Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 61-70

Mode Malam
Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 61-70
“Jangan bicara ngaco dan sembarangan!” bentak si pendeta dengan suara yang bengis dan galak. “Kau kira siapa lolap ini sehingga kau bisa bicara sembarangan seperti itu?”

“Hemmm, tentu saja kau seorang pendeta pengecut yang tak tahu malu, yang tak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu!” menyahuti Kim Lo.

“Kurang ajar! Un Ma Siansu disegani oleh semua orang, tapi kau, kau terlalu temberang dan takabur! Orang-orang Kay-pang saja yang berani bicara kurang ajar telah kubinasakan. Kukira sekarang Kay-pang tak akan berani untuk berlaku lancang lagi pada Un Ma Siansu! Hahaha! Hahaha!”

Waktu tertawa begitu, suara Un Ma Siansu terdengar bengis sekali.

“Apa?” Tanya Kim Lo terkejut bercampur girang. “Jadi, orang-orang Kay-pang yang belum lama lalu terbunuh itu, telah dilakukan oleh kau?”

Un Ma Siansu mendengus.

“Hemm, sekarang kau baru tahu bukan? Dan tentunya kau jeri dan ingin meminta ampun padaku?” kata si pendeta.

Tapi waktu itu Kim Lo jadi girang bukan main, karena justru ia pernah berjanji kepada orang Kay-pang, bahwa ia akan berusaha membantu mereka mencari pembunuh orang-orang Kay-pang. Siapa tahu tanpa disengaja telah berhasil menemuinya di sini. Maka ia jadi bertepuk tangan saking girangnya.

“Bagus! Jika demikian kau harus menyerahkan dirimu padaku!” Kata Kim Lo dengan suara yang tegas. “Kau harus diserahkan kepada tetua-tetua Kay-pang!”

“Apa?” Kini sebaliknya pendeta itu yang jadi kaget. “Apa kau bilang?”

“Aku pernah berjanji kepada orang-orang Kay-pang, bahwa aku akan berusaha untuk merangkap pembunuh beberapa orang-orang Kay-pang. Ternyata aku telah bertemu dengan si pembunuh itu.”

Muka Un Ma Siansu berobah.

“Siapa kau sebenarnya? Mengapa begitu pengecut, sampai mukamu sekalipun tidak berani kau perlihatkan!” Kata Un Ma Siansu dengan muka yang merah padam.

Kim Lo tertawa dingin.

“Hemmm…… kau tidak perlu banyak bertanya, nanti jika telah kuserahkan kepada tetua-tetua Kay-pang, di waktu itu, kau bisa bicara dan bertanya kepada mereka……” Sambil berkata begitu, Kim Lo telah melangkah mendekati dan mengayunkan tangan kanannya untuk menjambret lengan si pendeta.

Tapi Un Ma Siansu bukan pendeta yang berkepandaian lemah, ia cepat mengelak. Waktu itu iapun tengah gusar, karena setelah berkelit cepat sekali membalas menyerang.

“Kau akan kubikin tahu rasa dan agar mengetahui Un Ma Siansu bukanlah orang yang mudah untuk diremehkan!” Bentaknya dangan suara bengis.

Serangan balasan dari Un Ma Siansu ternyata cukup kuat, karena rupanya ia memiliki lweekang yang tinggi.

“Mengapa kau membunuh orang-orang Kay-pang itu?” Tanya Kim Lo sambil mengelakkan pukulan tersebut.

“Hemm mereka berani kurang ajar terhadapku. Mereka berusaha untuk mencampuri urusanku, dimana mereka berusaha untuk mencegah keinginanku mengambil beberapa orang gadis menjadi gundikku. Karena mereka tidak kenal selatan, sudah selayaknya jika mereka dikirim ke kerajaan langit!”

Setelah berkata begitu, gencar sekali Un Ma Siansu menyerang Kim Lo. Yang dimaksudkannya dengan kata-kata kerajaan langit, ia mau mengartikan sebagai akherat.

Kim Lo mudah mengelakan. Walaupun kepandaian Un Ma Siansu tidak lemah, tapi kepandaian pendeta itu tidak berarti banyak buat Kim Lo yang kepandaiannya sudah mahir sekali.

Tiga kali ia mengelak tahu-tahu tubuhnya melesat ke samping kanan. Ia menghantam dengan tangan kiri. Un Ma Siansu mengelak, tapi baru saja si pendeta berkelit belum lagi ia bisa berdiri tetap di saat itu justeru tampak Kim Lo menyentil dengan jari telunjuknya.

Un Ma Siansu kaget, sentilan jari telunjuk tersebut sangat hebat sekali. Itulah sentilan jari tunggal It-yang-cie.

Karena tidak mengherankan Un Ma Siansu seketika merasakan tubuhnya seperti digempur suatu tenaga yang tajam sekali dan tubuhnya menggigil, karena tenaga dalamnya seperti menjali buyar oleh sentilan tersebut. Ia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Kim Lo tidak bekerja sampai disitu saja, cepat sekali ia menotok lagi beberapa jalan darah si pendeta. Kemudian ia melompat dengan gesit, tenaganya menenteng tubuh si pendeta. Iapun pergi ke jalan raya sambil menawan Un Ma Siansu.

Siu Lo pendeta muda yang menjadi murid Un Ma Siansu sejak tadi menanti di luar rumah penginapan. Melihat gurunya ditawan Kim Lo, ia pun kaget tidak terkira.

Sebelumnya ia telah berharap agar Kim Lo dapat dirubuhkan gurunya yang dikenalnya sangat lihay. Tapi siapa tahu, kini melihat Kim Lo telah muncul dengan menenteng gurunya!

Lemaslah Siu Lo, ia segera menyingkir ke pinggir. Tidak mau ia terlihat oleh Kim Lo karena iapun kuatir kalau menemui kesulitan.

Kim Lo cepat sekali pergi ke jalan raya. Ia melihat seorang pengemis, segera ia menghampiri.

“Lopeh!” Katanya kemudian pada pengemis tua itu. “Aku ingin bertemu dengan tetua Lopeh!”

Pengemis itu tengah berdiri di tepi jalan dengan tangan terulurkan. Ia tengah melakukan pekerjaan mengemisnya.

Dan ketika mendengar sapaan Kim Lo, ia menoleh dengan mata terbuka lebar. Sebab ia melihat orang yang menegurnya itu menenteng seorang pendeta yang tidak berdaya, dan iapun telah dapat segera mengenali siapakah orang yang mengenakan pakaian serba putih tersebut yang mukanya tertutup.

Melihat pengemis itu ragu-ragu, segera juga Kim Lo bilang: “Apakah lopeh tahu peristiwa dibunuhnya beberapa orang Kay-pang beberapa waktu yang lalu?”

Muka pengemis tersebut berobah lagi, ia memandang tambah cukup curiga pada Kim Lo.

“Inilah pembunuhnya yang akan kuserahkan kepada tetua lopeh,” menjelaskan Kim Lo lebih jauh.

Pengemis itu memandang pada si pendeta, yang tidak berdaya berada di tangan Kim Lo.

“Mari ikut aku……!” Kata si pengemis kemudian.

Kim Lo mengiyakan dengan menenteng pendeta itu, Kim Lo mengikuti si pengemis.

Mereka dibawa terus ke sebuah kuil rusak, namun bagian dalam kuil itu telah dirombak dengan beberapa perabotannya rapi yang bentuknya seperti di ruang di dalam rumah.

Dan keadaan disitu sangat bersih. Walaupun tempat ini merupakan pusat dan markas Kay-pang di daerah tersebut, namun sepi saja dan tidak terlihat terlalu banyak pengemis.

Kim Lo mengikuti pengemis itu sambil menenteng Un Ma Siansu memasuki kuil tersebut.

“Silahkan tunggu di sini, tuan!” Kata pengemis itu.

Kemudian ia meninggalkan Kim Lo dan masuk ke dalam. Tidak lama kemudian ia keluar lagi diiringi oleh beberapa orang pengemis dan mereka tidak lain dari Tiang Su, Yu An dan Yang Tiam. Mereka girang melihat Kim Lo.

“Maaf! Kami tidak diberitahukan lebih dulu sehingga kami tidak mengadakan persiapan untuk menyambut tuan!” kata Yang Tiam sambil memberi hormat.

Kim Lo mengelak pemberian hormat itu, ia kemudian bilang: “Locianpwe, inilah pembunuh yang mencelakai murid-murid Kay-pang beberapa waktu yang lalu.”

Yang Tiam memandang Un Ma Siansu tampaknya ia bimbang.

“Apakah….... apakah benar dia yang yang telah bertelengas tangan pada orang-orang kami!” menggumam pengemis tua itu.

Kim Lo tertawa.

“Tadi ia yang mengakui sendiri bahwa ia yang telah membinasakan murid-murid Kay-pang, karena mereka hendak mencegah perbuatannya menculik beberapa orang gadis yang akan dijadikan gundiknya! Karena itu ia membunuh orang-orang Kay-pang. Nah, silahkan Locianpwe mendengar sendiri pengakuannya!”

Setelah berkata begitu, Kim Lo melepaskan cekalannya pada Un Ma Siansu.

Begitu bebas dari cekalan Kim Lo, Un Ma Siansu berteriak murka: “Manusia kurang ajar, kau jangan memfitnah tak karuan!”

Sambil membentak begitu, ia juga bergerak menyerang.

Kim Lo tertawa dingin, ia berkelit. Malah kemudian tahu-tahu menyentil dengan telunjuknya, seketika tubuh Un Ma Siansu terjengkang ke belakang.

Menghadapi pendeta yang jahat ini Kim Lo tidak sungkan lagi. Ia turunkan tangan keras. Karena dari sekali sentil saja ia sudah membuat pendeta itu terjungkal rubuh.

Dalam keadaan seperti itu Un Ma Siansu masih penasaran dan murka, kalap sekali ia berusaha melompat bangun. Namun begitu ia melompat berdiri, seketika ia meringis, tangannya memegang dadanya.

“Jalan darah Hiang-mo-hiatmu telah ditotok, sehingga kalau kau mempergunakan tenagamu berkelebihan, niscaya disaat itu juga kau akan menemui ajalmu!” Kata Kim Lo dengan suara yang dingin.

Pendeta itu meringis, ia mengempos hawa murninya. Hatinya terkesiap, kaget tidak terkata. Karena begitu ia menyalurkan lweekangnya, justeru ia merasa nyeri sekali pada dadanya yang seperti tertusuk hebat.

Ia pun tahu apa artinya jika jalan darah Hiang-mo-hiat seseorang tertotok, yang akan membawa kematian buat korban tersebut kalau saja mempergunakan tenaganya lebih besar.

“Jika kau tidak mau mengakui perbuatanmu, maka aku akan menyiksa hebat kepadamu! Totokan itu tidak mungkin dibuka orang lain.

“Itulah ilmu menotok jari tunggal sakti It-yang-cie, dan selain aku, tidak akan ada orang yang sanggup membuka kembali jalan darah tersebut! Kalau sampai tiga hari totokan itu tidak dibuka, walaupun kau memperoleh obat dewa, jangan harap kau bisa sembuh. Jelas kau akan menjadi manusia bercacad yang tidak punya guna lagi.”

Muka Un Ma Siansu berobah pucat pias. Ia mengigil sangat murka, tapi iapun ketakutan.

“Baiklah! Sekarang kau buka totokanmu. Aku akan mengakui apa yang telah kulakukan!” kata Un Ma Siansu dengan lesu.

“Akui dulu apa yang telah pernah kau katakan padaku beberapa waktu yang lalu,” kata Kim Lo, “Jika kau telah memberikan pengakuanmu, totokan itu akan kubebaskan, dan terserah kepada tetua-tetua Kay-pang, apakah mereka ingin menghukummu atau tidak, itu urusan mereka.”

Un Ma Siansu menghela napas lesu sekali wajahnya muram.

“Ya, memang benar aku yang telah membinasakan tiga orang murid Kay-pang, karena mereka terlalu kurang ajar, berusaha mencegah keinginanku dan terlalu mencampuri urusanku!” Kata Un Ma Siansu pada akhirnya.

Muka Yang Tiam dan pengemis-pengemis lainnya jadi berobah, mereka murka bukan main.

Kim Lo menepati janjinya, setelah si pendeta mengakui perbuatannya, segera ia menyentil membuka totokan pada jalan darah ditubuh Un Ma Siansu.

“Hemmm, kini urusan Kay-pang yang menyelesaikan persoalan kalian dengan pembunuh murid-murid Kay-pang! Nah, selamat tinggal!” Kata Kim Lo sambil menjejakan kakinya, tubuhnya melesat cepat meninggalkan tempat itu.

Yang Tiam hendak mencegah kepergian Kim Lo, tapi ia tidak berhasil. Kim Lo telah melesat pergi jauh dan lenyap.

Bukan main kagumnya pengemis-pengemis itu, yang semuanya sangat tunduk untuk kelihayan Kim Lo. Itulah gin-kang yang sangat mahir sekali.

Setelah Kim Lo pergi, Yang Tiam menoleh kepada Un Ma Siansu bentaknya: “Kepala gundul rupanya kau pembunuh kejam yang membinasakan tiga orang kami! Sekarang kau harus menerima balasan sakit hati mereka!”

Sambil berkata begitu, Yang Tiam menyerang si pendeta. Un Ma Siansu coba memberikan perlawanan.

Ia memiliki kepandaian yang tinggi. Jika tadi ia dengan mudah ditawan Kim Lo karena memang kepandaian Kim Lo sangat hebat, berada di atas kepandaiannya.

Tiang Su dan Yu An maupun pengemis yang lainnya pun telah maju menyerangnya. Un Ma Siansu jadi kewalahan, terdesak hebat. Akhirnya ia terluka.

Dan dengan adanya pertempuran yang berlangsung puluhan jurus tersebut, membuat pengemis-pengemis yang keluar dari ruang dalam semakin banyak. Dan mereka mengepung Un Ma Siansu, menyerang buat melampiaskan kemarahan mereka.

Akhirnya si pendeta terbinasa dengan keadaan yang mengenaskan sekali. Mukanya rusak dan tubuhnya hancur berkeping-keping. Yang Tiam memang tidak berusaha melindungi dan menyelamatkan jiwa si pendeta yang jadi pembunuh murid-murid Kay-pang, karena ia menduga tentunya si pendeta seorang yang telengas dan kejam, yang tidak perlu dibiarkan hidup terus.

Murid-murid Kay-pang yang terbinasa dalam keadaan menyedihkan sekali. Itulah sebabnya ia membiarkan murid-murid Kay-pang lainnya ikut menyerang si pendeta dan membinasakannya.

Tubuh Un Ma Siansu menggeletak tidak bernapas lagi dengan keadaan yang mengenaskan.

Yang Tiam bersama pengemis-pengemis lainnya berdiri diam dengan wajah memperlihatkan rasa tidak puas. Karena mereka telah membalaskan sakit hati tiga orang anggota Kay-pang yang dibinasakan pendeta itu.

Yang Tiam menghela napas dalam-dalam, ia teringat kepada orang yang berpakaian serba putih dan muka selalu tertutup itu. Dan setiap gerak-geriknya sangat aneh sekali, dengan kepandaian yang dahsyat.

Ia seorang pendekar yang sungguh-sungguh aneh. Tapi kepandaiannya sangat sakti. Terlebih lagi dengan serulingnya, ia merupakan pendekar yang menakjubkan sekali bagaikan naga yang dahsyat atau harimau yang perkasa.

Dan karena tidak mengetahui jalan asal usul Kim Lo, Yang Tiam maupun pengemis-pengemis lainnya dalam kesempatan berikutnya bercerita kepada kawan-kawan mereka, selalu meyebut Kim Lo sebagai Pendekar Aneh Berseruling Sakti.

Memang sesungguhnya kehadiran Kim Lo di dalam rimba persilatan dalam waktu yang sangat singkat telah menggemparkan. Karena sepak terjangnya yang aneh dengan selubung muka di mana sebagian besar wajahnya tertutup.

Dan juga kepandaiannya yang begitu hebat, memang di saat itu kenyataan telah bicara. Telah lahir seorang pendekar, Pendekar Aneh Berseruling Sakti.

<> 

Kim Lo pagi itu sudah melakukan perjalanan lagi, karena ia ingin cepat-cepat tiba di Yang-cung dusun kecil tempat dimana ia harus menemui Ko Tie dan yang lain-lainnya, seperti yang telah dijanjikan Oey Yok Su. Sedangkan saat untuk bertemu itu sudah kian dekat juga hanya kurang dari satu bulan lagi.

Dari tempatnya berada untuk mencapai Yang-cung mungkin memakan waktu dua minggu. Itupun jika memang dalam perjalanan tidak ada rintangan yang menghambat perjalanannya.

Pagi itu Kim Lo sudah berada di daerah sebelah Utara Su-coan. Ia harus melewati lagi seratus lie lebih, barulah ia dapat keluar dari daerah Su-coan Utara dan akan tiba di kota Wie-cun.

Daerah Wie-cun merupakan daerah yang masih liar. Liar di sini dimaksudkan karena di daerah tersebut pihak kerajaan boleh dibilang tidak berhasil menancapkan kekuasaannya.

Dan orang di Wie-cun umumnya selalu menggunakan hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Dan tentu saja daerah seperti itu akan membuat siapapun harus berusaha memperoleh kekuatan dan kekuasaan dengan menghimpun anak buah sebanyak mungkin. Tidak jarang pula kekacauan terjadi di daerah tersebut.

Memang Kim Lo pun selama dalam perjalanan telah mendengar keganasan penduduk di Wie-cun. Namun mau atau tidak ia harus melewati daerah itu, untuk mempersingkat perjalanannya, dengan mempercepat jalan dan memotong tiba di Yang-cung.

Kalau memang Kim Lo mengambil jalan ke arah barat niscaya ia harus mempergunakan waktu yang lebih banyak, karena tentu ia harus jalan berputar lagi akhirnya ke utara. Karena itu, Kim Lo akhirnya memutuskan untuk menempuh perjalanan dengan melalui Wie-cun.

Kepandaian pemuda ini memang telah tinggi dan mahir sekali. Karenanya ia tidak perlu merasa kuatir, nanti di Wie-cun ia akan memperoleh kesulitan.

Setelah melakukan perjalanan sampai tengah hari, Kim Lo berada di sebuah lapangan rumput yang sebagian masih terbungkus oleh salju. Ia merasa letih juga. Karena selama melakukan perjalanan ia mempergunakan gin-kangnya, berlari cepat.

Ia bermaksud beristirahat. Kim Lo memandang sekelilingnya mencari tempat yang sekiranya cocok untuk dijadikan tempat peristirahatannya.

Ketika melihat sebungkah batu yang berada di samping sebatang pohon sehingga tempat di bawah batu itu terlindung dari salju. Ia memutuskan tempat itu cocok untuknya. Ia menghampiri dan duduk di situ.

Duduk beristirahat seorang diri di tempat sesunyi tersebut, hati Kim Lo jadi teringat kembali kepada pulau Tho-hoa-to. Juga kepada Oey Yok Su. Pada ibunya, walaupun ibunya kurang begitu sayang padanya, tokh tetap saja wanita itu adalah ibunya.

Dan ia menyesali juga mengapa ia dilahirkan dengan bentuk kurang begitu baik membuat ia harus mempergunakan selalu kain putih yang buat menutupi sebagian wajahnya.

Sambil menghela napas, Kim Lo merogoh sakunya mengeluarkan semacam benda. Ia menimang-nimang dan memperhatikannya.

Ternyata itulah Giok-sie yang pernah diperebutkan oleh pihak kerajaan maupun para pendekar gagah di dalam rimba persilatan. Giok-sie yang memiliki kekuatan sangat dahsyat sekali sebagai penarik bagi siapa saja untuk memiliki. Cap Kerajaan, yang dapat menempatkan seseorang di tempat yang paling mulia di negeri tersebut.

Kim Lo menghela napas.

“Giok-sie ini sesungguhnya tidak berarti apa-apa. Jika semua orang mau mengerti, bahwa mereka tidak seharusnya dikendalikan oleh benda ini!”

Menggumam Kim Lo dengan suara perlahan. Ia menimang-nimang lagi Giok-sie tersebut, dan memasukkannya ke dalam sakunya. Ia jadi teringat pesan Oey Yok Su dikala Kim Lo berpamitan akan meninggalkan Tho-hoa-to:

“Kim Lo kau harus ingat baik-baik Giok-sie ini harus kau lindungi sebaik mungkin! Dan jangan sembarangan memperlihatkan kepada orang lain!

“Jika telah waktunya, di saat mana kau telah bertemu dengan pamanmu, para orang gagah dan lainnya di Yang-cung, kau akan menerima petunjuk mereka! Kau harus baik-baik memperhatikan nasehat dari paman-pamanmu sekalian itu!”

Kim Lo menghela napas. Ia memang masih muda belia. Dan dalam usia semuda dia ternyata telah memiliki kepandaian yang demikian tinggi, yang jarang sekali terjadi di dalam rimba persilatan!

Terlebih lagi memang ia langsung menerima warisan dan Oey Yok Su salah seorang tokoh sakti Lima Jago Luar Biasa. Bisa dibayangkan betapa kepandaian yang dimiliki Kim Lo sekarang ini seharusnya sudah sulit sekali mencari tandingannya.

Tapi, disamping itu Kim Lo harus mengakuinya, ia masih kurang pengalaman. Terutama sekali di dalam rimba persilatan. Jelas ia harus baik-baik mendengar nasehat dari paman-pamannya nanti di Yang-cung. Menurut keterangan yang diberikan oleh Oey Yok Su, justeru jago tua itu berpesan, jika dapat Kim Lo meminta petunjuk dari Kwee Ceng, atau juga Yo Ko.

Dua orang tokoh itulah yang akan dapat membimbing Kim Lo dengan baik. Mereka merupakan dua orang tokoh rimba persilatan yang benar-benar jujur dan bersih hatinya, sehingga semua nasehat mereka tentu untuk kebaikan Kim Lo.

Teringat, kepda orang-orang yang harus dihubunginya, Kim Lo menghela napas.

“Bagaimana nanti jika mereka memaksa ingin melihat mukaku?!” berpikir pemuda itu lagi. “Jika aku menolak, tentu mereka akan tersinggung, namun jika aku memenuhi permintaan mereka aku akan malu sekali....... bagaimana ini…..?” Dan Kim Lo menghela napas berulang kali.

Tengah Kim Lo termenung-menung seperti itu, ia melihat dari kejauhan beberapa orang anak kecil tengah berlari-lari sambil bersorak gembira. Mereka rupanya tengah bermain saling kejar.

“Betapa bahagianya mereka!” berpikir Kim Lo. “Aku sejak kecil tak pernah memperoleh kebahagiaan seperti mereka, selalu hidup terasing tanpa kawan di Tho-hoa-to!”

Dan pemuda ini jadi melambung lagi pikirannya. Tanpa diinginkannya ia teringat kepada gadis berbaju merah yang sangat galak itu, entah siapa gadis itu?

Anak-anak yang berlari main petak itu lewat di dekat Kim Lo, salah seorang sambil tertawa-tawa telah menunjuk ke arah Kim Lo, ia berseru: “Lihat, di siang hari ada hantu!”

Kawan-kawannya menoleh, mereka tampaknya kaget dan takut-takut, karena melihat Kim Lo yang duduk di bawah batu itu berpakaian serba putih dengan sebagian wajahnya yang ditutupi oleh sehelai kain putih. Merekapun berseru-seru takut sambil berlari-lari meninggalkan tempat itu.

Kim Lo menghela napas dalam-dalam. Ia tak bisa marah oleh ulah anak-anak itu, dan duduk beristirahat beberapa saat lagi di tempat itu.

Waktu Kim Lo ingin melanjutkan perjalanannya, justeru ia melihat dua orang tengah berlari-lari mendatangi. Ia jadi batal berdiri dan mengawasi dua orang yang tengah mendatangi agak cepat itu, karena berlari mempergunakan gin-kang yang cukup tinggi.

Tidak lama kemudian Kim Lo sudah bisa melihat jelas, bahwa dua orang itu adalah dua laki-laki berusia pertengahan. Mereka tegap dan juga gagah, tangan mereka tampak mencekal senjata masing-masing, sebatang pedang yang belum lagi dihunus.

Cepat mereka tiba di dekat tempat di mana Kim Lo tengah duduk beristirahat. Mereka berhenti berlari mengawasi Kim Lo sejenak lalu salah seorang di antara mereka maju beberapa langkah tanyanya:

“Engkaukah yang menakut-nakuti anak-anak kami sebagai hantu?” Tegurnya, suaranya menunjukkan dia tidak senang.

Kim Lo tahu, orang ini tentu salah paham, mungkin juga mereka menerima laporan dari anak-anak mereka yang mengatakan bertemu hantu. Hampir saja Kim Lo tertawa karena gelinya.

Perlahan-lahan Kim Lo bangun berdiri. Dua orang laki-laki usia pertengahan itu bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinannya.

“Maaf siapakah lopeh berdua?” tanya Kim Lo dengan suara yang sabar.

Orang yang tadi menegur Kim Lo, yang mengenakan baju hijau, telah mendelik.

“Hemm, jadi benar kau yang menakut-nakuti anak kami?” Tegurnya, matanya memandang tidak senang.

Kawannya, yang mengenakan baju kuning juga telah ikut bicara, “Apa maksudmu menakut-nakuti anak-anak kami, heh?”

Kim Lo tertawa.

“Jangan salah paham lopeh!” kata Kim Lo yang berusaha menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya pada mereka. “Justeru aku tengah duduk beristirahat di sini, mereka melihatku dan menyangka hantu lalu lari ketakutan, apakah itu yang disebut menakut-nakuti?”

Kedua orang itu memandang Kim Lo dengan mata tatap yang tajam, sikap mereka tetap saja memperlihatkan hati mereka tidak puas dan tidak senang.

“Jika memang kau tidak bermaksud menakut-nakuti anak kami, lalu mengapa kau mempergunakan kain putih itu menutupi wajahmu? Hemm, jika kau hanya memakai baju berwarna putih dengan celanamu yang putih juga hal itu kami memang tidak bisa mengomentari. Tapi dengan sengaja menutupi juga mukamu dengan kain serba putih, jelas memang ada unsur kesengajaan dari kau untuk menakut-nakuti anak-anak kami!”

Kim Lo jadi tidak senang melihat sikap ke dua orang laki-laki itu. Ia kemudian bertanya,

“Lalu apa yang jiewie lopeh kehendaki? Jika memang aku menakuti mereka, apa yang ingin kalian lakukan? Kalau tidak, apa yang ingin kalian katakan?”

Ditanya begitu dua orang laki-laki setengah baya itu saling pandang, lalu yang baju hijau maju beberapa langkah lagi.

“Buka kain penutup mukamu itu!” Katanya dengan suara yang ketus.

Hati Kim Lo tambah tidak senang.

“Hemm, ada urusan apa dengan penutup mukaku ini? Aku menutupi mukaku ini tokh tidak merugikan kalian?” tanya Kim Lo tambah mendongkol.

“Kau dengar tidak perintahku?!” Bentak orang berpakaian hijau dengan suara yang kasar. “Buka kain penutup mukamu itu dan perlihatkan mukamu yang sebenarnya! Hemm, jangan-jangan kau ini maling kecil yang ingin melakukan keonaran dan pencurian di daerah kami,” sambil berkata begitu, ia mengibaskan golok yang masih bersarung itu!

Kim Lo tambah mendongkol, sikap dan kelakuan dua orang ini kasar sekali. Justeru telah menuduh dirinya dengan tuduhan yang tidak-tidak, membuat ia benar-benar jadi tidak senang.

“Baiklah! Mulutmu terlalu kotor!” Kata Kim Lo kemudian.

Tahu-tahu tubuhnya berkelebat. Ia menghantam mulut orang itu dengan satu kali tempelengan.

“Plokk!” Mulut orang itu seketika jadi jontor dan ia kesakitan bukan main, tubuhnya terhuyung lima langkah. Matanya juga berkunang-kunang.

“Kau……. kau berani memukul?” Katanya dengan suara tergagap dengan murka.

Walaupun merasa heran Kim Lo bisa bergerak begitu cepat, tanpa ia bisa melihat jelas tahu-tahu ia telah ditempiling oleh Kim Lo, “Kau rupanya sengaja ingin menimbulkan keonaran di sini, heh?”

Dan setelah berkata begitu, tangan kanannya mencabut goloknya dari sarungnya. Kawannya pun melakukan hal yang sama, yaitu mencabut keluar goloknya.

Kim Lo berdiri dengan sikap mendongkol dan keren. Ia telah berpikir untuk memberikan pelajaran pahit pada dua orang kasar dan juga ketus itu.

“Ya, mari pergunakan golok kalian menyerangku! Aku ingin lihat, apa yang kalian bisa lakukan?” sambil berkata begitu, Kim Lo melambaikan tangannya.

Dua orang itu yang tengah marah, telah melompat maju.

“Ciang Kim Ie dan Ciang Kim San pantang sekali untuk menolak tantangan!” teriak yang berpakaian baju hijau, yang bernama Ciang Kim Ie. Ia telah mengayunkan goloknya menerjang maju, ia membacok dengan jurus yang telengas.

Sedangkan Ciang Kim San pun tak tinggal diam, ia sudah manyerang juga dengan goloknya.

Dua serangan dari dua jurusan menyambar pada Kim Lo, tapi Kim Lo tetap berdiri tegap di tempatnya.

Waktu dua senjata tajam itu menyambar dekat dengannya, sebat sekali Kim Lo tahu-tahu melesat lenyap dari hadapan Ciang Kim San dan Ciang Kim Ie. Dua orang itu kaget dan heran.

Tahu tahu Ciang Kim San dan Ciang Kim Ie merasakan punggung mereka sakit. Juga tubuh mereka terpelanting.

Rupanya Kim Lo telah menepuk pundak mereka. Tepukan yang cuma mempergunakan tiga bagian tenaga dalam itu membuat mereka terjungkal.

Kim Lo tidak memiliki hasrat melukai mereka, karenanya ia cuma ingin memberikan pelajaran pahit kepada dua orang yang kasar ini. Ia tidak menurunkan tangan keras.

Justeru diwaktu itu Ciang Kim San dan Ciang Kim Ie sudah merangkak bangun. Mereka penasaran sekali dan bermaksud ingin menyerang lagi.

Kim Lo bergerak ke sana ke mari sebat sekali. Ia seakan juga lenyap tiada hentinya dari hadapan Ciang Kim Ie dan Ciang Kim San. Ke dua orang itu jadi tidak bisa menerka, ke arah mana Kim Lo bergerak dan berada, dan dengan sendirinya mereka pun tidak bisa menyerang lebih jauh.

Justeru diwaktu itu, Ciang Kim San teringat bahwa orang ini adalah ‘hantu’ maka ia jadi menggidik.

“Apakah memang sebenarnya ia ini hantu?” pikir Ciang Kim San. Hal ini disebabkan ia melihat tubuh Kim Lo bergerak begitu lincah seperti juga dapat terbang ke sana ke mari.

Teringat itu tidak buang waktu lagi Ciang Kim San berseru nyaring: “Angin keras....... mungkin dia benar-benar hantu!”

Ciang Kim Ie mendengar teriakan itu, jadi kaget. Iapun segera berpikir sama seperti yang terpikir oleh Ciang Kim San. Tanpa membuang waktu lagi mereka berdua telah berlari meninggalkan tempat itu.

Kim Lo tidak mengejar, ia cuma tertawa geli melihat ke dua orang itu melarikan diri.

Kemudian Kim Lo melanjutkan perjalanannya. Ia bersiul-siul kecil untuk mengisi kesenangannya.

Berjalan beberapa lie, tiba-tiba ia melihat seseorang yang tengah berjongkok di tepi jalan.

Itulah seorang laki-laki berpakaian aneh sekali. Kopiah yang dipakainya terbuat dari bulu binatang, dari juga bentuknya memperlihatkan bahwa orang itu bukan orang Tiong-goan.

Corak pakaiannya juga. Ia tengah berjongkok di tepi jalan di bawah sebatang pohon, seperti tengah memperhatikan sesuatu.

Kim Lo menghampiri, hatinya tertarik dan ingin mengetahui apa yang tengah dilakukan orang tersebut. Tapi orang itu seperti juga tidak mengetahui ada orang yang memperhatikan gerak-geriknya. Ia tengah mencurahkan seluruh perhatiannya pada sebuah lobang yang terdapat di bawah batang pohon itu.

Waktu Kim Lo menghampiri lebih dekat, ia baru bisa melihat, orang itu seperti tengah menantikan sesuatu, yang diharapkan keluar dari lobang tersebut.

“Maaf, apa yang saudara cari?” tanya Kim Lo, didesak oleh perasaan ingin tahunya.

Orang itu seperti kaget, dan tiba-tiba mukanya jadi berobah merah padam. Ia seorang laki-laki berusia antara tigapuluh lima atau empatpuluh tahun, matanya tajam sekali.

“Kurang ajar!” Bentaknya kemudian sambil berdiri dan membanting banting kakinya. “Siapa kau? Mengapa kau menggagalkan usahaku untuk menangkap Kim-coa (Ular Emas). Kau mencari mampus dan minta dihajar, heh?”

Dimaki begitu tanpa hujan tidak angin, tentu saja Kim Lo jadi heran bercampur mendongkol. Ia bertanya baik-baik, tapi orang ini berangasan dari tampaknya bengis.

Ia segera menjawab: “Jika memang kau tidak memberitahukan itupun tidak jadi soal, akupun tidak akan memaksa!” Dan Kim Lo mendehem beberapa kali barulah ia meneruskan kata-katanya: “Mengapa anda harus marah seperti itu?”

Biji mata orang itu seperti terbalik karena gusarnya. Ia membanting-banting kakinya lagi.

“Manusia tidak tahu diuntung! Tahukah kau, bahwa Kim-coa tadi hampir saja keluar, dari lobang itu? Sekali saja ia keluar, berarti aku akan berhasil menangkapnya!

“Tapi kau! Hemm, kau telah menggagalkan usahaku itu! Kau telah membuat Kim-coa kaget dan batal keluar, dan binatang itu telah masuk lebih dalam lagi di lobang itu! Kau harus ganti kerugian ini!”

Kim Lo tercengang, aneh sekali perangai orang ini. Ia yang gagal menangkap binatang yang dikehendakinya, yaitu Kim-coa, justeru sekarang ia minta Kim Lo agar ganti rugi padanya.

“Ganti rugi?” tanya Kim Lo sambil membeliakkan matanya lebar-lebar.

“Ya!” mengangguk orang itu dengan tegas. “Kau harus menggantinya, karena kau telah mengejutkan Kim-coa, membuat ular itu kembali masuk ke dalam lobangnya…….!”

Kim Lo tertawa.

“Ganti rugi yang kau inginkan itu berapa besar?” tanyanya kemudian, karena ia ingin tahu, berapa banyak ganti rugi yang diinginkannya.

Orang itu terdiam sejenak, seperti juga ia tengah berpikir keras, sampai akhirnya ia bilang, “Untuk menangkap Kim-coa dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan Kim-coa tidak bisa diperoleh di sembarang tempat. Ular itu sangat berkhasiat sekali untuk membuat semacam obat, dan harganya sangat mahal.

“Aku telah sebulan lebih menunggu di sini buat menangkapnya, baru hari ini ia mau keluar dari lobangnya. Justeru dikala aku hampir dapat menangkapnya kau telah mengejutkannya, sehingga Kim-coa kembali masuk ke dalam lobang itu! Nah, kau harus menggantinya seratus ribu tail emas!”

“Apa?” Mata Kim Lo terbeliak. “Mungkin kau sudah sinting!”

Mata orang itu terbeliak lebar.

“Apa kau bilang? Ohh, kau berani mengucapkan kata-kata kurang ajar itu padaku?”

Dan membarengi dengan kata-katanya, tampak tubuhnya melesat cepat sekali pada Kim Lo. Tangan kanannya menyerang.

Kim Lo coba mengelakkan. Tapi hatinya terkesiap, karena orang itu ternyata memiliki gin-kang yang mahir sekali. Tangannya tahu-tahu hanya terpisah beberapa dim lagi dari pundak Kim Lo.

Untung saja Kim Lo memang memiliki kepandaian yang tinggi, dengan demikian ia tidak jadi gugup. Cepat ia berkelit, ia menduduk dan juga menurunkan pundaknya!

Ia bermaksud membiarkan pukulan tangan orang itu lewat di samping pundaknya. Ia yakin, pukulan itu tidak akan mengenai sasarannya.

Kembali apa yang dipikirkan Kim Lo tidak tepat, sebab semuanya berada diluar dugaannya.

Orang itu yang mengetahui pukulannya akan jatuh di tempat kosong karena Kim Lo dapat menggerakkan badannya dengan gerakan yang sangat manis sekali, segera menurunkan sedikit tangannya. Dengan begitu, pukulannya terus menyambar ke arah pundak Kim Lo.

Tentu saja apa yang dilakukan orang itu membuat Kim Lo terkesiap. Ia tidak menyangka orang tersebut memiliki kepandaian yang tinggi dan juga perhitungan yang cepat serta tepat.

“Orang ini tampaknya bukan orang sembarangan, kepandaiannyapun tidak bisa diremehkannya!” pikir Kim Lo. Dan ia tidak bisa berpikir lebih lama lagi, sebab waktu itu justeru telah terlihat tangan orang itu cuma terpisah beberapa dim saja, dan akan segera menghantam pundaknya, kalau ia tidak cepat-cepat mengibaskan tangannya buat menangkis.

“Bukkk!” Kuat sekali tangannya mengibas tangan orang itu. Ia menangkis sambil mempergunakan lima bagian tenaga dalamnya. Dengan harapan bahwa orang itu akan terjengkang ke belakang.

Namun Kim Lo kecele kembali. Ternyata tenaga orang itu kuat sekali, tubuhnya sama sekali tidak bergeming. Dan ia tetap berdiri tegak di tempatnya. Malah iapun telah melanjutkan dengan serangan berikutnya.

Kim Lo segera menyadarinya bahwa lawannya bukanlah orang lemah, dan ia harus waspada! Segera ia juga mengerahkan tenaga dalamnya menangkis dan balas menyerang. Setiap kali ada kesempatan ia berusaha untuk mendesak.

Orang itu pun rupanya heran bukan main. Ia menduga dalam satu-dua jurus akan merubuhkan Kim Lo. Tapi kenyataannya walaupun mereka telah bertempur sampai puluhan jurus, tetap saja ia tidak bisa merubuhkan Kim Lo. Malah untuk mendesak saja ia tidak bisa. Ia jadi berpikir, entah siapa di balik tutup muka kain putih itu?

Kim Lo merobah cara bertempurnya. Sekarang ia lebih banyak menutup diri, untuk memperhatikan cara hertempur orang tersebut, guna mencari kelemahannya.

Sedangkan orang itupun menyerang semakin berhati-hati penuh perhitungan!

Di kala itu orang tersebut melompat mundur memisahkan diri. Dan ia bukan mundur untuk berdiri, melainkan tahu-tahu jungkir balik. Sepasang kakinya di atas, dengan kepala di tanah. Berputar, dan kemudian menyerang Kim Lo.

Cara bertempur orang ini benar-benar aneh. Namun Kim Lo seketika teringat akan cerita Oey Yok Su, yang menceritakan salah seorang dari lima jago luar biasa adalah Auwyang Hong. Seorang yang memiliki kepandaian hebat yang diberi nama Ha-mo-kang.

Dan Auwyang Hong menguasai ular berbisa. Ia memiliki barisan ular yang ditakuti orang gagah dalam rimba persilatan. Namun akhirnya Auwyang Hong mati dengan cara kurang menggembirakan!

Apakah orang inipun mempergunakan ilmu Ha-mo-kang itu? Kim Lo mendengar cerita dari Oey Yok Su, Kong-kongnya itu bahwa Ha-mo-kang adalah ilmu silat kodok yang dapat dipergunakan dengan jungkir balik, kepala di bawah kaki di atas atau mempergunakan dengan cara berjongkok sambil mengeluarkan suara mengkeroknya kodok.

Orang yang menjadi lawan Kim Lo pun sebentar-sebentar memperdengarkan suara aneh dari mulutnya, seperti suara kodok yang tengah mengkerok. Dan suara aneh itu semakin diperhatikan memang mirip sekali dengan suara mengkerok. Dan dugaan Kim Lo bahwa orang yang menjadi lawannya mempergunakan ilmu Ha-mo-kang semakin kuat juga.

“Siapakah dia? Apakah dia memiliki hubungan dengan Auwyang Hong?” diam-diam Kim Lo berpikir di dalam hatinya.

Tapi ia tidak bisa berpikir terlalu lama. Ia harus mencurahkan perhatiannya, sebab ia gencar sekali diserang terus menerus oleh lawannya, dengan ilmunya yang aneh itu.

Namun tidak percuma Kim Lo telah memperoleh didikan yang baik sekali dari Oey Yok Su. Walaupun lawannya lihay dan juga ilmunya sangat aneh namun ia masih bisa menghadapinya dengan baik.

Akhirnya Kim Lo tidak mau memikirkan tentang lawannya ini, sebab ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya buat menghadapi lawan tersebut. Karenanya ia cepat-cepat mengempos semangatnya dan balas menyerang setiap kali memiliki kesempatan.

Mereka bertempur seru sekali. Sama sekali Kim Lo tidak jeri. Kalau saja ia telah berpengalaman, niscaya ia tidak akan memperoleh kesulitan merubuhkan lawannya. Hanya saja justeru biarpun kepandaian Kim Lo telah tinggi tokh kenyataannya ia masih kalah dan kurang pengalaman dari lawannya, membuat beberapa kali kesempatan yang sangat baik terlewatkan begitu saja.

Lawannya juga heran bukan main melihat beberapa puluh jurus telah lewat tanpa ia memiliki kesempatan untuk merubuhkan Kim Lo. Jangan merubuhkan, sedangkan mendesak saja ia tidak berhasil.

“Siapa orang ini? Atau memang termasuk salah seorang dari musuh-musuhku? Bukankah mukanya ditutupi oleh kain putih itu, sehingga tampak tidak tampak wajahnya?

“Hemm, jika memang ia termasuk sebagai salah seorang musuhku, maka ia harus dibinasakan! Melihat ilmu silat yang dipergunakannya, memang mirip-mirip dengan ilmu silat seseorang.”

Karena berpikir begitu, lawan Kim Lo tiba-tiba melesat cepat sekali ke belakang. Ia juga menyusuli bentakan.

“Hentikan!”

Tubuhnya gesit sekali telah melompat berjungkir balik lagi, untuk berdiri dengan sepasang kakinya, matanya memancarkan sinar sangat tajam.

Kim Lo menahan tangannya, ia berhenti bersilat. Cuma saja ia mengambil sikap bersiap sedia.

“Hemm, apakah sekarang kau mau membatalkan tuntutanmu yang meminta ganti rugi dariku?” Tanya Kim Lo dengan suara mengejek.

“Siapa kau sebenarnya?” Tanya orang itu tanpa memperdulikan ejekan Kim Lo. “Mengapa kau tidak berani memperlihatkan wajahmu padaku, sehingga perlu kau tutupi dengan kain putih itu?”

Kim Lo tertawa dingin.

“Tentang diriku tidak perlu kau pusing! Sekarang katakan dulu, siapa kau?” Kim Lo berbalik bertanya.

Lawan Kim Lo jadi mendongkol bukan main. Ia telah memandang bengis.

“Aku seorang yang tidak senang selalu menyembunyikan she dan nama! Dengarlah baik-baik! Aku Auwyang Phu! Kau sudah dengar? Aku she Auwyang dan bernama tunggal Phu!”

“Auwyang Phu?” Tanya Kim Lo agak terkejut juga bercampur dengan perasaan heran.

“Benar! Kau kaget?!” Mengejek orang itu yang ternyata memang tidak lain dari Auwyang Phu. Ternyata, ia putera Auwyang Hong hasil hubungan gelap Auwyang Hong dengan Cek Tian.

Di dalam kisah Anak Rajawali telah dijelaskan betapa Cek Tian dan Auwyang Phu dilukai oleh Swat Tocu, Ko Tie, Giok Hoa, dan guru Giok Hoa, yaitu Yo Kouwnio. Dan ia bersama ibunya telah pergi ke suatu tempat untuk melatih diri lebih baik.

Peristiwa itu terjadi duapuluh tahun yang lalu, dan kini Auwyang Phu sudah berusia empatpuluh tahun lebih. Ibunya, Cek Tian sudah menutup mata.

Dan sejak saat itu Auwyang Phu berkelana seorang diri. Ia selalu mencari binatang-binatang berbisa untuk ditangkapnya dan diambil racunnya. Ia selalu berusaha menciptakan racun yang paling dahsyat dari campuran bisa binatang beracun itu. Kepandaiannya pun telah pulih dan lebih tinggi dari beberapa waktu yang lalu.

Bisa dibayangkan, dulu dengan dikeroyok oleh Swat Tocu, Ko Tie, Yo Kouwnio dan Giok Hoa, dia baru bisa dilukai. Dan bisa dibayangkan juga betapa tinggi kepandaian Auwyang Phu yang sebenarnya.

Hanya saja disebabkan luka di dalam yang tidak ringan, sepuluh tahun terbuang percuma saja buat Auwyang Phu memulihkan kesehatan dan tenaga dalamnya. Lalu sepuluh tahun lainnya ia baru bisa melatih diri untuk mempertinggi kepandaiannya.

Auwyang Phu sekarang sudah berbeda dengan Auwyang Phu duapuluh tahun yang lalu. Sekarang selain kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang tinggi, juga ia jadi pendiam. Dan iapun bermaksud suatu saat kelak mencari Swat Tocu, Ko Tie, Giok Hoa dan Yo Kouwnio, serta beberapa orang musuh lainnya.

Disamping mempelajari ilmu racun, ia juga selalu berusaha untuk dapat melatih tenaga dalam dan ilmu silatnya lebih tinggi lagi. Dan segala macam usaha telah dilakukannya.

Kini siapa tahu dikala ia hendak menangkap Kim-coa, ia bertemu dengan Kim Lo. Telah sebulan lebih ia menanti di luar lobang Kim-coa, dan memang ular yang terkenal sangat berbisa itu, juga ular yang langka.

Ular yang berukuran tubuh kecil cuma belasan dim dan juga memiliki racun yang paling berbisa. Dan ular itu sulit sekali dicari dan ditangkap sabar sekali.

Auwyang Phu menunggui di luar lobang ular tersebut. Dan justeru pada hari itu ia mengetahui ular tersebut akan menggeleser keluar dari dalam lobangnya.

Ia mendengar dengan baik-baik mempergunakan telinganya yang tajam. Ia tahu ular itu tengah menggeleser ragu-ragu di dalam lobangnya.

Auwyang Phu menahan napasnya. Malah ia telah melihat kepala ular itu mulai muncul di lobang, dan ia bersiap-siap akan menangkapnya. Siapa sangka, justeru di saat seperti itu Kim Lo tiba dan bertanya padanya, mengejutkan Kim-coa, yang segera menarik kepalanya menghilang ke dalam lobangnya.

Maka wajar kalau Auwyang Phu sangat murka pada Kim Lo. Tapi setelah bertempur sekian lama ia seakan tidak berdaya buat merubuhkan Kim Lo.

Ia jadi berbalik heran, ia menduga tentunya orang yang menutupi wajahnya dengan kain putih itu adalah seorang tokoh rimba persilatan. Dengan begitu, jelas akan membuat ia memperoleh kesulitan kalau ia main desak begitu saja. Dan di hatinya timbul rangsangan ingin mengetahui siapakah sebenarnya orang itu.

“Masih ada hubungan apa kau dengan Auwyang Hong?” tanya Kim Lo setelah perasaan herannya berkurang.

Auwyang Phu tertawa dingin.

“Aku puteranya! Kau kaget, bukan?”

“Bohong!” kata Kim Lo.

“Bohong??”

“Ya, kau bohong! Kau cuma ingin mendustai aku dengan mengaku-ngaku sebagai putera Auwyang Hong!”

“Mengapa kau berkata begitu dan tidak mempercayai keteranganku?” Tanya Auwyang Phu menahan amarahnya.

“Hemmm, Auwyang Hong seorang tokoh sakti. Yak mungkin memiliki keturunan seperti cecongor kau!” kata Kim Lo.

Muka Auwyang Phu berobah merah padam. Ia telah mengawasi Kim Lo tajam sekali.

“Baik! Terserah padamu, percaya atau tidak! Yang jelas dan pasti aku adalah putera Auwyang Hong! Hemm, aku akan menghajar kau mampus dengan Ha-mo-kang……..!”

Sambil berkata begitu, Auwyang Phu bersiap-siap untuk mulai menyerang lagi.

Sedangkan Kim Lo berpikir keras. Ia bukannya tidak mempercayai Auwyang Phu. Ia cuma mengejek hendak memanas-manasi Auwyang Phu.

Bukankah ia telah mempergunakan ilmu silat Ha-mo-kang, ilmu andalan dari Auwyang Hong, ilmu pusaka keluarga Auwyang? Dan juga memang kepandaian Auwyang Phu tidak rendah malah jika harus diakui dengan jujur, ia yakin kepandaian Auwyang Phu tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya. Karena dari itu Kim Lo berlaku sangat hati-hati sekali buat menghadapi segala kemungkinan.

“Sebutkan namamu dan buka kain penutup mukamu. Aku tidak mau membunuh manusia pengecut dan tidak bernama!” Kata Auwyang Phu waktu ia bersiap hendak menyerang.

Kim Lo tertawa dingin.

“Kau tengah bermimpi? Hemm, jangankan membunuhku, sedangkan untuk melindungi jiwamu sendiri belum tentu sanggup melakukannya!” mengejek Kim Lo.

Auwyang Phu sudah tidak bisa menahan diri, menggelegar bentakannya sambil tubuhnya melesat cepat sekali menghantam pada Kim Lo. Ia mendorong telapak tangannya. Jurus yang dipergunakannya merupakan salah satu dari ilmu pukulan Ha-mo-kang. Angin yang berkesiuran sangat kuat.

Latihan Auwyang Phu memang jauh lebih baik dari duapuluh tahun yang lalu. Sedangkan duapuluh tahun yang silam kepandaiannya sudah tinggi, maka sekarang bisa dibayangkan dalam keadaan murka seperti itu, betapa hebatnya kekuatan tenaga dalam yang dipergunakannya.

Karenanya Kim Lo yang diterjang oleh angin serangan berkesiuran kuat seperti itu, tidak berani berayal. Ia sudah mengetahui bahwa lawannya putera Auwyang Hong, yang memiliki kepandaian tinggi, karenanya ia harus menghadapinya dengan sebaik-baiknya.

Cepat sekali Kim Lo mengelak ke samping kiri. Ia mempergunakan ilmu gin-kang Bayangan Setan, yang diwarisi Oey Yok Su. Gin-kang seperti itu memang merupakan ilmu gin-kang istimewa dari Oey Yok Su, yang dapat membuat seseorang bergerak secepat setan.

Dan pukulan Auwyang Phu jatuh di tempat kosong, menghantam batang pohon dan pohon itu tumbang dengan mengeluarkan suara berisik sekali. Karena pohon tersebut seperti diterjang satu kekuatan yang sangat dahsyat.

Kim Lo menggidik juga.

“Hebat tenaga dalamnya. Jika tadi aku berayal dan terlambat mengelakkan, sehingga aku kena diserang, bukankah aku akan celaka?” Pikir Kim Lo.

Dan selanjutnya Kim Lo lebih mencurahkan perhatian pada setiap gerakan Auwyang Phu.

Auwyang Phu penasaran sekali. Ia tahu lawannya sangat lihay. Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Tadi ia melihat gin-kang lawannya mahir sekali, sebab bisa menghilang begitu saja dari hadapannya, dan mengelakkan pukulannya.

Berulang kali Auwyang Phu mengulangi serangannya, bahkan tidak jarang ia berjongkok, seperti seekor kodok, dan mendorong hebat mempergunakan dua telapak tangannya.

Kim Lo sekarang sudah tidak main kelit. Ia memusatkan hawa murni Kim-im-cin-keng dan ia berusaha membendung tenaga terjangan dari Auwyang Phu. Ia ingin mencoba untuk keras dilawan keras.

Kalau memang dibandingkan ilmu silat Kim Lo dengan Auwyang Phu, sesungguhnya kepandaian Kim Lo akan berada di atas Auwyang Phu. Karena Kim Lo menerima warisan langsung dari Oey Yok Su, sedangkan Auwyang Phu mewarisi kepandaian Auwyang Hong tidak secara langsung, dari ibunya, Cek Tian.

Demikian juga Cek Tian, yang tidak menerima langsung warisan Auwyang Hong, melainkan lewat sejilid kitab. Karena itu, banyak bagian-bagian yang sulit dimengerti dan tidak dapat dipahami oleh Cek Tian maupun Auwyang Phu.

Padahal bagian-bagian tersebut yang terpenting. Karena itu ilmu yang dimiliki Kim Lo sebetulnya murni dan hebat dari ilmu Auwyang Phu, jauh lebih sempurna. Hanya saja Kim Lo kurang latihan dan pengalaman.

Waktu itu pertempuran berlangsung terus, mereka masih tetap berimbang. Dan diam-diam Auwyang Phu jadi heran.

Ia tidak hentinya memikirkan, entah siapa orang yang menjadi lawannya ini. Dan sepintas ia masih bisa mengenali ilmu yang dipergunakan Kim Lo mirip-mirip dengan ilmu tocu dari pulau Tho-hoa-to. Cuma saja ia kurang begitu jelas untuk mengenali, asal-usul orang tersebut dari ilmu silatnya itu.

Kim Lo sendiri telah mempergunakan berbagai ilmu simpanannya, karena ia melihat beberapa kali dirinya hampir saja terdesak oleh rangsekan Auwyang Phu. Namun tetap saja mereka berimbang membuat Kim Lo jadi penasaran. Ia semakin memusatkan seluruh kekuatannya untuk mengadakan perlawanan.

Suatu kali, ketika Auwyang Phu menghantam dengan dua telapak tangannya, Kim Lo mengelak ke samping kanan. Dan bersamaan dengan itu, tampak tangan Auwyang Phu yang kiri telah melayang lagi, mendengar angin pukulan yang kuat Kim Lo mengelak lagi. Tapi terlam¬bat.

“Breett…....” Justeru itu kain putih penutup mukanya keserempet angin serangan Auwyang Phu dan kain itu tersingkap, sehingga terbuka dan tampak mukanya!

Auwyang Phu kaget. Ia sampai berseru. Dan ia melompat ke belakang.

Kim Lo cepat-cepat menutupi mukanya dengan kain putih itu. Bukan main gusarnya Kim Lo, karena wajahnya telah sempat dilihat oleh Auwyang Phu.

“Hahaha!” Tertawa Auwyang Phu setelah rasa herannya berkurang: “Tidak tahunya aku tengah bertempur dengan seekor monyet! Haha haha!” Sambil tertawa tidak hentinya, ia telah melompat dan menerjang lagi.

Kim Lo yang juga sudah naik darah dan gusar, tidak tinggal diam, karena iapun segera menerjang dengan hebat, setiap serangannya sekarang ini jauh lebih hebat. Ia tidak main-main lagi, ia bermaksud untuk berusaha merubuhkan Auwyang Phu.

Begitulah, mereka terlibat dalam pertempuran yang seru sekali. Tubuh mereka berkelebat ke sana ke mari seperti juga bayangan.

Ada yang menguntungkan Kim Lo, yaitu gin-kang yang dimiliki Kim Lo memang sangat tinggi dan mahir, gin-kang yang merupakan ilmu istimewa Oey Yok Su. Dan ia mempergunakan gin-kangnya itu untuk mengepung Auwyang Phu, membuatnya jadi pusing.

Auwyang Phu sendiri tengah diliputi perasaan heran.

“Dilihat usianya, mungkin ia baru duapuluh tahun, tapi mengapa ia demikian lihay? Dan mengapa mukanya seperti muka kera?” Sambil berpikir begitu, tidak hentinya ia mendesak Kim Lo bertubi-tubi.

Waktu itu Kim Lo terus juga mendesak Auwyang Phu, sampai akhirnya Auwyang Phu melompat kebelakang berjumpalitan tidak hentinya, menjatuhkan diri.

“Sekali ini aku mengampuni jiwamu, karena aku harus mengolah obatku yang tidak dapat tertunda dan aku akan membiarkan jiwamu dititipkan pada batok kepalamu. Tapi dilain kesempatan kita akan bertemu lagi.” Sambil berkata begitu Auwyang Phu terus juga melesat dengan cepat, dan Kim Lo mengejarnya.

Mereka jadi saling kejar, karena Kim Lo tidak mau melepaskannya. Auwyang Phu tetap hendak memisahkan diri. Karena Auwyang Phu berpikir tidak ada gunanya ia melayani terus Kim Lo yang hanya akan membuang-buang tenaga.

“Berhenti pengecut!” teriak Kim Lo.

Namun Auwyang Phu terus juga lari.

Waktu itu mereka telah melalui puluhan lie tapi mereka masih saling kejar terus menerus.

Sambil mengejar Kim Lo pun berpikir: “Ia mengaku sebagai putera Auwyang Hong. Tentunya dia bukan sebangsa munusia baik-baik terlebih lagi tadi dalam pertempuran setiap jurus yang dipergunakannya adalah ilmu silat yang sesat. Hemm, jika aku terus juga mengejarnya dan bisa melukainya, jelas aku tidak akan disesali suhu…….!”

Karena berpikir begitu, Kim Lo mengejar terus. Tubuhnya seperti bayangan setan saja, berkelebat sangat cepat.

Auwyang Phu sendiri mengempos semangatnya dan mengerahkan tenaganya, berlari terus dengan cepat. Dan ia pun tidak mau melayani Kim Lo.

Tengah Kim Lo asyik mengejar lawannya mendadak terdengar suara derap kaki kuda. Kim Lo melirik ke belakangnya. Segera terlihat seorang penunggang kuda tengah melarikan binatang tunggangannya dengan cepat sekali.

Dan yang membuat hati Kim Lo terkesiap, justru orang di atas punggung kuda itu dikenalinya sebagai orang yang membuat hatinya berdebar. Seorang gadis yang berpakaian merah. Dan gadis itulah yang pernah bertempur dengannya, karena gadis itu sangat galak sekali main cambuk dan main menyerang dengannya.

Kim Lo tersentak bingung dan gugup, karena seketika hatinya berdebar. Ia memang tertarik pada gadis itu.

Sekarang melihat gadis tersebut muncul di situ, tentu saja membuat ia jadi tergoncang perasaannya. Ia merandek, dan karena itu Auwyang Phu telah lari semakin jauh dan akhirnya lenyap.

Gadis itu melarikan kudanya cepat sekali. Belum lagi kuda itu dihentikan tubuhnya telah melesat melompat turun dari punggung kudanya tersebut.

“Hemm, kembali kau mengganas!” Mengejek gadis itu dengan suara yang dingin. “Kau ingin merampok di siang hari bolong?”

Muka Kim Lo jadi merah, untung saja waktu itu mukanya diselubungi oleh sehelai kain putih sehingga gadis itu tidak bisa melihat perobahan wajahnya.

“Jangan nona sembarangan menuduh!” katanya dengan sikap kurang senang.

“Siapa yang menuduh?! Aku telah menyaksikan, betapa kau mengejar-ngejar calon korban untuk dirampok bukan?” Kata gadis baju merah itu.

Kim Lo menghela napas dalam-dalam.

“Nona, mengapa kau selalu usil mencampuri urusanku?” Kata Kim Lo akhirnya.

“Mencampuri urusanmu? Terlalu usil? Oh, mulutmu selalu jahat sekali! Siapa yang usil mencampuri urusanmu? Hemm, justeru aku tidak akan membiarkan penjahat manapun berbuat sewenang-wenang di depan pucuk hidungku!”

“Bukan sekedar mencampuri saja tapi akan kubuktikan kau tidak berani menyebutkan namamu!” Mengejek Kim Lo, girang bukan main, karena ia telah mengetahui bahwa gadis baju merah yang selalu membuat hatinya berdebar adalah orang she Yo.

“Namaku....... Bie Lan!” Kata si gadis kemudian karena saking terpojokkan, dan pedangnya meluncur menyerang Kim Lo.

“Yo Bie Lan! Nama yang bagus!” Teriak Kim Lo sambil tertawa dan mengelakan serangan gadis itu.

Yo Bie Lan, gadis baju merah itu benar-benar kalap dan mati kutu tidak berdaya, walaupun ia menyerang gencar, tokh Kim Lo selalu dapat mengelakannya. Ia benar penasaran tapi tidak bisa melampiaskannya, sehingga membuat dia seperti ingin menangis buat melampiaskan kemendongkolan dan penasarannya itu.

“Kau she Yo, nona Bie Lan. Tentunya kau masih ada hubungan dengan keluarga Yo dari Sin-tiauw Tay-hiap? Bukankah begitu nona Bie Lan?” Tanya Kim Lo yang sengaja tetap mempermainkan Bie Lan.

Ia sembarangan saja berkata begitu. Ia sering mendengar tentang kependekaran dan kesaktian Sin-tiauw Tay-hiap Yo Ko, di mana Oey Yok Su selalu menceritakannya dengan penuh perasaan kagum.

Dan Kim Lo yang cuma mendengar sepak terjang Sin-tiauw Tay-hiap Yo Ko telah tertanam perasaan kagumnya. Karena mendengar gadis itu she Yo, sembarangan saja ia bilang begitu.

Tapi tidak terduga, gadis itu justeru jadi tahu-tahu ia melompat ke belakang dengan muka yang berobah dan mata yang terbuka lebar-lebar.

“Ihhh, dari mana kau mengetahuinya?” Tanya gadis itu dengan suara tidak sekeras tadi.

Kim Lo juga kaget. Ia bicara sembarangan. Siapa tahu tampaknya memang gadis ini benar-benar dari keluarga Sin-tiauw Tay-hiap Yo Ko. Ia jadi menyesal telah mempermainkan gadis ini, jika memang benar-benar si gadis dari keluarga Yo yang dikaguminya itu.

“Jadi…….. jadi benar nona memiliki hubungan dengan Sin-tiauw Tay-hiap?” tanya Kim Lo.

Gadis itu mengawasi tajam pada Kim Lo dengan mata tidak berkedip.

“Jadi kau sekarang baru mengetahui bahwa aku bukan sebangsa manusia rendah?” Kata si gadis.

Kim Lo memperlihatkan sikap menyesal. Malah ia segera juga memasukkan serulingnya ke dalam sakunya. Seruling itu saja hadiah pemberian dari Yo Him, putera Sin-tiauw Tay-hiap. Karenanya cepat merangkapkan tangannya memberi hormat kepada si gadis.

“Maaf…… maaf, sungguh aku tidak bermaksud menghina nona!” Katanya. “Maafkan atas kecerobohanku tadi.”

Gadis itu menjadi lebih sabar dari tadi, karena ia melihat Kim Lo meminta maaf dengan sikap sungguh-sungguh.

“Hemm, sesungguhnya siapa kau? Apakah kau sahabat Kong-kong?” Tanya si gadis.

Kim Lo tambah kaget.

“Jadi....... jadi Sin-tiauw Tay-hiap adalah Kong-kongmu?” Tanya Kim Lo.

Gadis itu mengangguk.

“Benar…...!” Katanya. “Tapi.......” namun gadis itu tidak meneruskan kata-katanya.

“Jadi……. nona puteri Yo Him Tay-hiap?” Tanya Kim Lo lagi.

“Benar!” Mengangguk gadis itu.

“Akh, bagaimana kesehatan Yo Him Pehpeh (paman Yo Him)?” Tanya Kim Lo girang dan kaget.

“Hemm, sebenarnya kau, kau sahabat atau musuh dari keluarga Yo?” Tanya gadis itu dengan pandangan menyelidik.

“Sahabat! Sahabat!” kata Kim Lo segera.

“Lalu mengapa kau memusuhi aku?” Tanya Yo Bie Lan sambil mengawasi lagi dengan tajam dan mulut dimonyongkan.

Kim Lo tercekat kaget, kemudian ia geleng-gelengkan kepalanya. “Aneh gadis ini! Dia yang selalu memusuhi aku, galak dan selalu menyerangku tanpa keruan juntrungannya. Sekarang malah ia berbalik menuduh aku yang memusuhinya!”

Tapi Kim Lo setelah mengetahui bahwa gadis itu adalah cucu Sin-tiauw Tay-hiap, tidak berani main-main lagi. Ia tetap menghormati dan katanya mengalah,

“Sebenarnya....... sebenarnya hanya terjadi satu salah paham belaka……. Harap nona mau memaafkan…….!”

Gadis itu jadi lebih tenang dan lebih sabar. Senang hatinya mendengar Kim Lo mengaku bersalah.

“Siapa kau sebenarnya?” Tanya Yo Bie Lan sambil terus menatap tajam.

“Seperti yang telah kuberitahukan tadi, aku bernama Kim Lo.” Menjelaskan Kim Lo.

“Ya, memang tadi telah kudengar, namamu Kim Lo tapi……. kau ini sesungguhnya siapa? Sedangkan mukamu itu saja telah ditutupi kain putih dan tidak pernah kulihat wajahmu.”

Kim Lo jadi kikuk.

“Ini…… nanti akan kuceritakan,” kata Kim Lo. “Maafkanlah, sementara waktu ini tidak dapat aku membuka tutup muka ini!”

“Mengapa kau bertempur dengan orang yang melarikan diri?” Tanya Yo Bie Lan.

“Dia putera Auwyang Hong, ia meminta ganti untuk hal yang tidak masuk akal,” menjelaskan Kim Lo.

“Puteranya Auwyang Hong? See-tok Auwyang Hong?” tanya Bie Lan sambil membeliakan matanya.

“Ya, menurut dia memang begitu, ia mengaku sebagai putera Auwyang Hong. Entah benar atau tidak. Tapi yang pasti ia memang memiliki kepandaian yang tinggi dan rupanya ia pun mahir sekali menguasai ilmu Ha-mo-kang.”

“Lalu mengapa kalian berselisih?”

Kim Lo menceritakan sebab-sebabnya.

Mendengar cerita Kim Lo, Bie Lan tertawa bergelak-gelak.

“Lucu! Mana ada aturan seperti itu?” kata Bie Lan kemudian di antara tertawanya.

“Nah karena aku menolak tuntutannya, ia menyerangku, kami jadi bertempur. Namun akhirnya entah mengapa, ia telah memisahkan diri dan berusaha melarikan diri!”

Gadis itu memandang kagum.

“Kalau demikian memang kepandaianmu tinggi sekali. Putera Auwyang Hong saja dapat kau rubuhkan, sehingga ia ketakutan dan melarikan diri.” Memuji Bie Lan.

“Bukan begitu!” Kim Lo cepat-cepat memotong perkataan si gadis. “Sebenarnya kepandaian dia tidak berada di sebelah bawah kepandaianku, kami berimbang. Tapi entah mengapa, mendadak sekali ia telah memisahkan diri dan katanya ia ingin meramu obat-obatan yang tidak bisa ditundanya lagi, sehingga ia berusaha meninggalkan aku.

“Aku mengejarnya. Namun seperti yang kukatakan tadi, kepandaian kami memang hampir berimbang, kami jadi saling kejar saja!”

Bie Lan tersenyum, manis sekali.

“Sekarang kau tentu tidak keberatan buat membuka kain penutup mukamu itu?” Tanya si gadis.

Kaget Kim Lo. Bagaimana mungkin ia bisa membiarkan gadis itu melihat wajahnya yang aneh dan kurang baik bentuknya, yang seperti kera itu.

“Ini……. Ini…...!” Katanya gugup dan sangat kikuk, ia jadi serba salah tingkah.

“Mengapa? Apakah kau ada kesulitan?” Tanya Bie Lan kemudian sambil menatap tajam.

Kim Lo mengangguk.

“Ya, ada sedikit kesulitan yang tidak dapat kuceritakan padamu sekarang, nona…… harap kau maklum dan mau memaafkannya!” Kata Kim Lo. Malah ia segera membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada Bie Lan.

Si gadis menyingkir tidak mau menerima pemberian hormat Kim Lo, ia bilang: “Jika aku melihat sebentar saja tokh tidak jadi persoalan, sekarang aku tidak tahu bagaimana bentuk mukamu, berapa usiamu dan juga siapa kau sebenarnya?”

“Maafkan nona nanti juga nona akan mengetahui!” kata Kim Lo dengan sikap menyesal sekali.

“Baiklah kalau memang kau keberatan memperlihatkan mukamu padaku, sekarang maukah kau memberitahukan kau berasal dari mana? Pintu perguruan mana? Siapa gurumu? Dan berapa usiamu?”

“Aku….. aku tahun ini berumur duapuluh tahun!” Menjelaskan Kim Lo setengah ragu-ragu sejenak.

“Apa? Jika begini kau masih muda sekali!” berseru Bie Lan.

Kim Lo tertawa.

“Apakah sebelumnya kau menyangka aku sebagai seorang kakek tua jompo?” tanya Kim Lo.

Gadis itu mengangguk.

“Ya, melihat kepandaianmu, semula aku menduga tentu sedikitnya kau seorang tokoh sakti rimba persilatan, yang telah berusia lanjut. Siapa sangka, kau ternyata masih muda sekali.

Kim Lo senang mendengar ucapan si gadis ia kemudian bilang lagi: “Sesungguhnya, untuk urusan pintu perguruanku tak bisa dibicarakan dengan sembarang orang, tapi aku bersedia memberitahukan hanya untukmu, nona!”

“Tunggu dulu!” memotong si gadis.

Kim Lo memandang heran pada si gadis.

“Apa nona Yo?” tanyanya kemudian.

“Jika memang kau kesulitan yang membuat engkau tidak bisa memberitahukan asal dan pintu perguruanmu, kau tidak perlu memberitahukannya kepadaku! Aku pun tidak akan memaksanya,” tampaknya gadis itu tersinggung.

“Aneh gadis ini,” pikir Kim Lo. “Ia galak sekali dan cepat tersinggung.”

Namun Kim Lo segera berkata sabar. “Tapi untukmu lain, nona, aku bersedia memberitahukannya! Aku sesungguhnya dari Tho-hoa-to.”

“Dari Tho-hoa-to?” tanya Bie Lan heran dan tampaknya ia terkejut, karena wajahnya berobah.

Kim Lo mengangguk,

“Benar, nona!”

“Pulau Tho-hoa-to milik Oey Yok Su Locianpwe?” tanya Bie Lan lagi menegasi.

Kim Lo sekali lagi mengangguk.

“Oey Yok Su adalah Kong-kongku! Aku cucunya!” Menyahuti Kim Lo.

Si gadis mementang matanya lebar-lebar seakan-akan tidak mempercayai apa yang didengarnya.

“Kau cucu Oey Yok Su Locianpwe?” tanya nya kemudian.

Kim Lo mengiakan.

“Kalau begitu, kau tentunya putera dari Oey Yong Pehbo dengan Kwee Ceng peh-hu?” Kata gadis itu.

Kim Lo cepat-cepat gelengkan kepala.

“Bukan! Bukan!” Katanya.

Yo Bie Lan memandang curiga pada Kim Lo. Barulah kemudian ia berkata ragu-ragu.

“Jika memang kau bukan putera dari Oey Yong Pehbo atau Kwee Ceng pehhu, tentunya kau berdusta dengan keteranganmu! Oey Yok Su Lo-cianpwe cuma memiliki seorang puteri, yaitu Oey Yong pehbo. Bagaimana mungkin kau mengakui dirimu sebagai cucu Oey Yok Su Locianpwe.

Kim Lo tertawa perlahan.

“Aku anak orang lain, tapi Oey locianpwe telah mengakui aku sebagai cucunya! Semua ilmu yang kumiliki juga diwarisi olehnya!” menjelaskan Kim Lo.

Bie Lan mengangguk beberapa kali, tapi jelas pada sikapnya itu tampak bahwa ia masih bimbang dan ragu- ragu.

“Nah nona, kau telah mengetahui asal-usulku, apakah ada yang perlu kau tanyakan lagi?” Tanya Kim Lo.

Bie Lan menggeleng.

“Tidak, kukira cukup, tapi nanti aku akan menanyakan pada ayah, apakah Oey Yok Su Locianpwe memang sebenar-benarnya telah mengambil cucu angkat?”

“Ya, kukira itu ada baiknya juga!” Kata Kim Lo.

“Baiklah! Aku akan melanjutkan perjalanan!” Kata Yo Bie Lan. Ia bersiul nyaring, kudanya yang tengah makan rumput jinak sekali menghampirinya.

“Tunggu dulu, nona Yo!” Kata Kim Lo agak tergesa-gesa karena kuatir gadis itu keburu melompat naik ke atas kudanya.

Bie Lan menoleh.

“Ada apa lagi?” Tanyanya.

“Nona mau pergi kemana? Ke mana tujuan nona?” Tanya Kim Lo agak gugup. Ia merasakan, betapa ia sangat berat sekali jika harus berpisah dengan gadis ini. Walaupun mereka baru saja bertemu, tapi mereka bisa bicara dengan mengasyikan.

“Aku.......” Gadis itu ragu-ragu.

“Mungkin nona berat untuk memberi tahukannya?” Tanya Kim Lo kemudian.

“Bukan begitu! Tapi....... sesungguhnya tidak ada artinya apa-apa jika aku pun memberitahukan ke mana tujuanku!” menjelaskan Yo Bie Lan sambil tersenyum.

“Ya, sudahlah! Jika memang nona keberatan untuk memberitahukan, aku pun tidak akan memaksa,” Kata Kim Lo.

“Aku....... aku sesungguhnya ingin pergi ke Yang-cung, dusun kecil.......!” Kata gadis itu pada akhirnya.

“Ihh!” Kim Lo mengeluarkan seruan heran.

“Kenapa? Tampaknya kau takut?” Tanya Bie Lan.

“Aku pun ingin pergi ke Yang-cung. Kalau demikian kita satu arah dan satu tujuan,” menjelaskan Kim Lo

Muka si gadis berobah merah.

“Kau ini ada-ada saja. Tentu itu hanya alasanmu yang mengada-ngada saja! Bagaimana mungkin bisa demikian kebetulan. Aku ingin pergi ke Yang-cung lalu kau juga mengatakan bahwa akan pergi ke Yang-cung juga! Tentu itu hanya alasanmu belaka!”

Kim Lo tergagap, namun akhirnya ia bisa juga bilang: “Aku tidak berdusta nona! Aku memang tengah melakukan perjalanan untuk pergi ke Yang-cung untuk menemui beberapa orang sababat Kong-kongku!”

Alis si gadis mengerut.

“Siapa yang ingin kau ketemui di sana?” Tanya Bie Lan pada akhirnya.

“Salah seorang dari orang-orang yang kujumpai di sana adalah ayah nona…….!” Menjelaskan Kim Lo. “Dan juga, aku harus menemui paman Ko Tie, bibi Giok Hoa dan paman Siangkoan Yap dan lain-lainnya!”

Muka si gadis berobah.

“Kau tidak berdusta?” Tanyanya.

Kim Lo menggeleng.

“Justeru akupun pergi ke Yang-cung untuk menemui mereka!” Kata si gadis.

Kembali Kim Lo mengeluarkan seruan heran.

“Aneh sekali, bisa demikian kebetulan kita memiliki tujuan yang sama. Juga memiliki keperluan yang sama!” Kata Kim Lo.

“Tapi aku tidak bisa mempercayai sepenuhnya kata-katamu sebelum menanyakan pada ayahku perihal kau dan Oey Yok Su locianpwe!” Kata Bie Lan. “Nah, coba sekarang kau buka tutup mukamu itu, biar kita bisa berkenalan lebih baik lagi!”

Kaget Kim Lo, ia tergagap.

“Sayang sekali tidak dapat aku penuhi permintaan nona!” Kata Kim Lo dengan penuh penyesalan.

“Jika memang kau tak mau memperlihatkan mukamu padaku, maaf, aku belum lagi bisa mempercayai kata-katamu!” Kata si gadis.

Diam-diam Kim Lo berpikir di dalam hatinya: “Tujuan kami sama, yaitu ke Yang-cung, tapi jika aku melakukan perjalanan bersamanya tentu akan menimbulkan banyak kerewelan, di mana ia selalu akan merengek minta melihat wajahku! Lebih baik, kita berpisah saja!”

Walaupun hatinya ingin sekali pergi melakukan perjalanan bersama-sama si gadis she Yo tersebut, akan tetapi akhirnya Kim Lo bilang:

“Nanti kita bertemu lagi nona Yo! Nah, selamat tinggal!” Sambil berkata begitu, Kim Lo menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat pergi.

Yo Bie Lan berdiri tertegun sejenak di tempatnya mengawasi kepergian Kim Lo. Akhirnya gadis ini menghela napas dan melompat naik ke punggung kudanya.

Lalu binatang tunggangannya itu dilarikan cepat sekali. Cambuknya juga digerakan berulang kali, sehingga terdengar suara “Tarrr! Tarrr!” yang semakin lama semakin jauh dan samar.

Yo Bie Lan memang puteri tunggal Yo Him, hasil perkawinannya dengan Sasana. Dia sejak kecil, Bie Lan dididik langsung oleh Yo Him dan Sasana.

Terlebih lagi, Yo Bie Lan merupakan cucu satu-satunya bagi Sin-tiauw Tay-hiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Sebagai kakek dan neneknya, Siauw Liong Lie dan Yo Ko pun selalu mewarisi kepandaian mereka.

Setiap ada kesempatan tentu mereka akan mengunjungi Yo Him untuk melihat cucu mereka. Longokan mereka selalu membawa keberuntungan buat Bie Lan. Selalu ia memperoleh ilmu yang baru dari kakek dan neneknya.

Tidak mengherankan jika dalam usia sembilanbelas tahun seperti itu, gadis ini memiliki kepandaian yang tinggi. Cuma pengalaman belaka yang kurang.

Seperti yang dialami Kim Lo, maka Bie Lan pun sama kurang latihan dan pengalaman, hanya saja, ilmu yang dimilikinya sangat hebat. Kalau memang ia berlatih dengan tekun dan rajin, tentu ia kelak bisa menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh sekali.

Wajah Bie Lan cantik jelita, Siauw Liong Lie yang dulu diwaktu mudanya terkenal sangat cantik, diam-diam mengakui bahwa cucunya sangat cantik sekali. Mungkin melebihi kecantikan Siauw Liong Lie sendiri dikala mudanya.

Hanya saja, sejak kecil Yo Him mengajak Bie Lan menetap di sebuah tempat yang sunyi. Jarang sekali yang mengetahui bahwa cucu Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko sesungguhnya sekarang telah dewasa dan memiliki kepandaian yang tinggi.

Maksud kepergian Yo Bie Lan ke Yang-cung justeru atas perintah ayah dan ibunya. Yo Him dan Sasana menghendaki puteri mereka ini memperoleh pengalaman.

Sebagai orang yang memiliki pandangan luas, Yo Him tahu jika ia mengekang puterinya ini selalu di rumah, niscaya akhirnya Yo Bie Lan selamanya kembali ke dunia asal mereka yaitu Akherat!

Maka jika bukan sejak sekarang Bie Lan dibimbing dan memiliki pengalaman yang banyak untuk dapat berdiri sendiri, bukankah di saat ke dua orang tuanya pergi buat selamanya meninggalkan ia, gadis ini akan memperoleh kesulitan?

Selain memiliki paras yang cantik, Yo Bie Lan memiliki adat yang agak luar biasa. Ia sangat cerdik, cuma cepat sekali marah dan galak. Ia selalu ingin membela yang lemah.

Dan jika ia menyaksikan urusan yang tidak beres, tentu ia akan jadi marah dan galak sekali. Untuk membela yang lemah dan menghajar yang jahat dan kuat, ia tidak pernah takut menghadapi siapapun juga.

Dari ayah dan ibunya, maupun dari kakek dan neneknya, banyak yang didengar Yo Bie Lan. Karena itu, ia selalu tertarik untuk berkelana. Dan kebetulan sekali, ayah dan ibunya perintahkan ia pergi ke Yang-cung, dan kesempatan ini menggembirakan benar hatinya.

Yo Him dan Sasana sendiri akan menyusul puterinya ke Yang-cung, karena merekapun akan datang ke sana! Cuma saja mereka perintahkan Yo Bie Lan melakukan perjalanan lebih dulu, mereka akan menyusul belakangan.

Cukup banyak yang dialami Yo Bie Lan. Cuma saja disebabkan kepandaiannya memang tinggi dan mahir sekali, terutama ilmu silat yang dimilikinya berasal dari tokoh-tokoh sakti dengan begitu, tidak pernah Yo Bie Lan kena dirubuhkan orang. Dengan mudah selalu ia menghajar penjahat.

Sebagai seorang gadis yang sangat cantik dan jelita, tentu saja sepanjang perjalanan ia selalu menarik perhatian kaum laki-laki hidung belang. Juga tidak sedikit kaum penjahat yang naksir melihat kecantikannya dan mengandung maksud buruk. Selalu saja Yo Bie Lan dapat menghadapi mereka dan menghajarnya malah.

Sampai akhirnya Yo Bie Lan bertemu dengan Kim Lo dan memang ia merasa aneh untuk sepak terjang Kim Lo. Orang yang akhirnya diketahui baru berusia duapuluh tahun itu.

Ia tidak mengerti Kim Lo selalu menutupi mukanya. Kepandaiannya juga sangat tinggi. Malah yang membuat Yo Bie Lan akhir-akhir ini sering memikirkan Kim Lo, ialah pemuda itu mengakui ia sebagai cucu Oey Yok Su!

Sepanjang perjalanan, ia jadi semakin penasaran memikirkan hal Kim Lo, karena belum lagi bisa melihat bagaimana rupa dan tampang muka si pemuda. Tampankah ia? Cakapkah ia? Atau memang pemuda itu memiliki wajah yang buruk atau terlalu buruk sekali, sehingga mukanya perlu selalu ditutupi dengan kain putih?

Benar-benar Bie Lan tidak habis mengerti. Dan ia bertekad di dalam hatinya, kelak di Yang-cung, ia akan berusaha membuka tutup muka Kim Lo, agar ia bisa melihat bentuk muka Kim Lo. Dan ia memang akan melakukan itu dengan cara apapun juga.

Selama belum berhasil melihat muka Kim Lo yang sebenarnya, selama itu pula Bie Lan akan penasaran. Terlebih lagi memang ia mewarisi adat dan tabiat dari kakeknya, yaitu Sin-tiauw Tay-hiap Yo Ko yang paling terkenal keras hati dan tidak mau menyerah dengan kesukaran apapun yang dihadapinya.

Dan Bie Lan pun demikian pula halnya. Selama ia belum berhasil memenuhi keinginannya, selama itu pula ia akan berusaha sekuat tenaganya!

<> 

Bulan mengambang sepotong di langit, awan tidak tampak. Cukup gelap, menyelimuti kota Yu-kang. Sebuah kota yang tidak begitu besar, tapi cukup padat penduduknya, karena sebelah selatan kota itu terletak kota Li-sung.

Dan jika berjalan ke arah barat orang akan tiba di dusun Yang-cung dan akhirnya pergi tigapuluh lie lebih lagi akan sampai di kota Lam-shia, sebuah kota yang besar dan sangat ramai. Tidak terlalu mengherankan kalau kota Yu-kang pun termasuk kota yang ramai.

Dalam kesunyian malam tampak keadaan kota Yu-kang seperti mati dan sepi sekali. Tidak terlihat orang berlalu lalang. Cuma tampak lampu tengloleng menyala dan juga memang terlihat keadaan di kota itu keamanan rupanya terjamin, sebab jarang sekali terlihat penjaga malam.

Dalam kesunyian seperti itu, di antara desir angin yang berkesiuran sangat kencang, tampak sesosok bayangan yang tinggi besar, tengah berlari-lari di atas genting. Gerakan orang itu sangat lincah sekali, karena ia berlari dengan mempergunakan gin-kang yang tinggi sehingga ringan sekali.

Ia melompat dengan pesat sekali, seakan juga bayangan hantu yang tengah gentayangan di tengah malam buta. Samar-samar dikejauhan terdengar suara kentongan dipukul dua kali, malam telah larut benar.

Sosok bayangan tersebut terus juga melompat di atas genting-genting rumah dan akhirnya berhenti di sebuah bangunan. Ia tidak segera turun. Ia mendekam di atas genting, seakan juga tengah melihat situasi dan keadaan.

Setelah merasa bahwa gedung bertingkat dua itu aman dan tidak ada yang jaga, ia baru melompat turun, ringan sekali. Kakinya hinggap di tanah tidak menimbulkan suara sedikitpun juga. Gin-kang yang mahir sekali.

Segera ia menuju ke belakang gedung. Ia melihat jendela kamar yang masih terang benderang. Ia telah mengetuk perlahan jendela itu dua kali.

Api penerangan di dalam kamar itu padam. Keadaan sunyi sekali. Kemudian tampak daun jendela terbuka perlahan-lahan.

Yang membuka daun jendela itu ternyata seorang wanita cantik. Usianya tidak muda lagi, mungkin telah tigapuluh tahun, atau mungkin juga lebih.

Tapi kecantikan wajahnya sangat menyala sekali, mungkin jarang ada gadis-gadis jelita yang bisa menandingi kecantikan wanita ini. Ia tampak berseri-seri girang.

“Akhirnya Taysu datang juga.......!” Katanya dengan suara yang gembira. “Sst, jangan ribut-ribut, mereka baru saja tidur...... mari masuk, Taysu!”

Orang bertubuh tinggi besar itu mengiakan dengan suara perlahan. Mudah saja ia melompat masuk ke dalam kamar itu melewati jendela yang terbuka.

Daun jendela tertutup lagi.

Keadaan di dalam kamar itu gelap pekat, tapi memang keadaan seperti itulah yang dikehendaki wanita cantik dan tamu tidak diundang itu.

Malah, orang yang dipanggil Taysu itu telah melangkah menghampiri wanita cantik tersebut. Ia merangkul wanita ini. Iapun bernapas memburu dan hangat sekali.

“Ahh, kekasihku……. kau rupanya setia menantikan aku!” bisik orang yang dipanggil dengan sebutan kebesaran seorang pendeta itu, “Aku benar-benar sangat merindukan kau!”

Wanita cantik itupun membalas merangkul orang tersebut. Akhirnya ia menghela napas dalam-dalam.

“Taysu, semula kuduga kau akan menyalahi janji dan batal datang, mengingat suamiku akhir-akhir ini menempatkan penjagaan yang ketat sekali di sekitar tempat ini!” Perlahan suara wanita cantik itu, seperti berbisik.

“Walaupun suamimu menempatkan seribu tentara untuk menjaga gedung ini, tidak nantinya ia bisa membendung kedatanganku ini! Hemm, aku tetap akan datang menemui kau, kekasihku!”

Begitulah, dua orang itu bercumbu dengan asyik. Keadaan di luar kamar sangat sunyi dan sepi. Cuma samar-samar terdengar suara binatang malam.

Akhirnya laki-laki bertubuh tinggi besar itu telah membuka kopiahnya. Ia ternyata berkepala gundul.

Memang tadi ia mempergunakan kopiahnya itu untuk melindungi kepalanya yang gundul. Ia ternyata seorang pendeta, karena jubah luarnya telah dibuka dan tampak jubah kependetaannya yang melekat di tubuhnya.

Wanita cantik merangkul dan memeluk si pendeta lagi, ia bilang: “Taysu, kau sebagai guru negara, tentu kekuasaanmu sangat besar sekali! Minta saja kepada Hong-siang, agar suamiku ini dilempar ke daerah yang jauh sekali untuk menjalankan tugasnya yang baru.

“Aku dengan berbagai alasan tidak akan ikut serta dengannya. Aku akan berusaha untuk berdiam terus di sini! Dengan demikian kita bisa melakukan segala apa pun dengan sebaik-baiknya!”

Pendeta itu tertawa.

“Jangan berpikir seperti anak kecil!” Katanya kemudian dengan suara yang sabar. “Dengan cara inipun suamimu tidak bisa membendung rasa rindu kita!

“Bukankah sampai sekarang pun mereka tidak mengetahui apa yang kita lakukan? Suamimu dan juga anak buahnya, mereka merupakan manusia-manusia bodoh tidak punya guna!”

Wanita cantik itu tertawa kecil dan genit sekali. Ia mencubit perut si pendeta.

“Taysu, memang yang enak adalah barang curian, ya?” tanya wanita itu berbisik genit. “Dengan cara mencuri-curi seperti ini mungkin lebih mengasyikkan, kan?”

Pendeta itu mengangguk.

“Kukira memang begitu, dengan cara mencuri-curi seperti ini kita melakukannya lebih mengasyikan dengan sepenuhnya dan juga kebahagiaan yang lebih tebal…….!”

“Tapi Taysu…….!” Ragu-ragu wanita cantik itu seperti berpikir

“Ada apa sayang?” tanya si pendeta.

“Ohh, Taysu, aku sangat takut kalau kelak kehilangan kau. Jika kelak kau telah bosan padaku, kau tak akan datang mengunjungi aku lagi…… di saat itu tentu aku akan berduka sekali karena kehilangan kau!”

“Jangan kuatir kekasihku! Aku tak mungkin meninggalkan kau! Akupun tidak mungkin bisa hidup tanpa kau di sisiku! Aku akan selalu setia mengunjungimu,” bujuk si pendeta.

Wanita cantik itu menghela napas.

Pendeta itu menundukkan kepalanya, menciumi wanita cantik itu. Iapun membisiki mesra: “Janganlah acara asyik bahagia ini kita rusak dengan pikiran yang tidak-tidak!”

Akhirnya ia berbisik lagi: “Taysu.......”

“Ya.”

“Mengapa nasibku begini buruk?”

“Mengapa kau bicara seperti itu kekasihku? Bukankah sekarang kau bahagia?”

“Ya!” Kata wanita cantik tersebut. “Jika saja suamiku itu seperti kau, alangkah bahagianya aku. Walaupun sekarang ia sebagai pembesar negeri yang memiliki kekuasaan besar, namun ia tidak berarti apa-apa untukku!

“Aku lebih bahagia jika ia sebagai rakyat biasa tapi bisa melakukan kewajibannya segagah kau, Taysu…….!”

Pendeta itu tersenyum.

“Bukankah kekurangan yang selama ini kau rasakan telah terpenuhi olehku?” bisik si pendeta.

“Ya, tapi aku tak akan kekal……. Sewaktu-waktu akan hancur dan punah.......!”

“Mengapa begitu?”

“Aku yakin……. sewaktu-waktu kita akan berpisah! Dan diwaktu itulah aku tak akan memperoleh lagi segalanya…….!”

Pendeta itu tertawa lagi.

“Sudahlah, kita jangan memusingkan urusan yang akan datang! Yang terpenting sekarang, kita menikmati kebahagiaan kita!”

“Taysu…….betapa bahagianya aku…..!”

“Ya, kau memang akan bahagia kekasihku!”

“Dan aku akan lebih bahagia lagi, jika lelaki yang bisa memberikan kebahagiaan kepadaku menjadi milikku!”

“Sudahlah kekasihku, mengapa kau berpikiran sejauh itu.......”

“Kau seorang pendeta jelas kau tidak mungkin bisa mengawini aku…….!”

“Kau ada-ada saja, kasihku!”

“Sering terpikir olehku, betapa bahagianya jika Taysu mau mengajakku meninggalkan tempat ini, menjadi suamiku, dan kita tinggal di sebuah tempat yang sepih jauh dari keramaian. Kita berdua menikmati kebahagiaan kita…….!” Menggumam wanita itu lagi.

Pendeta itu tidak menyahuti lagi.

“Aku telah terpikiran Taysu…….,” Kata wanita cantik itu lagi.

“Ya!”

“Alangkah baiknya jika….... jika…....”

“Jika apa, kekasihku?”

“Bagaimana kalau Taysu membantu membinasakan suamiku?” Tanya wanita cantik itu.

Pendeta itu agak terkejut. Ia mengangkat kepalanya.

“Maksudmu kasihku?” Tanyanya.

“Sesungguhnya, jika saja kita bisa membereskan tua bangka itu, berarti seluruh hartanya akan jatuh ke tanganku! Dan kita boleh menikah! Kau boleh meninggalkan kependetaanmu, kau memelihara rambut lagi. Kau menjadi suamiku. Dan kau akan memperoleh seluruh harta warisan suamiku!”

Pendeta itu tertawa kecil.

“Aku tidak tertarik dengan harta kekasihmu? Aku lebih tertarik padamu yang cantik jelita!” Kata si pendeta.

“Tapi Taysu…….!”

“Sudahlah, kita jangan mempersulit diri kita dengan urusan yang bukan-bukan,” Kata si pendeta. “Bukankah dengan demikian, tanpa perlu menempuh sesuatu yang ada resikonya, kita sudah bisa menikmati kebahagiaan kita?”

Perempuan cantik itu menghela napas.

“Baiklah Taysu…...!” Katanya.

Dan ia pun telah merobah sikap

Wanita cantik itu memang benar-benar seorang wanita yang hebat dalam segalanya.

Pendeta itu sudah ditunggangi oleh iblis yang menari-nari di atas kepalanya yang gundul.

Pendeta itu terkulai lemas di samping perempuan itu. Dan mereka tampaknya lesu sekali.

“Aku sesungguhnya ingin tidur disini sampai menjelang fajar!”

“Tidurlah…..!”

“Aku kuatir nanti suamimu datang mengunjungimu!”

“Jangan kuatir! Dia tak mungkin datang seperti hari-hari sekarang. Tua bangka tidak berguna. Ia datangpun untuk apa?”

Pendeta itu menghela napas.

Mendadak si pendeta seperti teringat sesuatu, ia tersentak.

“Aku harus pergi.......!” katanya.

“Ohh, jangan……. nanti saja, Taysu!” perempuan cantik itu memeganginya, mencegah ia pergi.

“Tapi kekasihku, aku tokh akan sering-sering datang kembali ke mari!” kata si pendeta membujuk. “Lepaskanlah!”

“Jangan Taysu…….!”

“Tapi ada sesuatu yang perlu kuurus!”

“Nanti saja....... tidak kau kasihan padaku, Taysu?” kata wanita cantik itu manja.

“Jika terlambat bisa membahayakan jiwa kawan-kawanku!” Kata pendeta itu.

“Tapi aku masih membutuhkan kau, Taysu…….!” Kata wanita cantik itu.

Namun si pendeta tetap tak memperdulikannya. Ia menarik tangannya sehingga terlepas dari cekalan si wanita cantik.

Kemudian ia bilang: “Sebenarnya kami sedang menuju ke Yang-cung, untuk menumpas kaum pemberontak! Jika memang berhasil, maka aku akan segera kemari lagi!”

“Taysu…….!”

“Ya…..!”

“Tentunya lama sekali kau baru bisa datang ke mari?” Tanya wanita cantik itu.

“Aku usahakan untuk cepat-cepat berada di sisimu kekasihku. Akupun sangat merindukan kau!” Kata pendeta itu.

“Tapi Taysu....... kau jangan membohongi aku, ya?”

“Percayalah, aku tidak membohongi kau, kekasihku!”

“Taysu…….!”

“Aku pergi sekarang…….!”

“Ohh, kau tega meninggalkan aku sekarang? Fajar masih akan lama menyingsing, aku masih membutuhkan kau, Taysu!”

“Maafkan kekasihku, aku perlu pergi cepat-cepat.......!” Dan si pendeta menghampiri jendela membukanya, ia melompat keluar.

Tapi waktu tubuhnya tengah melayang ke luar melewati jendela itu, tiba-tiba dari arah luar jendela itu menyambar serangkum angin keras dan kuat sekali.

Si pendeta yang tak menyangka akan terjadi hal seperti itu, seketika dadanya kena terhajar telak, tubuhnya terjengkang masuk ke dalam kamar.

Bukan main kagetnya wanita cantik itu. Ia melompat turun dari pembaringan.

“Kenapa kau, Taysu?” Tanya perempuan cantik itu berkuatir sekali.

Pendeta itu banar-benar tangguh. Walaupun ia terhantam kuat sekali di dadanya oleh pukulan lawannya yang membokong dari luar jendela, namun ia bisa segera melompat bangun berdiri.

“Tidak apa-apa......., ada orang yang menyerangku!” Sambil berkata begitu, segera si pendeta melompat keluar jendela. Ia masih sempat melihat sesosok bayangan tengah berlari menjauh ke arah selatan.

Tidak buang waktu lagi ia mengejar orang itu.

“Bangsat! Jika dapat kukejar akan kupatahkan batang lehermu!” Menggumam si pendeta sambil mengerahkan gin-kangnya dan mengejar dengan cepat!

Waktu itu orang yang tadi menyerang si pendeta, telah berlari terus dengan gesit. Gin-kangnya pun tidak lemah. Dari genting yang satu ia melompat ke genting rumah yang lainnya. Kemudian iapun membelok ke barat.

Pendeta itu tidak mau melepaskan orang buruannya, karenanya ia mengejar terus!

Setelah kejar mengejar sampai di luar kota, tampak sosok bayangan yang di depan berhenti berlari berdiri tegak menantikan tibanya si pendeta.

Pendeta itu cepat sekali tiba di dekat orang yang tadi membokongnya. Di bawah sinar rembulan, ternyata si pendeta berusia antara empatpuluh tahun lebih.

Tubuhnya tinggi tegap dan alisnya sangat tebal sekali. Wajahnya juga bengis dan rupanya ia seorang pendeta yang kasar dan tegas dalam memutuskan suatu tindakan.

Sedangkan orang yang diburu si pendeta itu adalah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih. Tubuhnya sedang-sedang saja. Ia memelihara kumis dan jenggot yang sudah dua warna kelabu. Dengan berani orang itu tegak menantikan si pendeta.

“Hemmm, manusia pengecut kau tidak mungkin lolos dari tangan Loceng!” bentak si pendeta dengan suasa yang bengis, dan ia tidak menahan langkah kakinya. Ia menerjang terus ke depan dibarengi dengan tangannya sudah mencengkeram.

Tapi orang itu mengelaknya. Ia mendengus.

“Pendeta cabul, kau harus dimusnahkan! Kali ini kau jangan harap bisa lolos dari kematian!”

Dan sambil berkata begitu, orang ini selesai berkelit segera membalas menyerang. Tidak ringan hantaman tangannya.

Menyusul dengan mana berkelebat sinar terang yang keperak-perakan. Rupanya sambil menyerang, tangan kanan orang itu telah menghunus pedangnya, yang dipakai menikam perut si pendeta.

Pendeta itu merandek. Ia melihat pukulannya telah digagalkan orang itu, malah orang tersebut balas menyerangnya. Dengan demikian ia tidak berani. Segera ia berobah kedudukannya.

Ia menarik pulang tangannya. Kemudian ia mengebut dengan lengan jubahnya bergantian.

Kebutan lengan bajunya itu mengandung tenaga yang kuat sekali, berkesiuran dengan membuat pedang orang itu yang menikam tersampok ke samping dan hampir saja pedang itu terlepas dari cekalannya. Untung saja orang tersebut cepat-cepat mencekal lebih kuat sehingga pedangnya tidak sampai terlepas.

Waktu itu dengan mengeluarkan suara erangan perlahan tampak orang tua itu menikam lagi. Apa yang dilakukannya memang cukup hebat, karena pedangnya menyambar sambil mengeluarkan kesiuran angin yang tajam sekali.

Ia rupanya memang menyadari pendeta itu memiliki kepandaian yang tinggi. Dan dia tidak boleh main-main, berarti ia harus secepat mungkin merubuhkan lawannya ini.

Si pendeta benar-benar tangguh. Walaupun ia bertangan kosong dengan mengandalkan lengan bajunya, ia selalu bisa menghalau serangan lawannya. Bahkan ia telah mendesak orang tua itu, yang jadi main mundur.

Diam-diam orang tua itu jadi terkejut bukan main. Ia tidak menyangka pendeta ini memiliki kepandaian yang demikian tinggi.

Ia memang mendengar dari beberapa orang kawannya, kepandaian si pendeta sangat liehay. Namun ia tidak menyangka akan setinggi ini, sedangkan kepandaian orang tua itu sendiri sebetulnya pun sangat tinggi karena ia termasuk salah seorang dari tokoh rimba persilatan.

Sebelumnya ia menganggap enteng si pendeta, namun setelah bertempur ia ketemu batunya. Iapun baru menyadari bahwa kepandaiannya masih berada satu tingkat di bawah si pendeta.

Waktu itu terlihat jelas, si pendeta tidak pernah menghentikan desakannya, karena ia terus mendesak dengan hantamam lengan jubahnya dengan bertubi-tubi dan memaksa lawannya selalu main mundur akibat desakan itu.

“Kawan-kawan keluarlah kalian!”

Tiba-tiba orang tua itu berseru dengan suara nyaring sekali. Rupanya ia sudah tidak sanggup menghadapi terjangan si pendeta, dan ia terdesak jatuh di bawah angin.

Waktu itu tampak dari balik tempat yang gelap, dari genting rumah penduduk, telah melompat empat sosok tubuh yang sangat gesit sekali. Di tangan empat sosok itu mencekal senjata tajam.

Mereka tidak bicara sepatah katapun juga, begitu menyerang si pendeta dengan senjata masing-masing. Mereka inilah rupanya empat orang kawan si orang tua yang jadi lawan si pendeta.

Dikeroyok berlima seperti itu, terjadi perubahan. Si pendeta mengalami kesulitan.

Karena jika tadi dia bisa mendesak orang tua yang menjadi lawannya jatuh di bawah angin. Sekarang ia tidak leluasa lagi buat mendesak terus, karena ia harus menghadapi empat orang lawannya yang lainnya.

Kepandaian empat orang yang baru muncul itu tidak selihay orang tua yang menjadi lawannya. Akan tetapi jumlah mereka banyak dan ini telah membuat si pendeta benar-benar jadi terdesak juga.

Malah suatu kali, murka sekali si pendata. Dia menghantam kuat, karena lengan jubahnya kena diserempet golok lawannya yang seorang sampai robek! Ia jadi ganas, dan hendak membunuh lawannya itu.

Akan tetapi orang tua itu dengan empat orang kawannya selalu bertempur dengan cara bergerilya. Dan mereka tidak pernah menyerang dari jarak dekat.

“Kalian akan Loceng mampusi!” teriak si pendeta dengan suara bengis. “Sebutkan dulu siapa kalian?”

Orang tua itu mendengus dingin.

“Kami adalah orang-orang yang ingin membasmi kecabulan!” Menyahuti orang tua itu.

Ke empat orang kawan orang tua itu adalah orang-orang yang setengah baya. Tubuh mereka rata-rata tinggi tegap dan memiliki tenaga yang kuat, di samping memang mereka memiliki kepandaian yang tinggi.

Karena itu, mereka menyerang membuat si pendeta tidak memiliki banyak kesempatan. Tidak sepatah perkataan juga yang mereka ucapkan, karena mereka cuma menyerang terus dengan penuh perhitungan.

“Jika memang kalian tidak mau menyebutkan nama kalian, terpaksa hari ini Loceng memberitahukan pantangan membunuh manusia tidak bernama!” Berseru si pendeta. Sepasang tangannya bergerak-gerak sangat hebat, tubuhnya melompat ke sana ke mari dengan gin-kang yang tinggi sekali.

Namun lawan-lawannya juga telah bertempur dengan penuh perhatian dan mengerahkan kepandaian mereka. Dengan begitu mereka jadi bertempur tambah seru seakan juga hendak mempertaruhkan jiwa.

Ada yang membuat pendeta itu sakit hati dan mendongkol bukan main. Dia memiliki kepandaian yang tinggi, cuma saja kali ini ia seakan juga tidak berdaya buat menghadapi dan merubuhkan lawan-lawannya.

Suatu kali, karena darahnya meluap, cepat sekali ia menghantam lawannya yang di sebelah kanan, di mana ia telah menghantam dengan mengerahkan tenaga lweekang yang kuat. Orang itu menjerit dengan suara menyayatkan. Tubuhnya terhuyung dan mukanya pucat pias, malah tidak lama kemudian dia memuntahkan darah segar!

Mempergunakan kesempatan si pendeta tengah menyerang kawannya, orang tua itu menikam dengan pedangnya. Ia mempergunakan jurus “Naga Mengangguk Tiga Kali”. Pedangnya itu menyambar hebat sekali, dan “Cep!”

Pundak si pendeta kena ditikam. Si pendeta kaget dan kesakitan.

Namun waktu itu justeru orang tua itu menggentak pedangnya, maka terkoyak daging si pendeta. Darah menyembur keluar.

Tubuh si pendeta terhuyung, dia kaget dan kesakitan dengan tangan kirinya memegangi lukanya itu.

“Pendeta cabul, sekali ini kau harus mampus di tangan kami!” Teriak orang tua dengan pedangnya berkelebat-kelebat lagi menyambar si pendeta.

Pendeta itu tengah kesakitan, dia juga tengah kaget. Tapi melihat ancaman buat keselamatan jiwanya, dia mengelak ke sana ke mari cepat sekali. Dia berlaku gesit.

Cuma saja, pikirannya juga bekerja keras. Ia tengah memikirkan cara untuk meloloskan diri.

Ia tahu, percuma saja ia melayani terus lawan-lawannya itu. Kalau tokh dia bisa merubuhkan lawan-lawannya lebih banyak, tentu ia sendiri pun terancam oleh lawan-lawannya itu kemungkinan saja dia bisa terluka lebih parah.

“Baik! Kali ini Loceng mengampuni jiwa anjing kalian!” Teriak si pendeta bengis. “Nanti Loceng akan datang melakukan perhitungan.......!”

Setelah berkata begitu, ia mengelakkan dua serangan lawannya, kemudian menjejakkan kakinya. Dia telah melesat menjauhi diri, memutar tubuhnya dan kemudian berlari dengan mengempos gin-kangnya.

Orang tua itu mana mau membiarkan si pendeta meloloskan diri begitu saja. Terlebih lagi ia melihat si pendeta sudah berhasil dilukai, sehingga si pendeta niscaya tidak leluasa buat bergerak guna menghadapi mereka lagi.

Ia yakin, jika pertempuran itu berlangsung lebih lama lagi akhirnya dia bersama kawan-kawannya akan dapat merubuhkan si pendeta dapat membunuhnya. Maka ia membentak, “Mau lari ke mana kau?” sambil membentak begitu, dia mengejar.

Kemudian dia pun berseru kepada kawan-kawan: “Kejar…….! Mampusi keledai gundul itu!”

Tiga orang kawannya mengejar juga, sedangkan yang seorang, yang terluka, berdiri dengan muka pucat. Dia tidak ikut mengejar.

Pendeta itu berlari dengan pesat, akhirnya dia bisa melenyapkan jejaknya dengan masuk menerobos ke dalam sebuah rimba. Memang orang tua itu bersama tiga orang kawannya tak berani menyusul masuk ke dalam rimba tersebut.

Di dalam kalangan Kang-ouw memang terdapat pantangan, bahwa musuh yang lari masak ke dalam hutan, tak usah dikejar terus.

Si pendeta berlari terus menerobos ke dalam hutan itu. Matahari pagi mulai muncul sinarnya belum begitu terang. Fajar sudah menyingsing.

Akhirnya setelah merasa aman dan mengetahui lawan-lawannya tak mengejar lebih jauh, si pendeta menjatuhkan diri duduk bersila beristirahat di bawah sebatang pohon.

Hatinya penasaran bukan main. Coba jika saja malam itu ia tidak dengan perempuan cantik itu, jelas tenaganya tak akan berkurang.

Ia akan lebih baik lagi menghadapi lawan-lawannya. Justeru disaat tubuhnya tengah lemah, ia harus bertempur dengan lima orang lawannya yang memiliki kepandaian tidak rendah.

Setelah duduk mengasoh sejenak, si pendeta bangkit lagi. Ia melihat lawan-lawannya memang tidak mengejarnya. Ia menghela napas dalam-dalam.

“Hemmm, tentu mereka kaki tangannya Wie Taijin…….!” Berpikir si pendeta. “Lihatlah! Pu San Hoat-ong tidak akan menyudahi urusan sampai di sini saja. Akan ada buntutnya dan pembalasannya!”

Sambil menggerutu seperti itu, ia telah melangkah pergi ke luar dari hutan itu, untuk kembali masuk ke dalam kota.

Siapakah pendeta itu, yang cabul? Dia memang Pu San Hoat-ong, salah seorang dari empat orang Guru Negara yang bekerja pada Kaisar Tay Goan Kublai Khan!

Empat orang Guru Negara tersebut merupakan pembunuh yang paling bisa diandalkan oleh Hoat-su ataupun Penasehat Negara, yaitu Bun Ong Hoat-ong. Memang sengaja Pu San Hoat-ong bersama tiga orang saudara seperguruannya yaitu Pu-lie Puyang dan Pumie, diundang ke kota raja bekerja pada Kublai Khan dan semua itu adalah usaha Bun Ong Hoat-ong.

Dengan adanya mereka, sangat jelas kekuatan pasukan inti Kublai Khan ini benar jauh lebih kuat. Juga memang Kublai Khan memiliki maksud tertentu, yaitu memiliki jago-jago gagah yang bisa mengawasi gerak-gerik jago-jago bangsa Han yang bekerja di bawah panji kerajaannya.

Walaupun jago-jago Han itu memperlihatkan sikap setia mereka, justeru Kublai Khan kuatir sewaktu-waktu mereka bisa berontak ataupun mengadakan sesuatu yang merugikannya. Dengan adanya empat guru negara ini maka mereka semua bisa awasi.

Justeru belakangan ini Kublai Khan mendengar bahwa di Yang-cung akan diselenggarakan pertemuan orang-orang gagah, buat menyambut seseorang yang akan datang ke sana, untuk bertemu dengan para orang gagah. Malah Kublai Khan pun telah menerima berita bahwa orang itu adalah cucu Oey Yok Su!

Kuatir nanti timbul pergerakan lagi di antara orang-orang itu, Kublai Khan perintahkan Pu San Hoat-ong untuk memimpin beberapa orang jago silat kelas satu yang memiliki kepandaian tinggi. Mereka terdiri dari jago-jago Mongol dan bangsa Han, buat mengacau pertemuan yang, akan diadakan oleh para pendekar gagah di Yang-cung!

Justeru Pu San Hoat-ong dengan orang-orangnya tiba di Yu-kang, kota yang terpisah tidak jauh lagi dari Yang-cung. Ia mengajak rombongannya buat berdiam di kota itu dulu, guna menantikan waktu yang ditunggunya tiba. Disamping itu merekapun bisa mempersiapkan segalanya.

Cuma saja, Pu San Hoat-ong seorang pendeta cabul yang senang wanita cantik, diam-diam setiap kali ia berkeliaran. Ia mencari mangsanya. Anak isteri penduduk diperkosanya.

Selama berada di kota Yu-kang tersebut, rombongan Pu San Hoat-ong dilayani oleh Walikota, Wie Sung. Ia setiap hari menyelenggarakan pesta buat rombongan pahlawan istana Kaisar tersebut.

Wie Sung Taijin memiliki isteri yang cantik, tapi tidak setia, bernama Ko Lie Lie. Memang Wie Sung Taijin setiap hari sibuk dengan tugas dan pekerjaannya, maka dari itu ia seakan juga menelantarkan isterinya.

Terlebih lagi belakangan ini Wie Sung Taijin telah mengambil dua orang isteri muda sehingga giliran buat Ko Lie Lie kurang sekali.

Dalam suatu perjamuan yang diadakan oleh Wie Sung Taijin buat rombongan pahlawan istana Kaisar tersebut, Ko Lie Lie bertemu dengan Pu San Hoat-ong. Justeru malamnya Pu San Hoat-ong menyatroni gedungnya, di mana justeru Ko Lie Lie memberikan sambutan.

Ia melayani Pu San Hoat-ong. Terlebih lagi memang Pu San Hoat-ong memiliki lweekang dan ilmu silat yang tinggi. Dengan begitu hubungan gelap mereka berlangsung terus dari hari ke hari.

Pu San Hoat-ong pun puas menerima layanan Ko Lie Lie, yang justeru, seorang perempuan itu cantik.

Demikianlah Pu San Hoat-ong tidak pernah mencari mangsa lainnya. Ia selalu datang buat mengadakan hubungan gelap dengan Ko Lie Lie.

Apa lacur, justeru hubungan gelap mereka akhirnya terendus oleh Wie Sung Taijin. Walikota ini murka bukan main waktu seorang pelayan Ko Lie Lie melaporkannya.

Semula Walikota tersebut bermaksud menangkap Pu San Hoat-ong dan mengadilinya, kemudian menghukumnya. Tapi akhirnya Wie Sung Taijin berpikir jauh lagi.

Kalau sampai ia menangkap Pu San Hoat-ong dan menghukumnya, jelas Kaisar tidak senang. Dan hal ini akan menimbulkan urusan buat keselamatan Wie Sung Taijin sendiri.

Akhirnya ia menekan perasaan murkanya. Ia perintahkan agar anak buahnya yang memiliki ilmu tinggi buat menangkap basah Pu San Hoat-ong dan membunuhnya.

Dengan cara demikian Wie Sung Taijin ingin mengatur segalanya itu terjadi seakan-akan Pu San Hoat-ong dibunuh penjahat. Dan bisa saja dosa itu ditimpahkan nanti pada orang-orang Han yang akan berkumpul di Yang-cung, para pendekar gagah yang memang menantang kekuasaan Kublai khan. Dengan demikian Wie Sung Taijin bisa mencuci tangan.

Siapa tahu, kepandaian Pu San Hoat-ong memang sangat tinggi. Walaupun orang-orang yang dikirim Wie Sung Taijin terdiri dari jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi, tokh mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan begitu, Pu San Hoat-ong terlepas dari kematian.

Dan sekarang justeru yang ketakutan adalah Wie Sung Taijin dengan orang-orangnya. Mereka kuatir kalau saja Pu San Hoat-ong mengetahui yang mengeroyoknya adalah orang-orang yang dikirim Wie Sung Taijin, berarti mereka akan memperoleh kesulitan.

Wie Sung Taijin mengambil keputusan yang cepat setelah gagal untuk membunuh Pu San Hoat-ong. Ia perintahkan anak buahnya untuk membunuh isterinya sendiri, yaitu Ko Lie Lie. Malam itu juga Ko Lie Lie dibinasakan.

Besok paginya, penduduk gempar dengan kematian Ko Lie Lie, isteri Walikota tersebut. Sedangkan Walikota tersebut mengeluarkan pengumuman buat mencari penjahat yang telah membunuh isterinya untuk menutupi perbuatannya sendiri! Ia seakan-akan sibuk mengerahkan orang-orang buat menyelidiki siapa pembunuhnya Ko Lie Lie itu!

Ia pun telah mengumumkan, penjahat yang membunuh isterinya adalah orang-orang Han yang akan berkumpul di Yang-cung! Dengan demikian Wie Sung Taijin cuci tangan melempar kesalahan kepada jago-jago yang akan berkumpul di Yang-cung, dan ia pun ingin mengalihkan perhatian Pu San Hoat-ong.

Ke lima orang jago Wie Sung Taijin yang telah mengeroyok si pendeta pun telah disingkirkan. Sementara waktu itu mereka menyingkir ke tempat yang jauh, menghindarkan diri dari pertemuan dengan si pendeta.

Pu San Hoat-ong memang jadi ragu-ragu. Sebelumnya ia menduga yang mengeroyok adalah kaki tangan Wie Sung Taijin.

Akan tetapi sekarang justeru ia mengetahui isteri Wie Sung Taijin terbunuh pada malam itu, dan Wie Sung Taijin mengutus orang-orangnya untuk melakukan pengejaran dan pengusutan. Pembesar tersebut selalu murung dan.

Terjadinya pada malam itu juga, pembunuhan Ko-lie-lie terjadi setelah gagalnya pengeroyok terhadap si pendeta. Malah, ia melihat Wie Sung Taijin telah mengerahkan jago-jagonya untuk menyebar diri di sekitar kota tersebut, mencari si pembunuh yang diduga adalah pendekar-pendekar gagah dari golongan bangsa Han, yang memang memusuhi kerajaan, yang tidak lama lagi akan mengadakan pertemuan di Yang-cung!

Hati Pu San Hoat-ong jadi ragu-ragu. Ia jadi tidak bisa menuduh orang Wie Sung Taijin yang perintah orang-orangnya mengeroyok dia.

Cuma saja sebagai orang yang cerdas, Pu San Hoat-ong pun merasakan adanya permainan dalam usaha Wie Sung Taijin mengejar penjahat yang telah membinasakan isterinya.......

Cuma sekarang Pu San Hoat-ong jadi ragu-ragu. Bahkan siang itu, waktu ia dijamu oleh Wie Sung Taijin, di tengah-tengah rombongannya, Pu San Hoat-ong menyampaikan ikut berduka cita atas kematian isteri pembesar tersebut. Malah Pu San Hoat-ong berjanji akan membantu menyelidiki siapa pembunuh itu!

Wie Sung Taijin sepanjang hari selalu kelihatan murung sekali. Sikapnya pada Pu San Hoat-ong dan rombongannya tetap manis, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa ia membenci si pendeta.

Maka hal ini, benar- benar membuat Pu San Hoat-ong jadi tambah ragu-ragu dan tidak yakin bahwa yang malam itu mengeroyoknya adalah anak buah Wie Sung Taijin…….

Beberapa hari di kota Yu-kang selalu penduduk membicarakan soal pembunuhan isteri Wie Sung Taijin. Mereka juga memang sebelumnya telah digemparkan peristiwa-peristiwa perkosaan yang terjadi pada anak isteri penduduk.

Keras dugaan mereka, semua itu dilakukan oleh rombongan Pu San Hoat-ong. Karena begitu rombongan tiba di kota tersebut, maka peristiwa-peristiwa tersebut terjadi.

Terlebih lagi memang Wie Sung Taijin pun merupakan pembesar yang kurang disenangi penduduk. Sebagai pejabat kerajaan besar ini, ia seringkali bertindak sewenang-wenang dengan mempergunakan tangan besi!

Maka penduduk kota itu tidak yakin bahwa isteri pembesar itu maupun isteri penduduk diganggu oleh para pendekar gagah yang akan mengadakan pertemuan di Yang-cung.

Karena itu, banyak sekali kabar-kabar yang bertebaran di antara penduduk. Bahkan mereka ingin menyaksikan, apa yang akan bergolak pula di kota Yu-kang ini.

Memang pada dasarnya Pu San Hoat-ong seorang pendeta cabul yang senang wanita cantik. Setelah Ko Lie Lie mati, maka ia mencari mangsa lainnya. Yang jadi sasarannya adalah isteri dan anak-anak penduduk yang diperkosanya.

Dengan begitu, keamanan di kota Yu-kang benar-benar tergoncang dan menggelisahkan penduduk.

Keadaan itu berlangsung terus, karena rombongan Pu San Hoat-ong memang tengah menantikan tiba saatnya di mana para pendekar gagah bangsa Han mengadakan pertemuan di Yang-cung. Dan selama itu pula, perkosaan terhadap isteri dan anak gadis penduduk berlangsung terus, menggelisahkan penduduk.

Juga Pu San Hoat-ong selain berusaha menyelidiki, siapa pembunuh Ko Lie Lie, membuat Wie Sung Taijin sementara waktu tidak berani mengadakan gerakan apa-apa. Ia berpura-pura buta dan tuli terhadap malapetaka yang menimpa penduduk kota yang dipimpinnya tersebut.

Ia kuatir jika memang melakukan suatu tindakan, bisa menyebabkan perbuatannya terbongkar oleh Pu San Hoat-ong.

Karena Wie Sung Taijin berdiam tidak mengambil tindakan apa pun juga. Akhirnya membuat Pu San Hoat-ong dengan rombongannya dapat bertindak lebih sewenang-wenang. Juga iapun dapat melakukan perkosaan setiap malam terhadap anak isteri penduduk.

Pu San Hoat-ong seakan juga lupa diri. Ia sudah tidak memperdulikan isteri atau anak penduduk yang mana. Jika memang ia menyukai tentu akan di perkosanya.

Tak jarang, jika Pu San Hoat-ong membongkar jendela dan masuk ke kamar seorang isteri penduduk. Jika bertemu dengan suami dari wanita yang hendak diperkosanya, Pu San Hoat-ong tak segan-segan turunkan tangan membunuh suami korbannya itu.

Semakin lama keadaan di kota Yu-kang semakin menggelisahkan dan tidak aman. Sedangkan Pu San Hoat-ong dengan rombongannya semakin merajalela, di samping itu juga, Pu San Hoat-ong tidak segan-segan buat merampas harta penduduk yang tak berdaya.

Wie Sung Taijin sendiri kian menaruh dendam yang semakin dalam pada si pendeta dan rombongannya. Cuma saja ia dalam keadaan tak berdaya.

Ia cuma memendam perasaan sakit hati dan dendamnya di dalam dasar hatinya. Ia cuma seperti juga bom waktu, yang sewaktu-waktu dapat meledak.

Keamanan di kota Yu-kang kian hari kian memburuk. Dan perihal ini pun telah tersiar luas ke kota-kota lainnya, bahkan banyak penduduk yang merasa keamanan mereka tak terlindung.

Juga yang memiliki isteri maupun anak gadis yang cantik, mereka akan menyingkir dulu ke kota lain, guna berlindung dari gangguan yang tengah terjadi di kota Yu-kang.

Keadaan di kota tersebut kian hari kian sepi. Pu San Hoat-ong tak memperdulikannya. Tetap saja ia mengganas dengan rombongannya, tanpa ada keberanian sedikitpun pada Wie Sung Taijin buat menegur mereka.

Boleh dibilang di kota Yu-kang sudah jarang sekali terlihat wanita maupun gadis-gadis cantik. Mereka semuanya sudah disingkirkan keluarga masing-masing ke kota lainnya.

Menyingkir buat sementara waktu sampai badai dan topan di kota Yu-kang meredah. Barulah mereka akan diambil pulang ke kota ini lagi……..

<> 

Yo Bie Lan heran ketika memasuki kota Yu-kang. Karena ia melihat kota itu sepi dan juga hampir semua penduduk kota yang bertemu dengannya memperlihatkan sikap yang lesu dan wajah yang murung. Tak ada kegembiraan di wajah mereka.

Memang cukup banyak orang yang berdagang, akan tetapi mereka umumnya murung dan seakan menyimpan sesuatu rahasia yang membuat mereka bingung dan ketakutan, seakan juga mereka tengah bersedih. Dan tidak ada kegairahan pada mereka.

Yang membuat Yo Bie Lan jadi lebih heran, dia pun tidak pernah melihat wanita di antara penduduk kota itu. Juga tampaknya memang semua penduduk kota itu terdiri dari laki-laki belaka.

Memang ada di antara orang-orang yanp bersikap riang dan berseru dengan girang seakan mereka tidak merasakan kemalangan yang tengah menimpah kota Yu-kang tersebut. Mereka umumnya terdiri orang berwajah menyeramkan dan bertubuh kasar.

Mereka adalah jago-jago kota tersebut, buaya darat atau juga memang orang-orang kasar....... Jika sekali-kali Bie Lan bertemu dengan seorang wanita, tentu itulah wanita yang telah lanjut usia.

Hadirnya Bie Lan di tengah-tengah kota Yu-kang tentu saja menarik perhatian penduduk kota itu. Hampir semua orang yang bertemu dengan gadis ini semuanya memandang dengan sorot mata yang bertanya-tanya. Banyak juga yang memandang dengan penuh perasaan berkuatir buat keselamatan si gadis.

Gadis ini pun merasa canggung, karena ia melihat sikap mereka memandang padanya seakan juga mereka melihat sesuatu yang aneh sekali!

Bie Lan semula tidak senang dan ingin menegur. Tapi setelah melihat hampir semua orang memandang terheran-heran padanya, juga ada yang memandang dengan kuatir, ia jadi membatalkan maksudnya.

Ia justeru malah merasakan apakah di dirinya terdapat sesuatu yang tidak beres sehingga orang-orang itu semua memandangnya dengan tatapan mata seperti itu.

Akhirnya Bie Lan memasuki sebuah rumah makan. Ia pun dipandang oleh pelayan maupun tamu-tamu rumah makan itu dengan sorot mata yang aneh. Mereka semua seperti melihat sesuatu yang aneh sekali.

Ada lagi yang membuat hati Bie Lan jadi tidak enak. Karena ia melihat dalam rumah makan itu pun tidak terlihat seorang tamu wanita!

Dia seorang belaka yang menjadi tamu di rumah makan tersebut, tamu wanita. Sedangkan tamu-tamu lainya adalah tamu laki-laki yang semuanya memperlihatkan sikap yang kasar dan lesu bercampur baur!

Tapi sebagai orang Kang-ouw, Bie Lan tidak jeri melihat keadaan seperti itu. Terus juga ia memilih meja dan telah duduk dengan tenang. Sikapnya tetap waspada, merasakan ada sesuatu yang tidak beres di kota Yu-kang ini.

Waktu itu pelayan menghampirinya ragu-ragu. Kemudian sambil tersenyum takut-takut, ia bertanya: “Kouwnio……. Kau ingin makan santapan apa?”

“Sediakan apa saja! Asal yang enak! Dan dua kati air teh!” kata si gadis.

Pelayan itu mengangguk, tapi ia belum juga pergi, untuk mempersiapkan pesan si gadis. Tetap saja mengawasi si gadis dengan sikap takjub.

Habislah sabarnya si gadis.

“Mengapa kau mengawasiku terus menerus?” Tegur si gadis tidak senang, “Apakah ada sesutu yang aneh dan ganjil pada diriku ini, heh?”

Pelayan itu kaget.

“Oh, maaf! Tidak Kouwnio……. tidak Kouwnio!” Kata pelayan tersebut.

Segera ia memutar tubuhnya bergegas pergi ke belakang buat mempersiapkan pesanan si gadis.

Kelakuan si pelayan membuat hati Bie Lan semakin heran dan tidak mengerti. Ganjil sekali kelakuan si pelayan. Sama seperti laki-laki yang lainnya, yang selalu memandang Bie Lan dengan tatapan seperti juga pada diri Bie Lan ada sesuatu yang ganjil.

Tidak lama kemudian pelayan datang mengantarkan makanan yang dipesan Bie Lan. Tapi sambil mempersiapkan makanan itu, mata si pelayan sering mencuri pandang pada si gadis.

Selama itu, tamu-tamu lainnya di rumah makan tersebut pun mengawasi si gadis terus menerus dengan sikap bertanya-tanya membuat Bie Lan mau atau tidak akhirnya menjadi kikuk juga.

“Di mana rumah penginapan yang baik di kota ini?” Tanya Bie Lan waktu pelayan tersebut tengah mempersiapkan santapannya di atas meja.

Pelayan itu merandek.

“Nona ingin bermalam di kota ini?” tanyanya, tampak sikap ragu-ragu.

Gadis itu mengangguk.

“Ya!”

“Tapi Kouwnio…….!” Pelayan itu sangsi, kemudian dia mendekati si gadis, dengan suara perlahan, ia membisiki perlahan sekali. “Lebih baik setelah bersantap nona segera melanjutkan perjalananmu meninggalkan kota ini….. itu jalan yang terbaik buat nona!”

Tentu saja Bie Lan jadi heran oleh kata-kata dan sikap si pelayan. Tapi iapun jadi tidak senang, walaupun dari sikap si pelayan ia mengetahui bahwa pemuda itu tidak bermaksud jelek padanya.

“Mengapa begitu?!” tanya Bie Lan pada akhirnya. “Adakah memang aku dilarang untuk menginap di kota ini? Atau memang ada larangan dari Walikota yang melarang siapapun tamu asing bermalam di kota ini?”

Pelayan itu menggeleng.

“Bukan....... bukan begitu.......!” Kata si pelayan sambil mengawasi si gadis dengan tatapan mata yang ragu-ragu.

“Hemmm, kau bicara yang jelas.......!”

“Tapi tidak bisa sekarang, Kouwnio.......!”

“Kenapa…….?”

“Banyak orang! Nanti akan Siauwjin ceritakan!”

“Tidak apa-apa, mereka tidak akan mendengarnya........!” Desak si gadis.

Bie Lan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kota ini. Bukankah sejak kedatangannya di kota ini ia selalu diawasi oleh semua laki-laki yang berjumpa dengannya dengan pandangan yang aneh. Dan melihat keadaan kota tersebut seperti ini, tentunya ada sesuatu yang tidak beres.

Pelayan itu baru saja ingin menyahuti dari sebelah kanan, terpisah kurang lebih lima meja, terdengar teriakan:

“Pelayan.......!”

Pelayan itu tersentak kaget, ia segera menoleh, ia juga segera menyahuti: “Baik! Baik! Siauwjin segera datang.......!”

Kemudian tanpa berani mengucapkan kata-kata apapun juga pada si gadis, pelayan itu meninggalkan si gadis buat menghampiri orang yang memanggilnya itu.

Orang yang memanggil pelayan itu adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan agak gemuk. Namun mukanya berewok dan bengis. Disampingnya duduk seorang kawannya, yang mukanya juga bengis, tetapi tanpa berewok.

Pelayan itu cepat sekali sampai di depan kedua orang itu.

“Apakah ada tambahan makanan yang ingin dipesan, Loya?” tanya si pelayan.

Orang itu tersenyum.

“Tunggu, nanti kami beritahukan!” Kata orang itu. “Sekarang kami ingin tanya kepadamu, siapa gadis itu?”

Muka pelayan itu berobah.

“Siauwjin mana tahu?” Jawabnya sambil membuka matanya lebar-lebar. “Baru pertama kali gadis itu datang ke mari.”

“Kau tidak tanya siapa namanya?”

“Tidak!”

“Kau juga tidak tanya apa maksudnya ia datang ke kota ini?” Tanya orang itu lagi.

Pelayan itu menggeleng.

“Juga, tidak!”

“Kau harus memancing-mancingnya, agar gadis itu bicara! Nanti laporkan kepada kami.”

Pelayan itu ragu-ragu sejenak, namun segera ia mengangguk sambil bilang.

“Baik loya.”

Orang itu merogoh sakunya, ia memberikan hadiah buat si pelayan tiga tail.

Pelayan itu jadi kegirangan. Tapi, hatinya tidak tenang. Ia tahu siapa dua orang tamu ini yang ia hormati dan juga menguatirkan sekali keselamatan si gadis.

Walaupun bagaimana, sebetulnya hati kecil si pelayan tidak setuju untuk memberitahukan perihal si gadis itu kepada ke dua orang itu. Juga sebetulnya berat buat melaksanakan tugas yang diberikan orang itu.

“Pelayan!” Panggil Bie Lan, sambil menghentikan sumpitnya yang tengah menjepit sepotong bai-som,

Pelayan itu setengah berlari menghampiri,

“Ada apa, Kouwnio?” tanyanya.

“Bikinkan Cap-sai-sah-bai!” pesan si gadis.

“Baik, Kouwnio!”

“Ayo pergi, mengapa masih berdiri di situ saja seperti patung?” kata Bie Lan karena melihat pelayan itu tak segera pergi.

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 61-70"

Post a Comment

close