Beruang Salju Bab 25 Kecerdasan Kuncu Mongolia

Mode Malam

25 Kecerdasan Kuncu Mongolia

“Aku bisa jaga diri baik-baik!” kata Sasana.

“Tapi...... kepandaianmu itu...... siapa yang telah mewarisinya? Siapa gurumu?” tanya pangeran Ghalik.

Sasana tersenyum.

“Tidak ada orang yang mengajari, akupun tidak memiliki kepandaian apa-apa, ayah!” menyahuti Sasana sambil tertawa lebar, sehingga terlihat jelas betapa barisan giginya yang putih berkilauan itu.

Tiat To Hoat-ong telah menghapus keringat di kening dan mukanya, lalu dia membungkukkan sedikit tubuhnya. Sambil tangan kanannya diletakkan di dada, katanya: “Terima kasih atas pertolongan Kuncu (puteri)! Hebat sekali tenaga lweekangmu itu, hampir saja aku tidak sanggup menerima tolakan tanganmu itu!”

Sasana tersenyum.

“Koksu, itu hanya kebetulan saja, kau telah letih, maka mudah saja aku mendorong untuk memisahkan kalian, bukan?” menyahuti Sasana.

Sedangkan Swat Tocu berbeda dengan Tiat To Hoat-ong. Dia gusar sekali, penasaran bukan main. Dialah seorang tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa. Tak sembarang orang menerima tangannya dan serangannya.

Tetapi kêtika di waktu dia tengah memusatkan kekuatan hebat untuk menindih Tiat To Hoat-ong, si gadis yang muda usia itu, didengarnya telah dipanggilnya oleh Tiat To Hoat-ong sebagai Kuncu (Puteri), dengan sekali gerakan tangannya berhasil mendorongnya sampai mundur satu langkah ke belakang, kuda-kuda ke dua kakinya juga tergempur. Inilah pengalaman pertama yang pernah dialaminya.

“Siapa kau?” tanyanya bengis. “Atau kau memang ingin menggantikan orang Mongolia si gundul itu untuk berurusan denganku?”

Sasana tersenyum manis.

“Maaf, maaf paman!” katanya cepat dengan sikap yang jenaka. “Jangan paman marah! Aku hanya ingin memisahkan kalian saja! Mana berani aku bersikap kurang ajar padamu?”

Swat Tocu mengetahui jika memang dia tadi bisa mengerahkan tenaganya seperminuman teh lagi kemungkinan besar dia bisa merubuhkan Tiat To Hoat-ong. Karena dia merasakan tenaga dalam Koksu itu telah terguncang tidak karuan, daya lawan dan daya bendungnya tidak sekuat semula.

Dalam keadaan seperti itu Tiat To Hoat-ong memang telah jatuh di bawah angin. Tapi siapa sangka, gadis ini telah memisahkan mereka. Dengan demikian, jelas si gadis bukan memisahkan mereka, hanya sengaja menolongi Tiat To Hoat-ong. Rupanya Sasana juga mengetahui, jika pertempuran itu berlangsung beberapa saat lagi lamanya. Tentu Tiat To Hoat-ong akan bercelaka......

Swat Tocu mendengus dingin. Dia merupakan golongan tua, tidak bisa dia turun tangan terhadap gadis muda jelita itu yang termasuk golongan muda. Namun hatinya mendongkol dan penasaran sekali, maka dia menggerakkan tangan kanannya, “plakk” batu gunung yang ada disampingnya telah ditamparnya semplak besar sekali, meluruk jadi abu! Itulah tamparan yang mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya.

“Hem, beritahukan siapa gurumu?” kata Swat Tocu dingin. “Suruh dia keluar untuk bertemu denganku!” Karena melihat gadis ini memiliki lweekang yang luar biasa, jelas gurunya itu seorang liehay yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.

Sasana telah bersenyum.

“Maafkan aku telah berlaku kurang hormat, guruku itu jarang sekali muncul dalam Kang-ouw, maka itu jarang sekali orang mengetahui namanya dan diapun tidak ingin namanya disebut-sebut..... maafkan!” dan Sasana telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah menjura memberi hormat.

Sedangkan Swat Tocu telah mengawasi dengan mata mencilak, tahu-tahu dia mengebut dengan tangan kanannya. Dari mana muncul angin yang menerjang kuat sekali kepada Sasana.

Sasana menundukkan tubuhnya sedikit, yang membungkuk ke depan, maka lewatlah serangan Swat Tocu. Dia hanya merasakan hawa dingin yang mempengaruhi punggungnya, tetapi itu tidak lama, kemudian lenyap.

“Hebat kepandaianmu, usiamu masih muda namun engkau bisa memunahkan serangan itu dengan mudah! Baiklah, suatu saat kelak, aku ingin sekali berkenalan dengan gurumu itu!” Setelah berkata begitu, dengan masih mendongkol, Swat Tocu telah bersiul nyaring.

Dari luar istana yang mirip perbentengan itu telah terdengar suara mengerang aneh sekali, kemudian berkelebat sesosok bayangan putih yang melompat masuk. Ternyata itulah seekor biruang, yang tak lain dari biruang salju peliharaan Swat Tocu. Kemudian dengan gerakan yang ringan sekali, Swat Tocu telah melompat ke punggung biruang itu. Dia duduk di punggung biruang tersebut yang membawanya melompat dinding yang tinggi itu, meninggalkan tempat tersebut!

Sedangkan Pangeran Ghalik telah menghela napas dalam-dalam kemudian menoleh kepada Auwyang Phu dan Cek Tian, tanyanya: “Kalian telah menimbulkan kekacauan di tempat ini, dosa kalian tidak ringan! Tangkap ke dua orang itu!” Dan perintah yang terakhir itu ditujukan kepada anak buahnya.

Cek Tian telah tertawa dingin, sama sekali dia tidak takut. Malah katanya: “Hmmm. kami berani datang ke mari berarti kami memang bersedia untuk menerima apa yang akan terjadi pada diri kami! Kami akan mempertaruhkan jiwa kami untuk kebinasaanmu ini.....!”

Tetapi Auwyang Phu mengambil sikap lain dengan ibunya. Walaupun tubuhnya bercacad, ukurannya yang pendek seperti anak kecil itu, namun otaknya tidak demikian dangkal, dia cerdik sekali.

Dilihatnya, disamping pangeran Ghalik yang memang memiliki kepandaian yang tidak rendah, juga terdapat pahlawan-pahlawannya pangeran itu yang semuanya memiliki kepandaian sangat tinggi dan terutama sekali juga terdapat Tiat To Hoat-ong yang lihay dan puteri pangeran itu yang tampaknya memiliki kepandaian yang luar biasa, maka Auwvang Phu tidak berlaku nekad, dia menarik tangan ibunya, katanya; “Ibu mari kita pergi......!”

Ibunya telah menoleh kepada anaknya itu dengan sorot mata yang tajam.

“Apa kau bilang?” tanyanya, diapun telah melihat pahlawan-pahlawannya pangeran Ghalik telah mengurung mereka.

“Kita pergi meninggalkan tempat ini, jika memang kelak kita memiliki kesempatan lagi tentu kita akan berkunjung lagi untuk bertemu dengan si Ghalik itu!”

“Hm, apakah kau takut menghadapi mereka?” tegur Cek Tian jadi gusar bukan main.

Auwyang Phu menggeleng.

“Tidak ada gunanya menghadapi mereka dalam keadaan seperti sekarang......!” menyahut Auwyang Phu.

“Kalian menyerahlah untuk kami ringkus......,” bentak salah seorang pahlawan pangeran Ghalik sambil melintangkan goloknya dan mengeluarkan rantai borgolan. “Jangan kalian mempersulit diri kalian sendiri......”

Dan pahlawan yang seorang ini melangkah maju untuk memborgol ke dua tangan Auwyang Phu.

Mendongkol Auwyang Phu oleh sikap pahlawan pangeran yang seorang tersebut tahu-tahu dia angkat kaki kanannya dan mendupak.

Pahlawan yang seorang ini merupakan pahlawan yang memiliki kepandaian cukup tinggi, tidak mudah dia didupak seperti itu. Dia telah mengelakkan diri dari tendangan si pemuda bertubuh pendek bulat kecil itu.

Tetapi dia jadi kaget, karena Auwyang Phu begitu gagal menendang ,justru dia telah menekuk ke dua kakinya setengah berjongkok dan tahu-tahu tangannya mendorong ke arah si pahlawan tersebut. “Bukk!” tubuh pahlawan itu terpental seperti daun kering, kemudian terbanting dikejauhan tiga tombak lebih.

Auwyang Phu tanpa memperdulikan korbannya itu telah menarik tangan ibunya. “Mari kita berangkat bu!”

Cek Tian tidak membantah lagi, hanya matanya mendelik bengis mengawasi selintas pada pangeran Ghalik penuh dendam, kemudian melangkah akan ikut puteranya meninggalkan tempat itu dengan jalan melompati tembok yang tinggi itu.

Namun belasan orang pahlawannya pangeran Ghalik telah melompat untuk mengurung. Tiat To Hoat-ong juga telah melompat untuk membekuk pemuda bertubuh pendek she Auwyang tersebut.

Sasana menoleh kepada ayahnya.

“Biarkan mereka pergi, ayah......!” kata gadis itu.

Pangeran Ghalik bimbang, namun akhirnya dia berseru: “Biarkan mereka pergi! Jangan diganggu!?”

Perintah Pangeran Ghalik tidak berani dibantah oleh para pahlawannya itu, yang segera mengundurkan diri membuka kepungan mereka. Demikian juga Tiat To Hoat-ong, yang sebetulnya waktu itu baru saja mengulurkan tangan kanannya guna menjambak punggung Auwyang Phu namun mendengar teriakan Pangeran Ghalik, ia telah menarik pulang tangannya. Namun dari mukanya terlihat dia tidak puas.

“Hmm, mereka hendak mencelakaimu, mereka mengandung maksud buruk padamu, tetapi kau seenaknya membiarkan mereka pergi!” berpikir Tiat To Hoat-ong di dalam hatinya. Tetapi Koksu negara ini tidak mengutarakan pikirannya itu, dia hanya berdiam diri. Namun hatinya semakin tidak puas kepada pangeran ini.

Auwyang Phu bersama ibunya telah melompat dengan ringan, dan mereka telah berlalu lenyap dari pandangan mata semua orang.

Sedangkan pangeran Ghalik telah menoleh kepada puterinya, tanyanya: “Mengapa kau minta agar mereka dibebaskan begitu saja? Tentunya kau mempunyai alasan tertentu, Sasana?”

Sasana tersenyum.

“Mereka merupakan orang-orang Kang-ouw yang memiliki kepandaian yang tidak rendah juga. Tadi aku telah melihat pemuda pendek itu mempergunakan jurus ilmu silat Ha-mo-kang ilmu silat kodok yang merupakan kepandaian tunggal Auwyang Hong yang terkenal, yang kuburannya pernah dibongkar oleh ayah belasan tahun yang lalu!

“Kita sementara ini tidak boleh mencari bentrokan dengan orang-orang Kang-ouw karena bukankah baru beberapa tahun kita menancapkan kaki di daratan Tiong-goan dan Kaisar kita berkuasa belum lagi mantap. Jika memang kita mencari urusan dengan orang-orang Kang-ouw, sehingga mereka selalu mengganggu pihak kita, bukankah kita memperoleh kesulitan yang tidak kecil? Hmm, bukankah ayahpun menerima tugas untuk menghimpun para jago-jago untuk tunduk bekerja di bawah perintah ayah untuk memusuhi mereka?!”

Ayah itu telah menepuk keningnya.

“Ai, kau benar! Memang ayah telah melupakan hal yang penting itu! Mereka telah datang untuk memusuhi ayah, tanpa pikir panjang lagi ayah ingin mempergunakan tangan besi. Tetapi memang itu keliru, suatu kekeliruan yaug tidak kecil! Seharusnya ayah menyambutnya dengan baik-baik, merangkulnya agar mereka tunduk di bawah perintah ayah, karena tampaknya mereka anak dan ibu memang memiliki kepandaian yang tidak rendah......!”

Puteri itu telah tersenyum.

“Namun belum lagi terlambat, biarlah nanti puterimu yang pergi mempengaruhinya! Yang menarik sekali, tampaknya mereka ibu dan anak itu memiliki hubungan yang dekat dengan Auwyang Hong. Jelas warisan dari Auwyang Hong telah diperoleh mereka, karena ilmu tunggal yang sakti dari Auwyang Hong tampaknya dikuasai dengan baik oleh pemuda itu!”

“Tetapi Sasana......” pangeran Ghalik tampaknya ragu-ragu sekali.

“Apakah ayah ingin menyatakan kekuatiranmu terhadap keselamatan diriku?” tanya puterinya sambil tetap tersenyum.

Pangeran Ghalik telah tertawa.

“Tidak, justru kulihat engkau memiliki kepandaian yang luar biasa, dan tidak pernah kuduga sebelumnya! Sama sekali ayah tidak mengetahui bahwa engkau memiliki kepandaian yang begitu hebat. Anak, siapakah sebenarnya gurumu, mengapa kau tidak memperkenalkan kepada ayah?''

“Dia seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian luar biasa! Yang bisa menandinginya bisa dihitung dengan jari tangan. Tetapi maaf ayah, seperti pesan yang diberikan oleh guru, maka sementara ini anakmu belum bisa memberitahukan siapa adanya guruku itu!”

“Apakah dia berada dalam istana ini bersama-sama kita?” tanya pangeran Ghalik lagi.

Puterinya mengangguk.

“Ya, tetapi ayah jangan sekali-kali coba menyelidikinya, karena jika guruku itu tersinggung dan pergi, bukankah anak yang akan menderita rugi, karena untuk selanjutnya tidak memperoleh bimbingannya lagi? Itu masih belum seberapa, karena jika sampai guruku gusar dan menegur aku, jelas aku bisa celaka, karena telah melanggar pesannya......”

Pangeran Ghalik mengangguk, dia mengerti kesulitan puterinya ini. Walaupun masih diliputi keheranan yang bukan main, namun pangeran Ghalik tidak banyak bertanya lagi. Dia hanya girang mengetahui bahwa puterinya ternyata telah memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya. Walaupun menghadapi Tiat To Hoat-ong, belum tentu puterinya itu dengan mudah dirubuhkan oleh Koksu negara itu.

Tiat To Hoat-ong sendiri sejak tadi hanya mendengarkan saja percakapan antara anak dan ayahnya. Dia pun ikut heran dan menduga-duga, entah siapa guru puteri dari pangeran Ghalik ini.

Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak menanyakan hal ini hanya dalam hati dia berpikir: “Kelak aku akan menyelidikinya.....!”

Waktu itu pangeran Ghalik telah mengibaskan tangannya. Semua pahlawannya segera mengundurkan diri. Begitu juga halnya dengan Liong Tie Siang dan yang lainnya telah meninggalkan tempat itu. Tiat To Hoat-ong telah membungkukkan tubuhnya sedikit, diapun telah mengundurkan diri.

Waktu pangeran Ghalik mengajak puterinya untuk kembali ke istana mereka. Puteri itu mengatakan bahwa, dia ingin berangin-angin di tempat ini dulu. Ayahnya tidak mencegah, dan pangeran Ghalik telah melangkah pergi meninggalkan puterinya.

Sasana melangkah perlahan-lahan ke sana ke mari dengan sepasang alis mengkerut. Tampaknya ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.

Kemudian dia telah melangkah ke arah barat, ke arah tempat di mana Yo Him dan Wang Put Liong berada. Gadis itu telah mengawasi tajam sekali, karena dia melihat tidak ada pengawal di depan pintu ruang tahanan itu. Kemudian terdengar dia tertawa dingin.

“Apakah kau ingin berdiam terus di situ sampai tua?” tegurnya dengan suara tawar. “Mengapa tidak keluar memperlihatkan diri!”

Yo Him memang sejak tadi telah merasa kagum akan kepandaian nona itu, terutama kecantikan si puteri itu yang begitu menawan hati. Sekarang melihat bahwa Sasana mengetahui mereka berdua bersembunyi di dalam ruang tahanan itu, dia tambah kagum lagi.

“Ternyata matanya tajam sekali!” pikir Yo Him. Namun pemuda ini sama sekali tidak jeri, dia telah menarik tangan Wang Put Liong, lalu digendongnya untuk dibawa keluar.

Sasana mengawasi mereka, kemudian katanya dengan tawar: “Apakah kau anggap mudah untuk keluar dari perbentengan ini?”

Yo Him tersenyum, sabar sekali.

“Nona...... rupanya memang nona señgaja ingin membiarkan kami pergi tanpa memperoleh gangguan, karena nona sama sekali tidak memberitahukan kepada ayahmu perihal kami walaupun nona rupanya telah mengetahui sejak tadi......!”

“Yo kongcu!” kata Sasana kemudian dengan sikap bersungguh-sungguh, “Ayahku telah demikian baik padamu, mengundang ke mari. Untuk dijamu dan diberikan kedudukan yang baik buatmu, namun engkau seperti mencari kesulitan untuk dirimu sendiri! Sesungguhnya, apakah kau memang tidak mau menerima kebaikan ayahku itu? Atau memang pertolongan yang telah diberikannya menyembuhkan luka yang diderita oleh kawanmu itu dianggap oleh kau sebagai perbuatan yang tiada artinya?”

Yo Him tersenyum tawar.

“Nona, tentu saja aku si orang she Yo tidak akan melupakan budi kebaikan dari pangeran Ghalik, tetapi...... jelas dalam persoalan ini, aku pun tidak bisa bekerja di bawah perintahnya!”

“Jika memang engkau tidak bersedia menerima tawaran ayahku guna memegang pangkat dan kedudukan, mengapa kau menerima dan menyanggupi? Apakah itu perbuatan seorang laki-laki gagah? Hmm, ucapan seorang gagah tidak akan ditarik pula, walaupun apa yang terjadi! Apakah demikian rendah harga derajat dan dirimu?”

Muka Yo Him berubah merah, diapun mendongkol. Sebetulnya dia hendak mengatakan bahwa dia jelas tidak bisa tunduk pada Pangeran Ghalik, karena pangeran itu hanyalah bermanis budi untuk merangkul guna mencapai maksud dan tujuannya. Jadi bukan sesungguhnya berbaik hati padanya. Tetapi akhirnya Yo Him batal untuk mengutarakannya, dia hanya bilang: “Aku memiliki suatu kesulitan yang sukar sekali kujelaskan padamu......!”

“Hm!” tertawa dingin gadis itu. “Lalu apa maksudkan kau dengan membawa-bawa orang she Wang yang menjadi tawanan kami itu!”

“Kami adalah sahabat-sahabat, dan kulihat dia menerima perlakuan demikian macam, perlakuan yang demikian manis dari ayahmu. Hmm, jelas tidak dapat aku melihat saja tanpa berbuat sesuatu pada keadaannya ini.......!”

Sasana telah tertawa dingin lagi.

“Apakah kau yakin bisa membawa pergi orang she Wang itu?” tanyanya.

“Akan kuusahakan......!” menyahut Yo Him berani.

Tiba-tiba Sasana telah tertawa keras dan nyaring, namun suara sangat merdu.

“Kau memandang rendah pada kami, kau meremehkan kami. Tahukah kau, jangankan untuk membawa keluar dari perbentengan ini, sesungguhnya untuk membawanya keluar dari pintu ruang tahanan itu saja tidak mudah, jika memang aku tidak sengaja membiarkannya! Tidak perlu aku atau guruku yang mencegah. Cukup jika Koksu kami atau beberapa orang pahlawan ayahku yang merintangi, seumur hidup kau jangan harap bisa keluar dan meninggalkan kamar tahanan itu!”

Setelah berkata begitu, Sasana memandang dengan sorot mata yang tajam. Kemudian dia berkata lagi dengan sikap yang dingin waktu melihat Yo Him berdiam diri saja,

“Sesungguhnya seluruh perihal keadaanmu telah “kuketahui', begitu kau menjejakkan kaki di tempat ini. Telah kuperhatikan gerak gerikmu. Hanya saja Yo kongcu, karena aku memandang muka terang ayahmu yaitu Yo Tayhiap yang masih memiliki hubungan dengan guruku, maka aku berlaku lunak padamu. Tidak kulakukan hal-hal yang sama merugikan kau!”

Yo Him tidak jeri, walaupun gadis itu telah menggertaknya secara halus, malah ia telah tertawa sambil tetap menggendong Wang Put Liong, tanyanya dengan suara yang tetap sabar walaupun hatinya mendongkol sekali.

“Bolehkah aku mengetahui nama dan gelaran guru nona yang mulia?”

“Hmmmmmm, jangankan kau, sedangkan ayahku saja tidak akan kuberitahukan! Cuma di sini dapat kutegaskan bahwa guruku memiliki hubungan yang cukup dekat ayahmu! Karena itu jika memang kau berbuat sesuatu yang bisa merugikan kedudukan ayahku, hmmm, hmmm, tentu akupun tidak bisa selalu berpegang pada memberi muka terang pada ayahmu, jelas aku akan bertindak! Maaf, bukan aku bermaksud hendak mempersulit dirimu, tetapi janganlah engkau mencari kesulitan untuk dirimu sendiri!”

Setelah berkata sampai di sini, Sasana berdiam diri sejenak, mukanya jadi bersungguh-sungguh waktu dia meneruskan lagi berkata dengan suara yang tegas: “Kembalikan Wang Put Liong ke ruang tahanan itu!”

Yo Him tertawa dingin, katanya: “Maafkan nona, bukan aku orang she Yo tidak mau mematuhi perintah seorang puteri agung seperti kau...... Wang Put Liong harus kubawa pergi dari tempat ini.....! Dia telah disiksa demikian mengenaskan sekali. Maka harus diselamatkan dari tangan-tangan manusia biadab seperti ayahmu nona......!”

Muka si gadis telah berubah merah padam, tetapi itu hanya sejenak. Kemudian dia telah tertawa dingin dengan sikap tidak acuh, dan memandang remeh pada Yo Him, tanyanya: “Apakah engkau telah memikirkan dua kali akan maksud hatimu itu, Yo kongcu?”

“Ya, apapun yang terjadi, Wang Put Liong harus dibawa keluar dari perbentengan ini! Dan perihal maksud ayahmu nona yang ingin menarik menjadi orangnya, itu bisa dibicarakan nanti di belakang hari!”

Sasana tiba-tiba tertawa keras lagi bergelak-gelak lalu katanya: “Baiklah! Baiklah Yo kongcu! Yo Tayhiap merupakan tokoh rimba persilatan yang memliki kepandain tinggi sekali! Aku memang telah banyak dengar dari keterangan guruku......! Kebetulan di sini ada kau sebagai puteranya, maka ingin meminta petunjukmu!” dan puteri pangeran Ghalik yang nampaknya begitu lincah dan gesit, telah bersiap-siap untuk mengirimkan satu serangan kepada Yo Him.

Tapi Yo Him tidak jeri, ketika dia mendengar Sasana berkata: “Bersiaplah, Yo kongcu, aku akan segera meminta petunjukmu.....!”

Yo Him juga telah memusatkan kekuatan lweekangnya pada ke dua tangannya. Dia telah menggendong Wang Put Liong di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya telah diluruskan turun ke bawah, setiap detik bisa dipergunakan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sasana melangkah dua tindak mendekati Yo Him, dan tangan kanannya tahu-tahu bergerak menotok ke arah ketiak Yo Him. Gerakan yang dilakukannya itu lambat dan perlahan sekali, bagaikan gadis itu memang bermaksud hanya menunjuk belaka, tetapi dari ujung jari telunjuknya itu telah meluncur keluar angin yang tajam sekali.

Yo Him terkejut. Semula melihat cara menyerang gadis itu, dia menduga bahwa Sasana itu mempergunakan ilmu It-yang-cie, ilmu turunan raja raja Tayli, yang dimiliki oleh Toan Hong It Teng Taysu. Namun setelah memperhatikan dengan seksama, walaupun memang sama-sama menyerang dengan mempergunakan jari telunjuk, namun ilmu yang dipergunakan oleh Sasana bukanlah It-yang-cie.

Angin yang tajam itu seperti juga mata pedang yang menerobos pertahanan Yo Him. Sebagai seorang pemuda yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, Yo Him cepat mengelak ke samping. Tapi untuk kagetnya, jari telunjuk gadis itu bergerak cepat sekali, tahu-tahu ujung jarinya itu telah ikut miring ke samping dan menempel di baju Yo Him!

Itulah gerakan yang luar biasa cepat dan gesitnya. Tapi memang Yo Him telah menyaksikan, betapa Sasana berhasil memisahkan Tiat To Hoat-ong yang tengah bertempur hebat dengan Swat Tocu, hal itu membuktikan bahwa tenaga dan kepandaian gadis ini memang luar biasa. Karena itu, Yo Him pun berlaku hati-hati.

Menghadapi keadaan seperti ini, Yo Him sama sekali tidak gugup. Cepat sekali dia telah menggerakkan tangan kanannya. Dia bukan ingin menangkis, hanya akan mencengkeram muka si gadis.

Terpaksa Sasana menarik pulang serangannya, gadis itu mundur dua langkah, menghindarkan mukanya dari cengkeraman Yo Him, kemudian tanyanya: “Bagaimana, apakah dalam satu jurus ini kau telah bisa berpikir dengan baik untuk maksudmu membawa pergi orang she Wang itu?”

0 Response to "Beruang Salju Bab 25 Kecerdasan Kuncu Mongolia"

Post a Comment