Beruang Salju Bab 66 Saudagar Galak Kena Batu

Mode Malam
66 Saudagar Galak Kena Batu

Saudagar itu tidak memperdulikan ratapan si kasir, dia telah mengulurkan tangannya akan menjambak punggung si kasir.

Si kasir tambah ketakutan bukan main, sampai dia menjerit dengan suara yang nyaring. Di waktu itulah si saudagar, telah mengangkat tubuh kasir itu, maksudnya akan membantingnya.

Akan tetapi, waktu jiwa si kasir terancam tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Tahan.....!” Nyaring sekali suara tersebut,

Segera juga terlihat, dari salah satu meja di sudut ruangan itu melompat sesosok tubuh, ringan sekali, menghampiri saudagar yang seorang tersebut.

Si saudagar tersebut menahan gerakan tangannya, dia batal membanting.

Di kala itu, dengan mata beringas dia menoleh kepada orang yang mencegah dia membanting si kasir.

“Ampun..... ampunnnn.....!” Si kasir yang masih dicengkeram itu telah menjerit-jerit kalap, karena dia kuatir kalau-kalau dirinya dibanting ke lantai. Berarti jika dia tidak mati tentunya akan terluka parah, patah tangan atau kakinya atau boleh jadi tulang punggungnya. Dengan demikian, telah membuat dia menjerit sejadi-jadinya.

Saudagar itu rupanya sebal oleh jeritan-jeritan si kasir tersebut, dia melemparkan ke samping, tubuh kasir itu terbanting dan bergulingan di lantai.

Sedangkan orang yang tadi mencegah telah melompat ke hadapan si saudagar, tegurnya dengan suara mengandung perasaan tidak puas: “Kau keterlaluan..... Selain meminta kamar seenakmu saja seperti juga rumah penginapan ini milik kakek nenekmu saja. Juga telah menganiaya pelayan dan kasir tua itu! Jika memang dibiarkan begitu saja, tentu akan mengumbar kejahatanmu itu!”

Bola mata dari saudagar itu telah memancarkan sinar yang bengis mencilak beberapa kali, diapun memperdengarkan suara mendengus karena murka. Dilihatnya orang yang mencampuri urusannya adalah seorang lelaki berpakaian seorang petani bertubuh sedang saja, berusia antara tigapuluh tahun. Wajahnya tidak begitu tampan, akan tetapi juga tidak buruk. Hanya saja dari sorot matanya, jelas dialah seorang pemuda yang gagah.

“Lalu kau ingin memberikan petunjuk?!” tanya saudagar tersebut dengan suara yang bengis. Dan dia bukan hanya sekedar bertanya. Rupanya memang sudah menjadi sifatnya, dia selalu berlaku telengas dan ringan tangan karena begitu bertanya, ke dua tangannya telah diulurkan untuk mencekal ke dua pergelangan tangan dari si pemuda petani itu.

Pemuda berpakaian sebagai petani itu rupanya bukan petani biasa. Dia memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi, terlihat dari cara bergeraknya yang begitu ringan.

Ketika melihat tubuh saudagar itu doyong maju dan dengan ke dua tangan diulurkan padanya maka cepat sekali pemuda petani itu telah membungkukkan tubuhnya, tahu-tahu dengkul kakinya sebelah kanan telah naik, di mana dia menekuk lututnya dan menghantamkan lututnya itu pada perut lawannya.

Saudagar itu kaget.

Biasanya seorang yang diserang seperti itu olehnya, yaitu dengan ke dua tangan terulurkan dan juga akan mencengkeram lengan lawan maka sang lawan akan menghindarkan diri dengan segera, melompat ke belakang, ke samping kiri atau kanan, atau juga menangkisnya dengan kuat. Baru pertama kali ini saudagar itu memperoleh lawan yang demikian aneh yang menyambut serangannya dengan tubuh, yang agak dibungkukkan dan juga dengan lutut yang dipakai menyerang ke perutnya.

Saudagar itu mengetahui bahwa tenaga serangan lutut kaki lawannya tidak ringan, karena jika saja lutut petani itu berhasil menghantam perutnya, tentu seluruh isi perutnya akan hancur. Karenanya saudagar itu tidak meneruskan serangannya, dia menarik pulang ke dua tangannya dan melompat mundur. Dengan demikian dia berhasil menghindarkan perutnya dari benturan lutut kaki si petani tersebut.

Akan tetapi saudagar itu tidak bisa bernapas lega dalam waktu yang lama, karena baru saja dia berdiri dengan ke dua kakinya, waktu itu si petani telah melompat ke dekatnya dan telah menyerang dengan tangan kirinya. Telapak tangannya itu menyambar ke arah dada saudagar tersebut dengan kekuatan tenaga lweekang yang mengejutkan sekali, karena ingin serangan itu bagaikan menyambarnya angin topan belaka.

Saudagar tersebut mengeluarkan seruan tertahan, sedangkan kawan-kawannya telah mengeluarkan suara teriakan kaget dan berusaha untuk melompat maju. Tapi saudagar yang seorang itu telah berseru: “Biarkan aku sendiri yang menghajarnya!”

Semua kawan-kawan saudagar itu batal mengepung si petani. Mereka telah kembali mundur ke tempat masing-masing.

Sedangkan ssudagar yang seorang itu tidak berusaha mengelakkan hantaman telapak tangan si petani, karena dengan berani dia malah menangkis. Rupanya dia bermaksud keras lawan keras, dan benar saja, dua kekuatan tenaga telah saling bentur dengan hebat.

Namun si petani itu tidak berlaku sungkan, karena begitu tangannya ditangkis, dia telah menggerakkan tangannya yang satunya, menyerang jauh lebih hebat.

Saudagar itupun telah mengempos semangatnya, maka mereka berdua bertempur seru.

Si kasir yang telah merangkak bangun, cepat-cepat merangkak ke kolong mejanya, dan mendekam di situ dengan ketakutan.

Pelayan-pelayan lainnya tidak berani ikut mencampuri urusan itu, karena mereka kuatir kalau-kalau merekalah yang dijadikan sasaran dari kemarahan saudagar yang pemberang dan ganas tangannya itu. Mereka hanya berkumpul di sudut ruangan dengan ketakutan dan wajah yang pucat.

Petani muda itu merasakan bahwa kepandaian saudagar itu memang tinggi dan juga ilmu yang dipergunakannya bukanlah ilmu silat sembarangan. Akan tetapi petani muda itu pun tidak jeri atau gentar, dia malah telah menyalurkan tenaga lweekangnya pada ke dua tangannya. Tampak ke dua tangannya itu telah digerakkan berulang kali seperti juga kitiran, menyambar ke sana ke mari dengan gerakan yang cepat luar biasa disertai tenaga lweekang yang kuat.

Saudagar itu bukan seorang lawan yang lemah, dia memberikan perlawanan yang gigih. Diam-diam di dalam hatinya saudagar itu penasaran bukan main. Karena dilihat dari usianya, petani muda itu masih tidak begitu terlalu tua. Dengan usia semuda itu dia bisa memiliki kepandaian yang lumayan, di mana saudagar itu tidak bisa merubuhkannya, membuat saudagar itu penasaran sekali.

Berulang kali saudagar itu telah mengeluarkan suara bentakan nyaring dan sepasang tangannya menyambar-nyambar dengan kekuatan yang dahsyat, karena dia bermaksud mendesak lawannya. Akan tetapi, petani yang masih berusia muda itu terbawa oleh sifatnya yang panas, dia bukannya gentar menerima serangan-serangan yang berbahaya dari saudagar itu, malah dia memberikan perlawanan yang gigih.

Berulang kali tangan mereka telah saling bentrok dan menyebabkan mereka melompat mundur, namun selalu pula mereka menerjang maju untuk mengukur tenaga dan kepandaian lagi.

Keringat telah memenuhi muka saudagar dan petani itu, mereka masih juga saling serang dengan seru. Banyak meja dan kursi yang telah terjungkal kena ditendang dan dihantam tangan mereka, benda-benda itu banyak yang rusak. Namun ke dua orang yang tengah bertanding itu tidak memperdulikan keadaan seperti itu.

Kasir dan beberapa orang pelayan yang melihat kerusakan terjadi pada kursi dan meja jadi berseru-seru: “Jika ingin bertanding di luar saja..... janganlah menghancurkan usaha kami yang bermodal kecil ini..... harap bertempur di luar saja.....!”

Tetapi si petani dan saudagar itu mana memperhatikan teriakan-teriakan mereka. Ke duanya tetap bertempur dengan seru.

Suatu kali rupanya petani muda itu berlaku ayal dalam hal mengelakkan diri dari gempuran tangan kanan saudagar itu, karena tahu-tahu kepalan tangan saudagar itu telah hinggap di pundaknya, tubuh petani itu terhuyung beberapa langkah dengan muka yang berobah merah padam.

Saudagar itu tampak bangga, dia telah mengejek dengan sikap yang bengis: “Hemm, apakah kau ingin meneruskan pertempuran ini?”

“Mengapa tidak?!” berseru petani muda tersebut. Dia telah melompat dengan gesit, tubuhnya bagaikan terbang menerjang nekad kepada saudagar itu.

Ke dua tangannya yang bergerak dengan cepat sekali, sehingga saudagar itu yang tidak menduga lawannya akan menyerang seperti itu telah terhantam telak dadanya. Tubuhnya terjungkal bergulingan di lantai.

Kawan-kawan saudagar itu yang menyaksikan nasib kawannya, jadi mengeluarkan seruan marah, mereka juga menerjang maju untuk mengeroyok si petani.

Sedangkan petani itu tetap memberikan perlawanan atas serangan-serangan dari belasan orang saudagar itu. Dia tidak mengenal mundur, dan setiap serangan dihadapinya dengan kekerasan.

Namun yang rugi adalah petani muda itu, berulang kali tubuhnya itu telah dihantam oleh kepalan tangan para saudagar tersebut. Tubuh petani itupun akhirnya terjungkal di lantai, namun para saudagar itu tidak mau menyudahi begitu saja, mereka tetap menyerang dengan ganas.

Sedangkan saudagar yang seorang itu, yang tadi telah dirubuhkan oleh petani muda tersebut, telah bangkit kembali dan ikut menyerang, di mana dia menyerang dengan hebat sekali dan tanpa mengenal kasihan. Dengan kakinya dia menjejak muka petani itu, sehingga darah mengucur deras sekali dari muka si petani.

Sedangkan petani muda tersebut walaupun telah diserang bertubi-tubi masih melakukan perlawanan yang gigih. Malah di saat dirinya dikeroyok beramai-ramai seperti itu, membuat petani muda tersebut jadi nekad dan kalap. Di antara suara teriakan gusar dia menerjang kepada salah seorang saudagar yang menjadi lawannya, sehingga mereka berdua bergulingan.

Cepat sekali saudagar-saudagar lainnya menyerang lagi kepada petani muda itu. Dua orang di antara mereka telah berusaha menarik si petani dari rangkulannya pada diri kawan mereka. Dan waktu ke dua tangan petani itu dapat dicekal dengan kuat, maka di saat itulah saudagar-saudagar lainnya telah menghantami petani muda itu dengan pukulan-pukulan yang keras.

Petani muda itu telah jatuh pingsan tidak sadarkan diri, karena darah banyak sekali mengalir keluar, membuat dia rubuh di lantai ketika cekalan para saudagar itu dilepaskan.

Sedangkan saudagar-saudagar itu cepat membersihkan pakaian mereka, salah seorang memanggil pelayan dengan suara yang bengis.

Dua orang pelayan rumah penginapan karena ketakutan menghampiri dengan tubuh yang terbungkuk-bungkuk dan wajahnya pucat. Tubuh mereka tampak menggigil ketakutan, sebab kuatir kalau para saudagar itu melimpahkan kemarahan mereka kepada dirinya.

“Bawa dan lemparkan manusia tidak kenal mampus ini keluar!” perintah saudagar yang seorang itu. “Dan cepat siapkan kamar buat kami!”

Setelah berkata begitu, tangan saudagar yang seorang itu mendorong dengan gerakan yang perlahan. Akan tetapi kesudahannya memang luar biasa, sebab ke dua orang pelayan itu telah terjungkal rubuh bergulingan di lantai.

Sambil merangkak bangun dengan wajah yang pucat dan tubuh menggigil, ke dua pelayan itu cepat-cepat,menghampiri tubuh si petani muda, diangkatnya oleh mereka dan dibawa keluar.

Akan tetapi baru beberapa langkah ke dua pelayan itu menggotong tubuh pemuda tersebut, terdengar seseorang berseru: “Berhenti, jangan berlaku kurang ajar pada pemuda itu......!”

Ke dua pelayan itu terpaku di tempat mereka, ke duanya melirik dengan takut-takut.

Sedangkan para saudagar itu telah melirik kepada orang yang berseru itu, dan ternyata dari sebelah kanan ruangan itu, di balik sebuah meja yang hanya terpisah tidak begitu jauh dari rombongan saudagar tersebut, tampak seorang hwesio bertubuh sedang-sedang saja, usianya telah telah lanjutdan memelihara jenggot yang telah memutih. Sikapnya sabar sekali, dan matanya yang bening memancarkan sinar yang tajam sekali.

Wajah para saudagar itu berobah dan mereka memandang dengan sikap tidak senang.

“Apakah kau pun ingin mencampuri urusan ini, keledai gundul?!” bentak salah seorang saudagar itu tidak sabar dan mendongkol sekali.

Pendeta itu telah beranjak dari tempat berdirinya dan dia melangkah menghampiri para saudagar itu dengan tindakan kaki yang tenang dan wajahnya tetap sabar. Katanya dengan sikap yang tenang sekali: “Jangan kau cepat-cepat marah! Siancai, nanti sicu sekalian cepat tua.....!”

Saudagar-saudagar itu bukannya bertambah lunak oleh perkataan si pendeta, malah semakin gusar. Yang tadi telah mengejek pada pendeta itu malah berkata dengan gesit: “Jika memang kau kenal penyakit dan sayang akan jiwamu, cepat pergi menggelinding, Jangan coba mencampuri urusan kami..... atau memang kau ingin merasakan apa yang dialami oleh pemuda dungu itu?”

Hwesio itu merangkapkan sepasang tangannya sambil memuji akan kebesaran sang Budha. Baru kemudian katanya: “Siancai! Pinceng kira tidak ada seorang manusia di dunia ini bersedia dirinya dipukuli, dianiayai oleh orang lainnya.....! Dan begitu pula halnya dengan diri pinceng, tentu saja pinceng tidak mau jika memang seorang bermaksud menganiaya diri pinceng.....!”

“Jika demikian segera kau menggelinding pergi dari hadapan kami! Hemmm, memandang dari kedudukanmu sebagai seorang pendeta, maka kami mau berlaku sedikit lunak padamu! Tetapi jika memang kau lancang ingin mencampuri urusan kami, kepalamu yang gundul itu akan kami hajar sampai pecah dan keluar polo serta otaknya.....!” Setelah berkata begitu, saudagar yang seorang tersebut memperdengarkan suara tertawa mengejeknya berulang kali.

Hwesio tersebut tetap membawa sikap yang tenang dan sabar, dia hanya mengucapkan kebesaran sang Budha, baru kemudian dengan melirik kepada pemuda yang terluka parah akibat dianiaya oleh saudagar-saudagar tersebut, berkata dengan suara mengandung iba dan kasihan.

“Walaupun pemuda itu bersalah pada kalian, akan tetapi Sicu semua tidak boleh main hakim sendiri memukulnya sampai begitu rupa. Jika memang pemuda itu hilang jiwa, tidakkah hal itu akan dibuat sayang? Dia masih berusia muda! Sedangkan pinceng kira kesalahan yang dilakukannya juga tidak terlalu besar, dia hanya ingin membela pelayan itu agar tidak diperlakukan kasar oleh Sicu, bukankah begitu? Mengapa harus dipukuli beramai-ramai seperti itu?”

Setelah berkata begitu, dengan matanya yang amat tajam pendeta tersebut telah mengawasi saudagar itu seorang demi seorang bergantian, dan sambil tersenyum dia berkata lagi: “Nah, cobalah sekalian sicu, sekalian pikirkan, tidakkah apa yang pinceng katakan itu benar adanya?”

Mendongkol sekali para saudagar itu. Mereka memang orang yang selalu bertindak dengan kasar dan juga segera turun tangan keras jika saja tidak menyukai seseorang. Dan kini mereka ditegur seperti itu oleh si pendeta, dengan sendirinya mereka jadi tidak senang.

Akan tetapi sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja saudagar-saudagar itu menyadari apa artinya sinar mata yang tajam dari pendeta tersebut, yang tentunya merupakan seorang pendeta yang memiliki kepandaian dan lweekang yang tinggi sekali. Disebab dugaan itulah mereka tidak berani bertindak sembarangan dan ceroboh.

“Siapakah kau sebenarnya keledai gundul?” tanya salah seorang saudagar itu dengan suara dan sikap yang tetap kasar.

Pendeta itu tetap tenang dan sabar, walaupun orang menyebut dia berulang kali dengan sebutan “keledei gundul” namun dia sama sekali tidak marah, dan dengan tersenyum ramah dan sabar si pendeta menyahuti diiringi oleh ke dua tangannya yang dirangkapkan dan tubuhnya yang membungkuk memberi hormat,

“Sesungguhnya Pinceng bergelar In Lap Siansu......!”

“Hemm, In Lap Siansu.....!” berseru beberapa saudagar itu dengan suara yang bengis. “Rupanya kau seorang pendeta yang selalu banyak menimbulkan kerusuhan dan juga keonaran, mengganggu ketenangan pemerintah! Banyak laporan yang telah sampai pada pihak kerajaan bahwa kau merupakan seorang pendeta yang terlalu bertingkah dan mengandalkan kepandaianmu untuk menindas orang-orang pemerintahan......!”

In Lap Siansu mencilak matanya mengawasi para saudagar tersebut, hatinya heran juga mendengar perkataan saudagar itu.

“Mengapa Sicu menyebut-nyebut soal pemerintahan? Atau memang sicu sekalian adalah orang-orang kerajaan?” tanya si pendeta dengan suara yang tetap sabar.

Saudagar itu rupanya menyadari bahwa dia telah keterlepasan berkata, maka cepat-cepat dia membetulkan perkataannya itu: “Kami hanya para pedagang, akan tetapi sebagai pedagang kami memiliki hubungan yang luas dengan orang-orang kerajaan dan kami juga telah seringkali mendengar perihal sepak terjangmu!

“Karena dari itu, tidak heran jika sekarang kaupun usil mencampuri arusan ini! Atau memang kau beranggapan kepandaianmu telah sempurna dan tidak ada orang yang bisa menandingimu lagi di dalam dunia ini, dan kau bertingkah demikian rupa.....!”

In Lap Siansu seorang yang sabar dan ramah, walaupun saudagar-saudagar tersebut membawa sikap yang kurang ajar dan kasar, tokh dia tetap membawa sikap yang sabar luar biasa. Hanya dia telah menaruh kecurigaan, bahwa saudagar-saudagar ini bukanlah saudagar-saudagar yang sesungguhnya. Jelas mereka merupakan saudagar tiruan.

Pertama dilihat dari gerak-gerik mereka, di mana semuanya memiliki kepandaian dan ilmu silat yang lumayan. Juga dilihat dari cara saudagar-saudagar itu bicara yang menyebut-nyebut perihal kerajaan, membuat si pendeta mau menduga bahwa mereka tentunya orang orang kerajaan yang tengah menyamar diri.

Memiliki dugaan seperti itu, sikap In Lap Siansu jadi berobah, dia tidak berlaku selunak tadi. Dengan wajah yang tawar dia berkata:

“Baiklah, sebagai seorang yang patuh pada agama yang berdiri di dasar perikemanusiaan, maka Pinceng ingin meminta agar Sicu sekalian tidak bertindak kasar dan semau Sicu saja dalam meminta kamar! Tadi kebetulan Pinceng telah mendengar bahwa di rumah penginapan ini kamar sudah penuh semuanya, dengan begitu sicu sekalian tentu saja tidak bisa memaksa untuk meminta kamar dan mengusir tamu-tamu yang datang terlebih dulu dari Sicu! Nah, silahkan, Sicu sekalian pergi mencari kamar di rumah penginapan lainnya, mungkin masih terdapat kamar kosong.....!”

Setelah berkata begitu, In Lap Siausu merangkapkan tangannya memberi hormat, dia membawa sikap seperti juga mempersilahkan para saudagar itu berlalu meninggalkan rumah penginapan ini dan tidak menimbulkan keonaran lagi.

Tetapi para saudagar itu mana mau diperlakukan seperti itu? Mereka memang tengah mendongkol dan tidak senang, dia sekarang merasa seperti diusir seperti itu. Karenanya salah seorang di antara mereka yang rupanya tidak bisa menahan diri lagi, yang wajahnya bengis dan memelihara kumis yang tipis, telah maju sambil mencengkeram ke arah si pendeta.

In Lap Siansu memiliki kepandaian yang tinggi, dia sekali lihat saja mengetahui bahwa lawannya ini ingin mencengkeram dengan mempergunakan ilmu cengkeraman Eng-jiauw-kang, atau ilmu cengkeraman garuda. Dan sambil tersenyum sabar, In Lap Siansu mengelakkan diri ke samping, tubuhnya bergerak lincah, tangan lawannya jatuh di tempat kosong.

Akan tetapi saudagar itu, yang rupanya memang telah dapat menduga bahwa si pendeta akan mengelakkan diri dari serangannya, sebab dia melihat bahwa pendeta ini bukanlah pendeta sembarangan dan tentu memiliki kepandaian yang tinggi, karenanya, begitu tangannya mengenai tempat kosong segera tangannya menyambar lagi ke arah dada si pendeta.

“Ohhh, pukulan telengas sekali!” berseru si pendeta dengan suara yang tawar, dan tubuhnya telah bergerak cepat sekali, meloloskan diri dari serangan lawannya.

Akan tetapi si saudagar tersebut tidak berhenti sampai di situ saja. Cepat bukan main dia telah membarengi menyerangnya lagi. Hebat kali ini saudagar itu menyerang, sebab dia mempergunakan ke dua tangannya.

In Lap Siansu kali ini tidak berusaha berkelit, dengan gesit dan sebat sekali, tangannya telah bergerak ke depan, tahu-tahu telah menyampok tangan dari lawannya sekaligus dia telah menyampok ke dua tangan dari saudagar itu.

Sampokan yang dilakukannya oleh In Lap Siansu ternyata mengandung tenaga lweekang yang dahsyat, karena biarpun gerakannya sangat perlahan, tokh begitu tangannya membentur ke dua tangan si saudagar tersebut, seketika ke dua tangan dari saudagar itu telah kesampok ke samping. Dan membarengi dengan itu, sebelum saudagar tersebut sempat untuk memperbaiki kedudukan, tubuhnya dan ke dua kakinya In Lap Siansu telah menyerang lagi dengan totokan jari telunjuknya.

Gerakan yang dilakukan oleh In Lap Siansu sangat cepat sekali, dengan tepat dia menotok jatan darah Ma-tiang-hiat dari lawannya, maka tidak ampun lagi tubuh saudagar itu telah terjungkal rubuh bergulingan di lantai dengan mengeluarkan suara keluhan.

Kawannya saudagar itu, yaitu saudagar-saudagar lainnya, terkejut bukan main. Mereka mengeluarkan bentakan marah ketika menyaksikan kawan mereka dirubuhkan begitu mudah oleh si pendeta.

Akan tetapi disamping perasaan gusar, merekapun jadi terkejut, karena seketika mereka mengetahui bahwa pendeta itu memang memiliki kepandaian yang tidak rendah. Dalam dua jurus, dan dengan gerakan seenaknya saja, si pendeta berhasil merubuhkan kawan mereka.

Padahal para saudagar itu menyadari dan mengetahui jelas, kepandaian kawan mereka itu tidak rendah. Cepat sekali belasan orang saudagar itu telah melompat mengepung si pendeta.

In Lap Siansu tetap berdiri tenang di tempatnya, dia merangkapkan sepasang tangannya sambil bergumam perlahan: “Harap Sicu sekalian jangan menimbulkan keonaran.....!”

Belasan orang saudagar itu mana mau mendengar permintaan si pendeta. Salah seorang di antara mereka dengan bengis telah berkata: “Keledai gundul, kami ingin meminta petunjukmu!” Dan setelah berkata begitu, saudagar yang seorang tersebut malah melompat dan telah mulai menyerang dengan pukulan yang kuat sekali dan bisa mematikan.

Dalam keadaan seperti ini tidak ada pilihan lain buat In Lap Siansu. Cepat luar biasa dia telah melompat ke samping dan berkelit. Namun saudagar lainnya telah menyambutinya dan menyerang pula padanya.

Begitulah beruntun beberapa kali In Lap Siansu telah melompat ke sana ke mari dengan gerakan yang ringan sekali, dan selalu dia dapat menghindarkan diri dari serangan lawannya itu. Hal ini disebabkan memang kepandaian In Lap Siansu berada di atas kepandaian dari para saudagar itu.

Sambil berkelit ke sana ke mari In Lap Siansu juga memperhatikan cara menyerang dari saudagar-saudagar tersebut. Pendeta itu semakin yakin bahwa mereka bukanlah saudagar yang sesungguhnya, tentunya mereka hanya menyamar saja.

Itulah sebabnya. semakin lama In Lap Siansu telah menyerang makin cepat dengan ke dua tangannya, memaksa lawannya tidak bisa mendekatinya.

Para saudagar itu rupanya juga telah melihat bahwa pendeta ini bukanlah lawan yang ringan.

0 Response to "Beruang Salju Bab 66 Saudagar Galak Kena Batu"

Post a Comment