Serial Dewa Arak 30 Dalam Cengkeraman Biang Ibis

Mode Malam
30 Dalam Cengkeraman Biang Ibis

1

Hari sudah agak siang. Peredaran matahari sudah hampir mencapai titik tengahnya ketika dua sosok tubuh melangkah perlahan menyusuri jalan tanah berdebu. Untungnya, saat itu langit tertutup oleh awan tebal. Meskipun tidak begitu hitam, tapi membuat suasana di mayapada tidak terlalu panas.

Dua sosok tubuh itu adalah seorang laki-laki dan seorang wanita. Usia mereka masing-masing masih cukup muda. Paling tidak, lebih dari dua puluh tahun. Yang laki-laki berwajah tampan. Pakaiannya berwarna ungu, dengan sebuah guci arak perak tergantung di bagian punggungnya. Rambutnya yang berwarna putih keperakan dan dibiarkan meriap, semakin menambah kejantanannya.

Sedangkan yang wanita berwajah cantik jelita laksana bidadari turun dari kahyangan.

Pakaiannya berwarna putih. Sedangkan rambutnya berwarna hitam, panjang tergerai. Sehingga menonjolkan kecantikannya.

"Haruskah aku ikut juga pergi ke sana, Kang Arya?" tanya gadis berpakaian putih

seraya menoleh ke arah wajah pemuda berambut putih keperakan itu.

"Tentu saja, Melati," sahut pemuda berpakaian ungu yang ternyata Arya Buana. Di kalangan rimba persilatan, dia lebih dikenal dengan julukan Dewa Arak. Senyum Dewa Arak tampak tersungging di bibir. "Bukankah kita telah berjanji pada Gambala?"

"Kau yang berjanji padanya, Kang. Dan bukan aku," bantah Melati  memperbaiki ucapan kekasihnya. Memang, gadis berpakaian putih itu adalah Melati, putri angkat Raja Bojong Gading.

"Apa bedanya, Melati?" sahut Arya dengan bibir mengulum senyum. "Aku atau kau

yang berjanji, sama saja. Atau..., kau ingin aku yang pergi sendiri ke sana?"

"Agar kau bisa bertemu lagi dengan gadis putri datuk yang dulu kau bela mati-matian? Enak saja!" sambung Melati sambil mencibir ( Untuk jelasnya me-ngenai tokoh yang bemama Gambala, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode 'Memburu Putri Datuk' dan 'Jamur Sisik Naga').

"Ha ha ha...!" tawa Arya pun meledak.

Kelihatannya pemuda berambut putih keperakan ini merasa geli sekali, sehingga bisa tertawa semeriah itu. Bahkan perutnya sampai terguncang-guncang karena rasa cemburu Melati yang menggelitik perutnya.

"Kenapa kau tertawa, Kang? Ada yang lucu?" tanya Melati heran.

Kini kekesalan yang tadi melanda hatinya mulai mereda. Bahkan telah berganti perasaan geli melihat tawa pemuda itu. Dan meskipun berusaha ditahan, tetap saja mulutnya menyunggingkan senyum simpul.

"Arya segera menghentikan tawanya dengan susah-payah.

"Jangan terlalu cemburu, Melati," ujar Arya. "Karmila sudah menjadi milik Rupangki.

Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk mencurigaiku. Lagi pula "

Arya terpaksa menghentikan ucapannya, karena mendengar derap langkah kaki kuda di belakangnya. Berkat ketajaman pendengarannya, bisa diketahui kalau kuda yang berlari tidak hanya seekor saja.

Pemuda berpakaian ungu itu lalu menoleh ke belakang, diikuti Melati. Mereka ingin tahu, siapa orang-orang yang memacu kuda secepat itu di tempat yang berdebu pada suasana siang seperti ini.

Memang berkat pendengaran mereka yang tajam, Arya dan Melati bisa mengetahui

kalau penunggang kuda itu memacu kudanya dengan tergesa-gesa. Dan itu bisa diketahui  dari derap langkah kaki kuda yang begitu bertubi-tubi menghantam bumi.

Dalam jarak sekitar sebelas tombak di belakang sepasang muda-muda itu, tampak beberapa ekor kuda bergerak cepat mendatangi. Kuda-kuda itu meninggalkan kepulan debu tebal dan pekat di belakangnya.

Arya dan Melati mengerutkan alisnya. Wajah mereka menyiratkan ketidaksenangan. Apa lagi ketika mengetahui kecepatan kuda-kuda itu sama sekali tidak mengendur. Padahal, sebentar lagi akan tiba di tempat mereka. Sepasang pendekar muda itu tentu saja tidak ingin terkena kepulan debu, apabila kuda-kuda itu lewat

"Kalau  masih  tetap  saja  memacu  kuda  dengan  demikian  cepat...,  jangan salahkan

kalau aku terpaksa turun tangan memberikan pelajaran pada mereka...," ancam Melati. "Sabarlah,  Melati.  Tahan  amarahmu  dulu.  Aku  yakin,  ada  sesuatu  yang memaksa

mereka berlaku seperti itu," sergah Arya, berusaha  menenangkan hati kekasihnya. Padahal, dia sendiri dilanda perasaan tidak senang. Tapi, Arya tidak mau mengikuti hawa amarahnya.

Ucapan Dewa Arak ternyata membuahkan basil juga. Kedua tangan Melati yang semula sudah mengejang penuh berisi tenaga dalam, perlahan-lahan mengendur kembali.

"Tapi kalau mereka mengotori tubuh dan pakaian kita dengan debu-debu, apakah harus dibiarkan saja, Kang?" sahut Melati masih mencoba bersikeras.

"Kita lihat saja nanti," kalem jawaban yang keluar dari mulut Arya.

Melati pun terdiam. Diikuti langkah kaki kekasihnya yang telah melanjutkan perjalanan kembali. Seolah-olah Dewa Arak tidak khawatir kalau kuda-kuda itu akan melabrak mereka. Memang, jalanan itu terlalu kecil. Lebarnya tak lebih dari tiga tombak. Sementara di kanan kirinya dttumbuhi pepohonan dan semak-semak berduri.

Arya terus saja melangkah, meskipun derap kaki kuda itu terdengar semakin keras. Nampaknya jarak antara mereka dengan kuda-kuda itu semakin dekat. Mau tak mau, Melati pun berusaha menenangkan diri dan terus melangkah. Namun demikian, jantungnya telah berdegup keras karena ketegangan yang melanda. Dicobanya untuk bersikap tenang seperti Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan itu tampak tenang-tenang saja.

Kekhawatiran Melati ternyata tidak terbukti. Ketika derap kaki kuda itu  sudah semakin jelas terdengar, sebuah suara lain yang membuat hatinya lega menyeruak.

"Hooop...!"

Seiring lenyapnya suara itu, terdengar ringkikan kuda-kuda yang disusul lenyapnya suara bergemuruh kaki-kaki kuda yang menghantam bumi.

"Raden..! Gusti Ayu...! Tunggu...!"

Arya dan Melati terperanjat bukan kepalang. Kaki mereka yang tengah melangkah pun mendadak terhenti. Dengan wajah berubah heran, keduanya membalikkan tubuh. Benarkah mereka berdua yang dipanggil? Kalau benar, kemungkinan besar para penunggang kuda itu adalah orang-orang Kerajaan Bojong Gading.

Begitu tubuh Arya dan Melati sudah berbalik, para penunggang kuda itu melompat turun dari punggung binatang tunggangannya. Indah dan manis gerakan mereka yang ternyata berjumlah lima orang itu. Lalu, ringan tanpa suara kaki mereka mendarat di tanah.

Arya dan Melati memperhatikan lima sosok di hadapannya penuh selidik. Barangkali saja mereka bisa dikenalinya. Tapi sampai beberapa saat lamanya memperhatikan, tidak juga mengenali mereka.

Kelima orang itu rata-rata bertubuh tegap dan kekar. Sepasang mata yang menyorot

tajam, tampak pada wajah mereka yang rata-rata menyiratkan kegagahan. Dan begitu telah berada di tanah, kelima orang itu langsung menekuk sebelah kaki. Sedangkan lutut ditempelkan ke tanah. Tangan kanan mereka yang terkepal ditekankan ke bumi.

"Maafkan kami, Den, Gusti Ayu. Kami terpaksa mengganggu...," ucap salah seorang

yang berkumis tebal.

"Sebenarnya Siapakah Kisanak semua?" tanya Arya ingin tahu.

"Kami adalah anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading," sahut orang yang kulit wajahnya kemerahan.

"Hm " gumam Arya dan Melati berbarengan.

Tanpa sadar kepala sepasang muda-mudi itu terangguk-angguk. Kini mereka mengerti, mengapa kelima orang itu memanggil seperti itu.

"Bangunlah kalian...," ujar Melati tegas dan penuh wibawa. Persis ucapan seorang panglima yang memerintah pasukannya.

Dewa Arak memang termasuk orang yang mampu menyimpan perasaan. Jadi, wajar saja kalau tidak tampak perasaan kaget di wajahnya, karena merasa heran melihat sikap dan ucapan Melati. Inikah Melati, kekasihnya yang selalu menampakkan perasaan manja padanya? Sungguh berbeda dengan kenyataan yang dilihat dan didengarnya sekarang! Kelima orang gagah yang ternyata anggota pasukan  khusus Kerajaan  Bojong Gading itu bergerak bangkit.

"Katakanlah. Mengapa kalian bisa berada di sini?" tanya Melati. Suara dan sikapnya

penuh wibawa.

"Dan mengapa kalian tidak menjaga ayahanda prabu?"

Laki-laki berkumis tebal menelan ludahnya, untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.

"Keadaan di Istana Bojong Gading tengah dalam keadaan gawat, Gusti Ayu...," lapor laki-laki berkumis tebal.

"Heh...?! Apa yang terjadi?" tanya Melati heran. "Ceritakanlah secara jelas dan singkat kejadiannya?"

Laki-laki berkumis tebal menarik napas dalam-dalam, sebelum memulai ceritanya.

"Kejadian ini berawal dari sakitnya Gusti Prabu, Gusti Ayu...," tutur anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading itu memulai ceritanya.

"Apa?!" pekik Melati kaget

Dan sebelum laki-laki berkumis tebal itu melanjutkan ceritanya, tahu-tahu tubuhnya sudah tertarik ke depan. Rupanya, leher bajunya telah dicengkeram tangan Melati yang kemudian langsung membetotnya. Kontan bulu kuduk anggota pasukan khusus itu berdiri menyaksikan kesaktian putri angkat junjungannya.

"Ayahanda Prabu sakit?! Katakan! Mengapa hal itu bisa terjadi?! Katakan cepat!" ucap Melati kalap.

Kedua tangan gadis ini masih mencekal leher baju laki-laki berkumis itu, kemudian bergerak mengguncang-guncangkannya. Mau tak mau, tubuh laki-laki berkumis tebal itu pun ikut terguncang-guncang pula terbawa gerakan tangan Melati. Apalagi dia tidak mengerahkan tenaga untuk melawan. Tapi andaikata mengerahkan pun, rasanya tidak akan banyak berarti.

Jelas saja, sebab tenaga dalam mereka berdua terpaut sangat jauh. Melihat hal ini, Dewa Arak buru-buru menyentuh lengan Melati.

"Tenanglah, Melati. Berikan kesempatan padanya untuk berbicara. Kekalapan tidak akan menyelesaikan persoalan."

Melati terperangah. Baru disadari, kalau sikapnya justru tidak menunjukkan ciri

seorang pendekar yang selalu menghadapi persoalan dengan tenang.

"Maafkan atas sikapku yang kurang pantas, Paman," ucap gadis berpakaian putih, malu-malu.

"Tidak apa-apa, Gusti Ayu," jawab laki-laki berkumis tebal itu. "Aku bisa memaklumi

perasaan yang melanda hatimu, Gusti Ayu."

"Terima kasih, Paman. Sekarang, ceritakanlah apa yang terjadi di  istana  sepeninggalku "

Anggota pasukan khusus yang berkumis tebal itu menarik napas dalam-dalam dan

menghembuskannya kuat-kuat. Sepertinya dia hendak membuang ganjalan hatinya setelah berbuat demikian.

"Sebenarnya tidak ada kejadian apa-apa, Gusti Ayu. Hanya..., yahhh.... Gusti Prabu sakit. Mungkin karena lelah, dan mungkin pula karena rindu padamu. Tapi yang jelas, sakitnya karena pikiran "

Laki-laki berkumis tebal itu menghentikan ceritanya sejenak untuk mengambil napas. "Tapi desas-desus yang terdengar di luar sungguh  mengejutkan hati," sambung

anggota pasukan khusus itu.

"Desas-desus?" Melati mengernyitkan keningnya.

"Benar. Menurut berita yang tersebar di luar, Gusti Prabu sakit parah. Dan kemungkinan besar akan mangkat," jawab laki-laki berkumis tebal itu seraya menyambung ceritanya.

"Hm !" Melati mengangguk-anggukkan kepala.

Sementara itu, Arya diam saja mendengarkan. Dan memang, dia tidak ingin  berniat ikut campur. Dibiarkannya saja Melati menyelesaikan persoalan itu. Dan itu dilakukan untuk menjaga harga diri sang kekasih di mata anak buahnya. "Akibatnya banyak kadipaten yang berusaha melepaskan diri dan menyatakan menjadi kerajaan baru. Bukan hanya itu saja. Di istana pun suasana mulai hangat. Masing-masing pejabat ingin menjadi raja."

"Ah! Sampai begitu parahnya keadaan di istana?" tanya Melati seperti tak percaya.

Bagai diberi perintah, kepala kelima orang pasukan khusus itu terangguk berbarengan.

"Lalu..., Patih Rantaka ke mana?" Melati kembali mengajukan pertanyaan setelah

teringat laki-laki setengah tua yang telah beberapa kali ikut bersamanya dalam memadamkan kerusuhan (Agar jelas, baca serial Dewa Arak dalam episode "Jamur Sisik Naga", dan "Kelelawar Beracun").

"Beliau tengah pergi mengadakan kunjungan persahabatan ke Kerajaan Kawulan," kali

ini laki-laki berjenggot jarang-jarang yang menjawab.

"Itulah sebabnya, beberapa di antara kami pergi meninggalkan istana untuk mencari Gusti Ayu. Karena, Gusti Ayulah satu-satunya orang yang akan dapat menenangkan suasana di istana yang mulai menghangat..." sambung laki-laki berkumis tebal.

"Lho?! Mengapa aku? Tidak salahkah pilihan itu, Paman?" tanya Melati heran. Laki-laki berkumis lebat itu menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar.

"Semua pasukan, panglima, dan pejabat kerajaan menaruh perasaan segan dan hormat pada Gusti Ayu. Aku yakin, kalau Gusti Ayu yang turun tangan, keadaan akan kembali tenang "

"Kalau memang tidak ada pilihan lagi..., apa boleh buat. Tapi. "

Seiring terhentinya ucapan itu, Melati menoleh ke arah Dewa Arak.

Arya tahu perasaan yang melanda hati Melati. Gadis itu tidak mau lancang mengambil keputusan, tanpa meminta persetujuan darinya. Maka pemuda berambut putih keperakan itu buru-buru menganggukkan kepala seraya tersenyum lebar.

"Pergilah, Melati. Rakyat Kerajaan Bojong Gading membutuhkan uluran tanganmu.

Cegahlah pertumpahan darah yang akan terjadi di sana," ujar Arya bijaksana.  "Lalu , bagaimana dengan maksud kepergian kita?" tanya Melati ragu-ragu.

"Tidak usah kau pikirkan," sahut Arya. "Apabila sempat, susullah ke sana. Toh, waktunya masih cukup lama. Yang jelas, aku akan menunggu di sana."

"Kalau begitu , aku pergi dulu, Kang," pamit Melati.

Arya menganggukkan kepala. Sebuah senyum lebar tersungging di bibirnya. "Hih !"

Melati langsung menggenjot kaki. Sesaat kemudian, tubuhnya melayang ke atas dan

hinggap di atas punggung kuda yang telah disiapkan pasukan khusus itu. Dan ketika Melati telah berada di atas punggung kuda, lima orang pasukan khusus itu melompat ke punggung kuda masing-masing.

"Kami pergi dulu, Den...," pamit mereka setelah berada di atas punggung binatang

tunggangannya.

"Semoga kerusuhan itu bisa teratasi. ," ujar Arya.

"Mudah-mudahan, Den ," sahut kelima orang itu serempak.

"Hiya...! Hiya !"

Melati dan kelima orang anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading menggeprakkan tali kekang kudanya. Seketika itu juga, binatang-binatang itu melesat meninggalkan Dewa Arak. Mula-mula pelan, tapi semakin lama semakin cepat

Arya memandangi hingga kuda-kuda itu lenyap di kejauhan, meninggalkan kepulan debu tebal dan tinggi.

***

Meskipun rombongan pasukan berkuda itu telah tidak tampak lagi, Dewa Arak masih tetap berdiri di situ. Pandangan matanya tetap tertuju ke arah lenyapnya rombongan itu. Cukup lama Arya bersikap seperti itu. Tapi mendadak, tubuhnya berbalik karena mendengar adanya deheman di belakangnya. "Raja Racun Muka Putih...!" desis Arya kaget ketika melihat sesosok tubuh tinggi besar berpakaian merah. Kumis, jenggot, dan cambangnya yang berwarna hitam tampak menyolok sekali, karena kulit wajahnya yang berwarna putih.

Arya memang mengenal tokoh ini karena pernah berjumpa. Bahkan pernah bertarung dengannya (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Keris Peminum Darah").

"Ha ha ha...!" Raja Racun Muka Putih tertawa berkakakan. "Kita berjumpa lagi, Dewa

Arak...!"

"Hm...." gumam Arya pelan, menyambut ucapan kakek berpakaian merah. "Raja Racun Muka Putih..., apa maksudmu menemuiku di sini?"

"Hm...!" Raja Racun Muka Putih menggumam.

"Tanpa perlu kuberitahukan pun, sebenarnya kau sudah harus mengetahuinya, Dewa Arak! Tapi, baiklah. Mungkin saja kau lupa. Maka, akan kujelaskan persoalannya!"

Raja Racun Muka Putih menghentikan ucapannya sejenak untuk menarik napas.

"Ada dua hal yang membuatku mencarimu, Dewa Arak!" lanjut kakek berpakaian merah. "Tapi biarlah...! Asal kau mau memenuhi masalah yang kedua, maka semua masalah akan kulupakan. Bahkan kuanggap di antara kita tidak ada masalah "

Raja Racun Muka Putih menghentikan ucapannya kembali, karena ingin melihat tanggapan Dewa Arak.

Tapi, ternyata pemuda berambut putih keperakan diam saja. Tidak tampak adanya tanda-tanda kalau Arya ingin mengajukan tanggapan.

"Masalah pertama..., kau punya hutang nyawa padaku! Muridku, Brajageni telah kau bunuh. Dan untuk itu, sudah sepatutnya aku membunuhmu! Tapi bila kau mau memenuhi masalah yang kedua, yaitu memberikan keris miliknya yang kau curi, semua urusan akan kulenyapkan. Kau kuampuni, Dewa Arak!"

Arya tersenyum getir.

"Sayang sekali, Raja Racun," ucap pemuda berambut putih keperakan itu. Suaranya seperti mengandung penyesalan mendalam. "Aku tidak bisa memberikan benda yang kau inginkan itu. Keris itu telah tidak ada lagi padaku."

"Keparat! Jawabanmu memang sudah kuduga, Dewa Arak!" maki Raja Racun Muka

Putih.

Kemarahan hebat tampak di wajah kakek berpakaian merah itu. Wajahnya yang putih

tampak memerah. Suara berkerotokan keras seperti tulang-tulang berpatahan terdengar, ketika tenaga dalam Raja Racun Muka Putih bergolak ke sekujur tubuh dengan sendirinya.

"Berani benar kau berbohong padaku, Dewa Arak!? Ataukah memang sudah mempunyai nyawa rangkap?!" ancam Raja Racun Muka Putih. Suaranya terdengar bergetar, karena amarah yang meluap-luap dalam dada.

"Aku tidak bohong, Raja Racun! Keris itu tidak ada padaku!" jawab Arya.

Suara Dewa Arak tetap tenang, setenang raut wajahnya. Walaupun sebenarnya, sekujur otot dan urat syaraf di tubuhnya menegang waspada. Disadari kalau laki-laki  tua yang berdiri di hadapannya adalah lawan yang amat tangguh.

Dan sebenarnya Arya sama sekali tidak berbohong. Keris itu telah tidak berada di

tangannya lagi, tapi telah disimpan di sebuah tempat yang hanya dia sendiri yang tahu (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Keris Peminum Darah").

"Rupanya, kau ingin dipaksa, Dewa Arak!"

Setelah berkata demikian, Raja Racun Muka Putih segera melompat menerjang Dewa Arak. Dan sekali menyerang, seluruh kemampuannya telah dikeluarkan. Memang, kakek berpakaian merah ini sadar kalau Arya memiliki kepandaian tinggi. Kesaktian  Dewa  Arak telah dibuktikannya sendiri sewaktu bertarung dengan pemuda itu.

Raja Racun Muka Putih mengawali serangan dengan mengirimkan sebuah tendangan miring kaki kiri yang bertubi-tubi ke arah wajah Dewa Arak.

Arya segera menarik kaki kanannya, mundur selangkah ke belakang. Sehingga, serangan itu tidak mengenai wajahnya. Tapi meskipun begitu, tangan kanannya diangkat untuk menangkis serangan itu. Dewa Arak memang sengaja melakukan tangkisan dengan menarik kaki ke belakang untuk mengurangi tenaga serangan lawan. Plak, plak, plak...!

Benturan keras bertubi-tubi seperti ada dua benda logam beradu terdengar ketika tangan dan kaki yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi berbenturan. Akibatnya, baik Dewa Arak maupun Raja Racun Muka Putih sama-sama terhuyung ke belakang. Tangan dan kaki masing-masing pihak sama-sama bergetar hebat. Raja Racun Muka Putih benar-benar merupakan seorang tokoh sakti. Tanpa mengalami kesulitan sedikit pun kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung, berhasil dipatahkan. Lalu kembali dilancarkannya serangan dengan kaki yang sama. Tapi, kali ini meluncur ke arah dada.

Seperti juga sebelumnya, serangan kali ini pun diawali deru angin keras. Rupanya dari sini terlihat, betapa besarnya tenaga dalam yang terkandung dalam serangan itu.

Namun kali ini Dewa Arak tidak menangkisnya! Dia malah melompat agak jauh ke

belakang, seraya meraih guci arak yang tergantung di punggung selagi tubuhnya berada di udara. Kemudian, dituangkannya guci itu ke mulutnya. 2

Gluk... Gluk... Gluk..!

Suara tegukan terdengar ketika arak itu melewati tenggorokan begitu kedua kaki Arya mendarat di tanah. Kontan hawa hangat menjalari perut, kemudian perlahan merayap ke kepala. Akibatnya, kedudukan kaki Arya tidak tetap lagi. Tubuhnya limbung sana, limbung sini. Rupanya, Dewa Arak telah menyiapkan ilmu 'Belalang Sakti' andalannya.

Raja Racun Muka Putih yang memang telah dilanda kemarahan menggelora, langsung

menyerang Dewa Arak. Segera dihujaninya Arya  dengan serangan bertubi-tubi dan mematikan.

Dewa Arak pun tidak berani bersikap setengah setengah. Ilmu 'Belalang Mabuk'nya dikeluarkan hingga sampai ke puncaknya. Kedua tangan, guci, dan semburan araknya, merupakan serangan yang sating tunjang untuk menggilas habis setiap pertahanan lawan.

Pertarungan yang berlangsung antara kedua tokoh yang sama-sama sakti itu memang hebat bukan kepalang. Setiap serangan mereka menimbulkan angin menderu keras. Bahkan suasana di sekitar pertarungan telah porak poranda. Beberapa batang pepohonan telah tumbang di sana-sini terkena angin serangan nyasar. Semak pun banyak yang tercabut hingga ke akar-akarnya. Keadaan tanah di sekitar tempat itu seperti telah dibajak belasan ekor kerbau. Itu pun masih diwarnai debu tebal yang menyelimuti sekitar tempat itu.

Seratus jurus telah berlalu. Tapi selama itu, tidak nampak adanya tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang. Tampaknya pertarungan masih berjalan seimbang.

Raja Racun Muka Putih menggertakkan gigi, karena perasaan geram yang melanda. Meskipun telah mengetahui ketangguhan lawan, tapi sama sekali tidak disangka akan semakin sakti.

Dalam siksaan perasaan geram yang bergelora, Raja Racun Muka Putih memutuskan untuk menggunakan cara lain dalam merobohkan lawan. Padahal, semula dia tidak bermaksud untuk menggunakannya. Hal ini mengingat Arya adalah seorang lawan yang masih sangat muda. Tapi, kini kenyataan menghendaki lain. Jadi, kalau ingin mengalahkan Dewa Arak tidak hanya menggunakan ilmu silat saja.

"Hih...!"

Sambil menggertakkan gigi, Raja Racun Muka Putih melempar tubuh ke belakang. Kemudian dia bersalto beberapa kali di udara, dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya menjejak tanah. Kini, langsung disiapkan ilmu yang lainnya.

Dewa Arak tahu, lawan memperjauh jarak pasti ada maksudnya. Tapi, dia tidak

mengejarnya. Sengaja diberinya kesempatan bagi lawan untuk mengeluarkan ilmu andalan.

Kini kedua tokoh yang sama-sama sakti itu berdiri berhadapan dalam jarak enam tombak. Baik Dewa Arak maupun Raja Racun Muka Putih saling menatap tajam, tapi dengan kuda-kuda berbeda.

Kedudukan Dewa Arak sama sekali tidak pantas disebut kuda-kuda silat. Ini karena kedua kakinya berdiri tidak tetap, oleng ke sana kemari, sehingga membuat tubuhnya pun bergoyang-goyang. Kedua tangannya yang berada di depan dada, bergerak-gerak  seperti seekor jangkrik yang tengah menggosok-gosokkan kedua kaki depannya.

Sementara itu, Raja Racun Muka Putih telah bersiap dengan kuda-kuda sejajar. Jari- jari kedua tangannya yang terbuka lurus dan menegang kaku, berada di sisi-sisi pinggangnya.

Telapak tangannya tampak menghadap ke langit "Ssshh...!"

Dibarengi desisan tajam seperti seekor ular marah, kakek berpakaian merah ini menjulurkan tangan kanannya ke depan secara perlahan-lahan, tapi penuh kekuatan. Dan begitu telah terjulur habis ke depan, punggung tangan kanannya berubah menjadi hitam! Asap tipis berwarna gelap tampak mengepul dari punggung tangan itu. Kemudian, jari-jari tangan kanan Raja Racun Muka Putih dikepalkan. Masih dengan mengepal, tangan kanan itu kembali ditarik ke sisi pinggang Hal yang sama diulangi kakek berpakaian merah itu. Tapi kali ini tangan  yang kiri. Dan seperti juga tangan kanan, tampak punggung tangan kiri Raja Racun Muka Putih berwarna hitam dan mengepulkan asap tipis.

Dan begitu tangan kiri telah ditarik kembali, maka kini sekaligus dua tangan yang dijulurkan ke depan. Warna hitam pada punggung tangan semakin jelas terlihat. Demikian pula asap yang keluar, tampak semakin jelas, karena semakin banyak dan menebal. Asap itu keluar dari balik tangan baju Raja Racun Muka Putih!

Melihat hal itu, Arya bersikap waspada. Dia tahu, kedua tangan yang diyakininya telah berubah hitam. Pasti mengandung racun ganas. Hal ini bisa diketahui dari bau amis memuakkan yang keluar dari asap berwarna hitam itu. Bau yang membuat kepalanya terasa pening. Padahal, hanya baunya saja yang tercium. Belum lagi, terkena serangan secara langsung.

Raja Racun Muka Putih maju mendekati Dewa Arak, dengan langkah-langkah silang. Sepasang matanya nampak penuh kewaspadaan, memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda berambut putih keperakan itu.

Dewa Arak berdiri diam menunggu. Sikapnya tenang saja, bahkan tidak melakukan gerakan seperti yang dilakukan lawan. Meskipun begitu, bukan berarti kalau sikapnya memandang remeh lawan. Sebaliknya, Arya telah berwaspada penuh  untuk menghadapi setiap serangan yang akan dilancarkan lawan.

Selangkah demi selangkah, jarak antara Raja Racun Muka Putih dengan Dewa Arak semakin dekat.

Dan ketika tinggal berjarak dua tombak lagi....

"Hiyaaa !"

Sambil berseru keras, Raja Racun Muka Putih melancarkan tusukan bertubi-tubi. Jari-jari kedua tangannya lurus dan menegang kaku. Suara bercuitan nyaring dan asap hitam tipis yang mengepul, mengiringi tibanya serangan kakek berpakaian merah itu.

Arya tahu kedahsyatan serangan itu, yang akan menjadi berlipat ganda bila ditujukan pada orang lain. Serangan itu tidak hanya mengandung kekuatan yang mampu menewaskan seorang tokoh persilatan setingkat Dewa Arak. Bahkan juga mengandung racun yang mematikan, meskipun hanya udaranya saja yang terhirup!

Tapi bagi Dewa Arak, asap beracun itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Jadi, Arya tidak perlu menahan napas, meskipun asap Raja Racun Muka Putih berhembus ke arahnya. Bahkan pemuda berambut putih keperakan itu tidak ragu-ragu lagi menangkis  serangan lawan dengan tangan kirinya.

Memang, dalam penggunaan ilmu 'Belalang Sakti', segala macam uap beracun tidak berarti bagi Dewa Arak. Demikian juga tangan atau kaki lawan yang mengandung racun, tidak akan mampu menularkan racun apabila digunakan untuk menangkis. Entah mengapa, ilmu itu bisa seperti itu. Dewa Arak sendiri tidak tahu. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode perdananya "Pedang Bintang").

Tapi kedahsyatan ilmu 'Belalang Sakti' itu tidak berarti apabila racun itu merasuk dari bagian tubuh yang terluka. Jadi, apabila kuku jari Raja Racun Muka Putih merobek kulit Arya, maka kemukjizatan ilmu 'Belalang Sakti', tidak berlaku lagi. Ilmu itu tidak mampu mencegah menjalarnya racun.

Raja Racun Muka Putih kaget bukan kepalang ketika melihat Dewa Arak sama sekali tidak terpengaruh oleh asap beracunnya. Apalagi ketika tangan pemuda berambut putih keperakan itu juga tidak berubah busuk. Padahal seperti biasanya, lawan yang bersentuhan dengan tangan Raja Racun Muka Putih yang telah berubah warna, maka daging lawan akan membusuk. Bahkan tulang-belulangnya pun akan mencair seperti lilin.  

Plakkk...!

Raja Racun Muka Putih kaget bukan kepalang ketika melihat Dewa Arak berani menangkis serangannya secara langsung! Apalagi ketika tangan pemuda itu tidak berubah busuk. Padahal, lawan yang bersentuhan tangan dengan Raja Racun Muka Putih, biasanya akan langsung berubah warna dan membusuk! Tapi kenyataan yang dilihat pada Arya, tidak seperti biasanya. Hal itu tentu saja membuatnya kaget bukan kepalang.

Namun Raja Racun Muka Putih terus menyerang sengit. Tapi sampai pertarungan

berlangsung seratus jurus kembali, tetap saja tidak mampu merobohkan Dewa Arak. Malah apabila digabung, maka dia telah bertarung selama dua ratus jurus lebih.

Seiring berlangsungnya pertarungan, suasana di sekitar tempat itu sudah tidak karuan lagi. Pepohonan dan semak-semak yang tumbuh di sekitar tempat itu langsung mati. Batang, daun, dan bagian-bagian tanaman lainnya telah hancur berkeping-keping menjadi serbuk- serbuk debu akibat pengaruh racun Raja Racun Muka Putih.

Bukan hanya suasana sekitar pertarungan saja yang berubah. Raja Racun Muka Putih pun mengalami hal yang sama. Pertarungan selama itu membuatnya lelah. Dan dengan sendirinya, tenaganya semakin berkurang. Akibatnya, serangan-serangan yang dikirimkan tidak sedahsyat sebelumnya. Begitu pula gerakannya yang kini tidak selincah semula.

Raja Racun Muka Putih sadar, keadaan kini sama sekali tidak  menguntungkan. Apalagi Dewa Arak terlihat seperti tidak terpengaruh pertarungan yang berlangsung alot itu. Serangan-serangannya masih mengandung kedahsyatan seperti semula. Gerakan-gerakannya tetap masih gesit. Tidak aneh kalau hal ini membuat Raja Racun Muka Putih mulai terdesak.

Beberapa kali setiap kali terjadi benturan di antara mereka, tubuh kakek berpakaian merah selalu ter-huyung-huyung. Rasa sakit pun mendera bagian tubuhnya yang berbenturan. Bukan itu saja. Tak jarang, dia hampir terkena serangan yang dikirimkan Dewa Arak. Hanya berkat kesaktiannya saja, Raja Racun Muka Putih mampu mengelak di saat-saat terakhir.

Raja Racun Muka Putih tahu, bila pertarungan dilanjutkan, Dewa Arak akan berhasll

merobohkannya. Dan itu sudah bisa dilihat dari keadaannya yang terus merosot, sementara lawan sama sekali tidak menampakkan kelelahan.

Kini kakek berpakaian merah itu mencari-cari jalan untuk menyelamatkan nyawa.

Disadari betul kalau Dewa Arak tidak akan mungkin bisa ditundukkannya. "Hih...!"

Pada saat tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah akibat tangannya berbenturan dengan tangan Dewa Arak, kakek berpakaian merah itu mengibaskan tangannya.

Wuttt..!

Sekelebatan benda berwarna kecoklatan meluncur ke arah Arya. Semula, Dewa Arak akan menangkap. Atau paling tidak, menangkis benda itu. Tapi ketika sekilas sepasang matanya yang tajam, bisa mengenali bentuk benda yang ternyata sebuah benda coklat berbentuk bulat sebesar telur angsa, pemuda berambut putih keperakan itu membatalkan maksudnya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera membanting tubuh ke tanah, lalu bergulingan menjauh.

Blarrr...!

Ledakan keras memekakkan telinga terdengar ketika benda bulat sebesar telur angsa itu meledak. Bongkahan tanah dan asap tebal menyeruak seiring benda itu menghantam tanah.

"Hhh...!"

Arya hanya bisa menghela napas berat ketika asap tebal menyebar yang menutupi pandangan. Dia tahu, Raja Racun Muka Putih sengaja melakukannya untuk mencari kesempatan menyelamatkan diri.

Dan memang, kakek berpakaian merah itu telah melarikan diri. Namun demikian, Dewa Arak tetap membuyarkan asap hitam yang menutupi pandangannya itu. Kedua tangannya diputar-putarkan di depan dada. Maka, seketika itu muncul angin  keras  dari kedua tangan yang berputaran Itu. Angin itu terus meluncur ke arah gumpalan asap yang menutupi pandangan, sehingga tersibak.

Arya terus saja memutar-mutarkan kedua tangannya hingga asap yang menutupi pandangan terusir pergi. Kini jelas, Raja Racun Muka Putih memang telah melarikan diri. Arya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan kalau Raja Racun Muka Putih benar-benar telah tidak berada lagi di situ. Baru kemudian, kakinya melangkah meninggalkan tempat itu.

Kini Dewa Arak melakukan perjalanan tanpa tergesa-gesa karena waktu pernikahan Rupangki dan Karmila memang masih agak lama. Meskipun jarak yang ditempuhnya memang masih agak jauh, tapi pemuda berambut putih keperakan itu yakin akan mampu tiba di Perguruan Pedang Ular tepat pada waktunya.

***

Arya melangkah menghampiri pintu kedai. Setiba di ambang pintu, langkahnya dihentikan sebentar. Pandangannya langsung beredar ke dalam.

Kedai itu ternyata ramai sekali. Rupanya, hampir semua meja yang ada di dalam kedai telah terisi. Hanya ada beberapa meja saja yang belum terisi.

Sepasang alis Dewa Arak hampir bertautan ketika matanya merayapi satu persatu

pengunjung kedai. Mentlk dari senjata-senjata yang tersandang, bisa diketahui kalau semua pengunjung kedai itu berasal dari kalangan persilatan.

Hal itu sebenarnya tidak menjadi pikiran bagi Arya, bila saja tak menyadari kalau semua tokoh persilatan itu dari golongan hitam. Ini bisa diketahui dari raut wajah, sikap, dan tindak-tanduk mereka.

Meskipun demikian, Arya yang tidak ingin mencari-cari urusan tidak mempedulikannya. Dengan langkah tenang, kakinya terayun menghampiri salah satu meja yang masih kosong. Kemudian pantatnya dihempaskan di kursi, dan guci peraknya diletakkan di meja.

Seorang laki-laki bertubuh kekar dan berkumis tebal melangkah menghampiri. "Akan pesan apa, Den?" tanya laki-laki bertubuh kekar yang ternyata pemilik kedai. "Seguci arak dan ayam panggang...," jawab Arya menyebutkan kegemarannya.

Pemilik kedai menganggukkan kepala, kemudian melangkah ke dalam. Tak lama kemudian, dia sudah kembali sambil membawa pesanan pemuda berambut putih keperakan itu.

"Silakan dicicipi, Den," kata laki-laki berkumis tebal mempersilakan setelah meletakkan semua pesanan Arya di meja.

"Terima kasih, Paman," sahut Arya seraya mengulurkan tangan mengambil guci arak dan menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas bambu dan meminumnya.

Hanya dalam sekejapan saja segelas arak sudah lenyap ke dalam perut Arya. Bahkan telah menghabiskan tiga gelas arak sebelum akhirnya mencicipi ayam panggang yang dipesannya.

Tapi baru juga gigi-giginya akan menggigit potongan pertama ayam panggang yang

diambilnya, kepalanya mendadak terasa pusing. Tidak hanya itu saja. Pandangannya pun terasa berkunang-kunang.

Arya segera meletakkan paha atas ayam panggang yang telah hampir digigitnya itu ke tempat semula. Berbarengan dengan itu, tangan yang satu lagi memijit-mijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang menyerang. Tapi karena kepalanya telah pusing dan pandangannya berkunang-kunang, potongan ayam itu malah jatuh ke meja.

Sebagai seorang tokoh persilatan yang telah cukup berpengalaman, Dewa Arak langsung tahu kalau itu adalah....

"Racun ," desis Arya sambil berusaha meraih kembali guci peraknya.

Tapi sebelum tangan Arya berhasil meraih, terdengar bunyi lecutan, disusul melesatnya seleret benda hitam ke arah guci perak itu. Dan....

Rrrttt !

"Hih !"

Tangan Arya menangkap angin ketika cambuk yang melilit bergerak membetot. "Ha ha ha !"

Sebuah tawa bernada penuh ejekan menyambuti kegagalan Arya meraih gucinya. Dalam cekaman rasa pusing yang mendera dan pandangan mata yang berkunang- kunang, Dewa Arak berusaha sekuat tenaga menegasi orang yang telah mencuri guci araknya. Tapi, yang dilihatnya hanya bayangan kabur dan tidak jelas.

Ternyata, bukan hanya rasa pusing dan pandangan berkunang-kunang saja yang melanda Arya. Bahkan juga perasaan lemas mendadak saja menyerang tubuhnya.

Tanpa memutar otak lama, Dewa Arak bisa mengetahui asal racun yang membuatnya seperti itu. Tak salah lagi! Pasti dari arak yang dteuguhkan pemilik kedai tadi!

Pemilik kedai? Arya sampai terionjak ketika teringat orang yang bertindak sebagai pemilik kedai itu. Kini baru disadari kalau laki-laki berkumis tebal itu tidak pantas menjadi pemilik kedai. Gerak-geriknya terlalu gesit dan sigap untuk seorang pemilik kedai. Memang Dewa Arak telah tertipu mentah-mentah!

Setelah tahu asal racun yang menyerang, Arya berusaha mengeluarkan arak yang tadi diminumnya. Tidak sulit bagi orang sesakti dirinya untuk mengeluarkannya. Dan memang, hanya dalam sekejapan saja dari dalam mulutnya telah keluar kembali arak yang telah diminum tadi.

Meskipun telah berhasil mengeluarkan arak yang tadi diminum, tapi tetap saja usaha yang dilakukan Arya telah agak terlambat. Racun itu rupanya memiliki daya kerja cepat.

Melihat Arya memuntahkan kembali arak yang tadi diminum, laki-laki berkumis tebal yang tadi bertindak sebagai pemilik kedai melompat menerjang.

Entah dari mana, tahu-tahu pada kedua tangannya tergenggam sebilah pisau yang berwarna hitam berkilat.

Kini dengan pisau itu di tangan, pemilik kedai palsu itu menyerang Dewa Arak! Pisau  di tangan kanannya diayunkan cepat membabat leher.

Meskipun kepalanya telah pening dan pandangannya berkunang-kunang, namun bukan berarti Dewa Arak akan mudah saja dibunuh!

Menyadari kalau sepasang matanya saat ini belum bisa digunakan, maka Arya

memejamkannya. Kini kedua telinganya yang tajam digunakan sebagai pengganti mata.

Berkat pendengarannya yang tajam bukan kepalang, Dewa Arak bisa tahu ada serangan yang mengancam ke arahnya. Maka, buru-buru tubuhnya direndahkan, sehingga serangan lawan hanya lewat di atas kepalanya.

Tapi sebelum pemuda berambut putih keperakan itu melancarkan balasan, serangan susulan lainnya datang bertubi-tubi. Serangan pertama berasal dari orang yang telah mengambil guci arak Dewa Arak. Seleret benda hitam yang ternyata seutas cambuk berwarna hitam meluncur cepat ke arah ubun-ubun Arya. Suara lecutan keras menggelegar mengawati tibanya serangan susulan itu.

Belum lagi serangan cambuk itu mengenai sasaran, serangan-serangan lain menyusul tiba. Semuanya berasal dari orang-orang yang menjadi pengunjung kedai.

Meskipun tidak melihatnya, Arya bisa mengetahui kalau para pengeroyoknya adalah

para pengunjung kedai! Kini disadari kalau dirinya telah masuk perangkap. Entah ke mana perginya pemilik kedai yang asli.

Cepat laksana kilat, tangan Arya meraih kursi yang tadi didudukinya, kemudian diputar-putarkannya laksana baling-baling untuk memapak semua serangan yang tertuju ke arahnya.

Trak, trak, trak...!

Kursi itu hancur berkeping-keping ketika berbagai macam senjata membenturnya. Tapi meskipun begitu, Arya berhasil menyelamatkan selembar nyawanya.

Arya berdiri dengan kedudukan kaki tidak tetap. Tubuhnya oleng ke sana kemari. Memang, keadaan pemuda berambut putih keperakan itu semakin tidak menguntungkan. Racun telah merasuk ke dalam tubuhnya, meskipun sebagian berhasil dikeluarkan bersama arak yang dimuntahkannya. Dan itu terbukti dengan semakin kerasnya rasa pusing yang melanda. Bahkan tenaganya juga semakin melemah.

"Tikus-tikus tak berguna...! Menangkap seekor anjing yang sudah tidak punya gigi saja kalian tidak mampu! Minggir semua...!" Luar biasa pengaruh ucapan itu. Belasan tokoh persilatan yang tengah mengurung Arya kontan melangkah mundur. Jelas, ucapan itu keluar dari mulut orang yang mempunyai kedudukan di atas mereka. 3

Arya terperanjat. Bukan karena ucapan, melainkan karena pemilik suara itu. Meskipun tidak melihat, tapi sudah bisa ditebak orangnya. Bahkan belum lama ini telah bertemu. Siapa lagi kalau bukan Raja Racun Muka Putih!

"Ha ha ha...!"

Sambil tertawa berkakakan, kakek berpakaian merah itu melangkah menghampiri Dewa Arak. Sedangkan tokoh-tokoh persilatan yang tadi bergerak mengurung, telah menjauhkan diri.

"Jangan harap bisa meloloskan diri dari tangan Raja Racun Muka Putih, Dewa Arak!" tegas Raja Racun Muka Putih bernada kemenangan.

Arya sama sekali tidak menanggapi ucapan kakek berpakaian merah itu. Disadari

kalau keadaan kali ini sangat tidak menguntungkan. Kesaktian Raja Racun Muka Putih telah dibuktikannya sendiri. Dan hatinya tidak yakin akan mampu mengalahkan datuk sesat itu  bila tanpa guci perak di tangannya. Apalagi dalam keadaan keracunan! Raja Racun Muka Putih akan mudah saja menggilasnya.

"Kuberi kau kesempatan terakhir, Dewa Arak! Mau berikan keris itu secara baik-baik, atau..., aku harus memaksamu dengan kekerasan?!"

"Aku bukan jenis orang yang mudah mengubah perkataan, Raja Racun! Sekali

ucapanku keluar, tak akan nanti ditarik kembali!" tandas Arya dengan suara mengambang karena pusing yang melanda.

"Hm..., jadi kau tidak mau memberikan keris itu padaku?!" "Ya!"

"Ingin kulihat bukti kebenaran ucapanmu itu, Dewa Arak!"

Setelah berkata demikian, Raja Racun Muka Putih segera melompat menerjang. Dan selagi tubuhnya berada di udara, kaki kanannya bergerak mengibas ke arah kepala  Arya. Deru angin keras mengiringi tibanya serangannya, jelas serangan itu dilancarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Arya cepat-cepat merendahkan tubuh sehingga serangan itu lewat di atas kepalanya.

Sehingga membuat rambut dan pakaiannya berkibaran keras. "Hup...!"

Begitu telah mendarat di tanah, Raja Racun Muka Putih segera melancarkan serangan susulan lagi.

Kini pemuda berambut putih keperakan itu dibuat pontang-panting untuk

menyelamatkan diri. Padahal, keadaannya sudah lemah. Tambahan lagi, hanya bisa mengandalkan pendengaran saja! Sementara lawan yang dihadapinya bukan tokoh sembarangan.

Dewa Arak tahu, bagi orang sesakti Raja Racun Muka Putih bukan hal yang sulit

untuk mengacaukan pendengaran lawan. Dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, pendengaran lawan bisa ditipu. Bukan itu saja. Kakek berpakaian merah itu pun mampu melancarkan serangan tanpa menimbulkan suara!

Untungnya, Raja Racun Muka Putih tidak berniat membunuh Dewa Arak. Hal ini

karena keinginan untuk mendapatkan keris yang dulu dimiliki Brajageni, muridnya  (Agar jelas, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Keris Peminum Darah"). Kalau tidak, sudah sejak tadi pemuda berambut putih keperakan itu tewas. Sudah dua jurus Raja Racun Muka Putih menyerang, tapi Arya selalu berhasil mengelakkannya, meskipun dengan susah payah. Maka akhirnya, Raja Racun Muka Putih menghentikan gerakannya. Dan kini, kakek berpakaian merah ini berdiri tegak. Kedua tangannya dengan jari-jari lurus dipertemukan di depan dada. Sesaat kemudian....

Nggg !

Seketika ada suara mendengung pelan yang semakin lama semakin keras. Entah dari mana asal suara itu, sukar diketahui. Mungkin dari hidung, karena mulut datuk sesat itu sama sekali tidak terbuka. Beberapa saat kemudian, dengungan itu telah menyebar di seluruh penjuru isi kedai karena suara itu memang semakin keras.

Arya mengernyitkan kening. Dia tahu, lawan bermaksud mengacaukan

pendengarannya dengan bunyi-bunyian itu. Dan ternyata, usaha kakek berpakaian merah itu berhasil. Buktinya Dewa Arak tidak bisa mendengar apa apa lagi selain suara itu.

Dewa Arak sadar kalau dirinya kini telah terancam bahaya besar. Sudah bisa diduga kalau lawan akan mengirimkan serangan. Raja Racun Muka Putih yakin kalau usaha mengacaukan pendengaran lawan telah berhasil dikerjakannya. Maka begitu dengung yang ditimbulkannya telah mempengaruhi Dewa Arak, langsung dilancarkannya serangan susulan.

Raja Racun Muka Putih melompat ke atas. Dan setibanya berada di atas kepala Arya, tubuhnya berputar beberapa kali. Dan begitu menukik, jari-jari tangannya meluncur ke arah punggung pemuda berambut putih keperakan itu. Semua itu dilakukan tanpa menghentikan suara dengungan.

Arya mengernyitkan kening dalam-dalam. Dewa Arak mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki, dan dipusatkan pada kedua telinganya. Tapi meskipun begitu, tetap saja tidak berhasil mendengar suara apa pun selain dari bunyi dengung. Tahu-tahu....

Tukkk !

Jari tangan Raja Racun Muka Putih telak dan keras sekali menotok punggungnya.

Kontan tubuh Arya terkulai lemas dan merosot ke bawah seperti sehelai karung basah. "Ha ha ha !"

Raja Racun Muka Putih tertawa penuh kemenangan begitu telah mendaratkan kedua kakinya di tanah. Kini, Arya tampak telah tertotok lemas.

"Ho ho ho   !"

"He he  he   !"

Tiba-tiba dua buah suara tawa lain yang mengandung tenaga dalam tinggi terdengar menyambuti tawa kakek berpakaian merah itu.

Raja Racun Muka Putih menghentikan tawanya, dan mengalihkan pandangan ke arah pintu kedai, tempat suara itu berasal. Wajah guru Brajageni itu tampak merah padam karena amarah yang meluap-luap. Dan itu tertuju pada para pemilik suara tawa itu. Memang, Raja Racun Muka Putih menangkap adanya ejekan pada suara tawa itu.

Tapi kemarahan yang terkandung dalam raut wajah Raja Racun Muka Putih kontan lenyap. Bahkan kini berganti dengan kekagetan dan kegentaran yang membayang jelas.

"Ahhh...," desis Raja Racun Muka Putih kaget campur gentar. Pandangan matanya terpaku ke arah dua sosok tubuh yang berdiri di ambang pintu kedai.

Sosok tubuh pertama adalah seorang kakek bertubuh tinggi kurus, dan berkulit kemerahan. Tubuhnya yang bertelanjang dada, tampak kurus dan ceking. Bagian bawah tubuhnya hanya ditutupi secarik kain. Seperti juga keadaan kulitnya yang terlihat gersang, kumis, dan jenggot laki-laki ini terlihat jarang-jarang.

"Ho ho ho !"

Laki-laki bertubuh tinggi kurus ini hanya tertawa terkekeh-kekeh saja mendengar desisan kaget yang keluar dari mulut Raja Racun Muka Putih. Tangan kanannya yang memegang sebuah kipas berwarna merah, dikebut-kebutkan ke sekitar tubuhnya.

"He he he...!" Yang seorang lagi pun ikut tertawa. Ciri-cirinya amat berlawanan dengan kakek tinggi kurus tadi. Tubuhnya pendek gemuk. Dan kegemukannya semakin bertambah, karena mengenakan pakaian dari bulu beruang salju yang tebal pada seluruh anggota tubuhnya, kecuali wajah. Bahkan pada kepalanya pun bertengger sebuah topi berbentuk kerucut, terbuat dari bulu binatang yang tebal. Kulit wajahnya tampak putih. Dia kini melipat kedua tangannya di depan dada.

Raja Racun Muka Putih kenal betul kedua kakek yang tengah tertawa-tawa itu. Mereka

boleh dibilang merupakan biang-biang iblis. Yang berkulit kemerahan, berjuluk Dedemit Api. Sedangkan yang berkulit putih berjuluk Dedemit Salju. Kedua kakek ini tinggal di Gunung Kawak, tapi menempati bagian yang berjauhan satu sama lain. Dedemit Api di sebelah Timur, dan Dedemit Salju di sebelah Barat. Tiga tahun sekali satu sama lain saling bertemu untuk mengadu kepandaian, karena bosan bertarung melawan orang-orang persilatan yang sama sekali tidak mampu menghadapi mereka. Memang, telah ratusan kali mereka bertarung tanpa terkalahkan!

"Dedemit Api! Kalau aku tidak salah lihat, orang yang dirobohkan secara curang oleh Tikus Pucat itu adalah Dewa Arak! Ciri-cirinya persis sekali dengan yang dikatakan orang- orang persilatan!" kata kakek pendek gemuk masih dengan kedua tangan bersedakap di depan dada.

"Lalu..., kenapa kalau orang itu memang Dewa Arak, Dedemit Salju?!" tanya kakek tinggi kurus sambil mengebut-ngebutkan kipas ke badannya yang tidak tertutup pakaian. "Kurasa, dia bukan lawan yang pantas untuk kita!"

"Rupanya kau sudah pikun, Dedemit Api!" sergah Dedemit Salju keras. "Dewa Arak

adalah murid Gering Langit. Dengan adanya dia di tangan kita, mudah saja untuk memancing tua bangka itu untuk memenuhi panggilan kita. Dan selanjutnya, bisa kita atur agar terjadi pertarungan."

"Ah! Kau benar...! Otakmu encer juga, Dedemit Salju!" puji Dedemit Api.

Dedemit Salju hanya tersenyum mengejek. "Hey...! Tikus Pucat! Cepat kemarikan Dewa Arak padaku sebelum kesabaranku hilang sehingga harus membunuhmu!" seru Dedemit Api pada Raja Racun Muka Putih.

Kali ini Raja Racun Muka Putih tidak bisa menahan diri lagi. Meskipun telah sering

mendengar kesaktian kedua kakek aneh itu, tapi bukan berarti rela dihina seenaknya. Sudah sejak tadi dia merasa geram bukan main ketika dimaki dengan sebutan Tikus Pucat.

"Kau hanya bisa mengambilnya, apabila berhasil melangkahi mayatku, Caring Kurus!" tantang Raja Racun Muka Putih keras.

"Ho ho ho...! Betapa gagahnya! Ingin kulihat sebesar bacotmukah, kemampuan yang kau miliki?" sambut Dedemit Api bernada meremehkan.

***

"Hiyaaa...!"

Diiringi lengkingan nyaring, Raja Racun Muka Putih meiuruk menerjang Dedemit Api. Tak tanggung-tanggung lagi, segera dikirimkannya tendangan kaki kanan miring bertubi-tubi ke arah dada, ulu hati, dan leher. Dari suara menderu keras yang mengiringi tibanya serangan itu, bisa menandakan kekuatan yang terkandung di dalamnya.

Tapi, Dedemit Api hanya tersenyum mengejek. Dengan sikap sembarangan,

ditangkisnya serangan yang bertubi-tubi mengancam ke arahnya.

Plak, plak, plak...!

"Ah...!"

Raja Racun Muka Putih terperanjat ketika kakinya terasa sakit-sakit dan terasa panas bukan kepalang ketika berbenturan dengan kedua tangan Dedemit Api. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya terhuyung-huyung dua langkah ke belakang. Sedangkan Dedemit Api sama sekali tidak bergeming.

Raja Racun Muka Putih tentu saja terperanjat melihat kenyataan ini. Tenaga dalam

Dedemit Api ternyata jauh lebih kuat darinya. Dan itu bisa diketahui dari hasil benturan yang terjadi.

"Ho ho ho...!"

Dedemit Api hanya tertawa mengejek melihat keterkejutan Raja Racun Muka Putih. Kakek tinggi kurus itu sama sekali tidak mempergunakan kesempatan untuk melakukan serangan balik di saat lawan tengah terhuyung-huyung. Jelas, Dedemit Api sama sekali tidak menganggap Raja Racun Muka Putih sebagai lawan yang patut diperhitungkan.

Meskipun tahu kalau lawan memiliki tenaga dalam berada cukup jauh di atasnya, Raja Racun Muka Putih tidak menjadi gentar karenanya. Kembali dilancarkan serangan susulan ke arah Dedemit Api yang masih tertawa-tawa penuh ejekan.

"Hm...!"

Masih dengan suara tawa yang tidak putus, Dedemit Api menjejakkan kakinya di tanah. Sesaat kemudian tubuhnya telah melayang keluar kedai. Hal ini yang ditunggu-tunggu Raja Racun Muka Putih sejak tadi. Dia memang membutuhkan tempat luas untuk bertarung, agar bisa mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya. Terutama, ilmu 'Ular Hitam' yang mengandung racun ganas.

"Hup...!"

Ketika kedua kaki Dedemit Api mendarat di tanah. Raja Racun Muka Putih mendaratkan kakinya pula. Maka, langsung lawannya dihujani dengan serangan bertubi-tubi.

Dedemit Api pun segera meladeninya. Sesaat kemudian, dua tokoh sesat itu sudah

terlibat dalam pertarungan sengit dan menggiriskan.

Melihat Dedemit Api telah terlibat dalam pertarungan, Dedemit Salju pun tidak tinggal diam. Dengan langkah pendek-pendek karena memang memiliki kaki pendek, dihampirinya tubuh Dewa Arak yang tergeletak di tanah.

Melihat hal ini, para tokoh persilatan yang tadi telah mengurung Dewa Arak, segera bergerak menghadang. Walaupun sebenarnya mereka hanya orang-orang taklukan  Raja Racun Muka Putih, tapi karena takut pada kakek berpakaian merah itu, terpaksa mereka bergerak menghadang. Apalagi, Raja Racun Muka Putih memang benar-benar menginginkan Dewa Arak.

"Ho ho ho...!"

Dedemit Salju tertawa berkakakan ketika melihat beberapa sosok tubuh berdiri di hadapannya. Sementara lainnya, yang bila digabung jumlahnya tak kurang dari dua belas orang, segera mengurung dari berbagai jurusan.

Sambil terus tertawa berkakakan, kakek pendek gemuk ini malah melipat kedua tangannya di depan dada. Tampak jelas, sikapnya benar-benar menyepelekan lawan- lawannya.

"Serbu...!" seru laki-laki berkumis tebal yang tadi menyamar sebagai pemilik kedai.

Sambil berteriak demikian, laki-laki berkumis tebal itu melompat menerjang. Pisau berwarna hitam mengkilat di tangannya, ditusukkan cepat ke arah leher.

Pada saat yang bersamaan, belasan orang rekannya pun melancarkan serangan. Tak pelak lagi, hujan berbagai macam senjata meluncur deras ke arah berbagai bagian tubuh Dedemit Salju.

"Ho ho ho...!"

Dedemit Salju hanya tartawa bergelak. Kedua tangannya yang jari-jarinya terbuka lurus, dipertemukan di depan dada. Ujung-ujung jari tangannya tampak mengarah ke langit.

Dahsyat sekali! Laki-laki berkumis tebal dan rekan-rekannya terpaksa menghentikan serangan secara mendadak. Ternyata, dari sekujur tubuh Dedemit Salju menyebar hawa dingin yang luar biasa. Akibatnya, sekujur otot dan urat mereka sama sekali tidak bisa digerakkan. Bahkan tanpa dapat dicegah lagi, gigi-gigi mereka beradu satu sama lain.

Dedemit Salju tersenyum mengejek tanpa merubah kedudukan kaki atau jari-jarinya. Rupanya, dia bermaksud meneruskan pengerahan penyerangan terhadap lawan-lawannya dengan hawa dingin yang keluar dari berbagai bagian tubuhnya.

Akibatnya memang luar biasa! Sekarang tubuh belasan orang itu tidak bisa berdiri tegak lagi. Mereka semua sama-sama membungkukkan tubuh dengan kedua tangan saling melipat di depan dada. Bahkan suara gemeretuk gigi-gigi mereka semakin terdengar jelas. Semua itu membuktikan kuatnya hawa dingin yang melanda. Sementara, senjata-senjata mereka sudah sejak tadi terlepas dari tangan.

Semakin lama, keadaan belasan tokoh persilatan itu semakin mengkhawatirkan. Satu

persatu tubuh mereka berjatuhan di tanah, karena otot-otot kaki mereka  yang kaku, tidak bisa dipakai berdiri lagi

Dedemit Salju baru menurunkan kedua tangannya dari depan dada ketika tubuh tokoh-tokoh persilatan itu telah tidak bergerak lagi. Sungguh tragis sekali nasib belasan tokoh persilatan itu. Mereka semua tewas dengan sekujur kulit tubuh membiru, karena terserang hawa dingin yang amat sangat.

*** Berbeda dengan pertarungan antara Dedemit Salju dalam menghadapi belasan tokoh persilatan yang berjalan tidak menarik, pertarungan antara Dedemit Api dengan Raja Racun Muka Putih ternyata berlangsung cukup menarik.

Raja Racun Muka Putih benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuan karena tidak khawatir lagi akan nasib Dewa Arak dan pengikut-pengikutnya. Ilmu 'Ular Hitam' yang mengandung racun amat ganas juga telah dikeluarkannya.

Cit, cit..!

Suara bercuitan dari udara yang terobek kedua tangan Raja Racun Muka Putih mengiringi setiap gerakan tangannya. Di samping itu, asap berwarna hitam pun ikut menglilinginya.

Berbahaya bukan kepalang setiap serangan kedua tangan Raja Racun Muka Putih.

Tapi, tak kalah berbahayanya asap berwarna hitam yang keluar dari kedua tangannya. Karena, asap itu mampu membuat lawan pusing, walaupun hanya terhirup sedikit saja. Dan bila hal itu terjadi, bisa berbahaya akibatnya!

Dengan sendirinya, serangan-serangan yang dilancarkan Raja Racun Muka Putih jadi

berlipat ganda bahayanya dalam penggunaan ilmu 'Ular Hitam'. Kedahsyatan kekuatan tenaga dalamnya, juga patut diperhitungkan. Demikian pula racun ganas yang terkandung dalam kedua tangan itu, dan juga asap hitam beracun yang keluar dari kedua tangannya. Tiga buah ancaman bahaya yang terangkum menjadi satu dalam penggunaan ilmu 'Ular Hitam' itulah yang kini harus dihadapi Dedemit Api.

Di jurus-jurus awal, Dedemit Api agak kewalahan menghadapinya karena khawatir celaka oleh racun yang terkandung dalam serangan lawan. Terutama sekali, racun yang terkandung dalam kedua tangan itu.

Dan memang, Dedemit Api harus bersikap hati-hati. Dia sadar, bahaya yang terkandung dalam asap hitam itu tidak bisa dibandingkan dengan yang terdapat di kedua tangan Raja Racun Muka Putih. Akibat dari racun yang terkandung dalam asap itu, bisa-bisa dirinya tewas di tangan Raja Racun Muka Putih.

Oleh karena itu, mula-mula Dedemit Api meng-gunakan siasat 'pukul dan lari' untuk menghadapi lawannya. Kakek tinggi kurus ini melancarkan serangan, tapi buru-buu ditarik kembali ketika melihat lawan akan menangkis serangan. Sebaliknya, setiap kali Raja Racun Muka Putih melancarkan serangan, Dedemit Api mengelak sejauh-jauhnya.

Hal itu terpaksa dilakukan Dedemit Api karena khawatir terkena asap hitam. Tapi setelah menginjak belasan jurus, dan beberapa kali melakukan elakan jauh, keadaan jadi tidak memungkinkan. Kakek tinggi kurus itu mengelakkan serangan dengan elakan pendek sambil mengebutkan tangannya. Bahkan tak jarang dengan tiupan mulutnya. Ini dilakukan untuk menjauhkan asap hitam itu dari dirinya.

Setelah pertarungan berlangsung lebih dari tiga puhih jurus, gerakan Dedemit Api berubah. Kini, jari-jari kedua tangannya disusun terkembang membentuk cakar. Dengan kedudukan jari-jari tangan seperti itu, Dedemit Api telah siap menghadapi Raja Racun Muka Putih.

Bahkan kini keadaan di pertarungan langsung berubah. Raja Racun Muka Putih merasakan hawa panas menyengat menyebar dari sekujur tubuh lawan. Apalagi, dari kedua tangan yang berbentuk cakar itu. Dan hawa panas itu semakin menjadi-jadi ketika Dedemit Api melancarkan serangan.

Raja Racun Muka Putih sadar, ternyata lawan telah mengeluarkan tenaga dalam khasnya, 'Tenaga Inti Api'. Kedahsyatan tenaga itu sudah lama didengarnya, tapi baru kali ini dirasakannya sendiri. Hawa panas menyengat membuat seluruh kulitnya terasa melepuh. Wajahnya pun menjadi merah padam, dan dadanya terasa sesak bukan kepalang.

Hal ini tentu saja membuat kedahsyatan ilmu 'Ular Hitam' Raja Racun Muka Putih jadi

menurun. Bukan mutu ilmu itu yang menurun, tapi karena sang pemiliknya tidak mampu bertarung dalam jarak dekat karena hawa panas yang terlalu menyengat.

Hawa panas itu benar-benar menyiksa Raja Racun Muka Putih. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Dia merasa seolah-olah tengah berada dalam kawah gunung berapi. Panasnya benar-benar tak tertahankan. Yang lebih gila lagi, hawa itu semakin lama semakin bertambah panas. Dan dengan sendirinya, Raja Racun Muka Putih pun semakin tersiksa karenanya.

Kalau semula Dedemit Api yang mengajak bertarung jarak jauh, kini Raja Racun Muka

Putih yang memaksa agar pertarungan dilangsungkan dalam jarak jauh. Kakek berpakaian merah itu memang tidak sanggup lagi bertarung dalam jarak dekat

Pertarungan berlangsung kurang menarik, karena kedua belah pihak sama-sama tidak berani mengadu tangan. Raja Racun Muka Putih khawatir karena keanehan tenaga dalam Dedemit Api. Sebaliknya, kakek tinggi kurus itu khawatir karena tahu kalau kedua tangan Raja Racun Muka Putih mengandung racun ganas.

Hasilnya, pertarungan yang berlangsung jadi terlihat seperti main-main. Beberapa kali kedua belah pihak sama-sama melakukan serangan bersamaan, lalu sama-sama menarik pulang serangan masing-masing. Tampaknya keduanya tidak ingin menempuh bahaya.

Kalau dibuat perbandingan, sebenarnya tingkat kepandaian Raja Racun Muka Putih berada di bawah tingkat kepandaian Dedemit Api. Tapi berkat kemampuan ilmu racun yang dimiliki, kakek berpakaian merah itu mampu membuat Dedemit Api kewalahan. Bahkan baru bisa memperbaiki keadaan ketika bertarung selama tiga puluh jurus lebih. Itu pun karena Dedemit Api menggunakan 'Tenaga Inti Api'.

"Hih...!"

Pada suatu kesempatan, Dedemit Api melempar tubuhnya ke belakang. Dia bersalto beberapa kali di udara, kemudian mendarat manis di tanah.

Raja Racun Muka Putih tidak mengejar, meskipun bisa diperkirakan kalau lawan menjauhkan diri dengan maksud untuk menggunakan ilmu lain. Kesempatan itu malah dipergunakannya untuk menarik napas lega, karena terbebas dari sergapan hawa panas yang menyengat kulitnya. Kini dengan hati berdebar tegang, Raja Racun Muka Putih memperhatikan kelakuan Dedemit Api.

Tampak kakek tinggi kurus itu berdiri dengan kedua kaki terpentang. Kedua

tangannya dipalangkan di depan dada. Sementara tangan kanannya berada di atas tangan  kiri.

penuh. Perlahan-lahan  kedua  tangan  itu mulai mengejang pertanda telah dialiri tenaga dalam

Mula-mula biasa saja. Tapi, sesaat kemudian  tampak keanehannya. Kedua  tangan itu mulai berubah warna menjadi merah. Lalu, ada asap tipis yang mengepul seiring terjadinya perubahan warna kulit itu.

Semakin lama, warna merah pada kedua tangan itu semakin nyata dan jelas. Begitu

pula, asap yang mengepul pun semakin menebal. Meskipun tetap berwarna putih. Dan begitu warna merah pada kedua tangan itu semakin jelas, pada bagian tubuh lain dari Dedemit Api pun mulai dironai warna merah disertai kepulan asap tipis.

Ketika sekujur kulitnya telah berwarna merah dan asap putih  yang menyelimuti

tubuhnya cukup tebal, Dedemit Api mendorongkan kedua tangannya yang terpalang ke depan dengan bertumpu pada sikut.

Wusss...!

Angin berhawa panas menyengat seketika berhembus. 5

Raja Racun Muka Putih terperanjat melihat perubahan pada diri lawan. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke belakang. Untung saja kulit wajahnya putih seperti dikapur, sehingga perubahannya tidak tampak jelas. Tapi meskipun begitu, kekagetan hatinya bisa diketahui dari kakinya yang teriangkah mundur.

"Sekarang aku tidak mau bertindak main-main lagi! Aku ingin tahu, mampukah kau menghadapi ilmu 'Telapak Tangan Api' milikku ini. Haaat..!"

Diiringi teriakan nyaring yang membuat suasana sekitar tempat itu bergetar hebat, Dedemit Api melompat menerjang. Dan selagi tubuhnya berada di udara, tangan kanannya disampokkan cepat ke arah pelipis lawan.

Raja Racun Muka Putih mengeluh dalam hati ketika merasakan hawa panas yang

menyengat, ternyata lebih gila daripada sebelumnya. "Hih...!"

Kakek berpakaian merah ini memutuskan untuk tidak terus-menerus mengelak dari

siksaan hawa panas. Sementara, lawannya sama sekali tidak bertindak apa-apa.

Wuttt...!

Sampokan Dedemit Api lewat beberapa jari di atas kepala ketika Raja Racun Muka Putih membungkukkan tubuh. Namun, hal ini hampir membuatnya menggeram tatkala mengetahui sebagian rambutnya mengering dan memendek, sekaligus mengeriput karena hawa panas serangan lawannya.

"Hmh...!"

Dedemit Api mendengus ketika melihat serangannya berhasil dielakkan lawan. Sama sekali hatinya tidak merasa heran, bahkan sebaliknya sudah memperhitungkannya.

Begitu melihat sampokan tangan kanannya tidak mengenai sasaran, segera disusulinya dengan serangan tanjutan. Tangan kirinya menyaup ke arah dagu dengan arah gerakan dari bawah ke atas.

Kali ini Raja Racun Muka Putih tidak mengelakkan serangan itu. Tangan kanannya digerakkan untuk mematahkan serangan itu dengan tetakan dari atas ke  bawah. Rupanya, kini dia bertindak nekat. Dia tahu, bila beradu tangan pasti amat berbahaya. Jangankan berbenturan. Baru terkena angin serangannya saja, kulitnya sudah terasa melepuh.

Dukkk...!

Benturan keras antara dua buah tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam kuat seketika terdengar. Akibatnya, tangan Raja Racun Muka Putih terayun ke atas terbawa arah saupan tangan Dedemit Api.

Raja Racun Muka Putih merasakan tangannya sakit-sakit. Jelas, hal itu menjadi pertanda kalau tenaga dalam lawan lebih kuat daripadanya. Tapi, hal itu tidak membuatnya terkejut. Yang membuatnya kaget adalah, ketika menyadari tidak adanya rasa panas yang mendera kedua tangannya. Bahkan juga tidak ada akibat apa pun pada tangan lawan yang berbenturan dengan tangannya.

Tapi, perasaan kaget Raja Racun Muka Putih hanya sebentar saja. Dia langsung tahu, ilmu 'Teiapak Tangan Api', dan ilmu 'Ular Hitam' mampu membuat pengaruh serangan masing-masing lawan punah!

Maka Dedemit Api juga benar-benar telah dilanda penasaran hebat pada lawannya. Terbukti, begitu tangan Raja Racun Muka Putih terayun ke atas akibat serangannya, tangan kanannya meluncur deras ke arah ulu hati.

Cepat bukan kepalang tibanya serangan itu, sehingga membuat Raja Racun  Muka Putih terkejut bukan kepalang. Maka dia berusaha sebisa-bisanya mengelak. Tapi....

Bukkk!

Tubuh Raja Racun Muka Putih terjengkang ke belakang seperti diseruduk kerbau, meskipun serangan Dedemit Api hanya menyerempet bahu kanannya. Pakaian di bagian bahu pun hangus. Demikian pula daging yang tersembunyi di baliknya. Hanya berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkatan tinggi, Raja Racun Muka Putih berhasil mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya hampir terbanting. Meskipun begitu, tak urung ada darah yang mengalir keluar dari mulutnya. Jelas kakek berpakaian merah itu terluka dalam.

Sementara itu, Dedemit Api sudah bersiap memberikan pukulan terakhir, tapi....

"Tahan !" seru Raja Racun Muka Putih sambil menjulurkan tangan kiri ke depan.

Kakek tinggi kurus ini menahan serangan yang hampir dijatuhkan ketika mendengar seruan Raja Racun Muka Putih.

"Aku bersedia menjadi pengikutmu, asal kau tidak melanjutkan seranganmu lagi," kata Raja Racun Muka Putih cepat-cepat sebelum Dedemit Api mengajukan keheranannya.

Dedemit Api terdiam, memikirkan tawaran Raja Racun Muka Putih. Beberapa saat

lamanya dia bertindak demikian, sambil menurunkan tangannya yang hampir mendarat di tubuh lawan.

"Baiklah. Tapi, ingat. Jangan coba-coba bermain gila kalau tidak ingin mati secara mengerikan di tanganku!" ancam Dedemit Api tegas.

Raja Racun Muka Putih sama sekali tidak menyambutinya, walaupun dalam hati tersenyum mengejek. Memang, dia tidak sepenuhnya takluk pada Dedemit Api. Ada rencana lain yang melintas di benak, sehingga membuatnya bersedia untuk menjadi pengikut Dedemit Api.

"Kelak kalau keris milik Brajageni sudah berhasil kudapatkan, baru aku akan bermain gila," desis kakek berpakaian merah dalam hati.

"Bawa Dewa Arak. Dia akan digunakan untuk memancing kedatangan musuh kami!" perintah Dedemit Api pada Raja Racun Muka Putih.

Tanpa menunggu perintah dua kali, Raja Racun Muka Putih segera melangkah  ke dalam kedai. Hatinya merasa lega mendengar perintah itu, karena berarti untuk sementara Dewa Arak akan selamat. Dan ini memang yang diharapkannya. Karena, hanya Dewa Arak yang bisa membawanya pada keris milik Brajageni.

Sesaat kemudian, Raja Racun Muka Putih telah kembali sambil memanggul tubuh Dewa Arak. Sekelebatan pertanyaan berputaran di benaknya. Siapakah musuh dua dedemit yang merupakan biang-biang iblis dunia persilatan ini? Dan apa hubungannya Dewa Arak dengan musuh dua dedemit itu? Sehingga, dia dijadikan alat untuk memancing kedatangan orang yang bernama Gering Langit?

Tapi sampai lelah Raja Racun Muka Putih memutar otak, tak juga mendapat jawabannya. Hanya waktu yang kelak akan bisa menjawabnya. Hal itu disadari betul oleh kakek berpakaian merah ini. Maka, dilupakannya saja pertanyaan-pertanyaan yang berputar di benaknya.

Sesaat kemudian, ketiga tokoh hitam itu melangkah meninggalkan tempat itu. Raja Racun Muka Putih berada di tengah, diapit Dedemit Api dan Dedemit Salju. Jelas, kedua dedemit itu masih belum mempercayai Raja Racun Muka Putih. Mereka berdua bukan orang bodoh yang begitu saja percaya ucapan yang keluar dari mulut Raja Racun Muka Putih.

***

"Apa?! Tidak salahkah berita yang kau dengar itu, Pandora?" sentak seorang laki-laki bertubuh tegap dan berwajah keras pada seorang kakek berpakaian putih dan berwajah penuh bintik-bintik.

"Benar, Tuan," jawab Pandora. "Berita yang kudengar begitu santer. Dewa Arak ditawan dua orang tokoh yang berjuluk Dedemit Api dan Dedemit Salju. Bahkan mereka akan memenggal kepalanya bulan depan."

"Ahhh...!" laki-laki berwajah keras itu mendesah kaget. Kemudian, wajahnya dipalingkan pada seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian hitam. "Bagaimana menurutmu, Kala Sunggi?"

"Kurasa berita itu benar, Kang Prajasena. Ingat! Tidak ada asap kalau apinya sendiri

tidak ada," sambut Kala Sunggi mendukung berita yang dibawa Pandora (Agar jelas mengenai ketiga tokoh ini, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Peninggalan Iblis Hitam"). "Kalau begitu, kita harus menyelidikinya, Kala Sunggi!" tandas Prajasena cepat. "Bagaimana kalau aku saja, Kang?!" Kala Sunggi menawarkan diri.

Prajasena yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Golok Baja mengernyitkan

dahibeberapa saat. Lalu....

"Pandora !"

"Ya, Tuan ," sahut laki-laki berwajah penuh bintik putih itu.

"Bawa peti pusaka kemari. "

"Baik, Tuanku !" sahut Pandora seraya melangkah menuju ke dalam.

"Kang! Apakah itu perlu?" tanya Kala Sunggi bernada teguran, karena sudah bisa mengetahui isi peti pusaka yang dimaksud kakaknya. Peti yang berisikan pusaka peninggalan Iblis Hitam.

Prajasena sama sekali tidak berkata apa-apa, dan hanya tersenyum saja. Tentu saja  hal ini membuat Kala Sunggi tidak mendesak lebih lanjut, dan hanya duduk diam menunggu Pandora.

Tak lama kemudian, Pandora pun kembali. Di tangannya telah tergenggam sebuah peti

berukir terbuat dari kayu jati berwarna hitam.

"Ini, Tuan," kata Pandora seraya mengangsurkan peti berukir itu pada Prajasena yang mengangsurkan tangan.

Prajasena segera mengeluarkan anak kunci dan membuka gembok yang ada di bagian

pinggir peti.

"Gunakan seragam leluhur kita untuk menolong Dewa Arak...," ujar Prajasena sambil mengangsurkan peti yang telah terbuka tutupnya.

"Tapi, Kang "

"Kau harus menerimanya, Kala Sunggi!" tandas Prajasena tegas. "Bukan karena aku meremehkan kemampuanmu."

"Harap kau bersedia menjelaskannya padaku, Kang. Agar hatiku lega," pinta Kala

Sunggi seraya mengulurkan tangan menyambut angsuran peti itu.

"Baiklah kalau hal itu kau anggap perlu," kata Prajasena menyerah. "Ada dua hal yang menyebabkanku meminjamkan pusaka peninggalan leluhur kita padamu."

"Apa itu, Kang?" tanya Kala Sunggi ingin tahu. "Pertama, dan ini yang terpenting. Aku

ingin membersihkan cap jelek yang menempel pada leluhur kita. Dan ini sesuai pesan ayah sebelum meninggal." jelas Pendekar Golok Baja.

"Hm " Kala Sunggi mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.

"Dan yang kedua.... Karena aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Kala Sunggi,"  lanjut Prajasena dengan suara semakin melemah. "Orang yang mampu menawan Dewa Arak bukan orang sembarangan. Dan ini harus kau sadari, Kala Sunggi!"

"Aku mengerti, Kang. Terima kasih atas keterangan yang kau berikan. Juga, atas kepercayaanmu meminjamkan pusaka peninggalan leluhur kita padaku."

Meskipun merasa terharu dengan kekhawatiran Prajasena akan keselamatannya, Kala Sunggi mampu menyembunyikan. Sehingga semuanya tidak tampak pada wajahnya.

"Pergilah, Kala Sunggi. Kuharap, kau berhasil menyelamatkan Dewa Arak. Ingat Pendekar muda itu telah berhasil membuat kau kembali ke jalan yang benar."

Kala Sunggi menganggukkan kepala. Ucapan kakak kandungnya itu memang mengandung kebenaran yang tidak bisa dipungkiri  lagi. Dewa Arak memang telah membuatnya sadar dari kesesatannya. Meskipun dalam hal itu, sebenarnya jasa Pandora yang paling besar (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode "Peninggalan Iblis Hitam").

"Aku akan berusaha semampuku untuk menyelamatkan Dewa Arak, Kang," janji Kala Sunggi sepe-nuh hati, lalu melangkah meninggalkan Prajasena dan Pandora.

***

"Hiya...! Hiya !"

Sambil mengeluarkan teriakan melengking nyaring, Melati melecutkan cambuknya bertubi-tubi ke arah bagian belakang tubuh kudanya. Sehingga binatang tunggangannya semakin cepat berlari. Hal yang sama pun dilakukan lima orang anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading.

Melati yang tengah dilanda kekhawatiran hebat, sama sekali tidak mempedulikan

keadaan sekelilingnya. Yang ada di benaknya hanya satu. Tiba di Istana Kerajaan Bojong Gading secepat mungkin.

Putri angkat Raja Bojong Gading ini sama sekali tidak tahu kalau lima orang pasukan khusus itu saling memberi isyarat satu sama lain. Jelas, ada sesuatu yang tengah direncanakan.

"Hih...!"

Mendadak dan berbarengan, dua orang anggota pasukan khusus yang berada di kanan kiri Melati membabatkan pedangnya. Yang kanan mengarah ke arah leher, sedangkan  yang kiri menusuk pinggang.

Angin berkesiut dari gerakan pedang itu menyadarkan Melati. Dalam sekelebatan saja dia tahu, ada bahaya yang tengah mengancam.

Meskipun dalam keadaan tidak waspada, dan datangnya serangan juga tidak terduga-

duga, Melati mampu menunjukkan kalau  dirinya bukan seorang tokoh yang mudah dipecundangi.

Dengan kemahiran seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, Melati menyelinap ke samping kanan punggung kuda sehingga kedua serangan itu hanya mengenai tempat kosong.

Tapi, rupanya hal itu sudah diperhitungkan lima orang yang mengaku sebagai anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading. Seorang di antaranya segera melemparkan pisau yang tergenggam di tangan kanannya.

Sinygg..! Cappp...!

Kuda Melati langsung meringkik kesakitan ketika pisau itu menancap di bagian belakang tubuhnya. Dan karena rasa sakit yang melanda, binatang itu berlari sejadi-jadinya.

Rupanya, tidak hanya sampai di situ saja serangan yang tertuju ke arah Melati. Dua orang lalnnya segera menjepretkan panah yang sejak tadi sudah terpentang, dan siap untuk dilepaskan.

Twanggg...!

Beberapa batang anak panah langsung melesat ke arah tubuh Melati dan kudanya.

Melati terperanjat. Disadari kalau kini keadaannya amat berbahaya. Saat itu, kedudukannya sama sekali tidak menguntungkan. Memang, gadis berpakaian putih itu  berada di bagian kanan punggung kuda, dengan kedua tangan mengepit leher dan kedua kaki mengepit bagian belakang binatang tunggangannya. Padahal, binatang itu tengah berlari tunggang-langgang tak tentu arah karena rasa sakit yang mendera.

Lagi-lagi Melati mengunjukkan kelihaiannya. Tangan kanannya segera dilepaskan dari leher kuda. Dan dengan satu tangan berpegangan, dicabutnya pedang yang tergantung di punggung. Langsung pedangnya dipergunakan untuk menangkis serangan anak-anak panah yang meluncur cepat bagai kilat ke arahnya.

Tranggg, tranggg, cappp...!

Sebagian anak-anak panah itu berpentalan tak tentu arah dalam keadaan patah-patah ketika berbenturan dengan pedang Melati. Tapi, sebagian kecil yang tidak tertangkis menancap di tubuh kuda Melati, sehingga membuat binatang itu kembali meringkik kesakitan.

Tapi, kali ini rupanya rasa sakit yang didera kuda itu sudah tidak tertahankan lagi. Akibatnya binatang tunggangan itu berusaha untuk membuang tubuh Melati dari punggungnya. Mungkin nalurinya mengetahui, kalau gadis berpakaian putih masih menempel di punggungnya, nyawanya akan tetap terancam.

Melati yang sama sekali tidak menyangka tindakan kuda itu, terkejut bukan kepalang. Apalagi saat itu, kedudukannya sama sekali tidak menguntungkan. Maka ketika binatang itu berusaha keras melempar tubuhnya, dia tidak mampu bertahan. Tubuh Melati seketika terlempar ke udara. Dan sebelum jatuh di tanah, pedang di tangannya segera ditusukkan ke tanah.

Cappp! Secepat pedang itu menancap di tanah, secepat itu pula tubuh Melati melenting ke atas. Gadis itu bersalto beberapa kali di udara, kemudian mendarat ringan di tanah.

Baru saja kedua kaki Melati hinggap di tanah, lima orang anggota pasukan khusus

yang masih berada di atas punggung kuda segera menggebah binatang tunggangannya ke arah gadis berpakaian putih itu. Tiga di antaranya segera mengibaskan tangan, melemparkan pisau-pisau. Sementara dua lagi menjepretkan anak panah dari busurnya.

Singgg, singgg, twanggg...!

Desing suara anak panah dan pisau mengawali meluncurnya senjata-senjata itu ke arah Melati. Tapi, serangan-serangan ini sama sekali tidak membuat gadis itu gugup. Pedangnya segera diputar di depan dada.

Suara berdentang keras disusul bepercikannya bunga-bunga api mengiringi terjadinya

benturan antara pedang Melati dengan pisau dan anak-anak panah. 5

Lima orang anggota pasukan khusus memang sudah memperhitungkan hal itu. Mereka tidak terlalu berharap serangan-serangan itu akan berhasil, dan dimaksudkan hanya untuk menyibukkan Melati, hingga serangan susulan lain tiba.

Dan memang, ketika Melati berhasil menghalau serangan-serangan itu, mereka telah meluruk cepat ke arahnya. Pedang yang sudah tergenggam di tangan setelah pisau-pisau terbang dan busur panah disimpan kembali, segera dibabatkan ke arah  berbagai  bagian tubuh Melati.

"Hih...!"

Dengan genjotan perlahan pada kakinya, tubuh Melati melenting ke atas. Langsung dilewatinya kepala para pengeroyoknya. Beberapa kali tubuh gadis berpakaian putih itu berputar di udara, sebelum mendarat di tanah.

"Gilakah kalian?! Mengapa ingin membunuhku?!" tegur Melati keras.

Melati tidak ingin melukai, apalagi membunuh lima orang anggota pasukan  khusus itu. Ingin diketahuinya dulu, mengapa mereka bermaksud membunuhnya?

Tapi jawaban yang diterima Melati hanyalah derap langkah kuda yang meluruk ke arahnya kembali, disusul babatan pedang yang meluncur cepat ke arah berbagai bagian tubuhnya.

Melihat hal ini, Melati tahu kalau jawaban yang diinginkan tidak akan didapat kalau digunakan cara halus. Maka, diputuskanlah untuk menggunakan jalan kekerasan. Barangkali saja dengan cara itu bisa didapatkan alasannya.

Setelah mengambil keputusan demikian, Melati menggerakkan pedangnya untuk

memapak semua serangan yang menuju ke arahnya.

Trang, trang, trang...!

Bunga-bunga api memercik ke udara ketika senjata-senjata yang sejenis itu berbenturan.

Usai menangkis, Melati segera melempar tubuh ke belakang. Maksudnya agar tidak terkurung oleh gerombolan berkuda itu. Karena bila hal itu terjadi, dia akan mengalami kesulitan.

Kalau Melati punya sifat telengas, rasanya tidak ada masalah baginya walaupun

dikeroyok pasukan berkuda itu. Tapi karena tidak tega melukai, apalagi membunuh kuda yang tidak tahu apa-apa, keadaan menjadi lain.

Seperti yang sudah diduga, lima orang itu segera menggebah kuda. Melati langsung

diburu dengan senjata di tangan. Maka begitu kedua kakinya mendarat di tanah, gadis berpakaian putih itu langsung menotolkan kaki. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah meluruk ke arah pasukan berkuda itu. Pedang di tangannya meluncur deras ke arah dada lawan yang berkumis tebal.

Anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading itu segera menggerakkan pedangnya untuk menangkis.

Tranggg...!

"Akh...!" jerit laki-laki berkumis tebal itu ketika tangannya terasa bergetar hebat dan hampir lumpuh. Tanpa dapat ditahan lagi, pedangnya pun terlepas dad pegangan.

Sebelum laki-laki berkumis tebal sempat berbuat sesuatu, tangan kiri Melati telah meluncur cepat ke arah dada. Maka, tidak ada jalan lain bagi anggota pasukan khusus yang berkumis tebal itu, selain melempar dirinya dari punggung kuda.

"Hup...!"

Pada saat yang bersamaan dengan hinggapnya tubuh laki-laki berkumis tebal itu di tanah, Melati juga hinggap di atas punggung kuda. Kini Melati tinggal menghadapi empat orang lawannya.

Sesaat kemudian, pertarungan menarik pun terjadi. Pertarungan antara dua belah pihak yang sama-sama menggunakan binatang tunggangan. Sebenarnya, lima orang anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading memang bermaksud membunuh Melati. Maka serangan-serangan yang dikirimkan, ditujukan pada bagian-bagian tubuh yang mematikan.

Tapi kini Melati mampu menghadapi serangan-serangan lawan dengan baik, setelah berhasil merampas kuda. Kini, dia tidak mengalami kesukaran lagi dalam mengirimkan serangan.

Semula pertarungan memang berjalan agak seimbang. Tapi begitu menginjak jurus

kelima puluh, Melati mulai menguasai keadaan. Memang, tingkat kepandaian putri angkat Raja Bojong Gading itu berada jauh di atas lawan-lawannya. Maka meskipun lawan berusaha sekuat tenaga untuk membunuh, tetap saja jadi pihak yang terdesak. Melati sendiri berusaha keras mengendalikan serangan, agar jangan sampai menjatuhkan tangan kepada mereka.

Bahkan ketika pertarungan menginjak jurus kelima puluh, pedang Melati mulai mendapat sasaran. Seorang lawan berhasil dijatuhkan dari punggung kuda, karena terkena sabetan pada bahunya.

Beberapa jurus kemudian, tubuh lawan-lawan yang lain pun menyusul berjatuhan di

tanah. Sebuah keuntungan bagi anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading yang terkena tendangan, ternyata Melati hanya mengerahkan sebagian tenaga dalamnya. Kalau gadis berpakaian putih itu mengerahkan seluruh-nya, nyawa anggota pasukan khusus itu pasti sudah melayang ke alam baka.

Melihat lawan-lawannya sudah tidak berada di atas punggung kuda lagi, Melati segera melompat turun.

"Hey...!" teriak Melati kaget ketika melihat lima orang anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading mengambil sesuatu dari balik ikat pinggang, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

Cepat Melati melesat menghampiri, tapi langsung melompat mundur ketika melihat kejadian yang menimpa mereka.

Lima orang anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading itu menggelepar-gelepar di tanah, lalu diam untuk selama-lamanya. Dari hidung, mulut dan telinga mereka keluar cairan berwarna kekuningan berbau busuk.

"Hhh...!"

Melati menghela napas berat. Hatinya merasa kecewa sekali melihat kematian lima orang prajurit ayah angkatnya. Padahal, dia belum mengetahui alasan mereka hendak membunuhnya.

Gadis berpakaian putih itu tercenung beberapa saat. Perasaan bimbang melanda

hatinya. Haruskah perjalanannya menuju Kerajaan Bojong Gading dilanjutkan. Ataukah kembali menyusul Dewa Arak menuju Perguruan Pedang Ular untuk menyaksikan pernikahan Rupangki dan Karmila?

Lenyap sudah keinginan untuk menuju ke istana. Penyerangan lima orang anggota

pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading itu yang menjadi penyebabnya. Keragu-raguan melanda hati gadis berpakaian putih itu. Benarkah lima orang yang telah tewas ini anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading?

Hampir Melati menepak kepalanya sendiri. Betapa bodohnya dia! Bukankah ada

sebuah tanda yang dapat membuktikan benar tidaknya mereka adalah anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading? Dan tanda itu tertera di bagian tengkuk!

Teringat akan hal ini, membuat Melati bergegas menghampiri mayat kelima orang itu.

Tubuhnya dibungkukkan, lalu menyingkap rambut yang menutupi tengkuk salah seorang dari mereka.

Desisan bernada geram keluar dari mulut Melati ketika tidak melihat adanya tanda apa pun di tengkuk. Jelas, dirinya telah tertipu mentah-mentah.

Perasaan penasaran memaksa gadis berpakaian putih itu untuk memeriksa  mayat yang lainnya. Tapi seperti yang dilihatnya pada mayat pertama, pada tengkuk mayat-mayat yang lain pun tidak dijumpai tanda seperti itu.

"Keparat!" geram Melati seraya bangkit berdiri. "Siapa yang telah berani

mempermainkanku?!" Kini Melati sadar kalau dirinya telah ditipu. Sekarang baru jelas, kelima orang yang telah menjadi mayat itu ternyata orang-orang suruhan. Sayangnya, mereka telah mati. Sehingga tidak bisa diketahui orang yang telah menyuruh mereka.

Kini hati Melati kontan tenang. Sebuah keputusan telah diambilnya. Dia akan menyusul Arya untuk menghadiri perayaan pemikahan Karmila dan Rupangki.

Dengan hati mantap, meskipun benaknya masih dipenuhi pikiran tentang orang yang berdiri di belakang peristiwa penipuan terhadap dirinya, Melati menghampiri salah satu dari lima ekor kuda yang masih berada di situ. Padahal, binatang-binatang itu sama sekali tidak ditambatkan.

"Hih...!"

Sekali enjotkan kaki, tubuh Melati sudah melayang ke atas dan hinggap di atas punggung kuda. Indah dan manis sekali gerakannya.

Gadis berpakaian putih itu menggeprakkan kudanya seraya mendecak pelan. Binatang tunggangannya pun melangkah meninggalkan tempat itu. Mula-mula pelan, tapi lama- kelaman semakin cepat meninggalkan debu mengepul tebal di belakangnya.

Baru saja Melati bersama kudanya lenyap ditelan kejauhan, sesosok bayangan abu- abu berkelebat dan hinggap di situ.

"Celaka! Aku terlambat...!" sem sosok abu-abu yang ternyata seorang pemuda berwajah tampan berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Nada suaranya menyiratkan penyesalan yang amat sangat.

Pemuda berpakaian abu-abu itu mengedarkan pandang ke arah lima sosok tubuh yang bergeletakan di tanah.

"Manusia-manusia tidak berguna! Membunuh seorang wanita muda saja tidak becus!

Huh...! Tunggulah, Melati! Aku yang akan membereskanmu!"

Setelah mengucapkan ancaman demikian, pemuda berpakaian abu-abu itu melesat meninggalkan tempat itu. Cepat bukan kepalang gerakannya, sehingga dalam sekejapan saja telah lenyap dari tempat itu.

***

"Ha ha ha...!"

"Ho ho ho...!"

Dedemit Api dan Dedemit Salju tertawa terbahak-bahak ketika melihat belasan orang persilatan menghadang perjalanan mereka. Menilik dari gerak-geriknya, mereka adalah tokoh- tqkoh golongan putih. Sikap mereka penuh ancaman. Ini bisa diketahui dari tangan-tangan yang telah meraba hulu senjata masing-masing. Bahkan beberapa di antaranya telah menghunus senjata.

"Tikus-tikus tidak tahu diri! Mengapa kalian menghadang perjalananku?! Apakah

kalian semua sudah bosan hidup? Menyingkirlah, sebelum kesabaranku hilang! Aku tidak sudi mengotori tanganku dengan darah keroco-keroco tak berguna seperti kalian!" seiu Dedemit Api tenang, tapi bernada ancaman.

"Bebaskan Dewa Arak! Baru kami akan pergi dari sini!" sahut seorang laki-laki gagah

bersenjatakan sebatang tongkat, seraya melangkah maju dua tindak.

"Ho ho ho...! Gagah sekali sikapmu, Tikus Busuk! Aku ingin tahu, siapa namamu hingga berani bertindak selancang ini terhadap Dedemit Api!"

"Aku memang bukan orang terkenal seperti kau, Dedemit Api! Tapi demi  membela Dewa Arak, aku, Tongkat Sakti rela mati di tanganmu!" sahut laki-laki gagah yang berjuluk Tongkat Sakti seraya melintangkan tongkatnya

"Hmh...!" Dedemit Salju yang sejak tadi diam saja, mendengus. "Kalau kau mampu

bertarung denganku tiga jurus saja, Dewa Arak akan kubebaskan!" Si Tongkat Sakti mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Harap kau ingat baik-baik ucapanmu itu, Dedemit Salju. Orang-orang persilatan yang ada di sini menjadi saksi hidup atas janji yang kau ucapkan!"

Wajah Dedemit Salju yang putih memerah, karena tersinggung mendengar ucapan si Tongkat Sakti. "Jangan berani meremehkan janji Dedemit Salju! Majulah, Tikus Busuk! Dan, jangan harap aku akan membiarkanmu mati enak! Dedemit Salju tidak pernah membiarkan hidup orang yang telah menghinanya!"

Si Tongkat Sakti sama sekali tidak mempedulikan ancaman itu. Dia tahu, Dedemit Salju memiliki kepandaian tinggi. Tapi, mungkinkah tokoh sesat itu mampu mengalahkannya dalam tiga jurus? Si Tongkat Sakti tidak percaya.

Si Tongkat Sakti memutar-mutar tongkatnya di depan dada, hingga lenyap bentuknya.

Memang, betapa cepatnya senjata itu berputar. Suara mengaung keras yang terdengar, menjadi pertanda besarnya tenaga dalam yang mengalirinya.

Tokoh-tokoh persilatan yang berada di belakang si Tongkat Sakti segera melangkah mundur. Sebaliknya, Dedemit Salju malah melangkah maju. Sama sekali tidak  dipedulikannya debu-debu yang beterbangan akibat putaran tongkat si Tongkat Sakti.

"Haaat..!"

Didahului teriakan melengking nyaring, si Tongkat Sakti mengayunkan tongkat yang digenggam kedua tangannya ke arah kepala Dedemit Salju.

Wuttt...!

Angin yang menderu keras mengawali tibanya serangan tongkat itu. Dari  suaranya saja, semua tokoh persilatan yang berada di situ dapat memperkirakan kedahsyatannya. Dan memang, hantaman tongkat si Tongkat Sakti sanggup membuat baru karang yang  paling keras hancur lebur. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi apabila serangan tongkat itu menghantam kepala manusia yang di atas kertas jauh lebih lunak ketimbang baru karang.

"Hmh...!"

Dedemit Salju hanya mendengus. Tidak nampak adanya tanda-tanda kalau laki-laki bertubuh pendek gemuk ini akan mengelak atau menangkis. Baru ketika serangan tongkat itu hampir mengenai kepala, tangan kirinya diangkat ke atas untuk memapak  datangnya serangan dengan jari-jari tangan terbuka.

Tappp...!

Luar biasa! Tongkat si Tongkat Sakti langsung tercekal Dedemit Salju! Malah, kedudukan kaki kakek bertubuh pendek gemuk itu tak tergoyahkan. Padahal sewaktu mengangkat tangan untuk menangkis, tidak terlihat kalau tenaga dalamnya dikerahkan. Dari pertunjukan ini saja, bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam Dedemit Salju.

Karuan saja hal ini mengejutkan semua tokoh persilatan yang berada di situ. Terutama sekali, si Tongkat Sakti. Hanya ada dua orang saja yang tidak menganggap hal itu suatu peristiwa luar biasa. Mereka adalah Dedemit Api dan Raja Racun Muka Putih.

Tongkat Sakti tentu saja tidak sudi membiarkan senjatanya dirampas. Maka seluruh tenaga dalamnya dikerahkan untuk menarik kembali tongkatnya. Tapi sampai wajahnya merah, dan sampai terdengar suara keluhannya, tetap saja tongkatnya tidak bergeming dari cekalan lawan. Padahal, tidak terlihat ada tanda-tanda kalau Dedemit Salju mengerahkan tenaga. Baik pada tangan, maupun wajahnya. Kecuali, pada jari-jari tangan yang mencekal tongkat

"Ah...!"

Si Tongkat Sakti menjerit kaget ketika merasakan ada hawa dingin yang merambat dari tongkat yang dicekal lawan. Mula-mula tidak terlalu terasa, tapi semakin lama semakin jelas terasa.

Si Tongkat Sakti sadar, Dedemit Salju tengah menyerangnya dengan tenaga dalam

berhawa dingin. Dan kalau pegangan pada tongkat tidak buru-buru dilepaskan, jelas dia akan mati kedinginan.

Oleh karena itu, laki-laki gagah ini memutuskan untuk melepaskan tongkatnya. Namun, hatinya jadi mencelos dan wajahnya berubah pucat ketika menyadari pegangan tangannya pada tongkat tidak bisa dilepaskan. Betapapun laki-laki gagah ini telah berusaha keras, tapi tetap saja sia-sia. Jari-jari tangannya seolah-olah telah melekat pada tongkat. Meskipun bukan terhitung tokoh yang memiliki kepandaian amat tinggi, tapi si Tongkat Sakti tidak mau putus asa begitu saja. Maka, sekarang dikerahkannya tenaga dalam yang dimiliki untuk membendung serangan hawa dingin yang menyerang. Tapi juga seperti sebelumnya, usaha Tongkat Sakti kali ini pun tidak membuahkan hasil. Serangan hawa dingin itu sama sekali tidak mampu dicegahnya. Dengan demikian, perlawanan yang dilakukan sama sekali tidak berarti apa-apa.

Para tokoh persilatan yang menyaksikan hanya bisa memandang dengan raut wajah cemas. Meskipun tidak bisa mengetahui pasti apa yang terjadi terhadap si Tongkat Sakti, tapi bisa diperkirakan kalau laki-laki gagah itu berada dalam keadaan gawat. Sekujur tubuhnya menggigil keras. Juga, terdengar suara menggerutuk dari gigi si Tongkat Sakti. Hal itu menjadi bukti nyata kalau tokoh itu menderita kedinginan.

Tokoh-tokoh persilatan itu hanya bisa memandang tanpa mampu berbuat apa-apa. Karena, pertarungan satu lawan satu itu terjadi atas kemauan si Tongkat Sakti juga. Dan lagi, mereka semua juga tidak diikutsertakan. Yang dapat dilakukan mereka semua hanya  berharap agar si Tongkat Sakti selamat.

Tapi, harapan tokoh-tokoh persilatan itu rasanya tidak akan terwujud. Buktinya keadaan si Tongkat Sakti semakin lama semakin tampak mengkhawatirkan. Tubuhnya semakin menggigil keras. Demikian pula gigi-giginya yang semakin keras beradu satu sama lain.

Dan ketika akhirnya Dedemit Salju melepaskannya, tubuh si Tongkat Sakti langsung jatuh berdebuk di tanah. Dia tidak bergerak lagi untuk selamanya, karena nyawanya telah melayang meninggalkan raga.

Belasan tokoh persilatan itu segera bergerak menghampiri mayat si Tongkat Sakti. Raut kengerian tampak di wajah-wajah mereka ketika melihat keadaan mayat itu. Wajah si Tongkat Sakti tampak membiru. Sedangkan sepasang matanya terbelalak lebar.  Jelas, laki- laki gagah itu tewas karena dilanda kedinginan yang hebat

"Ho ho ho...!"

Suara tawa Dedemit Salju membuat belasan tokoh persilatan itu mengalihkan perhatian dari mayat si Tongkat Sakti.

"Siapa yang ingin bemasib sepeiti Tikus Busuk ini, silakan maju!" tantang kakek bertubuh pendek gemuk itu pongah.

Sing, sing, sing...!

Jawaban atas tantangan berbau ancaman yang diajukan Dedemit Salju adalah terhunusnya senjata-senjata yang tergantung di pinggang para tokoh persilatan.

"Kami bukan pengecut-pengecut yang takut mati, Dedemit Salju! Bebaskan Dewa Arak, maka kami akan pergi dari sini!" tegas seorang tokoh persilatan yang beralis tebal.

"Ya! Kau bebaskan Dewa Arak, Dedemit Salju! Dan kami tidak akan memperpanjang

persoalan ini!" sahut yang lain.

"Benar, Dedemit Salju!" sambut tokoh persilatan lainnya. "Ho ho ho...!"

Tawa pongah Dedemit Api menghentikan suara riuh rendah yang tercipta akibat suara

tokoh-tokoh persilatan itu.

"Sayang sekali! Aku tidak akan melepaskan Dewa Arak! Dan sekarang, kalian semua mau apa?!" tandas Dedemit Api bernada tantangan.

"Terpaksa kami menantangmu!" seru tokoh persilatan beralis tebal. Dan....

"Haaat…!"

Sambil mengeluarkan teriakan keras, laki-laki beralis tebal itu melesat menerjang Dedemit Api. Senjata golok besar yang tergenggam di tangannya diayunkan deras ke arah kepala lawan dengan arah gerakan dari atas ke bawah. Rupanya dia bermaksud membelah tubuh Dedemit Api menjadi dua bagian yang sama. 6

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini begitu laki-laki beralis tebal melancarkan serangan, belasan tokoh persilatan lainnya ikut melancarkan serangan pula. Sebagian di antara mereka menyerang Dedemit Api. Sementara sebagian lainnya menyerang Dedemit Salju. Memang, kedua orang itu berada di depan Raja Racun Muka Putih.

Dedemit Api dan Dedemit Salju hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat hujan serangan yang tertuju ke arahnya. Sikap yang ditunjukkan tidak menganggap kalau serangan itu periu mendapat tanggapan sungguh-sungguh.

Baru ketika serangan senjata-senjata itu menyambar dekat mereka memapaknya dengan tangan dan kaki telanjang.

Tak, tak, tak...!

Suara berdetak keras seperti logam beradu terdengar ketika senjata tokoh-tokoh persilatan itu berbenturan dengan tangan atau kaki Dedemit Salju dan Dedemit Api

Dan seperti kejadian sebelumnya, tidak tampak adanya pengaruh yang menimpa

Dedemit Salju dan Dedemit Api akibat benturan itu. Sebaliknya, tangan tokoh-tokoh persilatan itu yang bergetar hebat dan hampir lumpuh. Bahkan senjata beberapa orang di antara mereka terlepas dari cekalan, karena tangan yang menggenggam senjata terasa lumpuh!

Meskipun begitu, tanpa mengenal rasa gentar, belasan tokoh persilatan itu terus melanjutkan serangan. Jelas kalau mereka bermaksud bertarung mati-matian.

Sesaat kemudian, pertarungan campuran pun terjadi. Kelihatannya pertarungan itu berlangsung berat sebelah. Namun setiap serangan tokoh persilatan itu dengan mudah dapat dikandaskan Dedemit Api dan Dedemit Salju. Malah sebaliknya, setiap kedua kakek itu menggerakkan tangan atau kaki, maka ada satu atau dua sosok tubuh tokoh persilatan yang terlempar.

Jerit kesakitan dan kematian terdengar saling susul seiring berpentalannya sosok-

sosok tubuh tokoh persilatan itu di tanah. Akhir dari pertarungan ini sudah bisa ditebak. Jelas, Dedemit Api dan Dedemit Salju akan mudah memenangkan pertarungan ini.

Tak sampai sepuluh jurus, hanya tinggal beberapa gelintir saja tokoh-tokoh persilatan yang masih bertarung melawan Dedemit Api dan Dedemit Salju. Sementara yang lainnya sudah bergeletakan di tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Dedemit Salju dan Dedemit Api memang berwatak telengas. Sekali orang berhadapan dengan mereka, bisa dipastikan nyawanya akan melayang meninggalkan raga.

Karena jumlah tokoh persilatan itu hanya beberapa gelintir saja, Dedemit Salju segera meninggalkan kancah pertarungan. Dibiarkannya saja Dedemit Api yang menghadapi.

Meskipun kini lawan yang dihadapi hanya tinggal Dedemit Api, tapi tetap saja tokoh- tokoh persilatan yang tinggal berjumlah lima orang itu berada dalam keadaan mengkhawatirkan.

"Akh...!"

Suara jerit kematian kembali terdengar ketika dua orang tokoh persilatan terkena kibasan tangan Dedemit Api. Tubuh mereka pun langsung terpental disertai semburan darah yang deras dari mulutnya. Mereka tewas seketika sebelum sempat menyentuh tanah.

Kembali tangan Dedemit Api meluncur cepat ke arah tiga tokoh persilatan yang tengah meluruk ke arahnya. Cepat bukan main gerakannya. Tokoh-tokoh persilatan yang memiliki tingkat kepandaian di bawah kakek tinggi kurus itu mana mampu menyelamatkan diri? Namun, mereka tetap nekat menyerang.

Tapi, rupanya keberuntungan masih berpihak pada tiga orang tokoh persilatan itu. Di saat yang amat gawat bagi keselamatan mereka, melesat sesosok bayangan hitam menyambuti serangan Dedemit Api.

Plak, plak, plak...! Suara keras terdengar ketika tangan sosok bayangan hitam itu berbenturan dengan tangan Dedemit Api. Akibatnya, tubuh Dedemit Api terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara, sosok bayangan hitam terjengkang ke belakang.

"Hup...!"

Pada saat yang bersamaan dengan hinggapnya kedua kaki sosok bayangan hitam itu di tanah, Dedemit Api telah berhasil memperbaiki kedudukannya.

"Siapa kau, Keparat?! Sungguh berani mati mencampuri urusan Dedemit Api!" teriak

Dedemit Api keras bernada kemarahan.

Sosok bayangan hitam itu ternyata telah membuat tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Bahkan tangan yang berbenturan pun tergetar. Suatu hal yang hampir belum pernah dialaminya.

Bukan hanya Dedemit Api saja yang merasa terkejut melihat  hal ini. Dedemit Salju pun dilanda perasaan yang sama. Orang yang telah berhasil membuat rekannya mundur dalam benturan tenaga, tentu sudah bisa diperkirakan kelihaiannya.

Sepasang mata Dedemit Api menatap tajam penuh selidik pada orang yang telah

menangkis serangannya tadi. Sepasang alisnya tampak berkerut ketika melihat jelas sosok bayangan hitam itu. Dia adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus. Bajunya yang berupa mantel berwarna hitam dan longgar. Wajahnya tidak tampak jelas karena tertutup selubung berwarna hitam pula. Yang ada hanyalah dua lubang untuk mata, yang terlihat di balik selubung itu. Sepasang mata itu tampak mencorong tajam dan berwarna kehijauan.

"Siapa aku, kau tidak perlu tahu, Dedemit Api! Tapi kedatanganku untuk membebaskan Dewa Arak! Lepaskan dia, dan aku tidak akan memperpanjang urusan ini!" tandas sosok hitam yang tak lain adalah Iblis Hitam.

Tegas dan mantap suaranya, meskipun terdengar agak aneh. Pelan, berat tapi  bergaung mirip suara hantu penjaga kuburan. Mungkin suara itu tercipta karena mulutnya tertutup selubung.

"Cuhhh...!"

Dedemit Api meludah ke tanah.

"Jangan merasa bangga karena berhasil membuatku terdorong mundur, Kisanak! Kau tahu, belum pernah ada orang yang bisa mengalahkanku!"

"Hm !"

Iblis Hitam hanya menggumam tidak jelas. Memang, tokoh yang pernah menggemparkan daerah Utara itu bukan terhitung seorang yang gemar mengumbar kesombongan. Maka meskipun Dedemit Apt berkaok-kaok mementang bacot dia sama sekali tidak terpengaruh.

"Menyingkiriah kalian!" ujar Iblis Hitam pada tiga orang tokoh persilatan yang masih selamat.

Tanpa menunggu perintah dua kali, tiga orang tokoh persilatan itu segera melangkah

menjauh. Mereka tahu, Dedemit Api dan Iblis Hitam akan bertarung. Tak lupa, diseret tubuh rekan-rekan mereka yang tewas untuk menjauhi tempat itu.

"Kalau kau bisa mengalahkanku, dengan suka rela kuberikan Dewa Arak padamu!" tantang Dedemit Api.

"Akan kuingat janjimu, Dedemit Api!" sambut Iblis Hitam tenang. Dan....

"Hiyaaat..!"

Tahu kalau lawan yang dihadapinya adalah seorang tokoh yang teramat tangguh, Iblis Hitam langsung mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Serangannya dibuka dengan sebuah tendangan bertubi-tubi ke arah perut dada, dan ulu hati.

Dukkk, dukkk, dukkk !

Suara benturan keras antara kedua kaki yang sama-sama ditopang tenaga dalam tinggi terdengar ketika Dedemit Api memapak serangan itu dengan kakinya pula.

Kembali untuk kedua kalinya tubuh kedua tokoh sakti itu terhuyung ke belakang. Dedemit Api terhuyung lima langkah. Sementara Iblis Hitam yang nama sebenarnya adalah Kala Sunggi, terhuyung-huyung enam langkah ke belakang. Jelas, Dedemit Api memiliki tenaga dalam yang lebih kuat Di balik selubung hitam yang menutupi wajah, mulut Iblis Hitam menyeringai karena rasa sakit yang mendera kakinya. Diam-diam hatinya terkejut ketika mengetahui kuatnya tenaga dalam lawan. Sungguh, hal ini sama sekali di luar dugaannya. Kalau satu orang saja sudah demikian lihai, apalagi bila kedua orang itu maju bersama! Pantas saja Dewa Arak bisa diringkus!

Tapi Iblis Hitam tidak ingin terlarut dalam keterkejutan. Maka begitu telah berhasil memperbaiki keadaannya, segera dilancarkannya serangan kembali ke arah Dedemit Api. Maka, tokoh itu segera menyambutnya tak kalah hangat. Sekejap kemudian, kedua tokoh sakti itu telah terlibat dalam pertarungan sengit

Baik Iblis Hitam maupun Dedemit Api sama-sama mengetahui kalau lawan yang dihadapi amat tangguh. Maka tanpa segan-segan lagi segera dlkeluarkan seluruh kemampuan satu sama lain. Masing-masing pihak tidak berani bertindak ceroboh dalam menghadapi lawan tanpa mengeluarkan seluruh kemampuan. Dan tentu saja keduanya tidak ingin mati konyol!

Hebat bukan main pertarungan antara kedua tokoh sakti itu. Angin yang menderu dan

mencicit menyemaraki terjadinya pertarungan. Hawa panas pun menyelimuti tempat itu, karena Dedemit Api telah mengeluarkan ilmu 'Telapak Tangan Api' andalannya.

Dedemit Salju, Raja Racun Muka Putih, dan tiga orang tokoh persilatan melangkah menjauh ketika melihat pertarungan mulai berlangsung sengit. Namun karena perasaan tertarik untuk menyaksikan pertarungan, mereka semua melangkah mundur tanpa membalikkan tubuh dengan sepasang mata tetap terpaku ke arah jalannya pertarungan.

***

Pertarungan tampaknya masih berlangsung imbang. Meskipun telah  berjalan tiga puluh lima jurus, belum nampak ada tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang.

Diam-diam Dedemit Api merasa heran. Ilmu 'Telapak Tangan Api' telah dikeluarkan sampai ke puncaknya sehingga membuat suasana dalam jarak sekitar lima tombak terasa panas bukan kepalang. Tapi, mengapa Iblis Hitam seperti tidak terpengaruh sama sekali? Padahal, sekalipun lawan memiliki tenaga dalam berada di atasnya tetap akan terpengaruh hawa panas yang menyengat akibat pengaruh ilmu 'Telapak Tangan Api' itu. Setidak-tidaknya, tenaga tambahan harus dikeluarkan untuk melawan hawa panas itu.

Namun kenyataan seperti itu tidak terlihat pada Iblis Hitam. Tenaga dalamnya tetap saja seperti semula. Ternyata bisa dibuktikan kalau dirinya tidak mengeluarkan tenaga tambahan untuk menahan serangan hawa panas. Dan hasilnya, Kala Sunggi terlihat sama sekali tidak terpengaruh. Apakah Iblis Hitam itu mempunyai ilmu kebal?

Dedemit Api sama sekali tidak menduga kalau Iblis Hitam mampu menahan sergapan hawa panas yang menyengat itu berkat keampuhan mantel pusakanya (Untuk jelasnya mengenai keistimewaan mantel pusaka Iblis Hitam, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode 'Peninggalan Ibhs Hitam").

Karuan saja hal itu membuat Dedemit Api penasaran dan heran bukan kepalang. Namun, bukan hanya Dedemit Api saja yang dilanda rasa heran. Dedemit Salju dan

Raja Racun Muka Putih juga dilanda perasaan yang sama. Sampai begitu lihaikah tokoh yang berpakaian serba hitam ini?

Meskipun dengan adanya mantel pusaka yang melekat di badannya, Iblis Hitam tidak

berani menerima serangan lawan begitu saja. Memang, sejak Pedang Bintang milik Dewa Arak telah melubangi mantelnya dan membuatnya terluka, keistimewaan pusaka itu telah menurun. Mantel itu hanya mampu menerima serangan dari senjata tajam saja. Tapi bila terhantam benda tumpul atau pukulan bertenaga dalam tinggi, tubuh yang terbungkus tetap saja terluka.

Oleh karena itu, setelah melalui pertarungan sengit selama lebih dari seratus dua puluh jurus, Iblis Hitam mulai terdesak Karena Dedemit Api memiliki keunggulan dalam hal tenaga dalam. Di samping ilmu 'Telapak Tangan Api'nya juga luar biasa ganas. Meskipun dalam mutu ilmu silat dan ilmu meringankan tubuh Iblis Hitam sama sekali tidak di bawah lawan, tapi tenaga dalamnya masih kalah. Maka hal ini dipergunakan sebaik- baiknya oleh Dedemit Api untuk menekannya.

Sedikit demi sedikit serangan-serangan yang dilancarkan Iblis Hitam mulai berkurang. Demikian pula dengan menangkis karena hanya merugikan dirinya. Sebaliknya, mengelak semakin sering dilakukan oleh tokoh yang mengenakan pakaian serba hitam ini.

Dengan sendirinya, tindakan Iblis Hitam membuat lawan semakin sering melancarkan

serangan dan membuat keadaannya semakin terdesak. Sehingga di jurus keseratus tiga puluh tiga, kaki kanan Dedemit Api menyapu ke arah kaki Iblis Hitam yang dapat mengelakkannya dengan melompat ke atas. Dan saat itulah tangan kanan Dedemit Api menepak keras ke arah paha.

Plakkk..!

Telak dan keras sekali tepakan tangan itu menghantam sasaran, sehingga membuat tubuh Iblis Hitam terjengkang ke belakang dan terguling-guling di tanah.

Mulut Kala Sunggi yang tersembunyi di balik selubung menyeringai karena rasa sakit

hebat. Tulang pahanya seperti hancur luluh. Rasa panas terasa amat sangat menyengat Mungkin daging pahanya hangus. Tapi anehnya, tidak ada kerusakan apa pun pada mantel Iblis Hitam!

Melihat tubuh lawan tangguhnya terguling-guling, Dedemit Api tidak mau memberi

kesempatan lagi. Dia cepat memburu seraya melancarkan serangan bertubi-tubi.

Iblis Hitam tentu saja tidak mau mati konyol. Disadari kalau keadaannya amat berbahaya. Tidak ada pihhan lagi untuk menyelamatkan selembar nyawanya, kecuali menangkis.

Iblis Hitam segera menggerakkan kedua tangannya ke pinggang. Dan ketika kembali ke tempat semula, pada kedua tangan itu kini telah tergenggam sebatang kapak yang berwarna hitam mengkilap. Langsung senjata itu dikelebatkan ke arah tubuh Dedemit Api yang tengah menuju ke arahnya.

Cit, cit..!

Wajah Dedemit Api berubah hebat. Sebagai seorang yang telah kenyang pengalaman, sekali lihat saja Dedemit Api telah tahu kalau sepasang kapak di tangan Iblis Hitam bukan kapak sembarangan! Kedua kapak itu memiliki hawa maut yang mengerikan. Bahkan angin serangan yang mengiringi tibanya serangan sepasang kapak itu telah membuat tulang- tulangnya terasa ngilu bukan kepalang.

Sadar akan bahaya yang mengancam, Dedemit Api segera membatalkan serangannya.

Tubuhnya dilempar ke belakang dan bersalto beberapa kali di udara. Lalu, dia hinggap beberapa tombak dari Iblis Hitam.

Kesempatan yang hanya sedikit itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Kala Sunggi.

Tubuhnya terus bergulingan menjauh, kemudian melesat meninggalkan tempat itu.

Dedemit Salju sama sekali tidak mengejarnya. Sedangkan Dedemit Api sudah agak terlambat. Tubuh Iblis Hitam telah berjarak lebih dari tiga puluh  tombak ketika kedua kakinya hinggap di tanah

"Sungguh tidak kusangka kalau dia akan selihai itu," kata Dedemit Api setengah

mengeluh. Tapi anehnya ada sorot kegembiraan di wajahnya.

Memang, kakek tinggi kurus ini gemar bertarung. Tidak ada hal yang paling menarik baginya kecuali bertarung dengan tokoh-tokoh tingkatan tinggi. Maka, hatinya  merasa gembira bukan kepalang ketika mengetahui kalau Iblis Hitam merupakan seorang lawan yang amat tangguh. Meskipun kalau diteruskan akan menang, tapi kemenangan yang diperolehnya dicapai dengan kerja keras. Itu memang sudah sifatnya.

"Mungkinkah dia Iblis Hitam...?!" ucap Dedemit Salju mengemukakan dugaan.

"Iblis Hitam?!" ulang Dedemit Api dengan alis berkernyit dalam. 'Tokoh yang menjadi legenda di Utara sana sejak lebih dari seratus tahun yang lalu? Aku yakin bukan, Dedemit Salju. Dia tidak setua itu. Tubuhnya masih terlihat kekar dan tegap!"

"Tapi ciri-ciri, senjata, dan keistimewaan pakaiannya..., semuanya sama dengan Iblis

Hitam," bantah Dedemit Salju lagi, mengemukakan alasan untuk menguatkan dugaannya. Dedemit Api terdiam sejenak. Disadari adanya kebenaran dalam ucapan  rekannya. Dan memang, Dedemit Saljulah yang pertama kali mengemukakan dugaan kalau tokoh serba hitam yang lihai itu adalah Iblis Hitam. Tapi....

"Kurasa kali ini kau keliru, Dedemit Salju," sergah Dedemit Api setengah mencela. "Hm !" Hanya gumam tak jelas Dedemit Salju yang menyambuti ucapan itu.

"Iblis Hitam telah mati belasan tahun yang lalu di tangan para pendekar yang mengeroyoknya."

"Jadi. ? Siapa sebenarnya orang itu?" tanya Dedemit Salju dengan alls berkernyit

"Entahlah," Dedemit Api mengangkat bahu. "Lagi pula, untuk apa kita memikirkannya?

Kita masih mempunyai urusan lain yang lebih penting daripada urusan Iblis Hitam!"

Dedemit Salju menganggukkan kepala pertanda menyetujui ucapan  rekannya. Kemudian kakinya melangkah meninggalkan tempat itu, menyusul Dedemit Api yang telah berjalan lebih dulu setelah berkata-kata.

Raja Racun Muka Putih tidak mau ketinggalan. Kakinya pun ikut melangkah pula mengikuti Dedemit Api dan Dedemit Salju yang telah berjalan lebih dulu. Tak dipedulikan lagi mayat-mayat lawan mereka dan tiga orang tokoh persilatan yang masih berdiri diam di tempat Tiga orang tokoh persilatan itu sama sekali tidak berusaha meneruskan penyerangan kembali, karena tahu kalau datuk-datuk kaum hitam itu bukan lawan mereka. 7

"Rupanya berita tertangkapnya Dewa Arak dan akan kita hukum mati di Bukit  Siluman telah membuat dunia persilatan gempar, Dedemit Salju," kata Dedemit Api yang lebih gemar berbicara.

Dedemit Salju menganggukkan kepala.

"Padahal..., bukan mereka yang mestinya datang mencari kita. Tapi guru Dewa Arak, Ki Gering Langit. Sial! Memancing harimau yang datang malah kucing-kucing pincang!"

"Haruskah Dewa Arak kita lepaskan saja, Dedemit Salju?" tanya Dedemit Api lagi. "Sudah tiga hari kita membawa-bawa Dewa Arak, tapi tetap saja Ki Gering Langit tidak muncul-muncul. Malah, tokoh-tokoh persilatan yang silih berganti menghadang perjalanan kita untuk membebaskan Dewa Arak!"

"Kita sudah telanjur, Dedemit Api. Teruskan saja! Aku yakin, Ki Gering Langit akan datang. Tidak mungkin muridnya dibiarkan mati percuma di tangan kita! Atau..., kau gentar menghadapi tokoh-tokoh persilatan?" sahut Dedemit Salju penuh semangat.

"Cuhhh...!"

Dedemit Api kontan meludah ke tanah. Wajahnya yang memang sudah merah, jadi semakin tampak merah membara. Jelas kalau hatinya merasa tersinggung atas ucapan yang dikeluarkan kakek pendek gemuk itu.

'Tidak ada kata gentar dalam kamus hidup Dedemit Api!" tandas kakek tinggi kurus itu keras. "Atau kau sendiri ingin menjajal kepandaianku?"

"Ho ho ho...! Jangan dikira aku takut padamu, Dedemit Api! Tapi, aku lebih waras

daripadamu! Kelak apabila telah berhasil menewaskan Ki Gering Langit, baru bisa dibuktikan, siapa yang lebih sakti di antara kita!"

"Boleh!" sahut Dedemit Api. "Kapan  dan di mana pun tempat yang kau ajukan, kuladeni!"

Dedemit Salju hanya tersenyum saja.

"Tapi aku sudah bosan terus-menerus menahan Dewa Arak, Dedemit Salju," ucap Dedemit Api lagi.

"Sabarlah, Dedemit Api," ujar Dedemit Salju bernada menghibur. "Tunggu sampai kita

telah berada di Bukit Siluman!"

"Lalu..., setelah kita sampai di Bukit Siluman dan Ki Gering Langit tidak juga muncul, bagaimana?" kejar Dedemit Api ingin tahu.

Dedemit Salju tercenung sejenak.

"Yahhh.... Mungkin kita harus puas bila hanya berhadapan dengan muridnya," sahut kakek pendek gemuk itu setengah mengeluh.

"Maksudmu...?"

"Keadaan Dewa Arak kita pulihkan. Dengan demikian, dia bisa kita paksa bertarung mewakili gurunya. Apabila menang, kita berarti telah mengalahkan Ki Gering Langit! Bagaimana? Bagus kan, usulku ini?"

Kini Dedemit Api mengangguk-anggukkan kepala. Perhatiannya dialihkan ke sebelah

kiri, tempat Raja Racun Muka Putih berjalan sambil memapah tubuh Dewa Arak yang lunglai.

Memang setelah Arya sadar, Raja Racun Muka Purih tidak lagi memanggul, melainkan memapahnya. Karena pemuda berambut putih keperakan itu tidak mampu berdiri. Rupanya, Dedemit Api telah mem buatnya lemas tak berdaya dengan totokan pada punggungnya.

Meskipun keadaan tubuhnya lemas bukan kepalang, namun Dewa Arak masih mampu mendengar percakapan itu. Tapi apa dayanya? Jangankan menyerang, menggerakkan ujung jari kelingking saja tidak mampu!

Mendadak, kantuk yang amat berat menyerang Arya. Tanpa dapat ditahan lagi,

sepasang matanya terpejam sendiri. Dewa Arak kini tertidur! Untung saja, Raja Racun Muka Putih memapahnya. Kalau tidak, tubuh pemuda ini sudah tersungkur jatuh. Raja Racun Muka Putih hanya bisa menyimpan kedongkolannya dalam hati. Kalau  saja tidak takut pada Dedemit Api dan Dedemit Salju pemuda yang telah banyak membuatnya repot ini sudah dipukul mampus.

Sementara, Arya sendiri sudah terlelap dalam tidurnya yang aneh. Mengantuk secara mendadak, dan kedua matanya langsung terpejam tanpa mampu dicegah! Padahal menurut perhitungan, tokoh sakti seperti Dewa Arak, tidak menjadi masalah meskipun tidak tertidur dua hari dua malam.

Tidak ada seorang pun yang menyadari keanehan itu, tak terkecuali  Dewa  Arak sendiri. Malah dia merupakan orang yang paling tidak menyadari keanehan itu, karena telah tertidur.

Dalam tidurnya itu, Arya bermimpi berada di tempat yang sangat asing. Di

sekelilingnya, tampak hanya kesunyian saja. Karuan saja Arya kebingungan. Tempat itu sama sekali tidak dikenalnya. Dan Dewa Arak sama sekali tidak mengerti, mengapa berada di situ. Di sana-sini yang terlihat hanya warna keputihan saja. Yang jelas, dia seperti berada di atas awan.

Mendadak, muncul seberkas sinar terang menyilaukan di depan Arya. Bahkan pemuda berambut putih keperakan itu sampai memejamkan mata, karena tak kuat menahan silau.

Beberapa saat lamanya Dewa Arak bersikap demikian. Baru ketika sinar terang itu diyakininya tidak ada lagi, sepasang matanya dibuka. Itu pun dengan perlahan-lahan, karena khawatir kalau sinar terang itu masih ada.

Dan memang, tidak ada lagi sinar terang menyilaukan itu. Tapi sebagai gantinya, di hadapannya berdiri sesosok tubuh yang amat dikenalnya. Sosok tubuh seorang kakek berpakaian putih bersih. Kumis dan jenggotnya telah memutih semua. Sekujur tubuhnya, terutama sekali wajahnya, seperti mengeluarkan cahaya sehingga membuat orang tidak kuat berlama-lama memandangnya. Di tangannya yang keriput tergenggam seuntai tasbih. Dialah Ki Gering Langit, guru Dewa Arak!

"Guru...!" sebut Arya seraya melangkah maju dan memberi hormat

Kakek berpakaian putih bersih yang memang Ki Gering Langit tersenyum. Aneh, tiba- tiba jiwa Arya terasa sejuk bukan main.

"Arya...," panggil Ki Gering Langit seraya menatap wajah pemuda berambut putih

keperakan itu penuh kasih sayang.

"Ya, Guru," sahut Arya seraya mengangkat wajah dan menatap wajah Ki Gering Langit. Tapi kepalanya segera ditundukkan kembali karena sepasang matanya tak mampu menatap wajah kakek itu berlama-lama. Silau!

"Ada yang ingin kuberitahukan padamu mengenai ilmu 'Belalang Sakti'."

Ki Gering Langit menghentikan ucapannya. Ditatapnya Arya untuk menanti tanggapan pemuda itu atas ucapannya. Tapi, ternyata Dewa Arak tidak memberi tanggapan apa-apa.

"Ilmu 'Belalang Sakti' bukan ilmu sembarangan, Arya. Dia merupakan ilmu hidup, dan

seperti mempunyai kemauan sendiri. Di alam gaib, ilmu 'Belalang Sakti' yang kau miliki berbentuk seekor belalang raksasa berwarna coklat" sambung Ki Gering Langit. "Dan ilmu 'Belalang Sakti' kuciptakan juga berdasarkan gerak-gerik belalang raksasa yang ada di alam gaib itu."

Arya mengangkat wajahnya. Keterkejutan yang amat sangat tampak menyemburat di sana. Memang, sama sekali tidak disangka kalau ilmu 'Belalang Sakti' nya mempunyai riwayat yang begitu aneh.

"Lalu..., apakah binatang itu bisa kulihat, Guru?" tanya Arya tak tahan memendam rasa ingin tahunya.

"Tidak, Arya. Kau tidak akan bisa melihatnya," jawab Ki Gering Langit tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Tapi orang lain bisa melihatnya, apabila kau telah mampu membawa belalang raksasa yang ada di alam gaib itu ke dalam dirimu."

"Maksud, Guru. Roh binatang itu?" tanya Arya disertai rasa heran yang masih membias di wajahnya.

"Bukan roh, Arya. Tapi, ilmu. Camkan baik-baik. Ilmu! Tapi, itulah anehnya alam gaib.

Di sana ilmu mempunyai bentuk sendiri-sendiri. Seperti ilmu 'Cakar Naga Merah' yang dikuasai Melati. Di alam gaib, ilmu itu berbentuk seekor naga besar berwarna merah." Arya mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.

"Ilmu 'Belalang Sakti' yang kau kuasai memang sudah cukup dahsyat. Tapi bila kau berhasil membawa belalang raksasa ke dalam tubuhmu, kau akan melihat sendiri perbedaannya."

Ki Gering Langit menghentikan ucapannya sebentar, untuk memberi kesempatan pada Dewa Arak dalam mencerna kata-katanya.

"Bagaimana caranya agar aku bisa membawa belalang raksasa di alam gaib itu ke

dalam diriku, Guru," tanya Arya ingin tahu.

"Usahakanlah sendiri, Arya. Tapi pertu kau ketahui, belalang raksasa itu mempunyai naluri yang sangat tajam. Aku yakin, dia akan bisa mengetahui kalau kau mempunyai hubungan dengannya. Dan yang perlu kau lakukan hanyalah membuat  hubungan  itu semakin dekat. Dan bila hal itu sudah terjadi, mungkin dia akan bisa menyelusup ke dalam tubuhmu," jelas Ki Gering Langit. "Tapi, ucapanku ini bukan berarti saat-saat sekarang kau diam dan tidak berusaha sama sekali. Berusahalah, Arya!"

"Akan kuperhartikan nasihatmu, Guru. Tapi..., bagaimana kutahu kalau belalang

raksasa itu telah berada dalam diriku, Guru?" desak Dewa Arak.

"Ada hembusan angin yang cukup dingin, dan bulu-bulu di tubuhmu berdiri. Itu yang menjadi tandanya."

Arya terdiam seketika. Kini, telah cukup jelas baginya akan ilmu 'Belalang Sakti' yang

dimiliki.

"O ya, Guru. Masih ada yang ingin kutanyakan," kata Arya buru-buru. Rupanya masih ada masalah yang dilupakannya.

"Katakanlah, Arya," sambut Ki Gering Langit, memberi kesempatan.

"Mengapa aku harus berada di puncak kekhawatiran dan ketidakberdayaan untuk mendapatkan belalang raksasa itu, Guru?"

"Karena dalam puncak kekhawatiran, biasanya pada diri manusia timbul kekuatan-

kekuatan yang semula tidak dimiliki. Kekuatan yang tersembunyi," jelas kakek berpakaian putih bersih itu. "Manusia memang makhluk luar biasa, Arya. Hanya bermodalkan kekuatan batin, dan usaha, maka akan muncul hal yang diharapkan. Yang ada itu asalnya dari tiada. Apabila kau mendalami ilmu 'Lemah Jiwa' kau akan menyadari secara lebih jelas. Yang ada itu asalnya dari tiada, Arya."

Arya mengernyitkan keningnya pertanda masih belum mengerti  penjelasan gamblang Ki Gering Langit

"Kau pun sebenarnya telah membuktikan kebenaran itu, Arya. Dalam puncak

kekhawatiran dan kemarahan, kau telah berhasil menggabungkan ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga' dan 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' dengan 'Tenaga Sakti Inti Matahari'. Padahal, sebelumnya kau tidak pernah mampu melakukannya."

"Kau tahu hal itu, Guru...?!" tanya Arya agak kaget. Terbayang di benaknya saat ilmu-

ttmu itu berhasil digabungkannya tanpa sengaja (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Penghuni Lembah Malaikat").

"Kebetulan saat itu aku tengah rindu untuk melihat dirimu, Arya," sahut kakek berpakaian putih bersih itu. "Kubuka telapak tanganku, dan kulihat kau tengah bertarung dengan seorang pemuda berpakaian mewah "

Arya takjub. Tapi mendadak....

Tukkk..!

Kaki Arya tersandung batu. Dengan sendirinya, dia pun terbangun dari tidur. Sepasang matanya dilayangkan ke sana kemari untuk mencari gurunya, tapi tetap saja tidak terlihat. Bahkan tempatnya berada sekarang pun amat berbeda jika dibandingkan tempat saat bertemu dengan gurunya. Yang dilihatnya adalah wajah Dedemit Api dan Dedemit Salju, serta wajah Raja Racun Muka Putih.

"Rupanya aku tengah bermimpi," desah Arya dalam hati. "Tapi, benarkah aku bermimpi? Tapi, kalau mimpi mengapa bisa begitu jelas? Apakah itu bukan sebuah petunjuk dari guru? Guru datang dan memberi petunjuk padaku. Tapi ini tidak seperti biasanya, karena keadaan yang tidak memungkinkan?" Arya lebih condong pada dugaan kalau  peristiwa aneh yang dialaminya bukan sembarangan mimpi atau bunga tidur saja. Tapi, itu merupakan kejadian yang hampir sesungguhnya. Ki Gering Langit ingin memberi petunjuk padanya. Tapi karena keadaan tidak memungkinkan, maka digunakannya jalan melalui mimpi. Arya  percaya kalau gurunya mampu melakukan hal itu, karena Ki Gering Langit memang memiliki banyak ilmu yang aneh dan tidak masuk akal!

Yakin kalau pertemuannya dengan Ki Gering Langit itu sungguh-sungguh terjadi,

maka Dewa Arak memutuskan untuk mencoba-coba membawa belalang raksasa itu ke dalam dirinya.

Arya memejamkan matanya, mencoba melihat belalang raksasa itu dengan batinnya. Karena menurut penjelasan gurunya di dalam mimpi, belalang raksasa itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Bukankah itu berarti ada kemungkinan bisa dilihat dengan mata batin?

Meskipun tubuhnya dipapah Raja Racun Muka Putih yang kini berlari cepat membawanya, Dewa Arak sama sekali tidak peduli. Benaknya terus diputar keras untuk mencari gambaran belalang raksasa yang dimaksud gurunya.

Namun, tidak mudah bagi Dewa Arak untuk mendapat gambaran tentang belalang raksasa itu. Padahal seluruh alam pikirannya telah dipusatkan. Meskipun demikian,  Arya tidak putus asa. Pikirannya terus dipusatkan pada bayangan belalang raksasa.

Tapi sampai Raja Racun Muka Purih menghentikan larinya, gambaran apa pun tentang

belalang raksasa yang dikatakan gurunya tetap belum didapat. Maka, Arya menghentikan usahanya. Sepasang matanya dibuka untuk mengetahui apa yang akan dilakukan musuh- musuhnya.

"Gantungkan tubuhnya di sana...!" perintah Dedemit Api pada Raja Racun Muka Putih.

Tanpa menunggu diperintah dua kali, kakek berpakaian putih itu bergerak ke arah sebatang pohon besar yang ditunjuk Dedemit Api. Entah dari mana mengambilnya, tahu-tahu di tangan Raja Racun Muka Putih telah tergenggam seutas tambang berwarna putih. Dengan salah satu ujung tali itu, pergelangan kaki kanan Arya diikatnya. Sedangkan ujung yang satu lagi dipegangnya.

"Hih...!"

Raja Racun Muka Putih melompat ke atas, lalu mendarat di cabang pohon tanpa menimbulkan getaran sedikit pun. Di cabang pohon itulah ujung tali yang satu lagi dibelitkan, setelah teriebih dulu ditarik. Sehingga, tubuh Dewa Arak tergantung dengan jarak hampir satu tombak dari atas tanah. Kepalanya di bawah, dan kaki di atas.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Raja Racun Muka Putih melompat turun.

***

Dedemit Api melangkah menghampiri tubuh Dewa Arak yang tergantung.

"Nyawamu tergantung pada gurumu, Dewa Arak," kata Dedemit Api. "Kalau dia tidak datang, kau terpaksa harus berhadapan dengan kami sebagai wakil gurumu!"

"Ya! Kami akan menunggu di sini selama dua hari," sambung Dedemit Salju sambil melangkah maju dan berdiri di sebelah Dedemit Api.

Tapi, Arya sama sekali tidak menyambuti ucapan kedua kakek sakti itu. Dia tahu, tidak ada gunanya lagi menjawab perkataan mereka. Maka dengan sikap tidak peduli, sepasang matanya dipejamkan. Arya memutuskan untuk mencari hubungan dengan belalang raksasa daripada meladeni ucapan Dedemit Api dan Dedemit Salju.

Dalam keadaan tubuh tergantung, kepala di bawah dan kaki di atas, Dewa Arak memejamkan matanya. Benaknya diputar untuk membayangkan bentuk belalang raksasa seperri yang dikatakan Ki Gering Langit

Dedemit Api dan Dedemit Salju segera melangkah mundur ketika melihat Dewa Arak memejamkan mata. Mereka tahu, Arya tidak mau melanjutkan pembicaraan.

Tanpa melepaskan pandangan dari Dewa Arak, Dedemit Salju dan Dedemit Api melangkah mundur. Dalam hati mereka, bersarang pertanyaan. Apa yang hendak dilakukan Dewa Arak. Sementara itu, orang yang dibingungkan sama sekali tidak mengetahui Arya telah tenggelam dalam kesibukannya membawa gambaran belalang raksasa ke dalam dirinya.

Entah sudah berapa lama tenggelam dalam kesibukan benaknya, Dewa Arak sama

sekali tidak tahu. Yang ada di benaknya hanya satu, mendapatkan  gambaran  belalang raksasa seperti yang dikatakan gurunya!

Waktu berlalu tanpa disadari Arya. Matahari yang tadi masih jauh dari titik tengahnya kini malah telah tergelincir dari atas kepala.

Dedemit Api, Dedemit Salju, dan Raja Racun Muka Putih duduk berjarak lima tombak di hadapan Arya, di atas sebatang pohon yang telah ditumbangkan sebelumnya. Dedemit Api dan Dedemit Salju tampak tidak sabar menunggu kedatangan Ki Gering Langit

Tapi karena melihat kelakuan Dewa Arak yang aneh, mereka duduk menunggu dengan

pandangan tertuju ke arah Arya. Hanya sesekali saja pandangan mereka dialihkan ke sekeliling.

Mendadak angin berhembus secara tidak disangka-sangka karena udara semula begitu tenang. Tidak keras memang, tapi mengandung hawa dingin. Bahkan mampu  membuat Dedemit Api, Dedemit Salju, dan Raja Racun Muka Putih menggigil walaupun hanya sesaat

"Ikh...! Angin aneh...!" gerutu Dedemit Api ketika tanpa sadar kedua bahunya  terangkat ke atas karena hembusan angin tidak keras yang berhawa cukup dingin itu.

Seiring selesainya ucapan itu, Dedemit Api mengedarkan pandangan berkeliling. Hal

yang sama dilakukan Dedemit Salju dan Raja Racun Muka Putih. Memang, ketiga orang itu dilanda perasaan heran. Sebuah pertanyaan yang sama bergayut di benak masing-masing. Mengapa mereka semua menggigil oleh hembusan angin tadi?

Di antara mereka semua, yang paling merasa heran adalah Dedemit Api. Bayangkan!

Selama ini, betapapun dinginnya cuaca di tempat bersalju sekalipun, dia tidak merasa dingin sama sekali. Sebaliknya dia malah selalu merasa kegerahan! Itulah sebabnya, tubuhnya hanya ditutupi selembar kain pendek. Tapi sekarang, mengapa tubuhnya terasa begitu menggigil oleh hembusan angin yang sebenarnya tidak keras? Jadi, siapa yang tidak merasa heran dan curiga?

Dedemit Salju juga mengedarkan pandangan berkeliling. Hatinya merasa curiga ketika melihat Dedemit Api menggigil sebentar karena hembusan angin. Padahal dia tahu pasti kalau rekannya itu tidak pernah menggigil sekalipun berada di tempat yang bercuaca  teramat dingin!

Tapi sampai telah leher dan sepasang mata mereka karena diputar dan dibeliakkan ke sana kemari, tetap saja tidak tampak adanya tanda-tanda mencurigakan. Suasana di tempat itu sunyi senyap. Yang terlihat hanyalah beberapa pepohonan di sekelilingnya yang berupa tanah lapang luas dan ditumbuhi sedikit rumput

Dedemit Api saling berpandangan dengan Dedemit Salju. Dalam bentrok mata itu, keduanya saling tahu kalau pandangan mata masing-masing pihak dilanda keheranan besar.

"Kau merasakan hembusan angin itu, Dedemit Salju?" tanya Dedemit Api untuk memastikan kalau kejadian yang tadi dialaminya benar-benar terjadi dan bukan hanya perasaannya saja.

Dedemit Salju menganggukkan kepala.

"Kau tidak merasakan adanya keanehan?!" tanya Dedemit Api lagi.

"Ya," sahut Dedemit Salju. "Aku yakin, ini bukan angin sewajarnya. Kurasakan angin itu mengandung banyak keanehan. Hembusan anginnya tidak keras, tapi membuat tubuh menggigil sesaat."

Dedemit Api mengangguk membenarkan.

"Tapi, jelas-jelas tidak ada siapa pun di sini," tegas Dedemit Api.

"Entahlah. Yang jelas, kita harus waspada, Dedemit Api. Siapa tahu ada orang yang telah berada di sini."

"Sukar kubayangkan tingkat kepandaian orang itu kalau mampu hadir tanpa diketahui oleh kita," sambut Dedemit Api bingung.

"Mungkin dialah orang yang kita tunggu-tunggu," celetuk Dedemit Salju.

"Maksudmu..., Ki Gering Langit..?" tanya Dedemit Api yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Dedemit Salju. Sementara Raja Racun Muka Putih hanya diam saja. Pandangannya tertuju lurus ke depan. Tapi, telinganya dipasang tajam-tajam untuk mendengarkan pembicaraan kedua kakek sakti yang telah menjadi pimpinannya. Benaknya berputar keras, mencari jalan untuk menyelamatkan Dewa Arak agar bisa mendapatkan keris milik Brajageni. 8

Pada saat yang bersamaan dengan ribut-ributnya Dedemit Api,  Dedemit  Salju, dan Raja Racun Muka Putih, dalam benak Dewa Arak mulai muncul gambaran tentang belalang raksasa itu.

Semula, tidak tampak jelas gambaran belalang raksasa yang didapatkan Arya. Tapi, satu hal telah menggembirakan hatinya. Ternyata warna tubuh binatang itu persis dengan yang dijelaskan Ki Gering Langit Belalang raksasa itu berwarna coklat!

Semakin lama, semakin tampak jelas gambaran yang didapat Dewa Arak mengenai belalang raksasa itu. Ternyata, belalang yang menjadi sumber ilmu 'Belalang Sakti' ciptaan Ki Gering Langit mempunyai bentuk seperti jangkrik. Tubuh-tubuhnya terlihat begitu kokoh dan keras!

Karuan saja hal ini membuat semangat Dewa Arak bertambah! Dan sebagai akibatnya, usaha yang dilakukannya pun semakin keras. Maka, Arya semakin tekun memusatkan pikirannya.

Mendadak...

"Iblis-iblis berwajah manusia...! Orang seperti kalian memang harus dimusnahkan dari muka bumi!"

Arya tersentak kaget. Suara itu amat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Melati! Tapi

benarkah Melati yang datang untuk menolongnya. Kalau benar demikian, tunangannya itu pasti akan celaka! Lawan-lawan yang akan dihadapi Melati terlalu kuat! Jangankan putri angkat Raja Bojong Gading itu, Iblis Hitam yang luar biasa saja tidak mampu menghadapi Dedemit Api! Jelas, Melati hanya akan mengantarkan nyawa sia-sia.

Seketika itu juga pusat pikiran Dewa Arak buyar. Dengan sendirinya, gambaran belalang raksasa itu pun lenyap. Apalagi, Arya telah membuka mata untuk melihat kebenaran dugaannya.

Dan memang, dugaan Dewa Arak sama sekali tidak keliru. Tampak seorang gadis

berpakaian putih yang tak lain dari Melati tengah melesat cepat ke arah tiga orang datuk kaum sesat itu dengan pedang di tangan.

Melihat hal ini, Dedemit Api, Dedemit Salju dan Raja Racun Muka Putih serentak bangkit berdiri.

"Siapa kau, Nisanak?! Mengapa kau memaki-maki kami?! Cepat menyingkir dari sini sebelum aku berubah pikiran!" dengus Dedemit Api.

Tokoh yang selalu bertelanjang dada ini merasa malu untuk menghadapi seorang gadis

muda seperti Melati. Walaupun kecepatan gerak gadis berpakaian putih itu telah dilihatnya, tapi tetap saja kakek tinggi kurus itu memandang rendah.

"Namaku Melati. Dan kedatanganku kemari untuk membasmi kalian yang telah menahan kawanku secara curang! Aku bersedia pergi dan tidak melanjutkan masalah ini apabila kawanku dibebaskan!"

Semula, Melati ingin membebaskan Arya dengan kekerasan. Tapi di saat-saat terakhir, gadis itu teringat akan nasihat kekasihnya kalau jalan kekerasan tidak selalu akan berhasil dalam memecahkan masalah. Ada kalanya masalah bisa diselesaikan tanpa kekerasan. Apalagi, jalan kekerasan sepertinya tidak menguntungkan. Dan Melati mencoba kebenaran nasihat itu, ketika melihat lawan-lawan yang akan dihadapinya bukan orang sembarangan.

Ucapan yang dikeluarkan Melati terdengar tegas dan gagah. Dan kesan kegagahan itu semakin mantap, karena Melati menutup kata-katanya dengan melintangkan pedang di depan dada. Sementara, dadanya pun dibusungkan ke depan.

Sepasang alis Dedemit Api hampir bertautan mendengar ucapan Melati yang bernada keras. Bahkan sepasang matanya mencorong tajam, karena amarah yang melanda hati.

"Kotor sekali ucapanmu, Nisanak!" seru kakek tinggi kurus. keras. "Kau katakan kami

telah menahan kawanmu secara curang?! Jelaskan maksud ucapanmu, Nisanak! Cepat, sebelum kesabaranku habis!" "Hmh...! Tidak perlu bersikap sok gagah, Cacing Kurus!" ejek Melati tanpa kenal takut "Aku tahu, siapa kawanku. Kalau kalian tidak mengeroyoknya dan melakukan tindakan- rindakan curang, dia tak akan mungkin bisa kalian tangkap!"

"Keparat! Mulutmu semakin kotor, Wanita Liar! Rupanya kau minta dihajar!" maki Dedemit Api kalap. "Aku, Dedemit Api bukan sejenis orang yang kau tuduhkan!"

Setelah berkata demikian, Dedemit Api melangkah menghampiri dengan sikap mengancam.

"Eit..! Tidak malukah kau, Kek. Kau tokoh yang terkenal dan berjuluk Dedemit Api akan menyerang seorang wanita muda?! Ah! Ingin kutahu, bagaimana tanggapan orang-orang persilatan apabila mendengar berita ini!" cegah Melati.

Rupanya, ucapan Melati mengenai sasaran. Langkah Dedemit Api kontan terhenti.

Bahkan wajah kakek tinggi kurus itu memerah. Sedangkan kedua tangannya tampak  menggigil keras, pertanda besarnya kemarahan yang melanda hatinya.

"Kau... kau..., Wanita Liar...! Hiya...!" Tak tahan menanggung perasaan geram yang melanda, Dedemit Api menghentakkan kedua tangannya. Tapi, bukan ke arah Melati melainkan ke sebelah kanannya, ke arah sebatang pohon besar.

Wusss...!

Brakkk...!

Angin keras yang berhawa panas membakar kulit, keluar dari kedua tangan Dedemit Api yang dihentakkan. Sambaran angin itu menghantam pohon hingga hancur berantakan dalam keadaan hangus. Asap tipis tampak mengepul dari batang pohon yang hangus seperti tersambar petir!

Melati terkejut bukan kepalang melihat akibat pukulan jarak jauh Dedemit Api.

Memang sudah diduga kalau kakek tinggi kurus itu memiliki kepandaian tinggi. Namun, tidak disangka akan sehebat ini akibat pukulan jarak jauhnya. Melati yakin, pukulan jarak jauh Dedemit Api tidak kalah dahsyat bila dibandingkan ilmu pukulan jarak jauh yang dimiliki kekasihnya!

Meskipun kekagetan yang amat sangat melanda hatinya, tapi Melati mampu menyembunyikannya. Sehingga, tidak tampak pada wajahnya. Bahkan bibirnya mampu menyunggingkan senyum mengejek.

"Baru mempunyai ilmu pukulan seperti itu sudah berani bersikap sombong?! Ingin kulihat, bagaimana wajahmu bila kawanku yang kau tangkap secara curang itu  mengunjukkan kebolehannya padamu!" kata Melati kalem. Sengaja ucapannya pada kalimat yang terakhir ditekan untuk lebih memanaskan hati Dedemit Api yang sudah terbakar.

"Keparat kau, Wanita Liar! Mulutmu terlalu kotor! Akan kau lihat sendiri akibat ucapanmu itu. Kawanmu akan kubuat mampus!"

Setelah berkata demikian, Dedemit Api segera melesat ke arah tubuh Dewa Arak yang tergantung. Karuan saja, hal itu membuat Melati terkejut bukan kepalang.

"Kakek pengecut! Apa yang akan kau lakukan!"

Seiring keluarnya ucapan itu, Melati segera melesat mengejar Dedemit Api. Pedangnya diputar di depan dada, sehingga menimbulkan suara menggerung keras seperti naga tengah murka.

Wunggg...!

Suara menggerung keras kembali terdengar ketika Melati menusukkan pedangnya ke arah punggung Dedemit Api.

"Hmh...!" dengus Dedemit Api. Dan begitu suara dengusannya lenyap, tubuh Dedemit Api segera dibungkukkan ke depan. Sehingga serangan Melati hanya mengenai tempat  kosong, lewat beberapa jengkal di atas punggungnya.

Pada saat yang bersamaan dengan lolosnya serangan pedang Melati, Dedemit Api

melancarkan tendangan ke belakang tanpa mengubah keadaan tubuhnya. Kaki kirinya meluncur cepat ke arah perut Melati.

Meskipun kaget karena mendapat serangan balasan yang sama sekali tidak disangka- sangka, Melati masih mampu mempertunjukkan kelihaiannya. Maka, tangan kirinya cepat ditetakkan ke bawah untuk memunahkan serangan itu.

Dukkk...! Tubuh Melati teriontar ke belakang. Mulutnya yang berbentuk indah itu nampak menyeringai karena menahan rasa sakit yang mendera tangannya akibat berbenturan dengan kaki Dedemit Api. Tulang-tulang tangannya terasa seperti patah-patah! Untungnya, Dedemit Api tidak mengerahkan tenaga istimewanya dalam tangkisan itu. Kalau dikerahkan, mungkin kulit tangan Melati akan hangus!

***

"Melati...!" teriak Arya ketika melihat tubuh kekasihnya terlontar ke belakang.

Kalau menuruti perasaan hati, ingin Dewa Arak melompat menerjang Dedemit Api untuk menolong Melati, Tapi, apa daya? Jangankan melompat, menggerakkan ujung jari kelingkingnya saja tidak mampu!

Melati tak bisa segera menjawab panggilan Dewa Arak, karena sedang sibuk mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya teriontar.

Dan memang, berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkatan

tinggi, gadis itu tidak mengalami kesulitan untuk mendaratkan kakinya di tanah.

Belum juga Melati dapat menyadari apa yang terjadi, Dedemit Api telah berhasil mencapai tempat Arya tergantung tanpa kesulitan.

Dedemit Api mengulurkan tangan, setelah terlebih dulu menyusun jari-jarinya. Jari

telunjuk dan jari tengah dijulurkan, sedangkan jari-jari tangan lain dikepalkan.

Kemudian, kedua jari yang semula merapat itu direnggangkan satu sama lain, dan diselipkan ke arah tali yang menggantung tubuh Dewa Arak.

Tasss...!

Brukkk!

Kontan tubuh Dewa Arak jatuh berdebuk di tanah begitu jari-jari tangan yang merenggang itu dirapatkan satu sama lain untuk menjepit tali. Luar biasa! Dengan pengerahan tenaga dalamnya, Dedemit Api mampu  membuat jari-jari tangannya seperti gunting. Sehingga, dia mampu memutuskan tali!

"Manusia pengecut! Jangan hanya terhadap orang yang tengah tidak berdaya saja nyalimu kau tunjukkan! Nih, lawan aku!" teriak Melati kalap seraya melangkah maju.

"Tutup mulut dan diam di tempatmu, Wanita Liar! Kalau tidak, kepala temanmu ini akan kuhancurkan!"

Baru beberapa tindak, putri angkat Raja Bojong Gading itu segera menghentikan langkahnya.

"Apa maumu, Dedemit Api?!" sentak Melati. Dia merasa tidak berdaya. Disadari, tak mungkin akan mampu membebaskan Arya. Ada tiga orang lawan yang harus dihadapinya. Padahal, menghadapi satu orang saja tidak akan mampu.

Teringat akan jumlah lawan, membuat Melati mengedarkan pandangan ke arah

Dedemit Salju dan Raja Racun Muka Putih. Tapi, kedua kakek sakti itu seperti diam saja. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan campur tangan.

"Aku hanya menuruti kemauanmu saja, Wanita Liar!" kata Dedemit Api berapi-api.

Jelas, kemarahan hebat masih melandanya.

Melati mengernyitkan dahi karena bingung. Mengapa Dedemit Api mengatakan melakukan semua itu untuk menuruti kemauannya?

"Tadi kau mengatakan, aku telah menahan kawanmu secara curang! Dan kepandaian

yang kutunjukkan kepadamu tidak ada artinya bila dibandingkan kepandaian yang dimiliki kawanmu ini!" sambung Dedemit Api, bernada menjelaskan karena melihat adanya raut ketidakmengertian di wajah Melati. "Nah! Sekarang, akan kita buktikan! Aku akan bertarung dengan kawanmu!"

Dedemit Api menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas. Sedangkan Melati mendengarkan penuh perhatian.  

"Manusia pengecut! Jangan hanya terhadap orang yang tidak berdaya saja nyalimu kau tunjukkan! Nih, lawan aku!" teriak Melati kalap.

"Tutup mulutmu dan diam di tempat, Wanita Liar! Kalau tidak, kepala temanmu ini akan kuhancurkan!" ancam Dedemit Api tidak main-main. "Tapi, ingat! Kalau kawanmu kalah, dia tetap menjadi tawanan kami. Sedangkan nasibmu tergantung pada kami! Kau harus mempertanggungjawabkan atas kepongahanmu. Perlu kau ketahui, Nisanak. Tidak ada seorang pun yang akan dapat lolos dari hukuman setelah mempermainkan Dedemit Api!"

Melati menelan liur untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Sungguh tidak disangka akan seperti ini akibat ucapannya. Dia tidak yakin kalau Dewa Arak akan mampu menghadapi, apalagi sampai mengalahkan Dedemit Api! Tapi apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur! Semua sudah telanjur. Dan kini bukan saatnya menyesali diri!

"Lalu..., bagaimana kalau kau yang kalah...?" tanya Melati dengan suara sumbang.

Dedemit Api tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, bibirnya malah menyunggingkan senyum mengejek.

"Aku? Kalah? Ho ho ho...! Kau tahu, Nisanak! Tidak ada kata kalah dalam kamus hidupku! Yang ada hanya satu, menang! Kau dengar, Nisanak? Menang! Ho ho ho...!"

"Kau jangan coba-coba mengakaliku, Dedemit Api!" tandas Melati. "Cepat katakan, apa taruhanmu kalau kau yang kalah!"

"Dengar baik-baik, Wanita Liar! Kalau kalah, aku akan membebaskannya. Juga, aku akan pergi dari sini! Aku tidak akan mengganggunya, dan kau lagi. Tapi dengan catatan, kau dan dia tidak menggangguku! Bagaimana? Cukup adil bukan?"

Melati mengangguk-anggukkan kepala.

"Cukup adil," ucap gadis berpakaian putih itu. "Tapi..., apakah janji yang kau ucapkan itu berlaku juga untuk kedua kawanmu itu?"

"Apa maksudmu, Nisanak?!" tanya Dedemit Api dengan alis berkernyit marah.

"Aku hanya khawatir, kalau kau nanti tewas oleh kawanku, kedua orang kawanmu itu bersama-sama mengeroyok kawanku yang sudah lelah. Mereka jangan-jangan nanti beralasan, tidak ikut dalam perjanjian ini!"

Terdengar suara menggeretak dari mulut Dedemit Api.

"Mulutmu terlalu kotor, Nisanak. Jangan salahkan kalau nanti aku akan menghancurkannya apabila kawanmu itu kalah!" ancam Dedemit Api, geram. "Tapi  biar hatimu tenang, akan kujelaskan. Janjiku ini juga menyangkut dua orang temanku! Aku berbicara dan berjanji mewakili kedua orang kawanku!"

"Bagus! Kini tenanglah hatiku!" ucap Melati sambil tersenyum manis. "Sekarang, tinggalkan kawanku di situ!"

Dedemit Api hanya bisa menggertakkan gigi karena geram mendengar ucapan-ucapan Melati yang seenaknya saja. Kemudian tubuh Dewa Arak ditinggalkannya setelah tedebih dulu dibebaskan totokannya.

"Kang Arya...!" seru Melati seraya menubruk tubuh pemuda berpakaian ungu itu.

Arya yang kini telah bebas, tersenyum lebar. Tangannya diulurkan, dan dipegangnya tangan Melati.

"Sungguh tidak kusangka kau akan seberani ini, Melati," kata Arya sambil menggeleng- gelengkan kepala. Sementara sepasang matanya menatap wajah kekasihnya, menyorotkan kekaguman besar.

Hanya senyuman lebar Melati yang menyambuti ucapan Dewa Arak.

"Jangan berpacaran dulu, Dewa Arak! Pulihkan tenagamu. Besok pagi kita harus bertarung! Ingat! Kawanmu telah berjanji atas namamu untuk taruhan pertarungan kita besok!"

Melati menganggukkan kepala. "Pulihkan tenagamu, Kang. Besok adalah hari penentuan. Betapapun lihainya kakek itu, aku percaya kau pasti akan mampu mengalahkannya."

Arya menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar untuk menenangkan hati Melati.

Padahal dalam hati, harus diakui kalau Dedemit Api mempunyai kepandaian amat tinggi. Dan bukan tidak mungkin berada di atasnya. Kekalahan Iblis Hitam telah semakin menguatkan dugaannya. Tapi, Arya berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pertarungan itu demi Melati! Walaupun, sebenarnya harapan untuk itu amat tipis!

Memang, kecil kemungkinan Dewa Arak akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan besok. Dia tahu, Iblis Hitam memiliki tingkat tenaga dalam yang sama dengan dirinya. Bahkan dalam hal ilmu meringankan tubuh, Kala Sunggi yang dulu jahat, masih lebih unggul sedikit. Tapi, toh Dedemit Api mampu mengalahkannya. Padahal, Iblis Hitam sedikit memiliki keuntungan karena mengenakan mantel pusakanya.

Pikiran-pikiran itulah yang mengganggu Dewa Arak. Namun dia segera melupakannya ketika mulai duduk bersila untuk bersemadi. Punggungnya ditegakkan dan kedua telapak tangannya dipertemukan di depan dada. Sesaat kemudian, pemuda  berambut putih keperakan itu telah tenggelam dalam keheningan semadinya.

Melati menatap wajah Dewa Arak yang sudah sibuk bersemadi. Beberapa saat lamanya gadis itu berbuat demikian, sebelum duduk di sebelah Arya. Tidak bersemadi, tapi hanya berjaga-jaga saja.

Arya benar-benar tenggelam dalam keheningan semadinya. Dia sama sekali tidak

berbuat apa-apa lagi, kecuali menyatukan pikirannya dengan Yang Maha Pencipta. Dadanya tampak turun naik, menarik dan menghembuskan napas berulang-ulang untuk memulihkan keadaannya seperti semula.

Sedangkan di sebelahnya, Melati hanya berjaga-jaga. Sepasang matanya mengawasi

sekeliling dengan sikap waspada. Metihat dari gerak-geriknya, rupanya dia sudah bersiap-siap apabila ada bahaya yang mengancam Dewa Arak.

Sebenarnya, Melati tidak perlu bersikap demikian. Karena bila ada bahaya yang mengancam Dewa Arak, Dedemit Api yang duduk berjarak sepuluh tombak di hadapannya pun tidak akan tinggal diam.

Berbeda dengan Dewa Arak, Dedemit Api sama sekali tidak bersemadi. Saat ini, dia berada dalam keadaan siap tarung.

Karena tidak seorang pun yang berbicara, suasana di tempat itu pun terasa hening.

Yang terdengar hanyalah helaan udara yang keluar masuk dari mulut Dewa Arak.

Tapi ketika telah lewat larut malam, di saat sepasang mata Melati beberapa kali terpejam tapi kemudian terbuka kembali, Arya menghentikan semadinya. Kini tenaganya terasa telah putih kembali seperti semula.

Pemuda berambut putih keperakan itu membuka mata dan mengedarkannya berkeliling. Tapi yang tampak hanya keremangan. Karena bulan bersembunyi di balik awan yang cukup tebal

Meskipun demikian, tubuh tiga orang musuh tangguhnya di depan cukup jelas terlihat. Dan diam-diam Arya mengeluh ketika teringat akan pertarungan besok. Dewa Arak sama sekali tidak takut mati! Tidak! Tapi, dia tidak ingin Melati jadi korban akibat kekalahannya.

Untuk pertama kalinya, Dewa Arak merasa ragu akan kemampuan dirinya. Dan hal itu bukan tanpa absan. Telah disaksikannya sendiri kelihaian Dedemit Api,  sehingga  membuatnya tak yakin kalau dirinya akan mampu menandingi kakek tinggi kurus itu.

Hampir Arya terlonjak kaget ketika teringat akan belalang raksasa yang telah pernah

terlihat dalam benaknya. Ketimbang bengong-bengong, bukankah lebih baik memusatkan perhatian untuk lebih memudahkan belalang raksasa itu masuk ke dalam dirinya?

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya kembali memejamkan sepasang matanya.

Seluruh pikirannya dipusatkan pada belalang raksasa itu.

Aneh! Belum berapa lama memusatkan pikiran, bayangan belalang raksasa itu telah tergambar di benaknya. Bahkan semakin lama semakin jelas. Kini Arya bisa melihat secara jelas, kaki dan badan belalang itu yang bergerigi.

Arya menghentikan pemusatan pikirannya, kemudian memulai lagi dari semula. Sampai akhirnya hanya dengan memejamkan mata, telah timbul gambaran belalang raksasa secara jelas. Kini Dewa Arak menghentikan kesibukannya, lalu beristirahat.

***

Sang surya sudah sejak tadi menampakkan sinarnya. Hawa hangat telah menyebar ke seluruh persada ketika Dewa Arak dan Dedemit Api telah saling berhadapan dalam jarak tiga tombak. Tampak jelas, kedua tokoh sakti ini sudah siap bertarung. Dalam jarak sekitar lima tombak di belakang kedua belah pihak berdiri kawan masing- masing. Wajah mereka yang berada di situ, kecuali Raja Racun Muka Putih, menampakkan ketegangan.

Dedemit Api dan Dedemit Salju rupanya dilanda perasaan tegang juga. Mereka teringat kalau Raja Racun Muka Putih yang telah demikian lihai saja, sampai menggunakan cara licik untuk mengalahkan Dewa Arak. Dan hal itu pasti tidak akan dilakukan kalau kakek berpakaian merah itu mampu mengimbangi Dewa Arak!

Dewa Arak mengambil guci peraknya yang tersampir di punggung. Guci itu didapat Arya dari Dedemit Api menjelang pertarungan. Memang, senjata andalan Dewa Arak yang semula dirampas anak buah Raja Racun Muka Putih, telah dibawa oleh tiga tokoh hitam itu.

Gluk.. gluk.. gluk..!

Suara tegukan dari arak yang melalui tenggorokan Arya terdengar ketika guci itu dituangkan ke mulut. Hanya dalam sekejap saja, hawa hangat menjalar di perut Arya. Lalu perlahan-lahan, hawa hangat itu naik ke atas kepala sehingga membuat kaki-kaki Dewa Arak tidak bisa berdiri tetap lagi di tanah. Ini berarti Dewa Arak telah siap menggunakan ilmu 'Belalang Sakti'nya.

Bukan hanya Dewa Arak saja yang langsung mengeluarkan ilmu andalan. Dedemit Api pun melakukan hal yang sama. Kakek tinggi kurus ini langsung mengeluarkan ilmu 'Telapak Tangan Api' miliknya.

"Haaat..!"

Sekeliling tempat itu bergetar hebat. Bahkan Melati sampai mendekapkan kedua telapak tangannya ke telinga, saking kerasnya teriakan yang dikeluarkan Dedemit Api ketika melompat menerjang

Sekali menyerang, Dedemit Api sudah melancarkan serangan bertubi-tubi. Jari-jari tangannya mencengkeram ke arah dada dan ulu hati Dewa Arak

Sergapan hawa panas menggigit lebih dulu melanda, sebelum serangan itu sendiri tiba.

Arya tidak berani bertindak gegabah, karena belum mengetahui kedahyatan serangan itu. Maka Dewa Arak tidak berani menangkis. Yang dilakukan Dewa Arak hanya melompat jauh ke belakang tanpa bersalto dan membalikkan tubuh, sehingga serangan Dedemit Api mengenai tempat kosong.

Dedemit Api tidak putus asa melihat serangannya gagal. Kembali dilancarkannya serangan-serangan yang tak kalah dahsyat. Sesaat kemudian, kedua belah pihak sudah teriibat dalam pertarungan sengit.

Arya mengeluh dalam  hati. Seperti yang sudah diduga, Dedemit Api memang

merupakan lawan amat tangguh yang memiliki ilmu-ilmu luar biasa.

Untuk menahan hawa panas yang mendera, Dewa Arak menggunakan ilmu 'Belalang Sakti' disertai pengerahan 'Tenaga Sakti Inti Matahari' untuk mengimbangi hawa panas yang ditimbulkan ilmu 'Telapak Tangan Api' milik Dedemit Api yang membuat suasana di sekltar tempat itu seperti di dalam kawah gunung berapi. Panas dan pengap!

Arya mengerahkan seluruh kemampuannya. Kedua tangan, guci, dan araknya, dikerahkan untuk menahan setiap serangan, sekaligus menggilas habis pertahanan Dedemit Api.

Tapi kali ini Arya berhadapan dengan lawan yang amat berat. Dedemit Api ternyata lebih unggul. Baik dalam hal ilmu meringankan tubuh, maupun tenaga dalam. Hanya dalam mutu ilmu silat saja Dewa Arak menang. Tapi itu pun hampir tidak berarti banyak. Karena setiap kali terjadi benturan tangan atau kaki, pemuda berambut putih  keperakan itu terhuyung-huyung disertai rasa sakit yang mendera anggota tubuhnya.

Meskipun kalah dalam hal ilmumeringankan tubuh dan tenaga dalam, Dewa Arak masih mampu mengadakan perlawanan sengit. Sehingga, seluruh tubuhnya telah dibasahi keringat, akibat hawa panas yang timbul di sekitar arena pertarungan.

Karena terlalu memusatkan perhatian pada pertarungan, baik Dewa Arak maupun Dedemit Api sama sekali tidak tahu kalau tempat itu telah didatangi tokoh-tokoh persilatan. Rupanya, kabar tentang pertarungan yang seharusnya dilakukan Dedemit Api dan Dedemit Salju melawan Ki Gering Langit, telah didengar orang banyak. Memang, Iblis Hitam yang telah dikalahkan Dedemit Api yang mengabarkannya pada seluruh tokoh persilatan, baik aliran purih maupun hitam. Tokoh yang bernama asli Kala Sunggi itu diam-diam juga mengikuti kepergian Dedemit Api, Dedemit Salju, dan Raja Racun Muka Putih. Kala Sunggi tahu kalau Ki Gering Langit tidak datang, maka Dewa Arak akan dihukum mati. Itulah sebabnya, dia bersama tokoh-tokoh silat aliran putih berusaha membebaskan Dewa Arak. Tapi kini puluhan orang tokoh persilatan itu malah menyaksikan pertarungan antara Dedemit Api melawan Dewa Arak. Ini berarti, Ki Gering Langit tidak jadi datang. Tapi kenapa Dewa Arak tidak dihukum mati? Dan kenapa kini malah bertarung?

Memang, berita yang tersebar di dunia persilatan bahwa Dewa Arak akan dihukum mati oleh Dedemit Api dan Dedemit Salju di Bukit Siluman telah membuat dunia persilatan gempar.

Karuan saja puluhan tokoh persilatan itu merasa heran melihat Dewa Arak tengah

bertempur sengit dengan Dedemit Api. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang terus bergayut di benak mereka. Serunya pertarungan yang terpampang, membuat mereka melupakan keheranan dan menatap penuh perhatian ke depan.

Sementara pertarungan antara Dewa Arak dan Dedemit Api telah memasuki jurus

keseratus. Namun, keadaan Arya semakin terdesak. Rupanya Dedemit Api mengetahui dasar pergerakan jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Sehingga, dia dapat menduga ke mana Arya akan mengelak. Dengan sendirinya, keistimewaan jurus itu jadi tumpul.

Di jurus keseratus sebelas, Dedemit Api melancarkan serangan ke arah dada Dewa

Arak. Kakek tinggi kurus ini melompat cepat ke arah Arya dengan tangan kanan meluncur cepat ke arah sasaran.

Melihat serangan ini, Arya terkejut bukan kepalang. Saat itu Dewa Arak baru saja mengelakkan serangan. Malah, tubuhnya masih berada di udara. Akibatnya, dia tidak mempunyai tempat berpijak yang dapat digunakan untuk mengelakkan serangan.

Meskipun demikian, Dewa Arak berusaha keras menyelamatkan selembar nyawanya.

Tubuhnya digeliatkan sebisa-bisanya. Tapi....

Bukkk!

Tangan Dedemit Api masih juga mengenai bahu kiri Dewa Arak. Kontan tubuh pemuda berambut putih keperakan itu terjengkang ke belakang. Asap tampak mengepul dari bagian yang terkena serangan itu. Bahkan pakaian Arya di bagian itu hangus! Memang, hantaman itu mendarat telak di sasarannya.

Namun dalam keadaan seperti itu, Dewa Arak masih mampu membuktikan kalau dirinya adalah tokoh tingkat tinggi. Kedua kakinya masih mampu mendarat di tanah, walau agak terhuyung-huyung. Darah segar yang meleleh di sudut-sudut mulutnya  menjadi pertanda kalau Arya terluka dalam!

Dedemit Api benar-benar tidak mau memberi kesempatan lagi. Begitu kedua kakinya mendarat di tanah, kembali tubuhnya meluruk ke arah Arya. Kali ini, tangan kirinya yang meluncur ke arah dada.

Dewa Arak terkejut bukan main. Serangan Dedemit Api tiba begitu cepat, sehingga sulit untuk bisa dielakkan. Apalagi saat ini Arya dalam keadaan belum mampu memperbaiki keadaannya. Tambahan lagi, Dewa Arak kini tengah terluka dalam! Bahkan Melati dan semua tokoh persilatan aliran putih pun sampai memekik kaget melihat bahaya yang datang mengancam Arya.

Arya bertjndak nekat. Diputuskan untuk menangkis serangan itu, meskipun akan berakibat membahayakan keselamatan nyawanya. Dan sekejap sebelum menangkis serangan itu, mendadak Dewa Arak teringat pada belalang raksasa.

Gila! Tiba-tiba tubuh Arya bergetar hebat. Kemudian bulu-bulu di sekujur tubuhnya berdiri seiring di benaknya tergambar seekor belalang raksasa yang masuk ke dalam tubuhnya. Kejadian itu dibarengi hembusan angin yang cukup dingin.

"Hmrrrhhh !"

Dengan geraman keras yang selama ini tidak pernah keluar dari mulutnya, Dewa Arak menggerakkan tangan untuk memapak serangan itu.

Blanggg ! Luar biasa akibat benturan itu! Tubuh Dedemit Api yang tengah berada di udara teriempar kembali ke belakang. Darah segar kontan keluar dari mulutnya dan membasahi tanah sepanjang tubuhnya melayang. Jelas Dedemit Api telah terluka dalam

Meskipun begitu, Dedemit Api mampu mempertunjukkan kelihaiannya. Sungguhpun agak terhuyung kedua kakinya berhasil didaratkan di tanah.

Tapi, Dewa Arak tidak memberi kesempatan. Dia melesat memburu tubuh Dedemit Api dengan serangan bertubi-tubi. Dari mulutnya mengeluarkan geraman yang menyeramkan.

Dedemit Api tidak berani menangkis serangan Dewa Arak lagi. Karena tahu kalau tenaga dalam lawan, entah secara bagaimana telah menjadi kuat bukan kepalang. Dan  itu bisa diketahuinya dari benturan tadi yang membuatnya terluka dalam. Maka, Dedemit Api memutuskan untuk mengelak.

Hati Dedemit Api tercekat ketika samar-samar tapi jelas, di belakang tubuh Dewa Arak tampak bayangan seekor belalang raksasa.

Dedemit Api memang tokoh yang luar biasa! Meskipun telah terluka dalam, namun serangan-serangan dahsyat itu dapat juga dielakkannya dalam beberapa jurus.

Pada jurus kesebelas, Dewa Arak melancarkan pukulan tak terduga-duga ke arah dada Dedemit Api. Sehingga....

Bukkk!

Telak dan keras sekali serangan Arya menghantam dada Dedemit Api. Tak pelak lagi, tubuh tokoh sesat yang menggiriskan itu pun melayang deras ke belakang. Darah segar berhamburan dari mulut, hidung, dan telinganya.

Brukkk!

Tubuh Dedemit Api jatuh di tanah. Dia menggereng sesaat sambil berkelojotan, lalu diam tidak bergerak lagi. Mati!

Dedemit Salju melesat memburu rekannya sambil mengeluarkan lolong menyayat hati. Diperhatikannya sejenak mayat Dedemit Api, kemudian tubuhnya dibungkukkan. Lalu, diangkatnya mayat Dedemit Api

Sesaat Dedemit Salju menatap wajah Dewa Arak, kemudian melesat meninggalkan tempat itu. Tidak dipedulikannya lagi keberadaan Raja Racun Muka Putin. Dan karena tidak ada orang yang menghalangi, sesaat kemudian tubuhnya telah lenyap.

"Kang Arya...! Mari kita pergi. !" ajak Melati seraya bergerak meninggalkan tempat itu.

Arya yang masih terpaku kaku melihat kematian Dedemit Api menoleh ke arah Melati. Terdengar adanya tekanan dalam ucapan kekasihnya. Maka, dia tidak membantah. Tambahan lagi benaknya masih bingung melihat kematian Dedemit Api.

Dan kini, Arya melesat menyusul tubuh Melati dan meninggalkan para tokoh persilatan yang masih terpaku kaku. Jelas, ada sesuatu yang telah membuat mereka seperti kaget dan tak percaya.

***

"Kang..., apa sebenarnya yang terjadi...?" tanya Melati setelah tubuh mereka berdua telah jauh meninggalkan tempat semula.

Arya menolehkan kepala menatap wajah Melati. Sepasang alisnya tampak berkernyit dalam. Terdengar adanya nada kegentaran dalam suara kekasihnya. Memang, tadi sewaktu mengajaknya pergi pun, wajah Melati tampak pucat. Tapi hal itu tidak dipedulikannya karena dikiranya putri angkat Raja Bojong Gading ini masih tegang.

"Aku tidak mengerti maksudmu, Melati...?"

"Aku..., aku melihat ada keanehan pada dirimu sewaktu kau akan menangkis  serangan Dedemit Api. Kang," kata Melati terputus-putus.

"Keanehan?" ulang Arya heran.

Memang, saat itu Dewa Arak merasa sekujur tubuhnya bergetar hebat. Bahkan ketika menangkis serangan Dedemit Api pun dirasakannya ada aliran tenaga dalam yang amat kuat meluncur ke arah tangannya.

"Apa yang kau lihat, Melati? Aku sebenarnya juga merasa bingung melihat kematian Dedemit Api...'' "Aku..., aku... ahhh...! Aku takut, Kang," sahut Melati ragu-ragu.

"Katakanlah, Melati. Apakah keanehan yang kau lihat itu? Sungguh mati, aku benar- benar tidak mengetahuinya," desak Arya, sedikit merasa heran melihat ketakutan yang membayang di wajah kekasihnya.

Melati menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Hal itu dilakukan beberapa kali. Sedangkan Arya membiarkannya saja. Dia tahu kalau Melati tengah menenangkan hati.

"Aku metihat adanya gambaran samar-samar seekor makhluk yang mengerikan di sekujur tubuhmu, Kang. Aku..., aku tidak bisa memastikan binatang apa itu. Tapi yang jelas, binatang itu bersayap. Dan lagi..., kau..., saat itu... nggg..., begitu liar! Bahkan kau mengeluarkan suara aneh Ah! Aku ngeri, Kang."

Setelah berkata demikian, Melati mendekapkan kedua tangan di wajahnya.

Arya segera merangkul tubuh Melati. Gadis berpakaian putih itu pun menyandarkan kepala di dada kekasihnya yang bidang.

''Tenanglah, Melati. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Mungkin kau salah lihat," jawab

Arya sedikit berbohong. Dia memutuskan untuk tidak menceritakan tentang belalang raksasa itu sebelum semuanya jelas. Meskipun mulut Arya mengatakan demikian, dan tangannya membelai-belai rambut Melati yang berada di pelukannya, benak pemuda ini juga berputar keras. Jadi, tewasnya Dedemit Api karena dia telah berhasil membawa belalang raksasa ke dalam dirinya? Benarkah itu? Arya sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

Matahari naik semakin tinggi. Namun Arya dan Melati sama sekali tidak mempedulikannya, karena tengah terlibat oleh kesibukan masing-masing.

Dan yang tertinggal kini hanyalah pertanyaan pertanyaan, siapa kah pemuda tampan

yang telah menyuruh orang-orang yang menyamar sebagai anggota pasukan khusus Kerajaan Bojong Gading untuk membunuh Melati? Bagaimana tindakan Dedemit Salju karena  rekannya telah tewas di tangan Dewa Arak? Dan bagaimana kelanjutan rahasia ilmu 'Belalang Sakti' Arya? Untuk mengetahui semua jawaban pertanyaan itu, silakan ikuti sambungan petualangan Dewa Arak dalam episode "Perkawinan Berdarah".

SELESAI


*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Dewa Arak 30 Dalam Cengkeraman Biang Ibis"

Post a Comment

close