Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 18

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 18

Dengan demikian membuat Giok Hoa jadi semakin panik saja. Dia berusaha untuk mendesak ke empat orang pengepungnya.

Cuma saja ke empat orang pengepungnya itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga jangan kata Giok Hoa herhasil mendesak mereka, sedangkan ke empat orang itu malah telah berhasil mendesak Giok Hoa, sehingga gadis tersebut harus berusaha untuk menghadapi setiap serangan dari ke empat orang lawannya itu dengan waspada.

Ko Tie yang menyaksikan apa yang tengah terjadi itu tidak bisa menahan diri lagi. Hanya yang membuat hatinya jadi heran dan terkejut, dia melihat wanita setengah baya berpakaian putih, yang tengah mendesak guru Giok Hoa dengan hebat sekali, di mana wanita itu yang tampaknya memiliki kepandaian tertinggi di antara pengepung-pengepung guru Giok Hoa. Dimana wanita setengah baya itu mempergunakan tongkatnya yang sangat liehay sekali menyerang guru Giok Hoa, menimbulkan angin berkesiuran tidak hentinya.

Dalam saat-saat seperti itu, Ko Tie telah menepuk pundak biruang salju, kemudian tubuhnya melesat turun. Begitu ke dua kakinya menyentuh tanah, segera tubuhnya telah melesat lagi ke tengah gelanggang pertempuran itu.

Sambil menerjang, Ko Tie juga berseru.

“Yo Peh-bo, adik Giok Hoa jangan kuatir, aku datang untuk membantui kalian......!”

Biruang salju itu juga telah mengerang mengerikan, suaranya menggetarkan sekitar tempat itu. Tampak biruang salju itu telah melompat maju juga.

Tetapi dia bukan hendak menerjang manusia-manusia yang berkumpul di tempat itu, yang menjadi lawan dari Giok Hoa dan gurunya. Dia telah melompat dengan sangat gesit sekali ke arah rumah yang tengah terbakar itu.

Dengan ke dua tangannya yang sangat kuat sekali, segera biruang salju tersebut telah merubuhkan tiang-tiang bangunan tersebut. Malah sebagian telah dilemparkannya jauh-jauh.

Dengan kekuatan tenaganya, dia juga merubuhkan dinding, dan kayu-kayu atap rumah yang terbakar itu. Dengan demikian, walaupun perlahan, tokh api itu kemudian menjadi padam, dan tersisa puing-puingnya belaka.

Orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut hanya berdiri tertegun belaka, karena mereka terheran-heran melihat munculnya Ko Tie dengan biruang salju tersebut. Di samping itu juga kekuatan tenaga dari biruang salju itu, yang dapat bekerja sendiri untuk memadamkan api tersebut.

Yang membuat orang-orang tersebut memandangi dengan takjub adalah Ko Tie, yang tubuhnya berkelebat-kelebat ke sana ke mari lincah sekali. Dia berusaha menghantami setiap lawan dari guru Giok Hoa dengan Inti Esnya.

Memang lawan dari guru Giok Hoa merupakan orang-orang liehay yang memiliki kepandaian tinggi. Namun ilmu pukulan yang dilancarkan Ko Tie merupakan ilmu yang luar biasa, ilmu pukulan yang aneh, di mana setiap kali Ko Tie menghantam, dari telapak tangannya itu telah meluncur angin serangan yang mengandung hawa dingin luar biasa, menggigilkan tubuh, membuat setiap lawan dari guru Giok Hoa kaget tidak terkira.

Memang tenaga serangan Ko Tie tidak terlalu membahayakan, terlebih lagi Ko Tie menyerang dengan gencar dan tergesa-gesa seperti itu. Namun justeru sampokan angin serangan ilmu pukulan Inti Es itu membuat punggung semua lawan yang terkena pukulan tersebut merasakan punggung mereka menjadi dingin dan kaku. Sehingga telah melambatkan gerakan kedua tangan masing-masing.

Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh guru Giok Hoa, yang segera juga mempergunakan kesempatan ini buat mendesak lawan-lawannya itu dengan mempergunakan ilmu pukulan “Am-jian Sio-hun-kun” atau Ilmu Silat tangan kosong Perpisahan. Am-jian berarti kedukaan yang sangat. Sio-hun berarti kehilangan roh atau kehilangan semangat.

Tetapi jika Am-jian Sio-hun-kun dirangkap menjadi satu, empat huruf itu memiliki arti “Perpisahan”. Maka dari itu, Am-jian Sio-hun-kun berarti “Ilmu Silat Tangan Kosong Perpisahan”. Dengan lain perkataan, ilmu itu digubah oleh Yo Ko sebagai peringatannya di mana dia pernah berpisah dengan Siauw Liong Lie selama enambelas tahun.

Kini dalam keadaan terkepung seperti itu, guru Giok Hoa telah mempergunakan jurus-jurus “Am-jian Sio-hun-kun” ilmu yang diciptakan oleh ayah angkatnya itu, yang telah diwarisi seluruhnya. Dengan demikian membuat pukulan-pukulan yang dilakukannya memiliki banyak sekali kedahsyatan yang di luar dugaan lawannya.

Dalam waktu yang sangat singkat sekali guru Giok Hoa dapat menjebolkan kepungan tersebut. Malah waktu itu dengan mempergunakan jurus “Tay-hok-mo-ciang-hoat” atau Ilmu Silat menaklukan Siluman diapun telah berhasil menghantam dengan kuat lengan kanan seorang lawannya sampai tubuh lawannya itu bergulingan beberapa kali.

Dengan demikian, lawan-lawan guru Giok Hoa yang lainnya melompat menjauhkan diri. Sedangkan wanita setengah baya yang memakai baju serba putih, yang bersenjata tongkat, juga telah melompat mundur dengan gesit.

Tongkatnya disilangkan, kemudian dengan sikap yang angkuh dia telah berkata dengan matanya yang memancarkan sinar yang sangat bengis: “Hemmmmm, engkau, rupanya ingin menjadi wanita bejad dengan memelihara dan menyembunyikan pemuda tampan! Berapa orang tampan yang menjadi simpananmu di sini?!”

Tajam sekali ejekan dari wanita setengah baya itu, membuat muka guru Giok Hoa jadi merah padam karena murka.

“Mulutmu terlalu jahat sekali…..! Terimalah ini!”

Dan sambil membentak begitu, maka guru Giok Hoa telah menghantam dengan jurus ketujuh dari ilmu Am-jian Sio-hun-kun, di mana angin yang keluar dari telapak tangannya begitu kuat sekali menerjang kepada dada dan ulu hati dari wanita setengah baya tersebut.

Wanita setengah baya itu telah mengibas dengan tongkatnya, membuat tenaga serangan guru Giok Hoa menjadi punah, dan dalam keadaan itulah, wanita setengah baya tersebut hendak menerjang lagi.

Namun terdengar orang berkata: “Mundur!” Dingin sekali suara tersebut.

Wanita setengah baya itu tidak berani meneruskan niatnya untuk menerjang kepada guru Giok Hoa, dia telah melompat mundur.

Dan kemudian diikuti oleh belasan wanita muda cantik yang semuanya berpakaian serba putih itu telah kembali berdiri dalam rombongan mereka, yang berdiri di luar gelanggang pertempuran beberapa tombak jauhnya.

Tampaknya mereka ini memang semuanya memiliki pakaian seragam yang mengenakan baju serba putih. Bukan wanita setengah baya yang bersenjatakan tongkat itu saja yang berpakaian serba putih, tetapi justeru juga gadis-gadis lainnya berpakaian serba putih dan cantik-cantik.

Hanya ada seorang di antara mereka yang berpakaian lain, yaitu seorang wanita yang sangat cantik jelita, dengan baju yang berwarna serba merah. Dan mukanya yang cantik itu dibalik dari senyumnya yang manis itu, memancarkan sinar pembunuhan dap kekejaman hatinya.

Wanita yang berpakaian serba merah inilah yang perintahkan wanita setengah baya bersenjata tongkat itu agar mundur. Sikapnya sama dinginnya seperti juga suaranya tadi waktu memerintahkan wanita setengah baya itu agar menjauhi diri dari guru Giok Hoa.

Empat orang gadis berbaju serba putih juga segera melompat mundur melepaskan kepungan mereka pada Giok Hoa, berdiri di belakang wanita berpakaian serba merah yang parasnya begitu cantik dan mungkin baru berusia empatpuluh tahun lebih.

Dengan bola mata yang jeli dan memperlihatkan senyumnya yang manis dan juga agak genit, tampak wanita berpakaian serba merah itu telah berkata,

“Orang she Yo, sekarang adalah waktu yang menentukan, apakah ilmu silat keluarga Yo yang lebih tinggi dari See-san-it-ko-kwie…..! Setelah itu kita akan melihatnya, apakah memang ilmu silat keluarga Yo masih bisa menghadapi ilmu silat dari See-san-it-ko-kwie!”

Waktu itu guru Giok Hoa telah berkata dengan suara yang tawar: “Aku tidak pernah mencari urusan dengan See-san-it-ko-kwie..... tetapi nyatanya kalian selalu mencari-cari urusan denganku! Dan dengan sengaja dan rendah sekali, kalian dengan mengandalkan jumlah yang banyak berusaha untuk mengepungku, di mana kau sebagai pemimpin mereka, dengan hati yang busuk, telah berusaha membakar rumahku! Karena dari itu, perbuatan-perbuatan kalian ini tidak bisa kumaafkan…..!”

Wanita berparas cantik berpakaian serba merah itu tertawa dingin, wajahnya tetap cantik dan senyumannya tetap saja genit, dia telah berkata dengan suara yang tawar:

“Jika memang aku sejak tadi bermaksud untuk mempergunakan tenaga banyak menindas jumlah yang sedikit, hanya dengan memerintahkan satu patah, engkau telah dapat kami binasakan! Justeru tadi aku perintahkan anak buahku itu untuk main-main dulu dengan kau, hanya ingin melihat sampai sejauh manakah kepandaian keluarga Yo Ko yang dapat kau miliki.....

“Dan kenyataan yang ada memang memperlihatkan bahwa engkau merupakan seorang yang memiliki kepandaian boleh juga! Rupanya ilmu silat keluarga Yo memang masih boleh diandalkan juga, sehingga aku jadi tertarik buat main-main langsung dengan kau…..”

See-san-it-ko-kwie merupakan sepuluh setan yang terkenal sekali di dalam rimba persilatan. Mereka merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Dan wanita berpakaian serba merah dengan paras yang cantik jelita dan juga senyumnya yang cantik genit itu, tidak lain dari Siauw Kwie (si Setan Cantik).

Mengenai See-san-it-ko-kwie telah diceritakan jelas dalam Sin-tiauw-hiap-lu. Dan juga, ke sembilan setan lainnya seperti juga Cui Beng Kwie (Setan Mengejar Roh) yang bersenjata golok Tee-teng-to, atau Song Bun Kwie (Setan Berkabung), dan setan-setan lainnya yang terkenal memiliki kepandaian sangat tinggi telah meninggal dunia karena usia tua. Dan hanya Siauw Kwie saja yang masih hidup, karena memang usianya yang paling muda.

Karena kepandaiannya yang sangat tinggi di mana selama duapuluh tahun lebih ini ia berlatih dengan tekun dan giat sekali, kepandaiannya telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat, jauh lebih baik dibandingkan dengan kepandaian yang pernah dimiliki ke sembilan “setan” lainnya yang telah meninggal dunia.

Di waktu itulah Siauw Kwie juga bermaksud untuk menjagoi rimba persilatan. Pernah diceritakan di dalam Sin-tiauw-hiap-lu bahwa See-san-it-ko-kwie bentrok dengan Sin-tiauw-tay-hiap.

Hanya saja, disebabkan mereka waktu itu tidak sanggup menghadapi Yo Ko, mereka telah mengambil sikap yang lunak, disaat mana mereka memang dalam keadaan terluka. Karena dari itu, mereka telah sengaja mengundurkan diri.

Namun tidak diduga-duga justeru di hati Siauw Kwie, si Setan Cantik ini, terdapat dendam yang sangat mendalam sekali, alasan itu pula mengapa dia berlatih diri dengan tekun. Walaupun usianya telah enampuluh tahun lebih, tokh karena kepandaiannya yang memperoleh kemajuan pesat dan lweekang yang tinggi sekali, wajahnya tetap cantik jelita dan usianya seperti baru empatpuluh tahun lebih.

Di waktu sekarang ini, setelah yakin bahwa ia telah memiliki kepandaian yang tinggi, yang mungkin akan dapat menandingi kepandaian Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, maka Siauw Kwie telah keluar dari tempat menyendirinya. Dia mulai berkelana untuk mencari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.

Dalam pengelanaannya itu, diapun telah berhasil merubuhkan beberapa tokoh yang memiliki kepandaian tinggi, yang akhirnya mereka semuanya tunduk dan mengangkat Siauw Kwie sebagai pemimpin mereka. Karena itu, Siauw Kwie juga berpikir untuk mendirikan sebuah perkumpulan. Diapun telah mewajibkan semua orang-orang itu memakai baju seragam serba putih, sedangkan dia seorang diri saja yang selalu mengenakan baju berwarna merah.

Perkumpulan yang telah didirikannya itu diberi nama Ang-hoa-kauw, perkumpulan Bunga Merah. Dengan demikian, dia mengambil nama tersebut dari warna pakaiannya yang selalu berwarna merah itu.

Akan tetapi betapa kecewanya Siauw Kwie setelah ia berkelana di dalam rimba persilatan sekian lama, karena ia tidak berhasil memperoleh keterangan di mana beradanya Yo Ko. Karena waktu itu Yo Ko dan Siauw Liong Lie memang telah hidup mengasingkan diri. Walaupun dia berusaha terus untuk mencarinya, tokh tetap saja dia tidak berhasil untuk menemuinya.

Sampai akhirnya dia mendengar perihal Kim-coa-kauw, sebuah perkumpulan Ular Emas itu. Di mana orang yang memegang tampuk pimpinan dalam perkumpulan tersebut adalah Tang Lan Cie, di mana dia telah berusaha untuk mencari Tang Lan Cie, dan kemudian mudah sekali Siauw Kwie merubuhkan Tang Lan Cie.

Dengan begitu dia merebut kekuasaan di dalam Kim-coa-kauw, semua anggota dari Kim-coa-kauw dimasukannya ke dalam perkumpulan Ang-hoa-kauw. Sedangkan Tang Lan Cie juga dijadikan pembantunya di mana Tang Lan Cie kini tunduk sekali kepada Kauw-cunya yang baru ini.

Memang sebelumnya Tang Lan Cie bermaksud untuk merebut kedudukan Kauw-cu dari tangan Kauw-cu yang sebenarnya di dalam Kim-coa-kauw. Tetapi dengan direbutnya kekuasaan di dalam Kim-coa-kauw, dan juga memang diwaktu itu Kauw-cu Kim-coa-kauw yang berusia sepuluh tahun lebih itu, telah menghilang entah ke mana bersama beberapa tokoh dari Kim-coa-kauw yang setia padanya.

Karena telah digabungkannya anggota dari Kim-coa-kauw dengan Ang-hoa-kauw, dan selanjutnya harus tunduk dengan perintah-perintah dari Kauw-cu Ang-hoa-kauw tersebut, dengan demikian membuat Tang Lan Cie harus patuh terhadap semua perintah yang diberikan oleh Kauw-cunya tersebut.

Yang membuat Tang Lan Cie tidak berani membantah perintah Kauw-cunya yang baru ini, karena memang Siauw Kwie memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, beberapa tingkat tingginya melebihi kepandaiannya, sehingga membuat Tang Lan Cie mau atau harus mematuhinya sebagai Kauw-cunya. Dan dia memang telah bekerja buat perkumpulannya yang baru ini, yaitu Ang-hoa-kauw.

Begitulah, dengan sekuat tenaga, Tang Lan Cie berusaha menyelidiki tempat berdiamnya Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Hanya saja sejauh itu tetap saja dia tidak berhasil karena memang orang-orang rimba persilatan tidak seorangpun ada yang mengetahuinya sesungguhnya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah hidup mengasingkan diri di tempat mana.

Hanya saja dari keterangan Tang Lan Cie yang diceritakan mengenai pertempurannya dengan Yo Him lima tahun yang lalu, di mana dia pernah bertempur hebat dengan puteranya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko tersebut, maka Siauw Kwie segera juga merobah keputusannya.

Dalam waktu-waktu mereka belum lagi berhasil menyelidiki jejak Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, mereka harus segera mengalihkannya mencari jejak Yo Him. Karena dari mulut Yo Him pulalah mereka akan mengetahui di mana beradanya Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Bukankah Yo Him merupakan putera tunggal dari Yo Ko.

Dan juga, selama dalam pencarian jejak Yo Him, maka Tang Lan Cie bersama Kauw-cunya itu, yaitu Siauw Kwie, telah bertambah keterangan yang mereka peroleh mengenai Sin-tiauw-tay-hiap, yaitu pendekar besar itu memiliki anak angkat. Seorang wanita yang selalu gemar berpakaian serba kuning, yang kabarnya kepandaian dari anak angkat Yo Ko tersebut lebih tinggi setingkat dari ilmu silat Yo Him sendiri, karena memang wanita she Yo tersebut, anak angkat Yo Ko, didikan langsung dari Siauw Liong Lie selama Siauw Liong Lie diduga lenyap oleh Yo Ko selama belasan tahun.

Dengan demikian sekarang Siauw Kwie telah membagi dua tujuan pada pengejaran tersebut,di mana selain mengejar dan mencari jejak Yo Him dan anak angkat dari Yo Ko tersebut, merekapun segera mendekati tokoh-tokoh rimba persilatan. Siauw Kwie menawarkan tokoh-tokoh rimba persilatan itu, tidak perduli dari kalangan hitam atau dari kalangan putih agar memasuki perkumpulan Ang-hoa-kauw nya.

Jika memang mereka menerima tawaran tersebut, maka mereka diberikan kedudukan yang baik dan juga membuat mereka memiliki jaringan yang sangat kuat dengan anggota-anggota yang telah ada. Tetapi jika ada tokoh rimba persilatan yang menolaknya, maka Siauw Kwie tegas saja mengambil tindakan memutuskan untuk menghukum orang itu, dengan membinasakannya.

Karena dari itulah tampak Siauw Kwie dapat memperkembangkan perkumpulan Ang-hoa-kauwnya menjadi sebuah perkumpulan yang sangat menonjol sekali dalam rimba persilatan pada akhir-akhir ini, sebagai perkumpulan yang sangat banyak sekali memiliki anggota terdiri dari berbagai golongan.

Hanya saja, disebabkan Siauw Kwie memang menuntun semua nama anggotanya itu dengan hati yang tidak bersih dan kejam, perkumpulan tersebut pun memiliki pandangan yang agak sesat, di mana semua jago-jago rimba persilatan itu mengetahuinya bahwa perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan yang agak sesat yang memiliki anggota-anggotanya yang semuanya mempunyai watak dan tabiat yang kurang baik.

Maka segera juga banyak orang-orang rimba persilatan yang berserikat. Namun mereka tidak pernah berhasil untuk mendobrak dan menghancurkan perkumpulan tersebut, karena didalam perkumpulan tersebut berkumpul banyak sekali jago-jago rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, disamping Siauw Kwie sendiripun memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Sehingga banyak sekali korban yang berjatuhan. Karena walaupun bagaimana memang terlihat jelas Siauw Kwie telah memerintahkan semua anggotanya untuk turun tangan bengis dan keras kepada semua orang-orang yang berusaha menentang perkumpulan Ang-hoa-kauw.

Dengan demikian telah membuat semua orang yang berusaha memusuhi Ang-hoa-kauw akhirnya harus menemui kematiannya. Dan juga perkumpulan Ang-hoa-kauw semakin ditakuti orang-orang rimba persilatan.

Sedangkan Siauw Kwie semakin mengembangkan sayapnya dalam menancapkan nama dan pengaruhnya di dalam rimba persilatan dengan perkumpulan Ang-hoa-kauw tersebut. Karena memang dia bermaksud untuk menjagoi rimba persilatan.

Usaha untuk mencari jejak Yo Him dan juga puteri angkat Yo Ko diperketat, di mana mereka terus juga menyebar diri untuk menyelidikinya.

Memang sedikit sekali orang-orang rimba persilatan yang memiliki hubungan dengan keturunan dari Sin-tiauw-tay-hiap tersebut, di mana dalam keadaan begitu, jarang sekali yang bisa memberikan keterangan mengenai tempat berdiamnya Yo Him maupun puteri angkat Yo Ko.

Namun ada juga beberapa orang yang mengetahui perihal puteri angkat Yo Ko, di mana mereka telah memberitahukan kepada Siauw Kwie bahwa sesungguhnya puteri angkat Yo Ko berada di puncak Heng-san.

Begitu menerima keterangan tersebut, tidak berayal lagi segera juga Siauw Kwie mengerahkan orang-orangnya ke Heng-san untuk melakukan penyelidikan. Dan diapun perintahkan tokoh-tokoh dari Ang-hoa-kauw agar memencar diri menyebar di sekitar Heng-san. Dengan Tang Lan Cie dan anggota Ang-hoa-kauw kemudian Siauw Kwie memimpinnya sendiri untuk mengepung rumah puteri angkat Yo Ko.

Apa yang dilakukannya begitu rapi sehingga guru Giok Hoa tidak menyangka akan adanya penyerangan dari Ang-hoa-kauw yang begitu mendadak telah mengepung rumahnya. Dan guru Giok Hoa terkejut ketika tahu-tahu rumah di belakangnya telah terbakar termakan api.

Ketika guru Giok Hoa hendak berusaha memadamkan api tersebut justeru di waktu itu telah bermunculan lawan-lawannya yang semuanya berpakaian serba putih tersebut.

Malah, Giok Hoa sendiri yang baru tiba dengan burung rajawalinya, jadi kaget sekali menyaksikan apa yang terjadi. Namun dia tidak bisa berbuat banyak, segera dia telah dikepung oleh orang-orang Ang-hoa-kauw. Sedangkan burung rajawali putih peliharaannya itu telah terbang jauh.

Siauw Kwie justeru telah perintahkan Tang Lan Cie memimpin beberapa orang anggota Ang-hoa-kauw buat membekuk guru Giok Hoa.

Hanya saja bertempur sekian lama, ternyata guru Giok Hoa dapat menghadapi mereka dengan baik sekali. Dan juga mereka tidak bisa membekuk guru Giok Hoa. Dengan Am-jian Sio-hun-kunnya, ternyata guru Giok Hoa dapat menghadapi mereka dengan mudah.

Memang di waktu itu juga guru Giok Hoa bermaksud untuk mempergunakan pedangnya, dia ingin mempergunakan Giok-lie-kiam-hoatnya. Namun ternyata dia tidak mempergunakannya, karena belum lagi dia mencabut pedangnya itu, justeru telah keburu Ko Tie datang, sehingga pertempuran itu jadi berhenti.

Sekarang juga dia telah mengetahuinya bahwa musuh-musuhnya itu merupakan orang-orang yang memang sengaja mencari urusan dengannya, karena menyangkut dengan urusan ayahnya. Karena dari itu, segera juga dia telah tertawa dingin waktu mendengar kata-kata Siauw Kwie seperti itu, dia bilang dengan suara yang tawar,

“Hemmm, jika memang kalian hendak berurusan dengan ayah dan ibuku….. hemm, hemm, jangan harap kalian bisa hidup terus. Hanya dalam satu jurus, kalian akan dibuat menggelinding semuanya…..!”

Siauw Kwie memang gusar mendengar perkataan guru Giok Hoa itu, akan tetapi tokh wajahnya yang cantik jelita itu tetap saja tersenyum manis. Diapun telah memandang kepada guru Giok Hoa, kemudian Ko Tie, lalu beralih kepada Giok Hoa, dan barulah Siauw Kwie berkata dengan sikapnya yang genit sekali:

“Baik! Baik! Jika memang kau berkata begitu, berarti aku bukan tandingan ayahmu! Akupun tidak mau berdebat dengan kau? Justeru sekarang aku ingin sekali main-main beberapa jurus dengan kau?”

Dan sambil berkata begitu tubuh Siauw Kwie telah melompat ke depan, gerakannya begitu lincah. Dan diapun bukan sekedar maju belaka mendekati guru Giok Hoa, juga tangan kanannya telah dikebaskannya.

Duapuluh tahun lebih yang lalu, Siauw Kwie sudah merupakan salah seorang “setan” yang menggemparkan dalam rimba persilatan karena kepandaiannya yang tinggi. Walaupun dia yang merupakan “Setan” termuda dari ke sembilan “setan” lainnya tokh kenyataannya kepandaiannya tidak berbeda banyak dengan ke sembilan “setan” lainnya. Dengan demikian telah membuat semua orang rimba persilatan jeri padanya.

Terlebih lagi sekarang ini, setelah duapuluh tahun lebih dia mengasingkan diri dan berlatih diri dengan giat, untuk memperoleh kepandaian yang setinggi-tingginya. Disamping lweekang yang lebih sempurna, kebutan tangannya itu bukan kibasan tangan sembarangan.

Namun guru Giok Hoa walaupun agak terkejut karena kibasan tangan Siauw Kwie, seperti juga akan membuat tubuhnya terdorong mundur dan kuda-kuda ke dua kakinya hampir tergempur, cepat sekali dengan gerakan yang sangat gesit dia telah berkelit. Kemudian dengan jurus kelima dari Am-jian Sio-hun-kun, dia menghantam.

Am-jian Sio-hun-kun merupakan ilmu istimewa yang diciptakan oleh Yo Ko waktu ia dalam kedukaan yang sangat mendalam, karena harus berpisah selama enambelas tahun dengan Siauw Liong Lie, satu-satunya wanita yang sangat dicintai dan dikasihinya.

Jurus-jurus dari Am-jian Sio-hun-kun memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ilmu silat lainnya. Karena dari itu, walaupun bagaimana hebatnya tenaga kibasan dari Siauw Kwie, tokh kenyataannya dia tidak berhasil untuk merubuhkan guru Giok Hoa, karena justeru guru Giok Hoa dapat mengelakkannya sambil balas menyerang dengan jurus-jurus dari Am-jian Sio-hun-kun membuat Siauw Kwie harus menarik pulang tangannya, lalu dengan muka yang sinis mengandung ejekan dia berkata:

“Ya, jurus ilmu inilah yang pernah dipergunakan oleh Yo Ko waktu menghadapi kami duapuluh tahun yang lalu..... rupanya engkau telah mewarisi kepandaian ini juga! Bagus! Bagus! Mari kita main-main lagi, keluarkanlah ilmu andalanmu itu!”

Siauw Kwie selama hidup mengasingkan diri duapuluh tahun lebih lamanya, telah memeras otak untuk mencari jalan pemecahannya, guna menghadapi ilmu luar biasa dari Yo Ko, yaitu Am-jian Sio-hun-kun.

Walaupun Siauw Kwie tidak bisa mengingat keseluruhan dari ilmu tersebut, akan tetapi dia masih mengingatnya secara garis besarnya di bagian-bagian mana dia terdesak hebat dan juga “setan-setan” lainnya yang telah terdesak oleh anehnya jurus-jurus ilmu pukulan yang hebat itu.

Akan tetapi setelah duapuluh tahun lebih yang lalu, hanya sebagian saja yang dapat dipecahkan oleh Siauw Kwie, di mana hanya bagian luarnya saja yang bisa dipecahkan oleh Siauw Kwie.

Tetapi itupun sudah menggembirakannya karena dia menciptakan semacam ilmu pukulan untuk dipergunakan menghadapi Am-jian Sio-hun-kun.

Dengan demikian dia yakin, walaupun Yo Ko mempergunakan Am-jian Sio-hun-kun tokh dia masih memiliki ilmu silat barunya yang bisa dipergunakannya buat menutup diri. Sengaja Siauw Kwie tidak mau terlalu lama mengurung diri, karena dia menyadarinya, jika dia menutup diri sepuluh atau duapuluh tahun lagi, kemungkinan besar Yo Ko pasti telah meninggal dunia disebabkan usia tua.

Maka, segera dia turun gunung begitu dia telah rampung menyelesaikan ilmu ciptaannya itu.

Siapa tahu, sekarang justeru guru Giok Hoa sudah memiliki ilmu yang luar biasa ciptaan Yo Ko, yaitu Am-jian Sio-hun-kun itu, di mana juga guru Giok Hoa tampaknya memang memiliki kesanggupan untuk mempergunakan setiap jurus itu dengan baik sekali. Karenanya hal ini selain membuat Siauw Kwie menjadi penasaran dan gusar, diapun tertarik sekali buat mengajak guru, Giok Hoa bertempur dengan jurus-jurus ilmu pukulan istimewa Am-jian Sio-hun-kun tersebut.

Siauw Kwie bermaksud akan mencoba ilmu silat tangan kosong yang baru diciptakannya untuk melihatnya apakah ilmu yang telah rampung diciptakannya itu, akan sangup menghadapi Am-jian Sio-hun-kun tersebut. Dan sekaranglah kesempatan yang ada buat mencoba ilmunya itu.

Karena dari itu, segera juga Siauw Kwie tidak sungkan-sungkan lagi, setelah berkata menantang seperti itu, ke dua tangannya disilangkannya. Matanya terbuka lebar, mengawasi kepada guru Giok Hoa, seperti juga dia tengah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Di samping itu, tubuhnya juga gemetaran keras sekali, dia juga mengeluarkan suara erangan,yang semakin lama jadi semakin nyaring.

Guru Giok Hoa mengawasi semua itu dengan hati bertanya-tanya. Entah ilmu silat tangan kosong apa yang akan dipergunakan oleh Kauw-cu dari Ang-hoa-kauw tersebut. Karenanya, segera juga guru Giok Hoa bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Dalam keadaan seperti itu, suara erangan dari Siauw Kwie terdengar semakin nyaring, tampaknya ilmu silat tangan kosong yang akan dipergunakannya itu mengandung suatu kekuatan yang sesat sekali.

Setelah mengawasi sekian lama, tiba-tiba ke dua tangannya yang disilangkan itu telah dibukanya perlahan-lahan. Kemudian cepat sekali, dia telah menghantam saling susul. Begitu cepat tangan kanan menghantam, kemudian menyusul dengan tangan kirinya.

Gerakan itu seperti hampir bersamaan karena terlalu cepatnya gerakan sepasang tangan tersebut. Akan tetapi dia menyerang seperti itu bukan untuk menghantam dari jarak yang dekat, dia telah menghantam dari jarak jauh!

Itulah rahasia terpenting dari Am-jian Sio-hun-kun yang dipecahkan oleh Siauw Kwie bahwa Am-jian Sio-hun-kun tidak bisa dihadapi dari jarak yang dekat, karena walaupun bagaimana tetap saja jarak yang dekat malah membahayakan dirinya, dimana Am-jian Sio-hun-kun memiliki banyak sekali kelebihannya dan aneh sekali dibandingkan dengan ilmu silat lainnya.

Karena dari itulah dengan mempergunakan ilmu silat tangan kosongnya yang luar biasa ini, dia mengambil jarak tertentu. Hal ini untuk mencegah agar lawannya tidak berdaya dengan ilmu Am-jian Sio-hun-kunnya tersebut.

Sedangkan waktu itu terlihat bahwa angin pukulan dari ke dua tangan Siauw Kwie mendesak kepada guru Giok Hoa kuat sekali. Hanya saja disebabkan memang guru Giok Hoa pun telah bersiap-siap, angin pukulan tersebut tidak bisa membuat tergempur kuda-kuda ke dua kakinya, di mana guru Giok Hoa tetap saja berdiri tegak di tempatnya.

Pakaian dari guru Giok Hoa tampak berkibar-kibar, karena terpaan yang begitu kuat dari tenaga serangan yang dilakukan oleh Siauw Kwie. Dan diam-diam di dalam hatinya guru Giok Hoa telah berkata dengan suara yang mengandung kekaguman:

“Hemm, ternyata memang dia tidak memiliki kepandaian yang rendah, dan tenaga dalamnya demikian kuat…..!” Maka tanpa berayal lagi, segera juga dia mempergunakan jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun tubuhnya seperti tengah menari.

Siauw Kwie juga tidak menyudahi sampai di situ saja, dia telah menyerang beruntun dengan lebat dan gencar sekali, ke dua kakinya melangkah dengan tindakan-tindakan kaki yang mengandung perhitungan, karena dia melangkah seperti juga mempergunakan cara-cara dan peraturan yang terdapat di dalam Pat-kwa, di mana ke dua kakinya melangkah sambil mengelilingi guru Giok Hoa, juga ke dua tangannya dengan gencar saling susul telah menghantam berulang kali.

Sehingga guru Giok Hoa pun harus berusaha sekuat tenaganya menghadapi setiap serangan lawannya itu, di mana dia juga berusaha mengempos lweekangnya, untuk menghadapi lawannya yang luar biasa ini.

Angin pukulan ke dua telapak tangan Siauw Kwie yang menyambar-nyambar dari jarak terpisah yang cukup jauh itu, yang menyerupai ilmu pukulan udara kosong, yang menghantam dari jarak yang cukup jauh terpisah dari lawan dan tidak perlu mengenai tubuh lawan-lawannya buat merubuhkan lawannya menderu-deru sangat kuat sekali, juga tampak debu telah bertebaran bercampur dengan salju, karena tanah seperti juga terkorek oleh angin pukulan tersebut.

Serangan-serangan dari Siauw Kwie memaksa guru Giok Hoa harus ikut bergerak dengan cepat. Guru Giok Hoa menyadarinya sekali saja dia berlaku ayal dan terkena serangan dari Siauw Kwie, walaupun mungkin dia bisa menangkisnya dengan mempergunakan lweekangnya, tokh tetap saja akan membuatnya jadi terluka di dalam.

Hanya dalam beberapa jurus itu, maka guru Giok Hoa telah dapat merasakannya, bahwa lweekang musuhnya lebih kuat dari lwekangnya. Lweekang Siauw Kwie memang menang setingkat atau setengah tingkat dari lweekang guru Giok Hoa tersebut.

Hanya saja, disebabkan ilmu Am-jian Sio-hun-kun dan beberapa macam ilmu silat warisan Yo Ko semuanya istimewa dan memiliki banyak keanehan, dengan demikian, walaupun lweekang guru Giok Hoa masih berada di sebelah bawah dari lweekang Siauw Kwie, tokh kenyataannya dia bisa menghadapinya dengan baik.

Waktu itu Siauw Kwie juga jadi penasaran, telah beberapa jurus yang dipergunakannya, namun tetap saja dia tidak berhasil untuk mendesak guru Giok Hoa.

Malah lawannya itu semakin lama telah mempergunakan Am-jian Sio-hun-kun bertambah aneh juga, di mana setiap jurus yang dipergunakannya menyebabkan guru Giok Hoa seperti tengah menari ke sana ke mari dengan tubuh yang gemulai.

Tubuh yang lemah gemulai itu bukan berarti bahwa guru Giok Hoa balas menyerang dengan tenaga yang lemah. Akan tetapi justeru setiap serangannya itu mengandung kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Memang setiap kali tangan guru Giok Hoa menyambar dengan satu jurus Am-jian Sio-hun-kun, setiap kali pula tangannya itu tampak lemah sekali meluncur perlahan. Namun jika memang kurang hati-hati Siauw Kwie menghadapinya, niscaya akan membuatnya jadi terserang hebat, karena di balik dari sikap yang lemah gemulai tersebut mengandung kekuatan yang dahsyat sekali.

Walaupun guru Giok Hoa menyadari lawannya memiliki lweekang yang lebih tinggi tingkatnya, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, guru Giok Hoa pun tidak mau membiarkan kelemahannya itu begitu saja. Dia telah menutup kelemahannya dengan mempergunakan keistimewaan dari jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun. Dengan mengandalkan keistimewaan setiap jurus dari ilmu silat tangan kosong tersebutlah yang membuat akhirnya guru Giok Hoa dapat menutup kekurangannya.

Siauw Kwie telah beberapa kali menghantam hebat pada guru Giok Hoa dengan gencar sekali, namun usahanya buat mendesak guru Giok Hoa agar terpojokkan oleh setiap serangannya itu, tokh berulang kali dia gagal, karena jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun itulah yang telah membuat setiap serangannya seperti tidak berhasil untuk menembusi pertahanan yang ada pada guru Giok Hoa.

Giok Hoa yang berdiri di pinggir menyaksikan semua itu, di mana gurunya bertempur dengan Siauw Kwie, dengan sikap yang serius sekali, seketika ia mengerti bahwa gurunya tengah menghadapi lawan berat.

Giok Hoa memang mengetahui, gurunya tidak pernah bersikap serius dan tegang seperti itu, dan jika sikap serius dan tegang seperti itu telah menguasai diri gurunya, Giok Hoa pun menyadari gurunya tengah menghadapi lawan yang tidak ringan. Dengan sendirinya, Giok Hoa jadi ikut tegang dan berkuatir sekali, apa lagi beruntun dilihatnya Siauw Kwie Setan Cantik itu, gencar sekali berusaha mendesak gurunya.

Ko Tie sendiri tidak kurang tegangnya, ia melihat kepandaian guru Giok Hoa telah mencapai tingkat yang tinggi sekali, dia kagum sekali. Namun justeru sekarang ini, tampaknya guru Giok Hoa tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi lawannya yang tangguh itu.

Diam-diam juga Ko Tie menyadari bahwa Siauw Kwie ternyata bukan seorang lawan yang ringan, di mana ilmu pukulan tangan kosongnya itu hebat sekali. Dan juga Ko Tie sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, tentu saja mengetahui, dengan cara bertempur yang dilakukan oleh Siauw Kwie, yaitu menyerang dari jarak yang terpisah cukup jauh, dengan demikian jelas berarti bahwa setiap serangannya mengandung tenaga lwekang yang dahsyat sekali.

Tanpa memiliki kekuatan lweekang yang benar-benar bisa diandalkan, tentu Siauw Kwie tidak mungkin berani menyerang dengan cara seperti itu, yaitu menghantam tanpa menyentuh tubuh lawan, hanya mengandalkan kekuatan angin pukulannya saja.

Siauw Kwie sendiri sudah tidak sabar, karena tetap saja dia tidak berhasil mendesak guru Giok Hoa. Dan diwaktu itu setiap pukulannya maupun serangannya jadi semakin dahsyat, angin pukulannya yang menggelegar-gelegar hebat itu bagaikan di tempat tersebut tengah dilanda topan atau memang tengah terjadi gempa.

Bisa disebut seperti tengah terjadi gempa. Sebab setiap kali Siauw Kwie menghantam, maka tanah di sekitar tempat itu tergetar. Malah es yang banyak dan cukup tebal menyelubungi batu-batu di puncak tertinggi gunung Heng-san tersebut berguguran.

Itu menunjukkan lweekang yang dipergunakan Siauw Kwie semakin lama jadi semakin hebat. Ko Tie dan Giok Hoa semakin bergelisah.

Ko Tie juga menyadari akan kesanggupannya, tidak mungkin dia bisa menghadapi Siauw Kwie. Sedangkan guru Giok Hoa yang kepandaiannya telah demikian tinggi, beberapa tingkat di atas kepandaiannya, masih tidak berdaya terlalu banyak dalam menghadapi setiap serangan Siauw Kwie.

Apalagi Ko Tie sendiri yang memang kepandaiannya masih berada di bawah kepandaian guru Giok Hoa. Tetapi walaupun demikian, Ko Tie tetap bersiap sedia, dia ingin setiap waktu jika guru Giok Hoa menghadapi suatu ancaman yang tidak dikehendaki, dia bisa segera turun tangan buat membantui.

Walaupun kepandaiannya masih berada di bawah kepandaian guru Giok Hoa tokh tetap saja dia memang memiliki kepandaian yang tinggi, walaupun tidak mungkin bisa merubuhkan Siauw Kwie. Tetapi bantuannya pun tidak terlalu kecil jika dia ikut mengepung Siauw Kwie untuk membantui guru Giok Hoa.

Rupanya apa yang dipikirkan oleh Ko Tie terpikir juga oleh Giok Hoa. Karena diapun telah bersiap-siap di samping pemuda itu dengan mata terpentang lebar-lebar mengawasi ke dua orang yang tengah mengukur ilmu itu.

Hanya sekali-kali Giok Hoa melirik, dan matanya memancarkan sinar seperti memohon, agar Ko Tie juga membantui pihaknya. Karena bukan hanya Siauw Kwie seorang lawan guru Giok Hoa, tetapi justeru Tang Lan Cie dan juga anggota-anggota Ang-hoa-kauw, yang waktu itu dalam keadaan siap buat menyerang dan mengeroyok mereka.

Maka dengan melirik seperti itu, Giok Hoa seperti juga ingin menyatakan, bahwa diapun hendak meminta maaf atas sikapnya beberapa saat yang lalu.

Sebenarnya di dalam hati Giok Hoa terdapat keinginan buat menanyakan kepada Ko Tie perihal guru pemuda itu, hanya saja justeru mulutnya seperti terkancing. Dia tidak bisa mengajukan pertanyaannya tersebut.

Dalam keadaan seperti itu. tentu saja Giok Hoa tidak bisa menanyakan perihal guru Ko Tie. Padahal, dia yakin, jika saja guru Ko Tie yang memang telah dilihatnya memiliki kepandaian begitu tinggi, membantu pihak mereka, niscaya guru Ko Tie merupakan tulang punggung yang paling dapat diandalkan.

Waktu guru Giok Hoa itu bukannya bertempur dengan hanya bernafsu menyerang, karena guru Giok Hoa, sebagai seorang yang dididik dengan keras oleh Yo Ko dan Siauw Liong Lie, dua orang tokoh sakti rimba persilatan dari golongan lurus dan bersih, dengan begitu, diapun bertempur dengan penuh perhitungan. Baik dalam hal mengerahkan tenaga dalamnya, maupun juga dalam hal menyerang dengan jurus-jurus yang telah diperhitungkan betul-betul.

Sekarang melihat Siauw Kwie merupakan lawan yang berat, diapun hendak mengkombinasikan ilmu pukulannya itu dengan beberapa macam ilmu pukulan lainnya, terutama sekali jurus-jurus luar biasa ilmu pukulan tangan kosong dari Kauw-bok-pay!

Karena telah berpikir begitu, maka guru Giok Hoa pun telah mengempos semangatnya. Dia masih mempergunakan jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun, namun dia tengah mencari kesempatan, begitu ada kesempatan tentu dia akan mempergunakan jurus-jurus ilmu pukulan tangan kosong dari pintu perguruan Kauw-bok-pay, yang diwarisinya dari Siauw Liong Lie.

Dan kesempatan itu akhirnya datang juga, setelah lewat tiga jurus lagi. Waktu itu Siauw Kwie tengah mempergunakan sepasang tangannya mendorong sekaligus, dia telah mendorong dengan tubuh dimiringkan, sepasang kakiyang telah dilipatkannya, kaki kanan menindih kaki kiri.

Cara menyerang yang dilakukan Siauw Kwie sebenarnya merupakan penyerangan yang sangat aneh sekali, karena cara dari gerakannya itu selain memang aneh, juga tenaga yang bergelombang menyambar kepada guru Giok Hoa pun luar biasa anehnya.

Jika angin serangan dari seorang lawan di rimba persilatan, tentu akan menghantam lurus dan menerjang kepada lawan dengan langsung,

Namun apa yang dilakukan oleh Siauw Kwie ternyata berbeda sekali dari kebiasaan itu.

Waktu Siauw Kwie mendorong dengan ke dua telapak tangannya itu, maka tenaga yang menyambar kepada Guru Giok Hoa tidak langsung.

Tenaga itu meliuk-liuk seperti juga gerakan seekor ular, tenaga serangan itu seperti lemas dapat berobah arah sasarannya.

Karena dari itu, dengan anehnya cara penyerangan tersebut, pihak lawan sementara tidak bisa mengetahui ke arah mana sesungguhnya yang diincar sebagai sasaran, karena bisa sebelah kiri, atau bisa juga samping kanan.

Dan tenaga itu tentu saja tidak bisa diperhitungkan keras dan lemahnya, berapa kuatnya karena justru sambaran dari tenaga serangan yang meliuk seperti itu telah mengaburkan dugaan untuk memperkirakan berapa kuatkah tenaga serangan tersebut.

Dalam keadaan seperti inilah, guru Giok Hoa yang walaupun heran, tidak mau bergerak sembarangan. Karena tenaga serangan itu bergelombang, maka dia berdiri tegak di tempatnya. Hanya saja dia telah bersiap-siap dengan satu jurus ilmu pukulan Kauw-bok-pay yang dipergunakannya menghadapi jurus-jurus lawannya yang luar biasa anehnya ini.

Ketika merasakan tekanan tenaga serangan itu telah dekat dan kuat, tahu-tahu guru Giok Hoa telah berputar, dan tangannya telah meraba pinggangnya, dia telah melepaskan ikat pinggangnya.

Inilah untuk pertama kali guru Giok Hoa mempergunakan ikat pinggangnya dalam menghadapi lawan. Jika dia tidak dalam keadaan terpaksa, tentu dia tidak akan mempergunakan ikat pinggangnya itu.

Sekarang karena dia agak terdesak juga, terlebih lagi memang cara menyerang dari lawannya itu agak luar biasa, dimana jurus penyerangan yang dilakukan oleh lawannya itu luar biasa tidak bisa diduga arahnya, akhirnya dia memutuskan untuk mempergunakan jurus-jurus sakti dari Kauw-bok-pay. Dia telah mengibaskan ang-kinnya itu, melibat tangan kanan dari lawannya, dengan maksud akan menghentaknya, untuk ditariknya.

Namun gagal.

Usaha dari guru Giok Hoa yang hendak melibat tangan kanan dari Siauw Kwie telah mengenai tempat kosong, karena di waktu itu terlihat ang-kin itu telah menyambar tempat yang kosong.

Seperti sifat dari cara menyerang Siauw Kwie, yang tenaga serangannya itu meliuk-liuk, maka tangannya itu juga dapat merobah kedudukannya. Sehingga guru Giok Hoa tidak berhasil untuk melibat pergelangan tangan Siauw Kwie dengan ang-kinnya, karena begitu ang-kinnya menyambar dekat, justeru tangan Siauw Kie telah bergeser tempat dan berobah kedudukannya, namun tenaga serangannya yang begitu kuat masih terus menyambar kepada guru Giok Hoa dengan meliuk-liuk.

Dengan demikian, guru Giok Hoa hampir saja melakukan suatu kesalahan, begitu ang-kinnya menyambar tempat kosong, dan dia terlambat buat berkelit dari menyambarnya kekuatan tenaga yang begitu kuat, niscaya tubuhnya akan terhantam dengan hebat.

Dasarnya dia memang anak angkat dari pendekar sakti Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang telah menerima gemblengan sangat keras, dengan demikian membuatnya jadi memiliki kepandaian beraneka ragam disamping beberapa kepandaian pokok yang hebat.

Begitu melihat gelagat dirinya menghadapi bahaya tidak ringan, segera juga dia telah berputar. Tubuhnya tidak berobah kedudukan kuda-kuda ke dua kakinya, hanya saja tubuh itu telah berputar sedemikian rupa, berputar dengan gerakan sangat cepat sekali.

Tetapi yang hebat dengan caranya ini, sesungguhnya terletak pada cara dia berputar. Karena begitu tubuhnya berputar, tekanan tenaga dari penyerangnya telah dapat dihindarkannya, di mana tenaga itu seperti menjadi panah karena menyerang tubuh yang lemas berputar seperti itu, sama sekali tidak terdapat daya menolak atau melawan. Karenanya, begitu tubuh guru Giok Hoa berputar, maka tenaga serangan yang aneh dari Siauw Kwie telah punah.

Namun Siauw Kwie tidak mau sudah sampai di situ saja, dengan murka karena melihat cara penyerangannya tersebut yang sebelumnya diharapkan bisa merubuhkan guru Giok Hoa telah menemui kegagalan, membuatnya jadi mengulangi lagi. Sekarang jauh lebih cepat.

Tenaga serangan itu tetap meliuk-liuk, akan tetapi tekanannya jauh lebih kuat.

Siauw Kwie yang melihat cara guru Giok Hoa menyelamatkan diri dari sambaran tenaganya yang aneh itu, yang bisa diliuk-liukkannya, menduga tentunya itu disebabkan tenaganya kurang kuat. Karenanya dia telah menambah tenaga serangannya, di mana dia yakin walaupun guru Giok Hoa melakukan gerakan memutar seperti tadi, tidak mungkin dia bisa memunahkan tenaga penyerangannya kali ini.

Siauw Kwie telah mempersiapkan, jika serangannya kali ini tidak menerima tenaga tolakan atau perlawanan dari lawannya yang berputar, justeru dia akan membarengi dengan mempergunakan tenaga melibat dan menarik, di mana tenaga serangannya itu akan dibuat sedemikian menjadi semacam gulungan angin serangan yang melibat diri guru Giok Hoa.

Guru Giok Hoa pun bukannya orang tolol. Dia menyadari bahayanya penyerangan yang dilakukan lawannya. Karena itu, sekali ini tidak berputar. Begitu berhasil memunahkan tenaga serangan lawannya, segera juga dia menjejakkan ke dua kakinya tanpa menantikan penyerangan berikutnya, tubuhnya melambung ke tengah udara, di mana ang-kinnya telah diputarnya.

Ang-kin itu terbuat dari secarik kain sutera yang berwarna kuning, sama seperti pakaiannya, tetapi ada keistimewaannya. Walaupun ang-kin itu menyambarnya lemah gemulai, namun jika diperlukan ang-kin tersebut bisa dibikin keras, kaku dan bisa dipergunakan sebagai gantinya toya!

Juga ang-kin itu bisa dibuat menjadi lunak buat melibat senjata lawan. Karenanya, ang-kin itu memiliki banyak keistimewaannya.

Maka betapapun juga ang-kin dari guru Giok Hoa tidak bisa dianggap ringan, karena setiap serangan yang dilakukannya itu merupakan penyerangan yang bisa membahayakan lawannya.

Rupanya Siauw Kwie yang sama sekali tidak menyangka akan kegunaan ang-kin itu di mana Siauw Kwie hanya menduga ang-kin itu mungkin hanya bisa dibuat kaku karena disalurkan tenaga dalamnya, dengan berani menghantam dengan jurus kedua dari pukulannya yang istimewa itu.

Dan tenaga serangannya itu benar-benar sangat kuat sekali. Dia berpikir, jika tokh memang guru Giok Hoa mempergunakan tenaga dalamnya buat membikin kaku ang-kin itu, tentu akan menjadi hancur oleh kekuatan tenaga serangannya. Karena dari itu, dia telah menyerang dengan tenaga yang bertambah kuat.

Dalam keadaan seperti ini, guru Giok Hoa tidak berayal telah membuat ang-kinnya menjadi lemas.

Ujung ang-kin itu seperti juga kepala ular sigap sekali telah melingkar melibat ke dua tangan Siauw Kwie.

Siauw Kwie tidak berkelit kali ini, dia berusaha mengelakkan tangannya dari sambaran ujung ang-kin. Didalam hatinya dia berpikir: “Hemmm, begitu ang-kinmu melibat tanganku dan aku mengerahkan tenaga dalamku maka ang-kinmu ini akan hancur lumat.......!”

Karena memiliki keyakinan seperti itulah telah membuat Siauw Kwie tidak berusaha menghindarkan tangannya dari libatan ang-kin tersebut. Dia membiarkan ang-kin itu melibat sepasang tangannya.

Dan waktu ang-kin itu mulai melibatnya bersamaan waktunya, segera juga Siauw Kwie mengempos tenaga dalamnya. Dia bermaksud menghancurkan ang-kin itu dengan mengandalkan kehebatan tenaga lweekangnya.

Namun Siauw Kwie kecele. Karena waktu itu ang-kin tersebut telah merobah pula keadaan sifatnya, menjadi lunak dan lembek, di mana waktu tenaga dalam dari Siauw Kwie berusaha untuk menolak dan menghancurkan ang-kin itu, ang-kin tersebut menjadi lunak, selunak kapas.

Malah di waktu itu, dalam keadaan Siauw Kwie belum lagi bisa mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengempos semangat dan tenaganya guna menyerang ke tiga kalinya, di waktu itulah terlihat guru Giok Hoa malah telah mengempos semangatnya, maka seketika ang-kin itu menjadi keras dan kaku, dalam keadaan ujungnya masih melingkar terus di pergelangan ke dua lawannya!

Guru Giok Hoa juga tidak membuang-buang kesempatan yang baik itu, ketika dia telah menyalurkan lweekangnya membuat ang-kin itu menjadi sekaku besi, maka dalam keadaan seperti itulah segera juga dia membentak nyaring: “Pergilah kau!”

Dia rupanya telah menghentak dengan mengerahkan tenaga lweekangnya sebanyak delapan bagian.

Harus diketahui, bahwa ilmu silat warisan Kauw-bok-pay merupakan semacam ilmu silat yang bisa dipergunakan dengan cara lunak dan di dalamnya terdapat juga kekerasan yang dahsyat sekali. Terlebih lagi setelah disempurnakan oleh Yo Ko dan Siauw Liong Lie, maka ilmu silat itu semakin hebat.

Sekarang memang guru Giok Hoa mempergunakannya dengan mengkombinasikan dengan ilmu silat Am-jian-sio-hun-kun. Sehingga kekuatan tenaga menghentaknya itu jadi luar biasa sekali.

Tubuh dari Siauw Kwie seperti juga dihentak oleh kekuatan gelombang laut yang sangat besar sekali, membuat tubuhnya jadi terdorong ke depan.

Dalam keadaan seperti inilah, segera juga terlihat dia telah melesat ke tengah udara.

Pertamanya, begitu dia merasakan tubuhnya tertarik ke depan, sebetulnya Siauw Kwie hendak mempertahankan diri dengan mengerahkan kekuatan selaksa kati.

Akan tetapi dia merasakan tenaga menarik yang dilakukan oleh guru Giok Hoa waktu itu sangat kuat sekali. Juga waktu itu kedudukan cara berdiri Siauw Kwie, di mana kuda-kuda ke dua kakinya tidak menguntungkannya, karena jika tokh dia bertahan, dia hanya bisa bertahan setengah-setengah, malah ini bisa membahayakan dirinya, jika saja guru Giok Hoa dalam kesempatan tersebut mempergunakan hantaman tangan kirinya.

Begitu tubuhnya terasa terhentak, maka dia segera merobah keputusannya, dia jadi batal bertahan. Malah waktu itu dia telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara.

Dengan dibantu jejakkan kakinya, maka tubuh Siauw Kwie jadi begitu ringan, seperti juga sehelai daun kering yang melayang ke tengah udara. Malah, karena menggabungkan tenaga jejakkan ke dua kakinya dengan tenaga tarikan dari guru Giok Hoa, membuat tubuh Siauw Kwie terlontar dengan daya tolak sampai delapan tombak ke tengah udara.

Sedangkan ang-kin dari guru Giok Hoa tidak sampai empat meter. Dengan sendirinya libatan pada ke dua tangan Siauw Kwie terlepas.

Dan di tengah udara Siauw Kwie bukan hanya berpok-say seperti biasanya saja. Karena dia berpok-say bertingkat, di mana pertama kali dia berpok-say, dengan tubuh yang berputar seperti gerakan bola, tubuhnya itu melengkung seperti menjadi bulat, antara ke dua kaki dengan dadanya telah saling bertemu, ke dua lututnya mengenai dadanya.

Kemudian waktu tubuhnya berputar di udara, dia telah melonjorkan kakinya, bagaikan layang-layang. Ke dua tangannya dikembangkan dan tubuhnya meluncur turun. Barulah kemudian dia berjumpalitan lagi, di mana tubuhnya meluncur dengan ke dua kakinya terlebih dulu hinggap di atas tanah!

Guru Giok Hoa sendiri waktu itu bukannya tidak terkejut, dia heran juga melihat keberanian Siauw Kwie dalam menghadapi cara hentakannya itu, karenanya diapun terkejut ketika tahu-tahu libatan dari ujung ang-kinnya terlepas dan tubuh Siauw Kwie malah terlontar lebih tinggi dari perkiraannya, seperti juga seekor burung yang telah terlepas dari jeratnya.

Belum lagi rasa heran bercampur kagum pada guru Giok Hoa berkurang, justeru disaat itu Siauw Kwie yang tengah meluncur turun, ke dua kakinya baru saja hinggap di tanah membentak mengguntur, sepasang tangannya menghantam berulang kali. Itulah hantaman yang merupakan penyerangan sangat dahsyat, karena begitu tenaga pukulan tersebut menyambar, segera juga guru Giok Hoa merasakan kuatnya tenaga mendorong, seperti runtuhnya gunung.

Belum lagi tenaga serangan pertama itu tiba pada sasarannya, telah disusul tenaga lainnya yang menyambar dengan ancaman yang tidak lebih ringan, karena Siauw Kwie menyerang beruntun dan berulang kali dengan cara memukul seperti juga ilmu pukulan Pek-kong-ciang atau Pukulan Udara Kosong, yang menghantam dari jarak terpisah, cukup jauh dari lawan.

Yo Kouw-nio, guru Giok Hoa, sudah tidak keburu mempergunakan ang-kinnya, karena itu tahu-tahu tenaga serangan Siauw Kwie telah dekat, memaksa mempergunakan salah satu jurus Am-jian-sio-hun-kun, yaitu jurus ketujuh yang bernama “Yong-jin-cu-yu” atau “Si Goblok Kejengkelan Sendiri”. ia membalas mendorong dengan ke dua telapak tangannya,

“Dukkk, dukkk!” dua kali terdengar suara benturan yang sangat kuat, sehingga suara benturan itu menyebabkan tempat tersebut tergetar. Kesudahannya benar-benar menakjubkan sekali!

Sepasang kaki Yo Kouw-nio (nona Yo) melesak ke dalam tanah belasan dim, menembus lapisan salju dan menembus ketebalan bumi. Siauw Kwie tidak kurang hebatnya mengalami kesudahan dari bentrokan pukulan mereka, sepasang kakinyapun melesak ke dalam tanah, dalam sekali.

Tubuhnya mengejang, mukanya merah padam dan sepasang matanya mendelik. Mata yang semula begitu jeli kini tidak memperlihatkan kegenitan lagi, tampak biji matanya begitu besar mengawasi kepada Yo Kouw-nio.

Giok Hoa yang melihat keadaan gurunya seperti itu, dimana sepasang tangan terlonjor ke depan dan sepasang kakinya melesak sampai menembus bumi bermaksud melompat maju buat melihat keadaan gurunya itu, kalau-kalau gurunya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan di tangan lawannya.

“Adik Giok Hoa, jangan….. berbahaya!” cegah Ko Tie sambil mengawasi si gadis, matanya memancarkan permohonan agar gadis tersebut tidak membantah cegahannya itu.

Giok Hoa tampak panik dan bingung, juga mukanya agak memucat. Di waktu itu ia berkata tergagap: “Guruku itu.......”

“Ya, mereka saling mengadu kekuatan tenaga dalam, kita tidak boleh menengahi mereka dulu, karena tenaga dalam mereka tengah bertemu di tengah udara dengan kekuatan yang hebat sekali.

“Jika engkau menerjang ke tengah-tengah mereka, menyelinap di antara dua kekuatan tersebut, niscaya engkau sendiri yang menjadi korban, karena lweekangmu berada di bawah mereka yang tengah saling berusaha menindih.....” menjelaskan Ko Tie.

Giok Hoa tampaknya dapat juga diberi pengertian, sebab ia tidak memaksa hendak pergi ke dekat gurunya. Ia berdiri dengan muka memperlihatkan ketegangan hati, walaupun bagaimana gadis ini tetap saja tidak tenang.

Yo Kouw-nio waktu itu tampak tengah mengempos lwekangnya biarpun telah saling bentur tiga kali, tenaga lwekangnya masih saling tindih berusaha mengadu kekuatan tenaga dalam dengan lawannya, yang waktu itu masih berdiri mengejang dengan sepasang tangan terlonjorkan, tergetar keras sekali. Tampak mereka berdua masing-masing mengerahkan tenaga dalam mereka berusaha untuk saling menindih dan merubuhkan lawan mereka.

Siauw Kwie sendiri di saat itu jelas tengah berusaha dan berupaya sekuat tenaganya, untuk dapat merubuhkan dan menggempur lweekang lawannya. Beberapa kali ia menggempos menambah kekuatan tenaga dalamnya, namun tetap saja tidak berhasil. Jika saja ia berhasil menggugurkan dan meruntuhkan tenaga dalam lawannya, Yo Kouw-nio akan terluka di dalam tubuh yang berat.

Memang benar lweekang Yo Kouw-nio masih di bawah setengah tingkat atau kalah seurat dibandingkan lweekang lawannya. Namun ia memiliki lwekang yang lurus dan murni, warisan dari kedua orang tua angkatnya, yaitu Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Sejak kecil Yo Kouw-nio telah menerima gemblengan yang sangat keras dari Siauw Liong Lie, di mana seperti juga ia memang sejak kecil telah berhasil memiliki lweekang dan dasar yang lurus dan murni, sehingga setelah dewasa, waktu ia menerima petunjuk yang jauh lebih penting dari Yo Ko, ia bisa berlatih dengan mudah! Menghadapi lweekang yang sesat, akan menyebabkan ia memang lebih tangguh daya pertahanannya, walaupun lweekang lawannya seimbang.

Karena dari itu, biarpun Siauw Kwie telah mengerahkan dan mengempos lweekangnya sekuat tenaganya, masih juga ia selalu gagal untuk merubuhkan Yo Kouw-nio.

Sebaliknya Yo Kouw-nio pun dalam mengadu kekuatan tenaga dalamnya bukan hanya menyalurkan tenaga murninya belaka, karena di samping ia mengempos lweekangnya, iapun berusaha memikirkan cara yang terbaik buat merubuhkan lawannya. Atau sedikitnya agar ia dapat mendesak lawannya itu, karena dari itu, beberapa usaha telah dicobanya.

Ia telah berusaha untuk mendesak lawannya dengan pukulan telapak tangannya, disusul dengan pengerahan lweekang lagi, dan menangkis memunahkan tenaga serangan lawannya. Dengan demikian membuat mereka selalu saling mengadu tangan dan kekuatan lagi. Tetap saja Yo Kouw-nio tidak berhasil dengan usahanya itu, karena ia tetap berada di bawah tindihan dari kekuatan lweekang lawannya.

Dengan caranya seperti sekarang ini, memang diakui oleh Yo Kouw-nio di dalam hatinya, tidak membawa keuntungan buat dirinya karena inilah yang disebut keras dilawan keras. Dan tentu saja, lawannya yang memang memiliki lweekang lebih tinggi seurat dari dia, jauh lebih beruntung memiliki posisi yang jauh lebih kuat.

Sekarang ini memang dapat Yo Kouw-nio bertahan terus menghadapi tenaga dalam lawannya. Tetapi jika mereka bertempur terus setengah harian lagi, niscaya akan menyebabkan Yo Kouw-nio berkurang tenaganya dan rubuh sendirinya.

Bukan Yo Kouw-nio sendiri yang bingung karena justeru Siauw Kwie sendiri pun tidak kurang bingungnya melihat lawannya masih belum dapat dirubuhkannya. Walaupun bagaimana, ia seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama disegani semua jago-jago rimba persilatan, karena ilmunya yang memang sangat tinggi sekali.

Jarang ada orang yang bisa menandinginya. Dalam kemarahannya seperti itu, Siauw Kwie sesungguhnya hampir tidak bisa menahan diri dan ingin meneriaki Tang Lan Cie dan anak buahnya yang lain, agar mereka maju mengeroyok Yo Kouw-nio.

Hanya saja ia segera teringat bahwa dirinya duapuluh tahun lebih berlatih diri mati-matian untuk memiliki kepandaian yang tinggi sempurna, yang kelak akan dipergunakan buat menghadapi Yo Ko. Jika memang menghadapi anak angkat Yo Ko saja ia tidak sanggup dan tidak bisa merubuhkannya, bagaimana mungkin dia memiliki muka buat mencari Yo Ko lagi?

Dan tentu saja iapun tidak memiliki muka buat mengajak Yo Ko mengukur ilmu, karena biar bagaimana kepandaiannya yang sekarang ini dimilikinya memang masih berada di bawah kepandaian Yo Ko!

Bukankah sekarang saja menghadapi anak angkat Yo Ko dia tidak bisa segera merubuhkannya, malah mereka tampaknya hampir berimbang? Dibayangkan juga oleh Siauw Kwie bahwa Tang Lan Cie dan semua anak buahnya akan mentertawainya diam-diam, di dalam hati mereka tentu akan mencemoohkannya.

Di mana wibawa dan pengaruhnya di mata anak buahnya, jika kali ini ia tidak bisa merubuhkan anak angkat Yo Ko.

Tetapi begitu, penasaran Siauw Kwie semakin besar, walaupun ia batal perintahkan anak buahnya mengeroyok Yo Kouw-nio, namun ia sendiri bertekad harus dapat merubuhkan Yo Kouw-nio. Ia berusaha mengempos seluruh kekuatan tenaganya, karena kali ini sungguh-sungguh hendak mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Ia mengetahui bahwa Yo Kouw-nio di waktu itu tentu telah letih, dan jika ia sekali ini mendesaknya dengan seluruh kekuatan sin-kangnya, niscaya Yo Kouw-nio tidak sanggup menghadapinya lagi. Ia mengharap bisa merubuhkan Yo Kouw-nio dengan satu kali serangannya yang paling kuat ini.

Tetapi usaha dari Siauw Kwie ternyata gagal. Yo Kouw-nio masih dapat bertahan. Benar-benar tangguh sekali Yo Kouw-nio. tidak percuma ia memperoleh gemblengan dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, dan juga ibu angkatnya, Siauw Liong Lie, ke dua pendekar sakti itu, pasangan pendekar yang memang harus diakui akan kehebatan mereka.

Sekarang, biarpun lweekang Yo Kouw-nio memang masih berada di bawah lweekang lawannya, tokh dia masih bisa tahan buat menghadapi Siauw Kwie demikian lama!

◄Y►

Swat Tocu yang waktu itu tengah berjalan perlahan-lahan karena terlalu lama menantikan Ko Tie bersama beruang salju itu belum juga kembali ke puncak tertinggi Heng-san, jadi tidak sabar dan menduga muridnya tengah menghadapi ancaman bahaya. Karenanya iapun turun dari puncak tertinggi Heng-san, dia telah berjalan perlahan-lahan. Hanya saja ia kini tidak melihat kobaran api lagi.

“Apakah Ko Tie telah bisa mengatasi kebakaran itu? Atau memang kebakaran itu hanya kecelakaan belaka karena pemilik rumah itu lalai dalam meletakkan api penerangan atau disebabkan perapian yang terlalu besar?!” berpikir Swat Tocu sambil mengawasi sekitarnya.

Tokoh sakti rimba persilatan ini tetap melangkah perlahan-lahan menuruni puncak tertinggi gunung itu. Dan waktu tiba di tempat yang agak tinggi dari sebungkah batu gunung menonjol, dari mana ia bisa melihat keadaan di bawah, sehingga ia bisa melihat Ko Tie tengah berdiri berendeng dengan seorang gadis.

Si gadis yang pernah ditawannya, juga terdapat banyak sekali gadis-gadis cantik lainnya yang semuanya berpakaian serba putih. Dilihatnya, di tengah-tengah, dalam sebuah gelanggang cukup besar di sekitar orang-orang itu, ada dua orang wanita yang tengah bertempur mengadu kekuatan tenaga lweekang.

Yang seorang cantik bukan main, mengenakan baju warna merah. Walaupun usianya telah cukup tinggi hampir setengah baya, tokh wajahnya cantik sekali, memiliki raut wajah yang menarik sekali dan memancarkan kecentilan atas sikapnya yang genit!

Matanya waktu itu tengah mendelik besar mengandung kebencian dan memancarkan hawa pembunuhan. Ia tengah mengempos semangatnya buat menindih kekuatan sin-kang lawannya.

Yang seorang lagi adalah seorang wanita berpakaian serba kuning, yang dikenalnya sebagai anak angkat Yo Ko, yaitu Yo Kouw-nio, yang memang pernah bertemu dengannya beberapa kali waktu Swat Tocu membantui pihak Kay-pang menghadapi kerajaan.

Yang membuat Swat Tocu tidak mengerti, mengapa anak angkat Yo Ko bertempur hebat dengan wanita berpakaian serba merah itu, malah tampaknya mereka berdua tengah mengeluarkan seluruh kemampuan dan kepandaian mereka, karena mereka masing-masing berusaha merubuhkan lawan mereka.

Terlihat juga dari tubuh mereka yang menguap dan keringat yang sebesar kacang telah menitik turun tidak hentinya. Pakaian mereka basah kuyup, walaupun di waktu itu keadaan di tempat tersebut sangat dingin, bumi diselimuti salju, namun mereka tetap saja berkeringat deras seperti itu!

Ko Tie segera dapat melihat gurunya, sampai ia berseru girang.

Sedangkan Giok Hoa yang melihat datangnya Swat Tocu, hatinya tidak tenang. Karena ia kuatir Swat Tocu nanti berpihak kepada Siauw Kwie, dan mempersulit gurunya. Karena kuatirnya gadis ini sampai melirik kepada Ko Tie, buat melihat reaksi dan sikap pemuda itu.

Dilihatnya wajah Ko Tie berseri-seri girang sekali. Si gadis cepat-cepat memisahkan dirinya jauh-jauh dari Ko Tie. Tampak pipinya agak memerah, sebab di waktu itu Swat Tocu juga tengah memandangi padanya dengan bibir tersenyum penuh arti, membuat gadis itu malu.

Ko Tie terkejut melihat si gadis tiba-tiba menjauhi dirinya. Hanya cepat sekali ia mengerti dan segera memahami bahwa gadis ini tentunya malu jika berada berdekatan dengannya, sedangkan di tempat itu telah datang guru si pemuda, yang belum lama lalu memiliki pertentangan dan sedikit ganjalan dengan Giok Hoa!

“Suhu!” panggil Ko Tie sambil lari menghampiri dan memberi hormat. “Orang-orang jahat itu mempersulit Yo Cici!”

Swat Tocu mengangguk dan perintahkan Ko Tie agar menepi. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia melangkah perlahan-lahan menghampiri gelanggang pertempuran. Setelah berada dekat, barulah Swat Tocu berkata:

“Yo Kouw-nio, tampaknya kau tengah gembira sekali main-main dengan wanita ini.”

Sambil berkata, Swat Tocu telah mengulur tangannya. Cepat sekali gerakannya, dari telapak tangannya meluncur serangkum angin yang halus sekali, menyelinap tepat di tengah-tengah dua kekuatan yang tengah saling tindih itu.

Tidak terdengar suara benturan, namun kesudahannya memang menakjubkan dan membuat Yo Kouw-nio dan Siauw Kwie kaget serta kagum. Karena waktu itu mendadak sekali kekuatan tenaga mereka menjadi lenyap dan mereka seperti kehilangan sasaran, sehingga hampir saja tubuh mereka terjerunuk ke depan, jika saja Swat Tocu tidak menyampok dengan tangan satu lagi, sehingga tubuh kedua wanita itu seperti juga tertahan oleh suatu kekuatan yang tidak tampak, membuat mereka tidak sampai terjerunuk ke depan.

Yo Kouw-nio cepat-cepat merangkapkan ke dua tangannya setelah mengenali Swat Tocu. “Akh kiranya Swat Locianpwe! Apa kabar? Apakah locianpwe selama ini dalam keadaan baik-baik?!”

Swat Tocu tersenyum mengangguk. “Ya, jika aku tidak sehat tentu tidak berada di tempat ini! Bagaimana dengan Yo Tayhiap dan Yo Hujin? Apakah mereka dalam keadaan baik-baik?!”

Yo Kouw-nio masih membungkuk memberi hormat ketika menyahuti: “Baik, terima kasih atas perhatian locianpwe!”

Berbeda dengan Yo Kouw-nio yang girang melihat kehadiran Swat Tocu di tempat itu, maka Siauw Kwie justeru jadi tidak senang. Ia memang mengetahui siapa adanya Swat Tocu, telah lama didengarnya perihal Tocu Pulau Es ini, di mana kepandaiannya memang sangat tinggi. Dan baru kali ini ia melihat orangnya.

Dia jadi tidak senang justeru Swat Tocu telah mencampuri urusan orang lain, mencoba memisahkannya, berarti tangannya begitu lancang!

“Orang tidak tahu malu, kutungkan tanganmu sebagai hukumanmu berlancang tangan mencampuri urusanku! Jika tidak, hemmmm, aku akan menghabisi jiwamu!”

Bentakan itu disertai dengan mata yang mendelik lebar-lebar, galak sekali dan mulut yang monyong cemberut. Namun Siauw Kwie memang memiliki paras yang cantik, karena biarpun ia berada dalam keadaan marah seperti itu, parasnya tetap cantik.

Swat Tocu melengak sejenak melihat kegalakan Siauw Kwie, namun segera juga ia tersenyum.

“Mengapa harus marah-marah seperti itu? Ku kira, ada baiknya jika memang aku memisahkan kalian, sebab tadi kulihat, keadaan kalian terancam bahaya. Kalian berdua bisa terluka di dalam yang tidak ringan, jika saja tidak segera dipisahkan!”

“Hemmmmm!” mendengus Siauw Kwie. “Apa hubunganmu dengan kami sehingga kau tampaknya begitu menguatirkan keselamatan kami, membuat engkau berusaha memisahkan kami? Cepat kutungkan tanganmu!”

Tapi Swat Tocu, biarpun mendongkol melihat sikap Siauw Kwie yang galak seperti itu, tapi kini berusia telah lanjut dan jauh lebih sabar dibandingkan dengan waktu-waktu yang lalu. Coba jika saja Siauw Kwie bertindak dan bersikap ceroboh seperti itu padanya sepuluh tahun yang lalu, niscaya Swat Tocu sedikitnya akan menghajar mulut wanita yang nampaknya galak dan kejam ini, di samping wajahnya memancarkan kegenitannya!

“Tenanglah, dengar dulu keteranganku!“ kata Swat Tocu sabar. “Walaupun aku tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi apakah, aku tidak boleh memisahkan orang yang tengah terancam bahaya karena mengadu kekuatan mempertaruhkan jiwa?

“Sesungguhnya ada urusan apakah di antara kalian yang tidak bisa dipecahkan atau diselesaikan, sehingga kalian berlaku begitu nekad. Telah bertempur mempertaruhkan jiwa kalian masing-masing?!”

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 18"

Post a Comment

close