Beruang Salju Bab 26 Jual Beli Kuncu Mongolia

Mode Malam

26 Jual Beli Kuncu Mongolia

Yo Him tertawa tawar, katanya: “Memang nona memiliki kepandaian yang mengagumkan sekali! Tapi maafkanlah, aku orang she Yo terpaksa harus mengiringi kemauan nona......!”

Setelah berkata begitu, Yo Him kembali bersiap-siap, dia menantikan serangan lagi.

Sasana tidak segera menyerang. Tadi dia telah menyerang dengan mempergunakan jurus yang sesungguhnya merupakan jurus yang berbahaya sekali. Jarang orang bisa menghindarkan serangan seperti itu, jika memang kepandaiannya tanggung.

Tapi Yo Him, dengan mudah bisa menyelamatkan dirinya. Ini memperlihatkan bahwa Yo Him pun bukan lawan yang ringan.

“Yo kongcu, ayahku bermaksud baik, dan engkau diperlakukan baik pula!” kata Sasana. “Apakah engkau tidak mau melihat sebelah mata terhadap semua itu......?”

“Sayang sekali kami memiliki pandangan yang berlainan, terlebih lagi yang harus di ingat, ayah nona seorang pangeran yang memiliki kedudukan mulia dan agung..... sedangkan aku ini? Hmm, tentu aku tidak pantas menerima kebaikan-kebaikannya itu”!”

“Tetapi bicara soal bangsa, banyak juga jago-jago dari daratan Tiong-goan yang bersedia bekerja pada ayahku!” menyahuti si gadis. “Janganlah Yo kongcu berpandangan bahwa ayah seorang pangeran Mongolia, maka terputus hubungan antara kalian! Tidakkah jika memang Yo kongcu menerima uluran tangannya, maka di antara kita ini akan terikat pula hubungan tali persahabatan yang menggembirakan.”

Yo Him menghela napas.

“Satu tawaran yang menarik......!” katanya.

“Apakah Yo Kongcu bersedia untuk mengambil sikap baik-baik dalam memutuskan persoalan ini?' tanya Sasana lagi sambil menatap tajam sekali.

“Nona......” menyahuti Yo Him. “Nona adalah puteri dari pangeran Ghalik, jelas engkau akan berdiri di pihak ayahmu. Kepandaianmu juga tidak rendah! Engkau seorang wanita yang luar biasa, memiliki segala-galanya! Wajahmu cantik, kepandaianmu tinggi benar-benar mengagumkan sekali, jarang ada seorang wanita yang sehebat engkau!

“Tapi sekarang aku ingin bertanya padamu, jika saja aku menawarkan padamu nona bahwa engkau akan diberikan kedudukan yang tinggi dalam suatu pemerintahan di daratan Tiong-goan, oleh bangsa Han kami, apakah kau akan menerimanya dengan meninggalkan ayah dan juga bangsamu?”

Disanggapi seperti itu, muka Sasana telah berobah jadi merah, dia telah berkata dengan tawar. “Jika memang kedudukan yang ditawarkan itu memang menggembirakan dan menguntungkan, mengapa harus ditolak? Tetapi sayang, sayang sekali..... justru untuk kedudukan mulia telah kumiliki, ingat, aku adalah puteri dari seorang pangeran. Pangeran Ghalik yang merupakan tangan kanan dari Kaisar kami, dan memiliki kekuasaan yang besar tidak terbatas! Jadi kau salah alamat jika bertanya seperti itu padaku......!” dan setelah berkata begitu, si gadis tertawa dengan sikapnya yang angkuh sekali, keagung-agungan.

Yo Him tertawa tawar, katanya: “Tetapi pertanyaanku tadi adalah jawaban yang hendak kuberikan! Jika nona menjawab dengan jujur hati atas pertanyaan itu, maka demikian pula jawabanku!”

“Jadi benar-benar Yo Kongcu memang tidak bersedia bekerja sama dengan ayahku?” tanya Sasana.

“Kita bicara ke sana ke mari mutar-mutar, tetapi akhirnya tujuannya satu, yaitu nona berusaha untuk mendesak agar aku menerima tawaran ayah nona bukan?”

Sasana tidak menyahuti, dia mengawasi Yo Him beberapa saat lamanya, sampai akhirnya mukanya berohah guram, dia menunduk sejenak.

Wang Put Liong yang berada dalam gendongan Yo Him telah berbisik: “Yo Siauwhiap, biarlah kau kembalikan aku ke dalam ruang kamar tahanan itu, tapi kau ambillah dulu peta harta karun di dadaku. Setelah itu kau berusaha untuk meloloskan diri dari tempat ini......!”

Yo Him tidak menyahuti, dia hanya menggelengkan kepalanya. Dan matanya mengawasi Sasana dengan tajam.

Waktu itu Sasana telah mengangkat kepalanya, dia menghela napas,

“Sesungguhnya Yo kongcu,” kata Sasana kemudian. “Kau masih belum mengerti duduknya hal......!”

“Jika memang boleh kutahui, persoalan apakah itu nona?” tanya Yo Him dengan sikap yang tenang.

Sasana menghela napas, wajahnja tetap muram, seperti juga ada sesuatu yang mengganjel hatinya.

“Kau tentu menduga, bahwa ayahku bekerja dengan setia menyerahkan jiwa dan raganya untuk Kaisar, bukankah begitu?”

Yo Him mengangguk.

“Memang seorang pangeran yang telah menerima kekuasaan dan kepercayaan dari Kaisarnya tentu akan melakukan tugasnya sebaik mungkin......!”

“Memang benar, tapi ayahku tengah menghadapi kesulitan yang tidak kecil.....!”

“Apakah nona ingin mengatakan bahwa ayah nona akan berhadapan dengan kami, para kesatria daratan Tiong-goan?” tanya Yo Him dengan sikap mengejek.

“Bukan!” menggeleng si gadis.

“Lalu?” tanya Yo Him.

“Justru ayahku tengah mengalami gangguan dalam dari orang-orangnya sendiri!” kata Sasana.

Yo Him mengerutkan alisnya, kemudian tertawa tawar.

“Kukira itu tidak ada perlunya diceritakan nona!” katanya kemudian.

“Tetapi, tahukah Yo kongcu, bahwa sekarang ayahku dalam keadaan terancam? Bukan kami ayah dan anak memberatkan kedudukan kami, tetapi justru keselamatan kami......! Di mana orang kepercayaan ayah, yang sangat diandalkan, ternyata merupakan musuh dalam selimut......”

Yo Him diam saja.

“Kongcu tentu kenal dengan Koksu kami, yaitu Tiat To Hoat-ong bukan?” tanya Sasana.

Yo Him mengangguk.

“Dialah Koksu negara kalian yang tangguh berkepandaian tinggi sekali. Ayahpun telah beberapa kali beradu tangan dengannya......?!” menyahuti Yo Him.

Sasana menghela napas lagi, diapun telah memperlihatkan wajah yang murung.

“Justru Tiat To Hoat-ong sekarang ini tengah berusaha menghimpun suatu kekuatan, untuk menggeser pengaruh ayahku!” kata Sasana.

Yo Him memandang tertegun pada si gadis tetapi kemudian katanya tawar: “Itulah urusan di antara kalian. Tentu tidak dapat aku memberikan komentar......!”

“Benar!” mengangguk si gadis. “Ayahkupun tidak mengetahui maksud buruk dari Tiat To Hoat-ong. Baru aku seorang yang telah berhasil mengetahui dengan jelas maksud Koksu kami itu yang ingin menggeser dan meruntuhkan ayahku, menindih pengaruhnya, mempengaruhi Kaisar kami agar ayah terpojokkan......

“Sejauh itu...... Koksu kami itu telah berhasil menghimpun banyak sekali jago-jago silat di daratan Tiong-goan, diapun telah mendatangkan beberapa orang jago liehay dari negeri kami yaitu Mongolia......! Aku yang mengetahui kedudukan ayahku terancam, sebagai puterinya, apakah tidak layak jika memang akupun berusaha untuk menghimpun suatu kekuatan, yang akan membantu dan melindungi ayahku?”

Yo Him tertawa tawar.

“Memang di kalangan atas, sering terjadi permainan saling caplok seperti itu, saling makan satu dengan yang lainnya!” menyahuti Yo Him. “Aku sebagai rakyat jelata, tentunya tidak mengetahui dan tidak mengerti dengan persoalan seperti itu!”

Sasana telah menghela napas waktu wajahnya memperlihatkan kesungguhan, waktu dia berkata lagi: “Tetapi Yo Kongcu adalah maksud dan tujuanku agar kau bersedia mau membantu ayah, dengan adanya kau yang kuketahui memiliki kepandaian tinggi serta sempurna, tentu keselamatan ayahku bisa terjamin! Dalam hal ini yang memberatkan hatiku, bukanlah kedudukan ayah! Walaupun ayah dicopot gelar kebangsawanannya dan menjadi rakyat jelata biasa, aku rela......! Namun justru dari golongan Tiat To Hoat-ong terkandung maksud buruk yang ingin membasmi kami sekeluarga......!”

Yo Him jadi memandang tertegun pada si gadis. Dia tidak mengerti, mengapa puteri dari pangeran Ghalik, yang baru pertama kali ini bertemu. Telah dapat membuka urusan yang penting tersebut padanya.

“Cukup jika memang Yo Kongcu menyanggupi untuk membantu melindungi ayahku, maka budi Yo Kongcu tidak akan kulupakan. Mengenai Wang Put Liong, juga persoalan lainnya, di mana mengenai sahabat Yo Kongcu aku tentu tidak akan mempersulit mereka, akan kuusahakan agar mereka bisa meninggalkan tempat ini dengan aman tanpa memperoleh gangguan apapun juga......!”

Yo Him memandang tajam pada si gadis.

“Apa maksud nona?” tanyanya.

“Begini saja, kita adakan jual beli!” menyahuti si gadis. “Untuk sekarang ini Yo Kongcu membantu kami, untuk menghadapi Tiat To Hoat-ong dan orang-orangnya itu. Dan kawan-kawan Yo Kongcu akan kami lepaskan......!”

Yo Him ragu-ragu.

Itulah tawaran yang menarik. Memang bisa saja Yo Him segera menyanggupi permintaan si gadis, agar Wang Put Liong serta Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho bisa meninggalkan perbentengan ini tanpa memperoleh gangguan suatu apapun juga. Tetapi tentu saja Yo Him tidak mau berdusta, karena itu dia tidak dapat mengiyakan tawaran itu. Dia hanya bilang.

“Jika memang nona telah menawarkan bantuan seperti itu padaku, inilah hal yang menggembirakan sekali! Begini saja, bebaskan dulu sahabat-sahabatku, jika mereka telah meninggalkan perbentengan ini, barulah nanti kita bicarakan pula persoalan ini. Bagaimana pendapatmu?”

Sasana telah mengawasi bimbang, namun akhirnya mengangguk.

“Baiklah, mereka akan dibebaskan dua hari lagi. Jika besok, tentu akan mendatangkan kecurigaan pada Tiat To Hoat-ong, Koksu negara kami. Maka, mereka harus meninggalkan perbentengan ini secara diam-diam, sedangkan Koksu kami itu besok akan menerima perintah dari ayah untuk pergi memberikan laporan pada Kaisar, sehingga terbuka kesempatan yang luas.

Yo Him mengangguk.

“Tetapi Yo Kongcu,” kata Sasana lagi. “Kuharap saja kau tidak merubah pikiranmu lagi......!”

Setelah berkata begitu. puteri pangeran Ghalik telah bersenyum, manis sekali.

Yo Him hanya mengawasi kepergian puteri dari pangeran Ghalik. Lama sekali Yo Him berdiri di tempatnya itu. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa pangeran Ghalik memiliki seorang puteri selain demikian cantik rupawan, juga memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Entah siapa gurunya, yang dirahasiakannya itu?

Setelah bayangan si gadis lenyap dari pandangannya, Yo Him menghela napas.

Di saat itulah Wang Put Liong telah berkata menyadarkan Yo Him dari lamunannya. “Gadis itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Dia juga puteri dari pangeran Ghalik, kau harus waspada menghadapinya, Yo Siauwhiap!”

Yo Him mengangguk.

“Jangan sampai kau terkena tipu dayanya......!” kata Wang Put Liong lagi.

“Entah yang diceritakannya itu mengenai Tiat To Hoat-ong benar atau memang hanya merupakan karangannya belaka?” menggumam Yo Him.

Dengan menggendong Wang Put Liong, Yo Him telah kembali ke kamarnya. Dilihatnya Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang tengah menantikannya. Ko Tie juga tampak bergelisah sekali.

Satu hari telah lewat, tidak terjadi suatu apapun juga. Hanya mendekati sore terlihat beberapa orang pahlawan pangeran Ghalik yang lewat dengan sikap tergesa-gesa. Merekapun seperti tengah membicarakan sesuatu, namun Yo Him tidak mengerti bahasa mereka.

Malam itu keadaan di perbentengan tersebut sunyi sekali. Yo Him bulak-balik di pembaringan dengan pikiran yang agak resah. Dilihatnya kesehatan Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang telah mengalami kemajuan yang pesat. Malah Cin Piauw Ho, walaupun tidak bisa disembuhkan keseluruhannya dari lukanya, dan racun yang mengendap di tubuhnya itu tidak bisa dilenyapkan, namun Cin Piauw Ho telah dapat berjalan dengan langkah perlahan-lahan.

Yang diperlukan oleh Cin Piauw Ho adalah obat penawar racun yang bisa memunahkan seluruh racun yang mengendap di tubuhnya itu. Tapi dengan memperoleh pengobatan dari tabib-tabibnya pangeran Ghalik, racun itu untuk sementara bisa dibendung daya kerjanya sehingga Cin Piauw Ho mungkin bisa hidup tiga-empat bulan selama belum memperoleh obat penawar racun yang tepat.

Dalam kesunyian malam seperti itu, Yo Him memikir keras. Banyak teka-teki yang dihadapinya di perbentengannya pangeran Ghalik. Karena segala yang dialaminya demikian beruntun dan belum bisa dipecahkan rahasianya.

Seperti munculnya Swat Tocu, Cek Tian dan puteranya, yaitu Auwyang Phu, dan juga putri dari pangeran Ghalik, yaitu Sasana, yang memiliki kepandaian tinggi serta sempurna itu. Juga Yo Him jadi teringat akan cerita Sasana mengenai niat busuk Tiat To Hoat-ong yang ingin menindih pengaruh dari pangeran Ghalik.

Memang urusan itu bukan menjadi urusannya, karena itu persoalan dari orang-orang Mongolia tersebut. Malah membawa suatu keuntungan yang tidak kecil untuk orang-orang Han, yaitu dari kerajaan Song yang telah musnah, namun masih tersebar di seluruh daratan Tiong-goan, dengan harapan suatu saat bisa membangun negeri mereka lagi.

Jika terjadi perpecahan di dalam pemerintahan penjajah itu, niscaya akan menyebabkan mereka lemah dan kelak mudah untuk dirubuhkan dan diusir dari tanah air mereka. Namun Yo Him kini menghadapi persoalan yang tidak ringan, karena selain Tiat To Hoat-ong sendiri memiliki kepandaian yang tinggi bukan main, juga pangeran Ghalik bersama dengan para pahlawannya itu bukan lawan yang enteng. Apa lagi dibantu oleh Sasana, puterinya pangeran tersebut, yang memang memiliki kepandaian sangat tinggi.

Yo Him juga mengetahui maksud pangeran Ghalik membujuknya agar mau tunduk dan bekerja di bawah perintahnya. Hanyalah ingin dimanfaatkan untuk mengorek keterangannya di mana adanya para jago-jago yang membantu kerajaan Song, yang hendak ditumpas oleh pangeran Ghalik ini.

Sedang Yo Him rebah gulak gulik di pembaringannya itu, tiba-tiba dia mendengar suara yang ringan sekali di luar jendela kamarnya dibarengi kemudian dengan ketukan perlahan.

“Yo kongcu, mari kau ikut aku......!” terdengar suara yang halus di luar jendela.

Yo Him terkejut, dia telah melompat turun dari pembaringan. Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho pun telah terbangun dari tidur mereka. Rupanya ke dua orang inipun telah mendengar suara ketukan di jendela itu, dan ke duanya sedang memandang pada Yo Him dengan sorot mata tanda tanya. Ko Tie dan Wang Put Liong waktu itu tengah tertidur nyenyak.

Yo Him mengangguk pada Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho, dia mendekati jendela. Dia mengenali bahwa suara orang di luar jendela itu adalah suaranya Sasana puteri dari pangeran Ghalik yang telah bertemu dengannya malam ke marin.

Didorongnya daun jendela itu dengan waspada karena dia kuatir nanti Sasana berlaku licik membokongnya. Tetapi hanya angin malam menghembus. Tampak sesosok bayangan tengah berlari-lari dengan tangan dilambaikan padanya.

Yo Him hanya bimbang sejenak, kemudian katanya pada Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang. “Aku akan pergi sebentar, segera aku kembali!” dan tubuh Yo Him gesit sekali melompat keluar dari jendela itu.

Sosok tubuh yang tengah berlari-lari itu yang tidak lain dari Sasana, berlari gesit dan cepat sekali. Di bawah sinar cahaya rembulan, tampak tubuh yang langsing itu bagaikan selembar daun yang melayang-layang di tengah udara. Yo Him mengejarnya.

Tetapi Sasana tidak menghentikan larinya. Dia berlari terus menuju ke arah timur, dan akhirnya tiba di suatu tempat yang banyak sekali ditumbuhi pohon-pohon bunga beraneka warna. Itulah taman dari istana atau perbentengan pangeran Ghalik tersebut. Yo Him pun telah tiba dengan cepat.

Sasana sudah tidak berlari lagi, dia berdiri agung dan cantik sekali. Pakaiannya yang reboh, dengan paras mukanya yang cantik dan rambutnya yang disanggul dua, tampak dia bagaikan seorang dewi yang baru turun dari kahyangan, yang tengah menantikan Yo Him dengan bibir tersungging senyuman yang manis.

Yo Him telah merangkapkan tangannya, tanyanya, “Ada urusan apakah di malam larut seperti ini nona mengundangku datang ke tempat ini?”

Sasana mengawasi Yo Him sejenak, kemudian dia menyahut: “Ada sesuatu yang penting ingin kubicarakan denganmu Yo kongcu!”

“Urusan apakah itu?” tanya Yo Him heran. “Apakah tidak lebih baik jika memang besok siang saja nona menyampaikannya?”

Sasana menggeleng perlahan.

“Inilah untuk keselamatanmu juga Yo kongcu juga kawan-kawanmu itu......!” menjelaskan Sasana.

Yo Him heran, diapun terkejut, hatinya tercekat, tanyanya: “Apakah itu nona? Apa maksudmu dengan mengatakan untuk keselamatan kami?”

Sasana menghela napas.

“Sesungguhnya aku sebagai puteri dari ayahku, tidak dapat aku memberitahukan rahasia ini kepadamu, tetapi kemarin malam aku telah menjanjikan padamu akan bantu membebaskan kawanmu itu...... karena itu aku terpaksa harus memberitahukan juga urusan ini padamu......!”

Yo Him berdiam saja mendengarkan dengan penuh perhatian, dan diam-diam hatinyapun memuji akan kecantikan gadis di hadapannya ini, yang memang memiliki kecantikan yang luar biasa.

”Sesungguhnya, Tiat To Hoat-ong telah diperintahkan ayah untuk pergi ke kotaraja guna memberikan laporan kepada Kaisar mengenai perkembangan dunia Kang-ouw belakangan ini dan dia memang menerima tugas itu, namun mêminta pengunduran waktu keberangkatannya itu selama tiga hari!” menjelaskan Sasana.

“Kukira urusan Koksu negara kalian itu tidak ada hubungannya dengan kami!” kata Yo Him.

Sasana mengangguk.

“Seharusnya memang begitu!” menyahuti Sasana. “Tetapi sekarang ini lain urusannya. Tiat To Hoat-ong rupanya mengajukan permintaan untuk pengunduran hari keberangkatannya itu, rupanya memang memiliki rencana sendiri, yang ingin dilakukannya di luar tahu ayahku!”

“Urusan apakah yang nona maksudkan?” tanya Yo Him akhirnya.

“Rupanya Tiat To Hoat-ong tidak puas atas sikap ayahku yang berusaha untuk memperlakukan kau dengan baik, juga telah perintahkan tabib-tabib ayah untuk mengobati penyakit dan luka dari kawan-kawanmu itu..... Dia memiliki maksud yang terkandung di hatinya, maksud yang jahat dan buruk sekali...... di mana Koksu negara kami itu ingin membinasakan kalian semua, yang telah diatur sedemikian rupa agar tampaknya kalian terbinasa karena kecelakaan......!”

Muka Yo Him berobah.

Sedangkan Sasana telah meneruskan ceritanya.

“Kebetulan sekali sore itu aku tengah berada di ruangan belakang istana ayah. Aku melihat sesosok bayangan yang berkelebat gesit sekali. Aku mengejarnya secara diam-diam untuk membuntutinya. Dia adalah Lonang Shing, orang kepercayaan Tiat To Hoat-ong, yang baru sebulan lebih tiba di Tiong-goan ini datang dari Mongolia atas undangan Koksu......!

“Aku mengikuti terus, di mana Lonang Shing menuju ke kamarnya Tiat To Hoat-ong, mereka bicara kasak-kusuk. Aku tidak berani menghampiri terlalu dekat jendela kamar Koksu karena itu aku tidak bisa mendengar jelas percakapan mereka, hanya tidak lama kemudian kulihat Lonang Shing telah keluar pula dari kamar Koksu dan menuju ke tempat berkumpulnya para pahlawan ayah......!

“Lonang Shing telah menemui beberapa orang pahlawan secara diam-diam, aku telah berhasil pula mendengar percakapan mereka. Ternyata mereka mengandung maksud buruk terhadap kalian. Yang akan dibinasakan besok menjelang magrib, di mana kalian akan diundang untuk menghadiri jamuan perpisahan atas keberangkatan Tiat To Hoat-ong dalam perjamuan itu, kalian akan diracuni......!”

“Ah!” berseru Yo Him kaget.

Sasana menghela napas dan katanya lagi.

“Inilah memang kebetulan sekali, kuketahui maksud buruk mereka! Itu belum hebat, ternyata rencana mereka bukan hanya sekedar membinasakan kalian berempat yaitu kau bersama she Cin dan Liu beserta si bocah kecil yang bersama kalian. Tetapi urusan ini memiliki ekor yang tidak singkat buat ayahku, karena Tiat To Hoat-ong pun telah mempersiapkan laporan yang akan disampaikan kepada Kaisar, bahwa ayahku telah berserikat dengan kau untuk melakukan pemberontakan! Itulah fitnahan yang dilontarkan kepada ayahku!”

Yo Him jadi heran berbareng kaget.

“Bukankah pangeran Ghalik itu merupakan orang kepercayaan Kaisar kalian? Ayahmu memiliki kekuasaan penuh untuk seluruh angkatan perang Mongolia......”

Sasana mengangguk mengiyakan, namun dia menerangkan.

“Benar apa yang kau katakan itu, Yo kongcu. Tapi Tiat To Hoat-ong pun bukan manusia tolol. Dia mengerti dan yakin bahwa Kaisar tentu tidak akan mempercayai begitu saja laporannya. Tentu Kaisar kami akan mengirim orang-orangnya untuk melakukan penyelidikan.

“Tetapi Tiat To Hoat-ong telah memiliki bahan yang cukup kuat untuk fitnahnya itu, di mana dia jika berhasil membinasakan kau bersama ketiga orang kawanmu itu. Bukankah dia dapat saja meyakinkan Kaisar bahwa memiliki hubungan dengan Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko dan para pendekar bekas kerajaan Song kalian? Bukankah kau terbunuh di dalam istananya ayahku?

“Dan engkaupun telah diperlakukan demikian manis oleh ayahku, yang telah mengundang dan menjamu kalian, di mana hampir seluruh penghuni istana ini melihatnya? Jika memang utusan Kaisar datang melakukan penyelidikan, tentu Tiat To Hoat-ong menang angin, sedikit banyak cerita dari penghuni istana ini akan memperkuat fitnahnya itu......!”

Yo Him hanya berdiam diri saja dengan mengerutkan sapasang alisnya. Dia tidak menyangka sama sekali di antara pangeran Ghalik dengan Koksu negara Mongolia tersebut terdapat bentrokan seperti ini, saling cakar demikian rupa. Padahal, Yo Him pernah melihat bahwa Tiat To Hoat-ong merupakan jago andalan dari pangeran Ghalik. Maka agak luar biasa jika terjadi pangeran Ghalik dengan Tiat To Hoat-ong cakar-cakaran merebut pengaruh.

0 Response to "Beruang Salju Bab 26 Jual Beli Kuncu Mongolia"

Post a Comment