Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 151-152(Tamat)

Mode Malam
Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 151-152 (Tamat)
Ko Tie dan Giok Hoa pun beristirahat, sampai akhirnya Ko Tie yang paling dulu, melompat berdiri.

“Mari kita meneruskan perjalanan kita!” Kata Ko Tie. “Kalau memang kita lebih lama di sini, niscaya kita akan menghadapi kesulitan, karena Kam Yu maupun Pu San Hoat-ong sewaktu-waktu akan bisa mengejar kita.......!”

Terlihat Bie Lan segan sekali buat meneruskan perjalanan, begitu juga Kim Lo. Tapi mereka berdua telah melompat berdiri juga.

Ko Tie dan Giok Hoa berlari di sebelah depan seperti tadi, sedangkan Yo Bie Lan berlari di belakangnya.

Justeru Kim Lo berlari paling belakang, karena memang ia berlari lambat sekali.

Semangatnya telah lenyap sebagian, karena kepatahan hatinya. Walaupun si gadis tidak mengucapkannya langsung toh Kim Lo telah mengetahuinya, justeru si gadis sudah tidak mencintainya, hanya melihat wajahnya yang buruk itu telah buyar perasaan cinta si gadis padanya. Diam-diam Kim Lo merasa menyesal karena Bie Lan telah sempat melihat wajahnya.

Sambil berlari-lari seperti itu, diam-diam Kim Lo jadi teringat juga pada nona Cin.

Nona Cin pun sudah pernah melihat wajahnya, dan juga memperlakukannya tetap manis tidak ada perobahan. Malah sikap nona Cin baik sekali, karena memperlakukan Kim Lo dengan sangat manis, dan sebagai sahabat yang saling menghormati.

Teringat kepada nona Cin, diam-diam Kim Lo menjadi membandingkannya. Dia membandingkan antara nona Cin dengan Bie Lan, sampai akhirnya dia melihat kenyataan, nona Cin jauh lebih memperhatikan dirinya. Hatinya lebih baik.

“Hemmm, apakah aku lebih dekat pada nona Cin? Tapi aku ingin mencarinya ke mana?” berpikir Kim Lo di dalam hatinya.

Dan berpikir seperti itu, maka semuanya tampak dia telah berobah sikapnya maupun mukanya, yang terasa menjadi panas sekali. Diam-diam dia jadi malu. Walaupun mukanya tertutup oleh kain, tokh tidak urung Kim Lo yang merasakan pipinya berobah panas sekali, dia jadi malu sendirinya.

“Aku telah dididik dan diberi kepandaian yang tinggi. Tentu saja dengan harapan aku akan melakukan tugas yang besar, agar aku dapat untuk berbuat sesuatu demi kebaikan rakyat. Tapi sekarang juteru aku telah memikirkan selalu urusan wanita!”

Setelah berpikir begitu Kim Lo menghela napas diam-diam hatinya benar-benar tergoncang!

“Kalau memang demikian, biarlah sementara waktu ini aku tidak boleh memikirkan urusan wanita.......!” berpikir Kim Lo lagi, dan dia pun menghela napas, buat melapangkan dadanya. Memang beberapa waktu yang lalu dia terlalu dikuasai olen perasaannya, di mana dia selalu memperhatikan Bie Lan.

Akhirnya setelah berpikir pulang pergi diapun jadi teringat kepada urusan Giok-sie, di mana diapun selama ini memang seperti melupakan urusan Giok-sie. Padahal urusan Giok-sie merupakan urusan besar, urusan yang menyangkut urusan negara.

Dalam keadaan seperti itulah dia sudah mulai bisa menguasai diri. Dia akan bertekad untuk meneruskan cita-cita Oey Yok Su, untuk melindungi Giok-sie. Di mana nanti Giok-sie akan diserahkan kepada seorang gagah yang akan memimpin rakyat buat mengadakan pemberontakan melawan penjajah.

Setelah melakukan perjalanan sekian lama akhirnya mereka tiba di kota Yung-sie-kwan.

Mereka bermalam satu malaman di kota itu, besok paginya mereka melanjutkan perjalanan lagi. Tapi belum lagi mereka melakukan perjalanan terlalu jauh, justeru di depan mereka menghadang puluhan orang.

Ko Tie yang berlari paling depan menahan langkah. Dia melihat puluhan orang itu menghadang dengan di tangan memegang busur lengkap dengan anak panah yang siap akan dilepaskan.

Di depan rombongan orang itu tampak seorang gadis dengan muka tertutup kain. Dia berdiri dengan bertolak pinggang.

Kim Lo yang melihat si gadis segera merasa kenal dengan gadis tersebut! Dilihat dari bentuk tubuhnya, tampaknya dia seperti nona Cin.

Waktu itu si gadis yang mukanya ditutup kain telah berkata dengan suara yang nyaring,

“Serahkan Giok-sie!”

Ko Tie mengerutkan alisnya.

“Giok-sie!”

“Ya! Jika memang kalian tidak menyerahkan Giok-sie, berarti kalian akan dikirim ke neraka. Lihatlah oleh kalian……” sambil berkata begitu si gadis menunjuk sekelilingnya.

Ko Tie dengan yang lainnya memandang sekelilingnya, maka dilihatnya betapa di sekitar tempat itu sudah dikepung seratus orang lebih.

Sama seperti rombongan orang di depan mereka, semuanya mencekal busur yang siap melepaskan anak panah.

Ko Tie mengeluh

“Siapa kau nona?”

“Tidak perlu kau tahu!” Jawab si gadis dengan suara yang dingin.

Kim Lo maju selangkah ke depan.

“Nona Cin....... mengapa harus menempuh cara begini?”

“Hemmm, kau mengenali aku?” Tanya si gadis yang kemudian tertawa dingin. “Cepat-cepat kau serahkan Giok-sie kepada kami dan kalian boleh angkat kaki dengan selamat.”

Kim Lo menghela napas.

“Urusan Giok-sie adalah urusan besar, nona Cin, kuharap kau mau mengerti!”

Nona Cin tertawa tawar

“Tanpa diberitahukan akupun mengetahui bahwa Giok-sie menyangkut urusan besar.”

Setelah berkata begitu, dia mengangkat tangannya, anak buahnya di sekeliling tempat itu telah mengangkat busur mereka, siap dipergunakan melepas anak panah.

Kim Lo menghela napas mengawasi saja Ko Tie dan yang lainnya juga berdiam.

“Kalian mau menyerahkan Giok-sie atau tidak?” Bentak si gadis. “Aku akan menghitung sampai empat!”

Tapi Ko Tie dan yang lainnya berdiam diri saja.

“Satu! Dua! Tiga…….!”

“Tunggu dulu, aku bicara!” Kata Ko Tie kemudian karena dia menyadari, kalau memang urusan itu melepaskan anak panah mereka niscaya akan melukai mereka juga, di mana hujan anak panah yang lebat dan rapat sekali, niscaya tidak memungkinkan mereka buat menghindarkan dan menyelamatkan jiwa mereka dengan mudah.

“Apa yang hendak kau katakan?”

“Kami akan menyerahkan Giok-sie kepadamu! Tapi sebelumnya kau harus menjelaskan dulu, kalian ini dari aliran mana dan golongan mana! Nanti kami akan mempertimbangkannya, apakah Giok-sie akan diserahkan…..

“Ingatlah oleh kalian, walaupun jumlah kalian banyak sekali, belum tentu kalian bisa sekaligus membunuh kami berempat. Mungkin salah seorang di antara kami akan lolos dari kepungan kalian, lolos dari kematian dan bisa membawa lari Giok-sie!”

Si gadis mendengus dan berkata tawar. “Jadi kau ingin mengetahui aku dari mana?”

“Ya…….”

“Kami adalah orang-orang Cu Goan Ciang!”

“Apa?”

“Ya....... Cu Goanswee perintahkan kami buat mengambil Giok-sie....... yang akan dipergunakan buat mempersatukan rakyat!”

“Kalau memang demikian.........!” berkata sampai di situ Ko Tie ragu-ragu.

“Ya memang kami orang-orang Cu Goan Ciang!” menyahuti orang-orang lainnya. “Karena itu kau menyerahkan Giok-sie pada kami berarti untuk kebaikan rakyat kita juga.”

“Hemmm, tapi aku tak bisa mempercayai begitu saja bahwa kalian adalah orang Cu Goan Ciang!”

“Aku ada buktinya!” Kata si gadis yang memang tak lain dari nona Cin.

“Apa buktinya?”

“Ini…….!” sambil berkata begitu nona Cin mengeluarkan sesuatu dari sakunya,

Itulah segulung surat yang dilemparkan pada Ko Tie. Segera Ko Tie menyambuti gulungan kertas itu. Ia membuka dan membacanya.

Di dalam surat itu memang berbunyi perintah Cu Goan Ciang pada beberapa orang kepercayaannya buat mencari Giok-sie. Karena menurut Cu Goan Ciang tentu rakyat bisa dipersatukan lebih mudah, dimana kekuatan rakyat akan dihimpun buat mengusir penjajah.

Ko Tie lama membaca surat itu. Dia bimbang, sampai akhirnya dia menggulung lagi surat itu.

“Bagaimana?” tanya si gadis dengan sikap yang tawar, matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sekali.

Ko Tie menghela napas.

“Sulit sekali kuputuskan!”

“Kenapa?” mata si gadis memancarkan sinar mengancam.

“Surat mudah dibuat dipalsukan oleh siapa pun!”

“Jadi kau tak yakin bahwa surat itu adalah surat Cu Goan Ciang?”

“Ya!”

“Kalau begitu kalian boleh ikut dengan kami, buat menemui Cu Goan Ciang!”

Ko Tie bimbang, tapi ia berpikir memang ini ada baiknya juga.

“Baiklah, sekarang Cu Goanswe berada di mana?”

“Di An-see, jika memang kau bertemu dengannya, terus kau akan mempercayai betapa perjuangan kami untuk membangun negara mengusir penjajah.”

“Ya jika memang kami bisa bertemu langsung dengan Cu Goan Ciang, Giok-sie akan kami berikan kepadanya, jika memang ingin dipergunakan buat kebaikan negara dan rakyat kita!” Kata Ko Tie.

Gadis itu tampak girang, dia bilang: “Mari……. mari kalian ikut kami!”

Begitulah Ko Tie, Giok Hoa, Bie Lan dan Kim Lo ikut dengan rombongan nona Cin.

Rombongan si gadis berjumlah sepuluh orang. Sisa anak buahnya begitu si gadis mengangkat tangannya, telah menghilang, pergi berpencar.

“Tapi ingat, kalian jangan sekali-kali berpikir yang tidak-tidak, karena begitu kalian melakukan sesuatu yang merugikan kami, anak buah dan teman-temanku itu akan muncul buat membinasakan kalian!” Menperingati si gadis.

Ko Tie cuma tersenyum tawar.

Demikianlah mereka melakukan perjalanan ke An-see.

<> 

Dalam waktu sebulan, mereka telah tiba di daerah lingkungan An-see.

Sepanjang perjalanan, Ko Tie berempat memang sempat menyaksikan betapapun juga Cu Goan Ciang telah mengerahkan pasukan rakyat karena di mana-mana yang tampak kesibukan seperti itu memang memperlihatkan bahwa rakyat tengah bersiap-siap untuk berjuang melawan penjajah.

Selama dalam perjalanan, Bie Lan tampak kurang manis terhadap nona Cin. Karena memang sejak pertemuan pertama dulu, dia kurang menyukai si gadis she Cin itu.

Rupanya nona Cin adalah puteri dari panglima perang Cu Goan Ciang, yang bernama Cin She Yung, seorang panglima perang yang paling diandalkan. Dan karena kepandaian silat nona Cin sangat tinggi, dia telah memperoleh tugas, dan ikut mencari Giok-sie.

Selama dalam perjalanan nona Cin yang nama lengkapnya Hu Niang. Telah menceritakan betapa nelayan yang beruntung menemukan Giok-sie sudah terbunuh.

Sebelumnya Kam Yu telah menitipkan nelayan itu di rumah seorang penduduk sampai akhirnya setelah terjadi kerusuhan di Kuburan Neraka, maka Kam Yu membunuh nelayan ini.

Begitu juga nona Cin menceritakan tentang diri Su Nio Nio, si nenek tua yang bertubuh bungkuk. Nenek tua itu kebetulan sekali mengetahui tempat penyimpanan Giok-sie dari mulut pembantu Kam Yu, yang dapat ditangkapnya.

Kemudian dia mengambil Giok-sie. Hanya saja cepat sekali Kam Yu dengan anak buahnya mengetahui, maka telah melakukan pengejaran. Akhirnya Su Nio Nio tidak bisa mengelak terjadi pertempuran hebat.

Karena dikeroyok beramai-ramai disamping kepandaian Kam Yu memang sangat tinggi dan sangat liehay. Tidak urung akhirnya ia bisa dirubuhkan dengan luka-luka yang berat.

Cuma saja, karena memang Su Nio Nio sangat tangguh, maka dia masih bisa meloloskan diri, dengan dikejar Kam Yu, sampai akhirnya Giok-sie jatuh ke tangan Ko Tie.

Di waktu itu sebetulnya nona Cin sudah ingin bertindak. Namun dia pikir kurang bijaksana jika dia dengan teman-temannya harus bentrok dengan orang-orangnya Pu San Hoat-ong. Ia ingin menunggu sampai kesempatan baik datang.

Di hati nona Cin sudah beratur rencana yang sebaik-baiknya. Dan barulah dia bertindak setelah melihat Ko Tie dengan ke tiga kawannya berada jauh dari daerah kekuasaan Pu San Hoat-ong.

“Anak buah Pu San Hoat-ong meliputi ribuan orang yang tersebar di segala penjuru. Jika diwaktu itu kami bergerak, niscaya hanya membangunkan macan dari tidurnya, dimana tentu saja Pu San Hoat-ong akan mengetahui Giok-sie sudah tidak berada di tangan Kam Yu niscaya dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya buat mengejar aku dan teman-temanku.”

Mendengar cerita si gadis, Kim Lo merasakan betapa cerdik dan liciknya gadis Cin ini. Diapun telah melihat bahwa nona Cin memang memiliki perhitungan yang sangat masak sekali buat bertindak melakukan sesuatu pekerjaan.

Dalam kesempatan itu juga nona Cin sudah menceritakan bahwa Hui-houw-to telah terbunuh di tangan orang-orang Kang-ouw yang masih hendak memperebutkan surat ketua Khong-tong-pay. Dan Hui-houw-to mati di bawah keroyokan para pendekar Kang-ouw itu.

“Kasihan dia sebetulnya hanya kemaruk uang dan upah yang tinggi. Dia melakukan tugas yang berat itu, sampai akhirnya dia membuang jiwa…...!” Kata si gadis.

Dan banyak lagi yang diceritakan si gadis, tentang telah turun gunungnya ketua Khong-tong-pay. Di mana ketua Khong-tong-pay itu berusaha menemukan Kam Yu. untuk meminta Giok-sie dari tangan Kam Yu.

Dari semua ceritanya itu si gadis she Cin memperlihatkan bahwa ia telah menyebar luaskan teman-teman dan anak buahnya, buat melakukan penyelidikan. Karena semua persoalan apa pun ia mengetahui dengan jelas.

Kim Lo diam-diam menghela napas.

“Dia tampaknya mencurahkan seluruh perhatian buat perjuangan membangun negeri dan mengusir penjajah. Justeru aku mengapa malah telah memikirkan selalu urusan wanita?”

Karena berpikir begitu, Kim Lo jadi merasa malu bukan main.

Mereka melakukan perjalanan terus dan dalam dua hari lagi tentu mereka sudah sampai di tempat yang dijadikan pusat kekuasaan pasukan Cu Goan Ciang.

Dalam dua hari itu, mereka selalu bertemu dengan pasukan Cu Goan Ciang, karena daerah sekitar An-see sudah dikuasai oleh pasukan Cu Goan Ciang. Karena dari itu, mereka seakan juga terlindung rapat sekali.

Selama dua hari itu mereka tidak perlu terlalu berhati-hati seperti sebelumnya. Sebab di sekeliling mereka adalah orang-orang Cu Goan Ciang yang bekerja diam-diam buat mengawal dan melindungi mereka selama dalam perjalanan atas perintah nona Cin juga.

Di waktu itu juga Kim Lo melihat betapa berkuasanya nona Cin. Banyak persoalan yang telah diselesaikannya dalam perjalanan.

Ia juga memberikan perintah kepada anak buah pasukan Cu Goan Ciang buat melakukan segala sesuatunya. Pandai dan cekatan sekali si gadis bekerja.

Sampai akhirnya disaat-saat itulah, tampak si gadis menawarkan mereka buat beristirahat di sebuah Rumah Penginapan yang berada di tempat di mana mereka telah tiba, yaitu sebuah kota yang sangat ramai dan besar, ialah kota Mung-su-kwan.

Kota itu sudah berada dalam kekuasaan dan pengawasan pasukan orang Cu Goan Ciang.

Tapi justeru di kota inilah terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Karena pada malam itu, Ko Tie dengan Giok Hoa yang tengah berada di kamar, jadi terkejut, mendengar suara ringan sekali di atas genting kamar mereka.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan mempunyai pendengaran yang sangat tajam, seketika Ko Tie menyadari bahwa ada tamu tidak diundang.

Ringan sekali Ko Tie melompat keluar dari jendela, diikuti oleh Giok Hoa.

Diwaktu itu keadaan di luar sangat gelap sekali. Dan juga tampak di atas genting berdiri dua orang. Yang seorang berpakaian sebagai Tojin, usianya telah lanjut sekali.

“Serahkan Giok-sie pada kami!” Bentak tojin tua itu.

Temannya yang berdiri di belakangnya, seorang laki-laki berusia pertengahan pun telah membentak: “Jika tidak, kalian akan mampus!”

Ko Tie tertawa tawar.

“Siapakah kalian?”

“Inilah Ciangbunjin Khong-tong-pay.”

“Sudah tidak perlu menyebut-nyebut gelaranku!” kata ketua Khong-tong-pay itu kepada kawannya.

Diapun segera menoleh kepada Ko Tie, “Hayo serahkan Giok-sie, jangan rewel lagi!”

Ko Tie memang pernah mendengar betapa Ciangbunjin Khog-tong-pay liehay sekali tapi dia tidak jeri.

“Giok-sie? Mengapa Cinjin meminta Giok-sie pada kami? Kami tidak memiliki Giok-sie yang Cinjin harapkan itu……. mungkin Cinjin salah alamat?”

Tojin itu tidak banyak bicara, karena ia hendak bekerja cepat, tahu-tahu tubuh seperti asap saja telah berada di samping Ko Tie. Tangannya juga bergerak hendak menawan Ko Tie dengan mengincar jalan darah di tubuh Ko Tie.

Tapi Ko Tie mana bisa diserang seperti itu. Tubuhnya gesit sekali telah mengelak. Dia sangat lincah dan dapat berkelit dengan cepat. Dia kemudian dan telah berusaha untuk menghantam ketiak Tojin itu.

Tapi Tojin itu gesit sekali. Dia bergerak sangat lincah luar biasa.

“Buukk!” Punggung Ko Tie kena dihantam telak sekali.

Keseimbangan tubuh Ko Tie jadi lenyap. Dia terhuyung hampir saja dia jatuh dari atas genting.

Giok Hoa kaget tidak terkira, suaminya sangat lihay, tapi dalam segebrakan itu telah kena dihantam si Tojin, benar-benar sangat tangguh sekali kepandaian Tojin itu.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Giok Hoa telah melesat dengan pedang di tangannya.

Tapi Tojin tua itu menjepit pedang Giok Hoa dengan jari telunjuknya. Malah dia memutar sedikit. Pedang Giok Hoa patah! Muka Giok Hoa berobah hebat.

Baru kali ini dia mengalami kejadian seperti ini, dimana dia telah dilawan dengan begitu mudah, pedangnya juga telah kena dipatahkan. Maka dari itu, dia mengeluarkan jeritan nyaring. Tangan kirinya meneruskan buat menghantam.

Tojin itu benar-benar liehay, dia berkelit.

Kim Lo dan Yo Bie Lan yang mendengar suara ribut di atas genting pun sudah melompat keluar. Mereka kaget, karena waktu mereka melompat naik ke atas genting, justeru di saat pedang Giok Hoa tengah dipatahkan.

Tanpa mengeluarkan suara lagi, Kim Lo menerjang kepada Tojin itu, dia telah menyerang dengan serulingnya.

Tapi Tojin itu benar-benar tangguh, maka dia tidak bisa menyerang tepat pada sasarannya.

Tojin itu berhasil mengelakan dan malah dia balas menyerang Kim Lo.

Kim Lo berhasil berkelit, tidak urung dia kaget karena dia merasakan sambaran angin pukulan yang kuat sekali waktu kepalan tangan itu melewati ke sisi tubuhnya.

Nona Cin pun sudah keluar, ketika melihat Tojin itu, segera dia mengeluarkan siulan yang nyaring sekali.

Keluar bermunculan ratusan orang anak buahnya. Dan semuanya mengepung.

Muka si Tojin berobah. Tampaknya dia jadi tidak tenang.

Temannya juga melompat buat melarikan diri karena menyadari bahwa mereka berdua tidak mungkin bisa menghadapi hujan anak panah.

Waktu itu nona Cin sudah memberikan perintahnya buat melepaskan anak panah, maka ratusan orang itu melepaskan anak panah ke arah Tojin itu dan temannya.

Tojin itu memang benar-benar tangguh sekali, karena dia bisa menghindar ke sana ke mari dan mengibaskan lengan bajunya.

Tapi temannya terkena salah satu batang anak panah tubuhnya terjungkal rubuh sambil mengeluarkan jeritan.

Segera hujan anak panah lagi!

Puluhan batang anak panah menancap di tubuh kawan si Tojin. Dia segera terbinasa.

Tojin itu jadi kalap, dia menerjang kepada barisan pemanah itu.

Tapi dia disambut oleh ratusan batang anak panah. Memang pertama-tama dia bisa mengelakannya, tokh tidak urung akhirnya diapun terkena dua batang anak panah. Satu di pundaknya sedangkan sebatang lagi di pahanya.

Dia menahan sakit dan melesat untuk melarikan diri. Percuma saja di tempat itu sudah terkepung.

Waktu tubuh si Tojin, melesat ke tengah udara, justeru hujan anak panah lagi.

Dan puluhan batang anak panah telah menancap di tubuh Tojin tersebut.

Di waktu itu, dia ambruk di tanah dengan tidak bergeming lagi, jiwanya melayang.

Merinding bulu kuduk Kim Lo dan yang lainnya. Rupanya pelepas panah dari pasukan Cu Goan Ciang terlatih baik sekali. Mereka ingat, waktu dulu kalau mereka mengadakan perlawanan tentu merekapun akan mengalami nasib seperti ketua Khong-tong-pay tersebut.

Nona Cin sudah perintahkan anak buahnya untuk membereskan mayat-mayat itu, ketua Khong-tong-pay dengan temannya. Kemudian dia menghampiri Kim Lo berempat. Dia memberi hormat.

“Maaf hanya membuat kalian terkejut!” Kata si gadis sambil tersenyum, “Justeru memang kami mengetahui ketua Khong-tong-pay itu sudah memasuki wilayah kami, memang hendak memancing datang kemari. Dan dia masuk ke dalam perangkap kami.

“Memang disini telah dipersiapkan barisan pemanah yang ribuan orang. Nah, kalian lihat. Terbagi dalam lima lapis! Walau ketua Khong-tong-pay memiliki sayap, niscaya dia tidak bisa meloloskan diri!”

Ko Tie dan yang lainnya memandang sekelilingnya. Api waktu itu menyala, api obor. Di sekitar rumah penginapan itu. Ramai dan banyak sekali.

Dilihatnya dari nyalanya api obor itu, diketahui formasi dari pasukan pemanah itu memang dibagi dalam empat baris, empat lapis dan juga di luar sekali dari lapisan keempat masih terdapat barisan pemanah lainnya. Semuanya siap dengan panah di busur.

Benar apa yang dikatakan si nona Cin, walaupun ketua Khong-tong-pay itu memiliki sayap, jangan harap bisa keluar dari pengepungan tersebut. Umpama seekor burung, tidak mungkin bisa terbang dari jaring yang dipasang si nona Cin.

Si nona Cin telah mempersilahkan Ko Tie dan yang lainnya untuk beristirahat.

Diwaktu terjadi pertemuan antara rombongan Ko Tie dengan Cu Goan Ciang, baik Ko Tie, Giok Hoa, Kim Lo maupun Bie Lan harus mengakuinya, bahwa Cu Goan Ciang orang yang berwibawa dan agung sekali. Memang dia memancarkan keagungan seorang besar.

Betapa gembiranya Cu Goan Ciang dengan pertemuan tersebut. Ia sendiri yang meminta kepada Kim Lo, Ko Tie, Bie Lan dan Giok Hoa untuk membantu perjuangannya.

Tentu saja Ko Tie dan yang lainnya tidak menampik, mereka malah menyatakan akan berusaha berjuang sampai titik darah terakhir dengan mengusir penjajah.

Sedangkan Giok-sie telah diserahkan kepada Cu Goan Ciang. Karena dengan Giok-sie berarti penjajah nanti dapat diusir, karena rakyat akan dapat dihimpun lebih mudah terutama sekali para pendekar gagah.

Ko Tie juga telah mengirim surat kepada para pendekar lainnya, yang cinta pada negara. Anak buah Cu Goan Ciang yang telah menyebar diri buat melepaskan undangan yang ditulis Ko Tie, agar mereka bergabung dan membantu perjuangan Cu Goan Ciang.

Dengan demikian, maka kedudukan Cu Goan Ciang semakin kuat saja, dimana dia bisa melebarkan sayap dengan pertempuran yang selalu dapat dimenangkannya.

Sedangkan di kota raja, Kaisar dengan pembesarnya panik sekali. Mereka menghimpun kekuatan buat menumpas Cu Goan Ciang.

Namun perjuangan Cu Goan Ciang yang didukung rakyat tidak bisa dibendung. Terlebih lagi memang yang memihak padanya adalah para pendekar gagah perkasa. Dengan demikian sudah membuat Cu Goan Ciang bisa melebarkan sayapnya, sampai setengah dari daratan Tiong-goan sebelah utara telah dapat dikuasainya.

Di waktu itu Kim Lo juga berjuang dengan penuh perhatian, sementara itu ia bisa melupakan cintanya sejenak.

Nona Cin memang menaruh perhatian padanya. Kim Lo merasakan betapa si gadis she Cin mencintainya.

Namun, apa mau dibilang justeru dalam suatu penyerbuan, pertempuran yang terjadi antara tentara perang Cu Goan Ciang dengan pasukan Kaisar, telah menyebabkan nona Cin terluka berat dan akhirnya menghembuskan napasnya yang terakhir.

Kim Lo bersedih satu harian, dan akhirnya dia semakin bertekad hendak mengusir penjajah.

Cu Goan Ciang yang mengetahui kesulitan Kim Lo dengan wajahnya, telah mengumpulkan tabib-tabib sakti, yang bekerja di bawah kekuasaannya. Memang banyak tabib sakti yang bekerja pada Cu Goan Ciang, mereka mengabdi untuk mengusir penjajah.

Dan kepada tabib itulah Cu Goan Ciang perintahkan agar berusaha merobah muka Kim Lo, agar tidak buruk seperti itu.

Usaha dari tabib-tabib itu tidak gampang buat memperbaiki bentuk muka Kim Lo. Mereka telah melakukan operasi pada muka Kim Lo sampai ke bagian-bagian, sekecilnya. Sekarang memang terkenal dengan cara operasi pelastik.

Dan memang akhirnya, berhasil pembedahan tersebut. Muka Kim Lo telah dapat diperbaiki, sehingga mukanya itu tidak seperti muka seekor kera. Dia merupakan seorang pemuda yang cukup cakap, walaupun tidak terlalu tampan.

Yo Bie Lan juga merasa kagum atas kepandaian, tabib-tabib itu. Dia heran muka Kim Lo yang semula seperti kera ternyata telah dapat dirobahnya menjadi muka yang lumayan cakapnya

Hubungan Kim Lo dengan Bie Lan jadi baik kembali. Dan memang Bie Lan kagum padanya.

Hanya disebabkan wajah Kim Lo yang buruk seperti muka kera yang telah membuat Bie Lan merasa kecewa dan merasa sakit menindih perasaan cintanya. Tapi setelah muka Kim Lo dibedah oleh para tabib itu, sehingga mengalami perobahan, dan membaik, cintanya tumbuh kembali.

Sambil berjuang, Kim Lo dengan Bie Lan telah memupuk hubungan mesra mereka. Dan akhirnya mereka pun memutuskan jika saja perjuangan Cu Goan Ciang berhasil mengusir penjajah, mereka akan menikah.

Begitulah para pendekar gagah di daratan Tiong-goan pada waktu itu semuanya telah berjuang dengan melawan penjajah di bawah pimpinan Cu Goan Ciang. Kekuatan Cu Goan Ciang pun menggetarkan Kaisar di kota raja dengan para menteri dan pembantunya.

Karena Cu Goan Ciang dengan pasukannya seperti juga air bah yang sulit dibendung. Sudah diusahakan, oleh pemerintah agar Cu Goan Ciang dengan pasukannya ditumpas namun usaha itu malah membuat pasukan Cu Goan Ciang semakin kuat karena rakyat telah bekerja untuk perjuangan Cu Goan Ciang.

Demikianlah perjuangan Cu Goan Ciang dengan dibantu oleh pasukan Beng-kauw, akhirnya berhasil juga mengusir penjajah, dia naik takhta menjadi Kaisar dengan gelar kebesarannya Beng Tay-cauw.

Setelah tentara Cu Goan Ciang memperoleh kemenangan dan penjajah sudah dapat diusir, Kim Lo pun menikah dengan Bie Lan.

Pernikahan mereka dirayakan dengan meriah sekali karena diselenggarakannya bertepatan dengan hari naik takhtanya Kaisar Beng Tay-cauw tersebut. Dimana Cu Goan Ciang telah merayakan pesta perkawinan Kim Lo - Bie Lan meriah sekali. Pesta yang dihadiri para pendekar dan pejuang yang tengah bergembira juga karena kemenangan mereka mengusir penjajah!

Sampai di sinilah kisah ini selesai. Tapi perjuangan Kim Lo belum selesai. Bersama isterinya, Yo Bie Lan, mereka berdua merantau dan melakukan berbagai kebajikan. Mereka selalu membela yang lemah dan menumpas yang lalim.

Dan karena hebatnya seruling Kim Lo, gelarannya sebagai Pendekar Aneh Seruling Sakti semakin terkenal juga. Dan yang ada perobahan sekarang Kim Lo sudah tidak pernah menutupi lagi mukanya dengan kain, karena mukanya tidak seperti kera lagi.

T A M A T

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 151-152(Tamat)"

Post a Comment

close