Rajawali Sakti dari Langit Selatan (sin tiauw thian lam) Bagian 1

Mode Malam
Setelah Sia-tiauw-eng-hiong, lalu Sin-tiauw-hiap-lu maka kisah jago-jago luar biasa seperti Yo Ko dan yang lain-lain tertunda karena pembuatan Kisah Membunuh Naga. Walaupun Kisah Membunuh Naga masih bisa dianggap sebagai lanjutan Sin-tiauw-hiap-lu, namun kisah itu dapat dibilang berdiri sendiri, karena di dalam Kisah Membunuh Naga hanya menyinggung sebagian kecil dari Kak Wan Sian-su (dari Siauw-lim-sie), Kwee Siang (puteri Kwee Ceng - Oey Yong, yang akhirnya menjadi pendiri partai perguruan silat Go-bie-pay), dan Thio Kun Po (pendiri Bu-tong-pay yang akhirnya mengganti nama menjadi Thio Sam Hong). Kemudian setelah tertunda pula oleh dibuatnya Pendekar-pendekar Negeri Tay-li maka kini kami melanjutkan pula Sin-tiauw-hiap-lu dengan judul Sin-tiauw-thian-lam.

Sebagai lanjutan Sin-tiauw-hiap-lu, maka cerita Sin-tiauw-thian-lam menceritakan seluruh kegiatan Yo Ko bersama-sama dengan semua jago-jago yang pernah pembaca kenal di dalam Sin-tiauw-hiap-lu, serta dengan munculnya jago-jago baru yang luar biasa, disamping yang akan memegang peran adalah putera Sin-tiauw Tayhiap dengan Siauw Liong Lie, yang akan terlibat oleh persoalan dan urusan-urusan luar biasa.

01.01. Nyawa Di Ujung Tanduk

Angin Lam-ciu (Selatan) mendesir lembut,
Bunga rontok keindahan bumi,
Halimun lembut ringan sejuk,

Mega tersenyum memandang gadis cantik,
Baju merah, ikat pinggang kuning rambut disanggul,
Sepatu rumput tipis membungkus kaki yang kecil mungil,

Tali khim (kecapi) tergetar oleh jari-jari lentik,
Suara merdu mengiringi kicau burung,
Senyum gadis cantik mekarnya bunga,

Ciu-long menangis haru,
Sung-lie tersenyum bahagia,
Dewa-dewi di selatan.
Bahagia dan abadi.....

Syair di atas merupakan hasil sastra tulisan pujangga terkenal di awal pemerintahan dinasti Song, yang namanya dikagumi oleh rakyat Tiong-goan karena keakhliannya untuk melukiskan suasana dan peristiwa dengan penuh kelembutan, disamping terdapat selipan nada-nada yang mengandung kegagahan dan keabadian. Pujangga itu berasal dari keturunan keluarga Hoan dan bernama Lie Khie meninggal tepat dihari ulang tahunnya yang ketujuhpuluh empat.

Sejak peristiwa terbunuhnya Kaisar Mangu yang bergelar Hian Cong oleh timpukan batu besar kepalan tangan oleh Yo Ko dengan mempergunakan ilmu menimpuk Tan-cie-sin-thong menyebabkan Kublai memimpin mundur tentaranya ke negerinya. Dengan mundurnya tentara perang Mongolia itu, bebaslah kota Hap-ciu, Cung-king dan Siang-yang.

Telah tercatat dalam sejarah betapa Kaisar Hian Cong mengepung kota Siang-yang selama puluhan tahun tanpa berhasil untuk merebut kota tersebut, walaupun telah terjadi pertempuran yang hebat sekali di muka kota Siang-yang yang dimulai pengepungannya oleh putera sulung Kaisar Yong Cong (Tuli) dibulan dua, tahun ke-9, phiacu. Penyerangan dilancarkan ke berbagai pintu kota mendaki tembok dan membunuh banyak tentara kerajaan Song. Walaupun diserang berulang-ulang, kota tersebut tidak dapat dirampas. Di tahun kui-hay, di saat itulah Kaisar Mangu (Hian Cong) terbunuh oleh Yo Ko, dan para menteri maupun Kublai telah membawa jenasah Mangu pulang ke utara, maka kota Siang-yang bebas dari pengepungan pasukan tentara perang Mongolia.

Rakyat menyelenggarakan pesta besar atas kemenangan tersebut, dengan nama Yo Ko yang disanjung-sanjung sebagai Dewa Pembebasan yang maha sakti. Tetapi Yo Ko menampik segala penghormatan seperti itu, dengan orang-orang gagah akhirnya Yo Ko pamitan kepada Lu Boan Hoan, dan keberangkatan mereka itu dirahasiakan oleh Lu Boan Hoan atas permintaan pendekar gagah tersebut, karena rombongan orang-orang gagah tersebut tidak ingin diganggu oleh rakyat dan pasukan tentara yang pasti akan menimbulkan kerewelan oleh sanjungan-sanjungan mereka. Dan dengan bebasnya kota Siang-yang, suasana aman dan tenang kembali, rakyat bisa hidup layak dan wajar, walaupun banyak puing-puing yang berserakan akibat dari pertempuran yang pernah terjadi selama puluhan tahun itu.

Di saat rakyat berhasil hidup tenteram maka di saat seperti itulah banyak syair-syair bernada lembut dan jauh dari nada-nada kekerasan maupun peperangan, telah bermunculan. Dan yang terbanyak syair-syair lembut itu, adalah buah kalam dari Hoan Lie Khie, pujangga besar itu. Dan seperti yang terdapat dalam syair yang ditulis oleh pujangga besar itu, „Ciu-long menangis haru, Sung-lie tersenyum bahagia. Dewa-dewi di Selatan, bahagia dan abadi”, maka rakyat Siang-yang pun menghendaki kemenangan yang telah diperoleh tentara kerajaan Song itu bahagia tenteram dan kekal abadi.

Y

Entah darimana asalnya, di luar kampung Wu-cuan-cung tampak seorang tojin (imam) yang tengah duduk dibawah sebatang pohon yang tumbuh rindang di sebelah kanan dari pintu kampung tersebut. Sebetulnya, tidaklah luar biasa dengan adanya imam itu di tempat tersebut, karena memang biasa jika seorang yang tengah melakukan perjalanan dan beristirahat di tempat-tempat sejuk. Namun yang agak luar biasa adalah keadaan imam itu.

Rambutnyanya yang digantung merupakan sebuah sanggul kecil berbentuk bulat itu, tidak teratur rapi, rambutnyapun tampak agak kusut tidak karuan. Yang luar biasa adalah wajahnya imam ini tidak memelihara jenggot, juga tidak memelihara kumis, dari kulit wajahnya yang sudah keriput itu, mungkin dia berusia empatpuluh tahun lebih, raut wajahnya buruk sekali, karena imam tersebut memiliki sepasang mata yang bulat dan bibir yang lebar. Giginya tampak tumbuh tidak rata, disamping itu agak menarik perhatian orang yang melihatnya adalah kulit muka imam itu kuning pucat dan dingin tidak memantulkan perasaan apapun juga. Matanya itu yang menatap lurus ke depan tidak bersinar, bagaikan mata ikan yang telah mati.

Jubah pendeta itu juga telah buruk sekali, walaupun belum ada yang robek atau pecah, namun jubah itu tampaknya telah berusia sekitar tiga atau empat tahun dan jarang sekali dicuci. Hud-tim yang tercekal di tangan kirinya, tampak sudah agak kusut bulu-bulunya dan sudah banyak yang rontok.

Diantara desir angin yang sejuk, terdengar imam itu menggumam perlahan sekali, „Telah sepuluh jiwa..... telah sepuluh jiwa..... dan yang kesebelas akan tiba.....”

Setiap kali mengucapkan kata-katanya seperti itu bibirnya gemetar, bagaikan ada sesuatu yang ditakutinya, dan matanya yang tidak bersinar seperti mata ikan itu bergerak-gerak tanpa arah.

Dari arah pintu kampung tampak dua orang anak lelaki kecil yang tengah main kejar-kejaran, suara mereka lantang dan nyaring sekali diselingi oleh suara tawa gelak diantara keduanya. Tetapi imam itu tidak menoleh sedikitpun juga. Dan ketika kedua anak lelaki yang masing-masing berusia diantara delapan atau sembilan tahun itu melihat imam tersebut. Mereka jadi tertarik, keduanya berhenti berlari dan menga¬wasi si imam dengan perasaan heran. Semakin lama, selangkah demi selangkah, mereka telah mendekati, dan akhirnya jarak mereka dengan imam itu hanya terpisah kurang lebih satu tombak.

„Totiang.....” panggil salah seorang anak itu. „Apakah totiang sudah makan?”

Imam itu melirik sejenak, dia menggeleng.

„Apakah totiang mau memakan kuwe keras ini?” tanya anak itu lagi sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering, yang diangsurkan kepada imam tersebut.

Imam itu tidak menyahuti, dia menyambut pemberian itu, lalu dimakannya. Dia pun tidak mengucapkan terima kasihnya. Sekejap mata saja kuwe itu telah dimakannya habis.

Kedua anak lelaki kecil itu saling tatap satu dengan yang lainnya, dan yang tadi memberikan kuwe itu kepada si imam telah, bertanya lagi.

„Kalau totiang masih lapar, kami masih memiliki satu lagi.....” kata-kata itu disusul dengan dirogoh saku kawannya, dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering lainnya. Dan kuwe kering itu telah diberikan kepada imam itu lagi.

Imam itu telah menyambuti, dan seperti tadi dia telah memakan kuwe kering itu tanpa mengucapkan sepatah katapun juga. Tetapi baru memakan setengah kuwe tiba-tiba mukanya telah berubah pucat, tubuhnya agak menggigil. Sisa kuwe yang separuh di tangannya itu telah dilemparkannya ke samping.

„Akhh, dia telah datang menyusul.....!” menggumam imam itu.

Kedua anak lelaki itu tidak mengetahui apa yang dimaksud si imam hanya merasa sayang kuwe yang masih separuh itu telah dibuang begitu saja.

Si imam telah berdiri dengan cepat, tetapi sepasang kakinya agak menggigil gemetar.

„Anak-anak, engkau baik sekali, kalau memang aku masih ada umur nanti aku akan mencari kalian untuk menyatakan terima kasihku.” Dan imam itu telah mengibaskan hud-timnya ke jubahnya yang dipenuhi runtuhan kuwe kering, katanya lagi seperti kepada dirinya sendiri, „Tetapi harapan hidup tipis sekali mungkin akulah yang kesebelas.....”

Dan suaranya itu belum lagi habis diucapkan maka di saat itu dari arah telah terdengar suara siulan yang panjang dan menusuk pendengaran. Suara siulan yang panjang itu berasal dari luar perkampungan di sebelah barat dari arah tegalan yang luas.

Kedua anak itu jadi heran bukan main mereka telah menoleh ke arah datangnya suara siulan itu, tetapi mereka tidak melihat siapapun juga.

Si imam telah berdiri tegak, rupanya dia telah berhasil menguasai goncangan hatinya. Dengan mata yang bersinar mati itu, dia telah memandang jauh ke tengah tegalan.

Suara siulan itu terdengar semakin keras dan dalam sekejap mata, dari arah tengah tegalan itu telah berlari-lari seperti bayangan sesosok tubuh, dan hanya beberapa detik saja sudah berada dihadapan si imam. Gerakan orang yang baru datang itu sangat cepat, karena di saat dia mengeluarkan suara siulan yang panjang tadi, tubuhnya belum tampak dan hanya diseling oleh sebuah siulan lagi, dia sudah berada dihadapan si imam. Dengan sendirinya, hal itu membuktikan orang yang baru datang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali.

Kedua anak lelaki kecil penduduk kampung itu melihat, orang yang baru datang itu seorang gadis yang memiliki raut wajah sangat cantik memakai baju warna hijau dengan ikat pinggang merah dan rambut disanggul tinggi. Di tangan gadis itu tercekal sepotong kayu panjang, yang ujungnya telah hitam seperti terbakar.

„Kui-im Cinjin! Akhirnya engkau berhasil kucari!” kata gadis itu dengan suara yang nyaring.

Muka imam itu tampak berobah muram, tampaknya disamping ketakutan, juga gusar dan penasaran, tengah mengaduk menjadi satu di dalam hatinya.

„San-ciam Liehiap Bong Cun Lie!” kata si imam akhirnya dengar suara berputus asa. „Aku memang menyadari tidak mungkin lolos dari tanganmu. Kau terlalu mendesak, pinto memang tolol dan tidak memiliki kepandaian apa-apa, tetapi jika demikian, baiklah, silahkan….. silahkan maju, mari kita mengadu jiwa!”

Si gadis yang dipanggil dengan sebutan San-ciam Liehiap (Pendekar wanita Penyebar Jarum) itu telah tertawa, merdu sekali suara tertawanya itu, enak untuk didengar.

„Kui-im Cinjin,” katanya kemudian sambil memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh. „Memang selama ini kalian pihak Ngo-ciat-kauw (perkumpulan Lima Penjahat) ingin membela diri dengan segala macam alasan yang engkau miliki, namun sekarang, walaupun bagaimana engkau seperti yang lain-lainnya tak mungkin terlolos dari tanganku. Kematian Hoan-lian Taysu harus dipertanggung jawabkan oleh kalian.”

Muka Kui-im Cinjin jadi berobah ketika mendengar perkataan tersebut, dia rupanya sudah tidak dapat menahan kemurkaan yang bergolak dihatinya, mukanya yang memang telah kuning pucat itu jadi semakin pucat dan kehijau-hijauan.

„Baiklah, pinto ingin mengadu jiwa dengan kau, perempuan siluman!” bentak imam itu, dan tanpa membuang waktu lagi, hud-tim di tangan kirinya telah bergerak menuju ke arah pinggang si gadis. Hud-tim merupakan senjata yang dapat dipergunakan oleh jago yang telah memiliki lwekang sempurna, karena bulu-bulu hud-tim itu dapat dibuat keras seperti godam kalau bulu-bulu itu bergabung menjadi satu, dan dapat dipergunakan juga untuk menotok, disamping itu bisa dibuyarkan sehingga bulu-bulu hud-tim itu me¬nyambar sekaligus ke perbagai jalan darah di sekujur tubuh lawan yang diserang.

Tetapi gadis itu, Bong Cun Lie, rupanya juga memang hebat, dia melihat datangnya sambaran hud-tim si imam ke arah pinggangnya, yang akan menotok jalan darah Sun-kie-hiat nya, cepat luar biasa dan mudah sekali, dia mengelakkan dengan menggerakkan pinggulnya sedikit saja, di susul dengan kayu yang ada di tangannya itu terayun akan menggempur batok kepala dari imam tersebut.

Kui-im Cinjin mengeluarkan seruan tertahan, cepat sekali dia membatalkan serangannya dengan menarik pulang hud-timnya dan memiringkan kepalanya berkelit dari samberan kayu si gadis. Tetapi serangan yang dilancarkan oleh San-ciam Liehiap Bong Cun Lie benar-benar luar biasa, karena di saat si imam berkelit dari serangannya jatuh disasaran yang kosong, cepat bukan main dia telah memutar tangannya, sehingga kayu di tangannya ikut berputar, dan berbalik arah menyambar ke arah dada imam itu.

Serangan serupa itu memang merupakan serangan yang sangat luar biasa, tidak mudah dilakukan oleh orang-orang yang belum memiliki kepandaian sempurna. Tetapi si gadis yang rupanya telah memiliki ilmu meringankan tubuh dan lwekang yang sempurna dapat melakukan serangan seperti itu dengan baik sekali.

Tentu saja si imam tidak menduga sama sekali bahwa dirinya akan diserang begitu rupa, maka dia telah merasakan semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuhnya. Mati-matian imam itu telah berusaha mengelak serangan tersebut, karena imam itu menyadarinya jika sampai dirinya terserang, niscaya tulang iganya akan menjadi patah dan remuk. Dengan mempergunakan „Tiat-pian-ko” (Jembatan Besi), dia telah merubuhkan dirinya ke belakang, dan kedua kakinya tetap menempel di tanah, tetapi tubuhnya telentang sampai punggungnya hampir menyentuh tanah. Kayu si gadis telah lewat dua dim dari dadanya dan keringat dingin mengucur deras dari si imam dan dia cepat-cepat melompat berdiri begitu dirinya berhasil lolos dari serangan dahsyat tersebut.

Tetapi Bong Cun Lie tidak bekerja hanya sampai disitu saja, ketika melihat lawannya berhasil mengelakkan serangannya itu dengan caranya yang manis, maka si gadis telah mengeluarkan suara dengusan mengejek, dan dia telah melancarkan kembali serangan dengan mempergunakan kayu di tangan kanannya itu, disusul oleh seruan:

„Terimalah ini……!”

Imam itu baru saja berhasil berdiri tetap, atau serangan si gadis she Bong telah tiba lagi, sehingga dia mengeluarkan seruan putus asa. Tidak ada harapan lagi baginya untuk mengelakkan diri dari segala serangan kayu si gadis yang menyambar ke arah dada sebelah kirinya. Berarti jika dia tergempur oleh serangan yang disertai oleh tenaga dalam yang kuat seperti itu jika tidak binasa sedikitnya dia akan bercacad. Karena terlalu terdesak demikian rupa, akhirnya tojin itu menjadi nekad. Dia tahu-tahu telah memutar hud-timnya dengan gerakan yang cepat ke arah atas, maksudnya mengibas ke arah kayu Bong Cun Lie, menyusul mana tangan kanannya tahu-tahu akan mencengkeram dada sebelah kiri si gadis, yang akan dicengkeram keras dari kuat jalan darah Pai-sie-hiatnya. Kalau memang jalan darah Pai-sie-hiat di dada kiri si gadis berhasil dicengkeram, walaupun si gadis memiliki kepandaian sepuluh kali lebih tinggi dari sekarang jelas, gadis itu akan rubuh binasa.

Si gadis telah mendengus ketika melihat cara menyerang imam itu. Dia berkelit ke samping kanan dengan gerakan mundur ke belakang beberapa dim, sehingga berhasil mengelakkan serangan si imam.

„Serangan yang kejam!” dia berseru dengan suara yang dingin. „Dan, rasakanlah jarumku ini!”

Si gadis telah membarengi suaranya itu dengan menggerakkan tangan kirinya, maka di saat itulah tampak empat sinar emas, meluncur ke arah empat jalan darah terpenting di tubuh Kui-im Cinjin, yaitu Bong-su-hiat, Tiang-lie-hiat, Kwan-lu-hiat dan Tie-pie-hiat. Dua jalan darah yang pertama terletak di bagian ketiak kanan, sedangkan kedua jalan darah lainnya terletak masing-masing di pinggang kiri dan kanan.

Si gadis juga bukan hanya menyerang dengan jarumnya itu, dia telah membarengi dengan serampangan kayunya ke arah batok kepala imam itu.

„Ahh!” berseru imam itu putus asa. Umpama kata dia memiliki kepandaian lima kali lebih hebat dari sekarang tentu dia tidak mungkin mengelakkan diri dari serangan Bong Cun Lie, karena serangan yang dilancarkan oleh si gadis she Bong itu benar-benar telah menutup jalan mundurnya imam itu. Untuk menangkis, Kui-im Cinjin juga sudah tidak memiliki kesempatan.

„Tidak kusangka akhirnya aku harus binasa dengan cara demikian penasaran!” mengeluh imam itu, dan dengan putus asa dia memejamkan matanya, dia pasrah untuk menerima kematiannya, di saat mana tongkat kayu tengah meluncur, akan menghantam batok kepalanya, sedangkan keempat jarum emas yang dilontarkan San-ciam Liehiap tengah menyambar ke arah empat jalan darah terpenting di tubuhnya.

Kedua anak lelaki kecil itu yang berdiri di pinggiran hanya menyaksikan tanpa mengetahui bahwa si imam telah terancam kematian. Keduanya hanya heran, tadi si imam dan si gadis telah bergerak-gerak cepat sekali bagaikan dua sosok bayangan, sehingga mereka jadi bengong menyaksikan dengan mata berkunang-kunang, mau mereka duga bahwa di saat itu mereka tengah menyaksikan tarian seorang dewa dan dewi yang turun dari kahyangan……

San-ciam Liehiap Bong Cun Lie melihat seranganya akan mencapai sasarannya, dia jadi girang bukan main, terlebih lagi dia melihat imam itu telah memejamkan matanya rapat-rapat. Justru dia telah menambahkan tenaga serangannya, sehingga jika kayu di tangannya itu berhasil mencapai sasaran, tentu kepala imam itu akan hancur.

„Sungguh serangan yang baik sekali.....” tiba-tiba terdengar suara seruan nyaring yang terdengar di saat itu, disusul oleh suara „tring, tring, tring tring”, empat kali, lalu disusul terpentalnya sesosok tubuh.

Semua peristiwa itu terjadi hanya sekejap mata, si gadis she Bong itu jadi terkejut bukan main, karena tahu-tahu si imam telah lenyap dari hadapannya sehingga kayunya jatuh di tempat kosong. Dan begitu juga keempat batang jarum emasnya itu telah runtuh di atas tanah.

Dengan gusar sekali, si gadis telah menoleh ke sampingnya, dilihatnya Kui-im Cinjin tengah merayap berdiri, karena tadi di saat jiwanya tengah terancam bahaya kematian imam itu merasakan menyambarnya angin serangan yang kuat sekali sehingga tubuhnya terpental dan terpelanting di tanah, yang membuat dia terhindar dari sambaran kayu si gadis she Bong itu, dan terhindar dari keempat batang jarum maut lawannya.

Apa yang terjadi itu benar-benar di luar dugaan Kui-im Cinjin maupun Bong Cun Lie. Begitu pula kedua anak lelaki yang sempat menyaksikan pertempuran itu diliputi keheranan yang mencengangkan mereka, sebab mereka melihat tahu-tahu si imam telah terlempar dan jatuh bergulingan di tanah. Sungguh peristiwa yang membuat anak itu jadi memandang tertegun tanpa mengerti mengapa si imam telah membuang diri seperti itu.

Dengan sorot mata yang tajam, gadis itu telah menoleh ke sampingnya. Kini baru dilihatnya seorang pemuda berpakaian sebagai siucai (pelajar) warna putih, dengan kopiah hitam dan di tangannya tercekal kipas terbuat dari sutera, tengah duduk di tanah dengan sikap yang manis, karena selain wajahnya tampan dan senyumannya manis, matanya bersinar cemerlang.

„Jangan menurunkan kematian..... dosa besar apakah yang telah dilakukan totiang itu sehingga nona demikian ganas ingin mengambil jiwanya?” sapa pemuda itu, manis cara menegur gadis itu. Dia bertanya sambil menggerak-gerakkan kipasnya dan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

Muka Bong Cun Lie berobah merah padam dia lalu mendengus dengan gusar.

„Mengapa kau begitu usil mencampuri urusan kami?” tanyanya dengan suara tak senang. „Urusan ini urusan penasaran, yang tidak ada sangkut paut dan hubungannya dengan kau..... harap engkau tidak mencampurinya.”

Pemuda pelajar itu telah tersenyum sabar, manis sekali sikapnya waktu dia bangkit perlahan-lahan.

„Kamu demikian cantik gagah dan perkasa, tidak kusangka jiwa dan hatimu kejam sekali. Dalam urusan itu aku memang tidak memiliki hubungan apa-apa, kenalpun tidak tetapi masakan aku harus berpeluk tangan mengawasi sepotong jiwa manusia yang ingin dibinasakan? bukankah jiwa harus dibuat sayang?”

„Baik….. baik!” berseru si gadis dengan murka. „Jika memang kau merasa sebagai pendekar yang baik hati dan tidak bisa menyaksikan kematian seorang bangsat, biarlah engkaupun bersama-sama dia pergi menghadap Giam-Ong!”

Dan si gadis bukan hanya membentak, karena tahu-tahu kayu yang di tangannya telah melayang, menyambar ke arah dada pelajar itu dengan gerakan yang cepat luar biasa, karena si gadis telah menimpuk. Begitu pula menyusul lima batang jarum emas menyambar lima jalan darah di tubuh pelajar itu. Serangan yang dilancarkan oleh gadis itu luar biasa, karena, dia mengetahui pelajar itu memiliki kepandaian tinggi, yang telah disaksikannya tadi, dengan sendirinya dia tidak tanggung-tanggung dalam melancarkan serangan.

Tetapi pelajar itu berdiri tenang di tempatnya, dia hanya mengawasi datangnya serangan. Di saat kayu yang meluncur itu hampir tiba, hanya terpisah beberapa dim lagi dari dadanya, pelajar itu mengibaskan lengan bajunya, maka seperti terdorong sebuah tenaga yang kuat, kayu itu telah terlontar mental ke samping menghantam batang pohon, sedangkan dengan kipasnya dia mengebut kelima jarum emas yang menyambar ke arahnya.

Kui-im Cinjin mengawasi peristiwa itu dengan mulut yang terpentang, karena dia kagum bukan main melihat kepandaian yang diperlihatkan oleh pemuda itu dengan sempurna sekali, walaupun usia pelajar itu mungkin baru duapuluh tahun, namun lwekangnya benar-benar sempurna.

Si gadis tidak kurang kagetnya, untuk sejenak dia jadi memandang tertegun di tempatnya.

Pelajar itu tersenyum, dia menggerak-gerakkan kipasnya seperti juga tengah menikmati sejuknya angin dari kipasnya tersebut.

„Tidak mudah untuk membinasakan manusia,” kata pelajar itu dengan suara yang tetap sabar. „sayang sekali, sungguh sayang......”

Si gadis she Bong tersadar dengan murka. „Apanya yang sayang?” bentaknya dengan bengis.

„Nona demikian cantik, dan yang jelas tentu banyak pria yang bermimpi untuk mempersunting nona. Tetapi jika adat nona begitu buruk tentu mereka akan mundur sendiri dan tidak berani mendekati nona. Nah, jika terjadi begitu, bukankah harus dibuat sayang?”

Muka Bong Cun Lie jadi merah padam dan tubuhnya gemetar karena murka yang tidak kepalang, dia menyadari pemuda pelajar itu tengah mengejek dia.

„Cisss!” dia telah meludah, dan membarengi dengan itu, tangannya bergerak lagi disusul oleh suara „serrr, serrr” berulang kali, kali ini dia melepaskan senjata rahasianya itu dengan mempergunakan kedua tangannya, belasan sinar kuning telah menyambar mengurung pelajar itu.

Tetapi pelajar itu membawa sikap yang tenang sekali, dia menggerak-gerakkan kipasnya berulang kali, maka setiap jarum yang menyambar ke arah dirinya semua berhasil dipukul runtuh ke tanah. Hebat cara pemuda pelajar itu melayani serangan si gadis.

Semakin lama, si gadis menyerang semakin penasaran, dan akhirnya dia berdiri diam tidak melancarkan serangan lagi, mengawasi mendelik lawannya, karena seluruh persediaan jarumnya telah habis, tidak satupun jarum emasnya berhasil mengenai sasaran. Wajah si gadis jadi agak lucu, dibilang tertawa bukan tertawa, disebut menangis juga tidak menangis.

Waktu tadi dirinya diserang terus menerus oleh si gadis, pelajar itu sambil berkelit dan mengibas dengan kipasnya tidak hentinya dia telah memuji dengan ejekannya, „Serangan yang bagus, sungguh berbahaya! Bagus sekali! Oh, benar-benar indah serangan ini!”

Tetapi begitu si gadis berhenti menyerangnya, si pemuda telah berhenti dengan guraunya itu, dia telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada si gadis.

„Aku yang rendah memang telah lancang mencampuri urusan nona, seharusnya memang itu adalah urusan nona selama tidak menyangkut urusan jiwa. Maafkanlah, Siauw-te (adik) tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, telah begitu lancang menyambuti serangan nona yang ternyata hebat luar biasa. Jika nona tidak berlaku murah hati, tentu jiwaku telah melayang......” Waktu berkata-kata, pelajar itu memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh. „Bolehkah Siauw-te mengetahui she dan nama nona yang harum?”

Si gadis mendongkol bercampur gusar, tetapi pelajar itu memiliki kepandaian yang hebat sekali, maka walaupun dia ingin berlaku nekad, tetapi tentu tidak ada faedahnya apa-apa. Maka akhirnya dia hanya dapat membanting-banting kakinya.

„Tidak perlu kau mengetahui namaku, tinggalkan namamu, kelak aku akan mencarimu untuk menyelesaikan urusan ini!” kata si gadis akhirnya.

„Siauw-te she Cu dan bernama Kun Hong,” menyahuti pelajar itu. „Perkataan kelak akan mencari itu terlalu berat, Siauw-te tidak berani menerimanya, karena pertama Siauw-te dari golongan muda, juga bodoh dan tidak memiliki kepandaian istimewa.”

Dada si gadis seperti ingin meledak mendengar jawaban pemuda pelajar itu. Karena jelas pelajar itu ingin mempermainkan dirinya dan mengejeknya, si gadis maksudkan dengan „kelak akan mencari” dia maksudkan untuk mencari pemuda itu guna menuntut balas. Tetapi si pemuda sengaja pura-pura tidak mengerti maksud perkataan si gadis dengan „kelak akan mencari” itu seperti juga si gadis dari golongan muda ingin menyampaikan hormatnya kepada golongan tua. Tentu saja si gadis jadi murka bukan main.

Pemuda pelajar itu Cu Kun Hong telah tertawa lagi. „Baiklah, jika nona keberatan menyebutkan she dan memperkenalkan nama, Siauw-te juga tidak memaksa, tetapi maukah nona memberitahukan murid siapa?” tanyanya lagi.

„Apa perdulimu, tunggu saja dalam satu bulan, aku pasti akan mencarimu.....!” dan setelah berkata begitu, si gadis menoleh kepada Kui-im Cinjin yang tengah mengawasi dengan tertegun. Mata si gadis mendelik lebar penuh kebencian, lalu dia memutar tubuhnya dengan beberapa kali lompatan dia telah berlalu dan lenyap dari penglihatan…..

Imam itu cepat-cepat menghampiri penolongnya. „Terima kasih atas pertolongan Siangkong, budi yang besar ini entah bagaimana caranya pinto membalas.....” kata Kui-im Cinjin sambil membungkukkan tubuhnya dalam menjura memberi hormat kepada pemuda pelajar itu. “Pinto Kui-im Cinjin tentu tidak akan melupakan budi besar itu.....”

Si pelajar tersenyum, dia mengelakkan pemberian hormat dari si imam.

„Jangan berkata seberat itu, Totiang. Bukankah sudah selayaknya jika kita tolong menolong?” kata pelajar itu. „Siauw-te tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, hanya mengerti cara mengipas untuk meruntuhkan jarum, itu tidak berarti apa-apa.....”

„Jika tidak ada Siangkong, mungkin pinto sudah tidak jadi manusia.....” kata si imam.

„Maukah totiang ceritakan, apa sebab terjadi pertempuran tadi?” tanya si pelajar.

„Sungguh memalukan! Kalau diceritakan memang sungguh memalukan,” kata imam itu. „Mari kita masuk ke kampung ini untuk mencari kedai arak, nanti disana pinto akan menjelaskan duduknya persoalan.”

Pelajar itu mengangguk menyetujui usul dari si imam, dia telah mengiringi imam itu memasuki perkampungan itu.

Dan kedua anak lelaki yang tadi menyaksikan pertandingan yang terjadi diantara jago-jago rimba persilatan itu, telah cepat-cepat memunguti jarum-jarum emas milik Bong Cun Lie yang banyak berserakan di tanah, yang mereka simpan di saku dan kemudian melanjutkan permainan petak mereka saling kejar......

Tojin yang bergelar Kui-im Cinjin telah mengajak pelajar yang mengaku bernama Cu Kun Hong itu ke sebuah kedai arak yang berada di dekat pintu kampung. Imam itu memesan dua kati arak untuk Si pelajar sedangkan dia sendiri duduk dengan sikap tenang, sambil sekali-kali melirik ke jendela.

Melihat sikap si imam, Kun Hong jadi memandang heran, dia menduga tentu ada sesuatu yang menggelisahkan imam itu.

„Totiang,” panggilnya dengan disertai suara tertawanya. „Sesungguhnya siapakah gadis yang tadi mengejar-ngejar Totiang?”

Si imam telah menghela napas dalam tampaknya dia benar-benar berduka sekali.

„Gadis itu bergelar San-ciam Liehiap, namanya Bong Cun Lie,” si imam mulai dengan ceritanya.

„San-ciam Liehiap Bong Cun Lie?” berseru si pelajar dengan terkejut. „Itulah seorang pendekar yang cukup terkenal dengan sepak terjangnya, terlebih lagi untuk bilangan Kwie-cu. Mengapa dia bisa memusuhi totiang?”

Si imam telah menghela napas panjang lagi, dia mengambil cawannya dan meneguk araknya perlahan-lahan.

„Sebetulnya, memang peristiwa ini diawali oleh sesuatu kesalah pahaman saja, sehingga akhirnya keempat saudara angkatku harus buang jiwa cuma-cuma dan enam sahabat karib harus menemui kematian dengan penasaran sekali.....”

01.02. Bantuan Pasangan Pendekar

Datar suara si imam waktu berkata-kata, mungkin dia tengah diliputi oleh kesedihan yang sangat, tetapi cara dia berkata-kata begitu mengesankan, sehingga menimbulkan kesan bahwa urusan yang telah menimpanya merupakan urusan yang agak luar biasa, terlebih lagi dengan disebut-sebut jumlah sepuluh jiwa yang telah meninggal!

Cu Kun Hong jadi tertarik, dan dia memasang telinganya baik-baik. Rupanya yang akan dikisahkan oleh imam itu merupakan urusan penasaran.

„Seperti diketahui oleh sahabat-sahabat rimba persilatan, bahwa pinto berasal dari pintu perguruan Ngo-ciat-kauw, yang semuanya berjumlah lima orang. Keempat saudara seperguruan pinto itu, semuanya juga mensucikan diri, masing-masing bergelar Kui-san Cinjin, Kui-lie Cinjin, Kui-liong Cinjin, Kui-ban Cinjin dan pinto sendiri bergelar Kui-im Cinjin. Kami walaupun menamakan pintu perguruan kami dengan nama yang kurang sedap didengar, yaitu Ngo-ciat-kauw, tetapi hati kami berlima tidak buruk dan selalu berusaha mendirikan pahala dengan memberantas kejahatan dan membela yang tertindas. Tetapi, seperti juga urusan di dalam dunia ini, yang selalu ada Im dan ada pula Yang, ada yang mencinta kami, tetapi ada juga yang tidak menyukai kami.

„Sesungguhnya jika saja kami tidak terlalu usil, tentu kamipun tidak akan terlibat dalam urusan seperti hari ini. Di saat mana kebetulan kami tengah berada di Kang-lam, maksud kami memang ingin berpelesiran untuk menikmati keindahan daerah Kang-lam. Tetapi ketika tiba di pintu kota Wai-siang-kwan di sebelah barat justru kami menyaksikan urusan yang tidak adil, yang mengganggu mata kami. Di saat itu, kami melihat di luar pintu kota terjadi suatu pertempuran yang janggal bagi pendapat kami, yaitu seorang tosu tua yang telah lanjut usianya tengah dikepung oleh lima orang hweeshio dan dua orang wanita, wanita yang seorangnya telah lanjut usianya, sedangkan wanita yang seorang lagi merupakan gadis cantik jelita.

„Kami tidak bisa menyaksikan tosu tua, itu dikeroyok beramai-ramai seperti itu. Jika akhirnya kami turun tangan juga, bukan berarti disebabkan si tosu sama-sama menganut agama To dengan kami, melainkan karena keadilan belaka.

„Salah seorang diantara kelima orang hweshio itu ada yang bergelar Hoan-lian Taysu yang memiliki kepandaian tertinggi diantara kawan-kawannya itu. Dialah yang tergarang dan sulit diajak bicara. Walaupun kami berusaha untuk mendamaikan dengan cara baik, namun mereka tidak mau mengerti dan akhirnya melibatkan kami dalam suatu pertempuran.

„Begitu hebat pertempuran yang terjadi tidak bisa dicegah lagi, sehingga akhirnya terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan, kami kesalahan tangan sehingga Hoan-lian Taysu terbinasa. Sejak saat itulah rombongan hweshio itu melakukan pengejaran terhadap kami!

„Telah berulang kali kami berusaha untuk memberikan pengertian bahwa kematian Hoan-lian Taysu tidak disengaja, tetapi mereka itu tidak mau mengerti. Dan setahun yang lalu itulah rombongan hweshio itu memperoleh bantuan seorang gadis yang bergelar San-ciam Liehiap, yang kepandaiannya luar biasa, sehingga sulit untuk kami tempur. Keempat saudaraku telah dibinasakan dengan mudah dan menyedihkan sekali, dan aku yang berhasil meloloskan diri meminta bantuan Shan-tung Liok-hiap (Enam Pendekar dari Shan-tung), namun keenam sahabat itupun terbinasa di tangan San-ciam Liehiap, dan tadi giliran pinto yang dikejar terus olehnya untung saja ada Siangkong yang telah menolongi.”

Setelah bercerita imam itu menghela napas sambil mengambil cawan, lalu menghirup araknya perlahan-lahan dengan mata yang kosong, karena dia teringat kematian saudara-saudara seperguruannya dan bagaimana menderitanya dia yang dikejar-kejar oleh lawan-lawannya, sehingga tidak sempat merawat dirinya yang menjadi mesum dan kumal begitu, karena dia selalu dikejar oleh perasaan ketakutan terus menerus.

„Lalu bagaimana dengan tosu tua yang kalian tolong itu?” tanya Kun Hong yang tertarik mendengar kisahnya si imam.

„Entahlah waktu kami menghadapi Hoan-lian Taysu dan kawan-kawannya dia telah mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Justru sampai saat sekarang ini aku masih belum mengetahui sesungguhnya tersangkut urusan apakah antara rombongan Hoan-lian Taysu dengan tosu tua itu, yang menjadi sesalanku adalah kematian Hoan-lian Taysu yang menyebabkan salah paham ini semakin mendalam.”

Baru saja Kun Hong ingin bertanya lagi, tiba-tiba dia mendengar ada orang yang memasuki ruang kedai. Dia menoleh ke arah pintu, dilihatnya seorang wanita setengah baya tengah melangkah masuk ke dalam ruangan kedai dengan diikuti oleh seorang lelaki setengah baya juga, yang tubuhnya tegap dan gagah. Wajahnya tampan dan memancarkan sinar yang gagah disamping sepasang matanya yang tajam bersinar, memperlihatkan bahwa lelaki setengah baya itu memiliki lwekang yang sempurna. Disamping itu, si wanita setengah baya yang berjalan di depannya juga memperlihatkan sikap yang gagah, rambutnya disanggul menjadi satu, walau usianya sudah cukup tinggi, namun wajahnya masih cantik, disamping itu dia memakai pakaian polos warna merah muda, dengan angkin putih.

Keduanya mengambil meja di sebelah kanan terpisah tiga meja dengan Kun Hong dan Kui-im Cinjin. Tetapi samar-samar Kun Hong masih sempat mendengar wanita itu berkata perlahan waktu ingin duduk dikursinya, „Engko Ceng, malam ini biarlah kita beristirahat disini saja dulu, besok baru melakukan pengejaran lagi.....”

Lelaki setengah baya yang dipanggil engko itu mengangguk tanpa bilang apa-apa, kepada pelayan dia memesan arak dan makanan.

Sejak dua orang memasuki kedai arak ini, hati Kun Hong terkejut bukan main. Begitu juga saat dia mendengar wanita setengah baya itu memanggil si lelaki setengah baya itu dengan sebutan “engko Ceng”, maka yakinlah Kun Hong kedua orang itu memang merupakan dua orang jago yang diduganya.

„Totiang, engkau akan tertolong dari kesulitanmu….. tidak perlu kau bersedih terus,” kata Kun Hong kemudian, perlahan suaranya, „hanya mau atau tidak mereka menolongmu, totiang......”

„Si..... siapa?” tanya si tojin dengan sikap setengah percaya dan setengah tidak. Dia menyaksikan kepandaian pemuda ini yang hebat sekali, yang berhasil merubuhkan San-ciam Liehiap tetapi jika pendekar wanita penyebar jarum itu datang bersama-sama dengan beberapa orang kawannya urusan menjadi lain dan belum tentu Kun Hong sanggup melindunginya.

„Engkau pernah mendengar Kwee Ceng Tayhiap?” tanya Kun Hong dengan suara yang perlahan juga.

„Ihh, pendekar besar itu?” tanya si imam terkejut.

„Ya, rupanya Thian mengetahui kesulitanmu sehingga orang gagah itu berada disini bersama isterinya,” menyahuti Kun Hong.

„Kau….. kau maksudkan Oey Yong Liehiap?” tanya si imam.

Kun Hong mengangguk, dia bangkit berdiri. „Kau tunggu dulu disini, biar aku menemui mereka,” katanya.

Si imam jadi mengawasi tertegun, dia melihat si pemuda pelajar menghampiri tamu yang baru datang tadi, seorang pria setengah baya bersama wanita setengah baya.

„Merekakah Kwee Ceng Tayhiap dan isterinya Oey Yong Liehiap?” menduga-duga Kui-im Cinjin dengan hati tergoncang. Dia memang telah mendengar kebesaran nama Kwee Ceng dan Oey Yong yang seperti menggetarkan jagad yang merupakan jago tiada tandingan di masa ini. Tetapi si imam tidak mengenal kedua pendekar besar itu.

Cu Kun Hong telah menghampiri meja pria dan wanita setengah baya itu, dia merangkap kedua tangannya dan menjura memberi hormat.

“Boanpwe (tingkatan yang muda) Cu Kun Hong mengunjuk hormat kepada kepada Kwee Tayhiap dan Oey Liehiap,” katanya dengan sikap yang hormat sekali.

Lelaki setengah baya itu cepat bangkit mencegah hormat pemuda itu. “Jangan banyak peradatan, jangan banyak peradatan,” katanya cepat.

„Engko Ceng kulihat engko kecil ini walaupun dari kalangan Boanpwe tetapi dia agak luar biasa,” bilang si wanita setengah baya sambil tersenyum.

Pria setengah baya itu memang tidak lain, adalah Kwee Ceng dan wanita setengah baya yang bersamanya memang isterinya yaitu Oey Yong.

Y

Mereka tengah melakukan pengejaran terhadap seseorang, dan kebetulan lewat di kampung ini, sehingga mereka singgah untuk minum dan mengisi perut.

Waktu itu Kwee Ceng telah mendorong perlahan agar Kun Hong batal memberi hormat kepadanya, tetapi akhirnya Kwee Ceng terkejut sendirinya, sebab tubuh Kun Hong tidak bergeming dan meneruskan gerakannya untuk membungkuk memberi hormat.

„Benar apa yang dibilang Yong-jie, pemuda ini memiliki lwekang yang lumayan,” dan setelah berpikir begitu Kwe Ceng menambahkan sedikit tenaga mendorongnya, tubuh Kun Hong seperti terangkat sedikit, dan hampir terhuyung ke belakang.

Hati Kun Hong tambah kagum kepada pendekar besar tersebut, karena walaupun dia telah mengerahkan lwekangnya, tetap saja dengan mudah Kwe Ceng membatalkan pemberian hormatnya.

„Siapa gurumu?” tanya Kwee Ceng, dia memang polos dan tidak pandai bicara, maka setelah membatalkan si pemuda dengan hormatnya itu, dia langsung menanyakan guru si pemuda.

„Insu Bong-kwei Siansu, dimana dulu Insu sering menceritakan kegagahan Tayhiap dan Liehiap. Sungguh beruntung hari ini Boanpwe bisa bertemu dengan jie-wie locianpwe,” menyahuti Kun Hong dengan sikap menghormat.

Kwee Ceng tak kenal guru pemuda itu, yang gelarnya baru didengarnya sekali ini. Tetapi sebagai basa-basi, dia telah menyatakan bahwa telah lama dia mendengar nama terkenal Bong-kwei Siansu. Senang hati Kun Hong karenanya.

„Apakah ada sesuatu yang bisa Boanpwe bantu jika Tayhiap ada suatu urusan di daerah ini?” tanya Kun Hong pula.

Kwee Ceng menggeleng sambil mengucapkan terima kasih. Tetapi berlainan dengan Oey Yong yang lincah telah menepuk lututnya sambil katanya dengan suara riang, „Engko Ceng, mengapa kita tidak menanyakan kepada Cu Siangkong mengenai tosu itu?”

Kwee Ceng mengangguk, kemudian katanya, „Cu Siangkong, sesungguhnya kami tengah mengejar seseorang, tetapi kami kehilangan jejak. Kami tengah mengejar seorang tosu yang memiliki urusan penting dengan kami, dan menurut penyelidikan yang kami lakukan, tosu tua itu mengambil arah ke utara, maka pasti diapun lewat di kampung ini. Apakah Siangkong pernah melihat di sekitar daerah ini seorang tosu tua dengan cacad bekas bacokan di pipi kanannya, dan tanda-tanda lainnya yang menyolok adalah punggungnya yang agak bungkuk?”

Cu Kun Hong seperti berpikir sejenak, lalu katanya, „Sayang sekali boanpwe belum pernah, bertemu dengan tosu yang Tayhiap maksudkan itu,” sahut si pemuda mengandung penyesalan.

„Biarlah, kami yakin akan berhasil menemui jejaknya,” kata Kwee Ceng.

Sebetulnya Kun Hong tertarik ingin mengetahui urusan apakah yang tengah dihadapi pendekar besar ini sehingga mengejar-ngejar seorang tosu tua yang bercacad mukanya itu, namun Kun Hong tidak berani terlalu bertanya melit-melit.

„Kwee Tayhiap dan Oey Liehiap,” kata Kun Hong kemudian, „Sesungguhnya boanpwe ingin menyampaikan sesuatu yang tidak pantas, entah boanpwee boleh terus mengatakannya atau tidak?” kata si pemuda.

Kwee Ceng tertawa manis. „Katakanlah apakah kau tengah menghadapi kesulitan, engko kecil?” tanyanya.

„Sebetulnya bukan urusan boanpwe, tetapi totiang itu.....” kata Kun Hong sambil menunjukkan ke arah Kui-im Cinjin.

Si imam yang ditunjuk segera menghampiri hormat kepada Kwee Ceng dan Oey Yong. Sedangkan Kun Hong telah menceritakan urusan yang telah menimpa diri Kui-im Cinjin, sehingga tosu itu selalu dikejar-kejar oleh lawan-lawannya yang terlalu mendesak, yang menyebabkan dia jadi tidak berdaya dan selalu ketakutan saja.

„Mungkin satu dua hari lagi San-ciam Liehiap akan datang mencari Kui-im Totiang, maka bisakah Tayhiap dan Liehiap mendamaikan urusan mereka?”

„San-ciam Liehiap? Akh, nama itu baru kudengar,” kata Kwee Ceng.

„Nah engko Ceng, apa kubilang,” kata Oey Yong sambil tertawa. „Bukankah sering sekali kukatakan bahwa angkatan muda yang sekarang telah bermunculan banyak sekali jago-jago muda yang penuh harapan?”

Kwee Ceng hanya tersenyum, dia tidak tertarik dengan gurau istrinya, dengan bersungguh-sungguh dia telah menoleh kepada Kui-im Cinjin, katanya, „Totiang, sungguh menyesal bahwa justru kami tengah mengejar waktu untuk membekuk seseorang..... tetapi kami bukan berarti tidak mau menolong kesulitan totiang. Begini saja kita atur, aku akan menulis sepucuk surat meminta kepada San-ciam Liehiap dan kawan-kawannya, meminta agar mereka mau memandang muka kami dan untuk mengambil jalan bijaksana dalam urusan mereka dengan totiang. Kukira jika mereka ingin memberi muka kepadaku tentu bisa menghabiskan permusuhan dengan totiang sampai disini saja.”

Tentu saja Kui-im Cinjin girang bukan main. Nama Kwee Ceng telah menggetarkan seluruh rimba persilatan, siapapun tentu mengenal dan mengetahuinya. Dengan ditulisnya surat pengantar oleh Kwee Ceng, jelas San-ciam Liehiap dan kawan-kawannya bersedia menyudahi permusuhannya dengan Kui-im Cinjin. Itulah suatu pertolongan yang mimpipun sulit diharapkan. Berulangkali Kui-im Cinjin menyatakan terima kasihnya.

Kwee Ceng meminta pelayan mempersiapkan kertas dan pit, lalu menulis sepucuk surat. Sedangkan Oey Yong yang sejak mudanya memang terkenal nakal dan periang, telah mengajak Kun Hong bercakap. Ada saja yang dibicarakannya, masalah-masalah rimba persilatan di kalangan golongan muda. Kun Hong pun senang sekali menjawab setiap pertanyaan nyonya yang hebat sekali kepandaiannya itu.

Selesai menulis suratnya, Kwee Ceng menyerahkannya kepada Kui-im Cinjin, yang menerimanya sambil mengucapkan terima kasihnya berulang kali. Surat itu disimpannya baik-baik di sakunya, karena surat itu merupakan surat wasiat yang bisa membeli jiwanya. Dengan surat inilah Kui-im Cinjin bisa mengharapkan untuk hidup terus.

Kwee Ceng dan Oey Yong bersantap, selesai itu merekapun telah melanjutkan perjalanan mereka.

Sedangkan Kui-im Cinjin juga telah mengucapkan terima kasihnya kepada Cu Kun Hong pemuda pelajar itu, karena lewat pemuda inilah Kui-im Cinjin berhasil memiliki surat wasiat yang besar faedahnya, kemudian diapun pamitan. Kun Hong telah melanjutkan sendiri meneguk araknya, hatinya senang sekali bisa menolong kesulitan yang tengah dihadapi Kui-im Cinjin.

Hari mulai gelap, dan setelah membayar harga makanan dan arak yang diminumnya, Kun Hong pun berlalu dari kedai arak itu. Sambil bersiul-siul perlahan, dia menyusuri lorong yang akan menuju ke rumah penginapannya yang terletak di pintu selatan kampung tersebut.

Wu-cuan-cung merupakan perkampungan yang cukup padat penduduknya, meliputi hampir seribu kepala keluarga, keadaannya yang ramai dan padat seperti sebuah kota kecil. Terlebih lagi letak Wu-cuan-cung merupakan lintas hidup untuk orang-orang yang berlalu lintas dari Kang-lam menuju Phang-ciu maupun Hang-ciu, tidak mengherankan jika perkampungan tersebut ramai sepanjang hari.

Sedang Kun Hong menikmati keramaian jalan yang dilaluinya, tiba-tiba didengar suara „Trak, trakk, trakk,” tidak hentinya. Waktu pemuda she Cu tersebut mengangkat kepalanya, dia melihat pemandangan yang benar-benar mengherankan hatinya karena dari jurusan depan tampak mendatangi seorang wanita berpakaian compang camping tengah jalan dengan kaki diseret, dan sepatu rombengnya yang terseret itu menimbulkan suara „trakk, trakk,” tidak hentinya. Keadaan wanita itu mesum dan kotor sekali, karena takut bertabrakan dengan wanita mesum itu, Kun Hong telah melompat ke tepi jalan.

Saat itu jarak antara wanita yang berpakaian seperti pengemis itu, dengan rambut yang diriap turun terurai di bahunya dan sebagian menutupi mukanya, hanya terpisah satu tombak lebih dengan tempat dimana Kun Hong berada, tentu saja gerakan pemuda itu dilihatnya dengan jelas. Setelah berjalan beberapa langkah lagi, di saat berada dihadapan Kun Hong, wanita berpakaian seperti pengemis itu menghentikan langkah kakinya berdiri tegak dan mengeluarkan suara “ha, ha, hi, hi”.

„Anak yang cakap, anak yang tampan,” kata wanita yang jorok itu sambil mengulurkan tangannya yang kotor penuh daki dan debu itu ingin mengusap muka Kun Hong.

Pemuda she Cu itu mendongkol bukan main, mana mau dia membiarkan mukanya diusap oleh tangan yang kotor seperti itu? Dengan cepat Kun Hong telah memiringkan kepalanya ke kiri dengan gerakan yang gesit sekali.

Tetapi diluar dugaan pemuda she Cu itu, di saat Kun Hong berkelit dengan gesit, tangan wanita itu lebih gesit lagi, tahu-tahu telah berhasil mengusap muka Kun Hong. Keruan Kun Hong menggidik karena tangan wanita itu bukan hanya kotor, tetapi dingin lengket seperti tangan mayat.

„Kurang ajar…..!” bentak Kun Hong sambil melompat mundur kaget. „Jangan kurang ajar…..!”

„Hi, hi, hi, anak manis, aku tidak akan galak-galak kepadamu!” Dan wanita itu telah maju lagi dua langkah, dia mengulurkan tangannya untuk mengusap pula.

Kun Hong jadi kelabakan sendiri, dia kewalahan menghadapi wanita yang seperti sinting ini tanpa berpikir lagi dia memutar tubuhnya sambil mementang kaki lebar-lebar untuk berlalu dengan cepat meninggalkan wanita sinting itu. Tetapi Kun Hong jadi tambah terkejut, karena walaupun bergerak cepat, tangan wanita itu bergerak lebih cepat lagi, tahu-tahu ujung bajunya telah berhasil dicekal oleh wanita sinting itu, dan yang mengejutkan Kun Hong bercampur malu, justru di saat itu wanita sinting tersebut telah menjerit-jerit sambil menangis.

„Jangan tinggalkan aku…… ooohh, koko cakap, engko yang manis, jangan kau tinggalkan aku mengapa kau demikian kejam?”

Muka Kun Hong jadi berobah merah dan panas, darahnya jadi meluap naik karena dia malu sekali ditonton oleh beberapa orang penduduk yang kebetulan berada di jalan tersebut, yang telah berhenti sejenak untuk menyaksikan peristiwa tersebut. Mereka tertarik karena mendengar tangisan perempuan sinting itu.

Dengan cepat Kun Hong telah menabas dengan tangan terbuka, tabasannya walaupun disertai hanya tiga bagian tenaga dalamnya, tetapi hebat sekali. Dia yakin jika tangan wanita itu berhasil ditabas, tentu cekalannya akan dilepaskannya dan dia akan segera meninggalkannya secepat mungkin.

Tetapi Kun Hong kembali kaget bukan main, karena justru di saat tangannya hampir tiba di sasaran, tahu-tahu wanita sinting itu telah melepaskan cekalannya dan dia telah menarik tangannya, sehingga tabasan Kun Hong mengenai tempat kosong. Namun membarengi dengan itu, di saat itulah dia telah mengulurkan tangan pula untuk menjambret dan mencekal ujung baju Kun Hong, yang dicekalnya lagi dengan kuat dan tetap menangis.

Tentu saja Kun Hong jadi penasaran sekali dengan cepat dia menambah tenaganya dan telah menjejakkan kakinya, dia melompat untuk menarik jubahnya yang tercekal wanita sinting itu, kemudian jika digentak dengan sentakan keras, niscaya cekalan wanita itu akan terlepas. Tetapi yang membuat Kun Hong jadi lebih kaget lagi, justru di saat dia melompat, tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia hanya melompat tetap di tempatnya, karena cekalan tangan dari wanita sinting itu tidak bergeming sedikit pun juga, sangat kuat sekali. Kenyataan seperti ini benar-benar telah mengejutkan hati Kun Hong. Di saat itulah dia yakin bahwa wanita sinting yang tengah dihadapinya ini bukan wanita sinting sembarangan, karena dari cara-cara dia mengelakkan tabasan tangan Kun Hong dan cekalannya yang kuat itu, dia tentu memiliki kepandaian yang luar biasa.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut jadi tertawa. Jumlah orang yang menonton semakin lama jadi semakin banyak, dan Kun Hong merasakan pipinya seperti terbakar panas sekali.

Tetapi disamping gusar, Kun Hong juga jadi penasaran sekali. Dia telah mengeluarkan kipasnya, yang tahu-tahu telah menyambar ke arah mata wanita sinting itu. Untuk menggertaknya, untuk mengancam biji mata dari perempuan sinting itu, memaksanya agar wanita sinting itu melepaskan cekalannya.

Kipas dalam keadaan tertutup seperti itu, memang ujungnya bisa dipergunakan menotok jalan darah, dan Kun Hong dalam bertindak kali ini tidak tanggung-tanggung, karena dia tengah gusar sekali. Di saat ujung kipas itu menyambar mengancam biji mata kanan dari wanita sinting itu maka gagang kipas yang ada di dalam cekalannya itu dapat pula menotok jalan darah ditenggorokkan wanita sinting itu jika dia berhasil mengelakkan diri dari totokan ujung kipas tersebut.

Tetapi wanita sinting itu rupanya tidak memperdulikan serangan pemuda itu, dia masih tetap mencekal baju si pemuda she Cu itu dengan, disertai rengekannya.

„Jangan, tinggalkan aku anak tampan..... jangan kejam begitu.....!” dan di saat ujung kipas hampir sampai di sasaran, dengan gerakan yang wajar, bagaikan tidak disengaja wanita sinting itu menengadahkan kepalanya, tahu-tahu dia telah menggigit ujung kipas itu.

Kun Hong jadi terkejut sekali, dia telah mengeluarkan seruan tertahan. Dan dia berusaha menarik kipasnya itu, namun sudah terlambat, karena kipas itu telah tergigit dan tidak bisa di tarik kembali, karena gigitan dari wanita sinting itu kuat sekali. Dengan penasaran Kun Hong telah menge¬rahkan tenaga dalamnya di lengannya, dia menarik sekali lagi.

Di saat itulah wanita sinting itu melepaskan gigitannya, maka tidak ampun lagi tubuh Kun Hong terhuyung hampir terjengkang ke belakang. Untung saja dia bergerak gesit, dia berusaha menguasai kuda-kudanya agar tidak tergempur berdiri tidak sampai rubuh di tanah. Justru dalam keadaan seperti itu, Kun Hong lebih kaget lagi, karena tiba-tiba wanita sinting itu telah menubruk memeluk Kun Hong.

Tentu saja, gerakan seperti itu telah membuat Kun Hong jadi menitikkan keringat dingin, kalau sampai dirinya terpeluk oleh wanita sinting yang mesum dan kotor itu, alangkah malunya dia. Dan disamping itu, bau busuk yang keluar dari tubuh perempuan mesum itu benar-benar membuat dia hampir muntah, karena jarak mereka memang terpisah tidak jauh. Mati-matian Kun Hong menjatuhkan dirinya di tanah kemudian bergulingan untuk menjauhkan diri dari wanita sinting itu.

Karena pelukannya gagal, wanita itu tidak mengejarnya hanya menjatuhkan dirinya duduk sambil menangis terisak-isak seperti seorang anak kecil kehilangan mainannya.

„Kau kejam..... kau kejam.....!” samar terdengar suara keluhan wanita sinting itu.

Kun Hong sudah tak memperdulikan sesuatu apapun lagi, dia telah mementang langkah secepat mungkin, dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, dia telah berlari sekuat tenaganya. Setelah sampai di tikungan dengan hati yang masih tergoncang dia telah melirik dan melihat wanita sinting itu tidak mengejarnya, hatinya baru lega, dan dia menyusut keringat dinginnya. Tetapi walaupun wanita sinting itu tidak mengejarnya, Kun Hong tidak berani berhenti dia berlari terus dan akhirnya tiba dirumah penginapannya, langsung masuk kamarnya, dan rebah di pembaringan dengan hati yang masih tergoncang.

Kun Hong juga tidak habis mengerti, sesungguhnya siapakah wanita sinting itu, yang telah mengganggunya tanpa sebab. Jika melihat cara wanita itu mengelakkan serangannya dan juga telah mencekal bajunya, maka terlihat jelas bahwa wanita itu bukan wanita sembarangan. Tetapi jika dia memiliki kepandaian yang lumayan tingginya seperti itu, mungkinkah dia sinting? Dilihat dari gerakannya mengelakkan totokan ujung kipas Kun Hong dan digigitnya. Setidak-tidaknya kepandaian wanita sinting itu berimbang dengan kepandaian Kun Hong. Siapa dia?

Di saat Kun Hong tengah rebah dengan pikiran yang melayang-layang seperti itu, tiba-tiba dia mendengar,

„Anak yang manis..... anak yang tampan, anak cakap, jangan tinggalkan aku..... jangan kejam begitu, anak.....!”

Darah Kun Hong seperti berhenti, mendesir jantungnya berdegup keras sekali, karena dia segera mengenali bahwa suara itu adalah suara wanita sinting yang telah mengganggunya beberapa saat yang lalu. Tentu saja Kun Hong tidak berani untuk keluar dari kamarnya, setidak-tidaknya bukan disebabkan perasaan takut, tetapi dia tidak ingin berurusan dengan wanita sinting yang mesum seperti itu. Perlahan-lahan Kun Hong turun dari pembaringannya tetapi baru kakinya menyentuh lantai justru di saat itu dia telah mendengar lagi.

„Anak manis, ohh, anak manis......,” sehingga Kun Hong telah ragu-ragu untuk menuju ke pintu, untuk mengintai. Namun di saat itu Kun Hong mendengar suara tertawa yang riuh dari orang-orang yang mungkin tengah menonton tingkah laku wanita sinting itu. Kun Hong perlahan-lahan mendekati pintu kamarnya, dia telah membukanya dan mengintai keluar dengan membuka sedikit daun pintu kamarnya. Dugaan Kun Hong memang tidak meleset, karena dilihatnya wanita sinting itu tengah mengusap-usap muka seorang pelayan yang tertawa lucu mempermainkan wanita sinting itu, diiringi oleh suara ramai dari pelayan-pelayan lainnya maupun pengunjung rumah penginapan tersebut.

Di saat itu Kun Hong melihat ada seorang pelayan yang tengah mendatangi ke arah kamarnya dengan membawa satu baskom dan handuk. Dan pelayan itu mengetuk kamar Kun Hong. Pemuda itu dengan cepat membuka pintu kamarnya.

„Siapa wanita sinting itu?” tanya Kun Hong setelah pelayan itu meletakkan tempat air mencuci muka di atas meja.

„Wanita gila anak, Kongcu…..” menyahut pelayan itu. „Nasibnya memang harus dikasihani, karena semula dia adalah seorang nyonya kaya raya, pandai silat, namun suatu malam rumahnya didatangi perampok yang telah membunuh suaminya dan puteranya, sehingga dia menjadi gila, dan justru selalu gila akan anak yang cakap, anak yang manis.....”

Kun Hong mengangguk tidak tertarik untuk mendengari terus cerita pelayan itu. Setelah pelayan itu keluar dari kamarnya Kun Hong mengunci pintu kamarnya kembali. Untuk segera mencuci muka dia masih malas, maka dia telah rebah di pembaringannya tanpa memperdulikan lagi suara tertawa wanita sinting itu karena wanita itu memang benar-benar seorang wanita gila. Dengan dia berada di kamar dan pintu terkunci, bukankah berarti dia aman dari gangguan wanita sinting dan mesum itu.

Tetapi, tiba-tiba mata Kun Hong jadi terpentang lebar-lebar dan mengeluarkan seruan tertahan. Ada suatu yang luar biasa telah dilihatnya. Seraut wajah yang menyeringai dengan gigi yang kuning dan muka yang kotor serta rambut yang riap-riapan, tengah memandangi dia lewat jendela kamarnya. Wanita sinting itu! Dengan gusar Kun Hong telah melompat dari pembaringannya, dia telah mundur akan lari lewat pintu kamarnya.

„Anak manis, mengapa kau takut bertemu dengan ibumu?” tegur wanita sinting itu yang memang berdiri di luar jendela kamar Kun Hong.

Munculnya wanita sinting itu yang demikian tiba-tiba benar-benar membuat Kun Hong jadi kaget dan ketakutan, takut diusap dan dipeluk lagi..... Cepat sekali Kun Hong menyambar pintunya.

Tetapi di saat itu dengan gerakan yang ringan sekali, wanita sinting itu telah melompat lewat jendela kamarnya. Dalam sekejap mata dengan, kegesitan yang luar biasa tahu-tahu dia telah berada di depan Kun Hong, sehingga pemuda she Cu itu mengeluarkan seruan kaget dan tangan kanannya telah mendorong sekuat-kuatnya dengan mempergunakan tenaga lwekangnya.

Namun wanita sinting, itu tidak mengelak, dan tangan Kun Hong meluncur terus. Tetapi justru, di saat itulah Kun Hong yang jadi kaget sendirinya, karena jika serangannya itu diteruskan dan wanita itu tidak berkelit, berarti dada wanita sinting akan didorong oleh tangannya. Itulah yang tidak dikehendaki oleh Kun Hong, maka dengan cepat dia telah menarik pulang tenaga dan tangannya.

Wanita sinting itu justru tidak memperdulikan sikap Kun Hong, dia telah mengulurkan tangannya mencekal lengan Kun Hong, katanya, „Anak, engkau jangan takut, ibu tidak akan mengganggumu…..”

Tubuh Kun Hong menggidik. Biasanya, walaupun harus menghadapi jago yang bagaimana hebat sekalipun kepandaiannya Kun Hong tidak pernah merasa takut namun justru terhadap wanita sinting ini, mengingat wanita itu memang gila, dia jadi takut, ngeri dan gugup disamping jijik sekali.

„Anak..... tidakkah kau merasakan penderitaan ibu? Mengapa kau begitu kejam ingin meninggalkan ibu?” tegur wanita itu lagi, suaranya halus.

Hati Kun Hong jadi luluh dia tidak tega untuk meronta, akhirnya dia menyahuti, „Tetapi aku bukan anakmu......”

„Jangan berkata begitu anakku...... jangan kau lukai pula hati ibu,” berkata wanita sinting itu cepat.

Dan setelah itu, wanita sinting tersebut bersenandung dengan suara penuh kasih sayang, seperti juga tengah menina bobokan anaknya, senandungnya itu antara lain:

„Kain sutera merah,
Pasangan Wan-yoh (walet terbang),
Langit biru tertawa cerah,

Simungil yang menarik hati,
Buah hatiku.
Tumpahan kasih,

Angin membawa bisikan: Tidurlah anakku.
Mengapa kau menangis saja?
Tidurlah anakku.....”

02.03. Wanita Gila Misterius

Lembut sekali nyanyian wanita sinting itu sehingga Kun Hong jadi terharu. Betapa tidak, wanita ini memang, benar sinting, tetapi sepotong hati di dadanya yang masih dimilikinya telah hancur, dan terluka oleh perbuatan. biadab perampok-perampok yang telah merusak rumah tangganya membinasakan suaminya dan membunuh anaknya. Betapa tidak pedih hati wanita ini. Hati Kun Hong jadi lemah akhirnya, dia membiarkan wanita itu. memegangi tangannya terus.

„Anak,” tiba-tiba wanita itu telah memecahkan kesunyian yang menghanyutkan. „Engkau kini sudah besar, cakap, tampan, betapa bahagia hati ibu…..”

Tetapi setelah berkata begitu, tiba-tiba kumat lagi gilanya, dia tahu-tahu telah tertawa ha, ha, hi, hi dan mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Kun Hong disertai kata-kata gilanya.

„Anak cakap..... anak manis, jangan tinggalkan ibu...... ha, ha, ha, hi, hi, hi.....”

Kun Hong menggigil menggidik, setidak-tidaknya dia merasa jijik bukan main. Tetapi mengingat wanita ini gila karena kematian anak dan suaminya, dan gilanya itu karena kehancuran rumah tangganya. Kun Hong jadi tidak tega untuk melukai hatinya, dia membiarkan wanita itu mengusap pipinya!

Tetapi melihat pemuda itu tidak berusaha mengelak dari usapannya, justru wanita sinting itu telah menjatuhkan dirinya duduk numprah di lantai, dan dia menangis keras sekali, terisak-isak tidak hentinya.

Di muka jendela, tampak telah banyak kepala manusia yang menyaksikan semua peristiwa itu sambil tertawa ha, ha, hi, hi, hi karena mereka anggap sebagai pertunjukan yang lucu menggelikan hati.

Tentu saja Kun Hong jadi gusar, muncul sifat kesatrianya.

„Kalian manusia-manusia tidak bermartabat dan kejam! Lihatlah oleh kalian wanita ini harus dikasihani, dia telah terganggu syarafnya, tetapi bukannya menghibur dan diobati justru kalian mempermainkannya. Begitu tegakah kalian?”

Mendengar makian Kun Hong, rupanya orang-orang yang berkumpul di luar jendela menjadi malu sendirinya dan telah bubar.

Kun Hong berjongkok di samping wanita sinting itu, katanya, „Pee-bo (bibi) engkau terlalu letih, pergilah beristirahat. Biarlah aku pergi membelikan pakaian untukmu, nanti kau salin pakaianmu itu!”

Tetapi wanita sinting itu tiba-tiba mendelik ke arahnya dan tertawa menyeringai mengerikan. „Ohhh, kalian manusia-manusia bangsat, kalian pembunuh, kalian manusia bejat, ha, ha, ha, hi, hi!” Dan wanita itu telah menerobos membuka pintu dan berlari-lari keluar.

Kun Hong tidak mengejar, dia menghela napas panjang entah mengapa kini dia merasa kasihan terhadap nasib wanita sinting itu.

Setelah mencuci muka, Kun Hong sengaja keluar dari kamarnya untuk mencari wanita sinting itu. Tetapi tidak melihatnya bayangan wanita sinting itu, begitu pula waktu dia mencari-cari di jalan raya, wanita sinting itu tidak terlihat mata hidungnya. Menjelang tengah malam, Kun Hong baru kembali ke rumah penginapannya.

<> 

Keesokan paginya, di saat Kun Hong baru terbangun dari tidurnya, justru di saat itu dia mendengar suara tangisan. Itulah suara tangisan wanita sinting yang kemarin, yang telah kematian suami dan puteranya. Suara tangisan itu berasal dari luar kamarnya, mungkin wanita yang bernasib malang itu tengah dipermainkan oleh para pelayan rumah penginapan itu lagi.

Kun Hong melompat turun dari pembaringannya dan cepat-cepat mencuci muka. Dia telah bersalin pakaian, dan keluar dari kamarnya. Benar saja, dugaan Kun Hong tidak meleset dia melihat beberapa orang pelayan tengah mengodai wanita sinting itu yang tengah duduk numprah di dekat pintu rumah penginapan tersebut, sambil memperdengarkan suara isak tangisnya yang cukup keras.

Kun Hong cepat-cepat menghampiri dan pelayan-pelayan yang tengah menggodai wanita sinting itu. Waktu melihat Kun Hong cepat-cepat menyingkir.

„Pee-bo,” kata Kun Hong dengan suara yang sabar dan lembut ramah. Lalu ia menambahkan, „Apakah kau sudah makan? Jika belum, makanlah! Aku yang akan membayar semuanya…..”

Tetapi wanita sinting itu tidak menyahuti, dia tetap menangis tidak hentinya, hanya kepalanya digeleng-gelengkan ke sana sini, dia tengah tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa.

Kun Hong berusaha membujuknya beberapa kali, tetapi wanita sinting itu tetap dengan tangisannya.

Di saat itulah, dari arah jalan raya di luar rumah penginapan terdengar suara derap langkah kaki kuda. Dan tiga ekor kuda tunggangan berhenti di muka rumah penginapan. Tiga orang tua yang bertubuh tinggi tegap itu, memakai baju ringkas dan wajah yang ditumbuhi brewok yang tebal kasar menyeramkan karena garang telah melangkah masuk ke dalam ruangan penginapan itu. Waktu ingin melewati pintu, justru wanita sinting itu menghalangi jalan mereka, dengan duduknya dia disitu. Dengan gusar salah seorang diantara ketiga orang itu, yang di tengah telah menggerakan kaki kanannya menendang keras sekali disertai dengan makiannya,

„Perempuan sial.....? Anjing geladak mana yang mengotori tempat ini?”

Tendangan itu hebat sekali dan tubuh wanita yang bernasib malang tersebut segera saja terpental ambruk di lantai sebelah dalam. Tangisnya jadi semakin keras juga.

Menyaksikan kekasaran orang yang baru datang itu, tentu saja Kun Hong jadi gusar bukan main, darahnya jadi meluap. Cepat sekali pemuda itu telah berdiri dengan mata yang terpentang lebar. Dia juga telah membentak dengan penuh kemarahan.

„Kalian manusia-manusia tidak tahu malu yang telah menghina manusia lemah tidak berdaya!”

Mendengar makian seperti itu, ketiga lelaki bertubuh tegap berewok itu telah tertegun sejenak, kemudian mereka telah saling pandang satu dengan yang lainnya diantara mereka bertiga diakhiri dengan suara tertawa bergelak dari mereka.

„Ohh, pemuda bau kencur, apakah kau tidak mengenal kami ini bertiga siapa? Kami adalah Cauw-cong (kakek moyang) mu!” bentak lelaki berewok yang tadi telah menendang wanita sinting itu.

Kun Hong tertawa dingin dia tidak memandang sebelah mata ketiga orang itu, sedikitpun dia tidak takut, terlebih lagi melihat perbuatan ketiga orang itu yang tidak pada tempatnya.

„Aku tidak perlu mengenal manusia-manusia bejat moral seperti kalian!” bentak Kun Hong dengan suara yang dingin. „Disamping itu, memang kenyataannya kalian hanya pantas menjadi Cauw-cong dari kucing atau anjing…..”

Hebat ejekan yang dilontarkan oleh Kun Hong. membuat muka ketiga orang itu jadi berubah merah padam karena gusar.

„Ohh pemuda tidak tahu diuntung dan tidak mengenal mampus!” memaki ketiga orang itu hampir serentak. „Kami Sam-kiam-hun (Arwah tiga pedang) tidak pernah menerima kata-kata hinaan seperti itu! Walaupun tubuhmu dirobek-robek, belum dapat membayar lunas hinaanmu itu!” Dan membarengi dengan perkataannya itu, lelaki berewok yang seorang tersebut telah mementang langkahnya dan dia telah menghampiri Kun Hong, dan kedua tangannya telah dipentang untuk menyambar mencengkeram lengan pemuda she Cu tersebut.

Cu Kun Hong yang memang sejak tadi telah bersiap sedia penuh kewaspadaan, telah memperdengarkan suara tertawa dingin kemudian dia telah menggeser kakinya sedikit lalu berkelit ke samping, loloslah cengkeraman tangan orang berewok itu.

Tentu saja orang itu, Sam-kiam-hun jadi mengeluarkan seruan murka disertai juga oleh serangan berikutnya. Tangan kirinya menghantam kuat ke depan, sedangkan tangan kanannya telah mencengkeram. Itulah gerakan Jie-liong-cut-hay, Sepasang Naga Keluar dan Lautan, gerakannya gesit dan dia juga memiliki tenaga latihan gwa-kee yang bukan main besarnya. Dengan sendirinya, serangan itu jika mengenai sasarannya dengan tepat, niscaya tubuh lawannya akan terpental dan hancur seluruh tulang rusuknya.

Tetapi walaupun demikian, Kun Hong tidak merasa takut sedikitpun juga. Dengan mendengus dingin, Kun Hong tidak berusaha berkelit dengan mempergunakan tenaga dalam yang telah disalurkan kepada kedua lengannya, dia telah melancarkan serangannya itu dengan kibasan.

„Trakkk!” tangan mereka telah saling bentur dengan kuat sekali dan disusul juga oleh suara seruan tertahan dari orang berewok itu, karena dia merasakan betapa tangannya tergetar dan kuda-kudanya tergempur. Kalau orang berewok itu tidak cepat-cepat mengempos semangatnya, niscaya tubuhnya akan terdorong ke belakang terjengkang di lantai.

Sedangkan Kun Hong juga kaget bukan main karena dia merasakan tenaga serangan yang dilancarkan oleh lelaki berewok itu tidak bisa diremehkan, tenaga itu beratnya hampir tigaratus kati, dan kalau saja dia tidak menangkisnya dengan baik tentu bisa menyebabkan Kun Hong terluka di dalam.

Kenyataan seperti ini, membuat Kun Hong bersikap jauh lebih hati-hati lagi. Dan di saat melihat si lelaki berewok itu bersiap-siap untuk melan¬carkan serangan pula, Kun Hong mengawasi dengan penuh waspada. Sedangkan kedua lelaki berewok lainnya, telah menerjang maju, mereka melihat Kun Hong memiliki kepandaian yang lumayan dan saudaranya itu tidak bisa merubuhkan dengan mudah dan cepat, maka karena mereka tidak ingin membuang-buang waktu, keduanya telah menerjang maju untuk membantui kawannya itu.

Dengah majunya kedua lelaki berewok itu, memang Kun Hong kini sekaligus menghadapi tiga lawan yang tidak ringan. Dia telah bersiap-siap untuk menyambut serangan. Karena dia gusar sekali melihat tindakan lelaki berewok itu yang telah main tendang kepada wanita sinting itu. Tetapi, disamping itu, Kun Hong bukannya tidak menyadari akan bahaya yang tengah mengancam dirinya. Dan walaupun bagaimana dengan sekaligus menghadapi ketiga orang lawannya itu, berarti dia harus lebih hati-hati dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Lengah sedikit saja, berarti dia akan berurusan dengan elmaut……!

Ketiga orang lelaki berewok itu telah menerjang melancarkan serangan dari tiga jurusan, serangan juga merupakan serangan yang mematikan dan merupakan serangan yang mengincar bagian-bagian yang sekaligus bisa membuat lawan menjadi mati atau bercacad seumur hidup.

Dengan diserang dari tiga bagian, dari depan, pinggir kiri dan kanan, maka Kun Hong harus memecahkan perhatiannya. Tetapi dia sedikitpun tidak takut. Dengan mempergunakan gerakan Tui-hong-soat-ie (Mengejar Angin Memakai baju Es), tangannya telah berputar-putar dengan gerakan yang cepat sekali. Pukulan-pukulan dan tangkisan-tangkisan yang dilancarkan oleh Kun Hong merupakan gerakan yang tidak ringan dan juga tidak dapat diremehkan, karena sekali saja mengenai sasaran, berarti bisa mendatangkan maut untuk lawan-lawannya tersebut.

Jurus demi jurus telah berlangsung dengan cepat sekali, sebentar saja telah belasan jurus. Tetapi walaupun dikeroyok tiga orang seperti itu, kenyataannya Kun Hong sama sekali tidak terdesak, dan dia telah berhasil memberikan perlawanan yang gigih dan tangguh sekali.

Ketiga lelaki berewok itu semakin lama jadi semakin penasaran, mereka telah melancarkan serangan semakin gencar dan hebat sekali disertai oleh maki-makiannya yang kotor.

Pelayan dan kuasa rumah penginapan itu jadi panik, berulang kali mereka berteriak-teriak memohon kepada orang-orang yang tengah bertempur itu agar bertempur di luar saja, sebab ia mengatakan modalnya kecil, jika terjadi pertempuran seperti ini di dalam ruangan, tentu akan mendatangkan kerusakan dan berarti amblasnya usahanya. Tetapi orang-orang yang tengah bertempur itu mana melayani teriakan kuasa rumah penginapan, mereka telah bertempur dengan hebat sekali dan semakin lama gerakan mereka semakin cepat, sehingga orang-orang yang menyaksikan jalannya pertempuran itu jadi kabur dan berkunang-kunang, karena tubuh mereka itu seperti juga tiga sosok bayangan yang bergerak-gerak mengaburkan pandangan mereka.

Saat itu Kun Hong mengeluh juga di dalam hatinya karena dia merasakan tekanan dari serangan ketiga lawannya semakin berat dan semakin sulit dapat menangkis atau hanya mengelakkan diri saja. Tetapi lawan-lawan Kun Hong juga terkejut karena walaupun mereka telah melancarkan serangan dengan ilmu silat simpanan mereka, kenyataannya Kun Hong berhasil bertahan dengan baik.

Di saat pertempuran itu tengah berlangsung disertai oleh teriakan yang memekakkan anak telinga, tampak sesosok bayangan yang berkelebat ke arah keempat orang yang tengah bertempur itu, lalu disusul oleh suara jerit kesakitan dan suara gedebak-gedebuk tidak hentinya.

Tampaklah suatu peristiwa yang mengejutkan, karena ketiga lawan Kun Hong ternyata telah terlontar keluar dari rumah penginapan itu, jatuh bergelimpangan di jalan raya. Dengan cepat ketiga orang itu melompat bangun dan mengawasi orang yang telah melemparkan mereka ke jalan raya.

Kun Hong juga menoleh ke arah orang yang telah menolongnya, dan hatinya jadi kaget bukan main, karena orang yang telah merubuhkan ketiga lelaki berewok itu dengan hanya sekali menggerakkan tangan tidak lain dari wanita sinting..... saat itu si wanita sinting tersebut telah tertawa ha, ha, ha, hi, hi, hi, dan telah duduk numprah sambil mempermainkan ujung bajunya yang telah robek-robek. Itulah ilmu Kim-na-ciu ilmu menangkap dan melempar, yang luar biasa.

Dengan adanya peristiwa seperti itu, ternyata wanita sinting itu memiliki kepandaian yang tinggi dan lwekang yang sempurna sekali.

Kun Hong saking takjubnya telah memandang tertegun di tempatnya. Sedangkan ketiga lelaki berewok tersebut, yang telah menerima pengalaman pahit yang tidak menggembirakan seperti itu, telah mengawasi dengan murka, tetapi untuk maju lagi mereka jeri.

„Tunggulah, kami akan segera datang lagi! Sam-kiam-hun tidak pernah membiarkan begitu saja setiap hinaan!” kata salah seorang di antara ketiga lelaki berewok tersebut, lalu mereka telah memutar tubuh dan melompat naik ke atas kuda mereka segera dilarikan dengan cepat sekali.

Sedangkan si wanita sinting itu seperti juga tidak memperdulikan kepergian ketiga lelaki berewok itu. Kun Hong juga tidak mengejar atau menahannya, dia hanya mengawasi saja kepergian ketiga lelaki berewok itu dengan hati yang diliputi oleh berbagai perasaan. Dengan lesu Kun Hong telah menghampiri wanita sinting itu dan dia telah menjura,

„Terima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh peebo!” kata Kun Hong sambil membungkukkan tubuhnya.

Tetapi wanita sinting itu tidak melayani dia, hanya terus juga mempermainkan ujung bajunya, sekali-kali terdengar dia bersenandung perlahan.

„Pasangan Wan-yoh.
Mega biru.
Laut bergelombang.
Ikan Leehi berpasangan.
Aduhai anak, aduhai anak.....”

Kun Hong telah memilih kata-kata untuk menarik perhatian wanita sinting itu, untuk diajak bercakap-cakap, karena Kun Hong menyadari bahwa wanita tersebut tentunya seorang wanita yang luar biasa, setidak-tidaknya kini muncul perasaan kagum dihati Kun Hong, karena dengan hanya sekali menggerakkan tangannya saja, ternyata wanita sinting itu telah dapat melempar serentak ketiga lelaki berewok itu.

Namun belum lagi Kun Hong sempat mengucapkan kata-katanya, wanita sinting itu telah mengangkat kepalanya dan memandang keluar pintu, wajahnya luar biasa sepasang alisnya berkerut dan bibirnya bergetar.

„Ya..... ya......, hanya dia yang dapat menolongku,” menggumam wanita itu perlahan sekali tetapi suaranya mengesankan sekali.

„Siapa.....?” tanya Kun Hong yang jadi tertarik, walaupun dia yakin wanita itu memang sinting dan kata-katanya tentu tidak keruan, namun karena cara bicara dari wanita itu, dia ingin mengetahui siapakah, orang yang dimaksudkan oleh wanita sinting itu, yang katanya hanya orang itu yang dapat menolongnya.

Wanita sinting itu tidak menoleh ke arah Kun Hong, hanya mulutnya bergerak-gerak menyebutkan serangkaian kata-kata yang mengejutkan Kun Hong.

„Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko.....! Ya, Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko.....! Hanya dia yang dapat menolongi aku….. hanya dia yang bisa membunuh dan membalas sakit hatiku terhadap manusia-manusia biadab itu. Hanya Sin-tiauw Tayhiap….., hanya Sin-tiauw Tayhiap…..”

Kun Hong menghela napas panjang, karena dia mengetahui bahwa wanita sinting ini tentu ingin mengartikan jika ada Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko yang bersedia membantunya, tentu sakit hatinya terhadap orang-orang yang telah membunuh suami dan anaknya itu dapat dibalas.

Tetapi kemana dia harus mencari Sin-tiauw Tayhiap, karena seluruh orang-orang gagah rimba persilatan umumnya mengetahui setelah membinasakan Kaisar Mangu di Siang-yang, yang akhirnya merupakan kemenangan bagi pihak tentara Song, Yo Ko bersama orang-orang gagah lainnya menghilang. Bersama-sama dengan Kwee Ceng, Oey Yong, Oey Yok Su, It-teng Taysu, Ciu Pek Thong dan jago-jago lainnya, Yo Ko memang telah mendatangi gunung Hoa-san untuk menyambangi kuburan See-tok Auwyang Hong dan Pak-kay Ang Cit Kong.

Dari Hoa-san orang-orang gagah itu telah berpisah mengambil jalannya masing-masing. Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak terdengar kabarnya lagi, begitu juga Tong-shia Oey Yok Su maupun Lam-ceng It-teng Taysu, mendadak semuanya seperti lenyap hilang dari dunia persilatan dan tidak pernah terlihat lagi oleh siapapun juga. Peristiwa berkumpulnya orang-orang gagah di Hoa-san yang terakhir itu telah terjadi tiga tahun yang lalu, dari sebegitu lama Kun Hong belum pernah bertemu dengan orang-orang gagah itu, dan hanya Kwee Ceng dan Oey Yong yang kemarin telah berhasil dijumpainya secara kebetulan.

Kun Hong tidak bisa berpikir lebih lama lagi, karena dilihatnya wanita sinting itu telah lompat berdiri dan berlari keluar rumah penginapan sambil tertawa ha, ha, hi, hi.

Pemuda pelajar she Cu tersebut tidak bisa melakukan apa-apa selain menghela napas panjang. Hatinya terharu sekali memikirkan nasib buruk wanita sinting itu. Jika tidak, tentu wanita itu merupakan seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi dan mengagumkan sekali. Sambil duduk dikursinya menghadapi araknya Kun Hong jadi berpikir juga, jika memang wanita sinting itu berhasil ditunjuki jalan sehingga berhasil bertemu dengan Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko, tentu penyakit sinting wanita itu dapat disembuhkan jago besar di jaman ini dengan mempergunakan ilmu tunggal Tan-cie-sin-thong dan lwekang Yo Ko yang sudah tiada taranya di saat ini.

Kun Hong jadi tidak berselera untuk berdiam lebih lama di perkampungan tersebut. Setelah menyelesaikan pembayaran sewa kamarnya pemuda itu telah melanjutkan perjalanannya. Dengan menunggang kudanya perlahan-lahan Kun Hong mengambil arah barat.

Y

Angin di pagi itu sejuk dan matahari belum naik tinggi, setelah berjalan belasan lie, dia tiba di muka sebuah tegalan dan Kun Hong membiarkan kudanya memamah rumput, sedang dia menikmati keindahan di sekitar tempat itu. Tetapi dalam kesunyian tempat itu tiba-tiba telinga Kun Hong yang tajam telah mendengar benturan senjata disertai oleh suara bentakan-bentakan.

Kun Hong jadi heran entah siapa yang tengah melakukan pertempuran itu. Cepat-cepat dia melarikan kudanya menuju ke arah suara benturan senjata tajam itu dan ketika dia tiba di sebuah tikungan dibalik sebungkah batu gunung yang cukup tinggi, di sebuah tanah datar tampak beberapa sosok tubuh tengah berkelebat dengan gesit dan suara berkontrangan benda logam yang semakin keras. Kun Hong melompat turun dari kudanya dan memperhatikan dengan heran. Terlebih lagi setelah dia memperoleh kenyataan seorang lelaki tua berjenggot panjang menutupi sampai ke perutnya dan telah putih semuanya itu, tengah melompat kesana kemari lincah luar biasa menghadapi serangan belasan orang bertubuh tinggi tegap. Dengan suara jenaka laki-laki tua itu telah berseru nyaring,

„Maju, ayoh maju…… kalau sekarang kalian bermaksud melarikan diri itupun sudah tidak bisa akan kujamu kalian seorangnya dengan secawan air kencing!” Jenaka sekali cara berkata-kata orang tua berjenggot panjang itu.

Yang luar biasa adalah gerakannya yang selalu dapat mengelakkan dengan mudah serangan dari lawannya. Tanpa mempergunakan senjatanya orang tua berjenggot itu melompat kesana kemari dengan sekali-kali menyentil senjata lawan-lawannya, sehingga senjata itu saling bentur sendirinya diantara lawan-lawannya. Suara berkontangan berasal dari saling benturan senjata belasan orang lawan si kakek tua berjenggot panjang itu amat berisik sekali.

Kun Hong mengerutkan alisnya, dia berdiri heran bukan main melihat kepandaian si kakek yang begitu luar biasa. Walaupun belasan orang lawan si kakek itu seperti dapat dipermainkan oleh kakek itu dengan mudah, kenyataannya kepandaian belasan orang itu bukan kepandaian yang rendah. Kun Hong melihatnya, mungkin jika dirinya menghadapi satu atau dua orang dari lawan kakek itu, dia tidak akan sanggup.

„Dengan kepandaian seperti ini kalian mau mengadu kepandaian dengan merundingkannya di Hoa-san benar-benar bukan urusan yang lucu! Ayo aku Loo Boan Tong akan memperlihatkan kepada kalian apa yang disebut ilmu kucing!”

Dan membarengi dengan perkataannya itu, kakek tua itu dengan sikap yang luar biasa dengan sepasang tangan diangkat sebatas bahunya dan mimik muka yang jenaka serta memperdengarkan suara „meoong”, tahu-tahu kedua tangannya mencakar kesana kemari, dan yang lebih luar biasa beberapa orang lawannya telah terpental dan senjata mereka jatuh ke tanah tanpa berdaya untuk bertahan. Tubuh keempat orang yang terpental itu bergulingan di tanah dengan mengeluarkan suara jeritan kaget bercampur kesakitan.

Kakek tua itu telah tertawa bergelak-gelak, sedangkan sisa lawan-lawannya mengawasinya dengan pancaran mata bengis mengandung kemurkaan bukan main.

„Loo Boan Tong, tidak perlu kau terlalu sombongkan diri dengan kepandaianmu itu, karena kami belum tentu akan menyerah!” bentak salah seorang diantara lawannya yang memakai pakaian sebagai seorang petani, bahkan telah melancarkan serangannya dengan mempergunakan garunya yang akan menggaruk kepala Loo Boan Tong, kakek tua berjenggot yang jenaka itu.

Dengan disertai tertawanya yang jenaka, Loo Boan Tong melejit ke samping, tahu-tahu tangan kanannya mencakar dan mencengkeram garu orang itu.

„Takk!” patahlah garu itu menjadi tiga. Dan di saat orang itu belum lenyap kagetnya, tahu-tahu kakek tua berjenggot itu telah mengibaskan tangannya, maka tanpa ampun lagi orang yang berpakaian seperti petani itu merasakan dadanya seperti dihantam oleh tenaga yang ratusan kati, tanpa ampun lagi dia rubuh terjengkang ke belakang. Untung saja orang itu memiliki kepandaian yang tinggi, sebab dia telah berhasil berdiri tetap lagi.

Kun Hong yang menyaksikan semua itu jadi berdiri bengong, hatinya tergoncang. Dia mendengar disebut-sebutnya Loo Boan Tong, maka dia jadi teringat seseorang. Bukankah orang tua berjenggot panjang itu Ciu Pek Thong. Loo Boan Tong si tua jenaka yang kini telah memperoleh kedudukan sebagai salah seorang jago diantara Ngo-ciat (lima jago luar biasa).

Bukankah kini disamping Oey Yok Su yang duduk sebagai Tong-shia, It-teng Taysu sebagai Lam-ceng (pendeta Selatan) sebelum pertemuan terakhir It-teng Taysu duduk sebagai Lam-tee (Kaisar dari selatan), Yo Ko duduk sebagai See-kong menggantikan kedudukan See-tok Auwyang Hong, Kwee Ceng sebagai Pak-hiap menggantikan Pak-kay Ang Cit Kong, dan Ciu Pek Thong sebagai Tiong Boan Tong. Tentu saja, dengan disejajarkan sebagai salah seorang dari kelima jago luar biasa dljaman itu, bisa dimengerti kepandaian Loo Boan Tong bukan main hebatnya!

Disamping itu, karena sikapnya yang usil dan nakal, Ciu Pek Thong seringkali menemui berbagai kesulitan. Memang pertemuannya dengan Eng Kauw telah membawa perobahan sedikit didiri Ciu Pek Thong, namun jago tua ini tetap saja tidak bisa melenyapkan sifat kekanak-kanakannya.

Hari itu, Ciu Pek Thong tengah melakukan perjalanan ke Hoa-san untuk mencari Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang telah berjanji dengannya untuk bertemu disana guna menyembayangi kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong. Tetapi di tengah perjalanan justru dia menemui kejadian yang membuat hatinya jadi mendongkol bukan main, yang telah mengkilik-kilik hatinya, yang nakal.

Di sebuah kedai arak di kota Siang-bun-kwan secara kebetulan Ciu Pek Thong mendengar percakapan belasan orang-orang yang tengah makan minum dengan suara yang berisik sekali. Semula Ciu Pek Thong tidak mengacuhkan mereka, namun akhirnya di saat diantara belasan orang itu telah menyebut-nyebut nama Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko dan Kwee Ceng Tayhiap dengan suara yang lantang, maka Ciu Pek Thong jadi tertarik.

„Hemmm, dulu memang mereka bisa disebut sebagai jago-jago tiada tara di jagat ini namun sekarang.....? Yang sudah pasti gelombang di belakang mendorong gelombang yang di depan jelas bukan? Maka kini dari angkatan muda telah muncul jago-jago yang memiliki kepandaian tidak di bawahnya Yo Ko dan Kwee Ceng. Kita akan merundingkan ilmu silat di Hoa-san, dan kelak kita akan perlihatkan hasil perundingan itu, siapa sesungguhnya yang tinggi dan siapa yang rendah,” kata salah seorang di antara belasan orang itu dengan suara yang nyaring.

Kawan-kawannya tertawa bahkan salah seorang di antara mereka telah menimpalinya.

„Benar! Tepat! Jika kita telah selesai mengadakan perundingan ilmu di Hoa-san kita boleh menantang Yo Ko dan Kwee Ceng, atau kalau perlu Oey Yok Su dan It-teng Taysu biarlah mereka melihat siapa sesungguhnya yang memiliki kepandaian tertinggi di jaman ini.”

Kata-kata itu diakhiri dengan seruan-seruan dan tertawa gembira diantara belasan orang itu. Bahkan ada juga yang terkebur merendah-rendahkan Yo Ko dan orang gagah lainnya yang dipandang rendah.

Inilah urusan yang luar biasa bagi Loo Boan Tong karena umumnya orang rimba persilatan telah mengetahui bahwa kepandaian Yo Ko, It-teng, Oey Lo-shia, Kwee Ceng dan para jago lainnya dalam golongan Ngo-ciat dan semuanya merasa takluk. Tetapi hari ini juga justru Ciu Pek Thong mendengar belasan orang tersebut seperti tidak memandang sebelah mata dan meremehkan jago-jago dari golongan Ngo-ciat itu, bukankah suatu peristiwa yang luar biasa? Siapakah belasan orang yang tidak mengetahui tingginya langit dan dalamnya bumi itu? Dan yang terutama sekali membuat tangan Ciu Pek Thong jadi gatal justru namanya tidak disebut-sebut. Bukankah kini dia merupakan salah satu dari Ngo-ciat? Bukankah dia sebagai Tiong Boan Tong?

Di saat itulah Ciu Pek Thong telah mengambil keputusan untuk mempermainkan belasan orang tersebut. Dengan tenang Ciu Pek Thong telah melanjutkan meneguk araknya perlahan-lahan. Dihitung-hitungnya dia menjanjikan Yo Ko dan Siauw Liong Lie untuk bertemu di Hoa-san di harian Cit-gwe Ce-sah (tanggal tiga bulan tujuh) dan hari itu baru Lak-gwe Cap-go (Tanggal Lima belas bulan enam) maka dia masih memiliki waktu delapan belas hari. Sedangkan dari kota Siang-bun-kwan untuk mencapai Hoa-san hanya memerlukan sebelas atau duabelas hari, maka berarti Ciu Pek Thong masih memiliki waktu luang lima-enam hari.

Dia bermaksud untuk main-main dulu, untuk mempermainkan belasan orang yang seperti ingin menaklukan langit itu, karena Ciu Pek Thong penasaran sekali mendengar percakapan mereka itu. Ingin sekali ia melihatnya, sesungguhnya berapa tinggi kepandaian yang dimiliki belasan orang-orang tersebut yang berani menyatakan bahwa Yo Ko dan jago-jago golongan Ngo-ciat berada di bawah mereka?

Belasan orang itu masih terus makan dan minum dengan gembira, suara mereka berisik sekali.

02.04. Sajian Arak Istimewa

Semakin mendengar percakapan mereka hati Ciu Pek Thong semakin dikilik-kilik, karena selama itu tetap juga dia tidak pernah mendengar namanya disebut walaupun hanya satu kali. Hal itu membuat Ciu Pek Thong sangat penasaran sekali dan dia menduga mungkin belasan orang itu menganggap Ciu Pek Thong adalah manusia yang tidak layak dibicarakan karena kepandaiannya yang rendah.

Karena penasaran, akhirnya muncul sifat jailnya. Diambilnya tahang arak, yang sebesar tiga kepalan tangan, lalu dibawa ke kolong meja. Perlahan-lahan dia menuangkan arak dalam guci itu ke atas lantai, sehingga guci arak itu kering. Dibuka tali celananya dan Ciu Pek Thong kencing ke dalam guci itu. Setelah guci itu penuh oleh air kencingnya dia mengikat kembali tali celananya, dengan tenang Ciu Pek Thong bangkit dari duduknya menghampiri meja belasan orang itu.

„Sahabat-sahabat aku, si tua sejak muda gemar sekali ilmu silat, walaupun tidak pernah mempelajarinya, namun senang untuk mendengarinya. Tadi lohu (aku si tua) mendengar para eng-hiong dan ho-han (orang gagah) membicarakan masalah kalangan Kang-ouw, betapa kagumnya aku si tua, sebab tentunya Eng-hiong dan Ho-han merupakan jago-jago luar biasa..... sebab Yo ko, Kwee Ceng atau yang lainnya tidak ada di mata kalian. Ingin sekali aku memberi hormat dengan masing-masing secawan arak.”

Tentu saja belasan orang itu girang mendengar pujian Ciu Pek Thong, mereka mengangguk-ngangguk dengan sombong.

„Siapa namamu, tua bangka?” tegur salah seorang diantara belasan orang itu dengan suara yang sombong sekali, karena dia menduga Ciu Pek Thong sebagai kakek-kakek tua yang gila basa untuk urusan ilmu silat, dan tadi orang tua itu telah memanggil mereka dengan sebutan eng-hiong dan hohan, orang-orang gagah, tentu saja mereka semakin sombong dan karena kesombongan mereka itu telah melewati takaran, tidak mengherankan jika salah seorang diantaranya mereka sampai ada yang menyebut Ciu Pek Thong dengan sebutan „tua bangka”.

Waktu pertama kali mendengar panggilan „tua bangka” seperti itu, Ciu Pek Thong tertegun, hatinya mendongkol bukan main tetapi kakek tua ini bukan Loo Boan Tong jika dia tidak jenaka, cepat-cepat dia nyengir sambil manggut-manggutkan kepalanya.

„Namaku buruk sekali, seperti yang tadi eng-hiong sebutkan, yaitu Lauw Lo (tua bangka),” kata Ciu Pek Thong.

Keruan saja belasan orang itu jadi tertawa geli. Dengan mendongkol Ciu Pek Thong berpikir, „Lihat saja nanti setelah kalian minum arak istimewaku!” Dengan cepat Ciu Pek Thong mempersiapkan cangkir-cangkir itu.

Begitu ,,arak istimewa” Ciu Pek Thong mengisi penuh cawan-cawan tersebut, seketika itu juga harum semerbak yang „halus” menerjang di sekitar tempat tersebut. Tetapi karena belasan orang itu, tepatnya keempatbelas orang itu, tengah bergirang oleh pujian si tua yang nakal ini, mereka tidak memperhatikan „harum semerbak” dari arak istimewanya Ciu Pek Thong.

„Silahkan, silahkan,” kata Ciu Pek Thong cepat, „Untuk kegagahan kalian eng-hiong dan ho-han…..!”

Dengan serentak keempatbelas orang itu telah mengangkat cawan mereka masing-masing, sekali gus meneguk isinya. Tetapi begitu arak istimewa itu berpindah ke perut, keempatbelas orang gagah itu jadi berobah, mata mereka mendelik, dan „Uahh!” semuanya berusaha memuntahkan kembali apa yang telah mereka minum tadi.

Ciu Pek Thong tidak tanggung-tanggung mempermainkan keempatbelas orang tersebut, dia tidak tertawa, bahkan memperlihatkan sikap terkejut.

„Ihh, ada yang tidak beres?” tanyanya memperlihatkan sikap terheran-heran.

„Arak..... arak apa yang kau berikan kepada kami?” tegur dua orang di antara keempatbelas orang itu yang telah berhasil memuntahkan sebagian arak istimewa yang telah mereka minum.

„Arak apa? Tentu saja arak istimewa, arak nomor satu di dunia,” menyahuti Ciu Pek Thong.

„Tetapi….. mengapa arak ini berbau demikian macam?” tanya orang itu sambil mengerutkan alisnya dan melirik ke arah beberapa orang kawannya yang tengah muntah-muntah.

„Bau apa Tayhiap?” tanya Ciu Pek Thong.

„Se... seperti bau......” tetapi orang itu ragu-ragu untuk menyebutkannya.

Seorang kawannya yang baru saja muntah telah berteriak gusar. „Seperti bau air kencing?”

Seketika itu juga Ciu Pek Thong tidak bisa menahan tertawanya lagi, meledaklah tertawa si tua yang nakal ini.

„Benar! Benar! Aku sudah tua dan pikun! Memang aku salah mengambil guci, ternyata guci ini terisi air kencingku. Maaf, aku tua ternyata telah salah memberikan hormat.....”

Keruan saja muka keempatbelas orang itu jadi berobah merah padam karena murka. Dengan bengis dua orang itu diantara mereka telah menerjang ke depan Ciu Pek Thong dengan maksud mencengkeram dan menghajar si tua.

Tetapi Ciu Pek Thong tetap tertawa dan berdiri di tempatnya di saat kedua orang itu telah menyambar dekat, dengan gerakan seenaknya tangannya telah digerakkan dan tidak ampun lagi kedua orang itu terpental dan bergulingan ambruk di lantai.

Kedua belas kawan-kawannya jadi terkejut, tetapi kemudian mereka tersadar dengan murka dengan cepat beberapa orang diantara mereka telah mencabut senjata mereka, ada yang mencekal golok dan pedang, dengan bengis menabas dan membacok Ciu Pek Thong.

Tetapi si tua nakal yang memang sengaja hendak mempermainkan keempatbelas orang tersebut, tidak ingin menimbulkan kegaduhan di dalam rumah makan tersebut, sambil tetap tertawa geli terpingkal-pingkal, Ciu Pek Thong telah menjejakan kakinya ke lantai, tubuhnya bagaikan seekor burung telah melompat keluar. Hal ini dilakukan oleh Ciu Pek Thong disebabkan dua soal. Persoalan pertama untuk mencegah kerugian pihak rumah makan jika terjadi kerusakan rumah makan itu oleh pertempuran, kedua memang Ciu Pek Thong ingin memancing belasan orang itu ke suatu tempat yang sepi, untuk menghajar mereka sepuas hati.

„Kejar...... jangan biarkan dia lolos!” berseru belasan orang itu dengan murka dan mereka telah melompat mengejar secepatnya.

Ciu Pek Thong sengaja tidak berlari cepat dia sengaja agar keempatbelas orang itu tetap dapat mengikutinya dan tidak kehilangan jejak. „Hemmm, dengan memiliki kepandaian cakar kucing seperti itu ingin menjagoi?” menggumam si kakek sambil berlari seenaknya. „Sungguh tidak tahu tingginya langit dan dalamnya bumi.....!”

Walaupun Ciu Pek Thong berlari seenaknya tetapi keempatbelas orang yang telah dipermainkannya itu tetap saja tidak berhasil mengejar mendekatinya. Tentu saja keempatbelas orang itu jadi penasaran bukan main, dengan mengeluarkan seruan-seruan bengis mereka berusaha untuk mengejar lebih dekat lagi.

Dalam sekejap mata saja mereka telah berlari belasan lie, tetapi Ciu Pek Thong tetap tidak menghentikan larinya.

„Tua bangka, jika kau tidak mau berhenti juga, kami jangan dipersalahkan menurunkan tangan terlalu kejam!” teriak beberapa orang di antara pengejarnya itu.
Ciu Pek Thong hanya memperdengarkan suara tertawa mengejek sambil berlari terus kemudian disusul oleh kata-katanya. „Aku Lauw Lo memang sudah hampir mampus jika memang kalian ingin membuat Lauw Lo ini pergi ke Giam-lo-ong silahkan, silahkan…..!”

Tentu saja keempatbelas orang itu semakin penasaran saja, karena walaupun bagaimana mereka merasakan diri mereka sebagai jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi, dimana mereka merupakan murid-murid pandai dari beberapa pintu perguruan yang memiliki nama terkenal dalam kalangan Kangouw. Tetapi kini dengan demikian mudah mereka telah dipermainkan oleh seorang tua bangkotan seperti itu, bahkan merekapun telah terlanjur meneguk „arak istimewa” air kencingnya Ciu Pek Thong.

Malu yang diderita oleh mereka tentu saja tidak akan terhapus jika tidak oleh kematian si tua yang nakal itu. Mati-matian mereka tetap mengejarnya dan berusaha menangkap Ciu Pek Thong.

Y

Di saat tiba di tanah datar itulah Ciu Pek Thong baru menghentikan larinya dan melabrak serta mempermainkan belasan orang tersebut. Dengan mudah Ciu Pek Thong telah menghajar pulang pergi keempatbelas orang itu, yang tidak berdaya sesuatu apapun juga untuk melakukan serangan membalas.

Waktu Ciu Pek Thong menyebut-nyebut Loo Boan Tong, muka keempatbelas orang itu berubah. Kun Hong melihat tampaknya lawan-lawan Ciu Pek Thong terkejut bukan main, bahkan mereka telah melompat mundur dan mengawasi Ciu Pek Thong dengan mata terpentang lebar-lebar.

„Kau..... kau Loo Boan Tong Ciu Pek Thong?” tanya beberapa orang diantara mereka dengan suara yang agak gugup.

Ciu Pek Thong tertawa nakal.

„Benar, justru akupun si tua bangka memang ingin pergi ke Hoa-san untuk menemui sahabatku, Yo Ko dan isterinya. Kami telah berjanji untuk bertemu di sana dan kebetulan sekali kalian memang ingin berkumpul di Hoa-san untuk merundingkan ilmu silat, mari, mari kita melakukan perjalanan bersama-sama aku agar tidak akan kesepian lagi…..”

Muka keempatbelas orang itu jadi berubah pucat mereka telah mundur beberapa langkah dan salah seorang diantara mereka yang berpakaian sebagai petani, telah menjura memberi hormat.

„Ciu Locianpwe, kami benar-benar tidak memiliki pengetahuan dan walaupun memiliki mata namun kami buta tidak bisa melihat tingginya gunung Thian-san. Biarlah hari ini kami telah menerima petunjuk locianpwe, kelak kami akan meminta lagi petunjuk-petunjuk locianpwe…..!” dan setelah berkata begitu, dia telah memberi isyarat kepada kawan-kawannya, tanpa menantikan jawaban Loo Boan Tong mereka telah memutar tubuh dan berlari meninggalkan tempat tersebut.

Loo Boan Tong tertawa bergelak karena puas dan gembira telah mempermainkan keempatbelas orang yang besar mulut itu.

Tetapi di saat Kun Hong bermaksud untuk menghampiri dan belajar kenal dengan jago tua yang luar biasa itu, tiba-tiba di tengah udara terdengar suara berkesiuran yang keras dicampur oleh dengung yang cukup menyakitkan anak telinga, sebatang anak panah tampak melayang ke tengah udara tinggi sekali, lalu disusul dikejauhan tampak seorang penunggang kuda yang tengah melarikan kuda tunggangannya itu dengan cepat.

Ciu Pek Thong yang melihat itu, jadi mengerutkan alisnya, dia menduga-duga entah siapa penunggang kuda yang tengah menghampirinya itu. Dilihat dan cara orang itu melepaskan anak panahnya ke tengah udara dengan kekuatan lempar yang demikian kuat tentunya penunggang kuda itu bukan orang sembarangan. Dengan cepat penunggang kuda itu telah tiba dihadapan Ciu Pek Thong, kudanya berhenti ketika tali lesnya digentak keras.

Kun Hong terkejut ketika melihat betapa penunggang kuda itu berpakaian agak luar biasa. Begitu juga halnya dengan Ciu Pek Thong, karena penunggang kuda itu berpakaian sebagai seorang pendeta, dan jubahnya yang lebar itu memperlihatkan dia adalah seorang pendeta Mongolia.

Inilah yang luar biasa. Sejak kekalahan pasukan perang tentara Mongolia yang terpukul mundur dari kota Siang-yang sudah memaksa Kublai menarik pasukannya mundur pulang ke negerinya, tidak pernah ada orang Mongolia yang berkeliaran di daerah Tiong-goan. Mungkin pendeta inilah, yang pertama berani menginjakkan kakinya di daratan Tiong-goan.

Pakaiannya sudah luar biasa, muka pendeta Mongolia itu lebih luar biasa lagi. Sepasang alisnya hitam tebal, raut wajahnya persegi empat, matanya yang besar tampak bersinar tajam dan agak licik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis. Pendeta ini memelihara jenggot tipis didagunya dan lengannya berbulu. Waktu kudanya itu berdiri dihadapan Ciu Pek Thong, justru pendeta Mongolia itu telah melompat turun dengan gerakan yang ringan dan gesit.

Melihat cara pendeta itu melompat turun Ciu Pek Thong jadi terkejut, karena dia melihat waktu sepasang kaki pendeta Mongolia itu menyentuh tanah, sedikitpun tidak menimbulkan suara. Tentu saja hal itu telah membuktikan bahwa ilmu meringankan tubuh dari pendeta tersebut sempurna sekali. Dan yang membuat Ciu Pek Thong memandang tertegun justru pendeta asing tersebut mengingatkan Ciu Pek Thong kepada Kim Lun Hoat-ong, pendeta Mongolia yang telah menemui kematian di dasar jurang. Dengan jubah yang besar longgar dan cupu di atas kepalanya yang gundul, benar-benar merupakan kesan yang kuat untuk mengingat Kim Lun Hoat-ong.

„Eh monyet,” bentak pendeta asing itu dengan suara yang garang waktu melihat Ciu Pek Thong hanya tertegun menatapnya. „Hud-ya ingin bertanya sesuatu kepadamu.”

Ciu Pek Thong seperti baru tersadar dari bengongnya, dia jadi tertawa sendiri mengingat bahwa dia bisa kesima karena teringat kepada Kim Lun Hoat-ong. Tetapi mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan „monyet” darahnya jadi meluap.

„Boleh, boleh,” menyahuti Ciu Pek Thong cepat, „Urusan apakah yang ingin ditanyakan oleh Hud-ong (Budha hidup)?”

„Tiga tahun yang lalu telah terjadi pertempuran antara pasukan Song dengan tentara perang Mongolia yang besar, dalam pertempuran itu ikut serta adik seperguruan Hud-ya, yang bergelar Kim Lun Hoat-ong, yang sampai kini belum kembali ke utara. Apakah kau pernah dengar mengenai adik seperguruan Hud-ya itu?”

Melihat pendeta itu memiliki kepandaian tinggi dan sempurna, terlebih lagi kini mengetahui bahwa pendeta itu adalah kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong, yang pasti kepandaiannya hebat sekali maka Ciu Pek Thong berlaku hati-hati. Tetapi memangnya Loo Boan Tong nakal dia tetap saja ingin mempermainkan pendeta itu, sama halnya ketika beberapa tahun yang lalu dia pernah mempermainkan Kim Lun Hoat-ong.

„Pernah, pernah, aku si monyet memang pernah mendengar tentang Kim Lun Hoat-ong!” kata Ciu Pek Thong kemudian.

Muka pendeta itu tampak berubah terang sambil tersenyum agak menyeramkan, suara yang agak menurun lunak dia telah bertanya lagi.

„Cepat kau katakan, dimana sekarang ini adik seperguruanku itu berada, Hud-ya akan memberikan hadiah kepadamu lima tail emas.”

„Tetapi Hud-ong, aku si monyet benar-benar takut, untuk mengatakannya, nanti Hud-ong Kim Lun Hoat-ong murka,” kata Ciu Pek Thong sambil memperlihatkan sikap seperti ketakutan dan bimbang.

„Katakan aku jamin tidak nantinya adik seperguruanku itu akan bergusar oleh keteranganmu, bahkan mungkin juga dia akan gembira dan senang sekali melihat aku menjemputnya untuk pulang ke utara dan aku akan menghadiahkan beberapa tail emas lagi,” kata si pendeta lagi.

„Benar-benarkah Hud-ong sebagai kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong?” tanya Ciu Pek Thong.

Muka pendeta itu jadi berobah. „Rewel benar kau?” bentaknya. „Mustahil Hud-ya ingin mendustai monyet buduk seperti kau ini? Hud-ya bergelar Tiat To Hoat-ong. Cepat kau sebutkan dimana beradanya adik seperguruan Hud-ya, jangan membuat Hud-ya bergusar.”

„Mana berani, mana berani aku si monyet buduk menggusarkan Hud-ya? Sesungguhnya sejak tiga tahun yang lalu Kim Lun Hoat-ong hanya berpelesiran setiap hari didampingi oleh wanita cantik…..”

Mendengar Ciu Pek Thong berkata sampai disitu, si pendeta yang mengaku sebagai kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong dan bergelar Tiat To atau Golok Besi Hoat-ong, telah menggelengkan kepalanya dengan sikap jengkel.

„Lwekangnya tentu akan mengalami kemunduran yang hebat jika Kim Lun selalu mendekati wanita.....” menggumam pendeta itu dengan suara yang perlahan, kemudian dia telah menoleh kepada Ciu Pek Thong dan telah berkata lagi dengan suara yang agak keras, „Cepat katakan bagaimana keadaannya!”

„Tentu saja keadaan Hud-ong Kim Lun Hoat-ong sangat nyaman, dia tidak perlu makan tidak perlu minum, tidak perlu berpakaian, dan tidak perlu memikirkan uang atau segalanya.”

„Maksudmu adik seperguruanku ini dilayani sedemikian baiknya oleh wanita-wanita cantik itu…..?” tanya Tiat To Hoat-ong tidak sabar.

„Tepat, bahkan disamping wanita-wanita cantik yang melayani Kim Lun Hoat-ong terdapat juga manusia-manusia berkepala kerbau dan kuda..... semuanya patuh sekali melayani.”

„Ihhh…..” berseru pendeta itu heran bukan main. Dia bicara dengan bahasa Han yang kaku, sekarang dia tengah kaget, tentu saja suaranya jadi lucu terdengar. „Manusia berkepala kuda dan berkepala kerbau?”

„Benar, itulah keadaan yang menyenangkan sekali…..”

„Kau tahu tempatnya? Cepat antarkan aku kesana!” kata Tiat To Hoat-ong tidak sabar.
„Tunggu dulu, jika Hud-ong yang hendak pergi kesana, aku tentu saja tidak berani melarang, silahkan..... tetapi..... tetapi jika aku diajak ke sana, tunggu dulu, tidak nantinya aku mau karena aku si monyet buduk memang masih doyan makan nasi......”

„Memangnya tempat itu tempat apa sehingga kau tidak mau kesana?” tegur Tiat To Hoat-ong mulai curiga melihat sikap Ciu Pek Thong.

„Orang-orang biasanya menyebutnya „negeri barat”, tetapi kami biasanya menyebut sebagai tempat berpulang manusia-manusia yang sudah bosan makan nasi, tempat duduk bersemayamnya Giam-loo-ong,” menyahuti Ciu Pek Thong perlahan, tetapi sikapnya sungguh-sungguh.

„Apa?” teriak Tiat To Hoat-ong gusar, „Kau..... kau maksudkan neraka?”

„Begitulah kurang lebih artinya.....” menyahuti Ciu Pek Thong dengan sikap yang tenang sekali.

„Jadi, adik seperguruanku itu telah dibunuh seseorang?” suara Tiat To Hoat-ong jadi meninggi.

„Bisa diartikan begitu juga,” menyahuti Ciu Pek Thong jenaka. „Bukankah tadi aku si monyet buduk telah memberitahukan bahwa Kim Lun Hoat-ong kini sudah tidak perlu sibuk-sibuk makan nasi dan tidak perlu sibuk-sibuk berpakaian?”

Muka Tiat To Hoat-ong tampak merah padam, rupanya dia murka bukan main. Dengan menggeluarkan suara seruan mengguntur yang menyeramkan, dia telah mengangkat tangan kanannya, akan menghantam kepala Ciu Pek Thong dengan hantaman yang kuat.

Ciu Pek Thong memang telah bersiap sedia dan berwaspada sejak tadi, karena dia menyadari bahwa pendeta tersebut memiliki kepandaian yang luar biasa sekali dan tidak bisa dipermainkan serangannya. Waktu telapak tangan pendeta dari Mongol itu turun ke arah kepalanya, Ciu Pek Thong merasakan tekanan tenaga serangan meliputi ribuan kati. Itulah kekuatan tenaga dalam yang benar-benar terlalu luar biasa, hati Ciu Pek Thong sendiri tergetar, karena dia memperoleh kenyataan bahwa kepandaian dan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong jauh lebih sempurna dari adik seperguruannya.

Ciu Pek Thong mengetahui itu, karena dia pernah bertempur dengan Kim Lun Hoat-ong, yang tenaganya telah dijajakinya, dan kini dia bisa memperbandingkan dengan kekuatan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong, yang tentunya jauh lebih hebat, sehingga mengejutkannya. Tanpa berani berayal Ciu Pek Thong, mengempos tenaga dalamnya ke pundaknya, dan dengan tangan kanannya dia menyentil.

Tangan Tiat To Hoat-ong yang berukuran besar dan bertulang kasar, disamping lebat ditumbuhi bulu dan meluncur dengan kekuatanya yang luar biasa, tentu saja bukan merupakan serangan yang sembarangan. Kun Hong yang menyaksikan peristiwa tersebut dari kejauhan jadi terkejut waktu melihat Ciu Pek Thong hanya menyambuti dengan sentilan jarinya belaka. Tentu akan celakalah Ciu Pek Thong kalau tidak berhasil mengelakkan serangan dahsyat itu.

Namun Ciu Pek Thong justru tidak takut walaupun dia melihat lawannya memiliki kepandaian yang hebat seperti itu. Dia sambil menyentil masih sempat untuk berjenaka mengejek pendeta itu.

„Eittt, jangan menyentuh tubuh si monyet budukan, nanti kau ketularan dan menjadi budukan pula.”

Tentu saja Tiat To Hoat-ong tambah murka, terlebih lagi telapak tangannya yang terkena sentilan jari telunjuk Loo Boan Thong seperti ditusuk oleh semacam tenaga yang halus, namun menusuk sampai ke ulu hatinya disamping itu sasaran telapak tangannya jadi miring dan menghantam tempat kosong. Ciu Pek Thong masih berdiri tegak di tempatnya. Keruan Tiat To Hoat-ong jadi memandang tertegun. Semula dia menduga Ciu Pek Thong adalah seorang penduduk biasa di daerah tersebut tetapi melihat cara Ciu Pek Thong memusnahkan serangannya itu, dia segera mengetahui bahwa Ciu Pek Thong memiliki kepandaian yang tidak berada di bawahnya.

Bagi jago-jago kelas satu, dalam segebrakan saja sudah dapat untuk mengukur kekuatan lawan. Maka begitu juga dengan Tiat To Hoat-ong, yang telah mengeluarkan suara tertawa mengejeknya dan disertai dengan bentakan, tahu-tahu tangan kirinya diulurkan dengan cara mencengkeram yang aneh licin seperti belut, karena, dia mempergu¬nakan jurus Yoga sedangkan tangan kanannya telah meluncur akan menotok jalan darah su-sie-hiat di pinggang Ciu Pek thong.

Ciu Pek Thong tidak takut sedikitpun juga walaupun dia mengetahui bahwa lawannya ini sangat hebat sekali kepandaiannya. Bahkan Loo-boan-tong girang sekali bisa menemui lawan berat seperti Tiat To Hoat-ong. Dia memang sudah lama tidak pernah menemui tandingan yang setimpal, sehingga tangannya terasa gatal sekali dengan berhadapan lawan seperti Tiat To Hoat-ong, terbangkitlah semangatnya.

Melihat Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan yang hebat seperti itu, dengan menggerakkan kedua kakinya seperti orang menari, tahu-tahu Ciu Pek Thong telah berada di sisi Tiat To Hoat-ong, dan tangan kanannya disalurkan untuk menjambak jalan darah Tiang-bu-hiat di punggung si pendeta.

Tentu saja pendeta itu jadi mengeluh murka, karena dia merasa dirinya dipermainkan oleh lawannya. Di negerinya, dia selain sebagai Guru Negara dan diakui sebagai jago nomor satu, juga sebagai penasehat raja. Kim Lun Hoat-ong sendiri masih berada dibawahnya beberapa tingkat dan sering meminta petunjuk-petunjuk ilmu Yoga sebelum adik seperguruannya itu ikut rombongan Mangu ke daratan Tiong-goan. Kini seorang kakek tua seperti Ciu Pek Thong ternyata bisa mempermainkan dirinya demikian rupa, dimana setiap serangannya telah gagal, tentu saja membuat pendeta Mongolia itu jadi murka sekali.

Selama duapuluh tahun terakhir ini, sela¬ma Tiat To Hoat-ong berada di negerinya, jarang sekali dia turun tangan untuk bertempur dengan jago-jago manapun juga. Tetapi jika muncul jago yang tidak terkalahkan dan terpaksa dia turun tangan sendiri, tentu tidak lebih dari tiga jurus dia akan berhasil merubuhkan jago itu. Maka tidak mengherankan jika nama Tiat To Hoat-ong sangat dihormati dan disegani oleh seluruh jago-jago di Mongolia, bahkan Kim Lun Hoat-ong patuh sekali terhadap kakak seperguruannya ini.

Disamping Tiat To Hoat-ong telah menguasai ilmu Yoga dengan sempurna benar, diapun telah mengubah semacam ilmu golok yang digubahnya dari ilmu golok asal India, tidak mengherankan, disamping sombong dan tidak pernah memandang sebelah mata kepada jago manapun juga, Tiat To Hoat-ong selalu bertindak, sekehendak hatinya. Rajanya pun tidak berani melarang sesuatu apapun, bahkan untuk mencegah Tiat To Hoat-ong menimbulkan kerusuhan, sengaja Tiat To Hoat-ong telah diangkat sebagai Kok-su (Guru negara penasehat raja).

Waktu tiga tahun yang lalu Kublai telah mengajak pasukan tentara perangnya pulang ke negerinya di utara, Tiat To Hoat-ong tidak melihat Kim Lun Hoat-ong. Dia menanyakan ke Kublai dan memperoleh penjelasan bahwa Kim Lun Hoat-ong waktu itu tengah mengobrak-abrik jago-jago dataran Tiong-goan, dan mungkin saja dua tahun lagi Kim Lun Hoat-ong baru kembali ke negerinya tersebut.

Senang hati Tiat To mendengar itu sehingga lenyap kekuatirannya terhadap adik seperguruannya itu. Tetapi setelah ditunggu-tunggu selama tiga tahun sang adik seperguruan belum juga muncul, maka muncul kembali kecurigaan dan kekuatirannya. Dia akhirnya menghadap ke Kublai untuk meminta ijin, karena dia bermaksud pergi ke daratan Tiong-goan untuk mencari adik seperguruannya itu.

Mempergunakan kesempatan ini, Kublai yang mengetahui akan hebatnya kepandaian Tiat To Hoat-ong, pendeta yang menjadi Kok-su negara tersebut, dialah diberikan juga perintah rahasia untuk melakukan sesuatu di daratan Tiong-goan.

Tetapi di saat Tiat To Hoat-ong tiba di daratan Tiong-goan, dia tidak berhasil mencari jejak adik seperguruannya itu, sehingga dia semakin berkuatir saja. Selama dua bulan dia berputar kayun mengelilingi daerah-daerah selatan untuk mencari Kim Lun Hoat-ong, yang ingin diajak pulang ke utara namun tetap saja hasilnya nihil.

Dan hari itu, secara kebetulan dia bertemu dengan Loo Boan Tong yang usil yang bersedia melayani ketemberangan dan keangkuhan pendeta Mongolia itu sehingga terjadi pertempuran hebat diantara kedua jago yang luar biasa tersebut.

Disamping itu, Ciu Pek Thong juga memiliki maksud tersendiri dengan melayani pendeta dari Mongolia itu. Waktu mendengar Tiat To Hoat-ong adalah kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong, seketika itu juga dia menduga pasti Tiat To Hoat-ong memiliki maksud-maksud tidak baik terhadap daratan Tiong-goan, dan Ciu Pek Thong justru kuatir kalau-kalau kedatangan Tiat To Hoat-ong ke daratan Tiong-goan ini atas perintah Kublai.

Memang Ciu Pek Thong, walaupun sifatnya angin-anginan dan sering uring-uringan, otaknya cukup encer dan polos jujur maka dia segera berkuatir kalau Kublai telah mempersiapkan tentaranya untuk menerjang masuk ke daratan Tiong-goan lagi.

Saat itu, Tiat To Hoat-ong telah melancarkan serangannya yang ketiga. Di saat dia berhasil mengelakkan diri dari cengkeraman Ciu Pek Thong di punggungnya, dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke pundak, sehingga bahunya licin seperti berminyak dan Ciu Pek Thong gagal dengan usahanya, tahu-tahu pendeta Mongolia ini telah memutar kedua tangannya dengan serentak bersamaan dengan tubuhnya yang berputar juga.

Tidak mengherankan, jika serangkum angin serangan yang dahsyat telah menggempur Ciu Pek Thong.

Tetapi Ciu Pek Thong juga tidak tinggal diam, dengan memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, sebagai adik seperguruan Ong Tiong Yang, yang merupakan pewaris ilmu It-yang-cie tenaga dalam Ciu Pek Thong memang luar biasa sekali, dengan mengeluarkan seruan yang sangat nyaring justru Ciu Pek Thong tidak berkelit atau mengelakkan diri dari serangan itu dia telah menangkisnya dan keras dilawannya dengan keras.

„Bukk!” Terdengar suara yang keras bukan main, yang dahsyat sekali, bumi seperti bergetar karena kuatnya benturan yang terjadi antar dua kekuatan raksasa tersebut.

Kun Hong yang berdiri terpisah belasan tombak dari gelanggang pertempuran, telah terhuyung hampir rubuh terjengkang oleh getaran benturan tenaga itu, untung pemuda ini cepat-cepat memegang dinding batu yang terdapat di dekatnya. Kuda pemuda itu juga meringkik nyaring, rupanya binatang tunggangan itu kaget. Bukan main kagumnya Kun Hong sehingga dia sekarang menyadari, walaupun dia belajar duapuluh tahun lagi, belum tentu dia bisa memiliki kekuatan tenaga dalam seperti kedua orang jago itu.

Yang disaksikan Kun Hong kali ini adalah sebuah pertempuran yang benar-benar luar biasa sekali dan lain dari yang lain. Walaupun kepan¬daian Kun Hong tidak ada sepersepuluh dari kepandaian kedua orang itu, namun karena pemuda pelajar she Cu tersebut memiliki dan mengerti ilmu silat, dia bisa merasakan dan melihat bahwa pertempuran diantara kedua jago itu merupakan pertempuran antara mati dan hidup.

Ciu Pek Thong sendiri semakin lama jadi semakin kaget melihat kenyataan bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih liehay dari kepandaian Kim Lun Hoat-ong, setidak-tidaknya memang Tiat To Hoat-ong kakak seperguruan dari Kim Lun Hoat-ong namun dengan kepandaian seperti itu jelas dia bisa berbuat sesuka hatinya. Memang benar Ciu Pek Thong tidak mungkin dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoat-ong namun jangan harap pula Ciu Pek Thong dapat merubuhkan lawannya itu. Jika tadi Ciu Pek Thong masih bisa bergurau dengan melayani serangan lawannya, tetapi kini mau tidak mau memang Ciu Pek Thong harus mencurahkan semangat dan seluruh perhatiannya terhadap lawannya yang liehay.

Mereka bertempur semakin lama jadi semakin berat, gerakan tangan mereka seperti berat dan lambat sekali gerakannya. Tetapi bagi ahli silat kelas satu, hal itu membuktikan bahwa kedua orang yang tengah bertempur itu memang sedang mempergunakan tenaga kelas satu. Sedi¬kit saja mereka salah perhitungan, berarti akan terbinasa di tangan lawannya.

Ciu Pek Thong sendiri heran, karena dia melihat si pendeta asing memiliki ilmu kebal akibat sempurnanya latihan ilmu Yoga, juga pendeta itu memiliki tenaga Im dan Yang sangat sempurna sekali, dia dapat mempergunakan tenaga dalamnya itu sekehendak hatinya bisa lunak, dan bisa keras dengan tiba-tiba, sehingga dijurus berikutnya Ciu Pek Thong lebih sering tertipu oleh cara licik lawannya yang main ulur tenaga dalamnya yang diganti-ganti sifat itu.

Sesungguhnya sebagai seorang ahli Yoga yang telah terlatih pada puncak kesempurnaannya, maka pendeta tersebut disamping memiliki ilmu kebal (weduk), juga bisa menguasai dan memberikan perintah sekehendak hatinya terhadap seluruh otot di sekujur badannya. Walaupun bagaimana kenyataan seperti itu, memang telah membuat Tiat To Hoat-ong bisa menjagoi di negerinya dengan ilmunya tersebut. Belum lagi ilmu golok yang digubahnya, yang hebat luar biasa.

Ciu Pek Thong melihat kenyataan seperti ini, kalau memang dia bertempur terus menerus dengan keadaan tidak berobah, niscaya akhirnya dia yang akan kalah ulet, berarti dirinya yang bisa celaka. Itulah sebabnya terpaksa dia harus dapat merubah cara bertempurnya untuk berusaha menguasai lawannya. Sulitnya Tiat To Hoat-ong seperti bisa membaca jalan permikiran Ciu Pek Thong sehingga dia selalu melibatkan Ciu Pek Thong dengan serangan-serangan yang hebat sekali, yang tidak memungkinkan Loo Boan Tong memiliki kesempatan merubah cara bertempurnya itu.

Dengan gusar Ciu Pek Thong mengeluarkan seruan dan dia menggerakkan tangannya ke bawah dengan gerakan meminta, kemudian dengan cepat sekali tangannya yang kiri menyusul akan menotok mata si pendeta. Itulah gerakan Bin-bu-jin-sek (Di muka tidak ada cahaya manusia), yang pernah diperolehnya dari Yo Ko.

Hebat sekali serangan tersebut, Tiat To Hoat-ong mengeluarkan seruan tertahan karena terkejut dan dengan gerakan yang gesit dia mengelakkan diri. Tetapi Ciu Pek Thong dalam gusarnya telah melancarkan lima serangan lainnya secara beruntun pukulan Bo-beng-kie-miauw (Tidak mengetahui apa keindahannya), disusul dengan Jiak-yu-so-sit (Seperti Kehilangan sesuatu), lalu dengan hebat Ciu Pek Thong membarengi dua serangan susulan dengan Heng-sie-cauw-jiok (Mayat Berjalan), dan To-heng-gok-sie (Jalan Jungkir Balik).

03.05. Sepasang Pendekar Rajawali

Di jurus terakhir itu, yaitu To-heng-gok-sie Ciu Pek Thong telah melancarkan serangan dengan hebat sekali, tubuhnya seperti bergerak-gerak sempoyongan seperti ingin rubuh, lagaknya itu seperti orang pemabokan dan kedua tangannya melancarkan serangan kesebelas jalan darah lawannya.

Keruan saja Tiat To Hoat-ong jadi mengeluarkan seruan kaget dan berusaha untuk menangkis dengan tabasan tangannya. Walaupun dia menabas dengan mempergunakan tangannya tetapi gerakannya itu seperti juga gerakannya menabas dengan gerakan ilmu goloknya yang tangguh dan hebat sekali, angin serangannya berkesiuran lambat, tetapi dahsyat luar biasa.

Ciu Pek Thong mengeluh sendiri, jika dia meneruskan serangannya, memang Loo Boan Tong bisa menghantam telak jalan darah Bian-kie-hiat si pendeta asing itu, tetapi dirinya sendiri tidak akan lolos dari tabasan yang mematikan pendeta tersebut.

Dengan mendongkol Ciu Pek Thong telah menarik pulang serangannya, dia melompat mundur.

Tiat To Hoat-ong yang telah menyaksikan hebatnya si kakek tua yang dipanggilnya sebagai si „monyet” itu tidak mengejarnya, dia berdiri tegak sambil mendelik mengawasi lawannya itu.

„Katakan, siapa kau sesungguhnya! Apakah adik seperguruanku dibinasakan oleh kau? Jika bukan siapa pembunuhnya?” tegur pendeta asing itu dengan murka.

Ciu Pek Thong memiliki sifat yang kekanakan dan gemar sekali bergurau, walaupun tengah menghadapi lawan berat, seperti Tiat To Hoat-ong, Ciu Pek Thong masih sempat berjenaka.

„Jika aku yang membunuhnya, apa yang kau inginkan? Kalau bukan, apa yang kau kehendaki?” tanyanya sambil nyengir mentertawai si pendeta asing, membuat Tiat To Hoat-ong merasakan dadanya seperti mau meledak.

„Baiklah, kalau kau tidak mau membuka mulut itupun tidak menjadi soal. Biarlah aku kirim kau menemui adik seperguruanku dulu.”

„Mungkin juga engkau sendiri yang akan menengokinya ke Im-kan (neraka)!” mengejek Ciu Pek Tong, „Bukankah engkau tengah mencarinya?”

Tentu saja kemarahan yang bergolak di dada pendeta tidak terkirakan. Dengan murka dia telah melompat dan melancarkan serangan dengan kedua tangan yang diputar, kekuatan tenaga serangannya itu sama beratnya seperti runtuhnya gunung.

Tetapi Ciu Pek Thong tidak takut, diapun tidak mengelakkan diri melihat serangan yang hebat seperti itu, bahkan dia memusatkan tenaganya, untuk mencoba kembali sampai di mana kekuatan pendeta asing itu.

Tangan mereka saling bentur, tubuh mereka bergoyang-goyang, tenaga mereka yang saling bentur itu merupakan tenaga benturan yang luar biasa sekali, dan keduanya diam bagaikan patung, dengan sepasang matanya terpentang lebar-lebar.

Ciu Pek Thong memang nakal, jiwanya jenaka, sesungguhnya dia ingin mengeluarkan ejekan pula tetapi disebabkan tenaga menindih dari Tiat To Hoat-ong luar biasa kuatnya, membuat Ciu Pek Thong tidak bisa berkata-kata, sebab jika dia bicara berarti pemusatan tenaganya akan terpecah dan dirinya bisa tergempur oleh tenaga lawannya. Karena tidak bisa memaki dan memperolok-olok pendeta asing itu, hati Ciu Pek Thong jadi gatal sendirinya, dan akhirnya dia hanya bisa mengejek, lawannya dengan mendeliki mata menyipitkan, melirik ke kiri dan ke kanan dengan memperlihatkan mimik muka yang membadut.

Keruan Tiat To Hoat-ong tambah murka, dadanya bergelombang turun naik karena menahan kemurkaan yang seperti ingin meledakkan dadanya itu. Dengan bergelombang dia telah menambah tenaga menindihnya semakin lama semakin kuat.

Ciu Pek Thong juga telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, dia telah memusatkan lwekangnya di kedua lengannya, dan berusaha untuk menolak tenaga menindih dari si pendeta asing. Keduanya berdiri berhadapan seperti patung dengan kedua tangan mereka saling menempel satu dengan lainnya. Dari tubuh dan kepala kedua jago tersebut telah mengepul semacam uap tipis.

Kun Hong yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut jadi tergoncang batinnya. Itulah pertempuran yang terdasyat yang baru pernah disaksikan seumur hidupnya……

Y

Puncak Siauw-hong yang merupakan rangkaian gunung-gunung di sekitar pegunungan Thian-san, di mana letak puncak Siauw-hong berada di sebelah barat daya dari pegunungan Thian-san. Walaupun tidak setinggi puncak-puncak Bie-hong dan Sian-hong, tetapi puncak-puncak Siauw-hong pun menembusi mega serta tinggi sekali, tidak mudah didaki oleh manusia. Disamping itu, udara di sekitar puncak Siauw-hong dingin luar biasa dengan salju yang tebal membeku menutupi sebagian puncak itu, yang tidak pernah mencair sepanjang jaman.

Disamping salju yang membeku sepanjang jaman itu, juga Siauw-hong memiliki lembah dan jurang yang banyak jumlahnya, disamping keadaan alamnya yang masih buas dan liar sehingga sangat berbahaya sekali bagi orang-orang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa. Bahkan penduduk kampung Siauw-wie-cung yang terletak di kaki gunung Thian-san sebelah utara, yang umumnya memiliki pencaharian sebagai pemburu dan pencari kayu bakar, tidak berani mendatangi Siauw-hong terlalu dekat, mereka hanya berani mencari kayu bakar di kaki Siauw-hong, sedangkan pemburunya hanya berani sampai di lamping gunung itu tidak berani mereka memburu sampai di puncak Siauw-hong.

Mereka menyadari bahaya dan buasnya alam di puncak Siauw-hong akan menulikan pendengarannya, disamping mengeluarkan darah dari telinga, hidung dan mata, bahkan jika memaksakan diri bisa membawa kematian. Belum juga perjalanan yang sulit. Untuk mendaki puncak Siauw-hong diantara dinding-dinding jurang dan lembah yang curam sekali disamping sangat berbahaya. Itulah sebabnya boleh dibilang di sekitar Siauw-hong tidak pernah terlihat seorang manusiapun juga. Setiap hari di sekitar Siauw-hong sepi dan sunyi sekali, suasananya begitu tenang dan liar hanya diselingi oleh suara binatang-binatang liar yang memang banyak memenuhi di tempat itu.

Pagi itu diantara kelengangan yang ada, tiba-tiba terdengar suara kepak-kepak sayap burung yang keras sekali disertai oleh pekik yang nyaring, disusul terlihat di sebelah selatan puncak Siauw-hong melayang-layang seekor burung rajawali, yang berukuran sangat besar sekali. Burung itulah yang telah mengeluarkan suara, memekik-mekik nyaring dan suara kepak-kepak yang terdengar adalah suara sayapnya yang lebar yang hampir selebar dua meter. Ukuran burung rajawali itu luar biasa tetapi justru bentuk burung rajawali yang agak luar biasa.

Setiap kali dia terbang, dia menukik, dan kedua sayapnya digerakkan, justru gerakannya itu dilakukan seperti juga seorang manusia yang tengah bersilat, karena kedua kaki burung rajawali itu telah bergerak-gerak dengan jurus-jurus ilmu silat.

Setelah berputar-putar sekian lama akhirnya burung rajawali itu menukik dan menyambar cepat sekali ke bawah ke arah sesuatu yang berwarna putih. Ternyata yang diincar oleh burung rajawali itu tidak lain dari seekor kelinci putih, yang telah berusaha berlari untuk mencari tempat persembunyian mengelakkan diri dari sambaran burung rajawali.

Namun gerakan yang dilakukan oleh rajawali itu benar-benar luar biasa, dia menukik dengan kecepatan seperti kilat dan berbeda dengan burung rajawali lainnya yang biasanya menyambar mangsanya dengan segera menuju ke sasarannya, tetapi burung rajawali tersebut tidak segera menerjang mangsanya hanya mengikuti dan melewati di atasnya, dan di saat kelinci itu memutar tubuhnya untuk berlalu, dengan kecepatan yang seperti kilat, tahu-tahu tubuh rajawali tersebut telah menerjang dan mencengkeram mangsanya itu dan kelinci tersebut tak bisa meloloskan diri. Dengan membawa mangsanya itu burung rajawali tersebut telah terbang menuju ke angkasa dan menuju ke puncak Siauw-hong yang tertinggi.

Ketika di bagian kanan dari barat daya puncak Siauw-hong burung rajawali tersebut telah mengeluarkan suara pekikan yang nyaring dan meluncur turun menuju ke sebuah lembah. Rajawali itu terbang semakin rendah dan akhirnya berhenti di muka sebuah rumah yang sederhana namun bersih.

„Ahhh, Tiauw-heng (Saudara Rajawali) telah kembali!” terdengar suara seorang wanita yang merdu dan lembut sekali. Anehnya wanita itu, ia memanggil si rajawali dengan sebutan Tiauw-heng yaitu saudara Rajawali, panggilan yang agak luar biasa. Dari dalam rumah itu, si wanita yang berkata-kata tadi telah melompat keluar dan dia telah menerima kelinci yang menjadi mangsa dari rajawali tersebut, dan si rajawali yang dipanggil dengan sebutan Tiauw-heng itu, telah terbang ringan dan hinggap di sebuah batu gunung yang terletak di sebelah kanan.

Pemandangan yang terdapat di lembah itu memang agak luar biasa, disamping indah, juga keadaannya tenang sekali. Pohon-pohon bunga tampak memenuhi sekitar lembah tersebut, disamping itu rumah yang dibangun dengan cara sederhana itu terawat dengan rapi dan bersih sekali.

„Ko-jie, lihatlah!” berseru wanita yang keluar dari dalam rumah itu dengan suara yang riang, wajahnya cantik luar biasa dengar kulitnya yang halus, sepasang mata yang indah, di samping itu senyum yang selalu menghiasi bibirnya itu demikian menawan. Dialah Siauw Liong Lie!

„Tiauw-heng memang pandai mencari mangsa, kita setiap hari tentu akan bersantap lezat!” menyahuti suara lelaki dari dalam rumah.

„Liong-jie, engkau harus memasakan Tiauw-heng sayur kelinci yang lezat.”

Siauw Liong Lie tertawa riang, dia membawa kelinci itu ke belakang. Dengan cepat dia telah melihat suaminya Yo Ko, tengah duduk mengasah pedangnya, sehingga pedang itu berkilauan.

„Lihatlah Ko-jie,” kata Siauw Liong Lie sambil mengacungkan kelinci yang diperoleh rajawali itu. „Betapa besarnya kelinci ini…..”

Yo Ko mengangguk sambil tersenyum. „Untuk Tiauw-heng kau harus memanggangnya yang wangi,” katanya kemudian.

Siauw Liong Lie hanya mengangguk dan telah cepat-cepat menuju ke belakang untuk mempersiapkan masakannya. Sedangkan Yo Ko masih terus juga mengasah pedangnya, hari ini dia mengenakan baju berkembang yang dibuat oleh Siauw Liong Lie, tampaknya dia bahagia sekali hidup berdampingan dengan isterinya yang cantik jelita dan gagah ilmunya.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie memang telah menetap di lembah itu. Semula Yo Ko hendak mengajak Siauw Liong Lie menetap di Giok-lie-hong yang terletak di puncak Hoa-san, dimana di puncak bidadari itu terdapat sebuah kuil kecil yang kosong, yang ingin dipergunakan oleh Yo Ko sebagai tempat tinggal mereka.

Tetapi Siauw Liong Lie telah berpikir jauh, dia berpandangan luas, maka Siauw Liong Lie yang telah memberikan saran kepada suaminya agar tidak mengambil tempat Giok-lie-hong sebagai tempat pengasingan mereka, karena tempat itu sering didatangi oleh orang-orang yang bermaksud untuk sujud bersembahyang di kuil. Belum lagi banyak orang-orang rimba persilatan yang mengunjungi mereka untuk mengunjuk hormat, yang berarti bagi mereka tidak akan dapat menikmati hidup tenang selamanya.

Akhirnya bersama Yo Ko, Siauw Liong Lie menjelajahi beberapa buah gunung yang terdapat di daratan Tiong-goan bahkan tadinya mereka bermaksud untuk melihat-lihat puncak Himalaya, yaitu Long-mo Cung-lo yang terdapat di Himalaya namun terlalu dingin. Udara dingin memang tidak menjadi persoalan mereka, tetapi justru yang mereka pikirkan adalah calon anak mereka kelak jika mereka memiliki anak. Dan setelah menjelajahi berbagai tempat sekian lamanya, akhirnya Yo Ko dan Siauw Liong Lie merasa cocok untuk menetap di lembah yang terletak di puncak Siauw-hong dari pegunungan Thian-san.

Dengan tenang mereka hidup bahagia di tempat mereka yang baru itu, ditemani oleh Tiauw-heng itu, yaitu si rajawali sakti, yang biasa disebut oleh orang-orang rimba persilatan dengan nama Sin-tiauw. Sin-tiauw itulah yang setiap hari mencarikan makanan untuk suami isteri tersebut dan tidak jarang pula Siauw Liong Lie bergurau dengan rajawali tersebut, dengan cara melatih ilmu silat dan Yo Ko hanya menyaksikan sambil tersenyum. Tetapi dengan menetapnya mereka di tempat yang seperti itu. Pasangan suami isteri tersebut dibantu oleh Sin-tiauw telah melatih diri terus, sehingga tanpa mereka ketahui kepandaian dan tenaga dalam mereka telah sempurna sekali.

Telah dua tahun lebih Yo Ko dan Siauw Liong Lie menetap di lembah tersebut. Dan mereka selalu melewati hari-hari dengan gembira dan bahagia.

Sejak berpisah dengan sahabat mereka di gunung Hoa-san setelah menjenguk makam Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, serta mengambil selamat berpisah dengan Kwee Siang dimana telah bertemu juga Kak Wan Siansu yang kehilangan kitab mujijad Kui-im-cin-keng serta Kui-yang-cin-keng, yang dicuri oleh In Kek See dan Siauw Siang Cu, Yo Ko telah berhasil mengecap kemesraan berdua dengan isterinya. Perpisahan selama enambelas tahun yang pernah terjadi beberapa saat yang lalu, justru telah menyebabkan Yo Ko maupun Siauw Liong Lie menyadari bahwa cinta mereka merupakan cinta yang kekal dan abadi, cinta yang tulus dan sejati.

Usia Yo Ko yang telah duduk sebagai See-kong dalam urutan Ngo-ciat, telah mencapai hampir tigapuluh tiga tahun dan Siauw Liong Lie lebih tua beberapa tahun dari dia. Tetapi karena sejak kecil Siauw Liong Lie memang telah dididik oleh gurunya di dalam kuburan mayat hidup, maka kecantikannya tetap utuh dan awet muda, terlebih lagi sekarang, di saat mana lwekangnya telah sempurna. Sedangkan Yo Ko selama hidupnya, sejak sampai akhirnya menikah dengan Siauw Liong Lie, selalu menghadapi urusan-urusan yang mendukakan hatinya, walaupun tetap tampan luar biasa tetapi tampaknya telah dewasa sekali. Jika dilihat selintas mereka tampak berimbang usia maupun ketampanan dan kecantikan mereka.

Mengenai wajah Yo Ko yang tampan itu tidak perlu dikatakan lagi karena Kwee Siang selalu memimpikan Yo Ko (diceritakan dalam kisah Membunuh Naga) dan memang Yo Ko memiliki lwekang yang telah mencapai puncak kesempurnaannya, sehingga disamping awet muda, kulit mukanya itu bersih dan bercahaya gemilang.

Seperti diketahui jika seseorang melatih lwekang (tenaga dalam) yang berpusat di pusar maka jika hawa murni di Tan-tian telah naik sampai ke otak, maka baik umur maupun kesehatan bisa ditentukan dan diperintahkan oleh orang yang bersangkutan. (Mirip juga dengan latihan Yoga yang telah sempurna, dapat menentukan usia dan otot-otot di seluruh tubuh dapat diperintahkan).

Begitu pula Yo Ko, walaupun usianya telah tigapuluh tahun lebih, tetapi raut wajahnya seperti seorang pemuda yang berusia duapuluh tahun.

Penghidupan yang tenang, jauh dari keramaian yang memusingkan kepala, dan juga hidup tenteram bahagia disamping isterinya yang cantik, namun Yo Ko manusia juga. Akhirnya timbul rindunya kepada Kwee Ceng, Oey Yok Su, Ciu Pek Thong, Oey Yong, Kwee Siang dan sahabat-sahabat lainnya.

Walaupun bagaimana memang kenyataannya Yo Ko akhirnya tidak bisa menahan keinginannya itu, tidak berhasil melenyapkan rindunya itu. Dia semalam telah menyampaikan hasratnya kepada Siauw Liong Lie, untuk turun gunung selama tiga bulan, guna mencari sahabat-sahabatnya itu. Dan Siauw Liong Lie lebih suka menyendiri, tetapi setelah menikah dengan Yo Ko dengan sendirinya sifat dan wataknya jadi berobah banyak. Kini selain periang, Siauw Liong Lie pun lincah walaupun belum lenyap sifat-sifatnya yang dingin jika tengah menghadapi urusan yang rumit dan penting.

Mendengar Yo Ko ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya itu, Siauw Liong Lie jadi girang sekali. Dia telah bersyukur bahwa suaminya bermaksud mengajak dia.

„Tentu aku bisa menyaksikan keramaian lagi,” kata nyonya Yo itu sambil tersenyum,

Dan itulah sebabnya hari itu Yo Ko, sibuk mengasah pedang, milik Siauw Liong Lie. Sedangkan golok pusakanya telah diasahnya malam tadi. Mereka telah bersiap-siap untuk berangkat pagi ini, tetapi Siauw Liong Lie tiba-tiba sekali telah sakit. Sejak fajar dia telah muntah-muntah dan perut maupun pinggangnya sakit. Dia memberitahukan Yo Ko, sehingga suaminya itu membatalkan keberangkatan mereka dan menganjurkan isterinya untuk beristirahat.

Di saat Siauw Liong Lie tengah rebah di pembaringan, Sin-tiauw justeru telah pergi memburu mangsa, untuk santapan sahabat-sahabatnya itu, pa¬sangan suami isteri tersebut, yang telah memperlakukan mereka sebagai sahabat. Di saat Sin-tiauw kembali dengan kelinci buruannya itu, justeru Siauw Liong Lie telah sembuh dari sakitnya, pinggangnya sudah tidak sakit lagi, dan dia bisa mengerjakan masakan untuk suaminya dan Sin-tiauw. Tetapi, selama didapur, mukanya sebentar-sebentar berobah merah, karena sebagai seorang ahli lwekee, segera dia telah mengetahui bahwa penyakit yang tadi menyerangnya bukan penyakit sembarangan, melainkan gejala-gejala bahwa dia telah hamil. Justeru untuk memberitahukan kepada suaminya dia merasa malu, walaupun di tempat tersebut hanya mereka berdua. Dan Siauw Liong Lie bermaksud memberitahukan suaminya nanti malam.

Tetapi ketika Siauw Liong Lie tengah menyelesaikan masakannya, tiba-tiba dia mendengar samar-samar suara siulan yang cukup panjang. Muka Siauw Liong Lie berobah, saat itu Yo Ko telah mendatangi dan bertanya kepada isterinya.

„Liong-jie, kau dengar siulan itu?”

Isteri tersebut mengangguk.

„Dua tahun lebih kita menetap di tempat ini, belum pernah didatangi orang, tetapi suara orang bersiul itu..... jelas yang bersiul merupakan orang yang memiliki lwekang sangat tinggi dan sempurna!”

„Ya..... siapakah dia. Hmmmm..... apakah mungkin salah seorang sahabat lama?” menggumam Yo Ko.

„Tetapi suara siulan itu aneh dan belum pernah kita dengar. Ko-jie kau harus hati-hati nanti tidak mungkin sahabat lama yang datang.....!”

Yo Ko tersenyum, dia mendekati isterinya dan mencekal tangan Siauw Liong Lie dengan lembut dan mesra sekali.

„Liong-jie, sejak kapan kau jadi penakut seperti ini?” tanya Yo Ko. „Apakah dengan kepandaian kita berdua seperti sekarang ini masih ada orang yang bisa mencelakai kita?”

Muka Siauw Liong Lie jadi berobah merah, dia telah menunduk dalam-dalam dengan sikap kemalu-maluan, tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

Yo Ko jadi heran melihat sikap isterinya seperti itu, belum pernah Siauw Liong Lie membawakan sikap seperti itu.

„Liong-jie, apakah ada sesuatu.....?” tanya Yo Ko halus sambil mengusap-usap lembut tangan isterinya.

Siauw Liong Lie mengangkat kepalanya menatap suaminya mesra sekali. „Ko-jie, kau harus dapat menjaga diri dengan baik, karena… karena……” suara Siauw Liong Lie semakin lama semakin perlahan, dan akhirnya tidak terdengar, dan juga Siauw Liong Lie telah menunduk lagi.

„Karena..... apa Liong-jie?” tanya Yo Ko jadi heran melihat sikap isterinya tersebut.

„Karena......” dan Siauw Liong Lie menubruk memeluk Yo Ko, kemudian sambil tertawa dengan pipi yang merah, dia telah meneruskan perkataannya, „Mari kubisiki……”

Yo Ko mendekati telinganya ke bibir isterinya dan Siauw Liong Lie telah membisikkan beberapa patah kata. Muka Yo Ko berobah menjadi berseri-seri, dia berseru girang dan melompat-lompat dengan riang.

„Hus! Anak edan!” bentak Siauw Liong Lie sambil tersenyum. „Apakah kau tidak malu jika didengar orang?”

Yo Ko masih melompat-lompat sesaat lamanya lagi, setelah itu dia lagi menyahuti, „Malu? Bukankah disini hanya kita berdua? Malu kepada siapa?”

Muka Siauw Liong Lie telah berobah merah lagi, diapun baru teringat bahwa mereka memang hanya berdua. Muka Siauw Liong Lie jadi bertambah merah karena malu waktu Yo Ko mengawasi saja perutnya.

„Sudahlah kau lihat siapa yang datang itu!” Siauw Liong Lie memperingati suaminya. Tetapi baru berkata sampai disitu Siauw Liong Lie jadi kaget sendirinya, karena tiba-tiba dia menciumkan sesuatu.

„Ahhh!” berseru Siauw Liong Lie. „Daging panggangku hangus!” dan ketika dia menoleh, benar saja daging kelinci yang tengah dipanggangnya itu telah hangus separuh.

Di saat itu, waktu Siauw Liong Lie ingin menyesali suaminya, justru telah terdengar lagi suara siulan itu yang panjang dan didengar dari kerasnya suara siulan itu, tentu orang yang bersiul itu telah berada dekat sekali dengan rumah mereka, setidak-tidaknya telah berada di sekitar daerah tersebut.

„Liong-jie kau baik-baik rawat diri, jangan bekerja terlalu capai, setelah memanggang daging kelinci itu, pergilah kau tidur, biarlah aku yang melihat keluar.....!” kata Yo Ko dengan perasaan menyayang sekali.

„Anak sinting mana mungkin siang-siang tidur!” mengomel Siauw Liong Lie. Tetapi hatinya bahagia bukan main, sangat bersyukur, karena memang dia bahagia sekali mempunyai suami seperti Yo Ko.

Justeru Yo Ko sendiri setelah dia mengetahui dia akan segera menjadi calon ayah, dia girang luar biasa. Dengan, gerakan yang lincah dia telah melompat keluar. Di saat itu Yo Ko melihat Sin-tiauw sudah tidak berada di tempatnya. Dikejauhan terdengar suara pekikan Sin-tiauw. Bagaikan terbang Yo Ko telah berlari menghampiri ke arah suara pekikan itu lengan baju kanannya yang kosong melampaui lambaian tertiup angin.

Seperti diketahui lengan kanan Yo Ko telah tertabas buntung akibat tingkah dan ulah Kwee Hu, puteri Kwee Ceng.

Setelah berlari-lari sekian lama, Sin-tiauw Tayhiap tiba dibalik mulut lembah, dia melihat di angkasa Sin-tiauw tengah terbang melayang tidak hentinya mengeluarkan suara pekikan. Rupanya tadi Sin-tiauw juga telah mendengar suara siulan itu, dan segera terbang ke tengah udara untuk melihat siapakah yang telah datang itu, si tamu yang tidak diundang.

Yo Ko tiba di tempat itu segera dapat melihat jelas tamunya. Ternyata orang tersebut hanya seorang diri, memakai pakaian bulu yang tebal untuk mencegah hawa udara yang dingin, memelihara kumis yang panjang dan mukanya berbentuk segi tiga, sinar matanya agak licik.

Melihat Yo Ko, orang itu telah cepat-cepat menghampiri, dia menjatuhkan dirinya di tanah Berlutut dihadapan Yo Ko.

„Sin-tiauw Tayhiap Locianpwe….. boanpwe menghunjuk hormat!” kata orang itu, yang membahasakan Yo Ko dengan sebutan Locianwe (yang tingkatan tua) dan membahasakan dirinya sendiri dengan sebutan Boanpwe, tingkatan muda. „Boanpwe Liang Ie Tu membawa titipan pesan untuk locianpwe.”

Yo Ko mengawasi tamu tidak diundang tersebut dengan sorot mata yang tajam, sepasang alisnya agak mengkerut, karena tidak senang dia melihat bentuk muka orang itu yang amat licik.

„Siapa yang telah menitipkan pesan untukku? Mengapa kau mengetahui bahwa aku menetap disini?” tegur Yo Ko sambil memandang penuh kecurigaan.

Orang itu telah cepat-cepat mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia juga telah berkata setelah memberi hormat begitu. „Sesungguhnya Boanpwe memang lancang telah datang kemari tanpa meminta ijin dari Sin-tiauw Tayhiap Locianpwe, tetapi karena dalam keadaan terdesak, maka terpaksa Boanpwe harus melakukan perbuatan lancang seperti ini, yang layak dihukum…..” dan setelah berkata begitu, Liang Ie Tu telah merogoh sakunya mengeluarkan sepucuk surat, yang diberikan kepada Yo Ko dengan sikap yang menghormat sekali, disusuli kata-katanya.

„It-teng Taysu Locianpwe telah perintahkan Boanpwe untuk menyampaikan suratnya ini kepada Sin-tiauw Tayhiap Locianpwe…….”

Yo Ko menyambuti surat itu, hatinya terkejut sekali setelah mengetahui bahwa surat tersebut adalah kiriman It-teng Taysu. Cepat-cepat dia telah membacanya, bunyi surat itu lebih mengejutkan Yo Ko, antara lain berbunyi,

„Yo Hiante (adik).

Sebetulnya lolap bermaksud datang sendiri untuk menjumpai kalian suami isteri, namun berhubung timbulnya urusan yang demikian tiba-tiba, terpaksa lolap harus memecahkan perhatian dan hanya bisa mengirimkan berita melalui sepucuk surat ini. Bagaimana keadaan kalian? Tentu baik-baik saja, bukan?

Siancay! Sesungguhnya maksud lolap ingin meminta bantuan Yo-hiante dan Yo Hujin (nyonya Yo), untuk menyelesaikan suatu peristiwa aneh yang akhir-akhir ini telah terjadi di dalam rimba persilatan.

Selama tiga tahun kita telah berpisah, sesungguhnya bukanlah waktu yang terlalu lama, namun dalam tiga tahun itu justeru di dalam rimba persilatan muncul urusan-urusan yang aneh luar biasa. Sedangkan saudara Kwee Ceng dan Kwee Hujin (Oey Yong), telah ikut membantu lolap untuk menyingkap tabir rahasia yang tengah terjadi ini.

Sesungguhnya Lolap mau menceritakan panjang lebar urusan itu, namun lolap kuatir jika surat ini jatuh ketangan yang tidak berkepentingan, akan menimbulkan urusan yang jauh lebih hebat lagi. Biarlah kelak Lolap akan menceriterakannya langsung kepada Yo Hiante. Maka jika memang Yo Hiante dan Yo Hujin tidak keberatan, Lolap menantikan kedatangan Yo Hiante di Hoa-san, dimakam saudara Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, tepat ditanggal Cit-gwee Ce-sah (bulan tujuh tanggal tiga) dimana sahabat-sahabat lain-lainnya juga akan berkumpul. Kami menantikan kedatangan Yo Hiante, salam kepada Yo-Hujin.”

Dan surat tersebut telah ditanda tangani oleh It-teng Siansu pendekar Lam-ceng, pendekar dari selatan.

Yo Ko memang mengenali tulisan It-teng Taysu, begitu pula tanda tangannya, tidak mungkin surat itu surat palsu. Tetapi yang membuat Yo Ko tidak mengerti justeru mengapa It-teng Taysu menitipkan suratnya tersebut kepada seorang manusia bermuka licik seperti itu yang mengaku bernada Liang Ie Tu. Ada hubungan apakah antara Liang Ie Tu dengan It-teng Taysu? Sebelumnya Yo Ko belum pernah bertemu dengan orang she Liang tersebut?

03.06. Surat Misterius . . . . .

„Masih ada sangkutan apa antara Liang-heng dengan It-teng Taysu?” tanya Yo Ko sambil melipat surat itu dan memasukan ke dalam saku.

Liang It Tu masih berlutut, cepat sekali dia menyahut, „It-teng Taysu pernah paman dengan Boanpwe, dan menurut pesan yang diberikan oleh It-teng Taysu locianpwe, bahwa urusan yang sekarang muncul ini merupakan urusan yang luar biasa sekali, urusan yang membingungkan.....”

„Urusan luar biasa dan membingungkan? Urusan apakah itu?”

„It-teng Locianpwee tidak menjelaskan, hanya meminta kepada boanpwe secepatnya menyampaikan surat tersebut kepada Yo Locianpwe tempat berdiamnya Yo Locianpwe juga diberitahukan oleh It-teng Locianpwe.”

Yo Ko mengangguk, setidak-tidaknya dia merasa tidak enak hati jika membiarkan orang bermuka licik itu tetap berlutut, maka diperintahkannya Liang Ie Tu berdiri.

„Dari sini Liang-heng bermaksud pergi kemana lagi?” tanya Yo Ko kemudian.

„Boanpwe telah melakukan perjalanan tidak hentinya selama setengah bulan, maka jika Locianpwe tidak berkeberatan, di saat tugas yang diberikan It-teng Locianpwe berhasil boanpwe laksanakan dengan baik, maka boanpwe meminta ijin Locianpwe untuk bermalam disini.”

Yo Ko jadi mengerutkan alisnya, tetapi setelah ragu-ragu sejenak, tidak dapat dia menolak atas keinginannya Liang Ie Tu bukankah orang she Liang itu utusan It-teng Taysu, dan masih pernah keponakan pula dengan Lam-ceng tersebut?

„Baiklah, tetapi maafkan tempat kami buruk sekali,” kata Yo Ko sambil mengangguk.

Liang Ie Tu tampak gembira sekali, dia menyatakan terima kasihnya, berulang kali.

Yo Ko mengajak Liang Ie Tu ke rumahnya, diperkenalkan kepada Siauw Liong Lie, isterinya. Sama halnya dengan Yo Ko, malam itu ketika berada di kamar mereka, Siauw Liong Lie menyampaikan perasaan tidak senangnya melihat lelaki bermuka licik itu, walaupun bagaimana wajah Liang Ie Tu memancarkan kelicikan yang tidak menyenangkan sekali.

„Biarlah, hanya malam ini saja, besok kita bisa memintanya untuk meninggalkan tempat ini, dengan alasan kitapun akan segera berangkat untuk memenuhi undangan It-teng Taysu.”

Siauw Liong Lie hanya mengangguk saja.

Tetapi di luar dugaan mereka tepat menjelang tengah malam, Liang Ie Tu yang diberi kamar di belakang rumah mereka, telah turun dari pembaringan, dengan hati-hati dia telah berjingkat ke pintu dan memasang pendengarannya baik-baik. Sunyi dan sepi sekali……

Dengan hati-hati sekali, Liang Ie Tu membuka daun pintu dan melangkah keluar. Dia berada di pekarangan belakang rumah Yo Ko, dengan hati-hati Liang Ie Tu melompat ke balik batu gunung-gunungan yang terdapat disitu, dia bersembunyi agak lama di tempat tersebut, sampai akhirnya setelah melihat keadaan aman, orang she Liang tersebut keluar dari tempat persembunyiannya itu.

Diawasinya keadaan di sekitar tempat itu, dan tampaknya dia tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Maka dia telah melangkah lagi dan terus menghampiri ke ruang tengah rumah tersebut, keadaan sepi, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak dilihatnya. Orang she Liang itu dengan berhati-hati sekali telah menuju ke pintu ruang tengah. Dia membuka sedikit dan mengintai. Sunyi dan sepi, tidak ada siapapun di ruang dalam.

Dia kemudian memasuki ruang dalam. Dilihatnya sebatang pedang dan sebatang golok tergantung di dinding matanya bersinar. Namun dia tidak segera mengambil kedua benda itu, melainkan telah mengeluarkan semacam bungkusan kecil dari sakunya, dia mendekati pintu kamar Yo Ko, berjongkok disitu dengan hati-hati sekali dia membakar bungkusan kecil itu, asap segera memenuhi ruangan. Itulah dupa tidur yang bisa membuat seseorang yang menyedotnya akan tidur dengan nyenyak.

Setelah menanti sekian lama dan yakin bahwa dupa tidur itu telah memasuki kamar Yo Ko maka Liang Ie Tu baru mendekati golok dan pedang yang tergantung di dinding. Diulurkan tangannya untuk mengambil kedua benda itu, dengan wajah yang berseri-seri dan mulut tersungging senyuman licik. Namun belum lagi tangannya semua menyentuh kedua benda itu, justeru tahu-tahu Liang Ie Tu merasakan punggungnya seperti dijambak keras sekali oleh sesuatu. Belum lenyap kagetnya dan belum lagi mengetahui apa yang terjadi, justru di saat itu tubuhnya telah terangkat ke atas dan terbanting di lantai, sehingga Liang Ie Tu menjerit kesakitan punggungnya dirasakan pecah dan matanya berkunang-kunang.

Dengan memaksakan diri dia merayap untuk bangun, di saat itupun dia melihat seseorang berdiri di dekatnya, seorang lelaki bermuka tampan, dengan mata yang bersinar tajam penuh kejengkelan dan dengan lengan baju sebelah kanan berkibar-kibar lemas karena tidak ada lengannya.

„Sin-tiauw Tayhiap.....” mengeluh Liang Ie Tu dengan suara putus asa. Dan Liang Ie Tu jadi mengeluh lagi waktu melihat di pintu berdiri seorang wanita cantik, yang tengah menatap ke arahnya dengan wajah yang dingin sekali. Wanita itu tidak lain dari Yo Hujin, Siauw Liong Lie.

Tanpa berpikir lagi, Liang Ie Tu telah berlutut menganggukkan kepalanya sampai keningnya menghantam lantai berulang kali, menimbulkan suara yang beledak-beleduk. Dan orang she Liang itupun telah menangis sambil sesambatan karena ketakutan sekali.

„Ampun, ampunilah hamba, Sin-tiauw Tayhiap dengan memandang It-teng Locianpwe suka mengampuni jiwaku yang tidak berharga ini……”

Yo Ko yang sejak tadi hanya mengawasi dengan sorot mata yang dingin telah mendengus.

„Hmmm, memang sejak semula aku telah mencurigai kau bukan sebangsa manusia baik-baik,” katanya dengan suara yang tawar. „Ternyata kedatanganmu hanya untuk mencuri senjata kami berdua! Kini bicaralah terus terang, sekali saja kau berdusta, jangan harap bisa lolos dari tangan kami!”

Liang Ie Tu mengiakan berulang kali, diam-diam dia mendongkol juga, karena dia telah memasang dupa tidur di muka pintu kamar tidur Yo Ko dan Siauw Liong Lie tetapi kenyataannya Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah keluar dari jendela dan mengambil jalan memutar tahu-tahu telah berada di belakang pintu ruang dalam.

„Siapa yang perintahkan kau datang kemari? Dan mengapa surat It-teng Taysu bisa jatuh ke tanganmu?” tanya Yo Ko dengan suara yang dingin.

„Boanpwe berani bersumpah surat itu benar surat It-teng Taysu.....” Kata Liang Ie Tu dengan menganggukkan kepalanya dalam keadaan berlutut seperti itu.

„Hemmm, akupun mengetahui bahwa surat itu memang surat It-teng Taysu. Tetapi mengapa bisa terjatuh di tanganmu?” tanya Yo Ko lagi.

„Bukankah kemarin sore boanpwe telah menceritakan bahwa boanpwe pernah paman dengan It-teng Locianpwe,” menyahuti orang she Liang itu.

„Jangan kau bicara dusta, belum pernah aku mendengar It-teng Taysu menyebut perihal dirimu,” kata Yo Ko bengis.

„Sungguh, memang boanpwe pernah paman dengan It-teng Taysu dan surat itupun It-teng Locianpwe yang berikan, meminta agar boanpwe menyampaikannya kepada Yo Locianpwe……” berkeras Liang Ie Tu dengan suara yang perlahan, tampaknya dia ketakutan sekali.

Yo Ko telah maju akan mengorek terus keterangan dari orang she Liang itu, karena dia penasaran bukan main menghadapi urusan hari ini. Tetapi di saat itu, Siauw Liong Lie, merasakan pinggangnya sakit kembali, kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang, perutnya mual seperti ingin muntah dan mukanya pucat pias, dia telah menyender di tiang pintu sambil memegangi kepalanya.

„Ko-jie..... usirlah orang itu!” katanya dengan suara yang agak tergetar.

Yo Ko terkejut melihat keadaan isterinya, dengan cepat dia telah menjambret dan mencekal punggung Liang Ie Tu, dengan cepat sekali dia mengangkat tubuh orang she Liang itu, dan melontarkan ke depan. Walaupun hanya mempergunakan tangan kirinya, tetapi tenaga melempar Yo Ko hebat luar biasa. Bukankah Kaisar Mangu terbinasa akibat timpukan batu oleh Yo Ko yang mempergunakan tangan kirinya juga, dengan ilmu Tan-cie-sin-thong? Maka dari itu bisa dibayangkan. betapa hebat dan kerasnya lemparan Yo Ko terhadap Liang Ie Tu, lebih-lebih Yo Ko tengah dalam keadaan kuatir dan gusar melihat isterinya yang mendadak pucat pias seperti itu.

Tubuh Liang Ie Tu yang terlempar belasan tombak itu, telah terbanting keras. Tetapi setelah mengeluarkan suara seruan kesakitan, tanpa berani menoleh, lagi dia telah pentang kaki untuk kabur secepatnya. Tetapi baru berlari belasan langkah, tahu-tahu dari atas menyambar bayangan hitam yang sangat besar, tahu-tahu tubuh Liang Ie Tu telah melayang dan kemudian meluncur jatuh lagi.

Rupanya Sin-tiauw pun mengetahui bahwa Liang Ie Tu bukan sebangsa manusia baik-baik, tadi dia yang menyambar dengan cengkeramannya dan membawa terbang yang cukup tinggi, lalu melepaskannya kembali. Semangat Liang Ie Tu seperti terbang meninggalkan raganya tanpa berani bersuara dia telah melarikan diri secepat mungkin karena takut tersiksa lagi.

Yo Ko telah cepat-cepat menghampiri Siauw Liong Lie, menanyakan dengan halus apa yang dirasakan oleh isterinya tersebut. Setelah mendengar bahwa isterinya mabuk, dan pinggangnya yang sakit, Yo Ko cepat-cepat mengangkat isterinya dan dibawa ke kamarnya lalu merebahkan isterinya di pembaringan dengan penuh kasih sayang.

Dengan kuatir sekali Yo Ko duduk menunggui Siauw Liong Lie. Dilihatnya berangsur-angsur wajah isterinya memerah kembali dan Siauw Liong Lie pun telah dapat tersenyum lagi.

„Itulah gangguan anak kita yang nakal......” kata Siauw Liong Lie dengan manja.

Yo Ko mengusap-usap kening isterinya dengan tangan tunggal kirinya, mereka bahagia sekali. Tetapi ketika Yo Ko rebah di pembaringan dan Siauw Liong Lie telah tertidur nyenyak, kembali pikiran Yo Ko jadi melayang-layang diliputi kekuatiran terhadap It-teng Taysu. Sesungguhnya peristiwa hebat apakah yang telah terjadi? Dan mengapa surat It-teng Taysu bisa terjatuh ke tangan orang she Liang ini? Siapakah orang she Liang itu yang mengakui dirinya pernah paman dengan It-teng Taysu.

Bermacam-macam pertanyaan mengaduk-aduk, dalam hati dan otak Yo Ko, dan Pendekar berlengan tunggal yang sakti itu telah memutuskan besok untuk berangkat ke Hoa-san untuk melihat sesungguhnya urusan apakah yang telah terjadi dan melanda dunia persilatan. Setelah mengambil keputusan seperti itu, barulah Yo Ko dapat memejamkan matanya dan tidur.

Keesokan harinya, setelah mempersiapkan keperluan dalam perjalanan, Yo Ko dan Siauw Liong Lie turun gunung, meninggalkan puncak Siauw-hong untuk menuju Hoa-san memenuhi undangan It-teng Taysu. Sedangkan Sin-tauw ikut bersama mereka, terbang di tengah udara, dengan sekali mengeluarkan suara pekikkan yang nyaring.

Setelah melakukan perjalanan hampir sepuluh hari lamanya, suatu sore mereka tiba di muka perkampungan Lu-yang-cung. Waktu itu baru saja Yo Ko ingin memberitahukan Siauw Liong Lie bahwa mereka akan bermalam di kampung tersebut, karena Siauw Liong Lie tengah berisi, jelas tidak boleh terlalu letih dan harus banyak istirahat. Tetapi belum saja Yo Ko membuka mulut, justeru Sin-tiauw yang berada di atas mereka telah memekik dan terbang cepat sekali ke arah depan.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie heran sekali melihat sikap Sin-tiauw mereka menduga tentu ada urusan sesuatu yang luar biasa. Lama juga menanti, akhirnya pasangan suami isteri itu tidak dapat menahan hati lagi dan mengejar ke arah mana tadi Sin-tiauw terbang. Di saat mereka tiba di dekat tanah datar yang tidak jauh dari tempat mereka berada tampak dua sosok tubuh yang tengah berdiri kaku berhadapan saling mengadu kekuatan tenaga dalam kelas tinggi. Dan yang membuat mereka lebih terkejut justru salah seorang diantara kedua orang itu adalah Loo Boan Tong, sedangkan seorang lainnya, seorang berpakaian pendeta Mongolia yang mengingatkan suami isteri itu kepada Kim Lun Hoat-ong.

Disamping gelanggang pertempuran itu tampak seorang pemuda pelajar tengah menyaksikan jalannya pertarungan tenaga dalam kelas satu itu dengan mata terpentang lebar-lebar memancarkan ketakjubannya. Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak mengenal pemuda pelajar itu.

Tetapi tampak Ciu Pek Thong telah mulai kewalahan menahan tenaga dalam dari lawannya sepasang kakinya telah melesak ke dalam tanah sedalam empat cun karena terlampau kuatnya dia menahan sanggahan dari tindihan tenaga dalam pendeta Mongolia itu.

„Liong-jie, kau tunggu disini, biar kubereskan dulu urusan Ciu Toako!” kata Yo Ko.

Siauw Liang-Lie mengangguk, dan Yo Ko secepat terbang telah melompat ke tengah gelanggang, sedangkan mulutnya telah berteriak nyaring, „Loo Boan Thong, jangan takut, aku akan membereskan imam ini!”

Ciu Pek Thong kaget bercampur girang. Kaget karena sahabatnya yang sakti itu bisa muncul disitu secara kebetulan, girang karena dengan kedatangan Yo Ko, Tiat To Hoat-ong yang menjadi lawannya itu akan dibereskan dengan cepat. Tetapi Ciu Pek Thong tidak bisa menyahuti karena sekali saja dia membuka suara, berarti pecahlah perjalanan tenaga dalamnya, yang tengah dikerahkan mencapai puncaknya. Ciu Pek Thong hanya berdiam diri saja.

Saat itu Yo Ko secepat kilat telah menggerakkan lengan kanan jubahnya yang kosong itu. „Wuuut!” serangkum angin yang luar biasa telah menyambar ke arah Loo Boan Tong dan Tiat To Hoat-ong. Kesudahannya hebat sekali, karena baik Ciu Pek Thong maupun Tiat To Hoat-ong keduanya telah terdorong mundur terpisah satu dengan yang lainnya.

Yang paling terkejut adalah Tiat To Hoat-ong. Dia bisa mengetahui betapa hebat dan luar biasanya tenaga dalam Yo Ko yang sempurna karena tidak mudah memisahkan dua tenaga raksasa yang tengah mengukur kekuatan satu dengan yang lainnya.

Tetapi Yo Ko justru dengan hanya sekali mengibas saja, dia telah berhasil membuat kedua orang itu terpisah. Yo Ko mengawasi pendeta Mongolia itu. Kemudian dia membungkukkan tubuhnya sedikit sambil tanyanya,

„Jika aku yang bodoh Yo Ko tidak salah mata, Taysu tentu seorang Lhama dari Mongolia?”

„Tepat!” berseru Tiat To Hoat-ong dengan bengis, matanya masih mengawasi lengan baju Yo Ko yang kosong maka dia mengetahui, pemuda dihadapannya yang tampaknya berusia muda sekali dan memiliki kepandaian luar biasa disamping sangat tampan itu, ternyata hanya memiliki tangan tunggal, karena tidak memiliki tangan kanan, yang ternyata telah buntung.

Melihat cara pendeta itu menatap tangan kanan yang buntung itu Yo Ko tidak tersinggung hanya dengan tersenyum sabar dia telah mene¬gur, „Peperangan telah berakhir, pasukan tentara perang negeri Taysu telah ditarik pulang oleh Kublai ke Utara, mengapa Taysu masih berkeliaran disini? Dilihat dari kepandaian yang Taysu miliki, jelas Taysu bukan orang sembarangan di negerimu.”

Tiat To Hoat-ong yang tengah murka, dan memang tidak mengenal Yo Ko, telah mendengus, dia telah mengawasi mendelik dan menunjuk ke arah Loo Boan Thong.

„Dia mencari mampus. Hud-ya telah bertanya secara baik, apakah dia mengenal atau mengetahui dimana adanya sute (adik seperguruan) Hud-ya yang bernama Kim Lun Hoat-ong. Namun sungguh tidak tahu mati, dia telah mempermainkan Hud-ya dengan olok-olokannya yang tidak lucu.”

Mendengar Loo Boan Tong mempermainkan pendeta Mongolia itu, dan melihat pendeta itu murka sekali, Yo Ko tak heran, justeru dia berpikir jika Loo Boan Tong tidak nakal, ten¬tunya dia bukan Loo Boan Tong. Tetapi yang membuat Yo Ko jadi terkejut, justru pendeta Mongolia itu telah menyebut-nyebut Kim Lun Hoat-ong sebagai adik seperguruannya, disamping itu juga Yo Ko melihat kepandaian pendeta ini tidak boleh dibuat main-main. Maka sambil tersenyum Yo Ko telah berkata, „Taysu, sungguh malang nasib Kim Lun Hoat-ong, dia telah binasa karena dosanya yang terlalu melebihi takaran......!”

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah hebat. „Jadi memang benar Kim Lun Hoat-ong telah meninggal?”
tanyanya serak suaranya.
Yo Ko mengangguk.

„Hmm, pendeta tak tahu malu!” memaki Loo Boan Tong. „Aku Loo Boan Tong seumurnya belum pernah berdusta...... bukankah tadi aku telah bicara benar bahwa si bangsat gundul Kim Lun telah mampus? Dan juga, mengapa tak hujan tak angin tahu-tahu engkau memanggil aku si monyet? Siapa yang tidak membalas dengan guyon pula. Jika engkau ingin menyusul Kim Lun si gundul bangsat itu, pergilah ke Im-kan tetapi jangan mengajak aku, aku sudah bilang tadi, aku masih mau makan nasi......”

Mendengar dan melihat lagak Ciu Pek Thong maka Yo Ko mau tidak mau jadi tertawa juga, karena sikap si tua yang ke kanak-kanakan memang lucu.

Tetapi bagi Tiat To Hoat-ong, sikap Ciu Pek Thong merupakan hinaan yang sangat hebat sekali, dengan mengeluarkan suara mengerang menyeramkan, dia telah melompat menubruk Ciu Pek Thong sambil melancarkan serangan dan gempuran telapak tangan hebat sekali.

Namun Yo Ko telah bergerak cepat, dengan lengan jubah sebelah kanan yang kosong, Yo Ko mengibas sehingga kembali serangkum angin yang menerjang Tiat To Hoat-ong memaksa pendeta Mongolia itu mau tidak mau harus mundur beberapa langkah.

Tentu saja Tiat To jadi terkejut sekali. „Bocah busuk, siapa kau sesungguhnya?” bentak Tiat To Hoat-ong setelah berhasil menguasai tubuhnya.

„Hm, jika memang benar apa yang Taysu katakan tadi bahwa kedatangan Taysu untuk mencari adik seperguruan Taysu, maka setelah Taysu mengetahui dan mendengar keterangan mengenai diri adik seperguruan Taysu itu, mengapa Taysu tidak berlalu?” Tajam kata-kata Yo Ko, yang sama juga seperti mengusir pendeta itu dengan segera.

Tubuh Tiat To Hoat-ong gemetar keras, dia murka bukan main, jenggotnya itu sampai bergetar bergerak-gerak. Tetapi, di saat itu hatinya ragu-ragu. Dia melihat pemuda ini masih berusia muda sekali, tetapi kepandaiannya luar biasa, lwekangnya pun mungkin berimbang dengannya. Maka mau Tiat To Hoat-ong menduga bahwa tidak jauh dari tempat ini pasti ada guru dari pemuda berkepandaian hebat itu.

Maka berpikir begitu, akhirnya Tiat To Hoat-ong mengambil keputusan untuk mengalah saja dulu. Dia memang bukan hanya memiliki kepandaian yang hebat, memiliki ilmu golok gubahan yang tangguh sekali, yang belum digunakan, tetapi otaknya cerdik sekali. Maka akhirnya dia telah mengangguk!

„Baiklah,” katanya. „Kelak Hud-ya tentu akan mencarimu untuk melihat berapa tinggikah sesungguhnya kepandaianmu. Sekarang Hud-ya tengah sibuk karena memiliki urusan penting, maka tidak bisa menemanimu untuk main-main.” Dan setelah berkata begitu, ia lalu menoleh dan mendelik satu kali lagi kepada Ciu Pek Thong, Tiat To Hoat-ong melompat ringan ke atas kudanya yang kemudian dilarikan ke tengah tegalan de¬ngan cepat sekali, dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan mata Yo Ko, Ciu Pek Thong, Siauw Liong Lie maupun Cu Kun Hong.

„Ahaa, untung saja kau datang Yo Hiante!” berseru Ciu Pek Thong memecahkan kesunyian tempat itu. „Kalau tidak, hu, hu, kalah sih belum tentu, tetapi yang jelas harus membuang banyak tenaga sia-sia.”

Yo Ko dan Siauw Liong Lie tertawa waktu mendengar perkataan Ciu Pek Thong yang jenaka itu.

Cu Kun Hong cepat-cepat menghampiri mereka, dia memberi hormat sambil katanya, „Boanpwe Cu Kun Hong sangat beruntung hari ini dapat bertemu dengan Sam-wie Tayhiap Locianpwe.”

Yo Ko cepat-cepat mencegah pemuda itu lebih hormat kepada mereka. Sebagaimana lazimnya Yo Ko bertiga Ciu Pek Thong dan Siauw Liong Lie melayani hasrat Cu Kun Hong untuk berkenalan, dan setelah basa-basi sejenak, akhirnya Yo Ko bertiga Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong berlalu.

Cu Kun Hong mengawasi kepergian ketiga pendekar gagah itu dengan sorot mata kosong, hatinya kagum sekali akan kepandaian ketiga orang gagah itu. Gurunya sendiri belum tentu dapat menandingi seperlima dari kepandaian salah seorang ketiga pendekar itu. Maka dari itu, Kun Hong lama berdiri tertegun di tempatnya, walaupun bayangan ketiga pendekar itu sudah tidak terlihat.

Dan akhirnya sambil menghela napas, Kun Hong juga telah melanjutkan perjalanannya. Hanya satu yang menghibur hatinya, tidak mudah orang berjumpa dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie, tetapi hari ini dia telah berhasil sekaligus bertemu muka dan menghunjuk hormat kepada Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong.

Y

Kini Ciu Pek Thong melakukan perjalanan bersama Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Jarak ke Hoa-san dari tempat mereka berada sudah tidak terpisah terlalu jauh. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh hari, akhirnya mereka tiba di kaki gunung Hoa-san sebelah selatan. Dari jauh, baik Yo Ko maupun Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong telah melihat menjulangnya puncak Giok-lie-hong yang tinggi dan megah.

Yo Ko menjelaskan kepada Ciu Pek Thong dan Siauw Liong Lie, dia merasa heran bukan main atas adanya peristiwa seperti ini karena walaupun bagaimana dia merasakan bahwa di dalam urusan yang tengah terjadi ini pasti terselip suatu urusan yang mencurigai dan tidak beres. It-teng Taysu merupakan salah seorang dari Ngo-ciat, lima jago luar biasa, dan mungkin diantara kelima jago dalam urutan Ngo-ciat tersebut, It-teng Taysu yang memiliki kepandaian yang tertinggi dengan It-yang-cie nya.

Umpama kata memang terjadi suatu urusan yang hebat bagaimanapun, dengan mengandalkan kepandaiannya yang telah mencapai puncak kesempurnaannya, It-teng Taysu tentu akan berhasil menghadapi dan menyelesaikannya sendiri. Yang mengherankan justru kini It-teng Taysu telah mengundang Yo Ko dan Siauw Liong Lie, mengundang Ciu Pek Thong, bahkan di dalam surat It-teng Taysu kepada Yo Ko telah dijelaskan pendeta dari Selatan itupun telah mengundang Kwee Ceng dan Oey Yong yang menurut suratnya telah berangkat dan akan berkumpul di Hoa-san, di dekat makam Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.

Entah urusan besar yang bagaimana sehingga seorang It-teng Taysu perlu mengundang jago-jago Ngo-ciat untuk bantu menyelesaikan urusannya itu. Tetapi yang lebih mendatangkan kecurigaan dihati Yo Ko bertiga, justru surat yang disampaikan untuk Yo Ko itu diantar oleh seorang yang mencurigakan sekali, yang mengaku bernama Liang Ie Tu itu, yang akhirnya berusaha mencuri pedang dan golok Yo Ko.

Waktu Yo Ko menanyakan kepada Ciu Pek Thong, siapakah orangnya yang telah mengantarkan surat It-teng, yang ditujukan untuk Loo Boan Thong tersebut, Ciu Pek Thong menjelaskan diapun menghadapi teka-teki yang membingungkan, karena pembawa surat It-teng Taysu untuknya itu adalah seorang wanita pengemis yang pakaiannya pecah dan robek-robek mesum sekali, berusia diantara duapuluh tujuh tahun dan nampaknya agak sinting. Dengan lagaknya yang edan-edanan seperti itu, tentu saja Ciu Pek Thong tidak bisa mengorek keterangan apa-apa dari pembawa surat tersebut.

Namun disebabkan pemikiran Ciu Pek Thong memang sederhana dan polos, setelah membaca isi surat It-teng Taysu, yang sebagian besar, bunyinya itu mirip dengan surat yang diterima Yo Ko, Loo Boan Tong hanya berpikir untuk cepat-cepat melakukan perjalanan ke Hoa-san un¬tuk memenuhi undangan It-teng Taysu, disamping itu dia juga memang bermaksud untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang telah dirindukannya. Tetapi dalam perjalanan justru dia telah dapat bertemu dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Pertemuan itu memang menggembirakan. Tetapi dengan munculnya persoalan Tiat To Hoat-ong, membuat mereka harus berpikir keras, bahwa urusan yang tengah dihadapi It-teng Taysu justru memiliki hubungan yang erat dengan pihak orang-orang Mongolia. Walaupun bagaimana, memang kenyataannya mereka belum bisa menjawab sendiri teka-teki yang tengah mereka hadapi, disamping itu urusan belum pula menjadi jelas dengan hanya menduga-duga. Dan jika kelak telah bertemu dengan pendeta dari selatan itulah baru persoalan menjadi jelas.

Akhirnya Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong memutuskan tidak ingin memusingkan pikiran mereka dengan persoalan tersebut bukankah dalam beberapa hari lagi mereka segera akan bertemu dengan It-teng Taysu. Maka pada waktu-waktu luang yang mereka miliki telah dipergunakan untuk pesiar menikmati keindahan yang terdapat di Hoa-san, bahkan Siauw Liong Lie dan Yo Ko tidak lupa mendatangi kuil kecil yang berada di puncak Giok-lie-hong, puncak Bidadari itu, di mana terdapat patungnya bidadari yang pahatannya dan bentuknya mirip dengan Couw-su (nenek guru) mereka.

Kenyataan seperti itu memang lebih menggembirakan, karena tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang tidak-tidak dan belum pasti, mereka dapat menikmati keindahan yang terdapat di Hoa-san.

Memang Hoa-san terkenal sekali memiliki banyak tempat-tempat yang indah, dan keindahan yang terdapat di Hoa-san tidak kalah jika dibandingkan dengan keindahan di Himalaya maupun Thian-san.

04.07. Pembongkaran Kuburan Tokoh Kang-ouw

Ciu Pek Thong memang memiliki sifat berandalan, dia tidak bisa berdiam lama-lama di kuil kecil di puncak Bidadari, dan dia meminta ijin dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie untuk mengelilingi bagian-bagian lainnya di gunung itu.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak mencegahnya, karena memang mengenal sifat Loo Boan Tong. Sedangkan Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak mencegahnya, keduanya menikmati keindahan di puncak Giok Lie Hong dengan hati yang bahagia, terlebih lagi mereka teringat bahwa tidak lama lagi mereka akan menjadi ayah dan ibu dari seorang bayi yang mungil.

„Jika anak kita telah berusia dua tahun, kita harus mendidiknya baik-baik, di saat itu kita harus mulai menurunkan pelajaran lweekang sehingga di saat dia berusia limabelas tahun lweekangnya telah sempurna seperti kita sekarang ini......!” bisik Yo Ko dengan suara yang halus.

Siauw Liong Lie mengangguk manja, dia merebahkan kepalanya di bahu Yo Ko yang kanan, yang tidak terdapat lengannya, dia mempermainkan hidung suaminya dengan usapan yang lembut dan mesra sekali.

„Ko-jie kau mengharapkan anak lelaki atau anak perempuan?” tanya Siauw Liong Lie.

„Jika Thian memberi anak laki-laki, aku sangat bersyukur tetapi jika Thian menganugerahkan anak perempuan, akupun bahagia sekali.....” menyahuti Yo Ko.

„Kalau aku justru mengharapkan kedua-duanya sekaligus, mudah-mudahan kita memperoleh anak kembar,” kata Siauw Liong Lie seperti juga menggumam sendirinya.

„Liong-jie, jika memang kita memperoleh anak kembar, kau tentu terlalu letih…..!” halus sekali suara Yo Ko.

Disamping itu mereka menikmati keindahan di sekitar tempat itu dengan penuh kebahagiaan, dunia seperti dimiliki mereka berdua.

<> 

Ciu Pek Thong yang meninggalkan Yo Ko dan Siauw Liong Lie di puncak Giok-lie-hong, telah putar kayun tidak ada tujuan. Semua pemandangan di sekitarnya, walaupun indah namun dia tidak tertarik. Tidak ada yang luar biasa yang bisa menyalurkan kenakalannya. Tanpa disadarinya, akhirnya dia telah tiba di sebelah barat gunung Hoa-san, di tempat mana kedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang letaknya berdampingan itu berada.

Semula Ciu Pek Thong hanya ingin memaki-maki kuburan Auwyang Hong, untuk melampiaskan kemendongkolannya karena tidak memperoleh permainan yang menarik di sekitar Hoa-san tidak berhasil menjumpai seseorang yang bisa dipermainkan dan digodanya. Tetapi waktu tiba dihadapan kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, Ciu Pek Thong jadi berdiri tertegun bagaikan patung, memandang ke arah kedua kuburan itu, yang batu nisannya telah hancur, disamping itu juga gundukan tanah kuburan itu telah tidak karuan, meninggalkan dua buah lobang dan kosong tidak ada isinya. Setelah tersadar dari kagetnya, Ciu Pek Thong berjingkrak karena gusarnya, dia telah berteriak-teriak sambil memandang sekelilingnya.

Di saat itu, di sekitar tempat tersebut tidak ada seorang manusiapun. Dan setelah puas memaki-maki kalang kabutan, Ciu Pek Thong berjongkok dan memeriksa kedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang telah kosong itu. Ternyata kedua kuburan dari kedua tokoh rimba persilatan itu telah kosong. Bekas-bekas tanah yang berserakan itu memperlihatkan bahwa tanah digali bukan dengan mempergunakan pacul melainkan dalam bentuk cakar-cakaran benda tajam.

Melihat itu Ciu Pek Thong ingin menduga tentu ada harimau atau macan kelaparan yang menggali kuburan tersebut. Tetapi kemudian Ciu Pek Thong telah membantah sendiri pendapatnya itu, karena tidak mungkin harimau membongkar kuburan. Disamping itu, Ciu Pek Thong juga telah melihatnya bong-pay hancur berantakan karena dihantam oleh suatu kekuatan yang pasti disertai oleh lwekang yang sempurna sekali.

„Siapakah orangnya yang telah merusak kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong? Sungguh berani sekali orang yang melakukan perbuatan itu? Apakah surat undangan yang diberikan oleh It-teng Taysu memiliki hubungan dan sangkut paut dengan urusan ini?”

Karena tidak bisa memutuskan sendiri, bagaikan angin Ciu Pek Thong telah berlari-lari menuju ke Giok-lie-hong. Hanya menelan waktu yang tidak terlalu lama, karena Ciu Pek Thong mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga dia bisa berlari secepat angin, Loo Boan Tong telah tiba di puncak Giok-lie-hong.

Saat itu, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tengah menikmati keindahan yang terdapat di muka kuil kecil yang terdapat disitu, mereka jadi heran bukan main melihat Loo Boan Tong berlari-lari seperti dikejar setan, muka si tua nakal itu juga pucat disamping napasnya yang memburu keras sekali.

„Yo Hiante......, celaka Yo Hiante.....!” suara Ciu Pek Thong memburu keras sekali.

„Loo Boan Tong, seumur hidup kami baru kali ini kami melihat kau gugup dan ketakutan! seperti dikejar-kejar setan!” menggoda Sauw Liong Lie sambil tersenyum.

„Benar! Benar! Hari ini aku benar bertemu dengan setan...... Justru setan penasaran. Setannya Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang telah bangkit dari liang kuburnya!” Masih Loo Thong berusaha berjenaka dalam keadaan gugupnya seperti itu.

Keruan Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi kaget bukan main.

„Setan penasaran!” tanya mereka hampir serentak.

„Ya, mari kalian ikut bersamaku, kuburan Pak-kay dan See-tok telah kosong……” mengangguk Ciu Pek Thong. Yang dimaksud dengan Pak-kay adalah Ang Cit Kong sedangkan See-tok adalah julukan Auwyang Hong semasa masih menduduki urutan Ngo-ciat.

Keruan saja Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi kaget bukan main, tanpa banyak bertanya lagi mereka segera mengikuti Ciu Pek Thong untuk melihat keadaan kedua kuburan dari kedua tokoh rimba persilatan itu. Waktu mereka tiba dihadapan kedua kuburan yang telah kosong itu, Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi berdiri menjublek. Bukan main terkejutnya mereka, disamping juga merekapun murka sekali.

„Siapa manusia kurang ajar yang berani mati melakukan pekerjaan seperti ini?” menggumam Yo Ko dengan gusar. Tubuhnya, tampak menggigil menahan kemurkaannya yang bukan main.

Segera juga Yo Ko dan Siauw Liong Lie melakukan pemeriksaan di sekitar bekas kedua kuburan itu, yang telah kosong dan menyiarkan bau busuk dari mayat manusia. Seperti juga halnya Ciu Pek Thong, maka pasangan suami isteri tersebut menemui bekas cakar-cakaran di tanah yang berserakan itu.

„Aneh?” tiba-tiba Siauw Liong Lie telah berseru.

„Apanya yang aneh?” tanya Ciu Pek Thong cepat, sambil mengawasi nyonya Yo itu. Sedangkan Yo Ko hanya mengawasi isterinya menantikan keterangan isterinya.

Siauw Liong Lie menghela napas dalam-dalam. „Kedua orang ini telah meninggal dunia dalam waktu yang cukup lama, mengapa baru sekarang kuburan mereka dibongkar orang? Terlebih lagi, apa gunanya mayat-mayat yang hanya tinggal rangka belaka? Apakah ada sesuatu yang tengah dicari oleh orang yang membongkar kuburan ini? Bukankah ini sangat aneh sekali?”

Yo Ko mengangguk. „Mungkin juga surat undangan It-teng Taysu kepada kita memiliki hubungannya dengan peristiwa ini.....!” Yo Ko coba mengemukakan pikirannya.

Siauw Liong Lie menggeleng.

„Tidak!” katanya tegas.

„Mengapa tidak?”

„Ya, mengapa tidak?” ikut bertanya Ciu Pek Thong, karena si tua jenaka itu memang penasaran sekali.

Siauw Liong Lie kembali menghela napas, „Jika memang It-teng Taysu mengundang kita hanya disebabkan kedua kuburan ini dibongkar orang, tentu dia tidak akan mengatakan di dalam suratnya sebagai urusan besar. Juga untuk urusan seperti ini, pasti It-teng Taysu tidak akan ribut-ribut, dia pasti dapat menyelidki sendiri. Namun, kukira di dalam persoalan ini pasti terselip urusan yang aneh dan seperti yang dibilang oleh It-teng Taysu, yaitu urusan yang besar.”

Yo Ko mengangguk membenarkan pendapat isterinya. Tetapi Loo Boan Tong telah menggeleng-gelengkan kepalanya.

„Tidak tepat.....” dia menggumam.

„Bagaimana pendapatmu, Ciu Toako?” tanya Yo Ko.

„Menurut dugaanku, Lam-ceng sudah tua dan pikun, waktu secara kebetulan sekali dia mengetahui kedua kuburan ini dibongkar orang, dia merasakan tenaganya sudah tidak memadai akibat usianya yang telah lanjut. Maka dia telah meminta bantuan kepada sahabat-sahabat untuk menyelidikinya. Tentu saja di dalam persoalan ini, yang disebutnya sebagai urusan besar, tidak lain dari urusan pendeta gundul dari Mongolia Tiat To Hoat-ong itu.....!”

„Tepat!” berseru Siauw Liong Lie. „Dibongkarnya kedua kuburan ini oleh seseorang tentu memiliki hubungannya dengan kedatangan pendeta Mongolia itu ke daratan Tiong-goan.”

„Jika melihat demikian, tentu akan muncul urusan yang cukup hebat.....” menggumam Yo Ko.

„Hebat atau tidak semuanya memang sudah tulisan takdir, dan semua kita harus hadapi,” kata Loo Boan Tong. „Yang terpenting adalah justru mencari dulu kedua mayat See-tok dan Pak-kay, kasihan jika tulang kerangka mereka diberikan untuk disantap anjing-anjing buduk.” Dalam keadaan seperti itu, Loo Boan Tong masih bisa berjenaka dia telah tertawa terkekeh-kekeh.

Sedangkan Yo Ko telah mengerutkan sepasang alisnya, karena dia tengah berpikir keras. Secara beruntun telah bermunculan urusan yang membuatnya jadi bertanya-tanya. Seperti munculnya Liang Ie Tu yang mencurigakan, munculnya pengantar surat It-teng Taysu. Lalu Tiat To Hoat-ong, yang kepandaiannya luar biasa tingginya. Dan kini kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong telah dibongkar orang sehingga tulang-tulang mereka lenyap tidak karuan parannya..... Dan juga, siapakah wanita yang berpakaian pecah-pecah yang mengantarkan surat It-teng Taysu kepada Ciu Pek Thong? Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saling rangkai tidak hentinya.

Di saat seperti itu, di tengah udara terdengar suara pekik burung rajawali. Waktu Yo Ko bertiga mengangkat kepala memandang ke atas, mereka melihat Sin-tiauw tengah terbang melayang-layang akan menerkam mangsanya, yaitu seekor kelinci berbulu putih. Kelinci itu tampak ketakutan, dia telah berlari-lari kesana kemari dengan dikejar oleh Sin-tiauw dari tengah udara.

Waktu kelinci itu lewat di dekat mereka, Yo Ko maupun Siauw Liong Lie mengetahui walaupun bagaimana kelinci itu pasti akan berhasil ditangkap oleh Sin-tiauw yang sakti itu. Anehnya Sin-tiauw tidak segera meluncur terbang turun menukik untuk mencengkeram mangsanya itu, walaupun kelinci tersebut telah berlari-lari di lapangan terbuka seperti itu. Karena ketakutan sekali dikejar-kejar terus oleh Sin-tiauw yang seperti ingin mempermainkan dirinya, kelinci itu akhirnya berlari ke arah lobang bekas kuburan Auwyang Hong.

Di saat itulah, Sin-tiauw telah menukik secepat kilat, sayapnya yang lebar terpentang lebar-lebar, sehingga bayangan hitam meliputi sekitar kedua kuburan itu, di saat itulah Sin-tiauw telah memekik dan walaupun jarak mereka, yaitu jarak Sin-tiauw dangan kelinci itu masih terpisah empat tombak dan di saat kelinci itu akan menyelusup masuk ke dalam lobang kuburan itu, sayap kanan dari Sin-tiauw telah mengibas.

Luar biasa kibasan sayapnya itu, karena tubuh kelinci tersebut terangkat dari tanah dan terlontarkan ke tengah udara. Di saat tubuh kelinci itu terapung di tengah udara, Sin-tiauw telah dengan cepat sekali mencengkeram mangsanya dan membawanya terbang tinggi sekali.

„Bagus! Bagus!” berseru-seru Ciu Pek Thong kagum melihat cara menangkap yang dilakukan oleh Sin-tiauw, yang lain dengan cara-cara burung rawajali lainnya jika menangkap mangsanya yang biasa hanya menukik dan mencengkeram. Tetapi disebabkan Sin-tiauw memang memiliki ilmu silat kelas satu, kibasan sayapnya mengandung kekuatan yang luar biasa sekali!

Dengan hati berduka dan berat Yo Ko menghela napas dalam-dalam. Siauw Liong Lie dapat menyelami perasaan hati suaminya tersebut, dan kini kuburannya dibongkar seseorang, tulang belulangnya lenyap, bukankah hal itu menimbulkan kedukaan?

Baru saja Siauw Liong Lie ingin menghibur suaminya, Yo Ko telah berkata perlahan,

„Ternyata sampai matinya dia tidak bisa beristirahat dengan tenang, tulang-tulangnya masih juga diganggu orang.”

„Itulah takdir, semasa hidupnya See-tok beracun sekali, tidak mengherankan banyak yang membencinya!” kata Ciu Pek Thong sambil tertawa.

„Tetapi, apakah Pak-kay Ang Cit Kong juga beracun?” tanya Yo Ko.

Ciu Pek Thong tertegun, dia memandang diam sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya, „Sudahlah, aku tidak tahu apa sesungguhnya yang terjadi, tetapi yang jelas kita harus membekuk pembongkar kuburan ini.”

Yo Ko mengangguk. „Ya, tetapi kita harus menantikan dulu It-teng Taysu, walaupun bagaimana urusan ini terlampau berbelit dan membingungkan sekali. It-teng Taysu tentu dapat memberikan penjelasan yang membuka tabir rahasia membingungkan ini. Waktu yang dijanjikannya tinggal dua hari lagi.”

„Tetapi Ko-jie, jika dilihat tanah yang berserakan ini, tampaknya kuburan dibongkar belum lama. Jika kita hanya berpeluk tangan menantikan It-teng Taysu selama dua hari lagi bukankah penjahat itu sudah melarikan diri jauh sekali?” tanya Siauw Liong Lie.

Yo Ko diam sejenak, seperti juga tengah berpikir keras. Akhirnya dia mengangguk. „Baiklah, sambil menantikan kedatangan It-teng Taysu dan Kwee Peehu dan Peebo, kita mencari penjahat itu. Tiauw-heng mungkin akan dapat membantu banyak.”

Dan setelah berkata begitu, Yo Ko bersiul nyaring sekali, dan tidak lama kemudian Sin-tiauw terbang mendatangi dengan cepat. Kelinci buruannya masih dicengkeramnya dan waktu burung rajawali itu tiba, Siauw Liong Lie telah mengambil kelinci itu.

„Tiauw-heng,” kata Yo Ko kemudian bersungguh-sungguh. „Kami membutuhkan sekali bantuanmu, mungkin kau bisa memecahkan teka teki yang tengah kami hadapi ini.”

Burung rajawali itu seperti mengerti perkataan Yo Ko karena dia telah mengangguk-angguk perlahan sambil mengeluarkan suara pekikan berulang kali.

„Kini kau coba endus dulu bau dari kedua kuburan itu, lalu Tiauw-heng pergi mencari penjahat yang membongkar kedua kuburan itu di sekitar tempat ini, mungkin mereka belum pergi jauh,” kata Yo Ko lagi.

Burung rajawali itu telah mengangguk lagi, lalu menghampiri kedua lobang kuburan yang telah kosong itu, dia segera memperhatikan sejenak, lalu dia mengeluarkan suara pekikan, tubuhnya telah melayang ke tengah udara, terbang tinggi sekali. Sayapnya yang lebar dan besar itu terdengar berbunyi berkepak-kepak tidak hentinya, semakin lama semakin menjauh, sehingga akhirnya hanya terlihat titik belaka dan kemudian lenyap dari pandangan Yo Ko bertiga.

Yo Ko menghela napas. „Jika dilihat perkembangan yang ada seperti sekarang ini, tampaknya sulit bagi kita untuk hidup tenang tenteram, Liong-jie,” kata Yo Ko.

Siauw Liong Lie mengangguk. „Ya, jika dilihat demikian memang sulit kita hidup tenang dan tenteram, karena persoalan yang muncul tentu persoalan yang cukup luar biasa, yang memaksa kita untuk melibatkan diri. Sebagai contoh, dapat kita lihat dibongkarnya kuburan See-tok dan Pak-kay!”

Yo Ko mengangguk mengiyakan.

„Dan yang terpenting lagi adalah persoalan munculnya Tiat To Hoat-ong, kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong, jelas memaksa kita harus bersiap-siap untuk menghadapinya, karena yang pasti Tiat To Hoat-ong tidak datang seorang diri, sedangkan kepandaian pendeta itu tampaknya jauh lebih tinggi dari Kim Lun Hoat-ong.”

Yo Ko diam tidak menyahuti, karena nyonya Yo tersebut tengah berpikir keras. Persoalan yang tengah mereka hadapi itu memang tidak bisa diremehkan, karena jika sampai daratan Tiong-goan telah diinjak oleh orang-orang atau jago-jago Mongolia, ancaman untuk ketenteraman negara Song tersebut mulai terlihat lagi. Terlebih pula, dalam tiga tahun terakhir ini, sejak Kublai mengajak pasukan perangnya mundur ke Utara pulang ke negeri mereka, ia telah memperoleh kemajuan yang pesat untuk membentuk pasukan perang yang kuat dan dahsyat, jauh lebih berhasil dari Kaisar Mangu, maka hal itu jelas merupakan ancaman yang tidak kecil dan disadari oleh rakyat Tiong-goan.

Namun mereka benar-benar tidak berdaya disebabkan raja dan pembesar Song umumnya telah mabok oleh kemenangan yang diperoleh, selalu menenggelamkan diri dengan pesta berfoya-foya lupa daratan, tidak ada perhatian mengurusi negeri. Lebih-lebih lagi memang banyak menteri-menteri bermuka dua, yang secara diam-diam telah dihubungi Kublai dan menyatakan kesediaannya untuk menyambut pasukan perang negeri asing itu dari dalam. Itulah ancaman yang tidak kecil.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie maupun beberapa orang-orang gagah lainnya memutuskan untuk hidup mengasingkan diri, karena muak melihat ketidak sanggupan pembesar-pembesar Song mengurus negara. Namun sebagai pecinta tanah air, merekapun tidak bisa berpeluk tangan saja jika melihat negara mereka terancam bahaya yang tidak kecil itu.

Ciu Pek Thong gelisah sendirinya karena Yo Ko maupun Siauw Liong Lie seperti tenggelam dalam keragu-raguannya, sedangkan dia juga tidak memiliki kesempatan mengajak mereka bercakap-cakap. Si kakek tua jenaka itu jadi gatal kakinya dan berangkat untuk menyusul Sin-tiauw guna ikut mencari penjahat yang telah membongkar kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.

Namun, belum lagi dia menyatakan niatnya itu kepada Yo Ko, tiba-tiba terdengar suara pekik Sin-tiauw dikejauhan dan disusul kemudian dengan tampaknya burung rajawali itu terbang mendatangi sambil mengeluarkan suara pekikan tidak hentinya.

Walaupun bagaimana, sikap yang diperlihatkan oleh rajawali merupakan kelakuan yang belum pernah terjadi, Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi terkejut. Mereka segera menduga, jelas ada sesuatu yang telah terjadi dan tidak dapat diha¬dapi oleh burung rajawali tersebut.

Cepat-cepat Siauw Liong Lie melepaskan kelinci yang sejak tadi dipeganginya, lalu bersama Yo Ko mereka memapak burung rajawali mereka, yang telah hinggap di samping mereka. Begitu melihat apa yang terjadi didiri Sin-tiauw, Yo Ko dan Siauw Liong Lie mengeluarkan seruan kaget, dan cepat memeriksa sayap burung tersebut, yang tampak mengucurkan darah dan beberapa helai bulunya telah copot. Ternyata beberapa batang jarum yang halus telah menempel disayap burung tersebut, dan darah yang mengucur keluar berwarna gelap kehitam-hitaman.

„Jarum beracun?” berseru Siauw Liong Lie dengan suara ditenggorokan, tidak lancar.

Yo Ko mengernyitkan alisnya dia mengambil dua batang ranting untuk mencabut keluar jarum-jarum yang melukai burung rajawali kesayangan mereka tersebut, dilihat dari bentuk jarum yang gagangnya berwarna gelap kehitam-hitaman. Yo Ko memang yakin jarum itu merupakan jarum beracun. Dia bekerja cepat sekali setelah selesai mencabuti jarum-jarum itu Yo Ko menempelkan tangan kanannya di punggung rajawali sakti tersebut, mengempos semangatnya menyalurkan lweekangnya ke tubuh burung itu.

Rajawali itu seperti mengerti, dia berdiam diri saja, hanya sekali-kali terdengar suara pekik perlahan bagaikan keluhan. Tidak berselang lama, tampak dari bekas luka-luka itu mengucur darah yang berwarna hitam, semakin lama semakin merah dan akhirnya merah bersih. Terbebaslah rajawali sakti itu dari keganasan racun jarum-jarum itu.

„Siapa yang telah melukaimu, Tiauw-heng?” tanya Siauw Liong Lie.

Rajawali itu memekik sambil menggerakkan sayapnya yang satu menunjuk dari arah mana tadi dia terbang mendatangi.

„Biar aku melihatnya kesana.....!” kata Ciu Pek Thong sambil menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat pesat sekali tanpa menanti jawaban Yo Ko maupun Siauw Liong Lie.

Yo Ko juga telah menoleh kepada Siauw Liong Lie sambil katanya, „Liong-jie, kau lindungi Tiauw-heng, biar aku melihat siapa yang melukainya.”

Siauw Liong Lie mengangguk dengan hati gelisah. Nyonya Yo liehay ilmu silatnya, tetapi melihat cara jarum-jarum yang tadi melukai Sin-tiauw, yang letak kedudukannya mengambil bentuk pat-kwa, maka tahulah dia bahwa orang yang melepaskan jarum-jarum itu tentu memiliki kepandai¬an yang tinggi sekali. Disamping itu, Siauw Liong Lie menguatirkan sekali kapan kalau racunnya masih mengendap di tubuh rajawali tersebut, maka dia telah menempelkan lagi tangan kanannya, dia menyalurkan tenaga lwekangnya berusaha mendorong darah keluar dari luka-luka di-sayap rajawali tersebut. Tetapi setelah melihat darah yang mengucur keluar memang berwarna merah bersih, hati nyonya Yo baru lega dan agak terhibur. Dengan penuh kasih sayang, dia mengusap-usap burung kesayangannya itu.

Sebetulnya, nyonya Yo seringkali duduk di punggung rajawali tersebut berkeliling-keliling di lembah Siauw-hong, namun kini dia tidak tega untuk meminta Tiauw-hengnya itu membawanya terbang untuk menyusul Yo Ko dan Ciu Pek Thong, maka akhirnya Siauw Liong Lie hanya bisa menanti di dekat kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong bersama rajawali sakti tersebut, menantikan kembalinya Yo Ko dan Ciu Pek Thong.

<> 

Ciu Pek Thong telah berlari dengan cepat sekali ke arah dari mana Sin-tiauw tadi terbang mendatangi dalam keadaan terluka, dengan gerakan yang gesit sekali dia telah melompati dua buah jurang kecil dan kemudian tiba di permukaan sebuah rimba. Di tempat itu tidak terlihat seorang manusiapun juga, sehingga membuat Ciu Pek Thong jadi penasaran.

Kakek tua yang biasanya jenaka ini telah berlari lagi dua lie lebih, tetapi tetap saja dia tidak berhasil menjumpai seorang manusiapun di sekitar tempat tersebut. Akhirnya karena mendongkol bercampur gusar, Ciu Pek Thong jadi memaki-maki kalang kabutan seorang diri.

Yo Ko yang telah datang menyusul tidak lama kemudian, juga tidak berhasil menemui seorang manusiapun juga.

„Orang itu tentu telah melarikan diri!” kata Ciu Pek Thong dengan suara mendongkol, „Sungguh-sungguh seorang bangsat, berani melukai Tiauw-heng, tetapi tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya ini!”

Yo Ko tidak melayani ocehan Ciu Pek Thong, dia memandang sekitar tempat dimana mereka berada. Dan matanya yang awas telah melihat sesuatu yang mencurigakan di bawah sebatang pohon. Cepat-cepat Yo Ko menghampiri pohon itu, dia telah berjongkok dan mengambil sesuatu.

Ciu Pek Thong telah cepat-cepat menghampirinya.

„Apa yang kau ambil, Yo Hiante?” tanyanya tertarik.

Yo Ko mengangsurkan sebuah jepitan rambut, yang terbuat dari perak. “Ini tentu milik orang yang telah melukai Tiauw-heng, mungkin terjatuh tanpa diketahuinya. Dilihat demikian, yang melukai Tiauw-heng tentu seorang wanita.”

Ciu Pek Thong memegangi jepitan rambut itu dengan geleng-geleng kepala gusar sekali. „Jika aku berhasil menangkapnya, tentu rambutnya akan kupotong habis agar kepalanya menjadi gundul!” mengomel si kakek jenaka itu.

Yo Ko berusaha mencari-cari jejak orang itu di atas tanah, tetapi dia tidak berhasil hanya sekali-kali dia melihat beberapa batang rumput yang patah, dan segera juga Yo Ko mengetahui orang yang tengah mereka cari itu pasti seorang yang memiliki Ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali.

Hal itu dibuktikan karena walaupun berjalan di tanah pegunungan tersebut orang itu tidak meninggalkan jejak, dan rumput-rumput yang terinjak olehnya tidak menjadi patah atau rusak, hanya beberapa batang rumput saja yang rusak. Tentunya orang itu mempergunakan ilmu berjalan semacam Tiu-hong-hoat-su, ilmu mengejar angin, yang telah mencapai puncak kesempurnaannya.

Yang membuat Yo Ko jadi heran justru akhir-akhir ini dia justru bertemu dengan orang-orang yang memiliki kepandaian yang sempurna sekali. Seperti Tiat To Hoat-ong kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong, yang memiliki kepandaian begitu sempurna, tentu sudah merupakan lawan yang tangguh. Dan sekarang burung rajawali yang sangat disayanginya telah dilukai oleh seseorang, bukan orang itupun tampaknya memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Apakah orang telah melukai Tiauw-hengnya itu memiliki hubungan dengan persoalan pembongkaran kuburan Auwyang Hong maupun Ang Cit Kong?

„Yo Hiante, mari kita kejar terus orang itu,” kata Ciu Pek Thong penasaran. „Tentu orang itu belum pergi jauh!”

Yo Ko mengangguk. Dengan mengambil patokan arah dari patahnya beberapa batang rumput itu Yo Ko telah mengambil ke arah jurusan barat dari gunung Hoa-san, yaitu yang menuju ke Giok-lie-hong. Yo Ko telah mengempos semangatnya dan telah berlari secepat kilat. Hanya dalam waktu seminuman teh, dia telah tiba di kuil kecil di puncak Bidadari itu, meninggalkan Ciu Pek Thong jauh di belakang.

04.08. Liong-jie, kemanakah engkau . . . ?

Seperti diketahui, ilmu lari cepat Yo Ko telah mencapai puncak kesempurnaan, karena beberapa tahun yang telah lalu saja waktu dia mengejar-ngejar Leng-ho milik si nenek Eng Kauw, Yo Ko telah memperlihatkan keterampilannya yang luar biasa, yang dapat berlari dengan kecepatan bagaikan kilat dan tubuhnya seperti bayangan atau gumpalan warna belaka. Terlebih lagi kini memang dia telah meyakini ilmunya kian sempurna selama tiga tahun terakhir, sehingga boleh dibilang di dalam jagat ini sudah tidak ada orang yang bisa menandingi kehebatan ilmu lari cepat Yo Ko.

Seperti diketahui, untuk kepandaian ilmu silat Ciu Pek Thong memang sempurna dan jarang sekali ada yang bisa menandingi kepandaian si kakek tua jenaka itu. Yo Ko pun tidak bisa merubuhkannya walaupun Ciu Pek Thong pun tidak bisa berbuat banyak terhadap Yo Ko. Tetapi kenyataan yang ada, Yo Ko hanya memiliki tangan kiri tunggal, dengan tangan kanan yang telah tiada karena lengan kanannya telah buntung ditabas Kwee Hu. Namun dengan hanya mengandalkan tangan kirinya yang telah terlatih oleh cara-cara latihan yang aneh, yang diperolehnya dari Sin-tiauw, yang membuat dia melatih diri dengan gelombang laut, maka lwekang Yo Ko berada di atas Ciu Pek Thong. Dan begitu pula ilmu lari cepatnya, telah berada di atas Ciu Pek Thong.

Dalam mengejar lawan, Yo Ko yang tengah dalam gusar dan mendongkol akibat terbongkarnya kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong oleh seseorang yang belum diketahui dan kini Sin-tiauw dilukai orang, maka Sin-tiauw Tayhiap ini telah mengerahkan seluruh kesanggupannya untuk berlari secepat mungkin dan meninggalkan Loo Boan Thong terpisah puluhan lie. Namun waktu tiba di muka pintu kuil kecil di atas puncak Giok-lie-hong, Yo Ko jadi mengeluarkan seruan terkejut dan menatap keundakan tangga pintu kuil dengan muka yang berobah serta mengawasi tertegun.

Ada sesuatu yang dilihatnya agak luar biasa. Seorang wanita tua, dengan muka yang keriput, dengan pakaiannya yang berwarna kuning dan rambut yang disanggul tinggipun telah putih keseluruhannya, tengah duduk seenaknya melintangkan kaki. dan tengah bernyanyi kecil.

„Akhh.....” Tanpa dikehendakinya Yo Ko jadi mengeluarkan keluhan pendek.

Nenek tua itu menoleh, mukanya dingin namun lebih dingin lagi tatapan matanya yang seperti ingin menembus ke ulu hati Yo Ko.

„Letih?” tanyanya dengan teguran suara yang halus dan perlahan-lahan.

Cepat-cepat Yo Ko mempergunakan tangan kirinya yang didekap kedadanya, dia membungkuk memberi hormat.

„Lo-taypo (nenek tua), aku yang rendah Yo Ko menghunjuk hormat,” kata Yo Ko. Dia mengambil sikap seperti itu karena dia menyadari wanita tua tersebut tentu bukan seorang nenek sembarangan. „Lo-taypokah yang telah melukai rajawaliku?”

Si nenek tertawa kecil, walaupun telah lanjut usia, namun suara nenek tua itu masih merdu didengar.

„Melukai rajawalimu? Kalau benar bagaimana? Kalau tidak benar bagaimana?” menyahuti si nenek.

Melihat sikap si nenek yang angin-anginan seperti itu, tentu saja membuat Yo Ko jadi mendongkol. „Kalau memang tidak benar, tentu aku yang rendah ingin menyampaikan maaf, tetapi jika memang benar, yang pasti tentu saja kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu,” kata Yo Ko mendongkol.

„Begitu?” tanya si nenek sambil, menggeser duduknya dan dia telah duduk tegak menghadapi Yo Ko. „Engkau si buntung ini tentunya yang biasa disebut sebagai Sin-tiauw Tayhiap, bukan?”

Mendengar dirinya disebut sebagai „si buntung”, keruan darah Yo Ko jadi meluap. Tetapi mengingat yang dihadapinya adalah seorang nenek, dia menindih kegusaran di hatinya.

„Tidak berani aku menerima gelar yang berat itu, dan itu hanya gurau sahabat-sahabatku saja.....!” kata Yo Ko merendah.

„Hmmm......” mendengus nenek tua itu dengan suara yang dingin, „Engkau berani terima atau tidak itu bukan persoalanku. Tetapi yang ingin kutanyakan, apakah engkau merasakan dirimu sebagai pendekar nomor satu dijaman ini?”

Yo Ko jadi tertegun mendengar pertanyaan si nenek tua yang tidak dikenalnya tersebut. Cara bertanya si nenek bersungguh-sungguh, wajah dan matanya yang dingin itu memperlihatkan sesuatu maksud yang terkandung. Perlahan suaranya, tetapi pengaruhnya hebat, seperti juga dia bicara dengan mempergunakan lwekang yang tinggi. Tentu saja Yo Ko tambah mendongkol tidak hujan tidak angin nenek tua ini seperti sengaja ingin mencari-cari urusan dengannya, „Biarlah aku coba-coba main-main beberapa jurus,” pikir Yo Ko. Setelah berpikir begitu, Yo Ko menggeleng.

„Tingginya langit sulit diukur, dalamnya laut sukar diterka, gunung yang tinggi ada yang lebih tinggi, mengapa harus mempergunakan perkataan „jago nomor satu dijaman ini”? Di luar gunung terdapat gunung, di luar manusia terdapat manusia lainnya, di luar kepandaian tinggi terdapat yang lebih tinggi, bagaimana seseorang dapat bersikap sombong dan congkak menepuk dada sendiri memuji diri, seperti juga air laut yang mengasinkan airnya sendiri.....”

Si nenek mengetahui dirinya disindir tetapi dia tidak memperlihatkan sikap mendongkol atau marah, dia telah tertawa. „Justeru aku hendak bertanya, apakah kau asin sendiri atau memang diasini sahabat-sahabatmu?” kata si nenek tawar.

Yo Ko habis sabar, dia melangkah maju menghampiri. „Maaf Lo-taypo aku ingin lewat.....” dan waktu berkata begitu, kakinya sudah diangkat untuk lewat disamping si nenek. Sambil berbuat begitu, Yo Ko mengerahkan tenaga lwekangnya di kaki kanannya, dan di saat kaki itu diayunkan muncul gelombang tenaga yang dahsyat sekali, karena kaki itu digerakkan untuk melangkah, sama halnya seperti juga menendang. Dan justru disebabkan Yo Ko mengambil arah di sebelah kanan, maka tidak mengherankan angin yang menerjang dari kakinya menyambar ke punggung si nenek.

Yo Ko telah memperhitungkan, jika si nenek ternyata hanya memiliki kepandaian yang rendah, dia akan segera menarik pulang tenaganya be¬gitu hampir mengenai sasaran dan tetap hanya merupakan langkah biasa. Tetapi jika memang si nenek tidak menangkis dan memang memiliki kepandaian yang tinggi menerima angin yang muncul dari langkah kaki Yo Ko, pendekar Rajawali Sakti tersebut akan menggerakkan tenaga dalamnya itu untuk men¬coba kekuatan tenaga dalam nenek tua yang aseran tersebut.

Di luar dugaan Yo Ko, nenek tua itu hanya mendengus dingin dan sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya, tetap duduk kaku di tempatnya, bahkan tangan kanannya digerakkan untuk menggaruk kepalanya yang tampaknya gatal. Dengan gerakannya itu, dengan tangannya yang kiri dibiarkan di pangkuannya dan tangannya diangkat sikut tangannya itu menyambuti kaki Yo Ko.

Benturan yang dilakukan seperti tidak sengaja itu hebat luar biasa. Tubuh si nenek bergoyang-goyang, sedangkan Yo Ko merasakan kakinya kesemutan. Tetapi Yo Ko telah melangkah berada di dalam.

Si nenek tua itu diam-diam terkejut bukan main, dia sampai mengeluarkan seruan kecil, tampaknya murka bukan main, sebab mukanya dan matanya makin dingin saja.

Yo Ko juga terkejut bukan main, karena tadi waktu kakinya dibentur oleh sikut si nenek tua itu, tenaga benturan yang terjadi memang hebat bukan main. Disamping itu, juga Yo Ko merasakan semacam getaran tajam yang berusaha menerobos masuk ke dalam kulit kakinya, tenaga itu benar-benar merupakan ilmu lwekang yang sejati, yang bisa meremukkan tulang dengan hanya benturan seperti itu. Keruan saja Yo Ko jadi heran juga. Jika dilihat dari cara si nenek melancarkan lwekangnya itu, maka tampaknya dia bukan mempergunakan ilmu silat dari daratan Tiong-goan. Setidak-tidaknya dia memang menyadari, kepandaian si nenek walaupun tidak berada di atasnya, tetapi juga sulit untuk dilayani.

„Bocah, benar-benar memang kau si buntung yang sudah asin!” kata si nenek dengan suaranya yang dingin, „Baik, baik, aku justru ingin melihatnya apakah benar-benar kau asin luar dalam, atau memang hanya asin bagian luarnya, lalu dalamnya tawar.”

Setelah berkata begitu, tampak si nenek tua tersebut melompat berdiri, dengan gerakan yang gesit sekali. Gerakannya itu bukan main cepatnya, dia juga telah melepaskan ikatan pinggangnya, dengan ikat pinggang yang berwarna hijau itu, dia mengibas, dan di tengah udara terdengar suara mengaung. Itulah hebat sekali, ikat pinggang terbuat dari secarik kain yang lemas dan tidak memiliki tenaga yang keras, tetapi dengan dikibas begitu, dan dengan cepat mengeluarkan suara yang mengaung keras, keruan saja membuktikan lwekang si nenek luar biasa.

Yo Ko yang dalam keadaan mendongkol yang berulang kali mendengar dirinya disebut si buntung, telah berlaku lebih waspada, dan dia telah melancarkan serangan yang mengincar bagian berbahaya di tubuh si nenek. Yo Ko melakukan serangan yang cepat seperti itu, karena dia tidak mau membuang-buang waktu lagi dia telah bermaksud untuk merubuhkan si nenek di dalam waktu yang singkat dan mendesaknya agar dia mengaku apakah dia yang melukai rajawalinya atau memang bukan. Jika memang bukan si nenek yang melukai rajawalinya, tentu dia bisa mengejar penjahat yang sesungguhnya.

Si nenek juga telah berteriak, „Bagus!” sambil cepat sekali dia berkelit ke samping, dan membarengi dengan itu dia telah menggerakkan tangannya yang memegang ikat pinggangnya. Gerakannya cepat sekali, ujung ikat pinggangnya itu seperti seekor ular naga, telah menyambar ke arah mata kanan Yo Ko! „Benar-benar luar biasa!”

Si nenek telah melancarkan serangan dengan serangan yang sekaligus memilih bagian yang terlemah dari lawannya, tentu saja Yo Ko bertambah yakin bahwa si nenek bukan seorang nenek tua yang bisa dipandang remeh. Disamping itu, memang dia bersikap lebih waspada, juga Yo Ko jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, entah siapa adanya nenek tua itu.

Walaupun bagaimana Yo Ko tidak bisa berpikir terlalu lama karena si nenek dengan mengeluarkan seruan „awas!” telah menggerakan ikat pinggangnya lagi, kali ini ikat pinggang itu menyambar-nyambar dengan gerakan berliku-liku bagaikan seekor ular yang menuju ke arah Yo Ko dan di saat ujungnya hanya terpisah kurang lebih empat dim, tahu-tahu ikat pinggang itu telah menjadi lurus dan ujungnya menyambar tepat ke ulu hati Yo Ko.

Keruan Yo Ko terkejut. Semula dia menduga nenek tua itu ingin mempergunakan tenaga lembek, namun kenyataannya si nenek telah mempergunakan sekaligus tenaga lunak dan keras yang digabung menjadi satu dan digerakkan dengan sekehendak hatinya, karena dia bisa mempergunakan tenaga lunak untuk melibat lawan, kemudian di saat lawan lengah, dia membarengi dengan serangan tenaga keras, dimana ikat pinggangnya berobah sifatnya menjadi keras melebihi lempengan baja.

Tetapi Yo Ko mana memandang sebelah mata serangan seperti itu? Dia hanya heran mengapa si nenek tua ini baru dijumpainya sekarang? Mengapa sebelumnya dia belum pernah mendengar atau melihatnya? Bukankah si nenek tangguh sekali? dan sesungguhnya ada permusuhan apakah diantara dia dengan si nenek tua itu sehingga memusuhinya demikian rupa?

Dengan kegesitan yang luar biasa, Yo Ko telah berkelit dari ujung ikat pinggang itu, dan begitu pula sampai berulang kali Yo Ko telah mengelakkan serangan yang dilancarkan oleh si nenek, karena Yo Ko ingin melihat dulu sampai berapa tinggi sesungguhnya ilmu si nenek dan berasal dari pintu perguruan silat yang mana.

Tetapi, cara menyerang si nenek ngawur sekali. Walaupun memang hebat. Sesaat dia mempergunakan ilmu pedang Siauw-lim-sie, walaupun dengan mempergunakan ikat pinggangnya, jurus ilmu pedang Siauw-lim-kiam-hoat itu hebat bukan main. Tetapi baru dua-tiga jurus dia telah mempergunakan jurus-jurus dari pintu perguruan Ngo-tek-kiam-hoat, ilmu pedang dari Lima Bintang. Keruan saja Yo Ko jadi tambah heran dan bingung, tidak bisa dia menerka asal usul dari nenek tua itu.

Dengan mengeluarkan suara siulan cukup nyaring, tampak Yo Ko memutar tubuhnya, akhirnya suatu kali ikat pinggang si nenek menyambar datang, Yo Ko tidak berkelit, dia telah mengeluarkan tangannya, dia telah mencekal ujung ikat pinggang itu dengan kuat, sehingga tidak bergeming.

Nenek tua yang luar biasa itu telah berusaha untuk menariknya, tetapi dia tidak berhasil menariknya terlepas dari cekalan tangan Yo Ko. Disamping itu, si nenek tua juga telah berusaha mengerahkan tenaga dalamnya membuat ikat pinggang itu menjadi lurus keras kaku, lalu mendorong sekuat tenaganya untuk menusuk Yo Ko, tetapi usahanya itupun gagal.

„Lo-taypo, bisakah aku yang rendah mengetahui nama dan shemu yang harum?” tanya Yo Ko kemudian dengan suara yang nyaring sambil memegangi terus ujung ikat pinggang si nenek tua tersebut. „Dan ada ganjelan apakah diantara kita berdua?”

Si nenek telah berobah mukanya menjadi pucat kehijau-hijauan, dia murka bukan main, karena dia merasakan dirinya dipermainkan oleh Yo Ko. „Apa perdulimu untuk mengetahui nama dan she ku? Ciss, manusia seperti engkau tidak berharga mendengarnya!” Dan membarengi bentakannya itu, dengan cepat sekali tampak si nenek telah mengibaskan tangan kirinya, dengan menimbulkan suara „srrrr, srrrr” tampak tiga jarum kuning telah menyambar pesat sekali ke arah Yo Ko.

Tangan kiri Yo Ko tengah tengah mencekal ikat pinggang si nenek, dan diapun terpisah dalam jarak yang tidak begitu jauh, maka jarum-jarum yang menyambar datang ketiga jalan darahnya itu merupakan serangan jarak dekat yang sulit dielakkan jika memang Yo Ko tidak mau melepaskan cekalannya di ujung ikat pinggang si nenek.

Tetapi Yo Ko memang telah memiliki ilmu yang sempurna sekali dia tidak menjadi gugup atau terkejut melihat datangnya serangan seperti itu, dengan mengeluarkan seruan yang nyaring nampak Yo Ko mengibaskan lengan jubah kanannya yang kosong itu. Ujung jubah yang kosong itu menyampok ketiga batang jarum si nenek, dan membarengi jarum terpental Yo Ko menghentak keras ujung ikat pinggangnya si nenek sambil mengerahkan tenaga dalamnya, maka tidak ampun lagi tubuh si nenek telah terangkat dan melambung ke tengah udara, karena si nenek tidak mau melepaskan ikat pinggangnya.

Sambil menghentak begitu, Yo Ko tidak mencekali terus ujung ikat pinggang si nenek, melainkan dia melepaskan, maka tubuh si nenek tua yang luar biasa itu seperti dilemparkan saja, melayang di tengah udara, menuju ke dinding batu gunung yang akan ditubruknya. Sedangkan Yo Ko begitu melepaskan cekalannya segera berjongkok, dia telah mengambil tiga batang jarum si nenek diperhatikannya baik-baik mukanya jadi berobah. Dikenalnya jarum yang dipergunakan nenek tua itu juga sama bentuk dan rupanya dengan jarum-jarum yang telah melukai Sin-tiauw. Di saat itulah muncul murkanya.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang keras Yo Ko menotolkan kakinya di tanah, tubuhnya telah melambung dengan gerakan yang cepat sekali, dia juga telah mengulurkan tangan kirinya mencekal punggung si nenek tua itu, yang dicengkeramnya keras sekali. Tubuh si nenek yang semula melayang menyambar dinding batu itu telah berhasil ditahan oleh Yo Ko. Dengan sengit Yo Ko melontarkan tubuh nenek tua itu ke tanah.

„Apakah kini kau mau mengakui bahwa rajawaliku telah dilukai oleh kau?” tegur Yo Ko bengis.

Si nenek walaupun baru saja menghadapi bahaya maut, tetap memperlihatkan sikap yang aseran dan angin-anginan, dengan tertawa dingin dia telah menyahut, „Apa pedulimu jika memang benar-benar aku yang melukai rajawali kurang ajar itu? Hmm, engkau memang benar-benar memiliki kepandaian cukup tinggi, mungkin satu atau dua tingkat lebih tinggi dariku. Tetapi rubuhnya aku di tanganmu, karena akupun baru mempelajari delapan bagian ilmuku yang belum kupelajari rampung. Jika kau benar mengakui dirimu sebagai seorang lelaki gagah lepaskan aku, dua tahun lagi nanti aku akan mencarimu untuk mengadu kepandaian lagi, untuk menentukan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah.....!”

Yo Ko berdiam diri sejenak, dia mengawasi si nenek. Sesungguhnya hatinya saat itu tengah digeluti oleh kemarahan yang berkobar-kobar. Coba, kalau saja yang melukai rajawalinya itu seorang lelaki, tentu dia telah mengayunkan tangannya untuk menghajar mati. Tetapi kini ternyata yang telah melukai burung rajawalinya itu seorang wanita tua yang telah ubanan seperti itu, membuat dia jadi serba salah menentukan langkah.

„Pergilah!” akhirnya Yo Ko mengusir dengan suara yang dingin. „Pergilah kau menggelinding dari hadapanku, dua tahun atau sepuluh tahunpun akan kutunggu!”

Si nenek telah menatap dingin, kemudian menjerit seperti menangis keras, tubuhnya melompat ke tengah udara, lalu kedua kakinya menotok dinding disampingnya, tubuhnya melambung sangat tinggi sekali dan kedua kakinya menotol pula, sehingga berulang kali tubuhnya melambung semakin tinggi. Gerakan yang dilakukan itu sangat cepat sekali dalam waktu yang sangat singkat sekali dia telah lenyap dari pandangan Yo Ko.

Yo Ko menghela napas, baru saja dia ingin kembali ke tempat dimana Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw tengah menantinya, dia mendengar suara Ciu Pek Thong yang menegurnya,

„Mengapa dilepaskan.....?”

„Sudahlah Ciu Toako,” kata Yo Ko. „Nenek tua seperti itu tidak perlu dilayani!”

„Tetapi kau belum menanyakan, apakah dia yang telah merusak kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong,” kata Ciu Pek Thoag, yang baru tiba itu setelah berlari-lari keras cukup lama.

Yo Ko menggeleng, „Kukira bukan dia!” katanya.

„Ehhh, mengapa kau bisa menduga begitu?” tanya Ciu Pek Thong heran.

„Ada seseorang yang tengah mempermainkan kita.....” jawab Yo Ko.

Ciu Pek Thong masih ingin bertanya lagi, tetapi Yo Ko telah mengajaknya untuk kembali ke tempat Siauw Liong Lie.

„Mungkin Liong-jie dan Tiauw-heng menanti kita terlampau lama.....!” kata Yo Ko sambil menjejakkan kakinya melompat gesit sekali. „Mari kita kembali.”

Ciu Pek Thong terpaksa harus mengikutinya menuruni puncak Giok-lie-hong dan lari berendeng dengan Yo Ko, karena Yo Ko tidak lari sekuat tadi. Tetapi waktu mereka tiba di tempat kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong yang telah dirusak seseorang itu, Yo Ko maupun Ciu Pek Thong tidak melihat Siauw Liong Lie. Begitu pula Sin-tiauw, tidak terlihat di sekitar tempat itu.

„Liong-jie!” memanggil Yo Ko dengan suara yang keras sekali.

Tetapi tidak ada sahutan.

Yo Ko juga telah bersiul keras dengan hati yang kuatir bukan main. Suara siulannya itu memanggil rajawali saktinya. Namun hanya suara siulan itu saja yang menggema dan burung rajawali itu tidak terlihat, entah burung rajawali dan Siauw Liong Lie pergi kemana.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi panik, mereka tambah berkuatir.

Dengan cepat Yo Ko memusatkan tenaga dalamnya di tan-tian, lalu dia mengerahkannya sambil berteriak memanggil,

„Siauw Liong Lie…..!”

Suara Yo Ko menggema keras di sekitar gunung tersebut, seperti mengaumnya harimau dan meraungnya naga. Suaranya itu menggetarkan gunung itu, bagaikan terjadi gempa, karena tenaga dalam yang dipergunakannya merupakan tenaga dalam yang telah mencapai puncak kemahiran.

Walaupun Siauw Liong Lie berada di dalam jarak yang terpisah puluhan lie, tentu dia akan mendengarnya suara Yo Ko yang keras luar biasa itu dapat terdengar sampai limapuluh lie lebih.

Ciu Pek Thong sendiri menggidik mendengar suara panggilan Yo Ko itu, bulu tengkuknya berdiri, karena telingganya seperti tuli dan jantungnya tergoncang, bukan main kagumnya Ciu Pek Thong, karena sebagai salah seorang yang duduk dalam urutan Ngo-ciat dia masih menggidik dan jantungnya tergoncang mendengar suara teriakan Yo Ko. Hal itu telah membuktikan betapa hebat dan sempurnanya lwekang yang dimiliki Yo Ko.

Sedangkan Yo Ko jadi pucat dan gugup sekali karena dia jadi berkuatir bukan main waktu melihat teriakannya yang begitu keras dan dapat terdengar jauh, tidak memperoleh sahutan sama sekali. Lalu dia berlari-lari kesana kemari dengan panik sambil memanggil-manggil dengan keras, tetapi tetap saja Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw seperti lenyap ke dasar bumi. Salah satu diantara keduanya, baik Siauw Liong Lie maupun Sin-tiauw tidak terlihat bayangannya.

Ciu Pek Thong yang ikut gugup, tidak jarang berjingkrak-jingkrak, karena kakek jenaka itu bingung karena mereka telah berlari-lari di sekitar tempat itu untuk mencari Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, tetapi usaha mereka tetap tidak memberikan hasil.

Yo Ko sampai ingin menduga apakah Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw telah dilukai seseorang dan ditawan orang? Tetapi mengingat kepandaian Siauw Liong Lie yang tidak berada di bawahnya, maka Yo Ko tidak yakin ada yang berhasil melukai atau menawan mereka.

Suara Yo Ko bergema keras di sekitar Hoa-san sambung menyambung, sebentar terdengar di utara kemudian di barat, lalu di selatan..... karena Yo Ko telah berlari-lari seperti lupa ingatan sambil memanggil-manggil Siauw Liong Lie dengan suara nyaring dan keras luar biasa, disertai oleh menyalurkan tenaga dalam.

Yang membuat Yo Ko berkuatir justru Siauw Liong Lie tengah berisi, dalam keadaan hamil Siauw Liong Lie sering merasakan matanya ge¬lap berkunang-kunang dan kepalanya mabok. Apakah di saat Yo Ko meninggalkannya bersama Sin-tiauw, Siauw Liong Lie justru dalam keadaan mabok dengan mata yang berkunang-kunang dan pinggang sakit, dan juga di saat itu musuh muncul mempergunakan kesempatan baik itu untuk me¬nawan Siauw Liong Lie? Berpikir begitu, Yo Ko jadi semakin panik dalam kekuatiran yang sangat, dia terus juga menggigil.

„Liong-jie! Liong-jie..... Liong-jieee.....!” suaranya itu sambung menyambung. Pohon-pohon terhembus angin lembut bergerak perlahan, mega memenuhi langit, suara Yo Ko terdengar terus, tetapi Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw tetap le¬nyap tidak meninggalkan jejak.

Y

Kemanakah perginya Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw?

Ternyata ketika Yo Ko dan Ciu Pek Thong berlalu untuk mengejar orang yang telah melukai Sin-tiauw, Siauw Liong Lie menantikan dengan tidak sabar dan berkuatir sekali. Walaupun Siauw Liong Lie mengetahui bahwa Yo Ko memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tetapi entah mengapa sejak dia mengandung perasaan dan hatinya jadi kecil dan selalu menguatirkan keselamatan suaminya jika tengah menghadapi suatu urusan yang tidak mengembirakan. Disamping itu Siauw Liong Lie merasakan hatinya sering tergoncang dan lebih lemah dari sebelumnya.

Latihannya selama di kuburan Mayat Hidup, di saat dia berguru dan melatih diri menindih dan membuyarkan perasaan, ternyata kurang membawa manfaat terlalu besar di saat telah menjadi nyonya Yo. Berbagai perasaan, seperti sedih, senang, gembira dan jengkel seringkali menggoda hatinya.

Dan memang Siauw Liong Lie menyadari, bahwa gejala-gejala yang dirasakannya seperti akhir-akhir ini adalah gejala-gejala yang wajar dari seorang wanita yang tengah hamil, sebab Siauw Liong Lie sebagai seorang pendekar wanita yang mungkin nomor satu di dalam rimba persilatan dijaman itu, telah mengetahui letak dan perobahan yang terjadi pada otot-otot perutnya maupun munculnya kelenjar-kelenjar baru atas kehadiran si jabang bayi diperutnya. Tetapi, Siauw Liong Lie juga tidak menghendaki jika dirinya terlalu dikuasai oleh emosi dan perasaannya, maka dia selalu berusaha untuk mengatasi diri. Setiap Kali selesai melatih lweekang di lembah puncak Siauw-hong, Siauw Liong Lie memecahkan perhatiannya untuk bergurau dan bermain-main dengan Sin-tiauw, dengan disaksikan oleh Yo Ko.

Dan penghidupan di lembah puncak Siauw-hong memang merupakan penghidupan yang bahagia sekali bagi pasangan suami isteri itu. Tetapi kini karena mereka memenuhi undangan It-teng Taysu, mereka mulai berurusan dengan beberapa persoalan yang mungkin akan berakhir dengan peristiwa-peristiwa yang hebat dan mengerikan. Tetapi sebagai pasangan suami isteri yang memiliki kepandaian telah mencapai puncaknya sama halnya seperti Yo Ko, Siauw Liong Lie pun tidak pernah takut terhadap siapapun juga.

Waktu itu setelah menanti sekian lama Yo Ko dan Ciu Pek Thong belum juga kembali, Siauw Liong Lie mulai gelisah bukan main. Dia duduk disamping Sin-tiauw, mengusap-usap dan merapikan bulu burung rajawali itu. Tetapi sejenak kemudian dia telah berdiri dan memandang jauh, mengharap-harap kalau dia bisa melihat Yo Ko dan Ciu Pek Thong yang te¬lah kembali. Tetapi kedua orang itu telah pergi sekian lama tak muncul lagi. Bahkan dari kejauhan, dari arah puncak Giok-lie-hong didengarnya memantul suara yang cukup aneh, seperti suara tangis, seperti suara tawa.

Diam-diam Siauw Liong Lie jadi terkejut sekali, dia telah memasang pendengarannya lebih baik dan mengawasi sekitar tempat itu.

Dan telinganya yang tajam itu seperti mendengar napas seorang yang tidak jauh di sekitar tempat itu. Kembali nyonya Yo ini terkejut sekali, dia menyadarinya bahwa ada seseorang yang tengah bersembunyi di dekat tempatnya berada. Tetapi Siauw Liong Lie membawa sikap yang tenang, dia tidak mau menimbulkan kecurigaan bagi orang yang tengah tersembunyi itu karena Siauw Liong Lie bermaksud membekuknya. Dia telah membungkuk mengambil dua butir batu kecil, sebesar ukuran kacang tanah. Kemudian tanpa mengeluarkan suara apa-apa. Siauw Liong Lie menyentil kedua batu kecil itu ke arah suara desah napas itu.

Seketika terdengar suara jerit kesakitan dan kemudian keadaan di tempat itu sunyi kembali.

Siauw Liong Lie menghampiri segerombolan pohon bunga dia melibat dibalik dari pohon bunga yang rimbun itu tampak sesosok tubuh lelaki yang menggeletak tidak bergerak. Dengan mempergunakan ujung kakinya Siauw Liong Lie menendang keluar sosok tubuh itu yang rebah terlentang di tanah.

Ternyata korban timpukan batu kecil yang dilontarkan Siauw Liong Lie itu seorang pemu¬da berusia tujuhbelas tahun, wajahnya tidak terlalu cakap, tetapi pakaiannya perlente sekali. Saat itu, karena jalan darah Tiang-bu-hiat di dekat bahunya tertotok, sekujur tubuh pemuda itu jadi kaku tidak bisa digerakkan dan hanya bola matanya yang bergerak-gerak memancarkan perasaan takut yang bukan main.

Tadi, waktu dia bersembunyi dibalik pohon bunga yang rimbun itu, dia merasakan bahunya ngilu dengan tiba-tiba dan kemudian dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Itulah yang telah membuat dia jadi mengeluarkan suara jeritan.

Semula, dia tidak menyangka Siauw Liong Lie akan mengetahui tempat persembunyiannya. Karena disamping jaraknya yang terpisah cukup jauh, pohon-pohon bunga itupun lebat sekali. Tetapi dia tidak menyangka bahwa Siauw Liong Lie memiliki pendengaran yang tajam sekali, walaupun jarak mereka terpisah cukup jauh, kenyataannya nyonya Yo berhasil mendengar desah napas si pemuda yang sangat perlahan itu, yang akhirnya telah membuat nyonya Yo menimpuk dengan batu kecil untuk menotok jalan darahnya.

„Siapa kau?” bentak Siauw Liong Lie sambil mengerutkan alisnya. „Mengapa kau bersembunyi disitu?”

05.09. Penculikan Isteri Pendekar Rajawali

Pemuda itu tengah ketakutan setengah mati ditanya demikian segera juga dia menangis.

„Ampun..... ampunilah aku, Liehiap..... aku..... aku tidak sengaja bersembunyi disitu. Tadi secara kebetulan aku tiba di tempat ini dan mendengar suara yang ribut-ribut, kukira ada serombongan Ouw-pak (perampok), maka cepat-cepat aku bersembunyi.”

Siauw Liong Lie tersenyum tawar, dia mengetahui pemuda itu bicara justa. Tetapi karena nyonya Yo tengah memikirkan suaminya dan Ciu Pek Thong yang belum juga kembali dan juga melihat orang itu hanya merupakan seorang muda yang tidak memiliki kepandaian apa-apa maka dia telah menendang dengan ujung sepatunya membuka totokan jalan darah pemuda itu.

„Pergilah kau!” katanya dengan suara yang dingin.

Pemuda itu tanpa sempat mengucapkan terima kasih telah cepat-cepat pentang langkah lebar untuk berlalu dari tempat itu.

Siauw Liong Lie menghela napas sambil kembali menghampiri Sin-tiauw, kemudian duduk di samping rajawali itu. Tetapi di saat itu telah terdengar suara seseorang yang berkata dingin sekali.

„Sungguh perbuatan mulia..... buaya darat kejam dilepas begitu saja, sedangkan tikus botak ditangkap!”

Siauw Liong Lie terkejut sekali dia seperti mengenal suara itu, tetapi nyonya Yo sudah tidak mengingatnya lagi entah dimana.

„Siapa yang bicara? Mengapa tidak memperlihatkan diri?”

„Ha, ha, kita sahabat-sahabat lama, mustahil nyonya sudah lupa kepadaku,” terdengar lagi suara itu, dingin dan seperti juga mengejek.

Dan membarengi dengan selesainya suara tersebut, tampak berkelebat keluar sesosok tubuh dari balik sebuah batu gunung yang cukup besar, yang berada di sebelah kanan dari kuburan Auwyang Hong. Gerakan orang itu ringan sekali dan dalam sekejap mata saja dia telah berdiri dihadapan Siauw Liong Lie sambil tertawa tidak sedap didengar. Waktu kedua kakinya menyentuh tanah, tidak terdengar suara sedikitpun juga hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Siauw Liong Lie mengawasi orang yang baru datang, dia jadi terkejut sendirinya, karena segera juga dia mengenali, bahwa orang tersebut tidak lain dari Tiat To Hoat-ong. Tubuhnya yang besar, dengan jubah kependetaannya dan kepala yang gundul dengan kuncup emas di atas kepalanya serta jenggot yang tipis panjang tanpa kumis, merupakan raut wajah yang sulit dilupakan walaupun baru bertemu satu kali. Dengan mengeluarkan seruan tertahan Siauw Liong Lie telah melompat mundur dua langkah.

„Mengapa kaget nyonya?” sapa Tiat To Hoat-ong dengan disertai tertawanya yang mengejek. „Bukankah kita sahabat-sahabat lama? walaupun kita baru pertama kali bertemu, tetapi melihat kepandaianmu dan juga kepandaian suamimu si buntung itu, maka dapat kuduga kalian adalah manusia-manusia pandai di daratan Tiong-goan ini, maka jelas pula kalianpun mengetahui siapa adik seperguruanku yang bernama Kim Lun Hoat-ong. Bukankah begitu?”

Siauw Liong Lie mengerutkan alisnya, dia telah mengetahui dari Ciu Pek Thong yang menceritakan bahwa Tiat To Hoat-ong tengah mencari-cari Kim Lun Hoat-ong. Justru Kim Lun Hoat-ong telah terbinasa di atas panggung yang dibangunnya sendiri untuk membakar Kwee Siang guna menekan Kwee Ceng dan Oey Yong agar menyerah.

Tetapi oleh Yo Ko justru Kim Lun Hoat-ong telah tertendang jalan darah Tan-tiong-hiat di dadanya sehingga dia memuntahkan darah segar, tubuhnya rubuh kegumpalan api yang membakar panggung itu, kemudian oleh Ciu Pek Thong dipeluk dengan keras, sehingga sia-sia Kim Lun Hoat-ong berusaha untuk meronta, dia telah dirubuhkan dan hanya di saat itulah Kim Lun Hoat-ong harus menjerit hebat, sebab tubuhnya telah tertusuk oleh baju lapis duri yang dikenakan Ciu Pek Thong di saat itu, sehingga pendeta dari Tibet yang bekerja untuk Kaisar Mangu telah terbinasa di saat itu, habis nyawanya.

Peristiwa mana diketahui oleh Kaisar Mangu dan Kublai, hanya di saat itu Kaisar Mangu terbinasa oleh timpukan batu Yo Ko. Kublai telah menggunakan kecerdikannya, dan di saat Tiat To Hoat-ong menanyakan perihal Kim Lun Hoat-ong, pada saat itu Kublai yang cerdik tidak memberikan keterangan yang sesungguhnya. Kublai hanya mengatakan Kim Lun Hoat-ong masih berkeliaran di daratan Tiong-goan. Tidak menceritakan perihal kematian Kim Lun Hoat-ong yang mengenaskan itu.

Siauw Liong Lie yang mengetahui bahwa kematian Kim Lun Hoat-ong telah membuat Tiat To Hoat-ong menjadi kalap dan murka, telah berwaspada, karena dia mengetahui pendeta ini memiliki kepandaian yang luar biasa. Waktu Yo Ko menyatakan Kim Lun Hoat-ong memang telah mati, Tiat To Hoat-ong pernah memperlihatkan sikap yang menakutkan sekali. Tetapi Siauw Liong Lie tidak takut, bahkan dia telah tertawa dingin.

„Hemmm, rupanya kau masih penasaran,” kata Siauw Liong Lie. „Bukankah suamiku telah memberitahukan bahwa Kim Lun Hoat-ong memang benar-benar telah binasa?”

Muka Tiat To Hoat-ong tidak berobah sedikitpun, dia hanya tertawa mengejek. „Andaikata memang keterangan suami nyonya itu benar, maka kalian tentu mengetahui di mana terbunuhnya adik seperguruanku itu. Dengan matinya adik seperguruanku yang liehay itu, tentu ada orang yang membunuhnya, maka siapa pembunuhnya itu?”

Siauw Liong Lie merasa sebal melihat tingkah pendeta itu. Dia mendongkol sekali, maka dia menyahut sekenanya. „Aku yang telah membinasakannya.....”

Mata Tiat To Hoat-ong tampak bersinar sepasang alisnya berkerut dan keningnya yang mengkilap itu bergerak-gerak. „Hemm..... rupanya memang nyonya tidak mau menghormati sedikitpun kepada seorang tamu jauh! Kau telah bicara secara bergurau, maka Hud-yamu juga jadi ragu-ragu, apakah benar adik seperguruanku itu telah terbunuh.....”

Dalam partai Kouw-bok-pay terdapat aturan yang dipandang dan dianggap sebagai pantangan semuanya dua macam dan masing-masing terdiri dari duabelas macam intinya adalah “Kurang” dan „Lebih” seperti kurangi pikiran, kurangi kemauan, kurangi urusan, kurangi bicara, kurangi tertawa, kurangi marah, kurangi kegembiraan, kurangi perbuatan jahat, sebaliknya jangan lebih berpikir, jangan lebih keinginan, jangan lebih banyak urusan, jangan lebih bicara, jangan lebih tertawa, jangan lebih berduka, jangan lebih bergirang, jangan lebih jahat. Semua pantangan itu, kalau tidak dilawan artinya disingkirkan, bisa mencelakai diri sendiri.

Siauw Liong Lie dapat mentaati ajaran tersebut, maka dia bebas, tidak bergirang, tidak berpikir, tidak berduka, bahkan kemurnian yang dimiliki Siauw Liong Lie tidak bisa ditandingi oleh kakek gurunya, Lim Tiauw Eng. Adalah kemudian, kedatangan Yo Ko di kuburan mayat hidup itu, yang telah membuat mereka bergaul erat, mulai lowonglah dan tidak seketat lagi pantangan „Kurang” dan „Lebih” itu, sedangkan enambelas tahun setelah mereka menikah, pengalaman dan penderitaan Yo Ko jadi bertambah banyak, sebaliknya Siauw Liong Lie tetap tinggal menyendiri di tempat sepi, memang dia sering memikirkan Yo Ko tetapi berkat latihan sebelumnya yang selama duapuluh tahun lamanya, hatinya jadi lebih mantep dia terpengaruh pula pantangan itu.

Begitulah sekarang, setelah lewat beberapa tahun lagi, kenyataannnya Siauw Liong Lie semakin tidak dapat mentaati sepenuhnya peraturan tersebut. Terlebih sekarang di saat dia tengah isi, sehingga sering diganggu oleh kekuatiran, kebahagiaan yang berkelebihan, kekalutan pikiran yang berkelebihan, kegembiraan yang berkelebihan, membuat Siauw Liong Lie mulai tersisih latihan selama puluhan tahun itu.

Namun menghadapi Tiat To Hoat-ong yang kurang ajar dan bicara seenaknya, Siauw Liong Lie bisa mempertahankan hati dan diri, untuk tidak terlalu berkelebihan marah, tidak terlalu berkelebihan kuatir. Dia memandang pendeta Mongolia tersebut dengan sorot mata yang tajam, dingin, wajahnya juga dingin tidak berperasaan sehingga Tiat To Hoat-ong jadi terkejut. Namun pendeta itu sengaja untuk menutupi keheranannya itu dengan tertawanya yang keras.

„Sebagai seorang pendeta tentunya kau memegang patuh peraturan dan bicaramu, apakah kau anggap aku bicara ngawur dan sembarangan,” tegur Siauw Liong Lie dengan suara yang dingin.

„Baiklah, jika nyonya mengatakan bahwa adik seperguruanku Kim Lun Hoat-ong memang telah mati, maka silahkan nyonya mengantarkan aku untuk menjenguk kuburannya!”

„Kim Lun Hoat-ong tidak memiliki kuburan, dia mati tanpa diterima bumi.....!” dingin luar biasa suara nyonya Yo, dia jadi muak terhadap sikap Tiat To Hoat-ong.

„Apa….. apa kau bilang?” Tiat To Hoat-ong tampaknya terkejut bukan main, sehingga dia memandang tertegun kepada Siauw Liong Lie.

„Dengarlah, Kim Lun Hoat-ong mati tanpa diterima oleh bumi!” mengulang Siauw Liong Lie, suaranya tetap dingin tidak mengandung perasaan.

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah tidak sedap dipandang, dia telah beringas dan mukanya bengis sekali di samping sepasang matanya memancarkan sinarnya yang tajam luar biasa.

„Memang sesungguhnya engkau pembunuh adik seperguruanku itu.....?” menegasi si pendeta,

„Tidak salah!” mengangguk Siauw Liong Lie tegas. Dia mengakui begitu, karena suaminya Yo Ko, yang telah membinasakan Kim Lun Hoat-ong, yang dibantu oleh Ciu Pek Thong. Tetapi karena kedua orang itu tengah pergi, Siauw Liong Lie menghadapi sendiri si pendeta. Dia memang melihat kepandaian Tiat To Hoat-ong liehay sekali, namun dia tidak takut sedikit pun juga.

„Hemmm, jika memang demikian baiklah!” kata Tiat To Hoat-ong kemudian. „Nah kau harus ikut bersamaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu.”

Dan si pendeta bukan hanya bicara sampai disitu saja, karena dia telah membarengi dengan mengulurkan tangan kanannya, yang maksudnya ingin mencengkeram nadi Wue-lu-hiat dipergelangan tangan Siauw Liong Lie. Jalan, darah Wue-lu-hiat merupakan jalan darah yang cukup penting, merupakan urat utama di pergelangan tangan. Jika memang jalan darah itu berhasil dicengkeram, atau ditotok niscaya tubuh korban totokan itu akan lemas tidak bertenaga.

Siauw Liong Lie mana mau membiarkan pergelangan tangannya dicengkeram oleh pendeta itu. Maka dengan miringkan sedikit tubuhnya, pergelangan tangannya telah bebas dari cengkeraman si pendeta.

Tetapi Tiat To Hoat-ong yang pernah merasakan hebatnya Yo Ko, dan juga melihat cara berkata dan sikap si nyonya Yo itu, siang-siang dia telah mengetahui Siauw Liong Lie memiliki kepandaian yang tinggi, maka dari itu walaupun serangannya berhasil dielakkan oleh Siauw Liong Lie, tidak menjadi heran karenanya. Begitu serangannya berhasil dielakkan, begitu dia susuli oleh serangan berikutnya, yaitu tangannya dibalik membarengi mana dia telah mencengkeram ke arah bahu Siauw Liong Lie.

Nyonya Yo Ko telah mengeluarkan suara dengusan dingin tubuhnya bagaikan seekor kupu-kupu berkelit indah dan ringan sekali ke samping. Waktu tubuhnya mengelak ke samping begitu, justru saat itulah dia melihat punggung Tiat To Hoat-ong maju ke depan, maka tanpa membuang-buang kesempatan yang ada, dia telah mengayunkan tangannya untuk menotok, jalan darah Siang-ku-hiat yang terletak di punggung si pendeta, yang berdekatan dengan tulang piepe pendeta tersebut.

Jalan darah Tiat To Hoat-ong berhasil ditotok dengan tepat, namun pundak si pendeta seperti juga berminyak jari tangan Siauw Liong Lie seperti melejit. Tetapi Siauw Liong Lie penasaran sekali, dengan serentak dia telah menyusuli totokan lainnya, yang menotok telak sekali jalan darah Pie-hong-hiat di pinggang si pendeta. Totokan itu tepat dan jitu sekali, tetapi di saat itulah si pendeta telah melompat ke depan dua langkah, seperti juga sedikitpun dia tidak merasakan hasil totokan Siauw Liong Lie.

Nyonya Yo Ko juga mengerutkan sepasang alisnya, dia kagum atas keliehayan lawannya ini, yang dilihatnya memang jauh di atas kepandaian Kim Lun Hoat-ong. Jelas totokannya tadi telah berhasil mengenai sasarannya dengan jitu, tetapi kenyataannya pendeta itu tidak rubuh dan tidak kurang suatu apapun juga.

Siauw Liong Lie mau menduga, bahwa Tiat To Hoat-ong tentunya mempelajari ilmu Yoga sama halnya seperti Kim Lun Hoat-ong, melatih telah sampai ke puncak kesempurnaan, sehingga pendeta itu berhasil memindahkan otot dan tulang sekehendak hatinya. Tidak mengherankan, walaupun totokan dari Siauw Liong Lie menghantam dengan jitu sekali, namun tidak ada hasilnya.

Tiat To Hoat-ong tertawa nyaring, sambil memutar tubuhnya.

„Nyonya, lebih bijaksana jika nyonya secara baik-baik ikut bersama Hud-ya, sehingga nyonya tak menemui kesulitan suatu apapun juga!” kata Tiat To Hoat-ong pula. Dan dia bukan hanya berkata-kata, karena dengan cepat sekali kedua tangannya telah digunakan untuk menangkap tangan Siauw Liong Lie dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya akan menotok jalan darah Su-sing-hiat di pinggang si nyonya Yo.

Siauw Ling Lie jadi gusar, karena pendeta itu benar-benar terlalu mendesaknya. Walaupun bagaimana kepandaian Siauw Liong Lie berimbang dengan Yo Ko, maka bisa dimengerti bahwa nyonya itu memang memiliki kepandaian yang sangat lihay. Dan mungkin di daratan Tiong-goan hanya Kwee Ceng dan Oey Yok Su yang bisa menghadapinya berimbang. Tetapi pendeta ini, yang tangannya lancang dan hatinya bengis kejam, rupanya tidak memandang sebelah mata kepada nyonya tersebut. Dia telah berulang kali melancarkan serangan.

Tetapi Siauw Liong Lie juga tidak ingin membuang-buang waktu, dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan seruan kecil membarengi tangan kirinya mengibas dengan ujung lengan tangannya menyampok tangan kiri si pendeta, sedangkan tangan kanannya tahu-tahu menyambar akan menampar kepala botaknya si pendeta. Tamparan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie bukan merupakan tamparan biasa, karena sambil menampar dengan telapak tangannya itu, si nyonya Yo telah mengarahkan tenaga dalamnya maka bisa dibayangkan hebatnya tamparan itu.

Tiat To Hoat-ong juga mengetahui hebatnya tamparan yang dilancarkan oleh Siauw Liong Lie. Lebih-lebih dia merasakan sampokan ujung lengan baju si nyonya yang menghantam telak sekali tangannya, sehingga merasakan tangannya itu kesemutan, maka tamparan yang dilancarkan oleh, Siauw Liong Lie tidak berani dipandangnya remeh.

Dengan gerakan yang aneh sekali, seperti juga gerakan seorang pendeta yang tengah bersemedhi, tahu-tahu tubuhnya jadi pendek ke bawah karena sepasang kakinya telah ditekuknya dalam-dalam dan masih tetap dalam keadaan seperti itu, di saat dia seperti tengah berjongkok Tiat To Hoat-ong mengulurkan kedua tangannya lurus-lurus ke depan, akan memegang dan merangkul pinggang Siauw Liong Lie.

Serangan yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat-ong sesungguhnya merupakan serangan yang biasa saja, tetapi bagi Siauw Liong Lie tidak mau tubuhnya disentuh oleh tangan pendeta itu. Dengan cepat Siauw Liong Lie menjejak tanah, tubuhnya melompat ke belakang dengan ge¬sit sekali menjauhkan diri. Dengan sendirinya serangannya terhadap si pendeta jadi batal.

Tiat To Hoat-ong berdiri sambil tertawa tergelak-gelak nyaring sekali.

Siauw Liong Lie jadi mengerutkan sepasang alisnya. Dia melihat kepandaian Tiat To Hoat-ong memang luar biasa hebatnya, dan diam-diam Siauw Liong Lie jadi mengharapkan Yo Ko dan Ciu Pek Thong kembali cepat-cepat, karena jika bertempur terus menerus dengan cara seperti itu, dan juga memakan waktu yang panjang, pasti lama kelamaan si nyonya akan kehabisan napas dan letih. Walaupun dia liehay, tetapi bukankah Siauw Liong Lie tengah mengandung?

Itulah sebabnya, Siauw Liong Lie pun tidak berani terlalu mengerahkan seluruh tenaganya, dan tidak berani bergerak terlalu gesit, sebab dia kuatir kalau-kalau mengganggu kesehatan bayinya. Maka dari itu, dengan cepat sekali Siauw Liong Lie merobah cara bertempurnya itu, tidak bisa dia selalu mempergunakan kekerasan dan kekuatan tenaganya, walaupun bagaimana dia harus mengandalkan kegesitannya belaka dan memancing agar si pendeta tidak menurunkan tangan keras kepadanya, sampai akhirnya nanti Yo Ko dan Ciu Pek Thong kembali.

Tetapi Tiat To Hoat-ong juga rupanya mengetahui jalan pemikiran dari Yo Hujin ini, karena dengan cepat sekali, dialah beruntun melancarkan serangan yang kuat sekali, dengan disertai oleh kekuatan tenaga lweekang yang dahsyat bukan main. Dan di dalam waktu yang singkat, Siauw Liong Lie jadi sibuk sekali untuk mengelakkan diri dari serangan-serangan lawannya. Tetapi Siauw Liong Lie sebagai seorang pendekar wanita yang terhebat dijaman itu, mana bisa dirubuhkan dengan mudah oleh Tiat To Hoat-ong.

Di saat itulah, Sin-tiauw yang sejak tadi mengawasi nyonya majikannya yang tengah bertempur begitu hebat, dan juga lama kelamaan terdesak karena lawannya liehay sekali, tidak tinggal diam. Dengan cepat bukan main, Sin-tiauw telah mementang sayapnya melayang di tengah udara, dan menukik-nukik berusaha untuk mencengkeram dan mematuk kepala Tiat To Hoat-ong.

Tiat To Hoat-ong gusar sekali, suatu kali dengan sengit dia telah menggerakkan tangan kanannya, dia melancarkan serangan ke arah rajawali itu. Dia menduga, dengan sekali pukul, dengan pukulan yang disertai oleh tenaga dalam rajawali itu pasti akan dapat dibinasakannya.

Tetapi di luar dugaannya, mimpipun juga tidak, bahwa pukulannya itu ternyata tidak berarti apa-apa bagi Sin-tiauw, karena di saat tenaga serangan Tiat To Hoat-ong hampir tiba, di saat itulah Sin-tiauw yang tengah melayang di atas kepala Tiat To Hoat-ong telah mengibas dengan sayapnya yang kanan, yang seketika menyebabkan Tiat To Hoat-ong merasakan tangannya kesemutan dan telah tersampok ke samping! Itulah suatu urusan yang benar-benar tidak pernah dipikirkannya bahwa seekor burung rajawali dapat menangkis serangan hebat dari seorang pendekar tangguh seperti dia yang kekuatan tenaga menyerangnya itu meliputi limaratus kati lebih.

Di Tibet, Tiat To Hoat-ong dihormati dan disegani melebihi raja, dan di mongolia diapun disamping dihormati, juga telah merupakan penasehat raja. Kaisar Mangu sebelum meninggal juga sangat segan dan menghormatinya, disamping Kim Lun Hoat-ong. Begitu pula Kublai yang telah menjadi Khan yang telah dipilih oleh para menteri Mongolia untuk menggantikan kedudukan Khan, raja setelah kakaknya itu terbinasa dalam peperangan, sangat menghargai Tiat To Hoat-ong.

Dengan sendirinya kini seekor burung rajawali dapat memunahkan pukulannya. Dapat juga melancarkan serangan kepadannya, membuat Tiat To Hoat-ong jadi takjub dan kagum disamping murka. Tiat To Hoat-ong tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Kim Lun Hoat-ong pun sangat takut dan jeri berurusan dengan Sin-tiauw ini. Karena Kim Lun Hoat-ong pernah merasakan kehebatan sang rajawali sakti.

Tiat To Hoat-ong sangat penasaran sekali dia sampai melupakan Siauw Liong Lie untuk sejenak lamanya dia telah melancarkan serangan yang beruntun ke arah burung rajawali itu.

Luar biasa hebatnya serangan-serangan yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat-ong karena dia melancarkan serangannya itu dengan mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya. Bisa dibayangkan hebatnya serangan itu, karena sebagai jago yang nomor satu di negerinya, dimana kini dia melancarkan serangan-serangan dengan mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya, hanya untuk sekedar melayani seekor burung rajawali.

Siauw Liong Lie girang melihat Sin-tiauw telah membantuinya, dia yakin dengan dibantu oleh Sin-tiauw dia tentu bisa mengusir pendeta asing itu. Bukankah serangan-serangan Sin-tiauw yang dilancarkan oleh rajawali itu dari tengah udara, telah mempersibuk pendeta itu, yang perhatiannya jadi terpecah hebat?

Tanpa membuang-buang waktu dan kesempatan yang ada, tampak Siauw Liong Lie telah melompat ke tengah gelanggang, dan di saat tubuhnya masih melayang di tengah udara, kedua tangannya telah mendorong dengan keras. Dari kedua telapak tangannya itu telah meluncur serangkum angin serangan yang dahsyat sekali, yang menghantam keras luar biasa ke arah Tiat To Hoat-ong.

„Bruaakk!” Tiat To Hoat-ong telah sempat menangkisnya sehingga dua kekuatan raksasa dari dua macam tenaga dalam yang terlatih sempurna telah saling bentur di tengah udara. Yang hebat adalah tekanan dari tenaga serangan Siauw Liong Lie yang sudah menyebabkan tubuh Tiat To Hoat-ong jadi terhuyung-huyung mundur beberapa langkah ke belakang dengan muka yang telah berobah pucat sedangkan Siauw Liong Lie juga tergetar tubuhnya.

Waktu itu Siauw Liong Lie telah mengempos semangatnya lagi untuk melancarkan serangannya, tetapi tiba-tiba pandangan matanya jadi gelap dan berkunang-kunang kepalanya pusing dan pinggangnya sakit seperti ditarik. Serangan seperti itu datangnya demikian tiba-tiba, sehingga Siauw Liong Lie mengeluh sendirinya dan membatalkan maksudnya untuk melancarkan serangan kepada lawannya dan cepat-cepat menyenderkan tubuhnya di sebuah batang pohon karena dia kuatir rubuh pingsan. Hal itu disebabkan Siauw Liong Lie tadi telah mempergunakan tenaga yang melebihi takaran, dia telah mengempos semangatnya melebihi batas, sehingga mengalami goncangan pada kandungannya.

Sin-tiauw yang melihat keadaan Siauw Liong Lie, jadi terkejut bukan main, dia telah mengeluarkan suara pekikan yang nyaring sekali dan telah mempergencar serangan-serangannya, dengan mempergunakan paruh dan kedua cakarnya.

Tiat To Hoat-ong yang tadi telah terkejut bukan main, dan semula bermaksud untuk mengundurkan diri meninggalkan tempat itu saja karena merasa tidak ungkulan, ketika melihat keadaan Siauw Liong Lie, dia jadi girang bukan main, dengan mengeluarkan suara seruan, yang mengguntur, dia telah melancarkan serangan yang jauh lebih kuat dan hebat kepada Sin-tiauw, sehingga memaksa Sin-tiauw terbang lebih tinggi ke tengah udara.

Mempergunakan kesempatan yang hanya beberapa detik itu, Tiat To Hoat-ong yang liehay luar biasa, telah melompat menubruk ke arah Siauw Liong Lie. Tangan kanannya tahu-tahu telah melayang menotok ke arah jalan darah Sie-suan-hiat di dekat iga ketujuh dari tubuh nyonya Yo, jari tangannya itu meluncur cepat dan bertenaga sekali.

Siauw Liong Lie melihat datangnya serangan itu, namun dia tidak berdaya sama sekali untuk menangkisnya, karena di saat itu tubuhnya tengah bergoyang-goyang seperti akan rubuh pingsan tenaganya seperti lenyap dan juga sekelilingnya seperti lenyap. Maka tanpa ampun lagi totokan si pendeta Tiat To Hoat-ong tidak berhasil dielakkannya dan tubuh Siauw Liong Lie terjungkal rubuh di tanah.

Sin-tiauw yang menyaksikan itu mengeluarkan pekikan dan cepat-cepat menyambar ke arah Tiat To Hoat-ong, melancarkan serangan kepada Tiat To Hoat-ong dengan sayap kanan dan kirinya mengibasnya, maka kekuatan angin serangan ribuan kati menerjang si pendeta.

Tentu saja Tiat To Hoat-ong terkejut sekali dia telah menyingkir ke samping. Itulah yang dikehendaki oleh Sin-tiauw karena dengan menyingkirnya Tiat To Hoat-ong, berarti si pendeta tidak bisa mengganggu Siauw Liong Lie lebih jauh. Burung rajawali itu telah hinggap turun di tanah, disamping Siauw-Liong Lie untuk melindunginya.

Si pendeta mendengus tertawa dingin. Dia telah berhasil menotok rubuh Siauw Liong Lie tetapi disebabkan rajawali itu maka usahanya terancam gagal, jika sampai Yo Ko dan Ciu Pek Thong sempat datang, niscaya akan menyebabkan gagal rencananya.

Di saat Tiat To Hoat-ong berdiri bimbang seperti itu, tiba-tiba dikejauhan, dari arah puncak Giok-lie-hong terdengar suara pekik seperti menangis yang menyayatkan hati, yang panjang dan terdengar samar sekali..... itulah suara wanita yang rambutnya telah ubanan, yang telah berhasil diserang sampai dirubuhkan Yo Ko dan di saat akan berlalu nenek ubanan itu telah mengeluarkan suara tangisan yang didengar oleh Tiat To Hoat-ong.

Dengan sendirinya, ketika mendengar suara tangisan yang panjang seperti itu, Tiat To Hoat-ong jadi berkuatir kalau-kalau Yo Ko dan Ciu Pek Thong akan segera kembali. Dia cepat-cepat merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah tabung kecil, yang ujungnya terdapat tangkai, sehingga tampaknya seperti semprotan. Dengan cepat tabung itu ditujukan kepada Sin-tiauw. Dengan mendorong tangkainya, dari ujung tabung itu muncrat semacam uap putih yang cukup tebal, menyambar ke arah Sin-tiauw.

Burung rajawali itu menjadi terkejut, karena jika senjata rahasia atau benda yang bersifat keras, tentu dengan mudah dia bisa membebaskan diri atau menangkisnya. Tetapi sekarang justru yang menyambar ke arahnya itu adalah semacam uap yang telah memenuhi sekitar dirinya. Bahkan Sin-tiauw seketika itu rasakan betapa kepalanya pusing dan matanya gelap, seperti akan rubuh. Dengan cepat burung rajawali itu menggerak-gerakkan kedua sayapnya kemudian dia melompat untuk terbang.

Tetapi baru dua tombak lebih dia terbang ke tengah udara, tubuhnya telah rubuh kembali menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi. Ternyata tabung yang dimiliki oleh Tiat To Hoat-ong merupakan tabung uap yang bisa dipergunakan untuk merubuhkan lawan, karena gas uap terdapat di dalam tabung itu seperti juga gas tidur. Yang sekarang mungkin dikenal dengan chloroform. Tentu saja Sin-tiauw tidak sanggup untuk melawannya, matanya yang tiba-tiba menjadi berat dan mengantuk begitu juga tubuhnya lemas tidak bertenaga dan burung itu telah menggeletak tidur nyenyak.

Siauw Liong Lie yang dalam keadaan tertotok tidak pingsan, dia bisa menyaksikan semua peristiwa itu. Semula atas pertolongan Sin-tiauw, dia mengharapkan si pendeta Mongolia itu berhasil diusir, namun kenyataannya Sin-tiauw pun akhirnya telah rubuh, disamping dirinya sendiri juga tertotok tanpa bisa bergerak lagi. Habislah harapan Siauw Liong Lie, lebih-lebih Yo Ko dan Loo Boan Tong belum juga datang.

Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat menghampiri untuk menotok lagi beberapa jalan darah di tubuh Siauw Liong Lie. Kemudian diapun mengeluarkan seutas tali yang kuat sekali, dia menelingkung kedua sayap Sin-tiauw ke atas, lalu mengikatnya kuat-kuat. Begitu pula kedua kaki burung dan paruh burung itu, yang diikatnya sama kuat. Umpama kata Sin-tiauw beberapa saat lagi terlepas dari pengaruh obat tidur itu, dia tidak bisa menggerakkan kedua sayapnya untuk terbang, tidak bisa mempergunakan kedua cakarnya dan tidak bisa mempergunakan paruhnya untuk mematuki tali yang mengikat kedua kaki dan sayapnya.....

Tiat To Hoat-ong bekerja cepat sekali, dia telah mengangkat tubuh Siauw Liong Lie dan kemudian memanggul Sin-tiauw, berlalu dari tempat itu. Sebelumnya Tiat To Hoat-ong mempergunakan sepatunya menghapus jejak-jejak yang terdapat di tanah.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika Yo Ko dan Loo Boan Thong akhirnya tidak melihat sedikitpun tanda-tanda apapun di sekitar tempat itu.

Y

Cu Kun Hong menunggangi kudanya yang dilarikan cukup keras di jalur jalan yang terdapat di bawah kaki gunung Hoa-san. Memang pemuda pelajar she Cu tersebut bermaksud mendatangi Hoa-san untuk menyaksikan keramaian, karena dia mendengar bahwa Cu Pek Thong, Yo Ko dan Siauw Liong Lie ingin pergi ke Hoa-san memenuhi undangan It-teng Taysu yang akan datang ke gunung itu juga. Karena memang tidak memiliki urusan lainnya, maka pemuda she Cu itu telah menuju ke Hoa-san dengan harapan bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan tokoh-tokoh terkenal rimba persilatan itu.

05.10. Pelarian Pendeta Mongol

Jago-jago silat mana yang tidak akan merasa bangga jika bisa berjumpa dengan Yo Ko atau Siauw Liong Lie, sepasang pendekar besar dijaman itu? Dan terlebih lagi jika bisa bertemu dengan It-teng Taysu, Oey Yok Su, Kwee Ceng, Oey Yong dan jago-jago lainnya. Maka dari itu, dengan tidak memikirkan sulitnya perjalanan, Cu Kun Hong telah melakukan perjalanan ke Hoa-san. Telah belasan hari dia melakukan perjalanannya dengan kudanya itu, dan selama itu dia telah berusaha untuk melakukan perjalanan dengan cepat, karena pemuda pelajar tersebut takut datang terlambat.

Hari masih cukup terang, walaupun senja mulai menyelimuti daerah pegunungan Hoa-san. Sedang Cu Kun Hong melarikan kudanya, tiba-tiba dari arah depannya dia melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya. Dia melihat sesosok tubuh yang tinggi dan besar tengah berlari menghampiri ke arahnya.

Setelah Cu Kim Hong menghentikan kudanya dan memperhatikan baik-baik, dan sosok tubuh yang baru turun dari atas gunung itu semakin dekat, barulah Kun Hong mengetahuinya itulah seorang yang tengah memanggul seorang manusia lainnya dan memanggul juga seekor rajawali berukuran raksasa, sebesar satu setengah manusia dewasa!

Yang membuat Cu Kun Hong lebih kaget lagi adalah orang yang tengah berlari-lari itu tidak lain dari Tiat To Hoat-ong, Si pendeta Mongolia yang liehay luar biasa kepandaiannya. Sedangkan orang yang dipanggulnya, tidak lain dari Yo Hujin, yaitu Siauw Liong Lie.

Tentu saja Cu Kun Hong jadi duduk di atas kudanya dengan sikap tertegun. Dia hanya mengawasi saja.

Saat itu Tiat To Hoat-ong telah berlari-lari semakin dekat juga, dan gerakannya yang secepat angin itu menyebabkan pandangan mata Kun Hong kabur dan tidak bisa melihat jelas. Belum lagi dia mengetahui sesuatu apa, tiba-tiba dia melihat pendeta itu menggerakkan tubuhnya dengan sentakan yang kuat, membuat ujung lengan jubahnya itu menghantam muka Kun Hong, di saat si pendeta itu lewat di sisinya.

Gerakan si pendeta itu luar biasa sekali, karena ujung jubahnya itu mengandung tenaga lweekang yang dahsyat sekali, sehingga waktu ujung jubah itu menghantam muka Kun Hong, si pemuda seperti dihantam oleh lempengan besi.

Sesungguhnya Kun Hong telah melihat menyambarnya ujung lengan jubah pendeta itu, dan dia juga bermaksud mengelakkan diri. Namun rupanya gerakan Tiat To Hoat-ong memang cepat luar biasa, sehingga sebelum dia mengetahui sesuatu apapun juga, di saat itulah mukanya telah terhajar jitu sekali oleh ujung lengan jubah si pendeta. Tanpa ampun lagi seketika itu juga tubuh Cu Kun Hong terpental dari atas kudanya, ambruk di atas tanah, dan rebah pingsan tidak sadarkan diri dengan hidungnya mengucurkan darah.

Sambil mengeluarkan suara tertawa yang bergelak-gelak menyeramkan, Tiat To Hoat-ong telah melanjutkan larinya dengan cepat, sambil tetap membawa Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw. Sama sekali pendeta Mongolia itu tidak bermaksud untuk merampas kuda Cu Kun Hong karena dengan menunggang kuda dibandingkan larinya, memang jauh lebih cepat dia mempergunakan kedua kakinya sendiri, yang bisa lari secepat angin.

Lama Kun Hong rebah pingsan tidak sadarkan diri, sampai akhirnya dia merasakan kepalanya diusap seseorang.

„Akhhhh, lukanya tidak berat, hanya disebabkan hantaman yang keras, menyebabkan dia pingsan sementara waktu......!” Kun Hong mendengar seseorang berkata dengan suara sabar.

Kun Hong membuka matanya, pandangan matanya masih kabur dan dia belum bisa melihat jelas, hanya terasa ada dua bayangan manusia berdiri dihadapannya, segera juga Kun Hong memejamkan matanya kembali. Disamping itu, Kun Hong merasakan dirinya tengah rebah di pembaringan, dan luka di mukanya, akibat kebutan ujung jubah dari Tiat To Hoat-ong, telah menimbulkan perasaan sakit yang luar biasa. Setelah berdiam diri sejenak lagi, akhirnya Kun Hong membuka matanya pula.

Segera juga dia jadi girang, karena orang yang tengah duduk ditepi pembaringan, yang tadi juga telah mengusap keningnya tidak lain dari Yo Ko, Sin-tiauw Tayhiap! Sedangkan orang yang satunya lagi, yang berdiri di pinggir pembaringan dengan berdiam diri, ternyata Ciu Pek Thong, Loo Boan Tong si tua nakal jenaka.

„Kau telah siuman, engko kecil…..!” kata Loo Boan Tong dengan gembira. „Ahhh, siapa yang telah melukaimu demikian macam?”

„Tiat..... Tiat To Hoat-ong….. yang pernah bertempur dengan locianpwe!” kata Cu Kun Hong dengan suara yang tak lampias.

„Toat To Hoat-ong, pendeta Mongolia bangsat itu?” tanya Ciu Pek Thong dengan sengit.

„Be.....nar......!” menyahuti Cu Kun Hong. „Dan..... dia juga membawa seorang wanita, kalau tidak salah Yo..... Hu-jin (nyonya Yo) locianpwe.”

Yo Ko dan Ciu Pek Thong telah saling tatap.

Memang di puncak Hoa-san, Yo Ko dan Ciu Pek Thong telah mengelilingi gunung itu mereka mencari-cari Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw tanpa hasil. Dan akhirnya ketika mereka tengah mencari di kaki gunung Hoa-san, disitulah justru mereka menemui Cu Kun Hong yang tengah pingsan. Dengan sendirinya, hal itu telah membuat mereka terkejut karena keduanya mengenali pemuda tersebutlah yang pernah bertemu dengan mereka.

Segera Yo Ko mengangkat tubuh Cu Kun Hong dan Ciu Pek Thong menuntun kuda pemuda itu. Mereka membawa Cu Kun Hong ke rumah seorang penduduk minta bermalam disitu. Dengan mempergunakan lweekangnya dan menotok beberapa jalan darah di tubuh Cu Kun Hong, Yo Ko telah menyadarkan Cu Kun Hong dari pingsannya. Dan Yo Ko maupun Ciu Pek Thong tidak menduga bahwa dari mulut pemuda inilah akhirnya dia mengetahui Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw telah ditawan oleh Tiat To Hoat-ong.

Segera juga Yo Ko telah menanyakan persoalannya kepada Cu Kun Hong, sebetulnya menyadari bahwa Cu Kun Hong yang baru tersadar dari pingsannya itu masih lemah, karena darah yang mengucur keluar dari hidungnya sangat banyak sekali. Tetapi karena urusan itu menyangkut keselamatan isterinya dan Sin-tiauw, Yo Ko sudah tidak menantikan waktu terlebih lama lagi dan menanyakan di saat itu juga.

Cu Kun Hong telah menceritakan semua yang dialaminya di kaki gunung Hoa-san, menceritakan juga apa yang telah dilihatnya.

Yo Ko jadi mengerutkan sepasang alisnya. Dia tidak mengerti mengapa Siauw Liong Lie sampai bisa rubuh dan ditawan oleh Tiat To Hoat-ong. Sedangkan Siauw Liong Lie memiliki kepandaian yang sama tinggi dan tidak lebih rendah darinya. Sedangkan Sin-tiauw pun memiliki kepandaian yang sangat hebat mengapa dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoat-ong. Sedangkan menurut cerita Cun Kun Hong, Sin-tiauw telah diikat kedua sayap, kedua kaki dan paruhnya. Tentu saja keadaan Sin-tiauw seperti itu mengherankan dan membingungkan sekali hati Yo Ko dan Ciu Pek Thong.

„Apakah Tiat To Hoat-ong memang sedemi kian hebat?” menggumam Ciu Pek Thong setelah tertegun sejenak.

Yo Ko tambah berkuatir saja, terlebih lagi dia teringat bahwa isterinya tengah hamil.

„Mari kita susul si kepala gundul itu!” ajak Ciu Pek Thong dengan bersemangat.

Yo Ko mengangguk.

„Pergilah locianpwe mengejarnya, aku bisa merawat diriku sendiri, lebih lagi akupun tidak terluka berat..... yang terpenting jiwie lociapwe menolongi dulu Yo Hujin dan rajawali sakti itu.....” bilang Kun Hong bersungguh-sungguh.

Yo Ko mengangguk dan memandang pemuda itu dengan sorot mata memancarkan perasaan berterima kasih.

Saat itu Ciu Pek Thong sudah tidak sabar, dia menepuk perlahan bahu pemuda she Cu itu.

„Engko kecil terpaksa kami meninggalkanmu, karena kami harus mengejar si gundul itu dulu!” kata si tua jenaka itu.

Kun Hong mengiakan cepat-cepat sambil mengucapkan terima kasihnya.

Di saat itu, tampak Yo Ko masih ragu-ragu, tetapi karena Ciu Pek Thong telah melangkah ke luar Yo Ko pun setelah mengucapkan beberapa kata-kata hiburan kepada Kun Hong, lalu keluar dari kamar itu. Kepada tuan rumah, Yo Ko memberikan dua tail perak, dan terpesan agar merawat Kun Hong.

Setelah itu, berdua dengan Ciu Pek Thong, Yo Ko telah berlari pesat sekali mengambil ke jurusan yang diberitahukan oleh Cu Kun Hong.

Y

Tiat To Hoat-ong terus berlari-lari dengan mempergunakan ilmu berlari cepatnya yang sempurna sekali. Walaupun dia membawa beban yang cukup berat, yaitu Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, namun kenyataannya sedikitpun tidak mengganggu atau memperlambat larinya. Kebetulan sekali di saat itu hari mulai malam, sehingga Tiat To Hoat-ong yang memanggul Sin-tiauw dan mengempit Siauw Liong Lie tidak menarik perhatian orang, sebab jalan-jalan telah sepi dan pendeta itu dapat berlari-lari lebih leluasa.

Memang luar biasa pendeta itu, di waktu menjelang tengah malam, dia telah berhasil berlari-lari sejauh empatratus lie lebih, dan tiba di kota Lung-siu-kwan, di luar perbatasan Kang-ciu.

Suasana kota saat itu sangat sepi sekali, dan pintu kota juga telah ditutup. Tetapi Tiat To Hoat-ong telah menjejakkan kakinya di tanah, dengan membawa beban yang berat seperti itu, tubuhnya melompat setinggi lima tombak, lalu dengan cepat sekali, di saat tubuhnya tengah terapung di tengah udara. Tiat To Hoat-ong menendang dinding tembok pintu kota itu, sehingga tubuhnya terpental lebih tinggi lagi, dan dengan melakukan gerakan seperti itu yang diulanginya beberapa kali akhirnya Tiat To Hoat-ong berhasil mencapai puncak pintu kota. Dengan mudah dia telah masuk ke dalam kota tanpa seorang penjaga kotapun yang melihat perbuatannya itu.

Dengan mengelilingi kota, akhirnya dia melihat ada sebuah rumah penginapan yang masih buka, cepat-cepat Tiat To Hoat-ong memasukinya dan meminta dua kamar kepada pelayan yang menyambutnya.

Semula pelayan itu mengawasi bengong kepada pendeta dihadapannya, ini yang mengepit seorang wanita cantik dan menggotong seekor burung rajawali raksasa, tetapi pelayan itu segera menduga bahwa pendeta itu seorang manusia luar biasa, setidaknya seorang manusia setengah dewa. Lebih-lebih setelah Tiat To Hoat-ong memberikan sepotong goan-po kepadanya, maka pelayan itu tidak berani banyak tanya dan cepat-cepat mempersiapkan, dua buah kamar yang berdampingan.

Waktu Tiat To Hoat-ong memasuki rumah makan itu, ada beberapa orang-orang yang belum tidur, mereka semuanya takjub melihat pendeta itu bersama seorang wanita cantik dan seekor burung rajawali raksasa.

Dengan sendirinya, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang aneh.

Jika memang Hiat To Hoat-ong hanya membawa Siauw Liong Lie, mungkin orang hanya menduga bahwa pendeta itu adalah pendeta cabul. Tetapi dengan membawa juga seekor burung rajawali raksasa seperti itu, keruan saja telah menyebabkan tamu-tamu yang berada di dalam penginapan tersebut ingin menduga si pendeta setidak-tidaknya telah mencapai kesempurnaannya dalam mensucikan dirinya, telah menjadi setengah dewa, karena seekor burung rajawali berukuran begitu besar, dengan mudah digotongnya dan juga tidak berdaya di tangannya.

Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak memperdulikan tatapan heran dari orang-orang itu, dengan membawa kedua bebannya itu Tiat To Hoat-ong telah menaiki undakan anak tangga, dia memasukkan Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw itu ke sebuah kamar, sedangkan dia sendiri telah tidur di kamar yang satunya lagi. Sebelum tidur, Tiat To Hoat-ong telah berpesan kepada pelayan, agar mereka jangan mengganggu ketenangannya.

Waktu pendeta itu telah masuk tidur, gemparlah orang-orang yang berada di rumah penginapan tersebut. Untuk bicara apa saja dengan berterang mereka tidak berani, akhirnya mereka telah bisik-bisik saja, dari mulut yang seorang menjalar ke seorang lainnya sehingga keesokan harinya berita mengenai pendeta aneh itu telah tersebar di seluruh kota.

Pagi dan siang itu Tiat To Hoat-ong tidak keluar dari kamarnya. Dia hanya meminta pelayan mengantarkan masakan untuknya di kamarnya, selangkah pun dia tidak keluar dari kamarnya. Tiat To Hoat-ong memang bermaksud melanjutkan perjalanannya di malam hari agar tidak menarik perhatian orang banyak dalam perjalanannya. Sepanjang hari Tiat To Hoat-ong mengurung diri di kamar. Sedang Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw tetap dikurung di kamar yang satunya lagi yang dikuncinya dari luar dan melarang siapa saja mengganggunya.

<> 

Sepanjang satu hari itu, sejak pagi sampai sore itu penduduk kota selalu memperbincangkan perihal seorang pendeta aneh tersebut dengan rajawalinya yang luar biasa itu dan wanita cantik seperti bidadari. Banyak penduduk kota yang berdatangan ke rumah penginapan itu ingin melihat si pendeta luar biasa tersebut, tetapi kuasa rumah penginapan tersebut telah melarang mereka menimbulkan suara ribut-ribut.

„Jika Hud-ya itu marah, hemm….. celakalah kita semua. Dia bukan pendeta biasa, setidak-tidaknya telah menjadi setengah dewa. Maka kalian jangan mencari penyakit untuk diri sendiri!” kata kuasa rumah penginapan itu dengan berkuatir, karena penduduk kota yang memenuhi di muka rumah penginapannya justru menimbulkan suara berisik sekali.

Sedangkan di saat itu tampak seorang pendeta tua yang berpakaian sebagai seorang hwesio telah melangkah memasuki rumah penginapan tersebut, karena rumah penginapan tersebut merangkap sebagai rumah makan.

Pendeta tua itu telah lanjut usianya, memakai jubah khasa yang sederhana, dengan kepalanya yang licin dan janggutnya maupun kumis yang tumbuh panjang telah putih. Wajahnya memancarkan sifatnya yang welas asih, dan ramah sekali. Dia memilih sebuah meja di dekat jendela dan duduk tenang-tenang disitu. Dipesannya beberapa macam sayur tanpa daging dan dua kati arak.

Semula pendeta tua itu merasa heran sekali melihat banyak orang yang bisik-bisik, seperti tengah membicarakan sesuatu yang luar biasa. Tentu saja hal ini menarik perhatiannya, sehingga ketika seorang pelayan mengantarkan pesanannya, dia menarik tangan pelayan itu, memberikan dua tail perak dan menanyakan sesungguhnya apa yang telah terjadi di tempat tersebut.

Pelayan itu segera memperlihatkan wajah yang bersungguh-sungguh.

„Taysu mungkin baru sampai di kota ini, sehingga belum mengetahui!” kata pelayan itu. „Benar-benar aneh! Benar-benar hebat!”

„Apanya yang aneh? Apanya yang hebat?” tanyanya pendeta itu sabar.

„Benar-benar luar biasa, Taysu..... seorang pendeta, yang pakaiannya sangat aneh sekali yang kepalanya memakai kopiah kecil terbuat dari emas, bertubuh gemuk dan besar kepalanya..... kepalanya botak seperti..... seperti Taysu..... dan juga kalau tidak salah dia berasal dari Mongolia!”

Si pendeta tua tersenyum sabar mendengar itu.

„Itu tidak perlu dibuat heran, bukan?” tanyanya. „Walaupun negeri ini telah aman dan tentara Mongolia dipukul mundur pulang ke negerinya, dan kini ada seorang pendeta dari Mongolia yang berkeliaran di daratan Tiong-goan hal itu tidaklah perlu dibuat heran atau aneh. Bukankah kini bukan jaman perang? Mengapa kita harus memberikan kesan yang tidak baik sebagai tamu, pendeta Mongolia itu harus dihormati!”

„Ohhh, Taysu belum tahu!” berseru pelayan itu sambil memperlihatkan wajah yang bersungguh-sungguh. „Jika dia sebagai pendeta Mongolia saja, hal itu memang tidak perlu dibuat heran..... tetapi justru yang luar biasa, pendeta itu membawa seorang wanita cantik seperti bidadari, yang mukanya merah sehat, rambutnya dikonde ujungnya terurai memakai baju merah dan angkin hijau, cantik luar biasa......”

„Apakah kauingin mengartikan pendeta Mongolia itu adalah pendeta cabul?” tanya pendeta tua itu sambil mengerutkan alisnya.

“Bukan!” menyahut pelayan itu cepat. „Wanita cantik ini dikurung di sebuah kamar sedangkan pendeta Mongolia itu tidur di kamar lainnya.”

„Apa maksud pendeta itu?” tanya si hweshio, tambah tidak mengerti „Dan tahukah engkau siapa gelarnya?”

Si pelayan menggelengkan kepalanya. „Tidak, tidak tahu,” jawabnya. Tetapi menurut keterangan tuan kuasa rumah penginapan ini yang memiliki pengetahuan luas ragam pergaulannya dengan orang-orang rimba persilatan, bahwa pendeta Mongolia itu adalah seorang pendeta setengah dewa.”

Si Hweshio tersenyum mendengar perkataan si pelayan, yang dianggapnya lucu. „Lalu, apa yang luar biasa lagi di diri pendeta Mongolia itu?” tanya si Hwesio.

„Diapun membawa seekor rajawali yang besar sekali, yang mulutnya diikat, sepasang kakinya diikat, dan kedua sayapnya juga diikat. Besar sekali ukuran rajawali itu, lebih besar dari manusia dewasa!”

Kali ini muka si Hweshio jadi berobah mendengar disebutnya soal rajawali itu. Dia jadi teringat kepada seorang sahabatnya yang juga memiliki seekor rajawali yang besarnya melebihi ukuran manusia dewasa.

„Mengapa rajawali itu diikat?” tanya si Hweshio akhirnya.

„Entahlah kata orang yang mengerti, tentunya pendeta itu telah menaklukkan rajawali itu, sedangkan burung rajawali itu adalah rajawali siluman,” menyahuti si pelayan.

Mendengar pelayan itu mulai bicara tidak karuan persoalan takhyul, pendeta tersebut sudah tidak berpikir untuk mendengar keterangannya, dia telah perintahkan pelayan Itu agar pergi meninggalkannya, dan si hweshio bersantap menghabiskan makanannya. Setelah itu dia meminta kepada kuasa rumah penginapan agar mempersiapkan sebuah kamar, karena diapun akan bermalam di rumah penginapan tersebut.

Di hatinya si hweshio jadi tertarik untuk menyelidiki persoalan tersebut, dia ingin mengetahui siapakah pendeta Mongolia yang disebut sebagai pendeta setengah dewa itu oleh si pelayan rumah penginapan tersebut. Tetapi ketika si Hweshio hendak menaiki undakan anak tangga. di saat itulah dari atas loteng tengah menuruni anak tangga tersebut seorang pendeta. Waktu itu si Hweshio melihat pendeta itu seorang pendeta Mongolia, dia tercekat hatinya, dia sampai memandang tertegun.

„Kim Lun Hoat-ong” pikirnya. Namun akhirnya si Hweshio berhasil menindih goncangan hatinya, dia menundukkan kepalanya agar tidak menimbulkan kecurigaan pendeta Mongolia itu, yang telah turun lewat di sampingnya. „Kim Lun Hoat-ong telah meninggal..... pendeta ini bukan dia, karena wajahnya lain, hanya jubah dan bentuk tubuhnya yang gemuk itulah yang mirip-mirip dengan Kim Lun Hoat-ong,” berpikir hweshio itu, sambil terus menaiki undakan anak tangga dan memasuki kamarnya.

Di dalam kamar, si pendeta jadi mengerutkan, alisnya dan tampaknya tengah berpikir keras.

„Apa maksudnya pendeta Mongolia itu berkeliaran di daratan Tiong-goan lagi..... pasti di balik semua ini terdapat persoalan yang besar..... seperti yang baru beberapa saat yang lalu ketika ada urusan yang tengah kuhadapi......!” dan si Hweshio telah menghela napas lagi, wajahnya jadi murung. „Dilihat demikian., tampaknya kerajaan Song sulit untuk dilindungi, para pembesarnya gentong nasi semua, sedangkan pihak Mongolia tetap gigih berusaha mengincar untuk mencaplok daratan Tiong-goan. Terlebih lagi Kublai Khan tampaknya lebih cerdik dari Kaisar Mangu. Ai, ai, memang sudah takdir, sulit mengelak takdir.....!”

Berulang kali hweshio itu menghela napas panjang pendek, sampai akhirnya dia duduk diam di kursi dalam kamarnya itu, dia terus memuji sang Budha. Sampai akhirnya si hweshio mendengar suara langkah kaki yang berat di undakan anak tangga, dia menduga bahwa pendeta Mongolia itu tentu tengah menaiki pula undakan anak tangga untuk kembali ke kamarnya. Memang tadi pendeta Mongolia itu Tiat To Hoat-ong telah turun ke ruang bawah untuk membereskan sewa kamarnya, karena dia bermaksud begitu hari mulai gelap dia ingin melanjutkan perjalanannya.

Si Hweshio cepat-cepat membuka sedikit daun pintunya, yang kebetulan berhadapan dengan tikungan anak tangga di loteng itu, dia mengintai keluar. Dilihatnya Tiat To Hoat-ong melangkah menuju ke arah kamarnya langkah-langkah lebar, setelah tiba di muka kamarnya, pendeta Mongolia itu berhenti sejenak, tampaknya dia ragu-ragu untuk segera memasuki kamarnya dia menoleh memandang ke arah kamar di sebelahnya yang pintunya tertutup rapat. Setelah tersenyum sejenak, pendeta Mongolia itu membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk, lenyap di balik pintu kamarnya.

Si hweshio yang telah mengintai memperhatikan gerak-gerik pendeta Mongolia itu, jadi mengerutkan sepasang alisnya yang telah putih itu. Perlahan sekali, seperti berbisik dia telah memuji kebesaran sang Budha. Ditutupnya kembali pintu kamarnya dan duduk di kursinya semula.

„Hai, jika dilihat tindakan kakinya, matanya dan keadaannya, pendeta Mongolia itu memiliki kepandaian yang tidak berada di bawahnya Kim Lun Hoat-ong. Siapakah dia? Apa maksudnya datang ke Tiong-goan? Tadi pelayan mengatakan bahwa wanita cantik dan burung rajawali yang diikatnya telah dikurung di kamar sebelahnya yang tadi diawasinya. Siapakah wanita cantik itu? Apakah mungkin dia? Dan apakah burung rajawali yang dibawanya itu mungkin Sin-tiauw milik dia? Mengapa aku tidak coba-coba melihatnya?”

Karena berpikir begitu, dengan cepat si Hweshio membuka pintu kamar di sebelah kamar si pendeta Mongolia itu. Pintu itu ternyata terkunci dari luar, tetapi hweshio itu telah mendengarkan dulu sejenak, lalu mengulurkan tangannya yang ditempelkannya di daun pintu dikerahkan tenaga lwekangnya. Luar biasa sekali dengan mengeluarkan suara „takkk” yang perlahan sekali, besi engsel itu telah berhasil dipatahkannya dengan mudah. Dengan hati-hati si Hweshio telah mendorong daun pintu itu sehingga terpentang.

Sesosok tubuh wanita tampak menggeletak di lantai. Sedangkan disampingnya mengeletak seekor burung rajawali berukuran besar, keduanya tampaknya tengah tertidur nyenyak sekali.

Melihat wanita itu, dan melihat rajawali itu, hampir saja si hweshio mengeluarkan seruan tertahan karena sangat terkejut. Dia kenal dengan baik wanita yang menggeletak di lantai itu, dan mengenali dengan baik pula rajawali di samping wanita cantik tersebut, karena wanita cantik itu tidak lain dari Siauw Liong Lie dan rajawali itu tidak lain dari Sin-tiauw.

Muka si hweshio jadi berobah merah padam, tampaknya dia murka bukan main. Namun di saat si hweshio mau melangkah menghampiri untuk menolongi Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, justru di saat itulah dia merasa kan dari belakangnya meluncur angin serangan yang kuat sekali, yang berat luar biasa, mungkin seribu kati.

Tetapi hweshio itu tidak menjadi gugup, dengan mengucap „Siancay” berulang kali, dia telah mengempos semangatnya, mengerahkan tenaga murninya di punggungnya itu menjadi kebal untuk menerima serangan dahsyat itu.

„Buuuukkk!” terdengar suara benturan yang keras sekali waktu punggung si Hweshio itu terhajar oleh serangan dari belakang. Tubuh hweshio tersebut bergoyang-goyang tetapi sepasang kakinya seperti terpantek di lantai. Tidak bergeser sedikitpun. Sedangkan orang yang melancarkan serangan gelap itu mengeluarkan seruan tertahan. Jangankan manusia, sedangkan batu saja jika terhajar oleh serangannya dengan kekuatan seperti tadi, niscaya batu itu akan remuk hancur menjadi bubuk. Tetapi hweshio itu justeru dapat diserang nya dengan jitu, namun tidak mengalami sesuatu kerugian apapun juga.

Saat itu si hweshio dengan tenang dan gesit sekali telah memutar tubuhnya. Segera dilihatnya, yang melancarkan serangan tadi adalah si imam Mongolia itu.

„Siancay! Siancay!” si hweeshio menyebut kebesaran sang Buddha. „Sungguh hebat sekali kepandaian yang kau miliki, Taysu.”

Orang yang melancarkan serangan itu memang Tiat To Hoat-ong, dia menduga bahwa dengan sekali serang tentu dia akan dapat merobohkan hweshio itu. Tadi waktu dia memasuki kamarnya dan ingin merebahkan tubuhnya dipembaringan, dia mendengar samar sekali suara langkah kaki yang ringan. Dia jadi bercuriga, terlebih lagi suara langkah kaki itu mendekati kamar di sebelah kamarnya. Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat turun dari pembaringannya, dia menghampiri pintu kamarnya, berdiri disitu untuk memasang pendengarannya lebih tajam.

Di saat itulah dia mendengar lagi suara „tak!” yang halus, suara patahnya benda logam, menyebabkan pendeta Mongolia ini tambah gusar, karena dia dapat menduga suara apa itu, yaitu patahnya engsel pintu.

Dengan hati-hati Tiat To Hoat-ong telah membuka pintu kamarnya dan keluar berindap-indap dengan langkah yang ringan, dan di saat itu kebetulan dia melihat seorang hweshio tengah memandang ke dalam dengan tubuh mematung.

Sebetulnya, si hweshio pasti mengetahui kedatangan Tiat To Hoat-ong di belakangnya kalau saja dia tidak tengah diliputi keterkejutan yang hebat melihat Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw tertawan begitu rupa.

„Apa maksudmu memasuki kamar ini…..?” bentak Tiat To Hoat-ong dengan aseran dan kasar.

„Siancay, Siancay, semula waktu mendengar cerita pelayan, Siauw-ceng (aku pendeta kecil) telah menduga bahwa wanita dan rajawali yang berada bersama Taysu adalah sahabat Siauw-ceng. Setelah Siauw-ceng melihat sendiri, memang Hujin (nyonya) itu bersama rajawali tersebut ialah sahabat baik Siauw-ceng. Sesungguhnya ada persengketaan apakah antara Taysu dengan mereka?”

Saat itu muka Tiat To Hoat-ong sudah berobah tidak sedap dipandang, dia mendengar bahwa hweshio dihadapannya ini adatah sahabat Siauw Liong Lie dan rajawali itu, keruan saja dugaannya bahwa kedatangan hweshio tersebut pasti ingin menolongi kedua tawanannya itu.

Maka tanpa menanti habisnya perkataan si hweshio, dengan cepat sekali tangan kanannya telah diulurkan akan menghajar dada si hweshio, juga tangannya yang kiri teluh mencengkeram jalan darah Pie-tu-hiat di pangkal lengan si hweshio.

Namun hweshio tersebut juga memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya, dengan mengeluarkan suara dengusan perlahan, dan kemudian memuji kebesaran Sang Buddha karena melihat serangan pendeta Mongolia itu terlalu kejam, dia berkelit ke samping. Dengan sendirinya serangan Tiat To Hoat-ong telah jatuh di tempat kosong.

„Aduhh, sayang, sayang.....!” berkata si hweshio.

06.11. Pendeta Sakti Mantan Kaisar

Tiat To Hoat-ong penasaran bukan main, disamping itu dia juga kaget melihat hweshio dihadapannya ini merupakan seorang hweshio yang memiliki kepandaian hebat, maka dia bersikap hati-hati, lebih waspada. Waktu mendengar si hweshio mengatakan „sayang”, Tiat To Hoat-ong telah menangguhkan serangan susulan yang tadinya akan dilancarkan.

„Sayang apa?” tegurnya bengis.

„Taysu memiliki kepandaian demikian tinggi, tetapi justru Taysu telah mempergunakannya untuk melakukan perbuatan salah! Bukankah itu harus dibuat sayang?”

„Mengapa kau bisa menyebut aku ini telah melakukan perbuatan salah?” bentak Tiat To Hoat-ong dengan murka. „Hud-ya telah menangkap wanita berdosa itu, dan rajawali pembawa malapetaka itu apakah itu suatu perbuatan yang salah?”

„Wanita berdosa dan rajawali pembawa malapetaka?” mengulang hweshio itu sambil mengerutkan sepasang alisnya, wajahnya berobah. „Akhh, Siancay! Siancay! Setahu Siauw-ceng nyonya itu seorang yang berbudi, dialah seorang pendekar wanita nomor satu di jaman ini. Bagaimana mungkin Taysu mengatakannya nyonya itu sebagai wanita berdosa? Dan juga mengenai rajawali sakti itu merupakan binatang peliharaan nyonya ini dan suaminya, yang selalu patuh terhadap perintah majikannya..... jika tidak diganggu seseorang, tentu rajawali itu tidak akan menimbulkan kerusuhan. Bagaimana Taysu bisa mengatakannya juga bahwa rajawali itu, adalah rajawali pembawa malapetaka? Mungkin Taysu telah salah menilai.”

Muka Tiat To Hoat-ong telah berobah merah padam, dia murka bukan main, tetapi pendeta Mongolia ini berusaha menindih kegusarannya itu karena dia melihat hweshio dihadapannya ini bukan hweshio sembarangan.

„Siapa kau sesungguhnya?” bentak Tiat To Hoat-ong.

„Siancay! Siancay!” memuji hweshio itu. “Sahabat-sahabat memberikan julukan kepadaku sebagai Lam-ceng, si pendeta dari Selatan. Siauw-ceng she Toan dan bernama Tie Hin, dan memiliki gelaran ringan It-teng Taysu!”

Jika yang mendengar kata-kata itu Kim Lun Hoat-ong, mungkin tubuh Kim Lun Hoat-ong akan gemetar, karena nama itu bukan sembarangan nama, nama dan gelaran yang telah menggetarkan jagad dan diakui oleh orang-orang rimba persilatan, dalam kalangan Kang-ouw! Memang Hweshio itu tidak lain dari Toan Hong-ya, bekas kaisar Tayli, yang telah mensucikan diri dan bergelar It-teng Taysu.

Seperti diketahui, bahwa diantara lima Ngo-ciat. Hanya tinggal dua saja yang masih hidup yaitu Lam-ceng It-teng Taysu dan Lo-shia Oey Yok Su, sedangkan Ang Cit Kong, Auwyang Hong dan Tiong Sin Thong telah meninggal dunia. Maka bisa dimengerti, sesungguhnya dalam urutan angkatan tua, yaitu angkatan cianpwe, It-teng Taysu dan Oey Yok Su merupakan dua jago tanpa tanding lagi yang kepandaiannya sudah sulit diukur.

Namun untuk melengkapi kedudukan Ngo-ciat itu, telah diambil Yo Ko, yang menggantikan See-tok Auwyang Hong, tetapi huruf „Tok” (racun) telah diganti dengan Kong, sedangkan kedudukan Pak-kay Ang Cit Kong telah diisi oleh Kwee Ceng, dengan huruf „Kay” (pengemis) diganti dengan huruf „Hiap” (pendekar). Lalu kedudukan Tiong Sin Thong yang kosong diisi oleh Ciu Pek Thong, dengan mengganti huruf „Sin” di tengah dengan huruf „Boan” maka lengkap kembalilah urutan Ngo-ciat. Ketika orang jago pengganti See-tok, Pak-kay dan Tiong Sin Thong, bukanlah jago-jago lemah, kepandaian merekapun berimbang dengan kepandaian It-teng Taysu maupun Oey Yok Su.

Tiat To Hoat-ong yang memang belum menginjak daratan Tiong-goan, belum mengetahui hebatnya It-teng Taysu. Waktu di Tibet, dia telah mendengarnya bahwa di dataran Tiong-goan terdapat lima jago yang luar biasa, yaitu See-tok, Lam-tee Kaisar dari Selatan, yang akhirnya diganti menjadi Lam-ceng karena It-teng Taysu tidak menjadi Kaisar lagi, Thong-shia, Pak-kay dan Tiong Sin Thong.

Tetapi Tiat To Hoat-ong mana bermimpi bahwa kepandaian kelima jago yang terkenal itu luar biasa sekali? Karena di negerinya dia disanjung dan merupakan jago nomor satu di samping adik seperguruannya, yaitu Kim Lun Hoat-ong, maka sudah menjadi kebiasaan Tiat To Hoat-ong tidak pernah memandang sebelah mata kepada siapapun juga. Dan juga Tiat To Hoat-ong tidak pernah merasa takut terhadap siapapun juga, bahkan Kaisarnya yaitu Kaisar Mangu yang telah wafat, maupun Kaisar Mongolia yang sekarang pengganti Kaisar Mangu, yaitu Kublai, tidak dipandang sebelah mata olehnya.

„Hemm......” mendengus Tiat To Hoat-ong dengan suara yang tawar. „Memang telah cukup lama kudengar bahwa di daratan Tiong-goan terdapat lima jago yang memiliki kepandaian lumayan, salah seorang adalah kau! Tetapi Hud-ya ingin menasehatimu, mengingat usiamu yang telah lanjut seperti itu, lebih baik kau menggelinding pergi sebelum Hud-ya marah dan merobah keputusan, dan jangan sekali-kali mencampuri urusan Hud-ya.”

It-teng Taysu memang sabar luar biasa, dia tidak gusar walaupun Tiat To Hoat-ong mengeluarkan kata-kata yang kasar seperti itu.

„Siancay….. Siancay…..” It-teng Taysu telah memuji kebesaran sang Budha sambil merangkapkan sepasang tangannya. „Rupanya kedatangan Taysu memiliki maksud tertentu. Jika Siauw-ceng boleh mengetahui, sesungguhnya apakah tujuan Taysu yang telah melakukan perjalanan jauh datang ke Tiong-goan? Apakah Taysu diperintah oleh Kublai?”

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena murka dan mendongkol sekali. „Kalau benar aku diperintah Kublai kenapa? Dan jika kedatanganku ini bukan diperintah oleh Kublai, juga kenapa? Apakah kau memiliki hak untuk mengurusi diri Hud-ya?”

Disanggapi seperti itu It-teng Taysu tersenyum ramah dan sabar, katanya kemudian dengan suara yang sabar serta perlahan, namun tegas.

„Dengarlah Taysu, jika kedatangan Taysu berkunjung ke daratan Tiong-goan hanya sekedar jalan-jalan untuk menikmati keindahan alam yang terdapat disini, tentu saja kami akan menyambutnya dengan senang hati..... kami akan menghormati Taysu asal Taysu tidak mengandung maksud-maksud tertentu, maksud yang buruk......! Tetapi sebaliknya, jika kedatangan Taysu atas perintah rajamu, hanya sekedar untuk sengaja mengacau disini, tidak dapat hal itu kami biarkan......!”

Waktu berkata-kata seperti itu, wajah It-teng Taysu angker sekali, setidak-tidaknya dia adalah bekas seorang Kaisar, yang pernah memegang tampuk pimpinan sebuah negara, walaupun sebuah negara kecil di Selatan. Sabar suaranya, lembut tutur katanya, tetapi angker sekali pengaruhnya. Diantara wajahnya yang welas asih dan sabar itu tampak matanya memancarkan sinar yang berpengaruh sekali.

Tiat To Hoat-ong yang melihat itu, diam-diam tergetar hatinya, karena dia merasakan hatinya tergoncang. Tetapi cepat sekali dia dapat menguasai dirinya. Dan dengan segera juga dia menjadi murka.

„Pendeta busuk, ternyata engkau terlalu banyak tingkah dan cerewet!” katanya dengan gusar. Dan membarengi perkataamya itu, dengan cepat sekali Tiat To Hoat-ong telah melancarkan serangannya dengan kepalan tangannya yang besar dan mengandung angin serangan yang kuat sekali, yang dahsyatnya luar biasa.

Tetapi It-teng Taysu membawa sikap yang tenang sekali, sedikitpun dia tidak takut menghadapi pendeta Mongolia itu. Bahkan It-teng Taysu telah melihatnya bahwa Tiat To Hoat-ong bukanlah sebangsa manusia baik-baik. Maka dari itu, dengan tenang dia mengawasi datangnva serangan pendeta Mongolia itu. Dengan berani dia mengulurkan tangan kanannya tahu-tahu dengan telapak tangannya dia telah menahan majunya kepalan tangan Tiat To Hoat-ong.

„Kita bicara dengan mulut, bukan dengan kepalan!” kata It-teng Taysu dengan suara yang sabar sekali.

Tiat To Hoat-ong kembali kaget setengah mati, karena dia telah melancarkan serangan dengan mengerahkan enam bagian tenaga dalamnya, kenyataannya ketika membentur telapak tangan si pendeta dari Selatan itu, dia merasakan telapak tangan It-teng Taysu lunak sekali seperti kapas, dan tenaga serangan yang dilancarkan jadi lenyap tidak karuan, Dengan cepat Tiat To Hoat-ong menarik pulang tangannya.

„Taysu, bebaskanlah kedua tawananmu itu, dan pergilah dari tempat ini! Karena Taysu ingin pergi, Taysu dapat pergi dengan bebas, dan aku si tua Lam-ceng tidak akan mengganggumu.....!” sabar suara It-teng Taysu.

Seumurnya belum pernah It-teng Taysu berlaku demikian tegas, dia selalu bersikap ramah dan sabar luar biasa, tetapi karena mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong berkunjung ke Tiong-goan dengan maksud buruk dan juga karena melihat Siauw Liong Lie serta Sin-tiauw diperlakukan begitu rupa oleh si pendeta, maka murkalah bekas Kaisar dari negeri Tayli itu.

Tiat To Hoat-ong jadi penasaran Dia telah mengeluarkan suara tertawa dingin yang menyeramkan, mukanya bengis sekali. „Hemmm, enak sekali kau bicara,” bentaknya dengan suara mengandung hawa pembunuhan. „Sedangkan rajaku sendiri tidak berani mengeluarkan kata-kata kasar dan kurang ajar seperti itu.”

„Tepat!” mengangguk It-teng Taysu dengan sabar, tetapi mukanya angker sekali. „Justru Siauw-ceng bukan rajamu dan Taysu bukan sebawahan Siauw-ceng, masih mau Siauw-ceng berlaku murah hati membebaskan Taysu begitu saja asalkan tidak mengganggu kedua sahabat Siauw-ceng!” Pedas dan tegas sekali kata-kata It-teng Taysu, karena dia ingin mengartikan, jika saja dia kaisarnya dan Tiat To Hoat-ong bawahannya, mungkin dia telah menghukumnya, dengan hukuman yang berat.

Tubuh Tiat To Hoat-ong jadi menggigil karena sangat murka, dia merasakan dadanya seperti ingin meledak oleh kemarahannya itu. Dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur dan mengandung kemarahan yang sangat, tampak Tiat To Hoat-ong telah melompati menubruk ke arah It-teng Taysu dengan serangan yang luar biasa dahsyatnya. Dalam kemarahan yang seperti itu, ternyata Tiat To Hoat-ong telah melancarkan serangan dengan ilmu Yoganya di tingkat kesebelas, merupakan jurus yang sangat hebat.

Harus diketahui bahwa ilmu Yoga yang dilatih oleh Tiat To Hoat-ong berbeda dengan ilmu-ilmu Yoga umumnya, karena latihan Yoga pendeta itu telah digabung dengan ilmu silat Liong-cio-poan-kouw-kang yang semula berasal dari India. Maka bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu Yoga yang dilatih oleh Tiat To Hoat-ong, terlebih lagi di saat itu dia telah mempergunakan sekaligus di tingkat kesebelas. Tenaga serangan yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat-ong beratnya ribuan kati, memang benar tenaga serangan itu bukannya tenaga naga atau gajah seperti namanya itu Liong-cio-poan-kouw-kang, akan tetapi itulah serangan yang mustahil sekali dilawan oleh tubuh manusia!

Tetapi menghadapi It-teng Taysu yang memiliki ilmu yang telah mencapai tingkat puncak kesempurnaan dan sulit diukur, terutama dialah jago tertua diantara Ngo-ciat serangan Tiat To Hiat-ong selalu jatuh di tempat kosong, karena pendeta Mongolia itu seperti juga selalu memukul tempat kosong dan It Teng dapat berkelit atau mengelakkannya dengan langkah-langkah yang ampuh, sehingga kedudukan tubuhnya sulit diterka oleh Tiat To Hoat-ong sendiri.

Sedangkan It-teng Taysu sendiri telah melihatnya dan mengetahui bahwa tenaga yang dimiliki Tiat To Hoat-ong luar biasa besarnya, seumurnya dia belum pernah menghadapi lawan seperti itu. Akan tetapi walaupun demikian It-teng Taysu tidak gentar menghadapi serangan-serangan seperti itu, karena dia telah memiliki kepandaian yang sempurna sekali, dan juga kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang sulit diukur lagi. Melihat lawannya melancarkan serangan-serangan yang gencar sekali, juga serangan itu mengincar bagian-bagian yang mematikan di tubuh It-teng Taysu dengan kejamnya. Si pendeta dari selatan itu berulang kali menghela napas sambil memuji kebesaran sang Buddha.

Akhirnya di saat Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan dengan cara yang serentak mempergunakan kedua tangannya. yang seperti juga runtuhnya langit atau seperti sebuah gunung, It-teng Taysu telah menggerakkan kaki kanannya setengah lingkaran, lalu dengan membarengi seruan perlahan It-teng Taysu telah memapaki serangan itu dengan jari telunjuknya. Luar biasa sekali, tenaga serangan yang hebat dari Tiat To Hoat-ong jadi musnah sama sekali, dan yang lebih celaka lagi justru tubuh Tiat To Hoat-ong telah terhuyung ke belakang dengan muka yang pucat.

Ternyata It-teng Taysu telah mempergunakan It-yang-cie nya, ilmu jari tunggal yang sakti itu. Karena telah mencapai kesempurnaan yang luar biasa dalam meyakini ilmu jari saktinya itu, It-teng Taysu sesungguhnya telah berjanji kepada dirinya sendiri, jika tidak diperlukan sekali, dan tidak dalam keadaan terdesak yang sangat, ilmu yang liehay luar biasa itu tidak ingin dikeluarkannya. Tetapi disebabkan desakan-desakan yang gencar dari Tiat To Hoat-ong, dengan sendirinya hal itu Lam-ceng mengambil keputusan untuk merubuhkan pendeta dari Mongolia itu. karena dia perlu memberikan pertolongan kepada Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw. Apalagi mata It-teng Taysu sangat tajam dan awas sekali, Siauw Liong Lie yang tengah rebah dalam keadaan seperti tidur atau pingsan itu, sesungguhnya tengah hamil, membuat It-teng Taysu tambah berkuatir.

Lam-ceng menduga di dalam persoalan ini tentu terselip sesuatu yang agak luar biasa, karena tidak biasanya Siauw Liong Lie rubuh di tangan seseorang, walaupun orang yang menawannya itu selihay Tiat To Hoat-ong. Karena Siauw Liong Lie memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak berada di sebelah bawah dari dia. Dan juga, kemana perginya Yo Ko, suami dari nyonya itu? Mengapa tidak terlihat mata hidungnya? Apakah Yo Ko telah dicelakai seseorang juga?

Berpikir begitu, tentu saja It-teng Taysu jadi tambah berkuatir, dan akhirnya terpaksa harus mempergunakan ilmu saktinya itu yaitu It-yang-cie, ilmu yang semula diterima dari Tiong Sin Thong Ong Tiong Yang. terlebih lagi selama puluhan tahun It-teng Taysu telah melatih ilmu itu mencapai puncak kesempurnaan, ditambah dengan lwekangnya yang memperoleh kemajuan pesat sekali.

Tiat To Hoat-ong sendiri tadi menjadi terkejut karena di saat kedua tangannya dihantamkan ke arah It-teng Taysu dia yakin akan dapat mendesak pendeta itu, karena dia telah mengerahkan delapan bagian tenaga dalamnya yang dipusatkan di kedua kepalan tangannya. Menurut keyakinan Tiat To Hoat-ong, jika saja tidak berhasil memukul rubuh It-teng Taysu setidaknya dia bisa mendesak pendeta itu dengan hebat.

Tetapi siapa duga, hanya mempergunakan jari tangannya saja, It-teng Taysu justru telah berhasil menyambuti serangan dari Tiat To Hoat-ong bahkan juga telah membuat tenaga Tiat To Hoat-ong menjadi lenyap, dan pendeta Mongolia itu merasakan mengalirnya semacam hawa yang halus menyelusup ke dalam tubuhnya, sehingga seperti seorang yang kontak oleh aliran listrik, membuat Tiat To Hoat-ong jadi mundur dengan terhuyung. Itupun masih untung Tiat To Hoat-ong hanya mempergunakan delapan bagian dari tenaga dalamnya, coba kalau dia memusatkan seluruh kekuatannya, niscaya pendeta Mongolia itu akan celaka sendirinya.

Seperti diketahui, It-yang-cie merupakan ilmu jari tunggal yang sakti, yang bisa dipergunakan sebagai ilmu menotok yang tiada taranya di dalam dunia ini. Tetapi disamping itu, karena It-teng Taysu telah melatihnya sedemikian sempurna, membuat ilmu itu benar merupakan ilmu menotok yang tiada lawannya. Tadi waktu menyambuti serangan dari Tiat To Hoat-ong, di saat dia menyambuti serangan itu justru dia menotok pergelangan tangan pendeta tersebut, sehingga si pendeta selain tertotok tenaga serangannya juga jadi lenyap. Dan juga disamping itu, dia telah terkena oleh dorongan tenaga membalik dari serangannya sendiri. Semakin kuat seorang menghantam, semakin kuat tenaga menolak dari It-yang-cie.

„Kau.....?” Tiat To Hoat-ong tak bisa mengucapkan sesuatu apapun juga, karena dia terkejut sekali.

It-teng Taysu telah merangkapkan sepasang tangannya, dia mengucapkan pujian atas kebesaran Sang Buddha dengan wajah yang sabar. „Siancay, Siancay,” ujarnya. “Maafkan Siauw-ceng, terpaksa harus mempergunakan kekerasan menerima serangan Taysu!”

Mata Tiat To Hoat-ong tampak terpentang lebar-lebar, dia mengawasi bengis kepada It-teng Taysu. Setelah berdiam diri sejenak, dia telah berhasil mengendalikan ancaman di hatinya. Di saat itulah Tiat To Hoat-ong baru menyadarinya bahwa It-teng Taysu ternyata merupakan jago yang hebat sekali, yang tidak mungkin dirubuhkan dengan cepat. Dalam hatinya, Tiat To Hoat-ong jadi tergetar juga, karena dia menyadarinya bahwa di Tiong-goan ternyata terdapat banyak sekali orang pandai.

Seperti pertama kali dia tiba di dataran Tiong-goan, dimana dia telah bertemu dengan Ciu Pek Thong, yang tidak bisa dirubuhkan, kemudian Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang juga memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak mungkin dirubuhkan dengan mempergunakan ilmu silatnya. Hanya Cu Kun Hong yang bisa dipukul rubuh dengan mempergunakan ujung lengan jubahnya.

„Jika dilihat demikan, Tiong-goan merupakan gudangnya para jago-jago silat kelas utama......,” berpikir Tiat To Hoat-ong, dan dia jadi gentar juga.

Tetapi karena disamping memiliki kepandaian yang telah sempurna, Tiat To Hoat-ong juga merupakan seorang jago yang cerdik sekali, tentu saja dia tidak mau menyerah begitu saja. Dilihatnya, sejak tadi It-teng Taysu memperlihatkan sikap yang sabar dan menurut penglihatannya hweshio itu mudah untuk diajak bicara. Maka sambil merangkapkan tangannya, Tiat To Hoat-ong telah memberi hormat.

„Ternyata Lam-ceng It-teng Taysu bukan nama kosong belaka!” kata Tiat To Hoat-ong sambil menjura. „Dan, Hud-ya cukup kagum melihatnya. Tetapi, Hud-ya harap, Taysu jangan mencampuri urusan Hud-ya, bukankah lebih baik jika diantara kita berdua diikat tali persahabatan?”

Tendengar itu, It-teng Taysu telah tersenyum sabar. „Mencari lawan memang mudah, tetapi justru untuk mencari sahabat sejati itulah yang sulit!” sahut sihwesio.

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena dia merasa seperti juga disindir oleh It-teng Taysu,

Saat itu Lam-ceng telah melanjutkan perkataannya lagi. „Dan jikalau Taysu memiliki pikiran bagus seperti itu, mengapa pula Siauw-ceng harus menolaknya? Bukankah bersahabat itu merupakan suatu hal yang menggembirakan? Dan tentu saja Siauw-ceng merasa berterima kasih atas maksud baik Taysu yang sudah bersedia bersahabat dengan Siauw-ceng yang masih miskin dan melarat, yang tidak memiliki kuil dan nama!”

„Itulah kata-kata yang terlampau merendah!” kata Tiat To Hoat-ong. „Sesungguhnya, jika memang Taysu menghendaki, dalam sekejap mata kedudukan dan harta akan datang ke pangkuan Taysu! Dan jika Taysu kehendaki, dapat juga Taysu ikut Hud-ya ke Utara, bukankah Taysu pun mengetahui, Khan yang besar cerdik dan hebat sekali, tidak seperti pemerintahan negeri Song yang tolol dan bodoh ini?”

Mendengar perkataan Tiat To Hoat-ong yang terakhir, yang terang-terangan begitu, muka It-teng Taysu jadi berobah merah karena gusar. Dia gusar, justru Tiat To Hoat-ong telah mengajaknya untuk menjadi pengkhianat, mengkhianati negerinya sendiri dengan tawaran pangkat dan harta.

„Terima kasih atas tawaran Taysu..... Siauw-ceng belum terpikir untuk mencampuri urusan-urusan negara, karena kini, Siauw-ceng justru hanya, menghendaki kedua sahabat Siauw-ceng itu!”

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah dan baru saja dia ingin membuka mulut lagi, It-teng Taysu telah berkata lagi, „Silahkan Taysu meninggalkan kedua sahabat Siauw-ceng ini, kelak jika ada umur panjang, Siauw-ceng It-teng Taysu tentu akan datang mencari Taysu untuk menyatakan terima kasih.”

Sesungguhnya, didengar dari kata-katanya itu yang diucapkannya dengan sabar It-teng Taysu seperti juga merendah dan menghormati Tiat To Hoat-ong, namun sesungguhnya perkataannya yang terakhir itu merupakan suatu perkataan mengusir untuk Tiat To Hoat-ong.

Melihat demikian, Tiat To Hoat-ong jadi murka bukan main, tetapi dia tidak memperlihatkan di mukanya, bahkan Tiat To Hoat-ong telah tersenyum lebar, sambil katanya. „Hud-ya datang dari jauh, dan secara kebetulan hari ini beruntung bertemu dengan salah seorang diantara kelima Ngo-ciat, maka untuk menyatakan rasa kagum dan mengikat tali persahabatan, Hud-ya ingin menghadiahkan sebuah tanda mata untuk kenang-kenangan......!” Sambil berkata demikian, Tiat To Hoat-ong telah merogoh sakunya, dia telah mengeluarkan sebuah tabung yang berukuran tidak begitu besar, yang ujungnya terdapat tangkainya.

It-teng Taysu jadi mengawasi heran, dia bercuriga atas sikap lawannya.

Sedangkan Tiat To Hoat-ong tanpa memperdulikan perasaan heran It-teng Taysu, telah melanjutkan kata-katanya lagi. „Tabung kecil ini merupakan hadiah dari Khan yang agung, yang telah diberikan untuk dipergunakan sebagai tanda kebesaran. Jika tabung ini diperlihatkan, dimana saja, di berbagai tempat dimana kekuasaan Khan Agung berada, maka orang yang memegang tabung ini akan diperlakukan dengan hormat, sama hormatnya dengan melihat seorang raja muda!” Sambil berkata-kata Tiat To Hoat-ong telah memegang-megang tangkainya, mempermainkannya yang diputar-putarnya.

Sedangkan It-teng Taysu hanya mengawasi sambil tersenyum sabar, bahkan waktu Tiat To Hoat-ong berkata-kata sampai disitu, It Teng telah menjura membungkukkan tubuhnya memberi hormat. „Sayang Siauw-ceng tidak pernah berhasrat mencampuri urusan negara dan juga Siauw-ceng tidak berniat untuk segala penghormatan yang tidak-tidak, simpanlah barang itu. Taysu….. maafkan Siauw-ceng tidak dapat menerima hadiah yang besar itu.”

Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak menyahuti hanya sambil melangkah dua tindak, tahu-tahu „Pssssst!” dia telah menyemburkan gas dari tabung di tangannya.

It-teng Taysu sesungguhnya telah berwaspada sejak tadi. Semula dia menduga bahwa tabung yang berisi senjata rahasia, yang diperlengkapi dengan alat-alatnya, namun diwaktu Tiat To Hoat-ong menyemburkan gas di dalam tabung itu, itulah di luar dugaannya, karena bukan senjata rahasia yang menyambar ke arahnya, melainkan uap yang harum sekali! Hati It-teng Taysu terkejut bukan main, dia melompat ke belakang dua tindak sambil mengibaskan lengan jubahnya, dan segera juga menutup jalan pernapasannya, tetapi karena tadi terlambat, dia telah menyedot beberapa kali sedotan gas itu, sehingga seketika itu juga kepalanya menjadi pening dan matanya berkunang-kunang.

Dalam hal ini, It-teng Taysu merupakan seorang jago tua yang jujur dan penyayang terhadap siapa saja, diapun seorang jago tua yang sabar. Tetapi menghadapi kelicikan Tiat To Hoat-ong yang telah menyemburkan gas tidurnya itu yang dianggap oleh It Teng merupakan perbuatan rendah, It Teng sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dengan mengeluarkan seruan yang sangat dahsyat, tampak It-teng Taysu telah melompat menubruk ke arah Tiat To Hoat-ong, sambil mengulurkan tangan kanannya. Dia telah melancarkan serangan dengan mempergunakan It-yang-cie nya. Gerakan yang dilakukannya itu luar biasa sekali, memiliki tenaga menggempur yang dahsyat.

It-yang-cie sudah merupakan ilmu yang tiada taranya dalam dunia ini, terlebih lagi dipergunakannya di saat It-teng Taysu tengah dalam keadaan murka seperti itu, maka bisa dibayangkan bahaya yang mengancam untuk Tiat To Hoat-ong.

Tetapi pendeta dari Mongolia itu justru liehay sekali, dia tidak takut. Bahkan kedatangan It-teng Taysu yang tengah menubruk ke arahnya telah disambut dengan semprotan gas dalam tabungnya, sebanyak dua kali sehingga uap putih tampak mengurung It Teng. Sambil menyemprotkan gas dalam tabungnya itu, Tiat To Hoat-ong juga telah melompat dengan gesit ke pinggir, dia telah berkelit dari serangan lawannya.

It-teng Taysu mencelos hatinya waktu disemprot dengan gas tidur itu lagi, walaupun dia telah menutup pernapasannya, namun disebabkan tadi dia telah terlanjur menyedot dan kini juga uap dari gas tidur itu sangat ketat mengurungnya, dengan sendirinya kepalanya jadi pening sekali. Namun serangan yang dilancarkannya dengan tenaga sembilan bagian itu tidak berhasil ditarik pulang, karena waktu yang sangat mendesak itu, tanpa ampun lagi dinding batulah yang menjadi sasarannya menjadi jebol dan runtuh dengan mengeluarkan suara yang berisik sekali.

Tiat To Hoat-ong terkejut bukan main, dia jadi mengucurkan keringat dingin. Tadi masih untung dia bisa mengelakkan serangan It-teng Taysu, coba kalau tidak, mana mungkin dia sanggup menerima serangan yang begitu hebat? Karena kuatir It-teng Taysu melancarkan serangan lagi, maka dengan cepat Tiat To Hoat-ong menyemprotkan kembali gas dalam tabungnya itu sebanyak tiga kali.

It-teng Taysu tengah berdiri dengan tubuh yang terhuyung-huyung, dan kepalanya disamping pening, pandangan matanya juga gelap sekali. Tanpa ampun lagi, tubuh It-teng Taysu jatuh numprah di atas lantai, tetapi berkat lwekangnya yang tinggi, It-teng Taysu tidak sampai tertidur, dia hanya merasakan betapa tubuhnya menjadi lemas tidak bertenaga sama sekali. Tanpa membuang waktu, It-teng Taysu telah mengerahkan lwekangnya dia telah mengerahkan tenaga untuk memulihkan peredaran darahnya dan mengusir uap beracun itu dari dalam tubuhnya.

Tiat To Hoat-ong tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, dia telah melompat menyambar tubuh Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw kemudian dengan menggerakkan ilmu meringankan tubuhnya dia menurunkan undakan tangga dan keluar dari rumah penginapan itu, terus berlari meninggalkan rumah penginapan itu. Karena telah melihat lawannya hebat luar biasa Tiat To Hoat-ong tidak berlari berlaku ayal, dengan cepat sekali dia berlari-lari terus meninggalkan kota itu, hanya di dalam waktu yang sangat singkat dia sudah melewati puluhan lie.

Tadi waktu dia turun dari undakan tangga di ruang bawah, pelayan maupun kuasa rumah penginapan serta beberapa orang tamu yang berada disitu, telah tertidur semuanya.

It-teng Taysu yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengatur peredaran darahnya dan berusaha mengusir uap beracun dari dalam tubuhnya itu merasakan kepalanya sangat pening. Tetapi pendeta sakti dari Selatan itu menyadari, bahwa gas yang terlanjur tersedot oleh pernapasannya, bukanlah semacam racun yang bisa mematikan, hanya lebih mirip sebagai uap tidur, yang akan merubuhkan lawannya, sehingga It-teng Taysu agak tenang.

Setelah mengerahkan dan menyalurkan tenaga saktinya ke sekujur tubuhnya selama satu jam, akhirnya It-teng Taysu pulih kembali kesegarannya. Dia melompat berdiri dan mengibaskan lengan jubahnya berulang kali, karena dia ingin membersihkan udara yang masih diliputi oleh gas tidur itu.

Dilihatnya di ruangan bawah beberapa orang pelayan dan kuasa rumah dengan beberapa orang tamu, telah tertidur nyenyak. Rupanya mereka telah menyedot uap tidur yang dilepaskan oleh Tiat To Hoat-ong yang berimbas ke ruang bawah dan lewat melalui pernapasan mereka. It-teng Taysu jadi menghela napas jengkel, karena dia melihat Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw sudah tidak berada di tempatnya semula.

Sewaktu ingin bersemedhi untuk memulihkan kesegaran tubuhnya, It-teng Taysu telah berpikir bahwa Tiat To Hoat-ong pasti akan mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, namun It Teng benar-benar tidak berdaya, karena tubuhnya dalam keadaan yang lemah sekali, mengantuk terpengaruh oleh uap racun yang dilepaskan oleh Tiat To Hoat-ong.

Semula It-teng Taysu bermaksud menotok beberapa orang yang tidur terpengaruh uap beracun itu, untuk menyadari mereka. Tetapi karena mengingat akan keselamatan Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw yang jauh lebih penting, maka It-teng Taysu dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya, telah mengejar keluar kota untuk merampas dan menolong Siauw Liong Lie dari tangan Tiat To Hoat-ong.

Untung saja kota tersebut hanya memiliki satu pintu, sehingga It-teng Taysu dapat segera mengejar dengan mengambil jurusan yang pasti diambil oleh Tiat To Hoat-ong juga, yaitu ke arah barat. Tetapi waktu berada di luar pintu kota, di saat itulah It Teng tertegun sejenak, karena dia tidak mengetahui lagi harus mengejar kemana. Jika dia mengambil ke arah kiri, berarti dia akan tiba di kota Phiang-sie-kwan, tetapi jika dia mengambil arah kanan, tentu akan tiba di kota Tiang-lu-kwan.

Kedua kota itu masing-masing terpisah dari tempat tersebut ribuan lie jauhnya, dan It-teng Taysu tidak mengetahui, entah arah mana yang diambil oleh Tiat To Hoat-ong, apakah si pendeta Mongolia itu akan melarikan diri ke Tiang-lu-kwan atau mengambil arah ke kota Phiang-sie-kwan.

Dalam keadaan terdesak oleh waktu seperti itu, dan mengingat pula akan keselamatan Siauw Liong Lie, yang dilihatnya tengah berisi, It-teng Taysu tidak bisa ragu-ragu, akhirnya untung-untungan dia telah mengambil arah ke kota Tiang-lu-kwan.

06.12. Apakah Putera See-tok Auwyang Hong?!

Dengan mempergunakan ilmu larinya yang telah sempurna sekali, tubuh It-teng Taysu berkelebat-kelebat secepat kilat berusaha mengejar lawannya, tetapi setelah melalui seratus lie lebih dia masih tetap tidak melihat bayangan Tiat To Hoat-ong.

„Apakah aku salah mengambil arah mengejarnya?” berpikir It-teng Taysu ragu-ragu.

Tetapi untuk kembali mengambil arah yang satunya, tentu telah membuang waktu terlalu banyak dan belum tentu Tiat To Hoat-ong mengambil arah yang satu itu. Maka karena merasa terlanjur, It-teng Taysu bermaksud untuk mencapai dulu kota Tiang-lu-kwan, untuk melihatnya apakah Tiat To Hoat-ong mengambil arah kota tersebut. Juga It-teng Taysu menyadari, dengan membawa bebannya seekor burung rajawali dan seorang wanita, jelas keadaan Tiat To Hoat-ong akan menarik perhatian orang banyak, dan dia bisa bertanya-tanya kepada penduduk, apakah mereka melihat pendeta yang membawa rajawali dan seorang wanita.

Dengan mengempos semangatnya, It-teng Taysu telah meneruskan pengejarannya, tubuhnya cepat sekali berlari-lari bagaikan bayangan yang terlihat hanyalah gumpalan putih saja.

Y

Yo Ko dan Ciu Pek Thong penasaran sekali karena walaupun mereka telah melakukan pengejaran dengan cepat sekali, tokh Tiat To Hoat-ong tetap saja belum terlihat bayangannya. Kekuatiran Yo Ko semakin hebat, dia kuatir kalau-kalau isterinya dicelakai oleh pendeta Mongolia itu.

Sesungguhnya Yo Ko telah menduga bahwa Tiat To Hoat-ong tentu akan berusaha mencari tempat persembunyian yang aman, sehingga kelak dapat mempergunakan Siauw Liong Lie sebagai alat perisainya, untuk keselamatannya. Hanya saja, yang belum dimengerti oleh Yo Ko sesungguhnya apa maksud dari Tiat To Hoat-ong berkeliaran di daratan Tiong-goan? Setelah berlari-lari bersama Ciu Pek Thong kurang lebih sejauh limaratus lie dan belum melihat si pendeta Mongolia, Yo Ko jadi putus asa.

„Akhh Liong-jie, kita ternyata harus berpisah pula..... dan..... dan kau tengah mengandung anak kita!” menggumam Yo Ko dengan suara mengandung nada perasaan, marah, kuatir dan kecewa.

Ciu Pek Thong yang jenaka, waktu melihat kesedihan yang hebat dari Yo Ko, cepat-cepat tertawa. „Yo Hiante, kau tidak perlu terlalu kuatir seperti itu, Yo Hujin memiliki kepandaian yang tinggi dan tidak berada di sebelah bawahmu, tidak mungkin dia dicelakai dengan mudah oleh pendeta itu!”

Yo Ko mengangguk, wajahnya tetap muram. „Tetapi Ciu Toako...... menurut keterangan yang diberikan Cu Kun Hong siangkong, bahwa pendeta itu telah berhasil menawan Liong-jie dan Tiauw-heng!”

Ciu Pek Thong jadi tertegun, dan dia jadi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Bukankah dengan telah tertawannya Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, berarti keduanya berada dalam ancaman bahaya besar di tangan Tiat To Hoat-ong?

Waktu itu mereka telah berada di perbatasan kota Suan-liang-kwan sebuah kota kecil yang penduduknya hanya limaratus kepala keluarga. Yo Ko dan Ciu Pek Thong memasuki kota kecil itu, kemudian memasuki sebuah rumah makan.

Ciu Pek Thong memesan beberapa macam sayur dan lima kati arak. Tetapi Yo Ko tidak memiliki selera untuk menikmati semua itu, dia hanya duduk termenung menguatirkan keselamatan isterinya dan Sin-tiauw. Ciu Pek Thong telah dahar dengan lahapnya karena hampir sehari suntuk dia belum makan dan perutnya lapar sekali.

„Ciu Toako,” kata Yo ko waktu melihat Ciu Pek Thong telah selesai dengan santapannya. „Kita hanya memiliki satu hari lagi untuk mencari Liong-jie, karena lusa kita sudah harus berada di Hoa-san, sebab It-teng Taysu dan yang lainnya pasti telah berkumpul disana!”

Ciu Pek Thong mengangguk cepat. „Benar, dan kita bisa meminta bantuan mereka untuk ikut mencari Yo Hujin!” katanya.

Yo Ko menghela napas. Kini mereka belum berhasil mencari Tiat To Hoat-ong, yang seperti telah menghilang, lenyap seperti tertelan bumi bersama Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw. Jelas jika besok lusa, si pendeta sudah semakin jauh melarikan diri, dengan sendirinya tidak mudah untuk mencarinya lagi.

Yo Ko yakin bahwa isterinya memiliki kepandaian yang tinggi. Namun yang mengherankannya, mengapa Siauw Liong Lie bisa tertawan oleh Tiat To Hoat-ong? Dan begitu halnya dengan Sin-tiauw, mengapa bisa ditawan oleh pendeta dari Mongolia. Yo Ko mengetahui bahwa kepandaian Siauw Liong Lie tidak berada di sebelah bawah dari Tiat To Hoat-ong karena Yo Ko telah bergebrak satu-dua jurus dengan pendeta itu telah berhasil menjajagi ilmunya pendeta tersebut.

„Jelas si pendeta mempergunakan akal licik,” berseru Yo Ko tiba-tiba sambil memukul meja, sehingga menimbulkan suara yang keras sekali.

Ciu Pek Thong melihat kegusaran dan kedukaan Yo Ko, telah menghela napas. „Yo Hiante, mari kita lanjutkan pengejaran kita, mungkin si pendeta masih belum begitu jauh dari tempat ini!” ajak Ciu Pek Thong.

Yo Ko menggelengkan kepalanya perlahan, diapun telah menghela napas. „Walaupun kita mengejar lagi, jelas usaha kita tidak akan berhasil. Kita telah bertanya-tanya kepada penduduk di sepanjang jalan yang kita lalui, tetapi tidak seorangpun yang pernah melihat si pendeta Mongolia. Hal itu membuktikan bahwa si pendeta tidak mengambil arah tempat ini, karena dengan membawa Tiauw-heng dan Liong-jie, setidak-tidaknya si pendeta akan menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Sangat mustahil tidak seorangpun melihatnya jika dia benar-benar telah mengambil jalan ini!”

„Benar!” Ciu Pek Thong membenarkan pikiran Yo Ko itu. „Apakah dia harus mengejarnya ke arah lain?”

„Dengan meraba-raba dan menduga-duga saja, jelas kita akan semakin kehilangan jejak......” kata Yo Ko. „Dan satu-satunya yang terbaik, kita kembali ke Hoa-san, untuk merundingkannya dengan It-teng Taysu dan yang lain!”

Ciu Pek Thong menyetujui saran Yo Ko, setelah membayar harga makanan, mereka segera kembali ke Hoa-san......

<> 

Hoa-san tetap tenang dan sunyi. Di tempat itu belum terlihat muncul seorang jagopun juga, waktu Yo Ko dan Ciu Pek Thong tiba di kedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang telah kosong itu, Kwee Ceng, It-teng Taysu mau pun yang lainnya belum tampak.

Dengan kedukaan yang menyesakkan dadanya, Yo Ko telah duduk di batu yang terdapat di samping kuburan Auwyang Hong.

Ciu Pek Thong sibuk mengawasi sekitar tempat itu, kakek jenaka itu, walaupun dalam keadaan seperti itu, ternyata tidak bisa berdiam diri, dia sibuk sekali jalan kesana kemari, tampaknya jika tidak bergerak atau berjalan, kakinya menjadi gatal.

Ada saja yang diperhatikan oleh Ciu Pek Thong, sampai akhirnya ketika dia tengah memandang ke arah selatan dari gunung tersebut, yang menghadap ke sebuah lembah, muka Ciu Pek Thong jadi berobah.

„Ada orang datang!” katanya dengan wajah girang, karena dia melihat sesosok tubuh bayangan berkelebat-kelebat dari kaki lembah itu menuju ke atas, menghampiri ke arah tempat di mana mereka berada.

Yo Ko telah melompat cepat sekali dan memperhatikan sosok tubuh itu. Tetapi waktu mereka telah melihat tegas, mereka jadi kaget dan heran sendirinya.

Orang yang tengah mendatangi itu bukan salah seorang dari sahabat-sahabat mereka. Orang itu ternyata seorang wanita setengah baya, bermuka cantik dan tubuhnya ramping, mengenakan baju berwarna merah muda, ang-kin kuning dan rambutnya disanggul cukup tinggi. Di tangan kanannya tampak menggendong seorang anak lelaki berusia empat atau lima tahun, yang duduk tenang-tenang walaupun si wanita berlari cepat dan gesit sekali.

„Siapa dia?” tanya Ciu Pek Thong, „Apa maksudnya datang kemari?”

Yo Ko juga heran, dia tidak bisa menjawab karena Yo Ko pun tidak mengenal orang itu.

Tidak berselang lama, karena wanita itu berlari dengan gesit sekali, telah tiba dihadapan Yo Ko dan Ciu Pek Thong berada. Namun wanita setengah baya, yang masih terlihat sisa-sisa kecantikan wajahnya itu, seperti tidak mengacuhkan Yo Ko dan Ciu Pek Thong yang hanya diliriknya saja. Wanita itu membawa anak lelaki yang berada dalam rangkulannya itu menghampiri kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong.

Namun waktu melihat kedua kuburan itu telah kosong dengan tanah yang berserakan, wanita setengah baya tersebut mengeluarkan seruan tertahan, mukanya seketika menjadi pucat dan dia berdiri mematung.

“Ma, apa yang terjadi?” tanya anak lelaki itu dengan suara yang nyaring, rupanya dia heran melihat wanita itu, yang dipanggilnya Ma (ibu) berdiri mematung begitu.

„Diam Phu-jie! Ada orang jahat yang mengganggu ayahmu,” menyahuti wanita setengah baya itu dengan suara yang mengambang.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong hanya mengawasi saja kelakuan wanita setengah baya itu dengan anak lelaki kecilnya itu. Yo Ko dan Loo Boan Tong menjadi heran, karena kini jelas bahwa wanita itu ingin menyambangi kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong. Siapakah wanita itu? Masih ada hubungan apakah antara wanita itu dengan kedua orang yang telah meninggal itu? Apakah dia kerabatnya Auwyang Hong? Atau memang wanita setengah baya itu sanak familinya Ang Cit Kong? Yo Ko sama sekali tidak mengetahuinya.

Lama juga wanita itu mengawasi kedua kuburan yang telah kosong itu, dan si anak lelaki kecil dalam gendongannya, seperti juga mengerti akan perintah ibunya, selanjutnya diapun hanya berdiam saja tidak bersuara. Selang sejenak lagi, wanita itu berjongkok memeriksa kuburan Auwyang Hong yang telah kosong itu tanpa mengacuhkan kuburan Ang Cit Kong.

Melihat ini, menunjukkan bahwa wanita tersebut memiliki hubungan dengan Auwyang Hong, tetapi pernah apakah wanita setengah baya itu dan si anak lelaki kecil itu, dengan Auwyang Hong.

Tadi wanita setengah baya itu menyebut-nyebut ayah, apakah wanita setengah baya itu maksudkan Auwyang Hong ayah si anak lelaki kecil itu? Bukankah Auwyang Hong hanya memiliki seorang anak, yaitu Auwyang Kongcu, yang telah meninggal? Dan juga, bukankah Auwyang Hong telah meninggal banyak tahun? Tidak mungkin anak lelaki kecil yang baru berusia kurang tebih lima tahun itu adalah puteranya Auwyang Hong. Lalu siapa mereka itu?

Belum lagi Yo Ko dan Ciu Pek Thong bisa memecahkan teka-teki yang membingungkan seperti itu, justru wanita setengah baya itu telah menoleh dan berdiri menghadapi Yo Ko dan Ciu Pek Thong. Tangan kanannya masih menggendong si anak lelaki kecil itu, tetapi matanya menatap Yo Ko dan Ciu Pek Thong bergantian dengan memancarkan sinar yang sangat tajam sekali.

„Hanya kalian berdua yang berada di tempat ini,” kata wanita setengah baya itu dengan suara yang menyeramkan sekali, bengis dan mengandung hawa pembunuhan. „Dan aku, Cek Tian berani memastikan bahwa kalianlah yang telah merusak kuburan-kuburan itu.”

Yo Ko cepat-cepat merangkapkan tangannya menjura. Namun berbeda dengan Yo Ko justru Ciu Pek Thong jadi gusar bukan main ditatap begitu rupa oleh nyonya setengah baya tersebut dan juga kata-katanya itu telah membuat Ciu Pek Thong mendongkol sekali.

„Ehhh, nyonya!” katanya dengan suara nyaring. „Jangan seenaknya saja engkau menuduh orang! Kamipun bisa saja menuduhmu yang telah merusak dan membongkar kuburan itu! Apakah dengan beradanya kami disini engkau bisa menuduh yang tidak-tidak? Aku Loo Boan Thong juga bisa menuduh engkau yang melakukannya, karena bukankah engkaupun berada disini?”

Muka wanita itu jadi berobah hebat waktu mendengar si kakek tua berjenggot panjang itu menyebut dirinya sebagai Loo Boan Thong, bahkan mungkin karena terkejutnya dia telah mundur dua langkah, memperhatikan Ciu Pek Thong dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan juga sering beralih mengawasi Yo Ko, terutama tangan kanan Yo Ko yang telah buntung itu, dimana lengan bajunya terjuntai kosong lemas tidak ada isinya itu.....

„Hemm, engkau Loo Boan Tong Ciu Pek Thong? Bagus! Dengan demikian, semakin kuatlah dugaanku bahwa kuburan suamiku itu dirusak oleh kalian! Dan melihat tangan si buntung itu, mau kuduga bahwa dialah Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko, yang menurut cerita orang dialah pendekar nomor satu di bawah jagad ini! Benarkah itu?”

„Hujin (nyonya), aku yang rendah Yo Ko tidak berani menerima pujian seberat itu, sedangkan itu hanya gurauan dari sahabat-sahabatku saja…..!” kata Yo Ko dengan suara yang sabar, sedangkan di hatinya Yo Ko tengah diliputi tanda tanya besar yang tidak terjawab mengenai diri nyonya Ini. „Jika memang Hujin tidak keberatan, bolehkah kami mengetahui she dan nama Hujin yang mulia. Dan..... masih pernah apakah antara Hujin dengan Auwyang Ya-ya?”

Yo Ko membahasakan Auwyang Hong dengan sebutan Auwyang Ya-ya (ayah she Auwyang), karena Yo Ko anak angkatnya Auwyang Hong di muka orang-orang gagah Yo Ko menyebut Auwyang Hong dengan sebutan Auwyang Pee-hu (paman Auwyang), tetapi karena melihat wanita yang setengah baya ini seperti memiliki hubungan sesuatu dengan Auwyang Hong, sengaja Yo Ko menyebutnya dengan Auwyang Ya-ya.

Muka wanita itu berobah. „Auwyang Ya-ya? Jadi kau ingin maksudkan See-tok adalah kakekmu?” tegurnya dingin dan bengis.

„Bukan kakek, tetapi ayahku.”

„Mengapa kau menyebutnya dengan panggilan Ya-ya (engkong)? Engkau ingin mempermainkan aku?”

„Mana berani Yo Ko main-main dengan Hujin? Aku bicara yang sesungguhnya, walaupun Kang-thia (ayah angkat) ku itu senang mengambil aku sebagai anak angkatnya namun peradatannya tidak disenangi, sehingga dia menganjurkan agar aku tidak memanggilnya dengan Kang-thia, melainkan Ya-ya. Bahkan disaat-saat menjelang tutup usianya, Auwyang Kang-thia telah meminta kepadaku agar memanggilnya atau menyebutnya kelak dengan sebutan Pee-hu (paman) saja, karena menurut Kang-thia, bakti atau tidak sama sekali, semua hanya tergantung di dalam hati, bukan merupakan bahasa panggilan yang merupakan topeng belaka.”

Telah diceritakan dalam Sin-tiauw-hiap-lu, di saat Auwyang Hong dan Ang Cit Kong bertempur, yang akhirnya menyebabkan mereka meninggal. Di saat itu Yo Ko yang mendampingi kedua tokoh persilatan itu.

Muka wanita itu telah berobah hebat. Dia telah mendengus dingin. „Lalu siapa yang telah merusak makamnya?” bentaknya dengan suara yang tetap bengis.

„Justru kamipun belum mengetahuinya.....” menyahuti Yo Ko. ”Akupun tengah menyelidiki untuk membekuk penjahat yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.”

Cek Thian, nyonya itu, telah menghela napas. „Engko Hong! engko Hong! ternyata sampai di dalam tanahpun engkau tidak bisa beristirahat dengan tenang dan selalu dimusuhi..... Akhhh, nasibmu benar-benar harus dikasihani!”

Melihat wanita yang mengaku bernama Cek Thian itu berkata-kata dengan suara yang mengandung kedukaan, kekecewaan, perasaan mencinta yang luar biasa dalamnya, Yo Ko tadi teringat lagi kepada isterinya yang baru saja lenyap tertawan lawan. Tanpa merasa menitik butir-butir air mata kedukaan. Seperti diketahui Yo Ko memiliki perasaan yang lembut sekali, selembut awan, dan keras sekeras baja.

Tentu saja Ciu Pek Thong pun kelabakan melihat kedua orang yang tengah berduka itu, sehingga Loo Boan Tong telah memandang Yo Ko dan Cek Thian berganti-gantian.

„Hai, hai, mengapa kalian sama-sama menangis?” tegurnya, karena dia melihat Cek Thian, nyonya itu. menitikkan air mata juga.

Di saat itulah, Cek Thian telah menyusut air matanya, kemudian dia telah berkata kepada anak lelaki kecil yang berada digendongannya. „Phu-jie (anak Phu), kuburan ayahmu telah dirusak orang, turunlah, ibu ingin menghajar penjahat dulu.”

Anak lelaki itu seperti mengerti, dia telah mengiyakan dan melompat turun dari tangan ibunya.

Yang membuat Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi terkejut adalah gerakan anak lelaki itu. Usia anak itu baru lima tahun, tetapi tubuhnya telah melompat turun dari tangan ibunya bagaikan segumpal kapas yang ringan sekali, kedua kakinya waktu menyentuh tanah, tidak menimbulkan suara sedikitpun. Hal itu tentu saja membuktikan bahwa anak lelaki itu telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, walaupun tentu saja diimbangi dengan bentuk tubuhnya yang kecil dan berat tubuhnya yang ringan.

Begitu turun, anak lelaki itu telah jongkok dan mencari-cari semut yang ada di atas permukaan tanah, untuk lekas-lekas dipermainkankannya, seperti juga tidak mengacuhkan keadaan sekitarnya, tidak mau memperdulikan Yo Ko, Ciu Pek Thong dan Cek Thian, ibunya itu.

Wanita setengah baya itu telah berdiri tegak dengan wajah yang muram memandang ke arah Yo Ko dan Ciu Pek Thong. „Hemmm, engkau mengakui secara sembarangan bahwa Auwyang Hong adalah ayah angkatmu, tetapi aku ingin mengetahui, apakah kau berani mempertanggung jawabkan kelancanganmu itu? Apakah kau menduga bahwa aku tidak mengetahui semua yang pernah dilakukan Engko Hong semasa hidupnya?”

Yo Ko berusaha bersikap tenang dan sabar, walaupun nyonya itu tidak hentinya memaki-maki dia seperti itu. Tetapi belum lagi dia menjawab Loo Boan Tong telah melompat ke depannya menghadapi Cek Thian.

„Wanita busuk seperti kau ini apa gunanya diajak bicara, karena engkau selalu bicara tidak keruan…..!” bentak Ciu Pek Thong. „Jika engkau tidak mempercayai perkataan Yo Hiante lalu siapa lagi yang ingin kau percayai?”

„Aku hanya percaya mata dan diriku sendiri!” menyahuti Cek Thian. „Seperti hari ini, aku melihat sendiri kuburan Engko Hong telah dibongkar seseorang, telah dirusak. Dan membuat arwah Engko Hong tentunya tidak tenang! Hemmm, tetapi walaupun bagaimana tetap saja aku tidak bisa melepaskan dugaan bahwa kalian yang telah merusak kedua kuburan itu!”

Dan setelah berkata begita, tahu-tahu si nyonya berjongkok dengan gerakan yang sangat gesit sekali, diapun memperdengarkan suara „krokkkk, kroookkk”, lalu mendorong ke depan kedua tangannya, ke arah Yo Ko dan Ciu Pek Thong!

„Ha-mo-kang!” teriak Yo Ko dan Ciu Pek Thong terkejut bukan main.

Yo Ko merasakan samberan angin serangan yang dahsyat luar biasa, walaupun dia terpisah beberapa tombak, tetapi angin serangan dari Ha-mo-kang yang dilancarkan oleh nyonya itu menyesakkan napasnya. Dengan cepat dia telah melompat tinggi sekali untuk menghindarkan serangan itu, sedangkan Ciu Pek Thong telah melompat ke samping.

Karena tidak mengenai sasaran, maka angin serangan tersebut menghantam sebungkah batu gunung, dengan mengeluarkan suara benturan keras batu itu hancur remuk menjadi tumpukan abu.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong disamping heran juga jadi menggidik. Yo Ko menjadi heran melihat wanita setengah baya itu menguasai ilmu tunggal Auwyang Hong demikian hebatnya, mungkin jika ingin diperbandingkan tidak berada di sebelah bawahnya Auwyang Hong sendiri. Siapakah wanita setengah tua itu? Tidak mungkin dia isteri Auwyang Hong, karena Auwyang Hong telah meninggal puluhan tahun yang lalu.

Saat itu, Cek Thian ketika melihat serangannya gagal karena berhasil dihindarkan oleh Yo Ko dan Ciu Pek Thong, jadi semakin gusar. Dengan gerakan yang aneh, dia menggeser sedikit kedudukan kakinya, dimana dia masih dalam posisi berjongkok seperti itu, tahu-tahu kedua tangannya telah didorong pula ke arah Yo Ko dan, Ciu Pek Thong, bahkan dari mulutnya telah mengeluarkan suara „Krokkk, krokkkk!” berulang kali.

Yang mengejutkan lagi, justru kali ini Cek Thian melancarkan serangan dengan Ha-mo-kang nya itu bukan dengan kedua tangan sekaligus, melainkan tangan kanannya mendorong ke arah Yo Ko. sedangkan tangan kirinya mendorong ke arah Ciu Pek Thong. Dengan sendirinya, hal ini telah membuat Yo Ko dan Ciu Pek Thong kagum bukan main, karena tenaga serangan itu sama kuatnya seperti serangan pertama, walaupun sepasang tangan itu dipisahkan.

Tetapi kali ini, Yo Ko tidak berkelit lagi dia tetap berdiri di tempatnya. Dengan mempergunakan pukulan Kie-an-gie-bie atau Mengangkat Meja sampai di Alis, tepat sekali Yo Ko mengibas dengan lengan tangan kanannya yang kosong itu. Lengan jubah yang lemas itu menimbulkan tenaga kibasan yang luar biasa kuatnya, karena Yo Ko telah mengerahkan empat bagian tenaga dalamnya.

Dua kekuatan tenaga raksasa saling bentur lalu dengan menerbitkan suara benturan keras keadaan di sekitar tempat itu jadi tergetar. Tetapi Yo Ko kembali terkejut, sebab tubuh Cek Thian sama sekali tidak bergeming. Dan Yo Ko merasakan tenaga pertahanan dari Ha-mo-kang yang dimiliki Cek Thian kuat sekali. Sedangkan serangan tangan kiri Cek Thian kepada Ciu Pek Thong telah dikelit oleh kakek tua jenaka itu. Namun Ciu Pek Thong pun tidak tinggal diam, dia menganggap nyonya ini keterlaluan sekali.

Dengan cepat Loo Boan Thong melancarkan serangan membalas dengan telapak tangannya ke arah pundak Cek Thian.

Tetapi Cek Thian dengan gerakan yang aneh pula, dengan masih berjongkok pula, tahu-tahu melejit ke samping, dia telah berpindah tempat. Dan tahu-tahu kedua telapak tangannya mendorong ke arah Ciu Pek Thong. Itulah ilmu Ha-mo-kang tingkat kesembilan serangan yang sangat hebat sekali.

Dan Yo Ko yang pernah memperoleh pelajaran ilmu Ha-mo-kang dari Auwyang Hong mengetahui hebatnya serangan itu. Dengan cepat dia telah menjejakan kakinya tangannya mendorong tubuh Ciu Pek Thong sambil meneriakinya, „Ciu-toako mundur!”

Yo Ko melakukan hal itu karena dia menyadari jika Ciu Pek Thong menyambuti, tentu setidak-tidaknya Loo Boan Tong akan terluka di dalam karena tenaga gempuran Ha-mo-kang tingkat kesembilan tersebut memiliki dua macam kekuatan keras dan lunak. Yang keras untuk menghantam dan menggempur tenaga lawan yang mengunakan tenaga lawan yang keras. Dan kini yang luar biasa, justeru Cek Thian telah mempergunakan sekali gus kedua macam kekuatan itu.

Yo Ko mengenal sifat Ciu Pek Thong yang selalu tidak pernah mengenal takut penasaran, maka Loo Boan Tong pasti akan melancarkan tangkisannya. Itulah yang membuat Yo Ko berkuatir, kalau Ciu Pek Thong tidak dapat bertahan dari gelombang hebat yang memiliki dua macam kekuatan.

Ciu Pek Thong melihat Yo Ko mendorongnya dan meminta dia menyingkir, jadi tertegun. Tetapi dia tidak mau mengalah terhadap Cek Thian, sedangkan serangan wanita itu menyambar datang akan mengenai dirinya, Tetapi Yo Ko yang mendorongnya dengan disertai lwekang yang telah diperhitungkan, membuat tubuh Ciu Pek Thong bergoyang dan terhuyung ke samping, sedangkan lengan kanannya yang kosong itu telah dikibaskan menghantam ke arah tenaga serangan Ha-mo-kang Cek Thian.

Benturan yang terjadi diantara kekuatan Cek Thian dengan Yo Ko tidak menimbulkan suara apa-apa. Tetapi sesungguhnya benturan kekuatan tenaga itu menghadang seekor gajah, maka gajah itu akan binasa dengan tubuh yang hancur. Dan jika saat itu benturan tersebut tidak mengeluarkan suara benturan yang keras, hal itu memperlihatkan bahwa di saat itu Yo Ko berhasil menindih kekuatan Ha-mo-kang yang dilancarkan oleh Cek Thian.

Kenyataan seperti itu tentu saja membuat Cek Thian gusar sekali, dia merasakan tenaganya seperti tenggelam ke dalam lautan. Dengan mengeluarkan seruan keras, dia tidak menarik pulang tenaga serangannya, hanya dengan mengibaskan ke samping, lalu mendorong lagi, serangan pertama itu telah dibantu oleh dorongan tenaga kedua. Maka bisa dibayangkan serangan yang kali ini dilancarkan oleh Cek Thian.

Yo Ko terkejut sekali, dia mengeluarkan seruan tertahan. Saat itu dia baru saja mendorong Ciu Pek Thong, setidak-tidaknya dia telah memecahkan perhatian dan tenaga dalamnya, membuat dia tidak sepenuhnya dapat menangkis serangan itu.

Dan kini serangan kedua telah tiba, mendorong tenaga serangan pertama yang belum lenyap keseluruhannya, membuat Yo Ko terancam bahaya yang tidak kecil. Tetapi diwaktu kecil Yo Ko pernah memperoleh didikan Auwyang Hong, bahkan kini yang tengah dihadapinya adalah sesuatu ilmu terhebat dari Auwyang Hong sendiri, yang dilancarkan oleh Cek Thian.

Dalam keadaan yang terdesak begitu maka Yo Ko tidak menjadi gugup. Dengan cepat sekali dia telah menggerakkan pinggangnya, tahu-tahu sepasang kakinya telah terangkat dan kepalanya langsung menempel di tanah, dia jadi berdiri di atas kepalanya dan kedua kakinya itu tergantung di tengah udara. Lalu dengan tubuh yang berputar seperti gasing tahu-tahu tangan Yo Ko meluncur ke depan ke arah Cek Thian, menangkis serangan yang di lancarkan oleh wanita setengah baya itu.

Bukan main dahsyatnya tangkisan yang dilakukan oleh Yo Ko, karena disamping Yo Ko juga mempergunakan ilmu Ha-mo-kang, juga dia memiliki lwekang yang sudah mencapai puncak kesempurnaan, yang sulit untuk diukur lagi. Angin tangkisan yang dilakukannya begitu halus, tetapi memiliki tenaga menolak yang dahsyat sekali.

Dengan mengeluarkan seruan kaget, Cek, Thian tahu-tahu telah terpental, tubuhnya terapung ke tengah udara. Nyonya setengah baya itu berusaha berjumpalitan di tengah udara, tetapi usahanya itu gagal. Hal itu disebabkan tenaga menolak yang ke luar dari telapak tangan tunggal yang kiri dari Yo Ko telah menghantamnya kuat sekali, karena disamping tenaga dalam Yo Ko sendiri, juga tenaga serangan Cek Thian telah terbalik menghantam majikannya. Tanpa ampun, tubuh Cek Thian rubuh bergulingan di atas tanah.

Yo Ko telah melompat berdiri dengan kedua kakinya pula, dia telah menghampiri Cek Thian yang duduk bersila di tanah, karena wanita setengah baya itu tidak bisa cepat-cepat berdiri, tubuhnya dirasakan kaku sebagian akibat gempuran yang diterimanya dari Yo Ko.

„Hujin, maafkan aku terpaksa menurunkan tangan agak keras. Apakah kau terluka?” tanyanya halus.

Nyonya setengah baya itu mendelik, tetapi kemudian menundukkan kepalanya. Beberapa butir air mata telah menitik turun ke tanah, merembes ke dalam tanah, lenyap. Tetapi tidak terdengar suara tangisan nyonya setengah baya itu, tampaknya dia menitikan air mata dengan kedukaan yang sangat.

Yo Ko melihat nyonya setengah baya menangis, jadi ikut berduka. Dia bisa membayangkan, betapa penasaran nyonya itu, karena justeru di saat dia mempergunakan Ha-mo-kang, ilmu yang sangat sakti ini, malah telah dirubuhkan oleh ilmu serupa itu pula.

Yo Ko telah mengulurkan tangannya untuk merabah nadi di tangan si nyonya setengah baya, tetapi belum lagi berhasil memegang pergelangan tangan Cek Thian, tangannya telah dikibaskan sehingga Yo Ko mundur.

„Kurang ajar..... kau telah merubuhkan aku sekarang kau ingin berbuat kurang ajar menghinaku pula, heh…..?” bentak nyonya setengah baya itu dengan suara yang bengis.

07.13. Teka Teki Surat Undangan . . . . .

Yo Ko jadi terkejut, cepat-cepat dia menjura memberi hormat.

„Mana berani aku melakukan perbuatan kurang ajar kepada hujin?” katanya cepat. „Tadi..... aku hanya bermaksud untuk memberikan bantuan jikalau hujin terluka di dalam.”

Nyonya itu telah mendengus dingin, dia kemudian menoleh kepada kuburan Auwyang Hong yang telah dibongkar seseorang dan kosong itu, tatapan matanya mendelong dan nanar seperti tidak mengandung perasaan. Kasihan kepada nyonya tersebut. Baru saja dia ingin mengeluarkan kata-kata hiburan, menyenangkan hati nyonya itu, Cek Thian telah melompat berdiri. Namun, tubuhnya masih bergoyang-goyang seperti akan rubuh dan di saat itu Phu-jie telah menghampiri ibunya.

„Ma, kenapa kau?” tanya anak lelaki itu dengan suara kuatir. „Apakah kau dihina si buntung itu?” kata-kata yang terakhir itu ditujukan untuk Yo Ko, diapun telah mengawasi Yo Ko dengan mata mendelik.

Tentu saja Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi mendongkol bukan main, tetapi mereka tidak bisa marah kepada anak kecil itu.

„Mari kita pergi, Phu-jie, nanti kita cari penjahat yang telah menghina ayahmu.....! Urusan ini harus diselesaikan, penasaran ayahmu harus dibereskan…..!” dan nyonya setengah umur itu telah berlalu sambil menuntun tangan anak lelaki itu, memutar tubuhnya dan melangkah dengan tubuh yang bergoyang-goyang seperti akan rubuh.

Yo Ko jadi mengawasi dengan pandangan mata tertegun, dia juga menghela napas berulang kali. Yo Ko pun mengetahui bahwa nyonya itu tentu telah terluka di dalam akibat menerima gempurannya, namun nyatanya nyonya itu keras hati dan angkuh, tidak mau dia menerima budi Yo Ko, sehingga dia menolak maksud baik Yo Ko yang ingin membantunya dengan mempergunakan lwekang untuk memulihkan kesehatannya.....

,,Dia hebat sekali kepandaiannya, dan juga ilmu yang digunakannya sama dengan yang pernah digunakan See-tok semasa hidupnya! Siapakah dia sebenarnya? Bukankah See-tok telah mampus cukup lama?” berkata Ciu Pek Thong sambil geleng-geleng kepalanya.

„Entah siapa nyonya dan anak itu! Keadaan mereka luar biasa sekali! Menilai kepandaian yang dimilikinya, dia pasti bukan orang sembarangan, lebih-lebih dia memiliki kepandaian turunan dari keluarga Auwyang, jelas dia masih memiliki hubungan yang rapat dengan ayah angkatku. Tetapi siapakah dia? Mengapa aku belum pernah bertemu? Dan mengapa di saat dia mengetahui bahwa aku Yo Ko, segera sikapnya begitu garang dan melancarkan serangan-serangannya yang mematikan tanpa mengenal kasihan?”

Tetapi semua tanda-tanya itu hanya sempat bersarang di hati Yo Ko dan Ciu Pek Thong, karena mereka berdua tidak berhasil menjawabnya.

Sedangkan saat itu, udara mulai panas dan terik, karena cahaya matahari semakin panas dan hari sudah menjelang lohor.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong menantikan kedatangan It-teng Taysu dan jago-jago lainnya yang menjadi sahabat mereka di kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, yang telah kosong.

Y

It-teng Taysu yang telah berlari-lari sekian lama, akhirnya berhasil mencapai kota Tiang-lu-kwan. Waktu itu hari sudah mendekati fajar dan sudah banyak penduduk kota yang terbangun dari tidurnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke tempat pekerjaan mereka.

Namun It-teng Taysu tidak berhasil mencari Tiat To Hoat-ong. Bahkan ketika It-teng Taysu menanyakannya kepada beberapa orang penduduk, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, Akhirnya, dengan putus asa It-teng Taysu telah memasuki sebuah rumah makan, dia memesan dua kati air teh, dan menangsal perut dengan bak-pauw tanpa isi.

Di saat It-teng Taysu tengah menghirup air tehnya, di saat itulah dia mendengar suara orang berkata, „Engko Ceng, kita mengasoh disini saja dulu, besok baru kita lanjutkan pula perjalanan kita. Kukira masih belum terlambat untuk mencapai Hoa-san tepat pada waktunya.”

Tentu saja It-teng Taysu girang luar biasa karena dia mengenali bahwa suara itu adalah suara si nyonya nakal Oey Yong, Kwee Hujin. Dan dengan sebutan „Engko Ceng” itu, jelas Oey Yong tengah bercakap-cakap dengan Kwee Ceng.

Benar juga dugaan It-teng Taysu, dari luar melangkah masuk Oey Yong dan Kwee Ceng.

Kedua orang tersebut juga kaget bercampur girang waktu melihat It-teng Taysu. Mereka telah cepat-cepat menghampiri dan memberi hormat, yang cepat-cepat dibalas oleh It-teng Taysu.

„Taysu, apakah keadaanmu selama ini baik-baik saja?” tanya Oey Yong sambil tersenyum. „Tampaknya Taysu sekarang agak gemuk sedikit dibandingkan dengan tiga tahun yang lalu!”

„Siancay! Itulah berkat berkah Sang Buddha!” kata It-teng Taysu sambil tersenyum lebar. „Tetapi, ai, ai, sungguh memang aku si tua It Teng tidak diijinkan untuk hidup tenteram menganut penghidupan yang tenang damai. Akhir-akhir ini telah muncul urusan besar yang memaksa aku harus mencampurinya pula.”

Dan setelah berkata begitu, It-teng Taysu menghela napas sambil mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. Lalu katanya, „Dan kalian berdua, sesungguhnya ingin pergi ke mana?”

Kwee Ceng dan Oey Yong memperlihatkan sikap seperti keheranan, mereka saling pandang, dan Kwee Ceng yang tidak pandai berkata-kata, hanya berdiam diri dengan memandangi It-teng Taysu saja, tetapi Oey Yong telah menyahuti,

„Bukankah Taysu yang telah mengundang kami agar segera datang ke Hoa-san?”

It-teng Taysu menatap tertegun mendengar pertanyaan Oey Yong, kemudian menepuk lututnya perlahan. „Akhhh, inilah aneh! Aneh sekali…..” kata It-teng Taysu.

Oey Yong cerdik luar biasa segera menyadari bahwa di dalam persoalan ini pasti terdapat sesuatu yang agak luar biasa. „Apakah Taysu tidak merasa pernah mengirim surat kepada kami?” tanya Oey Yong tidak bisa menahan sabar.

Hweshio tua dari selatan itu telah menggeleng-gelengkan kepalanya.

„Inilah urusan yang aneh sekali!” kata It-teng Taysu. „Siauw-ceng belum pernah mengirim surat kepada siapapun selama tiga tahun terakhir ini, bahkan sebulan yang lalu Lolap menerima sepucuk surat dari Oey Lo-shia yang meminta agar Lolap mau datang ke Hoa-san untuk menyelesaikan suatu urusan yang cukup penting.”

„Akhh?” Oey Yong mengeluarkan seruan kaget mendengar nama ayahnya, Oey Yok Su disebut-sebut. „Jadi..... surat yang kami terima itu ditulis oleh siapa?”

„Maksudmu surat yang diterima oleh kalian itu ditanda tangani oleh Lolap?” tanya It-teng Taysu.

Oey Yong mengangguk, Kwee Ceng mengiyakan.

„Aneh sekali! Lolap tidak merasa pernah mengirim surat kepada kalian! Jika kalian menerima sepucuk surat Lolap tentunya kalian bisa mengenali huruf-huruf itu ditulis oleh lolap atau bukan?”

„Justru kami telah memperhatikan dengan cermat huruf-huruf itu, satu hurufpun surat itu tidak mendatangkan kecurigaan, bahkan kami mengenali tulisan Taysu.”

It-teng Taysu menyebut kebesaran Sang Buddha beberapa kali, sedangkan Kwee Ceng telah mengeluarkan sepucuk surat lalu diberikan kepada It-teng Taysu. Si pendeta tua dari Selatan itu telah menyambuti dan membaca surat itu, lalu memperhatikan huruf-huruf yang terdapat di kertas itu.

It-teng Taysu jadi memandang bengong surat tersebut, karena justru dia mengenali huruf-huruf di atas kertas itu adalah hasil tulisannya, tidak ada perbedaannya. Tetapi yang lebih aneh lagi justru dia tidak pernah menulis surat seperti itu. Tanda tangannya pun sama serta tidak ada bedanya baik garisnya, maupun tekukan-tekukan huruf itu.

„Luar biasa! Siapa yang telah sedemikian liehay memalsukan surat dengan memakai nama lolap?” menggerutu si pendeta dari Selatan.

„Jadi surat itu memang bukan ditulis oleh Taysu?” tanya Oey Yong menegasi.

It-teng Taysu menggeleng perlahan, dan dia memandang keluar jendela. „Inilah aneh, surat ini bukan ditulis olehku tetapi ada seseorang yang telah menjual namaku dan memalsukan huruf-huruf yang begitu sama dengan tulisanku! Luar biasa sekali, siapakah orangnya itu?”

Oey Yong dan Kwee Ceng jadi tertegun dan mengawasi si pendeta dengan tatapan mata mengandung tanda tanya.

„Lolap pun menerima sepucuk surat yang bunyinya hampir serupa dengan ini, tetapi ditulis oleh ayahmu, Kwee Hujin.....” kata It-teng Taysu. Dan Lam-ceng telah merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk surat, yang diangsurkan kepada Kwee Ceng, dan Oey Yong ikut membacanya. Bunyi surat itu hampir mirip dengan surat yang diterima oleh Kwee Ceng dan Oey Yong, hanya saja huruf-huruf surat itu ditulis oleh Oey Yok Su.

Oey Yong dan Kwee Ceng kenal dengan baik tulisan Oey Lo-shia, maka dari itu tidak mengherankan jika mereka menjadi kaget dan heran. „Apakah mungkin ayah yang sengaja telah bergurau?” berpikir Kwee Hujin. Tetapi Oey Yong mengetahui benar tabiat ayahnya, Oey Lo-shia, si sesat tua, tidak mungkin Oey Yok Su bergurau dengan cara demikian.

„Huruf-huruf surat itu ditulis oleh Oey Lo-shia bukan?” tanya It-teng Taysu setelah melihat Oey Yong dan Kwee Ceng selesai membaca surat itu.

„Benar..... tetapi……” suara Oey Yong jadi tidak lancar. Dia sesungguhnya sangat cerdik, (seperti di dalam Sia-tiauw Eng-hiong, Sin-tiauw Hiap-lu, telah diceritakan kecerdikan Oey Yong yang selalu berhasil memecahkan berbagai persoalan yang berat bagaimanapun), tetapi menghadapi persoalan tersebut, tidak dapat Oey Yong segera memutuskan karena menyangkut urusan ayahnya.

„Tetapi kenapa?” tanya Kwee Ceng yang melihat isterinya seperti ragu-ragu.

„Aku yakin surat ini bukan ditulis oleh ayah!” kata Oey Yong kemudian. ,,Coba kau lihat Engko Ceng, apakah surat ini sesungguhnya ditulis oleh ayah?”

Kwee Ceng yang polos telah mengangguk. „Jika dilihat dari huruf-hurufnya memang tulisan ayah…..!” katanya.

„Akhh.....” Oey Yong mengeluh jengkel. „Justru huruf-huruf menyerupai tulisan ayah, tetapi aku yakin bahwa surat ini bukan ditulis oleh ayah! Hanya saja orang yang membuat surat ini hebat sekali, dia bisa memalsukan huruf-huruf ayah dengan baik sekali, tanpa ada sedikitpun yang salah!”

„Aneh sekali..... apakah kau mau mengartikan bahwa surat itu surat palsu?” tanya Kwee Ceng.

Oey Yong mengangguk.

„Ya, menurut Lolap juga demikian. Setelah melihat surat kalian, yang merupakan surat palsu, yang menjual nama Lolap, berarti ada sekelompok orang yang bermaksud untuk mempermainkan kita!”

„Benar!” mengangguk Oey Yong cepat. „Jika kita memperbandingkan dengan peristiwa yang kita alami ini, Taysu, tentunya kedua surat ini ditulis oleh tangan yang sama, hanya yang satu menjual nama Taysu, sedangkan yang lainnya menjual nama ayah!”

„Tetapi, apa maksud orang itu dengan perbuatannya ini?” tanya It-teng Taysu sambil mengerutkan alisnya. „Dan apa maksudnya dengan perkataannya bahwa di Hoa-san baru akan dijelaskan duduk persoalan dari peristiwa yang besar dan penting itu?”

Oey Yong tidak bisa menjawab dia tampak seperti berpikir keras. Sampai akhirnya dia menepuk meja. “Aku tahu!” kata Oey Yong kemudian.

Tetapi nyonya Kwee itu tidak meneruskan perkataannya, sehingga Kwe Ceng jadi tidak sabar dan bertanya, „Tahu apa?”

„Tentu ada seseorang yang tengah mempersiapkan suatu perangkap untuk menjerat golongan kita, yang khususnya ditujukan kepada Ngo-ciat!”

„Hemm,” Kwee Ceng telah mendengus. „Tetapi dengan diundangnya kita ke Hoa-san, walaupun disana telah dipasang jebakan yang hebat sekali, dengan jala langit dan jala bumi, apakah Ngo-ciat akan jeri?”

Benar Ngo-ciat tidak jeri, tetapi orang yang sengaja memalsukan nama ayah dan It-teng Taysu, jelas telah memperhitungkan segalanya. Orang itu tentu telah mengetahui siapa Ngo-ciat dan betapa sempurna kepandaiannya yang jelas akan diperhitungkannya dengan masak. Tetapi disamping itu, tentunya orang tersebut telah memiliki kepandaian yang hebat, telah memasang perangkap dan telah diperhitungkannya dengan masak, sehingga dia tidak jeri untuk memancing Ngo-ciat. Jika dugaanku ini benar, tentunya Ko-jie dan Siauw Liong Lie akan diundang pula. Entah undangan itu dengan menjual nama siapa……?”

It-teng Taysu mengerutkan sepasang alisnya dan dia merasakan bahwa urusan yang tengah mereka hadapi itu bukanlah urusan yang bisa diremehkan.

Untuk sementara, ketiga orang tersebut berdiam diri, karena masing-masing tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sedangkan It-teng Taysu sekali-kali meneguk tehnya perlahan-lahan.

Tiba-tiba Oey Yong telah berkata lagi, „Engko Ceng, apakah kau sudah bisa menduga siapa yang melakukan?”

Kwee Ceng menggeleng. „Dan kau sudah mengetahuinya?” tanya si suami sambil mengawasi Oey Yong dengan penuh tanda tanya.

Oey Yong mengangguk. „Tetapi aku belum berani memastikan secara keseluruhannya!” menyahuti Oey Yong

„Siapa?” tanya It-teng Taysu dan Kwe Ceng hampir serentak.

„Nanti akan kujelaskan sekarang lebih baik kita memperhatikan dulu kedua surat ini, mencari persamaan diantara huruf-huruf itu!”

Dan tanpa menantikan persetujuan kedua orang itu. Oey Yong telah membeber kedua surat tersebut dipermukaan meja. Dengan tekun, Oey Yong telah meneliti kedua pucuk surat itu. It-teng Taysu hanya mengawasi saja, sedangkan Kwee Ceng ikut memandangi surat itu, tetapi pikirannya yang polos serta sederhana tidak bekerja seperti yang dikehendakinya. Dia tidak menemui sesuatu persamaan dari kedua surat itu, yang bisa membuktikan bahwa penulis kedua surat itu hanya satu orang.

Tetapi berbeda dengan Oey Yong, sejak kecil nyonya ini cerdik luar biasa disamping sangat nakal. Diapun telah memperhatikan dengan penuh ketekunan sekali, dan akhirnya setelah memperhatikan selama seperminum teh, tiba-tiba Oey Yong menepuk pinggir meja.

„Aku telah menemuinya!” serunya girang.

Kwee Ceng dan It-teng Taysu mengawasinya menunggu keterangan dari Oey Yong. Tetapi Oey Yong telah menundukkan kepalanya pula, dia masih terus meneliti kedua surat tersebut.

Tentu saja Kwee Ceng dan It-teng Taysu jadi tidak sabar, mereka jadi tegang sendirinya. Bahkan Kwee Ceng yang sudah tidak berhasil menahan hati maupun perasasaan ingin tahunya, telah bertanya, „Yong-jie kau telah menemui apa?”

„Tunggu dulu.....” menyahuti Oey Yong tanpa menoleh dan terus juga mengawasi kedua surat itu. Sampai akhirnya dia menghela napas dengan lega dan duduk lurus.

„Nah kini coba kalian lihat, setiap huruf „She” (persoalan) terdapat persamaan yang tidak bisa dilenyapkan, walaupun huruf „She” yang satu memakai garis coretan huruf It-teng Taysu, sedangkan „She” lainnya memakai coretan gaya tulisan ayah.”

Kwee Ceng dan It-teng Taysu segera mengawasi. Tetapi setelah mengawasi sekian lama, mereka tidak bisa melihat adanya persamaan di antara kedua huruf itu. It-teng Taysu hanya mengerutkan alisnya sambil berdiam diri saja. Tetapi tidak demikian dengan Kwee Ceng.

„Di bagian mananya yang bersamaan…..?” tanyanya kemudian.

Oey Yong tertawa, sambil mengulurkan tangannya untuk menunjuk. Ternyata yang ditunjuk oleh Oey Yong adalah garis lekukkan kedua dari huruf „She” tersebut.

Kwee Ceng memperhatikannya dengan seksama dan akhirnya dapat juga dilihatnya persamaan yang dimaksud oleh Oey Yong, yaitu setiap sudutnya membulat dengan di tengahnya terdapat sebuah titik kecil.

„Akhhh!” Kwee Ceng mengeluarkan seruan perlahan. „Ternyata kedua surat itu memang ditulis oleh tangan yang sama.”

It-teng Taysu menghela napas. „Persoalan ini yang kita hadapi bukan persoalan yang mudah, pasti di dalam persoalan ini terselip urusan yang luar biasa,” katanya. ,,Untuk memperoleh kepastian. kita harus cepat-cepat pergi ke Hoa-san untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi! Dan baru-baru ini Lolap baru saja mengalami suatu peristiwa yang cukup mengherankan.”

Dan It-teng Taysu lalu menceritakan pengalamannya yang telah bertemu dengan Tiat To Hoat-ong, telah bertempur dengannya, dan telah mengetahui pula bahwa tawanan Tiat To Hoat-ong tidak lain dari Siauw Liong Lie, isteri Yo Ko dan juga Sin-tiauw.

Oey Yong dan Kwee Ceng jadi gusar, kumis Kwee Ceng seperti berdiri. „Akhhh, mereka ternyata telah mengirim orangnya untuk membuat huru hara dan onar lagi di Tiong-goan!” menggumam Kwee Ceng perlahan, yang dimaksudkannya dengan „meraka,” adalah bangsa Mongolia.

Oey Yong seperti berpikir keras, akhirnya dia telah memukul perlahan ujung meja. „Pasti peristiwa penculikan Siauw Liong Lie dengan surat ini ada hubungannya….. Mari kita cepat-cepat berangkat, mungkin kita bisa memperoleh jawabannya di Hoa-san!”

Kwee Ceng dan It-teng Taysu menyetujui usul Oey Yong, mereka segera berangkat meninggalkan Tiang-lu-kwan melakukan perjalanan cepat menuju Hoa-san.

Hoa-san tidak jauh lagi dari Tiang-lu-kwan, setelah melakukan perjalanan satu hari satu malam tibalah It-teng Taysu bertiga di kaki gunung itu. Waktu itu langit mulai gelap karena malam akan segera menjelang datang. Tetapi ketiga orang gagah tersebut melakukan perjalanan mereka dengan cepat mendaki gunung itu.

Ketika mereka tiba di dekat kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, di saat itu It-teng Taysu telah mendengar suara berkeresek yang perlahan, waktu pendeta tua tersebut menoleh, tampak dua sosok tubuh berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.

Oey Yong dan Kwee Ceng juga telah melihat kedua sosok tubuh itu, dan mereka bertiga jadi girang sekali.

„Yo Ko!” berseru Oey Yong girang. „Dan kau Loo Boan Tong?”

Memang kedua orang itu tidak lain dari Yo Ko dan Ciu Pek Thong. Keduanya juga girang bertemu dengan ketiga orang gagah ini, mereka telah maju memberi salam kepada It-teng Taysu bertiga.

„Kami memang tengah menantikan Taysu,” kata Yo Ko kemudian. “Hanya sayang, telah terjadi peristiwa yang kurang menggembirakan didiri kami..... Liong-jie telah dicelakai oleh seseorang!”

Yo Ko segera menceritakan pengalamannya, sehingga menambah perasaan heran ketiga orang itu. Begitu pula Yo Ko dan Ciu Pek Thong yang tambah heran waktu It-teng Taysu menjelaskan bahwa surat undangan yang diterima Yo Ko bukan ditulis olehnya. Dan Oey Yong juga membantu membenarkan keterangan It-teng Taysu.

„Lalu siapa yang menulis surat itu?” tanya Yo Ko seperti kepada dirinya sendiri. „Apakah dalam persoalan ini terselip urusan yang luar biasa?”

„Siancay!” It-teng Taysu telah memuji kebesaran Buddha. „Jika kita menduga-duga, urusan itu memang masih gelap, tetapi kita tunggu saja peristiwa apa yang akan muncul, bukankah besok adalah hari yang dijanjikan?”

Yang lainnya setuju. Dan It-teng Taysu, Oey Yong dan Kwee Ceng jadi gusar sekali waktu melihat betapa kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong telah dibongkar orang. Kumis It-teng Taysu yang telah memutih itu jadi bergerak-gerak, pendeta tua ini menjadi murka, berulang kali dia menyebut „Omitohud” perlahan sekali.

Malam itu dilewati orang-orang gagah ini dengan hati jengkel diliputi kegelisahan juga, dan mereka tidak banyak bercakap-cakap. Hanya mereka bertekad, jika saja mereka berhasil mengetahui orang yang membongkar kuburan itu, tentu mereka akan memberikan hajaran keras kepadanya. Semuanya memiliki dugaan yang hampir sama, yaitu dugaan bahwa di dalam persoalan ini pasti ada sangkut pautnya dengan Tiat To Hoat-ong.

It-teng Taysu juga telah menceritakan pengalamannya bertemu dengan Tiat To Hoat-ong sehingga Yo Ko gusar bercampur kuatir. Gusar kepada pendeta yang liehay itu, berkuatir terhadap keselamatan isteri dan Sin-tiauwnya.

Malam itu lewat dengan cepat, dan keesokan harinya, mereka diliputi ketegangan, karena hari inilah dimana persoalan tersebut akan terjawab.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong sering memandang ke bawah gunung, tetapi semuanya sepi dan tidak terlihat seorang manusiapun juga. Suasana begitu lenggang. Dan Yo Ko jadi bertambah berkuatir, kalau hari ini urusan tidak terjawab, dan orang yang sengaja mengundang mereka, atau tepatnya memancing mereka, untuk datang ke Hoa-san itu tidak memperlihatkan diri, berarti kian terlambat saja dia ditinggal Tiat To Hoat-ong. Yang dikuatirkan Yo Ko justru kalau Tiat To Hoat-ong membawa Siauw Liong Lie ke Mongolia! Sin-tiauw Tayhiap ini telah bertekad bulat, walaupun ke ujung langit sekalipun, dia akan mengejar pendeta Mongolia itu.

Mendekati lohor masih tidak terjadi sesuatu, dan orang-orang gagah tersebut mulai tidak sabar. Terlebih Ciu Pek Thong yang sudah tidak bisa duduk diam. Sebentar-sebentar dia telah mengawasi ke arah lobang kuburan kosongnya Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.

Semua pengalaman yang telah dialami oleh orang-orang gagah itu diliputi tanda tanya dan belum bisa terjawab, keanehan dari peristiwa yang mereka alami itu benar-benar membuat mereka tidak mengetahui sesungguhnya urusan apa yang akan terjadi.

Sedangkan Kwee Ceng dan Oey Yong memiliki urusan tersendiri pula, pengalaman yang cukup mengherankan. Waktu mereka berada di Kam-siok dalam perjalanan menuju ke Hoa-san untuk memenuhi undangan „surat” yang dikirim It-teng Taysu itu, justru mereka telah bertemu seorang lelaki tua kurus seperti gala yang tubuhnya selalu bergoyang-goyang jika tengah berjalan. Orang itu mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi matanya yang seperti mata tikus itu memancarkan sinar yang tajam, sehingga menimbulkan kecurigaan Oey Yong.

Dan justeru di saat Oey Yong dan Kwee Ceng berada di kamar penginapannya, mereka baru mengetahui bahwa barang mereka di dalam kamar telah lenyap! Keruan saja Oey Yong dan Kwee Ceng gusar. Mereka segera keluar dari kamar mereka, dan melihat lelaki kurus jangkung itu, yang mereka curigai sebagai pencurinya, tengah melangkah akan pergi.

Kwee Ceng dan Oey Yong meneriakinya agar dia menghentikan langkahnya, tetapi malah orang itu mempercepat larinya, sehingga pasangan suami isteri itu cepat-cepat mengejarnya. Yang luar biasa, ilmu meringankan tubuh orang itu sempurna sekali, walaupun Kwee Ceng dan Oey Yong telah mengejarnya terus, namun mereka tidak berhasil menyandaknya, bahkan akhirnya mereka telah kehilangan jejak.

Yo Ko dan yang lainnya waktu mendengar cerita pengalaman Kwee Ceng dan Oey Yong jadi tambah heran, mereka tidak bisa menduga-duga siapa orang yang kurus jangkung itu, karena waktu Oey Yong menggambarkan bentuk muka orang itu, dan potongan tubuhnya, mereka merasakan bahwa orang tersebut bukan orang daratan Tiong-goan!

Di saat mereka tengah bercakap-cakap seperti itu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara siulan yang nyaring, melengking tinggi sekali, kemudian disusul dengan suara Seruling yang terdengar dibawa oleh desiran angin. Muka Yo Ko dan yang lainnya jadi berobah, mereka cepat-cepat bersiap, bahkan Ciu Pek Thong telah memandang ke bawah gunung. Suara seruling dan siulan itu hebat sekali! karena mengandung tenaga dalam yang telah sempurna,

Dan hebat pula ilmu meringankan tubuh dari orang yang mengeluarkan suara siulan dan suara seruling itu, karena tidak lama kemudian begitu suara siulan dan seruling itu berhenti, sudah terlihat orangnya, dan dengan beberapa kali lompatan, tahu-tahu telah berdiri di atas reruntuhan bong-pay Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, dua orang yang berpakaian yang aneh sekali! Yang satu memiliki wajah yang hitam seperti pantat kuali, tubuhnya gemuk pendek, dengan matanya yang mencilak memandang sekelilingnya sambil tidak hentinya memperdengarkan suara tertawa yang tidak sedap didengar. Dia berpakaian aneh sekali hanya memakai baju bulu Tiauw yang pendek, sebatas lututnya rambutnya juga digelung tinggi.

Keadaan orang itu memang sudah agak luar biasa, tetapi yang lebih luar biasa lagi adalah yang seorangnya lagi, yang di tangan kanannya menggerak-gerakkan seruling pendek bercagak dua. Orang ini bertubuh tinggi, kulitnya putih, matanya sipit seperti mata elang giginya tonggos dan telinganya lebar. Pakaiannya sama dengan kawannya terbuat dari bulu Tiauw yang berwarna putih, diapun tengah mengeluarkan tertawa sambil menyapu orang gagah dihadapannya dengan tatapan mata yang tajam sekali.

It-teng Taysu telah maju dua langlah, dan merangkapkan kedua tangannya, ujarnya, „Siancay, Siancay, siapakah jie-wie berdua?”

Kedua orang itu tidak segera menyahuti, hanya si hitam pendek itu telah menggerakkan kaki kanannya, dia telah menghentakkan ke sisi batu bong-pay yang diinjaknya, tanpa mengeluarkan suara, sisa batu bong-pay itu tahu-tahu meluruk menjadi abu. Sedangkan si hitam pendek telah melompat berdiri di atas tanah datar.

Yo Ko dan yang lainnya terkejut, dengan perbuatannya itu si pendek hitam telah memperlihatkan bahwa tenaga dalamnya sempurna sekali.

Sedangkan si jangkung putih telah tertawa terkekeh, kemudian dengan suara yang sumbang seperti suara menyalaknya serigala dia telah berkata dengan nada Tiong-goan yang kaku sekali,

„Kami biasa disebut Hek Pek Siang-sat (Sepasang Penjahat Hitam dan Putih). Kami datang dari Persia, telah lama kami mendengar dan tertarik atas nama besar jago-jago daratan Tiong-goan.....!” Setelah berkata begitu, sambil menatap tajam ke arah lengan Yo Ko yang kanan, yang buntung dan hanya lengan jubahnya yang bergoyang-goyang terhembus angin. Pek Siang-sat (Iblis Putih) itu telah melanjutkan perkataannya yang semakin tidak enak didengar,

„Dan, engkau tentunya Sin-tiauw Tayhiap, bukan?”

Yo Ko tertawa dingin, tidak senang dia melihat sikap orang itu. Terlebih lagi dia tengah marah melihat Hek Pek ini tadi berdiri di kedua sisa bong-pay dari Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.

„Tepat!” menyahuti Yo Ko. „ada keperluan apakah jie-wie datang kemari?”

„Untuk mengambil kepalanya Ngo-ciat (lima jago)!” menyahuti si pendek hitam mewakili si Putih.

„Benar, untuk membawa pulang lima batok kepala Ngo-ciat!” menambahkan si Putih, menimpali perkataan si Hitam.

Ciu Pek Thong berjingkrak karena gusar sekali. „Baik! Baik! Akulah salah seorang diantara Ngo-ciat itu! Mari, mari kita coba-coba siapa yang tinggi dan siapa yang rendah!”

07.14. Siasat Jahat Kaisar Mongol

Dan sambil berkata begitu, Ciu Pek Thong bersiap-siap untuk bertempur. Tetapi si Putih dan si Hitam itu membawa sikap acuh tak acuh, sedikitpun dia tidak memandang sebelah mata ke pada Ciu Pek Thong.

„Hemmm, sabar, tidak akan terlambat jika kini kepalamu itu kami titipkan dulu di lehermu!” kata si Putih dengan suara dingin. Kemudian dia juga telah menoleh kepada It-teng Taysu sambil katanya lagi,

„Dan kau pendeta, tentunya kau yang disebut Lam-ceng (pendeta dari Selatan) si It-teng kepala gundul, bukan?”

„Benar,” menyahuti It-teng Taysu dengan sabar, walaupun hatinya mendongkol sekali melihat sikap kurang ajar dari kedua orang aneh itu.

„Dan kalian tentunya Kwee Ceng dan Oey Yong, bukan?” tanya si Putih sambil memandang tajam kepada Kwee Ceng dan isterinya.

Kwee Ceng hanya mendengus „Hemmm!” saja, tetapi Oey Yong yang tengah gusar telah menyahuti.

„Benar, memang kami Kwee Ceng dan Oey Yong. Hanya sayangnya, kami tidak memiliki rejeki yang sebaik kalian untuk menjadi kodok hitam dan bangau putih!”

Si Putih tertawa mengejek, sedikitpun dia tidak melayani ejekan Oey Yong, hanya dengan matanya yang memancarkan sinar yang tajam dia telah berkata lagi. „Kami telah banyak mendengar, bahwa Kaisar Mangu dibinasakan oleh Sin-tiauw Tayhiap, maka kami tertarik sekali untuk melihat berapa tinggi sesungguhnya kepandaian pendekar besar itu!”

Yo Ko tidak dapat menahan sabar lagi, tahu-tahu dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dan tangan kiri tunggalnya tahu-tahu mengibas dengan cepat sekali. Gerakannya itu luar biasa cepatnya, dia bermaksud akan menotok jalan darah Pek-kut-hiat di bahu si Putih.

Tetapi aneh sekali, si Putih sama sekali tidak mengelakkan serangan itu, dia hanya menanti di saat tangan Yo Ko hampir tiba di sasaran, dia mengulurkan tangan kanannya, tahu-tahu dia telah menangkis serangan itu, dan yang luar biasa justru tubuh Yo Ko terhuyung mundur dua langkah! Kuat sekali tenaga menangkis dari si Putih.

Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, jago-jago yang lainnya juga mengeluarkan seruan kaget ketika memperoleh kenyataan bahwa lwekang si Putih itu telah demikian sempurna. Serangan yang dilancarkan oleh Yo Ko tadi bukanlah serangan yang ringan, sebagai pendekar besar, walaupun Yo Ko tampaknya menggerakkan tangan kirinya dengan ringan, namun tenaga serangannya itu meliputi ribuan kati. Maka luar biasa sekali si Putih menangkisnya begitu mudah, bahkan berhasil mendorong tubuh Yo Ko terhuyung dua langkah.

„Sabar, untuk mengadu kepandaian tidak perlu sekarang, nanti juga belum terlambat,” berkata si Putih, sedangkan si Hitam pendek itu tertawa terkekeh, menertawai Yo Ko yang terhuyung mundur dua langkah itu. „Kami berdua telah menerima perintah untuk mengukur kepandaian dari pendekar daratan Tiong-goan, maka siapa yang akan maju lebih dulu untuk menghadapi kami?”

Mata Ciu Pek Thong jadi bersinar tajam, dia murka sekali, kumis dan jenggotnya sampai bergerak-gerak menahan kemarahan yang bergolak di hatinya. Dengan mengeluarkan teriakan nyaring, tahu-tahu Ciu Pek Thong telah menerjang maju, dia memendekkan tubuhnya, kedua tangannya diulurkan, yang satu akan mencengkeram pergelangan si Putih, sedangkan tangan kirinya akan menghantam dada si jangkung itu.

Tetapi memang luar biasa, dengan menggerakkan perlahan tubuhnya yang dimiringkan ke kanan, maka serangan Ciu Pek Thong telah berhasil dikelit oleh si Putih.

„Engkau tidak sabar, jenggot!” kata si Putih sambil mengejek.

Tetapi dia tidak bisa meneruskan perkataannya, karena Ciu Pek Thong yang telah gusar itu dengan cepat telah menggerakkan kepalanya, jenggotnya yang panjang itu telah menyambar ke arah dada lawannya. Ciu Pek Thong tadi waktu melihat serangannya dapat dielakkan lawannya, telah penasaran sekali, dia telah mengerahkan lwekang ke jenggotnya, dan dengan disertai lwekang yang sempurna, serangan jenggotnya itu bukanlah serangan yang sembarangan.

Si Putih juga kaget melihat cara menyerang Ciu Pek Thong, tidak bisa dia main-main lagi, dengan merangkapkan kedua tangannya, tahu-tahu dia telah mengayunkan kedua tangannya yang dirangkapkan itu menjepit jenggot Ciu Pek Thong.

Memang luar biasa, lwekang yang dimiliki si Putih hebat sekali, jenggot Ciu Pek Thong tidak berdaya sama sekali. Bahkan si tua nakal itu jadi sibuk sekali jenggotnya dijepit seperti itu, berarti dia tidak bisa menariknya pula. Dengan murka dia telah membarengi dengan tangan kanannya menghajar ke leher lawannya sehingga si Putih terpaksa memiringkan kepalanya, tetapi jepitan kedua tangannya itu tidak di lepaskan.

Yo Ko melompat untuk menghantam punggung si Putih, tetapi dia dipapak oleh si Hitam yang melompat sambil mengibaskan tangan kirinya.

„Ternyata jago-jago Tiong-goan hanya pandai mengeroyok saja!” berseru si Hitam.

Atas kibasan tangan si Hitam, serangan Yo Ko jadi terhalang dan tidak dapat dia melanjutkan serangannya kepada si Putih, terlebih lagi si Hitam juga telah melancarkan serangan dengan gencar.

Saat itu, si Hitam sambil melancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Yo Ko, telah mengeluarkan suara siulan yang panjang dan tinggi nadanya, dari arah bawah gunung itu telah terlihat belasan bayangan yang tengah berlari-lari mendaki ke atas. Dilihat dari gerakan belasan orang itu jelas mereka terdiri dari orang-orang pandai, karena mereka dapat berlari dengan gesit sekali, di dalam waktu yang singkat sekali mereka telah berada dekat dengan tempat tersebut.

It-teng Taysu dan yang lainnya jadi terkejut, begitu juga Oey Yong yang jadi mengerutkan alisnya. Mereka melihat, bahwa orang-orang yang tengah mendatangi itu bukanlah lawan yang ringan.

Sambil tetap melancarkan serangan-serangan yang hebat kepada Yo Ko, si Hitam telah mengeluarkan suara tertawa yang nyaring. „Nanti kita dapat menentukan apakah jago-jago dari Persia yang lebih tinggi atau memang orang-orang Tiong-goan yang lebih rendah,” katanya kemudian.

Hek Pek Siang-sat itu merupakan sepasang pendekar dari Persia. Di negerinya mereka merupakan jago nomor satu dan selalu membawa sikap yang ugal-ugalan. Mereka memiliki latihan tenaga Yoga yang dicampur dengan ilmu Barat, yang telah dilatihnya dengan sempurna sekali. Keduanya memang memiliki adat yang aneh disamping sikap mereka yang angin-anginan itu, keduanya tidak boleh mendengar ada seseorang yang memiliki kepandaian yang tinggi dan sempurna, sebab mereka pasti akan datang untuk menguji kepandaiannya.

Di negerinya mereka sudah tidak ada tandingannya dan disegani oleh ahli-ahli silat di sana! Dan di saat seperti itulah, mereka ternyata telah dimanfaatkan oleh pihak Mongolia, dimana keduanya telah ditarik berdiri di pihak Mongol.

Kublai Khan memang terkenal sebagai pemimpin Mongolia yang cerdik sekali. Kecerdikan Kublai memang melebihi Mangu maupun Jenghis Khan, kakeknya. Itulah sebabnya, pemimpin besar Mongol tersebut berhasil menguasai jago-jago dari Arab, Persia, Nepal, India dan beberapa negara lainnya, yang semua bekerja untuk kepentingannya.

Yo Ko yang penasaran dan dalam keadaan gusar, tahu-tahu telah menggerakkan tangan kirinya itu dengan gerakan secepat kilat, dia telah menyentil dengan kuat mempergunakan Tan-cie-sin-tong, dia menyerang jalan darah Wie-kian-hiat nya si Hitam.

Tetapi si Hitam sama sekali tidak berkelit, dia membiarkan serangan Yo Ko, hanya tangannya yang pendek itu telah mengincer mata Yo Ko.

Keruan saja Yo Ko jadi kaget, dia kaget karena justru lawannya tidak berusaha berkelit dari totokannya yang begitu hebat.

“Tukkkk!” terdengar suara yang nyaring, disusul oleh suara „Bukkkkl” lalu tampak tubuh Yo Ko terhuyung diiringi suara tertawa si Hitam.

Ternyata waktu jari tangan kiri Yo Ko menyentuh tepat jalan darah lawannya, serangan itu tidak memberikan hasil sedikitpun juga, karena si Hitam pendek itu ternyata memiliki ilmu kebal, yang tubuhnya tidak bisa dilukai sekalipun oleh senjata tajam. Sedangkan Yo Ko yang terkejut menyaksikan serangannya yang gagal, jadi lebih kaget lagi melihat datangnya serangan si Hitam yang mengincar matanya.

Tentu saja dia jadi mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat menggerakkan lengan baju kanannya yang kosong itu, yang dikibaskannya menyampok tangan si Hitam. Namun tak urung punggungnya telah kena dihantam telak oleh si Hitam sehingga tubuh Yo Ko jadi terhuyung.

Saat itu belasan sosok tubuh itu telah tiba di tempat tersebut. It-teng Taysu dan yang lainnya segera dapat melihat jelas, mereka tidak lain dari belasan orang pendeta Lhama yang semuanya memiliki tubuh tegap dan tinggi besar dengan muka yang garang. Lhama itu yang memakai jubah merah merupakan pendeta-pendeta Budha yang berpusat di Lha-sa, dan mereka merupakan penghuni dari Istana Potala yang dipimpin oleh seorang Budha Hidup. Umumnya pendeta-pendeta Lhama dari Lhasa itu terkenal karena memiliki ilmu yang tinggi dan sempurna serta aneh-aneh.

Seperti diketahui, bahwa Tat Mo Couw-su pendiri Siauw-lim-sie dan pencipta dari Kiu-im-cin-keng dan Kiu-yang-cin-keng berasal dari India, dan juga ilmu itu telah diolah dari ilmu yang berasal dari India, namun setelah tiba di daratan Tiong-goan, lewat ribuan tahun ilmu itu telah diolah dan menjadi ilmu tenaga dalam yang tersendiri.

Tetapi di Lhasa, di mana pendeta Buddha dari istana Potala itu, umumnya mempelajari ilmu silat yang sejati dari ilmu silat India dan mereka umumnya mengkhususkan diri mempelajari ilmu silat tanpa ingin mencampuri urusan duniawi, tidak mengherankan jika pendeta-pendeta Buddha di Lhasa itu memiliki kepandaian yang sempurna sekali. Namun disebabkan mereka membatasi diri tidak ingin mencampuri urusan duniawi, dengan sendirinya mereka menempuh kehidupan dan penghidupan dengan cara-cara seperti setengah dewa.

Inilah yang telah mengherankan It-teng Taysu dan yang lainnya, karena melihat Lhama itu bisa muncul di tempat ini, bahkan dalam jumlah yang demikian banyak. Entah urusan hebat yang bagaimana akan terjadi nanti, sedangkan Oey Yong juga jadi mengerutkan alisnya dengan berkuatir. Jika dilihat yang muncul kini merupakan jago-jago luar yang memiliki kepandaian yang tinggi, tentu saja nanti masih ada jago-jago lainnya yang akan menyusul datang. Dan Oey Yong juga menyadarinya ancaman yang ada itu tidaklah kecil. Nyonya Kwee jadi berwaspada.

Jumlah Lhama yang datang itu limabelas orang, mereka tiba untuk kemudian berdiri di dekat kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong dengan berbaris rapi, mereka tidak mengeluarkan sepatah perkataanpun juga.

„Bagus!” berseru si putih sambil melompat mundur melepaskan jepitan tangannya di jenggot Ciu Pek Thong. Sedangkan si Hitam juga telah malah melompat berdiri disamping si Putih, si Hitam tidak melayani Yo Ko lagi.

Berkobar-kobar amarahnya Ciu Pek Thong dan Yo Ko tetapi merekapun telah melihat hadirnya kelimabelas pendeta Lhama tersebut yang mereka lihat tidak berkepandaian rendah.

It-teng Taysu telah merangkapkan tangannya tanyanya dengan sabar.

„Apa maksud kalian datang di negeri ini? Apakah kalian diutus oleh Buddha Hidup?”

Kelimabelas Lhama itu tetap berdiam diri tidak memberikan jawaban atas pertanyaan It-teng Taysu. Hanya si Putih yang telah menyahuti dengan suara yang nyaring,

„Apakah jika Buddha Hidup yang perintah mereka datang itu, kalian akan menjamu?” tegurnya.

Muka It-teng Taysu jadi muram, dia melihat kekurang ajaran si Putih semakin menjadi-jadi.

„Baiklah, kini jelaskan yang terang, apa sesungguhnya yang kalian kehendaki?” katanya lagi sabar.

„Kami menghendaki batok kepala Ngo-ciat!” menyahuti si Putih. „Tadi kami sudah menjelaskan, dan kami kira urusan telah terang.”

„Siancay, Siancay, sayangnya yang hadir hanya Sie-ciat (empat jago), sayang seorang diantara Ngo-ciat belum hadir.....” kata It-teng Taysu sambil tetap memperlihatkan sikap yang sabar.

Si Putih telah tertawa seperti suara menyalaknya serigala, dia bilang, „Kini yang hadir disini Lam-ceng, Pak-hiap, See-kong dan Tiong Sin Tong Ciu Pek Thong! Dari Ngo-ciat yang kurangnya itu pasti Tong-shia Oey Yok Su, bukan?”

„Benar!” mengangguk It-teng Taysu.

„Tidak lama lagi, pasti Tong-shia tiba disini,” kata si Putih sambil tetap tertawa, tidak sedap didengar.

Oey Yong dan lainnya setengah percaya setengah tidak. Tong-shia telah hidup mengasingkan diri di pulau Tho-hoa-to, dan tidak bermaksud untuk meninggalkan pulau itu pula. Tetapi merekapun berpikir, suatu kemungkinan juga bahwa Oey Yok Su akan datang, karena seperti juga halnya mereka, yang telah dipancing dengan sepucuk surat palsu......! Sebetulnya, dengan beradanya Ngo-ciat di Hoa-san, mereka tidak perlu takut terhadap siapapun juga. Namun kenyataan yang ada, Siauw Liong Lie yang kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah Yo Ko ternyata telah tertawan oleh Tiat To Hoat-ong itulah kenyataan yang terlampau pahit sekali.

„Apakah Tiat To Hoat-ong termasuk dalam rombongan kalian?” tanya Yo Ko yang teringat kepada pendeta Mongolia yang telah menawan isteri dan Sin-tiauwnya.

„Tidak salah! Hanya Hoat-ong tengah memiliki urusannya sendiri, maka untuk mengambil lima batok kepala Ngo-ciat diserahkan kepada kami!” menyahuti si Putih dengan sikap yang kurang ajar.

Habislah kesabaran Yo Ko, dengan mengeluarkan seruan mengguntur, dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dengan ringan, dan tangan kirinya melancarkan serangan dengan mempergunakan jurus-jurus yang luar biasa dahsyatnya. Salah satu jurus yang dipergunakannya adalah Giok-lie-kun-hoat (pukulan Bidadari).

Seperti diketahui Giok-lie-kiam-hoat merupakan ilmu pedang yang luar biasa, dan selama mengasingkan diri di lembah Siauw Hong, Yo Ko maupun Siauw Liong Lie telah menciptakan ilmu pukulan yang diberi nama Giok-lie-kun-hoat, yang hebat luar biasa. Setiap kali melatih ilmu tersebut, Yo Ko ditemani oleh Sin-tiauw, burung rajawali yang memiliki kekuatan luar biasa itu.

Serangan yang dilancarkan Yo Ko dahsyat sekali, hal ini dapat dirasakan oleh si Putih. Tetapi Pek-sat tersebut tidak takut, begitu juga sikapnya tetap tenang, dia telah menyambuti serangan Yo Ko.

Sin-tiauw Tayhiap telah mengerahkan enam bagian dari tenaga dalamnya dan setiap serangannya selain mengincar bagian-bagian yang mematikan di tubuh lawan, juga angin serangannya menderu keras. Tetapi setiap serangan itu berhasil dielakkan oleh si Putih, bahkan berulang kali seruling pendek bercagak dua yang tercekal di tangannya si Putih itu bergerak-gerak hebat sekali, beberapa kali hampir menotok jalan darah penting di tubuh Yo Ko.

Hek-sat, si iblis Hitam itu, telah mengeluarkan suara siulan nyaring, kemudian dia berkata mengejek.

“Hari ini kita akan jadi jagal yang menerima upah mahal! Ha, ha, ha, ha Ngo-ciat yang dibangga-banggakan itu ternyata hanya memiliki nama kosong.”

Kwee Ceng yang memiliki sifat pendiam dan polos, sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dengan mengatakan. „Jaga serangan,” Kwee Ceng telah melompat melancarkan serangan ke arah si hitam. Bisa dibayangkan betapa hebatnya tenaga serangan yang dilancarkan Kwee Ceng, karena sebagai pendekar yang memiliki nama menggetarkan rimba persilatan dan juga dia dalam keadaan gusar sekali, maka tenaga serangan yang dipergunakannya sangat hebat.

Tenaga hantamannya itu terlalu hebat, sehingga si hitam yang merasakan tenaga serangan itu mendatangkan kesiuran angin yang dahsyat sekali, dia tidak berani menyambuti, dengan cepat dia berkelit ke samping. Tetapi Kwee Ceng tidak mau melepaskan musuhnya itu, dengan lincah sekali dia menyusuli serangan lainnya. Beberapa kali si hitam mengelakkan serangan tersebut, dan beruntun Kwee Ceng menyusuli dengan serangan-serangan berikutnya.

Dalam saat seperti itu, si Putih mengeluarkan teriakan dengan perkataan yang asing sekali untuk Kwee Ceng, Yo Ko dan yang lainnya. Atas teriakannya itu, maka kelimabelas Lhama yang sejak tadi berdiam diri dengan berbaris itu, telah bergerak, mengambil posisi dengan bentuk lingkaran mengurung Yo Ko, Kwe Ceng, It-teng Taysu, Oey Yong dan Ciu Pek Thong. Kelima jago luar biasa dari Tiong-goan tersebut telah dikepung rapat, dan Lhama itu telah maju perlahan-lahan dengan sikap mengancam.

Yo Ko dan yang lainnya berbareng telah mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur dan dengan cepat sekali mereka juga bergerak untuk menghadapi kepungan itu.

Si Hitam dan si Putih juga telah ikut mengepung jago-jago itu. Mereka rupanya ingin mempergunakan jumlah banyak untuk memperoleh kemenangan.

Yo Ko mempergunakan waktu di saat mereka belum dikepung rapat, telah menggerakkan tangan kirinya dibantu oleh kibasan lengan bajunya yang kosong itu. Berulang kali dia telah menyerang ke arah lawan-lawannya yang mendekat. Tetapi kelimabelas Lhama itu mengambil cara bertempur yang aneh sekali, mereka hanya mengepung belaka dengan rapat, tetapi mereka tidak membalas setiap serangan, yang selalu hanya dikelit atau dielakkan. Beberapa kali hantaman tangan kiri Yo Ko mengenai tubuh beberapa orang Lhama itu, tetapi serangannya itu seperti mengenai tubuh berminyak, sehingga pukulan Yo Ko melejit dan tidak memberikan hasil apa-apa.

Tentu saja Yo Ko jadi semakin penasaran dan dengan mengeluarkan seruan yang nyaring, suatu kali Yo Ko telah melompat ke tengah udara, sambil melompat begitu, tangannya diulurkan untuk menangkap lengan salah seorang Lhama yang terdekat dengannya. Namun Lhama itu berhasil berkelit dari cengkeramannya, dan dia telah melompat mundur, sedang Lhama yang lainnya tahu-tahu telah melancarkan serangan ke arah punggung Yo Ko, sehingga memaksa Yo Ko menarik pulang serangannya yang sedang mendesak Lhama yang satu itu.

Keadaan seperti itu terjadi berulang kali.

It-teng Taysu yang diserang oleh beberapa orang Lhama juga telah mempergunakan It-yang-cie untuk menghadapinya, dan walaupun ilmu itu hebat luar biasa tetap saja seperti tidak memberikan hasil apa-apa, sehingga membuat It-teng Taysu jadi kaget sekali, sebab Lhama-lhama itu seperti dapat bergerak secepat angin dan tubuh mereka seperti kebal atas serangan apapun juga.

Si Hitam dan si Putih telah berulang kali mengeluarkan suara ejekannya dan di saat itu beberapa kali mereka mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh jago-jago daratan Tiong-goan itu.

Kelimabelas Lhama itu setiap kali menyahuti dengan perkataan yang sama seperti yang diucapkan oleh Hek Pek Siang-sat dan yang sangat mengherankan sekali justeru kelimabelas Lhama itu semakin lama melancarkan kepungan mereka semakin hebat, dan merekapun mulai membalas menyerang.

Yo Ko dan yang lainnya jadi terkejut sekali, karena mereka merasakan kelimabelas Lhama itupun telah memiliki kepandaian yang tidak rendah, di samping lwekang mereka yang menakjubkan.

Suatu kali, di saat Yo Ko tengah mendesak seorang Lhama yang berada terdekat dengannya, dengan mempergunakan jurus „Mencengkeram Hati” tangan kirinya diulurkan akan mencengkeram dada Lhama itu, di saat itulah dengan cepat sekali dua orang Lhama telah menghantamkan telapak tangannya tanpa menimbulkan suara ke arah punggung Yo Ko. Karena serangan itu datangnya dengan sangat tiba-tiba sekali, juga serangan itu tidak menimbulkan suara angin serangan, tahu-tahu bahu Yo Ko telah berhasil digempur hebat oleh tangan kedua Lhama itu. Yo Ko mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya terhuyung-huyung seperti akan rubuh.

Dan di saat tubuhnya terhuyung seperti itu si Putih tampak melompat menubruknya melancarkan serangan yang hebat sekali ke arah jalan darah di pinggang Yo Ko. Kuda-kuda kedua kaki Yo Ko saat itu tengah tergempur, dia belum berhasil untuk berdiri tetap, dan membarengi dengan keadaannya yang berbahaya, serangan si Putih telah menyambar datang. Yang diserang si Putih justru jalan darah Tiong-tie-hiat di pinggang jalan yang merupakan jalan darah yang mematikan.

Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, dia mengibas dengan lengan baju kanannya itu.

Namun tenaga serangan dari si Putih hebat luar biasa walaupun lengan baju kanan Yo Ko berhasil melibatnya, tangan si Putih terus juga meluncur, walaupun tenaga serangannya jadi agak berkurang. Tepat sekali jalan darah Tiong-tie-hiat di pinggang Yo Ko kena dihantam, sehingga tubuh pendekar Rajawali Sakti itu terhuyung dan kemudian rubuh di tanah. Namun Yo Ko cepat sekali melompat berdiri.

Namun, It-teng Taysu dan yang lainnya jadi kaget sekali. Belum pernah terjadi Yo Ko mengalami peristiwa seperti itu, karena jago-jago itu telah mengetahui betapa sempurnanya kepandaian Yo Ko.

Dengan berhasilnya si Putih menghantam tubuh Yo Ko, walaupun Yo Ko akhirnya dengan cepat dapat berdiri pula tentu saja hal itu telah memperlihatkan bahwa si Putih telah memiliki kepandaian yang sukar diukur tingginya.

Yo Ko berdiri dengan muka yang pucat kehijau-hijauan, dia murka sekali. Dengan tidak memperdulikan lagi suatu apa, dia telah bergerak cepat sekali. Gerakannya seperti kilat, tahu-tahu tubuhnya telah menubruk si Putih, dan telapak tangan kiri Yo Ko telah menghantam dengan tepat sekali dada si Putih.

Tadi waktu si Putih melihat Yo Ko berhasil dirubuhkan, dia girang sekali, tetapi perasaan girangnya itu hanya sebentar, karena tahu-tahu dia telah diserang dengan hebat oleh Yo Ko. Mati-matian dia berusaha mengelak, namun gagal. Akhirnya dia terpaksa menangkis.

Belum lagi tangkisannya itu dilancarkan, tahu-tahu tubuhnya telah dipukul terpental oleh Yo Ko, dada si Putih berhasil digempur oleh telapak tangan kiri Yo Ko. Dengan mengeluarkan suara jeritan menyayatkan, tubuh si Putih melayang di tengah udara ambruk di tanah dengan keras.

Beberapa orang Lhama berbareng telah melancarkan serangan kepada Yo Ko, untuk mencegah Yo Ko melancarkan serangan lebih jauh kepada si Putih. Dengan adanya serangan-serangan dari beberapa orang Lhama itu, telah membuat Yo Ko batal mendesak si Putih lebih jauh.

Sedangkan si Putih telah bangun berdiri dengan muka yang pucat, tubuhnya masih bergoyang-goyang seperti akan rubuh kembali.

„Uaahh!” tahu-tahu si Putih telah memuntahkan darah segar, mukanya semakin pucat.

Si Hitam yang melihat keadaan si Putih jadi kaget sekali. Dia telah melompat ke samping si Putih.

„Toako, kenapa kau?” tanyanya dengan mengandung kekuatiran yang sangat.

„Tidak apa apa..... Cepat kau bantui mereka.....” kata si Putih. Yang dimaksudnya dengan perkataan 'mereka' oleh si Putih, adalah ke limabelas Lhama itu.

Si Hitam bimbang sejenak, tetapi kemudian dia mengangguk. Tangannya tahu-tahu telah meraba pinggangnya, dan dia telah mengeluarkan sebatang pisau kecil, seperti badik, kemudian dengan gerakan tubuh yang cepat sekali, dia melompat masuk ke dalam gelanggang lagi.

Sambil memutar badiknya itu, dia juga mengeluarkan bentakan-bentakan gusar dan nekad. Serangan badiknya itu dahsyat luar biasa, dan juga serangan yang dilancarkannya itu mengandung tenaga serangan yang mematikan.Yang lebih luar biasa lagi justru badik itu merupakan barang mustika yang tajam sekali.

Yo Ko melihat lawannya ini berlaku nekad seperti itu, dia melayaninya dengan cepat, dua orang Lhama yang berada di dekatnya tahu-tahu telah ditendangnya, sehingga mereka terguling di tanah, kemudian dengan cepat sekali tangan kirinya diulurkan mencengkeram jubah salah seorang Lhama yang berada di kirinya, dan melemparkannya, sehingga Lhama itu terbanting di tanah dengan keras. Tanpa membuang waktu lagi, Yo Ko telah melompat ke arah si Hitam yang tengah melancarkan serangan badiknya ke arah It-teng Taysu.

Lam-ceng sesungguhnya tidak jeri menghadapi serangan-serangan seperti itu, tetapi dia selalu gagal menyerang Lhama-lhama yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan luar biasa, yang selalu membuat serangannya tidak berhasil mengenai sasarannya dengan tepat, karena selalu melejit. Dan kini dia pun diserang hebat bertubi-tubi oleh si hitam, yang mempergunakan badik mustika itu, yang dapat memotong emas dan baja. Maka walaupun lwekang It-teng Taysu telah sempurna dan dia tidak takuti lagi senjata tajam, namun terhadap badik mustika yang tajam luar biasa itu tidak bisa dipermainkannya. Dengan sendirinya, It-teng Taysu saat itu agak terdesak oleh serangan badik tersebut.

Namun, untung saja saat itu Yo Ko telah menghantam telak sekali punggung si Hitam, sehingga si Hitam yang tubuhnya pendek itu bergulingan di tanah bagaikan sebuah bola dengan mengeluarkan suara jeritan keras. Yo Ko terus mengamuk dengan cepat. Serangan-serangan yang dilancarkannya juga luar biasa.

Sedangkan Oey Yong telah turun tangan juga dia telah memotes sebatang cabang pohon yang dipergunakan sebagai pengganti tongkat Tauw-kauw-pang. Dia mempergunakan ilmu tongkatnya Ang Cit Kong untuk melabrak Lhama tersebut.

Kwee Ceng juga tengah melancarkan serangan bertubi-tubi kepada lawannya. Namun seperti halnya It-teng Taysu setiap serangannya selalu jatuh di tempat kosong jika kepalan tangannya atau totokannya yang mengandung tenaga serangan yang hebat itu berhasil mengenai sasarannya, tetapi itupun telah gagal kembali, disebabkan melejitnya kepalan tangan atau jari tangannya tersebut, karena tubuh Lhama-lhama itu seperti mengandung minyak dan licin sekali bagaikan tubuh belut.

Sebagai seorang yang pendiam, dan juga selalu rajin melatih ilmu silatnya sehingga mencapai puncak kesempurnaannya, seharusnya Kwee Ceng dapat menghadapi Lhama-lhama itu. Hanya saja, disebabkan dia telah menduga bahwa Lhama-lhama itu memiliki kepandaian yang luar biasa, sehingga dia melancarkan serangan-serangannya dengan keras.

Sesungguhnya kepandaian kelimabelas orang lhama itu tidak berada di sebelah atas dari kelima jago Tiong-goan itu, merekapun belum memiliki lwekang yang sempurna, hanya saja mereka memang meyakinkan semacam ilmu kebal, yang berasal dari India, yaitu semacam ilmu yang mirip ilmu Yoga. Maka dari itu, mereka selalu berhasil menghindar dari serangan dahsyat lawannya.

Si Putih yang berdiri diam saja, merasakan dadanya sakit dan napasnya sesak. Waktu dia menarik napas dalam, dia merasakan di ulu hatinya seperti tertusuk jarum. Seketika itu juga dia menyadari bahwa dirinya telah terluka. Maka si Putih telah berpikir untuk meninggalkan tempat tersebut.

„Menyingkir!” tiba-tiba dia berteriak nyaring, disusul dengan beberapa patah perkataan asing yang tidak dimengerti oleh jago-jago Tiong-goan tersebut.

Dengan serentak kelimabelas Lhama itu telah melompat mundur dalam bentuk barisan pula, begitu pula halnya dengan si Hitam yang telah menggelinding meninggalkan gelanggang pertempuran.

Ciu Pek Thong mana mau membiarkan lawan-lawannya itu angkat kaki begitu saja. Sejak tadi Ciu Pek Thong telah bertempur dengan hati yang panas sekali. Terlebih lagi setiap serangannya selalu melejit tidak mengenai sasarannya, membuat dia jadi tambah penasaran.

Melihat lawan-lawannya itu melompat mundur, dengan cepat sekali Ciu Pek Thong telah menghajarnya, sambil mengejar diapun telah menggerak gerakkan kedua tangannya. Luar biasa caranya itu. Dari kedua telapak tangannya meluncur ke luar angin serangan yang dahsyat sekali, dan de¬ngan disusul oleh dua kali suara „buk!” tampak dua sosok tubuh dari dua orang Lhama itu telah bergulingan di tanah.

Tetapi kedua Lhama itu dengan cepat dapat bangkit berdiri kembali. Di saat itu kelimabelas orang Lhama itu telah melompat lebih jauh pula dengan diikuti oleh si Hitam dan si Putih. Gerakan mereka cepat sekali, dalam waktu yang singkat mereka telah melompat puluhan tombak.

Yo Ko dan Ciu pek Thong bermaksud mengejar tetapi It-teng Taysu telah meneriakinya. „Biarkan mereka pergi!”

Saat itu, Ciu Pek Thong rupanya masih penasaran, dia berjongkok mengambil sebutir batu, kemudian dia telah menimpuk kuat sekali ke arah salah seorang Lhama yang lari paling belakang. Batu itu menyambar dan menghantam jitu punggung Lhama itu, membuatnya terguling.

Tetapi Lhama itu bangkit dengan cepat sambil melarikan diri menyusul kawan-kawannya. Dalam waktu yang singkat, mereka telah turun gunung dan tidak terlihat bayangannya lagi.

It-teng Taysu telah menghela napas dengan wajah yang muram. Diapun telah berkata, „Lolap tidak menyangka bahwa telah berdatangan banyak sekali jago dari luar. Jika dilihat demikian badai dan topan akan melanda Tiong-goan kembali.”

„Tampaknya Kublai Khan memang bermaksud untuk menerobos masuk ke daratan Tiong-goan pula, kini dia telah mengumpulkan demikian banyak jago-jago dari berbagai bangsa, tampaknya tidak mudah bagi kita untuk mengatasinya terlebih lagi pembesar Song umumnya gentong nasi semuanya!” berkata Oey Yong.

It-teng Taysu mengangguk, kemudian katanya dengan sabar. „Persoalan itu bisa kita bicarakan nanti, dan sekarang yang terpenting kita harus mencari Yo Hujin! Pendeta Mongolia itu harus kita tangkap dan membebaskan Yo Hujin dari tangannya!”

Yo Ko juga teringat akan isteri dan Sin-tiauwnya, mendengar perkataan It-teng Taysu, dia sangat berterima kasih dan bersyukur. Sedangkan jago-jago yang lainnya telah menyetujuinya.

„Tunggu dulu......!” kata Ciu Pek Thong tiba-tiba, waktu It-teng Taysu mengajak mereka berlalu.

„Ada apa lagi, Loo Boan Tong?” tanya Oey Yong sambil tertawa, karena nyonya Kwee tersebut teringat beberapa pengalaman lucunya dengan kakek jenaka ini.

„Bukankah tadi „Sikapur Putih itu mengatakan bahwa Oey Lo-shia akan datang kemari juga?” tanyanya.

08.15. Pertolongan Manusia Rimba

Semuanya jadi tersadar dan menoleh kepada It Teng untuk meminta pertimbangan pendeta yang bijaksana ini.

„Kita tinggalkan tanda saja,” kata It-teng Taysu kemudian.

Begitulah, Oey Yong segera meninggalkan tanda serta beberapa huruf di batang pohon sehingga kelak jika Oey Yok Su benar datang di tempat tersebut, dia akan mengetahui dimana mereka ini berada.

Kelima orang gagah tersebut telah turun dari Hoa-san, mereka selain bermaksud mencari Tiat To Hoat-ong untuk membebaskan Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, juga mereka ingin menyelidiki siapa yang telah membongkar kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong. Dugaan mereka jatuh kepada Hek Pek Siang-sat, karena kedua iblis dari Persia itu tampaknya tidak berkepandaian lemah. Tetapi nyatanya kedua iblis dari Persia itu tidak menyinggung-nyinggung persoalan kuburan itu!

Yo Ko berlima dengan It-teng Taysu, Ciu Pek Thong, Oey Yong dan Kwee Ceng telah mengelilingi sekitar daerah Hoa-san, kemudian mengambil jalan ke arah Utara, tetapi jejak Tiat To Hoat-ong tetap saja tidak berhasil dijumpai mereka.

Kerena dugaan mereka, bahwa Tiat To Hoat-ong pasti bersembunyi di suatu tempat karena pendeta Mongolia itu tidak mungkin pulang ke Mongolia. Kedatangan Tiat To Hoat-ong ke Tiong-goan jelas untuk menyelesaikan suatu urusan, menjalankan perintah Kublai Khan. Itulah sebabnya Yo Ko dan kawan-kawannya tidak berpikir untuk menyusul si pendeta ke Mongolia, hanya berusaha untuk menyelidiki jejak si pendeta di daratan Tiong-goan.

Y

Tetapi di luar tahu dari Yo Ko dan kawan-kawannya itu, justeru Tiat To Hoat-ong telah mengambil jalan ke jurusan Gan-bun-kwan tembok besar di daerah perbatasan. Pendeta itu sengaja menyingkir ke tapal batas untuk menghindarkan diri dari kejaran It-teng Taysu dan Yo Ko.

Tiat To Hoat-ong telah merasakan betapa tangguhnya Yo Ko dan It-teng Taysu. Maka dari itu, walaupun bagaimana tidak mau dia berkeliaran di sekitar Hoa-san, juga dia tidak mau sementara waktu itu memperlihatkan diri, karena dari Kublai Khan justeru si pendeta telah menerima perintah rahasia yang sangat penting sekali.

Ketika tiba di kaki gunung Kun-lun, Tiat To Hoat-ong beristirahat sejenak. Walaupun dia tetap membawa Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw sebagai tawanannya, tetapi dia dapat bergerak leluasa. Di sekitar tempat dimana dia berada sepi sekali, tidak terlihat seorang manusiapun juga.

Di saat itupun Tiat To Hoat-ong memang sengaja memilih jalan yang sepi dan mengambil jalan di hutan, sehingga kecil kemungkinan dia akan bertemu dengan manusia lainnya. Untuk mencegah Siauw Liong Lie memperoleh kesadarannya kembali, yang nanti bisa merepotkan dia karena wanita ini hebat sekali kepandaiannya, maka telah beberapa kali Tiat To Hoat-ong menyemprotkan tabung gasnya, sehingga si nyonya Yo ini tetap berada dalam keadaan tidur. Dan begitu pula terhadap Sin-tiauw yang selalu disemprot dengan tabung gasnya itu.

Gas dalam tabung itu adalah semacam gas yang bisa menyebabkan orang tertidur nyenyak. Dan Tiat To Hoat-ong memperolehnya dari Kublai Khan, yang memang sengaja menghadiahkan kepada si pendeta karena Kublai Khan yang cerdik itu mengetahui besarnya faedah tabung gas tersebut untuk Tiat To Hoat-ong dalam menghadapi jago-jago daratan Tiong-goan yang umumnya memiliki kepandaian yang sempurna. Kublai Khan memperoleh tabung gas itu dari seorang jago Eropa, seperti diketahui kakek Kublai Khan, yaitu Temuchin (Jenghis Khan) telah menyebarkan kekuasaannya jauh sampai ke daratan Eropa, dan telah memiliki beberapa orang pengawal orang Eropa, yang menjadi jago-jago andalannya. Maka tidak mengherankan jika Kublai Khan memiliki tabung yang hebat seperti itu. Karena telah mengetahui dan menyaksikan kematian Kim Lun Hoat-ong yang akhirnya tertambus dalam kobaran api, maka Kublai Khan yakin, jika Tiat To Hoat-ong hanya mengandalkan kepandaian silatnya saja untuk menghadapi jago-jago daratan Tiong-goan, niscaya Tiat To Hoat-ong akan menghadapi bahaya yang tidak kecil.

Dengan memiliki tabung gas hebat itu, tentu saja Tiat To Hoat-ong telah berhasil mengecap hasilnya, seperti halnya Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw yang telah berhasil ditangkapnya itu.

Setelah melakukan perjalanan selama bebarapa hari, dan juga selalu melakukan perjalanan di malam hari, Tiat To Hoat-ong menjadi letih sekali. Tetapi kini dengan beradanya dia di kaki gunung Kun-lun itu, berarti dia bisa mengasoh dengan tenang. Tidak mungkin It-teng Taysu dan yang lainnya akan menyusul ke tempat tersebut.

Kun-lun merupakan gunung yang cukup tinggi, yang terletak di perbatasan. Dan juga Kun-lun merupakan gunung yang memiliki banyak sekali lembah dan jurang yang dalam, tempat-tempatnya yang masih liar belum pernah dikunjungi orang. Walaupun di gunung Kun-lun tersebut terdapat sebuah perguruan yang bernama Kun-lun-pai dan juga memiliki murid yang cukup banyak, namun kenyataannya ilmu pedang Kun-lun-pai tersebut masih kalah terkenal dengan Ngo-cin-kauw.

Setelah meletakkan Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, di bawah sebatang pohon, Tiat To Hoat-ong kembali menyemprotkan gas dari tabungnya kepada Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw, kemudian dengan hati lapang dia telah merebahkan tubuhnya ditumpukan rumput, untuk beristirahat. Siuran angin yang sejuk, akhirnya telah membuat Tiat To Hoat-ong, tertidur nyenyak.

Siauw Liong Lie yang menggeletak di bawah batang pohon itu sesungguhnya sudah tidak dalam keadaan tertidur. Karena di luar tahunya Tiat To Hoat-ong, sejak kemarin siang dia telah tersadar dari pengaruh gas tersebut, namun Siauw Liong Lie pura-pura tetap tertidur. Waktu si pendeta Mongolia ingin menyemprotkan gas tabungnya sebelum dia tertidur nyenyak, Siauw Liong Lie menahan napasnya, mengerahkan lwekangnya, Sehingga gas tidurnya itu sama sekali sudah tidak mempengaruhinya lagi.

Kini dia tertawan oleh Tiat To Hoat-ong hal itu bukan disebabkan karena dia kalah ilmu dengan si pendeta, tetapi hanya disebabkan si pendeta telah melakukan perbuatan rendah dengan mengandalkan pengaruh gas tabungnya itu. Maka kini, setelah dia tersadar dan terlepas dari pengaruh gas tersebut, Siauw Liong Lie tetap rebah tanpa bergeming, matanya tetap dipicingkan. Dan diam-diam diapun telah mengintai, melihat Tiat To Hoat-ong telah tertidur nyenyak.

Walaupun mengetahui si pendeta telah tertidur, Siauw Liong Lie tidak berani melakukan gerakan yang ceroboh. Sedikit saja ada suara berkeresek, tentu bisa membangunkan si pendeta dari tidurnya. Diam-diam Siauw Liong Lie mengempos semangatnya, dia mengerahkan tenaga dalamnya di kedua tangannya, kemudian dengan memusatkan seluruh tenaga dalamnya, dia menghentak perlahan, maka putuslah tali yang mengikat tangannya. Tetapi Siauw Liong Lie belum berani bergerak dari tempatnya, dia diam sejenak memperhatikan si pendeta.

Tiat To Hoat-ong tetap tertidur nyenyak maka legalah hati Siauw Liong Lie.

Perlahan-lahan Siauw Liong Lie membuka ikatan tali di kakinya. Setelah itu nyonya Yo menotok beberapa jalan darahnya, untuk melancarkan peredaran darahnya. Dengan hati-hati sekali Siauw Liong Lie telah berdiri, lalu menghampiri Sin-tiauw.

Dibukanya ikatan burung itu rajawali sakti tersebut. Tetapi celakanya, karena walaupun bagaimana cerdiknya, Sin-tiauw tetap saja seekor burung, dia tetap saja berada dalam pengaruh obat tidur dari gas tabung Tiat To Hoat-ong. Tadi sebelum tidur si pendeta telah menyemprotkan lagi gas tabungnya itu sehingga Sin-tiauw masih akan tidur nyenyak selama satu hari satu malam.

Setelah membuka ikatan tali di kedua kaki Sin-tiauw, ikatan di kedua sayap burung itu dan membuka juga ikatan di paruh burung tersebut, maka Siauw Liong Lie menghampiri Tiat To Hoat-ong, karena dia bermaksud untuk menotok si pendeta Mongolia tersebut. Pengalaman dia sebagai tawanan si pendeta telah membuat nyonya Yo jadi gusar sekali bercampur malu, maka kini dia ingin menghajar pendeta itu.

Dengan hati-hati dan perlahan-lahan Siauw Liong Lie melangkah mendekati Tiat To Hoat-ong. Tetapi disaaat jarak mereka terpisah tiga tombak lebih, si pendeta telah menggeliat. Siauw Liong Lie menghentikan langkah kakinya, dia telah memperhatikannya. Tetapi si pendeta tidak bangun dari tidurnya. Dengan lebih hati-hati lagi, Siauw Liong Lie menghampiri lebih dekat.

Tetapi, di saat nyonya Yo sudah mendekati kurang lebih satu tombak dan kemudian menggerakan tangan kanannya siap untuk menotok jalan darah Tai-hiat-hiat si pendeta itu dari ke jauhan terdengar suara lengkingan nyaring sekali, suara itu yang seperti suara erangan binatang buas.

Karena suara lengkingan nyaring itu yang seperti suara erangan binatang buas bercampur dengan suara pekik dari seseorang yang suaranya parau. Tiat To Hoat-ong terbangun dari tidurnya dengan terkejut. Dia cepat-cepat melompat berdiri sambil menggosok matanya. Yang lebih mengejutkan lagi, dia merasakan sambaran angin serangan yang dingin sekali ke arah ulu hatinya.

Si pendeta telah mengempos semangatnya ke dadanya itu, yaitu ke bagian yang akan terserang. Totokan yang dilancarkan oleh Siauw Liong Lie jadi melejit. Dan si pendeta telah membuka matanya, dia jadi tambah kaget dan heran, karena dihadapannya berdiri Siauw Liong Lie.

„Kau…..?” si pendeta seperti tidak percaya akan pandangan matanya,

Siauw Liong Lie tertawa dingin. „Manusia rendah!” katanya dengan tawar. „Dengan mempergunakan akal busuk kau bisa memperoleh kemenangan! Tetapi hari ini nyonya besarmu tidak akan melepaskan kau begitu saja!”

Tiat To Hoat-ong telah mengawasi sekelilingnya, dia tidak melihat siapapun juga selain si nyonya Yo. Hanya samar-samar dia masih mendengar suara lengkingan itu, suara lengkingan yang aneh.

„Aha,” tertawa si pendeta. „Ternyata kau telah berhasil membebaskan diri dari pengaruh gas tabungku! Baik, baik! Mari kita bertempur lagi!” Sambil berkata begitu, si pendeta telah membarengi dengan mengibaskan lengan jubahnya yang besar itu. Serangkum angin serangan yang keras luar biasa menerjang ke arah Siauw Liong Lie, Siauw Liong Lie tidak takut, dia telah menyambuti serangan itu dengan tangkisan tangannya, diapun telah mengerahkan lwekangnya, maka tenaga serangan si Pendeta seperti menghantam tumpukan kapas. Tenaga menyerangnya itu telah lenyap.

Siauw Liong Lie bukan hanya menangkis, karena dengan cepat sekali dia mengeluarkan suara seruan yang nyaring dan kemudian melancarkan pukulan pula dengan tangan kirinya, dengan mempergunakan jurus serangan „Seribu Bunga”, hebat bukan main cara menyerangnya.

Tiat To Hoat-ong mengerutkan alisnya. Pendeta ini menyadari bahwa nyonya Yo memiliki kepandaian yang hebat, dan tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri. Karena itu Tiat To Hoat-ong tidak ingin bertempur lama-lama, karena diapun teringat akan suara lengkingan aneh yang telah didengarnya tadi. Si pendeta curiga kalau-kalau suara lengkingan aneh itu adalah suara dari orang-orang yang menjadi sahabatnya si nyonya liehay ini, jelas kalau memang dugaannya itu benar, si pendeta akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil. Dengan cepat dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan tabung gasnya.

Namun kali ini Siauw Liong Lie yang telah mengetahui bahayanya tabung gas si pendeta, dengan cepat sekali mendesak si pendeta dengan keras dan gencar sekali, membuat pendeta itu tidak berhasil untuk merogoh sakunya, karena dia sibuk sekali harus menangkis dan juga mengelakkan serangan Yo Hujin. Sedangkan Siauw Liong Lie sambil melancarkan serangan bertubi-tubi dengan tipu-tipunya yang liehay sekali, diapun telah memutar otak untuk mencari jalan guna merubuhkan pendeta tersebut. Di saat itulah, dia telah teringat sesuatu maka sengaja Siauw Liong Lie berteriak,

„Ko-jie, Ciu Toako, lekas kalian datang kemari!” Suara Siauw Liong Lie terdengar nyaring dan menggema, karena dia berkata-kata dengan suara yang disertai tenaga lweekangnya.

Semangat Tiat To Hoat-ong terasa terbang meninggalkan raganya. Dia mengetahui bahwa yang disebut Ko-jie itu pasti Yo Ko, suaminya si nyonya. Dan juga yang dipanggil Ciu Toako, tentunya Ciu Pek Thong. Kedua orang itu hebat dan liehay sekali, jika mereka datang dan bertiga dengan si nyonya! melancarkan serangan kepadanya, bukankah si pendeta akan menghadapi bahaya besar? Yang membuat si pendeta jadi kaget dan mempercayai teriakan Yo Hujin ini karena di saat itu dari tempat yang jauh kembali terdengar suara lengkingan yang aneh itu lagi. Maka tanpa berpikir dua kali lagi, Tiat To Hoat-ong telah merangsek melancarkan serangan yang hebat luar biasa kepada Siauw Liong-Lie, dia sekaligus telah melancarkan tiga serangan yang saling rangkai merangkai.

Siauw Liong Lie merasakan menyambar angin yang luar biasa kuatnya, sehingga nyonya Yo ini jadi kaget sekali, dia melompat mundur dengan sikap agak tergesa. Karena gerakannya itu, kedudukan perutnya jadi berobah, membuat kandungannya tergoncang. Seketika Siauw Liong Lie merasakan perutnya menjadi sakit karena bayi di dalam perutnya bergerak, dan juga di saat itu pinggangnya dirasakan sakit sekali, menyebabkan Siauw Liong Lie jadi mengeluh sendirinya dan tubuhnya terhuyung-huyung seperti mau jatuh.

Tiat To Hoat-ong melihat keadaan si nyonya dia menjadi kesenangan. Cepat-cepat dia melompat untuk menangkapnya. Tetapi di saat tubuhnya baru bergerak, di saat itulah dia telah mendengar suara lengkingan yang aneh, yang terdengarnya nyaring sekali, menunjukkan bahwa orang yang mengeluarkan suara lengkingan aneh itu telah berada di tempat tersebut.

Karena sejak semula Tiat To Hoat-ong menduga bahwa orang yang mengeluarkan suara lengkingan itu adalah Yo Ko dan Ciu Pek Thong, hal ini telah membuat si pendeta telah merasa ngeri sendirinya. Tidak sempat dia berpikir untuk mempergunakan tabung gasnya, dia telah melompat dan menggerakan tangan kanannya menghantam Siauw Liong Lie dengan pukulan yang kuat sekali.

Tanpa ampun lagi tubuh Siauw Liong Lie telah terpental tiga tombak lebih, ambruk di atas tanah dengan mengeluarkan suara rintihan dan dia telah tidak sadarkan diri. Sedangkan Tiat To Hoat-ong setelah berhasil dengan pukulannya tersebut, telah cepat-cepat menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dan telah meninggalkan tempat tersebut. Gerakan yang dilakukannya itu sangat gesit sekali, dalam sekejap mata saja dia telah lenyap dari pandangan mata.

Suara lengkingan aneh itu terdengar semakin dekat, kemudian dari balik gerombolan pohon muncul yang melompat keluar, ternyata sosok tubuh itu adalah seekor macan tutul.

Menyusul dengan melompatnya macan tutul itu, tampak sesosok tubuh lainnya, yang tinggi besar itu, adalah tubuh seorang manusia, yang berpakaian compang camping. Mukanya dipenuhi oleh jenggot dan kumis yang panjang, serta rambutnya juga terurai di bahunya. Matanya bersinar tajam mengawasi ke arah Siauw Liong Lie yang rebah diam tidak bergerak. Sedangkan macan tutul itu telah melangkah mendekati Siauw Liong Lie, mencium dan menjilati dengan mempergunakan lidahnya yang panjang.

Dia mengeluarkan suara erangan perlahan, sedangkan manusia bertubuh tinggi besar, yang tampaknya berpotongan seperti manusia hutan itu, telah mengeluarkan suara lengkingan yang nyaring. Suara lengkingan yang nyaring dan parau itulah yang tadi telah didengar Siauw Liong Lie maupun si pendeta Tiat To Hoat-ong......

Dengan langkah satu-satu manusia bertubuh tinggi besar yang keadaannya luar biasa itu telah mendekati Siauw Liong Lie dia memeriksa keadaan si nyonya. Tiba-tiba wajahnya jadi berobah waktu dia memperoleh kenyataan si nyonya terluka hebat akibat pukulan dahsyat Tiat To Hoat-ong, dan juga yang lebih mengejutkan justru Siauw Liong Lie dilihatnya tengah dalam keadaan mengandung.

Dengan tangan kanan digerak-gerakkan, manusia bertubuh tinggi besar itu telah memberi isyarat kepada macan tutulnya. Sedangkan manusia bertubuh tinggi besar yang aneh itu telah mendekati burung Sin-tiauw, dia mengangkatnya.

Dengan beberapa kali lompatan, orang itu telah membawa pergi Sin-tiauw. Sedangkan si macan tutul seperti juga mengerti maksud isyarat dari manusia bertubuh tinggi besar itu, dia telah menggigit baju Siauw Liong Lie, lalu dengan lompatan yang lincah macan tutul itu telah berlari-lari mengambil arah dimana tadi manusia aneh itu menghilang. Keadaan di tempat tersebut telah sunyi kembali!

<> 

Tiat To Hoat-ong berlari-lari dengan cepat sekali dalam waktu singkat dia telah berlari belasan lie. Tetapi setelah berlari sejenak lagi akhirnya otaknya bekerja dengan cermat, pulih kembali ketelitiannya.

„Tidak mungkin suaminya berhasil mengikuti jejakku sampai di tempat ini!” berpikir si pendeta yang cerdik itu. „Dan juga..... suara lengkingan aneh yang parau itu, yang seperti suara erangan binatang buas, juga jelas bukan suara suaminya......! Akhh, mengapa aku jadi demikian pengecut sehingga bisa diperdayakannya? Jika suaminya itu datang, belum tentu aku bisa dirubuhkan oleh mereka.....!” Karena berpikir begitu, kembalilah keangkuhannya, dan dia telah berhenti berlari.

„Dia juga telah berhasil kuhantam dengan pukulan Tok-kun (pukulan beracun), jelas dia sudah tidak akan berdaya, apalagi dia tengah dalam keadaan hamil? Mengapa aku harus jeri?” Maka Tiat To Hoat-ong telah memutar tubuhnya lagi.

Dia telah berlari-lari ke tempat dimana tadi dia telah meninggalkan Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw. Tetapi ketika si pendeta tiba di tempat itu, dia jadi berdiri tertegun. Karena di tempat itu dia sudah tidak melihat Siauw Liong Lie maupun Sin-tiauw lagi. Hanya samar-samar dia masih mendengar suara pekik dan lengking yang nyaring dikejauhan.....

Dengan penasaran Tiat To Hoat-ong telah mencari-carinya di sekitar tempat itu, dia berusaha untuk mencari Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw. Tetapi tetap saja Tiat To Hoat-ong tidak berhasil menemui nyonya Yo itu maupun Sin-tiauwnya yang sakti, yang tengah dipengaruhi obat tidurnya itu.

Karena Tiat To Hoat-ong mengetahui Siauw Liong Lie telah berhasil dilukainya dengan serangannya yang hebat, jelas nyonya itu tidak bisa melarikan diri dari tempat tersebut. Biar bagaimana sempurna dan tingginya tenaga dalam si nyonya Yo, dengan keadaannya yang tengah hamil dan terluka seperti itu, tentu saja dia tidak bisa melarikan diri jauh-jauh.

Dan dia telah melihat, betapa di sekitar tempat itu tidak ada tanda-tanda jejak lainnya, dia telah berusaha memutari sekitar tempat tersebut. Tetapi usaha Tiat To Hoat-ong gagal dan nihil, setelah lewat sesaat lagi, dia jadi mendongkol sekali. Dengan sangat penasaran, dia masih berusaha untuk mencarinya. Dan tetap saja usahanya itu tidak berhasil. Lama si pendeta Mongolia itu mencari-cari kesana kemari, akhirnya dengan jengkel dia meninggalkan kaki gunung Kun-lun-san dengan hati kecewa.

Semula dengan tertawannya Siauw Liong lie, tentu saja dia telah memiliki jaminan yang kuat untuk menundukkan jago-jago daratan Tiong-goan. Yang sudah pasti, dia jelas akan dapat menekan Yo Ko dan mencelakai pendekar sakti berlengan tunggal itu. Seperti perintah yang diterimanya dari Kublai Khan yaitu menghendaki agar Tiat To Hoat-ong membasmi habis semua jago-jago Tiong-goan seperti Kwee Ceng, Oey Yong, Oey Yok Su, It-teng Taysu, Ciu Pek Thong dan yang lain-lainnya. Yang dipentingkan oleh Kublai Khan adalah Ngo-ciat, kelima jago luar biasa yang diketahui oleh Kaisar Mongol pengganti Kaisar Mangu itu, bahwa Ngo-ciat membantu pihak pemerintah Song memukul mundur pasukan perang Mongolia.

Dengan rencananya itu, Kublai Khan bermaksud untuk membasmi habis dulu jago-jago Tiong-goan yang memiliki kepandaian tinggi, agar kelak jika dia menerobos ke dalam daratan Tiong-goan pula dengan mudah ia akan dapat menghancurkan pertahanan pemerintah Song, karena Kaisar Mongol ini menyadarinya, jika saja pemerintah Song tidak dibantu dengan orang gagah rimba persilatan, jelas kerajaan Song itu tidak ada artinya lagi. Kublai Khan juga menyadari bahwa pembesar kerajaan Song itu sangat lemah dan tidak memiliki kesanggupan mengurus negara. Jika orang-orang gagah di daratan Tiong-goan itu berhasil dibereskan jelas urusan menundukan kerajaan Song dan merampas daratan Tiong-goan dapat dilakukannya dengan mudah.

Kepada Tiat To Hoat-ong, Kublai-Khan telah memberikan perintah agar pendeta tersebut berusaha dengan berbagai jalan dan tipu apa saja, asalkan dapat membinasakan jago-jago daratan Tiong-goan. Jika perlu, Tiat To Hoat-ong harus menghimpun jago-jago daratan Tiong-goan itu, memecah belahkannya, dan juga jika perlu menawarkan harta dan pangkat, agar mereka tunduk dan menghamba kepada kerajaan Mongolia.

Dengan perintah rahasianya itu, maka Tiat To Hoat-ong sesungguhnya telah menerima kekuasaan yang tidak kecil. Disamping dirinya, Khan yang agung itu telah menyertakan beberapa orang jago luar biasa dari negaranya, agar membantu Tiat To Hoat-ong.

Sejak kekalahan yang dialami oleh pasukan perang Mongolia di kota Siang-yang, yang memaksa pasukan itu mundur ke Utara atas kematian Kaisar mereka, yaitu Mangu, maka Kublai Khan yang menggantikan kakaknya duduk sebagai Khan yang agung, telah berusaha untuk mencari jalan, agar kelak dapat merampas daratan Tiong-goan. Namun disebabkan Kublai Khan memang jauh lebih cerdas dari kakaknya, disamping itu juga Kublai Khan memiliki perhitungan yang tajam, sengaja dia telah mengirimkan utusan-utusan ke berbagai negara, antara lain Nepal, India. Persia, Turkhestan dan beberapa negara lainnya untuk mengundang jago-jagonya yang memiliki kepandaian tinggi, dengan pembayaran yang tinggi, disamping pemberian pangkat dan harta yang luar biasa banyaknya.

Tidaklah mengherankan jika banyak jago-jago dari negara asing yang berduyun-duyun datang ingin menghamba kepada Kublai Khan. Umumnya mereka merupakan jago-jago yang luar biasa di negerinya, dan mereka merupakan manusia-manusia yang tamak dan kemaruk akan harta dan kedudukan yang tinggi. Sehingga Kublai Khan bisa memanfaat¬kan sifat-sifat mereka itu, telah berhasil mengendalikan dan menguasai mereka dengan baik.

Dengan bekerja secara cerdik, Kublai Khan dengan bertahap telah mengirim jago-jago sewaan tersebut ke daratan Tiong-goan, karena dia bermaksud untuk menghancurkan jago-jago Tiong-goan agar kelak jika dia menerobos ke daratan Tiong-goan, dia bisa merampas dan merubuhkan kerajaan Song tanpa rintangan pula, maka secara bergilir jago-jago itu telah diutus ke daratan Tiong-goan, termasuk Tiat To Hoat-ong.

Maka ketika Tiat To Hoat-ong berhasil menawan Siauw Liong Lie, tentu saja dia girang sekali karena dia mengetahui bahwa Siauw Liong Lie merupakan salah seorang pendekar wanita yang diincar Kublai Khan. Maka dari itu dia mati-matian bertahan agar dapat menguasai Siauw Liong Lie.

Dan sekarang tawanannya itu telah lenyap, telah terlepas dari tangannya, bisalah dibayangkan kekecewaan di hati Tiat To Hoat-ong. Dengan penasaran dia telah mencari Siauw Liong Lie dan Sin-tiauw di sekitar tempat itu, tetapi usahanya itu tetap sia-sia saja. Bahkan, suara lengkingan yang tadi masih sering didengarnya, kini sudah tidak terdengar lagi, keadaan di sekitarnya telah sunyi sekali.

Dengan murka Tiat To Hoat-ong akhirnya menghantam sebuah batu gunung sebesar pelukan tangan, sampai batu itu gompal dan sebagian menjadi hancur merupakan bubuk-bubuk halus karena dia kecewa dan marah sekali, maka pukulan itu disertai oleh tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya!

Y

Ketika Siauw Liong Lie tersadar dari pingsannya, pertama-tama yang dirasakannya adalah perutnya yang sakit luar biasa. Walaupun kesadaran dirinya belum pulih keseluruhannya dan matanya masih terpejam, namun Siauw Siong Lie telah mengeluarkan rintihan.

Perasaan sakitnya itu dirasakan bukannya semakin berkurang, bahkan telah semakin menjadi hebat sekali, sehingga Siauw Liong Lie tidak hentinya telah mengeluarkan suara rintihan karena perasaan sakitnya itu tidak dapat ditahannya lagi. Anak di dalam kandungannya itu seperti meronta-ronta dan menendang-nendang ingin keluar,

Sesungguhnya Siauw Liong Lie telah pingsan selama empat hari lima malam, tetapi di saat dia tersadar dan merasakan perutnya sakit sekali, dia telah pingsan tidak sadarkan diri lagi dengan keringat yang mengucur deras dikeningnya. Sebelum lenyap kesadarannya, Siauw Liong Lie masih merasakan seperti ada jari-jari tangan yang mengusap keningnya, mengusap keringatnya. Tetapi selanjutnya Siauw Liong Lie sudah tidak mengetahui apa-apa, kesadarannya telah lenyap, pandangan matanya gelap dan pikirannya seperti menerawang...... dia telah pingsan lagi.....

Entah sudah berapa lama dia dalam keadaan pingsan seperti itu, akhirnya Siauw Liong Lie telah tersadar kembali.. Perasaan sakit di perutnya tidak sehebat seperti tadi walaupun perasaan sakit itu belum juga lenyap. Perlahan-lahan Siauw Liong Lie membuka matanya, dan dia hanya bisa melihat bayangan yang samar-samar, sebab seluruh pandangan matanya kabur dan seperti terhalang oleh kabut.

„Akhh, dia telah sadar.....!” terdengar suara seorang yang mengeluh. Dari nada suaranya, tampaknya orang itu bersyukur sekali bercampur girang.

Tetapi Siauw Liong Lie sama sekali tidak berhasil melihat keadaan disekelilingnya. Nyonya Yo telah memejamkan matanya lagi rapat-rapat, berselang sesaat lamanya, dia baru membuka matanya itu dan dia telah dapat melihat lebih jelas.

Dirinya ternyata berada di sebuah pembaringan, yang terbuat dari kayu kasar dan ditumpuki rumput-rumput kering. Dia berada disebuah ruangan rumah yang sederhana sekali, yang terbuat dari kayu-kayu kasar di muka sebuah goa batu yang banyak dikelilingi, oleh batu-batu gunung yang tinggi. Disamping dirinya berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang bermuka kasar dengan jenggot, kumis dan rambut yang terurai panjang.

Siauw Liong Lie Tidak mengenal orang itu, yang tengah mengawasi ke arahnya dengan muka yang kaku. Suara yang didengarnya tadi diucapkan oleh orang tersebut. Sebagai orang yang berperasaan halus, Siauw Liong Lie segera mengetahui bahwa orang tersebut walaupun wajahnya kasar menyeramkan, namun hatinya tentu baik dan welas asih, karena dari nada suaranya, yang tadi didengarnya, mengandung perasaan syukur dan girang atas kesadaran diri nyonya Yo tersebut.

Sepasang alis Siauw Liong Lie tampak mengerut saling menyentuh ujungnya. Dia merasakan perutnya kembali sakit luar biasa.

„Kau jangan banyak bergerak dulu...... harus diam...... lukamu parah...... harus sayang diri......” kata orang berjenggot dan berkumis panjang itu dengan suara yang tergagap, kasar sekali suaranya, namun halus nadanya, hal itu memperlihatkan bahwa dia sama sekali tidak bermaksud buruk kepada Siauw Liong Lie.

„Si..... siapa kau? Engkaukah yang telah menolong aku?” tanya Siauw Liong Lie sambil menahan perasaan sakit diperutnya.

„Benar.....” jawab orang itu. „Kau panggil saja aku Lo Him!”

Siauw Liong Lie jadi heran.

„Lo Him?” tanyanya.

„Ya, apakah aneh?”

Lo Him berarti si Biruang Tua. Aneh sekali namanya orang tersebut. Tetapi karena orang itu telah menyelamatkan diri dan jiwanya, maka Siauw Liong Lie juga tidak mau terlalu banyak bertanya, takut menyinggung perasaan orang yang tampaknya tidak pandai bicara itu. Terlebih lagi di saat itu perutnya tengah sakit sekali, janin bayi di dalam kandungannya seperti menendang-nendang perutnya keras-keras. Tiba-tiba Siauw Liong Lie teringat Sin-tiauwnya.

„Mana mana dia?” tanyanya dengan menahan perasaan sakit diperutnya itu, pinggangnya juga rasanya seperti ditarik dan kaku.

„Dia? Siapa dia?” tanya lelaki bertubuh tinggi besar itu.

„Tiauw-heng…..” menyahuti Siauw Liong Lie dengan suara yang bersusah payah.

„Maksudmu rajawali yang pemalas dan hanya kerjanya tidur itu?” tanya orang bertubuh tinggi besar tersebut.

„Benar. Selamatkah dia?”

„Aku telah membawanya kemari juga kini dia tengah mencari makan...... dia malas sekali...... dia selalu kerjanya tidur!”

Siauw Liong Lie walaupun tengah menahan perasaan sakit diperutnya, tidak urung jadi tersenyum juga. Karena Siauw Liong Lie dapat menduga bahwa Tiauw-heng itu lemas tidak bertenaga akibat pengaruh obat tidur yang dipergunakan oleh Tiat To Hoat-ong.

Dan memang sesungguhnya, ketika Sin-tiauw dibawa oleh lelaki bertubuh tinggi besar itu, dia masih dalam keadaan tertidur sampai dua hari dua malam. Ketika burung itu tersadar dari tidurnya, mulai terbebas dari pengaruh obat tidur itu, tubuhnya masih lemas seperti tidak memiliki tenaga. Selama dua hari lagi, Sin-tiauw hanya berdiam saja dengan tubuh yang lemas.

Orang yang tadi tuan penolongnya menduga Sin-tiauw adalah rajawali pemalas, dia setiap hari memberikan daging kelinci hasil buruannya. Di hari kelimalah Sin-tiauw baru bisa terbang berkeliling, dia mulai mencari mangsa untuk makanannya, mencari kelinci barunya.

Siauw Liong Lie mengeluh perlahan, dia merasakan perutnya semakin lama semakin sakit.

„Aku telah berikan obat, kau telah makan obat..... jiwamu tertolong….. tetapi kau harus istirahat satu tahun….. terlebih lagi bayimu akan lahir...... kau perlu diobati dengan ilmu sejati.....”

Siauw Liong Lie hanya mendengar samar-samar suara orang tersebut, karena tidak lama kemudian dia telah jatuh pingsan lagi. Siauw Liong Lie tidak mengetahui berapa lama lagi dia pingsan, sampai akhirnya dia tersadar lagi. Tetapi kali ini perutnya sudah tidak sakit lagi.

Apa yang dialami oleh Siauw Liong Lie sebetulnya cukup bahaya dan parah, karena serangan Tiat To Hoat-ong justeru telah menghantam kandungannya. Untung saja pukulan itu tidak menyebabkan gugurnya kandungan isteri Yo Ko tersebut. Tetapi walaupun demikian, tetap saja pukulan itu telah menyebabkan kandungan Siauw Liong Lie mengalami goncangan yang merubah kedudukan janin bayi tersebut, disamping itu Siauw Liong Lie pun telah terluka di dalam.

0 Response to "Rajawali Sakti dari Langit Selatan (sin tiauw thian lam) Bagian 1"

Post a Comment