Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 11

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 11

Hok An memang sangat sayang dan memanjakan sekali Giok Hoa, sedang di depan matanya dia melihat Giok Hoa dikibas seperti itu, sehingga tubuhnya terguling dan pipinya memerah membengkak, membuatnya jadi merasa gusar pada Bun Kie Lin.

Hanya saja disebabkan memang dia tidak berdaya dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya, maka walaupun mendongkol dia tidak bisa menghadapi Bun Kie Lin untuk mengumbar kemendongkolannya itu.

Giok Hoa menggeleng sedikit, katanya sambil memaksakan diri tersenyum: “Tidak paman Hok..... luka seperti ini tidak ada artinya..... lebih baik jika paman Hok beristirahat lebih tenang, agar luka-Iuka di tubuh paman Hok dapat sembuh benar-benar......!”

Kesehatan Hok An telah berangsur sembuh. Memang ilmu pengobatan yang dimiliki Bun Kie Lin sangat luar biasa, di mana dia bisa mengobati Hok An dengan sebaik mungkin. Dalam waktu begitu singkat, dia telah dapat menyembuhkan luka Hok An yang sesungguhnya sangat parah sekali.

Di waktu itu, tampak betapapun juga, Hok An masih mendongkol dan hanya mengawasi kepada Bun Kie Lin.

Jika saja Hok An di waktu itu bisa melompat bangun, tentu dia akan menerjang kepada Bun Kie Lin untuk menyerangnya dengan pukulan yang sekuat tenaga, sebab dia tidak bisa menerima Giok Hoa dibuat terpelanting seperti itu oleh Bun Kie Lin.

Walaupun sekarang ini Hok An melihat bahwa dirinya memang telah ditolong dan disembuhkan oleh Bun Kie Lin, tokh dia tidak bisa merasakan berterima kasih lagi, malah dia selalu teringat betapa kasihannya Giok Hoa yang telah dibuat terpelanting seperti itu, membuat pipi gadis itu memerah karena te1ah terkena benturan pada bumi, sehingga membengkak.

Giok Hoa berusaha menghiburnya, ia menyatakan kepada Hok An, memang Bun Kie Lin memiliki perangai yang sangat ku-koay. Itu pula sebabnya Yo Him telah mengajak Bun Kie Lin bertaruh dalam hal mengobati luka Hok An, hanya untuk memancing perasaan gusar Bun Kie Lin, karena jika tidak, tentu dia tidak akan mau mengobati Hok An. Karena itu setelah Yo Him berhasil memancing kegusaran Bun Kie Lin, ia baru bersedia buat mengobati Hok An.

Dengan demikian telah membuat Hok An sedikit menurun perasaan mendongkolnya dan mulai mengerti bahwa Bun Kie Lin seorang yang memiliki perangai sangat aneh. Sedangkan waktu itu Bun Kie Lin sudah tidak memperhatikan lagi keadaan Hok An, dia telah melihatnya bahwa Hok An dan Giok Hoa saling bisik-bisik, namun dia sudah tidak memperhatikannya. Dia lebih banyak mencurahkan seluruh perhatiannya kepada jalannya pertempuran antara Yo Him dengan orang bertubuh tinggi kurus itu.

Dengan begitu, telah membuat Sasana juga ikut mengawasi dengan tegang, karena dilihatnya Yo Him waktu itu tengah mempergunakan beberapa macam ilmu simpanannya. Setiap jurus yang dipergunakannya merupakan jurus-jurus yang bisa menghancurkan dan membinasakan.

Hanya saja disebabkan lawannya itu, memiliki kepandaian yang tinggi, maka dia bisa menghadapi Yo Him sampai begitu lama. Mereka berdua bertempur terus dengan seru.

Diam-diam orang bertubuh tinggi kurus itu telah berpikir di dalam hatinya: “Dalam hal ini memang tidak salah, Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa hebat, karena puteranya saja telah memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Menghadapi puteranya saja sekarang ini, aku masih belum dapat merubuhkannya, sedangkan mendesaknya pun tidak bisa. Apa lagi jika aku menghadapi Sin-tiauw-tay-hiap, niscaya dalam beberapa jurus aku sudah dapat dirubuhkan.....”

Karena berpikir seperti itu, segera juga orang bertubuh tinggi kurus itu mencari kesempatan buat melompat mundur menjauhi diri dari Yo Him.

Pada suatu kali, waktu Yo Him kembali gagal dengan hantamannya, maka tampak orang bertubuh tinggi kurus itu telah melompat ke samping kanan dengan gerakan yang sangat gesit. Begitu ke dua kakinya menyentuh tanah, kembali tubuhnya melesat pula tiga tombak lebih ke arah samping kanannya.

Dengan caranya seperti itu, orang bertubuh tinggi kurus itu hendak mencegah serangan susulan dari Yo Him.

Benar saja, semula Yo Him ketika melihat orang bertubuh tinggi kurus itu melompat ke samping mengelakkan serangannya, ia bermaksud untuk menyusuli dengan hantamannya lagi. Namun belum sempat dia menghantam, justeru orang itu telah menyingkir lagi, mereka terpisah agak jauh.

Dan waktu Yo Him hendak menyusul buat menyerangnya pula, tampak orang bertubuh tinggi kurus itu telah berseru nyaring: “Tahan, aku hendak bicara denganmu.....!”

Berbareng dengan seruannya tersebut, segera terlihat orang bertubuh tinggi kurus itu bersiap-siap, karena ia kuatir kalau-kalau Yo Him tidak mau menghentikan pertempuran itu dan tetap menerjangnya.

Tetapi Yo Him telah menahan gerakan tangannya, dia berdiri tegak menghadapi orang bertubuh tinggi kurus itu: “Apa yang ingin kau katakan?!”

Orang bertubuh tinggi kurus itu telah memandang ragu, kemudian katanya: “Aku bermaksud bertemu dengan ayahmu! Kau sebutkanlah, di mana aku bisa bertemu dengan ayahmu itu?!”

Yo Him tidak segera menyahuti, dia hanya mengawasi orang bertubuh tinggi kurus itu, kemudian dengan sikap yang memandang ringan ia berkata: “Engkau hendak mencari ayahku guna mengajaknya mengadu kepandaian?!”

Orang itu ragu-ragu tetapi kemudian mengangguk.

“Ada sesuatu yang hendak aku bereskan bersamanya!” katanya.

“Kau hendak membereskan sesuatu dengan ayahku? Atau memang engkau hendak membalas dendam?!” tanya Yo Him dengan sikap, yang mengejek. “Hemmm, dengan kepandaian seperti ini, mana mungkin engkau bisa berurusan dengan ayahku? Sedangkan untuk bertempur denganku saja, engkau tidak bisa merubuhkan aku, malah dalam beberapa jurus lagi engkau akan dapat kurubuhkan!”

Muka orang bertubuh tinggi kurus itu tampak jadi berobah memerah. Akan tetapi kemudian dia berkata:

“Jika memang engkau keberatan menyebutkan di mana ayahmu, sehingga aku dapat mencari jejaknya, akupun tidak akan memaksanya! Tetapi mengenai urusan kita ini, dapat kita lanjutkan nanti, setelah kita bertemu lagi di dalam kesempatan lain.

“Sekarang ini aku masih memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus kuselesaikan..... Aku tidak bisa main-main terlebih lama lagi dengan kau?”

Setelah berkata begitu, tanpa memberi hormat, dan dengan sikap seenaknya dia hendak memutar tubuh, guna berlalu.

Yo Him sebetulnya hendak menahannya, tetapi dia melihat isyarat dari Sasana. Walaupun tidak mengerti apa maksud isyarat dari isterinya, tetapi ia mematuhi tidak mengejar dan menahan kepergian orang itu.

Dilihatnya juga Sasana telah melompat ke samping Giok Hoa, di mana isterinya telah membisikkan sesuatu kepada Giok Hoa, dan Giok Hoa mengangguk beberapa kali. Kemudian terdengar siulnya yang cukup nyaring.

Suara siulan itu disambut dengan suara pekik yang nyaring di tengah udara.

Orang bertubuh tinggi kurus itu sesungguhnya hendak mempergunakan ginkangnya untuk berlalu dengan cepat, namun waktu itulah dia telah melihat ada bayangan besar yang menyelubungi dirinya, dan bayangan besar itu semakin besar juga, malah dia merasakan kibasan yang sangat kuat pada dirinya.

Ketika orang bertubuh tinggi kurus menoleh ke atas, ia terkejut juga, hatinya terkesiap. Seekor burung rajawali putih yang sangat besar sekali, tengah meluncur turun menyambar ke arahnya, dengan sepasang cakarnya siap untuk mencengkeramnya. Sikap burung rajawali putih itu seperti juga hendak menerkam mangsanya, seekor kelinci atau sejenis lainnya.

Cepat-cepat orang bertubuh tinggi kurus itu telah mengelak ke samping. Akan tetapi, burung rajawali putih itu seperti juga dapat mengatur penyerangnya dengan sepasang cakarnya, dia menyambar lagi kepada orang bertubuh tinggi kurus itu, membuatnya harus berkelit berulang kali ke sana ke mari.

Orang itu jadi agak gugup, karena setiap kali berkelit, sepasang kakinya tidak bisa berdiri dengan tetap. Hal ini disebabkan sayap dari burung rajawali putih itu telah menyambar-nyambar ke arahnya, dengan gerakan yang begitu kuat, menimbulkan kibasan angin yang sangat dahsyat sekali.

Orang bertubuh tinggi kurus tersebut berusaha mempertahankan kedudukannya dengan kuda-kuda yang kokoh. Tokh tidak urung dia merasakan terjangan yang sangat kuat jika dia bersikeras berusaha mempertahankan diri terus, niscaya dia akan terjungkel.

Hal inilah yang tidak diinginkan olehnya, dia telah melompat ke sana ke mari dengan lincah. Dengan demikian bisa memperkecil daya desak dan terjang dari lawannya yang luar biasa ini, yaitu burung rajawali yang berukuran sangat besar tersebut.

Burung rajawali putih itu, yang telah menerima perintah dari majikannya,Giok Hoa, rupanya mengetahui apa yang harus dilakukannya. Ia telah diperintah oleh Giok Hoa lewat suara siulannya, agar dia mempermainkan orang bertubuh tinggi kurus itu, Karenanya, dengan sepasang sayapnya, yang selalu dikibaskan ke sana ke mari, diapun selalu mengancam dengan cakarnya yang tampak runcing dan berbahaya itu.

Orang bertubuh tinggi kurus itupun bukannya hanya selalu berkelit ke sana ke mari saja, setiap ada kesempatan tentu dia akan menghantam burung rajawali putih itu dengan pukulan telapak tangannya, yang mengandung tenaga, lweekang tingkat tinggi.

Namun, setiap pukulan dari orang bertubuh tinggi kurus itu, walaupun selalu tepat mengenai tubuh rajawali putih itu, tetapi tidak berhasil untuk memukul mundur rajawali putih itu. Pertama kali ia diserang oleh rajawali ini, ia menduga tentunya dengan hanya beberapa kali hantaman, burung rajawali putih itu akan kesakitan dan..... juga akan segera terbang pergi.

Namun dugaannya itu telah meleset, karena burung rajawali tersebut seperti juga memiliki tubuh yang kedot sekali.

Setiap pukulan yang dilakukan oleh orang bertubuh tinggi tersebut seperti juga tidak mempunyai arti apa-apa pada tubuhnya. Malah yang membuat orang bertubuh tinggi kurus itu tambah terancam keselamatannya, karena waktu itu setiap kali dia menyerang, maka burung rajawali putih itu akan menghantam dengan salah satu sayapnya.

Setiap kali sayapnya itu dikibaskan, maka akan menimbulkan serangkum angin yang keras dan kuat sekali, seperti juga sambaran topan saja, karena itu, telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu, selain harus berusaha menjaga diri dari sambaran cakar burung rajawali putih, juga dia harus dapat mempertahankan kuda-kuda ke dua kakinya itu kuat-kuat. Hal ini agar dia tidak terjungkel akibat terjangan tenaga kibasan sayap rajawali tersebut.

Sedangkan burung rajawali putih itu tetap tidak mau melepaskan orang bertubuh tinggi kurus itu. Dilihatnya, sampai membalas menghantam dengan ke dua telapak tangannya, orang bertubuh tinggi kurus itu selalu berusaha agar dia dapat mencelat ke samping meloloskan diri. Hal inilah yang tidak diinginkan oleh burung rajawali tersebut, yang selalu mengepungnya dengan kibasan-kibasan sayapnya, membuat orang bertubuh tinggi kurus itu memang tidak mempunyai kesempatan lagi buat meloloskan diri.

Maka suatu kali, burung rajawali tersebut telah berhasil menggertak orang bertubuh tinggi kurus itu dengan kibasan ke dua sayapnya yang dilakukan dengan serentak, sehingga angin yang menyambar lawannya itu bergemuruh sangat hebat. Batu-batu kecil beterbangan menggelinding dan debu naik mengepul tinggi, batang-batang pohon jadi bergoyang-goyang, demikian juga halnya dengan bungkahan batu-batu besar yang jadi ikut tergoncang.

Hal itu memperlihatkan, betapa kuat dan dahsyatnya tenaga kibasan dari sepasang sayap burung rajawali putih itu, membuat hati orang bertubuh tinggi kurus itu tercekat. Ia mati-matian berusaha mempertahankan diri, agar tidak terpelanting.

Namun di saat dia tengah berusaha mempertahankan diri seperti itu, tiba-tiba dia merasakan punggungnya sakit bukan main, karena kuku-kuku dari burung rajawali tersebut, telah mencengkeram baju di bagian punggungnya dengan kuat. Kemudian serentak mengangkat tubuhnya terbang ke tengah udara.

Bukan main kagetnya orang bertubuh kurus tinggi itu. Mati-matian dia telah berusaha menghantam dengan sepasang tangannya, di mana pada ke dua telapak tangannya telah dikerahkan seluruh kekuatan lweekang yang dimilikinya. Dengan demikian membuat tenaga pukulannya itu sangat dahsyat sekali.

Dalam keadaan seperti ini, burung rajawali itu berpekik nyaring. Sebab iapun merasakan bahwa tenaga pukulan dari orang bertubuh tinggi kurus itu sangat menyakitkan sekali, tubuhnya tergetar.

Coba jika bukan burung rajawali putih yang menerima pukulan itu, yang memang memiliki semacam kekebalan dan juga latihan yang kuat sekali pada dirinya, tentu serangan itu akan dapat membinasakan seorang yang bagaimana kuatnya pun tubuhnya.

Hal itu disebabkan orang bertubuh tinggi kurus itu dalam keadaan dirinya terancam, ia telah menghantam dengan sekuat tenaganya. Seluruh sin-kangnya telah dipergunakannya.

Melihat burung rajawali putih itu berpekik kesakitan ketika dihantam olehnya, dia mengulangi lagi hantamannya, sehingga burung rajawali putih itu memekik pula.

Namun, ketika orang bertubuh tinggi kurus itu menoleh ke bawah, hatinya terkesiap. Sebab dirinya telah dibawa terbang sangat tinggi sekali, sehingga jika saja burung rajawali putih itu kesakitan, dan melepaskan cengkeraman cakarnya, tubuhnya tersebut terlepas dan jatuh meluncur ke bawah. Dia pasti akan terbanting dengan keras di tanah.

Disebabkan itulah, telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu harus berpikir dua kali buat menghantam lagi tubuh burung rajawali putih tersebut. Memang jika dia menghantam dengan gencar, pasti akhirnya burung rajawali putih itu akan melepaskan cengkeramannya, namun tubuhnya pun akan terlepas dengan meluncur ke bawah, hal ini membuatnya akan menemui ajal dengan tubuh yang hancur remuk!

Sedangkan burung rajawali putih itu telah terbang semakin tinggi, dia terbang ke sana ke mari, sehingga tubuh orang berbadan tinggi kurus itu jadi ikut berputar-putar dibawa terbang oleh burung rajawali putih itu, ia merasakan kepalanya jadi pusing dan matanya menjadi nanar. Dengan demikian telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu memejamkan matanya rapat-rapat, dia membiarkan dirinya dibawa terbang terus oleh burung rajawali putih itu.

Sama sekali dia tidak berusaha untuk meronta, karena dalam keadaan seperti itu, di mana tubuhnya telah dibawa terbang berputar-putar di tengah udara, dalam ketinggian yang sangat menakutkan, membuat orang bertubuh tinggi kurus tersebut malah kuatir cengkeraman cakar dari burung rajawali itu akan terlepas sehingga dirinya terjatuh meluncur ke bawah, terbanting remuk. Itulah sebabnya, orang bertubuh tinggi kurus tersebut membiarkan dirinya dibawa terbang oleh burung rajawali putih itu......!

Sedangkan rajawali putih itu telah membawa orang bertubuh tinggi kurus itu berputar-putar tanpa hentinya. Dengan demikian, semakin lama orang tersebut merasakan kepalanya bertambah pusing. Dia telah memejamkan matanya, tidak berani melihat keadaan sekitarnya, sebab semakin dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, maka dia merasakan kepalanya semakin pusing, hatinya berdebar keras.

Begitulah, terlihat burung rajawali putih itu telah membawa terbang terus orang bertubuh tinggi kurus tersebut. Setiap kali burung rajawali itu mengeluarkan pekiknya, maka telah membuat lawannya yang kena dicengkeram itu bertambah pusing, karena semakin cepat pula ia membawa terbang orang tersebut.

Dan juga dia terbang berputaran semakin tinggi, sehingga jika pada waktu itu cengkeramannya itu terlepas, niscaya tubuh orang itu akan meluncur turun dan terbanting di tanah dengan tubuh yang remuk.

Disebabkan itu pula, membuat orang itu jadi memejamkan matanya dengan hati yang berdebar keras, sebab ia kuatir kalau-kalau dia dilepas dan tubuhnya terbanting jatuh, akan membuat dia terbinasa dengan tubuh yang hancur.

Giok Hoa merasa telah cukup mempermainkan orang bertubuh kurus tinggi itu. Dia bertanya kepada Sasana, apakah dia boleh perintahkan burung rajawalinya tersebut turun.

Sasana mengangguk.

Segera juga Giok Hoa bersiul nyaring, ia telah perintahkan burung rajawali itu turun kembali.

Burung rajawali itu telah meluncur turun membawa terbang korbannya yang masih berada dalam cengkeramannya dengan pesat sekali, membuat orang tinggi kurus yang berada dalam cengkeramannya bertambah ngeri, karena menduga bahwa dia tengah meluncur turun dilepas cengkeraman burung tersebut.

Dalam keadaan seperti itu, tanpa disadarinya, orang bertubuh tinggi kurus tersebut telah mengeluarkan seruan nyaring, dan dia merasakan tubuhnya masih meluncur turun terus.

Hanya terpisah setengah tombak dari bumi, barulah burung rajawali putih itu melepaskan cengkeramannya, dan tubuh dari orang bertubuh tinggi kurus itu telah terbanting di tanah.

Bantingan itu perlahan sekali, tetapi sentuhan tubuhnya dengan tanah membuat orang tersebut benar-benar kaget, sampai dia mengeluarkan seruannya, dan seketika itu juga dia menjerit cukup nyaring.

Waktu mengetahui dia menggeletak di tanah tanpa terbinasa, ia bermaksud hendak melompat berdiri.

Hanya saja, begitu dia berdiri, seketika tubuhnya terhuyung-huyung, terjungkal rubuh lagi. Hal ini disebabkan dia masih pusing bukan main sehingga begitu dia berdiri, seketika dia merasakan tubuhnya bagaikan berputar.

Walaupun dia telah mengerahkan tenaga dalamnya buat memperkuat kuda-kuda ke dua kakinya, tokh dia masih gagal juga. Dua kali beruntun dia mencoba berdiri, tubuhnya telah terjungkal rubuh.

Rajawali putih itu setelah melepaskan cengkeramannya, segera terbang tinggi pula, sambil mengeluarkan suara pekikannya, dan orang bertubuh tinggi kurus itu masih berusaha merangkak untuk berdiri.

Untuk ke tiga kalinya, dia gagal, karena di waktu itu ia telah terjungkal, terus rubuh lagi. Kepalanya masih juga pusing.

Mengetahui bahwa dirinya tidak mungkin dapat berdiri lebih lama lagi, maka dia telah merangkak bukan untuk berdiri, melainkan duduk, buat bersemedhi, mengatur jalan pernapasannya.

Waktu dia duduk bersemedhi, dia merasakan kepalanya masih pusing juga, tubuhnya dirasakan berputar-putar tidak hentinya.

Dalam hatinya, diapun heran bertanya-tanya entah burung rajawali putih itu dipelihara siapa? Tetapi besar dugaannya, apakah burung rajawali putih itu dipelihara oleh Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko?

Dan sekarang dengan munculnya burung rajawali putih itu apakah Sin-tiauw-tay-hiap telah muncul kembali? Karena berpikir begitu, batinya semakin tergetar. Dan dia berkuatir kalau-kalau dalam keadaan demikian Sin-tiauw-tay-hiap itu muncul buat menghinanya.

Dan yang lebih membingungkannya, kalau saja nanti Sin-tiauw-tay-hiap itu perintahkan burungnya buat menangkapnya lagi seperti tadi, kemudian membawa terbang tinggi sekali, ratusan kaki jauhnya, lalu melepaskannya di tengah udara, bukankah dia akan mati konyol, dimana dia akan terbanting binasa di waktu itu juga?

Karena berpikir begitu, cepat-cepat dia telah mengempos seluruh kekuatannya, dia telah berusaha menyalurkan lweekangnya, guna memulihkan ketenangannya. Dan dia cukup berhasil setelah kepalanya tidak begitu pusing, dia melompat berdiri.

Hanya saja tubuhnya itu masih bergoyang-goyang tidak bisa berdiri tetap, buat sementara waktu dia belum berani buat melangkah berjalan, hanya berdiri tetap di tempatnya. Sekali saja dia melangkah berjalan, niscaya akan menyebabkan dia terguling, karena tubuhnya masih sering terhuyung-huyung.

Dalam keadaan seperti inilah Yo Him telah berkata dengan suara yang mengejek: “Apakah kau tidak mau cepat-cepat angkat kaki, sampai engkau merasakan tubuhmu itu terbanting dari atas udara?!”

Mendengar ejekan Yo Him, orang bertubuh tinggi kurus itu, yang sesungguhnya merupakan seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan tidak pernah jeri terhadap siapapun juga, sekarang jadi ciut juga nyalinya. Dia kuatir bahwa Yo Him akan membuktikan perkataannya itu, sehingga burung rajawali putih yang berukuran besar sekali, seperti burung rajawali raksasa itu, akan mencengkeram lagi, dan membawanya terbang ke udara serta melepaskan cengkeramannya, sehingga dirinya akan menemui ajalnya dengan konyol sekali.

Tanpa memperdulikan kepalanya masih agak pusing, diapun telah memutar tubuhnya, buat berlalu.

Tubuhnya masih bergoyang-goyang terhuyung, namun dia sudah tidak memperdulikannya, dia telah melangkah terus dengan tindakan kaki yang terhuyung, dan hampir saja dia menubruk sebatang pohon. Untung saja dia bisa menahan langkahnya, sehingga dia bisa berjalan terus, seperti juga seorang yang tengah mabok arak.

Pada waktu itu, Giok Hoa telah bersiul pula, burung rajawali putih itu memekik nyaring dari tengah udara.

Mendengar suara pekik burung rajawali putih itu, orang bertubuh tinggi kurus itu menahan langkah kakinya, dia telah mengangkat kepalanya menoleh ke tengah udara dengan hati terkesiap. Dia menduga bahwa burung rajawali putih itu hendak menyerang dirinya lagi.

Namun diwaktu itu burung rajawali putih itu hanya berputar-putar di tengah udara, mengambil sikap seperti hendak mengiringi kepergian orang bertubuh tinggi kurus itu.

◄Y►

Bun Kie Lin yang menyaksikan semua itu jadi menghela napas. Dia segera menyadari bahwa pertunjukan yang tadi diperlihatkan di hadapannya, di mana burung rajawali itu telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu tidak berdaya, tentu merupakan ancaman buatnya. Jika memang Bun Kie Lin menimbulkan kesulitan, iapun bisa menghadapi peristiwa yang sama pasti dialami oleh orang bertubuh tinggi kurus itu.

Waktu itu Yo Him telah menoleh kepada Bun Kie Lin, tanyanya: “Apakah engkau berhasil mengobati luka kawanku itu dan memenangkan pertaruhan yang kita adakan?!”

Bun Kie Lin tertawa dingin.

“Seperti engkau lihat sendiri, kawanmu itu telah sembuh, dan telah dapat bicara.....!” kata Bun Kie Lin. “Hemmm, apakah engkau beranggapan bahwa aku ini mendustai engkau dan tidak sanggup mengobati luka kawanmu itu!! Nah, kau saksikan sendiri, aku telah menyembuhkannya.....!”

Yo Him tersenyum lebar, dia merangkapkan sepasang tangannya menjurah dalam-dalam, kemudian katanya: “Ya, memang Locianpwee telah menyembuhkan Hok Lopeh, untuk itu kami mengucapkan syukur dan terima kasih yang tidak terhingga.....!”

Dan setelah berkata begitu, sambil tetap tersenyum, Yo Him telah menjurah tiga kali.

Mata Bun Kie Lin terbuka lebar-lebar. Dia mengawasi Yo Him tajam sekali, kemudian dia telah bilang dengan bola mata yang berputar-putar itu:

“Untuk ini..... ini.....!” Tampaknya dia seperti orang kesima. Namun akhirnya dia tertawa bergelak, dia telah bilang: “Kau begitu licik..... engkau telah menipuku!”

Yo Him melihat bahwa Bun Kie Lin baru tersadar dirinya dipermainkan dan ditipu olehnya, membuat Yo Him jadi geli sendirinya. Namun dia tidak berani bersikap kurang ajar lagi, dia tersenyum saja dan katanya:

“Ya, tadi memang Boanpwee sengaja bersikap agak kurang ajar, harap Locianpwe mau memaafkan..... Dengan ini Boanpwee menyatakan maaf yang sebesar-besarnya, harap Locianpwee jangan gusar.....!”

Setelah berkata begitu, segera Yo Him menjurah lagi memberi hormat, dan menyatakan penyesalannya yang telah “mempermainkan” Bun Kie Lin.

Sedangkan Bun Kie Lin mendengus tidak senang, katanya: “Maafkan? Enak saja engkau bicara! Hemmm, apakah engkau mengira bahwa aku ini mudah buat dipermainkan?!”

“Oh, tentu saja tidak!” menyahuti Yo Him segera. “Mana berani boanpwe mempunyai pikiran seperti itu. Jelas Boanpwe tidak berani berlaku kurang ajar dan mempermainkan Locianpwe, tetapi..... memang dalam hal ini Boanpwe terpaksa sekali harus menolongi jiwa sahabat Boanpwe, yaitu Hok Lopeh itu.....

“Dan kini jiwanya telah tertolong oleh pengobatan Locianpwe, maka sekali lagi Boanpwee mewakili Hok Lopeh menyatakan terima kasih yang tidak terhingga kepada locianpwe.....!”

Benar-benar Yo Him telah merangkapkan tangannya lagi. Dia menjura memberi hormat dalam-dalam.

Bun Kie Lin mengawasi Yo Him beberapa saat lamanya, kemudian memandang kepada Hok An yang waktu itu tengah menggenggam tangan Giok Hoa, seakan juga Hok An gembira sekali, sebab sekarang dia sudah tidak menderita kesakitan seperti sebelumnya.

Dalam keadaan seperti itu, Bun Kie Lin telah bilang: “Jika memang engkau mau meminta secara baik, aku tidak penasaran seperti sekarang, di mana aku telah ditipu mentah-mentah!”
Tetapi Yo Him telah berkata memotong perkataan Bun Kie Lin:

“Jika memang kami memintanya dengan baik-baik, seperti yang kami lakukan sebelumnya, bukankah Locianpwe tidak bersedia menolong, dan sekarang setelah kami bersikap agak kurang ajar, ternyata malah Locianpwe memaksa hendak menolong paman Hok itu untuk memperlihatkan keliehayan Locianpwe dalam bidang ilmu pengobatan!

“Dan memang Boanpwe juga mengakuinya, Locianpwe sangat hebat sekali, memiliki kepandaian dalam ilmu pengobatan yang sangat mengagumkan! Seperti bunyinya pertaruhan kita, maka dengan ini Boanpwe menyatakan rasa kagum tidak terhingga kepada Locianpwe dan juga mengucapkan terima kasih serta syukur yang tidak terhingga terhadap pertolongan ini.....!”

Setelah begitu, Yo Him memberi hormat pula.

Bun Kie Lin mengibaskan lengan bajunya, katanya dengan sikap tidak senang, karena ia tetap merasa seperti diingusi: “Pergilah! Aku tidak mau melihat kalian terlalu lama! Pergilah!”

Yo Him jadi tersenyum melihat sikap Bun Kie Lin, katanya. “Bukankah sahabat kami itu memerlukan satu-dua hari buat beristirahat..... tentunya Locianpwe tidak akan mengusir kami sebelum Hok Lopeh benar-benar sembuh.....!”

“Hemmm, untuk ini aku tidak mengijinkan! Kalian telah menipu diriku, sekarang malah ingin berdiam di tempatku selama beberapa hari disini, itulah tidak mungkin! Ayo pergi..... pergi......!”

Yo Him jadi berpikir keras, sampai akhirnya dia teringat sesuatu.

“Locianpwe, ada sesuatu yang hendak boanpwe tanyakan, entah Locianpwe mau menjawabnya atau tidak?!” tanya Yo Him kemudian sambil mengawasi Bun Kie Lin.

“Apa yang ingin engkau tanyakan?!” tanya Bun Kie Lin sambil balas menatap dengan tajam, karena dia tengah mendongkol dan penasaran merasa telah diingusi oleh Yo Him.

“Mengenai wanita setengah baya itu!” menyahuti Yo Him.

Muka Bun Kie Lin berobah.

“Ada apa dengan wanita setengah baya itu?!” tanyanya kemudian dan sikapnya tambah tidak senang.

“Menurut apa yang dilihat oleh Boanpwe tampaknya dia memusuhi Locianpwe! Apakah di antara Locianpwe dengan wanita setengah baya itu memang terdapat ganjalan atau perasaan bermusuhan?!”

Muka Bun Kie Lin berobah sejenak lamanya, akhirnya baru dia menyahuti setelah raga-ragu sejenak: “Hemmm, dia datang ke tempatku ini, memaksaku harus mengobati luka-luka dari cucu-cucunya itu! Aku sendiri heran, usianya masih begitu muda, dan aku tidak mempercayai bahwa wanita-wanita yang dikatakannya sebagai cucunya itu benar-benar adalah cucunya.....!”

“Dan Locianpwe telah menolak permintaannya buat mengobati cucu-cucunya itu?!” tanya Yo Him.

Bun Kie Lin mengangguk.

“Ya, buat apa aku mengobati mereka? Aku tidak kenal mereka, dan juga cara mereka meminta pertolongan kasar sekali, mereka memaksa. Katanya cucu-cucu dari wanita setengah baya itu, yang semuanya berjumlah delapan orang, telah terluka oleh sejenis racun yang berkerjanya sangat lambat. Jika dalam satu tahun mereka tidak diobati, maka seluruh tenaga dari wanita-wanita muda itu akan musnah, disusul kemudian, selama dalam satu tahun pula perlahan-lahan mereka akan sampai pada ajalnya!

“Aku sebetulnya mengetahui, mereka terkena racun yang diberi nama Bau-tok-ban-hun, sejenis racun yang hebat sekali, yang bekerja sangat lambat sekali. Seorang korbannya, tidak merasakan perobahan pada dirinya, karena mereka tidak akan mengetahui bahwa sesungguhnya jiwa mereka tengah terancam. Dan aku memang dapat mengobatinya, namun, hemmm, hemmm, mereka mengancam.....!”

“Mengancam? Apa yang diancamkan wanita setengah baya itu pada Locianpwe.....?” tanya Yo Him.

“Ia mengancam, jika aku menolak buat mengobati cucu-cucunya, ia akan membunuhku! Aku tidak takut. Aku dapat menghadapinya. Setiap kali ia bersama, semua cucunya hendak menerjang memasuki goaku, maka aku memukul mundur mereka. Hemm, hemm, mereka memang tidak berdaya buat memaksa untuk menerobos masuk ke dalam goa! Namun mereka terlalu licik, mereka tahu tidak mungkin dapat mendesak aku lebih jauh dengan kekerasan, dan memaksaku..... Namun mereka mengancam akan membunuh empat orang pelayanku.....!”

“Ohhh, tentunya empat orang laki-laki yang kami temui telah terbinasa dengan leher masing-masing hampir seperti tersayat oleh pisau.....!” kata Yo Him.

“Benar! Merekalah yang harus dikasihani. Walaupun ke empat orang pelayanku itu mengerti ilmu silat, namun kepandaian mereka masih lemah sekali. Karenanya dengan mudah mereka dijadikan korban dari kemarahan wanita setengah baya itu, yang membuktikan ancamannya, di mana ia bersama cucu-cucunya telah membunuh ke empat orang pelayanku itu!

“Hai, hai, sesungguhnya ke empat orang pelayan itu merupakan pelayan-pelayan yang sangat baik sekali, di samping mereka sangat setia. Mereka harus binasa dengan cara begitu mengecewakan!”

“Lalu mengapa Locianpwe tidak bermaksud membalas sakit hati kepada wanita setengah baya itu?” tanya Yo Him ingin memancing reaksi dari Bun Kie Lin.

Bun Kie Lin tidak segera menyahuti, ia menghela napas dalam-dalam, kemudian dia telah berkata dengan suara yang mengandung kesusahan hati: “Sayangnya, aku memang tidak dapat keluar meninggalkan goaku ini! Aku telah bertekad, walaupun bagaimana aku harus menghadapi wanita setengah baya itu bersama cucu-cucunya itu di dalam goa ini!

“Kau tentu mengetahui, aku tidak jeri berurusan dengan wanita setengah baya itu, dan juga cucunya itu. Namun, jumlah mereka banyak sekali.

“Biarpun kepandaian cucu-cucu dari wanita setengah baya itu belum begitu tinggi, tokh mereka bisa bertempur dengan cara bergiliran. Dengan demikian akan membuat aku selalu terkepung. Jika hal itu terjadi, tentu aku menghadapi kesulitan. Terutama sekali, kepandaian wanita setengah baya itu sendiri memangnya tidak rendah.....!”

Setelah berkata begitu, Bun Kie Lin menghela napas beberapa kali, tampaknya dia bersusah hati, baru kemudian meneruskan perkataannya:

“Dan aku telah memutuskan, memang cara terbaik dengan mempertahankan diri di dalam goa ini, sehingga perhatianku tidak terpecah, dan hanya perlu mengawasi bagian sebelah depan, untuk memperhatikan apabila ada yang menerobos masuk, maka aku bisa menyambuti dengan hantaman telapak tangan dari jarak jauh atau juga menyambuti dengan lontaran senjata rahasia. Karena dari itulah, aku telah berdiam terus di dalam goa itu......!”

“Tetapi sekarang ini justeru Locianpwe telah menyalahi tekad Locianpwe, di mana Lo- cianpwe justeru telah keluar dari goamu itu buat mengobati luka kawanku itu!” kata Yo Him sambil tersenyum.

Bun Kie Lin tersenyum, namun senyuman pahit.

“Aku memang mengetahui, bahwa kedatanganmu sama seperti wanita setengah baya itu, yaitu membutuhkan pertolonganku buat mengobati luka kawanmu itu! Aku juga mengetahui belakangan engkau mempergunakan taktik membangkitkan perasaan penasaranku!

“Hemm, namun aku memiliki kelemahan, yaitu aku tidak boleh dibuat penasaran, sekali saja aku penasaran, apa saja aku bisa melakukannya. Karena itu, aku segera bertaruh dengan kau! Malah, karena terlalu penasaran, aku telah keluar dari goaku itu..... memang inilah kelemahanku..... aku mengakuinya, itulah sifat burukku.....!”

Yo Him tersenyum.

“Namun Locianpwe berhasil menyelamatkan sebuah jiwa, berarti Locianpwe telah melakukan suatu kebaikan. Jadi Boanpwe kira, tidak perlu Locianpwe terlalu bersusah hati!” kata Yo Him.

Namun Bun Kie Lin menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menghela napas ia telah menunjuk kepada ke dua kakinya: “Kaulihat ke dua kakiku ini?!”

Yo Him memandangi kaki Bun Kie Lin yang terlipat bersemedhi itu.

“Ya..... Boanpwe memang melihat kaki Locianpwe..... ada apakah dengan ke dua kaki Locianpwe?!” tanya Yo Him tidak mengerti, dan dalam hati kecilnya dia hanya menduganya, tentunya pada sepasang kaki dari Bun Kie Lin terdapat sesuatu yang agak luar biasa dan tidak wajar.

“Aku..... aku telah mengalami kelumpuhan, sepasang kakiku ini sudah tidak bisa dipergunakan untuk berjalan lagi!” menjelaskan Bun Kie Lin.

Seketika Yo Him tersadar. Pantas orang tua she Bun ini tidak pernah bangun berdiri hanya duduk bersila. Dan jika hendak melompat ke suatu tempat cukup dia menotol tanah dengan jari tangannya. Dengan mengandalkan tenaga totolannya itu, tubuhnya melesat ke tempat tujuannya, dalam sikap dan keadaan tetap bersemedhi.

Di saat itu, Yo Him telah dapat menenangkan hatinya, dia menjurah, katanya: “Maaf..... maaf, Boanpwe telah banyak menyusahkan Locianpwe.....!” Dan Yo Him meminta maaf dengan hati setulusnya.

Bun Kie Lin tidak menanggapi permintaan maafnya itu. Dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhirnya dia telah berkata dengan suara yang agak sengau:

“Sekarang ke empat orang pelayanku itn telah terbunuh, kini aku sudah tidak memiliki orang-orang yang bisa melayani aku lagi.....!” dan berulang kali Bun Kie Lin menghela napas.

Yo Him teringat kepada Ho Sin-se.

“Tadi Ho Sin-se bersedia untuk menjadi pelayan Locianpwe, tetapi mengapa locianpwe mengajukan syarat begitu berat?!” tanya Yo Him tidak mengerti.

Bun Kie Lin mengangkat kepalanya memandang kepada Yo Him, kemudian katanya: “Sebetulnya, untuk bisa mencari pelayan memang mudah. Aku bisa saja mengambilnya dari penduduk kampung yang berdekatan dengan tempatku ini, lalu membawa mereka ke mari.

“Selanjutnya mereka dapat menjadi pelayanku dan melayani seluruh kebutuhanku. Namun, untuk memperoleh pelayan yang setia dan baik, yang bekerja melayaniku dengan segala kesetiaan dan kesungguhan hati, inilah yang sulit!

“Seperti Ho Sin-se yang kau katakan tadi. Aku telah melihatnya, dia seorang yang licik. Dia bersedia menjadi pelayanku dengan mengandung maksud, ia ingin mempelajari ilmu pengobatanku! Tanpa adanya maksud tersebut, tentu dia tidak akan bersedia menjadi pelayanku!

“Dan kelicikan yang dimiliki Ho Sin-se bisa kulihat dibalik wajahnya itu, aku telah mengetahuinya. Jika perlu Ho Sin-se tentu akan mencari kesempatan buat membunuh atau mencelakai aku, asal dapat menguasai dan memiliki kepandaian ilmu pengobatanku.

“Hanya itu saja tujuannya. Maka aku sengaja mengajukan syarat yang tegas dan keras, untuk melihat watak yang sebenarnya dari Ho Sin-se itu. Dan apa yang diperlihatkan Ho Sin-se, telah kalian saksikan sendiri.....!”

Yo Him mengangguk-angguk. Ia baru mengerti, dibalik dari watak dan tabiatnya yang ku-koay, sesungguhnya memang Bun Kie Lin pun memiliki perangai yang cukup teliti dalam melakukan dan memilih sesuatu, sebelum mengambil keputusan. Dengan demikian, telah membuat Yo Him jadi mengaguminya juga, dan timbal sedikit perasaan menyesal, karena telah mempermainkan orang tua she Bun ini.

Walaupun benar, Bun Kie Lin telah mengobati Hok An dan berhasil menyembuhkan Hok An dari luka-lukanya itu, tokh tetap saja Yo Him merasa jadi bersyukur kalau saja Bun Kie Lin tokh telah berhasil dipancingnya untuk mengobati Hok An, sehingga kini hanya tinggal cara untuk meminta maaf saja kepada Bun Kie Lin, agar hati orang tua she Bun tersebut tidak penasaran lebih jauh.

Karena dari itu, untuk mengalihkan perasaan tidak senang orang tua she Bun tersebut, Yo Him telah bertanya lagi: “Lalu, siapakah sebenarnya wanita setengah baya itu, apakah Locianpwe kenal dengannya?!”

Bun Kie Lin tidak segera menyahuti, namun setelah tertegun beberapa saat, barulah dia bilang: “Jika ingin bicara mengenai diri wanita setengah baya itu, sesungguhnya dia merupakan iblis wanita yang berhati bercabang dan tidak boleh diajak bersahabat.....!”

“Mengapa begitu, Locianpwe?!” tanya Yo Him, semakin ingin mengetahui.

Sedangkan Sasana yang waktu itu telah menanyakan keadaan Hok An, dan Hok An memberitahukan bahwa ia sudah tidak menderita kesakitan lagi, dengan gembira telah menghampiri Yo Him dan berdiri di samping suaminya.

“Wanita setengah baya itu bernama Tang Lan Cie, seorang wanita berhati beracun sekali!” menjelaskan Bun Kie Lin. “Dia adalah wakil utama dari Kauw-cu Kim-coa-kauw, perkumpulan Ular Emas!”

“Kim-coa-kauw?!” tanya Yo Him.

Orang tua she Bun tersebut mengangguk.

“Ya, Kim-coa-kauw..... kau tampaknya heran?!” tanya Bun Kie Lin sambil mengawasi Yo Him, kemudian pada Sasana.

Yo Him mengangguk.

“Nama perkumpulan itu baru pertama kali Boanpwe dengar!” kata Yo Him.

“Hemmm, sesungguhnya perkumpulan itu jarang sekali diketahui orang..... Itulah merupakan sebuah perkumpulan yang seluruh anggotanya terdiri dari wanita. Dan juga, kauw-cunya.

“Hanya saja, apa yang kudengar belakangan, Kauw-cu yang lama telah meninggal dunia karena suatu kecelakaan di tangan para pendekar, yang tidak menginginkan orang-orang Kim-coa-kauw menimbulkan kerusuhan. Dan akhirnya Kauw-cu tersebut sebelum meninggal sempat berpesan, begitu ia menghembuskan napasnya, maka putera tunggalnya, yang baru berusia dua tahun, agar diangkat menjadi kauw-cu Kim-coa-kauw......

“Pesan terakhir dari Kauw-cu itu, yang tidak lama kemudian telah meninggal dunia, dipatuhi oleh seluruh anggota perkumpulan tersebut, dan diangkatnya Kauw-cu baru, yaitu putera dari Kauw-cu lama itu, yang baru berusia dua tahun. Dan karena usia anak itu masih terlalu kecil, maka kekuasaan di Kim-coa-kauw di tangani oleh Tang Lan Cie, dan itu pula sebabnya ia dipanggil dengan sebutan nenek oleh semua murid dan anggota dari Kim-coa-kauw, sebagai panggilan menghormat belaka, padahal semua wanita-wanita muda yang datang bersamanya itu bukanlah cucu-cucunya yang sebenarnya!”

Yo Him mengangguk-angguk mengerti, demikian juga Sasana, tanpa diinginkan telah mengangguk, sambil mengawasi Bun Kie Lin untuk mendengarkan cerita yang cukup menarik itu.

Di waktu itulah, Bun Kie Lin telah menoleh kepada Sasana, kemudian tanyanya: “Tampaknya isterimu ini bukan orang Han..... tepatkah dugaanku itu?!”

Yo Him mengangguk.

“Ya..... memang isteriku ini seorang Boan-ciu..... tetapi, dia sangat membenci sekali kepada orang-orang Boan-ciu, bangsanya, karena dilihatnya betapa orang-orang Mongolia telah melakukan penindasan yang kejam sekali di daratan Tiong-goan ini, maka Locianpwe tidak perlu sungkan-sungkan padanya.....!” menjelaskan Yo Him segera.

Memang sebelumnya, Bun Kie Lin memperlihatkan sikap tidak senang pada Sasana. Ia melihat Sasana mengingatkan padanya tentang Tiat To Hoat-ong, di mana ia pernah menghamba diri pada Tiat To Hoat-ong.

Tetapi setelah mendengar penjelasan Yo Him, Bun Kie Lin menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya: “Jika demikian, kau bisa dipercaya!”

Sasana mengangguk sambil tersenyum.

“Jangan kuatir Locianpwee, walaupun bagaimana Boaopwe tidak akan membocorkan apa yang diceritakan Locianpwee..... dan jika memang ada rahasia penting yang hendak dikatakan Locianpwee kepada suamiku ini, maka aku pun tidak keberatan tidak mendengarnya, aku akan menyingkir dulu.....!”

Setelah berkata begitu Sasana memperlihatkan sikap seperti hendak bangkit untuk pergi meninggalkan tempat itu, menyingkir dari hadapan Bun Kie Lin.

Namun Bun Kie Lin telah mengulap-ulapkan tangannya, katanya: “Tidak usah, kau tidak perlu menyingkir..... Duduklah, dengarlah ceritaku......!”

Waktu berkata begitu, sikap Bun Kie Lin sudah tidak seku-koay seperti sebelumnya, malah tampak ia bersikap cukup bersahabat. Menyaksikan perobahan itu, diam-diam Sasana jadi girang juga. Dia telah mengiyakan dan mengucapkan terima kasih, tetap duduk di samping Yo Him, mengawasi Bun Kie Lin yang bersiap-siap untuk meneruskan ceritanya.

Bun Kie Lin menghela napas dalam-dalam, kemudia melanjutkan ceritanya.

“Memang dalam usia dua tahun, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Kauw-cu baru itu, dan semua itu ditangani oleh Tang Lan Cie..... dan sejauh itu, Tang Lan Cie banyak sekali mengumbar muridnya itu berusaha melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang terpuji.....! Sekarang ini mungkin Kauw-cu dari perkumpulan Kim-coa-kauw tersebut telah berusia sepuluh tahun, mungkin lebih sedikit..... aku kurang begitu jelas!”

“Siapa nama Kauw-cu dari Kim-coa-kauw itu, Locianpwe?!” tanya Yo Him.

“Mengenai namanya maupun keadaannya, tidak begitu jelas, karena tidak banyak yang didengar olehku! Namun ada satu yang pernah kudengar belakangan ini, Tang Lan Cie telah menghimpun orang-orang yang berpihak padanya, dan bermaksud akan merebut kekuasaan dari tangan kauw-cu Kim-coa-kauw itu, karena memang Tang Lan Cie tidak bermaksud untuk mengalihkan kekuasaan itu ke tangan Kauw-cu yang sebenarnya, karena Tang Lan Cie selama ini hanya memperlakukannya sebagai boneka belaka.....!”

“Sungguh jahat Tang Lin Cie!” menggumam Sasana.

Bun Kie Lin menggeleng perlahan sambil tersenyum kecut, katanya: “Tidak bisa dibilang seperti itu. Jika kauw-cu yang sebenarnya itu kelak telah dewasa dan berkuasa, tentu iapun akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, di mana iapun akan tidak banyak bedanya dengan Tang Lan Cie......

“Karena dari itu, tidak bisa kita menangkan Kauw-cu itu ataupun Tang Lan Cie. Tokh kekuasaan Kim-coa-kauw berada di tangan siapa di antara ke dua orang itu akan sama saja, baik di tangan Tang Lan Cie maupun di tangan Kauw-cu kecil itu.....!”

Yo Him mengerti apa yang dimaksudkan oleh Bun Kie Lin, ia telah mengangguk beberapa kali. Cuma saja, yang membuat Yo Him jadi heran, dia tidak mengerti, siapakah sebenarnya orang-orang Kim-coa-kauw itu. Sebelumnya jarang sekali dia mendengar perihal orang-orang Kim-coa-kauw tersebut, sebuah perkumpulan yang jarang sekali dibicarakan orang di dalam rimba persilatan.

Waktu itu Bun Kie Lin telah menghela napas dalam-dalam, katanya: “Sahabat kalian besok akan sembuh benar, dia sudah dapat berdiri dan berjalan! Nanti, kurang lebih mendekati fajar, kalian berikan obat ini kepadanya lagi, buat menyembuhkan seluruh sisa penyakit dan lukanya, di samping menambah kekuatannya.”

Sambil berkata begitu Bun Kie Lin telah memberikan semacam obat pil yang berwarna merah kecoklat-coklatan, dan Yo Him menyambuti sambil mengucapkan terima kasih!”

Sedangkan Sasana juga telah berkata dengan gembira: “Jadi Locianpwe sudah tidak marah lagi kepada kami?!”

Bun Kie Lin tersenyum kecut.

“Sebetulnya aku masih mendongkol karena kalian telah mempermainkan aku! Tetapi setelah kupikir-pikir, memang tidak perlu aku merasa dirugikan, karena justeru yang mempermainkan diriku tidak lain dari puteranya Sin-tiauw-tay-hiap, orang yang sangat kukagumi.....!” Dan setelah berkata begitu, tampak Bun Kie Lin tersenyum lebar.

Yo Him waktu itu teringat sesuatu, lalu tanyanya kepada Bun Kie Lin: “Locianpwe, ada sedikit yang perlu kutanyakan lagi. Apakah Locianpwe kenal dengan orang bertubuh tinggi kurus yang tadi itu?!”

Bun Kie Lin mengangguk.

“Ya, aku memang kenal dengannya..... dia adalah muridnya Hek-pek-siang-sat.....”

“Ohh.....!” Yo Him terkejut, sampai mengeluarkan seruan tertahan.

“Waktu orang itu muncul, sesungguhnya aku menduga bahwa aku akan bercelaka di tangannya, karena ia terkenal sangat berangasan dan kejam.....! Tetapi siapa tahu, justeru kau telah dapat menghadapinya, bahkan rajawali putih kalian telah mempermainkannya.....!”

“Siapakah dia sebenarnya?!” tanya Yo Him menegasi.

“Mengenai riwayatnya aku tidak mengetahui jelas, tetapi memang seperti apa yang kuketahui dia telah lima atau enam tahun terakhir ini menjadi murid Hek-pek-siang-sat. Dan menurut cerita-cerita yang ada, dia she Bong dan sebelumnya dia sebagai penjahat yang menempuh jalan hitam. Namun suatu waktu dia telah bernasib beruntung, karena bertemu dengan Hek-pek-siang-sat.

“Sebetulnya orang she Bong itu bermaksud membegal Hek-pek-siang-sat, namun siapa tahu dengan mudah Hek-pek-siang-sat menghajarnya babak belur. Itulah sebabnya mengapa akhirnya Hek-pek-siang-sat mengambilnya menjadi murid mereka, dan mewarisi kepandaian yang liehay. Sejauh itu tidak diketahui dengan cara bagaimana orang she Bong tersebut membujuk Hek-pek-siang-sat sehingga ke dua orang tokoh yang memiliki kepandaian sangat tinggi itu, bersedia menjadi gurunya orang she Bong.

“Yang pasti, kini orang she Bong itu telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian aneh dan tinggi. Mungkin berada di atas kepandaianku. Hanya saja yang mengherankan sekali, mengapa orang she Bong tersebut bisa muncul di tempat ini?!”

Sambil berkata begitu, seperti juga bertanya kepada dirinya sendiri tampak, Bun Kie Lin telah termenung sejenak, dia berdiam diri.

Sedangkan Yo Him dan Sasana masih diliputi perasaan terkejut, karena mereka lama sekali tidak menyangka bahwa orang she Bong itu adalah murid dari Hek-pek-siang-sat. Yo Him maupun Sasana mengetahui siapa adanya Hek-pek-siang-sat tersebut, dan merekapun mengetahui keliehayan ke dua orang itu, si hitam dan si putih.

Terlebih lagi Sasana, karena memang Sasana mengetahui benar Hek-pek-siang-sat sebelumnya menjadi orang-orang kepercayaan dari Tiat To Hoat-ong, yang bekerja di bawah perintah dari pangeran Ghalik. Ke dua manusia yang memiliki perangai sangat aneh tersebut, yang diketahuinya sering angin-anginan, sebentar menempuh jalan lurus, sejenak kemudian menempuh jalan sesat, membuat Sasana pun sekarang tidak mengetahui, apakah jika Hek-pek-siang-sat bertemu dengannya, ke dua manusia luar biasa itu masih menghormatinya seperti dulu.

“Kalian pernah bertemu dengan Hek-pek-siang-sat?!” tanya Bun Kie Lin ketika melihat sepasang suami isteri muda itu berdiam diri saja termenung bagaikan terkejut mendengar perihal Hek-pek-siang-sat.

Yo Him menganggukkan kepalanya.

“Ya, kami memang pernah bertemu, kepandaiannya cukup menggetarkan, karena mereka merupakan dua orang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi! Hanya saja, mereka menempuh jalan yang tidak menentu, bisa menempuh jalan yang sesat, akan tetapi juga mereka bisa mengambil jalan yang lurus..... Itulah sebabnya, kamipun tidak mengetahui apakah mereka itu dari golongan putih atau hitam, kami tidak tahu pasti!”

Bun Kie Lin mengangguk.

“Ya, kuketahui memang begitu! Aku bisa mengetahui perihal mereka, karena seperti kalian telah kuberitahukan bahwa aku ini adalah orang bekas bawahan Tiat To Hoat-ong yang setiap kali bercampur gaul dengan mereka.”

“Tetapi..... mengapa dulu kita tidak pernah bertemu, Locianpwee?!” tanya Sasana, karena dia merasa heran, sampai terlepasan bicara.

“Tidak pernah bertemu?!” tanya Bun Kie Lin yang jadi heran bukan main. “Apakah..... apakah kau mempunyai hubungan dengan Tiat To Hoat-ong?!”

Sasana merasa ia telah terlanjur bertanya, hanya melirik sejenak kepada Yo Him, kemudian sahutnya: “Ya, karena memang Boanpwe adalah puteri pangeran Ghalik.....!”

“Ohhh?!” berseru Bun Kie Lin terkejut. “Memang telah kudengar soal kehebatan Kuncu (tuan puteri).....!”

Dan Bun Kie Lin bukan hanya kaget, rupanya sikap menghormatinya, masih melekat dalam sekali didirinya. Mengetahui bahwa Sasana adalah puteri pangeran Ghalik, berarti puteri dari atasannya, dia bermaksud akan memberi hormat walaupun masih duduk dengan sepasang kaki bersemedhi.

“Jangan banyak peradatan, Locianpwe. Sekarang aku bukan apa-apa lagi, akupun telah menjadi isteri Yo Koko..... sedangkan ayahku telah..... menghabisi jiwanya dengan cara kecewa sekali!”

“Kalau begitu..... begitu Kuncu tentunya murid dari Loo-boan-tong Ciu Pek Thong, bukan?!”

Sasana mengangguk membenarkan.

Setelah mengetahui bahwa Sasana adalah puteri pangeran Ghalik yang diketahui akan kehebatannya dan juga murid dari Ciu Pek Thong, dengan demikian sikap Bun Kie Lin jadi lebih terbuka. Juga terlihat ia sangat menghormati Sasana.

Ia telah berkata: “Memang kita tidak pernah bertemu, Kuncu..... waktu itu aku hanya seringkali mendengar akan hebatnya kepandaian Kuncu sebagai murid dari Ciu Locianpwe..... . juga akan kecantikanmu!

“Maka sejak tadi pertama kali kita bertemu, aku telah melihatnya, bahwa engkau pasti bukan seorang wanita Boan yang sembarangan, itulah sebabnya aku telah menanyakan kepada Yo Kongcu, siapa adanya Kuncu, yang menjadi isterinya!

“Kita memang tidak pernah saling bertemu, karena justeru aku ditempatkan pada pasukan istimewa Tiat To Hoat-ong, yang dipersiapkan untuk mengadakan pembersihan di istana terhadap orang-orang yang menentangnya! Memang dulu ayahmu dicurigai oleh Tiat To Hoat-ong, dan ayah Kuncu termasuk salah satu dalam daftar merah......!”

Sasana mengangguk mengerti.

“Kalau begitu, Locianpwe tentunya ditempatkan dalam pasukan yang khusus, tidak pernah berhubungan dengan ayahku maupun para pahlawan lainnya?!” tanya Sasana.

Bun Kie Lin mengangguk membenarkan dan iapun menceritakan, betapa waktu ia menjadi kaki tangan Tiat To Hoat-ong, setiap hari ia hanya dikhususkan untuk melatih diri agar kepandaiannya memperoleh kemajuan yang pesat. Di samping itu, semua urusan yang menyangkut dengan masalah para pahlawan pangeran Ghalik, tidak dicampurinya dan ia dipisahkan dalam bentuk barisan khusus Tiat To Hoat-ong.

Itulah sebabnya, walaupun Bun Kie Lin bekerja di bawah perintah Tiat To Hoat-ong, tokh ia tidak pernah bertemu muka dengan Sasana.

Yo Him menghela napas dalam-dalam setelah selesai mendengar cerita Bun Kie Lin. “Tidak mengherankan jika sekarang Locianpwe memililiki kepandaian yang tinggi.....!” pujinya.

Bun Kie Lin berobah muram, wajahnya guram sekali, ia menghela napas beberapa kali, katanya: “Memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi dengan sepasang kaki yang bercacad seperti ini, sungguh menjengkelkan sekali!”

“Locianpwe, harap Locianpwe jangan marah. Jika boleh Boanpwe mengetahui, apa sebabnya kaki Locianpwe bisa bercacad seperti itu?!”

Bun Kie Lin tidak segera menjelaskan. Ia mengawasi Yo Him sejenak, barulah ia berkata:

“Sebetulnya, urusan ini sungguh mendukakan sekali! Waktu itu, sebagaimana diketahui bahwa aku bekerja buat Tiat To Hoat-ong, yang ditempatkan pada pasukan khususnya.

“Aku bicara dari hal yang sebenarnya, bahwa aku tengah berusaha untuk mempelajari ilmu Soboc yang dimiliki Tiat To Hoat-ong. Namun, sayangnya, aku tidak memperoleh petunjuk yang terperinci darinya, sehingga aku salah dalam melatih lweekangku, yang akhirnya membuat sepasang kakiku menjadi lumpuh!

“Beruntung aku belum mempelajari begitu mendalam, sehingga aku segera bisa membuang seluruh jurus yang pernah kupelajari itu, dengan demikian, aku bisa, memelihara jiwaku ini yang hanya sepotong belaka. Kalau tidak, tentu aku telah terbinasa oleh latihan celaka tersebut!

“Tiat To Hoat-ong sendiri memiliki maksud tertentu dengan memberikan latihan ilmu Sobocnya itu, di mana ia bermaksud agar pasukan khususnya memang memiliki kepandaian yang bisa diandalkan. Tetapi sayangnya ia tidak mau membuka seluruh rahasia ilmunya tersebut, sehingga terjadi malapetaka ini.....

“Dan bukan hanya aku seorang diri yang bercacad seperti ini, masih ada beberapa orang rekanku yang lainnya, yang juga bercacad seperti aku. Malah ada yang lebih berat lagi, mereka tidak keburu mencegah dan menghentikan latihan tersebut.

“Mereka menyadari kesesatan mereka setelah terlanjur, sehingga bukan saja sepasang kaki mereka saja yang lumpuh, malah sepasang tangan mereka juga lumpuh. Malah, ada beberapa orang di antara mereka telah terbinasa karena latihan ilmu Soboc ini.....!”

Setelah bercerita sampai di situ, Bun Kie Lin menghela napas beberapa kali. Tampaknya pengalamannya yang pernah mempelajari ilmu Soboc dan sampai membuat dia bercacat benar-benar merupakan hal yang sangat mendukakannya.

Yo Him juga telah mengangguk-angguk beberapa kali.

“Sempat beberapa kali Boanpwe menyaksikan ilmu Soboc itu, memang merupakan ilmu yang cukup mengerikan akan kehebatannya, dan ilmu itu agak sesat.....!” kata Yo Him.

Karena dia teringat betapa Tiat To Hoat-ong pernah saling mengadu ilmu dengan Swat Tocu, di mana Swat Tocu mempergunakan ilmu Inti Esnya, sedangkan Tiat To Hoat-ong mempergunakan ilmu Sobocnya. Tetapi kesudahannya Swat Tocu memang masih menang satu tingkat dibandingkan dengan Tiat To Hoat-ong.

Sasana sendiri telah berkata: “Memang Tiat To Hoat-ong memiliki ilmu Soboc yang cukup mengejutkan. Ayahku sendiri dulu seringkali memuji-muji bahwa ilmu Soboc yang dimiliki Tiat To Hoat-ong merupakan ilmu yang hebat, dan ayah memang sempat semasa hidupnya berusaha mencarikan ilmu tandingannya, karena almarhum ayahku pernah jnga mengetahui akan maksud-maksud tidak baik dari Tiat To Hoat-ong.

Hanya saja, ayahku tidak menyangka bahwa Tiat To Hoat-ong ternyata memiliki maksud yang lebih jahat dari apa yang diduganya, di mana Tiat To Hoat-ong berusaha mempengaruhi Kaisar dan memfitnah ayahku. Dengan begitu, terakhir ayah menemui kematian dengan cara yang sangat menyedihkan dan penasaran sekali.....!”

Bun Kie Lin mengangguk-angguk.

“Mengenai nasib malang yang dialami pangeran Ghalik memang pernah juga kudengar.....!” kata Bun Kie Lin kemudian. “Sayangnya pangeran Ghalik tidak mau mengambil tindakan tegas, buat menumpas Tiat To Hoat-ong dan kemudian membersihkan diri dihadapan Kaisar. Dengan mempergunakan kesempatan itulah telah membuat Tiat To Hoat-ong semakin leluasa memfitnah ayahmu, kuncu.....!”

Yo Him cepat-cepat memotong, katanya: “Urusan yang telah lalu tidak perlu kita bicarakan terlalu berlarut-larut lagi, karena jika tokh kita membicarakannya sampai mendetail, tokh tidak ada gunanya lagi.....!”

Bun Kie Lin mengangguk membenarkan, dan dia telah bicara pada Sasana, katanya: “Dan sekarang Kuncu telah hidup bahagia dengan Yo Kongcu, apakah kalian telah memperoleh anak?!”

Sasana menggeleng.

“Belum.....!” sahutnya. “Sesungguhnya..... sesungguhnya, kami ingin merindukan sekali anak.....!”

Yo Him telah berkata dengan suara yang bergurau: “Sesungguhnya, kami seharusnya telah memiliki beberapa orang anak. Hanya saja sayangnya justeru bahwa Sasana belum bermaksud ingin punya anak. Ia kuatir dirinya cepat menjadi tua.....!”

Sambil berkata begitu, Yo Him telah melirik kepada isterinya sambil tersenyum. Tetapi Sasana, yang pipinya berobah memerah, telah mengulurkan tangan kanannya mencubit lengan Yo Him cukup keras, sambil katanya pura-pura marah: “Kau bergurau keterlaluan.....!”

Yo Him menjerit kesakitan, namun masih tetap tertawa-tawa. Dan diwaktu itu juga dia telah mengundurkan diri beberapa tapak menjauhi dari Sasana, karena kuatir isterinya itu mencubit lagi.

Tetapi Sasana tidak mengejarnya dan tidak mencubitnya, hanya mendelik saja pada Yo Him, pura-pura marah, padahal hatinya sangat bahagia sekali.

Sedangkan Bun Kie Lin tersenyum, katanya: “Aku mendoakan, semoga saja kalian cepat-cepat memperoleh anak! Dengan diperolehnya anak, sehingga Sin-tiauw-tay-hiap memiliki cucu, tentu anak kalian itu, tidak perduli lelaki atau perempuan, niscaya akan menjadi seorang yang tangguh sekali, yang luar biasa dan memiliki kepandaian sangat tinggi sekali..... karena kakek dan neneknya akan turun tangan sendiri mendidik cucunya!”

Yo Him mengangguk sambil tersenyum, dengan pipi agak memerah.

“Benar apa yang dikatakan Locianpwe, memang ayah dan ibu selalu menanyakan kapan kami bisa menghadiahkan mereka seorang atau dua orang cucu...... hanya saja sungguh kami tidak memperoleh keberuntungan untuk cepat-cepat meraih kebahagiaan memperoleh keturunan......!”

“Kau jangan berkata begitu, karena ini yang disebut belum waktunya! Jika memang telah tiba waktunya, tentu kalian akan memperoleh anak. Bahkan, jika kalian telah dikurniakan seorang anak, selanjutnya setiap tahun akan subur sekali, beruntun datang lagi seorang anak, lalu muncul pula yang lainnya! Telah berapa lama kalian menikah?!”

“Lebih dari lima tahun, Locianpwe.....!” menjawab Yo Him.

“Maukah aku menolong kalian agar kalian cepat-cepat memperoleh arak?!” tanya Bun Kie Lin.

Waktu itulah Sasana teringat sesuatu, cepat-cepat dia berlutut di hadapan Bun Kie Lin, katanya: “Bun Locianpwe, alangkah bahagianya kami jika saja Locianpwe bisa menolong kami untuk mempercepat waktu kami untuk menggendong anak..... kami tentu tidak akan melupakan budi kebaikan!”

Sikap Bun Kie Lin sekarang sudah berbeda dibandingkan beberapa waktu yang lalu. Jika sekarang dia telah mengetahui Yo Him adalah putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko. Sedangkan Sasana adalah puteri dari pangeran Ghalik yang sangat terkenal sebagai panglima besar semasa hidupnya, dan juga Sasana merupakan murid tunggal dari Ciu Pek Thong. Maka dia sekarang memperlakukan pasangan suami isteri tersebut tidak seketus tadi.

Ketika melihat Sasana berlutut di hadapannya meminta pertolongannya agar dia dapat membantu pasangan suami isteri ini cepat-cepat punya anak, dia tersenyum lebar.

“Bangunlah..... bangunlah!” kata Bun Kie Lin kemudian. “Bangunlah Kuncu..... aku tentu akan menolongmu......!”

“Tetapi Locianpwe......, tentunya Locianpwee akan memberikan kami obat agar.....” berkata sampai di situ, muka Sasana berobah merah.

“Ya, ya, aku akan memberikan semacam obat agar kandungan Kuncu menjadi subur, dan dengan demikian, mudah-mudahan dalam tahun ini engkau dapat hamil......”

Sambil berkata begitu, Bun Kie Lin telah merogoh sakunya, mengeluarkan sejenis obat yang berwarna-warni berjumlah puluhan butir. Diberikan obat-obat itu kepada Sasana dan juga ia telah memberitahukan, obat-obat yang mana harus dimakan terlebih dahulu.

Ternyata obat itu harus dimakan oleh Sasana selama satu bulan, karena memang obat tersebut berjumlah tigapuluh butir. Dengan demikian setiap harinya Sasana harus menelannya satu butir, dan menurut Bun Kie Lin jika Sasana mematuhi petunjuknya, niscaya ia akan lebih cepat hamil, karena obat-obat itu akan bekerja menyuburkan peranakannya.

Yo Him dan Sasana mengucapkan terima kasihnya yang tidak terhingga. Mereka juga yakin, tidak lama lagi Sasana tentu akan hamil, bukankah Bun Kie Lin ini memang seorang yang pandai sekali dalam hal ilmu pengobatan.

Sebelumnya Sasana memang seringkali mengeluh pada mertua perempuannya, yaitu Siauw Liong Lie. Sasana selalu mengeluh bahwa sampai saat itu ia masih belum juga bisa menghadiahkan mertuanya seorang cucu.

Siauw Liong Lie menghiburnya agar Sasana bersabar. Bahkan Siauw Liong Lie telah mempergunakan lweekangnya, buat membantunya, agar peranakan Sasana menjadi subur dengan cara telapak tangan Siauw Liong Lie diletakkan di pinggang Sasana, dan itu dilakukan beruntun selama dua minggu, di mana setiap hari Sasana mengerahkan lweekangnya.

Memang cara pengobatan dilakukan Siauw Liong Lie merupakan pengobatan yang umumnya memperoleh hasil cukup baik. Sebab dengan cara demikian berarti peranakan atau kandungan Sasana dihangati dan juga dipanasi oleh lweekangnya, di mana peranakan yang dingin dapat dipanaskan.

Tetapi kenyataan yang ada, setelah lewat setahun, masih juga belum terlihat tanda-tanda akan kehamilan pada diri Sasana. Maka akhirnya, baik mantu maupun mertua itu, menjadi berputus asa.

Mereka berpikir hendak mencari seorang tabib yang pandai untuk menolong Sasana dan Yo Him, agar mereka dapat segera memiliki anak. Menikah telah sekian tahun tanpa memperoleh anak memang merupakan hal yang tidak menggembirakan dan tidak membahagiakan!

Telapi siapa tahu, sekarang mereka bertemu Bun Kie Lin, seorang tabib yang benar benar ahli dalam hal pengobatan. Bukankah Hok An yang telah dalam keadaan begitu parah, masih dapat diobati sembuh dengan mudah sekali oleh Bun Kie Lin, hanya dalam waktu beberapa hari saja?

Dan sekarang, Bun Kie Lin bersedia menolong mereka, agar cepat-cepat memperoleh anak, bahkan Bun Kie Lin telah memberikan pil obat kepada mereka, yang akan dapat menyuburkan peranakan Sasana.

Bukan main gembiranya Sasana maupun Yo Him, sehingga mereka tidak berkesudahannya menyampaikan terima kasih mereka.

Kepada Yo Him telah diberikan oleh Bun Kie Lin beberapa macam pil juga, yang diperintahkannya agar Yo Him menelannya sekaligus.

“Untuk memperkuat bibitmu.....!” kata Bun Kie Lin sambil tersenyum lebar.

Sasana pura-pura tidak mendengar perkataan Bun Kie Lin, dia melengos ke arah lain dengan pipi yang berobah memerah dan muka yang dirasakannya sangat panas.

Sedangkan Yo Him hanya tersenyum lebar dengan hati merasa jengah dan likat.

Setelah bercakap-cakap sejenak lagi, Bun Kie Lin menyatakan ingin memeriksa keadaan Hok An. Dengan jari tangannya dia menotol tanah maka tubuhnya melesat ringan sekali ke samping Hok An, dia telah memeriksa keadaan Hok An, ternyata memang kesehatan Hok An banyak kemajuan.

Dalam keadaau seperti ini telah membuat Yo Him dan Sasana jadi gembira sekali. Terutama Giok Hoa, yang sekarang telah dapat tersenyum simpul menyaksikan kesembuhan dari paman Hok nya itu, dia tidak menangis lagi.

Bun Kie Lin menghela napas dalam-dalam, katanya: “Besok dia sudah boleh bangun dan bergerak perlahan-lahan, untuk menggerak-gerakkan otot-otot di sekujur tubuhnya pula..... tetapi tentu saja dia tidak boleh bergerak terlalu melelahkan, karena dia masih memerlukan satu-dua hari lagi beristirahat dan tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga..... tetapi sekarang keadaannya sudah tidak berbahaya.....!”

Hok An pun tidak sudahnya menyatakan terima kasihnya, karena ia pun mengetahuinya kalau saja tidak ada Bun Kie Lin, dia tentu telah binasa dengan lukanya yang parah itu.

Waktu Bun Kie Lin hendak berkata-kata lagi, di tengah udara terdengar suara pekik burung rajawali putih.

Bun Kie Lin mengangkat kepalanya, dilihatnya buruag rajawali putih itu tengah beterbangan memutari keadaan di sekitar tempat itu, sekali-kali memperdengarkan suara pekikan-pekikan yang perlahan. Rupanya burung rajawali putih itu, yang memiliki perasaan halus pun telah mengetahui majikannya mulai berangsur sembuh, karena itu, tidak hentinya dia memekik sambil berputaran di atas udara.

Bun Kie Lin menunjuk kepada burung rajawali putih itu, katanya: “Tadi aku sempat menyaksikan burung rajawali itu mempermainkan orang she Bong itu..... betapa gagah perkasanya burung rajawali tersebut..... tentunya dia terlatih dengan baik sekali.....!”

Giok Hoa mengiyakan, dia telah bilang: “Benar Locianpwe, memang Pek-jie telah memperoleh didikan dari paman Hok, sehingga dia bisa menghadapi orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang tinggi sekalipun, dengan cara yang baik! Di samping itu, Pek-jie juga sangat kebal terhadap serangan yang tanggung-tanggung, dia sangat cerdik!”

Segera juga Giok Hoa menceritakan riwayat dari burung rajawali putih itu, yang diceritakannya demikian menariknya, terutama sekali waktu Giok Hoa menjelaskan burung rajawali itu dapat bergerak-gerak dengan gerakan seperti seekor ular, membuat semua orang merasa kagum. Dan mereka takjub mendengar burung rajawali putih itu pernah dirawat dan dipelihara serta dibesarkan seekor ular yang sangat besar.

“Tentunya rajawali putih ini seekor burung rajawali yang mujijat sekali, yang pasti memiliki kelainan dibandingkan dengan burung-burung rajawali putih sebangsanya..... karena jarang sekali ada seekor ular yang bisa menetaskan telur burung rajawali dan kemudian memelihara anak rajawali itu menjadi besar.....!” memuji Yo Him.

Dan dia teringat kepada cerita-cerita ayahnya, mengenai Sin Tiauw, rajawali sakti, yang pernah menjadi kawan karib ayahnya di masa lalu.

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 11"

Post a Comment

close