

Tukkk ... !

Tubuh Raksasa Kulit Baja terpental ke atas.

Pegangannya pada rantai langsung terlepas. Sesaat lamanya tubuh itu melayang-layang di udara, kemudian jatuh ke tanah sehingga menimbulkan suara berdebuk keras.

Dengan hati berdebar tegang, Arya menunggu hasil percobaannya itu. Tapi betapa kecewa hatinya ketika lawannya bangkit kembali tanpa kurang suatu apa.

Berarti manusia raksasa ini tidak mempergunakan ramu-ramuan untuk mendapatkan kekebalan.

Srattt ... !

Arya mencabut sesuatu dari balik punggungnya Cara kedua yang diajarkan Ular Hitam untuk menaklukkan kekebalan tubuh Raksasa Kulit Baja.

"Ha ha ha...!" manusia raksasa itu tertawa bergelak ketika melihat senjata yang tergenggam di tangan Dewa Arak. Bambu kuning! Panjangnya sama dengan panjang sebatang pedang.

"Rupanya kau ini sudah jadi gila karena bingung, Dewa Arak! Jangankan bambu, baja pun tidak akan membuat kulitku lecet!"

Tapi Arya tidak mempedulikan ejekan itu. Sambil mengeluarkan pekik melengking, Dewa Arak melompat menyerang lawannya.

Raksasa Kulit Baja yang mempunyai gerakan lambat, tidak mungkin menghindari serangan Dewa Arak yang sangat cepat itu? Bertubi-tubi bambu kuning di tangan Arya mengenai sasarannya. Ditusuk, disabet, disontek, sampai akhirnya bambu itu hancur!

"Ha ha ha...!" kembali Raksasa Kulit Baja tertawa bergelak.

"Masih ada lagi senjatamu, Dewa Arak? Keluarkan! Puaskan hatimu, sebelum kau tewas di tanganku!"

Arya membuang sisa bambu yang masih digengamnya. Sesaat kemudian matanya liar mengawasi sekelilingnya. Dan seketika matanya berseri ketika melihat sebuah pohon yang memang dicarinya. Pohon kelor!

Cepat laksana kilat, tubuh Arya melesat ke atas. Dan di lain saat tubuhnya sudah melayang turun. Kini di tangannya tergenggam sebatang ranting pohon itu yang berdaun lebat.

Secepat kedua kakinya hinggap di tanah, secepat itu pula tubuh Dewa Arak melayang ke arah Raksasa Kulit Baja. Daun kelor yang tergenggam di tangannya disabetkan ke tubuh manusia raksasa itu.

Prattt!
"Akh...!"

Dengan telak sabetan itu mengenai badan Raksasa Kulit Baja. Mendadak saja terdengar jerit kesakitan dari mulut manusia raksasa yang kebal ini. Jerit yang lebih menyerupai raungan binatang buas terluka.

Dewi Penyebar Maut tersentak kaget melihat hal ini. Hampir tidak dipercaya akan apa yang dilihatnya barusan. Raksasa Kulit Baja yang memiliki kekebalan luar biasa itu meraung-raung hanya dengan sabetan daun kelor!

Dan sebaliknya, begitu Arya melihat usahanya berhasil, ia pun cepat menghujani sekujur tubuh lawan dengan sabetan-sabetan daun kelor yang digenggamnya.

Prattt! Prattt!
"Akh ... ! Aduh! Ahhh...!"

Jerit kesakitan terdengar susul-menyusul. Tubuh Raksasa Kulit Baja ini menggeliat-geliat, bahkan terguling-guling. Tapi, Dewa Arak tidak memberi kesempatan. Tubuh yang bergulingan di tanah itu terus dihujaninya dengan daun kelor.

Baru setelah ranting yang digenggamnya hancur, Arya menghentikan sabetan. Dibuangnya ranting itu, lalu ditatapnya sejenak tubuh tinggi besar yang masih berguling-guling. Kemudian sambil mengumpulkan seluruh tenaga, didorongkan kedua tangannya dengan jari jari terbuka ke depan. Dewa Arak menggunakan jurus 'Pukulan Belalang' dalam lambaran 'Tenaga Dalam Inti Matahari'!

Wuuuttt ... !

Angin yang berhawa panas menderu keras ke arah tubuh Raksasa Kulit Baja yang masih berguling kesakitan.
Bresss...!

Tubuh Raksasa Kulit Baja terpental keras ke belakang ketika pukulan jarak jauh Dewa Arak telak menghantam tubuhnya.

Suara jerit menyayat keluar dari mulut si tinggi besar ini. Tubuhnya bergulingan jauh. Dari mulut, hidung, mata, dan telinga mengalir darah segar. Dan begitu gulingan itu terhenti, berhenti pulalah riwayat tokoh menggiriskan ini. Sekujur tubuhnya nampak menghitam hangus!

Sambil mengumpulkan seluruh tenaganya, Dewa Arak mendorongkan kedua tangannya ke arah Raksasa Kulit Baja yang masih berguling kesakitan!

Arya Buana tercenung memandang sosok tubuh yang kini tergolek di hadapannya. Dalam hati, dikagumi juga kehebatan ilmu yang dimiliki orang bertubuh seperti raksasa itu.

Cukup lama juga pemuda itu tercenung, dan baru sadar ketika mendengar suara gerakan halus di belakangnya. Dalam sekelebatan, benaknya teringat pada Melati. Buru-buru ditolehkan kepalanya ke belakang.

Dapat dibayangkan betapa terperanjatnya hati pemuda berambut putih keperakan ini ketika tidak melihat siapa-siapa di situ. Dengan perasaan cemas, diedarkan pandangannya berkeliling. Tapi, tetap saja tidak dijumpai sosok tubuh yang dirindukan dan yang selalu mengganggu ingatannya.

"Melati...!" teriak Arya kalap. Teriakannya yang disertai pengerahan tenaga dalam itu bergaung, menggema ke sekitarnya.

Sesaat pemuda berbaju ungu ini menunggu sambutan. Tapi sampai lelah menunggu, tak juga ada tanda-tanda akan adanya sahutan. Hanya gema suaranya sendiri yang menyambut panggilannya.

"Melati...!" teriak Dewa Arak lagi. Dan memang, suaranya terdengar bernada putus asa. Dia seperti, kehilangan sesuatu yang amat dicintainya. Tanpa pikir lagi, Dewa Arak bergerak mengejar ke dalam hutan. Tujuannya jelas, mencari Melati! Selain untuk ketenangan hatinya, juga untuk memenuhi tugas gurunya.

Seperti diketahui, gadis ini adalah satu­satunya kunci untuk mencari pencuri kitab-kitab milik Ki Gering Langit.

Tanpa sepengetahuan Arya, dari balik pohon, se­raut wajah cantik berpakaian serba putih menatap kepergiannya dengan mata merembang berkaca­kaca. Gadis itu merasa malu menemui Arya, karena sejak pertama kali selalu bentrok dengannya. Tapi gadis itu juga merasa sedih tidak bisa bersama-sama dengan Arya, pemuda yang diam-diam dicintainya. Dia hanya bisa menatap tubuh Arya Buana hingga lenyap di kejauhan....

Nah, apakah kelak Melati mau menjumpai Dewa Arak lagi? Berhasilkah Arya mencari Melati? Dan memenuhi tugas dari gurunya untuk mengambil kitabkitab yang dicuri oleh pelayan Ki Gering Langit? Bagi para pembaca yang ingin mengetahui kisah selanjutnya, silakan ikuti serial Dewa Arak dalam episode "Cinta Sang Pendekar".

SELESAI

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Dewa Arak 02 - Dewi Penyebar Maut"

Post a Comment

close