Beruang Salju Bab 57 Gambar Lukisan Kepala Serigala

Mode Malam
57 Gambar Lukisan Kepala Serigala

Yang mengherankan Yo Him, gerakan sepasang tangan Sam laote mirip dengan gerakan sepasang tangan seekor kera yang hendak menyerang lawannya, yaitu dengan ke sepuluh jari tangan yang terbuka lebar bagaikan ingin mencakar.

Yo Him tertegun sejenak, setelah itu waktu serangan lawannya yang istimewa ini hampir tiba pada sasarannya, Yo Him baru bergerak menghindarkan diri. Karena Sam laote ini bertangan kosong, dengan sendirinya Yo Him tidak mau mempergunakan pedangnya, senjatanya itu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya, waktu tubuhnya miring ke kanan mengelakkan sambaran tangan lawannya.

Namun kembali Yo Him terkejut, baru saja dia meloloskan diri dari sambaran ke dua tangan lawannya, tahu-tahu Sam laote itu telah mengeluarkan pekik yang sangat nyaring memekakkan anak telinga, tubuhnya telah melambung tinggi, dan ke dua tangannya ingin mencengkeram lagi.

Yo Him melihat cara menyerang dari Sam laote itu memang mirip dengan gerakan seekor kera dan Yo Him telah merasakan sambaran angin yang kuat sekali dari ke dua tangan lawannya itu. Angin serangan itu bukan angin serangan biasa saja, karena begitu menyentuh kulit tubuhnya mendatangkan rasa nyeri dan pedih.

Yo Him menghindar lagi. Serangan Sam laote itu jatuh di tempat kosong. Sebagai gantinya justru sebatang batang pohon di dekat tempat tadi, Yo Him berada telah kena dicengkeramnya, tampak asap mengepul dan batang pohon itu telah hangus. Ternyata telapak tangan dari Sam laote itu mengandung hawa yang panas seperti api, apa yang kena dicekalnya tentu akan terbakar!

Kembali Yo Him kaget. Sasana yang menyaksikan dari samping juga memandang tercengang.

Jika memang lweekang dari Sam laote itu telah sempurna, belum tentu dia bisa sekali cekal menghanguskan benda yang dipegangnya. Tetapi sekarang justru begitu batang pohon itu kena dicekalnya telah menyebabkan batang pohon itu hangus dan juga berasap! Betapa tinggikah kepandaian dan tenaga dalam dari Sam laote yang memiliki muka seperti monyet itu?!

Sedang Yo Him memandang tertegun kepada batang pohon itu, Thang Suko, orang yang bersenjata busur besi itu, telah tertawa nyaring sambil serunya: “Sam laote, kau habisi jiwa pemuda angkuh itu, biar dia mengetahui bahwa di dalam Lang-kauw masih terdapat banyak orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.....!”

“Ya, aku akan membunuhnya!” menyahuti Sam laote itu. Kemudian dengan diiringi oleh suara pekiknya yang nyaring, tubuhnya mencelat gesit sekali. Sepasang tangannya telah menyambar lagi menyerang Yo Him.

Kali ini Yo Him tidak main berkelit seperti tadi karena dilihatnya bahwa dia memang tidak bisa membiarkan Sam laote itu menyerang terus menerus. Ketika melihat lawannya telah menubruk ke arahnya lagi. Yo Him telah menggerakkan tangan kanannya, dia mendorong dengan telapak tangan yang terpentang. Dengan demikian Yo Him ingin menyambut serangan lawannya dengan kekerasan.

Sasana yang memyaksikan hal itu terkejut bukan main, hatinya tercekat.

“Hati-hati engko Him.....!” berseru si gadis dengan kekuatiran yang sangat.

Yo Him tidak sempat memperhatikan peringatan Sasana, karena waktu itu serangan Sam laote telah tiba. Dan telapak tangan kanan Yo Him menangkisnya dengan kuat. Diapun telah mempergunakan lweekang yang tinggi. Dan bentrokan yang terjadi itu luar biasa sekali.

Telapak tangan Sam laote itu mengandung hawa panas, demikian juga dengan Yo Him, telapak tangan pemuda itu dipenuhi oleh kekuatan Yang dari lweekangnya. Panas bertemu panas, maka seketika itu terlihat asap mengepul naik dari ke dua telapak tangan yang saling menempel itu.

Sam laote mengeluarkan seruan kaget bercampur kesakitan, karena dia merasakan betapa telapak tangannya seperti pecah kulitya akibat terlalu panasnya telapak tangan Yo Him.

Rupanya Yo Him telah mempergunakan dan mengempos enam bagian tenaga dalamnya. Dengan demikian telapak tangannya itu diselubungi oleh kekuatan tenaga dalamnya, yang panasnya melebihi panasnya api.

Ketika telapak tangan Sam laote itu bersentuhan dengan telapak tangan Yo Him, telah menyebabkan hawa panas di telapak tangan Sam laote itu kalah, karena telapak tangan Yo Him, jauh lebih panas. Itulah sebabnya Sam laote itu telah melompat mundur sambil mengeluarkan suara seruan kaget bercampur kesakitan.

Yo Him juga tidak tinggal diam, begitu melihat lawannya mundur, tubuhnya telah berkelebat seperti bayangan dengan telapak tangan masih diliputi oleh hawa lweekangnya yang enam bagian itu, dia telah menyerang lagi. Angin serangannya berkesiuran sangat kuat. Dan gerakan yang dilakukan oleh Yo Him itu tidak memungkinkan lawannya itu menghindar dengan jalan melompat mundur atau ke samping kiri kanannya.

Sam laote dengan mengeluarkan seruan tertahan karena dirinya terdesak seperti itu, terpaksa harus menyambut serangan Yo Him dengan kekerasan juga. Tangan kanannya disilangkan dengan tangan kiri di sebelah atas, dia telah menangkisnya. Kali ini dia tidak mempergunakan telapak tangannya sebab begitu dia menangkis, berarti dia akan menderita kesakitan oleh hawa panas telapak tangan Yo Him.

Akan tetapi cara menangkis yang dilakukan oleh Sam laote, itupun tidak menolong banyak padanya. Begitu telapak tangan Yo Him ditangkis oleh tangan kirinya, maka terdengar suara benturan yang keras. Dan tubuh Sam laote telah terhuyung mundur dua langkah.

Yang membuat hati Sam laote jadi terkesiap waktu itulah dia melihat Yo Him menyusuli dengan serangan berikutnya. Dan tenaga serangan yang kali ini dipergunakan Yo Him jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaga serangannya tadi.

Terpaksa Sam laote tidak memiliki jalan lain. Dia telah mengeluarkan suara bentakan nekad, dan mendorong dengan ke dua tangannya, dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga lweekangnya.

Kesudahannya justru membawa kerugian buat Sam laote sendiri. Dia mempergunakan seluruh kekuatan lweekangnya dengan tujuan untuk memaksa Yo Him mundur.

Namun siapa sangka, bukannya mundur justru Yo Him telah menggerakkan tangannya terus dengan menambah kekuatan tenaga dalamnya. Dengan demikian terlihat bahwa kekuatan tenaga lweekang yang dipergunakan Sam laote tidak berarti apa-apa, di mana tubuhnya sendiri yang terpental akibat kuatnya tenaga lweekang yang berasal dari telapak tangan Yo Him.

Bicara soal kekuatan tenaga lweekang, Yo Him masih menang beberapa tingkat dari lawannya.

Jika dari Sam laote dapat menyerang dengan kekuatan lweekangnya dan Yo Him mengelakkannya dengan tergesa itulah karena Yo Him belum mau turun tangan sungguh-sungguh. Karena diapun merasa tidak memiliki permusuhan apapun dengan Sam laote.

Sekarang di saat lawannya mempergunakan lweekangnya sekuat tenaga, membuat Yo Him memutuskannya tidak bisa membiarkannya. Diapun mengempos delapan bagian tenaga dalamnya. Begitu kekuatan mereka saling bentrok di tengah udara, tidak ampun lagi tubuh Sam laote yang terpental melayang di tengah udara, sehingga tubuhnya itu bagaikan sehelai daun yang terhembus angin. Kemudian terbanting di tanah dalam jarak beberapa tombak bergulingan di tanah......

Thang Suko yang menyaksikan keadaan kawannya kaget bukan main dan dia melompat ke dekat Yo Him, dengan mempergunakan busur besinya, dia menyerang. Cara menyerang yang dilakukan Thang suko itu, hanya sekedar menolongi kawannya, agar Yo Him tidak meneruskan serangannya mendesak Sam laote itu.

Thang suko juga menyadari serangan yang dilancarkan olehnya itu hanya merupakan ancaman baginya. Jika tidak dihindarkan oleh Yo Him, tentu akan disampok dengan angin pukulannya dan dia tidak akan kuat menghampiri kekuatan tenaga lweekang Yo Him. Tadi dia telah merasakannya, betapa tenaga lweekang Yo Him berada di atas lweekangnya.

Yo Him memang hanya mendongkol menghindarkan diri dari serangan busur besi lawannya. Kemudian dengan kaki kanannya menendang kuat sekali.

Cara menendang Yo Him berada di luar dugaan Thang Suko, karenanya dia tanpa bisa berkelit tertendang telak sekali, tubuhnya melambung ke tengah udara dengan mengeluarkan suara jeritan tertahan, dan ketika tubuhnya terbanting di tanah, dia tidak bisa segera bangkit berdiri lagi.

Yo Him hanya tersenyum sinis, katanya: “Sekarang aku bersedia memberikan kelonggaran pada kalian. Tetapi jika di lain saat kita bertemu dan kalian tetap memiliki tangan telengas hendak mendesakku, maka di waktu itu akupun tidak akan segan-segan lagi membunuh kalian!” Setelah berkata begitu, Yo Him memutar tubuh, dan dia mengajak Sasana untuk berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Thang Suko dan Sam Loate tidak menahan kepergian mereka, karena ke duanya menyadari bahwa mereka bukan tandingan Yo Him.

Begitulah Yo Him dan Sasana telah melanjutkan perjalanan mereka dengan menjalankan kuda mereka tidak terlalu cepat. Sepanjang jalan mereka bercerita mengenai kelakuan ke dua orang itu, yang merupakan anak buahnya Lang-kauw.

“Dilihat demikian, memang Lang-kauw memiliki banyak sekali anggota yang berkepandaian tinggi, dan yang kudengar jumlah mereka seribuan orang..... maka jika semuanya memiliki kepandaian seperti Thang Suko maupun Sam laote, jelas hal itu hanya akan membuat orang-orang rimba persilatan menghadapi ancaman tidak kecil, mereka dapat saja dengan mengandalkan jumlah banyak untuk melakukan keonaran.....!” Setelah berkata begitu. Yo Him menghela napas dalam.

Sasana telah memperlihatkan wajah yang muram, menunjukkan bahwa diapun tengah berpikir keras. Sampai suatu kali dia menepuk pahanya, katanya: “Engko Him..... apakah kau melihat sesuatu yang aneh kepada diri ke dua orang anggota Lang-kauw itu?!”

“Sesuatu yang aneh? Apa itu?!” tanya Yo Him heran.

“Itulah tanda Serigala yang berada di atas telapak tangan mereka! Serigala itu digambar dengan mempergunakan warna merah! Tadi waktu orang yang dipanggil dengan sebutan Sam laote itu mempergunakan telapak tangannya untuk menyerangmu, aku telah melihatnya di telapak tangannya terdapat gambar lukisan kepala serigala yang menakutkan sekali, lengkap dengan taringnya.....!”

Yo Him mengerutkan alisnya.

“Jadi..... apa anehnya? Bukankah itu gambar yang memperlihatkan bahwa mereka adalah anggota dari Lang-kauw.....?!”

“Kukira bukan begitu.....!” menyahuti Sasana.

“Lalu, apa yang telah kau duga tentang gambar serigala itu?!” tanya Yo Him.

“Kukira setiap anggota Lang-kauw yang memiliki kepandaian cukup tinggi, mereka akan memiliki gambar lukisan kepala serigala di telapak tangannya. Sedangkan anggota biasa tidak memiliki gambar lukisan kepala serigala tersebut! Nah, coba kau ingat-ingat, bukankah ketika, belasan anak buah Lang-kauw bertempur dengan kau beberapa waktu yang lalu, sama sekali tidak ada gambar lukisan kepala serigala di telapak tangan mereka?!”

Yo Him mengangguk, dia menjalankan kudanya terus dengan pikiran yang bekerja. Sampai akhirnya dia bertanya: “Jadi..... apakah kau ingin maksudkan, jika memang kelak kita bertemu dengan seorang anggota Lang-kauw dan melihat di telapak tangannya terdapat gambar lukisan kepala serigala, berarti orang itu memiliki kepandaian yang lumayan tingginya?!'

Sasana mengangguk.

“Benar!” dia bilang dengan segera. “Karena itu, jika memang kita berhadapan dengan orang-orang Lang-kauw yang telapak tangannya terdapat lukisan kepala serigala, kita harus lebih waspada!”

Yo Him tersenyum.

“Memang Lang-kauw merupakan perkumpulan yang baru saja lahir dalam rimba persilatan, akan tetapi perkumpulan itu dipimpin oleh seorang yang berambisi untuk merajai dan menjagoi rimba persilatan seperti Sun Cie Siang. Karenanya, jika memang orang-orang gagah rimba persilatan tidak segera mengambil tindakan, bahaya dan kerusuhan yang akan ditimbulkan oleh orang-orang Lang-kauw tidak kecil.....!

“Hem, menurutmu, adikku, apakah yang harus kita lakukan, setidaknya untuk membendung perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan mereka? Atau memang kita perlu segera kembali untuk memberitahukan kepada ayahku dan para orang gagah lainnya perihal Lang-kauw ini?!”

Sasana menghela napas. dia mengerutkan alisnya berpikir keras. Sampai akhirnya katanya: “Aku hanya akan menurutmu saja, engko Him. Menurutmu, tindakan apa sebaik-baiknya yang kita lakukan?!”

“Menurutku, lebih baik kita kembali saja untuk memberitahukan kepada ayahku dan orang-orang gagah lainnya.....!” menyahut Yo Him.

Sasana mengangguk mengiyakan, menunjukkan bahwa ia setuju saja dengan apa yang ingin dilakukan oleh Yo Him. Dan diputuskan oleh mereka, untuk segera menemui Yo Ko dan para orang gagah lainnya, guna memberitahukan perihal Lang-kauw dengan segala tindak tanduk perkumpulan itu.

Demikanlah, ke dua muda-mudi itu telah merubah arah tujuan mereka, dan ke duanya telah memutar kudanya, mengambil ke jurusan Selatan.

Urusan sakit hati Sasana memang cukup penting, di mana Yo Him bermaksud membantu Sasana sekuat tenaganya agar Sasana berhasil membalas dendam. Akan tetapi melihat perkembangan yang terjadi dalam rimba persilatan, dan juga tindak tanduk dari anak buah Lang-kauw, yang tampaknya merajalela, membuat Yo Him beranggapan urusan orang-orang Lang-kauw jauh lebih penting dibandingkan dengan persoalan Sasana. Apalagi Sun Cie Siang memang salah seorang murid Lam-hay-sie-nie yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya.

Y

Tiat To Hoat-ong tengah gusar bukan main, berulang kali dikepraknya meja di hadapannya. Sedangkan di sisi kiri dan kanan tampak berdiri Lengky Lumi dan Gochin Talu. Ke dua orang tersebut menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tampaknya mereka bergelisah.

“Walaupun bagaimana, kita harus berhasil dengan urusan ini!” berseru Tiat To Hoat-ong dengan mata berapi-api memandang bergantian pada Gochin Talu dam Lengky Lumi. “Kalian tentu mengerti..... walaupun bagaimana memang kita harus berhasil, dengan keturunan dari Ghalik harus kita tumpas, agar kelak tidak menimbulkan kesulitan baru.....!”

Lengky Lumi mengangguk.

“Koksu perintahkan saja, kami akan segera melaksanakan perintah Koksu sebaik mungkin,” menyahuti Lengky Lumi dengan kepala masih tertunduk, karena dia tidak berani menentang mata Tiat To Hoat-ong yang memancarkan sinar berapi-api akibat kemarahannya itu.

“Hemmm!” mendengus Tiat To Hoat-ong dengan suara masih mengandung kemendongkolannya. “Baiklah, sekarang kita harus bertindak seperti rencana kita yang semula!

“Kalian berdua tentu telah mengetahui, beberapa orang panglima perang yang mengetahui pangeran Ghalik telah menjadi buronan pemerintah, sekarang tengah kasak kusuk untuk berserikat mengadakan pemberontakan! Hal inilah yang perlu kita selidiki sampai keakar-akarnya untuk menumpas mereka! Jika sampai meletus pemberontakan, tentu Khan akan menduga kita yang menerbitkan semua itu, yang merupakan ekor dari peristiwa pangeran Ghalik, dan kita akan disesalkan.....!”

Lengky Lumi dan Gochin Talu telah mengiyakan. Dan malah kemudian Gochin Talu berkata: “Koksu tentu telah mengetahui siapa-siapa yang bermaksud memberontak dan merupakan pengikut-pengikut setia pangeran Ghalik?”

“Cukup banyak nama-nama yang telah kuketahui..... namun kita belum dapat bertindak sebelum memiliki alasan yang kuat! Jika saja kita bergerak terlalu ceroboh, niscaya pemberontakan akan menjalar dengan hebat! Jika dapat kita harus mempengaruhi mereka, agar maksud-maksud memberontak itu batal dengan sendirinya. Dalam hal mempengaruhi mereka, kita juga boleh mengambil dua cara, yaitu dengan cara lunak ataupun dengan cara kekerasan!”

Setelah berkata begitu Tiat To Hoat-ong memandang bergantian kepada Lengky Lumi dan Gochin Talu. Kemudian baru melanjutkan perkataannya: “Tentu kalian berdua mengerti apa tugas kalian masing-masing.....!”

Lengky Lumi dan Gochin Talu mengiyakan cepat sekali. Merekapun memberi hormat kepada Tiat To Hoat-ong.

“Nah, sekarang kalian boleh mengundurkan diri!” kata Tiat To Hoat-ong.

“Koksu, ada sesuatu yang ingin kulaporkan.....!” kata Gochin Talu cepat.

“Katakanlah..... apakah kau memperoleh sesuatu yang penting dalam penyelidikanmu?” tanya Tiat To Hoat-ong.

Gochin Talu mengangguk.

“Ya.....!” katanya. “Menurut hasil penyelidikan terakhir memperlihatkan tanda-tanda bahwa Kay-pang tampaknya bermaksud mengganggu keagungan dan kewibawaan dari Khan kita yang agung.....!”

“Hemm, apakah kau telah mengetahui pasti, tokoh-tokoh Kay-pang mana saja yang terlibat dalam urusan itu?!” tanya Tiat To Hoat-ong.

“Ada dua orang tokoh Kay-pang yang menemuiku beberapa hari yang lalu dan telah menceritakan dan membongkar rencana dari Pangcu mereka, yang bermaksud ingin memberontak dan mengganggu keamanan di ibu kota. Kay-pang merupakan perkumpulan pengemis yang memiliki anggota tidak sedikit, dan karena itu, jika memang mereka memberontak, inilah yang lebih sulit dihadapi, dibandingkan dengan maksud beberapa panglima perang yang bermaksud untuk memberontak, karena kay- pang jika bergerak serentak, mereka dapat bergerak sekali gus dari lima propinsi!”

Tiat To Hoat-ong mengerutkan alisnya, tampaknya tercekat juga.

“Urusan yang menyangkut dengan maksud Kay-pang yang memberontak itu, hal ini harus segera dilaporkan kepada Khan, karena Kay-pang memang merupakan sebuah perkumpulan yang sangat besar dan kuat, disamping itu memiliki banyak sekali tokoh-tokoh pandai! Jika terjadi Kay-pang memberontak, niscaya kita dari pihak kerajaan akan menghadapi persoalan yang tidak ringan.....!”

“Menurut laporan terakhir yang sampai menyatakan bahwa Kay-pang akan mengadakan pertemuan besar di Hou-ciu!” melapor Gochin Talu lebih jauh.

Tiat To Hoat-ong mengerutkan alisnya beberapa saat tanpa berkata-kata sampai akhirnya menghela napas.

“Dilihat demikian, memang tampaknya untuk menundukkan orang-orang Han bukan pekerjaan yang mudah!” menggumam Koksu tersebut. “Walaupun kita telah berhasil menundukkan kerajaan Song ini dan telah berhasil untuk berkuasa di daratan Tiong-goan, akan tetapi pemberontakan demi pemberontakan selalu muncul di mana-mana.....! Hemmm, dilihat demikian, kita harus mempergunakan tangan besi juga!”

Waktu berkata seperti itu muka Tiat To Hoat-ong merah padam, rupanya dia gusar sekali.

Gochin Talu telah mengangguk mengiyakan.

“Kaisar tentu akan mendengarkan baik-baik petunjuk Koksu!” kata Gochin Talu. “Karena Khan tentu akan berusaha membuat negeri menjadi aman dan seluruh kewibawaan dan keagungannya Kaisar yang berkuasa penuh di daratan Tiong-goan. Khan akan berusaha untuk menindas golongan-golongan yang ingin menggoyahkan kedudukannya itu..... Karena dari itu, jika saja Koksu memberikan berbagai pendapat kepada Khan, niscaya akan memperoleh tanggapan yang sangat baik sekali dari Khan.....!”

Tiat To Hoat-ong menggeleng perlahan.

“Sulit.....!' menggumam Koksu negara tersebut.

“Mengapa sulit?” tanya Lengky Lumi menyelak.

“Akibat adanya urusan dengan pangeran Ghalik, akupun tengah disorot oleh Khan..... Walaupun Khan memang mempercayai penuh padaku, akan tetapi Khan pun ragu-ragu akan maksud buruk pangeran Ghalik, karena Khan mengetahui benar bagaimana sifat dan tabiat dari pangeran Ghalik. Karena dari itu, Khan kurang dapat mempercayai bahwa pangeran Ghalik ingin mengadakan pemberontakan untuk merubuhkannya dari takhta kerajaan......

“Karena dari itu, selama persoalan pangeran Ghalik belum dapat kita selesaikan, sehingga Ghalik hancur luluh berikut pengikut-pengikut setianya, setiap laporanku yang ditujukan untuk persoalan lainnya masih diragukan oleh Khan......!”

Setelah berkata begitu, Tiat To Hoat-ong menghela napas berulang kali, tampak wajahnya berubah muram, rupanya ada sesuatu yang menyusahkan hatinya. Koksu ini sesungguhnya seorang yang terpenting dalam pemerintah kerajaan yang paling berkuasa di daratan Tiong-goan untuk masa itu, karena dia merupakan Koksu negara yang memiliki kekuasaan tidak kecil dan hanya satu tingkat di bawah kekuasaan Kaisar.

Dengan begitu, jika Koksu ini bisa dipusingi oleh persoalan pangeran Ghalik, inilah persoalan yang tidak ringan. Koksu ini telah dapat melihatnya bahwa menghancurkan pangeran Ghalik bukan urusan yang mudah, karena pangeran ini memiliki banyak sekali pengikut-pengikut setia.

Jika saja waktu itu Tiat To Hoat-ong mengetahui bahwa pangeran Ghalik telah menghabisi jiwanya sendiri, tentu Koksu ini tidak akan sepusing seperti itu. Namun berita kematian pangeran Ghalik tidak pernah didengarnya, para orang gagah merahasiakan kematian pangeran Ghalik.

Kebijaksanaan seperti itu diambil oleh para orang gagah. Mereka tidak menghendaki adanya pergolakan di dalam negeri. Jika saja para panglima perang muda dan jenderalnya yang menjadi pengikut setia pangeran Ghalik mendengar perihal bunuh dirinya pangeran yang seorang itu, niscaya akan membuat mereka marah dan akhirnya memberontak.

Jika terjadi pemberontakan, Kaisar tentu akan mengirim pasukannya untuk menindas dan terjadi peperangan. Kalau sudah berkobar peperangan, yang celaka dan menjadi korban adalah rakyat juga. Karena dari itu, perihal kematian pangeran Ghalik dirahasiakan benar.

Gochin Talu dan Lengky Lumi juga melihat wajah Koksu yang murung, mereka tidak berani bicara terlalu banyak. Didiaminya Tiat To Hoat-ong termenung, tenggelam dalam kemasgulan hatinya.

Sampai akhirnya Tiat To Hoat-ong mengangkat kepalanya menatap kepada Gochin Talu dan Lengky Lumi bergantian tanyanya: “Apakah kalian telah memperoleh berita yang pasti kapan akan diselenggarakannya pertemuan besar di kalangan Kay-pang?!”

Gochin Talu mengangguk.

“Ya, bertepatan dengan malaman Cap-go bulan depan!!” menjelaskan Gochin Talu.

“Jika demikian, kita harus pergi ke sana, guna mengacau dan menggagalkan pertemuan tersebut! Jika saja Kay-pang bisa menghimpun kekuatan, dan tokoh-tokoh Kay-pang seluruh wilayah hadir di situ, niscaya kerajaan akan menghadapi gangguan-gangguan yang tidak kecil!” berkata Tiat To Hoat-ong. “Akan tetapi, jika persoalan ini ku laporkan kepada Khan, tentu akan menambah kesan kurang baik dari Khan kepadaku, di mana seperti juga aku selalu melaporkan hal-hal yang belum dapat teratasi olehku.....!”

Gochin Talu telah memberi hormat, sambil katanya: “Koksu, percaya kepadaku dan saudara Lengky, kami berdua akan bertindak sebaik mungkin, di mana kami akan memimpin beberapa orang sahabat untuk menimbulkan keonaran dalam pertemuan para pengemis itu di Hou-ciu. Jika memang kami berhasil menggagalkan pertemuan mereka itu, jelas akan terjadi urusan yang menggembirakan!

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Beruang Salju Bab 57 Gambar Lukisan Kepala Serigala"

Post a Comment

close