Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 14

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 14

Tetapi waktu itu gadis berpakaian berbaju kuning itu menghela napas dalam-dalam, kemudian dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Diapun telah memandang ke atas langit, kepada gumpalan awan, lalu katanya:

“Sudahlah, nantipun kami akan bertemu!”

Dan wajah gadis berbaju serba kuning itu telah berobah biasa lagi, karena dia telah tersenyum manis pula, malah dia telah menoleh kepada Giok Hoa, katanya:

“Adik kecil, menurut apa yang kulihat, engkau memiliki bakat sangat baik sekali untuk mempelajari ilmu silat, maka kelak engkau harus baik-baik berlatih diri. Tentu jika engkau tekun dan giat berlatih diri, engkau akan menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, di mana tidak mudah orang menghina dirimu lagi......!”

Baru saja gadis berbaju kuning itu berkata sampai di situ, tiba-tiba Hok An telah menekuk ke dua kakinya. Dia berlutut di hadapan gadis berbaju kuning tersebut, katanya:

“Liehiap, maafkanlah atas kelancanganku, ada yang hendak kuajukan untuk memohon sesuatu dari Liehiap. Entah Liehiap mengijinkan atau tidak aku menyebutkannya.....?!”

“Ya, katakanlah.....!” kata gadis berpakaian serba kuning itu.

“Sesungguhnya, aku merasa kasihan dan juga merasa iba akan nasib Giok Hoa. Dia seorang anak yatim piatu, yang sudah tidak memiliki ayah dan ibu lagi.

“Di antara kami sesungguhnya tidak ada hubungan darah, hanya saja, selama ini aku berusaha merawat Giok Hoa sebaik mungkin. Cuma sayangnya justeru aku tidak memiliki kemampuan apa-apa.

“Dengan demikian, jika Giok Hoa tetap berada di tanganku, berarti akan sia-sia belaka kesempatan yang ada padanya, karena dia tidak akan memperoleh suatu apapun yang berarti dariku..... Karena dari itu, jika memang Liehiap tidak keberatan, ada sesuatu yang hendak kumohonkan kepada Liehiap!”

“Katakanlah!” kata gadis berpakaian serba kuning itu.

“Sesungguhnya, sudah lama sekali terkandung niat di hatiku untuk mencarikan seorang guru yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi buat Giok Hoa, sejauh itu aku belum berhasil. Dengan demikian, maka selama beberapa tahun, sia-sia saja Giok Hoa ikut bersama denganku tanpa memperoleh hasil yang berarti, terlebih lagi dalam hal latihan ilmu silat! Jika memang Yo Liehiap tidak keberatan, sudi kiranya mengambil Giok Hoa menjadi murid Liehiap......!”

Setelah berkata begitu, Hok An telah mengangguk-anggukkan kepalanya, sampai keningnya menghantam bumi, dan memerah bengkak. Namun Hok An tidak memperdulikan, dia tetap mengangguk-angguk.

Tentu saja gadis berbaju kuning itu jadi repot. Dia telah berulang kali meminta Hok Anagar bangun berdiri, namun Hok An tidak mau berdiri. Dia tetap berlutut dengan mengangguk-anggukkan kepalanya tidak hentinya.

“Jika memang Yo Liehiapmau menerima Giok Hoa sebagai murid Liehiap, maka walaupun harus mati sekarang, aku tentu akan mati dengan mata yang meram......!” kata Hok An lagi.

Gadis berpakaian serba kuning itu telah menghela napas dalam-dalam, dia memperhatikan Giok Hoa beberapa saat. Sedangkan Giok Hoa yang cerdas, pun telah cepat-cepat menekuk ke dua kakinya berlutut di hadapan gadis berbaju kuning itu.

Gadis berbaju kuning itu tersenyum, diapun telah perintahkan Giok Hoa berdiri.

Tetapi Giok Hoa tetap berlutut, dia tidak mau berdiri. Sedangkan Hok An telah memohon terus menerus. Hal ini membuat gadis berbaju kuning itu jadi sibuk bukan main buat perintahkan ke dua orang itu berdiri dari berlutut mereka.

Dalam keadaan seperti itu Hok An telah berkata lagi dengan sikap bersungguh-sungguh:

“Jika Liehiap bersedia menerima Giok Hoa menjadi murid Liehiap, maka biarpun sekarang ini leherku harus digorok, tentu aku puas.....” Dan sambil berkata begitu, tidak hentinya Hok An mengangguk-anggukkan kepalanya.

Gadis berbaju kuning itu menghela napas, kemudian dia berkata dengan sikap bersungguh-sungguh:

“Sebetulnya memang bisa saja aku menerima permohonanmu itu, yaitu menerima Giok Hoa menjadi muridku! Akan tetapi, sayangnya kepandaianku belum bisa diandalkan, aku tidak memiliki kepandaian yang berarti!”

Setelah berkata begitu, gadis baju kuning itu perintahkan Giok Hoa dan Hok An untuk berdiri.

Tetapi waktu itu terlihat betapapun juga Hok An dan Giok Hoa tidak mau berdiri. Mereka tetap berlutut, sampai akhirnya gadis baju kuning itu berkata lagi:

“Baiklah! Jika memang kalian tetap menghendaki agar aku menjadi guru Giok Hoa, namun harus diketahui, untuk menjadi muridku, terlebih lagi murid utama, dengan demikian kau harus mengetahui larangan dan syaratnya, Giok Hoa!”

“Ya, katakanlah.....!” kata Giok Hoa dengan cepat. “Apapun syaratnya akan Giok Hoa penuhi......!”

Gadis berpakaian kuning itu berhenti sejenak tidak berkata-kata, dia hanya mengawasi Giok Hoa. Memang gadis kecil ini sangat berbakat sekali, juga tampaknya dia sangat baik sekali hatinya, memiliki jiwa yang bisa ditempa dan juga memancarkan ketekunannya buat berlatih silat.

Maka, karena melihat Giok Hoa cocok untuk menjadi muridnya, gadis berbaju kuning itupun tidak menampik lagi jika Giok Hoa hendak menjadi muridnya. Dia hanya berkata pula:

“Dalam hal ini, kau harus mengetahui dengan jelas Giok Hoa. Dalam pintu perguruanku ini, tidak akan ada seorang muridku yang dibiarkan untuk mengandalkan kepandaian dan ilmu silatnya menindas pihak yang lemah. Jika memang hal itu terjadi, maka murid tersebut akan menerima hukuman yang tidak ringan......!”

“Hal itu akan tecu perhatikan.....!” kata Giok Hoa kemudian.

“Baik! Sekarang kau dengarlah baik-baik. Selanjutnya, pantangan lainnya lagi, kau tidak boleh tekebur, tidak boleh karena memiliki kepandaian tinggi, lalu bertindak sewenang-wenang, dan juga kau harus selalu bertindak bijaksana, adil dalam memutuskan suatu persoalan.....! Mengertikah, kau Giok Hoa?!”

“Ya, ya.....!” menyahuti Giok Hoa sambilmengangguk-anggukan beberapa kali.

“Bagus! Dan untuk menjadi muridku, engkau harus bersumpah berat, bahwa ilmu kepandaian yang akan kuwarisi kepadamu ini tidak akan dipergunakan buat melakukan hal-hal yang tidak pantas atau juga melakukan kejahatan!” kata gadis berbaju kuning itu.

Giok Hoa segera juga bersumpah: “Jika memang nanti tecu mempergunakan kepandaian yang diwarisi Suhu untuk melakukan perbuatan jahat dan tidak adil, biarlah tubuh tecu hancur tidak diterima langit dan bumi!”

Itulah sumpah yang berat sekali, dengan demikian telah membuat gadis berbaju kuning itu mengangguk-angguk beberapa kali.

“Cukup! Jangan kau bersumpah begitu berat. Dengan bersumpah engkau tidak melakukan kejahatan sebetulnya juga telah lebih dari cukup.....!” kata gadis berbaju kuning itu.

“Jadi..... jadi Liehiap menerima Giok Hoa menjadi murid Liehiap?!” tanya Hok An dengan kegembiraan yang meluap-luap.

Gadis berpakaian serba kuning itu mengangguk mengiakan.

“Karena di sini tidak terdapat barang-barang sembahyang, maka biarlah nanti jika aku telah bertemu dengan sebuah kampung, akan kubeli alat sembahyang itu. Kalian boleh menanti dulu di sini..... nanti kita lakukan sembahyang pengangkatan guru dan murid!”

Hok An mengiakan. Demikian juga halnya dengan Giok Hoa. Mereka menantikan di situ setelah si gadis berbaju kuning itu berlalu dengan gesit sekali. Dalam waktu sekejap saja gadis berbaju kuning itu telah lenyap dari pandangan Hok An maupun Giok Hoa.

Waktu itu tampak jelas, betapa Hok An sangat gembira sekali. Berulang kali dia menasehati Giok Hoa. Jika kelak telah ikut gadis berpakaian serba kuning itu, dia harus belajar dengan giat, di samping itu semua nasehat yang diberikan gadis berbaju kuning itu harus didengar dan dipatuhinya.

Giok Hoa berjanji akan mematuhi dan mengingat pesan dari Hok An.

Hok An juga berusaha untukmengingatkan Giok Hoa. Jika Giok Hoa belajar dengan sungguh-sungguh, kelak tentu Giok Hoa akan dapat menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh sekali.

Tak lama kemudian tampak si gadis berbaju kuning telah tiba kembali. Dia membawa beberapa batang lilin dan juga beberapa macam alat sembahyang lainnya. Segera lilin, dinyalakan, dan diwaktu itu juga telah disiapkan segala sesuatunya.

Giok Hoa segera berlutut pada alat-alat sembahyang itu, berlutut menghadap pada langit, bersembahyang pada langit dan bumi, bahwa ia bersumpah akan belajar dengan giat, di samping itu juga akan mematuhi perintah dari gurunya. Dengan begitu, berarti akan mematuhi juga semua peraturan di dalam pintu perguruannya.

Jika sekali saja dia berkhianat terhadap pintu perguruannya, dia bersedia menerima hukuman yang seberat-beratnya dari gurunya. Juga Giok Hoa bersumpah, dia akan berusaha menjaga nama baik pintu perguruannya.

Setelah bersumpah begitu, Giok Hoa kemudian berlutut di hadapan gadis berbaju kuning itu.

“Suhu......!” panggilnya tigakali sambil menganggukkan kepalanya tujuh kali.

Gadis berbaju kuning itu tersenyum lebar dia mengulur kantangannya bantu membangunkan Giok Hoa, katanya:

“Bangunlah muridku! Mulai detik ini, engkau telah resmi menjadi muridku! Tetapi engkau harus ingat, harus berlatih dengan tekun dan giat, karena selanjutnya nama baik pintu perguruan kita terletak di tanganmu.Terlebih lagi jika kelak aku sudah tiada, tentu akan menjadi tanggung jawabmu untuk melaksanakan segala apapun yang menyangkut dengan nama baik pintu perguruan kita.”

Giok Hoa mengiyakan dan segera dia bangun memberi hormat kepada Hok An.

Di waktu itu terlihat bahwa Hok An telah beberapa kali mengangguk-angguk sambil menyusut air mata, tampaknya dia gembira sekali.

Sedangkan gadis berbaju kuning itu telah berkata dengan suara yang sabar:

“Dengarlah Giok Hoa. Sesungguhnya dalam persoalan pengangkatan guru dan murid ini hanya terdapat suatu ikatan yang umum belaka. Tetapi yang sebenarnya kuinginkan adalah engkau sendiri yang harus dapat berlatih diri dengan sebaik-baiknya, di mana engkau harus dapat menggembleng dirimu, untuk memiliki kepandaian yang tinggi.

“Di samping itu juga engkau harus memiliki hati dan jiwa yang bersih dan tulus, sehingga engkau tidak akan berjauhan dari keadilan! Sekali saja engkau memberikan kesempatan kepada iblis kejahatan menguasai hatimu, maka selanjutnya sulit buat engkau untuk menyingkirkan iblis kejahatan itu!”

Giok Hoa mengiakan dan mendengarkan baik-baik semua petuah yang diberikan oleh gurunya.

Sedangkan gadis berbaju kuning itu banyak sekali memberikan petuah padanya, dan semua itu telah didengar dengan cermat oleh Giok Hoa. Dan mengingatnya baik-baik, karena dia mengetahui untuk waktu-waktu selanjutnya dia menghadapi tugas yang cukup berat, yaitu harus bertindak jauh lebih hati-hati buat menjaga nama baik pintu perguruannya.

Tidak boleh mendatangkan malu buat nama baik gurunya, atau juga kepada pintu perguruannya. Karena dari itu Giok Hoa telah berusaha untuk dapat mengingat semua nasehat yang diberikan gurunya itu.

Setelah selesai memberikan nasehat kepada muridnya tersebut, gadis berbaju kuning itu telah menoleh kepada Hok An.

“Paman Hok, kami akan berangkat meninggalkan tempat ini. Semoga saja paman Hok selalu bahagia.....!”

Hok An cepat-cepat membalas pemberian hormat dari gadis berbaju kuning itu. Dia telah berkata dengan suara yang mengandung haru:

“Baiklah, jika memang demikian halnya, maka akan membahagiakan sekali hatiku. Dan selanjutnya, jika memang aku harus mati, maka aku bisa mati dengan mata yang meram.....!”

Gadis berbaju kuning itu mengangguk beberapa kali, dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Giok Hoa.

“Tunggu dulu suhu!” kata Giok Hoa.

“Ya?!” tanya gadis baju kuning itu sabar sambil mengawasi muridnya.

“Apakah memang Pek-jie dapat kubawa serta, Suhu?!” tanya Giok Hoa.

“Ya, ya.....!” mengangguk gadis berpakaian serba kuning itu. “Kau boleh membawanya!”

Bukan main girangnya Giok Hoa, segera juga dia bersiul nyaring. Dan segera tampak berkelebat bayangan di tengah udara, seekor burung rajawali putih yang gagah perkasa telah hinggap di sisi Giok Hoa dengan sikap yang setia sekali.

Giok Hoa mengusap-usap leher burung rajawali putih itu, dan diapun telah berkata: “Pek-jie, kita akan berangkat ikut dengan suhuku, engkau harus baik-baik dan patuh pada perintahnya, jangan nakal dan jangan terlalu liar!”

Burung rajawali tersebut memekik nyaring, dia seperti mengerti apa yang dikatakan Giok Hoa.

Sedangkan gadis berpakaian kuning itu telah berkata kepada Giok Hoa.

“Apakah kita bisa berangkat sekarang?” tanyanya.

“Ya, suhu......!” menyahuti Giok Hoa.

Begitulah, Giok Hoa telah ikut dengan gadis berbaju kuning itu, sebelum berlalu dia berlutut di hadapan Hok An dan menangis terharu. Ia menyatakan jika kelak dia sudah selesai belajar, tentu dia akan mencari Hok An, karena budi kebaikan Hok An tidak bisa dilupakannya.

Burung rajawali putih itupun sebelum terbang meninggalkan tempat tersebut, telah menghampiri Hok An, menggesek-gesekkan kepalanya ke tubuh Hok An. Barulah kemudian sambil mengeluarkan pekik yang nyaring sekali, dia terbang dengan perkasa di tengah udara.

Gadis berpakaian kuning itu sengaja melakukan perjalanan tidak terlalu cepat, karena dia mengetahui bahwa Giok Hoa baru mengerti kulit ilmu silat dari Hok An, tak bisa berlari cepat. Dan gadis berpakaian serba kuning itupun memang tidak bermaksud hendak melakukan perjalanan cepat.

Karena dari itu, dia membiarkan saja menurut kesanggupan dan kekuatan yang ada pada Giok Hoa. Mereka telah melakukan perjalanan cukup jauh, ketika Giok Hoa menyatakan dia sangat letih.

“Ayoh kita beristirahat dulu.....!” kata gadis berbaju kuning itu sambil tersenyum.

Dan memang dia memberikan kesempatan kepada Giok Hoa untuk beristirahat. Giok Hoa duduk di bawah sebatang pohon yang rimbun, kemudian dia bersiul nyaring sekali.

Burung rajawali putih dengan segera datang hinggap di sampingnya. Segera juga Giok Hoa perintahkan padanya, agar dia pergi mencari buah-buahan.

Burung rajawali putih yang begitu jinak dan seperti mengerti setiap perintah Giok Hoa, segera terbang, dan tidak lama kemudian dia telah kembali, dengan membawa cukup banyak buah-buahan yang segar ranum pada cengkeraman kakinya dan paruhnya.

Buah-buahan itu cukup menyegarkan, dan setelah perasaan letihnya lenyap, Giok Hoa melanjutkan perjalanan lagi bersama gurunya!

Gadis berpakaian serba kuning itu sangat sayang kepada Giok Hoa. Terlebih lagi dilihatnya Giok Hoa sangat cerdas. Setiap apa saja yang diajarkan kepadanya, gadis kecil itu dapat menerimanya dengan cepat! Maka gadis berbaju kuning itu semakin bersemangat buat mendidik Giok Hoa.

Siapakah gadis berbaju kuning yang menjadi guru Giok Hoa itu? Dia tidak lain dari anak angkat Siauw Liong Lie, nona Yo, yang selalu senang berpakaian serba kuning itu, yang memiliki kepandaian luar biasa, karena dia telah memperoleh didikan yang tekun dari Siauw Liong Lie, waktu Siauw Liong Lie terkurung di dalam jurang......!”

◄Y►

Hari demi hari telah lewat terus, tetapi di dalam dunia ini, alam tetap tidak berobah, pohon-pohon tetap tumbuh segar dan juga batu-batu gunung tidak akan berobah. Namun telah terjadi perobahan pada diri Giok Hoa, yang sekarang telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita, dalam usia tujuhbelas tahun.

Iapun sekarang memiliki kepandaian yang tinggi, gerakan tubuh yang gesit dan juga ilmu pedang yang sangat dahsyat sekali, di mana dia telah menerima warisan Giok-lie-kiam-hoat dari gurunya, yaitu nona Yo, gadis yang berpakaian serba kuning.

Gadis she Yo tersebut, anak angkat Siauw Liong Lie pun menurunkan seluruh kepandaiannya dengan bersemangat. Dan Giok Hoa merupakan murid tunggalnya. Karena memang gadis she Yo tersebut tidak mau menerima murid lagi, maka dia bermaksud hendak menurunkan seluruh ilmunya kepada Giok Hoa seorang belaka.

Dan mereka selama lima tahun telah mengambil tempat di puncak gunung Heng-san. Karena berdiam di tempat yang sunyi itu, si gadis berpakaian serba kuning dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Giok Hoa sehingga Giok Hoa pun dapat berlatih sepanjang waktu dengan sebaik-baiknya.

Itulah pula sebabnya mengapa Giok Hoa telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali.

Seperti terlihat pada pagi itu, Giok Hoa sambil bernyanyi-nyanyi kecil, dengan menggunakan kun warna hijau dan baju bagian atas berwarna kuning, rambut yang disanggul dan ujungnya dibiarkan terjuntai merupakan buntut kuda yang menambah kecantikan parasnya itu, tengah berlari-lari kecil.

Hanya saja setiap kali dia melihat jurang yang terbentang di hadapannya, dengan mudah Giok Hoa melompatinya. Tampaknya dia tidak memiliki kesulitan sedikitpun juga.

Hawa udara di pagi itu sangat segar sekali dengan daun-daun yang hijau bening bersih karena telah dimandikan embun semalaman, dan sinar matahari pagi yang hangat menambah kesegaran keadaan di sekitar tempat itu. Giok Hoa pun tampak riang sekali.

Tempat yang begitu indah dan nyaman, di tambah dengan adanya seorang gadis yang remaja dan jelita seperti Giok Hoa, maka menambah semaraknya tempat tersebut.

Puncak gunung Heng-san memang tidak lebih tinggi dari puncak Thian-san ataupun juga puncak gunung Himalaya. Akan tetapi Heng-san memiliki keindahan tersendiri, yaitu pohon-pohon yang tumbuh di gunung tersebut tidak terlalu rapat, juga udara di puncak gunung Heng-san selalu sejuk. Sinar matahari yang dapat masuk cukup, menghangatkan udara di situ, benar-benar merupakan tempat yang sangat menarik sekali.

Dan yang membuat Giok Hoa diajak gurunya berdiam di puncak Heng-san, alasannya tempat itu jarang sekali didatangi manusia, karena Heng-san memiliki jurang-jurang yang terbentang luas dan lebar. Karena itu, penduduk dari kampung-kampung di kaki gunung tersebut, jarang yang berani yang naik ke puncak gunung Heng-san.

Dengan demikian telah membuat nona Yo memilih tempat itu sebagai tempat dia mendidiknya muridnya dengan tenang.

Giok Hoa yang sekarang telah menjadi gadis remaja, dengan kepandaian yang telah tinggi, karena tujuh bagian dari kepandaian gurunya telah diwarisi kepadanya. Diapun telah menjadi seorang gadis yang mungkin sukar dirubuhkan oleh jago-jago sembarangan. Karena ilmu silat yang diwarisi nona Yo tersebut merupakan ilmu yang terhebat di dalam rimba persilatan, yang bersumber dari Siauw Liong Lie dan Yo Ko, yaitu ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat.

Seperti diketahui bahwa Giok-lie-kiam-hoat semestinya dibawakan berpasangan, yaitu berdua.

Tetapi nona Yo itu telah mengubah ilmu tersebut, agar dapat dibawakan oleh Giok Hoa seorang diri. Memang nona Yo tersebut tidak bermaksud hendak menerima murid lainnya lagi, hanya ingin memiliki murid tunggal seorang saja yaitu Giok Hoa.

Selama setahun lebih nona Yo yang selalu senang berpakaian kuning itu, memeras pikiran dan tenaga, dia telah berusaha menggubah ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat menjadi ilmu pedang tunggal. Dan usahanya itu memang berhasil.

Sekarang Giok Hoa dapat membawakan jurus-jurus Giok-lie-kiam-hoat seorang diri, tanpa adanya kelemahan lagi. Dan biarpun dia hanya seorang diri membawakan ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat, tokh tetap saja kehebatan ilmu pedang ini tidak berkurang sedikit pun juga.

Selama setahun itu gurunya telah berhasil untuk menutupi kelemahan-kelemahan yang ada pada Giok-lie-kiam-hoat jika dibawakan sendiri.

Pagi ini memang Giok Hoa bermaksud melatih diri, dia telah berlari-lari dengan riang sambil bernyanyi kecil melompati jurang-jurang yang dilaluinya. Dia bermaksud pergi ke tempat berlatihnya, yaitu puncak yang tertinggi dari gunung Heng-san. Sebuah tempat yang cukup luas, lapangan gundul dengan sebagian salju terdapat di sana, hawa udara di sana sangat dingin.....

Ada suatu keluar biasaan yang dimiliki Heng-san. Pada puncak gunung tersebut terdapat sebuah air mancur, yang cukup besar, dan inilah yang mungkin tidak dimiliki oleh gunung-gunung lainnya. Dengan demikian, dengan adanya air mancur tersebut, Giok Hoa selalu dilatih gurunya untuk mempergunakan air mancur tersebut guna memperkuat latihan tenaga dalamnya.

Puncak gunung Heng-san memang sangat tepat sekali dipergunakan sebagai tempat berlatih. Dan sudah bertahun-tahun Giok Hoa selalu berlatih di puncak tertinggi gunung Heng-san itu.

Selama dua tahun belakangan ini, memang Giok Hoa selalu pergi seorang diri ke puncak gunung tersebut untuk berlatih, tanpa dikawal oleh gurunya. Karena kepandaian Giok Hoa memang telah tinggi, walaupun dia pergi seorang diri, tokh dia tidak akan menemui kesulitan mencapai puncak tertinggi dari gunung tersebut.

Dan tidak lama kemudian tampak Giok Hoa telah tiba di puncak tertinggi gunung Heng-san. Dia telah menghirup udara segar beberapa saat lamanya, dan memandang sekitar tempat itu dengan mata yang bening berkilauan mengandung kegembiraan.

Memang selama berguru pada nona Yo itu maka Giok Hoa telah menerima gemblengan yang sangat keras sekali dari gurunya, untuk menghadapi segala apapun dengan latihan yang berat. Dengan demikian, walaupun baru berlangsung lima tahun lebih, tokh gadis yang cantik jelita ini telah memiliki kepandaian yang dapat diandalkan.

Setelah cukup lama menghirup udara segar Giok Hoa mulai menggerak-gerakan sepasang tangannya. Dia bersilat mulai dari jurus-jurus permulaan, di mana ke dua tangan dan kakinya itu bergerak perlahan sekali. Namun biarpun gerakannya perlahan, tokh dari sepasang tangan dan kakinya itu, setiap kali digerakkan menimbulkan kesiuran angin yang sangat kuat sekali, menderu-deru dengan dahsyat.

Semakin lama gerakan ke dua tangan dan kaki Giok Hoa semakin cepat. Sepasang kakinya juga bergerak semakin lincah, karena dia telah bergerak dengan gerakan yang semakin sulit diikuti oleh pandangan mata manusia biasa, di mana dia telah berkelebat-kelebat ke sana ke mari, seperti juga sesosok bayangan saja.

Sedangkan hawa udara memang sangat segar di pagi itu, sehingga semangat Giok Hoa bertambah terbangun, untuk berlatih dengan bersemangat. Setiap jurus yang dipergunakannya juga semakin lama semakin berat.

Dilihat dari setiap gerakan yang dilakukan Giok Hoa, memang gadis tersebut telah memiliki kepandaian yang dapat diandalkan. Dan tampaknya guru Giok Hoa pun telah berhasil mewarisi seluruh kepandaiannya. Hanya saja masalah latihan dan waktu juga, yang membuat Giok Hoa belum dapat menerima keseluruhan kepandaian itu, di mana dia membutuhkan latihan terus, agar dapat benar-benar menguasai seluruh kepandaian gurunya itu, yang telah diwarisi kepadanya.

Tubuh Giok Hoa telah berkeringat, dia bergerak semakin cepat juga. Malah akhirnya dia berseru nyaring tangannya telah bergerak cepat sekali, menghantam sebungkah batu yang besar.

“Plakkk!” dan batu itu seketika hancur berkeping-keping.

Giok Hoa telah berhenti bersilat, dia berdiam diri mengatur pernapasannya, lama Giok Hoa berdiri diam mengatur pernapasannya. Sampai akhirnya Giok Hoa telah menjejakkan sepasang kakinya, tubuhnya telah mencelat ke tengah udara dengan ringan sekali, setinggi empat tombak lebih.

Dalam keadaan seperti itulahtampak Giok Hoa memperlihatkan gin-kangnya memang telah terlatih dengan baik, tubuhnya berkelebat seperti bayangan. Malah waktu tubuhnya tengah melayang di tengah udara, dia telah berjumpalitan beberapa kali, sambilmenghantamudara denganpukulantangan kosong.

Gerakan yang dilakukan Giok Hoa benar-benar menakjubkan, karena pada waktu itu walaupun tubuhnya tengah melayang, namun angin pukulannya itu telah dapat menerbangkan batu-batu yang berada di atas tanah. Batu-batu kerikil kecil itu seperti diterjang gelombang angin topan yang sangat dahsyat sekali.

Tubuh Giok Hoa telah meluncur turun lagi. Tetapi cara meluncurnya tubuh manusia biasa, jika memang tubuh manusia biasa yang tidak memiliki kepandaian atau gin-kang yang biasa saja, tentu akan meluncur cepat sekali terkena daya tarik bumi.

Namun justeru dengan Giok Hoa terdapat suatu kelainan. Tubuhnya itu memang meluncur turun, tetapi turunnya itu perlahan-lahan, seperti juga tubuhnya itu seringan kapas. Meluncurnya sangat lambat sekali.

Dengan demikian itu menandakan bahwa gin-kang yang dimiliki Giok Hoa memang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali.Tingkat yang telah dapat meringankan tubuh sedemikian rupa, yang membuat dia bisa turun perlahan-lahan.

Dan tentu saja, dalam suatu pertempuran, dapat turun dengan perlahan seperti itu, sangat penting sekali, karena dari tengah udara, Giok Hoa bisa saja menyerang hebat pada lawannya. Dan dia juga bisa mengendalikan tubuhnya hendak meluncur turun dengan lambat atau memang dengan cepat.

Akhirnya tubuh Giok Hoa telah hinggap di tanah. Tetapi dia hinggap dalam keadaan yang agak luar biasa, karena begitu ke dua kakinya mengenai tanah, seketika tanah itu terpijak melesak.

Dan membarengi dengan turunnya tubuhnya, tahu-tahu tangan Giok Hoa telah berkelebat. Dia telah mengeluarkan sebatang pedang, dan mulai bersilat dengan lincah sekali.

Sinar pedang itu bagaikan gulungan sinar yang melindungi dirinya, rapat sekali. Jangankan serangan lawan, sedangkan cipratan airpun tidak mungkin dapat menerobos kurungan sinar pedangnya itu.

Dalam keadaan seperti itu, tampak Giok Hoa tahu-tahu telah melompat tinggi. Pedangnya diputar seperti baling-baling. Dengan demikian telah membuat dia seperti juga terbang saja layaknya.

Tanah yang dipijaknya telah melesak dalam sekali meninggalkan bekas tapak kaki.

Itulah lweekang yang kuat sekali. Dan juga pedangnya sekaligus seperti dapat menyerang delapan penjuru dalam beberapa detik saja.

Selesai melatih ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat tersebut, Giok Hoa menyarungkan kembali pedangnya pada balik kun nya yang berwarna hijau tersebut. Dia telah memasukan pedang itu, dan duduk bersemedhi mengatur jalan pernapasannya.

Sedangkan pada saat itu terlihat bahwa Giok Hoa telah memusatkan kekuatan lweekangnya. Dia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya sampai dari kepalanya mengeluarkan uap putih yang tipis. Semakin lama uap itu semakin tebal.

Itulah penutup dari latihan Giok Hoa karena dengan duduk bersila mengatur jalan pernapasannya, latihan yang telah dilakukannya itu tidak meletihkannya lagi. Sebab dia telah dapat memulihkan kesegaran dirinya.

Udara pada waktu itu bertambah hangat, karena matahari telah naik semakin tinggi dan sinarnya semakin panas.

Dan Giok Hoa dengan muka berseri-seri segar, telah bangun dari duduknya. Dia berjalan perlahan-lahan menyusuri puncak gunung tersebut, untuk melancarkan otot-ototnya yang semula tadi telah bekerja keras karena latihannya itu.

Setelah kesegaran tubuhnya benar-benar pulih, maka Giok Hoa berlari-lari turun dari puncak gunung itu. Dia telah berlari cepat sekali, sehingga tubuhnya bagaikan melesat terbang saja, dan hanya bayangannya belaka yang tampak, bayangan warna dari kun nya yang hijau dan pakaiannya yang berwarna kuning.

Tengah Giok Hoa berlari-lari pesat seperti itu, ketika ia melompati sebuah jurang yang cukup terpisah jauh, tahu-tahu dari balik batu yang besar di dekat tepi jurang itu telah melompat sesosok bayangan berpakaian hitam, yang bergerak sangat lincah sekali, terus menghantam kepadanya.

Waktu itu Giok Hoa tengah menjejakkan kakinya, tubuhnya tengah mencelat ke tengah udara, akan melompati jurang itu, dan justeru dia diserang seperti itu, dengan demikian telah membuat dia berada dalam keadaan yang sangat terancam sekali.

Namun Giok Hoa memang memiliki kepandaian untuk meringankan tubuhnya seringan kapas, melengah dari daya tarik bumi. Karena itu, dalam keadaan terancam, Giok Hoa telah mempergunakan ilmunya tersebut. Dia membuat tubuhnya jadi sangat ringan sekali.

Malah tangan kanannya telah dikibaskan untuk menangkis ke belakang, kepada hantaman dari lawannya yang ternyata memakai topeng hitam pada mukanya.

“Dukkk!” tangannya telah menangkis tangan orang itu.

Dan seketika Giok Hoa kaget karena dia merasakan tenaga orang tersebut kuat sekali. Di mana Giok Hoa merasakan pergelangan tangannya sakit dan nyeri, di samping sangat panas. Diapun merasakan tubuhnya seperti terdorong mundur.

Beruntung memang Giok Hoa memiliki kepandaian yang terlatih baik dan ilmu meringankan tubuh yang mengagumkan. Karena dari itu, dia telah meminjam tenaga dorongan tersebut, untuk berjumpalitan, sehingga dia seperti juga terdorong dan kembali ke tempat di tepi jurang semula, berada tidak jauh dari tempat berdirinya orang berpakaian hitam tersebut.

Giok Hoa mengawasi orang itu, yang memiliki potongan tubuh kurus langsing, disamping itu dia berusaha mengawasi muka orang bertopeng itu, hanya dua lobang belaka yang memperlihatkan bola mata orang itu yang mencilak-cilak tidak hentinya.

“Siapa kau? Mengapa engkau membokong secara pengecut?” bentak Giok Hoa dengan tidak senang!

Orang itu tidak menyahuti, dia hanya memperdengarkan suara tertawa mengejek, kemudian tahu-tahu tubuhnya telah melesat sangat cepat sekali, tangannya bergerak memukul pula kepada Giok Hoa.

Giok Hoa mendongkol sekali. Orang bertopeng hitam ini tampaknya seorang tidak tahu aturan, karena sama sekali dia tidak mau bicara.

Sudah tadi dia dibokong, sekarang malah dia telah menyerang lagi kepadanya bagaikan kalap. Giok Hoa adalah musuh besarnya.

Karena itu Giok Hoa pun tidak tinggal diam, dia telah mengeluarkan suara seruan nyaring, tahu-tahu tangan kanannya dilintangkan dengan tangan kirinya. Giok Hoa tidak menangkis sembarangan seperti yang dialaminya tadi, karena dari benturannya yang terjadi tadi telah diketahuinya orang bertopeng hitamini memiliki lweekang yang sangat kuat sekali.

Sekarang Giok Hoa menangkis dengan tangan disilangkan. Karena begitu dia menangkis, Giok Hoa bermaksud hendak membarenginya dengan gempuran kepada orang tersebut. Dengan disilangkan tangannya, maka dia bisa lebih leluasa membalas menyerang.

Benar saja, tangan orang itu dapat ditangkis dengan baik oleh Giok Hoa, walaupun Giok Hoa kembali harus kaget karena dia merasakan betapa tenaga orang itu kuat sekali, hampir saja tubuhnya terdorong mundur. Beruntung memang Giok Hoa telah berhati-hati dan bersiap siaga, karenanya dia bisa mempertahankan kuda-kuda ke dua kakinya tidak sampai tergempur.

Dikala itu tampak orang bertopeng hitam tersebut pun tidak tinggal diam. Begitu melihat serangan pertama telah gagal, maka tangan kanannya ditarik pulang, menyusul tangan kirinya yang berusaha mencengkeram pergelangan tangan Giok Hoa, yang tengah meluncur menyambar ke arahnya! Usaha dari orang bertopeng itu gagal, karena tangan Giok Hoa dengan tiba-tiba melejit ke bawah mengelakkan cengkeraman tersebut.

Terdengar orang bertopeng itu mengeluarkan suara tertawa mengejek lagi. Kemudian ia merangsek maju menyerang Giok Hoa dengan gencar.

Sekarang Giok Hoa jadi kaget, dia mati-matian telah mengerahkan tenaga lweekangnya, berusaha untuk menindih kekuatan tenaga dalam orang bertopeng hitam itu.Tetapi semakin lama orang bertopeng hitam itu merangseknya semakin gencar dan hebat, tenaganya seperti bertambah kuat juga.

Diam-diam Giok Hoa heran, siapakah orang bertopeng hitam ini, yang tahu-tahu telah bisa berkeliaran di puncak gunung Heng-san ini? Melihat kepandaiannya sangat tinggi, tentunya dia bukan orang sembarangan. Dan apa maksud kedatangannya ke puncak gunung Heng-san ini? Apakah dia hendak mencelakai gurunya?

Karena berpikir begitu dan menduga bahwa orang bertopeng itu bukan sebangsa manusia baik-baik, Giok Hoa telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dia memberikan perlawanan yang gigih, sehingga mereka terlibat dalam pertempuran yang seru sekali, telah puluhan jurus telah mereka lewati.

Akan tetapi sejauh itu tetap saja Giok Hoa tidak bisa mendesak orang bertopeng hitam tersebut, karena memang dilihatnya betapa orang bertopeng hitam itu memiliki kepandaian yang berada di atasnya.

Tetapi Giok Hoa tetap saja memberikan perlawanan yang berani, dia tidak gentar sedikitpun juga, dia telah mengempos seluruh kekuatanlweekangnya. Waktu dirasakannya bahwa ia tidak mungkin dapatmenghadapi terus tenaga gempuran dari lawannya, Giok Hoa telah mencabut pedangnya.

Dengan gerakan yang sangat lincah sekali, dia telah menyerang ke sana ke maripada bagian-bagian yang mematikan di tubuh lawannya. Dia telah mempergunakan jurus-jurus dari Giok-lie-kiam-hoat.

Dalam keadaan seperti itulah, lawannya mulai kikuk juga, karena dia jadi sibuk sekali menghindar ke sana ke mari, jurus demi jurus dibadapinya dengan bertangan kosong. Namun diam-diam dia sangat kagum akan kehebatan ilmu pedang yang dimiliki Giok Hoa, sebab dia hanya bisa berkelit tanpa bisa balas menyerang. Terbatas sekali ruang geraknya.

Giok Hoa semakin lama jadi semakin gugup, karena jurus demi jurus telah dilewatkan dengan cepat sekali, sehingga dia telah mempergunakan puluhan jurus. Namun sejauh itu belum terlihat tanda-tanda dia berhasil mendesak lawsnnya uutuk memperoleh kemenangan.

Dan di saat gadis itu tengah gugup, terdengar orang bertopeng itu berkata, “Hati-hati pedangmu!”

Dan tahu-tahu sepasang tangan orang bertopeng itu bergerak. Tangan kirinya berusaha mengancam akan menotok biji mata dari Giok Hoa, dan tangan kanannya dengan mempergunakan jari telunjuk dan ibu jarinya, telah menjepit pedang Giok Hoa.

Luar biasa sekali! Pedang Giok Hoa yang kena dijepitnya itu tidak bisa digerakkan lagi dia tidak bisa mendorong buat menikam atau juga menarik pedangnya. Giok Hoa jadi mendelu dan penasaran sekali, dia berusaha memusatkan seluruh kekuatan tenaga lweekangnya untuk menikam terus, Sedangkan totokan jari telunjuk tangan kiri lawannya, dielakkan hanya dengan memiringkan kepalanya saja.

“Lepaskan pedangmu!” terdengar orang berbaju hitam itu telah berseru nyaring sekali sambil hendak merebut pedang Giok Hoa.

Inilah suatu hal penentuan yang membuat Giok Hoa agak gugup. Ia pernah dinasehati oleh gurunya, seorang yang bertempur, sama sekali tidak boleh kehilangan senjata yang dipergunakannya.

Jika pedang dapat dianggap sebagai jiwa, maka itulah artinya. Karena jika pedang dapat dirampas oleh lawan, walaupun dia belum tahu dapat dirubuhkan lawannya tokh itu sudah suatu pertanda bahwa dia akan kehilangan pamor dan juga nama, disamping keselamatan dirinya sudah tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi.

Karena pedang yang dicekal padanya, yang harus dipergunakannya sebaik mungkin, dan dilindunginya, ternyata telah dapat dirampas oleh lawan. Gurunya pernah menjelaskan kepadanya, bagaimanapun pedang harus dipertahankan sampai titik napasnya terakhir.

Dan semua itu jelas berarti bahwa Giok Hoa harus mempertahankan jiwanya di mana dia harus mempertahankan pedangnya itu agar tidak sampai kena dirampas oleh lawannya.

Melihat lawannya hendak merebut pedangnya, Giok Hoa telah menjejakkan kakinya menerjang kepada lawannya. Dia telah mempergunakan tangan kirinya untuk menghantam dada lawannya, sedangkan tangan kanannya tetap saja mencekal pedangnya kuat-kuat karena dia tidak akan membiarkan lawannya merampas pedangnya di tangan kanannya, biarpun dia harus menemui ajalnya.

Melihat kenekadan dari Giok Hoa, lawannya tertawa sambil melompat mundur dan melepaskan jepitan pada pedang. Tertawanya itu bening sekali, berbeda dengan suaranya yang sebelumnya.

Mendengar suara tertawa tersebut, Giok Hoa tertegun, dia mengenali suara tertawa itu.

Cepat-cepat Giok Hoa memasukkan pedangnya pula, dia menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan orang bertopeng hitam tersebut.

“Suhu.....!” panggilnya girang.

Orang bertopeng itu telah membuka topengnya sambil tertawa. Ternyata dia tidak lain dari nona Yo, guru Giok Hoa.

“Bagus! Kepandaianmu telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat! Hemmmm, jika aku tidak keburu untuk melompat mundur, tentu aku telah kena dihantam tangan kirimu!”

“Maafkan, Suhu.....!” kata Giok Hoa. “Bukan maksud tecu untuk berlaku kurang ajar..... jika memang tecu mengetahui siapa adanya Suhu, tentu tecu tidak berani melawan.....!”

“Ya, aku memang sengaja menyerang seperti ini, untuk menguji kepandaianmu. Jika aku hanya menguji secara biasa saja, tentu engkau akan mengeluarkan kepandaianmu itu setengah hati!”

Dan nona Yo itu telah menghampiri Giok Hoa, dielus-elusnya rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang,

“Jika dalam dua tahun lagi engkau berlatih dengan tekun, tentu sulit aku menghadapi dirimu lagi......!” kata nona Yo.

“Suhu terlalu memuji.....!” kata Giok Hoa cepat-cepat dengan muka yang berobah merah.

Nona Yo tersenyum.

“Aku bukan memuji belaka, bukan pujian kosong!” kata nona Yo kemudian. Jika dalam dua tahun engkau berlatih diri dengan tekun, niscaya engkau akan memperoleh kemajuan yang jauh lebih hebat lagi, mungkin diwaktu itu aku sudah sulit untuk menghadapi dirimu!

“Sekarang yang masih kurang adalah tenaga dalam juga latihan, kau masih kurang pengalaman itu saja! Tadi waktu aku menjepit pedangmu, jika memang engkau telah melatih lweekangmu dengan baik, engkau dapat menggetarkan pedang itu, kemudian membarengi dengan itu engkau baru melompat buat menghantam. Dengan demikian lawanmu jangan harap dapatmenjepit terus pedangmu itu......!”

Mendengar nasehat gurunya, Giok Hoa mendengatkan baik-baiks ambil berulang kali mengiyakan.

Banyak yang diberitahukan nona Yo kepada muridnya, dan setelah itu mereka berdua guru dan murid telah kembali ke tempat mereka, sebuah rumah kayu yang dibangun sederhana sekali, namun sangat bersih.

Di dalam rumah itulah nona Yo telah menurunkan lagi beberapa jurus simpanannya yang merupakan kepandaian tertinggi. Karena tadi dia telah menguji Giok Hoa dan memperoleh kenyataan muridnya telah bisa menerima pelajaran tertinggi itu, di mana Giok Hoa telah memiliki lweekang yang kuat dan kepandaian yang lumayan.

Memang jika kepandaian tertinggi itu diwarisi oleh nona Yo kepada Giok Hoa dalam keadaan gadis itu belum siap, bukan saja Giok Hoa tidak akan berhasil untuk mempelajari jurus-jurus tertinggi itu, malah akan membahayakan dirinya sendiri, di mana latihan lweekangnya akan terganggu.

Giok Hoa pun tambah gembira, dengan giat dan tekun dia telah mempelajari ilmu dari jurus-jurus tertinggi kepandaian gurunya itu. Dengan demikian dalam beberapa bulan saja Giok Hoa telah semakin hebat, memiliki kepandaian yang semakin tinggi dan jarang ada orang yang bisa merubuhkannya dengan mudah!

◄Y►

Terpisah beberapa puluh lie dari gunung Heng-san sebelah barat terdapat sebuah perkampungan yang tidak begitu besar, penduduknya pun tidak banyak, itulah perkampungan Su-ciang. Dan penduduk kampung tersebut umumnya memiliki pekerjaan sebagai pemburu, karena mereka lebih banyak pergi berburu untuk nanti hasil buruan mereka dijual dan uangnya dipergunakan untuk melewati hari-hari bersama keluarganya masing-masing. Hanya satu dua orang penduduk saja yang mengusahakan tanah pertanian.

Perkampungan yang tidak begitu besar dan juga penduduknya yang tidak terlalu padat, setiap hari tampak tenang. Dan juga, jarang sekali terjadi kerusuhan di situ. Karena jumlah penduduknya yang sedikit, satu dengan yang lainnya sesama tetangga bagaikan sanak famili sendiri. Mereka selalu melakukan dan memutuskan sesuatu secara kekeluargaan.

Pada pagi itu, tampak beberapa puluh orang pemuda bertubuh tegap, telah berangkat meninggalkan kampung mereka, untuk pergi berburu. Dan juga tampak bahwa mereka bernyanyi-nyanyi dengan riang.

Di antara mereka terdapat dua atau tiga orang laki-laki setengah baya, yang akan ikut berburu.

Di dalam kampung itu hanya tertinggal wanita, anak-anak dan orang-orang yang sudah lanjut. Karena jauh dari keramaian, kebutuhan mereka untuk melewati hari pun tidak terlalu banyak. Itulah berburu mereka anggap disamping sebagai mata pencarian mereka untuk memiliki penghasilan, pun sebagai kegemaran juga.

Mendekati matahari naik tinggi, waktu itulah tampak seorang penunggang kuda berwarna putih, tengah mencongklang mendatangi kampung itu. Orang yang duduk di punggung kuda itupun mengenakan baju putih, dilihat sepintas lalu, dialah seorang pelajar yang tenang dan sabar.

Dia seorang pemuda yang berparas tampan, berusia baru duapuluh tahun. Tampak dia telah melompat turun dari kudanya itu, waktu tiba di mulut kampung, dia telah memandang sekitarnya.

Pemuda ini jelas memiliki kepandaian ilmu silat, walaupun dia berpakaian sebagai seorang pelajar. Semua itu terlihat bukan dari bentuk tubuhnya yang memang agak tegap. Tetapi justeru dari langkah kakinya yang sangat ringan sekali, sehingga tadi waktu dia melompat turun dari kudanya, seperti juga tidakmenimbulkan suarasama sekali.

Pemuda pelajar berpakaian putih dan berusia masih muda itu telah menghampiri ke arah sebuah warung teh. Dia melihat pemilik warung teh yang menyambutnya keluar, adalah seorang laki-laki tua berusia antara enampuluh tahun.

“Silahkan masuk, Kongcu..... silahkan masuk..... di kampung ini hanya Lohu yang membuka warung teh, dan Kongcu tidak akan dapat menemukan warung teh lainnya.....!” mempersilahkan pemilik warung teh tersebut.

Pemuda pelajaritu mengnggguksambil tersenyum, dia telah mengikattali kekang kudanya pada tempatnya di samping kiri warung teh itu, kemudiammengambil tempat duduk. Dilihatnya warung tehsangat sepi, tidakada seorang pengunjung pun juga.

Hal ini memang dapat dimengerti. Bahwa kampung itu sangat kecil sekali, juga jauh dari keramaian. Di samping itu memang penduduk kampung ini tidak terlalu padat.

Pemilik warung teh itu hanya mengharapkan pemuda-pemuda penduduk kampung itu yang kembali dari berburu, beristirahat sebentar di situ untuk bercakap-cakap sambil minum teh. Diasama sekali tidak bisa mengharapkan kunjungan orang asing, karena memang kampung itu jarang sekali dilintasi orang asing.

Sekarang melihat ada tamu asing, maka pemilik warung teh itu girang bukan main, karena dia yakin, tamunya ini tentu akan membayar tehnya jauh lebih mahal dari harga semestinya. Karena itu, pemilik warung teh tersebut telah melayaninya dengan hormat dan sopan sekali.

Cepat juga ia telah menyediakan teh yang cukup harum. Dia telah mengatakan: “Inilah teh simpanan Lohu yang terbaik, mudah-mudahan memuaskan hati dan selera Kongcu!” kata pemilik warung teh itu.

Pemuda baju putih itu telah mengucapkan terimakasihnya. Dia telah menghirupnya. Tetapi teh itu sangat sepat dan tidak memiliki keharuman sedikitpun juga, seperti juga meminum air dari campuran bahan-bahan yang tidak keruan.

Tetapi pemuda baju putih itu tidak mau menyakiti perasaan pemilik warung teh itu, ia meletakkan cawannya, sambil katanya: “Ya, ya, teh yang sangat harum sekali, Lopeh.....!”

Setelah itu, pemuda baju putih tersebut memandang sekelilingnya, kemudian katanya: “Apa yang kulihat, keadaan di kampung ini sepi sekali..... juga tidak ada tamu pada warung tehmu ini, Lopeh?!”

Orang tua itu mengangguk segera.

“Ya, ya, memang Lohu membuka warung teh ini hanya sekedar buat melewati waktu senggang belaka di hari tua ini.....” menjelaskan orang tua itu. “Jika memang Lohu tidak mengusahakan warung teh ini, maka Lohu terlalu iseng, terlalu banyak waktu yang terluangkan, sehingga akan menjengkelkan sekali.
“Karena dari itu, walaupun kampung ini sangat sedikit sekali penduduknya, dan juga sepi, jarang sekali dilalui oleh orang asing, namun Lohu kira ada baiknya juga untuk menerima tamu-tamu dari pemuda-pemuda penduduk kam pung ini setiap sore hari pulang dari berburu. Dengan demikian, Lohu bisa mengisi waktu senggang Lohu sebaik-baiknya.....!”

Mendengar keterangan orang tua itu, pemuda pelajar berpakaian serba putih tersebut mengangguk beberapa kali, kemudian katanya,

“Sesungguhnya Lopeh, untuk menuju ke Heng-san masih terpisah berapa jauh?!”

“Tidak jauh! Tidak jauh! Apakah Kougcu ingin pergi ke sana?” tanya orang tua itu, “Itu..... lihatlah Kongcu, itulah puncak Heng-san!”

Pemuda pelajar berbaju putih itu telah memandang ke arah yang ditunjuk oleh pemilik warung teh tersebut, sehingga dia melihat puncak gunung yang jauh dan ujung puncak tertinggi gunung itu diselubungi oleh kabut yang cukup tebal dan awan.

“Puncak gunung yang indah menarik sekali!” memuji pemuda pelajar berbaju putih itu.

Pemilik warung teh tersebut mengangguksambil tersenyum.

“Ya, sesungguhnya Heng-san merupakan gunung yang indah menarik, hanya saja herannya mengapa jarang sekali orang-orang berkunjung, untuk pelajar menikmati keindahan gunung tersebut?” menggumam pemilik warung itu. “Dan jika saja, banyak orang yang berkunjung ke Heng-san, tentu usahaku dengan membuka warung teh ini jauh lebih maju lagi..... tentu orang-orang yang ingin pergi ke Heng-san akan singgah di sini untuk beristirahat dan menikmati teh.....!”

Pemuda pelajar berbaju putih itu telah mengangguk beberapa kali, kemudian katanya: “Ya, ya..... jika saja orang mengetahui betapa gunung Heng-san merupakan gunung yang sangat indah dan menarik, tentu mereka akan tergesa-gesa mendatangi gunung ini..... Justeru sayangnya, jarang sekali orang yang mengetahui, bahwa keindahan di gunung Heng-san sesungguhnya tidak kalah jika dibandingkan dengan keindahan di gunung Thian-san atau tempat-tempat indah lainnya. Juga menurutku, tentunya tidak kalah dibandingkan dengan keindahan telaga Thian-ouw atau Su-ouw.....”

Pemilik warung yang sudah lanjut usianya tampak puas dan girang, mendengar pemuda pelajar ini telah memuji keindahan Heng-san, tanah dan kampung halamannya. Dengan demikian, dia menyukai si pemuda berpakaian serba putih, yang dilayaninya dengan sangat hormat sekali.

Dalam keadaan seperti itu, maka banyak yang diceritakan pemilik warung tersebut. Ia menceritakan mengenai keindahan puncak gunung itu, juga menceritakan betapa di atas gunung itu terdapat pohon-pohon yang tumbuh tinggi sekali, sampai puluhan kaki, mungkin di gunung lain tidak terdapat pohon yang tumbuh setinggi itu?

“Karenanya, jika nanti Kongcu sudah mendaki puncak gunung Heng-san dan melihat sendiri betapa indahnya gunung Heng-san, tentu Kongcu baru percaya bahwa gunung Heng-san merupakan sebuah gunung yang benar-benar indah!” kata pemilik warung teh tersebut.

Pemuda pelajar itu mengangguk beberapa kali. Memang dia bermaksud untuk pergi ke Heng-san. Ia telah menerima perintah gurunya mencari tempat yang sejuk dan nyaman untuk suatu keperluan gurunya tersebut.

Dan karena itu, pemuda pelajar ini telah menjelajahi beberapa gunung di daratan Tiong-goan. Sejauh itu, ia masih belum juga berhasil menemui tempat yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan gurunya.

Sampai akhirnya, dari seseorang ia mendengar akan keindahan Heng-san.

Masalahnya bukan keindahan gunung itu, tetapi justeru setelah mendengar keadaan gunung tersebut. Pemuda pelajar ini melihat adanya beberapa bagian dari keadaan gunung Heng-san, yang akan cocok sesuai dengan keinginan gurunya, maka segera dia berangkat ke Heng-san, buat melihat sendiri gunung tersebut. Itu pula sebabnya mengapa dia telah melakukan perjalanannya ke Heng-san.

Dan apa yang diduganya memang benar, bahwa Heng-san sangat sepi sekali, bahkan kampung-kampung yang dilihatnya di kaki gunung itu, merupakan kampung-kampung yang kecil dan penduduknya sedikit sekali.

Dengan demikian, semakin kuat pula keinginan pemuda pelajar tersebut hendak melihat keadaan di puncak gunung itu, karena semakin dekat pula pada dugaannya bahwa Heng-san lah merupakan tempat yang pasti akan cocok dan memenuhi selera dari gurunya, yang memang menghendaki sebuah tempat yang tenang dan sunyi, di samping beberapa hal-hal lainnya, seperti juga hutan-hutan yang tidak terlalu lebat dan sinar matahari yang bersinar cukup masuk ke gunung itu, maka guru itu akan hidup menyendiri melewati hari-hari tuanya.

Setelah bercakap-cakap beberapa saat lagi, tiba-tiba pemilik warung teh itu telah berkata sungguh-sungguh kepada pemuda berpakaian putih itu, ia memperlihatkan sikap yang serius sekali.

“Kongcu, sesungguhnya, di antara keistimewaan yang telah kuceritakan tadi, masih ada suatu keluar biasaan di gunung Heng-san ini......!”

Pemuda berpakaian serba putih itu tersenyum. Dia memang tengah berusaha untuk mengumpulkan keterangan-keterangan mengenai Heng-san sebanyak mungkin. Kebetulan sekali pemilik warung teh ini gemar bercerita.

“Apakah keistimewaan yang luar biasa itu Lopeh?!” tanyanya.

Orang tua itu ragu-ragu sejenak, dia telah memandang sekelilingnya, sampai akhirnya sikap yang hati-hati dan bersungguh-sungguh, ia berkata:

“Di puncak gunung Heng-san berdiam seorang bidadari yang cantik luar biasa! Menurut orang-orang yang telah melihat, beberapa orang pemuda kampung ini, bahwa bidadari itu mungkin baru berusia tujuh atau delapanbelas tahun. Sangat cantik sekali.

“Malah yang luar biasa, bidadari itu pandai terbang. Setiap jurang di depannya hanya dilewatinya, dengan sekali lompat saja..... dan jika memang Kongcu ingin mendaki gunung itu, ada baiknya kalau Kongcu mencari bidadari itu, tentu Kongcu akan bertemu!

“Mereka yang menceritakan kepada Lohu mengenai bidadari itu mengatakan, bahwa bidadari yang sangat cantik itu adalah bidadari dari kerajaan langit yang baru turun ke dunia dan berdiam di puncak Heng-san. Siapa yang bisa melihatnya, akan menerima keberuntungan yang sangat besar sekali!

“Seperti yang dialami oleh Sung San Tiauw, di mana dia telah sempat melihat bidadari itu secara kebetulan waktu dia tengah berburu.

“Semula dia gemetar ketakutan, karena menduga itu adalah hantu gunung. Tetapi setelah melihat bidadari itu seorang bidadari yang sangat cantik jelita, mungkin kecantikannya itu tidak ada duanya di dalam dunia ini, di mana Sung San Tiauw mengatakan tidak ada manusia atau seorang gadis pun secantik bidadari itu, tengah berlari-lari seperti terbang.

“Yang luar biasa Sung San Tiauw pun melihat bidadari itu terbang melewati jurang, dan juga dapat terbang ke atas tebing, hanya sayangnya walaupun telah mengikuti jejak dari si bidadari, tokh tetap saja dia tidak berhasil melihatnya lagi. Begitu juga setelah besoknya, selama sebulan dia berusaha untuk mencari jejak bidadari itu, namun dia tidak berhasil.

“Hanya satu kali saja bertemu dengan bidadari itu, bukan bertemu maaf Kongcu, hanya melihat, Sung San Tiauw telah memperoleh kemajuan yang pesat. Buruannya selalu banyak, di mana dia selalu berhasil membawa pulang binatang buruannya dalam jumlah beberapa kali lipat dibandingkan sebelumnya.....! Karena itu, jika Kongcu dapat bertemu dengan bidadari itu, tentu Kongcu akan beruntung sekali.”

Pemuda berbaju putih itu mengangguk-anggukan kepala beberapa kali. Hatinya memang jadi tertarik.

“Apakah cerita dari orang she Sung itu bisa dipercaya, Lopeh?” tanya pemuda pelajar berpakaian serba putih tersebut.

“Ohhh, Sung San Tiauw seorang pemuda kampung ini yang terkenal sangat jujur. Dia tidak mau berdusta, walaupun diancam akan dibunuh kalau dia tidak berdusta, tentu dia memilih mati dari pada berbohong. Maka aku yakin bahwa ceritanya itu bukan isapan jempol belaka, karena Lohu memang mengetahui benar siapa adanya Sung San Tiauw......!”

Hati pemuda berpakaian serba putih itu semakin tertarik saja, karena dia segera memiliki dugaan.

“Apakah gadis yang dimaksudkan sebagai bidadari itu adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian gin-kang yang luar biasa? Memang bisa saja seseorang yang memiliki gin-kang telah tinggi, untuk melompati jurang, dan naik ke tebing. Semua itu jika dilihat sepintas lalu memang seperti terbang belaka, atau memang dia merupakan murid seorang tokoh sakti.”

Dan pemuda berpakaian serba putih itu tidak mempercayai mengenai dongeng tentang diri seorang bidadari. Dia lebih cenderung menduga bahwa yang disebut sebagai bidadari itu adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian ilmu silat dan gin-kang yang tinggi, yang berdiam di puncak gunung Heng-san.

Memiliki dugaan seperti itu, hati pemuda tersebut jadi tidak tenang.

“Ternyata maksudku untuk melihat-lihat kemungkinan apakah Heng-san merupakan tempat yang sesuai dengan keinginan suhu, telah didahului orang lain......!”

Tetapi diapun bertekad hendak mendaki terus ke puncak Heng-san, untuk melihat sendiri keadaan di sana dengan mata kepalanya.

“Lopeh,” katanya kemudian sambil menoleh kepada orang tua itu. “Berapa lamakah untuk mendaki sampai ke puncak Heng-san?”

Orang tua, pemilik warung teh itu menduga bahwa pemuda pelajar berpakaian serba putih itu tertarik mendengar ceritanya mengenai bidadari yang cantik itu. Dia jadi tambah bersemangat bercerita:

“Jika memang ingin mencapai puncak Heng-san, mungkin akan memakan waktu lima hari lima malam..... tetapi jika hanya ingin mendaki sampai ke lamping gunung, kukira hanya memakan waktu dua hari dua malam.....!”

Pemuda pelajar itu mengangguk beberapa kali, di dalam hatinya dia berkata: “Hemmm, aku tentu bisa melakukan perjalanan dalam satu hari saja tiba di puncak Heng-san!”

Karena berpikir begitu, maka pemuda pelajar tersebut telah bertanya lagi kepada pemilik warung teb tersebut: “Lopeh, ada sesuatu yang ingin kukatakan memohon pertolongan dari engkau. Dapatkah aku mengatakannya?”

Orang tua itu tertegun sejenak, namun akhirnya tertawa.

“Oh, tentu, tentu. Jika hanya pertolongan dengan tenaga, tentu Lohu bersedia. Tetapi jikakau minta tolong untuk meminjamkan uang atau juga meminta sesuatu yang Lohu tidak memiliki, hal itu mana mungkin Lohu dapat luluskan?”

Pemuda pelajar itu tertawa. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan sepuluh tail perak, di letakkan di atas meja katanya,

“Ambillah uang itu untuk Lopeh..... Aku hanya ingin memohon pertolongan kepadamu buat menitipkan kudaku ini, karena aku ingin mendaki gunung Heng-san itu dengan berjalan kaki. Dengan membawa-bawa kudaku itu, tentu akan merepotkan sekali.”

Orang tua itu terkejut, dia memandang kepada sepuluh tail perak di atas meja dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar, kemudian katanya: “Ini..... ini.....” suaranya tergagap.

Pemuda pelajar itu mendorong uang sepuluh tail perak ke dekat orang tua itu, katanya: “Ambillah, aku menghadiahkan uang ini, buatmu Lopeh..... Tetapi selama aku menitipkan kudaku ini, harap Lopeh mau mengurus dan merawatnya dengan baik-baik, juga memberikan makan kepadanya......!”

Orang tua pemilik warung teh itu girang bukan main. Hadiah yang diterimanya bukanlah jumlah yang kecil. Walaupun dia berdagang teh selama satu tahun, belum tentu dia bisa memperoleh keuntungan sebanyak itu, maka cepat-cepat dia membungkuk untuk menyatakan terima kasihnya.

Namun pemuda berpakaian putih itu telah mengulurkan tangannya, sikapnya sabar sekali.

“Jangan banyak peradatan Lopeh, dan juga tidak ada sesuatu yang pantas diucapkan terima kasih. Aku telah menghadiahkan sedikit uang kepadamu, karena aku pun menitipkan kudaku itu dan uang itu bisa dikatakan sebagai pembayaran biaya perawatan kudaku itu......!”

Orang tua pemilik warung tersebut terharu sekali, dia mengucapkan terima kasihnya yang tak terhingga. Beberapa kali dia menambah teh diguci pemuda pelajar tersebut, dia pun yang menuangkan ke dalam cawan. Bukan main telatennya pelayanan orang tua tersebut.

Dan setelah minum cukup, serta beristirahat cukup lama, maka pemuda berpakaian serba putih itu telah meminta diri, dengan sekali lagi berpesan, agar orang tua itu merawat kudanya baik-baik, dan jangan lupa memberi makan pada kudanya itu, yang berbulu putih mulus.

Orang tua pemilik warung teh tersebut memberikan janjinya berulang kali, bahwa ia akan memelihara dan merawat kuda sebaik-baiknya.

Begitulah, pemuda pelajar berpakaian serba putih itu telah melanjutkan perjalanannya.

Apa yang dilihatnya memang sangat menyenangkan. Yang didengarnya selama ini mengenai keindahan gunung Heng-san, ternyata memang tidak meleset, di mana gunung Heng-san memang merupakan gunung yang sangat tinggi dan indah sekali.

Pemandangan alam yang indah, ditambah dengan hawa udara yang sejuk hangat, dengan sinar matahari yang dapat masuk ke gunung itu secukupnya, telah membuat keadaan di sekitar tempat itu merupakan tempat yang benar-benar sangat indah sekali.

Maka pemuda berpakaian serba putih tersebut melakukan perjalanan tidak tergesa-gesa, ia telah melangkah perlahan-lahan. Dengandemikian dia tentunya dapat menikmati keindahan pemandangan Heng-san, sebab diapun tidak perlu terlalu cepat tiba di puncak gunung Heng-san.

Waktu itu, keadaan di siang hari, memang udara mulai hangat. Sinar matahari yang memancar sangat terik di siang itu, bercampur menjadi satu dengan kesejukan hawa udara pegunungan itu, sehingga benar-benar nyaman.

Tiba di lamping gunung, maka pemuda pelajar berpakaian serba putih itu telah duduk beristirahat di bawah sebungkah batu, yang di samping kiri kanannya tumbuh subur sekali pohon-pohon yang menjulang tinggi, sehingga pemuda berpakaian serba putih itu bisa menghindar dari teriknya cahaya matahari, dan hanya merasakan hangatnya hawa udara di sekitar tempat itu saja.

Siapakah pemuda pelajar berpakaian serba putih, yang memiliki sikap begitu tenang, wajah yang tampan dan tengah mencari tempat yang sekiranya cocok buat gurunya hidup mengasingkan diri, di tempat yang tenang.

Ternyata pemuda berpakaian serba putih itu tidak lain dari Lie Ko Tie.

Memang Ko Tie tengah menerima perintah dari Swat Tocu, untuk mencarikan tempat yang sekiranya cocok buat gurunya itu hidup menyendiri di tempat yang tenang tetapi memiliki hawa udara yang bagus.

Rupanya Swat Tocu bermaksud meninggalkan pulau es, yang dianggapnya sudah tidak cocok dan tidak sesuai lagi dengan usianya yang semakin meningkat tua. Dan juga Swat Tocu tidak mau terpisah terlalu jauh dari muridnya, jika memang Ko Tie berkelana di dalam daratan Tiong-goan, dan Swat Tocu mengasingkan diri ke daratan Tiong-goan juga pada suatu tempat yang nyaman, jelas muridnya ini bisa sering-sering menjenguknya,

Alasan itulah mengapa Swat Tocu telah memerintahkan Ko Tie agar mencarikan sebuah tempat yang sekiranya cocok buat dia menyendiri.

Dan selama beberapa tahun terakhir ini Ko Tie telah berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia berusaha mencari tempat yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan gurunya itu.

Akan tetapi sejauh itu Ko Tie masih belum juga berhasil. Dia pernah merasa cocok dengan keadaan di Thian-san, tetapi Thian-san sepanjang masa dan waktu hanya diselubungi dan dibungkus oleh salju yang sangat dingin sekali. Dengan demikian, sama saja keadaan tempat itu dengan di pulau yang di tempati Swat Tocu, bukan merupakan tempat yang diidam-idamkan oleh gurunya.

Karenanya akhirnya Ko Tie telah berkelana terus mencari tempat yang sekiranya dapat memenuhi keinginan gurunya itu. Sampai akhirnya dia mendengar perihal keindahan gunung Heng-san.Dan juga dia mendengar ada beberapa hal keadaan Heng-san yang cukup untuk memenuhi keinginan gurunya itu.

Itulah sebabnya mengapa Ko Tie telah bergegas menuju ke Heng-san.

Setelah beristirahat sebentar, Ko Tie kemudian melanjutkan lagi perjalanannya mendaki Heng-san. Dan dia melihat semakin naik tinggi ke puncak Heng-san, maka semakin sejuk pula hawa udara di situ. Tetapi sejuk di gunung Heng-san ini memang berbeda dengan hawa sejuk di gunung lain, karena hawa udara yang sejuk tersebut juga bercampur dengan hangatnya sinar matahari.

Semakin naik ke puncak Heng-san, Ko Tie semakin kagum juga melihat keindahan gunung itu, dan semangatnya terbangun untuk cepat-cepat tiba di puncak gunung Heng-san.

Waktu Ko Tie tengah berlari-lari kecil mendaki gunung itu, tiba-tiba pendengarannya yang sangat tajam telah mendengar suara berkeresek yang perlahan sekali, suara yang sangat ringan seperti jatuhnya sehelai daun kering.

Tetapi sebagai seorang yang memiliki pendengaran sangat tajam, Ko Tie mengetahui bahwa suara yang perlahan itu bukanlah suara jatuhnya daun kering. Tentu ada seseorang di sekitar tempat itu.

Karenanya Ko Tie segera menahan langkahnya. Tahu-tahu dengan mendadak sekali dia telah memutar tubuhnya, memandang sekelilingnya.

Dia tidak melihat seorang manusia pun juga, karena di sekitar tempat itu tampak sunyi sekali.

Ko Tie melompat ke depannya dengan gesit sejauh beberapa tombak. Dan tetapsaja dia tidak melihat orang yang dicurigainya, tidak ada seorang manusia pun.

“Apakah suara yang perlahan tadi adalah suara merayapnya seekor ular atau juga binatang gunung lainnya?!” diam-diamKo Tie telah berpikir di dalam hatinya.

Kemudian telah memandang lagi di sekitar tempat itu, segera dia membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanannya pula.

Jika saja dia tidak mendengar lagi suara keresekan yang perlahan, tentu Ko Tie akan menduga bahwa yang tadi didengarnya adalah suara dari larinya binatang gunung atau juga kemungkinan melatanya seekor ular. Namun waktu dia tengah berlari-lari, beberapa kali Ko Tie mendengar suara keresekan yang sama. Karena dari itu, keras dugaannya tentunya ada seseorang yang tengah mengikuti jejaknya.

Karena menduga seperti itulah, Ko Tiejadi berlalu lebih waspada.

Sengaja Ko Tie tidak memperlihatkan sikap bahwa dia bercuriga, karena tampak Ko Tie berlari-lari terus. Walaupun beberapa kali Ko Tie mendengar suara keresekan tersebut, tokh tetap saja dia pura-pura tidak mendengarnya.

Hanya saja, waktu dia tiba di depan sebuah hutan yang cukup lebat daunnya, tiba-tiba Ko Tie telah memutar tubuhnya, begitu mendadak sekali. Dan matanya yang tajam seketika melihat sesosok bayangan berkelebat.

Hanya saja disebabkan sosok bayangan itu bergerak cepat sekali, dan merupakan sinar hijau dan kuning belaka, maka Ko Tie tidak bisa melihat jelas. Dia hanya melihat sesosok bayangan itu yang bergerak sekejap mata telah lenyap di balik pohon-pohon yang lebat.

Ko Tie menjejakkan sepasang kakinya, dia bermaksud mengejar orang itu.

Tetapi walaupunKo Tie bergerak sangat cepat sekali, di mana dia telah melesat dengan gerakan tubuh secepat terbang, tokh tetap saja dia kehilangan jejak. Orang itu tidak juga ditemuinya.

Ko Tie mengawasi keadaan di sekitar tempat itu. Dia melihat samar-samar bekas tapak kaki orang.

Setelah mencari-cari lagi sekian lama di sekitar tempat itu, maka Ko Tie akhirnya jadi bertambah heran, karena tetap saja dia tidak berhasil menemui orang yang dicarinya. Dia segera menduganya, tentu orang yang mengikuti dirinya memiliki gin-kang yang tinggi sekali.

Akhirnya Ko Tie telah melanjutkan perjalanannya lagi, dia memutuskan untuk tidak mengacuhkan dan tidak memperdulikan orang yang tengah mengikutinya itu.

Setelah berjalan sekian lama, kembali Ko Tie mendengar suara berkeresekan perlahan itu jadi jelas, bahwa orang mengikuti dirinya belum pergi dan masih terus mengikuti dirinya. Hal ini membuat Ko Tie jadi mendongkol juga, diapun penasaran! Hanya disebabkan dia memang mengetahui bahwa gin-kang orang yang mengikuti dirinya sangat tinggi maka sekarang Ko Tie tidak mau berlaku ceroboh, dia telah berlari cepat.

Ko Tie telah mengerahkan gin-kangnya, dia berlari pesat sekali. Tubuhnya bagaikan terbang seperti juga ke dua kakinya itu tidak menginjak bumi lagi.

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 14"

Post a Comment

close